Categories
anak Healthy Life Jalan-jalan politik sekolah

2018 Pesiar di Kupang, NTT

PESIAR   KELUARGA  DI  KUPANG,  NTT

fx. wikan indrarto*)

Kami sekeluarga (dengan Eyang Putri, Dik Bimo dan Dik Laras) melakukan petualangan (pesiar) ke Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mengunjungi anak sulung kami (mas Yudhi) yang sedang menjalankan tugas PIDI (Program Internship Dokter Indonesia), di RS Bhayangkara Polda NTT di Kupang. Keluarga Dr. Silas dari Wonosari, Gunung Kidul juga berangkat bersama kami dengan maksud yang sama.

Perjalanan diawali dari Yogyakarta dengan menggunakan penerbangan Lion Air JT 560 pada Kamis, 28 Juni 2018. Setelah terbang sekitar 1 jam 15 menit, kami mendarat di Denpasar, Bali. Pada transit sekitar 2 jam tersebut, kami sempat bertemu dengan adik sepupu Wahyu Prasetyaningtyas (Aning), owner dan CEO Lentera Hati International School, di Jl. Taman Maruna no 14, Jimbaran, Kuta Selatan, Badung, Bali di ruang tunggu kedatangan penumpang untuk makan menu spesial, yaitu sate penyu sate yang dibuat dari daging penyu. Sate ini terutama banyak disajikan dan dijajakan hanya di Bali. Meskipun sangat enak, tetapi daging penyu sebenarnya berkolestrol tinggi dan penyu juga merupakan hewan terlindung secara hukum.

 Berangkat dari Jogja  Transit di Bali
Terbang dari Yogyakarta dengan pesawat Lion Air JT 560 pada Kamis, 28 Juni 2018.
Saat transit di Denpasar bertemu adik sepupu (Wahyu Prasetyaningtyas) untuk makan sate penyu 

Lion Air adalah sebuah maskapai penerbangan bertarif rendah dan merupakan maskapai swasta terbesar di Indonesia. Lion Air mengalami penambahan armada secara signifikan sejak tahun 2000 dengan kontrak pengadaan pesawat baru, dengan total keseluruhan sebesar US$ 46.4 Milliar untuk armada 234 unit Airbus A320 dan 203 Pesawat Boeing 737 MAX. Lion Air mengoperasikan lebih dari 100 buah pesawat Boeing 737-800/900ER seperti yang kami tumpangi selanjutnya, yaitu Lion Air JT 924 selama 1 jam 45 menit untuk mendarat di Kupang. Kota Kupang adalah sebuah kotamadya dan sekaligus ibu kota provinsi NTT. Kotamadya ini adalah kota yang terbesar di Pulau Timor yang terletak di pesisir Teluk Kupang, bagian barat laut pulau Timor.

 RUMAH "WAKIL GUBERNUR^ RESIDENSI TIMOR JADI TEMPAT SIMPAN GEROBAK I,  Catatan Matheos Victor Messakh | MediatorKupang

Pantai Pasir Panjang (Kupang, Indonesia) - Review - Tripadvisor

Kediaman residen di Kupang di jaman Kolonial Belanda (1870-1910)
Pemandangan senja di pantai Pasir Panjang, Kupang yang menarik mata

Nama Kupang sebenarnya berasal dari nama seorang raja, yaitu Nai Kopan atau Lai Kopan, yang memerintah Kota Kupang sebelum bangsa Portugis datang ke NTT. Pada tanggal 29 Desember 1645, seorang padri Portugis yang bernama Antonio de Sao Jacinto tiba di Kupang. Dia mendapat tawaran tinggal menetap dari Raja Helong. Pada tahun 1653, VOC mendarat di Kupang dan berhasil merebut bekas benteng Portugis Fort Concordia, yang terletak di muara sebuah sungai ke Teluk Kupang di bawah pimpinan Kapten Johan Burger. Kedudukan VOC di Kupang langsung dipimpin oleh Openhofd J. van Der Heiden. Nama Lai Kopan kemudian disebut oleh Belanda sebagai Koepan dan dalam bahasa sehari-hari menjadi Kupang. Untuk meningkatkan pengamanan kota, maka pada tahun 23 April 1886, Residen Creeve menetapkan batas-batas kota yang diterbitkan pada Staatblad Nomor 171 tahun 1886. Oleh karena itu, tanggal 23 April 1886 ditetapkan sebagai tanggal lahir Kota Kupang.

Setelah Indonesia merdeka, melalui Surat Keputusan Gubernemen tanggal 6 Februari 1946, Kota Kupang diserahkan kepada Swapraja Kupang, yang kemudian dialihkan lagi statusnya pada tanggal 21 Oktober 1946 dengan bentuk Timor Elland Federatie atau Dewan Raja-Raja Timor dengan ketua H. A. A. Koroh, yang juga adalah Raja Amarasi. Luas wilayah 180,27 Km2, suhu rata-rata di Kota Kupang berkisar antara 23,8°C sampai dengan 31,6°C. Kelembaban udara rata-rata berkisar antara 73 persen sampai dengan 99 persen. Curah hujan selama tahun 2010 tercatat 1.720,4 mm dan hari hujan sebanyak 152 hari. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari, yaitu tercatat 598,3 mm, sedangkan hari hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember dengan 28 hari hujan.


Dengan demikian Kota Kupang sama seperti NTT lainnya, nampak sekali kesan kering, berbatu karang, dan tanaman sulit tumbuh. Total penduduk Kupang adalah
390,877 jiwa dengan kepadatan sekitar 2.496/km2. Mayoritas penduduknya beragama Kristen Protestan (71.32%), kemudian disusul oleh Katolik (17.05%), Islam (10.09%), Hindu (1.53%) dan Buddha (0.01%). Luas wilayah Kota Kupang adalah 180,27 km² dengan jumlah penduduk sekitar 450.360 jiwa (2014). Daerah ini terbagi menjadi 6 kecamatan dan 51 kelurahan.

Bocah 5 Tahun ini Jadi Pembaca Peta Buta Termuda MURI   | tempo.co

 Mendarat di El Tari
Peta Kota Kupang di ujung barat Pulau Timor bagian Barat
Kami mendarat di Bandar Udara Internasional El Tari, Kamis, 28 Juni 2018

Kota Kupang dipimpin oleh seorang Wali kota, yaitu Drs. Mesakh Amalo, Letkol Inf. Semuel Kristian Lerik (1986-2007), Drs. Daniel Adoe (2007-2012), Jonas Salean, SH., MSi. (2012-2017), dan Walikota Kupang sekarang adalah Dr. Jefirstson R. Riwu Kore, MM, MH (2017-2022). Saat ini Kota Kupang dibagi menjadi 6 wilayah kecamatan, yaitu Alak (11 kelurahan), Kelapa Lima (7 kelurahan), Kota Raja (6 kelurahan), Kota Lama (10 kelurahan), Maulafa (9 kelurahan) dan Oebobo (7 kelurahan).

Kami mendarat di Bandar Udara Internasional El Tari, yang dahulu bernama pelabuhan udara Penfui pada Kamis, 28 Juni 2018, pk. 14.30. Bandara ini pada mulanya adalah bekas peninggalan zaman penjajahan Belanda, yang hanya berupa sebuah ‘airstrip’. Untuk pertama kali bandar udara ini didarati oleh pesawat udara pada tahun 1928 oleh penerbang Amerika Serikat Lamij Johnson. Selanjutnya dikembangkan oleh Australia pada tahun 1944-1945 dan diberi nama Lapangan Terbang Penfui, yang dalam bahasa Timor berarti Hutan Jagung (Pena=jagung dan Fui=hutan). Sejak tanggal 20 Desember 1988, Pelabuhan Udara Penfui diubah dan ditetapkan menjadi Pelabuhan Udara El Tari Kupang untuk mengenang jasa (almarhum) mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur, El Tari. Dulu, bandara ini pernah melayani penerbangan langsung dari dan ke luar negeri, yaitu ke Australia dan Timor Leste, tetapi karena insiden 1998 maka penerbangan luar negri dari bandara ini diberhentikan. Namun berjalannya waktu, bandara inipun akan kembali menjadi bandar udara internasional yang melayani penerbangan menuju Dili dan Darwin.

 Dr. Priyander  Pesiar Kupang
berjumpa di Bandara El Tari dengan Dr. Priyander Funay, SpPD-KHOM, teman lama kami di FK UGM 84
Pesiar keluarga kami di Kupang dalam kendali dan pengaturan oleh mas Yudhi

Sekejap kami berjumpa di ruang tunggu Bandara El Tari Kupang dengan Dr. Priyander Funay, SpPD, teman lama kami di FK UGM 84, yang akan segera kembali ke Jakarta, untuk mempelajari Hemato-Onkologi Medik. Kami dijemput oleh mas Yudhi, dengan mas Daniel, mbak Stefi dan mbak Devita (semuanya adalah para dokter PIDI di RS yang sama). Selanjutnya kami diajak makan siang di RM Bambu Kuning, untuk merasakan sensasi menu terkenal di Kupang, yaitu daging sei.

Sei adalah makanan khas suku Timor, berupa daging yang disayat kecil-kecil memanjang dan diolah dengan cara diasapi pada bara api. Bahan baku sei dapat berupa daging babi atau sapi, namun biasanya masyarakat setempat lebih banyak mengkonsumsi sei babi. Sei mulai tenar di kalangan masyarakat Kota Kupang sejak tahun 1986. Kata Se’i berasal dari bahasa Rote, yaitu daging yang diiris tipis memanjang. Tidak sama seperti daging babi Jasio, Siobak atau ‘smoked beef’, Ham ataupun babi Guling dari Bali, walaupun sama-sama dibakar, tetapi daging Se’i mempunyai ciri khas yang tersendiri, karena daging diolah secara tradisional dengan dipotong memanjang dengan 2-3 cm lebarnya, lalu diolah dengan pemberian garam dan sedikit rempah rempah sesuai dengan ciri khas penjualnya, dan dilanjutkan dengan pengasapan menggunakan kayu Kosambi. Beberapa Rumah Makan untuk makanan khas Kupang daging Se’i yang terkenal yaitu “Bambu Kuning”, “Petra”, “Aroma” dan “Pondok Sawah,” tetapi di desa “Baun” kurang lebih 40 km atau 45 menit dari kota Kupang, di sanalah original daging Se’i babi yang pertama. Daging Se’i harus dimakan dalam keadaan panas, karena kalau sudah dingin, maka dagingnya akan sedikit alot. Selain itu, saat panas itu kita bisa mencium bau aroma daging asap dengan rempah rempahnya. Selanjutnya kami mampir sebentar di rumah kost mas Yudhi dan teman2 dokter PIDI di dekat RS Bhayangkara, dan selanjutnya diantar ke Hotel Greenia di Jl. Hati Mulia V, (Belakang Kantor PU Prov. NTT), Oebobo, Kupang, untuk beristirahat.

 Kost mas Yudhi  Sei Babi
Mampir sebentar di rumah kost mas Yudhi dan teman2 dokter PIDI di dekat RS Bhayangkara Kupang
Makanan khas Kupang daging Se’i yang terkenal, kami santap di RM “Bambu Kuning”

Setelah beristirahat sore, kami melanjutkan petualangan pada Kamis, 28 Juni 2018 sore ke Taman Nostalgia (Tamnos) untuk bertemu Drs. Alfred Funay, MKes. Taman Nostalgia berlokasi di Kelurahan Fatululi, Kecamatan Oebobo, Kupang, yang dirancang sebagai taman kota. Dengan fasilitas ‘jogging track’, arena olahraga dan wisata kuliner. Di Taman Nostalgia terdapat Gong Perdamaian Nusantara (GPN), yang merupakan sarana persaudaraan dan pemersatu bangsa. Berasal dari Desa Pakis Aji, Kecamatan Plajan, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah, gong yang berusia 450 tahun itu milik Ibu Musrini, yang adalah ahli waris generasi ketujuh dari pencetus gong. GPN terbuat dari bahan campuran kuningan (bronze) dan perunggu, berdiameter 2 meter dengan berat ± 100 kg. GPN bermakna keseimbangan kehidupan dan memberi nilai lebih, kebanggaan, citra baik dan sumber pendapatan sepanjang masa bagi daerah yang menerimanya. Di Taman Nostalgia tersebut kami mencoba menu salome, semacam bakso bakar, bernostalgia dengan Drs. Alfred Funay, MKes, widyaiswara Bapelkes Kupang, yang pada tahun 1992 sebagai pegawai Bagain Umum Kanwil Kesehatan menyambut kami, para dokter baru yang akan ditugaskan di seluruh NTT. Nostalgia selanjutnya kami isi dengan makan malam di Kampung Solor, dengan mencoba aroma menu ikan kakap putih yang berdaging sangat kenyal.

 Tamnos  Kampung Solor
Taman Nostalgia (Tamnos) berlokasi di  Fatululi, Kecamatan Oebobo, Kupang, sebagai taman kota pada senja hari
Makan malam di Kampung Solor yang dipenuhi para pedagang makanan laut (seafood) yang ditangkap dari Laut Oeba.

NTT kaya dengan hasil laut, sehingga berbagai ikan laut kaya protein siap menyambut para wisatawan yang berkunjung ke kota Kupang ini, terutama di Kampung Solor, Kupang. Kampung Solor adalah wilayah pesisir dengan profesi penduduknya sebagain besar sebagai nelayan dan pedagang. Wilayah tersebut di zamaan Belanda adalah kota lama asal usul Kupang sebagai pusat perdagangan. Kampung Solor menjadi rujukan atau rekomendasi paling utama saat wisatawan singgah di Kupang. Mirip seperti Muara Angke atau kawasan Cilincing di Ancol, Jakarta, kampung ini merupakan kampung pesisir yang dipenuhi para pedagang makanan laut (seafood). Berbagai jenis ikan laut, cumi, udang, dan makanan laut lainnya yang ditangkap dari Laut Oeba, dibanderol dengan harga standar, puluhan ribu rupiah. Sambil merasakan hembusan angin pantai, makan di Kampung Solor bisa membuat siapa saja lahap. Para pedagang membuka lapaknya hingga tengah malam.

 Gua Fatima  Taman Doa
Taman Doa Lourdes Kupang yang dibangun di sebuah lahan berkontur menurun di kelurahan Oebobo, Kupang.
Gerbang Taman Doa Lourdes Kupang pada malam hari yang gelap

Setelah itu, kami melanjutkan peziarahan ke Goa Maria dan Taman Doa Lourdes Kupang, yang dibangun di sebuah lahan berkontur menurun di kelurahan Oebobo, Kupang. Nama jalan di sekitar lokasi akhirnya menjadi Jalan Lourdes, yang selanjutnya nama Lourdes berubah menjadi Lordez. Nama kampung yang dilalui jalan ini disingkat LDZ oleh kaum mudanya. Pintu masuknya cuma satu, dari arah depan menghadap jalan Cak Doko, sedangkan pintu sampingnya sudah tertutup tembok gedung lain. Di dalam komplkes taman doa ada sebuah patung yang diresmikan pada 11 Oktober 1996 oleh Uskup Agung Kupang waktu itu, Mgr. Gregorius Monteiro, SVD. Dalam prasasti marmernya disebutkan kata ARMIDA sebagai ‘head’-nya. Setelah selesai berdoa mengucap syukur melalui perantaraan Bunda Maria, malam itu kami tertidur nyenyak di Hotel Greenia, karena pengalaman iman dan kuliner yang membahagiakan.

Jumat, 29 Juni 2018 pagi, kami terjaga dari mimpi indah untuk segera bangun dan akan mengikuti misa kudus harian pagi. Kami segera menggunakan aplikasi ‘grab’, karena  aplikasi go-car dan minibus angkutan kota yang biasa disebut bemo, pagi itu belum beroperasional. Bemo di Kupang memiliki ciri khas tersendiri, yaitu rute setiap bemo ditandai oleh warna dan angka yang terdapat pada kaca depan bagian atas bemo. Selain itu, aksesoris bemo yang sangat banyak ditambah dengan dentuman musik yang sangat keras, adalah ciri lain bemo Kupang.

Tampilan Angkot (Bemo) Kupang Keren & Penuh Gaya #ntt #kupang #angkot  #angkotntt - YouTube

 Gereja St Yoseph
Bemo di Kupang yang khas dengan banyak asesoris dan full musik yang berdentum keras
Gereja Katolik St Yoseph Naikoten, yang merupakan gereja terbesar ketiga di kota Kupang, setelah Gereja Maria Assumpta dan Gereja Katedral.

Pagi itu pk. 6.30 kami mengikuti misa kudus harian di Gereja Katolik St Yoseph Naikoten, yang merupakan gereja terbesar ketiga di kota Kupang, setelah Gereja Maria Assumpta dan Gereja Katedral. Gereja ini berada di daerah Oebobo, tepatnya di Jl. Herewila No 27 Naikoten, Oebobo Kupang. Gereja ini terlihat megah dengan tiga buah menara yang sangat tinggi, di bagian depan gereja. Ketiga menara tersebut dihiasi dengan kaca-kaca dan ornamen kristiani yang sangat indah. Gereja ini bersebelahan dengan Sekolah Katolik (SD dan SMP Santo Yoseph) yang terkenal di Kupang, yang berada di wilayah Naikoten, Oebobo.

Jumat, 29 Juni 2018 setelah sarapan menu lokal di Hotel Greenia, Kupang, kami melanjutkan petualangan ke Pantai Lasiana, yang mulai dibuka untuk umum sekitar tahun 1970-an. Sejak Dinas Pariwisata NTT memoles dengan membangun berbagai fasilitas pada tahun 1986, Pantai Lasiana ramai dikunjungi turis asing. Sesuai rencana pengembangan Pemkot Kupang, Pantai Lasiana akan dijadikan Taman Budaya Flobamora, yakni sebutan yang mengacu pada keseluruhan suku bangsa di dekat Pantai Lasiana antara lain, Flores, Sumba, Timor dan Alor. Di pantai Lasiana ini terdapat sebuah Cafe, dan banyak didapati Lopo-lopo dan tempat makanan ringan seperti pisang bakar dan jagung bakar yang berderet. Lopo-lopo adalah sebutan lokal untuk pondok yang dibangun menyerupai payung dengan tiang dari batang pohon kelapa atau kayu dan beratapkan ijuk, pelepah kelapa atau lontar, alang-alang, dan yang berbahan semen. Kupang, adalah nama yang dipahat di atas batu karang. Nama yang kenyal dengan kegersangan, terik matahari yang membakar, ilalang kecoklatan, rumah reyot, pepohonan lontar dan kepulan asap yang membubung tinggi. Secuil keindahan seolah hanya ada pada bentangan bibir pantai Lasiana nan kusam. Pantai renta tempat seantero warga biasa melepas kepenatan hidup. Di Pantai Lasiana tersebut, kami dijemput Dr. Maria Surina, teman lama kami saat bertugas di Pulau Flores tahun 1992-1994.

 Pantai Lasiana  Taman Ziarah 3
Pantai Lasiana  merupakan Taman Budaya Flobamora, (Flores, Sumba, Timor dan Alor).
Diantar Dr. Maria Surina ke Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo sekitar 10 km dari bibir Pantai Lasiana. 

Selanjutnya kami diantar ke sebuah Taman Terindah, Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo sekitar 10 km dari bibir Pantai Lasiana, yang berada pada suatu titik ketinggian yang istimewa. Siapapun yang berada di titik ketinggian ini akan menikmati suatu panorama alam yang menakjubkan. Karenanya, keberadaan Kapela John Paul II di puncak titik ketinggian tersebut, seolah mempertegas betapa Tuhan telah menciptakan alam raya ini dengan keindahan tak terkira.

Berdiri diatas balkon lantai tiga bangunan Kapela John Paul II kita seolah berada dekat dengan langit, tempat Tuhan bersemayam. Awan berarak di atas kepala, burung-burung terbang melintas, angin menampar lembut dan Patung Yesus berjubah putih berselempang merah di atas bubungan atap dengan tangan terentang ke atas, membuat hati bergetar, nurani terbuka, sungguh suatu keindahan tak terbantah. Dengan melihat ke sekeliling, pepohonan lontar berderet di seantero pebukitan seperti tentara sorga berbaju zirah melingkari, mengepung, dan menjaga takhta Tuhan. Dan di kejauhan panoramanya bagai lukisan kanvas. Tuhan mengarsir panorama alam di depan Kapela John Paul II begitu sempurna, yaitu petakan sawah dan ladang yang didominasi warna kekuningan. Di sana ada ruas jalan aspal yang membelah di tengah-tengah. Di sebelahnya laut biru membujur diantara dua sayap pulau Timor yang merentang bagai bukit barisan. Semuanya akan terlihat dari puncak Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo yang dibangun oleh Yang Mulia Uskup Agung Kupang Mgr. Petrus Turang. Ketika diresmikan pada hari Senin, 25 November 2013 oleh Kardinal Stanislaw Rylco dari Tahkta Suci Roma, sekitar 30.000-an umat Katolik datang memadati seluruh area taman.

Taman Doa dan Ziarah Bunda Maria Kupang Potensi Wisata Religi yang Minim  Fasilitas Umum - TribunNews.com

 El Tari Kupang
Umat berbondong-bodong datang berdoa di Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo
Tim penjemput keluarga pakde Totok di Bandara El Tari, Kupang

Di taman ini peziarah dari seluruh penjuru angin menanam Doa Rosario. Ruas jalan permenungan untuk meniti Empat Peristiwa dalam Doa Rosario yaitu peritiwa Gembira, Mulia, Sedih dan Terang ada di sini, lengkap dengan stasi perhentiannya. Semua peristiwa ini mengantar peziarah menuju Yesus Kristus Sang Juru Selamat, melalui Bunda Maria. Langkah kaki menuju empat peristiwa dalam doa rosario dimulai dari Aula Terbuka yang berada di kaki bukit. Di aula ini seluruh peziarah diberi kesempatan untuk sejenak menenangkan diri, menyiapkan hati, pikiran dan fisik, sebelum menapaki bukit terindah ini. Peziarah akan menanjaki ruas jalan dengan kemiringan sekitar 45 derajat.

Setelah puas berdoa, kami segera turun gunung untuk mencoba menu jagung bose. Menu ini adalah bubur jagung dengan campuran santan yang diolah dari buah kelapa yang diparut secara manual, tidak menggunakan mesin. Untuk membuat jagung bose, waktu yang diperlukan tidak sebentar. Namun demikian, proses pembuatannya sangat sederhana. Bahannya pun sangat mudah didapat di pasar tradisional seputar Kota Kupang. Awalnya, jagung yang masih utuh dilulur atau direndam dalam air selama kurang lebih 15 menit. Setelah itu, jagung ditumbuk lalu dicampur air dan ditapis untuk memisahkan kulit ari dari pecahan biji jagung. Pecahan jagung siap dimasak di atas tungku dengan nyala api sedang. Jagung direbus sampai setengah matang. Kemudian, dimasukkan tambahan kacang hijau dan selama kurang lebih dua jam, maka akan terbentuk kaldu yang mengental.

 Jagung Bose  Aroma Sei 1
Jagung bose yang manis ini tersedia dalam dua pilihan, yakni putih atau kuning, hanya akan ditemukan di NTT.
Dijamu makan siang menu se'i babi oleh Dr. Maria Surina di RM Aroma yang padat pengunjung, di pusat kota Kupang

Setelah jagung matang dan terasa kental, masukkan garam secukupnya dan sedikit bumbu tambahan, seperti santan atau bumbu-bumbu lain. Dalam penyajiannya, jagung bose kerap ditambahkan dengan potongan iga sapi. Pada proses akhir perebusan setelah terbentuk kaldu yang mengental, masukkan potongan iga sapi tersebut. Tambahkan sedikit air lagi, lalu rebus kembali hingga daging matang. Jagung bose pun siap disajikan. Jagung bose dapat pula disajikan panas-panas bersama lauk daging seì (daging asap) yang telah masak. Selain daging seì sebagai lauk pendamping, lawar ikan sardine pun bisa menjadi pasangan khas jagung bose. Jenis jagung bose yang manis ini tersedia dalam dua pilihan, yakni putih atau kuning. Dengan rasanya yang khas, jagung bose benar-benar hanya akan ditemukan di Nusa Tenggara Timur.

Selesai makan siang itu, kami segera menjemput keluarga pakde Totok (budhe Tari, mas Danang dan mbak Esthi) yang akan mendarat di Bandara El Tari, Kupang dan siap bergabung berpetualang dengan kami. Keluarga pakde Totok yang datang dari Pamulang, Tangerang nampak kelelahan, karena tertundanya penerbangan mereka, yang disebabkan aktivitas Gunung Agung di Karangasem, Bali. Segera kami mengingat berbagai bentuk layanan kesehatan di kota Kupang antara lain Rumah Sakit Pemerintah seperti : RSUD WZ. Johannes Kupang, RS Bhayangkara Kupang, RS Korem 161 Wira Sakti Kupang, Rumkital Kupang dan RSUD SK Lerik Kupang. Sedangkan Rumah Sakit dan Klinik Swasta antara lain adalah RSU Mamami, RSIA Dedari, RS Kartini, RS Leona, Siloam Hospital Kupang dan RS Katolik Carolus Boromeus.

Setelah melihat sekejap RSUD WZ. Johannes yang pernah kami kunjungi tahun 1993, kami melanjutkan petualangan ke RS Bhayangkara Kupang, dimana mas Yudhi belajar sebagai dokter internship pada PIDI. RS Bhayangkara Kupang berdiri tanggal 3 Juli tahun 1967 di atas tanah seluas 5.865 m² yang berlokasi di Jl. Nangka No 84 Kupang NTT, adalah warisan dari gedung Komplek Komdak XVII Nusra yang direnovasi menjadi sebuah rumah sakit. Rumah Sakit milik POLDA NTT di Kupang ini sebagai salah satu rumah sakit dengan lingkungan terbaik, juga menyediakan prasarana antara lain ambulance yang siap mengantarkan pasien yang akan dirujuk, menjemput pasien di rumah, dan menjemput pasien yang kecelakaan di jalan. Parkiran yang luas yang membuat pengunjung dapat nyaman saat bertamu ke kerabat atau keluarga yang sedang dirawat inap. Kami sempatkan berfoto bersama mas Yudhi di areal sebelah IGD, sebagai salah satu pintu masuk ke RS Bhayangkara, yang terletak di bagian depan dari rumah sakit, agar setiap tindakan yang membutuhkan penanganan secara cepat, dapat dilaksanakan. RS ini memiliki motto: senyummu adalah kepuasanku. Di RS itulah mas Yudhi dan teman-temannya belajar secara intensif sebagai dokter internship Indonesia. Setelah itu, kami segera menuju ke RS Siloam Kupang.

 RS Bhayangkara  Siloam Kupang
Sisi depan RS Bhayangkara Kupang di Jl. Nangka No 84 Kupang NTT,
Bergaya di samping ambulance Siloam Hospitals Group, di Fatululi, Kupang, NTT.

RSU Siloam yang merupakan anak usaha PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), Siloam Hospitals Group, berlokasi di daerah Fatululi, Kupang NTT. Biaya yang dibutuhkan untuk membangun RS ini senilai US$ 40 juta (Rp 360 miliar), termasuk peralatan medis terkini seperti MRI, Cathlab dan CT Scan, sesuai dengan standar internasional yang diterapkan di seluruh unit Siloam Hospitals. Rumah Sakit Umum Siloam Hospital (RSUSH) Kupang adalah rumah sakit ke-19 yang telah dibangun Lippo Group. Berbeda dengan RS Siloam lainnya, RS Siloam Kupang lebih fokus melayani pasien peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Sebagian besar atau sekitar 70 persen fasilitas layanannya diperuntukkan bagi pasien peserta JKN, seperti disampaikan saat Grand Opening Siloam Hospital Kupang, oleh Gubernur NTT dan disaksikan Presiden Joko Widodo, Sabtu 20 Desember 2016. Siloam Hospital Kupang memiliki kapasitas 600 tempat tidur, namun untuk tahap awal mulai dioperasionalkan 100 dan termasuk yang terbaik dari Silaom Hospital yang sudah dibangun. Siloam Kupang memiliki gedung besar dan kenyamanan dengan teknologi kesehatan canggih. Ke depan akan dikembangkan duplikat dari Siloam Hospital Kupang di berapa kota di NTT, seperti di Maumere, Waingapu, dan Rote.

Kota Kupang menyimpan begitu banyak potensi wisata yang wajib untuk dikunjungi, salah satunya adalah Pantai Oesapa. Pantai ini terletak di Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang. Pantai Oesapa memang sangat eksotis, letaknya pun sekitar 10 kilometer dari jantung kota Kupang. Pantai Oesapa mungkin saat ini menjadi satu-satunya ruang terbuka di pesisir pantai Kota Kupang, sehingga setiap hari terutama menjelang sore, akan ramai dikunjungi ratusan orang. Ramainya pantai ini dikarenakan langit sore berubah menjadi warna merah keemasan, ketika matahari mulai kembali ke peraduannya. Keindahan Pantai Oesapa menjadi daya tarik sendiri karena latar belakang ribuan pohon lontar yang berdiri kokoh di sepanjang pantai.

 Pantai Oesapa 1 Pekan Suci, Gereja St. Maria Assumpta Kupang Batasi Jumlah Umat, Hanya 50  Persen - Victory News
Keindahan Pantai Oesapa dengan ribuan pohon lontar yang berdiri kokoh di sepanjang pantai.
Gereja Santa Maria Assumpta di Jl. Perintis Kemerdekaan No. 9, Kupang. 

Setelah mengantarkan keluarga Pakde Totok untuk beristirahat sejenak di kamar sebelah kami di Hotel Greenia, kami semua segera menikmati senja di Pantai Oesapa. Setelah menikmati pisang goreng, jagung bakar, teh dan kopi di pinggir Pantai Oesapa, segera kami melanjutkan pesiar ke Gereja Santa Maria Assumpta di Jl. Perintis Kemerdekaan No. 9, Kupang. Kompleks Paroki termasuk gedung Gereja, Pendopo Pastoran, kantor Sekretariat Paroki dan Sebuah Aula Serba guna, berlokasi dalam sebuah komplkes yang sama. Gereja ini dibangun di atas pondasi batu, dengan ruang jemaat yang besar dan bebas kolom, serta dilengkapi pendingin udara (AC). Atap dan lengkungan yang memiliki parapets, merupakan ciri khas gereja ini dan bagian depan gereja terletak di sebelah barat.

Pada bulan Desember 1979 oleh Pastor Herman Y. Kaiser SVD yang mejabat Pastor Paroki St Yoseph Naikoten Kupang, berdasarkan hasil kunjungan pastoral ditemukan kesulitan umat untuk hadir ke Gereja, karena transportasi yang kurang mendukung. Bapak uskup mengijinkan agar umat yang berdomisi di wilayah ini dapat melaksanakan misa hari minggu di istana keuskupan saja. Namun demikian, Rumah Bapak Uskup dalam beberapa waktu ternyata tidak dapat menampung umat lagi untuk misa hari minggu. Pada saat itu dibangun pula seminari Santu Rafael Oepoi. Persiapan paroki yang diperjuangkan umat selama 8 tahun, yaitu 1979-1988, akhirnya berhasil dan peletakan batu pertama dimulai pada tanggal 12 Agustus 1988, sekaligus perayaan ulang tahun paroki untuk pertama kalinya. Pastor Paroki Pertama P. Julis Bere SVD dan Pastor kapelan Pastor Ebed, Pr., dengan nama paroki selengkapnya menjadi Paroki Santa Maria Assumpta Kota Baru Kupang, yang terus dipakai hingga saat ini. Selain ruang adorasi tubuh Kristus yang buka 24 jam untuk berdevosi, kami juga menyaksikan Aula Serba Guna Paroki Santa Maria Assumpta yang megah, dengan daya tampung seribu orang. Selain itu, kami juga sempatkan berdoa di Gua Maria yang strategis berada di areal depan kompleks, sehingga memudahkan umat untuk berdoa dengan khusuk. Gua Maria terbuka 24 jam bagi umat yang hendak memanjatkan doa-doanya. Setelah puas berdoa kepada Bunda Maria, segera kami melanjutkan perjalanan ke ikon baru kota Kupang, yaitu Kantor Gubernur NTT.

 Sasando Gubernur

Ke Kupang Belum Lengkap Bila Tidak Berpose di Depan Gedung Unik Kantor  Gubernur NTT Berbentuk Sasando - Sila News

Malam hari di Kantor Gubernur NTT di Jalan El Tari Kupang, yang telah menjadi ikon baru Nusa Tenggara Timur.
Berfoto pada siang hari di Kantor Gubernur NTT yang telah menjadi ikon baru Nusa Tenggara Timur.

Kantor Gubernur NTT, Kupang Indonesia. Merupakan salah satu project yang  menggunakan atap shingle bitumen IKO. 📷 : @about.indonesia.id @druld  @indrasunbanu #kantor #gubernur #ntt #kupang #nusatenggaratimur #atap #iko  #ataprumah #atapjawabarat ...

Maket Gedung Kantor Gubernur NTT karya arsitek muda NTT, Luiz Wilson
yang menyerupai alat musik Sasando.

Kantor Gubernur NTT yang terletak di Jalan El Tari Kupang, telah menjadi ikon baru Nusa Tenggara Timur. Bentuknya yang unik yaitu menyerupai alat musik tradisional NTT Sasando, menjadikan lokasi ini selalu ramai dikunjungi warga Kota Kupang, maupun mereka yang baru pertama menginjakkan kaki di Kota Kupang. Gedung yang berada di Jalan El Tari ini merupakan tempat berkantor Gubenur dan Wakil Gubernur NTT, dan tempat ini juga menjadi pusat pemerintahan NTT. Gedung megah ini sebenarnya dibangun untuk menggantikan gedung lama yang terbakar pada tanggal 9 Agustus 2013, yaitu lantai 2 dan 3 hangus terbakar. Pada tahun 2014, Pemprop menggelar sayembara bentuk kantor gubernur. Pemenang sayembara adalah seorang arsitek muda NTT, Luiz Wilson. Ia memilih bentuk gedung menyerupai alat musik Sasando. Dan kini bagian depan gedung ini memang menyerupai alat musik Sasando, sementara bagian depan sisi kiri dan kanan menyerupai lipatan daun lontar. Gedung yang dibangun sejak Januari 2016 oleh kontraktor PT Waskita Karya (persero) Tbk, selesai dikerjakan pada pada Desember 2016, dan mulai digunakan pada tahun 2017. Anggaran untuk membangun gedung ini sekitar Rp 178 miliar dan sekarang menjadi lokasi rekreasi warga. Dengan berpose di depan kantor gubernur NTT, yang indah untuk foti selfie, menjadi arena nongkrong anak muda Kota Kupang setiap sore, bahkan hingga tengah malam, terbuka untuk umum dalam bercengkrama dan bersantai di kawasan itu. Selain itu, bagian depan Kantor Gubernur juga sering dijadikan panggung pertunjukan, dengan latar belakang bagian depan gedung yang berbentuk sasando. Setelah puas berfoto di depan Kantor Gubernur NTT, malam itu kami semua tertidur nyenyak dalam kepuasan dan kelelahan yang berpadu.

Sabtu pagi, 29 Juni 2018 kembali kami mengikuti misa kudus harian di Gereja Katolik St Yoseph Naikoten. Setelah sarapan di Hotel Greenia dan mas Yudhi berangkat kerja di Puskesmas Oesapa, kami melanjutkan petualangan ke Goa Kristal. Ketika mendengar kata ‘kristal’ mungkin kita akan beranggapan di dalam gua tersebut bergelimang batu perhiasan. Namun, itu hanyalah kiasan saja yang menggambarkan akan adanya air jernih dan batu di dalamnya yang membentuk seperti kolam renang.

Gua Kristal yang terletak di Desa Bolok, Kecamatan Kupang Barat. Gua Kristal yang mempunyai luas kurang lebih 30 meter persegi dengan airnya yang begitu jernih, sehingga membuat terlihat begitu sangat jelas dasar kolamnya. Air yang di dalam gua tersebut memiliki rasa payau dan sangat menyegarkan tubuh. Goa Kristal ini sangat dekat dengan Kota Kupang, hanya memerlukan waktu tempuh 30 menit atau berjarak 20 km, lokasinya sangat berdekatan dengan Pos Polisi Air Pelabuhan Bolok. Sesampainya di sana pengunjung dapat memarkir kendaraannya di dekat Pos Polisi Air Bolok, kemudian berjalan kaki kira-kira 500 meter untuk sampai ke bibir gua.

 Gua Kristal 1  Gua Kristal 2
Ditemani Moses, bocah pemandu lokal, menuju Gua Kristal di Kupang Barat
Berenang bersama melihat keindahan di dalam perut Gua Kristal, Kupang Barat

Kami datang sesuai anjuran untuk berkunjung pada siang hari atau pukul 11, karena sinar matahari yang menerobos celah-celah gua, akan membuat pemandangan yang jarang terlihat, seolah seperti batu kristal. Kami juga mengikuti saran untuk membawa senter, karena tidak banyak cahaya mampu masuk ke dalam goa dan jalan masuk cukup terjal menurun dan licin. Setelah puas berenang di dasar goa, berbasah air payau, dan menikmati keindahan kristal karena cahaya matahari yang menyelinap ke dalam goa, kami segera melanjutkan petualangan (pesiar) dengan menikmati menu kuliner lokal lainnya, di warung artis kuah asam Tenau yang berada di Jl. M Praja, Kelurahan Alak, Kecamatan Alak, Kota Kupang. Di warung tersebut kami bertemu mas Yudhi, setelah selesai bertugas di puskesmas.

Warung yang terletak tidak jauh dari Pelabuhan Tenau Kupang itu, menjadi salah satu ikon masakan kuah asam ikan paling fenomenal di ibu kota NTT. Betapa tidak. Selama enam hari seminggu, dari Senin hingga Sabtu, warung yang menyajikan masakan kuah asam, ikan asap, gule sapi dan sambal goreng itu, tidak pernah sepi dari pengunjung. Warung kuah asam Tenau sudah menjadi idola banyak pejabat pemerintah hingga masyarakat biasa, penyuka makan ikan. Selain ikan ‘fresh’ yang diolah, racikan khusus bumbu si pemilik warung menjadikan pecinta kuliner tidak akan merasakan bau amis, usai menyantap habis satu porsi kuah asam ikan.

RRI.co.id - Warung Kuah Asam Ikan Tenau Tempat Makan Populer

Ken Patar | Pelabuhan #Tenau - Kupang, NTT. 2022 Diantara kapal - kapal  besar yang bersandar di pelabuhan Tenau, ada beberapa kapal kecil yang... |  Instagram

Menu spesial di Warung ikan kuah asam Tenau, dekat Pelabuhan Kupang
Pelabuhan Tenau Kupang pada senja hari, dekat Warung ikan kuah asam Tenau

Setelah kenyang makan siang menu ikan, kami melanjutkan petualangan ke rumah kenalan lama di Wates, Kulon Progo, DIY. Cik Hong dan Koh Cung, sepasang suami isteri yang kedua anaknya telah menjadi dokter di Medan dan Jakarta, kami temui dalam keharuan di rumahnya Salon Lince di Jl. Sumba no 10 Oeba, Kupang. Kami segera larut dalam suasana reuni dan nostalgia dengan saling mendoakan dan meneguhkan, untuk selanjutnya meneruskan petualangan ke Oesao, di Kabupaten Kupang. Melalui jalan raya yang padat kendaraan, kami menyatu dengan para pengguna jalan yang seenaknya sendiri, tidak mau peduli, melaju di sisi tengah jalan, dan tidak segera menepi saat diklakson. Selain itu, juga ada antrian bus antar kota dalam provinsi, dengan tujuan ke SoE, Kefa dan Atambua, serta antar negara, yakni ke Dili, Timor Leste. Bus ini disediakan oleh berbagai penyedia layanan termasuk DAMRI. Kalau kita mengikuti lajunya, pasti akan sampai di Layanan imigrasi Indonesia-Timor Leste yang dilaksanakan di Tasifeto Timur-Batugade, yang sangat megah dan membanggakan.

 Cik Hong  Cik Hong 1
Keluarga Cik Hong tinggal di Salon Lince, nama yang digunakan sejak di Wates DIY, di Jl. Sumba no 10 Oeba, Kupang
Cik Hong dan Koh Cung, sepasang suami isteri yang kedua anaknya telah menjadi dokter di Medan dan Jakarta,

Kami harus keluar dari Kotamadya untuk masuk ke dalam territorial Kabupaten Kupang, guna menikmati kue cucur, yang merupakan ciri khas makanan lokal kesukaan masyarakat di desa Oesao, Kabupaten Kupang. Kue ini terbuat dari bahan beras yang diolah menjadi tepung. Para petualang yang mengadakan perjalanan melalui atau ke Kabupaten Kupang, menuju ke SoE, Kefa dan Atambua, biasanya singgah di tempat ini, karena kue cucur rasanya enak untuk dinikmati. Selain kue cucur, kami juga menikmati ulang jagung bose sampai kenyang.

Siang itu, kami mengantar keluarga pakde Totok naik ke Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo, yang telah kami kunjungi hari sebelumnya. Di aula kami tertahan, karena hanya sebuah mobil yang diijinkan naik ke puncak taman, sehingga hanya keluarga pakde Totok yang naik dan berhenti tepat di depan Patung Bunda Maria yang tengah menggendong kanak-kanak Yesus. Patung setinggi manusia itu berada pada kaki bukit kedua dengan sudut kemiringan sekitar 40 derajat. Bunda Maria dan Yesus seolah tengah bercakap-cakap. Tentu, Bunda Tak Bernoda ini tengah menyampaikan seluruh isi hati kita, keluh kesah kita, mimpi-mimpi kita, juga gumpalan kekecewaan kita yang mengkristal, bahkan membatu.

 Taman Ziarah
Keluarga pakde Totok di Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo, Kupang

Bagi peziarah beragama katolik yang hendak berdoa, inilah Taman Doa Rosario terlengkap yang menggelar kisah kehadiran Tuhan Yesus Kristus, dalam perjalananNya menyelamatkan umat manusia dari belenggu dosa. Bila peziarah menapaki ruas jalan menanjak dari ‘paving block’ di sebelah kiri posisi berdiri Patung Bunda Maria, maka wajib mendaraskan lima Peritiwa Gembira dan lima Peristiwa Mulia. Sedangkan peziarah yang melangkah ke sebelah kanan, wajib mendaraskan lima Peristiwa Sedih dan lima Peristiwa Terang.

 Taman Ziarah 6
Kapel S. Paul John II di sore hari, di Taman Ziarah Yesus Maria di puncak Bukit Oebelo 

Turun dari taman terindah, kami langsung menikmati sasando, yaitu sebuah alat musik dawai yang dimainkan dengan cara dipetik. Instumen musik ini berasal dari pulau Rote, NTT. Secara harfiah nama Sasando menurut asal katanya dalam bahasa Rote, sasandu, yang artinya alat yang bergetar atau berbunyi. Suara sasando mirip dengan alat musik dawai lainnya seperti gitar, biola, kecapi, dan harpa. Bagian utama sasando berbentuk tabung panjang yang biasa terbuat dari bambu. Lalu pada bagian tengah, melingkar dari atas ke bawah diberi ganjalan-ganjalan, di mana senar-senar (dawai-dawai) yang direntangkan di tabung, dari atas ke bawah, akan bertumpu. Ganjalan-ganjalan ini memberikan nada yang berbeda-beda kepada setiap petikan senar. Lalu tabung sasando ini ditaruh dalam sebuah wadah, yang terbuat dari semacam anyaman daun lontar, yang dibuat seperti kipas. Wadah ini merupakan tempat resonansi sasando.

 Sasando  Sasando 1
Alat musik sasando, topi Ti’i Langga dan kain tenun Rote yang melambangkan kepemimpinan, wibawa dan percaya diri. 
Menikmati alunan musik pemain sasando elektrik di Sanggar Sasando Oebelo Puluti, Kabupaten Kupang Tengah.

Kami mampir di sebuah rumah sederhana yang dikenal sebagai tempat perajin sasando, berada di Oebelo Puluti, Kabupaten Kupang Tengah, sekitar 20 km dari Kota Kupang. Masyarakat Oebelo kebanyakan adalah petani garam. Hal tersebut bisa dilihat kala melintasi sepanjang jalan besarnya. Tepi jalan dihiasi dengan garam yang dipasarkan dalam bentuk sokal (sejenis tabung panjang yang bahannya terbuat dari daun lontar). Daun lontar memang menjadi komoditas yang banyak digunakan di Kupang. Selain bisa dirubah menjadi berbagai macam tempat penyimpanan, di sini anyaman daun lontar juga biasa digunakan sebagai atap rumah, karpet, bahan rumah gubuk juga kerajinan, seperti yang biasa dipakai oleh Jeremias Pah, seorang perajin dari Bengkel Perajin Sasando. Sasando dimainkan untuk beberapa keperluan seperti menghibur kerabat atau orang yang berduka cita, sebagai pengiring tarian dan upacara adat, menyambut tamu penting, atau sekadar alat musik penghibur. Bahkan kini, telah dikembangkan sasando elektrik, bukan akustik lagi, dan terdapat beberapa jenis sasando, mulai dari 10 senar hingga 56 senar yang dibuatnya selama 5 hingga 15 hari.

Bagi orang Rote, selain alat musik sasando, juga ada topi Ti’i Langga yang melambangkan jiwa kepemimpinan, kewibawaan dan percaya diri. Pada awalnya topi Ti’i Langga hanya digunakan oleh para petinggi adat yang bermukim di Pulau Rote, tetapi sekarang topi Ti’i Langga sudah menjadi pelengkap untuk pakaian tradisonal laki-laki di Rote dan juga sering dipakai untuk acara-acara adat. Bahan utama yang digunakan untuk membuat topi Ti’i Langga yaitu daun lontar, dimana pohon lontar memang banyak ditemui di wilayah NTT. Setelah puas mendengarkan alunan sasando elektrik, berfoto dengan topi Ti’i Langga dan kain tenun khas Rote, sore itu kami kembali ke Kota Kupang.

 Puskesmas Oesapa 2  Puskesmas Oesapa 1
Gedung megah Puskesmas Oesapa berlantai 2 sore itu masih ramai dengan berbagai aktivitas pegawai.
Prasasti peresmian di dinding Gedung Puskesmas Oesapa, Kupang yang digunakan mas Yudhi untuk belajar

Di seluruh teritorial Kota Kupang, terdapat Puskesmas Alak, Puskesmas Naioni, Puskesmas Bakunase, Puskesmas Pasir Panjang, Puskesmas Kupang Kota, Puskesmas Oebobo, Puskesmas Oesapa, Puskesmas Oepoi, Puskesmas Sikumana, Puskesmas Penfui dan Puskesmas Manutapen. Sore itu kami mampir ke Puskesmas Oesapa, yang digunakan sebagai wahana internship mas Yudhi dan teman2 dokter lainnya, selain puskesmas pembantu (pustu) di Kelapa Lima, Oesapa Barat, dan Lasiana. Gedung Puskesmas Oesapa berlantai 2 sore itu masih ramai dengan berbagai aktivitas pegawai, tertata rapi dan bersih, tidak kalah dan sangat mirip dengan banyak puskesmas yang modern di Pulau Jawa. Setelah puas mengamatinya, kami segera melanjutkan petualangan ke air terjun Oenesu, yang menjadi oase dari panas teriknya kota Kupang, yang berada di Desa Oenesu, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang ini berjarak sekitar 20 kilometer dari Kota Kupang. Air terjun Oenesu menjadi salah satu tempat favorit wisatawan, lantaran pesona air terjun yang dikelilingi rerimbunan berbagai jenis pohon itu, menjadi pilihan cocok menghalau rasa gerah, terkait panasnya cuaca Kota Kupang pada musim kemarau. Tak hanya itu, rindangnya pepohonan yang beragam jenisnya membuat susana hati setiap pengunjung yang melihatnya, merasa tenang dan sejuk. Uniknya, Air Terjun Oenesu memiliki air terjun yang bertingkat-tingkat hingga mencapai empat lapisan.

 Oenesu 3  Oenesu 6
Air Terjun Oenesu yang bertingkat-tingkat hingga mencapai empat lapisan
Bersemedi di sebuah tingkatan pada aliran Air Terjun Oenesu Kupang

Masing-masing tingkatan, di sela-selanya terdapat kolam-kolam yang terbentuk secara alamiah sehingga banyak dimanfaatkan pengunjung untuk berenang maupun berendam. Air yang mengalir ini banyak mengandung kapur. Saat musim hujan, curuhan dan volume air Oenesu begitu melimpah. Kendati begitu airnya tetap jernih. Sementara ketika musim panas, airnya tak pernah kering, meski tak sebanyak saat musim hujan, namun airnya terlihat lebih jernih. Lokasi wisata air terjun yang memiliki luas areal sekitar 1,5 hektar sudah dilengkapi berbagai fasilitas, seperti bangunan peneduh berupa sembilan lopo, dan tangga menurun ke lokasi air terjun. Setelah kami puas mandi, berenang dan berfoto pada setiap tingkatan air terjun Oenesu, kami segera berganti baju kering untuk bergegas menikmati sore di sebuah pantai.

 Tabl  Tablalong
Senja di Pantai Tablolong yang diapit oleh Pulau Rote dan Timor
Perpaduan hamparan pasir putih dan birunya langit menambah keelokan Pantai Tablolong.

Dibalik kesan panas dan keringnya Kota Kupang, berada tak jauh dari pusat kota, terdapat beberapa primadona pantai, dengan hamparan pasir putihnya yang menjadi daya tarik bagi para pengunjungnya, salah satunya adalah pantai Tablolong. Nama Tablolong diambil dari nama salah satu perkampungan nelayan kecil yang berada di ujung timur. Pantai yang memiliki hamparan pasir putih ini, diapit oleh Pulau Rote dan Timor. Pantai ini sering dijadikan arena olahraga memancing skala lokal, nasional hingga internasional setiap tahunnya. Perairan sejauh 10 mil dari garis Pantai Tablolong itu merupakan jalur migrasi ikan yang cukup ramai, dari perairan Laut Timor menuju Laut Sawu. Selain itu, Tablolong juga sebagai penghasil rumput laut terbesar di NTT.

Perpaduan hamparan pasir putih dan birunya langit menambah keelokan Pantai Tablolong. Selain berenang ataupun bermain air, pengunjung dapat bersantai ria di lopo (sejenis bale-bale/ gazebo) sambil menikmati hembusan angin pantai. Tablolong juga dihiasi oleh adanya Pohon Centigi (Pempis Acidula) yang tumbuh liar di sekitaran bebatuan karang, dan merupakan sebuah tanaman golongan perdu yang banyak diburu orang karena keunikannya.

Pantai yang berjarak sekitar 30 km dari pusat Kota Kupang ke arah Tenau, waktu tempuh menuju lokasi dapat mencapai 1-1.5 jam. Sore itu kami menikmati pemandangan matahari tenggelam yang sangat sensasional, selanjutnya kami menikmati makan malam nasi bungkus dan air kelapa muda yang segar, sampai malam gelap menghimpit kami. Kami segera menuju ke Hotel Greenia dalam kepuasan yang penuh. Setelah mandi sore, hanya kami berdua dan pakde Totok serta budhe Tari yang masih mampu menikmati malam hari, dengan diantar oleh mas Yudhi. Malam itu, kami dijamu oleh Dr. Maria Surina dan Om Fendi suaminya, menikmati jagung bakar dan pisang bumbu kacang di kios nomer 10, pusat kuliner malam hari di sepanjang Jl. El Tari Kupang depan Gedung Sasando, Kantor Gubernur NTT yang legendaris. Setelah kekenyangan dan mulai mengantuk, kami lantas berpisah, mengantar pakde Totok dan budhe Tari kembali ke Hotel Greenia, dan kami melanjutkan petualangan ke Rumah Sakit St. Carolus Borromeus (RSCB) di Jl. H.R. Koroh KM 8 Kupang – NTT. RS yang didirikan oleh Kongregasi Suster-Suster Cinta Kasih Carolus Borromeus, seperti halnya RS Panti Rapih di Yogyakarta, dikelola oleh Yayasan Elisabeth Gruyters Kupang.

 RSCB Kupang  RS Bhayangkara 1
Ambulance di UGD Rumah Sakit St. Carolus Borromeus, Kupang
 Bersama mas Yudhi yang belajar sebagai dokter di RS Bhayangkara Kupang

Rumah Sakit St. Carolus Borromeus ini merupakan rumah sakit tipe C yang telah lulus akreditasi tingkat perdana, menerima pasien BPJS maupun asuransi swasta lainnya yang telah bekerja sama. Motto RS St. Carolus Borromeus adalah “Kasih yang Menyembuhkan.” RSCB ini melayani semua penderita dengan cinta kasih dalam kepemimpinan oleh Direktur Dr. Herli Soedarmadji. SDM terdiri dari 10 orang dokter umum, 16 orang perawat, dokter spesialis yang tetap baru dokter penyakit dalam, yaitu dokter Stefani, memiliki 27 tempat tidur, yang sedang dikembangkan menjadi 50. Malam sudah terlalu larut, sehingga kami tidak mampu menemui Sr. Natalia, CB, seorang apoteker dari RS Panti Rapih Yogyakarta yang pindah di situ, dan langsung kembali terlelap di kamar Hotel Greenia.

Minggu, 1 Juli 2018 pagi hari, kami terjaga agak siang karena kelelahan yang penat. Pagi itu, kami akan mengikuti misa kudus di Gereja Katedral Kupang. Katedral ini adalah pusat dari Keuskupan Agung Kupang (KAP) yang didirikan pada 13 April 1967, hasil pemekaran dari Keuskupan Atambua. Kemudian pada 23 Oktober 1989 ditingkatkan menjadi Keuskupan Agung Kupang, dalam kesatuan satu provinsi gerejani dengan dua keuskupan sufragan, Atambua dan Weetebula. Mencakup 130.000 umat yang berada di Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Pulau Alor dan Pulau Pantar. Pertambahan umat di Keuskupan Kupang yang cukup besar terjadi setelah tahun 1965, ketika banyak penduduk yang menganut agama asli kesukuan, meminta diterima menjadi anggota Gereja. Perkembangan itu menyebabkan pemisahan dari Keuskupan Atambua. Statistik tahun 2004 menunjukkan jumlah umat sebanyak 125.000 tersebar di 22 paroki. Uskup Kupang pertama adalah Mgr Gregorius Manteiro SVD (13 April 1967—23 Oktober 1989), selanjutnya Uskup Agung Kupang adalah Mgr Gregorius Manteiro SVD (23 Oktober 1989—10 Oktober 1997, wafat) dan Mgr Petrus Turang (10 Oktober 1997—sekarang).

 Katerdral  Katerdral 1
Gereja Katolik Katedral Kristus Raja Kupang ini berdiri pada tanggal 15 Agustus 1967
Sekretariat Gereja Katedral Kristus Raja di Jl. Soekarno nomor 1 Bonipoi, Kupang.

Gereja Katedral Kristus Raja Kupang ini berdiri pada tanggal 15 Agustus 1967, terletak di Jl. Soekarno nomor 1 Bonipoi, Kupang. Katedral berasal dari kata latin “cathedra” yang artinya kursi. Di luar gedung geraja terdapat makam Uskup Agung pertama Keuskupan Agung Kupang, Mgr. Gregorius Monteiro. Tanggal 14 Oktober 1999, makam ini diberkati oleh Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang. Ciri khas katedral ini adalah kaca patri di sepanjang dinding yang menyatu menjadi galeri ‘stained glass’. Gambarnya terdiri dari ‘Lamb of God’, ‘St. Mary and globe’, ‘Christ the King’, ‘The Ressurection of Christ’, dan ‘The Infant Jesus of Prague’. Setelah misa kudus selesai dan kami puas menikmati keindahan gedung gereja, kami segera kembali ke Hotel Greenia untuk berkemas pulang.

Setelah kenyang makan siang bersama di rumah pasangan ideal suami isteri Dr. Vama (konsultan UNICEF Regio  Indonesia Tengah) dan Dr. Frans Taolin, SpA (Ketua IDAI Cabang NTT), kami segera terbang kembali ke Jogja menggunakan pesawat Boeing 737-900 ER, yang merupakan pesawat penumpang sipil (airliner) komersial untuk penerbangan jarak dekat dan jauh. Pertama kali dibuat pada tahun 2006, dan resmi mengudara pada 2007, Boeing 737-900 ER ‘Extended Range’ dioperasikan pertama kali oleh maskapai penerbangan asal Indonesia yaitu Lion Air. Boeing membuat 737-900 yang mampu terbang lebih jauh dan menampung penumpang lebih banyak daripada vesi sebelumnya. Pada varian ini, yaitu Boeing 737-900 ER (Extended Range), cockpitnya telah dilengkapi dengan HUD (Head Up Display). Di Indonesia, Boeing 737 merupakan “standar” armada bagi berbagai maskapai di Indonesia, baik varian “original” (seri -200), varian “Classic” (seri -300, -400, dan -500), maupun “Next Generation” (seri -800 dan -900ER).

 Dr. Vama  Terbang Boeng
Setelah makan siang bersama di rumah Dr. Vama dan Dr. Frans Taolin, SpA, 
Di dalam pesawat Sriwijaya Air SJ 255 Boeing 737-900 ER dari Kupang

Keluarga pakde Totok melanjutkan pesiar ke Maumere dan Kelimutu di Pulau Flores, sedangkan kami terbang pulang ke Yogyakarta dengan menumpang pesawat Sriwijaya Air SJ 255 Boeing 737-900 ER dari Kupang Minggu, 1 Juli 2018, pk. 14.30 selama 1 jam 50 menit. Dilanjutkan dengan pesawat Sriwijaya Air SJ 235 Boeing 737-900 ER dari Surabya selama 55 menit, untuk mendarat di Yogyakarta Minggu, 1 Juli 2018, pk. 17.45. Sriwijaya Air adalah sebuah maskapai penerbangan di Indonesia yang didirikan oleh keluarga Lie (Hendry Lie dan Chandra Lie) dengan Johannes Bundjamin dan Andy Halim. Saat ini Sriwijaya Air adalah Maskapai Penerbangan terbesar ketiga di Indonesia, dan sejak tahun 2007 hingga saat ini tercatat sebagai salah satu Maskapai Penerbangan Nasional yang memiliki standar keamanan kategori 1 di Indonesia.

Terimakasih kepada segenap pihak, yang telah mendukung pesiar kami di Kupang dan proses pendidikan internship mas Yudhi dan teman2 dokter muda lainnya. Sampai bertemu dalam petualangan selanjutnya.

 Ikut pak Jokowi

Sekian
Yogyakarta, 3 Juli 2018
*) petualang, pesepeda, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
anak dokter Healthy Life Jalan-jalan

2015 LONDON

SEKAJAP  DI  LONDON
fx. wikan indrarto*)

 

Setelah mengikuti ‘the 9th World Congress on Pediatric Infectious Diseases’ 2015 di Rio de Janeiro, Brazil, kami segera pulang ke Indonesia. Perjalanan pulang dimulai dari Hotel Atlântico Business Rua Senador Dantas, 25 – Centro, Rio de Janeiro – RJ, 20031-202, Brasil menggunakan taksi kuning beragometer dengan tarif R$ 46 Sabtu malam 22 November 2015. Kami naik pesawat British Airways BA 248 Boeing 777-200 dari Aeroporto Internacional Tom Jobim (Galeão) Rio de Janeiro terminal 1, berangkat pk. 00.05 dini hari dan sampai di London Heathrow International Airport terminal 5, Minggu, 23 November 2015 pk. 13.25 dengan lama terbang 11.20 jam.

 Bandara Heathrow  Heathrow1

Heathrow adalah bandar udara tersibuk di dunia dalam hal lalu lintas penerbangan internasional.

Bergaya di ruang tunggu London Heathrow International Airport terminal 5

London merupakan pusat transportasi udara internasional dengan kawasan udara kota yang terbesar di dunia. Delapan bandar udara menggunakan kata London dalam penamaannya, namun hanya enam dari bandara-bandara tersebut yang disinggahi oleh kebanyakan lalu lintas udara. Bandar Udara International London Heathrow di Hillington, London Barat, merupakan bandar udara tersibuk di dunia menurut lalu lintas penumpang internasional, dan juga merupakan persinggahan utama dari maskapai penerbangan nasional Britania Raya, British Airways. Pada bulan Maret 2008, terminal kelima dari bandar udara ini dibuka. Ada rencana untuk membangun landasan pacu ketiga dan terminal keenam namun rencana ini dibatalkan oleh Pemerintah Koalisi pada tanggal 12 Mei 2010. Pada bulan Mei 2011, sistem angkutan cepat dibuka di Heathrow untuk menghubungkan bandara dengan tempat parkir yang berada di dekatnya. Lalu lintas penerbangan internasional serta penerbangan lokal yang bertarif rendah juga dikelola oleh Bandar Udara London Gatwick, yang terletak di West Sussex, London Selatan.

Kami mencoba peruntungan di konter imigrasi, saat mengisi waktu transit ke Singapura. Untunglah nasib kami baik, meskipun tidak punya visa Inggris, dengan wajah kami yang memelas akhirnya kami diijinkan oleh petugas imigrasi, untuk masuk Inggirs dan dapat menginap di London 1 hari, guna jalan-jalan di dalam kota (city tour). Segera kami melakukan penjadwalan ulang tiket kami di konter British Airways, agar dapat ikut penerbangan hari berikutnya. Untunglah semua petugas baik hati, termasuk menguruskan bagasi yang sudah di dalam perut pesawat, sehingga kami tenang untuk segera membeli tiket Underground atau Tube, kereta bawah tanah tertua di dunia, menuju ke pusat kota London.

 Heathrow2  Ho3dZwKH

Ruang kedatangan penumpang di London Heathrow International Airport terminal 5

Siap-siap masuk ke kota London,
setelah bebas dari pemeriksaan imigrasi

London adalah ibu kota Inggris dan Britania Raya, merupakan wilayah metropolitan terbesar di Britania Raya dan juga zona perkotaan terbesar di Uni Eropa menurut luas wilayah. Berlokasi di sepanjang Sungai Thames, London telah menjadi permukiman utama selama dua milenium sejak didirikan oleh bangsa Romawi pada abad ke-1 dengan nama Londinium. Inti dari London kuno, yaitu City of London, sebagian besar masih tetap mempertahankan batas-batas abad pertengahannya. Sejak abad ke-19, nama London juga digunakan untuk menyebut kota metropolitan yang berkembang di sekitar wilayah inti ini. London adalah kota global terkemuka yang unggul dalam bidang seni, bisnis, pendidikan, hiburan, mode, keuangan, kesehatan, media, layanan profesional, penelitian dan pengembangan, pariwisata, serta transportasi. London, bersama dengan New York City, merupakan pusat keuangan terkemuka di dunia, dan menjadi kota dengan PDB terbesar kelima di dunia, atau yang tertinggi di Eropa. Kota ini juga dikatakan sebagai pusat kebudayaan dunia. London bahkan menjadi kota yang paling sering dikunjungi, dan tercatat sebagai kota dengan bandar udara tersibuk di dunia berdasarkan lalu lintas penumpang internasional. Terdapat 43 universitas di London membentuk konsentrasi pendidikan tinggi terbesar di Eropa. Pada tahun 2012, London menjadi kota pertama yang telah menjadi tuan rumah penyelenggara Olimpiade Musim Panas modern sebanyak tiga kali.

 VI6kE9rJ  sfaNQvuo

dimulai dari terminal 5
London Heathrow International Airport

Naik Underground Piccadily Line menuju Cockfosters turun di Piccadilly Circus

Petualangan kami di London dimulai dari terminal 5 Heathrow International Airport, Minggu, 23 November 2015 sore saat kami naik Underground Piccadily Line menuju Cockfosters bertarif £ 6, untuk turun di Piccadilly Circus. Kami melewati Heathrow terminal 1, 2 & 3, Hatton Cross Hounslow West, Central, East, Osterley, Boston Manor, Northfields, South Ealing, Acton Town, Turnham Green, Stamford Brook, Ravenscourt Park, Hammersmith, Barons Court, Earls Court, Gloucaster Road, South Kensington, Knightsbridge, Hide Park Corner dan Green Park. Penduduk London terdiri dari beragam masyarakat dan budaya dengan lebih dari 300 bahasa dituturkan oleh berbagai etnis. Pada bulan Maret 2011, London tercatat berpenduduk sebanyak 8.174.100 jiwa, atau sekitar 12,5% dari populasi Britania Raya secara keseluruhan. Hal ini menjadikan London sebagai kota terbesar di Uni Eropa menurut jumlah populasi juga menjadi kawasan urban terbesar kedua (setelah Paris) di Uni Eropa dengan jumlah penduduk 8.278.251 jiwa, sedangkan kawasan metropolitan London adalah yang terbesar di Uni Eropa dengan populasinya yang diperkirakan mencapai 12 hingga 14 juta jiwa. Sebelumnya, London juga pernah menjadi kota dengan populasi terbesar di dunia pada periode 1831-1925.

Populasi seperti itulah, sangat elite, santun, rapi dan berbeda jauh dengan warga Rio de Janeiro, Brasil yang kami temui di dalam gerbong Underground Piccadilly Line dan di stasiun Piccadilly Circus, saat kami turun dari Tube. Kami dibantu oleh petugas di konter Tube dan peta yang terpasang di berbagai sudut jalan untuk menuju The Z Hotel Soho, 17 Moor Street, West End Soho, London, UK, W1D 5AP. Di sekitar stasiun itu suasananya sangat ramai dengan para wisatawan yang berjalan santai dalam dingin malam sekitar 7 derajad. Kami segera mampir untuk makan malam menu soto Lamongan di Nusadua Resto, dengan alamat 118-120 Shaftesbury Avenue London W1D5EP dan kami memilih menu Indonesia, karena harganya paling terjangkau, hanya £5. Malam itu kami segera masuk ke kamar 213 The Z Hotel Soho, untuk menghindari dingin yang menggit sampai ke tulang kami, karena kami tidak mengira dan hanya menyiapkan bekal untuk melawan suhu panas yang sampai 34 derajad di Rio de Janeiro, Brasil. Malam itu kami tidur nyenyak, setelah menyiapkan peta jalan ke situs warisan dunia menurut UNESCO di London.

 XGeJokwm  07mwTJkY

Kedinginan di red box depan The Z Hotel Soho

The Z Hotel Soho, 17 Moor Street,
West End Soho, London, UK, W1D 5AP

Kami memulai jalan-jalan di kota London, Inggris dari kamar 203 The Z Hotel Soho, 17 Moor Street, West End Soho, London, UK, W1D 5AP, Senin 23 November 2015 dalam pagi yang dingin menggigit tulang. Kami berjalan kaki ke timur di Moor St menuju ke Romilly St sejauh 102 kaki, terus berbelok ke kanan ke Charing Cross Rd/A400 untuk mencapai Stasiun Leicester Square. Kemudian kami naik kereta api bawah tanah Northern Line melewati stasiun Charing Cross dan turun di Embankment bertarif £ 4,8. London Underground, kereta api bawah tanah atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Tube”, merupakan sistem transportasi massal kereta listrik bawah tanah yang tertua, dan yang kedua terpanjang di dunia. Sejak mulai beroperasi pada tahun 1863, sistem ini telah melayani 270 stasiun. Lebih dari tiga juta perjalanan dilakukan setiap hari melintasi rangkaian rel bawah tanah London, dengan kata lain lebih dari 1 miliar penumpang pertahunnya. London juga dipuji sebagai kota besar yang memiliki transportasi umum terbaik. Di Stasiun Subway Embankment kami turun dan berganti naik Tube District Line menuju Upminster, selama 11 menit melewati, Temple, Blackfriars, Mansion House, Cannon Street, Monument, dan turun di Tower Hill, lalu Berjalan sekitar 5 menit sejauh 0,3 mil untuk menuju ke Menara London.

 kZT4nNKg  NhemlLfA

Populasi yang elite, santun, dan rapi kami temui di dalam gerbong Underground Piccadilly Line

Bangsa Romawi yang mendirikan Londinium, cikal bakal London

Sejak tahun 1899, secara umum dipercaya bahwa nama London berasal dari bahasa Kelt yang bermakna tempat milik orang bernama Londinos. Pada tahun 1998, Richard Coates mengemukakan teorinya bahwa nama London berasal dari sebuah kata dalam bahasa Eropa Lama pra-Kelt yaitu (p)lowonida yang berarti ‘sungai yang terlalu luas untuk diarungi’. Coates berpendapat bahwa nama ini ditujukan untuk menyebut Sungai Thames yang mengalir melintasi London. Dari kata ini, permukiman ini mendapat nama dari bahasa Kelt, yaitu Lowonidonjon. Setelah jatuhnya kekuasaan Romawi pada awal abad ke-5, London menjadi terabaikan. Namun, mulai abad ke-6, sebuah permukiman Anglo-Saxon yang dikenal dengan nama Lundenwic berkembang di sebelah barat kota Romawi yang lama, di lokasi yang saat ini dikenal dengan Covent Garden dan Strand, dan didiami oleh sekitar 10.000–12.000 jiwa. Pada abad ke-9, London berulang kali diserang oleh bangsa Viking sehingga kota itu terpaksa dipindahkan kembali ke kota Londinium Romawi.

Setelah penyatuan Inggris pada abad ke-10, London yang telah menjadi kota terbesar dan pusat perdagangan terpenting di Inggris juga bangkit menjadi pusat politik, meskipun masih harus bersaing dengan Winchester, yang pada saat itu merupakan ibu kota Inggris. Hingga tahun 1889, nama “London” hanya ditujukan untuk menyebut City of London, namun semenjak itu pula nama ini turut digunakan untuk menyebut Country of London, dan saat ini dipergunakan untuk menyebut London Raya secara keseluruhan. Pada tahun 1066 Raja William membangun Menara London yang merupakan pembangunan pertama dari sejumlah besar kastil Norman di Inggris, yang dibangun dengan menggunakan batu. Menara London yang kami kunjungi pagi itu, dilengkapi dengan Jembatan Menara yang dibangun 800 tahun setelahnya, untuk menyeberang Sungai Thames. Jembatan Menara atau Tower Bridge karya arsitek Horace Jones dan John Wolfe Barry ini selesai dibangun pada tahun 1894, merupakan salah satu ikon penting Kota London, dan sering disebut jembatan paling populer di dunia.

 SAMSUNG CAMERA PICTURES  SAMSUNG CAMERA PICTURES

‘sungai yang terlalu luas untuk diarungi’
Sungai Thames yang mengalir melintasi London

Jembatan Menara dibangun pada tahun 1894 sering disebut jembatan paling populer di dunia.

Setelah itu, kami kembali ke Subway Station, naik Tube Circle Line dari Tower Hill menuju Westminster, selama 13 menit melewati Monument, Cannon Street, Mansion House, Blackfriars, Temple, dan Embankment tempat kami naik Distric Line sebelumnya. Dari Westminster Tube Station kami berjalan ke arah timur di Bridge St/A302 menuju ke Victoria Embankment/A3211, berjalan 213 kaki belok kiri ke Victoria Embankment/A3211, untuk mencapai Westminster Pier tempat terdekat untuk melihat Mata London. Mata London atau London Eye yang sering disebut juga Millennium Wheel adalah sebuah roda pengamatan yang terbesar di dunia setinggi 135 meter atau 443 kaki. London Eye berputar di atas Sungai Thames, London, dan mulai beroperasi pada akhir 1999. London Eye dirancang oleh arsitek David Marks dan Julia Barfield dengan 32 buah kapsul pengamatan tertutup yang ber-Air Conditioner di sisi luar lingkarannya. London Eye berputar dengan kecepatan 0,26 meter/detik dan satu kali keliling memakan waktu sekitar 30 menit atau setengah jam. The Eye, sebutan untuk London Eye, diresmikan oleh Perdana Menteri Inggris Tony Blair pada 31 Desember 1999, namun baru dibuka untuk publik pada Maret 2000 karena masalah teknis. London Eye dioperasikan oleh Tussauds Group dan disponsori British Airways yang menggunakan istilah fly dan flight untuk menggambarkan perjalanan di London Eye. Seiring berjalannya waktu, London Eye menjadi objek pariwisata yang terkenal dan menjadi ikon London. Warga London pun menyambut hangat London Eye, lebih hangat dari sambutan terhadap Millennium Dome, dan sampai Juli 2002, sebanyak 8,5 juta orang telah “terbang” di London Eye.

SAMSUNG CAMERA PICTURES  SAMSUNG CAMERA PICTURES

The Eye, sebutan untuk London Eye, diresmikan oleh Perdana Menteri Inggris Tony Blair pada 31 Desember 1999

London Eye atau Millennium Wheel adalah sebuah roda pengamatan yang terbesar di dunia berputar di atas Sungai Thames, London,

Dari Westminster Pier kami berbalik arah untuk menuju ke Derby Gate sejauh 0,1 mil, kemudian belok kanan ke Bridge St/A302 sejauh 131 kaki untuk mencapai Big Ben dengan memotong Westminster Bridge. Big Ben adalah nama sebuah menara jam yang terletak di Istana Westminster. Secara resmi menara ini diberi nama Elizabeth Tower, bertepatan dengan pesta 60 tahun Ratu Elizabeth II memimpin Britania Raya dan Wilayah Persemakmuran. Big Ben selesai dibangun pada tahun 1858, dan pada tanggal 31 Mei 2009 menara ini tepat berusia 150 tahun. Menara ini dibangun sebagai bagian dari rencana pembangunan istana baru oleh Charles Barry, setelah Istana Westminster yang lama telah hancur akibat kebakaran pada 22 Oktober 1834. Menara ini tingginya 96.3 meter dan dibangun dengan gaya Gothik Victoria. Dinding setinggi 61 meter di bawah jam terbuat dari bata yang dilapisi oleh batu, sedangkan puncak menara ditopang dengan rangka besi yang dibuat dari besi leleh. Menara ini dibangun di atas tanah berukuran 15 meter kali 15 meter, fondasi terbuat dari beton setebal 3 meter, pada kedalaman 4 meter di bawah permukaan. Semua sisi jam tingginya 55 meter dari atas tanah.

 Big Ben  SAMSUNG CAMERA PICTURES

Big Ben atau Elizabeth Tower tingginya 96.3 meter. Dinding setinggi 61 meter di bawah jam terbuat dari bata yang dilapisi oleh batu,

Big Ben atau Elizabeth Tower adalah nama sebuah menara jam yang terletak di Istana Westminster.

Jam ini terkenal karena ketepatannya. Pendesainnya adalah seorang pengacara dan horologis amatir Edmund Beckett Denison dan George Airy, seorang Astronom Kerajaan Inggris. Jam ini dibuat oleh Edward John Dent, yang menyelesaikannya pada tahun 1854, namun menara Big Ben belum selesai saat itu, sehingga baru dipasang tahun 1859, bersamaan dengan lonceng Big Ben yang didesain oleh Augustus Pugin. Jam ini diletakan pada sebuah kerangka besi berukuran 7 meter, ditopang dengan 312 kepingan kaca opal, sehingga mirip seperti jendela berwarna. Jarum pendek untuk jam memiliki panjang 2.7 meter dan jarum panjang untuk menit memiliki panjang 4.3 meter.

Loncengnya dilapisi seluruhnya dengan emas. Pada bagian bawah jam, di setiap sisi jam, terdapat tulisan: DOMINE SALVAM FAC REGINAM NOSTRAM VICTORIAM PRIMAM atau Oh Tuhan, lindungi Ratu Victoria yang Pertama. Ketika terjadi ‘Blitz London’ dalam Perang Dunia II, Istana Westminster sempat dibom oleh Jerman pada 10 Mei 1941, dan sebuah bom menghancurkan 2 dari 4 muka jam, sebagian dari atap menara dan ruangan dewan rakyat. Arsitek Sir Giles Gilbert Scott merancang lagi dan jam ini tetap masih berjalan baik, walaupun serangkaian serangan bom besar terus terjadi dan berlangsung sampai Blitz berakhir.

 SAMSUNG CAMERA PICTURES  SAMSUNG CAMERA PICTURES

Lonceng pada Big Bed dilapisi seluruhnya dengan emas.

Red Box, Bis tingkat warna merah, Big Ben dan wanita rapi, ciri khas London.

Dari Big Ben kami melanjutkan perjalanan ke selatan mencapai Parliament Square sejauh 384 kaki atau 2 menit berjalan kaki. Selanjutnya kami berbelok ke kiri melewati St. Margaret’s Church, sejauh 299 kaki atau 1,5 menit untuk mencapai Westminster Abbey. Pada abad ke-11, Raja Edward membangun Westminster Abbey dan Westminster, sebuah kawasan kediaman kerajaan yang terletak tidak jauh ke hulu sungai Thames di pusat kota London. Westminster Abbey adalah sebuah situs warisan dunia dan salah satu bangunan tertua dan paling penting di London sampai tahun 1749. Setelah kemenangannya dalam Pertempuran Hastings, Guillaume sang Penakluk, dimahkotakan sebagai Raja Inggris di Westminster Abbey yang baru saja selesai dibangun pada Hari Natal 1066. Pada 1097, William II memulai pembangunan Westminster Hall, berdekatan dengan lokasi Westminster Abbey. Bangunan ini selanjutnya menjadi dasar bagi terbentuknya Istana Westminster yang baru.

 SAMSUNG CAMERA PICTURES  SAMSUNG CAMERA PICTURES

Patung seukuran sebenarannya dari Perdana Menteri Inggris Winston Churcill
Di Parliament Square

Westminster Abbey adalah sebuah situs warisan dunia dan salah satu bangunan tertua dan paling penting di London sampai tahun 1749.

Dari Westminster Abbey kami berjalan kaki lagi sekitar 4 menit atau sejauh 0,2 mil untuk mengagumi patung seukuran sebenarnya Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln dan Perdana Menteri Inggris Winston Churcill. Kemudian kami ikut antri berfoto dengan banyak wisatawan lain, dari seberang Parliament Square. Dari posisi itu, 4 buah ikon London sangat fantastis diabadikan, yaitu Red Box atau kotak telephon umum berwarna merah, Big ben yang menjulang di sisi Istana Westminster, taxi hitam, dan bis tingkat warna merah yang sering berhenti, karena lampu merah. Jaringan bis kota warna merah di London adalah salah satu jaringan yang terbesar di dunia, yang beroperasi selama 24 jam sehari, dengan lebih dari 8.000 armada bus, 700 rute, dan lebih dari 6 juta penumpang setiap hari kerja. Pada tahun 2003, jaringan bus ini mencatat sekitar 1,5 miliar penumpang dalam setahun, lebih banyak dari penumpang yang berhasil diangkut oleh London Undergroud. Cukup lama kami menantikan kesempatan emas dalam berfoto secara bergantian dengan para wisatawan lain, dan selanjutnya kami masuk Westminster Subway Station, untuk kembali ke bandara karena takut kehabisan waktu dan bekal dana.

Kami naik Circle Line melewati Monument, Cannon Street, Mansion House, Blackfriars, Temple, Embankment, Westminster, St. James’s Park, Victoria, Sloane Square, South Kensington, dan di Gloucester Road kami berganti Piccadilly Line. Dari Gloucester Road, kami naik Underground Piccadily Line melewati Earls Court, Barons Court, Hammersmith, Ravenscourt Park, Stamford Brook, Turnham Green, Acton Town, South Ealing, Northfields, Boston Manor, Osterley, Hounslow East Heathrow, Central, Hounslow West, dan turun di Hatton Cross, untuk berganti Piccadilly Line ke bandara Heathrow terminal 5, karena Piccadilly Line yang kami tumpangi hanya sampai terminal 4.

 SAMSUNG CAMERA PICTURES  A380

Red Box, dan Big Ben, ciri khas London
yang ikonik, dalam Hari Batik International

Bukan di dalam Batik Air, tetapi batik di dalam Airbus A380, enjoy the luxury and the space

Setelah sampai di terminal 5 bandara Heathrow, kami langsung masuk ke ruang tunggu penumpang, tanpa melewati konter imigrasi. Sambil makan siang seadanya di kantin, kami baca ulang tulisan di boarding pass, yaitu Mon 23 Nov BA 11, London Heathrow terminal 5, 19.05. Changi Singapore Terminal 1, Tue 24 Nov, 15.55, duration 12.50, Airbus A380-800. Pesawat terbang Airbus A380 yang diproduksi oleh Airbus S.A.S adalah sebuah pesawat berbadan lebar dua tingkat, dengan empat mesin yang mampu memuat 850 penumpang dalam konfigurasi satu kelas atau 555 penumpang dalam konfigurasi tiga kelas. Pesawat ini melaksanakan penerbangan perdana pada 27 April 2005 dan telah memulai penerbangan komersial pada akhir tahun 2007 setelah ditunda beberapa kali.

Pesawat ini juga merupakan pesawat komersial (pesawat penumpang) terbesar yang pernah dibuat, sehingga dijuluki Superjumbo. Setelah mulai beroperasi, pesawat ini menjadi pesawat super jumbo-jet pertama yang mempuyai ‘double-deck’ penuh tidak seperti competitor pertamanya Boeing 747, yang lantai 2 hanya terdapat di bagian depan cabin. Walaupun pesawat ini mempunyai ukuran yang sangat besar, A380 mengadopsi desain airliner konvensional dengan bodi pesawat silinder yang lebih lebar dari Boeing 747. A380 memakai sayap yang dipasang rendah pada bodinya dengan 4 mesin di sepanjang bentangan sayapnya. Roda pendaratannya terdiri dari 22 roda sehingga beban pada setiap roda sama dengan pada Boeing 747 dan 777. Pesawat ini mempunyai empat mesin buatan Rolls-Royce Trent-900 yang mampu memberikan daya dorong 36.280 kg atau empat mesin kipas turbo Engine Alliance GP 7200 (sebuah perusahaan patungan General Electric dengan Pratt & Whitney), dengan daya dorong 37.003 kg. Sungguh sebuah keajaiban teknologi dirgantara yang sangat menarik untuk kami coba, yang akan mengantar kami pulang ke Indonesia melalui Singapura.

Di terminal 1 Changi Singapore Airport, kami dijemput oleh Ibu Migdiawan, isteri Kol. Pnb. Migdiawan Atase Pertahanan KBRI (Indonesia) di Singapura, untuk menginap semalam di rumah dinasnya. Terima kasih atas semua bantuan dan perhatian dari siapapun, sehingga perjalanan separuh belahan bumi ini, yaitu ke Rio de Janeiro, London dan Singapura, dapat terlaksana dengan luar biasa. Sampai ketemu dalam petualangan selanjutnya.

Ikut pak Jokowi

sekian

*) pelancong Jawa berdana cekak

Rabu, 16 Desember 2015.

Categories
anak Healthy Life Jalan-jalan sejarah

2014 Nyata di Italia

NYATA  DI  ITALIA
fx. wikan indrarto*)

Pada hari Senin dan Selasa, 8 dan 9 September 2014 kami mengikuti ERS (European Respiratory Society) International Congress 2014 yang diselenggarakan di ICM (Internationales Congress Center Munchen) di Messegelande, Munchen, Bavaria, Jerman. Setelah selesai acara konggres, kami meninggalkan Munchen, Jerman menuju Roma, Italia dengan menggunakan kereta api internasional City Night Line (CNL) 485, gerbong 255, bed 91 dan 92, Rabu 9 September 2014, berangkat pk. 21.08 dari Hauptbahnhof Central Station. Di dalam gerbong kelas 2 berharga tiket E 333.6, terdapat 6 tempat tidur bertingkat 3, dalam 2 baris pada 1 kamar. Kami berdua dapat bed paling bawah, sehingga tidak perlu memanjat tangga.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/05/22/2014-pancen-munchen/

.

Kereta melewati kota Kufstein di Jerman, Woergl, Jenbach, Inssbruck, Brennero atau Brener di Austria, lalu menyeberang ke Fortezza, Bressanone Brixen, Bolzano, Trento, Rovereto, Verona, Bologna, Firenze, Chiusi, Chiano, Orvieto dan akan turun di Roma Termini. Kami melewati tunnel (terowongan di bawah laut) di antara pulau Sprogo dan Zealand, sepanjang 8 km dalam waktu 4 menit. Kereta CNL berganti lokomotif 2 kali, yaitu di Fortezza dan Chiano, sehingga kami berganti posisi arah jalan juga 2 kali, dan yang terakhir dengan ditarik lokomotif milik Trenitali, sampai memasuki kota Roma.

 
DSC04410
 
DSC04413

City Night Line (CNL) 485
di Hauptbahnhof Munchen Central Station, Jerman

City Night Line (CNL) 485,
gerbong 255, bed 91, dari Jerman
menuju Italia

.

Roma adalah ibu kota Italia, ibu kota Provinsi Roma dan juga ibu kota daerah Lazio. Sebagai kota terbesar di Italia, Roma mempunyai populasi sebesar 2.823.807 jiwa (2004) dengan hampir 4 juta di daerah metropolitan. Sejarah kota ini sangat panjang, hampir 2.800 tahun. Ada bukti arkeologi manusia purba di daerah Roma sekitar 14.000 tahun yang lalu, disebut jaman Palaeolithic dan situs Neolitik. Cerita tradisional yang diwariskan oleh orang-orang Romawi kuno menjelaskan sejarah awal kota mereka dalam legenda dan mitos. Yang paling akrab mitos ini, dan mungkin yang paling terkenal dari semua mitos Romawi, adalah kisah Romulus dan Remus, si kembar yang disusui oleh seekor serigala betina. Mereka memutuskan untuk membangun sebuah kota, tapi pada akhirnya Romulus membunuh saudaranya. Menurut analis, ini terjadi pada 21 April 753 SM. Selama itu, kota ini pernah menjadi pusat Kerajaan Romawi, Republik Romawi dan Kekaisaran Romawi, dan belakangan negara Kepausan, Kerajaan Italia, dan kini Republik Italia.

.

Segera setelah Perang Dunia I selesai, Roma mengalami tumbuhnya kekuatan Fasisme Italia, yang dipimpin oleh Benito Mussolini, yang berbasis di Roma pada tahun 1922. Pada akhirnya Mussolini mendeklarasikan Kekaisaran Italia baru dan bersekutu dengan Nazi Jerman. Dalam Perang Dunia II, karena pengaruh dan kehadiran Vatikan, sebagian besar wilayah kota Roma lolos dari takdir tragis seperti kota-kota Eropa lainnya.

.

Roma telah menjadi situs ziarah Kristen (tepatnya pemeluk agama Katolik Roma) yang utama sejak Abad Pertengahan. Paus adalah pemimpin spiritual pemeluk Katolik dan tokoh paling berpengaruh sejak awal sejarah gereja. Meskipun sempat terjadi perselisihan antara Kepausan dan Kekaisaran Romawi saat Charlemagne, dinobatkan sebagai kaisar pertama di Roma pada tahun 800 oleh Paus Leo III, tetapi Roma sebagai pusat Kepausan dan “kota suci”, tetap berlangsung selama berabad-abad, bahkan ketika Kepausan pindah sebentar ke Avignon di Perancis (1309-1377). Umat Katolik percaya bahwa Vatikan adalah tempat peristirahatan terakhir Santo Petrus, pemimpin murid Yesus Kristus. Orang-orang Katolik dari seluruh dunia mengunjungi Vatikan, yaitu istana kepausan yang berada di dalam kota Roma. Kami juga berkehendak baik sebagai salah satu peziarah.

.

Kami memasuki pelataran Stasiun Kota Roma Termini Rabu, 9 September 2014, pk. 9.20. Segera kami bergegas naik taxi resmi warna putih, sebuah sedan VW, untuk menuju penginapan kami di CIAM (Centro Internazionale di Animazione Missionaria) via Urbano VIII no 16, Roma (Citta del Vaticano). Gedung tempat retret dan kegiatan kerohanian ini dibangun atas ide Mgr. Fulton Sheen Vescove Ausiliare (Uskup New York, USA), yang berada di dalam tembok beteng Vatikan. Kami menginap 2 malam di situ dengan tariff E 160, atas kebaikan hati Rm. Agus Widodo, Pr yang sedang studi S3 di Agustiano College Roma. Basilika (Katedral besar) Santo Petrus adalah tujuan utama peziarah, karena kehadiran paus dan merupakan makam banyak paus sebelumnya di sana, termasuk St. Petrus (St. Peter), yang diakui oleh umat Katolik sebagai Paus pertama.

.

 
Italia
 
DSC04478

Palazzo Senatorio,
Rome City Hall, pusat kota Roma, Italia

CIAM (Centro Internazionale di Animazione Missionaria) di dalam beteng batu bata kota Vatikan

.

Wilayah Kota Vatikan adalah bagian dari Mons Vaticanus (Bukit Vatikan), di mana terdapat Basilika Santo Petrus, Istana Apostolik, Kapel Sistina, dan museum Vatican. Wilayah ini bagian dari Rione Romawi Borgo sejak tahun 1929 dan dipisahkan dari kota Roma oleh sungai Tiber. Daerah itu merupakan bagian kota yang dilindungi oleh benteng batu bata merah sepanjang 3,2 km sejak jaman Paus Leo IV, kemudian diperluas oleh Paus Paul III, Pius IV, dan Urban VIII. Setelah menitipkan barang bawaan di kamar, kami segera bergegas menuju Basilika Santo Petrus. Kami akan mengikuti ‘Al Termine Dell’udienza Generale’ atau audiensi umum dengan Bapa Suci Sri Paus Fransiscus setiap hari Rabu. Kami segera menuju Terminal Gianicolo, melewati stazione San Pietro dan memasuki lapangan Santo Petrus yang sangat penuh peziarah, atas undangan resmi dari Prefettura Della Casa Pontificia (Tahta Suci).

.

 
St. Petro Roma
 
Paus Fransiscus

Dari Indonesia di antara lautan peziarah
dari seluruh dunia di Vatikan City

Bapa Suci Sri Paus Fransiscus
menyapa peziarah
di Lapangan Santo Petrus

.

Diperkirakan bahwa daerah di kota pinggiran kota Roma yang sebelumnya tidak dihuni ini (ager vaticanus), sudah selalu dianggap suci, bahkan sebelum kedatangan agama Kristen perdana. Pada tahun 326, gedung gereja pertama dibangun di atas tempat yang diperkirakan sebagai makam Santo Petrus. Sejak itu, tempat ini semakin banyak dihuni dan menjadi padat penduduk. Ketika Lateran Treaty ditandatangani pada 11 Februari 1929, juga dikenal dengan nama Concordat, oleh Kardinal Gaspari yang mewakili Paus Pius XI dan Benito Mussolini yang mewakili Raja Victor Emmanuel III, Lapangan Santo Petrus di dalam Kota Vatikan, terpisah dari wilayah Italia hanya dengan garis putih di sepanjang batas lapangan, sampai menyentuh Piazza Pio XII. Lapangan Santo Petrus yang kami kunjungi, dapat dicapai melalui Via della Conciliazione, yang membentang dari Sungai Tiber sampai ke Basiliki Santo Petrus. Kompleks besar ini dirancang oleh arsitek Piacentini dan Spaccarelli, atas perintah Diktator Benito Mussolini dan sesuai dengan ide gereja. Menurut Lateran Treaty, Tahta Suci, sebutan lain untuk Vatikan, yang terletak di dalam wilayah Italia, termasuk Istana Paus Castel Gandolfo dan basilika utama, diberikan status ekstrateritorial, mirip dengan kedutaan negara asing. Sejak itu Vatikan atau lebih lengkap disebut sebagai Kota Vatikan, dengan nama resmi Negara Kota Vatikan (Stato della Città del Vaticano), merupakan negara merdeka terkecil di dunia, dari segi luas wilayah yaitu 0,44 km² dan jumlah penduduk.

.

Sejak siang itu kami akrab dengan tulisan benvenuti (selamat datang), livello (level), uscita (exit), uscita di emergenza (pintu egermensi), zucchero (gula), leFrescheBiscottate, croissant (biscuit kering) dan vietato fumare (no smoking). Proprieta Privata (daerah khusus penghuni). Pada sore harinya, kami ditemani Rm. Agus Widodo, Pr memasuki Basilika Santo Petrus. Baik di dalam dan luar gedung basilika St. Petrus, lansekap dan bangunan ini  adalah ekspresi seni dan arsitektur era Renaissance, yang menampilkan karya Michelangelo, Bernini, Raphael dan Bramante. Lokasi pembangun basilika dipilih oleh Kaisar Konstantinus pada abad keempat. Pada zaman Romawi kuno, orang yang meninggal akan dikremasi. Setelah era gereja perdana yang religius, praktek penguburan adalah hal yang wajib dilakukan, seperti  oleh kaum Yahudi dan Kristen.  Monumen pemakaman dan prosesi pemakaman diizinkan di sepanjang jalan menuju ke kota. Orang Kristen pada abad kedua membuat kuburan komunal di katakombe, ruang bawah tanah gereja yang  diukir dari batuan tufa vulkanik lembut, dan menjadi sangat populer hingga saat ini. Pengunjung dapat berkeliling sampai beberapa  kilometer, mulai dari terowongan dengan ukiran makam yang rumit di beberapa situs, dan salah satu yang terbesar dan terpopuler  adalah ‘Catacombs of San Sebastian’. Sore itu kami sangat terkagum-kagum, atas keindahan karya seni Basilika Santo Petrus dan makam para paus di dalam dan di bawah basilica.

.

 
Lansekap Vatikan
 
Katakombe Vatikan
Lansekap Lapangan Santo Petrus, ekspresi seni dan arsitektur era RenaissanceKatakombe di bawah Basilika Santo Petrus di Vatikan City

.

Roma mampu bersaing dengan kota-kota besar Eropa lain dalam hal kekayaan, keagungan, seni, pendidikan dan arsitektur. Periode Renaissance mengubah wajah Roma secara dramatis, dengan karya-karya seperti Pietà oleh Michelangelo dan lukisan-lukisan dinding dari Borgia Apartment, yang semuanya dilakukan selama Paus Innocent. Roma mencapai titik tertinggi kemegahan pada jaman Paus Julius II (1503-1513) dan penerusnya Leo X dan Clement VII. Dalam jangka waktu dua puluh tahun ini, Roma menjadi salah satu pusat seni terbesar di dunia. Basilika Santo Petrus tua yang dibangun oleh Kaisar Konstantinus Agung (yang saat itu berada dalam keadaan rusak), dihancurkan dan yang baru mulai dibangun. Kota ini menjadi panggung artis seperti Ghirlandaio, Perugino, Botticelli dan Bramante, yang membangun kuil San Pietro in Montorio dan merencanakan proyek besar untuk merenovasi Vatikan. Raphael, yang di Roma menjadi salah satu pelukis paling terkenal dari Italia, menciptakan lukisan dinding di Villa Farnesina, para Raphael Rooms, ditambah banyak lukisan terkenal lainnya. Michelangelo mendekorasi langit-langit Kapel Sistina dan membuat patung Musa untuk makam Julius II. Setelah puas melihat tanpa memfoto karena keterbatasan kemampuan kamera, kami segera bergegas untuk menuju Ristorante Cinese Yuqilin. Perut kami menjadi kenyang karena menu Asia, yaitu Omelette (telor dadar), Tou Fu (tahu), Verdure Cinese (sayur). Setelah itu kami membeli tiket bis ‘Biglietto Integrato a Tempo vale 100 minute, 1 sola corsa metro/treno Transporto Publico Locale di ATAC (autobus, tram e metropolitana)’, yang akan kami gunakan untuk jalan-jalan. Tiket angkutan umum di Roma berlaku sesuai waktu untuk masa 100 menit, tidak tergantung jarak dan tujuan.

.

Kamis, 11 September 2014 yang gerimis, kami meninggalkan kamar 211 CIAM dengan berjalan kaki menuju Cavallegeri di dekat Terminal Gianicolo. Kami akan turun di Piezza Venezia dengan naik bis umum. Di Roma bis dan kendaraan lain melintas di jalan yang disusun dari batu tanpa aspal sama sekali, sehingga Roma disebut sebagai Kota Abadi atau The Eternal City. Kami naik bis no 46, berkenalan dengan seorang pastor dari Toledo, Spanyol yang memberkati kami berdua pada akhir perjumpaan kami di terminal bis Piezza Venezia. Pada tahun 1870, saat Roma menjadi ibu kota Kerajaan Italia, gaya bangunan neoklasisisme berpengaruh dominan dalam arsitektur Romawi. Selama periode ini, banyak istana besar dalam gaya neoklasik dibangun, untuk menjadi kantor kementerian, kedutaan besar, dan lembaga tinggi lainnya. Salah satu simbol paling terkenal dari neoklasisisme Romawi adalah Monument Vittorio Emanuele II atau “Altar Tanah”, dimana Makam Prajurit Tak Dikenal, yang mewakili 650.000 orang tentara Italia yang gugur dalam Perang Dunia I. Dengan berjalan kaki dari Piezza Venezia, kami menyeberang Fori Imperiati dan Il Vittoriano : Monumento Della Celebrazione, yang dibangun tahun 1878, untuk mengenang Kaisar Vittorio Emanuele II. Saat ini gedung tersebut digunakan sebagai museum, yaitu Museo Nazionale Emigrazione Italiana. Di belakangnya ada Gereja Santa Maria in Ara Coeli, di dalam sebuah areal arkeologis yang dinamakan Foro di Augusto.

.

 
DSC04479
 
DSC04488

Monumento Della Celebrazione Il Vittoriano, terlihat dari Piazza Venezia

Foro Di Cesare, Situs arkeologis Peninggalan Romawi di Italia

.

Kami segera bergegas dalam ketakjuban arkeologis, memasuki Foro Romano. Sepanjang jalan yang tertata rapi tersebut, dilengkapi banyak patung para kaisar Romawi, termasuk IMP Caesari Nervae Traiano Optimo Principi, dan Piazza e Statua Equestre di Traiano. Kami memasuki ‘I Fori di Roma’ dengan 6 kompleks peninggalan arkeologis, yaitu Foro Romano yang utama, kemudian Foro Di Cesare, Foro di Augusto, Foro Della Pace, Foro di Nerva dan Foro di Traiano. Foro Romano memiliki 31 buah tempat ekskavasi arkeologis, no 1 yaitu Tabularium dan no 31 adalah Via Sacra dan yang utama adalah Basilica di Massenzio. Sedangkan Foro Di Cesare ada 3 tempat yang menarik, yang utama adalah Necropoli protostorica.

.

Menurut sejarah Romawi, areal di dalam tembok kota, yaitu Servian Wall, yang dibangun oleh bangsa Galia pada sekitar tahun 390 SM. Batas ini meliputi sebagian besar perbukitan Esquiline dan Caelian. Servian Wall di Roma dibangun sampai hampir selama 700 tahun, sampai pada tahun 270, saat Kaisar Aurelian mulai membangun Tembok Aurelian. Tembok baru ini memanjang hampir 19 kilometer (12 mil) dan menjadi bagian sistem pertahanan kota pada perang tahun 1870 dan bertahan sampai sekarang dalam kompleks yang disebut ‘I Fori di Roma’. Salah satu simbol dari kejayaan masa lalu Roma adalah Colosseum (70-80 AD), amphitheatre terbesar yang pernah dibangun di jaman Kekaisaran Romawi. Awalnya mampu menampung 60.000 penonton yang duduk, untuk menyaksikan pertempuran gladiator. Monumen penting dari situs Romawi kuno meliputi Roman Forum, Domus Aurea, Pantheon, Kolom Trayanus, Pasar Trajan, Catacombs, Circus Maximus, Baths of Caracalla, Castel Sant’Angelo, Mausoleum Augustus, Ara Pacis, Arch of Constantine, Piramida Cestius, dan Bocca della Verità.

.

 
DSC04499
 
DSC04492
Colosseum, amphitheatre terbesar di jaman Kekaisaran Romawi, dapat menampung 60.000 penontonArch of Constantine
gerbang utama menuju Colosseum

.

Karena kehujanan pada akhir musim panas di Colosseum, kami segera pulang dengan naik bis kota nomor 916 ke arah Tassoni dan akan turun di Cavallegeri. Kami melewati Palazio Altieri, Chiesa Nuova, dan Sassia, untuk menuju Musei Vaticani dan Capella Sistina. Dengan berjalan kaki dari Cavallegeri, kami memasuki kembali areal Lapangan Santo Petrus. Dengan menyeberangi lapangan yang padat peziarah tersebut, kami melewati titik ziarah yang cukup populer yaitu tangga Pontius Pilatus. Menurut tradisi Kristen, tangga ini dibangun menyerupai langkah yang mengarah ke gedung pengadilan jaman Pontius Pilatus menghukum mati Yesus Kristus di Yerusalem. Di situlah, Yesus Kristus berdiri untuk memulai sengsara-Nya dalam perjalanan ke Bukit Golgota. Tangga tersebut dibawa ke Roma oleh St Helena di abad ke-4. Keindahnnya tidak kalah dibandingkan karya arsitektur era Renaissance, yaitu Piazza del Campidoglio oleh Michelangelo, Palazzo del Quirinale (sekarang istana Presiden Republik Italia), Palazzo Venezia, Palazzo Farnese, Palazzo Barberini, Palazzo Chigi (sekarang kantor Perdana Menteri Italia), Palazzo Spada, Palazzo della Cancelleria, dan Villa Farnesina. Juga Panorama Piazza del Campidoglio yang sangat menarik, dengan Patung Berkuda Marcus Aurelius yang gagah, dibangun selama era Baroque. Yang utama adalah Piazza Navona, Piazza di Spagna, Campo de ‘Fiori, Piazza Venezia, Piazza Farnese, Piazza della Rotonda dan Piazza della Minerva. Salah satu contoh yang paling eksotis sebagai simbol seni aliran Baroque adalah Fontana di Trevi oleh Nicola Salvi dan Palazzo Madama, sekarang digunakan sebagai gedung Senat Italia dan Palazzo Montecitorio, sekarang kantor wakil perdana menteri Italia.

.

Pada tahun 1266, saat Paus meninggal, para kardinal bertemu di Viterbo, tetapi tidak mampu menyetujui tentang penggantinya. Masyarakat kota Roma menjadi marah tentang itu, mengunci pintu gedung di mana mereka bertemu, memenjarakan mereka sampai mereka telah memilih paus yang baru. Periode ini menandai lahirnya ‘konklaf’ yang berarti kunci, dalam pemilihan seorang paus baru. Konklaf terakhir pada tahun 2013, dilakukan di Kapel Sistina di dalam kompleks Museum Vatikan, untuk memilih Paus Farnsiscus.

.

 
Tangga Museum Vatikan
 
DSC04508
Tangga Melingkar di Museum VatikanGerbang keluar Mesei Vaticani

.

Setelah melewati Guardaroba (ruang pemeriksaan barang) dan biglietteria (ticket), kami bergegas untuk pulang ke penginapan. Kedua kaki sudah terasa penat berjalan kaki jauh sekali, tetapi kedua mata dan kedalaman hati terasa tergagap, tidak mampu mengucapkan komentar, atas semua keindahan dan keajaiban seni yang telah kami nikmati. Malam ini kami tertidur pulas, setelah menyiapkan diri untuk menuju Rome-Fiumicino Leonardo da Vinci International Airport menuju ke Paris, dini hari Jumat, 12 september 2014.

Akan bersambung dengan petualangan di Perancis

*) pelancong Jawa bermodal niat Ditulis di kamar 116 CIAM (Centro Internazionale di Animazione Missionaria) via Urbano VIII no 16, Roma (Citta del Vaticano).

baca :  https://dokterwikan.wordpress.com/2018/05/23/2014-nyaris-di-perancis/

Categories
anak Healthy Life Jalan-jalan politik

2014 Pancen Munchen Jerman

PANCEN   MUNCHEN  JERMAN

fx. wikan indrarto*)

Kami memulai petualangan di Eropa yang kedua kalinya dengan pesawat Lion Air JT 559 Boeing 737-900 ER pada hari Sabtu, 5 September 2014, berangkat pk. 13.15 dari Yogyakarta menuju ke Jakarta. Setelah beristirahat sejenak dan bertemu Yangti, mas Toto dan dik Woro di Bandara Cengkareng Jakarta, kami lanjut dengan Air France AF 0259, sebuah Boeing 777-300 ER baru, yang dilengkapi ‘consignes de securite’ atau petunjuk keselamatan dan ucapan ‘bienvenue a bord’ atau selamat datang di dalam kabin pesawat dalam Bahasa Perancis.

.

Kami berangkat pk. 18.45 melalui Singapura yang berjarak 883 km, menuju Paris (CDG kode untuk Charles de Gaulle Airport). Pesawat kami merupakan salah satu dari 37 pesawat sejenis, dari 111 buah ‘avions long-courriers’ atau pesawat jarak jauh milik Air France, termasuk 10 buah pesawat penumpang terbesar di dunia, Airbus A380. Dengan kecepatan pesawat 538 mph yang setera 878 km/jam, dengan ketinggian jelajah atau altitude 36.000 kaki, perjalanan yang menempuh 11.337 km tersebut, menghabiskan waktu 13 jam non stop dari Singapura. Kami lanjutkan perjalanan ke Munich di Jerman bagian selatan, melalui terminal 2F gate F47, pk. 9.45 dari Bandara Charles de Gaulle (CDG) Paris yang sangat megah. Kami berganti dengan pesawat Airbus A 320 Air France, salah satu dari 45 pesawat sejenis. Air France juga memiliki 129 pesawat jarak menengah dan 95 pesawat regional. Sampai Munich pk. 11.45 waktu setempat, atau 1 jam 15 menit perjalanan dari Paris.

.

Bandara Internasional Franz Josef Strauss (IATA: MUC, ICAO: EDDM) adalah bandara internasional terbesar kedua di Jerman dan ketujuh di Eropa setelah London Heathrow, Paris Charle de Gaulle, Frankfurt, Amsterdam, Madrid and Istanbul Atatürk. Bandara ini melayani sekitar 34 juta orang per tahunnya, dan terletak sekitar 30 km (19 mil) arah timur laut dari pusat kota. Bandara dapat dicapai dengan kereta S8 dari timur dan S1 dari barat kota. Dari stasiun kereta utama, perjalanannya akan memakan waktu 40-45 menit. Sebuah kereta ekspres akan ditambahkan, sehingga akan memangkas waktu perjalanan menjadi 20-25 menit saja. Lufthansa menjadikan bandara ini sebagai penghubung keduanya, ketika Terminal 2 dibuka pada tahun 2003. Bandara ini mulai digunakan sejak tahun 1992, menggantikan bandara sebelumnya yaitu Munich-Riem airport.

.

 
DSC04235
 
DSC04231

Kereta S8 yang akan kami gunakan

Gerbang Arcadia Hotel Munchen Airport

.

Setelah mendarat, kami segera menuju Arcadia Hotel Munchen Airport dengan naik taxi BMW bertarif E20. Setelah check in dan beristirahat sejenak di kamar nomor 111, kami segera memulai petualangan di Munchen dengan kereta api. Suburban train dan subway di Munchen diberi kode U (Urban dari 1 sampai 6) dan S (Suburban dari 1 sampai 8). Jalur Deutsche Bahn atau S-Bahn (suburban train), yaitu kereta api yang menjangkau daerah pinggiran kota dalam ring 4. Kereta jalur S8 memiliki stasiun pemberangkatan awal di terminal 1 bandara Munich Airport (Flughafen Munchen) menuju Herrsching. Kerata api berwarna dasar merah oranye dengan putih ini terdiri dari 10 gerbong bertarif E40. Kami melewati stasiun Besucherpark, Hallbergmoos, Ismaning, Unterfohring, Johanneskirchen, Englschalking, Daglfing, Leuchtenbergring, Ostbahnhof, Rosenheimer Platz, Isartor, Marien Platz, Karlsplatz (stachus) dan turun di Hauptbahnhof Central Station, di pusat kota. Kami tidak hanya berada di jalur bawah tanah yang gelap, tetapi kadang juga melewati areal persawahan gandum yang tertata rapi, diselingi pohon-pohon semak penuh daun tanpa buah, juga perkampungan dengan rumah gaya Jerman yang khas. Bangunan 2 lantai, bentuk luar kotak dengan sebuah kamar kecil beratap menghadap keluar, dari atap utama rumah. Sejak Stasiun Ostbahnhof, jalur kerata api selalu di bawah tanah, karena sudah berada di wilayah kota yang padat lalu lintas, agar semuanya lancar tanpa perlintasan sebidang. Kami turun di Hauptbahnhof Central Station, naik ke lantai utama dan melaksanakan rencana utama, yaitu membeli tiket City Night Line Train menuju ke Roma Termini Central Station di Italia, seharga E335 unt 2 orang.

.

 
DSC04236
 
DSC04238

Munchen Hauptbahnhof
Central Station

Tram di Munchen Hauptbahnhof
Central Station

.

Setelah itu kami membeli makan di konter ‘asiagourmet’, menu B1 seharga E3,5 (Asia-Bratnudeln) dan B5 (Mini Veggie Springrolls) seharga E 4,9 yang dibungkus kertas. Kami kembali ke jalur bawah tanah untuk naik S4 melewati stasiun Karlsplatz (stachus) dan turun di Marien Platz. Beda subway di Munchen dengan kota lainnya, pintu penumpang yang masuk dan keluar berbeda sisi, yaitu sisi kiri gerbong untuk penumpang yang masuk dan sisi kanan gerbong untuk penumpang yang turun. Para penumpang jadi tidak saling bertemu, banyak penumpang juga membawa sepeda maupun anjingnya, dan pintu hanya terbuka kalau ada penumpang memencet tombol.

.

Kami memasuki kathedral Stadtpfarramt St. Peter, Rindermarkt 1 Munchen, di seberang gedung Balaikota dan Speilzeug Museum. Katedral St. Petrus tersebut ditandai prasasti Ritterorden vom Heiligen Grab zu Jerusalem, Ordensprovinz Bayern, Kumturei Patrona Bavariae-Munchen.

.

 
DSC04245
 
DSC04254

Gedung Balaikota Munchen
dan Speilzeug Museum dalam hujan

Di dalam kathedral Stadtpfarramt St. Peter, Rindermarkt 1 Munchen

.

Kami bertahan cukup lama di beranda, karena hujan deras tiba-tiba turun. Setelah berdoa sejenak di dalam katedral yang megah, kami naik bis MAN gandeng warna biru yang bersih dan nyaman, untuk melihat-lihat kota. Kami turun di halte Candidplatz, untuk naik kereta api U1 (underground U-Bahnlinie) ke Sendinglinger Tor, melewati Kolumbusplatz dan Fraunhofererstr. Di stasiun Sendlinger Tor kami ganti U6 menuju stasiun Frottmaning untuk melihat stadiun sepakbola Allianz Arena. Kami melewati Marienplatz City Center, Odeonplatz, Universitat, Gisalastr, Munchner Freihet, Dietlindenstr, Nordfriedorf, Alte Heide, dan mulai dari stasiun Studentenstadt jalur bukan lagi di bawah tanah karena sudah di luar pusat kota, terus menuju ke Freimann, Kieferngarten, dan turun di Frottmaning. Kami mengunjungi dan berfoto di Allianz Arena, markas FC Bayern Munchen, sebuah klub sepakbola profesional, sampai matahari terbenam pk. 20 waktu setempat. Mega bintang Real Madrid, Cristiano Ronaldo, menahbiskan diri sebagai pencetak gol terbanyak dalam satu musim Liga Champions. Ronaldo telah membukukan 16 gol di kompetisi antarklub paling elit di benua Eropa itu. Ronaldo mencetak rekor tersebut lewat tambahan dua gol dalam kemenangan 4-0 Madrid atas Bayern Munchen, di leg kedua babak semifinal Liga Champions di Allianz Arena yang kami kunjungi itu, pada Rabu, 30 April 2014 yang lalu.

.

Kami kembali naik kereta api U6 dari Stasiun Frottmaning menuju ke Stasiun Marianplatz untuk berganti S8 menuju Munchen Airport atau Flughafen Munchen. Hotel Arcadia, tempat kami menginap, terletak di dalam kompleks bandara.

.

 
DSC04265
 
DSC04272

Allianz Arena,
markas dan stadion sepakbola milik
FC Bayern Munchen

ICM (Internationales Congress
Center Munchen)
di Messegelande, lokasi konggres ERS

.

Pada hari Senin, 8 September 2014, kami memulai hari dengan perjalanan dari Terminal 1 Bandara Munchen, kami naik kereta S8 menuju Leuchtenbergring, melewati Hallbergmoos, Ismaning, Unterfohring, Johanneskirchen, Englishalking, dan Daglfing. Kami ganti S4 tujuan stasiun Ebersberg, menuju stasiun Trudering melewati Berg am Laim, kemudian ganti U2 menuju Messestadt West melewati Moosfeld untuk berjalan kaki menuju ICM (Internationales Congress Center Munchen) di Messegelande. Kami mengikuti ERS (European Respiratory Society) International Congress 2014 yang diselenggarakan di ICM. U-Bahn menggunakan gerbong kereta gaya konservatif, tradisional dan lama yang masih terawat baik, dengan ornamen dan panel kayu pada dindingnya. S-Bahn menggunakan gerbong kereta modern yang mencerminkan dinamika, kepraktisan, dan optimisme.

.

Setelah mengikuti beberapa sesi konggres, kami melanjutkan perjalanan. Dengan kereta U2 dari stasiun Messestadt West lewat Moosfeld terus ke Trudering, untuk berganti S6 ke Stasiun Marianplatz City Center. Kami melewati Stasiun Berg am Laim dan Leuchtenbergring yang berada di atas tanah, dan mulai dari stasiun Ostbahnhof jalur kereta api berada di bawah tanah, menuju stasiun Rosenheimer Platz, dan Isartor karena sejak itu sudah berada di areal pusat kota Munich. Tujuan pertama kami adalah Deutsches Museum verkehrszentrum. Tersedia 2 buah pilihan tiket, yaitu seharga E 8,5 yang berupa ‘one day ticket’ atau E 15 berupa ‘three museum ticket’. München (bahasa Inggris: Munich, bahasa Bayern: Minga) adalah ibu kota negara bagian sekaligus kota terbesar di negara bagian Bayern di Jerman. Dengan penduduk berjumlah 1.305.522 jiwa (2006), München merupakan kota berpenduduk terbesar ketiga di Jerman setelah Berlin dan Hamburg. Kota ini terletak di sisi sungai Isar, bagian utara dari Bavarian Alps.

.

Kami sempatkan bergaya di depan patung Otto Furst von Bismarck (1815-1898) dengan keterangan ‘grunder des deutschen reiches ehrenburger derstadt Munchen’, yang berdiri gagah di dekat Sungai Isar, sebuah sungai besar yang membelah kota Munchen. Dengan sambutan ‘Herzlich Willkommen’ atau selamat datang dalam Bahasa Jerman, kami memasuki Wok & Roth, China Restaurant di SteinsdorfstraBe 22, tidak jauh dari patung Bismarck. Menu Peking Suppe atau sop seharga E2, Gebratener Reis m Huhn atau nasi goreng seharga E3,3 dan Rindfleisch mit Zwiebeln atau nasi daging seharga E6, mengenyangkan perut Asia kami sore itu.

.

Dari balai kota turun di Marienplatz City Center, naik U3 ke arah Moosach. Kami melewati Odeonplatz, Universitat, Giselastr, Munchner Freiheit, Bonner Platz, Scheidplatz, Petuelring, dan turun di Olympiazentrum, untuk melihat BMW Welt, BMW Museum dan Olympiapark. Ketiganya berada dalam sebuah kompleks yang sangat besar dan luas. Selanjutnya ke Zum Kirchenzentrum im Olympischen Dorf 1972. Naik kereta kelinci Einzelfahrschein Watzinger bertarif E 3, kami mengelilingi kompleks olimpiade yang sekarang tidak hanya digunakan sebagai fasilitas olah raga, tetapi juga kesenian, kuliner dan rekreasi keluarga. Kami sempat melihat sea live, patung Freddie Mercury (1946-1991) lead singer of Queen di Rockmuseum Munich di Olympiaturm, souvenir shop. Bahkan juga Retaurant 181, yang terletak di ketinggian 181 m dari atas tanah, dalam sebuah bangunan menara pemancar televisi olimpiade. Kota ini juga merupakan kota penyelenggara Olimpiade Musim Panas tahun 1972. Selanjutnya kami menikmati keindahan arsitektur BMW Welt atau ruang pamer mobil baru keluaran BMW. Kami berfoto dengan sebuah the all new BMW M3 Sedan yang berwarna biru dan the all new BMW M4 Coupe yg bercat merah tua. Kota ini juga menjadi kantor pusat dari beberapa perusahaan besar seperti Siemens AG (elektronik), BMW (mobil), MAN AG (produsen truk), Linde (gas), Allianz (asuransi), Munich Re (re-insurance), dan Rohde & Schwarz (elektronik).

.

 
DSC04312
 
DSC04320

the all new BMW M3 Sedan dan
the all new BMW M4 Coupe di BMW Welt

BMW Museum dan Kantor Pusat BMWmodern, berkelas dan futuristik

.

Dari Stasiun Olympiazentrum kami naik U3 menuju Stasiun Odeonplatz. Kami melewati Stasiun Petuelring, Scheidplatz, Bonner Platz, Munchner Freheit, Giselastr dan Universitat. Kami turun di stasiun Galeristr untuk keluar dari jalur bawah tanah menuju Ludwigstr. Di situ kami menikmati keindahan bangunan tua, yaitu Residenz Munchen yang dibangun tahun 1155. Sejarah kota Munich bermula saat Pangeran Ludwig memindahkan istananya dari Landshut dalam perpecahan Bavaria pada tahun 1255. Setelah menjadi raja, diubahlah rumah keluarga Wittelsbachs menjadi Residence atau istana, dari sebuah kuil kecil yang dimulai tahun 1385 sampai menjadi bangunan megah seluas 10 yards. Dalam 4 abad, yaitu sampai tahun 1918, gedung Residence ini menjadi pusat pemerintahan dan kekuasaan dinasti Wittelsbach. Istana ini memiliki 4 corak bangunan sesuai abad yang berbeda. Antiquarium merupakan aula terbesar bergaya Renaissance abad 17, yang dibangun Pangeran Maximilian I. Ancestral dan Ornate dirancang oleh Francois Cuvillies bergaya Recoco yang menonjol. Konigsbau yang dirancang Leo von Klenze untuk Raja Ludwig I, merupakan apartemen bergaya neoklasik. Dinding pembatas istana luar yang disebut Nibelungen digambari sejarah Munich oleh Julius Schnorr von Carolsfeld. Pesona gambar ini masih bisa kita saksikan dengan jelas sampai hari ini. Keindahan arsitektur gedung, lukisan, piranti rumah atau furniture, patung, hiasan, dan dipadukan dengan taman, sangat menakjubkan.

.

 
DSC04338
 
DSC04341
Gedung Maximilianeum, sebuah gedung parlemen, di tepi Sungai Isar yang membelah kota MunichMaxmonument
patung Raja Maximilian II
Keunig van Bayern

.

Dari Odeonplatz kami naik U5 menuju Neuperlach Sud, untuk turun di Max Weber Platz melewati Lehel. Kami melihat Gedung Maximilianeum, sebuah gedung parlemen, di tepi Sungai Isar. Kami lanjutkan dengan naik tram 19 menuju Pasing untuk turun di Hauptbahnhof. Dikoordinasikan oleh Tramnetz Munchen berlambang huruf H pada halte pemberhentian, terdapat 19 jalur tram. Dalam wajah tram hanya tertulis no 19, tanpa simbol huruf H dan semua tram berjalan di atas tanah, melewati pusat kota Munchen yang indah. Tram 19 menyeberangi Sungai Isar, melewati Maxmonument, Kammerspiele, Nationaltheater, Lenbachplatz dan Karlsplatz (stachus) Nord. Kami sempatkan turun di halte Maxmonument untuk mengamati keindahan patung Raja Maximilian II Keunig van Bayern.

.

Didirikan dengan nama Munichen pada tahun 1158 oleh Heinrich, pemimpin dari Sachsen, dan setengah abad kemudian dibangun benteng keliling kota. Pada awalnya, uskup Otto dari Freising, pemimpin gereja dan Heinrich, pemimpin wilayah, bersitegang memperebutkan kota tersebut sebelum akhirnya Heinrich dinobatkan sebagai kaisar di Augsburg. Pada 1180 Otto dari Wittelsbach menjadi Penguasa Bayern. Dinasti Wittelsbach kemudian menguasai Bayern sampai tahun 1918. Pada tahun 1255, Kekaisaran Bayern dibagi menjadi dua, dan München menjadi ibukota Bayern. Pada tahun 1327, seluruh kota terbakar, namun berhasil dibangun kembali beberapa tahun kemudian oleh Raja Ludwig IV. Pada 1632 kota tersebut dikuasai oleh Raja Adolf Gustav II dari Swedia pada Perang Tigapuluh Tahun, namun pada 1705, Munchen dapat direbut kembali dan dimasukkan ke dalam kepemimpinan Habsburg. Kami melanjutkan dengan tram 19, menuju Karlsplatz (stachus), untuk melihat kemegahan gedung tua dan patung Raja Ludwig IV. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Stasiun Kota untuk membeli oleh2 cinderamata di Central Station yang dibangun tahun 1925, terus pulang ke hotel.

.

 
DSC04334
 
DSC04331

Patung Raja Ludwig IV
Raja Bavaria yang besar tahun 1327

Residence atau istana Dinasti Wittelsbachs, Penguasa Bavaria

Pada hari Selasa, 9 September 2014, kami memulai jalan-jalan lagi dengan mengenang kejadian pada tahun 1919, saat Jerman mengalami kehancuran pada akhir Perang Dunia I. Penduduk Munchen mengalami kesengsaraan hebat, penderitaan dan kemiskinan, yang memacu terjadinya hiperinflasi tertinggi di seluruh Bavaria, sehingga menghasilkan sebuah etos kerja revolusioner. Dari situlah lahir gerakan Nazi dan salah satu diktatator terbesar dan terkejam di dalam sejarah dunia, yaitu Adolf Hitler. Kenangan gelap sejarah Munich dimulai dari Hofbrauhaus di dekat Konigsplatz, sebuah lapangan luas yang digunakan untuk rapat raksasa yang pertama kali, yang kemudian akan berlanjut sampai pada pengukuhkan wibawa sang diktator dan kejayaan seluruh Jerman. Sisi gelap sejarah Munich masih dapat dinikmati, karena merupakan kenangan abadi, meskipun menyedihkan.

.

Kami mencari lemari penititpan kopor berbayar (luggage lockers) bertarif E6, kencing di WC umum bertarif E2 (setara dengan Rp. 30 ribu), mampir di warung ‘asiahung’ yang bermenu Asia, untuk makan chicken Yaki seharga E 5,9 dan kerupuk seharga E 2,5, untuk dimakan berdua. Kami naik Tram 17 ke arah Romanplatz dari Stasiun Hauptbahnhof sisi utara. Kami melewati jalan dalam kota yang rapi, yaitu Hopfenstr, Heckerbrucke, Deroystr, Marsstr, Donnersbergerstr, Burghausener Str, Briefzentrum, Steubenplatz, dan Kriemhildenstr. Dari Romansplatz, kami berjalan kaki ke Istana Nymphenburg. Dalam perjalanan di sepanjang jalur pejalan kaki yang nyaman dari Romanplatz, kami sempat mampir berdoa sejenak Gereja Fransiscus Asisi Pfarrgemeinde Christkonig, Nymphenburg. Gereja yang dibangun tahun 1865 tersebut memiliki 2 buah menara kembar dan atap oval bergambar Santo Fransiscus Asisi yang sedang menyapa. Setelah puas berdoa, kami melanjutkan jalan kaki ke istana Nymphenburg.

.

Dalam kombinasi rancangan taman dan arsitektur bangunan, Istana Nymphenburg adalah salah satu contoh sintesa seni terbaik di Eropa. Raja Max Emanuel menunjuk arsitek Agustino Barelli untuk membangun istana ini mulai tahun 1664. Selanjutnya Henrico Zuccalli merancang perluasan ruang pamer dan pemukiman pada tahun 1701. Joseph Effner melanjutkan pada tahun 1714 dan menyempurnakan dalam gaya French yang utuh, dan menjadi istana musim panas yang eksotik. Karl Albfrecht melengkapi istana ini dengan bangunan Rondell. Dekorasi dalam gedung (interior) mencerminkan seni gaya Baroque sampai Classicism, termasuk kamar di mana Raja Bavaria terbesar, Ludwig II, dilahirkan.

.

 
Munchen
 
DSC04357
Istana Nymphenburg, salah satu contoh sintesa seni terbaik di EropaGaya ‘post wedding’
di taman air Istana Nymphenburg

.

Kami naik lagi Tram 17 dari Romanplatz menuju SchwanseestraBe dan turun di Hauptbahnhof untuk berganti kereta api S2 ke arah Petershausen. Kami melewati Hackerbruce, Donnersbergerbruce, Hirschgarten, Laim, Obermenzing, Untermenzing Allach, Karlsfeld dan turun di Stasiun Dachau, sekitar 18 km dari pusat kota Munchen. Kami berganti bis kota jalur 719 menuju Rathaus dan kami akan menikmati istana Dachau, old town, altstadt and schloss. Istana ini awalnya sebuah kastil di atas sebuah bukit di atas Sungai Amper, dengan pemandangan sangat indah di sekelilingnya. Sejak abad ke 16 tumbuh menjadi sebuah areal pemukiman di dekat pusat kota Munich. Semasa Pangeran Wilhelm IV dan Pangeran Albrecht V, telah dikembangkan bangunan sayap ke 4 arah yang berbeda, yang dihubungkan dengan taman yang indah, rancangan Hans Wisreutter pada tahun 1564 sampai 1566. Aliran Renaissance pada era tersebut, menjadikannya gaya paling dominan di seluruh Jerman bagian selatan. Pada jaman Pangeran Max Emanuel, halaman depan direnovasi secara menakjubkan, dalam rancangan Joseph Effner pada periode tahun 1715 sampai 1717. Di taman yang indah terdapat pergola berusia 280 tahun, yang menjadi bukti kesempurnaan perancangan dan perawatan yang luar biasa.

.

DSC04394
DSC04391

Istana Dachau,
rancangan Hans Wisreutter
pada tahun 1564 sampai 1566.

Pemandangan sangat indah
dari atas sebuah bukit
di sekeliling istana Dachau

Kami mampir berdoa sejenak di gereja St. Yakobus Dacau, yang berada di kompleks old town Dacau. Gereja ini mulai dibangun tahun 1696 oleh arsitek Stich von Michael Wening. Kami kembali naik bis kota 719 dari Rathus, di pusat kota tua Dacau ke terminal kereta S2 di pinggiran Dacau. Kami naik S2 tujuan Osthbanhof untuk turun di Hauptbahnhof Central Station. Sore itu kami bersiap-siap melanjutkan perjalanan ke Roma, Italia, dengan City Night Train yang akan berangkat pk. 21.

(Berlanjut dengan petualangan di Italia)

baca juga :

2014 Nyata di Italia

*) pelancong Jawa berdana cekak

Ditulis di atas gerbong 255 City Night Train

antara Bologna dan Firenze di Italia Utara

Rabu dini hari, 10 September 2014.

Categories
anak Healthy Life Jalan-jalan Malaria sekolah

2010 NOSTALGIA DI FLORES

NOSTALGIA  DI  FLORES

fx. wikan indrarto*)

Untuk merayakan rahmat Tuhan bagi keberhasilan sekolah anak-anak, kami merencanakan jalan-jalan (pesiar) untuk bernostalgia ke Pulau Flores. Di sanalah kami pernah bertugas dan mas Yudhi, anak kami yang sulung, dilahirkan. Kami berangkat dari Yogyakarta hari Rabu, 23 Juni 2010 pk. 16.05 wib dengan KA Ekskutif Sancaka dari Stasiun Tugu, Yogyakarta ke Surabaya. Sekitar pk. 21.15 wib di Stasiun Gubeng dekat Kali Mas di pusat kota Surabaya kami dijemput Dr. Daniel Ponco, SpB, dokter bedah di RS RKZ St. Vincent A. Paulo dan teman lama semasa SMA, lalu menginap di rumahnya. Rumah artistik 2 lantai di Palm Spring Regency C/99 Jambangan, Surabaya selatan, merupakan persinggahan pertama kami.

Saat kami tiba di Bandara Wai Oti Maumere

Dijamu makan siang di Maumere oleh Dr. Kristin

Kamis, 24 Juni 2010 pk. 09.15 kami melanjutkan perjalanan dengan pesawat Boeing 737 versi 200 Batavia Air ke Maumere, melalui Bandara Internasional Juanda yang baru dan megah. Setelah lelah dalam antrian panjang karena petugas ‘check in’ hanya seorang, kami harus singgah sebentar (transit) di Bandara Internasional Ngurah Rai di Denpasar dan Bandara El Tari di Kupang. Pada pk. 13.15 WITA kami mendarat dalam hawa panas musim kemarau di Bandara Wai Oti, sekitar 5 km sebelah timur pusat kota Maumare, di Flores bagian tengah agak ke timur. Kami dijemput Dr. Kristin, teman lama semasa kami tugas di Flores, dengan mobil Panther Touring hitam EB 1792 DA, diajak keliling kota. Kami mengingat-ingat kembali tempat yang dulu kami akrabi dan makan ikan bakar di RM Jakarta di dalam kompleks pelabuhan Maumere, yang meski padat oleh kapal, namun airnya jernih dengan banyak ikan dan kepiting di kaki dermaga. Saat lama menunggu masakan matang, kami jalan-jalan sepanjang dermaga, melihat banyak kapal berbagai ukuran yang ditambatkan, kesibukan bongkar muat peti kemas dan anak-anak yang terjun berenang ke air laut yang hampir tidak berombak sama sekali. Akhirnya kami mampir sebentar ke bekas RSU Dr. TC Hillers yang telah dialih fungsikan menjadi Puskesmas Berru dan Unipa (Universitas Nusa Nipa), rumah Bapak Sabinus Nabu dan isterinya, Bu Linda. Bapak Sabinus dahulu adalah Camat Lela dan ibu Linda dahulu adalah bidan Puskesmas Nanga. Dengan diantar Nong, sopir Puskesmas Beru, kami mampir ke rumah pasangan Lado dan Lies di Nita, dimana keduanya dahulu adalah karyawan Puskesmas Nanga. Setelah itu, kami numpang lewat melihat Puskesmas Nita, yang sekarang terdiri dari 2 kompleks terpisah, yaitu rawat jalan di tempat yang lama dan rawat inap yang merupakan gedung baru. Kami lanjut ke Lela, menyusuri jalan-jalan berliku yang tidak sulit untuk membangkitkan kenangan kami akan rute berliku itu, yang dahulu sering kami susuri.

Mama Sari mengenangnya karena dahulu merangkap tugas sebagai dokter gigi di Puskesmas Nanga dan Nita, di 2 kecamatan yang berbeda dan berjarak hampir 15 km. Kami semua membayangkan dengan haru, mama Sari yang duduk di bawah pohon beringin dekat pertigaan Nita, untuk menunggu angkutan umum dari Maumere. Hal itu dilakukannya 3 kali seminggu, sepulang kerja dari Puskesmas Nita, bahkan sampai saat hamil Yudhi sekalipun. Cukup sering angkutan yang lewat sudah penuh sesak dengan penumpang, bahkan bergelantungan di pintu, tangga dan atap, sehingga mama Sari kadang terpaksa menunggu lewatnya angkutan yang berikut. Hari menjelang gelap saat kami memasuki pelataran Puskesmas Nanga, berfoto dan bertemu dengan mama Burga dan mama Donce. Mama Burga adalah kader kesehatan, yang bahkan tetap ingat nama-nama kami. Kami dipeluknya satu persatu, bahkan Yudhi yang sudah jauh lebih tinggi dari badannya yang makin renta, dipandanginya tanpa berkedip dan berkomentar, ‘Yudhi su besar!’ Komentar seperti itu selalu diucapkan banyak orang yang dahulu mengenal Yudhi saat bayi, diucapkan dengan logat Maumere yang khas, sedikit keras dan meninggi pada akhir kalimat. ‘Sudah’ hanya diucapkan ‘su’, sehingga terasa aneh dan membuat dik Bimo dan dik Laras mengulanginya tanpa henti, bahkan dengan maksud menjahili, menggoda dan mengolok kakaknya. Malam itu kami menginap di Ruang Theresia Kamar 1, kamar pasien yang setelah gempa bumi hebat Desember 1992, kami tempati. Di seberang kamar tersebut, yaitu Ruang Theresia Kamar 2 di RS St. Elisabeth Lela adalah kamar pasien yang dahulu digunakan sebagai ruang bersalin darurat pasca gempa bumi dan di kamar itu pulalah Yudhi dilahirkan, pada hari Sabtu, 22 Januari 1993. Kami semua larut dalam kegembiraan tanpa kata, keharuan tanpa terucap dan kebahagiaan tanpa henti. Setelah beristirahat sejenak, kami lanjutkan makan malam bersama para suster di biara RS dan bertemu juga dengan Dr. J. Aliandoe, SpB dan ibu. Dokter spesialis bedah asli Flores, yang setelah pensiun dari RS Atma Jaya Jakarta itu, mengabdikan diri sepenuhnya untuk karya sosial di RS St. Elisabeth Lela, sebuah teladan hidup sejati. Kami juga mengunjungi kakak Yanti, pengasuh Yudhi saat bayi dulu, yang tinggal di dekat kompleks RS dan masih menyimpan foto-foto Yudhi.

Papan Puskesmas Nanga di Lela pada senja hari

Mampir di rumah kakak Yanti, pengasuh bayi Yudhi, yang tinggal di dekat RS Lela

Pagi harinya, Jum’at 26 Juni 2010, dengan mobil sewaan Avanza silver L 1511 PG yang dikemudikan Yulius Lado, dahulu sopir Puskesmas Nanga, kami meninggalkan RS Lela ke arah barat untuk menuju Danau Kelimutu, yaitu danau 3 warna yang terletak di pusat kawasan Kelimutu National Park. Danau pertama dinamakan Tiwu Ata Polo, seluas 4 ha, berkedalaman air sampai 64 m, diklasifikasikan sebagai kawah aktif, dan airnya berwarna hijau. Danau kedua dinamakan Tiwu Nuamuri Koofai, seluas 5,5 ha, berkedalaman air 127 m, klasifikasi sangat aktif, dan airnya berwarna hijau muda kekuningan. Danau ketiga dinamakan Tiwu Ata mbupu, atau oma (yang berarti nenek), seluas 4,5 ha, berkedalaman air 67 m, diklasifikasikan kurang aktif dan berwarna hitam. Ketiga danau tersebut terletak di puncak Gunung Kelimutu dengan ketinggian 1640 m di atas permukaan laut, yang harus kami tempuh dalam waktu 3,5 jam dengan diselingi sarapan di RM Bethania, milik suster FMM di Wolowaru.

Armada Toyota Avanza siap untuk menjelajah daratan Flores

Rumah adat Lio di dekat Kelimutu

Masyarakat setempat percaya bahwa arwah warga yang telah meninggal akan datang ke Gunung Kelimutu, jiwa atau maE meninggalkan telah kampung halamannya dan menetap di kawah Kelimutu untuk selamanya. Sebelum masuk ke dalam salah satu danau atau kawah, para arwah tersebut terlebih dahulu menghadap Konde Ratu selaku penjaga pintu masuk di Perekonde. Arwah tersebut masuk ke salah satu danau yang ada tergantung dari usia saat meninggal dan perbuatannya. Ke tiga danau terlihat seolah-olah bagaikan dicat berwarna dan warna airnya berubah-ubah tanpa ada tanda alami sebelumnya. Mineral yang terlarut di dalam air danau menyebabkan warna air akan berubah-ubah yang tidak dapat diduga sebelumnya. Susana danau Kelimutu bervariasi, tidak hanya terjadi perbedaan dan perubahan warna setiap danau, akan tetapi juga perubahan cuaca yang tidak terduga. Tidaklah aneh jika tempat yg keramat itu menjadi legenda yang sejak lama berlangsung turun-temurun. Masyarakat setempat percaya bahwa tempat tersebut adalah sakral.

Danau 1 dan 2 dengan beda warna di puncak Kelimutu

Danau warna ke 3 di puncak Kelimutu saat mama menerima call dari budhe Tari

Gunung Kelimutu tumbuh di dalam kaldera Sokoria atau Mutubasa bersama dengan Gunung Kelido (1641 m) dan Gunung Kelibara (1630 m), ketiganya membangun kompleks yang berkesinambungan, kecuali Gunung Kelibara yang terpisah oleh lembah dari Kaldera Sokoria. Letak puncak gunung berapi tersebut terjadi karena perpindahan titik erupsi melalui sebuah celah yang menjurus  dari utara ke selatan. Dari ketiga buah gunung tersebut, puncak Gunung Kelimutu merupakan kerucut tertua dan masih memperlihatkan aktivitasnya sampai sekarang, yang merupakan kelanjutan gunung api tua Sokoria. Tubuh puncak Gunung Kelimutu dibangun oleh batuan piroklastika, yang terdiri dari bom, lapili, skoria, pasir, abu, awan panas, lahar serta lelehan lava pijar. Permukaan lerengnya berkembang ke arah timur, tenggara dan barat daya, dengan topografi kasar sampai sedang. Bentuk tersebut dibangun oleh aktivitas Gunung Kelimutu muda, tetapi terhalang oleh Gunung Kelibara, sedangkan lereng barat dan utara memperlihatkan morfologi berelief kasar. Pada puncak Gunung Kelimutu terdapat 3 sisa kawah yang mencerminkan perpindahan puncak erupsi. Ketiga sisa kawah tersebut kini berupa danau dengan warna air berlainan dan mempunyai ukuran diameter yang bervariasi. Warna air danau biasanya khas, sehingga diberi nama sesuai dengan warnanya, yaitu polo (merah), fai (hijau) dan mbupu (biru). Pada saat kami datang, warna yang terlihat adalah hijau, hijau kekuningan dan hitam. Gunung Kelimutu yang kami kunjungi itu, pernah meletus dasyat pada tahun 1830 dengan mengeluarkan lava hitam (watukali), kemudian meletus kembali sepanjang tahun 1869 sampai tahun 1870. Letusan hebat itu disertai aliran lahar dan semburan debu, sehingga membuat susana gelap gulita di sekitarnya, bahkan hujan abu dan lontaran batu mencapai desa Pemo yang tercatat dalam arsip Direktorat Vulkanologi Dirjen Geologi & Sumberdaya Mineral di Kementrian Energi tahun 1990. Di Kelimutu National Park tersebut, kami sempat menyaksikan 2 dari 13 macam burung dan 4 dari 17 macam tanaman yang tercatat hampir punah, sehingga dilindungi secara ketat.

Dik Bimo berpakaian adat Lio (Moat Kecil)

Di gerbang Kelimutu National Park

Perjalanan kami lanjutkan ke Ende di Flores bagian tengah, melalui jalan berliku khas dataran tinggi di seantero Pulau Flores, yaitu jalan berliku, mendaki dan menurun, dengan tebing curam di satu sisi dan jurang dalam di sisi lainnya. Kami memasuki kota Ende menjelang sore dan langsung melakukan penjelajahan dalam kota. Pertama kami mengunjungi Jl. Perwira untuk melihat Rumah Pembuangan Bung Karno. Di situ kami berteduh di bawah situs pohon sukun, tempat dimana Bung Karno mendapatkan inspirasi lahirnya Pancasila, saat dibuang Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1934 sampai 1938. Pohon sukun tersebut sekarang bercabang 5, yang dianggap melambangkan sila-sila dalam Pancasila. Kami lanjutkan dengan mengunjungi Museum Adat dan Museum Bahari yang keduanya berdampingan dan terletak di Taman Kota Ende. Di Museum Bahari kami melihat simpanan benda-benda laut yang sejak tahun 1982 dikumpulkan sedikit demi sedikit. Museum Bahari ini diresmikan oleh Pater Gabriel Goran, SVD pada tanggal 14 Agustus 1996, berlokasi di Jl. Moh Hatta Ende, saat ini memiliki koleksi 1000 spesies kerang laut, 300 spesies ikan dengan total koleksi sekitar 22.000 jenis biota laut. Kami juga mengunjungi Taman Rendo dan Monumen sebagai bukti sejarah kota Ende yang pernah menjadi ibukota daerah Flores tempoe doeloe. Terakhir kami mengunjungi Pasar Mbongawani yang merupakan pasar rakyat, menjual segala kebutuhan masyarakat, termasuk buah lokal yang terkenal pisang beranga, jeruk, alpokat dan nanas.

Museum Adat yang menyimpan berbagai artefak budaya di Ende

Museum Bahari yang menyimpan peralatan kelauatan di Ende

Malam itu kami menginap di biara suster SSpS di Jl. Masjid no 11. Bertemu Sr. dr. Conchita Cruz, SSpS dan Sr. Ekarista, SSpS yang pernah kami kenal selama di Lela dahulu. Sr. Conchita adalah dokter yang berkarya di RS Lela, telah menjadi ‘ikon’ RS selama bertahun-tahun, guru bagi ketrampilan teknik bedah hampir semua jenis operasi bagi dokter umum, dan nenek suster bagi Yudhi yang saat bayinya dahulu telah digendong, sampai dengan diompoli berkali-kali. Malam itu Yudhi dan Bimo ikut serta para suster di biara melihat Brazil melawan Portugal di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, sementara kami yang lain tertidur lelap.

Sabtu pagi, 26 Juni 2010 kami mengunjungi nDona, kediaman Uskup Agung Ende, Mgr Vincensius Sensi Potokota, Pr. Kami terkagum-kagum dengan keindahan bangunan kediaman uskup dan pemandangan alam yang tampak dari ruang tamu itu. Mgr Sensi sempat bersama kami di Lela sewaktu masih sebagai romo pembimbing frater. Setelah mencium cincin uskup, bercengkerama, didoakan, dan bahkan kemudian diberkati dengan berkat uskup, kami pamit untuk melanjutkan perjalanan ke barat. Dari Ende sampai Nangaroro di perbatasan Kabupaten Nagakeo, kami menyusuri bibir pantai selatan di sisi kiri jalan dan hampir bersentuhan dengan tebing batu yang tajam di sisi kanan jalan. Suara deru ombak yang kadang sangat keras, seringkali mengalahkan suara klakson mobil yang harus dibunyikan menjelang tikungan tajam. Kami mencatat nama-nama Nangaroro dan Nangapanda di pantai selatan, kemudian mulai mendaki bukit menuju ke utara melalui Aegela, Mataloko dan Boawae sebelum kami memasuki Bajawa di puncak dataran tinggi yang sangat dingin, ibukota Kabupaten Ngada. Setelah dik Laras mabuk darat 2 kali dan dik Bimo 1 kali, kami makan siang menjelang sore di rumah makan dekat gereja, Stadion Lebijaga, dan SMAN I Bajawa. Kami sempatkan foto bersama di depan gerbang RSU Bejawa, yang mungkin sekali akan kami kunjungi lagi kelak, dalam sebuah tugas resmi.

Bersama komunitas suster ordo SSpS di Ende

Bersama Mgr. Vincensius Sensi Potokota, Pr uskup Agung Ende yang pernah pada periode yang sama dengan kami bertugas di Lela, Maumere

Kami putuskan untuk segera melanjutkan perjalanan melalui Ai Mere di pantai selatan, kemudian mendaki bukit lagi menuju ke utara melalui Borong, sekitar 157 km dari Ende. Setelah beristirahat sejenak, kami terus ke Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai yang sama dinginnya dengan Bajawa. Kami sudah menempuh jalan amat sangat berliku dan naik turun sejauh 317 km dari pusat kota Ende. Setelah makan malam di RM Padang dekat BRI Cabang Ruteng, kami lanjutkan perjalanan sejauh 72 km lagi, untuk masuk kota Labuanbajo di ujung Flores paling barat, ibukota Kabupaten Manggarai Barat. Kami menginap di Hotel Wisata, Jl. Soekarno no 39, dan masuk hotel sekitar pk. 1 dini hari. Kami langsung terlelap dalam kelelahan hebat, meskipun sebenarnya kami bertemu dengan para staf hotel yang tidak ramah dan kamarnya yang tidak cukup bersih bersih dibanding harganya.

Setelah sarapan menu nasi kuning khas Jawa, kami dipandu menuju dermaga oleh mas Fandi Ilham, SH seorang jaksa muda di Kantor Kejaksaan Negeri Manggarai Barat, dan tetangga kami di Yogya yang agak terlupa, untunglah sempat kami ingat kembali sebelum kami tiba. Setelah foto bersama di gerbang dermaga dan melihat-lihat kesibukan dan pemandangan aktivitas dermaga, kami menuju ke Pulau Rinca, yang berarti buaya, dan merupakan pulau terdekat dari Pulau Flores yang termasuk di dalam kawasan Komodo National Park. Kami menggunakan kapal Bacukiki dan berangkat pk. 08.15. Perjalanan laut memerlukan waktu sekitar 2 jam, dan kami berlabuh di Loh Buaya, sebuah dermaga di sebuah teluk sisi timur Pulau Rinca. Kami langsung disambut pemandangan mengerikan, seekor komodo sedang berjemur di dekat pintu gerbang. Meskipun komodo tersebut hanya berbaring, toh kengerian tetap muncul dan bulu kuduk tetap berdiri. Salah seorang awak kapal mendampingi kami masuk gerbang menuju kantor penjaga yang biasa disebut ‘ranger’, dengan tongkat kayu sepanjang 3 m bercabang 2, dan selalu waspada berjaga-jaga. Tongkat kayu tersebut, dibawa ke manapun seorang ranger berjalan memimpin rombongan tamu, berfungsi untuk menahan leher komodo yang datang mendekat.

Bersama mas Fandi Ilham tetangga kami di Yogyakarta yang bertugas di Kejaksaan Negeri setempat di Gerbang Pelabuhan Labuan Bajo

Disambut komodo tidur seolah batang pohon tergeletak di tanah di Pulau Rinca

Sesampai di kantor penjaga Komodo National Park, kami bertemu dengan banyak turis asing maupun domistik. Harga tiket masuk Rp. 75.000 per orang untuk turis domistik non Flores, Rp. 10.000 untuk turis lokal dan US $15 untuk turis asing. Setelah membayar tiket, kami didampingi ranger, seorang pria paroh baya yang terkesan berani, mulai berjalan menyusuri rute terdekat. Tersedia 3 paket rute jelajah alam, yaitu paket ‘basic’ yang hanya di sekitar kantor, ‘short’ yang perlu waktu sekitar 1 jam, ‘medium’ dan ‘complete’ yang lebih jauh dan lama. Pada rute basic itu saja, kami sempat melihat hampir 10 ekor komodo berbagai ukuran, 3 ekor kera dan 2 ekor kerbau liar yang sewaktu-waktu dapat dimakan komodo. Komodo yang kami lihat sebagian besar hanya berbaring dalam keteduhan bayang-bayang pohon atau rumah panggung para penjaga, terutama dekat dapur yang mengeluarkan bau amis ikan atau daging untuk lauk mereka. Komodo berpenciuman sangat tajam, dapat memakan rusa, kambing atau kerbau dan mampu tidak makan selama 4 bulan berturut-turut setelah kenyang.

Komodo, atau yang selengkapnya disebut biawak komodo (Varanus komodoensis), adalah spesies kadal terbesar di dunia yang hidup di Pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara. Biawak ini oleh penduduk asli pulau Komodo juga disebut dengan nama setempat ora. Di alam bebas, komodo dewasa biasanya memiliki massa sekitar 70 kg, namun komodo yang dipelihara di penangkaran atau kebun binatang sering memiliki bobot tubuh yang lebih besar. Komodo liar terbesar yang pernah ada memiliki panjang 3.13 m dan berat sekitar 166 kg, termasuk berat makanan yang belum dicerna di dalam perutnya. Komodo memiliki ekor yang sama panjang dengan tubuhnya, dan sekitar 60 buah gigi yang bergerigi tajam sepanjang sekitar 2,5 cm, yang kerap diganti. Air liur komodo sering kali bercampur sedikit darah karena giginya hampir seluruhnya dilapisi jaringan gusi dan jaringan ini tercabik selama makan. Kondisi ini menciptakan lingkungan pertumbuhan yang ideal untuk bakteri mematikan yang hidup di mulut mereka. Komodo adalah hewan karnivora dan kanibal. Walaupun mereka kebanyakan makan daging bangkai,  penelitian menunjukkan bahwa mereka juga berburu mangsa hidup dengan cara mengendap-endap diikuti dengan serangan tiba-tiba terhadap korbannya. Ketika mangsa itu tiba di dekat tempat sembunyi komodo, hewan ini segera menyerangnya pada sisi bawah tubuh atau tenggorokan. Komodo dapat menemukan mangsanya dengan menggunakan penciumannya yang tajam, yang dapat menemukan binatang mati atau sekarat pada jarak hingga 9,5 kilometer. Dengan informasi seperti itu yang telah kami ketahui sebelumnya, maka wajar saja kalau bulu kuduk kami berdiri dan ketakutan yang muncul sangat hebat.

Komodo liar berkeliaran bebas di bawah rumah panggung

Di gerbang Komodo National Pak yang ikonik

Setelah puas berfoto bersama komodo tidur dalam lindungan ranger, kami melanjutkan perjalanan sampai ke liang komodo, yang banyak dibuat komodo betina sepanjang bulan Mei sampai Agustus, bertepatan dengan musim kawin. Setelah puas menjelajah pulau dan kekawatiran akan keganasan komodo mereda, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Bidadari, yang terletak di mulut pelabuhan Labuan Bajo. Di pulau itu kami ‘snorkeling’, berenang terapung untuk melihat keindahan taman laut, berjemur dan bermain pasir putih yang lembut, mencari kerang, bahkan melihat bule berjemur. Dik Bimo dan dik Laras sampai mengalami luka robek telapak kaki, sebab sering salah injak batu karang yang indah, tetapi runcing dan tajam. Sore itu kami memaksakan diri langsung pulang ke Maumere, dari Labuan Bajo sekitar pk. 16 dengan suasana hati yang lega dan puas, meski badan sudah kelelahan.

Di atas kapal dari Labuan Bajo ke Pulau Rinca

Medan penjelajahan dengan jalan kaki rute ‘basic’ di Pulau Rinca

Perjalanan darat pulang ke Maumere yang melelahkan, bahkan sudah menimbulkan trauma psikologis bagi anak-anak karena pengalaman buruk mabuk perjalanan, tetap harus kami jalani. Kami harus kembali ke Maumere, sebab tiket pesawat pulang yang kami beli di Yogyakarta, hanya dapat yang berangkat dari Maumere. Tiket pesawat dari Labuan Bajo ke Denpasar yang merupakan penerbangan perintis, sangat sulit diperoleh dengan sistem on line, meskipun tiket on site kadang mudah didapat, tetapi hanya untuk beberapa kursi. Rute pulang yang berliku, mendaki dan menurun, melalui bibir jurang dalam atau pantai, harus kami lahap dalam kelelahan, sehingga kami harus bergantian menjadi sopir. Akhirnya kami harus menyerah dan terdampar di sebuah kamar di Villa Silverin, di Watujaji, 7 km dari Bajawa, Kabupaten Ngada. Kami masuk kamar dengan tarif Rp. 300 rb menjelang pk.1 dini hari, dan langsung tertidur di kamar yang bagus sekali dengan udara sangat dingin.

Di Museum Bung Karno, rumah tinggal saat pembuangan era kolonialisme Belanda di Ende

Patung Kristus Raja tinggi menjulang di Gereja Katolik Katedral Ende

Setelah sarapan nasi goreng dan telor dadar, hari Senin pagi kami melanjutkan kepulangan kami dan berangkat pada pk. 7.15, saat udara luar masih sangat dingin menembus tulang. Kami lalui Mataloko dan Nangaroro, lalu Nangapanda yang sudah masuk wilayah Kabupaten Ende. Mulai dari situ, mas Yudhi bertugas menjadi sopir pengganti, sebab jalan terus ke Ende menyusur bibir pantai selatan, relatif ringan untuk ditaklukkan seorang sopir pemula. Kami masuk kota Ende sesaat sebelum tengah hari, kembali ke biara SSpS di Jl. Masjid untuk pamitan dengan Sr. Dr. Conchita Cruz, SSpS yang sangat kami hormati, juga untuk Yudhi numpang mandi, sebab mandi pagi di Bejawa yang sangat dingin, tidak berani dia lakukan. Kami berlanjut mengunjungi Gereja Katedral Christo Regi Ende. Kami terkagum-kagum atas keindahan arsitektur katedral tua, khusuk berdoa dan memohon ampun karena kami tidak sempat ikut misa hari Minggu. Setelah itu kami berfoto di depan patung ‘Christus Rex Mundi’ atau Kristus Raja Semesta Alam,  yang diresmikan oleh Mgr. Abdon Longinus Da Cunha, Pr pada tanggal 24 November 2002. Setelah diselingi makan siang di RM Kelimutu di Moni, dekat gerbang Kelimutu National Park yang sudah kami kunjungi 4 hari sebelumnya, kami mampu mencapai desa Sikka menjelang senja. Di Sikka kami masih mampu melihat gereja tertua di seluruh daratan Pulau Flores dan rumah adat di bekas istana raja Sikka. Selanjutnya kami mengunjungi Wisung Fatima di Lela, sebuah tempat ibadah di lereng bukit terjal yang sudah dibangun baik, untuk berdoa kepada Bunda Maria, sayang sekali saat itu hari sudah gelap dan listrik padam.

Bis kayu, angkutan darat khas Flores terbuat dari truk bak kayu dengan atap dan potongan kayu untuk duduk penumpang

Gereja Katolik Sikka merupakan gereja yang tertua di Flores

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan menempuh jarak Ende-Maumere 145 km. Perjalanan ini merupakan inti nostalgia kami ke sebuah rumah di dalam kompleks RS St. Elisabeth Lela, sebuah RS yang sudah 80 tahun melayani kesehatan masyarakat sekitar. Rumah yang kami tuju berada di samping kebun sayur, dekat kandang ayam dan di sayap atas kompleks RS itu, merupakan rumah yang kami tinggali selama hampir 3 tahun. Di rumah itulah kami mendapat banyak berkah, sejak kami datang April 1991 sampai saat kami pulang ke Jawa Oktober 1994. Saat kami datang mendekat, hati terkesiap, sanubari terharu dan jantung berdebar, mendapati suasana mistis masa lalu yang seakan datang ulang. Hanya tempat tidur besar tempat kami berbaring dan menidurkan bayi Yudhi yang diganti, perabotan lain masih tetap yang sama, terawat  dan terjaga baik. Luar biasa. Kami kenang ulang berbagai peristiwa yang pernah terjadi di setiap sudut rumah itu, baik yang menyenangkan, maupun yang sangat menyedihkan di halaman depan, tempat Yudhi terjerembab dalam ‘baby walker’ yang digunakannya. Dia lepas dari pengawasan kami yang terlarut dalam makan siang, dan meluncur turun melewati teras rumah, bahkan masuk ke kebun depan rumah, yang membuatnya luka di dahi dengan perdarahan dan memar. Malam itu kami mandi, makan dan tidur di tempat dimana hal yang sama pernah kami lakukan dengan cara serupa, di tempat yang sama dan dalam suasana yang tidak jauh berbeda. Hanya kami berdua yang begitu, sedangkan anak-anak, termasuk Yudhi, sangat mungkin hal tersebut hanya merupakan sebuah program pengisi libur sekolah. Tuhan sendiri yang mengatur ini semua.

Anak2 kami di depan gereja tua di Sikka, tidak jauh dari Lela

Rumah adat bekas istana raja Sikka

Pagi harinya, kami mengikuti Misa Kudus harian di kapel RS. Meski liturginya serupa, tetapi lagunya berbeda. ‘Qui bene cantat, bis orat’ atau ‘dia yang bernyanyi baik, berdoa dua kali’. Misa harian itu berlangsung 2 kali lebih lama dibanding misa serupa yang sudah kami akrabi di Yogya, sebab lagu-lagunya banyak dan lengkap, sesuai dengan teks dalam buku ‘Syukur Kepada Bapa’, cetakan XI, tahun 1981, oleh Penerbit Nusa Indah, percetakan Arnoldus, Ende. Setelah sarapan pagi, kami mengikuti Sr. Sofina, SSpS yang biasa dipanggil Sr. Nenek karena usianya, masuk ke kebun sayur, kandang ayam dan kandang babi. Penelusuran itu juga mengenang saat kami melakukan hal yang serupa 18 tahun sebelumnya, berjumpa dengan beberapa karyawan kebun yang masih saling ingat dengan kami. Setelah itu, kami keliling ke beberapa ruangan di dalam RS, bertemu dengan beberapa pegawai RS yang masih kami ingat dan sekaligus berpamitan, karena kami harus segera pulang. Kami kenang Sr. Helena Maria, SSpS, mama Detti Henriques, mama Ete Mertis, Br. Alex, mama Dete, mama Mia dan Erna Woga. Pegawai RS yang lain adalah generasi baru yang belum sempat kami kenal. Kami beradu kangen dengan mama Beth, wanita tua berpakaian adat Sikka yang tinggal di depan RS, bahkan memberikan salam khusus dengan cara menampar pipi kami keras-keras.

Sekeluarga di teras rumah dinas dokter dengan nostalgia di dalam kompleks RS Lela

Yudhi di kamar mandi kenangan, dahulu saat berdiri hanya setinggi keran air di tembok itu

Perjalanan pulang kami awali dengan mampir ke rumah mama Sedis dan Om Paul, pasangan pensiunan SPK Lela dan Puskesmas Nanga, Kemudian mampir di Puskesmas Nanga yang sedang ramai dikunjungi banyak pasien. Kami puaskan rindu kami bersama mama Gonda petugas gizi, Om Kornelius perawat senior dan kepala puskesmas dengan mama Lince, isterinya yang asisten apoteker, juga Om Kons yang sempat mampir, mama Burga kader posyandu yang aktif, mama Rin Palang Keda perawat pindahan dari SPK Lela, Om Lengo petugas KB, bidan Nona Ana dan Dr. Dwi.

Komunitas suster ordo SSpS di biara RS Lela

Pamitan pulang dengan sebagian pagawai Puskesmas Nanga di Lela

Kami melanjutkan perjalanan ziarah dan wisata rohani, dengan mengunjungi Patung Maria Bunda Segala Bangsa di Nilo, dekat Seminari Tinggi terbesar di dunia, yaitu STFK Ledalero. Patung Bunda Maria yang berwarna putih mengkilap dan terbesar di Indonesia tersebut, diresmikan pada tanggal 31 Mei 2005. Pernah runtuh karena angin puyuh, dibangun dan diresmikan kembali pada tanggal 1 Oktober 2007 oleh Mgr. Vincensius Sensi Potokota, Pr, yang waktu itu sebagai Uskup Agung Ende dan sekaligus administrator apostolik Keuskupan Maumere. Prasasti di pusat Spiritualitas Pasionis dan tempat ziarah Maria Bunda Segala Bangsa di Nilo ditandatangani oleh wakil donatur Ibu Megawati Soekarnoputri dan Vice Provincial CP waktu itu, Pastor Sabinus Lohin, CP. Di bawah patung besar tersebut, terpahat kata-kata bijak ‘Per Mariam Ad Jesum’, yang berarti ‘melalui Maria menuju Yesus’. Juga ‘Ina ata puku nulu’, yang berarti bunda yang tersayang, ‘ama ata gawi wa’a’, yang berarti menuju bapa dengan berjalan duluan di depan, ‘gea dena beta nain’, yang berarti dengan memberi makan anak cucu, dan ‘minu dena heron naran’ yang berarti minum agar tidak haus. Tinggi patung Bunda Maria yang berdiri di atas bola dunia itu 12 m. Patung itu diletakkan di atas rangka beton, sehingga total tinggi patung mencapai 28 m. Patung itu berada di sebuah puncak bukit di Nilo dan menghadap ke utara, seolah memberkati dan melindungi kota Maumere yang terhampar di bawahnya. Setelah berdoa secara khusus, kami lanjutkan foto bersama dalam hembusan semilir angin puncak bukit dan sengat matahari musim panas, bahkan sampai saat kami jalan turun menuju Maumere. Kami sempatkan mampir membeli cinderamata khas Sikka di sebuah kios depan Gelora Samador, menemui Drg. Toni Asaleo, teman lama kami yang sudah alih profesi menjadi pebisnis ritail atau barang eceran segala rupa, di kompleks pertokoan Maumere.

Patung Bunda Maria yang tinggi menjulang, Bunda Segala Bangsa di Nilo dekat Maumere

Awal perjalanan pulang siap terbang dengan Batavia Air dari Maumere

Kepulangan kami diawali dengan menumpang pesawat Batavia Air Y6-758 Boeing 737 seri 300, transit 20 menit di Kupang, dan akhirnya menuju Denpasar dalam waktu 1 jam 20 menit. Kami menginap semalam di rumah adik sepupu, Bulik Aning, Pak Nyoman dan anak-anaknya yang mandiri, mbak Diyah dan mas Toya, di kawasan Jimbaran, sehingga sempat jalan-jalan ke pantai Jimbaran, GWK (Garuda Wisnu Kencana) Park, Nusa Dua, Kuta dan mengunjungi rumah Bulik Sudilah, saudara sepupu Eyang Kakung Salaman dan terakhir bergaya di depan Patung Satria Gatotkaca, yang diresmikan pada tanggal 30 Oktober 1993 oleh Prof. IB Oka, Gubernur Bali saat itu. Patung putih Gatotkaca yang terbang sambil menghancurkan kereta perang musuh, meski dalam bidikan panah amat sakit Nanggala oleh Adipati Karna, gagah berdiri di gerbang Bandara Internasional Ngurah Rai, Denpasar. Kami sampai dengan selamat di Yogyakarta pada hari Kamis, 30 Juni 2010 pk. 19.25.

Sebelum kembali ke Yogyakarta kami mampir di gerbang Pecatu Jimbaran, Bali

Patung Kereta Perang Adipati Karno melawan Gatotkaca di gerbang Bandara Ngurah Rai, Bali

Perjalanan darat yang kami tempuh adalah hampir 2/3 bagian Pulau Flores, sejauh 925 km dalam medan jalan yang amat sangat berliku dan merupakan ciri khas medan daratan Pulau Flores, menghabiskan bensin 5 kali isi penuh tangki mobil (full tank), dan 4 hari cuti tahunan. Perjalanan itu ditambah 5 jam di atas kereta api, 5 jam 20 menit di atas pesawat dan 4 jam 20 menit di atas kapal. Kami telah menginjak tanah di 3 propinsi dalam 5 pulau, dan menyusuri 5 kabupaten di daratan Pulau Flores. Terima kasih kami sampaikan kepada siapapun yang telah membantu, mendoakan dan mengiringi perjalanan kami sekeluarga.

sekian

Yogyakarta, 1 Juli 2010

*) pelancong rutin setiap tahun

Posisi Komodo National Park di timur Pulau Jawa

Peta Pulau Rinca di sebalah barat Pulau Flores

Categories
anak Healthy Life Jalan-jalan sejarah

2009 JELAJAH LAMPUNG : BUMI RUWA JURAI

JELAJAH  LAMPUNG  :  BUMI  RUWA  JURAI

fx. wikan indrarto dan b. sari prasetyati

Kami berlima dengan Yangti Salaman (Eyang Putri Yustina Nanik Karsini) berangkat dari Stasiun Tugu Yogyakarta dengan KA Argo Lawu pada Rabu pagi, 1 Juli 2009 menuju ke Jakarta. Setelah menginap semalam di rumah pakde Totok Ismintarto di Pamulang, Tangerang Selatan, kami melanjutkan dengan mobil sewaan, Kijang Innova B 8272 ZY ke Merak, di ujung barat Pulau Jawa. Biaya menyeberang kapal milik Indonesia Ferry yang dioperasikan ASDP untuk golongan 4A adalah Rp. 198.000 dengan waktu tempuh sekitar 2 jam, sampai di pelabuhan Bakauheni, di ujung selatan Propinsi Lampung (Ruwa Jurai). Ruwa Jurai berarti kaya raya dan indah berseri.

100_3269

Siap2 wisata bahari di  Pantai Mutun di jantung Teluk Betung, Lampung

Kami sampai di Bandar Lampung, ibukota Ruwa Jurai, Jumat, 3 Juni 2009 sekitar pk. 17.30 dan menginap di Hotel Arinas Jl. Radin Intan no 35A, di pusat kota. Malam itu kami beristirahat dan menikmati angin laut di alam bebas yang berhembus dari teluk Lampung. Bandar Lampung adalah sebutan untuk kota yang baru, sebab merupakan gabungan 3 kota lama yaitu Teluk Betung, Tanjung Karang dan Panjang. Setelah makan malam, kami menuju rumah Kol. Inf. Arwandi (sepupu bapak Wikan) di Jl. Pulau Batam Raya no 12 Wai Halim, Lampung. Kami membezook mertuanya (75 tahun) yang baru pulang dari rumah sakit, karena menderita Hepatitis A dan radang usus (kolitis) kronis. Setelah ngobrol dan anak-anak mulai mengantuk, kami pulang ke hotel.

100_3177

Ubur-ubur laut yang ditangkap dik Bimosaat berenang di Pantai Mutun

100_3179

Dik Laras bergaya di atas kelotok dalam perjalanan kembali dari Pantai Mutun

Jum’at pagi kami menjemput Sr. Franselin, HK (sepupu mama Sari) di Biara Pusat Kongregasi Suster Hati Kudus St. Anna di Jl. Pattimura, samping kompleks sekolahan Xaverius, lalu menuju Pantai Mutun di jantung Teluk Betung. Perjalanan diselingi tersesat 2 kali, sebab banyak persimpangan jalan di kota lama Teluk Betung. Pantai itu berpasir putih yang bersih dan kami naik kelotok bertarif Rp. 5.000 perorang untuk menyeberang ke pulau kecil yang terdekat. Kami mendarat setelah 10 menit berperahu di laut dangkal yang jernih, dan berenang sepuas hati di sekitar kelotok yang tertambat. Air lautnya jernih, pasirnya putih, ombaknya nyaris tidak ada, sehingga anak-anak sangat puas dan bergembira. Setelah mandi bilas dengan 100% air tawar yang dingin, kami melanjutkan perjalanan ke Wai Kambas.

100_3231

Kami mencapai tujuan kami utama, yaitu Sekolah Gajah di Way Kambas, Lampung.

100_3208

Keinginan kami adalah naik ‘gajah terdidik’ keliling taman Way Kambas, Lampung.

Perjalanan menyusur jalan lintas tengah Trans Sumatera yang padat dengan truk dan bis antar propinsi besar-besar hanya sampai Tegineneng, lalu membelok ke kanan menuju Metro, sebuah kotamadya di Lampung bagian tengah. Perjalanan menyusur melawan arus air irigasi, semacam Selokan Mataram di Yogyakarta dengan lebar 2 kali lipat, areal persawahan yang subur, luas dan sedang menghijau di lumbung padi Lampung. Kami mampir untuk mengenal Biara Novisiat Suster Hati Kudus di pusat kota Metro yang rindang karena lebatnya pohon dan teratur tata kotanya karena terancang baik. Perjalanan kami lanjutkan dengan melintasi Lampung bagian tengah yang sudah lebih maju dan masuk ke teritorial Kabupaten Lampung Timur yang lebih tertinggal. Sukadana sebagai ibukota kabupaten, nampak kusam dan sepi, dengan jalan protokolnya yang hancur, penuh lobang. Taman Nasional Way Kambas yang kami tuju adalah areal hutan asli yang dirancang sebagai tempat pelatihan dan penangkaran gajah Sumatera yang masih liar. Kami memasuki arealnya menjelang adzan Ashar yang menggema dari mushola dekat kantor petugas. Pertunjukan ketangkasan gajah rutin sudah usai, sebab jadwal terakhirnya pk. 14 dengan biaya Rp. 500.000 per paket, yang biasanya ditanggung ramai-ramai (patungan) oleh para pengunjung, makanya kami hanya melihat aktivitas sore hari para gajah. Sewaktu mereka pulang dari hutan untuk mencari makan sehari penuh, langsung dimandikan oleh para pawang, berendam di sebuah kolam, lalu kembali ke kandang. Mereka berjalan berpasangan, yang jantan gagah dan besar dengan kaki depan dirantai dan kedua gadingnya sudah dipotong ujung runcingnya, yang betina lebih kecil badannya, tanpa gading dan berjalan sambil melindungi anaknya. Salah seorang anak gajah yang sebesar sapi ada yang sempat marah dengan lenguhan keras dan mengejar kerumunan orang di pinggir jalan setapak.

Gajah Jinak

Kami (dengan Sr. Franselin, HK) bergaya tanpa takut di depan gajah yang jinak di WaiKambas, Lampung

Kandang Gajah

Kandang gajah tanpa pagar, seluas lapangan sepak bola dengan tiang beton penambat gajah yang nampak di kejauhan

Kami berhamburan melompat menghindar, sampai nafas tersengal dan degup jantung meningkat tajam, saat pawangnya memanggil gajah itu yang langsung menurut. Dikejar anak gajah sebesar sapi, adalah pengalaman ‘miris’ tak terlupakan. Kami lanjutkan dengan naik gajah keliling kompleks dan melihat dataran seluas lapangan sepak bola, dimana setiap gajah ditambatkan di sebuah tiang beton dengan rantai terikat dikedua kakinya. Malam hari sering ada rombongan gajah liar datang, sehingga gajah yang sudah jinak harus dirantai, agar tidak ikut mereka dan kembali liar. Ada 82 gajah dewasa dan 17 anak gajah di seluruh areal dan terlihat sebuah truk bermuatan rumput gajah, daun tebu dan rumput ilalang yang diturunkan di setiap tiang beton, untuk makan malam para gajah. Di sebelah lapangan itu, nampak banyak gajah yang masih merumput di semak-semak yang sangat luas, sepanjang mata memandang, nampak gajah-gajah yang berjalan dengan langkah pelan namun mantap.

100_3207

Gajah yang sudah jinak tidak buta huruf, karena sudah sekolah

100_3203

Taman Way Kambas yang luas, untuk mendidik gajah Sumatera

100_3200

Rombongan gajah yang pulang sekolah di Way Kambas, Lampung

Sore itu kami kembali ke Metro dan mengistirahatkan Pak Nardi, sopir yang membawa kami dari Jakarta, di sebuah kamar di Biara Novisiat Suster Hati Kudus. Kami mampir untuk bertemu Dr. Paran Bagionoto, SpB, direktur RS Mardi Waluyo, dengan jamuan makan malam menu Jawa di sebuah RM serba ada, dekat alun-alun kota. Sehabis itu kami melanjutkan perjalanan pulang ke Bandar Lampung, setelah Pak Nardi cukup kuat. Kami menginap di Susteran HK Meirmeri, Jl. Dr. Sunarto, Bandar Lampung. Pagi harinya kami antar pak Nardi untuk menjalani rawat inap di BP St. Anna Jl. Patimura, sebab demam tinggi sekali sampai 40 derajad C, lemah, dan pusing, kemudian kami tinggal untuk keliling kota dengan dipandu oleh mas Erwin, anak sulung Kol. Inf. Arwandi.

100_3256

Koleksi kain tenun khas Lampung di Museum Negeri Lampung

Pertama-tama kami mengunjungi Museum Negeri Lampung yang dirintis sejak 1975 di areal seluas 17.010 m2 dan diresmikan oleh Prof. Dr. Fuad Hasan, Menteri P&K RI pada 24 September 1988. Bentuk bangunan menggambarkan arsitektur tradisional Balai Adat Lampung (Sesat). Di halamannya yang luas, berdiri miniatur rumah panggung sebagaimana dahulu digunakan oleh masyarakat tradisional. Selain itu, juga ada jangkar kapal niaga abad lalu yang besar, ranjau laut dan meriam kuno untuk melawan bala tentara Kumpeni Belanda (VOC). Di dalamnya tersimpan aneka benda purbakala, dari jaman batu (megalitikum), jaman pertengahan sampai jaman sekitar kemerdekaan. Selain itu, tersimpan juga binatang khas Lampung dalam awetan, seperti hariamau, gajah, beruang madu, buaya, aneka ular dan burung yang semuanya asli Lampung dan hampir punah. Di lantai dua tersimpan aneka hasil tenun, batik, pakaian adat dan alat tenun tradisionil penghasil kain tersebut.

100_3255

Gaya dik Bimo menembakkan Meriam kuno di halaman Museum Lampung

100_3264

Makan siang di Pantai Pasir Putih dengan keluarga pakde Kol. Arwandi

Setelah puas memandang, kami melanjutkan perjalanan ke THR Pantai Pasir Putih, di dekat pelabuhan Panjang, di pinggir jalan trans Sumatera yang padat lalu lintas. Kami susuri jalan yang berdampingan dengan rel kereta api, yang saat itu dilalui oleh kereta babaranjang, kereta api terpanjang pengakut batubara dengan 50 gerbong dari Bukit Assam di Lampung Barat menuju Pelabuhan Batubara di Panjang. Kami sampai geleng-geleng kepala tanda takjub atas kebesaran eksplorasi alam Lampung yang kaya raya.

Rekresai di Pantai Pasir Putih itu kami awali dengan makan siang di atas tikar yang kami gelar di samping mobil yang parkir, dalam rindang bayangan pohon waru di atas pasir putih yang bersih, dengan hembusan angin laut yang semilir. Setelah itu, kami menyewa kelotok untuk menyeberang laut, menuju Pulau Condong yang berwarna hijau dari dedaunan di bukit yang terjal. Kami mengitari pulau itu, sambil melihat keindahan taman laut dengan kaca ‘snorkeling’ yang disediakan awak kapal. Karang dan ikan berbagai warna, ukuran dan bentuk, nampak nyata dan indah di bawah kapal yang bergeser, perlahan dibawa arus ombak kecil. Kami mendarat di sisi timur pulau dan menghabiskan siang itu dengan berenang-renang sampai puas.

Sore harinya, kami jenguk pak Nardi yang masih tergolek layu di bangsal rawat inap di BP St. Anna Jl. Patimura dan kami putuskan untuk pulang ke Jakarta, tanpa membawanya serta, karena tidak tega. Malam itu kami menginap di Hotel Kalianda, di seberang kantor Polres Lampung Selatan.

100_3273

Istirahat sejenak di depan Kantor Bupati Lampung Selatan di Kalianda

100_3236

Awal perjalanan pulang disimpang lima Bandar Lampung (Tapis Berseri)

Siger Lampung

Menara Siger di Bukit Bakauheni yang nampak gagah dari atas ferry penyebarangan

Minggu pagi 5 Juli 2009, kami sempatkan berdoa saja, sebab Misa Kudus baru akan berlangsung 2 jam lagi, di Kapel St. Paulus di kompleks rumah kalwat atau rumah retret Suster Hati Kudus di samping kantor Kodim Lampung Selatan. Perjalanan kami lanjutkan ke pelabuhan Bakauheni, di ujung selatan Lampung Selatan.  Kami pandangi Menara Siger di puncak bukit Bakauheni. Menara tersebut berbentuk topi khas Lampung, yang biasa dikenakan oleh pria bangsawan, dan berfungsi sebagai gardu pandang para pelancong yang ingin melihat pemandangan Selat Sunda yang indah, kesibukan pelabuhan penyeberangan yang berdenyut selama 24 jam sehari, dan juga berfungsi sebagai ‘tetenger’ Bakauheni dari tengah laut.

Perjalanan menyeberang laut di sisi selatan Gunung Krakatau itu berjalan lancar dalam 2 jam. Kami lanjutkan dengan makan siang menu Jawa Timur di depan Terminal Terpadu Merak. Terminal tersebut sangat luas, sebab paduan antara terminal bis antar kota, angkot, mobil pribadi, truk angkutan barang, kereta api penumpang, pelabuhan peti kemas, dan penyeberangan laut menggunakan ferri. Setelah berfoto-foto sepuasnya, perjalanan kami lanjutkan melalui jalan tol Jakarta Merak yang sedang diperbaiki, untuk menuju Banten.

Kami mengunjungi Banten Lama, sekitar 9 km dari pusat kota Serang. Kami melihat kompleks Keraton Surosowan atau Gedung Kedaton Pakuwan yang dibangun pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin (1552-1570). Perlu diketahui bahwa Kerajaan Islam Banten di Surosowan (saat ini masuk Banten Lama) didirikan di dekat pantai, pindahan dari Banten Girang (=hulu). Kota Surosowan sebagai ibukota kerajaan dibangun atas perintah Sunan Gunung Jati kepada puteranya Maulana Hasanuddin Panembahan Surasowan yang kemudian menjadi raja Banten pertama pada tahun 1552.

Islam datang pada 1524 dan Sunan Gunung Jati atau Syeh Syarif Hidayatullah mengalahkan Prabu Pucuk Umum (putera Prabu Seda), penguasa terakhir Kerajaan Sunda Wahanten Girang. Keraton Surosowan dibangun pada 1552-1570, dindingnya setinggi 2 meter, dan tebalnya 5 meter. Panjang dari timur ke barat 300 m dan utara ke selatan 100 m.

100_3304

Dinding bekas pondasi Keraton Sorosowan di Banten yang dihancurkan pasukan Daendels

100_3308

Dik Laras bergaya sendirian di Situs purbakala yang tinggal puing batu kurang tertata, di dalam kompleks Banten Lama

Pada pemerintahan Pangeran Muhammad, berlabuhlah kapal-kapal Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman di pelabuhan Banten pada tahun 1596. Dalam catatan Jansen Kaerel  diceritakan kota Banten yang sudah maju, dikelilingi pagar tembok batu bata, bermeriam, pasarnya ramai  dan masjidnya besar. Catatan Willem Lodewiyk menggambarkan pedagang Portugis, Arab, Cina, Turki, Keling, Pegu, Gujarat, Malaya, Benggali, Malabar dan Abesinia, juga Bugis dan Jawa.

Catatan Tome Pires menyebutkan transaksi di pasar telah menggunakan mata uang Cina, yaitu Caxa (cash) dan Tumdaya (tael). Sebagai perbandingan 1.000 cash seharga 29 kg (58 pon) lada. Masa keemasan Kerajaan Banten dicapai pada pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa Abdulfathi Abdul Fatah (1651-1672). Sensus penduduk pada masa pemerintahan Sultan Abdul Mahasin Zainul Abidin menyebutkan jumlah penduduknya 31.848 jiwa di tahun 1694

Pada tahun 1808 Daendels yang gagal memaksa Sultan Muhammad Syafiuddin untuk menyerahkan kerajaannya bersama dengan Lampung, lalu menghasut rakyat Banten untuk menghancurkan gedung istana Pakuwan Surosowan dan dipaksa untuk membuat pelabuhan kapal di pantai Labuan (pantai barat selatan Banten). Perang besar meletus dan tentara Belanda didatangkan dari Batavia untuk menghancurkan istana yang megah itu pada tahun 1832 dan berakhirlah era Kerajaan Banten yang akhirnya disatukan dalam teritorial Batavia dan dibentuk pemerintahan sipil yang dipimpin oleh landrost (semacam residen) dan berkedudukan di Serang.

Peninggalan di Banten lama adalah Kompleks Keraton Surosowan, Masjid Agung, Tiyamah, Menara Masjid, kompleks makam, meriam Ki Amuk (hadiah dari Sultan Trenggana di Demak kepada Sunan Gunung Jati), masjid Pacinan Tinggi (masjid yang pertama kali dibangun Sunan Gunung Jati), kompleks Keraton Kaibon (istana sultan terakhir), vihara Avalokitecvara (didirikan oleh Sunan Gunung Jati yang mengalahkan rombongan Cina yang akan ke Tuban, kehabisan bekal dan mampir di Banten. Sunan memperisteri Puteri Ong Tien, sehingga dibuatkan Masjid Pecinan Tinggi dan vihara untuk para pengikutnya secara adil, sebab ada yang jadi Islam), masjid Koja, Kerkhof (makam orang Eropa), benteng Speelwijck, Tasik kardi (sebuah danau buatan), pengindelan (bungker yang berfungsi sebagai penyaring air), klenteng Cina, Watu Gilang dan Museum Banten. Watu Gilang ada 2 buah, di depan kompleks keraton Surosawan dan di alun-alun sebelah utara. Bentuknya segi 4 dengan permukaan datar, terbuat dari batu adesit dan digunakan untuk pentasbihan sultan Banten.

Setelah puas berkeliling situs arkeologis itu, kami melanjutkan perjalanan ke Jakarta dengan masuk tol di gerbang Serang Timur. Kami menuju Gereja Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga di Paroki Katedral Jakarta, untuk mengikuti misa sore. Hari Minggu 5 Juli 2009 itu, gereja dengan arsitek Marius Hulswit (1899-1901) yang bergaya Gothik abad pertengahan, sedang direnovasi bagian menara kembar di depan.

Setelah misa, kami mengitari Taman Monumen Nasional, berfoto dan terkesima atas kegagan cahaya api dari emas di puncaknya setinggi 145 m. Malam itu kami ketemu keluarga pakde Totok di kantin stasiun Gambir, lalu berpisah jalan. Mobil Kijang Innova sewaan telah diambil lagi oleh salah seorang sopir yang telah menunggu di Gambir, sebab pada saat itu pak Nardi masih tergolek lunglai di Bandar Lampung.

Kami pulang ke Yogyakarta dalam gerbong KA Taksaka II dengan badan lunglai, sedangkan Yangti (Eyang Puteri Yustina Nanik Karsini) diajak untuk berlibur di rumah pakde Totok Ismintarto di Pamulang, Tangerang Selatan. Kami berlima sampai di Yogyakarta dengan selamat di pagi buta Senin, 6 Juli 2009, meski lemah, pening, mual, demam dan batuk. Sungguh, itu perjalanan sejauh 1.586 km yang penuh kenangan karena diakhiri dengan sakit.

Disampaikan banyak terima kasih, kepada siapa saja yang telah membantu terjadinya petualangan menjelajah Lampung, bumi Ruwa Jurai kali ini. Sampai jumpa dalam petualangan berikutnya.

100_3162

Bergaya di buritan fery penyeberangan ke Merak, Banten dari Bakaheuni, Lampung

sekian

Yogyakarta, 7 Juli 2009

Bapak Wikan

*) ketua rombongan pelancong bergaya minimalis.

Categories
anak dokter Healthy Life sekolah UHC

STIGMA SOSIAL OBESITAS

fx. wikan indrarto*)

Obesitas telah mencapai proporsi epidemik secara global, bahkan setidaknya 2,8 juta orang meninggal setiap tahun, terkait kelebihan berat badan atau obesitas. Di Eropa diperkirakan 23% wanita dan 20% pria mengalami obesitas. Kegemukan dan obesitas merupakan faktor risiko utama untuk sejumlah penyakit kronis, termasuk diabetes, penyakit kardiovaskular dan kanker. Namun demikian, Hari Obesitas Sedunia (World Obesity Day) 11 Oktober 2016 lalu tidak hanya menyoroti aspek medis, tetapi justru  dampak sosial obesitas. Apa yang harus disadari?

Dampak sosial obesitas dari sebuah negara di Eropa barat menunjukkan bahwa 18,7% orang dengan obesitas mengalami stigma. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), stigma adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. Bagi anakg dengan obesitas berat, persentase stigmanya jauh lebih tinggi, yaitu mencapai 38%. Seorang dengan obesitas mengalami stigma dari guru, pengusaha mainan anak, petugas profesional kesehatan, media bahkan dari teman sekelas dan keluarga.

Hasil gambar untuk obesitas pada anak

Stigma adalah penyebab dasar terjadinya ketidaksetaraan layanan kesehatan, dan stigma obesitas dikaitkan dengan konsekuensi fisiologis dan psikologis yang signifikan, termasuk meningkatnya depresi, kecemasan, dan penurunan harga diri. Stigma ini justru juga dapat menyebabkan pola makan yang lebih teratur, menghindari aktivitas fisik yang dianjurkan, dan menyulitkan mendapatkan layanan medis. Efek dari stigma atas obesitas dapat sangat parah pada anak. Studi menunjukkan bahwa anak usia sekolah dengan obesitas mengalami kemungkinan 63% lebih tinggi untuk diintimidasi atau di-bully. Ketika anak dan remaja diintimidasi atau menjadi korban karena obesitas mereka oleh teman sebaya, keluarga dan teman, hal itu dapat memicu perasaan malu. Selain itu, juga dapat menyebabkan depresi, harga diri rendah, citra tubuh yang buruk, dan bahkan usaha percobaan bunuh diri.

Hasil gambar untuk obesitas pada anak

Tingkat obesitas anak dan remaja meningkat sepuluh kali lipat dalam empat dekade terakhir. Artinya, 124 juta anak laki-laki dan perempuan di seluruh dunia terlalu gemuk. Di Inggris, satu dari setiap 10 anak muda berusia lima sampai 19 tahun, mengalami obesitas. Selama 4 dekade terakhir, di seluruh Indonesia prevalensi kelebihan BB untuk anak laki-laki 33 kali dan untuk anak perempuan 18 kali lipat lebih banyak. Sebelum tahun 2006, anak gemuk didominasi perempuan, tetapi setelah itu kondisinya berbalik. Riset Kesehatan Dasar 2013 mencatat 18,8% anak umur 5-12 tahun mengalami kelebihan BB. Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia 2016, persentase balita gemuk usia 0-59 bulan menurut indeks BB/TB adalah 4,3 %, terbanyak terdapat di DKI Jakarta, yaitu mencapai 8,1 % balita adalah gemuk.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bias adalah menyimpang dari yang sebenarnya (tentang nilai, ukuran). Bias pada anak gemuk (weight bias) oleh guru, yaitu penilaian guru yang tidak tepat, dapat menyebabkan harapan siswa yang lebih rendah, yang dapat terlihat pada rendahnya hasil pendidikan atau nilai ujian sekolah pada anak dan remaja dengan obesitas. Hal ini selanjutnya dapat mempengaruhi kesempatan dan peluang anak untuk melanjutan jenjang sekolah, dan akhirnya menyebabkan ketidakadilan sosial, dan bahkan penurunan derajad kesehatan. Kebijakan diperlukan untuk mencegah terjadinya korban pada anak dengan obesitas di sekolah, agar orang tua dapat mengadvokasi anak mereka. Bersama dengan guru dan kepala sekolah sebaknya dilakukan program pendampingan anak, untuk meningkatkan kewaspadaan akan bias pada anak gemuk di sekolah.

Hasil gambar untuk obesitas pada anak

Terlalu menyederhanakan penyebab obesitas dan anggapan bahwa solusi yang mudah akan memberikan hasil yang cepat dan berkelanjutan, tidaklah bijak. Misalnya solusi anjuran untuk ‘kurangi makan dan lebih aktif bergerak’, telah terbukti berkontribusi menyebabkan bias pada anak gemuk. Solusi tersebut justru dapat menyebabkan harapan yang tidak realistis, bahkan mengaburkan tantangan dalam mengubah perilaku, yang dapat dialami anak dengan obesitas. Selain itu, solusi yang akan dirumuskan sebaiknya tidak hanya dengan lebih sering berfokus pada diskusi seputar perilaku ataupun kegagalan yang dirasakan anak gemuk, tetapi hendaknya juga mempertimbangkan faktor sosial dan lingkungan yang berpengaruh.

Penting sekali untuk memahami penyebab obesitas pada anak secara individual. Bagi pemerintah, pemahaman tersebut diperlukan untuk menyusun program investasi dan pencegahan personal. Selain itu, juga untuk tindakan intervensi dini guna menghentikan kenaikan berat badan yang mengkhawatirkan. Pada saat yang sama, sangat penting untuk menyadari bahwa pemerintah dan masyarakat memiliki kewajiban etis untuk bertindak atas nama anak, dalam mengurangi dampak buruk, tidak hanya dalam aspek kesehatan, tetapi juga konsekuensi sosial dari obesitas. Kegagalan untuk melakukannya akan berdampak pada modal sosial dan kesehatan generasi mendatang, bahkan akan mampu meningkatkan ketidakadilan.

WHO akan bekerja sama dengan berbagai negara, untuk menghasilkan kebijakan nasional yang tidak hanya mampu mencegah terjadinya obesitas, tetapi juga  mengkoreksi bias gemuk dan stigma sosial obesitas pada anak. Kebijakan tersebut harus dituangkan dalam program kegiatan kesehatan masyarakat secara nasional dalam kebijakan publik, terutama terkait pendidikan dan layanan kesehatan. Selain itu, juga program penelitian ilmiah kedokteran dan sosial lebih lanjut, bahkan pertukaran pengetahuan di tingkat lokal, nasional, dan internasional antar negara. Bersediakah kita terlibat?

Sekian

Yogyakarta, 10 Januari 2018

*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak, lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
anak antibiotika Healthy Life resisten obat sekolah

HAPUS TIFUS

Hasil gambar untuk imunisasi anak

HAPUS TIFUS

fx. wikan indrarto*)

Pada akhir Desember 2017, WHO melakukan prakualifikasi vaksin konjugasi pertama untuk tifus, Typbar-TCV® buatan Bharat Biotech. Vaksin konjugasi tifus (TCVs) dibandingkan vaksin yang lebih dulu tersedia, adalah produk inovatif yang memiliki kekebalan lebih tahan lama, memerlukan lebih sedikit dosis, dan dapat diberikan kepada anak melalui program imunisasi rutin anak. Apa yang harus dilakukan?

Prakualifikasi adalah proses penilaian kompetensi dan kemampuan usaha serta pemenuhan persyaratan tertentu lainnya dari penyedia barang atau jasa sebelum memasukkan penawaran. Fakta bahwa vaksin tersebut telah didahulukan oleh WHO berarti telah memenuhi standar kualitas, keamanan dan kemanjuran yang dapat diterima. Hal ini membuat vaksin tersebut layak untuk dibeli dalam proses pengadaan oleh badan-badan PBB, seperti UNICEF, dan Gavi, the Vaccine Alliance.

Hasil gambar untuk tifus pada anak
Tifus, yang juga dikenal sebagai demam tifoid, adalah penyakit multisistemik yang berpotensi fatal, yang terutama disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica, subspesies enterica serovarian typhi. Perkiraan global tentang beban tifus berkisar antara 11 dan 20 juta kasus. Selain itu, juga dapat menyebabkan sekitar 128.000 – 161.000 kasus kematian tifus setiap tahunnya, terutama pada anak. Masyarakat miskin dan kelompok rentan, seperti anak dengan gizi kurang, seringkali yang paling rentan.

Hasil gambar untuk tifus pada anak
Manifestasi tifus sangat luas, sehingga menjadikan penyakit ini memiliki tantangan diagnostik sejati (a true diagnostic challenge). Kriteria standar untuk diagnosis tifus sejak lama adalah isolasi bakteri dengan pemeriksaan biakan atau kultur, yang secara luas dianggap 100% spesifik. Kultur aspirasi sumsum tulang adalah 90% sensitif sampai setidaknya 5 hari setelah dimulainya antibiotik. Namun demikian, teknik pemeriksaan ini sangat menyakitkan bagi pasien, sehingga mungkin lebih besar kerugian daripada manfaatnya. Kultur dengan bahan darah, sekresi usus (muntahan atau aspirasi duodenum), dan tinja akan positif untuk bakteri S typhi pada sekitar 85% pasien tifus pada minggu pertama demam dan akan menurun sampai 20% dalam perjalanan demam selanjutnya.

Hasil gambar untuk tifus pada anak

Pedoman terbaru untuk pengobatan tifus di Asia Selatan diterbitkan oleh ‘Indian Association of Pediatrics’ (IAP) pada bulan Oktober 2016. Untuk pengobatan empiris tifus yang tidak berat, IAP merekomendasikan sefiksim dan, sebagai obat lini kedua adalah azitromisin. Untuk tifus yang berat, direkomendasikan ceftriaxone. Aztreonam dan imipenem adalah obat lini kedua untuk kasus yang berat. Rekomendasi IAP berlaku untuk pengobatan empiris tifus pada pasien dewasa dan anak. Oleh karena itu, untuk strain yang berasal dari luar Asia Selatan dan Asia Tenggara, rekomendasi WHO mungkin masih berlaku, bahwa tifus yang tidak berat harus diobat secara empiris dengan ciprofloxacin oral dan tifus yang berat harus diberikan ciprofloxacin intravena.

Hasil gambar untuk tifus pada anak
Pada bulan Oktober 2017, Strategic Advisory Group of Experts (SAGE) tentang imunisasi, merekomendasikan TCV untuk penggunaan rutin pada anak di atas usia 6 bulan di negara-negara endemik tifoid atau tifus, seperti Indonesia. SAGE juga meminta pengenalan TCV untuk diprioritaskan pada negara-negara dengan tingkat penyakit tifus tertinggi atau telah terjadi resistensi antibiotik terhadap Salmonella Typhi, bakteri yang menyebabkan penyakit tifus. Penggunaan vaksin juga harus membantu mengurangi penggunaan antibiotik untuk pengobatan yang diduga tifus atau demam tifoid, dan dengan demikian membantu memperlambat peningkatan resistensi antibiotik atas Salmonella Typhi yang mengkhawatirkan.


Tak lama setelah rekomendasi SAGE, Gavi Board menyetujui pendanaan US $ 85 juta untuk pembelian TCV mulai tahun 2019, melengkapi vaksin Typhim Vi® buatan Sanofi Pasteur dan Typherix® buatan GSK, yang telah ada sebelumnya. Proses prakualifikasi oleh karena itu merupakan langkah penting yang perlu dilakukan agar TCV tersedia bagi negara berpenghasilan rendah, di tempat yang paling mereka butuhkan. Dan bahkan di negara-negara yang tidak didukung Gavi, prakualifikasi dapat membantu memperlancar perizinan.

Hasil gambar untuk imunisasi anak
Prakualifikasi WHO membantu memastikan bahwa vaksin yang digunakan dalam program imunisasi adalah aman, efektif, dan tepat untuk kebutuhan negara. Prosedur prakualifikasi WHO terdiri dari penilaian yang transparan dan masuk akal secara ilmiah yang mencakup peninjauan kembali atas bukti (reviewing the evidence), menguji konsistensi setiap lot pada produksi vaksin, dan mengunjungi lokasi pabrik pembuatannya.

Bagi jutaan orang yang tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah, tifus adalah penyakit yang selalu ada dan mengancam. Urbanisasi dan perubahan iklim berpotensi meningkatkan beban global tifus. Selain itu, meningkatnya resistensi terhadap pengobatan antibiotik membuat lebih mudah tifus menyebar melalui populasi yang padat di perkotaan, apalagi dengan sistem air dan sanitasi yang tidak memadai.

Hasil gambar untuk imunisasi anak

Oleh sebab itu, imunisasi menggunakan Typbar-TCV® buatan Bharat Biotech sangat diandalkan untuk menghapus beban global tifus. Apakah anak kita sudah menerimanya?

Hasil gambar untuk dr wikan indrarto

Sekian

Yogyakarta, 6 Januari 2018

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com.

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?