Categories
anak COVID-19 Healthy Life UHC

2021 HP DAN ASMA

Kemenkes RI on Twitter: "Hari Asma Sedunia diperingati setiap hari Selasa  di minggu pertama bulan Mei. Peringatan ini sebagai upaya untuk  meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap penyakit Asma. Semoga berkah  kesehatan selalu

ASMA  DALAM  HP

fx. wikan indrarto*)

Hari Asma Sedunia pada Rabu, 5 Mei 2021 diselenggarakan oleh the Global Initiative for Asthma (GINA) sejak tahun 1993, yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran akan penyakit asma di seluruh dunia. Tema Hari Asma Sedunia tahun 2021 ini adalah “Mengungkap Kesalahpahaman Asma” (Uncovering Asthma Misconceptions). Apa yang salah dipahami?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/06/02/2019-bebas-asma-saat-lebaran/

.

Asma adalah masalah utama kesehatan masyarakat karena diperkirakan lebih dari 339 juta orang menderita asma secara global dan terdapat 417.918 kematian akibat asma pada tahun 2016. Meskipun asma tidak dapat disembuhkan, penanganan asma dapat dilakukan untuk mengurangi dan mencegah terjadinya serangan asma.

.

Kita semua diajak untuk bertindak mengatasi mitos dan kesalahpahaman tentang asma, yang justru mencegah penderita asma menikmati manfaat optimal dari kemajuan besar dalam pengelolaan asma. Kesalahpahaman umum seputar asma misalnya anggapan asma adalah penyakit masa anak dan akan membaik seiring bertambahnya usia, asma menular, sebaiknya tidak berolahraga dan hanya dapat dikontrol dengan obat steroid dosis tinggi.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/03/08/steroid-pada-serangan-asma/

.

Pada hal yang benar adalah asma dapat terjadi pada semua usia, baik anak, remaja, dewasa maupun lanjut usia. Selain itu, asma tidak menular meskipun infeksi virus pernapasan, seperti flu dapat menyebabkan serangan asma. Pada anak, asma sering dikaitkan dengan alergi, tetapi asma yang dimulai pada masa dewasa lebih jarang disebabkan karena alergi. Jika asma terkontrol dengan baik, penderita asma dapat berolahraga dan bahkan melakukan olah raga untuk mencapai prestasi terbaik. Yang terakhir, asma paling sering dapat dikendalikan dengan obat steroid hirup dosis rendah, dengan pemantauan derajad asma oleh dokter secara ketat.

.

Gejala Penyerta Batuk pada Anak yang Perlu Diwaspadai

Saat ini sudah ada aplikasi ponsel cerdas yang dapat memprediksi perburukan asma dengan data batuk di malam hari. Batuk di malam hari yang diukur melalui aplikasi ponsel cerdas, dapat menunjukkan bahwa asma semakin parah. Penelitian yang dipresentasikan di kongres internasional (the European Respiratory Society International Congress) tahun 2020 adalah yang pertama kali mengukur batuk pasien selama beberapa malam dan menunjukkan bahwa batuk, adalah tanda derajat asma memburuk.

.

Aplikasi tersebut merupakan cara baru untuk membantu pasien dan dokter  memantau asma dan menyesuaikan pengobatan untuk menjaga gejala asma tetap terkendali. Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Frank Rassouli, dari Cantonal Hospital St. Gallen, Zurich, Swiss, yang dilatarbelakangi bahwa sampai sekarang, belum ada alat yang dapat diandalkan untuk mengukur gejala asma pada seseorang dalam semalam.

.

Penelitian itu melibatkan 94 pasien asma yang sedang dirawat di dua klinik di Swiss: Lung Center, Cantonal Hospital, St Gallen dan MediX Group Practice, Zurich. Setiap pasien diminta mengunjungi klinik asma pada awal dan akhir penelitian, untuk melaporkan perangkat pengendali asma mereka, yaitu data gejala seperti sesak napas dan apakah asma mereka berdampak pada kehidupan mereka sehari-hari.

.

7 Smartphone Flagship Murah Terbaik, HP Performa Ngebut Tanpa Jebol  Kantong! | merdeka.com

Selama 29 hari penelitian, mereka tidur dengan ponsel cerdas di kamar tidur mereka, dengan aplikasi yang diaktifkan untuk mengukur tingkat kebisingan suara batuk di malam hari. Aplikasi tersebut juga memungkinkan bagi pasien untuk melaporkan gejala klinis lain pada malam hari. Para peneliti menemukan bahwa jumlah batuk di malam hari sangat bervariasi dari satu pasien ke pasien lainnya, tetapi ditemukan korelasi yang kuat antara peningkatan batuk di malam hari selama seminggu, dan gejala asma yang semakin memburuk.

.

Batuk di malam hari dapat diukur secara sederhana dengan aplikasi ponsel cerdas dan bahwa peningkatan batuk di malam hari merupakan indikator bahwa asma memburuk. Memantau asma sangat penting karena jika dokter dapat melihat tanda-tanda awal asma memburuk, dokter dapat menyesuaikan pengobatan untuk mencegah serangan asma yang memberat.

.

Meskipun asma tidak dapat disembuhkan, tetapi dengan memastikan bahwa pasien menggunakan panduan tatalaksana mereka seperti yang ditentukan oleh dokter, asma biasanya dapat dikontrol dengan baik. Asma yang tidak terkontrol dapat mengganggu aktivitas sekolah atau pekerjaan dan menyebabkan serangan asma yang serius.

Aplikasi ponsel cerdas ini juga dapat mempermudah pengumpulan banyak data, untuk mempelajari batuk di malam hari pada asma dan penyakit pernapasan lainnya. Perpaduan antara perangkat keras yang mudah dan tersedia seperti telepon pintar, dikombinasikan dengan kecerdasan buatan yang dapat bekerja dengan data kualitas batuk pada malam hari, akan memberikan dokter mata dan telinga tambahan, dalam menilai kondisi klinis pasien mereka di kehidupan nyata, bukan hanya di ruang praktek dokter. Pasien asma tetap harus berkonsultasi dengan dokter jika merasa gejala mereka memburuk dengan cara apapun, bahkan jika aplikasi ponsel cerdas ini tidak menunjukkan peningkatan batuk pada malam hari atau gejala lainnya.

Momentum Hari Asma Sedunia Rabu, 5 Mei 2021 mengingatkan kita bahwa kesalahpahaman tentang asma harus dikoreksi (Uncovering Asthma Misconceptions), terutama untuk mencapai pengendalian asma. Inisiatif ini bertujuan untuk mempercepat pengendalian asma dengan berbagai cara, temasuk aplikasi ponsel cerdas, dengan memastikan tidak ada seorangpun yang tertinggal (to ensure no one is left behind).

 Sudahkah Anda terlibat membantu?

https://www.ersnet.org/the-society/news/smartphone-app-can-predict-asthma-deterioration-by-measuring-night-time-coughing

Sekian

Yogyakarta, 19 April 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
anak COVID-19 Healthy Life Pendukung ASI sekolah UHC

2021 Kesehatan Anak Paska Pandemi COVID-19

Anak Sehat, Indonesia Kuat! | Indonesia Baik

KESEHATAN  ANAK  PASKA  PANDEMI  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Dimuat di Harian Nasional KOMPAS hari Senin, 19 April 2021, halaman 7

Selama dua dekade terakhir, epidemiologi kesehatan anak global telah berubah secara signifikan, termasuk dalam kesejahteraan anak. Ketika semua negara berusaha membangun kembali saat pulih dari ganasnya pandemi COVID-19, diperlukan evolusi substansial dalam berbagai program, untuk memenuhi kebutuhan kesehatan anak yang berubah. Apa yang harus berubah?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/03/21/2021-imunitas-anak/

.

Pola kematian dan penyakit pada masa anak berubah secara dramatis. Tren menunjukkan bahwa kematian yang dapat dicegah sekarang tertinggi pada periode bayi baru lahir. Namun demikian, sebnarnya pneumonia, diare dan malaria yang diperparah oleh malnutrisi, masih juga terus berdampak besar pada anak balita. Ini terutama terjadi di antara populasi yang paling terpinggirkan di wilayah Afrika sub-Sahara, di mana populasi anak justru diperkirakan akan tumbuh dalam beberapa dekade mendatang.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/02/06/2021-covid-19-pada-anak/

.

Di beberapa negara kematian pada remaja (15-19 tahun) justru meningkat karena kecelakaan lalu lintas di jalan raya, kekerasan fisik, dan melukai diri sendiri. Peningkatan jumlah anak dan remaja yang masih bertahan hidup, banyak yang dipengaruhi oleh kejadian cedera, gangguan perkembangan, penyakit tidak menular dan kesehatan mental yang buruk. Kelebihan berat badan dan obesitas di kalangan remaja dengan cepat meningkat, sehingga banyak negara menghadapi beban ganda malnutrisi, baik berupa kekurangan maupun kelebihan gizi.

.

Tantangan ini cenderung diperparah oleh pergeseran demografis. Peningkatan jumlah anak yang tinggal di pusat kota pada tahun-tahun mendatang, membatasi kesempatan untuk mendapatkan udara bersih dan beraktivitas fisik, sehingga menyebabkan tekanan serius pada berbagai fasilitas layanan kesehatan di daerah, apabila tanpa intervensi khusus. Kesehatan dan kesejahteraan anak dan remaja harus menjadi pusat upaya untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) pada tahun 2030. Dunia perlu mengubah orientasi program untuk mencapai SDG (reframing child and adolescent health for the SDG era).

.

Kata Dokter, Begini Ciri-ciri Anak Sehat Secara Fisik dan Mental

Negara hanya dapat berkembang dan makmur jika negara berinvestasi untuk anak dan remaja, dan mengoptimalkan dukungan dalam momen penting pembentukan kesehatan anak di masa depan, dengan menggunakan apa yang disebut pendekatan alur kehidupan (lifecourse approach). Dengan pemikiran ini, meningkatkan kesehatan anak tidak boleh lagi hanya dianggap semata-mata sebagai masalah sektor kesehatan. Kebijakan, layanan, dan edukasi harus ditempatkan sebagai bagian dari solusi oleh pemerintah dan masyarakat, untuk mendorong agenda kesehatan anak dan remaja global, regional dan nasional.

.

Hampir satu tahun setelah COVID-19 dinyatakan sebagai pandemi, peningkatan luar biasa terlihat pada pembalikan risiko kelangsungan hidup anak dan remaja. Kerangka Sasaran Pembangunan Berkelanjutan (SDG) yang diadopsi pada tahun 2015, memang telah mencakup pendekatan holistik untuk meningkatkan kesehatan anak dan remaja, tetap masih relevan setelah pandemi COVID-19 berakhir, tetapi perlu penajaman fokus.

.

Kerangka kerja tersebut dahulu disusun berdasarkan tren tingkat makro, sehingga saat ini membutuhkan perubahan besar dalam paradigma tentang kesehatan anak dan remaja. Hal ini memerlukan peralihan dari fokus (shift in thinking) yang sebelumnya hanya tentang kelangsungan hidup anak di bawah 5 tahun, menjadi keterkaitan kesehatan ibu, bayi baru lahir, anak dan remaja, dengan pemahaman tentang bagaimana alur kehidupan manusia, tidak hanya pada masa dini, tetapi harus berlanjut sepanjang kehidupan anak hingga dewasa.

.

Perubahan demografi dan beban penyakit telah memaksa setiap negara harus memperkuat sistem kesehatannya, agar lebih responsif terhadap perubahan kebutuhan anak dan remaja. WHO dan UNICEF telah memulai upaya untuk mengarahkan kembali strategi kesehatan anak, mengalihkan perhatian ke perspektif alur kehidupan (life course perspective), dan menjauh dari fokus eksklusif sebelumnya, yaitu hanya terkait kelangsungan hidup bayi dan anak di bawah 5 tahun.

.

Prinsip pemrograman ulang (redesign) kesehatan anak, berupa program kesehatan anak dan remaja, serta implementasi kebijakannya yang harus mengikuti pendekatan alur kehidupan (life course perspective), yang didasarkan pada data tentang epidemiologi penyakit terbaru. Pemrograman ulang ini termasuk memastikan layanan kesehatan prakonsepsi yang baik, layanan kesehatan ibu hamil, serta intervensi medis yang berkualitas tinggi untuk anak sampai remaja, yang berusia 0 hingga 19 tahun.

.

Program baru harus berdasarkan hak dan adil (rights based and equitable), sehingga intervensi dan layanan medis penting harus disediakan untuk semua anak, di mana pun mereka tinggal. Selain itu, program harus mencakup layanan terpadu yang berpusat pada keluarga, anak, dan remaja, dalam bentuk mempromosikan kesehatan, pertumbuhan, dan kesejahteraan. Implementasinya meliputi pembentukan ketahanan atau imunitas, mencegah pajanan terhadap penyakit dan komplikasi selanjutnya, dan meminimalkan kerentanan atau faktor risiko sakit, dengan mempertimbangkan kebutuhan personal anak dan remaja.

.

Masyarakat dan keluarga harus diberdayakan untuk berpartisipasi dalam perancangan kebijakan pada anak dan remaja, untuk penyediaan layanan kesehatan yang berkualitas, paska pandemi COVID-19.

Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 22 Maret 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
anak COVID-19 Healthy Life sekolah

2021 Cidera dan Kekerasan

Waspada! 5 Jenis Cedera karena Olahraga dan Cara Mengatasinya | Popmama.com

CEDERA  DAN  KEKERASAN

fx. wikan indrarto*)

Laporan UNICEF pada Jumat, 19 Maret 2021 menyebutkan bahwa cidera merenggut nyawa 4,4 juta remaja di seluruh dunia setiap tahun dan merupakan hampir 8% dari semua kematian remaja. Kira-kira 1 dari 3 kematian remaja ini diakibatkan oleh kecelakaan lalu lintas di jalan raya, 1 dari 6 akibat bunuh diri, 1 dari 10 akibat pembunuhan, dan 1 dari 61 akibat perang dan konflik bersenjata. Apa yang mencemaskan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/08/14/2020-hari-remaja-internasional/

.

Selain kematian dan cedera, paparan terhadap segala bentuk kekerasan, terutama di masa anak, dapat meningkatkan risiko gangguan mental dan keinginan untuk bunuh diri, menjadi perokok, pengguna alkohol dan penyalahgunaan zat terlarang, mengalami penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes dan kanker, serta masalah sosial seperti kemiskinan, kejahatan dan kekerasan. Karena alasan ini, mencegah cedera dan kekerasan, termasuk dengan memutus siklus kekerasan antargenerasi, sebenarnya lebih dari sekadar menghindari cedera fisik, tetapi juga berkontribusi pada manfaat kesehatan, sosial dan ekonomi yang substansial.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/10/2020-kesehatan-seksual-remaja/

.

Cedera dan kekerasan merupakan penyebab utama kematian dan beban penyakit di semua negara, tetapi tidak tersebar merata di seluruh wilayah sebuah negara. Bahkan beberapa remaja lebih rentan daripada yang lain tergantung pada kondisi di mana mereka dilahirkan, tumbuh, sekolah, hidup, dan usia. Usia lebih muda, laki-laki dan status sosial ekonomi rendah semuanya meningkatkan risiko cedera dan menjadi korban atau pelaku kekerasan fisik yang berat. Risiko cedera akibat jatuh meningkat seiring bertambahnya usia.

.

Remaja laki-laki dua kali lebih banyak daripada perempuan yang meninggal setiap tahun akibat cedera dan kekerasan. Di seluruh dunia, sekitar tiga perempat kematian akibat kecelakaan lalu lintas di jalan raya, empat perlima kematian akibat pembunuhan, dan dua pertiga kematian akibat perang dan konflik bersenjata, mengenai remaja laki-laki. Akan tetapi di banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah, wanita dan remaja perempuan lebih mungkin untuk mengalami luka bakar dibandingkan pria dan remaja laki-laki.

.

Kemiskinan juga meningkatkan risiko terjadinya cidera dan kekerasan. Sekitar 90% kematian terkait cidera terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Di seluruh dunia, angka kematian akibat cedera lebih tinggi di negara berpenghasilan rendah dibandingkan di negara berpenghasilan tinggi. Bahkan di dalam negara, anak dan remaja dari latar belakang ekonomi yang lebih miskin memiliki tingkat kecelakaan fatal dan non-fatal yang lebih tinggi, daripada sebayanya dari latar belakang ekonomi yang lebih kaya.

Video Perkelahian Siswi SMP Viral di Klungkung, TKP Tak Jauh dari Rumah  Jabatan Bupati & Wabup - Tribun Bali

Faktor risiko dan determinan yang umum untuk semua jenis cedera, meliputi pengaruh alkohol atau penggunaan obat terlarang, pengawasan orang tua yang tidak memadai, dan faktor prediktor kesehatan lainnya. Hal ini mencakup kemiskinan, ketidaksetaraan ekonomi dan gender, pengangguran, kurangnya keamanan di lingkungan perumahan, sekolah, dan jalan. Pada saat layanan RS untuk kondisi trauma dan darurat medis adalah lemah atau karena akses yang tidak adil ke layanan kesehatan, tentu saja dampak dari cedera dan kekerasan dapat memburuk.

.

Cedera dan kekerasan dapat diprediksi dan dicegah. Analisis biaya dan manfaat tindakan pencegahan cedera dan kekerasan, menawarkan efisiensi finansial yang signifikan dan memberikan manfaat yang besar. Ssetiap US $ 1 yang diinvestasikan untuk detektor asap menghemat US $ 65 perawatan luka bakar, penggunaan sabuk pengaman dan helm sepeda motor menghemat US $ 29 biaya layanan medis, dan kunjungan ke rumah oleh petugas kesehatan menghemat US $ 6 untuk biaya medis dan kehilangan produktivitas. Di Bangladesh, mengajarkan anak usia sekolah keterampilan berenang dapat menghemat US $ 3.000 per kematian remaja yang dapat dicegah. Di Eropa dan Amerika Utara, pengurangan 10% dalam pengalaman masa kanak yang merugikan dapat disamakan dengan tabungan tahunan sebesar 3 juta Tahun Hidup dengan Kendala (Disability Adjusted Life Years) atau setara US $ 105 miliar.

.

Layanan medis darurat yang berkualitas bagi para korban cidera dapat mencegah kematian remaja, mengurangi jumlah kecacatan, serta mengatasi dampak fisik, emosional, finansial dan hukum atas cidera atau kekerasan tersebut. Dengan demikian, membentuk sistem organisasi, perencanaan dan akses ke layanan trauma dan kedaruratan, termasuk telekomunikasi dan transportasi ke rumah sakit, perawatan pra-rumah sakit dan di rumah sakit, merupakan strategi penting untuk meminimalkan kematian dan kecacatan remaja, akibat cedera dan kekerasan. Menyediakan rehabilitasi bagi penyandang disabilitas, memastikan mereka memiliki akses ke alat bantu seperti kursi roda, dan menghilangkan hambatan partisipasi sosial dan ekonomi adalah strategi utama untuk memastikan bahwa remaja yang mengalami disabilitas akibat cedera atau kekerasan, dapat terus melanjutan kehidupan dengan penuh semangat dan menyenangkan.

.

Laporan UNICEF pada Jumat, 19 Maret 2021 mengingatkan kita semua, bahwa cidera, kekerasan, dan kematian pada remaja dapat dicegah, dengan memastikan tidak ada seorangpun remaja yang tertinggal (to ensure no one is left behind).

 Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 22 Maret 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
anak COVID-19 Healthy Life resisten obat tuberkulosis

2021 Tuberkulosis pada Anak

MENGENALI TBC PADA ANAK

TB  PADA  ANAK

fx. wikan indrarto*)

Penyakit tuberkulosis (TB) pada anak di bawah usia 15 tahun merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sangat penting, karena merupakan penanda adanya proses penularan TB yang baru terjadi. Apa yang sebaiknya dilakukan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/03/24/2021-hari-tuberkulosis-sedunia/

.

TB disebabkan oleh bakteri yang disebut Mycobacterium tuberculosis. Bakteri TB menyebar dari orang ke orang melalui udara. Bakteri TB dikeluarkan ke udara ketika penderita TB mengalami batuk, bersin, berbicara, atau bernyanyi, sehingga anak di sekitarnya mungkin menghirup bakteri ini dan terinfeksi, dengan dua jenis TB pada anak, yaitu infeksi TB laten dan sakit TB.

.

Pertama, anak dengan infeksi TB laten biasanya diketahui dengan tes Mantoux pada kulit atau tes serologi darah yang menunjukkan adanya infeksi TB. Anak tersebut memiliki bakteri TB di dalam tubuhnya, tetapi bakterinya tidak aktif, sehingga anak tidak sakit dan tidak memiliki gejala klinis. Anak tersebut tidak berbahaya karena tidak dapat menyebarkan bakteri TB ke orang lain. Jika kondisi umum anak menurun, maka bakteri TB dapat menjadi aktif di dalam tubuh dan berkembang biak, sehingga akan mengalami sakit TB.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/01/22/2019-akhiri-tb/

.

Kedua, anak sakit TB setelah terinfeksi bakteri TB, karena anak lebih mungkin mengalami sakit TB dan lebih cepat terjadi sakit daripada orang dewasa. Dibandingkan dengan anak yang sakit TB karena terinfeksi baru, penyakit TB pada orang dewasa biasanya disebabkan oleh infeksi TB masa lalu yang menjadi aktif, ketika sistem kekebalan menjadi lemah, misalnya adanya infeksi HIV atau ko infeksi TB HIV dan diabetes.

.

Tanda dan gejala penyakit TB pada anak antara lain batuk, rasa sakit atau lemah, lesu, dan atau berkurangnya semangat bermain. Juga penurunan berat badan atau gagal tumbuh, demam dan atau mengalami banyak keringat pada malam hari. Gejala penyakit TB di bagian tubuh lain bergantung pada daerah yang terkena. Bayi, anak kecil, dan anak dengan gangguan sistem imun (misalnya, anak dengan HIV) berada pada risiko tertinggi untuk berkembang menjadi bentuk TB yang paling parah seperti meningitis TB atau penyakit TB yang menyebar (disseminated TB disease).

.

Mengenal Kondisi TB Paru pada Anak yang Harus Moms Antisipasi – Good  Doctor | Tips Kesehatan, Chat Dokter, Beli Obat Online

Memastikan diagnosis sakit TB pada anak dengan tes laboratorium klinik adalah tantangan yang tidak mudah. Hal ini karena 2 penyebab utama, yaitu pada anak sulit untuk mengumpulkan spesimen dahak, apalagi pada bayi. Selain itu, tes laboratorium yang digunakan untuk menemukan TB dalam dahak (sputum BTA) cenderung memberikan hasil positif pada anak. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa anak lebih mungkin mengalami sakit TB, meski jumlah bakteri lebih sedikit (paucibacillary).

.

Karena alasan ini, diagnosis penyakit TB pada anak berbeda dengan dewasa, sering dibuat tanpa konfirmasi laboratorium sputum BTA, tetapi berdasarkan kombinasi 4 faktor berikut. Pertama, tanda dan gejala klinis sakit TB. Kedua, tes kulit Mantoux atau tuberkulin atau tes darah serologi TB  (IGRA) positif. Ketiga, foto rontgen dada yang memiliki pola sakit TB berat, dan keempat, riwayat kontak dengan orang dewasa yang mengidap TB menular.

.

Pengujian laboratorium TB pada anak yang biasanya merupakan satu-satunya tanda infeksi TB adalah reaksi positif terhadap tes kulit Mantoux atau tes darah serologi TB. Tes kulit TB adalah aman pada anak, dan lebih sering diterapkan daripada tes darah serologi TB untuk anak di bawah usia 5 tahun, karena lebih praktis dan ekonomis.

.

Semua anak dengan hasil tes kulit Mantoux positif untuk infeksi TB yang disertai gejala klinis TB, atau riwayat kontak dengan pengidap dewasa penyakit TB, harus menjalani evaluasi medis. Evaluasi medis untuk penyakit TB, termasuk rontgen dada dan pemeriksaan fisik untuk menyingkirkan sakit TB, dan harus dilakukan sebelum memulai pengobatan untuk infeksi TB laten. 

.

Anak di atas usia 2 tahun dengan infeksi TB laten dapat diobati dengan obat anti TB (OAT) lini pertama, yaitu isoniazid-rifapentin sekali seminggu selama 12 minggu. Pengobatan alternatif untuk infeksi TB laten pada anak adalah rifampisin harian selama 4 bulan atau isoniazid harian selama 9 bulan. Kedua jenis regimen obat tersebut sama-sama mudah dilaksanakan, namun demikian dokter sebaiknya menawarkan dan meresepkan rejimen pendek yang tentu lebih nyaman, jika memungkinkan. Semua pasien tentu lebih mungkin untuk menyelesaikan rejimen pengobatan yang lebih pendek.

.

Sakit TB pada anak diobati dengan beberapa kombinasi OAT selama 6 sampai 9 bulan. Penting untuk diperhatikan bahwa jika seorang anak berhenti minum obat sebelum selesai, anak tersebut dapat kembali sakit. Jika obat tidak diminum dengan benar, bakteri TB yang masih hidup dapat menjadi resisten terhadap obat tersebut. TB yang resisten terhadap obat lebih sulit dan lebih mahal untuk diobati, dan pengobatan berlangsung lebih lama, bahkan hingga 18 sampai 24 bulan.

.

Momentum Hari TB Sedunia Rabu, 24 Maret 2021 mengingatkan kita bahwa jam terus berdetak (The Clock is Ticking), dan kita hampir kehabisan waktu, untuk mencapai target TB global dalam SDG 2016-2030 dengan semboyan “Find. Treat. All. #EndTB.” Inisiatif ini bertujuan untuk mempercepat pembasmian TB dengan memastikan tidak ada anak yang tertinggal (to ensure no child is left behind).

 Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 20 Maret 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
anak HIV-AIDS resisten obat tuberkulosis UHC

2021 Hari Tuberkulosis Sedunia

Puncak Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia tahun 2021 - YouTube

HARI  TUBERKULOSIS  SEDUNIA  2021

fx. wikan indrarto*)

Setiap tahun diperingati Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia pada tanggal 24 Maret, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penyakit TB yang menghancurkan secara medis, sosial dan ekonomi, dan untuk meningkatkan upaya mengakhiri epidemi TB global. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/03/30/2020-pencegahan-tbc/

.

TB awalnya disebut “phthisis” di era Yunani kuno, “tabes” di jaman Romawi kuno, dan “schachepheth” dalam bahasa Ibrani kuno. Pada tahun 1700-an, TB disebut “wabah putih” (the white plague), karena wajah para pasien yang berubah pucat. Dr. Johann Schonlein menciptakan istilah “tuberkulosis” pada tahun 1834, meskipun diperkirakan bakteri Mycobacterium tuberculosis mungkin sudah ada selama 3 juta tahun sebelumnya. Pada abad 1800-an bahkan setelah Schonlein menamakannya tuberkulosis, TB juga disebut “Kapten Kematian” (Captain of all these men of death).

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/01/18/2019-tantangan-tb/

.

Pada tanggal 24 Maret 1882, Dr. Robert Koch di Berlin, Jerman mengumumkan penemuan Mycobacterium tuberculosis, bakteri penyebab TB. Pada waktu ini, TB membunuh satu dari setiap tujuh orang di Amerika Serikat dan Eropa. Penemuan Dr. Koch adalah langkah terpenting yang diambil untuk mengendalikan dan menghilangkan penyakit mematikan ini, yang awalnya disebut Koch Pulmonum (KP). Seabad kemudian, 24 Maret baru ditetapkan sebagai Hari TB Sedunia, yaitu sebuah hari yang didedikasikan untuk mengingatkan masyarakat tentang dampak TB di seluruh dunia.

.

Sampai saat ini TB tetap menjadi salah satu penyakit menular pembunuh paling mematikan di dunia. Setiap hari hampir 4.000 orang meninggal karena TB dan hampir 28.000 orang jatuh sakit, karena penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dan disembuhkan ini. Sampai tahun lalu, upaya global untuk memerangi TB telah menyelamatkan sekitar 63 juta jiwa sejak tahun 2000.

.

Tema Hari TB Sedunia 2021 adalah : jam terus berdetak (The Clock is Ticking), untuk mengingatkan bahwa dunia hampir kehabisan waktu, karena komitmen memberantas TB yang dibuat oleh para pemimpin global, masih jauh dari terwujud. Hal ini sangat penting karena pandemi COVID-19 telah menempatkan kemajuan pananganan TB selama ini, pada risiko kegagalan. Selain itu, juga untuk memastikan akses yang adil ke layanan pencegahan dan perawatan TB sejalan dengan upaya global untuk mencapai Cakupan Kesehatan Semesta atau ‘Universal Health Coverage’ (UHC).

.

Sejarah Hari Tuberkulosis Sedunia yang Diperingati Setiap 24 Maret |  Limapagi

WHO menetapkan tiga indikator TB beserta targetnya yang harus dicapai oleh semua negara di dunia. Pertama, menurunkan jumlah kematian TB sebanyak 95% pada tahun 2035 dibandingkan kematian pada tahun 2015. Kedua, menurunkan insidens TB sebanyak 90% pada tahun 2035 dibandingkan tahun 2015, dan ketiga, tidak ada keluarga pasien TB yang terbebani pembiayaannya terkait pengobatan TB pada tahun 2035.

.

Target program Penanggulangan TB nasional yaitu eliminasi pada tahun 2035 dan Indonesia Bebas TB Tahun 2050. Eliminasi TB adalah tercapainya jumlah kasus TB 1 per 1.000.000 penduduk. Sementara tahun 2017 jumlah kasus TB saat ini sebesar 254 per 100.000 atau 25,40 per 1 juta penduduk Indonesia. WHO menetapkan standar keberhasilan pengobatan sebesar 85%. Angka keberhasilan di Indonesia pada tahun 2017 sebesar 87,8% (data per 21 Mei 2018). Angka kesembuhan cenderung mempunyai gap dengan angka keberhasilan pengobatan, fenomena menurunnya angka kesembuhan ini mencemaskan dan perlu mendapat perhatian besar karena akan mempengaruhi penularan penyakit TB.

.

Pencegahan dan pengendalian faktor risiko TB dilakukan dengan cara membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat, perilaku etika berbatuk, pemeliharaan dan perbaikan kualitas perumahan dan lingkungannya sesuai dengan standar rumah sehat, dan peningkatan daya tahan tubuh. Selain itu, juga penanganan penyakit penyerta TB dan penerapan pencegahan dan pengendalian infeksi TB.

.

Penanganan COVID-19 saat ini juga dapat diterapkan dalam upaya eliminasi TB. Pelacakan yang agresif untuk menemukan penderita dapat dilakukan untuk mencari penderita TB yang belum terlaporkan. Selain itu, upaya preventif dan promotif untuk mengatasi TB bukan hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan saja, melainkan juga menjadi tanggung jawab bersama berbagai pemangku kepentingan, dengan melibatkan banyak sektor pendukung lainnya secara terpadu. Meski tengah disibukkan dengan penanganan COVID-19, tetapi layanan TB maupun pengobatan terhadap pasien harus tetap berlangsung.

.

Memang ada pengurangan yang signifikan kasus TB baru pada paruh pertama tahun 2020, mungkin karena banyak negara memberlakukan ‘lockdown’ untuk mengekang penyebaran wabah COVID-19. Tiga negara dengan beban tinggi yakni India, Indonesia dan Filipina, melaporkan penurunan antara 25-30% TB selama enam bulan pertama tahun 2020 dibandingkan dengan periode sama tahun 2019 lalu. Ketiga negara tersebut juga termasuk negara dengan angka kasus virus COVID-19 tertinggi di dunia.

.

Momentum Hari TB Sedunia Rabu, 24 Maret 2021 mengingatkan kita bahwa jam terus berdetak (The Clock is Ticking), dan kita hampir kehabisan waktu, untuk mencapai target TB global dalam SDG 2016-2030 dengan semboyan “Find. Treat. All. #EndTB.” Inisiatif ini bertujuan untuk mempercepat pembasmian TB dengan memastikan tidak ada yang tertinggal (to ensure no one is left behind).

 Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 19 Maret 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
anak bayi prematur dokter Healthy Life Pendukung ASI

2020 Pekan Menyusui Dunia

Berita Pekan Asi Sedunia Terbaru Hari Ini - Celebrity Breaking ...

PEKAN MENYUSUI  DUNIA  2020

fx. wikan indrarto*)

Pekan Menyusui Dunia (World Breastfeeding Week) dirayakan setiap tahun mulai tanggal 1 hingga 7 Agustus, untuk mendorong pemberian Air Susu Ibu (ASI) dan meningkatkan kesehatan bayi di seluruh dunia. Apa yang perlu dicermati?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/07/29/2019-pekan-menyusui-sedunia/

.

Pekan Menyususi Sedunia tahun 2020 dirayakan dengan tema dukung menyusui untuk bumi yang lebih sehat (support breastfeeding for a healthier planet). Perayaan tahun 2020 ini akan fokus pada dampak pemberian makan bayi pada lingkungan dan perubahan iklim. Selain itu, juga untuk keharusan melindungi, mempromosikan dan mendukung pemberian ASI untuk kesehatan bumi dan penghuninya. Tema ini selaras dengan kampanye SDG 2030 tentang hubungan antara menyusui dan perubahan lingkungan atau iklim global.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/02/27/2020-iklim-buruk-bagi-anak/

.

Peringatan ini dimotori oleh ‘The World Alliance for Breastfeeding Action’ (WABA) atau Aliansi Dunia untuk Menyusui, yang menerapkan pendekatan (the warm chain approach) kerja sama lintas sektor terkait masalah lingkungan dalam menekankan hubungan antara menyusui dan lingkungan. Inti utama kampanye adalah menyusui sebagai keputusan cerdas atas iklim (a climate-smart decision) untuk meningkatkan kesehatan bumi dan para penghuninya.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/06/06/2020-langkah-sehat-paska-pandemi-covid-19/

.

Natalie Shenker, Research Associate in the Faculty of Medicine, Imperial College London dan Amy Brown, Professor of Child Public Health, Swansea University di Inggris, telah menuliskan hasil penelitian tentang hubungan menyusui dan perubahan iklim. Menyusui hanya mengeluarkan sedikit sumber daya alam, seperti air atau tanah, tidak menghasilkan emisi karbon, dan minim atau nol limbah. Menyusui selama enam bulan menghemat 95-153 kg CO₂e (carbon dioksida ekuivalen) per bayi, dibandingkan dengan pemberian susu formula. Apabila semua bayi di Inggris diberikan ASI selama enam bulan saja, maka penghematan emisi karbon setara dengan yang dihasilkan oleh 50.000 sampai 77.500 mobil di jalan raya selama setahun.

.

Susu formula bubuk memerlukan sekitar 4.700 liter air per kilo susu. Selain itu, susu formula menggunakan bahan tambahan seperti minyak kelapa sawit untuk kebutuhan mineral dan vitamin bagi pertumbuhan bayi. Pada hal, pencabutan sementara keanggotaan Nestlé, sebuah industri multinasional susu formula, dari Perkumpulan untuk Sawit Berkelanjutan (Roundtable on Sustainable Palm Oil) memperlihatkan adanya masalah dalam keberlanjutan produksi pangan global.

.

Sebenarnya hanya ada 40-50 pabrik pengolahan susu formula di seluruh dunia. Namun demikian, jumlah air yang diperlukan untuk pengangkutan mulai dari bahan susu mentah ke pabrik pengolahan, hingga ke tangan konsumen di seluruh dunia memang belum diketahui pasti, tetapi jelas sangat besar. Susu formula bubuk membutuhkan air yang dipanaskan hingga suhu 70°C agar steril dan aman dikonsumsi oleh bayi, sehingga hal ini menyerap sumber daya alam sangat besar. Di Inggris, perkiraan biaya energi untuk mendidihkan air saat menyiapkan susu formula bagi bayi di tahun pertama kehidupannya, setara dengan mengeluarkan lebih dari 1,5 juta kilogram karbon dioksida. Belum lagi sampah yang dihasilkan dari 550 juta kaleng susu formula, 86.000 ton logam, dan 364.000 ton kertas yang dibuang ke TPA setiap tahunnya.

.

Menyusui dan pemberian ASI menekan siklus ovulasi ibu, membantu mengurangi jumlah anggota keluarga, dan menjaga keluarga tetap sehat. Hal ini mampu menjaga sumber daya bumi agar tidak cepat habis dari dampak yang ditimbulkan oleh penambahan julah manusia secara cepat. Selain itu, ibu yang tidak menyusui bayi biasanya siklus haid akan lebih cepat terjadi. Perempuan di Inggris rata-rata menggunakan 264 pembalut dan tampon setiap tahunnya. Menyusui dapat menurunkan permintaan akan serat katun, plastik polietilena, dan bahan lainnya yang digunakan untuk memproduksi pembalut dan tampon.

.

Dampak lingkungan terkait hubungan menyusui dan perubahan iklim di Indonesia belum ada data resminya. Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 menunjukkan secara umum angka pemberian ASI eksklusif untuk bayi berusia kurang dari enam bulan mencapai 52%. Selain meningkat sekitar 11% dibandingkan riset serupa pada 2012, capaian ini memenuhi target minimal 50% yang ditetapkan dalam rencana pembangunan nasional lima tahun terakhir, tetapi belum dikaitkan dengan dampak lingkungan.

.

Namun demikian, sumber data yang sama juga memperlihatkan bahwa persentase pemberian ASI eksklusif ini menurun seiring dengan pertambahan usia anak. Untuk anak usia di bawah satu bulan persentasenya lumayan tinggi, 67%. Angka ini berkurang menjadi 55% pada anak usia 2-3 bulan, dan anjlok lagi hanya 38% pada anak usia 4-5 bulan. Hal ini berarti angka pemberian ASI eksklusif sebesar 52% sebenarnya merupakan capaian semu, karena belum menggambarkan persentase bayi di seluruh Indonesia yang benar-benar memperoleh ASI saja selama 6 bulan pertama kehidupannya, tanpa asupan lain seperti susu formula (susu pengganti ASI buatan pabrik), pisang, air tajin, dan makanan/minuman lainnya.

.

Momentum Pekan Menyusui Dunia (World Breastfeeding Week) tanggal 1 hingga 7 Agustus 2020, juga mengingatkan kita akan pentingnya memberikan dukungan bagi semua ibu untuk menyusui secara eksklusif, agar bumi kita lebih sehat (support breastfeeding for a healthier planet).

.

Apakah kita sudah bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 12 Juli 2020

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life Jalan-jalan sekolah

2019 Bebas Asma saat Lebaran

6 Hal yang Perlu Diperhatikan Orang Tua Ketika Anaknya Punya Asma | Kabar  Tangsel

BEBAS ASMA SAAT LEBARAN
fx. wikan indrarto*)

Hari Raya Idul Fitri atau lebih sering disebut Lebaran, saat ini tidak sekedar hari besar agama saja, tetapi sudah menjadi hari besar segenap ‘keluarga besar’. Pada setiap Lebaran, banyak anggota keluarga akan mudik (pulang kampung) dan berkumpul untuk tidak hanya berdoa bersama, tetapi juga halal bilhalal, kunjung mengunjungi, reuni, rekreasi dan silaturahmi. Selain terjadi pertemuan dengan banyak orang dan perpindahan banyak tempat, pastilah juga terjadi perkenalan dengan banyak menu makanan. Semuanya merupakan hal yang lumrah ada pada saat Lebaran, ditunggu-tunggu dan menggembirakan bagi banyak orang. Apakah hal baik tersebut juga terjadi pada anak asma? Belum tentu.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/03/08/steroid-pada-serangan-asma/

.

Serangan asma pada anak dapat berupa keluhan klinis batuk hebat, muntah dan sakit perut, nafas bunyi sampai sesak nafas. Serangan tersebut sangat mudah terjadi karena rangsangan alergen (pencetus alergi), aktivitas fisik dan infeksi virus. Alergen dapat berupa inhalan (yang dihirup seperti debu, serbuk atau bau-bauan di sepanjang perjalanan mudik), ingestan (yang ditelan seperti susu, es krim, coklat atau zat pewarna makanan pada hidangan Lebaran) ataupun kontaktan (yang disentuh seperti boneka mainan, kasur kapuk, tumpukan pakaian kotor atau karpet di kamar penginapan). Aktivitas fisik anak yang berlebihan pada saat libur Lebaran, seperti bermain tanpa kenal lelah, tertawa terbahak-bahak, ‘kekeceh’ bermain air di kamar mandi ataupun ‘ciblon’ di kolam renang. Infeksi virus yang menyerang saluran nafas atas seperti pilek atau flu, sangat banyak dialami oleh anggota keluarga dan mudah sekali menular ke anak.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/10/19/2018-batuk-pada-anak-dalam-era-jkn-2/

.

Semua faktor risiko tersebut sangat mungkin ada pada anak asma saat Lebaran nanti, sehingga orang tua harus melakukan tindakan pencegahannya. Pencegahan terbaik adalah penghindaran faktor risiko tersebut, baik alergen inhalan dan ingestan maupun aktivitas fisik yang berlebihan, sebisa mungkin. Anak harus dijauhkan dari menu makanan, minuman, cemilan ataupun jajanan Lebaran yang dapat mencetuskan serangan asma. Aktivitas fisik yang menggembirakan anak karena kebersamaan dengan saudaranya, sebaiknya dialihkan ke aktivitas ketrampilan otot kecil, bukan kekuatan otot besar. Bermainlah bersama dengan mewarnai atau menggambar, permainan ular tangga, halma, scrable, kartu atau game digital, serta menghindari petak umpet, sepak bola dan lompat tali. Untuk mencegah terjadinya penularan pilek atau flu, anak dianjurkan mendapat imunisasi influenza sebelum berangkat mudik Lebaran. Periksalah ke dokter yang selama ini merawat anak asma dan sampaikan informasi tentang rencana mudik Lebaran keluarga. Dengan demikian, dokter akan merencanakan banyak hal, termasuk edukasi, komunikasi (hot line), imunisasi ataupun farmasi (resep obat asma).

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/02/14/2019-scientific-expert-summit/

.

Bagaimana kalau serangan asma awal terlanjur terjadi saat libur Lebaran? Yang utama adalah pengenalan bentuk serangan asma awal pada anak. Orang tua yang teliti atau anak yang agak besar, biasanya akan mudah mengenali batuk khas yang merupakan tanda awal serangan asma. Pencegahan agar serangan asma awal tidak berlanjut adalah dengan meneruskan obat pengendali asma yang selama ini digunakan, dan menambahkan obat pereda serangan asma secara dini. Pengobatan yang paling dianjurkan adalah menggunakan obat hirupan (nebulaiser atau inhaler dengan spacer), baik obat yang sudah biasa digunakan sendiri, ataupun obat yang baru pertama kali diberikan oleh dokter di rumah sakit terdekat saat liburan. Kalau sudah memiliki obat sendiri, bawalah obat tersebut ke manapun anak pergi dan informasikan semuanya kepada dokter setempat, pada saat memeriksakan anak. Sampaikan tentang riwayat perjalanan klinis asma anak dan pola pengobatan yang selama ini dijalani, agar dokter dapat memilihkan pola pengobatan lanjutan yang sesuai.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/05/09/2018-simposium-ppok/

.

Selain menambahkan obat perada serangan, orang tua diharapkan juga dapat mengenali pencetus munculnya serangan asma. Pastikan pencetusnya dengan mengingat apa saja yang mungkin, baik alergen inhalan ataupun ingestan, juga aktivitas fisik anak. Penambahan obat dan koreksi segera pencetus asma tersebut, maka serangan asma akan mereda. Serangan yang ringan akan hilang dalam beberapa menit, tetapi serangan yang sedang atau berat sangat mungkin akan mengganggu sebagian atau seluruh rencana liburan lebaran keluarga. Serangan berat jauh lebih baik dirawat di rumah sakit terdekat untuk pemantauan 1-2 hari, selain untuk pengelolaan lengkap (oksigenasi, nutrisi cairan, farmasi dan fisioterapi) juga untuk memutus kontak sama sekali dengan faktor pencetus serangan, meskipun kadangkala orang tua belum tahu apa pencetusnya. Libur lebaran di rumah sakit, akan terasa mengganggu dan membosankan, baik bagi orang tua, keluarga maupun anaknya. Namun demikian, pengalaman ‘buruk’ tersebut dapat digunakan sebagai momentum bersama untuk edukasi mendalam, khususnya bagi anak, agar mengenali dan kemudian menghindari faktor pencetus serangan asmanya. Pengalaman yang memberikan kesan emosional sangat dalam, pada umumnya akan mengendap (retensi) dalam memori anak dalam waktu yang cukup lama, sehingga sangat bermanfaat bagi pengelolaan lengkap asmanya secara jangka panjang.

.

Dengan melakukan semua kegiatan tersebut, maka anak akan bebas serangan asma dan dapat menjalani Lebaran dengan penuh suka cita.

Apakah kita sudah bijak?

Yogyakarta, 2 Juni 2019
*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Letkro FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
anak dukacita

2019 Kehilangan Bayi

KEHILANGAN  BAYI

fx. wikan indrarto*)

Kehilangan bayi (losing a baby) dalam kehamilan karena keguguran atau kelahiran mati, masih merupakan hal yang tabu di seluruh dunia, terkait dengan stigma dan rasa malu. Banyak ibu masih tidak menerima perawatan yang tepat dan penuh hormat, ketika bayi mereka meninggal selama kehamilan atau persalinan. Apa yang harus disadari?

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/01/17/2019-kematian-anak/

Keguguran adalah kejadian paling umum untuk kehilangan bayi selama kehamilan. March of Dimes, sebuah organisasi internasional yang bekerja untuk kesehatan ibu dan anak, memiliki data tingkat keguguran 10-15% pada ibu yang tahu bahwa mereka hamil. Kehilangan bayi didefinisikan secara berbeda di seluruh dunia, tetapi secara umum bayi yang meninggal sebelum kehamilan berusia 28 minggu disebut keguguran (miscarriage) dan pada atau setelah 28 minggu kehamilan disebut bayi lahir mati (stillbirths). Setiap tahun, terjadi 2,6 juta keguguran dan bayi lahir mati di seluruh dunia dan banyak dari kematian ini, sebenarnya dapat dicegah. Namun demikian, keguguran dan kelahiran mati tidak dicatat secara sistematis, bahkan di negara maju sekalipun, sehingga mungkin saja jumlahnya dapat lebih tinggi. Bayi lahir mati (stillbirth) terjadi pada sekitar 2.000 keluarga Australia setiap tahun. Tingkat kelahiran mati belum berubah dalam 20 tahun terakhir dan bagi penduduk asli Australia, bahkan terjadi dua kali lebih tinggi. Namun demikian, sebelum hal itu terjadi pada satu dari enam ibu, banyak ibu hamil tidak pernah berpikir bahwa bayi dapat mati di dalam rahim.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/09/21/2018-kematian-anak/

Ada banyak alasan mengapa keguguran dapat terjadi, termasuk kelainan struktur tubuh janin, usia ibu, dan infeksi. Sebenarnya banyak di antaranya dapat dicegah, seperti infeksi malaria dan sifilis, meskipun memastikan penyebab yang tepat seringkali sulit. Nasihat umum untuk mencegah keguguran berfokus pada makanan yang sehat, berolahraga, menghindari rokok, narkoba dan alkohol, membatasi kafein, mengendalikan stres, dan mengendalikan kenaikan berat badannya. Kesemuanya menempatkan penekanan pada perbaikan faktor gaya hidup, tetapi sebenarnya justru dapat menyebabkan ibu merasa bersalah, bahwa ibu telah menyebabkan keguguran.

.

Bayi lahir mati pada umumnya terjadi selama kehamilan. Namun demikian, 1 dari 2 bayi lahir mati terjadi selama proses persalinan, yang sebenarnya banyak di antaranya dapat dicegah. Sekitar 98% kelahiran mati terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Untuk itu, meningkatkan kualitas perawatan yang lebih baik selama kehamilan dan persalinan, dapat berperan dalam mencegah lebih dari setengah juta kelahiran mati di seluruh dunia. Bahkan di negara berpenghasilan tinggi, layanan kesehatan di bawah standar merupakan faktor penting dalam kelahiran mati.

.

Ada beberapa cara untuk mengurangi jumlah bayi yang meninggal dalam kehamilan, misalnya meningkatkan akses ke perawatan antenatal, menciptakan kesinambungan layanan melalui perawatan yang dipimpin oleh bidan sampai pada perawatan komunitas, jika memungkinkan. Mengintegrasikan pengobatan infeksi selama kehamilan, pemantauan detak jantung janin, dan pengawasan proses persalinan sebagai bagian dari paket perawatan terpadu, dapat menyelamatkan 1,3 juta bayi dari kejadian lahir mati. Pada awal tahun 2019, sekitar 200 juta ibu yang ingin menghindari kehamilan, tidak memiliki akses ke layanan kontrasepsi modern. Ketika ibu benar hamil, 30 juta ibu tidak melahirkan di fasilitas kesehatan dan 45 juta ibu menerima perawatan antenatal yang tidak memadai atau tidak ada, sehingga menempatkan ibu dan bayi pada risiko komplikasi dan kematian, yang jauh lebih besar.

.

Budaya tradisional seperti sunat perempuan dan pernikahan anak sangat merusak kesehatan reproduksi anak perempuan dan kesehatan bayi mereka. Ibu yang memiliki bayi pada usia yang terlalu muda, dapat berbahaya bagi ibu dan bayinya. Ibu remaja, usia 10 – 19 tahun, jauh lebih mungkin untuk mengalami eklampsia atau infeksi rahim dibandingkan ibu berusia 20-24 tahun, yang kedua kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko bayi lahir mati. Bayi yang lahir dari ibu yang berusia kurang dari 20 tahun, juga lebih cenderung memiliki berat badan lahir rendah, prematur, atau memiliki kondisi neonatal yang parah, yang semuanya dapat meningkatkan risiko bayi lahir mati. Sunat perempuan meningkatkan risiko ibu mengalami persalinan yang lama, terhambat, disertai perdarahan, dan robekan jalan lahir yang parah. Bayi yang dilahirkannya, jauh lebih mungkin membutuhkan resusitasi neonatal saat persalinan, dan menghadapi risiko kematian yang tinggi, selama persalinan atau setelah kelahiran.

.

Menempatkan ibu menjadi fokus perawatan sangatlah penting, agar ibu mendapatkan pengalaman kehamilan yang positif, baik dalam aspek biomedis dan fisiologis, juga untuk mendapatkan dukungan sosial, budaya, emosional dan psikologis. Namun demikian banyak ibu, bahkan di negara-negara maju dengan akses ke perawatan kesehatan terbaik, ternyata menerima perawatan yang tidak memadai setelah kehilangan bayi. Bahkan istilah yang digunakan oleh dokter untuk menjelaskan keguguran dan bayi lahir mati, dapat bersifat traumatis bagi ibu, misalnya “serviks yang tidak kompeten” atau “blighted ovum,” karena keduanya sangat menyedihkan bagi para ibu.

.

Ibu sering kali tidak menerima informasi apa pun tentang keguguran. Para dokter, bidan dan perawat sangat sering dingin dan tidak ramah, bahkan mereka bersikap seolah-olah itu hanya prosedur medis rutin. Diperlukan petugas medis yang memiliki sedikit rasa kemanusiaan, yang kemudian meyakinkan ibu bahwa ibu dapat mencoba lagi untuk hamil. Bergantung pada kebijakan rumah sakit, tubuh bayi yang lahir mati dapat diperlakukan sebagai limbah RS dan dimusnahkan. Aturan lokal ada yang berlaku bagi seorang ibu yang bayinya telah meninggal, diharuskan untuk menggendong bayi lain selama beberapa hari, sampai dia bisa melahirkan bayinya yang telah meninggal tersebut. Bahkan di negara maju, ibu dapat melahirkan bayi mereka yang telah meninggal di sebuah kamar bersalin, bersama dengan ibu lain yang bayinya sehat. Meskipun mungkin ada alasan medis untuk ketentuan itu, namun hal tersebut sebenarnya sangat menyusahkan bagi ibu dan pasangannya.

.

Mungkin sulit untuk merumuskan apa yang harus dikatakan, ketika ibu kehilangan bayi dalam kehamilan, tetapi kepekaan, dukungan, dan empati seharusnya diberikan bagi ibu, termasuk kesempatan untuk mengungkapkan perasaan mereka. Daripada mengatakan “Segala sesuatu terjadi karena suatu alasan”, sebaiknya mengatakan yang lain seperti “Saya sangat menyesal. Saya dapat membayangkan ini sangat menyedihkan bagi Anda.” Selain itu, daripada mengatakan “Setidaknya ibu tahu bahwa ibu dapat hamil”, cobalah hanya mendengarkan dan mungkin bertanya “Apa kabar?”. Juga daripada mengatakan “Setidaknya ibu sudah memiliki anak yang sehat”, mungkin lebih baik mengatakan “Saya sangat menyesal atas kehilangan bayi ini”.

.

Untuk menyelamatkan lebih banyak bayi yang meninggal dalam kehamilan, perlu tambahan tindakan untuk meningkatkan akses ibu hamil ke perawatan antenatal. Selain itu, juga membentuk kesinambungan perawatan dalam masalah emosi, psikologi, sosial, budaya dan medis, khususnya bagi ibu yang kehilangan bayinya.

Apakah kita sudah bijak?

Sekian

Yogyakarta, 21 Maret 2019

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161.

Categories
anak Healthy Life vaksinasi

2018 Fobia Rubella

FOBIA   RUBELLA

fx. wikan indrarto*)

Imunisasi Measles Rubella (MR atau campak rubella) serentak dilakukan mulai 1 Agustus 2018 di 28 provinsi di luar Pulau Jawa. Pemberian imunisasi gratis dan wajib tersebut sering terhambat, karena masih dipercayainya mitos dan adanya ketakutan atau fobia rubela. Apa yang sebaiknya diketahui?

Pada Agustus-September 2017 lalu, imunisasi MR telah dilakukan pada anak di Pulau Jawa. Cakupan Imunisasi MR tahun 2018 kali ini menyasar 395 kabupaten, 4.884 kecamatan, 6.369 puskesmas, 52.482 desa dan kelurahan di luar Pulau Jawa. Sasaran yang akan mendapat imunisasi MR sebanyak 31.963.154 anak dengan rentang usia 9 bulan sampai 15 tahun.

Hasil gambar untuk rubella pada anak

Penyakit rubela adalah infeksi virus menular yang umumnya ringan, paling sering terjadi pada anak dan dewasa muda, tetapi memiliki konsekuensi serius pada wanita hamil. Infeksi rubela pada ibu hamil dapat menyebabkan kematian janin atau cacat bawaan, yang dikenal sebagai ‘Congenital Rubella Syndrome’ (CRS). Di seluruh dunia, lebih dari 100.000 bayi lahir dengan CRS setiap tahun. Tidak ada pengobatan khusus untuk rubella namun penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi.

Hasil gambar untuk rubella pada anak

Bayi baru lahir dengan CRS dapat menderita tuli, katarak dan bocor jantung, kadang juga diabetes mellitus dan disfungsi tiroid. Bayi dan anak tersebut banyak yang membutuhkan terapi, operasi dan perawatan mahal lainnya. Risiko tertinggi CRS terjadi di negara di mana wanita usia subur tidak memiliki kekebalan terhadap penyakit rubela, baik melalui vaksinasi atau terinfeksi rubela alami. Sebelum ada vaksin, sampai 4 bayi di setiap 1.000 kelahiran hidup dilahirkan dengan CRS. Vaksinasi rubela skala besar selama dekade terakhir, telah mampu menghilangkan rubela dan CRS di banyak negara. Pada bulan April 2015, Amerika Utara menjadi wilayah yang pertama di dunia, yang akan dinyatakan bebas penularan endemik rubela. Kejadian CRS yang tertinggi adalah di kawasan Afrika dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, di mana cakupan imunisasi rubela masih terendah.

Hasil gambar untuk rubella pada anak

Vaksin rubela adalah strain virus hidup yang dilemahkan, yang telah digunakan dalam imunisasi selama lebih dari 40 tahun. Sebuah dosis tunggal akan memberikan lebih dari 95% kekebalan yang tahan lama, yang mirip dengan kekebalan yang disebabkan oleh infeksi virus rubela alami. Vaksin rubela tersedia dalam formula monovalen, yaitu vaksin untuk satu patogen rubela saja, atau lebih sering dalam kombinasi dengan vaksin lain seperti campak (MR) yang telah  diberikan pada Agustus dan September 2017, campak dan gondong (MMR) yang lebih awal dikenalkan, atau campak, gondong dan varicella (MMRV). Efek samping setelah vaksinasi umumnya ringan, misalnya rasa sakit dan kemerahan di tempat suntikan, demam ringan, ruam kulit dan nyeri otot. Imunisasi massal di Wilayah Amerika Utara yang melibatkan lebih dari 250 juta remaja dan orang dewasa, tidak menemukan efek samping serius yang berhubungan dengan vaksin.

Hasil gambar untuk rubella pada anak

Imunisasi MMR sempat mendapat penolakan dari banyak pihak dan menimbulkan fobia rubela, terkait sebuah skandal penelitian yang besar. Pada tahun 1998, sebuah makalah karya Dr. Andrew Wakefield, seorang dokter spesialis bedah, dimuat di jurnal bergengsi ‘Lancet’, tentang 12 kasus anak autis setelah divaksinasi (MMR) di Inggris. Makalah tersebut ditulis oleh Wakefield, Murch, dan Anthony dengan judul ‘Ileum hiperplasia limfoid nodular, kolitis non-spesifik, dan gangguan perkembangan regresif pada anak’ (Lancet, 1998, 351, halaman 637-41). Banyak media kemudian menampilkan informasi ini kepada publik awam, membuat heboh dan menimbulkan fobia. Dalam serangkaian laporan antara tahun 2004 dan 2010, jurnalis Brian Deer menyelidiki dan mengungkapkan bahwa Dr. Wakefield memiliki beberapa konflik kepentingan, telah memanipulasi data, dan bertanggung jawab untuk apa yang kemudian oleh the ‘British Medical Journal’ (BMJ)  disebut “an elaborate fraud” atau penipuan yang rumit.

Hasil gambar untuk rubella pada anak

Penyelidikan Brian Deer ini adalah yang terpanjang yang pernah didanai oleh ‘General Medical Council UK’ (GMC). Pada bulan Januari 2010, GMC menilai Dr. Wakefield tidak jujur, tidak etis dan tidak berperasaan, sehingga pada tanggal 24 Mei 2010 nama Dr. Wakefield telah dihapus dari daftar dokter di Inggris. Menanggapi temuan Deer, pada tahun 2004 redaksi ‘Lancet’ menerbitkan surat untuk menanggapi tuduhan terhadap makalah yang dimuatnya, yang menyatakan tidak ada hubungan antara imunisasi MMR dan kejadian autisme (no link existed between MMR and autism). ‘Lancet’ kemudian menarik sebagian laporan penelitian Dr. Wakefield pada bulan Februari 2004. Pada tahun 2010, GMC menerbitkan sebuah laporan yang menentang tulisan Dr. Wakefield dan menunjukkan bahwa catatan medis anak-anak di rumah sakit tidak mengandung bukti yang cukup meyakinkan, catatan medis di rumah sakit berbeda dengan makalah yang diterbitkan, dan akhirnya ‘Lancet’ pada bulan Februari 2010 mencabut sepenuhnya, isi makalah Dr. Wakefield yang diterbitkan tahun 1998.

Selain kesulitan terkait fobia, imunisasi MR juga masih terkait sertifikasi halal. Pada hari Jumat, 3 Agustus 2018 di Jakarta, Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam Sholeh menegaskan bahwa Menkes dan Dirut PT. Biofarma sebagai importir vaksin MR produksi Serum Institut of India (SII), berkomitmen untuk segera mengajukan sertifikasi halal atas produk vaksin MR dan permohonan fatwa tentang pelaksanaan imunisasi MR. Untuk itu, pelaksanaan imunisasi MR bagi masyarakat yang memiliki keterikatan tentang kehalalan dan kebolehan secara syar’i ditunda, sampai ada kejelasan hasil pemeriksaan dan ditetapkan fatwa MUI. Sementara untuk masyarakat lainnya, tetap dilaksanakan sesuai agenda.

Image result for vensya sitohang

Menurut Drg. R. Vensya Sitohang, M.Epid, Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Ditjen P2P Kemenkes, imunisasi MR di Indonesia sebelum masuk ke dalam program imunisasi rutin, akan dilaksanakan kampanye terlebih dahulu. Pada tahun 2017 sudah diberikan untuk semua anak di Pulau Jawa (6 provinsi) dan tahun 2018  akan diberikan untuk semua anak di luar Pulau Jawa (28 provinsi). Khusus untuk Provinsi Papua karena alasan tertentu maka imunisasi MR ditambah dengan imunisasi Polio tetes yang disebut dengan imunisasi MRP (Measles, Rubella dan Polio).

Untuk pemberian imunisasi MR pada program kampanye tahun 2018 ini diberikan pada bayi usia 9 bulan sampai anak dengan usia kurang dari 15 tahun. Untuk pemberian imunisasi MR di luar Pulau Jawa selain Papua, dan imunisasi MRP khusus di Papua, untuk anak usia sekolah dilakukan di sekolah sepanjang bulan Agustus 2018. Sedangkan untuk bayi dan anak pra sekolah, imunisasi MR dan MRP tersebut diberikan pada sepanjang bulan September 2018, di posyandu, puskesmas, dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.

Beratnya kelainan klinis pada ‘Congenital Rubella Syndrome’ (CRS) dan hubungan imunisasi MMR dengan autis yang ternyata tidak terbukti, seharusnya menyebabkan fobia rubela tidak boleh ada lagi. Dengan demikian imunisasi MR (Measles dan Rubela) di seluruh Indonesia, wajib kita didukung.

Sudahkah kita bertindak bijak?

Sasando 1 Sekian

Yogyakarta, 9 Agustus 2018

*) dokter spesialis anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA 081227280161

Categories
anak Healthy Life Pendukung ASI

2018 SUSU KENTAL MANIS

Mengenal Susu Kental Manis yang Ternyata Isinya Lebih Banyak Gula, Begini  Sejarah Pembuatannya - TribunNews.com

SUSU  KENTAL  MANIS

fx. wikan indrarto*)

Pada hari Senin, 9 Juli 2018 Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia Penny K. Lukito menegaskan, bahwa Susu Kental Manis (SKM) merupakan susu untuk pelengkap sajian dan bukan sebagai pelengkap asupan gizi untuk anak. Apa yang sebaiknya dilakukan?

Sesuai dengan Peraturan Kepala (Perka) BPOM 21/2016, SKM merupakan subkategori Susu Kental, yang termasuk kategori susu. Meskipun promosi SKM sudah sesuai dengan aturan standar keamanan pangan internasional (Codex Internasional), yang menjadi kewajiban bagi para pelaku usaha obat dan makanan sebelum mendapatkan izin edar dari BPOM, tetapi informasi yang lengkap dan sesungguhnya tidak boleh disembunyikan.

Hasil gambar untuk susu kental manis
Pada anak usia di atas 1 tahun, konsumsi jenis makanan seharusnya sudah sama seperti pada orang dewasa. Oleh sebab itu, pemberian susu pada anak usia di atas 1 tahun, baik ASI ataupun susu lainnya bukan lagi sebagai menu utama. Dengan demikian, susu hanya boleh diberikan maksimal 30% dari total kebutuhan kalori, dan 70% sisanya seharusnya berupa makanan padat. Selain itu, susu untuk makanan anak balita adalah sebagai sumber kalsium dan sumber protein, dengan asam amino esensial yang lengkap.

Kebutuhan kalsium anak usia 1 – 3 tahun adalah 700 mg, usia 4 – 8 tahun 1.000 mg, dan usia 9 – 18 tahun 1.300 mg. Untuk itu, panduan pola konsumsi untuk susu, produk susu maupun minuman dari kedelai adalah anak usia 2 – 3 tahun 2 gelas (480 ml) per hari, usia 4 – 8 tahun 2½ gelas  (600 ml), dan usia 9-18 tahun 3 gelas (720 ml) per hari.

Hasil gambar untuk susu kental manis

SKM adalah susu yang dibuat melalui proses evaporasi atau penguapan dan umumnya memiliki kandungan protein yang rendah. Selain diuapkan, susu kental manis juga diberikan gula tambahan (added sugar). Hal ini menyebabkan SKM memiliki kadar protein rendah dan kadar gula yang tinggi. Kadar gula tambahan pada makanan untuk anak yang direkomendasikan oleh WHO tahun 2015, adalah kurang dari 10% total kebutuhan kalori.

Salah satu jenis SKM yang dijual secara komersil menuliskan dalam satu takar porsi (4 sendok makan) memasok 130 kkal, dengan komposisi gula tambahan 19 gram dan protein 1 gram. Jika dikonversikan dalam kalori, 19 gram gula sama dengan 76 kkal. Kandungan gula dalam 1 porsi susu kental manis tersebut lebih dari 50% total kalorinya, jauh melebihi nilai rekomendasi gula tambahan yang dikeluarkan oleh WHO. Dengan demikian, sebaiknya SKM tidak dikonsumsi oleh balita.

Hasil gambar untuk susu kental manis

Lebih baik pilihkanlah anak pada produk susu bebas lemak (skim) atau rendah lemak (1 persen), yang disesuaikan juga dengan aktivitas fisik anak, karena anak perlu bergerak untuk pertumbuhannya. Pada anak yang senang minum jus, minuman manis dan bersoda terlalu banyak, maka kebutuhan aktivitas fisiknya harus bertambah, sebab minuman manis dapat menumpuk kalori dan berisiko menimbulkan kegemukan.

Hasil gambar untuk susu kental manis

Ion Besi dan Vitamin D merupakan pertimbangan lain ketika menawarkan susu kepada anak. Minum susu mengandung banyak Vitamin D, tetapi minum terlalu banyak susu dapat menurunkan kadar zat besi yang menyebabkan anemia. Untuk anak usia 2 sampai 5 tahun, 2 cangkir susu sehari dan tidak lebih dari 16 ons sudah cukup memenuhi kadar Vitamin D dan zat besi. Setelah usia 1 tahun, berikan 2 atau 3 cangkir susu atau tidak lebih dari 24 ons per hari. Jika anak juga senang minum yogurt dan makan keju, tindakan mengurangi susu akan lebih baik. Untuk anak usia 2 hingga 8 tahun, berikan 2 cangkir susu dan untuk usia 9-18 tahun, berikan 3 cangkir.

Minum susu berlebihan sepanjang hari bukan kebiasaan yang baik, terutama karena dapat merusak nafsu makan anak. Selain itu, juga gigi anak jadi sering dilapisi gula alami, yang dapat menyebabkan kerusakan atau caries gigi. Aturan praktis yang baik adalah berikan susu dengan makanan dan minum air dengan makanan ringan. Jika anak bermain di luar ruangan, pemberian air putih menjadi pilihan yang lebih baik dibanding jus, susu, atau minuman bergula, untuk menjaga tubuhnya tetap terhidrasi. Selain itu, berikanlah anak menu makan banyak buah dan sayur, karena potasium yang terkandung di dalamnya membantu tubuh menyimpan kalsium. Doronglah anak juga banyak bermain, karena berlari, melompat dan berjalan, dapat membuat tulang lebih kuat.

Hasil gambar untuk susu kental manis

Menurut ‘The American Academy of Pediatrics’, anak boleh minum susu murni sampai ia berusia dua tahun dan setelahnya, sebaiknya beralih ke susu rendah lemak. Selain itu, juga boleh diberikan susu UHT (Ultra High Temperature) atau susu yang dipanaskan pada suhu 135-150 ºC dalam waktu 2-5 detik, sehingga dapat membunuh seluruh mikroorganisme. Selain UHT, anak juga dapat diberikan susu pasteurisasi, yaitu susu segar yang dipanaskan pada suhu 63-73 ºC untuk membunuh bakteri patogen selama 15 menit. Berikan sebanyak dua gelas per hari saja.

Hasil gambar untuk susu kental manis

Momentum pemberitaan yang gencar tentang SKM, mengingatkan kita bahwa SKM bukanlah dirancang sebagai pelengkap asupan gizi untuk anak dan sebaiknya tidak dikonsumsi oleh anak balita.

Sudahkah kita bijak?

Ikut pak Jokowi

Sekian

Yogyakarta, 12 Juli 2018

*) dokter spesialis anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA : 081227280161

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?