Categories
antibiotika COVID-19 dokter Healthy Life Jalan-jalan Pendukung ASI sekolah UHC

2022 Hari Kesehatan Dunia

Hari Kesehatan Sedunia 2022: Sejarah dan Tema Peringatan

Tulisan ini juga dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 17 April 2022, halaman 8

HARI  KESEHATAN  SEDUNIA  2022

fx. wikan indrarto*)

Setiap tanggal 7 April, dirayakan sebagai Hari Kesehatan Sedunia (World Health Day). Pada tahun 2022 ini kita diajak menciptakan dunia dengan udara yang bersih, air dan makanan tersedia untuk semua. Juga kebijakan ekonomi difokuskan pada aspek kesehatan dan kesejahteraan warga. Selain itu, setiap kota dapat ditinggali dengan nyaman, karena warganya memiliki kendali atas kesehatan diri dan kesehatan bumi ini.

.

Tema peringatan tahun 2022 : planet kita adalah kesehatan kita (our planet, our health). Di tengah pandemi COVID-19, planet kita yang tercemar akan meningkatkan penyakit seperti kanker, asma, dan gangguan jantung. WHO memperkirakan bahwa lebih dari 13 juta kematian di seluruh dunia setiap tahun, disebabkan oleh penyebab atau faktor lingkungan hidup yang sebenarnya dapat dihindari. Ini termasuk krisis iklim yang merupakan satu-satunya ancaman kesehatan terbesar yang dihadapi umat manusia, bahkan krisis perubahan iklim juga merupakan krisis kesehatan.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2022/01/09/2021-momentum-kesehatan/

.

Keputusan politik, sosial, dan komersial yang tidak bijaksana akan mendorong krisis iklim dan kesehatan. Lebih dari 90% orang menghirup udara tidak sehat akibat pembakaran bahan bakar fosil, terutama untuk kendaraan bermotor. Dunia yang memanas akan memungkinkan nyamuk terbang untuk menyebarkan penyakit Dengue lebih jauh dan lebih cepat daripada sebelumnya. Gangguan cuaca ekstrem, degradasi lahan dan kelangkaan air menggusur orang dan menurunkan derajad kesehatan mereka. Plastik ditemukan di dasar lautan terdalam dan gunung tertinggi, bahkan telah memasuki rantai makanan kita. Sistem yang menghasilkan makanan dan minuman yang diproses dengan cepat saji dan tidak sehat mendorong gelombang obesitas, meningkatkan kanker dan penyakit jantung. Bahkan juga menghasilkan sepertiga dari emisi gas rumah kaca global.

.

Sementara pandemi COVID-19 menunjukkan kepada kita kekuatan teknologi kedokteran dalam meredamnya, tetapi sekaligus juga menyoroti ketidaksetaraan pemberian layanan medis di hampir seluruh dunia. Pandemi COVID-19 telah mengungkapkan kelemahan di semua bidang masyarakat dan menggarisbawahi urgensi menciptakan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan dan adil. Desain ekonomi saat ini mengarah pada distribusi pendapatan, kekayaan, dan kekuasaan yang tidak merata, sehingga masih terlalu banyak orang yang hidup dalam kemiskinan. Pembanganunan ekonomi ke depan sebaiknya memiliki tujuan kesejahteraan manusia, kesetaraan dan keberlanjutan ekologis. Tujuan ini diterjemahkan ke dalam investasi jangka panjang, anggaran kesejahteraan, perlindungan sosial, strategi hukum dan fiskal.

.

Selamat Hari Kesehatan Sedunia 2022 - Yayasan Gastroenterologi Indonesia

Sembilan dari sepuluh orang menghirup udara yang tercemar. Polusi udara telah membunuh 13 orang setiap menitnya karena kanker paru-paru, penyakit jantung dan stroke. Sebaiknya segera berhenti membakar bahan bakar fosil seperti minyak, batu bara, dan gas alam, karena menyebabkan polusi udara. Polusi nitrogen dioksida dapat memperburuk penyakit pernapasan, terutama asma. Sistem transportasi umum yang terencana dengan baik, termasuk jalan kaki dan bersepeda yang aman, dapat meningkatkan kualitas udara, mengurangi perubahan iklim, dan memberikan manfaat kesehatan tambahan.

.

Perubahan iklim merupakan ancaman bagi kesehatan manusia karena meningkatnya suhu bumi dan terjadi banjir, bahkan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk seperti Dengue, menyebar lebih luas dan menempatkan 2 miliar orang tambahan pada risiko infeksi dengue. Sekitar 3,6 miliar orang kekurangan toilet yang aman secara global. Kotoran manusia yang tidak diolah merusak ekosistem dan kesehatan manusia. Bahkan 2 miliar orang kekurangan air minum yang aman secara global dan 829.000 orang meninggal karena penyakit diare setiap tahun yang disebabkan oleh air yang tercemar dan sanitasi yang buruk. Diperlukan perlindungan terhadap sumber air baku dengan mencegah masuknya limbah dan bahan kimia ke danau, sungai, atau air tanah kita.  Selain itu, juga perlu  mengelola limbah medis dengan aman, karena luka tertusuk jarum suntik yang dibuang dapat menyebabkan Hepatitis B, C dan penyakit menular lainnya.

.

Tembakau membunuh lebih dari 8 juta orang setiap tahun dan sangat adiktif. Ini adalah faktor risiko utama untuk kanker, gangguan jantung, dan penyakit paru-paru. Sekitar 600 juta pohon ditebang untuk menghasilkan 6 triliun batang rokok setiap tahun, juga mengurangi udara bersih yang kita hirup. Selain tembakau dapat menyebabkan kematian, menanam tembakau juga membahayakan planet ini, sehingga kita perlu menjaga tubuh dan lingkungan bebas dari tembakau.

.

Momentum Hari Kesehatan Sedunia (World Health Day) pada Kamis, 7 April 2022 dan pandemi COVID-19 mengingatkan kita akan pentingnya  berinvestasi dalam bidang kesehatan sebagai motor pembangunan. Negara tidak perlu memilih prioritas untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan keadilan sosial di satu sisi. Atau di sisi lainnya meliputi pembangunan masyarakat yang berkelanjutan, ketahanan pangan dan nutrisi yang memadai, mengatasi perubahan iklim, atau menggenjot roda ekonomi. Semua hasil penting ini ternyata berjalan seiring, tidak terpisahkan, dan saling terkait (hand in hand), dalam menciptakan planet kita yang lebih sehat dan semakin adil (our planet, our health).

 Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 4 April 2022

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life Pendukung ASI UHC

2022 Atasi Stunting

Mencegah Stunting pada Anak - Rumah Sakit Panti Rapih

ATASI  STUNTING

fx. wikan indrarto

Ringkasan tulisan ini telah dimuat di e-paper Media Indonesia

https://epaper.mediaindonesia.com/detail/atasi-stunting

Stunting atau kerdil pada anak disebabkan oleh kekurangan asupan nutrisi secara kronis. Hal ini karena akses terhadap makanan bergizi seimbang belum merata, terutama pada ibu hamil. Padahal faktor utama terjadinya stunting adalah kurangnya asupan gizi anak pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu sejak janin sampai anak usia 2 tahun. Apa yang perlu dilakukan?

.

Wilayah dengan stunting tertinggi berada di kawasan tengah dan timur Indonesia seperti Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua. Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) di 34 provinsi dan 514 kabupaten/kota pada 153.228 balita, angka stunting secara nasional mengalami penurunan sebesar 1,6 persen per tahun dari 27,7 persen tahun 2019 menjadi 24,4 persen tahun 2021. Hanya 5 provinsi yang menunjukkan kenaikan. Hal tersebut menunjukkan bahwa implementasi dari kebijakan pemerintah mendorong percepatan penurunan stunting di Indonesia telah memberi hasil yang cukup baik. Saat ini, prevalensi stunting di Indonesia lebih baik dibandingkan Myanmar (35%), tetapi masih lebih tinggi dari Vietnam (23%), Malaysia (17%), Thailand (16%) dan Singapura (4%).

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/01/03/2020-wasting-pada-anak-2/

.

Secara individual, terdapat 6 langkah pencegahan stunting oleh seorang ibu hamil dan bayinya, yaitu pemeriksaan kehamilan secara rutin, penuhi asupan nutrisi, penambahan konsumsi zat besi, asam folat dan yodium, menerapkan pola hidup bersih dan sehat, pemberian ASI dan MP-ASI sesuai usia bayi, dan kontrol tumbuh kembang bayi secara teratur. Setiap ibu perlu mendapatkan perhatian khusus melalui strategi intervensi nutrisi. Sejak seorang anak perempuan memasuki masa remaja sampai saat terjadi kehamilan, diperlukan peningkatan penggunaan makanan menu lokal seperti telur dan ikan air tawar, harus lebih ditingkatkan guna mencegah ibu terkena malnutrisi.

.

Kemudian setelah bayi dilahirkan, perlu adanya Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dalam satu jam kelahiran, termasuk memberikan kolostrum (makanan pertama untuk bayi baru lahir yang keluar dari payudara ibu sebelum ASI). Pemberian ASI eksklusif sangat penting untuk memastikan bahwa bayi selama enam bulan pertama kehidupannya terpenuhi kebutuhan nutrisinya. Kontrol teratur tumbuh kembang bayi, adalah hal penting untuk mengenali dan mengatasi stunting sejak awal. Sebaiknya setiap bulan pada bayi 0 sampai 12 bulan, setiap 3 bulan ketika anak berusia 1 sampai 3 tahun, dan setiap 6 bulan ketika anak berusia 3 sampai 6 tahun. Selain pemantauan tumbuh kembang itu, juga dengan pemberian imunisasi dasar sesuai  jadwal dan emudian pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) sesuai usia bayi, keduanya adalah hal penting lainnya untuk mencegah dan mengatasi stunting.

.

Gejala stunting yang perlu dicermati meliputi berat badan anak tidak naik, cenderung turun, atau lebih rendah dibanding anak seusianya. Tinggi badan anak lebih pendek dari anak seusianya. Pertumbuhan tulang tertunda, perkembangan tumbuh terhambat dan anak lebih mudah terkena infeksi. Anak stunting berisiko tidak mampu mencapai potensi idealnya, termasuk dalam aspek akademik, lebih mungkin mengalami kemunduran intelektual, dan kelak akan mengidap penyakit degeneratif, seperti kanker dan diabetes. Hal ini disebabkan karena kebutuhan zat gizi mikro dan makro dalam tubuh anak tidak terpenuhi secara maksimal, sehingga pembentukan fungsi sel tubuh dan lainnya tidak sempurna.

TATA KELOLA KEPERAWATAN KOMUNITAS CEGAH STUNTING DENGAN PENDEKATAN KELUARGA

Secara komunal non individual, untuk masyarakat luas diperlukan formula program percepatan dalam penurunan stunting, dengan intervensi berbasis keluarga berisiko stunting. Fokusnya adalah penyiapan kehidupan berkeluarga, pemenuhan asupan gizi, perbaikan pola asuh, peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan, juga peningkatan akses air minum dan sanitasi. 

.

Berdasarkan data Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2021, prevalensi stunting saat ini masih berada pada angka 24,4 persen atau 5,33 juta balita. Saat ini di beberapa daerah capaian prevalensi sudah dibawah 20% namun masih belum memenuhi target dari RPJMN tahun 2024 sebesar 14%. Bahkan seandainyapun sdh tercapai 14% bukan berarti Indonesia sudah bebas stunting tetapi target selanjutnya adalah menurunkan angka stunting sampai kategori rendah atau dibawah 2,5 persen. Prevalensi stunting ini telah mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi, Presiden RI Joko Widodo menargetkan angka stunting turun menjadi 14 persen di tahun 2024. Untuk mencapai target 14 persen, maka setiap tahunnya perlu terjadi penurunan sekitar 3 persen. Diperlukan upaya inovasi, agar terjadi penurunan sekitar 3 sampai 3,5 persen per tahun. Sehingga tercapai target 14 persen tahun 2024 sesuai dengan target Presiden berdasarkan RPJMN bisa tercapai.

.

Pemerintah akan memperkuat percepatan penurunan stunting melalui langkah-langkah intervensi kesehatan masyarakat melalui Puskesmas dan Posyandu, pada ibu sejak sebelum hamil sampai sesudah melahirkan. Untuk sebelum kelahiran akan dilakukan program pendistribusian tablet tambah darah (TTD) untuk remaja putri, program tambahan asupan gizi untuk bu hamil kurang gizi kronik, melengkapi puskesmas dengan alat USG untuk mempertajam identifikasi ibu hamil. Kemudian untuk pasca kelahiran juga dilakukan program untuk mendukung pemenuhan konsumsi protein hewani balita, merevitalisasi proses rujukan balita weight faltering dan stunting ke puskesmas dari rumah sakit, serta merevitalisasi, melengkapi, mendegitalisasi alat ukur di seluruh Posyandu di Indonesia yang jumlahnya sekitar 240 ribu. Selain itu juga dilakukan revitalisasi proses rujukan balita weight faltering dan stunting ke Puskesmas dari rumah sakit, Penambahan dana bantuan operasional kesehatan (BOK) Puskesmas untuk terapi gizi, perubahan aturan BPJS mengenai stunting di RS agar dapat diberikan penjaminan biaya layanan, serta peningkatan  imunisasi dasar dari 12 menjadi 14 jenis imunisasi.

.

Bagaimana sikap kita?

Sekian

Yogyakarta, 30 Maret 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
anak dokter Healthy Life Pendukung ASI

2022 Dampak Pemasaran Susu Formula

Saat Pandemi Covid-19, Produsen Susu Formula Langgar Kode Pemasaran WHO -  wartabuana

DAMPAK  PEMASARAN  SUSU  FORMULA

fx. wikan indrarto*)

Lebih dari separuh (51%) orang tua dan ibu hamil terpapar pemasaran susu formula yang agresif. WHO dan UNICEF Selasa, 22 Februari 2022 melaporkan secara rinci praktik eksploitatif yang dilakukan oleh industri susu formula senilai $55 miliar, mengorbankan nutrisi anak, dan melanggar komitmen internasional. Laporan berjudul Bagaimana pemasaran susu formula mempengaruhi keputusan kita tentang pemberian makan bayi (How marketing of formula milk influences our decisions on infant feeding), mengacu pada survei di delapan negara. Apa yang mencemaskan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/07/16/2018-susu-kental-manis/

Laporan tersebut menemukan bahwa teknik pemasaran industri susu formula mencakup menelphon pelanggan secara gencar dan invasif, membentuk jaringan tanya jawab interaktif, menyalurkan bantuan, promosi, pembagian hadiah, dan bahkan mempengaruhi pelatihan dan rekomendasi dokter dan petugas kesehatan. Promosi yang gencar didengungkan kepada orang tua dan petugas kesehatan seringkali menyesatkan, tidak berdasar secara ilmiah, dan melanggar ‘the International Code of Marketing of Breast-milk Substitutes’ atau Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI, yaitu perjanjian penting yang disahkan oleh Majelis Kesehatan Dunia pada tahun 1981 untuk melindungi ibu dari tindakan agresif praktik pemasaran oleh industri makanan bayi.

.

“Laporan ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa pemasaran susu formula tetap tidak dapat diterima, menyesatkan dan agresif,” kata Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO. Peraturan tentang larangan pemasaran eksploitatif harus segera diadopsi dan ditegakkan untuk melindungi kesehatan bayi. Survei pada 8.500 orang tua dan ibu hamil, dan 300 petugas kesehatan di beberapa kota di Bangladesh, Cina, Meksiko, Maroko, Nigeria, Afrika Selatan, Inggris dan Vietnam, menunjukkan bahwa promosi pemasaran susu formula menjangkau 84% dari semua ibu di Inggris, 92% ibu di Vietnam, dan 97% ibu di Cina, yang memungkinkan akan meningkatkan kemungkinan mereka memilih susu formula.

.

Bernas.id | Para Ibu Dibuat Heboh dengan Video Bahaya Susu Formula untuk  Bayi

“Pesan yang salah dan menyesatkan tentang pemberian susu formula adalah penghalang besar untuk menyusui, yang kami tahu terbaik untuk bayi dan ibu,” kata Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell. Dunia membutuhkan kebijakan, dan undang-undang untuk memastikan bahwa ibu dilindungi dari praktik pemasaran susu formula yang tidak etis, memiliki akses ke informasi dan dukungan yang mereka butuhkan, untuk membesarkan bayi mereka secara optimal.

.

Industri susu formula mengklaim produknya dapat memecahkan masalah umum pada bayi, memposisikan dirinya sebagai teman dan penasihat tepercaya, sehingga menarik perhatian, memainkan kecemasan ibu dan meningkatkan keraguan diri. Sikap positif ibu terhadap susu formula berkorelasi dengan paparan mereka terhadap pemasaran produk. Selain itu, ketakutan dan keraguan yang sering ibu ungkapkan tentang menyusui, serupa dan mencerminkan tema pemasaran.

.

Di semua negara ibu menyatakan keinginan yang kuat untuk menyusui secara eksklusif, mulai dari 49% ibu di Maroko hingga 98% di Bangladesh. Namun laporan tersebut merinci bagaimana iklan berkelanjutan yang menyesatkan justru memperkuat mitos tentang menyusui dan ASI, dan merusak kepercayaan ibu pada kemampuan mereka untuk menyusui dengan sukses. Mitos tersebut antara lain perlunya susu formula pada hari-hari pertama setelah kelahiran, ASI yang tidak mencukupi untuk nutrisi bayi, bahan susu formula terbukti meningkatkan perkembangan atau kekebalan anak, susu formula membuat bayi kenyang lebih lama, dan bahwa kualitas ASI menurun seiring waktu.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/01/15/susu-dan-tifus/

Pada hal, menyusui dalam satu jam pertama kelahiran, diikuti dengan menyusui eksklusif selama enam bulan dan terus menyusui hingga dua tahun, justru merupakan garis pertahanan yang paling kuat terhadap semua bentuk kekurangan gizi anak, termasuk kurus ataupun obesitas. Menyusui juga bertindak sebagai vaksin pertama bayi, melindungi bayi dari banyak penyakit infeksi yang umum pada masa anak. Meningkatkan menyusui dapat mencegah sekitar 800.000 kematian anak balita dan 20.000 kematian ibu karena kanker payudara setiap tahun.

Namun secara global, hanya 44% bayi berusia kurang dari 6 bulan yang diberi ASI eksklusif. Tingkat pemberian ASI secara global telah meningkat sangat sedikit dalam dua dekade terakhir, sementara penjualan susu formula meningkat lebih dari dua kali lipat dalam waktu yang hampir bersamaan. Apalagi selama pandemi COVID-19, industri susu formula menabur keraguan ibu yang terduga atau terkonfirmasi COVID-19, mendistorsi ilmu pengetahuan kedokteran untuk melegitimasi klaim ilmiah yang salah dan tidak lengkap, misalnya dengan rumus kimia sedekat, setara atau lebih tinggi dari ASI. Pada hal ASI dan menyusui memiliki sifat unik yang tidak dapat direplikasi dengan susu formula buatan.

.

Yang lebih mengkhawatirkan, laporan tersebut mencatat bahwa sejumlah besar dokter dan petugas kesehatan di semua negara, telah didekati oleh industri makanan bayi untuk mempengaruhi rekomendasi mereka kepada para ibu, melalui hadiah, bonus, sampel gratis, pendanaan untuk penelitian, pertemuan ilmiah, acara profesi dan konferensi medis, bahkan juga komisi dari penjualan, yang secara langsung berdampak pada pemilihan makanan bayi. Bahkan lebih dari sepertiga ibu yang disurvei mengatakan bahwa, seorang petugas kesehatan telah merekomendasikan merek susu formula tertentu kepada mereka.

.

Untuk mengatasi tantangan ini, maka setiap pemerintah, dokter, petugas kesehatan, dan industri makanan bayi untuk berkolaborasi mengakhiri pemasaran susu formula yang eksploitatif, dan segera secara sepenuhnya menerapkan dan mematuhi persyaratan Kode. Hal ini termasuk pertama, mengesahkan, memantau dan menegakkan hukum untuk mencegah promosi susu formula, sesuai dengan Kode Internasional, termasuk melarang klaim nutrisi dan kesehatan yang dibuat berlebihan oleh industri susu formula. Kedua, berinvestasi dalam kebijakan dan program untuk mendukung menyusui, termasuk cuti ibu dan ayah yang tetap dibayar memadai sesuai dengan standar internasional, dan memastikan dukungan menyusui bagi semua ibu yang berkualitas tinggi.

.

Ketiga, meminta industri susu formula untuk secara terbuka berkomitmen sepenuhnya mematuhi Kode dan resolusi Majelis Kesehatan Dunia. Keempat, melarang petugas kesehatan menerima sponsor dari perusahaan yang memasarkan susu formula untuk bayi dalam bentuk beasiswa, penghargaan, hibah, dana pertemuan ilmiah atau sponsor acara.

.

Negara harus meningkatkan langkah yang lebih luas untuk mendukung ibu dan  keluarga, termasuk dukungan untuk menyusui, layanan kehamilan dan persalinan yang mendukung ASI, cuti hamil dan melahirkan yang sesuai, dan divestasi perusahaan yang mengeksploitasi keluarga melalui pemasaran produk susu formula yang tidak etis. Pemasaran susu formula adalah simbol dari pemasaran produk berisiko lainnya seperti tembakau, alkohol atau barang tidak sehat yang mengutamakan omset penjualan, di atas pertimbangan kesehatan dan kesejahteraan.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 13 Maret 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM.

Categories
COVID-19 Healthy Life Pendukung ASI vaksinasi

2022 ASI dan COVID-19

Ibu Terinfeksi Covid-19, Bolehkah Menyusui Bayinya? Ini Kata Dokter Halaman  all - Kompas.com

MENYUSUI  DAN  COVID-19

fx. wikan indrarto

Menyusui (breastfeeding) adalah salah satu cara paling efektif untuk memastikan kesehatan dan kelangsungan hidup anak. Namun, hampir 2 dari 3 bayi tidak disusui secara eksklusif selama 6 bulan pertama yang direkomendasikan WHO dan UNICEF, cakupan yang belum membaik dalam 2 dekade terakhir, apalagi saat ini ada penemi COVID-19. Apa yang mencemaskan?

.

ASI adalah makanan yang ideal untuk bayi. Aman, bersih dan mengandung antibodi yang membantu melindungi dari banyak penyakit infeksi yang umum pada anak. ASI menyediakan semua energi dan nutrisi yang dibutuhkan bayi untuk bulan-bulan pertama kehidupannya, dan ASI terus menyediakan hingga setengah atau lebih kebutuhan nutrisi anak selama paruh kedua tahun pertama, dan hingga sepertiga selama tahun kedua kehidupan.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/07/29/2021-pekan-menyusui-sedunia/

.

Anak yang disusui secara eksklusif memiliki hasil lebih baik dalam tes kecerdasan, lebih kecil kemungkinannya untuk kelebihan berat badan atau obesitas, dan kurang rentan terhadap diabetes di kemudian hari. Ibu yang menyusui secara eksklusif juga memiliki penurunan risiko kanker payudara dan ovarium. Menyusui juga meningkatkan kesehatan ibu, meskipun ibu dan bayi tinggal di komunitas dengan zona merah laju penularan COVID-19.

.

Setelah melahirkan, bayi sebaiknya tetap harus langsung ditaruh di dada ibu, agar terjadi kontak ‘skin-to-skin’ dan disusui secara dini, meskipun ibunya dipastikan atau diduga mengidap COVID-19. Perlekatan kulit-ke-kulit bayi dengan ibu segera setelah lahir dan berkelanjutan, termasuk perawatan metode kanguru, meningkatkan pengendalian suhu tubuh bayi baru lahir. Hal ini juga dikaitkan dengan peningkatan kelangsungan hidup pada bayi baru lahir, juga mampu mengurangi angka kematian bayi. Lebih banyak manfaat yang diperoleh dari proses kontak kulit-ke-kulit ibu dan bayi baru lahir, dibandingkan risiko buruknya. Selain itu, proses menyusui juga lebih besar manfaatnya daripada potensi risiko penularan COVID-19.

.

Ibu yang telah terkonfirmasi atau terduga COVID-19 seharusnya tetap dapat menyusui, jika ingin melakukannya. Ibu harus menerapkan protokol kesehatan ketat. Sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, atau menggunakan pembersih tangan berbasis alkohol, terutama sebelum menyentuh bayi. Juga mengenakan masker medis selama kontak dengan bayi, termasuk saat menyusui. Menerapkan etika bersin atau batuk ke arah tisu, kemudian tisu segera dibuang dengan benar dan cuci tangan kembali. Bersihkan dan disinfeksi permukaan benda yang telah disentuh ibu secara rutin. Penting untuk mengganti masker medis segera setelah menjadi lembab dan segera membuangnya. Masker tidak boleh digunakan kembali atau disentuh di bagian depan.

Ibu Positif Covid-19 Boleh Menyusui Anaknya, Asalkan...

Jika seorang ibu yang dikonfirmasi atau diduga mengidap COVID-19 tidak memiliki masker medis, ibu tetap harus menyusui. Ibu dengan gejala terinfeksi COVID-19 memang disarankan untuk memakai masker medis, tetapi meskipun tidak memungkinkan, menyusui tetap harus dilanjutkan. Ibu harus mengikuti tindakan pencegahan infeksi lainnya, seperti mencuci tangan, membersihkan permukaan benda yang disentuh, dan etika bersin atau batuk ke tisu. Masker non-medis, misalnya masker buatan sendiri atau masker kain, memang belum diteliti aspek keamanannya. Namun demikian, saat ini tidak mungkin untuk membuat rekomendasi untuk atau menentang penggunaannya.

.

Jika seorang ibu tidak sehat untuk menyusui bayinya karena terinfeksi COVID-19 atau komplikasi lain, ibu tetap harus didukung untuk memberikan ASI dengan aman kepada bayinya dengan cara yang memungkinkan, tersedia, dan dapat diterima oleh ibu. Dukungan ini dapat mencakup pemberian ASI perah (ASIP) dan donor ASI. Jika pemberian ASIP atau ASI donor tidak memungkinkan, maka pertimbangkan ditetekkan atau ‘wet nursing’, yaitu bayi ditetekkan pada ibu lain yang sedang menyusui bayinya. Kalau tidak memungkinkan juga, pilihan terakhir adalah pemberian susu formula bayi, dengan prosedur awal memastikan bahwa hal itu layak, disiapkan dengan benar, aman dan berkelanjutan.

.

Setelah terpapar COVID-19, seorang ibu dapat mulai menyusui ketika ibu sudah merasa cukup sehat untuk melakukannya. Tidak ada interval waktu yang pasti, untuk menunggu setelah dikonfirmasi atau diduga COVID-19. Tidak ada bukti bahwa menyusui mengubah perjalanan klinis COVID-19 pada seorang ibu. Petugas kesehatan atau konselor menyusui harus mendukung ibu untuk menjalani program relaktasi, atau kembali memberikan ASI eksklusif..

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/12/16/2021-mis-c-pada-anak-covid-19/

Pada ibu yang terkonfirmasi atau dicurigai COVID-19, tetap lebih aman untuk meneteki dibandingkan memberikan susu formula pada bayinya. Selalu ada risiko yang terkait dengan pemberian susu formula kepada bayi baru lahir dan bayi di semua situasi. Risiko medis yang terkait dengan pemberian susu formula bayi, meningkat setiap kali kondisi di rumah dan masyarakat terganggu, seperti berkurangnya akses ke layanan medis jika bayi menjadi tidak sehat, berkurangnya akses ke air bersih dan atau akses ke pasokan susu formula tidak terjamin, terjangkau dan berkelanjutan.

.

Ibu yang sedang menyusui bayi dapat menerima vaksin COVID-19 saat tersedia. Tidak satu pun dari vaksin yang saat ini disetujui menggunakan virus hidup, jadi tidak ada risiko menularkan virus ke bayi melalui ASI. Justru ada beberapa bukti bahwa, setelah vaksinasi antibodi ibu ditemukan dalam ASI, yang dapat membantu melindungi bayi dari COVID-19.

Sudahkah kita terlibat membantu keberhasilan pemberian ASI eksklusif?

Sekian

Yogyakarta, 2 Maret 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life Pendukung ASI resisten obat

2021 Keselamatan Pasien Bayi

Krisis Listrik, Nyawa 200 Bayi di Rumah Sakit di Gaza Terancam - Dunia  Tempo.co

KESELAMATAN  PASIEN  BAYI

fx. wikan indrarto*)

Hari Keselamatan Pasien Sedunia (World Patient Safety Day) diperingati setiap tahun dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran dan keterlibatan publik, juga untuk mempromosikan keselamatan pasien di fasilitas kesehatan. Tema Hari Keselamatan Pasien Sedunia 2021–2022 adalah membuat perawatan ibu dan bayi baru lahir lebih aman. Apa yang perlu dilakukan untuk bayi?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/03/2020-asi-untuk-bayi-covid-19/

Hari Keselamatan Pasien Bayi Baru Lahir memiliki 5 tujuan. Pertama, mengurangi praktik medis yang tidak perlu dan berbahaya, bagi bayi baru lahir. Kedua, memperkuat kapasitas dan dukungan petugas kesehatan untuk perawatan bayi baru lahir yang aman. Ketiga, mempromosikan persalinan yang aman dan penuh hormat. Keempat, meningkatkan penggunaan obat dan transfusi darah yang aman.

.

Tujuan pertama, yaitu mengurangi praktik yang tidak perlu dan berbahaya bagi bayi baru lahir, didasari data bahwa lebih dari tiga perempat kematian ibu, lebih dari 40% kelahiran mati, dan seperempat kematian neonatus disebabkan oleh komplikasi selama persalinan dan nifas. Di beberapa fasilitas kesehatan justru terlalu sedikit intervensi medis atau terlambat diberikan, kepada ibu bersalin dan bayi baru lahir, sedangkan di tempat lain justru ibu dan bayi baru lahir menerima terlalu banyak intervensi, bahkan juga terlalu cepat. Sebagian besar bayi baru lahir mungkin mengalami penjepitan tali pusat dini, penghisapan ciaran di mulut dan hidung secara rutin atau berlebihan, dan pemisahan dari ibu segera setelah lahir tanpa alasan medis kuat.

.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menerbitkan serangkaian rekomendasi tentang perawatan intrapartum untuk terbentuknya pengalaman ibu melahirkan yang positif, agar merawat bayinya dengan penuh kegembiraan. Juga mengharuskan setiap fasilitas kesehatan sepenuhnya mematuhi Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI. Untuk keselamatan bayi baru lahir, tidak dianjurkan menjepit tali pusat lebih awal (sebelum satu menit setelah lahir), tidak boleh melakukan penyedotan cairan di mulut dan hidung pada neonatus, yang lahir dari ibu dengan cairan ketuban bening, dan mampu mulai bernapas sendiri setelah lahir. Selain itu, juga larangan agar tidak secara rutin memisahkan ibu dan bayi setelah lahir.

.

Bayi 50 Hari di Cirebon Sembuh dari Covid-19 | Republika Online

Alasan tujuan kedua, yaitu memperkuat kapasitas dan dukungan bagi petugas kesehatan untuk perawatan ibu dan bayi baru lahir yang aman, adalah bahwa semua tenaga kesehatan, termasuk dokter, bidan dan perawat, memiliki peran penting dalam memberikan perawatan yang aman dan terhormat untuk mencegah kematian ibu dan bayi baru lahir, bahkan juga kelahiran mati. Namun demikian, saat ini sistem kesehatan di seluruh dunia menghadapi kekurangan tenaga kesehatan, terutama perawat dan bidan. Selain itu, distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata antar dan di dalam negara, menambah kesenjangan untuk mencapai target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG).

.

Sedangkan tujuan ketiga, yaitu mempromosikan perawatan penuh hormat untuk persalinan yang aman, dapat dilakukan dengan menetapkan mekanisme identifikasi bayi baru lahir di tempat bersalin, pencatatan sipil, dan akte kelahiran sebagai identitas hukum untuk semua bayi sejak lahir. Selain itu, perlu ditetapkan mekanisme untuk proses ganti rugi pada kasus bayi baru lahir yang mengalami penganiayaan, pelanggaran privasi, kerahasiaan, tindakan medis tanpa persetujuan, dan perawatan yang tidak adil. Juga jaminan agar pasangan ibu-bayi tetap bersama dalam sebuah ruangan atau rawat gabung, agar mampu meningkatkan kesempatan untuk menyusui dan kontak kulit-ke-kulit antara ibu dan bayi setiap saat, terlebih dalam satu jam pertama setelah kelahiran.

.

Perlu juga dipastikan bahwa semua bayi lahir mati dan bayi baru lahir yang meninggal, ditangani dengan penuh hormat. Juga orang tua serta keluarga diperbolehkan untuk mengungkapkan duka cita, dengan cara yang sesuai dengan budaya dan agama masing-masing.

.

Sedangkan tujuan keempat, yaitu meningkatkan penggunaan obat  dan transfusi darah yang aman, disebabkan karena akses keduanya adalah kunci untuk pencegahan dan pengelolaan komplikasi berat, seperti sepsis neonatal. Kesalahan pengobatan pada neonatus, di mana dosis obat harus dihitung berdasarkan berat badan atau usia, merupakan sumber kesalahan utama ketidakamanan. Untuk itu, biasakanlah menggunakan huruf kapital dan jelas dalam mengurangi kesalahan saat memesan dan meresepkan obat. Juga menerapkan langkah untuk mengurangi kesalahan, karena nama dan kemasan obat yang mirip atau terdengar mirip, dan mengurangi kemungkinan kesalahan selama penyimpanan maupun pemberian obat. Jika tersedia, gunakan rekam medis elektronik, sistem peresepan elektronik, dan barcode (kode batang) untuk menyederhanakan pertukaran informasi dan meningkatkan keterbacaan resep dokter.

.

Pastikan ketersediaan obat antidotum seperti nalokson, untuk mengatasi depresi pernapasan bayi baru lahir atau asfiksia neonatus. Menerapkan kebijakan dan protokol rinci, yang menguraikan penggunaan antibiotik yang benar sebagai bagian dari program pengelolaan antibiotik secara rasional. Juga memastikan praktik injeksi yang aman dan penggunaan teknik aseptik saat memberikan obat secara suntikan atau parenteral, dan transfusi darah pada bayi baru lahir.

.

Tujuan kelima adalah melaporkan dan menganalisis insiden keselamatan dalam persalinan, didasari oleh data bahwa di seluruh dunia, ibu dan bayi baru lahir dapat terpapar bahaya yang dapat dihindari, selama proses persalinan di fasilitas kesehatan, dan beberapa kasus menjadi meninggal atau menderita morbiditas parah yang tidak perlu. Sebagian besar kerugian ini dapat dicegah dengan perawatan berkualitas tinggi, intervensi berbasis bukti yang diberikan selama kehamilan, persalinan dan melahirkan. Sistem pelaporan insiden keselamatan pasien dapat memberikan pembelajaran tentang penyebab bahaya dan tindakan perbaikan, untuk mencegahnya di masa depan. Audit Kematian Maternal dan Perinatal  adalah intervensi penting untuk mengurangi kematian bayi baru lahir yang dapat dihindari.

.

Pandemi COVID-19 telah memicu krisis kesehatan lanjutan yang berdampak buruk pada ibu dan bayi baru lahir, karena terganggunya layanan kesehatan rutin. Momentum Hari Keselamatan Pasien Bayi Baru Lahir menunjukkan betapa pentingnya memperkuat layanan kesehatan dan kebidanan secara rutin, seperti sebelum pandemi COVID-19, demi keselamatan pasien bayi baru lahir di sekitar kita.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 2 Oktober 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
anak COVID-19 Healthy Life Pendukung ASI UHC

2021 Pekan Menyusui Sedunia

World Breastfeeding Week (WBW) - World Alliance for Breastfeeding Action

PEKAN  MENYUSUI  SEDUNIA  2021

fx. wikan indrarto*)

Pekan Menyusui Sedunia (The World Breastfeeding Week) 2021 dimulai Minggu, 1 Agustus 2021 dan berakhir pada Sabtu, 7 Agustus 2021. Tema peringatan tahun 2021 adalah Perlindungan Menyusui: Tanggung Jawab Bersama (Protect Breastfeeding: A Shared Responsibility). Perlindungan dan dukungan menyusui individual pada ibu tidaklah cukup, menyusui harus dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat yang membutuhkan investasi di semua tingkatan, mencakup sistem kesehatan, tempat kerja, dan komunitas di semua lapisan masyarakat. Apa yang harus dilakukan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/08/08/2020-konseling-menyusui-eksklusif/

.

Di negara berpenghasilan rendah dan menengah, hanya 37% bayi di bawah usia 6 bulan yang disusui secara eksklusif. Durasi menyusui lebih pendek di negara berpenghasilan tinggi daripada di negara miskin sumber daya. Pada hal meta-analisis menunjukkan menyusui memberikan perlindungan terhadap penyakit infeksi dan maloklusi gigi, mendukung peningkatan kecerdasan, pengurangan kelebihan berat badan dan diabetes pada anak. Selain itu, tidak ditemukan hubungan menyususi dengan alergi seperti asma, dengan tekanan darah tinggi atau peningkatan kadar kolesterol. Bagi ibu menyusui, menyusui memberikan perlindungan terhadap kanker payudara, kanker ovarium dan diabetes mellitus tipe 2, juga meningkatkan jarak kelahiran.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/07/09/2021-ketika-caesar-meningkat/

.

Tingkat menyusui sangat bervariasi, terkait pola hidup sehat yang lebih umum di negara miskin daripada negara kaya. Di negara berpenghasilan rendah, sebagian besar bayi masih disusui pada usia 1 tahun, dibandingkan dengan kurang dari 20% di banyak negara berpenghasilan tinggi dan kurang dari 1% di Inggris. Alasan mengapa wanita menghindari atau berhenti menyusui berkisar dari medis, budaya, dan psikologis, hingga ketidaknyamanan. Hal ini tidak boleh dianggap sepele, karena banyak ibu tanpa dukungan menyusui yang memadai, akan beralih ke susu formula.

.

Dukungan menyusui secara politis dapat berupa ketentuan baru tentang cuti hamil dan menyusui, juga adanya polis asuransi untuk kesulitan menyusui yang diprediksi dapat meningkatkan cakupan menyusui sebesar 25%. Namun demikian, yang lebih penting adalah dukungan komitmen yang tulus dan mendesak dari pemerintah dan otoritas kesehatan di manapun, untuk membangun norma baru di mana setiap ibu dapat menyusui dan mampu menerima setiap dukungan yang dia butuhkan, untuk menyusui bayinya.

.

Peningkatan cakupan pemberian ASI eksklusif global dapat mencegah 823.000 kematian tahunan pada anak balita dan 20.000 kematian wanita tahunan akibat kanker payudara. Selain itu, Lancet pada 30 Januari 2016 juga menyimpulan bahwa menyusui membuat dunia lebih sehat, lebih pintar, dan lebih setara, bahkan terjadi penghematan ekonomi sebesar US$ 300 miliar.  

.

10 reasons why we should celebrate World Breastfeeding Week 2021 Post

Penelitian perilaku ibu menyusui selama masa pandemi COVID-19 di Indonesia oleh tim peneliti ‘Health Collaborative Center’ (HCC) menunjukkan bahwa prevalensi keberhasilan pemberian ASI eksklusif di Indonesia pada tahun 2020 mencapai sebesar 89,4 persen. Dijelaskan oleh Ketua Tim Peneliti, DR. Dr. Ray Wagiu Basrowi bahwa hasil penelitian terbaru ini merupakan suatu keberhasilan yang terjadi di tengah keterbatasan akibat pandemi COVID-19. Pasalnya, pada tahun-tahun sebelum pandemi COVID-19 melanda, Indonesia tergolong negara yang rendah keberhasilan program ASI eksklusif di dunia, dengan prevalensi sekitar 30-50 persen saja secara nasional.

.

Namun demikian, semakin banyak ibu menyusui yang terkonfirmasi COVID-19, dapat menurunkan cakupan pemberian ASI eksklusif, karena kekawatiran ibu untuk menularkan penyakitnya kepada bayi. Dengan slogan ‘Tetap Beri ASI, Anak Terlindungi, Keluarga Sejahtera’, dukungan menyusui saat pandemi COVID-19 diperlukan oleh semua ibu yang positif COVID-19. Ibu perlu diyakinkan bahwa menyusui dan memberikan ASI aman bagi bayi dari risiko penularan COVID-19, asalkan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Ibu harus selalu memakai masker saat menyusui dan merawat bayi, mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang bayi, dan membersihkan dengan cairan disfeksi permukaan dan benda yang sering disentuh ibu dan bayi.

.

Untuk ibu dengan gejala klinis sedang atau berat dan tidak mampu menyusui secara langsung, dapat melakukan pemberian ASI perah (ASIP). Ibu haruslah memastikan kebersihan saat memerah ASI. Gunakan cangkir bermulut lebar untuk memberikan ASIP pada bayi dan gunakan wadah dengan tutup untuk menyimpan ASIP. ASIP dapat disimpan dengan beberapa cara, yaitu di freezer dengan suhu -18 sampai -20 derajat celcius, ASIP dapat bertahan selama 4 bulan. Di lemari pendingin bawah dengan suhu 4 sampai 5 derajat celcius, ASI dapat bertahan 3-4 hari. Di kotak ‘ice pack’ dengan suhu 15 derajat celcius, ASI dapat bertahan selama 24 jam, sedangkan di ruangan dengan suhu kamar, ASI dapat bertahan selama 3-4 jam.

.

Momentum Pekan Menyusui Dunia (World Breastfeeding Week) tanggal 1 hingga 7 Agustus 2021, juga mengingatkan akan pentingnya tanggung jawab kita bersama dalam memberikan Dukungan Menyusui (Protect Breastfeeding) bagi semua ibu, untuk menyusui bayinya secara eksklusif, meskipun ibu terkonfirmasi COVID-19.

Apakah kita sudah bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 28 Juli 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
COVID-19 dokter medicolegal Pendukung ASI

2021 Ketika Caesar Meningkat

Kapan Ibu Harus Melahirkan dengan Operasi Sesar? | Republika Online

KETIKA  CAESAR  MENINGKAT

fx. wikan indrarto*)

Tingkat operasi atau bedah caesar terus meningkat, di tengah masih tingginya ketidaksetaraan dalam akses. Selain itu, kenaikan biaya operasi caesar menunjukkan peningkatan jumlah prosedur medis yang tidak perlu dan berpotensi berbahaya, baik bagi ibu maupun bayinya. Apa yang mencemaskan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/10/2020-kesehatan-seksual-remaja/

.

Rabu, 16 Juni 2021 WHO memberikan catatan bahwa operasi caesar terus meningkat secara global, sekarang terhitung lebih dari 1 dari 5 (21%) dari semua persalinan. Jumlah ini akan terus meningkat selama dekade mendatang, dengan hampir sepertiga (29%) dari semua kelahiran kemungkinan akan terjadi melalui operasi caesar pada tahun 2030. Meskipun operasi caesar dapat menjadi operasi yang penting dan menyelamatkan nyawa, operasi ini dapat menempatkan ibu dan bayi pada risiko masalah kesehatan jangka pendek dan jangka panjang yang tidak perlu, jika dilakukan ketika tidak ada indikasi medis.

.

Operasi caesar dapat menjadi penting dan harus dilakukan dalam kondisi medis seperti persalinan lama atau terhambat, gawat janin, atau karena janin berada dalam posisi abnormal. Namun demikian seperti semua operasi, bedah caesar dapat memiliki risiko, termasuk potensi perdarahan berat atau infeksi, waktu pemulihan yang lebih lambat setelah melahirkan, keterlambatan dalam mulai menyusui dan kontak kulit-ke-kulit ibu dengan bayi, dan peningkatan kemungkinan komplikasi pada kehamilan berikutnya.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/10/21/2019-kekerasan-pada-kelahiran-bayi/

.

Kerugian yang akan dialami bayi yang lahir melalui bedah caesar dengan alasan non medis, cenderung akan mengalami masalah jangka panjang. Dampak buruk akan terjadi bukan sekitar saat kelahiran, tetapi justru pada saat bayi berumur 6 bulan sampai saat telah menjadi anak berusia 8 tahun. Kerugian yang paling sering dilaporkan adalah terjadinya diare, asma dan kegemukan atau obesitas. Ketiganya diduga terjadi karena gagalnya pemberian ASI Ekslusif dan perubahan imunologis dalam sistem kekebalan tubuh, yang sedikit banyak dipengaruhi oleh cara persalinan saat bayi, yaitu persalinan secara bedah caesar.

.

Ada perbedaan yang signifikan dalam akses ibu ke operasi caesar, tergantung di belahan dunia mana dia tinggal. Di negara kurang berkembang, sekitar 8% wanita melahirkan melalui operasi caesar dengan hanya 5% di sub-Sahara Afrika, menunjukkan kurangnya akses ke operasi penyelamatan ini. Sebaliknya, di Amerika Latin dan Karibia, angkanya mencapai 4 dari 10 (43%) dari semua kelahiran. Di lima negara (Republik Dominika, Brasil, Siprus, Mesir dan Turki), operasi caesar sekarang melebihi jumlah persalinan pervaginam.

Kiat S, PDP Korona yang Berhasil Melahirkan Lewat Operasi Caesar

Tingkat operasi caesar di seluruh dunia telah meningkat dari sekitar 7% pada tahun 1990 menjadi 21% hari ini, dan diproyeksikan akan terus meningkat selama dekade ini. Jika tren ini berlanjut, pada tahun 2030 tingkat tertinggi kemungkinan berada di Asia Timur (63%), Amerika Latin dan Karibia (54%), Asia Barat (50%), Afrika Utara (48%) Eropa Selatan (47% ) dan Australia dan Selandia Baru (45%). Perawatan berkualitas dan berpusat pada ibu hamil diperlukan untuk mengatasi tingginya kejadian operasi caesar. Penyebab tingginya operasi caesar sangat bervariasi antar dan di dalam negara. Penyebabnya multifaktorial, termasuk kebijakan dan pembiayaan sektor kesehatan, norma budaya, persepsi dan praktik klinik, tingkat kelahiran prematur, dan kualitas layanan kesehatan.

.

Daripada merekomendasikan menurunkan tingkat target spesifik, lebih penting kita berfokus pada kebutuhan unik setiap ibu, dalam proses kehamilan dan persalinannya. Penting bagi semua ibu untuk dapat berbicara dengan tenaga kesehatan dan menjadi bagian dari pengambilan keputusan tentang proses melahirkan yang akan mereka jalani, menerima informasi medis yang memadai, termasuk risiko dan manfaatnya. Dukungan emosional adalah aspek penting dari perawatan berkualitas selama kehamilan dan persalinan. Berikut rekomendasi beberapa tindakan non-klinis yang dapat mengurangi kejadian operasi caesar yang tidak perlu secara medis.

.

Pertama, pemberian informasi dan edukasi yang melibatkan ibu secara aktif dalam merencanakan kelahiran mereka, seperti kelas persiapan persalinan, program relaksasi dan dukungan psikososial jika diinginkan, bagi mereka yang takut akan rasa sakit atau kecemasan. Kedua, penggunaan Panduan Praktek Klinis (PPK) berbasis bukti, melakukan audit medis rutin operasi caesar di RS, dan memberikan umpan balik yang tepat waktu kepada dokter yang melakukannya, tentang temuan audit. Ketiga, persyaratan adanya pendapat medis kedua (second opinion) dari dokter lain untuk keputusan operasi caesar, dalam kondisi di mana hal ini memungkinkan.

Ketiga, untuk tujuan utama mengurangi kejadian operasi caesar, beberapa alternatif intervensi medis lainnya telah diteliti di beberapa negara, tetapi masih memerlukan penelitian yang lebih ketat. Keempat, menciptakan model perawatan kolaboratif antara bidan dan dokter, yang diberikan terutama oleh bidan, dengan dukungan 24 jam dari dokter spesialis kebidanan. Terakhir kelima, strategi tegas dalam aspek keuangan, dengan menyamakan biaya atau tarif yang dikenakan untuk persalinan pervaginam maupun operasi caesar.

.

Data tingkat bedah caesar yang terus meningkat pada survei oleh UNDP, UNFPA, UNICEF, WHO, dan Bank Dunia pada 154 negara, yang mewakili 94,5% kelahiran hidup dunia pada tahun 2018 di atas, sangat mencemaskan. Rekomendasi WHO tentang tindakan non-klinis yang dapat mengurangi kejadian operasi caesar layak dilakukan. 

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 18 Juni 2021

*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih dan Lektor FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
anak dokter Healthy Life HIV-AIDS Pendukung ASI UHC

2021 Metode Kangoro untuk Bayi

Kangaroo Mother Care Technique | Download Scientific Diagram

METODE   KANGURU   UNTUK   BAYI

fx. wikan indrarto*)

Sabtu, 15 Mei 2021 diperingati sebagai Hari Peringatan Kesadaran pada Penerapan Perawatan Metode Kanguru (PMK) untuk Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dan Bayi Prematur. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/11/14/2020-steroid-untuk-bayi-prematur/

.

Perawatan Metode Kanguru (PMK) pertama kali diperkenalkan oleh Ray dan Martinez di Bogota, Kolumbia pada tahun 1979 sebagai cara alternatif perawatan BBLR di tengah tingginya angka BBLR dan terbatasnya fasilitas kesehatan yang ada. Metode ini meniru binatang berkantung kanguru dari Australia, yang bayinya lahir sering prematur, dan setelah lahir disimpan di kantung perut ibunya untuk mencegah kedinginan, sekaligus mendapatkan makanan bergizi berupa air susu induknya.

.

Hakekat PMK adalah kontak kulit-ke-kulit sejak dini, terus menerus dan berkepanjangan antara ibu dan bayi dengan pemberian ASI secara eksklusif, yang telah terbukti menjadi intervensi medis yang efektif dan berbiaya rendah, dalam meningkatkan kelangsungan hidup dan luaran klinis bayi kecil dan sakit. Metode PMK ini telah dibuktikan dapat meningkatkan stabilitas fisiologis, lingkungan yang mendukung secara termal, mengurangi risiko infeksi serius, dan mengurangi kematian bayi prematur, BBLR dan BBLSR (Berat Badan Lahir Sangat Rendah). 

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/09/26/2019-ibu-dan-bayi-lebih-banyak-hidup/

.

Namun demikian, cakupan PMK global di seluruh populasi tetap rendah selama beberapa dekade dan peningkatan skala penerapannya sangat sulit diukur. Hanya sebagian kecil bayi kecil dan sakit yang mendapat manfaat dari PMK, telah menerimanya. Pada 10 Desember 2020 penerapkan PMK dapat meningkat dari mendekati 0% menjadi lebih dari 40% setelah satu tahun pendampingan dari Kementrian Kesehatan setempat, di tiga distrik di India dan 4 wilayah di Ethiopia.

.

Kangaroo care - Wikipedia

Melalui pelatihan tenaga kesehatan, kebijakan yang kondusif dan peningkatan infrastruktur, target global adalah memastikan PMK diberikan kepada setidaknya 80% bayi BBLR di seluruh dunia. Meskipun jumlah kematian bayi baru lahir secara global menurun dari 5 juta pada tahun 1990 menjadi 2,4 juta pada tahun 2019, tetapi banyak bayi masih menghadapi risiko kematian terbesar dalam 28 hari pertama mereka. Pada 2019, sekitar 47% dari semua kematian balita terjadi pada periode baru lahir dengan sekitar sepertiganya meninggal pada hari kelahiran dan hampir tiga perempat meninggal dalam minggu pertama kehidupan. Bayi yang meninggal dalam 28 hari pertama kelahiran, biasanya menderita penyakit yang terkait dengan kurangnya layanan medis berkualitas saat lahir, atau perawatan segera setelah lahir, dan pada hari-hari pertama kehidupan bayi.

.

Pada tahun 2019 terdapat 10 negara teratas dengan jumlah tertinggi (dalam ribuan) kematian bayi baru lahir, yaitu India (522), Nigeria (270), Pakistan (248), Etiopia (99), Kongo (97), Cina (64), Indonesia (60), Bangladesh (56), Afganistan (43), dan Tanzania (43). Perawatan bayi baru lahir yang penting adalah perlindungan dari kedinginan, misalnya dengan PMK untuk terjadinya kontak kulit-ke-kulit antara ibu dan bayi, pemberian ASI dini dan eksklusif, serta perawatan tali pusat dan kulit bayi secara higienis. Selain itu, penilaian masalah kesehatan yang serius atau membutuhkan perawatan tambahan, misalnya bayi BBLR, bayi sakit atau lahir dari ibu yang terinfeksi HIV. Kemudian juga tindakan pencegahan, misalnya imunisasi BCG dan Hepatitis B, injeksi vitamin K dan infeksi mata. Semua intervensi medis tersebut sangat berperan dalam menekan angka kematian bayi.

.

PMK merupakan alternatif pengganti inkubator dalam perawatan BBLR, merupakan cara yang efektif untuk memenuhi kebutuhan bayi yang paling mendasar, yaitu adanya kontak kulit bayi ke kulit ibu, dimana tubuh ibu akan menjadi thermoregulator bagi bayinya, sehingga bayi mendapatkan kehangatan (menghindari bayi dari hipotermia). Selain itu, PMK memudahkan pemberian ASI dini dan eksklusif, perlindungan dari infeksi, stimulasi, keselamatan, dan kasih sayang. PMK dapat meningkatkan hubungan istimewa antara ibu dan bayi, serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi.

.

PMK terdiri dari 4 komponen, yaitu ‘position’, ‘nutrition’, ‘support’ and ‘discharge’. PMK menempatkan bayi pada posisi tegak di dada ibunya, di antara kedua payudara ibu, dan tanpa busana. Bayi dibiarkan telanjang hanya mengenakan popok, kaus kaki dan topi sehingga terjadi kontak kulit bayi dan kulit ibu seluas mungkin. Posisi bayi diamankan dengan kain panjang atau pengikat lainnya. Kepala bayi dipalingkan ke sisi kanan atau kiri, dengan posisi sedikit tengadah (ekstensi). Ujung pengikat tepat berada di bawah kuping bayi. Posisi kepala bayi seperti ini bertujuan untuk menjaga agar saluran napas tetap terbuka, dan memberi peluang agar terjadi kontak mata antara ibu dan bayi.

.

Kanguru nutrisi merupakan salah satu manfaat PMK, yaitu meningkatkan pemberian ASI secara langsung maupun dengan pemberian ASI perah. Bayi dengan PMK selalu berada di dekat payudara ibu, menempel dan terjadi kontak kulit ke kulit, sehingga bayi dapat menyusu setiap kali ia inginkan. Selain itu, ibu dapat dengan mudah merasakan tanda bahwa bayinya mulai lapar, seperti adanya gerakan pada mulut bayi, munculnya hisapan kecil, serta adanya gerakan bayi untuk mencari puting susu ibu. Bila telah terbiasa melakukan PMK, ibu dapat dengan mudah memberikan ASI tanpa harus mengeluarkan bayi dari baju kangurunya.

.

‘Kangaroo support’ merupakan bentuk bantuan secara fisik maupun emosi, baik dari tenaga kesehatan di mana bayi lahir, ibu lain yang telah melakukan PMK maupun keluarga, agar ibu dapat melakukan PMK untuk bayinya. Sedangkan ‘kangaroo discharge’ adalah membiasakan ibu melakukan PMK selama di RS, sehingga pada saat ibu pulang dengan bayi, ibu tetap dapat melakukan PMK bahkan melanjutkannya di rumah. Metode PMK ini merupakan salah satu teknologi tepat guna yang sederhana, murah, dan dapat digunakan apabila fasilitas untuk perawatan BBLR sangat terbatas.

.

Momentum  ‘International Kangaroo Mother Care Awareness Day’ pada Sabtu, 15 Mei 2021 mengingatkan kita untuk mendukung penerapan PMK pada bayi BBLR dan prematur di seluruh dunia. Inisiatif ini bertujuan untuk mempercepat penurunan angka kematian bayi, dengan memastikan tidak ada seorang bayipun yang tertinggal (to ensure no one is left behind), termasuk semua bayi di sekitar kita.

 Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 3 Mei 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
anak COVID-19 Healthy Life Pendukung ASI sekolah UHC

2021 Kesehatan Anak Paska Pandemi COVID-19

Anak Sehat, Indonesia Kuat! | Indonesia Baik

KESEHATAN  ANAK  PASKA  PANDEMI  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Dimuat di Harian Nasional KOMPAS hari Senin, 19 April 2021, halaman 7

Selama dua dekade terakhir, epidemiologi kesehatan anak global telah berubah secara signifikan, termasuk dalam kesejahteraan anak. Ketika semua negara berusaha membangun kembali saat pulih dari ganasnya pandemi COVID-19, diperlukan evolusi substansial dalam berbagai program, untuk memenuhi kebutuhan kesehatan anak yang berubah. Apa yang harus berubah?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/03/21/2021-imunitas-anak/

.

Pola kematian dan penyakit pada masa anak berubah secara dramatis. Tren menunjukkan bahwa kematian yang dapat dicegah sekarang tertinggi pada periode bayi baru lahir. Namun demikian, sebnarnya pneumonia, diare dan malaria yang diperparah oleh malnutrisi, masih juga terus berdampak besar pada anak balita. Ini terutama terjadi di antara populasi yang paling terpinggirkan di wilayah Afrika sub-Sahara, di mana populasi anak justru diperkirakan akan tumbuh dalam beberapa dekade mendatang.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/02/06/2021-covid-19-pada-anak/

.

Di beberapa negara kematian pada remaja (15-19 tahun) justru meningkat karena kecelakaan lalu lintas di jalan raya, kekerasan fisik, dan melukai diri sendiri. Peningkatan jumlah anak dan remaja yang masih bertahan hidup, banyak yang dipengaruhi oleh kejadian cedera, gangguan perkembangan, penyakit tidak menular dan kesehatan mental yang buruk. Kelebihan berat badan dan obesitas di kalangan remaja dengan cepat meningkat, sehingga banyak negara menghadapi beban ganda malnutrisi, baik berupa kekurangan maupun kelebihan gizi.

.

Tantangan ini cenderung diperparah oleh pergeseran demografis. Peningkatan jumlah anak yang tinggal di pusat kota pada tahun-tahun mendatang, membatasi kesempatan untuk mendapatkan udara bersih dan beraktivitas fisik, sehingga menyebabkan tekanan serius pada berbagai fasilitas layanan kesehatan di daerah, apabila tanpa intervensi khusus. Kesehatan dan kesejahteraan anak dan remaja harus menjadi pusat upaya untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) pada tahun 2030. Dunia perlu mengubah orientasi program untuk mencapai SDG (reframing child and adolescent health for the SDG era).

.

Kata Dokter, Begini Ciri-ciri Anak Sehat Secara Fisik dan Mental

Negara hanya dapat berkembang dan makmur jika negara berinvestasi untuk anak dan remaja, dan mengoptimalkan dukungan dalam momen penting pembentukan kesehatan anak di masa depan, dengan menggunakan apa yang disebut pendekatan alur kehidupan (lifecourse approach). Dengan pemikiran ini, meningkatkan kesehatan anak tidak boleh lagi hanya dianggap semata-mata sebagai masalah sektor kesehatan. Kebijakan, layanan, dan edukasi harus ditempatkan sebagai bagian dari solusi oleh pemerintah dan masyarakat, untuk mendorong agenda kesehatan anak dan remaja global, regional dan nasional.

.

Hampir satu tahun setelah COVID-19 dinyatakan sebagai pandemi, peningkatan luar biasa terlihat pada pembalikan risiko kelangsungan hidup anak dan remaja. Kerangka Sasaran Pembangunan Berkelanjutan (SDG) yang diadopsi pada tahun 2015, memang telah mencakup pendekatan holistik untuk meningkatkan kesehatan anak dan remaja, tetap masih relevan setelah pandemi COVID-19 berakhir, tetapi perlu penajaman fokus.

.

Kerangka kerja tersebut dahulu disusun berdasarkan tren tingkat makro, sehingga saat ini membutuhkan perubahan besar dalam paradigma tentang kesehatan anak dan remaja. Hal ini memerlukan peralihan dari fokus (shift in thinking) yang sebelumnya hanya tentang kelangsungan hidup anak di bawah 5 tahun, menjadi keterkaitan kesehatan ibu, bayi baru lahir, anak dan remaja, dengan pemahaman tentang bagaimana alur kehidupan manusia, tidak hanya pada masa dini, tetapi harus berlanjut sepanjang kehidupan anak hingga dewasa.

.

Perubahan demografi dan beban penyakit telah memaksa setiap negara harus memperkuat sistem kesehatannya, agar lebih responsif terhadap perubahan kebutuhan anak dan remaja. WHO dan UNICEF telah memulai upaya untuk mengarahkan kembali strategi kesehatan anak, mengalihkan perhatian ke perspektif alur kehidupan (life course perspective), dan menjauh dari fokus eksklusif sebelumnya, yaitu hanya terkait kelangsungan hidup bayi dan anak di bawah 5 tahun.

.

Prinsip pemrograman ulang (redesign) kesehatan anak, berupa program kesehatan anak dan remaja, serta implementasi kebijakannya yang harus mengikuti pendekatan alur kehidupan (life course perspective), yang didasarkan pada data tentang epidemiologi penyakit terbaru. Pemrograman ulang ini termasuk memastikan layanan kesehatan prakonsepsi yang baik, layanan kesehatan ibu hamil, serta intervensi medis yang berkualitas tinggi untuk anak sampai remaja, yang berusia 0 hingga 19 tahun.

.

Program baru harus berdasarkan hak dan adil (rights based and equitable), sehingga intervensi dan layanan medis penting harus disediakan untuk semua anak, di mana pun mereka tinggal. Selain itu, program harus mencakup layanan terpadu yang berpusat pada keluarga, anak, dan remaja, dalam bentuk mempromosikan kesehatan, pertumbuhan, dan kesejahteraan. Implementasinya meliputi pembentukan ketahanan atau imunitas, mencegah pajanan terhadap penyakit dan komplikasi selanjutnya, dan meminimalkan kerentanan atau faktor risiko sakit, dengan mempertimbangkan kebutuhan personal anak dan remaja.

.

Masyarakat dan keluarga harus diberdayakan untuk berpartisipasi dalam perancangan kebijakan pada anak dan remaja, untuk penyediaan layanan kesehatan yang berkualitas, paska pandemi COVID-19.

Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 22 Maret 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
COVID-19 Healthy Life Pendukung ASI UHC

2021 INFEKSI NEONATAL SERIUS

Waspadai Neonatal Tetanus pada Bayi Baru Lahir, Cermati Tandanya Moms! -  Semua Halaman - Nakita

INFEKSI  NEONATAL  SERIUS

fx. wikan indrarto

Setiap tahun secara global sekitar 2,8 juta bayi meninggal pada bulan pertama kehidupan, dengan 98% kematian terjadi di negara berkembang. Infeksi bakteri serius, termasuk sepsis atau infeksi sistemik dan meningitis atau radang selaput otak, diperkirakan menyebabkan lebih dari 420.000 kematian bayi setiap tahun, dengan 136.000 bayi lainya disebabkan oleh pneumonia atau radang paru-paru. Apa yang harus dilakukan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/05/09/2019-kematian-bayi/

.

Perawatan di RS untuk bayi dengan infeksi serius bertujuan agar bayi mendapatkan setidaknya paket tujuh hari kombinasi dua suntikan obat  antibiotik, yaitu benzilpenisilin atau ampisilin plus gentamisin. Namun demikian, bukti menunjukkan bahwa di wilayah dengan keterbatasan sumber daya, banyak bayi kecil dengan tanda-tanda infeksi serius tidak mendapat pengobatan rawat inap di RS seperti yang dianjurkan, karena perawatan semacam itu tidak dapat diakses, tidak disetujui atau kurang terjangkau oleh keluarga. Dengan demikian bayi tersebut tidak menerima pengobatan, mengakibatkan kematian bayi baru lahir yang tidak perlu, dan sebenarnya berpotensi untuk dapat dicegah.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/10/21/2019-kekerasan-pada-kelahiran-bayi/

.

Identifikasi tanda bahaya pada bayi sakit serius dilakukan oleh dokter, bidan, perawat maternitas atau tenaga kesehatan lainnya, saat melakukan kunjungan rumah. Tanda klinis kemungkinan infeksi bakteri  serius pada bayi adalah napas cepat (laju pernapasan ≥ 60 kali / menit), tarikan dinding dada, demam (suhu ≥ 38 °C), hipotermia (suhu <35,5 °C), tidak ada gerakan otot sama sekali atau gerakan hanya pada saat distimulasi, menetek lemah atau tidak mampu menetek sama sekali, dan kejang. 

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/03/2020-asi-untuk-bayi-covid-19/

.

Penelitian meta analisis dan tinjauan sistematis pada semua bayi baru lahir atau neonatus usia 0-28 hari, yang mendapat kunjungan rumah oleh bidan dibandingkan dengan yang tidak, menunjukkan bahwa kunjungan rumah berhasil mengidentifikasi bayi muda dengan penyakit serius, dan meningkatkan kesempatan untuk mencari perawatan di RS. Selain itu, spesifisitas diagnosis penyakit infeksi bakteri serius oleh bidan adalah tinggi, mekipun beberapa ada yang positif palsu, dan karenanya kemungkinan rujukan ke RS yang tidak perlu, dapat ditekan.

.

Penelitian lainnya telah dilakukan pada bayi muda usia 0–59 hari, yang memiliki hanya nafas cepat sebagai tanda bahaya, yang orang tuanya tidak menyetujui tindakan rujukan ke rumah sakit. Penelitian ini melibatkan 2.333 bayi dalam kelompok perlakukan yang diberikan obat telan atau oral amoksisilin selama tujuh hari, dibandingkan dengan 2.196 bayi dalam kelompok kontrol, yang diberikan obat injeksi gentamisin intramuskular ditambah prokain penisilin intramuskular.

.

Uji klinis terkontrol secara acak tersebut dilakukan di Kongo, Kenya dan Nigeria. Obat antibiotika oral yang diberikan pada pasien rawat jalan terbukti seefektif pemberian kombinasi suntikan penisilin dan gentamisin selama tujuh hari, yang diukur dari tingkat kematian dan perburukan klinis, yaitu perkembangan tanda-tanda infeksi serius, dalam dua minggu setelah memulai pengobatan.

.

Penyakit Asfiksia Neonatorum - Gejala, Penyebab, Pengobatan - Klikdokter.com

.

Selain itu, tidak ada perbedaan dalam kemanjuran klinis dan kegagalan pengobatan, efek samping yang serius atau kematian bayi. Obat antibiotik oral sama manjurnya dengan obat suntikan, bahkan obat oral lebih disukai karena lebih sederhana dan menghindari tindakan penyuntikan. Obat oral kemungkinan besar juga lebih dapat diterima oleh keluarga, lebih mudah diakses, dan memiliki tingkat penyelesaian paket pengobatan yang lebih tinggi. Harga obat amoksisilin oral lebih murah daripada antibiotik suntik dan dapat mengurangi beban ekonomi keluarga dan sistem kesehatan. Selain itu, amoksisilin oral paling dianjurkan untuk pengobatan pneumonia pada anak berusia 2–59 bulan, dan karenanya harus tersedia secara rutin di fasilitas kesehatan.

.

Untuk itu, bayi dengan napas cepat perlu tindaklanjut yang ditentukan oleh usia bayi, yaitu bayi 0–6 hari atau usia 7–59 hari. Bayi muda 0–6 hari dengan napas cepat sebagai satu-satunya tanda penyakit serius harus dirujuk ke RS. Jika keluarga tidak menyetujui atau tidak dapat mengakses perawatan rujukan, bayi ini harus diobati dengan amoksisilin oral 50 mg / kg BB per dosis, yang diberikan dua kali sehari selama tujuh hari. Sedangkan pada bayi kecil berusia 7–59 hari harus diobati dengan amoksisilin oral, 50 mg / kg BB per dosis, yang diberikan dua kali sehari selama tujuh hari dan bayi ini tidak membutuhkan rujukan ke RS.

.

Bayi muda (0–59 hari) gejala klinis infeksi berat, yang keluarganya tidak menyetujui atau tidak dapat mengakses rujukan ke RS, boleh dikelola sebagai pasien rawat jalan, dengan salah satu dari dua pilihan rejimen berikut. Pilihan pertama adalah obat suntikan gentamisin intramuskular 5–7,5 mg / kg BB, sedangkan untuk bayi dengan berat lahir rendah gentamisin cukup 3–4 mg / kg BB sekali sehari selama tujuh hari dan amoksisilin oral dua kali sehari, 50 mg / kg BB per dosis selama tujuh hari. Sedangkan pilihan kedua adalah obat suntikan gentamisin intramuskular selama dua hari dan 2 kali sehari amoksisilin oral, selama tujuh hari. Tindak lanjut pemantauan klinis pada hari ke-4 wajib dilakukan untuk menentukan apakah bayi membaik. Bila memiliki tanda kritis penyakit pada pemeriksaan awal, atau berkembang menjadi memburuk selama pengobatan, harus dirawat inap di RS, dengan disertai pemberian antibiotika selama perawatan pra-rujukan.

.

Pengelolaan infeksi bakteri serius pada neonatus (0-28 hari) dan bayi muda (0-59 hari) adalah dirujuk ke RS. WHO telah menerbitkan pedoman saat rujukan ke RS tidak memungkinkan. Layanan medis sesuai rekomendasi WHO tersebut dapat melindungi semua bayi dari penyakit infeksi bakteri serius dan mampu menurunkan angka kematian bayi.

Sudahkah kita memlakukannya pada bayi di sekitar kita?

Sekian

Yogyakarta, 21 Februari 2021

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?