ASI UNTUK BAYI COVID-19
fx. wikan indrarto*)
Pada saat pandemi COVID-19 ini, seorang bayi baru lahir tetap berisiko tertular COVID-19 dari ibu, keluarga dan petugas kesehatan di sekitarnya. Apa yang perlu dilakukan?
.
baca juga :https://dokterwikan.com/2020/08/02/2020-penghambat-asi-eksklusif/
.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah mengeluarkan Panduan Klinis Tata laksana COVID-19 pada Neonatus, yang merupakan EDISI 3 dan terbit pada 14 Juni 2020. Untuk proses Inisiasi Menyusu Dini (IMD) yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan pemberian ASI eksklusif, sebaiknya dilakukan diskusikan dengan orang tua bayi, mengenai keuntungan dan kerugian IMD, serta cara penularan virus COVID-19. Hal ini disebabkan karena IMD harus dilakukan berdasarkan keputusan bersama antara petugas kesehatan dengan orang tua bayi. IMD hanya dilakukan bila status maternal jelas bukan tersangka COVID-19 dan klinis bayi baru lahir stabil.
.
baca juga : https://dokterwikan.com/2020/08/08/2020-konseling-menyusui-eksklusif/
.
ASI adalah asupan nutrisi terbaik untuk bayi baru baru lahir yang sehat maupun sakit. Dalam beberapa penelitian, virus SARS-CoV-2 tidak ditemukan dalam ASI pada ibu menyusui, meskipun sudah terkonfirmasi COVID-19. Walaupun demikian, hingga saat ini penularan COVID-19 melalui ASI masih belum diketahui secara pasti. Oleh sebab itu, pemberian ASI adalah keputusan bersama antara petugas kesehatan, ibu dan keluarga. Terdapat 3 pilihan pemberian nutrisi pada bayi baru lahir dari ibu tersangka dan terkonfirmasi COVID-19.
.
baca juga : https://dokterwikan.com/2020/07/31/2020-pekan-menyusui-sedunia/
.
Pilihan pertama untuk ibu dengan kondisi klinis yang berat, sehingga prioritas adalah mencegah risiko penularan, dengan melakukan pemisahan sementara antara ibu dan bayi, sedangkan bayi diberikan ASI donor atau susu formula. Perawatan bayi dilakukan di ruang isolasi khusus COVID-19, terpisah dari ibunya (TIDAK RAWAT GABUNG). Ibu dibantu untuk memerah ASI untuk mempertahankan produksi ASI, namun ASI dibuang sampai dua pemeriksaan rapid test berturut-turut negatif, dengan selang waktu minimal 24 jam dan ibu tidak lagi bergejala klinis. Anggota keluarga lain yang kompeten dan tidak menderita COVID-19 dapat diajak merawat bayi.
.
Pilihan kedua untuk ibu dengan kondisi klinis sedang, sehingga pertimbangannya untuk mengurangi risiko penularan, sambil mempertahankan kedekatan ibu dan bayi. Pilihan nutrisi untuk bayi adalah ASI perah. Ibu mencuci tangan menggunakan air dan sabun selama minimal 20 detik sebelum memerah dan mengenakan masker wajah selama memerah ASI. Selanjutnya ibu harus membersihkan pompa, wadah, serta semua alat yang bersentuhan dengan ASI. ASI perah diberikan untuk bayi oleh tenaga kesehatan atau keluarga yang tidak menderita COVID-19.
.
Pilihan ketiga untuk ibu dengan kondisi klinis tidak bergejala atau ringan, keluarga menerima risiko bayi tertular COVID-19 dan menolak pemisahan sementara ibu dengan bayi. Pilihan nutrisi bagi bayi adalah ASI eksklusif dengan menyusu langsung. Ibu diwajibkan menggunakan masker bedah, mencuci tangan dan membersihkan payudara dengan sabun dan air, sebelum dan setelah menyusui. Ruangan rawat gabung untuk ibu dan bayi seharusnya memiliki sirkulasi yang baik. Lingkungan di sekitar ibu juga harus rutin dibersihkan dengan cairan disinfektan.
.
Untuk mengurangi risiko penularan COVID-19 pada bayi, jika memungkinkan ibu harus menjaga jarak 2 meter dengan bayinya. Apabila dirawat bersama dalam satu ruangan, sebaiknya bayi tetap di dalam inkubator, dan bila tidak tersedia inkubator, gunakan kain pemisah. Pencegahan penularan COVID-19 melalui percikan cairan tubuh harus terus dilakukan hingga ibu tidak demam tanpa obat penurun demam, menunjukkan perbaikan gejala serta rapid test negatif dua kali berturut-turut, dengan selang waktu minimal 24 jam.
.
Bayi yang lahir dari ibu terkonfirmasi COVID-19 baru diperbolehkan pulang, setelah dua kali berturut-turut pemeriksaan apus nasofaring negatif, dengan selang waktu minimal 24 jam. Ibu dapat mengasuh bayinya kembali setelah tidak demam 3 hari berturut-turut tanpa obat penurun demam, menunjukkan perbaikan gejala (minimal 7 hari dari gejala pertama kali muncul) dan rapid test dua kali berturut- turut negatif, dengan selang waktu minimal 24 jam. Ibu tetap memberlakukan perilaku hidup bersih dan sehat serta tetap menggunakan masker.
.
Selama ibu tidak diperbolehkan merawat bayinya, sebaiknya pengasuhan bayi dilakukan oleh anggota keluarga yang sehat dan tidak menderita COVID-19 serta ibu tetap menjaga jarak 2 meter dari bayinya. Pada saat ibu dan bayi diperbolehkan pulang dari RS, diwajibkan tetap meneruskan pembatasan fisik dan bayi diperiksa di laboratorium segera, bila terdapat keluhan. Ibu dicurigai COVID-19 dapat menyusui langsung apabila pemeriksaan antigen negatif, sementara ibu terkonfirmasi COVID-19 dapat menyusui setelah 14 hari pemeriksaan antigen negatif.
.
Momentum Pekan Menyusui Dunia (World Breastfeeding Week) 2020, juga mengingatkan kita akan pentingnya memberikan dukungan bagi semua ibu untuk menyusui secara eksklusif, sambil berperan dalam pemutusan rantai penularan COVID-19 yang berbahaya.
Apakah kita sudah bertindak bijak?
Sekian
Yogyakarta, 21 Agustus 2020
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161