Categories
anak COVID-19 Healthy Life Pendukung ASI UHC

2021 Pekan Menyusui Sedunia

World Breastfeeding Week (WBW) - World Alliance for Breastfeeding Action

PEKAN  MENYUSUI  SEDUNIA  2021

fx. wikan indrarto*)

Pekan Menyusui Sedunia (The World Breastfeeding Week) 2021 dimulai Minggu, 1 Agustus 2021 dan berakhir pada Sabtu, 7 Agustus 2021. Tema peringatan tahun 2021 adalah Perlindungan Menyusui: Tanggung Jawab Bersama (Protect Breastfeeding: A Shared Responsibility). Perlindungan dan dukungan menyusui individual pada ibu tidaklah cukup, menyusui harus dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat yang membutuhkan investasi di semua tingkatan, mencakup sistem kesehatan, tempat kerja, dan komunitas di semua lapisan masyarakat. Apa yang harus dilakukan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/08/08/2020-konseling-menyusui-eksklusif/

.

Di negara berpenghasilan rendah dan menengah, hanya 37% bayi di bawah usia 6 bulan yang disusui secara eksklusif. Durasi menyusui lebih pendek di negara berpenghasilan tinggi daripada di negara miskin sumber daya. Pada hal meta-analisis menunjukkan menyusui memberikan perlindungan terhadap penyakit infeksi dan maloklusi gigi, mendukung peningkatan kecerdasan, pengurangan kelebihan berat badan dan diabetes pada anak. Selain itu, tidak ditemukan hubungan menyususi dengan alergi seperti asma, dengan tekanan darah tinggi atau peningkatan kadar kolesterol. Bagi ibu menyusui, menyusui memberikan perlindungan terhadap kanker payudara, kanker ovarium dan diabetes mellitus tipe 2, juga meningkatkan jarak kelahiran.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/07/09/2021-ketika-caesar-meningkat/

.

Tingkat menyusui sangat bervariasi, terkait pola hidup sehat yang lebih umum di negara miskin daripada negara kaya. Di negara berpenghasilan rendah, sebagian besar bayi masih disusui pada usia 1 tahun, dibandingkan dengan kurang dari 20% di banyak negara berpenghasilan tinggi dan kurang dari 1% di Inggris. Alasan mengapa wanita menghindari atau berhenti menyusui berkisar dari medis, budaya, dan psikologis, hingga ketidaknyamanan. Hal ini tidak boleh dianggap sepele, karena banyak ibu tanpa dukungan menyusui yang memadai, akan beralih ke susu formula.

.

Dukungan menyusui secara politis dapat berupa ketentuan baru tentang cuti hamil dan menyusui, juga adanya polis asuransi untuk kesulitan menyusui yang diprediksi dapat meningkatkan cakupan menyusui sebesar 25%. Namun demikian, yang lebih penting adalah dukungan komitmen yang tulus dan mendesak dari pemerintah dan otoritas kesehatan di manapun, untuk membangun norma baru di mana setiap ibu dapat menyusui dan mampu menerima setiap dukungan yang dia butuhkan, untuk menyusui bayinya.

.

Peningkatan cakupan pemberian ASI eksklusif global dapat mencegah 823.000 kematian tahunan pada anak balita dan 20.000 kematian wanita tahunan akibat kanker payudara. Selain itu, Lancet pada 30 Januari 2016 juga menyimpulan bahwa menyusui membuat dunia lebih sehat, lebih pintar, dan lebih setara, bahkan terjadi penghematan ekonomi sebesar US$ 300 miliar.  

.

10 reasons why we should celebrate World Breastfeeding Week 2021 Post

Penelitian perilaku ibu menyusui selama masa pandemi COVID-19 di Indonesia oleh tim peneliti ‘Health Collaborative Center’ (HCC) menunjukkan bahwa prevalensi keberhasilan pemberian ASI eksklusif di Indonesia pada tahun 2020 mencapai sebesar 89,4 persen. Dijelaskan oleh Ketua Tim Peneliti, DR. Dr. Ray Wagiu Basrowi bahwa hasil penelitian terbaru ini merupakan suatu keberhasilan yang terjadi di tengah keterbatasan akibat pandemi COVID-19. Pasalnya, pada tahun-tahun sebelum pandemi COVID-19 melanda, Indonesia tergolong negara yang rendah keberhasilan program ASI eksklusif di dunia, dengan prevalensi sekitar 30-50 persen saja secara nasional.

.

Namun demikian, semakin banyak ibu menyusui yang terkonfirmasi COVID-19, dapat menurunkan cakupan pemberian ASI eksklusif, karena kekawatiran ibu untuk menularkan penyakitnya kepada bayi. Dengan slogan ‘Tetap Beri ASI, Anak Terlindungi, Keluarga Sejahtera’, dukungan menyusui saat pandemi COVID-19 diperlukan oleh semua ibu yang positif COVID-19. Ibu perlu diyakinkan bahwa menyusui dan memberikan ASI aman bagi bayi dari risiko penularan COVID-19, asalkan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Ibu harus selalu memakai masker saat menyusui dan merawat bayi, mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang bayi, dan membersihkan dengan cairan disfeksi permukaan dan benda yang sering disentuh ibu dan bayi.

.

Untuk ibu dengan gejala klinis sedang atau berat dan tidak mampu menyusui secara langsung, dapat melakukan pemberian ASI perah (ASIP). Ibu haruslah memastikan kebersihan saat memerah ASI. Gunakan cangkir bermulut lebar untuk memberikan ASIP pada bayi dan gunakan wadah dengan tutup untuk menyimpan ASIP. ASIP dapat disimpan dengan beberapa cara, yaitu di freezer dengan suhu -18 sampai -20 derajat celcius, ASIP dapat bertahan selama 4 bulan. Di lemari pendingin bawah dengan suhu 4 sampai 5 derajat celcius, ASI dapat bertahan 3-4 hari. Di kotak ‘ice pack’ dengan suhu 15 derajat celcius, ASI dapat bertahan selama 24 jam, sedangkan di ruangan dengan suhu kamar, ASI dapat bertahan selama 3-4 jam.

.

Momentum Pekan Menyusui Dunia (World Breastfeeding Week) tanggal 1 hingga 7 Agustus 2021, juga mengingatkan akan pentingnya tanggung jawab kita bersama dalam memberikan Dukungan Menyusui (Protect Breastfeeding) bagi semua ibu, untuk menyusui bayinya secara eksklusif, meskipun ibu terkonfirmasi COVID-19.

Apakah kita sudah bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 28 Juli 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?