Categories
Healthy Life Malaria UHC vaksinasi

2021 Bebas Malaria

2018 MM Bebas Malaria – Berita Terbaru, Akurat & Terpercaya

BEBAS  MALARIA

fx. wikan indrarto*)

Kamis, 25 Februari 2021 El Salvador disertifikasi bebas malaria oleh WHO. El Salvador adalah negara ketiga yang telah mencapai status bebas malaria dalam beberapa tahun terakhir di Amerika, setelah Argentina pada 2019 dan Paraguay pada 2018. Tujuh negara di wilayah tersebut telah disertifikasi dari tahun 1962 hingga 1973. Secara global, terdapat total 38 negara dan wilayah telah mencapai pencapaian ini, dengan Indonesia ditargetkan akan mencapainya tahun 2030 kelak. Apa yang perlu dicontoh?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/04/24/2020-hari-malaria-sedunia/

.

Sertifikasi bebas malaria tersebut buah gemilang atas lebih dari 50 tahun komitmen pemerintah El Salvador dan masyarakatnya, untuk mengakhiri penyakit di negara dengan populasi padat dan geografi yang terbilang ramah terhadap malaria. “Malaria telah menyerang umat manusia selama ribuan tahun, tetapi negara-negara seperti El Salvador adalah bukti hidup dan inspirasi bagi semua negara yang berani memimpikan masa depan bebas malaria,” kata Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/05/03/2019-vaksin-malaria/

.

Sertifikasi eliminasi malaria diberikan oleh WHO ketika suatu negara telah membuktikan, tanpa keraguan, bahwa rantai penularan malaria pada penduduk lokal telah terputus secara nasional setidaknya selama tiga tahun berturut-turut. Dengan pengecualian satu wabah pada tahun 1996, El Salvador terus mengurangi beban malaria selama tiga dekade terakhir. Antara tahun 1990 dan 2010, jumlah kasus malaria menurun dari lebih dari 9.000 menjadi tinggal 26. Negara ini telah melaporkan nol kasus penyakit malaria indegenous atau asli sejak 2017.

.

Upaya anti-malaria El Salvador dimulai pada 1940-an dengan pengendalian mekanis vektor malaria, yaitu nyamuk anopheles, melalui pembangunan saluran air permanen pertama di rawa-rawa, diikuti dengan penyemprotan dalam ruangan dengan pestisida DDT. Pada pertengahan 1950-an, El Salvador membentuk Program Malaria Nasional dan merekrut jaringan petugas kesehatan komunitas untuk mendeteksi dan mengobati malaria di seluruh negeri. Para relawan, yang dikenal sebagai “Col Vol,” mencatat kasus dan intervensi malaria. Data tersebut, yang dimasukkan ke dalam sistem informasi kesehatan oleh personel pengendalian vektor, sehingga memungkinkan program pengendalian yang strategis dan bertarget jelas di seluruh negeri.

.

Bebas Malaria, Prestasi Bangsa – UPTD Puskesmas Wonogiri 1

Pada akhir 1960-an, kemajuan telah melambat karena nyamuk anopheles telah mengalami resistensi terhadap DDT. Ekspansi industri kapas di negara tersebut diperkirakan telah memicu peningkatan lebih lanjut kasus malaria. Sepanjang tahun 1970-an, terjadi lonjakan pekerja migran di perkebunan kapas di daerah pesisir dekat lokasi perkembangbiakan nyamuk, sehingga peningkatan kasus malaria sangat tajam, selain karena program penghentian penggunaan DDT. El Salvador mengalami kebangkitan kembali malaria, mencapai puncaknya hampir 96.000 kasus pada tahun 1980.

.

Dengan dukungan WHO, CDC, dan USAID, El Salvador berhasil mengubah orientasi program malaria, yang mengarah pada peningkatan sumber daya dan intervensi berdasarkan distribusi geografis kasus. Pemerintah juga mendesentralisasikan jaringan laboratorium diagnostiknya pada tahun 1987, sehingga kasus malaria dapat dideteksi dan ditangani dengan lebih cepat. Faktor tersebut yang terjadi bersamaan dengan runtuhnya industri kapas menyebabkan penurunan kasus yang cepat pada tahun 1980-an.

.

Reformasi kesehatan yang dimulai tahun 2009, yaitu mencakup peningkatan penting pada anggaran dan cakupan perawatan kesehatan primer, serta pemeliharaan program pengendalian vektor sebagai inti dalam intervensi malaria, telah berkontribusi pada keberhasilan El Salvador. Pemerintah El Salvador menyadari sejak awal bahwa pembiayaan domestik yang konsisten dan memadai akan sangat penting untuk mencapai dan mempertahankan tujuan pembangunan bidang kesehatan, termasuk untuk malaria. Komitmen ini telah tercermin selama lebih dari 50 tahun dalam anggaran nasional.

.

Meskipun melaporkan kematian terkait malaria terakhirnya pada tahun 1984, El Salvador telah mempertahankan besarnya investasi domestik untuk malaria. Pada tahun 2020, negara terus mengandalkan 276 orang petugas pengendalian vektor nyamuk, 247 buah laboratorium, perawat dan dokter yang terlibat dalam deteksi kasus, ahli epidemiologi, tim manajemen dan personel, dan lebih dari 3.000 petugas kesehatan masyarakat. Sebagai bagian dari komitmen El Salvador untuk mempertahankan nol kasus, penganggaran nasional untuk malaria telah dan akan terus dipertahankan, bahkan pada saat pandemi COVID-19 ini.

.

Lampung Masih Endemis Malaria, Kampanye Dinas Kesehatan Menuju Desa Bebas  Malaria Jangan Cuma Jargon | WARTA9.COM

Meskipun sebagian besar pembiayaan untuk malaria berasal dari sumber daya domestik, upaya eliminasi El Salvador mendapat manfaat dari hibah eksternal yang disediakan oleh Global Fund. Pembelajaran sertifikasi bebas malaria dari El Salvador dapat digunakan di Indonesia. Keseluruhan kasus malaria tahun 2019 di Indonesia masih sebanyak 250.644. Kasus tertinggi terjadi di Provinsi Papua sebanyak 216.380 kasus. Selanjutnya, disusul dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur sebanyak 12.909 kasus dan Provinsi Papua Barat sebanyak 7.079 kasus.

Keberhasilan El Salvador merupakan upaya kolaboratif antara pemerintah, masyarakat sipil, akademisi, sektor swasta, dan komunitas untuk memberantas malaria tanpa kendor, bahkan pada saat pandemi COVID-19 ini.

Sudahkah kita mencontohnya?

Sekian

Yogyakarta, 5 Maret 2021

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
COVID-19 Healthy Life Pendukung ASI UHC

2021 INFEKSI NEONATAL SERIUS

Waspadai Neonatal Tetanus pada Bayi Baru Lahir, Cermati Tandanya Moms! -  Semua Halaman - Nakita

INFEKSI  NEONATAL  SERIUS

fx. wikan indrarto

Setiap tahun secara global sekitar 2,8 juta bayi meninggal pada bulan pertama kehidupan, dengan 98% kematian terjadi di negara berkembang. Infeksi bakteri serius, termasuk sepsis atau infeksi sistemik dan meningitis atau radang selaput otak, diperkirakan menyebabkan lebih dari 420.000 kematian bayi setiap tahun, dengan 136.000 bayi lainya disebabkan oleh pneumonia atau radang paru-paru. Apa yang harus dilakukan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/05/09/2019-kematian-bayi/

.

Perawatan di RS untuk bayi dengan infeksi serius bertujuan agar bayi mendapatkan setidaknya paket tujuh hari kombinasi dua suntikan obat  antibiotik, yaitu benzilpenisilin atau ampisilin plus gentamisin. Namun demikian, bukti menunjukkan bahwa di wilayah dengan keterbatasan sumber daya, banyak bayi kecil dengan tanda-tanda infeksi serius tidak mendapat pengobatan rawat inap di RS seperti yang dianjurkan, karena perawatan semacam itu tidak dapat diakses, tidak disetujui atau kurang terjangkau oleh keluarga. Dengan demikian bayi tersebut tidak menerima pengobatan, mengakibatkan kematian bayi baru lahir yang tidak perlu, dan sebenarnya berpotensi untuk dapat dicegah.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/10/21/2019-kekerasan-pada-kelahiran-bayi/

.

Identifikasi tanda bahaya pada bayi sakit serius dilakukan oleh dokter, bidan, perawat maternitas atau tenaga kesehatan lainnya, saat melakukan kunjungan rumah. Tanda klinis kemungkinan infeksi bakteri  serius pada bayi adalah napas cepat (laju pernapasan ≥ 60 kali / menit), tarikan dinding dada, demam (suhu ≥ 38 °C), hipotermia (suhu <35,5 °C), tidak ada gerakan otot sama sekali atau gerakan hanya pada saat distimulasi, menetek lemah atau tidak mampu menetek sama sekali, dan kejang. 

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/03/2020-asi-untuk-bayi-covid-19/

.

Penelitian meta analisis dan tinjauan sistematis pada semua bayi baru lahir atau neonatus usia 0-28 hari, yang mendapat kunjungan rumah oleh bidan dibandingkan dengan yang tidak, menunjukkan bahwa kunjungan rumah berhasil mengidentifikasi bayi muda dengan penyakit serius, dan meningkatkan kesempatan untuk mencari perawatan di RS. Selain itu, spesifisitas diagnosis penyakit infeksi bakteri serius oleh bidan adalah tinggi, mekipun beberapa ada yang positif palsu, dan karenanya kemungkinan rujukan ke RS yang tidak perlu, dapat ditekan.

.

Penelitian lainnya telah dilakukan pada bayi muda usia 0–59 hari, yang memiliki hanya nafas cepat sebagai tanda bahaya, yang orang tuanya tidak menyetujui tindakan rujukan ke rumah sakit. Penelitian ini melibatkan 2.333 bayi dalam kelompok perlakukan yang diberikan obat telan atau oral amoksisilin selama tujuh hari, dibandingkan dengan 2.196 bayi dalam kelompok kontrol, yang diberikan obat injeksi gentamisin intramuskular ditambah prokain penisilin intramuskular.

.

Uji klinis terkontrol secara acak tersebut dilakukan di Kongo, Kenya dan Nigeria. Obat antibiotika oral yang diberikan pada pasien rawat jalan terbukti seefektif pemberian kombinasi suntikan penisilin dan gentamisin selama tujuh hari, yang diukur dari tingkat kematian dan perburukan klinis, yaitu perkembangan tanda-tanda infeksi serius, dalam dua minggu setelah memulai pengobatan.

.

Penyakit Asfiksia Neonatorum - Gejala, Penyebab, Pengobatan - Klikdokter.com

.

Selain itu, tidak ada perbedaan dalam kemanjuran klinis dan kegagalan pengobatan, efek samping yang serius atau kematian bayi. Obat antibiotik oral sama manjurnya dengan obat suntikan, bahkan obat oral lebih disukai karena lebih sederhana dan menghindari tindakan penyuntikan. Obat oral kemungkinan besar juga lebih dapat diterima oleh keluarga, lebih mudah diakses, dan memiliki tingkat penyelesaian paket pengobatan yang lebih tinggi. Harga obat amoksisilin oral lebih murah daripada antibiotik suntik dan dapat mengurangi beban ekonomi keluarga dan sistem kesehatan. Selain itu, amoksisilin oral paling dianjurkan untuk pengobatan pneumonia pada anak berusia 2–59 bulan, dan karenanya harus tersedia secara rutin di fasilitas kesehatan.

.

Untuk itu, bayi dengan napas cepat perlu tindaklanjut yang ditentukan oleh usia bayi, yaitu bayi 0–6 hari atau usia 7–59 hari. Bayi muda 0–6 hari dengan napas cepat sebagai satu-satunya tanda penyakit serius harus dirujuk ke RS. Jika keluarga tidak menyetujui atau tidak dapat mengakses perawatan rujukan, bayi ini harus diobati dengan amoksisilin oral 50 mg / kg BB per dosis, yang diberikan dua kali sehari selama tujuh hari. Sedangkan pada bayi kecil berusia 7–59 hari harus diobati dengan amoksisilin oral, 50 mg / kg BB per dosis, yang diberikan dua kali sehari selama tujuh hari dan bayi ini tidak membutuhkan rujukan ke RS.

.

Bayi muda (0–59 hari) gejala klinis infeksi berat, yang keluarganya tidak menyetujui atau tidak dapat mengakses rujukan ke RS, boleh dikelola sebagai pasien rawat jalan, dengan salah satu dari dua pilihan rejimen berikut. Pilihan pertama adalah obat suntikan gentamisin intramuskular 5–7,5 mg / kg BB, sedangkan untuk bayi dengan berat lahir rendah gentamisin cukup 3–4 mg / kg BB sekali sehari selama tujuh hari dan amoksisilin oral dua kali sehari, 50 mg / kg BB per dosis selama tujuh hari. Sedangkan pilihan kedua adalah obat suntikan gentamisin intramuskular selama dua hari dan 2 kali sehari amoksisilin oral, selama tujuh hari. Tindak lanjut pemantauan klinis pada hari ke-4 wajib dilakukan untuk menentukan apakah bayi membaik. Bila memiliki tanda kritis penyakit pada pemeriksaan awal, atau berkembang menjadi memburuk selama pengobatan, harus dirawat inap di RS, dengan disertai pemberian antibiotika selama perawatan pra-rujukan.

.

Pengelolaan infeksi bakteri serius pada neonatus (0-28 hari) dan bayi muda (0-59 hari) adalah dirujuk ke RS. WHO telah menerbitkan pedoman saat rujukan ke RS tidak memungkinkan. Layanan medis sesuai rekomendasi WHO tersebut dapat melindungi semua bayi dari penyakit infeksi bakteri serius dan mampu menurunkan angka kematian bayi.

Sudahkah kita memlakukannya pada bayi di sekitar kita?

Sekian

Yogyakarta, 21 Februari 2021

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
COVID-19 Healthy Life UHC

2020 UHC

Universal Health Coverage Day 2020 | Universal Health Coverage Partnership

UHC

fx. wikan indrarto*)

Pandemi COVID-19 menyerang seluruh warga global hanya beberapa bulan setelah para pemimpin dunia mengesahkan Deklarasi Politik penting tentang cakupan kesehatan semesta atau ‘Universal Health Coverage’ (UHC). Para pemimpin global telah berkomitmen untuk mempercepat upaya pencapaian UHC, sehingga semua orang dapat mengakses layanan kesehatan yang mereka butuhkan, kapan dan di mana mereka membutuhkannya, tanpa menderita kesulitan keuangan (financial hardship). Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/08/28/2019-uhc-sektor-swasta/

.

Pandemi COVID-19 menguji tekad global dalam memberikan layanan kesehatan bagi semua orang. Selain itu, mengancam untuk menghapus prestasi bidang kesehatan yang telah dicapai selama beberapa dekade terakhir. Hal ini disebabkan karena pandemi COVID-19 ini telah mengganggu layanan kesehatan esensial di banyak negara dan menghabiskan sumber daya hingga melampaui batas kemampuannya. Selain itu, juga menunjukkan dampak dari kurangnya investasi selama beberapa dekade, untuk layanan primer dan fungsi kesehatan masyarakat yang esensial.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/06/30/2019-capaian-uhc/

.

Serangkaian survei global mengungkapkan kemunduran dalam pemberian layanan kesehatan utama, untuk mencapai target yang telah disepakati secara global. Inisiatif untuk meningkatkan cakupan imunisasi, derajad kesehatan seksual dan reproduksi, layanan kesehatan ibu dan anak, perawatan lansia, dan program untuk mengakhiri berbagai penyakit, semuanya telah terdampak secara negatif oleh pandemi COVID-19.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/01/09/2019-biaya-uhc/

.

Hal ini memberikan tekanan tambahan pada kelompok populasi rentan, dengan kebutuhan layanan kesehatan yang tidak terpenuhi. Pada hal sebelum pandemi COVID-19, setidaknya setengah dari populasi dunia tidak memiliki penjaminan biaya, saat memerlukan layanan kesehatan penting dan sekitar 100 juta orang jatuh ke dalam kemiskinan ekstrem, karena mereka harus mengeluarkan biaya untuk perawatan kesehatan, di luar kemampuan mereka untuk membayar. Untuk itulah prioritas UHC tahun 2020 ini dirumuskan, agar mengingatkan kita semua pada hal yang paling mendesak, yaitu kesehatan untuk semua: lindungi semua orang (health for all: protect everyone). Pada intinya, untuk mengakhiri pandemi COVID-19 ini dan membangun masa depan yang lebih aman dan lebih sehat, kita harus berinvestasi dalam sistem kesehatan yang melindungi kita semua,  yang sekarang harus dilakukan, bukan kelak.

Why palliative care must be included in Universal Health Coverage - ICPCN

Rencana aksi global untuk kehidupan yang lebih sehat dan kesejahteraan untuk semua, memerlukan beberapa langkah penting. Langkah pertama adalah pembentukan layanan kesehatan primer yang efektif dan berkelanjutan untuk mencapai target SDG terkait kesehatan. Langkah penting program ini adalah menyediakan sarana dan sistem untuk layanan kesehatan primer dan kesehatan masyarakat lainnya yang mudah diakses, terjangkau, adil, terintegrasi, dan berkualitas untuk semua warga masyarakat. Syaratnya adalah fasilitas kesehatan primer tersebut dekat dengan tempat orang tinggal atau bekerja, dan mampu mengatur rujukan pasien ke tingkat perawatan yang lebih tinggi. Layanan ini juga didukung dengan koordinasi multisektoral dalam bidang kesehatan dan melibatkan lebih banyak orang dan komunitas, untuk mewujudkan kesehatan dan kesejahteraan mereka sendiri.

.

Langkah kedua adalah meningkatkan besaran pembiayaan bidang kesehatan yang berkelanjutan, agar memungkinkan banyak negara untuk mengurangi berbagai kebutuhan yang selama ini tidak terpenuhi, akan layanan kesehatan. Selain itu, juga dapat mengatasi kesulitan keuangan yang timbul karena pembayaran biaya layanan kesehatan secara langsung, dengan membangun dan secara progresif memperkuat sistem untuk memobilisasi sumber daya yang memadai untuk layanan kesehatan, dan membelanjakannya dengan lebih baik, untuk lebih banyak jenis layanan kesehatan. Untuk beberapa negara berpenghasilan rendah, di mana alokasi pendanaan pembangunan cukup terbatas, program ini juga akan menyebabkan peningkatan efektivitas dukungan pendanaan eksternal.

.

Langkah ketiga adalah meningkatkan keterlibatan masyarakat dan memastikan bahwa masyarakat luas menerima dukungan yang mereka butuhkan. Keterlibatan masyarakat ini memungkinkan dan memastikan bahwa tidak ada seorangpun yang terlibat akan tertinggal (no one is left behind). Langkah keempat menciptakan lingkungan yang mendukung peningkatan derajad kesehatan dan kesejahteraan bagi semua. Selain itu, juga meningkatkan investasi dan tindakan di berbagai sektor di luar kesehatan dan memaksimalkan manfaat pencapaian target di seluruh sektor SDG.

.

Langkah kelima adalah pemrograman inovatif dalam sistem kesehatan yang rapuh, rentan, dan mudah terganggu, sekalian untuk merespons wabah penyakit, termasuk pandemi COVID-19. Memastikan bahwa layanan kesehatan dan kemanusiaan tersedia di semua tempat, termasuk pada medan yang sulit serta mampu merespons munculnya wabah penyakit secara efektif, karena memerlukan koordinasi multisektoral, perencanaan rinci dan pembiayaan jangka panjang. Langkah keenam adalah penelitian, pengembangan, inovasi dan perbaikan akses. Penelitian dan inovasi sangat penting untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi produk dan layanan kesehatan. Sementara itu, akses yang berkelanjutan dan adil memastikan ketersediaan intervensi perawatan kesehatan yang lebih baik, bagi mereka yang paling membutuhkannya.

.

Langkah ketuju, adalah perbaikan data dan kesehatan digital. Data yang rinci, berkualitas dan komprehensif adalah kunci untuk memahami secara benar kebutuhan bidang kesehatan, merancang program dan kebijakan, memandu keputusan investasi, serta mengukur kemajuan. Teknologi digital dapat mengubah cara pengumpulan dan penyimpanan data kesehatan, sehingga dapat digunakan serta berkontribusi pada kebijakan kesehatan yang lebih adil.

.

Setiap negara itu unik, dan setiap negara dapat berfokus pada area yang berbeda, atau mengembangkan cara mereka sendiri dalam mengukur pencapaian UHC. Di Indonesia UHC diwujudkan melalui program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional). Apakah kita telah ikut mewujudkan?

 

Sekian

Yogyakarta, 24 Desember 2020

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
dokter Healthy Life Jalan-jalan UHC vaksinasi

2012 Pertama ke Filipina

 

PERTAMA KE FILIPINA

fx. wikan indrarto*)

Perjalanan prtama kali kami berdua ke Filipina, diawali dengan menggunakan pesawat Airbus A320-200 milik maskapai penerbangan Philippine Airlines, pada Senin pagi buta 9 Januari 2012. Kami bertolak dari Jakarta pada pk. 00.45 sampai di Ninoy Aquino International Airport (NAIA) Manila pk. 05.05 waktu setempat (setara dengan WITA). Kami kebetulan bersamaan dengan Prof. Dr. Mohammad Juffrie, PhD, SpA(K), guru besar FK UGM yang akan menjadi moderator salah satu sesi dalam 13th ASCODD (Asian Conference on Diarrheal Disease and Nutrition), yang akan diadakan di Tagaytay City, sekitar 60 km dari Manila. Kami bertiga memutuskan untuk menyewa Mitsubishi Adventure (di Indonesia disebut Mitsubishi Kuda), yang kuponnya seharga PP (Philippine Peso) 1.500 (sekitar Rp. 300 ribu) kami beli di konter taksi bandara. Taksimeter bercat kuning menyala yang umumnya merupakan Toyota Vios yang berargometer, tidak melayani penumpang tujuan luar kota Metropolitan Manila.

Untuk ke Tagaytay City perlu 1 jam 15 menit berkendara dari Manila melalui Luzon expressway sektor selatan (keluar di Santa Rosa) dan Santa Rosa-Tagaytay Road akan langsung ke Tagaytay City. Sepanjang perjalanan yang menggunakan sisi kanan jalan, kebalikan dengan di Indonesia, kami melalui jalan tol (expressway), dan melihat mobil-mobil buatan Jepang sebagaimana yang beredar di Indonesia, hanya berbeda nama. Izusu Panther disebut Crosswind, versi Hi-grade dinamakan Hi-lander. Toyota Krista disebut Revo VX2000, Mitsubishi Grandis ditulis Chariot, sedangkan Innova, Avanza, City, CRV dan lainnya menggunakan istilah serupa. Mobil yang khas di Filipina adalah jeepney, angkutan warga biasa yang berasal dari modifikasi jeep tentara AS saat Perang Dunia II, tetapi sekarang sudah bermesin diesel produksi Izusu. Kami diturunkan di lobi Taal Vista Hotel setelah 1 jam lebih sedikit menempuh perjalanan yang nyaman, di jalan yang bagus, sebagian besar beton cor bukan aspal, meski mendaki dan berliku. Jalannya lebar yang merupakan jalan negara (highway), jarang sekali sepeda motor dan kepadatan jalannya cenderung lengang, karena penduduknya sedikit. Lalu lintas di Filipina jauh lebih tertib dibanding di Indonesia. Para pengemudinya tidak ngebut, jarang membunyikan klakson, tabu menyerobot jalan dan hampir semua berpacu dalam kecepatan menengah.

 1 Tricycle  2 Sarapn babi utuh
Tricycle di View Lake Restourant

di Tagaytay City

Promosi babi panggang utuh

di View Lake Restourant, Tagaytay

Tagaytay adalah kota di pinggir Danau Taal, yang ditengahnya terdapat Gunung Berapi Taal yang memiliki kaldera. Tagaytay adalah salah satu tujuan wisata populer di Filipina, terutama bagi mereka yang berada di Pulau Luzon. Kota kecil ini berada di dataran tinggi dengan suhu udara relatif lebih sejuk daripada daerah lain di pulau tersebut. Selain itu, di Tagaytay ada Gunung Taal, gunung api terkecil di dunia yang berada di tengah-tengah Danau Taal. Sementara itu di tengah-tengah Gunung Taal ada sebuah kaldera atau kawah yang berbentuk seperti danau. Kawah tersebut seluas kira-kira 2 kilometer persegi. Di tengah kawah ada sebuah pulau yang diberi nama Vulcan Point. Vulcan Point disebut sebagai pulau terbesar di dunia yang berada di dalam sebuah danau yang berada dalam pulau yang ada dalam danau di sebuah pulau. Cukup membingungkan bukan? Lebih jelasnya, Vulcan Point adalah sebuah pulau yang berada di Danau Kawah atau Kaldera, di Pulau Taal yang berada di Danau Taal, di Pulau Luzon.

Tagaytay adalah kota yang terletak di provinsi Cavite, Filipina, dengan populasi sebesar 61.623 jiwa Pada tahun 2007. Tagaytay City terletak di atas Tagatay Ridge pada 640 m (2.100 kaki) di atas permukaan laut, adalah titik tertinggi di Propinsi Cavite. Pegunungan ini memberikan pemandangan spektakuler dari Danau Taal dan Gunung Taal di Batangas. Pandangan ini mendukung pariwisata Tagaytay yang merupakan  industri utama. Pada tahun 1920, Jenderal Emilio Aguinaldo, yang kelak akan menjadi presiden pertama Republik Filipina, menyerahkan tanah pribadinya untuk digunakan sebagai sarana pemerintahan, termasuk hotel, di Provinsi Cavite. Legenda Tagaytay menyebutkan bahwa kata-kata ‘taga, itay’ adalah teriakan seorang anak yang menyeru-nyeru kepada bapaknya, karena dia ketakutan saat melihat kehadiran tentara. Pada awal 1935 Presiden Manuel L. Quezon menentukan Tagaytay sebagai daerah wisata dengan dibangunnya lapangan golf pertama di Filipina. Pada tahun 1937 Zamoras Manila Hotel mulai membangun Taal Vista Hotel dalam bentuknya yang sekarang. Kami memasuki gerbang hotel yang megah dalam arsitektur rumah tradisional Filipina yang bentuknya menyerupai hidung. Meskpun merupakan bangunan tua dan warnanya sudah kusam, tetapi wibawanya masih berdenyut.

 3 Danau dan Gunung Taal  4 Tanya pak Polisi
Danau Taal dan Gunung Taal di Batangas

Terlihat dari View Lake Restourant

Malu bertanya, sesat di jalan.

Bertanya di kantor polisi setempat.

Oleh karena hari masih terlalu pagi dan check in kamar hotel belum dapat dilakukan, maka kami berdua memutuskan makan pagi di View Lake Restourant dengan naik tricycle. Tricyle adalah sepeda motor non bebek yang di sebelahnya ditempeli ruang kabin untuk 2 orang penumpang berdesakan. Kami pilih menu nasi pulen, daging sapi potong-potong kecil dibakar dan telur mata sapi setengah matang seharga PP 110. Sayang sekali, pemandangan ke arah Gunung Berapi Taal di tengah Danau Taal kurang bagus untuk difoto, karena tertutup mendung tebal. Selanjutnya kami berjalan kaki ke pasar dekat restoran tersebut, untuk membeli menu tradisional seperti gula kacang besar, ikan danau kering dan konektor charger HP dan notebook, sebab lobang colokan listrik di Filipina adalah pipih, bukan bulat. Kami lanjutkan naik jeepney, dengan asal naik karena sekedar mau mencoba dan tidak tahu arah. Penumpang berjejal, musik rock berdentum, asap knalpot menghitam, dan sopir tanpa asisten. Meskipun demikian, sopir tetap santai menerima pembayaran, memberikan uang kembalian, sabar menunggu penumpang duduk baru melaju dan tidak berebut penumpang. Tarifnya sekitar PP 12 (sekitar Rp. 3 ribu) tergantung jauhnya jarak yang ditempuh.

Sore harinya, kami bermaksud melakukan registrasi peserta ke panitia konggres, tetapi belum dapat dilayani karena kesibukan acara pra-konggres, maka kami putuskan melancong ke Pink Sister menggunakan tricylce dari depan gerbang hotel. Pink Sister adalah biara para suster konggregasi SSpS, yang berseragam jubah warna pink. Di sana ada kapel adorasi ekaristi yang megah di tengah taman yang indah. Kami berdoa sejenak, bersama para peziarah lokal yang umumnya datang berkelompok, di kursi deretan belakang kapel yang dipisahkan dengan pagar besi bercat hijau tua, dengan kursi deretan depan khusus untuk para suster.

 5 Danau dan Gunung Taal  7 Kapel Pink Sister
 Danau Taal dan Gunung Taal pada sore hari

terlihat dari View Lake Taal Vista Hotel

Kapel Adorasi di Pink Sister yang megah

milik konggregasi suster-suster SSpS

Selanjutnya kami menuju Lourdes Church yang merupakan gereja Katolik terbesar di Tagaytay, dengan mampir sebentar untuk belanja buah di sentra pertanian dan menikmati keramaian kota di sore hari. Setelah berdoa sejenak di dalam gedung gereja yang modern, besar, bersih berwarna dominan cokelat, kami melihat-lihat patung jenazah Yesus yang terbaring damai diselimuti kain hitam, dalam kotak kaca di bagian kanan umat. Setelah puas, kami keluar gedung utama gereja dan masuk ke kapel lilin (Candle Chapel) yang terletak di sisi kiri gedung gereja. Di situ terdapat patung Padre Pio Capuchin, St. Anthony of Padua, Our Lady of Lourdes, St. Joseph, St. Francis of Assisi, dan St. Clara of Assisi. Umat yang berdoa sambil berdiri, bukan berlutut atau duduk seperti yang sering dilakukan di Indonesia, juga menyalakan lilin di depan setiap patung. Ada 5 macam lilin, yang dipilih untuk membantu keheningan doa sesuai dengan ujub doa atau keinginan pribadi. Lilin dengan panduan warna Red (untuk hari-hari penting seperti ulang tahun), Pink (kesehatan), Green (harapan, termasuk keberhasilan studi), Blue (keharmonisan keluarga), Yellow (keselamatan dalam perjalanan), Lavander (ketentraman), dan White (ujub umum). Setiap lilin kecil tersebut seharga PP 5. Setelah puas khusuk berdoa, melihat keindahan dan berfoto gaya, kami melanjutkan keliling kota dengan menggunakan lagi tricycle.

 12 Gereja Lourdes  14 Ninoy Circle Monument
Lourdes Church,

gereja Katolik terbesar di Tagaytay

Ninoy Aquino Circle Monument,

di persimpangan Tagaytay Ridge Landing

Selanjutnya kami turun di monumen Tagaytay Ridge Landing yang megah dalam taman melingkar di tengah pertigaan jalan besar. Taman indah tersebut dilengkapi dengan patung Senator Benigno ‘Ninoy’ S. Aquino Sr. (pahlawan rakyat Filipina) yang berdiri simpatik. Taman tersebut dirancang sejak tahun 1987 dan disebut Ninoy Aquino Circle Monument, yang diresmikan oleh Hon. Abraham ‘Bambol’ Tolentino, Walikota Tagatay pada awal September 2000. Taman tersebut adalah tempat pendaratan pertama pasukan infantri dan terjun payung dalam pembebasan Filipina dari penjajahan Jepang, oleh Resimen ke 11 Devisi 8 tentara AS, yang dipimpin oleh Letjen Robert Eighelberger dan Mayor M. Swing pada 8 Februari 1945. Setelah puas keliling kompleks dan menjadi sangat lapar, kami makan malam di warung Mang Inasal dengan menu Boneless Bangut seharga PP 99, Bangus Sisik PP 99, Kangkong PP 25, dan es teh yang rasanya mantap PP 25. Menu tersebut adalah ikan air tawar dari Danau Taal. Bangus sisik adalah potongan ikan dalam hotplate yang membara, tetapi nasi pulennya ditempatkan di sampingnya di dalam hotplate juga, sehingga tetap panas dan akan mengeras kalau proses makan terlalu lamban.

Malam ini adalah hari pertama kami di Taal Vista Hotel kamar 423, Tagaytay City, sekitar 60 km dari ibukota Filipina, Manila, dalam dekapan dingin udara Tagatay. Dalam kenyang dan kantuk, kami laporkan perjalanan ini kepada para pihak yang berkepentingan, dan juga bersiap untuk mengikuti konggres besok pagi, sambil menyiapkan rute perjalanan berikutnya.

Setelah sarapan di hotel dan registrasi konggres pada hari berikutnya, kami naik jeepney ke Tagatay Rotonda. Hal ini disebabkan karena Opening Ceremony oleh Hon. Abraham Tolentino, walikota Tagaytay, dan Prof. Manuel Agulto, rektor University of Philippine Manila, baru dijadwalkan setelah makan siang. Jeepney sangat unik, baik body luar yang dilapisi baja putih mengkilap, kap mesin dan wajah depan yang penuh asesoris, bodi jeep yang panjang tetapi rendah, juga sopir yang bekerja tanpa asisten. Selain menjalankan jeepney dengan kecepatan menengah, dia juga menawarkan rutenya, menerima uang bayaran, memberikan uang kembalian, memisahkan uang coin dalam tempat khusus di dashboard dan memegangnya dalam lipatan jari tangan kiri, hampir semua uang kertas yang diterimanya. Para penumpang duduk berhadap-hadapan di kedua sisi jeepney yang bersasis panjang, sehingga setiap sisi dapat diduduki oleh 8 orang dewasa, tetapi dengan sedikit menunduk, sebab atapnya cukup rendah. Penumpang yang membayar sering dibantu penumpang lain dalam pembayaran ataupun penerimaan uang kembalian, karena saking jauhnya posisinya dari sopir.

Dari sekitar 60 ribu orang penduduk kota Tagaytay, yang pada akhir pekan meningkat sampai 3 kali lipat oleh para pelancong, jarang sekali yang terlihat melintas jalan yang lebar dan bagus. Kami turun di pertigaan Tagaytay Rotondo yang dilengkapi dengan Ninoy Aquino Circle Monument. Kami berganti naik tricycle, sebuah sepeda motor Kawasaki 150 cc yang dilengkapi dengankabin untuk 2 penumpang di sisi kanannya, menuju ke Picnic Groove dan People Park in the Sky. Picnic Grove adalah tempat wisata favorit yang dilengkapi dermaga untuk menyeberang ke Danau Taal dan melihat Gunung Taal di tengahnya, yang merupakan gunung berapi terkecil di dunia. Kami tidak merencanakan penyeberangan tersebut karena keterbatasan waktu, dan langsung meneruskan perjalanan mendaki, menikung dan menyusur punggung gunung ke People Park. Sayang sekali kabut tebal langsung menyergap, sehingga pandangan kami sangat terbatas, mengalami kedinginan dan hanya dapat beraktivitas di halaman parkir taman rekreasi tersebut, untuk membeli berbagai souvenir khas Tagatay yang terjajar rapi dan teratur.

 20 Gerbang Hotel  22 Dari People Park

Start of Adventure from hotel

Taal Lake and volcano from People Park

Setelah mengambil foto sekedarnya, kami segera menuju kapel Pink Sister dan Rumah Retret dan Pusat Pelayanan Konggregasi Roh Kudus. Di kapel itu, kami kembali berdoa adorasi di depan tubuh Yesus yang telah kami kunjungi hari sebelumnya. Selain itu, kami menyempatkan bertemu dan berkenalan dengan Sr. Maria Caridad, SSpS, yang menghabiskan hari tuanya di rumah retret di samping kapel. Beliau adalah suster yang senior berwajah damai, jernih, dan pernah menjabat wakil jenderal konggregasi suster SSpS Internasional, bahkan pernah mengunjungi Sr. Dr. Conchita Cruz, SSpS, seorang suster dan dokter Filipina, ke RS Elisabeth Lela di Flores, NTT. Di RS itulah kami pernah membantu tugas Sr. Conchita selama 3,5 tahun sejak tahun 1992. Setelah bercengkeram sebentar dan berfoto, kami selanjutnya menuju Plaza Olivares, sebuah sentra masyarakat di tengah kepadatan kota Tagaytay. Plaza Olivares memiliki food court, pedagang pakaian kaki lima yang bersih dan teratur, sampai restourant waralaba internasional bahkan terminal bis antarkota, termasuk yang menuju Manila. Setelah makan siang nasi putih hangat yang lunak, disertai sayuran kacang panjang dicampur labu, pare, potongan daging ayam dan ikan Danau Taal di sebuah kedai makan di pinggiran plaza tersebut, kami pulang ke hotel, untuk mengikuti opening ceremony.

 23 Sr. Maria Caridad  24 Rumah Retret

Sr. Maria Caridad, SSpS

Office of Holy Spirit Mission

Acara opening ceremony kemudian dilanjutkan dengan keynote speech oleh Dr. Enrique Ona, Menteri Kesehatan Filipini, dengan judul Towards Health and Wealth in a Changing World. Acara dilanjutkan dengan plenary session dan symposium dengan tema Advances in Diarrheal Management. Filipina terbukti paling maju dibandingkan semua negara Asia Tenggara, bahkan juga sebagian besar negara di Asia, karena sudah menerapkan imunisasi melawan Rotavirus untuk semua balita, bahkan memasukkannya dalam program imunisasi nasional. Prof. Roy dari Bangladesh menyinggung tema Evolution of Zinc in the Treatment of Diarrheal Disease. Prof. Miguel O’Ryan dari Chile menyampaikan Rotavirus Vaccination Implementation in Latin America: What Asia Can Learn? Dr. Aziz dari Bangladesh mengajukan Improvements in ORS: Where ara we now? Cairan rumah tangga berbasis beras, seperti air tajin, mungkin saja lebih baik dibandingkan terapi cairan lainnya. Dr. Juliet Aguilar dari Filipina membandingkan Single vs Multiple Micronutrient Supplementation, Dr Rubhana Raqib dari Bangladesh menyampaikan Immunological Advance in Diarrheal Disease dan yang terakhir Dr. Germana Gregorio menunjukkan Evidence on the Use of Anti-Diarrheal Agents.

Topik-topik yang dibahas pada hari ke2 dalam 13th ASCODD (Asian Conference on Diarrheal Disease and Nutrition) di Taal Visata Hotel Tagaytay City, antara lain adalah ‘Barriers and Chalanges in Putting Rotavirus Vaccine in the National Immunization Program’, ‘Dietary Interventions to Improve Nutritional Status’, ‘Diarrheal Pathogens: Then and Now’, dan ‘Food Safety and Food-borne Diseases’. Para pembicaranya berasal dari Chile, Mexico, India, Hong Kong, Thailand, Bangladesh, Indonesia, China dan Amerika Serikat. Setelah agak lelah mengikuti beberapa materi tersebut, kami memutuskan untuk melancong lagi, pada hari ketiga kami di Filipina.

Sepanjang masa 265 tahun, Filipina merupakan koloni Kerajaan Spenyaol (1565-1821) dan selama 77 tahun berikutnya diangkat menjadi provinsi Spanyol (1821-1898). Negara ini mendapat nama Filipina setelah diperintah oleh penguasa Spanyol, Raja Felipe II. Setelah Perang Spanyol-Amerika pada tahun 1898, Filipina diperintah Amerika Serikat. Ia kemudian menjadi sebuah persemakmuran di bawah Amerika Serikat sejak tahun 1935. Periode Persemakmuran dipotong Perang Dunia II saat Filipina berada di bawah pendudukan Jepang. Filipina akhirnya memperoleh kemerdekaannya (de facto) pada 4 Juli 1946. Masa-masa penjajahan asing ini sangat memengaruhi kebudayaan dan masyarakat Filipina. Negara ini dikenal mempunyai Gereja Katolik Roma yang kuat dan merupakan salah satu dari dua negara yang didominasi umat Katolik di Asia selain Timor Leste.

Perjalanan kami mulai dari hotel dengan jeepney ke Olivarez Terminal di sekitar Tagaytay Rotonda. Setelah menunggu beberapa saat, kami putuskan naik bis bumel non AC, full video dengan TV 14 inchi, kaca jendela yang dapat dibuka ke arah atas, dan mesin Daewoo diesel terletak di bagian belakang bis. Penumpangnya sangat beragam, sampai penuh, tetapi warga Filipina tidak ada yang merokok atau makan dan minum di bis, juga tidak ada yang gemuk (obesitas) dan tidak ada juga yang hobi bermain jari di HP, sangat berbeda dengan masyarakat kita. Kami melewati kota Silang Cavite dan Dasmarinas yang cukup besar dan sibuk. Kami membayar harga tiket P 120 (sekitar Rp. 25 ribu), saat bis milik Celyrosa Express Bus menepi dan kami turun di Pasay City, pinggiran selatan Manila. Dalam kesibukan kota metropolitan Manila, kami berganti jeepney yang menuju ke Libertad dengan tarif P8.

 38 Rizal Day  LRT
Bendera dan Poster Rizal Day

di Central Station

LRT (Light Rail Transit) line 1

di Central Station

Di perempatan Libertad pinggir jalan besar Sen. Gilbert J. Puyat Ave. yang ramai, kami berjalan sedikit untuk naik tangga ke stasiun Gil Puyat di lantai 3. Kami naik kereta api layang 4 gerbong ber-AC yang disebut LRT (Light Rail Transit) line 1. Setelah melewati stasiun Vito Cruz, Quirino, Pedro Gil, dan UN Ave, kami turun di Central Station dengan tiket elektrik seharga P 12,5 atau sekitar Rp. 3.000. Di Manila Metropolitan Administration terdapat 3 jalur (line) LRT, yaitu line 1 dari Stasiun Baclaran (selatan) ke Monumento (utara), line 2 dari Stasiun Doroteo Jose (barat) ke Santolan (timur), dan line 3 dari Stasiun Taft (selatan) memutar ke North Ave (utara), yang dirancang akan bertemu dengan line 1 di Stasiun Monumento dalam 1 tahun ke depan. Dari Central Station kami berganti naik pedicub dengan penggerak sepeda yang dikayuh, atau tricycle dengan sepeda motor seharga P 100, kami menyebarang ujung jalan Roxas Boulevard yang sangat lebar dan padat kendaraan. Kami memasuki areal Intramuros yang legendaris untuk menuju Katedral Manila Gereja Bunda Maria Tak Bernoda, yang didirikan pada tahun 1561. Di katedral yang diberi nama oleh Paus Gregorius XV pada abad 17, kami tertegun akan arsitekturnya, terdiam akan keanggunannya dan berdoa mengucap syukur atas semua keindahan yang terjadi. Di taman depan katedral terdapat patung Raja Spanyol Carlos IV yang berwibawa dan gedung perkantoran mentereng yang dinamakan Palacio Del Gobernador.

 25 Katedral Manila  26 Gereja St. Agustinus
Katedral Manila

Gereja Bunda Maria Tak Bernoda

Gereja St. Augustinianus (1571),

gereja pertama di seluruh Filipina

Penjajahan dan pemukiman Spanyol dimulai dengan kedatangan ekspedisi Miguel López de Legazpi pada tahun 1565, yang mendirikan pemukiman San Miguel di pulau Cebu, dan lebih banyak lagi pemukiman ke utara, mencapai teluk Manila di pulau Luzon pada tahun 1571. Di Manila, mereka mendirikan kota baru dan dengan demikian memulai era penjajahan imperium Spanyol, yang berlangsung lebih dari tiga abad. Pemerintahan Spanyol berusaha mencapai penyatuan politik seluruh kepulauan, yang sebelumnya terdiri atas berbagai kerajaan dan komunitas merdeka, namun tidak berhasil. Penyatuan Filipina baru berhasil pada abad ke-20. Spanyol memperkenalkan percetakan versi Eropa Barat, dan kalender Gregorian, dan juga cacar, penyakit kelamin, lepra, perang dengan senjata api. Hindia Timur Spanyol diperintah dan diadministrasi sebagai bagian Kerajamudaan Spanyol Baru dari Meksiko pada tahun 1565 sampai 1821, dan diadministrasi langsung dari Madrid pada tahun 1821 sampai akhir Perang Spanyol-Amerika di tahun 1898, kecuali pada selang singkat pendudukan Inggris di Filipina (1762-1764). Orang-orang Cina, Inggris, Portugis, Belanda, Jepang dan pedagang pribumi mengeluh bahwa Spanyol menekan perdagangan dengan pemberlakuan monopoli Spanyol. Misionaris Spanyol mencoba mengkristenkan penduduk dan umumnya sukses di dataran rendah utara dan tengah. Mereka mendirikan sekolah, universitas, dan rumah sakit, terutama di Manila dan pemukiman benteng-benteng Spanyol yang kemudian disebut Intramuros (kota di dalam benteng) yang baru saja kami kunjungi.

Perjalanan kami lanjutkan dengan naik pedicub ke Fort Santiago, Postigo del Palacio, Puerta de Santa Lucia, EJC Building, Baluartillo de San Jose, Reducto de San Pedro, Baluarte de San Diego, Puerta Real, Revellin de Bagumbayan dan Gereja St. Augustinianus. Semua bangunan kuno tersebut masih tegak, megah dan terawat di dalam kompleks Intramuros, seperti di dalam sebuah keraton (njeron beteng). Gereja St. Augustinianus yang didirikan tahun 1571, bahkan merupakan gereja Katolik pertama di seluruh Filipina. Fort Santiago adalah sebuah benteng pertahanan militer yang didirikan oleh Gubernur Gomez Perez Dasmarinas dalam periode tahun 1590-1593, di bekas Istana Kayu Raja Matanda. Raja tersebut adalah penguasa lokal Manila pada saat itu.

Setelah itu kami menuju kampus LPU (Lyceum of the Philippines University) dekat dinding Jepang, karena dibangun tentara Jepang saat Perang Dunia II, dalam perluasan dan perbaikan benteng Intramuros yang aseli. Bangunan kampus LPU tersebut pada awalnya adalah Hospital de San Juan Dios, yang sebelumnya disebut Hospitalito de Santa Ana, yang didirikan pada tahun 1578 oleh Juan Clemente, seorang pastor dari Ordo Fransiscan. Kami nikmati menu makan siang, yang kami makan dalam kantin kampus yang penuh mahasiswa, tetapi tetap bersih dan terawat.

 27 Fort Santiago  29 Meriam di Intramuros

Fort Santiago didirikan oleh Gubernur Gomez Perez Dasmarinas 1590-1593

7 buah meriam yang menghadap ke arah Teluk Manila di dalam Intramuros

Selanjutnya kami berjalan keliling dinding benteng Intramuros, yang masih tegak nan gagah, relatif utuh dan menyerupai Tembok Besar di Cina. Di situ kami sempat tertegun dalam areal penangkis serangan musuh, berupa pelataran seluas lapangan sepak bola, yang dilengkapi menara pengawas dengan 7 buah meriam yang saat itu menghadap ke arah Teluk Manila. Semua meriamnya masih berada di tempat, meski sudah berkarat dan keropos. Setelah puas membayangkan hebatnya pertempuran saat itu di sekitar benteng Intramuros, kami melanjutkan perjalanan ke Rizal Park dengan pedicub bertarif PP 100 (sekitar Rp. 25 ribu). Perjalanan itu keluar kompleks benteng Intramuros, lewat Jalan Roxas Boulevard yang lebar dan padat kendaraan besar, melewati National Museum yang bercat coklat muda dan gagah.

Rizal Park, diambil dari nama Jose Rizal, pahlawan besar Filipina, adalah taman terbuka yang luasnya sekitar 5 kali lapangan sepak bola. Kami memasuki kompleks dari pintu belakang, melewati beberapa patung setengah badan ukuran sebenarnya, bebarapa pahlawan nasional Filipina. Mereka adalah Rajah Sulayman yang meninggal tahun 1571, Apolinario de la Cruz (1869), Sultan Dipatuan Kudarat (1663), Aman Dangat (1791), Juan Sumuroy (1649), Datu Amai Pakpak (1895), Marcelo Del Pilar (1896), Gregorio Aglipay (1940), Vicente Alvarez (1910), dan Pantaleon Villegas (1989). Patung pahlawan yang lain tidak sempat kami amati. Selain itu, juga ada Chineese Garden, Open Air Auditorium dan Japanese Garden yang menambah kenyamanan siapapun yang datang.

José Protasio Rizal Mercado Alonso Realonda (lahir di Calamba, Laguna, Filipina, 19 Juni 1861 – meninggal di Dapitan, provinsi Zamboanga (Mindanao), Filipina, 30 Desember 1896 pada umur 35 tahun) adalah tokoh bangsa Filipina. Hari peringatan kematian José Rizal adalah 30 Desember dan merupakan hari libur di Filipina yang disebut hari Rizal. José Rizal adalah seorang yang berbakat. Selain seorang dokter, ia juga seorang arsitek, seniman, pendidik, ekonom. etnolog, ahli pertanian, sejarahwan, jurnalis, pemusik, mitologiwan, internasionalis, naturalis, dokter mata, sosiolog, pematung, penyair. penulis drama, dan novelis. Ia menguasai 22 bahasa, di antaranya: Tagalog, Cebuano, Melayu, Tionghoa, Arab, Ibrani, Inggris, Jepang, Spanyol, Catalan, Italia, Portugis, Latin, Perancis, Jerman, Yunani, Rusia, Sansekerta dan dialek-dialek Filipina yang lain. Saat hukuman matinya semakin mendekat, Rizal menulis puisinya yang terakhir, yang, meskipun tidak berjudul, akhirnya dikenal sebagai “Mi Último Adiós” (Selamat Tinggalku yang Terakhir). Puisi ini lebih tepat diberi judul, “Adios, Patria Adorada” (harafiah: “Selamat Tinggal, Tanah Air Tercinta”), dari logika dan tradisi sastranya: kata-kata yang muncul pada baris pertama puisi itu sendiri.

 28 Gerbang IntramurosA  31 Rizal Park Manila
Gerbang Intramuros yang hitam legam,

sisa kejayaan Spanyol

Rizal Park yang menjulang

dan menjadi landmark Manila

Dalam suratnya yang terakhir, dari rangkaian surat-menyurat yang sangat tebal dan tidak ada tandingannya dalam tradisi Asia, kepada Profesor Fernando Blumentritt dari Sudeten, Jerman – Saudaraku tercinta, saat engkau menerima surat ini, aku sudah tiada. Esok pada pk. 7, aku akan ditembak; namun aku tidak bersalah atas tuduhan melakukan pemberontakan… Ia harus meyakinkan sahabatnya bahwa ia tidak pernah berubah menjadi seorang revolusioner, seperti yang pernah dipertimbangkannya, bahwa cita-cita yang diperjuangkan oleh keduanya tetap dipegangnya hingga akhir. Iapun menyerahkan sebuah buku yang secara pribadi dijilidnya di Dapitan untuk ‘sahabat terbaik dan tercintanya’. Ketika orang Austria itu menerimanya, ia menangis dan meratap. Rizal Park dijaga 24 jam sehari, 7 hari seminggu oleh sebuah group tentara dalam upacara militer, dikenal sebagai Kabalyeros de Rizal. Puisinya, “Mi Ultimo Adios” (“Perpisahan terakhir saya”) ditulis pada papan peringatan. Monumen Rizal yang terbuat dari perunggu dan granit telah dianggap sebagai patung landmark paling terkenal di negeri ini. Tidak hanya patung pahlawan nasional, tetapi juga makam yang terletak di dekat tempat di mana Rizal dieksekusi.

Kami kembali ke Central Station untuk naik kereta layang LRT line 1, menuju ke Stasiun Baclaran dan turun di Stasiun Gil Puyat dengan tiket elektrik seharga P15. Rute ini persis kebalikan dengan rute kami saat berangkat. Dari stasiun tersebut, kami menuju Metro Market-Market di areal bisnis Makati, dengan jeepney modern yang ber-AC, TV, video dan tempat duduk menghadap ke depan, berisi 23 tempat duduk dan bertarif P 18. Namun, ternyata kami harus berganti dengan jeepney biasa di sebuah perempatan besar, untuk menuju ke Metro Market-Market dengan tarif P 8. Bangunan modern nan megah itu adalah pusat perbelanjaan 5 lantai, playground, dan foodcourt yang dilengkapi dengan terminal taxi, jeepney dan angkutan kota lainnya. Pengunjungnya sangat padat, tertib antri, disiplin tidak merokok dan menjaga kebersihan.

 30 Pedicab Manila  32 Market-Market di Makati
Pedicub yang mengantar kami

dari Intramuros ke Rizal Park

Metro Market-Market

di areal bisnis Makati, Manila

Setelah puas membeli oleh-oleh makanan kering dan souvenir khas Manila di Market-Market, kami naik angkutan umum milik UV Express Service berupa Toyota Kijang produksi tahun 90, bercat putih. Dengan 11 penumpang dalam angkutan kota tersebut dan tiket seharga P 20, kami diturunkan di Ayala Center. Setelah itu, kami berjalan kaki melewati dan mampir sejenak di Balikbayan Handicrafts yang terkenal di Manila, sampai terminal gabungan bis dan MRT di EDSA. Selain LRT yang melewati rel melayang di udara, di Metro Manila juga ada MRT yang melewati rel bawah tanah. Kami naik bis kota AC ke terminal Cybers di Pasay City dengan tarif P12, untuk berganti bis antar kota. Dari depan Empire Center di Pasay City, kami pulang menuju Tagaytay dengan bis AC San Agustin bercat putih dan kuning, bertarif P 65, dan melalui kota Imus, yang akan kami kunjungi hari berikutnya. Sayang sekali bis sangat penuh penumpang, sehingga kami harus berdiri untuk beberapa saat pada awal perjalanan pulang tersebut. Malam itu kami tertidur kelelahan di kamar hotel.

Acara konggres hari berikutnya sangat padat. Topik ‘Meet the experts’ adalah ‘Antibiotics and Anti-Diarrheals’ oleh Dr. Salvacion Gatchalian dari Filipina dan Dr. Nur Alam dari Bangladesh. Pada ‘Plenary Session’ dan ‘Symposium’ antara lain membahas tentang ‘Rotavirus: Its Impact on Various Childhood Illnesses’, ‘The Global Impact of Rotavirus Vaccines’ dan ‘Vaccine Advocacy: Accessibility, Affordability and Accountability’. Para pembicara pada hari terakhir 13th ASCODD (Asian Conference on Diarrheal Disease and Nutrition) di Taal Vista Hotel, Tagaytay City, Philippines, berasal dari Indonesia, AS, Bangladesh, Thailand dan China.

Setelah penutupan acara konggres, kami melanjutkan petualangan hari keempat kami di Filipina menuju ke kota Imus. Posisinya hampir di pertengahan jalan dari Tagaytay ke Manila dan kami harus membayar tarif P 54 saat turun dari Erjohn & Almark Transit Corp, sebuah bis ekskutif Hino AC mesin diesel di belakang, yang full TV/video. Di Filipina, Bahasa Inggris cukup luas digunakan, termasuk untuk informasi umum yang sering sekali kami temukan di dalam perjalanan, misalnya ‘always use pedestrian line’, ‘Slow down, school zone’, ‘drop zone’, ‘clean air for the next generation’, ‘stright ahead’, ‘no vendor allowed’, ‘badge is not allowed’, ‘how’s my driving? call or text: …’, dan ‘traffict officer’. Data menunjukkan bahwa 95,9% penduduk Filipina bisa membaca, bahkan salah satu yang tertinggi di Asia, dan setara untuk pria maupun wanita. Kami melewati kota Silang dan Dasmarinas, dengan jalan antar kota yang lebar, halus, jarang sekali sepeda motor terlihat dan lalu lintas didominasi kendaraan angkutan umum yang bersih, tertib dan teratur.

 33 Del Pilar Academy  34 Katedral Imus

Del Pilar Academy di Imus

Gereja ‘Our Lady of the Pillar Parish’,     Katedral di Imus

Penduduk Filipina mayoritas (80%) beragama Katolik, hal ini disebabkan Filipina merupakan bekas jajahan Spanyol yang memiliki tradisi Katolik yang sangat kuat, dilanjutkan dengan Protestan 10%, hal ini karena Filipina selanjutnya dijajah Amerika Serikat, kemudian Islam 5% yang mayoritas berada di Pulau Mindanao, lalu Buddha 2,5% yang merupakan penduduk pendatang dari Korea Selatan, Republik Rakyat China, Malaysia, Singapura, Jepang, India, dan Vietnam. Sebanyak 0,4% warga Filipina jujur menyatakan dirinya Atheis, dan 2,1% beragama lain.

Kami turun di ‘crossing highway’ atau perempatan jalan antar kota, di pinggiran kota Imus. Kami menggunakan tricycle untuk mampir di Del Pilar Academy dan mencari Mrs. Tessie Cruz, seorang ipar Sr. Dr. Conchita Cruz, SSpS, yang bekerja di bagian administrasi sekolah tersebut. Sr. Dr. Conchita Cruz, SSpS adalah kolega dan senior kami di RS St. Elisabeth Lela, Flores, NTT pada tahun 1991-1994. Sayang sekali, beliau tidak ada di tempat dan kami hanya dapat menitipkan salam hangat dari Sr. Conchita dan salam kenal dari kami, sebelum berfoto sejenak di situ. Kami melanjutkan perjalanan ke Gereja Katedral Imus yang didirikan pada tahun 1861 dan dinamakan ‘Our Lady of the Pillar Parish’ di Jl. Jenderal Castaneda no 2711, Imus Cavite. Katedral yang dinding luarnya sudah nampak pudar tertelan umur itu, warna dominannya cokelat. Pilar yang besar di dalamnya tersusun dari bata merah yang tidak diplester, sehingga nampak perpaduan merah dan coklat yang tersusun rapi. Di belakang altar tampak salib besar dengan patung Yesus tidak dalam posisi disalib, tetapi justru dalam posisi terangkat ke sorga. Di seberang katedral terdapat Municipal Government of Imus Cavite yang berarsitektur abad ke 17, tetapi tetap masih digunakan sebagai kantor dengan 4 buah tiang besar dan bendera nasional Filipina yang berkibar. Di depannya juga terdapat taman terbuka seluas lapangan sepak bola dengan patung Mayor Licerio Topacio yang gagah dan 2 buah meriam penangkis serangan udara peninggalan Perang Dunia II. Setelah berfoto dan istirahat sejenak di tepi taman dalam keteduhan bayangan pohon besar, kami pulang ke Tagaytay dengan bis Lorna Express cat putih kuning, yang berupa KIA Diesel mesin di belakang, bis AC ekonomi dengan tarif P 58 (sekitar Rp. 12.000). Setelah turun di Olivarez Plaza dengan selamat, kami coba makan palabok, salah satu menu khas Tagaytay di Jollibee Restourant di Tagaytay Jucntion. Palabok terbuat dari bihun, udang, telor, ayam krispi, bumbu dan saus yang empuk, lezat dan memikat seharga P 124. Filipina sebenarnya paling terkenal dengan kehebatan pertanian padi di bukit, yang diperkenalkan kira-kira 2.000 tahun lalu oleh suku Batad. Padi-padi yang ditanam di bukit tersebut terletak di lereng-lereng Gunung Ifugao dan berada di ketinggian 5.000 kaki dpl. Luasnya mencakup 4.000 mil² serta diusahakan secara tradisional tanpa penggunaan pupuk. Hal ini telah dinyatakan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO (Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan) pada tahun 1995. Dengan demikian, wajar sekali rasanya kami sangat bersemangat untuk mencoba menu khusus, yaitu palabok dengan bahan tepung beras dari bukit di lereng Gunung Ifugao.

 Imus  Imus 1
Municipal Government of Imus Cavite

yang berarsitektur abad ke 17

Jeepney di Katedral Imus,

Yang gaya dan mengkilap

Kemudian kami mengunjungi ‘IKA 41 Dibisyon Hukbong Katihan Ng Pilipinas’ atau disebut ’41st Devision USAFFE Marker’. Monumen pertempuran tersebut menggambarkan kekalahan tentara AS yang berlangsung pada 1 September sampai 25 Desember 1941. Saat itu mereka dipukul mundur tentara Jepang pada awal Perang Dunia II. Monumen tersebut berupa prasasti berbahasa Tagalog, ruang diaroma pertempuran dan patung seorang tentara AS bercelana pendek dalam seragam tempur saat itu. Seperti diketahui bersama, setelah kekalahan yang memalukan itu, segera terbentuk area Pasifik Barat Daya merupakan salah satu arena Perang Dunia II di kawasan Pasifik, antara tahun 19421945. Area Pasifik Barat Daya termasuk Filipina, Hindia-Belanda (tak termasuk Sumatera), Borneo, Australia, Wilayah Guinea Baru (termasuk Kepulauan Bismarck), bagian barat Kepulauan Solomon, dan beberapa wilayah di sekitarnya. Dalam wilayah tersebut, tentara Kekaisaran Jepang berperang melawan tentara AS dan Australia. Sebagian besar tentara Jepang merupakan bagian dari Kelompok Pasukan Ekspedisi Selatan, yang dibentuk pada tanggal 6 November 1941, di bawah Jenderal Hisaichi Terauchi (juga dikenal sebagai Graf Terauchi), yang diperintahkan untuk menyerang dan menduduki wilayah Sekutu di Asia Tenggara dan Pasifik Selatan. Pada tanggal 30 Maret 1942, komando Wilayah Pasifik Barat Daya Sekutu (SWPA) dibentuk dan Jenderal Douglas MacArthur diangkat sebagai Komandan Tinggi Sekutu untuk Wilayah Pasifik Barat Daya. Pertempuran Laut Filipina adalah pertempuran laut penting dalam Perang Dunia II antara AL AS dan Jepang. Pertempuran ini berlangsunga antara tanggal 1920 Juni 1944 dekat Kepulauan Mariana, dan melibatkan 2 AL yang besar dan banyak pesawat Jepang dari markas di daratan. Pertempuran ini adalah kekalahan besar AL Jepang, yang kehilangan 3 kapal induk dan sekitar 600 pesawat selama 2 hari itu. Hal ini terjadi karena pesawat Kekaisaran Jepang sudah tua dan kurang terlatih, dibandingkan dengan angkatan AS yang lebih modern dan baik. Setelah pertempuran ini, AL Jepang hampir hancur sepenuhnya. Kemenangan Sekutu ini membuka pintu untuk serangan legendaris ke Iwo Jima, yang kemudian akan mengakhiri Perang Dunia II.

 35 Monumen USAFFE  36 Monumen the Praying Hand

’41st Devision USAFFE Marker’, dengan patung tentara AS saat PD II

The Praying Hands (Gateway to the City of Character), lambang kota Tagaytay

Sayang sekali, monumen ’41st Devision USAFFE Marker’ itu tidak lagi dikenal oleh sebagian besar warga Tagaytay yang sangat menyulitkan kami saat bertanya mencarinya. Selain itu, tampak sudah kurang terawat, meski terletak di pinggir jalan utama Aguinaldo Highway, bahkan di samping kantor PLDT (Philippine Long Distance Telephone) yang cukup ramai pengunjung dan monumen The Praying Hands (Gateway to the City of Character) yang menjulang. Selanjutnya kami melihat monumen baru di sebelahnya, yaitu The Praying Hands, yang lebih megah, menggambarkan 2 buah tangan yang sedang berdoa, dan didominasi warna cokelat. Monumen yang menjabarkan ayat Perjanjian Lama (Heb 4,16) tersebut diresmikan pada tanggal 4 November 2002. Saat itu bertepatan dengan ‘the year of our Lord’ oleh Hon. Francis N Tolentino, walikota Tagaytay.

Selanjutnya kami menikmati kembali, perjalanan pulang ke hotel menggunakan jeepney. Kendaraan pengangkut penumpang yang merupakan ciri khas dan kebanggaan warga Filipina itu, merupakan modifikasi jeep tentara AS saat Perang Dunia II. Jeepney sekarang tinggal jiwanya yang jeep, lainnya sudah berubah total. Bodinya dari baja putih mengkilat atau seng yang redup, lambang depan sudah bintang tiga arah dalam lingkaran seperti Mercedez-Benz, chasis sudah diperpanjang seperti limousine, mesin sudah diesel, pemutar musik sudah digital dan ban sudah dalam velg standar mobil caravan. Di jeepney terkandung kebanggaan produksi otomotif nasional Filipina, prioritas politik pemerintah untuk meningkatkan kendaraan umum yang nyaman, bukan mobil pribadi yang membuat jalanan macet, kejujuran penumpang untuk membayar, bantuan atau kerja sama dengan penumpang lain untuk beranting menyerahkan pembayaran maupun uang kembalian karena panjangnya kabin penumpang, dan juga ketertiban jadwalnya, sehingga warga Filipina cenderung lebih nyaman menggunakan angkutan umum, dibandingkan menjalankan motor atau mobil pribadinya. Orang-orang Filipina dikenal dengan nama Filipino yang berasal dari orang asli Taiwan dan bercampur dengan orang-orang Tiongkok Selatan, Polinesia, dan Spanyol atau Amerika. Orang Filipina terbagi dalam 12 kelompok etnolingustik dengan yang terbesar adalah Tagalog, Cebuano, dan Ilocano. Penduduk asli Filipina ialah suku Aeta namun sudah terpinggirkan dan populasinya tinggal 30 ribu jiwa.

 37 Jeepney  Jeep
Jeepney di sebuah pom bensin

di Tagaytay Rotonda

Jeep rendah & motor besar di Giligan Restaurant dalam The Summit Ridge

Kami segera pulang ke hotel, untuk berkemas-kemas dan menyiapkan perbekalan perjalanan pulang ke Indonesia. Kami membeli Kare-kare beef, yang juga menu khas Filipina, di Giligan Restaurant dalam kompleks The Summit Ridge seharga P 225 porsi untuk 2 orang. Kare-kare beef yang dibungkus itu mengandung kacang panjang, sawi, terong, daun selada, daging sapi dan bumbu kacang untuk kuah yang gurih, yang akan kami makan dengan sambal terasi untuk makan malam di kamar hotel, sebelum kami check out.

Perjalanan pulang ke Jakarta direncanakan akan transit sebentar di Bandara Changi Singapura, dengan menggunakan maskapai Philippine Airlines, yaitu sebuah pesawat berbadan lebar Airbus A320-200 dengan kode PE 503, yang berangkat dari terminal II NAIA (Ninoy Aquino Internaitonal Airport) di Manila. Philippine Airlines ternyata merupakan maskapai penerbangan pertama di Asia. Penerbangan tersebut terjadi pada 15 Maret 1941 dengan sebuah pesawat bermesin ganda Beech Model 18, yang terbang sejauh 212 km dari Manila ke Baguio Ciyu, dengan mengangkut 5 orang penumpang. Selama terjadi Perang Dunia II pada Desember 1941, maskapai ini dikuasi militer dan banyak pesawatnya yang tertembak jatuh. Pada periode setelah perang, maskapai ini beroperasi lagi, yaitu sejak 14 Februari 1946, dengan 5 buah pesawat bekas militer Douglash DC3s. Mulai bulan Juli 1946, maskapai ini menyewa DC4s untuk mengakut tentara AS ke Oakland di California, dan peristiwa ini merupakan penerbangan maskapai Asia pertama menyeberangi Samudera Pasific. Pada 12 Mei 1947, maskapai ini juga merupakan maskapai Asia pertama yang menerbangkan penumpang ke Eropa, yaitu penerbangan terjadwal ke Madrid, Spanyol. Pada dekade 1970-an maskapai ini telah menjangkau 2/3 belahan dunia. Saat ini Philippine Airlines memiliki 36 pesawat, termasuk 5 buah pesawat super jumbo B747-400 yang berkapasitas 383 penumpang dan pesawat terbaru adalah 2 buah B777-300ER, yang dimiliki sejak November 2009.

Seluruh penjelajahan di Filipina ini dapat terwujud karena persiapan yang cukup, bantuan yang layak dan restu yang banyak dari berbagai pihak, dengan menghabiskan 4 hari 5 malam dan dana 1,5 kali lipat gaji resmi selama sebulan. Demikian laporan perjalanan ini, semoga bermanfaat bagi banyak orang. Terima kasih.

sekian

ditulis di pinggir kolam renang Taal Visa Hotel di Tagaytay City, Filipina

12 Januari 2012

*) pelancong Jawa berdana cekak.

Categories
anak dokter Healthy Life sekolah UHC

STIGMA SOSIAL OBESITAS

fx. wikan indrarto*)

Obesitas telah mencapai proporsi epidemik secara global, bahkan setidaknya 2,8 juta orang meninggal setiap tahun, terkait kelebihan berat badan atau obesitas. Di Eropa diperkirakan 23% wanita dan 20% pria mengalami obesitas. Kegemukan dan obesitas merupakan faktor risiko utama untuk sejumlah penyakit kronis, termasuk diabetes, penyakit kardiovaskular dan kanker. Namun demikian, Hari Obesitas Sedunia (World Obesity Day) 11 Oktober 2016 lalu tidak hanya menyoroti aspek medis, tetapi justru  dampak sosial obesitas. Apa yang harus disadari?

Dampak sosial obesitas dari sebuah negara di Eropa barat menunjukkan bahwa 18,7% orang dengan obesitas mengalami stigma. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), stigma adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. Bagi anakg dengan obesitas berat, persentase stigmanya jauh lebih tinggi, yaitu mencapai 38%. Seorang dengan obesitas mengalami stigma dari guru, pengusaha mainan anak, petugas profesional kesehatan, media bahkan dari teman sekelas dan keluarga.

Hasil gambar untuk obesitas pada anak

Stigma adalah penyebab dasar terjadinya ketidaksetaraan layanan kesehatan, dan stigma obesitas dikaitkan dengan konsekuensi fisiologis dan psikologis yang signifikan, termasuk meningkatnya depresi, kecemasan, dan penurunan harga diri. Stigma ini justru juga dapat menyebabkan pola makan yang lebih teratur, menghindari aktivitas fisik yang dianjurkan, dan menyulitkan mendapatkan layanan medis. Efek dari stigma atas obesitas dapat sangat parah pada anak. Studi menunjukkan bahwa anak usia sekolah dengan obesitas mengalami kemungkinan 63% lebih tinggi untuk diintimidasi atau di-bully. Ketika anak dan remaja diintimidasi atau menjadi korban karena obesitas mereka oleh teman sebaya, keluarga dan teman, hal itu dapat memicu perasaan malu. Selain itu, juga dapat menyebabkan depresi, harga diri rendah, citra tubuh yang buruk, dan bahkan usaha percobaan bunuh diri.

Hasil gambar untuk obesitas pada anak

Tingkat obesitas anak dan remaja meningkat sepuluh kali lipat dalam empat dekade terakhir. Artinya, 124 juta anak laki-laki dan perempuan di seluruh dunia terlalu gemuk. Di Inggris, satu dari setiap 10 anak muda berusia lima sampai 19 tahun, mengalami obesitas. Selama 4 dekade terakhir, di seluruh Indonesia prevalensi kelebihan BB untuk anak laki-laki 33 kali dan untuk anak perempuan 18 kali lipat lebih banyak. Sebelum tahun 2006, anak gemuk didominasi perempuan, tetapi setelah itu kondisinya berbalik. Riset Kesehatan Dasar 2013 mencatat 18,8% anak umur 5-12 tahun mengalami kelebihan BB. Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia 2016, persentase balita gemuk usia 0-59 bulan menurut indeks BB/TB adalah 4,3 %, terbanyak terdapat di DKI Jakarta, yaitu mencapai 8,1 % balita adalah gemuk.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bias adalah menyimpang dari yang sebenarnya (tentang nilai, ukuran). Bias pada anak gemuk (weight bias) oleh guru, yaitu penilaian guru yang tidak tepat, dapat menyebabkan harapan siswa yang lebih rendah, yang dapat terlihat pada rendahnya hasil pendidikan atau nilai ujian sekolah pada anak dan remaja dengan obesitas. Hal ini selanjutnya dapat mempengaruhi kesempatan dan peluang anak untuk melanjutan jenjang sekolah, dan akhirnya menyebabkan ketidakadilan sosial, dan bahkan penurunan derajad kesehatan. Kebijakan diperlukan untuk mencegah terjadinya korban pada anak dengan obesitas di sekolah, agar orang tua dapat mengadvokasi anak mereka. Bersama dengan guru dan kepala sekolah sebaknya dilakukan program pendampingan anak, untuk meningkatkan kewaspadaan akan bias pada anak gemuk di sekolah.

Hasil gambar untuk obesitas pada anak

Terlalu menyederhanakan penyebab obesitas dan anggapan bahwa solusi yang mudah akan memberikan hasil yang cepat dan berkelanjutan, tidaklah bijak. Misalnya solusi anjuran untuk ‘kurangi makan dan lebih aktif bergerak’, telah terbukti berkontribusi menyebabkan bias pada anak gemuk. Solusi tersebut justru dapat menyebabkan harapan yang tidak realistis, bahkan mengaburkan tantangan dalam mengubah perilaku, yang dapat dialami anak dengan obesitas. Selain itu, solusi yang akan dirumuskan sebaiknya tidak hanya dengan lebih sering berfokus pada diskusi seputar perilaku ataupun kegagalan yang dirasakan anak gemuk, tetapi hendaknya juga mempertimbangkan faktor sosial dan lingkungan yang berpengaruh.

Penting sekali untuk memahami penyebab obesitas pada anak secara individual. Bagi pemerintah, pemahaman tersebut diperlukan untuk menyusun program investasi dan pencegahan personal. Selain itu, juga untuk tindakan intervensi dini guna menghentikan kenaikan berat badan yang mengkhawatirkan. Pada saat yang sama, sangat penting untuk menyadari bahwa pemerintah dan masyarakat memiliki kewajiban etis untuk bertindak atas nama anak, dalam mengurangi dampak buruk, tidak hanya dalam aspek kesehatan, tetapi juga konsekuensi sosial dari obesitas. Kegagalan untuk melakukannya akan berdampak pada modal sosial dan kesehatan generasi mendatang, bahkan akan mampu meningkatkan ketidakadilan.

WHO akan bekerja sama dengan berbagai negara, untuk menghasilkan kebijakan nasional yang tidak hanya mampu mencegah terjadinya obesitas, tetapi juga  mengkoreksi bias gemuk dan stigma sosial obesitas pada anak. Kebijakan tersebut harus dituangkan dalam program kegiatan kesehatan masyarakat secara nasional dalam kebijakan publik, terutama terkait pendidikan dan layanan kesehatan. Selain itu, juga program penelitian ilmiah kedokteran dan sosial lebih lanjut, bahkan pertukaran pengetahuan di tingkat lokal, nasional, dan internasional antar negara. Bersediakah kita terlibat?

Sekian

Yogyakarta, 10 Januari 2018

*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak, lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?