TERKABUL KE ISTANBUL (hari terakhir)
fx. wikan indrarto & b. sari prasetyati
Setelah menembus Efesus, kami segera mengikuti International Conference on Medical & Health Science 2023, untuk Selasa dan Rabu, 6 dan 7 Juni 2023 di Uranus Istanbul Topkapi, Zeytinburnu, Turkey, sebelum mengakhiri petualangan di Istanbul yang menawan.
Pembicara konferensi yang cukup menarik untuk diingat antara lain adalah Dr. Jewel Ahmed Chowdhury (CEO at Bangladesh Medical Science Dhaka, Bangladesh) yang mengupas neuroscience untuk masyarakat dari negara terbelakang, Prof. Adelinda Araújo Candeias (School of Health and Human Development at Universidade de Évora Évora, Portugal) yang mengapas pentingnya pendekatan layanan ibu hamil untuk meningkatkan kualitas hidup bayi prematur di kawasan miskin perkotaan. Juga Dr. Nasir Mustafa (Assistant Professor Pathology Anatomy at Istanbul Gelisim University, Istanbul, Turkey) yang menjelaskan peran pemeriksaan patologi anatomi dalam memperbaiki luaran kemoterapi pasien anak dengan kanker solid dan Prof. Mohamed M Maie (CEO at Malaq Maye Ltd Mogadishu, Somalia) yang menguraikan peran jaminan kesehatan sosial di fasilitas kesehatan non pemerintah di negara berkembang.
Setelah sesi istirahat seminar, kami segera bergegas melanjutkan petualangan menikmati selat Bosporus yang memisahkan Turki bagian Eropa dan bagian Asia, menghubungkan Laut Marmara dengan Laut Hitam. Selat ini memiliki panjang 30 km, dengan lebar maksimum 3.700 meter pada bagian utara, dan minimum 750 meter antara Anadoluhisarı dan Rumelihisarı. Kedalamannya bervariasi antara 36 sampai 124 meter.


Saat ini terdapat 3 buah jembatan utama yang menyebrangi Selat Bosporus, yang pertama adalah Jembatan Bosporus yang memiliki panjang 1.074 meter dan diselesaikan pada 1973 dan disebut juga sebagai Jembatan Martir 15 Juli. Yang kedua, Jembatan Fatih Sultan Mehmet dengan panjang 1.090 meter dan diselesaikan pada 1988 sekitar 5 km sebelah utara jembatan pertama. Sejak bulan April 2007, sistem pencahayaan LED yang sepenuhnya terkomputerisasi dengan warna dan pola yang berubah, dikembangkan oleh Philips, menerangi jembatan ini pada malam hari. Jembatan Yavuz Sultan Selim, juga disebut Jembatan Bosporus Ketiga adalah sebuah proyek untuk membangun sebuah jembatan untuk kendaraan bermotor dan kereta di sepanjang Bosporus, di sebelah utara dua jembatan yang telah ada. Jembatan tersebut berada di antara Garipçe di Sarıyer di sisi Eropa dan Poyrazköy di Beykoz di sisi Asia yang mulai dibangun pada 29 Mei 2013. Kami melihat ketiga jembatan tersebut secara bergantian, dengan menggunakan taksi kuning dan diselingi berjalan kaki menyusuri selat Bosphorus, melihat banyak kapal bersandar, warga yang berolahraga lari, bersepda atau berjalan kaki, juga memancing di dekat jembatan pertama.


Setelah puas menikmati ciri khas Istanbul, yaitu pemandangan lansekap kubah banyak masjid, selat Bosphorus yang tenang dengan banyak kapal yang lalu lalang dan burung camar yang selalu terbang rendah, kami segera menikmati kemegahan Istana Topkapı yang merupakan kediaman resmi Sultan Utsmaniyah selama lebih dari 600 tahun (1465-1856). Pembangunan istana ini dimulai pada tahun 1459 atas perintah Sultan Mehmed II atau Sultan Mehmed Sang Penakluk. Kompleks istana terdiri dari empat lapangan utama dan banyak bangunan-bangunan kecil. Pada puncaknya, istana ini dihuni oleh 4.000 orang. Selain sebagai tempat tinggal kerajaan, istana digunakan untuk acara-acara kenegaraan dan hiburan kerajaan. Sekarang menjadi daya tarik wisata dan berisi peninggalan suci penting dari dunia Muslim, termasuk pedang dan jubah Nabi Muhammad.


Istana yang terletak di atas lahan seluas kurang lebih 700.000 m² pada tahun-tahun pendiriannya, sekarang tinggal menjadi seluas 80.000 m². Kemegahan Istana Topkapi memudar pada akhir abad ke-17 karena pada tahun 1856, Sultan Abd-ul-Mejid I memindahkan kediamannya ke Istana Dolmabahçe. Setelah jatuhnya Utsmaniyah pada tahun 1921, Istana ini dijadikan museum berdasarkan dekret pemerintah tanggal 3 April 1924. Istana ini merupakan bagian dari “Wilayah Bersejarah Istanbul”, yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO. Selain itu, Istanbul juga dikenal dengan julukan Kota Segala Kota, karena di masa lampau, Istanbul telah menorehkan sejarah sebagai kota, sekaligus pusat peradaban dunia.


Selanjutnya dengan berjalan kaki menyeberang jalur tram T1, kami mengunjungi Basilica Cistern (Yerebatan Sarnıcı) atau “Istana Bawah Tanah”) yang terbesar dari beberapa ratus waduk atau tangki air kuno yang terletak di bawah kota Istanbul, Turki. Tangki air ini terletak 150 meter barat daya Hagia Sophia di semenanjung bersejarah Sarayburnu, dibangun pada abad ke-6 pada masa pemerintahan Kaisar Bizantium Justinian I. Pada hari ini hanya disimpan dengan sedikit air, untuk akses publik di dalam ruang.
Tangki bawah tanah ini disebut Basilika, seperti sebutan untuk sebuah gereja yang sangat besar, karena terletak di bawah alun-alun umum yang besar, Basilika Stoa, di Bukit Pertama Konstantinopel. Basilika itu dibangun selama Zaman Romawi Awal antara abad ke-3 dan ke-4 sebagai pusat komersial, hukum dan seni. Basilika dibangun kembali oleh Kaisar Illus setelah kebakaran pada tahun 476. Basilika juga berisi taman yang dikelilingi barisan tiang yang menghadap ke Hagia Sophia. Kaisar Konstantinus mulai membangunnya yang kemudian diperbesar oleh Kaisar Justinianus setelah kerusuhan Nika tahun 532, dengan 7.000 budak terlibat dalam pembangunan waduk. Waduk yang diperbesar menyediakan sistem penyaringan air untuk kebutuhan Istana Agung Konstantinopel sampai kepada keluarga Sultan di Istana Topkapi setelah penaklukan Utsmaniyah pada tahun 1453 hingga zaman modern.


Keberadaan waduk tersebut akhirnya dilupakan oleh banyak orang kecuali penduduk setempat yang masih menimba air hingga, pada tahun 1565, musafir Prancis Petrus Gyllius meninggalkan catatan perjalanan sedang mendayung di antara tiang-tiang dan melihat ikan berenang di air di bawah perahu. Renovasi telah dilakukan pada waduk bawah tanah megah yang berasal dari abad ke-6 ini, yang juga disebut Istana Sunken, berupa waduk terbesar dari era Bizantium Istanbul yang ada sampai saat ini. Lokasi ini menjadi lebih dikenali berkat penggemar James Bond pada film, ‘From Russia with Love’ yang mengambil gambar di situ. Ruang bawah tanah memiliki lebih dari 330 kolom marmer dan granit, yang paling terkenal adalah dua kepala Medusa. Ini merupakan situs yang wajib dikunjungi karena pemandangan yang ikonik seperti Hagia Sophia dan Istana Topkapi dalam tur Istanbul.
Setelah belanja pisang di pasar dekat hotel, makan siang dan check out Sultanahmet Inn Hotel, Kucukayasofya mahallesi, Akburcak sokak, no 23, Istanbul, Turkey, kami segera menuju Bandara Istanbul yang terletak di distrik Arnavutköy di sisi Eropa kota, sebagai pengganti dari Bandara Atatürk mulai 6 April 2019. Bandara ini melayani lebih dari 64 juta penumpang pertahun dan menjadikannya bandara tersibuk di Eropa dan bandara tersibuk ke-7 di dunia dalam hal total lalu lintas penumpang. Selain itu, dengan melayani lebih dari 48 juta penumpang internasional, bandara ini menjadi yang tersibuk ke-5 di dunia dalam hal lalu lintas penumpang internasional menurut nilai lalu lintas ACI World.


Karena Bandara Atatürk dikepung oleh kota di tiga sisi dan laut Marmara di sisi lain, bandara tersebut tidak dapat berkembang untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat. Diputuskan untuk membangun bandara baru yang jauh dari pusat kota Istanbul. Bandara ini memiliki kapasitas untuk melayani 200 juta penumpang per tahun dan menjadikannya bandara terbesar di dunia. Biaya proyek diperkirakan €7 miliar, tanpa memperhitungkan biaya pembiayaan. Perusahaan Arsitek Grimshaw yang berbasis di London memimpin tim desain, yang sebagian besar terdiri dari arsitek Inggris. Dibantu Arsitek Haptic yang berbasis di Norwegia dan arsitek Turki Fonksiyon dan TAM/Kiklop. Peresmian bandara berlangsung pada 29 Oktober 2018 dengan menara pengawas berbentuk bunga nasional Turki, tulip.
Bandara Istanbul Turki ini dipilih sebagai bandara terbaik sedunia tahun 2022 oleh pembaca Conde Nast Traveler, sebuah majalah perjalanan dan gaya hidup mewah yang berbasis di New York dan London. Dalam survei tahunan Readers’ Choice Awards dari majalah tersebut, Bandara Istanbul mengambil mahkota posisi pertama dari Bandara Changi Singapura, yang menempati posisi kedua. Kami merasakan keramahan petugas bandara, kenyamanan berjalan kaki dan mengisi waktu saat menunggu esawat dan transit, dalam suasana yang akrab karena saling berdekatan.
Kami segera mencari Pintu A2 untuk boarding pk. 19 menggunakan EK 122 Boeing 777 ER Emirates yang akan membawa kami meninggalkan Istanbul, Turki kembali ke Indonesia tercinta. Disampaikan banyak terimakasih kepada segenap pihak, yang tidak dapat kami sebutkan satu demi satu, karena telah mendukung sepenuhnya dan membaca selengkapnya petualangan ‘Terkabul ke Istanbul’ ini.
Sekian, terimakasih dan sampai bertemu kembali dalam petuangan selanjutnya. Berkah Dalem.
Ditulis di ruang tunggu A2 Bandara Istanbul, Turki sambil leyeh-leyeh kelelahan dan disebarkan dari Terminal 3 Bandara Dubai, UEA.