Categories
Istanbul

ADA KUSTA DI ANTARA KITA

 

fx. wikan indrarto*)

Hari Kusta Sedunia (World Leprosy Day) Minggu, 28 Januari 2018 memiliki tema ‘ending transmission among children’. Hal ini penting untuk memastikan pencapaian target global yaitu nol infeksi pada anak, paling lambat pada tahun 2020. Apa yang harus dilakukan?

 

 

Kusta atau lepra adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Kusta tercatat dalam peradaban kuno di Cina, Mesir dan India. Penyebutan kusta secara tertulis pertama dikenal pada 600 SM dan sejak itu penderita kusta sering dikucilkan oleh masyarakat dan keluarga mereka. Bakteri M. leprae sebagai penyebab kusta ditemukan oleh Dr. GA. Hansen pada tahun 1873 dan merupakan bakteri pertama yang dikenali sebagai penyebab penyakit infeksi pada manusia.

 

Dalam sebuah negara atau daerah endemik, seseorang harus dicurigai kusta jika menunjukkan satu dari tanda utama atau kardinal sebagai berikut,

 

  1. Lesi kulit berwarna putih atau leukoderma yang disertai dengan kehilangan sensorik atau anestesi yang pasti, dengan atau tanpa penebalan saraf dan
  2. Pemeriksaan apusan kulit positif bakteri kusta

 

Lesi kulit dapat bersifat tunggal atau ganda, biasanya kurang berpigmen dari kulit normal di sekitarnya, sehingga terlihat lebih putih. Gangguan sensorik atau anestesi adalah gambaran khas kusta, berupa hilangnya sensasi untuk sentuhan ringan. Saraf yang menebal, terutama batang saraf perifer, merupakan gambaran khas kusta yang lain. Penebalan saraf sering disertai dengan tanda hilangnya sensasi di kulit dan kelemahan otot yang diatur oleh saraf yang terkena. Apusan kulit positif berarti ditemukan bakteri berbentuk batang, bernoda merah dapat dilihat pada sediaan yang diambil dari kulit yang terkena, ketika diperiksa di bawah mikroskop dengan pewarnaan yang sesuai.

 

Terobosan terapi pertama terjadi pada tahun 1940-an dengan pengembangan dapson, obat kusta pertama. Namun durasi pengobatan dengan dapson itu bertahun-tahun dan bahkan seumur hidup, sehingga sulit bagi pasien untuk mematuhinya. Pada tahun 1960, bakteri M. leprae mulai menjadi resistensi terhadap dapson, yang dikenal sebagai obat anti-kusta satu-satunya di dunia pada saat itu. Pada awal 1960-an, ditemukan obat kusta lainnya, yaitu rifampisin dan clofazimine. Sejak tahun 1981, WHO merekomendasikan obat kombinasi (MDT) yang terdiri dari 3 obat: dapson, rifampisin dan clofazimine, dan kombinasi obat ini mampu mematikan bakteri patogen dan menyembuhkan pasien.

 

Pada tahun 1991 Majelis Kesehatan Dunia mengeluarkan resolusi untuk menghilangkan kusta pada tahun 2000. Penghapusan atau eliminasi kusta didefinisikan sebagai tingkat prevalensi kurang dari 1 kasus per 10.000 orang penduduk. Target itu dicapai dengan penggunaan MDT, yang mampu mengurangi beban penyakit secara dramatis. Selama 20 tahun terakhir, lebih dari 14 juta penderita kusta telah sembuh, sekitar 4 juta dari mereka sembuh sejak tahun 2000. Tingkat prevalensi penyakit telah turun 90%, dari 21,1 per 10.000 orang menjadi kurang dari 1 per 10.000 orang pada tahun 2000. Kusta telah mampu dieliminasi di 119 dari 122 negara di mana penyakit ini dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat pada tahun 1985.

 

Jumlah penderita kusta yang dilaporkan dari 38 negara sebanyak 176.176 kasus pada akhir tahun 2015 atau 0,18 kasus per 10.000 penduduk, dengan 211.973 kasus baru atau 0,21 kasus per 10.000 penduduk. Indonesia telah mencapai status eliminasi kusta, yaitu prevalensi kusta <1 per 10.000 penduduk (<10 per 100.000 penduduk), pada tahun 2000. Angka prevalensi kusta di Indonesia pada tahun 2016 sebesar 0,71 kasus/10.00 penduduk dan angka penemuan kasus baru sebesar 6,50 kasus per 100.000 penduduk, dengan 84,19% kasus di antaranya merupakan tipe Multi Basiler (MB). Pada tahun 2016 sebanyak 11 provinsi (32,35%) belum eliminasi, yaitu Jawa Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku, Maluku Utara, Papua, serta Papua Barat. Sedangkan 23 provinsi lainnya (67,65%) sudah eliminasi kusta, dengan penambahan terbaru yaitu Aceh dan Kalimantan Utara.

 

Indikator yang digunakan untuk menunjukkan keberhasilan dalam mendeteksi kasus baru kusta salah satunya adalah angka cacat tingkat 2, yaitu kecacatan permanen. Angka cacat tingkat 2 pada tahun 2016 adalah sebesar 5,27 per 1.000.000 penduduk, menurun dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 6,60 per 1.000.000 penduduk. Provinsi dengan angka cacat tingkat 2 tertinggi pada tahun 2016 adalah Maluku Utara (13,49), Sulawesi Selatan (13,25 dan Papua (11,85). Tingginya angka cacat tingkat 2 menunjukkan keterlambatan dalam penemuan kasus di lapangan.

 

Indikator lain yang digunakan pada penyakit kusta yaitu proporsi Kusta Multibasiler (MB) dan proporsi penderita kusta pada anak (0-14 tahun), di antara penderita baru. Provinsi dengan proporsi kusta MB tertinggi pada tahun 2016 yaitu Kalimantan Tengah (100%), Jambi (96,72), Gorontalo (94,35%). Provinsi dengan proporsi kusta pada anak tertinggi yaitu Papua Barat (28,73%), Nusa Tenggara Timur (27,96%), dan Maluku Utara (23,27%).
Laporan global menunjukkan bahwa 206.107 (96%) dari kasus kusta baru terjadi di 14 negara dengan lebih dari 1.000 kasus baru pada tahun 2013. Kantong endemisitas kusta masih tetap tinggi di beberapa negara, yaitu Angola, Bangladesh, Brazil, Republik Rakyat Cina, Republik Demokratik Kongo, Ethiopia, India, Indonesia, Madagaskar, Mozambik, Myanmar, Nepal, Nigeria, Filipina, Sudan Selatan, Sri Lanka, Sudan dan Republik Tanzania.

 

Momentum Hari Kusta Sedunia (World Leprosy Day) Minggu, 28 Januari 2018 mengingatkan kita tentang target nol infeksi pada anak, meskipun ternyata masih ada kusta di antara kita. Sudahkah kita bertindak?

Sekian
Yogyakarta, 30 Januari 2018

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

By Fx Wikan Indrarto

Dokter Fx Wikan Indrarto

Leave a Reply

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?