
PANDEMI INFLUENZA
fx. wikan indrarto*)
Peringatan dari ‘the US Centers for Disease Control and Prevention’ (CDC) tentang pandemi influenza terbaru, penting untuk dicermati. Pandemi dari Bahasa Yunani ‘pan’ yaitu semua dan ‘demos’ yaitu orang, adalah penyakit yang menyebar di wilayah yang luas, benua atau bahkan di seluruh dunia. Menurut WHO, pandemik terjadi jika telah memenuhi tiga kondisi, yaitu munculnya penyakit baru pada manusia, menginfeksi dan menyebabkan penyakit berbahaya, serta penyakitnya dapat menyebar dengan mudah di antara manusia. Apa yang harus diketahui?
![]()
Pada peringatan seratus tahun ‘Great Influenza’ tahun 1918, perlu evaluasi tentang apa yang telah berubah sejak saat itu dan bagaimana mencegah agar tidak terjadi lagi. Pada akhir periode Perang Dunia I, ‘Great Influenza’ adalah pandemi influenza paling mematikan dalam sejarah di seluruh dunia, yang diyakini telah membunuh sekitar 50 juta orang. Influenza telah membunuh lebih banyak orang dalam satu tahun, dibandingkan kematian saat terjadi wabah dalam satu abad selama Abad Pertengahan. Asal geografis pandemi influenza 1918-1919 tetap tidak jelas, meski sampai sekarang dikenal sebagai “flu Spanyol,” tetapi kasus pertama mungkin terjadi di daratan Amerika Serikat.

Seratus tahun kemudian, tahun 2018 ini terjadi satu musim influenza paling parah sejak pandemi influenza A (H1/N1) tahun 2009, dengan tingginya kasus pasien rawat inap karena influenza. Meskipun banyak kemajuan dalam memahami, mencegah, dan mengobati influenza telah terjadi selama abad yang lalu, tetapi sangat mungkin dunia tetap terus berada dalam ancaman atas penyakit yang berpotensi mematikan ini.
Pada awal Februari 2018, CDC menunjukkan bahwa influenza terus menyebar di Amerika Serikat. Subtipe virus influenza yang dominan adalah influenza A H3N2. Musim ini telah terjadi peningkatan tajam kunjungan pasien rawat jalan untuk penyakit mirip influenza atau ‘Influenza-Like Illness’ (ILI) dan proporsi ILI mendekati 7,7%. Angka ini sudah mendekati tingkat pandemi flu babi H1N1 tahun 2009.
Angka kematian anak terkait flu telah meningkatkan pada tahun ini, lebih tinggi dari musim sebelumnya. Jumlah kunjungan pasien ILI telah melejit di UGD dan klinik rawat jalan, tetapi kebanyakan anak dengan influenza memiliki penyakit yang relatif ringan, yang dapat dikelola di rumah. Oleh sebab itu, jangan sampai setiap pasien perlu dirujuk ke UGD atau klinik RS terdekat.
Tingkat rawat inap juga meningkat pada musim ini, hampir sama dengan tahun 2014-2015. Pasien yang berusia 65 tahun ke atas selalu paling terpengaruh dalam hal tingkat rawat inap, tetapi anak berusia 0-4 tahun yang biasanya merupakan kelompok dengan tingkat rawat inap tertinggi kedua, ternyata sekarang tidak. Tingkat rawat inap pada anak sama atau lebih rendah dari pada musim sebelumnya.
Pada awal Februari 2018, CDC melaporkan bahwa telah terjadi 63 kematian anak, lebih tinggi dibandingkan musim sebelumnya. Pada hal, kematian terkait influenza pada anak sangat menakutkan, baik bagi dokter maupun orang tua dan keluarga. Untuk itu, orang tua dan keluarga haruslah diberdayakan dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda penyakit parah dan indikator untuk membawa anak ke UGD secepatnya. Gangguan pernapasan, kelesuan, atau tanda dehidrasi merupakan alasan utama bagi orang tua, untuk membawa anak mereka segera ke UGD RS terdekat.
Dokter sebaiknya mengetahui kapan harus menggunakan obat anti flu terbaik, yaitu oseltamivir (Tamiflu®) atau penghambat neuraminidase lainnya. CDC saat ini merekomendasikan penggunaan Tamiflu® secara dini, untuk kelompok berisiko tinggi akan terkena penyakit berat dan anak. Tamiflu® harus diberikan dalam waktu 48 jam setelah muncul gejala klinis. Namun demikian, kebanyakan orang dengan influenza akan memiliki penyakit yang relatif ringan, dan penggunaan Tamiflu® secara rutin tidak disarankan, untuk orang dalam kelompok di luar indikasi yang berisiko tinggi tersebut.
Ternyata lebih dari 80% anak yang meninggal terkait flu terbukti tidak divaksinasi. Hal ini penting diketahui bahwa vaksin influenza tetap merupakan sarana terbaik untuk pencegahan, dan masih belum terlambat untuk mendapatkan vaksin influenza. Komposisi vaksin influenza yang direkomendasikan untuk digunakan pada musim influenza tahun 2018-2019 adalah vaksin quadrivalent. Vaksin ini dapat memberikan kekebalan atas 4 jenis virus influenza, yaitu virus Michigan / 45/2015 (H1N1), virus Singapura / INFIMH-16-0019 / 2016 (H3N2), virus Colorado / 06/2017 (Victoria / 2/87); dan virus Phuket / 3073/2013 (Yamagata /16/88).
Strategi pencegahan tambahan adalah meningkatkan kebersihan tangan. Dokter harus memiliki akses yang tepat untuk membersihkan tangan, jaringan, dan sarung tangan, sehingga saat memberikan layanan medis kepada pasien, dokter tidak berkontribusi terhadap penyebaran penyakit di klinik atau RS kepada pasien lainnya. Selain itu, CDC merekomendasikan agar anak dengan influenza tetap tinggal di rumah sampai bebas demam, yaitu tanpa menggunakan obat penurun demam, selama 24 jam.
Momentum seratus tahun ‘Great Influenza’ tahun 1918, mengingatkan kita akan hebatnya mutasi virus influenza, sehingga selalu, berubah, ada dan mengancam kita. Pemberian obat oseltamivir (Tamiflu®) dan imunisasi influenza, tetap terbukti bermanfaat. Sudahkah kita bertindak bijak?

Sekian
Yogyakarta, 23 Februari 2018
*) dokter spesialis anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Lektor di FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA 081227280161