KEMBALI DI BALI
fx. wikan indrarto *)
Keluarga besar FK UKDW (Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana) Yogyakarta, mengadakan acara retreat (kembali melihat) dengan tema ‘rest, pray and joy’, seturut tulisan Mateus 11;28-30. Hal ini karena kita semua telah letih lesu dan berbeban berat, sehingga sudah waktunya untuk belajar kembali kepada Sang Sabda, agar kita menjadi lebih enak dan beban kita menjadi ringan.
Sekembalinya kami dari mengikuti ‘The 16th Annual World Congress on Pediatrics’, yang diselenggarakan di Hilton New York JFK Airport Hotel, 135th Avenue, Jamaica, New York 11436 USA, kami langsung bergabung dalam ‘retreat’ tersebut. Acara ini diikuti oleh 104 peserta, yang meliputi antara lain 2 orang guru besar, 3 orang doktor, 4 orang bayi, dan 8 orang balita. Peserta dari Yogyakarta datang menggunakan pesawat Airbus A320-200 Air ASIA XT8441. Kami datang dari transit di Jakarta, dan bertemu dengan anak bungsu kami, Agatha Larasati Pangarsaningutami Indrarto, saat semuanya mendarat di Bandara I Gusti Ngurah Rai Denpasar, Bali pada Minggu pagi, 25 Maret 2018. Selanjutnya semua peserta menuju ke Hotel Santika Seminyak, sebuah hotel bintang 3 di Jalan Sunset Road No. 17, Seminyak, Badung, Bali. Acara retreat atau ‘kembali mengevaluasi diri’ di Bali ini, diawali dengan laporan Ketua Panitia Dr. Arum Krismi, MSc, SpKK dan Sambutan Dekan FK UKDW Prof. Dr. Willy J. Siagian, SpPA.
Sesi 1 sampai ke 3 ‘retreat’ dipimpin oleh Pdt. Inggrid Suryanto, berupa Games Kelompok atau Team Building, dengan dresscode peserta pria adalah kemeja kotak-kotak warna bebas, dan peserta wanita atasan bunga-bunga warna bebas. Theme song Retreat adalah “Sukacita Surga” yang meriah, bergelora dan memupuk kekompakan peserta. Retreat sesi 1 sampai sesi 3 dilaksanakan di Ballroom hotel, sedangkan sesi 4 pada malam hari, dilaksanakan di lantai tertinggi atau ‘rooftop’ hotel yang diterangi cahaya bulan dan lampu warna-warni.
Pada malam itu kami bertiga, tidak sempat mengikuti seluruh rangkaian acara. Kami pamit untuk mengikuti misa kudus Hari Minggu Palma, sebuah hari besar tanda awal Pekan Suci Paskah dalam tradisi Katolik, di Gereja Katolik Santo Fransiscus Xaverius di Jl. Dewi Sartika 107 Kuta, Badung. Gereja megah ini diawali pada tahun 1967 oleh Pastor Heyne, SVD yang merintis berdirinya Sektor St. Fransiskus Xaverius yang saat itu masih masuk dalam wilayah Paroki St. Yoseph Denpasar. Pastor Paroki St. Fransiskus Xaverius Rm. Hubertus Hadi Setyawan, Pr dan umat berhasil membangun gereja baru yang diberkati oleh Mgr. Benyamin Yosef Bria, Pr Uskup Denpasar waktu itu, pada tanggal 2 Mei 2007. Kami mengikuti misa kudus dalam bahasa Inggris, dengan banyak sekali umat dari berbagai penjuru dunia, termasuk turis bule, negro, kulit kuning, kaum Hispanic, polynesia dan masih banyak ras lain lagi.
Malam itu kami dijemput oleh sepupu Tante Aning (Wahyu Prasetyaningtyas, owner dan CEO Lentera Hati School, di Jl. Taman Baruna No.14, Jimbaran, Kuta Sel., Kabupaten Badung, Bali), dengan suami, anak sulung dan menantunya yang jago memasak menu Italia. Kami lanjut makan malam menu khas Bali, yaitu lawar, sate lilit, kerupuk keras, serombotan, dan nasi jenggo di sebuah foodcourt 24 jam dekat sebuah banjar atau rumah adat di suatu sudut Sanur, Denpasar. Makan malam dalam keremangan dan alunan musik Bali, di Men Tinggen Nasi Bali di Jalan Panjang Sari, Sanur Kuah, Denpasar Selatan, membuat reuni kami sekeluarga tambah mendalam.
![]() |
![]() |
|
Mendarat di Bali dari Jakarta |
Makan malam dalam keremangan |
Senin pagi, 26 Maret 2018, dengan menggunakan 3 buah bis medium milik Mai Bus Transport & Co, yaitu Hino Jetbus MD2+ buatan karoseri Adi Putro Malang yang berwarna coklat susu, semua peserta dengan dress code kaos hijau pupus sudah mampu menikmati beban kehidupan yang semakin ringan dalam ‘joy’, yaitu wisata bersama. Kami mengunjungi Toko Erlangga, yang merupakan toko souvenir, berbagai macam oleh-oleh, dan jajanan khas Bali. Toko Erlangga dilengkapi dengan fasilitas parkir yang luas, mushola, food court, dan arena bermain anak-anak, yang terletak di Jl. Nusakambangan no 162, Denpasar. Selanjutnya kami mengunjungi Garuda Wisnu Kencana (GWK).
![]() |
![]() |
|
Start petualangan kami di Hotel Santika Seminyak, Badung Bali |
Hino Jetbus MD2+ Mai Bus Transport & Co buatan karoseri Adi Putro Malang |
Objek wisata Garuda Wisnu Kencana atau terkenal dengan nama GWK Bali, merupakan salah satu tempat wisata terkenal di Bali. Tempat wisata GWK adalah sebuah taman budaya yang memiliki luas 240 hektar, yang beralamat di Jalan Raya Uluwatu, Desa Ungasan, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. Patung Garuda Wisnu Kencana dibangun tahun 1997 dengan modal yang berasal dari BUMN, Bali Tourism Development Corporation (BTDC) dan I Nyoman Nuarta yang merupakan pembuat patung tersebut. I Nyoman Nuarta (lahir di Tabanan, Bali, 14 November 1951) adalah pematung besar dan salah satu pelopor Gerakan Seni Rupa Baru (1976). Mahakaryanya yang terkenal antara lain Garuda Wisnu Kencana (Bali), Monumen Jalesveva Jayamahe (Surabaya), serta Monumen Proklamasi Indonesia (Jakarta). Nyoman Nuarta mendapatkan gelar sarjana seni rupa dari ITB dan hingga kini menetap di Bandung.
Garuda Wisnu Kencana merupakan wujud dari Dewa Wisnu yang adalah Dewa Pemelihara (Sthiti) dalam agama Hindu, sedang mengendarai seekor burung Garuda. Nama Garuda Wisnu Kencana berasal dari nama tokoh yang ada yaitu Garuda dan Wisnu, sedangkan kencana berarti emas karena tahta tempat patung burung Garuda dan Dewa Wisnu berdiri dilapisi emas.
![]() |
![]() |
|
Patung Dewa Wisnu yang besar di GWK |
Patung kepala Garuda di GWK |
Megaproyek patung Garuda Wisnu Kencana memiliki desain yang unik. Bahan patung menggunakan campuran tembaga dan baja seberat 3.000 ton. Bayangkan betapa besar patung yang terbangun dari bahan tersebut. Namun sejak awal, pematung sudah melihat bahwa ketika pembangunannya selesai, maka patung setinggiu 120 m ini akan menjadi patung terbesar di dunia mengalahkan patung Lady Liberty di New York, USA setinggi 93 m yang kami kunjungi pada Selasa, 20 Maret 2018 dan ‘Christ The Redeemer’ di puncak gunung Corcovado Rio de Janeiro, Brasil setinggi 50,9 m yang kami kunjungi pada Kamis, 19 November 2015. Tinggi GWK masih kalah dibandingkan Menara Eifel di Paris Perancis, yaitu setinggi 301 m yang kami kunjungi pada Jumat, 12 September 2014 dan Pyramid Giza setinggi 139 m yang belum pernah kami kunjungi. Patung GWK ini juga diproyeksikan memiliki jarak pandang mencapai 20 km sehingga masih dapat terlihat dari Kuta, Sanur, Nusa Dua, hingga Tanah Lot.
Proses pembuatan Patung GWK dilakukan oleh I Nyoman Nuarta di tempat kerjanya di Bandung. Desain patung terdiri dari 24 segmen dengan total modul sebanyak 754. Bahan patung yang digunakan adalah logam tembaga dan kuningan, kemudian kedua logam ini dilapis dengan zat asam patina. Modul yang telah selesai langsung dikirim ke Bali dimana proses ini masih berlangsung sampai sekarang. Tercatat hingga tahun 2015 lalu, Nyoman baru menyelesaikan patung GWK setinggi 23 meter dari total 120 meter. Pondasi patung setinggi 45 meter direncanakan akan digunakan sebagai ballroom. Kelak patung GWK akan digunakan sebagai patung penyambutan wisatawan yang berkunjung ke Pulau Bali, karena akan terlihat sangat jelas dan mengagumkan dari pesawat ketika memasuki Pulau Bali.
Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana juga menawarkan fasilitas berupa ‘venue’ yang bisa digunakan untuk acara-acara publik baik skala besar maupun skala kecil seperti Wisnu Plaza, Lotus Pond, Kura-Kura Plaza, Street Theatre, Indraloka Garden, dsb. Oleh karena itu, beberapa pertunjukkan-pertunjukkan besar menggunakan GWK sebagai lokasi mereka, seperti; konser Iron Maiden, konser Paramore, acara final Miss World 2013, dan Soundrenaline 2016. Jadi bisa dibayangkan betapa megahnya acara-acara seperti itu, kelak ketika pembangunan patung Garuda Wisnu Kencana sudah selesai 100%. Kami membayangkan itu semua, sambil makan siang di sebuah reatourant di dekat pintu masuk arena GWK.
Selanjutnya kami mengjungi Pantai Pandawa, salah satu kawasan wisata di area Kuta selatan, Kabupaten Badung, Bali. Pantai ini terletak di balik perbukitan dan sering disebut sebagai Pantai Rahasia (Secret Beach). Di sekitar pantai ini terdapat dua tebing yang sangat besar yang pada salah satu sisinya dipahat lima patung Pandawa dan ibunya, dewi Kunti. Keenam patung tersebut secarara berurutan (dari posisi tertinggi) adalah Dewi Kunti, Dharma Wangsa, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Selain untuk tujuan wisata dan olahraga air, pantai ini juga dimanfaatkan untuk budidayarumput laut, karena kontur pantai yang landai dan ombak yang tidak sampai ke garis pantai. Cukup banyak wisatawan yang melakukan paralayang dari Bukit Timbis hingga ke Pantai Pandawa. Kawasan pantai ini juga sering digunakan sebagai lokasi pengambilan gambar untuk sinetron TV. Pantai Pandawa adalah pantai yang letaknya di ujung Desa Kutuh di Uluwatu. Tadinya pantai ini bernama pantai Kutuh dan untuk mencapai surga tersembunyi ini dibutuhkan kerja keras menuruni tangga atau melewati jalan sempit diantara karang. Kemudian pemerintah mengguyurkan dana untuk komersialisasi penuh akan potensi pariwisata di pantai Kutuh. Pantai inipun kemudian disulap menjadi Pantai Pandawa.
![]() |
![]() |
|
Tulisan Pantai Pandawa di dinding tebing yang tinggi dan gagah |
Patung Bima di dalam gua di pinggir jalan ke Pantai Pandawa |
Sangat populer, bisa dikatakan adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan pantai Pandawa saat ini. Kepopulerannya bahkan bisa dibilang sudah melampaui pantai-pantai lain di Sanur, Jimbaran atau Nusa Dua yang sudah terlebih dahulu tampil di hadapan publik. Tidaklah mengherankan kenapa pantai ini cepat mendapatkan kepopulerannya, bentangan pasir putih dengan air biru jernih dan ombak yang tidak terlalu besar akan benar-benar memanjakan pengunjung pantai ini. Fasilitas pariwisata dan akses yang mudah menjadi faktor lain mengapa turis domestik dan luar negeri berbondong-bondong datang ke Pantai Pandawa.
Untuk mencapai pantai Pandawa bukanlah hal yang susah. Ikuti jalan utama karena cukup panjang sampai ada persimpangan yang memiliki papan penunjuk arah “Pantai Pandawa” ambil kembali arah kanan jalan. Jalan beraspal yang mulus diantara tebing besar akan membawa kita langsung ke Pantai Pandawa. Yang unik dari pantai ini adalah ceruk-ceruk di tebing dimana masing-masing dihiasi patung para Pandawa dari Epik terkenal Hindu, Mahabharata. Jalan masuk menuju Pantai Pandawa yang diapit dua tebing batu membuat pantai ini juga disebut sebagai pantai rahasia.
![]() |
![]() |
|
Tulisan Pantai Pandawa di dinding tebing yang tinggi dan gagah |
Jalan masuk menuju Pantai Pandawa yang diapit dua tebing batu |
Selanjutnya kami jalan-jalan ke Uluwatu untuk menyaksikan ‘Kecak Fire Dance’. Pura Luhur Uluwatu merupakan salah satu destinasi wisata yang menarik dikunjungi saat berlibur ke Pulau Dewata, yang terletak di sekitar Kecamatan Kuta, Desa Pecatu, Bali.
Sebelum masuk ke dalam kawasan pura, seluruh pengunjung yang memakai rok atau celana pendek diminta untuk menggunakan kain warna ungu atau kuning sebagai bentuk penghormatan saat masuk ke tempat suci. Para pelancong juga diminta untuk menyimpan semua barang-barang di dalam tas serta tidak membawa makanan-minuman ke dalam area pura karena kawasannya dikelilingi monyet.
Panorama langit cerah, batu karang besar setinggi 70 meter, dan laut yang tenang terlihat menyatu. Semua turis lokal maupun internasional yang datang tentu tidak ingin melewatkan momen ini tanpa berfoto bersama. Setelah puas menikmati keindahan dari atas batu kerang, kami dan para turis lain juga ingin menonton tari kecak di sekitar pura. Pertunjukkan tari kecak memang selalu diadakan setiap sore, agar penampilannya semakin maksimal. Tari kecak digelar di dalam Pura Luhur Uluwatu yang memiliki sarana seperti stadion olahraga berukuran kecil dengan muatan hingga 800 penonton. Harga tiket masuknya Rp 100 ribu per orang.
![]() |
![]() |
|
Pura Luhur Uluwatu di bibir jurang |
Matahari terbenam di Pura Luhur Uluwatu |
Tak hanya dapat menikmati pertunjukkan tari kecak, para pelancong juga dapat menikmati detik-detik menjelang matahari tenggelam. Sambil menunggu pesiapan tari dimulai, para penonton disuguhi pemandangan yang indah, di mana matahari tampak bulat dan seolah ingin menyatu dengan laut. Sinarnya begitu menyengat tapi tidak terasa panas karena sudah menjelang malam. Setelah matahari mulai berubah menjadi oranye, baru kemudian para penari masuk ke dalam area lokasi tari kecak disuguhkan. Jadi para pengunjung bisa menyaksikan tarian adat tersebut sambil menikmati tenggelamnya matahari dari atas Pura Luhur Uluwatu, Bali. Sungguh indah!
![]() |
![]() |
|
Menonton Tari Kecak Pura Luhur Uluwatu |
Hanoman Obong di Pura Luhur Uluwatu |
Berada di atas tebing berbatu terjal dan menghadap ombak, Pura Luhur Uluwatu adalah salah satu dari 9 pura utama di Bali. Pura laut ini adalah salah satu situs paling populer untuk menonton tari kecak legendaris, yang berlangsung setiap sore hari saat matahari terbenam. Pura yang indah ini menggabungkan pemandangan alam yang spektakuler dengan budaya Bali yang unik. Sebagai penghormatan kepada umat Hindu Bali, sarung tersedia secara gratis di pintu masuk. Ini adalah kain sederhana yang harus dikenakan oleh wanita saat mengenakan pakaian yang tidak menutupi lutut mereka. Pria juga akan diberikan selempang sederhana yang harus mereka ikat di pinggang. Tari kecak yang legendaris merupakan salah satu pertunjukan paling dramatis dari semua seni pertunjukan tradisional Bali. Tari kecak adalah tari yang menggabungkan unsur kesenian tari dan drama, guna menciptakan gambaran yang menakjubkan dari kebudayaan agama Hindu, “Ramayana.” Cerita ini mengisahkan Pangeran Rama yang harus mengalahkan kejahatan Raja Rahwana untuk menyelamatkan Putri Sita yang diculik. Tari kecak juga kental akan unsur spiritual yang diyakini bahwa selama ritual suci ini, entitas spiritual akan memasuki tubuh para penari.
Selanjutnya kami menuju Pantai Jimbaran, untuk menikmati santap malam. Meja dan kursi yang diletakan langsung di pantai berpasir, ditambah lilin untuk menghangatkan dan suara menyenangkan dari gelombang laut. Pantai Jimbaran adalah salah satu dari banyak pantai di Bali yang memiliki pasir berwarna putih dan memiliki pemandangan sunset yang sangat cantik, saat sore hari tentu saja pantai ini ramai dikunjungi oleh wisatawan karena sunsetnya yang indah.
![]() |
![]() |
|
Gelap malam di Pantai Jimbaran Bali |
Suasana makan malam di Pantai Jimbaran |
Di sepanjang pantai Jimbaran terdapat banyak sekali jenis cafe yang menjual menu olahan laut seperti ikan bakar, kerang bakar, udang, cumi-cumi hingga lobster. Menu kami adalah Wellcome drink, Balinese Peanut, Fish Soup, Grilled Fish 350 gr, Grilled Prawn 3 pcs, Grilled Clams 3 pcs, Squid Calamary 200 gr, Steamed white Rice, Kangkung Vegetables, Special Sauce bumbu Bali, Slice Tropical Fruits dan One Bottle of Mineral Water. Malam itu kami tidur nyenyak di kamar 335 Hotel Santika Seminyak, setelah kekenyangan dan puas berwisata (joy).
Selasa, 27 Maret 2018 segera kami bangun dan berkemas, untuk melanjutkan perjalanan hari terakhir di Bali, yaitu ke Pantai Kuta. Pantai ini adalah bentangan panjang pantai berpasir putih yang menghadap ke Samudera Hindia. Kuta menjadi area yang seakan tidak pernah tidur dan penuh dengan energi dari pagi sampai malam. Sebelum menjadi objek wisata, Kuta merupakan sebuah pelabuhan dagang tempat produk lokal diperdagangkan kepada pembeli dari luar Bali. Pada abad ke-19, Mads Lange, seorang pedagang Denmark, datang ke Bali dan mendirikan basis perdagangan di Kuta. Ia ahli bernegosiasi sehingga dirinya terkenal di antara raja-raja Bali dan Belanda. Selanjutnya, Hugh Mahbett menerbitkan sebuah buku berjudul “Praise to Kuta” yang berisi ajakan kepada masyarakat setempat untuk menyiapkan fasilitas akomodasi wisata. Tujuannya untuk mengantisipasi ledakan wisatawan yang berkunjung ke Bali. Buku itu kemudian menginspirasi banyak orang untuk membangun fasilitas wisata seperti penginapan, restoran dan tempat hiburan.
![]() |
![]() |
|
Peselancar di Pantai Kuta |
Pantai Kuta yang berombak sedang |
Setiap tahun, pengunjung pantai Kuta kerap mengeluhkan masalah kebersihan dan tumpukan sampah di pantai Kuta, terutama saat musim liburan. Permasalahan ini berusaha diatasi oleh prajuru Desa Adat Kuta dan anggota Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) yang merupakan mitra dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Badung. Setiap pagi, Dinas Kebersihan dan Pertamanan juga aktif mengoperasikan mobil loader untuk memunguti sampah di pagi hari, sehingga saat kami datang pagi itu, suasana Pantai Kuta sudah lumayan bersih.
Selanjutnya kami pergi ke Joger, yaitu Pabrik Kata-kata Joger, Kuta, Bali yang dimiliki oleh Joseph Theodorus Wulianadi atau Pak Joger atau Mr. Joger. Riwayat pendidikan Pak Joger dari SR (SD), SMP, SMA, di Denpasar. Lulus SMA Katolik St. Joseph (swatiastu), Denpasar 1970, sempat kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mandala, Surabaya, tapi pada tahun 1973 ’membuang diri’ ke Jerman Barat, sekolah perhotelan Hotelfachshule (D Speiser, Bad Wiesse) sambil praktek kerja (nguli) di bidang Food & Beverage Hotel Schwanen – Bernhausen (dekat Stuttgart), tahun 1976 pulang kampung, sempat menjadi pemandu wisata ‘freelance’ bagi tamu-tamu berbahasa Jerman. Sekitar bulan Agustus 1980 dengan bekal modal uang Rp. 500.000 memulai usaha di bidang batik & kerajinan yang mengkhususkan diri untuk menggarap pasar domestik dengan sistem pemasaran ‘door to door’ (gedor-gedor rumah orang), karena memang belum punya gedung/toko. Mulai tanggal 19 Januari 1981, berkat dukungan dari berbagai pihak dan pinjaman gedung, berhasil membuka toko pertama, di Jl. Sulawesi 37, Denpasar, dengan nama ‘Art & Batik Shop Joger’. Nama ‘Joger’ adalah singkatan atau gabungan dari nama depan Joseph dengan nama depan teman sekolah di Hotel Fachscule, Jerman dulu, GERhard Seeger yang menghadiahi uang sebesar US $ 20.000.
![]() |
![]() |
|
Pak Joger yang kreatif |
Toko di Jl. Raya Kuta (sejak dulu memang tanpa nomer), Kuta, Bali |
Demikianlah, nama JOGER sampai boleh dan bisa menjadi sebuah nama besar dan harum yang bahkan sering kali dianggap identik dengan T Shirt-T Shirt atau kaus-kaus (kaos-kaos) maupun souvenir-souvenir dengan disain kata-kata uniek/khas Mr. Joger, yang walaupun sebenarnya sudah punya kemampuan, peluang maupun permintaan pasar yang sangat besar untuk membuka cabang atau mengembangkan sayap ke mana-mana, tapi karena merasa dan sadar bahwa kami bukanlah pohon yang harus bercabang-cabang dan juga bukan burung yang harus mengembangkan sayap ke sana ke mari, maka sejak tanggal 7 Juli 1987 (777), di samping memutuskan untuk punya hanya satu toko yang terletak di Jl. Raya Kuta (sejak dulu memang tanpa nomer), Kuta, Bali ini saja, juga secara tegas membatasi pembelian kaus-kaus (T-Shirts) JOGER, dan juga secara tegas melarang penjualan semua produk bermerek dagang, bercap JOGER dan bertanda tangan JOGER, untuk diperjual belikan di luar satu-satunya gerai, yang sejak 1990 sudah disebut sebagai Pabrik Kata-Kata JOGER.
Dari Joger kami semua langsung menuju ke Bandara I Gusti Ngurah Rai Denpasar Bali, untuk kembali ke Yogyakarta. Kami terbang dengan Air Asia XT 8448 Airbus A 320-200 rute Denpasar ke Jogjakarta pada Selasa sore, 27 Maret 2018. Awalnya AirAsia dimiliki oleh DRB-HICOM milik Pemerintah Malaysia, namun maskapai ini memiliki beban yang berat dan akhirnya dibeli oleh mantan eksekutif Time Warner, Mr. Tony Fernandes, dengan harga simbolik 1 Ringgit pada 2 Desember 2001. Tony melakukan ‘turn around’ dan AirAsia berhasil membukukan laba pada 2002 dengan berbagai rute baru dan harga promosi serendah 10 RM, bersaing dengan Malaysia Airlines.
Indonesia AirAsia (sebelumnya bernama AWAIR atau Air Wagon International) didirikan pada September 1999. Pada tahun 2004, AWAIR diambil alih AirAsia, dan mengalihkan orientasi pasarnya ke penerbangan berbiaya rendah. Penerbangan pertamanya dimulai pada Desember 1999. Mulai 1 Desember 2005, AWAIR berganti nama menjadi PT. Indonesia AirAsia. Dengan semboyan ‘Now Everyone Can Fly’, kami juga dapat ikut terbang ke Jogja, setelah kembali di Bali. Terimakasih atas semua kerja keras panitia penyelenggara, sehingga retreat FK UKDW Yogyakarta 2018 dengan tema tema ‘rest, pray and joy’, seturut tulisan Mateus 11;28-30 ini, dapat berjalan dengan lancar dan sukses.
Sampai bertemu kembali pada acara selanjutnya.
Sekian
Yogyakarta, 28 Maret 2018
*) salah seorang peserta retrat FK UKDW 2019, WA 081227280161

DR. Dr. Fx. Wikan Indrarto, SpA




















6 replies on “2018 Kembali (retreat) di Bali”
Terima kasih atas catpernya (catatan perjalanan).
Semoga bermanfaat
What ?
What ?
What ?
What ?