TAIWAN TENAN
fx. wikan indrarto*)
Rabu, 22 Sep 2010, dengan pesawat Garuda GA-205 sebuah Boeing 737-200, pk. 09.15, kami meninggalkan Yogyakarta menuju Jakarta. Perjalanan dilanjutkan dengan pesawat China Airlines CI-762 sebuah Airbus A330-300 dari Jakarta ke Taipei yang berangkat pk. 14.15. Perjalanan dari bandara CGK (Cengkareng Jakarta) perlu waktu 5 jam sampai di bandara TPE (Toyuan International Airport Taipei, Taiwan). Kami mencari bagasi di bandara TPE sekitar pk. 22 waktu setempat (sesuai dengan WITA) dan dilanjutkan dengan perjalanan darat menggunakan taxi Honda New Accord setir kiri matic, melalui jalan tol bandara, dengan tarif NT$ 1.200 (setara Rp. 350.000) selama 35 menit untuk sekitar 40 km, menuju Hotel First yang berbintang 3. Petualangan di Taiwan segera dimulai.
![]() |
![]() |
| Tiba di stasiun MRT kota Taipei (Taipei Main Station) yang bersih dan modern | |
| Pulau Taiwan dari atas satelit. Taipei terletak di ujung utara pulau tersebut |
Taipei adalah pusat kegiatan politik, ekonomi dan budaya Taiwan. Letaknya di sisi utara Pulau Taiwan, yaitu di tepi sungai Danshui dan dikelilingi banyak gunung. Luas Taipei 272 km2, dihuni 2,6 juta orang warga dan berkepadatan penduduk 9.5888,5 orang/km2, sehingga merupakan salah satu kota terpadat penduduknya di dunia. Saat ini Taipei melanjutkan dominasinya di bidang perdagangan, keuangan, media dan pusat komunikasi dunia, bahkan pemerintah kota Taipei sedang menerapkan rencana ‘Cyber City’ dengan sistem teknologi informasi yang terpadu. Selain itu, pembangunan gedung-gedung pencakar langit ‘The Taipei World Trade Center’, ‘The Nanking Economic and Trade Park’ dan yang paling spektakuler adalah Taipei 101, merupakan bukti keunggulan arsitektur dan teknologi Taiwan yang canggih dan modern. Namun demikian, pusat-pusat budaya seperti Chiang Kai-shek Memorial, National Palace Museum dan Sun Yat-sen Memorial, tetap lestari dan menunjukkan kemegahan gaya kuno dan Cina klasik yang berdampingan secara wajar dan serasi dengan kemajuan teknologi. Malam itu kami tertidur dengan bayangan keindahan yang telah kami baca sebelumnya, akan kami lihat sendiri keesokan harinya.
Kamis 23 Sep 2010, dari Hotel First di Nanjing East Road, kami berjalan kaki sekitar 800 m ke Zhongshan MRT Station, yaitu stasiun kereta api dalam kota yang terdekat, dan langsung membeli Easy Card, sebuah kartu pembayaran elektronik. Kami naik MRT Danshui Line ke Taipei Main Station. Di ‘interchange station’ yang sangat ramai tersebut, kami berganti MRT Bannan Line ke Sun Yat-sen Memorial Hall Station. Meskipun di stasiun besar kota Taipei tersebut sangat ramai manusia, tidak satupun yang berbicara, semua berjalan cepat dalam keteraturan, baik di lorong, di eskalator, maupun di tangga. Siapa yang merasa lebih lambat berjalan atau berdiam di eskalator yang melaju, selalu berada di sisi kanan, sehingga orang lain yang lebih tergesa akan mendahuluinya melalui sisi kiri dan semua merasa nyaman. Dari stasiun MRT kami jalan kaki lagi hampir 500 m ke Sun Yat-sen Memorial Hall, sebuah bangunan besar untuk mengenang jasa Dr. Sun Yat-sen yang artistik, besar dan damai. Kami sempatkan berfoto di depan patung besar Dr. Sun Yat-sen yang merupakan tokoh utama terbentuknya Republik China saat awal abad 20. Setelah itu, kami melihat benda-benda bersejarah peninggalan Dr. Sun Yat-sen yang masih tersisa, sebab sebagian besar hancur atau tertinggal di Cina daratan setelah kaum nasionalis dikalahkan kaum komunis dalam Perang Saudara 4 tahun di pertangahan abad 20 lalu. Setelah berfoto dan merasakan sensasi kewibawaan Dr. Sun Yat-sen di lapangan utama yang luas, kami lanjutkan dengan berjalan kaki lagi melewati Grand Hyatt Taipei Hotel menuju ke gedung Taipei 101, sebuah monumen teknologi konstruksi yang luar biasa dan pernah merupakan gedung tertinggi di dunia dengan total ketinggian bangunan 449 m, meskipun sekarang telah dikalahkan oleh Burj Dubai.
![]() |
![]() |
| Bergaya di gerbang arena konggres ACPID di TICC (Taipei International Convention Center) | Patung besar Dr. Sun Yat-sen yang berwibawa di Sun Yat-sen Memorial Hall |
Sepanjang perjalanan kami amati banyak sekali mobil buatan Jepang seperti di Indonesia, bahkan Toyota Kijang kapsul di Taiwan dinamakan Surf, yang cukup banyak berseliweran. Juga taxi merupakan mobil buatan Jepang, persis seperti yang digunakan para orang mapan di Indonesia yang baru dan mahal, seperti Camry, Accord, Civic, Lancer, Wish, Altis dan Vios. Kami mencari loket untuk ‘entrance observatory Taipei 101’ yang berada di lantai 5 gedung tersebut yang buka pada pk. 11-22. Setelah membeli tiket masuk seharga NT$ 400/orang, kami bergabung dalam antrian pengunjung yang panjang dan teratur untuk masuk lift. Sebelum masuk terdapat ‘snapshot service’, yaitu layanan foto digital sistem ‘croping’ (paduan gambar) dengan latar belakang gedung Taipei 101, yang hasilnya bisa dipilih pengunjung, suasana malam atau siang hari. Kami menggunakan lift tercepat di dunia, yaitu saat naik berkecepatan 1.010 m/menit dan saat turun berkecepatan 600 m/menit. Lift buatan Toshiba Jepang itu masuk Guinness World Record, sehingga kami sampai ke lantai 89 hanya perlu waktu 39 detik. ‘Basement’ di gedung itu terdapat 5 lantai, ‘sky lobby’ di lantai 35, 36, 59 dan 60, sedangkan ‘observatory lobby’ yang kami tuju berada di lantai 89.
Warga Taiwan merasakan hampir 200 kali gempa bumi dalam setahun, atau hampir paling sering di dunia. Meskipun demikian, mereka ‘menantang’ maut dengan membangun gedung tertinggi di dunia, yaitu gedung Taipei 101 yang dibangun di jantung kota Taipei setinggi 508 m setelah ditambah tinggi antena komunikasi di atapnya, dan telah menjadi pusat bisnis, teknologi dan perbelanjaan sejak tahun 2003. Di gedung Teipei 101 yang merupakan ‘Landmark in Taipei’, terdapat ‘Super Big Wind Damper’ yang disebut ‘Damper Baby’s’, yaitu sebuah bola baja bercat kuning dengan diameter 5,5 m, berat 660 metric ton. Saking tingginya gedung, terasa sekali sensasi terayun-ayun di atap gedung. Namun demikian, kehadiran bola itu mampu menopang gedung, sehingga tetap kokoh berdiri. Bola ini tersusun dari 41 lapis baja setebal masing-masing 12,5 cm plat baja, digantungkan pada 42 meter tali baja dengan diameter 9 cm sebanyak 16 buah, sehingga dapat mengurangi gerakan bagian puncak gedung sampai 40%, apabila terjadi gempa bumi atau tiupan topan. Inilah puncak teknologi konstruksi para insinyur Taiwan dan Jepang untuk menantang alam, sebab gempa bumi dan topan adalah kejadian alam tersering di Taiwan. Gedung ini dialiri listrik dari 2 buah sumber listrik mandiri berkekuatan 22,8 KV.
![]() |
![]() |
| ‘Super Big Wind Damper’di lantai 88 gedung Taipei 101 |
Gedung Taipei 101 dilihat dari halaman depan Sun Yat-sen Memorial Hall |
Setelah puas melihat pemandangan alam kota Taiwan di balik kaca dari ‘indoor observatory’ di lantai 89, kami naik tangga ke lantai 91 yang merupakan ‘outdoor observatory’ dalam ketinggian 386 m. Kami juga melihat pemandangan kota Taiwan secara langsung, sehingga juga dapat merasakan sensasi hembusan angin. Wuih, luar biasa kuatnya terpaan angin di ketinggian tersebut. Akhirnya kami turun tangga ke lantai 88 untuk melihat bola ajaib, ‘Damper baby’s’ itu dari dekat, sebab bola tersebut menempati 2 lantai, yaitu dari dasar lantai 88 sampai pertengahan lantai 89. Setelah berfoto dan menikmati ‘coral art’ atau cinderamata dari kerang dan batu hias dasar laut lainnya di lantai 88 sisi luar, lalu kami turun dengan lift tercepat di dunia, yang dalam waktu 45 detik sudah tiba kembali di lantai 5, yaitu ‘entrance observatory Taipei 101’ untuk mengambil tas bekal yang harus dititipkan di loket. Setelah kami puas menikmati ‘lobby entrance’ yang artistik, futuristik dan ramai pengunjung tersebut, kami lanjutkan dengan berjalan kaki di sekitar gedung. Di tepi jalan ada persewaan sepeda seharga NT$ 1.999 yang dapat dibayar secara digital dengan Easy Card. Sepeda yang kami pilih berjajar rapi di jalur sepeda dan terkunci otomatis pada tiang kunci yang berbentuk seperti ‘hidrant’ pemadam kebakaran. Kami mencobanya berulang, dengan mengikuti petunjuk yang ada, tetapi tetap tidak berhasil, yang ternyata karena ‘safe deposit’ di Easy Card kami tidak mencukupi. Wajar saja, karena kami hanya membeli nominal terkecil, yaitu NT$ 500 dan sudah terpakai naik MRT berulang kali.
![]() |
![]() |
| Taxi Toyota All New Camry yang mewah, luas, dan terjangkau | Gerbang lokasi konggres ACPID di TICC (Taipei International Convention Center) |
Setelah makan siang di warung kaki lima ber-AC di pinggir jalan Guangfu Road dengan menu utama mie Cina, kami menuju TICC (Taipei International Convention Center) dengan berjalan kaki, untuk mengikuti ACPID (The 5th Asian Conggress of Pediatric Infectious Diseases). Kami sempat naik taksi karena sudah kelelahan, tetapi sopir taxi yang jujur mempersilakan kami jalan kaki, karena gedungnya tidak jauh. Hampir semua sopir taxi di Taipei sudah manula, sehingga harus menggunakan kacamata baca atau kaca pembesar untuk membaca tulisan tujuan kami dalam huruf latin ataupun kanji. Taiwan memberdayakan para manula untuk tugas-tugas non fisik di banyak sektor, misalnya sopir taxi, penerima tamu ruang makan hotel, pembersih mesin karcis digital di stasiun MRT dan lain-lain. Setelah melakukan registrasi dan bertemu beberapa peserta dari Indonesia, kami mengikuti sesi khusus bertema ‘Important Infectious Diseases in Taiwan and Japan’. Selanjutnya, kami ikuti ‘Keynote Lecture’ dengan tema ‘Hepatitis B Virus Infection, Host and Virus Interaction’ oleh Prof Mei-Hwei Chang dari Taiwan. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Chiang Kai-sek Memorial Hall. Dari TICC kami menggunakan taksi Toyota Wish bertarif NT$ 90 ke stasiun MRT di Sun Yat-sen Memorial Hall. Kami naik MRT Banqiao Line melewati stasiun Zhongxiao Fuxing, Xinsheng, Shandao Temple dan berganti MRT Xindian Line di Taipei Main Station.
Setelah MRT Xindian Line melewati NTU (National Taiwan University) Hospital Station, kami turun di Chiang Kai-shek Memorial Hall Station. Kami memasuki kompleks Chiang Kai-shek Memorial Hall atau juga dinamakan ‘National Taiwan Democracy Memorial Hall’, dimana terdapat gedung konser (‘National Concert Hall’ beratap model Xie Shan) dan teater (‘National Theater’ beratap model Wu Dian) yang merupakan gedung kembar di dekat gerbang masuk yang disebut ‘Da Zhong Zhi Zheng’ atau ‘Great Golden Mean and Extreme Righteousness’, dilengkapi lapangan ‘Liberty Square’ seluas 3.000 m2, bergaya arsitektur China saat keemasan Dinasti Ming, yang beratap oktagonal warna biru langit setinggi 30m dan dipadu dengan pilar-pilar berwarna putih. Memorial Hall tersebut berarsitektur China klasik beratap biru, berdiri megah dalam areal seluas 25 ha, berlantai 5 dan di puncak gedung terdapat patung besar Presiden Chiang Kai-shek yang sedang duduk dalam ketinggian 70 m, yang dicapai dengan 89 anak tangga dan melambangkan usianya saat meninggal. Patung dan tersenyum ramah melihat keramaian aktivitas kota Taipei, di antara 2 buah bendera Taiwan yang melambangkan ‘freedom, equality and philanthropy’. Kami berfoto-foto dan melihat koleksi pribadi sang presiden di lantai 2 & 3, berupa 6 buah ruang pamer yang menampilkan pakaian, topi, medali, dokumen, foto, patung Presiden seukuran asli yang sedang duduk di ruang kerjanya karya Lin Jian-cheng, dan termasuk mobil kepresidenan. Salah satunya adalah mobil Presiden Chiang Kai-shek yang digunakan antara tahun 1972-75, sedan Cadilac hitam buatan tahun 1972, berisi 7 tempat duduk, seberat 2 ton, berukuran 632x208x150 cm.
![]() |
![]() |
| Chiang Kai-shek Memorial Hall yang ramai dikunjungi wisatawan | Cadilac hitam buatan tahun 1972, mobil Presiden Chiang Kai-shek. |
Seperti kita ketahui bersama, Jenderal Chiang Kai-sek melanjutkan semangat Dr. Sun Yat-sen untuk berperang melawan Partai Komunis Cina di bagian timur dan utara Cina daratan, yang akhirnya tersingkir kalah dan menyeberang ke pulau Taiwan. Pada 5 April 1975 jenderal besar tersebut meninggal dan generasi penerusnya di seluruh dunia berniat membangun sebuah kenangan dengan arsitek utama Mr. Yang Zhao-cheng. Pembangunan konstruksi awal dimulai pada 31 Oktober 1976, tepat pada peringatan HUT Presiden Chiang Kai-shek, dan gedung tersebut diresmikan pada 5 April 1980. Gedung yang arsitekturnya berkonsep semangat budaya Cina dipadu dengan teknologi modern, sehingga menghasilkan ruang utama yang membuat pengunjung merasa ‘solemnity, familiarity and tranquality’. Gedung ini memiliki 3 gerbang, yaitu gerbang utama, ‘Great Loyalty Gate’ yang menghadap sisi utara ke Xinyi Road, ‘Great Piety Gate’ yang menghadap sisi selatan ke Aiguo East Road, semuanya dihubungkan dengan tembok pagar sepanjang 1.200 m, dengan jendela bergaya Cina setiap 4,5 m, sehingga total ada 26 buah jendela.
![]() |
![]() |
|
Patung besar Presiden Chiang Kai-shek |
Gerbang utama ‘Da Zhong Zhi Zheng’ arsitektur China saat keemasan Dinasti Ming |
Setelah puas, kami menyusuri jalan Xinyi, melewati Ketagelan Boulevard untuk menuju Presidential Building. Istana Presiden yang berwarna merah bata tersebut tidak sebesar bayangan kami, bahkan lalu lintas dapat sangat dekat dengan kompleks istana yang seolah tidak terjaga. Istana presiden yang ramah, sebab tidak terkesan jauh dengan rakyatnya yang boleh berlalu lintas sampai sebegitu dekatnya. Setelah berfoto sebentar, kami lanjutkan perjalanan dengan taxi Toyota Corrola All New Altis bertarif NT$ 75 ke Ximen Station, untuk naik MRT Banqiao Line menuju Zhongiao Fuxing Station, lalu ganti MRT Neihu Line yang menuju Nanjing East Road Station. MRT yang terakhir ini tidak melaju di bawah tanah, tetapi justru di atas tanah. Dari Nanjing East Road Station, kami menuju Liaoning Street Night Market dengan berjalan kaki menyusuri pertokoan dan kadang berteduh karena hujan turun cukup deras. Pasar malam tersebut khusus menjajakan aneka makanan khas Taiwan, yang dijajakan dalam tenda semi permanen. Kami mencoba menu nasi putih, udang rebus, telor ikan dan irisan daun kubis yang semuanya dingin & tawar tanpa rasa. Setelah kami campur dengan berbagai bumbu yang ada di meja, kami santap dengan sumpit logam dan sendok kecil yang cembung. Makanan bertarif NT$ 280 itu habis dalam sekejap karena kelaparan hebat. Kami lanjutkan naik taxi Honda New Civic bertarif NT$ 85 sampai ke Fisrt Hotel, tempat kami menginap.
Setelah mengikuti acara ‘Meet the Expert’ di hari kedua konggres dengan tema ‘Update of Management on Acute Otitis Media’ oleh Prof. Cheng-Hsun Chiu dari Taiwan dan Prof. David Greenberg dari Israel, kami melanjutkan perjalanan ke Taroko National Park di Kabupaten Hualien. Perjalanan kami mulai dari Taipei Main Station di konter HSR (High Speed Railway atau kereta api super cepat) untuk Eastern Line dengan membeli tiket di mesin layar sentuh. Rute Western Line ke berbagai kota di Taiwan sudah tersambung semua dengan HSR, yang bahkan mampu menempuh batas kecepatan 350 km/jam, merupakan salah satu kereta api tercepat di dunia. Rute kami Easter Line tidak dilayani HSR tersebut, tetapi Express Railway (kereta api cepat) karena medan jalannya yang sulit, bergunung-gunung, melewati banyak terowongan dan sangat berbahaya untuk kecepatan tinggi. Mesin pembelian tiket otomatis sangat canggih dan cukup membingungkan, untunglah kami dibantu oleh petugas yang ramah, sebab tulisan di layar dengan huruf kanji besar, tetapi huruf latin sangat kecil. Kami membeli tiket menuju kota Hualien seharga NT$ 400/orang. Setelah itu, perjalanan ke lobi stasiun harus bertanya beberapa kali, karena petunjuk dalam huruf latin hanya tertulis kecil-kecil. Perjalanan dengan kereta api terasa sangat nyaman, sebab dari gerbong yang bersih dan kedap itu, kami menyaksikan kemacetan lalu lintas di berbagai jalan raya, terkait hujan lebat dan banyaknya kendaraan.
![]() |
![]() |
|
Express Railway 1061 di stasiun Hualien |
Taroko Monumental Archway, gerbang di dekat terowongan bukit |
Kami melewati Xincheng (Taroko) dan turun di stasiun kota Hualien. Kereta api kami nomor tujuan akhirnya stasiun Hualien dan akan kembali ke Taipei. Setelah makan siang di stasiun kami membeli tiket bus seharga NT$ 86/orang untuk menuju Taroko National Park. Petugas loket adalah gadis berwajah Cina yang sigap melayani pembeli tiket. Stasiun Hualien terpadu dengan terminal bis dan taxi yang rapi dan bersih, banyak ‘guide’ lokal dan sopir taxi yang menawarkan jasa mengantar wisatawan menelusuri taman nasional tersebut. Di sana juga tersedia bus wisata terjadwal yang gratis dan akan menyusuri Hualien Traveler Center di dalam kompleks stasiun Hualien, Hualien Airport, stasiun Xincheng, Taroko Monumental Archway, Taroko National Park Traveler Center, Sha Ka Dang Pathway, Bu Luo Wan Rest Area, Yan Zi Kou, Jiu Qu Dong, Heliu, Lusui, Tianxiang. Karena waktu yang tidak tepat, kami terpaksa naik bus umum tadi dan turun di Taroko National Park Traveler Center.
Di seluruh Kabupaten Hualien (Hualien County) di bagian timur Taiwan, terlihat deretan bukit kapur atau karst yang mengerucut dan sambung menyambung. Di tengahnya terdapat Taman Nasional Ngarai Taroko atau Taroko Gorge National Park, goa-goa kapur dengan bebatuan marmernya menyeruak ke atas. Pemerintah Taiwan melarang keras aktivitas penambangan di bukit Taroko, sehingga tidak hanya menjadi aset wisata menarik, tetapi Taroko Gorge sekaligus berperan sebagai perisai penahan angin topan dari Samudera Pasifik, yang hampir setiap tahun menerjang. Batuan marmer berkilau keperakan, akan terlihat saat tertimpa sinar matahari di atas aliran Sungai Liwu, sungai utama di taman nasional itu. Taman seluas 92.000 ha dapat dilalui kendaraan umum melalui jalan raya sepanjang 78 km yang dibangun pada tahun 1956-1960. Melintasi jalan yang dinamakan Central-Cross Island Highway, kita semua akan dibuat kagum ketika menembus bukit-bukit kapur melalui 38 terowongan. Terowongan terpanjang disebut Terowongan Sembilan Tikungan (Tunnel of Nine Turns) sepanjang 1.200 m.
![]() |
![]() |
|
Bis kami di Central-Cross Island Highway dekat Taroko National Park Traveler Center. |
Pintu masuk ke Taroko Gorge National Park |
Kami tidak sempat berjalan terlalu jauh, sebab hujan & kabut tebal sudah mulai turun, sehingga ‘Shimen Mountain’, ‘Tunnel of Nine Turns’ (Jiuqudong), ‘Buluowan Meander Core Park’, ‘Eternal Spring Shrine’ (Changeehun), ‘Lushui’, dan ‘Baiyang’ yang telah kami baca di internet sebelumnya, tidak sempat kami kunjungi. Kami hanya berkeliling di sekitar ‘Central Goss Island Highway East Entrance Gate’ dekat Sungi Liwu yang lebar dengan ‘Taroko Bridge’, sebuah jembatan artistik yang tiangnya melengkung-lengkung indah berwarna putih cerah. Setelah puas berfoto di ‘scenic area’, kami melanjutkan perjalanan pulang. Bus umum dan taxi sangat sulit kami peroleh, yang banyak sekali lewat hanya bus pariwisata dan mobil carteran. Setelah sekian lama menunggu di halte bus, untung saja ada seorang ibu yang baik hati, memberi tumpangan dengan sedan Ford Laser merah tua yang tidak bersedia dibayar, meskipun kami diantar sampai ke halaman parkir stasiun Xincheng atau Sincheng (Taroko). ‘Xie xie’ atau ‘terima kasih’, hanya itu yang bisa kami ucapkan untuk ibu yang baik hati itu. Kami tepat waktu karena hanya menunggu 2 menit untuk pulang dengan Kereta Api CK Express yang berangkat dari Stasiun Hualien dan kami naik dari stasiun ke 2, yaitu stasiun Sincheng menuju ke Taipei yang bertarif NT$ 312/orang. Kami menyusuri jalan kereta yang sama dengan yang kami lalui sewaktu berangkat, yaitu stasiun Heping, Nan-ao, Dong-ao, Su’aoxin, Dongshan, Luodong, Yilan, Jiaoxi, Dingpu, Toucheng, Fulong, Qidu, Xishi, Rueifang, Songshan dan Taipei dalam waktu 3,5 jam.
Dari Taipei Main Station kami berganti dari KA Express di atas tanah ke MRT di bawah tanah untuk menuju ke stasiun Sun Yat-sen Memorial Hall, mengambil foto gedung Taipei 101 yang gemerlap di waktu malam. Cahaya lampu berpendar, dalam berbagai warna meriah yang diselimuti sedikit kabut, terutama pada 1/3 bagian atas gedung tinggi yang artistik itu. Setelah itu, kami berjalan kaki melanjutkan acara makan malam di warung makan yang hampir tutup di pinggir Gungfu Road yang lebar. Perjalanan kami lanjutkan dengan naik taxi Toyota All New Camry bertarif NT$ 80 ke ‘Tonghua and Linjiang Street Night Market’, yaitu salah satu dari 9 pasar malam di Taipei untuk membeli cinderamata, oleh-oleh khas Taiwan. Sayang sekali, meskipun pasar malam tersebut sangat ramai dan buka sampai dini hari, tetapi tidak menjual benda-benda yang kami cari. Akhirnya kami putuskan pulang ke hotel dengan naik taxi Nissan Sentra bertarif NT$ 80 ke Da-an MRT Station untuk menuju Nanjing East Road Station, dimana MRT pada jalur tersebut melaju di jalan layang menyusuri pertokoan, bukan di bawah tanah yang gelap dan dilanjutkan dengan naik taxi All New Camry bertarif NT$ 80 sampai ke Hotel First tempat kami menginap.
![]() |
![]() |
| Makan malam di pasar malam
‘Tonghua and Linjiang Street Night Market’ |
Pada acara ‘Meet the Expert 3’, tetapi bukan sebagai expert |
Hari Sabtu, 25 September 2010, setelah mengikuti acara ‘Meet the Expert 3’ yang bertema ‘Continuous Challenge of Antimicrobial Resistance in Gram-negatives’ oleh Prof. Davis P. Nicolau (USA) dan Prof. Po-Ren Hsueh (Taiwan) kami melanjutkan perjalanan ke Maokong Gondola. Dari Nanjing East Road Station, kami naik MRT di jalan layang, bukan bawah tanah (subway), melewati stasiun Zhongxiao Fuxing, Daan, Technology Building, Liuzhangli, Linguang, Xinhai, Wanfang, Muzha, dan yang terakhir Taipe Zoo untuk lanjut ke Maokong Gondola. Meskipun di jalan layang, kami tetap harus masuk ke terowongan, sebab antara stasiun Linguang dan Xianhai di sisi timur luar kota Taipei ada gunung yang harus ditembus, luar biasa. Kami hanya berdua saat naik gondola atau kereta gantung yang maksimal berkapasitas 8 orang ini, dimana jalur Maokong Gondola ini merupakan jalur kereta kabel (cable car system) terpanjang di dunia, yaitu sampai 4 km, melalui Kebun Binatang Taipei, Zhinan Temple dan Maokong. Pemandangan di bawahnya sangat indah, meliputi banyak apartemen di perbukitan, bahkan gedung Taipei 101 di pusat kota, kebun teh yang luas, hutan hijau dengan banyak jalur pendakian, dan suasana kebun binatang, yang diselingi suara burung berkicau dan angin yang mencicit karena bertiup kencang melalui celah-celah jendela gondola.
![]() |
![]() |
| Kereta gantung yang kami naiki
di Maokong Gondola Station |
Gedung Taipei 101 di waktu malam
yang bermandikan cahaya |
Setelah puas naik gondola, kami lanjutkan dengan belanja cindera mata serba MRT di Metro Gondola Shop, yaitu mug dan tas bergambar simbol, rute dan gambar MRT Taipei. MRT (Mass Rapid Transport) atau kereta api dalam kota di Taipei memiliki 5 jalur, yaitu Brown atau Neihu Line, Red atau Tamshui Line, Orange atau Zhonge Line, Green atau Xindian Line, dan Blue atau Nangang Line. Kami kembali ke tempat konggres dengan MRT Nangang Line berangkat dari Taipei Zoo Station menuju Liuzhangli Station untuk berganti taxi Mitsubishi Lancer dengan tarif NT$ 80 ke TICC. Kami ikuti acara ‘Simultaneous Symposium’ oleh Prof. Ian M. Gould dari Inggris dengan tema ‘New Antibiotics for Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA)’ dan ‘Plenary Lecture’ oleh Prof. Gregor Reid dari Kanada dengan tema ‘The Role of Probiotics in Infectious Diseases’. Setelah acara makan siang, kami ikut ‘Hospital Tour’ ke NTU (National Taiwan University Children Hospital) menggunakan bus wisata yang disewakan panitia. Dr. Frank Lu, direktur RS tersebut, menyambut kami semua dengan sangat ramah, menjelaskan latar belakang, sejarah dan pengembangan RS tersebut. RS yang mulai berkarya tahun 2008 tersebut memiliki 450 tempat tidur, memiliki semua dokter ahli anak sub spesialis, dalam kerja sama dengan dokter ahli bedah, anestesi, radiologi, psikiatri, THT, gigi, dan urologi yang dikhususkan untuk pasien anak rujukan nasional dengan sakit berat dan rumit. Arsitektur gedung RS milik pemerintah dengan donasi 6 yayasan sosial dan 8 industri besar tersebut berfokus pada ‘Children Healing Environment Design’. Dengan demikian, eksterior gedung, dan terutama interior gedung bernuansa cerah dan mengikuti hukum alam, bahwa anak perlu bermain (‘Play is a very important activity in children’s daily life’). Anak dan orangtuanya akan didukung sepenuhnya untuk merasa nyaman, kerasan dan cepat sembuh.
![]() |
![]() |
| Gerbang National Taiwan University
Children Hospital |
Ruang tunggu klinik anak
yang bernuansa cerah, untuk anak-anak |
Setelah keliling kompleks RS, kami memisahkan diri dengan rombongan dan naik taxi Nissan Sentra ke Chiang Kai-shek Memorial Hall, untuk membeli cinderamata di lantai 1 gedung megah yang pernah kami kunjungi 2 hari sebelumnya. Dari situ kami lanjutkan perjalanan pulang dengan MRT ke Zhongsan Station, dan diselingi penukaran uang kembali (refund) kartu bayar digital Easy Card, karena kami sudah akan pulang ke Indonesia, juga makan bakso racikan sendiri di swalayan 7-Eleven, kami lanjutkan perjalanan dengan taxi Toyota All Nem Camry bertarif NT$ 80 pulang ke Hotel First untuk beristirahat sore. Hari itu aktivitas kami terakhir adalah berbelanja oleh-oleh makanan kecil khas Taiwan, di sebuah supermarket dekat hotel kami, yaitu 13 item makanan kering dengan total harga NT$ 680. Malam itu kami tidur nyanyak setelah semua barang kami kemasi dan bersiap bangun pagi untuk mengejar pesawat China Airlines pk. 08.45 ke Jakarta. Kami bayangkan akan merasakan canggihnya ‘self check-in zone’ di Touyuan International Airport Taiwan, yang katanya telah membuat calon penumpang tidak perlu antri panjang saat pelaporan diri (check in), bahkan memungkinkan calon penumpang untuk berganti tempat duduk (nomor seat), dengan melihat skema pengaturan ‘seat’ di pesawat, yang tampil nyata di layar komputer sentuh. China Airlines yang operasional sejak 1959, merupakan maskapai penerbangan pelopor dalam memberikan nomor tempat duduk sejak awal, yaitu sewaktu calon penumpang membeli tiket, bukan setelah ‘check in’ di bandara. Saat kami ‘check in’ itu, acara ‘Meet the Expert 5’ dengan tema ‘Management of Community-acquired Pneumonia’ oleh Prof. Ron Dagan dari Israel dan Prof. Tzou-Yien Lin dari Taiwan pada hari terakhir konggres, yang sangat mungkin hanya diikuti oleh jauh lebih sedikit peserta, dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Total perjalanan 5 hari ini menghabiskan anggaran setara dengan 1 kali gaji, di luar biaya transportasi pesawat dan penginapan. Disampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak, dengan peran masing-masing dalam mendukung terselenggaranya perjalanan ini, dari awal perencanaan, pelaksanaan, bahkan sampai pada penyusunan dan penyebarluasan laporannya. Betul-betul kami telah melawat di Taiwan atau Taiwan Tenan.
Sekian
Sabtu, 25 September 2010, pk. 20.15
ditulis di kamar 104 First Hotel, 63 Nanking East Road, Sec. 2,
Taipei, Taiwan.
*) pelancong Jawa berdana cekak





















