Categories
Istanbul

2018 Dokter Pahlawan

Hasil gambar untuk dokter wahidin sudirohusodo

DOKTER PAHLAWAN

Fx. Wikan indrarto*)

Setiap tanggal 10 November kita semua mengheningkan cipta, untuk mengenang dan mendoakan arwah para pahlawan Indonesia, termasuk para dokter. Dr. Wahidin dan Dr. Sutomo termasuk deretan para dokter pahlawan yang merintis paham kemerdakaan. Sedangkan Dr. Moewardi adalah bagian dari dokter pahlawan yang menyiapkan proklamasi dan mengisi tahap awal kemerdekaan Indonesia. Bagaimana dokter pahlawan jaman sekarang?

Dr. Muwardi

Dokter jaman now yang berjiwa pahlawan seharusnya tidak hanya melakukan tugas pengobatan (agent of treatment) saja, tetapi juga menjadi pelopor perubahan (agent of change) dan pelaku pembangunan (agent of development). Dokter sebagai tenaga profesional pengobatan seharusnya terlibat membantu, bukan sebaliknya, untuk terciptanya UHC (Universal Health Coverage). UHC adalah sebuah kondisi di mana setiap orang dapat menerima layanan kesehatan yang mereka butuhkan, tanpa mengalami kesulitan dalam bidang keuangan. UHC akan dicapai melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dilaksanakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, sesuai UU No 24 Tahun 2011 tentang BPJS. Dalam UU nomor 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran, khususnya Pasal 1 Angka 12, menyebutkan bahwa Ikatan Dokter Indonesia (IDI) adalah satu-satunya organisasi profesi dokter yang sah. Oleh sebab itu, para dokter anggota IDI memiliki kewajiban untuk menghadirkan praktek kedokteran yang baik. Pada Pasal 3 disebutkan bahwa praktek kedokteran yang baik haruslah bermutu, legal, dan etis. Tujuannya adalah agar terjadi jaminan perlindungan terhadap pasien, sesuai dengan perkembangan sistem layanan kesehatan nasional di Indonesia.

Hasil gambar untuk dokter wahidin sudirohusodo

Dokter pahlawan sebagai pelopor perubahan, sebaiknya mengacu kepada asal kata dalam Bahasa Latin ‘Duco, Ducere, Duxi, Ductus’ yang merupakan asal kata dokter. ‘Ducere’ berarti memimpin atau mempertimbangkan, maka dokter jaman now memiliki kewajiban melakukan berbagai perubahan dan memimpin warga bangsa Indonesia. Selain itu, dokter juga wajib mengajak mempertimbangkan hal yang terbaik tentang keberagaman, kemajemukan dan kebhinekaan kita. Tentunya demi terwujudnya Indonesia seperti yang dirumuskan dan dicita-citakan oleh segenap pendiri bangsa. Hal ini dapat dimulai dengan para dokter ikut serta secara aktif mewujudkan kehidupan ber-Pancasila, dalam meredam perpecahan paham dan munculnya pendapat yang sangat keras atau radikalisme di sekitar kehidupan para dokter, baik di lingkup keluarga maupun komunitas pekerjaan. Para dokter dapat juga memanfaatkan luasnya pergaulan, mahirnya iptek dan besarnya pengaruh atau kewibawaan profesi. Selain itu, juga menggalang kebersamaan dengan segenap pihak yang memiliki keprihatinan serupa, agar Pancasila semakin dijiwai, kebhinnekaan semakin terwujud, dan potensi perpecahan dapat diredam, demi Indonesia Jaya.

Baca juga:  2018 SATU IDI

Hasil gambar untuk dokter politik

Hal yang tidak kalah penting adalah agar para dokter dapat membawa pengaruh besar bagi lanskap perpolitikan di Indonesia, khususnya pada tahun politik 2019 mendatang. Para dokter seharusnya tampil menjadi pembawa ide dan pengaruh kenegarawan, ikut serta meredam berita bohong dan ujaran kebencian, serta terlibat dalam pendidikan politik bagi sesama warga bangsa secara bermartabat. Selain itu, para dokter Indonesia seharusnya melakukan moderasi, yaitu meliputi mengedukasi warga bangsa, agar dapat menangkal pola pikir radikalisasi, mengajarkan nilai-nilai rasional, seperti agar tetap merasa nyaman dengan ketidaksempurnaan, terlibat aktif dalam perbaikan kehidupan, menoleransi perbedaan, dan tidak mengidealkan sebuah utopia.

Hasil gambar untuk dokter politik

Yang tidak kalah sulit adalah peran dokter jaman now adalah sebagai pelaku pembangunan, khususnya dalam layanan kesehatan pada era disrupsi, untuk menjadi dokter 4.0 dan menciptakan ‘smart hospital’. Konsep revolusi industri 4.0 pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Klaus Schwab (80 tahun). Teknisi dan ekonom terkenal asal Ravensburg Jerman itu menulis dalam bukunya, ‘The Fourth Industrial Revolution,’ tentang sebuah konsep yang telah mengubah hidup dan kerja manusia. Sekarang kita telah masuk di zaman revolusi industri ke 4 atau sering disebut 4.0, yang ditandai dengan sistem ‘cyber-physical’, karena industri mulai menyentuh dunia virtual, berbentuk konektivitas manusia, mesin dan data. Presien Joko Widodo melihat peluang ini dan memprogram agar era ini menyumbang penciptaan lapangan kerja lebih banyak, serta investasi baru yang berbasis teknologi, sehingga dibentuklah ‘roadmap’ dengan nama ‘Making Indonesia 4.0’.

Baca juga :  2018 Dokter 4.0

Hasil gambar untuk dokter politik

Lima jenis teknologi utama pada sistem industri 4.0, adalah ‘Internet of Things’, ‘Artificial Intelligence’, ‘Human–Machine Interface’, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi ‘3D Printing’. Teknologi kedokteran digital telah tersedia, sehingga sekarang diperlukan definisi ulang (reshape) hubungan dokter dengan pasien. Oleh sebab itu, sebaiknya para dokter mengadvokasi pemerintah, penjamin biaya pasien seperti BPJS Kesehatan, dan kelompok lain untuk memulai penggunaan teknologi digital ini.

Hasil gambar untuk bendera indonesia

Momentum Hari Pahlawan 2018 ini, mengingatkan kita akan jasa besar para dokter masa pra dan sekitar proklamasi kemerdekaan Indonesia. Nilai kepahlawanan rasanya perlu dimaknai secara berbeda, karena dokter pahlawan jaman ‘now’ adalah dokter yang masih hidup, menghidupi banyak orang dan menginspirasi hidup orang lain lebih banyak. Dokter pahlawan kita adalah dokter yang terlibat aktif dalam ‘Making Indonesia 4.0’ dengan jalan moderasi, untuk mencapai UHC.

Sudahkah para dokter siap?

Jokowi

Sekian

Yogyakarta, 6 November 2018

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

By Fx Wikan Indrarto

Dokter Fx Wikan Indrarto

Leave a Reply

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?