
AKHIRI EPIDEMI HIV-AIDS
fx. wikan indrarto*)
Ketakutan, stigma dan penolakan (fear, stigma and ignorance) adalah reaksi dunia saat terjadi epidemi HIV yang mengamuk di seluruh dunia pada awal 1980-an. Saat itu AIDS menewaskan ribuan orang yang hanya memiliki beberapa minggu atau bulan sejak didiagnosis sampai kematian datang, bahkan banyak juga yang tidak berhasil didiagnosis sampai mereka meninggal. Apa yang perlu dicermati?

Sabtu, 1 Desember 2018 adalah peringatan 30 tahun Hari AIDS Sedunia, hari yang diciptakan untuk meningkatkan kesadaran tentang HIV dan epidemi AIDS. Sejak awal epidemi, lebih dari 70 juta orang telah terinfeksi, dan sekitar 35 juta orang telah meninggal. Pada hari ini, masih ada sekitar 37 juta orang di seluruh dunia hidup dengan HIV, di antaranya 22 juta orang lainnya sedang menjalani pengobatan anti retrovriral (ARV).

Pada tahun 1988, dua petugas komunikasi WHO, Thomas Netter dan James Bunn, mengajukan gagasan mengadakan Hari AIDS Sedunia secara tahunan, dengan tujuan meningkatkan kesadaran akan bahaya HIV, memobilisasi masyarakat dan mengadvokasi aksi di seluruh dunia. Pada tahun 1991 gerakan global HIV ditandai dengan pita merah yang ikonik, yang dirancang oleh para seniman dari Caucus Artis Visual AIDS di New York, memilih warna yang mencerminkan “hubungan antara darah dan gagasan yang bergelora, bukan hanya kemarahan, tetapi cinta” Ini adalah pita lambang kesadaran akan sebuah penyakit yang pertama, sebuah konsep yang selanjutnya diadopsi oleh banyak penyakit lainnya.

Pada 2015, WHO merekomendasikan penggunaan ARV untuk mencegah penularan HIV, yaitu profilaksis pra-pajanan(PrPP), untuk orang yang tidak terinfeksi HIV, tetapi berisiko besar. PrPP telah berkontribusi untuk mengurangi tingkat infeksi HIV baru di antara laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, di beberapa tempat di negara-negara berpenghasilan tinggi. Namun, PrPP baru mulai tersedia di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, di mana program dimulai untuk pria yang berhubungan seks dengan pria, transgender, pekerja seks, gadis remaja dan wanita muda di seluruh Afrika.
baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/11/26/2018-hari-aids-sedunia/

HIV bukanlah virus yang mudah untuk dikalahkan. Hampir satu juta orang masih meninggal setiap tahun secara global, karena mereka tidak tahu bahwa mereka terinfeksi HIV, sehingga tidak diobati, atau mereka terlambat memulai pengobatan. Pada hal, pedoman WHO (2015) merekomendasikan bahwa semua orang yang hidup dengan HIV, harus menerima pengobatan ART, terlepas dari status kekebalan dan tahap infeksi mereka, dan sesegera mungkin diberikan ART setelah diagnosis tegak.

Pada 2017 masih terdapat 1,8 juta orang terinfeksi HIV sebagai kasus baru. Kita semua di dunia ini telah berkomitmen untuk mengakhiri AIDS pada tahun 2030, pada hal tingkat infeksi dan kematian baru tidak turun cukup cepat untuk memenuhi target itu. Salah satu tantangan terbesar mengapa beban HIV tetap tidak berubah selama 30 tahun ini, adalah karena HIV secara tidak proporsional menyerang hanya orang dalam populasi rentan yang sering sangat terpinggirkan dan distigmatisasi. Dengan demikian, sebagian besar infeksi dan kematian karena HIV hanya terjadi pada kelompok berisiko tinggi, tetapi mereka tetap tidak sadar, kurang terlayani, atau terabaikan. Sekitar 75% infeksi HIV baru terjadi pada pria yang berhubungan seks dengan pria, pengguna narkoba suntik, tahanan di penjara, pekerja seks komersial, orang transgender, atau pasangan seksual dari orang-orang tersebut. Mereka adalah kelompok yang sering didiskriminasi dan dikecualikan dari sistem layanan kesehatan di banyak tempat.

Tema Hari AIDS Sedunia, Ketahui Status Anda (Know Your Status), adalah penting. Satu dari empat orang dengan HIV tidak tahu bahwa mereka terinfeksi HIV. Untuk menjembatani kesenjangan ketersediaan sarana pengujian atau tes laboratorium untuk HIV, WHO merekomendasikan penggunaan tes mandiri (self-tests for HIV). WHO pertama kali merekomendasikan tes HIV pada tahun 2016, dan sekarang lebih dari 50 negara telah mengembangkan kebijakan tentang tes mandiri ini.
baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/11/26/2018-hari-aids-sedunia/

WHO bekerja sama dengan organisasi internasional seperti Unitaid, mendukung program uji mandiri HIV terbesar di enam negara di Afrika. Program ini menjangkau orang-orang yang belum pernah menguji diri mereka sebelumnya, dan menghubungkan mereka dengan layanan perawatan atau pencegahan. WHO, dan ILO (International Labour Organization) atau Organisasi Perburuhan Internasional juga merekomendasikan panduan baru untuk mendukung semua perusahaan dan organisasi, untuk menawarkan tes mandiri HIV di tempat kerja.
Orang dengan HIV sering memiliki infeksi lain, yang dikenal sebagai co-morbiditas, seperti TB (tuberkulosis) atau hepatitis. Satu dari tiga kematian pada orang dengan HIV adalah karena TB, sekitar 5 juta orang yang hidup dengan HIV juga terinfeksi hepatitis virus, dan satu dari tiga orang dengan HIV memiliki penyakit jantung. Data ini berarti bahwa perawatan HIVsebenarnya juga membutuhkan perawatan gabungan, meskipun hal ini tidak selalu terjadi dalam praktik klinik. Untuk itu, WHO sekarang mempromosikan layanan kesehatan ‘berpusat pada orang’ (person-centred) kepada semua orang yang hidup dengan HIV, yaitu untuk memenuhi kebutuhan kesehatan holistik mereka, bukan hanya masalah infeksi HIV, tetapi juga layanan untuk TB, kesehatan seksual dan reproduksi, penyakit tidak menular dan bahkan juga kesehatan mental.
baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/11/26/bayi-bebas-hiv-dari-ibu/

Mengakhiri epidemi AIDS tidak mungkin terjadi tanpa sistem kesehatan terpadu yang berbasis manusia (person-centred), yang menyediakan sarana pencegahan, diagnosis, dan pengobatan HIV, serta dukungan untuk komorbiditas seperti TB dan hepatitis.
Sudahkah kita bertindak?

Sekian
Yogyakarta, 29 November 2018
*) dokter spesialis anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA=081227280161