PALANGKARAYA
fx. wikan indrarto
Kesempatan mengunjungi ulang Palangkaraya, Kota Cantik ibukota Kalimantan Tengah, datang dengan penuh semangat. Pertama kali kami datang menginjakkan kaki di Palangkaraya pada hari Selasa, 5 Januari 2000 sebelum menjalani penempatan sebagai dokter spesialis anak di RSUD Dr. Soemarno Sosroatmojo Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah. Kali kedua berangkat Minggu siang, 15 Oktober 2023 kami menggunakan pesawat Boeing 737NG Batik Air dari New Yogyakarta Airport, disambung Airbus A320 Batik Air dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Tjilik Riwut. Kami mendarat menjelang malam hari, dengan penerbangan terakhir yang dilayani di bandara tersebut.


Kami dijemput oleh Dr. Anto Fernando Abel, Kepala Seksi Pelayanan Medis RSUD dr Doris Sylvanus di Bandara Tjilik Riwut, sebagai penumpang terakhir yang keluar dari area kedatangan. Kami langsung diajak menuju ke Le SARAI resto, sebuah rumah makan legendaris untuk para pejabat negara, yang berlokasi di Jl. MH. Thamrin No D/7 Menteng, Pahandut, Palangka Raya, untuk makan malam menu lokal yang khas banget, yaitu ikan patin bakar.

Ikan patin yang lezat memiliki berbagai bagian tubuh dengan pesona rasa masing-masing. Pertama yakni bagian kepalanya yang unik karena kepala berukuran lebih kecil dibandingkan bagian tubuh utamanya, yang justru lebih besar. Kepala ikan ini sangat enak saat diolah dalam sop khusus yang mampu melegakan tenggorokan.
Kedua yakni bagian tubuh, yang juga unik pada ikan patin ini yakni memiliki ukuran badan yang cukup besar, daging lezat dan banyak lemak, tetapi sangat mudah dipisahkan saat disantap. Terakhir yakni sirip yang pada ikan patin ini memiliki banyak sirip yang sama, yakni berjumlah enam buah.
Ikan patin yang disinyalir berasal dari sungai Mahakam Kalimantan Timur dan sungai Musi Sumatera Selatan ini, dikenal luas masyarakat karena dibudidayakan dalam keramba di sungai Kahayan yang memutari Kota Palangkaraya. Ikan yang memiliki rasa daging lezat dan gurih ini, memiliki nilai jual yang sangat tinggi dan menjadi ladang usaha yang menggiurkan, apalagi membudayakannya pun sangat mudah dan tidak memerlukan perlakuan khusus. Setelah kenyang dan puas merasakan gurihnya daging ikan patin, kami segera menuju dan menginap di Hotel Amaris Palangkaraya.
Senin, 16 Oktober 2023 kami bangun pagi untuk mengikuti perayaan ekaristi harian di Katedral Santa Maria pada pk. 5.15. Kami berjalan kaki sejauh 650 m dari Hotel Amaris, menuju gereja megah di Jl. Tjilik Riwut Palangkaraya. Gereja Katedral Paroki Santa Maria Palangka Raya adalah Gereja Katolik Roma yang menjadi pusat Keuskupan Palangka Raya. Di dalam katedral ini terdapat tahta uskup Keuskupan Palangka Raya dan di jalan kompleks samping katedral terdapat makam Mgr. Johanes Aloysius Husin, MSF, uskup pertama. Katedral ini bersebelahan dengan Masjid Baitus Syuja sebagai bukti toleransi antar umat beragama di Palangkaraya.


Gedung gereja pertama diresmikan pada 3 Maret 1963 dengan imam yang bertugas pertama kali di situ adalah R.D. Patris Alu Tampu. Sedangkan paroki Katedral Palangka Raya merupakan hasil pemekaran dari Paroki Santo Matius, Kuala Kapuas pada 3 Maret 1963 di mana saat itu masih termasuk dalam wilayah Keuskupan Banjarmasin. Salah satu pendorong terjadinya pemekaran adalah permintaan dari Gubernur Tjilik Riwut agar ada seorang pastor (yaitu Pastor Karl Klein M.S.F., pastor paroki pertama) yang menetap untuk membantu membangun Palangka Raya sebagai ibu kota provinsi.

Bangunan gereja katedral dibangun bersebelahan dengan gereja lama yang saat ini digunakan sebagai Gedung Serbaguna Tjilik Riwut, yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya. Katedral ini diresmikan pada 21 Maret 1999 oleh Administrator Apostolik Keuskupan Palangka Raya Mgr. Florentius Sidot O.F.M.Cap.
Setelah sarapan di Hotel Amaris, selanjutnya kami mengisi pelatihan internal OPPE (On going Profesional Practice Evaluation) atau penilaian profesional berkelanjutan bagi para dokter di RSUD dr. Doris Sylvanus Palangkaraya. Pelatihan selama 2 hari tersebut diikuti oleh 35 orang dokter dan 25 orang tenaga kesehatan lain, di Aula 2 lantai 2 RSUD Dr. Doris Sylvanus Palangkaraya, yang dibuka resmi oleh PLT Direktur Bp. Ady Fatria, SKep Ners, dan dikoordinasikan oleh Dr. Anto Fernando Abel, sebagai Kasi Yanmed. Pada kesempatan itulah kami sempat bernostalgia dengan Dr. Yudi Ambeng, SpU Ketua Komite Medik dan dr. Nuch Sabunga, Sp. THT-KL, yang keduanya pernah bersama-sama kami saat bertugas di Kuala Kapuas pada tahun 2000.

Sejarah RSUD dr Doris Sylvanus dimulai pada tahun 1959 dengan adanya kegiatan klinik di rumah bapak Abdul Gapar Aden, Jl Suta Negara No 447 yang dikelolanya sendiri dibantu oleh isterinya , ibu Lamus Lamon. Nama dr. Doris Sylvanus diambil dari nama seorang dokter pertama asli Kalimantan Tengah. RSUD dr. Doris Sylvanus di Jalan Tambun Bungai, Pahandut, Palangkaraya, merupakan rumah sakit umum milik pemerintah daerah tipe B, yang saat ini sudah menjadi rumah sakit pendidikan, setelah Universitas Palangkaraya (UPR) membuka Fakultas Kedokteran (FK). RSUD Dr. Doris Sylvanus saat ini mampu memberikan pelayanan medis oleh dokter umum, spesialis, dan sub spesialis, serta ditunjang dengan fasilitas medis yang memadai, bahkan diproyeksikan menjadi rumah sakit rujukan untuk Kalimantan Tengah. Pelatihan internal OPPE ini diselenggarakan dalam koordinasi oleh Mitra Konsultan Yogyakarta di RS ini, dalam rangka menyiapkan diri menghadapi proses akreditasi RS pada bulan Desember 2023.


Setelah pelatihan OPPE hari pertama untuk segenap dokter dan tenaga kesehatan lainnya di RSUD dr Doris Sylvanus Palangkaraya selesai, kami punya waktu agak longgar. Selanjutnya kami menikmati cantiknya kota Palangka Raya, sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah. Kota ini memiliki luas wilayah 2.853,12 km² dan jumlah penduduk pada pertengahan tahun 2023 sebanyak 302.310 jiwa, dengan kepadatan penduduk rata-rata 110 jiwa/km². Secara administratif, Kota Palangka Raya terdiri atas 5 kecamatan, yakni: Pahandut, Jekan Raya, Bukit Batu, Sabangau, dan Rakumpit. Komposisi penduduk berdasarkan agama meliputi Islam adalah mayoritas 70,66%, Kristen 27,95%, terdiri dari protestan 25,96% dan katolik 1,99%. Ada juga Hindu Kaharingan 1,21% sebagai agama asli penduduk setempat dan Buddha 0,17%. Bahasa yang digunakan masyarakat adalah Indonesia, Dayak, dan Banjar dengan plat nomer kendaraan adalah KH
Kota ini dibangun pada tahun 1957 (UU Darurat No. 10/1957 tentang Pembentukan Daerah Swatantra Tingkat I Kalimantan Tengah) dari hutan belantara yang dibuka melalui Desa Pahandut di tepi Sungai Kahayan. Sebagian wilayahnya masih berupa hutan, termasuk hutan lindung, konservasi alam serta Hutan Lindung Tangkiling. Pada saat kota ini mulai dibangun, Presiden Soekarno merencanakan Palangkaraya sebagai ibu kota negara di masa depan, menggantikan Jakarta.
Menurut Staatsblad van Nederlandisch Indië tahun 1849, wilayah Dayak Besar termasuk daerah ini bagian dari dalam zuid-ooster-afdeeling berdasarkan Bêsluit van den Minister van Staat, Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie, pada 27 Agustus 1849, No. 8. Terbentuknya Provinsi Kalimantan Tengah melalui proses yang cukup panjang sehingga mencapai puncaknya pada tanggal 23 Mei 1957 dan dikuatkan dengan Undang-undang Darurat Nomor 10 tahun 1957, yaitu tentang Pembentukan Daerah Swatantra Tingkat I Kalimantan Tengah.
Pemasangan tiang pertama pembangunan Kota Palangka Raya dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia pada saat itu, Soekarno pada tanggal 17 Juli 1957 dengan ditandai peresmian Monumen atau Tugu Ibu Kota Provinsi Kalimantan Tengah di Pahandut. Monumen indah ini mempunyai beberapa makna. Pertama, angka 17 melambangkan hikmah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Kedua, tugu api berarti api yang tak kunjung padam, menggambarkan semangat kemerdekaan dan membangun secara terus menerus. Ketiga, pilar yang berjumlah 17 berarti banyak senjata untuk berperang. Keempat, segi Lima Bentuk Tugu melambangkan Pancasila mengandung makna Ketuhanan Yang Maha Esa.

Bapak Tjilik Riwut sebagai Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah yang pertama, dilantik pada tanggal 23 Desember 1959 oleh Menteri Dalam Negeri.
Wacana pemindahan ibu kota atau pusat pemerintahan berkembang berulanga pada setiap masa pemerintahan. Dalam buku berjudul ‘Soekarno & Desain Rencana Ibu Kota RI di Palangkaraya’ karya Wijanarka disebutkan, dua kali Bung Karno mengunjungi Palangka Raya, Kalimantan Tengah — untuk melihat langsung potensi kota itu menjadi pusat pemerintahan. Wacana pemindahan ibu kota Indonesia ke Kota Palangka Raya juga pernah diungkapkan Presiden pertama RI Soekarno. Saat meresmikan Palangka Raya sebagai ibu kota Provinsi Kalteng pada 1957, Soekarno ingin merancang menjadi ibu kota negara.

Setelah menikmati keindahaan kota, kami segera kembali ke hotel. Senin malam, 16 Oktober 2023 setelah selesai memberikan pelatihan OPPE hari pertama untuk para dokter di RSUD dr Doris Sylvanus, kami segera disambut teman-teman alumni SMA Kolese de Britto Yogyakarta (JB). Ada mas Hariatmoko JB 95, mas Fajar JB 99, mas Pasu JB 97 dan mas Eri JB 11 teman sekelas mas Yudhi, anak sulung kami. Kami semua langsung menuju Taman Pasuk Kameloh yang merupakan taman kota Palangka Raya yang letaknya di tepi Sungai Kahayan. Taman ini menjadi salah satu taman favorit bagi warga Palangka Raya untuk bersantai, meski ramai ketika menjelang sore hari.

Daya tarik taman ini adalah patung burung enggang yang menjadi ciri khas tersendiri dari taman ini. Burung Enggang merupakan salah satu hewan yang ikonik bagi kehidupan Suku Dayak. Burung ini memiliki makna sebagai satu tanda kedekatan masyarakat Dayak dengan alam sekitarnya. Taman ini merupakan spot foto menarik, karena posisi taman yang berada di bawah lengkungan panjang Jembatan Kahayan menuju Gunung Mas, sehingga akan memberikan keindahan lansekap tersendiri. Apalagi arsitektur taman dan bangunan didesain apik untuk menarik pengunjung.

Jembatan Kahayan yang berada persis di atas Taman Pasuk Kameloh membuat taman terlihat lebih indah, apalagi ada permainan lampu warna warni pada malam hari sepanjang lengkung baja jembatan tersebut.
Setelah puas berfoto bersama, malam itu kami segera menuju Bundaran Burung yang berlokasi di Jl. RTA Milono kilometer 5 Palangkaraya sangat terkenang, karena kami bertiga (anak kami yang sudah lahir baru si sulung, mas Yudhi) sempat foto di situ, sebelum berangkat penempatan di RSUD Kuala Kapuas tahun 2000.

Tugu di bunderan ini menampilkan patung burung enggang atau bahasa lokal disebut burung tingang, sebagai ikon Kota Palangkaraya. Bundaran burung berada di persimpangan jalan arah ke Jl. Adonis Samad dan Jl. Soekarno, juga jalan menuju arah Kelurahan Kereng Bengkirai. Bundaran burung tampak menarik dan indah, karena di sekitarnya dibangun taman. Bahkan di dekat Bundaran Burung juga dibangun sebuah Masjid Besar yang diberinama Masjid Kubah Kecubung, dengan kubah berwarna ungu seperti bunga kecubung.

Setelah puas berfoto sesama manuk JB dan burung enggang, kami segera menuju ke markas Alumni JB chapter Kalteng, yaitu Bakmi Jogja dab Anjar di Bukit Tunggal, Jekan Raya, Palangka Raya. Mas Anjar JB 93 membuka usaha Bakmi Jawa di halaman rumahnya, yang menjadi titik kumpul alumni JB, termasuk saat menyiapkan baksos bertepatan dengan lustrum ke 15 SMA JB pada 23 Agustus 2023. Acara meriah tersebut dihadiri oleh Presiden Alumni JB, mas Alex Arab JB93.


Selasa, 17 Oktober 2023 adalah hari kedua (terakhir) pelatihan OPPE bagi para dokter di RSUD dr Doris Sylvanus Palangkaraya. Pelatihan ditutup secara resmi oleh PLT Direktur RSUD, dan dilanjutkan dengan foto dan makan siang bersama. Menu favorit siang itu adalah ikan patin dan sayur batang pohon kelapa sawit. Selanjutnya kami menikmati lagi suasana kota dengan mencicipi es durian, ketan hitam dan alpukat beraroma khas Kabupaten Katingan yang sangat menyolok indera dan mengundang selera. Dr. Theodorus Atmadja, MM, dokter senior dan mantan Wadir Pendidikan RSUD dr Doris Sylvanus Palangkaraya yang menjadi fasilitator kami menikmati durian yang luar biasa lezat, sebelum kami beristirahat siang di hotel.


Selasa sore, 17 Oktober 2023 setelah bangun tidur siang, kami diajak minum teh sore oleh teman kuliah di FK UGM Yogyakarta, yaitu Dr. Sigit Riyarto, MKes. Kami berdua mengobrol di Night Waltz Coffee di Jl. RTA Milono, Menteng, Jekan Raya, Palangka Raya, menu cappuccino dan teh tarik, dilengkapi kentang goreng dan tahu genjrot. Saat ini beliau menjabat sebagai Direktur RS Siloam Palangka Raya (SHPR), yaitu RS yang didukung dengan alat medis yang lengkap, dokter yang handal dan professional di bidangnya, dengan tujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan dengan kualitas International, serta mengurangi angka rujukan pasien ke daerah lain. RS ini beralamat di jl. RTA. Milono KM. 4 No. 425, Langkai, Pahandut, Kota Palangka Raya. Setelah itu kami mengikuti acara makan malam penutupan acara pelatihan, didampingi Dr. Anto Fernando Abel di Chinese Restaurant Hotel M Bahalap di Jl. RTA Milono dan lanjut tidur nyenyak.


Rabu pagi, 18 Oktober 2023 setelah selesai mengikuti perayaan ekaristi di Katedral Santa Maria, kami berjalan kaki menikmati kegagahan patung Tjilik Riwut di Bunderan Besar Palangkaraya. Marsekal Pertama TNI-AU dari satuan elite Korps Pasukan Khas (Paskhas) Tjilik Riwut dengan bangga selalu menyatakan diri sebagai “orang hutan” karena lahir dan dibesarkan di belantara Kalimantan. Ketika masih belia, ia tiga kali mengelilingi pulau Kalimantan hanya dengan berjalan kaki serta menaiki perahu dan rakit. Setelah menamatkan pendidikan dasarnya di kota kelahirannya, selanjutnya melanjutkan pendidikannya di Sekolah Perawat di Purwakarta dan Bandung.

Tjilik Riwut adalah salah satu putra Dayak dari Suku Dayak Ngaju yang menjadi anggota KNIP. Perjalanan dan perjuangannya kemudian melampaui batas-batas kesukuan untuk menjadi salah satu pejuang bangsa. Penetapannya sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 108/TK/Tahun 1998 pada tanggal 6 November 1998 merupakan wujud penghargaan atas perjuangannya pada masa kemerdekaan dan pengabdiannya dalam membangun Kalimantan Tengah.

Setelah selesai menuntut ilmu di Pulau Jawa, Tjilik Riwut diterjunkan ke Kalimantan oleh Pangeran Muhammad Noor, Gubernur Borneo saat itu sebagai pelaksana misi Pemerintah Republik Indonesia yang baru saja terbentuk. Dengan menghubungi berbagai suku Dayak di berbagai pelosok Kalimantan untuk menyatukan kehendak suku Dayak, sekitar 185.000 rakyat yang terdiri dari 142 sub suku Dayak, 145 kepala kampung, 12 kepala adat, 3 panglima, 10 patih, dan 2 tumenggung dari pedalaman Kalimantan, yang bersumpah setia kepada pemerintah RI secara adat di hadapan Presiden Sukarno di Gedung Agung Yogyakarta pada 17 Desember 1946.

Selain itu, Tjilik Riwut telah berjasa memimpin pasukan MN 1001 yang berhasil melaksanakan operasi penerjunan pasukan payung pertama dalam sejarah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, pada tanggal 17 Oktober 1947. Tanggal ini seterusnya ditetapkan sebagai Hari Pasukan Khas TNI-AU. Waktu itu, pemerintah RI masih berada di Yogyakarta dan pangkat Tjilik Riwut adalah Mayor TNI.
Setelah perang usai, Tjilik Riwut aktif di pemerintahan dan menjadi Gubernur Kalimantan Tengah. Sebelumnya menjadi Wedana Sampit serta Bupati Kotawaringin, menjadi koordinator masyarakat suku-suku terasing untuk seluruh pedalaman Kalimantan, dan terakhir sebagai anggota DPR RI.
Tjilik Riwut juga seorang jurnalis yang mengasah keterampilan menulisnya semasa dia bergabung dengan Sanusi Pane di Harian Pembangunan. Tjilik Riwut telah menulis sejumlah buku mengenai Kalimantan yaitu: Makanan Dayak (1948), Sejarah Kalimantan (1952), Maneser Panatau Tatu Hiang (1965, stensilan, dalam bahasa Dayak Ngaju), dan Kalimantan Membangun (1979).
Pada hari Senin tanggal 17 Agustus 1987, yang bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI, Tjilik Riwut meninggal di usia 69 tahun setelah dirawat di Rumah Sakit Suaka Insan Banjarmasin, karena menderita penyakit liver atau hepatitis. Ia dikebumikan di Makam Pahlawan Sanaman Lampang, Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Namanya kini diabadikan untuk bandar udara yaitu Bandar Udara Tjilik Riwut dan jalan utama di Palangka Raya.
Setelah berswafoto dengan latar belakang patung Tjilik Riwut yang terlihat lebih pendek dan lebih gemuk dibandingkan fotonya, kami segera berjalan kaki menuju Tugu Soekarno. Monumen Tugu Soekarno merupakan salah satu tempat wisata bersejarah yang diresmikan oleh presiden RI pertama, Soekarno pada tanggal 17 Juli 1957. Tugu ini untuk menandai dimulainya pembangunan kota Palangka Raya.

Tugu Sukarno dibangun berbentuk tugu segi lima yang mengandung makna Ketuhanan yang Maha Esa, 17 pilar yang melambangkan hikmah proklamasi kemerdekaan RI dan senjata untuk berperang, sedangkan Tugu Api melambangkan api semangat yang tak kunjung padam, serta semangat kemerdekaan dan membangun.
Pada tahun 2020 yang lalu, Tugu Soekarno yang merupakan titik nol kota sudah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota Palangka Raya. Tugu Soekarno ini terletak di tepi sungai Kahayan, atau sungai Batang Biaju Besar, atau sungai Dayak Besar, atau Groote Daijak-rivier, atau Great Dajak, atau Great Dyacs. Sungai ini membelah kota Palangka Raya dan melintas di 3 kabupate kota, yaitu Kabupaten Gunung Mas, Kota Palangka Raya, dan Kabupaten Pulang Pisau. Sungai ini memiliki panjang lebih dari 600 km, merupakan salah satu sungai utama di Kalimantan Tengah berhulu di Pegunungan Muller, tepatnya di desa Tumbang Mahuroi, Kecamatan Damang Batu, Kabupaten Gunung Mas. Sungai ini bermuara ke Laut Jawa dan hilirnya berada di desa Sei Barunai dan Kiapak, Kecamatan Kahayan Kuala, Kabupaten Pulang Pisau.

Selanjutnya kami menikmati keindahkan Bundaran Besar berada tepat di jantung Kota Cantik Palangkaraya, tepatnya di depan Rumah Jabatan Gubernur Kalteng, samping Gedung DPRD yang kini berubah fungsi menjadi Gedung KONI, persis di hadapan Gedung Batang Garing Bussines Center dan Palangka Mall.
Rumah Jabatan Gubernur Kalimantan Tengah merupakan simbolisasi Pemerintahan, Gedung DPRD sebagai simbolisasi Suara Rakyat, Gedung Batang Garing Bussines Center adalah Simbolisasi Roda Ekonomi dan Palangka Mall wujud simbolisasi Hiburan Rakyat.

Bundaran Besar yang dibangun pada tahun 1957-1959 memiliki desain unik dan kaya makna. Presiden Sukarno sendiri yang membuat Desain Rencana Ibu Kota RI di Palangkaraya, dengan delapan jalan menyilang menuju monumen Bundaran Besar, dengan jari-jari Bundaran berukuran 2 X 45 Meter. Sedangkan jari-jari lingkar monumen berukuran 17 Meter.
Konsep tersebut merupakan simbolisasi Tanggal, Bulan dan Tahun kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Delapan jalan silang tersebut juga memiliki dua makna yaitu menyimbolkan posisi Kota Palangkaraya pada persimpangan delapan rumpun kepulauan yakni Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, Nusa Tenggara dan Irian Jaya, dan juga simbolisasi delapan sungai besar di Kalimantan Tengah yaitu Barito, Kapuas, Katingan, Mentaya, Seruyan, Kahayan, Arut dan Lamandau.

Rabu siang, 18 Oktober 2023 adalah pencapaian kepuasan memori pribadi tentang Palangkaraya kota yang cantik. Terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu atas semua perannya dalam petualangan kali ini. Segera kami bergegas untuk kembali pulang ke Yogyakarta.


Sekian laporan petualangan ke Palangkaraya ini disusun, agar dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
Ditulis dan dikenang di kamar 319 Hotel Amaris Palangkaraya
Disebarkan dari depan gate 6 Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya, sambil menunggu pesawat Citilink menuju Jakarta
Rabu, 18 Oktober 2023
8 replies on “2023 PALANGKA RAYA”
Asyik dr. Wikan, menikmati Kota Palangkaraya yang indah. Kapan Prodiakon bisa Jiarek ke Palangkaraya.????
Semoga bermanfaat yang bu Makrina
Berkah Dalem Gusti
-wikan
wahh… komplit sekali laporan perjalanan 3 hari di Palangka Raya ???????????? lengkap dengan sejarahnya. Trimakasih
Halo mas Fajar JB 95,
Semoga bermanfaat ya laporan perjalanan saya di Kalteng. Mohon koreksinya, kalau ada yang salah saya tuliskan
Salam kompak,
-wikan JB 84
Sorry kang mas dokter….kemarin mboten saged ngrencangi, lha pas kebun rawan kebakaran, jadi wajib stay dikebun…lumayan agak jauh dari lokasi kebun ke palangkaraya..4 jam perjalanan…salam sehat selalu, Berkah Dalem Gusti….tatagjb88
Halo mas Tatag,
Tidak mengapa tetap di kebun Sawit saja, agar semakin aman. Dulu saya sempat bertugas di Sampit selama 1 bulan di tahun 1999
Semoga lain waktu dapat ketemu dan jalan2 bersama
Salam
-wikan, JB 84
Serasa ikut berwisata ke KalTeng bersama mas Wikan.
Luar biasa, narasi yang informative dan komunikative
Semoga bermanfaat ya Dr. made Tirtha Yasa,
Lain waktu perjalanan ke Kaltim kita nikmati bersama ya
Salam hormat
-wikan