Categories
anak dokter Healthy Life Jalan-jalan medicolegal

2025 Dari Mataram ke Mataram.

DARI MATARAM KE MATARAM

Ada dua kerajaan yang pernah berdiri dalam periode yang berbeda dan keduanya disebut Mataram. Kerajaan Mataram Hindu atau Kerajaan Mataram Kuno terletak di sekitar Magelang, Jawa Tengah, dekat tempat kami dilahirkan. Kerajaan ini didirikan pada abad ke-8 oleh Raja Sanjaya yang bergelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Dinasti yang memerintah Kerajaan Mataram Kuno adalah Dinasti Sanjaya, Dinasti Syailendra dan Dinasti Isyana hingga awal abad ke-11. Kata “Mataram” diambil dari Bahasa Sansekerta “Matr” yang memiliki arti sebagai “ibu” yang melambangkan kehidupan, alam dan lingkungan.

Pemitan dengan Joviel (2,5 tahun) yang tidak mau diam dan merengek ingin ikut ke Mataram

Kerajaan dengan nama sama yang selanjutnya adalah Kesultanan Mataram Islam, yang didirikan oleh Panembahan Senapati pada tahun 1586, dengan ibukota di Kotagede, dekat Yogyakarta. Sepanjang abad ke-16 Kesultanan Mataram mencapai puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Susuhunan Anyakrakusuma atau Sultan Agung (Sultan Agung Adi Prabu Anyakrakusuma). Mataram adalah salah satu kerajaan terkuat di Jawa, kesultanan yang menyatukan sebagian besar pulau Jawa, yakni Jawa Tengah, DI Yogyakarta, sebagian besar Jawa Barat dan Jawa Timur, kecuali Banten. Selain itu juga menguasai daerah Madura, dan Sukadana (Kalimantan Barat), Makasar, serta sebagian Pulau Sumatera (Palembang dan Jambi).
Perjanjian Giyanti yang ditandatangani oleh Pangeran Mangkubumi dengan VOC Belanda membuahkan kesepakatan bahwa Kesultanan Mataram dibagi dalam dua kekuasaan, yaitu Nagari Kasunanan di Surakarta dan Nagari Kasultanan Ngayogyakarta di Yogyakarta. Perjanjian yang ditandatangani dan diratifikasi pada tanggal 13 Februari 1755 di Giyanti ini, secara hukum menandai berakhirnya Kerajaan Mataram Islam.

Sebagian anggota rombongan IDI Wilayah DIY yang akan terbang tinggi menuju Mataram di Bandara YIA Yogyakarta Internasional Airport


Kami adalah rombongan dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), untuk mengikuti Muktamar XXXII IDI Tahun 2025, yang merupakan acara rutin oleh organisasi profesi dokter terbesar di Indonesia. Muktamar IDI ke 32 dilaksanakan pada 12-15 Februari 2025, bertempat di Hotel Lombok Raya, Jl. Panca Usaha No 11, Mataram, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan kami antar Mataram dari situs Mataram Islam Yogyakarta ke Kota Mataram di NTB, tentu sangat diimpikan.

Peserta lengkap IDI Wilayah DIY yang hadir pada Muktamar IDI ke 32 di Mataram.


Peserta Muktamar IDI ke 32 dari IDI wilayah DIY adalah dr. Joko Murdiyanto, Sp. An., MPH., FISQua, dr. Heni Suryadi, dr. Dewi Irawty, MKes, dr. Rina Nuryati, MPH, dr. Dela Oktaviana, dr. Diah prasetyorini, M.Sc, Dr. dr. Ita Fauzia Hanoum, MCE, dr. Budi Nur Rokhmah, MH, dr. Abdul Latief, MKes, dr. Tri widjaja, Dr. dr. HM. Any Ashari, SpOG(K), dr. Melly, dr. Wisnu Wardana, dr. Dharmawan Lingga Artama, dr. Fajar Meitaharti, dr. Riska Novriana, dr. Desi Arijadi, dr. Eva Rusiene, dr. Lucia Srie Rejeki, MPH, dr. Wahyu Pamungkasih, dr. Tri Kusumo Bawono, SE, Dr. dr. Fx. Wikan Indrarto, SpA, dr. Atthobari, MPH, SpMK, dr. Sitti Aisyah Sahidu, SU, MKes, FISQua dan dr. Lipur Riyantiningtyas Budi, SH, SpFM.
Muktamar IDI di laksanakan 3 tahun sekali, dihadiri oleh para dokter dari berbagai daerah di Indonesia, dan bertujuan untuk membahas berbagai isu dan perkembangan terkini dalam bidang kesehatan, untuk menetapkan arah dan kebijakan organisasi ke depan. Selain itu, Muktamar juga menjadi ajang untuk memperkuat solidaritas antar dokter, serta untuk menjalin kerja sama dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia. Dengan tema “Membangun Soliditas Dalam Beradaptasi Untuk Mewujudkan IDI Yang Berkemajuan”, diharapkan IDI dapat menciptakan kekompakan, tanggung jawab, dan keteguhan dalam beradaptasi saat menjalankan tugas profesi. Hal ini penting agar marwah organisasi yang baik dapat terus terjaga.

Perjalanan kami pada Selasa, 11 Februari 2025 sore diawali dengan terbang bersama Super Air Jet (SAJ), yaitu salah satu maskapai penerbangan domestik di Indonesia milik PT Kabin Kita Top yang berdiri pada Maret 2021, ketika Indonesia dan dunia sedang menghadapi pandemi Covid-19. Maskapai ini didirikan atas dasar optimisme bahwa peluang pasar, khususnya kebutuhan penerbangan domestik, masih ada dan terbuka luas. Maskapai ini memperoleh Sertifikat Operator Penerbangan dari Kementerian Perhubungan RI pada 30 Juni 2021 dan pada tahun yang sama meluncurkan 11 tujuan di Indonesia.

Super Air Jet dibiayai oleh pendiri Lion Air Group, Rusdi Kirana. Selain itu, maskapai ini dipimpin oleh Ari Azhari yang pernah menjabat sebagai General Manager of Services Lion Air Group. Maskapai ini mengadopsi model low cost carrier yang fokus pada perjalanan titik ke titik untuk mengangkut penumpang antar pulau di Indonesia, dengan berfokus pada milenial sebagai target pasar. Super Air Jet meluncurkan penerbangan dengan tiga Airbus A320-200 bekas, yang sebelumnya terbang untuk IndiGo Airlines dan Tigerair Australia. Tahapan awal maskapai Super Air Jet armada menggunakan armada generasi terbaru yaitu Airbus A320-200 yang berkapasitas 180 kursi kelas ekonomi. Kami duduk di kursi nomer 19F dekat jendela, sehingga mampu leluasa menikmati pemandangan awan, mendung dan daratan.

Airbus A320 adalah pesawat penumpang komersial jarak dekat sampai menengah yang diproduksi oleh Airbus. A320 merupakan pesawat penumpang pertama dengan sebuah sistem kendali fly-by-wire digital, di mana pilot mengendalikan penerbangan melalui penggunaan sinyal elektronik dan bukan secara mekanik dengan hendel dan sistem hidraulis. Kelompok pesawat A320 adalah satu-satunya kelompok pesawat berbadan sempit (narrow-body) yang diproduksi Airbus. Saking sempitnya badan pesawat, hanya ada 1 pintu keluar masuk untuk penumpang di sisi kiri depan.

Bandara Praya Zainudin Abdul Madjid Lombok

Bersama senior terhormat, Prof. Dr. Yati Soenarto, SpAK, PhD dari FKKMK UGM Yogyakarta, yang akan menerima anugerah IDI di Bandara Praya Zainudin Abdul Madjid Lombok

Kami mendarat dengan selamat di Bandar Udara Internasional Lombok (IATA: LOP), yang juga dikenal sebagai Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, yang berlokasi di Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Bandara ini dioperasikan oleh PT Angkasa Pura I dan dibuka pertama kali pada tanggal 1 Oktober 2011 untuk menggantikan fungsi Bandara Selaparang, di dalam Kota Mataram. Bandara ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono dan arsitektur bandara ini memiliki ciri khas rumah adat Sasak. Bandara ini dibangun di atas lahan seluas 550 hektare yang menelan biaya Rp.625 miliar (US$73.100.000).

Setelah menjalani proses registrasi peserta Muktamar IDI ke 32 di areal Bandara Praya Zainudin Abdul Madjid Lombok, pada Selasa, 11 Februari 2025 pk. 22.30 waktu setempat, kami yang kelaparan segera menuju RM. Taliwang Alam Nyaman Jl. By Pass Bundaran BL Tanakawu. RM di dekat pintu gerbang Bandara Praya tersebut menyajikan menu Ayam Taliwang, yang makanan khas yang berasal dari Taliwang, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Makanan ini berbahan dasar daging ayam. Daging ayam yang disajikan berasal dari ayam kampung muda yang dibakar kemudian dibumbui dengan semacam saus yang bahannya antara lain cabai merah kering, bawang merah, bawang putih, tomat, terasi goreng, kencur, gula merah, dan garam.

Setelah kenyang dan hampir mengantuk, kami segera naik HiAce Commuter menuju Kota Mataram, sekitar 43 km dari Bandara Praya Zainudin Abdul Madjid Lombok. Mataram merupakan kota terbesar sekaligus ibu kota dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Mataram merupakan Kota Inti kawasan Metropolitan Mataram Raya, sebuah kawasan metropolitan terbesar kedua di Kepulauan Nusa Tenggara setelah Sarbagita (Denpasar-Badung-Gianyar-Tabanan sebuah kawasan metropolitan di Provinsi Bali). Jumlah penduduk kota Mataram pertengahan tahun 2024 sebanyak 459.683 jiwa, dengan kepadatan penduduk sebanyak 7.500 jiwa/km2.

Kami segera check in di Hotel Lombok Raya Jl. Panca Usaha no 11 Mataram dan lanjut tidur nyenyak.

sekian laporan pandangan mata dan akan dilanjutkan lain waktu.

Ditulis dan diedarkan dari kamar C145 Hotel Lombok Raya di Mataram NTB, sambil masih mengantuk.

Rabu pagi, 12 Februari 2025

(bersambung)

KOTA MATARAM
(hari kedua)

(sambungan)

Perjalanan kami bersama sejawat dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ke Mataram, NTB dilakukan untuk mengikuti Muktamar XXXII IDI Tahun 2025. Muktamar IDI ke 32 dilaksanakan pada 12-15 Februari 2025, bertempat di Hotel Lombok Raya, Jl. Panca Usaha No 11, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Hari Rabu, 12 Februari 2025 saya terjaga di samping dr. Abdul Latief di kamar C145 Hotel Lombok Raya, untuk bergegas menuju Gereja Katolik St Maria Imaculata Jl Pejanggik Mataram. Saya berjalan kaki menyusuri Jl. Caturwarga melewati Hotel Aston dengan sedikit lari, karena pagi itu gerimis tidak mau berhenti dan misa kudus harian dilaksanakan pk. 6-6.30. setelah melewati beberapa blok, saya berbelok ke kanan masuk Gang IV untuk mencapai Jl. Pejanggik.

Selesai mengikuti misa kudus harian pagi di Gereja Katolik St Maria Imaculata Mataram NTB

Segera saya teringat Babad Lombok, yang menjelaskan tentang petualangan untuk menaklukkan wilayah Nusa Tenggara. Ekspedisi ini dipimpin Sunan Prapen yang berangkat bersama para mubalig Islam dan armadanya, dengan didukung puluhan kapal dan 10 ribu pasukan yang berasal dari daerah seperti Mataram Yogyakarta, Majalengka, Madura, Sumenep, Surabaya, Semarang, Gresik, Besuki Gembong, Candi, Betawi dan lainnya. Mereka dipimpin oleh pemukanya seperti Arya Majalengka, Ratu Madura dari Sumenep, Adipati Surabaya, Adipati Semarang, Patih Ki Jaya Lengkara, dan Raden Kusuma Betawi. Setelah mengislamkan raja Lombok Prabu Rangkesari, dengan berbasis di kotaraja Lombok di teluk Lombok, ekspedisi dipecah-pecah menjadi rombongan yang dikirim ke seluruh penjuru pulau Lombok.

Raja Mataram Prabu Rangkesari pada 1842 menaklukkan Kerajaan Pagesangan. Setahun kemudian yakni 1843 menaklukkan Kerajaan Kahuripan dan ibukota kerajaan dipidahkan ke Cakranegara, di daerah yang saya jelajahi pagi itu. Raja Mataram Lombok Prabu Rangkesari selain terkenal kaya raya juga adalah raja yang ahli tata ruang kota, bahkan melaksanakan sensus penduduk pertama kali.

Setelah selesai mengikuti misa harian pagi saya segera bergegas pulang ke Hotel Lombok Raya berjalan kaki melewati jalur lain dan kembali mengingat memori. Menyusuri Jl. Pejanggik sampai Air Mancur Mataram di persimpangan Jl. Bung Hatta, mengingatkan tentang Kerajaan Mataram yang dijatuhkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Pada 5 Juli 1894 ekspedisi Belanda yang dipimpin oleh Jenderal JA Vetter dan wakilnya Mayor Jenderal PPH Van Ham mendarat di Pelabuhan Ampenan. Pendaratan ini memicu pertempuran sengit dengan pasukan Kerajaan Mataram dan bahkan Mayor Jenderal PPH Van Ham terbunuh.

Monumen makam Mayor Jenderal PPH Van Ham, wakil komandan pasukan Belanda yang terbunuh tahun 1894, di seberang Hotel Lombok Raya

Jenazahnya sempat dimakamkan di Karang Jengkong, selanjutnya didirikan monumen gugurnya Van Ham, sampai sekarang masih sering dikunjungi oleh keluarga besarnya dari Belanda, dan terletak di seberang Hotel Lombok Raya tempat saya menginap, yang pagi itu saya lewati sepulang dari Gereja Katolik St Imaculata. Cukup merinding juga bulu kuduk saat melewati areal tersebut, karena menjadi teringat bahwa sejak itu Belanda mulai menerapkan sistem pemerintahan dwitunggal, yang berada di bawah Afdeling Bali Lombok, yang berpusat di Singaraja, Bali.

Setelah kemerdekaan Indonesia, Kota Mataram menjadi ibukota Propinsi NTB yang terbagi atas 6 kecamatan, yaitu Kecamatan Ampenan, Cakranegara, Mataram, Sandubaya, Selaparang dan Sekarbela.

Setelah sampai di Hotel Lombok Raya, saya segera menuju restoran untuk sarapan dan bertemu banyak dokter peserta Muktamar IDI ke 32, salah satunya adalah Dr. dr. M. Abid Khomaidi, SpOT yang akan mengakhiri jabatannya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) periode 2022-2025. Dalam obrolan asyik semeja di dekat konter minuman panas, diselingi banyak anggukan kepala, lambaian tangan, berdiri berpelukan dan say hallo dengan banyak sejawat dokter lainnya, dr. Adib menjelaskan tentang posisi IDI sebagai organisasi profesi dokter ke depan. Setelah berlakunya UU nomor 17 tahun 2023 omnibuslaw tentang Kesehatan, peran IDI dalam aspek mutu dan legal sudah diambil alih oleh Kementerian Kesehatan RI, sehingga tinggal peran etik profesi medis yang harus tetap dipertahankan. Peran para pengurus IDI di semua tingkatan sangat menentukan, apakah IDI sebagai organisasi profesi dokter akan tetap dihargai oleh para dokter anggota, apalagi sekarang tidak lagi memiliki sumber pendapatan organisasi, baik berupa iuran wajib anggota ataupun dana pengurusan SKP (Satuan Kredit Profesi) IDI, termasuk biaya administrasi terbitnya rekomendasi ijin praktek dokter. Namun demikian, dr. Adib tetap optimis bahwa di hampir semua daerah di Indonesia, IDI tetap menjadi organisasi profesi dokter yang keberadaannya diakui oleh pemerintah daerah. Bahkan dr. Adib mencontohkan beberapa pengurus IDI Cabang tetap mampu menghidupi organisasi, berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat, mendapatkan dana operasional melalui program peningkatan kemampuan SDM dan mendampingi para dokter anggota yang menghadapi sengketa medis. Kita dianjurkan untuk meneladani aktivitas pengurus IDI Cabang Lamongan Jatim, Kampar Riau dan Bogor Jabar, yang disebut dr. Adib sebagai beberapa contoh IDI Cabang yang tetap hidup, berkembang baik dan berdenyut secara kreatif.

Kenangan saat berfoto bersama dengan Dr. dr. M. Adib Khomaidi, SpOT, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia periode 2023-2025, saat sarapan pagi di Hotel Lombok Raya Mataram NTB

Setelah berfoto bersama dengan dr. Adib, saya segera menyampaikan rasa hormat dan pamit undur untuk mengikuti rangkaian simposium Muktamar IDI ke 32, di Ruang Selaparang dengan tema besar ‘Principal Management in Acute Onset’. Saya segera berkonsentrasi mengikuti simposium sesi pertama bertema : ‘Disaster triage and Orthopaedi management in acute onset earthquake’ oleh dr. Yogi Prabowo, SpOT(K) dari RS Islam Jakarta, kemudian ‘Neurosurgical emergencies management in earthquake disaster’ oleh Dr. dr. Bambang Priyanto, SpBS(K) dari Siloam Hospitals Mataram, dan ‘Initial response in health crisis condition’ oleh dr. Eko Widya Nugroho, SpEM Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Provinsi NTB. Topik menarik ini terinspirasi oleh gempa bumi besar tahun 2018 yang meluluhkan Mataram dan sekitarnya, terulang setiap sekitar 40 tahun, dan waktu itu saya hadir mewakili pengurus IDI Wilayah DIY memberikan bantuan dana, yang diterima oleh Dr. Dody Ario Kumboyo SpOG(K) sebagai Ketua IDI Wilayah NTB.

Saya segera pindah ke ruang Rinjani untuk mengikuti simposium paralel dengan topik : Mengenal dan tatalaksana hirscsprung disease oleh dr. Sunanto, SpBA, ‘Chronic venous insufisiency curent diagnostic and management’ oleh dr. I Made Arya Winatha, SpB(K)V, seorang Dokter Bedah Vaskular di Siloam Hospitals Mataram, ‘Cryosurgery: A New Option for Late-Stage Tumor Management’ oleh dr. Maz Isa Ansyori Arsatt, Sp.BTKV, Diagnosis dan tatalaksana retensio urine oleh dr. Akhada Maulana, SpU, ‘Abdominal compartement syndrome’ oleh dr. Aulia Ahimsa Martawiguna, MBiomed, SpB. Lanjut kembali ke ruangan sebelah untuk mendengarkan ‘Code Stroke and hyperacute treatment of ischemic stroke’ oleh Dr. dr. Sumantri, SpS, FINS, FINA, ‘neurointerventional management for ischaemic stroke: neurosurgery perspectiv’ oleh dr. Affan Priyambodo Permana, SpBS, ‘Hemorhagic stroke, neurointerventional approach’ oleh dr. Achmad Firdaus Sani, SpS(K), FINS, ‘Hemorhaegic stroke : do surgery of endovascular intervention’ oleh Dr. dr. Nur Setiawan Suroto, SpBS (K) dari Surabaya, dan ‘Update in Cervical Cancer Management’ oleh dr. I Made Widyalaksana Mahayasa, SpOG(K)Onk. Simposium yang menurut saya paling menarik adalah ‘Prenatal care: Early Diagnosis and Prompt Treatment’ oleh dr. Agus Rusdhy Hariawan Hamid, SpOG, SubsKFm, MARS, dan ‘Dealing with postpartum hemorrhage’ oleh dr. Ario Danianto, SpOGK(Subsp K.Fm). Diselingi pindah ruangan lagi untuk mengikuti simposium bertema ‘Pre-Hospital Medical Personnel Challenges in Large Scale Sport Event’ oleh dr. Mokh. Rakhmad Abadi, SpKO, ‘Management Muskuloskeletal Injury in Mass Public Event’ oleh dr. Audi Hidayatullah Syahbani, SpOT, dan ‘Awareness of Cardiac Arrest Among Sport Enthusiasts’ oleh dr. Yusra Pintaningrum, SpJP, FIHA, FAPSC, FAsCC.

Tertidur kelelahan yang sangat.

Setelah cukup penat dan lelah mengikuti berbagai perkembangan teknologi dan ilmu kedokteran terkini pada simposium paralel tersebut, saya segera bergabung dengan para dokter dari IDI Wilayah DIY untuk menjelajahi Lombok. Menggunakan 2 buah HiAce Commuter warna putih, berpelat nomer DR, dan velg mobil bercat emas, kami segera membelah gerimis yang tetap saja turun tanpa bosan, menuju toko grosir mutiara A&R di sebuah gang kecil Jl. Darul Hikmah, Genteng, Pagutan, Mataram. Setelah tertidur lelap saat teman2 sejawat berbelanja aneka perhiasan mutiara, kami lanjut menuju kampung Adat Sade, berupa komunitas asli suku Sasak yang masih menjaga tradisi aslinya.

Gerbang desa Sade yang eksotik, kampung adat suku Sasak di Lombok Tengah.

Desa Sade terletak di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, yang berada satu dusun dengan Desa Rembitan. Lokasi Desa Sade berada persis di samping Jalan Raya Praya-Kuta. Kami menikmati perjalanan di jalan nasional yang lebar, 4 jalur dengan sparator, halus dan nyaman seolah berupa jalan tol, sangat berbeda dengan jalanan padat di Pulau Jawa. Desa Sade merupakan salah satu Desa Adat Suku Sasak yang masih mempertahankan adat dalam kehidupan kesehariannya. Adat suku Sasak merupakan salah satu daya tarik wisatawan, baik dalam negeri maupun luar negeri. Desa Adat Sade memiliki sejarah panjang, dimana adat suku Sasak telah berlangsung kurang lebih 1.500 tahun yang lalu.

Penjelasan pendahuluan oleh seorang warga setempat, tentang adat suku Sasak di Desa Sade, Lombok Tengah

Saat memasuki halaman parkir, kami langsung melihat atap rumah warga yang terbuat dari anyaman bambu, berdiri kokoh di antara bangunan tembok warga sekitar, berbeda mencolok dengan nuansa pedesaan tradisional yang sangat terasa di Desa Sade. Luas Desa Sade sekitar 5,5 hektar dan memiliki sekitar 150 rumah. Setiap rumah terdiri satu kepala keluarga. Semua penduduk Desa Sade adalah suku Sasak Lombok. Penduduk Desa Sade masih satu keturunan karena mereka melakukan perkawinan antar saudara. Makanya saat anak-anak melintas dalam lari di sekitar kami, terlihat bahwa raut wajahnya saling mirip.

Keunikan Desa Sade adalah rumah beserta fungsinya yang terdiri dari beberapa jenis, yaitu Bale Bonter, Bale Kodong, dan Bale Tani. Masing-masing rumah memiliki fungsi yang berbeda. Bale Bonter berfungsi sebagai rumah pejabat desa. Bale Bonter juga berfungsi sebagai tempat persidangan adat. Sementara Bale Kodong berfungsi sebagai tempat tinggal untuk orang-orang yang sudah jompo. Tempat tersebut juga digunakan untuk orang sudah menikah namun belum memiliki tempat tinggal. Bale Tani berfungsi sebagai tempat tinggal masyarakat yang kebanyakan berprofesi sebagai petani.

Suasana gelap di dalam ruang utama rumah suku Sasak di Desa Sade Lombok Tengah, dengan lantai yang telah diolesi kotoran sapi.

Masyarakat Desa Sade memiliki kebiasaan membersihkan lantai rumah dengan kotoran kerbau atau sapi sekitar semiinggu sekali. Tujuannya supaya lantai bersih dari debu-debu yang melekat, menguatkan lantai, dan berfungsi untuk mencegah serangga, terutama nyamuk agar tidak masuk ke dalam rumah. Rumah Desa Sade memiliki desain yang sederhana, berdinding anyaman bambu, atap alang-alang kering, dan lantai yang terbuat dari campuran tanah liat dengan sekam padi. Bangunan rumah Desa Sade juga tahan gempa, masih terlihat kokoh meskipun wilayah tersebut pernah diguncang gempa.

Kenangan saat diterima oleh Dr. dr. Doddy Ario Kumboyo SpOG(K), Ketua IDI Wilayah NTB waktu itu, saat saya mengirimkan bantuan medis untuk korban gempa bumi NTB Agustus 2018

Mata pencaharian penduduk Desa Sade adalah petani. Mereka menanam padi di sawah tadah hujan yang tidak ada irigasinya, dengan masa panen setahun sekali. Di tengah menunggu masa panen, penduduk Desa Sade memiliki pekerjaan sampingan menenun untuk memenuhi kebutuhan pokok.

Bergaya sebelum melanjutkan perjalanan, di Gerbang Desa Sade sebuah desa adat suku Sasak di Lombok Tengah

Perjalanan selanjutnya setelah puas menikmati Desa Sade adalah melalui Jalan By Pass Bandara Internasional Lombok, untuk menuju Mandalika, sebuah kawasan wisata seluas 20.035 hektar yang berlokasi di Kuta, Pujut, Kabupaten Lombok Tengah NTB. Sejak 2017, Mandalika sudah diresmikan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata yang direncanakan dapat menjadi kawasan wisata. Nama Mandalika berasal dari nama seorang putri dalam cerita rakyat yang terkait dengan perayaan Nyale di Lombok.

Kawasan Mandalika awalnya direncanakan sebagai proyek investasi oleh Emaar Properties dari Uni Emirat Arab dengan penandatanganan nota kesepahaman pada 19 Maret 2008. Rencana tersebut kemudian dibatalkan karena terjadinya resesi ekonomi dunia tahun 2008.

Tujuan selanjutnya adalah merasakan sensasi balap di Sirkuit Mandalika Lombok Tengah

Kami segera menuju Sirkuit balap Internasional Mandalika, sirkuit Mandalika, atau dengan nama resminya yaitu Pertamina Mandalika International Street Circuit, yang diresmikan pada tanggal 12 November 2021 oleh Presiden Joko Widodo. Sebelumnya pada tanggal 23 Februari 2019. Lintasan balap di Mandalika memiliki panjang 4.320 kilometer dengan 17 tikungan. Sirkuit Mandalika menjadi tempat penyelenggaraan MotoGP dan Kejuaraan Dunia Superbike yang dibangun oleh Vinci Grand Projects. Proyek klaster olahraga dan hiburan seluas 120 hektare dengan kapasitas 195.700 ini mencakup pembangunan hotel dan fasilitas lainnya.

Pantai Mandalika yang eksotik, di samping sirkuit balap termegah di Indonesia

Sebagai bagian dari pemeliharaan konservasi, vegetasi yang menjadi latar belakang kawasan Resor Mandalika akan ditetapkan sebagai kawasan konservasi seluas lebih dari 3.000 hektar. Kawasan dengan banyak spesies asli ini hanya dapat diakses untuk kegiatan lingkungan berdampak rendah, seperti bersepeda atau mendaki, demi meminimalkan kerusakan pada flora dan fauna.

Bergaya di tribun penonton dekat sebuah tikungan sirkuit balap Mandalika, Lombok Tengah

Setelah berfoto bersama di tribun penonton dan melihat aktivitas mobil penyelamat melintas sitkuti balap Mandalika, kami segera menuju ke
Bukit Seger yang menjadi pusat perhatian karena pernah menjadi spot foto pebalap MotoGP Repsol Honda, Marc Marquez. Pada waktu itu, Marquez datang ke Lombok bersama beberapa pebalap lainnya saat mengikuti tes pramusim MotoGP di Pertamina Mandalika Street Circuit atau Sirkuit Mandalika, Jumat (11/2/2022).

Gerbang Bukit Seger Mandalika Lombok

Bukit Seger adalah tempat terindah untuk melihat sunset dan menikmati panorama alam yang sangat indah. Dari situ saya dapat melihat tikungan maut Sirkuit Mandalika di sisi kiri, yang hanya dibatasi oleh sebuah jalan sekitar 50 meter sudah ada bibir pantai dengan ombak yang landai, di sisi kanan. Bukit Seger juga menjadi tempat untuk melihat adu balap, kelincahan pembalap melahap tikungan, dan keceriaan suasana balap di Sirkuit Mandalika.

Dari puncak Bukit Seger kita dapat melihat sebuah tikungan tajam Sirkuit Mandalika di sebelah kiri dan bibir pantai di sebelah kanan, yang dipisahkan hanya oleh sebuah areal paling sempit.

Setelah puas berfoto, kami segera meninggalkan Bukit Seger Mandalika dan lanjut kembali ke Hotel Lombok Raya, untuk mengikuti rapat koordinasi antar IDI Wilayah dan IDI Cabang seluruh Indonesia di ruang pertemuan utama (ballroom) Hotel Lombok Raya lantai 2.

Setelah selesai acara, lanjut saya ikut reuni tipis dengan teman sekelas di SMA Kolese de Britto Yogyakarta (JB). Om Pengky Jupiter (d/h The Tiong Peng) teman sekelas saya saat SMA saat ini adalah Direktur Utama PT Narmada, seorang asli Mataram. Perusahaannya memproduksi air mineral kemasan dengan merk Narmada, yang bersiap IPO menjadi perusahaan publik. Sangat senang bertemu teman yang lama tidak bersua, segera saya diajak keliling kota Mataram.

Diantar Om Pengky Jupiter memasuki areal alun-alun Ampenan

Tujuan pertama adalah salah satu lokasi kota tua yang dapat kita nikmati di Pulau Lombok, yaitu Ampenan. Saat ini menjadi kecamatan Ampenan yang berjarak sekitar 5 kilometer dari pusat kota di Mataram. Ampenan berasal dari kata “amben” yang dalam bahasa Sasak artinya adalah tempat persinggahan.
Sejak abad 19 Ampenan telah menjadi pusat perdagangan yang ramai. Pada masa lalu, Ampenan merupakan pusat kota Lombok yaitu ketika Pemerintah Hindia Belanda menunjuknya sebagai Afdeeling atau wilayah administrasi setingkat kabupaten berdasarkan Staatbald nomor 181 tahun 1895 tertanggal 31 Agustus 1895.

Melalui peraturan itu pihak kolonial menjadikan Pulau Lombok sebagai bagian dari Karesidenan Bali dengan Ampenan sebagai pusat kegiatan jasa dan perdagangan. Sebagai sebuah pusat bisnis, pihak Hindia Belanda melengkapi Ampenan dengan kantor bank, bioskop, pasar, rumah ibadah, kantor dagang, permukiman kelas menengah dan rumah-rumah pejabat Belanda. Ciri khas bangunan-bangunan kolonial di Ampenan adalah dindingnya yang sangat tebal.

Melihat sebuah kapal tanker berlabuh di Pelabuhan Ampenan diantar Om Pengky Jupiter

Pada 1924 mereka membangun pelabuhan di pesisir Ampenan dan sejak itu kota buatan Belanda itu makin ramai. Pelabuhan Ampenan menjadi pintu keluar bermacam komoditas penting Pulau Lombok seperti padi, ternak sapi dan kuda yang dikirim ke daerah-daerah lain di Nusantara serta untuk kebutuhan ekspor.
Ampenan perlahan mulai ditinggalkan sebagai kota perdagangan dan jasa ketika Jepang masuk dan menduduki Lombok dan menjadikan Mataram sebagai pusat pemerintahan. Kehidupan di Ampenan yang berpenduduk sekitar 90.000 jiwa tersebut semakin sepi tatkala pemerintah pada 13 Oktober 1977 memindahkan aktivitas pelabuhan ke Lembar sampai hari ini.

Setelah tidak lagi menjadi pusat perdagangan dan jasa, denyut kehidupan di Ampenan tetap terjaga. Mulai dari Jembatan Ampenan menuju ke Jalan Pabean hingga ke Pantai Ampenan yang kini dikenal sebagai Pantai Boom, masih kental dengan suasana tempo dulu. Memasuki kawasan ini dari Jembatan Ampenan, akan terlihat bangunan-bangunan tua yang masih kokoh berdiri, kendati rata-rata kondisinya kurang terawat.

Kota Tua Ampenan memiliki ratusan bangunan berarsitek Belanda yang menjadi cagar budaya. Bangunan yang berada di tepian jalan raya yang menghubungkan Kota Mataram dengan kawasan wisata Senggigi itu kini dalam kondisi rusak, tidak terawat, dan tidak berpenghuni. Padahal, Kota Tua Ampenan adalah salah satu dari 43 kota di Indonesia yang ditetapkan sebagai Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI).

Sejumlah bangunan tua di Jalan Niaga juga sudah ditata menjadi sebuah ruang kreatif dikemas dalam sebuah kegiatan “Ampenan Huis”. Lokasi itu dapat digunakan untuk para pelaku seni dan budaya untuk menampilkan hasil karya terbaiknya setiap akhir pekan. Pemkot Mataram bahkan telah membeli bangunan tua bekas Bank Dagang Belanda (Nederlandsch Indische Handelsbank) yang ada di areal bekas Pelabuhan Ampenan. Bangunan tua bekas Bank Dagang Belanda bergaya art deco tersebut dibeli, guna menyelamatkan cagar budaya yang harus dijaga dan dilestarikan.

Bangunan tua bekas Bank Dagang Belanda (Nederlandsch Indische Handelsbank) bergaya art deco dengan atap tinggi yang ada di areal bekas Pelabuhan Ampenan.

Setelah berfoto bersama Om Pengky di bangan bekas Bank Dagang Belanda, kami segera menuju rumah asli Om Pengky di dekat wihara Ampenan. Rumah tua, terawat dan bersejarah itu sekarang ditinggali oleh kakak tertua. Selanjutnya kami menikmati inspirasi dari abad ke-18, yaitu Cakranegara. Sekarang menjadi Kecamatan Cakranegara, tetapi ini telah memberi contoh bagaimana seharusnya sebuah kota dibangun, karena kota lama ini dirancang dengan masterplan modern yang melampaui zamannya. Sisa-sisanya masih dapat dilihat sampai sekarang, yaitu Kota Cakra ini tersusun dalam blok-blok persegi (grid pattern) dengan jalan dan gang-gang lebar presisi yang terhubung satu sama lain.
Cakranegara adalah kota yang dibangun ulang di permulaan abad ke-18 oleh Kerajaan Karangasem di Bali yang berkuasa di masa itu. Kota ini kemudian disempurnakan kembali oleh dinasti Kerajaan Mataram setelah perang suadara 1838. Kota ini didesain berdasarkan mitologi Hindu, dengan dataran rendah Cakranegara dibagi dalam blok-blok pemukiman yanh menempatkan Pura Meru Mayura berada di tengah. Sementara di sisi barat terdapat Pura Dalem, Karang Jangkong dan Pura Puseh di pojok sebelah timur, menyerupai formasi kota kuno di Bali.

Sisa-sisa keteraturan Cakranegara masih terasa hingga kini. Cakra dibagi oleh dua jalur arteri utama (marga sanga) yang saling menyilang, yaitu jalan Pejanggik-Selaparang yang membelah timur-barat dari Karang Jangkong hingga Sweta. Kemudian dari utara-selatan ada jalan Sultan Hasanudin–AA Gede Ngurah yang menghubungkan Karang Taliwang dan Abian Tubuh. Dua jalur ini bertemu di perempatan Cakranegara di depan Hotel Lombok Plaza.

Penataan kota dengan jalan yang lebar ini memudahkan lalulintas orang dan barang. Selain itu, juga mendukung aspek pertahanan sebuah pusat pemerintahan. Cakra dibangun tepat di tengah jalur yang menghubungkan Pelabuhan Ampenan dan Labuhan Lombok. Jalan ini juga menghubungkan akses Cakra dengan Pelabuhan Lembar dan Lombok Utara.


Pada awalnya Cakranegara dirancang untuk 33 banjar (lingkungan). Angka 33 merujuk pada bilangan khusus dalam kepercayaan Hindu dimana ada 33 dewa yang menghuni Puncak Meru (Mahameru). Dalam desainnya, satu lingkungan (karang) terdiri atas 80 kapling rumah yang terbagi atas empat marga. Satu marga memanjang utara selatan, tersusun atas 20 kapling rumah yang saling memunggungi. Hal inilah yang membuat setiap rumah akan berhadapan langsung dengan jalan baik jalan marga sanga (jalan utama) marga dasa (jalan lingkungan) dan marga (jalan kecil/gang). Dengan pengaturan ini setiap keluarga di Cakranegara akan menempati satu kapling lahan dengan luas antara 6-8 are.

Sementara itu setiap lingkungan (karang) dibagi melintang utara-selatan dengan jalan-jalan yang sedikit lebih sempit atau yang dikenal dengan Marga Dasa. Di ujung barat misalnya ruas-ruas ini menghubungkan Jalan Kebudayaan di utara dengan Jalan Songket di selatan. Oleh karena itulah setiap orang sebenarnya tidak akan tersesat di jalan, karena semua jalur marga dasa akan memiliki persilangan dengan jalur utama Marga Sanga.

Lebih dari itu penataan ini memungkinkan sisi jalan ditumbuhi pohon-pohon pelindung. Kemudian dilengapi saluran drainase yang terhubung dengan kanal-kanal lebih besar menuju sungai. Hal inilah yang membuat Cakra selalu siap menghadapi banjir karena pemukiman dibangun lengkap dengan sistem pembuangan air hujan yang terpadu.

Selayaknya sebuah Super Cluster dalam perumahan modern, Cakra juga dilengkapi ruang-ruang publik dan pusat perekonomian. Selain Pura Miru hampir semua lingkungan memiliki Pura. Kemudian sebagai pusat ekonomi Pasar Cakra dibangun. Ini adalah bentuk umum pasar-pasar lama baik di Jawa dan Bali, yang berdiri tak jauh dari gerbang pura yang sampai sekarang masih dapat dilihat.
Sebagai daerah koloni Karangasem, nama-nama kampung di Cakranegara juga banyak diambil dari nama-nama tempat di Bali. Seperti Karang Ujung, Sindu, Pondok Perasi, Pagutan, Karang Tangkeban, Tohpati dan lainnya. Tatakelola Hindu-Bali yang dianut dalam penataan Kota Cakranegara juga berpengaruh pada pengaturan penghuni daerah perumahan di distribusikan menurut empat kasta yang ada, Brahmana, Kesatriya, Weisya dan Sudra.

Dalam sistem Kota Cakranegara kebanyakan para Brahmana tinggal di sebelah Utara dan Timur. Ini mengacu pada arah Timur laut adalah arah yang dianggap suci mengikuti arah Gunung Rinjani. Sedangkan kasta Ksatriya sebagian besar banyak yang tinggal disebelah Barat. Kasta Weisya banyak yang tingal disebelah Timur. Sementara kasta sudra atau Bali biasa, banyak hidup di semua bagian blok sesuai aturan kerajaan. Sejumlah perkampungan Muslim Sasak diizinkan berdiri diantara perkampungan Bali di Cakra dan Mataram, yang pada awalnya masih terbatas bagi mereka yang memiliki keterampilan khusus. Seperti para perawat gamelan di Karang Kemong, perajin emas di Kamasan dan Sekarbela, juru masak di Karang Tapen dan Pelaras dan pembuat Senjata di Karang Bedil.

Wajah Kota Cakranegara berubah seiring dengan runtuhnya dinasti Mataram. Perang melelahkan dengan koalisi Timur Juring dan Belanda di tahun 1894 mengakhiri riwayat kerajaan Mataram ini. Selepas perang hampir seluruh perkampungan Bali di Mataram dan Cakra dihancurkan. Harta kerajaan dijarah, termasuk 453 kilogram emas, 3.173 kilogram harta berbahan perak dan 75 peti permata dan batu mulia lainnya. Ini belum termasuk benda-benda penting seperti senjata dan naskah-naskah kuno di perpustakaan kerajaan Mataram. Sementara sisa-sisa keluarga Kerajaan Mataram yang selamat ditangkap dan diasingkan. Mereka tak diperkenankan bersatu kembali dengan jalan diasingkan terpisah di Batavia, Cianjur, Sulawesi dan Bengkulu. Sementara sebagai penguasa baru, Belanda membawa para bangsawan Bali dari Buleleng untuk memimpin Cakranegara.

Puri raja kini menjadi komplek pertokoan di barat Taman Mayura. Yakni dari Jalan Selaparang hingga Jalan Tenun di utara. Setelah Belanda berkuasa, Mataram dipilih sebagai pusat pemerintahan. Sementara Cakra bergerak sebagai pusat niaga. Bersamaan dengan itu pola hunian dan kepemilikan lahan di Cakra tak lagi berdasar kasta. Semua orang bebas memiliki lahan selama tak bertentangan dengan aturan Kolonial Belanda. Sejak saat inilah Cakra menjadi lebih heterogen. Mayarakat Sasak yang dulu berada di luar boleh masuk selama mampu membeli lahan. Kemudian etnis lain seperti Cina, Arab, Bugis, Jawa dan lainnya bisa berdampingan dengan masyarakat Hindu-Bali yang sebelumnya menguasai kota. Hasilnya bisa dilihat kini, Cakra tak hanya didominasi Pura. Rumah ibadah lain seperti Masjid, Vihara hingga Gereja dapat ditemui. Namun di balik itu struktur kota yang dibangun dalam pola grid ini masih bertahan hingga kini.

Disambut Ibu Desi, istri Om Pengky yang berdarah Belanda, di rumahnya yang artistik di Mataram


Setelah puas menikmati pesona kota yang tertata di Cakranegara, kami segera menuju rumah Om Pengky Jupiter yang indah, luas, dan bersih di belakang kompleks Kejaksaan Tinggi NTB di Dasan Agung Mataram. Saat ini Om Pengky hanya tinggal berdua bersama mbak Desi, sang istri yang berdarah Belanda, karena puteri tunggalnya kuliah Desain Komunikasi Visual (DKV) di Singapura. Saya senang sekali ikut menikmati acara persiapan cap go meh di rumah indah itu, yang dilengkapi kolam renang pribadi, bahkan kami semua sesama alumni JB 84 diundang ke Mataram, akan dijamin senang. Suasana Imlek masih tersisa di beberapa sudut rumahnya, yang membuat siapapun pasti kerasan tinggal di rumah tersebut, mbak Desi, istrinya yang cantik, ramah dan berdarah Belanda telah menyiapkan hidangan khas Mataram. Kami mengobrol di ruang tengah yang lebar di dekat kolam renang pribadi, dan ngobrol berbagai kenangan indah maupun menyakitkan, saat kami bersama di SMA Kolese de Britto Yogyakarta. Oleh karena bersamaan dengan acara cap go meh di rumahnya, saya segera pamit untuk jalan lagi dan atas kebaikannya, sopir dan mobil Honda CRV disiapkan untuk mengantar saya.

Sore itu saya menikmati kota Mataram yang merupakan kota multi etnis dan agama. Pengaruh budaya Sasak dan Bali, sangat terasa di kota ini. Adapun keberagaman penduduk kota Mataram menurut agama yang dianut (2024), yakni pemeluk agama Islam 83,02% yang umumnya dianut suku Sasak, kemudian Hindu 13,72% yang dianut suku Bali.

Masjid Raya Hubbul Wathan Islamic Center Lombok yang memiliki menara setinggi 99 meter dan dinamakan Asmaul Husna


Lombok bahkan dijuluki sebagai Pulau Seribu Masjid, karena mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam. Sebutan ini bermula dari kunjungan Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama Effendi Zarkasih di tahun 1970, saat meresmikan Masjid Jami Cakranegara atau yang sekarang lebih resmi dikenal sebagai Masjid Raya Hubbul Wathan Islamic Center Lombok. Sebagai ikon religi di Lombok, Masjid megah ini adalah destinasi yang tak boleh dilewatkan, terletak di pusat kota, dan memiliki menara setinggi 99 meter yang dinamakan Asmaul Husna. Kemegahan arsitekturnya menggabungkan nuansa Islam dengan motif batik khas Sasambo. Tidak hanya menjadi tempat ibadah, masjid ini juga menawarkan panorama indah dari puncak menara yang memungkinkan menikmati pemandangan Kota Mataram dari ketinggian.

Taman Mayura yang indah bercorak Hindu Bali dan terawat baik di Mataram NTB

Selanjutnya saya menikmati keindahan taman Air Mayura, yang merupakan peninggalan sejarah masa kerajaan di Lombok. Nama “Mayura” diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti merak. Dulunya, burung merak dihadirkan di taman ini untuk mengusir ular yang sering mengganggu pengunjung. Selanjutnya saya mengagumi keelokan Pura Meru, yang berdiri gagah tidak jauh dari Taman Air Mayura dan merupakan pura terbesar di Lombok. Pura ini dibangun pada masa kerajaan oleh Anak Agung Ngurah Karangasem dan memiliki 33 sanggah yang melambangkan desa-desa di sekitarnya yang berperan dalam pembangunannya. Akan dapat dilihat perpaduan arsitektur khas Lombok dengan sentuhan Jawa Kuno, menciptakan nuansa spiritual yang unik.

di gerbang Istana Narmada yang sangat luas dan menawan, tetapi sudah terlanjur tutup sore itu

Lebih ke utara lagi, sore itu saya mengunjungi Istana Narmada, sebuah kompleks taman dan istana yang dibangun oleh Raja Anak Agung Gede Karangasem pada tahun 1727. Istana ini dibangun sebagai replika mini dari Gunung Rinjani dan Danau Segara Anak, yang digunakan sebagai tempat upacara keagamaan dan peristirahatan raja. Namun demikian, sore itu Istana Narmada yang telah menjadi objek wisata populer sudah tutup jam kunjung, sehingga saya tidak mampu menikmati pemandangan yang asri, nuansa Hindu yang kental, dan sejarah yang kaya.

Kemudian saya diantar mengunjungi salah satu pabrik air mineral kemasan Narmada, yang tengah berkembang pesat. Om Pengky Jupiter teman sekelas saya di SMA Kolese de Britto Yogyakarta dulu, adalah manajer bertangan dingin yang membuat perusahaan tersebut cepat besar.

Om Pengky Jupiter teman sekelas saya di SMA Kolese de Britto Yogyakarta dulu, adalah manajer bertangan dingin yang membuat perusahaan Narmada pembuat air mineral kemasan tersebut cepat besar.

Bersama dr. Suwardiman MKes SpKKLP teman seangkatan saya di FK UGM 84, sebagai utusan IDI Cabang Kota Metro Lampung, saat menghadiri malam kesejawatan pada Muktamar IDI ke 32 di Hotel Lombok Raya Mataram

Selanjutnya saya diantar pulang kembali ke Hotel Lombok Raya Mataram untuk berpakaian adat Ngayogyakarta Hadiningrat dalam menghadiri malam keakraban peserta Muktamar IDI ke 32. Pada malam yang hingar bingar musik, sajian menu makanan aneka ragam dan gemerlap lampu di taman dekat kolam renang hotel, juga diberikan penghargaan IDI untuk Prof. dr. Yati Sunarto, SpAK, PhD, guru saya di Bagian Anak FK UGM Yogyakarta, yang membuat tambah bangga.

berpakaian adat Ngayogyakarta Hadiningrat dalam menghadiri malam keakraban peserta Muktamar IDI ke 32 berpakaian adat Ngayogyakarta Hadiningrat dalam menghadiri malam keakraban peserta Muktamar IDI ke 32

Sowan senior kakak kelas 2 tingkat di FK UGM Yogyakarta, yang menjadi Health Specialist Unicef NTT dan NTB, dr. VAMA Chrisnadharmani, MPH saat menginap di Fave Hotel Mataram, karena menjalankan tugas supervisi di Kabupaten Lombok Utara

Selanjutnya saya mengunjungi senior Dr. VAMA Chrisnadharmani Taolin, MPH Health Specialist Unicef Indonesia Perwakilan Kupang NTT, yang sedang menjalankan program pelatihan di Kabupaten Lombok Utara dan menginap di Fave Hotel Mataram NTB. Kiprah Univef Devisi Kesehatan di NTB misalnya adalah program pemantauan kondisi bayi baru lahir oleh orang tua, program MTBS (Manajemen Balita Sakit) dan kegawatdaruratan medis yang mudah dikenali orangtua, agar anak tidak terlambat dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat. Kisah inspiratif karya Unicef Indonesia untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat terpencil ini terbawa sampai mimpi pada tidur nyenyak saya di kamar C145 Hotel Lombok Raya Mataram malam itu.

Sekian dulu tulisan yang dibuat di lorong Hotel Lombok Raya, setelah sarapan pada Kamis pagi, 13 Februari 2025. Terimakasih

(Bersambung lain waktu, dengan petualangan lebih lanjut).

Salam pengelana
-wikan

Disebarkan dari dalam kabin senyap bis Tiara Mas jurusan Bima Jakarta PP, yang membawa saya meninggalkan Mataram NTB menuju Denpasar Bali

DI MATARAM HARI KETIGA
(laporan terakhir)

Kamis, 13 Februari 2025 saya mengikuti rombongan dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada Muktamar ke 32 IDI Tahun 2025 di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Pagi itu kami awali dengan sarapan bersama Dr. Ulul Albab, SpOG Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia periode 2022-2025. Obrolan santai di sela-sela sarapan menyinggung tentang tingginya biaya layanan kesehatan di Indonesia dibandingkan dengan di Malaysia, khususnya Penang. Dijelaskan bahwa perbedaan pandangan telah terjadi saat diskusi antara PB IDI dengan Kemenkes RI, dimana Kemenkes RI menyoroti biaya promosi obat kepada para dokter yang besar, yang harus ditanggung pasien adalah masalah prioritas yang harus dibereskan terlebih dahulu, agar biaya layanan kesehatan dapat diturunkan. Sebaliknya, PB IDI justru menilai bahwa penerapan pajak atas berbagai produk obat dan alat kesehatan yang besar dan kadang ganda, justru harus lebih dahulu diturunkan, bahkan kalau perlu dibebaskan. Perbedaan kedua sudut pandang ini belum dapat dijembatani sampai kepengurusan Dr. Ulul pada PB IDI akan berakhir.

Bersama dr. Ulul Albab, SpOG Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia

Setelah diskusi hangat sambil sarapan tersebut, kami segera bergegas untuk mengikuti rangkaian acara Pembukaan Muktamar IDI ke 32 yang diagendakan berlangsung pk. 8-9.30. Acara yang diselenggarakan di ruang pertemuan utama (ballroom) Hotel Lombok Raya Mataram NTB, dikawal ketat oleh banyak personil keamanan, panitia yang cekatan dan dihadiri dengan antusiasme oleh delegasi, dengan kehadiran hampir 80 persen dari seluruh IDI Cabang di Indonesia.

bersama mas dr. Bambang Suyamto SpTHT Ketua IDI Cabang Rembang Jawa Tengah, teman seangkatan saya di FK UGM Yogyakarta

Saya berjumpa dengan dr. Bambang Suyamto, SpTHT Ketua IDI Cabang Kabupaten Rembang, Jawa Tengah teman seangkatan di FK UGM Yogyakarta tahun 1984 dan mas dr. Didik Wijayanto Ketua Kompartemen JKN PB IDI periode yang lalu, kakak kelas setahun di FK UGM Yogyakarta. Reuni tipis tersebut sangat menyenangkan, karena dihiasi obrolan santai dan kenangan saat kuliah dahulu.

Bersama dengan mas dr. Didik Wijayanto Ketua Kompartemen JKN PB IDI, kakak kelas setahun di FK UGM dan Asrama Mahasiswa Ralealino Yogyakarta

Kemudian kami semua mengikuti acara resmi pembukaan Muktamar IDI ke 32, sebagai salah satu momentum memperkuat nilai-nilai kesejawatan serta profesionalisme dokter yang tertanam dalam Sumpah Dokter sebagai modal utama menghadapi tantangan masa depan.

Bersama Dr. dr. Dodi Ario Kumboyo SpOG(K) mantan Ketua IDI Wilayah NTB sebelum acara pembukaan Muktamar IDI ke 32 di Mataram

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) periode 2022-2025 Dr. dr. Mohamad Adib Khumaidi, SpOT pada pidato pembukaan Muktamar. Keberadaan organisasi profesi IDI tetap relevan dan sangat dibutuhkan. Karena itu semua dokter anggota IDI diharapkan untuk terus memperkuat nilai-nilai kesejawatan yang tertanam dalam Sumpah Dokter sebagai modal utama menghadapi tantangan masa depan.

Kenangan bersama dengan Dr. dr. M Adib Khomaidi SpOT Ketua Umum PB IDI di Lamongan Jawa Timur

IDI lahir bukan karena kepentingan kelompok, melainkan karena kepentingan rakyat Indonesia. Sejarah panjang organisasi ini, sejak 1911 hingga menjadi satu kesatuan pada 1950, membuktikan bahwa IDI memiliki akar kuat dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Untuk itu letak pentingnya transformasi organisasi melalui semangat IDI Reborn, dengan fokus pada penguatan internal, revitalisasi, dan komitmen perubahan.

bersama para dokter peserta Muktamar IDI ke 32 di Mataram NTB

Semua dokter seharusnya bersama-sama menciptakan resolusi perubahan demi IDI yang lebih baik, demi bangsa, rakyat, dan anggota,” katanya. Dalam menghadapi berbagai tantangan eksternal maupun internal, PB IDI berkomitmen menjadi organisasi yang lebih profesional dan modern melalui program-program strategis yang komprehensif. Semua dokter anggota IDI agar tidak terjebak dalam konflik internal yang dapat menghambat kemajuan organisasi.

Seperti kata Charles Darwin, yang bertahan bukanlah yang terkuat atau terpintar, melainkan yang paling mampu beradaptasi. Jadi, IDI juga harus menjadi institusi yang durable dan infinite, mampu bertahan menghadapi tantangan zaman.

Bersama dengan Dr. dr. M. Ali Firdaus SpA, SH, MH anggota tim BPH2A PP IDAI dari Tasikmalaya

Setelah sambutan Ketum PB IDI tersebut, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, SH, MSc secara resmi membuka Muktamar IDI ke 32 mewakili Pemerintah Pusat. Menteri Yusril Ihza Mahendra menegaskan bahwa organisasi profesi seperti organisasi kedokteran idealnya hanya ada satu di Indonesia, bukan dualisme organisasi profesi kedokteran yang ada, yaitu Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Perkumpulan Dokter Seluruh Indonesia (PDSI).

Yusril mengatakan bahwa IDI adalah organisasi profesi yang berbeda dari organisasi lain seperti organisasi kemasyarakatan (ormas), perkumpulan, yayasan atau pun partai politik, sudah pasti berbeda.

Persoalan organisasi profesi seperti di kedokteran disebabkan karena belum mempunyai undang-undang (UU) tentang Organisasi Profesi. Sebab, organisasi profesi akan menjalankan sebagian dari fungsi negara. Ini menjadi tugas pemerintah untuk merancang UU organisasi profesi.

Secara ideal dokter seharusnya berhimpun dalam sebuah organisasi profesi bukan berhimpun dalam ormas. Memang IDI tidak mengangkat dokter tetapi idealnya izin dokter atau rekomendasi izin untuk praktek kedokteran dan kemudian melakukan pengawasan, pendidikan dan bahkan menerapkan sanksi, adalah tugas IDI. Karena organisasi profesi yang mempunyai hal itu dan itu tidak ada pada ormas.

Oleh karena itu, dalam posisi dualisme organisasi profesi antara IDI dan PSDI ini, Yusril menegaskan bahwa pemerintah akan berusaha menjembatani supaya akhirnya betul-betulnya mempunyai organisasi profesi kedokteran yang kuat dan menjadi mitra negara dalam menyelesaikan persoalan kesehatan yang dihadapi bersama.

Menteri Yusril menegaskan pentingnya IDI dalam menjaga ketahanan nasional. Oleh karena itu IDI harus tetap satu dan solid sebagai mitra strategis pemerintah dalam menjalankan berbagai fungsi negara, termasuk pengawasan profesi dokter.

Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan RI, Yusril Ihza Mahendra, secara resmi membuka acara tersebut dengan memukul gendang beleq, alat musik tradisional khas Lombok.

Setelah resmi dibuka oleh Menteri Yusril Muktamar IDI yang mengusung tema “Membangun Solidaritas dalam Beradaptasi untuk Mewujudkan IDI yang Berkelanjutan” diteruskan dengan diskusi panel pendukung tema. Sejumlah narasumber terkemuka turut hadir dalam sesi keynote speech, salah satunya Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan BPJS, dr. Lily Kresnowati, MKes

Ia membahas tantangan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) saat ini dan masa depan, dengan menyoroti peran penting Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan.

Sementara itu, narasumber lainnya seperti Dr. dr. Mahlil Ruby, MKes Direktur Pengembangan BPJS Kesehatan kesehatan dan drg. Iing Ichsan Hanafi, HMA, Ketua Umum Asosiasi RS Swasta Indonesia (ARSI) yang membedah berbagai tantangan kebijakan BPJS, khususnya dalam implementasi di rumah sakit. Isu pembatasan tindakan medis oleh BPJS serta dampaknya terhadap fasilitas kesehatan juga menjadi sorotan dalam diskusi yang dipandu oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, DrPH

Setelah ISHOMA acara dilanjuktan dengan Sidang Pleno I pk. 14-15.30 tentang penetapan kuorum, agenda, tata tertib muktamar dan presidium sidang muktamar. Lanjut pada Sidang Pleno II pk. 15.30-18 tentang laporan pertanggungjawaban Ketua Umum PB IDI, Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK), Majelis Pengembangan Pelayanan Kedokteran (MPPK), Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI), penyampaian pandangan umum dan penetepan demisioner PB IDI periode 2022-2025.

Dr. dr. Moh Adib Khumaidi, Sp.OT adalah Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) periode 2022-2025. Selain itu, dr. Adib juga merupakan dosen tetap di Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta. Ia meraih gelar doktor bidang Ilmu Kedokteran dari Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin. Beberapa kegiatan yang dilakukan oleh Ketua Umum PB IDI, antara lain: Melantik Pengurus Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) masa bakti 2024-2027, Melantik Pengurus IDI Wilayah Bali masa bakti 2024-2027, Melantik Pengurus Kolegiun Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Indonesia masa bakti 2024-2027, Melantik Pengurus IDI Wilayah Jawa Barat masa bakti 2024-2027 dan hadir dalam acara Halal Bi Halal dan Seminar Hukum Kesehatan 2024.

Kenangan bersama Dr. dr. M Adib Khomaidi SpOT di makam dr. Wahidin Sudirohusodo di Yogyakarta

Sorenya pk. 15.30-18 dilanjutkan dengan pengukuhan Ketua Umum PB IDI periode 2025-2028, pembacaan ketetapan Muktamar IDI ke 32, serah terima jabatan Ketua Umum PB IDI periode 2022-2025 kepada Ketua Umum PB IDI periode 2025-2028. Dr. dr. Slamet Budiarto, SH, MH.Kes yang selanjutnya menjadi Ketua Umum PB IDI periode 2025-2028 sebelumnya adalah Ketua IDI Provinsi DKI Jakarta. Selain itu, juga menjabat Wakil Ketua MPKU PP Muhammadiyah, Ketua umum PP PKFI (Perhimpunan Klinik dan Faskes Primer Indonesia), Direktur Utama RS Islam Jakarta Pondok Kopi yang meraih gelar Doktor Administrasi dan Kebijakan Kesehatan di FKM UI Jakarta, sekaligus sebagai Ketua Dewan Pembina Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Indonesia (LARSI), merupakan salah satu dari 6 Lembaga Independen Penyelenggara Akreditasi Rumah Sakit yang didirikan pada tanggal 13 September 2021.

Setelah ISHOMA malam harinya akan dilanjutkan sidang organisasi yang dibagi dalam beberapa komisi. Komisi A membahas tentang AD ART IDI, komisi B membahas tentang pendidikan dokter dan CPD, komisi C membahas pelayanan profesi kedokteran, komisi D membahas tentang etika, disiplin dan hukum, komisi E membahas tentang kebijakan organisasi dan renstra, sedangkan komisi F membahas tentang rekomendasi organisasi.

Namun demikian, sore itu saya pamit mundur dari arena Muktamar IDI ke 32 di Hotel Lombok Raya Mataram, untuk menyeberang ke Pulau Bali. Atas kebaikan Om Pengky Jupiter teman sekelas saya di SMA Kolese de Britto Yogyakarta tahun 1984, Direktur Utama PT Narmada pembuat air mineral kemasan, mengantar saya ke kantor PO Tiara Mas. Setelah menunggu sedikit waktu bis bernomor polisi EA 7615 A, berbodi Avante H7 Super High deck buatan karoseri Tentrem Malang, dan bersasis Hino RM 280 datang dengan penuh muatan di kedua sisi bagasi, bahkan bagasi sisi atas belakang bis.

bis Tiara Mas jurusan Bima Jakarta yang mengantarkan saya meninggalkan Mataram NTB menuju Denpasar Bali

Bis ini telah berangkat dari Bima NTB kemarin Rabu malam dan Kamis siang ini saya naik dari pool bis di Jl. Selaparang Mataram, untuk menyeberang Selat Lombok yang kadang berarus kuat ke Bali, sebelum bis ini lanjut ke Jakarta.

Terimakasih Om Pengky Jupiter JB84 dan segenap pihak yang tidak dapat saya sebutkan namanya masing-masing, yang telah membantu saya mengikuti semua rangkaian acara Muktamar IDI ke 32 di Mataram NTB. Sampai ketemu lagi dalam kegiatan lain.

(sekian)

Jumat pagi, 15 Februari 2025 ditulis dan disebarkan dari Tanah Dewata Jimbaran Bali

Salam pengelana IDI
-wikan

By Fx Wikan Indrarto

Dokter Fx Wikan Indrarto

Leave a Reply

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?