
HARI HEPATITIS DUNIA 2025
fx. wikan indrarto
Catatan :
Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 10 Agustus 2025, halaman 8, kolom HUSADA
Sekitar 304 juta orang hidup dengan hepatitis B dan C kronis pada tahun 2022. Hanya 45% bayi yang menerima vaksin hepatitis B dalam waktu 24 jam setelah lahir pada tahun 2022. Masih ada 1,3 juta orang yang meninggal karena hepatitis B dan C kronis pada tahun 2022. Apa yang mencemaskan?

Hari Hepatitis Dunia diperingati setiap tahun pada tanggal 28 Juli untuk meningkatkan kesadaran akan hepatitis virus, peradangan hati yang menyebabkan penyakit hati parah dan kanker hati. Tanggal 28 Juli dipilih untuk menghormati ulang tahun pemenang hadiah Nobel bidang kedokteran, Profesor Baruch Samuel Blumberg, penemu virus hepatitis B (HBV) dan vaksin hepatitis B pertama.
Tema untuk tahun 2025: Hepatitis: Mari Kita Urai (Let’s Break It Down) menyerukan tindakan segera untuk menghilangkan hambatan finansial, sosial, dan sistemik termasuk stigma, yang menghalangi proses eliminasi hepatitis dan pencegahan kanker hati.
Hepatitis B dan C kronis secara diam-diam menyebabkan kerusakan hati dan kanker, meskipun keduanya sebenarnya dapat dicegah, diobati, dan, dalam kasus hepatitis C, dapat disembuhkan. Tema tersebut menekankan perlunya penyederhanaan, peningkatan, dan pengintegrasian layanan hepatitis, baik berupa vaksinasi, praktik penyuntikan yang aman, pengurangan bahaya, dan terutama pengujian laboratorium dan pengobatan, ke dalam sistem kesehatan nasional di setiap negara. Kampanye ini merupakan pengingat bahwa kita harus bertindak sekarang untuk memperluas akses, mengintegrasikan layanan pasien, dan mengakhiri hepatitis sebagai masalah kesehatan masyarakat pada tahun 2030.
Pesan utama kampanye ini ada 3 buah, pertama adalah data bahwa hepatitis adalah penyebab utama kanker hati semakin nyata, kedua perlu langkah pertama untuk menghentikannya, dan ketiga adalah pencegahan harus dilakukan sekarang oleh negara.
Hepatitis selain sebagai penyebab utama kanker hati, juga merupakan pembunuh global yang terus bertambah. Hepatitis virus kronis menyebabkan 1,3 juta kematian setiap tahun, sebagian besar akibat kanker hati dan sirosis. Itu berarti 3.500 kematian setiap hari atau setara dengan tuberkulosis. Hepatitis B dan C menyebar secara diam-diam tanpa disadari, dengan 8.000 infeksi baru setiap hari. Meskipun dapat dicegah dan diobati, beban penyakit ini terus meningkat, terutama di wilayah atau negara dengan akses terbatas ke fasilitas kesehatan.
Mengetahui status diri adalah langkah pertama untuk menghentikan kanker hati. Kebanyakan orang yang hidup dengan hepatitis tidak tahu bahwa mereka terinfeksi, karena sering kali tidak ada gejala klinis, sehingga tidak diperiksa di laboratorium klinik. Diagnosis dini adalah langkah pertama untuk mengakses tatalaksana medis yang mampu menyelamatkan jiwa dan mencegah kanker hati. Pemeriksaan skrining di laboratorium, terutama bagi mereka yang berada di negara atau wilayah endemis atau berisiko tinggi, sangat penting untuk mengakhiri penularan hepatitis.
Kita dapat mencegah 2,8 juta kematian pada tahun 2030, tetapi hanya jika para pemimpin negara bertindak sekarang. Eliminasi hepatitis sudah di depan mata, karena saat ini telah tersedia vaksin, obat untuk terapi kuratif, dan alat kesehatan yang telah terbukti mampu untuk menghentikan penularan.
Namun demikian, sebagian besar kasus tetap tidak terdiagnosis, hingga terlambat ditangani. Kemajuan menuntut komitmen para pimpinan nasional, investasi cerdas, dan sistem kesehatan publik yang mengintegrasikan layanan hepatitis ke dalam sistem perawatan primer. Berinvestasi dalam diagnosis tepat waktu dan perawatan terpadu yang berpusat pada masyarakat, akan menyelamatkan nyawa dan menghentikan kanker hati sebelum terjadi. Untuk itu, ajakan bertindak untuk kita semua dalam rangka eliminasi hepatitis untuk mencegah kematian dan kanker hati, ditujukan kepada bebepara pihak.
Pertama, untuk warga masyarakat. Silakan melakukan tes hepatitis B dan C secara rutin. Vaksinasi bayi baru lahir dengan dosis pertama hepatitis B dalam waktu 24 jam saat lahir. Lanjutkan dengan 4 dosis berikutnya bersama imunisasi DPT. Bicarakan dengan dokter keluarga tentang pemeriksaan laboratorium dan pengobatan dini. Dan bantu menghentikan stigma dengan berbagi informasi yang akurat.
Kedua, untuk pembuat kebijakan dan pemerintah. Diharapkan untuk memimpin dan mendanai kampanye kesadaran masyarakat yang tentang hepatitis dan pencegahan kanker hati. Memperluas layanan vaksinasi dosis pertama hepatitis B saat bayi lahir, menerapkan regulasi praktik pengambilan sampel darah dan injeksi yang aman, dan pengurangan bahaya penularan hepatitis B. Meningkatkan layanan tes skrining hepatitis yang terjangkau dan terdesentralisasi, yang terintegrasi ke dalam perawatan primer di seluruh tingkatan layanan kesehatan, termasuk fasilitas perawatan HIV, penyakit menular dan tidak menular (PTM) lainnya, pengendalian kanker, serta kesehatan ibu dan anak. Juga integrasikan layanan hepatitis dalam cakupan kesehatan semesta (Universal Health Couverage) dan skema asuransi kesehatan nasional. Tidak lupa, juga melibatkan semua pemangku kepentingan dan berinvestasilah dalam sistem data yang kuat untuk akuntabilitas.
Ketiga, untuk otoritas kesehatan tingkat nasional, regional dan lokal. Diharapkan memprioritaskan regulasi tentang diagnosis dan perawatan dini, dengan fokus pada komunitas masyarakat dengan beban tinggi dan kurang terlayani. Desentralisasikan layanan medis ke pusat kesehatan primer dan distrik yang lebih rendah. Integrasikan program pencegahan hepatitis dengan layanan imunisasi ke dalam program kesehatan ibu dan anak. Pastikan akses gratis untuk pemeriksaan laboratorium dan pengobatan dasar. Juga memobilisasi pendanaan berkelanjutan dengan menggunakan data terkini, untuk meningkatkan akurasi.
Apakah kita sudah melakukannya?
Sekian
Yogyakarta, 8 Juli 2025
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.