Categories
anak dokter Healthy Life UHC

2026 Dampak Cuaca Panas

DAMPAK  CUACA  PANAS

fx. wikan indrarto

Telah dimuat di harian nasional Kompas Digital Selasa, 13 Oktober 2026 :

https://www.kompas.id/artikel/dampak-cuaca-panas?open_from=Opini_Page

Puncak musim kemarau memang sudah lewat dan akan masuk musim hujan. Namun demikian, panduan WHO baru untuk mencegah penyakit akibat cuaca panas pada acara pertemuan massal yang dikeluarkan pada Rabu, 30 September 2026, tetap perlu dicermati.

Penyakit akibat cuaca panas pada acara pertemuan massal, seperti ajang olahraga, keagamaan, dan budaya berskala besar, telah menjadi risiko kesehatan masyarakat dan risiko operasional yang signifikan, yang berdampak pada penonton, peserta, sukarelawan, dan pekerja. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menerbitkan panduan bahwa sebagian besar penyakit akibat cuaca panas pada acara berskala besar, dapat dicegah atau ditangani di lokasi acara, jika langkah-langkah manajemen risiko yang tepat waktu diterapkan.

Diperkirakan terjadi peningkatan sebesar 63% dalam jumlah kematian akibat panas sejak tahun 1990-an, dengan rata-rata 546.000 kematian per tahun antara tahun 2012 dan 2021. Acara pertemuan massal dapat memperparah risiko terkait cuaca panas melalui berbagai faktor. Berada di luar ruangan dalam waktu lama dengan paparan cuaca panas dan sinar matahari, kerumunan padat, akses terbatas terhadap air bersih yang aman, stres akibat perjalanan, ketidaktahuan akan kondisi iklim setempat, serta tingginya permintaan terhadap layanan kesehatan, semuanya  dapat saling memengaruhi dan menciptakan kondisi yang berbahaya. Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), kejadian suhu ekstrem panas—termasuk gelombang panas—telah menjadi lebih sering dan lebih intens di sebagian besar wilayah daratan sejak tahun 1950-an, terutama akibat perubahan iklim. Peningkatan lebih lanjut dalam frekuensi dan intensitas suhu ekstrem panas diproyeksikan akan terjadi seiring dengan setiap kenaikan tambahan pemanasan global.

WHO meluncurkan ‘Prevention and management of heat-related illness at mass gatherings’. Panduan ini disusun berdasarkan bukti yang disintesis melalui tinjauan sistematis serta pelajaran yang diperoleh dari berbagai acara pertemuan massal di seluruh dunia. Pendekatan yang paling efektif adalah dengan menggabungkan berbagai langkah, antara lain penyediaan air minum dan toilet yang aman serta mudah diakses; infrastruktur pendingin; dan penyesuaian jadwal acara. Selain itu, juga pengaturan alur pergerakan massa; langkah-langkah perlindungan bagi tenaga kerja; komunikasi publik; pemantauan (surveillance) secara ‘real-time’; dan layanan medis di lokasi yang dipersiapkan dengan baik.

Cuaca panas merupakan bahaya kesehatan lingkungan dan kesehatan kerja yang signifikan. Stres akibat panas adalah penyebab utama kematian yang berkaitan dengan cuaca dan dapat memperparah penyakit yang sudah ada sebelumnya, termasuk penyakit kardiovaskular, diabetes, gangguan kesehatan mental, dan asma, serta dapat meningkatkan risiko kecelakaan dan penularan penyakit menular tertentu. ‘Heatstroke’ (sengatan panas) merupakan kondisi darurat medis dengan tingkat kematian kasus yang tinggi.

Jumlah orang yang terpapar cuaca panas ekstrem meningkat secara eksponensial akibat perubahan iklim di seluruh wilayah dunia. Angka kematian akibat cuaca panas pada kelompok usia di atas 65 tahun meningkat sekitar 85% antara periode 2000–2004 dan 2017–2021. Antara tahun 2000–2019, terjadi sekitar 489.000 kematian akibat cuaca panas setiap tahunnya; 45% di antaranya terjadi di Asia dan 36% di Eropa. Di Eropa saja, pada musim panas tahun 2022, diperkirakan terjadi 61.672 kematian berlebih (excess deaths) akibat cuaca panas. Gelombang panas dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan angka kematian akut yang tinggi; pada tahun 2003, 70.000 orang di Eropa meninggal dunia akibat peristiwa gelombang panas yang berlangsung antara bulan Juni hingga Agustus. Pada tahun 2010, terjadi 56.000 kematian berlebih selama gelombang panas yang berlangsung selama 44 hari di Federasi Rusia.

Penuaan populasi dan meningkatnya prevalensi penyakit tidak menular (penyakit pernapasan dan kardiovaskular, diabetes, demensia, penyakit ginjal, serta penyakit muskuloskeletal) membuat masyarakat menjadi lebih rentan terhadap dampak negatif cuaca panas. Kota-kota tidak dirancang untuk meminimalkan akumulasi dan pembentukan panas perkotaan; hilangnya ruang terbuka hijau dan penggunaan material perumahan yang tidak tepat (misalnya, atap logam) justru memperparah paparan manusia terhadap panas berlebih.

Kesadaran tenaga kesehatan maupun masyarakat umum mengenai risiko kesehatan akibat panas masih belum memadai. Para profesional kesehatan perlu menyesuaikan panduan, perencanaan, dan intervensi mereka untuk mengantisipasi peningkatan paparan panas, serta menangani lonjakan akut jumlah pasien yang masuk akibat gelombang panas. Berbagai intervensi yang praktis, dapat diterapkan, dan sering kali berbiaya rendah, baik di tingkat individu, komunitas, organisasi, pemerintah, maupun masyarakat luas, dapat menyelamatkan nyawa.

Beberapa tindakan sederhana ini penting diambil, misalnya hindari paparan cuaca panas dengan cara menghindari keluar rumah dan melakukan aktivitas berat pada waktu terpanas sepanjang hari. Tetaplah berada di tempat teduh. Ingatlah bahwa suhu yang dirasakan saat berada di bawah sinar matahari mungkin 10–15˚C lebih tinggi. Habiskan waktu 2–3 jam di tempat yang sejuk pada siang hari.

Juga waspadai risiko tenggelam saat berusaha mendinginkan badan. Jangan pernah berenang sendirian dan pantau terus informasi mengenai peringatan resmi terkait suhu panas. Jaga agar rumah tetap sejuk denagn memanfaatkan udara malam untuk mendinginkan rumah dengan membuka jendela setelah hari gelap, saat suhu di luar lebih rendah daripada suhu di dalam ruangan. Pada siang hari saat suhu di luar lebih tinggi daripada di dalam ruangan, tutup jendela dan gunakan tirai atau penutup jendela untuk menghalangi sinar matahari langsung. Matikan sebanyak mungkin peralatan listrik.

Gunakan kipas angin hanya saat suhu di bawah 40˚C. Pada suhu di atas 40˚C, kipas angin justru akan membuat tubuh terasa lebih panas. Jika menggunakan AC, atur termostat ke suhu 27˚C dan nyalakan kipas angin; hal ini akan membuat ruangan terasa 4˚C lebih sejuk. Langkah ini juga dapat menghemat biaya listrik untuk pendinginan hingga 70%. Jaga tubuh tetap sejuk dan terhidrasi, dengan minum air secara teratur (1 gelas air setiap jam dan setidaknya 2–3 liter per hari).

Gunakan pakaian dan seprai yang ringan serta longgar. Basahi kulit menggunakan kain lembap, semprotan air, atau pakaian tipis yang basah.

Pantau kondisi orang-orang rentan di sekitar secara berkala, terutama mereka yang berusia di atas 65 tahun, penyandang disabilitas, orang yang tinggal sendiri, serta mereka yang memiliki gangguan jantung, paru-paru, atau ginjal. Juga lindungi bayi dan anak dengan jangan pernah meninggalkan anak atau hewan di dalam mobil yang sedang diparkir, meskipun hanya sebentar, karena suhu di dalamnya dapat meningkat dengan cepat hingga ke tingkat yang berbahaya.

Ikuti panduan WHO ‘Prevention and management of heat-related illness at mass gatherings’ dan menjaga kesejukan rumah agar suhu di dalam ruangan tetap aman. Apakah kita sudah bijak melakukannya?

Sekian

Toga UAJY

Yogyakarta, 8 Oktober 2026

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.

By Fx Wikan Indrarto

Dokter Fx Wikan Indrarto

Leave a Reply

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?