Categories
dokter Healthy Life rumah sakit sejarah ziarah

2017 Ziatour Dokter RSPR

ZIATOUR  DOKTER  RSPR  2017

fx. wikan indrarto

Dokter kurang piknik adalah hal yang tidak baik. Untuk meningkatkan kerjasama, keakraban dan kekompakan segenap dokter di RS Panti Rapih Yogyakarta (RSPR), juga untuk membentuk sinergi menghadapi tantangan yang lebih berat di tahun depan, maka diadakan acara dari, untuk, dan oleh para dokter RSPR. Acara yang dikomandani oleh dr. Radijanti ‘Nenny’ Anggraeni, SpKK ini dikemas dengan memadukan aspek religi, rekreasi dan nutrisi, yaitu Ziatour (ziarah singkat dan piknik jarak dekat) Dokter RSPR 2017. Acara ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 11 November 2017, pk. 13-20, dengan menggunakan sebuah bis pariwisata dan kaos seragam untuk kekompakan.

Acara ini dikomandani oleh dr. Radijanti ‘Nenny’ Anggraeni, SpKK (paling kanan)

Masih menunggu penumpang lainnya

Sudah siap menyambut tamu di gerbang masuk Gereja Kristus Raja Paroki Bacito Yogyakarta

Panitia yang sigap merancang acara Ziatour Dokter RSPR 2017

Kami menggunakan Bis Pariwisata Tami Jaya bercat hijau pupus yang melambangkan pertumbuhan. Kami awali acara dengan menuju Gereja Kristus Raja Baciro, Yogyakarta yang berjarak 3,1 km dari RSPR. Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1943, Baciro masih merupakan salah satu Kring dari Paroki St. Antonius Kotabaru, yang mengadakan misa di Aula Pabrik Cerutu Taru Martani Jl. Kompol Bambang Suprapto No. 2A Yogyakarta. Pada tanggal 27 Oktober 1963, barulah Gereja dan Paroki Kristus Raja Baciro diresmikan berdirinya, yaitu di Jl. Melati Wetan No. 13 Yogyakarta.

Para dokter senior (dr. Tyas dan dr. Sulanto) yang selalu menginspirasi

Para dokter senior (dr. Djoko dan dr. Pandit) yang juga selalu menginspirasi

Kita ingat bahwa pada hari Sabtu, tanggal 27 Mei 2006 terjadi Gempa Bumi hebat pada pukul 05.56 dengan kekuatan 5,9 Skala Richter, dengan durasi waktu 56 detik, yang telah mengguncang wilayah DIY dan sebagian Jateng. Paling tidak ada 6.000 orang meninggal, banyak bangunan hancur, dan ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal. Di Paroki Kristus Raja Baciro yang sedang berlangsung misa harian pagi, gempa bumi ini menghancurkan bangunan gereja dan membawa korban seorang koster meninggal dunia, saat menjalankan tugas yaitu Bpk. E. Teguh Basuki, dan beberapa umat terluka. Bangunan gereja sudah tidak dapat dipakai lagi, maka untuk Ekaristi dan peribadatan lain diselenggarakan di gereja darurat (tenda) selama satu tahun. Renovasi gereja korban gempa selesai pada Mei 2007 dan pemberkatan gedung gereja tanggal 27 Mei 2007, pada peringatan satu tahun gempa bumi.

Saling koordinasi sebelum pindah tempat

Yunior (dr. John) yang siap menjalankan perintah senior (drg. Agus)

Bangunan gereja baru yang sekarang ini diberkati oleh Uskup Agung Semarang Alm Mgr. Yohanes Pujosumarta, Pr dan diresmikan oleh Sekretaris Daerah Pemerintah DIY, drs. Ichsanuri, MM pada tanggal 25 November 2012, dan merupakan bangunan hasil relokasi gereja lama. Gereja Kristus Raja Baciro yang baru dibangun dengan menyerap budaya lokal, yaitu bentuk bangunan kubah yang berbentuk Joglo, bangunan rumah adat Yogyakarta. Gereja dengan daya tampung kedua terbesar se Kevikepan DIY ini sangat indah dengan sentuhan budaya Jawa yang khas, dilengkapi dengan Gua Maria Ratu Rosari di samping gereja utama.

Belum siap semua, tetapi kamera sudah terlanjur merekam

Ini juga belum siap semua je, lha kok malah sudah dijepret ulang

Nah, ini baru pose yang benar oleh segenap peserta

Khusuk saat dr. Maria Dewanti memimpin doa di depan Goa Maria Ratu Rosari, Baciro

Ziarah singkat dokter RSPR 2017 dan ucap syukur atas semua anugerah Tuhan, diawali dengan berdoa bersama di Gua Maria Ratu Rosari, dalam Kompleks Gereja Kristus Raja, Paroki Baciro, Yogyakarta. Kami semua diingatkan tentang ajaran Santo Paulus kepada Jemaat di Roma, yang pantas menjadi pegangan bagi kita semua, segenap dokter saat bekerja sama di RSPR (Rom 12: 5-16A). Ajaran itu dibacakan oleh dr. Maria Dewanti, SpRad sebagai pemimpin doa di depan Goa Maria Ratu Rosari, Baciro. Paling tidak ada 2 hal yang penting, yaitu ‘bersuka citalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa’. Kemudian yang kedua adalah ‘hendaklah kalian sehati sebudi, dalam hidupmu bersama.’ Kami semua peserta ziatour sempat terkagum saat menikmati keindahan arsitektural gereja baru, paska bencana gempa bumi dahsyat Sabtu, 27 Mei 2006. Setelah dr. Esdras Ardi Pramudita, SpS datang menyusul naik Grab, kita semua berfoto bersama di lokasi itu, dan melanjutkan perjalanan secara pelan, dengan piknik jarak dekat.

Suasana ceria di dalam bis saat melanjutkan acarea ke tujuan kedua

Setelah dr. Bagus Nugroho, SpP, dr. Theresia Riawati, SpRad, drg. Krisnovianto, SpKG yang baru selesai praktek, dan mbak Helvi Humas RSPR menyusul bis kami di sekitar Blok O, Banguntapan Bantul, kami segera bergegas berangkat. Tujuan pertama adalah menyusuri jejak Mantan Presiden AS Barrack Obama saat berkunjung di Yogyakarta pada hari Rabu (28 Juni 2017), yaitu mengunjungi Tebing Batu Breksi yang terletak di Dusun Groyokan, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Tebing Breksi yang berjarak 17,6 km dari Gereja Baciro ini sangat cantik dan mulai terkenal saat banyak foto-foto yang menggambarkan keindahannya beredar di Instagram.

Tempat wisata yang satu ini memang unik, karena mengedepankan tebing sebagai obyeknya. Sayang sekali, jalan menuju lokasi tersebut macet merayap dan dipadati oleh banyak sekali bis pariwisata, sehingga kami memutuskan tidak jadi pergi ke sana. Kami hanya dapat membayangkan tebing yang tampak bagai mahakarya seni raksasa ini, yang diresmikan oleh HB X Gubernur DIY pada 30 Mei 2015. Segera kami mengingat saat yang bersamaan dengan Tebing Breksi diresmikan, juga dikenalkan Tlatar Seneng, sebentuk area luas yang dilengkapi tempat duduk melingkar dilengkapi panggung bulat berdiameter kira-kira 15 meter. Tlatar Seneng berada satu kawasan dengan Tebing Breksi dan difungsikan untuk tempat pertunjukan kesenian disana. Sekilas panggung ini mengingatkan kita pada amphiteater dalam Colosseum di Roma Italia.

Sudah bergaya, meski yang lain masih akan menyusul datang

Kami juga hanya mampu membayangkan tentang batuapung jenis breksi, yang merupakan salah satu bahan bangunan. Di lokasi tersebut, yang membuktikan dengan sangat meyakinkan bahwa perlapisan ini merupakan hasil letusan gunungapi yang eksplosif. Batuan semacam ini memiliki ketebalan antara 300-600 m. Secara stratigrafi (urutan perlapisan), batu di Tebing Breksi berada di atas Lava Bantal Berbah, di dekat Kali Oya, Berbah yang juga kami lewati dalam perjalanan. Distribusi yang luas sampai ke Wonogiri dan dengan ketebalan yang besar, mengindikasikan bahwa batuan ini dihasilkan dari suatu peristiwa rangkaian letusan gunungapi yang besar, pada sekitar 20 juta tahun lalu. Kemungkinan besar kejadiannya tidak kalah dahsyat dibandingkan dengan letusan Toba Volcano di Sumatera Utara. Saat ini, Tebing Breksi atau yang lebih dikenal dengan Taman Tebing Breksi, benar-benar sudah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya.

Apakah dr. Tyas dan drg. Agus ini kakak beradik, kok tidak serupa?

Terlalu banyak kamera, jadi sulit fokus arah

Tujuan kami selanjutnya adalah Istana Ratu Boko, yang berjarak 3,6 km dari Tebing Breksi yang merupakan sebuah peninggalan situs arkeologi kompleks bangunan istana raja. Situs ini diduga sebagai tempat berkegiatan, situs permukiman atau istana raja (keraton), namun fungsi tepatnya belum diketahui dengan jelas. Istana Ratu Boko diperkirakan sudah dipergunakan orang pada abad ke 8 pada masa Wangsa Sailendra (Rakai Panangkaran) dari Kerajaan Medang (Mataram Hindu). Pendapat ini berdasarkan pada kenyataan bahwa kompleks ini bukan candi atau bangunan dengan sifat religius, melainkan sebuah istana berbenteng dengan bukti adanya sisa dinding benteng dan parit kering sebagai struktur pertahanan. Nama “Ratu Boko” berasal dari legenda masyarakat setempat. Ratu Boko (Jawa, arti harafiah: “raja bangau”) adalah ayah dari Loro Jonggrang, yang juga menjadi nama candi utama pada kompleks Candi Prambanan. Kompleks bangunan ini dikaitkan dengan legenda rakyat setempat tentang Loro Jonggrang.

Gaya resmi, mumpung pengunjung lain sudah menyingkir

Ulangi gaya, karena tadi belum membentangkan spanduk

Semoga lutut drg. Agus dan drg. Krisnov yang untuk jongkok masih dapat menyangga untuk berdiri

Lutut drg. Krisnov sudah menyerah, untung segera dapat berdiri

Istana Ratu Boko juga terkenal sebagai tempat terbaik untuk menikmati sunset di Jogja. Lokasinya yang berada di perbukitan memungkinan hal itu, juga menyaksikan pemandangan sebagian kota Jogja. Istana Ratu Boko adalah sebuah bangunan megah yang dibangun pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran, salah satu keturunan Wangsa Syailendra. Istana yang awalnya bernama ‘Abhayagiri Vihara’ atau biara di bukit yang penuh kedamaian ini, didirikan untuk tempat menyepi dan memfokuskan diri pada kehidupan spiritual. Berada di istana ini, anda bisa merasakan kedamaian sekaligus melihat pemandangan kota Yogyakarta dan Candi Prambanan dengan latar Gunung Merapi.

nah, ini pose wajib dan resmi

Wah, ada yang nutupi tulisan Keraton Ratu Boko je

Meski didirikan oleh seorang raja beragama Buddha, istana ini memiliki unsur-unsur Hindu. Itu dapat dilihat dengan adanya Lingga, Yoni, arca Ganesha, serta lempengan emas sebagai bentuk pemujaan terhadap Dewa Rudra, yang merupakan nama lain Dewa Siwa. Adanya unsur-unsur Hindu itu membuktikan adanya toleransi umat beragama yang tercermin dalam karya arsitektural. Memang, saat itu Rakai Panangkaran yang merupakan pengikut Budha hidup berdampingan dengan para pengikut Hindu. Gambaran toleransi, sinergi dan kerja sama era Rakai Panangkaran, tentu saja akan berlanjut kepada kita semua segenap dokter di RSPR, dalam sebuah dokumentasi yang tak lekang oleh jaman. Kami harus berbagi momentum dengan para pengunjung lain yang sangat padat, saat akan berfoto dalam keindahan bangunan arkeologis itu.

Semua peserta dibagi tiga kelompok, yaitu gajah, monyet dan macan, dengan berkalungkan kacang panjang, pisang dan sosis di leher, sebagai pengenal anggota kelompok.

Sebagian dari berbagai games yang menegangkan, menguji nyali, dan penuh canda

Pada salah satu lapangan berumput hijau di luar beteng Istana Ratu Boko, kami mengadakan fun-games dalam acara outbond, yang dirancang sangat atraktif oleh dr. Caraka Anto Yuwono dan mbak Helvi. Semua peserta dibagi tiga kelompok, yaitu gajah, monyet dan macan, dengan berkalungkan kacang panjang, pisang dan sosis di leher, sebagai pengenal anggota kelompok. Dengan berbagai games yang menegangkan, menguji nyali, dan penuh canda, dr. John Hartono, dr. Esdras Ardi Pramudita, SpS dan drg. Agus Sri Gunarto, SpBM memimpin masing-masing kelompoknya. Sayang sekali dr. Pandit Sarosa, SpAn harus mengakhiri kebersamaan karena ada acara lain, tetapi untunglah dr. Fx. Suharnadi, SpPD-KEMD datang menyusul untuk menggantikan posisinya. Setelah puas berfoto groufi dan selfi berisiko dalam cuaca sedikit mendung, kami segera melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya, saat Ibu Wahyu Tyasmono hadir menyusul, untuk memastikan bahwa dr. Tyasmono, SpPD dalam kondisi tetap bugar paska rawat inap.

Menang sing endi iki?

Juara pertama dr. Sulanto yang paling mantab

Juara kedua dr. Theresia Riawati yang hebat

Tetap bergaya, meski hanya juara tiga

Ini bukan di Candi Borobudur Magelang

Acara ziatour 2017 ini ditutup dengan makan malam bersama di puncak bukit, sambil menikmati pemandangan alam yang terpampang luas, di Abhayagiri Restaurant, sekitar 2,1 km dari Istana Ratu Boko. Kita ingat bahwa Abhayagiri Restaurant yang nge-hits sejak tahun 2016 ini, terletak di desa Sumberwatu, Prambanan, yang menarik dari resto ini adalah view Gunung Merapi, Candi Prambanan dan Sojiwan. Ditambah lampu hias yang tertata, menjadikan spot ini sangat bagus untuk dikenang. Puncak acara adalah sesi ramah tamah segenap dokter RSPR yang informal, akrab, dan tanpa sungkan. Setelah makan malam menu spesial 88, kita berbagi hadiah untuk juara fun-games outbond. Lagu ‘Kemesraan’ dan ‘Gundhul2 Pacul’ yang dinyanyikan oleh kelompok Macan dan Monyet, menjadi penentu juara 1 dan 2, karena hasil fun-games keduanya adalah draw.

Malam di Abhayagiri Restaurant yang nge-hits sejak tahun 2016

Suasana malam di Abhayagiri Restaurant

Sebelum acara ditutup, terjadi kudeta karena dr. Djoko Rijanto, SpS mengambil alih mimbar dan microphone, dengan mengungkapkan kesedihannya karena ada 2 orang peserta yang telah melakukan kesalahan selama perjalanan di bis. Lalu dr. Sabarno Pracoyo, SpB dan drg. Krisnovianto, SpKG yang dipanggil maju ke depan oleh dr. Djoko Rijanto, SpS dituduh melakukan kesalahan fatal dan membuat suasana malam itu menjadi sangat tegang, mencekam dan sunyi. Ternyata keduanya melakukan kesalahan fatal, yaitu berulang tahun saat acara ziatour digelar. Hukuman berat segera dijatuhkan, yaitu meniup lilin di atas kue tart coklat dalam iringan lagu ‘Happy Birthday” dari segenap peserta yang sontak berubah menjadi sumringah. Kami semua juga diingatkan oleh dr. Sulanto Saleh Danu, SpFK bahwa semua kegiatan ini intinya adalah menumbuhkan ‘paseduluran’ atau ‘paguyuban’ segenap dokter RSPR, yang seharusnya diselenggarakan rutin.

Dua dokter (dr. Sabarno dan drg. Krisnov) yang dipanggil dr. Djoko Rijanto, SpS

Hukuman berat bagi dokter yang melakukan kesalahan fatal

Menikmati sajian malam di Abhayagiri Restaurant

Porsi kecil makan malam di Abhayagiri Restaurant

Segera kami menikmati keindahan lokasi yang sangat cantik pada saat petang hari, dengan dinyalakannya lampu sorot yang diarahkan ke berbagai sisi, karena akan menghasilkan panorama yang indah, gagah dan megah. Kenangan segenap dokter RSPR secara bersama di situ, diabadikan secara khusus, berulang dan profesional, menggunakan teknik tinggi fotografi digital luar ruang, oleh mas Henry PPU RSPR.

Suasana malam yang cerah di Abhayagiri Restaurant

Kemudian kami kembali ke RS Panti Rapih Yogyakarta yang berjarak 16,2 km dari Abhayagiri Restaurant. Perjalanan pulang dari Abhayagiri Restaurant, setelah diselingi dr. Sabarno Pracoyo, SpB yang turun dari bis di dekat Kalasan, membuat kami terjebak macet jalanan di kota Yogyakarta, yang malam itu padat kendaraan karena cuaca cerah. Bus seri Tourista facelift buatan Karoseri Laksana, Ungaran, Jawa Tengah yang kami naiki itu sangat elit, antara lain ditandai dengan pembaruan desain lampu depan dan desain grill depan agar lebih tampil memukau. Tourista keluaran awal 2016 seharga Rp 337,5 juta ini menggunakan platform sasis terbaru, Hino FC 190, produksi kebanggan Jepang. Bus dengan lebar bodi 260 milimeter ini, tampil mempesona dengan interior bus yang didesain mewah dengan lampu LED untuk penerangan kabin. Kami segera larut dalam alunan lagu-lagu pop yang diputar melalui perangkat audio-video digital dolbi di dalam bis, yang mampu membuat kami betah.

Sebagai seorang dokter, tentu saja banyak sekali acara, rutinitas, dan kegiatan lain yang harus diikuti. Namun demikian, dengan meluangkan waktu sejenak untuk mengikuti program ziatour dokter RSPR 2017 yang menempuh jarak 43 km dan fenomenal ini, tentu kita dapat rehat sejenak dalam acara yang sangat mengasyikkan.

Mengucapkan terimakasih kepada semua pihak

Terimakasih atas perhatian, keterlibatan dan kekompakan kita semua. Sampai jumpa pada acara serupa berikutnya.

Salam hangat dokter RSPR,

wikan dan segenap Panita Ziatour Dokter RSPR 2017.

By Fx Wikan Indrarto

Dokter Fx Wikan Indrarto

Leave a Reply

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?