Categories
anak dokter Healthy Life vaksinasi

2026 Habisi Rabies

HARI  RABIES  DUNIA

fx. wikan indrarto

Chile menjadi negara pertama di Amerika Selatan dan Bhutan merupakan negara pertama di Asia bagian Tenggara, yang tahun 2026 ini menerima validasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) atas keberhasilannya mengeliminasi rabies, sebuah penyakit yang ditularkan oleh anjing, sebagai masalah kesehatan masyarakat. Pengakuan ini menyoroti kemajuan selama lebih dari 50 tahun tanpa adanya kasus rabies pada manusia, serta menegaskan kemampuan kedua negara tersebut dalam mencegah munculnya kembali penularan. Apa yang menarik?

Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Minggu, 11 Oktober 2026

Rabies adalah penyakit akibat infeksi virus Lyssavirus dari keluarga Rhabdoviridae melalui gigitan anjingyang menyerang sistem saraf pusat, dan hampir selalu berakibat fatal begitu gejala klinis muncul. Namun demikian, kematian manusia akibat rabies sebenarnya dapat dicegah. Di satu sisi, vaksinasi anjing dapat mengendalikan penyakit ini pada sumber penularannya, sedangkan di sisi lain, program profilaksis pasca-paparan (PEP) secara cepat dapat mencegah virus mencapai sistem saraf pusat manusia, setelah terjadinya gigitan anjing. PEP mencakup pencucian luka secara menyeluruh, pemberian rangkaian vaksin rabies untuk manusia, dan—jika diindikasikan— diberikan Serum Anti Rabies (SAR) atau Human Rabies Immune Globulin (HRIG) yang disuntikkan di sekitar luka.

Keberhasilan Chile dan Bhutan memberikan pelajaran berharga bagi semua negara, yang berupaya mengakhiri kematian manusia akibat rabies. Keberhasilan tersebut mencerminkan upaya nasional berkelanjutan selama lebih dari lima dekade, untuk memutus rantai penularan yang diperantarai oleh anjing, dan mempertahankan pencapaian itu melalui vaksinasi anjing, surveilans, serta akses tepat waktu terhadap PEP. Hal ini menunjukkan bahwa eliminasi rabies yang ditularkan oleh anjing bukan hanya mungkin dilakukan, tetapi juga dapat dicapai dan dipertahankan secara berkelanjutan, ketika negara bekerja lintas sektor, serta memelihara sistem yang diperlukan untuk melindungi manusia dan hewan.

Kasus rabies pada manusia akibat penularan anjing yang terakhir dilaporkan di Chile terjadi pada tahun 1972. Sejak tahun 1983, jumlah kasus rabies pada manusia akibat penularan anjing di kawasan ini telah menurun lebih dari 98%, dengan hanya segelintir kasus yang dilaporkan setiap tahunnya. Bhutan telah mempertahankan status nol kematian manusia akibat rabies yang ditularkan oleh anjing sejak Juni 2023.

Chile terus menjalankan Program Nasional Pencegahan dan Pengendalian Rabies, yang mencakup kampanye vaksinasi massal gratis bagi anjing dan kucing, surveilans epidemiologis, peningkatan kapasitas diagnostik laboratorium, pemantauan peredaran virus rabies pada hewan, serta akses tepat waktu terhadap profilaksis pasca-paparan. Chile dan Bhutan telah memperkuat kapasitas penilaian risiko, memperluas surveilans berbasis masyarakat, dan melaksanakan kegiatan vaksinasi pencegahan di wilayah perbatasan negara, yang dinilai memiliki risiko lebih tinggi terhadap masuknya kembali rabies.

Pencapaian Chile dan Bhutan merupakan hasil dari investasi berkelanjutan selama lebih dari satu dekade dalam pendekatan ‘One Health’ (Satu Kesehatan), yang mengakui adanya keterkaitan erat antara kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem. Perubahan dalam hubungan ini dapat meningkatkan risiko muncul dan menyebarnya penyakit, baik pada manusia maupun hewan. ‘One Health’ mendorong optimalisasi kesehatan manusia, hewan, tanaman, dan ekosistem melalui tindakan terkoordinasi dan terintegrasi lintas sektor. Dengan menyatukan dokter, tenaga kesehatan, dokter hewan, dan masyarakat luas, Chile dan Bhutan telah membuktikan bahwa perjuangan melawan rabies tidak dimenangkan secara terpisah-pisah, melainkan melalui solidaritas lintas sektor.

Kemajuan yang dicapai Chile dan Bhutan sangat kontras dengan situasi global. Rabies yang ditularkan oleh anjing masih menyebabkan puluhan ribu kematian setiap tahunnya, terutama di Asia dan Afrika. Kasus gigitan hewan penular rabies di Indonesia dari Januari hingga Mei 2026 mencapai 103.701 kasus dengan 52 kematian. Provinsi Bali menempati urutan tertinggi, bahkan pada 11 September 2026 Dinas Kesehatan Provinsi Bali mencatat 52.645 kasus gigitan, dengan 39.193 kasus terindikasi positif rabies, di mana Kabupaten Badung dan Karangasem menjadi wilayah dengan laporan tertinggi. Kasus suspek juga ditemukan di Kabupaten Jembrana pada September 2026

Hari Rabies Dunia Senin, 28 September 2026 mengingatkan kita akan keberhasilan Chile dan Bhutan, yang mampu menunjukkan bahwa investasi berkelanjutan dalam pencegahan, surveilans, dan akses terhadap layanan kesehatan dapat membawa penyakit mematikan namun dapat dicegah, ini menuju tahap eliminasi rabies. 

Maukah kita berlajar dari Chile dan Bhutan?

Sekian

Yogyakarta, 21 September 2026

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?