Categories
anak bayi prematur dokter Healthy Life

2025 Hari Pendengaran Dunia

HARI  PENDENGARAN  SEDUNIA 2025

fx. wikan indrarto

Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 23 Maret 2025, halaman 8, kolom HUSADA dengan judul ’Merawat Telinga berpengaruh pada Masa Depan’.

Tema Hari Pendengaran Sedunia Senin, 3 Maret 2025 adalah mengubah pola pikir untuk mewujudkan perawatan telinga dan fungsi pendengaran bagi semua orang! (Changing mindsets: Empower yourself to make ear and hearing care a reality for all!)

Pada tahun 2030 kelak, lebih dari 500 juta orang diperkirakan mengalami gangguan pendengaran yang memerlukan rehabilitasi. Lebih dari satu miliar orang muda menghadapi risiko kehilangan pendengaran permanen akibat paparan suara keras dalam jangka panjang, selama kegiatan rekreasi seperti mendengarkan musik dan bermain video game.

Cara kita mendengar di masa depan bergantung pada cara kita merawat telinga kita saat ini, karena banyak kasus kehilangan pendengaran dapat dihindari melalui penerapan praktik mendengarkan yang aman dan perawatan pendengaran yang baik. Bagi mereka yang mengalami kehilangan pendengaran, identifikasi dini dan akses ke rehabilitasi tepat waktu sangat penting, untuk mencapai potensi tertinggi mereka.

Hampir 20% orang mengalami beberapa tingkat kehilangan pendengaran dan persentase ini terus meningkat. Oleh karena itu, kemungkinan besar kita perlu berkomunikasi dengan orang dengan gangguan pendengaran dalam kehidupan sehari-hari kita. Mengetahui strategi komunikasi yang baik bagi penyandang gangguan pendengaran akan memungkinkan kita menjadi komunikator yang baik. Bersikap ramah terhadap seorang tuna rungu atau gangguan pendengaran sangat penting, untuk menumbuhkan inklusivitas dan memastikan komunikasi yang efektif. Hal ini mendorong terciptanya lingkungan yang mendukung yang memungkinkan setiap orang untuk berpartisipasi penuh dalam kegiatan sosial.

Pada saat kita berinteraksi dengan seseorang dengan gangguan pendengaran, maka sebaiknya kita saling bertatap muka. Hal ini memungkinkan mereka untuk melihat wajah kita, sehingga lebih mudah untuk membaca gerak bibir dan memahami ekspresi wajah. Sebaiknya kita berkomunikasi secara visual menggunakan wajah, tubuh, dan tangan untuk mengekspresikan diri. Berbicaralah dengan jelas dan dengan kecepatan sedang. Hindari berteriak, karena dapat mendistorsi ucapan dan membuat membaca gerak bibir menjadi sulit. Ucapan yang jelas dan disengaja lebih mudah dipahami.

Selain itu, berbicaralah satu per satu dan hindari berbicara bersamaan dengan orang yang lain, karena hal ini dapat menimbulkan kebingungan. Berbicara satu per satu membantu orang yang sulit mendengar untuk fokus pada pembicara. Manfaatkan teknologi baru dan potensi ponsel pintar atau tablet, seperti menggunakan aplikasi suara-ke-teks, layanan penerjemahan bahasa isyarat jarak jauh, dan kamus bahasa isyarat digital. Pelajari tanda-tanda dasar dan ejaan jari, gunakan kesempatan untuk mempelajari tanda-tanda dasar dan ejaan jari dalam bahasa isyarat nasional yang digunakan oleh orang yang tuli.

Sebagai seorang guru di sekolah umum, perlu mendukung anak yang tuli atau sulit mendengar di kelas. Tanyakan kepada anak apa yang dibutuhkan untuk akomodasi yang wajar, sehingga para guru,siswa, dan staf sekolah dapat menjadi sekutu. Jika memungkinkan, mintalah persetujuannya untuk menempatkan anak di kursi kelas deretan depan dan tatap anak secara langsung ketika berbicara.

Dukung anak yang menggunakan alat bantu dengar atau implan dengan mempelajari cara memecahkan masalah umum, seperti mengganti baterai. Dorong anak untuk memberi tahu saat mereka tidak mendengar orang lain dan ingin mereka mengulangi perkataan mereka. Dorong anak lain di kelas untuk berkomunikasi dengan baik, seperti mempelajari bahasa isyarat nasional anak tersebut atau menggunakan komunikasi visual.

Gunakan loop induksi pendengaran dan sistem modulasi frekuensi (FM) karena sistem ini dapat memastikan komunikasi yang lebih lancar bagi anak yang menggunakan alat bantu dengar atau implan. Ajari anak untuk membela diri sendiri dan melakukan banyak hal secara mandiri atas kebutuhan mereka di rumah dan di sekolah. Misalnya, dorong anak untuk memberi tahu guru atau orang tua mereka, saat alat bantu dengar berhenti bekerja.

Dorong orang tua untuk mengungkapkan disabilitas anak mereka dan tidak menyembunyikannya. Libatkan anak dalam semua kegiatan dan dorong anak lain untuk melakukan hal yang sama. Juga fasilitasi pertemuan antara anak dan teman sebaya lainnya serta orang dewasa yang juga tuna rungu atau sulit mendengar. Pastikan apakah anak tersebut mengalami gangguan pendengaran, jika anak tidak berprestasi baik di kelas dengan mendorong orang tua untuk memeriksakan pendengaran anak tersebut ke dokter.

Masyarakat dapat melibatkan orang yang sulit mendengar dalam berbagai kegiatan. Misalnya dengan memastikan komunikasi yang dapat diakses, informasi tertulis, subtitel atau teks, dan tersedianya juru bahasa isyarat yang profesional. Ruang publik sebaiknya juga dibuat ramah bagi orang sulit mendengar. Misalnya dengan cara pemasangan peringatan visual untuk pengumuman penting, seperti lampu yang berkedip atau teks yang bergulir, untuk melengkapi pemberitahuan atau informasi selain pendengaran. Juga penyediaan sistem loop induksi pendengaran yang mentransmisikan audio langsung ke alat bantu dengar, meningkatkan kualitas suara bagi individu yang tuli atau sulit mendengar.

Momentum Hari Pendengaran Dunia (World Hearing Day) 2025 mengingatkan kita untuk mendorong sebanyak mungkin orang untuk mengubah perilaku, guna melindungi pendengaran mereka dari suara keras dan mencegah kehilangan pendengaran, memeriksakan fungsi pendengaran secara teratur, menggunakan alat bantu dengar jika diperlukan, dan mendukung mereka yang mengalami gangguan pendengaran.

Apakah kita sudah melakukannya?

Sekian

Yogyakarta, 20 Februari  2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM.

By Fx Wikan Indrarto

Dokter Fx Wikan Indrarto

Leave a Reply

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?