Categories
anak Healthy Life Jalan-jalan politik

2014 Pancen Munchen Jerman

PANCEN   MUNCHEN  JERMAN

fx. wikan indrarto*)

Kami memulai petualangan di Eropa yang kedua kalinya dengan pesawat Lion Air JT 559 Boeing 737-900 ER pada hari Sabtu, 5 September 2014, berangkat pk. 13.15 dari Yogyakarta menuju ke Jakarta. Setelah beristirahat sejenak dan bertemu Yangti, mas Toto dan dik Woro di Bandara Cengkareng Jakarta, kami lanjut dengan Air France AF 0259, sebuah Boeing 777-300 ER baru, yang dilengkapi ‘consignes de securite’ atau petunjuk keselamatan dan ucapan ‘bienvenue a bord’ atau selamat datang di dalam kabin pesawat dalam Bahasa Perancis.

.

Kami berangkat pk. 18.45 melalui Singapura yang berjarak 883 km, menuju Paris (CDG kode untuk Charles de Gaulle Airport). Pesawat kami merupakan salah satu dari 37 pesawat sejenis, dari 111 buah ‘avions long-courriers’ atau pesawat jarak jauh milik Air France, termasuk 10 buah pesawat penumpang terbesar di dunia, Airbus A380. Dengan kecepatan pesawat 538 mph yang setera 878 km/jam, dengan ketinggian jelajah atau altitude 36.000 kaki, perjalanan yang menempuh 11.337 km tersebut, menghabiskan waktu 13 jam non stop dari Singapura. Kami lanjutkan perjalanan ke Munich di Jerman bagian selatan, melalui terminal 2F gate F47, pk. 9.45 dari Bandara Charles de Gaulle (CDG) Paris yang sangat megah. Kami berganti dengan pesawat Airbus A 320 Air France, salah satu dari 45 pesawat sejenis. Air France juga memiliki 129 pesawat jarak menengah dan 95 pesawat regional. Sampai Munich pk. 11.45 waktu setempat, atau 1 jam 15 menit perjalanan dari Paris.

.

Bandara Internasional Franz Josef Strauss (IATA: MUC, ICAO: EDDM) adalah bandara internasional terbesar kedua di Jerman dan ketujuh di Eropa setelah London Heathrow, Paris Charle de Gaulle, Frankfurt, Amsterdam, Madrid and Istanbul Atatürk. Bandara ini melayani sekitar 34 juta orang per tahunnya, dan terletak sekitar 30 km (19 mil) arah timur laut dari pusat kota. Bandara dapat dicapai dengan kereta S8 dari timur dan S1 dari barat kota. Dari stasiun kereta utama, perjalanannya akan memakan waktu 40-45 menit. Sebuah kereta ekspres akan ditambahkan, sehingga akan memangkas waktu perjalanan menjadi 20-25 menit saja. Lufthansa menjadikan bandara ini sebagai penghubung keduanya, ketika Terminal 2 dibuka pada tahun 2003. Bandara ini mulai digunakan sejak tahun 1992, menggantikan bandara sebelumnya yaitu Munich-Riem airport.

.

 
DSC04235
 
DSC04231

Kereta S8 yang akan kami gunakan

Gerbang Arcadia Hotel Munchen Airport

.

Setelah mendarat, kami segera menuju Arcadia Hotel Munchen Airport dengan naik taxi BMW bertarif E20. Setelah check in dan beristirahat sejenak di kamar nomor 111, kami segera memulai petualangan di Munchen dengan kereta api. Suburban train dan subway di Munchen diberi kode U (Urban dari 1 sampai 6) dan S (Suburban dari 1 sampai 8). Jalur Deutsche Bahn atau S-Bahn (suburban train), yaitu kereta api yang menjangkau daerah pinggiran kota dalam ring 4. Kereta jalur S8 memiliki stasiun pemberangkatan awal di terminal 1 bandara Munich Airport (Flughafen Munchen) menuju Herrsching. Kerata api berwarna dasar merah oranye dengan putih ini terdiri dari 10 gerbong bertarif E40. Kami melewati stasiun Besucherpark, Hallbergmoos, Ismaning, Unterfohring, Johanneskirchen, Englschalking, Daglfing, Leuchtenbergring, Ostbahnhof, Rosenheimer Platz, Isartor, Marien Platz, Karlsplatz (stachus) dan turun di Hauptbahnhof Central Station, di pusat kota. Kami tidak hanya berada di jalur bawah tanah yang gelap, tetapi kadang juga melewati areal persawahan gandum yang tertata rapi, diselingi pohon-pohon semak penuh daun tanpa buah, juga perkampungan dengan rumah gaya Jerman yang khas. Bangunan 2 lantai, bentuk luar kotak dengan sebuah kamar kecil beratap menghadap keluar, dari atap utama rumah. Sejak Stasiun Ostbahnhof, jalur kerata api selalu di bawah tanah, karena sudah berada di wilayah kota yang padat lalu lintas, agar semuanya lancar tanpa perlintasan sebidang. Kami turun di Hauptbahnhof Central Station, naik ke lantai utama dan melaksanakan rencana utama, yaitu membeli tiket City Night Line Train menuju ke Roma Termini Central Station di Italia, seharga E335 unt 2 orang.

.

 
DSC04236
 
DSC04238

Munchen Hauptbahnhof
Central Station

Tram di Munchen Hauptbahnhof
Central Station

.

Setelah itu kami membeli makan di konter ‘asiagourmet’, menu B1 seharga E3,5 (Asia-Bratnudeln) dan B5 (Mini Veggie Springrolls) seharga E 4,9 yang dibungkus kertas. Kami kembali ke jalur bawah tanah untuk naik S4 melewati stasiun Karlsplatz (stachus) dan turun di Marien Platz. Beda subway di Munchen dengan kota lainnya, pintu penumpang yang masuk dan keluar berbeda sisi, yaitu sisi kiri gerbong untuk penumpang yang masuk dan sisi kanan gerbong untuk penumpang yang turun. Para penumpang jadi tidak saling bertemu, banyak penumpang juga membawa sepeda maupun anjingnya, dan pintu hanya terbuka kalau ada penumpang memencet tombol.

.

Kami memasuki kathedral Stadtpfarramt St. Peter, Rindermarkt 1 Munchen, di seberang gedung Balaikota dan Speilzeug Museum. Katedral St. Petrus tersebut ditandai prasasti Ritterorden vom Heiligen Grab zu Jerusalem, Ordensprovinz Bayern, Kumturei Patrona Bavariae-Munchen.

.

 
DSC04245
 
DSC04254

Gedung Balaikota Munchen
dan Speilzeug Museum dalam hujan

Di dalam kathedral Stadtpfarramt St. Peter, Rindermarkt 1 Munchen

.

Kami bertahan cukup lama di beranda, karena hujan deras tiba-tiba turun. Setelah berdoa sejenak di dalam katedral yang megah, kami naik bis MAN gandeng warna biru yang bersih dan nyaman, untuk melihat-lihat kota. Kami turun di halte Candidplatz, untuk naik kereta api U1 (underground U-Bahnlinie) ke Sendinglinger Tor, melewati Kolumbusplatz dan Fraunhofererstr. Di stasiun Sendlinger Tor kami ganti U6 menuju stasiun Frottmaning untuk melihat stadiun sepakbola Allianz Arena. Kami melewati Marienplatz City Center, Odeonplatz, Universitat, Gisalastr, Munchner Freihet, Dietlindenstr, Nordfriedorf, Alte Heide, dan mulai dari stasiun Studentenstadt jalur bukan lagi di bawah tanah karena sudah di luar pusat kota, terus menuju ke Freimann, Kieferngarten, dan turun di Frottmaning. Kami mengunjungi dan berfoto di Allianz Arena, markas FC Bayern Munchen, sebuah klub sepakbola profesional, sampai matahari terbenam pk. 20 waktu setempat. Mega bintang Real Madrid, Cristiano Ronaldo, menahbiskan diri sebagai pencetak gol terbanyak dalam satu musim Liga Champions. Ronaldo telah membukukan 16 gol di kompetisi antarklub paling elit di benua Eropa itu. Ronaldo mencetak rekor tersebut lewat tambahan dua gol dalam kemenangan 4-0 Madrid atas Bayern Munchen, di leg kedua babak semifinal Liga Champions di Allianz Arena yang kami kunjungi itu, pada Rabu, 30 April 2014 yang lalu.

.

Kami kembali naik kereta api U6 dari Stasiun Frottmaning menuju ke Stasiun Marianplatz untuk berganti S8 menuju Munchen Airport atau Flughafen Munchen. Hotel Arcadia, tempat kami menginap, terletak di dalam kompleks bandara.

.

 
DSC04265
 
DSC04272

Allianz Arena,
markas dan stadion sepakbola milik
FC Bayern Munchen

ICM (Internationales Congress
Center Munchen)
di Messegelande, lokasi konggres ERS

.

Pada hari Senin, 8 September 2014, kami memulai hari dengan perjalanan dari Terminal 1 Bandara Munchen, kami naik kereta S8 menuju Leuchtenbergring, melewati Hallbergmoos, Ismaning, Unterfohring, Johanneskirchen, Englishalking, dan Daglfing. Kami ganti S4 tujuan stasiun Ebersberg, menuju stasiun Trudering melewati Berg am Laim, kemudian ganti U2 menuju Messestadt West melewati Moosfeld untuk berjalan kaki menuju ICM (Internationales Congress Center Munchen) di Messegelande. Kami mengikuti ERS (European Respiratory Society) International Congress 2014 yang diselenggarakan di ICM. U-Bahn menggunakan gerbong kereta gaya konservatif, tradisional dan lama yang masih terawat baik, dengan ornamen dan panel kayu pada dindingnya. S-Bahn menggunakan gerbong kereta modern yang mencerminkan dinamika, kepraktisan, dan optimisme.

.

Setelah mengikuti beberapa sesi konggres, kami melanjutkan perjalanan. Dengan kereta U2 dari stasiun Messestadt West lewat Moosfeld terus ke Trudering, untuk berganti S6 ke Stasiun Marianplatz City Center. Kami melewati Stasiun Berg am Laim dan Leuchtenbergring yang berada di atas tanah, dan mulai dari stasiun Ostbahnhof jalur kereta api berada di bawah tanah, menuju stasiun Rosenheimer Platz, dan Isartor karena sejak itu sudah berada di areal pusat kota Munich. Tujuan pertama kami adalah Deutsches Museum verkehrszentrum. Tersedia 2 buah pilihan tiket, yaitu seharga E 8,5 yang berupa ‘one day ticket’ atau E 15 berupa ‘three museum ticket’. München (bahasa Inggris: Munich, bahasa Bayern: Minga) adalah ibu kota negara bagian sekaligus kota terbesar di negara bagian Bayern di Jerman. Dengan penduduk berjumlah 1.305.522 jiwa (2006), München merupakan kota berpenduduk terbesar ketiga di Jerman setelah Berlin dan Hamburg. Kota ini terletak di sisi sungai Isar, bagian utara dari Bavarian Alps.

.

Kami sempatkan bergaya di depan patung Otto Furst von Bismarck (1815-1898) dengan keterangan ‘grunder des deutschen reiches ehrenburger derstadt Munchen’, yang berdiri gagah di dekat Sungai Isar, sebuah sungai besar yang membelah kota Munchen. Dengan sambutan ‘Herzlich Willkommen’ atau selamat datang dalam Bahasa Jerman, kami memasuki Wok & Roth, China Restaurant di SteinsdorfstraBe 22, tidak jauh dari patung Bismarck. Menu Peking Suppe atau sop seharga E2, Gebratener Reis m Huhn atau nasi goreng seharga E3,3 dan Rindfleisch mit Zwiebeln atau nasi daging seharga E6, mengenyangkan perut Asia kami sore itu.

.

Dari balai kota turun di Marienplatz City Center, naik U3 ke arah Moosach. Kami melewati Odeonplatz, Universitat, Giselastr, Munchner Freiheit, Bonner Platz, Scheidplatz, Petuelring, dan turun di Olympiazentrum, untuk melihat BMW Welt, BMW Museum dan Olympiapark. Ketiganya berada dalam sebuah kompleks yang sangat besar dan luas. Selanjutnya ke Zum Kirchenzentrum im Olympischen Dorf 1972. Naik kereta kelinci Einzelfahrschein Watzinger bertarif E 3, kami mengelilingi kompleks olimpiade yang sekarang tidak hanya digunakan sebagai fasilitas olah raga, tetapi juga kesenian, kuliner dan rekreasi keluarga. Kami sempat melihat sea live, patung Freddie Mercury (1946-1991) lead singer of Queen di Rockmuseum Munich di Olympiaturm, souvenir shop. Bahkan juga Retaurant 181, yang terletak di ketinggian 181 m dari atas tanah, dalam sebuah bangunan menara pemancar televisi olimpiade. Kota ini juga merupakan kota penyelenggara Olimpiade Musim Panas tahun 1972. Selanjutnya kami menikmati keindahan arsitektur BMW Welt atau ruang pamer mobil baru keluaran BMW. Kami berfoto dengan sebuah the all new BMW M3 Sedan yang berwarna biru dan the all new BMW M4 Coupe yg bercat merah tua. Kota ini juga menjadi kantor pusat dari beberapa perusahaan besar seperti Siemens AG (elektronik), BMW (mobil), MAN AG (produsen truk), Linde (gas), Allianz (asuransi), Munich Re (re-insurance), dan Rohde & Schwarz (elektronik).

.

 
DSC04312
 
DSC04320

the all new BMW M3 Sedan dan
the all new BMW M4 Coupe di BMW Welt

BMW Museum dan Kantor Pusat BMWmodern, berkelas dan futuristik

.

Dari Stasiun Olympiazentrum kami naik U3 menuju Stasiun Odeonplatz. Kami melewati Stasiun Petuelring, Scheidplatz, Bonner Platz, Munchner Freheit, Giselastr dan Universitat. Kami turun di stasiun Galeristr untuk keluar dari jalur bawah tanah menuju Ludwigstr. Di situ kami menikmati keindahan bangunan tua, yaitu Residenz Munchen yang dibangun tahun 1155. Sejarah kota Munich bermula saat Pangeran Ludwig memindahkan istananya dari Landshut dalam perpecahan Bavaria pada tahun 1255. Setelah menjadi raja, diubahlah rumah keluarga Wittelsbachs menjadi Residence atau istana, dari sebuah kuil kecil yang dimulai tahun 1385 sampai menjadi bangunan megah seluas 10 yards. Dalam 4 abad, yaitu sampai tahun 1918, gedung Residence ini menjadi pusat pemerintahan dan kekuasaan dinasti Wittelsbach. Istana ini memiliki 4 corak bangunan sesuai abad yang berbeda. Antiquarium merupakan aula terbesar bergaya Renaissance abad 17, yang dibangun Pangeran Maximilian I. Ancestral dan Ornate dirancang oleh Francois Cuvillies bergaya Recoco yang menonjol. Konigsbau yang dirancang Leo von Klenze untuk Raja Ludwig I, merupakan apartemen bergaya neoklasik. Dinding pembatas istana luar yang disebut Nibelungen digambari sejarah Munich oleh Julius Schnorr von Carolsfeld. Pesona gambar ini masih bisa kita saksikan dengan jelas sampai hari ini. Keindahan arsitektur gedung, lukisan, piranti rumah atau furniture, patung, hiasan, dan dipadukan dengan taman, sangat menakjubkan.

.

 
DSC04338
 
DSC04341
Gedung Maximilianeum, sebuah gedung parlemen, di tepi Sungai Isar yang membelah kota MunichMaxmonument
patung Raja Maximilian II
Keunig van Bayern

.

Dari Odeonplatz kami naik U5 menuju Neuperlach Sud, untuk turun di Max Weber Platz melewati Lehel. Kami melihat Gedung Maximilianeum, sebuah gedung parlemen, di tepi Sungai Isar. Kami lanjutkan dengan naik tram 19 menuju Pasing untuk turun di Hauptbahnhof. Dikoordinasikan oleh Tramnetz Munchen berlambang huruf H pada halte pemberhentian, terdapat 19 jalur tram. Dalam wajah tram hanya tertulis no 19, tanpa simbol huruf H dan semua tram berjalan di atas tanah, melewati pusat kota Munchen yang indah. Tram 19 menyeberangi Sungai Isar, melewati Maxmonument, Kammerspiele, Nationaltheater, Lenbachplatz dan Karlsplatz (stachus) Nord. Kami sempatkan turun di halte Maxmonument untuk mengamati keindahan patung Raja Maximilian II Keunig van Bayern.

.

Didirikan dengan nama Munichen pada tahun 1158 oleh Heinrich, pemimpin dari Sachsen, dan setengah abad kemudian dibangun benteng keliling kota. Pada awalnya, uskup Otto dari Freising, pemimpin gereja dan Heinrich, pemimpin wilayah, bersitegang memperebutkan kota tersebut sebelum akhirnya Heinrich dinobatkan sebagai kaisar di Augsburg. Pada 1180 Otto dari Wittelsbach menjadi Penguasa Bayern. Dinasti Wittelsbach kemudian menguasai Bayern sampai tahun 1918. Pada tahun 1255, Kekaisaran Bayern dibagi menjadi dua, dan München menjadi ibukota Bayern. Pada tahun 1327, seluruh kota terbakar, namun berhasil dibangun kembali beberapa tahun kemudian oleh Raja Ludwig IV. Pada 1632 kota tersebut dikuasai oleh Raja Adolf Gustav II dari Swedia pada Perang Tigapuluh Tahun, namun pada 1705, Munchen dapat direbut kembali dan dimasukkan ke dalam kepemimpinan Habsburg. Kami melanjutkan dengan tram 19, menuju Karlsplatz (stachus), untuk melihat kemegahan gedung tua dan patung Raja Ludwig IV. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Stasiun Kota untuk membeli oleh2 cinderamata di Central Station yang dibangun tahun 1925, terus pulang ke hotel.

.

 
DSC04334
 
DSC04331

Patung Raja Ludwig IV
Raja Bavaria yang besar tahun 1327

Residence atau istana Dinasti Wittelsbachs, Penguasa Bavaria

Pada hari Selasa, 9 September 2014, kami memulai jalan-jalan lagi dengan mengenang kejadian pada tahun 1919, saat Jerman mengalami kehancuran pada akhir Perang Dunia I. Penduduk Munchen mengalami kesengsaraan hebat, penderitaan dan kemiskinan, yang memacu terjadinya hiperinflasi tertinggi di seluruh Bavaria, sehingga menghasilkan sebuah etos kerja revolusioner. Dari situlah lahir gerakan Nazi dan salah satu diktatator terbesar dan terkejam di dalam sejarah dunia, yaitu Adolf Hitler. Kenangan gelap sejarah Munich dimulai dari Hofbrauhaus di dekat Konigsplatz, sebuah lapangan luas yang digunakan untuk rapat raksasa yang pertama kali, yang kemudian akan berlanjut sampai pada pengukuhkan wibawa sang diktator dan kejayaan seluruh Jerman. Sisi gelap sejarah Munich masih dapat dinikmati, karena merupakan kenangan abadi, meskipun menyedihkan.

.

Kami mencari lemari penititpan kopor berbayar (luggage lockers) bertarif E6, kencing di WC umum bertarif E2 (setara dengan Rp. 30 ribu), mampir di warung ‘asiahung’ yang bermenu Asia, untuk makan chicken Yaki seharga E 5,9 dan kerupuk seharga E 2,5, untuk dimakan berdua. Kami naik Tram 17 ke arah Romanplatz dari Stasiun Hauptbahnhof sisi utara. Kami melewati jalan dalam kota yang rapi, yaitu Hopfenstr, Heckerbrucke, Deroystr, Marsstr, Donnersbergerstr, Burghausener Str, Briefzentrum, Steubenplatz, dan Kriemhildenstr. Dari Romansplatz, kami berjalan kaki ke Istana Nymphenburg. Dalam perjalanan di sepanjang jalur pejalan kaki yang nyaman dari Romanplatz, kami sempat mampir berdoa sejenak Gereja Fransiscus Asisi Pfarrgemeinde Christkonig, Nymphenburg. Gereja yang dibangun tahun 1865 tersebut memiliki 2 buah menara kembar dan atap oval bergambar Santo Fransiscus Asisi yang sedang menyapa. Setelah puas berdoa, kami melanjutkan jalan kaki ke istana Nymphenburg.

.

Dalam kombinasi rancangan taman dan arsitektur bangunan, Istana Nymphenburg adalah salah satu contoh sintesa seni terbaik di Eropa. Raja Max Emanuel menunjuk arsitek Agustino Barelli untuk membangun istana ini mulai tahun 1664. Selanjutnya Henrico Zuccalli merancang perluasan ruang pamer dan pemukiman pada tahun 1701. Joseph Effner melanjutkan pada tahun 1714 dan menyempurnakan dalam gaya French yang utuh, dan menjadi istana musim panas yang eksotik. Karl Albfrecht melengkapi istana ini dengan bangunan Rondell. Dekorasi dalam gedung (interior) mencerminkan seni gaya Baroque sampai Classicism, termasuk kamar di mana Raja Bavaria terbesar, Ludwig II, dilahirkan.

.

 
Munchen
 
DSC04357
Istana Nymphenburg, salah satu contoh sintesa seni terbaik di EropaGaya ‘post wedding’
di taman air Istana Nymphenburg

.

Kami naik lagi Tram 17 dari Romanplatz menuju SchwanseestraBe dan turun di Hauptbahnhof untuk berganti kereta api S2 ke arah Petershausen. Kami melewati Hackerbruce, Donnersbergerbruce, Hirschgarten, Laim, Obermenzing, Untermenzing Allach, Karlsfeld dan turun di Stasiun Dachau, sekitar 18 km dari pusat kota Munchen. Kami berganti bis kota jalur 719 menuju Rathaus dan kami akan menikmati istana Dachau, old town, altstadt and schloss. Istana ini awalnya sebuah kastil di atas sebuah bukit di atas Sungai Amper, dengan pemandangan sangat indah di sekelilingnya. Sejak abad ke 16 tumbuh menjadi sebuah areal pemukiman di dekat pusat kota Munich. Semasa Pangeran Wilhelm IV dan Pangeran Albrecht V, telah dikembangkan bangunan sayap ke 4 arah yang berbeda, yang dihubungkan dengan taman yang indah, rancangan Hans Wisreutter pada tahun 1564 sampai 1566. Aliran Renaissance pada era tersebut, menjadikannya gaya paling dominan di seluruh Jerman bagian selatan. Pada jaman Pangeran Max Emanuel, halaman depan direnovasi secara menakjubkan, dalam rancangan Joseph Effner pada periode tahun 1715 sampai 1717. Di taman yang indah terdapat pergola berusia 280 tahun, yang menjadi bukti kesempurnaan perancangan dan perawatan yang luar biasa.

.

DSC04394
DSC04391

Istana Dachau,
rancangan Hans Wisreutter
pada tahun 1564 sampai 1566.

Pemandangan sangat indah
dari atas sebuah bukit
di sekeliling istana Dachau

Kami mampir berdoa sejenak di gereja St. Yakobus Dacau, yang berada di kompleks old town Dacau. Gereja ini mulai dibangun tahun 1696 oleh arsitek Stich von Michael Wening. Kami kembali naik bis kota 719 dari Rathus, di pusat kota tua Dacau ke terminal kereta S2 di pinggiran Dacau. Kami naik S2 tujuan Osthbanhof untuk turun di Hauptbahnhof Central Station. Sore itu kami bersiap-siap melanjutkan perjalanan ke Roma, Italia, dengan City Night Train yang akan berangkat pk. 21.

(Berlanjut dengan petualangan di Italia)

baca juga :

2014 Nyata di Italia

*) pelancong Jawa berdana cekak

Ditulis di atas gerbong 255 City Night Train

antara Bologna dan Firenze di Italia Utara

Rabu dini hari, 10 September 2014.

Categories
dokter Healthy Life Jalan-jalan UHC vaksinasi

2012 Pertama ke Filipina

 

PERTAMA KE FILIPINA

fx. wikan indrarto*)

Perjalanan prtama kali kami berdua ke Filipina, diawali dengan menggunakan pesawat Airbus A320-200 milik maskapai penerbangan Philippine Airlines, pada Senin pagi buta 9 Januari 2012. Kami bertolak dari Jakarta pada pk. 00.45 sampai di Ninoy Aquino International Airport (NAIA) Manila pk. 05.05 waktu setempat (setara dengan WITA). Kami kebetulan bersamaan dengan Prof. Dr. Mohammad Juffrie, PhD, SpA(K), guru besar FK UGM yang akan menjadi moderator salah satu sesi dalam 13th ASCODD (Asian Conference on Diarrheal Disease and Nutrition), yang akan diadakan di Tagaytay City, sekitar 60 km dari Manila. Kami bertiga memutuskan untuk menyewa Mitsubishi Adventure (di Indonesia disebut Mitsubishi Kuda), yang kuponnya seharga PP (Philippine Peso) 1.500 (sekitar Rp. 300 ribu) kami beli di konter taksi bandara. Taksimeter bercat kuning menyala yang umumnya merupakan Toyota Vios yang berargometer, tidak melayani penumpang tujuan luar kota Metropolitan Manila.

Untuk ke Tagaytay City perlu 1 jam 15 menit berkendara dari Manila melalui Luzon expressway sektor selatan (keluar di Santa Rosa) dan Santa Rosa-Tagaytay Road akan langsung ke Tagaytay City. Sepanjang perjalanan yang menggunakan sisi kanan jalan, kebalikan dengan di Indonesia, kami melalui jalan tol (expressway), dan melihat mobil-mobil buatan Jepang sebagaimana yang beredar di Indonesia, hanya berbeda nama. Izusu Panther disebut Crosswind, versi Hi-grade dinamakan Hi-lander. Toyota Krista disebut Revo VX2000, Mitsubishi Grandis ditulis Chariot, sedangkan Innova, Avanza, City, CRV dan lainnya menggunakan istilah serupa. Mobil yang khas di Filipina adalah jeepney, angkutan warga biasa yang berasal dari modifikasi jeep tentara AS saat Perang Dunia II, tetapi sekarang sudah bermesin diesel produksi Izusu. Kami diturunkan di lobi Taal Vista Hotel setelah 1 jam lebih sedikit menempuh perjalanan yang nyaman, di jalan yang bagus, sebagian besar beton cor bukan aspal, meski mendaki dan berliku. Jalannya lebar yang merupakan jalan negara (highway), jarang sekali sepeda motor dan kepadatan jalannya cenderung lengang, karena penduduknya sedikit. Lalu lintas di Filipina jauh lebih tertib dibanding di Indonesia. Para pengemudinya tidak ngebut, jarang membunyikan klakson, tabu menyerobot jalan dan hampir semua berpacu dalam kecepatan menengah.

 1 Tricycle  2 Sarapn babi utuh
Tricycle di View Lake Restourant

di Tagaytay City

Promosi babi panggang utuh

di View Lake Restourant, Tagaytay

Tagaytay adalah kota di pinggir Danau Taal, yang ditengahnya terdapat Gunung Berapi Taal yang memiliki kaldera. Tagaytay adalah salah satu tujuan wisata populer di Filipina, terutama bagi mereka yang berada di Pulau Luzon. Kota kecil ini berada di dataran tinggi dengan suhu udara relatif lebih sejuk daripada daerah lain di pulau tersebut. Selain itu, di Tagaytay ada Gunung Taal, gunung api terkecil di dunia yang berada di tengah-tengah Danau Taal. Sementara itu di tengah-tengah Gunung Taal ada sebuah kaldera atau kawah yang berbentuk seperti danau. Kawah tersebut seluas kira-kira 2 kilometer persegi. Di tengah kawah ada sebuah pulau yang diberi nama Vulcan Point. Vulcan Point disebut sebagai pulau terbesar di dunia yang berada di dalam sebuah danau yang berada dalam pulau yang ada dalam danau di sebuah pulau. Cukup membingungkan bukan? Lebih jelasnya, Vulcan Point adalah sebuah pulau yang berada di Danau Kawah atau Kaldera, di Pulau Taal yang berada di Danau Taal, di Pulau Luzon.

Tagaytay adalah kota yang terletak di provinsi Cavite, Filipina, dengan populasi sebesar 61.623 jiwa Pada tahun 2007. Tagaytay City terletak di atas Tagatay Ridge pada 640 m (2.100 kaki) di atas permukaan laut, adalah titik tertinggi di Propinsi Cavite. Pegunungan ini memberikan pemandangan spektakuler dari Danau Taal dan Gunung Taal di Batangas. Pandangan ini mendukung pariwisata Tagaytay yang merupakan  industri utama. Pada tahun 1920, Jenderal Emilio Aguinaldo, yang kelak akan menjadi presiden pertama Republik Filipina, menyerahkan tanah pribadinya untuk digunakan sebagai sarana pemerintahan, termasuk hotel, di Provinsi Cavite. Legenda Tagaytay menyebutkan bahwa kata-kata ‘taga, itay’ adalah teriakan seorang anak yang menyeru-nyeru kepada bapaknya, karena dia ketakutan saat melihat kehadiran tentara. Pada awal 1935 Presiden Manuel L. Quezon menentukan Tagaytay sebagai daerah wisata dengan dibangunnya lapangan golf pertama di Filipina. Pada tahun 1937 Zamoras Manila Hotel mulai membangun Taal Vista Hotel dalam bentuknya yang sekarang. Kami memasuki gerbang hotel yang megah dalam arsitektur rumah tradisional Filipina yang bentuknya menyerupai hidung. Meskpun merupakan bangunan tua dan warnanya sudah kusam, tetapi wibawanya masih berdenyut.

 3 Danau dan Gunung Taal  4 Tanya pak Polisi
Danau Taal dan Gunung Taal di Batangas

Terlihat dari View Lake Restourant

Malu bertanya, sesat di jalan.

Bertanya di kantor polisi setempat.

Oleh karena hari masih terlalu pagi dan check in kamar hotel belum dapat dilakukan, maka kami berdua memutuskan makan pagi di View Lake Restourant dengan naik tricycle. Tricyle adalah sepeda motor non bebek yang di sebelahnya ditempeli ruang kabin untuk 2 orang penumpang berdesakan. Kami pilih menu nasi pulen, daging sapi potong-potong kecil dibakar dan telur mata sapi setengah matang seharga PP 110. Sayang sekali, pemandangan ke arah Gunung Berapi Taal di tengah Danau Taal kurang bagus untuk difoto, karena tertutup mendung tebal. Selanjutnya kami berjalan kaki ke pasar dekat restoran tersebut, untuk membeli menu tradisional seperti gula kacang besar, ikan danau kering dan konektor charger HP dan notebook, sebab lobang colokan listrik di Filipina adalah pipih, bukan bulat. Kami lanjutkan naik jeepney, dengan asal naik karena sekedar mau mencoba dan tidak tahu arah. Penumpang berjejal, musik rock berdentum, asap knalpot menghitam, dan sopir tanpa asisten. Meskipun demikian, sopir tetap santai menerima pembayaran, memberikan uang kembalian, sabar menunggu penumpang duduk baru melaju dan tidak berebut penumpang. Tarifnya sekitar PP 12 (sekitar Rp. 3 ribu) tergantung jauhnya jarak yang ditempuh.

Sore harinya, kami bermaksud melakukan registrasi peserta ke panitia konggres, tetapi belum dapat dilayani karena kesibukan acara pra-konggres, maka kami putuskan melancong ke Pink Sister menggunakan tricylce dari depan gerbang hotel. Pink Sister adalah biara para suster konggregasi SSpS, yang berseragam jubah warna pink. Di sana ada kapel adorasi ekaristi yang megah di tengah taman yang indah. Kami berdoa sejenak, bersama para peziarah lokal yang umumnya datang berkelompok, di kursi deretan belakang kapel yang dipisahkan dengan pagar besi bercat hijau tua, dengan kursi deretan depan khusus untuk para suster.

 5 Danau dan Gunung Taal  7 Kapel Pink Sister
 Danau Taal dan Gunung Taal pada sore hari

terlihat dari View Lake Taal Vista Hotel

Kapel Adorasi di Pink Sister yang megah

milik konggregasi suster-suster SSpS

Selanjutnya kami menuju Lourdes Church yang merupakan gereja Katolik terbesar di Tagaytay, dengan mampir sebentar untuk belanja buah di sentra pertanian dan menikmati keramaian kota di sore hari. Setelah berdoa sejenak di dalam gedung gereja yang modern, besar, bersih berwarna dominan cokelat, kami melihat-lihat patung jenazah Yesus yang terbaring damai diselimuti kain hitam, dalam kotak kaca di bagian kanan umat. Setelah puas, kami keluar gedung utama gereja dan masuk ke kapel lilin (Candle Chapel) yang terletak di sisi kiri gedung gereja. Di situ terdapat patung Padre Pio Capuchin, St. Anthony of Padua, Our Lady of Lourdes, St. Joseph, St. Francis of Assisi, dan St. Clara of Assisi. Umat yang berdoa sambil berdiri, bukan berlutut atau duduk seperti yang sering dilakukan di Indonesia, juga menyalakan lilin di depan setiap patung. Ada 5 macam lilin, yang dipilih untuk membantu keheningan doa sesuai dengan ujub doa atau keinginan pribadi. Lilin dengan panduan warna Red (untuk hari-hari penting seperti ulang tahun), Pink (kesehatan), Green (harapan, termasuk keberhasilan studi), Blue (keharmonisan keluarga), Yellow (keselamatan dalam perjalanan), Lavander (ketentraman), dan White (ujub umum). Setiap lilin kecil tersebut seharga PP 5. Setelah puas khusuk berdoa, melihat keindahan dan berfoto gaya, kami melanjutkan keliling kota dengan menggunakan lagi tricycle.

 12 Gereja Lourdes  14 Ninoy Circle Monument
Lourdes Church,

gereja Katolik terbesar di Tagaytay

Ninoy Aquino Circle Monument,

di persimpangan Tagaytay Ridge Landing

Selanjutnya kami turun di monumen Tagaytay Ridge Landing yang megah dalam taman melingkar di tengah pertigaan jalan besar. Taman indah tersebut dilengkapi dengan patung Senator Benigno ‘Ninoy’ S. Aquino Sr. (pahlawan rakyat Filipina) yang berdiri simpatik. Taman tersebut dirancang sejak tahun 1987 dan disebut Ninoy Aquino Circle Monument, yang diresmikan oleh Hon. Abraham ‘Bambol’ Tolentino, Walikota Tagatay pada awal September 2000. Taman tersebut adalah tempat pendaratan pertama pasukan infantri dan terjun payung dalam pembebasan Filipina dari penjajahan Jepang, oleh Resimen ke 11 Devisi 8 tentara AS, yang dipimpin oleh Letjen Robert Eighelberger dan Mayor M. Swing pada 8 Februari 1945. Setelah puas keliling kompleks dan menjadi sangat lapar, kami makan malam di warung Mang Inasal dengan menu Boneless Bangut seharga PP 99, Bangus Sisik PP 99, Kangkong PP 25, dan es teh yang rasanya mantap PP 25. Menu tersebut adalah ikan air tawar dari Danau Taal. Bangus sisik adalah potongan ikan dalam hotplate yang membara, tetapi nasi pulennya ditempatkan di sampingnya di dalam hotplate juga, sehingga tetap panas dan akan mengeras kalau proses makan terlalu lamban.

Malam ini adalah hari pertama kami di Taal Vista Hotel kamar 423, Tagaytay City, sekitar 60 km dari ibukota Filipina, Manila, dalam dekapan dingin udara Tagatay. Dalam kenyang dan kantuk, kami laporkan perjalanan ini kepada para pihak yang berkepentingan, dan juga bersiap untuk mengikuti konggres besok pagi, sambil menyiapkan rute perjalanan berikutnya.

Setelah sarapan di hotel dan registrasi konggres pada hari berikutnya, kami naik jeepney ke Tagatay Rotonda. Hal ini disebabkan karena Opening Ceremony oleh Hon. Abraham Tolentino, walikota Tagaytay, dan Prof. Manuel Agulto, rektor University of Philippine Manila, baru dijadwalkan setelah makan siang. Jeepney sangat unik, baik body luar yang dilapisi baja putih mengkilap, kap mesin dan wajah depan yang penuh asesoris, bodi jeep yang panjang tetapi rendah, juga sopir yang bekerja tanpa asisten. Selain menjalankan jeepney dengan kecepatan menengah, dia juga menawarkan rutenya, menerima uang bayaran, memberikan uang kembalian, memisahkan uang coin dalam tempat khusus di dashboard dan memegangnya dalam lipatan jari tangan kiri, hampir semua uang kertas yang diterimanya. Para penumpang duduk berhadap-hadapan di kedua sisi jeepney yang bersasis panjang, sehingga setiap sisi dapat diduduki oleh 8 orang dewasa, tetapi dengan sedikit menunduk, sebab atapnya cukup rendah. Penumpang yang membayar sering dibantu penumpang lain dalam pembayaran ataupun penerimaan uang kembalian, karena saking jauhnya posisinya dari sopir.

Dari sekitar 60 ribu orang penduduk kota Tagaytay, yang pada akhir pekan meningkat sampai 3 kali lipat oleh para pelancong, jarang sekali yang terlihat melintas jalan yang lebar dan bagus. Kami turun di pertigaan Tagaytay Rotondo yang dilengkapi dengan Ninoy Aquino Circle Monument. Kami berganti naik tricycle, sebuah sepeda motor Kawasaki 150 cc yang dilengkapi dengankabin untuk 2 penumpang di sisi kanannya, menuju ke Picnic Groove dan People Park in the Sky. Picnic Grove adalah tempat wisata favorit yang dilengkapi dermaga untuk menyeberang ke Danau Taal dan melihat Gunung Taal di tengahnya, yang merupakan gunung berapi terkecil di dunia. Kami tidak merencanakan penyeberangan tersebut karena keterbatasan waktu, dan langsung meneruskan perjalanan mendaki, menikung dan menyusur punggung gunung ke People Park. Sayang sekali kabut tebal langsung menyergap, sehingga pandangan kami sangat terbatas, mengalami kedinginan dan hanya dapat beraktivitas di halaman parkir taman rekreasi tersebut, untuk membeli berbagai souvenir khas Tagatay yang terjajar rapi dan teratur.

 20 Gerbang Hotel  22 Dari People Park

Start of Adventure from hotel

Taal Lake and volcano from People Park

Setelah mengambil foto sekedarnya, kami segera menuju kapel Pink Sister dan Rumah Retret dan Pusat Pelayanan Konggregasi Roh Kudus. Di kapel itu, kami kembali berdoa adorasi di depan tubuh Yesus yang telah kami kunjungi hari sebelumnya. Selain itu, kami menyempatkan bertemu dan berkenalan dengan Sr. Maria Caridad, SSpS, yang menghabiskan hari tuanya di rumah retret di samping kapel. Beliau adalah suster yang senior berwajah damai, jernih, dan pernah menjabat wakil jenderal konggregasi suster SSpS Internasional, bahkan pernah mengunjungi Sr. Dr. Conchita Cruz, SSpS, seorang suster dan dokter Filipina, ke RS Elisabeth Lela di Flores, NTT. Di RS itulah kami pernah membantu tugas Sr. Conchita selama 3,5 tahun sejak tahun 1992. Setelah bercengkeram sebentar dan berfoto, kami selanjutnya menuju Plaza Olivares, sebuah sentra masyarakat di tengah kepadatan kota Tagaytay. Plaza Olivares memiliki food court, pedagang pakaian kaki lima yang bersih dan teratur, sampai restourant waralaba internasional bahkan terminal bis antarkota, termasuk yang menuju Manila. Setelah makan siang nasi putih hangat yang lunak, disertai sayuran kacang panjang dicampur labu, pare, potongan daging ayam dan ikan Danau Taal di sebuah kedai makan di pinggiran plaza tersebut, kami pulang ke hotel, untuk mengikuti opening ceremony.

 23 Sr. Maria Caridad  24 Rumah Retret

Sr. Maria Caridad, SSpS

Office of Holy Spirit Mission

Acara opening ceremony kemudian dilanjutkan dengan keynote speech oleh Dr. Enrique Ona, Menteri Kesehatan Filipini, dengan judul Towards Health and Wealth in a Changing World. Acara dilanjutkan dengan plenary session dan symposium dengan tema Advances in Diarrheal Management. Filipina terbukti paling maju dibandingkan semua negara Asia Tenggara, bahkan juga sebagian besar negara di Asia, karena sudah menerapkan imunisasi melawan Rotavirus untuk semua balita, bahkan memasukkannya dalam program imunisasi nasional. Prof. Roy dari Bangladesh menyinggung tema Evolution of Zinc in the Treatment of Diarrheal Disease. Prof. Miguel O’Ryan dari Chile menyampaikan Rotavirus Vaccination Implementation in Latin America: What Asia Can Learn? Dr. Aziz dari Bangladesh mengajukan Improvements in ORS: Where ara we now? Cairan rumah tangga berbasis beras, seperti air tajin, mungkin saja lebih baik dibandingkan terapi cairan lainnya. Dr. Juliet Aguilar dari Filipina membandingkan Single vs Multiple Micronutrient Supplementation, Dr Rubhana Raqib dari Bangladesh menyampaikan Immunological Advance in Diarrheal Disease dan yang terakhir Dr. Germana Gregorio menunjukkan Evidence on the Use of Anti-Diarrheal Agents.

Topik-topik yang dibahas pada hari ke2 dalam 13th ASCODD (Asian Conference on Diarrheal Disease and Nutrition) di Taal Visata Hotel Tagaytay City, antara lain adalah ‘Barriers and Chalanges in Putting Rotavirus Vaccine in the National Immunization Program’, ‘Dietary Interventions to Improve Nutritional Status’, ‘Diarrheal Pathogens: Then and Now’, dan ‘Food Safety and Food-borne Diseases’. Para pembicaranya berasal dari Chile, Mexico, India, Hong Kong, Thailand, Bangladesh, Indonesia, China dan Amerika Serikat. Setelah agak lelah mengikuti beberapa materi tersebut, kami memutuskan untuk melancong lagi, pada hari ketiga kami di Filipina.

Sepanjang masa 265 tahun, Filipina merupakan koloni Kerajaan Spenyaol (1565-1821) dan selama 77 tahun berikutnya diangkat menjadi provinsi Spanyol (1821-1898). Negara ini mendapat nama Filipina setelah diperintah oleh penguasa Spanyol, Raja Felipe II. Setelah Perang Spanyol-Amerika pada tahun 1898, Filipina diperintah Amerika Serikat. Ia kemudian menjadi sebuah persemakmuran di bawah Amerika Serikat sejak tahun 1935. Periode Persemakmuran dipotong Perang Dunia II saat Filipina berada di bawah pendudukan Jepang. Filipina akhirnya memperoleh kemerdekaannya (de facto) pada 4 Juli 1946. Masa-masa penjajahan asing ini sangat memengaruhi kebudayaan dan masyarakat Filipina. Negara ini dikenal mempunyai Gereja Katolik Roma yang kuat dan merupakan salah satu dari dua negara yang didominasi umat Katolik di Asia selain Timor Leste.

Perjalanan kami mulai dari hotel dengan jeepney ke Olivarez Terminal di sekitar Tagaytay Rotonda. Setelah menunggu beberapa saat, kami putuskan naik bis bumel non AC, full video dengan TV 14 inchi, kaca jendela yang dapat dibuka ke arah atas, dan mesin Daewoo diesel terletak di bagian belakang bis. Penumpangnya sangat beragam, sampai penuh, tetapi warga Filipina tidak ada yang merokok atau makan dan minum di bis, juga tidak ada yang gemuk (obesitas) dan tidak ada juga yang hobi bermain jari di HP, sangat berbeda dengan masyarakat kita. Kami melewati kota Silang Cavite dan Dasmarinas yang cukup besar dan sibuk. Kami membayar harga tiket P 120 (sekitar Rp. 25 ribu), saat bis milik Celyrosa Express Bus menepi dan kami turun di Pasay City, pinggiran selatan Manila. Dalam kesibukan kota metropolitan Manila, kami berganti jeepney yang menuju ke Libertad dengan tarif P8.

 38 Rizal Day  LRT
Bendera dan Poster Rizal Day

di Central Station

LRT (Light Rail Transit) line 1

di Central Station

Di perempatan Libertad pinggir jalan besar Sen. Gilbert J. Puyat Ave. yang ramai, kami berjalan sedikit untuk naik tangga ke stasiun Gil Puyat di lantai 3. Kami naik kereta api layang 4 gerbong ber-AC yang disebut LRT (Light Rail Transit) line 1. Setelah melewati stasiun Vito Cruz, Quirino, Pedro Gil, dan UN Ave, kami turun di Central Station dengan tiket elektrik seharga P 12,5 atau sekitar Rp. 3.000. Di Manila Metropolitan Administration terdapat 3 jalur (line) LRT, yaitu line 1 dari Stasiun Baclaran (selatan) ke Monumento (utara), line 2 dari Stasiun Doroteo Jose (barat) ke Santolan (timur), dan line 3 dari Stasiun Taft (selatan) memutar ke North Ave (utara), yang dirancang akan bertemu dengan line 1 di Stasiun Monumento dalam 1 tahun ke depan. Dari Central Station kami berganti naik pedicub dengan penggerak sepeda yang dikayuh, atau tricycle dengan sepeda motor seharga P 100, kami menyebarang ujung jalan Roxas Boulevard yang sangat lebar dan padat kendaraan. Kami memasuki areal Intramuros yang legendaris untuk menuju Katedral Manila Gereja Bunda Maria Tak Bernoda, yang didirikan pada tahun 1561. Di katedral yang diberi nama oleh Paus Gregorius XV pada abad 17, kami tertegun akan arsitekturnya, terdiam akan keanggunannya dan berdoa mengucap syukur atas semua keindahan yang terjadi. Di taman depan katedral terdapat patung Raja Spanyol Carlos IV yang berwibawa dan gedung perkantoran mentereng yang dinamakan Palacio Del Gobernador.

 25 Katedral Manila  26 Gereja St. Agustinus
Katedral Manila

Gereja Bunda Maria Tak Bernoda

Gereja St. Augustinianus (1571),

gereja pertama di seluruh Filipina

Penjajahan dan pemukiman Spanyol dimulai dengan kedatangan ekspedisi Miguel López de Legazpi pada tahun 1565, yang mendirikan pemukiman San Miguel di pulau Cebu, dan lebih banyak lagi pemukiman ke utara, mencapai teluk Manila di pulau Luzon pada tahun 1571. Di Manila, mereka mendirikan kota baru dan dengan demikian memulai era penjajahan imperium Spanyol, yang berlangsung lebih dari tiga abad. Pemerintahan Spanyol berusaha mencapai penyatuan politik seluruh kepulauan, yang sebelumnya terdiri atas berbagai kerajaan dan komunitas merdeka, namun tidak berhasil. Penyatuan Filipina baru berhasil pada abad ke-20. Spanyol memperkenalkan percetakan versi Eropa Barat, dan kalender Gregorian, dan juga cacar, penyakit kelamin, lepra, perang dengan senjata api. Hindia Timur Spanyol diperintah dan diadministrasi sebagai bagian Kerajamudaan Spanyol Baru dari Meksiko pada tahun 1565 sampai 1821, dan diadministrasi langsung dari Madrid pada tahun 1821 sampai akhir Perang Spanyol-Amerika di tahun 1898, kecuali pada selang singkat pendudukan Inggris di Filipina (1762-1764). Orang-orang Cina, Inggris, Portugis, Belanda, Jepang dan pedagang pribumi mengeluh bahwa Spanyol menekan perdagangan dengan pemberlakuan monopoli Spanyol. Misionaris Spanyol mencoba mengkristenkan penduduk dan umumnya sukses di dataran rendah utara dan tengah. Mereka mendirikan sekolah, universitas, dan rumah sakit, terutama di Manila dan pemukiman benteng-benteng Spanyol yang kemudian disebut Intramuros (kota di dalam benteng) yang baru saja kami kunjungi.

Perjalanan kami lanjutkan dengan naik pedicub ke Fort Santiago, Postigo del Palacio, Puerta de Santa Lucia, EJC Building, Baluartillo de San Jose, Reducto de San Pedro, Baluarte de San Diego, Puerta Real, Revellin de Bagumbayan dan Gereja St. Augustinianus. Semua bangunan kuno tersebut masih tegak, megah dan terawat di dalam kompleks Intramuros, seperti di dalam sebuah keraton (njeron beteng). Gereja St. Augustinianus yang didirikan tahun 1571, bahkan merupakan gereja Katolik pertama di seluruh Filipina. Fort Santiago adalah sebuah benteng pertahanan militer yang didirikan oleh Gubernur Gomez Perez Dasmarinas dalam periode tahun 1590-1593, di bekas Istana Kayu Raja Matanda. Raja tersebut adalah penguasa lokal Manila pada saat itu.

Setelah itu kami menuju kampus LPU (Lyceum of the Philippines University) dekat dinding Jepang, karena dibangun tentara Jepang saat Perang Dunia II, dalam perluasan dan perbaikan benteng Intramuros yang aseli. Bangunan kampus LPU tersebut pada awalnya adalah Hospital de San Juan Dios, yang sebelumnya disebut Hospitalito de Santa Ana, yang didirikan pada tahun 1578 oleh Juan Clemente, seorang pastor dari Ordo Fransiscan. Kami nikmati menu makan siang, yang kami makan dalam kantin kampus yang penuh mahasiswa, tetapi tetap bersih dan terawat.

 27 Fort Santiago  29 Meriam di Intramuros

Fort Santiago didirikan oleh Gubernur Gomez Perez Dasmarinas 1590-1593

7 buah meriam yang menghadap ke arah Teluk Manila di dalam Intramuros

Selanjutnya kami berjalan keliling dinding benteng Intramuros, yang masih tegak nan gagah, relatif utuh dan menyerupai Tembok Besar di Cina. Di situ kami sempat tertegun dalam areal penangkis serangan musuh, berupa pelataran seluas lapangan sepak bola, yang dilengkapi menara pengawas dengan 7 buah meriam yang saat itu menghadap ke arah Teluk Manila. Semua meriamnya masih berada di tempat, meski sudah berkarat dan keropos. Setelah puas membayangkan hebatnya pertempuran saat itu di sekitar benteng Intramuros, kami melanjutkan perjalanan ke Rizal Park dengan pedicub bertarif PP 100 (sekitar Rp. 25 ribu). Perjalanan itu keluar kompleks benteng Intramuros, lewat Jalan Roxas Boulevard yang lebar dan padat kendaraan besar, melewati National Museum yang bercat coklat muda dan gagah.

Rizal Park, diambil dari nama Jose Rizal, pahlawan besar Filipina, adalah taman terbuka yang luasnya sekitar 5 kali lapangan sepak bola. Kami memasuki kompleks dari pintu belakang, melewati beberapa patung setengah badan ukuran sebenarnya, bebarapa pahlawan nasional Filipina. Mereka adalah Rajah Sulayman yang meninggal tahun 1571, Apolinario de la Cruz (1869), Sultan Dipatuan Kudarat (1663), Aman Dangat (1791), Juan Sumuroy (1649), Datu Amai Pakpak (1895), Marcelo Del Pilar (1896), Gregorio Aglipay (1940), Vicente Alvarez (1910), dan Pantaleon Villegas (1989). Patung pahlawan yang lain tidak sempat kami amati. Selain itu, juga ada Chineese Garden, Open Air Auditorium dan Japanese Garden yang menambah kenyamanan siapapun yang datang.

José Protasio Rizal Mercado Alonso Realonda (lahir di Calamba, Laguna, Filipina, 19 Juni 1861 – meninggal di Dapitan, provinsi Zamboanga (Mindanao), Filipina, 30 Desember 1896 pada umur 35 tahun) adalah tokoh bangsa Filipina. Hari peringatan kematian José Rizal adalah 30 Desember dan merupakan hari libur di Filipina yang disebut hari Rizal. José Rizal adalah seorang yang berbakat. Selain seorang dokter, ia juga seorang arsitek, seniman, pendidik, ekonom. etnolog, ahli pertanian, sejarahwan, jurnalis, pemusik, mitologiwan, internasionalis, naturalis, dokter mata, sosiolog, pematung, penyair. penulis drama, dan novelis. Ia menguasai 22 bahasa, di antaranya: Tagalog, Cebuano, Melayu, Tionghoa, Arab, Ibrani, Inggris, Jepang, Spanyol, Catalan, Italia, Portugis, Latin, Perancis, Jerman, Yunani, Rusia, Sansekerta dan dialek-dialek Filipina yang lain. Saat hukuman matinya semakin mendekat, Rizal menulis puisinya yang terakhir, yang, meskipun tidak berjudul, akhirnya dikenal sebagai “Mi Último Adiós” (Selamat Tinggalku yang Terakhir). Puisi ini lebih tepat diberi judul, “Adios, Patria Adorada” (harafiah: “Selamat Tinggal, Tanah Air Tercinta”), dari logika dan tradisi sastranya: kata-kata yang muncul pada baris pertama puisi itu sendiri.

 28 Gerbang IntramurosA  31 Rizal Park Manila
Gerbang Intramuros yang hitam legam,

sisa kejayaan Spanyol

Rizal Park yang menjulang

dan menjadi landmark Manila

Dalam suratnya yang terakhir, dari rangkaian surat-menyurat yang sangat tebal dan tidak ada tandingannya dalam tradisi Asia, kepada Profesor Fernando Blumentritt dari Sudeten, Jerman – Saudaraku tercinta, saat engkau menerima surat ini, aku sudah tiada. Esok pada pk. 7, aku akan ditembak; namun aku tidak bersalah atas tuduhan melakukan pemberontakan… Ia harus meyakinkan sahabatnya bahwa ia tidak pernah berubah menjadi seorang revolusioner, seperti yang pernah dipertimbangkannya, bahwa cita-cita yang diperjuangkan oleh keduanya tetap dipegangnya hingga akhir. Iapun menyerahkan sebuah buku yang secara pribadi dijilidnya di Dapitan untuk ‘sahabat terbaik dan tercintanya’. Ketika orang Austria itu menerimanya, ia menangis dan meratap. Rizal Park dijaga 24 jam sehari, 7 hari seminggu oleh sebuah group tentara dalam upacara militer, dikenal sebagai Kabalyeros de Rizal. Puisinya, “Mi Ultimo Adios” (“Perpisahan terakhir saya”) ditulis pada papan peringatan. Monumen Rizal yang terbuat dari perunggu dan granit telah dianggap sebagai patung landmark paling terkenal di negeri ini. Tidak hanya patung pahlawan nasional, tetapi juga makam yang terletak di dekat tempat di mana Rizal dieksekusi.

Kami kembali ke Central Station untuk naik kereta layang LRT line 1, menuju ke Stasiun Baclaran dan turun di Stasiun Gil Puyat dengan tiket elektrik seharga P15. Rute ini persis kebalikan dengan rute kami saat berangkat. Dari stasiun tersebut, kami menuju Metro Market-Market di areal bisnis Makati, dengan jeepney modern yang ber-AC, TV, video dan tempat duduk menghadap ke depan, berisi 23 tempat duduk dan bertarif P 18. Namun, ternyata kami harus berganti dengan jeepney biasa di sebuah perempatan besar, untuk menuju ke Metro Market-Market dengan tarif P 8. Bangunan modern nan megah itu adalah pusat perbelanjaan 5 lantai, playground, dan foodcourt yang dilengkapi dengan terminal taxi, jeepney dan angkutan kota lainnya. Pengunjungnya sangat padat, tertib antri, disiplin tidak merokok dan menjaga kebersihan.

 30 Pedicab Manila  32 Market-Market di Makati
Pedicub yang mengantar kami

dari Intramuros ke Rizal Park

Metro Market-Market

di areal bisnis Makati, Manila

Setelah puas membeli oleh-oleh makanan kering dan souvenir khas Manila di Market-Market, kami naik angkutan umum milik UV Express Service berupa Toyota Kijang produksi tahun 90, bercat putih. Dengan 11 penumpang dalam angkutan kota tersebut dan tiket seharga P 20, kami diturunkan di Ayala Center. Setelah itu, kami berjalan kaki melewati dan mampir sejenak di Balikbayan Handicrafts yang terkenal di Manila, sampai terminal gabungan bis dan MRT di EDSA. Selain LRT yang melewati rel melayang di udara, di Metro Manila juga ada MRT yang melewati rel bawah tanah. Kami naik bis kota AC ke terminal Cybers di Pasay City dengan tarif P12, untuk berganti bis antar kota. Dari depan Empire Center di Pasay City, kami pulang menuju Tagaytay dengan bis AC San Agustin bercat putih dan kuning, bertarif P 65, dan melalui kota Imus, yang akan kami kunjungi hari berikutnya. Sayang sekali bis sangat penuh penumpang, sehingga kami harus berdiri untuk beberapa saat pada awal perjalanan pulang tersebut. Malam itu kami tertidur kelelahan di kamar hotel.

Acara konggres hari berikutnya sangat padat. Topik ‘Meet the experts’ adalah ‘Antibiotics and Anti-Diarrheals’ oleh Dr. Salvacion Gatchalian dari Filipina dan Dr. Nur Alam dari Bangladesh. Pada ‘Plenary Session’ dan ‘Symposium’ antara lain membahas tentang ‘Rotavirus: Its Impact on Various Childhood Illnesses’, ‘The Global Impact of Rotavirus Vaccines’ dan ‘Vaccine Advocacy: Accessibility, Affordability and Accountability’. Para pembicara pada hari terakhir 13th ASCODD (Asian Conference on Diarrheal Disease and Nutrition) di Taal Vista Hotel, Tagaytay City, Philippines, berasal dari Indonesia, AS, Bangladesh, Thailand dan China.

Setelah penutupan acara konggres, kami melanjutkan petualangan hari keempat kami di Filipina menuju ke kota Imus. Posisinya hampir di pertengahan jalan dari Tagaytay ke Manila dan kami harus membayar tarif P 54 saat turun dari Erjohn & Almark Transit Corp, sebuah bis ekskutif Hino AC mesin diesel di belakang, yang full TV/video. Di Filipina, Bahasa Inggris cukup luas digunakan, termasuk untuk informasi umum yang sering sekali kami temukan di dalam perjalanan, misalnya ‘always use pedestrian line’, ‘Slow down, school zone’, ‘drop zone’, ‘clean air for the next generation’, ‘stright ahead’, ‘no vendor allowed’, ‘badge is not allowed’, ‘how’s my driving? call or text: …’, dan ‘traffict officer’. Data menunjukkan bahwa 95,9% penduduk Filipina bisa membaca, bahkan salah satu yang tertinggi di Asia, dan setara untuk pria maupun wanita. Kami melewati kota Silang dan Dasmarinas, dengan jalan antar kota yang lebar, halus, jarang sekali sepeda motor terlihat dan lalu lintas didominasi kendaraan angkutan umum yang bersih, tertib dan teratur.

 33 Del Pilar Academy  34 Katedral Imus

Del Pilar Academy di Imus

Gereja ‘Our Lady of the Pillar Parish’,     Katedral di Imus

Penduduk Filipina mayoritas (80%) beragama Katolik, hal ini disebabkan Filipina merupakan bekas jajahan Spanyol yang memiliki tradisi Katolik yang sangat kuat, dilanjutkan dengan Protestan 10%, hal ini karena Filipina selanjutnya dijajah Amerika Serikat, kemudian Islam 5% yang mayoritas berada di Pulau Mindanao, lalu Buddha 2,5% yang merupakan penduduk pendatang dari Korea Selatan, Republik Rakyat China, Malaysia, Singapura, Jepang, India, dan Vietnam. Sebanyak 0,4% warga Filipina jujur menyatakan dirinya Atheis, dan 2,1% beragama lain.

Kami turun di ‘crossing highway’ atau perempatan jalan antar kota, di pinggiran kota Imus. Kami menggunakan tricycle untuk mampir di Del Pilar Academy dan mencari Mrs. Tessie Cruz, seorang ipar Sr. Dr. Conchita Cruz, SSpS, yang bekerja di bagian administrasi sekolah tersebut. Sr. Dr. Conchita Cruz, SSpS adalah kolega dan senior kami di RS St. Elisabeth Lela, Flores, NTT pada tahun 1991-1994. Sayang sekali, beliau tidak ada di tempat dan kami hanya dapat menitipkan salam hangat dari Sr. Conchita dan salam kenal dari kami, sebelum berfoto sejenak di situ. Kami melanjutkan perjalanan ke Gereja Katedral Imus yang didirikan pada tahun 1861 dan dinamakan ‘Our Lady of the Pillar Parish’ di Jl. Jenderal Castaneda no 2711, Imus Cavite. Katedral yang dinding luarnya sudah nampak pudar tertelan umur itu, warna dominannya cokelat. Pilar yang besar di dalamnya tersusun dari bata merah yang tidak diplester, sehingga nampak perpaduan merah dan coklat yang tersusun rapi. Di belakang altar tampak salib besar dengan patung Yesus tidak dalam posisi disalib, tetapi justru dalam posisi terangkat ke sorga. Di seberang katedral terdapat Municipal Government of Imus Cavite yang berarsitektur abad ke 17, tetapi tetap masih digunakan sebagai kantor dengan 4 buah tiang besar dan bendera nasional Filipina yang berkibar. Di depannya juga terdapat taman terbuka seluas lapangan sepak bola dengan patung Mayor Licerio Topacio yang gagah dan 2 buah meriam penangkis serangan udara peninggalan Perang Dunia II. Setelah berfoto dan istirahat sejenak di tepi taman dalam keteduhan bayangan pohon besar, kami pulang ke Tagaytay dengan bis Lorna Express cat putih kuning, yang berupa KIA Diesel mesin di belakang, bis AC ekonomi dengan tarif P 58 (sekitar Rp. 12.000). Setelah turun di Olivarez Plaza dengan selamat, kami coba makan palabok, salah satu menu khas Tagaytay di Jollibee Restourant di Tagaytay Jucntion. Palabok terbuat dari bihun, udang, telor, ayam krispi, bumbu dan saus yang empuk, lezat dan memikat seharga P 124. Filipina sebenarnya paling terkenal dengan kehebatan pertanian padi di bukit, yang diperkenalkan kira-kira 2.000 tahun lalu oleh suku Batad. Padi-padi yang ditanam di bukit tersebut terletak di lereng-lereng Gunung Ifugao dan berada di ketinggian 5.000 kaki dpl. Luasnya mencakup 4.000 mil² serta diusahakan secara tradisional tanpa penggunaan pupuk. Hal ini telah dinyatakan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO (Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan) pada tahun 1995. Dengan demikian, wajar sekali rasanya kami sangat bersemangat untuk mencoba menu khusus, yaitu palabok dengan bahan tepung beras dari bukit di lereng Gunung Ifugao.

 Imus  Imus 1
Municipal Government of Imus Cavite

yang berarsitektur abad ke 17

Jeepney di Katedral Imus,

Yang gaya dan mengkilap

Kemudian kami mengunjungi ‘IKA 41 Dibisyon Hukbong Katihan Ng Pilipinas’ atau disebut ’41st Devision USAFFE Marker’. Monumen pertempuran tersebut menggambarkan kekalahan tentara AS yang berlangsung pada 1 September sampai 25 Desember 1941. Saat itu mereka dipukul mundur tentara Jepang pada awal Perang Dunia II. Monumen tersebut berupa prasasti berbahasa Tagalog, ruang diaroma pertempuran dan patung seorang tentara AS bercelana pendek dalam seragam tempur saat itu. Seperti diketahui bersama, setelah kekalahan yang memalukan itu, segera terbentuk area Pasifik Barat Daya merupakan salah satu arena Perang Dunia II di kawasan Pasifik, antara tahun 19421945. Area Pasifik Barat Daya termasuk Filipina, Hindia-Belanda (tak termasuk Sumatera), Borneo, Australia, Wilayah Guinea Baru (termasuk Kepulauan Bismarck), bagian barat Kepulauan Solomon, dan beberapa wilayah di sekitarnya. Dalam wilayah tersebut, tentara Kekaisaran Jepang berperang melawan tentara AS dan Australia. Sebagian besar tentara Jepang merupakan bagian dari Kelompok Pasukan Ekspedisi Selatan, yang dibentuk pada tanggal 6 November 1941, di bawah Jenderal Hisaichi Terauchi (juga dikenal sebagai Graf Terauchi), yang diperintahkan untuk menyerang dan menduduki wilayah Sekutu di Asia Tenggara dan Pasifik Selatan. Pada tanggal 30 Maret 1942, komando Wilayah Pasifik Barat Daya Sekutu (SWPA) dibentuk dan Jenderal Douglas MacArthur diangkat sebagai Komandan Tinggi Sekutu untuk Wilayah Pasifik Barat Daya. Pertempuran Laut Filipina adalah pertempuran laut penting dalam Perang Dunia II antara AL AS dan Jepang. Pertempuran ini berlangsunga antara tanggal 1920 Juni 1944 dekat Kepulauan Mariana, dan melibatkan 2 AL yang besar dan banyak pesawat Jepang dari markas di daratan. Pertempuran ini adalah kekalahan besar AL Jepang, yang kehilangan 3 kapal induk dan sekitar 600 pesawat selama 2 hari itu. Hal ini terjadi karena pesawat Kekaisaran Jepang sudah tua dan kurang terlatih, dibandingkan dengan angkatan AS yang lebih modern dan baik. Setelah pertempuran ini, AL Jepang hampir hancur sepenuhnya. Kemenangan Sekutu ini membuka pintu untuk serangan legendaris ke Iwo Jima, yang kemudian akan mengakhiri Perang Dunia II.

 35 Monumen USAFFE  36 Monumen the Praying Hand

’41st Devision USAFFE Marker’, dengan patung tentara AS saat PD II

The Praying Hands (Gateway to the City of Character), lambang kota Tagaytay

Sayang sekali, monumen ’41st Devision USAFFE Marker’ itu tidak lagi dikenal oleh sebagian besar warga Tagaytay yang sangat menyulitkan kami saat bertanya mencarinya. Selain itu, tampak sudah kurang terawat, meski terletak di pinggir jalan utama Aguinaldo Highway, bahkan di samping kantor PLDT (Philippine Long Distance Telephone) yang cukup ramai pengunjung dan monumen The Praying Hands (Gateway to the City of Character) yang menjulang. Selanjutnya kami melihat monumen baru di sebelahnya, yaitu The Praying Hands, yang lebih megah, menggambarkan 2 buah tangan yang sedang berdoa, dan didominasi warna cokelat. Monumen yang menjabarkan ayat Perjanjian Lama (Heb 4,16) tersebut diresmikan pada tanggal 4 November 2002. Saat itu bertepatan dengan ‘the year of our Lord’ oleh Hon. Francis N Tolentino, walikota Tagaytay.

Selanjutnya kami menikmati kembali, perjalanan pulang ke hotel menggunakan jeepney. Kendaraan pengangkut penumpang yang merupakan ciri khas dan kebanggaan warga Filipina itu, merupakan modifikasi jeep tentara AS saat Perang Dunia II. Jeepney sekarang tinggal jiwanya yang jeep, lainnya sudah berubah total. Bodinya dari baja putih mengkilat atau seng yang redup, lambang depan sudah bintang tiga arah dalam lingkaran seperti Mercedez-Benz, chasis sudah diperpanjang seperti limousine, mesin sudah diesel, pemutar musik sudah digital dan ban sudah dalam velg standar mobil caravan. Di jeepney terkandung kebanggaan produksi otomotif nasional Filipina, prioritas politik pemerintah untuk meningkatkan kendaraan umum yang nyaman, bukan mobil pribadi yang membuat jalanan macet, kejujuran penumpang untuk membayar, bantuan atau kerja sama dengan penumpang lain untuk beranting menyerahkan pembayaran maupun uang kembalian karena panjangnya kabin penumpang, dan juga ketertiban jadwalnya, sehingga warga Filipina cenderung lebih nyaman menggunakan angkutan umum, dibandingkan menjalankan motor atau mobil pribadinya. Orang-orang Filipina dikenal dengan nama Filipino yang berasal dari orang asli Taiwan dan bercampur dengan orang-orang Tiongkok Selatan, Polinesia, dan Spanyol atau Amerika. Orang Filipina terbagi dalam 12 kelompok etnolingustik dengan yang terbesar adalah Tagalog, Cebuano, dan Ilocano. Penduduk asli Filipina ialah suku Aeta namun sudah terpinggirkan dan populasinya tinggal 30 ribu jiwa.

 37 Jeepney  Jeep
Jeepney di sebuah pom bensin

di Tagaytay Rotonda

Jeep rendah & motor besar di Giligan Restaurant dalam The Summit Ridge

Kami segera pulang ke hotel, untuk berkemas-kemas dan menyiapkan perbekalan perjalanan pulang ke Indonesia. Kami membeli Kare-kare beef, yang juga menu khas Filipina, di Giligan Restaurant dalam kompleks The Summit Ridge seharga P 225 porsi untuk 2 orang. Kare-kare beef yang dibungkus itu mengandung kacang panjang, sawi, terong, daun selada, daging sapi dan bumbu kacang untuk kuah yang gurih, yang akan kami makan dengan sambal terasi untuk makan malam di kamar hotel, sebelum kami check out.

Perjalanan pulang ke Jakarta direncanakan akan transit sebentar di Bandara Changi Singapura, dengan menggunakan maskapai Philippine Airlines, yaitu sebuah pesawat berbadan lebar Airbus A320-200 dengan kode PE 503, yang berangkat dari terminal II NAIA (Ninoy Aquino Internaitonal Airport) di Manila. Philippine Airlines ternyata merupakan maskapai penerbangan pertama di Asia. Penerbangan tersebut terjadi pada 15 Maret 1941 dengan sebuah pesawat bermesin ganda Beech Model 18, yang terbang sejauh 212 km dari Manila ke Baguio Ciyu, dengan mengangkut 5 orang penumpang. Selama terjadi Perang Dunia II pada Desember 1941, maskapai ini dikuasi militer dan banyak pesawatnya yang tertembak jatuh. Pada periode setelah perang, maskapai ini beroperasi lagi, yaitu sejak 14 Februari 1946, dengan 5 buah pesawat bekas militer Douglash DC3s. Mulai bulan Juli 1946, maskapai ini menyewa DC4s untuk mengakut tentara AS ke Oakland di California, dan peristiwa ini merupakan penerbangan maskapai Asia pertama menyeberangi Samudera Pasific. Pada 12 Mei 1947, maskapai ini juga merupakan maskapai Asia pertama yang menerbangkan penumpang ke Eropa, yaitu penerbangan terjadwal ke Madrid, Spanyol. Pada dekade 1970-an maskapai ini telah menjangkau 2/3 belahan dunia. Saat ini Philippine Airlines memiliki 36 pesawat, termasuk 5 buah pesawat super jumbo B747-400 yang berkapasitas 383 penumpang dan pesawat terbaru adalah 2 buah B777-300ER, yang dimiliki sejak November 2009.

Seluruh penjelajahan di Filipina ini dapat terwujud karena persiapan yang cukup, bantuan yang layak dan restu yang banyak dari berbagai pihak, dengan menghabiskan 4 hari 5 malam dan dana 1,5 kali lipat gaji resmi selama sebulan. Demikian laporan perjalanan ini, semoga bermanfaat bagi banyak orang. Terima kasih.

sekian

ditulis di pinggir kolam renang Taal Visa Hotel di Tagaytay City, Filipina

12 Januari 2012

*) pelancong Jawa berdana cekak.

Categories
Healthy Life Jalan-jalan sekolah

2018 NEW YORK HARI KEEMPAT (Washington, DC)

 

NEW YORK  HARI  KEEMPAT

(WASHINGTON  DC)

fx. wikan indrarto*)

 

Pada Kamis, 22 Maret 2018, saat kami akan berangkat mengikuti ‘The 16th Annual World Congress on Pediatrics’, yang diselenggarakan di Hilton New York JFK Airport Hotel, 135th Avenue, Jamaica, New York 11436 USA, ada email masuk. Kami dikagetkan oleh email masuk tentang ‘Important Amtrak Alert’ yang isinya ‘schedule to Washington DC has been cancelled, due to a schedule change’, terkait serangan badai salju hari sebelumnya. Untunglah teman baik kami, Christine N. Tedjopranoto yang asli Purwokerto Jawa Tengah dan tinggal di kota Charlotte, North Carolina USA, segera tampil membantu kami. Apa yang menarik?

 

Pada Day 2 Congress : March 22, 2018, kami sempatkan mengikuti Keynote Forum dengan tema Keynote : ‘Pediatric Cochlear Implantation’ yang dibawakan oleh Prof. Susan B. Waltzman, PhD yang merupakan Professor of Otolaryngology and Co-Director of the NYU Cochlear Implant Center, New York University School of Medicine, USA. Pada intinya oleh karena pemeriksaan skrining pendengaran pada bayi baru lahir dan alat evaluasi yang digunakan lebih baik, sekarang lebih banyak anak dengan gangguan pendengaran parah sudah mampu didiagnosis saat bayi. Hal ini akan memberikan kesempatan untuk akses anak ke implantasi koklea. Para dokter perlu mempertimbangkan semua aspek implantasi koklea pada bayi, termasuk aspek keamanan dan khasiat pada bayi yang sangat muda. Risiko anestesi, volume darah, ukuran, ketebalan, dan pertumbuhan tengkorak, serta posisi alat yang digunakan.

 

 di 4. Konggres
‘The 16th Annual World Congress on Pediatrics’ Sebelum sesi Keynote Forum dimulai

 

 

Pembicara Keynote Forum selanjutnya adalah Professor Elisabeth Utens dari Erasmus University Medical Centre, Rotterdam and University of Amsterdam, Nedherland. Dengan tema Keynote tentang Eye Movement in children, menjelaskan bahwa sekitar 3 dari setiap 10 anak dan remaja yang dirawat di rumah sakit atau menjalani operasi invasif dan atau menyakitkan, akan berkembang menjadi Post Traumatic Stress Syndrome (PTSS), meskipun subklinis. Selain itu, sekitar 1 dari 10 anak bahkan mengalami PTSS penuh yang dapat berdampak serius pada kualitas hidup, fungsi psikososial dan dapat mengakibatkan keluhan psikiatri jangka panjang. Sebagian besar anak yang menjalani rawat inap atau operasi tidak diskrining untuk keluhan PTSS dan tidak menerima bantuan psikolog. EMDR terbukti efektif dan diterapkan secara struktural di Erasmus MC Sophia. EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing) merupakan metode psychoterapi yang lebih efektif dalam mengatasi PTSD (Post Traumatic Stress Disorder). Di Indonesia telah resmi di buka pada tahun 2008. Metode ini di temukan oleh Francine Shapiro pada tahun 1987. Kerjasama yang baik antara dokter spesialis medis dan psikoterapis perilaku kognitif diperlukan untuk perawatan psikososial yang optimal.

Pembicara yang cukup kontroversial dan mendapat apresiasi peserta adalah saat Keynote Forum ketiga, dengan tema Keynote : ‘Grounds and first results of the new doctrine of acute pneumonia’.  Professor Dr. Igor Klepikov PhD dari Dana Children’s Hospital Sourasky Medical Center Tel Aviv Sourasky Medical Center and Russian State Institute for Post-graduate Medical Studies Novokuznetsk, Russia. Intinya bahwa pengobatan pneumonia akut saat ini hanya berfokus pada terapi antibiotik dan mengulangi prinsip pengobatan penyakit peradangan lainnya. Dampaknya adalah mengurangi efektivitas obat antimikroba, kemunculan dan peningkatan jumlah patogen resisten antibiotik dan peningkatan frekuensi komplikasi purulen. Dasar doktrin pendekatan yang baru didasarkan pada aksioma ilmiah berikut : Pertama, respon tubuh terhadap stimulus apapun, termasuk peradangan, sangat individual dan unik. Kedua, transformasi inflamasi jaringan tubuh adalah reaksi vaskular dengan urutan tahap tertentu. Ketiga, sirkulasi darah kecil dan sistemik tidak hanya memiliki hubungan langsung, tetapi juga hubungan terbalik. Keempat, di antara bentuk peradangan nonspesifik pneumonia akut adalah satu-satunya proses yang terjadi dalam sistem sirkulasi darah kecil. Dan kelima, adalah prosedur medis yang sama dapat memiliki efek yang berbeda terhadap peradangan pada sirkulasi darah kecil atau besar. Untuk itu, kemungkinan pencegahan komplikasi supuratif dan destruktif dari penyakit pneumonia akut ini haruslah dicermati.

Kami masih sempatkan mengikuti Keynote Forum keempat, dengan tema Keynote: ‘Education Opportunities in Children with Mental Health Disorders.’ oleh Dr. Petrovic-Dovat is a Director of the Child and Adolescent Anxiety Disorder Program at the Penn State Hershey College of medicine, Pennsylvania State University, USA. Pada dasarnya disebutkan bahwa hanya sekitar 25% anak dengan penyakit jiwa yang ditangani oleh psikiater anak. Dokter spesialis anak sering menjadi dokter pertama bagi sebagian besar anak dengan masalah kesehatan mental dan perilaku. Namun kemampuan mereka untuk berhasil mengelola penyakit jiwa belum pernah diteliti. Dukungan pendidikan tambahan diperlukan, untuk dokter spesialis anak pada layanan  primer dalam merawat anak dengan masalah kesehatan mental.

 

Setelah sesi Keynote Forum keempat selesai, segera kami kembali melanjutkan petualangan cepat ke jantung kekuatan finansial New York, yaitu downtown Manhattan. Kami langsung naik subway Line J dari Jamaica ke Broad Street (downtown) untuk menuju ke sebuah patung yang disebut ‘Charging Bull’ atau arti harafiahnya Banteng Pengisian, yang kadang disebut sebagai Wall Street Bull atau Bowling Green Bull, karena patung perunggu tersebut berdiri di Bowling Green di Financial District di Manhattan, New York City. Rancangan awalnya adalah seni liar (originally guerrilla art), yang dipasang secara tidak resmi oleh Arturo Di Modica. Namun demikian, oleh karena popularitasnya membuatnya menjadi fitur patung yang permanen. Kegagahan banteng tersebur seolah menunjukkan keperkasaan Wall Street sebagai kekuatan finansial global.

 4 Bu Elsye  4 Buffalo

Kami mampir di Kantor Ibu Elsye yang berlokasi di Broad Street no 90 downtown Manhattan NYC

‘Charging Bull’ lambang keperkasaan Wall Street sebagai kekuatan dan keperkasaan finansial global

 

Setelah itu, kami mampir di Kantor Ibu Elsye yang berlokasi di Broad Street no 90, Manhattan, untuk mengembalikan jaket musim dingin yang kami pinjam dan telah melindungi kami dari dekapan duingin salju. Selanjutnya kami menikmati Indian Museum atau The National Museum of the American Indian, yang gagah menjulang tidak jauh dari kantor Ibu Elsye yang baik hati, di samping American Film Academy dan patung perunggu yang disebut ‘Charging Bull’. Pada museum warga asli Amerika atau Infinity of Nations, menampilkan lebih dari 700 benda di dalam gedung megah yang sebelumnya merupakan rumah Alexander Hamilton. Bangunan ini dirancang oleh Cass Gilbert, yang juga mendesain Woolworth Building di utara Broadway, dalam gaya Beaux Arts. Di luar gedung ada 12 patung termasuk Christopher Columbus, yang diakui sebagai penemu Amerika, yang dirancang oleh Daniel Chester French. Dibangun antara tahun 1900 dan 1907, gedung ini menghadap Bowling Green, ruang publik pertama di New York City.

 

 3 WTC  4 Museum Indian
Turun di WTC dari subway Line Jtujuan Jamaica ke Broad Street

Patung Christopher Columbus di gerbang The National Museum of the American Indian

 

Oleh karena terjadi perubahan jadwal keberangkatan kereta api Amtrak ke Washington, DC, maka kami masih ada sisa waktu untuk kami gunakan menikmati Times Square. Dari Bowling Green kami naik subway uptown Line R untuk turun di Times Square. Tempat ini tidak jauh dari Penn Station, untuk keberangkatan KA Amtrak ke Washington, DC, sehingga kami pilih sebagai tempat untuk menunggu. Times Square adalah persimpangan jalan, wahana komersial utama, tujuan wisata, pusat hiburan dan sebuah arena di bagian Midtown Manhattan di New York City, tepatnya di persimpangan Broadway dan Seventh Avenue. Areal ini terang dihiasi dengan papan iklan yang menyala penuh warna, gambar gerak ataupun video iklan, meskiun pada siang hari yang cerah sekalipun. Times Square kadang-kadang disebut sebagai “The Crossroads of the World”, “The Centre of the Universe”, “The Great White Way”, dan “hati dunia”. Times Square merupakan salah satu kawasan pejalan kaki tersibuk di dunia, juga merupakan pusat Distrik Teater Broadway dan pusat utama industri hiburan dunia. Times Square adalah salah satu tempat wisata yang paling banyak dikunjungi di dunia, yang menarik sekitar 50 juta pelancong setiap tahunnya. Sekitar 330.000 orang melewati Times Square setiap hari, banyak dari mereka adalah wisatawan, sementara lebih dari 460.000 pejalan kaki telah berjalan melalui Times Square pada puncak hari tersibuk.

 

 4 Times 1  4 Times 4

Papan iklan di Times Square yang disebut “The Crossroads of the World”

Makan-makan sambil melihat banyak sekali orang lalu lalang di Times Square

 

Sebelumnya dikenal sebagai Longacre Square, Times Square diganti namanya pada tahun 1904 setelah The New York Times memindahkan kantor pusatnya ke Gedung Times yang baru saja didirikan, yang sekarang disebut One Times Square. Di tempat tersebutlah berlokasi atraksi kembang api dan bola Malam Tahun Baru tahunan yang dimulai pada 31 Desember 1907, dan berlanjut sampai hari ini, yang mampu menarik lebih dari satu juta pengunjung ke Times Square setiap tahun.

 

Setelah puas berfoto, makan-makan sambil melihat banyak sekali orang lalu lalang, selanjutnya kami naik subway downtown Line 1 untuk turun di ke Penn (Pennsylvania) Station, sebuah stasiun interkoneksi yang sagat besar dan ramai penumpang, untuk ganti kereta api menuju ke Wasington, DC, ibukota AS. Kami naik kerata api cepat antar kota, yang dioperasionalkan oleh Amtrak. Amtrak adalah nama layanan dari National Railroad Passenger Corporation (Perusahaan Kereta Api Penumpang Nasional), sebuah perusahaan semi-pemerintah yang dibentuk 1 Mei 1971, untuk memberikan layanan kereta api penumpang antarkota di daratan Amerika Serikat. Nama “Amtrak” berasal dari gabungan kata “American” dan “track”.

 

 4 Amtrak 1  4 Amtrak 2

Eksterior gerbong Amtrak di Penn (Pennsylvania) Station New York, milenial yang nampak kokoh dan garang

Interior ala pesawat di gerbong Amtrak kelas ekonomi, kursi terlalu besar untuk kami karena ukuran American standard

 

Amtrak memiliki hampir 19.000 pegawai. Rute kereta api penumpang yang dioperasikan mencakup 500 kota tujuan di 46 negara bagian, dengan total jarak sejumlah 33.800 km di atas rel kereta api, yang sebagian besar justru dimiliki oleh perusahaan kereta api lain, termasuk beberapa kota di Kanada. Pada tahun fiskal 2006, Amtrak mengangkut sejumlah 24,3 juta penumpang, dan sekaligus menjadi rekor jumlah penumpang terbanyak yang pernah diangkut Amtrak. Sejarah Amtrak bermula dari layanan kereta api penumpang swasta di Amerika Serikat yang terus mengalami kemunduran, sejak sekitar tahun 1920 hingga tahun 1970. Sebagai tindak lanjut, Amtrak dibentuk oleh Konggres dan Presiden AS pada tahun 1971. Sepanjang sejarahnya, perusahaan ini telah mengalami pasang surut akibat permainan politik, kekurangan modal, dan gangguan teknis pada jalur kereta api. Belakangan ini keadaan perusahaan semakin sehat, dan pada tahun 2000-an telah menyelesaikan proyek rel kereta api di daerah timur laut Amerika Serikat, sementara pesaing utama Amtrak, terutama perusahaan penerbangan menghadapi masalah kepailitan dan kenaikan harga bahan bakar.

 

 4 Salju  4 Washington

Badai salju sudah hampir selesai, sebuah pengalaman unik

Tiba di Union Station Washington DC, setelah usai badai salju

 

Kami naik Train 93 meninggalkan Penn Station di central Manhattan New York pk. 2.02 PM untuk menuju ke Union Station di Washington, DC, menempuh jarak total 476,14 km. Kami sempat berhenti di stasiun Newark di New Jersey, Metropark, Princeton, Trenton, Philadelphia, Wilmington, Baltimore, BWI Marshall Airport, New Carollton dan turun di Union Station Washington DC, yang merupakan salah satu stasiun tertua sekaligus markas Amtrak. Meski tidak muda lagi, stasiun ini tetap terawat dan masih memancarkan pesona keindahan arsitektur klasik. Selain megah, stasiun yang dibangun pada awal abad ke-10 itu juga memiliki beragam tempat nongkrong sehingga banyak orang yang betah menghabiskan waktu di sana Data ‘Federal Railroad Administration Office of Safety Analysis’ menyebutkan jumlah kecelakaan Amtrak menurun sejak 2010. Pada 2015 terjadi 40 kecelakaan, turun satu angka dari tahun sebelumnya. Rasanya tidak heran jika Amtrak selalu dibanjiri penumpang. Setalah menemuh perjalanan seekiatr 3,5 jam, kami sampai di  Union Station di pusat kota Washington, DC

 

 4 Union 4

Arsitektur Union Station di pusat kota Washington, DC beraura mewah dan bergaya klasik yang sudah beroperasi sejak tahun 1907.

 

 

Bangunan dengan arsitektur beraura mewah dan bergaya klasik ini sudah beroperasi sejak tahun 1907. Pengunjung pun dapat menikmati ruang tunggu utama di stasiun tua ini yang dibangun dengan ketinggian 29 meter. Saat menjejakkan kaki ke dalam stasiun, kami langsung merasakan atmosfer berbeda, sebab memang seperti tengah berdiri di sebuah istana transportasi darat. Setelah keluar dari pintu gerbang sekitar pk. 5.30 sore, kami segera mengabadikan sisi luar bangunan Union Station yang artistik, dalam foto dari berbagai sudut, di pusat kota Washington, DC.

 

 4 Amtrak  4 Union

Lokomotif Amtrak yang membawa kami ke Washington, DC

Sisi dalam bangunan Union Station yang artistik di pusat kota Washington, DC

 

Washington, DC (singkatan dari District of Columbia) didirikan tahun 1790. Kota di pinggir Sungai Potomac ini didesain arsitek Perancis, Pierre Charles L’Enfant, sebagai ibu kota negara. Rancangannya bergaya Eropa abad pertengahan. Hingga kini, gedung-gedung lama peninggalan masa itu masih terjaga. Bangunan itu rata-rata bergaya neoklasik, georgian, atau gotik dengan tiang-tiang besar dan beberapa ornamen. Namun, bangunan baru cenderung bergaya modern, bebas, meski tetap berangkat dari kebutuhan fungsi. Semua gedung di kota itu tak boleh lebih tinggi dari United States Capitol dan Washington Monument.

 

Selanjutnya kami berjalan kaki melawan desiran angin sangat dingin, dari Union Station menuju bangunan megah yang disebut ‘The United States Capitol’. Kami segera memasuki area National Mall, yang relatif masih cukup terang pada sore menjelang malam itu dan tujuan pertama kami adalah kantor Kongres Amerika Serikat, yakni U.S. Capitol dengan pemandangan yang luar biasa elok, selain interior rapi dan cantik pada gedung yang beralamat di East Capitol St NE & First St SE, Washington, DC 20004. Gedung yang didirikan tahun 1800-an dengan arsitek William Thornton itu memiliki kubah besar bergaris di bagian tengah.

 

 

 4 Union 5  4 Capitol
United States Capitol  Building di siang hari yang cerah United States Capitol Buildingdi sore  hari yang redup dan dingin

 

White House, Washington Monument, dan United States Capitol berdiri pada titik segitiga di jantung kota Washington, DC. Pada jarak lurus antara Washington Monument dan United States Capitol, terdapat jalur besar yang biasa disebut National Mall. Dari jalur terbuka inilah, para wisatawan leluasa mengamati kota. Tiga bangunan itu merefleksikan semangat kebangsaan modern AS. White House mewakili kekuasaan eksekutif. United States Capitol mencerminkan ruang kebebasan dari para wakil rakyat. Washington Monument tanda kenangan sejarah bangsa modern yang merdeka tahun 1776 itu.

 

Selanjutnya kami naik Metrobus Line 32 bertarif $ 2, yang harus kami bayar tunai karena Metrocard Washington dan New York belum terkoneksi, untuk mengunjungi The White House atau Gedung Putih, dengan berjejal di antara ratusan turis lain, sebelum hari gelap. Rumah tempat tinggal resmi presiden Amerika Serikat (AS) itu termasuk Barack Obama, yang menjadi Presiden Ke-44 AS dan pernah mengunjungi Yogyakarta, memang punya daya tarik tersendiri. Gedung Putih memang tidak terlalu besar, apalagi jika dibandingkan arsitektur kontemporer yang besar-besar. Namun, bangunan hasil rancangan arsitek James Hoban dan dibangun tahun 1792 itu adalah ikon kota, bahkan ikon AS. Brosur resmi terbitan The White House Visitor Center mencatat, gedung itu merupakan bangunan publik tertua di kota Washington, DC.

 

Rumah bergaya georgian yang saat kami datang sudah diselimuti gelap awal malam, menjadi tempat tinggal resmi para presiden AS sejak Presiden Kedua AS Johan Adams, tahun 1800. Jadi, selama 200-an tahun lebih, orang-orang nomor satu di negeri itu tinggal di sana, termasuk Barack Obama dan Donald Trump. Gedung Putih berdiri di sudut tak jauh dari kawasan terbuka di tengah kota yang biasa disebut National Mall.

 

 4 White  4 WhiteHouse 1
Gedung Putih di Washington, DC,tempat tinggal resmi presiden AS

Gedung Putih (White House) di malam yang dingin dan tidak boleh lagi didekati

Gedung Putih yang terletak di 1600 Pennsylvania Avenue di Washington, DC,  merupakan tempat tinggal resmi presiden dan keluarganya selama masa jabatannya sebagai presiden. Saat seorang presiden baru terpilih, presiden yang lama segera pindah. Gedung Putih (White House) juga menjadi kantor, di mana presiden menjalankan pemerintahan. Sangat disesalkan bahwa, kami tidak mampu mendekat Gedung Putih, selain karena gelap malam sudah menutupinya, desiran angin dingin sudah membekukan badan dan masa kunjungan wisatawan sudah habis malam itu.

 

Dari lapangan terbuka di depan Gedung Putih itu, kami melihat The Washington Monument, sebuah tugu (obelisk) peringatan untuk mengenang pemimpin Tentara Kontinental yang sudah membuat Amerika Serikat merdeka dari jajahan Inggris dan sekaligus juga Presiden Amerika Serikat pertama, George Washington. Bangunan ini didesain arsitek Robert Mills dan diresikan pada tahun 1848. Bentuknya sederhana, mirip tonggak lurus lancip setinggi 555 kaki lebih atau sekitar 169.294 meter. Berbahan batu marmer, granit, dan batu pasir putih, tugu itu tampak menonjol. Dari seberang Sungai Potomac, monumen itu seperti tonggak putih yang angkuh.

 

Lurus di depan The Washington Monument, terdapat taman peringatan Lincoln Memorial dan Vietnam Veterans Memorial. Di samping kanan tugu, ada dua taman peringatan lain, yaitu Franklin Delano Roosevelt Memorial dan Thomas Jefferson Memorial. Ketiganya presiden AS yang dikenang dengan berbagai jasa. Di tengah pertigaan jalan, banyak dibuat taman melingkar. Di situ, berdiri patung-patung para jenderal dari masa-masa peperangan. Beberapa di antara mereka naik kuda dengan gagahnya, yang tidak dapat lagi kami ambil fotonya karena gelap malam sudah menutupinya.

 

 

 4 Panorama  4 White House

Panorama The Washington Monument, Lincoln dan Vietnam Veterans Memorial

White House di malam yang dingin dan tidak boleh lagi didekati

 

 

 

Rasanya kami belum lengkap melihat, saat berkunjung ke Washington DC, karena hari sudah gelap, angin bertiup semakin dingin dan badan sudah lelah, pada hal kami belum mengunjungi Lincoln Memorial, untuk memperingati jasa Abraham Lincoln, Presiden Amerika Serikat ke-16. Lincoln Memorial ini adalah bangunan megah nan klasik, yang merupakan salah satu obyek wisata yang menarik karena saat memasuki kawasan ini, maka mata kita akan dimanjakan dengan arsitektur yang sarat gaya kuil Yunani.

 

Sayang sekali, kami tidak sempat berfoto di dekat patung Abraham Lincoln dengan ukuran yang cukup besar. Patung yang menghiasi bangunan ini memiliki ketinggian 5,8 meter dengan bobot total 159 ton. Lincoln dinilai sebagai presiden AS yang paling hebat sepanjang sejarah Amerika, yang ditembak di teater Ford, Washington DC pada 14 April 1865 dan meninggal keesokan harinya pada usia 56 tahun. Pembunuhnya, John Wilkes Booth adalah pemain sandiwara yang memiliki gangguan jiwa, ia juga salah seorang pendukung Konfederasi yang menentang diserahkannya tentara Konfederasi kepada pemerintah, setelah berakhirnya perang saudara. Presiden Lincoln dimakamkan di Springfield, AS dan dikenang Amerika dan dunia sebagai pejuang demokrasi karena jasa-jasanya.

 

 4 Lincoln  4 Capitol 1
Lincoln Memorial, untuk memperingati jasa Abraham Lincoln, Presiden AS ke-16 Gedung Mahkamah Agung  (Supreme Court) AS yang megahdi depan United States Capitol

 

Dalam survei pemeringkatan Presiden AS sejak tahun 1940-an, Lincoln secara konsisten di peringkat tiga besar, sering nomer 1. Sebuah studi 2004 menemukan bahwa para sarjana di bidang sejarah dan politik peringkat Lincoln nomor satu, sementara sarjana hukum menempatkannya kedua setelah Washington dari semua polling peringkat presiden yang dilakukan sejak tahun 1948, Lincoln telah dinilai di bagian paling atas di sebagian besar jajak pendapat. Umumnya, tiga presiden yang dinilai sebagai no 1 Abraham Lincoln, no 2 George Washington, dan no 3 Franklin D. Roosevelt. Potret Lincoln muncul di dua denominasi mata uang Amerika Serikat, penny dan kertas $ 5.

 

 

 

 4 Was  4 Washington Monumen
The Washington Monument didesain arsitek Robert Mills dan diresmikan pada tahun 1848, tonggak lurus lancip setinggi 555 kaki The Washington Monument untuk mengenang pemimpin Tentara Kontinental dan sekaligus juga Presiden AS pertama, George Washington

 

 

Setelah kelelahan karena berhari-hari berjalan kaki jauh, juga kelaparan karena hembusan angin dingin paska badai salju, kami segera memutuskan kembali masuk ke Union Station. Malam itu kami menghabiskan waktu di ruang tunggu stasiun yang hangat dan tersedia wifi gratis, sampai tiba saat kami harus kembali naik Amtrak untuk menuju Penn Station di central Manhattan New York. Kami naik Train 151 meninggalkan Union Station di Washington, DC, yang kembali menempuh jarak total 476,14 km.

 

sekian

 

Ditulis dari Terminal 1 Hong Kong International Airport, saat transit 4 jam sekembalinya dari New York dan disebarkan dari ruang tunggu F4 Bandara Soekarno Hatta Tangerang, Banten, sebelum terbang ke Denpasar Bali.

 

Minggu, 25 Maret 2018.

 

*) penikmat jalan2 murah

Categories
anak Healthy Life Jalan-jalan Malaria sekolah

2010 NOSTALGIA DI FLORES

NOSTALGIA  DI  FLORES

fx. wikan indrarto*)

Untuk merayakan rahmat Tuhan bagi keberhasilan sekolah anak-anak, kami merencanakan jalan-jalan (pesiar) untuk bernostalgia ke Pulau Flores. Di sanalah kami pernah bertugas dan mas Yudhi, anak kami yang sulung, dilahirkan. Kami berangkat dari Yogyakarta hari Rabu, 23 Juni 2010 pk. 16.05 wib dengan KA Ekskutif Sancaka dari Stasiun Tugu, Yogyakarta ke Surabaya. Sekitar pk. 21.15 wib di Stasiun Gubeng dekat Kali Mas di pusat kota Surabaya kami dijemput Dr. Daniel Ponco, SpB, dokter bedah di RS RKZ St. Vincent A. Paulo dan teman lama semasa SMA, lalu menginap di rumahnya. Rumah artistik 2 lantai di Palm Spring Regency C/99 Jambangan, Surabaya selatan, merupakan persinggahan pertama kami.

Saat kami tiba di Bandara Wai Oti Maumere

Dijamu makan siang di Maumere oleh Dr. Kristin

Kamis, 24 Juni 2010 pk. 09.15 kami melanjutkan perjalanan dengan pesawat Boeing 737 versi 200 Batavia Air ke Maumere, melalui Bandara Internasional Juanda yang baru dan megah. Setelah lelah dalam antrian panjang karena petugas ‘check in’ hanya seorang, kami harus singgah sebentar (transit) di Bandara Internasional Ngurah Rai di Denpasar dan Bandara El Tari di Kupang. Pada pk. 13.15 WITA kami mendarat dalam hawa panas musim kemarau di Bandara Wai Oti, sekitar 5 km sebelah timur pusat kota Maumare, di Flores bagian tengah agak ke timur. Kami dijemput Dr. Kristin, teman lama semasa kami tugas di Flores, dengan mobil Panther Touring hitam EB 1792 DA, diajak keliling kota. Kami mengingat-ingat kembali tempat yang dulu kami akrabi dan makan ikan bakar di RM Jakarta di dalam kompleks pelabuhan Maumere, yang meski padat oleh kapal, namun airnya jernih dengan banyak ikan dan kepiting di kaki dermaga. Saat lama menunggu masakan matang, kami jalan-jalan sepanjang dermaga, melihat banyak kapal berbagai ukuran yang ditambatkan, kesibukan bongkar muat peti kemas dan anak-anak yang terjun berenang ke air laut yang hampir tidak berombak sama sekali. Akhirnya kami mampir sebentar ke bekas RSU Dr. TC Hillers yang telah dialih fungsikan menjadi Puskesmas Berru dan Unipa (Universitas Nusa Nipa), rumah Bapak Sabinus Nabu dan isterinya, Bu Linda. Bapak Sabinus dahulu adalah Camat Lela dan ibu Linda dahulu adalah bidan Puskesmas Nanga. Dengan diantar Nong, sopir Puskesmas Beru, kami mampir ke rumah pasangan Lado dan Lies di Nita, dimana keduanya dahulu adalah karyawan Puskesmas Nanga. Setelah itu, kami numpang lewat melihat Puskesmas Nita, yang sekarang terdiri dari 2 kompleks terpisah, yaitu rawat jalan di tempat yang lama dan rawat inap yang merupakan gedung baru. Kami lanjut ke Lela, menyusuri jalan-jalan berliku yang tidak sulit untuk membangkitkan kenangan kami akan rute berliku itu, yang dahulu sering kami susuri.

Mama Sari mengenangnya karena dahulu merangkap tugas sebagai dokter gigi di Puskesmas Nanga dan Nita, di 2 kecamatan yang berbeda dan berjarak hampir 15 km. Kami semua membayangkan dengan haru, mama Sari yang duduk di bawah pohon beringin dekat pertigaan Nita, untuk menunggu angkutan umum dari Maumere. Hal itu dilakukannya 3 kali seminggu, sepulang kerja dari Puskesmas Nita, bahkan sampai saat hamil Yudhi sekalipun. Cukup sering angkutan yang lewat sudah penuh sesak dengan penumpang, bahkan bergelantungan di pintu, tangga dan atap, sehingga mama Sari kadang terpaksa menunggu lewatnya angkutan yang berikut. Hari menjelang gelap saat kami memasuki pelataran Puskesmas Nanga, berfoto dan bertemu dengan mama Burga dan mama Donce. Mama Burga adalah kader kesehatan, yang bahkan tetap ingat nama-nama kami. Kami dipeluknya satu persatu, bahkan Yudhi yang sudah jauh lebih tinggi dari badannya yang makin renta, dipandanginya tanpa berkedip dan berkomentar, ‘Yudhi su besar!’ Komentar seperti itu selalu diucapkan banyak orang yang dahulu mengenal Yudhi saat bayi, diucapkan dengan logat Maumere yang khas, sedikit keras dan meninggi pada akhir kalimat. ‘Sudah’ hanya diucapkan ‘su’, sehingga terasa aneh dan membuat dik Bimo dan dik Laras mengulanginya tanpa henti, bahkan dengan maksud menjahili, menggoda dan mengolok kakaknya. Malam itu kami menginap di Ruang Theresia Kamar 1, kamar pasien yang setelah gempa bumi hebat Desember 1992, kami tempati. Di seberang kamar tersebut, yaitu Ruang Theresia Kamar 2 di RS St. Elisabeth Lela adalah kamar pasien yang dahulu digunakan sebagai ruang bersalin darurat pasca gempa bumi dan di kamar itu pulalah Yudhi dilahirkan, pada hari Sabtu, 22 Januari 1993. Kami semua larut dalam kegembiraan tanpa kata, keharuan tanpa terucap dan kebahagiaan tanpa henti. Setelah beristirahat sejenak, kami lanjutkan makan malam bersama para suster di biara RS dan bertemu juga dengan Dr. J. Aliandoe, SpB dan ibu. Dokter spesialis bedah asli Flores, yang setelah pensiun dari RS Atma Jaya Jakarta itu, mengabdikan diri sepenuhnya untuk karya sosial di RS St. Elisabeth Lela, sebuah teladan hidup sejati. Kami juga mengunjungi kakak Yanti, pengasuh Yudhi saat bayi dulu, yang tinggal di dekat kompleks RS dan masih menyimpan foto-foto Yudhi.

Papan Puskesmas Nanga di Lela pada senja hari

Mampir di rumah kakak Yanti, pengasuh bayi Yudhi, yang tinggal di dekat RS Lela

Pagi harinya, Jum’at 26 Juni 2010, dengan mobil sewaan Avanza silver L 1511 PG yang dikemudikan Yulius Lado, dahulu sopir Puskesmas Nanga, kami meninggalkan RS Lela ke arah barat untuk menuju Danau Kelimutu, yaitu danau 3 warna yang terletak di pusat kawasan Kelimutu National Park. Danau pertama dinamakan Tiwu Ata Polo, seluas 4 ha, berkedalaman air sampai 64 m, diklasifikasikan sebagai kawah aktif, dan airnya berwarna hijau. Danau kedua dinamakan Tiwu Nuamuri Koofai, seluas 5,5 ha, berkedalaman air 127 m, klasifikasi sangat aktif, dan airnya berwarna hijau muda kekuningan. Danau ketiga dinamakan Tiwu Ata mbupu, atau oma (yang berarti nenek), seluas 4,5 ha, berkedalaman air 67 m, diklasifikasikan kurang aktif dan berwarna hitam. Ketiga danau tersebut terletak di puncak Gunung Kelimutu dengan ketinggian 1640 m di atas permukaan laut, yang harus kami tempuh dalam waktu 3,5 jam dengan diselingi sarapan di RM Bethania, milik suster FMM di Wolowaru.

Armada Toyota Avanza siap untuk menjelajah daratan Flores

Rumah adat Lio di dekat Kelimutu

Masyarakat setempat percaya bahwa arwah warga yang telah meninggal akan datang ke Gunung Kelimutu, jiwa atau maE meninggalkan telah kampung halamannya dan menetap di kawah Kelimutu untuk selamanya. Sebelum masuk ke dalam salah satu danau atau kawah, para arwah tersebut terlebih dahulu menghadap Konde Ratu selaku penjaga pintu masuk di Perekonde. Arwah tersebut masuk ke salah satu danau yang ada tergantung dari usia saat meninggal dan perbuatannya. Ke tiga danau terlihat seolah-olah bagaikan dicat berwarna dan warna airnya berubah-ubah tanpa ada tanda alami sebelumnya. Mineral yang terlarut di dalam air danau menyebabkan warna air akan berubah-ubah yang tidak dapat diduga sebelumnya. Susana danau Kelimutu bervariasi, tidak hanya terjadi perbedaan dan perubahan warna setiap danau, akan tetapi juga perubahan cuaca yang tidak terduga. Tidaklah aneh jika tempat yg keramat itu menjadi legenda yang sejak lama berlangsung turun-temurun. Masyarakat setempat percaya bahwa tempat tersebut adalah sakral.

Danau 1 dan 2 dengan beda warna di puncak Kelimutu

Danau warna ke 3 di puncak Kelimutu saat mama menerima call dari budhe Tari

Gunung Kelimutu tumbuh di dalam kaldera Sokoria atau Mutubasa bersama dengan Gunung Kelido (1641 m) dan Gunung Kelibara (1630 m), ketiganya membangun kompleks yang berkesinambungan, kecuali Gunung Kelibara yang terpisah oleh lembah dari Kaldera Sokoria. Letak puncak gunung berapi tersebut terjadi karena perpindahan titik erupsi melalui sebuah celah yang menjurus  dari utara ke selatan. Dari ketiga buah gunung tersebut, puncak Gunung Kelimutu merupakan kerucut tertua dan masih memperlihatkan aktivitasnya sampai sekarang, yang merupakan kelanjutan gunung api tua Sokoria. Tubuh puncak Gunung Kelimutu dibangun oleh batuan piroklastika, yang terdiri dari bom, lapili, skoria, pasir, abu, awan panas, lahar serta lelehan lava pijar. Permukaan lerengnya berkembang ke arah timur, tenggara dan barat daya, dengan topografi kasar sampai sedang. Bentuk tersebut dibangun oleh aktivitas Gunung Kelimutu muda, tetapi terhalang oleh Gunung Kelibara, sedangkan lereng barat dan utara memperlihatkan morfologi berelief kasar. Pada puncak Gunung Kelimutu terdapat 3 sisa kawah yang mencerminkan perpindahan puncak erupsi. Ketiga sisa kawah tersebut kini berupa danau dengan warna air berlainan dan mempunyai ukuran diameter yang bervariasi. Warna air danau biasanya khas, sehingga diberi nama sesuai dengan warnanya, yaitu polo (merah), fai (hijau) dan mbupu (biru). Pada saat kami datang, warna yang terlihat adalah hijau, hijau kekuningan dan hitam. Gunung Kelimutu yang kami kunjungi itu, pernah meletus dasyat pada tahun 1830 dengan mengeluarkan lava hitam (watukali), kemudian meletus kembali sepanjang tahun 1869 sampai tahun 1870. Letusan hebat itu disertai aliran lahar dan semburan debu, sehingga membuat susana gelap gulita di sekitarnya, bahkan hujan abu dan lontaran batu mencapai desa Pemo yang tercatat dalam arsip Direktorat Vulkanologi Dirjen Geologi & Sumberdaya Mineral di Kementrian Energi tahun 1990. Di Kelimutu National Park tersebut, kami sempat menyaksikan 2 dari 13 macam burung dan 4 dari 17 macam tanaman yang tercatat hampir punah, sehingga dilindungi secara ketat.

Dik Bimo berpakaian adat Lio (Moat Kecil)

Di gerbang Kelimutu National Park

Perjalanan kami lanjutkan ke Ende di Flores bagian tengah, melalui jalan berliku khas dataran tinggi di seantero Pulau Flores, yaitu jalan berliku, mendaki dan menurun, dengan tebing curam di satu sisi dan jurang dalam di sisi lainnya. Kami memasuki kota Ende menjelang sore dan langsung melakukan penjelajahan dalam kota. Pertama kami mengunjungi Jl. Perwira untuk melihat Rumah Pembuangan Bung Karno. Di situ kami berteduh di bawah situs pohon sukun, tempat dimana Bung Karno mendapatkan inspirasi lahirnya Pancasila, saat dibuang Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1934 sampai 1938. Pohon sukun tersebut sekarang bercabang 5, yang dianggap melambangkan sila-sila dalam Pancasila. Kami lanjutkan dengan mengunjungi Museum Adat dan Museum Bahari yang keduanya berdampingan dan terletak di Taman Kota Ende. Di Museum Bahari kami melihat simpanan benda-benda laut yang sejak tahun 1982 dikumpulkan sedikit demi sedikit. Museum Bahari ini diresmikan oleh Pater Gabriel Goran, SVD pada tanggal 14 Agustus 1996, berlokasi di Jl. Moh Hatta Ende, saat ini memiliki koleksi 1000 spesies kerang laut, 300 spesies ikan dengan total koleksi sekitar 22.000 jenis biota laut. Kami juga mengunjungi Taman Rendo dan Monumen sebagai bukti sejarah kota Ende yang pernah menjadi ibukota daerah Flores tempoe doeloe. Terakhir kami mengunjungi Pasar Mbongawani yang merupakan pasar rakyat, menjual segala kebutuhan masyarakat, termasuk buah lokal yang terkenal pisang beranga, jeruk, alpokat dan nanas.

Museum Adat yang menyimpan berbagai artefak budaya di Ende

Museum Bahari yang menyimpan peralatan kelauatan di Ende

Malam itu kami menginap di biara suster SSpS di Jl. Masjid no 11. Bertemu Sr. dr. Conchita Cruz, SSpS dan Sr. Ekarista, SSpS yang pernah kami kenal selama di Lela dahulu. Sr. Conchita adalah dokter yang berkarya di RS Lela, telah menjadi ‘ikon’ RS selama bertahun-tahun, guru bagi ketrampilan teknik bedah hampir semua jenis operasi bagi dokter umum, dan nenek suster bagi Yudhi yang saat bayinya dahulu telah digendong, sampai dengan diompoli berkali-kali. Malam itu Yudhi dan Bimo ikut serta para suster di biara melihat Brazil melawan Portugal di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, sementara kami yang lain tertidur lelap.

Sabtu pagi, 26 Juni 2010 kami mengunjungi nDona, kediaman Uskup Agung Ende, Mgr Vincensius Sensi Potokota, Pr. Kami terkagum-kagum dengan keindahan bangunan kediaman uskup dan pemandangan alam yang tampak dari ruang tamu itu. Mgr Sensi sempat bersama kami di Lela sewaktu masih sebagai romo pembimbing frater. Setelah mencium cincin uskup, bercengkerama, didoakan, dan bahkan kemudian diberkati dengan berkat uskup, kami pamit untuk melanjutkan perjalanan ke barat. Dari Ende sampai Nangaroro di perbatasan Kabupaten Nagakeo, kami menyusuri bibir pantai selatan di sisi kiri jalan dan hampir bersentuhan dengan tebing batu yang tajam di sisi kanan jalan. Suara deru ombak yang kadang sangat keras, seringkali mengalahkan suara klakson mobil yang harus dibunyikan menjelang tikungan tajam. Kami mencatat nama-nama Nangaroro dan Nangapanda di pantai selatan, kemudian mulai mendaki bukit menuju ke utara melalui Aegela, Mataloko dan Boawae sebelum kami memasuki Bajawa di puncak dataran tinggi yang sangat dingin, ibukota Kabupaten Ngada. Setelah dik Laras mabuk darat 2 kali dan dik Bimo 1 kali, kami makan siang menjelang sore di rumah makan dekat gereja, Stadion Lebijaga, dan SMAN I Bajawa. Kami sempatkan foto bersama di depan gerbang RSU Bejawa, yang mungkin sekali akan kami kunjungi lagi kelak, dalam sebuah tugas resmi.

Bersama komunitas suster ordo SSpS di Ende

Bersama Mgr. Vincensius Sensi Potokota, Pr uskup Agung Ende yang pernah pada periode yang sama dengan kami bertugas di Lela, Maumere

Kami putuskan untuk segera melanjutkan perjalanan melalui Ai Mere di pantai selatan, kemudian mendaki bukit lagi menuju ke utara melalui Borong, sekitar 157 km dari Ende. Setelah beristirahat sejenak, kami terus ke Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai yang sama dinginnya dengan Bajawa. Kami sudah menempuh jalan amat sangat berliku dan naik turun sejauh 317 km dari pusat kota Ende. Setelah makan malam di RM Padang dekat BRI Cabang Ruteng, kami lanjutkan perjalanan sejauh 72 km lagi, untuk masuk kota Labuanbajo di ujung Flores paling barat, ibukota Kabupaten Manggarai Barat. Kami menginap di Hotel Wisata, Jl. Soekarno no 39, dan masuk hotel sekitar pk. 1 dini hari. Kami langsung terlelap dalam kelelahan hebat, meskipun sebenarnya kami bertemu dengan para staf hotel yang tidak ramah dan kamarnya yang tidak cukup bersih bersih dibanding harganya.

Setelah sarapan menu nasi kuning khas Jawa, kami dipandu menuju dermaga oleh mas Fandi Ilham, SH seorang jaksa muda di Kantor Kejaksaan Negeri Manggarai Barat, dan tetangga kami di Yogya yang agak terlupa, untunglah sempat kami ingat kembali sebelum kami tiba. Setelah foto bersama di gerbang dermaga dan melihat-lihat kesibukan dan pemandangan aktivitas dermaga, kami menuju ke Pulau Rinca, yang berarti buaya, dan merupakan pulau terdekat dari Pulau Flores yang termasuk di dalam kawasan Komodo National Park. Kami menggunakan kapal Bacukiki dan berangkat pk. 08.15. Perjalanan laut memerlukan waktu sekitar 2 jam, dan kami berlabuh di Loh Buaya, sebuah dermaga di sebuah teluk sisi timur Pulau Rinca. Kami langsung disambut pemandangan mengerikan, seekor komodo sedang berjemur di dekat pintu gerbang. Meskipun komodo tersebut hanya berbaring, toh kengerian tetap muncul dan bulu kuduk tetap berdiri. Salah seorang awak kapal mendampingi kami masuk gerbang menuju kantor penjaga yang biasa disebut ‘ranger’, dengan tongkat kayu sepanjang 3 m bercabang 2, dan selalu waspada berjaga-jaga. Tongkat kayu tersebut, dibawa ke manapun seorang ranger berjalan memimpin rombongan tamu, berfungsi untuk menahan leher komodo yang datang mendekat.

Bersama mas Fandi Ilham tetangga kami di Yogyakarta yang bertugas di Kejaksaan Negeri setempat di Gerbang Pelabuhan Labuan Bajo

Disambut komodo tidur seolah batang pohon tergeletak di tanah di Pulau Rinca

Sesampai di kantor penjaga Komodo National Park, kami bertemu dengan banyak turis asing maupun domistik. Harga tiket masuk Rp. 75.000 per orang untuk turis domistik non Flores, Rp. 10.000 untuk turis lokal dan US $15 untuk turis asing. Setelah membayar tiket, kami didampingi ranger, seorang pria paroh baya yang terkesan berani, mulai berjalan menyusuri rute terdekat. Tersedia 3 paket rute jelajah alam, yaitu paket ‘basic’ yang hanya di sekitar kantor, ‘short’ yang perlu waktu sekitar 1 jam, ‘medium’ dan ‘complete’ yang lebih jauh dan lama. Pada rute basic itu saja, kami sempat melihat hampir 10 ekor komodo berbagai ukuran, 3 ekor kera dan 2 ekor kerbau liar yang sewaktu-waktu dapat dimakan komodo. Komodo yang kami lihat sebagian besar hanya berbaring dalam keteduhan bayang-bayang pohon atau rumah panggung para penjaga, terutama dekat dapur yang mengeluarkan bau amis ikan atau daging untuk lauk mereka. Komodo berpenciuman sangat tajam, dapat memakan rusa, kambing atau kerbau dan mampu tidak makan selama 4 bulan berturut-turut setelah kenyang.

Komodo, atau yang selengkapnya disebut biawak komodo (Varanus komodoensis), adalah spesies kadal terbesar di dunia yang hidup di Pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara. Biawak ini oleh penduduk asli pulau Komodo juga disebut dengan nama setempat ora. Di alam bebas, komodo dewasa biasanya memiliki massa sekitar 70 kg, namun komodo yang dipelihara di penangkaran atau kebun binatang sering memiliki bobot tubuh yang lebih besar. Komodo liar terbesar yang pernah ada memiliki panjang 3.13 m dan berat sekitar 166 kg, termasuk berat makanan yang belum dicerna di dalam perutnya. Komodo memiliki ekor yang sama panjang dengan tubuhnya, dan sekitar 60 buah gigi yang bergerigi tajam sepanjang sekitar 2,5 cm, yang kerap diganti. Air liur komodo sering kali bercampur sedikit darah karena giginya hampir seluruhnya dilapisi jaringan gusi dan jaringan ini tercabik selama makan. Kondisi ini menciptakan lingkungan pertumbuhan yang ideal untuk bakteri mematikan yang hidup di mulut mereka. Komodo adalah hewan karnivora dan kanibal. Walaupun mereka kebanyakan makan daging bangkai,  penelitian menunjukkan bahwa mereka juga berburu mangsa hidup dengan cara mengendap-endap diikuti dengan serangan tiba-tiba terhadap korbannya. Ketika mangsa itu tiba di dekat tempat sembunyi komodo, hewan ini segera menyerangnya pada sisi bawah tubuh atau tenggorokan. Komodo dapat menemukan mangsanya dengan menggunakan penciumannya yang tajam, yang dapat menemukan binatang mati atau sekarat pada jarak hingga 9,5 kilometer. Dengan informasi seperti itu yang telah kami ketahui sebelumnya, maka wajar saja kalau bulu kuduk kami berdiri dan ketakutan yang muncul sangat hebat.

Komodo liar berkeliaran bebas di bawah rumah panggung

Di gerbang Komodo National Pak yang ikonik

Setelah puas berfoto bersama komodo tidur dalam lindungan ranger, kami melanjutkan perjalanan sampai ke liang komodo, yang banyak dibuat komodo betina sepanjang bulan Mei sampai Agustus, bertepatan dengan musim kawin. Setelah puas menjelajah pulau dan kekawatiran akan keganasan komodo mereda, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Bidadari, yang terletak di mulut pelabuhan Labuan Bajo. Di pulau itu kami ‘snorkeling’, berenang terapung untuk melihat keindahan taman laut, berjemur dan bermain pasir putih yang lembut, mencari kerang, bahkan melihat bule berjemur. Dik Bimo dan dik Laras sampai mengalami luka robek telapak kaki, sebab sering salah injak batu karang yang indah, tetapi runcing dan tajam. Sore itu kami memaksakan diri langsung pulang ke Maumere, dari Labuan Bajo sekitar pk. 16 dengan suasana hati yang lega dan puas, meski badan sudah kelelahan.

Di atas kapal dari Labuan Bajo ke Pulau Rinca

Medan penjelajahan dengan jalan kaki rute ‘basic’ di Pulau Rinca

Perjalanan darat pulang ke Maumere yang melelahkan, bahkan sudah menimbulkan trauma psikologis bagi anak-anak karena pengalaman buruk mabuk perjalanan, tetap harus kami jalani. Kami harus kembali ke Maumere, sebab tiket pesawat pulang yang kami beli di Yogyakarta, hanya dapat yang berangkat dari Maumere. Tiket pesawat dari Labuan Bajo ke Denpasar yang merupakan penerbangan perintis, sangat sulit diperoleh dengan sistem on line, meskipun tiket on site kadang mudah didapat, tetapi hanya untuk beberapa kursi. Rute pulang yang berliku, mendaki dan menurun, melalui bibir jurang dalam atau pantai, harus kami lahap dalam kelelahan, sehingga kami harus bergantian menjadi sopir. Akhirnya kami harus menyerah dan terdampar di sebuah kamar di Villa Silverin, di Watujaji, 7 km dari Bajawa, Kabupaten Ngada. Kami masuk kamar dengan tarif Rp. 300 rb menjelang pk.1 dini hari, dan langsung tertidur di kamar yang bagus sekali dengan udara sangat dingin.

Di Museum Bung Karno, rumah tinggal saat pembuangan era kolonialisme Belanda di Ende

Patung Kristus Raja tinggi menjulang di Gereja Katolik Katedral Ende

Setelah sarapan nasi goreng dan telor dadar, hari Senin pagi kami melanjutkan kepulangan kami dan berangkat pada pk. 7.15, saat udara luar masih sangat dingin menembus tulang. Kami lalui Mataloko dan Nangaroro, lalu Nangapanda yang sudah masuk wilayah Kabupaten Ende. Mulai dari situ, mas Yudhi bertugas menjadi sopir pengganti, sebab jalan terus ke Ende menyusur bibir pantai selatan, relatif ringan untuk ditaklukkan seorang sopir pemula. Kami masuk kota Ende sesaat sebelum tengah hari, kembali ke biara SSpS di Jl. Masjid untuk pamitan dengan Sr. Dr. Conchita Cruz, SSpS yang sangat kami hormati, juga untuk Yudhi numpang mandi, sebab mandi pagi di Bejawa yang sangat dingin, tidak berani dia lakukan. Kami berlanjut mengunjungi Gereja Katedral Christo Regi Ende. Kami terkagum-kagum atas keindahan arsitektur katedral tua, khusuk berdoa dan memohon ampun karena kami tidak sempat ikut misa hari Minggu. Setelah itu kami berfoto di depan patung ‘Christus Rex Mundi’ atau Kristus Raja Semesta Alam,  yang diresmikan oleh Mgr. Abdon Longinus Da Cunha, Pr pada tanggal 24 November 2002. Setelah diselingi makan siang di RM Kelimutu di Moni, dekat gerbang Kelimutu National Park yang sudah kami kunjungi 4 hari sebelumnya, kami mampu mencapai desa Sikka menjelang senja. Di Sikka kami masih mampu melihat gereja tertua di seluruh daratan Pulau Flores dan rumah adat di bekas istana raja Sikka. Selanjutnya kami mengunjungi Wisung Fatima di Lela, sebuah tempat ibadah di lereng bukit terjal yang sudah dibangun baik, untuk berdoa kepada Bunda Maria, sayang sekali saat itu hari sudah gelap dan listrik padam.

Bis kayu, angkutan darat khas Flores terbuat dari truk bak kayu dengan atap dan potongan kayu untuk duduk penumpang

Gereja Katolik Sikka merupakan gereja yang tertua di Flores

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan menempuh jarak Ende-Maumere 145 km. Perjalanan ini merupakan inti nostalgia kami ke sebuah rumah di dalam kompleks RS St. Elisabeth Lela, sebuah RS yang sudah 80 tahun melayani kesehatan masyarakat sekitar. Rumah yang kami tuju berada di samping kebun sayur, dekat kandang ayam dan di sayap atas kompleks RS itu, merupakan rumah yang kami tinggali selama hampir 3 tahun. Di rumah itulah kami mendapat banyak berkah, sejak kami datang April 1991 sampai saat kami pulang ke Jawa Oktober 1994. Saat kami datang mendekat, hati terkesiap, sanubari terharu dan jantung berdebar, mendapati suasana mistis masa lalu yang seakan datang ulang. Hanya tempat tidur besar tempat kami berbaring dan menidurkan bayi Yudhi yang diganti, perabotan lain masih tetap yang sama, terawat  dan terjaga baik. Luar biasa. Kami kenang ulang berbagai peristiwa yang pernah terjadi di setiap sudut rumah itu, baik yang menyenangkan, maupun yang sangat menyedihkan di halaman depan, tempat Yudhi terjerembab dalam ‘baby walker’ yang digunakannya. Dia lepas dari pengawasan kami yang terlarut dalam makan siang, dan meluncur turun melewati teras rumah, bahkan masuk ke kebun depan rumah, yang membuatnya luka di dahi dengan perdarahan dan memar. Malam itu kami mandi, makan dan tidur di tempat dimana hal yang sama pernah kami lakukan dengan cara serupa, di tempat yang sama dan dalam suasana yang tidak jauh berbeda. Hanya kami berdua yang begitu, sedangkan anak-anak, termasuk Yudhi, sangat mungkin hal tersebut hanya merupakan sebuah program pengisi libur sekolah. Tuhan sendiri yang mengatur ini semua.

Anak2 kami di depan gereja tua di Sikka, tidak jauh dari Lela

Rumah adat bekas istana raja Sikka

Pagi harinya, kami mengikuti Misa Kudus harian di kapel RS. Meski liturginya serupa, tetapi lagunya berbeda. ‘Qui bene cantat, bis orat’ atau ‘dia yang bernyanyi baik, berdoa dua kali’. Misa harian itu berlangsung 2 kali lebih lama dibanding misa serupa yang sudah kami akrabi di Yogya, sebab lagu-lagunya banyak dan lengkap, sesuai dengan teks dalam buku ‘Syukur Kepada Bapa’, cetakan XI, tahun 1981, oleh Penerbit Nusa Indah, percetakan Arnoldus, Ende. Setelah sarapan pagi, kami mengikuti Sr. Sofina, SSpS yang biasa dipanggil Sr. Nenek karena usianya, masuk ke kebun sayur, kandang ayam dan kandang babi. Penelusuran itu juga mengenang saat kami melakukan hal yang serupa 18 tahun sebelumnya, berjumpa dengan beberapa karyawan kebun yang masih saling ingat dengan kami. Setelah itu, kami keliling ke beberapa ruangan di dalam RS, bertemu dengan beberapa pegawai RS yang masih kami ingat dan sekaligus berpamitan, karena kami harus segera pulang. Kami kenang Sr. Helena Maria, SSpS, mama Detti Henriques, mama Ete Mertis, Br. Alex, mama Dete, mama Mia dan Erna Woga. Pegawai RS yang lain adalah generasi baru yang belum sempat kami kenal. Kami beradu kangen dengan mama Beth, wanita tua berpakaian adat Sikka yang tinggal di depan RS, bahkan memberikan salam khusus dengan cara menampar pipi kami keras-keras.

Sekeluarga di teras rumah dinas dokter dengan nostalgia di dalam kompleks RS Lela

Yudhi di kamar mandi kenangan, dahulu saat berdiri hanya setinggi keran air di tembok itu

Perjalanan pulang kami awali dengan mampir ke rumah mama Sedis dan Om Paul, pasangan pensiunan SPK Lela dan Puskesmas Nanga, Kemudian mampir di Puskesmas Nanga yang sedang ramai dikunjungi banyak pasien. Kami puaskan rindu kami bersama mama Gonda petugas gizi, Om Kornelius perawat senior dan kepala puskesmas dengan mama Lince, isterinya yang asisten apoteker, juga Om Kons yang sempat mampir, mama Burga kader posyandu yang aktif, mama Rin Palang Keda perawat pindahan dari SPK Lela, Om Lengo petugas KB, bidan Nona Ana dan Dr. Dwi.

Komunitas suster ordo SSpS di biara RS Lela

Pamitan pulang dengan sebagian pagawai Puskesmas Nanga di Lela

Kami melanjutkan perjalanan ziarah dan wisata rohani, dengan mengunjungi Patung Maria Bunda Segala Bangsa di Nilo, dekat Seminari Tinggi terbesar di dunia, yaitu STFK Ledalero. Patung Bunda Maria yang berwarna putih mengkilap dan terbesar di Indonesia tersebut, diresmikan pada tanggal 31 Mei 2005. Pernah runtuh karena angin puyuh, dibangun dan diresmikan kembali pada tanggal 1 Oktober 2007 oleh Mgr. Vincensius Sensi Potokota, Pr, yang waktu itu sebagai Uskup Agung Ende dan sekaligus administrator apostolik Keuskupan Maumere. Prasasti di pusat Spiritualitas Pasionis dan tempat ziarah Maria Bunda Segala Bangsa di Nilo ditandatangani oleh wakil donatur Ibu Megawati Soekarnoputri dan Vice Provincial CP waktu itu, Pastor Sabinus Lohin, CP. Di bawah patung besar tersebut, terpahat kata-kata bijak ‘Per Mariam Ad Jesum’, yang berarti ‘melalui Maria menuju Yesus’. Juga ‘Ina ata puku nulu’, yang berarti bunda yang tersayang, ‘ama ata gawi wa’a’, yang berarti menuju bapa dengan berjalan duluan di depan, ‘gea dena beta nain’, yang berarti dengan memberi makan anak cucu, dan ‘minu dena heron naran’ yang berarti minum agar tidak haus. Tinggi patung Bunda Maria yang berdiri di atas bola dunia itu 12 m. Patung itu diletakkan di atas rangka beton, sehingga total tinggi patung mencapai 28 m. Patung itu berada di sebuah puncak bukit di Nilo dan menghadap ke utara, seolah memberkati dan melindungi kota Maumere yang terhampar di bawahnya. Setelah berdoa secara khusus, kami lanjutkan foto bersama dalam hembusan semilir angin puncak bukit dan sengat matahari musim panas, bahkan sampai saat kami jalan turun menuju Maumere. Kami sempatkan mampir membeli cinderamata khas Sikka di sebuah kios depan Gelora Samador, menemui Drg. Toni Asaleo, teman lama kami yang sudah alih profesi menjadi pebisnis ritail atau barang eceran segala rupa, di kompleks pertokoan Maumere.

Patung Bunda Maria yang tinggi menjulang, Bunda Segala Bangsa di Nilo dekat Maumere

Awal perjalanan pulang siap terbang dengan Batavia Air dari Maumere

Kepulangan kami diawali dengan menumpang pesawat Batavia Air Y6-758 Boeing 737 seri 300, transit 20 menit di Kupang, dan akhirnya menuju Denpasar dalam waktu 1 jam 20 menit. Kami menginap semalam di rumah adik sepupu, Bulik Aning, Pak Nyoman dan anak-anaknya yang mandiri, mbak Diyah dan mas Toya, di kawasan Jimbaran, sehingga sempat jalan-jalan ke pantai Jimbaran, GWK (Garuda Wisnu Kencana) Park, Nusa Dua, Kuta dan mengunjungi rumah Bulik Sudilah, saudara sepupu Eyang Kakung Salaman dan terakhir bergaya di depan Patung Satria Gatotkaca, yang diresmikan pada tanggal 30 Oktober 1993 oleh Prof. IB Oka, Gubernur Bali saat itu. Patung putih Gatotkaca yang terbang sambil menghancurkan kereta perang musuh, meski dalam bidikan panah amat sakit Nanggala oleh Adipati Karna, gagah berdiri di gerbang Bandara Internasional Ngurah Rai, Denpasar. Kami sampai dengan selamat di Yogyakarta pada hari Kamis, 30 Juni 2010 pk. 19.25.

Sebelum kembali ke Yogyakarta kami mampir di gerbang Pecatu Jimbaran, Bali

Patung Kereta Perang Adipati Karno melawan Gatotkaca di gerbang Bandara Ngurah Rai, Bali

Perjalanan darat yang kami tempuh adalah hampir 2/3 bagian Pulau Flores, sejauh 925 km dalam medan jalan yang amat sangat berliku dan merupakan ciri khas medan daratan Pulau Flores, menghabiskan bensin 5 kali isi penuh tangki mobil (full tank), dan 4 hari cuti tahunan. Perjalanan itu ditambah 5 jam di atas kereta api, 5 jam 20 menit di atas pesawat dan 4 jam 20 menit di atas kapal. Kami telah menginjak tanah di 3 propinsi dalam 5 pulau, dan menyusuri 5 kabupaten di daratan Pulau Flores. Terima kasih kami sampaikan kepada siapapun yang telah membantu, mendoakan dan mengiringi perjalanan kami sekeluarga.

sekian

Yogyakarta, 1 Juli 2010

*) pelancong rutin setiap tahun

Posisi Komodo National Park di timur Pulau Jawa

Peta Pulau Rinca di sebalah barat Pulau Flores

Categories
dokter Healthy Life Jalan-jalan

2009 JELAJAH SHANGHAI dan BEIJING

JELAJAH SHANGHAI dan BEIJING

fx. wikan indrarto*)

Arti kata ‘shang’ adalah atas dan ‘hai’ adalah laut, jadi Shanghai adalah kota di daratan China yang tampak tergeletak di atas permukaan laut. Kota di tepi delta Changjiang ini, sebenarnya bukan terletak di tepi Laut Cina Selatan yang luas. Shanghai dibelah oleh sungai Huangpu, yang tidak sekedar memikat karena atraktif dengan sejarahnya yang panjang, tetapi juga karena peran dominan di bidang ekonomi dan sosial bagi bangsanya. Shanghai tetap berada di bawah administrasi pemerintah pusat, menjadi pusat perdagangan dan ekonomi terbesar yang menyatu dengan industri dan menjadi pelabuhan terbesar di seluruh China. Selain sebagai kota bersejarah dengan budaya yang berusia ribuan tahun, saat ini juga menjadi kota metropolitan di pantai timur daratan China yang terbuka bagi siapapun di seluruh dunia. Pada tahun 2004, Shanghai telah mampu menjadi tuan rumah lomba balap mobil paling bergengsi di dunia (Chinese Grand Prix F1) dan sejak itu majalah ternama di dunia ‘TIME’ menyebutnya sebagai kota apapun (the world’s most happening city). Pada Oktober 2007 Shanghai menjadi tuan rumah pertama olimpiade khusus (Paralympic or Special Olympic Games) di Asia dan pada tahun 2010 kelak akan menjadi tuan rumah pameran akbar dunia (World Expo 2010). Itulah daya tarik Shanghai yang mendorong kami memutuskannya untuk ke sana.

 100_3675  Peta
Persiapan

ShangHai World Expo 2010

Peta Shanghai

China

Kami berkesempatan mengunjungi kota ini dalam rangka the 13th Asian Pacific Conggress of Pediatric, 14-18 Oktober 2009 di SICC (Shanghai International Convention Center), yang megah di sebelah timur menara televisi Pearl Oriental Tower dan gedung pencakar langit tertinggi (Shanghai World Financial Center), dimana keduanya menjadi simbol kota.

Kami menggunakan pesawat Singapore Airlines SQ 957, sebuah Boeing 777-300 modern, dari Jakarta untuk transit sekitar 3 jam di Singapura sejauh 550 mil dalam waktu 1 jam 35 menit, dan dilanjutkan ke Shanghai dengan pesawat sejenis sejauh 2.364 mil dalam waktu 5 jam 15 menit. Kami mendarat di Shanghai Pudong International Airport (PVG) yang berlokasi pada 30 km (19 mil) tenggara kota Shanghai, perlu sekitar 45 menit perjalanan mobil dari pusat kota, dan dibuka sejak 1 Oktober 1999. Terminal 2 & 3 di bandara ini dibuka pada awal 2008 yang dihubungkan dengan bis gratis setiap 15 menit antara pk. 6-21. Terminal 4 & 5 baru direncanakan, untuk memudahkan akomodasi bagi para penumpang yang semakin banyak. Kereta ini direncanakan dapat menghubungkan Pudong ke Hangzhou melalui Shanghai South Railway Station dan Hongqiau International Airport yang akan digunakan pada Shanghai World Expo 2010. Selain kereta api Maglev, juga ada Shanghai Airport Bus Co dan Shanghai Dazhong Bus Corporation yang berangkat setiap 13-21 menit antara pk. 7-23 dan perjalanan ke kota memakan waktu sampai 60-90 menit dengan 8 jalur bis, dimana jalur 5 saja yang melalui Pudong. Jalur bis yang lain akan menuju banyak tempat, termasuk People’s Square, Hongkou dan Hongqiau Airport. Kalau menggunakan taxi meter dari terminal 1 atau 2 menuju Puxi atau Pudong di pusat kota, menghabiskan tarif RMB 150-170 dalam waktu 45-60 menit. Operator taxi meter adalah Qiangsheng, Dazhong, Jinjiang dan Bashi dengan tarif RMB 11 untuk 3 km pertama dan RMB 2,1 untuk setiap km berikutnya. Kami sampai di Shanghai menjelang tengah malam pk. 23.15, sehingga hanya tersedia taxi meter sebuah sedan VW Santana 3000 setir kiri, yang berjalan di sisi kanan, menuju Holiday Inn Shanghai Pudong di Dong Fang Road 869. Hampir semua taxi meter di kota Shanghai adalah VW Santana buatan Jerman, dan hanya sedikit sekali mobil buatan Jepang. Pagi berikutnya kami menuju tempat konggres (the 13th Asian Pacific Conggress of Pediatric), di SICC (Shanghai International Convention Centre), dekat menara TV Oriental Pearl Tower yang artistik di sekitar Lujiazui.

 100_3577  100_3585
Di SICC (Shanghai International Convention Centre), saat pembukaan konggres Shanghai Jade Buddha Temple dengan patung Buddha sedang berbaring

Selesai acara konggres hari pertama, kami melanjutkan jalan-jalan ke Jing’an Temple, sebuah candi Buddha untuk para peziarah dari luar kota yang memohon sebuah keinginan kuat kepada Sang Buddha, dengan naik kereta bawah tanah Shanghai Metro atau MRT (subway) line 2 dari stasiun Lujiazui lewat stasiun East dan West Nanjing Road dan stasiun People’s Square. Subway di Shanghai ada 9 line yang rutenya dapat dilihat pada www.shfamousteacher.com.

Kami melanjutkan perjalanan ke Shanghai Jade Buddha Temple, sebuah tempat ziarah agama Buddha yang eksotik dan penuh dengan batu mulia aneka warna (jade). Setelah puas keliling kompleks suci dengan banyak biksu dan peziarah yang khusuk berdoa dan pelancong yang tercengang, kami kembali dengan MRT line 2 untuk turun di stasiun East Nanjing, lalu makan siang bersama bu Esther Nova Gunawan, ibu dari Yang Zi Yi pasien anak di RS Bethesda Yogyakarta dan sekarang menetap di Shanghai. Kami menuju Yuxin Sichuan Dish Restaurant di China Merchants Plaza di samping Jing Tai Mansion, yaitu di Jiang Gua Men Wai Street dan makan siang menu Shanghai, yaitu daging bebek Peking, sop ikan, mie, brokoli dan bakpau bentuk kembang. Setelah kekenyangan, kami lanjutkan perjalanan dengan membeli oleh-oleh cindera mata kaos dan tas di Nan Zheng Building, di Nanjing West Road yang terkenal murah meriah. Kami jalan lagi dengan MRT line 2 dari stasiun Nanjing West ke stasiun Shanghai Science & Technology Museum, untuk menuju ke Xin Yang Fashion and Gift Market, untuk mencari cindera mata yang lain. Setiap selesai transaksi di semua tempat di Shanghai, pembeli orang asing yang tidak paham bahasa dan huruf lokal, akan diberi kartu nama yang berisi keterangan dalam bahasa Mandarin dan huruf kanji, serta di bagian bawah akan tertulis juga dalam bahasa Inggris dan huruf latin ‘Taxi, take me to …. (alamatnya)’, agar pembawa kartu itu kembali lagi ke situ tanpa kesulitan, sebab hampir semua sopir taxi di China hanya paham bahasa Mandarin dan huruf kanji. Malamnya kami naik taxi dari hotel menuju Century Avenue Station untuk naik MRT line 2 ke People’s Square Station dan ganti (di sebuah inter change station ke) line 1 ke Shanghai Railway Station untuk naik kereta apai malam ke Beijing. Kereta api di sana tidak diberi nama tertentu seperti di Jawa, tetapi kode. Kami menggunakan kereta api D308 yang dioperasikan China Railway Express & Co dalam kerja sama dengan Shanghai Railway Administration, berangkat pk. 21.30 pada jalur (lounge) 3.

 100_3601  100_3602
Kereta Cepat dari Shanghai ke Beijing Stasiun Kereta Api di kota Beijing yang besar

Stasiun kereta api kota Shanghai sangat besar, dengan tempat umum yang sangat luas untuk ukuran Indonesia, bahkan ruang tunggu penumpangnya sebesar lapangan sepakbola. Kereta D308 terdiri dari 15 gerbong, setiap gerbong yang dicat putih bersih sangat informatif karena tanda angka menggunakan lampu yang menyala, bukan tulisan yang sulit dibaca, apalagi kalau malam hari. Dalam gerbong berisi 10 kamar, setiap kamar berisi 2 tempat tidur tingkat (soft berth car), dasar tempat tidur atas setinggi 1,1 m dan atap kamar setinggi 1,75 m, sehingga setiap gerbong memuat 40 penumpang.

100_3596

tempat tidur dalam kamar penumpang KA ke Beijing

Dalam kamar dilengkapi dengan 4 TV layar datar di dinding kamar untuk setiap penumpang sambil berbaring, head set khusus untuk pendengar berbaring, lampu baca, colokan listrik 220V berkekuatan 200 W untuk HP atau laptop, meja lipat untuk meletakkan makanan/minuman, gantungan jas, sandal, selimut tebal dan 2 buah bantal. Tempat duduk hanya tersedia di gerbong restoran dan di depan setiap kamar ada sebuah tempat duduk lipat. Di bagian belakang setiap gerbong ada 2 toilet bertekanan udara seperti di pesawat terbang, wastafel dan ruang pengganti popok bayi. Sambungan antar gerbong dalam keadaan tertutup rapi, sehingga kedap suara dan dingin full AC tidak bocor keluar. Kereta yang interiornya bernuansa silver, berangkat tepat waktu dengan kecepatan rata-rata 211 km/jam, sehingga Shanghai-Beijing dapat ditempuh dalam 9 jam dengan tiket seharga Y 735 per orang. Informasi stasiun terdekat sangat jelas di layar TV dan banner berjalan di lorong setiap gerbong dalam Mandarin & Inggris, misalnya ‘We will soon arrive at South Beijing station, the present temperature out side the car is 10,2 degrees C’.

BEIJING

Beijing adalah ibukota Republik Rakyat Cina (RRC), negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, hampir 1,2 milyar jiwa. Beijing juga sebuah kota bersejarah dan budaya (historic and culturally) yang sangat terkenal di seluruh dunia. Kota itu menyimpan peninggalan budaya dan kesenian China yang melahirkan kekayaan budaya bangsa China kuno, tetapi saat ini dipadukan dan dibangun bersebelahan dengan berbagai fasilitas bisnis, industri dan olah raga modern. Bangunan baru berdiri gagah di samping tempat yang bersejarah dan berdampingan dengan situs budaya yang sangat artistik dan menarik, yang merupakan peninggalan setiap dinasti yang pernah menguasai daratan China.

 Rute  Gerbang
Rute perjalanan kami Di gerbang Mutinyahu Great Wall

Sudah hampir 5.000 tahun masyarakat China kuno berdiam dan berkembang di kota ini, dimulai dengan Manusia Peking (‘Peking Man’ dalam istilah arkeologi) dari saat masih berbudaya ganas (barbarian age), sampai periode awal bermasyarakat (era of civilization) yang masih dapat dilihat di Zhuan-nian, sekitar 48 km sebelah barat laut Beijing, sehingga kota ini layak disebut ibukota kebudayaan Timur (cultural capital in the East). Fosil ‘Manusia Peking’ ditemukan pada tahun 1929 dalam ekspedisi arkeologis di Bukit Longgu (Tulang Naga), dalam sebuah gua berukuran 140×2,5×42 m dan yang diperkirakan hidup di situ 500.000 tahun lalu. Zhoukoudian tercatat dalam daftar Warisan Budaya Dunia menurut UNESCO sejak tahun 1987 dan merupakan situs terlengkap peninggalan manusia purba yang berdiri tegak (erect man), meskipun selama Perang Dunia II banyak fosil dan artefak yang hancur dan hilang. Kami tidak berkesempatan melihatnya secara langsung.

 Temple  100_3635
Temple of Heaven di Beijing Prasasti Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO

Fakta menunjukkan bahwa hanya Beijing yang berubah sangat cepat dibandingkan kota lain di manapun. Ibukota People’s Republic of China (PRC) ini selalu bertambah hotel, mall, bangunan komersial, plaza, stadion dan fasilitas latihan apapun, sehingga menjadi tuan rumah Olympic Games 2008 yang sangat bergengsi. Selain itu, juga membuktikan China sebagai superpower baru, dengan adanya banyak bangunan baru dan modern, yang dipadu dengan bangunan bersejarah (grandiose socialist municipal buildings). Beijing sudah menjadi ibukota China sejak kekaisaran pertama pada tahun 1421, sampai runtuhnya periode kekaisaran pada tahun 1911. Pada periode tahun 1911-1949, Beijing kacau balau karena diperebutkan oleh banyak kelompok masyarakat. Pada tahun 1931 Jepang mendudukinya sampai akhir Perang Dunia II yang dilanjutkan dengan meletusnya perang sipil sampai Mao Zedong bersama dengan kelompok komunis menguasainya. Mao sebagai bapak bangsa memproklamasikan People’s Republic of China sebagai sebuah negara di the Gate of Heavenly Peace (Gerbang Perdamaian Abadi) pada pintu masuk Forbidden City (kompleks Kota terlarang) di Lapangan Tian’anmen dan menyatakan Bejing sebagai ibukota negara. Tiananmen Square, dimana Mao Zedong memproklamasikan kemerdekaan RRC dan tempat terjadinya pembunuhan mahasiswa pro-demokrasi pada saat demonstrasi besar-besaran pada tahun 1989, adalah lapangan untuk umum yang terbesar di seluruh dunia dan menjadi daya tarik wisatawan dari manapun. Lapangan yang besar ini mencakup Gedung Balai Agung Rakyat (Great Hall of the People), Gedung DPR (China’s parliament), Makam Mao Zedong (the Mao Zedong Memorial Hall), dimana tubuh Mao terbaring dalam peti kaca tembus pandang, Tugu Pahlawan (the Monument to the People’s Heroes). Gedung pemantau bintang lama (Old Observatory) yang didirikan oleh Kublai Khan, sekarang dijadikan museum yang menyimpan berbagai barang dari masa Dinasti Ming dan Qing, termasuk alat-alat perunggu pemantauan bintang (bronze astronomical instruments).

Penduduk kota Beijing mencapai 15.244.000 jiwa (megapolitian area) dengan suhu udara berkisar dari -3 derajad C di bulan Januari sampai 26 derajad C di bulan Juli. Beijing terpengaruh oleh berbagai dinamika manusia, termasuk perang, revolusi, industrialisasi dan demonstrasi yang silih berganti. Kami tidak masuk melalui Beijing Capital International Airport (PEK) yang terletak 28 km timur laut pusat kota Beijing dan sangat megah yang dibangun tahun 1999, tetapi melalui stasiun kereta api kota (Beijing Railway Station) hari Kamis pagi, 15 Oktober 2008, pk. 07.15, tepat waktu sesuai jadwal yang tertulis pada tiket dari Shanghai. Udara dingin langsung menyengat, begitu kami keluar gerbong yang memasang pemanas ruangan, jadi kami langsung makan mie instan rasa lokal di warung tenda di pelataran stasiun yang seluas 3 kali lapangan sepak bola. Di China semua tempat umum sangat luas sekali, sehingga mampu digunakan oleh banyak sekali orang, sebab warga kotanya terbanyak dibandingkan kota manapun di dunia.

 100_3593  100_3640
Bis listrik (bom-bom bus) dan taxi meter Bis listrik (bom-bom bus) gandeng

Kami melanjutkan perjalanan dengan naik kereta bawah tanah (subway) yang dioperasikan Beijing Subway Corp. Jalur utama dari timur ke barat adalah dari stasiun Pingguoyuan ke Sihui Dong, sedangkan jalur lain berjalan memutarinya (circular route). Pada tahun 2020 ditargetkan Beijing akan memiliki sistem kereta bawah tanah yang terpanjang di seluruh dunia, yaitu mencapai 561 km dalam 19 lines (jalur). Kami harus antri panjang yang teratur sebanyak 2x, yaitu saat kami membeli tiket seharga Y 2 perorang untuk semua tujuan (jauh dekat, termasuk ganti jalur kereta dan berbeda dengan di Shanghai) yang dilayani secara manual dalam 2 loket, karena di situ tidak ada mesin penjual tiket digital, dan saat kami masuk pemeriksaan ‘scaning’ barang bawaan penumpang dengan alat deteksi logam. Kami melewati stasiun Jianguomen, Chaoyangmen, Dongsi Shitiao, lalu Dongzhimen untuk mencapai tujuan petualangan pertama. Setiap hampir mendekati stasiun, selalu ada peringatan lisan rekaman suara seorang wanita dalam 2 bahasa, Mandarin dan Inggris, agar bersiap-siap (‘Please get ready for your arrival’) dan lampu di papan penunjuk yang menyala kelap-kelip. Kami turun di stasiun Dongzhimen, lalu keluar menuju ke Outer Street, untuk mencapai ruang kepindahan penumpang ke bis (‘bus transit hall’) unt mencari bis no 936. Kami menuliskan angka 936 dalam kertas kecil, dan menunjukkan kepada siapapun yang kami tanyai, sebab tidak ada bahasa yang memudahkan komunikasi kami dengan siapapun di situ, kecuali bahasa tulisan berupa angka. Sayang sekali, bis rute tersebut cukup jarang, sehingga kami takut kehabisan waktu dan memutuskan naik Honda New Jezz keluaran terbaru yang kami sewa seharga Y 350 menuju Mutianyu, selama 1,5 jam melewati jalan tol dan jalan alternatif dengan kecepatan tinggi dan gaya nyetir ugal-ugalan.

 100_3639
Peta Great Wall Tourist Zone di Mutianyu Di dalam cable car bertarif Y 40 per orang

Mutianyu terletak di Kabupaten Huairou, dibangun pada saat Northern Qi diperintah oleh Kolonel Xu Da yang kemudian berpangkat jendral di bawah Kaisar Zhu Yuanzhang pada awal Dinasti Ming berkuasa. Daerah Wisata Tembok Besar (Great Wall Tourist Zone) di Mutianyu meliputi perkampungan warga asli (Mutianyu Village), Yishonglou Restaurant, miniatur kota Meng Shi, tempat parkir 3 areal, jalan mendaki ke Tembok Besar (Passage Leading up the Great Wall), jalur menurun dari puncak (the Proper Terrace of the Pass), menara pengawas (Big Corner Tower) dan stasiun naik turun penumpang kereta gantung.

100_3631

Tembok Besar Cina, benar-benar tembok dari batu dan sangat besar

Di dalam cable car bertarif Y 40 per orang

Tembok Besar di Mutianyu dikelilingi daerah luas yang terdiri dari gunung-gunung dengan pemandangan sangat indah sesuai dengan musimnya. Pada musim panas diwarnai bunga gorgeus dengan dominasi putih dan tengah merah, pada musim semi hutan-hutan menghijau menutupi seluruh areal gunung, pada musim gugur banyak buah dan daun berwarna cokalat dan kuning berserakan dan pada musim dingin tertutup salju dengan warna putih yang mewarnai seluruh daerah utara. Kami naik kereta gantung yang dioperasikan Beijing Tourism Group Co., Ltd yang dibangun pada tahun 1986, sepanjang 732 m, setinggi 640 m, kecepatan kereta 3,5 m/detik dengan total jumlah kereta 58 buah, masing-masing dapat menampung 6 penumpang. Harga tiket masuk ke Tembok Besar (Great Wall) Y 50 dan naik kereta gantung (cable car) Y 40 per orang. Sopir kami yang membelikan semuanya dan mengatakan kami wisatawan domistik, karena wajah ‘Mongoloid’ kami mirip mereka, sehingga diberi harga tersebut.

 100_3633  100_3617
Tembok Besar Cina yang memanjang Salah satu sudut Great Wall

Tembok Besar adalah benteng pertahanan militer yang terbesar di seluruh dunia dan masuk dalam ‘7 keajaiban arsitektur dunia’ karena pengerjaannya yang rumit (arduous work), sejarahnya yang panjang dan nyaris tidak masuk akal (imposing manner), dan tidak ada bandingnya di seluruh dunia. Tembok Besar sudah tercatat sebagai ‘Warisan Budaya Dunia’ oleh UNESCO sejak tahun 1987. Tembok Besar ini dibangun memanjang sejauh 629 km, berbentuk setengah lingkaran, mengikuti kontur tanah dan megah berdiri di puncak gunung. Di sekitar Beijing terdapat beberapa bagian yang terkenal, yaitu Badaling, Puncak Juyong, Simatai dan Mutianyi. Kami hanya mengunjungi Mutianyu, meskipun Simatai dianggap sebagai yang paling angker, berbahaya dan menarik (‘thrill, danger and oddity’) karena menara pengintai, strukturnya yang khusus dan bentuknya yang berbeda. Kami mendaki dan berfoto-foto di Tembok Besar, belanja cindera mata dan segera pulang ke Beijing. Kami makan siang di warung pinggir jalan dekat terminal bis Dongzhimen, yang semua daftar menu dan petugasnya hanya ada dalam Mandarin dan kanji. Akhirnya kami putuskan untuk menunjuk menu yang dimakan pengunjung di meja sebelah dan botol air mineral kosong, sebagai menu yang kami pilih dengan bahasa Tarzan. Dengan keheranan penuh, karena pesanan kami terlalu sederhana dan sedikit, mereka tetap melayani dengan diiringi tawa cekikikan petugasnya. Kami makan nasi 1 porsi dengan irisan daging babi dan sayuran hijau seharga Y12 untuk berdua. Ciri khas orang China yang kami amati ada 3 hal yang mengherankan, yaitu menguap di manapun dengan mulut terbuka tanpa ditutup telapak tangan, meludah di sembarang tempat, pesan makanan di restoran tanpa minuman karena menunya hampir semua berkuah, dan kalau makan perlu lauk beragam dengan porsi besar, yang dimakan agak lama karena diiringi ngobrol terus menerus.

100_3654

Mao Zedong sang pemimpin Cina

Saat ini di Beijing ada 13 line subway (jalur kereta api bawah tanah). Kami menggunakan line 2 dari stasiun Dongzhimen ke Jianguomen, kemudian ganti line 1 ke Tian’anmen Timur, untuk mengunjungi Gerbang Menara Tian’anmen (Gate-tower) yang sangat terkenal dan dibangun pada tahun 1417. Tian’anmen berarti ‘Gerbang Perdamaian Abadi’ (Gate of Heavenly Peace) dibangun dalam tahun ke 15 pemerintahan Kaisar Yongle dengan nama awal Gerbang Penerimaan Kekuasaan Abadi (‘Gate of Accepting Heavenly Mandate’). Pada tahun 1651 saat tahun ke 8 kekuasaan Kaisar Shunzhi, lapangan itu diubah namanya menjadi Tian’anmen. Gerbang menara di depan dalam gaya Buddha, yaitu atap ganda berbentuk lengkung dengan tinggi 33,7 m dan panjang 9 bays dan lebar 5 bays. Di atas gerbang utama terpampang gambar Mao Zedong yang terkenal. Di depannya ada Qianmen yang merupakan gerbang kota pada saat Dinasti Ming dan Qing berkuasa. Lapangan Tian’anmen yang berada di pusat kota, membuat sudut kota Beijing simetris dalam longitudinal maupun latitudinal, yang menempatkannya sebagai tumpuan. Lapangan ini direnovasi besar-besaran pada tahun 1999 sebagai peringatan 50 tahun kemerdekaan negara RRC, dan merupakan lapangan umum (public square) terbesar di dunia dengan luas 440.000 m persegi, dapat menampung 1 juta orang dalam sebuah kegiatan, dan merupakan daya tarik luar biasa bagi para wisatawan (an impressive tourism centrepiece). Kami berdua berdiri diantara puluhan ribu manusia, sebuah pengalaman tak terlupakan (nggegirisi) karena dikepung para pengunjung, baik yang berjalan-jalan, berdiri keheranan, maupun yang antri akan melihat jasad pemimpin Mao Zedong yang terlihat membelitnya antrian manusia untuk masuk ke dalam makam (mausoleum) Ketua Mao (Chairman Mao). Kami berdua berdiri dan kesulitan berfoto di antara padatnya pengunjung di atas jembatan sungai Emas yang dikeramatkan (Golden River) di tepi Jalan Chang’an (Avenue) yang sangat lebar, di depan gerbang yang ada foto raksasa Mao Zedong, untuk masuk ke Duanmen.

 100_3641  100_3645
Stasiun subway di Tian’anmen Foto raksasa Mao Zedong di Tian’anmen

Chang’an Avenue merupakan sumbu dari arah timur ke barat kota Beijing, dimulai dari Tongzhou di timur sampai Shijingshan di barat dan merupakan jalan penting (the first street in China). The Forbidden City (Kota Terlarang atau Museum Istana) dibangun pada saat Dinasti Ming berkuasa (1368-1644), yaitu mulai tahun 1406 dalam waktu 14 tahun dan menjadi istana bagi pusat kekuasaan Dinasti Ming dan Qing, atau sebanyak 24 kaisar. Kompleks ini merupakan istana yang paling luas di dunia dan pada tahun 1987 UNESCO mencatatnya dalam ‘Daftar Warisan Budaya Dunia’ atau ‘World Heritage List’. Di dalamnya terdapat gedung-gedung istana, lapangan luas, dekorasi artistik, bonsai, taman yang indah dengan relief budaya. Secara arsitektural yang menonjol adalah Pura Perdamaian (Temple of Heaven) di bagian selatan Lapangan Tian’anmen, merupakan kompleks candi terbesar di Daratan China yang dibangun pada abad 15, digunakan untuk berdoa oleh para kaisar yang berkuasa dan memohon petunjuk untuk kebijaksanaan (good harvests). Selain itu, ada Lama Temple yang dibangun pada abad 17 di sebelah utara kota, yang digunakan untuk berdoa aliran Topi Kuning dari propinsi Tibet (Tibetan Lamaism). Kami tidak mampu mengelilingi kompleks yang sangat luas itu, baik karena takut kehabisan waktu, maupun cidera lecet kaki karena sudah dan akan berdiri dan berjalan kaki sangat jauh. Akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan ke Stadion Negara (National Stadium) dengan subway line 1 ke stasiun Guomao untuk ganti line 10, lalu ke stasiun Bagou ganti line 8 di stasiun Beitucheng, dan turun di National Stadium. Stadion ini adalah stadion utama untuk acara seremonial pembukaan dan penutupan Olimpiade Beijing 2008, berbagai lomba atletik dan final cabang sepakbola. Bentuk arsitekturalnya yang sangat khas, yaitu seperti sarang burung, maka disebut Bird-nest Stadium. Di sampingnya ada National Aquatic Center yang juga disebut ‘Water Cube’, merupakan arena pertandingan cabang renang pada Olimpiade 2008 dan salah satu simbol bangunan khas di Beijing, karena bentuknya yang kubus dan dinding luarnya nampak seperti air dalam kantong-kantong plastik berwarna biru.

 100_3659  100_3664
Di dalam subway line 8 yang modern Stadion Sarang Burung (Bird-nest Stadium)

Pulang dari Stadion Olympic Green line 8 kami melanjutkan ke stasiun Beitucheng, ganti line 10 ke stasiun Huixinxijie Nankou untuk ganti line 5 ke stasiun Yonghegong dan ganti lagi ke line 2 menuju stasiun kota (Beijing Railway Station) untuk pulang ke Shanghai dengan KA malam express, sejenis dengan yang kami gunakan untuk pergi. Sungguh sangat besar sekali kota Beijing, sehingga pemahaman tentang tata letak tempat tujuan (sesuai peta) harus dipahami benar, agar kita tidak lenyap di tengah-tengah arus deras banyak manusia yang menyemut, tetapi tidak mudah mencari orang yang dapat ditanya dengan Inggris dan latin, selain Mandarin dan kanji. Malam itu kami terbaring nyenyak dalam kelelahan yang digoyang laju kereta D307 menuju Shanghai.

SHANGHAI  LAGI

Sesampai di Shanghai lagi dengan kereta yang sama, Jum’at pagi 16 Oktober 2009, pk. 7.15 kami langsung mengikuti seminar dan sorenya melanjutkan ke Nanjing Road dengan taxi meter melalui terowongan panjang di bawah sungai Huangpu. Sungai Huangpu yang lebar memisahkan daerah barat (Puxi) dengan timur (Pudong) kota Shanghai. Di sisi barat berdiri gedung-gedung menawan yang dibangun dalam rentang waktu abad 15-19 dan di sisi timur tegak ratusan gedung-gedung pencakar langit, bahkan sampai 50-100 lantai. Shanghai World Financial Centre sebagai gedung tertinggi di dunia diresmikan pada Agustus 2008. Bangunan 101 lantai setinggi 474 m (1.555 kaki), dengan 3 lantai (lantai 94, 97 dan 100) dindingnya adalah kaca transparan, sehingga pengunjung dapat melihat seluruh panorama kota dari ketinggian (cityscape). Gedung ini sama tinggi dengan Burj Dubai di Uni Emirat Arab dan Taipei 101 di Taiwan, sehingga dinamakan ‘sister of Shanghai skyscrapers’. Di dekatnya megah berdiri stasiun televisi (The Broadcasting & Television Tower of Oriental Pearl), yang merupakan menara tetrtinggi ke 3 di dunia setelah CN Tower di Toronto, Canada dan Moscow TV Tower di Rusia. Kota ini terletak pada garis 31,14 LU dan 121,29 BT, pernah menjadi pusat kota Cina bagian timur dan merupakan gerbang ke lembah sungai Yangtze. Kota ini berpenduduk 17 juta jiwa, dimana 10 juta jiwa tinggal di pusat kota dengan luas 6.340,5 km persegi dan 2.643 km persegi merupakan pusat kota (downtown). Rata-rata suhu tahunan adalah 18 derajad C dan curah hujan 1.240 mm. Musim panas terjadi pada Juli dan Agustus, dengan suhu sampai 30 derajad C dan paling dingin di Januari dengan suhu 3 derajad C, dan cuaca paling baik untuk wisatawan adalah bulan September dan Oktober. Para pengamat memandang hal ini sebagai simbol kedigdayaan China pada abad yang lampau, hari ini dan masa depan. Kalau kita berdiri di dekat sungai Huangpu, kita dapat melihat kota yang memiliki 2 masa berbeda dengan pesonanya sendiri-sendiri.

 100_3690  100_3682
Shanghai World Financial Centre &Tower of Oriental Pearl Sisi barat the Bund dengan bangunan Eropa abad 19

Di Shanghai ada Nanking Lu, kawasan belanja elite dunia. The Bund, yang termashur dengan perpaduan gaya bangunan barat dan timur. Pudong, di sebelah timur kota, dimana tegak gedung-gedung baru dan menara Shanghai yang seolah menyebarkan kabar, bahwa Shanghai layak sebagai kota terbaik di dunia. Trotoar yang mengitari kota, pada umumnya lebar. Ada yang 5 meter, tetapi banyak yang sampai 20 meter, atau bahkan 90 meter. Sejumlah jalan di sini memang mirip lapangan sepak bola. Taman-taman tersebar di mana-mana, lengkap dengan patung, air mancur, restoran dan tempat untuk rileks. Nanjing Road yang kami datangi terletak di Puxi, daerah kota lama Shanghai di seberang sungai, dan kami merencanakan jalan-jalan di the Bund, sebuah arena jalan kaki (pedestrian) sepanjang 1,6 km, terluas dan terkenal yang menyusur sungai Huangpu. Sayang sekali, the Bund baru direnovasi untuk menyambut World Expo 2010, sehingga kami hanya mengambil foto-foto panorama gedung pencakar langit kota Shanghai di Pudong yang khas dan fenomenal, yaitu ke arah seberang sungai. Kami melanjutkan perjalanan dengan taxi ke Yu Garden dan belanja di Fuyou Street Merchandise Mart, tepatnya di sisi belakang Yu Garden.

Yu Gardens and Bazaar dibangun pada tahun 1559 oleh keluarga kerajaan. Meskipun dihancurkan oleh kolonialisme pada abad 19, masih terlihat terowongan, gua, dinding batu pembatas, kolam renang, gedung pentas opera dan markas sebuah komunitas (the Small Swords Society) yang digunakan sejak tahun 1853. Ada lagi rumah di tengah kolam untuk minum teh (Mid-lake Pavilion Teahouse) dengan sebuah jembatan 9 kelokan (Nine Twists Bridge) untuk menuju rumah itu, dan masih banyak bangunan bersejarah seperti Former French Concession Lined, Ruijin Guests House, Morris Estate, boutiques yang terkenal Taikang Lu, Fuxing Xi Lu, dan Sinan Lu. Di sebelahnya berdiri megah Museum Shanghai tempat diselenggarakannya Konggres Pertama Partai Komunis China (CCP) pada 23 Juli 1921 oleh Li Hanjun dan Mao Zedong, yang dikemudian hari menjadi presiden RRC pada 1949. Sayang sekali, kami tidak mampu mengabadikan keindahan semuanya, karena begitu banyaknya pengunjung yang berjejal dan menutup ruang gerak dan sudut untuk pengambilan gambar secara ideal.

 Yu Garden  Paper cutting
Yu Garden yang padet pengunjung Paper cutting berbentuk wajah tamu

Setelah puas belanja pernik-pernik, kami mencoba menyeberang sungai Hungpao menggunakan kapal penyeberangan tradisional di dermaga Dongmen Road yang dikelola Shanghai Public Transportation Car dengan harga tiket Y 0,5 untuk menyeberang selama 8 menit ke Pudong. Situasi di dalam kapal sangat ramai dengan orang-orang Shanghai awam, masyarakat kebanyakan atau rakyat biasa, sepeda, dan sepeda motor yang semuanya menjadi satu. Kami mencoba menyeberang kembali ke daerah Puxi dengan kapal sejenis, memotong arus deras sungai Huangpu ke dermaga yang sama. Sesampai di daratan Puxi kami berjalan menyusur the Bund yang sedang direnovasi untuk melihat Astor House Hotel yang monumental. Perlu diketahui, bahwa aliran listrik pertama di seluruh daratan China dibangun di Richard Hotel pada tanggal 26 Juli 1882, yang sekarang berganti nama menjadi Astor House Hotel di Huangpu Road. Kami melihat monumen dan kenangan tentang aliran listrik itu di situ lalu berlanjut ke stasiun di Poeple’s Square untuk naik subway menuju ke stasiun Longyang Road dengan line 2, karena ingin mencoba naik Maglev (kereta api tercepat di dunia) yang bertarif Y50 selama 8 menit ke stasiun di Shanghai International Airport. Pada awal 2004 mulai dibangun proyek infratsruktur angkutan nasional yang prestisius, yaitu kereta super cepat (Magnetic Levitation Shuttle train atau ‘Maglev’) dengan kecepatan 431 km/jam. Kereta ini menghubungkan Pudong dengan stasiun pusat kota Longyang Road dalam waktu hanya 8 menit. Kereta ini terjadwal setiap 15-30 menit pada pk. 7-21.30. Setelah mencoba Maglev itu, kami menuju ke rumah keluarga bu Nova Gunawan di Xiang Mei Garden Apartmen di kamar nomor 1601. Dilanjutkan jamuan makan malam keluarga di sebuah restoran bergaya semi minimalis China modern dalam Huishang Building lantai 3 di Min Sheng Road 3F, no 1286. Setelah makan malam itu, kami kembali ke hotel untuk berkemas-kemas.

 100_3693  100_3694
Petunjuk ke stasiun di Poeple’s Square Stasiun Maglev di Longyang Road

Pagi harinya kami pulang ke Yogyakarta dengan pesawat Singapore Airlines SQ 986 yang diselingi berurusan dengan petugas airport di ruang pemeriksaan bagasi (Baggage Check Room), karena cindera mata patung dari plastik terlihat sebagai bahan berbahaya dalam mesin ‘scaner’ bagasi penumpang. Kami sampai dengan selamat di Yogyakarta pada Sabtu malam, 17 Oktober 2009, setelah 4 hari bertualang di luar paket wisata agar lebih ngirit, menjelajah secara mandiri 2 kota terbesar di RRC atau Negeri Tirai Bambu yang memiliki penduduk terbanyak di seluruh dunia.

sekian

Yogyakarta, 19 Oktober 2009

*) penjelajah negeri orang berdana cekak

Categories
anak Healthy Life Jalan-jalan sejarah

2009 JELAJAH LAMPUNG : BUMI RUWA JURAI

JELAJAH  LAMPUNG  :  BUMI  RUWA  JURAI

fx. wikan indrarto dan b. sari prasetyati

Kami berlima dengan Yangti Salaman (Eyang Putri Yustina Nanik Karsini) berangkat dari Stasiun Tugu Yogyakarta dengan KA Argo Lawu pada Rabu pagi, 1 Juli 2009 menuju ke Jakarta. Setelah menginap semalam di rumah pakde Totok Ismintarto di Pamulang, Tangerang Selatan, kami melanjutkan dengan mobil sewaan, Kijang Innova B 8272 ZY ke Merak, di ujung barat Pulau Jawa. Biaya menyeberang kapal milik Indonesia Ferry yang dioperasikan ASDP untuk golongan 4A adalah Rp. 198.000 dengan waktu tempuh sekitar 2 jam, sampai di pelabuhan Bakauheni, di ujung selatan Propinsi Lampung (Ruwa Jurai). Ruwa Jurai berarti kaya raya dan indah berseri.

100_3269

Siap2 wisata bahari di  Pantai Mutun di jantung Teluk Betung, Lampung

Kami sampai di Bandar Lampung, ibukota Ruwa Jurai, Jumat, 3 Juni 2009 sekitar pk. 17.30 dan menginap di Hotel Arinas Jl. Radin Intan no 35A, di pusat kota. Malam itu kami beristirahat dan menikmati angin laut di alam bebas yang berhembus dari teluk Lampung. Bandar Lampung adalah sebutan untuk kota yang baru, sebab merupakan gabungan 3 kota lama yaitu Teluk Betung, Tanjung Karang dan Panjang. Setelah makan malam, kami menuju rumah Kol. Inf. Arwandi (sepupu bapak Wikan) di Jl. Pulau Batam Raya no 12 Wai Halim, Lampung. Kami membezook mertuanya (75 tahun) yang baru pulang dari rumah sakit, karena menderita Hepatitis A dan radang usus (kolitis) kronis. Setelah ngobrol dan anak-anak mulai mengantuk, kami pulang ke hotel.

100_3177

Ubur-ubur laut yang ditangkap dik Bimosaat berenang di Pantai Mutun

100_3179

Dik Laras bergaya di atas kelotok dalam perjalanan kembali dari Pantai Mutun

Jum’at pagi kami menjemput Sr. Franselin, HK (sepupu mama Sari) di Biara Pusat Kongregasi Suster Hati Kudus St. Anna di Jl. Pattimura, samping kompleks sekolahan Xaverius, lalu menuju Pantai Mutun di jantung Teluk Betung. Perjalanan diselingi tersesat 2 kali, sebab banyak persimpangan jalan di kota lama Teluk Betung. Pantai itu berpasir putih yang bersih dan kami naik kelotok bertarif Rp. 5.000 perorang untuk menyeberang ke pulau kecil yang terdekat. Kami mendarat setelah 10 menit berperahu di laut dangkal yang jernih, dan berenang sepuas hati di sekitar kelotok yang tertambat. Air lautnya jernih, pasirnya putih, ombaknya nyaris tidak ada, sehingga anak-anak sangat puas dan bergembira. Setelah mandi bilas dengan 100% air tawar yang dingin, kami melanjutkan perjalanan ke Wai Kambas.

100_3231

Kami mencapai tujuan kami utama, yaitu Sekolah Gajah di Way Kambas, Lampung.

100_3208

Keinginan kami adalah naik ‘gajah terdidik’ keliling taman Way Kambas, Lampung.

Perjalanan menyusur jalan lintas tengah Trans Sumatera yang padat dengan truk dan bis antar propinsi besar-besar hanya sampai Tegineneng, lalu membelok ke kanan menuju Metro, sebuah kotamadya di Lampung bagian tengah. Perjalanan menyusur melawan arus air irigasi, semacam Selokan Mataram di Yogyakarta dengan lebar 2 kali lipat, areal persawahan yang subur, luas dan sedang menghijau di lumbung padi Lampung. Kami mampir untuk mengenal Biara Novisiat Suster Hati Kudus di pusat kota Metro yang rindang karena lebatnya pohon dan teratur tata kotanya karena terancang baik. Perjalanan kami lanjutkan dengan melintasi Lampung bagian tengah yang sudah lebih maju dan masuk ke teritorial Kabupaten Lampung Timur yang lebih tertinggal. Sukadana sebagai ibukota kabupaten, nampak kusam dan sepi, dengan jalan protokolnya yang hancur, penuh lobang. Taman Nasional Way Kambas yang kami tuju adalah areal hutan asli yang dirancang sebagai tempat pelatihan dan penangkaran gajah Sumatera yang masih liar. Kami memasuki arealnya menjelang adzan Ashar yang menggema dari mushola dekat kantor petugas. Pertunjukan ketangkasan gajah rutin sudah usai, sebab jadwal terakhirnya pk. 14 dengan biaya Rp. 500.000 per paket, yang biasanya ditanggung ramai-ramai (patungan) oleh para pengunjung, makanya kami hanya melihat aktivitas sore hari para gajah. Sewaktu mereka pulang dari hutan untuk mencari makan sehari penuh, langsung dimandikan oleh para pawang, berendam di sebuah kolam, lalu kembali ke kandang. Mereka berjalan berpasangan, yang jantan gagah dan besar dengan kaki depan dirantai dan kedua gadingnya sudah dipotong ujung runcingnya, yang betina lebih kecil badannya, tanpa gading dan berjalan sambil melindungi anaknya. Salah seorang anak gajah yang sebesar sapi ada yang sempat marah dengan lenguhan keras dan mengejar kerumunan orang di pinggir jalan setapak.

Gajah Jinak

Kami (dengan Sr. Franselin, HK) bergaya tanpa takut di depan gajah yang jinak di WaiKambas, Lampung

Kandang Gajah

Kandang gajah tanpa pagar, seluas lapangan sepak bola dengan tiang beton penambat gajah yang nampak di kejauhan

Kami berhamburan melompat menghindar, sampai nafas tersengal dan degup jantung meningkat tajam, saat pawangnya memanggil gajah itu yang langsung menurut. Dikejar anak gajah sebesar sapi, adalah pengalaman ‘miris’ tak terlupakan. Kami lanjutkan dengan naik gajah keliling kompleks dan melihat dataran seluas lapangan sepak bola, dimana setiap gajah ditambatkan di sebuah tiang beton dengan rantai terikat dikedua kakinya. Malam hari sering ada rombongan gajah liar datang, sehingga gajah yang sudah jinak harus dirantai, agar tidak ikut mereka dan kembali liar. Ada 82 gajah dewasa dan 17 anak gajah di seluruh areal dan terlihat sebuah truk bermuatan rumput gajah, daun tebu dan rumput ilalang yang diturunkan di setiap tiang beton, untuk makan malam para gajah. Di sebelah lapangan itu, nampak banyak gajah yang masih merumput di semak-semak yang sangat luas, sepanjang mata memandang, nampak gajah-gajah yang berjalan dengan langkah pelan namun mantap.

100_3207

Gajah yang sudah jinak tidak buta huruf, karena sudah sekolah

100_3203

Taman Way Kambas yang luas, untuk mendidik gajah Sumatera

100_3200

Rombongan gajah yang pulang sekolah di Way Kambas, Lampung

Sore itu kami kembali ke Metro dan mengistirahatkan Pak Nardi, sopir yang membawa kami dari Jakarta, di sebuah kamar di Biara Novisiat Suster Hati Kudus. Kami mampir untuk bertemu Dr. Paran Bagionoto, SpB, direktur RS Mardi Waluyo, dengan jamuan makan malam menu Jawa di sebuah RM serba ada, dekat alun-alun kota. Sehabis itu kami melanjutkan perjalanan pulang ke Bandar Lampung, setelah Pak Nardi cukup kuat. Kami menginap di Susteran HK Meirmeri, Jl. Dr. Sunarto, Bandar Lampung. Pagi harinya kami antar pak Nardi untuk menjalani rawat inap di BP St. Anna Jl. Patimura, sebab demam tinggi sekali sampai 40 derajad C, lemah, dan pusing, kemudian kami tinggal untuk keliling kota dengan dipandu oleh mas Erwin, anak sulung Kol. Inf. Arwandi.

100_3256

Koleksi kain tenun khas Lampung di Museum Negeri Lampung

Pertama-tama kami mengunjungi Museum Negeri Lampung yang dirintis sejak 1975 di areal seluas 17.010 m2 dan diresmikan oleh Prof. Dr. Fuad Hasan, Menteri P&K RI pada 24 September 1988. Bentuk bangunan menggambarkan arsitektur tradisional Balai Adat Lampung (Sesat). Di halamannya yang luas, berdiri miniatur rumah panggung sebagaimana dahulu digunakan oleh masyarakat tradisional. Selain itu, juga ada jangkar kapal niaga abad lalu yang besar, ranjau laut dan meriam kuno untuk melawan bala tentara Kumpeni Belanda (VOC). Di dalamnya tersimpan aneka benda purbakala, dari jaman batu (megalitikum), jaman pertengahan sampai jaman sekitar kemerdekaan. Selain itu, tersimpan juga binatang khas Lampung dalam awetan, seperti hariamau, gajah, beruang madu, buaya, aneka ular dan burung yang semuanya asli Lampung dan hampir punah. Di lantai dua tersimpan aneka hasil tenun, batik, pakaian adat dan alat tenun tradisionil penghasil kain tersebut.

100_3255

Gaya dik Bimo menembakkan Meriam kuno di halaman Museum Lampung

100_3264

Makan siang di Pantai Pasir Putih dengan keluarga pakde Kol. Arwandi

Setelah puas memandang, kami melanjutkan perjalanan ke THR Pantai Pasir Putih, di dekat pelabuhan Panjang, di pinggir jalan trans Sumatera yang padat lalu lintas. Kami susuri jalan yang berdampingan dengan rel kereta api, yang saat itu dilalui oleh kereta babaranjang, kereta api terpanjang pengakut batubara dengan 50 gerbong dari Bukit Assam di Lampung Barat menuju Pelabuhan Batubara di Panjang. Kami sampai geleng-geleng kepala tanda takjub atas kebesaran eksplorasi alam Lampung yang kaya raya.

Rekresai di Pantai Pasir Putih itu kami awali dengan makan siang di atas tikar yang kami gelar di samping mobil yang parkir, dalam rindang bayangan pohon waru di atas pasir putih yang bersih, dengan hembusan angin laut yang semilir. Setelah itu, kami menyewa kelotok untuk menyeberang laut, menuju Pulau Condong yang berwarna hijau dari dedaunan di bukit yang terjal. Kami mengitari pulau itu, sambil melihat keindahan taman laut dengan kaca ‘snorkeling’ yang disediakan awak kapal. Karang dan ikan berbagai warna, ukuran dan bentuk, nampak nyata dan indah di bawah kapal yang bergeser, perlahan dibawa arus ombak kecil. Kami mendarat di sisi timur pulau dan menghabiskan siang itu dengan berenang-renang sampai puas.

Sore harinya, kami jenguk pak Nardi yang masih tergolek layu di bangsal rawat inap di BP St. Anna Jl. Patimura dan kami putuskan untuk pulang ke Jakarta, tanpa membawanya serta, karena tidak tega. Malam itu kami menginap di Hotel Kalianda, di seberang kantor Polres Lampung Selatan.

100_3273

Istirahat sejenak di depan Kantor Bupati Lampung Selatan di Kalianda

100_3236

Awal perjalanan pulang disimpang lima Bandar Lampung (Tapis Berseri)

Siger Lampung

Menara Siger di Bukit Bakauheni yang nampak gagah dari atas ferry penyebarangan

Minggu pagi 5 Juli 2009, kami sempatkan berdoa saja, sebab Misa Kudus baru akan berlangsung 2 jam lagi, di Kapel St. Paulus di kompleks rumah kalwat atau rumah retret Suster Hati Kudus di samping kantor Kodim Lampung Selatan. Perjalanan kami lanjutkan ke pelabuhan Bakauheni, di ujung selatan Lampung Selatan.  Kami pandangi Menara Siger di puncak bukit Bakauheni. Menara tersebut berbentuk topi khas Lampung, yang biasa dikenakan oleh pria bangsawan, dan berfungsi sebagai gardu pandang para pelancong yang ingin melihat pemandangan Selat Sunda yang indah, kesibukan pelabuhan penyeberangan yang berdenyut selama 24 jam sehari, dan juga berfungsi sebagai ‘tetenger’ Bakauheni dari tengah laut.

Perjalanan menyeberang laut di sisi selatan Gunung Krakatau itu berjalan lancar dalam 2 jam. Kami lanjutkan dengan makan siang menu Jawa Timur di depan Terminal Terpadu Merak. Terminal tersebut sangat luas, sebab paduan antara terminal bis antar kota, angkot, mobil pribadi, truk angkutan barang, kereta api penumpang, pelabuhan peti kemas, dan penyeberangan laut menggunakan ferri. Setelah berfoto-foto sepuasnya, perjalanan kami lanjutkan melalui jalan tol Jakarta Merak yang sedang diperbaiki, untuk menuju Banten.

Kami mengunjungi Banten Lama, sekitar 9 km dari pusat kota Serang. Kami melihat kompleks Keraton Surosowan atau Gedung Kedaton Pakuwan yang dibangun pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin (1552-1570). Perlu diketahui bahwa Kerajaan Islam Banten di Surosowan (saat ini masuk Banten Lama) didirikan di dekat pantai, pindahan dari Banten Girang (=hulu). Kota Surosowan sebagai ibukota kerajaan dibangun atas perintah Sunan Gunung Jati kepada puteranya Maulana Hasanuddin Panembahan Surasowan yang kemudian menjadi raja Banten pertama pada tahun 1552.

Islam datang pada 1524 dan Sunan Gunung Jati atau Syeh Syarif Hidayatullah mengalahkan Prabu Pucuk Umum (putera Prabu Seda), penguasa terakhir Kerajaan Sunda Wahanten Girang. Keraton Surosowan dibangun pada 1552-1570, dindingnya setinggi 2 meter, dan tebalnya 5 meter. Panjang dari timur ke barat 300 m dan utara ke selatan 100 m.

100_3304

Dinding bekas pondasi Keraton Sorosowan di Banten yang dihancurkan pasukan Daendels

100_3308

Dik Laras bergaya sendirian di Situs purbakala yang tinggal puing batu kurang tertata, di dalam kompleks Banten Lama

Pada pemerintahan Pangeran Muhammad, berlabuhlah kapal-kapal Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman di pelabuhan Banten pada tahun 1596. Dalam catatan Jansen Kaerel  diceritakan kota Banten yang sudah maju, dikelilingi pagar tembok batu bata, bermeriam, pasarnya ramai  dan masjidnya besar. Catatan Willem Lodewiyk menggambarkan pedagang Portugis, Arab, Cina, Turki, Keling, Pegu, Gujarat, Malaya, Benggali, Malabar dan Abesinia, juga Bugis dan Jawa.

Catatan Tome Pires menyebutkan transaksi di pasar telah menggunakan mata uang Cina, yaitu Caxa (cash) dan Tumdaya (tael). Sebagai perbandingan 1.000 cash seharga 29 kg (58 pon) lada. Masa keemasan Kerajaan Banten dicapai pada pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa Abdulfathi Abdul Fatah (1651-1672). Sensus penduduk pada masa pemerintahan Sultan Abdul Mahasin Zainul Abidin menyebutkan jumlah penduduknya 31.848 jiwa di tahun 1694

Pada tahun 1808 Daendels yang gagal memaksa Sultan Muhammad Syafiuddin untuk menyerahkan kerajaannya bersama dengan Lampung, lalu menghasut rakyat Banten untuk menghancurkan gedung istana Pakuwan Surosowan dan dipaksa untuk membuat pelabuhan kapal di pantai Labuan (pantai barat selatan Banten). Perang besar meletus dan tentara Belanda didatangkan dari Batavia untuk menghancurkan istana yang megah itu pada tahun 1832 dan berakhirlah era Kerajaan Banten yang akhirnya disatukan dalam teritorial Batavia dan dibentuk pemerintahan sipil yang dipimpin oleh landrost (semacam residen) dan berkedudukan di Serang.

Peninggalan di Banten lama adalah Kompleks Keraton Surosowan, Masjid Agung, Tiyamah, Menara Masjid, kompleks makam, meriam Ki Amuk (hadiah dari Sultan Trenggana di Demak kepada Sunan Gunung Jati), masjid Pacinan Tinggi (masjid yang pertama kali dibangun Sunan Gunung Jati), kompleks Keraton Kaibon (istana sultan terakhir), vihara Avalokitecvara (didirikan oleh Sunan Gunung Jati yang mengalahkan rombongan Cina yang akan ke Tuban, kehabisan bekal dan mampir di Banten. Sunan memperisteri Puteri Ong Tien, sehingga dibuatkan Masjid Pecinan Tinggi dan vihara untuk para pengikutnya secara adil, sebab ada yang jadi Islam), masjid Koja, Kerkhof (makam orang Eropa), benteng Speelwijck, Tasik kardi (sebuah danau buatan), pengindelan (bungker yang berfungsi sebagai penyaring air), klenteng Cina, Watu Gilang dan Museum Banten. Watu Gilang ada 2 buah, di depan kompleks keraton Surosawan dan di alun-alun sebelah utara. Bentuknya segi 4 dengan permukaan datar, terbuat dari batu adesit dan digunakan untuk pentasbihan sultan Banten.

Setelah puas berkeliling situs arkeologis itu, kami melanjutkan perjalanan ke Jakarta dengan masuk tol di gerbang Serang Timur. Kami menuju Gereja Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga di Paroki Katedral Jakarta, untuk mengikuti misa sore. Hari Minggu 5 Juli 2009 itu, gereja dengan arsitek Marius Hulswit (1899-1901) yang bergaya Gothik abad pertengahan, sedang direnovasi bagian menara kembar di depan.

Setelah misa, kami mengitari Taman Monumen Nasional, berfoto dan terkesima atas kegagan cahaya api dari emas di puncaknya setinggi 145 m. Malam itu kami ketemu keluarga pakde Totok di kantin stasiun Gambir, lalu berpisah jalan. Mobil Kijang Innova sewaan telah diambil lagi oleh salah seorang sopir yang telah menunggu di Gambir, sebab pada saat itu pak Nardi masih tergolek lunglai di Bandar Lampung.

Kami pulang ke Yogyakarta dalam gerbong KA Taksaka II dengan badan lunglai, sedangkan Yangti (Eyang Puteri Yustina Nanik Karsini) diajak untuk berlibur di rumah pakde Totok Ismintarto di Pamulang, Tangerang Selatan. Kami berlima sampai di Yogyakarta dengan selamat di pagi buta Senin, 6 Juli 2009, meski lemah, pening, mual, demam dan batuk. Sungguh, itu perjalanan sejauh 1.586 km yang penuh kenangan karena diakhiri dengan sakit.

Disampaikan banyak terima kasih, kepada siapa saja yang telah membantu terjadinya petualangan menjelajah Lampung, bumi Ruwa Jurai kali ini. Sampai jumpa dalam petualangan berikutnya.

100_3162

Bergaya di buritan fery penyeberangan ke Merak, Banten dari Bakaheuni, Lampung

sekian

Yogyakarta, 7 Juli 2009

Bapak Wikan

*) ketua rombongan pelancong bergaya minimalis.

Categories
Healthy Life Jalan-jalan

2008 SEKEJAP DI THAILAND

SEKEJAP DI THAILAND

fx. wikan indrarto dan b. sari prasetyati*)

Dalam rangka mengikuti ’10th Asian Congress of Pediatric Nephrology (ACPN) 2008′ dengan tema ‘Innovation in Prevention and Therapeutic Strategies’, yang berlangsung pada 28-30 Agustus 2008, kami mengunjungi Thailand. Acara tersebut diadakan di Bangkok Convention Centre at Central World 23rd floor, di Bangkok ibu kota Thailand. Kami menggunakan Garuda Indonesia GA 866, sebuah pesawat Boeing 737 versi 400 yang berangkat pk. 22 dari Jakarta dan sampai di Bangkok pk. 02 dini hari, hari berikutnya. Kami mendarat di Suvarnabhumi International Airport Bangkok yang baru, modern, artistik, dan gagah yang terdiri dari 6 lantai, di tengahnya ada Novotel Transit Hotel dan kantor AOT (official airport) yang tidak kalah artistik. Semua penumpang yang turun dari pesawat dilayani di lantai 2.

 
Bandara
 
100_2923
Saat mendarat Suvarnabhumi International Airport Bangkok, di tengah malam yang dingin (kiri). Bergaya dalam pakaian tradisional Siam dan salam persahabatan mereka (kanan)

Masih dalam perdebatan sampai sekarang, namun banyak ahli meyakini bangsa Thai berasal dari bagian barat laut propinsi Szechuan di daratan Cina, yang bermigrasi sekitar 4.500 tahun yang lalu, dan kemudian mendiami wilayah Thailand sekarang. Dugaan lain berkembang pesat setelah ditemukannya artefak di desa Ban Chiang, kabupaten Nong Han, Propinsi Udon Thani, sebelah timur laut Thailand. Hal ini meliputi bukti matalurgi, arkeologi dan sosiologi yang menunjukkan adanya budaya dan kehidupan sempurna sebagai sebuah awal suatu masyarakat bangsa. Di situlah bangsa Thai diduga berasal, yang kemudian justru bermigrasi pada 3.500 tahun yang lalu ke banyak bagian Asia, termasuk Cina. Masih diperlukan penelitian ilmiah lainnya, untuk membuktikan mana yang sesungguhnya benar, dan hal tersebut tidak dibahas dalam konggres yang kami ikuti.

.

Kata ‘Siam’ adalah sebutan bangsa Thai yang digunakan sejak jaman dahulu sampai pada tahun 1939, dan digunakan lagi antara 1945 sampai 1949. Sejak tanggal 11 Mei 1949 pada saat proklamasi kemerdekaan, namanya diubah menjadi ‘Prathet Thai’ atau ‘Thailand’, sebuah nama yang digunakan sampai sekarang. Kata ‘Thai’ berarti ‘bebas’, sehingga secara harafiah berarti ‘Tanah Kebebasan’. Thailand terletak di jantung Asia Tenggara dengan luas wilayah 513.115 km2 yang terbentang 1.620 km dari utara ke selatan dan 775 km dari timur ke barat. Thailand berbatasan dengan Laos dan sedikit Myanmar di utara, Kamboja di timur, Myanmar di barat dan Malaysia di selatan. Thailand dibagi ke dalam 76 propinsi, dengan kota-kota utamanya adalah Bangkok, Chiangmai, Songkla, Ayutthaya, Chonburi, Nakhon Ratchasima dan Khon Kaen. Bendera Thalaind secara seremonial dikibarkan setiap pagi hari, baik di kota-kota maupun di desa-desa, terdiri dari 5 buah pita mendatar, yaitu merah, putih dan biru. Hal ini melambangkan keharmonisan 3 pilar negara, yang dinamakan ‘trirong’. Hal tersebut diperkenalkan oleh Raja Rama VI (Vajiravudh) pada tahun 1917, yang awalnya disertai gambar gajah putih, sebagai lambang kerajaan. Bangsa Thai sangat menghormati Raja, Ratu dan anggota keluarga kerajaan, serta bendera nasionalnya yang banyak sekali berkibar di seantero negeri, setiap saat, bukan hanya pada bulan tertentu saja. Dengan alasan itu jugalah, kami bertekad mengkoleksi bendera Thailand, mencarinya di setiap toko cindera mata, dan ikut juga ‘mengenangnya’.

 
100_2781
 
Dermaga

Gambar Raja Bhumibol Adulyadid banyak ditemukan di seluruh negeri, Raja yang sangat dihormati rakyatnya

Dermaga ‘River City’ di ujung Jl. Charoen Krung, tempat kami memulai wisata sungai Chao Phraya

Hari pertama setelah sarapan kami menuju ‘River City’ di ujung Jl. Charoen Krung, untuk mencoba naik kapal wisata menjelajah Sungai Chao Phraya. Kami berdua berangkat bersama dengan dr. Pungki dan suami dari Yogya, juga dr. Heru, dr. Mega dan kakaknya dari Semarang. Sebelumnya kami diajak melawan arus dan menyusur sungai Chao Phraya yang lebar sekali, masuk ke anak sungai Klong Kai, melihat pasar terapung, rumah asli masyarakat Thai jaman dahulu, yaitu rumah panggung di tepi sungai, beserta aktivitas harian mereka. Pasar terapung atau dinamakan ‘Damnoen Saduak’, dapat sampai berupa ratusan kapal kayu yang memuat buah, sayur, cindera mata ataupun barang harian lainnya yang lalu lalang di banyak anak sungai dan kanal di sekitar sungai Chao Phraya. Kami juga diajak melihat ikan patin yang disucikan, sehingga dilarang untuk ditangkap dan dimakan oleh masyarakat Thai yang beragama Buddha. Ikan-ikan tersebut berenang-renang disekitar vihara Kanyalanamit yang besar dan diberi makan roti oleh banyak warga dan wisatawan yang berperahu di situ, juga oleh para biksu di wihara tersebut. Oleh karenanya, populasinya sangat banyak dan berukuran besar, bahkan sampai sebesar lengan orang dewasa. Untung ikan itu tidak hanyut sampai di Indonesia, sebab hampir pasti akan ‘musnah’ menjadi ikan bakar yang lezat.

 
100_2802
 
Transaksi

Suasana kapal wisata sungai yang melawan arus deras Sungai Chao Phraya

Transaksi di pasar terapung atau ‘Damnoen Saduak’, kami membeli rambutan

Kami selanjutnya mengunjungi Wat Arunratchamararam (Tample of the Dawn), yaitu sebuah candi milik kerajaan yang dibangun pada saat Dinasti Chakkri berkuasa di ibu kota lama, yaitu Ayutthaya. Pada awalnya dinamakan Wat Makok (the Olive Temple) dan diubah oleh Raja Thaksin menjadi Wat Chaeng saat ibukota berpindah ke Thonburi. Oleh Raja Rama II dikembangkan lebih luas dan disebut Wat Arunratchatharam. Raja Rama IV meneruskan pembangunannya dan menyebut dengan namanya yang sekarang, terdiri dari pagoda (prang) yang indah, berukuran tinggi 66,8 m, lebar 236 m2, dikelilingi oleh pagoda sekitar (satelit), semuanya ditempeli ribuan mosaik porselin yang memantulkan bermacam warna cahaya, bergaya dekorasi Cina dan merupakan ‘landmark’ Thailand. Wat Arun terletak di tepi barat sungai Chao Phraya yang terkenal, terdiri dari 13 bagian, yaitu ruang utama (Borth-Noi), balkon sekitar (Phra Viharn Kot), kapel (Phra Viharn), 4 buah pagoda satelit (chedi), pagoda utama (principal prang), paviliun dekat sungai (Sahassateja Tasakantha) dan gerbang utama. Setelah berfoto-foto dan mengagumi keindahannya, kami mampir ke sisi barat kompleks, yaitu toko souvenir, seperti kaos, gantungan kunci, hiasan dinding dan lain-lain. Yang mengherankan kami, semuanya dalam suasana Indonesia, baik pembelinya, penjualnya, bahkan musiknya dengan lagu-lagu dari Ebiet G. Ade, semuanya berbahasa Indonesia. Sangat banyak wisatawan asal Indonesia dan mereka dikenal sangat royal membelanjakan uangnya di situ. Kami berdua, tidak sama persis dengan mereka.

 
Wat Arun
 
Wat Po

Wat Arunratchamararam (Tample of the Dawn) yang merupakan landmark Thailand, sangat indah di waktu siang, maupun malam

Wat Pho di Jl. Chetuphon dengan patung Buddha raksasa berlapis emas dalam posisi tiduran sepanjang 46 meter dan berat 5 ton.

Setelah puas, kami menyeberangi sungai Chao Phraya dengan taxi air, semacam feri penyeberangan sungai, yang bersih, rapi dan terjadwal. Kami mengunjungi Wat Pho di Jl. Chetuphon, sebuah wihara besar yang di dalamnya terdapat patung Buddha raksasa berlapis emas dalam posisi tiduran sepanjang 46 meter dan berat 5 ton. Setiap pengunjung harus melepaskan alas kakinya dan dipersilakan masuk secara bergiliran, teratur dan kidhmat. Kami diijinkan mengambil foto sepuasnya, baik wajah, tangan maupun sekujur tubuh patung yang berlapis emas kekuningan. Setelah berfoto seperlunya, kami berjalan-jalan sepanjang kompleks untuk mengamati keindahan arsitekturnya, juga bangunan indah penyimpan abu jenazah setelah dikremasi. Masyarakat Buddha memiliki tradisi dengan melakukan kremasi (membakar) dan menyimpan abu jenazah keluarganya di kompleks wihara. Selain itu, setiap hari mereka bersembahayang dan membakar sesaji, menaruh bunga putih dan kuning di tempat pemujaan, dan menghaturkan sembah dengan kedua tangan di dada, saat melewati tempat tersebut. Tradisi ini mengingatkan gaya serupa masyarakat Hindu di Bali.

.

Perjalanan kami lanjutkan kembali ke Central World, tempat konggres untuk mengurus proses registrasi kami semua. Central World terletak di dekat Siam Paragon, sebuah supermal terbesar di seluruh ASEAN. Di lantai dasarnya ada Siam Ocean World, yaitu ‘the world class aquarium’. Di situ ada paket menyelam dengan hiu, yang disebut raja lautan (‘king of the ocean’ atau ‘ragged-tooth sahrks’), ada kegiatan jalan-jalan di dasar laut, pertunjukan memberi makan pinguin dan menonton petualangan dasar lautan dalam bentuk hi-fi 4D.

.

Setelah selesai mengurus registrasi konggres, kami berpisah dengan rombongan, sebab mereka akan kembali ke hotel untuk makan siang. Kami memutuskan untuk kembali naik BTS (kereta layang bergerbong 3) dari Siam Center Station ke Silom Station, lalu berganti BTS yang menuju Hua Lamphong Station. Proses membeli tiket BTS yang bersifat elektrik dan full-computerized, sejatinya telah menjadi sebuah tantangan teknologi bagi kami berdua yang udik dan gaptek (gagap teknologi). Dari situlah kami menjelajah kota tua Bangkok di pinggir sungai Chao Phraya, yang lebar, berair coklat, kadang berombak, penuh enceng gondok yang hanyut untuk keseimbangan ekosistem sungai, tetapi yang sangat membanggakan, sebab tidak ada sampah sama sekali. Berhubung istana raja atau the Royal Grand Palace yang akan kami tuju tutup pada pk. 15, maka kami mengunjungi tempat lain, yaitu banyak vihara atau wat. Pertama adalah Wat Ratchanadda (Loha Prasat), kemudian Wat Benchamabothit (Marble Tample) dan Wat Saket (Golden Mount).

 
BTS
 
Tuktuk

BTS (kereta layang bergerbong 3) yang tepat waktu, canggih dan berkarcis elektrik

Tuk-tuk beroda 3 yang open-air dan lincah menembus kemacetan kota Bangkok

Kami naik tuk-tuk dengan tarif paket 40 Bath ke semua tujuan dan mampir di suatu toko perhiasan batu mulia. Setiap sopir tuk-tuk yang mengantar tamu ke tempat tersebut, akan mendapatkan kupon BBM gratis seharga 20 Bath dari pemilik toko. Sebuah kerja sama antar unsur yang sangat baik dan saling menguntungkan, sehingga sektor pariwisata Thailand telah berhasil menjadi sumber pendapatan negara yang utama. Kami diantar pulang sampai ke stasiun BTS di Rajchathewi, untuk kemudian naik BTS ke Phayathai, yaitu stasiun terdekat dengan hotel kami, Hotel Florida. Hotel kami terletak di Jl. Phaya Thai no 43, Ratchathewi, Bangkok.

.

Pagi berikutnya, setelah acara pembukaan oleh Prof. Dusit Lumlertgul (Thailand) dan sesi ilmiah pertama oleh Prof. David Harris (Australia), kami mengunjungi The Royal Grand Palace. Perjalanan dimulai dengan naik BTS dari stasiun Phayathai menuju Siam, sebuah stasiun BTS penghubung (BTS interchange station). Kemudian berganti BTS menuju Silom. Stasiun Silom merupakan stasiun penghubung dengan subway (MRT interchange station) dengan subway (kereta bawah tanah). Kami berganti naik subway untuk menuju ke stasiun Hua Lumphong. Di stasiun kereta api utama tersebut, kami mencari informasi tentang jadwal kereta ke Ayutthaya dan kota-kota lain yang akan kami kunjungi hari berikutnya. Jadwal kereta terpampang sangat informatif dalam dua huruf, Thai dan latin. Kami lanjutkan perjalanan ke Wat Phra Kaeo (the Royal Grand Palace) di Jl. Maharat dengan taxi-meter, sebuah sedan Corrolla Altis yang warna-warni, bertarif 65 Bath. Untunglah kami naik taxi, sehingga dapat turun persis di depan gerbang pengunjung istana. Wisatawan lain yang berombongan dengan minibus ataupun naik bus pariwisata, diharuskan turun di tempat parkir khusus yang terletak cukup jauh untuk berjalan kaki. Istana ini menyimpan berbagai koleksi bangunan paviliun, candi (chedis) dan stupa emas (golden spires) yang menjadi sebuah masterpiece tersendiri. Dengan tiket masuk 300 Bath, kita dapat melihat keindahan di dalamnya, yaitu tempat doa kerajaan (the Royal Chapel) yang menyimpan patung Permata Buddha (the Emerald Buddha) yang dibuat dari batu mulia. Pulang dari the Royal Grand Palace kami menggunakan taxi-meter pada jalur yang sama, sebab kalau naik tuk-tuk, meskipun lebih murah dengan tarif hanya 40 Bath, kami harus mampir ke toko souvenir untuk mengambil kupon BBM bagi sopirnya. Kami S4 (sungguh sangat sungkan sekali) dengan para penjaga toko, sebab kami pasti tidak akan membeli apapun di situ, maklum kami berdana cekak.

 
Wat Kra
 
Taman Rama

Wat Phra Kaeo (the Royal Grand Palace) di Jl. Maharat yang berstupa emas, sangat indah sekali

Taman Thanon Rama IV yang luas, indah dan dilengkapi dengan patung Raja Mongkutklao yang berdiri gagah

Setelah mencapai Stasiun Silom, kami keluar dari jalur subway (di bawah tanah) untuk menuju Taman Thanon Rama IV yang luas, indah dan dilengkapi dengan patung Raja Mongkutklao yang berdiri gagah dan berfoto sejenak di situ. Kami menyeberang jalan Ratchadamri untuk menuju Central World dengan taxi-meter, sebuah sedan Corrola Altis. Setelah agak tersesat di dalam gedung yang sangat luas, megah, modern, artistik, dan digunakan sebagai supermal Isetan, akhirnya kami menemukan tempat konggresnya, yaitu di lantai 23 gedung paling belakang, terutama atas bimbingan dr. Heru via sms.

.

Selesai mengikuti sesi konggres pagi, yang berjudul ‘Renal Bone Disease’ dan ‘Restoration in Chronic Kidney Disease’, kami berjalan kaki menuju stasiun Chitlom untuk mencapai stasiun Victoria Monument dengan menggunakan BTS bertarif 40 Baht. Kesan umum tentang fasilitas umum di Bangkok adalah bersih, jarang sekali ada anak, kaum wanita lebih banyak, cantik-cantik, dan hampir tidak ada orang yang gemuk, kemungkinan karena semua orang dituntut untuk berjalan kaki ke sana ke mari. Telephone umum coin masih banyak dan berfungsi baik, setiap orang membawa HP (handphone), meskipun jarang-jarang digunakan untuk bicara, apalagi untuk sms, hampir tidak ada yang melakukannya. Kalau seseorang harus berbicara dengan HP di tempat umum, bicaranya sopan, lembut dan sangat pelan agar tidak mengganggu orang lain di sekitarnya, dan dengan diiringi ekspresi wajah yang nyata, sesuai dengan konteks pembicaraan. Sistem dalam telepon seluler di Thailand menggunakan gelombang NMT 900 Mhz, bukan CDMA dan standar GSM internasional. Papan reklame sangat banyak, baik di dalam maupun di luar gedung, tetapi tidak ada satupun iklan rokok, kartu seluler dan pesawat HP, sangat berbeda dengan di tanah air. Toilet umum bersih dan teratur, untuk di luar gedung bertarif 3 Bath. Kendaraan yang melaju di jalanan hampir semuanya mobil ‘made in Japan’ seperti di tanah air, bedanya hanya bentuknya sebagian besar sedan dan ‘double cabin’. Mobil keluarga (MPV) hampir tidak ada, kecuali Toyota Commuter dan Hi-Ace yang digunakan sebagai mobil angkutan penumpang ataupun wisatawan. Beberapa model sedan yang persis dengan mobil di tanah air adalah City, Corolla, Civic, Accord, Lancer, Vios, dan Camry. Ada juga Innova, Fortuner, Avanza, APV, Jazz, yang pada umumnya semua bersih, terawat dan full variasi.

 
Altis
 
Innova

Corolla Altis yang menjadi taxi-meter di Bangkok dan sekitarnya

Toyota Innova yang menjadi taxi-meter di Pattaya dan sekitarnya

Sebagai gambaran tentang angkutan umum di kota Bangkok, di sana beredar taxi-meter, tuk-tuks, bis kota, minibus, BTS dan subway. Sepeda motor sangat jarang, baik di kota besar, maupun di desa-desa, jauh lebih sedikit dibandingkan mobil. Taksi dengan argometer pada umumnya berupa sedan Toyota Corolla Altis atau All New Corolla, bertuliskan taxi-meter, beroperasi 24 jam penuh, dengan tarif duduk 35 Baht dalam 2 km pertama, serta 2 Baht per km lanjutannya. Tuk-tuks atau sejenis bajaj di Jakarta yang full variasi, colorfull, roda 3, open-air, dapat menembus kemacetan jalan raya, dan sangat disarankan untuk digunakan para wisatawan, dalam menjelajah kota secara murah. Bis kota ada yang ber-AC dan ada yang tanpa AC (ekonomi), tarifnya mulai dari 10 Baht tergantung jarak, berwarna biru, oranye, putih, dan hijau sesuai dengan jalurnya. Bis kota yang tanpa AC adalah bis tua yang sebagian disediakan gratis untuk seluruh penumpang, berhenti hanya pada halte khusus, dengan jendela yang selalu terbuka, namun pintu tertutup rapat secara elektrik dan berawak 1 orang, yaitu sopir saja. Minibus yang berwarna pinkish-violet, ber-AC, dan tarifnya sedikit lebih mahal, 10-25 Baht per orang tergantung jarak, pada umumnya berupa Toyota Commuter, berkapasitas 11 penumpang, sangat mudah dijumpai di saentero negeri, tetapi mobil serupa hanya sangat sedikit yang beredar di Indonesia. Semua penumpang duduk, tidak boleh ada yang berdiri. BTS Skytrain atau kereta api yang berjalan di atas jalan layang, memiliki 3 gerbong, berjarak 5 menit setiap kereta, berhenti di setiap stasiun di area yang ramai (major commercial areas). Ada 2 jalur, yaitu dari utara ke selatan, yaitu dari Mo Chit ke On Nut (disebut Sukhumvit Line) dan dari barat ke timur, yaitu dari National Stadium ke Taksin Bridge (disebut Silom Line). Mulai beroperasi pukul 6 pagi sampai tengah malam, bertarif mulai 10-40 Baht, tergantung jarak dengan karcis elektronik yang dapat mencegah manipulasi ataupun korupsi. MRT Bangkok Subway atau kereta bawah tanah yang merupakan moda transportasi paling baru, dimulai dari Hua Lamphong, stasiun utama Bangkok, melalui Jalan Rama IV dan Ratchadaphisek, serta melalui Queen Sirikit National Convention Centre. Kami telah mencoba semuanya dengan sangat antusias dan berkesan sangat dalam.

 
Bis
 
Hi Ace

Bis antar kota di Thailand, tinggi dan gagah.

Semua full-AC dan reclyning seat

Toyota Commuter, berkapasitas 11 penumpang, sangat mudah dijumpai di saentero negeri

Setelah sesi ilmiah siang, yaitu ‘Peritoneal Dialysis’ dan ‘Role of Biomarkers in Renal Failure’, kami pergi dengan BTS ke stasiun Victoria Monument dan kami mencari pangkalan mini bus yang menuju kota Ayutthaya. Setelah bertanya hampir 10 kali dengan bahasa Tarzan, Inggris dan Tuhan, kami berhasil menemukan minibus ke Ayutthaya di sisi timur monumen tersebut, yaitu sebuah Toyota Commuter 2,4 lt bensin, ber-AC, bertarif 165 Bath per orang, kapasitas 11 orang. Kami segera meluncur ke Ayutthaya di jalan yang sekelas jalan tol, meskipun itu sebenarnya jalan biasa. Bagus, halus, lebar, dan terencana. Foto Raja, Ratu dan bendera nasional banyak terpasang di segenap penjuru kota dalam berbagai ekspresi. Hal itu menunjukkan betapa besar cinta rakyat yang mayoritas beragama Buddha, terhadap beliau berdua dan juga kebanggaan rakyat terhadap bendera nasional Thailand. Bahkan, stiker bertuliskan ‘Live Long the King’ banyak tertempel di kaca mobil.

.

Perlu diingatkan bahwa istana kerajaan yang lama terletak di Ayutthaya, yaitu di sebelah hulu Sungai Chao Phraya, yang sekaligus sebagai ibukota kerajaan kuno (Ancient Capital of Siam). Saat ini, Ayuttaya sudah berkembang menjadi salah satu kota besar di Thailand, tetapi tetap menyimpan bukti-bukti kebudayaan lama dalam lebih dari 400 buah bentuk sisa-sisa istana, wihara, makam keluarga kerajaan dan masih banyak bangunan cagar budaya lainnya yang tetap terjaga keberadaannya. Istana Bang Pa-in adalah istana yang memiliki arsitektur paling unik, sebab merupakan gabungan dari tradisi asli Thai, unsur Cina dan Gothic dari Portugis. Kami hanya sempat mengunjungi 3 kompleks yang terkenal, terindah dan terjangkau saja, yaitu Wat Mahathat, Wat Lokayasutharam dan Wat Chaiwatanaram.

 
Buddha
 
Kepala Buddha

Bersemedi di sisi patung Buddha di Wat Mahathat yang merupakan makam kerajaan di Ayutthaya

Patung kepala Buddha (Lord Buddha’s Head) yang dibuat dengan akar pohon beringin di Wat Mahathat

Wat Mahathat adalah makam kerajaan di Ayutthaya yang dibangun oleh Raja Borommarachathirat I di tahun 1374, dan disempurnakan oleh Raja Ramesuan (1388-1395). Saat Raja Songtham (1610-1628) dihancurkan bangsa Khmer. Restorasi dikerjakan oleh Raja Prasatthong (1630-1655). Ditambahkan oleh Raja Borommakot (1732-1758) dan terbakar pada 1767 dengan seluruh kota Ayutthaya. Wat Mahathat merupakan makam Buddha aliran Kamavasi sejak Mahathera Thammakanlayan, yang dibangun oleh Raja Borommarachathirat I. Oleh Raja Rama VI pada masa Rattanakosin 1911 hancur. Pada 1956 diperbaiki oleh Departemen Kebudayaan direstorasi dan barang yang penting saat ini telah disimpan di Chao Sam Phraya National Museum di Bangkok. Makam ini terdiri dari main prang, main vihara, ubosatha (ordination Hall), prang, vihara (hall of worship) and chedi. Di dalamnya terdapat patung kepala Buddha (Lord Buddha’s Head) yang sangat terkenal, sebab dibuat dengan akar pohon beringin. Asal sejarahnya belum jelas, namun diduga dibuat saat Ayutthaya diserang oleh tentara Birma pada tahun 1230, dikalahkan, dihancurkan dan dibangun kembali dengan banyak tanaman baru di dalamnya. Legenda yang beredar dan banyak diyakini mengisahkan adanya pencuri arca yang tidak berhasil, karena terlalu berat, membawa arca curiannya melewati beteng dan ditinggal di bawah pohon, sampai lama kelamaan akar pohon beringin itu menyelimutinya.

.

Kami mengelilingi kota lama Ayutthaya dengan bemo tua, bukan tuk-tuk seperti di Bangkok, yang tetap terawat, bersih dan masih mampu dipacu cepat, dengan tarif resmi 200 Baht/jam/bemo, bukan per penumpang. Kami mengunjungi Wat Lokayasutharam patung Budha berbaring, yang terletak di desa Pratoochai. Patung seperti itu disebut Phra Bhuddhasaiyart, dengan wajah yang tersenyum damai menghadap ke arah timur. Bahannya adalah batu bata dengan semen kuno, panjang 37 m dan tinggi 8 m yang diselimuti kain kuning, kedua lengan saling menindih dan kedua kaki sejajar untuk menggambarkan keharmonisan. Setelah berfoto beberapa kali, kami melanjutkan ke Wat Chaiwatthanaram, sebuah sekolah (monasteries) para biksu Buddha yang dibangun oleh Raja Prasatthong di tahun 1630. Pangeran Damrong Rachanuphap adalah arsitek yang merancangnya persis sama dengan Angkor Wat, sebagai lambang kejayaan raja yang berhasil mengalahkan Kamboja. Candi ini merupakan ‘landmark’ kota Ayutthaya dan memiliki pagoda utama (prang) bergaya Khmer dengan 4 buah pagoda pendamping. Setelah puas berkeliling kota Ayutthaya, kami pulang ke Bangkok dengan menggunakan bis besar, yaitu sebuah Mercedez-Bens OF bermesin belakang, dengan tiket seharga 56 Bath, full AC, dimana sopir dan kondekturnya berseragam rapi seperti pilot pesawat terbang, tetapi kemeja putihnya lengan panjang. Hampir semua bis bercat warna-warni sangat meriah. Pemandangan sepanjang jalan pulang menampakkan kemajuan dan modernisasi Thailand. Jalan yang halus dan lebar, lalu lintas yang teratur, bangunan yang serba besar, dengan tempat parkir yang juga luas, masyarakat yang berbudaya antri, tidak makan dan merokok sembarangan, sehingga lingkungan jadi bersih dan nyaman. Penjual makanan di pinggir jalan sebagian besar menjajakan buah segar keunggulan agrowisata Thailand, sate babi dan sapi, kue tradisional, cumi dan udang berbumbu Thai, dan sari buah yang segar. Tidak ada satupun yang menjual rokok, pulsa ataupun kartu perdana seluler. Tidak ada rumah model rumah keluarga dengan halaman yang luas, berpagar dan asri. Yang nampak hanya apartemen sebagai tempat tinggal di perkotaan dan rumah tanpa pagar di pinggiran kota. Di bawah jalan layang tidak digunakan untuk rumah liar dan di pinggiran kota, dekat terminal bis, terlihat banyak garasi perusahaan bis, bahkan ada yang terletak di bawah jembatan layang, tetapi tidak dipagar, sehingga kelihatan semuanya.

 
Buddha Berbaring
 
Wat Chaiwatanaram

Patung Buddha raksasa berbaring (Phra Bhuddhasaiyart) diselimuti kain kuning di Wat Lokayasutharam, Ayutthaya

Wat Chaiwatthanaram yang dibangun oleh Raja Prasatthong di tahun 1630. yang dirancang persis sama dengan Angkor Wat, di Kamboja

Pada hari terakhir konggres, setelah sesi ilmiah pagi yang berjudul ‘Idiopathic Childhood Nephrosis’ dan ‘Spectrum of Acute Kidney Injury’, kami memutuskan untuk mengunjungi Angkor Wat di Kamboja. Kami harus pergi ke perbatasan Thailand – Kamboja, yaitu kota Aranyaprathet. Dari Mo Chit Bus Station yang besar, kami menggunakan bis HINO RK mesin belakang, ber-AC, dan tiket seharga 470 Baht, melewati Don Mueang International Airport persis di sisi timur jalan yang kami lalui, yang merupakan sebuah bandara sangat bersejarah bagi Garuda Indonesia, karena sebuah pesawatnya pernah dibajak di situ sekitar tahun 1982. Kami melewati kota Sa Kaeo yang cukup besar di jantung negeri Thailand, dan selanjutnya kami menuju ke arah timur, yaitu ke Aranyaprathet, kota perbatasan. Kami sempat beristirahat di sebuah SPBU besar yang dilengkapi toilet, kantin dan minimarket, sehingga kami sempat jalan-jalan di sekitar situ dan mengamati harga BBM di Thailand, yaitu antara 32,4 – 36,4 Bath/liter. Penyelenggara SPBU tidak dimonopoli BUMN Thailand, tetapi bermacam-macam, ada DAN, Shell, Caltex, Petronas, Esso dan ada 2 lainnya yang menggunakan huruf Thai. Kami membeli buah-buahan yang luar biasa mengundang selera, yaitu jambu Bangkok dan semangka segar. Agrowisata di Thailand sangat maju, sebab didukung penuh oleh Raja dan segenap birokrat pemerintahan, sebagaimana terlihat dari banyaknya poster di pinggir jalan yang menggambarkan peran Raja dengan para petani saat panen tiba, meskipun sebenarnya kontur tanahnya berawa-rawa, kering dan kesannya tidak subur. Di banyak tempat tersedia aneka buah kualitas ekspor seperti yang ada di tanah air, dari jambu, nangka, mangga, kelapa, durian, rambutan dan melon. Semuanya dalam ukuran yang besar, dagingnya tebal, rasanya manis, tidak mengenal musim dan dijual juga secara eceran dalam plastik praktis dalam bentuk potongan sekali telan, yang dilengkapi tusukan dari bambu yang kuat, tajam dan bersifat pabrikan.

.

Kami berhasil sampai ke terminal bis di dalam kota Aranyaprathet dalam sekitar 5 jam perjalanan, lalu ganti naik tuk-tuk ke perbatasan Kamboja yang bertarif 65 Bath per orang. Kami naik tuk-tuk bertiga, dengan seorang turis ‘backpacker’ dari Irlandia Utara yang kami kenal di dalam bis. Kami tidak jadi menyeberang, sebab harus mengurus visa di tempat seharga 1.000 Baht per orang. Kami tidak mengira perlunya visa, sebab toh masih sama-sama negara ASEAN. Persediaan Baht kami tidak cukup, mereka tidak mau menerima USD dan ‘money changer’ di sekitar perbatasan tutup karena hari Sabtu, sehingga kami membatalkan niat untuk menyeberang. Sayang sekali, sangat disayangkan bahwa petualangan ke Angkor Wat, sebuah keajaiban dunia abad ke 9 di jantung Kerajaan Kamboja, batal dimulai. Kami hanya ikut tuk-tuk yang mengantar teman kami dari Irlandia itu sampai ke ujung daerah perbatasan dan melihat-lihat situasinya. Kami memutuskan untuk kembali ke Bangkok dan naik bis dari terminal Aranyaprathet yang berangkat sore hari dengan tarif 235 Baht.

 
Bis Laos
 
Kamboja

Bis kami dari Bangkok ke Aranyaprathet, perbatasan Kambija, ngebut dan tetap nyaman.

Di ujung perjalanan, kantor konsulat Kamboja di Aranyaprathet yang tak tertembus visa

Kami sampai Bangkok sudah mulai malam dan turun di terminal bis Mo Chit, melanjutkan petualangan belanja dengan taxi-meter ke Jatucchak atau Chatuchak Weekend Market, sebuah pasar cindera mata dan barang seni yang hanya buka pada akhir minggu. Kami harus menunjukkan tulisan di peta kepada sopir taxi-meter yang tidak dapat berbahasa Inggris sedikitpun, agar paham tujuan kami. Setelah berbelanja barang-barang seni, kami lanjut dengan bis kota ekonomi non AC bertarif 7 Baht untuk menuju stasiun BTS Mo Chit. Di sekitar stasiun, sepanjang jalan dijual beraneka barang kelas pasar kaget, disusun rapi dan dijual oleh orang-orang muda yang energik, sopan dan rapi. Semua penjualnya adalah para wirausahawan muda yang gigih dan layak dicontoh. Kami berlanjut ke Victoria Monument yang sangat ramai karena malam Minggu. Semua yang berjalan-jalan, berjualan, makan maupun bergaya adalah kaum muda yang riang, antusias dan menyenangkan. Tidak nampak kelompok anak atau orang tua dalam kesemrawutan kegiatan tersebut, baik di stasiun, jalan penghubung, maupun Victory Point, tempat janjian dan nongkrong. Kami menikmati menu makan malam mie-sea food goreng dan teh hitam khas Thailand. Sangat lezat, bumbunya nyata, tersaji cepat, dan es batunya tercetak dari pabrik, bukan dipukuli dan terpecah seperti di tanah air, sangat mengenyangkan dan bertarif 98 Baht untuk berdua.

 
Victoria
 
Makan

Victoria Monument yang menjulang ditimpa cahaya lampu, sangat ramai di malam Minggu dan merupakan landmark Bangkok sisi utara

Menu makan malam mie-sea food goreng dan teh hitam khas Thailand, lezat, bumbunya nyata, tersaji cepat, dan es batunya tercetak dari pabrik

Pada hari terakhir, kami mengurus ‘check out’ dari hotel dengan sedikit masalah, berhubung transfer uang dari Jakarta ternyata belum masuk ke rekening hotel, meskipun sudah 3 minggu sebelumnya hal tersebut dilakukan dan kami telah menyerahkan copy transfernya. Dengan wajah memelas di ‘front desk’, bersuara lemah seolah kelaparan saat telephone dengan petugas akuntansi hotel di rumahnya yang sedang libur karena hari Minggu, dan juga mengaku kehabisan bekal, kami diijinkan ‘check out’ dengan hanya meninggalkan alamat dan nomor telephon di tanah air, agar pengurusan ulang transfer dana akomodasi dapat dilakukan. Dengan penuh syukur karena tidak jadi dipaksa badan (disandera), kami naik BTS ke stasiun Ekkamai bertarif 35 Baht. Di sisi tenggara Bangkok kami turun, dilanjutkan dengan naik taxi-meter yang sopirnya tidak bisa berbahasa Inggris sedikitpun, bahkan tidak bisa membaca peta dengan tulisan huruf latin dan simbol terminal bis. Kami kehilangan 100 Baht karena kesialan itu dan diturunkan di sebuah halte bis. Untung ada orang baik yang dapat menjadi penerjemah bagi kami, sehingga sopir taxi-meter yang berikut menjadi paham. Pinggiran timur kota Bangkok yang kami lihat, tetap bersih, teratur dan disiplin. Semua pejalan kaki pasti naik jembatan penyeberangan, tidak ada yang menyeberang sembarangan, meskipun sebenarnya antar jalan tidak dipagar sebagaimana halnya di tanah air.

.

Kami akhirnya menemukan Eastern Bus Terminal di distrik Sukhumvit dengan taxi-meter kedua, bertarif 41 Baht, berfoto sejenak di depan gerbangnya, menitipkan tas bekal (kopor) pakaian dan membeli tiket bis ke Pattaya yang diatur dengan sistem komputer, seharga 128 Baht/orang. Semua bis besar, tinggi, bersih, berpintu resmi hanya sebuah, yaitu di kiri depan saja, untuk masuk keluar penumpang, kondektur, maupun sopir, hampir semua penumpang adalah wisatawan, bis Volvo itu bermesin di belakang, berAC dan berbagasi sangat lapang di bawah ‘cabin’, berkursi 45 buah, full reclyning dengan sandaran kaki dan tempat gelas minum yang praktis, juga dilengkapi pintu darurat di sisi kanan tengah dan dapat dilihat pada www.pattayabus.com. Kami melewati jalan tol layang yang lebar, 3 ruas di setiap sisinya, hampir selama 2 jam dengan kecepatan 80 km/jam, sebuah jalan layang yang sangat panjang sekali. Tahap kedua dilanjutkan dengan sekitar setengah jam perjalanan di jalan biasa, bukan jalan layang, tetapi juga tetap lebar, halus dan teratur sekali.

 
Pattaya
 
Pantai Pattaya

Di gerbang terminal bis Pattaya, saat kami turun dari Bangkok

Pantai Pattaya yang putih, bersih dan nyaman untuk para wisatawan

Pattaya adalah kita wisata, denyutnya sangat terasa, serupa dengan Kuta di Bali sebelum dibom dahulu. Jalan dalam kotanya sangat lebar, paling tidak ada 2 jalur di setiap sisinya, sangat berbeda dengan jalan di Kuta yang sempit, semrawut dan padat. Kami naik tuk-tuk Pattaya, menjelajah kota sebentar, kemudian turun di depan Mike Shopping Mall di bibir pantai berpasir putih dan sangat ramai. Belum banyak taxi-meter di Pattaya, hanya ada tuk-tuk yang berupa mobil ‘double cabin’, umumnya adalah Izusu DMax yang diberi atap, dengan tarif 20 Baht/orang setiap kali turun, sebab untuk saat ini tuk-tuk berjalan tanpa jalur resmi, terserah penumpang mau pergi ke mana. Ternyata di situ juga sudah ada beberapa Toyota Innova yang digunakan sebagai taxi-meter. Kami berjalan-jalan sepanjang pesisir pantai yang berpasir putih dan berombak sangat tenang, melihat para turis berjemur matahari, dipijat punggungnya, pulang menyelam (diving) atau berperahu wisata ke pulau karang di tengah teluk. Kami sempat juga melihat-lihat tempat ‘Regent Marina’ dengan ‘Tiffany’s Show’ dan ‘Alcazar’, melihat gaya PSK yang menjajakan diri secara sangat vulgar, 24 jam penuh. Semua pertunjukan bernuansa sex dan menjadi ciri khas wisata Pattaya.

 
Izusu
 
Pattaya Gerbang

Mobil ‘double cabin’, Izusu DMax yang diberi atap, merupakan tuk-tuk di Pattaya

Gerbang Pattaya di bibir pantai yang ramai oleh wisatawan dari berbagai belahan dunia

Setelah puas makan buah, minum teh hitam Thailand dan berbelanja patung kecil Sang Buddha, kami mengunjungi wihara dengan patung Buddha keemasan yang besar dan di sebelahnya ada klentheng dengan patung Dewi Kwan Im di puncak Bukit Pattaya atau Buddha Hill. Dari situ, kami dapat memandang kedua sisi pantai, dimana Pantai Pattaya terletak di sebelah utara bukit dan Pantai Jomtien terlihat di sebelah selatan bukit. Di sebelah barat terlihat Teluk Siam dan di sebelah timur nampak Pattaya Kart, sirkuit balap yang hingar bingar di sebelah Underwater World. Di samping patung tersebut (Big Buddha Image), tersedia gardu pandang (vontage point) yang dapat digunakan untuk melihat keindahan panoramik seluruh penjuru Pattaya, yaitu di tengah Taman Kerajaan Raja Rama IX (King Rama IX Royal Park).

 
Big Buddha
 
Dewi Kwan Im

Patung Buddha (Big Buddha Image), di gardu pandang (vontage point) Bukit Pattaya

Dewi Kwan Im di Taman Kerajaan Raja Rama IX (King Rama IX Royal Park), dekat gardu pandang

Kami kembali ke terminal bis Pattaya dan membeli tiket pulang. Ternyata ada 3 jalur ke Bangkok, yaitu menuju terminal Mukdahan di barat, Southern di selatan, Morchit di utara dan Eastern di timur kota Bangkok. Kami memilih yang ke Eastern dan tepat 2 jam kami sampai di tujuan. Perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan kaki menyeberang jalan menuju Wat That Thong, dekat Ekkamai. Candi itu sangat ramai dengan para pelayat yang berpakaian serba hitam, sebab saat itu sedang ada semuah prosesi kematian. Setelah berfoto sebentar dekat gambar Ratu Sirikit, kami menuju ke bandara dengan menggunakan taxi-meter, bertarif 200Bath. Kami berfoto sebentar di beberapa lokasi, yang menggambarkan kemegahan arsitektur bandara Suvarnabhumi, yang didominasi oleh tiang baja yang melengkung, menyilang dan mendatar, warna silver millenium nan kokoh, beroperasi 24 jam penuh, dan masih sangat ramai di pagi buta sekalipun. Kami segera beristirahat di kursi ruang tunggu ‘check in’, sebab kami 3 jam lebih awal datang, dibanding petugas darat maskapai Garuda Indonesia.

 
Ratu
 
Bandara lagi

Gambar Ratu Sirikit di gerbang Wat That Thong, dekat Ekkamai yang sedang ramai oleh para pelayat dan pejalan kaki.

Arsitektur bandara Suvarnabhumi, yang didominasi oleh tiang baja yang melengkung, menyilang dan mendatar, warna silver millenium nan kokoh,

Kedisiplinan, kerja keras, toleran dan santun, telah mengantar Thailand menjadi salah satu negara yang berkembang cukup pesat, pantas dikunjungi dan tentu saja, layak dicontoh. Dengan bepergian secara mandiri, kami dapat berpetualang, nikmat meski juga berdebar, tetapi berhemat cukup banyak, sebab kami hanya menghabiskan seperempat dari biaya paket wisata yang ditawarkan. Sampai ketemu dalam petualangan selanjutnya.

sekian

di Ruang Tunggu sektor G Suvarnabhumi International Airport,

menjelang tengah malam, Minggu, 31 Agustus 2008

*) pelancong Jawa dengan dana terbatas

Categories
antibiotika dokter Healthy Life Jalan-jalan politik

2008 MEDAN & TOBA

MEDAN & TOBA

fx. wikan indrarto*)

Pada hari Minggu siang yang cerah, 12 Januari 2008, kami berdua menggunakan Kijang Innova BK 2375 KF melaju dari Medan yang ramai ke Prapat di tepi Danau Toba. Kami menyusuri jalan trans Sumatera yang lebar melewati kota Tanjung Marowa, Kabupaten Deli Serdang dengan ibu kota Pakam, Serdang Dalui, Tebing Tinggi, dan Kabupaten Simalungun dengan ibu kota Pematang Siantar. Di Tebing Tinggi kami berbelok ke kanan, berpisah dengan jalur trans Sumatera, masuk ke areal perkebunan kelapa sawit dan karet yang luas sepanjang mata memandang. Kami perlu waktu hampir 4 jam untuk sampai Prapat, yaitu sekitar pk. 18.30, dan menginap di Hotel Prapat Inn persis di tepi Danau Toba, sebuah danau terbesar di seluruh dunia.

100_2471

Bergaya di depan gerbang makam Tomok di Pulau Samosir

Pada Senin pagi yang cerah, 13 Januari 2008 kami menyeberang ke Pulau Samosir, naik kapal umum di dermaga pasar tua Prapat. Penyeberangan dapat menggunakan 3 pilihan, yaitu dengan kapal umum dari pasar tua bertarif Rp. 15.000/orang, speedboat dari dermaga taman kota bertarif Rp. 300.000/kapal, dan feri yang dapat memuat mobil. Kapal umum yang kami pilih itu memuat para padagang dengan barang dagangannya, pegawai dan sedikit pelancong. Di dalam kapal itu juga ada sepeda motor, barang dagangan pasar, sayuran, bahkan pupuk urea, semua menjadi satu. Kami naik kapal dengan jadwal perjalanan pk.08.30 menuju Tomok di jantung Pulau Samosir. Kami menyewa motor ojek untuk berboncengan seharga Rp. 30 ribu, untuk menyusuri jalan beraspal tipis dengan rute mengelilingi 1/4 pulau. Pulau Samosir berbentuk seperti ikan, berasal dari gunung berapi purba dan merupakan asal usul orang Batak. Peradaban dimulai di Tomok sekitar 600 tahun yang lalu, dan meninggalkan maskot patung berbentuk seperti cecak dan payudara, yang berarti orang Batak akan dapat hidup di mana saja dan sesama anak suku tidak boleh menikah. Bendera dan corak warna kain atau cat selalu dengan warna merah, putih dan hitam, yang merupakan warna khas.

 100_2472  100_2475

Gaya dengan ulos di depan makam

Raja Sidabutar di Tomok, jantung Pulau Samosir

Gaya pakaian adat Batak Toba

di depan Museum Tomok, dengan senjata betulan.

Anak suku tertua orang Batak adalah Sidabutar, yang waktu itu dikenal masih belum beragama (animisme), masih hidup secara vegetarian, makan sayuran mentah, dan rambutnya panjang, baik pria maupun wanita dewasa. Situs arkeologis yang masih dapat dilihat adalah makam dengan nisan batu yang besar untuk para raja, sedangkan nisan yang kecil untuk para serdadu yang gagah berani dan gugur di medan perang. Raja Sidabutar III baru beragama Kristen, setelah seorang pendeta Jerman, yaitu Tuan Nomensen datang pada tahun 1825. Kami sempat memasuki situs makam Raja Sidabutar, melihat rumah adat Batak, tarian Sigale-gale dan mencicipi menu khas makanan tradisional tanah Samosir. Setelah puas, kami kembali menyeberang danau menuju Perapat dan melanjutkan perjalanan pulang ke Medan.

100_2469

Naik motor sewaan keliling Pulau Samosir yang berpanorma indah.

Perjalanan pulang ke Medan kami tempuh melewati rute yang berbeda dengan saat datang, yaitu menyusur danau sisi timur, melihat banyak penjual sayur dan buah yang menjajakan dagangan di tepi jalan, terus melaju sampai ke Kabupaten Tanah Karo dengan ibukota Kabanjahe dan Kabupaten Mandailing dengan ibukota Beras Tagi. Di Beras Tagi yang dingin mencekam karena berada di punggung gunung, kami beristirahat dan mencicipi jus markabe, terdiri dari markisa dan terong belanda, yang merupakan buah khas daerah tersebut. Kami memasuki Medan saat matahari hampir tenggelam dan menginap di Hotel Danau Toba.

 Raja Sisingamangaraja  Tarian Sigale-Gale

Patung gagah Raja Sisingamangaraja XII

di depan makamnya

Tarian Sigale-gale, boneka yang dapat menari

di depan rumah adat Batak Toba

Hari berikutnya kami mengunjungi Istana Maimoon yang berdiri sejak tahun 1612, di pusat pemerintahan Kasultanan Deli abad pertangahan. Saat ini istana tersebut hanyalah tempat rekreasi, sebab sultan dan keluarganya sudah tidak tinggal di situ. Tuanku Sultan Mahmud Arya Lamanciji Perkasa Alam (Sultan Deli XIV) adalah sultan sekarang yang lahir pada 30 Agustus 1998 dan diangkat 22 Juli 2005. Kami dapat melihat tahta sultan, pakaian kebesaran, benda-benda milik sultan dan foto para sultan, termasuk sultan terakhir yang masih remaja. Setelah berfoto bersama, kami mengunjungi Makam Raja Sisingamangaraja XII, pahlawan nasional yang melawan penjajah Belanda, yang dibangun di pinggiran kota Medan. Di depannya berdiri gagah patungnya yang sedang naik kuda berwarna putih bersih dan dengan gagah memimpin pertempuran. Sayang sekali, monumen tersebut tidak terawat baik dan dikotori oleh para pedagang kaki lima di sekitarnya.

 100_2484  100_2491

Istana Maimon peninggalan Sultan Deli

yang tidak ditempati lagi

Mencoba naik betor (becak bermotor)

di sekitar Masjid Besar Medan

Perjalanan kami lanjutkan dengan melihat Kantor Gubernur Sumatera Utara, Kantor Walikota Medan, dan Merdeka Walk, sebuah area olah raga, rekreasi dan kuliner untuk umum, yang ramai dikunjungi masyarakat dan terletak di depan kantor Balai Kota lama, Gedung Bank Indonesia Cabang Medan dan Kantor Pos Besar. Merdeka Walk sebaiknya menjadi panutan bagi kota lain untuk membangun fasilitas umum yang dilengkapi dengan fasilitas olah raga, ‘jogging tract’ dan bahkan alat-alat fitness yang terbuat dari besi antara lain : ‘double multi height leg-stretching’, ‘double stretcing wheel station’, ‘shoulder dynamic station’, ‘back extention station’, ‘double circumvolving station’, ‘elliptical work station’, ‘space walker station’, ‘double torso swing station’ yang dikelola oleh Dinas Pertamanan Kota Medan, terawat baik dan boleh digunakan oleh siapapun secara cuma-cuma. Kami mencoba menaiki betor (becak bermotor), sebuah alat transportasi khas kota Medan yang banyak digunakan oleh penumpang masyarakat kebanyakan di sekitar Masjid Besar Medan.

100_2494

Bergaya di depan Kantor Gubernur Sumatera Utara di pusat kota Medan.

100_2496

Bergaya di depan Kantor Walikota Medan yang modern di pusat kota Medan.

 100_2486

Masjid Raya Medan yang berkubah hitam seperti di Aceh.

Perjalanan keliling kota kami akhiri dengan mengikuti Pelatihan Vaksinasi Dasar untuk Dokter Spesialis Anak di Hotel Tiara. Kami pulang ke Jakarta dengan menuju Bandara Polonia yang masih terhitung di tengah kota, sehingga akan dipindahkah ke Tanjung Morowa, untuk mengurangi dampak buruk bandara bagi masyarakat kota yang semakin padat.

sekian

Yogyakarta, 17 Januari 2008

*) pelancong Jawa berdana cekak

 

Categories
Healthy Life Jalan-jalan

2007 JELAJAH MURAH DI HONG KONG

JELAJAH MURAH DI HONG KONG

fx. wikan indrarto dan b. sari prasetyati *)

Hong Kong adalah daerah istimewa di Cina (Special Administrative Region of China) sejak 1 Juli 1997. Hong Kong adalah kota kosmopolitan dengan sekitar 7 juta penduduk, meliputi daratan seluas 1.100 km2 yang tersebar pada pulau Hong Kong, Semenanjung Kowloon yang dipisahkan oleh Victoria Harbour dan daerah baru sebelah utara Kowloon sampai ke perbatasan Cina daratan yang disebut New Territories dan 260 pulau lainnya. Secara mudah dapat dibayangkan dengan melihat skema geografis di gerbang kedatangan Hong Kong International Airport yang terlihat di bawah ini. Hong Kong adalah tempat yang mempertemukan tradisi Cina kuno dengan kebudayaan ultramodern, dari pasar tradisional di pinggiran jalan yang sibuk, bersih dan teratur, juga deretan toko di setiap rumah pinggir jalan (maka disebut kota toko, sebab semuanya untuk toko dan tidak ada kegunaan lain untuk semua bangunan di pinggir jalan), sampai gedung pencakar langit yang amat sangat tinggi, berderet rapi dan bercahaya gemerlap di malam hari.

 Peta Hong Kong

Skema kasar gugusan pulau-pulau di Hong Kong, dapat dilihat

di gerbang kedatangan penumpang di Hong Kong International Airport.

Hong Kong pada awalnya hanyalah gugusan pulau batu karang dengan beberapa kampung nelayan yang diklaim Inggris pada tahun 1842, setelah pada Perang Candu Pertama (First Opium War) berhasil mengalahkan Cina, melalui perjanjian di kota Nanking (Treaty of Nanking). Semenanjung Kowloon dan pulau-pulau di sekitarnya (Stonecutters Island) kemudian diambil Inggris juga sejak tahun 1860. Perjanjian sewa dari Cina oleh Inggris selama 99 tahun, meliputi juga daerah New Territories, yaitu wilayah sebelah utara Kowloon sampai ke Sungai Shenzen dan 235 pulau kecil yang berserak, berlaku sejak tahun 1898. Maka sejak 1 Juli 1997 Hong Kong dikembalikan ke Cina dan dikenal sebagai Special Administrative Region (SAR) of China dengan prinsip pengelolaan ‘1 negara, 2 sistem’.

Dengan pesawat Airbus A330-300 Garuda GA 860, yang dipenuhi oleh banyak orang Indonesia yang hampir semuanya TKW dan hanya ada sedikit wisatawan dalam kelompok, kami mendarat di Hong Kong International Airport, pk. 15.30 (waktu setempat sesuai dengan WITA). Bandaranya sangat besar, sibuk, sejuk dan modern. Bandara tersebut terletak di Pulau Lantau, di sebalah barat Pulau Hong Kong. Bandara ini mulai dibuka pada bulan Juli tahun 1998, proses pembangunannya menghabiskan anggaran HK$ 155 milyar, termasuk jembatan gantung penghubungnya yang elok (Tsing Ma Bridge), luas terminal penumpangnya 550.000 m2 dan panjang landas pacunya 1.300 m, merupakan bandara berkapasitas kargo terbesar di dunia dengan 2,1 juta ton kargo per tahun. Hong Kong International Airport termasuk dalam daftar Guinness Book of World Records sebagai bandara dengan terminal terbesar di dunia dan bandara terbaik di seluruh dunia selama 5 tahun berturut-turut. Kami kesulitan mencari bagasi, sebab ada 10 eskalator koper yang beroperasi secara bersamaan. Sebenarnya ada pengumuman di layar televisi datar yang sangat besar, tetapi kami tidak melihatnya, maklum tidak ada model pengumuman yang dibacakan, semua harus dibaca sendiri. Setelah itu, kami mencari tiket Airport Express Train, kereta api super cepat yang lewat setiap 12 menit. Dengan tiket seharga HK$ 160 untuk berdua, kami menikmati perjalanan dengan kereta api yang bersih, senyap, dingin dan sangat cepat.

 100_1729  HCEC

Saat sampai di stasiun Central Hong Kong,

tulisan Hong Kong abjad Latin dan Kanji

Survei tempat konggres, Hong Kong Covention & Exibition Center

Rute kereta tersebut adalah dari Asia World Expo di ujung barat Pulau Lantau, terminal Airport, Pulau Tsing Yi, Kowloon di semenanjung dan terakhir ke Central Station di ujung barat pulau Hong Kong. Jadwal kereta sangat ketat, setiap 12 menit sekali kereta akan lewat terminal airport dan memerlukan 24 menit untuk sampai Hong Kong Station di Central District. Rute perjalanan kereta ini melewati jembatan penghubung Tsing Ma Bridge. Jembatan ini juga masuk dalam daftar Guinness Book of Records sebagai jembatan gantung yang berisi jalan dan rel kereta api terpanjang di seluruh dunia. Panjang bentangan di atas airnya mencapai 1.377 m dan total panjangnya mencapai 2,2 km. Jembatan ini merupakan jalur utama yang menghubungkan Hong Kong International Airport dengan Pulau Hong Kong itu sendiri. Sesampai di stasiun Central Hong Kong, diselingi foto berdua di dekat tulisan Hong Kong dalam abjad Latin dan Kanji, kami teruskan perjalanan dengan taxi. Di Hong Kong semua taxi adalah sedan Toyota Crown COMFORT berbahan bakar gas, sedan besar besar berwarna merah, bertarif argo dan bersopir Cina kekar, maklum tugasnya berat, termasuk mengangkat kopor besar para penumpangnya. Sopir taxi agak kesulitan mencari hotel kami, Harbour View International House, sebab letaknya nylempit. Untunglah segera ketemu setelah bertanya 2 kali. Harbour View International House beralamat di 4 Harbour Road, Wanchai, Hong Kong.

 100_1767  Kowloon

Saat pembukaan konggres,

berfoto sebelum mulai

Istirahat pertama di hari kedua konggres, jalan-jalan ke Kowloon

Hari berikutnya kami jalan-jalan di dalam kota. Pertama mencari Octopus Card, sebuah kartu elektronik yang dapat digunakan untuk berbagai transaksi, dengan menempelkannya di Octopus Card Reader dalam waktu 0,3 detik, terutama pembayaran alat transportasi, misalnya bis kota, taxi, trem (tram maupun the peak tram) dan juga kereta api, baik KCR (Kowloon Canton Railway), AEL (Airport Express Line) atau MRT (Mass Transit Railway). Kami membelinya di stasiun MRT yang terdekat dengan hotel kami, yaitu di stasiun Wan Cai seharga HK$ 150 per kartu. Pertama kali kartu tersebut kami gunakan untuk perjalanan ke North Point Market di ujung timur Pulau Hong Kong dengan menggunakan trem listrik. Trem ini merupakan alat transportasi tertua di seluruh Pulau Hong Kong, dibangun pada tahun 1904 dengan 3 jalur utama, yaitu antara Kennedy Town ke Happy Valley atau Shau Kei Wan, dan dari Western Market ke North Poin dengan tarif HK$ 2. Rute trem sejak awal adalah jalan-jalan di pusat keramaian bisnis di sepanjang pantai utara Pulau Hong Kong. Dari jendela di lantai atas trem tersebut, kami melihat keramaian di kiri dan kanan jalan yang sangat luar biasa. Semua bangunan di pinggir jalan utama digunakan sebagai toko, atau tempat usaha, baik barang maupun jasa. Hal ini memperkuat citra Hong Kong sebagai kota toko. Setelah belanja jam, souvenir khas dan buah-buahan segar di North Poin Market, kami meneruskan ke Tin Hau Tample yang dibangun tahun 1868, dipersembahkan kepada dewa laut, dibangun di atas bukit batu granit yang menghadap ke laut.

 Trem  Tin Hau Temple

Trem alat transportasi tertua di seluruh Pulau Hong Kong, dibangun pada tahun 1904

Tin Hau Tample yang dibangun tahun 1868, dipersembahkan kepada dewa laut

Selanjutnya kami mengunjungi The Legislative Council Building, sebuah bangunan yang dibuat sejak tahun 1899 diresmikan oleh Sir Frederick Lugard, Gubernur Hong Kong pada 15 Januari 1912. Lanjut ke Western Market dan makan siang di Harmony Restaurant dengan menu Ham omelette, Sliced Beef Noodle dan Bread W/Butter. Setelah itu kami mencoba naik MRT Island Line dari stasiun Sheung Wan dan turun di stasiun Central. Di situ kami melewati interchange untuk berganti MRT Tung Chung Line menuju Lantau Island. Kami harus melewati stasiun Kowloon, Olympic, Nam Cheong, Lai King, Tsing Yi, Sunny Bay yang terdapat interchange menuju Disneyland Resort. Kowloon, Olympic, Nam Cheong dan Lai King berada di semenanjung Kowloon dan New Territories di Cina daratan, Tsing Yi berada di Pulau Tsing Yi yang memiliki interchange dengan Airport Express Line.

 Legislative Council  MRT Disneyland

The Legislative Council Building, diresmikan oleh Sir Frederick Lugard, Gubernur Hong Kong pada 15 Januari 1912

MRT khusus ke Disneyland, dengan ciri Mickye Tikus sebagai maskot untuk lobang jendela dan pagangan penumpang

Kami turun di Sunny Bay dan berlanjut menggunakan Disneyland Resort Line, sebuah MRT khusus ke Disneyland. Sayang sekali, sesampainya di gerbang Disneyland hujan turun deras sekali, sehingga kami hanya di stasiun saja, tanpa keluar kompleks. Kami kembali ke stasiun Sunny Bay untuk mencari bis menuju patung Buddha (Tian Tan Buddha Statue) yang dilengkapi dengan rumah makan vegetarian di bawah patung (Hong Kong Po Lin Monastery) seharga HK$ 30. Sayang sekali, kami sudah terlalu sore sampai di sana, sekitar pk 16.00 waktu setempat, sehingga kabut tebal sudah menyelimuti seluruh alam, bahkan jarak pandang hanya sekitar 10 m. Rugi sekali, sebab patung raksasa Sang Buddha jadi tidak terlihat dengan jelas. Kami memaksakan diri berfoto sebentar, lalu mencari cindera mata khas Buddha. Patung berbahan baku tembaga ini seberat 250 ton dan menjulang setinggi 34 m dan dikenal dengan Buddhist Kingdom in the South atau Sakyamuni Buddha. Kami pulang menyusuri jalur yang sama, menggunakan bis no 23 yang menghubungkan Tung Chung dengan tarif HK$ 30 pulang pergi. Di interchange Tung Chung kami beralih ke MRT dari bis tersebut. Kami tidak jadi menikmati Ngong Ping Skyrail atau cable car, sebab sudah terlalu sore. Skytrail ini memanjang pada jalur 5,7 km dengan jumlah 112 kabin, menghubungkan Ngong Ping di puncak gunung dengan Tung Chung di dekat pantai dan memungkinkan penumpang untuk melihat pemandangan panoramik 360 derajad ke seluruh Pulau Lantau, termasuk Tian Tan Big Buddha, flora dan fauna di North Lantau Country Park, teluk Tung Cung, Hong Kong International Airport dan ke arah Laut Cina Selatan termasuk atraksi ikan lumba-lumba (Indo Pacific Humpback Dolphin) dengan warna pink yang khas, sewaktu turun ke Tung Chung.

 100_1758  Bis Kota

Tian Tan Buddha Statue yang sangat besar dengan menu vegetarian di Po Lin Monastery

yang tertutup kabut tebal

Bis kota di Hong Kong, meski besar dan tingkat namun tetap ngebut, lha wong aman di jalurnya masing-masing

Dari Tung Cung, kami kembali ke pulau Hong Kong, lalu naik trem ke arah North Point untuk makan di Rumah Makan SEDAP GURIH, sebuah restoran Indoneisa di sekitar Jardine’s Bazaar, dekat dengan Victoria Park, tempat favorit orang Indonesia, terutama sesama TKW dengan berbagai gaya, berkumpul. Di lapangan tersebut, terdapat 3 lapangan futsal dengan pencahayaan yang terang, juga tempat orang duduk-duduk yang dilengkapi spanduk bertuliskan bahasa Mandarin, Inggris dan juga Indonesia tentang larangan membuang sampah sembarangan dengan dendanya yang besar.

Paginya kami belanja ke Stenly Market yang masuk wilayah Southern, di ujung selatan pulau Hong Kong, melewati Repulse Bay yang pantainya berpasir putih, tempat para wisatawan menikmati rekreasi bahari. Stenley Market adalah pasar khusus wisatawan, dari seluruh dunia. Hampir tidak ada pembelinya yang warga lokal, meskipun banyak penduduk tinggal di apartemen baru di sekitar situ. Pulangnya kami naik bis kota lagi, turun di Causeway Bay, untuk makan menu Indonesia lagi di Jardine’s Bazaar, dekat dengan jembatan penyebarangan yang berbentuk bunga teratai, seperti Jembatan Semanggi yang khas di Jakarta. Menu Indonesia menjadi pilihan kami, sebab dengan harga yang sama (sekitar HK$ 40), kami tidak bingung memilih dan dapat kenyang, sangat berbeda dengan menu lokal yang aneh dan tidak langsung dapat diterima sang perut. Setelah kenyang kami menikmati perjalanan dengan trem bertarif HK$ 2 sampai ke Kennedy Town di ujung barat pulau Hong Kong, dengan banyak apartemen tempat tinggal awal para penduduk Hong Kong yang masih memilihara tradisi Cina kuno, termasuk toko-toko penjual rempah-rempah untuk obat Cina. Semua tempat di sepanjang jalan, merupakan tempat berjualan, baik barang maupun jasa. Kehidupan yang bertumpu pada bisnis atau perdagangan, merupakan ciri khas masyarakat Hong Kong, termasuk jalan utama Des Voeux Road West, jalan yang sangat padat.

 Apartemen lama  Apartemen Baru

Apartemen penduduk Hong Kong tipe lama, dengan kekumuhannya di Kenendy Town

Apartemen penduduk tipe baru, dengan nilai artistik tinggi, bersih dan mentereng

Sorenya kami mencoba naik feri The Star Ferry & Co dari pelabuhan Wan Chai Pear menuju pelabuhan Hung Hom di semenanjung Kowloon seharga HK$ 2,2 menyebrangi arus deras Victoria Harbour, selama 8 menit. Sesampai di seberang, masuk lagi ke mal di Star House dan Harbour City. Mal ini persis di tepi pantai dan menyatu dengan pelabuhan feri dan terminal bis kota, tempat orang dapat bersantai melihat panorama Hong Kong di seberang laut, yang sangat indah, terutama saat malam dan bermandikan cahaya lampu.

 100_1747  Hong Kong malam

Suasana keramaian yang teratur di Hong Kong, akan ke Huang Gang Border, perbatasan Cina daratan.

Hong Kong bermandi cahaya lampu, terlihat dari pelataran Star House di Kowloon saat hari mulai malam

Paginya kami naik bis ke Huang Gang Border, dekat Shen zhen, sebuah kota di daratan Cina yang paling selatan, bertarif HK$ 45, yang berangkat tepat waktu, setiap 30 menit. Kami melewati terowongan bawah laut (Cheung Tsing Tunel) untuk masuk wilayah Kowloon, pelabuhan petikemas raksasa di kiri jalan, apartemen menjulang di kanan jalan tol yang rapi. Setelah melalui pemeriksaan petugas imigrasi Hong Kong di perbatasan, perjalanan dilanjutkan dengan ganti bis dari perusahaan yang sama, menuju kantor imigrasi Cina di Huang Gang dalam waktu 3 menit perjalanan. Para pendatang diharuskan memiliki visa, namun dapat juga mengurus visa di tempat kedatangan (visa on arrival) di Huang Gang, tetapi kantor imigrasi baru buka jam 9 pagi, sehingga kami terpaksa menunggu hampir 1 jam. Biaya mengurus visa tinggal selama 5 hari di Cina adalah HK$ 150 per orang. Sejak sampai di Huang Gang ini, kamera foto tidak boleh difungsikan, sehingga dokumentasi kami bukan data gambar, namun hanya narasi saja.

Perjalanan kami teruskan dengan taxi sebuah sedan VW Santana dari gerbang imigrasi Huang Gang untuk masuk kota Shen zen. Sopir taxi tidak dapat berbahasa Inggris, meskipun hanya sepotong, juga tidak dapat membaca huruf latin, meskipun hanya sehuruf. Untunglah masih cukup cerdas, buktinya kami diajak masuk sebuah hotel dan ketika petugas hotel menghampiri kami, dialah yang menjadi penerjemah bahasa dan aksara. Kami turun di Lu Wo shopping mall yang menyediakan berbagai barang murah bertarif Yuan, mata uang lokal RRC. Suasananya mirip di Indonesia dan sangat berbeda dengan Hong Kong, yaitu panas, kotor, semrawut dan banyak pengemis. Barangkali, itu adalah salah satu alasan mengapa penduduk Hong Kong yang lebih modern, menolak reunifikasi (penyatuan) mereka dengan Cina daratan.

 Gedung Gada  Victoria Harbour

Gedung berarsitektur gada, kecil di bawah, membesar di atas. Bercita rasa tinggi.

Hong Kong dari Victoria Harbour saat mendung tebal

Dari Lo Wu shopping mall, kami tinggal menyeberang untuk masuk ke kantor imigrasi dan keluar dari wilayah Cina daratan. Di seberang mall sudah wilayah Hong Kong dan kami segera naik KCR East Rail bertarif HK$33 ke East Tsim Sha Tsui, melewati Kowloon Tong, langsung masuk ke areal interchange dengan MTR Tseun Wan Line untuk menyeberang Victoria Harbour ke Hong Kong Island. Dari East Tsim Sha Tsui dengan MRT Tseun Wan Line lanjut ke Admiralty Station, stasiun kereta terdekat di wilayah Pulau Hong Kong, diteruskan dengan tram listrik bertarif HK$2 menuju Western Market untuk makan di Solo Indonesian Restaurant di 1/F San Toi Bldg, 139 Connaught Road, Central, HK. Meskipun semuanya menu Indonesia, tetapi hampir semua pembelinya adalah orang Hong Kong. Kami pulang ke hotel dengan trem dari Western Market di dekat restoran tersebut menuju stasiun Wan Chai dan turun di dekat Chinese Methodist Church. Setelah mandi dan check out hotel, kami menggunakan taxi bertarif HK$ 30 untuk menuju Central Station dan melakukan city check in penerbangan di situ. Dengan demikian kami naik Airport Express bertarif HK$ 80 per orang dengan santai, sebab kopor-kopor besar kami sudah diurus maskapai. Sesampai di bandara, kami urus pengembalian (refund) Octopus card di petugas, untunglah kami masih punya sisa HK$ 130 dari 2 kartu. Perjalanan Dari Hong Kong kembali ke Indonesia sungguh sangat menyenangkan, meski tidak cukup menarik untuk dituliskan. Total perjalanan ini relatif murah, sebab meskipun menghabiskan dana sekitar 1 bulan gaji bersih pegawai negeri di Indonesia dengan 15 tahun masa kerja, namun hanya setara dengan 50% gaji TKW Indonesia di Hong Kong, sebagai pembantu rumah tangga selama 4 tahun.

sekian

*) pelancong dari tanah Jawa yang hampir tersesat di Hong Kong

Categories
Healthy Life

PIRING SEHAT

fx. wikan indrarto*)

Presiden Joko Widodo bercita-cita besar tentang ketahanan pangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia, terutama dari pemenuhan gizi anak bangsa. Kemudian Menko PMK mencanangkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Sadar Pangan Aman (GERMAS SAPA) di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Kamis, 23 November 2017. Apa yang harus dilakukan?

Hasil gambar untuk isi piring kemenkes

Menurut Profil Kesehatan Indonesia yang terbit Juli 2017, persentase balita gizi buruk sebesar 3,4%, gizi kurang sebesar 14,4% dan gizi lebih sebesar 1,5%. Selain itu, persentase balita sangat pendek sebesar 8,6% dan pendek sebesar 19,0%, dengan target kurang dari 20%. Provinsi dengan persentase balita pendek dan sangat pendek terbesar adalah Sulawesi Barat (39,7%) dan hanya Provinsi Sumatera Selatan dan Bali yang kurang dari 20%. Persentase balita status gizi lebih  tertinggi di DKI Jakarta dengan 4,4%.

Hal itu membuktikan bahwa konsep ‘4 sehat 5 sempurna’ yang menjadi acuan pola makan masyarakat Indonesia, perlu dievaluasi. Pada Forum Pangan Asia Pasifik di Jakarta, Selasa, 31 Oktober 2017, Kementerian Kesehatan mulai memperkenalkan slogan ‘Isi Piringku’. Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes, Anung Sugihantono menjelaskan, konsep ‘4 sehat 5 sempurna’ sudah tidak sesuai dengan perkembangan ilmu gizi saat ini. Selain itu, juga tidak mengatur porsi, sehingga kini Indonesia dihadapkan dengan beban ganda gizi, yaitu masalah obesitas di samping malnutrisi.

Dalam gerakan ‘Isi Piringku’ diterapkan porsi untuk setiap bahan pangan. Makan bukan untuk sekadar menghasilkan kenyang, tetapi perlu memenuhi kebutuhan nutrisi dan menjaga kesehatan tubuh. Piring makan sebaiknya diisi dengan asupan karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral secara seimbang. Hal ini dikarenakan tidak ada satupun jenis makanan, yang mengandung semua jenis zat gizi yang dibutuhkan tubuh.

Dalam satu porsi sajian, sayur dan buah seharusnya memiliki porsi paling banyak, yakni separuh bagian piring. Sementara itu, separuh bagian piring lainnya dapat diisi dengan makanan pokok, yang mengandung karbohidrat, dan lauk yang banyak mengandung protein, dengan porsi protein harus lebih banyak dibanding karbohidrat. Protein sangat penting karena peranannya sebagai sumber energi, zat pembangun tubuh, bahkan berfungsi juga dalam mekanisme pertahanan tubuh.

Hasil gambar untuk obesitas pada anak

Saat ini dibutuhkan perubahan anggapan masyarakat, untuk tidak selalu berpikir daging merah sebagai sumber protein. Indonesia merupakan negara kelautan yang sangat kaya akan aneka ragam jenis ikan. Perairan yang sedemikian luas tentu mengandung kekayaan protein hewani yang tinggi sesuai kebutuhan masyarakat, sehingga ikan layak dijadikan sebagai sumber protein utama bagi keluarga Indonesia.

Secara umum komposisi protein hewani pada ikan, sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan protein hewani lainnya. Namun, ikan lebih menyehatkan karena lemak yang terkandung di dalam ikan bukan merupakan lemak jenuh. Sebagai salah satu sumber protein hewani, ikan mengandung asam lemak tidak jenuh (omega, yodium, selenium, fluorida, zat besi, magnesium, zink, taurin, serta coenzyme Q10). Selain itu, kandungan omega 3 pada ikan jauh lebih tinggi dibanding sumber protein hewani lainnya, seperti daging sapi dan ayam.

Hasil gambar untuk ikan di piring

Dalam setiap sajian, kita juga wajib memperhatikan kandungan gula, garam dan lemak. Batasan konsumsi gula, garam, dan lemak yang disarankan Kementerian Kesehatan per orang per hari adalah: Gula tidak lebih dari 50 gr (4 sendok makan); Garam tidak melebihi 2.000 mg natrium/sodium atau 5 gr (1 sendok teh), dan untuk lemak hanya 67 gr (5 sendok makan minyak). Untuk memudahkan mengingat rumusnya adalah G4-G1-L5-S.

Gula merupakan salah satu sumber energi yang dibutuhkan manusia. Namun, jika berlebihan, gula dapat menyebabkan obesitas dan memicu diabetes tipe 2. Di dalam buah segar sudah terdapat gula alami, sehingga sebenarnya tambahan gula tidak dibutuhkan. Garam dalam jumlah sedikit dibutuhkan untuk mengatur kandungan air dalam tubuh. Jika berlebihan, garam dapat menyebabkan hipertensi hingga stroke. Sedangkan lemak, juga diperlukan dalam tubuh sebagai cadangan energi. Lemak berlebih dapat meningkatkan risiko penyakit jantung hingga kanker. Lemak dapat berbentuk padat dan cair (minyak), sehinnga lemak banyak ditemui pada makanan yang digoreng.

Hasil gambar untuk obesitas pada anak

Pada Hari Kegemukan Sedunia (World Obesity Day) Rabu, 11 Oktober 2017 lalu, jurnal bergengsi ‘The Lancet’ yang terbit di London, memaparkan bahwa jumlah anak gemuk atau mengalami obesitas di seluruh dunia, telah meningkat sepuluh kali lipat dalam empat dekade terakhir. Jika tren saat ini berlanjut, akan lebih banyak anak mengalami obesitas daripada berat badan sedang atau sangat kurus pada tahun 2022. Pencanangan GERMAS SAPA dan ‘Isi Piringku’, adalah upaya kita mencegah obesitas dan mengatasi gizi buruk, juga pada anak di sekitar kita. Apakah kita sudah bijak mengisi piring anak kita?

Sekian

Yogyakarta, 24 Januari 2018

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?