Categories
anak Healthy Life vaksinasi

2018 Fobia Rubella

FOBIA   RUBELLA

fx. wikan indrarto*)

Imunisasi Measles Rubella (MR atau campak rubella) serentak dilakukan mulai 1 Agustus 2018 di 28 provinsi di luar Pulau Jawa. Pemberian imunisasi gratis dan wajib tersebut sering terhambat, karena masih dipercayainya mitos dan adanya ketakutan atau fobia rubela. Apa yang sebaiknya diketahui?

Pada Agustus-September 2017 lalu, imunisasi MR telah dilakukan pada anak di Pulau Jawa. Cakupan Imunisasi MR tahun 2018 kali ini menyasar 395 kabupaten, 4.884 kecamatan, 6.369 puskesmas, 52.482 desa dan kelurahan di luar Pulau Jawa. Sasaran yang akan mendapat imunisasi MR sebanyak 31.963.154 anak dengan rentang usia 9 bulan sampai 15 tahun.

Hasil gambar untuk rubella pada anak

Penyakit rubela adalah infeksi virus menular yang umumnya ringan, paling sering terjadi pada anak dan dewasa muda, tetapi memiliki konsekuensi serius pada wanita hamil. Infeksi rubela pada ibu hamil dapat menyebabkan kematian janin atau cacat bawaan, yang dikenal sebagai ‘Congenital Rubella Syndrome’ (CRS). Di seluruh dunia, lebih dari 100.000 bayi lahir dengan CRS setiap tahun. Tidak ada pengobatan khusus untuk rubella namun penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi.

Hasil gambar untuk rubella pada anak

Bayi baru lahir dengan CRS dapat menderita tuli, katarak dan bocor jantung, kadang juga diabetes mellitus dan disfungsi tiroid. Bayi dan anak tersebut banyak yang membutuhkan terapi, operasi dan perawatan mahal lainnya. Risiko tertinggi CRS terjadi di negara di mana wanita usia subur tidak memiliki kekebalan terhadap penyakit rubela, baik melalui vaksinasi atau terinfeksi rubela alami. Sebelum ada vaksin, sampai 4 bayi di setiap 1.000 kelahiran hidup dilahirkan dengan CRS. Vaksinasi rubela skala besar selama dekade terakhir, telah mampu menghilangkan rubela dan CRS di banyak negara. Pada bulan April 2015, Amerika Utara menjadi wilayah yang pertama di dunia, yang akan dinyatakan bebas penularan endemik rubela. Kejadian CRS yang tertinggi adalah di kawasan Afrika dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, di mana cakupan imunisasi rubela masih terendah.

Hasil gambar untuk rubella pada anak

Vaksin rubela adalah strain virus hidup yang dilemahkan, yang telah digunakan dalam imunisasi selama lebih dari 40 tahun. Sebuah dosis tunggal akan memberikan lebih dari 95% kekebalan yang tahan lama, yang mirip dengan kekebalan yang disebabkan oleh infeksi virus rubela alami. Vaksin rubela tersedia dalam formula monovalen, yaitu vaksin untuk satu patogen rubela saja, atau lebih sering dalam kombinasi dengan vaksin lain seperti campak (MR) yang telah  diberikan pada Agustus dan September 2017, campak dan gondong (MMR) yang lebih awal dikenalkan, atau campak, gondong dan varicella (MMRV). Efek samping setelah vaksinasi umumnya ringan, misalnya rasa sakit dan kemerahan di tempat suntikan, demam ringan, ruam kulit dan nyeri otot. Imunisasi massal di Wilayah Amerika Utara yang melibatkan lebih dari 250 juta remaja dan orang dewasa, tidak menemukan efek samping serius yang berhubungan dengan vaksin.

Hasil gambar untuk rubella pada anak

Imunisasi MMR sempat mendapat penolakan dari banyak pihak dan menimbulkan fobia rubela, terkait sebuah skandal penelitian yang besar. Pada tahun 1998, sebuah makalah karya Dr. Andrew Wakefield, seorang dokter spesialis bedah, dimuat di jurnal bergengsi ‘Lancet’, tentang 12 kasus anak autis setelah divaksinasi (MMR) di Inggris. Makalah tersebut ditulis oleh Wakefield, Murch, dan Anthony dengan judul ‘Ileum hiperplasia limfoid nodular, kolitis non-spesifik, dan gangguan perkembangan regresif pada anak’ (Lancet, 1998, 351, halaman 637-41). Banyak media kemudian menampilkan informasi ini kepada publik awam, membuat heboh dan menimbulkan fobia. Dalam serangkaian laporan antara tahun 2004 dan 2010, jurnalis Brian Deer menyelidiki dan mengungkapkan bahwa Dr. Wakefield memiliki beberapa konflik kepentingan, telah memanipulasi data, dan bertanggung jawab untuk apa yang kemudian oleh the ‘British Medical Journal’ (BMJ)  disebut “an elaborate fraud” atau penipuan yang rumit.

Hasil gambar untuk rubella pada anak

Penyelidikan Brian Deer ini adalah yang terpanjang yang pernah didanai oleh ‘General Medical Council UK’ (GMC). Pada bulan Januari 2010, GMC menilai Dr. Wakefield tidak jujur, tidak etis dan tidak berperasaan, sehingga pada tanggal 24 Mei 2010 nama Dr. Wakefield telah dihapus dari daftar dokter di Inggris. Menanggapi temuan Deer, pada tahun 2004 redaksi ‘Lancet’ menerbitkan surat untuk menanggapi tuduhan terhadap makalah yang dimuatnya, yang menyatakan tidak ada hubungan antara imunisasi MMR dan kejadian autisme (no link existed between MMR and autism). ‘Lancet’ kemudian menarik sebagian laporan penelitian Dr. Wakefield pada bulan Februari 2004. Pada tahun 2010, GMC menerbitkan sebuah laporan yang menentang tulisan Dr. Wakefield dan menunjukkan bahwa catatan medis anak-anak di rumah sakit tidak mengandung bukti yang cukup meyakinkan, catatan medis di rumah sakit berbeda dengan makalah yang diterbitkan, dan akhirnya ‘Lancet’ pada bulan Februari 2010 mencabut sepenuhnya, isi makalah Dr. Wakefield yang diterbitkan tahun 1998.

Selain kesulitan terkait fobia, imunisasi MR juga masih terkait sertifikasi halal. Pada hari Jumat, 3 Agustus 2018 di Jakarta, Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam Sholeh menegaskan bahwa Menkes dan Dirut PT. Biofarma sebagai importir vaksin MR produksi Serum Institut of India (SII), berkomitmen untuk segera mengajukan sertifikasi halal atas produk vaksin MR dan permohonan fatwa tentang pelaksanaan imunisasi MR. Untuk itu, pelaksanaan imunisasi MR bagi masyarakat yang memiliki keterikatan tentang kehalalan dan kebolehan secara syar’i ditunda, sampai ada kejelasan hasil pemeriksaan dan ditetapkan fatwa MUI. Sementara untuk masyarakat lainnya, tetap dilaksanakan sesuai agenda.

Image result for vensya sitohang

Menurut Drg. R. Vensya Sitohang, M.Epid, Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Ditjen P2P Kemenkes, imunisasi MR di Indonesia sebelum masuk ke dalam program imunisasi rutin, akan dilaksanakan kampanye terlebih dahulu. Pada tahun 2017 sudah diberikan untuk semua anak di Pulau Jawa (6 provinsi) dan tahun 2018  akan diberikan untuk semua anak di luar Pulau Jawa (28 provinsi). Khusus untuk Provinsi Papua karena alasan tertentu maka imunisasi MR ditambah dengan imunisasi Polio tetes yang disebut dengan imunisasi MRP (Measles, Rubella dan Polio).

Untuk pemberian imunisasi MR pada program kampanye tahun 2018 ini diberikan pada bayi usia 9 bulan sampai anak dengan usia kurang dari 15 tahun. Untuk pemberian imunisasi MR di luar Pulau Jawa selain Papua, dan imunisasi MRP khusus di Papua, untuk anak usia sekolah dilakukan di sekolah sepanjang bulan Agustus 2018. Sedangkan untuk bayi dan anak pra sekolah, imunisasi MR dan MRP tersebut diberikan pada sepanjang bulan September 2018, di posyandu, puskesmas, dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.

Beratnya kelainan klinis pada ‘Congenital Rubella Syndrome’ (CRS) dan hubungan imunisasi MMR dengan autis yang ternyata tidak terbukti, seharusnya menyebabkan fobia rubela tidak boleh ada lagi. Dengan demikian imunisasi MR (Measles dan Rubela) di seluruh Indonesia, wajib kita didukung.

Sudahkah kita bertindak bijak?

Sasando 1 Sekian

Yogyakarta, 9 Agustus 2018

*) dokter spesialis anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA 081227280161

Categories
Healthy Life Pendukung ASI

2018 Nutrisi Bayi Pengungsi

Hasil gambar untuk nutrisi bayi pengungsi

 

NUTIRISI   BAYI   PENGUNGSI
fx. wikan indrarto*)

 

Gempa bumi bermagnitudo 7 mengguncang NTB, Minggu, 5 Agustus 2018 pk. 18.46 WIB. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho 2 hari kemudian menyebutkan, korban meninggal dunia 105 orang, luka-luka 236 orang, dan ribuan orang lainnya yang mengungsi, termasuk bayi dan ibu menyusui. Diprediksi korban meninggal dan para pengungsi akan terus bertambah. Apa yang harus dicermati?

 

ASI akan terus diproduksi selama ibu menyusui bayinya. Namun demikian, di barak pengungsian ibu menyusui seringkali diberi paket susu formula untuk bayinya. Selain itu, jadwal makan dan menu makanan untuk balita dan ibu menyusui pun cenderung sama dengan pengungsi lain. Pada hal, balita, bayi, dan ibu menyusui seharusnya dikelompokkan dalam tempat khusus, sehingga kebutuhan makanan dan ASI dapat terpenuhi secara optimal.

 

Hasil gambar untuk nutrisi bayi pengungsi

 

Sejumlah ibu menyusui di posko pengungsi tentu mudah menjadi khawatir bahwa produksi ASI berkurang, karena rasa cemas dan lelah. Para konselor menyusui akan bertugas memotivasi para ibu, agar terus memberikan ASI sehingga produksi ASI akan tetap optimal. Selain itu, konselor menyusui juga memberikan kepercayaan pada ibu, bahwa dalam kondisi apapun tetap dapat menyusui, sehingga tidak terjadi putus ASI. Penting dijelaskan bahwa tidak ada makanan pengganti, yang sebaik ASI bagi bayi.

 

Makanan dan minuman tambahan seharusnya disediakan untuk balita dan ibu menyusui. Makanan ringan seperti biskuit dan roti isi pun harus terus tersedia untuk memenuhi kebutuhan kalori para ibu menyusui. Kalau terjadi putus menyusui, maka ASI tidak akan berproduksi lagi dengan akibatnya, kebutuhan bayi akan ASI terancam. Ibu yang menderita demam, sebenarnya tetap dapat menyusui. Tubuh ibu akan memproduksi kekebalan alami yang terkandung dalam ASI, sehingga bayi yang disusui tidak akan mudah tertular penyakit ibunya.

 

Hasil gambar untuk nutrisi bayi pengungsi

 

Setelah usia 6 bulan, pemberian ASI tetap diteruskan sampai anak usia 2 tahun. Pemberian nutrisi dengan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) dapat dilakukan pada bayi mulai usia 6 bulan, yaitu berupa makanan lunak. Untuk anak yang memerlukan susu formula, sebelum proses penyajian, periksalah secara cermat label susu formula komersial sumbangan para donatur, terutama yang belum pernah digunakan anak tersebut. Susu yang berbeda merek akan berbeda pula aturan penggunaannya, baik dalam hal bahan, takaran maupun teknik pencampurannya. Apabila menggunakan cangkir, perlu disiapkan takaran untuk air atau dapat juga mengunakan botol susu yang bertanda ukuran isinya. Susu formula disiapkan dengan cara air dididihkan, kemudian dibiarkan beberapa saat sampai kira-kira 70 derajad C, dan bubuk formula dilarutkan dalam air tersebut. Sisa susu, apabila ada, setelah 2 jam harus dibuang, untuk mencegah proses pembusukan yang berbahaya bagi bayi.

 

Hasil gambar untuk nutrisi bayi pengungsi

 

Apabila tidak tersedia air mendidih, gunakanlah susu formula cair yang steril. Penggunaan jenis cairan lain sebagai alternatif adalah air jernih atau air mineral steril, yang segar pada suhu kamar dan segera dikonsumsi, tidak boleh disimpan. Apabila di barak pengungsian kualitas air buruk, misalnya keruh dan berbau, setelah air dimasak mendidih, lakukan klorinasi dan filtrasi, agar air tersebut lebih aman digunakan. Untuk desinfeksi air, dapat dilakukan dengan cara memasak air sampai mendidih dan tambahkan 3-5 tetes klorin setiap 1 liter air atau menggunakan penyaring untuk menghilangkan secara fisik semua partikel dan kuman berbahaya.

 

Hasil gambar untuk nutrisi bayi pengungsi

 

Dalam situasi apapun, rekomendasi metode pemberian MP-ASI adalah menggunakan cangkir, bukan dot dengan botol, karena tingginya risiko terkontaminasi dan wadahnya lebih sulit untuk dibersihkan. Cucilah kedua tangan dan peralatan yang akan digunakan, dengan sabun dan air mengalir. Jagalah kebersihan umum, tidak hanya mencakup bahan, tetapi juga alat, dengan selalu memasang penutup. Pastikan tanggal kadaluwarsa (ED), jangan menyimpan dan menyayangkan atas susu yang tanggal kadaluwarsanya sudah dekat, apalagi lewat. Didihkan air dan biarkan mendidih untuk beberapa saat. Jika air telah dimasak sebelumnya, simpanlah dalam wadah bersih berpenutup yang khusus dan hanya boleh dilakukan sampai 24 jam saja. Takar jumlah bubuk susu formula yang diperlukan, dengan menggunakan sendok takar dari kaleng atau bungkusnya, dan jangan menggunakan sendok takar dari merek susu yang berbeda.

 

Hasil gambar untuk nutrisi bayi pengungsi

 

Ratakan bubuk dengan pegangan sendok atau pisau dalam gerakan lurus. Ikuti instruksi pencampuran pada label dengan hati-hati. Masukkan bubuk kering ke air yang telah diukur dan jika menggunakan cangkir, campur bubuk dan aduk dengan sendok. Jika menggunakan botol, tutup dan kocok untuk mencampurnya. Sebagai pegangan, jumlah susu formula yang akan dicampur sesuai instruksi kemasan, pasti akan sedikit lebih banyak dari air yang akan digunakan, dan sebelumnya telah diukur dengan benar. Coba suhu dengan cara teteskan susu formula hangat ke pergelangan tangan bagian dalam, bukan telapak tangan, karena pada beberapa kasus kurang peka. Jika rasanya nyaman dan sedikit hangat, susu itu berarti aman untuk bayi.

 

Hasil gambar untuk nutrisi bayi pengungsi

Dengan memberikan ASI dan MP-ASI secara benar, proses tumbuh kembang bayi di barak pengungsian akan tetap terjaga baik. Selain itu, bayi dapat terhindar dari berbagai macam penyakit yang berbahaya.

 

Sudahkah kita bertindak bijak?

 

S3

Sekian

Yogyakarta, 8 Agustus 2018

*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak, Alumnus S3 UGM, pengajar di FK UKDW, WA: 081227280161

Categories
anak Healthy Life Pendukung ASI

2018 SUSU KENTAL MANIS

Mengenal Susu Kental Manis yang Ternyata Isinya Lebih Banyak Gula, Begini  Sejarah Pembuatannya - TribunNews.com

SUSU  KENTAL  MANIS

fx. wikan indrarto*)

Pada hari Senin, 9 Juli 2018 Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia Penny K. Lukito menegaskan, bahwa Susu Kental Manis (SKM) merupakan susu untuk pelengkap sajian dan bukan sebagai pelengkap asupan gizi untuk anak. Apa yang sebaiknya dilakukan?

Sesuai dengan Peraturan Kepala (Perka) BPOM 21/2016, SKM merupakan subkategori Susu Kental, yang termasuk kategori susu. Meskipun promosi SKM sudah sesuai dengan aturan standar keamanan pangan internasional (Codex Internasional), yang menjadi kewajiban bagi para pelaku usaha obat dan makanan sebelum mendapatkan izin edar dari BPOM, tetapi informasi yang lengkap dan sesungguhnya tidak boleh disembunyikan.

Hasil gambar untuk susu kental manis
Pada anak usia di atas 1 tahun, konsumsi jenis makanan seharusnya sudah sama seperti pada orang dewasa. Oleh sebab itu, pemberian susu pada anak usia di atas 1 tahun, baik ASI ataupun susu lainnya bukan lagi sebagai menu utama. Dengan demikian, susu hanya boleh diberikan maksimal 30% dari total kebutuhan kalori, dan 70% sisanya seharusnya berupa makanan padat. Selain itu, susu untuk makanan anak balita adalah sebagai sumber kalsium dan sumber protein, dengan asam amino esensial yang lengkap.

Kebutuhan kalsium anak usia 1 – 3 tahun adalah 700 mg, usia 4 – 8 tahun 1.000 mg, dan usia 9 – 18 tahun 1.300 mg. Untuk itu, panduan pola konsumsi untuk susu, produk susu maupun minuman dari kedelai adalah anak usia 2 – 3 tahun 2 gelas (480 ml) per hari, usia 4 – 8 tahun 2½ gelas  (600 ml), dan usia 9-18 tahun 3 gelas (720 ml) per hari.

Hasil gambar untuk susu kental manis

SKM adalah susu yang dibuat melalui proses evaporasi atau penguapan dan umumnya memiliki kandungan protein yang rendah. Selain diuapkan, susu kental manis juga diberikan gula tambahan (added sugar). Hal ini menyebabkan SKM memiliki kadar protein rendah dan kadar gula yang tinggi. Kadar gula tambahan pada makanan untuk anak yang direkomendasikan oleh WHO tahun 2015, adalah kurang dari 10% total kebutuhan kalori.

Salah satu jenis SKM yang dijual secara komersil menuliskan dalam satu takar porsi (4 sendok makan) memasok 130 kkal, dengan komposisi gula tambahan 19 gram dan protein 1 gram. Jika dikonversikan dalam kalori, 19 gram gula sama dengan 76 kkal. Kandungan gula dalam 1 porsi susu kental manis tersebut lebih dari 50% total kalorinya, jauh melebihi nilai rekomendasi gula tambahan yang dikeluarkan oleh WHO. Dengan demikian, sebaiknya SKM tidak dikonsumsi oleh balita.

Hasil gambar untuk susu kental manis

Lebih baik pilihkanlah anak pada produk susu bebas lemak (skim) atau rendah lemak (1 persen), yang disesuaikan juga dengan aktivitas fisik anak, karena anak perlu bergerak untuk pertumbuhannya. Pada anak yang senang minum jus, minuman manis dan bersoda terlalu banyak, maka kebutuhan aktivitas fisiknya harus bertambah, sebab minuman manis dapat menumpuk kalori dan berisiko menimbulkan kegemukan.

Hasil gambar untuk susu kental manis

Ion Besi dan Vitamin D merupakan pertimbangan lain ketika menawarkan susu kepada anak. Minum susu mengandung banyak Vitamin D, tetapi minum terlalu banyak susu dapat menurunkan kadar zat besi yang menyebabkan anemia. Untuk anak usia 2 sampai 5 tahun, 2 cangkir susu sehari dan tidak lebih dari 16 ons sudah cukup memenuhi kadar Vitamin D dan zat besi. Setelah usia 1 tahun, berikan 2 atau 3 cangkir susu atau tidak lebih dari 24 ons per hari. Jika anak juga senang minum yogurt dan makan keju, tindakan mengurangi susu akan lebih baik. Untuk anak usia 2 hingga 8 tahun, berikan 2 cangkir susu dan untuk usia 9-18 tahun, berikan 3 cangkir.

Minum susu berlebihan sepanjang hari bukan kebiasaan yang baik, terutama karena dapat merusak nafsu makan anak. Selain itu, juga gigi anak jadi sering dilapisi gula alami, yang dapat menyebabkan kerusakan atau caries gigi. Aturan praktis yang baik adalah berikan susu dengan makanan dan minum air dengan makanan ringan. Jika anak bermain di luar ruangan, pemberian air putih menjadi pilihan yang lebih baik dibanding jus, susu, atau minuman bergula, untuk menjaga tubuhnya tetap terhidrasi. Selain itu, berikanlah anak menu makan banyak buah dan sayur, karena potasium yang terkandung di dalamnya membantu tubuh menyimpan kalsium. Doronglah anak juga banyak bermain, karena berlari, melompat dan berjalan, dapat membuat tulang lebih kuat.

Hasil gambar untuk susu kental manis

Menurut ‘The American Academy of Pediatrics’, anak boleh minum susu murni sampai ia berusia dua tahun dan setelahnya, sebaiknya beralih ke susu rendah lemak. Selain itu, juga boleh diberikan susu UHT (Ultra High Temperature) atau susu yang dipanaskan pada suhu 135-150 ºC dalam waktu 2-5 detik, sehingga dapat membunuh seluruh mikroorganisme. Selain UHT, anak juga dapat diberikan susu pasteurisasi, yaitu susu segar yang dipanaskan pada suhu 63-73 ºC untuk membunuh bakteri patogen selama 15 menit. Berikan sebanyak dua gelas per hari saja.

Hasil gambar untuk susu kental manis

Momentum pemberitaan yang gencar tentang SKM, mengingatkan kita bahwa SKM bukanlah dirancang sebagai pelengkap asupan gizi untuk anak dan sebaiknya tidak dikonsumsi oleh anak balita.

Sudahkah kita bijak?

Ikut pak Jokowi

Sekian

Yogyakarta, 12 Juli 2018

*) dokter spesialis anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA : 081227280161

Categories
anak Healthy Life Jalan-jalan politik sekolah

2018 Pesiar di Kupang, NTT

PESIAR   KELUARGA  DI  KUPANG,  NTT

fx. wikan indrarto*)

Kami sekeluarga (dengan Eyang Putri, Dik Bimo dan Dik Laras) melakukan petualangan (pesiar) ke Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mengunjungi anak sulung kami (mas Yudhi) yang sedang menjalankan tugas PIDI (Program Internship Dokter Indonesia), di RS Bhayangkara Polda NTT di Kupang. Keluarga Dr. Silas dari Wonosari, Gunung Kidul juga berangkat bersama kami dengan maksud yang sama.

Perjalanan diawali dari Yogyakarta dengan menggunakan penerbangan Lion Air JT 560 pada Kamis, 28 Juni 2018. Setelah terbang sekitar 1 jam 15 menit, kami mendarat di Denpasar, Bali. Pada transit sekitar 2 jam tersebut, kami sempat bertemu dengan adik sepupu Wahyu Prasetyaningtyas (Aning), owner dan CEO Lentera Hati International School, di Jl. Taman Maruna no 14, Jimbaran, Kuta Selatan, Badung, Bali di ruang tunggu kedatangan penumpang untuk makan menu spesial, yaitu sate penyu sate yang dibuat dari daging penyu. Sate ini terutama banyak disajikan dan dijajakan hanya di Bali. Meskipun sangat enak, tetapi daging penyu sebenarnya berkolestrol tinggi dan penyu juga merupakan hewan terlindung secara hukum.

 Berangkat dari Jogja  Transit di Bali
Terbang dari Yogyakarta dengan pesawat Lion Air JT 560 pada Kamis, 28 Juni 2018.
Saat transit di Denpasar bertemu adik sepupu (Wahyu Prasetyaningtyas) untuk makan sate penyu 

Lion Air adalah sebuah maskapai penerbangan bertarif rendah dan merupakan maskapai swasta terbesar di Indonesia. Lion Air mengalami penambahan armada secara signifikan sejak tahun 2000 dengan kontrak pengadaan pesawat baru, dengan total keseluruhan sebesar US$ 46.4 Milliar untuk armada 234 unit Airbus A320 dan 203 Pesawat Boeing 737 MAX. Lion Air mengoperasikan lebih dari 100 buah pesawat Boeing 737-800/900ER seperti yang kami tumpangi selanjutnya, yaitu Lion Air JT 924 selama 1 jam 45 menit untuk mendarat di Kupang. Kota Kupang adalah sebuah kotamadya dan sekaligus ibu kota provinsi NTT. Kotamadya ini adalah kota yang terbesar di Pulau Timor yang terletak di pesisir Teluk Kupang, bagian barat laut pulau Timor.

 RUMAH "WAKIL GUBERNUR^ RESIDENSI TIMOR JADI TEMPAT SIMPAN GEROBAK I,  Catatan Matheos Victor Messakh | MediatorKupang

Pantai Pasir Panjang (Kupang, Indonesia) - Review - Tripadvisor

Kediaman residen di Kupang di jaman Kolonial Belanda (1870-1910)
Pemandangan senja di pantai Pasir Panjang, Kupang yang menarik mata

Nama Kupang sebenarnya berasal dari nama seorang raja, yaitu Nai Kopan atau Lai Kopan, yang memerintah Kota Kupang sebelum bangsa Portugis datang ke NTT. Pada tanggal 29 Desember 1645, seorang padri Portugis yang bernama Antonio de Sao Jacinto tiba di Kupang. Dia mendapat tawaran tinggal menetap dari Raja Helong. Pada tahun 1653, VOC mendarat di Kupang dan berhasil merebut bekas benteng Portugis Fort Concordia, yang terletak di muara sebuah sungai ke Teluk Kupang di bawah pimpinan Kapten Johan Burger. Kedudukan VOC di Kupang langsung dipimpin oleh Openhofd J. van Der Heiden. Nama Lai Kopan kemudian disebut oleh Belanda sebagai Koepan dan dalam bahasa sehari-hari menjadi Kupang. Untuk meningkatkan pengamanan kota, maka pada tahun 23 April 1886, Residen Creeve menetapkan batas-batas kota yang diterbitkan pada Staatblad Nomor 171 tahun 1886. Oleh karena itu, tanggal 23 April 1886 ditetapkan sebagai tanggal lahir Kota Kupang.

Setelah Indonesia merdeka, melalui Surat Keputusan Gubernemen tanggal 6 Februari 1946, Kota Kupang diserahkan kepada Swapraja Kupang, yang kemudian dialihkan lagi statusnya pada tanggal 21 Oktober 1946 dengan bentuk Timor Elland Federatie atau Dewan Raja-Raja Timor dengan ketua H. A. A. Koroh, yang juga adalah Raja Amarasi. Luas wilayah 180,27 Km2, suhu rata-rata di Kota Kupang berkisar antara 23,8°C sampai dengan 31,6°C. Kelembaban udara rata-rata berkisar antara 73 persen sampai dengan 99 persen. Curah hujan selama tahun 2010 tercatat 1.720,4 mm dan hari hujan sebanyak 152 hari. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari, yaitu tercatat 598,3 mm, sedangkan hari hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember dengan 28 hari hujan.


Dengan demikian Kota Kupang sama seperti NTT lainnya, nampak sekali kesan kering, berbatu karang, dan tanaman sulit tumbuh. Total penduduk Kupang adalah
390,877 jiwa dengan kepadatan sekitar 2.496/km2. Mayoritas penduduknya beragama Kristen Protestan (71.32%), kemudian disusul oleh Katolik (17.05%), Islam (10.09%), Hindu (1.53%) dan Buddha (0.01%). Luas wilayah Kota Kupang adalah 180,27 km² dengan jumlah penduduk sekitar 450.360 jiwa (2014). Daerah ini terbagi menjadi 6 kecamatan dan 51 kelurahan.

Bocah 5 Tahun ini Jadi Pembaca Peta Buta Termuda MURI   | tempo.co

 Mendarat di El Tari
Peta Kota Kupang di ujung barat Pulau Timor bagian Barat
Kami mendarat di Bandar Udara Internasional El Tari, Kamis, 28 Juni 2018

Kota Kupang dipimpin oleh seorang Wali kota, yaitu Drs. Mesakh Amalo, Letkol Inf. Semuel Kristian Lerik (1986-2007), Drs. Daniel Adoe (2007-2012), Jonas Salean, SH., MSi. (2012-2017), dan Walikota Kupang sekarang adalah Dr. Jefirstson R. Riwu Kore, MM, MH (2017-2022). Saat ini Kota Kupang dibagi menjadi 6 wilayah kecamatan, yaitu Alak (11 kelurahan), Kelapa Lima (7 kelurahan), Kota Raja (6 kelurahan), Kota Lama (10 kelurahan), Maulafa (9 kelurahan) dan Oebobo (7 kelurahan).

Kami mendarat di Bandar Udara Internasional El Tari, yang dahulu bernama pelabuhan udara Penfui pada Kamis, 28 Juni 2018, pk. 14.30. Bandara ini pada mulanya adalah bekas peninggalan zaman penjajahan Belanda, yang hanya berupa sebuah ‘airstrip’. Untuk pertama kali bandar udara ini didarati oleh pesawat udara pada tahun 1928 oleh penerbang Amerika Serikat Lamij Johnson. Selanjutnya dikembangkan oleh Australia pada tahun 1944-1945 dan diberi nama Lapangan Terbang Penfui, yang dalam bahasa Timor berarti Hutan Jagung (Pena=jagung dan Fui=hutan). Sejak tanggal 20 Desember 1988, Pelabuhan Udara Penfui diubah dan ditetapkan menjadi Pelabuhan Udara El Tari Kupang untuk mengenang jasa (almarhum) mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur, El Tari. Dulu, bandara ini pernah melayani penerbangan langsung dari dan ke luar negeri, yaitu ke Australia dan Timor Leste, tetapi karena insiden 1998 maka penerbangan luar negri dari bandara ini diberhentikan. Namun berjalannya waktu, bandara inipun akan kembali menjadi bandar udara internasional yang melayani penerbangan menuju Dili dan Darwin.

 Dr. Priyander  Pesiar Kupang
berjumpa di Bandara El Tari dengan Dr. Priyander Funay, SpPD-KHOM, teman lama kami di FK UGM 84
Pesiar keluarga kami di Kupang dalam kendali dan pengaturan oleh mas Yudhi

Sekejap kami berjumpa di ruang tunggu Bandara El Tari Kupang dengan Dr. Priyander Funay, SpPD, teman lama kami di FK UGM 84, yang akan segera kembali ke Jakarta, untuk mempelajari Hemato-Onkologi Medik. Kami dijemput oleh mas Yudhi, dengan mas Daniel, mbak Stefi dan mbak Devita (semuanya adalah para dokter PIDI di RS yang sama). Selanjutnya kami diajak makan siang di RM Bambu Kuning, untuk merasakan sensasi menu terkenal di Kupang, yaitu daging sei.

Sei adalah makanan khas suku Timor, berupa daging yang disayat kecil-kecil memanjang dan diolah dengan cara diasapi pada bara api. Bahan baku sei dapat berupa daging babi atau sapi, namun biasanya masyarakat setempat lebih banyak mengkonsumsi sei babi. Sei mulai tenar di kalangan masyarakat Kota Kupang sejak tahun 1986. Kata Se’i berasal dari bahasa Rote, yaitu daging yang diiris tipis memanjang. Tidak sama seperti daging babi Jasio, Siobak atau ‘smoked beef’, Ham ataupun babi Guling dari Bali, walaupun sama-sama dibakar, tetapi daging Se’i mempunyai ciri khas yang tersendiri, karena daging diolah secara tradisional dengan dipotong memanjang dengan 2-3 cm lebarnya, lalu diolah dengan pemberian garam dan sedikit rempah rempah sesuai dengan ciri khas penjualnya, dan dilanjutkan dengan pengasapan menggunakan kayu Kosambi. Beberapa Rumah Makan untuk makanan khas Kupang daging Se’i yang terkenal yaitu “Bambu Kuning”, “Petra”, “Aroma” dan “Pondok Sawah,” tetapi di desa “Baun” kurang lebih 40 km atau 45 menit dari kota Kupang, di sanalah original daging Se’i babi yang pertama. Daging Se’i harus dimakan dalam keadaan panas, karena kalau sudah dingin, maka dagingnya akan sedikit alot. Selain itu, saat panas itu kita bisa mencium bau aroma daging asap dengan rempah rempahnya. Selanjutnya kami mampir sebentar di rumah kost mas Yudhi dan teman2 dokter PIDI di dekat RS Bhayangkara, dan selanjutnya diantar ke Hotel Greenia di Jl. Hati Mulia V, (Belakang Kantor PU Prov. NTT), Oebobo, Kupang, untuk beristirahat.

 Kost mas Yudhi  Sei Babi
Mampir sebentar di rumah kost mas Yudhi dan teman2 dokter PIDI di dekat RS Bhayangkara Kupang
Makanan khas Kupang daging Se’i yang terkenal, kami santap di RM “Bambu Kuning”

Setelah beristirahat sore, kami melanjutkan petualangan pada Kamis, 28 Juni 2018 sore ke Taman Nostalgia (Tamnos) untuk bertemu Drs. Alfred Funay, MKes. Taman Nostalgia berlokasi di Kelurahan Fatululi, Kecamatan Oebobo, Kupang, yang dirancang sebagai taman kota. Dengan fasilitas ‘jogging track’, arena olahraga dan wisata kuliner. Di Taman Nostalgia terdapat Gong Perdamaian Nusantara (GPN), yang merupakan sarana persaudaraan dan pemersatu bangsa. Berasal dari Desa Pakis Aji, Kecamatan Plajan, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah, gong yang berusia 450 tahun itu milik Ibu Musrini, yang adalah ahli waris generasi ketujuh dari pencetus gong. GPN terbuat dari bahan campuran kuningan (bronze) dan perunggu, berdiameter 2 meter dengan berat ± 100 kg. GPN bermakna keseimbangan kehidupan dan memberi nilai lebih, kebanggaan, citra baik dan sumber pendapatan sepanjang masa bagi daerah yang menerimanya. Di Taman Nostalgia tersebut kami mencoba menu salome, semacam bakso bakar, bernostalgia dengan Drs. Alfred Funay, MKes, widyaiswara Bapelkes Kupang, yang pada tahun 1992 sebagai pegawai Bagain Umum Kanwil Kesehatan menyambut kami, para dokter baru yang akan ditugaskan di seluruh NTT. Nostalgia selanjutnya kami isi dengan makan malam di Kampung Solor, dengan mencoba aroma menu ikan kakap putih yang berdaging sangat kenyal.

 Tamnos  Kampung Solor
Taman Nostalgia (Tamnos) berlokasi di  Fatululi, Kecamatan Oebobo, Kupang, sebagai taman kota pada senja hari
Makan malam di Kampung Solor yang dipenuhi para pedagang makanan laut (seafood) yang ditangkap dari Laut Oeba.

NTT kaya dengan hasil laut, sehingga berbagai ikan laut kaya protein siap menyambut para wisatawan yang berkunjung ke kota Kupang ini, terutama di Kampung Solor, Kupang. Kampung Solor adalah wilayah pesisir dengan profesi penduduknya sebagain besar sebagai nelayan dan pedagang. Wilayah tersebut di zamaan Belanda adalah kota lama asal usul Kupang sebagai pusat perdagangan. Kampung Solor menjadi rujukan atau rekomendasi paling utama saat wisatawan singgah di Kupang. Mirip seperti Muara Angke atau kawasan Cilincing di Ancol, Jakarta, kampung ini merupakan kampung pesisir yang dipenuhi para pedagang makanan laut (seafood). Berbagai jenis ikan laut, cumi, udang, dan makanan laut lainnya yang ditangkap dari Laut Oeba, dibanderol dengan harga standar, puluhan ribu rupiah. Sambil merasakan hembusan angin pantai, makan di Kampung Solor bisa membuat siapa saja lahap. Para pedagang membuka lapaknya hingga tengah malam.

 Gua Fatima  Taman Doa
Taman Doa Lourdes Kupang yang dibangun di sebuah lahan berkontur menurun di kelurahan Oebobo, Kupang.
Gerbang Taman Doa Lourdes Kupang pada malam hari yang gelap

Setelah itu, kami melanjutkan peziarahan ke Goa Maria dan Taman Doa Lourdes Kupang, yang dibangun di sebuah lahan berkontur menurun di kelurahan Oebobo, Kupang. Nama jalan di sekitar lokasi akhirnya menjadi Jalan Lourdes, yang selanjutnya nama Lourdes berubah menjadi Lordez. Nama kampung yang dilalui jalan ini disingkat LDZ oleh kaum mudanya. Pintu masuknya cuma satu, dari arah depan menghadap jalan Cak Doko, sedangkan pintu sampingnya sudah tertutup tembok gedung lain. Di dalam komplkes taman doa ada sebuah patung yang diresmikan pada 11 Oktober 1996 oleh Uskup Agung Kupang waktu itu, Mgr. Gregorius Monteiro, SVD. Dalam prasasti marmernya disebutkan kata ARMIDA sebagai ‘head’-nya. Setelah selesai berdoa mengucap syukur melalui perantaraan Bunda Maria, malam itu kami tertidur nyenyak di Hotel Greenia, karena pengalaman iman dan kuliner yang membahagiakan.

Jumat, 29 Juni 2018 pagi, kami terjaga dari mimpi indah untuk segera bangun dan akan mengikuti misa kudus harian pagi. Kami segera menggunakan aplikasi ‘grab’, karena  aplikasi go-car dan minibus angkutan kota yang biasa disebut bemo, pagi itu belum beroperasional. Bemo di Kupang memiliki ciri khas tersendiri, yaitu rute setiap bemo ditandai oleh warna dan angka yang terdapat pada kaca depan bagian atas bemo. Selain itu, aksesoris bemo yang sangat banyak ditambah dengan dentuman musik yang sangat keras, adalah ciri lain bemo Kupang.

Tampilan Angkot (Bemo) Kupang Keren & Penuh Gaya #ntt #kupang #angkot  #angkotntt - YouTube

 Gereja St Yoseph
Bemo di Kupang yang khas dengan banyak asesoris dan full musik yang berdentum keras
Gereja Katolik St Yoseph Naikoten, yang merupakan gereja terbesar ketiga di kota Kupang, setelah Gereja Maria Assumpta dan Gereja Katedral.

Pagi itu pk. 6.30 kami mengikuti misa kudus harian di Gereja Katolik St Yoseph Naikoten, yang merupakan gereja terbesar ketiga di kota Kupang, setelah Gereja Maria Assumpta dan Gereja Katedral. Gereja ini berada di daerah Oebobo, tepatnya di Jl. Herewila No 27 Naikoten, Oebobo Kupang. Gereja ini terlihat megah dengan tiga buah menara yang sangat tinggi, di bagian depan gereja. Ketiga menara tersebut dihiasi dengan kaca-kaca dan ornamen kristiani yang sangat indah. Gereja ini bersebelahan dengan Sekolah Katolik (SD dan SMP Santo Yoseph) yang terkenal di Kupang, yang berada di wilayah Naikoten, Oebobo.

Jumat, 29 Juni 2018 setelah sarapan menu lokal di Hotel Greenia, Kupang, kami melanjutkan petualangan ke Pantai Lasiana, yang mulai dibuka untuk umum sekitar tahun 1970-an. Sejak Dinas Pariwisata NTT memoles dengan membangun berbagai fasilitas pada tahun 1986, Pantai Lasiana ramai dikunjungi turis asing. Sesuai rencana pengembangan Pemkot Kupang, Pantai Lasiana akan dijadikan Taman Budaya Flobamora, yakni sebutan yang mengacu pada keseluruhan suku bangsa di dekat Pantai Lasiana antara lain, Flores, Sumba, Timor dan Alor. Di pantai Lasiana ini terdapat sebuah Cafe, dan banyak didapati Lopo-lopo dan tempat makanan ringan seperti pisang bakar dan jagung bakar yang berderet. Lopo-lopo adalah sebutan lokal untuk pondok yang dibangun menyerupai payung dengan tiang dari batang pohon kelapa atau kayu dan beratapkan ijuk, pelepah kelapa atau lontar, alang-alang, dan yang berbahan semen. Kupang, adalah nama yang dipahat di atas batu karang. Nama yang kenyal dengan kegersangan, terik matahari yang membakar, ilalang kecoklatan, rumah reyot, pepohonan lontar dan kepulan asap yang membubung tinggi. Secuil keindahan seolah hanya ada pada bentangan bibir pantai Lasiana nan kusam. Pantai renta tempat seantero warga biasa melepas kepenatan hidup. Di Pantai Lasiana tersebut, kami dijemput Dr. Maria Surina, teman lama kami saat bertugas di Pulau Flores tahun 1992-1994.

 Pantai Lasiana  Taman Ziarah 3
Pantai Lasiana  merupakan Taman Budaya Flobamora, (Flores, Sumba, Timor dan Alor).
Diantar Dr. Maria Surina ke Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo sekitar 10 km dari bibir Pantai Lasiana. 

Selanjutnya kami diantar ke sebuah Taman Terindah, Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo sekitar 10 km dari bibir Pantai Lasiana, yang berada pada suatu titik ketinggian yang istimewa. Siapapun yang berada di titik ketinggian ini akan menikmati suatu panorama alam yang menakjubkan. Karenanya, keberadaan Kapela John Paul II di puncak titik ketinggian tersebut, seolah mempertegas betapa Tuhan telah menciptakan alam raya ini dengan keindahan tak terkira.

Berdiri diatas balkon lantai tiga bangunan Kapela John Paul II kita seolah berada dekat dengan langit, tempat Tuhan bersemayam. Awan berarak di atas kepala, burung-burung terbang melintas, angin menampar lembut dan Patung Yesus berjubah putih berselempang merah di atas bubungan atap dengan tangan terentang ke atas, membuat hati bergetar, nurani terbuka, sungguh suatu keindahan tak terbantah. Dengan melihat ke sekeliling, pepohonan lontar berderet di seantero pebukitan seperti tentara sorga berbaju zirah melingkari, mengepung, dan menjaga takhta Tuhan. Dan di kejauhan panoramanya bagai lukisan kanvas. Tuhan mengarsir panorama alam di depan Kapela John Paul II begitu sempurna, yaitu petakan sawah dan ladang yang didominasi warna kekuningan. Di sana ada ruas jalan aspal yang membelah di tengah-tengah. Di sebelahnya laut biru membujur diantara dua sayap pulau Timor yang merentang bagai bukit barisan. Semuanya akan terlihat dari puncak Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo yang dibangun oleh Yang Mulia Uskup Agung Kupang Mgr. Petrus Turang. Ketika diresmikan pada hari Senin, 25 November 2013 oleh Kardinal Stanislaw Rylco dari Tahkta Suci Roma, sekitar 30.000-an umat Katolik datang memadati seluruh area taman.

Taman Doa dan Ziarah Bunda Maria Kupang Potensi Wisata Religi yang Minim  Fasilitas Umum - TribunNews.com

 El Tari Kupang
Umat berbondong-bodong datang berdoa di Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo
Tim penjemput keluarga pakde Totok di Bandara El Tari, Kupang

Di taman ini peziarah dari seluruh penjuru angin menanam Doa Rosario. Ruas jalan permenungan untuk meniti Empat Peristiwa dalam Doa Rosario yaitu peritiwa Gembira, Mulia, Sedih dan Terang ada di sini, lengkap dengan stasi perhentiannya. Semua peristiwa ini mengantar peziarah menuju Yesus Kristus Sang Juru Selamat, melalui Bunda Maria. Langkah kaki menuju empat peristiwa dalam doa rosario dimulai dari Aula Terbuka yang berada di kaki bukit. Di aula ini seluruh peziarah diberi kesempatan untuk sejenak menenangkan diri, menyiapkan hati, pikiran dan fisik, sebelum menapaki bukit terindah ini. Peziarah akan menanjaki ruas jalan dengan kemiringan sekitar 45 derajat.

Setelah puas berdoa, kami segera turun gunung untuk mencoba menu jagung bose. Menu ini adalah bubur jagung dengan campuran santan yang diolah dari buah kelapa yang diparut secara manual, tidak menggunakan mesin. Untuk membuat jagung bose, waktu yang diperlukan tidak sebentar. Namun demikian, proses pembuatannya sangat sederhana. Bahannya pun sangat mudah didapat di pasar tradisional seputar Kota Kupang. Awalnya, jagung yang masih utuh dilulur atau direndam dalam air selama kurang lebih 15 menit. Setelah itu, jagung ditumbuk lalu dicampur air dan ditapis untuk memisahkan kulit ari dari pecahan biji jagung. Pecahan jagung siap dimasak di atas tungku dengan nyala api sedang. Jagung direbus sampai setengah matang. Kemudian, dimasukkan tambahan kacang hijau dan selama kurang lebih dua jam, maka akan terbentuk kaldu yang mengental.

 Jagung Bose  Aroma Sei 1
Jagung bose yang manis ini tersedia dalam dua pilihan, yakni putih atau kuning, hanya akan ditemukan di NTT.
Dijamu makan siang menu se'i babi oleh Dr. Maria Surina di RM Aroma yang padat pengunjung, di pusat kota Kupang

Setelah jagung matang dan terasa kental, masukkan garam secukupnya dan sedikit bumbu tambahan, seperti santan atau bumbu-bumbu lain. Dalam penyajiannya, jagung bose kerap ditambahkan dengan potongan iga sapi. Pada proses akhir perebusan setelah terbentuk kaldu yang mengental, masukkan potongan iga sapi tersebut. Tambahkan sedikit air lagi, lalu rebus kembali hingga daging matang. Jagung bose pun siap disajikan. Jagung bose dapat pula disajikan panas-panas bersama lauk daging seì (daging asap) yang telah masak. Selain daging seì sebagai lauk pendamping, lawar ikan sardine pun bisa menjadi pasangan khas jagung bose. Jenis jagung bose yang manis ini tersedia dalam dua pilihan, yakni putih atau kuning. Dengan rasanya yang khas, jagung bose benar-benar hanya akan ditemukan di Nusa Tenggara Timur.

Selesai makan siang itu, kami segera menjemput keluarga pakde Totok (budhe Tari, mas Danang dan mbak Esthi) yang akan mendarat di Bandara El Tari, Kupang dan siap bergabung berpetualang dengan kami. Keluarga pakde Totok yang datang dari Pamulang, Tangerang nampak kelelahan, karena tertundanya penerbangan mereka, yang disebabkan aktivitas Gunung Agung di Karangasem, Bali. Segera kami mengingat berbagai bentuk layanan kesehatan di kota Kupang antara lain Rumah Sakit Pemerintah seperti : RSUD WZ. Johannes Kupang, RS Bhayangkara Kupang, RS Korem 161 Wira Sakti Kupang, Rumkital Kupang dan RSUD SK Lerik Kupang. Sedangkan Rumah Sakit dan Klinik Swasta antara lain adalah RSU Mamami, RSIA Dedari, RS Kartini, RS Leona, Siloam Hospital Kupang dan RS Katolik Carolus Boromeus.

Setelah melihat sekejap RSUD WZ. Johannes yang pernah kami kunjungi tahun 1993, kami melanjutkan petualangan ke RS Bhayangkara Kupang, dimana mas Yudhi belajar sebagai dokter internship pada PIDI. RS Bhayangkara Kupang berdiri tanggal 3 Juli tahun 1967 di atas tanah seluas 5.865 m² yang berlokasi di Jl. Nangka No 84 Kupang NTT, adalah warisan dari gedung Komplek Komdak XVII Nusra yang direnovasi menjadi sebuah rumah sakit. Rumah Sakit milik POLDA NTT di Kupang ini sebagai salah satu rumah sakit dengan lingkungan terbaik, juga menyediakan prasarana antara lain ambulance yang siap mengantarkan pasien yang akan dirujuk, menjemput pasien di rumah, dan menjemput pasien yang kecelakaan di jalan. Parkiran yang luas yang membuat pengunjung dapat nyaman saat bertamu ke kerabat atau keluarga yang sedang dirawat inap. Kami sempatkan berfoto bersama mas Yudhi di areal sebelah IGD, sebagai salah satu pintu masuk ke RS Bhayangkara, yang terletak di bagian depan dari rumah sakit, agar setiap tindakan yang membutuhkan penanganan secara cepat, dapat dilaksanakan. RS ini memiliki motto: senyummu adalah kepuasanku. Di RS itulah mas Yudhi dan teman-temannya belajar secara intensif sebagai dokter internship Indonesia. Setelah itu, kami segera menuju ke RS Siloam Kupang.

 RS Bhayangkara  Siloam Kupang
Sisi depan RS Bhayangkara Kupang di Jl. Nangka No 84 Kupang NTT,
Bergaya di samping ambulance Siloam Hospitals Group, di Fatululi, Kupang, NTT.

RSU Siloam yang merupakan anak usaha PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), Siloam Hospitals Group, berlokasi di daerah Fatululi, Kupang NTT. Biaya yang dibutuhkan untuk membangun RS ini senilai US$ 40 juta (Rp 360 miliar), termasuk peralatan medis terkini seperti MRI, Cathlab dan CT Scan, sesuai dengan standar internasional yang diterapkan di seluruh unit Siloam Hospitals. Rumah Sakit Umum Siloam Hospital (RSUSH) Kupang adalah rumah sakit ke-19 yang telah dibangun Lippo Group. Berbeda dengan RS Siloam lainnya, RS Siloam Kupang lebih fokus melayani pasien peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Sebagian besar atau sekitar 70 persen fasilitas layanannya diperuntukkan bagi pasien peserta JKN, seperti disampaikan saat Grand Opening Siloam Hospital Kupang, oleh Gubernur NTT dan disaksikan Presiden Joko Widodo, Sabtu 20 Desember 2016. Siloam Hospital Kupang memiliki kapasitas 600 tempat tidur, namun untuk tahap awal mulai dioperasionalkan 100 dan termasuk yang terbaik dari Silaom Hospital yang sudah dibangun. Siloam Kupang memiliki gedung besar dan kenyamanan dengan teknologi kesehatan canggih. Ke depan akan dikembangkan duplikat dari Siloam Hospital Kupang di berapa kota di NTT, seperti di Maumere, Waingapu, dan Rote.

Kota Kupang menyimpan begitu banyak potensi wisata yang wajib untuk dikunjungi, salah satunya adalah Pantai Oesapa. Pantai ini terletak di Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang. Pantai Oesapa memang sangat eksotis, letaknya pun sekitar 10 kilometer dari jantung kota Kupang. Pantai Oesapa mungkin saat ini menjadi satu-satunya ruang terbuka di pesisir pantai Kota Kupang, sehingga setiap hari terutama menjelang sore, akan ramai dikunjungi ratusan orang. Ramainya pantai ini dikarenakan langit sore berubah menjadi warna merah keemasan, ketika matahari mulai kembali ke peraduannya. Keindahan Pantai Oesapa menjadi daya tarik sendiri karena latar belakang ribuan pohon lontar yang berdiri kokoh di sepanjang pantai.

 Pantai Oesapa 1 Pekan Suci, Gereja St. Maria Assumpta Kupang Batasi Jumlah Umat, Hanya 50  Persen - Victory News
Keindahan Pantai Oesapa dengan ribuan pohon lontar yang berdiri kokoh di sepanjang pantai.
Gereja Santa Maria Assumpta di Jl. Perintis Kemerdekaan No. 9, Kupang. 

Setelah mengantarkan keluarga Pakde Totok untuk beristirahat sejenak di kamar sebelah kami di Hotel Greenia, kami semua segera menikmati senja di Pantai Oesapa. Setelah menikmati pisang goreng, jagung bakar, teh dan kopi di pinggir Pantai Oesapa, segera kami melanjutkan pesiar ke Gereja Santa Maria Assumpta di Jl. Perintis Kemerdekaan No. 9, Kupang. Kompleks Paroki termasuk gedung Gereja, Pendopo Pastoran, kantor Sekretariat Paroki dan Sebuah Aula Serba guna, berlokasi dalam sebuah komplkes yang sama. Gereja ini dibangun di atas pondasi batu, dengan ruang jemaat yang besar dan bebas kolom, serta dilengkapi pendingin udara (AC). Atap dan lengkungan yang memiliki parapets, merupakan ciri khas gereja ini dan bagian depan gereja terletak di sebelah barat.

Pada bulan Desember 1979 oleh Pastor Herman Y. Kaiser SVD yang mejabat Pastor Paroki St Yoseph Naikoten Kupang, berdasarkan hasil kunjungan pastoral ditemukan kesulitan umat untuk hadir ke Gereja, karena transportasi yang kurang mendukung. Bapak uskup mengijinkan agar umat yang berdomisi di wilayah ini dapat melaksanakan misa hari minggu di istana keuskupan saja. Namun demikian, Rumah Bapak Uskup dalam beberapa waktu ternyata tidak dapat menampung umat lagi untuk misa hari minggu. Pada saat itu dibangun pula seminari Santu Rafael Oepoi. Persiapan paroki yang diperjuangkan umat selama 8 tahun, yaitu 1979-1988, akhirnya berhasil dan peletakan batu pertama dimulai pada tanggal 12 Agustus 1988, sekaligus perayaan ulang tahun paroki untuk pertama kalinya. Pastor Paroki Pertama P. Julis Bere SVD dan Pastor kapelan Pastor Ebed, Pr., dengan nama paroki selengkapnya menjadi Paroki Santa Maria Assumpta Kota Baru Kupang, yang terus dipakai hingga saat ini. Selain ruang adorasi tubuh Kristus yang buka 24 jam untuk berdevosi, kami juga menyaksikan Aula Serba Guna Paroki Santa Maria Assumpta yang megah, dengan daya tampung seribu orang. Selain itu, kami juga sempatkan berdoa di Gua Maria yang strategis berada di areal depan kompleks, sehingga memudahkan umat untuk berdoa dengan khusuk. Gua Maria terbuka 24 jam bagi umat yang hendak memanjatkan doa-doanya. Setelah puas berdoa kepada Bunda Maria, segera kami melanjutkan perjalanan ke ikon baru kota Kupang, yaitu Kantor Gubernur NTT.

 Sasando Gubernur

Ke Kupang Belum Lengkap Bila Tidak Berpose di Depan Gedung Unik Kantor  Gubernur NTT Berbentuk Sasando - Sila News

Malam hari di Kantor Gubernur NTT di Jalan El Tari Kupang, yang telah menjadi ikon baru Nusa Tenggara Timur.
Berfoto pada siang hari di Kantor Gubernur NTT yang telah menjadi ikon baru Nusa Tenggara Timur.

Kantor Gubernur NTT, Kupang Indonesia. Merupakan salah satu project yang  menggunakan atap shingle bitumen IKO. 📷 : @about.indonesia.id @druld  @indrasunbanu #kantor #gubernur #ntt #kupang #nusatenggaratimur #atap #iko  #ataprumah #atapjawabarat ...

Maket Gedung Kantor Gubernur NTT karya arsitek muda NTT, Luiz Wilson
yang menyerupai alat musik Sasando.

Kantor Gubernur NTT yang terletak di Jalan El Tari Kupang, telah menjadi ikon baru Nusa Tenggara Timur. Bentuknya yang unik yaitu menyerupai alat musik tradisional NTT Sasando, menjadikan lokasi ini selalu ramai dikunjungi warga Kota Kupang, maupun mereka yang baru pertama menginjakkan kaki di Kota Kupang. Gedung yang berada di Jalan El Tari ini merupakan tempat berkantor Gubenur dan Wakil Gubernur NTT, dan tempat ini juga menjadi pusat pemerintahan NTT. Gedung megah ini sebenarnya dibangun untuk menggantikan gedung lama yang terbakar pada tanggal 9 Agustus 2013, yaitu lantai 2 dan 3 hangus terbakar. Pada tahun 2014, Pemprop menggelar sayembara bentuk kantor gubernur. Pemenang sayembara adalah seorang arsitek muda NTT, Luiz Wilson. Ia memilih bentuk gedung menyerupai alat musik Sasando. Dan kini bagian depan gedung ini memang menyerupai alat musik Sasando, sementara bagian depan sisi kiri dan kanan menyerupai lipatan daun lontar. Gedung yang dibangun sejak Januari 2016 oleh kontraktor PT Waskita Karya (persero) Tbk, selesai dikerjakan pada pada Desember 2016, dan mulai digunakan pada tahun 2017. Anggaran untuk membangun gedung ini sekitar Rp 178 miliar dan sekarang menjadi lokasi rekreasi warga. Dengan berpose di depan kantor gubernur NTT, yang indah untuk foti selfie, menjadi arena nongkrong anak muda Kota Kupang setiap sore, bahkan hingga tengah malam, terbuka untuk umum dalam bercengkrama dan bersantai di kawasan itu. Selain itu, bagian depan Kantor Gubernur juga sering dijadikan panggung pertunjukan, dengan latar belakang bagian depan gedung yang berbentuk sasando. Setelah puas berfoto di depan Kantor Gubernur NTT, malam itu kami semua tertidur nyenyak dalam kepuasan dan kelelahan yang berpadu.

Sabtu pagi, 29 Juni 2018 kembali kami mengikuti misa kudus harian di Gereja Katolik St Yoseph Naikoten. Setelah sarapan di Hotel Greenia dan mas Yudhi berangkat kerja di Puskesmas Oesapa, kami melanjutkan petualangan ke Goa Kristal. Ketika mendengar kata ‘kristal’ mungkin kita akan beranggapan di dalam gua tersebut bergelimang batu perhiasan. Namun, itu hanyalah kiasan saja yang menggambarkan akan adanya air jernih dan batu di dalamnya yang membentuk seperti kolam renang.

Gua Kristal yang terletak di Desa Bolok, Kecamatan Kupang Barat. Gua Kristal yang mempunyai luas kurang lebih 30 meter persegi dengan airnya yang begitu jernih, sehingga membuat terlihat begitu sangat jelas dasar kolamnya. Air yang di dalam gua tersebut memiliki rasa payau dan sangat menyegarkan tubuh. Goa Kristal ini sangat dekat dengan Kota Kupang, hanya memerlukan waktu tempuh 30 menit atau berjarak 20 km, lokasinya sangat berdekatan dengan Pos Polisi Air Pelabuhan Bolok. Sesampainya di sana pengunjung dapat memarkir kendaraannya di dekat Pos Polisi Air Bolok, kemudian berjalan kaki kira-kira 500 meter untuk sampai ke bibir gua.

 Gua Kristal 1  Gua Kristal 2
Ditemani Moses, bocah pemandu lokal, menuju Gua Kristal di Kupang Barat
Berenang bersama melihat keindahan di dalam perut Gua Kristal, Kupang Barat

Kami datang sesuai anjuran untuk berkunjung pada siang hari atau pukul 11, karena sinar matahari yang menerobos celah-celah gua, akan membuat pemandangan yang jarang terlihat, seolah seperti batu kristal. Kami juga mengikuti saran untuk membawa senter, karena tidak banyak cahaya mampu masuk ke dalam goa dan jalan masuk cukup terjal menurun dan licin. Setelah puas berenang di dasar goa, berbasah air payau, dan menikmati keindahan kristal karena cahaya matahari yang menyelinap ke dalam goa, kami segera melanjutkan petualangan (pesiar) dengan menikmati menu kuliner lokal lainnya, di warung artis kuah asam Tenau yang berada di Jl. M Praja, Kelurahan Alak, Kecamatan Alak, Kota Kupang. Di warung tersebut kami bertemu mas Yudhi, setelah selesai bertugas di puskesmas.

Warung yang terletak tidak jauh dari Pelabuhan Tenau Kupang itu, menjadi salah satu ikon masakan kuah asam ikan paling fenomenal di ibu kota NTT. Betapa tidak. Selama enam hari seminggu, dari Senin hingga Sabtu, warung yang menyajikan masakan kuah asam, ikan asap, gule sapi dan sambal goreng itu, tidak pernah sepi dari pengunjung. Warung kuah asam Tenau sudah menjadi idola banyak pejabat pemerintah hingga masyarakat biasa, penyuka makan ikan. Selain ikan ‘fresh’ yang diolah, racikan khusus bumbu si pemilik warung menjadikan pecinta kuliner tidak akan merasakan bau amis, usai menyantap habis satu porsi kuah asam ikan.

RRI.co.id - Warung Kuah Asam Ikan Tenau Tempat Makan Populer

Ken Patar | Pelabuhan #Tenau - Kupang, NTT. 2022 Diantara kapal - kapal  besar yang bersandar di pelabuhan Tenau, ada beberapa kapal kecil yang... |  Instagram

Menu spesial di Warung ikan kuah asam Tenau, dekat Pelabuhan Kupang
Pelabuhan Tenau Kupang pada senja hari, dekat Warung ikan kuah asam Tenau

Setelah kenyang makan siang menu ikan, kami melanjutkan petualangan ke rumah kenalan lama di Wates, Kulon Progo, DIY. Cik Hong dan Koh Cung, sepasang suami isteri yang kedua anaknya telah menjadi dokter di Medan dan Jakarta, kami temui dalam keharuan di rumahnya Salon Lince di Jl. Sumba no 10 Oeba, Kupang. Kami segera larut dalam suasana reuni dan nostalgia dengan saling mendoakan dan meneguhkan, untuk selanjutnya meneruskan petualangan ke Oesao, di Kabupaten Kupang. Melalui jalan raya yang padat kendaraan, kami menyatu dengan para pengguna jalan yang seenaknya sendiri, tidak mau peduli, melaju di sisi tengah jalan, dan tidak segera menepi saat diklakson. Selain itu, juga ada antrian bus antar kota dalam provinsi, dengan tujuan ke SoE, Kefa dan Atambua, serta antar negara, yakni ke Dili, Timor Leste. Bus ini disediakan oleh berbagai penyedia layanan termasuk DAMRI. Kalau kita mengikuti lajunya, pasti akan sampai di Layanan imigrasi Indonesia-Timor Leste yang dilaksanakan di Tasifeto Timur-Batugade, yang sangat megah dan membanggakan.

 Cik Hong  Cik Hong 1
Keluarga Cik Hong tinggal di Salon Lince, nama yang digunakan sejak di Wates DIY, di Jl. Sumba no 10 Oeba, Kupang
Cik Hong dan Koh Cung, sepasang suami isteri yang kedua anaknya telah menjadi dokter di Medan dan Jakarta,

Kami harus keluar dari Kotamadya untuk masuk ke dalam territorial Kabupaten Kupang, guna menikmati kue cucur, yang merupakan ciri khas makanan lokal kesukaan masyarakat di desa Oesao, Kabupaten Kupang. Kue ini terbuat dari bahan beras yang diolah menjadi tepung. Para petualang yang mengadakan perjalanan melalui atau ke Kabupaten Kupang, menuju ke SoE, Kefa dan Atambua, biasanya singgah di tempat ini, karena kue cucur rasanya enak untuk dinikmati. Selain kue cucur, kami juga menikmati ulang jagung bose sampai kenyang.

Siang itu, kami mengantar keluarga pakde Totok naik ke Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo, yang telah kami kunjungi hari sebelumnya. Di aula kami tertahan, karena hanya sebuah mobil yang diijinkan naik ke puncak taman, sehingga hanya keluarga pakde Totok yang naik dan berhenti tepat di depan Patung Bunda Maria yang tengah menggendong kanak-kanak Yesus. Patung setinggi manusia itu berada pada kaki bukit kedua dengan sudut kemiringan sekitar 40 derajat. Bunda Maria dan Yesus seolah tengah bercakap-cakap. Tentu, Bunda Tak Bernoda ini tengah menyampaikan seluruh isi hati kita, keluh kesah kita, mimpi-mimpi kita, juga gumpalan kekecewaan kita yang mengkristal, bahkan membatu.

 Taman Ziarah
Keluarga pakde Totok di Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo, Kupang

Bagi peziarah beragama katolik yang hendak berdoa, inilah Taman Doa Rosario terlengkap yang menggelar kisah kehadiran Tuhan Yesus Kristus, dalam perjalananNya menyelamatkan umat manusia dari belenggu dosa. Bila peziarah menapaki ruas jalan menanjak dari ‘paving block’ di sebelah kiri posisi berdiri Patung Bunda Maria, maka wajib mendaraskan lima Peritiwa Gembira dan lima Peristiwa Mulia. Sedangkan peziarah yang melangkah ke sebelah kanan, wajib mendaraskan lima Peristiwa Sedih dan lima Peristiwa Terang.

 Taman Ziarah 6
Kapel S. Paul John II di sore hari, di Taman Ziarah Yesus Maria di puncak Bukit Oebelo 

Turun dari taman terindah, kami langsung menikmati sasando, yaitu sebuah alat musik dawai yang dimainkan dengan cara dipetik. Instumen musik ini berasal dari pulau Rote, NTT. Secara harfiah nama Sasando menurut asal katanya dalam bahasa Rote, sasandu, yang artinya alat yang bergetar atau berbunyi. Suara sasando mirip dengan alat musik dawai lainnya seperti gitar, biola, kecapi, dan harpa. Bagian utama sasando berbentuk tabung panjang yang biasa terbuat dari bambu. Lalu pada bagian tengah, melingkar dari atas ke bawah diberi ganjalan-ganjalan, di mana senar-senar (dawai-dawai) yang direntangkan di tabung, dari atas ke bawah, akan bertumpu. Ganjalan-ganjalan ini memberikan nada yang berbeda-beda kepada setiap petikan senar. Lalu tabung sasando ini ditaruh dalam sebuah wadah, yang terbuat dari semacam anyaman daun lontar, yang dibuat seperti kipas. Wadah ini merupakan tempat resonansi sasando.

 Sasando  Sasando 1
Alat musik sasando, topi Ti’i Langga dan kain tenun Rote yang melambangkan kepemimpinan, wibawa dan percaya diri. 
Menikmati alunan musik pemain sasando elektrik di Sanggar Sasando Oebelo Puluti, Kabupaten Kupang Tengah.

Kami mampir di sebuah rumah sederhana yang dikenal sebagai tempat perajin sasando, berada di Oebelo Puluti, Kabupaten Kupang Tengah, sekitar 20 km dari Kota Kupang. Masyarakat Oebelo kebanyakan adalah petani garam. Hal tersebut bisa dilihat kala melintasi sepanjang jalan besarnya. Tepi jalan dihiasi dengan garam yang dipasarkan dalam bentuk sokal (sejenis tabung panjang yang bahannya terbuat dari daun lontar). Daun lontar memang menjadi komoditas yang banyak digunakan di Kupang. Selain bisa dirubah menjadi berbagai macam tempat penyimpanan, di sini anyaman daun lontar juga biasa digunakan sebagai atap rumah, karpet, bahan rumah gubuk juga kerajinan, seperti yang biasa dipakai oleh Jeremias Pah, seorang perajin dari Bengkel Perajin Sasando. Sasando dimainkan untuk beberapa keperluan seperti menghibur kerabat atau orang yang berduka cita, sebagai pengiring tarian dan upacara adat, menyambut tamu penting, atau sekadar alat musik penghibur. Bahkan kini, telah dikembangkan sasando elektrik, bukan akustik lagi, dan terdapat beberapa jenis sasando, mulai dari 10 senar hingga 56 senar yang dibuatnya selama 5 hingga 15 hari.

Bagi orang Rote, selain alat musik sasando, juga ada topi Ti’i Langga yang melambangkan jiwa kepemimpinan, kewibawaan dan percaya diri. Pada awalnya topi Ti’i Langga hanya digunakan oleh para petinggi adat yang bermukim di Pulau Rote, tetapi sekarang topi Ti’i Langga sudah menjadi pelengkap untuk pakaian tradisonal laki-laki di Rote dan juga sering dipakai untuk acara-acara adat. Bahan utama yang digunakan untuk membuat topi Ti’i Langga yaitu daun lontar, dimana pohon lontar memang banyak ditemui di wilayah NTT. Setelah puas mendengarkan alunan sasando elektrik, berfoto dengan topi Ti’i Langga dan kain tenun khas Rote, sore itu kami kembali ke Kota Kupang.

 Puskesmas Oesapa 2  Puskesmas Oesapa 1
Gedung megah Puskesmas Oesapa berlantai 2 sore itu masih ramai dengan berbagai aktivitas pegawai.
Prasasti peresmian di dinding Gedung Puskesmas Oesapa, Kupang yang digunakan mas Yudhi untuk belajar

Di seluruh teritorial Kota Kupang, terdapat Puskesmas Alak, Puskesmas Naioni, Puskesmas Bakunase, Puskesmas Pasir Panjang, Puskesmas Kupang Kota, Puskesmas Oebobo, Puskesmas Oesapa, Puskesmas Oepoi, Puskesmas Sikumana, Puskesmas Penfui dan Puskesmas Manutapen. Sore itu kami mampir ke Puskesmas Oesapa, yang digunakan sebagai wahana internship mas Yudhi dan teman2 dokter lainnya, selain puskesmas pembantu (pustu) di Kelapa Lima, Oesapa Barat, dan Lasiana. Gedung Puskesmas Oesapa berlantai 2 sore itu masih ramai dengan berbagai aktivitas pegawai, tertata rapi dan bersih, tidak kalah dan sangat mirip dengan banyak puskesmas yang modern di Pulau Jawa. Setelah puas mengamatinya, kami segera melanjutkan petualangan ke air terjun Oenesu, yang menjadi oase dari panas teriknya kota Kupang, yang berada di Desa Oenesu, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang ini berjarak sekitar 20 kilometer dari Kota Kupang. Air terjun Oenesu menjadi salah satu tempat favorit wisatawan, lantaran pesona air terjun yang dikelilingi rerimbunan berbagai jenis pohon itu, menjadi pilihan cocok menghalau rasa gerah, terkait panasnya cuaca Kota Kupang pada musim kemarau. Tak hanya itu, rindangnya pepohonan yang beragam jenisnya membuat susana hati setiap pengunjung yang melihatnya, merasa tenang dan sejuk. Uniknya, Air Terjun Oenesu memiliki air terjun yang bertingkat-tingkat hingga mencapai empat lapisan.

 Oenesu 3  Oenesu 6
Air Terjun Oenesu yang bertingkat-tingkat hingga mencapai empat lapisan
Bersemedi di sebuah tingkatan pada aliran Air Terjun Oenesu Kupang

Masing-masing tingkatan, di sela-selanya terdapat kolam-kolam yang terbentuk secara alamiah sehingga banyak dimanfaatkan pengunjung untuk berenang maupun berendam. Air yang mengalir ini banyak mengandung kapur. Saat musim hujan, curuhan dan volume air Oenesu begitu melimpah. Kendati begitu airnya tetap jernih. Sementara ketika musim panas, airnya tak pernah kering, meski tak sebanyak saat musim hujan, namun airnya terlihat lebih jernih. Lokasi wisata air terjun yang memiliki luas areal sekitar 1,5 hektar sudah dilengkapi berbagai fasilitas, seperti bangunan peneduh berupa sembilan lopo, dan tangga menurun ke lokasi air terjun. Setelah kami puas mandi, berenang dan berfoto pada setiap tingkatan air terjun Oenesu, kami segera berganti baju kering untuk bergegas menikmati sore di sebuah pantai.

 Tabl  Tablalong
Senja di Pantai Tablolong yang diapit oleh Pulau Rote dan Timor
Perpaduan hamparan pasir putih dan birunya langit menambah keelokan Pantai Tablolong.

Dibalik kesan panas dan keringnya Kota Kupang, berada tak jauh dari pusat kota, terdapat beberapa primadona pantai, dengan hamparan pasir putihnya yang menjadi daya tarik bagi para pengunjungnya, salah satunya adalah pantai Tablolong. Nama Tablolong diambil dari nama salah satu perkampungan nelayan kecil yang berada di ujung timur. Pantai yang memiliki hamparan pasir putih ini, diapit oleh Pulau Rote dan Timor. Pantai ini sering dijadikan arena olahraga memancing skala lokal, nasional hingga internasional setiap tahunnya. Perairan sejauh 10 mil dari garis Pantai Tablolong itu merupakan jalur migrasi ikan yang cukup ramai, dari perairan Laut Timor menuju Laut Sawu. Selain itu, Tablolong juga sebagai penghasil rumput laut terbesar di NTT.

Perpaduan hamparan pasir putih dan birunya langit menambah keelokan Pantai Tablolong. Selain berenang ataupun bermain air, pengunjung dapat bersantai ria di lopo (sejenis bale-bale/ gazebo) sambil menikmati hembusan angin pantai. Tablolong juga dihiasi oleh adanya Pohon Centigi (Pempis Acidula) yang tumbuh liar di sekitaran bebatuan karang, dan merupakan sebuah tanaman golongan perdu yang banyak diburu orang karena keunikannya.

Pantai yang berjarak sekitar 30 km dari pusat Kota Kupang ke arah Tenau, waktu tempuh menuju lokasi dapat mencapai 1-1.5 jam. Sore itu kami menikmati pemandangan matahari tenggelam yang sangat sensasional, selanjutnya kami menikmati makan malam nasi bungkus dan air kelapa muda yang segar, sampai malam gelap menghimpit kami. Kami segera menuju ke Hotel Greenia dalam kepuasan yang penuh. Setelah mandi sore, hanya kami berdua dan pakde Totok serta budhe Tari yang masih mampu menikmati malam hari, dengan diantar oleh mas Yudhi. Malam itu, kami dijamu oleh Dr. Maria Surina dan Om Fendi suaminya, menikmati jagung bakar dan pisang bumbu kacang di kios nomer 10, pusat kuliner malam hari di sepanjang Jl. El Tari Kupang depan Gedung Sasando, Kantor Gubernur NTT yang legendaris. Setelah kekenyangan dan mulai mengantuk, kami lantas berpisah, mengantar pakde Totok dan budhe Tari kembali ke Hotel Greenia, dan kami melanjutkan petualangan ke Rumah Sakit St. Carolus Borromeus (RSCB) di Jl. H.R. Koroh KM 8 Kupang – NTT. RS yang didirikan oleh Kongregasi Suster-Suster Cinta Kasih Carolus Borromeus, seperti halnya RS Panti Rapih di Yogyakarta, dikelola oleh Yayasan Elisabeth Gruyters Kupang.

 RSCB Kupang  RS Bhayangkara 1
Ambulance di UGD Rumah Sakit St. Carolus Borromeus, Kupang
 Bersama mas Yudhi yang belajar sebagai dokter di RS Bhayangkara Kupang

Rumah Sakit St. Carolus Borromeus ini merupakan rumah sakit tipe C yang telah lulus akreditasi tingkat perdana, menerima pasien BPJS maupun asuransi swasta lainnya yang telah bekerja sama. Motto RS St. Carolus Borromeus adalah “Kasih yang Menyembuhkan.” RSCB ini melayani semua penderita dengan cinta kasih dalam kepemimpinan oleh Direktur Dr. Herli Soedarmadji. SDM terdiri dari 10 orang dokter umum, 16 orang perawat, dokter spesialis yang tetap baru dokter penyakit dalam, yaitu dokter Stefani, memiliki 27 tempat tidur, yang sedang dikembangkan menjadi 50. Malam sudah terlalu larut, sehingga kami tidak mampu menemui Sr. Natalia, CB, seorang apoteker dari RS Panti Rapih Yogyakarta yang pindah di situ, dan langsung kembali terlelap di kamar Hotel Greenia.

Minggu, 1 Juli 2018 pagi hari, kami terjaga agak siang karena kelelahan yang penat. Pagi itu, kami akan mengikuti misa kudus di Gereja Katedral Kupang. Katedral ini adalah pusat dari Keuskupan Agung Kupang (KAP) yang didirikan pada 13 April 1967, hasil pemekaran dari Keuskupan Atambua. Kemudian pada 23 Oktober 1989 ditingkatkan menjadi Keuskupan Agung Kupang, dalam kesatuan satu provinsi gerejani dengan dua keuskupan sufragan, Atambua dan Weetebula. Mencakup 130.000 umat yang berada di Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Pulau Alor dan Pulau Pantar. Pertambahan umat di Keuskupan Kupang yang cukup besar terjadi setelah tahun 1965, ketika banyak penduduk yang menganut agama asli kesukuan, meminta diterima menjadi anggota Gereja. Perkembangan itu menyebabkan pemisahan dari Keuskupan Atambua. Statistik tahun 2004 menunjukkan jumlah umat sebanyak 125.000 tersebar di 22 paroki. Uskup Kupang pertama adalah Mgr Gregorius Manteiro SVD (13 April 1967—23 Oktober 1989), selanjutnya Uskup Agung Kupang adalah Mgr Gregorius Manteiro SVD (23 Oktober 1989—10 Oktober 1997, wafat) dan Mgr Petrus Turang (10 Oktober 1997—sekarang).

 Katerdral  Katerdral 1
Gereja Katolik Katedral Kristus Raja Kupang ini berdiri pada tanggal 15 Agustus 1967
Sekretariat Gereja Katedral Kristus Raja di Jl. Soekarno nomor 1 Bonipoi, Kupang.

Gereja Katedral Kristus Raja Kupang ini berdiri pada tanggal 15 Agustus 1967, terletak di Jl. Soekarno nomor 1 Bonipoi, Kupang. Katedral berasal dari kata latin “cathedra” yang artinya kursi. Di luar gedung geraja terdapat makam Uskup Agung pertama Keuskupan Agung Kupang, Mgr. Gregorius Monteiro. Tanggal 14 Oktober 1999, makam ini diberkati oleh Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang. Ciri khas katedral ini adalah kaca patri di sepanjang dinding yang menyatu menjadi galeri ‘stained glass’. Gambarnya terdiri dari ‘Lamb of God’, ‘St. Mary and globe’, ‘Christ the King’, ‘The Ressurection of Christ’, dan ‘The Infant Jesus of Prague’. Setelah misa kudus selesai dan kami puas menikmati keindahan gedung gereja, kami segera kembali ke Hotel Greenia untuk berkemas pulang.

Setelah kenyang makan siang bersama di rumah pasangan ideal suami isteri Dr. Vama (konsultan UNICEF Regio  Indonesia Tengah) dan Dr. Frans Taolin, SpA (Ketua IDAI Cabang NTT), kami segera terbang kembali ke Jogja menggunakan pesawat Boeing 737-900 ER, yang merupakan pesawat penumpang sipil (airliner) komersial untuk penerbangan jarak dekat dan jauh. Pertama kali dibuat pada tahun 2006, dan resmi mengudara pada 2007, Boeing 737-900 ER ‘Extended Range’ dioperasikan pertama kali oleh maskapai penerbangan asal Indonesia yaitu Lion Air. Boeing membuat 737-900 yang mampu terbang lebih jauh dan menampung penumpang lebih banyak daripada vesi sebelumnya. Pada varian ini, yaitu Boeing 737-900 ER (Extended Range), cockpitnya telah dilengkapi dengan HUD (Head Up Display). Di Indonesia, Boeing 737 merupakan “standar” armada bagi berbagai maskapai di Indonesia, baik varian “original” (seri -200), varian “Classic” (seri -300, -400, dan -500), maupun “Next Generation” (seri -800 dan -900ER).

 Dr. Vama  Terbang Boeng
Setelah makan siang bersama di rumah Dr. Vama dan Dr. Frans Taolin, SpA, 
Di dalam pesawat Sriwijaya Air SJ 255 Boeing 737-900 ER dari Kupang

Keluarga pakde Totok melanjutkan pesiar ke Maumere dan Kelimutu di Pulau Flores, sedangkan kami terbang pulang ke Yogyakarta dengan menumpang pesawat Sriwijaya Air SJ 255 Boeing 737-900 ER dari Kupang Minggu, 1 Juli 2018, pk. 14.30 selama 1 jam 50 menit. Dilanjutkan dengan pesawat Sriwijaya Air SJ 235 Boeing 737-900 ER dari Surabya selama 55 menit, untuk mendarat di Yogyakarta Minggu, 1 Juli 2018, pk. 17.45. Sriwijaya Air adalah sebuah maskapai penerbangan di Indonesia yang didirikan oleh keluarga Lie (Hendry Lie dan Chandra Lie) dengan Johannes Bundjamin dan Andy Halim. Saat ini Sriwijaya Air adalah Maskapai Penerbangan terbesar ketiga di Indonesia, dan sejak tahun 2007 hingga saat ini tercatat sebagai salah satu Maskapai Penerbangan Nasional yang memiliki standar keamanan kategori 1 di Indonesia.

Terimakasih kepada segenap pihak, yang telah mendukung pesiar kami di Kupang dan proses pendidikan internship mas Yudhi dan teman2 dokter muda lainnya. Sampai bertemu dalam petualangan selanjutnya.

 Ikut pak Jokowi

Sekian
Yogyakarta, 3 Juli 2018
*) petualang, pesepeda, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
dokter Healthy Life Jalan-jalan

2016 Mengkover Vancouver

MENGKOVER  VANCOUVER  TAHUN  2016
VANCOUVER HARI PERTAMA
fx. wikan indrarto

Perjalanan kami untuk mengikuti International Congress of Pediatrics (ICP) 2016 di Kanada, dimulai dari Jakarta dengan naik pesawat Airbus A320-300 Cathay Pacific CX 718, yang meninggalkan Bandara Soetta Selasa, 16 Austus 2016 pk. 8. Setelah perjalanan 4 jam, kami transit selama 2 jam di Hong Kong International Airport. Dengan maskapai yang didirikan oleh Roy C. Farrel (AS) dan Sydney H de Kantzow (Australia) di Hong Kong pada 24 September 1946, kami melanjutkan perjalanan dengan pesawat generasi terbaru Boeing 777-300 ER Cathay Pacific CX 838. Setelah menempuh perjalanan dengan kecepatan 825 km/jam dalam ketinggian 11.875 m selama 11 jam perjalanan, kami menempuh jarak 10.278 km dan mendarat di Vancaouver International Airport, Kanada.

 20160816_154318  20160816_162327
Kami transit selama 2 jam di Hong Kong International Airport, sambil menunggu Boeing 777-300 ER Cathay Pacific CX 838. Tiba Stasiun Vancouver City Center dari Vancaouver International Airport (YFR) menggunakan Skytrain menuju Waterfront (downtown)

Vancouver (/væn.ˈkuːvər/ atau /væŋˈkuːvər) adalah sebuah kota di Provinsi British Columbia, Kanada. Kanada merupakan negara terbesar kedua di dunia dalam luas wilayah setelah Rusia, yaitu meliputi sekitar 41% wilayah Amerika Utara. Kepadatan penduduk hanya 3.2 orang per kilometer persegi, yang luar biasa rendah dibandingkan negara lainnya. Sekitar 80 % orang-orang Kanada tinggal dalam rentang wilayah 200 km dari AS, yaitu wilayah dengan iklim sedang, dan memiliki tanah yang terbaik untuk ditanami, termasuk di Vancouver. Kota ini adalah daerah metropolitan terbesar di Kanada bagian barat dan ketiga terbesar di Kanada. Daerah metropolitan Vancouver didiami oleh 2.132.824 ‘Vancouverites’, sebutan untuk penduduk Vancouver, termasuk 583.296 jiwa di kota Vancouver sendiri. Vancouver pernah menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2010, Memorial Cup 2007, dan World Police and Fire Games 2009. Stadium Swangard di Burnaby juga menjadi lokasi beberapa pertandingan Piala Dunia FIFA U-20 2007.

Dari Vancaouver International Airport (YFR) kami melanjutkan perjalanan dengan Skytrain menuju Waterfront (downtown), dengan tiket elektronik seharga $C 9, yang kami beli di mesin elektronik yang membuat kami sedikit bingung, untunglah kami mendapat bantuan penumpang lainnya. Kami melewati beberapa stasiun, yaitu Sea Island Centre, Templetion, Bridgeport, Marine Drive, Mangara 49th Avenue, Oakridge 41st Avenue, King Edward, Broadway City Hall, Olympic Village, Yaletown Roundhouse, dan turun di Stasiun Vancouver City Center. Dengan perjalanan selama 24 menit, kami melewati 11 pemberhentian dalam kereta Skytrain 980 yang modern itu, yang memiliki platform sign ‘Canada Line to Waterfront’ dan dikelola oleh British Columbia Rapid Transit Company, dan melanjutkan perjalanan ke Waterfront.

 20160817_060106  20160816_164744
Sambutan International Pediatrics Association (IPA) 2016 di Vancaouver International Airport (YFR) Bertemu ‘wong Jogja’ yang kuliah di Vancouver dan menjadi akrab

Seperti kita ketahui, terdapat 10 provinsi di seluruh Kanada dengan ibukotanya, yaitu Nova Scotia (Halifax), New Brunswick (Fredericton), Quebec (Quebec City), Ontario (Toronto), Manitoba (Winnipeg), British Columbia (Victoria), Prince Edward Island (Charlottetown), Saskatchewan (Regina), Alberta (Edmonton), dan Newfoundland and Labrador (St. John’s). Selain itu, terdapat 3 teritori atau wilayah dan ibukotanya, yaitu Northwest Territories (Yellowknife), Yukon Territories (Whitehorse) dan Nunavut (Iqaluit). Sampai tahun lalu, Calgary, Ottawa, Montreal, Vancouver yang akan kami jelajahi, dan Toronto dianggap sebagai kota terbersih di Kanada. Catatan arkeologi menunjukkan kehadiran orang-orang asli di daerah Vancouver dari 8.000 hingga 10.000 tahun yang lalu. Kota ini terletak di wilayah tradisional Squamish, Musqueam, dan Tseil-Waututh (Burrard) bangsa Coast. Masa berkenalan dengan bangsa Eropa dimulai ketika José María Narváez dari Spanyol mengeksplorasi pantai yang kini disebut Point Grey dan bagian dari Burrard Inlet tahun 1791. Meskipun demikian, ada data lain yang mengungkapkan Francis Drake telah mengunjungi wilayah ini tahun 1579. Kota ini mengambil nama dari George Vancouver, pemimpin tim eksplorasi dari angkatan laut Kerajaan Inggris di pelabuhan Burrard Inlet pada tahun 1792.

Dari Stasiun Vancouver City Center, kami menuju berjalan kaki sejauh 1,1 km selama 14 menit, menuju ke Barclay Hotel yang beralamat di 1348 Robson St, Vancouver, BC V6E 1C5, Kanada. Dengan berjalan kaki ke arah tenggara di Robson St menuju ke Jervis St sejauh 850 m, kemudian berbelok kiri ke Howe St/BC-99 S sejauh 180 m, dan akhirnya berbelok kanan ke W Georgia St/BC-99 S/BC-99A S untuk mencapai hotel. Setelah menyelesaikan adminisrasi dan menata barang, kami bersiap-siap menikmati sore pertama di Vancouver, yaitu melihat matahari tenggelam (sunset) di English Bay sejauh 2 km, dengan berjalan kaki selama 24 menit. Dengan berjalan kaki ke arah barat laut dari Robson St menuju ke Broughton St sejauh 950 m, terus ke Lagoon Dr sejauh 270 m, kami berbelok kiri ke Barclay St sepanjang 7 m, dilanjutkan berbelok kanan 400 m dan lurus terus sampai di English Bay. Kami menikmati pemandangan alam saat ‘sun set’ pada pk. 21 waktu lokal. Pemandangan yang indah dengan lokasi pantai yang bersih, sehingga banyak warga kota yang berjalan, berlari ataupun bersepeda menikmati keindahan malam itu. Kami pulang ke hotel setelah kenyang makan malam menu Korea di Robson Blue Bella Korean Cuisine Bistro, dekat hotel.

 20160816_201236  20160816_201455
Kami melihat matahari tenggelam (sunset) di English Bay Kami menikmati pemandangan alam saat ‘sun set’ pada pk. 21 waktu lokal.

Malam itu kami tidur nyenyak, untuk persiapan mengikuti upacara bendera pada 17 Agustus 2016, undangan dari Konsulat Jendral RI Vancouver, di Wisma Indonesia 1395 West 50th Avenue, Vancouver.

(bersambung)

VANCOUVER HARI KEDUA

fx. wikan indrarto

Penggunaan daun mapel sebagai simbol Kanada dilakukan sejak abad ke-18, dan sampai sekarang digambarkan pada bendera nasional Kanada, dengan warna merah dan putih. Kanada dikenal karena hutan luas, dan jajaran pegunungannya (termasuk Pegunungan Rocky di Alberta dan British Columbia), dan hewan liar, seperti rusa besar, karibou, berang-berang, beruang kutub, dan beruang grizzly. Hoki adalah olahraga musim dingin yang sering digunakan sebagai simbol persatuan nasional dan kebanggaan resmi Kanada. Hari kedua kami di Vancouver pada Selasa, 17 Agustus 2016, diawali dengan perjalanan ke Konsulat Jendral RI.

 20160817_083838  20160817_074745
Upacara Bendera Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke 71 yang dipimpin oleh Ms. Sri Wiludjeng, Konsul Jendral di Vancouver yang menjabat sejak 2014. Kami naik bis jalur 10 yang dioperasionalkan oleh TransLink, dengan membayar kepada sopir di alat penerima uang logam di samping sopir.

Dari Hotel Barclay yang beralamat di 1348 Robson St, Vancouver, BC V6E 1C5, Kanada, pagi itu kami berjalan menyusuri Robson St sejauh 800 m untuk mencapai Granville St. Sepanjang jalan banyak sekali pohon mapel, lambang Kanada, dengan daun yang berbentuk khas seperti telapak tangan manusia dan berjatuhan saat kering. Kami naik bis jalur 10 yang dioperasionalkan oleh TransLink, dengan membayar kepada sopir di alat penerima uang logam di samping sopir. Dengan tarif $2,75 kami menuju West 50th Avenue sejauh 7,4 km dalam 49 menit, menyusuri Granville Street, lewat Nelson Street, Davie, Drake, menyeberang jembatan English Bay, lanjut melewati West Cloverleaf, West Broadway, West 11 Ave, West 16 Ave, 15 Ave, Angus Dr, Mattew, Laurier Ave, West 16 Ave, 15 Ave, Angus Dr, Mattew, Laurier Ave, West King Edward Ave, Nanton, West 32 Ave, 33, 35, 37, South connaught, 40, 41, 43, 45, 47, dan turun di West 49 Ave. Dengan sedikit berjalan kaki, kami sampai di 1395 West 50th Avenue, alamat kantor Konsulat jendral RI di Vancouver. Kami mengikuti Upacara Bendera Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke 71 yang dipimpin oleh Ms. Sri Wiludjeng, Konsul Jendral yang menjabat sejak 2014. Setelah upacara, diadakan acara seremonial kekeluargaan dan ditutup dengan makan siang menu Indonesia. Acara itu diikuti oleh pegawai dan keluarga KJRI, juga masyarakat Indonesia yang ada di Vancouver, Alberta dan sekitarnya. Setelah itu, kami melanjutkan perjalan ke lokasi konggres.

 20160817_081205  20160817_120126
Kembali menggunakan bis line 10 yang dioperasionalkan oleh TransLink, berangkat dari West 49th Ave, Vancouver ‘West Building Vancouver Convention Centre’, dekat dengan pelabuhan untuk bersandar kapal pesiar yang besar

Kami menuju ‘West Building Vancouver Convention Centre’, dengan kembali menggunakan bis line 10 yang dioperasionalkan oleh TransLink, berangkat dari West 49th Ave, menyusuri jalan yang sebelumnya kami lewati dan turun di Waterfornt Station sejauh 8,1 km. Setelah proses registrasi, kami mengikuti upacara pembukaan. International Pediatric Association (IPA) dan dengan 168 organisasi anggotanya, termasuk IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) menyelenggarakan 28th International Pediatric Conggres pada 17-22 Agustus 2016. Tema konggres adalah “Kebersamaan, Keanekaragaman, Kekuatan,” (Community, Diversity, Vitality), yang mencerminkan keduanya, baik Vancouver sebagai kota tuan rumah dan ruang lingkup program ilmiahnya. Vancouver adalah kota yang hidup di pantai barat Kanada, dengan Samudera Pasifik di sebelah barat dan pegunungan di sebelah timur. Pada acara pembukaan yang sangat meriah di ballroom A dan B, kami terhanyut dalam alunan gerak dan lagu oleh Vancouver Children’s Choir and Eagle Song Dancers, juga adanya sambutan yang sangat inspiratif oleh Mr. Anthony Lake, Exeutive Direktur UNICEF sebagai Keynote Speaker. Setelah acara selesai, kami melanjutkan dengan jalan lagi.

Kami naik bis Line 240 bertarif $ 2,75 dari Brighton, melewati Cardero, Denmam, dan Stanley Pakr dalam jalur khusus busway yang sangat lancar, meski pada saat arus lalu lintas yang macet. Kami akan menuju ke Capilano, memasuki hutan Stanly Park yang bersih. Hutan ini adalah hutan wisata terbaik di dunia yang sangat cocok untuk jalan kaki atau naik sepeda, karena telah dibuatkan jalurnya secara khusus. Kami menyeberang Lions Gate Bridge, sebuah jembatan gantung yang melintasi English Bay dan sangat gagah, dengan patung singa duduk pada gerbang jembatan. Jembatan tersebut hanya boleh dilewati maksimal berat mobil 13 ton. The Lions Gate Bridge, yang dibuka pada tahun 1938, secara resmi dikenal sebagai Narrows Bridge adalah jembatan gantung yang melintasi selat Burrard yang menyempit. Jembatan ini menghubungkan Vancouver dengan kota North Shore Distrik Vancouver Utara. Istilah “Lions Gate” mengacu pada The Lions, sepasang puncak gunung di utara Vancouver. Sepasang patung singa yang terbuat dari beton cor, yang dirancang oleh pematung Charles Marega, ditempatkan di kedua sisi ke jembatan pada bulan Januari 1939. Panjang total jembatan termasuk jembatan utara adalah 1.823 meter, tinggi menara 111 m, dan dapat dilewati kapal dengan tiang setinggi 61 m. Jembatan ini memiliki tiga jalur berlawanan arah, dengan volume lalu lintas di jembatan adalah sekitar 70.000 kendaraan per hari. Pada tanggal 24 Maret 2005, Lions Gate Bridge ditetapkan sebagai Situs Bersejarah Nasional Kanada. Sayang sekali, kami tidak mampu mencapai view poin di sisi selatan jembatan, karena jalan masuk ke situ harus melewati hutan Stanley park yang tidak terjangkau kami dengan berjalan kaki. Maka kami menikmatinya dengan naik bis dan mengambil gambarnya dari sisi Capitalino North Vancouver Distric yang kurang eksotis. Pada hal, Vancouver dikenal di dunia akan keindahan alamnya. Kota ini memiliki salah satu dari taman kota terbesar di Amerika Utara, yaitu Stanley Park. Lansekap kota ini didominasi Pegunugan Pesisir Utara dan pemandangan di hari yang cerah dapat mencapai Gunung Baker di Washington, Amerika Serikat; Pulau Vancouver di seberang Selat Georgia, dan Pantai Sunshine.

 20160817_182225  20160817_130526
Hutan Stanly Park merupakan hutan wisata terbaik di dunia yang sangat cocok untuk jalan kaki atau naik sepeda. Lansekap kota Vancouver

Kami memutuskan untuk kembali pulang ke Vancouver, dengan naik bis Line 246 dari North Vancouver Distric ke Chinatown. Kami melewati jalur yang sama, termasuk Marine Drive, Gilford Street, lanjut masuk kembali ke Lions Gate Bridge dan turun di Dusmuin and Hamilton. Kami melanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 150 m menuju ‘Victory Square’, sebuah lapangan pada pertemuan Hastings Street, West Pender Street, Cambie Street, dan Hamilton Street di downtown Vancouver. Di tengahnya gagah berdiri tugu peringatan bagi pahlawan pembangunan jalur kereta api, yang bertuliskan ‘In Memory of those, who gave their lives in the service of our country. Their name liveth for evermore’, yang diresmikan pada tanggal 13 Februari 1886. Ekonomi awal Vancouver didominasi oleh perusahaan besar: seperti CPR, yang memicu aktivitas ekonomi dan menyebabkan pesatnya perkembangan kota baru. Beberapa manufaktur melakukan pengembangan, termasuk pembentukan British Columbia Sugar Refinery oleh Benjamin Tingley Rogers pada tahun 1890. Sumber daya alam kemudian menjadi dasar bagi perekonomian Vancouver, yaitu penebangan hutan dan kemudian ekspor kayu melalui pelabuhan, sehingga lalu lintas komersial merupakan sektor ekonomi terbesar di Vancouver sejak tahun 1930-an.

 20160817_194359  20160817_193449
Gastown Steam Clock, sebuah monumen jam uap legendaris, yang dirancang oleh Raymond K. Saunders. ‘Victory Square’, sebuah lapangan pada pertemuan Hastings Street, West Pender Street, Cambie Street, dan Hamilton Street di downtown Vancouver.

Selanjutnya kami menikmati keindahan di Gastown Steam Clock, sebuah monumen jam uap yang legendaris, yang dirancang oleh Raymond K. Saunders. Setiap 15 menit sebuah baja akan jatuh dari puncak jam, dan menimbulkan bunyi mesin uap. Mekanika jam dirancang oleh Douglas L. Smith, yang menghabiskan biaya $ 42.000 pada tahun 1870. Monumen jam uap tersebut, menjadi sorotan kamera banyak wisatawan, sehingga kami harus antri mengambil gambar kenangan. Kami selanjutnya menikmati keindahan patung ‘Angel of Victory’, simbol kemenangan para pekerja rel kereta api pertama, sehingga CPR (Canadian Pacific Raylways) terhubung ke Vancouver, di daerah Burrard Landing di West Cordova Street. Patung tersebut tegak berdiri di samping gedung tua yang gagah dan masih berfungsi baik, yaitu stasiun pertama dan awal mula kota Vancouver, yang megah berwarna merah. Stasiun tersebut berlokasi di Waterfront dan menjadi pertemuan antar moda, yaitu Skytrain Expo Line, Millenium Line, Canada Line, West coast express and Sea Bus yang menyeberang ke North Vancouver Distric. TransLink adalah perusahaan pemerintah yang mengakomodasikan berbagai layanan bus, feri yang dikenal dengan nama SeaBus, dua jalur metro bernama SkyTrain, dan kereta api komuter West Coast Express.

Setelah membeli tiket untuk naik kereta bawah tanah Millenium Line, kami turun di Stasiun Burrad, untuk berjalan kaki kembali ke hotel. Kami mampir membeli Chicken Karaage 4 pcs, $ 5,5, spinach, shitake musrhroom, black wood war mushroom & water chestnut 6 pcs, $ 5 di Gyoza King Japanese Spirits, di Robson street. Malam itu kami tidur nyenyak, untuk persiapan mengikuti konggres hari pertama di hari ketiga kami di Vancouver.

(bersambung)

VANCOUVER  HARI  KETIGA

fx. wikan indrarto

Bendera Kanada menggunakan gambar Daun Mapel (bahasa Inggris: Maple Leaf), warna merah dengan sebuah warna putih di tengahnya. Pada tahun 1965 sebuah bendera nasional Kanada, rancangan dari George F. G. Stanley yang didasarkan pada bendera Royal Military College of Canada, secara resmi digunakan untuk menggantikan Bendera Inggris Raya. Bendera sebelumnya yang dikenal dengan nama “Canadian Red Ensign” sudah pergunakan sejak tahun 1890an. Dari Hotel Barclay yang beralamat di 1348 Robson St, Vancouver, BC V6E 1C5, Kanada, pagi itu kami berjalan kaki menyusuri Jervis Street yang menurun tajam, menyeberang Alberni St dan South Georgia St. Melville, Hasting dan Cordoba untuk mencapai ‘West Building Vancouver Convention Centre’. Bendera Kanada dengan gambar Daun Mapel berkibar gagah di arena konggres yang beralamat di 1055 Canada Place Vancouver, BC V6C 0C3 Canada, untuk mengikuti The 28th International Congress of Pediatrics (IPA 2016).

 20160817_132201  20160817_204334
‘West Building Vancouver Convention Centre’. Canada, untuk mengikuti The 28th International Congress of Pediatrics (IPA 2016). Di dalam Bis Line 17 kami menyusuri Georgia St dan Grenville, lalu kami turun di East Pender St, Vancouver

Kamis, 18 Agustus 2018, kami mengikuti sesi MTE 1 (Meet The Expert) dengan tema : Electronic Medical Record (ERM): How to Provide Better Patient Care and Make the Office More Efficient, yang dapat diakses dari http://eventmobi.com/ipa2016. Acara pada Room 211, menampilkan pembicara Neil Cooper, Pediatrician Alberta Children’s Hospital / Sunnyhill Pediatric Clinic, Dr. Neil Cooper seorang Pediatrician and Sports Medicine physician dri Calgary, Alberta, Canada. Lulusan University of Calgary Medical School pada tahun 1990 dan selesai residensi pediatrik di Rumah Sakit Anak Alberta pada tahun 1994 dan Sports Medicine Diploma pada tahun 2007. Sejak tahun 1994 berpraktek aktif pediatrik dan olahraga. Keterlibatannya pada komputer mendahului karir medis, ketika sebagai paramedis pada tahun 1984, mengembangkan database elektronik untuk Korps Pemadam Kebakaran Ft. McMurray dengan komputer IBM 8088. Dia telah menggunakan beberapa bentuk catatan medis elektronik sejak tahun 1996. Acara tersebut dipimpin oleh moderator Dr. Kevin Chan, Pediatrics Chair Memorial University and Clinical Chief of Children’s Health pada Eastern Health in St. John’s, Newfoundland, Canada. Dijelaskan bahwa ERM memiliki banyak sekali keuntungan, misalnya dokumen lebih cepat disajikan kepada dokter, portable, comfortable, and secure. Sebaliknya, rekam medis pada kertas lebih mudah hilang, meskipun kadang tidak disadari, hanya dapat diakses oleh seorang dokter dalam waktu yang sama, seringkali terjadi salah tulis, mahal, memakan tempat, dan bahkan seringkali sulit dicari. Keuntungan EMR lainnya mudah dicari, tidak hilang, mudah disimpan, aman, mudah digandakan, dan tidak boros tempat. Pengembangan ERM bahkan sampai dapat merupakan data terpadu tentang demografi, peresepan obat, informasi alergi obat, imunisasi, hasil laboratorium, diagnsis dan hasil konsultasi antar dokter. Bahkan ke depan akan menjadi bagian dari ‘Screening and Prevention programm’ yang disertai risperdal reminder, dengan modul komunikasi terpadu antar dokter, bahkan juga ada modul komunikasi dengan pasien, misalnya untuk perjanjian kontrol, dan konsultasi. Pada sesi tersebut, berlangsung juga MTE2 dengan tema : Immunology for the Pediatrician, oleh Elie Haddad, Head Immunology and Rheumatology Division, CHU Sainte-Justine, University of Montreal, Canada dengan moderator François Boucher, Pediatrician Centre Mère Enfant-Soleil du Centre Hospitalier. MTE3 dengan tema : Care of the Child and Adolescent With Medical Complexity oleh Dr. Eyal Cohen, Associate Professor Pediatrics and Health, Policy, Management and Education, Hospital for Sick Children, University of Toronto, Canada dengan moderator Dr. Jay Ellis Berkelhamer, American Academy Of Pediatrics Past President, dan MTE4 dengan tema: What is New in Nutrition? oleh Dr. Fügen Çullu Çokuğraş, President Balkan Pediatric Association.

Kami selanjutnya mengikuti acara Plenary 1 dengan tema: Child Health – Now and in the Future’, di Ballroom A-B. Moderator acara adalah Dr. Andreas Konstantopoulos, President International Pediatric Association (IPA), dengan pembicara Richard Horton, Editor-in-Chief The Lancet dengan tema: Global Trends And Progress in Child Mortality’. Kita diingatkan bahwa masih banyak negara yang bermasalah dalam usha menurunkan angka kematian anak, yaitu India, Nigeria, Pakistan, Kongo, Etiopia dan Cina, yang secara total menyumbang kematian 3,5 juta (51%) dari semua anak di dunia. Masalah nutrisi, kebijakan politik di negara berkembang, pencapaikan SDGs, akuntabilitas negara, dan hak azasi manusia harus diperhatikan oleh semua pihak. Hal ini disebabkan karena adanya pengaruh kebijakan politik negara, pada derajad kesehatan anak, ‘economic out put’, ‘social production’, ‘cohetion’, inovasi, dan keamanan. Semua pemerintahan wajib memberikan penekanan dalam aspek kemanusiaan atau Humanitarian, migrasi, proteksi sosial, teknologi transformatif, dan kesamaan gender. Hal ini karena pada anak, derajad kesehatan dan kemanusiaannya, terkait dengan tingkat pendidikannya. Tantangan kita semua adalah dalam aspek prosperity, humanity dan implementasi. Pembicara selanjutnya adalah Prof. Zulfiqar Bhutta, dari Global Child Health & Policy Sick Kids Centre for Global Child Health Research Institute, The Hospital for Sick Children Departments of Paediatrics, Nutritional Sciences and Public Health University of Toronto, dengan tema : ‘Emerging challenges in child health globally: how can pediatricians contribute to change?’ Kita disadarkan bahwa masih ada sekitar 10 juta anak meninggal secara global dalam 2 tahun terakhir di India dan Afrika. Kebijakan tentang MDGs telah menyatukan langkah para pemerintah dan tenaga kesehatan profesional. Namun demikian, MDGs 4, yaitu Menurunkan angka kematian anak, yang memiliki target pada tahun 2015 adalah mengurangi dua per tiga tingkat kematian nak balita, belum berhasil ditekan dari 12,7 jadi 5,2, karena ternyata hanya turun menjadi 5,9. Kita perlu menyelesaikan semua faktor risiko mortalitas yang masih tinggi, terutama pada neonatal yang meliputi malnutrisi dan IUGR. Mortalitas dan kurang gizi atau stunting, perlu intervensi bersama, agar tidak terjadi ‘statistical victory or a moral defeat’ (kekalahan moral). Selain itu, Tentang MDGs8, yaitu mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan, yang selanjutnya diteruskan menjadi SDGs 17, kita semua para dokter spesialis anak seharusnya menyatu, berperan, mengenal, berbuat benar dan benar berbuat, dalam kebersamaan dengan petugas kesehatan lainnya. Kita diingatkan agar dokter, bidan dan perawat bersatu, karena ‘we can together, we can.’

Kemudian kami mengikuti sesi ‘Concurrent’ 1 dengan tema ‘Neonatal Jaundice’ di Room 118-120. Acara dengan moderator: Dr. William Keenan, menampilkan Prof. Vinod Bhutani dengan judul : ‘New measurements and prediction of neonatal hyperbilirubinemia’ yang menjelaskan adanya ‘Novel measures in product risk of bilirubin neurotoxicity’, khususnya kasus ‘deficiency G6PD’. Outcome yang ditekankan menyangkut kejadian ‘still birth’, tingginya mortality, adanya ‘neurological impairment’, ‘deafness’, dan gangguan bicara. Penyebab tersering adalah karena perbedaan golongan darah Rh dan ABO. ‘Area of inquiry’ bagi kita semua adalah ‘risk confounded by immaturity’, ‘hemolysis’, sepsis and genetik. Pembicara berikutnya adalah Dr. Praveen Kumar dengan judul: ‘Prevention of Kernicterus: A Global Strategy’. Concurrent lain yang berlangsung bersamaan, tidak dapat kami ikuti, yaitu ‘Management of Sexual Abuse Victims’, ‘Pain Management in Children and Adolescents’, ‘How Large Scale Databases Can Help Improve Your Practice’, ‘Early life experiences: ECD and Developmental Origin of Adult Diseases’, ‘Global Opportunity for Technology Enabled Knowledge Translation in Child Health’, ‘Pediatric Care – Evidence Based or Eminence Based’. Setelah makan siang, kami melanjutkan acara dengan belajar perbandingan kepada BC Children Hospital.

 20160819_165230  Dr. Sudung
‘Vancouver Lookout Tower’, di puncak Harbour Centre, yang diinspirasi dari ekor pesawat ruang angkasa dalam film Star Trek yang legendaris. Para peserta dari Jakarta, Indonesia, yaitu Dr. Sudung Pardede, Dr. Edi dan Dr. Hartono Gunardi

Kami keluar dari arena konggres dan berjalan kaki menyusuri Waterfornt road di sepanjang tepi pelabuhan Vancouver yang bersih dan rapi. Sejenak menikmati keindahan ‘Vancouver Lookout Tower’, di puncak Harbour Centre, yang diinspirasi dari ekor pesawat ruang angkasa dalam film Star Trek yang legendaris. Harbour Centre adalah sebuah gedung pencakar langit terkenal di pusat bisnis Downtown Vancouver. The “Lookout Tower” adalah menara yang dibangun di atas gedung, sehingga menjadi salah satu struktur bangunan tertinggi di Vancouver. Dengan arena untuk melihat pemandangan kota dalam 360 derajat, juga berfungsi sebagai objek wisata dengan ‘Top of Vancouver Revolving Restaurant’. Harbour Centre ini dibuka pada tahun 1977. Kami melanjutkan berjalan kaki ke Stasiun SkyTrain, untuk naik Canada Line dari stasiun Waterfront, Vancouver City Center, Yaletown-Roundhouse, menyeberang ke Granville Island, Olympic Village, Broadway City Hall, King Edward, dan turun di Oakridge 41st Avenue untuk menuju BC Children Hospital. Ternyata kami salah, karena googlemaps tidak berfungsi saat offline, dan kami harus kembali ke Stasiun King Edward. Kami harus berjalan kaki sangat jauh dalam terik matahari sore, untuk masuk ke Heather St Entrance Gate. BC Children Hospital ternyata memiliki 4 buah pintu masuk entrance, yaitu Willis, Oak dan East 28th Ave.

 20160818_153211  20160818_154115
British Columbia Children’s Hospital terletak di 4480 Oak Street Vancouver, Sunny Hill Health Centre for Children, di British Columbia Children’s Hospital

British Columbia Children’s Hospital terletak di 4480 Oak Street Vancouver, British Columbia, Canada, adalah fasilitas kesehatan milik ‘Provincial Health Services Authority’. RS ini khusus melayani perawatan kesehatan bagi pasien dari bayi baru lahir sampai usia 16. Ini juga merupakan fasilitas pendidikan dan penelitian untuk kesehatan anak. Rumah sakit ini juga memiliki Sunny Hill Health Centre for Children, yang menyediakan layanan khusus untuk anak dan remaja dengan cacat perkembangan sejak lahir. Pada tahun 2014, konstruksi proyek $ 676.000.000 dalam tiga tahap untuk membangun fasilitas delapan lantai dalam ukuran sekitar 59.400 meter persegi (640.000 kaki persegi). Fasilitas ini akan dirancang untuk LEED (Leadership in Energy and Environmental Design) sehingga bangunan akan menjadi terang bernderang dengan fasilitas modern kamar pasien memiliki akses ke cahaya alami dan kebun. Bangunan baru mencakup unit bedah rawat inap, gawat darurat, pencitraan medis dan ruang tindakan, departemen hematologi onkologi dan unit perawatan intensif anak dan neonatal. Fasilitas ini akan melengkapi yang sudah ada, yaitu berbagai ruang rawat inap, rawat jalan dan perawatan rujukan tersier untuk anak sejak lahir sampai remaja, termasuk klinik, layanan darurat, perawatan kesehatan anak, bedah, perawatan intensif, transplantasi organ, genetika, dan pusat HIV. Setelah lelah keliling RS, kami makan sore menu ‘chicken Caesar Flatbread’ seharga $7,25 di Second Cup Cafe, di sekat UGD BC Children Hospital, kami melanjutkan perjalanan.

Dari halte bis di dekat Oak St Entrance Gate BC Children Hospital, kami naik bus Line 17 milik TransLink ke Downtown, bis listrik tanpa polusi ini lewat pos pemberhentian di West 23 Ave, West King Edward, West 22 Ave, 17 Ave, 12 Ave, 10 Ave, kemudian berbelok ke kanan masuk Broadway St, untuk melewati pos pemberhentian di Laural St, Heather St, dan West Ash. Kemudian berbelok ke kiri memasuki Cambie St, dan sopir beristirahat selama 3 menit di pos pemberhentian 1, sebelum menyeberangi jembatan ‘Granville Island’ yang gagah dan masuk ke wilayah Downtown Vancouver. TransLink adalah badan hukum bertanggung jawab untuk jaringan transportasi regional Metro Vancouver, Kanada, termasuk transportasi umum dan jalan utama dan jembatan. TransLink dibentuk pada tahun 1998 milik Pemerintah propinsi British Columbia untuk menggantikan SM Transit di Kabupaten Daerah Greater Vancouver dan menganggap banyak tanggung jawab transportasi yang sebelumnya dipegang oleh pemerintah provinsi . TransLink bertanggung jawab untuk berbagai moda transportasi di wilayah Metro Vancouver. Bus listrik tanpa polusi udara milik TransLink, beroperasi pada rute utama di kota Vancouver, yang menerima listrik dari jaringan kabel di atas jalan raya (overhead). Pada musim gugur 2006, TransLink menggunakan generasi baru bus listrik, yang menggantikan model lama buatan 1980-an. Bus listrik baru memiliki lantai yang rendah dan dapat diakses sepenuhnya oleh penumpang berkursi roda. TransLink juga mengoperasikan layanan bus larut malam, disebut nightbus, pada 13 rute yang membentang dari pusat kota seluruh kota dan beberapa pinggiran kota. Di dalam bis terdapat ruang untuk dua kursi roda pada setiap bus, dan area kursi roda juga digunakan untuk pejalan kaki dan kereta bayi. Penumpang di kursi roda memiliki prioritas untuk posisi ini, dan pengguna-prioritas yang lebih rendah (seperti orang-orang dengan kereta bayi) diwajibkan untuk mengosongkan ruang yang diperlukan. TransLink menggunakan sistem pengumuman suara di bus untuk membantu penumpang dengan gangguan penglihatan atau tidak terbiasa dengan daerah yang dilalui bis, dan untuk memungkinkan sopir untuk fokus pada mengemudi daripada membuat pengumuman. Pengumuman menggunakan suara yang dihasilkan komputer, untuk mengingatkan agar bus berhenti di halte berikutnya dan pesan lainnya, menggunakan teknologi GPS untuk mengidentifikasi lokasi bus dan halte berikutnya.

 20160818_173220  20160818_174244
Dr Sun Yat-Sen Classical Chinese Garden. Ini adalah taman bergaya Cina yang pertama dibangun di luar daratan China, dan terletak di Chinatown di Vancouver, British Columbia, Kanada. Dr. Sun Yat-Sen pernah tinggal di Vancouver menyiapkan Revolusi Xinhai yang menggulingkan Dinasti Qing pada tahun 1911. Sun Yat Sen kemudian menjadi presiden pertama Republik Cina.

Sesuai dengan tata ruang kota Vancouver, perumahan dan gedung disusun dalam blok kotak-kotak dengan jalan yang lurus, sehingga terkesan rapi dan alamat mudah diingat. Daerah metropolitan Vancouver didiami oleh 2.132.824 ‘Vancouverites’, sebutan untuk penduduk Vancouver, termasuk 583.296 jiwa di kota Vancouver sendiri. Gaya berpakaian ‘Vancouverites’ tidaklah penting. Beragam gaya busana dari yang casual sampai perlente, terlihat di semua arena dan suasana. Gaya itulah yang selalu kami temui, juga di dalam penampilan para penumpang bis. Bis Line 17 yang kami naiki, setelah memasuki Hamilton St berbelok kanan masuk ke Robson, Richard, Seymour, dan kami turun di West Pender, untuk ganti bis Line 22, menuju ke Dr Sun Yat-Sen Classical Chinese Garden. Ini adalah taman bergaya Cina yang pertama dibangun di luar daratan China, dan terletak di Chinatown di Vancouver, British Columbia, Kanada. Taman ini terletak di 578 Carrall Street dan terdiri dari taman umum dapat diakses secara gratis dan museum dengan tiket berbiaya masuk. Tujuan pembangunan taman adalah untuk “mempertahankan dan meningkatkan jembatan pemahaman antara budaya Cina dan Barat, mempromosikan kebudayaan Cina pada umumnya dan menjadi bagian integral dari masyarakat setempat.” Taman ini dibangun pada 1985-1986 dirancang oleh arsitek Joe Wai dan Donald Vaughan, sedangkan taman bagian dalam dirancang oleh Wang Zu-Xin, dan dibuka pada tanggal 24 April 1986, dalam persiapan untuk World Expo 86. Taman Cina gaya klasik ini sesui prinsip filosofis Feng shui dan Taoisme, berjuang untuk mencapai keselarasan dan keseimbangan yang bertentangan. Dalam hal ini misalnya batu terjal disandingkan dengan dedaunan halus. Air juga merupakan elemen penting dari kebun, dan kolam besar menawarkan keheningan, suara, refleksi dari langit, dan membantu untuk menyatukan unsur-unsur lain. Ikan, kura-kura, dan kelelawar, juga patung naga, dan burung phoenix terlihat di seluruh taman. Taman ini dinamai untuk menghormati Dr Sun Yat-Sen, pemimpin nasionalis “bapak Cina modern.” Saat bepergian ke seluruh dunia untuk meningkatkan kesadaran dan mengumpulkan dana untuk gerakan nasionalis Cina, Dr. Sun Yat-Sen pernah tinggal di Vancouver. Pada saat itu, ada bantuan dari nasionalis Cina di British Columbia, yang membantu membiayai Revolusi Xinhai yang menggulingkan Dinasti Qing pada tahun 1911. Sun Yat Sen kemudian menjadi presiden pertama Republik Cina.

 20160817_130156 img-20160817-wa0074.jpg
West Building Vancouver Convention Centre’, dekat dengan pelabuhan untuk bersandar kapal pesiar Dengan naik Bis Line 17 kami menyusuri Georgia St dan Grenville, lalu kami turun di East Pender St di sore yang cerah

Bis Line 17 kami menyusuri Georgia St dan Grenville, lalu kami turun di East Pender St, sesuai petunjuk dari sopir bis yang selalu ramah dan siap membantu penumpang yang bingung. Untuk di Vancouver, janganlah ragu untuk bertanya kepada sopir bis, sebalum kita naik. Kami pindah bis Line 22 tujuan ke Knight, dengan menyusuri Weat Pender St, kami mewati Richards St, Hamilton, Abbot, Carral masuk Chinatown. Kami sempatkan makan malam di New Town Chinese Restaurant di 148 East Panser Street, Vancouver. Makan malam pk. 18 masih sangat terang, karena cahaya matahari baru akan hilang pk. 21. Setelah puas berjalan-jalan di taman Dr Sun Yat-Sen Classical Chinese Garden, kami kembali naik bis Line 22 menyusur West Pender St, lewat Abbott, dan Victoria Square, untuk turun di Seymour St. Kami berganti bis Line 5 sesuai anjuran sopir, untuk melanjutkan jalan pulang ke Robson St, melewati Granville, Howe, dan Homby, kemudian berbelok kiri menyusur Burrard St, menyeberang Dunsmuir, Burrard Station, West Georgia, Albarni, dan di Robson St belok ke kiri. Kami turun dan berjalan kaki ke Barclay Hotel yang beralamat di 1348 Robson St, Vancouver, BC V6E 1C5, Kanada, untuk tidur nyenyak. Perjalanan kami seharian itu, ditanggung oleh ‘Compass Cards’, yang adalah sebuah kartu tarif isi ulang yang dapat digunakan di manapun di Metro Vancouver. Kartu digital ini nyaman, mudah digunakan, dan aman. Terdapat 3 jenis, yaitu Monthly Passes, Day Passes and Stored Value. Seharian itu, kami menggunakan Day Passes seharga $9.

(bersambung)

VANCOUVER  HARI  KEEMPAT

fx.wikan indrarto

Hari Jumat pagi, 19 Agustus 2016 yang cerah, kembali kami berjalan kaki dari Hotel Barclay yang beralamat di 1348 Robson St, Vancouver, BC V6E 1C5, Kanada, menyusuri Bute Street yang menurun tidak setajam Jervis Street, menyeberang Alberni, South Georgia, Melville, Hasting, dan Cordoba untuk mencapai ‘West Building Vancouver Convention Centre’. Kami akan mengikuti The 28th International Congress of Pediatrics (IPA 2016) dan penjelajahan hari keempat.

 IMG-20160818-WA0017 20160817_193544.jpg

Daun mapel sebagai simbol Kanada dilakukan sejak abad ke-18, dan sampai sekarang digambarkan pada bendera nasional Kanada, dengan warna merah dan putih.

 ‘Victory Square’, sebuah lapangan pada pertemuan Hastings Street, West Pender Street, Cambie Street, dan Hamilton Street di downtown Vancouver.

Pagi itu kami mengikuti sesi diskusi ‘Managing Influenza in the Paediatric Population – New Interventions for the Prevention of Seasonal Influenza’ di ruang 202-204. Pada sesi tersebut kami diajak melihat tantangan pencegahan influenza pada anak dan mendiskusikan vaksinasi. Berdasarkan data di negara maju, terlihat pentingnya vaksin influenza. Pada saat yang bersamaan diadakan ‘Meet The Expert’ tentang ‘Medical Education: Teaching in the 21st Century’, dengan moderator Dr. Denis Daneman, menampilkan Dr. Jonathan Kronick, dengan topik Pediatrician Training in Canada: Today and Tomorrow dan Dr. Robert Armstrong dengan tema Population Health and Human Development: A Foundation for Health Professional Education. Topik Meet the Expert lain adalah ‘Eating Disorders in Older Children and Adolescents: Evaluation and Management’ dengan moderator Dr. Pierre André Michaud, menampilkan Dr. Danielle Taddeo dan Dr. Pei Yoong Lam. Meet the Expert 8 dengan tema ‘Not Without a Plan: Writing Evidence-Based Self-Management Plans for Children With Asthma’ dengan moderator Dr. Rohit Agrawal, yang menampilkan Dr. Francine M. Ducharme. Meet the Expert 9 dengan judul ‘Child maltreatment: Evaluation of whether a child has been physically abused’ dengan moderator Dr. Sue Bennett, menampilkan pembicara Dr. Robert Block dan acara Meet the Expert 10 dengan tema ‘A Taste of Panama – IPA 2019’, dengan moderator Dr. Jackie Millette, menampilkan pembicara Dr. Mariana Lopez, Dr. Iván Wilson, dan Dr. Luis Vargas.

Kami selanjutnya mengikuti plenary session di Ballroom A dan B dengan tema ‘The Promise of Global Adolescent Health’, dengan pembicara Professor Susan M Sawyer, Chair of Adolescent Health pada the University of Melbourne, Australia Motto terpenting untuk pasien remaja adalah ‘Tell Me, I Forget, Show Me, I Remember, Involme Me, I Understand’. Pembicara lain adalah Dr. George Patton, Professorial Fellow in Adolescent Health Research at the University of Melbourne Australia.  Pembicara ketiga adalah Professor Vikram Patel seorang Clinical Science at the London School of Hygiene & Tropical Medicine (UK). Ketiganya menjelaskan tentang entingnya pengelolaan kesehatan remaja, dan adanya beberapa determinan sosial dan inti pokok dalam penyaminan kesehatan remaja secara universal. Pada sesi Concurrent hari Jumat 19 Agustus 2016, pk. 11-12.30, kami mengikuti Concurrent 15 bertema : ’Challenges in Global Child Health’, dengan moderator Dr. Jie Ding, menampilkan pembicara Dr. Devendra Gupta (Challenges of Global Child Health Surgical Needs), Dr. Keith Martin (Overcoming a Critical Missing Link: building health human resources in low income settings), dan Dr. Nick Brown (MDGs and SDGs: have disadvantaged children in HICs slipped through the net?). Pada Concurrent 16 bertema : Canadian Perspectives on Cerebral Palsy’ dengan moderator Dr. Michael Shevell, menampilkan pembicara Dr. Darcy Fehlings (Interactive Computer Play in Cerebral Palsy – Let’s PLAY), Dr. Steven Miller (Is cerebral palsy a static brain lesion?  New insights from brain imaging) dan Dr. Annette Majnemer (Promoting vitality through participation in leisure for children with cerebral palsy). Concurrent 17 bertema ‘Immunization – Vaccine Hesitancy’, dengan moderator Dr. Isabelle Chevalier, menampilkan Dr. Noni MacDonald (Vaccine Myths and How to Deal With Vaccine Deniers- in Public), dan Dr. Robb Butler (Tackling vaccine hesitancy in the European Region). Pada Concurrent 18 dengan tema ‘Informatics to improve Child Health’ dengan moderator Dr. Kevin Forsyth, menampilkan Dr. Michael Graven (Integrated Patient-Centred Health Information System ), dan Dr. Prakesh Shah (Quality improvement through national neonatal collaborations). Pada Concurrent 19 dengan tema ‘Best Care For The Newborn’, dipimpin oleh moderator Dr. Peter Cooper, menampilkan Dr. Nalini Singhal (When should the umbilical cord be clamped (or stripped)?, dan Dr. Gary Weiner (Aims for achieving safe oxygenation for the premature baby at birth). Setelah selesai makan siang, kami melanjutkan penjelajahan.

 20160817_130145  20160817_183214
West Building Vancouver Convention Centre’, dekat dengan pelabuhan untuk bersandar kapal pesiar Perumahan sederhana masyarakat suburb Vancouver yang tertata rapi

Dari lokasi konggres di ‘West Building Vancouver Convention Centre’, kami berjalan kaki menuju Waterfront Stasion, sebuah tempat persinggungan antar moda transportasi, yaitu kapal pesiar, feri penyeberangan, kereta api antar kota, SkyTrain dan bis kota. Sore itu kami akan mencoba naik feri SeaBus ke North Vancouver. The SeaBus adalah layanan feri penumpang di Metro Vancouver, Kanada, dengan melintasi selat Burrard Inlet, yang menghubungkan Vancouver dan Vancouver Utara. Dimiliki oleh TransLink dan dioperasikan oleh Coast Mountain Bus Company, SeaBus merupakan bagian penting dari sistem transportasi umum yang terintegrasi di kawasan itu. Armada SeaBus saat ini terdiri dari 4 kapal. Feri beroperasi antara pk. 6 pagi sampai 1 dini hari berikutnya. Pada siang hari kerja, dua dari tiga feri dalam pelayanan, dengan dua feri berangkat secara bersamaan dari terminal yang berlawanan dan akan berpapasan pada setengah jalurya. Dengan jarak tempuh 1,75 mil laut atau 3.24 km, penyeberangan memakan waktu 10-12 menit di setiap arah dengan kecepatan jelajah 11,5 knot (21,3 km / jam), dengan 3-5 menit bersandar di dermaga. Pada saat ini, terjadi lebih dari 50 perlintasan dalam sehari. Feri beroperasi dengan empat anggota awak kapal dan seorang insinyur yang tinggal di darat untuk melakukan pemeriksaan mesin secara rutin. Pintu putar di pintu masuk ke ruang tunggu SeaBus digunakan untuk menghitung jumlah penumpang yang akan naik. Ketika jumlah maksimum tercapai, pintu putar akan terkunci dan tidak akan ada penumpang lebih yang diperbolehkan masuk di SeaBus itu.

 IMG-20160819-WA0036  IMG-20160819-WA0039
Di daratan Vancouver Utara, SeaBus berhenti di Lonsdale Quay, yang terhubung dengan halte bus untuk tujuan North Shore Vancouver. Gerbang Lonsdale Quay SeaBus di wilayah North Shore Vancouver.

Kapal feri SeaBus berhenti di daratan Vancouver di Waterfront Station, dekat Vancouver Convention Centre dan terminal kapal pesiar di Canada Place. Jembatan penyeberangan menghubungkan terminal SeaBus ke bangunan stasiun utama, di mana penumpang dapat berpindah moda ke kereta api cepat West Coast Express dan semua kereta api dalam kota SkyTrain (Expo Line, Millennium Line dan Canada Line). Di daratan Vancouver Utara, SeaBus berhenti di Lonsdale Quay, yang terhubung dengan halte bus untuk tujuan North Shore Vancouver. Selain melayani penumpang, Lonsdale Quay telah menjadi daerah tujuan wisata penting, dengan sebuah hotel dan pasar umum. Pada tahun 1989, terminal Vancouver Utara diberi nama ‘Charles A. Spratt SeaBus Terminal’, untuk menghormati Charles Spratt, Project Manager dari proyek SeaBus yang pensiun pada tahun 1988. Setelah kenyang makan di Suki Japanese Restaurant, dengan menu suki special dan spider roll di dekat Lonsdale Quay Market, kami menikmati pemandangan indah lansekap kota Vancouver, dari seberang lautan selat Burrard Inlet, yang sibuk oleh kapal. Di kejauhan nampak Lion Gate Bridge yang gagah dan juga padat lalu lintas, seperti yang pernah kami rasakan hari sebelumnya. Kembali kami pulang naik SeaBus ke Waterfront.

Dari Waterfront Stasion, kami berjalan kaki 4 menit untuk melihat kembali Gastown Steam Clock, sebuah monumen jam uap yang legendaris, yang dirancang oleh Raymond K. Saunders. Setelah membeli cinderamata di toko sekitar situ, kami berjalan kaki ke Cordova Seymour. Penyebutan 2 buah jalan sekaligus seperti ini, lazim di Vancouver untuk menggambarkan titik persimpangan antara Cordova Street dan Seymour Street. Di situ kami naik bus TransLink Line 4 dan turun di Cordova Mein, untuk menuju Vancouver Police Museum. Museum yang sebelumnya dinamakan Vancouver Police Centennial Museum, dirancang untuk memperingati 100 tahun Departemen Kepolisian Vancouver pada tahun 1986. Terletak di 240 Jalan E. Cordova di Vancouver Gastown, museum ini menempati sebuah bangunan yang dulunya digunakan untuk Pemeriksa Pengadilan dan otopsi jenasah sampai 1980 dan laboratorium Analis sampai 1996. Pada tahun 1935, Gedung Pengadilan digunakan sebagai rumah sakit darurat oleh polisi selama Pertempuran Ballantyne Pier. Gedung ini dirancang oleh arsitek Arthur J. Bird, dan sekarang telah ditetapkan sebagai bangunan warisan budaya (a municipally designated heritage building).

Museum ini dijalankan oleh Vancouver Police Historical Society, sebuah organisasi non-profit yang didirikan pada tahun 1983 dengan tugas untuk menumbuhkan minat dalam sejarah Departemen Kepolisian Vancouver. Katalis untuk proyek ini adalah kurator museum pertama, Joe Swan, seorang mantan sersan polisi dan sejarawan amatir. Swan menulis buku departemen resmi sejarah, yang diterbitkan oleh Vancouver Historical Society pada tahun 1986, berjudul, A Century of Service: The Vancouver Police. Di museum tersebut kami menikmati kemaknaan dokumen arsip, foto, publikasi, senjata api dan senjata sitaan lainnya, uang palsu, dan berbagai artefak lain yang sarat makna. Museum ini menawarkan program pendidikan untuk anak-anak dan wisata berjalan dari lingkungan dengan tema, “Dosa Kota.” Museum ini memiliki sebuah toko dan menerbitkan buletin triwulanan. Setelah puas menikmatinya, dari Vancouver Police Museum naik bus TransLink Line 4 di Cordova Mein dan turun di Gransville Dusmuir, untuk berganti SkyTrain Canada Line di Vancouver City Center. Setelah melewati Stasiun Yaletown Roundhouse dan Olympic Village, kami turun di Broadway-City Hall untuk menikmati kegagahan Balaikota Vancouver.

 IMG-20160819-WA0032  IMG-20160819-WA0037
George Clark Miller menjadi walikota Vancouver pertama yang berkantor di Vancouver City Hall pada 2 Januari 1937. Tangga naik ke Vancouver City Hall adalah balai kota Vancouver, yang terletak di 453 West 12th Avenue.

Vancouver City Hall adalah balai kota dan kantor anggota Dewan Kota Vancouver, yang terletak di 453 West 12th Avenue. Bangunan itu dirancang oleh arsitek Fred Townley dan Matheson, serta dibangun oleh Carter, Halls, dan Aldinger. Bangunan ini memiliki menara dua belas lantai dengan jam dinding di bagian atas. Antara 1897 dan 1929, Balai Kota Vancouver terletak di Main Street, sebelah selatan dari Perpustakaan Carnegie. Pada tahun 1929, City Hall pindah ke Gedung Holden yang dibangun 1911, sedangkan bangunan di Main Street dijadikan Perpustakaan Carnegie. Setelah terpilih sebagai walikota tahun 1934, Gerry McGeer menunjuk sebuah komite pembangunan dan Dewan Kota menyetujui pemilihan pada tahun 1935, untuk membuat Vancouver sebagai kota di Kanada pertama yang membangun balai kota di luar pusat kotanya. Pembangunan Balai Kota yang baru dimulai pada 3 Januari 1936 dan batu landasan pertama diletakkan oleh walikota McGeer. Patung besar Capt. George Vancouver setinggi delapan kaki, diukir oleh Charles Marega, dan ditempatkan di bagian depan gedung. Gedung menelan biaya pembangunan $ 1 juta ini, diresmikan pada tanggal 20 Agustus 1936 oleh Walikota, Sir Percy Vincent. Setelah memenangkan pemilihan umum pada tanggal 9 Desember 1936, George Clark Miller menjadi walikota Vancouver pertama yang berkantor di balai kota baru, pada 2 Januari 1937.

 IMG-20160819-WA0029  IMG-20160819-WA0038
Tangga batu alam menuju Vancouver City Hall Gerbang kantor polisi di Vancouver yang sangat sederhana

Yang kami lihat sangat unik, di Vancouver City Hall selain Bendera Nasional Kanada Daun Maple, juga dikibarkan bendera pelangi yang merupakan bendera kebanggaan kaum gay yang merupakan simbol lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT), yang awalnya berasal di Northern California, AS, tetapi sekarang telah digunakan di seluruh dunia. Bendera yang dirancang oleh artis Gilbert Baker dari San Francisco, AS, pada tahun 1978. Sejak tahun 2008, varian warna yang paling umum terdiri dari enam garis-garis, dengan warna merah, oranye, kuning, hijau, biru, dan ungu. Bendera ini pada umumnya diterbangkan secara horizontal, dengan garis merah di atas, agar menyerupai pelangi alami. Warna bendera memiliki arti khusus untuk masing-masing warna, yaitu warna hot pink adalah seksualitas, merah adalah hidup, oranye adalah penyembuhan, kuning adalah sinar matahari, hijau adalah alam, turquoise adalah magic atau seni, indigo atau biru adalah Serenity atau harmoni, dan Violet adalah semangat atau spirit. Setelah puas mengagumi patung besar Capt. George Vancouver setinggi delapan kaki karya Charles Marega dan bendera pelangi yang dirancang oleh artis Gilbert Baker, kami melanjutkan perjalanan ke Downtown.

 img-20160819-wa0023.jpg  IMG-20160819-WA0035
Dengan Prof. Dr. Cissy Kartasasmita, Msc, PhD, SpA(K), peserta konggres dari UNPAD Bandung Cathedral of Our Lady of the Holy Rosary, yang dikenal sebagai Katedral Rosario Suci di Vancouver, Kanada, adalah gereja bergaya Gothic Perancis yang dibangun pada akhir abad ke-19

Dari halte Broadway City Hall, kami naik bis 980 ke downtown dan turun di Granville West Georgia di seberang Vancouver City Center, dan berjalan kaki sejauh 230 m menuju Richard Dunsmuir, untuk menikmati keagungan gereja besar, Katedral Vancouver. Metropolitan Cathedral of Our Lady of the Holy Rosary, yang dikenal sebagai Katedral Rosario Suci, adalah gereja bergaya Gothic Perancis yang dibangun pada akhir abad ke-19 dan berfungsi sebagai katedral agama Katolik Roma bagi Keuskupan Agung Vancouver. Gereja ini terletak di pusat kota pada persimpangan jalan Richards dan Dunsmuir. Pembangunan katedral dimulai pada 1899, pada situs gereja sebelumnya dengan nama yang sama. Dibuka pada Hari Pesta Bunda Maria Diangkat ke Sorga atau Immaculate Conception pada tanggal 8 Desember 1900. Arsitekturnya menyerupai Katedral Chartres abad pertengahan di Perancis dan gereja ini ditingkatkan statusnya menjadi katedral pada tahun 1916. Hal ini tercantum pada Vancouver Heritage Register dan merupakan bangunan yang dilindungi secara hukum, pada struktur aslinya (1887-1899).

 20160819_174535  IMG-20160820-WA0149
Interior Katedral Rosario Suci di Vancouver, Kanada. Pintu depan yang gagah dari Katedral Rosario Suci di Vancouver, Kanada.

Sejarah mencatat, bahwa pada bulan Juni 1885 Pastor Patrick Fay utusan dari Canadian Pacific Railway (CPR) ditunjuk sebagai pastor pertama. Perayaan misa kudus pertama dilakukan pada pesta Bunda Maria Ratu Rosario (Our Lady of Rosary) pada tahun yang sama di lokasi yang tidak diketahui. Pada waktu sebelumnya, misa kudus biasa diadakan di Blair Hall dan Keefer Hall, sehingga gereja baru dan permanen diperlukan untuk mengatasi meningkatnya jumlah umat, yang awalnya hanya terdiri dari 69 keluarga. Landasan gereja baru diletakkan pada 16 Juli 1899 oleh Uskup Agung Adelard Langevin dari Saint Boniface. Pembangunan gereja dipimpin oleh arsitek Thomas Ennor Julian dan HJ Williams dalam waktu hanya 491 hari, konstruksi selesai. Pada saat itu gedung ini dipuji sebagai “bagian terbaik dari arsitektur barat di Toronto dan San Francisco’. Gereja baru Our Lady of Holy Rosary dibuka pada 8 Desember 1900 dan diberkati satu hari kemudian oleh Uskup Agung Alexander Christie dari Portland, Oregon, AS. Para pastor dari ordo OMI (Oblat Maria Imaculata) diizinkan untuk mengelola paroki sejak 1893 – akhirnya meninggalkan tahun 1927 setelah kesulitan dana dan kekurangan tenaga pastor, yang disebabkan oleh menurunnya jumlah anggota baru.

Oleh karena sebuah Gereja Katolik hanya dapat diberkati setelah bebas dari utang, katedral ini tidak digunakan untuk upacara keagamaan besar sampai 3 Oktober 1953, atau 53 tahun setelah pertama kali dibuka. Upacara besar yang pertama dipimpin oleh Uskup Agung Vancouver William M. Duke, dan berikutnya Misa kepausan dipimpin oleh Michael Harrington, Uskup Kamloops dengan didampingi oleh sekitar 35 uskup dari seluruh Kanada dan Amerika Serikat hadir dalam acara tersebut. Katedral ini dibangun dalam gaya Gothic Perancis, dengan salib dalam bentuk salib Latin. Dinding eksterior gereja dibangun dari batu pasir yang berasal dari Gabriola Island, sementara fondasinya terbuat dari batu granit dengan dua menara lonceng yang asimetris. Secara total, dimensi bangunan gereja adalah 49 m panjang, 32 m lebar dan 19 m tinggi, dengan menara setinggi 66 m. Sore itu, kami mengikuti misa harian sore pk. 17.10 dengan banyak umat yang hadir, dan mendoakan nama Mgr. J. Michael Miller, CSB Uskup Agung Vancouve sekarang, dalam Doa Syukur Agung. Kami menerima hosti suci dalam ukuran jumbo dan berwarna putih kecoklatan, berbeda dengan hosti yang biasa kami rasakan di Indonesia.

 IMG-20160820-WA0027  IMG-20160817-WA0055
Latar belakang kami adalah ‘Vancouver Lookout Tower’, di puncak Harbour Centre. ‘Vancouver Lookout Tower’, di puncak Harbour Centre, yang diinspirasi dari ekor pesawat ruang angkasa dalam film Star Trek yang legendaris.

Setelah seleai misa harian sore, sejenak kami menikmati keindahan eksterior gereja gaya Gothic Perancis yang dibangun dari batu pasir, yang berasal dari Gabriola Island. Di seberangnya, kami juga dapat kembali mengagumi kegagahan ‘Vancouver Lookout Tower’, di puncak Harbour Centre, yang diinspirasi dari ekor pesawat ruang angkasa dalam film Star Trek yang legendaris. Harbour Centre adalah sebuah gedung pencakar langit terkenal di pusat bisnis Downtown Vancouver. The “Lookout Tower” adalah menara yang dibangun di atas gedung, sehingga menjadi salah satu struktur bangunan tertinggi di Vancouver. Dengan arena untuk melihat pemandangan kota dalam 360 derajat, juga berfungsi sebagai objek wisata dengan ‘Top of Vancouver Revolving Restaurant’. Harbour Centre ini dibuka pada tahun 1977. Selanjutnya kami berjalan kaki ke Pender Grenville, untuk naik bis TransLink Line 5 kembali ke Hotel Barclay yang beralamat di 1348 Robson St, Vancouver, BC V6E 1C5, Kanada, untuk membuat laporan dan tidur pulas.

(bersambung)

VANCOUVER  HARI  KELIMA

fx.wikan indrarto

Hari Sabtu pagi, 20 Agustus 2016 yang cerah, kembali kami berjalan kaki dari Hotel Barclay yang beralamat di 1348 Robson St, Vancouver, BC V6E 1C5, Kanada, menyusuri Bute Street, menyeberang Alberni, South Georgia, Melville, Hasting, dan Cordoba untuk mencapai ‘West Building Vancouver Convention Centre’. Kami akan mengikuti The 28th International Congress of Pediatrics (IPA 2016) dan penjelajahan hari kelima (terakhir).

Setelah mengikuti sesi acara konggres di siang hari yang melelahkan, kami melanjutkan petualangan. Dari lokasi konggres di ‘West Building Vancouver Convention Centre’, kami berjalan kaki menuju Waterfront Stasion, sebuah tempat persinggungan antar moda transportasi, yaitu kapal pesiar, feri penyeberangan, kereta api antar kota, SkyTrain dan bis kota. Sore itu kami naik

Expo Line dari Stasiun Waterfront ke Stasiun King George. Setelah melewati Stasiun Burrard, Granville dan Stadium-Chinatown, kami turun di Main Street Skytrain Station. Setelah berjalan kaki sekitar 2 menit sejauh 160 m, kami terkagum dengan bangunan megah Science World di areal TELUS World of Science, yaitu di 1455 Quebec Street, Vancouver, BC V6A 3Z7, Kanada

 IMG-20160820-WA0153  IMG-20160820-WA0159
Berbagai tujuan yang terlihat jelas pada penunjuk arah ke Museum Maritime Vancouver, Bard, Arsip Vancouver, dan Vancouver Academy of Music. Bangunan megah Science World di areal TELUS World of Science, yaitu di 1455 Quebec Street, Vancouver, BC V6A 3Z7, Kanada

Science World di Telus World of Science, Vancouver adalah pusat kajian ilmu pengetahuan yang diselenggarakan oleh organisasi nirlaba, yang terletak di ujung semenanjung False Creek. Kegiatannya meliputi permanen interaktif berbagai topik sepanjang tahun. Nama Telus World of Science mulai digunakan pada 20 Juli 2005 yang sebelumnya disebut sebagai Expo Centre selama World Expo 86. Ada juga program super Science Club di sekolah dalam kota yang ditunjuk untuk menginspirasi anak cerdas agar tertarik tentang ilmu pengetahuan seumur hidup dan giat belajar tentang teknologi. Bangunan utama merupakan kubah geodesik versi Buckminster Fuller, yang dirancang oleh arsitek Bruno Freschi, kepala proyek World Expo 1986, dengan bangunan konstruksi dimulai pada tahun 1984 dan selesai pada awal 1985. Setelah Expo ditutup kampanye intensif diluncurkan untuk menjadikan bangunan tersebut sebagai landmark Vancouver. Sumbangan dari pemerintah federal, provinsi dan kota, ektor swasta, yayasan, dan individu memberikan kontribusi $ 19 juta untuk mendesain ulang interior. Pada tahun 1988, lebih dari 310.000 pengunjung datang untuk melihat gedung baru. Setahun kemudian, The 400 kursi Omnimax teater di bagian atas kubah dibuka dengan nama Teater Omnimax Alcan. Pada bulan Januari 2005, bangunan itu secara resmi berganti nama menjadi “Telusphere” sebagai bagian dari kesepakatan di mana Telus memberi sumbangan $ 9 juta sebagai imbalan atas hak-hak penamaan bangunan menjadi Telus World of Science. Science World sempat terlihat di tahun 2002 pada film televisi Amerika First Shot. Kami sangat menikmati keceriaan banyak anak sekolah, yang bermain dan terkagum dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kami melanjutkan perjalanan dari Science World di areal TELUS World of Science, dengan berjalan kaki sekitar 3 menit sejauh 160 m menuju ke Main Street Skytrain Station. Dari situ kembali kami naik SkyTrain Expo Line menuju Waterfront selama 4 menit dengan 3 perhentian. Setelah turun di Burrard Station, kami lanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 1 menit menuju ke Burrard Stn Bay 1, untuk berganti naik bis kota TransLink Line 22 menuju MacDonald selama 10 menit dengan 7 perhentian, dan turun di WB Cornwall Ave FS Cypress St. Setelah berjalan kaki sekitar 7 menit sejauh 550 m, kami mencapai Museum of Vancouver, di 1100 Chestnut Street, Vancouver, BC V6J 3J9, Kanada. Museum Vancouver (MOV) adalah sebuah museum lokal yang terletak di Vanier Park, Vancouver, dan merupakan museum sipil terbesar di Kanada dan tertua di Vancouver. Museum ini didirikan pada tahun 1894. Di museum ini juga sering diadakan pameran tentang sejarah kota dari awal 1900-an dan dilengkapi dengan hal kontemporer dan inovatif, termasuk fasilitas H. R. MacMillan Space Centre. Museum ini terletak di 1100 Chestnut Street di Vanier Park, di lingkungan Kitsilano dengan taman yang luas bersebelahan dengan Museum Maritime Vancouver, Bard, Arsip Vancouver, dan Vancouver Academy of Music. Museum ini didirikan oleh ‘Art, Historical, and Scientific Association of Vancouver’, yang dibentuk pada tanggal 17 April 1894, dengan tujuan menumbuhkan “rasa keindahan dan perbaikan dalam kehidupan” dan permanen pertama diselenggarakan pada 15 April 1905. Sejak Revisioning, Museum of Vancouver telah memenangkan Canadian Museum Association Award untuk Outstanding Achievement in Management (2010), Canadian Museum Association Award untuk Pendidikan (untuk Bhangra.me, 2012), dan BC Museum Association Award untuk Museum in Motion (2012). Bangunan museum ini dibangun pada tahun 1967 oleh arsitek terkenal Gerard Hamilton. Awalnya, direncanakan hanya rumah museum, tetapi hadiah dari H.R. MacMillan memungkinkan arsitek itu untuk memasukkan planetarium ke dalam desain, yang mencerminkan bentuk topi keranjang anyaman, yang dibuat oleh orang Northwest Coast First Nations. Ada lebih dari 65.000 barang koleksi, termasuk item dari sejarah Vancouver dari tahun 1900 termasuk mumi yang dibeli di Mesir selama Perang Dunia I, taksidermi permainan lokal dan satwa liar, artefak budaya populer jaman Renaissance yaitu karya Michelangelo dan Johan Gregor van der Schardt. Setelah puas menikmati keindahan koleksi dan bangunannya, kami melanjutkan perjalanan.

 IMG-20160820-WA0160  IMG-20160820-WA0163
Jalan yang lebar dan sepi menuju ke Science World di areal TELUS World of Science, yaitu di 1455 Quebec Street, Vancouver, BC V6A 3Z7, Kanada Bangunan utama merupakan kubah geodesik versi Buckminster Fuller, yang dirancang oleh arsitek Bruno Freschi, kepala proyek World Expo 1986 Vancouver

Dari Museum of Vancouver di 1100 Chestnut Street, Vancouver, BC V6J 3J9, Kanada, kami berjalan kaki sekitar 12 menit sejauh 1 km mencapai halte bis kota di EB w 4 Ave FS Burrard St. Kami naik bis kota TransLink Line 77 dari Nanaimo Stn selama 15 menit dengan 8 perhentian, kemudian turun di NB Granville St NS Dunsmuir St. Setelah berjalan kaki Sekitar 3 menit sejauh 260 m, kami mencapai Holy Rosary Cathedral, di 646 Richards Street, Vancouver, BC V6B 3A3, Kanada. Sore itu kami mengikuti misa kudus Sabtu sore, yang dimulai pk. 17.10 dengan buku panduan misa menggunakan ‘New Saint Joseph Sunday Missal’ Prayerbook and Hymnal for 2016. Kami ikut menyanyi menggunakan buku lagu ‘The Adoremus Hymnal’ dari US Conference of Catholic Bishops, Ignatius Press San Fransisco. Misa kudus di ‘Metropolitan Cathedral of Our Lady of the Holy Rosary’, yang dikenal sebagai Katedral Rosario Suci, adalah gereja bergaya Gothic Perancis yang dibangun pada akhir abad ke-19 dan berfungsi sebagai katedral agama Katolik Roma bagi Keuskupan Agung Vancouver. Gereja ini terletak di pusat kota pada persimpangan jalan Richards dan Dunsmuir. Pembangunan katedral dimulai pada 1899, pada situs gereja sebelumnya dengan nama yang sama. Dibuka pada Hari Pesta Bunda Maria Diangkat ke Sorga atau Immaculate Conception pada tanggal 8 Desember 1900. Arsitekturnya menyerupai Katedral Chartres abad pertengahan di Perancis dan gereja ini ditingkatkan statusnya menjadi katedral pada tahun 1916. Hal ini tercantum pada Vancouver Heritage Register dan merupakan bangunan yang dilindungi secara hukum, pada struktur aslinya (1887-1899).

Selesai misa kudus Sabtu sore, kami menikmati pizza yang dijual kedai ‘Freshslice Pizza’ dg semboyan ‘any location, any day and any time’. Setelah kenyang, kami berjalan kaki sekitar 3 menit sejauh 270 m ke halte bis kota di EB w Pender St at Seymour St, untuk naik bis kota TransLink Line 5 menuju Robson. Perjalanan selama 8 menit dengan 5 pemberhentian, akhirnya kami turun di WB Robson St FS Thurlow St, Robson Street. Vancouver, BC, Kanada, untuk segera masuk kamar dan berkemas, karena pagi berikutnya kami akan check out. Perjalanan kami selanjutnya adalah ke kota San Fransisco, sebuah kota ke 4 terbesar di Negara Bagian California Amerika Serikat. Terima kasih Vancouver di Kanada yang telah membuat kami terkagum-kagum dengan keindahan, keteraturan, kedisiplinan dan keramahannya. Sampai ketemu dalam petualangan penuh warna selanjutnya, di San Fransisco.

Sekian

*) Pelancong Jawa berdana cekak

 IMG-20160820-WA0166  IMG-20160820-WA0165
Bis kota TransLink Line 77 dari Nanaimo Stn ke NB Granville St NS Dunsmuir St. dengan edukasi tentang antibiotika Bangunan tambahan bergerigi lengkung yang artistik, sisa World Expo 1986 Vancouver


		
Categories
antibiotika bayi prematur dokter Healthy Life Jalan-jalan

2015 Rio de Janeiro

RIO DE JANEIRO  –  BRASIL

fx. wikan indrarto*)

Perjalanan kami untuk mengikuti the 9th World Congress on Pediatric Infectious Diseases di Rio de Janeiro, Brazil, dimulai Senin, 16 November 2015. Kami menggunakan pesawat Garuda Indonesia GA 207 Boeing 737 versi 300 dari Yogyakarta ke Jakarta, diteruskan dengan GA 838 Boeing 737 versi 800 ke Singapura selama 1,55 jam. Dari Singapura kami melanjutkan perjalanan dengan pesawat British Airaways BA 12 Boeing 747 versi 400 menuju ke London, pusat Kerajaan Inggris selama 12,50 jam. Kami mendarat di terminal 5 Heathrow International Airport London, Selasa, 17 November 2015 pk. 5.10 dini hari waktu setempat.

 Changi2  Heathrow1

Transit di Changi International Airport
Singapore

Transit di Heathrow International Airport
London, Inggris

Setelah puas menikmati skytrain gratis yang modern dan menghantar penumpang di dalam areal internal terminal 5 Heathrow International Airport London, kami menyeberang dari Gate B ke Gate C dan berlanjut dengan pesawat British Airways BA 249 Boeing 777 versi 200 menuju Rio de Janeiro selama 11,20 jam. Kami mendarat dengan mulus di Aeroporto Internacional Tom Jobim (Galeão) Rio de Janeiro dan langsung akrab dengan istilah sanitario masculino (male restroom), feminino dan saida (exit). Dari Terminal 1 kami naik Premium Auto Onibus linha atau jalur 2018 bertarif R$ (reais) 14,65 atau setara Rp. 60 ribu. Kami melewati Linha Vermelha, Rodoviaria, Praca Maua dan turun di Cinelandia di Centro atau Downtown (kota lama). Dengan berjalan kaki sekitar 300 m, kami sampai di Hotel Atlântico Business Rua Senador Dantas, 25 – Centro, Rio de Janeiro – RJ, 20031-202, Brasil.

 Bandara Heathrow  Hotel Atlantico Bussines

Kesibukan pesawat
di Heathrow International Airport
London, Inggris

Suhu 36 Celcius di Hotel Atlântico Business
Rua Senador Dantas, 25 – Centro,
Rio de Janeiro – RJ, 20031-202, Brasil.

Kota Rio de Janeiro didirikan oleh Portugis pada 1 Maret 1565 dengan nama São Sebastião do Rio de Janeiro, untuk menghormati St. Sebastian, santo pelindung kerajaan Portugis Dinasti Sebastião. Rio de Janeiro (Sungai Januari dalam Bahasa Portugis) atau hanya disebut Rio adalah kota terbesar kedua di Brazil, kota terbesar keenam di Amerika dan kota terbesar kelima puluh dunia, berdasarkan jumlah populasi. Rio de Janeiro adalah ibukota negara bagian Rio de Janeiro, negara yang paling padat penduduknya ketiga di Brasil. Bagian tengah kota telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia Landscapes between the Mountain and the Sea oleh UNESCO pada tanggal 1 Juli 2012 pada kategori Cultural Landscape.

Rio de Janeiro pada tahun 1763 menjadi ibu kota Negara Bagian Brazil, wilayah Kekaisaran Portugis. Pada 1808, ketika keluarga kerajaan Portugis melarikan diri dari invasi Kaisar Perancis Napoleon, oleh Ratu Maria I yang kemudian diteruskan oleh anaknya Prince Regent pada tahun 1815 dan Raja João VI, Brasil dijadikan Kerajaan Raya (United Kingdom) yang terdiri dari Portugal, Brasil, dan Algarve, sebuah daerah di bagian selatan daratan Portugal. Rio juga menjadi ibukota kerajaan Lusitania pluricontinental sampai tahun 1822, saat Perang Kemerdekaan Brasil dimulai. Ini adalah salah satu contoh dalam sejarah bahwa ibukota negara kolonial secara resmi bergeser ke kota di salah satu koloninya, yaitu ibukota kerajaan Portugal pindah ke Rio de Janeiro dan menjadi satu-satunya ibukota sebuah kerajaan Eropa di luar Eropa. Ketika Pangeran Pedro memproklamasikan kemerdekaan Brasil pada tahun 1822, Rio de Janeiro tetap sebagai ibukota kerajaan baru. Rio juga terus sebagai ibukota Brazil setelah 1889, ketika monarki digantikan oleh republik. Ketika Juscelino Kubitschek terpilih sebagai presiden, pada tahun 1955 mulai menggagas pembangunan Brasília sebagai ibukota negara dan pada tanggal 21 April 1960, ibukota Brasil secara resmi dipindahkan dari Rio de Janeiro ke Brasilia.

 Peta Brasil  Venue

Peta Brasil dan Rio de Janeiro

Lokasi konggres
di Centro Convencoes Estacionamento

Rio de Janeiro adalah salah satu kota yang paling sering dikunjungi di belahan bumi selatan dan dikenal dengan pemandangan alam, perayaan karnaval, samba, bossa nova, pantai balneario, seperti Barra da Tijuca, Copacabana, Ipanema, dan Leblon. Beberapa landmark paling terkenal di samping pantai, adalah patung raksasa Kristus Penebus (Christ the Redeemer) di puncak gunung Corcovado sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia; Gunung Sugarloaf dengan mobil kabel, Sambodromo, tribun dan jalan permanen yang digunakan selama Karnaval; dan Stadion Maracanã, salah satu stadion sepakbola terbesar di dunia. Rabu, 18 November 2015 pagi, sehari sebelum konggres yang diadakan di Centro Empresarial Rio Cidade Nova, Avenida Paulo de Frontin, 1 – Estácio, Rio de Janeiro – RJ, 22260-010 Brasil dimulai, terlebih dahulu kami akan menjelajah Rio de Janeiro.

Petualangan kami hari Rabu, 19 November 2015 dimulai dari Hotel Atlântico Business Rua Senador Dantas, 25 – Centro, Rio de Janeiro – RJ, 20031-202, Brasil, menggunakan bus. Di Rio de Janeiro, bus bebas polusi adalah alat utama transportasi umum. Ada hampir 440 jalur bus kota yang melayani lebih dari 4 juta penumpang setiap hari. Selain itu, Rio De Janeiro memiliki 2 jalur kereta bawah tanah (Metro Rio) dengan panjang rel 42 kilometer (26 mil) dan 32 stasiun ditambah beberapa jalur kereta api komuter. Dua jalur Metro Rio melayani kota Rio tujuh hari seminggu. Jalur pertama atau L1 bermula dari General Osorio di Ipanema menuju Uruguai di Tijuca. Jalur kedua atau L2 yang lebih modern bermula dari Botafogo dan berakhir di Pavuna. Semua moda transportasi tersebut akan kami coba, mencapai obyek wisata terkenal dan ikon kota Rio de Janeiro, yaitu Patung ‘Christ the Redeemer’ atau Kristus Penebus yang terletak di puncak Gunung Corcovado yang tingginya 710 m, di dalam areal Taman Nasional Hutan Tijuca, yang menghadap ke kota. Patung ini menjadi simbol umat Katolik, dan menjadi simbol kebanggaan kota. Tangan patung ini yang terbuka, dapat dilihat oleh banyak orang sebagai tanda bahwa Yesus pernah dipaku di kayu salib dan juga tanda dari kehangatan penduduk Brasil. Oleh karena lokasi dan ketinggiannya, patung raksasa ini dapat terlihat dari sudut manapun saja di seluruh pelosok Rio.

 Olimpiade 2016  SAMSUNG CAMERA PICTURES

Rio De Janeiro
siap menjadi tuan rumah Olimpiade 2016

Bus bebas polusi dengan hampir 440 jalur yang melayani lebih dari 4 juta penumpang setiap hari

Berbekal ‘Mapa Touristico Oficial’ atau peta untuk turis, dari Avenue Rio Branco yang lurus 2 blok di seberang hotel, kami naik bis 422 yang bertuliskan Cidade do Rio de Janeiro bertarif R$ 3,7/orang. Bis ini berangkat dari Centro menuju ke Laranjeiras, agar kami dapat menyaksikan Patung ‘Christ the Redeemer’. Gagasan untuk membangun sebuah patung yang besar di puncak gunung Corcovado telah muncul sejak pertengahan 1850-an, ketika seorang imam Katolik, yaitu Pedro Maria Boss meminta dana dari Putri Isabel untuk membangun sebuah monumen keagamaan yang besar. Putri Isabel tidak menanggapi gagasan itu, yang kemudian sama sekali dilupakan pada 1889, ketika Brasil menjadi sebuah republik, dengan undang-undang yang mewajibkan pemisahan gereja dari negara. Usulan kedua dibuat pada 1921 oleh Keuskupan Agung Rio de Janeiro dengan mengorganisir sebuah acara yang disebut Semana do Monumento (“Minggu Monumen”) untuk menarik para donatur, yang kebanyakan berasal dari umat Katolik Brasil.

 Christ Redempter

Patung ‘Christ the Redeemer’ yang besar di puncak gunung Corcovado

Banyak rancangan yang dilombakan untuk “Patung Kristus”, termasuk representasi salib Kristus, patung Yesus dengan bola dunia di tangannya, dan sebuah pedestal yang melambangkan dunia. Akhirnya patung Kristus Sang Penebus dengan tangan yang terbuka yang dipilih. Patung besar ini sekarang dianggap menjadi salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Modern, bersama dengan Tembok Besar di China, Machu Picchu di Peru, Petra di Yordania, Piramida Chichén Itzá di Meksiko, Colosseum di Italia, dan Taj Mahal di India.

Patung besar itu tingginya mencapai 30 meter, tidak termasuk alasnya yang setinggi 8 meter, dengan rentangan lengan selebar 28 meter. Patung ini menjadi salah satu struktur Art Deco terbesar di dunia. Berat struktur ini diperkirakan sekitar 635 ton. Monumen ini terbuat dari beton bertulang yang di bagian atasnya dilapisi mosaik ribuan soapstone berbentuk segitiga. Patung ini berdiri di atas alas batu persegi yang tingginya sekitar 8 meter. Pada tahun 1882, Kaisar Dom Pedro II meresmikan jalur kereta api sepanjang 3.800 meter ke puncak gunung untuk mengangkut material patung, dan kereta api ini masih tetap beroperasi sampai sekarang, yang merupakan cara yang paling populer untuk mencapai puncak.

 Christ Redempter1  SAMSUNG CAMERA PICTURES

Pematung Perancis, Paul Landowski, membuat kepala dan tangan patung ‘Christ the Redeemer’ itu.

Cristo Redentor patung besar rancangan Insinyur Brasil, Heitor da Silva Costa (1873-1947).

Batu pondasi dasar patung itu secara seremonial diletakkan pada 4 April 1922, yaitu hari perayaan 100 tahun kemerdekaan Brazil dari Portugal. Rancangan Insinyur Brasil, Heitor da Silva Costa (1873-1947), dipilih berdasarkan sketsa tentang sosok Kristus memegang salib di tangan kanannya dan dunia di tangan kirinya. Desain ini diubah oleh seniman Brasil, Carlos Oswald, yang menyarankan pose berdiri dengan tangan merentang luas di mana Kristus sendiri menjadi salib, tangan terentang menandakan penebusan dosa umat manusia pada saat penyaliban. Pematung Perancis, Paul Landowski, dicatat namanya karena membuat kepala dan tangan patung itu. Pembangunan dimulai pada tahun 1926, dan perlu waktu 5 tahun untuk menyelesaikannya. Batu yang digunakan dalam konstruksi ini berasal dari Swedia. Bahan-bahan tersebut dibawa ke puncak gunung dengan menggunakan kereta api. Total biaya yang dikeluarkan pada tahun 1931 adalah sekitar US$ 250.000 atau sekarang setara dengan US$ 3,2 juta. Pada tanggal 12 Oktober 1931, patung Kristus Sang Penebus akhirnya diperkenalkan kepada warga Rio dan seluruh dunia.

 SAMSUNG CAMERA PICTURES  Christ Redempter2

Trem do Corcovado’ bertarif R$ 56/orang. Trem yang jalurnya diresmikan oleh Kaisar Dom Pedro II pada tahun 1882

Panorama lansekap yang nampak dari atas, yaitu pantai Copacabana, Arpoador, Jardim Botanico, Cagarras, Ipanema, Leblon, dan Jockey Club.

Kami turun dari bis 422 di Laranjeiras dan berlanjut menuju puncak gunung Corcovado, dengan naik ‘Trem do Corcovado’ bertarif R$ 56/orang. Trem yang jalurnya diresmikan oleh Kaisar Dom Pedro II pada tahun 1882 dan masih berfungsi sampai saat ini, melewati stasiun Alto do Corcovada Cristo Redentor, Paineiras, Desvio Novo, Santa Teresa, Silvestre, Morro do Ingles, dan Cosme Velho sepanjang 3.800 meter ke puncak gunung, selama sekitar 20 menit. Setelah turun dari trem, kami melanjutkan naik lift 3 lantai dan eskalator 2 lantai, baru kami dapat sampai di dasar patung. Sungguh, keindahan dan kemegahan yang luar biasa. Selain mengagumi kemegahan patung, kami juga mengagumi panorama lansekap kota Rio de Janeiro bagian selatan yang nampak dari atas, yaitu pantai Copacabana, Arpoador, Jardim Botanico, Cagarras Island, Ipanema, Rodrigo de Freitas Lagoon, Parque Lage, Alah’s Garden, Leblon, dan Jockey Club.

Setelah puas berfoto, melihat pemandangan, berdoa sebentar di kapel di dalam dasar patung Yesus, kami segera turun kembali ke Laranjeiras dengan menggunkan ‘Trem do Corcovado’, untuk melihat keajaiban berikutnya di Maracana. Dari halte Laranjeiras kami naik bis jalur 422 dengan tarif R$ 3,4 jauh dekat, menuju Stadion Maracana.

 Maracana4  stadion

Skema kursi penonton
Di Stadion Maracanã
di Rio de Janeiro, Brasil.

Stadion Maracanã (Portugis: Estádio do Maracanã), secara resmi dinamakan
Estádio Jornalista Mário Filho

Stadion Maracanã (Portugis: Estádio do Maracanã), secara resmi dinamakan Estádio Jornalista Mário Filho, yang merupakan sebuah stadion sepak bola di Rio de Janeiro, Brasil. Mário Filho digunakan sebagai nama resmi dari stadion ini, untuk menghormati seorang wartawan pendukung vokal yang kuat untuk pembangunan Maracanã. Stadion ini merupakan bagian dari kompleks yang mencakup arena yang dikenal dengan nama Maracanãzinho, yang berarti “Little Maracanã” dalam bahasa Portugis. Stadion yang dimiliki oleh pemerintah negara bagian Rio de Janeiro, itu dinamai sesuai nama sungai Rio Maracanã, yaitu sungai yang sekarang disalurkan ke sungai Rio de Janeiro dan bermuara di Guanabara Bay. Nama Maracanã berasal dari kata dalam Bahasa Tupi-Guarani untuk menyebut jenis burung beo yang menghuni daerah tersebut.

Setelah memenangkan hak untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA 1950, pemerintah Brasil berusaha untuk membangun stadion baru. Rencana pembangunan Stadion Maracanã dikritik oleh Carlos Lacerda anggota Kongres dan musuh politik walikota Ângelo Mendes de Morais, karena masalah biaya dan lokasi yang dipilih, dengan alasan bahwa stadion baru harus dibangun di Zona Barat yaitu Jacarepaguá. Pada saat itu dengan dukungan seorang wartawan Mário Filho, Mendes de Morais mampu meneruskan proyek ambisius ini. Pemenang kompetisi untuk desain dan konstruksi pada tahun 1947 adalah Ir. Humberto Menescal dan dirancang oleh 7 orang arsitek Brasil, yaitu Michael Feldman, Waldir Ramos, Raphael Galvão, Oscar Valdetaro , Orlando Azevedo, Pedro Paulo Bernardes Bastos, dan Antônio Dias Carneiro. Landasan pertama diletakkan di lokasi stadion pada 2 Agustus 1948 dan pertandingan Piala Dunia yang pertama dijadwalkan akan dimainkan pada 24 Juni 1950. Namun, keterlambatan pekerjaan proyek mendorong FIFA untuk mengirim Dr. Ottorino Barassi, kepala FA Italia, yang telah mengorganisir Piala Dunia 1934, untuk membantu di Rio de Janeiro. Semula tenaga kerja berjumlah 1.500 orang kemudian ditambahkan menjadi 2.000 pekerja pada bulan-bulan terakhir. Meskipun stadion ini mulai digunakan pada tahun 1950, tetapi konstruksi lengkap baru selesai sepenuhnya pada tahun 1965.

 Marasacana  Neymar

Stadion Maracana dirancang oleh 7 orang arsitek Brasil, yang dipimpin oleh Michael Feldman.

Kaos tim nasional sepak bola Brasil no 10
milik Neymar


Pertandingan pembukaan di stadion ini berlangsung pada tanggal 16 Juni 1950, saat Rio de Janeiro All-Stars mengalahkan São Paulo All-Stars 3-1 dan Didi menjadi pemain yang mencetak gol pertama di stadion ini. Pada saat itu pembangunan stadion belum selesai sepenuhnya, yaitu tidak memiliki fasilitas toilet dan penampung air tekan yang berdiri, dan masih tampak seperti sebuah situs bangunan dalam pengerjaan. Meskipun demikian, stadion ini mampu menampung 200.000 penonton berdiri, mengalahkan Stadion Hampden Park di
Glasgow, Skotlandia sebagai stadion terbesar di dunia. Meskipun belum selesai dibangun, FIFA mengizinkan pertandingan untuk dimainkan di tempat tersebut, dan pada tanggal 24 Juni 1950, pertandingan Piala Dunia pertama berlangsung, dengan 81.000 penonton yang hadir.

Stadion ini diresmikan pada tahun 1950 untuk digunakan sebagai tuan rumah Piala Dunia FIFA 1950, yang saat itu Brasil dikalahkan 2-1 oleh Uruguay pada pertandingan final. Kekalahan di kandang ini langsung menjadi peristiwa menyedihkan yang penting dalam sejarah Brasil, yang dikenal populer sebagai ‘Maracanazo’. Kehadiran penonton bertiket resmi pada pertandingan final adalah 199.854 orang, tetapi kehadiran sebenarnya diperkirakan sekitar 210.000 orang. Dengan total penonton yang hadir pada pertandingan final Piala Dunia FIFA 1950 adalah 199.854 orang, sehingga stadion ini sempat menjadi yang terbesar di dunia menurut kapasitas penonton. Setelah direnovasi 2010-2013, stadion dibangun kembali dengan kapasitas kursi 78.838 penonton untuk alasan keamanan, sehingga stadion ini menjadi yang terbesar di Brazil dan yang kedua di Amerika Selatan setelah Estadio Monumental di Peru. Stadion ini adalah tempat utama even Pan American Games 2007, untuk turnamen sepak bola, dan upacara pembukaan dan penutupan. The Maracanã dibangun kembali untuk persiapan Piala Konfederasi FIFA 2013, dan Piala Dunia FIFA 2014, di mana pertandingan final akan digelar. Ini juga akan menjadi tempat untuk pembukaan dan penutupan upacara Olimpiade 2016 dan Paralimpiade Musim Panas 2016.

 Uruguaiana  Marcado Populer

Kami turun di halte Uruguaiana untuk makan siang menu mie goreng kambing seharga R$ 14 dan jus mangga R$ 3 untuk kami berdua

Suasana Mercado Populer, sebuah pasar rakyat untuk membeli aqua botol besar dan cinderamata.


Setelah puas foto dan mengelilingi Stadion Maracana, kami melanjutkan petualangan dengan naik bis nomor 249 dengan tujuan ke Central bertarif R$ 3,4. Kami turun di halte Uruguaiana untuk makan siang menu mie goreng kambing seharga R$ 14 dan jus mangga R$ 3 untuk kami berdua, ditambah Agua Mineral Lindoya seharga R$ 4 conteudo atau berisi 510 ml. Setelah kenyang, kami masuk Mercado Populer, sebuah pasar rakyat untuk membeli aqua botol besar dan cinderamata. Selanjutnya kami mencoba naik Metro L2 dari stasiun Pavuna bertiket R$ 4,5. Tiket elektronik dapat dibayarkan secara tunai kepada petugas di loket, sehingga kami tidak harus mempunyai kartu prabayar sendiri. Kami naik dari Stasiun Uruguaiana di bawah Mercado Populer, melewati stasiun Carioca, Cinelandia, Gloria, Catete, Largo di Marchado, Flamengo, dan turun di Botafogo. Di Stasiun Botafogo ini kami harus berganti L1 Metro Rio yang lebih modern, dengan jurusan dari Uruguai ke Ipenama melewati stasiun Cardeal Arcoverde, Siquera Campos, Cantagalo dan turun di stasiun terakhir di dekat pantai Ipanema, yaitu General Osoreo.

 Mie Brasil  Belanja sumuk

Suasana sejuk di Mercado Populer
dengan suhu udara 20 setelah hujan

Suasana gerah di Mercado Populer
dengan suhu udara 36

Pantai Ipanema (pengucapan Portugis: [ipanẽmɐ]) pada tahun 2012 dipilih CNN sebagai kota pantai terbaik di dunia, terletak di bagian selatan Rio de Janeiro, antara Leblon dan Arpoador. Nama Ipanema menjadi dikenal secara luas karena lagu “The Girl from Ipanema” (“Garota de Ipanema”), yang ditulis oleh Antônio Carlos Jobim dan Vinícius de Moraes. Kata “Ipanema” berasal dari bahasa Tupi yang berarti “danau bau”, dari upaba (danau) dan nem (bau). Sebagian besar lahan Ipanema dahulu milik José Antonio Moreira Filho, seorang tuan tanah atau Baron. Ipanema mendapatkan ketenaran dengan dimulainya aliran musik bossa nova, pada lagu “The Girl from Ipanema.” Lagu ini ditulis pada tahun 1962, dengan musik dan lirik dalam bahasa Portugis oleh Jobim dan de Moraes, serta lirik dalam bahasa Inggris ditulis oleh Norman Gimbel. Popularitasnya dibangkitkan dengan lagu “Boy from Ipanema” oleh Diana Krall yang dirilis pada tahun 2008. Ipanema berdekatan dengan Copacabana dan Leblon Beach, tetapi memiliki karakter yang berbeda dari tetangganya. Ipanema ini relatif mudah dinavigasi karena jalan-jalan dibangun sejajar dalam kotak atau blok. Investasi swasta telah menyebabkan penciptaan restoran, toko, dan kafe kelas dunia, sehingga Ipanema adalah salah satu tempat paling mahal untuk tinggal di Rio. Terbentuk kehidupan pantai dengan banyak peselancar dan penggemar matahari yang berjemur sepanjang hari di pantai. Setiap hari Minggu, jalan paling dekat ke pantai ditutup untuk kendaraan bermotor, agar penduduk setempat dan wisatawan dapat menggunakan kesempatan untuk naik sepeda, sepatu roda, skateboard, ataupun berjalan kaki di sepanjang pantai. Garis pantai Ipanema dimulai dari gunung yang disebut Dois Irmãos (Two Brothers) di ujung barat pantai, dibagi menjadi beberapa segmen dengan tanda batas yang dikenal sebagai postos (menara lifeguard). Bir dijual di mana-mana sepanjang garis pantai, bersama dengan minuman tradisional cachaça. Selalu terlihat, seolah setiap hari adalah hari libur, adanya kerumunan orang yang bermain sepak bola, bola voli, dan footvolley, olahraga lokal yang merupakan kombinasi dari voli dan sepak bola. Semua keindahan tersebut dapat kami lihat saat menumpang bis 318 bertarif R$ 3,4 menyusur pantai Ipanema dan berlanjut ke pantai Copacabana di sebelahnya.

 Metro Central  Copacabana1

Stasiun Metro Rio yang lebih modern,
dengan jurusan dari Uruguai ke Ipenama

menyusur pantai Ipanema
dan berlanjut ke pantai Copacabana

Copacabana (pengucapan Portugis [kɔpakɐbɐnɐ] atau [kɔpɐkabɐnɐ]) adalah bairro atau lingkungan yang terletak di Zona Selatan dari kota Rio de Janeiro, Brasil. Copacabana memiliki garis pantai atau balneario sepanjang 4 km dan merupakan salah satu yang paling terkenal di dunia. Distrik ini awalnya disebut Sacopenapã (diterjemahkan dari bahasa Tupi yang berarti “jalan yang menyerupai burung Socos) sampai pertengahan abad ke-18. Namanya diubah setelah pembangunan sebuah kapel atau gereja kecil yang menyimpan replika dari Santo Virgen de Copacabana, seorang suci dari Bolivia. Garis pantai Copacabana menghadap Samudera Atlantik, membentang dari Princesa Isabel Avenue Posto Dois (lifeguard menara Dua) ​​ke Posto Seis (menara penjaga pantai Enam). Terdapat benteng bersejarah di kedua ujung pantai Copacabana, yaitu Fort Copacabana yang dibangun pada tahun 1914 di ujung selatan atau Posto Seis dan Fort de Caxias Duque yang dibangun pada tahun 1779 di ujung utara. Pantai Copacabana rutin menjadi tuan rumah bagi jutaan orang yang berpesta dan bersuka ria selama perayaan malam tahun baru tahunan, dengan pesta kembang api warna-warni sepanjang malam. Copacabana promenade adalah trotoar lebar sepanjang 4 kilometer, yang bermotif khas, perpaduan garis lengkung warna hitam dan krem atau putih yang membentuk gelombang geometris. Copacabana promenade dirancang oleh arsitek Roberto Burle Marx pada tahun 1930. Ketika Rio menjadi ibukota Brasil, Copacabana dianggap sebagai salah satu lingkungan terbaik di Brasil.

 SAMSUNG CAMERA PICTURES  SAMSUNG CAMERA PICTURES

Copacabana promenade adalah trotoar lebar yang bermotif khas, berbentuk gelombang geometris, dirancang oleh arsitek Roberto Burle Marx pada tahun 1930.

Bagungan peninggalan kolonial Portugal yang artistik dan banyak dijumpai di sekitar garis pantai Rio de Janeiro.

Menurut sensus IBGE, 160.000 orang tinggal di Copacabana dan 44.000 atau 27,5% dari mereka adalah warga berusia 60 tahun atau lebih tua. Mereka dan para wisatawan yang datang dilayani oleh lebih dari 40 rute bus yang berbeda, terdapat 3 stasiun Metro Rio atau kereta bawah tanah, yaitu Cantagalo, Siqueira Campos dan Cardeal Arcoverde. Terdapat 3 jalan arteri utama yang sejajar satu sama lain di seluruh wilayah, yaitu Avenida Atlântica (Atlantic Avenue), Nossa Senhora de Copacabana Avenue, dan Barata Ribeiro atau Raul Pompeia Street, setelah Terowongan Sá Freire Alvim dibangun. Warga dan para wisatawan yang datang, telah mencatatkan kegembiraan dan kebersamaan yang luar biasa. Misalnya Pada tanggal 31 Desember 1994, saat perayaan Tahun Baru menampilkan konser Rod Stewart dengan penonton mencapai 3,5 juta dan menjadi konser musik dengan kerumunan terbesar yang pernah ada. Pada tanggal 21 Maret 2005, konser Lenny Kravitz di sana dihadiri 300.000 orang, dan 18 Februari 2006, The Rolling Stones menarik lebih dari 1,5 juta orang penonton ke pantai Copacabana. Pada tanggal 7 Juli 2007, konser Brasil Live Earth menghadirkan 400.000 orang. Pada tanggal 28 Juli 2013, pantai menjadi tuan rumah acara final World Youth Day 2013, yang menghadirkan sekitar 3 juta orang, termasuk 3 orang presiden yang bergabung saat Paus Franciscus merayakan misa suci, sehingga merupakan salah satu pertemuan keagamaan Katolik yang terbesar dalam sejarah.

 SAMSUNG CAMERA PICTURES  SAMSUNG CAMERA PICTURES

Ornamen Our Lady of Navegantes
di dalam Igreja de Santa Luzia

Igreja de Santa Luzia diresmikan pada Desember 1519 dekat Avenida President Antonio Carlos

Setelah puas menikmati kedua pantai di Rio yang legendaris dan selalu penuh wisatawan sepanjang masa itu, kami melanjutkan perjalanan pulang ke Centro dengan naik bis 245. Sayang sekali, kepulangan kami bersamaan dengan puncak kepadatan lalu lintas pulang kerja, sehingga kami turun di jalan saat bis berhenti total tidak mampu menembus kemacetan kota. Kami turun di seberang Igreja de Santa Luzia dekat Avenida President Antonio Carlos. Gereja Santa Luzia terletak di pusat kota Rio de Janeiro, yang dibangun awak kapal Magellan, saat melewati Guanabara Bay pada bulan Desember 1519. Kapel atau gereja kecil itu dibangun di pinggir laut, untuk menyimpan gambar Our Lady of Navegantes. Namun demikian, versi lain menceritakan bahwa kapel ini dibangun oleh para rohaniwan Fransiskan pada saat kedatangan mereka pada tahun 1592 dan diperluas pada 1752. Raja João VI dari Portugal memerintahkan untuk membuka jalan Santa Luzia pada tahun 1817, agar dapat dilewati kereta kerajaan saat menuju ke gereja, bersama cucu kesayangannya Pangeran Sebastian. Hiasan dinding gereja dibuat oleh seniman Thomas Ender. Setelah berdoa dan mengagumi arsitektur gereja tersebut, selanjutnya kami pulang berjalan kaki melewati 2 blok, termasuk bangunan megah Theatro Municipal di Cinelandia, yang bersebelahan dengan Museu Nacional de Relas Artes dan Biblioteca Nacional, untuk kembali ke hotel. Malam itu rasanya kami sangat puas sekali, dengan berbagai pengalaman jasmani dan rohani yang sangat mengesankan.

 SAMSUNG CAMERA PICTURES  Peserta Indonesia

Theatro Municipal di Cinelandia,
bersebelahan dengan Museu Nacional de Relas Artes dan Biblioteca Nacional

Bersama dengan beberapa dokter dari Jakarta (Dr. Darmawan, Dr. Tjatur dan Dr. Hingki) di depan banner selamat datang

Kamis, 19 November 2015 kami menuju Sul America, Centro de Convencoes Avenida Paulo de Frontin, 1 – Cidade Nova, Estácio, Rio de Janeiro – RJ, 22260-010, Brasil, untuk mengikuti the 9th World Congress on Pediatric Infectious Disease 2015. Perjalanan dimulai dari Hotel Atlântico Business Rua Senador Dantas, 25 – Centro, Rio de Janeiro – RJ, 20031-202, Brasil dengan berjalan kaki 2 blok menuju Stasiun Cinelandia untuk menggunakan Metro Rio L1, yang berangkat dari Stasiun Botafogo menuju Uruguai. Dengan tiket seharga R$ 3,5 yang dibeli tunai di loket, kami melewati Stasiun Carioca, Uruguaiana, Presidente Vargas, Central, Praca Onze dan turun di Estacio. Dari Stasiun Estacio, kami berjalan kaki sekitar 300 m menuju conggres venue. Setelah bertemu, berkenalan, dan berfoto bersama dengan beberapa dokter dari Jakarta (Dr. Darmawan, Dr. Tjatur dan Dr. Hingki) di depan banner selamat datang, kami segera melanjutkan proses registrasi peserta.

Kami segera berpencar di venue yang memiliki 5 hall di lantai 2 untuk mengikuti sesi ‘Meet the Professor’ oleh Prof. Berezin (Brazil) dan Prof. Saha (Bangladesh) dengan topik: Infection Control In Low-Midle Income Countries. Setelah acara pembukaan di Hall utama yang berlangsung hanya sekitar 10 menit, kami lanjut dengan mengikuti simposium dengan beberapa topik, yaitu ‘Inflamation And Immune Subversion In Pneumonia, What Should Clinicians Know’ oleh Dr. Av Gay (Canada), diteruskan dengan ‘Can Etiological Diagnosis Of Pneumonia Be Improved’ oleh Dr. Scott (Inggris) dan ‘Management Of Pneumonia In The Era Of Bacterial’ oleh Dr. Saez Llorens (Panama). Dengan diselingi coffee break sebentar, terus dilanjutkan dengan simposium lagi bertopik ‘Emerging Issues In Staphylococcal Infection: Colonization, Pathogen And Host Respons’ oleh Dr. Creech (AS), ‘The Impprtance Of Global Strain Epidemiology In Clinical Manifestations And Vaccine Development’ oleh Dr. Smeesters (Belgia), ‘Update Management And Treatment Staphyloccocal Disease’ oleh Dr. Curtis (Australia), dan ‘Infection In Infancy In Resource Poor Setting’ oleh Dr. Seale (Inggris).

 Peserta

Gerbang

the 9th World Congress on Pediatric Infectious Disease 2015 di Sul America, Centro de Convencoes Avenida Paulo de Frontin, 1 – Cidade Nova, Estácio, Rio de Janeiro – RJ, 22260-010, Brasil

Acara dilanjutkan dengan paralel symposium di 3 hall berbeda dan kami mengikuti simposium bertopik ‘Immunization In Special Host’. Berbagai sesi diterjemahkan ke dalam Bahasa Portugis dan Spanyol, dengan alat bantu dengar untuk sebagian besar peserta dari Amerika Latin. Berbeda dengan di Indonesia, ternyata topik tentang imunisasi bukan milik Sub Bagian Pediatri Sosial dan Tumbuh Kembang, TB dan pneumonia bukan dikelola Sub Bagian Respirologi, Penyakit Kawasaki bukan ditangani Sub Bagian Kardiologi dan sepsis neonatal bukan dibahas di Sub Bagian Perinatologi, tetapi semuanya dibahas di dalam perspektif Infeksi Pediatri.

Menjelang sore, kami memutuskan keluar areal konggres untuk naik Metro Rio L1 dari Uruguai menuju Botafogo, di Stasiun Estacio. Setelah melewati Praca Onze, kami turun Central. Stasiun besar ini menghubungkan Metro, bis dan kereta api di Central do Brasil (pengucapan Portugis : sẽtɾaw du bɾaziw) yang merupakan stasiun kereta api paling penting di kota Rio de Janeiro. Central do Brasil tersambung dengan jalur kereta api ke São Paulo dan Minas Gerais. Stasiun ini terletak di pusat kota Rio de Janeiro, sepanjang Avenida Presidente Vargas dan di seberang taman Campo de Santana.

 Central do Brasil  Central do Brasil1

Central do Brasil (pengucapan Portugis : sẽtɾaw du bɾaziw) merupakan stasiun kereta api paling penting di kota Rio de Janeiro

Central do Brasil tersambung dengan jalur kereta api ke São Paulo dan Minas Gerais, terletak di sepanjang Avenida Presidente Vargas

Setelah puas melihat kemegahan stasiun besar ini, kami melanjutkan perjalanan dengan Metro Rio L1 menuju stasiun Uruguaiana untuk makan sore. Hari sebelumnya kami sempat makan siang menu mie goreng R$ 14 dan jus mangga R$ 3, sehingga di tempat yang sama hari itu kami mencoba menu lain, berupa nasi dan sayur yang sudah 3 hari lamanya tidak pernah kami rasakan. Setelah puas makan dengan versi pembayaran berupa ditimbang dengan berat bahan makananan yang diambil pembeli sendiri sebagai patokan harga, kami lanjutkan masuk Mercado Populer, sebuah pasar tradisional di atas stasiun Metro. Setelah kenyang dan mendapat beberapa jenis cinderamata khas Rio de Janeiro, kami segera naik Metro Rio L1 lagi menuju stasiun Cinelandia, melewati Carioca. Perjalanan kami teruskan ke katedral. Gereja Katolik yang besar atau katedral ini diresmikan pada tahun 1976, dan dinamakan Katedral Sao Sebastiao do Rio de Janeiro atau Catedral Metropolitana, karena terletak di pusat kota. Pembangunan gedung katedral berbentuk tumpeng ini dipimpin oleh arsitek modernis Edgar Oliveira da Fonseca dan dikoordinasikan oleh Monsignor Ivo Antônio Calliari, Uskup di Keuskupan Agung Rio de Janeiro. Dengan kapasitas untuk 20.000 kursi umat yang disusun berputar, gedung gereja ini memiliki diameter di dasar 106 meter dengan tinggi 96 meter dan strukturnya berbentuk kerucut. Pintu utama terdiri dari 48 plak perunggu dengan relief yang berkaitan dengan iman Katolik. Jendela kaca berpatri mendominasi interior sepanjang 60 meter membelah dinding gereja dari dasar sampai ke puncak, sehingga memberikan pencahayaan alam yang indah untuk semua tempat di dalam gereja. Di ruang bawah tanah, terdapat Museum Seni Suci yang memiliki koleksi patung, mural, karya seni, dan buku catatan yang digunakan untuk membaptis para pangeran dari keluarga kerajaan Brasil. Juga terdapat patung Bunda Rosario, tahta Raja Pedro II dan Golden Rose yang diberikan kepada Putri Elizabeth oleh Paus Leo XIII, sebagai penghargaan atas Undang-undang Penghapusan Perbudakan di Brasil. Setelah berdoa sebentar dan mengagumi pencahayaan di dalam gereja karena kaca berpatri, kami segera melanjutkan perjalanan ke Lapa.

 Katedral1  SAMSUNG CAMERA PICTURES

Katedral Sao Sebastiao do Rio de Janeiro atau Catedral Metropolitana, berbentuk tumpeng karya arsitek modernis Edgar Oliveira da Fonseca

Jendela kaca berpatri sepanjang 60 meter membelah dinding gereja, memberikan pencahayaan alam yang indah di dalam gereja.

Lapa adalah lingkungan di pusat kota Rio de Janeiro Rio, bersebelahan dengan katedral, dan terkenal karena monumen serta kehidupan malamnya. Lingkungan tersebut adalah rumah bagi Arcos da Lapa, saluran air yang mengesankan yang dibangun pada pertengahan abad ke-18 oleh penguasa kolonial Portugis. Daya tarik lain adalah Passeio Publico, taman publik pertama yang dibangun pada tahun 1780-an. Sejak awal 1950-an, Lapa telah dikenal karena kehidupan budaya dengan banyak restoran dan bar, seperti Asa Branca bar, Fundição Progresso, dan Sala Cecília Meirelles, dimana seniman dan intelektual Brasil bertemu. Aqueduct dan The Carioca Aqueduct yang juga dikenal sebagai Arcos da Lapa, adalah sebuah pemukiman yang dibangun tahun 1792. Lingkungan Lapa dikenal sebagai tempat lahir bohemian Rio, juga terkenal dengan arsitektur Arcos da Lapa, sebuah saluran air pada zaman kolonial dan sekarang berfungsi sebagai kabel sinyal untuk kereta gantung yang memanjat bukit Santa Teresa. The Carioca Aqueduct atau saluran air itu dianggap sebagai karya arsitektur penting jaman Old Rio dan salah satu simbol utama kota. Saluran air yang mengesankan ini berupa bangunan bergaya Romawi selebar 17,6 meter, panjang 270 meter dan memiliki 42 lengkungan. The Carioca Aqueduct yang mulai dibangun pada 1723, dimaksudkan untuk mengalirkan air dari ketinggian sungai Carioca Morro do Desterro di bukit Santa Teresa menuju daerah Morro de Santo Antônio. Setelah berfoto dan mengagumi berulang saluran air jaman kolonial tersebut, kami segera berjalan kaki kembali ke hotel yang hanya berjarak 3 blok dari Lapa, untuk beristirahat.

 SAMSUNG CAMERA PICTURES  SAMSUNG CAMERA PICTURES

Passeio Publico, taman publik pertama yang dibangun pada tahun 1780-an, di dekat Arcos da Lapa, sebuah saluran air pada zaman kolonial.

The Carioca Aqueduct yang mulai dibangun pada 1723, untuk mengalirkan air dari ketinggian sungai Carioca menuju daerah de Santo Antônio.

Menurut Sensus IBGE 2010, terdapat 5.940.224 orang yang tinggal di kota Rio de Janeiro terdiri dari 51,2% orang kulit putih, 36,5% orang Pardo (multiras), 11,5% orang kulit hitam, 0,7% orang Asia Timur dan 0,1% orang Indian. Rio de Janeiro adalah kota terpadat ke-2 di Brazil, setelah São Paulo. Imigran Portugis di kota Rio de Janeiro adalah yang terbesar, sehingga menjadikannya “kota Portugis” di luar daratan Portugal. Orang keturunan Portugis mendominasi di sebagian besar penduduk Brazil. Bahasa Portugis adalah bahasa resmi dan nasional, sehingga merupakan bahasa utama yang diajarkan di sekolah. Masyarakat kulit hitam berasal dari warga yang nenek moyangnya adalah budak belian dari Angola, Mozambik, dan Afrika Barat dari akhir abad 19 sampai awal abad ke-20. Masyarakat seperti itulah yang kami jumpai dalam perjalanan kami pada hari ke 4 di Rio de Janeiro, Jumat, 21 November 2015 menuju tempat konggres di Sul America, Centro de Convencoes Avenida Paulo de Frontin, 1 – Cidade Nova, Estácio, Rio de Janeiro – RJ, 22260-010, Brasil, untuk mengikuti the 9th World Congress on Pediatric Infectious Disease 2015.

 SAMSUNG CAMERA PICTURES  SAMSUNG CAMERA PICTURES

Arsitektur bangunan kolonial Portugis masih banyak dijumpai dalam keadaan utuh dan berfungsi baik

Rio de Janeiro adalah pusat budaya utama di Brasil, yang kental dipengaruhi budaya Portugis dengan campuran Afrika.

Rio de Janeiro adalah pusat budaya utama di Brasil, yang kental dipengaruhi budaya Portugis dengan campuran Afrika. Cara berpakaian sangat lugas, banyak perempuan hanya bercelana pendek, ‘tanktop’, ‘you can see’, sepatu berhak tinggi dan pria berkaos oblong ke manapun mereka pergi. Bahkan peserta konggrespun banyak yang berpakaian seperti itu, sehingga sangat berbeda dengan para peserta dari luar Brasil yang necis, perlente dan rapi. Pagi itu kami mengikuti acara Meet the Professor : Non-Vaccine Serotype Disease, Does It Have A Real Impact bersama Prof. Dagan (Israel) dan Prof. Pirez (Uruguay). Selanjutnya simposium tentang infeksi virus Zika (Dr. Zafadi, Brazil), Dengue (Dr. Siqueira, Brazil), Chikungunya (Dr. Capeding, Filipina) dan perkembangan vaksin Dengue (Dr. Lanata, Peru). Penjelasan dari Dr. Safadi (Brazil) adalah bahwa infeksi Zika virus (flavivirus) yang berasal dari Polinesia di Pasific selatan (Cook, Caledonia, Marshal & French Reunion), sudah menyebar ke seluruh penjuru Brasil dengan keluhan utama gatal, rash dan keluhan mirip infeksi Dengue atau Chikungunya. Infeksi Virus Zika dapat menyebabkan GBS (Guillain–Barré Syndrome) atau kelumpuhan pada anak dan mikrosefalus atau kelainan neurologis lainnya pada bayi baru lahir, bila infeksi virus Zika terjadi pada ibu hamil. Sementara itu, Dr.  Maria Capeding (Filipina) menjelaskan tentang infeksi virus chikungunya yang tidak mematikan tetapi dapat melumpuhkan persendian. Virus ini berasal dari Tanzania, Afrika tenggara, lalu menyebar secara global dengan komplikasi terbaru yang dilaporkan adalah terjadinya uveitis dan retinitis pada mata. Infeksi Chikungunya (dominasi poliarthralgia) secara klinis sangat mirip dengan Dengue (dominasi gangguan hematologi), sehingga semua pasien harus dikelola sebagai Dengue, sampai saat Dengue dapat disingkirkan, karena sampai saat ini tidak ada laporan tentang koinfeksi keduanya. Rekomendasi baru adalah untuk menggunakan NSAID, kortikosteroid dan fisioterapi pada kasus chikungunya dengan athralgia hebat.

Topik simposium selanjutnya tentang infeksi neonatal dipimpin oleh Dr. Bravo (Filipina), membahas tentang SPRING (Strengthening Publication and Reporting Infection in Newborn Globally) Guidance For Studies And Publication oleh Dr. Fitchett (Inggris), Brain Oxygenation And Outcome Of Sepsis oleh Dr. Rallis (Yunani), TNF on Perinatal Brain Injury oleh Dr. Ferreira (Inggris), Prevention Guideline In Maternity oleh Dr. Freitas (Brasil). Intinya adalah adanya kaskade inflamasi pada sepsis dapat menyebabkan gangguan oksigenasi di otak, yang dapat dinilai dengan spectroskopi dan akan terlihat mulai pada hari ke 3 sepsis, terutama yang disebabkan karena bakteri staphilokokus. Bayley III Infant Todler score dapat digunakan untuk menilai ‘outcome’ sistem saraf pusat pada anak, yang berkorelasi linier dengan derajad deoksigenasi saat masih neonatus. Hal ini juga terkait dengan mekanisme hipoksia pada sepsis, karena terjadi kematian atau kerusakan sel otak dan akan berkembang menjadi CP (cerebral palsy). Peran penting imunitas perifier (peripheral immune system) dalam sepsis, mendasari rekomendasi pemeriksaan swab vaginal dan rectal semua ibu yang berada dalam ancaman persalinan prematur, untuk mendeteksi bakteri streptokokus dan E coli. Pemeriksaan yang dilakukan pada usia kehamilan sebelum 37 minggu dan ketuban utuh ini, dilanjutkan pemberian profilaksis antibiotika ampisilin dalam periode persalinan, untuk mencegah terjadinya sepsis neonatal onset cepat.

 SAMSUNG CAMERA PICTURES  SAMSUNG CAMERA PICTURES

Gereja Candelária rancangan Francisco João Roscio diresmikan tahun 1811 di hadapan Raja John VI dari Portugal

Sisi belakang Igreja de Nossa Senhora da Candelária, yang dilengkapi dengan
Pius X Square yang luas.

Setelah acara coffee break sore, kami meninggalkan lokasi untuk menuju Urugauiana. Kami terkaget-kaget saat keluar dari stasiun Metro Rio bawah tanah, sebab hampir semua toko dan kios di Marcado Populer Urugauiana tutup. Ternyata hari itu adalah ‘Black Awareness Day’ atau ‘Dia da Consciência Negra’ (Portuguese) atau Hari Kesadaran tentang kulit Hitam yang dirayakan setiap tanggal 20 November. Hari yang dirayakan setiap tahun tersebut menjadi hari libur nasional di Brazil. Hari tersebut untuk merenungkan ketidakadilan perbudakan terhadap orang kulit hitam dan untuk merayakan kontribusi warga Brasil keturunan Afrika, terhadap kemajuan bangsa. Hari tersebut ditentukan berdasarkan ulang tahun kematian Zumbi dos Palmares (1655-1695), pemimpin terakhir kelompok Quilombo dos Palmares, dengan fokus acara ini adalah untuk menghapus persepsi inferioritas keturunan Afrika dalam masyarakat. Karena rumah makan yang menyediakan nasi juga tutup, akhirnya kami makan sore di McD berupa kentang goreng. Selanjutnya kami berjalan kaki menuju Candelaria. Igreja de Nossa Senhora da Candelária adalah sebuah gereja Katolik Roma yang dilengkapi dengan Pius X Square. Gereja Candelaria (Portugis: Igreja da Candelaria, diucapkan: [igɾeʒɐ ðɐ kɐdelaɾjɐ]) dibangun dan dihiasi selama periode yang panjang, dari 1775 sampai akhir abad ke-19. Pada awal abad ke-17 kapal Candelaria hampir tenggelam saat badai di laut. Setelah tiba di Rio de Janeiro, sekelompok orang Spanyol membangun sebuah kapel kecil, sesuai dengan sumpah mereka selama menghadapi badai. Kapel kecil ini, didedikasikan untuk Our Lady of Candelaria, dibangun sekitar 1609. Pada 1775 kapel ini diperbaiki oleh insinyur militer Portugis, Francisco João Roscio, dan diresmikan pada tahun 1811 di hadapan Raja John VI dari Portugal yang pada saat itu berada di Rio. Kubah gereja dan delapan patung dari batu Lioz putih dibuat di Lisabon dan dibawa ke Brasil dengan kapal. Setelah selesai, kubah dari Candelaria waktu itu adalah struktur bangunan tertinggi di kota Rio. Pada 1878 interior gereja Candelaria mulai didesain ulang, dalam gaya Neo-Renaissance. Dinding dan kolom ditutupi dengan marmer Italia berbagai warna, dan dilengkapi berbagai patung. Pelukis Brasil João Zeferino da Costa ditugaskan untuk melukis bagian tengah dan bagian dalam kubah. Di langit-langit lorong utama, Zeferino da Costa dan asistennya membuat lukisan yang menceritakan sejarah gereja. Altar utama dibuat oleh arsitek Brasil Archimedes Memória, berbagai kaca jendela dan pintu perunggu buatan Jerman, dan di pintu masuk utama dilengkapi patung oleh pematung Portugis António Teixeira Lopes; dan patung perunggu monumental di mimbar dalam gaya Art Nouveau, dikerjakan oleh pematung Portugis Rodolfo Pinto Couto pada 1931.

 SAMSUNG CAMERA PICTURES  SAMSUNG CAMERA PICTURES

Gereja Candelaria (Portugis: Igreja da Candelaria) dibangun dan dihiasi selama periode panjang, dari 1775 sampai akhir abad ke-19.

di pintu masuk utama Gereja Candelaria dilengkapi patung oleh pematung Portugis António Teixeira Lopes

Sayang sekali, saat ini gereja tidak digunakan lagi dan bahkan berubah fungsi menjadi rumah singgah di malam hari untuk ratusan orang tunawisma, para pedagang obat ilegal dan bahkan prostitusi. Petugas gereja secara rutin menyediakan makanan, tempat tinggal, pendidikan dan sarana agama untuk banyak anak tunawisma ini. Petugas polisi berjaga secara rutin pada lingkungan gereja ini, karena sejak awal 1990-an terjadi tingkat kejahatan yang tinggi dan beberapa tunawisma terlibat dalam kegiatan kriminal seperti pencopetan dan pencurian. Pada 12 Juni 1993 sebanyak 8 anak jalanan, yaitu Paulo Roberto de Oliveira,  Anderson Oliveira de Pereira, Marcelo Candido de Jesus, Valdevino Miguel de Almeida, Gambazinho, Leandro Santos da Conceição,  Paulo José da Silva, dan Marcos Antônio Alves da Silva tewas, ketika polisi menembaki sekelompok anak jalanan yang tidur di samping Gereja Candelaria. Tiga polisi militer dipidanakan dalam kasus pembunuhan ini, tetapi hanya satu yang akhirnya dihukum. Salah satu tokoh korban lainnya adalah Sandro Rosa do Nascimento yang menjadi terkenal karena melakukan pembajakan bus kota dan berhadapan dengan polisi Rio. Selama konfrontasi, Sandro berteriak protes di depan kamera televisi tentang ketidakadilan sosial dalam masyarakat Brasil, sambil menempelkan senjata tajamnya ke kepala penumpang bis sebagai sandera.

 SAMSUNG CAMERA PICTURES  SAMSUNG CAMERA PICTURES

Centro Cultural Banco do Brazil, sebuah museum yang penuh pengunjung

Patung gagah perkasa menunggang kuda, Manuel Luis Osorio, di Praca XV de Novembro

Ia berpendapat bahwa pemerintah Brasil mengabaikan warga miskin dan tunawisma. Situasi berlangsung selama beberapa jam dan akhirnya polisi menangkap Sandro dengan beberapa sandera terluka tembak. Banyak warga sipil marah bereaksi dengan memukul dan melempar kotoran manusia ke wajah Sandro, yang akhirnya meninggal karena sesak napas dalam kendaraan polisi dalam perjalanan ke kantor polisi. Meskipun petugas polisi dituduh membunuhnya, tetapi akhirnya semua polisi ditemukan tidak bersalah. Kejadian ini mencerminkan perselisihan antara tunawisma dan polisi, bahkan memicu diskusi tentang hubungan antara tunawisma dan pemerintah di negara berkembang di seluruh dunia. Kejadian ini dapat dilihat dalam film dokumenter berjudul ‘Bus 174’ dan juga disebutkan dalam lagu ‘The Candelaria Massacre’ (Portugis: Slaughter Candelaria [ʃɐsĩnɐ ðɐ kɐdelaɾjɐ]) oleh The Core band metal Brasil.

Setelah mengagumi keindahan bangunan gereja Candelaria dan merenungkan pembantaian yang dulu terjadi di situ, kami segera bergegas ke Praca XV de Novembro, melewati Centro Cultural Banco do Brazil, sebuah museum yang penuh pengunjung karena hari libur nasional. Di lapangan Praca XV de Novembro kami tertegun dengan patung sosok gagah perkasa menunggang kuda, yaitu Manuel Luis Osorio yang lahir 10 Mei 1808 di Arroio Conceição do Rio Grande do Sul, dan meninggal 4 Oktober 1879 (71 tahun) adalah pahlawan Brasil dalam Perang Paraguay. Osorio memodernisasi dan memprofesionalkan kekuatan militer Brasil, dan akhirnya diangkat sebagai pelindung korps kavaleri Tentara Brasil. Patungnya yang gagah di lapangan Praca XV de Novembro dan nama Osorio yang harum diberikan untuk nama daerah di dekat Ipanema. Dari dermaga Praca XV Centro Rio, kami naik ferry ke Niteroi bertarif R$5.

 SAMSUNG CAMERA PICTURES  SAMSUNG CAMERA PICTURES

Dari dermaga Praca XV Centro Rio, kami naik ferry ke Niteroi bertarif R$5.

Presiden Costa e Silva Bridge, umumnya dikenal sebagai Jembatan Rio-Niteroi yang megah

Tujuan kami adalah melihat Niteroi dan Presiden Costa e Silva Bridge, umumnya dikenal sebagai Jembatan Rio-Niteroi yang megah. Ferry berlayar sejajar dengan jembatan itu, sehingga jembatan panjang itu nampak sebagai garis lurus di cakrawala. Setelah mendarat, dari dermaga ferry Niteroi kami bermaksud berkeliling kota Niteroi dengan naik bis 49.1 warna merah Cidade de Niteroi tujuan Centro, ternyata kami keliru. Di Niterio juga ada Centro, bukan hanya ada di Rio. Untung ada penumpang yang dapat Berbahasa Inggris, mencoba menerangkan, tetapi tetap juga terjadi salah paham. Kami terpaksa berjalan kaki dari dermaga ke terminal bis, karena ternyata bis 1001 warna putih yang melewati Lapa di Rio de Janeiro tidak masuk terminal bis dan cukup ditunggu di depan dermaga seberang jalan. Untung beberapa orang yang kami temui, membantu kami dengan komunikasi yang agak susah payah.

 Penumpang Tram  Feri

Suasana di atas ‘Trem do Corcovado’,
bertarif R$ 56/orang, sebagai wisatawan

Suasana di atas ferry Niteroi bertarif R$ 5/orang sebagai penumpang umum

Dengan bis 1001 bertarif R$6 kami pulang ke Rio melewati Jembatan Rio-Niteroi yang sebelumnya kami lihat dari ferry dan merupakan jembatan gelagar kotak beton melintasi Guanabara Bay, yang menghubungkan Rio de Janeiro dan Niteroi. Saat ini merupakan jembatan beton pratekan terpanjang di belahan bumi selatan, dan terpanjang keenam di dunia. Dari selesai pada tahun 1974 sampai tahun 1985 merupakan jembatan kedua terpanjang di dunia, setelah Pontchartrain Causeway Lake di Hong Kong. Nama resminya adalah Presiden Costa e Silva Bridge, untuk menghormati presiden Brasil yang memerintahkan pembangunannya. “Rio-Niteroi” adalah julukan deskriptif yang segera menjadi lebih dikenal daripada nama resmi jembatan tersebut. Dalam rangka untuk menghubungkan dua kota tetangga, yaitu Rio de Janeiro dan Niteroi yang dipisahkan oleh Guanabara Bay, sehingga perjalanan darat lebih dari 100 kilometer (62 mil) menyusuri tepi Guanabara Bay melewati kota Mage, dipikirkan untuk membangun jembatan ataupun terowongan. Pada tahun 1963 sebuah kelompok kerja diciptakan untuk mempelajari proyek membangun jembatan. Presiden Artur da Costa e Silva menandatangani sebuah dekrit pada 23 Agustus 23, untuk proyek jembatan yang dirancang oleh Mario Andreazza, seorang Menteri Transportasi. Konstruksi dimulai secara simbolis pada 23 Agustus 1968 di hadapan Ratu Elizabeth II dan Pangeran Philip, Duke of Edinburgh dari Inggris pada kunjungannya ke Brasil. Pekerjaan yang sebenarnya dimulai pada bulan Januari 1969 dan jembatan ini resmi dibuka pada 4 Maret 1974. Jembatan itu dibangun oleh perusahaan konstruksi Brasil sepanjang 13,2 km dengan 8,8 km berada di atas air dalam ketinggian 72 m, untuk memungkinkan lewatnya ratusan kapal memasuki dan meninggalkan teluk Guanabara. Pada saat selesai dibangun, bentang tengah adalah box girder terpanjang di dunia, yang akhirnya telah dikalahkan oleh 301 meter jembatan Stolma di Norwegia (1998) dan 330 meter jembatan Shibanpo di Cina (2006). Jembatan ini dilewati oleh 140.000 kendaraan setiap hari, yang membayar tol hanya ketika memasuki Niterói dengan tarif terendah R $ 5,5.

 SAMSUNG CAMERA PICTURES  SAMSUNG CAMERA PICTURES

Patung gagah warga asli Niteroi jaman kolonial,
di dekat dermaga ferry Niteroi

Niteroi dan Rio de Janeiro
yang dipisahkan oleh Guanabara Bay

Bis 1001 line 7755 menuju Gavea, setelah memaski kota Rio terus melewati tunel Santa Barbara, yang menghubungkan distrik Catumbi dan Orange di Zona Utara dan Zona Selatan kota Rio. Pembangunannya dimulai pada tahun 1947 tetapi baru selesai pada tahun 1963. Pada saat itu terowongan ini dianggap yang terbesar di Amerika Selatan dan salah satu yang paling modern di dunia. Lamanya proses pembangunan ini disebabkan oleh kesulitan hukum untuk pengambilalihan 75 real estate (32 di sisi Orange dan 43 di sisi Catumbi). Terowongan sepanjang 1.357 meter dan lebar 17,5 meter memiliki 4 jalur kendaraan dan dilewati 100 ribu kendaraan per hari, sehingga lalu lintas ditutup untuk pemeliharaan dan pembersihan pada hari Senin dan Rabu, kecuali pada hari libur. Kami turun di Largo do Machado untuk berganti Metro Rio dari General Osorio menuju Pavuna, dan turun di stasiun Cinelandia. Seperti biasanya, dari Cinelandia kami berjalan kaki 2 blok, untuk tidur pulas di kamar di Hotel Atlântico Business Rua Senador Dantas, 25 – Centro, Rio de Janeiro – RJ, 20031-202, Brasil. Malam itu, kami kembali tidur nyenyak.

Sabtu, 22 November 2015 adalah hari terakhir kami di Rio de Janeiro, diawali dengan perjalanan menuju tempat konggres di Sul America, Centro de Convencoes Avenida Paulo de Frontin, 1 – Cidade Nova, Estácio, Rio de Janeiro – RJ, 22260-010, Brasil, untuk mengikuti the 9th World Congress on Pediatric Infectious Disease 2015. Kami berjalan kaki 2 blok menuju Stasiun Cinelandia untuk menggunakan Metro Rio L1, yang berangkat dari Stasiun Botafogo menuju Uruguai. Dengan tiket seharga R$ 3,5 yang dibeli tunai di loket, kami melewati Stasiun Carioca, Uruguaiana, Presidente Varga, Central, Praca Onze dan turun di Estacio, dengan dilanjutkan jalan kaki 3 blok untuk mencapai venue.

 Venue1  SAMSUNG CAMERA PICTURES

Tempat konggres di Sul America, Avenida Paulo de Frontin, 1 – Cidade Nova, Estácio, Rio de Janeiro

Suasana Ipenema, pantai yang indah dan favorit bagi peserta konggres lainnya.

Konggres pada hari terakhir tersebut hanya diikuti oleh setengah peserta, karena banyak yang sudah kembali pulang. Selain itu, beberapa peserta sudah membawa kopor pribadi untuk langsung ke bandara setelah konggres, karena sudah sekalian check out dari hotel. Kami hanya sempat mengikuti sebentar sesi ‘Meet The Professor’ bertema ‘Success Of Short Course Antiiotic Therapies, Bringing The Medicine Into Science’ oleh Prof. Samir Saha (Bangladesh). Simposium berikutnya tentang ‘Epidemiology of TB and Relevance of BCG Vaccination’ oleh Dr. Marais (Australia), yang menjelaskan bahwa diperkirakan tuberculosis atau TB telah mengenai 1 milyar anak di dunia, tetapi sering underestimated karena tertutupi oleh pneumonia, malnutrisi, meningitis dan HIV. Pengaruh program vaksinsinasi HiB, pneumokokus dan rotavirus di India, China dan Indonesia, yang merupakan 3 negara dengan jumlah penderita terbanyak, membuat kejadian TB sekitar 3:100.000 penduduk. Sekitar 2/3 kasus TB terjadi Afrika dan Asia Tenggara dengan MDR TB (Multi Drug Resistance Tuberculosis) pada anak diperkirakan terjadi pada 32.000 anak pertahun. Vaksinasi BCG telah terbukti mampu mencegah penyebaran TB dalam tubuh anak, maupun infeksi bakteri M. Tuberculosis, Leprosy, non TB mycrobacterium. Selain itu, imunisasi BCG ternyata juga menurunkan kejadian asthma dan atopy, bahkan berpengaruh pada penyebab kematian total karena infeksi berat kuman apapun (heterologous effects). Dilanjutkan oleh Dr. Moraes Pinto (Brasil) dengan topik ‘Making Sense Of Recent Diagnostic Development’. Diagnosis TB pada anak selama ini 65% kasus hanya berdasarkan anamnesis adanya faktor risiko aktif, misalnya TB pada dewasa, HIV, usia balita, dan pengguna obat imunosupresif, baik yang memiliki gejala pulmonal sekitar 75% kasus, maupun non pulmonal sekitar 25%. Pemeriksaan mantoux test belum banyak digunakan karena memiliki kelemahan sebagai ‘operator dependent’, memerlukan 2 kali kunjungan, tingginya ‘false positive’ karena varicella, campak, flu, TB lama, dan riwayat BCG dalam 2 tahun terakhir. Pemeriksaan bakteri TB dari aspirasi lambung anak hanya dapat positif apabila terdapat 10 ribu bakteri/ml. Gold standar diagnosis TB saat ini adalah kultur darah yang dapat positif meskipun hanya terdapat 10-100 bakteri/ml. Pemeriksaan ‘nucleic acid gen amplification’ memiliki sensitifitas 75%, meskipun TB pada anak bersifat paucibacillary dan pemeriksaan smear negatif. Untuk itu, diagnosis TB sebaiknya juga menggunakan Elispot (T-Spot TB) dan quanti Feron TB Gold yang melacak intergeron gamma atau IGRA (QTF-IT). Namun demikian, hasil positif tes Mantoux ataupun IGRA pada anak sebenarnya hanya berarti telah terjadi peningkatan risiko atau paparan TB dan atau kondisi imunosupresif, bukan berarti bahwa anak mengalami sakit TB. Dengan demikian, follow up pasien oleh dokter yg sama, termasuk untuk memulai dan menghentikan terapi TB, jauh lebih penting.

Simposium selanjutnya bertopik ‘Optimising Drug Therapy For Tuberculosis In Children’ oleh Dr. Garcia Prats (Afrika Selatan), yang menjelaskan bahwa terlalu sedikit penelitian tentang efikasi obat TB pada anak, sehingga selama ini hanya mengutip dari pasien dewasa, termasuk dalam menentukan dosis obat TB dianggap sama dalam hal rumus mg/kgBB pasien dewasa, yang sebenarnya tidaklah dijamin tepat. WHO tahun 2010 merekomendasikan menaikkan dosis INH menjadi 10 mg/kgBB, Rifampisin 15 mg/kgBB, Levofloxacin 15 mg/kgBB untuk anak > 7 tahun, dan maxifloxacin 10 mg/kg. Dosis obat seharusnya ditingkatkan pada anak dengan adanya kontak TB dewasa serumah, untuk mengurangi risiko terjadinya MDR TB dan memperpendek regiments. Simposum selanjutnya berjudul ‘Treatment of Drug Resistant TB For The Practising Clinician’ oleh Prof. Tsolia (Yunani) yang menjelaskan bahwa kasus MDR TB yang telah resisten terhadap INH dan Rif, juga kasus XDR TB yang juga resisten terhadap fluoroquinolon, pada populasi anak belum pernah dihitung jumlah kasusnya, berbeda dengan pada dewasa. Kesulitan diagnosis pada anak karena sulit mengumpulkan spesimen untuk diperiksa di laboratorium, sifatnya infeksi paucibacillary TB, dan riwayat kontak sulit didapat, sehingga hanya dapat diduga ada 32 ribu anak per tahun atau 3,5% dewasa. Terapi dengan 4-6 jenis obat anti TB selama 20 bulan pada kasus MDR dan 24 bulan pada kasus XDR, memiliki keluaran 82% berhasil, 39% efek samping, 6,8% gagal dan 5,9% meninggal.

Simposium berikutnya dengan topik ‘Understanding Neonatal Sepsis’ oleh Prof. Saha (Bangladesh), menjelaskan bahwa kematian neonatus karena sepsis masih mencapai 44% dan perlu segera ditekan, agar angka kematian anak membaik. Sampai sekarang, hasil pemeriksaan kultur darah jarang tumbuh, yaitu hanya sekitar 7%, sehingga terapi hanya berdasarkan gejala klinis yang dinamakan possible Serious Bacterial Infection (pSBI), karena adanya sepsis, asfiksi dan prematuritas adalah 3 hal utama yang saling terkait. Untuk itu, kultur darah sebaiknya bukan dianggap ‘gold standard’ sepsis lagi, tetapi ‘old standard’, karena tidak realistis dan sering dipengaruhi oleh jumlah serum yang tersedia atau pemberian antibiotika pada ibu intra partum. Alternatif diagnosis untuk sepsis neonatal sebaiknya adalah deteksi biomarker dan molekuler, misalnya CRP dan prokalsitonin. Pemeriksaan molekuler terdiri dari amplifikasi PCR, hibridisasi dan non asam nuklei. Real-time PCR memiliki sensitivitas dan spesifisitas 100%, sensitifitas hibridisasi 99%, dan sensitifitas Post PCR amplification 95%. Meskipun pemeriksaan molekuler belum dapat menyingkirkan kultur darah, tetapi real time atau RT PCR paling dianjurkan, termasuk dalam penelitian besar dan global ANISA (A New Initiative For Find The Etiology Of Neonatal Sepsis) menggunakan RT PCR untuk mengenali 30 jenis bakteri berbeda, dari darah dan saluran napas bayi, terutama Streptokokus dan HiB.

Topik selanjutnya adalah GBS (Good Bye Streptococcus) oleh Dr. Dangor (Afrika Selatan), Maternal Vaccination For Prevention Of Pertussis oleh Prof. Edwards (USA), Prevention of RSV Progress Toward Prevention oleh Prof. Pollack (Argentina) dan Prevention Of Pneumonia Mortality In Children oleh Prof. Klugman (USA). Intinya adalah bahwa pneumonia atau radang paru-paru adalah penyebab kematian utama pada anak, terutama di India, Nigeria, Pakistan, Ethiopia dan Kongo. Bahkan koinsidensi atau bersama diare, pneumonia menjadi penyebab utama kematian bayi secara global. Bakteri penyebab utama pneumonia adalah pneumokokus dan di India telah terjadi peningkatan resistensi antibiotika, sehingga meskipun kejadian campak sudah turun 85%, AIDS turun 61%, tetanus 53% dan malaria 56%, tetapi pneumonia hanya turun sangat sedikit. Penyebab kematian anak yg sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi adalah pneumonia, rotavirus, dan Hib yang mencakup total 16% kasus. Sayang sekali, saat ini di India, Indonesia dan Cina belum memberikan imunisasi PCV untuk mencegah pneumonia secara rutin, sehingga penurunan kejadian pneumonia belum terlalu turun secara global.

Menjelang acara penutupan konggres, kami berjalan kaki 3 blok lagi untuk mencapai Stasiun Estacio. Dengan naik Metro Rio L1, yang berangkat dari Stasiun Uruguai menuju Botafogo dan tiket seharga R$ 3,5 yang dibeli tunai di loket, kami turun di Stasiun Praca Onze untuk berjalan kaki 3 blok melihat Sambodromo. Sambadrome Marques de Sapucai (Passarela Profesor Darcy Ribeiro atau Sambodromo dalam bahasa Portugis) atau hanya Sambadrome merupakan daerah parade yang dibangun di pusat kota Rio de Janeiro, untuk tujuan sekolah samba dan parade kompetitif setiap tahun, selama berlangsungnya Karnaval Rio. Parade atau karnaval ini menarik ribuan warga Brasil dan wisatawan asing setiap tahun.


Sambadrome (“Sambodromo” dalam bahasa Portugis) dirancang oleh Oscar Niemeyer dan dibangun pada tahun 1984, yang berupa bentangan jalan Marques de Sapucai sepanjang 700 m yang diubah menjadi tanah parade permanen dengan bangku dibangun di kedua sisi jalan untuk duduk penonton, dengan kapasitas 90.000 kursi. Komplek ini mencakup sebuah kawasan yang berawal dari ujung rute pawai di Praça da Apoteose (Lapangan Apotheosis) dekat favela Morro da Mineira. Pembukaan kembali terjadi pada tanggal 7 Februari 2012, yang dihadiri oleh Walikota Eduardo Paes dan arsitek Oscar Niemeyer. Setiap sekolah samba memiliki waktu sekitar 90 menit untuk berparade dari satu ujung Sambadrome ke yang lain dengan melibatkan ribuan penari serta pemusik. Pada hari Rabu Abu (quarta-feira de cinzas) dalam tradisi Katolik, nilai yuri dikumpulkan dan satu dinyatakan sebagai pemenang. Parade of Champions diadakan Sabtu berikutnya dengan menampilkan 5 sekolah samba pemenang. Pada tahun 2008, harga tiket masuk berkisar antara R$ 10 – R$ 500 (US $ 6,50 menjadi US $ 312,50).

 SAMSUNG CAMERA PICTURES  SAMSUNG CAMERA PICTURES

Sambadrome (“Sambodromo” dalam bahasa Portugis) dirancang oleh Oscar Niemeyer
dan dibangun pada tahun 1984,

Merasakan sensasi Parade samba Carnaval Rio de Janeiro, di Sambadrome saat hujan gerimis.

Parade samba Carnaval Rio de Janeiro yang terdekat akan diadakan pada hari Jumat dan Sabtu, 5 dan 6 Februari 2016. Final grand Samba Parade 2016 akan diadakan pada hari Minggu dan Senin malam, 7 dan 8 Februari 2016 dan enam sekolah samba terbaik akan parade sekali lagi pada hari Sabtu, 13 Februari 2016. Untuk penyelenggaraan Olimpiade 2016, tempat tersebut akan menjadi arena cabang memanah, atletik, dan maraton. Dalam persiapan untuk Olimpiade 2016, pabrik tua Brahma di dekatnya dihancurkan dan bangku-bangku tambahan dibangun di sana untuk meningkatkan kapasitas penonton menjadi sekitar 18.000 kursi, dengan desain simetris. Di luar musim Karnaval, Apotheosis Square kadang-kadang digunakan sebagai tempat konser musik skala besar. Artis yang telah tampil di Apotheosis Square Sambadrome termasuk Diante Trono, Eric Clapton, Supertramp, Black Eyed Peas, Pearl Jam, Elton John, Coldplay, Whitney Houston, Avril Lavigne, Britney Spears, Iron Maiden, Radiohead, Hillsong Jonas, Nirvana, A-ha, Janet Jackson, Bon Jovi, David Bowie dan Rolling Stones.

Sayang sekali, kami sampai di Sambodromo saat hujan gerimis turun, sehingga kami hanya dapat berfoto sebentar sekali dan mencoba merasakan aura meriah karnaval samba ataupun konser musik skala besar, untuk melanjutkan perjalanan. Dengan naik Metro Rio L1, yang berangkat dari Stasiun Uruguai menuju Botafogo, kami naik di Stasiun Praca Onze meliwati Stasiun Central, Presidente da Vargas, Uruguaiana, Carioca, dan turun di Cinelandia, untuk melihat Teatro Municipal. Teatro Municipal Rio de Janeiro terletak di Central Avenue Cinelandia (Praça Marechal Floriano), sekarang disebut Rio Branco Road, di pusat kota Rio de Janeiro, dan dibangun sekitar tahun 1909. The Theatro Municipal (Municipal Theatre) dianggap sebagai salah satu gedung seni yang paling indah dan bioskop terpenting di Brasil. Bangunan ini dirancang dengan gaya eklektik, terinspirasi oleh Paris Opéra Charles Garnier. Dinding luar bertuliskan nama-nama klasik seniman Eurocentric dan Brasil. Gedung ini berseberangan dengan Perpustakaan Nasional dan Museum Seni Rupa, serta menghadap Cinelandia Square yang luas. Pada paruh kedua abad kesembilan belas, kegiatan teater sangat intens di Rio de Janeiro, sebagai ibu kota negara. Setelah Proklamasi Republik Brasil tahun 1889, tepatnya pada tahun 1894 penulis drama Arthur Azevedo meluncurkan kampanye untuk membangun sebuah gedung teater baru di sepanjang garis Comédie Française. Pada saat Walikota Pereira Passos tahun 1903 membuka Avenue Central (Sekarang Avenida Rio Branco), muncul gagasan dari Francisco de Oliveira Passos (anak dan kemudian menjadi walikota) bekerjasama dengan Albert Guilbert dan desain gedung terinspirasi oleh Paris Opera. Pembangunan dimulai pada tahun 1905 di atas dasar 1.180 buah tiang kayu di dalam tanah. Untuk menghias bangunan, pelukis dan pematung Brasil dilibatkan, seperti Eliseu Visconti, Rodolfo Amoedo dan Bernardelli. Akhirnya, empat setengah tahun kemudian pada 14 Juli 1909, Presiden Nilo Peçanha meresmikan Theatro Municipal do Rio de Janeiro, yang memiliki kapasitas 1.739 pemirsa. Kemudian walikota Serzedelo Correa pada tahun 1934 melakukan beberapa modifikasi, termasuk interior teater yang mewah dengan patung-patung buatan Henrique Bernardelli, lukisan oleh Rodolfo Amoedo, tirai penutup megah karya Eliseu Visconti, dilengkapi Restoran Assírius di ruang bawah tanah yang aneh, dengan dekorasi Asyur yang mengesankan, dan sejak saat itu gedung ini memiliki jumlah 2.361 kursi penonton. Pada tahun 1931, Symphonic Orchestra Kota Rio de Janeiro diciptakan dan melibatkan aktor seperti Arturo Toscanini, Sarah Bernhardt, Bidu Sayao, Cheryl Studer, Eliane Coelho, Heitor Villa-Lobos, Igor Stravinsky, Paul Hindemith dan Alexander Brailowsky. Pada masa kejayaan awal, gedung ini menampilkan hanya opera asing dan acara simfoni orkestra, terutama dari Italia dan Perancis.

 SAMSUNG CAMERA PICTURES  Bandara

Theatro Municipal, gedung konser ini
memiliki 2.361 kursi penonton

Gerbang terminal 1 Aeroporto Internacional
Tom Jobim (Galeão) Rio de Janeiro

Saat ini Theatro Municipal sebagian besar digunakan untuk pertunjukkan balet dan musik klasik. Kami sempatkan mampir dan mengagumi keindahannya, sebelum kembali ke hotel dalam jalan kaki cepat karena gerimis melewati 2 blok. Malam itu kami di kamar 104 Hotel Atlântico Business Rua Senador Dantas, 25 – Centro, Rio de Janeiro – RJ, 20031-202, Brasil berkemas untuk persiapan kembali ke Indonesia. Perjalanan ke Aeroporto Internacional Tom Jobim (Galeão) Rio de Janeiro, akan kami lakukan pada Sabtu, 21 November 2015 menjelang tengah malam.

Sekian

bersambung dengan petualangan di London, Inggris, sebalum pulang ke Indoensia 

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/05/28/2015-london/

20151118225148

*) pelancong Jawa berdana cekak

Ditulis di ruang tunggu Aeroporto Internacional Tom Jobim (Galeão) Rio de Janeiro

Kamis, 19 November 2015

Categories
anak dokter Healthy Life Jalan-jalan

2015 LONDON

SEKAJAP  DI  LONDON
fx. wikan indrarto*)

 

Setelah mengikuti ‘the 9th World Congress on Pediatric Infectious Diseases’ 2015 di Rio de Janeiro, Brazil, kami segera pulang ke Indonesia. Perjalanan pulang dimulai dari Hotel Atlântico Business Rua Senador Dantas, 25 – Centro, Rio de Janeiro – RJ, 20031-202, Brasil menggunakan taksi kuning beragometer dengan tarif R$ 46 Sabtu malam 22 November 2015. Kami naik pesawat British Airways BA 248 Boeing 777-200 dari Aeroporto Internacional Tom Jobim (Galeão) Rio de Janeiro terminal 1, berangkat pk. 00.05 dini hari dan sampai di London Heathrow International Airport terminal 5, Minggu, 23 November 2015 pk. 13.25 dengan lama terbang 11.20 jam.

 Bandara Heathrow  Heathrow1

Heathrow adalah bandar udara tersibuk di dunia dalam hal lalu lintas penerbangan internasional.

Bergaya di ruang tunggu London Heathrow International Airport terminal 5

London merupakan pusat transportasi udara internasional dengan kawasan udara kota yang terbesar di dunia. Delapan bandar udara menggunakan kata London dalam penamaannya, namun hanya enam dari bandara-bandara tersebut yang disinggahi oleh kebanyakan lalu lintas udara. Bandar Udara International London Heathrow di Hillington, London Barat, merupakan bandar udara tersibuk di dunia menurut lalu lintas penumpang internasional, dan juga merupakan persinggahan utama dari maskapai penerbangan nasional Britania Raya, British Airways. Pada bulan Maret 2008, terminal kelima dari bandar udara ini dibuka. Ada rencana untuk membangun landasan pacu ketiga dan terminal keenam namun rencana ini dibatalkan oleh Pemerintah Koalisi pada tanggal 12 Mei 2010. Pada bulan Mei 2011, sistem angkutan cepat dibuka di Heathrow untuk menghubungkan bandara dengan tempat parkir yang berada di dekatnya. Lalu lintas penerbangan internasional serta penerbangan lokal yang bertarif rendah juga dikelola oleh Bandar Udara London Gatwick, yang terletak di West Sussex, London Selatan.

Kami mencoba peruntungan di konter imigrasi, saat mengisi waktu transit ke Singapura. Untunglah nasib kami baik, meskipun tidak punya visa Inggris, dengan wajah kami yang memelas akhirnya kami diijinkan oleh petugas imigrasi, untuk masuk Inggirs dan dapat menginap di London 1 hari, guna jalan-jalan di dalam kota (city tour). Segera kami melakukan penjadwalan ulang tiket kami di konter British Airways, agar dapat ikut penerbangan hari berikutnya. Untunglah semua petugas baik hati, termasuk menguruskan bagasi yang sudah di dalam perut pesawat, sehingga kami tenang untuk segera membeli tiket Underground atau Tube, kereta bawah tanah tertua di dunia, menuju ke pusat kota London.

 Heathrow2  Ho3dZwKH

Ruang kedatangan penumpang di London Heathrow International Airport terminal 5

Siap-siap masuk ke kota London,
setelah bebas dari pemeriksaan imigrasi

London adalah ibu kota Inggris dan Britania Raya, merupakan wilayah metropolitan terbesar di Britania Raya dan juga zona perkotaan terbesar di Uni Eropa menurut luas wilayah. Berlokasi di sepanjang Sungai Thames, London telah menjadi permukiman utama selama dua milenium sejak didirikan oleh bangsa Romawi pada abad ke-1 dengan nama Londinium. Inti dari London kuno, yaitu City of London, sebagian besar masih tetap mempertahankan batas-batas abad pertengahannya. Sejak abad ke-19, nama London juga digunakan untuk menyebut kota metropolitan yang berkembang di sekitar wilayah inti ini. London adalah kota global terkemuka yang unggul dalam bidang seni, bisnis, pendidikan, hiburan, mode, keuangan, kesehatan, media, layanan profesional, penelitian dan pengembangan, pariwisata, serta transportasi. London, bersama dengan New York City, merupakan pusat keuangan terkemuka di dunia, dan menjadi kota dengan PDB terbesar kelima di dunia, atau yang tertinggi di Eropa. Kota ini juga dikatakan sebagai pusat kebudayaan dunia. London bahkan menjadi kota yang paling sering dikunjungi, dan tercatat sebagai kota dengan bandar udara tersibuk di dunia berdasarkan lalu lintas penumpang internasional. Terdapat 43 universitas di London membentuk konsentrasi pendidikan tinggi terbesar di Eropa. Pada tahun 2012, London menjadi kota pertama yang telah menjadi tuan rumah penyelenggara Olimpiade Musim Panas modern sebanyak tiga kali.

 VI6kE9rJ  sfaNQvuo

dimulai dari terminal 5
London Heathrow International Airport

Naik Underground Piccadily Line menuju Cockfosters turun di Piccadilly Circus

Petualangan kami di London dimulai dari terminal 5 Heathrow International Airport, Minggu, 23 November 2015 sore saat kami naik Underground Piccadily Line menuju Cockfosters bertarif £ 6, untuk turun di Piccadilly Circus. Kami melewati Heathrow terminal 1, 2 & 3, Hatton Cross Hounslow West, Central, East, Osterley, Boston Manor, Northfields, South Ealing, Acton Town, Turnham Green, Stamford Brook, Ravenscourt Park, Hammersmith, Barons Court, Earls Court, Gloucaster Road, South Kensington, Knightsbridge, Hide Park Corner dan Green Park. Penduduk London terdiri dari beragam masyarakat dan budaya dengan lebih dari 300 bahasa dituturkan oleh berbagai etnis. Pada bulan Maret 2011, London tercatat berpenduduk sebanyak 8.174.100 jiwa, atau sekitar 12,5% dari populasi Britania Raya secara keseluruhan. Hal ini menjadikan London sebagai kota terbesar di Uni Eropa menurut jumlah populasi juga menjadi kawasan urban terbesar kedua (setelah Paris) di Uni Eropa dengan jumlah penduduk 8.278.251 jiwa, sedangkan kawasan metropolitan London adalah yang terbesar di Uni Eropa dengan populasinya yang diperkirakan mencapai 12 hingga 14 juta jiwa. Sebelumnya, London juga pernah menjadi kota dengan populasi terbesar di dunia pada periode 1831-1925.

Populasi seperti itulah, sangat elite, santun, rapi dan berbeda jauh dengan warga Rio de Janeiro, Brasil yang kami temui di dalam gerbong Underground Piccadilly Line dan di stasiun Piccadilly Circus, saat kami turun dari Tube. Kami dibantu oleh petugas di konter Tube dan peta yang terpasang di berbagai sudut jalan untuk menuju The Z Hotel Soho, 17 Moor Street, West End Soho, London, UK, W1D 5AP. Di sekitar stasiun itu suasananya sangat ramai dengan para wisatawan yang berjalan santai dalam dingin malam sekitar 7 derajad. Kami segera mampir untuk makan malam menu soto Lamongan di Nusadua Resto, dengan alamat 118-120 Shaftesbury Avenue London W1D5EP dan kami memilih menu Indonesia, karena harganya paling terjangkau, hanya £5. Malam itu kami segera masuk ke kamar 213 The Z Hotel Soho, untuk menghindari dingin yang menggit sampai ke tulang kami, karena kami tidak mengira dan hanya menyiapkan bekal untuk melawan suhu panas yang sampai 34 derajad di Rio de Janeiro, Brasil. Malam itu kami tidur nyenyak, setelah menyiapkan peta jalan ke situs warisan dunia menurut UNESCO di London.

 XGeJokwm  07mwTJkY

Kedinginan di red box depan The Z Hotel Soho

The Z Hotel Soho, 17 Moor Street,
West End Soho, London, UK, W1D 5AP

Kami memulai jalan-jalan di kota London, Inggris dari kamar 203 The Z Hotel Soho, 17 Moor Street, West End Soho, London, UK, W1D 5AP, Senin 23 November 2015 dalam pagi yang dingin menggigit tulang. Kami berjalan kaki ke timur di Moor St menuju ke Romilly St sejauh 102 kaki, terus berbelok ke kanan ke Charing Cross Rd/A400 untuk mencapai Stasiun Leicester Square. Kemudian kami naik kereta api bawah tanah Northern Line melewati stasiun Charing Cross dan turun di Embankment bertarif £ 4,8. London Underground, kereta api bawah tanah atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Tube”, merupakan sistem transportasi massal kereta listrik bawah tanah yang tertua, dan yang kedua terpanjang di dunia. Sejak mulai beroperasi pada tahun 1863, sistem ini telah melayani 270 stasiun. Lebih dari tiga juta perjalanan dilakukan setiap hari melintasi rangkaian rel bawah tanah London, dengan kata lain lebih dari 1 miliar penumpang pertahunnya. London juga dipuji sebagai kota besar yang memiliki transportasi umum terbaik. Di Stasiun Subway Embankment kami turun dan berganti naik Tube District Line menuju Upminster, selama 11 menit melewati, Temple, Blackfriars, Mansion House, Cannon Street, Monument, dan turun di Tower Hill, lalu Berjalan sekitar 5 menit sejauh 0,3 mil untuk menuju ke Menara London.

 kZT4nNKg  NhemlLfA

Populasi yang elite, santun, dan rapi kami temui di dalam gerbong Underground Piccadilly Line

Bangsa Romawi yang mendirikan Londinium, cikal bakal London

Sejak tahun 1899, secara umum dipercaya bahwa nama London berasal dari bahasa Kelt yang bermakna tempat milik orang bernama Londinos. Pada tahun 1998, Richard Coates mengemukakan teorinya bahwa nama London berasal dari sebuah kata dalam bahasa Eropa Lama pra-Kelt yaitu (p)lowonida yang berarti ‘sungai yang terlalu luas untuk diarungi’. Coates berpendapat bahwa nama ini ditujukan untuk menyebut Sungai Thames yang mengalir melintasi London. Dari kata ini, permukiman ini mendapat nama dari bahasa Kelt, yaitu Lowonidonjon. Setelah jatuhnya kekuasaan Romawi pada awal abad ke-5, London menjadi terabaikan. Namun, mulai abad ke-6, sebuah permukiman Anglo-Saxon yang dikenal dengan nama Lundenwic berkembang di sebelah barat kota Romawi yang lama, di lokasi yang saat ini dikenal dengan Covent Garden dan Strand, dan didiami oleh sekitar 10.000–12.000 jiwa. Pada abad ke-9, London berulang kali diserang oleh bangsa Viking sehingga kota itu terpaksa dipindahkan kembali ke kota Londinium Romawi.

Setelah penyatuan Inggris pada abad ke-10, London yang telah menjadi kota terbesar dan pusat perdagangan terpenting di Inggris juga bangkit menjadi pusat politik, meskipun masih harus bersaing dengan Winchester, yang pada saat itu merupakan ibu kota Inggris. Hingga tahun 1889, nama “London” hanya ditujukan untuk menyebut City of London, namun semenjak itu pula nama ini turut digunakan untuk menyebut Country of London, dan saat ini dipergunakan untuk menyebut London Raya secara keseluruhan. Pada tahun 1066 Raja William membangun Menara London yang merupakan pembangunan pertama dari sejumlah besar kastil Norman di Inggris, yang dibangun dengan menggunakan batu. Menara London yang kami kunjungi pagi itu, dilengkapi dengan Jembatan Menara yang dibangun 800 tahun setelahnya, untuk menyeberang Sungai Thames. Jembatan Menara atau Tower Bridge karya arsitek Horace Jones dan John Wolfe Barry ini selesai dibangun pada tahun 1894, merupakan salah satu ikon penting Kota London, dan sering disebut jembatan paling populer di dunia.

 SAMSUNG CAMERA PICTURES  SAMSUNG CAMERA PICTURES

‘sungai yang terlalu luas untuk diarungi’
Sungai Thames yang mengalir melintasi London

Jembatan Menara dibangun pada tahun 1894 sering disebut jembatan paling populer di dunia.

Setelah itu, kami kembali ke Subway Station, naik Tube Circle Line dari Tower Hill menuju Westminster, selama 13 menit melewati Monument, Cannon Street, Mansion House, Blackfriars, Temple, dan Embankment tempat kami naik Distric Line sebelumnya. Dari Westminster Tube Station kami berjalan ke arah timur di Bridge St/A302 menuju ke Victoria Embankment/A3211, berjalan 213 kaki belok kiri ke Victoria Embankment/A3211, untuk mencapai Westminster Pier tempat terdekat untuk melihat Mata London. Mata London atau London Eye yang sering disebut juga Millennium Wheel adalah sebuah roda pengamatan yang terbesar di dunia setinggi 135 meter atau 443 kaki. London Eye berputar di atas Sungai Thames, London, dan mulai beroperasi pada akhir 1999. London Eye dirancang oleh arsitek David Marks dan Julia Barfield dengan 32 buah kapsul pengamatan tertutup yang ber-Air Conditioner di sisi luar lingkarannya. London Eye berputar dengan kecepatan 0,26 meter/detik dan satu kali keliling memakan waktu sekitar 30 menit atau setengah jam. The Eye, sebutan untuk London Eye, diresmikan oleh Perdana Menteri Inggris Tony Blair pada 31 Desember 1999, namun baru dibuka untuk publik pada Maret 2000 karena masalah teknis. London Eye dioperasikan oleh Tussauds Group dan disponsori British Airways yang menggunakan istilah fly dan flight untuk menggambarkan perjalanan di London Eye. Seiring berjalannya waktu, London Eye menjadi objek pariwisata yang terkenal dan menjadi ikon London. Warga London pun menyambut hangat London Eye, lebih hangat dari sambutan terhadap Millennium Dome, dan sampai Juli 2002, sebanyak 8,5 juta orang telah “terbang” di London Eye.

SAMSUNG CAMERA PICTURES  SAMSUNG CAMERA PICTURES

The Eye, sebutan untuk London Eye, diresmikan oleh Perdana Menteri Inggris Tony Blair pada 31 Desember 1999

London Eye atau Millennium Wheel adalah sebuah roda pengamatan yang terbesar di dunia berputar di atas Sungai Thames, London,

Dari Westminster Pier kami berbalik arah untuk menuju ke Derby Gate sejauh 0,1 mil, kemudian belok kanan ke Bridge St/A302 sejauh 131 kaki untuk mencapai Big Ben dengan memotong Westminster Bridge. Big Ben adalah nama sebuah menara jam yang terletak di Istana Westminster. Secara resmi menara ini diberi nama Elizabeth Tower, bertepatan dengan pesta 60 tahun Ratu Elizabeth II memimpin Britania Raya dan Wilayah Persemakmuran. Big Ben selesai dibangun pada tahun 1858, dan pada tanggal 31 Mei 2009 menara ini tepat berusia 150 tahun. Menara ini dibangun sebagai bagian dari rencana pembangunan istana baru oleh Charles Barry, setelah Istana Westminster yang lama telah hancur akibat kebakaran pada 22 Oktober 1834. Menara ini tingginya 96.3 meter dan dibangun dengan gaya Gothik Victoria. Dinding setinggi 61 meter di bawah jam terbuat dari bata yang dilapisi oleh batu, sedangkan puncak menara ditopang dengan rangka besi yang dibuat dari besi leleh. Menara ini dibangun di atas tanah berukuran 15 meter kali 15 meter, fondasi terbuat dari beton setebal 3 meter, pada kedalaman 4 meter di bawah permukaan. Semua sisi jam tingginya 55 meter dari atas tanah.

 Big Ben  SAMSUNG CAMERA PICTURES

Big Ben atau Elizabeth Tower tingginya 96.3 meter. Dinding setinggi 61 meter di bawah jam terbuat dari bata yang dilapisi oleh batu,

Big Ben atau Elizabeth Tower adalah nama sebuah menara jam yang terletak di Istana Westminster.

Jam ini terkenal karena ketepatannya. Pendesainnya adalah seorang pengacara dan horologis amatir Edmund Beckett Denison dan George Airy, seorang Astronom Kerajaan Inggris. Jam ini dibuat oleh Edward John Dent, yang menyelesaikannya pada tahun 1854, namun menara Big Ben belum selesai saat itu, sehingga baru dipasang tahun 1859, bersamaan dengan lonceng Big Ben yang didesain oleh Augustus Pugin. Jam ini diletakan pada sebuah kerangka besi berukuran 7 meter, ditopang dengan 312 kepingan kaca opal, sehingga mirip seperti jendela berwarna. Jarum pendek untuk jam memiliki panjang 2.7 meter dan jarum panjang untuk menit memiliki panjang 4.3 meter.

Loncengnya dilapisi seluruhnya dengan emas. Pada bagian bawah jam, di setiap sisi jam, terdapat tulisan: DOMINE SALVAM FAC REGINAM NOSTRAM VICTORIAM PRIMAM atau Oh Tuhan, lindungi Ratu Victoria yang Pertama. Ketika terjadi ‘Blitz London’ dalam Perang Dunia II, Istana Westminster sempat dibom oleh Jerman pada 10 Mei 1941, dan sebuah bom menghancurkan 2 dari 4 muka jam, sebagian dari atap menara dan ruangan dewan rakyat. Arsitek Sir Giles Gilbert Scott merancang lagi dan jam ini tetap masih berjalan baik, walaupun serangkaian serangan bom besar terus terjadi dan berlangsung sampai Blitz berakhir.

 SAMSUNG CAMERA PICTURES  SAMSUNG CAMERA PICTURES

Lonceng pada Big Bed dilapisi seluruhnya dengan emas.

Red Box, Bis tingkat warna merah, Big Ben dan wanita rapi, ciri khas London.

Dari Big Ben kami melanjutkan perjalanan ke selatan mencapai Parliament Square sejauh 384 kaki atau 2 menit berjalan kaki. Selanjutnya kami berbelok ke kiri melewati St. Margaret’s Church, sejauh 299 kaki atau 1,5 menit untuk mencapai Westminster Abbey. Pada abad ke-11, Raja Edward membangun Westminster Abbey dan Westminster, sebuah kawasan kediaman kerajaan yang terletak tidak jauh ke hulu sungai Thames di pusat kota London. Westminster Abbey adalah sebuah situs warisan dunia dan salah satu bangunan tertua dan paling penting di London sampai tahun 1749. Setelah kemenangannya dalam Pertempuran Hastings, Guillaume sang Penakluk, dimahkotakan sebagai Raja Inggris di Westminster Abbey yang baru saja selesai dibangun pada Hari Natal 1066. Pada 1097, William II memulai pembangunan Westminster Hall, berdekatan dengan lokasi Westminster Abbey. Bangunan ini selanjutnya menjadi dasar bagi terbentuknya Istana Westminster yang baru.

 SAMSUNG CAMERA PICTURES  SAMSUNG CAMERA PICTURES

Patung seukuran sebenarannya dari Perdana Menteri Inggris Winston Churcill
Di Parliament Square

Westminster Abbey adalah sebuah situs warisan dunia dan salah satu bangunan tertua dan paling penting di London sampai tahun 1749.

Dari Westminster Abbey kami berjalan kaki lagi sekitar 4 menit atau sejauh 0,2 mil untuk mengagumi patung seukuran sebenarnya Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln dan Perdana Menteri Inggris Winston Churcill. Kemudian kami ikut antri berfoto dengan banyak wisatawan lain, dari seberang Parliament Square. Dari posisi itu, 4 buah ikon London sangat fantastis diabadikan, yaitu Red Box atau kotak telephon umum berwarna merah, Big ben yang menjulang di sisi Istana Westminster, taxi hitam, dan bis tingkat warna merah yang sering berhenti, karena lampu merah. Jaringan bis kota warna merah di London adalah salah satu jaringan yang terbesar di dunia, yang beroperasi selama 24 jam sehari, dengan lebih dari 8.000 armada bus, 700 rute, dan lebih dari 6 juta penumpang setiap hari kerja. Pada tahun 2003, jaringan bus ini mencatat sekitar 1,5 miliar penumpang dalam setahun, lebih banyak dari penumpang yang berhasil diangkut oleh London Undergroud. Cukup lama kami menantikan kesempatan emas dalam berfoto secara bergantian dengan para wisatawan lain, dan selanjutnya kami masuk Westminster Subway Station, untuk kembali ke bandara karena takut kehabisan waktu dan bekal dana.

Kami naik Circle Line melewati Monument, Cannon Street, Mansion House, Blackfriars, Temple, Embankment, Westminster, St. James’s Park, Victoria, Sloane Square, South Kensington, dan di Gloucester Road kami berganti Piccadilly Line. Dari Gloucester Road, kami naik Underground Piccadily Line melewati Earls Court, Barons Court, Hammersmith, Ravenscourt Park, Stamford Brook, Turnham Green, Acton Town, South Ealing, Northfields, Boston Manor, Osterley, Hounslow East Heathrow, Central, Hounslow West, dan turun di Hatton Cross, untuk berganti Piccadilly Line ke bandara Heathrow terminal 5, karena Piccadilly Line yang kami tumpangi hanya sampai terminal 4.

 SAMSUNG CAMERA PICTURES  A380

Red Box, dan Big Ben, ciri khas London
yang ikonik, dalam Hari Batik International

Bukan di dalam Batik Air, tetapi batik di dalam Airbus A380, enjoy the luxury and the space

Setelah sampai di terminal 5 bandara Heathrow, kami langsung masuk ke ruang tunggu penumpang, tanpa melewati konter imigrasi. Sambil makan siang seadanya di kantin, kami baca ulang tulisan di boarding pass, yaitu Mon 23 Nov BA 11, London Heathrow terminal 5, 19.05. Changi Singapore Terminal 1, Tue 24 Nov, 15.55, duration 12.50, Airbus A380-800. Pesawat terbang Airbus A380 yang diproduksi oleh Airbus S.A.S adalah sebuah pesawat berbadan lebar dua tingkat, dengan empat mesin yang mampu memuat 850 penumpang dalam konfigurasi satu kelas atau 555 penumpang dalam konfigurasi tiga kelas. Pesawat ini melaksanakan penerbangan perdana pada 27 April 2005 dan telah memulai penerbangan komersial pada akhir tahun 2007 setelah ditunda beberapa kali.

Pesawat ini juga merupakan pesawat komersial (pesawat penumpang) terbesar yang pernah dibuat, sehingga dijuluki Superjumbo. Setelah mulai beroperasi, pesawat ini menjadi pesawat super jumbo-jet pertama yang mempuyai ‘double-deck’ penuh tidak seperti competitor pertamanya Boeing 747, yang lantai 2 hanya terdapat di bagian depan cabin. Walaupun pesawat ini mempunyai ukuran yang sangat besar, A380 mengadopsi desain airliner konvensional dengan bodi pesawat silinder yang lebih lebar dari Boeing 747. A380 memakai sayap yang dipasang rendah pada bodinya dengan 4 mesin di sepanjang bentangan sayapnya. Roda pendaratannya terdiri dari 22 roda sehingga beban pada setiap roda sama dengan pada Boeing 747 dan 777. Pesawat ini mempunyai empat mesin buatan Rolls-Royce Trent-900 yang mampu memberikan daya dorong 36.280 kg atau empat mesin kipas turbo Engine Alliance GP 7200 (sebuah perusahaan patungan General Electric dengan Pratt & Whitney), dengan daya dorong 37.003 kg. Sungguh sebuah keajaiban teknologi dirgantara yang sangat menarik untuk kami coba, yang akan mengantar kami pulang ke Indonesia melalui Singapura.

Di terminal 1 Changi Singapore Airport, kami dijemput oleh Ibu Migdiawan, isteri Kol. Pnb. Migdiawan Atase Pertahanan KBRI (Indonesia) di Singapura, untuk menginap semalam di rumah dinasnya. Terima kasih atas semua bantuan dan perhatian dari siapapun, sehingga perjalanan separuh belahan bumi ini, yaitu ke Rio de Janeiro, London dan Singapura, dapat terlaksana dengan luar biasa. Sampai ketemu dalam petualangan selanjutnya.

Ikut pak Jokowi

sekian

*) pelancong Jawa berdana cekak

Rabu, 16 Desember 2015.

Categories
dokter Healthy Life Jalan-jalan vaksinasi

2018 HAPUS TIFUS

Hasil gambar untuk tifus pada anak

HAPUS TIFUS

fx. wikan indrarto*)

Pada akhir Desember 2017, WHO melakukan prakualifikasi vaksin konjugasi pertama untuk tifus, Bharat Biotech’s Typbar-TCV®. Vaksin konjugasi tifus (TCVs) dibandingkan vaksin yang lebih dulu tersedia, adalah produk inovatif yang memiliki kekebalan lebih tahan lama, memerlukan lebih sedikit dosis, dan dapat diberikan kepada anak melalui program imunisasi rutin anak. Fakta bahwa vaksin tersebut telah didahulukan oleh WHO berarti memenuhi standar kualitas, keamanan dan kemanjuran yang dapat diterima. Hal ini membuat vaksin tersebut layak untuk diadakan oleh badan-badan PBB, seperti UNICEF, dan Gavi, the Vaccine Alliance. Apa yang harus dilakukan?

 

Hasil gambar untuk tifus pada anak

Tifus, yang juga dikenal sebagai demam tifoid, adalah penyakit multisistemik yang berpotensi fatal, yang terutama disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica, subspesies enterica serovarian typhi. Perkiraan global tentang beban tifus berkisar antara 11 dan 20 juta kasus. Selain itu, juga dapat menyebabkan sekitar 128.000 – 161.000 kasus kematian tifus setiap tahunnya, terutama pada anak. Masyarakat miskin dan kelompok rentan, seperti anak dengan gizi kurang, seringkali yang paling rentan.

Manifestasi tifus sangat luas, sehingga menjadikan penyakit ini memiliki tantangan diagnostik sejati (a true diagnostic challenge). Kriteria standar untuk diagnosis tifus sejak lama adalah isolasi bakteri dengan pemeriksaan biakan atau kultur, yang secara luas dianggap 100% spesifik. Kultur aspirasi sumsum tulang adalah 90% sensitif sampai setidaknya 5 hari setelah dimulainya antibiotik. Namun demikian, teknik pemeriksaan ini sangat menyakitkan bagi pasien, sehingga mungkin lebih besar kerugian daripada manfaatnya. Kultur dengan bahan darah, sekresi usus (muntahan atau aspirasi duodenum), dan tinja akan positif untuk bakteri S typhi pada sekitar 85% pasien tifus pada minggu pertama demam dan akan menurun sampai 20% dalam perjalanan demam selanjutnya.

 

Hasil gambar untuk tifus pada anak

 

Secara khusus, kultur tinja mungkin positif untuk S typhi beberapa hari setelah menelan bakteri, sebagai akibat pembengkakan sel dendritik intraluminal dalam usus. Pada minggu berikutnya, hasil kultur tinja positif karena bakteri ditumpahkan ke dalam usus melalui kantong empedu. Beberapa (tiga atau lebih) pemeriksaan kultur darah  akan menghasilkan sensitivitas 73% Kultur darah dengan gumpalan darah volume besar (10-30 mL) dapat meningkatkan kemungkinan pendeteksian bakteri. Kultur feses saja menghasilkan sensitivitas kurang dari 50%, dan kultur urin saja bahkan kurang sensitif.

 

Hasil gambar untuk tifus pada anak

 

Pedoman terbaru untuk pengobatan tifus di Asia Selatan diterbitkan oleh ‘Indian Association of Pediatrics’ (IAP) pada bulan Oktober 2016. Untuk pengobatan empiris tifus yang tidak berat, IAP merekomendasikan sefiksim dan, sebagai obat lini kedua adalah azitromisin. Untuk tifus yang berat, direkomendasikan ceftriaxone. Aztreonam dan imipenem adalah obat lini kedua untuk kasus yang berat. Rekomendasi IAP berlaku untuk pengobatan empiris tifus pada pasien dewasa dan anak. Oleh karena itu, untuk strain yang berasal dari luar Asia Selatan dan Asia Tenggara, rekomendasi WHO mungkin masih berlaku, bahwa tifus yang tidak berat harus diobat secara empiris dengan ciprofloxacin oral dan tifus yang berat harus diberikan ciprofloxacin intravena.

 

Hasil gambar untuk tifus pada anak

Pada bulan Oktober 2017, Strategic Advisory Group of Experts (SAGE) tentang imunisasi,  merekomendasikan TCV untuk penggunaan rutin pada anak di atas usia 6 bulan di negara-negara endemik tifoid atau tifus, seperti Indonesia. SAGE juga meminta pengenalan TCV untuk diprioritaskan pada negara-negara dengan tingkat penyakit tifus tertinggi atau telah terjadi resistensi antibiotik terhadap Salmonella Typhi, bakteri yang menyebabkan penyakit tifus. Penggunaan vaksin juga harus membantu mengurangi penggunaan antibiotik untuk pengobatan yang diduga tifus atau demam tifoid, dan dengan demikian membantu memperlambat peningkatan resistensi antibiotik atas Salmonella Typhi yang mengkhawatirkan.

 

Hasil gambar untuk tifus pada anak

Tak lama setelah rekomendasi SAGE, Gavi Board menyetujui pendanaan US $ 85 juta untuk pembelian TCV mulai tahun 2019. Prakualifikasi oleh karena itu merupakan langkah penting yang perlu dilakukan agar TCV tersedia bagi negara berpenghasilan rendah, di tempat yang paling mereka butuhkan. Dan bahkan di negara-negara yang tidak didukung Gavi, prakualifikasi dapat membantu memperlancar perizinan.

Prakualifikasi WHO membantu memastikan bahwa vaksin yang digunakan dalam program imunisasi adalah aman, efektif, dan tepat untuk kebutuhan negara. Prosedur prakualifikasi WHO terdiri dari penilaian yang transparan dan masuk akal secara ilmiah yang mencakup peninjauan kembali atas bukti (reviewing the evidence), menguji konsistensi setiap lot pada produksi vaksin, dan mengunjungi lokasi pabrik pembuatannya.

Bagi jutaan orang yang tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah, tifus adalah penyakit yang selalu ada dan mengancam. Urbanisasi dan perubahan iklim berpotensi meningkatkan beban global tifus. Selain itu, meningkatnya resistensi terhadap pengobatan antibiotik membuat lebih mudah tifus menyebar melalui populasi yang padat di perkotaan, apalagi dengan sistem air dan sanitasi yang tidak memadai. Oleh sebab itu, imunisasi menggunakan Bharat Biotech’s Typbar-TCV® sangat diandalkan untuk menghapus beban global tifus. Apakah anak kita sudah menerimanya?

dr Wikan 6

Sekian

Yogyakarta, 6 Januari 2018

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com.

 

 

Categories
Healthy Life Jalan-jalan

2014 Nyaris di Perancis

NYARIS  DI  PERANCIS
fx. wikan indrarto*)

Pada hari Senin dan Selasa, 8 dan 9 September 2014 kami mengikuti ERS (European Respiratory Society) International Congress 2014 yang diselenggarakan di ICM (Internationales Congress Center Munchen) di Messegelande, Munchen, Bavaria, Jerman. Setelah selesai acara konggres, kami meninggalkan Munchen, Jerman menuju Roma, Italia. Selanjutnya pada Jumat pagi buta yang dingin, 12 September 2014, kami menyebarang ke Paris, Perancis melalui ‘Aeroporti di Roma’ atau Fiomicino Leonardo da Vinci International Airport (FCO) Roma, Italia.

.

Perjalanan ke bandara internasional tersebut, bukan ke bandara domistik Ciampino, ditempuh dalam waktu 40 menit dari CIAM (Centro Internazionale di Animazione Missionaria) via Urbano VIII no 16, Roma (Citta del Vaticano), dengan menggunakan sebuah mobil carteran. Kami melewati arus ‘fortenza’ atau masuk dan diturunkan di area tanpa tulisan ‘riservato’ atau sudah dipesan. Setelah proses lapor diri ke petugas darat maskapai Alitalia, kami mencari pintu ‘partenza’ atau keberangkatan, dengan mampir di ‘postazione di ricarica’ atau tempat mengisi arus batere ‘chardge’ HP. Dengan membawa ‘carta d’imbarco’ atau kartu naik pesawat, kami mantap menuju Paris Charles de Gaulle (CDG), bukan Paris Orly, sebagai ‘destinazioni’ selanjutnya di Perancis. Kami menggunakan pesawat Alitalia AF 1005 sebagai ‘I Partner di Volo’ atau kerjasama maskapai dengan Air France di kelas ‘classica’ atau ekonomi.

baca juga  :  https://dokterwikan.wordpress.com/2018/05/22/2014-nyata-italia/

.

Pesawat kami adalah sebuah Airbus A321, yang merupakan bagian dari 14 buah ‘medio raggio’ atau pesawat jarak menengah dengan 200 seat. Pesawat Alitalia ‘lungo raggio’ atau jarak jauh memiliki 256-293 seat, dan ‘regionali’ atau jarak dekat 88-100 seat. Sekejap di Roma, kami jadi mengenal istilah dalam Bahasa Italia, termasuk ‘flotta Alitalia’ (penerbangan dengan Alitalia), ‘Monaco’ (Munchen), ‘Germania’ (Jerman), ‘Parigi’ (Paris), ‘Francia’ (Perancis), ‘Giacarta’ (Jakarta), ‘Londra’ (London), ‘benvenuti’ (selamat datang), ‘dalla terra fino al cielo’ (dari darat ke angkasa), ‘ristoranti’ (rumah makan), dan ‘alberghi’ (hotel).

 
IMG-20140913-WA0023
 
IMG-20140912-WA0013

Jangan malu bertanya di Perancis
meski English tidak jamak

Mesin tiket elektronik layar sentuh
Lumrah ditemui di Perancis

Setelah penerbangan 1 jam 20 menit, kami tidak lagi disebut sebagai ‘signor and signore’ saat mendarat di Bandara Paris CDG pk. 10.05. Setelah ucapan ‘bienvenido’ atau selamat datang dalam logat setempat, kami segera dibuat terkagum atas kemegahan arsitektur modern ‘Aeroports de Paris CDG’. Paris adalah kota tujuan turis paling populer di dunia, dengan 30 juta wisatawan asing per tahun. Nama latin Paris adalah Lutetia Parisiorum, yang kemudian dipotong menjadi hanya Paris. Nama ini berasal dari suku Parisii Galia, yang berarti “ketel besar”. Pada tahun 1190, Raja Philip Augustus menutup Paris dari kedua tepi dengan dinding tebal, yaitu Louvre sebagai benteng pertahanan kota dan tahun 1200 dibuka Universitas Paris yang menarik pelajar dari seluruh daratan Eropa. Sejak periode ini Paris berkembang sangat cepat dan tertata, yaitu daerah tengah dijadikan institusi pemerintah dan keagamaan, sisi kiri menjadi pusat pendidikan dengan banyak universitas, sementara sisi kanan berkembang sebagai pusat perdagangan, di sekitar pasar sentral Les Halles. Paris sempat kehilangan posisinya sebagai ibukota Perancis ketika diduduki oleh bangsa Burgundia, sekutu Inggris selama Perang Seratus Tahun, tetapi kemudian dijadikan ibukota kembali oleh Raja Charles VII pada tahun 1437. Selama Perang Agama di Perancis, Paris menjadi basis partai Katolik, sampai terjadi pembantaian St. Bartholomew pada tahun 1572. Raja Henry IV mendirikan kembali istana kerajaan di Paris tahun 1594 setelah berpindah agama menjadi Katolik Roma, dengan kalimat terkenalnya Paris sangat pantas merayakan Misa. Selama periode kekacauan, warga Paris memberontak dan keluarga kerajaan meninggalkan kota pada tahun 1648. Raja Louis XIV pindah ke istana kerajaan permanen di Versailles tahun 1682. Seabad kemudian, Paris menjadi pusat Revolusi Perancis, dengan Penyerangan Penjara Bastille tahun 1789 dan kejatuhan monarki tahun 1792.

 
IMG-20140912-WA0004
 
IMG-20140912-WA0016

‘bienvenido’ atau selamat datang
di ‘Aeroports de Paris CDG’

Suasana sore di sebuah sudut kota Paris

Bandara CDG kebanggaan warga Paris ini memiliki 3 buah ‘terminaux’ (1 sampai 3) yang dihubungkan dengan kereta bandara shuttle, dan setiap terminal memiliki 7 buah subterminal (A sampai G). Siang itu kami tidak sempat mencoba ‘Paris par train’, karena ‘Mitry-Claye’ yang di bawah tanah ataupun ‘TGV’ yang di atas tanah, kedua jenis kereta api tersebut tidak ada yang menuju ‘Gare’ (Stasiun) Montparnasse, tujuan pertama kami di dalam kota Paris. Keduanya menuju Gare du Nord, Chatelet-Les Hailes dan Saint-Michael Notre-Dame yang merupakan stasiun jauh lebih besar. Kami segera berganti naik ‘les cars AirFrance’ atau bis bandara line 4 menuju Gare Montparnasse, dengan mencoba membeli 1 tiket elektronik dengan mesin berlayar sentuh, seharga E 17 dengan master card ATM BRI dan membandingkan dengan membayar langsung kepada sopir, 1 tiket lainnya. Bis kami berangkat pk. 12 melewati ‘Gare’ de Lyon. Rute bis Line 3 adalah antara bandara CDG ke Orly Airport, Line 2 CDG ke pusat kota Champs-Elysees, dan Line 1 Orly ke pusat kota Champs-Elysees. Sepanjang perjalanan selama 50 menit, kami akrab dengan berbagai mobil produksi Perancis, yaitu Renault, Peogeot, dan Citroen.

Setelah sampai di ‘Gare’ Montparnasse, kami segera mencari lokasi ‘consignes’ atau penitipan kopor dan ‘depart un autre jour’ atau loket pembelian tiket bukan pada hari keberangkatan. Diselingi berulang tersesat dan berkali-kali kesulitan berkomunikasi, karena besarnya areal bangunan dan sangat sedikitnya petunjuk dalam Bahasa Inggris, untunglah kami berhasil mendapat tiket kereta api Paris ke Lourdes PP. Setelah lega mendapatkan tiket manual, karena gagal kami pesan secara elektronik, terkait mepetnya waktu keberangkatan, kami segera makan siang menjelang sore di kios Francesca, berupa ‘spaghetti pesto’ seharga E 6,5 dan ‘insalata’ seharga E 4,3. Kedua menu Perancis tersebut sulit tertelan ke dalam perut Asia, sampai kami jadi gemetaran saat berdiri di ‘limite de confidentialite’ atau garis pembatas antrian tiket Metro.

 
Eiffel Paris
 
IMG-20140912-WA0008

Menara Eiffel
dari atas jembatan Sungai Seine

Menara Eiffel
kerangka baja yang tinggi dan kokoh

Kami segera naik Metro 4, sebuah kereta api bawah tanah dari Bienventie Montparnasse dengan tiket seharga E 1,5 untuk menuju ke Parc Hotel, yang sudah kami pesan lewat internet sejak di Jogjakarta. Kami melewati berbagai lorong bawah tanah yang berarsitektur kuno, bercabang sangat banyak dan akhirnya tersesat lagi, karena alamat hotel yang kami tuju untuk menyimpan kopor sebelum kami keliling kota, tidak diketahui para penumpang yang mengenal ‘English’. Sebagian besar dari mereka hanya paham ‘French’ dan pertempuran selama 100 tahun, termasuk saat Napoleon (French) melawan Nelson (English) berabad lalu, masih terasa sampai sekarang, termasuk dalam bidang bahasa. Kami segera putar haluan dengan mempelajari lebih cermat, rute Metro. Di Megapolitan Paris ada ‘Ligne de Metro’ kereta di bawah tanah, ‘Roissy’ bis kota, ‘Ligne de Tramway’ trem yang melingkari kota, ‘RER’ kereta yang menjangkau daerah suburb, dan ‘Batobus’ kapal yang melewati sungai Seine yang membelah kota. Ada lagi ‘velib’ atau sepeda sewaan, taxi, dan ‘autolib’ atau mobil sewaan. Kami segera mencari ‘stations ou gares en correspondance’ atau persinggungan 2 jalur kereta di sebuah stasiun yang kecil, agar tidak tersesat lagi. Untunglah kami menemukan Raspail, sebuah stasiun yang menghubungkan hanya 2 line Metro, dan dijamin kami pasti tidak tersesat. Dari Montparnasse Bievenue kami naik M4 tujuan ke Mairie de Montrouge, dengan melewati Vavin. Benar perhitungan kami, karena di Raspail kami tidak kesulitan untuk berganti M6 yang menuju Charles de Gaulle Etoile. Kami melewati Edgar Quinet, Mont, Pasteur, jalur kerata kemudian keluar tanah mencapai Sevres Lecourbe, Cambronne, La Motte Pisquet Grenelle, Dupleix, dan turun di Bir Hakiem. Tujuan kami adalah melihat Menara Eiffel di pinggiran Sungai Seine. Paris bagian tengah yang akan kami kunjungi, meskipun terkena dampak Perang Dunia II, tetapi tidak mengalami kerusakan hebat, karena tidak ada target strategis bagi pengebom Sekutu dan juga karena tampilan budayanya. Jenderal von Choltitz dari Jerman tidak menghancurkan semua monumen Paris sebelum Jerman mundur, seperti yang diperintahkan oleh Adolf Hitler, yang mengunjungi Paris tahun 1940.

Selain itu, kami diingatkan akan epidemi penyakit cacar tahun 1832 dan 1849, yang menyerang penduduk Paris, bahkan epidemi tahun 1832 sendiri menewaskan 20.000 orang dari 650.000 penduduk. Paris juga mengalami dampak besar dari Perang Perancis-Prusia(1870-1871) dan kekacauan karena kejatuhan pemerintahan Kaisar Napoleon III, sementara 20.000 warga Paris tewas pada hari Minggu, yang kemudian dikenal sebagai ‘semaine sanglante’ atau Minggu Berdarah. Paris kembali pulih dengan cepat dari peristiwa tersebut untuk menyelenggarakan ‘Expositions Universelles’ atau Pameran Dunia  (World Expo) pada abad ke-19. Menara Eiffel dibangun sebagai peringatan Revolusi Perancis pada Pameran Universal tahun 1889. Meskipun pada awalnya hanya sebagai tampilan “sementara” untuk keindahan arsitektur, tetapi ternyata menjadi menara tertinggi di dunia hingga tahun 1930. Pada Pameran Universal berikutnya di tahun 1900, ditandai dengan pembukaan jalur Métro de Paris, yang merupakan sarana transportasi massal bawah tanah pertama di dunia.

 
IMG-20140912-WA0010
 
IMG-20140912-WA0015

Dari jembatan Sungai Seine
terlihat banyak kapal pesiar berlalu

Di persimpangan jalan
ke Katedral Notre Dame

Setelah terkagum berulang atas keindahan Menara Eiffel dan Palais de Chaillot, yang tepat berseberangan dan dipisahkan Sungai Seine yang padat wisatawan, kami mendapat penjelasan lokasi hotel kami, dari polisi pariwisata di sana dengan menggunakan smartphone merek Huawe. Kami segera meninggalkan Bir Hakeim Nation, naik M6 sampai Raspail berlawanan arah dengan saat kami datang, untuk berganti M4 jurusan Mairie de Montrouge, sampai Porte d’Orleans. Kami melewati Denfert-Rochereau, Mouton-Duvernet, dan Alesia. Seperti sebelumnya, kami harus bertanya berulang, untuk menuju ke Parc Hotel, sebuah hotel sangat kecil yang sudah kami pesan di 60 Reu Beaunier, yang juga hanya sebuah jalan kecil tidak terkenal, di sebuah megapolitan Paris atau Aire urbaine Paris, yang memiliki penduduk hampir 12 juta jiwa, dan merupakan salah satu wilayah metropolitan terpadat di Eropa.

Setelah beristirahat sejenak di Parc Hotel kamar 521, kami segera memulai petualangan lagi. Kami naik M4 dari Mairie de Montrogue untuk turun di Cite. Kami melewati Alesia, Mouton-Duvernet, Denfert-Rochereau, Raspail, Vavin, Montparasse-Bieveneu, Saint-Placide, Saint-Sulpite, Saint Germaint-des-Pres, Odeon, dan Saint Michel. Dengan tiket seharga E1,5, yang kami beli di mesin dan kadang masih harus minta bantuan penumpang lain, kami turun di Cite dan tersesat lagi, karena masuk ke jalur ‘sortie de secours’ atau pintu keluar saat darurat. Tujuan kami adalah Katedral Notre Dame. Notre Dame de Paris atau “Bunda Kita di Paris”, adalah sebuah gereja besar atau katedral di Paris, yang dipersembahkan kepada Bunda Maria, ibunda Yesus. Katedral berasitektur Gothic di sebelah timur Île de la Cité, yaitu salah satu dari dua pulau di delta Sungai Seine, yang membelah Paris. Selain tujuan wisata, gereja ini juga masih digunakan untuk tempat misa yang dipimpin oleh Uskup Agung Paris. Notre Dame de Paris dianggap sebagai salah satu contoh terbaik dari arsitektur gaya Gothic di Perancis. Untunglah kami mampu menjangkau Katedral Notre Dame yang dibangun pada tahun 1163, namun tidak selesai hingga tahun 1361, kemudian hancur setelah revolusi Perancis. Sebagai katedral terbesar di Perancis, kedua menaranya bergaya Gothic tinggi menjulang, dengan 422 anak tangga, termasuk penambahan patung oleh arsitek Eugene Voillet le-Duc, yang ditulis dalam novel Victor Hugo tahun 1831, berjudul Notre-Dame de Paris atau dikenal dengan The Hunchback of Notre Dame. Semua ini menjadikannya memberi pemandangan paling eksotik di Paris, karena dibangun di sebuah delta yang dikepung arus deras Sungai Siene. Kami juga sempat mengagumi Palais de Justice, Bureau de Poste, dan Hotel de Ville di sekitarnya.

 
IMG-20140912-WA0017
 
IMG-20140912-WA0032

Katedral Notre Dame de Paris
contoh terbaik dari arsitektur gaya Gothic

Hotel de Ville
pernah menjadi city hall Paris

Presiden Nicholas Sarkozy telah meluncurkan sebuah kompetisi arsitektur internasional tahun 2008, untuk pembangunan masa depan metropolitan Paris. Sepuluh tim arsitek, perencana urban, ahli geografi, arsitek lanskap telah memberikan visi mereka membangun metropolis Paris abad ke-21, untuk pembangunan masa depan Paris Raya 40 tahun berikutnya. Tujuannya tidak hanya membangun sebuah metropolis ramah lingkungan, tetapi juga mengintegrasikan pinggiran kota dengan pusat Kota Paris, melalui operasi perencanaan urban berskala besar dan proyek arsitektur unik. Sementara itu, dalam usaha mendorong wajah metropolitan Paris pada kompetisi global, beberapa bangunan pencakar langit supertinggi (300 m atau 1,000 ft dan lebih), telah disetujui sejak tahun 2006 di distrik bisnis La Défense, di barat batas kota, dan dijadwalkan selesai awal tahun 2020-an, melebihi konstruksi Tour Montparnasse pada awal tahun 1970-an. Setelah puas memandang lansekap di sekitar Cite, kami segera pulang kembali ke hotel untuk melihat Tour Montparnasse dengan menggunakan M4. Berbeda dengan yang selama ini kami amati, Metro di Paris memiliki arsitektur stasiun dan rangkaian gerbong kereta dari generasi lama, sehingga belum terkesan modern seperti di kota lain, termasuk petunjuk rute yang tertempel di interior gerbong maupun pengumuman elektronik yang hanya berbahasa Perancis saja. Kembali dari Cite kami naik M4 ke Mairie de Montrouge, untuk turun di Porte d’Orleans. Rencana kami untuk melihat Tour Montparnassea kami batalkan dan kami akan berganti tram T3a ke Porte d’Italie, Porte d’Ivry dan Porte de Choisy, untuk makan menu Asia, karena semuanya itu berada di areal China Town. Rencana tersebut juga kami batalkan, karena kaki sudah sangat penat, apalagi kami tersesat lagi di Porte d’Orleans, yang sebenarnya hanya merupakan stasiun M kecil, dengan 5 ‘sortie’ atau pintu keluar ke arah yang sangat berlawanan. Untung kami dibantu oleh seorang penumpang dengan smartphonenya, untuk mencari hotel kami, yang sebenarnya hanya berjarak 200 m dari stasiun M tersebut.

 
TGV
 
IMG-20140913-WA0014

TGV 8571, kereta api cepat
Ke dan dari Gare Montparnasse Paris

Para peziarah yang sakit di Lourdes
berharap kedamaian dan kesembuhan

Sabtu pagi buta pk. 5, 13 September 2014, kami meninggalkan Parc Hotel dengan naik M4 dari Porte d’Orleans, melewati Alesia, Mouton-Duvernet, Denfert Rochereaut, Raspail, Vavin, dan turun Montparnasse-Bienvenue. Ketersesatan kembali terjadi, yaitu untuk mencari Gare Montparnasse dan akan berganti KA antar kota. Ketersesatan berlanjut, karena Gare tersebut memiliki 5 lantai, untuk mencari ‘consignes’ atau penitipan kopor, padahal hari sebelumnya sudah kami lihat. Ternyata ‘consignes’ baru buka pk. 7, pada hal kereta api kami berangkat pk. 6.28. Akhirnya kami putuskan bahwa kopor kami terpaksa kami bawa juga berziarah ke Lourdes, seperti saat kami tour ke Menara Eiffel hari sebelumnya, meskipun berat, merepotkan, dan hari berikutnya kami akan ke stasiun yang sama, untuk kembali ke bandara.

Kami mencari TGV 8571, kereta api cepat terusan, yang akan berangkat dari Montparnasse Paris pk. 6.28 dan sampai Lourdes pk. 13 seharga E 98 per orang. Kesulitan untuk naik kereta terjadi, karena pengumuman keberadaan kereta hanya dalam French, pada 5 menit sebelum kereta berangkat. Untunglah ada gadis Vietnam yang membantu dalam English, sehingga kami lari ke ‘voie’ atau platform 4. TGV kami tujuan ke Tarbes, akan berhenti di kota Bordeaux St. Jean, Dax, Pau, dan turun di Lourdes. Kereta kami adalah TGV 8571 kelas 2, ‘voiture’ atau gerbong 16, kursi nomor 35 dan 36, bertarif E98/orang. Kami harus mencermati ‘composition des trains’ di papan elektronik, agar tidak salah masuk gerbong. TGV atau kereta api cepat ini sangat elite, bahkan tolietnya dilengkapi ‘eau’ atau air cuci tangan, ‘savon’ atau sabun dan ‘air chaud’ atau pengering tangan basah dengan hembusan udara, dioperasionalkan oleh SNCF dalam ‘l’Alliance Railteam reunit les operateur’ atau bekerja sama dalam ‘Railteam Group High Speed Europe’, dengan DB (Jerman) dan Trenitali (Italia), menjangkau ke seluruh daratan Eropa. Rekor kecepatan TGV tertinggi tercapai pada tanggal 3 April 2007, yaitu 574,8 km/jam. Terdapat 5 jenis TGV, yaitu 85 Rames Sud6Est sepanjang 200m dengan kecepatan 300 km/jam, 19 Rames Pos sepanjang 200 m dengan kecepatan 320 km/jam sampai ke Swis, 60 Rames Resau sepanjang 200 m dengan kecepatan 320 km/jam sampai ke Belgia, Belanda dan Italia, 105 Rames Atlantique sepanjang 238 m dengan kecepatan 300 km/jam. Yang terakhir 209 Rames Duplex Prevues Pour sepanjang 200 m dengan kecepatan 320 km/jam sampai ke Swiss, Jerman, dan Spanyol.

 
IMG-20140913-WA0015
 
IMG-20140914-WA0012

Saat sampai di Gare SNCF Lourdes

Di dalam kereta saat pulang dari Lourdes

Kami sampai di Lourdes, sebuah kota kecil tepat waktu, yaitu pk. 13. Lourdes adalah sebuah kota yang terletak di kaki pegunungan Pyrenees, dengan penduduk sekitar 17.000 jiwa beserta bangunan-bangunan yang didominasi oleh kastil. Lourdes nampak seperti kota lainnya di sebelah barat daya Perancis dengan pasar yang cantik, toko yang kecil, dan kehidupan masyarakatnya yang sederhana. Namun dewasa ini Lourdes menjadi sebuah kota yang cukup sibuk, dengan kehadiran kurang lebih 5 juta peziarah Katolik setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan pada 11 Februari sampai 16 Juli 1858 Perawan Maria Terberkati, ibunda Yesus, menampakkan diri kepada gadis kecil berusia 14 tahun, yang bernama Bernadette Soubirous (sekarang St. Bernadette) di Grotto of Massabielle, sebuah ‘grotto’ atau gua di dekat Lourdes. Setiap tahun dari Maret sampai Oktober, “Sanctuary of Our Lady of Lourdes” adalah sebuah tempat ziarah massal dari seluruh dunia. Mata air dari “grotto” dipercayai memiliki sifat penyembuhan, dan Gereja Katolik Roma telah mengakui 66 penyembuhan ajaib, karena air suci tersebut.

 
IMG-20140913-WA0055
 
IMG-20140913-WA0059

Para ‘pellegrini’ di pusat peziarahan “Sanctuary of Our Lady of Lourdes”

Di depan patung Bunda Maria
’Bunda Yang Dikandung Tanpa Dosa’

Kami mengikuti jejak para ‘pellegrini’ atau peziarah, turun di Stasiun Lourdes, mencari makan menu Asia, karena perut kami sudah lama bergemuruh dan dapat reda karena ‘pork with Thai curry’ atau nasi daging babi seharga E 7,8 dan ‘Soupe Vietnamiene (pho)’ atau sop Vietnam seharga E 10. Segera kami mencari Hotel Marial, 77 reu de la grotte de Lourdes, dengan berjalan kaki menenteng kopor, tersesat lagi dan berbeban berat di jalan yang mendaki, karena salah baca peta dan kurang paham French dari orang yang lewat. Setelah lapar lagi dan gembrobyos, kami baru sadar ternyata ada 2 buah, yang dekat stasiun adalah boulevard de la grotte, tetapi hotel kami di rue de la grotte, yang lebih jauh dan seharusnya naik bis kota. Kami cukup kaget saat resepsionis hotel langsung memanggil dengan nama kami, persis seperti pesanan lewat internet. Setelah beristirahat sejenak di kamar 205, kami segera bergegas menuju “Sanctuary of Our Lady of Lourdes” dengan berjalan kaki. Di sebuah gua di Massabielle, Lourdes, Bunda Maria menampakkan diri sebanyak 18 kali kepada Bernadette Soubirous, memperkenalkan diri sebagai ’Bunda Yang Dikandung Tanpa Dosa’, dan meminta agar sebuah kapel dibangun di tempat penampakan tersebut, serta agar minum dari sebuah sumber air di gua. Pada hal, tidak ada sumber air sama sekali di sana, tetapi ketika Bernadette menggali di suatu tempat yang ditunjukkan kepadanya, sehingga sebuah mata air mulai memancar. Air yang hingga kini masih memancar deras itu, mempunyai daya penyembuhan yang luar biasa, meskipun para ahli ilmu pengetahuan tidak dapat menemukan adanya zat-zat yang berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit. Di dalam gua tersebut kemudian diletakkan patung Maria, yang dibuat dari marmer putih pada tahun 1864, oleh seorang pematung bernama Fabisch. Patung itu menggambarkan sebuah kehadiran yang begitu sederhana, dari seorang wanita cantik yang menampakkan diri kepada Bernadette.

‘Sanctuary of our Lady of Lourdes’ atau tempat ziarah Maria, Ibu Kita Semua, dikelilingi Sungai Pau dan memiliki kontur berbukit batu. Tempat terendah digunakan sebagai lapangan terbuka yang dapat dimasuki melalui jembatan St. Mikael yang melengkung indah di atas Sungai Pau dan Gerbang St. Yoseph, yaitu pintu masuk peziarah dari daratan di seputar Lourdes yang dilengkapi terminal bis kota. Di atas Grotto of Massabielle atau Gua Maria sebagai pusat peziarahan, tidak sekedar dibangun sebuah kapel atau gereja kecil seperti permintaan Bunda Maria kepada Bernadetta, tetapi sekarang telah dibangun 3 buah basilica atau gereja yang sangat besar. Basilica Rosario dibangun di samping gua dan di atasnya dibangun Basilica Bunda Tak Bernoda. Kedua Basilica akan nampak bersusun indah apabila dilihat dari Gerbang St. Michael, melalui ‘esplanade’ atau lapangan luas yang dibawahnya telah dibangun BasilicaSt. Pius X dan di atasnya terdapat patung ‘Perawan Terberkati’ yang menyapa segenap peziarah.

 
IMG-20140913-WA0026
 
IMG-20140913-WA0038

Pengambilan air suci Lourdes
di bawah kapel relikwui St. Bernadetta.

Pintu masuk Basilica Rosario
Yang dibangun di samping Gua Maria

Di dalam kompleks yang sama terdapat sebuah gereja St. Bernadetta dan 6 buah kapel, yaitu kapel adorasi, rekonsiliasi, jalan salib, relikwui St. Bernadetta, St. Yusup dan St. Damianus. Juga dilengkapi dengan 2 buah rute ‘chemin de croix’ atau jalan salib, yaitu yang mendaki melingkari kompleks dengan 15 stasi atau pemberhentian dengan patung kisah sengsara sebesar manusia, dan yang mendatar di lembah Sungai Pau. Pemberhentian pertama adalah ‘Jesus est condamne a mort’ atau Yesus dihukum mati dan pemberhentian kedua adalah ‘Jesus est charge de sa croix’ atau Yesus memanggul salib. Kegiatan liturgi Katolik yang diadakan di situ adalah Misa Kudus berbahasa Inggris pk. 18.15 di Kapel St. Damianus, pk. 9.30 di Basilica St. Pius X, adorasi pk. 9 sampai 23 di Kapel adorasi, misa kudus berbahasa Perancis pk, 9, 12, 14 dan 18. Mandi air terberkati, pk. 9-11 dan 14-16. Yang paling diminati dan utama adalah doa Rosario di Gua pk. 15.30, prosesi perarakan sakramen orang sakit pk. 17 sampai ke Basilica St. Pius X, dan prosesi lilin pk. 21 sampai ‘esplanade’ atau ke lapangan utama. Kami hanya mengikuti doa bersama pemberkatan orang sakit di depan Gua Maria, penyalaan lilin dan pengambilan air suci di bawah kapel relikwui St. Bernadetta.

Kami segera bergegas ke terminal bis kota dekat Gerbang St. Yosep, untuk naik ‘Ligne’ atau jalur S5 melewati Italie, ND Sarte, Alba, Paradis, Mercure, dan turun di Musse de Cire. Setelah disambung jalan kaki sebentar ke hotel, badan langsung terkulai kelelahan. Acara lainnya tidak sempat kami ikuti karena keterbatasan tenaga, termasuk prosesi lilin yang menggambarkan ‘pemandangan iman’ dalam kebersamaan yang terindah sebagai seorang Katolik. Sungguh luar biasa mengikuti prosesi lilin bersama puluhan ribu manusia, dari yang fisiknya normal sampai mental dan fisiknya terganggu, bersama dengan semua umat berusia muda hingga tua, yang berlatar belakang berbagai macam negara, namun sepanjang prosesi terus mengibarkan bendera negara masing-masing, dan menyanyikan lagu Ave Maria-Lourdes berselang seling, dalam berbagai bahasa di dunia, termasuk Bahasa Indonesia, yang hanya dapat kami dengar di kamar.

 
IMG-20140913-WA0046
 

Gambar terkait

Pemberhentian kedua adalah ‘Jesus est charge de sa croix’ Yesus memanggul salib

Prosesi lilin pk. 21 sampai ‘esplanade’
atau lapangan utama dgn lagu Ave Maria

Minggu pagi, 14 September 2014, kami terbangun tepat waktu untuk naik bis kota ‘Ligne’ atau jalur S5 dari Musse de Cire. Bis yang lewat setiap 30 menit ini, kami harus member ‘faire signe au condecteur’ atau melambaikan tangan sebagai tanda mau ikut naik bias kepada sopir, melewati Rotande, Maison de la Presse, Haut rue de la Grotte, Sacre Caeur, Hopital dan turun di Gare atau stasiun SNCF Lourdes, bertarif E 2,4. Pulangnya ke Paris kami mendapat kereta bersambung, yaitu TRAIN 67143 dari Lourdes pk. 7.53, yang berupa kereta bisnis berhenti berulang dengan tiket bebas, tanpa nomor kursi dan gerbong. Kami melewati dan berhenti di Coarraze Nay, Pau, Artix, Orthez, Puyoo, Dax, Mortcenx, Biganos Facture, Pessac dan sampai di Bordeaux St. Jean pk. 11.08. Di stasiun yang sangat besar dengan 6 platform itu, kami harus cepat membaca pengumuman di monitor TV, bahkan harus juga berlari sangat cepat mendorong kopor, sampai gembrobyos untuk mencapai dan duduk nyaman di kereta api cepat TGV 8510 dari Bordeaux St. Jean pk. 11.18 sampai di Montparnasse Paris pk. 14.34, langsung tanpa berhenti.

Sesampai di Montparnasse Paris, kami segera mencari makan siang dan ‘les cars AirFrance’ (bis bandara) line 4. Meskipun kami masih memiliki waktu bebas 3 jam sebelum terbang pulang ke Indonesia, tetapi kami memutuskan menunggu saja ‘Aeroports de Paris CDG’ atau bandara. Kesempatan untuk melihat Avenue des Champs-Elysées, yaitu  jalan yang menghubungkan Concorde dan Arc de Triomphe, yang dijuluki ‘la plus belle avenue du monde’ atau jalan terindah di dunia, terpaksa kami kubur dalam-dalam. Juga keinginan tentang Avenue Montaigne, di sebelah Champs-Élysées, adalah rumah bagi label merek terkenal seperti Chanel, Louis Vuitton (LVMH), Dior dan Givenchy. Selain itu, Place de la Concorde yang terletak di ujung Champs-Élysées, dibangun sebagai “Palace Louis XV” atau situs guillotine yang terkenal itu. Kenangan nyaris hilang tersesat secara berulang di Paris, bahkan kejadian tidak lagi nyaris kehilangan, tetapi benar-benar kehilangan tripod untuk kamera yang tertinggal di meja ‘check in’ atau lapor diri di konter Alitalia di ‘Aeroporti di Roma’ Italia, dan kamera saku di kursi pengunjung Katedral Notre-Dame Paris, adalah bagian dari inspirasi nyaris di Perancis, yang tentu sangat membekas, meski sudah akan terbang pulang.

Sekian

*) pelancong Jawa yang tidak malu bertanya.

ditulis di atas TGV 8510 yang melaju kencang

dari Bordeaux St. Jean ke Montparnasse Paris.

Catatan : kami juga menjadi korban pemogokan global awak kabin Air France, saat pulang dan transit di Changi International Airport di Singapura, bahkan ‘terlantar’ hampir 3 jam.

Categories
anak Healthy Life Jalan-jalan sejarah

2014 Nyata di Italia

NYATA  DI  ITALIA
fx. wikan indrarto*)

Pada hari Senin dan Selasa, 8 dan 9 September 2014 kami mengikuti ERS (European Respiratory Society) International Congress 2014 yang diselenggarakan di ICM (Internationales Congress Center Munchen) di Messegelande, Munchen, Bavaria, Jerman. Setelah selesai acara konggres, kami meninggalkan Munchen, Jerman menuju Roma, Italia dengan menggunakan kereta api internasional City Night Line (CNL) 485, gerbong 255, bed 91 dan 92, Rabu 9 September 2014, berangkat pk. 21.08 dari Hauptbahnhof Central Station. Di dalam gerbong kelas 2 berharga tiket E 333.6, terdapat 6 tempat tidur bertingkat 3, dalam 2 baris pada 1 kamar. Kami berdua dapat bed paling bawah, sehingga tidak perlu memanjat tangga.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/05/22/2014-pancen-munchen/

.

Kereta melewati kota Kufstein di Jerman, Woergl, Jenbach, Inssbruck, Brennero atau Brener di Austria, lalu menyeberang ke Fortezza, Bressanone Brixen, Bolzano, Trento, Rovereto, Verona, Bologna, Firenze, Chiusi, Chiano, Orvieto dan akan turun di Roma Termini. Kami melewati tunnel (terowongan di bawah laut) di antara pulau Sprogo dan Zealand, sepanjang 8 km dalam waktu 4 menit. Kereta CNL berganti lokomotif 2 kali, yaitu di Fortezza dan Chiano, sehingga kami berganti posisi arah jalan juga 2 kali, dan yang terakhir dengan ditarik lokomotif milik Trenitali, sampai memasuki kota Roma.

 
DSC04410
 
DSC04413

City Night Line (CNL) 485
di Hauptbahnhof Munchen Central Station, Jerman

City Night Line (CNL) 485,
gerbong 255, bed 91, dari Jerman
menuju Italia

.

Roma adalah ibu kota Italia, ibu kota Provinsi Roma dan juga ibu kota daerah Lazio. Sebagai kota terbesar di Italia, Roma mempunyai populasi sebesar 2.823.807 jiwa (2004) dengan hampir 4 juta di daerah metropolitan. Sejarah kota ini sangat panjang, hampir 2.800 tahun. Ada bukti arkeologi manusia purba di daerah Roma sekitar 14.000 tahun yang lalu, disebut jaman Palaeolithic dan situs Neolitik. Cerita tradisional yang diwariskan oleh orang-orang Romawi kuno menjelaskan sejarah awal kota mereka dalam legenda dan mitos. Yang paling akrab mitos ini, dan mungkin yang paling terkenal dari semua mitos Romawi, adalah kisah Romulus dan Remus, si kembar yang disusui oleh seekor serigala betina. Mereka memutuskan untuk membangun sebuah kota, tapi pada akhirnya Romulus membunuh saudaranya. Menurut analis, ini terjadi pada 21 April 753 SM. Selama itu, kota ini pernah menjadi pusat Kerajaan Romawi, Republik Romawi dan Kekaisaran Romawi, dan belakangan negara Kepausan, Kerajaan Italia, dan kini Republik Italia.

.

Segera setelah Perang Dunia I selesai, Roma mengalami tumbuhnya kekuatan Fasisme Italia, yang dipimpin oleh Benito Mussolini, yang berbasis di Roma pada tahun 1922. Pada akhirnya Mussolini mendeklarasikan Kekaisaran Italia baru dan bersekutu dengan Nazi Jerman. Dalam Perang Dunia II, karena pengaruh dan kehadiran Vatikan, sebagian besar wilayah kota Roma lolos dari takdir tragis seperti kota-kota Eropa lainnya.

.

Roma telah menjadi situs ziarah Kristen (tepatnya pemeluk agama Katolik Roma) yang utama sejak Abad Pertengahan. Paus adalah pemimpin spiritual pemeluk Katolik dan tokoh paling berpengaruh sejak awal sejarah gereja. Meskipun sempat terjadi perselisihan antara Kepausan dan Kekaisaran Romawi saat Charlemagne, dinobatkan sebagai kaisar pertama di Roma pada tahun 800 oleh Paus Leo III, tetapi Roma sebagai pusat Kepausan dan “kota suci”, tetap berlangsung selama berabad-abad, bahkan ketika Kepausan pindah sebentar ke Avignon di Perancis (1309-1377). Umat Katolik percaya bahwa Vatikan adalah tempat peristirahatan terakhir Santo Petrus, pemimpin murid Yesus Kristus. Orang-orang Katolik dari seluruh dunia mengunjungi Vatikan, yaitu istana kepausan yang berada di dalam kota Roma. Kami juga berkehendak baik sebagai salah satu peziarah.

.

Kami memasuki pelataran Stasiun Kota Roma Termini Rabu, 9 September 2014, pk. 9.20. Segera kami bergegas naik taxi resmi warna putih, sebuah sedan VW, untuk menuju penginapan kami di CIAM (Centro Internazionale di Animazione Missionaria) via Urbano VIII no 16, Roma (Citta del Vaticano). Gedung tempat retret dan kegiatan kerohanian ini dibangun atas ide Mgr. Fulton Sheen Vescove Ausiliare (Uskup New York, USA), yang berada di dalam tembok beteng Vatikan. Kami menginap 2 malam di situ dengan tariff E 160, atas kebaikan hati Rm. Agus Widodo, Pr yang sedang studi S3 di Agustiano College Roma. Basilika (Katedral besar) Santo Petrus adalah tujuan utama peziarah, karena kehadiran paus dan merupakan makam banyak paus sebelumnya di sana, termasuk St. Petrus (St. Peter), yang diakui oleh umat Katolik sebagai Paus pertama.

.

 
Italia
 
DSC04478

Palazzo Senatorio,
Rome City Hall, pusat kota Roma, Italia

CIAM (Centro Internazionale di Animazione Missionaria) di dalam beteng batu bata kota Vatikan

.

Wilayah Kota Vatikan adalah bagian dari Mons Vaticanus (Bukit Vatikan), di mana terdapat Basilika Santo Petrus, Istana Apostolik, Kapel Sistina, dan museum Vatican. Wilayah ini bagian dari Rione Romawi Borgo sejak tahun 1929 dan dipisahkan dari kota Roma oleh sungai Tiber. Daerah itu merupakan bagian kota yang dilindungi oleh benteng batu bata merah sepanjang 3,2 km sejak jaman Paus Leo IV, kemudian diperluas oleh Paus Paul III, Pius IV, dan Urban VIII. Setelah menitipkan barang bawaan di kamar, kami segera bergegas menuju Basilika Santo Petrus. Kami akan mengikuti ‘Al Termine Dell’udienza Generale’ atau audiensi umum dengan Bapa Suci Sri Paus Fransiscus setiap hari Rabu. Kami segera menuju Terminal Gianicolo, melewati stazione San Pietro dan memasuki lapangan Santo Petrus yang sangat penuh peziarah, atas undangan resmi dari Prefettura Della Casa Pontificia (Tahta Suci).

.

 
St. Petro Roma
 
Paus Fransiscus

Dari Indonesia di antara lautan peziarah
dari seluruh dunia di Vatikan City

Bapa Suci Sri Paus Fransiscus
menyapa peziarah
di Lapangan Santo Petrus

.

Diperkirakan bahwa daerah di kota pinggiran kota Roma yang sebelumnya tidak dihuni ini (ager vaticanus), sudah selalu dianggap suci, bahkan sebelum kedatangan agama Kristen perdana. Pada tahun 326, gedung gereja pertama dibangun di atas tempat yang diperkirakan sebagai makam Santo Petrus. Sejak itu, tempat ini semakin banyak dihuni dan menjadi padat penduduk. Ketika Lateran Treaty ditandatangani pada 11 Februari 1929, juga dikenal dengan nama Concordat, oleh Kardinal Gaspari yang mewakili Paus Pius XI dan Benito Mussolini yang mewakili Raja Victor Emmanuel III, Lapangan Santo Petrus di dalam Kota Vatikan, terpisah dari wilayah Italia hanya dengan garis putih di sepanjang batas lapangan, sampai menyentuh Piazza Pio XII. Lapangan Santo Petrus yang kami kunjungi, dapat dicapai melalui Via della Conciliazione, yang membentang dari Sungai Tiber sampai ke Basiliki Santo Petrus. Kompleks besar ini dirancang oleh arsitek Piacentini dan Spaccarelli, atas perintah Diktator Benito Mussolini dan sesuai dengan ide gereja. Menurut Lateran Treaty, Tahta Suci, sebutan lain untuk Vatikan, yang terletak di dalam wilayah Italia, termasuk Istana Paus Castel Gandolfo dan basilika utama, diberikan status ekstrateritorial, mirip dengan kedutaan negara asing. Sejak itu Vatikan atau lebih lengkap disebut sebagai Kota Vatikan, dengan nama resmi Negara Kota Vatikan (Stato della Città del Vaticano), merupakan negara merdeka terkecil di dunia, dari segi luas wilayah yaitu 0,44 km² dan jumlah penduduk.

.

Sejak siang itu kami akrab dengan tulisan benvenuti (selamat datang), livello (level), uscita (exit), uscita di emergenza (pintu egermensi), zucchero (gula), leFrescheBiscottate, croissant (biscuit kering) dan vietato fumare (no smoking). Proprieta Privata (daerah khusus penghuni). Pada sore harinya, kami ditemani Rm. Agus Widodo, Pr memasuki Basilika Santo Petrus. Baik di dalam dan luar gedung basilika St. Petrus, lansekap dan bangunan ini  adalah ekspresi seni dan arsitektur era Renaissance, yang menampilkan karya Michelangelo, Bernini, Raphael dan Bramante. Lokasi pembangun basilika dipilih oleh Kaisar Konstantinus pada abad keempat. Pada zaman Romawi kuno, orang yang meninggal akan dikremasi. Setelah era gereja perdana yang religius, praktek penguburan adalah hal yang wajib dilakukan, seperti  oleh kaum Yahudi dan Kristen.  Monumen pemakaman dan prosesi pemakaman diizinkan di sepanjang jalan menuju ke kota. Orang Kristen pada abad kedua membuat kuburan komunal di katakombe, ruang bawah tanah gereja yang  diukir dari batuan tufa vulkanik lembut, dan menjadi sangat populer hingga saat ini. Pengunjung dapat berkeliling sampai beberapa  kilometer, mulai dari terowongan dengan ukiran makam yang rumit di beberapa situs, dan salah satu yang terbesar dan terpopuler  adalah ‘Catacombs of San Sebastian’. Sore itu kami sangat terkagum-kagum, atas keindahan karya seni Basilika Santo Petrus dan makam para paus di dalam dan di bawah basilica.

.

 
Lansekap Vatikan
 
Katakombe Vatikan
Lansekap Lapangan Santo Petrus, ekspresi seni dan arsitektur era RenaissanceKatakombe di bawah Basilika Santo Petrus di Vatikan City

.

Roma mampu bersaing dengan kota-kota besar Eropa lain dalam hal kekayaan, keagungan, seni, pendidikan dan arsitektur. Periode Renaissance mengubah wajah Roma secara dramatis, dengan karya-karya seperti Pietà oleh Michelangelo dan lukisan-lukisan dinding dari Borgia Apartment, yang semuanya dilakukan selama Paus Innocent. Roma mencapai titik tertinggi kemegahan pada jaman Paus Julius II (1503-1513) dan penerusnya Leo X dan Clement VII. Dalam jangka waktu dua puluh tahun ini, Roma menjadi salah satu pusat seni terbesar di dunia. Basilika Santo Petrus tua yang dibangun oleh Kaisar Konstantinus Agung (yang saat itu berada dalam keadaan rusak), dihancurkan dan yang baru mulai dibangun. Kota ini menjadi panggung artis seperti Ghirlandaio, Perugino, Botticelli dan Bramante, yang membangun kuil San Pietro in Montorio dan merencanakan proyek besar untuk merenovasi Vatikan. Raphael, yang di Roma menjadi salah satu pelukis paling terkenal dari Italia, menciptakan lukisan dinding di Villa Farnesina, para Raphael Rooms, ditambah banyak lukisan terkenal lainnya. Michelangelo mendekorasi langit-langit Kapel Sistina dan membuat patung Musa untuk makam Julius II. Setelah puas melihat tanpa memfoto karena keterbatasan kemampuan kamera, kami segera bergegas untuk menuju Ristorante Cinese Yuqilin. Perut kami menjadi kenyang karena menu Asia, yaitu Omelette (telor dadar), Tou Fu (tahu), Verdure Cinese (sayur). Setelah itu kami membeli tiket bis ‘Biglietto Integrato a Tempo vale 100 minute, 1 sola corsa metro/treno Transporto Publico Locale di ATAC (autobus, tram e metropolitana)’, yang akan kami gunakan untuk jalan-jalan. Tiket angkutan umum di Roma berlaku sesuai waktu untuk masa 100 menit, tidak tergantung jarak dan tujuan.

.

Kamis, 11 September 2014 yang gerimis, kami meninggalkan kamar 211 CIAM dengan berjalan kaki menuju Cavallegeri di dekat Terminal Gianicolo. Kami akan turun di Piezza Venezia dengan naik bis umum. Di Roma bis dan kendaraan lain melintas di jalan yang disusun dari batu tanpa aspal sama sekali, sehingga Roma disebut sebagai Kota Abadi atau The Eternal City. Kami naik bis no 46, berkenalan dengan seorang pastor dari Toledo, Spanyol yang memberkati kami berdua pada akhir perjumpaan kami di terminal bis Piezza Venezia. Pada tahun 1870, saat Roma menjadi ibu kota Kerajaan Italia, gaya bangunan neoklasisisme berpengaruh dominan dalam arsitektur Romawi. Selama periode ini, banyak istana besar dalam gaya neoklasik dibangun, untuk menjadi kantor kementerian, kedutaan besar, dan lembaga tinggi lainnya. Salah satu simbol paling terkenal dari neoklasisisme Romawi adalah Monument Vittorio Emanuele II atau “Altar Tanah”, dimana Makam Prajurit Tak Dikenal, yang mewakili 650.000 orang tentara Italia yang gugur dalam Perang Dunia I. Dengan berjalan kaki dari Piezza Venezia, kami menyeberang Fori Imperiati dan Il Vittoriano : Monumento Della Celebrazione, yang dibangun tahun 1878, untuk mengenang Kaisar Vittorio Emanuele II. Saat ini gedung tersebut digunakan sebagai museum, yaitu Museo Nazionale Emigrazione Italiana. Di belakangnya ada Gereja Santa Maria in Ara Coeli, di dalam sebuah areal arkeologis yang dinamakan Foro di Augusto.

.

 
DSC04479
 
DSC04488

Monumento Della Celebrazione Il Vittoriano, terlihat dari Piazza Venezia

Foro Di Cesare, Situs arkeologis Peninggalan Romawi di Italia

.

Kami segera bergegas dalam ketakjuban arkeologis, memasuki Foro Romano. Sepanjang jalan yang tertata rapi tersebut, dilengkapi banyak patung para kaisar Romawi, termasuk IMP Caesari Nervae Traiano Optimo Principi, dan Piazza e Statua Equestre di Traiano. Kami memasuki ‘I Fori di Roma’ dengan 6 kompleks peninggalan arkeologis, yaitu Foro Romano yang utama, kemudian Foro Di Cesare, Foro di Augusto, Foro Della Pace, Foro di Nerva dan Foro di Traiano. Foro Romano memiliki 31 buah tempat ekskavasi arkeologis, no 1 yaitu Tabularium dan no 31 adalah Via Sacra dan yang utama adalah Basilica di Massenzio. Sedangkan Foro Di Cesare ada 3 tempat yang menarik, yang utama adalah Necropoli protostorica.

.

Menurut sejarah Romawi, areal di dalam tembok kota, yaitu Servian Wall, yang dibangun oleh bangsa Galia pada sekitar tahun 390 SM. Batas ini meliputi sebagian besar perbukitan Esquiline dan Caelian. Servian Wall di Roma dibangun sampai hampir selama 700 tahun, sampai pada tahun 270, saat Kaisar Aurelian mulai membangun Tembok Aurelian. Tembok baru ini memanjang hampir 19 kilometer (12 mil) dan menjadi bagian sistem pertahanan kota pada perang tahun 1870 dan bertahan sampai sekarang dalam kompleks yang disebut ‘I Fori di Roma’. Salah satu simbol dari kejayaan masa lalu Roma adalah Colosseum (70-80 AD), amphitheatre terbesar yang pernah dibangun di jaman Kekaisaran Romawi. Awalnya mampu menampung 60.000 penonton yang duduk, untuk menyaksikan pertempuran gladiator. Monumen penting dari situs Romawi kuno meliputi Roman Forum, Domus Aurea, Pantheon, Kolom Trayanus, Pasar Trajan, Catacombs, Circus Maximus, Baths of Caracalla, Castel Sant’Angelo, Mausoleum Augustus, Ara Pacis, Arch of Constantine, Piramida Cestius, dan Bocca della Verità.

.

 
DSC04499
 
DSC04492
Colosseum, amphitheatre terbesar di jaman Kekaisaran Romawi, dapat menampung 60.000 penontonArch of Constantine
gerbang utama menuju Colosseum

.

Karena kehujanan pada akhir musim panas di Colosseum, kami segera pulang dengan naik bis kota nomor 916 ke arah Tassoni dan akan turun di Cavallegeri. Kami melewati Palazio Altieri, Chiesa Nuova, dan Sassia, untuk menuju Musei Vaticani dan Capella Sistina. Dengan berjalan kaki dari Cavallegeri, kami memasuki kembali areal Lapangan Santo Petrus. Dengan menyeberangi lapangan yang padat peziarah tersebut, kami melewati titik ziarah yang cukup populer yaitu tangga Pontius Pilatus. Menurut tradisi Kristen, tangga ini dibangun menyerupai langkah yang mengarah ke gedung pengadilan jaman Pontius Pilatus menghukum mati Yesus Kristus di Yerusalem. Di situlah, Yesus Kristus berdiri untuk memulai sengsara-Nya dalam perjalanan ke Bukit Golgota. Tangga tersebut dibawa ke Roma oleh St Helena di abad ke-4. Keindahnnya tidak kalah dibandingkan karya arsitektur era Renaissance, yaitu Piazza del Campidoglio oleh Michelangelo, Palazzo del Quirinale (sekarang istana Presiden Republik Italia), Palazzo Venezia, Palazzo Farnese, Palazzo Barberini, Palazzo Chigi (sekarang kantor Perdana Menteri Italia), Palazzo Spada, Palazzo della Cancelleria, dan Villa Farnesina. Juga Panorama Piazza del Campidoglio yang sangat menarik, dengan Patung Berkuda Marcus Aurelius yang gagah, dibangun selama era Baroque. Yang utama adalah Piazza Navona, Piazza di Spagna, Campo de ‘Fiori, Piazza Venezia, Piazza Farnese, Piazza della Rotonda dan Piazza della Minerva. Salah satu contoh yang paling eksotis sebagai simbol seni aliran Baroque adalah Fontana di Trevi oleh Nicola Salvi dan Palazzo Madama, sekarang digunakan sebagai gedung Senat Italia dan Palazzo Montecitorio, sekarang kantor wakil perdana menteri Italia.

.

Pada tahun 1266, saat Paus meninggal, para kardinal bertemu di Viterbo, tetapi tidak mampu menyetujui tentang penggantinya. Masyarakat kota Roma menjadi marah tentang itu, mengunci pintu gedung di mana mereka bertemu, memenjarakan mereka sampai mereka telah memilih paus yang baru. Periode ini menandai lahirnya ‘konklaf’ yang berarti kunci, dalam pemilihan seorang paus baru. Konklaf terakhir pada tahun 2013, dilakukan di Kapel Sistina di dalam kompleks Museum Vatikan, untuk memilih Paus Farnsiscus.

.

 
Tangga Museum Vatikan
 
DSC04508
Tangga Melingkar di Museum VatikanGerbang keluar Mesei Vaticani

.

Setelah melewati Guardaroba (ruang pemeriksaan barang) dan biglietteria (ticket), kami bergegas untuk pulang ke penginapan. Kedua kaki sudah terasa penat berjalan kaki jauh sekali, tetapi kedua mata dan kedalaman hati terasa tergagap, tidak mampu mengucapkan komentar, atas semua keindahan dan keajaiban seni yang telah kami nikmati. Malam ini kami tertidur pulas, setelah menyiapkan diri untuk menuju Rome-Fiumicino Leonardo da Vinci International Airport menuju ke Paris, dini hari Jumat, 12 september 2014.

Akan bersambung dengan petualangan di Perancis

*) pelancong Jawa bermodal niat Ditulis di kamar 116 CIAM (Centro Internazionale di Animazione Missionaria) via Urbano VIII no 16, Roma (Citta del Vaticano).

baca :  https://dokterwikan.wordpress.com/2018/05/23/2014-nyaris-di-perancis/

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?