Kamis, 11 Desember 2025 analisis baru dari komite ahli WHO atau ‘The Global Advisory Committee on Vaccine Safety’ (GACVS), menegaskan tidak ada hubungan sebab akibat antara vaksin dan autis. Bukti ilmiah berdasarkan 31 penelitian antara Januari 2010 dan Agustus 2025 dengan data dari berbagai negara, sangat mendukung profil keamanan positif vaksin dengan adjuvan tiomersal yang digunakan selama masa anak dan kehamilan, dan menegaskan tidak adanya hubungan sebab-akibat vaksin dengan autis.
Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 4 Januari 2026, halaman 8, kolom HUSADA.
Imunisasi MMR dengan adjuvan tiomersal sempat mendapat penolakan dari banyak pihak dan menimbulkan fobia, terkait sebuah skandal penelitian yang besar. Pada tahun 1998, sebuah makalah karya dr. Andrew Wakefield, seorang dokter spesialis bedah, dimuat di jurnal bergengsi ‘Lancet’, tentang 12 kasus anak autis setelah divaksinasi MMR di Inggris. Makalah tersebut ditulis oleh Wakefield, Murch, dan Anthony dengan judul ‘Ileum hiperplasia limfoid nodular, kolitis non-spesifik, dan gangguan perkembangan regresif pada anak’ (Lancet, 1998, 351, halaman 637-41). Banyak media kemudian menampilkan informasi ini kepada publik awam, membuat heboh dan menimbulkan fobia. Dalam serangkaian laporan antara tahun 2004 dan 2010, jurnalis Brian Deer menyelidiki dan mengungkapkan bahwa dr. Wakefield memiliki beberapa konflik kepentingan, telah memanipulasi data, dan bertanggung jawab untuk apa yang kemudian oleh the ‘British Medical Journal’ (BMJ) disebut “an elaborate fraud” atau penipuan yang rumit.
Penyelidikan Brian Deer ini adalah yang terpanjang yang pernah didanai oleh ‘General Medical Council UK’ (GMC). Pada bulan Januari 2010, GMC menilai dr. Wakefield tidak jujur, tidak etis dan tidak berperasaan, sehingga pada tanggal 24 Mei 2010 nama dr. Wakefield telah dihapus dari daftar dokter di Inggris. Menanggapi temuan Deer, pada tahun 2004 redaksi ‘Lancet’ menerbitkan surat untuk menanggapi tuduhan terhadap makalah yang dimuatnya, yang menyatakan tidak ada hubungan antara imunisasi MMR dan kejadian autis (no link existed between MMR and autism). ‘Lancet’ kemudian menarik sebagian laporan penelitian dr. Wakefield pada bulan Februari 2004. Pada tahun 2010, GMC menerbitkan sebuah laporan yang menentang tulisan dr. Wakefield dan menunjukkan bahwa catatan medis anak-anak di rumah sakit tidak mengandung bukti yang cukup meyakinkan, catatan medis di rumah sakit berbeda dengan makalah yang diterbitkan, dan akhirnya ‘Lancet’ pada bulan Februari 2010 mencabut sepenuhnya, isi makalah dr. Wakefield yang diterbitkan tahun 1998.
Autis merupakan kelompok kondisi yang beragam terkait dengan perkembangan otak. Karakteristiknya dapat terdeteksi pada masa anak, tetapi autis seringkali tidak didiagnosis hingga jauh kemudian. Autis memiliki tanda utama kesulitan dalam interaksi sosial dan komunikasi. Karakteristik lainnya adalah pola aktivitas dan perilaku yang tidak lazim, seperti kesulitan dalam transisi dari satu aktivitas ke aktivitas lain, fokus pada detail, dan reaksi yang tidak biasa terhadap sensasi. Mendiagnosis autis sulit dilakukan sebelum usia 12 bulan dan umumnya dimungkinkan pada usia 2 tahun. Ciri khas onsetnya meliputi keterlambatan perkembangan, atau kemunduran, dalam kemampuan bahasa dan sosial, serta pola perilaku yang berulang.
Bukti ilmiah menunjukkan bahwa berbagai faktor, baik genetik maupun lingkungan, berkontribusi terhadap timbulnya autis dengan memengaruhi perkembangan otak dini. Peningkatan kemungkinan autis pada keluarga dengan anggota autis dan khususnya pada kembar identik. Paparan terhadap faktor lingkungan tertentu lebih sering terjadi pada anak autis atau orang tua mereka. Ini termasuk usia orang tua yang lanjut, diabetes ibu selama kehamilan, paparan prenatal terhadap polutan udara atau logam berat tertentu, kelahiran prematur, komplikasi kelahiran yang parah, dan berat badan bayi lahir rendah. Selain itu, telah diteliti kemungkinan hubungan antara penggunaan berbagai obat selama kehamilan dan peningkatan risiko autis, yaitu paparan prenatal terhadap valproat dan karbamazepin, yang digunakan untuk penanganan kejang.
Autis tidak disebabkan oleh pola pengasuhan yang buruk dan tidak terkait dengan pola diet. Autis juga bukan penyakit menular dan tidak dapat menular ke orang lain. Anak autis seringkali memiliki kondisi penyerta, termasuk epilepsi, depresi, kecemasan, dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif.
Anak autis memiliki masalah kesehatan yang sama dengan populasi umum. Namun demikian, mereka mungkin juga memiliki kebutuhan perawatan kesehatan khusus yang berkaitan dengan autis atau kondisi penyerta lainnya. Mereka mungkin lebih rentan terhadap perkembangan penyakit kronis non-menular, karena faktor risiko perilaku seperti kurangnya aktivitas fisik, pola diet yang buruk, dan berisiko lebih besar mengalami kekerasan, cedera, dan pelecehan. Bahkan anak autis lebih mungkin meninggal sebelum waktunya.
Komite GACVS-WHO menegaskan kembali kesimpulan yang sama dengan sebelumnya dari tahun 2002, 2004, dan 2012, yaitu vaksin, termasuk yang mengandung tiomersal, tidak menyebabkan autis. WHO menyarankan semua pihak untuk mengandalkan ilmu pengetahuan terkini dan memastikan kebijakan vaksinasi didasarkan pada bukti terkuat yang tersedia. Upaya vaksinasi anak secara global merupakan salah satu pencapaian terbesar bidang kedokteran dalam meningkatkan kehidupan, mata pencaharian, dan kemakmuran masyarakat.
Selama 50 tahun terakhir, vaksinasi anak, termasuk penggunaan vaksin dengan adjuvan tiomersal, terbukti tidak menyebabkan autis dan telah menyelamatkan setidaknya 154 juta jiwa.
Sekian
Yogyakarta, 17 Desember 2025
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.
Liburan pergantian tahun kami isi dengan menjelajah darat (overland) teritorial Jawa Tengah bagian timur laut, dengan tujuan utama Lasem, di perbatasan utara Jawa Tengah dengan Jawa Timur.
Mengajak dik Bimo (anak kedua, arsitek muda yang sedang WFA) dan dik Laras (anak ketiga, yang sedang menunggu ujian nasional dokter Indonesia UKMPPD), meninggalkan rumah Timoho Yogyakarta untuk menjelajah timur laut Jawa Tengah
Kami meninggalkan Yogyakarta Minggu siang, 28 Desember 2025 dengan tujuan pertama adalah Keraton Kartasura. Memang saat ini tinggallah sebagai bekas keraton dan ibu kota Kesultanan Mataram pada periode 1680–1745. Tepatnya sesudah Keraton Plered dihancuran pada Perang Trunajaya. Keraton ini akhirnya tidak digunakan lagi karena dipindahkan ke Surakarta.
Menikmati kemegahan benteng Keraton Kartasura yang sedang dipugar di Sukoharjo, Jawa Tengah
Keraton Kartasura didirikan oleh Sultan Amangkurat II pada tahun 1680, karena Keraton Plered saat itu telah diduduki Pangeran Puger yang ditugasi mempertahankan Plered oleh Sultan Amangkurat I, ketika terjadi pemberontakan Trunajaya. Pangeran Puger akhirnya dapat dibujuk untuk bergabung ke Kartasura dan mengakui kedaulatan kakaknya sebagai Amangkurat II.
Bekas Keraton Kartasura sekarang terletak di wilayah administratif Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo. Peninggalan yang masih tersisa dari Keraton Kartasura hingga saat ini adalah sebagian dinding cepuri (benteng), baluwarti, taman keraton (Gunung Kunci), gedong piring, gedong obat, dalem pangeran, dan toponim yang merupakan komponen kota Kartasura di masa lalu
Benteng Keraton Kartasura yang terbuat dari bata merah
Akibat pemberontakan Pangeran Trunajaya, maka Sultan Amangkurat I beserta keluarganya mengungsi ke arah barat termasuk putranya yaitu Raden Mas Rahmat. Dalam pengungsiannya, ia mengangkat Raden Mas Rahmat sebagai adipati anom (putra mahkota) yang sebelumnya hak putra mahkota telah diberikan kepada Pangeran Puger.
Amangkurat I beserta keluarga dan para pengikutnya sudah berada di daerah Banyumas. Dalam kondisi yang serba sulit, Amangkurat I jatuh sakit hingga akhirnya wafat. Sesuai wasiatnya sebelum meninggal, Amangkurat I dimakamkan di dekat gurunya di Tegalarum, Adiwerna, Tegal, Jawa Tengah sudah mendekati Jawa Barat.
Sementara itu Raden Mas Rahmat menyatakan diri sebagai susuhunan Mataram menggantikan Amangkurat I yang bergelar Amangkurat II. Pada tahun 1678 Amangkurat II mengerahkan pasukannya dengan dibantu VOC Belanda menyerang Pangeran Trunajaya di Kediri. Pada akhirnya Pangeran Trunajaya tertangkap dan dijatuhi hukuman mati, sehingga kekuasaan Mataram berhasil dipulihkan oleh Amangkurat II.
Usai menumpas Trunajaya, Amangkurat II menarik pasukannya menuju Semarang, kemudian ia memerintahkan kepada Patih Nerangkusuma agar membuka hutan Wanakerta yang akan dibangun menjadi keraton baru. Amangkurat II mulanya merupakan raja tanpa istana karena Keraton Plered telah diduduki adiknya, yaitu Pangeran Puger yang mengangkat diri sebagai Sunan Ngalaga. Pada 28 November 1681 Sunan Ngalaga menyerah kepada Jacob Couper, perwira VOC yang membantu Amangkurat II. Pada Rebo 11 September 1680 Amangkurat II secara resmi menempati Keraton Kartasura dan memindahkan pusat pemerintahannya di sana.
Gerbang Petilasan Keraton Kartasura yang telah hancur karena Geger Pacinan
Kehancuran Keraton Kartasura
Peristiwa Geger Pacinan dan perubahan sikap Pakubuwana II terhadap para pemberontak Tionghoa menjadi awal dari kehancuran Keraton Kartasura. Kekuatan pasukan pemberontak yang kuat berhasil mengalahkan pertahanan pasukan Kartasura di Boyolali, Teras, Mojosongo, dan Ngasem. Serangan ini membuat Van Hohendroff memberikan saran kepada Pakubuwana II agar menyelamatkan diri. Seusai penyerbuan, para pemberontak mulai merampas dan menjarah emas, karungan uang, dan barang-barang berharga lainnya. Selain melakukan penjarahan para pemberontak juga membakar perkampungan di sekitar keraton. Kekosongan kursi raja karena Susuhunan yang melarikan diri, diisi oleh Sunan Kuning yang kekuasaanya juga didukung oleh orang-orang Tionghoa
Peninggalan Kraton Kartasura yang digunakan pada tahun 1680-1742
Siang itu kami membayangkan kemegahan Keraton Kartasura yang merupakan istana Kerajaan Mataram Islam. Keraton megah yang dibangun tahun 1680 oleh Amangkurat II di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, menjadi saksi sejarah sebelum pindah ke Surakarta. Kami hanya melihat reruntuhan benteng (cepuri) dan situs pemakaman keluarga raja yang bersejarah dan kaya akan kisah heroik dan kehancuran, serta menjadi cikal bakal Keraton Surakarta.
Masjid Hastana Karaton Kartasura di Desa Ngadirejo, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, sekitar 11 km dari Keraton Surakarta.
Gerbang Petilasan Keraton Kartasura yang dibangun tahun 1680
Peninggalan: Yang tersisa hanyalah reruntuhan benteng bata merah (benteng cepuri dan baluwarti) serta situs makam keluarga raja (seperti makam keluarga Pakubuwana IX dan X).
Bentuk asli Benteng Cepuri Keraton Kartasura, benteng berbentuk segi delapan dengan dinding bata tanpa perekat, disebut juga Benteng Sri Penganti.
Setelah puas terkagum dengan bayangan kemegahan Keraton Kartasura yang saat ini tinggal petilasannya saja, kami segera melanjutkan penjelajahan darat (overland) menuju Petilasan (peninggalan) Kerajaan Pajang yang terletak di perbatasan Desa Pajang, Kota Surakarta dengan Desa Makamhaji, Kabupaten Sukoharjo. Petilasan Pajang ini telah menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang menawarkan pengalaman mendalam tentang perjalanan sejarah Nusantara, khususnya Jawa. Situs bersejarah ini merupakan saksi bisu kejayaan salah satu kerajaan Islam penting di Tanah Jawa pada abad ke-16.
Pintu gerbang Petilasan Keraton Pajang di Surakarta
Kerajaan Pajang didirikan oleh Sultan Hadiwijaya atau yang lebih dikenal sebagai Jaka Tingkir pada tahun 1568, setelah runtuhnya Kerajaan Demak Bintaro. Sebagai penerus Kerajaan Demak, Pajang memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Jawa dan perkembangan budaya Jawa.
Nuansa sakral, tenang dan teduh di areal Petilasan Keraton Pajang
Meskipun tidak ada istana yang tersisa, area Petilasan Kerajaan Pajang menawarkan nuansa yang tenang dan sakral. Pengunjung dapat melihat beberapa peninggalan seperti gapura, batu berukir, dan makam yang diyakini terkait dengan tokoh-tokoh penting kerajaan.
Salah satu daya tarik utama adalah Makam Sultan Hadiwijaya yang terletak di Desa Makamhaji, Kartasura. Kami tidak sempat mengunjungi makam ini siang itu, meski sering menjadi tujuan ziarah bagi masyarakat yang ingin menghormati leluhur sekaligus berdoa. Di depan makam terdapat gapura berbentuk paduraksa dengan hiasan ukiran kayu dan tembok batu bata bertuliskan kaligrafi Arab yang mengelilingi makam.
Selain makam, terdapat pula peninggalan berupa artefak seperti batu bata kuno dan struktur bangunan yang menjadi petunjuk penting bagi arkeolog dalam mempelajari sejarah Kerajaan Pajang. Meski banyak bagian yang telah terkikis oleh waktu, sisa-sisa ini tetap memberikan gambaran tentang kehidupan di masa kejayaan Pajang.
Suasana di dalam Petilasan Kerajaan Pajang
Petilasan Kerajaan Pajang juga menjadi lokasi untuk berbagai acara budaya dan tradisional. Pada malam Jumat Legi, masyarakat setempat menggelar kegiatan tahlil bersama dengan menyediakan bancakan sego liwet sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur.
Selanjutnya kami santap siang di Warung Pedas Cak Kend seputaran Laweyan, lanjut mengunjungi Masjid Raya Sheikh Zayed, Solo. Masjid ini dibangun pada tahun 2021, dan merupakan replika dari Masjid Sheikh Zayed di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Masjid ini merupakan hibah dari Pemerintah Uni Emirat Arab kepada Pemerintah Indonesia.
Masjid Agung Sheikh Zayed di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab yang kami kunjungi 10 Mei 2025
Masjid ini kemudian dirancang mirip aslinya dengan empat menara menjulang, satu kubah utama, dikelilingi 81 kubah-kubah kecil, dan ornamen bangunan Timur Tengah. Diresmikan pada 14 November 2022 oleh Presiden Joko Widodo dan Presiden Uni Emirat Arab Mohamed bin Zayed Al Nahyan, masjid ini menggunakan karpet bermotif batik serta tembok di dekat imam bertuliskan Asmaulhusna.
Masjid Raya Sheikh Zayed, di Gilingan Solo (Surakarta) yang dibangun pada tahun 2021
Sebelum menjadi masjid, lokasi tempat masjid ini berdiri dahulu merupakan bekas depot minyak Pertamina Gilingan. Seiring bertumbuhnya Kota Surakarta, depot minyak Gilingan menjadi semakin tidak efektif untuk distribusi BBM karena berlokasi di tengah-tengah permukiman. Akibatnya, rencana distribusi minyak menggunakan jaringan perpipaan ke depo ini menjadi gagal karena persoalan biaya. Depot minyak ini ditutup pada tahun 2008 karena beroperasinya depot baru di Boyolali. Pada tahun 2012, Pertamina merencanakan membangun hotel dan gedung pameran serta kawasan wisata kuliner di atas lahan depot minyak tersebut, tetapi akhirnya gagal terencana. Sebagian kecil dari lahan eks-depot minyak tersebut akhirnya dijadikan stasiun pengisian bahan bakar.
Masjid megah hasil rancangan PT Arkonin dan PT Airmas Asri Architects
Pada tahun 2019, Luhut Binsar Pandjaitan, yang menjabat sebagai Menko Marinves, membeberkan rencana UEA untuk membangun masjid di atas lahan depot minyak Gilingan. Terkait dengan hal tersebut, Duta Besar UEA kemudian meninjau lokasi eks-depot minyak Gilingan tersebut sebagai lokasi pembangunan masjid, sebagaimana rencana Muhammad bin Zayid Al Nahyan.
PT Arkonin dan PT Airmas Asri Architects ditunjuk sebagai firma arsitektur yang mendesain bangunan masjid, atas mandat Pemerintah UEA. Sementara itu, proses pembangunan dilakukan oleh kontraktor Waskita Karya. Masjid ini diresmikan pada 14 November 2022 oleh Presiden Joko Widodo dan Presiden Uni Emirat Arab Mohamed bin Zayed Al Nahyan. Selanjutnya, Wakil Presiden Ma’ruf Amin resmi membuka masjid ini untuk seluruh kegiatan keagamaan umum pada 28 Februari 2023.
Yang membedakan masjid ini dan masjid aslinya yang terletak di Abu Dhabi adalah ukurannya yang lebih kecil, dengan luas hanya 2,7 ha (27.000 m2) atau hanya sekitar 22,5% dari lahan masjid aslinya yang seluas 12 ha (120.000 m2).
Masjid Zayed di Surakarta yang diresmikan pada 14 November 2022 oleh Presiden Joko Widodo dan Presiden Uni Emirat Arab Mohamed bin Zayed Al Nahyan.
Bentuk dasarnya masih mengikuti masjid aslinya, yang masih kental dengan gaya arsitektur Maroko, Asia Selatan, dan Timur Tengah, dengan ukurannya yang lebih kecil. Di samping ukuran masjidnya yang kecil, yang menjadi ciri khas dari masjid ini dibandingkan dengan masjid aslinya adalah adaptasi motif-motif batik ke tiap-tiap komponen bangunan, seperti kawung, kembang, dan bokor kencono. Dengan luasnya itu, masjid ini diklaim mampu menampung 10.000 jemaah.
Setelah berdesakan dengan pengunjung lain dalam mencari posisi terbaik untuk melihat kemegahan Masjid Zayed, kami segera melanjutkan petualangan ke Jembatan Layang Simpang Joglo. Jembatan indah ini merupakan sebuah jalur rel layang dan jembatan kereta api yang berlokasi di Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Jalur rel layang ini menghubungkan Solo Balapan dengan jalur kereta api lintas utara Jawa.
Jalur rel layang Simpang Joglo menjadi salah satu jalur rel layang kereta api di Jawa Tengah. Terdapat jalur rel layang lainnya di Indonesia, beberapa diantaranya yaitu jalur kereta api Kadipiro–Bandara Adi Soemarmo, jalur kereta api Jakarta Kota–Manggarai–Jatinegara, jalur kereta api cepat Jakarta–Bandung, jalur kereta api Kedundang–YIA, dan jalur kereta api Medan.
Jembatan Simpang Joglo melintas di atas persimpangan 7 arah di ujung utara Kota Surakarta.
Peletakan batu pertama pembangunan jalur rel layang dan jembatan Simpang Joglo dilakukan pada 8 Januari 2022. Pembangunan dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian melalui Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Semarang dengan KSO antara Hutama Karya dan Wijaya Karya. Jalur rel layang Simpang Joglo memiliki panjang 270 meter.
Setelah terkagum dengan kemegahan jembatan besi berwarna merah yang melintasi simpang Joglo, segera dik Laras mengambil alih kemudi untuk melibas Jalan Tol Solo–Ngawi. Jalan ini adalah jalan tol sepanjang 90 km yang menghubungkan Kota Surakarta, Jawa Tengah dengan Ngawi, Jawa Timur. Jalan tol ini melewati wilayah Boyolali, Karanganyar, Sragen, dan Ngawi. Jalan tol ini merupakan bagian dari jaringan Jalan Tol Trans-Jawa, menghubungkan kota–kota utama di Pulau Jawa.
Dik Laras melahap jalan tol Solo Ngawi, yang dipagari pohon trembesi yang ditanam Djarum Faoundation
Pada 29 Maret 2018, Presiden Joko Widodo meresmikan Jalan Tol Solo–Ngawi ruas Ngawi-Klitik bersamaan dengan Jalan Tol Ngawi-Kertosono ruas Klitik-Wilangan. Untuk ruas Kartasura – Sragen sepanjang 35 kilometer telah diresmikan pada 16 Juli 2018, sedangkan ruas Sragen – Ngawi sepanjang 55 kilometer baru diresmikan pada 28 November 2018.
Minggu sore, 28 Desember 2025 kami menuju pemberhentian pertama, yaitu Ngawi, di Jawa Timur. Kata Ngawi (Bahasa Jawa Kuno : awi yang berarti bambu) menandakan bahwa di daerah ini terdapat banyak pohon bambu, yang tumbuh subur di areal pertemuan 2 sungai besar, yaitu Bengawan Solo dan Bengawan Madiun. Wilayah Ngawi telah menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit ketika Raja Hayam Wuruk memerintah, tercermin dalam Prasasti Canggu 7 Juli 1358 M (1280 dalam kalender Saka).
Melawan silau matahari sore di gerbang Benteng Van den Bosch (Benteng Pendem), yaitu benteng di Kelurahan Pelem, Ngawi.
Tujuan wisata pertama kami adalah Benteng Van den Bosch (Benteng Pendem), yaitu benteng di Kelurahan Pelem, Ngawi. Benteng ini memiliki ukuran bangunan 165 m x 80 m dengan luas tanah 15 Ha. Letak benteng ini sangat strategis karena berada di dekat muara sungai Bengawan Madiun ke sungai Bengawan Solo. Benteng ini dulu sengaja dibuat lebih rendah dari tanah sekitar yang dikelilingi oleh tanah tinggi, agar tersembunyi dan memenuhi unsur ideal bagi suatu benteng pertahanan, sehingga terlihat dari luar terpendam dan disebut Benteng Pendem, nama serupa seperti Benteng Willem di Ambarawa. Hebatnya arsitek Belanda saat itu dalam mendesain saluran drainase, walaupun berposisi lebih rendah dari tanah sekitarnya, lokasi Benteng mampu terhindar dari banjir. Dipilihnya lokasi itu untuk pembangunan Benteng Van Den Bosch karena Sungai Bengawan Solo dan Bengawan Madiun kala itu merupakan jalur perdagangan strategis, dari Surakarta, Ngawi menuju Gresik, demikian juga Madiun-Ngawi dengan tujuan yang sama.
Situs Benteng Pendem di Ngawi
Pada abad 19 Ngawi menjadi salah satu pusat perdagangan dan pusat pertahanan Belanda dalam Perang Diponegoro (1825-1830). Perlawanan dipimpin oleh Adipati Judodiningrat dan Raden Tumenggung Surodirjo, serta salah satu pengikut Pangeran Diponegoro bernama Wirotani. Pada tahun 1825 Ngawi berhasil direbut dan diduduki oleh Belanda yang kemudian membangun sebuah benteng pada tahun 1845. Benteng ini dihuni tentara Belanda, terdiri dari 250 orang bersenjatakan bedil, 6 meriam api dan 60 orang kavaleri dipimpin oleh Johannes van den Bosch.
Benteng Van den Bosch yang masih nampak gagah dan anggun
Beristirahat sejenak di dalam benteng yang dahulu dihuni tentara Belanda yang dipimpin oleh Johannes van den Bosch.
Melihat usaha Belanda dalam menguasai wilayah Ngawi, Pangeran Diponegoro tidak tinggal diam, bersama salah satu pengikut setianya yaitu Kyai Haji Muhammad Nursalim, dia melakukan perlawanan terhadap Belanda serta mengajarkan Agama Islam dan memotivasi perlawanan terhadap Belanda kepada Masyarakat Ngawi. Konon Kyai Haji Muhammad Nursalim memiliki kekuatan kebal terhadap peluru dan senjata. Belanda membuat siasat untuk menangkap dan kemudian mengubur Kyai Haji Muhammad Nursalim hidup-hidup di sekitar zona inti Benteng Van Den Bosch. Lokasi makam bertempat di ruang utama benteng, tepatnya berada di sebelah museum mini yang dibatasi dengan kaca.
Bangunan paling megah di dekat Makam Kyai Haji Muhammad Nursalim di sekitar zona inti Benteng Van Den Bosch Ngawi
Sudut Benteng Van den Bosch yang nampak kokoh dalam pertahanan, tetapi tetap artistik dalam keindahan
Setelah puas menikmati kemegahan dan kewibawaan bangunan benteng Van den Bosch di Ngawi yang ikonik, kami segera menuju hotel. Di tengah tantangan ekonomi yang melanda sektor pariwisata, Nata Azana Hotel tetap percaya diri untuk menjalankan bisnisnya di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Meskipun sempat dibilang investasi gila oleh sejumlah pengamat, hotel yang berlokasi strategis ini tetap optimis untuk meraih sukses. Nata Azzana Hotel resmi dibuka pada Senin, 3 Februari 2025, hotel ini menghadirkan pengalaman menginap mewah di pusat Kota Ngawi.
Bergaya di pinggir kolam renang di Hotel Nata Azana Ngawi
Nata Azana Hotel dengan konsep yang menggabungkan kenyamanan modern dan nuansa tradisional. Dengan puluhan kamar yang tersedia, hotel ini menawarkan berbagai fasilitas, termasuk kolam renang, restoran, dan ruang pertemuan yang siap digunakan untuk berbagai acara.
Peresmian Nata Azzana Hotel Senin, 3 Februari 2025 dihadiri langsung oleh Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono, Wakil Bupati, serta jajaran Forkopimda, termasuk Ketua DPRD dan seluruh Kepala Dinas setempat. Hotel ini terletak di Desa Grudo dekat dengan exit toll Ngawi.
Lomba renang internal keluarga kami di Hotel Nata Azzana Nagwi, yang dimenangkan oleh pengguna kostum yang paling minimalis
Malam itu dik Bimo melanjutkan rendering WFA proyek resort di Bali, sedangkan dik Laras belajar menyiapkan diri menghadapi ujian negara kedokteran UKMPPD, di kamar 517 Hotel Nata Azzana Ngawi. Kami berdua mendampinginya sambil leyeh-leyeh
Minggu malam, 28 Desember 2025
(bersambung)
NGAWI
(sambungan)
Senin, 29 Desember 2025 pagi kami bangun tidur di kamar 517 Hotel Nata Azzana Ngawi dan segera bergegas untuk mengikuti misa kudus harian di Gereja Santo Yosef Paroki Ngawi, pk. 5.30. Gereja Katolik Roma ini berada di wilayah Keuskupan Surabaya, yang terletak di Kelurahan Ketanggi, Kecamatan Ngawi, Ngawi.
Bangunan gedung gereja yang kami kunjungi pagi itu sudah ada dan digunakan sebagai tempat ibadah bagi umat Katolik pada zaman itu. Bentuk bangunan menunjukkan secara jelas bahwa gereja tersebut merupakan peninggalan zaman Hindia Belanda yang digunakan untuk melakukan pelayanan rohani bagi orang-orang Katolik zaman itu.
Interior Gereja Katolik Santo Yosef Ngawi, Jawa Timur setelah misa kudus harian selesai
Pada tahun 1955, Pastor Andre van Rijnsoever, CM, datang dari Madiun ke Ngawi bersama seorang pemuda bernama Sanen dan mengelola gedung gereja di Jalan Jaksa Agung Suprapto No 43, yang terletak di depan Polres Ngawi. Hingga saat ini, tata letak dan bentuk bangunan gereja tersebut masih asli dan belum mengalami perubahan. Lahan di belakang gereja yang berdampingan dengan rumah dinas Dandim Ngawi dulunya adalah tempat pembantaian orang-orang Belanda pada masa penjajahan Jepang.
Pada Desember 1968, umat Ngawi mulai merayakan Hari Natal kelahiran Yesus Kristus di gereja, menandakan kebahagiaan umat saat itu. Kemudian pada tahun 1969, Pastor Filippo Catini, CM, menetap di gereja untuk menggembalakan umat Ngawi. Pada 9 Juni 1969, Uskup Surabaya Mgr. Johanes Klooster, CM, memberikan Sakramen Penguatan pertama kali di gereja tersebut Ngawi.
Pagi itu misa kudus dipimpin oleh RD. Yakobus Budi Nuroto, pastor kepala paroki yang menyelesaikan pendidikan teologi dan filsafatnya di Universitas Sanata Dharma (USD) di kampus Kentungan Sleman DI Yogyakarta.
Bersama RD. Yakobus Budi Nuroto, pastor kepala paroki Santo Yosef Ngawi
Tradisi menuliskan pribadi Yusuf, suami Maria sebagai seorang tukang kayu di kota Nazareth.Ia seorang bangsawan yang saleh dan sederhana. Darah kebangsawanannya mengalir dari Raja Daud leluhurnya. Kesucian dan kesalehannya terlihat di dalam ketaatannya pada kehendak Allah untuk menerima Maria sebagai istrinya serta mendampingi Maria dalam membesarkan Yesus, Putera Allah yang menjadi manusia. Kesederhanaannya terlihat dalam pekerjaannya sebagai seorang tukang kayu, dan cara hidupnya yang biasa-biasa saja di dalam masyarakat.
Bergaya di depan Kantor Bupati Ngawi, Jawa Timur
Dalam pribadi Yusuf, pekerjaan tangan memperoleh suatu dimensi ilahi. Kerja meningkatkan harkat dan martabat manusia sebagai ciptaan Allah dan memungkinkan manusia turut serta di dalam karya penciptaan dan penyelamatan Allah. Atas dasar inilah gereja pada masa kepemimpinan Paus Pius XII menetapkan tanggal 1 Mei sebagai hari Raya Santo Yusuf Pekerja, sekaligus menetapkan sebagai Hari Buruh. Yusuf selanjutnya diangkat sebagai pelindung para karyawan/buruh yang bekerja setiap hari untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Sarapan bersama
Segera kami menikmati santap pagi bersama di Arum Dalu di lantai 1 Hotel Nata Azzana Ngawi, sebelum melanjutkan petualangan. Dik Bimo dan dik Laras kembali terpaku di depan laptop mereka masing-masing, dalam mengerjakan tugasnya yang tetap ada saat liburan pergantian tahun. Kami berdua lanjut mengenang kejadian tahun 1888, saat perusahaan Hindia Belanda yang bergerak di bidang perkebunan, bernama Verenigde Vorstenlandsche Cultuur Maatschappij (VVCM) mendirikan sebuah Pabrik Gula yang berlokasi di Desa Tepas, Kecamatan Geneng, Ngawi dan bernama Pabrik Gula Soedhono, yang masih operasional sampai sekarang.
Gerbang Stasiun Geneng, di seberang Pabrik Gula Soedhono
Pabrik Gula Soedhono di seberang Stasiun Geneng adalah pabrik gula yang produksinya berbasis tebu dan telah beroperasi sejak tahun 1888. Pabrik Gula Soedhono didirikan pada tahun 1888 oleh perusahaan Verenigde Vorsendsche Cultuur Maatschappij (VVCM). Pada tanggal 10 Desember 1957, direksi sebagai pimpinan tertinggi perusahaan negara yang berpusat di Jakarta melakukan perubahan struktur organisasi perkebunan dari sentralisasi menjadi desentralisasi dan status PG Soedhono menjadi Perusahaan Perkebunan Negara (PPN).
Gerbang Pabrik Gula (PG) Soedhono yang tinggi menjulang
Dalam setiap musim giling PG Soedhono sudah tidak mengaktifkan lagi loko yang ada untuk menarik tebu dari kebun ke pabrik, hal ini sebagai dampak dari usia loko dan mahalnya biaya perawatan. Untuk mengatasi hal tersebut PG Soedhono menggunakan armada truck untuk mengangkut tebu dari kebun ke pabrik dengan sistem kontrak. Hal ini dapat menghemat biaya pemeliharaan serta mempercepat proses penggilingan tebu. Pada tahun ini jumlah armada yang dipakai dari jumlah tebu digiling sebanyak 160 truck.
Cerobong asap PG Soedhono nampak menjulang di kejauhan
Tujuan petualangan kami sekanjutnya adalah Museum Trinil, yaitu museum khusus yang mengkoleksi beragam jenis fosil manusia dan hewan purba, yang dirintis oleh Wirodiharjo sejak tahun 1967. Pada tanggal 20 November 1991 Museum Trinil diresmikan oleh Soelarso (Gubernur Jawa Timur saat itu). Situs Trinil diteliti oleh seorang dokter militer Hindia Belanda bernama Eugene Dubois, yang melakukan penelitian pada 1891-1893. Penemuannya ialah fosil manusia purba Pithecanthropus Erectus dan tulang panggul gajah jenis Stegodon Trigonochepslus dan fosil tulang pengumpil gajah. Museum ini kelilingi oleh aliran Sungai Bengawan Solo.
Gerbang utama Museum Trinil di Ngawi
Situs ini mulai terkenal di dunia setelah Eugene Dubois memulai penelitiannya di wilayah Ngawi pada tahun 1891, meliputi tiga desa: Desa Kawu, Desa Gemarang, dan Desa Ngancar. Nama “Trinil” sendiri berasal dari tiga desa tersebut (tri) dan Sungai Bengawan Solo yang mengalir di sekitarnya, yang pada saat itu memiliki debit air melimpah seperti Sungai Nil (nil).
Titik Nol Prasejarah dunia di Museum Trinil, Ngawi
Di Trinil, Eugene Dubois menorehkan penemuan penting. Pada tahun 1891, ia menemukan atap tengkorak dan gigi manusia yang mirip kera. Setahun kemudian, tulang paha kiri manusia purba pun ditemukan. Eugene Dubois kemudian menamai temuannya Pithecanthropus erectus, yang berarti “manusia kera yang berjalan tegak”. Penemuan revolusioner ini menjadi tonggak awal penelitian situs-situs Pleistosen dan perkembangan paleoantropologi di Indonesia. Trinil pun mendunia sebagai situs penting dalam evolusi manusia pada akhir abad ke-19, menarik para peneliti lain untuk mengikuti jejak Eugene Dubois dan melakukan penelitian di sana.
Pithecanthropus erectus, yang berarti “manusia kera yang berjalan tegak” di Museum Trinil, Ngawi
Situs Trinil, salah satu situs penting di Indonesia dari era Pleistosen, menyimpan banyak informasi penting tentang kehidupan prasejarah, termasuk manusia, budaya, dan lingkungan pada masa lampau. Situs ini mulai terkenal di dunia setelah Eugene Dubois memulai penelitiannya di wilayah Ngawi pada tahun 1891.
Gajah purba era Pleistosen yang fosilnya ditemukan oleh Eugene Dubois di situs Trinil, Ngawi
Setelah check out hotel, kami segera menyusuri jalanan yang dikepung hutan jati, dari Ngawi masuk teritorial Bojonegoro. Kami beristirahat untuk makan siang di Rumah Makan Ikan Bakar Semriwing Mbak Ita di Arjosari, Ngasinan, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Makan siang di Rumah Makan Ikan Bakar Semriwing Mbak Ita, Bojonegoro, Jawa Timur
Setelah kenyang, kami segera berbelok ke kiri melintasi Bengawan Solo, untuk masuk kembali ke teritoial Jawa Tengah. Kami memasuki wilayah Kecamatan Cepu di Kabupaten Blora. Cepu dikuasi pemerintah Kadipaten Jipang pada abad XVI, yang pada saat itu masih di bawah pemerintahan Kerajaan Demak. Adipati Jipang yang legendaris bernama Aryo Penangsang, yang lebih dikenal dengan nama Aria Jipang. Daerah kekuasaannya meliputi Pati, Lasem, Blora, dan Jipang sendiri.
Bergaya di gerbang SMP Negeri 1 Cepu, Blora Jawa Tengah
Begitu memasuki wilayah Cepu, langsung teringat beberapa teman di SMA Kolese de Britto Yogyakarta (JB), yang lulusan SMPN 1 Cepu. Ada mas Abu Khoiri dan mas Anang Prihutomo yang sekarang telah sukses sebagai insinyur di ibukota.
Pendopo di pusat Petilasan Kadipaten Jipang Panolan di Cepu.
Selain teringat wajah para teman SMA JB meski lama tidak bersua, kami juga langsung bergegeas menuju Petilasan Kadipaten Jipang Panolan berada di Desa Jipang, sekitar 8 kilometer dari Cepu. Petilasannya berwujud makam Gedong Ageng yang dahulu merupakan pusat pemerintahan dan bandar perdagangan Kadipaten Jipang. Di tempat tersebut juga terlihat Petilasan Siti Hinggil, Petilasan Semayam Kaputren, Petilasan Bengawan Sore, dan Petilasan Masjid. Ada juga makam kerabat kerajaan, antara lain makam R. Bagus Sumantri, R. Bagus Sosrokusumo, RA. Sekar Winangkrong, dan Tumenggung Ronggo Atmojo. Di sebelah utara Makam Gedong Ageng, terdapat Makam Santri Songo. Disebut demikian karena di situ ada sembilan makam santri dari Kerajaan Pajang yang dibunuh oleh prajurit Jipang, karena dicurigai sebagai telik sandi atau mata-mata Sultan Hadiwijaya.
Dikisahkan oleh Babad Tanah Jawi dalam perjalanan pulang ke Pajang, rombongan Adipati Pajang Jaka Tingkir singgah ke Gunung Danaraja tempat Ratu Kalinyamat menyendiri, setelah kematian Sunan Prawoto dan suaminya Hadlirin. Ratu Kalinyamat mendesak Jaka Tingkir agar segera membunuh Arya Penangsang, dirinya yang mengaku sebagai pewaris takhta Sunan Prawoto, berjanji akan menyerahkan Demak dan Jepara jika Jaka Tingkir menang.
Jaka Tingkir segan memerangi Arya Penangsang secara langsung karena merasa dirinya hanya sebagai mantu keluarga Demak. Maka diumumkanlah sayembara, barangsiapa dapat membunuh Arya Penangsang tersebut, akan memperoleh hadiah berupa tanah Pati dan Alas Mentaok (yang akan menjadi wilayah Mataram). Orangtua angkat Jaka Tingkir, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan sahabatnya Ki Panjawi dibimbing oleh Ki Juru Martani untuk mendaftar sayembara itu. Putra kandung Ki Ageng Pemanahan yang bernama Sutawijaya juga ikut mendaftar dalam sayembara dengan bekal Tombak Kyai Plered dari Jaka Tingkir.
Bergaya di alun-alun Jipang, bekas pusat Kotaraja Jipang di Cepu, saat Arya Penangsang berkuasa, di sekat aliran Sungai Bengawan Solo.
Diceritakan dalam Babad Tanah Jawi, ketika pasukan Pajang datang menyerang Kotaraja Jipang, saat itu Adipati Arya Penangsang sedang akan berbuka setelah keberhasilannya berpuasa 40 hari. Surat tantangan atas nama Hadiwijaya membuatnya tidak mampu menahan emosi. Apalagi surat tantangan itu dibawa oleh pekatik-nya (pemelihara kuda) yang sebelumnya sudah dipotong telinganya oleh Pemanahan dan Penjawi. Meskipun sudah disabarkan adik Arya Penangsang (Arya Mataram), Penangsang tetap berangkat ke medan perang menaiki kuda jantan yang bernama Gagak Rimang.
Kuda Gagak Rimang dengan penuh nafsu mengejar Sutawijaya yang mengendarai kuda betina, melompati bengawan. Perang antara Pasukan Pajang dan Jipang terjadi di dekat Bengawan Solo. Dalam perang tersebut perut Arya Penangsang robek terkena tombak Kyai Plered milik Sutawijaya. Meskipun demikian kesaktian yang dimiliki oleh Arya Penangsang membuatnya tetap bertahan. Ususnya yang terburai dililitkannya pada gagang keris yang terselip di pinggang. Arya Penangsang berhasil meringkus Sutawijaya. Saat mencabut keris Setan Kober untuk membunuh Sutawijaya, usus Arya Penangsang malah terpotong sehingga menyebabkan kematiannya.
Setelah kejadian itu, Jaka Tingkir (Hadiwijaya) mewarisi takhta Keraton Demak, dan pusat pemerintahan dipindah ke Pajang, yang petilasannya di Solo telah kami kunjungi pada hari sebelumnya. Dengan demikian, Cepu dan seluruh Blora masuk dalam kekuasan Kerajaan Pajang. Namun demikian, Kerajaan Pajang tidak lama memerintah (1568 sampai 1587), karena dikalahkan oleh Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati dari Kerajaan Mataram (1587 sampai 1601) yang berpusat di Kotagede, sekitar 8 km dari Yogyakarta. Blora termasuk wilayah Mataram bagian timur atau daerah Bang Wetan.
Mampir berdoa sejenak di Gua Maria Sendangharjo , Blora, Jawa Tengah
Setelah puas membayangkan kegagahan Arya Penangsang dan sengitnya petempurannya dengan Danang Sutawijaya, kami segera meninggalkan Cepu dan Blora, untuk melanjutkan petualangan ke Rembang. Di tengah perjalanan ke Rembang menembus hutan jati dengan jalanan yang berkelok berulang, kami singgah di Sendangharjo. Harjo berarti selamat, sehingga Sendangharjo berarti Sendang Keselamatan.
Kami mengunjungi Gua Maria Sendangharjo yang terletak di Dukuh Polaman, Desa Sendangharjo, Kecamatan Blora, pada jalan menuju ke arah Rembang. Selain sarana Jalan Salib, tempat ziarah ini juga menyediakan pendopo dan tempat menginap dengan kapasitas 30 kamar.
Gua Maria Sendangharjo juga merupakan salah satu fasilitas rohani yang disediakan oleh Wireskat (Wisma Rehabilitasi Sosial Katolik). Wireskat mirip dengan Bahasa latin Virescat, yang berarti “menghijaukan kembali” hidup sehat lagi dan sembuh.
Berdoa dan mengucap syukur atas semau anugerah sepanjang tahun 2025 di Gua Maria Sendangharjo , Blora, Jawa Tengah
Wireskat didirikan oleh para romo yang bertugas di Paroki Santo Pius X, Blora, Keuskupan Surabaya sekitar tahun 1970-1971. Antara lain Romo Siveri, Romo Fornasari dan Romo Ernesto Fervari. Wisma tersebut dibangun untuk menampung para penyintas sakit kusta dari RSK Donorejo, Jepara, RSK Bojonegoro dan Susteran Bojonegoro. Karya pastoral Wireskat tersebut sangat menyentuh, karena memanusiakan para penderita kusta, sebuah penyakit infeksi kronis menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit yang sudah disebut sejak jaman Yesus Kristus ini menyerang kulit, saraf tepi, serta saluran pernapasan atas, dan mata. Kusta atau lepra ini menyebabkan mati rasa, lesi kulit, serta potensi kerusakan saraf dan cacat jika tidak diobati, meskipun penyakit ini bisa disembuhkan dengan pengobatan yang tepat.
Mencari makan malam di seputaran Alun-alun Kota Rembang, untuk disantap bersama di seberangnya.
Selanjutnya kami beristirahat di kamar 504 Hotel Aston yang menghadap Laut Jawa di Jl. Jendral Sudirman No 8 Rembang, sebelum meneruskan petualangan ke Lasem.
(bersambung)
LASEM, REMBANG
Selasa, 30 Desember 2025 pagi kami terbangun dan bergegas berjalan kaki sejauh 600 m dari Hotel Aston Inn Jl. Jendral Sudirman No 8 untuk menuju Gereja Santo Petrus dan Paulus Jl. Diponegoro No 91 Rembang, untuk mengikuti misa kudus harian pagi.
Pada awalnya, gereja Katolik di Rembang merupakan stasi dari Gereja Cepu di Blora. Stasi ini secara berkala dikunjungi oleh para imam misionaris dari Ordo Jesuit yang pada waktu itu berkedudukan di Surabaya. Setelah daerah misi Surabaya diserahkan kepada Ordo Lazaristen yaitu imam ordo CM, Gereja Cepu yang memiliki umat Katolik lebih banyak dibanding kota-kota sekitarnya (kebanyakan mereka adalah orang Belanda karyawan minyak BPM) dan Stasi Rembang juga dilayani oleh imam CM.
Gereja Santo Petrus dan Paulus Jl. Diponegoro No 91 Rembang
Bersama Rm. Siprianus Yitno, Pastor Kepala Paroki dan para frater dari Keuskupan Surabaya di Gereja Santo Petrus dan Paulus Rembang
Pada tahun 1954 berdirilah sebuah gereja ukuran 7 x 14 meter, lengkap dengan menaranya disebut Gereja Santo Petrus dan Paulus (yang dirayakan tiap tanggal 29 Juni). Dan tepat pada hari raya Minggu Palma gedung Gereja yang baru diberkati oleh Bapa Uskup Surabaya Mgr Johannes Klooster, CM.
Bersiap untuk mengikuti misa kudus harian pagi di Gereja Santo Petrus dan Paulus Rembang
Bersama Rm. Siprianus Yitno, Pastor Kepala Paroki setelah mengikuti misa kudus harian pagi di Gereja Santo Petrus dan Paulus Rembang
Setelah selesai mengikuti misa kudus harian pagi dan bercengkerama sebentar dengan Romo Siprianus Yitno, Pr dan beberapa umat, kami segera berjalan kaki lagi kembali ke hotel. Kami menyusuri Jalan Pantura (Pantai Utara), yaitu jalur jalan nasional utama di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa, membentang dari Merak (Banten) di barat hingga Banyuwangi (Jawa Timur) di timur Jalan lebar 4 jalur ini berfungsi sebagai urat nadi transportasi dan penghubung antar-provinsi yang sangat penting, yang cikal bakalnya berasal dari Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) yang dibangun pada masa Gubernur Jenderal VOC Belanda Herman Willem Daendels (1808 hingga 1811).
sarapan di hotel, sebelum menjelajah Lasem
Setelah sarapan, kami segera menyusuri Jalur Pantura dari Rembang menuju Lasem. Jalan lebar yang kami lalui ini dipadati Truk Hino kategori tronton (10 roda atau lebih), yang di Indonesia masuk dalam lini Hino 500 Series (Ranger) dengan standar emisi Euro 4. Secara umum, tronton Hino terbagi menjadi dua konfigurasi penggerak utama, yaitu FL dan FM. Truk Hino Tipe FL sudah sering kami kagumi saat melewati tol Trans Jawa, termasuk Cipali dan Japek. Namun demikian, truk Hino Tipe FM (6×4) dengan dua gardan penggerak (double gardan) yang dirancang untuk beban berat dan medan ekstrem, yang memiliki roda pada sasis belakang sampai 3 deret, baru kami lihat di Jalur Pantura sekitar Rembang ke Lasem.
Mengawali penjelajahan di Lasem, sentra batik tulis motif Cina
Lasem adalah sebuah kecamatan bersejarah di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, dikenal sebagai “Tiongkok Kecil” karena menjadi titik pendaratan awal orang Tiongkok di Jawa. Budaya Lasem kaya akan akulturasi budaya Tiongkok, Jawa, Arab, serta Belanda, terlihat dari arsitektur kuno, perkampungan, serta batik tulis khasnya yang dipengaruhi motif Tiongkok (naga, merak, phoenix).
Belanja batik Lasem yang penuh warna, corak dan gaya
Berbagai motif batik Lasem
Batik Lasem sangat terkenal karena cirinya sebagai batik pesisir yang indah dengan pewarnaan yang berani. Batik Lasem adalah batik tulis model pesisir, yang sangat khas dengan perpaduan motif Tiongkok (seperti naga, merak, phoenix) dan warna-warna berani, serta teknik pewarnaan yang unik.
Bergaya di Rumah Merah Heritage Lasem, Rembang
Salah satu tempat berkembangnya para imigran dari Tiongkok terbesar di Pulau Jawa abad ke-14 sampai 15 adalah Lasem (Hokkien: Lao Sam, Mandarin: La Sen) selain di Sampotoalang (Semarang) dan Ujung Galuh (Surabaya). Datangnya armada besar Laksamana Cheng Ho ke Jawa sebagai duta politik Kaisar Tiongkok masa Dinasti Ming yang ingin membina hubungan bilateral dengan Majapahit terutama dalam bidang kebudayaan dan perdagangan negeri tersebut, mereka memperoleh legitimasi untuk melakukan aktivitas perniagaannya dan kemudian banyak yang tinggal dan menetap di daerah pesisir utara Pulau Jawa.
Rumah Keluarga Oei Sien Tjo bergaya Tiongkok di Lasem, Rembang
Bahkan menurut NJ. Krom, perkampungan Tionghoa di masa Kerajaan Majapahit telah ada sejak 1294-1527 M. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya bangunan-bangunan tua seperti permukiman Pecinan dengan bangunan khas Tiongkoknya dan kelenteng tua yang berada tak jauh dari jalur lalu lintas perdagangan di sepanjang aliran Sungai Babagan Lasem (kala itu disebut Sungai Paturen) yang pada waktu itu sebagai akses utama penghubung antara laut dan darat, juga penguasaan tempat-tempat perekonomian yang strategis oleh mereka di kemudian waktu, seperti yang dapat dilihat pada pusat-pusat pertokoan di sepanjang jalan raya kota sekarang ini
Perkampungan Tionghoa di masa Kerajaan Majapahit di Lasem, Rembang yang telah ada sejak 1294-1527.
Batik Laseman sangat liat bercirikan egalitarian, yang mana batik ini lebih terbuka atau umum penggunaannya bagi segala kalangan atau lapisan masyarakat berikut macam etnisnya. Konon perkembangan Batik Laseman ini dipengaruhi oleh unsur-unsur seni dan budaya negeri seberang, yaitu Tiongkok dan Campa.
Bergaya di halaman depan Oemah Batik Lasem
Oemah Batik Lasem yang indah dipandang
Banyaknya orang-orang Tiongkok dan Campa yang menetap di Lasem dan membaur dengan penduduk lokal lambat laun melahirkan akulturasi kebudayaan yang positif dan kaya, salah satunya adalah seni batik itu sendiri. Batik Laseman sendiri pernah mengalami kejayaan dalam produksi dan pemasarannya.
Museum Batik Tiga Negeri di Lasem, Rembang
Secara historis, budaya di Lasem merupakan perpaduan budaya dari masyarakat pribumi (Jawa), Tiongkok & Campa (dibawa oleh pasukan Laksamana Cheng Ho), dan Belanda. Wujud nyata dari perpaduan budaya ini dapat kita temui sampai detik ini pada batik Lasem motif Tiga Negeri
Klenteng Cu An Kiong di Jalan Dasun, Lasem
Kelenteng Cu An Kiong merupakan kelenteng tertua di Lasem, Rembang dan bahkan juga tertua di Pulau Jawa, karena kelenteng ini dibangun pada tahun 1335. Ruang utama kelenteng yang berisi altar Tian Shang Sheng Mu berada di belakang dan tidak terbuka untuk umum. Orang-orang Tionghoa mulai datang dan mendarat di daerah hutan Jati di sekitar Sungai Babagan Lasem pada abad ke-15.
Kelenteng Cu An Kiong dibangun orang-orang Tionghoa menggunakan kayu jati yang tersedia melimpah. Tiang penyangga utama kelenteng ini merupakan dua buah kayu jati yang belum pernah diganti hingga sekarang. Bangunan kelenteng terakhir kali direnovasi pada tahun 1838, untuk meninggikan lantai bangunan yang sering mengalami banjir, karena lokasinya tepat berada di depan kali Lasem. Laksamana Zheng Ho mendarat di depan kelenteng tersebut, yaitu di muara Kali Lasem yang akan masuk ke Laut Jawa, sehingga pada masa lalu sering digunakan sebagai sarana lalu lintas kapal, meskipun dermaganya kini sudah tidak tersisa keberadaannya.
Monumen Perang Kuning dengan para tokohnya di Kelenteng Cu An Kiong, di Lasem, Rembang.
Perang Kuning merupakan perang yang dikobarkan oleh masyarakat Lasem secara khusus. Peperangan pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda setelah jatuhnya banyak korban jiwa pada kedua belah pihak serta menyebabkan wilayah Lasem dipisahkan dari Rembang secara de facto. Akhir peperangan ini juga menandakan berakhirnya seluruh perlawanan rakyat Lasem terhadap kekuasaan Kompeni serta kekuasaan keluarga Tejakusuman di Lasem.
Pasukan gabungan Tionghoa dan Jawa yang dibantu oleh Kesultanan Mataram. Para tokohnya adalah Tan Kee Wie, Oei Ing Kiat, Panji Margono, Kyai Ali Badawi, Kwee An Say, Guo Liu Guan, Amangkurat V, dan Pangeran Sambernyawa atau Mangkunegoro 1. Dalam Perang Kuning mereka melawan Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) dibantu Kesultanan Mataram. Para tokohnya adalah Bartholomeus Visscher, Gustaaf Willem baron van Imhoff, Johannes Thedens, Adriaan Valckenier, Cakraningrat IV, Citrasoma IV dan Pakubuwana II.
Perang Kuning (Geel Oorlog) adalah serangkaian perlawanan rakyat Lasem-Rembang dan sekitarnya terhadap kekuasaan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Semarang (1741-1742) dan Lasem (1750). Perang Kuning ini terjadi sebagai bagian dari konflik Mataram melawan VOC Belanda, dengan hasil akhir dimenangkan oleh VOC Belanda
Tempat Pasujudan Sunang Bonang di Lasem, Rembang
Setelah puas mengagumi warisan budaya Tiongkok di Lasem, segera kami mengungjungi Pasujudan Sunan Bonang, sedikit menjauh dari Lasem. Kami menyusuri Jalur Pantura dengan banyak truk Hino yang panjang untuk mengenang Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465 M di Lasem, Rembang dengan nama As-Sayyid Raden Maulana Makhdum Ibrahim. Ia adalah salah satu Wali Songo (sembilan orang penyiar agama Islam di Jawa) putra Sunan Ampel dengan Dewi Candrawati. Sunan Bonang juga dikenal sebagai penggubah suluk Wijil dan tembang Tombo Ati, yang masih sering dinyanyikan orang.
Kami melanjutkan petualangan dengan melaju di sela-sela truk Hino seri FL yang lalu lalang di Jalur Pantura, untuk kembali ke Rembang. Tujuan kami adalah melihat musem Kartini
Museum R.A. Kartini, dulunya bernama Museum Kamar Pengabadian R.A. Kartini berada di Jl. Gatot Subroto No. 8, Rembang. Dulunya museum ini menempati salah satu ruangan Rumah Dinas Bupati Rembang, tetapi sejak 2011 museum ini diperluas ke seluruh rumah dan namanya diubah menjadi Museum RA Kartini. Kami datang bersama banyak wisatawan yang berkunjung di sana, di samping mengenang sejarah pahlawan wanita ini yakni RA Kartirni, juga melihat langsung sejarah peninggalannya yakni tulisan tangan asli Ibu Kartini, dalam memperjuangkan emansipasi wanita Jawa. Kami juga menyaksikan gedung tempat RA Kartini dahulu mengajar atau mengamalkan ilmunya kepada para anak didiknya. Bangunan asli tersebut terletak satu lokasi kurang lebih 150 m dengan museum RA Kartini.
Patung dada Ibu RA Kartini di halaman depan museum
Reuni dengan dr. Bambang Suyamto, SpTHT sebagai sesama alumni FK UGM 1984 di Rembang
Selanjutnya kami melakukan reuni sekejap dengan teman seangkatan saat kuliah di FK UGM Yogyakarta angkatan 1984, yaitu dr. Bambang Suyamto, SpTHT. Sebagai mantan Ketua IDI Cabang Rembang, dr. Bambang menerima kami bersama istrinya, dr. Nunuk Sri Lestari, MKes, direktur RS Umum Islam Arafah di Jl. Raya Rembang lasem KM 5, Tritunggal, Rembang. Kami diajak santap siang di Citra Resto Jl. Jend. Sudirman No 47, Rembang, dengan menu andalan soup gurameh. Resto milik dr. Nowohadi Tjitrosuwito, SpPD senior kami di FK UGM Yogyakarta angkatan 70, juga menyambut kami dengan hangat.
Disambut dr. Bambang Suyamto, SpTHT dan istrinya, dr. Nunuk Sri Lestari, MKes dengan salam Konga (alumni FK UGM 84)
Bersama dr. Nowohadi Tjitrosuwito, SpPD senior kami di FK UGM Yogyakarta
Bersama mas dr. Bambang Suyamto, SpTHT di Citra Resto Jl. Jend. Sudirman No 47, Rembang, milik dr. Nowohadi Tjitrosuwito, SpPD
Setelah kenyang makan siang menu soup gurameh di Citra Resto, kami segera meninggalkan Rembang, menuju ke Cepu. Dalam perjalanan ke Cepu, kami mengingat kembali kebesaran jasa Ibu Kita Kartini untuk perempuan Indonesia. “Habis Gelap Terbitlah Terang”, kutipan penuh makna dari seorang pejuang emansipasi wanita, Raden Ajeng Kartini.
Ibu ini dilahirkan di Jepara, lalu menikah dengan Bupati Rembang. Di akhir hayatnya, RA Kartini bersama suami dan keturunannya dimakamkan di Desa Bulu, Rembang. Makamnya selalu ramai oleh para peziarah hingga saat ini. Kami sempatkan mampir, sebelum memasuki teritorial Blora menuju ke Cepu.
Bersama dik Laras di makam RA Kartini di Bulu, Rembang
Patung seukuran aslinya RA Kartini di depan makamnya di Bulu, Rembang
Setelah berhenti sejanak melepas penat dan mengenang keharuman nama RA Kartini di makamnya, kami segera melanjutkan perjalanan ke Cepu. Malam itu kami makan malam bersama di kamar 204 Hotel Kyriad Arra Hotel Cepu, sebelum mengantar dik Bimoseno (anak kedua, arsitek yunior) kembali ke Jakarta. Perjalanan naik KA Pandalungan dari Stasiun Cepu berangkat pk. 21.28 dan sampai di Stasiun Jatinegara Jakarta hari berikutnya pk. 4.12
Makan malam bersama sambil melihat drakor.sebelum mas Bimo kembali ke Jakarta
Selamat melaju mas Bimo, dengan KA Pandalungan dari Stasiun Cepu ke Stasiun Jatinegara Jakarta
(bersambung)
LANJUTAN PERJALANAN
Rabu, 31 Desember 2025 kami terbangung di kamar 204 Hotel Kyriad Arra Hotel Cepu, lanjut mengikuti misa kudus harian pagi di Gereja Santo Willibrordus Paroki Cepu, Jawa Tengah
Di depan Gereja Santo Willibrordus Cepu, Jawa Tengah
Umat Cepu tercatat pada Buku Baptis X, XI dan XII Paroki Santo Yusup Gedangan Semarang, karena ada baptisan baru yang terjadi pada 28 Februari 1912, sebanyak 3 orang oleh Romo HJJ. Janssen, SJ. Kemudian pada 29 September 1912 serta 24 September 1917, Vikaris Apostolik Batavia Mgr. Edmundus Luypen, SJ bahkan menerimakan Sakramen Krisma di Cepu terhadap 21 orang. Sebuah sejarah geraja yang panjang.
Bergaya sejenak di depan Gereja Santo Willibrordus Cepu, Jawa Tengah yang penuh sejarah
Dengan adanya perusahaan Minyak DPM (Dordtsche Petroleum Maatschappij) milik Belanda yang mulai mengadakan pengeboran minyak di Cepu pada tahun 1893, di Jepon pada tahun 1899 di Tinawun, Dandangilo – Wonocolo, Kawengan, Kidangan pada tahun 1895 demikian pula di Ledok pada tahun yang sama. Karyawan pertambangan DPM telah memberi sumbangan yang cukup berarti bagi tumbuh dan berkembanganya Gereja Santo Willibrordus, Cepu.
Apalagi pada tahun 1895/1896 di Cepu dibangun pabrik lilin, dikarenakan minyak di daerah Cepu banyak mengandung lilin. Sehingga pada tahun 1896 Peruasahaan Minyak DPM berkembang menjadi Peruasahaan Minyak terkuat di Jawa. Situasi ini memungkinkan bertambahnya umat Katolik di Cepu, Bojonegoro, Blora dan sekitarnya semakin banyak, karena jumlah orang Belanda yang bekerja di Cepu semakin banyak pula.
Pemberkatan Gedung Gereja Santo Willibrordus Cepu dilakukan oleh Mgr. Anton Pieter Franz van Velsen, S.J. perfector Apostolic Batavia, pada tanggal 20 Mei 1931. Nama pelindung gereja adalah Santo Willibrordus, seorang uskup dari daerah Belanda Selatan. Pada tanggal 15 September 1932 dijadikan Paroki dibawah kegembalaan Pastor G. Ravestijn, CM. Paroki Cepu dimasukkan dalam wilayah kerja Keuskupan Diosesan Surabaya dengan Mgr. Klooster, CM sebagai Uskup.
Interior Gereja Santo Willibrordus Cepu, Blora, Jawa Tengah, dengan patung bayi Yesus di palungan tanpa atap. Bagus sekali
Selesai misa kudus harian pagi, kami lanjut menyeebrang jalan menikmati kegagahan Patung Kuda Arjuna Wiwaha yang menjadi ikon Kota Cepu. Patung yang menelan anggaran fantastis Rp 1,3 miliar ini baru berdiri sejak tahun 2017.
Arjuna sedang memanah menggunakan Pasupati ke arah langit-langit mulut Prabu Niwatakawaca
Patung itu menggambarkan Arjuna (satria tengah Pandawa) sedang memanah menggunakan Pasupati ke arah langit-langit mulut Prabu Niwatakawaca, raja raksasa yang mengancam kayangan. Dengan bantuan bidadari Suprabha, Arjuna mengetahui kelemahan Niwatakawaca, yaitu langit-langit mulutnya, dan saat raja raksasa itu lengah, dan Arjuna berhasil membunuhnya, membawa kemenangan bagi para dewa. Patung Arjuna Wiwaha ini berdiri megah di depan Gereja Santo Willibrordus Cepu dan merupakan bagian dari Taman Seribu Lampu Cepu, yang menjadi gerbang wisata dari Jawa Timur sekaligus destinasi alternatif bagi warga lokal Blora dan Bojonegoro bagian barat.
Selanjutnya kami melakukan wisata geologi untuk melihat cara kerja sumur angguk, dalam menyedot minyak mentah dari bumi Blora. Awalnya kandungan minyak itu ditemukan di daerah Cepu, sejak saat itu penemuannya menjamur hingga seperti sekarang, sampai ke Bojonegoro. Tjokronegoro III, Bupati Blora era 1886-1912 pada masa kepemimpinannya mendorong Belanda melakukan pengeboran minyak pertama kali pada tahun 1894 di Desa Ledok, Kecamatan Sambong.
Sumur angguk menyedot minyak di bumi Nglobo, Jiken, Blora Jawa Tengah
Kami melihat Sumur Angguk di Desa Nglobo, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora. Ini adalah sebuah sumur minyak peninggalan Belanda yang sudah beroperasi sejak tahun 1928, menjadikannya sangat tua dan bersejarah. Untuk menuju ke titik peninggalan Belanda itu, kami harus masuk dulu melewati jalan berbatu menuju arah hutan jati yang lebat dan menyerupai labirin. Setelah itu melewati permukiman penduduk. Dengan pemandangan alam yang indah dan mesin sumur minyak tua yang masih berfungsi, desa Nglobo ini mampu menarik minat wisatawan yang ingin mengenal lebih jauh tentang sejarah perminyakan Indonesia, serta menikmati keunikan teknologi sederhana yang digunakan sejak zaman kolonial.
Selain itu, Desa Nglobo juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi. Lingkungan yang asri dan alami sangat mendukung kegiatan edukasi luar ruangan, seperti pengenalan flora dan fauna lokal, konservasi lingkungan, dan pelajaran sejarah industri perminyakan melalui kunjungan ke Sumur Angguk.
Sumur angguk di Nglobo, Jiken yang menyedot minyak di bumi Blora
Sayang sekali kami datang saat hujan turun, sehingga kami tidak sempat melibatkan masyarakat lokal sebagai pemandu dan instruktur, wisata edukasi ini tidak hanya memperkaya pengetahuan pengunjung, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi penduduk setempat.
Selanjutnya kami segera menyusuri jalur pantura yang penuh dengan truk Hino panjang, untuk sowan senior dr. Bowo Widiasmoko, SpPD di RS Budi Agung di Juwana, Pati Jawa Tengah. Banyak sekali Hino Tipe FM (6×4) dengan dua gardan penggerak (double gardan) yang dirancang untuk beban berat dan medan ekstrem, yang memiliki roda pada sasis belakang sampai 3 deret, yang kami temui dalam perjalanan ke Juwana.
Bergaya di depan papan informasi jadwal praktek dr. Bowo Widiasmoko, SpPD dan para dokter lain di RS Budi Agung, Yuawan, Pati, Jawa Tengah
Diterima dr. Bowo Widiasmoko, SpPD di ruang prakteknya
RS Budi Agung Juwana, Pati Jawa Tengah
Setelah puas mengobrol, kami lanjut diajak makan siang di WM Sumber Rejeki Juwana, Pati. RM dengan menu unggulan garangasem dan bakso, tersaji secara sederhana tetapi lezat.
Makan siang dijamu dr. Bowo Widiasmoko, SpPD di Juwana, Pati
Lanjut kami melewati jalan lurus melewati Tayu, Pati dan terus ke Mlonggo, Jepara memutari Gunung Muria yang tenang. Kami mengunjungi William Febuana di rumahnya, untuk membicarakan persiapan masa depannya bersama dik Laras. Sampai larut malam pembicaraan hangat berlangsung, yang diselingi makan menu ikan bakar sambil menunggu pergantian tahun 2025 menjadi 2026
Kamis pagi, 1 Januari 2026 di awal tahun baru, kami segera bergegas mengikuti misa kudus di Gereja Katolik Stella Maris Paroki Jepara
Sejarah Gereja Katolik di Jepara dimulai kembali secara signifikan pada tahun 1930-an setelah sempat hilang pasca-larangan Jan Pieterszoon Coen , dengan berdirinya stasi Pecangaan pada 1936 yang dipimpin Pastor Stienen MSF, lalu diresmikan tahun 1961, sebelum akhirnya Paroki Stella Maris Jepara resmi berdiri dan gereja barunya diberkati tahun 1964, menandai kebangkitan kekatolikan di wilayah tersebut.
Bersama Rm. Anton Gunardi, MSF di Gereja Stella Maris Jepara setelah misa kudus harian pagi pada hari pertama tahun baru 2026
Mgr. Albertus Soegijopranoto SJ, Uskup Agung Semarang saat itu, mengunjungi Jepara untuk memberikan Sakramen Penguatan (Krisma) pada 21 Oktober 1956. Pembentukan Dewan Stasi Jepara yang pertama dibentuk pada 24 Maret 1963. Peresmian Gereja Katolik Jepara yang baru diresmikan pada 18 Mei 1964 oleh Romo Kardinal Darmojuwono, menjadi penanda resmi berdirinya paroki di Jepara, yang kemudian dikenal sebagai Paroki Stella Maris.
Misa kudus pagi itu dipimpin oleh Rm. Anton Gunardi, MSF, yang ternyata alumni SMA Kolese de Britto Yogyakarta (JB) angkatan 1972.
JB 72 dan JB 84 di Gereja Stella Maris Jepara
Setelah selesai mengikuti misa kudus harian pagi, kami segera lanjut melihat Pecinan Jepara sebagai salah satu pecinan (china town) tertua di Indonesia, komplek ini menjadi saksi bisu perkembangan sejarah, budaya, dan interaksi antar-etnis yang panjang. Terletak di bagian timur pusat kota, komplek Pecinan Jepara mencerminkan keberagaman dan integrasi harmonis antara masyarakat Tionghoa dan budaya lokal. Pecinan Jepara, yang didirikan pada abad ke-16, memperlihatkan arsitektur tradisional yang khas dengan aksen-aksen Tionghoa yang memesona. Pusatnya adalah klenteng wang fu atau furianto yang dibangun pada tahun 1881 Masehi.
Pada awalnya, komplek Pecinan di Jepara didirikan sebagai tempat tinggal dan pusat kegiatan komunitas Tionghoa yang memigrasi ke Jepara pada abad ke-16. Mereka membawa serta tradisi, budaya, dan agama dari tanah leluhur, menciptakan suatu kawasan yang memiliki identitas unik di tengah masyarakat Jepara yang heterogen. Di dalam komplek Pecinan, dapat ditemukan kuil-kuil dan kelenteng-kelenteng yang menjadi pusat aktivitas keagamaan dan budaya masyarakat Tionghoa. Struktur arsitektural yang khas, dengan ornamen-ornamen Tionghoa yang memikat, mencerminkan keberlanjutan tradisi dan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Selama berabad-abad, komplek Pecinan di Jepara menjadi saksi bisu perkembangan masyarakat Tionghoa dan interaksi harmonis dengan masyarakat lokal.
Pecinan Jepara yang merupakan salah satu chinatown tertua di Indonesia
Setelah sarapan, kami berlima (Bapak Mulyono tidak ikut) segera bergegas menuju ke Benteng Portugis, yang terdapat di Desa Banyumanis Kecamatan Donorojo atau 45 km di sebelah timur laut Kota Jepara.
Sarapan bersama Keluarga Bapak Mulyono di Mlonggo Jepara, pada hari pertama tahun 2026
Kami jadi mengingat bahwa pada tahun 1619, kota Jayakarta atau Sunda Kelapa pertama kali dimasuki VOC Belanda. Saat ini Sunda Kelapa diubah namanya menjadi Batavia dan dianggap sebagai awal tumbuhnya penjajahan oleh Imperialis Belanda di Indonesia. Sultan Agung, Raja terbesar Mataram, langsung merasakan adanya bahaya yang mengancam dari situasi jatuhnya kota Jayakarta ke tangan Belanda. Untuk itu Sultan Agung mempersiapkan angkatan perangnya guna mengusir penjajah Belanda. Tekad Raja Mataram ini dilaksanakan berturut-turut pada tahun 1628 dan tahun 1629 yang berakhir dengan kekalahan di pihak Mataram.
Kejadian ini membuat Sultan Agung berpikir bahwa VOC Belanda hanya mungkin dikalahkan lewat serangan darat dan laut secara bersamaan. Padahal Mataram tidak memiliki armada laut yang kuat, sehingga perlu adanya bantuan dari pihak ketiga yang juga berseteru dengan VOC, yaitu Bangsa Portugis.
Bergaya di Gerbang Benteng Portugis Jepara
Pada hal sebelumnya Bangsa Portugis setidaknya mendapat serangan dari Ratu Kalinyamat, sebagai penguasa Jepara dan Jawa pada umumnya, sebanyak dua kali, yakni pada 1550 dan tahun 1564. Pada tahun 1550 Ratu Kalinyamat menyerang Portugis di Malaka (sekarang Malaysia), bersama pasukan dari Kesultanan Aceh, Johor, Palembang, dengan kekuatan total 200 kapal perang dan belasan ribu prajurit. Pada tahun 1564 juga menyerang lagi bersama pasukan dari Kesultanan Aceh Darussalam. Juga pada tahun 1573 menyerang Portugis lagi di Selat Malaka.
Replika meriam di puncak Benteng Portugis di Jepara yang menghadap ke arah laut
Ternyata Bangsa Portugis hanya beberapa tahun saja menempati benteng ini. Banyaknya gangguan yang memakan korban prajurit Portugis menjadi salah satu alasannya. Di Selat Mandalika depan benteng itu ada pusaran air laut, prajurit Portugis sering tersedot ke dalam laut dan hilang entah ke mana. Alasan lain adalah lalu lintas perdagangan yang waktu Kerajaan Demak dipusatkan melalui laut, dengan pindahnya Kerajaan Demak ke Pajang, lalu lintas perdagangan berubah melalui jalan darat. Benteng itu akhirnya ditinggalkan begitu saja, hingga bertumbuh semak belukar.
Sisa bangunan Benteng Portugis di Jepara
Pada waktu Jepang menapakkan kakinya di bumi Nusantara, benteng ini kembali digunakan. Jepang memanfaatkannya sebagai tempat pengintai laut. Benteng ini sekarang menjadi tempat wisata, meski hanya berupa reruntuhan tembok berbentuk persegi empat yang terletak di atas bukit, tepat di seberang selatan Pulau Mandalika. Di dalam tembok hanya berupa lahan kosong yang ditumbuhi beberapa pohon yang sengaja dibiarkan untuk tempat berteduh pengunjung. Di area dalam sebelah utara terdapat satu bangunan yang juga digunakan sebagai temat berteduh pengunjung. Selain itu terdapat beberapa replika meriam yang ditempatkan di sisi utara dan timur benteng yang langsung berbatasan dengan laut lepas.
Di depan RS dr. Rehatta Donorojo, Jepara
Sepulang dari Benteng Portugis, kami sempat mampir di salah satu Rumah Sakit Umum Daerah dr. Rehatta saat ini adalah Rumah Sakit milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Pada awal berdirinya bernama Rumah Sakit Kusta Donorojo dengan direkturnya dr. H. Bervoets dibantu dr. Durachim.. Rumah Sakit Kusta Donorojo dibangun sekitar tahun 1916 oleh Pemerintah Hindia Belanda dan dikelola oleh misi Zending. Tujuan pembangunan Rumah Sakit Kusta Donorojo waktu itu adalah untuk pengobatan dan leposeri. Rumah Sakit Kusta Donorojo berlokasi di Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara berdiri diatas lahan seluas 1.791.740 m2. Termasuk lahan di kampung rehabilitasi yang dihuni oleh 155 KK.
Unit rehabilitasi kusta di Donorojo, Jepara
Pada tahun 1950-an karena pihak Zending tidak mampu lagi membiayai operasional RS Kelet dan RS Donorojo maka pengelolaan kedua Rumah Sakit tersebut diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Sejak itu kedua RS tersebut menjadi Rumah Sakit Kusta dengan kunjungan dokter seminggu sekali dari RS Kusta Tugurejo Semarang. Sejak tahun 1999 mulai dirintis langkah-langkah menata ulang fungsi pelayanan di RS Kusta Donorojo untuk rehabilitasi kusta. Harapannya Jawa Tengah bebas kusta, hilangnya Stigma dan Diskriminasi Kusta, serta dipermudah dalam mendapatkan obat bagi para penderita kusta.
Kusta atau lepra adalah penyakit infeksi bakteri kronis disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae yang menyerang jaringan kulit, saraf tepi, serta saluran pernapasan. Kusta atau lepra dapat ditandai dengan rasa lemah atau mati rasa di tungkai dan kaki, kemudian diikuti timbulnya lesi pada kulit yang berawarna pucat terang serta mati rasa.
Kusta memang dapat menyebar melalui percikan ludah atau dahak yang keluar saat batuk atau bersin namun penularan terjadi jika seseorang terkena percikan droplet dari penderita kusta secara terus-menerus dalam waktu yang lama. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri penyebab lepra tidak dapat menular ke orang lain dengan mudah. Selain itu, bakteri ini juga membutuhkan waktu lama untuk berkembang biak di dalam tubuh penderita. Seseorang tidak akan tertular kusta hanya karena bersalaman, duduk bersama, atau bahkan memeluk penderita.
Ayo Stop Stigma dan Diskriminasi Kusta ‘United for Dignity’! Ingat ! Kusta bisa dicegah dan diobati.
Sepulangnya dari Benteng Portugis, kami mampir ke Pertapaan Sonder atau Sonder Hermitage Park terdapat di Dukuh Sonder, yang berlokasi Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara. Pada abad XIV Nyai Langgeng atau sering dikenal dengan Ratu Kalinyamat berkuasa atas kerajaan yang berpusat di Kalinyamatan. Pada tahun 1549 suaminya yang bernama Sultan Hadirin terbunuh oleh Arya Penangsang pada suatu pertempuran.
Pertapaan Ratu Kalinyamat di Dukuh Sonder, Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, JeparaPertapaan Ratu Kalinyamat di Dukuh Sonder, Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Jepara
Sepeninggal suaminya, Ratu Kalinyamat meninggalkan tahta kerajaan untuk berkelana menuntut keadilan, sampai akhirnya sampai di Dukuh Sonder Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo. Di tempat itu dia bertapa ‘topo wudo’ yaitu meninggalkan pakaian kebesaran kerajaan sampai dendamnya kepada Arya Penangsang terbalaskan. Ratu Kalinyamat yang dilukiskan sangat cantik bertapa hanya dengan berbalutkan rambutnya yang panjang terurai.
Pertapaan Ratu Kalinyamat di Dukuh Sonder, Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Jepara
Ia memohon pertolongan kepada Tuhan agar diberikan kekuatan sehingga bisa membalas dendam atas kematian suaminya. Dia bersumpah ”ora pisan-pisan ingsun jengkar saka tapa ingsun yen durung iso kramas getihe lan kesed jambule Arya penangsang” (Ia tidak akan menghentikan laku tapanya jika belum bisa keramas dengan darah Aryo Penangsang). Akhirnya, Aryo Penangsang terbunuh dalam suatu pertempuran dengan Danang Sutawijaya, yang dikemudian hari menjadi Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Islam di Pulau Jawa. Aryo Penangsang tewas secara mengenaskan dengan usus terburai oleh kerisnya sendiri. Situs peninggalan Aryo Penangsang di Jipang, Cepu sudah kami kunjungi sehari sebelumnya.
Pertapaan Ratu Kalinyamat yang berada di tengah pohon yang rimbun. Di depan masuk terdapat gapura dari batu bata kuno.
Laku tapa Ratu Kalinyamat dengan sumpahnya itu ditafsirkan oleh masyarakat desa Tulaan sebagai wujud kesetiaan, kecintaan, dan pengabdian sang ratu kepada suaminya. Ia dengan kesadaran dan keiikhlasannya yang tinggi bersedia meninggalkan gemerlapnya kehidupan istana demi membalas dendam atas kematian suaminya Ratu Kalinyamat bertapa sangat lama sampai-sampai rambutnya dikubur di tempat itu. Kami sampai di petilasan yang berada di tengah pohon yang rimbun, saat hujan gerimis tidak berhenti, sehingga hanya sekejap berdiri di depan pintu masuk yang dilengkapi dengan gapura dari batu bata kuno.
Selanjutnya kami pulang untuk makan siang di depan Pasar Mlonggo, Jepara
(bersambung)
JEPARA ke JOGJA (sambungan terakhir)
Jumat, 2 Januari 2026 kami melanjutkan etape terakhir petualangan ke teritorial timur laut Jawa Tengah, dengan pulang dari Jepara ke Jogja.
Ternyata tidak ada misa kudus harian pagi di Gereja Stella Maris Paroki Jepara, karena hari tersebut adalah Jumat pertama, Jumat, 2 Januari 2026, ya kami hanya nampang saja
Melihat Klenteng Wang Fu atau Furianto Klenteng yang dibangun tahun 1881 di Pecinan Jepara. Diprakarsai oleh keluarga Giok Hwa yang menjadi tempat penyimpanan kitab Sam Ho Bio.
Mampir di Atmosfera coffee and eatery, di pusat kota Jepara untuk menemui sahabat lama
Bertemu sahabat lama, mas Edi mBako, teman sekelas di SMP Bruderan Purworejo, yang bisnis sembako dan tinggal di Jepara. Anak sulungnya pemilik atmosfera cofee and eatery.
Melihat alam indah di Pantai Blebak, Jepara, tetapi tidak naik jeep
Mampir sowan menemui bu Siwi Djanong dan cucu (sesama warga Yogyakarta) yang sedang berlibur di Sekuro Village Beach Resort, Blebak, Jepara
Kami pamit kepada Bapak Mulyono sekeluarga di Mlonggo Jepara, yang diiringi Lio (1 tahun), cucu yang menggemaskan
Setelah berpamitan dengan keluarga Bapak Mulyono (calon besan), kami segera menuju pemberhentian pertama perjalanan pulang ke Yogyakarta, yaitu Benteng VOC Japara (Fort Japara (XVI) atau Loji Gunung). Didirikan di Jepara pada 1618, karena kantornya di Gresik, Jawa Timur selalu mendapat gangguan terkait sistem monopoli VOC.
Bergaya di depan Benteng VOC Belanda Japara (Fort Japara (XVI) atau Loji Gunung), yang didirikan di Jepara pada 1618.
Kami mampir, melihat, dan mengagumi Benteng VOC Japara, juga dikenal sebagai Fort Japara (XVI) atau Loji Gunung, yang merupakan sebuah benteng peninggalan VOC Belanda di Jepara, Jawa Tengah. Gerbang benteng ini didirikan di Jepara pada 1613, karena kantornya yang ada di Gresik, Jawa Timur selalu mendapat gangguan dari para pedagang Islam madura dan Jawa Timur yang menentang sistem monopoli VOC.
Ketika pemberontakan Pangeran Trunajaya meletus, Letnan Martinus van Ingen memimpin 100 orang prajurit infanteri di Benteng VOC Jepara. Dibantu Ngabehi Wangsadipa, Bupati Jepara saat itu, dan menang melawan Pasukan Trunajaya. Oleh sebab itu Benteng Jepara tetap digunakan oleh VOC Belanda, sebagai konsesi yang diberikan Amangkurat II.
Pada 1615, Sultan Agung dari Mataram memberikan izin kepada VOC untuk mendirikan loji sebagai kantor pewakilan dagang di Jepara. Loji itu selesai dibangun pada tahun 1618. Ketika Pemberontakan Trunajaya meletus, Letnan VOC Martinus van Ingen membuat peta daerah Jepara dan merencanakan penempatan 100 infanteri di Benteng VOC Jepara. Pemimpin Jepara saat itu, Ngabehi Wangsadipa, memberi VOC berupa lima pucuk meriam yang salah satunya dipasang di benteng itu. Pasukan Trunajaya berkali-kali menyerang benteng Jepara, tetapi selalu berakhir gagal. Benteng Jepara tetap digunakan oleh VOC Belanda sebagai konsesi dalam bentuk sewa yang diberikan Amangkurat II kepada VOC, atas usahanya dalam menumpas Pemberontakan Trunajaya.
Benteng ini menjadi pusat perdagangannya VOC di pantai utara Jawa, tetapi kemudian ditinggalkan perlahan pada 1697, ketika Semarang mulai menggantikan fungsi Jepara sebagai pusat perdangangan. Alasannya adalah karena pelabuhan Jepara mengalami pendangkalan yang disebabkan oleh sedimentasi lumpur yang dibawa oleh arus sungai dan binatang-binatang karang yang semakin berkembang. VOC juga mempertimbangkan keunggulan pelabuhan Semarang yang memiliki akses ke pedalaman Mataram di Surakarta. Pada 1707, VOC secara resmi memindahkan pusat kekuasaannya dari Jepara ke Semarang. Hal itu didasarkan pada perjanjian tanggal 31 Oktober 1707 antara VOC dengan Pakubuwana I selaku raja Kesultanan Mataram di Surakarta.
Diselingi mampir di rumah mas dr. Isdiyanto, MHum dan menyantap menu kodok swike di Demak, ditraktir drg. Fx. Titik Purwaningsih.
Santap siang menu kodok swike di Demak, enak, hangat, pedas dan lezaat
Lanjut kami menyusuri jalan Pantura yang sering tergenang banjir rob, dari Demak ke Semarang. Setelah melalui tahapan hujan lebat sepanjang tol Trans Jawa dan keluar di GT Boyolali, kami segera menuju ke Pesanggrahan Pracimoharjo yang terletak di Desa Paras, Kecamatan Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah.
Gerbang Pesanggrahan Pracimoharjo yang terletak di Desa Paras, Kecamatan Cepogo, Boyolali, yang gagah menjulang
Pesanggrahan Pracimoharjo yang menjulang, artistik dan selesai dipugar
Pesanggrahan Pracimoharjo merupakan salah satu peninggalan bersejarah Kerajaan Mataram yang berdiri sejak era Pakubuwono IV pada 1803–1804. Lokasinya berada di lereng Gunung Merapi, sehingga sejak awal difungsikan sebagai tempat tetirah para raja, termasuk Pakubuwono VI yang kerap menikmati suasana perkebunan kopi di sekitarnya. Kesejukan dan keheningan menyatu menjadi satu di Pesanggarahan Pracimoharjo sehingga tempat ini cocok untuk merenung hingga mencari ketenangan.
Pesanggrahan Pracimoharjo didirikan pada masa pemerintahan Sinuhun Pakubuwono IV sekitar tahun 1803–1804.
Lereng Merapi dipilih sebagai lokasi karena ketenangan dan keindahan alamnya, menjadikannya tempat yang ideal untuk tetirah (beristirahat dan memulihkan diri). Pakubuwono VI kemudian melanjutkan tradisi tersebut. Sang Sunan kerap menggunakan pesanggrahan ini untuk menikmati keindahan perkebunan kopi di sekitarnya.
Selain itu, Pracimoharjo juga menjadi lokasi penting dalam sejarah Perang Jawa, karena PB VI beberapa kali bertemu Pangeran Diponegoro atau pasukannya di tempat ini untuk merumuskan strategi perlawanan kepada Belanda.
Bagian tengah Pesanggrahan Pracimoharjo yang terletak di Desa Paras, Kecamatan Cepogo, Boyolali.
Puncak kejayaan Pesanggrahan Pracimoharjo terjadi pada masa Sunan Pakubuwono X. Bangunan pesanggrahan sebelumnya masih sederhana. Baru pada masa PB X tempat ini dibangun ulang secara besar-besaran hingga menyerupai miniatur Keraton Kasunanan Surakarta.
Patung seukuran sebenarnya Raja terbesar Keraton Surakarta, Paku Buwono X
Petualangan penjelajahan darat (overland) pergantian tahun 2025 ke teritorial timur laut Jawa Tengah diakhiri dengan menikmati Tol Jogja-Solo Paket 1.1, ruas Kartasura-Klaten sejauh 22,3 km dan Ruas Klaten-Prambanan yang telah beroperasi pada 2 Juli 2025. Nyaman, tenang dan aman sampai di Yogyakarta. Ayo piknik !
Sampai bertemu dalam petualangan selanjutnya. Terimakasih
Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menerapkan pembatalan pengenaan cukai Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK) yang rencananya akan diterapkan pada awal 2026. Apa yang mencemaskan?
Tulisan ini dimuat di Harian Nasional Kompas digital Jumat, 12 Desember 2025
Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik (Susenas BPS) tahun 2021 menemukan ada 47,9 juta penduduk Indonesia mengonsumsi gula berlebih, dengan memilih 37 jenis makanan dan minuman berpemanis dari total 188 jenis bahan makanan dan makanan minuman jadi yang tersedia di Susenas. Hampir semua orang Indonesia menyukai konsumsi gula dalam berbagai makanan dan minuman, bahkan gula telah menjadi candu bagi orang Indonesia
Untuk pertama kalinya pada Selasa, 13 Desember 2022 WHO merekomendasikan pajak atau cukai global untuk MBDK, karena cukai MBDK, tembakau, dan alkohol telah terbukti sebagai cara yang hemat biaya untuk mencegah penyakit, cedera, dan kematian dini. Cukai MBDK juga dapat mendorong perusahaan minuman kemasan untuk memformulasi ulang produknya, dengan mengurangi kadar gula. Konsumsi MBDK secara teratur, termasuk minuman ringan, susu beraroma, minuman berenergi, air vitamin, jus buah, dan es teh manis, dikaitkan dengan peningkatan risiko gigi berlubang, diabetes tipe 2, penambahan berat badan dan obesitas pada anak, dan kelak lebih mudah mengalami penyakit jantung, stroke dan kanker saat dewasa muda.
Bukti menunjukkan bahwa menerapkan cukai MBDK akan meningkatkan harga produk dan mengurangi permintaan, sehingga mengurangi pembelian. Satu kali kenaikan cukai MBDK global yang menaikkan harga 50% dapat menghasilkan pendapatan tambahan sebesar US$1,4 triliun selama 50 tahun. Jajak pendapat Gallup juga menemukan bahwa mayoritas orang di seluruh Amerika Serikat, Tanzania, Yordania, India, dan Kolombia mendukung cukai MBDK, alkohol, dan tembakau.
Obesitas dan penyakit tidak menular terkait diet terus meningkat secara global, sehingga diperlukan tindakan yang efektif untuk mengatasi faktor penyebabnya. Di antara pilihan kebijakan berbasis bukti yang tersedia, pilihan yang lebih sehat dengan pola makan yang lebih baik, adalah penerapan cukai MBDK.
WHO telah meluncurkan rancangan pedoman tentang kebijakan fiskal untuk mempromosikan diet sehat. Selain itu, juga memberikan rekomendasi tentang cukai MBDK dan subsidi pangan, dengan tujuan utama untuk mengubah perilaku konsumen dalam membeli produk makanan dan minuman.
Andreyeva pada JAMA (2022) membuat laporan berjudul : ‘Evaluation of Economic and Health Outcomes Associated With Food Taxes and Subsidies’. Temuan sistematis terhadap 54 penelitian dan meta-analisis dari 15 penelitian melaporkan bahwa subsidi buah dan sayuran dikaitkan dengan peningkatan penjualan buah dan sayuran, dengan elastisitas harga −0,59. Sedangkan perubahan pola konsumsi secara statistik tidak signifikan. Selain itu, cukai makanan dikaitkan dengan harga yang lebih tinggi dan penurunan penjualan produk, meski bukti tentang hasil lain dari cukai makanan dan subsidi masih terbatas. Penelitian tambahan diperlukan untuk memastikan implikasi dari kebijakan tersebut untuk hasil konsumsi, diet, dan kesehatan.
Andreyeva pada JAMA (2022) membuat laporan lain yang berjudurl : ‘Outcomes Following Taxation of Sugar-Sweetened Beverages. A Systematic Review and Meta-Analysis’. Temuan dalam tinjauan sistematis dari 86 penelitian dan meta-analisis dari 62 penelitian, penerapan cukai MBDK dikaitkan dengan harga minuman 82% lebih tinggi dan penjualan MBDK 15% lebih rendah, dengan elastisitas harga permintaan dari −1,59. Tidak ada perubahan negatif yang ditemukan, sehingga cukai MBDK dapat berfungsi untuk mengurangi permintaan MBDK melalui harga yang lebih tinggi. Namun demikian, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami hubungannya dengan hasil akhir proses perubahan diet, derajat kesehatan dan heterogenitas tanggapan dari konsumen.
Cukai MBDK diusulkan sebagai alat kebijakan untuk mengatasi peningkatan prevalensi pola makan yang buruk, obesitas, dan beban biaya ekonomi dan sosial. Penyakit tidak menular (PTM) menyebabkan 71% kematian secara global, diperkirakan 40% kasus dikaitkan dengan faktor makanan yang tidak sehat. Kekhawatiran tentang PTM terkait diet semakin meningkat, karena hubungannya dengan derajat klinis yang lebih parah saat terpapar COVID-19, termasuk rawat inap di RS dan kematian.
Saat ini, setidaknya 85 negara telah menerapkan cukai MBDK, bahkan berapa negara telah berhasil menerapkan cukai tersebut dengan baik, yaitu Meksiko, Afrika Selatan, dan Inggris. Cukai MBDK dapat menjadi strategi jalan tengah (win-win) kemenangan untuk kesehatan masyarakat dan menurunkan biaya perawatan kesehatan, kemenangan untuk pendapatan pemerintah, dan kemenangan untuk ekuitas kesehatan.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat setidaknya 61,27% penduduk Indonesia usia tiga tahun ke atas mengonsumsi MBDK lebih dari 1 kali per hari. Juga 30,22% orang mengonsumsi MBDK sebanyak 1-6 kali per minggu dan 8,51% orang mengonsumsi MBDK kurang dari 3 kali per bulan. Pada hal rekomendasi konsumsi maksimum gula sebanyak 50 gram per hari atau empat sendok makan.
Kebijakan cukai di Indonesia sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 39 Tahun 2007 Tentang Cukai MBDK, untuk untuk mencegah penyakit, cedera, dan kematian dini pada anak di sekitar kita. Mengapa cukai MBDK masih juga belum diterapkan pada tahun 2026?
Sekian
Yogyakarta, 9 Desember 2025
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.
Tema tahun 2025 ini “Awal yang sehat, masa depan yang penuh harapan”, untuk mengingatkan kita bahwa setiap bayi berhak mendapatkan kesempatan hidup yang adil, dimulai dari hari pertama mereka. Berikan bayi prematur awal yang sehat untuk masa depan yang penuh harapan. Apa yang harus kita lakukan?
Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 8 Desember 2025, halaman 8, kolom HUSADA dengan judul : Perawatan berkualitas bagi bayi prematur.
Awal yang kuat bukan hanya tentang bayi yang bertahan hidup, tetapi ini juga tentang janji profesi dokter dalam menghormati setiap kehidupan. Jadi ini tentang jaminan bagi bayi kecil agar tidak hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk berkembang dan suatu hari nanti, mengubah dunia. Kegagalan memberikan perawatan khusus yang dibutuhkan bayi mungil ini berarti hilangnya potensi besar di kemudian hari. Beberapa tokoh terhebat dalam sejarah dunia lahir terlalu dini. Bayi prematur yang terkenal antara lain Albert Einstein, Isaac Newton, Charles Darwin, dan Pablo Picasso.
Kampanye ini memiliki beberapa seruan utama untuk bertindak bagi semua negara yaitu pertama, berinvestasi dalam perawatan khusus untuk bayi baru lahir kecil dan sakit, termasuk unit neonatal, staf terlatih, ruang khusus, dan peralatan kesehatan penyelamat jiwa. Kedua, memperkuat layanan kesehatan ibu untuk mencegah kelahiran prematur dan mendeteksi masalah kesehatan sejak dini. Ketiga, mendukung keluarga dengan sumber daya emosional, finansial, dan praktis untuk merawat bayi mungil mereka. Dan keempat, memastikan kesetaraan sehingga kelangsungan hidup tidak bergantung pada lokasi geografis atau pendapatan, tetapi memberikan setiap bayi prematur, sejak usia sangat muda, kesempatan terbaik untuk masa depan yang cemerlang.
Sekitar 1 dari 10 bayi di seluruh dunia lahir prematur, yaitu lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. Tanpa perawatan yang efektif, mereka berisiko tinggi mengalami kondisi kesehatan yang mengancam jiwa seperti gangguan pernapasan, infeksi, dan hipotermia, yang secara keseluruhan menyebabkan ratusan ribu kematian yang sebenarnya dapat dicegah setiap tahun. Untuk itu, mulai tahun 2025 WHO secara resmi menambahkan Hari Prematuritas Dunia setiap 15 November ke dalam kalender kesehatan internasional. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kesadaran akan dampak kelahiran prematur dan mengupayakan perawatan berkualitas bagi setiap bayi prematur.
Saat WHO mengkampanyekan Hari Prematuritas Dunia untuk pertama kalinya pada 2008, ditandai dengan peluncuran panduan Perawatan Metode Kanguru (PMK). PMK ini adalah sebuah intervensi medis sederhana dan telah terbukti mampu menyelamatkan jiwa bayi prematur, sehingga selalu dikampanyekan ulang setiap tahun.
Setiap tahun secara global diperkirakan 15 juta bayi lahir prematur dan komplikasi akibat kelahiran prematur merupakan penyebab utama kematian pada anak balita. Di negara miskin, sebagian besar bayi prematur ekstrem meninggal dalam beberapa hari, sementara di banyak negara berpenghasilan tinggi, hampir semuanya bertahan hidup. PMK, yang menggabungkan kontak kulit ke kulit dengan pemberian ASI eksklusif, telah terbukti secara dramatis meningkatkan hasil klinis untuk bayi baru lahir kecil dan prematur, serta layak dan hemat biaya di semua situasi. PMK berhubungan dengan penurunan lebih dari 30% angka kematian bayi baru lahir, penurunan hampir 70% angka hipotermia, penurunan 15% angka infeksi berat, peningkatan berat badan bayi dan kesehatan jangka panjang, serta perkembangan kognitif yang lebih baik.
Meskipun ibu biasanya menjadi penolong utama, ayah, nenek dan anggota keluarga lainnya juga dapat malakukan PMK saat ibu tidak mampu, sekaligus memberikan dukungan emosional dan praktis yang krusial. PMK dapat dipraktikkan di semua tingkat fasilitas kesehatan, mulai dari ruang bersalin atau ruang operasi hingga bangsal pascanatal dan unit perawatan bayi baru lahir khusus atau intensif, dan dapat dilanjutkan di rumah.
Semua bayi baru lahir kecil dan sakit membutuhkan perawatan dan perhatian medis yang berdedikasi. WHO mengimbau pemerintah, sistem kesehatan, dan mitra untuk memprioritaskan perawatan berkualitas bagi bayi prematur dan bayi berat lahir rendah. Ini berarti memastikan bangsal atau fasilitas khusus dengan staf neonatal terlatih, yang menyediakan perawatan 24 jam bagi bayi baru lahir kecil dan sakit, serta akses terhadap alat kesehatan dan obat penting seperti antibiotik.
Karena waktu mereka di dalam rahim lebih singkat, banyak bayi prematur memiliki paru-paru, otak, sistem kekebalan tubuh, dan kapasitas pengaturan suhu yang belum berkembang. Hal ini meningkatkan risiko infeksi, hipotermia, masalah jantung, gangguan pernapasan, dan komplikasi lain yang mengancam jiwa.
“Tidak boleh lagi ada bayi baru lahir yang meninggal, karena penyebab yang dapat dicegah,” kata Dr. Per Ashorn, Kepala Unit Kesehatan dan Perkembangan Bayi Baru Lahir dan Anak WHO. Sudah saatnya kita semua memastikan setiap bayi prematur mendapatkan layanan medis yang mereka butuhkan, dengan berinvestasi dalam perawatan khusus untuk bayi kecil atau sakit, di samping layanan kebidanan yang dapat mencegah kejadian kelahiran prematur. Selain itu, juga mengingatkan pentingnya PMK untuk setiap bayi prematur, sebagai awal yang kuat agar bayi bertahan hidup, sesuai janji profesi dokter dalam menghormati setiap kehidupan.
Apakah kita sudah melakukannya?
Sekian Yogyakarta, 25 November 2025 *) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.
Perubahan iklim telah memicu darurat kesehatan global, dengan lebih dari 540.000 orang meninggal akibat panas ekstrem setiap tahun dan 1 dari 12 rumah sakit di seluruh dunia berisiko mengalami penutupan terkait perubahan iklim. Apa yang mencemaskan?
Data tersebut terdapat pada laporan bersama yang disusun oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Pemerintah Brasil (Presidensi COP30), dan Kementerian Kesehatan Brasil. COP30 (Konferensi Para Pihak ke-30) adalah bagian dari Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), yang diadakan di Belém, Brasil, pada 10-21 November 2025.
“Krisis iklim adalah krisis kesehatan, bukan di masa depan yang jauh, tetapi di sini dan saat ini,” ujar Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO. Laporan tersebut menampilkan bukti tentang dampak perubahan iklim terhadap individu dan sistem kesehatan, serta contoh nyata tentang apa yang dapat dilakukan, dan sedang dilakukan, oleh berbagai negara untuk melindungi kesehatan dan memperkuat sistem kesehatan.
Dengan suhu global yang kini melebihi 1,5°C di atas tingkat pra-industri, dunia telah mengalami dampak kesehatan yang semakin meningkat. Sekitar 3,3 hingga 3,6 miliar orang telah tinggal di daerah yang sangat rentan terhadap perubahan iklim, dan rumah sakit menghadapi risiko kerusakan akibat dampak cuaca ekstrem 41% lebih tinggi dibandingkan tahun 1990. Hal ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk memperkuat dan mengadaptasi sistem kesehatan guna melindungi masyarakat dari guncangan terkait iklim.
Tanpa dekarbonisasi yang cepat, jumlah RS yang berisiko dapat berlipat ganda pada pertengahan abad ini, yang menekankan pentingnya penerapan langkah-langkah adaptasi untuk melindungi infrastruktur kesehatan. Sektor kesehatan sendiri menyumbang sekitar 5% emisi gas rumah kaca global dan membutuhkan transisi cepat ke sistem rendah karbon dan berketahanan iklim. Hanya ada 54% rencana adaptasi kesehatan nasional berbagai negara yang terkait dengan risiko perubahan iklim terhadap RS, dan kurang dari 30% penelitian tentang adaptasi RS yang berfokus pada pendapatan, 20% mempertimbangkan gender, dan kurang dari 1% melibatkan penyandang disabilitas.
“Buktinya jelas: melindungi sistem kesehatan adalah salah satu investasi paling cerdas yang dapat dilakukan oleh negara manapun,” kata Profesor Nick Watts, Ketua Kelompok Penasihat Ahli dan Direktur, Pusat Kedokteran Berkelanjutan NUS. Mengalokasikan hanya 7% dari pendanaan adaptasi untuk kesehatan akan melindungi miliaran orang dan menjaga layanan penting di RS tetap beroperasi, selama guncangan iklim dan ketika pasien sangat membutuhkannya.
Ada kemajuan yang sedang dicapai antara tahun 2015 dan 2023, jumlah negara dengan Sistem Peringatan Dini Multi-Bahaya nasional meningkat dua kali lipat menjadi 101, yang kini mencakup sekitar dua pertiga populasi global. Namun, hanya 46% Negara Terbelakang dan 39% Negara Berkembang Kepulauan Kecil yang memiliki sistem tersebut yang efektif.
Kini terdapat lebih dari cukup bukti untuk meningkatkan tindakan, hari ini juga. Intervensi yang hemat biaya dan berdampak tinggi telah tersedia untuk setiap komponen dalam Rencana Aksi Kesehatan Belém Brasil. Namun demikian, strategi adaptasi pada akhirnya dapat gagal, kecuali jika strategi tersebut mengatasi akar penyebab kesenjangan derajat kesehatan, baik di dalam sistem kesehatan maupun di seluruh masyarakat.
Rencana Aksi Kesehatan Belém Brasil menyerukan kepada setiap pemerintah untuk pertama, mengintegrasikan tujuan pembangunan bidang kesehatan ke dalam Rencana Adaptasi Nasional. Kedua, memanfaatkan penghematan finansial dari dekarbonisasi untuk mendanai adaptasi kesehatan. Ketiga, berinvestasi dalam infrastruktur yang tangguh, dengan memprioritaskan RS dan layanan esensial. Dan keempat, memberdayakan masyarakat untuk membentuk respons yang memadai.
Pemerintah Brasil juga merilis laporan pendamping, yang menyoroti bahwa perubahan iklim menimbulkan risiko besar terhadap kesehatan manusia, terutama bagi populasi yang rentan dan terpinggirkan secara historis. Selain itu, adaptasi yang efektif memerlukan keterlibatan aktif masyarakat dalam merancang, menerapkan, dan memantau kebijakan kesehatan.
“Dengan merilis laporan ini, Brasil dan WHO menegaskan kembali pentingnya COP30 sebagai COP Kebenaran. Laporan ini memberikan data dan bukti yang jelas bahwa perubahan iklim telah berdampak langsung pada sistem kesehatan di seluruh dunia,” ujar Dr. Alexandre Padilha, Menteri Kesehatan Brasil. Tragedi baru-baru ini menunjukkan bahwa sekaranglah saatnya untuk menerapkan kebijakan dan tindakan yang mengatasi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan.
Rencana Aksi Kesehatan Belém, Brasil menguraikan tiga lini aksi untuk sistem kesehatan yang tangguh terhadap perunahan iklim. Pertama, surveilans dan pemantauan, yang berfokus pada penguatan surveilans kesehatan terpadu dan berbasis iklim. Kedua, kebijakan, strategi, dan pengembangan kapasitas berbasis bukti, yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan sistem nasional dan lokal, dalam menerapkan solusi yang efektif dan berbasis kesetaraan. Dan ketiga, inovasi, produksi, dan kesehatan digital, yang mendorong penelitian, pengembangan, dan akses terhadap teknologi yang memenuhi kebutuhan kesehatan, untuk beragam populasi.
Sudahkah kita bertindak bijak?
Sekian
Yogyakarta, 19 November 2025
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161
Lebih dari 390 juta anak dan remaja berusia 5–19 tahun mengalami kelebihan berat badan pada tahun 2022, termasuk 160 juta orang yang mengalami obesitas. Angkanya terus meningkat, bahkan pada tahun 2024, 35 juta anak balita global mengalami kelebihan berat badan. Apa yang mencemaskan?
Tulisan ini telah dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta pada Minggu, 23 November 2023, halaman 8, kolom HUSADA
Kelebihan berat badan adalah kondisi timbunan lemak yang berlebihan. Obesitas adalah penyakit kronis kompleks yang ditandai dengan timbunan lemak berlebih yang dapat mengganggu kesehatan. Diagnosis kelebihan berat badan dan obesitas dilakukan dengan mengukur berat badan dan tinggi badan seseorang, kemudian menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT), dengan rumus berat badan (kg)/tinggi badan² (m²). Kategori IMT untuk mendefinisikan obesitas bervariasi berdasarkan usia dan jenis kelamin. Untuk dewasa, kelebihan berat badan adalah IMT lebih besar dari 25, dan obesitas lebih besar dari 30.
Untuk anak balita, kelebihan berat badan adalah rasio berat badan terhadap tinggi badan yang lebih besar dari 2 standar deviasi dan obesitas bila lebih besar dari 3 standar deviasi di atas median Standar Pertumbuhan Anak WHO. Untuk anak usia 5–19 tahun, kelebihan berat badan rasio IMT terhadap usia lebih besar dari 1 dan obesitas lebih besar dari 2 standar deviasi di atas median Referensi Pertumbuhan WHO.
Pada tahun 2024, diperkirakan 35 juta anak balita mengalami kelebihan berat badan. Sebelumnya hal ini dianggap sebagai masalah di negara berpenghasilan tinggi saja, namun demikian saat ini kelebihan berat badan justru meningkat di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Di Afrika, jumlah anak balita yang kelebihan berat badan telah meningkat hampir 12,1% sejak tahun 2000. Hampir separuh dari anak balita yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas pada tahun 2024 berada di Asia.
Kelebihan berat badan dan obesitas disebabkan oleh ketidakseimbangan asupan energi (pola makan) dan pengeluaran energi (aktivitas fisik). Pada sebagian besar kasus, obesitas merupakan penyakit multifaktorial yang disebabkan oleh lingkungan obesogenik, faktor psikososial, dan varian genetik. Pada sebagian kecil pasien, faktor etiologi utama tunggal dapat diidentifikasi, misalnya obat, penyakit, imobilisasi, prosedur iatrogenik, penyakit monogenik atau sindrom genetik.
Lingkungan obesogenik yang meningkatkan kemungkinan obesitas terkait dengan faktor struktural. Misalnya kondisi yang membatasi ketersediaan pangan sehat berkelanjutan dengan harga terjangkau secara lokal, kurangnya mobilitas fisik yang aman dan mudah dalam kehidupan sehari-hari, dan tidak adanya hukum dan peraturan yang memadai. Di saat yang sama, kurangnya respons sistem kesehatan yang efektif untuk mengidentifikasi kelebihan berat badan dan penumpukan lemak pada tahap awal, memperparah perkembangan obesitas.
Kelebihan berat badan tidak hanya memengaruhi kesehatan anak dan remaja secara langsung, tetapi juga dikaitkan dengan risiko yang lebih besar dan timbulnya berbagai PTM (Penyakit Tidak Menular) lebih dini, seperti diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular. Obesitas pada masa anak dan remaja memiliki konsekuensi psikososial yang merugikan, bahkan obesitas memengaruhi prestasi sekolah dan kualitas hidup anak. Selain itu, juga diperparah oleh stigma, diskriminasi, dan perundungan. Anak dengan obesitas sangat mungkin akan menjadi orang dewasa dengan obesitas dan juga berisiko lebih tinggi terkena PTM di masa dewasa.
Dampak ekonomi dari epidemi obesitas juga patut dicermati. Jika sekarang tidak ada tindakan yang diambil, biaya global akibat kelebihan berat badan dan obesitas diperkirakan mencapai US$ 3 triliun per tahun pada tahun 2030 dan lebih dari US$ 18 triliun pada tahun 2060. Terakhir, peningkatan angka obesitas di negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk di antara kelompok sosial ekonomi rendah, dengan cepat menjadikan obesitas sebagai masalah global, pada hal sebelumnya hanya terkait dengan negara berpenghasilan tinggi.
Banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah menghadapi apa yang disebut beban ganda malnutrisi. Dalam hal ini berarti bahwa sementara negara ini terus menghadapi masalah penyakit menular dan kekurangan gizi, tetapi negera tersebut juga mulai mengalami peningkatan pesat obesitas dan kelebihan berat badan. Bahkan kekurangan dan kelebihan gizi seperti obesitas sering ditemukan terjadi bersamaan di negara yang sama, komunitas yang sama, dan bahkan rumah tangga yang sama.
Kegemukan dan obesitas, serta penyakit tidak menular yang terkait, sebagian besar dapat dicegah dan ditangani. Pada tingkat individu, setiap orang dapat mengurangi risiko kelebihan berat badan dengan menerapkan intervensi pencegahan di setiap tahap siklus kehidupan, mulai dari pra-konsepsi dan berlanjut hingga tahun-tahun awal kehidupan.
Hal ini meliputi pertama, memastikan kenaikan berat badan yang sesuai selama kehamilan. Kedua, memberikan ASI eksklusif dalam 6 bulan pertama setelah kelahiran dan melanjutkan pemberian ASI hingga usia 2 tahun. Ketiga, mendukung perilaku anak seputar pola makan sehat, aktivitas fisik, perilaku rebahan (sedentary), dan tidur. Keempat, membatasi waktu menonton layar (screen time). Kelima, batasi konsumsi minuman manis dan makanan padat energi, serta promosikan perilaku makan sehat lainnya. Selain itu, dampingi anak membentuk pola hidup sehat (makan sehat, aktivitas fisik, durasi dan kualitas tidur, hindari tembakau dan alkohol, serta pengaturan emosi diri). Batasi anak dengan asupan energi dari total lemak dan gula, tingkatkan konsumsi buah dan sayur, serta menu kacang-kacangan atau biji-bijian. Yang terakhir, dampingi anak melakukan aktivitas fisik secara teratur.
Para dokter dan tenaga kesehatan perlu melakukan berbagai hal penting. Pertama, menilai berat dan tinggi badan setiap anak yang datang ke fasilitas kesehatan. Kedua, memberikan konseling tentang pola makan dan gaya hidup sehat. Ketiga, ketika diagnosis obesitas ditegakkan, menyediakan layanan kesehatan terpadu untuk pencegahan dan pengelolaan obesitas, termasuk edukasi pola makan sehat, aktivitas fisik, dan tindakan medis serta bedah. Dan keempat, memantau faktor risiko PTM lainnya (glukosa darah, lipid, dan tekanan darah) serta menilai keberadaan penyakit penyerta dan disabilitas, termasuk gangguan kesehatan mental.
Menghentikan peningkatan obesitas membutuhkan tindakan multisektoral seperti manufaktur, pemasaran, dan penetapan harga pangan, bahkan tindakan lain yang berupaya mengatasi determinan kesehatan yang lebih luas, seperti penanggulangan kemiskinan dan perencanaan kota. Kebijakan pemerintah di semua tingkatan meliputi tindakan struktural, fiskal, dan regulasi yang bertujuan menciptakan lingkungan pangan sehat yang menyediakan pilihan pangan sehat. Selain itu, juga program sektor kesehatan yang dirancang untuk mengidentifikasi faktor risiko, mencegah, mengobati, dan mengelola PTM dan memperkuat sistem kesehatan melalui pendekatan pelayanan kesehatan primer.
Selain itu, peran pelaku industri pangan juga penting dalam mempromosikan pola makan sehat untuk anak dengan pertama, mengurangi kandungan lemak, gula, dan garam dalam pangan olahan. Kedua, memastikan pilihan pangan sehat dan bergizi tersedia dan terjangkau bagi seluruh konsumen anak. Ketiga, membatasi pemasaran pangan tinggi gula, garam, dan lemak, terutama pangan yang ditujukan untuk anak dan remaja. Dan keempat, memastikan ketersediaan pilihan pangan sehat dan mendukung praktik aktivitas fisik rutin di tempat kerja.
Sudahkah kita bertindak bijak?
Sekian
Yogyakarta, 2 Oktober 2025
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Dekan FK UAJY, WA : 081227280161
Dalam rangka mempromosikan Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FK UAJY), kami mengeksplor Timor. Minggu malam, 19 Oktober 2025 kami naik KA Pasundan kelas ekonomi dari Stasiun Lempuyangan Yogyakarta, menuju ke Stasiun Gubeng Surabaya.
Bergaya sebelum berangkat, di gerbang Stasiun Lempuyangan Yogyakarta
Dalam kabin kelas ekonomi KA Pasundan yang akan melaju kencang ke Stasiun Gubeng Surabaya
Mendarat di Stasiun Gubeng Surabaya yang bersih
Perjalanan menyusuri rel menempuh 320 km dan kami lanjutkan dengan berdoa Porta Sancta di Gereja Katolik Katedral Hati Kudus Tuhan Yesus, di Jl. Polisi Istimewa 11 Surabaya. Terus kami menuju Bandara Juanda di Sidoarjo untuk terbang dalam perut pesawat Lion Air / JT 697 pada pk. 05:45 dan mendarat di Eltari Airport Kupang NTT pk. 07:45. Petualangan mengeksplore Timor langsung dimulai.
Porta Sancta Gereja Katedral Hati Kudus Tuhan Yesus Surabaya
Gedung Gereja Katedral Surabaya yang dirancang Ed Cypress Bureau
Siap meninggalkan Bandara Juanda Surabaya, dengan Boeng 737 seri 800 Next Generation Lion Air menuju Kupang
Pulau Timor adalah sebuah pulau di bagian selatan Indonesia, terbagi antara negara merdeka Timor Leste dan kawasan Timor Barat, bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Timur. Luas Pulau Timor sekitar 30.777 km². Nama pulau ini diambil dari kata ‘timor’, bahasa Melayu untuk “timur”; dinamakan demikian karena pulau ini terletak di ujung timur rantai kepulauan nusantara.
Sejarah Pulau Timor berasal dan berawal dari Gunung Lakaan, Belu, leluhur pertama orang Tetun bernama Laka Lorok Kmesak. Catatan sejarah paling awal tentang pulau Timor adalah Nagarakretagama pada abad ke-14, yaitu Pupuh 14, yang mengidentifikasi bahwa Timor sebagai sebuah pulau dalam wilayah Majapahit. Timor tercantum di dalam sastra kuno Jawa, disebutkan sebagai bagian jaringan perdagangan Cina dan India abad ke-14 sebagai pengekspor kayu cendana aromatik, budak, madu dan lilin.
Kenangan bersama Bang Drs. Alfred Herman Welem Fina, MKes, (paling kanan, tangan di saku celana) pada tahun 1992 saat sebagai Kepala Bagain Umum Kanwil Kesehatan NTT, menerima para dokter PNS baru yang ditempatkan di seluruh NTT.
Siap mengeksplore Timor dalam Mitshubishi Triton Merahditemani pak Alfred (bertopi) dan pak David, adiknya
Ditemani Bang Drs. Alfred Herman Welem Fina, MKes, pensiunan Widyaiswara Madya UPTD Latnakes Jl. Adisucipto Penfui Kupang, yang kami kenal baik sejak pada tahun 1992 saat sebagai Kepala Bagian Umum Kanwil Kesehatan NTT, menerima para dokter PNS baru yang ditempatkan di seluruh NTT. Ditemani adik kandungnya, yaitu Direktur Yayasan Pelayanan dan Pengembangan Masyarakat Alfa Omega (YAO) 2020-2023 milik Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Bapak Pdt. David Alfons Nikolas Fina, STh, MA kami terguncang di dalam Mitsubhisi Triton doube cabin menyusuri jalan nasonal Trans Timor jalur tengah sejauh 194 km menuju ke Kefamenanu di Timor Tengah Utara (TTU). Jalanan yang berkelok berulang, menanjak dan menurun berliku, dilahap habis oleh ketrampilan tangan Bapak Pendeta David mengemudikan kegarangan Mitsubhisi Triton bermesin diesel 4N15 berkapasitas 2.4 liter, dengan tenaga hingga 136 ps pada 3.500 rpm dan torsi 324 Nm berpenggerak 4 roda. Diselingi sesi makan sei di siang yang sejuk di Soe, ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), kami lanjut ke Timor Tengah Utara (TTU), menggapai ibukotanya, yaitu Kefamenanu.
Santap siang menu sei di Soe, ibukota Timor Tengah Selatan
Kefamenanu adalah sebuah kota kecil di Lembah Bikomi, yang didirikan oleh Belanda pada tanggal 22 September 1922. Kota ini kemudian dijadikan sebagai ibu kota Pemerintahan Belanda yang disebut Onderafdeling Noord-Midden Timor, dalam usaha Belanda untuk menguasai Pulau Timor seluruhnya, karena sudah bercokol lebih dahulu Portugis di ujung timur Pulau Timor dan sebagian wilayah utara, yang kini dikenal dengan nama Oecussi-Ambeno. Topasses (Portugis Hitam) yang menguasai bagian utara Pulau Timor dan beberapa wilayah lainnya berusaha menghalangi langkah Belanda masuk ke pedalaman Timor.
Dibentuklah Onderafdeling Noord Midden Timor dengan Controleur Landshoofd Noord-Midden Timor adalah Letnan Sketel Olifielt. Saat mencoba mencari wilayah yang dianggap pas untuk dijadikan sebagai kota dan pusat Pemerintahan Militer Belanda, berjumpa dengan seorang warga (rakyat dari Usif Bana yang sedang menggembalakan sapi dan tinggal di Nuntaen) dan bertanya dalam bahasa Melayu, “Di mana ada sumber air?”, warga yang ditanya tersebut dengan setengah mengerti menunjuk ke sebuah arah sambil menyebut: “Kefa’mnanu!”. Dan akhirnya tempat itu diberi nama Kefamenanu (setelah disesuaikan dengan dialek Bahasa Belanda) dan pada tanggal 22 September 1922, ibu kota Pemerintahan Militer Belanda (Onderafdeeling Noord Midden Timor) di Noetoko pindah ke Kefamenanu.
Kami segera menuju Gereja Paroki Santo Antonius Padua Sasi, yang merupakan salah satu gereja yang terkenal di Kefamenanu, Nusa Tenggara Timur. Gereja ini tidak hanya menjadi tempat ibadah bagi umat Katolik di sekitar daerah tersebut, tetapi juga simbol sejarah dan budaya yang kental. Terletak di jantung kota Kefamenanu, gereja ini menjadi saksi bisu perkembangan keimanan dan kebudayaan masyarakat setempat selama bertahun-tahun.
Pengalungan kain tenun khas Kefamenanu dalam sambutan hangat di depan gerbang Gereja St. Antonius Padua Sasi
Kami disambut hangat oleh para bidan yang merupakan mahasiswa Prodi Sarjana STIKES Guna Bangsa Yogyakarta, yang selama ini telah berulang bertatap muka dengan layar (zoom) saat berdiskusi dalam mata kuliah Kegawatdaruratan Neonatal.
Porta Sancta di Gerbang Gereja Santo Antonius Padua Sasi, Kefamenanu
Luar biasa penyambutan yang kami terima, termasuk pengalungan kain adat di depan Gerbang Gereja Porta Sancta. Gereja Santo Antonius Padua Sasi memiliki arsitektur khas dengan sentuhan gaya kolonial yang memukau. Bangunan gereja yang megah dan kokoh ini tersusun dari batu alam berwarna coklat dengan gereja membentuk setengah lingkaran. Interior gereja yang indah, lengkap dengan altar berornamen dan patung-patung santo, menambah kekhidmatan suasana bagi siapa pun yang beribadah di sana.
Gereja indah di Kefamenanu
Sambutan hangat oleh para bidan di Kefamenanu
Interior Gereja Santo Antonius Padua Sasi, Kefamenanu TTU
Setelah berpisah dengan Pak Alfred Herman Welem Fina yang lanjut ke Atambua, kami bertiga segera meneruskan mengeksplore Timor. Terus disopiri Pdt. David Alfons Nikolas Fina, ahli anthropologi budaya alumnus Menchester UK yang banyak cerita, kami lanjut menyusuri jalanan berliku tajam, tetapi tetap beraspal mulus di seputaran pegunanan Mutis dalam areal Taman Nasional Mutis Timau, yang mengandung marmer kelas dunia, mengeksplore Timor.
Pulau ini secara politik dibagi menjadi dua bagian selama berabad-abad. Belanda dan Portugis berebut untuk mengontrol pulau itu sampai tercapai Perjanjian Lisboa pada tahun 1859, tetapi keduanya masih belum secara resmi menyelesaikan masalah perbatasan hingga tahun 1912.
Pada 1945, Indonesia memproklamirkan kemerdekaan dan tak lagi di bawah cengkraman Belanda. Pada tahun itu, Portugal masih menguasai Timor Timur. Pada awal dekade 1970-an, Portugal bergejolak dan terjadi Revolusi Anyelir terjadi pada 25 April 1974, pasukan Jenderal António de Spínola mampu yang menggulingkan kediktatoran rezim Estado Novo, dengan tokohnya yang terkenal adalah Américo Tomás, Marcelo Caetano dan Joaquim da Silva Cunha. Pemerintah pusat Lisabon lalu menarik semua pasukan di daerah jajahan termasuk Timor Leste pada Agustus 1973.
Setelah Portugal cabut, Timor-timur mendeklarasikan kemerdekaan pada 1975. Kemudian terjadi kerusuhan internal dan partai Fretilin yang dicurigai komunis mulai mendominasi kekuatan, sehingga mendorong sebuah invasi oleh tentara Indonesia, yang menentang konsep Timor Portugis untuk merdeka. Pada tahun 1975, wilayah Timor Portugis diintegrasikan oleh Indonesia dan kemudian dikenal sebagai provinsi Timor Timur (Timtim) yang merupakan provinsi ke-27 Indonesia dengan ibu kota Dili, tetapi aneksasi ini tidak pernah diakui oleh PBB atau Portugal. Kami pernah mengunjungi Dili pada 12 Desember 1992, saat masih menjadi ibukota Timtim yang bersamaan dengan terjadinya gempa bumi besar di Maumere
Timor-Leste (Republik Demokratik Timor-Leste) yang sebelum merdeka bernama Timor Timur, berada dekat di sebelah utara benua Australia dan merupakan bagian timur pulau Timor. Selain itu wilayah negara ini juga meliputi pulau Kambing atau Atauro, Jaco, dan Oe-Cusse Ambeno di Timor Barat. Negara ini memiliki luas sekitar 15.007 kilometer persegi dengan Dili, kota di pesisir utara Pulau Timor, menjadi ibu kota dan kota terbesarnya.
Pada tanggal 20 Mei 2002, Konstitusi Republik Demokratis Timor-Leste mulai berlaku dan Timor-Leste diakui sebagai negara merdeka dan berdaulat oleh PBB. Parlemen Nasional dibentuk dan Xanana Gusmão dilantik sebagai Presiden pertama negara tersebut. Gusmão menolak masa jabatan presiden yang kedua kalinya. José Ramos-Horta terpilih sebagai presiden pada pemilihan bulan Mei 2007, sementara Gusmão mengikuti kontestasi pemilihan parlemen dan menjadi Perdana Menteri.
Urutan Presiden Timor Leste setelah Xanana Gusmao sejak awal adalah Francisco Xavier do Amaral, Nicolau dos Reis Lobato, Xanana Gusmão, José Ramos-Horta, Vicente Guterres, Fernando de Araújo, Taur Matan Ruak, Francisco Guterres dan sekarang kembali José Ramos-Horta.
Pos Napan yang memisahkan Indonesia dan Timor Leste
Kami di batas negara Indonesia dan Timor Leste
Petualangan dalam Mitsubishi Triton DH 8458 AK menyeberang batas negara
Senin, 20 Oktober 2025 kami mencapai Pos Lintas Batas (PLBN) Napan, yang merupakan pos lintas batas terpadu Indonesia-Timor Leste di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) NTT. Pos ini diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 2 Oktober 2024 bersama dengan enam PLBN terpadu lainnya, dan pengoperasiannya kembali sejak April 2025 menandai peningkatan pelayanan, keamanan, dan pergerakan ekonomi di wilayah perbatasan. Setelajh proses imigrasi dan bea cukai yang sedikit memakan waktu, kami lanjut mengunjungi Distrik Otonomi Oecusse (Oecusse-Ambeno) yang merupakan sebuah eksklave, terletak di pantai utara bagian barat Timor. Oecusse dipisahkan dari wilayah Timor Leste lainnya oleh Timor Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Timor Barat mengelilingi Oecusse di semua sisi kecuali utara, di mana eksklave ini menghadap ke Laut Sawu. Ibu kota Oecusse adalah Pante Makasar atau sebelumnya saat jaman Timor Portugis disebut Vila Taveiro.
Tumtum adalah sepeda motor untuk penumpang di Oecusee
Kantor resmi Penghubung KBRI Dilli di Oecusse Timor Leste
Kami disambut hangat oleh Kepala Kantor Penghubung KBRI Dili di Oecusse Timor Leste, Bapak Bonifasius Agung Nugroho, SE, Akt, MPA. Alumnus Master of Public Administration dari Lee Kuan Yew School of Public Policy, Singapura adalah ayah kandung Dharma (7 tahun) pasien kami di RS Panti Rapih Yogyakarta. Setelah dijamu makan malam menu sop ikan ekor kuning yang merupakan menu kuliner lokal, kami menginap semalam di KBRI-Oecusse R92C+G53, Pante Macassar
Jamuan makan malam kenegaraan dengan menu lokal, sop asam manis ikan ekor kuning oleh Bapak Boni Nugroho di Oecusse
Jembatan karya BUMN Indonesia Waskita Karya yang indah
Selasa, 21 Oktober 2025
Ditulis di Oecusse Timor Leste (bersambung)
Mengeksplor Timor (hari kedua)
Dalam rangka mempromosikan Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FK UAJY), kami mengeksplor Timor. Selasa pagi, 21 Oktober 2025 kami terjaga dari tidur nyenyak dari mimpi indah di kamar utama Wisma Indonesia di Kantor Penghubung KBRI Dili untuk Oecusse, Timor Leste.
Tulisan estasionamentu reitor atau petugas parkir di Gereja St. Antonio Oecusse siap menjalankan tugas
Suasana umat yang khusuk berdoa di depan kami, saat misa kudus harian pagi di Gereja Santo Antonio Oecusse
Gedung Gereja Santo Antonio yang dibangun Portugis tahun 1965 di Oecusse
Pagi itu kami berdua bergegas berjalan kaki menyusuri Pante Maksar, sejajar dengan Av. Santo António, melewati Secretária Regional para a Educação e Solidariedade Social, menyusuri bibir pantai Laut Sewu yang indah. Kami menyususuri trotoar yang raspi, rata dan lebar, terus berjalan kaki melewati Estatua Nossa Senhora (Patung Bunda Maria) yang sayang sekali tertutup seng biru karena proses renovasi, untuk mencapai Igreja Consagrada a Santo António (Gereja Katolik Santo Antonius) untuk mengikuti misa kudus harian pagi. Gereja St. Antonius ini sebelumnya bernama Nossa Senhora do Rosário, dibangun di pinggir pantai Oecusse pada tahun 1965 oleh Portugis. Awal mulanya sebagai tempat tinggal Ordo Dominikan. Hingga saat ini, umat Katolik di Oecusse menghidupkan sebuah tradisi khusus selama Pekan Suci Paskah setiap tahun di paroki ini. Pada saat perayaan Paskah umat Katolik di Oecusse melakukan prosesi besar-besaran untuk menghormati Senhor Morto (patung seukuran tubuh Yesus yang terletak sujud di platform khusus dalam gereja tersebut). Dalam khusuk kami berdoa dan menerima tubuh Kristus, pada misa kudus berbahasa Tetun yang sama sekali tidak kami pahami secara logika, tetapi kami selami secara nurani, untuk kelancaran semua penugasan untuk kami.
Jalanan yang mulus, lebar, datar, sepi dan menyusuri pantai Laut Sawu di Oecusse
Jembatan Noefefa yang artistik buah karya PT Adhi Karya di Oecusse
Setelah misa kudus selesai, kami segera bergabung dengan Bapak Pdt. David Alfons Nikolas Fina, ahli anthropologi budaya alumnus Menchester UK yang banyak cerita, lanjut menyusuri jalanan halus sepanjang tepi Pante Makasar yang mengahadap Laut Sawu, dalamn Mitsubhisi Triton double cabin mengeksplore Timor di Oecusse.
Tujuan pertama kami adalah Jembatan Noefefa (mulut sungai) yang sering disebut warga setempat dengan nama Ponte Noefefa, yang melintasi muara sungai Noefefa sebelum aliran air sungainya menyatu dengan Laut Sawu. Jembatan baja lengkung yang kokoh, berwarna hijau dan telah kami kunjungi malam sebelumnya, kami datangi lagi saat pagi, untuk melihat keindahkan hasi bangunan BUMN PT. Adhi Karya pada bulan April 2017 hingga selesai tahun 2017. Jembatan Noefefa adalah jembatan jalan dua jalur di atas Sungai Tono, merupakan jembatan terbesar yang pernah dibangun di Timor Leste, dengan panjang 380 meter, dan menjadi salah satu ikon pariwisata bagi pemerintah Timor Leste khususnya di distrik Oecusse.
Jembatan Noefefa yang artistik buah karya PT Adhi Karya di Oecusse Timor Leste
Sejarah Oecusse bermula pada abad 15, sejumlah negara Eropa melakukan ekspansi ke wilayah di Asia Tenggara dengan tujuan awal mencari rempah-rempah. Portugis pertama kali mendarat pada 1511 di Malaka Malaysia. Pada awal 1512, kapal dagang Portugis rutin ke Pulau Timor untuk membeli kayu cendana sebagai komoditas utama dari pulau Timor. Pendaratan pertama Portugis di Pulau Timor adalah di Lifau, sedangkan Belanda baru berlabuh di Pelabuhan Banten pada 1596, dan seiring berjalannya waktu mereka tergiur untuk berdagang kayu cendana juga.
Monumen Lifau yang menggambarkan pendaratan Portugis pertama kali di Pulau Timor
Kami segera berbalik arah meninggalkan jembatan Noefefa dan tujuan kami selanjutnya adalah Lifau. Kami menikmati keindahan Monumen Lifau, yang menggambarkan peristiwa yang sangat penting dalam sejarah Timor-Leste dan Gereja Katolik di Pulau Timor. Di tempat tersebut, tepatnya di pantai Lifau inilah Portugis mendarat pada tahun 1515 dan memulai penjajahan selama lebih dari 450 tahun, hingga didirikan sebagai ibukota Portugis pada saat itu. Saat itu dari Lifau, para misionaris Katolik pertama mulai menyebarkan ajaran iman Katolik di pulau Timor. Pada Monumen Lifau terlihat perwira Portugis yang berwajah Kaukasus berbadan tidak tinggi, dan berhidung mancung membawa pedang terhunus menemui raja lokal. Di sampingnya berdiri seorang pastor Katolik yang menyertainya untuk menyebarkan Kabar Baik, iman dan harapan baru kepada masyarakat setempat.
Patung Perwira Portugis saat pertama kali mendarat di Pulau Timor, tertutup oleh Bapak Pdt. David Fina, karena badannya seukuran
Misionaris Katolik ikut bersama dalam pendaratan pertama kali Portugis di Pulau Timor pada Monumen Lifau Oecusse Timor Leste
Kami jadi mengingat pada Sabtu, 3 Oktober 2007 saat mengunjungi Monumen Penemuan (Discovery Monument), lambang penemuan dunia baru oleh para pelaut Portugis yang gagah berani, didirikan di tepi sungai Tajo di pusat kota Lisabon untuk mengenang jasa, semangat dan keberanian para pelaut Portugis. Merekalah yang berhasil menemukan jalur pelayaran ke seluruh dunia pada tahun 1448, terutama Vasco da Gama, setelah mereka berhasil menemukan teknologi pembuatan layar menjadi berbentuk kotak, sehingga laju kapal dapat lebih dikendalikan. ‘Discovery Monument’ ini merupakan hadiah dari Pemerintah Afrika Selatan, sebab Vasco da Gamalah yang mendarat di Cape Town, ujung selatan Afrika Selatan pada tahun 1488, sebelum melanjutkan pelayaran sampai di Natal 1492. Kolonisasi Portugis dimulai sejak mereka berhasil mencapai India dan menguasai hampir seluruh dunia, sehingga bahkan akhirnya ditandatanganilah perjanjian dengan Spanyol, untuk membagi 2 wilayah jajahan di seluruh dunia.
Monumen Penemuan (Discovery Monument), lambang penemuan dunia baru oleh para pelaut Portugis yang gagah berani, didirikan di tepi sungai Tajo di pusat kota Lisabon, Portugal yang kami kunjungi saat kami masih muda belia Sabtu, 3 Oktober 2007
Tidak hanya dengan Spanyol di belahan dunia lain Portugis bertikai, tetapi Belanda dan Portugis lalu terlibat perebutan wilayah pada 1859, untuk membagi Pulau Timor berdasarkan Perjanjian Lisbon. Timor Barat menjadi bagian Belanda dengan pusat koloni di Kupang, sementara Timor Timur menjadi bagian Portugis dengan pusat di Dili. Namun, pembagian itu meninggalkan Oekusi-Ambeno dan Noimuti sebagai daerah kantung yang dikelilingi wilayah kekuasaan Belanda. Pada 1916 Belanda membuat perbatasan definitif yang terus digunakan hingga akhir masa kolonial dan wilayah ini diberi status county (conselho), bernama Oecússi oleh pemerintah Portugis, dengan ibu kota Pante Makasar.
Pante Makassar adalah sebuah kota di pantai utara Timor Leste, 152 km atau 94 mil di sebelah barat Dili, ibu kota negara. Wilayah ini memiliki populasi 14.730 (2023) dan merupakan ibu kota eksklave dari Distrik Otonomi Khusus Oecusse. Nama ini secara harfiah berarti “Pantai Makassar”, mengacu pada perdagangan sebelumnya dengan Kesultanan Makassar (Kerajaan Gowa Tallo) di Pulau Sulawesi bagian selatan oleh Raja Tallo, Manginyarrang Daeng Makkio Karaeng Kanjilo, Sultan Mudaffar Tumammaliang ri Timoro pada tahun 1641. Secara lokal Pante Makassar dikenal juga sebagai Oecussi dan merupakan nama salah satu dari dua kerajaan asli yang membentuk eksklave. Yang lainnya adalah Ambeno. Selama penjajahan Portugis, kota ini juga dikenal sebagai Vila Taveiro.
Pembuatan jalan raya tambahan terlihat sambil mengenang keperkasaan Topass, menyusuri bibir pantai Laut Sawu, menjauh dari pusat Kota Pante Makasar di Oecusse Timor Leste
Lifau, yang terletak di pinggiran kota sekarang, adalah tempat di mana Portugis pertama kali mendarat di Pulau Timor dan merupakan ibu kota pertama Timor Portugis. Itu berlanjut sebagai ibu kota sampai tahun 1769, ketika dipindahkan ke Dili karena serangan terus-menerus dari Topass.
Suku Topasses adalah kelompok orang Indo-Portugis yang menyebut diri mereka “Portugis Hitam”. Dipimpin oleh dua keluarga berpengaruh, Da Costa (keturunan pedagang Yahudi Portugis) dan Hornay (keturunan Belanda). Mereka tinggal di daerah Oecussi dan Flores, dengan pusat kegiatan di Larantuka, Flores Timur, yang terkenal karena keterampilan bela diri dan budaya yang kuat.
Orang Topas (Portugis Hitam atau Bidau) terutama adalah keturunan campuran prajurit, pelaut, dan pedagang Portugis dengan wanita India dan Melayu. Seiring perjalanan waktu, istilah ini digunakan untuk menyebut sejumlah penduduk blasteran, dan pada akhirnya hanya digunakan oleh Portugis untuk menyebut Larantuqueiros, penduduk campuran Katolik dari Larantuka, Flores Timur. Di sana, orang Topas dalam 1 generasi mencoba membentuk sebuah kerajaan kecil merdeka, yang hingga abad ke-19. Belanda menggunakan istilah Topas untuk penduduk blasteran yang memeluk agama Kristen dan menjalani gaya hidup ala Eropa. Istilah Topas ini berasal dari kata topi (Gente de Chapeo), yang dalam bahasa Portugis berarti “orang yang memakai topi”.
Sisa pondasi rumah kerajaan keluarga da Costa, pemimpin Topass di Oecusse Timor Leste
Selain di Larantuka, orang Topas juga tinggal bersama orang Portugis di Lifau yang sekarang berada di Oecusse, Timor Leste. Dari sini, orang Topas juga mengambil alih perdagangan cendana. Pada tahun 1642, sejumlah besar orang Topas sudah tinggal di Timor dan masuk ke pedalaman. Pasokan senapan menjamin kendali atas sebagian besar produksi kayu cendana dan dapat menentukan harga. Di sini, klan Costa dan Da Hornay juga berperang untuk kekuasaan. Pemimpin Topas sejak tahun 1911–1948 adalah Hugo Hermenegildo da Costa. Tahun 1948–1999 digantikan oleh João Hermenegildo da Costa dan sejak tahun 1999 digantikan oleh António da Costa.
Monumen Korea di Pante Makasar Oecusse Timor Leste
Sebuah meriam di depan prasasti untuk 5 orang penjaga perdamaian PBB dari Republik Korea yang terbawa arus sungai kuat, hingga kehilangan nyawa mereka di Oé-Cusse.
Setelah puas merenungkan pendaratan Portugis di Lifau dan konflik dengan Belanda dan Topass, kami segera melaju lagi menyusuri bibir pantai yang berjalan mulus, bersih dan sepi untuk menuju Monumen Peringatan Korea. Monumen ini dibangun untuk menandai tragedi 6 Maret 2003, dimana terdapat lima penjaga perdamaian PBB dari Republik Korea terbawa arus sungai yang kuat hingga kehilangan nyawa mereka di Oé-Cusse. Lt Col Byungjo Min, Lt Col Jin Kyu Park, sergent Jong hoon Baek, segeant Jeong Joong Kim dan Sergeant Hee Choi adalah serdadu Korea yang namanya tercantum di monumen itu, sebagai tanda penghormatan kepada mereka yang kehilangan nyawa, saat bekerja untuk Timor-Leste yang lebih baik.
Kantor KBRI Dilli Kantor Penghubung Oecusse Timor Leste
Pohon cendana yang legendaris dan baru pertama kali kami lihat di Kantor KBRI Dilli Kantor Penghubung Oecusse Timor Leste
Setelah menikmati panorama sekitar Monumen Korea yang indah itu, kami segera kembali ke Wisma Indonesia KBRI Dili Kantor Penghubung untuk Oecusse. Di halaman sampingnya kami melihat 2 buah pohon cendana yang legendaris terus tumbuh, sebagai pengingat salah satu komoditas perdangan Timor yang tidak terlupakan.
Setelah mandi bugar kami segera berkemas dan mengikuti pergerakan Bapak Bonifasius Agung Nugroho, SE, Akt, MPA alumnus Lee Kuan Yew School of Public Policy, Singapore. Kandidat Dokter bidang pertahanan nir militer Universitas Pertahanan Bogor Jawa Barat ini, mengajak kami naik Toyota Jeep Land Cruiser 4WD ke reruntuhan Istana Raja Oé-Cusse. Sepanjang sejarah, raja-raja Oé-Cusse memiliki peran mendasar dalam hierarki sosial wilayah tersebut, dengan istana yang dibangun pada awal 1900-an, yang terletak di tepi pantai Oecusse.
Panorama perjalanan yang dilahap Toyota Jeep Land Cruiser 4WD menyusuri bibir pantai Laut Sawu di Oecusse Timor Leste
Sisa pondasi istana Raja keluarga da Costa di Oecusse yang tetap dihormati, meski telah rusak parah saat kerusuhan kemerdekaan Timor Leste
Karena jaraknya jauh dari wilayah Timor Leste lainnya, Oecussi-Ambeno, dan khususnya Pante Makasar, menjadi wilayah pertama yang diduduki pasukan Indonesia pada 29 November 1975. Pada tahun 1999, dalam hiruk-pikuk yang mengiringi referendum kemerdekaan, Pante Makasar sangat terpengaruh oleh proses kehancuran banyak bangunan oleh milisi pro-integrasi, yang didukung oleh tentara Indonesia. 65 warga sipil pendukung kemerdekaan digantung, dan 90 persen bangunan dibakar, termasuk istana raja Oecusse keluarga da Costa yang kami kunjungi pagi itu.
Gerbang tertinggi di Bukit Fatu-Suba Oecusse Timor Leste
Sisa bangunan bekas penjara era Portugis di Bukit Fatu-Suba Oecusse Timor Leste
Selesai pasang lilin dan berdoa di Gua Maria di puncak Bukit Fatu-Suba Oecusse Timor Leste
Tujuan kami selanjutnya adalah Fatu-Suba. Pada zaman penjajahan Portugis di Timor-Leste, Futu-Suba (batu di atas kepala) ini dijadikan sebagai penjara bagi para pelaku kriminal dan pemberontakan. Saat keemasan penjajahan Portugis, penjara Fatu Suba merupakan salah satu bangunan paling simbolis di Oé-Cusse. Kami sempatkan berdoa sejenak di Gua Maria yang dibangun di daratan landai puncak bukit itu, kemudian menyaksikan reruntuhan fasilitas keemasan Portugis ini yang terletak di puncak sebuah bukit di atas pusat Kota Oecusse. Dari atas bukit yang sangat tinggi dan lahap digapai Mitshubishi Tritor oleh Bapak Pendeta David Fina dan Toyota Land Cruiser 4WD milik KBRI Dili yang kami tumpangi, untuk menikmati pemandangan nan indah seluruh kota Pante Makasar dari atas bukit.
Panorama kota Pante Makasar terlihat jauh di bawah dari gardu pandang di Bukit Fatu-Suba Oecusse Timor Leste
Selanjutnya rombongan kami mengunjungi Bandar Udara Internasional Oé-Cusse Rota Da Sândalo. Bangunan megah ini adalah bandar udara yang berada di enklave Timor Leste, Oecusse dengan ketinggan 0 meter dari permukaan laut. Bandara ini dibangun kembali pada 2015 dan diresmikan oleh Presiden Timor Leste Francisco Guterres pada 18 Juni 2019 untuk melayani rute domestik dan internasional.
Bandar Udara Internasional Oé-Cusse Rota Da Sândalo yang diresmikan oleh Presiden Timor Leste Francisco Guterres
Selanjutnya rombongan kami kembali menyusuri jalanan mulus, bersih, sepi dan panoramik di bibir pantai Laut Sawu untuk meninggalkan Oecusse menuju wilayah Indonesia. Kami keluar melalui jalur berbeda dengan saat masuk, yaitu akan keluar melalui pos Wini ke arah timur, berbeda dengan saat masuk lewat pos Napan dari arah tengah. Untuk memperlancar proses keluar kendaraan pada pos yang berbeda, Bapak Bonifasius Agung Nugroho, SE, Akt, MPA menyertai kami sampi pos Wini. Bersyukur juga karena pagi itu beliau juga akan bertugas dalam melindungi warga Indonesia, termasuk yang berada di Desa Inbate, Kecamatan Bikomi Nilulat yang terlibat konflik dengan UPF (Unidade Patrullamentu Fronteira) atau unit polisi patroli perbatasan Timor Leste.
Bersama bapak Bonifasius Agung Nugroho, SE, Akt, MPA dengan latar foto presiden dan PM Timor Leste
Setelah mengucapkan obrigado barak (terimakasih banyak untuk pria), berfoto bersama dan berpamitan, kami berpisah di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Wini, sebuah pos resmi di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT, yang berbatasan langsung dengan wilayah Oecusse di Timor Leste. Fungsi utamanya adalah sebagai titik pengawasan dan pelayanan lintas batas untuk orang dan barang antara Indonesia dan Timor Leste. PLBN ini memiliki posisi strategis di pesisir utara Pulau Timor. Kami lanjut menuju Atambua (70 km) melalui jalan pantai utara, untuk menjemput Bapak Alfred Herman Welem Fina, yang telah menginap di Griya Bunda Homestay di pusat kota Atambua.
Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Wini, sebuah pos resmi di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT,
Sisi Indonesia di pos Lintas Batas Negara (PLBN) Wini, sebuah pos resmi di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT,
Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Wini, sebuah pos resmi di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT,
Atambua adalah ibu kota Kabupaten Belu di provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Kota ini meliputi 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Kota Atambua, Kecamatan Atambua Barat, serta Kecamatan Atambua Selatan. Atambua adalah kota terbesar kedua di Pulau Timor dalam hal ekonomi, jumlah penduduk, pemerintahan dan sebagainya. Sebagian besar masyarakatnya berbahasa Tetun Belu dan Bunaq serta Kemak. Atambua adalah kota yang multi etnis dari suku Timor, Rote, Sabu, Flores, sebagian kecil suku Tionghoa dan pendatang dari Ambon, Bugis Makassar dan beberapa suku bangsa lainnya. Tetapi terlepas dari keragaman suku bangsa yang ada, penduduk Kota Atambua tetap rukun menjalani kehidupan sosial mereka.
Menu legendaris khas Padang yang rasanya nendang di RM Beringin Atambua
Menu legendaris khas Padang yang komplit tersaji di RM Beringin Atambua
Siang itu kami segera menuju RM Padang Beringin di Jalan Soekarno – Hatta atau Jalan Jenderal Sudirman No 34, Atambua, Belu, NTT. RM ini dikenal dengan masakan Padang otentik seperti rendang, ayam pop, gulai, dan lainnya dengan rasa nendang, bahkan memiliki ulasan yang bagus, seperti rating 4,3 dari 35 ulasan di Mindtrip. Setelah makan siang sampai kenyang di RM Padang Beringin yang legendaris itu, kami ber4 segera mengunjungi Bendungan Rotiklot, yang berfungsi untuk irigasi lahan pertanian seluas 139 hektare, penyediaan air baku, pengendali banjir, dan pariwisata. Bendungan ini dibangun di atas Sungai Rotiklot di Desa Fatuketi, Kecamatan Kakuluk Mesak. Dengan kapasitas tampung sebesar 3,3 juta meter kubik, bendungan ini mengatasi masalah kekeringan di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste, bahkan mampu memenuhi kebutuhan Pelabuhan Atapupu sebesar 40 liter/detik. Dengan kapasitas tampung mencapai 3,3 juta meter kubik, bendungan ini memiliki tinggi 42,50 meter dan panjang puncak: 415,82 meter. Setelah berfoto bersama, kami segera menuju Atapupu.
Bendungan Rotiklot di luar kota Atambua, Belu, NTT
Penjaga pintu yang baik hati di bendungan Rotiklot di luar kota Atambua, Belu, NTT
Kembali Mitsubhisi Triton melaju kencang dalam genggaman tangan handal Bapak Pdt. David Alfons Nikolas Fina, STh, MA. Kami terguncang di dalam Mitsubhisi Triton doube cabin menyusuri jalan nasonal sejauh 42 km, berliku, menurun dan menanjak tajam, juga beberapa ruas datar. Sayang sekali, mobil bagus yang kami tumpangi tersebut sempat ditabrak anak kambing yang tetiba menyeberang jalan dan cidera parah berakibat fatal di sebuah segmen lurus yang datar. Setelah berbalik arah untuk menemui warga dan penggembala kambing yang tewas itu, kami sampaikan uang duka dan kembali melaju menuju Mota Ain.
Kejadian yang tidak diinginkan di jalan nasional dari Atambua ke Atapupu, Belu NTT
Pos Mota’ain (sering juga ditulis Mota Ain) adalah sebuah pos lintas batas negara (PLBN) antara Indonesia dan Timor Leste. Pos ini merupakan fasilitas utama untuk perlintasan orang dan barang di wilayah perbatasan antara dua negara, yang terletak di Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT. Dari Atapupu kami melaju sejauh 5 kilometer menyusuri tepi pentai yang berliku untuk mencapai Mota’ain.
Gerbang Pos Mota’ain sebuah pos lintas batas negara (PLBN) antara Indonesia dan Timor Leste.
Para pelancong yang akan menyeberang ke Timor Leste di gerbang Pos Mota’ain sebuah pos lintas batas negara (PLBN) antara Indonesia dan Timor Leste.
Gerbang Pos Mota’ain sebuah pos lintas batas negara (PLBN) antara Indonesia dan Timor Leste.
Mota’ain berfungsi sebagai pos pemeriksaan utama yang melayani bea cukai, imigrasi, dan karantina bagi warga negara yang melintasi perbatasan Indonesia dan Timor Leste. Pos yang jauh lebih ramai dibandingkan Napan dan Wini yang telah kami lewati ini, dirancang oleh Pemerintah Indonesia dalam melakukan peningkatan fasilitas dan layanan di PLBN Mota’ain untuk memperlancar mobilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi di perbatasan. Oleh sebab itu, kami berjumpa dengan jauh lebih banyak pengunjung, baik yang ingin menyeberang ke Timor Leste ataupun yang sekedar ingin berfoto seperti kami.
Bapak Frans Leo (78 tahun) senior yang ramah, hangat dan menyenangkan saat menyambut kami yang lusuh di Atambua
Sesama warga Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta yang bertemu di Atambua, Belu NTT
Genggam erat tanganmu kawan, untuk sesama warga Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta yang bertemu di Atambua, Belu NTT
Setelah puas berfoto, kami segera kembali ke Atambua melewati jalur lain, bukan Atapupu lagi tetapi melewatai Umarese dan Bandar Udara AA. Bere Tallo. Setelah sampai di Stambua, kami segera menginap di Griya Bunda Homestay dan bereuni dengan Bapak Frans Leo SeV 71 dan Bapak Dens Klau SeV 85. Keduanya adalah warga Atambua yang kuliah di Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) dan warga Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta yang bersemangat Sapientia et Virtus (SeV). Kata “sapientia” dapat ditafsirkan dengan “kebijakan” dan dengan “kebijaksanaan”, yang tidak persis sama; sedang kata “virtus” dapat ditafsirkan dengan “kebajikan”, tetapi juga dengan “kekuatan”. SeV itulah semboyan segenap warga Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta sampai akhir hayatnya.
Kenangan foto bersama orang2 yang baik dan mendukung penuh kami, saat bertemu di Atambua, Belu NTT
Malam itu kami bertiga menyanyikan Mars Realino dengan penuh semangat, berbagi cerita menarik saat berkehidupan di asrama dan berbagi harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Bapak Frans Leo sudah sangat senior, tetapi tetap sehat digelapnya glaukoma yang menyerang dan memberikan dukungan besar bagi langkah kami selanjunya. Bapak Gaudiens Klau memang sudah pensiun sebagai Kepala Protokoler Sekretariat Daerah Kabupaten Malaka, tetapi tetap memiliki lobi yang luas untuk membantu pengembangan kehidupan banyak manusia. Luar biasa indah anugerah Tuhan Maha Baik melalui keduanya, yang saya bawa mimpi saat terlelap di sebuah kamar di Griya Bunda Homestay Atambua, Belu NTT.
Rabu pagi, 22 Oktober 2025
Ditulis di Griya Bunda Homesta Atambua
(bersambung)
Mengeksplor Timor (hari ketiga)
Rabu, 22 oktober 2025 pagi buta kami telah terjaga dari mimpi indah di kamar A Griya Bunda Homestay Atambua, Belu NTT.
Simpang Lima Atambua, NTT di pagi yang indah
Sisi kota Atambua NTT yang indah di pagi hari
Atambua adalah kota yang merupakan salah satu pusat penampungan pengungsi dari Timor Timur pada tahun 1999. Mayoritas penduduk Kota Atambua beragama Katolik, di mana Atambua juga merupakan sebuah Keuskupan. Bahkan Keuskupan Atambua adalah salah satu keuskupan di Indonesia yang persentasi penganut Katoliknya mencapai 95% dari total jumlah penduduknya. Wilayah Keuskupan Atambua mencakup seluruh wilayah Kabupaten Belu, Kabupaten Malaka, dan Kabupaten Timor Tengah Utara. Total luas keuskupan ini mencapai 5.200 km2 dan berpenduduk sekitar 650.000 ribu jiwa pada tahun 2008. Sementara itu Belu, dalam bahasa Tetun berarti sahabat atau teman.
Titik Nol Atambua NTT di situlah kami mulai menikmati keindahkannya
Pagi itu kami berjalan kaki sejauh 1,2 km melewati jalur tengah Jl. Trans Timor menuju Gereja Katedral Atambua, untuk mengikuti misa kudus harian pagi pk. 5.30. Gereja Katedral Santa Maria Imakulata Atambua adalah sebuah gereja katedral Katolik yang didekisasikan untuk gelar Maria, yaitu Immaculata berarti Dikandung Tanpa Noda. Katedral ini menjadi pusat kedudukan dan takhta bagi Uskup Atambua, yang saat ini diemban oleh Mgr. Dominikus Saku.
Setelah misa kudus harian pagi di Gereja Katedral Santa Maria Imakulata Atambua NTT
Bersama bu Titi UAJY setelah misa kudus harian pagi di Gereja Katedral Santa Maria Imakulata Atambua NTT
Nama “Atambua” berasal dari kata Ata yang artinya hamba dan Buan yang artinya budak. Kemudian dalam perkembangannya kata Atabuan mengalami penyisipan fonem “M”. Hal ini dapat saja terjadi dengan tidak sengaja karena fonem “B” dan “M” masih memiliki titik artikulasi yang sama sehingga mampu mempertahankan kelancaran ucapan.
Pada tahun 1866-1911, Atapupu pernah jadi pusat pemerintahan Hindia Belanda untuk kawasan Kota Atambua dan Kabupaten Belu, dimana sebelumnya Belanda menjalankan pemerintahan dari Kupang (ibu kota provinsi NTT sekarang). Selanjutnya pada tahun 1911-1916 Beredao, yang terletak di tapal batas dengan Timor Portugis (Timor Leste), telah menjadi Benteng Pertahanan Belanda. Dan pada pada tahun 1916-1942, berubahlah pusat pemerintahan Belanda dari Atapupu ke Kota Atambua setelah berhasil mengalahkan Raja Moruk Pasunan.
Atambua memiliki sejarah yang panjang, dari masa penjajahan Belanda, dimana Belanda datang ke kota Atambua pada tahun 1916 (dimana tanggal itu ditetapkan pula sebagai tanggal Ulang Tahun Kota Atambua), masa penjajahan Jepang sekitaran tahun 1942 setelah berhasil mengusir Belanda dari daratan Timor, hingga masa Konflik Timor Leste yang berujung merdekanya Timor Leste pada tahun 1999 / 2002.
Awalnya, perbudakan di Belu hanya terjadi antar golongan yang berkuasa atas individu yang dikuasai. Penguasaan atas individu bisa terjadi secara sederhana. Catatan VOC tahun 1765 menjelaskan bahwa terdapat aktivitas perdagangan budak belian secara terbuka di Timor. Tung Hsi Kau, seorang pedagang Cina tahun 1618 bahkan sudah mulai perdagangan di Timor dengan komoditas yaitu: Cendana, Lilin, Madu dan Budak. Perdagangan budak oleh Belanda meningkat lagi pada tahun 1621 yang dipicu dengan berdirinya perusahaan perdagangan Belanda di India Barat yaitu West Indische Compagnie (WIC). Pada tahun 1667 setelah Belanda menguasai Makasar, maka aktivitas perdagangan budak ditingkatkan lagi karena kebutuhan tenaga kerja.
Pada tahun 1945 Atambua sudah merdeka dan bebas dari penjajahan bangsa lain, yaitu Portugis, Belanda dan Jepang. Pada tahun tersebut juga, presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno menanam beberapa pohon di Kota Atambua, tepatnya di Lapangan Umum Kota Atambua (nama tempat tersebut sekarang), dengan harapan supaya dijaga dan dilestarikan hingga sekarang. Namun, seiring perkembangan waktu, beberapa pohon tersebut layu, dan mati. Pada waktu itu, hanya pohon beringin yang ditanam Ir. Soekarno yang masih tetap hidup. Sampai sekarang pohon tersebut tetap dijaga dan dilestarikan, dengan membuat tempat-tempat duduk di bawah pohon tersebut. Sekarang, masyarakat kota Atambua pergi ke Lapangan Umum untuk bersantai, membeli sesuatu, dan duduk di bawah pohon tersebut.
Setelah misa kudus selesai, kami sempatkan melewati Pohon Beringin Sukarno di Lapangan Umum Kota Atambua. Kami jadi ingat akan laporan dari Komisi Akhir Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi Timor-Leste (CAVR), tentang adanya beberapa bentuk pelanggaran hak asasi manusia (HAM) pada era kemerdekaaan Timor Leste oleh militer Indonesia. Bentuk pelanggaran hak asasi manusia tersebut adalah pemindahan paksa, kelaparan, pembunuhan tidak sah, penahanan sewenang-wenang, kekerasan seksual, pelanggaran hak anak, pelanggaran hukum perang, serangan terhadap orang dan barang sipil, perlakuan buruk terhadap orang tempur musuh, perusakan dan pencurian bangunan dan barang lain, penggunaan senjata ilegal, serta perekrutan paksa. CAVR memperkirakan bahwa jumlah terbesar pembunuhan tidak sah dan penghilangan terjadi pada tahun 1999 ketika diyakini sedikitnya 1.400 dan kemungkinan sebanyak 2.600 orang dibunuh secara tidak sah atau hilang. Jumlah korban dihitung sejak tahun 1975, yaitu mulainya perang saudara dan invasi Indonesia.
Kesuksesan rakyat Indonesia dalam melengserkan tirani Orde Baru pada tahun 1998, telah mengobarkan semangat perlawanan rakyat Timor Timur kepada pemerintah Indonesia. Saat Era Reformasi mulai berjalan di bawah pemerintahan Presiden B. J. Habibie, Timor Timur kembali bergejolak. Peristiwa jajak pendapat di Timor Timur tahun 1999 telah menelan korban baik dari pihak pro-otonomi maupun pihak pro-kemerdekaan. Beberapa dari mereka meninggal, luka-luka atau harus mengungsi. Sepanjang jajak pendapat tahun 1999, telah tercatat setidaknya lebih dari 5.297 orang, yang terdiri dari 149 orang tewas, 4 orang luka-luka, 5.150 orang mengungsi dan 23 kejahatan terhadap wanita. Atambua menjadi kota terpenting dalam pengungsian tersebut.
Gerbang Gereja Katedral Santa Maria Imakulata Atambua NTT
Setelah mengenang para pengungsi Timor Timur di Atambua yang jalan utamanya kami lewati dalam perjalanan pulang dari Gereja Katedral Santa Maria Imakulta menuju penginapan, segera kami bergegas bersiap menjalankan tugas utama kami, yaitu mempromosikan Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FK UAJY).
Bersama bu Titi UAJY dan Kordinator Kampus Ursulin Santa Angela Atambua, Sr. Caritas Sri Lestari, OSU yang berjubah biru.
Promosi FK UAJY pada Edufair SMA Santa Angela, Manumutin, Atambua, Belu NTT.
Kami segera bergeas menuju sesi Edufair di SMA Santa Angela yang berada di dalam kompleks Kampus Ursulin Santa Angela, Manumutin, Atambua, Belu NTT. Kami disambut oleh Kordinator Kampus Ursulin Santa Angela Atambua, Sr. Caritas Sri Lestari, OSU. Menurut Suster Lestari, Edufair diselenggarakan untuk mempertegas minat dan arah karir anak didik di SMA Santa Angela yang akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Selain itu, lewat Edufair ini masyarakat atau orang muda di Kabupaten Belu yang ingin mengakses langsung perguruan tinggi terkenal di seluruh Indonesia, juga dapat hadir pada Pameran Perguruan Tinggi dan Seminar yang berlangsung pada Selasa dan Rabu, 21-22 Oktober 2025 di SMA Santa Angela Atambua. Dipandu oleh Wakil Kepala Bidang Promosi Kantor Kerja Sama dan Promosi (KKP) UAJY, Dra. Maria Titi Purwaningsih, kami segera melakukan presentasi dalam Seminar bertajuk ‘Menjadi Dokter Indonesia’, yang diikuti oleh sekitar 30-an siswa dari beberapa SMA yang hadir saat itu, bukan sekedar dari SMA Santa Angela.
Kordinator Kampus Ursulin Santa Angela Atambua, Sr. Caritas Sri Lestari, OSU.
Setelah sesi tanya jawab yang disertai pembagian hadiah selesai, kami segera lanjut melakukan hal serupa di SMA Suria. Catatan yang ada adalah Agustus 1958 sekolah ini dimulai. Pendirinya adalah seorang imam Katolik misionaris asal Belanda, (alm.) Pater Piet Verharren, SVD. Jumlah siswa angkatan perdana yang tamat pada 1961 sebanyak 14 orang. SMA Suria di Jl. Ki Hajar Dewantara, Tulamalae, Belu milik Keuskupan Atambua ini dipimpin oleh Kepala Sekolah : Rm. Drs. Benyamin Seran, Pr. MA.
Drs. Gaudensius Klau teman lama di Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta dan Rm. Drs. Benyamin Seran, Pr. MA yang berkemeja putih, Kepala Sekolah SMA Suria Atambua
Kami difasilitasi oleh Bapak Drs. Gaudensius Klau, pensiuanan PNS di Pemda Kabupaten Malaka, alumnus Ekonomi Akuntansi FE UAJY 1985 dan teman beda kamar di Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta. Apalagi Bapak Dens Klau adalah yunior Rm. Drs. Benyamin Seran, Pr. MA saat belajar di SMA Seminari Lalian, Belu, maka kami dimudahkan. Dengan tema yang sama, ‘Menjadi Dokter Indonesia’, promosi FK UAJY telah kami sampaikan di kedua SMA penting di Atambu, Belu dan kami lanjut kembali ke Kupang.
Bergaya mempromosikan FK UAJY pada seminar bertajuk ‘Menjadi Dokter Indonesia’
Rute ke Kupang kami pilih yang berbeda dengan rute saat kami datang yaitu jalur tengah Trans Timor yang padat lalu lintas, tetapi kami pilih jalur selatan. Kami melewati Lalian, Halilulik dan menujuke Betun, ibukota Kabupaten Malaka, sebuah kabupaten pemekaran dari Belu.
Seminari Menengah Lalian yang telah berusia 75 tahun, merupakan SMA swasta milik Keuskupan Atambua di Jl. Nela Raya, Lalian, Naelaksa Timor, kami lalui setelah keluar dari Atambua. Drs. Gaudensius Klau dan Rm. Drs. Benyamin Seran, Pr. MA yang telah melepas kami di halaman SMA Suria adalah alumnus seminari tersebut yang saat ini dipimpin oleh Rektor : Rm. Leonardus Asuk, Pr. Kami lanjut menuju Halilulik, yaitu kota kecil yang berada di desa Naitimu, kecamatan Tasifeto Barat, sekitar 20km dari ibu kota Kabupaten Belu, Atambua. Kota ini merupakan kota terbesar kedua di Kabupaten Belu, sekaligus kota terbesar di kecamatan Tasifeto Barat. Terdapat sebuah jalan, yaitu Jalan Nasional Trans Timor yang halus, sepi dan lurus menguhungkan kota kecil ini dengan Atambua. Walaupun Halilulik adalahkota terbesar di kecamatan Tasifeto Barat, tetapi Halilulik bukan ibu kota kecamatan tersebut.
Halilulik adalah gabungan dari kata Hali yang berarti pohon beringin dan lulik yang berarti keramat. Pohon beringin yang berbau mitis magis, memiliki makna dan konsep religius tertentu dalam kehidupan suku Tetun di Naitimu. Kata Halilulik kemudian diberikan sebagai nama dari sebuah tempat di lokasi di mana sekarang berdiri gereja Katolik Paroki Roh Kudus Halilulik. Namun dari segi status tempat, kampung yang bernama Halilulik ini adalah sebuah kampung kecil dari sebuah wilayah besar yang berbentuk kerajaan yang bernama kerajaan Naitimu, sebuah kerajaan yang besar di Belu. Gereja paroki Roh Kudus Halilulik secara resmi berdiri pada tahun 1918 dan kami lewati saat kami menuju Betun, sejauh 67 km dari Atambua.
Ditunggui si merah Mitshubisi Triton saat makan siang menu sei di Betun, yang merupakan ibu kota Kabupaten Malaka, dengan nasi bermotif jantung hati
Kami mampir makan siang menu sei di Betun, yang merupakan ibu kota Kabupaten Malaka. Selain Kota Atambua, kota ini juga merupakan salah satu tempat penampungan para pengungsi dari Timor Leste, yang mengungsi karena konflik antar-negara Indonesia dan Timor Leste pada tahun 1999-2006. Kota Betun ini diresmikan sebagai ibu kota Kabupaten Malaka sejak Kab. Malaka diresmikan diresmikan 22 April 2013. Kamimelanjutkan perjalanan di jalanan yang lebih menantang, berliku, menanjak, menurun, berbelok curam, bahkan kadang menyempit, aspal terkelupas dan ada juga timbunan material longsoran dari bukit sebelah.
Berhenti sejenak di depan Markas Polres Malaka di Betun, ibukota Kabupaten Malaka
Setelah kenyang makan siang di Betun, kami melanjutkan perjalanan di jalur Trans Timor sisi selatan yang memberikan tantangan sepadan untuk kegarangan Mitsubhisi Triton bermesin diesel 4N15 berkapasitas 2.4 liter, dengan tenaga hingga 136 ps pada 3.500 rpm dan torsi 324 Nm berpenggerak 4 roda. Bersama Bang Drs. Alfred Herman Welem Fina, MKes, pensiunan Widyaiswara Madya UPTD Latnakes Jl. Adisucipto Penfui Kupang, yang kami kenal baik sejak pada tahun 1992 saat sebagai Kepala Bagain Umum Kanwil Kesehatan NTT, menerima para dokter PNS baru yang ditempatkan di seluruh NTT. Ditemani adik kandungnya, yaitu Direktur Yayasan Pelayanan dan Pengembangan Masyarakat Alfa Omega (YAO) 2020-2023 milik Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Bapak Pdt. David Alfons Nikolas Fina, STh, MA kami terguncang di dalam Mitsubhisi Triton doube cabin menyusuri jalan nasonal Trans Timor jalur selatan menuju Pantai Kolbano di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), sejauh 104 km
Menunjuk daratan Benua Australia yang ‘nampak’ dari sisi bukit di jalur selatan Jl. Trans Timor
Istirahat sejenak menikmati pemandangan alam, karena Bpk. Pdt. David Fina (kemeja kotak2) tidak tergantikan mengendalikan keperkasaan Mitshubisi Triton merah di jalanan
Kolbano sepertinya telah menjadi primadona dan daya tarik utama bagi para pengunjung yang hendak mengeksplorasi Pulau Timor. Pantai Kolbano yang dulu sepi, nampaknya sudah tak asing lagi terdengar di kalangan para pelancong, karena pasalnya keberadaan pantai ini sudah diliput oleh banyak acara di stasiun televisi dan juga para pengguna sosial media. Terletak di Desa Kolbano, Kecamatan Kolbano, sekitar 135 km dari Kupang, dibutuhkan waktu sekitar 3-4 jam untuk sampai ke lokasi. Pantai cantik nan unik ini, bukan berupa hamparan pasir putih seperti di Pantai Tablolong yang lebih awal terkenal, melainkan hamparan bebatuan kerikil yang terlihat cantik berwarna-warni.
Menuju pantai Kolbano di Kabupaten TTS
Bersama anak-anak lokal yang ceria di Pantai Kolbano TTS, NTT
Batu besar “Fatu Un” yang sekilas terlihat seperti kepala singa di Panti Kolbano TTS, NTT
Menabur harapan ke atas dan menyebarkan semangat ke segala arah di Pantai Kolbano yang berbatu2 indah
Batu besar “Fatu Un” yang sekilas terlihat seperti kepala singa yang menatap kami berdua
Tak hanya itu saja, keindahan Pantai Kolbano juga dilengkapi dengan adanya landmark yang berupa sebuah batu raksasa yang menjadi ciri khas di Pantai Kolbano ini, penduduk setempat biasa menyebutnya batu besar “Fatu Un”. Sekilas batu Fatu Un ini terlihat seperti kepala singa jika dilihat dari sisi samping. Di sepanjang garis Pantai Kolbano, ombak yang tenang dan air laut yang jernih memancarkan gradasi warna biru yang memikat. Keindahan alamnya semakin sempurna dengan latar belakang perbukitan hijau yang menambah kesan alami dan asri.
Pantai Kolbano dengan batu besar “Fatu Un” yang sekilas terlihat seperti kepala singa
Pantai ini tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga memberikan suasana yang tenang dan damai, jauh dari keramaian. Sehingga sangat cocok bagi Bapak Pdt. David Fina melakukan relaksasi dengan berbaring di hamparan bebatuan untuk melepas lelah, setelah mengendarai Mitshubishi Triton tanpa dapat diganti oleh seorangpun dari kami yang kurang profesional mengendalikan kegarangan kendaraan 4WD.
Padang pasir di Pantai Oetune TTS, NTT
Lambang UAJY berbentuk huruf A dengan anak2 lokal di padang pasir di Pantai Oetune TTS, NTT
Padang pasir di Pantai Oetune TTS, NTT
Setelah berfoto berbagai gaya yang dijepret oleh anak-anak lokal yang terampil, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Oetune yang tidak kalah indahnya. Pantai Oetune adalah destinasi wisata unik yang terletak di Desa Tuafanu, Kecamatan Kualin, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Pantai ini terkenal karena hamparan pasirnya yang luas dan membentuk bukit-bukit kecil menyerupai gurun pasir, memberikan pemandangan eksotis yang jarang ditemukan di pantai lain di Indonesia. Salah satu daya tarik utama Pantai Oetune adalah keberadaan gurun pasir yang membentang luas dengan bukit-bukit pasir bergelombang, mirip dengan pemandangan di Gurun Sahara Afrika dan Pantai Parangtritis di Bantul, DIY yang pernah kami kunjungi. Pasir di sini berwarna putih kekuningan dan sangat halus, memberikan sensasi berbeda saat disentuh dan diinjak. Setiap angin yang berembus membentuk pola-pola indah di permukaan pasir, sehingga setiap kunjungan menawarkan pemandangan yang selalu berubah.
Si merah Mitsubhisi triton double cabin yang garang dan setia menyertai kami petualangan kami
Lanjut kami menikmati hamparan sawah yang sangat luas di Daerah Irigasi Bena, yang memiliki luas baku sawah total sebesar 3.515 hektare. Selain itu, ada juga memiliki sistem irigasi dengan panjang aliran 23 kilometer, yang menunjukkan pentingnya sektor pertanian di daerah tersebut. Selanjutnya kami bergabung dengan jalur tengah Trans Timor yang ramai di dekat Jembatan Noelmina. Jembatan ini dibangun pada tahun 1910 oleh Pemerintah Hindia Belanda. Para pekerjanya adalah penduduk asli Timor yang dipaksa bekerja alias dijadikan tenaga kerja rodi. Penduduk tersebut diarahkan untuk mengumpulkan batu dan kayu dari hutan. Batu tersebut digunakan untuk membangun pondasi beton dan kayu untuk membuat struktur dan rangka jembatan.
Diperkirakan jembatan Noelmina dikerjakan selama 10 tahun dan tahun 1920 Jembatan Noelmina sudah dipergunakan. Di saat pendudukan Jepang, Jembatan Noelmina dijadikan penghubung utama mobilitas antara markas Jepang di Kota Kupang hingga barak tentara Jepang di Atambua, Kabupaten Belu. Pada tanggal 19 Februari 1944, Jembatan Noelmina dibom putus oleh pesawat tempur pasukan sekutu. Kondisi putusnya Jembatan Noelmina ini membuat pertahanan Jepang di Pulau Timor melemah dan terus mendapatkan serangan dari armada sekutu hingga berakhirnya masa pendudukan Jepang di Timor.
Pada akhir tahun 1945, Jembatan Noelmina di rekonstruksi kembali memperbaiki bekas pemboman tentara sekutu. Dan di awal kemerdekaan Indonesia, rekonstruksi Jembatan Noelmina diperkuat dengan manambah konstruksi lengkung untuk menahan beban jembatan. Saat itu Jembatan Noelmina hanya dapat memuat lalu lintas satu kendaraan saja.
Pada tahun 1987, tepat bersebelahan dengan Jembatan Noelmina lama di bangun Jembatan Noelmina yang baru dengan menggunakan konstruksi baja. Proses pembangunannya berlangsung hinga tahun 1989 atau selama 2 tahun. Dan tepat pada tanggal 14 Maret 1990, Jembatan Noelmina diresmikan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Sudarmono. Jembatan Noelmina memiliki panjang 240 meter dengan lebar 7 meter. Jembatan Noelmina juga merupakan jembatan rangka baja terpanjang di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Setelah makan malam di RM Suka Ramai, kami yang telah menempuh 308 km dari Atambua ke Kupang melahap jalur selatan Trans Timor, segera terlelap di rumah Bapak Pendeta David Vina di Jl. Perwira II areal Walikota, Kupang
Kamis pagi, 23 Oktober 2025
Ditulis di lantai 2 rumah Pdt. David Alfons Nikolas Fina, STh, MA yang indah di kawasan Walikota Kupang
(bersambung)
Terang Kupang (mengeksplor Timor hari ketiga)
(lanjutan)
Kamis pagi, 23 Oktober 2025 kami terjaga di kamar lantai 2 rumah Direktur Yayasan Pelayanan dan Pengembangan Masyarakat Alfa Omega (YAO) 2020-2023 milik Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Bapak Pdt. David Alfons Nikolas Fina, STh, MA yang indah di kawasan Walikota Kupang. Kami segera bergegas bersiap dan pamit dengan segala ucapan terimakasih kepada tuan rumah, atas semua kebaikan yang diberikan dalam mengeksplor Timor sampai di Timor Leste.
Pamit pulang kepada Bapak Pdt. David Alfons Nikolas Fina, STh, MA di rumahnya yang indah di kawasan Walikota Kupang, untuk melanjutkan petualangan.
Pagi itu kami dijemput oleh Om Drs. Alfred Herman Welem Fina, MKes, pensiunan Widyaiswara Madya UPTD Latnakes Penfui Kupang, yang kami kenal baik sejak pada tahun 1992 saat sebagai Kepala Bagain Umum Kanwil Kesehatan NTT, menerima para dokter PNS baru yang ditempatkan di seluruh NTT. Kami diantar menuju Gereja Katolik Katedral Kristus Raja Kupang, yang didekisasikan untuk gelar Yesus, yaitu Kristus Raja. Katedral ini menjadi pusat kedudukan dan takhta bagi Uskup Agung Kupang, saat ini Mgr. Hironimus Pakaenoni.
Bergaya di depan Geraja Katedral Kupang yang pernah rusak karena Badai Seroja yang melanda Kota Kupang pada 2021 lalu.
Presiden Joko Widodo meresmikan Gereja Katedral Keuskupan Agung Kupang pada Rabu, 6 Desember 2023. Dalam sambutannya, Presiden Jokowi berpesan bahwa selain untuk tempat ibadah, gereja yang memiliki kapasitas 1.500 jemaat tersebut dapat dimanfaatkan untuk kegiatan sosial kemasyarakatan dan mempererat persaudaraan. Renovasi gereja katedral ini dilakukan secara menyeluruh dengan membangun gereja baru yang lebih luas dari bangunan sebelumnya, dan dilengkapi dengan pembangunan sekretariat paroki, menara lonceng, ruang panel, dan genset, yang nampak megah, indah, dan tertata rapi. Gereja bersejarah ini perlu direnovasi karena terdampak oleh bencana Badai Seroja yang melanda Kota Kupang pada 2021 lalu, apalagi telah menjadi bagian dari keberadaan gereja katolik di Kota Kupang sejak tahun 1936.
Gereja Katolik Kristus Raja Katedral Keuskupan Agung Kupang
Sayang sekali tidak ada misa kudus harian pagi yang rutin diselenggarakan di Katedral Kupang tersebut, sehingga kami segera lanjut mengunjungi SMA Giovani Kupang. SMA Katolik Giovanni didirikan oleh Pater Adrianus Conterius,SVD pada tahun 1992. Nama Giovanni diambil dari nama Paus Paulus VI yaitu Kardinal Giovanni Montini, seorang Paus yang diangkat pada tahun 1962. Penyelenggara sekolah adalah Yayasan Persekolahan Keuskupan Atambua dengan Kepala Sekolahnya Pater Adrianus Conterius, SVD dari tahun 1962-1967 sebagai Kepala Sekolah yang pertama. Kami diterima oleh kepala sekolah Rm. Stefanus Mau, Pr dan Guru BP Ibu Kiki Klau untuk promosi FK UAJY dengan tema ‘Menjadi dokter Indonesia’, di SMA yang bersemboyan ‘Maju terus dan terus maju bersama Giovanni. Hidup Giovanni, majulah pantang mundur.’
Bersiap mengadakan promosi FK UAJY di SMA Katolik Giovanni Kupang NTT
Disambut Rm. Stefanus Mau Kepala sekolahSMA Katolik Giovanni Kupang NTT
Lanjut kami menuju Bandara El Tari Kupang, untuk mengakhiri petualangan kami dalam mengksplore Timor, dan lanjut dengan Menggores Flores. Dalam perut pesawat Wings Air ATR72-500/600 yang berbaling-baling besar di luar kabin pesawat, sehingga kami menjadi berkeringat kepanasan di dalamnya, kami menuju ke Larantuka.
Siap masuk perut pesawat Wings Air ATR72-500/600 yang berbaling-baling besar di luar kabin pesawat
Suasana panas dan berkeringat di kabin pesawat Wings Air ATR72-500/600, karena berbaling-baling besar terpasang di luar kabin pesawat
Mendarat dengan Wings Air ATR72-500/600 di Bandar Udara Gewayantana Larantuka.
Pengaruh Portugis sangat terasa pada kehidupan umat Katholik di Larantuka, diujung timur Pulau Flores. Hal inilah yang menyebabkan Larantuka juga disebut sebagai Kota Reinha (kota yang diberkati Maria). Larantuka adalah ibukota Kabupaten Flores Timur, NTT. Larantuka dikenal sebagai tujuan wisata rohani bagi umat Katolik, bahkan kota yang terletak di kaki Gunung Ile Mandiri ini, memiliki tradisi Katolik peninggalan Portugis.
Beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa pada abad ke-13 dipastikan sudah ada sistem pemerintahan yang teratur di bawah pimpinan seorang raja. “Tutu maring usu-asa” dalam ceritera rakyat menyebutkan bahwa kerajaan Larantuka semula didirikan oleh seorang tokoh perempuan bernama Watowele bersama suaminya Pati Golo Arakian yang berasal dari keturunan bangsawan kerajaan Manuaman Lakaan di Pulau Timor dan peranakan bangsawan Jawa. Kerajaan itu semula lebih dikenal dengani kerajaan Ata Jawa sebelum akhirnya bernama Larantuka.
Disambut rindu karena lama tidak bersua, oleh Bang Didu Fernandez, seorang Topas, di Bandar Udara Gewayantana Larantuka.
Diantar Bang Didu Fernandez mengunjungi SMAS Katolik Frateran Podor Larantuka, Flores Timur NTT
Pada tahun 1515, Portugis membangun kekuatannya di dua wilayah yang berada di Flores sebagai tempat singgah sebelum ke Pulau Timor, yakni di Ende dan Larantuka. Larantuka sendiri dipilih karena letaknya yang strategis, tidak menghadap laut lepas, dan terlindungi oleh dua pulau di depannya, yakni Pulau Solor dan Pulau Adonara, serta teluknya yang tenang dan indah. Selanjutnya, Portugis lebih memusatkan kekuatannya di Pulau Solor, tepatnya di Lohayong dan Larantuka ditinggalkan.
Pada tahun 1561, Solor didatangi oleh kaum misionaris Dominikan yang memulai misi Katolik di sana. Ketika Belanda menyerang Solor pada tahun 1613 dan benteng pertahanan yang dibangun Portugis di Lohayong berhasil direbut, Portugis mengalami kekalahan dan melarikan diri bersama beberapa pribumi yang sudah memeluk Katolik ke Larantuka sebagai wilayah yang aman. Dalam pelarian tersebut ada hal yang menarik di dalamnya, yaitu ketika komandan garnisun Belanda di Solor membelot dan menggabungkan diri dengan Portugis di Larantuka serta memeluk Katolik. Ketika berada di Larantuka itulah, imam-imam Portugis datang kepada Raja Larantuka dan mempermandikan raja beserta keluarganya menurut iman Katolik. Mulai saat itu juga, muncul semboyan di Larantuka, yaitu “raja adalah penguasa wilayah, penguasa pemerintahan, adat, dan agama”.
Kerajaan Larantuka merupakan sebuah kerajaan yang berada di Nusa Nipa yang berarti Pulau Naga dalam bahasa lokal, sedangkan dalam bahasa Portugis disebut Cabo de Flores yang sekarang disebut sebagai Pulau Flores. Wilayah kekuasaannya hingga mencapai Pulau Adonara, dengan raja pertama yaitu bernama Lorenzo I dan menjadi kerajaan Kristen-Katolik pertama di Nusantara, karena pengaruh Portugis. Dinasti Raja dari keluarga Diaz Vieira de Godinho (DVG) di Kerajaan Larantuka, di mana Don Lorenzo II adalah raja terakhir yang memerintah, dan Don Andreas Martinus DVG adalah keturunan yang saat ini masih aktif memegang peran penting dalam tradisi keagamaan di Larantuka.
Pelabuhan Larantuka selanjutnya berkembang dengan cukup pesat. Kapal-kapal dari Jawa dan Tiongkok rutin menyinggahi dan mendatangi Larantuka. Pada tahun 1641, terjadi pengungsian besar-besaran orang Portugis dari Malaka ke Larantuka bersama orang Melayu-Malaka yang telah memeluk agama Katolik, karena Malaka berhasil direbut oleh Inggris. Pengungsian besar-besaran inilah yang diduga juga membawa patung-patung dan benda-benda kerohanian Katolik ke Larantuka.
Pada tahun 1645, Raja Larantuka bernama Olla Adobala dipermandikan oleh seorang imam Katolik Portugis. Olla Adobala kemudian menyandang nama DVG (Don Fransisco Olla Adobala Diaz Viera Ghodinho). Para penerusnya lantas memerintah dan membangun Kerajaan Larantuka secara Katolik. Olla Adobala juga menyerahkan tongkat emas kerajaan pada Bunda Maria Reinha Rosari. Ratu Kerajaan Larantuka sesungguhnya adalah Bunda Maria Reinha Rosari dan keturunan dari Don Fransisco Olla Adobala Diaz Viera Ghodinho adalah wakil-wakilnya di dunia. Raja hanya bergerak di bidang keagamaan menjadi conferia (pemimpin perserikatan) dengan bendera keloba (gurita).
Kerajaan Larantuka adalah kerajaan terbesar di Flores Timur dan dikenal sampai di ujung timur Pulau Timor. Di Lospalos misalnya, kemasyhuran Kerajaan Larantuka membuat Raja Fuiloro, Verrisimo menyimpan pusaka berupa kain Larantuka yang unik. Dengan pemerintahan seperti itu, Kerajaan Larantuka pun dengan tangan terbuka menerima agama Katolik.
Diterima Bapak Edy Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas dan Kerjasama saat mengunjungi SMAS Katolik Frateran Podor Larantuka, Flores Timur NTT
Kamis siang, 23 Oktober 2025 kami dijemput oleh Bang Didu Fernandez, sesama warga Asrama Mahasiswa realino Yogyakarta angkatan 1984 yang belum pernah berjumpa sejak lulus, di Bandar Udara Gewayantana Larantuka. Segera kami berdua melepas rindu di bandar udara yang terletak di Desa Tiwatobi, Kecamatan Ile Mandiri, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Bandar udara ini memiliki ukuran landasan pacu 1600 x 30 m. Jarak bandara ini dari pusat kota Larantuka kurang lebih 10 km. Bandar Udara Gewayantana adalah Bandara Kelas III dan merupakan bandara Pengumpan dengan sarana dan prasaran terbatas dan fasilitas sederhana. Gedung terminalnya sangat kecil, dengan ruangan kecil. Terminal kedatangan kira-kira hanya berukuran 3 x 3 meter. Tak ada troli, tak ada conveyor belt. Jadi, bagasi akan dibagikan langsung oleh petugas bandara kepada para penumpang sesuai nomor masing-masing.
Namun, di balik fasilitasnya yang sederhana, Bandara Gewayantana mempunyai keistimewaan tersendiri. Tak lain adalah suasana bandara yang bersih dan asri serta panorama di sekitarnya yang menakjubkan. Begitu turun dari pesawat, penumpang akan disambut taman kecil dengan bunga-bunga cantik aneka warna dan di kejauhan, tampak pemandangan Gunung Ile Mandiri yang menjulang setinggi 1.501 mdpl sebagai latar belakangnya. Segera kami bergegas melakukan promosi FK UAJY di SMA Katolik Frateran Podor, Larantuka.
Diterima Fr. Karolus Kepala Sekolah saat mengunjungi SMAS Katolik Frateran Podor Larantuka, Flores Timur NTT
SMAK Frateran Podor yang pada tahun ini (2017) berusia 28 tahun sebenarnya bercikal bakal dari sebuah lembaga pendidikan guru tempo dulu yang dimulai sejak 1957. Kala itu, lembaga pendidikan guru bernama SGA mulai dirintis di Larantuka di bawah pimpinan Bpk. Mus da Cunha dengan mengambil lokasi di Postoh (kompleks bengkel misi sekarang). Dalam bulan Mei 1958, datanglah beberapa frater dari Ndao-Ende untuk menyelidiki lokasi pembangunan sekolah, asrama, dan rumah biara. Ada 3 tempat yang ditawarkan untuk tujuan itu, yaitu: Sarotari (kompleks Rumah Sakit Umum sekarang), Postoh (Stadion Ile Mandiri sekarang), dan Podor. Akhirnya, berkat kebijaksanaan sang perintis, pilihan jatuh pada Podor di Desa Lewolere –sebuah lokasi bekas kebun kapas dengan banyak batu dan pohon bidara. Di SMA Frateran Podor Larantuka itu, kami juga membawakan tema ‘Menjadi dokter Indonesia.’
Salam kompak Realino dari sesama warga Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta angkatan 1984
Selanjutnya Bang Didu Fernandez, teman sesama Mahasiswa Realino Yogyakarta angtan 1984 mengajak kami mengililingi rute prosesi Jumat Agung (hari kematian Tuhan Yesus Kristus di kayu salib) dan pekan Semana Santa atau Sesta Vera -pun mulai diberlakukan secara rutin sejak tahun 1736. Pada puncak ritual Sesta Vera atau Jumat Agung, pintu kapel Tuan Ma dan juga kapel Tuan Ana (Patung Bunda Maria dan Patung Yesus Kristus) akan dibuka untuk umum sejak pukul 10 pagi, dan umat Katolik mulai berdatangan untuk berdoa mengenang Yesus. Kegiatan ini telah menjadi kegiatan tahunan yang diadakan pada Jumat Agung, yang juga telah menjadi program wisata rohani unggulan di Nusa Tenggara Timur, dan di Flores Timur secara khusus.
Gereja Katedral Larantuka Flores Timur, Renha Rosari yang megah dan bersejarah
Bersama Bang Didu Fernandez di depan gereja Katedral Larantuka Flores Timur, Renha Rosari
Interior gereja Katedral Larantuka Flores Timur, Renha Rosari yang megah dan bersejarah
Tradisi yang masih dipertahankan sampai sekarang adalah delapan suku yang tetap berperan aktif selama masa Semana Santa. Mereka memimpin doa di kapela, mengatur perarakan Tuan Ma, menggerakkan masyarakat, membangun armida (tempat persinggahan Tuan Ma dan Tuan Ana), dan memimpin prosesi Jumat Agung.
Sampai sekarang pun yang menjaga dan membersihkan Patung Tuan Berdiri (Yesus disesah) dan juga Patung Cruz Costa (Yesus memikul salib) hanyalah suku-suku asli di masa lalu yang diberi kepercayaan penuh oleh Raja Larantuka. Begitu pula urut-urutan devosi sampai sekarang masih tetap dipertahankan sesuai dengan aslinya seperti di dalam Alkitab.
Cerita rakyat yang beredar bisa dipastikan bahwa tradisi Semana Santa dimulai sejak penemuan Patung Tuan Ma di Pantai Larantuka pada tahun 1510. Patung tersebut diperkirakan terdampar di pantai akibat karamnya kapal milik Portugis di perairan Larantuka. Atas perintah dari Kepala Kampung Lewonama saat itu, patung Tuan Ma tersebut kemudian disimpan di rumah pemujaan korke (bahasa lokal). Warga setempat yang kala itu belum mengenal sosok patung tersebut, kemudian menghormatinya sebagai benda sakral. Masyarakat pun kerap memberikan sesaji ketika merayakan peristiwa tertentu seperti perayaan panen dan perayaan-perayaan lainnya.
Kapel Tuan Ana (untuk menyebut Yesus Kristus sebagai anak) tempat menyimpan patung yang diarak dalam proses Samana Santa di Larantuka
Kapel Tuan Ma (untuk menyebut Santa Maria sebagai mama atau bunda Yesus Kristus) tempat menyimpan patung yang diarak dalam proses Samana Santa di Larantuka
Gerbang Reinha Rosari di perpisahan jalan atas dan jalan bawah pusat kota Larantuka Flores Timur NTT
Perayaan Semana Santa di tempat ini terjadi tiga kali, yang kerap disebut dengan Hari Baedi Nagi, Hari Bae diKonga, dan Hari Baedi Wureh. Perayaan ini menempatkan Yesus dan Bunda Maria yang berkabung menyaksikan penderitaan anaknya sebelum dan saat disalibkan sebagai pusat ritual.
Wureh, Adonara Barat, Flores Timur adalah sebuah desa yang memiliki pengaruh kuat dari budaya Portugis. Desa ini terletak di Pulau Adonara atau tepatnya di Kecamatan Adonara Barat yang dapat ditempuh dengan transportasi laut selama kurang lebih 20 menit dari kota Larantuka.
Pulau Adonara yang nampak di seberang dan dipisahkan oleh sebuah selat bagian dari Laut Sawu, dengan Larantuka
Petualangan kami Menggores Flores selanjutnya adalah menyusuri jalan Trans Flores, diantar Bang Didu Fernandez dengan Toyota Avanza Velos warna putih. Jalur yang berliku, mendaki, dan menyusuri bibir pantai Laut Sawu di sisi selatan ujung timur Pulau Flores, dilahap nyaman oleh Bang Didu. Sesi yang kami tunggu-tunggu akhirnya tiba, yaitu bertemu Joviel (3 tahun) cucu kami tersayang, di pinggir jalan daerah Lewolaga. Bang Didu Fernandez memberi kami kenang-kenangan kain tenun khas motif Solor yang indah. Luar biasa baik teman yang satu ini.
Bertemu cucu tersayang, Joviel (3 tahun) di tengah jalan saat kami diantar oleh Bang Didu Fernandez dari Larantuka ke Maumere
Bertemu cucu tersayang, Joviel (3 tahun) di areal Lewo Laga di tengah jalan dari Larantuka ke Maumere
Kesempatan yang lama banget kami tunggu, bermain dengan cucu tersayang, Joviel (3 tahun)
Melihat Gunung Lewotobi Laki-Laki dan Perempuan, yang telah meletus dan membuat Bandara Maumere sempat ditutup untuk penerbangan pesawat
Nostalgia ke Puskesmas Watubaing di Talibura, Sikka sekitar 46 km dari Maumere, Flores NTT. Di rumah dinas samping puskesmas tersebut mas Yudhi (anak sulung kami) pernah bertugas sebagai dokter puskesmas dan tinggal sekitar 2 tahun.
Kenangan bersama teman2 Puskesmas Watubaing di Talibura, Sikka teman mas Yudhi (anak sulung kami) pernah bertugas sebagai dokter puskesmas di situ.
Kenangan bersama teman2 mas Yudhi (anak sulung kami) di Gereja Kristus Raja Talibur.
Persiapan misa kudus penerimaan sakramen krisma di Gereja Kristus Raja Talibura, sekitar 46 km dari Maumere
Mimbar kayu di Gereja Kristus Raja Talibura, donasi dari mas Yudhi dan mbak Mega saat proses kanonik sebelum pernikahan mereka berdua
Langsung diajak bermain cucu kesayangan, Joviel (3 tahun), begitu kami sampai di rumahnya di Maumere.
Berkunjung kepada keluarga Bapak Don Rani, dimana mas Yudhi sekeluarga pernah tinggal sebelum pindah ke rumah dinas.
Kunjungan balasan oleh Bang Rolan dan Kak Lastri yang baik hati, ke rumah dinas RSUD dr. TC Hiller Maumere, tempat keluarga mas Yudhi tinggal.
Malam itu kami tertidur pulas di kamar depan rumah dinas yang ditempati keluarga mas Yudhi, sebagai dokter spesialis radiologi di RSUD dr. TC Hiller Maumere, Flores NTT.
Jumat pagi, 24 Oktober 2025
(bersambung)
NOSTALGIA MAUMERE
(sambungan)
Jumat pagi, 24 Oktober 2025 kami terjaga dari mimpi dan lelah di rumah dinas yang ditempati keluarga mas Yudhi, sebagai dokter spesialis radiologi di RSUD dr. TC Hillers Maumere, Flores NTT. Segera kami bergegas untuk mengikuti misa kudus harian pagi di Kapel Biara Suster Sang Timur. Pagi itu kami akan berkeliling di Maumere dan sekitarnya.
Selesai misa kudus harian pagi di Kapel Biara Suster Sang Timur, seberang RSUD Maumere
Nama Maumere berasal dari bahasa Ende dan Lio, dimana “ma’u” berarti pantai dan “mere” berarti besar atau luas. Jadi, Maumere secara harfiah berarti “pantai luas” atau “pantai besar”. Nama ini mencerminkan kondisi geografis kota tersebut yang memang terletak di pesisir pantai yang luas.
Nama aslinya oleh penduduk pribumi setempat dinamakan Alok, sedangkan nama Maumere diberikan oleh Belanda. Saat ini Kota Maumere merupakan kota terluas kedua di Nusa Tenggara Timur setelah kota Kupang. Kota ini pertama kali dibentuk sebagai Kecamatan Maumere pada tahun 1962. Pada tahun 1992, Kecamatan Alok memisahkan diri dari Maumere. Pada tahun 2007, Kecamatan Alok Timur dan Alok Barat memisahkan diri dari Kecamatan Alok dan memperoleh daerah tambahan berupa beberapa desa dari Kecamatan Maumere. Sementara itu, sisa Kecamatan Maumere juga dipecah menjadi Kecamatan Koting dan Kecamatan Nelle.
Joviel (3 tahun) tetap terlelap saat mengahadap Bapak Wakil Bupati Kabupaten Sikka
Gedung Kantor Bupati Sikka di pusat kota Meumere yang megah
Dahulu Kabupaten Sikka merupakan sebuah Onderafdeling dan kemudian menjadi Swapraja yang dipimpin oleh 12 raja dan ratu secara turun temurun. Yakni sejak pemerintahan Portugis saat dipimpin oleh Raja Don Alesu Ximenes da Silva hingga masa pemerintahan Belanda oleh Raja Andreas Djati da Silva pada tahun 1874. Saat kepemimpinan Raja J. Nong Meak da Silva pada tahun 1902 sistem pemerintahan Swapraja Sikka diubah dengan sistem Desentralisasi. Hingga kemudian berlakunya Undang – undang nomor 69 tahun 1958 tentang pembentukan daerah tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur maka pada tanggal 1 Maret 1958, daerah Swapraja Sikka dijadikan Daerah Tingkat II dengan ibu kotanya Maumere dengan kepala daerah pertama pada masa itu adalah D. P. C. Ximenes da Silva. Para bupati yang pernah memimpin Maumere adalah Paulus Samador da Cunha, Laurentius Say, Daniel Woda Palle, Avelinus Maschur Conterius, Alexander Idong, Paulus Moa, Alexander Longginus, Sosimus Mitang, Fransiskus Roberto Diogo, dan saat ini dijabat oleh Juventus Prima Yoris.
Salam Atma Jogja bersama Bapak Ir. Simon Subandi Supriadi, Wakil Bupati, di Kantor Kabupaten Sikka di pusat kota Maumere.
Bersama Joviel (3 tahun) di lobi Gedung Kantor Bupati Sikka
Pagi itu kami menghadap Bapak Ir. Simon Subandi Supriadi, Wakil Bupati, di Kantor Kabupaten Sikka di pusat kota Maumere. Dalam perbincangan hangat dan singkat karena kesibukan beliau, diperoleh kesempatan bagi kami untuk mempromosikan FK UAJY. Selain itu, juga adanya jaminan beasiswa bagi putra-putri daerah yang berpestasi untuk masuk FK UAJY, dengan syarat harus bersedia kembali ke aKabupaten Sikka sebagai dokter, yang memberikan layanan medis bagi masyarakat setempat.
Bergaya di belakang mobil dinas Bapak Wakil Bupati Sikka
Kami segera bergegas menuju ke SMA Negeri 1 Maumere yang diresmikan pada 6 Maret 1980 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Dr. Daoed Yoesoef. Kami diterima oleh Bapak Johanes Jonas Teta, S.Pd (Kepala Sekolah) dan Eko Goran Maria, S.Pd (Wakasek Urusan Kurikulum). Pada sesipromosi FK UAJY, pertanyaan yang sering muncul dari para siswa adalah masalah beasiswa untuk pendidikan dokter. Beruntunglah Pemkab Sikka dengan Bapak Ir. Simon Subandi Supriadi sebagai wakil bupati, telah merencanakan pemberian beasiswa bagi putera-puteri terbaik. Hal ini telah menumbuhkan harapan bagi banyak peserta acara sosialisasi FK UAJY tersebut.
Saat diterima oleh Bapak Johanes Jonas Teta, S.Pd (Kepala Sekolah) di SMA Negeri 1 Maumere untuk promosi FK UAJY
Wisata religi secara Katolik di Bukit Nilo, Maumere
Selanjutnya kami segera lanjut menikmati liburan keluarga di segenap pelosok Kabupaten Sikka. Dengan mobil Toyota Avanza yang disopori mas Yudhi dan didampingi mbak Mega di sampingnya dengan setiap, Joviel 93 tahun cucu kami yang tidak mau diam), melompat ke sana ke mari di antara kami berdua di kursi deretan kedua. Tujuan pertama kami adalah tempat ziarah Bunda Maria Segala Bangsa Nilo, yaitu tempat doa yang dilengkapi patung setinggi 28 meter yang berlokasi di Bukit Keling-Nilo, Desa Wuliwutik, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Flores, NTT. Areal ini merupakan tujuan wisata religi bagi umat Katolik yang berfungsi sebagai tempat ziarah, dan menawarkan pemandangan alam lansekap kota Maumere yang indah dari puncak bukit dengan ketinggian sekitar 1.200 mdpl. Bukit Keling-Nilo berjarak sekitar 7 km dari pusat Kota Maumere dengan jalannan yang berliku, naik, melengkung dan mendaki, dengan areal sekitar jalan raya yang segar, nampak dedaunan hijau dan hidup. Nilo dalam bahasa Sikka berarti terang. Rasanya tepat jika di dusun ini berdiri Patung Maria Bunda Segala Bangsa, untuk memberikan terang bagi umat Katolik yang datang untuk berdoa dan menerangi seluruh penduduk Sikka.
Patung Bunda Maria Segala Bangsadi Bukit Nilo, Maumaere
Hiduplah Sang Saka Merah Putih oleh Joviel (3 tahun) yang tidak mau diam
Patung Maria Bunda Segala Bangsa dibangun oleh para imam Katolik Kongregasi Pasionis (CP) bekerja sama dengan umat Katolik di sana. CP didirikan di Italia oleh St. Paulus dari Salib tahun 1720. Kongregasi ini berpusat di Roma dan telah menyebar ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Areal ziarah ini diresmikan pada 31 Mei 2005 dan setelah khusuk mengucap syukur atas semua kebaikan hati Tuhan Yesus Kristus dalam kehidupan kami, kami segera berdoa melalui perantaraan Bunda Maria, agar segala bangsa dapat hidup rukun dan damai. Selanjutnya kami menikmati pemandangan kota Maumere dari ketinggian, dalam suasana sejuk, damai dan tenang alami.
Lanjut kami turun bukit dan menikmati Bakso Mercon daging sapi yang lezat di samping Gereja Santo Mikael Nita. Terus ke Puskesmas Nita, tempat mama Sari pernah bertugas selama 3 tahun pada 1992-1995, setiap 3 hari dalam seminggu sebagai dokter gigi. Lanjut kami menyusuri jalan Trans Flores ke arah Ende, selalu berilu sesuai kontur bukit yang kami lalui, nampak dedaunan yang jauh lebih hijau dan hidup, dibandingkan daratan Timor yang telah kami eksplor hari sebelumnya. Kami mengunjungi RS. St. Elizabeth Lela yang berjarak 24 km dari Maumere dan diresmikan pada tanggal 10 Mei 1935 dibawah naungan Yayasan Kesehatan St Lukas, awalnya di bawah Keuskupan Agung Ende, tetapi kemudian mengalami pemekaran dan diserahkan kepada Keusukupan Maumere. Sayang sekali kami tidak berhasil bertemu Direktur RS St Elisabeth Lela, dr. Maria Bernadina Sada Nenu, sobat lama yang sedang berziarah ke Fatima Portugal.
Gerbang RS St. Elisabeth Lela
Di rumah dinas dokter RS St. Elisabeth Lela, 24 km dari Maumere itulah mas Yudhi sempat berguling jatuh di depan rumah dengan baby walker.
Di RS tersebut kami pernah bertugas selama 3,5 tahun (1991-1994), mas Yudhi anak sulung kami lahir di situ, kami tolong sendiri dengan penuh kehati-hatian pada 22 Januari 1993, di sebuah kamar darurat di dalam kompleks RS, karena banyak bangunan yang rusak terdampak gempa bumi dan tsunami Flores 1992. Itu adalah gempa bumi besar berkekuatan 7,8 pada skala Richter yang terjadi di lepas pantai Flores, pada hari Sabtu, 12 Desember 1992, pukul 13.29. Gempa bumi ini menyebabkan tsunami dengan ketinggian maksimum 26 m (85 ft) yang menghancurkan rumah di pesisir pantai utara Flores. Setidaknya 2.500 orang tewas atau hilang di wilayah Flores, termasuk 1.490 tewas di Maumere dan 700 orang di Pulau Babi, lebih dari 500 orang terluka dan 90.000 orang kehilangan tempat tinggal. Peristiwa ini merupakan salah satu gempa bumi paling mematikan di Indonesia.
Di kamar sebelah kiri lorong mas Yudhi lahir dan di kamar sebelah kanan lorong tepat di depannya, kami bertiga tinggal selama 1,5 tahun paska gempa bumi Flores
Rasanya tinggal tersisa seorang karyawan RS St. Elisabeth Lela (berkaos merah berdinas di dapur roti) yang masih aktif sampai sekarang, yang pernah berkarya pada waktu kami bertugas di situ
Kami susuri ulang jalanan di dalam kompleks RS St. Elisabeth Lela, di mana dulu kami setiap hari lalui untuk visite, praktek, operasi dan rekreasi. Kami kenang ulang jalan mendaki ke bagian belakang RS, ke rumah dinas dokter dimana kami tinggal, di tengah kebun sayuran, buah dan kandang babi serta ayam. Kami renungkan penuh hikmat, bahwa penyelenggaraan Tuhan Maha Besar sungguh luar biasa, karena dari rumah dinas di belakang RS itulah kami memulai hidup berkeluarga, berkarier sebagai dokter dan menyiapkan masa depan gemilang. Saat ini kondisinya sudah sangat menyedihkan, karena area tersebut sudah tidak digunakan sebagai aktivitas harian RS sejak pandemi COVID-19 menghantam dan menghancurkan banyak sisi kehidupan di situ.
Gerbang Wisung Fatima di Lela, 24 km dari Maumere
Mampir di rumah Zr. Stefani Ety Parera, mantan perawat kamar operasi satu-satunya yang kidal di RS St. Elisabeth Lela, saat ini menjadi Kepala Sekolah SMK Kesehatan Lela
Lanjut kami berziarah ke Sanctuarium Wisung Fatima di seberang RS St. Elisabeth Lela, Kabupaten Sikka, NTT, yang merupakan tempat ziarah dan wisata religi umat Katolik. Tempat ini menjadi pusat spiritualitas dengan arca Bunda Maria Fatima dan sering didatangi ribuan peziarah untuk berbagai kegiatan rohani, seperti ziarah tahunan. Berakar dari devosi kepada Bunda Maria yang diawali pada 1947, setelah seruan Paus Pius XII. Arca Bunda Maria Fatima tiba pada 1949 dan sanctuarium diberkati pada tahun yang sama. Pada tahun 2014, tempat ini dianugerahi status sanctuarium resmi sebagai tempat ziarah Maria pertama di Indonesia. Sanctuarium adalah kata Latin sanctus, yang berarti suci, tempat suci atau tempat penyimpanan benda-benda suci. Ziarah tahunan pada puncak kegiatan rohani yang dihadiri ribuan umat dari berbagai paroki di Keuskupan Maumere, sering kali dipimpin oleh Uskup Maumere, dilaksanakan di situ. Wisung Fatima Lela dikenal sebagai tempat ziarah yang didedikasikan untuk Bunda Maria, khususnya terkait dengan peringatan penampakan Maria di Fatima, Portugal, pada 1917.
Sanctuarium Wisung Fatima di seberang RS St. Elisabeth Lela, Kabupaten Sikka, NTT
Pada 1947, umat Paroki Lela dan Sikka secara resmi menyerahkan diri kepada Bunda Maria, di bawah pimpinan Pastor Herman Bolscher, SVD. Pastor inspiratif ini pernah tinggal bersama kami di komplkes RS St. Elisabeth Lela selama hampir 3 tahun. Upacara penyerahan diri waktu itu dihadiri ribuan umat dan menjadi momen bersejarah yang menguatkan iman dan kebersamaan komunitas Katolik di wilayah tersebut.
Gereja tua di Sikka yang terawat baik
Selanjutnya kami menyusuri pantai selatan Flores yang mengahadap Laut Sawu, berombak cukup besar, menimbulkan suara gemuruh berulang tetapi tetap indah dipandang dan ritmik didengar, untuk menikmati kemashuran Gereja Santo Ignatius Loyola. Bangunan megah ini dikenal sebagai Gereja Tua Sikka yang berada di desa Sikka, Flores, NTT. Gereja ini syarat sejarah dan menjadi salah satu gereja tertua di Indonesia dan masuk cagar budaya nasional. Gereja Santo Ignatius Loyola dibangun oleh arsitek Portugis, Pastor JF Le Cocq Engbers d’armanddaville, SJ pada 1896, dibantu oleh Raja Sikka Don Andreas Jati Ximenes da Silva, Joseph Mbako Ximenes da Silva dan warga Kampung Sikka.
Gereja Santo Ignatius Loyola yang dikenal sebagai Gereja Tua Sikka yang berada di desa Sikka, Flores, NTT
Gereja Santo Ignatius Loyola berada di pesisir pantai selatan Pulau Flores, tepatnya di Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka. Gereja ini digunakan pertama kali pada malam Natal 24 Desember 1899. Gereja Katolik tertua yang berusia lebih dari 100 tahun ini, berukuran panjang 47 meter dan lebar 12 meter masih kokoh hingga kini, dan menjadi tempat ibadat umat Katolik di Kampung Sikka. Bangunan Gereja Tua Sikka sangat eksotis, arsitektur bangunan gereja adalah kombinasi sentuhan budaya Eropa dan budaya setempat, mengikuti gaya Renaisans dan Barok yang berkembang di daratan Eropa waktu itu. Terdapat ukiran khas tenun ikat Sikka bermotif Wenda terlihat pada dinding Gereja tersebut, yang sejak pertama kali gereja ini digunakan untuk misa malam Natal 24 Desember 1899, tetap utuh sampai sekarang. Bangunan Gereja Tua Sikka menggunakan material 150 kubik kayu jati. Material kayu khas Indonesia ini sebagai kuda-kuda penahan atap bangunan serta tiang penyangga bangunan gereja. Material kayu jati ini didatangkan langsung dari hutan-hutan di Pulau Jawa, termasuk material lain seperti semen dan besi, semuanya dibawa dari luar Maumere.
Setelah seharian berkelana, malam itu kami beristirahat nyenyak di sebuah kamar di rumah dinas dokter RSUD dr. TC Hillers Maumere, tempat tugas mas Yudhi sebagai dokter spesialis radiologi di situ.
Jumat malam, 24 Oktober 2025
(bersambung)
MAUMERE HARI TERKAHIR
Sabtu, 25 Oktober 2025 kami terbangun dari tidur nyenyak di sebuah kamar di rumah dinas dokter RSUD dr. TC Hillers Maumere, tempat tugas mas Yudhi menjadi dokter spesialis radiologi di situ. Lanjut kami mengikuti misa kudus harian pagi di Biara Sang Timur di seberang RS.
Dengan Mama Hedwigis Rosarince, teman lama sejak kami bertugas di RS St. Elisabeth Lela, di rumahnya yang indah di dekat terminal bis Maumere
Setelah misa kudus, kami lanjut bercengkerama sekejap dengan Mama Hedwigis Rosarince, teman lama sejak kami bertugas di RS St. Elisabeth Lela, di rumahnya yang indah di dekat terminal bis Maumere. Suami pertama mama Rince adalah mendiang Om Alfridus da Cunha, senior kami di SMA Kolese de Britto Yogyakarta. Kami saling melepas rindu dalam susana hangat di pagi hari, juga melihat dari dekat sebuah rumah paviliun di belakang rumah utama, yang pernah ditinggali keluarga mas Yudhi sebelum menempati rumah dinas RS sekarang.
Di rumah mungil nan indah itulah mas Yudhi, mbak Mega dan Joviel tinggal sebelum pindah ke rumah dinas RS
Bersama mama Linda Sabinus Nabu, anggota DPRD Sikka dari Fraksi Partai Perindo
Setelah sarapan pagi, kami segera meluncur ke TK Maria Ferrari, di situlah Joviel (3 tahun, cucu yang tidak mau diam) bersekolah. TK ini berfokus pada pendekatan pembelajaran yang menyenangkan dan inovatif. Dengan suasana yang ramah dan penuh kasih, TK Maria Ferrari memberikan lingkungan yang mendukung perkembangan anak-anak secara holistik, baik secara intelektual, sosial, maupun emosional. Melalui program yang beragam dan kreatif, sekolah ini bertujuan untuk mempersiapkan anak-anak untuk mengembangkan potensi mereka dengan penuh kepercayaan diri dan kecerdasan yang berkelanjutan.
Bersama teacher di TK Maria Ferrari Maumere
Bergaya di dalam kelas Joviel (3 tahun) di TK Maria Ferrari Maumere
Joviel sangat menikmati suasana TK MARIA FERRARI SCHOOL ini yang didirikan pada tanggal 16 Januari 2010 dengan Kepala Sekolah saat ini adalah Ibu Maria Magdalena Elu Saga. TK MARIA FERRARI SCHOOL merupakan salah satu sekolah jenjang TK di wilayah Kab. Sikka yang menawarkan pendidikan berkualitas dengan terakreditasi A dan sertifikasi ISO 9001:2008.
Kami bertiga di makam Sr. dr. Conchita Cruz, SSpS
Mas Yudhi dan mbak Mega yang pernah datang ke makam Sr. dr. Conchita Cruz, SSpS sempat tersesat saat mengantar kami, karena lupa-lupa ingat arah jalannya
Setelah menikmati suasana sekolah Joviel, kami lanjut ziarah ke makam Sr. dr. Conchita Cruz, SSpS di seputaran Kewapante. Beliau adalah sesorang biarawati Katolik berasal dari Imus, Filipina yang rumah keluarganya pernah kami kunjungi di tahun 2012. Selain seorang biarawati, Sr. Conchita sering dipanggil sebagai suster dokter, karena juga seorang dokter umum hebat, dalam banyak aspek preventif, diagnosis, terapi medis dan bahkan operatif berbagai kasus bedah. Dengan bimbingannya yang sangat sabar, kami pribadi telah mampu melakukan berbagai tindakan operasi untuk banyak kasus bedah di RS St. Elisabeth Lela. Teknik operasi terakhir yang diajarkan dan telah kami kuasai adalah strumektomi dengan anestesi lokal, yaitu mengambil jaringan kelenjar gondok di leher saat pasien sadar penuh. Setelah mendoakan agar arwah Sr. dr. Conchita Cruz, SSpS bersitirahat kekal di samping makam, kami lanjut jalan lagi.
Kami lanjut menyusuri Jalan Trans Flores ke arah timur, yaitu menuju Larantuka, untuk berwisata ke hutan bakau atau mangrove di Desa Watubaing, Kecamatan Talibura, sekitar 42 kilometer dari Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka. Perjalanan kami berlima melalui jalan Trans Flores yang datar, cukup padat lalu lintas dan menyusuri pantai utara menghadap Selat Flores yang berombak kecil. Sepanjang jalan Joviel selalu berceloteh, beritingkah dan polah menggemaskan sekali. Rindu kami seakan terobati dengan kelucuan, keluguan dan bahkan kecerdasan Joviel yang sering tidak terduga. Wisata yang satu ini tak sekedar menyuguhkan keindahan alam yang apik, tetapi juga banyak spot foto Instagramable. Belum lagi saat menyusuri jalanan dari batang kayu di atas air payau yang membelah hutan bakau, kami merasakan sensasi yang luar biasa. Mangrove Watubaing dibuka pada bulan Desember 2022 dan diberi nama Klakat.
Kak Wawan Duran berkaos hijau menggendong anak sulungnya
Menikmati menu enak buah karya mbak Maria, istri Kak Wawan Duran, setelah lelah menyusuri jalan kayu di Klakat Mangrove Watubain
Kami menemui Kakak Wawan Duran inisiator wisata Klakat saat ditemui di situ. Kak Wawan tertarik mengelola hutan mangrove di sela-sela kuliah S2 Teknik Sipil di ITS di Surabaya, sampai hutan bakau mampu tumbuh subur di belakang rumahnya. Setelah menyelesaikan pendidikan magister di kampus tersebut, Kak Wawan lebih giat menyulap hutan itu sejak bulan Agustus 2022. Di Sikka sendiri, menurutnya mangrove masih belum dimanfaatkan secara optimal, sehingga dikreasikan banyak hal untuk meningkatkan daya tarik mangrove Klakat bagi banyak wisatawan. Selain jalur kayu menembus hutan mangrove sejauh 30 m, juga dibangun lopo atau rumah tradisional terbuat dari kayu dan beratap kerucut, yang dapat digunakan pengunjung untuk berfoto ria sembari menikmati kuliner menu masakan Jawa oleh tangan mbak Maria, istrinya yang berasal dari Magelang Jawa Tengah, sambil merasakan sensasi aliran udara sejuk dan kicau burung. Siang itu kami menimati menu sop kuah asam dengan ikan ekor kuning yang lezat, sei sapi dengan sayur kangkung, sempol dan bakso sapi, ditambah mangga segar yang dipetik di halaman rumah Kak Wawan, sampai kami kekenyangan.
Selanjutnya kami menyebarng jalan Trans Flores yang padat lalu lintas ke arah Larantuka, untuk melihat Puskesmas Watubaing. Kami disambut hangat, meriah dan penuh sukacita oleh banyak pegawai, karena mereka teman lama mas Yudhi saat bertugas sebagai dokter umum di situ selama sekitar 2 tahun. Kami juga melihat rumah dinas yang dahulu ditinggali mas Yudhi, sebelum memulai pendidikan spesialis radiologi di UGM, Yogyakarta. Rumah penuh kenangan yang sekarang terbengkelai itu, menggambarkan juga kegigihan, keuletan dan harapan mas Yudhi untuk kehidupan lebih baik, meski penuh penderitaan, tantangan dan keterbatasan. Kami sangat terharu sekali, karena kami tidak mampu mengunjungi dan memberikan dorongan semangat saat mas Yudhi tinggal di rumah tersebut, karena wakgtu itu kami juga sedang dalam banyak kesulitan.
Gedung Puskesmas Watubaing yang megah di samping rumah dinas mas Yudhi saat bertugas si situ
Nama mas Yudhi nomer 15 masih tercantum di dalam daftar karyawan Puskesmas Watubaing
Setelah berfoto bersama di Watubaing, kami segera melanjutkan perjalanan ke Bendungan Napun Gete yang berjarak 11 km dari jalan negara Trans Maumere-Larantuka, dibangun membendung alur Sungai Napun Gete di perbatasan antara Desa Ilinmedo dan Desa Werang di Kecamatan Waiblama. Pembangunan bendungan terbesar di Pulau Flores ini dimulai sejak Desember 2016 yang proses pengerjaannya dilaksanakan oleh PT Nindya Karya (Persero), dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 23 Februari 2021. Selain dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian seluas 300 hektar, bendungan ini juga dimanfaatkan untuk mereduksi debit banjir sebesar 219,43 meter kubik per detik dan menyediakan air baku sebesar 0,214 meter kubik per detik. Air yang terbendung oleh bendungan ini juga berpotensi untuk membangkitkan listrik melalui PLTM berkapasitas 0,1 MW.
Dari gardu pandang Bendung Napungete
Sang Saka Merah Putih selalu berkibar di tangan Joviel (3 tahun), juga di Bendungan Napungete, Sikka
Kementerian PUPR melakukan pengisian awal (impounding) bendungan Napun Gete sejak Desember 2020 dan diklaim akan mamapu memenuhi kebutuhan air bersih dan pengairan lahan pertanian milik warga sekitar. Total daya tampungan air di Bendungan Napun Napun yakni 11,2 juta m3 dengan luas genangan 99,78 hektar (Ha). Setelah puas menikmati keindahan banguan infrastruktur kebanggaan nasional tersebut, kami segera bergegas kembali ke Maumere.
Maumere ibu kota Kabupaten Sikka NTT sebenarnya adalah sebuah daerah yang sudah tidak ada lagi dalam pembagian wilayah administratif Indonesia. Namun demikian, daerah yang umumnya dianggap sebagai “Kota Maumere” adalah wilayah Kecamatan Alok, Kecamatan Alok Timur, dan Kecamatan Alok Barat. Nama Maumere berasal dari bahasa Ende dan Lio, dimana “ma’u” berarti pantai dan “mere” berarti besar atau luas. Jadi, Maumere secara harfiah berarti “pantai luas” atau “pantai besar”. Nama ini mencerminkan kondisi geografis kota tersebut yang memang terletak di pesisir pantai yang luas. Nama aslinya oleh penduduk pribumi setempat dinamakan Alok, sedangkan nama Maumere diberikan oleh Belanda. Kota Maumere merupakan kota terluas kedua di Nusa Tenggara Timur setelah kota Kupang. Kota ini pertama kali dibentuk sebagai Kecamatan Maumere pada tahun 1962. Produk ekspor yang dihasilkan di Maumere antara lain kelapa kopra, pisang, kemiri, dan kakao. Selain itu, Maumere merupakan sentra produksi kain tenun ikat dengan beragam motif.
Bukti prasejarah menunjukkan kawasan Sikka telah ada sejak zaman batu-megalithikum, dimana banyak artefak arkeologis menujukkan jejak-jekak prasejarah tersebut. Ada fosil yang ditemukan disebuah batu cadas yang keras masyarakat menyebutnya dengan la’e ripu terdapat di Rejo, Desa Wolorego, Kecamatan Paga. Ada juga sejumlah gua yang diyakini dahulunya manusia-manusia purba asli Sikka seperti Gua Patiahu di Talibura, Gua Keytimu, dan kubur batu buabari di Paga. Artefak emas berbentuk kapak atau bahartaka dan ukiran tuhan berwajah tiga di Kecamatan Bola. Artefak perunggu berbentuk perahu (Jong Dobo) di Kecamatan Kewapante.
Maumere memiliki beberapa julukan, di antaranya Nian Tana Sikka (tanah dan pantai) dan Kota Tahun Maria, karena pernah menjadi tempat Perayaan Tahun Maria dan kunjungan Paus Yohanes Paulus II tahun 1989. Kota ini juga dikenal dengan julukan Maumere Manise dan dijuluki Nyiur Melambai karena keindahan alamnya dengan pantai pasir putihnya.
Kembar bidan yang dulu berkarya dengan kami sebagai perawat di RS St. Elisabeth Lela
Kunjungan si Kembar Ika dan Eta Parera di rumah dinas mas Yudhi di RSUD dr. TC Hillers Maumere
Sore itu kami segera berjalan kaki dari rumah dinas dokter, menuju bangunan utama Rumah Sakit Umum Daerah T C Hillers Maumere berdiri tahun 1953 yang berada dibawah naungan Pemerintah Daerah Kabupaten Sikka. Memiliki Visi menjadi Rumah Sakit yang memberikan pelayanan yang berkualitas, memuaskan pelanggan dan menjadi Rumah Sakit rujukan di daratan Flores. Dengan sejumlah fasilitas penunjang layanan medis seperti: Unit Hemodialisa (Cuci Darah); instalasi Laboratorium, baik Laboratorium Klinik, Laboratorium Patologi Anatomi maupun Laboratorium Mikrobiologi, Instalsi Radiologi, IGD, dan Poliklinik Spesialis telah tersedia dan berfungsi dengan baik guna mendukung pelayanan kesehatan masyarakat Nian Tana. Kami mengunjungi Instalasi Radiologi dan saat mama Sari menjalani pemeriksaan USG abdomen oleh mas Yudhi, Joviel berlarian menyusuri lorong RS RSUD dr. TC Hillers yang memiliki 11 tempat tidur khusus ICU dari total 177 tempat tidur RS.
Menyerobot urutan anak yang minta berkat romo, tetapi Joviel (3 tahun) langsung berputar badan saat pemberkatan oleh romo belum selesai
Bergaya di depan Katedral Santo Yosep Maumere
Adegan ulangan di depan Katedral Santo Yosep Maumere, karena sebelumnya Joviel membalikkan muka
Sore itu kami mengikuti misa kudus di Stasi Santa Maria Perumnas Maumere, karena tidak ada misa di Gereja Katedral Santo Yosep. Katedral ini menjadi pusat kedudukan dan takhta bagi Uskup Maumere, saat ini Mgr. Ewaldus Martinus Sedu. Gereja Katedral Maumere ini dibangun oleh Pastor Omzight, SVD yang saat itu ditunjuk sebagai Pastor Stasi Maumere dan diresmikan pada tanggal 8 Desember 1873. Pembangunan gereja ini menjadi bagian dari penyebaran misi Katolik oleh para misionaris SVD di Flores. Pada awal Tahun 1900-an, beralih menjadi Paroki Santo Yosef Maumere, yang kini menjadi Paroki Katedral dan diumumkan oleh Paus Benediktus XVI pada tanggal 14 Desember 2005 pisah dari Keuskupan Agung Ende. Gereja ini juga pernah menjadi saksi kunjungan Paus Yohanes Paulus II pada 11 Oktober 1989. Bangunan gereja ini bergaya arsitektur kolonial Belanda cukup sederhana, dipugar dan diperluas beberapa kali sejak abad ke-20. Di dalamnya terdapat altar Paus Yohanes Paulus II, kursi Paus, dan patung Kristus Raja di taman samping. Selain itu, ada juga lonceng besar, lambang Santo Yosef, dan lambang keuskupan Maumere.
Jamuan makan malam menu lengkap kuliner lokal, di rumah mama Anny Radho Rani
Malam itu, setelah mengikuti misa kudus lanjut kami menyusuri Jalan El Tari di Kota Maumere, yang menjadi lokasi car free night (CFN) sejak Februari 2024 lalu. Semua ruas jalan di depan kantor Bupati Sikka itu menjadi pusat kuliner, sekaligus menggerakan ekonomi pelaku UMKM di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, juga pelaku tempat olahraga, kuliner & hiburan. Hadirnya CFN ini menambah titik pusat kuliner di Kota Maumere. Warga memiliki tempat untuk menikmati kuliner dan menghabiskan waktu akhir pekan di Jalan El Tari. Bergam kuliner makanan dan minuman yang lezat bisa didapatkan di sini dengan harga yang ramah di kantong.
Bersiap terbang akan pulang ke Yogyakarta
Minggu pagi, 26 Oktober 2025 kami berdua mengakhiri petualangan di daratan Flores, yang karena hanya melewati 2 wilayah di sedikit sisi timur dan utara, maka kami hanya menggores Flores. Kami diantar mas Yudhi dan Joviel, karena mbak Mega sedang kurang bugar, bergegas menuju Bandar Udara Frans Xavier Seda (MOF) yang sebelumnya disebut Bandar Udara Wai Oti, untuk akan terbang ke Kupang, lanjut ke Surabaya dan terus ke rumah kami di Yogyakarta. Bandar Udara Frans Seda Maumere ini memiliki ukuran landasan pacu 2.250 x 45. Jarak dari pusat kota sekitar 5 km. Di ujung utara landasan menghadap langsung dengan Laut Flores, hampir menyentuh Jalur Trans Flores dari Maumere menuju Larantuka, sedangkan ujung selatan menghadap perbukitan. Bandar Udara Frans Seda semula hanyalah sebuah lapangan terbang darurat yang dipakai untuk kepentingan militer dan mobilitas tentara Belanda, yaitu lapangan udara sepanjang 700 meter yang dibangun pada tahun 1930 oleh Departement Voor Verkeer en Waterstaats (semacam Departement Pekerjaan Umum) Pemerintahan Hindia Belanda.
Sebelum masuk perut pesawat Wings Air meninggalkan Maumere
Perjalanan kami dalam mengeksplor Timor dan menggores Flores selama sepekan sangat membahagikan. Terimakasih banyak kepada semua pihak yang telah mendukung petulangan seru ini dan sampai ketemu lagi dalam petualangan selanjutnya.
Sekian
Ditulis di kursi 23c dalam kabin pesawat Boeing 737-800 Lion Air JT 697 dalam penerbangan menembus awan dari Kupang ke Surabaya.
Sesampai kami di Bandara Juanda Surabaya, kami dijemput oleh Laksma TNI Purn dr. Herjunianto, SpPD MMRS Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (Dekan FK UKWMS 2025-2029) dan istri. Langsung diajak menikmati kuliner lokal Surabaya, sambil berbagi inspirasi, harapan dan kebahagiaan antara kami berempat yang langsung akrab, meskipun baru pertama kali bersua, juga antar institusi FK UKWMS dan FK UAJY.
Makan kuliner lokal Surabaya yang lezat, rujak cungur di Surabaya Plaza
Diantar ke Stasiun Gubeng untuk naik KA Sancaka ke Yogyakarta
Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 28 September 2025, halaman 8 kolom HUSADA dengan judul : Karies Gigi : Masalah Kesehatan Utama Dunia.
Karies gigi (kerusakan gigi atau gigi berlubang) adalah penyakit tidak menular (PTM) yang paling umum di seluruh dunia, yang memengaruhi 2,5 miliar orang. Meskipun karies gigi dapat dicegah, penyakit ini menimbulkan beban kesehatan yang besar di banyak negara dan memengaruhi banyak orang sepanjang hidup mereka, menyebabkan rasa sakit, ketidaknyamanan, kesulitan makan dan tidur, kehilangan gigi, dan penurunan kualitas hidup. Apa yang mencemaskan?
Karies gigi merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di dunia, prevalen sepanjang hidup, dan memengaruhi semua gigi, baik permanen maupun gigi sulung (pertama). Diperkirakan terdapat 2 miliar orang dengan gigi permanen yang karies dan 510 juta anak dengan gigi sulung yang karies. Karies gigi yang parah dapat menyebabkan kehilangan gigi dan mengganggu kualitas hidup. Konsekuensi dari karies gigi yang tidak dirawat meliputi gejala fisik seperti nyeri, ketidaknyamanan, atau infeksi sistemik kronis, keterbatasan fungsional seperti kesulitan makan, berbicara, bernapas, atau tidur, dan dampak buruk pada kesejahteraan emosional, mental, dan sosial.
Di lingkungan berpenghasilan rendah, sebagian besar karies gigi tidak dirawat. Gigi anak yang terkena karies sering langsung dicabut ketika menyebabkan nyeri atau infeksi. Apalagi, pencegahan dan perawatan karies gigi pada anak biasanya tidak termasuk dalam paket jaminan kesehatan nasional. Hal ini sering menyebabkan biaya yang sangat besar dan beban keuangan yang signifikan bagi keluarga dan masyarakat. Total pengeluaran langsung untuk penyakit mulut di antara 194 Negara Anggota WHO mencapai US$ 387 miliar, atau rata-rata global sekitar US$ 50 per kapita pada tahun 2022. Angka ini mewakili sekitar 4,8% dari pengeluaran kesehatan langsung global. Sementara itu, kerugian produktivitas akibat penyakit mulut diperkirakan sekitar US$ 42 per kapita, dengan total sekitar US$ 323 miliar secara global.
Terdapat hubungan yang jelas antara konsumsi gula dan karies gigi pada anak. Karies gigi terjadi ketika plak terbentuk di permukaan gigi dan mengubah gula bebas yang terkandung dalam makanan dan minuman, menjadi partikel asam yang merusak gigi. Gula bebas adalah semua gula yang ditambahkan ke dalam makanan dan minuman oleh produsen, juru masak, atau konsumen. Selain itu, juga gula yang secara alami terdapat dalam madu, sirup, dan jus buah. Asupan gula bebas yang tinggi secara terus-menerus, paparan fluoride yang tidak memadai, dan kurangnya pembersihan plak saat menyikat gigi, apalagi tidak menggunakan pasta gigi berfluoride dengan konsentrasi 1.000 ppm, dapat memudahkan terjadinya karies gigi pada anak.
Strategi yang diterapkan secara luas untuk mengurangi konsumsi gula bebas, merupakan pendekatan kesehatan masyarakat yang penting, untuk menekan beban karies gigi. Intervensi tersebut meliputi pertama, pelabelan nutrisi. Pelabelan di bagian depan kemasan makanan atau minuman untuk menginformasikan tentang kandungan gula, sebaiknya merupakan pernyataan wajib oleh produsen. Kedua, batas atau target reformulasi sebaiknya tegas, untuk mengurangi kandungan gula dalam makanan dan minuman kemasan. Ketiga, kebijakan pengadaan dan layanan pangan bagi publik. Ini untuk mengurangi promosi makanan dan minuman tinggi gula. Kebijakan ini juga untuk melindungi anak dari dampak buruk pemasaran makanan dan minuman tinggi gula. Dan keempat, pajak untuk minuman manis dan gula atau makanan tinggi gula.
Banyak penyakit mulut, termasuk karies gigi, dapat dicegah dan diobati sejak dini dengan intervensi yang hemat biaya. Mengintegrasikan serangkaian layanan kesehatan mulut esensial ke dalam paket manfaat jaminan kesehatan nasional menggunakan pendekatan layanan kesehatan masyarakat, diprediksi akan berdampak signifikan dalam mengurangi beban karies gigi. Apalagi dilengkapi dengan meningkatkan ketersediaan dan aksesibilitas terhadap layanan kesehatan gigi anak yang berkualitas. Intervensi tersebut mencakup penggunaan pasta gigi berfluoride, fluoride topikal, dan teknik restoratif sederhana, sebagai bagian dari layanan kesehatan mulut komprehensif yang berpusat pada pasien anak.
Perlu diingat bahwa PTM merupakan penyebab utama kematian dan bertanggung jawab atas 38 juta (68%) dari 56 juta kematian dunia pada tahun 2012. Karies gigi merupakan PTM yang paling umum secara global. Konsumsi gula bebas dalam makanan dan minuman merupakan faktor risiko paling umum untuk karies gigi. WHO merekomendasikan agar anak di bawah usia 2 tahun tidak mengonsumsi minuman manis apapun dan pengurangan asupan gula bebas sepanjang hidup (rekomendasi kuat). Pada orang dewasa dan anak, WHO merekomendasikan pengurangan asupan gula bebas hingga kurang dari 10% dari total asupan energi (rekomendasi kuat). WHO menyarankan pengurangan lebih lanjut asupan gula bebas hingga di bawah 5% dari total asupan energi (rekomendasi bersyarat). Selain itu, WHO juga merekomendasikan penerapan paket kebijakan hemat biaya untuk pola makan sehat, termasuk pajak minuman manis sebagai langkah kebijakan fiskal untuk mengurangi konsumsi gula.
Apakah kita sudah bertindak bijak?
Sekian
Yogyakarta, 23 Agustus 2025
*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Dekan FK UAJY, WA : 081227280161
Catatan : tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 14 September 2025, halaman 8, kolom HUSADA dengan judul Campak : Penyakit serius sangat menular.
Pemerintahan Provinsi Jawa Timur pada Kamis, 21 Agustus 2025 mencatat kasus suspek campak (gabagen, morbili atau measles) telah mencapai 2.035 kasus dan 17 orang meninggal dunia di Kabupaten Sumenep, Madura. Kasus campak ini tersebar di 26 kecamatan. Penyebaran campak di Sumenep ini kemudian ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Apa yang mencemaskan?
Meskipun vaksin campak yang aman dan hemat biaya tersedia, tetapi sejak tahun 2023 masih ada 110.000 kematian akibat campak secara global, sebagian besar pada anak balita. Pada hal vaksinasi campak telah mengakibatkan penurunan 80% kematian akibat campak pada rentang tahun 2000 sampai 2023 di seluruh dunia. Pada tahun 2023, sekitar 85% bayi di dunia telah menerima satu dosis vaksin campak sebelum ulang tahun pertama mereka, melalui layanan kesehatan rutin yang naik dari 72% pada tahun 2005. Selama 2005-2023, vaksinasi campak mencegah sekitar 21,1 juta kematian, sehingga menjadikan vaksin campak adalah salah satu yang terbaik dari barang medis yang dibeli, dalam program kesehatan masyarakat.
Campak adalah penyakit serius yang sangat menular yang disebabkan oleh virus. Sebelum ada vaksin campak pada tahun 1963 dan pemberian vaksinasi yang luas, epidemi besar terjadi kira-kira setiap 2-3 tahun di seluruh dunia dan campak menyebabkan sekitar 2,6 juta kematian setiap tahun. Campak disebabkan oleh infeksi virus dalam keluarga paramyxovirus dan biasanya ditularkan melalui kontak langsung antar anak dan melalui udara. Virus menginfeksi saluran pernapasan, kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Campak adalah penyakit pada manusia dan tidak ada data bahwa terjadi pada hewan.
Sebagian besar kematian terkait campak disebabkan oleh komplikasi yang terkait dengan penyakit ini. Komplikasi serius lebih sering terjadi pada anak balita atau orang dewasa di atas usia 30 tahun. Komplikasi campak yang paling serius meliputi kebutaan, ensefalitis (infeksi otak), diare dan dehidrasi berat, infeksi telinga, atau saluran pernapasan bawah yang parah, seperti pneumonia. Campak parah lebih mungkin terjadi pada anak yang kurang gizi, terutama kekurangan vitamin A, atau yang sistem kekebalannya telah dilemahkan oleh HIV / AIDS atau penyakit lainnya.
Campak adalah salah satu penyakit paling menular di dunia. Penyakit ini menyebar melalui batuk dan bersin, kontak pribadi yang dekat atau kontak langsung dengan sekresi hidung atau tenggorokan yang terinfeksi. Virus tetap aktif dan menular di udara atau di permukaan benda yang terinfeksi hingga 2 jam. Campak dapat ditularkan oleh orang yang terinfeksi dari 4 hari sebelum timbulnya ruam kulit, hingga 4 hari setelah ruam kulit menjadi nyata. Wabah campak dapat menyebabkan epidemi yang menyebabkan banyak kematian, terutama pada anak balita yang kekurangan gizi. Di negara-negara di mana campak sebagian besar telah dieliminasi, kasus yang diimpor dari negara lain tetap menjadi sumber infeksi yang sulit dikendalikan.
Tidak ada pengobatan antivirus khusus untuk virus campak. Komplikasi parah dari campak dapat dikurangi, melalui perawatan suportif yang memastikan nutrisi yang baik, asupan cairan yang cukup, dan pengelolaan dehidrasi dengan cairan rehidrasi oral yang direkomendasikan WHO. Cairan rehidrasi ini menggantikan cairan tubuh dan elemen penting lainnya, yang hilang karena diare atau muntah. Antibiotik harus diresepkan untuk mengobati infeksi bakteri pada mata, telinga, dan paru-paru atau pneumonia.
Pada tahun 2023, sekitar 85% anak di dunia telah menerima 1 dosis vaksin campak pada ulang tahun pertama mereka melalui layanan kesehatan rutin, yang naik dari 72% dibandingkan pada tahun 2020. Dua dosis vaksin campak direkomendasikan untuk memastikan kekebalan dan mencegah wabah, karena sekitar 15% anak yang divaksinasi gagal mengembangkan kekebalan dari dosis pertama. Pada tahun 2023, sekitar 67% anak menerima dosis kedua vaksin campak. Dari perkiraan 20,8 juta bayi yang tidak divaksinasi dengan setidaknya satu dosis vaksin campak melalui imunisasi rutin sejak tahun 2023, sekitar 8,1 juta bayi berada di 3 negara, yaitu India, Nigeria dan Pakistan.
Indonesia termasuk 10 negara dengan jumlah kasus campak terbesar di dunia. Kementerian Kesehatan RI mencatat jumlah kasus campak di Indonesia sangat banyak dan cenderung meningkat, dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Adapun jumlah kasus suspek campak yang dilaporkan antara 2020 sampai dengan Juli 2023 sebanyak 57.056 kasus, di mana 8.964 di antaranya positif campak. Cakupan imunisasi campak di Pulau Jawa pada 2023 telah mencapai 100 persen, sementara di luar Pulau Jawa (termasuk Madura) hanya 72,70 persen, bahkan 71 kabupaten dan kota di luar Jawa hanya mencapai di bawah 50 persen, dengan propinsi paling rendah adalah Provinsi Aceh. Dengan target yang dicanangkan adalah 95 persen, maka saat cakupan imunisasi campak gagal ditingkatkan, Jawa Timur dan Indonesia harus bersiap-siap menghadapi KLB Campak.
Pada KLB campak kali ini tindakan segera adalah mengirimkan 9.825 botol vaksin campak atau MR (Measles and Rubella) dari Kementerian Kesehatan ke Dinas Kesehatan Sumenep, sebagai Outbreak Response Imunization atau ORI. Tak hanya itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur lalu memberikan on the job training (OJT) pembuatan kajian epidemiologi KLB PD3I ke seluruh puskesmas di Kabupaten Sumenep sebagai upaya penanggulangan. Juga digelar pertemuan koordinasi lintas batas Madura Raya dan Surabaya Raya, dengan output berupa dokumen kesepakatan penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I). Ini mengingatkan kita akan pentingnya imunisasi campak 2 dosis (MR dan MMR), untuk semua anak Indonesia di sekitar kita.
Sudahkah kita bertindak bijak?
Sekian
Yogyakarta, 23 Agustus 2025
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Dekan FK UAJY, WA : 081227280161
Tulisan ini telah dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 6 September 2025, halaman 8 kolom HUSADA
Setiap tahun pada tanggal 19 Agustus, dirayakan sebagai Hari Kemanusiaan Dunia (World Humanitarian Day). Apa yang perlu disadari?
Tanggal 19 Agustus telah dipilih oleh Majelis Umum PBB pada tahun 2008, untuk memperingati karya gemilang para relawan kemanusiaan. Alasannya adalah karena pada tanggal tersebut, 22 orang karyawan PBB, termasuk Utusan Khusus Sekjen PBB Tuan Sergio Vieira de Mello, tewas dalam serangan bom bunuh diri pada tahun 2003 di Baghdad, Irak.
Relawan kemanusiaan sering kali dilupakan jasanya. Pada hal mereka tidak hanya bekerja di tempat paling buruk di dunia, di suhu lingkungan yang ekstrim, seperti panasnya lahar gunung berapi, dinginnya salju, ataupun keringnya udara, tetapi juga terancam oleh penyakit menular, peluru nyasar atau ancaman ganasnya medan di tempat-tempat berbahaya. Di sanalah mereka mempertaruhkan hidup mereka untuk membantu kaum miskin, pengungsi korban perang atau bencana alam, tanpa memandang apa pun ras, kebangsaan, agama atau aliran politiknya, dengan netralitas yang total.
Antara Januari 2024 dan Agustus 2025, terjadi 2.450 kali serangan bersenjata terhadap layanan kesehatan di 21 negara. Serangan ini mengakibatkan 2.060 kematian dan 2.395 cedera pada dokter, tenaga kesehatan dan pasien. Dalam periode yang sama, 1.392 serangan berdampak pada dokter dan tenaga kesehatan melalui pembunuhan, cedera, penculikan, penangkapan, dan/atau intimidasi.
Pada tahun 2025 saja, serangan bersenjata terhadap layanan kesehatan terjadi di Ukraina (310 serangan), Palestina termasuk Yerusalem Timur (304), dan Sudan (38), sehingga secara total mengakibatkan 933 kematian dokter, tenaga kesehatan dan pasien. Juga di Republik Demokratik Kongo, Haiti, dan Myanmar (total 71 serangan) yang berdampak pada fasilitas kesehatan, rantai pasokan medis, dokter, tenaga kesehatan, dan pasien.
Sampai saat ini tim medis WHO terus melayani sesama manusia dalam keadaan darurat paling kompleks di dunia. Di 27 negara, termasuk Palestina, Sudan, dan Ukraina, tim ini bekerja sama dengan lebih dari 900 mitra lokal untuk memberikan layanan medis. Sekitar dua pertiga mitra adalah organisasi relawan lokal dan nasional yang melayani di garis depan dan menghadapi risiko terbesar. Antara tahun 2000 dan 2023, 86% dari seluruh korban relawan kemanusiaan adalah staf lokal dan 96% dari mereka yang tewas, terluka, atau diculik antara Januari dan Oktober 2024 juga adalah staf lokal.
Sementara itu, telah terjadi meningkatnya politisasi bantuan medis. Layanan kesehatan tidak lagi diperlakukan sebagai sesuatu yang netral, dan aksi kemanusiaan semakin dimanipulasi atau dihambat. Antara Juni dan November 2024, akses kemanusiaan memburuk di 20% dari 93 negara, sementara hampir setengahnya terus menghadapi kendala yang tinggi hingga ekstrem. Di Burkina Faso, Haiti, Myanmar, Palestina, dan Sudan, rintangan birokrasi, campur tangan, atau pembatasan akses yang ekstrem telah memaksa penangguhan dan pengurangan operasi dan pasokan, meninggalkan jutaan orang tanpa perawatan kesehatan yang menyelamatkan jiwa. Praktik-praktik semacam itu bertentangan dengan kewajiban kemanusiaan fundamental untuk memastikan sentralitas perlindungan, keselamatan, dan martabat penduduk, menjadikannya respons yang sangat cacat.
Komunitas internasional telah bersuara dengan mengutuk serangan bersenjata terhadap tim kesehatan. Mereka telah menegaskan komitmennya untuk melindungi para dokter dan pekerja kemanusiaan. Namun demikian, pernyataan dan kutukan saja tidak dapat melindungi ambulans dari serangan udara, dokter dari peluru, atau konvoi kemanusiaan dari pesawat tanpa awak yang salah sasaran.
Kini saatnya diserukan kepada komunitas internasional secara luas untuk bergerak dan mengambil tindakan yang berkelanjutan, dengan menegakkan hukum humaniter internasional dan melindungi layanan kesehatan. Pertama, menegakkan hukum humaniter internasional dan melindungi layanan kesehatan dalam semua konteks memastikan akuntabilitas bagi mereka yang bertanggung jawab atas serangan terhadap layanan kesehatan. Kedua, menjamin pendanaan dan dukungan berkelanjutan untuk respons, koordinasi, dan aksi kemanusiaan Klaster Kesehatan yang lebih luas. Ketiga, memberdayakan responden garis depan dengan sumber daya yang langsung, fleksibel, dan dapat diprediksi
menolak politisasi, sekuritisasi, dan privatisasi bantuan kemanusiaan; dan keempat, menegaskan bahwa layanan kesehatan harus tetap netral, terlindungi, dan mudah diakses.
Hari Kemanusiaan Dunia 19 Agustus dirancang untuk memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya, bagi para dokter, petugas kesehatan dan relawan kemanusiaan yang telah gugur, diculik atau terluka saat mereka bertugas. Selain itu, juga memotivasi panggilan baru untuk relawan penerus. Pada prinsipnya, hari tersebut adalah momentum perayaan manusia membantu sesamanya (people helping people).
Sudahkah kita secara pribadi ataupun berkelompok, berbuat sesuatu untuk sesama kita?
Sekian
Yogyakarta, 20 Agustus 2025
*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM, pernah menjadi relawan kesehatan saat bencana erupsi Gunung Merapi di Yogyakarta. WA: 081227280161,