ANTIBIOTIKA SEMASA COVID-19
fx. wikan indrarto*)
Sejumlah negara kini mampu memantau dan melaporkan tentang adanya resistensi antibiotik semasa pandemi COVID-19. Hal ini menandai langkah maju yang besar dalam perang global melawan resistensi atau kekebalan kuman terhadap obat. Data yang ada mengungkapkan bahwa sejumlah infeksi bakteri yang mengkhawatirkan, semakin kebal terhadap obat antibiotika yang tersedia untuk mengobatinya. Apa yang perlu dicermati?
.
baca juga : https://dokterwikan.com/2018/02/02/resistensi-antibiotik-global/
.
“Saat terkumpul lebih banyak bukti, terlihat dengan lebih jelas dan lebih mengkhawatirkan seberapa cepat kita kehilangan obat antimikroba yang sangat penting di seluruh dunia,” kata Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Data ini menggarisbawahi pentingnya melindungi obat abtibiotika yang kita miliki dan mengembangkan jenis obat antibiotika baru, untuk mengobati infeksi bakteri secara efektif, menjaga prestasi bidang kesehatan yang diperoleh dalam abad terakhir, dan memastikan masa depan yang aman.
.
baca juga : https://dokterwikan.com/2020/01/29/2020-semakin-sedikit-antibiotika/
.
Sejak adanya laporan ‘Global Antimicrobial Resistance and Use Surveillance System’ (GLASS) WHO pada tahun 2018, partisipasi telah tumbuh secara eksponensial. Hanya dalam tiga tahun terakhir, sistem ini sekarang mampu mengumpulkan data dari lebih dari 64.000 situs pengawasan penggunaan obat antibiotika dengan lebih dari 2 juta pasien terdaftar dari 66 negara di seluruh dunia. Pada 2018 jumlah situs pengawasan adalah 729 di 22 negara.
.
.
Lebih banyak negara juga melaporkan indikator yang telah disetujui tentang resistensi antimikroba atau ‘Anti Microbial Resistance’ (AMR) sebagai bagian dari pemantauan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Ekspansi besar-besaran beberapa negara, fasilitas kesehatan, dan pasien yang tercakup oleh sistem pengawasan AMR, memungkinkan untuk mendokumentasikan dengan lebih baik ancaman kesehatan masyarakat yang muncul akibat AMR.
.
Tingkat resistensi yang tinggi di antara antimikroba, khususnya antibiotika yang sering digunakan untuk mengobati infeksi bakteri yang umum, seperti infeksi saluran kemih dan diare, menunjukkan bahwa dunia kehabisan cara efektif untuk mengatasi penyakit ini. Misalnya, tingkat resistensi terhadap obat ciprofloxacin, antibiotika yang paling sering digunakan untuk mengobati infeksi saluran kemih, bervariasi dari 8,4% hingga 92,9% di 33 negara yang melaporkan.
.
Kita semua haruslah khawatir tren perburukan tersebut akan semakin hebat, karena dipicu oleh penggunaan antibiotik yang tidak tepat selama pandemi COVID-19. Bukti menunjukkan bahwa sebenarnya hanya sebagian kecil pasien COVID-19 yang membutuhkan antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri. WHO telah mengeluarkan panduan untuk tidak memberikan obat antibiotik sebagai terapi ataupun profilaksis, kepada pasien dengan COVID-19 ringan atau kepada pasien dengan dugaan atau dikonfirmasi penyakit COVID-19 sedang, kecuali ada indikasi klinis untuk melakukannya.
.
Kita semua prihatin dengan penurunan investasi, termasuk oleh sektor swasta, dan kurangnya inovasi dalam pengembangan obat antibiotika baru. Selain itu, juga faktor-faktor yang menghambat upaya untuk memerangi infeksi bakteri yang resistan terhadap obat. Kini saatnya kita harus meningkatkan kerja sama dan kemitraan global termasuk antara sektor publik dan swasta untuk memberikan insentif keuangan dan non-keuangan untuk pengembangan obat antibiotika dan antimikroba yang baru dan inovatif.
.
Untuk mendukung upaya ini, perlu kesepakatan global tentang profil produk target obat antibiotika untuk memandu pengembangan pengobatan baru untuk infeksi bakteri yang telah resisten. Selain itu, juga disertai model ekonomi yang mensimulasikan biaya, risiko, dan kemungkinan pengembalian investasi pengembangan obat antibiotik baru.
.
Pada akhir tahun 2017 WHO menerbitkan daftar patogen prioritas, yaitu 12 kelas bakteri ditambah bakteri tuberkulosis, yang meningkatkan risiko terhadap kesehatan manusia secara global, karena bateri tersebut telah resisten terhadap sebagian besar obat antibiotika yang ada. Daftar tersebut disusun untuk mendorong komunitas riset medis, dalam mengembangkan pengobatan inovatif untuk bakteri yang telah resisten. Antibiotik yang sedang dikembangkan untuk melawan patogen prioritas WHO meliputi β-Laktam, Tetrasiklin, Aminoglikosida, Topoisomerase inhibitor, Penghambat FabI, FtsZ inhibitor, Oksazolidinon, Macrolides dan ketolides, Hibrida, Polimiksin, infeksi TB, DprE1 inhibitor, dan infeksi C. difficile.
.
Panduan tatalaksana medis yang jelas dan ketat tentang penggunaan antibiotik saat pandemi COVID-19 ini, akan membantu berbagai negara dalam menangani COVID-19 secara efektif, dan sekaligus mencegah muncul dan berkembangnya resistensi antibiotika.
Sudahkah kita bijak?
Sekian
Yogyakarta, 9 September 2020
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161