Categories
anak dokter Healthy Life

2022 Pendengaran Sehat

Hari Pendengaran Sedunia 2022, Guru Besar UI: Kasus Bayi Lahir Tuli 1 per  1.000 Kelahiran di Indonesia

HARI PENDENGARAN SEDUNIA 2022

fx. wikan indrarto*)

Hari Pendengaran Sedunia (The World Hearing Day) dirayakan pada Kamis, 3 Maret 2022. Tema tahun ini adalah untuk mendengar seumur hidup, dengarkan dengan hati-hati (to hear for life, listen with care). Apa yang menarik?

.

Sel-sel sensorik di dalam telinga hanya dapat mentolerir sejumlah kebisingan harian sebelum rusak, yang jumlah ini disebut tunjangan suara harian (the daily sound allowance). Jika sel terpapar terlalu banyak suara, melebihi tunjangan suara harian, tentu membahayakan telinga dan fungsi pendengaran. Seiring waktu, ini menyebabkan gangguan pendengaran. Tunjangan suara harian berfungsi seperti tunjangan moneter atau uang saku, yaitu memiliki jumlah terbatas untuk dibelanjakan setiap hari. Misalnya, semakin keras atau lama terpapar suara tingkat tinggi, berarti semakin banyak “menghabiskan”, semakin cepat kehabisan uang saku.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/08/14/2021-anak-merdeka/

Telinga adalah organ yang memproses suara, memungkinkan otak untuk menafsirkan apa yang didengar. Sel-sel sensorik di dalam telinga membantu mendengarkan. Mendengarkan suara keras dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan kerusakan yang dapat mengakibatkan gangguan pendengaran sementara atau permanen atau sensasi berdenging di telinga (tinnitus). Gangguan pendengaran mungkin tidak terlihat pada awalnya. Mungkin hanya mengalami kesulitan mendengar beberapa suara bernada tinggi seperti lonceng. Mendengarkan terus-menerus pada tingkat yang tidak aman menyebabkan gangguan pendengaran yang tidak dapat diperbaiki. Hal ini dapat membuat sulit untuk berkomunikasi dengan orang lain, terutama di tempat yang bising.

.

Oleh karena itu, penting untuk mewaspadai tanda gangguan pendengaran dini. Tanda yang penting adalah adanya dering di telinga (tinnitus), kesulitan mendengar suara bernada tinggi (kicau burung, bel pintu, telepon, jam weker), kesulitan memahami pembicaraan, terutama melalui telepon dan kesulitan mengikuti percakapan di lingkungan yang bising. Jika merasa memiliki salah satu dari masalah ini, harus segera diperiksakan fungsi pendengaran. WHO telah mengembangkan aplikasi (the hearWHO app), sehingga kita dapat memeriksa pendengaran sendiri kapan pun mau.

.

Hari Pendengaran Sedunia: Gangguan Pendengaran Bisa Disebabkan karena  Paparan Suara Keras | Indozone.id

Paparan kebisingan yang lama di diskotek, bar, arena yang menyelenggarakan acara olahraga atau konser telah diketahui menghasilkan sensasi suara di telinga yang dikenal sebagai tinnitus. Biasanya tinnitus sembuh dalam waktu singkat. Jika paparan suara keras terus menerus dalam waktu lama, hal ini dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen yang melibatkan kerusakan sel-sel sensorik. Setelah rusak, sel-sel sensorik yang bertanggung jawab untuk pendengaran, tidak dapat beregenerasi. Tidak ada pengobatan medis atau bedah untuk gangguan pendengaran akibat kebisingan. Namun demikian, gangguan pendengaran biasanya lambat dalam onset, tetapi berkembang selama paparan berlanjut. Perkembangan gangguan pendengaran dapat dicegah dengan menghindari suara keras dan berlatih mendengarkan dengan aman.

.

Untuk membuat pendengaran selalu aman, beberapa tindakan ini sangat disarankan. Pertama, mempertahankan volume suara tetap berada dalam batas 80 dB sejauh mungkin selama tidak lebih dari 40 jam per minggu. Kedua, mengenakan penyumbat telinga saat mengunjungi diskotik, bar, arena yang menyelenggarakan acara olahraga dan konser musik yang bising. Ketiga, menggunakan earphone atau headphone peredam bising, karena ini dapat mengurangi kebutuhan untuk menaikkan volume suara saat berada di lingkungan yang bising, seperti saat bepergian dengan kereta api atau bus. Keempat, pantau dan kendalikan tingkat mendengarkan yang aman, dan tetap dalam batas suara harian. Kelima, batasi penggunaan harian perangkat audio pribadi dan batasi waktu yang dihabiskan untuk melakukan aktivitas di tempat bising, dengan istirahat sejenak untuk tidak mendengarkan,  (pergi ke tempat atau sudut yang tenang dan biarkan telinga beristirahat sejenak), menjauh dari suara keras dengan menjaga jarak aman dengan sumber suara seperti speaker, dan kurangi frekuensi mengunjungi tempat-tempat bising, jika memungkinkan. Dan keenam atau terakhir, lakukan pemeriksaan pendengaran secara teratur.

.

Orang tua perlu berperan aktif dalam mendidik semua anak tentang mendengarkan, memantau paparan suara keras, dan menjadi panutan dalam mendengarkan dengan aman bagi semua anak. Orangtua harus memastikan bahwa semua anak menghindari penggunaan earphone berlebihan, memastikan bahwa anak tidak meningkatkan volume speaker ketika mereka tidak diawasi, dan sebaiknya menggunakan perangkat audio yang dilengkapi dengan kontrol orang tua tentang tingkat kenyaringan.

.

Semua guru hendaknya mendidik anak dan remaja tentang kemungkinan bahaya paparan suara keras dari penyalahgunaan perangkat audio pribadi, mengembangkan kebiasaan mendengarkan secara aman, menjadikan bagian dari kurikulum pendidikan kesehatan, dan juga diajarkan sebagai bagian dari kelas musik, kesenian dan tari.

.

Diperkiraan 1,1 miliar anak muda di seluruh dunia berisiko mengalami gangguan pendengaran, karena praktik mendengarkan yang tidak aman. Ini termasuk paparan suara keras pada perangkat audio pribadi dan di tempat hiburan yang bising. Momentum Hari Pendengaran Sedunia (The World Hearing Day) pada Kamis, 3 Maret 2022 mengingatkan kita untuk fokus pada pentingnya mendengarkan dengan aman, sebagai sarana untuk menjaga pendengaran yang baik sepanjang hidup.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 16 Februari 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak antibiotika COVID-19 dokter Healthy Life kanker resisten obat vaksinasi

2022 Kanker pada Anak

Mengenal Gejala Dini Penyakit Kanker Pada Anak

KENALI  KANKER  PADA  ANAK

fx. wikan indrarto*)

Setiap tanggal 15 Februari dirayakan Hari Kanker Anak Internasional atau International Childhood Cancer Day (ICCD), sebuah kampanye kolaboratif global untuk meningkatkan kesadaran tentang kanker pada anak. Selain itu, juga untuk menggalang dukungan bagi para penyintas dan keluarga mereka. Tema tahun 2022 adalah ‘Kelangsungan Hidup Lebih Baik dengan dukungan Anda (Better Survival’ is achievable #throughyourhands). Apa yang menarik?

.

Setiap tahun, diperkirakan 400.000 anak dan remaja berusia 0-19 tahun mengidap kanker. Jenis kanker anak yang paling umum adalah kanker darah atau leukemia, kanker otak, kelenjar getah bening atau limfoma, dan tumor padat, seperti saraf atau neuroblastoma dan ginjal atau tumor Wilms. Di negara berpenghasilan tinggi, di mana layanan komprehensif umumnya dapat diakses, lebih dari 80% anak penderita kanker sembuh. Di negara berpenghasilan rendah dan menengah, hanya kurang dari 30% yang sembuh. Kanker anak umumnya tidak dapat dicegah dan dikenali melalui proses skrining. 

.

Kematian yang dapat dihindari akibat kanker pada anak di negara berkembang diakibatkan oleh kurang, salah atau terlambat didiagnosis. Juga adanya hambatan untuk mengakses pengobatan standar, selain kematian akibat toksisitas obat dan kekambuhan kanker. Hanya 29% negara berpenghasilan rendah melaporkan bahwa obat kanker umumnya tersedia untuk populasi anak di negara tersebut, dibandingkan dengan 96% negara berpenghasilan tinggi. Sistem register atau data kanker anak nasional diperlukan untuk mendorong perbaikan berkelanjutan dalam kualitas perawatan, dan untuk menginformasikan keputusan kebijakan.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/02/05/2020-melawan-kanker/

.

Kanker terjadi pada segala usia dan setiap bagian dari tubuh manusia. Proses ini dimulai dengan perubahan genetik dalam sel tunggal, yang kemudian tumbuh menjadi benjolan atau massa (disebut tumor), yang mendesak bagian lain dari tubuh, sehingga akan menyebabkan kerusakan dan kematian, jika tidak ditangani. Tidak seperti kanker pada orang dewasa, sebagian besar kanker pada anak tidak diketahui penyebabnya. Banyak penelitian telah berusaha untuk mengidentifikasi penyebab kanker pada anak, tetapi sangat sedikit kanker pada anak yang disebabkan oleh faktor lingkungan atau gaya hidup. Upaya pencegahan kanker pada anak harus difokuskan pada perbaikan perilaku, yang akan mencegah anak mengalami kanker yang dapat dicegah, saat mereka menjadi dewasa.

.

Beberapa penyakit infeksi, seperti HIV, virus Epstein-Barr dan malaria, merupakan faktor risiko kanker pada anak, di berbagai negara berkembang. Sebaliknya, beberapa infeksi lain pada anak dapat meningkatkan risiko anak tersebut akan terkena kanker saat dewasa. Untuk pencegahan kanker ini, penting sekali anak untuk divaksinasi, misalnya imunisasi hepatitis B untuk membantu mencegah kanker hati dan imunisasi HPV atau Human Papilloma Virus untuk mencegah kanker serviks.

.

Sekitar 10% dari semua anak dengan kanker memiliki kecenderungan terkait faktor genetik. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi faktor lain yang mempengaruhi perkembangan kanker pada anak. Karena umumnya tidak mungkin untuk mencegah kanker pada anak, strategi paling efektif untuk mengurangi beban kanker pada anak dan meningkatkan hasil luaran klinis adalah berfokus pada diagnosis yang tepat dan cepat, diikuti dengan terapi berbasis bukti yang efektif dengan perawatan suportif yang disesuaikan.

.

Data Anak Penderita Kanker di Indonesia dan Kondisi Mental Mereka

Ketika didiagnosis lebih awal, kanker lebih mungkin untuk merespon pengobatan yang efektif dan menghasilkan kemungkinan yang lebih besar untuk bertahan hidup, lebih sedikit penderitaan, dan seringkali lebih murah, dibandingkan pengobatan tahap lanjut. Perbaikan signifikan dapat dilakukan dalam kehidupan anak penderita kanker, dengan mendeteksi kanker sejak dini dan menghindari keterlambatan pengobatan. Diagnosis yang benar sangat penting untuk mengobati kanker pada anak, karena setiap kanker memerlukan rejimen tatalaksana khusus, termasuk pembedahan, radioterapi, dan kemoterapi.

.

Diagnosis dini kanker pada anak terdiri dari 3 komponen utama. Pertama, kesadaran akan gejala oleh keluarga dan tenaga kesehatan. Kedua, evaluasi, diagnosis, dan penentuan stadium klinis yang akurat dan tepat waktu (menentukan sejauh mana kanker telah menyebar). Ketiga, akses ke pengobatan segera. Program diagnosis dini kanker pada anak telah berhasil diterapkan di berbagai negara dari semua tingkat pendapatan, seringkali melalui upaya kolaboratif pemerintah, masyarakat sipil dan organisasi non-pemerintah. Kanker anak dapat dikenali dengan berbagai gejala klinis sebagai peringatan awal, seperti demam berulang, sakit kepala parah dan persisten, nyeri tulang atau penurunan berat badan, yang dapat dikenali oleh keluarga dan tenaga kesehatan yang terlatih.

.

Paparan Radiasi Ponsel Dapat Meningkatkan Risiko Kanker Pada Anak - Semua  Halaman - Grid Health
.

Program skrining umumnya tidak membantu untuk deteksi kanker anak, tetapi dalam beberapa kasus tertentu, hal ini dapat dipertimbangkan pada populasi berisiko tinggi. Misalnya, beberapa kanker mata pada anak dapat disebabkan oleh mutasi yang diturunkan. Jika mutasi terjadi dalam keluarga anak dengan retinoblastoma, konseling genetik dapat ditawarkan dan saudara kandung dipantau dengan pemeriksaan mata secara teratur sejak dini. Tidak ada bukti berkualitas tinggi untuk mendukung program skrining berbasis populasi pada anak-anak.

.

Diagnosis yang benar sangat penting untuk memberikan terapi yang tepat untuk jenis dan luasnya penyakit kanker pada anak. Terapi standar kanker pada anak meliputi kemoterapi, pembedahan dan atau radioterapi. Namun demikian, anak juga membutuhkan perhatian khusus dalam proses pertumbuhan fisik dan kognitif mereka yang berkelanjutan. Selain itu, mempertahankan status gizi agar tetap baik, membutuhkan tim multi-disiplin yang berdedikasi. Akses ke diagnosis yang efektif, obat kanker esensial, pemeriksaan patologi, produk darah, terapi radiasi, teknologi baru, perawatan psikososial dan suportif sangat bervariasi, tetapi tidak merata tersedia di seluruh dunia.

.

Penyembuhan dapat mencapai lebih dari 80% anak dengan kanker, ketika layanan kanker anak dapat diakses dengan tepat. Terapi farmakologis, termasuk obat generik murah yang masuk dalam Daftar Obat Esensial WHO untuk Anak, sangat besar perannya. Anak yang mampu menyelesaikan paket pengobatan kanker, tetap memerlukan perawatan berkelanjutan, untuk memantau kekambuhan kanker dan untuk mengelola kemungkinan dampak buruk pengobatan jangka panjang.

.

Perawatan paliatif bertujuan untuk mengurangi gejala nyeri yang disebabkan oleh kanker dan meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarganya. Tidak semua anak penderita kanker dapat disembuhkan, tetapi meringankan penderitaan dari keluhan nyeri hebat adalah keharusan kita bagi semua anak. Perawatan paliatif anak dianggap sebagai komponen inti dari perawatan komprehensif, dimulai ketika penyakit didiagnosis dan berlanjut selama perawatan dan pengobatan, terlepas dari tujuan kuratif atau tidak. Perawatan paliatif dapat diberikan di rumah pasien, memberikan pereda nyeri dan dukungan psikososial kepada pasien dan keluarga mereka. Akses yang memadai ke morfin oral dan obat nyeri lainnya harus disediakan untuk pengobatan nyeri kanker derajat sedang hingga berat, yang mempengaruhi lebih dari 80% pasien kanker anak pada fase terminal.

Momentum Hari Kanker Anak Internasional atau International Childhood Cancer Day (ICCD) Selasa, 15 Februari 2022 mengingatkan kita untuk memberikan perhatian dan lebih peduli pada anak dengan kanker.

Sudahkah kita bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 10 Januari 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak dokter Healthy Life medicolegal UHC

2022 Hari Orang Sakit Sedunia

Paus Fransiskus: Setiap Orang Kristen Wajib Merawat Orang Sakit dan Lemah -  Katolikku

HARI  ORANG SAKIT  SEDUNIA   2022

fx. wikan indrarto*)

Hari Orang Sakit Sedunia (World Day of the Sick) ditetapkan oleh Sri Paus Yohanes Paulus II dan mulai dirayakan pada 11 Februari 1993. Tema peringatan tahun 2022 : Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati (Luk. 6:36). Apa yang sebaiknya dilakukan?

.

Ketiga subtema yang terus-menerus didengungkan pada setiap Hari Orang Sakit Sedunia adalah pertama, mengingatkan semua orang beriman, untuk berdoa secara khusuk bagi mereka yang sedang sakit. Kedua, mengundang semua orang beriman untuk merefleksikan sakit dan penderitaan manusia, dan ketiga, penghargaan bagi semua petugas kesehatan.

.

Melayani saudara kita yang sedang sakit, seharusnya diawali dengan kemurnian hati sampai kita mampu bersikap seperti Ayub “Saya mata untuk orang buta, dan kaki bagi orang lumpuh” (Ayub 29:15), kepada sesama yang sakit. Kita semua diajak untuk mampu menjadi “mata untuk orang buta” dan “kaki bagi orang lumpuh”. Pelayanan kita tidaklah harus dilakukan dengan menjadi petugas kesehatan bagi para pasien. Sebenarnya kita dapat sekedar dekat dengan orang sakit, terutama yang membutuhkan perawatan lama, membantu dalam memandikan, berpakaian, mencucikan dan menyuapkan makanan. Layanan sederhana seperti ini, terutama bila dilakukan berkepanjangan, pastilah dapat menjadi sangat melelahkan dan memberatkan.

.

Meskipun tidak ada yang menginginkannya, namun setiap manusia akan mungkin mengalami sakit, penderitaan dan bahkan dapat berlanjut dengan kematian. Sakit yang ringan sekalipun, sebaiknya digunakan sebagai sebuah momentum penting untuk mensyukuri sehat. Kita diingatkan untuk bersandar pada Tuhan, menyadari pentingnya iman bagi mereka yang sakit dan berbeban berat, untuk datang pada Tuhan. Dalam pertemuannya dengan Tuhan melalui caranya masing-masing, mereka yang sakit akan menyadari bahwa dirinya tidak sendirian. Banyak sekali orang sakit atau lansia yang tinggal sendirian di rumah  menunggu kunjungan kita. Pelayanan kunjungan dan penghiburan adalah tugas bagi setiap orang yang dibaptis : “ketika Aku sakit, kamu melawat Aku” (Mat 25:36).

.

Ekaristi Hari Orang Sakit Sedunia ke-27 - Gembala Yang Baik Limpung

Bagi kita semua yang sehat, memberikan pendampingan, penghiburan dan perhatian untuk mereka yang sakit, sangatlah berarti. Selain itu, kita disadarkan akan pergerakan roda kehidupan. Pada saat sehat, kita seharusnya meluangkan waktu, tenaga, pikiran dan dana untuk membantu mereka yang sakit. Pada saat yang lain, sangat mungkin kita sendiri justru menjadi orang yang sakit dan memerlukan hal yang sama dari semua orang di sekitar kita, sebagaimana pergerakan dan putaran roda kehidupan. 

.

Dampak ekonomi dan sosial pandemi COVID-19 sebenarnya jauh lebih menghancurkan, melemahkan dan memberatkan bagi masyarakat luas, tidak hanya dampak sakit oleh para penyintas saja. Namun demikian, kita semua yang terdampak secara ekonomi dan sosial tetap diingatkan untuk tetap membantu semua saudara kita, yang terdampak pandemi COVID-19 secara medis dan menjadi pasien, dengan terapi yang lengkap. Jika terapi ingin efektif, Paus Fransiscus berpesan agar terapi harus mempunyai aspek relasional, karena aspek ini memampukan pendekatan holistik kepada pasien.

.

Aspek relasional dapat membantu dokter, perawat, tenaga profesional dan relawan untuk merasa bertanggung jawab mendampingi pasien, di jalan penyembuhan yang didasarkan pada hubungan antarpribadi yang saling percaya. Aspek relasional ini menciptakan perjanjian antara mereka yang membutuhkan layanan medis dan mereka yang menyediakan layanan itu, dalam sebuah perjanjian yang didasarkan pada rasa saling percaya, hormat, keterbukaan dan kesiapsediaan diri. Hal ini akan membantu mengatasi sikap defensif, menghormati martabat orang sakit, menjaga profesionalisme dokter dan petugas kesehatan lainnya, bahkan mampu berperan dalam membina hubungan yang baik dengan keluarga pasien.

.

Dalam menangani orang sakit, dokter dan petugas kesehatan profesional lain hendaknya memprioritaskan kata benda ‘orang’, dibandingkan kata sifat ‘sakit’. Oleh sebab itu, para petugas kesehatan profesional haruslah bermurah hati, karena Allah “kaya akan belas kasih” (Ef. 2:4). Dia selalu menjaga anak-anak-Nya dengan kasih seorang Bapa, bahkan ketika mereka berpaling dari-Nya. Allah memelihara kita dengan kekuatan seorang ayah dan kelembutan seorang ibu.

.

Hari Orang Sakit Sedunia Archives • BMV Katedral Bogor

Puncak acara Hari Orang Sakit Sedunia ke-30 akan diselenggarakan pada Pesta Santa Perawan Maria, karena pandemi COVID-19, tidak jadi diselenggarakan di Arequipa, Peru seperti yang direncanakan, namun dipindahkan di Basilika Santo Petrus di Vatikan, pada hari Jumat, 11 Februari 2022. Momentum Hari Orang Sakit Sedunia (World Day of the Sick) 2022, mengingatkan kita agar mendampingi meraka yang menderita sakit dengan murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati (Luk. 6:36). Selain itu, saat kita sakit juga tidak perlu putus asa, karena adanya kemuliaan dan kasih Tuhan sampai pada akhir kehidupan.

.

Sudahkah kita menemani orang sakit di sekitar kita?

Sekian

Yogyakarta, 25 Januari 2022

*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161,

Categories
anak antibiotika COVID-19 resisten obat

2022 Ada kusta di antara kita

Kusta - Gejala, penyebab dan mengobati - Alodokter

2022  ADA  KUSTA  DI  ANTARA  KITA

fx. wikan indrarto*)

Hari Kusta Sedunia (World Leprosy Day) Minggu, 30 Januari 2022 memiliki  tema “United for Dignity” (Bersatu untuk Martabat).  Apa yang harus dilakukan?

.

Masih ada 127.558 kasus kusta baru yang terdeteksi secara global pada tahun 2020 dari 139 negara, termasuk 8.629 anak di bawah 15 tahun. Pada hal kampanye ‘ending transmission among children’ dengan target global yaitu nol infeksi pada anak, paling lambat harus dicapai pada tahun 2020 lalu. Tingkat deteksi kasus baru di antara populasi anak tercatat 4,4 per juta populasi anak. Di antara kasus baru 7.198 kasus baru terdeteksi dengan disabilitas grade2 (G2D) dan tingkat G2D baru tercatat 0,9 per juta penduduk.  

.

Kantong endemisitas kusta masih tetap tinggi di beberapa negara, yaitu Angola, Bangladesh, Brazil, Republik Rakyat Cina, Republik Demokratik Kongo, Ethiopia, India, Indonesia, Madagaskar, Mozambik, Myanmar, Nepal, Nigeria, Filipina, Sudan Selatan, Sri Lanka, Sudan dan Republik Tanzania. Pandemi COVID-19 telah mengganggu pelaksanaan program penurunan penemuan kasus baru sebesar 37% pada tahun 2020 dibandingkan dengan tahun 2019, dan pencapaian target ambisius nol infeksi pada anak tersebut.

.

Tinggal Satu Atap dengan Pasien Kusta Apa yang Harus Dilakukan? – Info  Sehat FKUI

Kusta atau lepra adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Kusta tercatat dalam peradaban kuno di Cina, Mesir dan India pada 600 SM. Bakteri M. leprae sebagai penyebab kusta ditemukan oleh Dr. Gerhard Henrik Armauer Hansen dari Norwegia pada tahun 1873 dan merupakan bakteri pertama yang dikenali sebagai penyebab penyakit infeksi pada manusia. Pada Kitab Imamat (13,3) disebutkan penyakit kusta ditandai bulu putih dan lebih dalam dari kulit. Saat ini seseorang harus dicurigai kusta jika menunjukkan satu dari tanda utama atau kardinal sebagai berikut, (1) lesi kulit berwarna putih atau leukoderma yang disertai dengan kehilangan sensorik atau anestesi yang pasti, dengan atau tanpa penebalan saraf dan (2) pemeriksaan apusan kulit positif bakteri kusta.

.

Terobosan terapi pertama terjadi pada tahun 1940-an dengan pengembangan dapson, obat kusta pertama. Namun durasi pengobatan dengan dapson itu bertahun-tahun dan bahkan seumur hidup, sehingga sulit bagi pasien untuk mematuhinya. Pada awal 1960-an, ditemukan obat kusta lainnya, yaitu rifampisin dan clofazimine. Sejak tahun 1981, WHO merekomendasikan MDT (multidrug therapy) yang terdiri dari 3 obat : dapson, rifampisin dan clofazimine, dan kombinasi obat ini mampu mematikan bakteri patogen dan menyembuhkan pasien.

.

Penggunaan MDT mampu mengurangi beban penyakit kusta secara dramatis, seperti Yesus yang membuat tahir (Luk:5,13). Selama 20 tahun terakhir, lebih dari 14 juta penderita kusta telah sembuh, sekitar 4 juta dari mereka sembuh sejak tahun 2000.  Kusta telah mampu dieliminasi di 119 dari 122 negara di mana penyakit ini dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat pada tahun 1985. Sebanyak 11 provinsi di Indonesia belum eliminasi kusta, yaitu Jawa Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku, Maluku Utara, Papua, serta Papua Barat. Sedangkan 23 provinsi lainnya sudah eliminasi kusta, dengan penambahan terbaru yaitu Aceh dan Kalimantan Utara. Tingginya angka cacat tingkat 2 (G2D) menunjukkan keterlambatan dalam penemuan kasus di lapangan. Indikator lain yang digunakan pada penyakit kusta yaitu proporsi penderita kusta pada anak (0-14 tahun), di antara penderita baru. Provinsi dengan proporsi kusta pada anak tertinggi yaitu Papua Barat (28,73%), Nusa Tenggara Timur (27,96%), dan Maluku Utara (23,27%).

.

Target global untuk 2030 adalah 120 negara tanpa kasus asli baru (new autochthonous cases), pengurangan 70% dalam jumlah tahunan kasus baru yang terdeteksi, 90% pengurangan tingkat per juta populasi kasus baru dengan G2D, dan 90% pengurangan angka per juta anak dari kasus anak baru dengan kusta. Pilar strategis dan komponen utama meliputi pertama, menerapkan peta jalan nol kusta yang terintegrasi dan milik negara di semua negara endemik. Kedua, komitmen politik dengan sumber daya yang memadai untuk kusta dalam konteks terpadu. Ketiga, kemitraan nasional untuk ‘zero leprosy’ dan ‘zero leprosy roadmap’ yang melibatkan semua pemangku kepentingan. Ketiga, peningkatan kapasitas dalam sistem perawatan kesehatan untuk layanan berkualitas. Keempat, pengawasan yang efektif dan sistem manajemen data yang ditingkatkan. Kelima, pemantauan resistensi antimikroba (AMR) dan reaksi obat yang merugikan.

.

Selain itu, beberapa tindakan untuk pencegahan kusta dilakukan bersama dengan deteksi kasus aktif terintegrasi. Pertama, pelacakan kontak untuk semua kasus baru. Kedua, kemoterapi preventif ditingkatkan. Ketiga, penemuan kasus aktif terintegrasi dalam populasi yang ditargetkan. Keempat, pengembangan vaksin baru yang ada dan potensial.

.

Sedangkan untuk menangani penyakit kusta dan komplikasinya serta mencegah kecacatan baru, diperlukan beberapa langkah. Pertama, deteksi kasus dini, diagnosis yang akurat dan pengobatan yang cepat. Kedua, akses ke fasilitas rujukan yang komprehensif dan terorganisir dengan baik. Ketiga, diagnosis dan manajemen reaksi kusta, neuritis dan kecacatan. Keempat, pemantauan, dukungan dan pelatihan dalam perawatan diri. Kelima, kesejahteraan mental melalui pertolongan pertama psikologis dan konseling terapeutik.

Penyakit Kusta dan sejarahnya | Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat

.

Yang terakhir adalah memerangi stigma dan memastikan hak asasi manusia dihormati. Diperlukan persatuan (United for Dignity) dalam menghormati martabat penderita kusta dengan cara berbagi cerita tentang pemberdayaan mereka, mengadvokasi kesejahteraan mental dan mendukung hak untuk hidup bermartabat bebas dari stigma terkait penyakit kusta. Selain itu, kita diingatkan tentang target nol infeksi pada anak yang belum tercapai, karena ternyata masih ada kusta di antara kita.

Sudahkah kita bertindak?

Yogyakarta, 26 Januari 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih dan Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak COVID-19 dokter resisten obat vaksinasi

2022 OBAT BARU UNTUK COVID-19

Ilmuwan India Teliti Obat Baru Covid-19, kombinasi Umifenovir dan  Molnupiravir

OBAT  BARU  UNTUK  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Jumat, 14 Januari 2022 WHO merekomendasikan dua obat baru, sehingga saat ini terdapat lebih banyak pilihan pengobatan COVID-19. Sejauh mana obat baru ini akan menyelamatkan nyawa pasien, tergantung pada seberapa banyak tersedia dan terjangkau. Apa yang menarik?

.

Obat pertama adalah baricitinib, sangat direkomendasikan untuk pasien COVID-19 derajat parah atau kritis. Obat dalam kelas inhibitor Janus Kinase (JAK) ini mampu menekan stimulasi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh. WHO merekomendasikan agar diberikan dengan kortikosteroid. Baricitinib adalah obat oral atau ditelan, yang selama ini telah digunakan untuk pengobatan radang sendi atau rheumatoid arthritis. Baricitinib ini mirip dengan obat radang sendi lain dalam kelas penghambat reseptor Interleukin-6, yang sebelumnya telah direkomendasikan oleh WHO pada Juli 2021.

.

WHO juga secara kondisional merekomendasikan penggunaan obat antibodi monoklonal, yaitu sotrovimab, untuk mengobati COVID-19 ringan atau sedang pada pasien yang berisiko tinggi dirawat di rumah sakit. Ini termasuk pasien lansia, immunocompromised, memiliki komorbid seperti diabetes, hipertensi, dan obesitas, dan mereka yang tidak divaksinasi COVID-19. Sotrovimab adalah alternatif untuk casirivimab-imdevimab, sebuah antibodi monoklonal yang sebelumnya telah direkomendasikan oleh WHO pada September 2021. Penelitian sedang berlangsung tentang efektivitas antibodi monoklonal terhadap varian Omicron.

.

WHO sedang bernegosiasi dengan produsen untuk mengamankan kapasitas pasokan global dan akses yang adil dan berkelanjutan ke obat baru yang direkomendasikan ini. Pilar Access to COVID-19 Tools Accelerator (ACT-A) Therapeutics telah bernegosiasi dengan perusahaan farmasi untuk mencari rencana akses yang komprehensif untuk negara berpenghasilan rendah dan menengah, sehingga pengobatan ini dapat diterapkan dengan cepat, tidak hanya di negara kaya. ACT-A juga ingin memperluas cakupan lisensi untuk membuat produk lebih terjangkau. Dua obat baru yang direkomendasikan, yaitu baricitinib dan sotrovimab, telah diundang untuk masuk pada proses Prakualifikasi WHO, yang menilai kualitas, kemanjuran dan keamanan produk kesehatan prioritas, untuk meningkatkan akses bagi negara berpenghasilan rendah.

.

Pilihan pengobatan lain yang sedang dipelajari untuk COVID-19 derajat parah dan kritis, yaitu ruxolitinib dan tofacitinib. Mengingat efeknya yang tidak pasti, sampai saat ini WHO memberikan rekomendasi bersyarat terhadap penggunaannya. Sedangkan Uji Klinis Solidaritas PLUS WHO saat ini sedang mengevaluasi 3 jenis obat lainnya, yaitu artesunat, infliximab dan imatinib. Obat-obatan ini dipilih, karena potensinya untuk mengurangi angka kematian.

.

Ketiga obat tersebut disumbangkan oleh produsen masing-masing untuk uji klinis, melalui Surat Perjanjian antara WHO dan produsen obat. Perusahaan farmasi Ipca, Johnson dan Johnson dan Novartis, telah setuju untuk mendukung akses ke obat tersebut dengan harga yang wajar jika terbukti efektif.

.

Obat Artesunat diproduksi oleh Ipca, digunakan untuk mengobati malaria. Obat ini akan diberikan secara intravena selama 7 hari, menggunakan dosis standar yang direkomendasikan untuk pengobatan malaria berat. Artesunat adalah turunan dari artemisinin, obat antimalaria yang diekstrak dari ramuan Artemisia annua. Artemisinin dan turunannya telah digunakan secara luas dalam pengobatan malaria dan penyakit parasit lainnya selama lebih dari 30 tahun, dan dianggap sangat aman. Kelompok Penasihat Terapi COVID-19 WHO merekomendasikan untuk mengevaluasi sifat anti-inflamasi artesunat.

.

Obat imatinib diproduksi oleh Novartis, digunakan untuk mengobati beberapa jenis kanker tertentu. Obat ini akan diberikan secara oral, sekali sehari, selama 14 hari. Dosis yang digunakan adalah dosis pemeliharaan standar, yaitu dosis terendah yang diberikan pada pasien dengan keganasan hematologi dalam jangka waktu yang lama. Imatinib adalah inhibitor tirosin kinase molekul kecil, diformulasikan sebagai obat kemoterapi oral yang digunakan untuk mengobati jenis kanker tertentu. Data klinis eksperimental dan awal menunjukkan bahwa imatinib membalikkan kebocoran kapiler paru. Sebuah uji klinis acak yang dilakukan di Belanda melaporkan bahwa imatinib dapat memberikan manfaat klinis pada pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit, tanpa adanya masalah keamanan.

.

Obat infliximab diproduksi oleh Johnson dan Johnson, digunakan untuk mengobati penyakit pada sistem kekebalan tubuh. Obat ini akan diberikan secara intravena sebagai dosis tunggal. Dosis yang digunakan adalah dosis standar yang diberikan pada pasien dengan Penyakit Crohn dalam waktu yang lama. Infliximab adalah penghambat alfa TNF, antibodi monoklonal chimeric yang mengenali alfa TNF manusia. Biologi anti-TNF telah disetujui untuk pengobatan kondisi peradangan autoimun tertentu selama lebih dari 20 tahun, menunjukkan kemanjuran dan keamanan yang menguntungkan dalam membatasi peradangan spektrum luas, termasuk pada populasi lanjut usia yang paling rentan secara klinis terhadap COVID-19.

.

WHO Setujui Dua Obat Baru Covid-19

Obat baricitinib dan sotrovimab dalam rekomendasi kali ini, yang merupakan pembaruan kedelapan pedoman WHO tentang terapi COVID-19, didasarkan pada bukti dari tujuh uji klinis yang melibatkan lebih dari 4.000 pasien dengan COVID-19 derajat yang tidak parah, parah, dan kritis.

Sudahkah kita bertindak bijak dalam pengobatan COVID-19?

Sekian

Yogyakarta, 17 Januari 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
COVID-19 dokter Healthy Life sekolah

2022 VAKSINASI BOOSTER COVID-19

BKAD - UNTUK TINGKATKAN IMUN PEGAWAI BKAD IKUTI PROGRAM VAKSIN COVID-19  BOOSTER

BOOSTER  VAKSINASI  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Tulisan ini sudah dimuat di kompas digital :

https://www.kompas.id/baca/bebas-akses/2022/01/17/booster-vaksin-covid-19

Rabu, 12 Januari 2022 rencana akan dilakukan booster vaksinasi COVID-19 di Indonesia. Pada hal, dalam beberapa pekan terakhir varian Omicron SARS-CoV2 telah muncul. Data yang ada saat ini tidak cukup untuk menilai dampak kekhawatiran varian baru ini terkait efektivitas vaksin, khususnya terhadap terjadinya penyakit derajat parah. Apa yang menarik?

.

Dosis booster diberikan kepada seseorang yang telah mendapatkan vaksinasi COVID-19 primer, pada suatu saat ketika seiring waktu, kekebalan dan perlindungan klinis telah turun di bawah tingkat yang dianggap cukup. Tujuan dari dosis booster adalah untuk mengembalikan efektivitas vaksin, dari yang dianggap tidak cukup lagi. Sebaliknya, dosis tambahan vaksin diberikan sebagai bagian dari seri primer yang diperluas, untuk populasi target di mana tingkat respons imun yang mengikuti seri primer standar dianggap tidak mencukupi. Tujuan dari dosis tambahan dalam seri primer adalah untuk meningkatkan respon imun pada tingkat efektivitas yang cukup. Secara khusus, individu dengan gangguan kekebalan dan juga lansia sering gagal untuk meningkatkan respon imun protektif setelah seri primer standar, sehingga diperlukan dosis vaksin tambahan yang bukan disebut booster.

.

Direktur Jenderal WHO telah menyerukan moratorium vaksinasi booster untuk orang dewasa yang sehat, guna mengatasi ketidakadilan yang berkelanjutan dan mendalam dalam akses vaksin global. Sementara banyak negara masih jauh dari mencapai target cakupan 40% pada akhir tahun 2021, beberapa negara lainnya telah memvaksinasi jauh melampaui ambang batas ini, telah menjangkau kelompok anak, dan bahkan menerapkan program vaksinasi booster yang ekstensif. Pada saat ini secara global sekitar 20% dosis vaksin COVID-19, setiap hari digunakan untuk vaksinasi booster atau dosis tambahan.

.

Data menunjukkan penurunan efektivitas vaksin terhadap infeksi SARS-CoV2 dan meningkatnya risiko infeksi COVID-19 seiring waktu sejak vaksinasi, dan penurunan yang lebih signifikan terjadi pada kelompok usia lansia. Bukti ini sebagian besar didasarkan pada penelitian observasional yang mungkin dipengaruhi oleh faktor perancu (confounding factors). Tingkat penurunan kekebalan berbeda berdasarkan jenis vaksin dan populasi target. Virus yang beredar, khususnya varian yang menjadi perhatian seperti delta dan omicron, tingkat infeksi sebelumnya dalam suatu komunitas pada saat vaksinasi primer; jadwal vaksinasi utama yang digunakan (yaitu interval dosis) dan intensitas paparan, semuanya mungkin memainkan peran dalam temuan tentang berkurangnya perlindungan, tetapi tidak dapat dinilai secara sistematis dari data yang tersedia saat ini.

.

Bertambah Dua, Ini Daftar Terbaru Kombinasi Vaksin Booster Covid-19 -  Nasional Katadata.co.id

Tinjauan sistematis dan analisis meta-regresi, khususnya pada empat vaksin dengan data terbanyak (yaitu vaksin BNT162b2, mRNA 1273, Ad26.COV2.S dan ChAdOx1-S), efektivitas vaksin terhadap COVID-19 parah menurun sekitar 8% selama periode 6 bulan di semua kelompok umur. Pada orang dewasa di atas 50 tahun, efektivitas vaksin terhadap penyakit parah menurun sekitar 10% selama periode yang sama. Efektivitas vaksin terhadap penyakit simtomatik menurun sebesar 32%  untuk mereka yang berusia di atas 50 tahun. Untuk beberapa vaksin yang tidak aktif (Vaksin CoronaVac dan vaksin COVID-19 BIBP), WHO telah mengeluarkan rekomendasi pemberian dosis tambahan kepada mereka yang berusia 60 tahun atau lebih, sebagai bagian dari seri primer untuk membuat kekebalan awal lebih kuat.

.

Setidaknya 126 negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia, telah mengeluarkan rekomendasi tentang vaksinasi booster dan 120 telah memulai implementasi program ini. Mayoritas negara-negara ini diklasifikasikan sebagai berpenghasilan tinggi, atau berpenghasilan menengah ke atas. Belum ada negara berpenghasilan rendah yang memperkenalkan program vaksinasi booster. Populasi target yang paling sering diprioritaskan untuk dosis booster adalah para lansia, petugas kesehatan dan individu dengan gangguan kekebalan. Pada individu dengan gangguan kekebalan, dosis booster dianggap sebagai dosis vaksinasi seri primer tambahan oleh WHO. 

.

Pada hal di beberapa negara yang memberikan dosis booster, tingkat cakupan untuk vaksinasi primer lengkap ada yang masih di bawah 30%. Mengingat ketidakpastian pasokan yang berkelanjutan dalam akses dan kesetaraan vaksin global, keputusan kebijakan dosis booster vaksin masing-masing negara perlu menyeimbangkan manfaat kesehatan masyarakat bagi populasi mereka, dengan dukungan kesetaraan global dalam akses vaksin yang diperlukan, untuk mengatasi evolusi virus dan dampak pandemi secara global.

.

Penggunaan vaksin booster secara pemodelan matematika, sesuai dengan  optimalisasi dampak kesehatan masyarakat terkait pasokan vaksin yang terbatas. Pemodelan ini menunjukkan bahwa pengurangan kematian yang lebih besar dapat dicapai dengan memberikan dosis booster pada populasi berisiko tinggi, daripada menggunakan dosis yang sama untuk imunisasi primer pada populasi berisiko rendah. Pada saat pasokan meningkat dan vaksinasi diperluas ke kelompok usia dengan prioritas lebih rendah, pertukaran mungkin perlu dipertimbangkan untuk memprioritaskan vaksinasi booster untuk populasi berisiko tinggi, daripada memperluas cakupan imunisasi primer ke populasi yang lebih muda. WHO saat ini tidak merekomendasikan vaksinasi umum pada anak dan remaja, karena beban penyakit parah pada kelompok usia ini rendah, dan cakupan yang tinggi belum tercapai pada lansia di semua negara, yang merupakan kelompok yang berisiko tinggi terkena penyakit parah.

.

Keputusan untuk merekomendasikan dan menerapkan dosis booster adalah kompleks dan membutuhkan, di luar data klinis dan epidemiologis, pertimbangan prioritas strategis dan program nasional. Namun demikian, yang terpenting adalah penilaian terhadap prioritas pasokan vaksin yang masih terbatas. Dalam konteks ini, prioritas harus diberikan pada pencegahan penyakit yang parah, dengan mempertahankan layanan dan sistem kesehatan agar tetap dapat berfungsi baik, tanpa kewalahan lagi.

.

Menerapkan dosis booster harus benar-benar didorong oleh bukti dan ditargetkan untuk kelompok populasi dengan risiko tertinggi penyakit serius. Sampai saat ini, bukti menunjukkan pengurangan minimal hingga sedang dari perlindungan vaksin terhadap penyakit parah selama 6 bulan setelah vaksinasi seri primer. Berkurangnya efektivitas vaksin dan durasi perlindungan terhadap varian Omicron, sedang dalam penelitian. Bukti tentang berkurangnya efektivitas vaksin, khususnya penurunan perlindungan terhadap penyakit parah pada populasi berisiko tinggi, memerlukan lebih banyak data. Selain itu, juga data dampak potensial dari vaksinasi booster pada durasi perlindungan, tidak hanya terhadap penyakit parah, tetapi juga terhadap penyakit ringan, infeksi ulang, dan kecepatan penularan.

.

Bersama dengan menerapkan protokol kesehatan ketat, mendapatkan vaksinasi COVID-19, baik seri pertama ataupun booster, akan membuat semua orang aman dari risiko penularan COVID-19.

Sudahkah kita bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 4 Januari 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life sekolah UHC vaksinasi

2021 Vaksinasi COVID-19 untuk Anak

Vaksinasi Covid-19 Anak 6-11 Tahun di Kota Tangerang Dimulai Besok 14  Desember 2021 - News Liputan6.com

VAKSINASI  COVID-19  UNTUK  ANAK

fx. wikan indrarto*)

Meskipun kasus COVID-19 positif pada anak usia 6-17 tahun hanya 10-13% dari total populasi, tetapi vaksinasi COVID-19 untuk anak tetaplah perlu untuk diberikan. Apa yang harus disiapkan?

.

Kasus COVID-19 positif terbanyak di Indonesia ada pada kelompok usia dewasa muda usia 18-30 tahun sebanyak 21%, dan dewasa usia 31-45 tahun sebanyak 25%. Setelah kelompok sasaran yang lebih prioritas tersebut telah mendapatkan vasinasi COVID-19, maka anak usia 6-11 tahun telah menjadi kelompok sasaran berikutnya.

.

Tujuan vaksinasi anak usia 6-11 tahun adalah pertama, mencegah sakit berat dan kematian pada anak yang terinfeksi COVID-19. Kedua, mencegah penularan pada anggota keluarga dan saudara dekatnya yang belum dapat divaksinasi atau yang mempunyai risiko terinfeksi. Ketiga, mendukung pelaksanaan pembelajaran tatap muka di sekolah, dan meminimalisasi penularan COVID-19 di sekolah. Keempat, mempercepat tercapainya kekebalan kelompok (herd immunity).

.

Jumlah sasaran program vaksinasi anak usia 6-11 tahun di Indonesia adalah 26,5 juta anak, berdasarkan data Sensus Penduduk 2020, yang akan diberikan secara bertahap. Vaksin yang digunakan adalah Sinovac (Coronavac atau COVID-19 Biofarma), sedangkan vaksin merek lain masih menunggu ijin penggunaan darurat (EUA) dari BPOM RI dan Rekomendasi ITAGI. Tempat pelaksanaan vaksinasi adalah di puskesmas, rumah sakit, atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, termasuk pos pelayanan vaksinasi di sekolah, satuan pendidikan lain, atau Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA).

.

Vaksinasi Covid-19 Anak Usia 6-11 Tahun Dimulai Besok

Vaksinasi anak dimulai secara bertahap di kabupaten atau kota, dengan syarat khusus, dan sudah dimulai di Jakarta Selasa, 14 Desember 2021 lalu. Kabupaten atau kota yang mulai dapat memberikan vaksinasi COVID-19 untuk anak, adalah yang cakupan vaksinasi COVID-19 dosis 1 sudah >70% dan cakupan vaksinasi pada lansia telah >60%. Jumlah sasaran anak usia 6-11 tahun secara nasional pada tahap pertama sebesar ± 8,8 juta anak. Ketersediaan vaksin untuk sasaran ini sudah terjamin memadai, sehingga tidak perlu dikawatirkan.

.

Pemberian vaksin COVID-19 Sinovac adalah dengan cara suntikan ke dalam otot atau intramuskular di bagian lengan atas, dengan dosis 0,5 mL. Sangat dianjurkan anak didampingi oleh orang tua atau wali. Vaksinasi ini diberikan sebanyak dua kali dengan interval minimal 28 hari, sedangkan jarak pemberian dengan vaksin lain pada program imunisasi rutin atau tambahan adalah 4 minggu.

.

Sebelum pelaksanaan vaksinasi COVID-19, anak harus dilakukan skrining dengan menggunakan format standar. Pertama adalah suhu tubuh, kalau suhu > 37,5 0C, maka vaksinasi ditunda sampai demam sembuh dan suhu stabil baik. Kedua adalah tekanan darah yang diukur menggunakan manset khusus anak. Jika tekanan darah >140/90 mmHg pengukuran tekanan darah diulang 5 (lima) sampai 10 (sepuluh) menit kemudian. Jika masih tinggi maka vaksinasi ditunda dan dirujuk ke dokter spesialis anak.

.

Ketiga adalah riwayat anak mendapat vaksin lain dalam program imunisasi rutin atau tambahan. Bila mendapatkan dalam rentang waktu kurang dari 2 minggu sebelumnya, maka vaksinasi COVID-19 ditunda sampai berjarak 4 minggu. Keempat, tentang riwayat sakit COVID-19 pada anak, untuk derajat ringan dan sedang vaksinasi ditunda 1 bulan setelah sembuh, sedangkan untuk derajat berat vaksinasi ditunda 3 bulan setelah sembuh. Kelima, apakah dalam keluarga terdapat kontak erat dengan pasien COVID-19, dan jika ada kontak, vaksinasi sebaiknya ditunda 2 minggu.

.

Keenam, apakah saat itu anak menderita demam atau batuk pilek atau nyeri menelan atau muntah atau diare. Jika ya, vaksinasi ditunda, dan anak dianjurkan untuk berobat. Ketuju, apakah dalam 7 hari terakhir anak pernah mendapat perawatan inap di RS atau menderita kedaruratan medis seperti sesak napas, kejang, tidak sadar, berdebar-debar, mengalami perdarahan, hipertensi, atau bergetar (tremor) hebat. Jika Ya, vaksinasi ditunda sampai dinyatakan sembuh oleh dokter yang menanganinya.

.

Kedelapan, apakah anak sedang menderita gangguan imunitas, seperti hiperimun, auto imun, alergi berat dan defisiensi imun: gizi buruk, HIV berat, dan penyakit keganasan. Jika Ya, vaksinasi ditunda, sampai diizinkan oleh dokter yang merawat. Kesembilan, apakah anak sedang menjalani pengobatan dengan obat imunosupresan jangka panjang, misalnya steroid lebih dari 2 minggu atau sitostatika, dan jika Ya, vaksinasi ditunda, sampai diizinkan oleh dokter yang merawat.

.

Kesepuluh, apakah anak mempunyai riwayat alergi berat seperti sesak napas, bengkak, urtikaria di seluruh tubuh atau gejala syok anafilaksis (tidak sadar) setelah vaksinasi apapun sebelumnya, dan jika Ya, maka pemberian vaksinasi disarankan dilakukan di rumah sakit. Kesebelas, apakah anak laki-laki penyandang penyakit hemofilia atau kelainan pembekuan darah, dan jika Ya, maka proses pemberian vaksinasi disarankan dilakukan juga di rumah sakit, dengan persiapan AHF (Anti Hemofilia Factors) yang memadai.

.

Langkah paling efektif yang dapat dilakukan untuk mengurangi penyebaran virus COVID-19, adalah dengan menerapkan protokol kesehatan ketat. Paling tidak berupa menjaga jarak fisik minimal 1 meter dari orang lain, memakai masker yang pas, membuka jendela untuk meningkatkan ventilasi, dan menghindari ruang yang berventilasi buruk atau ramai. Selain itu, juga menjaga tangan tetap bersih, etika batuk atau bersin secara benar, yaitu ke siku yang tertekuk atau menggunakan tisu sekali pakai, dan anak usia 6-11 tahun juga divaksinasi COVID-19, saat tiba gilirannya.

Sudahkah kita melakukannya?

Sekian

Yogyakarta, 15 Desember 2021

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
anak COVID-19 Healthy Life resisten obat UHC vaksinasi

2021 MIS-C pada Anak COVID-19

Kemiripan MIS-C Akibat COVID-19 dengan Penyakit Kawasaki pada Anak -  Alomedika

MIS-C  PADA  ANAK COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Selasa, 23 November 2021 WHO mengeluarkan pedoman terbaru tentang pengobatan anak dengan sindrom inflamasi multisistem atau ‘multisystem inflammatory syndrome’ yang terkait dengan COVID-19 (MIS-C). Apa yang penting?

.

WHO pertama kali menggambarkan kondisi ini pada Mei 2020. MIS-C adalah kondisi langka namun serius di mana anak dengan COVID-19 mengalami peradangan yang mempengaruhi berbagai organ tubuh. Meskipun MIS-C adalah kondisi yang serius, dengan perawatan medis yang tepat, anak dengan kondisi ini akan pulih. Pedoman terbaru WHO merekomendasikan penggunaan kortikosteroid selain perawatan suportif, bukan imunoglobulin (IVIG) plus perawatan suportif, atau perawatan suportif saja, pada anak (usia 0-18 tahun) yang dirawat di rumah sakit dengan MIS-C, selain pengobatan dan perawatan suportif. Rekomendasi bersyarat  dengan kepastian sangat rendah ini muncul setelah tersedianya tiga studi observasional, mengumpulkan data dari total 885 pasien anak.

.

Secara keseluruhan, anak tetap berisiko rendah terkena COVID-19 yang parah atau kritis, tetapi mirip dengan orang dewasa, kondisi mendasar tertentu membuat anak lebih rentan terhadap penyakit parah. Yang paling sering dilaporkan dari kondisi ini adalah obesitas, penyakit paru-paru kronis (termasuk asma), penyakit kardiovaskular dan imunosupresi. Manajemen klinis pasien COVID-19: pedoman hidup, 23 November 2021 oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dapat dilihat pada link berikut :

.

https://app.magicapp.org/#/guideline/j1WBYn/rec/L0z8gb

.

Rekomendasi bersyarat yang kedua adalah pada anak yang dirawat di rumah sakit berusia 0–18 tahun yang memenuhi definisi kasus standar untuk MIS-C dan kriteria diagnostik untuk penyakit Kawasaki, WHO menyarankan penggunaan kortikosteroid selain standar perawatan untuk penyakit Kawasaki. Ini juga rekomendasi bersyarat, kepastian sangat rendah.

.

Rekomendasi bersyarat berarti manfaat lebih besar daripada kerugian bagi sebagian besar orang, tetapi tidak untuk semua orang. Sebagian besar pasien mungkin menginginkan opsi ini. Rekomendasi yang lemah tidak berarti bahwa tidak ada bukti yang cukup untuk mendukung tindakan yang disarankan. Memang, ada dua alasan untuk rekomendasi yang lemah: i) buktinya berkualitas rendah, ATAU ii) ada keseimbangan  antara manfaat dan bahaya dari tindakan. Implikasi dari rekomendasi yang lemah, secara umum dokter harus “berpikir dua kali” dan mempertimbangkan faktor individu pasien ketika akan menerapkan rekomendasi yang lemah. Pengambilan keputusan dokter bersama keluarga pasien diperlukan untuk sebagian besar rekomendasi yang lemah.

.

Waspada, Ini Gejala dan Komplikasi MIS-C COVID pada Anak - Info Sehat  Klikdokter.com

Risiko MIS-C pada bayi baru lahir memang tidak besar. Namun demikian, WHO tetap merekomendasikan bahwa ibu dengan suspek atau terkonfirmasi COVID-19 harus didorong untuk memulai dan melanjutkan menyusui. Ibu harus diberi konseling bahwa manfaat menyusui secara substansial lebih besar daripada potensi risiko penularan.

.

Segera setelah bayi lahir, ibu sebenarnya tidak boleh dipisahkan dari bayinya, kecuali jika ibu terlalu lemah untuk merawat bayinya. Jika ibu tidak mampu merawat bayi, pengasuh keluarga lain yang kompeten harus dilibatkan. Ibu dan bayi harus dimampukan untuk tetap bersama selama tinggal di kamar yang sama (rawat gabung), sepanjang siang dan malam, dan mempraktikkan kontak kulit, baik ibu atau bayi dicurigai atau terkonfirmasi infeksi virus COVID-19 sekalipun.

.

Bayi yang lahir dari ibu diduga atau dikonfirmasi COVID-19 harus disusui dalam waktu 1 jam setelah kelahiran. Ibu harus menerapkan protokol kesehatan yang sesuai, kontak kulit-ke-kulit dini dan tidak terputus, antara ibu dan bayi harus difasilitasi dan didorong sesegera mungkin setelah lahir. Hal ini berlaku juga untuk bayi yang lahir prematur atau berat badan lahir rendah. Jika bayi baru lahir atau bayi sakit dan memerlukan perawatan khusus unit neonatal, termasuk bayi dengan MIS-C, ibu harus dibantu mengakses bayi secara mudah.

Konseling menyusui, dukungan psikososial dasar, dan dukungan pemberian makan praktis, harus diberikan kepada semua wanita hamil dan ibu yang memiliki bayi dan anak kecil, jika ibu, bayi atau anak mereka dicurigai atau dikonfirmasi terinfeksi COVID-19, yang berisiko menjadi MIS-C. Jika ibu terlalu tidak sehat untuk menyusui atau memerah ASI, carilah alternatif terbaik dengan urutan prioritas sebagai berikut.

.

Pertama, ASI donor harus diberikan jika tersedia dari bank ASI. Kedua, jika persediaan terbatas, prioritaskan ASI donor untuk bayi baru lahir prematur dan berat badan lahir rendah. Ketiga, ibu pengganti menyusui dapat menjadi pilihan tergantung pada penerimaan ibu dan keluarga, ketersediaan ibu pengganti. Pilihan ‘wet nursing’ atau disusui oleh ibu lain yang juga sedang menyusui anak atau ibu pengganti, yang sesuai berdasarkan kelayakan, keamanan, keberlanjutan, konteks budaya, penerimaan ibu dan ketersediaan layanan. Tes COVID-19 terhadap seorang wanita yang berpotensi menjadi ibu pengganti tidak diperlukan. Dalam wilayah di mana HIV lazim, calon ibu pengganti harus menjalani konseling HIV dan tes cepat jika tersedia. Jika tidak ada tes, lakukan penilaian risiko HIV. Jika penilaian atau konseling risiko HIV tidak memungkinkan, fasilitasi dan dukung menyusui basah. Terakhir keempat, susu formula sebagai pengganti ASI dapat digunakan sebagai pilihan terakhir.

.

Rekomendasikan penggunaan kortikosteroid dan dukungan pemberian ASI pada anak (usia 0-18 tahun) dengan MIS-C perlu dilakukan, meskipun bersyarat dan dengan kepastian sangat rendah. Sudahkah kita bijak?

.

Sekian

Yogyakarta, 27 November 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
anak antibiotika COVID-19 Healthy Life UHC vaksinasi

2021 OMICRON COVID-19

WHO: Risiko Covid-19 Varian Omicron Sangat Tinggi Halaman all - Kompas.com

OMICRON  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Pada 26 November 2021, WHO menetapkan varian B.1.1.529 sebagai varian yang menjadi perhatian (variant of concern), bernama Omicron. Apa yang menarik?

.

Pertama tentang cara penularan, sampai saat ini belum jelas apakah Omicron lebih mudah menular (misalnya, lebih mudah menyebar dari orang ke orang) dibandingkan dengan varian lain, termasuk Delta. Jumlah orang yang dites positif telah meningkat di wilayah Afrika Selatan yang terkena varian ini, tetapi studi epidemiologi sedang dilakukan untuk memahami apakah itu karena Omicron atau faktor lainnya.

.

Kedua tentang tingkat keparahan penyakit, saat ini juga belum jelas apakah infeksi Omicron menyebabkan penyakit yang lebih parah dibandingkan infeksi dengan varian lain, termasuk Delta. Data awal menunjukkan bahwa ada peningkatan tingkat rawat inap di Afrika Selatan, tetapi ini mungkin disebabkan oleh peningkatan jumlah keseluruhan orang yang terinfeksi, bukan akibat infeksi spesifik dengan Omicron. Saat ini tidak ada informasi yang menunjukkan bahwa gejala yang terkait dengan Omicron berbeda dari varian lainnya. Infeksi awal yang dilaporkan terjadi pada kelompok mahasiswa, yaitu individu yang lebih muda yang cenderung memiliki penyakit yang lebih ringan, tetapi memahami tingkat keparahan varian Omicron akan memakan waktu berhari-hari hingga beberapa minggu. Semua varian COVID-19, termasuk varian Delta yang dominan di seluruh dunia, dapat menyebabkan penyakit parah atau kematian, khususnya bagi orang yang paling rentan, sehingga tindakan pencegahan tetaplah selalu menjadi kunci pengendalian penularan.

.

Ketiga tentang hubungan dengan infeksi SARS-CoV-2 sebelumnya, bukti awal menunjukkan bahwa mungkin ada peningkatan risiko infeksi ulang dengan Omicron, pada orang yang sebelumnya pernah terinfeksi COVID-19, dibandingkan dengan varian lainnya, tetapi bukti klinis masih terbatas. Data lebih lanjut tentang hal ini akan tersedia dalam beberapa hari dan minggu mendatang. Keempat tentang efektivitas vaksin COVID-19, saat ini sedang dianalisis dampak Omicron pada tindakan pencegahan selama ini yang sudah ada, termasuk vaksin COVID-19. Vaksin tetap penting untuk mengurangi potensi penyakit menjadi parah dan kematian, termasuk melawan varian dominan yang saat ini beredar, yaitu Delta. Vaksin COVID-19 saat ini tetap efektif mencegah penyakit menjadi parah dan kematian. 

.

Varian Omicron Perburuk Pandemi Covid-19? Ini 6 Analisa WHO - Tekno Tempo.co

Kelima tentang efektivitas tes COVID-19, saat ini tes PCR yang banyak digunakan tetap mampu mendeteksi infeksi, termasuk infeksi dengan Omicron, seperti pada varian lain juga. Penelitian sedang berlangsung untuk menentukan apakah ada dampak pada jenis tes lain, termasuk tes cepat antigen COVID-19. Keenam tentang efektivitas pengobatan, saat ini kortikosteroid dan IL6 ‘Receptor Blockers’ masih terbukti efektif pasien dengan COVID-19 yang parah. Metode pengobatan dan perawatan lain akan diteliti untuk melihat apakah masih efektif, mengingat perubahan pada bagian virus dalam varian Omicron.

.

Tindakan yang disarankan untuk semua negara, terkait bahwa Omicron telah ditetapkan sebagai ‘Variant of Concern’ yang menjadi perhatian  bersama, sesuai beberapa rekomendasikan WHO berikut. Pertama, meningkatkan pengawasan pergerakan orang dan pengurutan kasus. Kedua, berbagi urutan genom pada database yang tersedia untuk umum, seperti GISAID, yaitu lembaga internasional yang didirikan Jerman sejak 2008, sebagai bank data beragam virus influenza di seluruh duni. Ketiga, melaporkan kasus atau klaster awal ke WHO. Keempat, melakukan investigasi lapangan dan pemeriksaan di laboratorium secara lebih rinci, termasuk sekuensing. Tujuannya adalah untuk lebih memahami karakteristik Omicron dalam laju penularan atau tingkat keparahan penyakit, juga kemampuan parasat diagnostik, efektivitas vaksin COVID-19, dan terapi standar, bahkan juga dampak terhadap kesehatan masyarakat dan gangguan sosial.

.

Setiap negara harus terus menerapkan langkah pencegahan di bidang kesehatan masyarakat yang efektif, untuk mengurangi laju penularan COVID-19 secara keseluruhan, tidak hanya varian Omicron, menggunakan analisis risiko dan pendekatan berbasis sains. Negara juga harus meningkatkan kapasitas fasilitas kesehatan, jumlah tenaga medis dan ketersediaan alat kesehatan, untuk mengantisipasi peningkatan kasus. Selain itu, sangat penting bahwa ketidakadilan dalam akses untuk mendapatkan vaksin COVID-19 segera diatasi, untuk memastikan bahwa semua kelompok rentan di manapun, termasuk tenaga kesehatan dan orang lanjut usia, menerima dosis pertama dan kedua, di samping akses yang adil terhadap pengobatan dan diagnostik.

.

Langkah paling efektif yang dapat dilakukan oleh masing-masing individu untuk mengurangi penyebaran virus COVID-19, adalah dengan menerapkan protokol kesehatan. Paling tidak berupa menjaga jarak fisik minimal 1 meter dari orang lain, memakai masker yang pas, membuka jendela untuk meningkatkan ventilasi, dan menghindari ruang yang berventilasi buruk atau ramai. Selain itu, juga menjaga tangan tetap bersih, etika batuk atau bersin secara benar, yaitu ke siku yang tertekuk atau menggunakan tisu sekali pakai, dan divaksinasi COVID-19 saat tiba gilirannya.

.

Sudahkah kita melakukannya?

Sekian

Yogyakarta, 29 November 2021

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
anak antibiotika COVID-19 dokter Healthy Life Malaria resisten obat tuberkulosis vaksinasi

2021 Waspada Resistensi Antimikroba

Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) – HISFARSI DIY

WASPADA   RESISTENSI  ANTIMIKROBA

fx. wikan indrarto*)

Ringkasan tulisan tersebut di atas dimuat di Kompas Digital Jumat, 26 November 2021 :

https://www.kompas.id/baca/opini/2021/11/26/waspada-resistensi-antimikroba

Pekan Kesadaran Antimikroba Sedunia diadakan pada 18-24 November setiap tahun. Tema 2021 adalah ‘Spread Awareness, Stop Resistance’ (Sebarkan Kewaspadaan, Hentikan Resistensi) untuk menyerukan kepada pemangku kepentingan, pembuat kebijakan, penyedia layanan kesehatan, dan masyarakat umum, untuk terlibat dalam kewaspadaan tentang Resistensi Antimikroba (AMR). Apa yang menarik?

.

Resistensi antimikroba (AMR) adalah ancaman kesehatan dan pembangunan global. Hal ini membutuhkan tindakan multisektoral yang mendesak untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), karena AMR adalah salah satu dari 10 besar ancaman kesehatan masyarakat global yang dihadapi umat manusia. Antimikroba meliputi antibiotik, antivirus, antijamur, dan antiparasit, yaitu obat yang digunakan untuk mencegah dan mengobati infeksi pada manusia, hewan, dan tumbuhan.

.

Pada tahun 2019, indikator AMR baru dimasukkan dalam kerangka pemantauan SDG. Indikator ini memantau frekuensi infeksi darah atau sepsis, yang disebabkan karena dua patogen yang telah resistan terhadap obat tertentu, yaitu Staphylococcus aureus (MRSA) yang resistan terhadap methicillin dan E. coli resisten terhadap sefalosporin generasi ketiga (3GC). Pada tahun 2019, terdapat 25 negara memberikan data tentang infeksi aliran darah atau sepsis akibat MRSA dan 49 negara memberikan data tentang E. coli. Dengan demikian tingkat rata-rata MRSA adalah 12,11% dan 3GC adalah 36,0%.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/09/25/2021-libas-tifus/

.

Strain Mycobacterium tuberculosis penyebab TBC yang resisten terhadap antibiotik mengancam kemajuan dalam mengatasi epidemi tuberkulosis global. Pada tahun 2018, ada sekitar setengah juta kasus baru TB yang resistan terhadap rifampisin (RR-TB), obat TB paling poten saat ini dan sebagian besar menjadi TB yang resistan terhadap berbagai obat (MDR-TB), suatu bentuk tuberkulosis yang resisten terhadap dua obat anti-TB yang paling kuat. Pada hal, hanya sepertiga dari sekitar setengah juta orang MDR/RR-TB pada tahun 2018 yang terdeteksi dan dilaporkan. MDR-TB memerlukan paket pengobatan yang lebih lama, kurang efektif dan jauh lebih mahal dibandingkan dengan TB yang tidak resistan. Selain itu, hanya kurang dari 60% MDR/RR-TB yang berhasil disembuhkan. Pada tahun 2018, diperkirakan 3,4% kasus TB baru dan 18% dari kasus yang sebelumnya diobati berubah menjadi TB-MDR/RR-TB dan munculnya resistensi terhadap obat TB ‘pilihan terakhir’ baru benar-benar merupakan ancaman besar.

.

Hati-hati! Sebelum Terapi Antibiotik, Pahami Dulu Tentang Resistensi  Antibiotik

Resistensi obat antivirus semakin mencemaskan, karena telah terjadi pada sebagian besar antivirus, termasuk obat antiretroviral (ARV) untuk HIV. Semua ARV, termasuk kelas yang lebih baru, berisiko menjadi sebagian atau seluruhnya tidak aktif karena munculnya HIV yang resistan terhadap obat (HIVDR). Pedoman ARV WHO terbaru sekarang merekomendasikan obat baru, dolutegravir, sebagai pengobatan lini pertama untuk orang dewasa dan anak. Munculnya jenis parasit yang resistan terhadap obat merupakan salah satu ancaman terbesar terhadap pengendalian malaria dan mengakibatkan peningkatan morbiditas dan mortalitas malaria. Terapi kombinasi berbasis artemisinin (ACT) adalah pengobatan lini pertama yang direkomendasikan untuk malaria P. falciparum tanpa komplikasi, dan digunakan oleh sebagian besar negara endemik malaria. Prevalensi infeksi jamur yang resistan terhadap obat meningkat dan memperburuk situasi pengobatan yang sudah sulit. Banyak infeksi jamur memiliki masalah saat diobati seperti toksisitas, terutama untuk pasien dengan infeksi lain yang mendasarinya (misalnya HIV). Candida auris yang resistan terhadap obat, salah satu infeksi jamur invasif yang paling umum, sudah tersebar luas dengan meningkatnya resistensi yang dilaporkan terhadap flukonazol, amfoterisin B dan vorikonazol serta resistensi caspofungin yang muncul. Hal ini menyebabkan lebih sulit untuk mengobati infeksi jamur, kegagalan pengobatan, tinggal di rumah sakit lebih lama dan pilihan pengobatan yang jauh lebih mahal.

.

AMR merupakan masalah kompleks yang membutuhkan pendekatan multisektoral yang terpadu. Pendekatan ‘One Health’ menyatukan berbagai sektor dan pemangku kepentingan yang terlibat dalam kesehatan hewan, tumbuhan, dan manusia, baik yang hidup di darat dan air, juga produksi makanan, pakan hewan dan lingkungan. Diharapkan setiap negara akan mengembangkan rencana aksi nasional mereka sendiri, untuk mengatasi resistensi antibiotik sejalan dengan rencana global. Untuk mencapai tujuan ini, rencana aksi global menetapkan lima tujuan strategis: (1) meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang resistensi antibiotik; (2) memperkuat pengetahuan melalui surveilans dan penelitian; (3) mengurangi kejadian infeksi; (4) mengoptimalkan penggunaan obat antibiotik; dan (5) memastikan investasi berkelanjutan dalam melawan resistensi antibiotik.

.

Para dokter, apoteker dan petugas kesehatan lainnya dapat berperan dengan mencegah infeksi dengan memastikan tangan, instrumen medis dan lingkungan RS bersih, memberikan vaksinasi terbaru kepada pasien (up to date), ketika terjadi dugaan infeksi bakteri, melakukan kultur bakteri dan pemeriksaan penunjang medik lainnya untuk konfirmasi, hanya meresepkan dan mengeluarkan antibiotika ketika benar-benar dibutuhkan, pada dosis dan durasi pengobatan yang tepat. Para pejabat dan pembuat kebijakan kesehatan dapat bertindak dengan menyusun rencana aksi regional atau nasional yang kuat untuk mengatasi resistensi antibiotika, meningkatkan pengawasan infeksi bakteri yang telah resisten terhadap antibiotika, memperkuat langkah-langkah pencegahan dan pengendalian infeksi, juga mengatur dan mempromosikan penggunaan  obat antibiotika yang tepat dan berkualitas. Selain itu, juga membuat informasi tentang dampak resistensi antibiotika dan memberikan apresiasi atas pengembangan obat, vaksin serta alat diagnostik yang baru.

Resistensi Antibiotik, Kelak Infeksi Bakteri Pun Bisa Jadi Penyebab  Kematian Halaman 1 - Kompasiana.com
.

Para petugas sektor pertanian dapat bertindak dengan memberikan antibiotika pada hewan, hanya saat digunakan untuk mengobati penyakit menular dan di bawah pengawasan seorang dokter hewan, vaksinasi hewan untuk mengurangi kebutuhan antibiotika dan mengembangkan alternatif tindakan, selain penggunaan antibiotika pada tanaman yang terinfeksi. Selain itu, mempromosikan dan menerapkan praktek yang baik di semua tahap produksi ataupun pengolahan makanan dari sumber hewan dan tumbuhan, mengadopsi sistem yang berkelanjutan dengan meningkatkan kebersihan, biosecurity dan penanganan hewan bebas infeksi, melaksanakan standar internasional untuk penggunaan antibiotika yang bertanggung jawab, yang ditetapkan oleh OIE, FAO dan WHO. Para pelaku industri bidang kesehatan dapat membantu dengan berinvestasi untuk pengembangan antibiotika, vaksin, dan alat diagnostik baru.

.

Momentum Pekan Kewaspadaan Antibiotik Sedunia (World Antibiotic Awareness Week) pada 18–24 November 2021, mengingatkan kita semua bahwa ‘Spread Awareness, Stop Resistance’ (sebarkan Kewaspadaan, Hentikan Resistensi) tergantung pada niat dan usaha kita bersama.

Sudahkah kita menyadari?

Sekian

Yogyakarta, 16 November 2021

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?