Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life kanker vaksinasi

2022 Mencegah Kanker Serviks

Kanker Serviks Penyebab Kematian Nomor 2 Wanita Indonesia, Kenapa? Halaman  all - Kompas.com

MENCEGAH  KANKER  SERVIKS

fx. wikan indrarto*)

Di seluruh Indonesia pada akhir tahun 2021 ditemukan 396.914 kasus baru kanker dengan 234.511 kematian. Kanker tersering pada perempuan adalah kanker payudara (65.858 kasus) dan kanker serviks atau leher rahim (36.633 kasus). Kanker merupakan penyakit katastropik dengan pembiayaan kedua tertinggi setelah penyakit jantung, yaitu menghabiskan dana Rp. 3,5 T setahun. Apa yang seharus dilakukan?

.

Kanker serviks merupakan penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan, selama terdeteksi sejak dini dan ditangani secara efektif. Kanker ini adalah bentuk kanker keempat yang paling umum pada wanita di seluruh dunia, dan kanker paling umum pada wanita yang hidup dengan HIV, yaitu enam kali lebih mungkin mengalami kanker serviks. Kanker serviks juga merupakan penyakit yang mencerminkan ketidakadilan global. Bebannya paling besar di negara berpenghasilan rendah dan menengah, di mana akses ke layanan kesehatan masyarakat terbatas dan skrining serta pengobatan untuk penyakit tersebut belum diterapkan secara luas. Pada 2021, hampir 90% dari semua kematian di seluruh dunia terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Juga proporsi wanita penderita kanker serviks yang meninggal lebih dari 60% terjadi di kelompok negara ini, lebih dari dua kali lipat jumlah penderita di banyak negara berpenghasilan tinggi, yang hanya mencapai 30%.

.

baca juga :https://dokterwikan.com/2020/02/05/2020-melawan-kanker/

.

Human papillomavirus (HPV) adalah infeksi virus sebagai penyebab utama kanker serviks, dan vaksin HPV adalah cara yang aman dan efektif untuk mencegah wanita dari infeksi HPV. Namun demikian, pada tahun 2021 lalu hanya kurang dari seperempat negara berpenghasilan rendah yang telah memasukkan vaksin HPV ke dalam jadwal imunisasi nasional mereka. Pada hal, lebih dari 85% negara berpenghasilan tinggi telah melakukannya. Perbedaan serupa juga terjadi dalam program skrining untuk mengenali stadium dini kanker serviks.

.

Strategi eliminasi kanker serviks bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu pertama pencegahan melalui vaksinasi HPV, kedua skrining atau deteksi dini dan pengobatan lesi prakanker, serta ketiga adalah pengobatan dan perawatan paliatif untuk penyintas kanker serviks invasif. Ketiga pilar tersebut harus dilaksanakan secara kolektif dan dalam skala besar untuk mencapai tujuan eliminasi. Vaksinasi HPV menawarkan perlindungan jangka panjang terhadap kanker serviks. Skrining dan pengobatan lesi prakanker dapat mencegah prakanker berkembang menjadi kanker. Bagi mereka yang diidentifikasi dengan kanker invasif, perawatan dan pengobatan tepat waktu masih mampu menyelamatkan nyawa, sementara perawatan paliatif dapat sangat mengurangi rasa sakit dan penderitaan.

.

Berdasarkan tiga pilar utama dari strategi global, maka WHO merekomendasikan serangkaian target atau tonggak sejarah yang harus dipenuhi oleh setiap negara pada tahun 2030 untuk berada di jalur pemberantasan kanker serviks dalam satu abad. Pertama, 90% remaja perempuan divaksinasi penuh dengan vaksin HPV sebelum usia 15 tahun. Kedua, 70% wanita dilakukan pemeriksaan skrining menggunakan pada usia 35 dan 45 tahun. Dan ketigas, 90% wanita penderita kanker serviks menerima perawatan medis, yaitu 90% wanita dengan pra-kanker serviks dirawat dan 90% wanita dengan kanker invasif dikelola.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/01/02/2020-prakualifikasi-obat-kanker-payudara/

.

Penghapusan kanker serviks juga akan menghasilkan dampak ekonomi dan sosial yang positif. Pada tahun 2030, sekitar 250.000 perempuan akan tetap menjadi pekerja yang produktif, menambah sekitar US $ 28 miliar untuk ekonomi dunia: US $ 700 juta sebagai akibat langsung dari peningkatan partisipasi angkatan kerja dan sekitar US $ 27 miliar sebagai manfaat tidak langsung dari kesehatan yang baik.

.

Tiga vaksin HPV sekarang sudah dipasarkan di banyak negara di seluruh dunia, yaitu vaksin bivalen, quadrivalent, dan nonavalent. Ketiga vaksin ini sangat manjur dalam mencegah infeksi dengan virus tipe 16 dan 18, yang secara bersama-sama bertanggung jawab atas sekitar 70% kasus kanker serviks secara global. Vaksin ini juga sangat manjur dalam mencegah lesi serviks pra-kanker yang disebabkan oleh jenis virus ini. Vaksin kuadrivalen juga sangat manjur dalam mencegah kutil anogenital, penyakit genital umum yang hampir selalu disebabkan oleh infeksi HPV tipe 6 dan 11. Nonavalent memberikan perlindungan tambahan terhadap HPV tipe 31, 33, 45, 52, dan 58. Data dari uji klinis dan pengawasan awal pasca pemasaran yang dilakukan di beberapa benua, menunjukkan bahwa ketiga vaksin aman.

.

Kelompok sasaran utama di sebagian besar negara yang direkomendasikan mendapatkan vaksinasi HPV adalah gadis remaja, berusia 9-14 tahun. Untuk ketiga vaksin, jadwal vaksinasi tergantung pada usia penerima vaksin. Pada anak perempuan sebelum usia 15 tahun direkomendasikan 2 dosis pemberian, yaitu 0 dan 6 bulan. Namun demikian, jika interval antar dosis lebih pendek dari 5 bulan, maka dosis ketiga harus diberikan setidaknya 6 bulan setelah dosis pertama. Untuk wanita berusia 15 tahun atau lebih, direkomendasikan 3 dosis, dengan jadwal pemberian 0, 2, 6 bulan. Pemberian 3 dosis diperlukan bagi wanita yang diketahui memiliki sistem imun yang tertekan dan atau terinfeksi HIV.

2,7 Juta Anak Indonesia Jadi Sasaran Progam Vaksinasi Kanker Serviks

Proyek percontohan vakinasi HPV di Indonesia untuk anak sekolah pada program BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah) pertama kali dilakukan di Jakarta tahun 2016. Kemudian sejak tahun 2018 dilanjutkan dengan menyasar para siswi kelas 5 dan 6 SD di lima daerah, yaitu Yogyakarta, Surabaya, Makassar, dan Manado pada bulan Agustus dan September setiap tahun. Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin memastikan bahwa program vaksinasi kanker serviks akan diberikan secara gratis pada tahun 2022, di seluruh Bali, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Selanjutnya pada 2023 nanti vaksin kanker serviks akan diperkenalkan secara nasional di seluruh provinsi di Indonesia untuk semua anak perempuan kelas 5 dan 6 SD. Namun demikian, jika ada perempuan dewasa yang ingin melakukan vaksin kanker serviks HPV dapat dilakukan secara mandiri alias berbayar dengan harga yang masih relatif tinggi, dari Rp 2,5 sampai Rp 4,1 juta.

.

Strategi untuk mencegah kanker serviks sebagai masalah kesehatan masyarakat, diawali dengan upaya vaksinasi HPV untuk remaja puteri kelas 5 dan 6 SD.

Sudahkah gadis remaja di sekitar kita diimunisasi HPV?

Sekian

Yogyakarta, 1 Juni 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life sekolah UHC vaksinasi

2022 Cacar Monyet

Waspada, Berikut Gejala Awal Cacar Monyet yang Kerap Diabaikan oleh Banyak  Orang

CACAR  MONYET

fx. wikan indrarto*)

Monkeypox (cacar monyet) disebabkan oleh virus monkeypox, anggota genus Orthopoxvirus dalam famili Poxviridae adalah penyakit zoonosis virus yang terjadi terutama di daerah hutan hujan tropis Afrika Tengah dan Barat. Cacar monyet biasanya memiliki gejala klinis demam, ruam kulit, pembengkakan kelenjar getah bening, dan dapat menyebabkan berbagai komplikasi medis. Cacar monyet biasanya merupakan penyakit yang sembuh sendiri dengan gejala yang berlangsung dari 2 hingga 4 minggu. Kasus yang parah dapat terjadi dengan rasio kasus kematian meningkat sekitar 3-6%. Apa yang mencemaskan?

.

Manifestasi klinis cacar monyet mirip dengan cacar, infeksi orthopoxvirus  yang telah dinyatakan dapat diberantas di seluruh dunia pada tahun 1980. Cacar monyet kurang menular daripada cacar dan menyebabkan penyakit yang kurang parah. Berbagai spesies hewan telah diidentifikasi rentan terhadap virus cacar monyet, yaitu tupai tali, tupai pohon, tikus, dormice, primata non-manusia dan spesies lainnya. Cacar monyet pertama kali diidentifikasi pada manusia pada tahun 1970 di Republik Demokratik Kongo pada seorang anak laki-laki berusia 9 tahun di wilayah di mana cacar telah dieliminasi pada tahun 1968. Sejak itu, kasus cacar monyet telah dilaporkan pada manusia di 11 negara Afrika, yaitu Benin, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo, Gabon, Pantai Gading, Liberia, Nigeria, Republik Kongo, Sierra Leone , dan Sudan Selatan.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/08/04/2020-bebas-cacar-dan-covid-19/

.

Pada tahun 2003, wabah cacar monyet pertama di luar Afrika terjadi di Amerika Serikat dan dikaitkan dengan kontak dengan anjing padang rumput peliharaan yang terinfeksi. Hewan peliharaan ini telah ditempatkan dengan tikus berkantung Gambia dan dormice yang telah diimpor ke negara itu dari Ghana. Wabah ini menyebabkan lebih dari 70 kasus cacar monyet di AS. Cacar monyet juga telah dilaporkan pada pelancong dari Nigeria ke Israel pada September 2018, ke Inggris pada September 2018, Desember 2019, Mei 2021 dan Mei 2022, ke Singapura pada Mei 2019, dan ke Amerika Serikat pada bulan Juli dan November 2021. Pada Mei 2022, beberapa kasus cacar monyet diidentifikasi di beberapa negara non-endemik.

.

Penularan dari hewan ke manusia (zoonotik) dapat terjadi dari kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau lesi kulit atau mukosa dari hewan yang terinfeksi. Makan daging yang tidak dimasak dengan baik dan produk hewani lainnya dari hewan yang terinfeksi merupakan faktor risiko yang mungkin. Penularan dari manusia ke manusia dapat terjadi akibat kontak dekat dengan sekret pernapasan, lesi kulit orang yang terinfeksi, atau benda yang baru saja terkontaminasi. Penularan melalui partikel pernapasan biasanya memerlukan kontak tatap muka yang berkepanjangan, yang menempatkan petugas kesehatan, anggota rumah tangga dan kontak dekat lainnya dari kasus aktif pada risiko yang lebih besar. Penularan juga dapat terjadi melalui plasenta dari ibu ke janin (yang dapat menyebabkan cacar monyet bawaan) atau selama kontak dekat selama dan setelah kelahiran.

.

Penyebab Cacar Monyet yang Perlu Diwaspadai, Ini Gejala dan Cara  Mencegahnya | merdeka.com

Masa inkubasi cacar monyet biasanya dari 6 hingga 13 hari, tetapi dapat berkisar dari 5 hingga 21 hari. Infeksi dapat dibagi menjadi dua periode, yaitu periode pertama disebut periode invasi berlangsung antara 0-5 hari yang ditandai dengan demam, sakit kepala hebat, limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening), nyeri punggung, mialgia (nyeri otot) dan asthenia yang hebat (kekurangan energi). Limfadenopati adalah ciri khas cacar monyet dibandingkan dengan penyakit lain yang awalnya mungkin tampak serupa (cacar air, campak, cacar). Periode kedua disebut periode erupsi kulit biasanya dimulai dalam 1-3 hari setelah munculnya demam. Ruam cenderung lebih terkonsentrasi di wajah dan ekstremitas daripada di badan. Ini mempengaruhi wajah (dalam 95% kasus), dan telapak tangan dan telapak kaki (dalam 75% kasus). Juga terkena adalah selaput lendir mulut (dalam 70% kasus), alat kelamin (30%), dan konjungtiva (20%), serta kornea. Ruam berkembang secara berurutan dari makula (lesi dengan dasar rata) menjadi papula (lesi keras yang sedikit terangkat), vesikel (lesi berisi cairan bening), pustula (lesi berisi cairan kekuningan), dan krusta yang mengering dan rontok. Jumlah lesi bervariasi dari beberapa hingga beberapa ribu. Dalam kasus yang parah, lesi dapat menyatu sampai sebagian besar kulit terkelupas.

.

Pengelolaan medis untuk monkeypox harus dioptimalkan sepenuhnya untuk meringankan gejala, mengelola komplikasi, dan mencegah gejala sisa jangka panjang. Diperlukan pemberian cairan dan makanan bergizi untuk mempertahankan status gizi yang memadai. Infeksi bakteri sekunder harus diobati sesuai indikasi. Obat antivirus yang dikenal sebagai tecovirimat yang dikembangkan untuk cacar atau smallpox, dilisensikan oleh European Medical Association (EMA) untuk cacar monyet pada tahun 2022, tetapi sampai sekarang obat ini belum tersedia secara luas. Pada Juli tahun 2018, Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat telah memberikan persetujuan kepada SIGA Technology untuk TPOXX (Tecovirimat), obat anti cacar pertama yang disetujui FDA. TPOXX (Tecovirimat) adalah obat penghambat protein pembungkus amplop ortopoxvirus VP37 dengan memblok interaksinya dengan seluler Rab9 GTPase dan TIP47, sehingga mencegah pembentukan bentuk ortopoxvirus kompoten yang diperlukan dalam penyebaran virus di dalam tubuh.

.

Pengobatan Tecovirimat diindikasikan pada orang dewasa dan pasien anak-anak dengan berat setidaknya 13 kg. Obat ini poten, spesifik, aman, mudah dibuat, stabil, tersedia secara oral, memiliki rejimen dosis langsung yang tidak memerlukan pengawasan medis dan tidak mengganggu vaksin. Sediaan dibuat oral dalam kapsul gelatin padat yang berisi zat aktif kristal tecovirimat monohidrat dan bahan tambahan lainnya.

.

Vaksinasi cacar dalam beberapa penelitian observasional sekitar 85% efektif dalam mencegah cacar monyet dan dapat menyebabkan penyakit yang lebih ringan. Bukti vaksinasi sebelumnya terhadap cacar biasanya dapat ditemukan sebagai bekas luka di lengan atas. Saat ini, vaksin cacar (generasi pertama) yang asli tidak lagi tersedia untuk masyarakat umum. Vaksin yang masih lebih baru berdasarkan virus vaccinia yang dilemahkan dan dimodifikasi (strain Ankara) telah disetujui untuk pencegahan monkeypox pada tahun 2019. Ini adalah vaksin dua dosis yang ketersediaannya masih terbatas. Meningkatkan kesadaran akan faktor risiko dan mendidik masyarakat tentang langkah-langkah yang dapat mereka ambil untuk mengurangi paparan virus adalah strategi pencegahan utama cacar monyet.

Jumat, 20 Mei 2022 terjadi wabah cacar monyet yang dilaporkan di 11 negara yang tidak biasa, karena terjadi di negara-negara non-endemik di Eropa, Amerika dan Australia. Ada sekitar 80 kasus yang dikonfirmasi dan 50 kasus sedang dalam penyelidikan. Lebih banyak kasus kemungkinan akan dilaporkan saat pengawasan meluas.

Apakah kita sudah bertindak bijak?

Yogyakarta, 23 Mei 2022

*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM. WA :  081227280161

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life Jalan-jalan sekolah

2022 MUDIK AMAN

Tips Mudik Aman 2022 dengan Mobil Pribadi, Tenang Saat Perjalanan - Suara  Merdeka

MUDIK  AMAN

fx. wikan indrarto*)

Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Inspektur Jenderal Firman Shantyabudi mengatakan, angka kecelakaan selama mudik Lebaran 2022 menurun 31% dibandingkan pada 2019. Pada hal jumlah kendaraan yang melintas mencapai 170.078 unit, naik 1,2% dibandingkan 166.444 unit pada tahun 2019. Cidera lalu lintas sudah dapat ditekan. Apa lagi yang harus ditingkatkan?

.

Sekitar 1,3 juta orang meninggal setiap tahun secara global akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Lebih dari setengah dari semua kematian tersebut menimpa pejalan kaki, pengendara sepeda, dan pengendara sepeda motor. Sekitar 93% kematian dunia di jalan terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, meskipun di negara ini memiliki sekitar 60% kendaraan dunia. Cedera lalu lintas jalan adalah penyebab utama kematian anak, remaja dan dewasa muda yang berusia 5-29 tahun.

.

Faktor risiko kecelakaan lalu lintas adalah usia, jenis kelamin, kecepatan, penggunaan zat adiktif dan alat keselamatan, fasilitas keamanan kendaraan, perawatan medis paska kecelakaan, dan penegakan hukum yang kurang tegas. Cedera lalu lintas jalan adalah penyebab utama kematian anak, remaja, dan dewasa muda berusia 5-29 tahun, karena mobilitas mereka lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya. Berdasarkan jenis kelamin, anak dan remaja laki-laki lebih mungkin terlibat dalam kecelakaan lalu lintas daripada perempuan. Sekitar tiga perempat (73%) dari semua kematian lalu lintas di jalan terjadi pada laki-laki muda di bawah usia 25 tahun, yang hampir 3 kali lipat lebih mungkin meninggal dalam kecelakaan lalu lintas dibandingkan perempuan muda.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/06/09/2018-tradisi-mudik/

Peningkatan kecepatan kendaraan secara langsung berhubungan dengan kemungkinan terjadinya kecelakaan dan tingkat keparahan akibat dari kecelakaan tersebut. Misalnya, setiap 1% peningkatan kecepatan rata-rata menghasilkan 4% peningkatan risiko kecelakaan fatal dan 3% peningkatan risiko kecelakaan serius. Risiko kematian pejalan kaki yang tertabrak bagian depan mobil meningkat pesat (4,5 kali pada peningkatan kecepatan dari 50 km/jam menjadi 65 km/jam). Pada benturan samping mobil ke mobil, risiko kematian bagi penumpang mobil adalah 85% pada kecepatan 65 km/jam.

.

Penggunaan helm yang benar oleh pengendara sepeda motor dapat mengurangi risiko cedera fatal sebesar 42% dan pengurangan risiko cedera kepala sebesar 69%. Mengenakan sabuk pengaman mengurangi risiko kematian di antara pengemudi dan penumpang kursi depan mobil  sebesar 45 – 50%, dan risiko kematian dan cedera serius di antara penumpang kursi belakang mobil sebesar 25%. Penggunaan kursi pengaman anak dapat menurunkan 60% kematian.

.

Pengemudi yang menggunakan ponsel kira-kira 4 kali lebih mungkin terlibat dalam kecelakaan. Menggunakan telepon cerdas saat mengemudi memperlambat waktu reaksi, terutama waktu reaksi pengereman, tetapi juga reaksi terhadap sinyal lalu lintas, dan menyulitkan untuk tetap berada di jalur yang benar, dan menjaga jarak kendaraan yang aman. Telepon hands-free tidak jauh lebih aman daripada perangkat telepon genggam.

Terpaksa Harus Mudik, Ini Tips Mudik Aman saat Wabah Corona Covid-19

Desain jalan dapat memiliki dampak yang cukup besar pada keselamatan penggunanya. Idealnya ada fasilitas yang memadai untuk pejalan kaki, pengendara sepeda, dan pengendara sepeda motor. Pembangunan jalan setapak, jalur bersepeda, titik persimpangan yang aman, dan tindakan pengaturan lalu lintas lainnya seperti ‘one way’, ‘contra flow’ dan ganjil genap sangat penting untuk mengurangi risiko cedera.

.

Kendaraan yang aman memainkan peran penting dalam mencegah kecelakaan dan mengurangi kemungkinan cedera serius. Ini termasuk mengharuskan produsen kendaraan untuk memenuhi peraturan benturan depan dan samping, untuk memasukkan kontrol stabilitas elektronik untuk mencegah kemudi yang liar (over-steering) dan untuk memastikan ‘airbag’ dan sabuk pengaman dipasang di semua jenis kendaraan.

.

Keterlambatan dalam mendeteksi dan memberikan perawatan medis bagi korban kecelakaan lalu lintas jalan meningkatkan keparahan cedera. Perawatan medis untuk cedera setelah kecelakaan terjadi, adalah sangat sensitif terhadap waktu, karena penundaan beberapa menit dapat membuat perbedaan hasil klinis antara hidup dan mati. Meningkatkan perawatan medis pasca kecelakaan memerlukan jaminan akses ke rumah sakit tepat waktu, dan kualitas perawatan medis yang bermutu, seperti melalui program pelatihan oleh dokter spesialis.

.

Jika undang-undang lalu lintas tentang mengemudi dalam keadaan mabuk, penggunaan sabuk pengaman, batas kecepatan, helm, dan pengaman anak tidak ditegakkan, peraturan tersebut tidak dapat mengurangi kematian dan cedera lalu lintas yang terkait dengan perilaku tertentu. Namun demikian, adanya tilang elektronik (e-tilang) atau electronic traffic law enforcement (ETLE) di sejumlah ruas jalan tol di Pulau Jawa yang mulai berlaku sejak 1 April 2022, diprediksi akan  mempengaruhi perilaku pengemudi.

.

Kecelakaan lalu lintas jalan dapat dicegah dengan keterlibatan dari berbagai sektor seperti transportasi, polisi, kesehatan, pendidikan, dan hukum, untuk menciptakan jalan raya yang aman bagi semua penggunanya, tidak hanya saat mudik Lebaran saja.

Apakah kita sudah terlibat berperan?

Sekian

Yogyakarta, 10 Mei 2022

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, pengguna sepeda dan pemudik jarak dekat, WA: 081227280161,

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life vaksinasi

2022 Hepatitis Misterius

Waspada Hepatitis Misterius yang Picu 3 Anak Indonesia Meninggal Dunia

HEPATITIS   MISTERIUS

fx. wikan indrarto*)

Sabtu, 23 April 2022 telah dilaporkan merebaknya penyakit hepatitis akut dan parah. Penyakit radang hati ini tidak diketahui penyebabnya dan menyerang banyak anak di beberapa negara secara sekaligus. Wabah hepatitis akut misterius ini mulai terjadi di Inggris dan Irlandia Utara pada 15 April 2022. Apa yang mencemaskan?

.

Pada 21 April 2022, setidaknya 169 kasus hepatitis akut misterius ini telah dilaporkan dari 11 negara di Eropa dan 1 negara di Amerika. Kasus telah dilaporkan di Inggris (114), Spanyol (13), Israel (12), Amerika Serikat (9), Denmark (6), Irlandia (< 5), Belanda (4), Italia (4), Norwegia (2), Prancis (2), Rumania (1), dan Belgia (1). Kasus hepatitis ini menyerang anak berusia 1 bulan hingga 16 tahun, 17 anak (sekitar 10%) membutuhkan tindakan transplantasi hati, dan setidaknya satu kematian telah dilaporkan.

Kementerian Kesehatan RI telah meningkatkan kewaspadaan dalam dua pekan terakhir setelah Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) pada kasus Hepatitis Akut yang menyerang anak-anak. Kasus ini terjadi di Eropa, Amerika dan Asia, dan belum diketahui penyebabnya sejak 15 April 2022.

Kewaspadaan tersebut meningkat setelah tiga pasien anak yang dirawat di RSUPN Dr. Ciptomangunkusumo Jakarta dengan dugaan Hepatitis Akut yang belum diketahui penyebabnya meninggal dunia, dalam kurun waktu yang berbeda dengan rentang dua minggu terakhir hingga 30 April 2022.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/07/28/2021-hari-hepatitis-sedunia/

.

Hepatitis akut (peradangan hati) ini ditandai dengan peningkatan kadar enzim hati dalam darah yang nyata. Banyak kasus memiliki gejala sakit perut, diare dan muntah, dan peningkatan kadar enzim hati (aspartate transaminase (AST) atau alanine aminotransaminase (ALT) lebih besar dari 500 IU/L) dan kulit kuning (ikterus). Sebagian besar kasus tidak mengalami demam. Virus umum yang menyebabkan hepatitis virus akut (virus hepatitis A, B, C, D dan E) belum terdeteksi dalam kasus ini. Namun demikian, Adenovirus telah terdeteksi dalam setidaknya 74 kasus, dengan pengujian molekuler, 18 telah diidentifikasi sebagai tipe F 41. SARS-CoV-2 diidentifikasi dalam 20 kasus yang diuji. Selanjutnya, 19 terdeteksi dengan koinfeksi SARS-CoV-2 dan adenovirus.

.

Pemeriksaan dan penelitian lebih lanjut sedang berlangsung di berbagai negara yang telah melaporkan adanya kasus hepatitis tersebut. Data yang dikumpulkan mencakup riwayat klinis dan paparan yang lebih rinci, pemeriksaan toksikologi, yaitu toksisitas lingkungan dan makanan, serta pemeriksaan virologi atau mikrobiologi tambahan.

.

Sementara ini adenovirus merupakan salah satu hipotesis utama sebagai penyebab hepatitis akut, tetapi tidak sepenuhnya mampu menjelaskan tingkat keparahan klinis. Hal ini karena infeksi adenovirus tipe 41 di manapun, sebelumnya tidak pernah menyebabkan keparahan klinis semacam ini. Adenovirus adalah virus umum yang biasanya hanya menyebabkan infeksi ringan yang dapat sembuh sendiri (self-limited). Virus penyebab ini menyebar antar anak dan juga sering menyebabkan gangguan pernapasan, gastroenteritis (radang lambung atau usus), konjungtivitis (mata merah), dan sistitis (infeksi kandung kemih).

.

Faktor peningkatan kerentanan pada anak, terjadi setelah tingkat penularan adenovirus lebih rendah selama pembatasan sosial terkait pandemi COVID-19. Kondisi inilah yang merupakan potensi munculnya adenovirus mutasi baru, serta koinfeksi dengan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19, perlu diselidiki lebih lanjut. Hipotesis yang terkait dengan efek samping dari vaksin COVID-19 saat ini tidak didukung, karena sebagian besar anak yang terkena hepatitis tidak menerima vaksinasi COVID-19.

.

Hepatitis Misterius Tewaskan 3 Anak, Lapor Jika Temukan Gejalanya

Saat ini sedang diakukan pemantauan ketat lebih lanjut untuk mengidentifikasi kasus tambahan, baik di negara yang saat ini terkena dampak maupun di tempat lain. Prioritasnya adalah untuk menentukan penyebab kasus ini, dan untuk lebih menyempurnakan tindakan pengendalian maupun pencegahan. Langkah pencegahan umum untuk adenovirus dan infeksi umum lainnya adalah mencuci tangan secara teratur dan menjaga kebersihan lingkungan bermain anak.

.

WHO merekomendasikan bahwa pemeriksaan darah, urin, tinja, dan sampel pernapasan, serta sampel biopsi hati (bila tersedia) harus dilakukan, untuk menentukan virus penyebab infeksi. Juga penyebab non-infeksi lainnya perlu diselidiki secara menyeluruh. Saat ini WHO tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan dan atau perdagangan dengan Inggris atau negara lain mana pun tempat kasus teridentifikasi, berdasarkan informasi yang tersedia saat ini.

.

Hepatitis misterius ini mengingatkan kita akan pneumonia Wuhan China, yang ternyata penyebabnya adalah coronavirus baru. WHO awalnya menamai 2019 novel coronavirus (2019-nCoV) pada 12 Januari 2020 dan kemudian secara resmi mengubahnya menjadi penyakit coronavirus 2019 (COVID-19) pada 12 Februari 2020. Sejak COVID-19 pertama kali muncul di China pada 1 Desember 2019, dalam 4 bulan virus dengan cepat menyebar ke negara lain di seluruh dunia sebagai ancaman global. Pada 11 Maret 2020, WHO akhirnya membuat penilaian bahwa COVID-19 dapat dikategorikan sebagai pandemi, menyusul flu Spanyol 1918 (H1N1), flu Asia 1957 (H2N2), flu Hong Kong 1968 (H3N2), dan flu Pandemi 2009 (H1N1), yang masing-masing menyebabkan sekitar 50 juta, 1,5 juta, 1 juta, dan 300.000 kematian manusia.

.

Hepatitis misterius di Inggris ini juga mengingatkan kita akan wabah Hepatitis A di Pacitan dan Trenggalek Jawa Timur pada Minggu, 30 Juni 2019 lalu dengan jumlah penderita penyakit kuning itu nyaris menembus angka 1.000 orang. Kita diingatkan agar terus mengikuti perkembangan berita, mencermati penluran, dan melakukan tindakan pencegahan dengan mempromosikan perbaikan sanitasi, keamanan pangan, dan vaksinasi Hepatitis sesuai jadwal, untuk semua anak di sekitar kita.

Apakah kita sudah bertindak?

Yogyakarta, 30 April 2022

*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM. WA :  081227280161

Categories
antibiotika COVID-19 dokter Healthy Life Jalan-jalan Pendukung ASI sekolah UHC

2022 Hari Kesehatan Dunia

Hari Kesehatan Sedunia 2022: Sejarah dan Tema Peringatan

Tulisan ini juga dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 17 April 2022, halaman 8

HARI  KESEHATAN  SEDUNIA  2022

fx. wikan indrarto*)

Setiap tanggal 7 April, dirayakan sebagai Hari Kesehatan Sedunia (World Health Day). Pada tahun 2022 ini kita diajak menciptakan dunia dengan udara yang bersih, air dan makanan tersedia untuk semua. Juga kebijakan ekonomi difokuskan pada aspek kesehatan dan kesejahteraan warga. Selain itu, setiap kota dapat ditinggali dengan nyaman, karena warganya memiliki kendali atas kesehatan diri dan kesehatan bumi ini.

.

Tema peringatan tahun 2022 : planet kita adalah kesehatan kita (our planet, our health). Di tengah pandemi COVID-19, planet kita yang tercemar akan meningkatkan penyakit seperti kanker, asma, dan gangguan jantung. WHO memperkirakan bahwa lebih dari 13 juta kematian di seluruh dunia setiap tahun, disebabkan oleh penyebab atau faktor lingkungan hidup yang sebenarnya dapat dihindari. Ini termasuk krisis iklim yang merupakan satu-satunya ancaman kesehatan terbesar yang dihadapi umat manusia, bahkan krisis perubahan iklim juga merupakan krisis kesehatan.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2022/01/09/2021-momentum-kesehatan/

.

Keputusan politik, sosial, dan komersial yang tidak bijaksana akan mendorong krisis iklim dan kesehatan. Lebih dari 90% orang menghirup udara tidak sehat akibat pembakaran bahan bakar fosil, terutama untuk kendaraan bermotor. Dunia yang memanas akan memungkinkan nyamuk terbang untuk menyebarkan penyakit Dengue lebih jauh dan lebih cepat daripada sebelumnya. Gangguan cuaca ekstrem, degradasi lahan dan kelangkaan air menggusur orang dan menurunkan derajad kesehatan mereka. Plastik ditemukan di dasar lautan terdalam dan gunung tertinggi, bahkan telah memasuki rantai makanan kita. Sistem yang menghasilkan makanan dan minuman yang diproses dengan cepat saji dan tidak sehat mendorong gelombang obesitas, meningkatkan kanker dan penyakit jantung. Bahkan juga menghasilkan sepertiga dari emisi gas rumah kaca global.

.

Sementara pandemi COVID-19 menunjukkan kepada kita kekuatan teknologi kedokteran dalam meredamnya, tetapi sekaligus juga menyoroti ketidaksetaraan pemberian layanan medis di hampir seluruh dunia. Pandemi COVID-19 telah mengungkapkan kelemahan di semua bidang masyarakat dan menggarisbawahi urgensi menciptakan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan dan adil. Desain ekonomi saat ini mengarah pada distribusi pendapatan, kekayaan, dan kekuasaan yang tidak merata, sehingga masih terlalu banyak orang yang hidup dalam kemiskinan. Pembanganunan ekonomi ke depan sebaiknya memiliki tujuan kesejahteraan manusia, kesetaraan dan keberlanjutan ekologis. Tujuan ini diterjemahkan ke dalam investasi jangka panjang, anggaran kesejahteraan, perlindungan sosial, strategi hukum dan fiskal.

.

Selamat Hari Kesehatan Sedunia 2022 - Yayasan Gastroenterologi Indonesia

Sembilan dari sepuluh orang menghirup udara yang tercemar. Polusi udara telah membunuh 13 orang setiap menitnya karena kanker paru-paru, penyakit jantung dan stroke. Sebaiknya segera berhenti membakar bahan bakar fosil seperti minyak, batu bara, dan gas alam, karena menyebabkan polusi udara. Polusi nitrogen dioksida dapat memperburuk penyakit pernapasan, terutama asma. Sistem transportasi umum yang terencana dengan baik, termasuk jalan kaki dan bersepeda yang aman, dapat meningkatkan kualitas udara, mengurangi perubahan iklim, dan memberikan manfaat kesehatan tambahan.

.

Perubahan iklim merupakan ancaman bagi kesehatan manusia karena meningkatnya suhu bumi dan terjadi banjir, bahkan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk seperti Dengue, menyebar lebih luas dan menempatkan 2 miliar orang tambahan pada risiko infeksi dengue. Sekitar 3,6 miliar orang kekurangan toilet yang aman secara global. Kotoran manusia yang tidak diolah merusak ekosistem dan kesehatan manusia. Bahkan 2 miliar orang kekurangan air minum yang aman secara global dan 829.000 orang meninggal karena penyakit diare setiap tahun yang disebabkan oleh air yang tercemar dan sanitasi yang buruk. Diperlukan perlindungan terhadap sumber air baku dengan mencegah masuknya limbah dan bahan kimia ke danau, sungai, atau air tanah kita.  Selain itu, juga perlu  mengelola limbah medis dengan aman, karena luka tertusuk jarum suntik yang dibuang dapat menyebabkan Hepatitis B, C dan penyakit menular lainnya.

.

Tembakau membunuh lebih dari 8 juta orang setiap tahun dan sangat adiktif. Ini adalah faktor risiko utama untuk kanker, gangguan jantung, dan penyakit paru-paru. Sekitar 600 juta pohon ditebang untuk menghasilkan 6 triliun batang rokok setiap tahun, juga mengurangi udara bersih yang kita hirup. Selain tembakau dapat menyebabkan kematian, menanam tembakau juga membahayakan planet ini, sehingga kita perlu menjaga tubuh dan lingkungan bebas dari tembakau.

.

Momentum Hari Kesehatan Sedunia (World Health Day) pada Kamis, 7 April 2022 dan pandemi COVID-19 mengingatkan kita akan pentingnya  berinvestasi dalam bidang kesehatan sebagai motor pembangunan. Negara tidak perlu memilih prioritas untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan keadilan sosial di satu sisi. Atau di sisi lainnya meliputi pembangunan masyarakat yang berkelanjutan, ketahanan pangan dan nutrisi yang memadai, mengatasi perubahan iklim, atau menggenjot roda ekonomi. Semua hasil penting ini ternyata berjalan seiring, tidak terpisahkan, dan saling terkait (hand in hand), dalam menciptakan planet kita yang lebih sehat dan semakin adil (our planet, our health).

 Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 4 April 2022

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life Pendukung ASI UHC

2022 Atasi Stunting

Mencegah Stunting pada Anak - Rumah Sakit Panti Rapih

ATASI  STUNTING

fx. wikan indrarto

Ringkasan tulisan ini telah dimuat di e-paper Media Indonesia

https://epaper.mediaindonesia.com/detail/atasi-stunting

Stunting atau kerdil pada anak disebabkan oleh kekurangan asupan nutrisi secara kronis. Hal ini karena akses terhadap makanan bergizi seimbang belum merata, terutama pada ibu hamil. Padahal faktor utama terjadinya stunting adalah kurangnya asupan gizi anak pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu sejak janin sampai anak usia 2 tahun. Apa yang perlu dilakukan?

.

Wilayah dengan stunting tertinggi berada di kawasan tengah dan timur Indonesia seperti Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua. Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) di 34 provinsi dan 514 kabupaten/kota pada 153.228 balita, angka stunting secara nasional mengalami penurunan sebesar 1,6 persen per tahun dari 27,7 persen tahun 2019 menjadi 24,4 persen tahun 2021. Hanya 5 provinsi yang menunjukkan kenaikan. Hal tersebut menunjukkan bahwa implementasi dari kebijakan pemerintah mendorong percepatan penurunan stunting di Indonesia telah memberi hasil yang cukup baik. Saat ini, prevalensi stunting di Indonesia lebih baik dibandingkan Myanmar (35%), tetapi masih lebih tinggi dari Vietnam (23%), Malaysia (17%), Thailand (16%) dan Singapura (4%).

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/01/03/2020-wasting-pada-anak-2/

.

Secara individual, terdapat 6 langkah pencegahan stunting oleh seorang ibu hamil dan bayinya, yaitu pemeriksaan kehamilan secara rutin, penuhi asupan nutrisi, penambahan konsumsi zat besi, asam folat dan yodium, menerapkan pola hidup bersih dan sehat, pemberian ASI dan MP-ASI sesuai usia bayi, dan kontrol tumbuh kembang bayi secara teratur. Setiap ibu perlu mendapatkan perhatian khusus melalui strategi intervensi nutrisi. Sejak seorang anak perempuan memasuki masa remaja sampai saat terjadi kehamilan, diperlukan peningkatan penggunaan makanan menu lokal seperti telur dan ikan air tawar, harus lebih ditingkatkan guna mencegah ibu terkena malnutrisi.

.

Kemudian setelah bayi dilahirkan, perlu adanya Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dalam satu jam kelahiran, termasuk memberikan kolostrum (makanan pertama untuk bayi baru lahir yang keluar dari payudara ibu sebelum ASI). Pemberian ASI eksklusif sangat penting untuk memastikan bahwa bayi selama enam bulan pertama kehidupannya terpenuhi kebutuhan nutrisinya. Kontrol teratur tumbuh kembang bayi, adalah hal penting untuk mengenali dan mengatasi stunting sejak awal. Sebaiknya setiap bulan pada bayi 0 sampai 12 bulan, setiap 3 bulan ketika anak berusia 1 sampai 3 tahun, dan setiap 6 bulan ketika anak berusia 3 sampai 6 tahun. Selain pemantauan tumbuh kembang itu, juga dengan pemberian imunisasi dasar sesuai  jadwal dan emudian pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) sesuai usia bayi, keduanya adalah hal penting lainnya untuk mencegah dan mengatasi stunting.

.

Gejala stunting yang perlu dicermati meliputi berat badan anak tidak naik, cenderung turun, atau lebih rendah dibanding anak seusianya. Tinggi badan anak lebih pendek dari anak seusianya. Pertumbuhan tulang tertunda, perkembangan tumbuh terhambat dan anak lebih mudah terkena infeksi. Anak stunting berisiko tidak mampu mencapai potensi idealnya, termasuk dalam aspek akademik, lebih mungkin mengalami kemunduran intelektual, dan kelak akan mengidap penyakit degeneratif, seperti kanker dan diabetes. Hal ini disebabkan karena kebutuhan zat gizi mikro dan makro dalam tubuh anak tidak terpenuhi secara maksimal, sehingga pembentukan fungsi sel tubuh dan lainnya tidak sempurna.

TATA KELOLA KEPERAWATAN KOMUNITAS CEGAH STUNTING DENGAN PENDEKATAN KELUARGA

Secara komunal non individual, untuk masyarakat luas diperlukan formula program percepatan dalam penurunan stunting, dengan intervensi berbasis keluarga berisiko stunting. Fokusnya adalah penyiapan kehidupan berkeluarga, pemenuhan asupan gizi, perbaikan pola asuh, peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan, juga peningkatan akses air minum dan sanitasi. 

.

Berdasarkan data Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2021, prevalensi stunting saat ini masih berada pada angka 24,4 persen atau 5,33 juta balita. Saat ini di beberapa daerah capaian prevalensi sudah dibawah 20% namun masih belum memenuhi target dari RPJMN tahun 2024 sebesar 14%. Bahkan seandainyapun sdh tercapai 14% bukan berarti Indonesia sudah bebas stunting tetapi target selanjutnya adalah menurunkan angka stunting sampai kategori rendah atau dibawah 2,5 persen. Prevalensi stunting ini telah mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi, Presiden RI Joko Widodo menargetkan angka stunting turun menjadi 14 persen di tahun 2024. Untuk mencapai target 14 persen, maka setiap tahunnya perlu terjadi penurunan sekitar 3 persen. Diperlukan upaya inovasi, agar terjadi penurunan sekitar 3 sampai 3,5 persen per tahun. Sehingga tercapai target 14 persen tahun 2024 sesuai dengan target Presiden berdasarkan RPJMN bisa tercapai.

.

Pemerintah akan memperkuat percepatan penurunan stunting melalui langkah-langkah intervensi kesehatan masyarakat melalui Puskesmas dan Posyandu, pada ibu sejak sebelum hamil sampai sesudah melahirkan. Untuk sebelum kelahiran akan dilakukan program pendistribusian tablet tambah darah (TTD) untuk remaja putri, program tambahan asupan gizi untuk bu hamil kurang gizi kronik, melengkapi puskesmas dengan alat USG untuk mempertajam identifikasi ibu hamil. Kemudian untuk pasca kelahiran juga dilakukan program untuk mendukung pemenuhan konsumsi protein hewani balita, merevitalisasi proses rujukan balita weight faltering dan stunting ke puskesmas dari rumah sakit, serta merevitalisasi, melengkapi, mendegitalisasi alat ukur di seluruh Posyandu di Indonesia yang jumlahnya sekitar 240 ribu. Selain itu juga dilakukan revitalisasi proses rujukan balita weight faltering dan stunting ke Puskesmas dari rumah sakit, Penambahan dana bantuan operasional kesehatan (BOK) Puskesmas untuk terapi gizi, perubahan aturan BPJS mengenai stunting di RS agar dapat diberikan penjaminan biaya layanan, serta peningkatan  imunisasi dasar dari 12 menjadi 14 jenis imunisasi.

.

Bagaimana sikap kita?

Sekian

Yogyakarta, 30 Maret 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
COVID-19 Healthy Life Pendukung ASI vaksinasi

2022 ASI dan COVID-19

Ibu Terinfeksi Covid-19, Bolehkah Menyusui Bayinya? Ini Kata Dokter Halaman  all - Kompas.com

MENYUSUI  DAN  COVID-19

fx. wikan indrarto

Menyusui (breastfeeding) adalah salah satu cara paling efektif untuk memastikan kesehatan dan kelangsungan hidup anak. Namun, hampir 2 dari 3 bayi tidak disusui secara eksklusif selama 6 bulan pertama yang direkomendasikan WHO dan UNICEF, cakupan yang belum membaik dalam 2 dekade terakhir, apalagi saat ini ada penemi COVID-19. Apa yang mencemaskan?

.

ASI adalah makanan yang ideal untuk bayi. Aman, bersih dan mengandung antibodi yang membantu melindungi dari banyak penyakit infeksi yang umum pada anak. ASI menyediakan semua energi dan nutrisi yang dibutuhkan bayi untuk bulan-bulan pertama kehidupannya, dan ASI terus menyediakan hingga setengah atau lebih kebutuhan nutrisi anak selama paruh kedua tahun pertama, dan hingga sepertiga selama tahun kedua kehidupan.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/07/29/2021-pekan-menyusui-sedunia/

.

Anak yang disusui secara eksklusif memiliki hasil lebih baik dalam tes kecerdasan, lebih kecil kemungkinannya untuk kelebihan berat badan atau obesitas, dan kurang rentan terhadap diabetes di kemudian hari. Ibu yang menyusui secara eksklusif juga memiliki penurunan risiko kanker payudara dan ovarium. Menyusui juga meningkatkan kesehatan ibu, meskipun ibu dan bayi tinggal di komunitas dengan zona merah laju penularan COVID-19.

.

Setelah melahirkan, bayi sebaiknya tetap harus langsung ditaruh di dada ibu, agar terjadi kontak ‘skin-to-skin’ dan disusui secara dini, meskipun ibunya dipastikan atau diduga mengidap COVID-19. Perlekatan kulit-ke-kulit bayi dengan ibu segera setelah lahir dan berkelanjutan, termasuk perawatan metode kanguru, meningkatkan pengendalian suhu tubuh bayi baru lahir. Hal ini juga dikaitkan dengan peningkatan kelangsungan hidup pada bayi baru lahir, juga mampu mengurangi angka kematian bayi. Lebih banyak manfaat yang diperoleh dari proses kontak kulit-ke-kulit ibu dan bayi baru lahir, dibandingkan risiko buruknya. Selain itu, proses menyusui juga lebih besar manfaatnya daripada potensi risiko penularan COVID-19.

.

Ibu yang telah terkonfirmasi atau terduga COVID-19 seharusnya tetap dapat menyusui, jika ingin melakukannya. Ibu harus menerapkan protokol kesehatan ketat. Sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, atau menggunakan pembersih tangan berbasis alkohol, terutama sebelum menyentuh bayi. Juga mengenakan masker medis selama kontak dengan bayi, termasuk saat menyusui. Menerapkan etika bersin atau batuk ke arah tisu, kemudian tisu segera dibuang dengan benar dan cuci tangan kembali. Bersihkan dan disinfeksi permukaan benda yang telah disentuh ibu secara rutin. Penting untuk mengganti masker medis segera setelah menjadi lembab dan segera membuangnya. Masker tidak boleh digunakan kembali atau disentuh di bagian depan.

Ibu Positif Covid-19 Boleh Menyusui Anaknya, Asalkan...

Jika seorang ibu yang dikonfirmasi atau diduga mengidap COVID-19 tidak memiliki masker medis, ibu tetap harus menyusui. Ibu dengan gejala terinfeksi COVID-19 memang disarankan untuk memakai masker medis, tetapi meskipun tidak memungkinkan, menyusui tetap harus dilanjutkan. Ibu harus mengikuti tindakan pencegahan infeksi lainnya, seperti mencuci tangan, membersihkan permukaan benda yang disentuh, dan etika bersin atau batuk ke tisu. Masker non-medis, misalnya masker buatan sendiri atau masker kain, memang belum diteliti aspek keamanannya. Namun demikian, saat ini tidak mungkin untuk membuat rekomendasi untuk atau menentang penggunaannya.

.

Jika seorang ibu tidak sehat untuk menyusui bayinya karena terinfeksi COVID-19 atau komplikasi lain, ibu tetap harus didukung untuk memberikan ASI dengan aman kepada bayinya dengan cara yang memungkinkan, tersedia, dan dapat diterima oleh ibu. Dukungan ini dapat mencakup pemberian ASI perah (ASIP) dan donor ASI. Jika pemberian ASIP atau ASI donor tidak memungkinkan, maka pertimbangkan ditetekkan atau ‘wet nursing’, yaitu bayi ditetekkan pada ibu lain yang sedang menyusui bayinya. Kalau tidak memungkinkan juga, pilihan terakhir adalah pemberian susu formula bayi, dengan prosedur awal memastikan bahwa hal itu layak, disiapkan dengan benar, aman dan berkelanjutan.

.

Setelah terpapar COVID-19, seorang ibu dapat mulai menyusui ketika ibu sudah merasa cukup sehat untuk melakukannya. Tidak ada interval waktu yang pasti, untuk menunggu setelah dikonfirmasi atau diduga COVID-19. Tidak ada bukti bahwa menyusui mengubah perjalanan klinis COVID-19 pada seorang ibu. Petugas kesehatan atau konselor menyusui harus mendukung ibu untuk menjalani program relaktasi, atau kembali memberikan ASI eksklusif..

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/12/16/2021-mis-c-pada-anak-covid-19/

Pada ibu yang terkonfirmasi atau dicurigai COVID-19, tetap lebih aman untuk meneteki dibandingkan memberikan susu formula pada bayinya. Selalu ada risiko yang terkait dengan pemberian susu formula kepada bayi baru lahir dan bayi di semua situasi. Risiko medis yang terkait dengan pemberian susu formula bayi, meningkat setiap kali kondisi di rumah dan masyarakat terganggu, seperti berkurangnya akses ke layanan medis jika bayi menjadi tidak sehat, berkurangnya akses ke air bersih dan atau akses ke pasokan susu formula tidak terjamin, terjangkau dan berkelanjutan.

.

Ibu yang sedang menyusui bayi dapat menerima vaksin COVID-19 saat tersedia. Tidak satu pun dari vaksin yang saat ini disetujui menggunakan virus hidup, jadi tidak ada risiko menularkan virus ke bayi melalui ASI. Justru ada beberapa bukti bahwa, setelah vaksinasi antibodi ibu ditemukan dalam ASI, yang dapat membantu melindungi bayi dari COVID-19.

Sudahkah kita terlibat membantu keberhasilan pemberian ASI eksklusif?

Sekian

Yogyakarta, 2 Maret 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak antibiotika COVID-19 dokter Healthy Life kanker resisten obat vaksinasi

2022 Kanker pada Anak

Mengenal Gejala Dini Penyakit Kanker Pada Anak

KENALI  KANKER  PADA  ANAK

fx. wikan indrarto*)

Setiap tanggal 15 Februari dirayakan Hari Kanker Anak Internasional atau International Childhood Cancer Day (ICCD), sebuah kampanye kolaboratif global untuk meningkatkan kesadaran tentang kanker pada anak. Selain itu, juga untuk menggalang dukungan bagi para penyintas dan keluarga mereka. Tema tahun 2022 adalah ‘Kelangsungan Hidup Lebih Baik dengan dukungan Anda (Better Survival’ is achievable #throughyourhands). Apa yang menarik?

.

Setiap tahun, diperkirakan 400.000 anak dan remaja berusia 0-19 tahun mengidap kanker. Jenis kanker anak yang paling umum adalah kanker darah atau leukemia, kanker otak, kelenjar getah bening atau limfoma, dan tumor padat, seperti saraf atau neuroblastoma dan ginjal atau tumor Wilms. Di negara berpenghasilan tinggi, di mana layanan komprehensif umumnya dapat diakses, lebih dari 80% anak penderita kanker sembuh. Di negara berpenghasilan rendah dan menengah, hanya kurang dari 30% yang sembuh. Kanker anak umumnya tidak dapat dicegah dan dikenali melalui proses skrining. 

.

Kematian yang dapat dihindari akibat kanker pada anak di negara berkembang diakibatkan oleh kurang, salah atau terlambat didiagnosis. Juga adanya hambatan untuk mengakses pengobatan standar, selain kematian akibat toksisitas obat dan kekambuhan kanker. Hanya 29% negara berpenghasilan rendah melaporkan bahwa obat kanker umumnya tersedia untuk populasi anak di negara tersebut, dibandingkan dengan 96% negara berpenghasilan tinggi. Sistem register atau data kanker anak nasional diperlukan untuk mendorong perbaikan berkelanjutan dalam kualitas perawatan, dan untuk menginformasikan keputusan kebijakan.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/02/05/2020-melawan-kanker/

.

Kanker terjadi pada segala usia dan setiap bagian dari tubuh manusia. Proses ini dimulai dengan perubahan genetik dalam sel tunggal, yang kemudian tumbuh menjadi benjolan atau massa (disebut tumor), yang mendesak bagian lain dari tubuh, sehingga akan menyebabkan kerusakan dan kematian, jika tidak ditangani. Tidak seperti kanker pada orang dewasa, sebagian besar kanker pada anak tidak diketahui penyebabnya. Banyak penelitian telah berusaha untuk mengidentifikasi penyebab kanker pada anak, tetapi sangat sedikit kanker pada anak yang disebabkan oleh faktor lingkungan atau gaya hidup. Upaya pencegahan kanker pada anak harus difokuskan pada perbaikan perilaku, yang akan mencegah anak mengalami kanker yang dapat dicegah, saat mereka menjadi dewasa.

.

Beberapa penyakit infeksi, seperti HIV, virus Epstein-Barr dan malaria, merupakan faktor risiko kanker pada anak, di berbagai negara berkembang. Sebaliknya, beberapa infeksi lain pada anak dapat meningkatkan risiko anak tersebut akan terkena kanker saat dewasa. Untuk pencegahan kanker ini, penting sekali anak untuk divaksinasi, misalnya imunisasi hepatitis B untuk membantu mencegah kanker hati dan imunisasi HPV atau Human Papilloma Virus untuk mencegah kanker serviks.

.

Sekitar 10% dari semua anak dengan kanker memiliki kecenderungan terkait faktor genetik. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi faktor lain yang mempengaruhi perkembangan kanker pada anak. Karena umumnya tidak mungkin untuk mencegah kanker pada anak, strategi paling efektif untuk mengurangi beban kanker pada anak dan meningkatkan hasil luaran klinis adalah berfokus pada diagnosis yang tepat dan cepat, diikuti dengan terapi berbasis bukti yang efektif dengan perawatan suportif yang disesuaikan.

.

Data Anak Penderita Kanker di Indonesia dan Kondisi Mental Mereka

Ketika didiagnosis lebih awal, kanker lebih mungkin untuk merespon pengobatan yang efektif dan menghasilkan kemungkinan yang lebih besar untuk bertahan hidup, lebih sedikit penderitaan, dan seringkali lebih murah, dibandingkan pengobatan tahap lanjut. Perbaikan signifikan dapat dilakukan dalam kehidupan anak penderita kanker, dengan mendeteksi kanker sejak dini dan menghindari keterlambatan pengobatan. Diagnosis yang benar sangat penting untuk mengobati kanker pada anak, karena setiap kanker memerlukan rejimen tatalaksana khusus, termasuk pembedahan, radioterapi, dan kemoterapi.

.

Diagnosis dini kanker pada anak terdiri dari 3 komponen utama. Pertama, kesadaran akan gejala oleh keluarga dan tenaga kesehatan. Kedua, evaluasi, diagnosis, dan penentuan stadium klinis yang akurat dan tepat waktu (menentukan sejauh mana kanker telah menyebar). Ketiga, akses ke pengobatan segera. Program diagnosis dini kanker pada anak telah berhasil diterapkan di berbagai negara dari semua tingkat pendapatan, seringkali melalui upaya kolaboratif pemerintah, masyarakat sipil dan organisasi non-pemerintah. Kanker anak dapat dikenali dengan berbagai gejala klinis sebagai peringatan awal, seperti demam berulang, sakit kepala parah dan persisten, nyeri tulang atau penurunan berat badan, yang dapat dikenali oleh keluarga dan tenaga kesehatan yang terlatih.

.

Paparan Radiasi Ponsel Dapat Meningkatkan Risiko Kanker Pada Anak - Semua  Halaman - Grid Health
.

Program skrining umumnya tidak membantu untuk deteksi kanker anak, tetapi dalam beberapa kasus tertentu, hal ini dapat dipertimbangkan pada populasi berisiko tinggi. Misalnya, beberapa kanker mata pada anak dapat disebabkan oleh mutasi yang diturunkan. Jika mutasi terjadi dalam keluarga anak dengan retinoblastoma, konseling genetik dapat ditawarkan dan saudara kandung dipantau dengan pemeriksaan mata secara teratur sejak dini. Tidak ada bukti berkualitas tinggi untuk mendukung program skrining berbasis populasi pada anak-anak.

.

Diagnosis yang benar sangat penting untuk memberikan terapi yang tepat untuk jenis dan luasnya penyakit kanker pada anak. Terapi standar kanker pada anak meliputi kemoterapi, pembedahan dan atau radioterapi. Namun demikian, anak juga membutuhkan perhatian khusus dalam proses pertumbuhan fisik dan kognitif mereka yang berkelanjutan. Selain itu, mempertahankan status gizi agar tetap baik, membutuhkan tim multi-disiplin yang berdedikasi. Akses ke diagnosis yang efektif, obat kanker esensial, pemeriksaan patologi, produk darah, terapi radiasi, teknologi baru, perawatan psikososial dan suportif sangat bervariasi, tetapi tidak merata tersedia di seluruh dunia.

.

Penyembuhan dapat mencapai lebih dari 80% anak dengan kanker, ketika layanan kanker anak dapat diakses dengan tepat. Terapi farmakologis, termasuk obat generik murah yang masuk dalam Daftar Obat Esensial WHO untuk Anak, sangat besar perannya. Anak yang mampu menyelesaikan paket pengobatan kanker, tetap memerlukan perawatan berkelanjutan, untuk memantau kekambuhan kanker dan untuk mengelola kemungkinan dampak buruk pengobatan jangka panjang.

.

Perawatan paliatif bertujuan untuk mengurangi gejala nyeri yang disebabkan oleh kanker dan meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarganya. Tidak semua anak penderita kanker dapat disembuhkan, tetapi meringankan penderitaan dari keluhan nyeri hebat adalah keharusan kita bagi semua anak. Perawatan paliatif anak dianggap sebagai komponen inti dari perawatan komprehensif, dimulai ketika penyakit didiagnosis dan berlanjut selama perawatan dan pengobatan, terlepas dari tujuan kuratif atau tidak. Perawatan paliatif dapat diberikan di rumah pasien, memberikan pereda nyeri dan dukungan psikososial kepada pasien dan keluarga mereka. Akses yang memadai ke morfin oral dan obat nyeri lainnya harus disediakan untuk pengobatan nyeri kanker derajat sedang hingga berat, yang mempengaruhi lebih dari 80% pasien kanker anak pada fase terminal.

Momentum Hari Kanker Anak Internasional atau International Childhood Cancer Day (ICCD) Selasa, 15 Februari 2022 mengingatkan kita untuk memberikan perhatian dan lebih peduli pada anak dengan kanker.

Sudahkah kita bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 10 Januari 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak antibiotika COVID-19 resisten obat

2022 Ada kusta di antara kita

Kusta - Gejala, penyebab dan mengobati - Alodokter

2022  ADA  KUSTA  DI  ANTARA  KITA

fx. wikan indrarto*)

Hari Kusta Sedunia (World Leprosy Day) Minggu, 30 Januari 2022 memiliki  tema “United for Dignity” (Bersatu untuk Martabat).  Apa yang harus dilakukan?

.

Masih ada 127.558 kasus kusta baru yang terdeteksi secara global pada tahun 2020 dari 139 negara, termasuk 8.629 anak di bawah 15 tahun. Pada hal kampanye ‘ending transmission among children’ dengan target global yaitu nol infeksi pada anak, paling lambat harus dicapai pada tahun 2020 lalu. Tingkat deteksi kasus baru di antara populasi anak tercatat 4,4 per juta populasi anak. Di antara kasus baru 7.198 kasus baru terdeteksi dengan disabilitas grade2 (G2D) dan tingkat G2D baru tercatat 0,9 per juta penduduk.  

.

Kantong endemisitas kusta masih tetap tinggi di beberapa negara, yaitu Angola, Bangladesh, Brazil, Republik Rakyat Cina, Republik Demokratik Kongo, Ethiopia, India, Indonesia, Madagaskar, Mozambik, Myanmar, Nepal, Nigeria, Filipina, Sudan Selatan, Sri Lanka, Sudan dan Republik Tanzania. Pandemi COVID-19 telah mengganggu pelaksanaan program penurunan penemuan kasus baru sebesar 37% pada tahun 2020 dibandingkan dengan tahun 2019, dan pencapaian target ambisius nol infeksi pada anak tersebut.

.

Tinggal Satu Atap dengan Pasien Kusta Apa yang Harus Dilakukan? – Info  Sehat FKUI

Kusta atau lepra adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Kusta tercatat dalam peradaban kuno di Cina, Mesir dan India pada 600 SM. Bakteri M. leprae sebagai penyebab kusta ditemukan oleh Dr. Gerhard Henrik Armauer Hansen dari Norwegia pada tahun 1873 dan merupakan bakteri pertama yang dikenali sebagai penyebab penyakit infeksi pada manusia. Pada Kitab Imamat (13,3) disebutkan penyakit kusta ditandai bulu putih dan lebih dalam dari kulit. Saat ini seseorang harus dicurigai kusta jika menunjukkan satu dari tanda utama atau kardinal sebagai berikut, (1) lesi kulit berwarna putih atau leukoderma yang disertai dengan kehilangan sensorik atau anestesi yang pasti, dengan atau tanpa penebalan saraf dan (2) pemeriksaan apusan kulit positif bakteri kusta.

.

Terobosan terapi pertama terjadi pada tahun 1940-an dengan pengembangan dapson, obat kusta pertama. Namun durasi pengobatan dengan dapson itu bertahun-tahun dan bahkan seumur hidup, sehingga sulit bagi pasien untuk mematuhinya. Pada awal 1960-an, ditemukan obat kusta lainnya, yaitu rifampisin dan clofazimine. Sejak tahun 1981, WHO merekomendasikan MDT (multidrug therapy) yang terdiri dari 3 obat : dapson, rifampisin dan clofazimine, dan kombinasi obat ini mampu mematikan bakteri patogen dan menyembuhkan pasien.

.

Penggunaan MDT mampu mengurangi beban penyakit kusta secara dramatis, seperti Yesus yang membuat tahir (Luk:5,13). Selama 20 tahun terakhir, lebih dari 14 juta penderita kusta telah sembuh, sekitar 4 juta dari mereka sembuh sejak tahun 2000.  Kusta telah mampu dieliminasi di 119 dari 122 negara di mana penyakit ini dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat pada tahun 1985. Sebanyak 11 provinsi di Indonesia belum eliminasi kusta, yaitu Jawa Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku, Maluku Utara, Papua, serta Papua Barat. Sedangkan 23 provinsi lainnya sudah eliminasi kusta, dengan penambahan terbaru yaitu Aceh dan Kalimantan Utara. Tingginya angka cacat tingkat 2 (G2D) menunjukkan keterlambatan dalam penemuan kasus di lapangan. Indikator lain yang digunakan pada penyakit kusta yaitu proporsi penderita kusta pada anak (0-14 tahun), di antara penderita baru. Provinsi dengan proporsi kusta pada anak tertinggi yaitu Papua Barat (28,73%), Nusa Tenggara Timur (27,96%), dan Maluku Utara (23,27%).

.

Target global untuk 2030 adalah 120 negara tanpa kasus asli baru (new autochthonous cases), pengurangan 70% dalam jumlah tahunan kasus baru yang terdeteksi, 90% pengurangan tingkat per juta populasi kasus baru dengan G2D, dan 90% pengurangan angka per juta anak dari kasus anak baru dengan kusta. Pilar strategis dan komponen utama meliputi pertama, menerapkan peta jalan nol kusta yang terintegrasi dan milik negara di semua negara endemik. Kedua, komitmen politik dengan sumber daya yang memadai untuk kusta dalam konteks terpadu. Ketiga, kemitraan nasional untuk ‘zero leprosy’ dan ‘zero leprosy roadmap’ yang melibatkan semua pemangku kepentingan. Ketiga, peningkatan kapasitas dalam sistem perawatan kesehatan untuk layanan berkualitas. Keempat, pengawasan yang efektif dan sistem manajemen data yang ditingkatkan. Kelima, pemantauan resistensi antimikroba (AMR) dan reaksi obat yang merugikan.

.

Selain itu, beberapa tindakan untuk pencegahan kusta dilakukan bersama dengan deteksi kasus aktif terintegrasi. Pertama, pelacakan kontak untuk semua kasus baru. Kedua, kemoterapi preventif ditingkatkan. Ketiga, penemuan kasus aktif terintegrasi dalam populasi yang ditargetkan. Keempat, pengembangan vaksin baru yang ada dan potensial.

.

Sedangkan untuk menangani penyakit kusta dan komplikasinya serta mencegah kecacatan baru, diperlukan beberapa langkah. Pertama, deteksi kasus dini, diagnosis yang akurat dan pengobatan yang cepat. Kedua, akses ke fasilitas rujukan yang komprehensif dan terorganisir dengan baik. Ketiga, diagnosis dan manajemen reaksi kusta, neuritis dan kecacatan. Keempat, pemantauan, dukungan dan pelatihan dalam perawatan diri. Kelima, kesejahteraan mental melalui pertolongan pertama psikologis dan konseling terapeutik.

Penyakit Kusta dan sejarahnya | Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat

.

Yang terakhir adalah memerangi stigma dan memastikan hak asasi manusia dihormati. Diperlukan persatuan (United for Dignity) dalam menghormati martabat penderita kusta dengan cara berbagi cerita tentang pemberdayaan mereka, mengadvokasi kesejahteraan mental dan mendukung hak untuk hidup bermartabat bebas dari stigma terkait penyakit kusta. Selain itu, kita diingatkan tentang target nol infeksi pada anak yang belum tercapai, karena ternyata masih ada kusta di antara kita.

Sudahkah kita bertindak?

Yogyakarta, 26 Januari 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih dan Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak COVID-19 dokter resisten obat vaksinasi

2022 OBAT BARU UNTUK COVID-19

Ilmuwan India Teliti Obat Baru Covid-19, kombinasi Umifenovir dan  Molnupiravir

OBAT  BARU  UNTUK  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Jumat, 14 Januari 2022 WHO merekomendasikan dua obat baru, sehingga saat ini terdapat lebih banyak pilihan pengobatan COVID-19. Sejauh mana obat baru ini akan menyelamatkan nyawa pasien, tergantung pada seberapa banyak tersedia dan terjangkau. Apa yang menarik?

.

Obat pertama adalah baricitinib, sangat direkomendasikan untuk pasien COVID-19 derajat parah atau kritis. Obat dalam kelas inhibitor Janus Kinase (JAK) ini mampu menekan stimulasi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh. WHO merekomendasikan agar diberikan dengan kortikosteroid. Baricitinib adalah obat oral atau ditelan, yang selama ini telah digunakan untuk pengobatan radang sendi atau rheumatoid arthritis. Baricitinib ini mirip dengan obat radang sendi lain dalam kelas penghambat reseptor Interleukin-6, yang sebelumnya telah direkomendasikan oleh WHO pada Juli 2021.

.

WHO juga secara kondisional merekomendasikan penggunaan obat antibodi monoklonal, yaitu sotrovimab, untuk mengobati COVID-19 ringan atau sedang pada pasien yang berisiko tinggi dirawat di rumah sakit. Ini termasuk pasien lansia, immunocompromised, memiliki komorbid seperti diabetes, hipertensi, dan obesitas, dan mereka yang tidak divaksinasi COVID-19. Sotrovimab adalah alternatif untuk casirivimab-imdevimab, sebuah antibodi monoklonal yang sebelumnya telah direkomendasikan oleh WHO pada September 2021. Penelitian sedang berlangsung tentang efektivitas antibodi monoklonal terhadap varian Omicron.

.

WHO sedang bernegosiasi dengan produsen untuk mengamankan kapasitas pasokan global dan akses yang adil dan berkelanjutan ke obat baru yang direkomendasikan ini. Pilar Access to COVID-19 Tools Accelerator (ACT-A) Therapeutics telah bernegosiasi dengan perusahaan farmasi untuk mencari rencana akses yang komprehensif untuk negara berpenghasilan rendah dan menengah, sehingga pengobatan ini dapat diterapkan dengan cepat, tidak hanya di negara kaya. ACT-A juga ingin memperluas cakupan lisensi untuk membuat produk lebih terjangkau. Dua obat baru yang direkomendasikan, yaitu baricitinib dan sotrovimab, telah diundang untuk masuk pada proses Prakualifikasi WHO, yang menilai kualitas, kemanjuran dan keamanan produk kesehatan prioritas, untuk meningkatkan akses bagi negara berpenghasilan rendah.

.

Pilihan pengobatan lain yang sedang dipelajari untuk COVID-19 derajat parah dan kritis, yaitu ruxolitinib dan tofacitinib. Mengingat efeknya yang tidak pasti, sampai saat ini WHO memberikan rekomendasi bersyarat terhadap penggunaannya. Sedangkan Uji Klinis Solidaritas PLUS WHO saat ini sedang mengevaluasi 3 jenis obat lainnya, yaitu artesunat, infliximab dan imatinib. Obat-obatan ini dipilih, karena potensinya untuk mengurangi angka kematian.

.

Ketiga obat tersebut disumbangkan oleh produsen masing-masing untuk uji klinis, melalui Surat Perjanjian antara WHO dan produsen obat. Perusahaan farmasi Ipca, Johnson dan Johnson dan Novartis, telah setuju untuk mendukung akses ke obat tersebut dengan harga yang wajar jika terbukti efektif.

.

Obat Artesunat diproduksi oleh Ipca, digunakan untuk mengobati malaria. Obat ini akan diberikan secara intravena selama 7 hari, menggunakan dosis standar yang direkomendasikan untuk pengobatan malaria berat. Artesunat adalah turunan dari artemisinin, obat antimalaria yang diekstrak dari ramuan Artemisia annua. Artemisinin dan turunannya telah digunakan secara luas dalam pengobatan malaria dan penyakit parasit lainnya selama lebih dari 30 tahun, dan dianggap sangat aman. Kelompok Penasihat Terapi COVID-19 WHO merekomendasikan untuk mengevaluasi sifat anti-inflamasi artesunat.

.

Obat imatinib diproduksi oleh Novartis, digunakan untuk mengobati beberapa jenis kanker tertentu. Obat ini akan diberikan secara oral, sekali sehari, selama 14 hari. Dosis yang digunakan adalah dosis pemeliharaan standar, yaitu dosis terendah yang diberikan pada pasien dengan keganasan hematologi dalam jangka waktu yang lama. Imatinib adalah inhibitor tirosin kinase molekul kecil, diformulasikan sebagai obat kemoterapi oral yang digunakan untuk mengobati jenis kanker tertentu. Data klinis eksperimental dan awal menunjukkan bahwa imatinib membalikkan kebocoran kapiler paru. Sebuah uji klinis acak yang dilakukan di Belanda melaporkan bahwa imatinib dapat memberikan manfaat klinis pada pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit, tanpa adanya masalah keamanan.

.

Obat infliximab diproduksi oleh Johnson dan Johnson, digunakan untuk mengobati penyakit pada sistem kekebalan tubuh. Obat ini akan diberikan secara intravena sebagai dosis tunggal. Dosis yang digunakan adalah dosis standar yang diberikan pada pasien dengan Penyakit Crohn dalam waktu yang lama. Infliximab adalah penghambat alfa TNF, antibodi monoklonal chimeric yang mengenali alfa TNF manusia. Biologi anti-TNF telah disetujui untuk pengobatan kondisi peradangan autoimun tertentu selama lebih dari 20 tahun, menunjukkan kemanjuran dan keamanan yang menguntungkan dalam membatasi peradangan spektrum luas, termasuk pada populasi lanjut usia yang paling rentan secara klinis terhadap COVID-19.

.

WHO Setujui Dua Obat Baru Covid-19

Obat baricitinib dan sotrovimab dalam rekomendasi kali ini, yang merupakan pembaruan kedelapan pedoman WHO tentang terapi COVID-19, didasarkan pada bukti dari tujuh uji klinis yang melibatkan lebih dari 4.000 pasien dengan COVID-19 derajat yang tidak parah, parah, dan kritis.

Sudahkah kita bertindak bijak dalam pengobatan COVID-19?

Sekian

Yogyakarta, 17 Januari 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?