Categories
Istanbul

2019 Dokter Digital

Hasil gambar untuk dokter digital

DOKTER DIGITAL

fx. wikan indrarto*)

Pada hari Rabu, 17 April 2019 WHO mengeluarkan rekomendasi baru tentang 10 cara agar negara dapat menggunakan teknologi kesehatan digital, yang dapat diakses melalui ponsel, tablet dan komputer, untuk meningkatkan derajad kesehatan masyarakat. Apa yang menarik?

https://www.who.int/reproductivehealth/publications/digital-interventions-health-system-strengthening/en/

.

“Memanfaatkan kehebatan teknologi digital sangat penting untuk mencapai cakupan kesehatan semesta atau Universal Health Couverage (UHC),” kata Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus. “Namun demikian, teknologi digital bukanlah tujuan itu sendiri, tetapi adalah alat vital untuk meningkatkan derajad kesehatan, menjaga keamanan dunia, dan melayani masyarakat yang rentan.” Selama dua tahun terakhir, WHO secara sistematis menganalisis berbagai bukti tentang teknologi digital dan berkonsultasi dengan para ahli dari seluruh dunia, untuk menghasilkan rekomendasi tentang alat tersebut, agar dapat digunakan dan berdampak maksimal pada sistem kesehatan nasional dan derajad kesehatan masyarakat.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/02/11/2019-dokter-virtual/

.

Intervensi dokter secara digital yang sudah memiliki efek positif di beberapa negara, adalah sistem pengingat kepada ibu hamil untuk datang pada layanan antenatal dan agar anak diantar kembali untuk mendapatkan vaksinasi. Intervensi digital lainnya adalah alat pendukung informasi untuk memandu dokter dan petugas kesehatan lainnya, saat mereka menangani pasien. Selain itu, juga layanan digital yang memungkinkan pasien dan dokter untuk berkomunikasi dan berkonsultasi, tentang masalah kesehatan dari berbagai lokasi yang berbeda.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/10/12/2018-dokter-4-0/

.

Penggunaan teknologi digital menawarkan peluang baru untuk meningkatkan derajad kesehatan masyarakat, tetapi ada bukti tentang tantangan dalam dampak beberapa intervensi. Jika teknologi digital harus dipertahankan dan diintegrasikan ke dalam sistem kesehatan, mereka harus mampu menunjukkan perbaikan jangka panjang atas cara tradisional dalam memberikan layanan kesehatan. Pedoman WHO ini menjelaskan kelebihan dalam meningkatkan keakuratan data manajemen stok obat dan alat kesehatan di sebuah RS. Teknologi digital memungkinkan petugas kesehatan untuk berkomunikasi secara lebih efisien, mengenai status stok obat dan alat kesehatan. Namun demikian, pemberitahuan saja tidak cukup untuk meningkatkan manajemen ketersediaan barang. Selain itu, sistem kesehatan juga harus merespons dan mengambil tindakan tepat waktu, untuk mengisi kembali ketersediaan obat dan alat kesehatan di RS yang dibutuhkan.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/12/06/2018-bisnis-medis-dokter/

.

Dokter dan petugas kesehatan lainnya membutuhkan pelatihan yang memadai, untuk meningkatkan motivasi mereka, agar bersedia beralih ke cara kerja yang baru ini, dan mampu menggunakan teknologi tersebut dengan mudah. Pedoman ini menekankan pentingnya menyediakan lingkungan kerja yang mendukung untuk pelatihan, menangani infrastruktur koneksi internet yang tidak stabil, serta kebijakan untuk melindungi privasi pasien. Selain itu, juga tata kelola dan koordinasi untuk memastikan perangkat digital ini tidak terfragmentasi di seluruh sistem kesehatan.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/05/17/2018-peran-lengkap-dokter/

.

Pedoman ini mendorong para dokter pembuat kebijakan dan pelaksana profesional layanan medis, untuk beradaptasi dengan kondisi ini. Dokter digital bukan peluru perak yang dapat mengatasi semua masalah dan WHO akan terus bekerja untuk memastikan penggunaannya seefektif mungkin. Ini berarti memastikan bahwa hal itu menambah nilai bagi dokter, petugas kesehatan dan pasien yang menggunakan teknologi ini, memperhitungkan keterbatasan infrastruktur yang memerlukan koordinasi secara tepat.

.

Pedoman ini juga membuat rekomendasi tentang telemedis, yang memungkinkan pasien yang tinggal di lokasi terpencil, agar mendapatkan layanan kesehatan dengan menggunakan ponsel, portal web, atau alat digital lainnya. Metode ini adalah pelengkap yang penting untuk terjadinya interaksi atau tatap muka, tetapi tidak dapat menggantikan komunikasi dokter dengan pasien sepenuhnya. Penting juga dilakukan penjaminan, bahwa konsultasi dilakukan oleh dokter yang berkualifikasi dan bahwa privasi informasi kesehatan individu tetap dipertahankan. Pedoman yang baru ini menekankan pentingnya menjangkau populasi yang rentan, dan memastikan bahwa layanan dokter digital tidak membahayakan mereka dengan cara apa pun (does not endanger them in any way).

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/12/06/2018-bisnis-medis-dokter/

.

WHO telah menggeluti bidang kesehatan digital ini selama bertahun-tahun, yaitu melalui pengembangan ‘eHealth Strategy Toolkit’ pada tahun 2012, yang diterbitkan dalam kolaborasi dengan ‘International Telecommunications Union’ (ITU). Untuk mendukung semua pemerintah dalam pemantauan dan koordinasi investasi digital di negara mereka masing-masing, WHO telah mengembangkan ‘Digital Health Atlas’, sebuah repositori global online di mana para dokter dapat mendaftarkan kegiatan kesehatan digital mereka. WHO juga telah membangun kemitraan inovatif dengan ITU, seperti inisiatif ‘BeHe @ lthy’ dan ‘BeMobile’ untuk pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular. Selain itu, WHO juga telah merilis sejumlah sumber daya untuk memperkuat penelitian dan implementasi kesehatan digital, termasuk ‘mHealth Assessment and Planning for Scale (MAPS) toolkit’, sebuah buku pegangan untuk Pemantauan dan Evaluasi Kesehatan secara Digital, dan mekanisme untuk memanfaatkan intervensi kesehatan digital untuk mengakhiri TB atau tuberkuosis (to end TB).

Pada 6 Maret 2019 telah dibentuk Departemen Kesehatan Digital WHO, dalam mendukung semua negara anggota untuk memprioritaskan, mengintegrasikan, dan mengatur teknologi digital, untuk para dokter, petugas kesehatan lainnya, dan masyarakat luas.

Sudahkah kita bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 24 April 2019

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Istanbul

2019 Hari Malaria Sedunia

Gambar terkait

HARI  MALARIA  SEDUNIA  2019

fx. wikan indrarto*)

Hari Malaria Sedunia akan dirayakan pada Kamis, 25 April 2019. Temanya adalah bebas malaria dimulai dengan saya (zero malaria starts with me), dengan sebuah kampanye global yang bertujuan untuk menjaga perhatian terhadap malaria tetap tinggi dalam agenda politik, memobilisasi tambahan sumber daya, dan memberdayakan masyarakat dalam pencegahan dan pengobatan malaria. Apa yang perlu dicermati?

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/01/31/2019-tantangan-kesehatan-global-2/

Hari Malaria Sedunia ditetapkan bertepatan dengan Deklarasai Abuja Nigeria yang disepakati pada tanggal 25 April 2001, oleh negara-negara endemik malaria. Deklarasi Abuja merupakan persetujuan beberapa negara di Afrika untuk mengalokasikan APBN setidaknya 15 persen untuk meningkatkan kesehatan warga negaranya. Selain itu, sebanyak 0,7 persen APBN disumbangkan untuk membantu negara lain di Afrika yang membutuhkan.

.

.

Menurut laporan malaria dunia  (WHO World malaria report) terbaru, tidak ada kemajuan signifikan yang dicapai dalam mengurangi kasus malaria pada periode 2015 hingga 2017. Perkiraan jumlah kematian karena malaria pada 2017 sebanyak 435.000, tetap tidak berubah dibandingkan tahun sebelumnya. Laporan yang dirilis pada 19 November 2018, merangkum tentang investasi dalam program dan penelitian malaria, serta hasil semua bidang intervensi, baik pencegahan, diagnosis, pengobatan maupun pengawasan. Dunia saat ini tidak berada di jalur yang tepat untuk mengurangi kematian karena penyakit malaria setidaknya 40% pada 2020. Pada tahun 2017, diperkirakan ada 3,5 juta kasus malaria di 10 negara dengan beban malaria tertinggi.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/01/30/2019-tantangan-kesehatan-global/

Di sebagian negara yang mendekati eliminasi malaria, untunglah laju kemajuan semakin cepat. Pada 2017, terdapat 46 negara yang melaporkan kurang dari 10.000 kasus malaria lokal (indigenous), meningkat dari hanya 37 negara pada 2010. Selain itu, untuk pertama kalinya China dan El Salvador melaporkan nol kasus malaria lokal (indigenous). Awal tahun 2019 ini, WHO menyatakan Paraguay sebagai negara bebas malaria pertama di kawasan Amerika, yang diberi status ini dalam 45 tahun terakhir.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/01/17/2019-kematian-anak/

Sebelas negara secara bersama-sama, menyumbang sebagian besar dari semua kasus malaria dan kematian secara global pada tahun 2017, sehingga memerlukan pendekatan baru yang agresif, untuk mempercepat kemajuan melawan malaria. Pendekatan ini akan dilakukan oleh 11 negara dengan beban penyakit tertinggi, yaitu Burkina Faso, Kamerun, Republik Demokratik Kongo, Ghana, India, Mali, Mozambik, Niger, Nigeria, Uganda, dan Republik Tanzania. Elemen kunci dari pendekatan baru ini meliputi, pertama kemauan politik untuk mengurangi korban malaria, kedua informasi strategis untuk menentukan prioritas program yang berdampak, ketiga disusunnya panduan, kebijakan, dan strategi yang lebih baik; dan keempat menyusun respons malaria nasional yang terkoordinasi. Pendekatan baru tersebut berdasarkan prinsip bahwa tidak seorang pun harus mati (no one should die), karena penyakit yang dapat dicegah dan diobati.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/04/04/2019-hari-kesehatan-dunia/

Dari 11 negara dengan beban tertinggi di dunia, India adalah satu-satunya yang mencatat penurunan besar dalam kasus malaria pada tahun 2017. India yang  menyumbang 4% dari kasus malaria global, telah membuat kemajuan signifikan dalam menurunkan beban malaria. Sebagaimana tercermin dalam Laporan Malaria Dunia tahun 2018 ini, India mencatat penurunan 24% kasus malaria selama tahun 2016, sebagian besar disebabkan oleh penurunan substansial penyakit malaria di negara bagian Odisha, yang merupakan rumah bagi sekitar 40% dari semua kasus malaria di India.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/04/05/2019-perjalanan-sehat/

Faktor keberhasilan tersebut meliputi komitmen politik yang selalu diperbaharui, kepemimpinan teknis yang kuat, yang berfokus pada pengendalian nyamuk sebagai vektor dan peningkatan pendanaan domestik. Aspek penting dari pendekatan yang dilakukan di negara bagian Odisha, India adalah gerakan oleh jaringan aktivis kesehatan dan sosial yang terakreditasi atau ‘Accredited Social Health Activists’ (ASHA), yang berfungsi sebagai pekerja garis depan untuk memberikan layanan malaria di seluruh penjuru negara bagian, terutama di daerah pedesaan dan terpencil.

.

Secara global, lebih banyak negara telah bergerak menuju nol kasus malaria pada tahun 2017, yaitu 46 negara melaporkan kurang dari 10.000 kasus, naik dari hanya 37 negara pada 2010. Jumlah negara dengan kurang dari 100 kasus malaria lokal (indigenous), sebuah indikator kuat bahwa status eliminasi berada dalam jangkauan, telah meningkat dari 15 negara pada 2010 menjadi 26 pada 2017. Cina dan El Salvador melaporkan nol kasus pada 2017, yang pertama untuk kedua negara tersebut. Aljazair, Argentina dan Uzbekistan telah mengajukan permintaan resmi kepada WHO untuk sertifikasi status eliminasi malaria.

.

Pada 2017, dari jumlah 514 kabupaten/kota di Indonesia, 266 (52%) di antaranya wilayah bebas malaria, 172 kabupaten/kota (33%) endemis rendah, 37 kabupaten/kota (7%) endemis menengah, dan 39 kabupaten/kota (8%) endemis tinggi. Sementara tahun 2018 ditargetkan sebanyak 285 kabupaten/kota akan berhasil mencapai status eliminasi, dan 300 kabupaten/kota pada 2019. Selain itu, pemerintah Indonesiapun menargetkan tidak ada lagi daerah endemis tinggi malaria di tahun 2020. Pada 2025 kelak, semua kabupaten/kota mencapai eliminasi, 2027 semua provinsi mencapai eliminasi, dan 2030 Indonesia ditargetkan mencapai status eliminasi.

.

Salah satu tonggak penting untuk tahun 2020 adalah eliminasi malaria pada setidaknya 10 negara yang endemis malaria pada tahun 2015. Pada tingkat kemajuan saat ini, kemungkinan tonggak ini akan tercapai. Menurut laporan itu, cakupan dan penggunaan kelambu berinsektisida di seluruh sub-Sahara Afrika sedang meningkat, sehingga ada lebih banyak orang yang berisiko malaria dilindungi oleh kelambu berinsektisida. Selama periode tahun 2010-2017, persentase populasi yang dilindungi oleh kelambu meningkat dari 33% pada 2010 menjadi 56% pada 2017; kepemilikan rumah tangga dari setidaknya satu kelambu naik dari 47% menjadi 72%; dan rumah tangga dengan setidaknya satu kelambu untuk setiap dua orang, berlipat ganda dari 20% menjadi 40%.

.

WHO bekerja sama dengan semua negara endemis malaria untuk memantau kemanjuran obat antimalaria dan insektisida untuk kelambu yang berbasis artemisinin. Meskipun terdapat kekebalan malaria terhadap beberapa obat atau resistensi multidrug di sekitar Sungai Mekong Indochina (the Greater Mekong), penurunan morbiditas dan mortalitas terus diamati. Peningkatan kasus malaria di Afrika, ternyata tidak terkait dengan resistensi obat terhadap terapi kombinasi berbasis artemisinin (ACT), karena tetap sepenuhnya efektif sebagai pengobatan lini pertama di Afrika. Secara keseluruhan, ancaman langsung resistensi obat antimalaria rendah dan sebagian besar ACT tetap efektif di semua negara, di luar wilayah Sungai Mekong Besar Indochina.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/02/08/2019-eliminasi-dengue/

Resistensi terhadap insektisida untuk membasmi vektor nyamuk ternyata lebih luas. Dari 80 negara endemik malaria yang memiliki data pada tahun 2010-2017, resistensi terhadap setidaknya satu dari 4 kelas insektisida dalam satu vektor malaria terdeteksi di 68 negara. Kejadian ini meningkat dibandingkan tahun 2016, tetapi lebih disebabkan karena peningkatan pelaporan dan tiga negara baru, yang melaporkan resistensi untuk pertama kalinya. Di 57 negara, resistensi terhadap dua atau lebih kelas insektisida juga telah dilaporkan.

.

Momentum Hari Malaria Sedunia Kamis, 25 April 2019 dengan tema “bebas malaria dimulai dengan saya” (Zero malaria starts with me), diharapkan dapat memicu penurunan angka kematian malaria pada 2019, bila dibandingkan dengan 2010. Penurunan angka kejadian malaria terbesar telah terjadi di Asia Tenggara (-54%), Afrika (-40%) dan Timur Tengah (-10%), tetapi penurunan angka kematian karena malaria telah melambat sejak 2015, yang mencerminkan adanya permasalahan baru.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 18 April 2019

*) Ketua IDICabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
Istanbul

2019 Akses Sehat

Gambar terkait

AKSES   SEHAT

fx. wikan indrarto*)

Akses yang tidak merata ke fasilitas layanan kesehatan, terbukti mendorong terjadinya kesenjangan harapan hidup. Laporan WHO yang berjudul ‘Uneven access to health services drives life expectancy gaps’ dirilis pada hari Jumat, 4 April 2019. Di mana ibu dapat mengakses layanan kesehatan, ternyata angka kematian ibu dan bayi juga berkurang. Apa yang harus dicermati?

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/04/04/2019-hari-kesehatan-dunia/

Menurut ‘The World Health Statistics 2019’, wanita hidup lebih lama dari pria di wilayah mana pun di dunia, khususnya di negara kaya. Kesenjangan antara harapan hidup pria dan wanita, dipengaruhi kondisi dimana wanita tidak memiliki akses ke layanan kesehatan. Di negara berpenghasilan rendah, di mana layanannya kesehatan langka, 1 dari 41 wanita meninggal karena sebab pada ibu yang dapat dicegah, dibandingkan dengan 1 dari 3.300 di negara berpenghasilan tinggi. Di lebih dari 90 persen negara berpenghasilan rendah, hanya ada kurang dari 4 orang petugas keperawatan dan kebidanan per 1000 orang.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/03/13/2019-kepemimpinan-sehat-oleh-perempuan/

Laporan ini juga menyoroti perbedaan penyebab kematian antara pria dan wanita. Tenyata kematian berhubungan dengan faktor biologis, beberapa dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan sosial, dan beberapa dipengaruhi oleh ketersediaan dan penggunaan fasilitas layanan kesehatan. Dari 40 penyebab utama kematian, 33 penyebab berkontribusi lebih banyak untuk mengurangi harapan hidup pada pria daripada pada wanita. Pada 2016, kemungkinan seseorang meninggal akibat penyakit tidak menular sebelum usia 70 tahun, adalah 44% lebih tinggi pada pria daripada wanita. Selain itu, tingkat kematian bunuh diri global adalah 75% lebih tinggi pada pria dibandingkan pada wanita sepanjang tahun 2016. Tingkat kematian akibat kecelakaan lalu lintas di jalan raya, lebih dari dua kali lipat terjadi pada pria dibandingkan pada wanita sampai usia 15 tahun, dan tingkat kematian akibat pembunuhan adalah 4 kali lebih tinggi pada pria daripada di wanita.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/12/26/2018-diet-sehat/

Laporan statistik ini menggarisbawahi perlunya memprioritaskan perawatan kesehatan primer segera, untuk secara efektif mengelola penyakit tidak menular, dan untuk mengendalikan faktor risiko. Misalnya, sesuatu yang sederhana seperti mengendalikan tekanan darah dan membantu berhenti merokok, karena keduanya tetap menjadi penyebab utama kematian dini.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/12/26/2018-diet-sehat/

Antara tahun 2000 dan 2016, harapan hidup global saat lahir meningkat 5,5 tahun, dari 66,5 menjadi 72,0 tahun. Harapan hidup tetap sangat dipengaruhi oleh pendapatan seseorang. Di negara berpenghasilan rendah, usia harapan hidup 18,1 tahun lebih rendah daripada di negara berpenghasilan tinggi. Bahkan 1 bayi dari setiap 14 kelahiran hidup di negara berpenghasilan rendah, akan meninggal sebelum ulang tahun kelima mereka. Untuk itu WHO mengeluarkan serangkaian rekomendasi baru pada 7 November 2016, untuk meningkatkan kualitas perawatan antenatal, untuk mengurangi risiko kelahiran mati dan komplikasi kehamilan, serta memberi ibu pengalaman kehamilan yang positif.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/12/18/2018-rumah-sehat/

Tahun 2016 lalu, diperkirakan 303.000 wanita meninggal karena penyebab terkait kehamilan, 2,7 juta bayi meninggal selama 28 hari pertama kehidupan, dan 2,6 juta bayi meninggal dunia sebelum berulang tahun pertama. Perawatan kesehatan yang berkualitas selama kehamilan dan persalinan dapat mencegah banyak dari kematian ini, namun secara global hanya 64% wanita menerima perawatan antenatal empat kali atau lebih selama kehamilan mereka.

Perawatan antenatal adalah kesempatan penting bagi petugas layanan kesehatan untuk memberikan perawatan, dukungan dan informasi kepada wanita hamil. Ini termasuk mempromosikan gaya hidup sehat, nutrisi yang baik; mendeteksi dan mencegah penyakit; memberikan konseling keluarga berencana dan mendukung wanita yang mungkin mengalami kekerasan oleh pasangan. Kehamilan harus menjadi pengalaman positif bagi semua wanita dan mereka harus menerima perawatan yang menghormati martabat mereka.

Model perawatan antenatal yang baru, WHO tahun 2016 merekomendasikan meningkatkan jumlah kontak ibu hamil dengan petugas layanan kesehatan selama kehamilannya, dari empat menjadi delapan kali. Bukti terbaru menunjukkan bahwa frekuensi yang lebih tinggi dari layanan antenatal untuk ibu hamil dengan sistem kesehatan, dikaitkan dengan penurunan kemungkinan kelahiran mati. Ini karena meningkatnya peluang untuk mendeteksi dan mengelola masalah potensial. Minimal delapan kontak untuk perawatan antenatal dapat mengurangi kematian perinatal hingga 8 per 1.000 kelahiran, bila dibandingkan dengan minimal empat kunjungan. Dianjurkan ibu hamil untuk melakukan kontak pertama mereka dalam usia kehamilan 12 minggu pertama, dengan kontak berikutnya terjadi pada usia kehamilan 20, 26, 30, 34, 36, 38, dan 40 minggu.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/03/07/2019-bayi-sifilis/

Pedoman baru berisi 49 rekomendasi yang menguraikan perawatan apa yang harus diterima ibu hamil di setiap kontak dengan sistem kesehatan, termasuk konseling tentang diet sehat dan nutrisi optimal, aktivitas fisik, rokok dan penggunaan zat adiktif; pencegahan malaria dan HIV; tes darah rutin dan vaksinasi tetanus; pengukuran janin termasuk penggunaan ultrasonografi (USG); dan saran untuk menangani gejala fisiologis umum seperti mual, nyeri punggung, dan sembelit. Konseling tentang makan sehat, nutrisi optimal, dan vitamin atau mineral apa yang harus dikonsumsi ibu selama kehamilan, dapat membantu ibu dan bayi mereka yang berkembang tetap sehat sepanjang kehamilan dan seterusnya.

.

Rekomendasi WHO menyebutkan bahwa ‘kontak’ seorang ibu hamil dengan petugas layanan antenatalnya harus lebih dari sekadar ‘kunjungan’, tetapi justru berupa penyediaan perawatan dan dukungan selama kehamilan. Rekomendasi meliputi, pertema layanan antenatal dengan minimal delapan kontak selama kehamilan, untuk mengurangi kematian perinatal dan meningkatkan pengalaman perawatan wanita. Kedua, konseling tentang makan sehat dan menjaga fisik ibu tetap aktif selama kehamilan. Ketiga, suplemen mineral setiap hari dengan 30 mg hingga 60 mg zat besi dan 400 μg (0,4 mg) asam folat untuk mencegah anemia pada ibu hamil, sepsis nifas, bayi berat badan lahir rendah, dan kelahiran prematur. Keempat, vaksinasi tetanus toksoid untuk semua ibu hamil, tergantung pada paparan vaksinasi tetanus sebelumnya, untuk mencegah kematian bayi karena tetanus neonatal.

.

Kelima, sebuah pemindaian ultrasound (USG) sebelum kehamilan berusia 24 minggu (USG dini) bagi ibu hamil untuk memperkirakan usia kehamilan, meningkatkan deteksi anomali janin dan kehamilan ganda, mengurangi induksi persalinan untuk kehamilan pasca-persalinan, dan meningkatkan pengalaman positif atas kehamilan bagi ibu. Terakhir, petugas layanan kesehatan harus bertanya kepada semua ibu hamil, tentang penggunaan alkohol dan zat adiktif lain (dulu dan sekarang) sedini mungkin dalam kehamilan dan pada setiap kunjungan antenatal.

.

Laporan WHO yang berjudul ‘Uneven access to health services drives life expectancy gaps,’ mengingatkan kita semua, agar akses ibu hamil kepada layanan kesehatan antenatal harus terus menerus ditingkatkan. Dengan demikian angka harapan hidup ibu dan bayi akan terus membaik di seluruh dunia.

.

Apakah kita sudah bertindak?

Sekian

Yogyakarta, 16 April 2019

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Istanbul

2019 Pekan Imunisasi Sedunia

Hasil gambar untuk world immunization week 2019 theme

PEKAN  IMUNISASI  SEDUNIA  2019

fx. wikan indrarto*)

Dirayakan setiap minggu terakhir bulan April, Pekan Imunisasi Dunia (World Immunization Week) 2019 kali ini, bertujuan untuk mempromosikan penggunaan vaksin dalam imunisasi, guna melindungi semua orang pada segala usia, terhadap ancaman penyakit infeksi. Imunisasi telah menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahun, dan secara luas diakui sebagai salah satu intervensi kesehatan paling sukses dan hemat biaya di dunia. Namun demikian, masih ada hampir 20 juta anak yang tidak dan kurang lengkap divaksinasi di dunia saat ini. Apa yang harus dilakukan?

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/07/24/2018-senjang-imunisasi/

Tema kampanye tahun 2019 ini adalah ‘Perlindungan Bersama, oleh kerja Vaksin’ (Protected Together: Vaccines Work!) dan kampanye tahun 2019 ini juga akan merayakan Pahlawan Vaksin (Vaccine Heroes) dari seluruh dunia. Para pahlawan vaksin terdiri dari orang tua, anggota masyarakat, petugas kesehatan, dan para peneliti sebagai inovator, yang membantu memastikan kita semua pada segala usia, akan dilindungi melalui kekuatan vaksin (#VaccinesWork).

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2017/07/03/etika-imunisasi/

Pada sepanjang tahun 2017, jumlah anak secara global yang diimunisasi mencapai 116,2 juta atau yang tertinggi yang pernah dilaporkan. Selain itu, sejak tahun 2010 terdapat 113 negara yang telah memperkenalkan vaksin baru, sehingga terdapat tambahan lebih dari 20 juta anak yang telah divaksinasi. Namun demikian, meskipun ada banyak manfaat vaksin, semua target untuk menghilangkan penyakit menular, yaitu campak, rubella, dan tetanus pada ibu dan bayi, masih berada di luar jangkauan. Bahkan selama dua tahun terakhir ini, dunia telah mengalami banyak wabah campak, difteri dan berbagai penyakit infeksi lain, yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin. Sebagian besar anak yang tidak diimunisasi adalah mereka yang tinggal di komunitas termiskin, terpinggirkan, dan terkena dampak konflik bersenjata.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/02/27/2019-vaksin-dengue/

Agar setiap orang, di mana saja mereka tinggal, mampu bertahan hidup dan berkembang dengan baik, maka setiap negara harus mengintensifkan upaya untuk memastikan, bahwa semua warganya menerima manfaat vaksin yang mampu menyelamatkan nyawa. Selain itu, setiap negara yang telah mencapai atau membuat kemajuan ke arah tujuan imunisasi, yaitu eliminasi suatu penyakit menular, harus tetap bekerja keras untuk mempertahankan kemajuan yang telah dibuat.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/02/23/2019-mencegah-kanker-serviks/

Tujuan utama dari kampanye Pekan Imunisasi Dunia tahun 2019 ini, adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya imunisasi secara penuh, sepanjang hidup manusia. Tujuan khususnya adalah untuk, pertama menunjukkan bukti manfaat vaksin untuk kesehatan anak, masyarakat dan dunia. Kedua, menyoroti kebutuhan untuk meningkatkan cakupan imunisasi sambil mengatasi kesenjangan yang masih ada, termasuk melalui peningkatan investasi. Ketiga, menunjukkan bagaimana imunisasi rutin merupakan dasar untuk terbentuknya sistem kesehatan yang kuat dan tangguh, serta tercapainya cakupan kesehatan semesta atau Universal Health Couverage (UHC). Memperluas akses ke imunisasi sangat penting untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, pengurangan kemiskinan, dan pencapaian UHC. Imunisasi dasar rutin merupakan titik kontak dengan sistem layanan kesehatan pada awal kehidupan dan menawarkan kepada setiap bayi, kesempatan untuk memperoleh kehidupan yang lebih sehat, dari awal hingga usia tua.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/12/27/2018-vaksin-bukan-mitos/

Pesan kunci pada Pekan Imunisasi Dunia 2019 yang istimewa ini adalah kita membutuhkan bantuan pahlawan imunisasi di manapun berada, untuk menjangkau 1 dari 10 anak, yang sampai sekarang masih tidak memiliki akses ke layanan vaksin.  Pada semua usia, vaksin mampu menyelamatkan nyawa, bahkan vaksin melindungi anak kita dan vaksin juga melindungi kita semua sebagai orang dewasa, dari ancaman penyakit menular. Vaksin mampu memberikan tambahan makna dalam kehidupan, yaitu masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak kita.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/03/20/2019-lawan-influenza/

Kita semua wajib memastikan bahwa vaksin telah menjangkau semua orang yang paling membutuhkannya. Bahkan kita semua diundang untuk dapat menjadi Pahlawan Vaksin (Vaccine Heroes). Caranya adalah dengan memastikan kita dan keluarga kita telah divaksinasi tepat waktu dan setiap saat diperbaharui. Selain itu, sebelum melakukan perjalanan ke suatu daerah endemis penyakit menular, kita diharapkan memastikan pemberian vaksin untuk melindungi terhadap penyakit infeksi di tempat tujuan. Menjadi juara vaksin (be a vaccine champion) juga perlu dilakukan, yaitu dengan cara menjelaskan kepada setiap orang di sekitar kita tentang manfaat vaksin. Dalam hal ini perlu penekanan bahwa vaksin mampu menyelamatkan hidup, membantu anak agar dapat belajar dan bertumbuh, karena kemampuan vaksin mencegah penyakit infeksi serius, menghindari cacat dan kematian.

Momentum Pekan Imunisasi Dunia (World Immunization Week) 24-30 April 2019, juga mengingatkan para petugas kesehatan di manapun. Hendaknya pada setiap tindakan pemeriksaan atas pasien, dijadikan kesempatan untuk melakukan edukasi dan pencatatan (check-in) tentang vaksinasi. Hal ini dilakukan tidak hanya untuk pasien anak, tetapi juga untuk para pasien remaja, dewasa, dan lansia.

Apakah kita sudah bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 11 April 2019

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Istanbul

2019 Gangguan Mental dalam Perjalanan

Hasil gambar untuk gangguan mental di jalan

GANGGUAN MENTAL DALAM PERJALANAN

fx. wikan indrarto*)

Guideline Development Group (GDG) mengusulkan untuk revisi ‘International Travel Health’ terbitan WHO, termasuk pengelolaan gangguan mental. Panduan kesehatan perjalanan terbaru berbasis bukti, diterbitkan untuk para profesional medis, pelancong internasional dan negara anggota WHO. Apa yang perlu diketahui?

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/04/05/2019-perjalanan-sehat/

Perjalanan wisata, apalagi berskala internasional, seringkali merupakan pengalaman yang menegangkan. Pelancong mengalami pemisahan dari keluarga besar dan sistem dukungan sosial yang sudah dikenal akrab, dan harus berurusan dengan budaya dan bahasa asing. Selain itu, juga mengalami tantangan dan ancaman yang kadang membingungkan, dalam aspek kesehatan, kenyamanan, dan keselamatan. Dalam upaya mengatasi tingkat stres yang tinggi, dapat saja memicu masalah fisik, sosial, dan psikologis pada pelancong. Mereka yang menghadapi rentang faktor stres yang lebih besar, mungkin berisiko lebih besar juga untuk memiliki masalah psikologis. Di bawah tekanan perjalanan, gangguan mental yang sudah ada sebelumnya, dapat juga menjadi diperburuk. Lebih jauh lagi, bagi orang dengan kecenderungan memiliki gangguan mental, gangguan semacam itu mungkin muncul untuk pertama kalinya selama perjalanan, termasuk pada anak dan remaja.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/11/24/2018-kematian-di-jalan-raya/

Dokter yang merawat pelancong di negara asal mereka atau di luar negeri harus menyadari adanya perbedaan, baik di dalam maupun antar negara, dalam ketersediaan sumber daya kesehatan mental. Dalam hal ini mencakup fasilitas kesehatan darurat, petugas kesehatan profesional, tempat tidur dan fasilitas pemeriksaan penunjang medis, dan bahkan obat. Dokter spesialis yang kompeten dan staf pendukung mungkin jarang atau tidak ada di darah wisata, dan mereka mungkin tidak mengerti bahasa asli pelancong, sehingga penerjemah yang fasih mungkin diperlukan. Selain itu, aspek hukum praktik dokter juga perlu dicermati, karena dapat sangat berbeda. Undang-undang di suatu negara yang mengatur penggunaan obat dan zat terlarang sangat bervariasi dan hukuman bagi pengedar dan pengguna, di beberapa negara mungkin cukup lemah. Sebagai akibat dari perbedaan dalam infrastruktur kesehatan dan sistem hukum untuk perawatan kesehatan mental ini, keputusan klinis pertama yang mungkin harus diambil oleh dokter pemeriksa adalah, apakah perawatan mental pelancong dapat dikelola di tujuan perjalanan wisata, memerlukan rujukan ke kota yang lebih besar, atau repatriasi ke negara asalnya.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/03/13/2019-kepemimpinan-sehat-oleh-perempuan/

Gangguan mental tidak jarang terjadi pada pelancong, termasuk pada anak dan remaja. Secara keseluruhan, masalah kesehatan mental merupakan salah satu penyebab utama derajad kesehatan yang buruk di antara para pelancong, dan “kondisi darurat psikiatrik” adalah salah satu alasan medis paling umum untuk dilakukannya evakuasi udara, setara dengan alasan cedera dan penyakit kardiovaskular.

.

Meskipun beberapa peristiwa yang menyebabkan stres psikososial tidak dapat diprediksi, namun beberapa tindakan pencegahan dapat mengurangi terjadinya stres, terkait perjalanan. Oleh sebab itu, pelancong harus mengumpulkan informasi yang tepat sebelum bepergian, misalnya tentang perjalanan yang akan ditempuh, moda transportasi, lama perjalanan, karakteristik tujuan, dan kesulitan yang mungkin ditemukan. Hal ini akan memungkinkan para pelancong untuk mempertahankan kepercayaan diri dan untuk mengatasi banyak hal yang asing. Cara ini juga memungkinkan mereka untuk mengembangkan strategi dalam meminimalkan risiko. Mengumpulkan banyak informasi sebelum bepergian, terbukti membantu mengurangi risiko pelancong menderita gangguan psikologis atau memperparah gangguan mental yang sudah ada sebelumnya.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/10/06/2018-hari-kesehatan-mental-sedunia/

Gangguan neuropsikiatri, misalnya kejang, psikosis dan ensefalopati, terjadi pada sekitar 1 dari 10.000 pelancong yang menerima obat profilaksis mefloquine untuk mencegah malaria. Pasien dengan riwayat gangguan neuropsikiatri, termasuk depresi, gangguan kecemasan umum, atau gangguan psikotik atau kejang, harus diresepkan rejimen obat lain, sebagai alternatif pencegahan malaria. Pelancong yang mengalami stres dan kegelisahan, terutama yang berkaitan dengan perjalanan udara, harus dibantu untuk mengembangkan mekanisme koping. Pelancong yang takut terbang, dapat juga dirujuk ke kursus khusus yang disediakan oleh maskapai penerbangan.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/01/18/2019-remaja-sehat/

Mengingat konsekuensi potensial dari keadaan darurat psikiatris yang timbul saat bepergian ke luar negeri, pendataan tentang riwayat atau perawatan psikiatris yang pernah dialami, harus menjadi bagian standar dari setiap konsultasi sebelum berangkat melancong (pra-perjalanan). Pelancong dengan riwayat gangguan mental yang signifikan, harus menerima saran dalam aspek medis dan psikologis secara khusus. Selain itu, pelancong yang menggunakan obat psikotropika harus melanjutkan pengobatan tersebut saat bepergian. Di beberapa negara tertentu membawa obat psikotropika, misalnya benzodiazepin, tanpa bukti resep dokter, akan dianggap merupakan pelanggaran pidana. Oleh karena itu, sangat disarankan agar pelancong membawa surat keterangan dokter, yang menyatakan perlunya obat atau alat medis lainnya, atau keduanya.

.

Selain itu, juga dokumen tentang kondisi klinis dan rincian tentang perawatan, seperti salinan resep obat. Semua dokumen ini harus disusun rapi dalam bahasa yang dipahami petugas di negara tujuan perjalanan. Pelancong yang akan berada di luar negeri untuk waktu yang relatif lama, misalnya ekspatriat atau pelancong bisnis, dapat diajari teknik pemantauan mandiri dan strategi pengurangan stres, sebelum keberangkatan atau selama mereka tinggal di sana. Jika pelancong diduga terlibat dalam penyalahgunaan narkoba, terdapat variasi besar dalam status hukum penyalahgunaan narkoba di berbagai negara.

.

Jika tindakan pencegahan yang tepat diambil, kebanyakan orang yang terkena gangguan mental dengan kondisi stabil dan berada di bawah pengawasan seorang dokter spesialis kesehatan jiwa atau psikiater, oleh ‘International Travel Health’ terbitan WHO direkomendasikan untuk dapat melakukan perjalanan wisata, bahkan sampai ke luar negeri (are able to travel abroad).

Apakah kita sudah bijak?

Sekian

Yogyakarta, 5 April 2019

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Istanbul

2019 Perjalanan Sehat

Hasil gambar untuk perjalanan yang sehat

PERJALANAN SEHAT

fx. wikan indrarto*)

Guideline Development Group (GDG) mengusulkan untuk revisi ‘International Travel Health’ terbitan WHO. Panduan kesehatan perjalanan terbaru berbasis bukti, diterbitkan untuk para profesional medis, pelancong internasional dan negara anggota WHO. Apa yang perlu diketahui?

baca juga :https://dokterwikan.wordpress.com/2018/06/09/2018-tradisi-mudik/

Revisi ditujukan pada tujuh bidang prioritas yang tidak dicakup oleh program lain, sesuai dengan prosedur pengembangan pedoman WHO. Pertama tentang diare, khususnya penggunaan obat antibiotik dan anti-diare. Kedua terkait penggunaan obat aspirin rumatan untuk mencegah terjadinya trombosis vena dalam, ketiga tentang penggunaan obat tidur dalam penerbangan jarak jauh dan panjang, keempat terkait obat melatonin untuk mengatasi kondisi jet lag, kelima tentang fobia terbang dan pencegahannya, keenam tentang pencegahan dan pengobatan penyakit terkait ketinggian (altitude sickness) dan ketujuh, terkait hipotermia atau kedinginan.

.

baca juga :https://dokterwikan.wordpress.com/2018/03/20/475/

Pelancong disarankan untuk menjalani pemeriksaan kesehatan saat kembali dari perjalanan wisata, jika mengalami demam dari negara atau wilayah endemis malaria, menderita penyakit kronis, seperti penyakit kardiovaskular, diabetes mellitus, atau penyakit pernapasan kronis atau telah mengonsumsi obat antikoagulan, dan mengeluh diare, muntah, penyakit kuning, gangguan kemih, penyakit kulit atau infeksi genital. Selain itu, juga kemungkinan terpapar penyakit menular yang serius saat bepergian, dan telah menghabiskan waktu lebih dari 3 bulan di negara berkembang atau wilayah tertinggal. Pelancong harus memberikan kepada dokter, informasi medis tentang perjalanan, termasuk tujuan dan lamanya kunjungan. Wisatawan sebaiknya juga memberikan rincian semua perjalanan yang telah terjadi pada minggu dan bulan sebelumnya, termasuk vaksinasi dan kemoprofilaksis, yang diterima sebelum perjalanan.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/11/24/2018-kematian-di-jalan-raya/

Jet lag adalah istilah yang digunakan untuk gejala klinis yang disebabkan oleh gangguan pada “jam internal” tubuh dan perkiraan ritme 24-jam (sirkadian) yang mampu dikontrolnya. Gangguan ini terjadi ketika pelancong melintasi beberapa zona waktu, yaitu ketika terbang dari timur ke barat atau barat ke timur. Jet lag dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan gangguan fungsi usus, kelemahan umum atau malaise , rasa kantuk di siang hari, kesulitan tidur di malam hari, dan penurunan kinerja fisik ataupun mental. Efeknya sering dikombinasikan dengan kelelahan nyata yang disebabkan oleh perjalanan itu sendiri. Gejala jet lag berangsur-angsur hilang saat tubuh beradaptasi dengan zona waktu yang baru.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/07/04/2018-pesiar-di-kupang-ntt/

Jet lag tidak dapat dicegah tetapi ada cara untuk mengurangi efeknya. Langkah-langkah umum untuk mengurangi efek jet lag, misalnya sedapat mungkin beristirahat sebelum keberangkatan, dan gunakan setiap kesempatan untuk beristirahat selama penerbangan jarak menengah dan panjang. Bahkan tidur singkat, misalnya kurang dari 40 menit, dapat membantu. Makan makanan ringan dan batasi konsumsi alkohol. Alkohol meningkatkan keluaran urin, sehingga tidur mungkin terganggu oleh kebutuhan untuk buang air kecil. Meskipun dapat mempercepat timbulnya tidur, alkohol merusak kualitas tidur, membuatnya kurang tenang. Efek samping dari konsumsi alkohol yang berlebihan, yaitu mabuk dapat memperburuk efek jet lag dan kelelahan perjalanan. Alkohol karenanya harus dibatasi atau dikonsumsi hanya dalam jumlah sedang, sebelum dan selama penerbangan. Kafein harus dibatasi pada jumlah normal dan dihindari dalam 4-6 jam dari periode tidur yang diharapkan. Jika kopi diminum pada siang hari, minum dalam jumlah kecil setiap 2 jam, lebih dianjurkan daripada langsung dalam satu cangkir besar.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/06/21/2016-mengkover-vancouver/

Setelah sampai di tempat tujuan, cobalah untuk menciptakan kondisi yang tepat ketika mempersiapkan diri untuk tidur. Selain itu, tidur diusahakan sebanyak biasanya, dalam 24 jam setelah kedatangan. Paksakan untuk tidur selama paling tidak 4 jam , pada malam hari waktu setempat, yang dikenal sebagai “jangkar tidur” yang dianggap perlu untuk memungkinkan jam internal tubuh, beradaptasi dengan zona waktu yang baru. Jika memungkinkan, ganti waktu tidur total dengan tidur pada siang hari waktu setempat, sebagai respons terhadap perasaan mengantuk. Saat tidur siang, pelindung mata dan penyumbat telinga dapat digunakan untuk membantu mencapai tidur pulas. Berolahraga ringan di siang hari, dapat membantu meningkatkan tidur malam yang nyenyak, tetapi hindari olahraga berat dalam waktu 2 jam sebelum tidur.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/03/31/2012-melayang-ke-jepang/

Siklus terang dan gelap adalah salah satu faktor terpenting dalam mengatur jam internal tubuh. Paparan sinar matahari yang tepat waktu, terutama sinar matahari yang cerah, di tempat tujuan biasanya akan membantu adaptasi. Saat terbang ke barat, paparan sinar matahari di malam hari dan penghindaran di pagi hari, misalnya dengan menggunakan pelindung mata atau kacamata gelap, mungkin sangat membantu. Sebaliknya saat terbang ke arah timur, direkomendasikan untuk mengalami paparan cahaya di pagi hari dan penghindaran di malam hari.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/05/28/2015-london/

Obat tidur kerja singkat (short-acting) dapat juga membantu, harus digunakan hanya sesuai dengan saran dokter dan seharusnya tidak digunakan selama dalam penerbangan, karena dapat meningkatkan imobilitas dan risiko terjadinya trombosis vena dalam. Melatonin adalah hormon neurotropik dengan gugus antioksidan indolamina, yang disintesis oleh kelenjar pineal yang terletak di dalam otak dari senyawa asam amino triptofan. Melatonin berperan dalam berbagai proses fisiologis tubuh seperti ritme biologis, regulasi tekanan darah, onkogenesis, retina, reproduksi, ovarium, sistem kekebalan dan diferensiasi osteoblas. Melatonin tersedia di beberapa negara dan biasanya dijual sebagai suplemen makanan dan karenanya tidak tunduk pada kontrol ketat seperti obat. Waktu dan dosis efektif melatonin belum sepenuhnya dievaluasi dan efek sampingnya, terutama dalam penggunaan jangka panjang, tidak diketahui. Selain itu, metode pembuatannya tidak terstandarisasi, dosis per tablet dapat sangat bervariasi, dan beberapa senyawa berbahaya mungkin saja ada. Karena alasan tersebut, saat ini obat melatonin tidak dapat direkomendasikan secara umum. Fungsi melatonin itu sendiri adalah sebagai hormon pemicu mengantuk dan menjaga agar tetap terlelap sepanjang malam. Pada orang-orang usia lanjut, khususnya, produksi melatonin berkurang secara alami sebagai efek penuaan. Beberapa efek samping yang umum dan mungkin bersifat sementara dari suplemen melatonin, yaitu sakit kepala, depresi jangka pendek, mengantuk dan lemas di siang hari, pusing, kram perut, dan perubahan perasaan (mood swing).

‘International Travel Health’ terbitan WHO perlu dicermati, agar perjalanan para pelancong menjadi lebih sehat dan menyenangkan.

Bagaimana sikap kita?

Sekian

Yogyakarta, 4 April 2019

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Istanbul

2019 Hari Kesehatan Dunia

Hasil gambar untuk world health day

HARI KESEHATAN DUNIA

fx. wikan indrarto*)

Minggu, 7 April 2019 adalah hari lahir WHO dan diperingati sebagai Hari Kesehatan Dunia (World Health Day), yang mengangkat tema cakupan kesehatan semesta atau ‘Universal Health Couevrage’ (UHC), yang merupakan tujuan nomor satu WHO. Kunci untuk mencapainya adalah memastikan bahwa setiap orang dapat memperoleh layanan kesehatan yang mereka butuhkan, pada saat yang tepat, di dekat komunitasnya (in the heart of the community). Apa yang harus dipahami?

.

Meskipun kemajuan sedang terjadi di berbagai negara di semua wilayah di dunia, tetapi jutaan orang masih tidak memiliki akses sama sekali kepada layanan kesehatan. Jutaan orang masih terpaksa memilih antara mendapatkan perawatan kesehatan atau pengeluaran sehari-hari lainnya seperti makanan, pakaian, dan bahkan rumah.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/01/09/2019-biaya-uhc/

.

Kampanye Hari Kesehatan Dunia Minggu, 7 April 2019 ini bertujuan untuk membantu orang lebih memahami apa arti UHC, bentuk layanan dan dukungan apa yang harus tersedia dan di mana disediakan. Petugas kesehatan akan memiliki peran penting dalam kampanye, membantu pengambil keputusan bidang kesehatan untuk mengenali apa yang dibutuhkan orang dalam hal perawatan, khususnya di tingkat perawatan primer. Kampanye ini juga menghadirkan kesempatan bagi para pengambil kebijakan di pemerintahan untuk berkomitmen mengambil tindakan, dalam mengatasi kesenjangan UHC di setiap negara, serta untuk menyoroti kemajuan yang telah dibuat.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/08/30/2018-menuju-uhc-2/

.

Laporan Statistik Kesehatan Dunia (the World Health Statistics Report) 2019 memberikan informasi tentang tren kesehatan bayi baru lahir dan anak, penyakit tidak menular, kesehatan mental dan risiko lingkungan, dan juga data tentang UHC dan sistem kesehatan. Setidaknya setengah dari populasi dunia masih belum mampu memenuhi kebutuhan akan layanan kesehatan esensial. Sekitar 100 juta orang masih jatuh ke dalam “kemiskinan ekstrim,” yaitu hidup dengan hanya 1,90 USD atau kurang sehari, karena mereka harus membayar sendiri, biaya layanan dan perawatan kesehatan. Lebih dari 800 juta orang, atau hampir 12% dari populasi dunia, masih menghabiskan setidaknya 10% dari anggaran rumah tangga mereka, untuk membayar biaya perawatan kesehatan.

.

https://dokterwikan.wordpress.com/2018/07/04/2018-menuju-uhc/

Untunglah semua Negara Anggota PBB, termasuk Indonesia, telah sepakat untuk mencapai UHC pada tahun 2030, sebagai bagian dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. UHC berarti bahwa semua warga masyarakat dapat menerima layanan kesehatan yang mereka butuhkan, tanpa mengalami kesulitan keuangan. Ini mencakup spektrum penuh dari layanan kesehatan yang esensial dan berkualitas, dari promosi kesehatan hingga pencegahan, pengobatan, rehabilitasi, dan terapi paliatif.

.

UHC memungkinkan setiap orang untuk mengakses layanan yang mengatasi penyebab penyakit dan kematian yang paling signifikan, dan memastikan bahwa kualitas layanan tersebut cukup baik, untuk meningkatkan derajad kesehatan orang yang menerimanya. Melindungi orang dari konsekuensi keuangan dengan membayar layanan kesehatan dari kantong mereka sendiri, akan mengurangi risiko orang akan jatuh ke dalam kemiskinan, karena beban penyakit yang tak terduga, yang mengharuskan mereka untuk menggunakan tabungan hidup mereka, menjual aset, atau berhutang, sehingga menghancurkan masa depan mereka dan seringkali juga anak-anak mereka.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/06/13/2018-uhc-di-indonesia/

Mencapai UHC adalah salah satu target yang ditetapkan oleh semua bangsa di dunia, ketika mengadopsi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan pada tahun 2015. Negara-negara yang mengalami kemajuan menuju UHC, akan membuat kemajuan menuju target terkait kesehatan lainnya, dan menuju tujuan lainnya. Kesehatan yang baik memungkinkan anak untuk belajar dan orang dewasa untuk bekerja yang menghasilkan, membantu orang keluar dari kemiskinan, dan memberikan dasar bagi perkembangan ekonomi jangka panjang.

.

Ada banyak hal yang tidak termasuk dalam ruang lingkup UHC, karena UHC tidak berarti cakupan gratis untuk semua intervensi kesehatan yang mungkin, terlepas dari biayanya, karena tidak ada negara yang dapat menyediakan semua layanan gratis secara berkelanjutan. UHC bukan hanya tentang pembiayaan kesehatan. Ini mencakup semua komponen sistem kesehatan: sistem pemberian layanan kesehatan, tenaga kesehatan, fasilitas kesehatan dan jaringan komunikasi, teknologi kesehatan, sistem informasi, mekanisme jaminan kualitas, dan tata kelola bahkan perundang-undangan.

.

UHC tidak hanya tentang memastikan paket minimum layanan kesehatan, tetapi juga tentang memastikan perluasan cakupan layanan kesehatan dan perlindungan keuangan secara progresif, karena semakin banyak sumber daya yang tersedia. UHC tidak hanya tentang layanan perawatan individu, tetapi juga mencakup layanan berbasis populasi seperti kampanye kesehatan masyarakat, menambahkan fluoride ke dalam air minum, mengendalikan tempat pengembangbiakan nyamuk pembawa penyakit, dan lain sebagainya.

.

UHC sebenarnya lebih dari sekadar bidang kesehatan, karena terwujudnya UHC berarti terjadinya langkah menuju kesetaraan, prioritas pembangunan, inklusi sosial dan kohesi. Banyak negara sudah membuat kemajuan menuju UHC. Semua negara dapat mengambil tindakan untuk bergerak lebih cepat mewujudkannya, atau untuk mempertahankan keuntungan yang telah terjadi. Di banyak negara terjadi kondisi yang dirasakan semakin sulit, untuk memenuhi kebutuhan kesehatan populasi yang terus bertambah dan meningkatnya biaya layanan kesehatan.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/08/16/2018-fhc-menuju-uhc/

Mewujudkan UHC membutuhkan penguatan sistem kesehatan di semua negara, dengan struktur pembiayaan yang kuat adalah kunci utama. Ketika orang harus membayar sebagian besar biaya layanan kesehatan dari kantong mereka sendiri, orang miskin seringkali tidak dapat memperoleh banyak layanan yang mereka butuhkan, dan bahkan orang kaya dapat jatuh miskin jika terjadi masalah yang parah atau lama. ‘Pooling fund’ dari sumber pendanaan wajib (seperti kontribusi asuransi wajib), dapat memperkecil dan menyebarkan risiko keuangan atas penyakit kepada seluruh populasi.

.

Meningkatkan cakupan layanan kesehatan dan luaran pengelolaan tergantung kepada ketersediaan, aksesibilitas, dan kapasitas petugas kesehatan, untuk memberikan perawatan terpadu yang berpusat pada pasien. Investasi dalam penyediaan layanan kesehatan primer yang berkualitas, akan menjadi landasan untuk mencapai UHC di seluruh dunia. Berinvestasi dalam penciptaan petugas kesehatan profesional pada layanan primer, adalah cara yang paling hemat biaya untuk memastikan akses ke perawatan kesehatan esensial yang akan meningkat. Tata pemerintahan yang baik, sistem pengadaan dan pasokan obat dan teknologi kesehatan yang baik, dan sistem informasi kesehatan yang berfungsi dengan baik, adalah elemen penting lainnya.

.

Layanan kesehatan primer yang komprehensif berdasarkan pada tiga komponen. Pertama, memastikan bahwa masalah kesehatan masyarakat ditangani melalui layanan protektif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan paliatif yang komprehensif, selama masa hidup warga masyarakat, memprioritaskan secara strategis fungsi sistem utama yang ditujukan pada individu, keluarga, dan populasi, sebagai elemen utama dari penyampaian layanan terpadu di semua tingkatan perawatan. Kedua, secara sistematis menangani faktor risiko gangguan kesehatan yang lebih luas, termasuk dalam bidang sosial, ekonomi, lingkungan, dan perilaku masyarakat, melalui kebijakan publik dan tindakan di semua sektor. Ketiga, memberdayakan individu, keluarga, dan masyarakat untuk mengoptimalkan kesehatan mereka, sebagai pendukung kebijakan yang mempromosikan dan melindungi kesehatan dan kesejahteraan oleh petugas layanan kesehatan dan sosial melalui partisipasi mereka, dan sebagai pengasuh mandiri dan pemberi perawatan kepada orang lain.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/02/26/2019-iur-biaya/

.

Momentum Hari Kesehatan Dunia (World Health Day) yang mengangkat tema ‘Universal Health Couevrage’ (UHC), menekankan bahwa layanan kesehatan primer adalah cara yang paling efisien dan hemat biaya untuk mencapai UHC di seluruh dunia. Di Indonesia, UHC akan dicapai melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).


Sudahkah kita bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 21 Februari 2019

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
anak dukacita

2019 Kehilangan Bayi

KEHILANGAN  BAYI

fx. wikan indrarto*)

Kehilangan bayi (losing a baby) dalam kehamilan karena keguguran atau kelahiran mati, masih merupakan hal yang tabu di seluruh dunia, terkait dengan stigma dan rasa malu. Banyak ibu masih tidak menerima perawatan yang tepat dan penuh hormat, ketika bayi mereka meninggal selama kehamilan atau persalinan. Apa yang harus disadari?

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/01/17/2019-kematian-anak/

Keguguran adalah kejadian paling umum untuk kehilangan bayi selama kehamilan. March of Dimes, sebuah organisasi internasional yang bekerja untuk kesehatan ibu dan anak, memiliki data tingkat keguguran 10-15% pada ibu yang tahu bahwa mereka hamil. Kehilangan bayi didefinisikan secara berbeda di seluruh dunia, tetapi secara umum bayi yang meninggal sebelum kehamilan berusia 28 minggu disebut keguguran (miscarriage) dan pada atau setelah 28 minggu kehamilan disebut bayi lahir mati (stillbirths). Setiap tahun, terjadi 2,6 juta keguguran dan bayi lahir mati di seluruh dunia dan banyak dari kematian ini, sebenarnya dapat dicegah. Namun demikian, keguguran dan kelahiran mati tidak dicatat secara sistematis, bahkan di negara maju sekalipun, sehingga mungkin saja jumlahnya dapat lebih tinggi. Bayi lahir mati (stillbirth) terjadi pada sekitar 2.000 keluarga Australia setiap tahun. Tingkat kelahiran mati belum berubah dalam 20 tahun terakhir dan bagi penduduk asli Australia, bahkan terjadi dua kali lebih tinggi. Namun demikian, sebelum hal itu terjadi pada satu dari enam ibu, banyak ibu hamil tidak pernah berpikir bahwa bayi dapat mati di dalam rahim.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/09/21/2018-kematian-anak/

Ada banyak alasan mengapa keguguran dapat terjadi, termasuk kelainan struktur tubuh janin, usia ibu, dan infeksi. Sebenarnya banyak di antaranya dapat dicegah, seperti infeksi malaria dan sifilis, meskipun memastikan penyebab yang tepat seringkali sulit. Nasihat umum untuk mencegah keguguran berfokus pada makanan yang sehat, berolahraga, menghindari rokok, narkoba dan alkohol, membatasi kafein, mengendalikan stres, dan mengendalikan kenaikan berat badannya. Kesemuanya menempatkan penekanan pada perbaikan faktor gaya hidup, tetapi sebenarnya justru dapat menyebabkan ibu merasa bersalah, bahwa ibu telah menyebabkan keguguran.

.

Bayi lahir mati pada umumnya terjadi selama kehamilan. Namun demikian, 1 dari 2 bayi lahir mati terjadi selama proses persalinan, yang sebenarnya banyak di antaranya dapat dicegah. Sekitar 98% kelahiran mati terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Untuk itu, meningkatkan kualitas perawatan yang lebih baik selama kehamilan dan persalinan, dapat berperan dalam mencegah lebih dari setengah juta kelahiran mati di seluruh dunia. Bahkan di negara berpenghasilan tinggi, layanan kesehatan di bawah standar merupakan faktor penting dalam kelahiran mati.

.

Ada beberapa cara untuk mengurangi jumlah bayi yang meninggal dalam kehamilan, misalnya meningkatkan akses ke perawatan antenatal, menciptakan kesinambungan layanan melalui perawatan yang dipimpin oleh bidan sampai pada perawatan komunitas, jika memungkinkan. Mengintegrasikan pengobatan infeksi selama kehamilan, pemantauan detak jantung janin, dan pengawasan proses persalinan sebagai bagian dari paket perawatan terpadu, dapat menyelamatkan 1,3 juta bayi dari kejadian lahir mati. Pada awal tahun 2019, sekitar 200 juta ibu yang ingin menghindari kehamilan, tidak memiliki akses ke layanan kontrasepsi modern. Ketika ibu benar hamil, 30 juta ibu tidak melahirkan di fasilitas kesehatan dan 45 juta ibu menerima perawatan antenatal yang tidak memadai atau tidak ada, sehingga menempatkan ibu dan bayi pada risiko komplikasi dan kematian, yang jauh lebih besar.

.

Budaya tradisional seperti sunat perempuan dan pernikahan anak sangat merusak kesehatan reproduksi anak perempuan dan kesehatan bayi mereka. Ibu yang memiliki bayi pada usia yang terlalu muda, dapat berbahaya bagi ibu dan bayinya. Ibu remaja, usia 10 – 19 tahun, jauh lebih mungkin untuk mengalami eklampsia atau infeksi rahim dibandingkan ibu berusia 20-24 tahun, yang kedua kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko bayi lahir mati. Bayi yang lahir dari ibu yang berusia kurang dari 20 tahun, juga lebih cenderung memiliki berat badan lahir rendah, prematur, atau memiliki kondisi neonatal yang parah, yang semuanya dapat meningkatkan risiko bayi lahir mati. Sunat perempuan meningkatkan risiko ibu mengalami persalinan yang lama, terhambat, disertai perdarahan, dan robekan jalan lahir yang parah. Bayi yang dilahirkannya, jauh lebih mungkin membutuhkan resusitasi neonatal saat persalinan, dan menghadapi risiko kematian yang tinggi, selama persalinan atau setelah kelahiran.

.

Menempatkan ibu menjadi fokus perawatan sangatlah penting, agar ibu mendapatkan pengalaman kehamilan yang positif, baik dalam aspek biomedis dan fisiologis, juga untuk mendapatkan dukungan sosial, budaya, emosional dan psikologis. Namun demikian banyak ibu, bahkan di negara-negara maju dengan akses ke perawatan kesehatan terbaik, ternyata menerima perawatan yang tidak memadai setelah kehilangan bayi. Bahkan istilah yang digunakan oleh dokter untuk menjelaskan keguguran dan bayi lahir mati, dapat bersifat traumatis bagi ibu, misalnya “serviks yang tidak kompeten” atau “blighted ovum,” karena keduanya sangat menyedihkan bagi para ibu.

.

Ibu sering kali tidak menerima informasi apa pun tentang keguguran. Para dokter, bidan dan perawat sangat sering dingin dan tidak ramah, bahkan mereka bersikap seolah-olah itu hanya prosedur medis rutin. Diperlukan petugas medis yang memiliki sedikit rasa kemanusiaan, yang kemudian meyakinkan ibu bahwa ibu dapat mencoba lagi untuk hamil. Bergantung pada kebijakan rumah sakit, tubuh bayi yang lahir mati dapat diperlakukan sebagai limbah RS dan dimusnahkan. Aturan lokal ada yang berlaku bagi seorang ibu yang bayinya telah meninggal, diharuskan untuk menggendong bayi lain selama beberapa hari, sampai dia bisa melahirkan bayinya yang telah meninggal tersebut. Bahkan di negara maju, ibu dapat melahirkan bayi mereka yang telah meninggal di sebuah kamar bersalin, bersama dengan ibu lain yang bayinya sehat. Meskipun mungkin ada alasan medis untuk ketentuan itu, namun hal tersebut sebenarnya sangat menyusahkan bagi ibu dan pasangannya.

.

Mungkin sulit untuk merumuskan apa yang harus dikatakan, ketika ibu kehilangan bayi dalam kehamilan, tetapi kepekaan, dukungan, dan empati seharusnya diberikan bagi ibu, termasuk kesempatan untuk mengungkapkan perasaan mereka. Daripada mengatakan “Segala sesuatu terjadi karena suatu alasan”, sebaiknya mengatakan yang lain seperti “Saya sangat menyesal. Saya dapat membayangkan ini sangat menyedihkan bagi Anda.” Selain itu, daripada mengatakan “Setidaknya ibu tahu bahwa ibu dapat hamil”, cobalah hanya mendengarkan dan mungkin bertanya “Apa kabar?”. Juga daripada mengatakan “Setidaknya ibu sudah memiliki anak yang sehat”, mungkin lebih baik mengatakan “Saya sangat menyesal atas kehilangan bayi ini”.

.

Untuk menyelamatkan lebih banyak bayi yang meninggal dalam kehamilan, perlu tambahan tindakan untuk meningkatkan akses ibu hamil ke perawatan antenatal. Selain itu, juga membentuk kesinambungan perawatan dalam masalah emosi, psikologi, sosial, budaya dan medis, khususnya bagi ibu yang kehilangan bayinya.

Apakah kita sudah bijak?

Sekian

Yogyakarta, 21 Maret 2019

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161.

Categories
Istanbul

2019 Lawan Tuberkulosis

Hasil gambar untuk tuberkulosis

LAWAN  TUBERKULOSIS

fx. wikan indrarto*)

Rekomendasi WHO terbaru diterbitkan pada hari Rabu, 20 Maret 2019,  untuk mempercepat kemajuan mengatasi tuberkulosis (TB). Rekomendasi tersebut adalah bagian dari paket tindakan intervensi medis yang lebih besar, yang dirancang untuk membantu semua negara dalam meningkatkan kemajuan layanan, untuk mengakhiri TB (end TB), dalam menyambut Hari TB Sedunia 2019. Tema Hari TB Sedunia 2019 adalah: Sudah waktunya untuk mengakhiri TB (It’s time to end TB). Apa yang perlu dicermati?

.

TB adalah penyakit menular penyebab kematian tertinggi di dunia, yang menimbulkan sekitar 4.500 kematian setiap hari. Beban terberat dipikul oleh masyarakat yang menghadapi tantangan sosial-ekonomi, yaitu mereka yang bekerja dan tinggal di lingkungan berisiko tinggi, yang termiskin dan terpinggirkan. Strain bakteri tuberkulosis (TB) dengan kebal atau resistensi terhadap obat lebih sulit diatasi, daripada yang peka terhadap obat, dan mengancam kemajuan global menuju target yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam ‘the End TB Strategy’. Oleh karena itu ada kebutuhan mendesak untuk pengobatan dan perawatan pasien TB kebal obat. Sejak tahun 2000, sekitar 54 juta jiwa telah dapat diselamatkan, dan kematian TB telah turun sepertiga. Namun demikian, sekitar 10 juta orang masih jatuh sakit TB setiap tahun, sehingga terlalu banyak kehilangan  waktu produktif untuk perawatan TB, terlebih untuk jenis TB yang sudah kebal obat (MDR-TB).

.

Panduan terbaru ini difokuskan untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan TB yang sudah kebal terhadap berbagai obat atau Multi Drug Resistant TB (MDR-TB). WHO merekomendasikan untuk beralih ke paket pengobatan telan atau rejimen oral secara penuh, dalam mengobati MDR-TB. Paket perawatan baru ini lebih efektif dan kecil kemungkinannya menimbulkan efek samping yang merugikan. Selain itu, rekomendasi lainnya adalah pemantauan secara aktif tentang aspek keamanan obat dan memberikan dukungan konseling, untuk membantu pasien agar dapat menyelesaikan paket pengobatannya.

.

Rekomendasi baru tersebut juga dirancang untuk membantu semua negara menutup kesenjangan, juga memastikan tidak ada seorangpun yang tertinggal dalam program mengakhiri TB. Elemen-elemen kunci rekomendasi terbaru tersebut meliputi, pertama kerangka kerja dengan akuntabilitas baik, untuk mengoordinasikan tindakan lintas sektor dalam memantau kemajuan program pengobatan TB. Kedua, kolaborasi berbagai pihak dalam mengetahui data epidemi TB, melalui perubahan teknis pemantauan manual menjadi sistem pengawasan TB digital atau ‘electronic TB surveillance systems’. Ketiga, panduan untuk penentuan prioritas yang efektif, dalam intervensi TB yang lebih bermakna, berdasarkan analisis jalur pasien saat mengakses perawatan. Keempat, pedoman baru tentang pengendalian infeksi dan pengobatan profilaksis atau pencegahan, untuk infeksi TB laten. Kelima, pembentukan satuan tugas untuk memastikan keterlibatan masyarakat sipil yang efektif dan bermakna.

.

Antara tahun 2011 dan 2018, WHO telah mengeluarkan rekomendasi kebijakan berbasis bukti tentang pengobatan dan perawatan pasien dengan MDR-TB. Rekomendasi ini termasuk pedoman pengobatan untuk tuberkulosis yang resisten terhadap berbagai obat, yang merupakan edisi terbaru diterbitkan pada bulan Desember 2018. Rekomendasi kebijakan ini telah dikembangkan. menggunakan pendekatan GRADE (Grading of Recommendations, Assessment, Development and Evaluation) untuk merangkum bukti, dan merumuskan rekomendasi kebijakan.

.

Pedoman mencakup rekomendasi kebijakan tentang rejimen pengobatan untuk TB yang kebal atau resisten terhadap isoniazid, termasuk pemantauan kultur bakteri pasien yang sedang dalam pengobatan, kombinasi terapi dengan obat antiretroviral (ART) yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), penggunaan tindakan pembedahan, juga model dukungan dan perawatan pasien yang optimal.

.

Resistensi terhadap obat TB adalah hambatan besar untuk perawatan dan pencegahan TB yang efektif secara global. TB yang resisten terhadap beberapa obat (MDR-TB) disebabkan oleh multifaktorial dan dipicu karena pengobatan yang tidak tepat, manajemen pasokan dan kualitas obat yang buruk, dan penularan bakteri melalui udara di tempat umum. Manajemen kasus menjadi sulit dan tantangannya lebih parah, karena biaya ekonomi dan sosial yang lebih besar, yang harus ditanggung pasien.

.

Penambahan dua obat TB baru, yaitu bedaquiline dan delamanid, untuk pengobatan TB yang resisten terhadap obat, telah menjanjikan karena selama ini tingkat keberhasilan pengobatan seringkali konsisten tetap rendah. Setelah proses persetujuan yang dipercepat di Amerika Serikat oleh ‘Food and Drug Administration’ (FDA) pada Desember 2012 untuk bedaquiline dan persetujuan bersyarat di Eropa oleh ‘European Medicine Agency’ (EMA) pada Desember 2013 untuk delamanid, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan rekomendasi bersyarat untuk penggunaan obat tersebut dalam dua dokumen pedoman kebijakan sementara, yang diterbitkan masing-masing pada tahun 2013 dan 2014. Meskipun data uji coba fase III belum tersedia, tetapi data tambahan tentang keamanan dan efektivitas bedaquiline sudah ada. Demikian pula, dua penelitian tentang farmakokinetik, keamanan, dan tolerabilitas delamanid pada pasien anak dengan MDR-TB, juga telah tersedia.

.

Momentum Hari TB Sedunia 2019 dengan tema : Sudah waktunya untuk mengakhiri TB (It’s time to end TB), mengingatkan kita untuk menggunakan bedaquiline dan delamanid, untuk pengobatan TB yang telah resisten terhadap obat.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 22 Maret 2019

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
Istanbul

2019 Menumpas Hepatitis

Hasil gambar untuk hepatitis b

MENUMPAS HEPATITIS

fx. wikan indrarto*)

Pada hari Jumat, 1 Maret 2019 diterbitkan laporan bahwa imunisasi hepatitis B telah mengurangi infeksi menjadi kurang dari 1% anak di Wilayah Pasifik Barat. Namun demikian, untuk menumpas atau menghilangkan penularan infeksi hepatitis B dari ibu-ke-anak pada tahun 2030, diperlukan intervensi tambahan. Apa yang penting?

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/07/09/2018-hari-hepatitis-sedunia/

Hepatitis B adalah infeksi virus yang menyerang hati dan menyebabkan hampir 900.000 kematian di seluruh dunia setiap tahun, sebagian besar akibat sirosis hati, kanker hati dan komplikasi lainnya. Vaksinasi memberikan perlindungan seumur hidup terhadap hepatitis B dan risiko penyakit yang terkait. Semua bayi baru lahir seharusnya menerima dosis pertama vaksin hepatitis B dalam waktu 24 jam setelah kelahiran, diikuti oleh setidaknya dua dosis lagi dalam tahun pertama kehidupan.

.

Sebuah artikel berjudul “Progress toward Hepatitis B Control and Elimination of Mother-to-Child Transmission of Hepatitis B Virus ─ Western Pacific Region, 2005–2017” diterbitkan pada Jumat, 1 Maret 2019. Artikel itu melaporkan bahwa antara 2005 dan 2017, cakupan dosis pertama vaksin hepatitis B setelah bayi lahir, meningkat dari 63% menjadi 85% bayi baru lahir. Tingkat pemberian dosis ketiga vaksin hepatitis B, meningkat dari 76% menjadi 93% selama periode yang sama. Cakupan global untuk vaksin hepatitis B dosis pertama dan ketiga pada 2017 masing-masing adalah 43% dan 84%.

.

Laporan kemajuan yang mengesankan dalam menjangkau anak selama jangka waktu tersebut, termasuk pencegahan 7 juta kematian melalui vaksinasi hepatitis B, adalah dorongan untuk menghilangkan penularan hepatitis B di wilayah tersebut pada tahun 2030. Hal ini karena sebagian besar infeksi hepatitis B ditularkan dari ibu ke bayi selama kelahiran. Semua wanita hamil harus diperiksa uji saring hepatitis B dan jika positif, pada bayi yang terpapar virus selama kelahiran segera diberikan imunoglobulin hepatitis B untuk mencegah infeksi.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/04/28/2018-kendalikan-hepatitis/

Tindakan untuk mengurangi penularan virus hepatitis B dari ibu-ke-bayi adalah bagian dari inisiatif yang lebih luas, yang mencakup penghapusan penularan HIV dan sifilis ke bayi baru lahir. Semua negara di Wilayah Pasifik Barat telah menyetujui rencana untuk menghilangkan penularan dari ibu ke anak dari ketiga penyakit pada tahun 2030.

.

Prevalensi hepatitis B tertinggi di Wilayah Pasifik Barat dan Afrika, di mana masing-masing 6,2% dan 6,1% dari populasi orang dewasa. Keduanya jauh lebih tinggi dibandingkan Timur Tengah (3,3%), Asia Tenggara, termasuk Indonesia (2,0%), Eropa (1,6 %), dan Amerika (0,7%). Di daerah yang sangat endemis, virus hepatitis B paling umum menyebar dari ibu ke anak saat lahir (penularan perinatal), atau melalui penularan horizontal (paparan darah yang terinfeksi), terutama dari anak yang terinfeksi ke anak yang tidak terinfeksi, selama 5 tahun pertama kehidupan. Perkembangan infeksi kronis sangat umum terjadi pada bayi yang terinfeksi dari ibunya atau sebelum usia 5 tahun.

.

Diagnosis laboratorium infeksi hepatitis B berfokus pada pendeteksian antigen permukaan hepatitis B (HbsAg). Infeksi HBV akut pada pemeriksaan laboratorium klinik ditandai oleh adanya antibodi HBsAg dan imunoglobulin M (IgM) terhadap antigen inti (HbcAg). Selama fase awal infeksi, pasien juga seropositif untuk antigen hepatitis B e (HBeAg). HBeAg biasanya merupakan penanda replikasi virus pada tingkat tinggi. Adanya HBeAg yang positif menunjukkan bahwa darah dan cairan tubuh orang yang terinfeksi tersebut, pada kondisi sangat menular. Infeksi kronis ditandai oleh menetapnya HBsAg selama setidaknya 6 bulan (dengan atau tanpa HBeAg). Persistensi HBsAg adalah penanda utama risiko untuk berkembangnya penyakit hati kronis dan kanker hati (karsinoma hepatoseluler) di kemudian hari.

.

Tidak ada pengobatan khusus untuk hepatitis B akut. Oleh karena itu, perawatan ditujukan untuk menjaga kenyamanan pasien dan keseimbangan gizi, termasuk penggantian cairan yang hilang akibat muntah dan diare. Infeksi hepatitis B kronis dapat diobati dengan obat antivirus oral atau obat yang ditelan. Pengobatan tersebut dapat memperlambat perkembangan menjadi sirosis, mengurangi kejadian kanker hati, dan meningkatkan kelangsungan hidup jangka panjang.

.

WHO merekomendasikan obat tenofovir atau entecavir oral, karena ini adalah obat yang paling manjur untuk menekan virus hepatitis B. Kedua obat jarang menyebabkan resistensi dibandingkan dengan obat lain, mudah dikonsumsi karena hanya 1 kali sehari, dan memiliki sedikit efek samping, sehingga hanya memerlukan pemantauan terbatas. Entecavir tidak dipatenkan, tetapi ketersediaan dan biaya sangat bervariasi. Tenofovir hanya dilindungi oleh hak paten sampai tahun 2018 di sebagian besar negara berpendapatan menengah dan tinggi, sehingga sebelum tahun 2018 biayanya berkisar antara US $ 400 hingga US $ 1.500 untuk satu tahun. Sementara beberapa negara berpenghasilan menengah (seperti China dan Rusia) masih menghadapi hambatan regulasi hak paten dalam mengakses tenofovir, pada hal harga tenofovir generik sebenarnya cukup terjangkau. Mekanisme Pelaporan Harga obat dunia atau ’Global Price Reporting Mechanism’ (GPRM) menunjukkan bahwa biaya untuk satu tahun perawatan berkisar antara US $ 48 hingga US $ 50 pada Februari 2017.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/07/24/2018-senjang-imunisasi/

Pada bulan Maret 2015, WHO meluncurkan “Pedoman untuk pencegahan, perawatan dan pengobatan pertama orang yang hidup dengan infeksi hepatitis B kronis”. Terdapat 3 rekomendasi, yaitu pertama, mempromosikan penggunaan tes diagnostik sederhana dan non-invasif untuk menilai tahap penyakit hati dan kelayakan untuk perawatan, kedua memprioritaskan pengobatan untuk mereka yang memiliki penyakit hati paling lanjut dan risiko kematian terbesar, dan ketiga, merekomendasikan penggunaan obat dalam kelompok nucleos(t)ide analogues, untuk pasien yang resistensi obat (tenofovir dan entecavir, dan entecavir pada anak yang berusia antara 2–11 tahun) untuk pengobatan lini pertama dan kedua hepatitis B.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/04/20/2018-pekan-imunisasi-sedunia/

Vaksin hepatitis B adalah intervensi medis andalan dalam pencegahan hepatitis B. WHO merekomendasikan bahwa semua bayi menerima vaksin hepatitis B sesegera mungkin setelah lahir, dianjurkan dalam waktu 24 jam pertama kehidupan. Rendahnya insiden infeksi HBV kronis pada anak balita saat ini, berhubungan dengan semakin meluasnya penggunaan vaksin hepatitis B. Pada 2015, cakupan global dosis pertama segera setelah kelahiran bayi untuk vaksin hepatitis B adalah 84% dan dosis ketiga baru mencapai 39%. Wilayah Amerika dan Wilayah Pasifik Barat adalah wilayah yang memiliki cakupan vaksinasi paling luas.

.

Imunisasi hepatitis B telah terbukti mampu mengurangi infeksi pada kurang dari 1% anak di Wilayah Pasifik Barat. Kini saatnya kita bertindak untuk menumpas penularan infeksi hepatitis B dari ibu-ke-anak dengan intervensi tambahan, yaitu peningkatan cakupan imunisasi hepatitis B dosis ketiga global dan penggunaan obat tenofovir atau entecavir oral, dengan target akan tercapai pada tahun 2030.

Apakah kita sudah terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 13 Maret 2019

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?