Categories
Istanbul

RESISTENSI ANTIBIOTIK GLOBAL

Hasil gambar untuk infeksi bakteri

fx. wikan indrarto*)

Pada Senin, 29 Januari 2018, di Bangkok Thailand diluncurkan data surveilans global pertama mengenai resistensi antibiotik. Ternyata data menunjukkan adanya tingkat resistensi antibiotika yang tinggi, terhadap sejumlah infeksi bakteri serius di negara berpenghasilan tinggi maupun rendah. Apa yang mengkawatirkan?

Hasil gambar untuk infeksi bakteri

Pada bulan Oktober 2015, WHO meluncurkan Global Antimicrobial Surveillance System (GLASS) yang bekerja sama dengan WHO Collaborating Centers dan jaringan surveilans resistensi antimikroba yang telah ada sebelumnya, berdasarkan pengalaman dari program surveilans WHO lainnya. Misalnya, surveilans resistensi TB telah diterapkan di 188 negara selama 24 tahun terakhir. Surveilans resistansi HIV dimulai pada tahun 2005, sehingga lebih dari 50 negara telah melaporkan data resistansi dengan menggunakan metode survei standar.

Tujuan GLASS 2015–2019 adalah membentuk sistem pengawasan resistensi antibiotik nasional dengan standar global terbaik, memperkirakan luas dan beban resistensi global, menganalisis dan melaporkan data global tentang resistensi secara reguler. Selain itu, mendeteksi resistensi antibiotik yang muncul dan penyebaran internasionalnya, menginformasikan pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian yang ditargetkan, dan menilai dampak intervensi tersebut.

Hasil gambar untuk infeksi bakteri

GLASS melaporkan terjadinya resistensi antibiotik secara luas, pada sekitar 500.000 orang yang diduga terinfeksi bakteri di 22 negara. Bakteri resisten yang paling sering dilaporkan adalah Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Staphylococcus aureus, dan Streptococcus pneumoniae, diikuti oleh Salmonella spp. Sistem ini tidak mencakup data tentang resistensi Mycobacterium tuberculosis, yang menyebabkan penyakit tuberkulosis (TB), karena surveilans TB telah diterapkan sejak tahun 1994 dan laporan tahunan mengenai laporan TB Global juga sudah diluncurkan rutin.

Hasil gambar untuk infeksi bakteri

Di antara pasien dengan dugaan infeksi sistemik atau sepsis, proporsi bakteri yang resisten terhadap paling sedikit satu antibiotik yang paling banyak digunakan, berkisar dari nol sampai 82%. Resistensi terhadap penisilin, obat antibiotika yang digunakan selama puluhan tahun di seluruh dunia untuk mengobati pneumonia atau radang paru-paru, berkisar antara nol sampai 51%. Selain itu, bakteri E. coli yang sering terkait dengan infeksi saluran kencing, menunjukkan resistensi terhadap ciprofloxacin, antibiotik yang biasa digunakan untuk mengatasi kondisi ini, mencapai 8% sampai 65%.

Hasil gambar untuk infeksi bakteri

“Laporan tersebut mengkonfirmasikan situasi resistensi antibiotik yang serius di seluruh dunia,” kata Dr. Marc Sprenger, Director of WHO’s Antimicrobial Resistance Secretariat. Beberapa penyakit infeksi paling umum di dunia yang berpotensi paling berbahaya, terbukti telah kebal atau resistan terhadap obat antibiotik. Selain itu, yang paling mengkhawatirkan semuanya, bakteri patogen tidak mengikuti batas negara. Itulah sebabnya WHO mendorong semua negara, untuk menyiapkan sistem surveilans yang baik, untuk mendeteksi resistansi obat nasional, yang datanya dapat disatukan ke sistem global tersebut.

Sampai saat ini terdapat 52 negara, yaitu 25 negara berpenghasilan tinggi, 20 negara berpenghasilan menengah dan 7 negara berpenghasilan rendah, telah terdaftar dalam GLASS. Dari kawasan ASEAN, hanya Thailand dan Filipina yang telah terdaftar. Untuk laporan pertama, 40 negara memberikan informasi tentang sistem surveilans nasional mereka dan 22 negara juga menyediakan data tentang tingkat resistensi antibiotik. Data yang disajikan dalam laporan GLASS pertama ini sangat bervariasi dalam kualitas dan kelengkapannya. Beberapa negara menghadapi tantangan besar dalam membangun sistem pengawasan nasional mereka, termasuk kurangnya personil, dana dan infrastruktur.

Peluncuran GLASS sudah membuat kemajuan di banyak negara. Misalnya, Kenya telah mempercepat pengembangan sistem resistensi antimikroba nasional, Tunisia mulai mengumpulkan data tentang resistensi antimikroba di tingkat nasional, Korea merevisi sistem surveilens nasional agar sesuai dengan metodologi GLASS, juga menyediakan data dengan kualitas dan kelengkapan yang sangat tinggi. Bahkan banyak negara tertinggal, seperti Afghanistan dan Kamboja yang menghadapi tantangan utama terkait struktur sistem layanan kesehatan nasional, justru telah terdaftar dan menggunakan kerangka kerja GLASS. Secara umum, partisipasi negara di dalam GLASS adalah pertanda meningkatnya komitmen politik, untuk mendukung usaha global dalam mengendalikan resistensi antimikroba.

Hasil gambar untuk infeksi bakteri

Setiap negara, pada tahap pengembangan sistem surveilans resistensi antimikroba nasional, dapat bergabung di dalam GLASS. Semua negara didorong untuk menerapkan standar dan indikator surveilans secara bertahap, berdasarkan prioritas nasional dan sumber daya yang ada. GLASS pada akhirnya akan menggabungkan semua informasi dari sistem surveilans lain yang terkait. Semua data yang dihasilkan oleh GLASS, tersedia secara online gratis dan akan diperbarui secara berkala. Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO, telah menggarisbawahi tujuannya untuk membuat resistensi antimikroba sebagai salah satu prioritas utama WHO, dengan menggabungkan para ahli yang menangani masalah ini, di dalam ‘a newly created strategic initiatives cluster’.

Resistensi antibiotika yang tinggi terhadap sejumlah infeksi bakteri serius cukup mengkawatirkan. Namun demikian, sistem surveilans di banyak RS untuk data tingkat resistensi antibiotik belum terbentuk dengan baik, apalagi untuk tingkat nasional di Indonesia. Apakah Anda bersedia membantu?

sekian

Yogyakarta, 1 Februari 2018

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak, Lektor di UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA 081227280161

Categories
Istanbul

KRIPTORKISMUS

PANDUAN PRAKTIK KLINIS

KRIPTORKISMUS

IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA 2017

Penyunting : I Wayan Bikin Suryawan, Niken Prita Yati, dan Jose RL Batubara

Hasil gambar untuk kriptorkismus adalah

Kriptorkismus merupakan kelainan kongenital, yaitu satu atau kedua testis tidak berada pada posisi yang seharusnya di skrotum pada saat lahir, dan tidak dapat dipindahkan secara manual ke posisi yang seharusnya. Pada bayi lelaki baru lahir merupakan salah satu gangguan kelenjar endokrin dan gangguan genital yang sering ditemukan. Pada bayi prematur insiden kriptorkismus ditemukan 30%, insiden ini menurun menjadi 3-5% pada bayi yang lahir cukup bulan, kemudian pada usia 3 bulan insidennya menjadi 1-3%, dan pada usia 1 tahun insiden tinggal 0,8%. Setelah usia 3 bulan insiden kriptorkismus dapat meningkat lagi, karena adanya ascending testis yang jumlahnya hampir seimbang, dengan jumlah kriptorkismus testis kongenital.

 

Hasil gambar untuk kriptorkismus adalah

 

KRITERIA DIAGNOSTIK

  1. Diagnosis kriptorkismus ditegakkan apabila testis tidak ditemukan di dalam kantong skrotum.
  1. Cara pemeriksaan: Tangan pemeriksa dalam kondisi hangat, anak dalam kondisi relaks dan dalam posisi duduk atau tidur terlentang serta tungkai dilipat, kemudian testis diraba mulai dari daerah Spina Iliaca Anterior Superior (SIAS) menyusuri inguinal ke arah kantong skrotum dengan cara milking.
  1. Diagonis berdasarkan letak testis: Kriptorkismus Intraabdominal, Inguinal, dan Preskrotal.
  1. Rujuk ke bagian spesialis bedah yang sesuai apabila kriptorkimus yang terjadi sejak lahir dan testis tidak turun spontan pada usia 6 bulan sesuai usia koreksi kehamilan.
  1. Rujuk ke bagian spesialis bedah yang sesuai, apabila kriptorkimus baru terdiagnosis (di dapat) setelah usia 6 bulan sesuai usia koreksi kehamilan.
  1. Tidak diperlukan pemeriksaan radiologi ultrasonografi (USG) atau pemeriksaan radiologi lainnya.
  1. Kriptorkismus bilateral

– Usia kurang dari 4 bulan : periksa kadar hormon testosterone

– Usia lebih dari 4 bulan : uji hCG untuk memeriksa kadar hormon testosteron.

– Uji hCG: Untuk mengetahui ada tidaknya testis.

  1. Cara: Diberikan 1500 IU hCG IM setiap hari selama 3 hari berturutturut. Kadar testosteron plasma diperiksa sebelum dan 24 jam setelah penyuntikan hCG yang ketiga. Bila didapatkan peningkatan kadar testosteron yang bermakna setelah penyuntikan hCG maka dapat disingkirkan adanya anorkhia.
  1. Konsul kebagian Endokrinologi, apabila kedua testis tidak teraba dengan fenotip lelaki untuk evaluasi kemungkinan disorder of sex development (DSD). Evaluasi kemungkinan disorder of sex development (DSD) jika disertai hipospadia yang berat.
  1. Anak dan remaja laki-laki dengan kedua testis tidak teraba yang tidak disertai hiperplasia adrenal kongenital (HAK), diperiksa kadar Anti Mullerian Hormone (AMH) untuk evaluasi kemungkinan anorkhia (kadar AMH rendah).
  1. Anak dan remaja laki-laki dengan retraktil testis, dimonitor posisi testis untuk kemungkinan sekunder ascending testis.

 

Hasil gambar untuk kriptorkismus adalah

 

TATA LAKSANA

  1. Tidak diperlukan terapi hormonal untuk menurunkan testis.
  1. Jika tidak turun spontan dalam usia 6 bulan (sesuai koreksi umur kehamilan), dilakukan tindakan operasi pada usia < 12 bulan.
  1. Jika baru terdiagnosis kriptorkimus setelah usia 6 bulan harus segera dirujuk ke spesialis bedah.
  1. Pada anak lelaki prepubertal dengan kriptorkismus yang teraba, bagian bedah akan melakukan tindakan skrotal atau inguinal orkhidopeksi (untuk manipulasi dan fiksasi testis pada skrotum).
  1. Pada anak lelaki prepubertal dengan kriptorkismus yang tidak teraba, bagian bedah akan melakukan pemeriksaan dibawah anestesi untuk evaluasi ulang kemungkinan testis yang teraba. Tetapi jika tetap tidak teraba, dilakukan eksplorasi dan bila terindikasi dapat dilakukan orkhidopeksi abdominal.
  1. Saat eksplorasi testis yang tidak teraba, bagian bedah akan mengidentifikasi gambaran pembuluh darah testis untuk menentukan tindakan selanjutnya.
  1. Anak lelaki dengan kontralateral testis normal, bagian bedah akan melakukan orkhiektomi (membuang testis yang tidak turun/undescended testis) jika :

– Pembuluh darah testis serta vas deferens sangat pendek.

– Testis dismorfik atau sangat hipoplatik.

– Usia postpubertal

 

PEMANTAUAN

  1. Pemeriksaan skrotum harus selalu dilakukan pada setiap anak lelaki yang melakukan kontrol kesehatan.
  1. Orang tua anak lelaki dengan riwayat kriptorkismus, perlu diingatkan risiko jangka panjang infertilitas dan risiko kanker dikemudian hari.

 

RINGKASAN  REKOMENDASI

  1. Jika testis tidak turun secara spontan setelah usia 6 bulan, rujuk ke spesialis bedah yang sesuai untuk dilakukan tindakan operasi.
  1. Tidak perlu pemeriksaan radiologi.
  1. Tidak memerlukan terapi hormonal.

sekian dan terimakasih

 

Hasil gambar untuk kriptorkismus adalah

Categories
Istanbul

ADA KUSTA DI ANTARA KITA

 

fx. wikan indrarto*)

Hari Kusta Sedunia (World Leprosy Day) Minggu, 28 Januari 2018 memiliki tema ‘ending transmission among children’. Hal ini penting untuk memastikan pencapaian target global yaitu nol infeksi pada anak, paling lambat pada tahun 2020. Apa yang harus dilakukan?

 

 

Kusta atau lepra adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Kusta tercatat dalam peradaban kuno di Cina, Mesir dan India. Penyebutan kusta secara tertulis pertama dikenal pada 600 SM dan sejak itu penderita kusta sering dikucilkan oleh masyarakat dan keluarga mereka. Bakteri M. leprae sebagai penyebab kusta ditemukan oleh Dr. GA. Hansen pada tahun 1873 dan merupakan bakteri pertama yang dikenali sebagai penyebab penyakit infeksi pada manusia.

 

Dalam sebuah negara atau daerah endemik, seseorang harus dicurigai kusta jika menunjukkan satu dari tanda utama atau kardinal sebagai berikut,

 

  1. Lesi kulit berwarna putih atau leukoderma yang disertai dengan kehilangan sensorik atau anestesi yang pasti, dengan atau tanpa penebalan saraf dan
  2. Pemeriksaan apusan kulit positif bakteri kusta

 

Lesi kulit dapat bersifat tunggal atau ganda, biasanya kurang berpigmen dari kulit normal di sekitarnya, sehingga terlihat lebih putih. Gangguan sensorik atau anestesi adalah gambaran khas kusta, berupa hilangnya sensasi untuk sentuhan ringan. Saraf yang menebal, terutama batang saraf perifer, merupakan gambaran khas kusta yang lain. Penebalan saraf sering disertai dengan tanda hilangnya sensasi di kulit dan kelemahan otot yang diatur oleh saraf yang terkena. Apusan kulit positif berarti ditemukan bakteri berbentuk batang, bernoda merah dapat dilihat pada sediaan yang diambil dari kulit yang terkena, ketika diperiksa di bawah mikroskop dengan pewarnaan yang sesuai.

 

Terobosan terapi pertama terjadi pada tahun 1940-an dengan pengembangan dapson, obat kusta pertama. Namun durasi pengobatan dengan dapson itu bertahun-tahun dan bahkan seumur hidup, sehingga sulit bagi pasien untuk mematuhinya. Pada tahun 1960, bakteri M. leprae mulai menjadi resistensi terhadap dapson, yang dikenal sebagai obat anti-kusta satu-satunya di dunia pada saat itu. Pada awal 1960-an, ditemukan obat kusta lainnya, yaitu rifampisin dan clofazimine. Sejak tahun 1981, WHO merekomendasikan obat kombinasi (MDT) yang terdiri dari 3 obat: dapson, rifampisin dan clofazimine, dan kombinasi obat ini mampu mematikan bakteri patogen dan menyembuhkan pasien.

 

Pada tahun 1991 Majelis Kesehatan Dunia mengeluarkan resolusi untuk menghilangkan kusta pada tahun 2000. Penghapusan atau eliminasi kusta didefinisikan sebagai tingkat prevalensi kurang dari 1 kasus per 10.000 orang penduduk. Target itu dicapai dengan penggunaan MDT, yang mampu mengurangi beban penyakit secara dramatis. Selama 20 tahun terakhir, lebih dari 14 juta penderita kusta telah sembuh, sekitar 4 juta dari mereka sembuh sejak tahun 2000. Tingkat prevalensi penyakit telah turun 90%, dari 21,1 per 10.000 orang menjadi kurang dari 1 per 10.000 orang pada tahun 2000. Kusta telah mampu dieliminasi di 119 dari 122 negara di mana penyakit ini dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat pada tahun 1985.

 

Jumlah penderita kusta yang dilaporkan dari 38 negara sebanyak 176.176 kasus pada akhir tahun 2015 atau 0,18 kasus per 10.000 penduduk, dengan 211.973 kasus baru atau 0,21 kasus per 10.000 penduduk. Indonesia telah mencapai status eliminasi kusta, yaitu prevalensi kusta <1 per 10.000 penduduk (<10 per 100.000 penduduk), pada tahun 2000. Angka prevalensi kusta di Indonesia pada tahun 2016 sebesar 0,71 kasus/10.00 penduduk dan angka penemuan kasus baru sebesar 6,50 kasus per 100.000 penduduk, dengan 84,19% kasus di antaranya merupakan tipe Multi Basiler (MB). Pada tahun 2016 sebanyak 11 provinsi (32,35%) belum eliminasi, yaitu Jawa Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku, Maluku Utara, Papua, serta Papua Barat. Sedangkan 23 provinsi lainnya (67,65%) sudah eliminasi kusta, dengan penambahan terbaru yaitu Aceh dan Kalimantan Utara.

 

Indikator yang digunakan untuk menunjukkan keberhasilan dalam mendeteksi kasus baru kusta salah satunya adalah angka cacat tingkat 2, yaitu kecacatan permanen. Angka cacat tingkat 2 pada tahun 2016 adalah sebesar 5,27 per 1.000.000 penduduk, menurun dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 6,60 per 1.000.000 penduduk. Provinsi dengan angka cacat tingkat 2 tertinggi pada tahun 2016 adalah Maluku Utara (13,49), Sulawesi Selatan (13,25 dan Papua (11,85). Tingginya angka cacat tingkat 2 menunjukkan keterlambatan dalam penemuan kasus di lapangan.

 

Indikator lain yang digunakan pada penyakit kusta yaitu proporsi Kusta Multibasiler (MB) dan proporsi penderita kusta pada anak (0-14 tahun), di antara penderita baru. Provinsi dengan proporsi kusta MB tertinggi pada tahun 2016 yaitu Kalimantan Tengah (100%), Jambi (96,72), Gorontalo (94,35%). Provinsi dengan proporsi kusta pada anak tertinggi yaitu Papua Barat (28,73%), Nusa Tenggara Timur (27,96%), dan Maluku Utara (23,27%).
Laporan global menunjukkan bahwa 206.107 (96%) dari kasus kusta baru terjadi di 14 negara dengan lebih dari 1.000 kasus baru pada tahun 2013. Kantong endemisitas kusta masih tetap tinggi di beberapa negara, yaitu Angola, Bangladesh, Brazil, Republik Rakyat Cina, Republik Demokratik Kongo, Ethiopia, India, Indonesia, Madagaskar, Mozambik, Myanmar, Nepal, Nigeria, Filipina, Sudan Selatan, Sri Lanka, Sudan dan Republik Tanzania.

 

Momentum Hari Kusta Sedunia (World Leprosy Day) Minggu, 28 Januari 2018 mengingatkan kita tentang target nol infeksi pada anak, meskipun ternyata masih ada kusta di antara kita. Sudahkah kita bertindak?

Sekian
Yogyakarta, 30 Januari 2018

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
Istanbul

The Journey Begins

Thanks for joining me!

Good company in a journey makes the way seem shorter. — Izaak Walton

post

Categories
Healthy Life

PIRING SEHAT

fx. wikan indrarto*)

Presiden Joko Widodo bercita-cita besar tentang ketahanan pangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia, terutama dari pemenuhan gizi anak bangsa. Kemudian Menko PMK mencanangkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Sadar Pangan Aman (GERMAS SAPA) di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Kamis, 23 November 2017. Apa yang harus dilakukan?

Hasil gambar untuk isi piring kemenkes

Menurut Profil Kesehatan Indonesia yang terbit Juli 2017, persentase balita gizi buruk sebesar 3,4%, gizi kurang sebesar 14,4% dan gizi lebih sebesar 1,5%. Selain itu, persentase balita sangat pendek sebesar 8,6% dan pendek sebesar 19,0%, dengan target kurang dari 20%. Provinsi dengan persentase balita pendek dan sangat pendek terbesar adalah Sulawesi Barat (39,7%) dan hanya Provinsi Sumatera Selatan dan Bali yang kurang dari 20%. Persentase balita status gizi lebih  tertinggi di DKI Jakarta dengan 4,4%.

Hal itu membuktikan bahwa konsep ‘4 sehat 5 sempurna’ yang menjadi acuan pola makan masyarakat Indonesia, perlu dievaluasi. Pada Forum Pangan Asia Pasifik di Jakarta, Selasa, 31 Oktober 2017, Kementerian Kesehatan mulai memperkenalkan slogan ‘Isi Piringku’. Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes, Anung Sugihantono menjelaskan, konsep ‘4 sehat 5 sempurna’ sudah tidak sesuai dengan perkembangan ilmu gizi saat ini. Selain itu, juga tidak mengatur porsi, sehingga kini Indonesia dihadapkan dengan beban ganda gizi, yaitu masalah obesitas di samping malnutrisi.

Dalam gerakan ‘Isi Piringku’ diterapkan porsi untuk setiap bahan pangan. Makan bukan untuk sekadar menghasilkan kenyang, tetapi perlu memenuhi kebutuhan nutrisi dan menjaga kesehatan tubuh. Piring makan sebaiknya diisi dengan asupan karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral secara seimbang. Hal ini dikarenakan tidak ada satupun jenis makanan, yang mengandung semua jenis zat gizi yang dibutuhkan tubuh.

Dalam satu porsi sajian, sayur dan buah seharusnya memiliki porsi paling banyak, yakni separuh bagian piring. Sementara itu, separuh bagian piring lainnya dapat diisi dengan makanan pokok, yang mengandung karbohidrat, dan lauk yang banyak mengandung protein, dengan porsi protein harus lebih banyak dibanding karbohidrat. Protein sangat penting karena peranannya sebagai sumber energi, zat pembangun tubuh, bahkan berfungsi juga dalam mekanisme pertahanan tubuh.

Hasil gambar untuk obesitas pada anak

Saat ini dibutuhkan perubahan anggapan masyarakat, untuk tidak selalu berpikir daging merah sebagai sumber protein. Indonesia merupakan negara kelautan yang sangat kaya akan aneka ragam jenis ikan. Perairan yang sedemikian luas tentu mengandung kekayaan protein hewani yang tinggi sesuai kebutuhan masyarakat, sehingga ikan layak dijadikan sebagai sumber protein utama bagi keluarga Indonesia.

Secara umum komposisi protein hewani pada ikan, sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan protein hewani lainnya. Namun, ikan lebih menyehatkan karena lemak yang terkandung di dalam ikan bukan merupakan lemak jenuh. Sebagai salah satu sumber protein hewani, ikan mengandung asam lemak tidak jenuh (omega, yodium, selenium, fluorida, zat besi, magnesium, zink, taurin, serta coenzyme Q10). Selain itu, kandungan omega 3 pada ikan jauh lebih tinggi dibanding sumber protein hewani lainnya, seperti daging sapi dan ayam.

Hasil gambar untuk ikan di piring

Dalam setiap sajian, kita juga wajib memperhatikan kandungan gula, garam dan lemak. Batasan konsumsi gula, garam, dan lemak yang disarankan Kementerian Kesehatan per orang per hari adalah: Gula tidak lebih dari 50 gr (4 sendok makan); Garam tidak melebihi 2.000 mg natrium/sodium atau 5 gr (1 sendok teh), dan untuk lemak hanya 67 gr (5 sendok makan minyak). Untuk memudahkan mengingat rumusnya adalah G4-G1-L5-S.

Gula merupakan salah satu sumber energi yang dibutuhkan manusia. Namun, jika berlebihan, gula dapat menyebabkan obesitas dan memicu diabetes tipe 2. Di dalam buah segar sudah terdapat gula alami, sehingga sebenarnya tambahan gula tidak dibutuhkan. Garam dalam jumlah sedikit dibutuhkan untuk mengatur kandungan air dalam tubuh. Jika berlebihan, garam dapat menyebabkan hipertensi hingga stroke. Sedangkan lemak, juga diperlukan dalam tubuh sebagai cadangan energi. Lemak berlebih dapat meningkatkan risiko penyakit jantung hingga kanker. Lemak dapat berbentuk padat dan cair (minyak), sehinnga lemak banyak ditemui pada makanan yang digoreng.

Hasil gambar untuk obesitas pada anak

Pada Hari Kegemukan Sedunia (World Obesity Day) Rabu, 11 Oktober 2017 lalu, jurnal bergengsi ‘The Lancet’ yang terbit di London, memaparkan bahwa jumlah anak gemuk atau mengalami obesitas di seluruh dunia, telah meningkat sepuluh kali lipat dalam empat dekade terakhir. Jika tren saat ini berlanjut, akan lebih banyak anak mengalami obesitas daripada berat badan sedang atau sangat kurus pada tahun 2022. Pencanangan GERMAS SAPA dan ‘Isi Piringku’, adalah upaya kita mencegah obesitas dan mengatasi gizi buruk, juga pada anak di sekitar kita. Apakah kita sudah bijak mengisi piring anak kita?

Sekian

Yogyakarta, 24 Januari 2018

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
Istanbul

UNIVERSAL HEALTH COVERAGE

UNIVERSAL HEALTH COVERAGE

fx. wikan indrarto*)

Hasil gambar untuk uhc

Sebanyak 193 negara anggota PBB menyetujui agenda ambisius dalam ‘the Sustainable Development Goals‘ (SDG) di New York pada 12 Desember 2016. Sesuai konstitusi WHO (1948) yang menyatakan bahwa kesehatan adalah hak asasi manusia, semua negara sepakat akan menciptakan dunia yang lebih aman, lebih adil, dan lebih sehat pada tahun 2030, melalui cakupan kesehatan semesta atau ‘Universal Health Coverage’ (UHC). UHC didasarkan pada prinsip bahwa semua anggota masyarakat harus menerima layanan kesehatan yang berkualitas yang mereka butuhkan, tanpa mengalami kesulitan keuangan. Apa yang dapat kita lakukan?

Hasil gambar untuk uhc

WHO memperkirakan bahwa biaya layanan kesehatan global, telah mendorong 100 juta orang ke dalam kemiskinan setiap tahun. Secara global, 20-40% sumber daya yang dihabiskan untuk sektor kesehatan, ternyata terbuang percuma. Penyebab yang umum adalah inefisiensi, duplikasi layanan, juga penggunaan obat dan teknologi kedokteran yang berlebihan. Ketika orang harus membayar layanan kesehatan dari kantong mereka sendiri, orang miskin sering kali menjadi tidak dapat memperoleh layanan yang mereka butuhkan, dan bahkan orang kayapun mungkin akan kesulitan keuangan, jika terjadi penyakit kronis.

Penyatuan dana (pooling funds) dari sumber pendanaan wajib (seperti iuran asuransi wajib) dapat medistribusi risiko finansial atas beban biaya layanan kesehatan seseorang, ke sesama warga negara. Dengan demikian UHC tentu saja akan dapat mengurangi kemiskinan. Lebih dari 100 negara berpenghasilan rendah dan menengah, yang ditinggali oleh hampir 3/4 populasi dunia, telah mengambil langkah untuk terbentuknya UHC. Brasil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan (BRICS), yang ditinggali oleh hampir setengah populasi dunia, semuanya sudah mengambil langkah menuju UHC.

Hasil gambar untuk uhc

UHC telah dilakukan oleh banyak negara dalam beberapa tahun terakhir, dengan menambah cakupan layanan kesehatan utama dan jaminan pembiayaan untuk warganya. Jepang, Moldova, Peru, Sri Lanka, Thailand dan Turki telah menunjukkan bahwa negara dapat membuat kemajuan UHC secara dramatis, melalui reformasi sistem kesehatan, ekonomi, dan politik. Selain itu, Perancis pada tahun 2008 telah menghemat hampir US$ 2 miliar dengan sistem jaminan kesehatan yang sedapat mungkin menggunakan obat generik.

Dengan cara yang serupa, peningkatan akses anak ke layanan kesehatan dengan obat generik yang terjangkau, diprediksi mampu mencegah atau memperbaiki penyakit, yang menyebabkan lebih dari 8,1 juta kematian anak balita setiap tahun secara global. Thailand telah menerapkan sistem pembayaran satu paket layanan kesehatan dari dana prabayar, yaitu campuran pajak dan kontribusi asuransi. Kyrgyzstan telah menyatukan pendapatan umum dengan pajak penghasilan dan asuransi. Ghana telah mendanai program kesehatan nasional dengan meningkatkan pajak pertambahan nilai sebesar 2,5%. Semua kebijakan politik di berbagai negara tersebut, bertujuan untuk meningkatkan anggaran jaminan kesehatan.

UHC tidak hanya mengatur layanan kesehatan apa yang dijamin, tetapi juga bagaimana layanan tersebut diberikan, dikelola, dan didanai. Perubahan pola pemberian layanan diperlukan, agar menjadi lebih terjangkau, terintegrasi dan terfokus pada kebutuhan masyarakat. Hal ini termasuk mengorientasikan kembali petugas layanan kesehatan, untuk memastikan bahwa layanan tersebut diberikan di tempat yang paling tepat, dengan keseimbangan yang ideal antara rawat jalan dan rawat inap, dan dengan memperkuat koordinasi layanan.

Hasil gambar untuk uhc

Pemantauan kemajuan menuju UHC harus fokus pada 2 hal. Keduanya meliputi proporsi populasi yang dapat mengakses layanan kesehatan berkualitas, dan persentase warga yang membelanjakan sejumlah besar pendapatan rumah tangga, untuk biaya layanan kesehatan. Bersama dengan Bank Dunia, WHO telah mengembangkan kerangka kerja untuk memantau kemajuan UHC dengan kedua kategori tersebut. Terdapat 16 jenis layanan kesehatan penting dalam 4 kategori, sebagai indikator tingkat dan pemerataan cakupan di berbagai negara.

Pertama adalah kesehatan reproduksi, ibu, bayi dan anak. Hal ini meliputi layanan Keluarga Bencana, perawatan antenatal dan persalinan, imunisasi dasar lengkap, dan layanan pneumonia untuk balita.

Kedua adalah penyakit menular. Hal ini meliputi penggunaan obat anti tuberkulosis, obat antiretroviral untuk HIV, kelambu berinsektisida untuk pencegahan malaria, dan sanitasi yang memadai.

Ketiga adalah penyakit tidak menular. Hal ini meliputi pencegahan dan pengobatan tekanan darah tinggi, diabetes mellitus, skrining kanker serviks dan pembatasan penggunaan tembakau.

Keempat adalah kapasitas dan akses layanan. Hal ini meliputi akses dasar ke rumah sakit, distribusi penempatan tenaga kesehatan, dan akses terhadap obat esensial.

Hasil gambar untuk uhc

Pada ‘World Health Report’ 2010, jelas tercantum bahwa reformasi pembiayaan kesehatan sangat penting untuk terciptanya UHC. Langkah pertama adalah meningkatkan layanan kesehatan primer, fokus pada orang miskin, perempuan, anak dan remaja, serta populasi disabilitas dan lansia. Layanan kesehatan primer yang kuat adalah nyawa dari setiap sistem kesehatan, dan tidak ada satupun negara yang dapat mencapai UHC, tanpa penguatan hal itu. Layanan kesehatan primer adalah lini pertama untuk melawan penyakit menular, mampu memperlambat perjalanan alamiah penyakit tidak menular, dan sangat penting bagi peningkatan derajad kesehatan ibu dan anak, yang merupakan kelompok pengguna utama layanan kesehatan.

Setiap negara itu unik, dan setiap negara dapat berfokus pada area yang berbeda, atau mengembangkan cara mereka sendiri dalam mengukur pencapaian UHC. Di Indonesia UHC diwujudkan melalui program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional). Apakah kita telah ikut mewujudkan?

Sekian

fx. wikan indrarto . Dokter spesialis anak di RS Bethesda Yogyakarta

Yogyakarta, 19 Januari 2018

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

 

Categories
Istanbul

KLAIM TUNDA JKN

fx. wikan Indrarto*)

 

Terjadinya selisih biaya negatif karena tarif INA CBGs pada umumnya lebih rendah dibandingkan tarif riel RS, meskipun RS sudah melakukan berbagai upaya efisiensi, terbukti telah memangkas relatif besar pendapatan finansial RS. Selain itu, masih banyaknya penundaan pencairan klaim oleh BPJS Kesehatan, terutama di RS Swasta, semakin menyulitkan ruang fiskal RS untuk berkembang. ARSSI (Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia) Cabang DIY telah mengumpulkan data dan permasalahan dari 15 RS swasta besar di seluruh DIY. Bagaimana koreksi sebaiknya kita mulai?

 

Hasil gambar untuk bpjs kesehatan

 

Permasalahan yang terjadi di RS swasta dapat dirangkum dalam aspek administratif kebijakan, teknis pendaftaran, layanan pasien, penyusunan, dan pencairan klaim. Kendala klaim dalam aspek kebijakan, perijinan atau regulasi, termasuk ketentuan bahwa kasus yang belum tegak diagnosisnya, diwajibkan untuk dikoding sebagai kasus perbaikan stamina atau KU, kasus shock wajib disertakan data rekam medik, dan ‘dispute’ atau penolakan layanan fisioterapi, adalah ketentuan yang layak diperdebatkan.

 

Kendala dalam aspek perangkat lunak komputer atau soft ware, ternyata juga tidak sedikit. Pada saat proses penginputan klaim obat sering terkendala, karena tidak adanya nama obat dalam program asterix. Juga aturan bahwa SEP yang tertunda lebih dari 3 hari harus dilakukan konfirmasi ulang, justru sering menyebabkan penerbitan proses SEP lebih lebih lama. Perubahan ‘data based’ peserta PBI (Penerima Bantuan Iur) tidak ada pemberitahuan sebelumnya, bahkan  peserta mandiri dengan tunggakan pembayaran saat dirawat inap, juga tidak diberitahu dan harus mengurus pengaktifan kepesertaan ke kantor BPJS terdekat. Juga koneksi jaringan V-claim sering tidak stabil (up and down), fitur V-claim tidak dilengkapi alarm untuk membantu RS mengoreksi data yang sudah di-entri dan akan di-upload. Pada hal, ketidaksesuaian data antara SEP, E-claim dan V-claim akan dijadikan alasan bahwa klaim belum dapat diproses. Selain itu, layanan obat kronis belum lancar karena data yang sudah di-entry, dapat saja tidak muncul di aplikasi verifikator. Juga entry data harus berulang, karena aplikasinya belum dapat sinkron dengan NCC Kemenkes.

 

Hasil gambar untuk klaim bpjs kesehatan

 

Kendala dalam aspek pengajuan klaim, tidak kalah rumit. Misalnya tidak ada konfirmasi ketika berkas klaim akan di-pending, hanya karena perbedaan persepsi antara petugas verifikator dengan coder RS. Proses penyelesaian verifikasi dan pembayaran klaim yang dipecah dengan alasan karena verifikator tidak mampu menyelesaikan semua klaim, sehingga setiap bulan pasti ada klaim yang belum diverifikasi dan semakin lama semakin banyak. Sistem ‘fingerprint’ di unit hemodialisa masih sering error dan adanya permintaan perubahan coding oleh verifikator, terutama untuk tarif INA CBG’s yang lebih tinggi dari tarif RS, seringkali  mempengaruhi kelancaran proses klaim.

 

Selain itu, dalam aspek pengajuan klaim adanya pergantian personil verifikator sering menyebabkan perbedaan proses verifikasi dan petugas verifikator tidak cukup kompeten secara medis, termasuk saat verifikator menggunakan standar DPM lokal, sedangkan RS tidah diberitahu tentang standar tersebut. Misalnya untuk kasus pneumonia dan bronkhitis, kini diwajibkan adanya bukti foto rontgen dada yang tidak spesifik untuk menunjang diagnosis tersebut, pada hal sebelumnya tidak dipermasalahkan. Namun demikian, verifikator tidak bersedia menyampaikan persyaratan tersebut secara tertulis. Kendala klaim karena ketidaksepakatan koding antara RS dengan verifikator ini, dialami oleh 7 dari 15 RS swasta besar di DIY.

Kendala layanan JKN yang lain terjadi pada pasien, misalnya pasien tidak memahami prosedur layanan di RS, tetapi justru pasien merasa dipersulit. Misalnya datang tanpa surat rujukan, tidak tahu kalau kartunya tidak aktif dan pasien yang tidak mau dirujuk balik ke PPK 1. Juga ada pasien yang datang kontrol paska operasi dengan kasus sesuai kompetensi dokter di PPK 2, tetapi apabila kontrol lebih dari 2 kali dianggap klaim tidak layak, karena harus dirujuk balik ke PPK 1.

Kendala pada proses pendaftaran pasien untuk layanan di RS, juga ada. Misalnya ketentuan Vclaim yang berbasis internet atau ‘web based’ menghambat proses pendaftaran, karena vclaim sering ‘error’, ‘down’, dan sering ada ‘update’ otomatis pada jam sibuk. Selain itu, para dokter di klinik masih sering mengalami kesulitan meresepkan obat sesuai e-catalog, termasuk banyak obat kronis yang tidak terdaftar dalam sofware klaim obat kronis. Misalnya amlodipin 5 mg, glibenclamide, miniaspi, mikardis, dan valsartan. Bahkan ketersediaan obat di RS sering kosong.

 

Hasil gambar untuk klaim bpjs kesehatan

 

Pada era v-claim, proses layanan harus entry data 2 kali, yaitu untuk e-claim dan v-claim, sehingga layanan menjadi kurang efisien. Selain itu, ada juga kendala log out v-claim yang sangat cepat, hanya 60 detik, sehingga menghambat saat proses SEP berjalan. Pada era Vedika sebelum ini, berkas klaim susulan dan pending menumpuk tanpa ada informasi kejelasan klaim. Selain itu, untuk pengajuan klaim obat dengan tanda asterix atau paket di luar INA-CBGs, terdapat beberapa kendala misalnya data obat di sistem dapat berubah tanpa pemberitahuan, jika sudah entry data dan kemudian sistem di-update otomatis, maka data harus dihapus dan di-entry ulang, serta beberapa obat kronis tidak ada dalam daftar. Selain itu, regulasi pengklaiman obat khusus seperti obat inhaler tidak sama pada semua RS, pemberian obat lebih dari 30 tablet per bulan tidak dapat di-entry, dan perbedaan regulasi obat kronis dengan regulasi Fornas.

 

Besarnya klaim bulan Oktober sampai Desember 2016 yang tertunda pada 15 RS swasta besar di DIY mencapai lebih dari Rp. 96,521,465,700 (hampir seratus milyar rupiah). Pada hal, pada MoU antara RS dengan BPJS Kesehatan disebutkan adanya denda 1% per bulan, atas keterlambatan pencairan klaim. Namun demikian, pelaksanaan pembayaran denda sangat sulit diekskusi. Meskipun penundaan klaim sudah sering terjadi, tetapi pembayaran denda ini rasanya belum pernah dilaksanakan.

 

Kendala dalam pencairan klaim yang dialami oleh banyak RS swasta besar di DIY menyadarkan kita semua bahwa program JKN perlu dikritisi, termasuk dalam aspek teknis oleh BPJS Kesehatan. RS swasta harus memperjuangkan perbaikan, agar tidak mengalami defisit finansial yang semakin menganga. Apakah kita sudah terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 15 Januari 2018

indonesiana-FX Wikan

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Pengurus ARSSI Cabang DIY, Alumnus S3 UGM, WA 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
Istanbul

SUSU DAN TIFUS

fx. wikan indrarto*)

Industri pembuat susu formula Perancis Lactalis, pada Senin, 11 Desember 2017 telah memerintahkan penarikan kembali produknya secara global atas kekhawatiran kontaminasi bakteri salmonella, penyebab penyakit tyfus. Apa yang perlu dicermatri?

 

Hasil gambar untuk susu

 

Lactalis adalah salah satu produsen susu terbesar di dunia. Juru bicara perusahaan (Michel Nalet) mengatakan kepada AFP bahwa “hampir 7.000 ton” produksi mereka mungkin terkontaminasi, namun perusahaan tersebut saat ini tidak dapat mengatakan berapa banyak yang masih ada di pasaran, telah dikonsumsi bayi, ataupun masih tersedia di jaringan distribusi. Kejadian ini bukan pertama kali industri susu formula bayi menimbulkan dampak buruk dalam bidang kesehatan bayi. Enam bayi meninggal dan sekitar 300.000 lainnya jatuh sakit pada tahun 2008 setelah produsen China menambahkan melamin kimia industri ke produk susu bayi mereka.

 

Hasil gambar untuk susu

 

Otoritas kesehatan di Perancis Senin, 11 December 2017 mengatakan 26 bayi di Perancis telah sakit sejak awal Desember 2017. Penarikan kembali tersebut mempengaruhi produksi dan ekspor ke berbagai negara termasuk Inggris, China, Pakistan, Bangladesh dan Sudan. Sementara belum ada laporan produk tersebut di Indonesia. Penarikan ini mencakup ratusan produk susu bubuk bayi yang dipasarkan secara global di bawah merek Milumel, Picot dan Celi. Lactalis yakin wabah salmonella dapat ditelusuri ke sebuah tempat yang digunakan untuk mengeringkan susu bubuk di pabriknya di kota Craon di barat laut Prancis, menurut AFP.

 

Semua produk yang dibuat di sana sejak pertengahan Februari 2017 telah diobservasi ketat dan perusahaan tersebut mengatakan, bahwa tindakan pencegahan telah dilakukan untuk mendisinfeksi semua mesinnya di pabrik. Penarikan tersebut memperluas ketakutan kesehatan yang dimulai pada awal Desember setelah 20 anak di Perancis berusia di bawah enam tahun jatuh sakit. Pada saat recall terbatas atas produknya dikeluarkan, namun otoritas kesehatan di Perancis menilai bahwa tindakan yang telah dilakukan Lactalis untuk mengelola risiko kontaminasi “tidak cukup memadai”.

Hasil gambar untuk susu

 

Bakteri Salmonella adalah 1 dari 4 penyebab utama penyakit tifus dan diare secara global. Kebanyakan kasus, tifus atau  salmonellosis adalah ringan. Namun demikian, kadang dapat mengancam jiwa dengan tingkat keparahan penyakit tergantung pada faktor individu anak (host factors) dan jenis atau serotipe Salmonella.

 

Penyakit yang ditularkan melalui makanan (foodborne diseases) seperti tifus atau salmonelosis ini setiap tahun menyerang hampir 1 dari 10 orang di dunia dan terdapat 33 juta tahun hidup sehat (healthy life years) menjadi hilang. Penyakit ini dapat menjadi berat, terutama pada anak, yaitu diare dan tyfus yang mengenai 550 juta orang setiap tahun, termasuk 220 juta anak di bawah usia 5 tahun.

 

Gejala klinis salmonellosis adalah demam onset akut, sakit perut, diare, mual dan kadang muntah. Timbulnya gejala penyakit biasanya terjadi 12-36 jam setelah menelan makanan yang tercemar Salmonella, dan penyakit berlangsung 2-7 hari. Meskipun wabah Salmonella besar biasanya menarik perhatian media, 60-80% dari semua kasus salmonellosis tidak dianggap wabah, tetapi hanya sebagai kasus sporadis, atau bahkan tidak didiagnosis sama sekali.

 

Hasil gambar untuk tifus

 

Salmonella adalah bakteri berbentuk batang gram negatif dalam kelompok Enterobacteriaceae. Terdapat 2 spesies, yaitu Salmonella bongori dan Salmonella enterica, dengan lebih dari 2.500 serotipe atau serovar yang berbeda. Salmonella adalah bakteri yang tersebar di mana-mana, dapat bertahan beberapa minggu di lingkungan kering, dan beberapa bulan di dalam air. Serotipe tertentu menyebabkan penyakit pada manusia menyebabkan gastroenteritis, yang sering tidak rumit dan tidak perlu pengobatan, tetapi cukup sering bersifat invasif dan dapat mengancam jiwa, terutama pada anak, lansia, dan pasien dengan kekebalan lemah.

 

Hasil gambar untuk tifus

 

WHO dengan FAO  mengkoordinasikan upaya internasional untuk deteksi dini, respon dan pencegahan terhadap wabah penyakit karena makanan, termasuk tifus, dalam jaringan ‘International Network of Food Safety Authorities’ (INFOSAN). Pencegahan untuk penularan Salmonella yang dilakukan di rumah meliputi kontrol kontak antara anak dan hewan peliharaan yang dapat membawa Salmonella, seperti kucing, anjing, dan kura-kura harus lebih berhati-hati. Untuk para wisatawan, pencegahan meliputi memastikan makanan yang dibeli, dimasak dengan benar dan masih panas ketika disajikan. Hindari susu mentah dan produk yang terbuat dari susu mentah. Minum hanya susu yang telah dipasteurisasi atau direbus. Hindari es batu jika dibuat dari air yang kurang aman.

Ketika keamanan air minum dipertanyakan, merebus atau jika ini tidak mungkin, gunakan disinfeksi (slow-release disinfectant agent) yang biasanya tersedia di apotek. Cuci tangan secara benar dan sering menggunakan sabun, khususnya setelah kontak dengan hewan peliharaan atau hewan ternak, atau setelah berkunjung ke toilet. Cuci buah dan sayuran dengan hati-hati, terutama jika akan dimakan mentah. Jika memungkinkan, sayuran dan buah harus dikupas.

 

Gambar terkait

 

Dengan menghindari makanan dan susu bermerk Milumel, Picot dan Celi produksi Lactalis yang terkontaminasi bakteri salmonela, juga gerakan masyarakat berupa cuci tangan pakai sabun, kita dapat berperan mencegah tifus.  Sudahkah kita berperan?

 

Sekian

Yogyakarta, 15 Januari 2018

Fx. Wikan Indrarto

*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

 

Categories
anak dokter Healthy Life sekolah UHC

STIGMA SOSIAL OBESITAS

fx. wikan indrarto*)

Obesitas telah mencapai proporsi epidemik secara global, bahkan setidaknya 2,8 juta orang meninggal setiap tahun, terkait kelebihan berat badan atau obesitas. Di Eropa diperkirakan 23% wanita dan 20% pria mengalami obesitas. Kegemukan dan obesitas merupakan faktor risiko utama untuk sejumlah penyakit kronis, termasuk diabetes, penyakit kardiovaskular dan kanker. Namun demikian, Hari Obesitas Sedunia (World Obesity Day) 11 Oktober 2016 lalu tidak hanya menyoroti aspek medis, tetapi justru  dampak sosial obesitas. Apa yang harus disadari?

Dampak sosial obesitas dari sebuah negara di Eropa barat menunjukkan bahwa 18,7% orang dengan obesitas mengalami stigma. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), stigma adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. Bagi anakg dengan obesitas berat, persentase stigmanya jauh lebih tinggi, yaitu mencapai 38%. Seorang dengan obesitas mengalami stigma dari guru, pengusaha mainan anak, petugas profesional kesehatan, media bahkan dari teman sekelas dan keluarga.

Hasil gambar untuk obesitas pada anak

Stigma adalah penyebab dasar terjadinya ketidaksetaraan layanan kesehatan, dan stigma obesitas dikaitkan dengan konsekuensi fisiologis dan psikologis yang signifikan, termasuk meningkatnya depresi, kecemasan, dan penurunan harga diri. Stigma ini justru juga dapat menyebabkan pola makan yang lebih teratur, menghindari aktivitas fisik yang dianjurkan, dan menyulitkan mendapatkan layanan medis. Efek dari stigma atas obesitas dapat sangat parah pada anak. Studi menunjukkan bahwa anak usia sekolah dengan obesitas mengalami kemungkinan 63% lebih tinggi untuk diintimidasi atau di-bully. Ketika anak dan remaja diintimidasi atau menjadi korban karena obesitas mereka oleh teman sebaya, keluarga dan teman, hal itu dapat memicu perasaan malu. Selain itu, juga dapat menyebabkan depresi, harga diri rendah, citra tubuh yang buruk, dan bahkan usaha percobaan bunuh diri.

Hasil gambar untuk obesitas pada anak

Tingkat obesitas anak dan remaja meningkat sepuluh kali lipat dalam empat dekade terakhir. Artinya, 124 juta anak laki-laki dan perempuan di seluruh dunia terlalu gemuk. Di Inggris, satu dari setiap 10 anak muda berusia lima sampai 19 tahun, mengalami obesitas. Selama 4 dekade terakhir, di seluruh Indonesia prevalensi kelebihan BB untuk anak laki-laki 33 kali dan untuk anak perempuan 18 kali lipat lebih banyak. Sebelum tahun 2006, anak gemuk didominasi perempuan, tetapi setelah itu kondisinya berbalik. Riset Kesehatan Dasar 2013 mencatat 18,8% anak umur 5-12 tahun mengalami kelebihan BB. Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia 2016, persentase balita gemuk usia 0-59 bulan menurut indeks BB/TB adalah 4,3 %, terbanyak terdapat di DKI Jakarta, yaitu mencapai 8,1 % balita adalah gemuk.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bias adalah menyimpang dari yang sebenarnya (tentang nilai, ukuran). Bias pada anak gemuk (weight bias) oleh guru, yaitu penilaian guru yang tidak tepat, dapat menyebabkan harapan siswa yang lebih rendah, yang dapat terlihat pada rendahnya hasil pendidikan atau nilai ujian sekolah pada anak dan remaja dengan obesitas. Hal ini selanjutnya dapat mempengaruhi kesempatan dan peluang anak untuk melanjutan jenjang sekolah, dan akhirnya menyebabkan ketidakadilan sosial, dan bahkan penurunan derajad kesehatan. Kebijakan diperlukan untuk mencegah terjadinya korban pada anak dengan obesitas di sekolah, agar orang tua dapat mengadvokasi anak mereka. Bersama dengan guru dan kepala sekolah sebaknya dilakukan program pendampingan anak, untuk meningkatkan kewaspadaan akan bias pada anak gemuk di sekolah.

Hasil gambar untuk obesitas pada anak

Terlalu menyederhanakan penyebab obesitas dan anggapan bahwa solusi yang mudah akan memberikan hasil yang cepat dan berkelanjutan, tidaklah bijak. Misalnya solusi anjuran untuk ‘kurangi makan dan lebih aktif bergerak’, telah terbukti berkontribusi menyebabkan bias pada anak gemuk. Solusi tersebut justru dapat menyebabkan harapan yang tidak realistis, bahkan mengaburkan tantangan dalam mengubah perilaku, yang dapat dialami anak dengan obesitas. Selain itu, solusi yang akan dirumuskan sebaiknya tidak hanya dengan lebih sering berfokus pada diskusi seputar perilaku ataupun kegagalan yang dirasakan anak gemuk, tetapi hendaknya juga mempertimbangkan faktor sosial dan lingkungan yang berpengaruh.

Penting sekali untuk memahami penyebab obesitas pada anak secara individual. Bagi pemerintah, pemahaman tersebut diperlukan untuk menyusun program investasi dan pencegahan personal. Selain itu, juga untuk tindakan intervensi dini guna menghentikan kenaikan berat badan yang mengkhawatirkan. Pada saat yang sama, sangat penting untuk menyadari bahwa pemerintah dan masyarakat memiliki kewajiban etis untuk bertindak atas nama anak, dalam mengurangi dampak buruk, tidak hanya dalam aspek kesehatan, tetapi juga konsekuensi sosial dari obesitas. Kegagalan untuk melakukannya akan berdampak pada modal sosial dan kesehatan generasi mendatang, bahkan akan mampu meningkatkan ketidakadilan.

WHO akan bekerja sama dengan berbagai negara, untuk menghasilkan kebijakan nasional yang tidak hanya mampu mencegah terjadinya obesitas, tetapi juga  mengkoreksi bias gemuk dan stigma sosial obesitas pada anak. Kebijakan tersebut harus dituangkan dalam program kegiatan kesehatan masyarakat secara nasional dalam kebijakan publik, terutama terkait pendidikan dan layanan kesehatan. Selain itu, juga program penelitian ilmiah kedokteran dan sosial lebih lanjut, bahkan pertukaran pengetahuan di tingkat lokal, nasional, dan internasional antar negara. Bersediakah kita terlibat?

Sekian

Yogyakarta, 10 Januari 2018

*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak, lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
dokter Healthy Life politik

BIOLOGI POLITIK

BIOLOGI POLITIK

fx. wikan indrarto*)

Tahun 2019 adalah tahun politik, karena akan diselenggarakan Pemilihan Presiden (Pilpres) Republik Indonesia, yang diawali dengan Pilkada serentak 2018. Sebagai warga negara yang baik, para dokter di Indonesia tidak boleh tinggal diam dalam peta perpolitikan daerah ataupun nasional. Bagaimana peran dokter dalam menganalisis sikap politik sesama warga bangsa?

Hasil gambar untuk biologi politik

Semua warga bangsa Indonesia dihadapkan dengan pertaruhan politik besar, bukan hanya sekedar menuju demokrasi paripurna, tetapi hal yang tersulit adalah menjaga agar kebhinekaan Indonesia tetap terjaga dengan baik. Pemilihan umum, baik pilkada maupun pilpres saat ini dihadapkan pada tantangan menguatnya politik sektarian berbasis Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan (SARA). Menguatnya politik sektarian menegaskan bahwa Indonesia sebagai sebuah bangsa, masih menghadapi permasalahan kebhinekaan yang terus mengintai dan mengancam. Ancaman tersebut tidak akan pernah berhenti, sampai kesadaran berbangsa dan bernegara dapat secara efektif termanifestasi dalam benak publik secara keseluruhan.

Hasil gambar untuk radikalisme dan terorisme

Selama ini politik sektarian juga menjadi penghalang bagi integrasi politik dalam bingkai kebhinekaan. Mengapa masyarakat Indonesia bisa terjerat dalam pertarungan politik sektarian? Apa yang terjadi sampai bangsa ini memasuki ruang politik yang sangat gaduh? Keduanya adalah pertanyaan besar yang harus dianalisis dari berbagai sudut pandang. Namun demikian, belum banyak dokter yang menyadari bahwa padangan politik sesunguhnya sesuatu yang eksak, artinya bisa diterjemahkan dari sesuatu yang terukur, misalnya dalam beberapa riset kedokteran membuktikan adanya keterkaitan struktur otak dan gen dengan orientasi politik.

Hasil gambar untuk biologi politik

Jurnal ilmiah ‘Current Biology’ Volume 21, 26 April 2011, memuat tulisan Tom Feilden, Colin Firth dan Geraint Rees dengan judul ‘Political Orientations Are Correlated with Brain Structure in Young Adults’. Jurnal yang Published Online 7 April 2011 belum banyak diminati oleh banyak dokter di Indonesia. Para ilmuan dari London College University tersebut menemukan perbedaan struktural dalam otak manusia di Inggris, berdasarkan pandangan politiknya, yaitu liberal atau konservatif. Pelitian ini menggunakan alat Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk memindai otak responden dan dikorelasikan terhadap orientasi politiknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seorang dengan orientasi politik konservatif dan seorang liberal memiliki struktur otak yang berbeda. Meskipun demikian, sebenarnya struktur otak manusia dapat berubah dari waktu ke waktu berdasarkan pengalaman seseorang, sebuah adaptasi yang dinamakan neuroplastisitas.

Hasil gambar untuk biologi politik

Shaw, Christopher, dan McEachern (2001) mendefinisikan neuroplastisitas sebagai konsep neurosains yang merujuk kepada kemampuan otak dan sistem saraf semua spesies, termasuk manusia, untuk berubah secara struktural dan fungsional, sebagai akibat dari input lingkungan. Gagasan ini pertama kali diusulkan pada tahun 1890 oleh William James, tetapi diabaikan selama lima puluh tahun. Orang pertama yang menggunakan istilah ‘plastisitas neuronadalah ilmuwan neurosains Polandia, yaitu Jerzy Konorski, sebelum disempurnakan oleh Shaw pada tahun 2001. Meskipun demikian, belum jelas benar apakah perubahan dalam sikap politik seseorang dapat mempengaharuhi perubahan struktur otak. Riset kedokteran seperti ini terus berkembang dan dapat digunakan dalam pemetaan pemilih atau ‘voters’ dalam persiapan pilkada atau pilpres di manapun.

Hasil gambar untuk biologi politik

Evan Charney dan William English pada ‘The American Political Science Review’, Volume 107, Edisi 2 Mei 2013, menuliskan ‘Genopolitics and the Science of Genetics’. Pada tulisan tersebut, dua gen manusia yang dapat memprediksi suara pemilih atau genopolitik, tidak terbukti memiliki hubungan langsung dengan hasil pemungutan suara dalam pemilihan umum. Hasil ini karena dipengaruhi oleh stratifikasi populasi dan variabel bias yang diabaikan. Dengan demikian dari sudut pandang genetika, neuroscience, dan biologi evolusioner, genopolitik masih perlu dikaji lebih lanjut, terkait beberapa prinsip dasar dalam genetika molekuler selama 50 tahun terakhir.

Namun demikian, pada jurnal ‘Current Biology’ edisi 17 Nov 2014, Woo-Young Ahn dan rekan menulis laporan lain dengan judul ‘Nonpolitical Images Evoke Neural Predictors of Political Ideology.’ Ternyata ciri dasar ideologi politik seseorang telah ditemukan terkait secara mendalam dengan mekanisme biologi dasar, yang dapat berfungsi untuk mempertahankan diri terhadap tantangan lingkungan, seperti kontaminasi dan ancaman fisik. Hasil ini mempertanyakan klaim provokatif sebelumnya, bahwa respons saraf terhadap rangsangan nonpolitik (nonpolitical stimuli), seperti makanan haram atau ancaman fisik dapat digunakan untuk memprediksi opini politik (political opinions), seperti sikap terhadap pasangan calon atau partai pengusung dalam pilkada dan pilpres.

Radikalisme dari sisi kedokteran jiwa atau psikiatri, penting dibahas untuk penatalaksanaan paripurna, meskipun sampai sekarang masih diteliti apakah terjadi hanya pada orang dengan gangguan kejiwaan atau hasil proses cuci otak. Scott Antran seorang Antropolog Kognitif dari ‘French National Center for Scientific Research’, mengungkapkan bahwa orang muda memerlukan nilai dan impian. Kesimpulan bahwa ‘the youth need values and dreams’ dimuat dalam The Guardian, koran di Inggris yang terbit Minggu, 15 November 2015. Oleh sebab itu, para pihak yang dapat menawarkan nilai dan impian kepada para pemilih pemula, tentu akan dapat mendulang suara, bukan hanya karena pemilih mengalami gangguan kejiwaan semata, tetapi juga dipengaruhi oleh proses indoktrinasi bertubi.

Hasil gambar untuk biologi politik

Tentu saja para dokter Indonesia harus ikut terpanggil untuk melakukan pendekatan medis dalam perpolitikan nasional. Paling tidak, para dokter seharusnya mengedukasi warga bangsa, agar dapat menangkal pola pikir radikalisasi. Selain itu, juga dengan mengajarkan nilai-nilai rasional seperti agar tetap merasa nyaman dengan ketidaksempurnaan, menoleransi perbedaan, dan tidak mengidealkan sebuah utopia, singkat kata cara ini dinamakan moderasi. Oleh sebab itu, segenap warga bangsa NKRI seharusnya memecahkan masalah dengan instrumen berfikir dan asuhan medis paripurna, yaitu sesuai dengan ideologi dan karakteristik bangsa, berdasarkan Pancasila. Sudahkah para dokter terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 9 Januari 2018

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis, lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com.

Hasil gambar untuk dr wikan indrarto

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?