Categories
Istanbul

ATURAN TEMBAKAU

Hasil gambar untuk tembakau

ATURAN TEMBAKAU

fx. wikan indrarto*)

Pada hari Jumat, 9 Maret 2018, WHO melakukan peluncuran panduan baru mengenai regulasi tembakau, untuk mengurangi permintaan tembakau, dalam konteks pengendalian tembakau secara menyeluruh (comprehensive tobacco control). Apa yang baru?

Panduan baru tersebut mencakup pemeriksaan laboratorium, yaitu “Tobacco product regulation: Building laboratory testing capacity.” Selain itu, juga himbauan untuk semua negara membentuk peraturan tentang mentol, yang dilakukan pada Konferensi Dunia ‘The 17th World Conference On Tobacco Or Health : ‘Uniting the World for a Tobacco Free Generation’ di Cape Town, South Africa.

Hasil gambar untuk rokok tembakau

Banyak negara mampu menerbitkan kebijakan lanjutan untuk mengurangi permintaan tembakau. Penggunaan tembakau adalah penyebab kematian tunggal yang dapat dicegah di seluruh dunia, dan telah menyebabkan kematian lebih dari 7 juta orang setiap tahunnya. Biaya ekonominya juga sangat besar, dengan biaya perawatan kesehatan lebih dari US $ 1,4 triliun dan disertai dengan kehilangan produktivitas. Namun demikian, sebenarnya pemerintah dapat melakukan lebih banyak lagi untuk menerapkan peraturan pengendalian penggunaan tembakau. Data di Indonesia menurut Susenas Maret 2016, persentase rata-rata pengeluaran per kapita sebulan 6,72% digunakan untuk membeli rokok. Survei Indikator Kesehatan Nasional (SIRKESNAS) tahun 2016, prevalensi perokok secara nasional adalah 28,5%.

Hasil gambar untuk rokok tembakau

Dr. Douglas Bettcher, Direktur WHO untuk Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, menegaskan bahwa Konvensi Pengawasan Tembakau atau ‘Framework Convention on Tobacco Control’ (FCTC) yang disepakati untuk memerangi epidemi tembakau, telah memainkan peran penting dalam pengendalian tembakau. Peluncuran publikasi baru ini akan membantu pelaksanaan Pasal 9 dan 10 FCTC, yang berkontribusi untuk terbitnya peraturan terkait produk tembakau di semua negara anggota WHO.

Hasil gambar untuk pabrik rokok

Industri tembakau telah bertahun-tahun bebas atau hanya mengalami sedikit bahkan di beberapa negara tidak ada peraturan yang diterapkan. Hal ini disebabkan terutama karena rumitnya penerbitan peraturan terkait tembakau dan kurangnya panduan yang tepat di bidang ini. Panduan yang baru ini berguna bagi banyak negara, untuk memperkenalkan atau memperbaiki peraturan terkait tembakau yang sudah ada. Dengan demikian, akan juga mampu mengakhiri masa kekuasaan industri tembakau (end the tobacco industry ‘reign’).

Hasil gambar untuk pabrik rokok

Hanya beberapa negara yang saat ini memiliki aturan tentang tembakau. Hal ini berarti bahwa produk tembakau adalah satu dari sedikit produk konsumen yang tersedia secara terbuka, yang hampir tidak diatur dalam hal isi, desain dan pembuangannya. Sebagian besar negara ragu karena sifatnya yang sangat teknis dan dilematis, untuk sebuah intervensi tentang kebijakan tersebut. Selain itu, terdapat kesulitan dalam menerjemahkan aspek iptek ke dalam peraturan (translating science into regulation). Kegagalan negara untuk hadir mengatur, sebenarnya merupakan kesempatan yang terlewatkan, karena peraturan terkait tembakau, berperan penting dalam pengendalian tembakau secara menyeluruh. Pada hal, pengaturan itu adalah alat berharga yang melengkapi intervensi pengawasan tembakau lainnya, misalnya menaikkan pajak dan membentuk lingkungan bebas asap rokok.

Pedoman tersebut relevan untuk berbagai negara, juga di berbagai tempat, termasuk wilayah yang memiliki sumber daya yang tidak memadai, untuk membangun fasilitas pengujian laboratorium. Panduan laboratorium ini adalah sumber yang berguna untuk pembuat kebijakan, dengan informasi yang dapat dipahami tentang bagaimana cara menguji produk tembakau. Selain itu, juga produk apa yang harus diuji, dan bagaimana menggunakan data pengujian dengan benar. Bahkan pedoman ini menyediakan panduan langkah demi langkah untuk mengembangkan laboratorium uji yang baru, menggunakan laboratorium klinik yang sudah ada, mengontrak laboratorium eksternal, dan memanfaatkan mekanisme pendukung yang ada baik. Namun demikian, kebijakan ini memerlukan prioritas dan komitmen negara terhadap peraturan produk tembakau.

Case studies for regulatory approaches to tobacco products – Menthol in tobacco products, yaitu sebuah publikasi tahun 2016 tentang mentol yang diterbitkan oleh sebuah Kelompok Studi, yaitu ‘Study Group on Tobacco Product’. Di dalamnya terdapat bukti yang ada mengenai prevalensi dan efek buruk pada kesehatan dari mentol dalam tembakau. Selain itu, juga ada sebuah kesimpulan berbasis bukti dan rekomendasi untuk pembuat kebijakan di suatu negara, mengenai mentol. Di dalamnya juga ada panduan praktis dan pilihan kebijakan untuk setiap negara, tentang strategi penyusunan peraturan yang efektif untuk produk tembakau dan mentol.

Hasil gambar untuk mentol

Mentol termasuk dalam golongan turunan monoterpena siklik. Mentol terdapat dalam minyak papermin yang akan mencair pada suhu 45°C. Mentol memiliki sifat sebagai antiseptik yang dapat menghambat berkembangnya kuman dan analgesik, sehingga mentol dapat menimbulkan sensasi rasa dingin atau terbakar yang sejuk. Senyawa mentol dapat menimbulkan iritasi dengan sensasi rasa dingin pada konsentrasi 1,25 hingga 16%.

Kita semua diingatkan untuk ambil bagian dalam pengendalian tembakau. Sudahkah kita terlibat?

 Komdik RSPR 1

Sekian

Yogyakarta, 15 Maret 2018

*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak, Lektor di FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

 

Categories
anak Healthy Life Jalan-jalan Malaria sekolah

2010 NOSTALGIA DI FLORES

NOSTALGIA  DI  FLORES

fx. wikan indrarto*)

Untuk merayakan rahmat Tuhan bagi keberhasilan sekolah anak-anak, kami merencanakan jalan-jalan (pesiar) untuk bernostalgia ke Pulau Flores. Di sanalah kami pernah bertugas dan mas Yudhi, anak kami yang sulung, dilahirkan. Kami berangkat dari Yogyakarta hari Rabu, 23 Juni 2010 pk. 16.05 wib dengan KA Ekskutif Sancaka dari Stasiun Tugu, Yogyakarta ke Surabaya. Sekitar pk. 21.15 wib di Stasiun Gubeng dekat Kali Mas di pusat kota Surabaya kami dijemput Dr. Daniel Ponco, SpB, dokter bedah di RS RKZ St. Vincent A. Paulo dan teman lama semasa SMA, lalu menginap di rumahnya. Rumah artistik 2 lantai di Palm Spring Regency C/99 Jambangan, Surabaya selatan, merupakan persinggahan pertama kami.

Saat kami tiba di Bandara Wai Oti Maumere

Dijamu makan siang di Maumere oleh Dr. Kristin

Kamis, 24 Juni 2010 pk. 09.15 kami melanjutkan perjalanan dengan pesawat Boeing 737 versi 200 Batavia Air ke Maumere, melalui Bandara Internasional Juanda yang baru dan megah. Setelah lelah dalam antrian panjang karena petugas ‘check in’ hanya seorang, kami harus singgah sebentar (transit) di Bandara Internasional Ngurah Rai di Denpasar dan Bandara El Tari di Kupang. Pada pk. 13.15 WITA kami mendarat dalam hawa panas musim kemarau di Bandara Wai Oti, sekitar 5 km sebelah timur pusat kota Maumare, di Flores bagian tengah agak ke timur. Kami dijemput Dr. Kristin, teman lama semasa kami tugas di Flores, dengan mobil Panther Touring hitam EB 1792 DA, diajak keliling kota. Kami mengingat-ingat kembali tempat yang dulu kami akrabi dan makan ikan bakar di RM Jakarta di dalam kompleks pelabuhan Maumere, yang meski padat oleh kapal, namun airnya jernih dengan banyak ikan dan kepiting di kaki dermaga. Saat lama menunggu masakan matang, kami jalan-jalan sepanjang dermaga, melihat banyak kapal berbagai ukuran yang ditambatkan, kesibukan bongkar muat peti kemas dan anak-anak yang terjun berenang ke air laut yang hampir tidak berombak sama sekali. Akhirnya kami mampir sebentar ke bekas RSU Dr. TC Hillers yang telah dialih fungsikan menjadi Puskesmas Berru dan Unipa (Universitas Nusa Nipa), rumah Bapak Sabinus Nabu dan isterinya, Bu Linda. Bapak Sabinus dahulu adalah Camat Lela dan ibu Linda dahulu adalah bidan Puskesmas Nanga. Dengan diantar Nong, sopir Puskesmas Beru, kami mampir ke rumah pasangan Lado dan Lies di Nita, dimana keduanya dahulu adalah karyawan Puskesmas Nanga. Setelah itu, kami numpang lewat melihat Puskesmas Nita, yang sekarang terdiri dari 2 kompleks terpisah, yaitu rawat jalan di tempat yang lama dan rawat inap yang merupakan gedung baru. Kami lanjut ke Lela, menyusuri jalan-jalan berliku yang tidak sulit untuk membangkitkan kenangan kami akan rute berliku itu, yang dahulu sering kami susuri.

Mama Sari mengenangnya karena dahulu merangkap tugas sebagai dokter gigi di Puskesmas Nanga dan Nita, di 2 kecamatan yang berbeda dan berjarak hampir 15 km. Kami semua membayangkan dengan haru, mama Sari yang duduk di bawah pohon beringin dekat pertigaan Nita, untuk menunggu angkutan umum dari Maumere. Hal itu dilakukannya 3 kali seminggu, sepulang kerja dari Puskesmas Nita, bahkan sampai saat hamil Yudhi sekalipun. Cukup sering angkutan yang lewat sudah penuh sesak dengan penumpang, bahkan bergelantungan di pintu, tangga dan atap, sehingga mama Sari kadang terpaksa menunggu lewatnya angkutan yang berikut. Hari menjelang gelap saat kami memasuki pelataran Puskesmas Nanga, berfoto dan bertemu dengan mama Burga dan mama Donce. Mama Burga adalah kader kesehatan, yang bahkan tetap ingat nama-nama kami. Kami dipeluknya satu persatu, bahkan Yudhi yang sudah jauh lebih tinggi dari badannya yang makin renta, dipandanginya tanpa berkedip dan berkomentar, ‘Yudhi su besar!’ Komentar seperti itu selalu diucapkan banyak orang yang dahulu mengenal Yudhi saat bayi, diucapkan dengan logat Maumere yang khas, sedikit keras dan meninggi pada akhir kalimat. ‘Sudah’ hanya diucapkan ‘su’, sehingga terasa aneh dan membuat dik Bimo dan dik Laras mengulanginya tanpa henti, bahkan dengan maksud menjahili, menggoda dan mengolok kakaknya. Malam itu kami menginap di Ruang Theresia Kamar 1, kamar pasien yang setelah gempa bumi hebat Desember 1992, kami tempati. Di seberang kamar tersebut, yaitu Ruang Theresia Kamar 2 di RS St. Elisabeth Lela adalah kamar pasien yang dahulu digunakan sebagai ruang bersalin darurat pasca gempa bumi dan di kamar itu pulalah Yudhi dilahirkan, pada hari Sabtu, 22 Januari 1993. Kami semua larut dalam kegembiraan tanpa kata, keharuan tanpa terucap dan kebahagiaan tanpa henti. Setelah beristirahat sejenak, kami lanjutkan makan malam bersama para suster di biara RS dan bertemu juga dengan Dr. J. Aliandoe, SpB dan ibu. Dokter spesialis bedah asli Flores, yang setelah pensiun dari RS Atma Jaya Jakarta itu, mengabdikan diri sepenuhnya untuk karya sosial di RS St. Elisabeth Lela, sebuah teladan hidup sejati. Kami juga mengunjungi kakak Yanti, pengasuh Yudhi saat bayi dulu, yang tinggal di dekat kompleks RS dan masih menyimpan foto-foto Yudhi.

Papan Puskesmas Nanga di Lela pada senja hari

Mampir di rumah kakak Yanti, pengasuh bayi Yudhi, yang tinggal di dekat RS Lela

Pagi harinya, Jum’at 26 Juni 2010, dengan mobil sewaan Avanza silver L 1511 PG yang dikemudikan Yulius Lado, dahulu sopir Puskesmas Nanga, kami meninggalkan RS Lela ke arah barat untuk menuju Danau Kelimutu, yaitu danau 3 warna yang terletak di pusat kawasan Kelimutu National Park. Danau pertama dinamakan Tiwu Ata Polo, seluas 4 ha, berkedalaman air sampai 64 m, diklasifikasikan sebagai kawah aktif, dan airnya berwarna hijau. Danau kedua dinamakan Tiwu Nuamuri Koofai, seluas 5,5 ha, berkedalaman air 127 m, klasifikasi sangat aktif, dan airnya berwarna hijau muda kekuningan. Danau ketiga dinamakan Tiwu Ata mbupu, atau oma (yang berarti nenek), seluas 4,5 ha, berkedalaman air 67 m, diklasifikasikan kurang aktif dan berwarna hitam. Ketiga danau tersebut terletak di puncak Gunung Kelimutu dengan ketinggian 1640 m di atas permukaan laut, yang harus kami tempuh dalam waktu 3,5 jam dengan diselingi sarapan di RM Bethania, milik suster FMM di Wolowaru.

Armada Toyota Avanza siap untuk menjelajah daratan Flores

Rumah adat Lio di dekat Kelimutu

Masyarakat setempat percaya bahwa arwah warga yang telah meninggal akan datang ke Gunung Kelimutu, jiwa atau maE meninggalkan telah kampung halamannya dan menetap di kawah Kelimutu untuk selamanya. Sebelum masuk ke dalam salah satu danau atau kawah, para arwah tersebut terlebih dahulu menghadap Konde Ratu selaku penjaga pintu masuk di Perekonde. Arwah tersebut masuk ke salah satu danau yang ada tergantung dari usia saat meninggal dan perbuatannya. Ke tiga danau terlihat seolah-olah bagaikan dicat berwarna dan warna airnya berubah-ubah tanpa ada tanda alami sebelumnya. Mineral yang terlarut di dalam air danau menyebabkan warna air akan berubah-ubah yang tidak dapat diduga sebelumnya. Susana danau Kelimutu bervariasi, tidak hanya terjadi perbedaan dan perubahan warna setiap danau, akan tetapi juga perubahan cuaca yang tidak terduga. Tidaklah aneh jika tempat yg keramat itu menjadi legenda yang sejak lama berlangsung turun-temurun. Masyarakat setempat percaya bahwa tempat tersebut adalah sakral.

Danau 1 dan 2 dengan beda warna di puncak Kelimutu

Danau warna ke 3 di puncak Kelimutu saat mama menerima call dari budhe Tari

Gunung Kelimutu tumbuh di dalam kaldera Sokoria atau Mutubasa bersama dengan Gunung Kelido (1641 m) dan Gunung Kelibara (1630 m), ketiganya membangun kompleks yang berkesinambungan, kecuali Gunung Kelibara yang terpisah oleh lembah dari Kaldera Sokoria. Letak puncak gunung berapi tersebut terjadi karena perpindahan titik erupsi melalui sebuah celah yang menjurus  dari utara ke selatan. Dari ketiga buah gunung tersebut, puncak Gunung Kelimutu merupakan kerucut tertua dan masih memperlihatkan aktivitasnya sampai sekarang, yang merupakan kelanjutan gunung api tua Sokoria. Tubuh puncak Gunung Kelimutu dibangun oleh batuan piroklastika, yang terdiri dari bom, lapili, skoria, pasir, abu, awan panas, lahar serta lelehan lava pijar. Permukaan lerengnya berkembang ke arah timur, tenggara dan barat daya, dengan topografi kasar sampai sedang. Bentuk tersebut dibangun oleh aktivitas Gunung Kelimutu muda, tetapi terhalang oleh Gunung Kelibara, sedangkan lereng barat dan utara memperlihatkan morfologi berelief kasar. Pada puncak Gunung Kelimutu terdapat 3 sisa kawah yang mencerminkan perpindahan puncak erupsi. Ketiga sisa kawah tersebut kini berupa danau dengan warna air berlainan dan mempunyai ukuran diameter yang bervariasi. Warna air danau biasanya khas, sehingga diberi nama sesuai dengan warnanya, yaitu polo (merah), fai (hijau) dan mbupu (biru). Pada saat kami datang, warna yang terlihat adalah hijau, hijau kekuningan dan hitam. Gunung Kelimutu yang kami kunjungi itu, pernah meletus dasyat pada tahun 1830 dengan mengeluarkan lava hitam (watukali), kemudian meletus kembali sepanjang tahun 1869 sampai tahun 1870. Letusan hebat itu disertai aliran lahar dan semburan debu, sehingga membuat susana gelap gulita di sekitarnya, bahkan hujan abu dan lontaran batu mencapai desa Pemo yang tercatat dalam arsip Direktorat Vulkanologi Dirjen Geologi & Sumberdaya Mineral di Kementrian Energi tahun 1990. Di Kelimutu National Park tersebut, kami sempat menyaksikan 2 dari 13 macam burung dan 4 dari 17 macam tanaman yang tercatat hampir punah, sehingga dilindungi secara ketat.

Dik Bimo berpakaian adat Lio (Moat Kecil)

Di gerbang Kelimutu National Park

Perjalanan kami lanjutkan ke Ende di Flores bagian tengah, melalui jalan berliku khas dataran tinggi di seantero Pulau Flores, yaitu jalan berliku, mendaki dan menurun, dengan tebing curam di satu sisi dan jurang dalam di sisi lainnya. Kami memasuki kota Ende menjelang sore dan langsung melakukan penjelajahan dalam kota. Pertama kami mengunjungi Jl. Perwira untuk melihat Rumah Pembuangan Bung Karno. Di situ kami berteduh di bawah situs pohon sukun, tempat dimana Bung Karno mendapatkan inspirasi lahirnya Pancasila, saat dibuang Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1934 sampai 1938. Pohon sukun tersebut sekarang bercabang 5, yang dianggap melambangkan sila-sila dalam Pancasila. Kami lanjutkan dengan mengunjungi Museum Adat dan Museum Bahari yang keduanya berdampingan dan terletak di Taman Kota Ende. Di Museum Bahari kami melihat simpanan benda-benda laut yang sejak tahun 1982 dikumpulkan sedikit demi sedikit. Museum Bahari ini diresmikan oleh Pater Gabriel Goran, SVD pada tanggal 14 Agustus 1996, berlokasi di Jl. Moh Hatta Ende, saat ini memiliki koleksi 1000 spesies kerang laut, 300 spesies ikan dengan total koleksi sekitar 22.000 jenis biota laut. Kami juga mengunjungi Taman Rendo dan Monumen sebagai bukti sejarah kota Ende yang pernah menjadi ibukota daerah Flores tempoe doeloe. Terakhir kami mengunjungi Pasar Mbongawani yang merupakan pasar rakyat, menjual segala kebutuhan masyarakat, termasuk buah lokal yang terkenal pisang beranga, jeruk, alpokat dan nanas.

Museum Adat yang menyimpan berbagai artefak budaya di Ende

Museum Bahari yang menyimpan peralatan kelauatan di Ende

Malam itu kami menginap di biara suster SSpS di Jl. Masjid no 11. Bertemu Sr. dr. Conchita Cruz, SSpS dan Sr. Ekarista, SSpS yang pernah kami kenal selama di Lela dahulu. Sr. Conchita adalah dokter yang berkarya di RS Lela, telah menjadi ‘ikon’ RS selama bertahun-tahun, guru bagi ketrampilan teknik bedah hampir semua jenis operasi bagi dokter umum, dan nenek suster bagi Yudhi yang saat bayinya dahulu telah digendong, sampai dengan diompoli berkali-kali. Malam itu Yudhi dan Bimo ikut serta para suster di biara melihat Brazil melawan Portugal di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, sementara kami yang lain tertidur lelap.

Sabtu pagi, 26 Juni 2010 kami mengunjungi nDona, kediaman Uskup Agung Ende, Mgr Vincensius Sensi Potokota, Pr. Kami terkagum-kagum dengan keindahan bangunan kediaman uskup dan pemandangan alam yang tampak dari ruang tamu itu. Mgr Sensi sempat bersama kami di Lela sewaktu masih sebagai romo pembimbing frater. Setelah mencium cincin uskup, bercengkerama, didoakan, dan bahkan kemudian diberkati dengan berkat uskup, kami pamit untuk melanjutkan perjalanan ke barat. Dari Ende sampai Nangaroro di perbatasan Kabupaten Nagakeo, kami menyusuri bibir pantai selatan di sisi kiri jalan dan hampir bersentuhan dengan tebing batu yang tajam di sisi kanan jalan. Suara deru ombak yang kadang sangat keras, seringkali mengalahkan suara klakson mobil yang harus dibunyikan menjelang tikungan tajam. Kami mencatat nama-nama Nangaroro dan Nangapanda di pantai selatan, kemudian mulai mendaki bukit menuju ke utara melalui Aegela, Mataloko dan Boawae sebelum kami memasuki Bajawa di puncak dataran tinggi yang sangat dingin, ibukota Kabupaten Ngada. Setelah dik Laras mabuk darat 2 kali dan dik Bimo 1 kali, kami makan siang menjelang sore di rumah makan dekat gereja, Stadion Lebijaga, dan SMAN I Bajawa. Kami sempatkan foto bersama di depan gerbang RSU Bejawa, yang mungkin sekali akan kami kunjungi lagi kelak, dalam sebuah tugas resmi.

Bersama komunitas suster ordo SSpS di Ende

Bersama Mgr. Vincensius Sensi Potokota, Pr uskup Agung Ende yang pernah pada periode yang sama dengan kami bertugas di Lela, Maumere

Kami putuskan untuk segera melanjutkan perjalanan melalui Ai Mere di pantai selatan, kemudian mendaki bukit lagi menuju ke utara melalui Borong, sekitar 157 km dari Ende. Setelah beristirahat sejenak, kami terus ke Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai yang sama dinginnya dengan Bajawa. Kami sudah menempuh jalan amat sangat berliku dan naik turun sejauh 317 km dari pusat kota Ende. Setelah makan malam di RM Padang dekat BRI Cabang Ruteng, kami lanjutkan perjalanan sejauh 72 km lagi, untuk masuk kota Labuanbajo di ujung Flores paling barat, ibukota Kabupaten Manggarai Barat. Kami menginap di Hotel Wisata, Jl. Soekarno no 39, dan masuk hotel sekitar pk. 1 dini hari. Kami langsung terlelap dalam kelelahan hebat, meskipun sebenarnya kami bertemu dengan para staf hotel yang tidak ramah dan kamarnya yang tidak cukup bersih bersih dibanding harganya.

Setelah sarapan menu nasi kuning khas Jawa, kami dipandu menuju dermaga oleh mas Fandi Ilham, SH seorang jaksa muda di Kantor Kejaksaan Negeri Manggarai Barat, dan tetangga kami di Yogya yang agak terlupa, untunglah sempat kami ingat kembali sebelum kami tiba. Setelah foto bersama di gerbang dermaga dan melihat-lihat kesibukan dan pemandangan aktivitas dermaga, kami menuju ke Pulau Rinca, yang berarti buaya, dan merupakan pulau terdekat dari Pulau Flores yang termasuk di dalam kawasan Komodo National Park. Kami menggunakan kapal Bacukiki dan berangkat pk. 08.15. Perjalanan laut memerlukan waktu sekitar 2 jam, dan kami berlabuh di Loh Buaya, sebuah dermaga di sebuah teluk sisi timur Pulau Rinca. Kami langsung disambut pemandangan mengerikan, seekor komodo sedang berjemur di dekat pintu gerbang. Meskipun komodo tersebut hanya berbaring, toh kengerian tetap muncul dan bulu kuduk tetap berdiri. Salah seorang awak kapal mendampingi kami masuk gerbang menuju kantor penjaga yang biasa disebut ‘ranger’, dengan tongkat kayu sepanjang 3 m bercabang 2, dan selalu waspada berjaga-jaga. Tongkat kayu tersebut, dibawa ke manapun seorang ranger berjalan memimpin rombongan tamu, berfungsi untuk menahan leher komodo yang datang mendekat.

Bersama mas Fandi Ilham tetangga kami di Yogyakarta yang bertugas di Kejaksaan Negeri setempat di Gerbang Pelabuhan Labuan Bajo

Disambut komodo tidur seolah batang pohon tergeletak di tanah di Pulau Rinca

Sesampai di kantor penjaga Komodo National Park, kami bertemu dengan banyak turis asing maupun domistik. Harga tiket masuk Rp. 75.000 per orang untuk turis domistik non Flores, Rp. 10.000 untuk turis lokal dan US $15 untuk turis asing. Setelah membayar tiket, kami didampingi ranger, seorang pria paroh baya yang terkesan berani, mulai berjalan menyusuri rute terdekat. Tersedia 3 paket rute jelajah alam, yaitu paket ‘basic’ yang hanya di sekitar kantor, ‘short’ yang perlu waktu sekitar 1 jam, ‘medium’ dan ‘complete’ yang lebih jauh dan lama. Pada rute basic itu saja, kami sempat melihat hampir 10 ekor komodo berbagai ukuran, 3 ekor kera dan 2 ekor kerbau liar yang sewaktu-waktu dapat dimakan komodo. Komodo yang kami lihat sebagian besar hanya berbaring dalam keteduhan bayang-bayang pohon atau rumah panggung para penjaga, terutama dekat dapur yang mengeluarkan bau amis ikan atau daging untuk lauk mereka. Komodo berpenciuman sangat tajam, dapat memakan rusa, kambing atau kerbau dan mampu tidak makan selama 4 bulan berturut-turut setelah kenyang.

Komodo, atau yang selengkapnya disebut biawak komodo (Varanus komodoensis), adalah spesies kadal terbesar di dunia yang hidup di Pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara. Biawak ini oleh penduduk asli pulau Komodo juga disebut dengan nama setempat ora. Di alam bebas, komodo dewasa biasanya memiliki massa sekitar 70 kg, namun komodo yang dipelihara di penangkaran atau kebun binatang sering memiliki bobot tubuh yang lebih besar. Komodo liar terbesar yang pernah ada memiliki panjang 3.13 m dan berat sekitar 166 kg, termasuk berat makanan yang belum dicerna di dalam perutnya. Komodo memiliki ekor yang sama panjang dengan tubuhnya, dan sekitar 60 buah gigi yang bergerigi tajam sepanjang sekitar 2,5 cm, yang kerap diganti. Air liur komodo sering kali bercampur sedikit darah karena giginya hampir seluruhnya dilapisi jaringan gusi dan jaringan ini tercabik selama makan. Kondisi ini menciptakan lingkungan pertumbuhan yang ideal untuk bakteri mematikan yang hidup di mulut mereka. Komodo adalah hewan karnivora dan kanibal. Walaupun mereka kebanyakan makan daging bangkai,  penelitian menunjukkan bahwa mereka juga berburu mangsa hidup dengan cara mengendap-endap diikuti dengan serangan tiba-tiba terhadap korbannya. Ketika mangsa itu tiba di dekat tempat sembunyi komodo, hewan ini segera menyerangnya pada sisi bawah tubuh atau tenggorokan. Komodo dapat menemukan mangsanya dengan menggunakan penciumannya yang tajam, yang dapat menemukan binatang mati atau sekarat pada jarak hingga 9,5 kilometer. Dengan informasi seperti itu yang telah kami ketahui sebelumnya, maka wajar saja kalau bulu kuduk kami berdiri dan ketakutan yang muncul sangat hebat.

Komodo liar berkeliaran bebas di bawah rumah panggung

Di gerbang Komodo National Pak yang ikonik

Setelah puas berfoto bersama komodo tidur dalam lindungan ranger, kami melanjutkan perjalanan sampai ke liang komodo, yang banyak dibuat komodo betina sepanjang bulan Mei sampai Agustus, bertepatan dengan musim kawin. Setelah puas menjelajah pulau dan kekawatiran akan keganasan komodo mereda, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Bidadari, yang terletak di mulut pelabuhan Labuan Bajo. Di pulau itu kami ‘snorkeling’, berenang terapung untuk melihat keindahan taman laut, berjemur dan bermain pasir putih yang lembut, mencari kerang, bahkan melihat bule berjemur. Dik Bimo dan dik Laras sampai mengalami luka robek telapak kaki, sebab sering salah injak batu karang yang indah, tetapi runcing dan tajam. Sore itu kami memaksakan diri langsung pulang ke Maumere, dari Labuan Bajo sekitar pk. 16 dengan suasana hati yang lega dan puas, meski badan sudah kelelahan.

Di atas kapal dari Labuan Bajo ke Pulau Rinca

Medan penjelajahan dengan jalan kaki rute ‘basic’ di Pulau Rinca

Perjalanan darat pulang ke Maumere yang melelahkan, bahkan sudah menimbulkan trauma psikologis bagi anak-anak karena pengalaman buruk mabuk perjalanan, tetap harus kami jalani. Kami harus kembali ke Maumere, sebab tiket pesawat pulang yang kami beli di Yogyakarta, hanya dapat yang berangkat dari Maumere. Tiket pesawat dari Labuan Bajo ke Denpasar yang merupakan penerbangan perintis, sangat sulit diperoleh dengan sistem on line, meskipun tiket on site kadang mudah didapat, tetapi hanya untuk beberapa kursi. Rute pulang yang berliku, mendaki dan menurun, melalui bibir jurang dalam atau pantai, harus kami lahap dalam kelelahan, sehingga kami harus bergantian menjadi sopir. Akhirnya kami harus menyerah dan terdampar di sebuah kamar di Villa Silverin, di Watujaji, 7 km dari Bajawa, Kabupaten Ngada. Kami masuk kamar dengan tarif Rp. 300 rb menjelang pk.1 dini hari, dan langsung tertidur di kamar yang bagus sekali dengan udara sangat dingin.

Di Museum Bung Karno, rumah tinggal saat pembuangan era kolonialisme Belanda di Ende

Patung Kristus Raja tinggi menjulang di Gereja Katolik Katedral Ende

Setelah sarapan nasi goreng dan telor dadar, hari Senin pagi kami melanjutkan kepulangan kami dan berangkat pada pk. 7.15, saat udara luar masih sangat dingin menembus tulang. Kami lalui Mataloko dan Nangaroro, lalu Nangapanda yang sudah masuk wilayah Kabupaten Ende. Mulai dari situ, mas Yudhi bertugas menjadi sopir pengganti, sebab jalan terus ke Ende menyusur bibir pantai selatan, relatif ringan untuk ditaklukkan seorang sopir pemula. Kami masuk kota Ende sesaat sebelum tengah hari, kembali ke biara SSpS di Jl. Masjid untuk pamitan dengan Sr. Dr. Conchita Cruz, SSpS yang sangat kami hormati, juga untuk Yudhi numpang mandi, sebab mandi pagi di Bejawa yang sangat dingin, tidak berani dia lakukan. Kami berlanjut mengunjungi Gereja Katedral Christo Regi Ende. Kami terkagum-kagum atas keindahan arsitektur katedral tua, khusuk berdoa dan memohon ampun karena kami tidak sempat ikut misa hari Minggu. Setelah itu kami berfoto di depan patung ‘Christus Rex Mundi’ atau Kristus Raja Semesta Alam,  yang diresmikan oleh Mgr. Abdon Longinus Da Cunha, Pr pada tanggal 24 November 2002. Setelah diselingi makan siang di RM Kelimutu di Moni, dekat gerbang Kelimutu National Park yang sudah kami kunjungi 4 hari sebelumnya, kami mampu mencapai desa Sikka menjelang senja. Di Sikka kami masih mampu melihat gereja tertua di seluruh daratan Pulau Flores dan rumah adat di bekas istana raja Sikka. Selanjutnya kami mengunjungi Wisung Fatima di Lela, sebuah tempat ibadah di lereng bukit terjal yang sudah dibangun baik, untuk berdoa kepada Bunda Maria, sayang sekali saat itu hari sudah gelap dan listrik padam.

Bis kayu, angkutan darat khas Flores terbuat dari truk bak kayu dengan atap dan potongan kayu untuk duduk penumpang

Gereja Katolik Sikka merupakan gereja yang tertua di Flores

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan menempuh jarak Ende-Maumere 145 km. Perjalanan ini merupakan inti nostalgia kami ke sebuah rumah di dalam kompleks RS St. Elisabeth Lela, sebuah RS yang sudah 80 tahun melayani kesehatan masyarakat sekitar. Rumah yang kami tuju berada di samping kebun sayur, dekat kandang ayam dan di sayap atas kompleks RS itu, merupakan rumah yang kami tinggali selama hampir 3 tahun. Di rumah itulah kami mendapat banyak berkah, sejak kami datang April 1991 sampai saat kami pulang ke Jawa Oktober 1994. Saat kami datang mendekat, hati terkesiap, sanubari terharu dan jantung berdebar, mendapati suasana mistis masa lalu yang seakan datang ulang. Hanya tempat tidur besar tempat kami berbaring dan menidurkan bayi Yudhi yang diganti, perabotan lain masih tetap yang sama, terawat  dan terjaga baik. Luar biasa. Kami kenang ulang berbagai peristiwa yang pernah terjadi di setiap sudut rumah itu, baik yang menyenangkan, maupun yang sangat menyedihkan di halaman depan, tempat Yudhi terjerembab dalam ‘baby walker’ yang digunakannya. Dia lepas dari pengawasan kami yang terlarut dalam makan siang, dan meluncur turun melewati teras rumah, bahkan masuk ke kebun depan rumah, yang membuatnya luka di dahi dengan perdarahan dan memar. Malam itu kami mandi, makan dan tidur di tempat dimana hal yang sama pernah kami lakukan dengan cara serupa, di tempat yang sama dan dalam suasana yang tidak jauh berbeda. Hanya kami berdua yang begitu, sedangkan anak-anak, termasuk Yudhi, sangat mungkin hal tersebut hanya merupakan sebuah program pengisi libur sekolah. Tuhan sendiri yang mengatur ini semua.

Anak2 kami di depan gereja tua di Sikka, tidak jauh dari Lela

Rumah adat bekas istana raja Sikka

Pagi harinya, kami mengikuti Misa Kudus harian di kapel RS. Meski liturginya serupa, tetapi lagunya berbeda. ‘Qui bene cantat, bis orat’ atau ‘dia yang bernyanyi baik, berdoa dua kali’. Misa harian itu berlangsung 2 kali lebih lama dibanding misa serupa yang sudah kami akrabi di Yogya, sebab lagu-lagunya banyak dan lengkap, sesuai dengan teks dalam buku ‘Syukur Kepada Bapa’, cetakan XI, tahun 1981, oleh Penerbit Nusa Indah, percetakan Arnoldus, Ende. Setelah sarapan pagi, kami mengikuti Sr. Sofina, SSpS yang biasa dipanggil Sr. Nenek karena usianya, masuk ke kebun sayur, kandang ayam dan kandang babi. Penelusuran itu juga mengenang saat kami melakukan hal yang serupa 18 tahun sebelumnya, berjumpa dengan beberapa karyawan kebun yang masih saling ingat dengan kami. Setelah itu, kami keliling ke beberapa ruangan di dalam RS, bertemu dengan beberapa pegawai RS yang masih kami ingat dan sekaligus berpamitan, karena kami harus segera pulang. Kami kenang Sr. Helena Maria, SSpS, mama Detti Henriques, mama Ete Mertis, Br. Alex, mama Dete, mama Mia dan Erna Woga. Pegawai RS yang lain adalah generasi baru yang belum sempat kami kenal. Kami beradu kangen dengan mama Beth, wanita tua berpakaian adat Sikka yang tinggal di depan RS, bahkan memberikan salam khusus dengan cara menampar pipi kami keras-keras.

Sekeluarga di teras rumah dinas dokter dengan nostalgia di dalam kompleks RS Lela

Yudhi di kamar mandi kenangan, dahulu saat berdiri hanya setinggi keran air di tembok itu

Perjalanan pulang kami awali dengan mampir ke rumah mama Sedis dan Om Paul, pasangan pensiunan SPK Lela dan Puskesmas Nanga, Kemudian mampir di Puskesmas Nanga yang sedang ramai dikunjungi banyak pasien. Kami puaskan rindu kami bersama mama Gonda petugas gizi, Om Kornelius perawat senior dan kepala puskesmas dengan mama Lince, isterinya yang asisten apoteker, juga Om Kons yang sempat mampir, mama Burga kader posyandu yang aktif, mama Rin Palang Keda perawat pindahan dari SPK Lela, Om Lengo petugas KB, bidan Nona Ana dan Dr. Dwi.

Komunitas suster ordo SSpS di biara RS Lela

Pamitan pulang dengan sebagian pagawai Puskesmas Nanga di Lela

Kami melanjutkan perjalanan ziarah dan wisata rohani, dengan mengunjungi Patung Maria Bunda Segala Bangsa di Nilo, dekat Seminari Tinggi terbesar di dunia, yaitu STFK Ledalero. Patung Bunda Maria yang berwarna putih mengkilap dan terbesar di Indonesia tersebut, diresmikan pada tanggal 31 Mei 2005. Pernah runtuh karena angin puyuh, dibangun dan diresmikan kembali pada tanggal 1 Oktober 2007 oleh Mgr. Vincensius Sensi Potokota, Pr, yang waktu itu sebagai Uskup Agung Ende dan sekaligus administrator apostolik Keuskupan Maumere. Prasasti di pusat Spiritualitas Pasionis dan tempat ziarah Maria Bunda Segala Bangsa di Nilo ditandatangani oleh wakil donatur Ibu Megawati Soekarnoputri dan Vice Provincial CP waktu itu, Pastor Sabinus Lohin, CP. Di bawah patung besar tersebut, terpahat kata-kata bijak ‘Per Mariam Ad Jesum’, yang berarti ‘melalui Maria menuju Yesus’. Juga ‘Ina ata puku nulu’, yang berarti bunda yang tersayang, ‘ama ata gawi wa’a’, yang berarti menuju bapa dengan berjalan duluan di depan, ‘gea dena beta nain’, yang berarti dengan memberi makan anak cucu, dan ‘minu dena heron naran’ yang berarti minum agar tidak haus. Tinggi patung Bunda Maria yang berdiri di atas bola dunia itu 12 m. Patung itu diletakkan di atas rangka beton, sehingga total tinggi patung mencapai 28 m. Patung itu berada di sebuah puncak bukit di Nilo dan menghadap ke utara, seolah memberkati dan melindungi kota Maumere yang terhampar di bawahnya. Setelah berdoa secara khusus, kami lanjutkan foto bersama dalam hembusan semilir angin puncak bukit dan sengat matahari musim panas, bahkan sampai saat kami jalan turun menuju Maumere. Kami sempatkan mampir membeli cinderamata khas Sikka di sebuah kios depan Gelora Samador, menemui Drg. Toni Asaleo, teman lama kami yang sudah alih profesi menjadi pebisnis ritail atau barang eceran segala rupa, di kompleks pertokoan Maumere.

Patung Bunda Maria yang tinggi menjulang, Bunda Segala Bangsa di Nilo dekat Maumere

Awal perjalanan pulang siap terbang dengan Batavia Air dari Maumere

Kepulangan kami diawali dengan menumpang pesawat Batavia Air Y6-758 Boeing 737 seri 300, transit 20 menit di Kupang, dan akhirnya menuju Denpasar dalam waktu 1 jam 20 menit. Kami menginap semalam di rumah adik sepupu, Bulik Aning, Pak Nyoman dan anak-anaknya yang mandiri, mbak Diyah dan mas Toya, di kawasan Jimbaran, sehingga sempat jalan-jalan ke pantai Jimbaran, GWK (Garuda Wisnu Kencana) Park, Nusa Dua, Kuta dan mengunjungi rumah Bulik Sudilah, saudara sepupu Eyang Kakung Salaman dan terakhir bergaya di depan Patung Satria Gatotkaca, yang diresmikan pada tanggal 30 Oktober 1993 oleh Prof. IB Oka, Gubernur Bali saat itu. Patung putih Gatotkaca yang terbang sambil menghancurkan kereta perang musuh, meski dalam bidikan panah amat sakit Nanggala oleh Adipati Karna, gagah berdiri di gerbang Bandara Internasional Ngurah Rai, Denpasar. Kami sampai dengan selamat di Yogyakarta pada hari Kamis, 30 Juni 2010 pk. 19.25.

Sebelum kembali ke Yogyakarta kami mampir di gerbang Pecatu Jimbaran, Bali

Patung Kereta Perang Adipati Karno melawan Gatotkaca di gerbang Bandara Ngurah Rai, Bali

Perjalanan darat yang kami tempuh adalah hampir 2/3 bagian Pulau Flores, sejauh 925 km dalam medan jalan yang amat sangat berliku dan merupakan ciri khas medan daratan Pulau Flores, menghabiskan bensin 5 kali isi penuh tangki mobil (full tank), dan 4 hari cuti tahunan. Perjalanan itu ditambah 5 jam di atas kereta api, 5 jam 20 menit di atas pesawat dan 4 jam 20 menit di atas kapal. Kami telah menginjak tanah di 3 propinsi dalam 5 pulau, dan menyusuri 5 kabupaten di daratan Pulau Flores. Terima kasih kami sampaikan kepada siapapun yang telah membantu, mendoakan dan mengiringi perjalanan kami sekeluarga.

sekian

Yogyakarta, 1 Juli 2010

*) pelancong rutin setiap tahun

Posisi Komodo National Park di timur Pulau Jawa

Peta Pulau Rinca di sebalah barat Pulau Flores

Categories
dokter Healthy Life Jalan-jalan

2009 JELAJAH SHANGHAI dan BEIJING

JELAJAH SHANGHAI dan BEIJING

fx. wikan indrarto*)

Arti kata ‘shang’ adalah atas dan ‘hai’ adalah laut, jadi Shanghai adalah kota di daratan China yang tampak tergeletak di atas permukaan laut. Kota di tepi delta Changjiang ini, sebenarnya bukan terletak di tepi Laut Cina Selatan yang luas. Shanghai dibelah oleh sungai Huangpu, yang tidak sekedar memikat karena atraktif dengan sejarahnya yang panjang, tetapi juga karena peran dominan di bidang ekonomi dan sosial bagi bangsanya. Shanghai tetap berada di bawah administrasi pemerintah pusat, menjadi pusat perdagangan dan ekonomi terbesar yang menyatu dengan industri dan menjadi pelabuhan terbesar di seluruh China. Selain sebagai kota bersejarah dengan budaya yang berusia ribuan tahun, saat ini juga menjadi kota metropolitan di pantai timur daratan China yang terbuka bagi siapapun di seluruh dunia. Pada tahun 2004, Shanghai telah mampu menjadi tuan rumah lomba balap mobil paling bergengsi di dunia (Chinese Grand Prix F1) dan sejak itu majalah ternama di dunia ‘TIME’ menyebutnya sebagai kota apapun (the world’s most happening city). Pada Oktober 2007 Shanghai menjadi tuan rumah pertama olimpiade khusus (Paralympic or Special Olympic Games) di Asia dan pada tahun 2010 kelak akan menjadi tuan rumah pameran akbar dunia (World Expo 2010). Itulah daya tarik Shanghai yang mendorong kami memutuskannya untuk ke sana.

 100_3675  Peta
Persiapan

ShangHai World Expo 2010

Peta Shanghai

China

Kami berkesempatan mengunjungi kota ini dalam rangka the 13th Asian Pacific Conggress of Pediatric, 14-18 Oktober 2009 di SICC (Shanghai International Convention Center), yang megah di sebelah timur menara televisi Pearl Oriental Tower dan gedung pencakar langit tertinggi (Shanghai World Financial Center), dimana keduanya menjadi simbol kota.

Kami menggunakan pesawat Singapore Airlines SQ 957, sebuah Boeing 777-300 modern, dari Jakarta untuk transit sekitar 3 jam di Singapura sejauh 550 mil dalam waktu 1 jam 35 menit, dan dilanjutkan ke Shanghai dengan pesawat sejenis sejauh 2.364 mil dalam waktu 5 jam 15 menit. Kami mendarat di Shanghai Pudong International Airport (PVG) yang berlokasi pada 30 km (19 mil) tenggara kota Shanghai, perlu sekitar 45 menit perjalanan mobil dari pusat kota, dan dibuka sejak 1 Oktober 1999. Terminal 2 & 3 di bandara ini dibuka pada awal 2008 yang dihubungkan dengan bis gratis setiap 15 menit antara pk. 6-21. Terminal 4 & 5 baru direncanakan, untuk memudahkan akomodasi bagi para penumpang yang semakin banyak. Kereta ini direncanakan dapat menghubungkan Pudong ke Hangzhou melalui Shanghai South Railway Station dan Hongqiau International Airport yang akan digunakan pada Shanghai World Expo 2010. Selain kereta api Maglev, juga ada Shanghai Airport Bus Co dan Shanghai Dazhong Bus Corporation yang berangkat setiap 13-21 menit antara pk. 7-23 dan perjalanan ke kota memakan waktu sampai 60-90 menit dengan 8 jalur bis, dimana jalur 5 saja yang melalui Pudong. Jalur bis yang lain akan menuju banyak tempat, termasuk People’s Square, Hongkou dan Hongqiau Airport. Kalau menggunakan taxi meter dari terminal 1 atau 2 menuju Puxi atau Pudong di pusat kota, menghabiskan tarif RMB 150-170 dalam waktu 45-60 menit. Operator taxi meter adalah Qiangsheng, Dazhong, Jinjiang dan Bashi dengan tarif RMB 11 untuk 3 km pertama dan RMB 2,1 untuk setiap km berikutnya. Kami sampai di Shanghai menjelang tengah malam pk. 23.15, sehingga hanya tersedia taxi meter sebuah sedan VW Santana 3000 setir kiri, yang berjalan di sisi kanan, menuju Holiday Inn Shanghai Pudong di Dong Fang Road 869. Hampir semua taxi meter di kota Shanghai adalah VW Santana buatan Jerman, dan hanya sedikit sekali mobil buatan Jepang. Pagi berikutnya kami menuju tempat konggres (the 13th Asian Pacific Conggress of Pediatric), di SICC (Shanghai International Convention Centre), dekat menara TV Oriental Pearl Tower yang artistik di sekitar Lujiazui.

 100_3577  100_3585
Di SICC (Shanghai International Convention Centre), saat pembukaan konggres Shanghai Jade Buddha Temple dengan patung Buddha sedang berbaring

Selesai acara konggres hari pertama, kami melanjutkan jalan-jalan ke Jing’an Temple, sebuah candi Buddha untuk para peziarah dari luar kota yang memohon sebuah keinginan kuat kepada Sang Buddha, dengan naik kereta bawah tanah Shanghai Metro atau MRT (subway) line 2 dari stasiun Lujiazui lewat stasiun East dan West Nanjing Road dan stasiun People’s Square. Subway di Shanghai ada 9 line yang rutenya dapat dilihat pada www.shfamousteacher.com.

Kami melanjutkan perjalanan ke Shanghai Jade Buddha Temple, sebuah tempat ziarah agama Buddha yang eksotik dan penuh dengan batu mulia aneka warna (jade). Setelah puas keliling kompleks suci dengan banyak biksu dan peziarah yang khusuk berdoa dan pelancong yang tercengang, kami kembali dengan MRT line 2 untuk turun di stasiun East Nanjing, lalu makan siang bersama bu Esther Nova Gunawan, ibu dari Yang Zi Yi pasien anak di RS Bethesda Yogyakarta dan sekarang menetap di Shanghai. Kami menuju Yuxin Sichuan Dish Restaurant di China Merchants Plaza di samping Jing Tai Mansion, yaitu di Jiang Gua Men Wai Street dan makan siang menu Shanghai, yaitu daging bebek Peking, sop ikan, mie, brokoli dan bakpau bentuk kembang. Setelah kekenyangan, kami lanjutkan perjalanan dengan membeli oleh-oleh cindera mata kaos dan tas di Nan Zheng Building, di Nanjing West Road yang terkenal murah meriah. Kami jalan lagi dengan MRT line 2 dari stasiun Nanjing West ke stasiun Shanghai Science & Technology Museum, untuk menuju ke Xin Yang Fashion and Gift Market, untuk mencari cindera mata yang lain. Setiap selesai transaksi di semua tempat di Shanghai, pembeli orang asing yang tidak paham bahasa dan huruf lokal, akan diberi kartu nama yang berisi keterangan dalam bahasa Mandarin dan huruf kanji, serta di bagian bawah akan tertulis juga dalam bahasa Inggris dan huruf latin ‘Taxi, take me to …. (alamatnya)’, agar pembawa kartu itu kembali lagi ke situ tanpa kesulitan, sebab hampir semua sopir taxi di China hanya paham bahasa Mandarin dan huruf kanji. Malamnya kami naik taxi dari hotel menuju Century Avenue Station untuk naik MRT line 2 ke People’s Square Station dan ganti (di sebuah inter change station ke) line 1 ke Shanghai Railway Station untuk naik kereta apai malam ke Beijing. Kereta api di sana tidak diberi nama tertentu seperti di Jawa, tetapi kode. Kami menggunakan kereta api D308 yang dioperasikan China Railway Express & Co dalam kerja sama dengan Shanghai Railway Administration, berangkat pk. 21.30 pada jalur (lounge) 3.

 100_3601  100_3602
Kereta Cepat dari Shanghai ke Beijing Stasiun Kereta Api di kota Beijing yang besar

Stasiun kereta api kota Shanghai sangat besar, dengan tempat umum yang sangat luas untuk ukuran Indonesia, bahkan ruang tunggu penumpangnya sebesar lapangan sepakbola. Kereta D308 terdiri dari 15 gerbong, setiap gerbong yang dicat putih bersih sangat informatif karena tanda angka menggunakan lampu yang menyala, bukan tulisan yang sulit dibaca, apalagi kalau malam hari. Dalam gerbong berisi 10 kamar, setiap kamar berisi 2 tempat tidur tingkat (soft berth car), dasar tempat tidur atas setinggi 1,1 m dan atap kamar setinggi 1,75 m, sehingga setiap gerbong memuat 40 penumpang.

100_3596

tempat tidur dalam kamar penumpang KA ke Beijing

Dalam kamar dilengkapi dengan 4 TV layar datar di dinding kamar untuk setiap penumpang sambil berbaring, head set khusus untuk pendengar berbaring, lampu baca, colokan listrik 220V berkekuatan 200 W untuk HP atau laptop, meja lipat untuk meletakkan makanan/minuman, gantungan jas, sandal, selimut tebal dan 2 buah bantal. Tempat duduk hanya tersedia di gerbong restoran dan di depan setiap kamar ada sebuah tempat duduk lipat. Di bagian belakang setiap gerbong ada 2 toilet bertekanan udara seperti di pesawat terbang, wastafel dan ruang pengganti popok bayi. Sambungan antar gerbong dalam keadaan tertutup rapi, sehingga kedap suara dan dingin full AC tidak bocor keluar. Kereta yang interiornya bernuansa silver, berangkat tepat waktu dengan kecepatan rata-rata 211 km/jam, sehingga Shanghai-Beijing dapat ditempuh dalam 9 jam dengan tiket seharga Y 735 per orang. Informasi stasiun terdekat sangat jelas di layar TV dan banner berjalan di lorong setiap gerbong dalam Mandarin & Inggris, misalnya ‘We will soon arrive at South Beijing station, the present temperature out side the car is 10,2 degrees C’.

BEIJING

Beijing adalah ibukota Republik Rakyat Cina (RRC), negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, hampir 1,2 milyar jiwa. Beijing juga sebuah kota bersejarah dan budaya (historic and culturally) yang sangat terkenal di seluruh dunia. Kota itu menyimpan peninggalan budaya dan kesenian China yang melahirkan kekayaan budaya bangsa China kuno, tetapi saat ini dipadukan dan dibangun bersebelahan dengan berbagai fasilitas bisnis, industri dan olah raga modern. Bangunan baru berdiri gagah di samping tempat yang bersejarah dan berdampingan dengan situs budaya yang sangat artistik dan menarik, yang merupakan peninggalan setiap dinasti yang pernah menguasai daratan China.

 Rute  Gerbang
Rute perjalanan kami Di gerbang Mutinyahu Great Wall

Sudah hampir 5.000 tahun masyarakat China kuno berdiam dan berkembang di kota ini, dimulai dengan Manusia Peking (‘Peking Man’ dalam istilah arkeologi) dari saat masih berbudaya ganas (barbarian age), sampai periode awal bermasyarakat (era of civilization) yang masih dapat dilihat di Zhuan-nian, sekitar 48 km sebelah barat laut Beijing, sehingga kota ini layak disebut ibukota kebudayaan Timur (cultural capital in the East). Fosil ‘Manusia Peking’ ditemukan pada tahun 1929 dalam ekspedisi arkeologis di Bukit Longgu (Tulang Naga), dalam sebuah gua berukuran 140×2,5×42 m dan yang diperkirakan hidup di situ 500.000 tahun lalu. Zhoukoudian tercatat dalam daftar Warisan Budaya Dunia menurut UNESCO sejak tahun 1987 dan merupakan situs terlengkap peninggalan manusia purba yang berdiri tegak (erect man), meskipun selama Perang Dunia II banyak fosil dan artefak yang hancur dan hilang. Kami tidak berkesempatan melihatnya secara langsung.

 Temple  100_3635
Temple of Heaven di Beijing Prasasti Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO

Fakta menunjukkan bahwa hanya Beijing yang berubah sangat cepat dibandingkan kota lain di manapun. Ibukota People’s Republic of China (PRC) ini selalu bertambah hotel, mall, bangunan komersial, plaza, stadion dan fasilitas latihan apapun, sehingga menjadi tuan rumah Olympic Games 2008 yang sangat bergengsi. Selain itu, juga membuktikan China sebagai superpower baru, dengan adanya banyak bangunan baru dan modern, yang dipadu dengan bangunan bersejarah (grandiose socialist municipal buildings). Beijing sudah menjadi ibukota China sejak kekaisaran pertama pada tahun 1421, sampai runtuhnya periode kekaisaran pada tahun 1911. Pada periode tahun 1911-1949, Beijing kacau balau karena diperebutkan oleh banyak kelompok masyarakat. Pada tahun 1931 Jepang mendudukinya sampai akhir Perang Dunia II yang dilanjutkan dengan meletusnya perang sipil sampai Mao Zedong bersama dengan kelompok komunis menguasainya. Mao sebagai bapak bangsa memproklamasikan People’s Republic of China sebagai sebuah negara di the Gate of Heavenly Peace (Gerbang Perdamaian Abadi) pada pintu masuk Forbidden City (kompleks Kota terlarang) di Lapangan Tian’anmen dan menyatakan Bejing sebagai ibukota negara. Tiananmen Square, dimana Mao Zedong memproklamasikan kemerdekaan RRC dan tempat terjadinya pembunuhan mahasiswa pro-demokrasi pada saat demonstrasi besar-besaran pada tahun 1989, adalah lapangan untuk umum yang terbesar di seluruh dunia dan menjadi daya tarik wisatawan dari manapun. Lapangan yang besar ini mencakup Gedung Balai Agung Rakyat (Great Hall of the People), Gedung DPR (China’s parliament), Makam Mao Zedong (the Mao Zedong Memorial Hall), dimana tubuh Mao terbaring dalam peti kaca tembus pandang, Tugu Pahlawan (the Monument to the People’s Heroes). Gedung pemantau bintang lama (Old Observatory) yang didirikan oleh Kublai Khan, sekarang dijadikan museum yang menyimpan berbagai barang dari masa Dinasti Ming dan Qing, termasuk alat-alat perunggu pemantauan bintang (bronze astronomical instruments).

Penduduk kota Beijing mencapai 15.244.000 jiwa (megapolitian area) dengan suhu udara berkisar dari -3 derajad C di bulan Januari sampai 26 derajad C di bulan Juli. Beijing terpengaruh oleh berbagai dinamika manusia, termasuk perang, revolusi, industrialisasi dan demonstrasi yang silih berganti. Kami tidak masuk melalui Beijing Capital International Airport (PEK) yang terletak 28 km timur laut pusat kota Beijing dan sangat megah yang dibangun tahun 1999, tetapi melalui stasiun kereta api kota (Beijing Railway Station) hari Kamis pagi, 15 Oktober 2008, pk. 07.15, tepat waktu sesuai jadwal yang tertulis pada tiket dari Shanghai. Udara dingin langsung menyengat, begitu kami keluar gerbong yang memasang pemanas ruangan, jadi kami langsung makan mie instan rasa lokal di warung tenda di pelataran stasiun yang seluas 3 kali lapangan sepak bola. Di China semua tempat umum sangat luas sekali, sehingga mampu digunakan oleh banyak sekali orang, sebab warga kotanya terbanyak dibandingkan kota manapun di dunia.

 100_3593  100_3640
Bis listrik (bom-bom bus) dan taxi meter Bis listrik (bom-bom bus) gandeng

Kami melanjutkan perjalanan dengan naik kereta bawah tanah (subway) yang dioperasikan Beijing Subway Corp. Jalur utama dari timur ke barat adalah dari stasiun Pingguoyuan ke Sihui Dong, sedangkan jalur lain berjalan memutarinya (circular route). Pada tahun 2020 ditargetkan Beijing akan memiliki sistem kereta bawah tanah yang terpanjang di seluruh dunia, yaitu mencapai 561 km dalam 19 lines (jalur). Kami harus antri panjang yang teratur sebanyak 2x, yaitu saat kami membeli tiket seharga Y 2 perorang untuk semua tujuan (jauh dekat, termasuk ganti jalur kereta dan berbeda dengan di Shanghai) yang dilayani secara manual dalam 2 loket, karena di situ tidak ada mesin penjual tiket digital, dan saat kami masuk pemeriksaan ‘scaning’ barang bawaan penumpang dengan alat deteksi logam. Kami melewati stasiun Jianguomen, Chaoyangmen, Dongsi Shitiao, lalu Dongzhimen untuk mencapai tujuan petualangan pertama. Setiap hampir mendekati stasiun, selalu ada peringatan lisan rekaman suara seorang wanita dalam 2 bahasa, Mandarin dan Inggris, agar bersiap-siap (‘Please get ready for your arrival’) dan lampu di papan penunjuk yang menyala kelap-kelip. Kami turun di stasiun Dongzhimen, lalu keluar menuju ke Outer Street, untuk mencapai ruang kepindahan penumpang ke bis (‘bus transit hall’) unt mencari bis no 936. Kami menuliskan angka 936 dalam kertas kecil, dan menunjukkan kepada siapapun yang kami tanyai, sebab tidak ada bahasa yang memudahkan komunikasi kami dengan siapapun di situ, kecuali bahasa tulisan berupa angka. Sayang sekali, bis rute tersebut cukup jarang, sehingga kami takut kehabisan waktu dan memutuskan naik Honda New Jezz keluaran terbaru yang kami sewa seharga Y 350 menuju Mutianyu, selama 1,5 jam melewati jalan tol dan jalan alternatif dengan kecepatan tinggi dan gaya nyetir ugal-ugalan.

 100_3639
Peta Great Wall Tourist Zone di Mutianyu Di dalam cable car bertarif Y 40 per orang

Mutianyu terletak di Kabupaten Huairou, dibangun pada saat Northern Qi diperintah oleh Kolonel Xu Da yang kemudian berpangkat jendral di bawah Kaisar Zhu Yuanzhang pada awal Dinasti Ming berkuasa. Daerah Wisata Tembok Besar (Great Wall Tourist Zone) di Mutianyu meliputi perkampungan warga asli (Mutianyu Village), Yishonglou Restaurant, miniatur kota Meng Shi, tempat parkir 3 areal, jalan mendaki ke Tembok Besar (Passage Leading up the Great Wall), jalur menurun dari puncak (the Proper Terrace of the Pass), menara pengawas (Big Corner Tower) dan stasiun naik turun penumpang kereta gantung.

100_3631

Tembok Besar Cina, benar-benar tembok dari batu dan sangat besar

Di dalam cable car bertarif Y 40 per orang

Tembok Besar di Mutianyu dikelilingi daerah luas yang terdiri dari gunung-gunung dengan pemandangan sangat indah sesuai dengan musimnya. Pada musim panas diwarnai bunga gorgeus dengan dominasi putih dan tengah merah, pada musim semi hutan-hutan menghijau menutupi seluruh areal gunung, pada musim gugur banyak buah dan daun berwarna cokalat dan kuning berserakan dan pada musim dingin tertutup salju dengan warna putih yang mewarnai seluruh daerah utara. Kami naik kereta gantung yang dioperasikan Beijing Tourism Group Co., Ltd yang dibangun pada tahun 1986, sepanjang 732 m, setinggi 640 m, kecepatan kereta 3,5 m/detik dengan total jumlah kereta 58 buah, masing-masing dapat menampung 6 penumpang. Harga tiket masuk ke Tembok Besar (Great Wall) Y 50 dan naik kereta gantung (cable car) Y 40 per orang. Sopir kami yang membelikan semuanya dan mengatakan kami wisatawan domistik, karena wajah ‘Mongoloid’ kami mirip mereka, sehingga diberi harga tersebut.

 100_3633  100_3617
Tembok Besar Cina yang memanjang Salah satu sudut Great Wall

Tembok Besar adalah benteng pertahanan militer yang terbesar di seluruh dunia dan masuk dalam ‘7 keajaiban arsitektur dunia’ karena pengerjaannya yang rumit (arduous work), sejarahnya yang panjang dan nyaris tidak masuk akal (imposing manner), dan tidak ada bandingnya di seluruh dunia. Tembok Besar sudah tercatat sebagai ‘Warisan Budaya Dunia’ oleh UNESCO sejak tahun 1987. Tembok Besar ini dibangun memanjang sejauh 629 km, berbentuk setengah lingkaran, mengikuti kontur tanah dan megah berdiri di puncak gunung. Di sekitar Beijing terdapat beberapa bagian yang terkenal, yaitu Badaling, Puncak Juyong, Simatai dan Mutianyi. Kami hanya mengunjungi Mutianyu, meskipun Simatai dianggap sebagai yang paling angker, berbahaya dan menarik (‘thrill, danger and oddity’) karena menara pengintai, strukturnya yang khusus dan bentuknya yang berbeda. Kami mendaki dan berfoto-foto di Tembok Besar, belanja cindera mata dan segera pulang ke Beijing. Kami makan siang di warung pinggir jalan dekat terminal bis Dongzhimen, yang semua daftar menu dan petugasnya hanya ada dalam Mandarin dan kanji. Akhirnya kami putuskan untuk menunjuk menu yang dimakan pengunjung di meja sebelah dan botol air mineral kosong, sebagai menu yang kami pilih dengan bahasa Tarzan. Dengan keheranan penuh, karena pesanan kami terlalu sederhana dan sedikit, mereka tetap melayani dengan diiringi tawa cekikikan petugasnya. Kami makan nasi 1 porsi dengan irisan daging babi dan sayuran hijau seharga Y12 untuk berdua. Ciri khas orang China yang kami amati ada 3 hal yang mengherankan, yaitu menguap di manapun dengan mulut terbuka tanpa ditutup telapak tangan, meludah di sembarang tempat, pesan makanan di restoran tanpa minuman karena menunya hampir semua berkuah, dan kalau makan perlu lauk beragam dengan porsi besar, yang dimakan agak lama karena diiringi ngobrol terus menerus.

100_3654

Mao Zedong sang pemimpin Cina

Saat ini di Beijing ada 13 line subway (jalur kereta api bawah tanah). Kami menggunakan line 2 dari stasiun Dongzhimen ke Jianguomen, kemudian ganti line 1 ke Tian’anmen Timur, untuk mengunjungi Gerbang Menara Tian’anmen (Gate-tower) yang sangat terkenal dan dibangun pada tahun 1417. Tian’anmen berarti ‘Gerbang Perdamaian Abadi’ (Gate of Heavenly Peace) dibangun dalam tahun ke 15 pemerintahan Kaisar Yongle dengan nama awal Gerbang Penerimaan Kekuasaan Abadi (‘Gate of Accepting Heavenly Mandate’). Pada tahun 1651 saat tahun ke 8 kekuasaan Kaisar Shunzhi, lapangan itu diubah namanya menjadi Tian’anmen. Gerbang menara di depan dalam gaya Buddha, yaitu atap ganda berbentuk lengkung dengan tinggi 33,7 m dan panjang 9 bays dan lebar 5 bays. Di atas gerbang utama terpampang gambar Mao Zedong yang terkenal. Di depannya ada Qianmen yang merupakan gerbang kota pada saat Dinasti Ming dan Qing berkuasa. Lapangan Tian’anmen yang berada di pusat kota, membuat sudut kota Beijing simetris dalam longitudinal maupun latitudinal, yang menempatkannya sebagai tumpuan. Lapangan ini direnovasi besar-besaran pada tahun 1999 sebagai peringatan 50 tahun kemerdekaan negara RRC, dan merupakan lapangan umum (public square) terbesar di dunia dengan luas 440.000 m persegi, dapat menampung 1 juta orang dalam sebuah kegiatan, dan merupakan daya tarik luar biasa bagi para wisatawan (an impressive tourism centrepiece). Kami berdua berdiri diantara puluhan ribu manusia, sebuah pengalaman tak terlupakan (nggegirisi) karena dikepung para pengunjung, baik yang berjalan-jalan, berdiri keheranan, maupun yang antri akan melihat jasad pemimpin Mao Zedong yang terlihat membelitnya antrian manusia untuk masuk ke dalam makam (mausoleum) Ketua Mao (Chairman Mao). Kami berdua berdiri dan kesulitan berfoto di antara padatnya pengunjung di atas jembatan sungai Emas yang dikeramatkan (Golden River) di tepi Jalan Chang’an (Avenue) yang sangat lebar, di depan gerbang yang ada foto raksasa Mao Zedong, untuk masuk ke Duanmen.

 100_3641  100_3645
Stasiun subway di Tian’anmen Foto raksasa Mao Zedong di Tian’anmen

Chang’an Avenue merupakan sumbu dari arah timur ke barat kota Beijing, dimulai dari Tongzhou di timur sampai Shijingshan di barat dan merupakan jalan penting (the first street in China). The Forbidden City (Kota Terlarang atau Museum Istana) dibangun pada saat Dinasti Ming berkuasa (1368-1644), yaitu mulai tahun 1406 dalam waktu 14 tahun dan menjadi istana bagi pusat kekuasaan Dinasti Ming dan Qing, atau sebanyak 24 kaisar. Kompleks ini merupakan istana yang paling luas di dunia dan pada tahun 1987 UNESCO mencatatnya dalam ‘Daftar Warisan Budaya Dunia’ atau ‘World Heritage List’. Di dalamnya terdapat gedung-gedung istana, lapangan luas, dekorasi artistik, bonsai, taman yang indah dengan relief budaya. Secara arsitektural yang menonjol adalah Pura Perdamaian (Temple of Heaven) di bagian selatan Lapangan Tian’anmen, merupakan kompleks candi terbesar di Daratan China yang dibangun pada abad 15, digunakan untuk berdoa oleh para kaisar yang berkuasa dan memohon petunjuk untuk kebijaksanaan (good harvests). Selain itu, ada Lama Temple yang dibangun pada abad 17 di sebelah utara kota, yang digunakan untuk berdoa aliran Topi Kuning dari propinsi Tibet (Tibetan Lamaism). Kami tidak mampu mengelilingi kompleks yang sangat luas itu, baik karena takut kehabisan waktu, maupun cidera lecet kaki karena sudah dan akan berdiri dan berjalan kaki sangat jauh. Akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan ke Stadion Negara (National Stadium) dengan subway line 1 ke stasiun Guomao untuk ganti line 10, lalu ke stasiun Bagou ganti line 8 di stasiun Beitucheng, dan turun di National Stadium. Stadion ini adalah stadion utama untuk acara seremonial pembukaan dan penutupan Olimpiade Beijing 2008, berbagai lomba atletik dan final cabang sepakbola. Bentuk arsitekturalnya yang sangat khas, yaitu seperti sarang burung, maka disebut Bird-nest Stadium. Di sampingnya ada National Aquatic Center yang juga disebut ‘Water Cube’, merupakan arena pertandingan cabang renang pada Olimpiade 2008 dan salah satu simbol bangunan khas di Beijing, karena bentuknya yang kubus dan dinding luarnya nampak seperti air dalam kantong-kantong plastik berwarna biru.

 100_3659  100_3664
Di dalam subway line 8 yang modern Stadion Sarang Burung (Bird-nest Stadium)

Pulang dari Stadion Olympic Green line 8 kami melanjutkan ke stasiun Beitucheng, ganti line 10 ke stasiun Huixinxijie Nankou untuk ganti line 5 ke stasiun Yonghegong dan ganti lagi ke line 2 menuju stasiun kota (Beijing Railway Station) untuk pulang ke Shanghai dengan KA malam express, sejenis dengan yang kami gunakan untuk pergi. Sungguh sangat besar sekali kota Beijing, sehingga pemahaman tentang tata letak tempat tujuan (sesuai peta) harus dipahami benar, agar kita tidak lenyap di tengah-tengah arus deras banyak manusia yang menyemut, tetapi tidak mudah mencari orang yang dapat ditanya dengan Inggris dan latin, selain Mandarin dan kanji. Malam itu kami terbaring nyenyak dalam kelelahan yang digoyang laju kereta D307 menuju Shanghai.

SHANGHAI  LAGI

Sesampai di Shanghai lagi dengan kereta yang sama, Jum’at pagi 16 Oktober 2009, pk. 7.15 kami langsung mengikuti seminar dan sorenya melanjutkan ke Nanjing Road dengan taxi meter melalui terowongan panjang di bawah sungai Huangpu. Sungai Huangpu yang lebar memisahkan daerah barat (Puxi) dengan timur (Pudong) kota Shanghai. Di sisi barat berdiri gedung-gedung menawan yang dibangun dalam rentang waktu abad 15-19 dan di sisi timur tegak ratusan gedung-gedung pencakar langit, bahkan sampai 50-100 lantai. Shanghai World Financial Centre sebagai gedung tertinggi di dunia diresmikan pada Agustus 2008. Bangunan 101 lantai setinggi 474 m (1.555 kaki), dengan 3 lantai (lantai 94, 97 dan 100) dindingnya adalah kaca transparan, sehingga pengunjung dapat melihat seluruh panorama kota dari ketinggian (cityscape). Gedung ini sama tinggi dengan Burj Dubai di Uni Emirat Arab dan Taipei 101 di Taiwan, sehingga dinamakan ‘sister of Shanghai skyscrapers’. Di dekatnya megah berdiri stasiun televisi (The Broadcasting & Television Tower of Oriental Pearl), yang merupakan menara tetrtinggi ke 3 di dunia setelah CN Tower di Toronto, Canada dan Moscow TV Tower di Rusia. Kota ini terletak pada garis 31,14 LU dan 121,29 BT, pernah menjadi pusat kota Cina bagian timur dan merupakan gerbang ke lembah sungai Yangtze. Kota ini berpenduduk 17 juta jiwa, dimana 10 juta jiwa tinggal di pusat kota dengan luas 6.340,5 km persegi dan 2.643 km persegi merupakan pusat kota (downtown). Rata-rata suhu tahunan adalah 18 derajad C dan curah hujan 1.240 mm. Musim panas terjadi pada Juli dan Agustus, dengan suhu sampai 30 derajad C dan paling dingin di Januari dengan suhu 3 derajad C, dan cuaca paling baik untuk wisatawan adalah bulan September dan Oktober. Para pengamat memandang hal ini sebagai simbol kedigdayaan China pada abad yang lampau, hari ini dan masa depan. Kalau kita berdiri di dekat sungai Huangpu, kita dapat melihat kota yang memiliki 2 masa berbeda dengan pesonanya sendiri-sendiri.

 100_3690  100_3682
Shanghai World Financial Centre &Tower of Oriental Pearl Sisi barat the Bund dengan bangunan Eropa abad 19

Di Shanghai ada Nanking Lu, kawasan belanja elite dunia. The Bund, yang termashur dengan perpaduan gaya bangunan barat dan timur. Pudong, di sebelah timur kota, dimana tegak gedung-gedung baru dan menara Shanghai yang seolah menyebarkan kabar, bahwa Shanghai layak sebagai kota terbaik di dunia. Trotoar yang mengitari kota, pada umumnya lebar. Ada yang 5 meter, tetapi banyak yang sampai 20 meter, atau bahkan 90 meter. Sejumlah jalan di sini memang mirip lapangan sepak bola. Taman-taman tersebar di mana-mana, lengkap dengan patung, air mancur, restoran dan tempat untuk rileks. Nanjing Road yang kami datangi terletak di Puxi, daerah kota lama Shanghai di seberang sungai, dan kami merencanakan jalan-jalan di the Bund, sebuah arena jalan kaki (pedestrian) sepanjang 1,6 km, terluas dan terkenal yang menyusur sungai Huangpu. Sayang sekali, the Bund baru direnovasi untuk menyambut World Expo 2010, sehingga kami hanya mengambil foto-foto panorama gedung pencakar langit kota Shanghai di Pudong yang khas dan fenomenal, yaitu ke arah seberang sungai. Kami melanjutkan perjalanan dengan taxi ke Yu Garden dan belanja di Fuyou Street Merchandise Mart, tepatnya di sisi belakang Yu Garden.

Yu Gardens and Bazaar dibangun pada tahun 1559 oleh keluarga kerajaan. Meskipun dihancurkan oleh kolonialisme pada abad 19, masih terlihat terowongan, gua, dinding batu pembatas, kolam renang, gedung pentas opera dan markas sebuah komunitas (the Small Swords Society) yang digunakan sejak tahun 1853. Ada lagi rumah di tengah kolam untuk minum teh (Mid-lake Pavilion Teahouse) dengan sebuah jembatan 9 kelokan (Nine Twists Bridge) untuk menuju rumah itu, dan masih banyak bangunan bersejarah seperti Former French Concession Lined, Ruijin Guests House, Morris Estate, boutiques yang terkenal Taikang Lu, Fuxing Xi Lu, dan Sinan Lu. Di sebelahnya berdiri megah Museum Shanghai tempat diselenggarakannya Konggres Pertama Partai Komunis China (CCP) pada 23 Juli 1921 oleh Li Hanjun dan Mao Zedong, yang dikemudian hari menjadi presiden RRC pada 1949. Sayang sekali, kami tidak mampu mengabadikan keindahan semuanya, karena begitu banyaknya pengunjung yang berjejal dan menutup ruang gerak dan sudut untuk pengambilan gambar secara ideal.

 Yu Garden  Paper cutting
Yu Garden yang padet pengunjung Paper cutting berbentuk wajah tamu

Setelah puas belanja pernik-pernik, kami mencoba menyeberang sungai Hungpao menggunakan kapal penyeberangan tradisional di dermaga Dongmen Road yang dikelola Shanghai Public Transportation Car dengan harga tiket Y 0,5 untuk menyeberang selama 8 menit ke Pudong. Situasi di dalam kapal sangat ramai dengan orang-orang Shanghai awam, masyarakat kebanyakan atau rakyat biasa, sepeda, dan sepeda motor yang semuanya menjadi satu. Kami mencoba menyeberang kembali ke daerah Puxi dengan kapal sejenis, memotong arus deras sungai Huangpu ke dermaga yang sama. Sesampai di daratan Puxi kami berjalan menyusur the Bund yang sedang direnovasi untuk melihat Astor House Hotel yang monumental. Perlu diketahui, bahwa aliran listrik pertama di seluruh daratan China dibangun di Richard Hotel pada tanggal 26 Juli 1882, yang sekarang berganti nama menjadi Astor House Hotel di Huangpu Road. Kami melihat monumen dan kenangan tentang aliran listrik itu di situ lalu berlanjut ke stasiun di Poeple’s Square untuk naik subway menuju ke stasiun Longyang Road dengan line 2, karena ingin mencoba naik Maglev (kereta api tercepat di dunia) yang bertarif Y50 selama 8 menit ke stasiun di Shanghai International Airport. Pada awal 2004 mulai dibangun proyek infratsruktur angkutan nasional yang prestisius, yaitu kereta super cepat (Magnetic Levitation Shuttle train atau ‘Maglev’) dengan kecepatan 431 km/jam. Kereta ini menghubungkan Pudong dengan stasiun pusat kota Longyang Road dalam waktu hanya 8 menit. Kereta ini terjadwal setiap 15-30 menit pada pk. 7-21.30. Setelah mencoba Maglev itu, kami menuju ke rumah keluarga bu Nova Gunawan di Xiang Mei Garden Apartmen di kamar nomor 1601. Dilanjutkan jamuan makan malam keluarga di sebuah restoran bergaya semi minimalis China modern dalam Huishang Building lantai 3 di Min Sheng Road 3F, no 1286. Setelah makan malam itu, kami kembali ke hotel untuk berkemas-kemas.

 100_3693  100_3694
Petunjuk ke stasiun di Poeple’s Square Stasiun Maglev di Longyang Road

Pagi harinya kami pulang ke Yogyakarta dengan pesawat Singapore Airlines SQ 986 yang diselingi berurusan dengan petugas airport di ruang pemeriksaan bagasi (Baggage Check Room), karena cindera mata patung dari plastik terlihat sebagai bahan berbahaya dalam mesin ‘scaner’ bagasi penumpang. Kami sampai dengan selamat di Yogyakarta pada Sabtu malam, 17 Oktober 2009, setelah 4 hari bertualang di luar paket wisata agar lebih ngirit, menjelajah secara mandiri 2 kota terbesar di RRC atau Negeri Tirai Bambu yang memiliki penduduk terbanyak di seluruh dunia.

sekian

Yogyakarta, 19 Oktober 2009

*) penjelajah negeri orang berdana cekak

Categories
anak Healthy Life Jalan-jalan sejarah

2009 JELAJAH LAMPUNG : BUMI RUWA JURAI

JELAJAH  LAMPUNG  :  BUMI  RUWA  JURAI

fx. wikan indrarto dan b. sari prasetyati

Kami berlima dengan Yangti Salaman (Eyang Putri Yustina Nanik Karsini) berangkat dari Stasiun Tugu Yogyakarta dengan KA Argo Lawu pada Rabu pagi, 1 Juli 2009 menuju ke Jakarta. Setelah menginap semalam di rumah pakde Totok Ismintarto di Pamulang, Tangerang Selatan, kami melanjutkan dengan mobil sewaan, Kijang Innova B 8272 ZY ke Merak, di ujung barat Pulau Jawa. Biaya menyeberang kapal milik Indonesia Ferry yang dioperasikan ASDP untuk golongan 4A adalah Rp. 198.000 dengan waktu tempuh sekitar 2 jam, sampai di pelabuhan Bakauheni, di ujung selatan Propinsi Lampung (Ruwa Jurai). Ruwa Jurai berarti kaya raya dan indah berseri.

100_3269

Siap2 wisata bahari di  Pantai Mutun di jantung Teluk Betung, Lampung

Kami sampai di Bandar Lampung, ibukota Ruwa Jurai, Jumat, 3 Juni 2009 sekitar pk. 17.30 dan menginap di Hotel Arinas Jl. Radin Intan no 35A, di pusat kota. Malam itu kami beristirahat dan menikmati angin laut di alam bebas yang berhembus dari teluk Lampung. Bandar Lampung adalah sebutan untuk kota yang baru, sebab merupakan gabungan 3 kota lama yaitu Teluk Betung, Tanjung Karang dan Panjang. Setelah makan malam, kami menuju rumah Kol. Inf. Arwandi (sepupu bapak Wikan) di Jl. Pulau Batam Raya no 12 Wai Halim, Lampung. Kami membezook mertuanya (75 tahun) yang baru pulang dari rumah sakit, karena menderita Hepatitis A dan radang usus (kolitis) kronis. Setelah ngobrol dan anak-anak mulai mengantuk, kami pulang ke hotel.

100_3177

Ubur-ubur laut yang ditangkap dik Bimosaat berenang di Pantai Mutun

100_3179

Dik Laras bergaya di atas kelotok dalam perjalanan kembali dari Pantai Mutun

Jum’at pagi kami menjemput Sr. Franselin, HK (sepupu mama Sari) di Biara Pusat Kongregasi Suster Hati Kudus St. Anna di Jl. Pattimura, samping kompleks sekolahan Xaverius, lalu menuju Pantai Mutun di jantung Teluk Betung. Perjalanan diselingi tersesat 2 kali, sebab banyak persimpangan jalan di kota lama Teluk Betung. Pantai itu berpasir putih yang bersih dan kami naik kelotok bertarif Rp. 5.000 perorang untuk menyeberang ke pulau kecil yang terdekat. Kami mendarat setelah 10 menit berperahu di laut dangkal yang jernih, dan berenang sepuas hati di sekitar kelotok yang tertambat. Air lautnya jernih, pasirnya putih, ombaknya nyaris tidak ada, sehingga anak-anak sangat puas dan bergembira. Setelah mandi bilas dengan 100% air tawar yang dingin, kami melanjutkan perjalanan ke Wai Kambas.

100_3231

Kami mencapai tujuan kami utama, yaitu Sekolah Gajah di Way Kambas, Lampung.

100_3208

Keinginan kami adalah naik ‘gajah terdidik’ keliling taman Way Kambas, Lampung.

Perjalanan menyusur jalan lintas tengah Trans Sumatera yang padat dengan truk dan bis antar propinsi besar-besar hanya sampai Tegineneng, lalu membelok ke kanan menuju Metro, sebuah kotamadya di Lampung bagian tengah. Perjalanan menyusur melawan arus air irigasi, semacam Selokan Mataram di Yogyakarta dengan lebar 2 kali lipat, areal persawahan yang subur, luas dan sedang menghijau di lumbung padi Lampung. Kami mampir untuk mengenal Biara Novisiat Suster Hati Kudus di pusat kota Metro yang rindang karena lebatnya pohon dan teratur tata kotanya karena terancang baik. Perjalanan kami lanjutkan dengan melintasi Lampung bagian tengah yang sudah lebih maju dan masuk ke teritorial Kabupaten Lampung Timur yang lebih tertinggal. Sukadana sebagai ibukota kabupaten, nampak kusam dan sepi, dengan jalan protokolnya yang hancur, penuh lobang. Taman Nasional Way Kambas yang kami tuju adalah areal hutan asli yang dirancang sebagai tempat pelatihan dan penangkaran gajah Sumatera yang masih liar. Kami memasuki arealnya menjelang adzan Ashar yang menggema dari mushola dekat kantor petugas. Pertunjukan ketangkasan gajah rutin sudah usai, sebab jadwal terakhirnya pk. 14 dengan biaya Rp. 500.000 per paket, yang biasanya ditanggung ramai-ramai (patungan) oleh para pengunjung, makanya kami hanya melihat aktivitas sore hari para gajah. Sewaktu mereka pulang dari hutan untuk mencari makan sehari penuh, langsung dimandikan oleh para pawang, berendam di sebuah kolam, lalu kembali ke kandang. Mereka berjalan berpasangan, yang jantan gagah dan besar dengan kaki depan dirantai dan kedua gadingnya sudah dipotong ujung runcingnya, yang betina lebih kecil badannya, tanpa gading dan berjalan sambil melindungi anaknya. Salah seorang anak gajah yang sebesar sapi ada yang sempat marah dengan lenguhan keras dan mengejar kerumunan orang di pinggir jalan setapak.

Gajah Jinak

Kami (dengan Sr. Franselin, HK) bergaya tanpa takut di depan gajah yang jinak di WaiKambas, Lampung

Kandang Gajah

Kandang gajah tanpa pagar, seluas lapangan sepak bola dengan tiang beton penambat gajah yang nampak di kejauhan

Kami berhamburan melompat menghindar, sampai nafas tersengal dan degup jantung meningkat tajam, saat pawangnya memanggil gajah itu yang langsung menurut. Dikejar anak gajah sebesar sapi, adalah pengalaman ‘miris’ tak terlupakan. Kami lanjutkan dengan naik gajah keliling kompleks dan melihat dataran seluas lapangan sepak bola, dimana setiap gajah ditambatkan di sebuah tiang beton dengan rantai terikat dikedua kakinya. Malam hari sering ada rombongan gajah liar datang, sehingga gajah yang sudah jinak harus dirantai, agar tidak ikut mereka dan kembali liar. Ada 82 gajah dewasa dan 17 anak gajah di seluruh areal dan terlihat sebuah truk bermuatan rumput gajah, daun tebu dan rumput ilalang yang diturunkan di setiap tiang beton, untuk makan malam para gajah. Di sebelah lapangan itu, nampak banyak gajah yang masih merumput di semak-semak yang sangat luas, sepanjang mata memandang, nampak gajah-gajah yang berjalan dengan langkah pelan namun mantap.

100_3207

Gajah yang sudah jinak tidak buta huruf, karena sudah sekolah

100_3203

Taman Way Kambas yang luas, untuk mendidik gajah Sumatera

100_3200

Rombongan gajah yang pulang sekolah di Way Kambas, Lampung

Sore itu kami kembali ke Metro dan mengistirahatkan Pak Nardi, sopir yang membawa kami dari Jakarta, di sebuah kamar di Biara Novisiat Suster Hati Kudus. Kami mampir untuk bertemu Dr. Paran Bagionoto, SpB, direktur RS Mardi Waluyo, dengan jamuan makan malam menu Jawa di sebuah RM serba ada, dekat alun-alun kota. Sehabis itu kami melanjutkan perjalanan pulang ke Bandar Lampung, setelah Pak Nardi cukup kuat. Kami menginap di Susteran HK Meirmeri, Jl. Dr. Sunarto, Bandar Lampung. Pagi harinya kami antar pak Nardi untuk menjalani rawat inap di BP St. Anna Jl. Patimura, sebab demam tinggi sekali sampai 40 derajad C, lemah, dan pusing, kemudian kami tinggal untuk keliling kota dengan dipandu oleh mas Erwin, anak sulung Kol. Inf. Arwandi.

100_3256

Koleksi kain tenun khas Lampung di Museum Negeri Lampung

Pertama-tama kami mengunjungi Museum Negeri Lampung yang dirintis sejak 1975 di areal seluas 17.010 m2 dan diresmikan oleh Prof. Dr. Fuad Hasan, Menteri P&K RI pada 24 September 1988. Bentuk bangunan menggambarkan arsitektur tradisional Balai Adat Lampung (Sesat). Di halamannya yang luas, berdiri miniatur rumah panggung sebagaimana dahulu digunakan oleh masyarakat tradisional. Selain itu, juga ada jangkar kapal niaga abad lalu yang besar, ranjau laut dan meriam kuno untuk melawan bala tentara Kumpeni Belanda (VOC). Di dalamnya tersimpan aneka benda purbakala, dari jaman batu (megalitikum), jaman pertengahan sampai jaman sekitar kemerdekaan. Selain itu, tersimpan juga binatang khas Lampung dalam awetan, seperti hariamau, gajah, beruang madu, buaya, aneka ular dan burung yang semuanya asli Lampung dan hampir punah. Di lantai dua tersimpan aneka hasil tenun, batik, pakaian adat dan alat tenun tradisionil penghasil kain tersebut.

100_3255

Gaya dik Bimo menembakkan Meriam kuno di halaman Museum Lampung

100_3264

Makan siang di Pantai Pasir Putih dengan keluarga pakde Kol. Arwandi

Setelah puas memandang, kami melanjutkan perjalanan ke THR Pantai Pasir Putih, di dekat pelabuhan Panjang, di pinggir jalan trans Sumatera yang padat lalu lintas. Kami susuri jalan yang berdampingan dengan rel kereta api, yang saat itu dilalui oleh kereta babaranjang, kereta api terpanjang pengakut batubara dengan 50 gerbong dari Bukit Assam di Lampung Barat menuju Pelabuhan Batubara di Panjang. Kami sampai geleng-geleng kepala tanda takjub atas kebesaran eksplorasi alam Lampung yang kaya raya.

Rekresai di Pantai Pasir Putih itu kami awali dengan makan siang di atas tikar yang kami gelar di samping mobil yang parkir, dalam rindang bayangan pohon waru di atas pasir putih yang bersih, dengan hembusan angin laut yang semilir. Setelah itu, kami menyewa kelotok untuk menyeberang laut, menuju Pulau Condong yang berwarna hijau dari dedaunan di bukit yang terjal. Kami mengitari pulau itu, sambil melihat keindahan taman laut dengan kaca ‘snorkeling’ yang disediakan awak kapal. Karang dan ikan berbagai warna, ukuran dan bentuk, nampak nyata dan indah di bawah kapal yang bergeser, perlahan dibawa arus ombak kecil. Kami mendarat di sisi timur pulau dan menghabiskan siang itu dengan berenang-renang sampai puas.

Sore harinya, kami jenguk pak Nardi yang masih tergolek layu di bangsal rawat inap di BP St. Anna Jl. Patimura dan kami putuskan untuk pulang ke Jakarta, tanpa membawanya serta, karena tidak tega. Malam itu kami menginap di Hotel Kalianda, di seberang kantor Polres Lampung Selatan.

100_3273

Istirahat sejenak di depan Kantor Bupati Lampung Selatan di Kalianda

100_3236

Awal perjalanan pulang disimpang lima Bandar Lampung (Tapis Berseri)

Siger Lampung

Menara Siger di Bukit Bakauheni yang nampak gagah dari atas ferry penyebarangan

Minggu pagi 5 Juli 2009, kami sempatkan berdoa saja, sebab Misa Kudus baru akan berlangsung 2 jam lagi, di Kapel St. Paulus di kompleks rumah kalwat atau rumah retret Suster Hati Kudus di samping kantor Kodim Lampung Selatan. Perjalanan kami lanjutkan ke pelabuhan Bakauheni, di ujung selatan Lampung Selatan.  Kami pandangi Menara Siger di puncak bukit Bakauheni. Menara tersebut berbentuk topi khas Lampung, yang biasa dikenakan oleh pria bangsawan, dan berfungsi sebagai gardu pandang para pelancong yang ingin melihat pemandangan Selat Sunda yang indah, kesibukan pelabuhan penyeberangan yang berdenyut selama 24 jam sehari, dan juga berfungsi sebagai ‘tetenger’ Bakauheni dari tengah laut.

Perjalanan menyeberang laut di sisi selatan Gunung Krakatau itu berjalan lancar dalam 2 jam. Kami lanjutkan dengan makan siang menu Jawa Timur di depan Terminal Terpadu Merak. Terminal tersebut sangat luas, sebab paduan antara terminal bis antar kota, angkot, mobil pribadi, truk angkutan barang, kereta api penumpang, pelabuhan peti kemas, dan penyeberangan laut menggunakan ferri. Setelah berfoto-foto sepuasnya, perjalanan kami lanjutkan melalui jalan tol Jakarta Merak yang sedang diperbaiki, untuk menuju Banten.

Kami mengunjungi Banten Lama, sekitar 9 km dari pusat kota Serang. Kami melihat kompleks Keraton Surosowan atau Gedung Kedaton Pakuwan yang dibangun pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin (1552-1570). Perlu diketahui bahwa Kerajaan Islam Banten di Surosowan (saat ini masuk Banten Lama) didirikan di dekat pantai, pindahan dari Banten Girang (=hulu). Kota Surosowan sebagai ibukota kerajaan dibangun atas perintah Sunan Gunung Jati kepada puteranya Maulana Hasanuddin Panembahan Surasowan yang kemudian menjadi raja Banten pertama pada tahun 1552.

Islam datang pada 1524 dan Sunan Gunung Jati atau Syeh Syarif Hidayatullah mengalahkan Prabu Pucuk Umum (putera Prabu Seda), penguasa terakhir Kerajaan Sunda Wahanten Girang. Keraton Surosowan dibangun pada 1552-1570, dindingnya setinggi 2 meter, dan tebalnya 5 meter. Panjang dari timur ke barat 300 m dan utara ke selatan 100 m.

100_3304

Dinding bekas pondasi Keraton Sorosowan di Banten yang dihancurkan pasukan Daendels

100_3308

Dik Laras bergaya sendirian di Situs purbakala yang tinggal puing batu kurang tertata, di dalam kompleks Banten Lama

Pada pemerintahan Pangeran Muhammad, berlabuhlah kapal-kapal Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman di pelabuhan Banten pada tahun 1596. Dalam catatan Jansen Kaerel  diceritakan kota Banten yang sudah maju, dikelilingi pagar tembok batu bata, bermeriam, pasarnya ramai  dan masjidnya besar. Catatan Willem Lodewiyk menggambarkan pedagang Portugis, Arab, Cina, Turki, Keling, Pegu, Gujarat, Malaya, Benggali, Malabar dan Abesinia, juga Bugis dan Jawa.

Catatan Tome Pires menyebutkan transaksi di pasar telah menggunakan mata uang Cina, yaitu Caxa (cash) dan Tumdaya (tael). Sebagai perbandingan 1.000 cash seharga 29 kg (58 pon) lada. Masa keemasan Kerajaan Banten dicapai pada pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa Abdulfathi Abdul Fatah (1651-1672). Sensus penduduk pada masa pemerintahan Sultan Abdul Mahasin Zainul Abidin menyebutkan jumlah penduduknya 31.848 jiwa di tahun 1694

Pada tahun 1808 Daendels yang gagal memaksa Sultan Muhammad Syafiuddin untuk menyerahkan kerajaannya bersama dengan Lampung, lalu menghasut rakyat Banten untuk menghancurkan gedung istana Pakuwan Surosowan dan dipaksa untuk membuat pelabuhan kapal di pantai Labuan (pantai barat selatan Banten). Perang besar meletus dan tentara Belanda didatangkan dari Batavia untuk menghancurkan istana yang megah itu pada tahun 1832 dan berakhirlah era Kerajaan Banten yang akhirnya disatukan dalam teritorial Batavia dan dibentuk pemerintahan sipil yang dipimpin oleh landrost (semacam residen) dan berkedudukan di Serang.

Peninggalan di Banten lama adalah Kompleks Keraton Surosowan, Masjid Agung, Tiyamah, Menara Masjid, kompleks makam, meriam Ki Amuk (hadiah dari Sultan Trenggana di Demak kepada Sunan Gunung Jati), masjid Pacinan Tinggi (masjid yang pertama kali dibangun Sunan Gunung Jati), kompleks Keraton Kaibon (istana sultan terakhir), vihara Avalokitecvara (didirikan oleh Sunan Gunung Jati yang mengalahkan rombongan Cina yang akan ke Tuban, kehabisan bekal dan mampir di Banten. Sunan memperisteri Puteri Ong Tien, sehingga dibuatkan Masjid Pecinan Tinggi dan vihara untuk para pengikutnya secara adil, sebab ada yang jadi Islam), masjid Koja, Kerkhof (makam orang Eropa), benteng Speelwijck, Tasik kardi (sebuah danau buatan), pengindelan (bungker yang berfungsi sebagai penyaring air), klenteng Cina, Watu Gilang dan Museum Banten. Watu Gilang ada 2 buah, di depan kompleks keraton Surosawan dan di alun-alun sebelah utara. Bentuknya segi 4 dengan permukaan datar, terbuat dari batu adesit dan digunakan untuk pentasbihan sultan Banten.

Setelah puas berkeliling situs arkeologis itu, kami melanjutkan perjalanan ke Jakarta dengan masuk tol di gerbang Serang Timur. Kami menuju Gereja Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga di Paroki Katedral Jakarta, untuk mengikuti misa sore. Hari Minggu 5 Juli 2009 itu, gereja dengan arsitek Marius Hulswit (1899-1901) yang bergaya Gothik abad pertengahan, sedang direnovasi bagian menara kembar di depan.

Setelah misa, kami mengitari Taman Monumen Nasional, berfoto dan terkesima atas kegagan cahaya api dari emas di puncaknya setinggi 145 m. Malam itu kami ketemu keluarga pakde Totok di kantin stasiun Gambir, lalu berpisah jalan. Mobil Kijang Innova sewaan telah diambil lagi oleh salah seorang sopir yang telah menunggu di Gambir, sebab pada saat itu pak Nardi masih tergolek lunglai di Bandar Lampung.

Kami pulang ke Yogyakarta dalam gerbong KA Taksaka II dengan badan lunglai, sedangkan Yangti (Eyang Puteri Yustina Nanik Karsini) diajak untuk berlibur di rumah pakde Totok Ismintarto di Pamulang, Tangerang Selatan. Kami berlima sampai di Yogyakarta dengan selamat di pagi buta Senin, 6 Juli 2009, meski lemah, pening, mual, demam dan batuk. Sungguh, itu perjalanan sejauh 1.586 km yang penuh kenangan karena diakhiri dengan sakit.

Disampaikan banyak terima kasih, kepada siapa saja yang telah membantu terjadinya petualangan menjelajah Lampung, bumi Ruwa Jurai kali ini. Sampai jumpa dalam petualangan berikutnya.

100_3162

Bergaya di buritan fery penyeberangan ke Merak, Banten dari Bakaheuni, Lampung

sekian

Yogyakarta, 7 Juli 2009

Bapak Wikan

*) ketua rombongan pelancong bergaya minimalis.

Categories
Istanbul

PENYAKIT KAWASAKI

Hasil gambar untuk penyakit kawasaki

 

PENYAKIT KAWASAKI

fx. wikan indrarto*)

ABSTRAK

Penyakit Kawasaki adalah sebuah sindrom vaskulitis akut yang dominan mempengaruhi arteri kecil dan menengah, terutama mengenai anak balita. Gejala klinis penyakit Kawasaki sering dimulai dengan demam tinggi dan terus-menerus selama 2 minggu.

Penyakit Kawasaki hanya dapat didiagnosis secara klinis dan tidak ada pemeriksaan laboratorium yang khusus. Diagnosis klinis berdasarkan adanya demam 5 hari, ditambah 4 dari 5 kriteria diagnostik berikut ini: (1) eritema bibir atau rongga mulut atau retak bibir, (2) ruam kulit, (3) pembengkakan pada tangan atau kaki, (4) mata merah (injeksi konjungtiva), dan (5) pembesaran getah bening di leher minimal 15 milimeter.

Anak dengan penyakit Kawasaki mudah terjadi komplikasi aneurisma arteri koroner, terutama pasien yang tidak diobati secara dini dalam perjalanan penyakit. IVIG (imunoglobulin per infus) sebaiknya diberikan dalam dosis tinggi, yaitu 2 gr/kgBB selama 10-12 jam. Terapi aspirin dimulai pada dosis tinggi 80-100 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis sampai 2-3 hari demam mereda, dan kemudian dilanjutkan dengan dosis rendah 3-5 mg/kgBB/hari, ketika pasien diijinkan pulang ke rumah.

Meskipun tidak diobati, sebenarnya gejala penyakit Kawasaki yang akut juga membaik, tetapi risiko terjadinya aneurisma arteri koroner jauh lebih besar. Tidak dikenal cara pencegahan untuk penyakit Kawasaki. Pencegahan dilakukan untuk menghindari perburukan kerusakan koroner.

 

Hasil gambar untuk penyakit kawasaki

 

Definisi

Penyakit Kawasaki adalah sebuah sindrom vaskulitis akut yang dominan mempengaruhi arteri kecil dan menengah. Data epidemiologis menunjukkan bahwa aspek genetika anak mendasari patogenesis penyakit ini (Onouchi, 2010). Penyakit Kawasaki (juga dikenal sebagai sindrom kelenjar getah bening, penyakit simpul mukokutan, dan poliarteritis anak) adalah penyakit vaskulitis dan 80% pasien adalah balita, yang mengenai banyak organ, termasuk kulit, selaput lendir, kelenjar getah bening, dan dinding pembuluh darah. Efek yang paling serius adalah pada jantung yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah atau aneurisma. Tanpa pengobatan, kematian dapat mendekati 1%, yang biasanya terjadi dalam waktu 6 minggu sejak sakit.

Penyakit ini pertama kali dijelaskan pada tahun 1967 oleh Dr. Tomisaku Kawasaki di Jepang, sehingga disebut Penyakit Kawasaki. Sejauh ini insiden penyakit Kawasaki tertinggi terjadi di Jepang (175 per 100.000 anak). Sebuah hipotetis patogenesis penyakit Kawasaki adalah “sistem homeostasis protein”, yaitu setelah sebuah infeksi oleh patogen yang tidak diketahui, protein patogen yang dihasilkan menyebar dan mengikat sel endothelial arteri koroner sebagai sel target utama (Lee, 2012). Hal ini mungkin saja dipengaruhi oleh sebuah gen pada anak di Jepang, yang diduga memberikan kontribusi untuk kerentanan terhadap penyakit Kawasaki, lesi arteri koroner, resistensi terhadap pengobatan, gejala klinis penyakit Kawasaki yang tidak lengkap, dan penanda klinis lainnya (Yu-Wen, 2013). Perubahan ekspresi gen CASP3 dalam sistem kekebalan sel efektor berpengaruh terhadap kerentanan seorang anak, untuk menderita penyakit kawasaki (Onouchi, 2010). Selain itu, polimorfisme sel dendritik (DC-SIGN, CD209) telah menunjukkan fungsinya yang memicu kaskade anti-inflamasi dan terkait dengan kerentanan seorang anak terhadap penyakit Kawasaki (Kuo, 2014).

Hasil gambar untuk penyakit kawasaki

 

Gejala

 

Gejala klinis penyakit Kawasaki sering dimulai dengan demam tinggi dan terus-menerus, yang tidak responsif terhadap dosis normal obat turun demam parasetamol (acetaminophen) atau ibuprofen. Demam dapat bertahan terus selama 2 minggu dan biasanya disertai mudah marah dan anak menjadi emosional. Gejala klinis yang umum meliputi :

  1. Demam tinggi (lebih dari 39°C) yang biasanya berlangsung selama lebih dari 5 hari.
  2. Mata merah (konjungtivitis) tanpa sekret, juga dikenal sebagai “injeksi konjungtiva”
  3. Bibir berwarna merah terang, pecah-pecah, atau retak.
  4. Selaput lendir di mulut juga merah.
  5. Lidah merah dengan benjolan (papillae) di bagian belakang (lidah strawberry).
  6. Telapak tangan dan telapak kaki berwarna kemerahan.
  7. Ruam kulit dengan banyak bentuk
  8. Bengkak kelenjar getah bening hanya satu sisi, terutama di daerah leher.
  9. Sakit sendi (arthralgia) dan pembengkakan yang simetris.
  10. Lekas marah atau emosional.
  11. Tachycardia (detak jantung cepat)
  12. Telapak tangan dan telapak kaki mengelupas (desquamation) mulai dari sekitar kuku. Juga ada Garis Beau’s (garis putih melintang pada paku)

Berikut ini foto anak dengan gambaran klinik penyakit Kawasaki (From Wikipedia, the free encyclopedia)

Kawasaki

  1. Konjungtivitis bilateral non eksudatif, dengan konjungtiva kemerahan.
  2. Lidah strawberry, merah cerah, bibir bengkak dengan lecet vertikal dan perdarahan.
  3. Kemerahan kulit (rash) sampai di daerah perineum.
  4. Kemerahan (erythema) telapak tangan, disertai nyeri dan bengkak pada punggung tangan.
  5. Kemerahan (erythema) telapak kaki, disertai nyeri dan bengkak pada punggung kaki.
  6. Kulit pada jari mengelupas.
  7. Kemerahan (erythema) dan penebalan (induration) pada bekas sintikan imunisasi BCG.
  8. Kulit sekitar anus mengelupas.

Manifestasi klinik penyakit Kawasaki dan periodisasinya.

(From Wikipedia, the free encyclopedia)

Periodisasi Kawasaki

 

Komplikasi

Penyakit Kawasaki dapat menyebabkan vasculitis (radang pembuluh darah), terutama pada jantung. Lesi jantung dapat berupa dilatasi koroner (76%), aneurisma koroner (4%), aneurisma koroner besar (0,6%), penyempitan koroner (0,3%), dan lesi katup (20%) (Kuwabara, 2015). Aneurisma ini dapat mengakibatkan infark miokard (serangan jantung) pada anak.

Anak dengan penyakit Kawasaki mudah terjadi komplikasi aneurisma arteri koroner, terutama pasien yang tidak diobati secara dini dalam perjalanan penyakit. Selain itu, usia pasien anak dapat dijadikan prediktor untuk terjadinya lesi arteri koroner, yaitu aneurisme berbentuk huruf U pada bagian bawah jantung, yaitu usia <11 bulan (OR 3,0, 95% CI 1,4-6,6) dan > 48 bulan (OR 3,1, 95% CI 1,5-6,6) (Katano, 2014). Selain itu, adanya polimorfisme sel denritik CD209 bertanggung jawab atas kerentanan seorang anak mengalami penyakit Kawasaki, meskipun tidak berhubungan dengan pembentukan aneurisme dan respon pengobatan (Kuo, 2014). Faktor-faktor yang berhubungan dengan komplikasi aneurisma koroner adalah jumlah platelet lebih tinggi (OR 1,01) dan albumin rendah (OR 0,34), meskipun demikian tidak ada faktor yang secara signifikan berhubungan dengan aneurisma koroner sangat besar. Faktor yang terkait lesi katup jantung adalah usia lebih muda (OR 0,98), dan CRP yang lebih tinggi (OR 1,05) (Kuwabara, 2015).

 

 Foto Rontgen Dada Kawasaki  Angiografi Kawasaki
Foto Rontgen polos dada yang menunjukkan aneurisma besar pada arteri koronaria. Pemeriksaan angiografi yang menunjukkan aneurisma besar, dengan diameter 6,5 mm.

(From Wikipedia, the free encyclopedia)

Diagnosis

Tidak adanya penanda diagnostik definitif, menyebabkan lemahnya akurasi diagnostik dan evaluasi klinis pada pasien yang dicurigai menderita penyakit Kawasaki (Kentsis, 2013). Penyakit Kawasaki hanya dapat didiagnosis secara klinis dan tidak ada pemeriksaan laboratorium yang khusus. Dengan demikian, biasanya sulit sekali untuk menegakkan diagnosis, terutama pada awal perjalanan penyakit. Selain itu, banyak penyakit serius lainnya dapat menyebabkan gejala serupa, dan harus dipertimbangkan dalam diagnosis banding, termasuk demam berdarah Dengue, sindrom syok toksik, juvenil idiopatik artritis, dan anak keracunan merkuri (acrodynia).

Pada penyakit Kawasaki cukup sering (not uncommon) disertai adanya infeksi Human Adenovirus (HadV), meskipun mungkin merupakan infeksi persisten HAdV, sehingga harus ditafsirkan dengan hati-hati. Selain itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengungkapkan hubungan infeksi mikroba, misalnya Streptococcus spp, atau virus dengan patogenesis penyakit Kawasaki (Katano, 2012). Dengan pemeriksaan reaksi berantai polimerase (PCR) kuantitatif dan deteksi molekuler HadV, dapat membantu dalam membedakan penyakit infeksi HAdV yang menyerupai Kawasaki (mimicking) dari Kawasaki dengan infeksi HAdV yang bersamaan (concomitant) (Jaggi, et al., 2015). Meskipun limfadenitis leher (cervical lymphadenitis) adalah salah satu gejala utama dalam penyakit Kawasaki, biopsi kelenjar getah bening leher jarang dilakukan, karena penyakit Kawasaki biasanya didiagnosis dengan gejala klinis (Katano, 2012). Diagnosis klinis berdasarkan adanya demam 5 hari, ditambah 4 dari 5 kriteria diagnostik berikut ini: (1) eritema bibir atau rongga mulut atau retak bibir, (2) ruam kulit, (3) pembengkakan pada tangan atau kaki, (4) mata merah (injeksi konjungtiva), dan (5) pembesaran getah bening di leher minimal 15 milimeter.

Hasil gambar untuk penyakit kawasaki

Selain itu, diagnosis dapat ditegakkan hanya berdasarkan terjadinya aneurisma arteri koroner, meskipun hal tersebut sudah sangat terlambat. Jika tidak ditangani, gejala klinis tersebut akan hilang, tetapi aneurisma pada arteri koroner di jantung akan menetap.

Pemeriksaan laboratorium

Beberapa pemeriksaan penunjang medik pada penyakit Kawasaki dapat menunjukkan hasil sebagai berikut :

  1. Darah tepi terlihat anemia normositik dan akhirnya trombositosis.
  2. Tingkat sedimentasi eritrosit (laju enap darah) akan meningkat.
  3. C-reaktif protein (CRP) akan meningkat.
  4. Tes fungsi hati terdapat peradangan hati dan serum albumin rendah.
  5. Elektrokardiogram (EKG) terlihat disfungsi ventrikel atau kadang-kadang aritmia karena miokarditis.
  6. Ekokardiogram (Echo) terlihat perubahan halus arteri koroner atau, kemudian aneurisma.
  7. Ultrasound atau tomografi terkomputerisasi dapat menunjukkan hidrops (pembesaran) kantong empedu.
  8. Urinalisis terlihat sel darah putih dan protein dalam urin (piuria dan proteinuria), tanpa disertai pertumbuhan bakteri.
  9. Pungsi lumbal terlihat adanya meningitis aseptik.
  10. Angiografi untuk mendeteksi aneurisma arteri koroner menjadi standar emas untuk diagnosis, tetapi sekarang jarang digunakan karena telah dapat diketahui dengan ekokardiografi.

Peningkatan kadar meprin A dalam urin, terlihat apabila ada lesi arteri koroner pada tikus model yang mengalami penyakit Kawasaki. Profil proteoma urin mengungkapkan penanda baru molekul bukti penyakit Kawasaki, termasuk filamin C dan meprin A, yang menunjukkan peran dalam diagnostik penyakit Kawasaki yang sangat baik. Tanda klinis ini dapat meningkatkan akurasi diagnostik dan evaluasi klinis anak yang diduga mengalami penyakit Kawasaki, bahkan mengarah pada identifikasi sasaran terapi baru pada penyakit Kawasaki (Kentsis, 2013).

 

Diagnosis Banding

Penyakit Kawasaki dapat didiagnosis banding dengan morbili (campak), reaksi obat, parotitis akut, Stevens Johnson Syndrome, demam skarlatina, infeksi streptokokus grop A beta hemolitikus, Staphylococcal Scalded Skin Syndrome dam Juvenile Rheumatoid Arthritis.

 

Pengobatan

Saat ini, pemahaman yang tidak lengkap dari patogenesis molekul, tentu saja menghalangi identifikasi target rasional yang diperlukan untuk meningkatkan keberhasilan terapi pada penyakit Kawasaki (Kentsis, 2013). Oleh sebab itu, anak dengan penyakit Kawasaki harus dirawat di RS dan ditangani oleh seorang dokter yang memiliki pengalaman dengan penyakit ini. IVIG (imunoglobulin per infus) sebaiknya diberikan dalam dosis tinggi, yaitu 2 gr/kgBB selama 10-12 jam, yang biasanya akan terjadi perbaikan dalam waktu 24 jam. Jika demam tidak turun, dosis tambahan mungkin harus dipertimbangkan. IVIG adalah obat yang paling berguna dalam 7 hari pertama demam, untuk mencegah terjadinya aneurisma arteri koroner. Terapi globulin-pengganti immune (immune globulin–replacement therapy) seperti IVIG itu, telah menjadi pengobatan sejak diperkenalkan pada 1950-an. Selain pada penyakit Kawasaki, immune globulin intravena mungkin juga memainkan peran aktif dalam penyakit immunodefisiensi primer lainnya (Gelfand, 2012).

 

Hasil gambar untuk penyakit kawasaki

 

Salisilat, terutama aspirin, tetap merupakan bagian penting, meskipun salisilat saja tidak seefektif IVIG. Terapi aspirin dimulai pada dosis tinggi 80-100 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis sampai 2-3 hari demam mereda, dan kemudian dilanjutkan dengan dosis rendah 3-5 mg/kgBB/hari, ketika pasien diijinkan pulang ke rumah. Biasanya diberikan selama 2 bulan untuk mencegah pembentukan gumpalan darah (trombus) dan dihentikan jika pmeriksaan ekokardiografi tidak lagi menemukan kelainan koroner. Aspirin jangka panjang sebenarnya tidak direkomendasikan untuk anak karena berisiko terjadinya sindrom Reye.

Kortikosteroid juga telah digunakan, khususnya bila pengobatan lain gagal atau gejala-gejala kambuh, tetapi dalam uji coba terkontrol secara acak, penambahan kortikosteroid untuk IVIG dan aspirin tidak memperbaiki hasil terapi. Pengobatan lain adalah infliximab (Remicade) yang bekerja dengan jalan meningkatkan TNF-A (Tumor Necrosis Factor Alfa). Pasien dengan penyakit Kawasaki yang mengalami komplikasi pada jantung, dapat berupa lesi arteri koroner yaitu aneurisma dengan kalsifikasi dan trombus. Pada keadaan seperti ini, pasien memerlukan tindakan operasi bypass arteri koroner, dengan arteri mamaria interna kiri sebagai pilihan pertama bypass graft, karena patensi dan kelangsungan hidup pasien jangka panjang cukup memuaskan (Yuan, 2012)

Prognosis

Dengan terapi awal, gejala akut dapat diatasi dan risiko aneurisma arteri koroner sangat berkurang. Meskipun tidak diobati, sebenarnya gejala penyakit Kawasaki yang akut juga membaik, tetapi risiko terjadinya aneurisma arteri koroner jauh lebih besar. Secara keseluruhan, sekitar 2% pasien akan meninggal karena komplikasi nodular koroner. Secara keseluruhan, komplikasi yang mematikan pada pasien yang telah mendapatkan terapi dini sangat langka, dibandingkan dengan yang tidak. Pasien dengan penyakit Kawasaki seharusnya diperiksa EKG pada tahap awal, setiap beberapa minggu, dan kemudian setiap 1 atau 2 tahun, untuk pemantauan komplikasi pada jantung.

Pencegahan

Tidak dikenal cara pencegahan untuk penyakit Kawasaki. Pencegahan dilakukan untuk menghindari perburukan kerusakan koroner. Orangtua anak penderita penyakit Kawasaki dengan kelainan koroner, ditekankan tentang perlunya tindak lanjut, yaitu minum obat secara teratur dan pemantauan kondisi jantung. Pengamatan penderita paska penyakit Kawasaki, terutama dengan riwayat aneurisma koroner berat, dilakukan jangka panjang bahkan mungkin seumur hidup. Aneurisme koroner yang ringan pada umumnya akan mengalami resolusi dalam beberaopa bulan (Pujiadi, 2011).

 

Hasil gambar untuk penyakit kawasaki

 

Penutup

Semoga akan terjadi pemahaman yang lebih baik bagi kita semua tentang penyakit Kawasaki ini.

 Wikan Sekian

Yogyakarta, 21 Agustus 2015

*) dokter spesialis anak di RS Bethesda dan FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM

BACAAN :

Gelfand, E. 2012. Intravenous Immune Globulin in Autoimmune and Inflammatory Diseases. N Engl J Med;367:2015-25. DOI: 10.1056/NEJMra1009433

Jaggi, P., Kajon, A., Mejias, A., Ramilo, O. and Leber, A. 2015. Human Adenovirus Infection in Kawasaki Disease: A Confounding Bystander? CID 2013:56 (1 January), downloaded from http://cid.oxfordjournals.org/ by guest on June 11, 2015

Katano, H., Sato, S., Sekizuka, T., Kinumaki, A., Fukumoto, H., Sato, Y., Hasegawa, H., Morikawa, S. 2012. Pathogenic characterization of a cervical lymph node derived from a patient with Kawasaki disease, Int J Clin Exp Pathol;5(8):814-823 www.ijcep.com /ISSN:1936-2625/IJCEP1208021

Kentsis, A., Shulman, A., Ahmed, S., Brennan, A., Monuteaux, M., Lee, Y., Lipsett, S. 2013. Urine proteomics for discovery of improved diagnostic markers of Kawasaki disease, EMBO Mol Med, 5, 210–220, DOI 10.1002/emmm.201201494

Kitano, N., Suzuki, H., Takeuchi, T., Suenaga, T., Kakimoto, N., Shibuta, S., Yoshikawa, N., and Takeshita, T. 2014. Epidemiologic Features and Prognostic Factors of Coronary Artery Lesions Associated With Kawasaki Disease Based on a 13-Year Cohort of Consecutive Cases Identified by Complete Enumeration Surveys in Wakayama, Japan. J Epidemiol;24(5):427-434, doi:10.2188/jea.JE20140018

Kuo, H., Huang, Y., Chien, S., Yu, H., Hsieh, K., Hsu, Y., Chang, W. 2014. Genetic Variants of CD209 Associated with Kawasaki Disease Susceptibility. PLOS ONE | www.plosone.org 1 August 2014 | Volume 9 | Issue 8 | e105236

Kuwabara, M., Yashiro, M., Kotani, K., Tsuboi, S., Ae, R., Nakamura, Y., Yanagawa, H., and Kawasaki, T. 2015. Cardiac Lesions and Initial Laboratory Data in Kawasaki Disease: a Nationwide Survey in Japan J Epidemiol;25(3):189-193, doi:10.2188/jea.JE20140128

Lee, K., Rhim, J., and Kang, J. 2012. Kawasaki Disease: Laboratory Findings and an Immunopathogenesis on the Premise of a “Protein Homeostasis System”. Yonsei Med J, 53 (2): 262-275. 

Onouchi, Y., Ozaki, K., Buns, J., Shimizu, C., Hamada, H., Honda, T., Terai, M. 2010. Common variants in CASP3 confer susceptibility to Kawasaki disease, Human Molecular Genetics, Vol. 19, No. 14 2898–2906, doi:10.1093/hmg/ddq176.

Yuan, S. 2012. Cardiac surgical procedures for the coronary sequelae of Kawasaki disease, Libyan J Med, 7: 19796 - http://dx.doi.org/10.3402/ljm.v7i0.19796

Yu-wen, L., Wang, J., Sun, L., Zhang, J., Cao, L., Ding, Y., Chen, Y., Dou, J. 2015. Understanding the Pathogenesis of Kawasaki Disease by Network and Pathway Analysis, Computational and Mathematical Methods in Medicine, Volume 2013, Article ID 989307, 17 pages, http://dx.doi.org/10.1155/2013/989307.

Pujiadi, A., Hegar, B., Handryastuti, S., Idris, N., Gandaputra E., Harmoniati E., Yuliarti, K (ed). 2011, Pedoman Pelayanan Medis IDAI, Jilid II, Jakarta, pp 150-3.

http://www.news-medical.net/health/Kawasaki-Disease

From Wikipedia, the free encyclopedia


 

Categories
Istanbul

STEROID PADA SERANGAN ASMA

Hasil gambar untuk serangan asma pada anak

STEROID  PADA  SERANGAN  ASMA

fx. wikan indrarto*)

Steroid sistemik disarankan dalam pedoman tatalaksana untuk mengatasi serangan kekambuhan atau eksaserbasi asma pada anak. Penggunaan selama ini adalah paket pemberian 5 hari prednison atau prednisolon obat telan, namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa deksametason memiliki kemampuan yang lebih baik dan dengan demikian dapat merupakan pilihan yang lebih baik, terutama untuk anak kecil. Namun demikian, banyak penelitian tentang deksametason menggunakan hanya satu dosis tunggal, sementara dosis deksametason, prednison atau prednisolon yang digunakan dalam berbagai penelitian lainnya telah cukup berbeda, sehingga membuat perbandingan antar penelitian lebih sulit dilakukan.

Hasil gambar untuk serangan asma pada anak

Paniagua dan rekan (Paniagua N, Lopez R, Munoz R, et al. Randomized trial of dexamethasone versus prednisone for children with acute asthma exacerbations. J Pediatr. 2017;191:190-196) melakukan penelitian yang bersifat prospective, randomized, open-label, and noninferiority trial yang dilakukan di Spanyol. Dr. Natalia Paniagua, PhD, merupakan ketua tim peneliti dan Chief of Pediatric Emergency Department Hospital Universitario Cruces, di Bilbao. Kita tahu bahwa Bilbao adalah sebuah kota di bagian utara Spanyol, merupakan kota terbesar ke 10 di seluruh Spanyol, dengan populasi 345.141 jiwa pada tahun 2015.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan apakah dua dosis deksametason obat telan atau oral, sama efektifnya dengan prednisolon atau prednison selama 5 hari, dalam tatalaksana serangan kekambuhan atau eksaserbasi asma pada anak. Anak berusia 12 bulan sampai 14 tahun yang dibawa Unit Gawat Darurat (UGD) selama tahun 2014-2015 dan memenuhi syarat, dilibatkan dalam penelitian ini. Anak didiagnosis menderita asma jika mereka memiliki setidaknya dua kali episode mengi atau wheezing sebelumnya, yang responsif terhadap obat asama baku yaitu agonis beta obat hirupan atau inhalasi. Selain itu, semua subyek penelitian memiliki gejala asma saat diperiksa di UGD, yaitu mengi atau wheezing, dyspnea atau sesak napas, batuk, atau peningkatan usaha napas. Anak dengan serangan eksaserbasi asma berat dikeluarkan dari penelitian ini, yaitu anak yang selanjutnya dirawat di unit perawatan intensif, memerlukan oksigen dengan aliran tinggi, atau yang menerima magnesium sulfat, obat pereda serangan asam berat

Hasil gambar untuk serangan asma pada anak

Pada penelitian tersebut semua anak diberikan obat baku sesuai protokol pada serangan asma, yaitu dua atau tiga dosis obat agonis beta hirupan atau inhalasi dalam 60 menit pertama, serta pemberian obat tambahan dengan ipratropium bromida. Anak dengan saturasi oksigen kurang dari 93% diberi oksigen tambahan. Anak dalam kelompok dexamethasone menerima obat telan atau per oral dengan dosis 0,6 mg / kg (dosis maksimum 12 mg) saat datang di UGD serta dosis kedua pada 24 jam kemudian. Anak dalam kelompok prednison atau prednisolon menerima obat telan atau per oral dengan dosis 1,5 mg / kg di UGD dan diikuti 1 mg / kg sehari, dibagi menjadi dua dosis pada hari ke 2 sampai ke 5 di rumah.

Anggota tim peneliti menghubungi keluarga pasien melalui telepon pada hari ke 7 dan hari ke 15. Selama panggilan telepon tersebut, para peneliti menilai tingkat keparahan gejala, kualitas hidup, dan apakah anak tersebut telah memerlukan perawatan darurat di RS lain, karena terjadi kekambuhan serangan asma. Hasil utamanya adalah persentase pasien yang terus mengalami gejala asma pada hari ke 7 dan skor kualitas hidup. Selain itu, juga kunjungan kembali ke UGD karena kekambuhan asma ulang, kepatuhan terhadap terapi, rawat inap di rumah sakit, dan keluhan muntah

Hasil gambar untuk serangan asma pada anak

Penelitian ini secara acak melibatkan 590 anak dan > 95% dari kedua kelompok mampu menyelesaikan penelitian ini. Tidak ada perbedaan dalam persentase pasien pada setiap kelompok, yang masih mengalami gejala asma pada hari ke 7 (56,6% kelompok deksametason dan 58,3% kelompok prednison atau prednisolon). Tidak ada perbedaan dalam persentase anak yang harus diberikan obat steroid dosis berikutnya (7,8% kelompok deksametason dibandingkan dengan 6,2% kelompok prednison atau prednisolon). Tidak ada perbedaan frekuensi muntah atau emesis (<5% dari masing-masing kelompok). Kunjungan kembali ke UGD RS terjadi pada 4,6% kelompok deksametason dan 3,2% kelompok prednison atau prednisolon, tetapi semua perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik. Kepatuhan pengobatan sedikit lebih baik pada kelompok deksametason (99,3%) dibandingkan dengan (96%) kelompok prednison atau prednisolon.

Hasil gambar untuk serangan asma pada anak

Para peneliti menyimpulkan bahwa deksametason merupakan pilihan tepat untuk mengobati serangan atau eksaserbasi asma akut pada anak dan obat ini sebaik prednison atau prednisolon dalam penelitian ini. Pemberian deksametason cukup 2 hari, sedangkan prednison atau prednisolon memerlukan pengobatan selama 5 hari.

Hasil gambar untuk serangan asma pada anak

Rejimen obat dua dosis pada umumnya akan memiliki kepatuhan yang lebih baik, tetapi dalam penelitian ini rejimen 10 dosis juga memiliki tingkat kepatuhan sangat tinggi, yaitu > 93%. Penting untuk diingat bahwa penelitian ini bukan membandingkan dosis tunggal deksametason yang diberikan di UGD dengan prednison atau prednisolon selama 5 hari. Banyak dokter klinisi telah mengekstrapolasi bukti penelitian yang ada, misalnya menyarankan bahwa dosis tunggal obat di UGD “sama baiknya” dengan dosis berikutnya di rumah, pada hal tanpa data yang cukup untuk mendukungnya.

Hasil gambar untuk serangan asma pada anak

Oleh sebab itu, data dari penelitian Paniagua dan rekan di Spanyol yang meyakinkan ini, menunjukkan bahwa pemberian dexamethasone dua dosis, tampaknya merupakan pilihan yang sangat menarik untuk tatalaksana anak yang mengalami serangan atau eksaserbasi asma. Apakah kita sudah bertindak bijak?

 Hasil gambar untuk dr wikan indrarto

Sekian

Yogyakarta, 8 Maret 2018

*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak, Lektor di FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
Healthy Life Jalan-jalan

2008 SEKEJAP DI THAILAND

SEKEJAP DI THAILAND

fx. wikan indrarto dan b. sari prasetyati*)

Dalam rangka mengikuti ’10th Asian Congress of Pediatric Nephrology (ACPN) 2008′ dengan tema ‘Innovation in Prevention and Therapeutic Strategies’, yang berlangsung pada 28-30 Agustus 2008, kami mengunjungi Thailand. Acara tersebut diadakan di Bangkok Convention Centre at Central World 23rd floor, di Bangkok ibu kota Thailand. Kami menggunakan Garuda Indonesia GA 866, sebuah pesawat Boeing 737 versi 400 yang berangkat pk. 22 dari Jakarta dan sampai di Bangkok pk. 02 dini hari, hari berikutnya. Kami mendarat di Suvarnabhumi International Airport Bangkok yang baru, modern, artistik, dan gagah yang terdiri dari 6 lantai, di tengahnya ada Novotel Transit Hotel dan kantor AOT (official airport) yang tidak kalah artistik. Semua penumpang yang turun dari pesawat dilayani di lantai 2.

 
Bandara
 
100_2923
Saat mendarat Suvarnabhumi International Airport Bangkok, di tengah malam yang dingin (kiri). Bergaya dalam pakaian tradisional Siam dan salam persahabatan mereka (kanan)

Masih dalam perdebatan sampai sekarang, namun banyak ahli meyakini bangsa Thai berasal dari bagian barat laut propinsi Szechuan di daratan Cina, yang bermigrasi sekitar 4.500 tahun yang lalu, dan kemudian mendiami wilayah Thailand sekarang. Dugaan lain berkembang pesat setelah ditemukannya artefak di desa Ban Chiang, kabupaten Nong Han, Propinsi Udon Thani, sebelah timur laut Thailand. Hal ini meliputi bukti matalurgi, arkeologi dan sosiologi yang menunjukkan adanya budaya dan kehidupan sempurna sebagai sebuah awal suatu masyarakat bangsa. Di situlah bangsa Thai diduga berasal, yang kemudian justru bermigrasi pada 3.500 tahun yang lalu ke banyak bagian Asia, termasuk Cina. Masih diperlukan penelitian ilmiah lainnya, untuk membuktikan mana yang sesungguhnya benar, dan hal tersebut tidak dibahas dalam konggres yang kami ikuti.

.

Kata ‘Siam’ adalah sebutan bangsa Thai yang digunakan sejak jaman dahulu sampai pada tahun 1939, dan digunakan lagi antara 1945 sampai 1949. Sejak tanggal 11 Mei 1949 pada saat proklamasi kemerdekaan, namanya diubah menjadi ‘Prathet Thai’ atau ‘Thailand’, sebuah nama yang digunakan sampai sekarang. Kata ‘Thai’ berarti ‘bebas’, sehingga secara harafiah berarti ‘Tanah Kebebasan’. Thailand terletak di jantung Asia Tenggara dengan luas wilayah 513.115 km2 yang terbentang 1.620 km dari utara ke selatan dan 775 km dari timur ke barat. Thailand berbatasan dengan Laos dan sedikit Myanmar di utara, Kamboja di timur, Myanmar di barat dan Malaysia di selatan. Thailand dibagi ke dalam 76 propinsi, dengan kota-kota utamanya adalah Bangkok, Chiangmai, Songkla, Ayutthaya, Chonburi, Nakhon Ratchasima dan Khon Kaen. Bendera Thalaind secara seremonial dikibarkan setiap pagi hari, baik di kota-kota maupun di desa-desa, terdiri dari 5 buah pita mendatar, yaitu merah, putih dan biru. Hal ini melambangkan keharmonisan 3 pilar negara, yang dinamakan ‘trirong’. Hal tersebut diperkenalkan oleh Raja Rama VI (Vajiravudh) pada tahun 1917, yang awalnya disertai gambar gajah putih, sebagai lambang kerajaan. Bangsa Thai sangat menghormati Raja, Ratu dan anggota keluarga kerajaan, serta bendera nasionalnya yang banyak sekali berkibar di seantero negeri, setiap saat, bukan hanya pada bulan tertentu saja. Dengan alasan itu jugalah, kami bertekad mengkoleksi bendera Thailand, mencarinya di setiap toko cindera mata, dan ikut juga ‘mengenangnya’.

 
100_2781
 
Dermaga

Gambar Raja Bhumibol Adulyadid banyak ditemukan di seluruh negeri, Raja yang sangat dihormati rakyatnya

Dermaga ‘River City’ di ujung Jl. Charoen Krung, tempat kami memulai wisata sungai Chao Phraya

Hari pertama setelah sarapan kami menuju ‘River City’ di ujung Jl. Charoen Krung, untuk mencoba naik kapal wisata menjelajah Sungai Chao Phraya. Kami berdua berangkat bersama dengan dr. Pungki dan suami dari Yogya, juga dr. Heru, dr. Mega dan kakaknya dari Semarang. Sebelumnya kami diajak melawan arus dan menyusur sungai Chao Phraya yang lebar sekali, masuk ke anak sungai Klong Kai, melihat pasar terapung, rumah asli masyarakat Thai jaman dahulu, yaitu rumah panggung di tepi sungai, beserta aktivitas harian mereka. Pasar terapung atau dinamakan ‘Damnoen Saduak’, dapat sampai berupa ratusan kapal kayu yang memuat buah, sayur, cindera mata ataupun barang harian lainnya yang lalu lalang di banyak anak sungai dan kanal di sekitar sungai Chao Phraya. Kami juga diajak melihat ikan patin yang disucikan, sehingga dilarang untuk ditangkap dan dimakan oleh masyarakat Thai yang beragama Buddha. Ikan-ikan tersebut berenang-renang disekitar vihara Kanyalanamit yang besar dan diberi makan roti oleh banyak warga dan wisatawan yang berperahu di situ, juga oleh para biksu di wihara tersebut. Oleh karenanya, populasinya sangat banyak dan berukuran besar, bahkan sampai sebesar lengan orang dewasa. Untung ikan itu tidak hanyut sampai di Indonesia, sebab hampir pasti akan ‘musnah’ menjadi ikan bakar yang lezat.

 
100_2802
 
Transaksi

Suasana kapal wisata sungai yang melawan arus deras Sungai Chao Phraya

Transaksi di pasar terapung atau ‘Damnoen Saduak’, kami membeli rambutan

Kami selanjutnya mengunjungi Wat Arunratchamararam (Tample of the Dawn), yaitu sebuah candi milik kerajaan yang dibangun pada saat Dinasti Chakkri berkuasa di ibu kota lama, yaitu Ayutthaya. Pada awalnya dinamakan Wat Makok (the Olive Temple) dan diubah oleh Raja Thaksin menjadi Wat Chaeng saat ibukota berpindah ke Thonburi. Oleh Raja Rama II dikembangkan lebih luas dan disebut Wat Arunratchatharam. Raja Rama IV meneruskan pembangunannya dan menyebut dengan namanya yang sekarang, terdiri dari pagoda (prang) yang indah, berukuran tinggi 66,8 m, lebar 236 m2, dikelilingi oleh pagoda sekitar (satelit), semuanya ditempeli ribuan mosaik porselin yang memantulkan bermacam warna cahaya, bergaya dekorasi Cina dan merupakan ‘landmark’ Thailand. Wat Arun terletak di tepi barat sungai Chao Phraya yang terkenal, terdiri dari 13 bagian, yaitu ruang utama (Borth-Noi), balkon sekitar (Phra Viharn Kot), kapel (Phra Viharn), 4 buah pagoda satelit (chedi), pagoda utama (principal prang), paviliun dekat sungai (Sahassateja Tasakantha) dan gerbang utama. Setelah berfoto-foto dan mengagumi keindahannya, kami mampir ke sisi barat kompleks, yaitu toko souvenir, seperti kaos, gantungan kunci, hiasan dinding dan lain-lain. Yang mengherankan kami, semuanya dalam suasana Indonesia, baik pembelinya, penjualnya, bahkan musiknya dengan lagu-lagu dari Ebiet G. Ade, semuanya berbahasa Indonesia. Sangat banyak wisatawan asal Indonesia dan mereka dikenal sangat royal membelanjakan uangnya di situ. Kami berdua, tidak sama persis dengan mereka.

 
Wat Arun
 
Wat Po

Wat Arunratchamararam (Tample of the Dawn) yang merupakan landmark Thailand, sangat indah di waktu siang, maupun malam

Wat Pho di Jl. Chetuphon dengan patung Buddha raksasa berlapis emas dalam posisi tiduran sepanjang 46 meter dan berat 5 ton.

Setelah puas, kami menyeberangi sungai Chao Phraya dengan taxi air, semacam feri penyeberangan sungai, yang bersih, rapi dan terjadwal. Kami mengunjungi Wat Pho di Jl. Chetuphon, sebuah wihara besar yang di dalamnya terdapat patung Buddha raksasa berlapis emas dalam posisi tiduran sepanjang 46 meter dan berat 5 ton. Setiap pengunjung harus melepaskan alas kakinya dan dipersilakan masuk secara bergiliran, teratur dan kidhmat. Kami diijinkan mengambil foto sepuasnya, baik wajah, tangan maupun sekujur tubuh patung yang berlapis emas kekuningan. Setelah berfoto seperlunya, kami berjalan-jalan sepanjang kompleks untuk mengamati keindahan arsitekturnya, juga bangunan indah penyimpan abu jenazah setelah dikremasi. Masyarakat Buddha memiliki tradisi dengan melakukan kremasi (membakar) dan menyimpan abu jenazah keluarganya di kompleks wihara. Selain itu, setiap hari mereka bersembahayang dan membakar sesaji, menaruh bunga putih dan kuning di tempat pemujaan, dan menghaturkan sembah dengan kedua tangan di dada, saat melewati tempat tersebut. Tradisi ini mengingatkan gaya serupa masyarakat Hindu di Bali.

.

Perjalanan kami lanjutkan kembali ke Central World, tempat konggres untuk mengurus proses registrasi kami semua. Central World terletak di dekat Siam Paragon, sebuah supermal terbesar di seluruh ASEAN. Di lantai dasarnya ada Siam Ocean World, yaitu ‘the world class aquarium’. Di situ ada paket menyelam dengan hiu, yang disebut raja lautan (‘king of the ocean’ atau ‘ragged-tooth sahrks’), ada kegiatan jalan-jalan di dasar laut, pertunjukan memberi makan pinguin dan menonton petualangan dasar lautan dalam bentuk hi-fi 4D.

.

Setelah selesai mengurus registrasi konggres, kami berpisah dengan rombongan, sebab mereka akan kembali ke hotel untuk makan siang. Kami memutuskan untuk kembali naik BTS (kereta layang bergerbong 3) dari Siam Center Station ke Silom Station, lalu berganti BTS yang menuju Hua Lamphong Station. Proses membeli tiket BTS yang bersifat elektrik dan full-computerized, sejatinya telah menjadi sebuah tantangan teknologi bagi kami berdua yang udik dan gaptek (gagap teknologi). Dari situlah kami menjelajah kota tua Bangkok di pinggir sungai Chao Phraya, yang lebar, berair coklat, kadang berombak, penuh enceng gondok yang hanyut untuk keseimbangan ekosistem sungai, tetapi yang sangat membanggakan, sebab tidak ada sampah sama sekali. Berhubung istana raja atau the Royal Grand Palace yang akan kami tuju tutup pada pk. 15, maka kami mengunjungi tempat lain, yaitu banyak vihara atau wat. Pertama adalah Wat Ratchanadda (Loha Prasat), kemudian Wat Benchamabothit (Marble Tample) dan Wat Saket (Golden Mount).

 
BTS
 
Tuktuk

BTS (kereta layang bergerbong 3) yang tepat waktu, canggih dan berkarcis elektrik

Tuk-tuk beroda 3 yang open-air dan lincah menembus kemacetan kota Bangkok

Kami naik tuk-tuk dengan tarif paket 40 Bath ke semua tujuan dan mampir di suatu toko perhiasan batu mulia. Setiap sopir tuk-tuk yang mengantar tamu ke tempat tersebut, akan mendapatkan kupon BBM gratis seharga 20 Bath dari pemilik toko. Sebuah kerja sama antar unsur yang sangat baik dan saling menguntungkan, sehingga sektor pariwisata Thailand telah berhasil menjadi sumber pendapatan negara yang utama. Kami diantar pulang sampai ke stasiun BTS di Rajchathewi, untuk kemudian naik BTS ke Phayathai, yaitu stasiun terdekat dengan hotel kami, Hotel Florida. Hotel kami terletak di Jl. Phaya Thai no 43, Ratchathewi, Bangkok.

.

Pagi berikutnya, setelah acara pembukaan oleh Prof. Dusit Lumlertgul (Thailand) dan sesi ilmiah pertama oleh Prof. David Harris (Australia), kami mengunjungi The Royal Grand Palace. Perjalanan dimulai dengan naik BTS dari stasiun Phayathai menuju Siam, sebuah stasiun BTS penghubung (BTS interchange station). Kemudian berganti BTS menuju Silom. Stasiun Silom merupakan stasiun penghubung dengan subway (MRT interchange station) dengan subway (kereta bawah tanah). Kami berganti naik subway untuk menuju ke stasiun Hua Lumphong. Di stasiun kereta api utama tersebut, kami mencari informasi tentang jadwal kereta ke Ayutthaya dan kota-kota lain yang akan kami kunjungi hari berikutnya. Jadwal kereta terpampang sangat informatif dalam dua huruf, Thai dan latin. Kami lanjutkan perjalanan ke Wat Phra Kaeo (the Royal Grand Palace) di Jl. Maharat dengan taxi-meter, sebuah sedan Corrolla Altis yang warna-warni, bertarif 65 Bath. Untunglah kami naik taxi, sehingga dapat turun persis di depan gerbang pengunjung istana. Wisatawan lain yang berombongan dengan minibus ataupun naik bus pariwisata, diharuskan turun di tempat parkir khusus yang terletak cukup jauh untuk berjalan kaki. Istana ini menyimpan berbagai koleksi bangunan paviliun, candi (chedis) dan stupa emas (golden spires) yang menjadi sebuah masterpiece tersendiri. Dengan tiket masuk 300 Bath, kita dapat melihat keindahan di dalamnya, yaitu tempat doa kerajaan (the Royal Chapel) yang menyimpan patung Permata Buddha (the Emerald Buddha) yang dibuat dari batu mulia. Pulang dari the Royal Grand Palace kami menggunakan taxi-meter pada jalur yang sama, sebab kalau naik tuk-tuk, meskipun lebih murah dengan tarif hanya 40 Bath, kami harus mampir ke toko souvenir untuk mengambil kupon BBM bagi sopirnya. Kami S4 (sungguh sangat sungkan sekali) dengan para penjaga toko, sebab kami pasti tidak akan membeli apapun di situ, maklum kami berdana cekak.

 
Wat Kra
 
Taman Rama

Wat Phra Kaeo (the Royal Grand Palace) di Jl. Maharat yang berstupa emas, sangat indah sekali

Taman Thanon Rama IV yang luas, indah dan dilengkapi dengan patung Raja Mongkutklao yang berdiri gagah

Setelah mencapai Stasiun Silom, kami keluar dari jalur subway (di bawah tanah) untuk menuju Taman Thanon Rama IV yang luas, indah dan dilengkapi dengan patung Raja Mongkutklao yang berdiri gagah dan berfoto sejenak di situ. Kami menyeberang jalan Ratchadamri untuk menuju Central World dengan taxi-meter, sebuah sedan Corrola Altis. Setelah agak tersesat di dalam gedung yang sangat luas, megah, modern, artistik, dan digunakan sebagai supermal Isetan, akhirnya kami menemukan tempat konggresnya, yaitu di lantai 23 gedung paling belakang, terutama atas bimbingan dr. Heru via sms.

.

Selesai mengikuti sesi konggres pagi, yang berjudul ‘Renal Bone Disease’ dan ‘Restoration in Chronic Kidney Disease’, kami berjalan kaki menuju stasiun Chitlom untuk mencapai stasiun Victoria Monument dengan menggunakan BTS bertarif 40 Baht. Kesan umum tentang fasilitas umum di Bangkok adalah bersih, jarang sekali ada anak, kaum wanita lebih banyak, cantik-cantik, dan hampir tidak ada orang yang gemuk, kemungkinan karena semua orang dituntut untuk berjalan kaki ke sana ke mari. Telephone umum coin masih banyak dan berfungsi baik, setiap orang membawa HP (handphone), meskipun jarang-jarang digunakan untuk bicara, apalagi untuk sms, hampir tidak ada yang melakukannya. Kalau seseorang harus berbicara dengan HP di tempat umum, bicaranya sopan, lembut dan sangat pelan agar tidak mengganggu orang lain di sekitarnya, dan dengan diiringi ekspresi wajah yang nyata, sesuai dengan konteks pembicaraan. Sistem dalam telepon seluler di Thailand menggunakan gelombang NMT 900 Mhz, bukan CDMA dan standar GSM internasional. Papan reklame sangat banyak, baik di dalam maupun di luar gedung, tetapi tidak ada satupun iklan rokok, kartu seluler dan pesawat HP, sangat berbeda dengan di tanah air. Toilet umum bersih dan teratur, untuk di luar gedung bertarif 3 Bath. Kendaraan yang melaju di jalanan hampir semuanya mobil ‘made in Japan’ seperti di tanah air, bedanya hanya bentuknya sebagian besar sedan dan ‘double cabin’. Mobil keluarga (MPV) hampir tidak ada, kecuali Toyota Commuter dan Hi-Ace yang digunakan sebagai mobil angkutan penumpang ataupun wisatawan. Beberapa model sedan yang persis dengan mobil di tanah air adalah City, Corolla, Civic, Accord, Lancer, Vios, dan Camry. Ada juga Innova, Fortuner, Avanza, APV, Jazz, yang pada umumnya semua bersih, terawat dan full variasi.

 
Altis
 
Innova

Corolla Altis yang menjadi taxi-meter di Bangkok dan sekitarnya

Toyota Innova yang menjadi taxi-meter di Pattaya dan sekitarnya

Sebagai gambaran tentang angkutan umum di kota Bangkok, di sana beredar taxi-meter, tuk-tuks, bis kota, minibus, BTS dan subway. Sepeda motor sangat jarang, baik di kota besar, maupun di desa-desa, jauh lebih sedikit dibandingkan mobil. Taksi dengan argometer pada umumnya berupa sedan Toyota Corolla Altis atau All New Corolla, bertuliskan taxi-meter, beroperasi 24 jam penuh, dengan tarif duduk 35 Baht dalam 2 km pertama, serta 2 Baht per km lanjutannya. Tuk-tuks atau sejenis bajaj di Jakarta yang full variasi, colorfull, roda 3, open-air, dapat menembus kemacetan jalan raya, dan sangat disarankan untuk digunakan para wisatawan, dalam menjelajah kota secara murah. Bis kota ada yang ber-AC dan ada yang tanpa AC (ekonomi), tarifnya mulai dari 10 Baht tergantung jarak, berwarna biru, oranye, putih, dan hijau sesuai dengan jalurnya. Bis kota yang tanpa AC adalah bis tua yang sebagian disediakan gratis untuk seluruh penumpang, berhenti hanya pada halte khusus, dengan jendela yang selalu terbuka, namun pintu tertutup rapat secara elektrik dan berawak 1 orang, yaitu sopir saja. Minibus yang berwarna pinkish-violet, ber-AC, dan tarifnya sedikit lebih mahal, 10-25 Baht per orang tergantung jarak, pada umumnya berupa Toyota Commuter, berkapasitas 11 penumpang, sangat mudah dijumpai di saentero negeri, tetapi mobil serupa hanya sangat sedikit yang beredar di Indonesia. Semua penumpang duduk, tidak boleh ada yang berdiri. BTS Skytrain atau kereta api yang berjalan di atas jalan layang, memiliki 3 gerbong, berjarak 5 menit setiap kereta, berhenti di setiap stasiun di area yang ramai (major commercial areas). Ada 2 jalur, yaitu dari utara ke selatan, yaitu dari Mo Chit ke On Nut (disebut Sukhumvit Line) dan dari barat ke timur, yaitu dari National Stadium ke Taksin Bridge (disebut Silom Line). Mulai beroperasi pukul 6 pagi sampai tengah malam, bertarif mulai 10-40 Baht, tergantung jarak dengan karcis elektronik yang dapat mencegah manipulasi ataupun korupsi. MRT Bangkok Subway atau kereta bawah tanah yang merupakan moda transportasi paling baru, dimulai dari Hua Lamphong, stasiun utama Bangkok, melalui Jalan Rama IV dan Ratchadaphisek, serta melalui Queen Sirikit National Convention Centre. Kami telah mencoba semuanya dengan sangat antusias dan berkesan sangat dalam.

 
Bis
 
Hi Ace

Bis antar kota di Thailand, tinggi dan gagah.

Semua full-AC dan reclyning seat

Toyota Commuter, berkapasitas 11 penumpang, sangat mudah dijumpai di saentero negeri

Setelah sesi ilmiah siang, yaitu ‘Peritoneal Dialysis’ dan ‘Role of Biomarkers in Renal Failure’, kami pergi dengan BTS ke stasiun Victoria Monument dan kami mencari pangkalan mini bus yang menuju kota Ayutthaya. Setelah bertanya hampir 10 kali dengan bahasa Tarzan, Inggris dan Tuhan, kami berhasil menemukan minibus ke Ayutthaya di sisi timur monumen tersebut, yaitu sebuah Toyota Commuter 2,4 lt bensin, ber-AC, bertarif 165 Bath per orang, kapasitas 11 orang. Kami segera meluncur ke Ayutthaya di jalan yang sekelas jalan tol, meskipun itu sebenarnya jalan biasa. Bagus, halus, lebar, dan terencana. Foto Raja, Ratu dan bendera nasional banyak terpasang di segenap penjuru kota dalam berbagai ekspresi. Hal itu menunjukkan betapa besar cinta rakyat yang mayoritas beragama Buddha, terhadap beliau berdua dan juga kebanggaan rakyat terhadap bendera nasional Thailand. Bahkan, stiker bertuliskan ‘Live Long the King’ banyak tertempel di kaca mobil.

.

Perlu diingatkan bahwa istana kerajaan yang lama terletak di Ayutthaya, yaitu di sebelah hulu Sungai Chao Phraya, yang sekaligus sebagai ibukota kerajaan kuno (Ancient Capital of Siam). Saat ini, Ayuttaya sudah berkembang menjadi salah satu kota besar di Thailand, tetapi tetap menyimpan bukti-bukti kebudayaan lama dalam lebih dari 400 buah bentuk sisa-sisa istana, wihara, makam keluarga kerajaan dan masih banyak bangunan cagar budaya lainnya yang tetap terjaga keberadaannya. Istana Bang Pa-in adalah istana yang memiliki arsitektur paling unik, sebab merupakan gabungan dari tradisi asli Thai, unsur Cina dan Gothic dari Portugis. Kami hanya sempat mengunjungi 3 kompleks yang terkenal, terindah dan terjangkau saja, yaitu Wat Mahathat, Wat Lokayasutharam dan Wat Chaiwatanaram.

 
Buddha
 
Kepala Buddha

Bersemedi di sisi patung Buddha di Wat Mahathat yang merupakan makam kerajaan di Ayutthaya

Patung kepala Buddha (Lord Buddha’s Head) yang dibuat dengan akar pohon beringin di Wat Mahathat

Wat Mahathat adalah makam kerajaan di Ayutthaya yang dibangun oleh Raja Borommarachathirat I di tahun 1374, dan disempurnakan oleh Raja Ramesuan (1388-1395). Saat Raja Songtham (1610-1628) dihancurkan bangsa Khmer. Restorasi dikerjakan oleh Raja Prasatthong (1630-1655). Ditambahkan oleh Raja Borommakot (1732-1758) dan terbakar pada 1767 dengan seluruh kota Ayutthaya. Wat Mahathat merupakan makam Buddha aliran Kamavasi sejak Mahathera Thammakanlayan, yang dibangun oleh Raja Borommarachathirat I. Oleh Raja Rama VI pada masa Rattanakosin 1911 hancur. Pada 1956 diperbaiki oleh Departemen Kebudayaan direstorasi dan barang yang penting saat ini telah disimpan di Chao Sam Phraya National Museum di Bangkok. Makam ini terdiri dari main prang, main vihara, ubosatha (ordination Hall), prang, vihara (hall of worship) and chedi. Di dalamnya terdapat patung kepala Buddha (Lord Buddha’s Head) yang sangat terkenal, sebab dibuat dengan akar pohon beringin. Asal sejarahnya belum jelas, namun diduga dibuat saat Ayutthaya diserang oleh tentara Birma pada tahun 1230, dikalahkan, dihancurkan dan dibangun kembali dengan banyak tanaman baru di dalamnya. Legenda yang beredar dan banyak diyakini mengisahkan adanya pencuri arca yang tidak berhasil, karena terlalu berat, membawa arca curiannya melewati beteng dan ditinggal di bawah pohon, sampai lama kelamaan akar pohon beringin itu menyelimutinya.

.

Kami mengelilingi kota lama Ayutthaya dengan bemo tua, bukan tuk-tuk seperti di Bangkok, yang tetap terawat, bersih dan masih mampu dipacu cepat, dengan tarif resmi 200 Baht/jam/bemo, bukan per penumpang. Kami mengunjungi Wat Lokayasutharam patung Budha berbaring, yang terletak di desa Pratoochai. Patung seperti itu disebut Phra Bhuddhasaiyart, dengan wajah yang tersenyum damai menghadap ke arah timur. Bahannya adalah batu bata dengan semen kuno, panjang 37 m dan tinggi 8 m yang diselimuti kain kuning, kedua lengan saling menindih dan kedua kaki sejajar untuk menggambarkan keharmonisan. Setelah berfoto beberapa kali, kami melanjutkan ke Wat Chaiwatthanaram, sebuah sekolah (monasteries) para biksu Buddha yang dibangun oleh Raja Prasatthong di tahun 1630. Pangeran Damrong Rachanuphap adalah arsitek yang merancangnya persis sama dengan Angkor Wat, sebagai lambang kejayaan raja yang berhasil mengalahkan Kamboja. Candi ini merupakan ‘landmark’ kota Ayutthaya dan memiliki pagoda utama (prang) bergaya Khmer dengan 4 buah pagoda pendamping. Setelah puas berkeliling kota Ayutthaya, kami pulang ke Bangkok dengan menggunakan bis besar, yaitu sebuah Mercedez-Bens OF bermesin belakang, dengan tiket seharga 56 Bath, full AC, dimana sopir dan kondekturnya berseragam rapi seperti pilot pesawat terbang, tetapi kemeja putihnya lengan panjang. Hampir semua bis bercat warna-warni sangat meriah. Pemandangan sepanjang jalan pulang menampakkan kemajuan dan modernisasi Thailand. Jalan yang halus dan lebar, lalu lintas yang teratur, bangunan yang serba besar, dengan tempat parkir yang juga luas, masyarakat yang berbudaya antri, tidak makan dan merokok sembarangan, sehingga lingkungan jadi bersih dan nyaman. Penjual makanan di pinggir jalan sebagian besar menjajakan buah segar keunggulan agrowisata Thailand, sate babi dan sapi, kue tradisional, cumi dan udang berbumbu Thai, dan sari buah yang segar. Tidak ada satupun yang menjual rokok, pulsa ataupun kartu perdana seluler. Tidak ada rumah model rumah keluarga dengan halaman yang luas, berpagar dan asri. Yang nampak hanya apartemen sebagai tempat tinggal di perkotaan dan rumah tanpa pagar di pinggiran kota. Di bawah jalan layang tidak digunakan untuk rumah liar dan di pinggiran kota, dekat terminal bis, terlihat banyak garasi perusahaan bis, bahkan ada yang terletak di bawah jembatan layang, tetapi tidak dipagar, sehingga kelihatan semuanya.

 
Buddha Berbaring
 
Wat Chaiwatanaram

Patung Buddha raksasa berbaring (Phra Bhuddhasaiyart) diselimuti kain kuning di Wat Lokayasutharam, Ayutthaya

Wat Chaiwatthanaram yang dibangun oleh Raja Prasatthong di tahun 1630. yang dirancang persis sama dengan Angkor Wat, di Kamboja

Pada hari terakhir konggres, setelah sesi ilmiah pagi yang berjudul ‘Idiopathic Childhood Nephrosis’ dan ‘Spectrum of Acute Kidney Injury’, kami memutuskan untuk mengunjungi Angkor Wat di Kamboja. Kami harus pergi ke perbatasan Thailand – Kamboja, yaitu kota Aranyaprathet. Dari Mo Chit Bus Station yang besar, kami menggunakan bis HINO RK mesin belakang, ber-AC, dan tiket seharga 470 Baht, melewati Don Mueang International Airport persis di sisi timur jalan yang kami lalui, yang merupakan sebuah bandara sangat bersejarah bagi Garuda Indonesia, karena sebuah pesawatnya pernah dibajak di situ sekitar tahun 1982. Kami melewati kota Sa Kaeo yang cukup besar di jantung negeri Thailand, dan selanjutnya kami menuju ke arah timur, yaitu ke Aranyaprathet, kota perbatasan. Kami sempat beristirahat di sebuah SPBU besar yang dilengkapi toilet, kantin dan minimarket, sehingga kami sempat jalan-jalan di sekitar situ dan mengamati harga BBM di Thailand, yaitu antara 32,4 – 36,4 Bath/liter. Penyelenggara SPBU tidak dimonopoli BUMN Thailand, tetapi bermacam-macam, ada DAN, Shell, Caltex, Petronas, Esso dan ada 2 lainnya yang menggunakan huruf Thai. Kami membeli buah-buahan yang luar biasa mengundang selera, yaitu jambu Bangkok dan semangka segar. Agrowisata di Thailand sangat maju, sebab didukung penuh oleh Raja dan segenap birokrat pemerintahan, sebagaimana terlihat dari banyaknya poster di pinggir jalan yang menggambarkan peran Raja dengan para petani saat panen tiba, meskipun sebenarnya kontur tanahnya berawa-rawa, kering dan kesannya tidak subur. Di banyak tempat tersedia aneka buah kualitas ekspor seperti yang ada di tanah air, dari jambu, nangka, mangga, kelapa, durian, rambutan dan melon. Semuanya dalam ukuran yang besar, dagingnya tebal, rasanya manis, tidak mengenal musim dan dijual juga secara eceran dalam plastik praktis dalam bentuk potongan sekali telan, yang dilengkapi tusukan dari bambu yang kuat, tajam dan bersifat pabrikan.

.

Kami berhasil sampai ke terminal bis di dalam kota Aranyaprathet dalam sekitar 5 jam perjalanan, lalu ganti naik tuk-tuk ke perbatasan Kamboja yang bertarif 65 Bath per orang. Kami naik tuk-tuk bertiga, dengan seorang turis ‘backpacker’ dari Irlandia Utara yang kami kenal di dalam bis. Kami tidak jadi menyeberang, sebab harus mengurus visa di tempat seharga 1.000 Baht per orang. Kami tidak mengira perlunya visa, sebab toh masih sama-sama negara ASEAN. Persediaan Baht kami tidak cukup, mereka tidak mau menerima USD dan ‘money changer’ di sekitar perbatasan tutup karena hari Sabtu, sehingga kami membatalkan niat untuk menyeberang. Sayang sekali, sangat disayangkan bahwa petualangan ke Angkor Wat, sebuah keajaiban dunia abad ke 9 di jantung Kerajaan Kamboja, batal dimulai. Kami hanya ikut tuk-tuk yang mengantar teman kami dari Irlandia itu sampai ke ujung daerah perbatasan dan melihat-lihat situasinya. Kami memutuskan untuk kembali ke Bangkok dan naik bis dari terminal Aranyaprathet yang berangkat sore hari dengan tarif 235 Baht.

 
Bis Laos
 
Kamboja

Bis kami dari Bangkok ke Aranyaprathet, perbatasan Kambija, ngebut dan tetap nyaman.

Di ujung perjalanan, kantor konsulat Kamboja di Aranyaprathet yang tak tertembus visa

Kami sampai Bangkok sudah mulai malam dan turun di terminal bis Mo Chit, melanjutkan petualangan belanja dengan taxi-meter ke Jatucchak atau Chatuchak Weekend Market, sebuah pasar cindera mata dan barang seni yang hanya buka pada akhir minggu. Kami harus menunjukkan tulisan di peta kepada sopir taxi-meter yang tidak dapat berbahasa Inggris sedikitpun, agar paham tujuan kami. Setelah berbelanja barang-barang seni, kami lanjut dengan bis kota ekonomi non AC bertarif 7 Baht untuk menuju stasiun BTS Mo Chit. Di sekitar stasiun, sepanjang jalan dijual beraneka barang kelas pasar kaget, disusun rapi dan dijual oleh orang-orang muda yang energik, sopan dan rapi. Semua penjualnya adalah para wirausahawan muda yang gigih dan layak dicontoh. Kami berlanjut ke Victoria Monument yang sangat ramai karena malam Minggu. Semua yang berjalan-jalan, berjualan, makan maupun bergaya adalah kaum muda yang riang, antusias dan menyenangkan. Tidak nampak kelompok anak atau orang tua dalam kesemrawutan kegiatan tersebut, baik di stasiun, jalan penghubung, maupun Victory Point, tempat janjian dan nongkrong. Kami menikmati menu makan malam mie-sea food goreng dan teh hitam khas Thailand. Sangat lezat, bumbunya nyata, tersaji cepat, dan es batunya tercetak dari pabrik, bukan dipukuli dan terpecah seperti di tanah air, sangat mengenyangkan dan bertarif 98 Baht untuk berdua.

 
Victoria
 
Makan

Victoria Monument yang menjulang ditimpa cahaya lampu, sangat ramai di malam Minggu dan merupakan landmark Bangkok sisi utara

Menu makan malam mie-sea food goreng dan teh hitam khas Thailand, lezat, bumbunya nyata, tersaji cepat, dan es batunya tercetak dari pabrik

Pada hari terakhir, kami mengurus ‘check out’ dari hotel dengan sedikit masalah, berhubung transfer uang dari Jakarta ternyata belum masuk ke rekening hotel, meskipun sudah 3 minggu sebelumnya hal tersebut dilakukan dan kami telah menyerahkan copy transfernya. Dengan wajah memelas di ‘front desk’, bersuara lemah seolah kelaparan saat telephone dengan petugas akuntansi hotel di rumahnya yang sedang libur karena hari Minggu, dan juga mengaku kehabisan bekal, kami diijinkan ‘check out’ dengan hanya meninggalkan alamat dan nomor telephon di tanah air, agar pengurusan ulang transfer dana akomodasi dapat dilakukan. Dengan penuh syukur karena tidak jadi dipaksa badan (disandera), kami naik BTS ke stasiun Ekkamai bertarif 35 Baht. Di sisi tenggara Bangkok kami turun, dilanjutkan dengan naik taxi-meter yang sopirnya tidak bisa berbahasa Inggris sedikitpun, bahkan tidak bisa membaca peta dengan tulisan huruf latin dan simbol terminal bis. Kami kehilangan 100 Baht karena kesialan itu dan diturunkan di sebuah halte bis. Untung ada orang baik yang dapat menjadi penerjemah bagi kami, sehingga sopir taxi-meter yang berikut menjadi paham. Pinggiran timur kota Bangkok yang kami lihat, tetap bersih, teratur dan disiplin. Semua pejalan kaki pasti naik jembatan penyeberangan, tidak ada yang menyeberang sembarangan, meskipun sebenarnya antar jalan tidak dipagar sebagaimana halnya di tanah air.

.

Kami akhirnya menemukan Eastern Bus Terminal di distrik Sukhumvit dengan taxi-meter kedua, bertarif 41 Baht, berfoto sejenak di depan gerbangnya, menitipkan tas bekal (kopor) pakaian dan membeli tiket bis ke Pattaya yang diatur dengan sistem komputer, seharga 128 Baht/orang. Semua bis besar, tinggi, bersih, berpintu resmi hanya sebuah, yaitu di kiri depan saja, untuk masuk keluar penumpang, kondektur, maupun sopir, hampir semua penumpang adalah wisatawan, bis Volvo itu bermesin di belakang, berAC dan berbagasi sangat lapang di bawah ‘cabin’, berkursi 45 buah, full reclyning dengan sandaran kaki dan tempat gelas minum yang praktis, juga dilengkapi pintu darurat di sisi kanan tengah dan dapat dilihat pada www.pattayabus.com. Kami melewati jalan tol layang yang lebar, 3 ruas di setiap sisinya, hampir selama 2 jam dengan kecepatan 80 km/jam, sebuah jalan layang yang sangat panjang sekali. Tahap kedua dilanjutkan dengan sekitar setengah jam perjalanan di jalan biasa, bukan jalan layang, tetapi juga tetap lebar, halus dan teratur sekali.

 
Pattaya
 
Pantai Pattaya

Di gerbang terminal bis Pattaya, saat kami turun dari Bangkok

Pantai Pattaya yang putih, bersih dan nyaman untuk para wisatawan

Pattaya adalah kita wisata, denyutnya sangat terasa, serupa dengan Kuta di Bali sebelum dibom dahulu. Jalan dalam kotanya sangat lebar, paling tidak ada 2 jalur di setiap sisinya, sangat berbeda dengan jalan di Kuta yang sempit, semrawut dan padat. Kami naik tuk-tuk Pattaya, menjelajah kota sebentar, kemudian turun di depan Mike Shopping Mall di bibir pantai berpasir putih dan sangat ramai. Belum banyak taxi-meter di Pattaya, hanya ada tuk-tuk yang berupa mobil ‘double cabin’, umumnya adalah Izusu DMax yang diberi atap, dengan tarif 20 Baht/orang setiap kali turun, sebab untuk saat ini tuk-tuk berjalan tanpa jalur resmi, terserah penumpang mau pergi ke mana. Ternyata di situ juga sudah ada beberapa Toyota Innova yang digunakan sebagai taxi-meter. Kami berjalan-jalan sepanjang pesisir pantai yang berpasir putih dan berombak sangat tenang, melihat para turis berjemur matahari, dipijat punggungnya, pulang menyelam (diving) atau berperahu wisata ke pulau karang di tengah teluk. Kami sempat juga melihat-lihat tempat ‘Regent Marina’ dengan ‘Tiffany’s Show’ dan ‘Alcazar’, melihat gaya PSK yang menjajakan diri secara sangat vulgar, 24 jam penuh. Semua pertunjukan bernuansa sex dan menjadi ciri khas wisata Pattaya.

 
Izusu
 
Pattaya Gerbang

Mobil ‘double cabin’, Izusu DMax yang diberi atap, merupakan tuk-tuk di Pattaya

Gerbang Pattaya di bibir pantai yang ramai oleh wisatawan dari berbagai belahan dunia

Setelah puas makan buah, minum teh hitam Thailand dan berbelanja patung kecil Sang Buddha, kami mengunjungi wihara dengan patung Buddha keemasan yang besar dan di sebelahnya ada klentheng dengan patung Dewi Kwan Im di puncak Bukit Pattaya atau Buddha Hill. Dari situ, kami dapat memandang kedua sisi pantai, dimana Pantai Pattaya terletak di sebelah utara bukit dan Pantai Jomtien terlihat di sebelah selatan bukit. Di sebelah barat terlihat Teluk Siam dan di sebelah timur nampak Pattaya Kart, sirkuit balap yang hingar bingar di sebelah Underwater World. Di samping patung tersebut (Big Buddha Image), tersedia gardu pandang (vontage point) yang dapat digunakan untuk melihat keindahan panoramik seluruh penjuru Pattaya, yaitu di tengah Taman Kerajaan Raja Rama IX (King Rama IX Royal Park).

 
Big Buddha
 
Dewi Kwan Im

Patung Buddha (Big Buddha Image), di gardu pandang (vontage point) Bukit Pattaya

Dewi Kwan Im di Taman Kerajaan Raja Rama IX (King Rama IX Royal Park), dekat gardu pandang

Kami kembali ke terminal bis Pattaya dan membeli tiket pulang. Ternyata ada 3 jalur ke Bangkok, yaitu menuju terminal Mukdahan di barat, Southern di selatan, Morchit di utara dan Eastern di timur kota Bangkok. Kami memilih yang ke Eastern dan tepat 2 jam kami sampai di tujuan. Perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan kaki menyeberang jalan menuju Wat That Thong, dekat Ekkamai. Candi itu sangat ramai dengan para pelayat yang berpakaian serba hitam, sebab saat itu sedang ada semuah prosesi kematian. Setelah berfoto sebentar dekat gambar Ratu Sirikit, kami menuju ke bandara dengan menggunakan taxi-meter, bertarif 200Bath. Kami berfoto sebentar di beberapa lokasi, yang menggambarkan kemegahan arsitektur bandara Suvarnabhumi, yang didominasi oleh tiang baja yang melengkung, menyilang dan mendatar, warna silver millenium nan kokoh, beroperasi 24 jam penuh, dan masih sangat ramai di pagi buta sekalipun. Kami segera beristirahat di kursi ruang tunggu ‘check in’, sebab kami 3 jam lebih awal datang, dibanding petugas darat maskapai Garuda Indonesia.

 
Ratu
 
Bandara lagi

Gambar Ratu Sirikit di gerbang Wat That Thong, dekat Ekkamai yang sedang ramai oleh para pelayat dan pejalan kaki.

Arsitektur bandara Suvarnabhumi, yang didominasi oleh tiang baja yang melengkung, menyilang dan mendatar, warna silver millenium nan kokoh,

Kedisiplinan, kerja keras, toleran dan santun, telah mengantar Thailand menjadi salah satu negara yang berkembang cukup pesat, pantas dikunjungi dan tentu saja, layak dicontoh. Dengan bepergian secara mandiri, kami dapat berpetualang, nikmat meski juga berdebar, tetapi berhemat cukup banyak, sebab kami hanya menghabiskan seperempat dari biaya paket wisata yang ditawarkan. Sampai ketemu dalam petualangan selanjutnya.

sekian

di Ruang Tunggu sektor G Suvarnabhumi International Airport,

menjelang tengah malam, Minggu, 31 Agustus 2008

*) pelancong Jawa dengan dana terbatas

Categories
Istanbul

PERAMPUAN DAN UHC

Hasil gambar untuk hari perempuan internasional 2018

PERAMPUAN DAN UHC

fx. wikan indrarto*)

Pada Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day) Kamis, 8 Maret 2018, Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus menekankan perlunya kesetaraan gender yang harus menjadi inti dari program ‘Kesehatan untuk Semua’. Apa yang harus dilakukan?

Dunia harus dikreasi agar setiap perempuan dan remaja puteri (every woman and girl) memiliki akses terhadap layanan kesehatan berkualitas dan terjangkau. Selain itu, setiap perempuan dan remaja puteri seharusnya dapat dengan bebas menjalankan hak kesehatan seksual dan reproduksi mereka, sehingga semua perempuan dan remaja puteri diperlakukan dan dihargai sama (are treated and respected as equals).

Hasil gambar untuk hari perempuan internasional 2018

Tema Hari Perempuan Internasional 2018 adalah “Sekarang saatnya semua aktivis mengubah kehidupan perempuan”; (“Time is Now: Rural and urban activists transforming women’s lives”). Hari ini kita diingatkan agar fokus tentang kesetaraan jender dan hak perempuan. Di dalam lingkup kesehatan, fokus untuk hak perempuan dan remaja puteri terhadap akses layanan kesehatan. Bila semua remaja puteri dapat bersekolah lebih lama, semua perempuan mampu merencanakan atau mencegah kehamilan dan mengakses layanan kesehatan tanpa diskriminasi, mereka semua dapat memperbaiki peluang ekonomi dan akhirnya mengubah masa depan mereka.

Hasil gambar untuk hari perempuan internasional 2018

Saat ini, setidaknya setengah dari populasi di dunia kekurangan akses terhadap layanan kesehatan penting, terutama pada perempuan dan remaja puteri. Demikian juga untuk perawatan antenatal selama kehamilan, atau imunisasi untuk mencegah tetanus neonatal dan imunisasi HPV pada anak perempuan untuk mencegah kanker leher rahim pada saat menjadi ibu. Hal itu disebabkan karena tidak tersedia atau secara finansial tidak terjangkau.

Hasil gambar untuk universal health coverage

Pada 13 Desember 2017 Bank Dunia dan WHO melaporkan bahwa sedikitnya setengah dari populasi dunia tidak dapat memperoleh layanan kesehatan esensial. Selain itu, setiap tahun sejumlah besar rumah tangga didorong ke dalam kemiskinan (of falling into poverty), karena mereka harus membayar perawatan kesehatan dari kantong mereka sendiri. Saat ini, 800 juta orang menghabiskan setidaknya 10 persen dari anggaran rumah tangga mereka untuk biaya kesehatan untuk diri mereka sendiri, anak yang sakit atau anggota keluarga lainnya.

Hampir 100 juta orang juga menjadi jatuh dalam kemiskinan ekstrim, yaitu hidup dengan kurang dari $ 1,90 per hari, karena mereka harus membayar biaya layanan kesehatan dari kantong mereka sendiri. Ini tidak bisa diterima (This is unacceptable). Ibu seharusnya tidak boleh dipojokkan untuk memilih apakah akan mengirim anaknya ke sekolah, membeli makanan atau membayar biaya layanan kesehatan.

Hasil gambar untuk universal health coverage

Cakupan kesehatan semesta atau Universal health coverage (UHC) yang menjadi prioritas utama WHO, berarti bahwa paket layanan kesehatan yang dirancang untuk perempuan dan remaja putri harus mencakup layanan untuk mempromosikan kesehatan, dengan mencegah dan mengobati penyakit. Memang masih tidak termasuk akses terhadap layanan kontrasepsi dan keluarga berencana pada perempuan. Hal ini sebenarnya membatasi kemampuan perempuan untuk merencanakan atau mencegah kehamilan. Pada hal, hak kesehatan adalah untuk semua orang. Dengan demikian, ini tidak adil (it’s discrimination) dan akan memicu ketidaksetaraan gender lainnya secara lebih lanjut.

Dasar untuk mencapai UHC adalah keadilan. Semua perempuan dan remaja puteri, kaya atau miskin, tinggal di perkotaan atau pedesaan, berpendidikan atau buta huruf, harus dapat mengakses layanan kesehatan secara setara. Namun demikian, di negara berpenghasilan rendah dan menengah, proporsi kelahiran yang dotolong oleh tenaga kesehatan terampil berbeda hingga 80 persen antara wanita terkaya dan paling miskin. Pada hal, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang terampil merupakan kunci untuk mencegah kematian ibu dan bayi baru lahir.

Hasil gambar untuk universal health coverage

Sekitar 830 ibu meninggal karena komplikasi kehamilan atau persalinan di seluruh dunia setiap hari, meskipun sebenarnya sebagian besar dapat dicegah dengan intervensi medis selama kehamilan dan saat persalinan. Menurut Profil Kesehatan Indonesia 2016, terdapat 4.121.117 ibu atau 80,61% yang menjalani persalinan dengan ditolong oleh tenaga kesehatan dan dilakukan difasilitas kesehatan di Indonesia. Sedangkan Provinsi Maluku Utara memiliki capaian terendah hanya sebesar 17,79%, diikuti oleh Maluku sebesar 25,71%, dan Papua sebesar 39,18%. Namun demikian, tindakan operasi pembedahan caesar di seluruh RS telah dilakukan pada 480.622 ibu, jauh lebih banyak dibandingkan persalinan normal per vaginal, yang hanya terjadi pada 309.223 ibu.

Hasil gambar untuk hari perempuan internasional 2018

Momentum Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day) Kamis, 8 Maret 2018, mengingatkan kita agar mendorong tenaga kesehatan perempuan untuk berpartisipasi dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan, mengakses pekerjaan formal, menerima upah yang adil, dan bekerja di tempat yang bebas dari kekerasan fisik dan seksual. Apakah kita telah ikut mewujudkan?

 Hasil gambar untuk dr wikan indrarto

sekian

Yogyakarta, 8 Maret 2018

*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak, Lektor di FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
antibiotika dokter Healthy Life Jalan-jalan politik

2008 MEDAN & TOBA

MEDAN & TOBA

fx. wikan indrarto*)

Pada hari Minggu siang yang cerah, 12 Januari 2008, kami berdua menggunakan Kijang Innova BK 2375 KF melaju dari Medan yang ramai ke Prapat di tepi Danau Toba. Kami menyusuri jalan trans Sumatera yang lebar melewati kota Tanjung Marowa, Kabupaten Deli Serdang dengan ibu kota Pakam, Serdang Dalui, Tebing Tinggi, dan Kabupaten Simalungun dengan ibu kota Pematang Siantar. Di Tebing Tinggi kami berbelok ke kanan, berpisah dengan jalur trans Sumatera, masuk ke areal perkebunan kelapa sawit dan karet yang luas sepanjang mata memandang. Kami perlu waktu hampir 4 jam untuk sampai Prapat, yaitu sekitar pk. 18.30, dan menginap di Hotel Prapat Inn persis di tepi Danau Toba, sebuah danau terbesar di seluruh dunia.

100_2471

Bergaya di depan gerbang makam Tomok di Pulau Samosir

Pada Senin pagi yang cerah, 13 Januari 2008 kami menyeberang ke Pulau Samosir, naik kapal umum di dermaga pasar tua Prapat. Penyeberangan dapat menggunakan 3 pilihan, yaitu dengan kapal umum dari pasar tua bertarif Rp. 15.000/orang, speedboat dari dermaga taman kota bertarif Rp. 300.000/kapal, dan feri yang dapat memuat mobil. Kapal umum yang kami pilih itu memuat para padagang dengan barang dagangannya, pegawai dan sedikit pelancong. Di dalam kapal itu juga ada sepeda motor, barang dagangan pasar, sayuran, bahkan pupuk urea, semua menjadi satu. Kami naik kapal dengan jadwal perjalanan pk.08.30 menuju Tomok di jantung Pulau Samosir. Kami menyewa motor ojek untuk berboncengan seharga Rp. 30 ribu, untuk menyusuri jalan beraspal tipis dengan rute mengelilingi 1/4 pulau. Pulau Samosir berbentuk seperti ikan, berasal dari gunung berapi purba dan merupakan asal usul orang Batak. Peradaban dimulai di Tomok sekitar 600 tahun yang lalu, dan meninggalkan maskot patung berbentuk seperti cecak dan payudara, yang berarti orang Batak akan dapat hidup di mana saja dan sesama anak suku tidak boleh menikah. Bendera dan corak warna kain atau cat selalu dengan warna merah, putih dan hitam, yang merupakan warna khas.

 100_2472  100_2475

Gaya dengan ulos di depan makam

Raja Sidabutar di Tomok, jantung Pulau Samosir

Gaya pakaian adat Batak Toba

di depan Museum Tomok, dengan senjata betulan.

Anak suku tertua orang Batak adalah Sidabutar, yang waktu itu dikenal masih belum beragama (animisme), masih hidup secara vegetarian, makan sayuran mentah, dan rambutnya panjang, baik pria maupun wanita dewasa. Situs arkeologis yang masih dapat dilihat adalah makam dengan nisan batu yang besar untuk para raja, sedangkan nisan yang kecil untuk para serdadu yang gagah berani dan gugur di medan perang. Raja Sidabutar III baru beragama Kristen, setelah seorang pendeta Jerman, yaitu Tuan Nomensen datang pada tahun 1825. Kami sempat memasuki situs makam Raja Sidabutar, melihat rumah adat Batak, tarian Sigale-gale dan mencicipi menu khas makanan tradisional tanah Samosir. Setelah puas, kami kembali menyeberang danau menuju Perapat dan melanjutkan perjalanan pulang ke Medan.

100_2469

Naik motor sewaan keliling Pulau Samosir yang berpanorma indah.

Perjalanan pulang ke Medan kami tempuh melewati rute yang berbeda dengan saat datang, yaitu menyusur danau sisi timur, melihat banyak penjual sayur dan buah yang menjajakan dagangan di tepi jalan, terus melaju sampai ke Kabupaten Tanah Karo dengan ibukota Kabanjahe dan Kabupaten Mandailing dengan ibukota Beras Tagi. Di Beras Tagi yang dingin mencekam karena berada di punggung gunung, kami beristirahat dan mencicipi jus markabe, terdiri dari markisa dan terong belanda, yang merupakan buah khas daerah tersebut. Kami memasuki Medan saat matahari hampir tenggelam dan menginap di Hotel Danau Toba.

 Raja Sisingamangaraja  Tarian Sigale-Gale

Patung gagah Raja Sisingamangaraja XII

di depan makamnya

Tarian Sigale-gale, boneka yang dapat menari

di depan rumah adat Batak Toba

Hari berikutnya kami mengunjungi Istana Maimoon yang berdiri sejak tahun 1612, di pusat pemerintahan Kasultanan Deli abad pertangahan. Saat ini istana tersebut hanyalah tempat rekreasi, sebab sultan dan keluarganya sudah tidak tinggal di situ. Tuanku Sultan Mahmud Arya Lamanciji Perkasa Alam (Sultan Deli XIV) adalah sultan sekarang yang lahir pada 30 Agustus 1998 dan diangkat 22 Juli 2005. Kami dapat melihat tahta sultan, pakaian kebesaran, benda-benda milik sultan dan foto para sultan, termasuk sultan terakhir yang masih remaja. Setelah berfoto bersama, kami mengunjungi Makam Raja Sisingamangaraja XII, pahlawan nasional yang melawan penjajah Belanda, yang dibangun di pinggiran kota Medan. Di depannya berdiri gagah patungnya yang sedang naik kuda berwarna putih bersih dan dengan gagah memimpin pertempuran. Sayang sekali, monumen tersebut tidak terawat baik dan dikotori oleh para pedagang kaki lima di sekitarnya.

 100_2484  100_2491

Istana Maimon peninggalan Sultan Deli

yang tidak ditempati lagi

Mencoba naik betor (becak bermotor)

di sekitar Masjid Besar Medan

Perjalanan kami lanjutkan dengan melihat Kantor Gubernur Sumatera Utara, Kantor Walikota Medan, dan Merdeka Walk, sebuah area olah raga, rekreasi dan kuliner untuk umum, yang ramai dikunjungi masyarakat dan terletak di depan kantor Balai Kota lama, Gedung Bank Indonesia Cabang Medan dan Kantor Pos Besar. Merdeka Walk sebaiknya menjadi panutan bagi kota lain untuk membangun fasilitas umum yang dilengkapi dengan fasilitas olah raga, ‘jogging tract’ dan bahkan alat-alat fitness yang terbuat dari besi antara lain : ‘double multi height leg-stretching’, ‘double stretcing wheel station’, ‘shoulder dynamic station’, ‘back extention station’, ‘double circumvolving station’, ‘elliptical work station’, ‘space walker station’, ‘double torso swing station’ yang dikelola oleh Dinas Pertamanan Kota Medan, terawat baik dan boleh digunakan oleh siapapun secara cuma-cuma. Kami mencoba menaiki betor (becak bermotor), sebuah alat transportasi khas kota Medan yang banyak digunakan oleh penumpang masyarakat kebanyakan di sekitar Masjid Besar Medan.

100_2494

Bergaya di depan Kantor Gubernur Sumatera Utara di pusat kota Medan.

100_2496

Bergaya di depan Kantor Walikota Medan yang modern di pusat kota Medan.

 100_2486

Masjid Raya Medan yang berkubah hitam seperti di Aceh.

Perjalanan keliling kota kami akhiri dengan mengikuti Pelatihan Vaksinasi Dasar untuk Dokter Spesialis Anak di Hotel Tiara. Kami pulang ke Jakarta dengan menuju Bandara Polonia yang masih terhitung di tengah kota, sehingga akan dipindahkah ke Tanjung Morowa, untuk mengurangi dampak buruk bandara bagi masyarakat kota yang semakin padat.

sekian

Yogyakarta, 17 Januari 2008

*) pelancong Jawa berdana cekak

 

Categories
Healthy Life Jalan-jalan

2007 JELAJAH MURAH DI HONG KONG

JELAJAH MURAH DI HONG KONG

fx. wikan indrarto dan b. sari prasetyati *)

Hong Kong adalah daerah istimewa di Cina (Special Administrative Region of China) sejak 1 Juli 1997. Hong Kong adalah kota kosmopolitan dengan sekitar 7 juta penduduk, meliputi daratan seluas 1.100 km2 yang tersebar pada pulau Hong Kong, Semenanjung Kowloon yang dipisahkan oleh Victoria Harbour dan daerah baru sebelah utara Kowloon sampai ke perbatasan Cina daratan yang disebut New Territories dan 260 pulau lainnya. Secara mudah dapat dibayangkan dengan melihat skema geografis di gerbang kedatangan Hong Kong International Airport yang terlihat di bawah ini. Hong Kong adalah tempat yang mempertemukan tradisi Cina kuno dengan kebudayaan ultramodern, dari pasar tradisional di pinggiran jalan yang sibuk, bersih dan teratur, juga deretan toko di setiap rumah pinggir jalan (maka disebut kota toko, sebab semuanya untuk toko dan tidak ada kegunaan lain untuk semua bangunan di pinggir jalan), sampai gedung pencakar langit yang amat sangat tinggi, berderet rapi dan bercahaya gemerlap di malam hari.

 Peta Hong Kong

Skema kasar gugusan pulau-pulau di Hong Kong, dapat dilihat

di gerbang kedatangan penumpang di Hong Kong International Airport.

Hong Kong pada awalnya hanyalah gugusan pulau batu karang dengan beberapa kampung nelayan yang diklaim Inggris pada tahun 1842, setelah pada Perang Candu Pertama (First Opium War) berhasil mengalahkan Cina, melalui perjanjian di kota Nanking (Treaty of Nanking). Semenanjung Kowloon dan pulau-pulau di sekitarnya (Stonecutters Island) kemudian diambil Inggris juga sejak tahun 1860. Perjanjian sewa dari Cina oleh Inggris selama 99 tahun, meliputi juga daerah New Territories, yaitu wilayah sebelah utara Kowloon sampai ke Sungai Shenzen dan 235 pulau kecil yang berserak, berlaku sejak tahun 1898. Maka sejak 1 Juli 1997 Hong Kong dikembalikan ke Cina dan dikenal sebagai Special Administrative Region (SAR) of China dengan prinsip pengelolaan ‘1 negara, 2 sistem’.

Dengan pesawat Airbus A330-300 Garuda GA 860, yang dipenuhi oleh banyak orang Indonesia yang hampir semuanya TKW dan hanya ada sedikit wisatawan dalam kelompok, kami mendarat di Hong Kong International Airport, pk. 15.30 (waktu setempat sesuai dengan WITA). Bandaranya sangat besar, sibuk, sejuk dan modern. Bandara tersebut terletak di Pulau Lantau, di sebalah barat Pulau Hong Kong. Bandara ini mulai dibuka pada bulan Juli tahun 1998, proses pembangunannya menghabiskan anggaran HK$ 155 milyar, termasuk jembatan gantung penghubungnya yang elok (Tsing Ma Bridge), luas terminal penumpangnya 550.000 m2 dan panjang landas pacunya 1.300 m, merupakan bandara berkapasitas kargo terbesar di dunia dengan 2,1 juta ton kargo per tahun. Hong Kong International Airport termasuk dalam daftar Guinness Book of World Records sebagai bandara dengan terminal terbesar di dunia dan bandara terbaik di seluruh dunia selama 5 tahun berturut-turut. Kami kesulitan mencari bagasi, sebab ada 10 eskalator koper yang beroperasi secara bersamaan. Sebenarnya ada pengumuman di layar televisi datar yang sangat besar, tetapi kami tidak melihatnya, maklum tidak ada model pengumuman yang dibacakan, semua harus dibaca sendiri. Setelah itu, kami mencari tiket Airport Express Train, kereta api super cepat yang lewat setiap 12 menit. Dengan tiket seharga HK$ 160 untuk berdua, kami menikmati perjalanan dengan kereta api yang bersih, senyap, dingin dan sangat cepat.

 100_1729  HCEC

Saat sampai di stasiun Central Hong Kong,

tulisan Hong Kong abjad Latin dan Kanji

Survei tempat konggres, Hong Kong Covention & Exibition Center

Rute kereta tersebut adalah dari Asia World Expo di ujung barat Pulau Lantau, terminal Airport, Pulau Tsing Yi, Kowloon di semenanjung dan terakhir ke Central Station di ujung barat pulau Hong Kong. Jadwal kereta sangat ketat, setiap 12 menit sekali kereta akan lewat terminal airport dan memerlukan 24 menit untuk sampai Hong Kong Station di Central District. Rute perjalanan kereta ini melewati jembatan penghubung Tsing Ma Bridge. Jembatan ini juga masuk dalam daftar Guinness Book of Records sebagai jembatan gantung yang berisi jalan dan rel kereta api terpanjang di seluruh dunia. Panjang bentangan di atas airnya mencapai 1.377 m dan total panjangnya mencapai 2,2 km. Jembatan ini merupakan jalur utama yang menghubungkan Hong Kong International Airport dengan Pulau Hong Kong itu sendiri. Sesampai di stasiun Central Hong Kong, diselingi foto berdua di dekat tulisan Hong Kong dalam abjad Latin dan Kanji, kami teruskan perjalanan dengan taxi. Di Hong Kong semua taxi adalah sedan Toyota Crown COMFORT berbahan bakar gas, sedan besar besar berwarna merah, bertarif argo dan bersopir Cina kekar, maklum tugasnya berat, termasuk mengangkat kopor besar para penumpangnya. Sopir taxi agak kesulitan mencari hotel kami, Harbour View International House, sebab letaknya nylempit. Untunglah segera ketemu setelah bertanya 2 kali. Harbour View International House beralamat di 4 Harbour Road, Wanchai, Hong Kong.

 100_1767  Kowloon

Saat pembukaan konggres,

berfoto sebelum mulai

Istirahat pertama di hari kedua konggres, jalan-jalan ke Kowloon

Hari berikutnya kami jalan-jalan di dalam kota. Pertama mencari Octopus Card, sebuah kartu elektronik yang dapat digunakan untuk berbagai transaksi, dengan menempelkannya di Octopus Card Reader dalam waktu 0,3 detik, terutama pembayaran alat transportasi, misalnya bis kota, taxi, trem (tram maupun the peak tram) dan juga kereta api, baik KCR (Kowloon Canton Railway), AEL (Airport Express Line) atau MRT (Mass Transit Railway). Kami membelinya di stasiun MRT yang terdekat dengan hotel kami, yaitu di stasiun Wan Cai seharga HK$ 150 per kartu. Pertama kali kartu tersebut kami gunakan untuk perjalanan ke North Point Market di ujung timur Pulau Hong Kong dengan menggunakan trem listrik. Trem ini merupakan alat transportasi tertua di seluruh Pulau Hong Kong, dibangun pada tahun 1904 dengan 3 jalur utama, yaitu antara Kennedy Town ke Happy Valley atau Shau Kei Wan, dan dari Western Market ke North Poin dengan tarif HK$ 2. Rute trem sejak awal adalah jalan-jalan di pusat keramaian bisnis di sepanjang pantai utara Pulau Hong Kong. Dari jendela di lantai atas trem tersebut, kami melihat keramaian di kiri dan kanan jalan yang sangat luar biasa. Semua bangunan di pinggir jalan utama digunakan sebagai toko, atau tempat usaha, baik barang maupun jasa. Hal ini memperkuat citra Hong Kong sebagai kota toko. Setelah belanja jam, souvenir khas dan buah-buahan segar di North Poin Market, kami meneruskan ke Tin Hau Tample yang dibangun tahun 1868, dipersembahkan kepada dewa laut, dibangun di atas bukit batu granit yang menghadap ke laut.

 Trem  Tin Hau Temple

Trem alat transportasi tertua di seluruh Pulau Hong Kong, dibangun pada tahun 1904

Tin Hau Tample yang dibangun tahun 1868, dipersembahkan kepada dewa laut

Selanjutnya kami mengunjungi The Legislative Council Building, sebuah bangunan yang dibuat sejak tahun 1899 diresmikan oleh Sir Frederick Lugard, Gubernur Hong Kong pada 15 Januari 1912. Lanjut ke Western Market dan makan siang di Harmony Restaurant dengan menu Ham omelette, Sliced Beef Noodle dan Bread W/Butter. Setelah itu kami mencoba naik MRT Island Line dari stasiun Sheung Wan dan turun di stasiun Central. Di situ kami melewati interchange untuk berganti MRT Tung Chung Line menuju Lantau Island. Kami harus melewati stasiun Kowloon, Olympic, Nam Cheong, Lai King, Tsing Yi, Sunny Bay yang terdapat interchange menuju Disneyland Resort. Kowloon, Olympic, Nam Cheong dan Lai King berada di semenanjung Kowloon dan New Territories di Cina daratan, Tsing Yi berada di Pulau Tsing Yi yang memiliki interchange dengan Airport Express Line.

 Legislative Council  MRT Disneyland

The Legislative Council Building, diresmikan oleh Sir Frederick Lugard, Gubernur Hong Kong pada 15 Januari 1912

MRT khusus ke Disneyland, dengan ciri Mickye Tikus sebagai maskot untuk lobang jendela dan pagangan penumpang

Kami turun di Sunny Bay dan berlanjut menggunakan Disneyland Resort Line, sebuah MRT khusus ke Disneyland. Sayang sekali, sesampainya di gerbang Disneyland hujan turun deras sekali, sehingga kami hanya di stasiun saja, tanpa keluar kompleks. Kami kembali ke stasiun Sunny Bay untuk mencari bis menuju patung Buddha (Tian Tan Buddha Statue) yang dilengkapi dengan rumah makan vegetarian di bawah patung (Hong Kong Po Lin Monastery) seharga HK$ 30. Sayang sekali, kami sudah terlalu sore sampai di sana, sekitar pk 16.00 waktu setempat, sehingga kabut tebal sudah menyelimuti seluruh alam, bahkan jarak pandang hanya sekitar 10 m. Rugi sekali, sebab patung raksasa Sang Buddha jadi tidak terlihat dengan jelas. Kami memaksakan diri berfoto sebentar, lalu mencari cindera mata khas Buddha. Patung berbahan baku tembaga ini seberat 250 ton dan menjulang setinggi 34 m dan dikenal dengan Buddhist Kingdom in the South atau Sakyamuni Buddha. Kami pulang menyusuri jalur yang sama, menggunakan bis no 23 yang menghubungkan Tung Chung dengan tarif HK$ 30 pulang pergi. Di interchange Tung Chung kami beralih ke MRT dari bis tersebut. Kami tidak jadi menikmati Ngong Ping Skyrail atau cable car, sebab sudah terlalu sore. Skytrail ini memanjang pada jalur 5,7 km dengan jumlah 112 kabin, menghubungkan Ngong Ping di puncak gunung dengan Tung Chung di dekat pantai dan memungkinkan penumpang untuk melihat pemandangan panoramik 360 derajad ke seluruh Pulau Lantau, termasuk Tian Tan Big Buddha, flora dan fauna di North Lantau Country Park, teluk Tung Cung, Hong Kong International Airport dan ke arah Laut Cina Selatan termasuk atraksi ikan lumba-lumba (Indo Pacific Humpback Dolphin) dengan warna pink yang khas, sewaktu turun ke Tung Chung.

 100_1758  Bis Kota

Tian Tan Buddha Statue yang sangat besar dengan menu vegetarian di Po Lin Monastery

yang tertutup kabut tebal

Bis kota di Hong Kong, meski besar dan tingkat namun tetap ngebut, lha wong aman di jalurnya masing-masing

Dari Tung Cung, kami kembali ke pulau Hong Kong, lalu naik trem ke arah North Point untuk makan di Rumah Makan SEDAP GURIH, sebuah restoran Indoneisa di sekitar Jardine’s Bazaar, dekat dengan Victoria Park, tempat favorit orang Indonesia, terutama sesama TKW dengan berbagai gaya, berkumpul. Di lapangan tersebut, terdapat 3 lapangan futsal dengan pencahayaan yang terang, juga tempat orang duduk-duduk yang dilengkapi spanduk bertuliskan bahasa Mandarin, Inggris dan juga Indonesia tentang larangan membuang sampah sembarangan dengan dendanya yang besar.

Paginya kami belanja ke Stenly Market yang masuk wilayah Southern, di ujung selatan pulau Hong Kong, melewati Repulse Bay yang pantainya berpasir putih, tempat para wisatawan menikmati rekreasi bahari. Stenley Market adalah pasar khusus wisatawan, dari seluruh dunia. Hampir tidak ada pembelinya yang warga lokal, meskipun banyak penduduk tinggal di apartemen baru di sekitar situ. Pulangnya kami naik bis kota lagi, turun di Causeway Bay, untuk makan menu Indonesia lagi di Jardine’s Bazaar, dekat dengan jembatan penyebarangan yang berbentuk bunga teratai, seperti Jembatan Semanggi yang khas di Jakarta. Menu Indonesia menjadi pilihan kami, sebab dengan harga yang sama (sekitar HK$ 40), kami tidak bingung memilih dan dapat kenyang, sangat berbeda dengan menu lokal yang aneh dan tidak langsung dapat diterima sang perut. Setelah kenyang kami menikmati perjalanan dengan trem bertarif HK$ 2 sampai ke Kennedy Town di ujung barat pulau Hong Kong, dengan banyak apartemen tempat tinggal awal para penduduk Hong Kong yang masih memilihara tradisi Cina kuno, termasuk toko-toko penjual rempah-rempah untuk obat Cina. Semua tempat di sepanjang jalan, merupakan tempat berjualan, baik barang maupun jasa. Kehidupan yang bertumpu pada bisnis atau perdagangan, merupakan ciri khas masyarakat Hong Kong, termasuk jalan utama Des Voeux Road West, jalan yang sangat padat.

 Apartemen lama  Apartemen Baru

Apartemen penduduk Hong Kong tipe lama, dengan kekumuhannya di Kenendy Town

Apartemen penduduk tipe baru, dengan nilai artistik tinggi, bersih dan mentereng

Sorenya kami mencoba naik feri The Star Ferry & Co dari pelabuhan Wan Chai Pear menuju pelabuhan Hung Hom di semenanjung Kowloon seharga HK$ 2,2 menyebrangi arus deras Victoria Harbour, selama 8 menit. Sesampai di seberang, masuk lagi ke mal di Star House dan Harbour City. Mal ini persis di tepi pantai dan menyatu dengan pelabuhan feri dan terminal bis kota, tempat orang dapat bersantai melihat panorama Hong Kong di seberang laut, yang sangat indah, terutama saat malam dan bermandikan cahaya lampu.

 100_1747  Hong Kong malam

Suasana keramaian yang teratur di Hong Kong, akan ke Huang Gang Border, perbatasan Cina daratan.

Hong Kong bermandi cahaya lampu, terlihat dari pelataran Star House di Kowloon saat hari mulai malam

Paginya kami naik bis ke Huang Gang Border, dekat Shen zhen, sebuah kota di daratan Cina yang paling selatan, bertarif HK$ 45, yang berangkat tepat waktu, setiap 30 menit. Kami melewati terowongan bawah laut (Cheung Tsing Tunel) untuk masuk wilayah Kowloon, pelabuhan petikemas raksasa di kiri jalan, apartemen menjulang di kanan jalan tol yang rapi. Setelah melalui pemeriksaan petugas imigrasi Hong Kong di perbatasan, perjalanan dilanjutkan dengan ganti bis dari perusahaan yang sama, menuju kantor imigrasi Cina di Huang Gang dalam waktu 3 menit perjalanan. Para pendatang diharuskan memiliki visa, namun dapat juga mengurus visa di tempat kedatangan (visa on arrival) di Huang Gang, tetapi kantor imigrasi baru buka jam 9 pagi, sehingga kami terpaksa menunggu hampir 1 jam. Biaya mengurus visa tinggal selama 5 hari di Cina adalah HK$ 150 per orang. Sejak sampai di Huang Gang ini, kamera foto tidak boleh difungsikan, sehingga dokumentasi kami bukan data gambar, namun hanya narasi saja.

Perjalanan kami teruskan dengan taxi sebuah sedan VW Santana dari gerbang imigrasi Huang Gang untuk masuk kota Shen zen. Sopir taxi tidak dapat berbahasa Inggris, meskipun hanya sepotong, juga tidak dapat membaca huruf latin, meskipun hanya sehuruf. Untunglah masih cukup cerdas, buktinya kami diajak masuk sebuah hotel dan ketika petugas hotel menghampiri kami, dialah yang menjadi penerjemah bahasa dan aksara. Kami turun di Lu Wo shopping mall yang menyediakan berbagai barang murah bertarif Yuan, mata uang lokal RRC. Suasananya mirip di Indonesia dan sangat berbeda dengan Hong Kong, yaitu panas, kotor, semrawut dan banyak pengemis. Barangkali, itu adalah salah satu alasan mengapa penduduk Hong Kong yang lebih modern, menolak reunifikasi (penyatuan) mereka dengan Cina daratan.

 Gedung Gada  Victoria Harbour

Gedung berarsitektur gada, kecil di bawah, membesar di atas. Bercita rasa tinggi.

Hong Kong dari Victoria Harbour saat mendung tebal

Dari Lo Wu shopping mall, kami tinggal menyeberang untuk masuk ke kantor imigrasi dan keluar dari wilayah Cina daratan. Di seberang mall sudah wilayah Hong Kong dan kami segera naik KCR East Rail bertarif HK$33 ke East Tsim Sha Tsui, melewati Kowloon Tong, langsung masuk ke areal interchange dengan MTR Tseun Wan Line untuk menyeberang Victoria Harbour ke Hong Kong Island. Dari East Tsim Sha Tsui dengan MRT Tseun Wan Line lanjut ke Admiralty Station, stasiun kereta terdekat di wilayah Pulau Hong Kong, diteruskan dengan tram listrik bertarif HK$2 menuju Western Market untuk makan di Solo Indonesian Restaurant di 1/F San Toi Bldg, 139 Connaught Road, Central, HK. Meskipun semuanya menu Indonesia, tetapi hampir semua pembelinya adalah orang Hong Kong. Kami pulang ke hotel dengan trem dari Western Market di dekat restoran tersebut menuju stasiun Wan Chai dan turun di dekat Chinese Methodist Church. Setelah mandi dan check out hotel, kami menggunakan taxi bertarif HK$ 30 untuk menuju Central Station dan melakukan city check in penerbangan di situ. Dengan demikian kami naik Airport Express bertarif HK$ 80 per orang dengan santai, sebab kopor-kopor besar kami sudah diurus maskapai. Sesampai di bandara, kami urus pengembalian (refund) Octopus card di petugas, untunglah kami masih punya sisa HK$ 130 dari 2 kartu. Perjalanan Dari Hong Kong kembali ke Indonesia sungguh sangat menyenangkan, meski tidak cukup menarik untuk dituliskan. Total perjalanan ini relatif murah, sebab meskipun menghabiskan dana sekitar 1 bulan gaji bersih pegawai negeri di Indonesia dengan 15 tahun masa kerja, namun hanya setara dengan 50% gaji TKW Indonesia di Hong Kong, sebagai pembantu rumah tangga selama 4 tahun.

sekian

*) pelancong dari tanah Jawa yang hampir tersesat di Hong Kong

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?