Categories
Istanbul

2020 Hari AIDS Sedunia

HARI AIDS SEDUNIA

HARI  AIDS  DUNIA

fx. wikan indrarto*)

Hari AIDS Sedunia (World AIDS Day) dirayakan pada 1 Desember setiap tahun. Ini adalah kesempatan bagi orang-orang di seluruh dunia untuk bersatu dalam memerangi HIV, untuk menunjukkan dukungan bagi orang yang hidup dengan HIV, dan untuk memperingati mereka yang meninggal karena penyakit terkait AIDS. Dirayakan sejak tahun 1988, Hari AIDS Sedunia adalah hari kesehatan global pertama. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/11/26/bayi-bebas-hiv-dari-ibu/

.

Direktur Eksekutif UNAIDS Winnie Byanyima yang juga merangkap sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, menjelaskan bahwa Hari AIDS Sedunia 2020 tidak akan dirayakan seperti biasanya. Pandemi COVID-19 mengancam kemajuan yang telah dicapai dunia dalam bidang kesehatan dan pembangunan selama 20 tahun terakhir, termasuk memperlebar ketidaksetaraan yang sudah ada, yaitu ketidaksetaraan gender, ketimpangan ras, ketimpangan sosial dan ekonomi.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/11/26/2018-aids/

.

Dalam menanggapi pandemi COVID-19, dunia tidak boleh membuat kesalahan yang sama seperti yang dibuat dalam memerangi HIV, ketika jutaan pasien di negara berkembang meninggal karena harus menunggu pengobatan. Bahkan saat ini, lebih dari 12 juta orang masih menunggu untuk mendapatkan pengobatan HIV dan 1,7 juta orang terinfeksi HIV pada 2019 karena tidak dapat mengakses layanan esensial. Masalah global membutuhkan solidaritas global. Hanya solidaritas global dan tanggung jawab bersama yang akan membantu kita mengalahkan virus corona, mengakhiri epidemi AIDS, dan menjamin hak atas kesehatan untuk semua.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/11/29/2019-inovasi-tes-hiv/

.

Tidak ada metode pencegahan tunggal yang dapat menghentikan epidemi HIV. Beberapa intervensi terbukti sangat efektif dalam mengurangi risiko, pencegahan, dan melindungi terhadap infeksi HIV, yaitu penggunaan kondom, obat antiretroviral sebagai profilaksis pra pajanan (PrEP), sunat pria, mengurangi jumlah pasangan seksual, penggunaan jarum suntik bersih, terapi substitusi opiat (misalnya metadon), dan pengobatan dengan obat antiretroviral untuk orang yang hidup dengan HIV.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/11/30/akhiri-epidemi-hiv/

.

Tiga alasan yang saling berhubungan tampaknya mendukung kegagalan untuk mengimplementasikan program pencegahan AIDS yang efektif pada skala besar. Pertama, kurangnya komitmen politik dan akibatnya investasi yang tidak memadai. Kedua, keengganan untuk menangani masalah sensitif terkait kebutuhan, hak seksual dan reproduksi remaja. Dan ketiga, kurangnya implementasi pencegahan sistematis.

.

UNAIDS berupaya membantu semua negara untuk memastikan akses ke kombinasi pilihan intervensi pencegahan, termasuk kondom, PrEP, pengurangan dampak buruk, dan sunat. Target setidaknya 90% orang yang berisiko pada tahun 2020, terutama wanita muda dan anak perempuan di negara dengan prevalensi tinggi dan populasi kunci. Dalam hal ini mencapai 3 juta orang dengan risiko tinggi untuk mendapatkan PrPP, 25 juta pria disunat, dan menyediakan 20 miliar kondom di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

.

Begitu Penting Kampanyekan Hari AIDS Sedunia, 1 Desember | Panrita News

Pada tahun 2019, ada 38,0 juta orang yang hidup dengan HIV, yaitu 36,2 juta orang dewasa dan 1,8 juta anak (0–14 tahun). Sudah sekitar 81% dari semua orang yang hidup dengan HIV mampu mengetahui status HIV mereka dan sekitar 7,1 juta orang tidak tahu bahwa mereka hidup dengan HIV. Pada akhir Juni 2020, 26,0 juta orang mengakses terapi antiretroviral, meningkat dari 6,4 juta pada 2009. Pada 2019, baru sekitar 67% dari semua orang yang hidup dengan HIV mengakses pengobatan, yaitu 68% orang dewasa dan 53% anak usia 0–14 tahun. Sudah 85% ibu hamil yang hidup dengan HIV memiliki akses ke obat antiretroviral untuk mencegah penularan HIV ke bayi pada tahun 2019.

.

Infeksi HIV baru telah berkurang 40% sejak puncaknya pada tahun 1998. Pada tahun 2019, sekitar 1,7 juta orang baru terinfeksi HIV, dibandingkan dengan 2,8 juta orang pada tahun 1998. Sejak 2010, infeksi HIV baru telah menurun 23%, dari 2,1 juta menjadi 1,7 juta pada tahun 2019. Sejak 2010, infeksi HIV baru pada bayi telah menurun sebesar 52%, dari 310.000 pada tahun 2010 tinggal menjadi 150.000 bayi pada tahun 2019. Kematian terkait AIDS telah berkurang 60% sejak puncaknya pada tahun 2004. Pada tahun 2019, sekitar 690.000 orang meninggal karena penyakit terkait AIDS di seluruh dunia, dibandingkan dengan 1,7 juta orang pada tahun 2004 dan 1,1 juta orang pada tahun 2010. Kematian terkait AIDS telah menurun 39% sejak 2010.

.

Mengakhiri epidemi AIDS lebih dari sekadar kewajiban bersejarah, bagi 39 juta orang yang meninggal karena penyakit tersebut. Ini juga merupakan kesempatan penting untuk meletakkan dasar bagi dunia yang lebih sehat, lebih adil, dan setara bagi generasi mendatang. Mengakhiri epidemi AIDS akan menginspirasi upaya kesehatan dan pembangunan global yang lebih luas, menunjukkan apa yang dapat dicapai melalui solidaritas global, tindakan berbasis bukti, dan kemitraan multisektoral. Dengan tagline 90-90-90, yaitu 3 target luar biasa untuk membantu mengakhiri AIDS.

.

Pertama, 90% dari semua orang yang hidup dengan HIV akan mampu mengetahui status HIV-nya. Kedua, 90% dari semua orang dengan infeksi HIV yang didiagnosis akan menerima terapi antiretroviral yang berkelanjutan. Dan ketiga, 90% dari semua orang yang menerima terapi antiretroviral akan mengalami penekanan virus (viral suppression).

.

Pada akhir 2019, dana sebesar US $ 18,6 miliar tersedia untuk penanggulangan AIDS di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, hampir US $ 1,3 miliar lebih sedikit dibandingkan tahun 2017. Sekitar 57% dari total sumber daya untuk penanganan HIV di negara berpenghasilan rendah dan menengah pada tahun 2019 berasal dari sumber domestik. UNAIDS memperkirakan bahwa US $ 26,2 miliar (konstan dolar 2016) akan dibutuhkan untuk penanggulangan AIDS pada 2020.

.

Momentum Hari AIDS Sedunia Selasa, 1 Desember 2020 mengingatkan kita tentang slogan kampanye global ‘Stop AIDS. Keep the Promise’. Slogan yang digunakan sepanjang tahun itu untuk meminta pertanggungjawaban pemerintah atas komitmen terkait HIV dan AIDS di semua negara, termasuk Indonesia.

Bagaimana sikap kita?

Sekian

Yogyakarta, 26 November 2019

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

By Fx Wikan Indrarto

Dokter Fx Wikan Indrarto

Leave a Reply

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?