Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!
Author: Fx Wikan Indrarto
Dokter Fx Wikan Indrarto
2020 Vaksinasi saat pandemi COVID-19
VAKSINASI SAAT PANDEMI COVID-19
fx. wikan indrarto*)
Ketika satu penyakit yang mematikan menyebar ke seluruh dunia dan menjadi pandemi seperti COVID-19, upaya vaksinasi bagi bayi dan anak harus terus dilakukan, untuk mencegah berjangkitnya penyakit lain. Apa yang perlu didukung?
.
baca juga : 2020 Layanan Medis Non COVID-19
.
Pada saat pandemi COVID-19 terus menyebar di seluruh dunia, warga didorong untuk tinggal di rumah dan menjaga jarak secara fisik. Banyak layanan masyarakat, termasuk beberapa jenis layanan kesehatan, justru ditiadakan, sehingga risiko wabah penyakit menular akan semakin bertambah. Wabah sebelumnya telah menunjukkan bukti bahwa ketika sistem kesehatan kewalahan, mortalitas akibat penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin dan penyakit lainnya, dapat juga meningkat secara dramatis. Selama wabah Ebola (EVD) tahun 2014-2015 di Afrika Barat, peningkatan jumlah kematian yang disebabkan oleh campak, malaria, HIV AIDS, dan TBC yang disebabkan oleh kegagalan sistem kesehatan negara terdampak, justru melebihi kematian karena Ebola.
.
baca juga : 2020 Pekan Imunisasi Sedunia
.
Pada pertengahan tahun 2020, program vaksinasi pada sekitar 80 juta anak balita secara global telah tertunda, yang sebagian besar disebabkan oleh terbatasnya akses ke layanan kesehatan, rendahnya ketersediaan APD untuk petugas kesehatan, dan ketakutan tertular COVID-19. Namun demikian, semua negara wajib menyeimbangkan ancaman COVID-19 dengan ancaman wabah penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, dan kematian yang dapat terjadi. Berikut adalah beberapa contoh bagaimana negara bekerja untuk mencapai atau mempertahankan cakupan vaksinasi yang tinggi, di tengah-tengah pandemi COVID-19 global.
.
baca juga : 2019 Informasi Vaksinasi
.
Italia, salah satu negara yang paling terpukul oleh COVID-19 dipaksa untuk mempekerjakan kembali banyak tenaga kesehatannya yang sudah pensiun, ketika kasus COVID-19 menyerang mulai akhir Februari 2020. Selain itu, Italia mempertahankan vaksinasi untuk anak sebagai bagian layanan kesehatan esensial yang tetap harus diselenggarakan, memprioritaskan vaksin dosis pertama, sambil memastikan pencegahan infeksi COVID-19 dengan protokol kesehatan yang ketat, seperti penyediaan waktu dan jarak fisik yang aman di ruang tunggu. Pihak berwenang juga mendata semua anak yang telah kehilangan dosis vaksinasi rutin dan memprioritaskan merek,a segera setelah layanan tersedia lagi.
.
Di Suriah diselenggarakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) pada bulan Juni 2020, untuk menutup kesenjangan vaksinasi pada anak. Selama kampanye PIN, petugas kesehatan memvaksinasi lebih dari 210.100 anak dan mendata status vaksinasi sekitar 900.000 anak, untuk menentukan vaksin selanjutnya yang masih mereka butuhkan. Burkina Faso juga melakukan vaksinasi massal pada bulan Juli 2020, dengan kampanye vaksinasi polio selama 4 hari. Di dua kabupaten di wilayah Centre-East, 174.304 divaksinasi melawan polio dan mempertahankan langkah pengendalian COVID-19.
.
Di 39 negara Amerika Latin dengan pembatasan sosial yang sudah mulai berkurang, layanan vaksinasi yang sempat ditangguhkan di beberapa negara, segera dilanjutkan. Layanan vaksinasi meningkat dari 57% saat puncak pandemi COVID-19 menjadi 79% pada awal Juli 2020. Kemajuan ini difasilitasi dengan menggunakan berbagai pendekatan inovatif, seperti pusat layanan vaksinasi yang bergerak, kampanye gencar vaksinasi, dan vaksinasi di sekolah yang tidak menerapkan pembelajaran jarak jauh, dan bahkan juga langsung di rumah anak (home care).
.
Pada pertengahan Januari 2020, ketika Kamboja mengkonfirmasi kasus COVID-19 pertamanya, juga mengkonfirmasi 84 kasus campak, yang sebenarya sudah jarang terjadi. Bahkan total terdapat 341 kasus campak di seluruh Kerajaan Kamboja, dalam empat bulan pertama tahun 2020. Di komunitas yang berisiko tinggi, petugas kesehatan datang dari pintu ke pintu, bahkan dari perahu ke kapal di sungai Mekong dan berbagai perairan lainnya, untuk memberikan vaksin yang menyelamatkan jiwa bagi anak yang paling rentan.
.
Maladewa dan Sri Lanka telah diverifikasi mampu menghilangkan rubella, penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, pada awal Juli 2020. Maladewa dan Sri Lanka adalah dua negara pertama di kawasan Asia Selatan dan Tenggara, yang menghilangkan rubella dan campak sebelum target tahun 2023. Di Sri Lanka, klinik kesehatan telah memperpanjang waktu layanan, mengatur jarak fisik yang aman dan membatasi jumlah anak yang dilayani per jam. Petugas kesehatan telah disarankan untuk memvaksinasi semua anak dalam keluarga yang membutuhkan vaksin dan untuk memberikan beberapa vaksinasi kombinasi untuk setiap anak.
.
Di Indonesia layanan vaksinasi harus tetap diupayakan berjalan sesuai jadwal. Pemberian vaksinasi mengikuti prinsip PPI dan menjaga jarak aman 1–2 meter, diupayakan dengan membuat janji temu dan mengatur waktu kunjungan secara bergiliran, agar tidak terjadi penumpukan di ruang tunggu. Apabila vaksinasi anak harus ditunda, maka anak harus didata menggunakan metode pelacakan (defaulter tracking) serta memastikan untuk segera memberikan vaksinasi pada kesempatan layanan selanjutnya, agar tidak ada anak yang tidak terlindungi. Selanjutnya dilakukan perencanaan kegiatan ‘catch up’ vaksinasi untuk anak yang ‘left-out’ ataupun ‘drop-out,’ yang harus dimulai sedini mungkin dengan melakukan ‘sweeping’ dan ‘Drop-Out Follow Up’ (DOFU).
.
Dengan tetap memeberikan vaksinasi rutin, kita akan mampu menekan angka kematian langsung terkait pandemi COVID-19, bahkan juga akan berhasil mengurangi peningkatan angka kematian secara tidak langsung, karena penyakit tidak menular lainnya.
.
Sudahkah kita siap?

Salah satu simbol dari kejayaan masa lalu kota Roma di Italia adalah Colosseum (70-80 AD), amphitheatre terbesar di jaman Kekaisaran Romawi . Bangunan tersebut mampu menampung 60.000 penonton, yang kami kunjungi pada hari Kamis pagi yang gerimis, 11 September 2014.
Italia adalah salah satu negara yang paling terpukul oleh pandemi COVID-19 dan memaksa untuk mempekerjakan kembali banyak tenaga kesehatannya yang sudah pensiun, ketika kasus COVID-19 menyerang mulai akhir Februari 2020, termasuk untuk memberikan vaksinasi.
Sekian
Yogyakarta, 23 Juli 2020
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

2020 Dokter Pancasila
DOKTER PANCASILA
fx. wikan indrarto*)
Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden No. 24 Tahun 2016 telah menetapkan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila. Presiden ingin agar seluruh masyarakat Indonesia mengetahui asal-usul Pancasila yang menjadi ideologi dan dasar negara Indonesia, untuk kehidupan kita saat ini, maupun era normal baru paska pandemi COVID-19. Apa yang harus disadari?
.
Prof. Dr. dr. Sutaryo, SpA(K), seorang dokter spesialis anak dan guru besar UGM Yogyakarta yang biasa disapa Prof. Taryo menegasakan, bahwa Pancasila merupakan salah satu warisan dari para pendiri bangsa. Terdapat tiga hal yang digariskan dalam warisan Pancasila yang disebut sebagai Trisakti Pancasila. Tiga hal tersebut adalah berdaulat di bidang politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian di bidang budaya. Melalui Trisakti bangsa Indonesia mampu untuk hidup damai dan sejahtera.
.

Prof. Taryo adalah dokter yang menjadi motor penyelenggaraan Kongres Pancasila I di UGM Yogyakarta Tahun 2009. Dengan melakukan kajian secara ilmiah di PTN ternama, Trisakti Pancasila tentu saja akan terus semakin teranalisis, terwujud dan tidak ketinggalan jaman. Kongres Pancasila II diadakan di Universitas Udayana, Denpasar Tahun 2010, III di Universitas Airlangga Surabaya Tahun 2011, dan IV kembali di UGM, Yogyakarta. Berikutnya, Kongres Pancasila V Tahun 2013 dan VI di Universitas Pattimura, Ambon Tahun 2014, VII, VIII dan IX di UGM Yogyakarta. Bahkan Presiden Joko Widodo tampil langsung saat menjadi pembicara kunci Kongres Pancasila IX, di halaman Balairung UGM Yogyakarta yang legendaris, pada hari Sabtu, 9 Mei 2018.
.
Kita diingatkan bahwa lima butir Pancasila lahir dalam pemikiran Soekarno di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, ketika diasingkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Pada 14 Januari 1934, Bung Karno bersama sang istri, Inggit Garnasih serta ibu mertua, Ibu Amsi dan anak angkatnya, Ratna Djuami, tiba di rumah tahanan yang terletak di Kampung Ambugaga, Ende. Di Ende Soekarno jadi lebih banyak berpikir daripada sebelumnya, termasuk mempelajari lebih jauh soal agama Islam, hingga belajar soal pluralisme dengan bergaul bersama pastor-pastor Katolik di Ende. Dengan berkirim surat berulang dengan tokoh Islam di Bandung, yaitu Ahmad Hassan dan berdiskusi cukup sering dengan pastor Gerardus Huijtink, SVD, maka Pancasila yang dirumuskannya merupakan gagasan brilian untuk semua umat beriman di Indonesia.
.
Gagasan Bung Karno yang disampaikan pada Pidato 30 September 1960 di forum Sidang Umum PBB di New York USA : ‘To Build The World A New’, dimaknakan sebagai membangun dunia kembali, yaitu membangun fitrah manusia di dunia. Sebelumnya juga sudah ditegaskan dalam gagasan perjuangan kebebasan, yaitu ‘Let a New Asia and Africa be Born’ dalam Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung, 18 April 1955. Keduanya menegaskan bahwa cita-cita Pancasila sebagai Dasar Negara tidak semata untuk Indonesia, melainkan untuk peradaban dunia.
.
Dalam situasi saat ini, dimana pergolakan ideologi menjadi sangat luas dan beragam, Pancasila tetaplah harus menjadi pemersatu bangsa. Sebagai contoh beragamnya banyak agama di Indonesia yang terkadang menjadi alasan pemicu konflik horizontal antar umat beragama, ekonomi yang mulai berpindah dari sistem kekeluargaan menjadi sistem kapitalisme dimana keuntungan merupakan tujuan utama, fenomena ‘proxy war’, masifnya terorisme dan radikalisme, dan masih banyak lagi masalah lain. Dalam perspektif ideologi, berbagai masalah tersebut, perlu dicari solusi pemecahannya secara mendasar, salah satunya dengan meletakkan kembali Pancasila sebagai bagian dari pembelajaran geopolitik dan geostrategi.
.
baca juga : https://dokterwikan.com/2019/02/10/2019-biologi-politik/
.
Untuk itu, Pancasila sebagai dasar dan ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia harus diketahui asal usulnya, dijaga kelestarian dan kelanggengan, serta senantiasa diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Setiap warga negara Indonesia, seharusnya tidak lagi mempersoalkan keberadaan kebutuhan dasar, agar sebagai bangsa kita dapat maju mengejar ketertinggalan kita dari bangsa lain yang telah berlari kencang. Dengan demikian, mempermasalahkan hal dasar justru akan menyebabkan kita hanya saling bersitegang, bertikai, dan berjalan di tempat. Oleh sebab itu, kita semua layak tampil membela dengan mengamalkan Pancasila dan sebagai dokter, kita dapat meneladan kiprah Prof. Taryo.
.
Dari pengalaman Prof. Taryo menangani pasien anak dengan Demam Berdarah Dengue (DBD), muncul ide melakukan pemeriksaan limfosit warna biru dan mengantarkannya meraih gelar doktor tahun 1991 di UGM, dengan disertasi berjudul : Limfosit Plasma Biru (Arti Diagnostik dan Sifat Imunologik pada Infeksi Dengue). Selain itu, Prof. Taryo juga merumuskan tata cara pengelolaan DBD yang sederhana, yakni dengan monitor DBD gaya Yogyakarta. Intinya adalah kombinasi pemeriksaan jasmani setiap enam jam plus laboratorium sederhana, yang ’murah tur slamet, tak perlu ICU (Intensive Care Unit).’ Karena jiwa sosialnya tinggi, Prof. Taryo sering menggratiskan biaya bagi pasien. ”Yang penting mereka sembuh lahir-batin,” sebagaimana ditulis oleh Djoko Poernomo di Harian Kompas, 27 Januari 2006.
.
Pada masa pandemi COVID-19, sesuai jiwa Pancasila untuk persatuan Indonesia dan kemanusiaan yang adil dan beradab, Prof. Taryo langsung menulis Buku Praktis Penyakit Virus Corona 19 (COVID-19), yang merupakan buku elektronik unduhan tanpa biaya atau e-Book open access, yang dapat diunduh pada link https://digitalpress.ugm.ac.id/book/255.
Dasar penulisannya adalah bahwa COVID-19 telah ditetapkan oleh WHO sebagai kejadian pandemik. Sangat diperlukan penjelasan tentang COVID-19 yang mudah diterima oleh pasien, keluarga, dan masyarakat berdasarkan kepustakaan ilmiah yang ada, untuk mengurangi kepanikan dan memberi pengetahuan cara mencegah penyakit ini. Buku buah karya Prof. Taryo ini merupakan rangkuman referensi yang tersedia hingga Sabtu, 28 Maret 2020. Penjelasan dalam buku ini diupayakan sesederhana mungkin, untuk menghindari istilah medis yang sukar dipahami oleh masyarakat, sehinga memudahkannya untuk menyongsong era normal baru paska COVID-19.
.
Dilahirkan di Desa Harjobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman, Yogyakarta, Sutaryo kecil memperoleh didikan ayah (Sastrodibroto, pegawai sosial di kantor desa) dan ibunya (dipanggil Simbok) dalam suasana keprihatinan. ”Simbok saya itu buta huruf, lho. Tetapi, mata batinnya sejuk dan pandangannya jauh ke depan.” Seluruh anak keluarga Sastrodibroto (11 orang, Sutaryo nomor tujuh) adalah lulusan UGM. ”Ayah memberi olah batin yang kuat. Simbok memberi semangat ketekunan.” Itulah modal moral Prof. Taryo dalam penyelenggaraan berbagai Kongres untuk mewujudkan Trisakti Pancasila.
.
Momentum Hari Lahir Pancasila pada hari Senin, 1 Juni 2020 dan semangat Prof. Dr. dr. Sutaryo, SpA(K), mengingatkan kita semua, termasuk para dokter, akan peran Pancasila yang mempersatukan segenap komponen bangsa Indonesia, untuk hidup saling membantu, damai dan sejahtera sampai pada era normal baru paska COVID-19.
Sudahkah Pancasila menjadi dasar aktivitas kita pada era pandemi COVID-19 ini?

Sekian
Yogyakarta, 28 Mei 2020
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

TERAWANG SINGKAWANG
fx. wikan indrarto
Perjalanan menerawang dan membayangkan nama legendaris kota Singkawang di Kalimantan Barat, dimulai dengan penerbangan dalam perut pesawat Xpressair Boeing 737-300 XN830, pada hari Sabtu, 11 Februari 2017. Pesawat terbang tinggi dari Jogjakarta pk. 11.30 dan mendarat di Bandara Internasional Supadio di Pontianak pk. 12.50.

Mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Supadio di Pontianak
.

Kombes Pol. dr. Sugeng Krismawanto, SpOT, yang bertugas di RS Bayangkara Polda Kalbar, Pontianak menjemput kami dan menjadi tuan rumah yang luar biasa baik
Perjalanan darat dari Pontianak ke Singkawang sejauh 152 km selama sekitar 3,5 jam, dilakukan dengan mobil perkasa kabin ganda Ford Ranger 4×4 D2 atas kebaikan hati sejawat Kombes dr. Sugeng Krismawanto, SpOT, yang bertugas di RS Bayangkara Polda Kalbar, Pontianak. Selepas bandara, kami mampir sebentar di Tugu Katulistiwa atau Equator Monument yang berada di Jl. Khatulistiwa, Pontianak Utara, Kalimantan Barat. Lokasinya berada sekitar 3 km dari pusat Kota Pontianak, ke arah kota Mempawah.
.

Tugu katulistiwa pertama di Pontianak dibangun tahun 1928 berbentuk tonggak dengan anak panah.
Tugu yang menjadi salah satu ikon wisata Kota Pontianak ini, berawal pada tahun 1941 saat ditemukan laporan Bijdragen tot de geographie dari Chef Van den topographischen dienst in Nederlandsch- Indië : Den 31 sten Maart 1928. Pada awalnya tugu pertama dibangun tahun 1928 berbentuk tonggak dengan anak panah. Pada tahun 1930 disempurnakan, berbentuk tonggak dengan lingkarang dan anak panah, serta tahun 1938 dibangun kembali dengan penyempurnaan oleh opzicter / architech Ir. Silaban. Tugu asli tersebut dapat dilihat pada bagian dalam monumen sekarang. Pada tahun 1990, kembali Tugu Khatulistiwa tersebut direnovasi dengan pembuatan kubah besar untuk melindungi tugu asli, serta pembuatan duplikat tugu dengan ukuran lima kali lebih besar dari tugu yang asli. Peresmiannya dilakukan pada tanggal 21 September 1991.
.

Tugu Katulistiwa di Pontianak pada tahun 1938 dibangun kembali dengan penyempurnaan oleh opzicter / architech Ir. Silaban.
Setelah puas menikmati kegagahan Tugu Khatulistiwa dan membayangkan indahnya belahan bumi bulat karena garis imajiner tersebut, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Singkawang. Kami mampir minum teh Prenjak yang bercitarasa khas, lokal dan harum di rest area Sei Pinyuh, kemudian menyusuri jalur jalan cabang trans Kalimantan melewati Kota Mempawah, ibukota Kabupaten Mempawah. Selajutnya cabang jalan trans Kalimantan yang bagus tersebut, menyusuri garis pantai menuju ke Kota Singkawang. Kota yang juga disebut San Keuw Jong ini dikelilingi oleh pegunungan Pasi, Poteng, dan Sakok. Nama Singkawang berasal dari bahasa Hakka, San khew jong yang mengacu pada sebuah kota di bukit dekat laut.
.

Gerbang Kota Singkawang Kalimantan Barat, Bumi Bertuah Gayung Bersambut
Awalnya Singkawang merupakan sebuah desa, bagian dari wilayah kesultanan Sambas. Desa Singkawang digunakan sebagai tempat singgah para pedagang dan penambang emas dari Monterado, di tengah hutan lebat Borneo. Awal kedatangan dan alasan mengapa etnis Tionghoa bermigrasi dari daratan Tiongkok ke Kalimantan Barat dapat ditelusuri di Monterado, sebuah desa kecil di Kabupaten Bengkayang. Inilah sebuah kawasan yang pada tahun 1776 sudah sangat termasyhur dengan kekuatan kongsi pertambangan emasnya milik orang-orang Tionghoa. Sayangnya, jejak peradaban tambang kuno itu kini sudah hancur karena terus-menerus digempur pertambangan emas tradisional.
.
Para penambang dan pedagang yang kebanyakan berasal dari negeri China, sebelum mereka menuju Monterado terlebih dahulu beristirahat di Singkawang, sedangkan para penambang emas di Monterado yang sudah lama di tengah hutan, sering beristirahat di Singkawang untuk melepas kepenatannya. Kemudian Singkawang berkembang sebagai tempat transit pengangkutan hasil tambang emas (serbuk emas). Waktu itu, mereka (orang Tionghoa) menyebut Singkawang dengan kata San Keuw Jong (Bahasa Hakka), mereka berasumsi dari sisi geografis, bahwa Singkawang yang berbatasan langsung dengan laut Natuna serta terdapat pengunungan dan sungai, dimana airnya mengalir dari pegunungan melalui sungai sampai ke muara laut. Kota Singkawang merupakan salah satu pecinan (Chinatown) di Indonesia, karena mayoritas penduduknya adalah orang Hakka (dengan persentase sekitar 42%) dan selebihnya adalah orang Melayu, Dayak, Tio Ciu, Jawa dan pendatang lainnya. Kota Singkawang memiliki wilayah datar dan sebagian besar merupakan dataran rendah antara 50 meter s/d 100 meter di atas permukaan laut.
.

Klenteng Tri Dharma Bumi Raya di Singkawang, Kalimantan Barat
Obsesi perjalanan kami sebenarnya adalah keinginan besar untuk menyaksikan kegiatan Cap Go Meh yang paling terkenal se Indonesia, pada 15 hari setelah Tahun Baru Imlek. Seperti halnya bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia lainnya, perayaan Imlek untuk menyambut tahun baru China merupakan tradisi termegah yang selalu dirayakan seluruh lapisan masyarakat Singkawang setiap tahun. Bagi mereka, perayaan Imlek tidak ada bedanya dengan masyarakat Indonesia lainnya ketika merayakan Idul Fitri atau Natal.
.
Puncak acara Imlek atau Cap Go Meh ini dimaksud untuk menangkal gangguan atau kesialan pada masa mendatang. Pengusiran roh-roh jahat dan peniadaan kesialan dalam Cap Go Meh disimbolkan dalam pertunjukan Tatung di Singkawang, yang tidak ada di daerah lain. Tatung adalah media utama Cap Go Meh. Atraksi Tatung dipenuhi dengan mistik dan menegangkan, karena banyak orang kesurupan dan orang-orang inilah yang disebut Tatung. Upacara pemanggilan tatung dipimpin oleh pendeta yang sengaja mendatangkan roh orang yang sudah meninggal untuk merasuki Tatung. Roh-roh yang dipanggil diyakini sebagai roh-roh baik yang mampu menangkal roh jahat yang hendak mengganggu keharmonisan hidup masyarakat. Roh-roh yang dipanggil untuk dirasukkan ke dalam Tatung diyakini merupakan para tokoh pahlawan dalam legenda Tiongkok, seperti panglima perang, hakim, sastrawan, pangeran, pelacur yang sudah bertobat dan orang suci lainnya. Roh-roh yang dipanggil dapat merasuki siapa saja, tergantung apakah para pemeran Tatung memenuhi syarat dalam tahapan yang ditentukan pendeta. Para Tatung diwajibkan berpuasa selama tiga hari sebelum hari perayaan yang maksudnya agar mereka berada dalam keadaan suci sebelum perayaan.
.

Vihara Tri Dharma Bumi Raya di Pusat Kota Singkawang, Kalimantan Barat
Dalam atraksi Tatung yang sudah dirasuki roh orang meninggal bertingkah aneh, ada yang menginjak-injak sebilah mata pedang atau pisau, ada pula yang menancapkan kawat-kawat baja runcing ke pipi kanan hingga menembus pipi kiri. Anehnya para Tatung itu sedikit pun tidak tergores atau terluka. Beberapa Tatung yang lain dengan lahapnya memakan hewan atau ayam hidup-hidup lalu meminum darahnya yang masih segar dan mentah. Di Singkawang banyak orang Dayak yang juga turut serta menjadi Tatung, mereka terdorong berpartisipasi karena ritual Tatung mirip upacara adat Dayak.
Setelah puas menikmati semua atraksi, kami segera berswafoto di gerbang Vihara Tridharma Bumi Raya, pusat aktivitas Cap Go Meh 2017 di Singkawang, Kalbar, yang sangat banyak pengunjung. Selanjutnya kami menuju ke sebuah per4an jalan di tengah kota Singkawang, yang dilengkapi dengan icon patung naga emas yang melilit tugu di tengah jalan. Disertai banyak pengunjung lainnya, kami berswafoto di tengah kepadatan arus lalu lintas. Kunjungan kuliner Sintawang yang utama adalah Bakso Sapi Bakmi Ayam 68, yang terkenal sejak 1977 di pusat kota Singkawang, Kalbar. Luar biasa enak, meski saat makan harus berhimpitan dengan para pelahap lainnya, termasuk warga Malaysia, terkait sempitnya ruangan.

Bis Eva, bis antar negara dari Malaysia, tujuan Kuching – Pontianak PP, saat bis diparkir di rest area Sei Pinyuh,
Setelah itu, kami kembali ke kota Pontianak menyusuri cabang jalur jalan trans Kalimantan yang sebelumnya kami lewati. Saat kami kembali minum kopi kental, kami sempat berswafoto dengan bis Eva, bis antar negara dari Malaysia, tujuan Kuching – Pontianak PP, saat bis diparkir di rest area Sei Pinyuh, dekat Mempawah ibukota Kabupaten Kubu Raya, Kalbar. Sabtu, 11 Februari 2017 malam itu kami tidur nyenyak setelah obsesi menerawang Singkawang terwujud. Kamu terkapar dalam dingin malam di pusat kota Pontianak, sebelum mengikuti Simposium Nasional Ikatan Dokter Anak Indonesia (SINAS IDAI) Kalbar 2017.

MENYIBAK PONTIANAK
fx. wikan indrarto
Minggu, 12 Februari 2017 kami dibangunkan oleh sinar matahari pagi di kota Pontianak, ibukota provinsi Kalimantan Barat. Kota ini dikenal sebagai Kota Khatulistiwa karena dilalui garis khatulistiwa. Selain itu, Kota Pontianak dilalui oleh Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Kedua sungai itu diabadaikan dalam lambang Kota Pontianak.
Nama Pontianak yang berasal dari bahasa Melayu yang dipercaya ada kaitannya dengan kisah Sultan Syarif Abdurrahman yang sering diganggu oleh hantu Kuntilanak ketika dia menyusuri Sungai Kapuas. Menurut ceritanya, Sultan Syarif Abdurrahman terpaksa melepaskan tembakan meriam untuk mengusir hantu itu sekaligus menandakan di mana meriam itu jatuh, maka di sanalah wilayah kesultanannya didirikan. Peluru meriam itu jatuh di dekat persimpang Sungai Kapuas dan Sungai Landak, yang kini dikenal dengan nama Kampung Beting.
.
Kota Pontianak didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie pada hari Rabu, 23 Oktober 1771 (14 Rajab 1185 H) yang ditandai dengan membuka hutan di persimpangan Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas Besar untuk mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal. Pada tahun 1778 (1192 H), Syarif Abdurrahman dikukuhkan menjadi Sultan Pontianak. Letak pusat pemerintahan ditandai dengan berdirinya Masjid Jami’ (kini bernama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman) dan Istana Kadariah yang sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur. Pada tahun 1778, kolonialis Belanda dari Batavia memasuki Pontianak dengan dipimpin oleh Willem Ardinpola. Belanda saat itu menempati daerah di seberang istana kesultanan yang kini dikenal dengan daerah Tanah Seribu atau Verkendepaal.
Setelah kemerdekaan Indonesia, walikota pertama yang ditetapkan oleh Pemerintah Kerajaan Pontianak adalah Ibu Rohana Muthalib. Ia adalah seorang wanita pertama yang menjadi walikota Pontianak. Penduduk kota Pontianak didominasi etnis Melayu dan Tionghoa. Selain itu terdapat pula etnis Jawa, Madura, Bugis, Dayak, Arab, Sunda, Banjar, Batak, Minangkabau dan lain-lain.
.
Yang menarik perhatian kami, adalah layanan angkutan darat ke luar kota dan luar negeri, yang dilayani di Terminal Batulayang, yaitu bus penumpang antar negara tujuan ke Kuching, Malaysia dan ke Brunei. Bus ini disediakan oleh berbagai penyedia layanan, termasuk DAMRI. Transportasi darat ke Malaysia menjadi mungkin melalui Jalan Lintas Kalimantan. Layanan imigrasi Indonesia-Malaysia dilaksanakan di Entikong, Kabupaten Sanggau.

Begitu pagi itu kami siap, lansung jalan ke Monumen Digulis yang diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Barat H. Soedjiman pada 10 November 1987. Pada awalnya berbentuk sebelas tonggak menyerupai bambu runcing yang berwarna kuning polos. Pada tahun 1995, monumen ini dicat ulang dengan warna merah-putih. Monumen ini didirikan sebagai peringatan atas perjuangan 11 (sebelas) tokoh Sarekat Islam di Kalimantan Barat, yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Barat karena khawatir pergerakan mereka akan memicu pemberontakan terhadap pemerintah Hindia Belanda di Kalimantan. Tiga dari sebelas tokoh tersebut meninggal pada saat pembuangan di Boven Digoel dan lima di antaranya wafat dalam Peristiwa Mandor. Nama-nama kesebelas tokoh tersebut kini diabadikan juga sebagai nama jalan di Kota Pontianak. Kesebelas pejuang itu antara lain: Achmad Marzuki, asal Pontianak, meninggal karena sakit dan dimakamkan di makam keluarga, Achmad Su’ud bin Bilal Achmad, asal Ngabang, wafat dalam Peristiwa Mandor, dan Gusti Djohan Idrus, asal Ngabang, wafat dalam pembuangan di Boven Digoel. Selain itu, juga Gusti Hamzah, asal Ketapang, wafat dalam Peristiwa Mandor, Gusti Moehammad Situt Machmud, asal gabang, wafat dalam Peristiwa Mandor, Gusti Soeloeng Lelanang, asal Ngabang, wafat dalam Peristiwa Mandor, Jeranding Sari Sawang Amasundin alias Jeranding Abdurrahman, asal Melapi, Kapuas Hulu, meninggal karena sakit di Putussibau, Haji Rais bin H. Abdurahman, asal Ngabang, wafat dalam Peristiwa Mandor, dan Moehammad Hambal alias Bung Tambal, asal Ngabang, wafat dalam pembuangan di Boven Digoel. Juga Moehammad Sohor, asal Ngabang, wafat dalam pembuangan di Boven Digoel, dan Ya’ Moehammad Sabran, asal Ngabang, meninggal karena sakit.
Setelah puas berswafoto dan menikmati Monumen Digulis yang dilengkapi Taman Terbuka Hijua Digulis, persis di depan gerbang masuk Universitas Tanjung Pura (Untan), kami melanjutkan menyibak Pontianak.
Tujuan kami berikutnya adalah mengikuti misa kudus hari Minggi di Gereja Katedral St. Yusuf Pontianak. Sejarah gereja Katolik pertama sebagai pusat paroki di Pontianak, dimulai pada tahun 1908 oleh Prefek Apostolik Dutch Borneo Mgr. Pacificus Bos, OFMCap, dengan pembelian tanah untuk membangun gereja, pastoran, rumah yatim-piatu, sekolah, pemakaman, dan susteran. Kemudian gereja tersebut diberkati pada 9 Desember 1909, sekaligus berdirinya paroki secara resmi. Menjadi gereja katedral sejak 17 November 1918 seiring dengan ditahbiskannya Mgr. Jan Pacificus Bos, OFMCap menjadi Uskup Tituler Capitolias, merangkap Vikaris Apostolik Dutch Borneo, dan paroki berubah menjadi Paroki Katedral Pontianak.

Bangunan gereja tersebut dirubuhkan pada tahun 2011 untuk dibangun gereja baru yang berkapasitas 3.000 orang. Gereja St. Yoseph yang baru, dibangun dengan perpaduan arsitektur Romawi dan Timur Tengah. Ornamen bernuansa Dayak mendominasi eksterior bangunan, dan interiornya didominasi nuansa khas Tionghoa berpadu dengan gaya klasik Eropa. Aarsitek yang merancang eksterior gereja baru, Ir. Ricky, adalah juga arsitek Masjid Raya Singkawang, yang semakin memperkuat kesan Kalbar yang multi etnis, tempat umat berbagai agama hidup berdampingan. Gubernur Kalbar Drs. Cornelis MH meresmikan Gereja Katedral St. Yoseph yang baru pada 19 Desember 2014, walaupun pembangunan belum terselesaikan sepenuhnya, khususnya bagian eksterior dan halaman, agar dapat digunakan untuk Misa Natal 2014.

Gubernur Kalbar Drs. Cornelis MH meresmikan Gereja Katedral St. Yoseph yang penuh ornamen indah pada 19 Desember 2014
Minggu, 12 Februari 2017 kami mengikuti misa kudus konselebrasi oleh 5 orang pastor dan dipimpin oleh Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus. Kami berdoa sangat khusuk di gereja yang oleh Gubernur Cornelis diklaim bahwa Gereja Katedral Pontianak yang sekarang, adalah bangunan gereja Katolik terbesar di Asia Tenggara.

Gereja Katedral Pontianak Kalimantan Barat sekarang merupakan bangunan gereja Katolik terbesar di Asia Tenggara.
Selanjutnya kami menyibak Pontianak dengan perjalanan ke replika Rumah Betang, rumah panjang adat Dayak yang berada di Jalan Jendral Sutoyo, Pontianak, tepat di sebelah Perpustakaan Daerah dan Kantor Polresta. Letaknya juga tidak jauh dari pusat kota dan hanya berjarak 100 meter dari rumah dinas Gubernur Kalimantan Barat. Rumah Betang sebenarnya merupakan pusat kegiatan dan masyarakat suku Dayak di pedalaman Kalimantan. Rumah ini terbuat dari kayu ulin baik lantai, atap maupun dindingnya. Struktur rumah ini memiliki kayu penyangga di bagian bawah rumah dengan ukuran yang sangat besar, hampir sepelukan lengan orang dewasa. Rumah ini didesign memanjang maka tak jarang banyak yang menyebutnya rumah panjang.
.

Bergaya di tangga replika rumah betang, karena rumah adat yang besar sesungguhnya berada di hulu sungai Kapuas.
Tiang penyangga yang ada di bawah rumah memiliki tinggi sekitar 2 meter, sehingga bisa dilewati tanpa harus menunduk di bawahnya. Bentuk panggung dari rumah ini diadaptasi dari letak rumah betang sesungguhnya yang berada di hulu sungai. Sehingga untuk mengantisipasi keadaan jika air pasang dan menyebabkan banjir. Tak seperti rumah kebanyakkan yang tiap satu rumah diisi satu keluarga, rumah betang ini, jika pada rumah aslinya menjadi rumah tinggal untuk lebih dari satu kepala keluarga, bahkan pada jaman dulu ditempati oleh 60 kepala keluarga. Pembagian tempat tiap keluarga, dibedakan berdasarkan sekat-sekat yang menyerupai kamar di dalam rumah betang ini. Kamar yang dibatasi oleh sekat untuk replika rumah betang ini berjumlah delapan buah kamar.
Selanjutnya kami menyibak Pontianak dengan inti kegiatan, yaitu mengikuti Simposium Nasional Ikatan Dokter Indonesia (Sinas IDAI) di Hotel Golden Tulip Pontianak, Kalbar dengan tema ‘Integrated Management of Sick Children’. Acara seremonial yang dibuka dengan sambutan Gubernur Kalbar ini, menghadirkan para guru besar sebagai pembicara, termasuk Prof. Tina Tan, Prof. Sri Rejeki Syaraswati dan Prof. Hardiono Pusponegoro.
.
Pada sesi dengan topik ‘The Experience in Preventing and Controlling Antibiotic Resistance’, Prof. Tina Tan dari American Academy of Pediatrics (AAP) menjelaskan bahwa meskipun multifaktorial, tetapi penggunaan antibiotik yang tidak tepat pada manusia dan hewan, adalah faktor penyebab tinggal yang terbanyak (single greatest driving factor). Pengembangan strategi yang terbaik untuk mengatasinya meliputi vaksinasi. Selanjutnya pada topik ‘General Principles of Prudent Use of Antibiotics’, Prof. Sri Rezeki Hadinegoro dari Jakarta menekankan bahwa RS wajib menyediakan panduan penggunaan antibiotik untuk terapi empiris. Dokter wajib melakukan penilaian keberhasilan secara klinis dan laboratoris, dilanjutkan dengan ‘streamlining’ atau ‘de-escalation therapy’. Hal ini untuk mengurangi paparan antibiotik spektrum luas.
Selanjutnya pada topik ‘When Antiviral Drug Needs To Be Given’, dr. DEAH Hapsari, SpA (K) dari Semarang membahas tentang dampak obat antiviral yang juga dapat merusak sel hospes, dimana virus tsb berada. Oleh sebab itu, obat antivirus tidak direkomendasikan pada ‘self limiting disease’ dan penyakit virus tidak berat. Obat antivirus hanya direkomendasikan pada HIV/AIDS, neonatal herpes simpleks, CMV dengan kelainan SSP dan infeksi mononukleosis saja. Pada topik ‘Autisme, ADHD atau keduanya terjadi bersamaan’, Prof. Hardiono Pusponegoro dari Jakarta menekankan bahwa untuk membedakannya, dapat menggunakan AMSE (Autism Mental Status Exam) pada anak ADHD, dengan nilai lebih dari 5 juga mengalami ASD (Autism Spectrum Disorder). AMSE meliputi observasi kontak mata, minat terhadap orang lain, kemampuan menunjuk, bahasa, pragmatik bahasa, perilaku repetitif, preokupasi dan sensitivitas yang tidak wajar.
.
Pada topik ‘Deteksi Dini Gangguan Perkembangan Motorik pada Anak’, Dr. dr. Setyo Handryastuti, SpA (K) dari Jakarta menjelaskan perlunya pemeriksaan lebih cermat pada bayi dengan riwayat prematuritas, asfiksia berat, dan paska infeksi SSP. Pada topik ‘Skor PELOD 2 Sebagai Penanda Disfungsi Organ pada Anak dengan Sepsis’, Dr. dr. Rismala Dewi, SpA (K) dari Jakarta mengingatkan tentang perlunya sistem skoring untuk luaran klinis sepsis, yaitu Pediatric Logostic Organ Dysfunction Score (PELOD). Hal ini karena sistem Surviving Sepsis Campaign (SSC) terlalu sensitif (96,9%), kurang spesifik (58,3%), dan mengakibatkan tingginya resistensi antibiotik. Sebaliknya, PELOD lebih sederhana, mudah dan dapat dilakukan berdasarkan data pemeriksaan pasien pada saat masuk RS saja.
Topik selanjutnya adalah ‘Tata Laksana Cairan dan Elektrolit pada Anak dengan Sakit Kritis’ oleh Dr. Rismala Dewi dari Jakarta menekankan bahwa tata laksana tersebut mempunyai dampak yang cukup besar terhadap lama, berat dan luaran klinis anak sakit kritis. Status cairan seperti hipovolemia dan dehidrasi, serta gangguan kadar glukosa dan elektrolit merupakan tantangan bagi dokter, dalam pengelolaan pasien anak sakit kritis. Pada topik ‘Pemeriksaan Diagnostik dan Tatalaksana Terkini untuk Demam Tifoid’, oleh dr. Mulya Rahma Karyanti, SpA (K) dari Jakarta mengingatkan pentingnya Rapid Diagnostik Test (RDT), sebagai pemeriksaan penunjang medis yang tepat dan hasilnya cepat, pada kecurigaan demam tyfoid. Pemeriksaan tersebut harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan biakan empedu sebagai baju emas demam tifoid. Pemeriksaan Widal satu kali tidak direkomendasikan. Antibiotik kloramfenikol merupakan lini pertama dan seftriakson lini kedua untuk Demam Tifoid.
.
Sinas IDAI Kalbar 2017 hari I ditutup dengan acara ‘wellcome dinner’ di Kartika Hotel & Restaurant, yang berlokasi persis di depan Kantor Walikota Pontianak, di tepi Sungai Kapuas yang lebar, dalam dan berarus tenang. Setelah presentasi oleh Dr. dr. Rini Sekartini, SpA (K) dengan topik ‘Factors Affecting Early Childhood Growth and Development’, tarian kolabirasi etnis China, Dayak dan Melayu, kami menikmati makan malam bersama, di atas kapal dalam ‘Kapuas River Cruise’. Kapal melaju melawan arus sungai sampai melewati Jembatan Kapuas yang gagah menjulang, kemudian berbalik arah sampai Pelabuhan Pelindo dan kembali ke dermaga Kartika. Malam itu kami tidur nyenyak di kamar 301 Hotel Borneo di Jl. Merdeka 428 Pontianak, Kalbar, agar hari berikutnya masih tetap bugar untuk mengikuti Simposium Nasional Ikatan Dokter Anak Indonesia (Sinas IDAI) 2017 hari kedua.
.
MENYIBAK PONTIANAK (lanjutan)
fx. wikan indrarto
Senin, 13 Februari 2017 pagi yang cerah, sebelum kami mengikuti Simposium Nasional Ikatan Dokter Anak Indonesia (Sinas IDAI), kami sempatkan untuk mengunjungi Istana Kadriah, yang merupakan awal mula sejarah Pontianak. Istana Kadriah Pontianak dibangun pada tahun 1771, bersamaan dengan pembangunan Masjid Abdurrahman. Pendirian istana ini dilakukan setelah selesainya pembukaan daerah baru, yang dinamai Pontianak. Jika dirunut dari awal, kisahnya bermula ketika seorang penyebar agama Islam dari Jawa keturunan Arab, al-Habib Husein meninggalkan kediamannya di Semarang pada tahun 1733, menuju Kerajaan Matan, Kalimantan Barat.
Dalam perkembangannya, kemudian terjadi perselisihan antara Sultan dengan al-Habib Husein. Akhirnya, al-Habib memutuskan untuk meninggalkan Kerajaan Matan, pindah dan bermukim di Kerajaan Mempawah hingga ia meninggal dunia. Setelah al-Habib Husein meninggal dunia, posisinya digantikan oleh anaknya, Syarif Abdurrahman. Akan tetapi, Syarif Abdurrahman kemudian memutuskan pindah dari Mempawah pada tahun 1771, dengan maksud untuk menyebarkan agama Islam. Bersama rombongan yang berjumlah 14 buah perahu, Abdurrahman menyusuri Sungai Kapuas ke arah hulu. Pada 23 Oktober 1771 M, rombongan Abdurrahman sampai di muara persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Di daerah yang berbentuk tanjung ini, mereka naik ke darat, menebas hutan belantara untuk dijadikan daerah pemukiman baru yang kemudian dinamakan Pontianak. Di daerah baru tersebut, segera berdiri sebuah kerajaan baru Kerajaan Pontianak. Kemudian dibangun sebuah masjid dan istana untuk sultan. Masjid tersebut adalah Masjid Abdurrahman, dan istananya adalah Istana Kadriah.

Masjid Abdurrahman dan Istana Kadriah dari jaman Kesultanan Pontianak, Kalimantan Barat.
Pada tahun 1952 Kesultanan Pontianak bergabung dengan NKRI dan keberadaan Istana Kadriah tak lebih dari simbol yang tidak memiliki peran apa-apa. Lokasi istana berdekatan dengan Masjid Abdurrahman, hanya beberapa puluh meter. Lokasi yang berdekatan ini menunjukkan bahwa, istana dan masjid merupakan satu kesatuan utuh dalam sistem pemerintahan di Kesultanan Pontianak. Lokasi istana ini berada di Kelurahan Dalam Bugis, Pontianak, di tepi 2 arus sungai besar. Konstruksi Istana Kadriah hampir semuanya dari kayu besi atau kayu ulin, sehingga bisa bertahan lama. Bangunan istana memiliki kolong yang agak tinggi. Konstruksi ini merupakan bagian dari tradisi lokal Kalimantan. Istana ini terdiri dari empat lantai dengan anjungan yang berorientasi ke sungai. Bagian lantai utama berdenah segi empat, dikelilingi oleh serambi. Keberadaan serambi yang mengelilingi ruang lantai utama ini merupakan bagian dari ciri khas bangunan tropis. Serambi tersebut berfungsi sebagai ruang peralihan dari bagian luar ke dalam, dan juga untuk mencegah cahaya matahari ataupun hujan masuk secara langsung ke dalam ruangan. Setelah puas berswafoto di tempat yang sangay bersejar tersebut, selanjutnya kami meneruskan menyibak Pontianak.
Tujauan kami selanjutnya adalah Aloe Vera Center atau Pusat Pengembangan Lidah Buaya. Tanaman lidah buaya tak hanya bermanfaat untuk perawatan dan kesuburan rambut anda. Lidah buaya ternyata juga nikmat disantap sebagai minuman segar yang berkhasiat bagi kesehatan. Tanaman ini relatif mudah ditemui di Pontianak, Kalimantan Barat. Biasanya para petani menjual pelepah lidah buaya dengan harga seribu rupiah perkilogram.
Tidak hanya itu, seorang tabib atau dokter dari zaman Yunani kuno yang bernama Dioscordes, menyebutkan jika salah satu manfaat lidah buaya yakni memiliki khasiat untuk mengobati berbagai macam jenis penyakit. Misalnya radang tenggorokan, bisul, rambut rontok, wasir, dan kulit memar, pecah-pecah serta lecet. Lidah buaya ternyata dapat dijadikan minuman yang sangat nikmat. Caranya relatif mudah. Daun lidah buaya dibelah dan diambil dagingnya kemudian dipotong-potong menjadi kecil-kecil. Untuk menghilangkan lendirnya, lidah buaya dicuci lalu direbus hingga matang agar rasa getirnya hilang. Setelah itu potongan lidah buaya dicampur air gula atau sirup atau es batu. Maka jadilah minuman segar lidah buaya. Setelah melepas dahaga dengan segelas es lidah buaya, kami segera kembali ke arena Sinas IDAI 2017.
Di Hotel Golden Tulip Pontianak, tema simposium adalah ‘Integrated Management of Duck Children’. Pada topik ‘Konsep Baru Sepsis pada Anak’ oleh dr. Antonius Pudjiadi, SpA (K) dari Jakarta menjelaskan bahwa sepsis saat ini masih dianggap sebagai reaksi inflamasi sistemik yang disebabkan oleh infeksi, sejak tahun 1991 (Surviving Sepsis Campaign). Oleh karena pemikiran ini terlalu sensitif dan kurang spesifik, sehingga mengakibatkan penggunaan antibiotik berlebihan. Dengan demikian, seharusnya saat ini diperlukan tambahan bukti disfungai organ tubuh berdasarkan berbagai pemeriksaan klinis. Pada topik ‘Ensefalitis pada Anak’, dr. Iskandar Syarif, SpA (K) dari Padang menjelaskan tentang inflamasi jaringan otak karena infeksi, paska infeksi ataupun autoimun yang cukup sulit didiagnosis. Pemeriksaan PCR cairan otak adalah diagnosis emas untuk ensefalitis. Penggunaan obat imunomodulator sedang diteliti potensiny a, karena terapi baku belum memberikan luaran yang optimal.
Selanjutnya kami mendengarkan presentasi dengan topik ‘Pendekatan Diagnosis dan Tata laksana Kejang Neonatus’ oleh Dr. dr. Setyo Handryastuti, SpA (K), yang menjelaskan bahwa kejang merupakan kedaruratan medis paling sering pada neonatus. Oleh karena gambaran klinisnya samar dan berbeda dengan anak, maka wajib dipastikan tentang adanya kejang tersebut. Etiologinya didasarkan pada riwayat kehamilan dan persalinan. Obat anti kejang yang efektif diberikan secepatnya, pada kejang dengan lebih 3 kali dalam 1 jam atau berlangsung lebih dari 3 menit dan dihentikan setelah kejang terkontrol secara klinis. Setelah itu adalah presentasi denhan topik ‘Antibiotic Use in Children With Febrile Neutropenia’ oleh dr. DEAH Hapsari, SpA (K) yang menjelaskan bahwa kasus demam netropeni sering terjadi pada anak dengan keganasan hematologi yang mendapat kemoterapi. Antibitok harus digunakan setepat mungkin untuk mencegah timbulnya resistensi kuman, karena sebagian besar kejadian demam netropeni, tidak disebabkan oleh infeksi. Kami tidak lagi mengikuti berbagai presentasi berikutnya, karena kami akan melanjutkan menyibak Pontianak.
Tujuan kami selanjutnya adalah Museum Negeri Provinsi Kalimantan Barat di Jl. Jenderal A. Yani, Pontianak, yang dirintis sejak tahun 1974 oleh Kantor Wilayah Depdikbud Provinsi Kalimantan Barat, melalui Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Permuseuman Kalimantan Barat. Fungsionalisasinya diresmikan pada tanggal 4 Oktober 1983 oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Depdikbud, dan sejak itu Museum Provinsi Kalimantan Barat dibuka untuk umum.
Museum ini menyimpan di antaranya koleksi Geografi dan Geologika berupa peta dan jenis batu-batuan; koleksi biologika, arkeologika, historika, numismatika, dan keramologika berupa tempayan, piring, mangkuk, sendok, dll. yang berasal dari China, Vietnam, Jepang, Eropa, dan keramik lokal Singkawang. Selain menampilkan koleksi yang ada di Ruangan Pameran Tetap I, Museum Provinsi Kalimantan Barat juga menampilkan koleksi replika dan miniatur yang berada di plaza Jangkar kapal dagang asing. Setelah terkagum membayangkan kehebatan bahari nenek moyang, kami melanjutkan proses menyibak Pontianak dengan menyeberangi Sungai Kapuas, sungai terpanjang di seluruh Indonesia dan membelah kota Pontianak.

Rumah makan di pinggir Sungai Kapuas di Pontianak, Kalimantan Barat
Kami menyeberangi Jembatan Kapuas I yang terletak di pusat Kota Pontianak dengan panjang 420 meter dan lebar 6 meter. Jembatan Kapuas I yang melengkung gagah seperti busur panah ini, merupakan penghubung pusat Kota Pontianak dengan beberapa kabupaten lainnya di Kalbar. Jembatan ini dibangun pada tahun 1980 dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tahun 1982. Jembatan yang dibangun dengan dana Rp 6,06 miliar ini pada awalnya difungsikan sebagai jalan tol yang berarti setiap pengguna jembatan ini dipungut tarif tol. Namun karena jembatan ini dianggap sudah menjadi jalur utama dan tidak ada jalur alternatifnya, pungutan tarif tol dihapus pada pertengahan 1990-an dan jembatan ini bebas dilalui pengendara. Akibat terus meningkatnya volume kendaraan yang melintasi jembatan Kapuas I, maka pemerintah mewujudkan pembangunan jembatan Kapuas II yang berada di Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Sempat terjadi peristiwa yang menggemparkan warga Kota Pontianak pada tanggal 30 Agustus 2013, yakni fender tiang utama jembatan Kapuas I ditabrak tongkang pengangkut bauksit, sehingga mengakibatkan bergesarnya sambungan jembatan di bagian tengah sekitar 10 cm. Akibat kejadian itu arus kendaraan terpaksa diblokir dan dialihkan ke jembatan Kapuas II di Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya guna menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan hingga proses pemeriksaan dan perbaikan jembatan selesai.

Menemui dr. Titik Nurwahyuni, SpS, MMR yang pernah menjabat sebagai Direktur RS St. Antonius di Pontianak dan kakak kelas yang baik saat kuliah di FK UGM bersama Kombes Pol. dr. Sugeng Krismawanto, SpOT,
Setelah merasakan sensasi penyeberangan Sungai Kapuas yang membanggakan, kami segera menemui dr. Titik Nurwahyuni, SpS, MMR yang pernah menjabat sebagai Direktur RS St. Antonius di Pontianak dan kakak kelas yang baik saat kuliah di FK UGM. Setelah bernostalgia sebentar, kami segera menumpang Jeep 4×4 Cherokee 4.0 l yang garang menghentak aspal, menuju Bandara Internasional Supadio Pontianak, untuk kembali ke Yogyakarta. Penerbangan dalam perut pesawat Boeing 737-300 xpressair XN 833 yang terbang setinggi 33.000 kaki dari Pontianak, mengantar kami kembali ke Yogyakarta.

RSU Santo Antonius Pontianak Kalimantan Barat yang megah menjulang
Terimakasih kepada handai topan dan semua pihak, terlebih kepada Kombes dr. Sugeng Krismawanto, SpOT yang bertugas di RS Bhayangkara Polda Kalbar, atas semua dukungan, bantuan dan dukungannya. Sampai bertemu dalam petualangan berikutnya.
Sekian

Yogyakarta, 14 Februari 2017
Salam hangat.
Fx. Wikan Indrarto
*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta dan alumnus S3 UGM, no WA 081227280161.
2019 Sepak Bola Sehat
SEPAK BOLA SEHAT
fx. wikan indrarto*)
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan badan pengatur sepak bola dunia (FIFA), pada hari Jumat, 4 Oktober 2019 menyepakati kolaborasi empat tahun untuk mempromosikan gaya hidup sehat melalui sepakbola secara global. Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus dan Presiden FIFA Gianni Infantino menandatangani nota kesepahaman di kantor pusat WHO di Jenewa, Swiss. Apa yang perlu disadari?
.
baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/06/18/2018-sepak-bola-sehat/
.
Separuh populasi dunia menyaksikan Piala Dunia FIFA 2018 di Russia. Hal ini berarti ada potensi besar untuk menjangkau miliaran orang di seluruh dunia, dengan informasi untuk membantu mereka menjalani hidup yang lebih sehat. Sepak bola adalah bahasa universal yang unik yang dapat digunakan untuk mendukung inisiatif kesehatan dan mempromosikan gaya hidup sehat di seluruh dunia.
.
baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/05/28/2015-rio-de-janeiro/
.
Perjanjian WHO dan FIFA tersebut mencakup 4 bidang kolaborasi utama. Pertama, advokasi untuk mempromosikan gaya hidup sehat melalui sepakbola. WHO dan FIFA akan berkolaborasi untuk mengirimkan pesan kesehatan kepada semua orang di seluruh dunia, melalui berbagai acara FIFA. Hal ini termasuk menerapkan kampanye pendidikan kesehatan yang berkaitan dengan sepak bola, promosi aktivitas fisik, pengurangan perilaku banyak duduk (sedentary behaviour), dan edukasi publik tentang risiko dan bahaya merokok dan perokok pasif.
.
Bentuk kegiatan lainnya adalah penyelarasan kebijakan umum untuk memastikan adanya lingkungan bebas rokok, di semua acara sepak bola yang diselenggarakan FIFA. Juga untuk mendorong federasi sepak bola nasional di manapun, untuk mengadopsi kebijakan bebas rokok, termasuk di dalam stadion sepak bola. Selain itu, juga untuk memungkinkan WHO hak untuk memberikan saran teknis kepada FIFA, tentang masalah kesehatan olah raga.
.
Melakukan kampanye pendidikan publik tentang kesadaran bagaimana sepakbola dapat meningkatkan derajad kesehatan, dengan mengirimkan pesan kesehatan pada acara seremonial dan melalui media massa atau media sosial. Juga mengembangkan dan memberikan produk komunikasi yang mempromosikan kesehatan melalui sepakbola dalam turnamen FIFA, termasuk sepak bola pria, wanita, dan pemuda.
.
Kedua, penyelarasan kebijakan lingkungan yang bebas rokok. Dalam hal ini termasuk di dalam stadion sepak bola pada acara FIFA, sesuai ketentuan Kebijakan Bebas Tembakau (The Tobacco Free Policy for FIFA Events). Mendorong federasi sepak bola nasional untuk mengadopsi kebijakan bebas tembakau, termasuk dengan menghormati hak para penonton di dalam stadion. WHO dan FIFA telah bekerja sama untuk melarang peran serta industri rokok pada semua turnamen sepak bola, termasuk Piala Dunia FIFA 2018 yang diselenggarakan di Rusia pada 14 Juni hingga 15 Juli 2018.
.
Selain itu, WHO juga diberikan hak untuk memberi saran teknis kepada FIFA, meskipun tidak mengikat, mengenai risiko dan implementasi kebijakan kesehatan. Dalam hal ini kebijakan yang berkaitan dengan tembakau, alkohol, promosi aktivitas fisik, diet sehat, keamanan makanan, dan pertemuan massal. Selain itu, juga keamanan aspek kesehatan terkait risiko, bahaya, dan darurat kesehatan masyarakat, karena perjalanan dan perdagangan internasional, dan kemunculan kembali ancaman penyakit internasional, sesuai dengan ‘the International Health Regulations’ (2005).
.
Ketiga, memperkuat warisan kesehatan (the health legacy) pada semua acara FIFA. Hal ini meliputi mengembangkan dan mengarusutamakan perencanaan, implementasi dan evaluasi warisan kesehatan ke dalam turnamen FIFA, berkolaborasi dengan negara tuan rumah acara. Juga mengembangkan alat untuk mengevaluasi, bagaimana turnamen FIFA mampu mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan, bagi semua penonton dan penyelenggaraan turnamen sepak bola. Selain itu, juga mendorong pembangunan kapasitas nasional bidang kesehatan di negara tuan rumah penyelenggara acara FIFA, berupa pelatihan kesehatan karena adanya pertemuan penonton massal internasional, misalnya wabah penyakit, keamanan makanan dan minuman, termasuk di dalam stadion sepakbola.
.
Keempat, kolaborasi pada program promosi pendidikan kesehatan, mempromosikan aktivitas fisik, dan mengurangi ketidaksetaraan peluang. Dalam hal ini mendukung implementasi rekomendasi dari Rencana Aksi Global WHO untuk Aktivitas Fisik (GAPPA), termasuk meningkatkan peluang sehat dengan asosiasi pemain dan pelatih sepak bola, untuk meningkatkan partisipasi dalam aktivitas fisik melalui sepak bola. Selain itu, juga mendukung pemain sepak bola profesional dalam mempromosikan pesan kesehatan, termasuk melalui media sosial.
.
Momentum kerjasama WHO dan FIFA 2019 mengingatkan kita semua untuk tidak sekedar menggemari sepak bola, tetapi juga untuk menciptakan kehidupan yang lebih sehat dan aktif.
Sudahkah Anda terlibat membantu?
Sekian
Yogyakarta, 5 Oktober 2019
*) penggemar tim sepakbola Brasil, dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

2017 India yang Nyata

INDIA YANG NYATA
fx. wikan indrarto*)
Undangan untuk mengikuti the 11th World Congress on Adolescent Health, pada 27-29 Oktober 2017 di Hotel Pullman Aerocity, New Delhi, India, menggetarkan ingatan akan Parikesit, yang saat janin telah dipanah oleh Aswatama menggunakan senjata ampuh Brahmastra. Parikesit adalah putera Raden Angkawijaya dengan Dewi Utarri, yaitu cucu Raden Arjuna. Parikesit dilahirkan setelah perang besar Baratayudha dalam epik Mahabarata karya Vyasa, yang dipercaya terjadi di padang Kurukshetra, yang termasuk negara bagian Haryana, India. Parkesit kemudian bertahta sebagai raja di Hastinapura, yang bergelar Prabu Kresnadipayana, saat masih terhitung remaja (adolescent). Bagaimana kesehatan remaja (adolescent) India saat ini?
.
Petualangan kami mulai pada hari Kamis, 26 Oktober 2017 menggunakan pesawat Garuda Indonesia Boeing 737-800 GA 205, yang berangkat pk. 10.05 dari Yogyakarta dan transit sejenak di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Setelah bercengkerama akrab dengan Kombes Yosafat Sunaryanto, temanmanuk jebolan SMA Kolese de Britto Yogyakarta tahun 1984, yang saat ini menjabat Chief Security PT Aerofood Indonesia, kami melanjutkan petualangan dengan pesawat Garuda Indonesia Boeing 737-800 GA 836, menuju Singapore Changi Terminal 3. Pesawat Boeing 737 merupakan salah satu jenis pesawat terbang komersial berbadan sempit dengan mesin ganda (twin jet), yang diproduksi oleh Pabrik Boeing di Seattle, Amerikas Serikat. Awalnya pesawat ini merupakan pengembangan versi murah dari Boeing 707 dan Boeing 727, dengan kapasitas yang lebih sedikit dan berjarak pendek. Boeng 737 adalah produk Boeing yang paling laris di pasar penerbangan dunia, dengan penjualan lebih dari 8000 unit hingga akhir Desember 2014, bahkan pesanan yang belum terkirim mencapai 4037 unit, pada bulan Oktober 2014. Boeing 737 merupakan pesaing utama dari pesawat berlorong tunggal keluaran Airbus yaitu Airbus A320.
.
Setelah menempuh 851 km dalam ketinggian jelajah 2.888 m dalam kecepatan 466 km/jam, kami sampai di Singapura. Selanjutnya kami berganti maskapai yang melakukan ‘Code Sharing Agreement’ dengan Garuda Indonesia, yaitu pesawat Boeing 777-300er GA 9391 by Jet Airways ke Delhi Gandhi Terminal 3. Boeing 777 adalah pesawat penumpang sipil berbadan lebar, bermesin ganda, berjarak jauh dan dibuat oleh Boeing Commercial Airplanes. Pesawat ini dapat mengangkut antara 314-451 penumpang dan memiliki jangkauan 9.695 sampai 17.372 km. Penerbangan pertama Boeing 777 pada tahun 1994. Ciri unik dari 777 adalah adanya enam roda pendaratan per set di setiap roda pendaratan utama, ‘fuselage’ yang bundar sempurna, dan “tailcone” belakang yang menyerupai mata pisau. Boeing 777 dibuat untuk menjadi pengganti pesawat super jumbo Boeing 747 yang legendaris, namun lebih efisien. Oleh karena itu, Boeing 777 menjadi pesawat twinjet (mesin ganda) terbesar di dunia. Emirates, maskapai nasional Uni Emirat Arab adalah operator terbesar pesawat Boeing 777.
.
Jet Airways (India) Ltd. merupakan sebuah maskapai penerbangan swasta yang berbasis di Mumbai, India. Maskapai ini merayakan ulang tahun ke 21 tahun dengan jaringan rute ke 72 kota dunia, menggunakan 100 lebih pesawat mereka yang baru dan tentunya mereka layak di beri penghargaan sebagai pelopor maskapai di India atas keberhasilan dan strategi mereka menghadapi kekejaman pasar. Di amendemenkannya UU korporasi udara tahun 1953 oleh pemerintah India pada tahun 1991, membuat Naresh Goyal yang merupakan salah satu pengusaha terkenal di India, memutuskan untuk mendirikan maskapai yang bernama Jet Airways. Pada awal operasionalnya, disewanya Boeing 737-300 sebanyak 4 armada dari maskapai Ansett Australia yang memiliki penggunaan bahan bakar terefisien saat itu dan resmi beroperasi pada 5 Mei 1993.
.
Setelah menempuh jarak4.021 km dalam ketinggian jelajah 10.091 m dengan kecepatan 930 km/jam, kami mendarat di Bandara Indira Gandhi di New Delhi tepat tengah malam Kamis, 26 Oktober 2017. Bandar Udara Internasional Indira Gandhi (IATA : DEL) merupakan sebuah bandar udara yang terletak di Delhi Barat, 16 kilometer (9,9 mil) sebelah barat daya dari pusat kota New Delhi, India. Bandara ini merupakan bandara terbesar di India. Dinamai Indira Gandhi, yaitu mantan Perdana Menteri India, pada tahun 2008, bandara yang terletak pada ketinggian 777 kaki (237 m) ini telah melayani 24 juta penumpang setahun, dimiliki oleh ‘Airports Authority of India’ dan dikelola oleh ‘Delhi International Airport Private Limited’ (DIAL).
.
Indira Priyadarshini Gandhi yang lahir di Allahabad, Uthar Pradesh, India pada 19 November 1917 adalah Perdana Menteri India pada periode 19 Januari 1964 sampai 24 Maret 1977, dan berlanjut pada 14 Januari 1980 sampai meninggalnya pada 31 Oktober 1984 saat umur 66 tahun. Sebagai anak kandung Perdana Menteri India yang pertama Jawaharlal Nehru, Indira Gandhi yang terlahir sebagai Indira Nehru, menikah dengan Feroze Gandhi, yang telah mengubah namanya dari Feroze Khan, meskipun tidak memiliki hubungan darah dengan tokoh terkenal kemerdekaan India, Mahatma Gandhi. Ia merupakan wanita pertama yang menjadi perdana menteri India dan meninggal pada 1984 dalam aksi teror yang dilakukan dua pengawal pribadinya yang memeluk ajaran Sikhisme. Aksi itu dipicu oleh instruksinya yang memerintahkan tentara India menyerang Kuil Emas di Punjab yang dijadikan markas para pengikut Sikh yang menginginkan Punjab sebagai negara mereka.
.
Metro Delhi bandara adalah kereta api supercepat yang menghubungkan bandara dengan bagian tengah New Delhi. Perjalanan Metro Delhi pada sektor Dwarka 21 sejauh 15,7 Km di bawah tanah dan 7 Km di rel tinggi dengan kecepatan 80 km/jam, sehinngga Airport Express Line tersebut mampu menempuh kurang dari 25 menit dari ujung ke ujung, sehingga benar-benar membawa Bandara lebih dekat ke jantung kota Delhi. Jadwal keberangkatan kereta api pertama pk. 4:45 pagi dan terakhir 23:30 malam dari New Delhi dan Dwarka Sector 21. Kami tidak berkesempatan mencoba kecepatan Metro Delhi yang membanggakan tersebut, karena kami baru tiba setelah tengah malam. Namun demikian, kami sangat bangga karena telah menjejakkan kaki di tanah India, yang ditemukan oleh Vasco da Gama, yang menduduki peringkat ke-86 dalam buku Michael H. Hart berjusul 100 tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia.
.
Vasco da Gama adalah seorang penjelajah Portugis yang menemukan jalur jalan laut langsung dari Eropa ke Malabar di India dengan melakukan penjelajahan laut mengelilingi Benua Afrika, saat ditugasi oleh Raja Manuel I dari Kerajaan Portugal untuk mencari negeri-negeri di benua Timur, dan untuk mendapatkan akses Portugis ke pasar komersial di benua Timur. Da Gama memperluas penjelajahan laut dari pendahulunya, Bartolomeus Dias, yang pertama-tama mengelilingi Tanjung Harapan di ujung selatan benua Afrika pada 1488, dan didukung oleh Henrique, seorang navigator handal. Hanya 54 dari 170 kelasi, dan dua dari empat kapal, yang kembali ke Portugal dengan selamat pada 1499. Namun demikian, pelayaran pertama da Gama langsung menghasilkan era dominasi Eropa selama ratusan tahun melalui kekuatan laut dan perdagangan, dan kolonialisme Portugis selama 450 tahun di India yang menghasilkan kekayaan dan kekuasaan bagi takhta Portugal. Kota pelabuhan yang pertama kali didarati Vasco da Gama adalah Goa di Indiai bagian barat laut.
.
Petualangan kami memang tidak akan sampai ke Goa, tetapi malam itu kami meresakan kepenatan yang lebih, sebab pengurusan imigrasi memakan waktu lama sekali. Selain kami sempat salah masuk antrian pada jalut ‘foreign passport’ yang sedikit lebeh pendek dari jalur ‘Indian passport’, juga karena antrian kami pada jalur e-visa cukup rumit. Visa yang kami peroleh secara electronic dari Kedubes India di Jakarta, berupa lembaran yang diprint sendiri di rumah. Oleh sebab itu, kami bergabung dengan pengunjung dari 49 negara yang mendapat akses e-visa dari pemerintah India, harus menjalani sesi foto dan pengambilan sidik jari yang sering tidak terbaca karena telapak tangan yang kotor atau berkeringat. Dengan itu, kami kehabisan waktu untuk mengambil bagasi konter ‘baggage claim’ yang daftar kode penerbangannya sudah terhapus karena banyaknya penerbangan berikutnya yang datang. Kami harus telusur ke konter informasi dan ‘baggage claim’ di ruangan yang sangat luas dalam area bandara. Moto ‘World’s Number One Airport for 2 Concecutive Years versi ASQ’ untuk Delhi Indira Gandhi International Airport, rasanya tidak mudah diperoleh, kalau antrian imigrasi jalur e-visa yang jah lebih panjang dibandingkan jalur ‘visa on arrival’ di sebelahnya, tidak dicarikan jalan keluarnya.
.
Setelah menghindari para calo pencari penumpang dan tamu hotel transit bandara yang lincah dan terus saja merayu, akhirnya kami melanjutkan perjalanan dengan taksi menuju ke hotel bloomrooms di 8591, Arakashan Road, Opp New Delhi Railway Station, New Delhi 110055, India. Taksi yang kami gunakan adalah mobil minibus Tata produksi India, yang bentuknya seperti Mitshubishi HiJet atau Suzuki Carry di Indonesia. Bedanya adalah sudah menggunakan bahan bakar gas atau BBG dan sopir sering membunyikan klakson berulang. Malam itu kami tidur nyenyak, agar hari berikutnya dapat mengikuti the 11th World Congress on Adolescent Health dan melanjutkan petualangan ke India.
Bersambung
*) petualang dari Yogyakarta
Ditulis dan dibagikan di kamar 209 hotel bloomrooms di 8591, Arakashan Road, Opp New Delhi Railway Station, New Delhi 110055, India
.
INDIA HARI KEDUA
fx. wikan indrarto*)

Pagi itu Jumat, 27 Oktober 2017 kami terbangun di kamar 209 hotel bloomrooms di 8591 Arakashan Road, New Delhi, India agak terlambat dari biasanya, karena kelelahan yang penat. Segera kami santap sarapan menu asli India yang hanya hambar dan sedikit pahit di lantai 1, lanjut bergegas akan mengikuti the 11th World Congress on Adolescent Health, di Hotel Pullman Aerocity, New Delhi, yang telah menggetarkan ingatan akan Parikesit, karena bertahta sebagai raja di Hastinapura pada epik Baratayudha, saat masih terhitung remaja (adolescent). Kesehatan remaja yang akan dibahas di India, mengingatkan hal lain, yaitu tentang layanan kesehatan di rumah sakit. Apa yang perlu disadari?
.
Hippocrates dari Yunani boleh disebut sebagai bapak ilmu kedokteran, namun tabib India kuno terbukti telah mampu melakukan tindakan seperti operasi katarak hingga operasi plastik. Sushruta, seorang tabib India, dikenal sebagai dokter bedah pertama yang tercatat dalam sejarah dunia. Bahkan pada abad ke-8, tabib India telah menemukan cikal bakal vaksin cacar. Ilmu kedokteran yang mereka ciptakan dirangkum dalam kitab suci Ayurvedha. Sedangkan konsep rumah sakit kuno jaman Hippocrates mungkin berasal dari kuil Asclepius, dewa kesehatan Yunani, dengan pola perawatan yang diberikan masih berbau takhayul, karena didasarkan pada penyembahan terhadap Dewa Asclepius. Rumah sakit dengan konsep modern pertama di dunia baru tercatat dari laporan seorang biksu Cina bernama Fa Xian pada tahun 400 M, justru terjadi di India. Sistem yang dianut waktu itu mirip dengan rumah sakit pada masa sekarang. Orang yang merasa sakit datang, diperiksa oleh tabib, kemudian dirawat dengan ramuan dan makanan hingga sembuh, kemudian diperbolehkan pulang. Fa Xian (Fa Hsien atau Fa Hien) adalah seorang biarawan Tiongkok dan seorang penjelajah pada abad ke-5 Masehi. Tulisan yang dia buat berisi tentang deskripsi mengenai tempat dan benda sakral Buddha yang merupakan agama yang sangat dominan di India pada saat itu. Selain itu, juga berisi tentang sebuah tempat layanan penyembuhan, sebagaimana kita kenal sekarang sebagai sebuah rumah sakit.
.

Petualangan hari kedua kami di India dimulai dengan berjalan kaki sekitar 11 menit sejauh 750 m dari hotel bloomrooms, kami mencapai Delhi Aero City Airport Line Station di New Delhi Platform 2. Lalu lintas yang semrawut, bunyi klakson dan umpatan para pengemudi, juga laju kencang dan melawan arus, adalah pemandangan yang nyata seperti yang kami saksikan di youtube. Republik India memiliki jumlah penduduk terbanyak kedua di dunia, dengan populasi lebih dari satu miliar jiwa, merupakan negara terbesar ketujuh berdasarkan ukuran wilayah geografis. Jumlah penduduk India tumbuh pesat sejak pertengahan 1980-an. Ekonomi India adalah terbesar keempat di dunia dalam PDB (Produk Domistik Bruto), diukur dari segi Paritas Daya Beli (PPP), dan salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia. India dengan sistem demokrasi liberal terbesar di dunia, juga telah muncul sebagai kekuatan regional yang penting, memiliki kekuatan militer terbesar, dan memiliki senjata nuklir. Meskipun kekumuhan lingkungan, kemiskinan kota dan bau kencing di sepanjang jalan yang kami lewati masih ada, tetapi segera lenyap begitu kami turun ke Delhi Aero City Airport Line Station di bawah tanah, yang nampak modern. Dengan tiket seharga Rs 60 dan 2 kali perhentian, yaitu di Shivaji Stadium dan Dhuala Kuan, kemudian kami turun di Delhi Aerocity Station dilanjutkan berjalan kaki ke lokasi acara di Hotel Pullman di Asset No 02, GMR Hospitality District, sekitar 11 menit sejauh 850 m.

.
Setelah proses registrasi peserta konggres yang lancar, segera kami mengikuti Plenary Sessions dengan Keynote Lecture Anthony Costello (World Health Organization, Switzerland) dengan judul sangat wah dan khas pejabat, yaitu Global adolescent health: Opportunities and challenges. Selanjutnya Gogontlejang Phaladi (The Partnership for Maternal Newborn and Child Health, Botswana) memberikan materinya yang lebih membumi dan bergaya milenium dengan judul Adolescent health: a young person’s perspective. Sayang sekali, materi oleh Manoj Jhalani (Ministry of Health and Family Welfare, Government of India) yang berjudul Adolescent Health – India’s vision kurang menarik untuk diterapkan, karena lompatannya terlalu jauh ke depan, meninggalkan masa keemasan Prabu Kresnadipayana atau Parikesit remaja pada era akhir wayang purwo.
.
Setelah sesi debat para pakar yang cukup menarik karena bertema ‘The parents of any child, including adolescents under 18 years of age, must give consent for their child’s clinical care’ dan dipimpin oleh Pierre-André Michaud (University of Lausanne, Switzerland), kami menjadi lebih mengerti ramaja. Perdebatan yang mempertemukan Fadia AlBuhairan (King Abdullah Specialist Children’s Hospital, Riyadh, Saudi Arabia) dengan Philip Jaffé (Center for Children’s Rights Studies, University of Geneva, Switzerland) sangat hidup dan inspiratif. Sesi yang menarik lainnya adalah paparan hasil penelitian Sawni, laChance dan Meko dari Hurley Medical Center Genese County, MI, USA yang menyimpulkan bahwa komunikasi menggunakan HP (call-based communication) dengan remaja, sangat mungkin dilakukan, bahkan juga pada remaja dari kelas sosio ekonomi rendah. Pada era teknologi komunikasi sekarang, petugas kesehatan wajib mempertimbangkan penggunaaan HP (cell-based communication) untuk berkomunikasi dengan remaja (p<0,001).
.
Setelah sesi makan siang, kami melanjutkan petualangan dengan kembali melalui Delhi Aerocity Station untuk naik Delhi Aero City Airport Line, melewati Dhuala Kuan dan turun di Shivaji Stadium. Dari situ kami menyewa bajaj berbahan bakar gas (BBG) menuju pusat kota (downtown) New Delhi. Meskipun lalu lintas sangat padat, tetapi polusi dan emisi gas buang asap kendaraan bermotor sangat rendah, karena penggunaan BBG di India sudah sangat jamak. Dengan tarif Rs 500 untuk penggunaan 2 jam, kami segera meluncur ke Gerbang India (Indian Gate). Gerbang ini adalah monumen nasional India yang terletak di jantung kota New Delhi dan dirancang oleh Sir Edwin Lutyens, seorang arsitek Inggris yang terkenal. Aslinya gerbang ini dikenal dengan nama “Tugu Peringatan Perang Seluruh India”, untuk memperingati pengorbanan 90.000 orang tentara India Britania yang tewas membela Kerajaan Inggris Raya pada Perang Dunia I (1914-1918) dan Perang Inggris-Afghanistan III tahun 1919.

Gerbang India, yang awalnya diberi nama All India War Memorial, dibangun sebagai bagian dari Imperial Graves Commission (IWGC) pada tahun 1917. Batu fondasi diletakkan oleh Duke of Connaught yang berkunjung pada tanggal 10 Februari 1921. Proyek ini selesai sepuluh tahun kemudian pada tahun 1931 dan diresmikan pada tanggal 12 Februari 1931, oleh Viceroy Lord Irwin. Setiap tahun pada tanggal 26 Januari, parade Hari Republik dimulai dari Rashtapati Bhavan (Presiden House) dan berlangsung di sekitar Gerbang India. Parade ini menampilkan prestasi terbaru di bidang teknologi pertahanan sekaligus warisan budaya negara India.
.
Sir Edwin Lutyens adalah arsitek perancang yang mendesain lengkungan kemenangan sangat mirip dengan Arch de Triomphe di Paris, Prancis. Gerbang India terletak di pusat kompleks heksagonal dengan diameter 625 m dan luas 360.000 m2. Gerbang India tingginya 42 m dan lebar 9,1 m. Ternyata bukan Phytagoras orang Yunani kuno ahli aritmatika yang menemukan penggaris berskala, melainkan orang-orang India kuno pada tahun 1.500 SM. Penggaris kuno ini dibuat dari gading dengan ketelitian 2 mm dan menjadi penyebab mengapa bangunan prasejarah di India, dibuat dengan sangat presisi. Sir Edwin Lutyens tidak mau kalah, saat membangun Gerbang India dengan menggunakan bahan bangunan batu pasir merah dan kuning yang bersumber dari Bharatpur, juga disusun sangat presisi. India adalah asal dari peradaban kuno yang berpusat di Lembah Sungai Indus dan merupakan tempat kelahiran dari empat agama utama dunia, yaitu Hindu, Buddha, Jainisme dan Sikhisme yang meraih kemerdekaan dari Inggris pada 1947. Dulu terdapat kanopi di depan monumen Gerbang India, yang di atasnya pernah berdiri patung George V dengan mahkota dan jubah penobatannya sebagai Raja Inggris Raya, yang disebut ‘Imperial State Crown’ dan tongkat kerajaan. Patung tersebut kemudian dipindahkan ke ‘Coronation Park’ pada tahun 1960 dan kanopi dikosongkan yang melambangkan mundurnya kolonial Inggris dari India.
.
Setelah puas berfoto gaya di sela-sela banyaknya pengunjung Gerbang India, kami melanjutkan perjalanan menyusuri Jl. Rajpath yang lurus dan lebar. Jalan Rajpath yang dibangun sangat mirip dengan Champs-Elysees di Paris, Perancis adalah jalan raya seremonial untuk Republik India di New Delhi, sehingga kami sampai merinding membayangkan megahnya parade Hari Republik India pada setiap tanggal 26 Januari di jalan tersebut. Kami terus menuju Rashtapati Bhavan (Presiden House) dan Parliament of India. Semua bangunan tersebut saling berdekatan, yaitu Rashtrapati Bhavan yang adalah tempat tinggal resmi Presiden India, memiliki 340 ruang yang dilengkapi Estate Presiden seluas 130 hektar, yang meliputi taman presiden era Mughal, lapangan terbuka besar, tempat tinggal para penjaga keamanan dan perwira lainnya, dan tembok perimeter-nya. Bangunan istana utama awalnya dikenal sebagai Viceroy’s House. Dalam hal wilayahnya, tempat tersebut merupakan tempat tinggal kepala negara terbesar di dunia, sampai saat Kompleks Presidensial Turki dibuka pada 29 Oktober 2014. Selanjutnya kami menuju ke House of Parliament, yang dirancang oleh arsitek Inggris Edwin Lutyens dan Herbert Baker pada tahun 1912-1913, konstruksi dimulai pada tahun 1921 dan berakhir pada tahun 1927. Upacara pembukaan Gedung Parlemen, yang kemudian disebut Dewan Legislatif Pusat, dilakukan pada tanggal 18 Januari 1927 oleh Lord Irwin, Raja Muda India.
.
Setelah terkagum-kagum akan keindahan arsitektur pusat pemerintahan Republik India, kami segera menuju Gandhi Smriti yang merupakan lokasi di mana Mahatma Gandhi menghabiskan 144 hari terakhir hidupnya dan terbunuh pada tanggal 30 Januari 1948. Kemudian kami menuju Rajghat yang merupakan tempat di mana Mahatma Gandhi dikremasi pada tanggal 31 Januari 1948 setelah pembunuhannya dan abunya dikubur di situ. Raj Ghat berbentuk platform persegi besar dengan marmer hitam dirancang oleh arsitek Vanu Bhuta.
Mohandas Karamchand Gandhi lahir di Porbandar, Gujarat, India 2 Oktober 1869 dan meninggal di New Delhi, India 30 Januari 1948 pada umur 78 tahun. Gandhi adalah seorang pemimpin spiritual dan politikus yang paling penting dalam Gerakan Kemerdekaan India. Ia adalah aktivis yang tidak menggunakan kekerasan dan mengusung gerakan kemerdekaan melalui aksi demonstrasi damai. Gelar Mahatma dalam Bahasa Sansekerta berarti “jiwa agung”, diberikan kepadanya pada tahun 1914 di Afrika Selatan. Selain itu, di India ia juga dipanggil Bapu dalam Bahasa Gujarat, yaitu panggilan istimewa untuk “ayah” atau “papa”.
.
Kata kebajikan yang dikenang dari Mahatma Gandhi adalah ‘Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan, kebencian membawa kepada kemusnahan. Selain itu, jadilah kamu manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis dan pada kematianmu semua orang menangis sedih, tetapi hanya kamu sendiri yang tersenyum.’ Pembunuhan Mahatma Gandhi pada tanggal 30 Januari 1948 di New Delhi, India, ditembak dari jarak dekat oleh Nathuram Godse. Sejak tahun 1934, telah ada lima upaya gagal untuk membunuh Gandhi di Rumah Birla atau Gandhi Smriti. Godse adalah seorang brahmin Chitpavan dan aktivis nasionalis Hindu dari Pune, Maharashtra, yang menjadi anggota Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS) dan Hindu Mahasabha. Godse meninggal dalam hukuman mati dengan cara digantung di penjara Ambala, Punjab, sekarang disebut Haryana.
.
Setelah puas keliling pusat kota New Delhi yang megah dan bersejarah, kami menikmati santap malam di Safari Resto Lounge di seberang Hotel Metropolitan, Bangla Sahib Rd, Connaught Place, New Delhi, dengan menu Tom Yam Soup Vegetarian seharga Rs 175 dan chicken Biryani khas India seharga Rs 425. Diiringi musik tradisi Punjab yang enegik, berjiwa muda, dan sesemangat Parikesit yang masih remaja (adolescent), kami santap habis semua yang ada dan segera kembali ke hotel. Dengan puas malam itu kami beristirahat, untuk menyiapkan diri mengikuti the 11th World Congress on Adolescent Health hari kedua.
(bersambung lagi)
*) pelancong dari Jawa berdana cekak, ditulis dan dibagikan dari kamar 209 hotel bloomrooms di 8591 Arakashan Road, New Delhi, India
Sabtu dini hari, 28 Oktober 2017 saat Hari Sumpah Pemuda Indonesia.
INDIA HARI KETIGA
fx. wikan indrarto*)
Pagi itu Sabtu, 28 Oktober 2017 kami terbangun di kamar 209 hotel bloomrooms di 8591 Arakashan Road, New Delhi, India dengan bugar. Segera kami santap menu sarapan menu asli India yang kali ini dapat kami nikmati dalam rasa yang penuh rempah, lalu lanjut bergegas akan mengikuti the 11th World Congress on Adolescent Health hari kedua, di Hotel Pullman Aerocity, New Delhi. Seperti hari sebelumnya, segera kami menikmati nuansa khas kota New Delhi sebagai ibu kota India. Batu fondasi kota itu diletakkan oleh George V, Kaisar India tahun 1911. New Delhi dirancang oleh arsitek Inggris, Sir Edwin Lutyens dan Sir Herbert Baker dan diresmikan pada tanggal 13 Februari 1931, oleh Raja Muda atau Viceroy dan Gubernur Jendral India, Lord Irwin yang bernama asli Edward Frederick Lindley Wood. New Delhi dengan jumlah penduduk 26.454.000 jiwa pada tahun 2016, telah dipilih sebagai salah satu dari seratus kota di India, yang akan dikembangkan sebagai kota cerdas di bawah kepemimpinan Perdana Menteri India, Narendra Modi.
.
Setelah kami berjalan kaki sekitar 11 menit sejauh 750 m dari hotel, kami mencapai Delhi Aero City Airport Line Station di New Delhi Platform 2. Delhi Metro adalah sistem metro terbesar ke-12 di dunia dalam hal panjang jalan. Delhi Metro adalah sistem transportasi umum modern pertama di India, yang telah merevolusi perjalanan dengan menyediakan sarana transportasi yang cepat, terpercaya, aman, dan nyaman. Saat ini, jaringan Metro Delhi terdiri dari 213 kilometer (132 mil) jalur, dengan 160 stasiun beserta enam stasiun lagi dari Airport Express Link. Empat jenis kerata rolling stock yang digunakan, yaitu Mitsubishi-ROTEM Broad gauge, Bombardier MOVIA, Mitsubishi-ROTEM Standard gauge, dan CAF Beasain Standard gauge. Menurut sebuah studi, Delhi Metro telah membantu menghapus sekitar 390.000 kendaraan dari jalanan Delhi. Proyek Delhi Metro dipelopori oleh Padma Vibhushan E. Sreedharan, managing director DMRC (Delhi Metro Rail Corporation Limited) dan dikenal sebagai “Metro Man” dari India. Dia dikenang saat mengundurkan diri dari DMRC, mengambil tanggung jawab moral atas jatuhnya jembatan metro yang menewaskan lima nyawa. Dengan tiket seharga Rs 60 dan 2 kali perhentian, yaitu di Shivaji Stadium dan Dhuala Kuan, kemudian kami turun di Delhi Aerocity Station dilanjutkan berjalan kaki ke lokasi acara di Hotel Pullman di Asset No 02, GMR Hospitality District, sekitar 11 menit sejauh 850 m.
.
Segera kami mengikuti Plenary Sessions hari kedua dengan Keynote Lecture oleh Dakhshita Wickremarathne (Youth Advocacy Network, Sri Lanka) dengan tema Herb Friedman Lecture: Young people changing the future of adolescent health, sebuah kuliah yang inspiratif dan Kate Gilmore (Office of the High Commissioner for Human Rights, Switzerland) dengan tema Migration and adolescent health, yang menceritakan pengaruh proses pengungsian karena bencana kemanusiaan. Selanjutnya Ravi Verma, (International Center for Research on Women, India) dengan tema Towards a gendered approach to adolescent health yang menjelaskan tingginya angka kejahatan pada wanita di India dan Anne-Sophie Parent (University of Liège, Belgium) dengan tema Puberty: new insights yang banyak mengubah cara pandang tentang pubertas pada remaja.
.
Sesi debat antar pakar hari kedua tidak terlalu menarik perhatian peserta, karena tema ‘Brain imaging has made a negligible contribution to adolescent care and health promotion’ yang dipimpin oleh David Ross (World Health Organization, Switzerland). Debat hari itu menampilkan Russell Viner dengan Sarah-Jayne Blakemore, keduanya dari UCL, UK. Kami selanjutnya menikmati Plenary Symposium dengan tema A Lancet Standing Commission on Adolescent Health and Wellbeing: Meeting the Challenge of Global Adolescent Health. Panel ahli oleh George Patton (University of Melbourne Australia), Marleen Temmerman (Aga Khan University Kenya), Kikelomo Taiwo (Amnesty International New York USA), dan Sabine Kleinert (The Lancet UK). Panel hali yang memberikan penjelasan saling melengkapi tersebut, disusul panel kedua yang bertema Mental Health and adolescents. Kali ini panel ahli melibatkan Vikram Patel (Harvard Medical School, USA), Meghna Khatwani (Ambedkar University India), dan Eugene Kinyanda (MRC Uganda) yang lebih hidup dan banyak humor.
.
Setelah sesi makan siang, kami melanjutkan perjalanan untuk melihat sungai Yamuna yang mengalir dari gletser Yamunotri pada ketinggian 6.387 meter. Sungai ini melintasi beberapa negara bagian, yaitu Uttarakhan, Haryana dan Uttar Pradesh melewati Himachal Pradesh dan kemudian masuk ke Delhi. Sungai ini semakin besar setelah beberapa anak sungainya, termasuk Ton, Chambal, Sindh, Betwa, dan Ken bergabung. Hampir 57 juta orang bergantung pada air sungai Yamuna. Sama seperti Sungai Gangga, sungai Yamuna juga sangat dihormati dalam agama Hindu dan disembah sebagai dewi Yamuna. Dalam mitolohi Hindu, mandi di air suci sungai ini membebaskan seseorang dari siksa maut. Namun demikian, kualitas air di sungai Yamuna yang membelah Delhi, sudah sangat parah.
.
Dari langit di atas hingga tanah ke bawah, Delhi telah tercemar. Wilayah India yang meliputi ibu kota New Delhi berukuran setengah dari Rhode Island, dan merupakan rumah bagi dua kali penduduk Kota New York. Semua berkontribusi terhadap kabut kuning tebal di atas kota setiap hari. Bahkan sungai suci Yamuna tidak terbebas dari polusi yang parah. Sungai kedua setelah Sungai Gangga tersebut mengalir sepanjang 1.376 km melalui India, 80% dari pencemaran di sungai telah masuk sepanjang 14 mil (22,5 kilometer) sebelum melewati Delhi. Erosi tanah, pembuangan limbah kimia meninggalkan perairan hitam di beberapa tempat dan lapisan putih di tempat lainnya. Namun demikian, banyak anak tetap bermain air, pria mencuci baju, orang dari segala usia mandi dan minum dari sungai yang diyakini akan membebaskan mereka dari dosa. Setelah mengambil foto dari sebuah sisi Sungai Yamuna yang penuh perjuangan, karena medan yang terjal dan tidak tersedia dermaga yang pas untuk berfoto, kami menuju Akshardham adalah kompleks kuil Hindu yang megah dan sangat besar di seberang sungai Yamuna di pinggiran Delhi. Disebut juga sebagai Delhi Akshardham atau Swaminarayan Akshardham, kompleks ini menyimpan berbagai arsitektur, spiritual, budaya India dan Hindu tradisional. Pembangunannya diinspirasikan dan dikembangkan oleh Pramukh Swami Maharaj, kepala spiritual Bochasanwasi, bersama dengan 3.000 sukarelawan dibantu 7,000 pekerja konstruksi Akshardham. Kuil sangat megah tersebut dikunjungi sekitar 70 persen dari seluruh wisatawan yang berkunjung ke Delhi, sejak secara resmi dibuka pada 6 November 2005. Kami harus rela berebut posisi dengan para peziarah lain, untuk berswafoto dengan sudut pengambilan terbaik.

.
Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Gandhi Smriti, yang sebelumnya dikenal sebagai Birla House atau Birla Bhavan. Gandhi Smitri adalah museum yang didedikasikan untuk Mahatma Gandhi, terletak di Tees January atau Albuquerque Road, di New Delhi, India. Ini adalah lokasi di mana Mahatma Gandhi menghabiskan 144 hari terakhir hidupnya dan dibunuh pada tanggal 30 Januari 1948. Awalnya adalah rumah konglomerat bisnis India, keluarga Birla. Rumah 12 kamar tidur ini dibangun pada tahun 1928 oleh Ghanshyamdas Birla. Sardar Patel dan Mahatma Gandhi, keduanya adalah tokoh penting kemerdekaan India, sering menjadi tamu Birlas. Mahatma Gandhi tinggal di rumah tersebut dari 9 September 1947 sampai 30 Januari 1948, saat dia dibunuh. Jawaharlal Nehru, PM India kemudian menulis surat kepada Ghanshyamdas Birla dan akhirnya Rumah Birla dibeli pada tahun 1971 oleh Pemerintah India, seharga Rs 5,4 juta. Birla House dibuka untuk umum pada tanggal 15 Agustus 1973, berganti nama menjadi Gandhi Smriti (atau Gandhi Remembrance). Museum di gedung ini menampung sejumlah artikel yang terkait dengan kehidupan dan kematian Gandhi. Pengunjung dapat berkeliling ke gedung dan lapangan, melihat ruang yang diawetkan tempat Gandhi tinggal dan tempat di lapangan dimana dia ditembak saat mengadakan perjalanan umum malamnya. Gandhi ditembak saat bersemedi di tempat yang sekarang didirikan Martyr’s Column, yang menandai tempat “Bapak Bangsa India” dibunuh.
.
Setelah terinspirasi oleh kepemimpinan Mahatma Gandhi yang mengutamakan harmoni, kami segera berlanjut ke Indira Gandhi Memorial Museum di 1 Safderjang, New Delhi yang merupakan Museum Peringatan untuk PM Indira Gandhi dan bekas rumah kediaman keluarga. Pengunjung dapat melihat koleksi foto-foto langka gerakan Nasionalis, saat-saat pribadi keluarga Nehru-Gandhi dan masa kecilnya. Rumah ini adalah kediaman resmi Indira Gandhi, Perdana Menteri India terlama yang bertugas dari tahun 1966 sampai 1977 dan lagi pada tahun 1980 sampai 1984. Sebagai penguasa sebuah negara muda yang sedang bergolak, Nyonya Gandhi membuat banyak keputusan yang sulit dan kadang harus tidak populer. Yang utama adalah kebijakan politik pada tahun 1984 berupa ‘Operation Blue Star’, yaitu invasi militer ke Kuil Emas di Armitsar. Selama intervensi selama seminggu, tentara India membunuh ratusan warga sipil tak berdosa di lokasi yang paling suci bagi minoritas Sikh India. Operasi tersebut bertepatan dengan hari besar keagamaan, dan tentara dan pemerintah dituduh menutupi banyak kegiatan mengerikan yang terjadi di sini. Operasi Blue Star membuat marah warga Sikh di seantero negeri. Pada suatu pagi di bulan Oktober 1984, saat dia berjalan kaki melalui kebun rumahnya, dia dibunuh oleh pengawalnya sendiri.
.
Beberapa langkah terakhir yang dia jalani pada jalur itu sekarang ditutupi kaca, dan pengawal pribadi orang Sikh masih harus berdiri di posisi yang sama. Ini adalah peringatan menyedihkan dalam sejarah negara ini. Putra Indira Gandhi, Rajiv, mengambil alih posisi sebagai Perdana Menteri India setelah pembunuhannya. Sayangnya, dia juga terbunuh. Pada tahun 1991, seorang pembom bunuh diri seorang separatis Tamil dari Sri Lanka, Thenmuli Rajaratnam, meledakkan sebuah bom ikat pinggang sambil membungkuk untuk menyentuh kakinya (tanda penghormatan dalam tradisi di India), membunuh Rajiv dan setidaknya empat belas lainnya.
.
Rajiv Ratna Gandhi lahir di Mumbai, 20 Agustus 1944 dan meninggal di Sriperumbudur, 21 Mei 1991 pada umur 46 tahun) adalah anak tertua Indira dan Feroze Gandhi. Rajiv adalah Perdana Menteri India yang keenam dan ketiga dari seluruh keluarganya, melalui pemilihan umum (a general election defeat). Ia menjabat Perdana Menteri India ketika berusia 40 tahun, sehingga ia tampil sebagai yang paling muda saat menduduki jabatan perdana menteri. Setelah terkagum dengan perjuangan dan kepemimpinan keluarga besar Nehru-Gandhi, kami segera berniat bersujud berdoa syukur.
.
Kemudian kami mengikuti misa kudus Sabtu sore pk. 18 di Katedral Hati Kudus atau ‘The Cathedral of The Sacred Heart’, yang merupakan katedral agama Katolik Roma yang tergabung dalam Ritus Latin. Gereja Katedral di Keusukupan Agung Delhi yang dipimpin oleh Uskup Agung Mgr. Anil Joseph Thomas Couto, merupakan salah satu bangunan gereja tertua di New Delhi, India. Bersama dengan Sekolah St. Columba dan Biara Yesus dan Maria, semuanya menempati area seluas 14 hektar di dekat ujung selatan Bhai Vir Singh Marg Road di Connaught Place. Gedung gereja dirancang oleh arsitek Inggris Henry Medd dan didasarkan pada arsitektur Italia. Sebuah fasad pilar putih mendukung kanopi, dan di setiap sisi teras masuk katedral, ada menara-menara kecil melingkar yang naik di atas atap. Interiornya memiliki atap melengkung yang menjulang tinggi, lantai batu yang dipoles dan lengkungan yang lebar. Di balik altar yang terbuat dari marmer terdapat lukisan dinding besar yang menggambarkan Perjamuan Terakhir. Di sebelah kiri di sisi kapel ada sebuah salib besar, di sampingnya ada sebuah patung Perawan Maria. Kami mengikuti misa kudus dalam Bahasa Inggris, yang dipimpin oleh pastor kepala parokinya, yaitu Fr. Januario Rebello.

.
Setelah misa kudus, secara kebetulan kami berbincang dengan Dr. Sunil Mehra yang terkesan dengan mondolan blangkon gaya Ngayogyokarto Hadiningrat yang kami kenakan, dan bekerja pada ‘Health Instutute for Mother and Child’ New Delhi (semoga kami tidak salah ingat dan salah tulis nama dan institusi tersebut). Penjelasannya menggambarkan bahwa India memiliki salah satu tingkat terendah dari pengeluaran publik untuk layanan kesehatan di dunia, dengan tax -based sangat kecil, yaitu hanya 5,5%. Sementara itu pemerintah India berturut-turut telah mensubsidi sektor swasta dengan keringanan pajak. Bahkan India kini menjadi negara dengan jumlah penderita diabetes dan penyakit kronis terbesar di dunia, karena kurangnya layanan kesehatan pencegahan, ditambah dengan sedikitnya pengelolaan penyakit kronis, sehingga menyebabkan layanan kesehatan semakin mahal dan menambah beban dalam sisi keuangan.
.
Satu solusi untuk keluar dari siklus negatif ini adalah dengan merancang asuransi sosial di India, yaitu ‘United India Insurance’, yang didasari ideologi sistem kesehatan kapitalis, yaitu sebagian besar dikuasai swasta. Pemerintah India tidak menyelenggarakan program kesehatan, skema dan pendanaan sendirian, tetapi dalam kemitraan dengan lembaga keuangan dunia. Selain itu, juga membentuk sistem layanan di sekitar warga, yaitu menghadirkan layanan kesehatan lebih dekat dengan warga, sehingga tidak mewajibkan pasien untuk datang ke rumah sakit, sehingga pelatihan dibutuhkan untuk implementasi program tersebut. Contohnya, program ‘Social Health Activist’ di India, yang telah mendidik lebih dari 1 juta petugas kesehatan. Selain itu, hal yang harus dilakukan adalah memungkinkan pasien penyakit kronis untuk dapat memonitor sendiri kondisi kesehatan mereka, seperti harapan Mario Gutierrez, direktur eksekutif ‘Center of Connected Health Policy’, di mana dokter menjadi bagian dari tim, bukan lagi sebagai pusat sistem layanan kesehatan.
.
Di India, urusan bidang kesehatan berada di bawah Kementrian Kesehatan dan Kesejahteraan. Jadi, program yang dijalankan tidak hanya terkait kesehatan, tapi juga kesejahteraan dan mengakui pengobatan alternatif seperti Ayurveda dan Homeopathy dalam sistem kesehatannya. India memiliki sistem kesehatan untuk’rural’ bagi warga pedesaan dan ‘urban’ bagi warga perkotaan. Di beberapa kota terdapat ‘urban health centre’ yang berfungsi sebagai poliklinik umum, dan biasanya memiliki pusat pengobatan tuberkulosis (DOTS centre), ‘community care centre’, tempat khusus untuk pasien dengan HIV/AIDS, dan tempat perawatan untuk pasien kusta dalam dukungani ‘Mahatma Gandhi Leprosy Foundation’ (MGLF).
.
Setelah makan malam menu ‘vegetarian rice’ seharga Rs160 dan ‘fish tikka’ seharga Rs 420 dan ‘mix vegetarian jalfraji’ seharga 170 di Chimney Restaurant (Indian, Mughalai and Chinese) di 68 Khana Market, Lodhi Colony New Delhi, kami kembali ke kamar hotel untuk beristirahat. Malam itu kami merasakan kepuasan mendalam, dengan berbagai pengalaman yang inspiratif bagi layanan kesehatan remaja di Indonesia, tidak hanya dari the 11th World Congress on Adolescent Health.
(bersambung)
*) pelancong dari Jawa berdana cekak, ditulis dan dibagikan dari kamar 209 hotel bloomrooms di 8591Arakashan Road, New Delhi, India
Sabtu malam, 28 Oktober 2017.
INDIA HARI KEEMPAT
fx. wikan indrarto*)
Pagi itu Minggu, 29 Oktober 2017 kami terbangun lebih awal di kamar 209 hotel bloomrooms di 8591 Arakashan Road, New Delhi, India dengan bugar. Pagi itu kami tidak akan mengikuti sesi hari terakhir, the 11th World Congress on Adolescent Health, di Hotel Pullman Aerocity, New Delhi. Terpaksa Plenary Panel Symposium tidak kami ikuti, sehingga topik ‘Early Adolescent Health and Development in Low and Middle-Income Countries’, yang menampilkan Robert Blum (Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health USA), Jo Boyden (Oxford Department of International Development, Young Lives UK) dan Rajib Acharia (Population Council, India) tidak kami nikmati. Untunglah materi tentang ‘Social Media of Adolescent Health in the Digital Age’ yang menampilkan Michael Rich (Harvard University USA) dapat kami peroleh abstraknya. Yang cukup kontroversial sebenarnya adalah Plenary Debate dengan tema mengerikan ‘For adolescents, all our efforts should be put into promoting condoms instead of promoting oral or long-acting reversible contraceptives’, dipimpin oleh Gwyn Hainsworth (Bill & Melinda Gates Foundation, USA) yang menampilkan Kate Baye Easton (International Youth Alliance for Family Planning, USA) dengan Ishita Chaudhry (Ashoka Fellow, Founder and Managing Trustee, The YP Foundation Italy). Terpaksa semua sesi itu hanya kami bayangkan, karena pagi itu kami berniat ke Agra. Ada apa di kota Agra di negara bagian Uthar Pradesh?
.
Setelah kami berjalan kaki sekitar 10 menit sejauh 750 m dari hotel, kami mencapai Stasiun Kereta Api New Delhi (The New Delhi Railway Station dengan kode stasiun NDLS), yang merupakan stasiun kereta api utama di Delhi. Ini adalah Stasiun Kereta Api tersibuk keempat di negara ini dalam hal frekuensi kereta api setelah Kanpur Central, Vijayawada Junction dan Delhi Junction, tetapi merupakan stasiun kereta api tersibuk di India dalam hal pergerakan penumpang. Sekitar 500.000 penumpang setiap hari dengan 16 peron atau platform memasuki stasiun kereta api New Delhi, yang memegang rekor untuk sistem jalur interlocking terbesar di dunia, bersama dengan Stasiun Kereta Api Pusat Kanpur di India selatan, yaitu 48.

Setelah melalui konter pemeriksaan detektor logam yang terpisah antara penumpang pria dan wanita, kami segera naik ke jembatan penyeberangan penumpang di atas jalur kereta api. Papan petunjuk arah dan peringatan cukup jelas, dengan huruf Latin dan Hindi. Untunglah kereta apa kami di platform 1, sehingga paling dekat dengan pntu masuk. Suasana stasiun sangatlah ramai penumpang, meskipun hari masih pagi buta dan luas total areal platform sekitar 4 kali lipat berbagai stasiun di Pulau Jawa, karena sebanyak 427 buah kereta api penumpang berasal, berhenti, atau melewati Stasiun Kereta Api New Delhi, untuk melayani 269 kereta penumpang, dengan 867 stasiun di seluruh India terhubung langsung ke Stasiun Kereta Api New Delhi.
.
Kami menuju ke Bhopal Shtbdi atau nama lengkapnya New Delhi Habibganj Shatabdi Express, yaitu kereta api yang dioperasikan oleh Indian Northern Railway, yang melayani rute antara New Delhi melewati Agra di Uthar Pradesh dan berakhir di Habibganj, yaitu stasiun kereta api kedua di Bhopal City, ibu kota negara bagian India tengah Madhya Pradesh. Setelah Gatimaan Express yang akan kami tumpangi juga, Shatabdi Express ini adalah kereta tercepat kedua di India, dengan kecepatan tertinggi 150 km / jam. Seperti Gatimaan Express, kereta ini juga termasuk dalam kategori kereta api semi-high speed train. Kereta api ini mulai beroperasi pada tahun 1988 dan merupakan kereta Shatabdi pertama yang diperkenalkan.
.
.
Kereta sepenuhnya ber-AC dan memiliki standar yang jauh lebih tinggi daripada kebanyakan kereta api di India. Kami segera mencari gerbong 4 dengan nomor kursi 60 dan 61. Untuk para penumpang Shatabdi Express disediakan makanan ringan, makanan, kopi / teh, botol air satu liter / 300ml air kemasan (untuk perjalanan jarak pendek). Kereta api ini akan melintasi pusat pariwisata India yang mencakup kota-kota turis besar seperti New Delhi, Agra Cantonment, Mathura Junction, Gwalior, Jhansi dan Bhopal. Kereta tersebut memiliki 3 gerbong AC kelas satu di belakang sebuah gerbong pembangkit setelah lokomotif, 17 gerbong AC kelas bisnis atau Chair cars, 1 gerbong pembangkit di belakang, sehingga total ada 22 gerbong atau coaches.
Pemeriksaan karcis penumpang dilakukan di atas gerbong, sedangkan di Indonesia pemilahan penumpang dan pengantar dilakukan di gerbang peron stasiun, sebab rasanya tidak ada seorangpun pengantar penumpang di India. Dalam sebuah gerbong, terdapat 3 kursi di kiri dan 2 kursi penumpang di kanan jalan tengah, separo kursi deretan 1 sampai 38 menghadap ke depan dan deretan nomer 39 sampai 78 menghadap ke belakang saling berhadapan. Kami berangkat dari The New Delhi Railway Station tepat pk. 6 yang masih gelap dan turun di Agra pk. 8.30, untuk langsung mengunjungi Touris Information Center, agar dibantu untuk mengunjungi Taj Mahal.
Taj Mahal adalah salah satu keajaiban dunia di Agra, India yang merupakan sebuah bangunan makam sangat indah untuk seorang permaisuri Raja Shah Jahan, yaitu Mumtaz Mahal. Shah Jahan merupakan gelar yang diberikan Maharaja Jahangir pada putra kelimanya, Pangeran Khurram. Shah Jahan sendiri memiliki arti raja dunia. Ini dibuktikan dengan prestasi Pangeran Khurram yang membawa Kerajaan Mohgul ke puncak kejayaannya. Begitu Mumtaz Mahal wafat pada 17 Juni 1631, Shah Jahan begitu sedih dan terluka. Apalagi Mumtaz Mahal sedang mengandung dan baru saja mendampingi Shah Jahan menumpas pemberontakan di Burhanpur. Untuk mengenang istrinya, Shah Jahan membangun bangunan terindah di dunia saat itu.

Pembangunan Taj Mahal dilakukan sejak tahun 1631-1648 melibatkan 20.000 pekerja. Tidak hanya itu, pembangunannya juga melibatkan para arsitek, seniman kaligrafi, pematung, hingga ahli mosaik. Para ahli di bidangnya ini didatangkan dari Persia, Suriah, dan Eropa. Bahkan Shah Jahan juga mengerahkan armada 1.000 ekor gajah untuk membawa bantuan berharga dari berbagai pelosok India dan sejumlah negara Asia lainnya. Ribuan pekerja ini ditempatkan di pemukiman sebuah kota kecil bernama Taj Ganj. Namun, mereka lebih suka menyebutnya sebagai “Mumtazabad” atau “Kota Mumtaz”.
.
Arsitek India keturunan Persia bernama Ahmad Lahorilah yang sering disebut-sebut ahli sejarah sebagai perancang Taj Mahal. Namun, beberapa catatan sejarah menyebut Geronimo Verroneo, sebagai perancangnya. Taj Mahal selesai dibangun pada tahun 1648, dan menjadikannya bangunan terindah di dunia. Dinding pualamnya memantulkan warna-warni cahaya berbeda setiap waktunya. Setelah membeli tiket masuk untuk pengunjung asing seharga Rs 1.000, kami segera memasuki antrian yang memisahkan pengunjung pria, wanita, asing dan India. Prosedur pemeriksaan menggunakan detektor logam cukup ketat, pengunjung hanya boleh membawa minuman tanpa makanan dan pembungkus sepatu sekali pakai, dengan kamera. Antrian pengunjung mengular sangat panjang, tetapi disiplin dan saling memberi tempat antar pengunjung. Kami segera larut dalam pencarian posisi terbaik, untuk pengambilan foto yang istimewa.
Taj Mahal terdiri dari empat menara masjid yang mencapai tinggi 41,2 m dan kubah utama setinggi 60 m dari landasan utama. Kubah ini berdiameter 17,7 m. Bangunan utama Taj Mahal terbuat dari batu pualam putih yang didatangkan dari Makrana pusat marmer di Rajasthan, India. Menara utamanya dihiasi batu pasir merah dari Punjab. Tak hanya itu, sejumlah batuan berharga juga didatangkan dari berbagai daerah. Batu giok dan Kristal didatangkan dari China, batuan turquoise dari Tibet, lapis lazuli dari Afganistan, safir dari Sri Lanka, batuan cornelian dari Arab, dan intan dari Panna, India. Kedua menara di depan dan kubah utama kami jadikan latar belakang foto kami berdua, bergantian dengan para pengunjung lainnya.
Keutuhan musoleum ini dari tangan jahil pengunjung dapat dihindari, apalagi dari bahaya besar penyerbuan kelompok Jat terhadap penjajah kolonial Inggris. Penyerbuan yang terjadi saat pemberontakan di India tahun 1857 itu, berniat membongkarnya. Selain itu, Taj Mahal juga direstorasi dan dipasang perancah agar terlindungi dari serangan bom dari pesawat Jepang di dalam PD II. Meskipun demikian, bangunan Taj Mahal sebenarnya tidak terlepas dari perseteruan keluarga, karena tak lama setelah pembangunannya selesai, Shah Jahan digulingkan dan dipenjarakan putranya sendiri, Aurangzeb. Untunglah akhirnya Aurangzeb, putra tersebut menuntaskan baktinya sebagai anak dengan menguburkan sang ayah di samping Mumtaz, di dalam bangunan utama Taj Mahal, yang kedua nisannya dapat kami saksikan.
.
Setelah puas menyaksikan dari dekat kemegahan Taj Mahal dan berswafoto dari berbagai sudut, segera kami menuju Benteng Agra yang dibangun oleh kaisar Mughal ketiga Akbar, pada tahun 1565. Itu adalah kediaman utama kaisar Dinasti Mughal sampai tahun 1638, ketika ibukota tersebut dipindahkan dari Agra ke Delhi. Benteng Agra adalah situs Warisan Dunia UNESCO yangterletak sekitar 2,5 km barat laut dari Taj Mahal. Benteng ini sangat luas, sehingga seringkali digambarkan sebagai kota bertembok. Setelah Pertempuran Pertama Panipat pada tahun 1526, Kaisar Babur yang menang segera tinggal di benteng, di istana Ibrahim Lodi. Penggantinya, Humayun, dinobatkan di benteng tersebut pada tahun 1530, tetapi dia dikalahkan pada pertempuran di Bilgram pada tahun 1540 oleh Sher Shah Suri. Kemudian Akbar menjadikannya ibukota dan tiba di Agra pada tahun 1558. Benteng batu bata merah ini dikenal dengan nama ‘Badalgarh’ dan sekarang disebut Red Fort. Benteng ini diserbu dan dikuasi oleh Kekaisaran Maratha pada awal abad ke-18. Setelah itu, ia berpindah tangan setelah kekalahan dahsyat di Pertempuran Panipat Ketiga oleh Ahmad Shah Abdali pada 1761. Selanjutya Mahadji Shinde merebut benteng tersebut pada tahun 1785. Benteng tersebut merupakan lokasi pertempuran selama pemberontakan India tahun 1857, yang menyebabkan berakhirnya kekuasaan perusahaan perdagangan (the British East India Company) di India, dan selanjutnya India dipemerintah langsung oleh Ratu Inggris.
.

.
Benteng seluas 380.000 meter persegi berbentuk setengah lingkaran, akordnya sejajar dengan sungai dan temboknya setinggi tujuh puluh kaki. Terdapat empat buah pintu gerbang di keempat sisinya, dan satu pintu masuk Khizri menuju sungai Yamuna. Dua gerbang bagian depan benteng yang terkenal, yaitu “Gerbang Delhi” dan “Gerbang Lahore”. Gerbang Lahore juga populer juga dikenal sebagai “Gerbang Amar Singh,” untuk menghormati keberanian Amar Singh Rathore (11 Desember 1613 – 25 Juli 1644), yaitu seorang bangsawan Rajput dan panglima kaisar Mughal Shah Jahan abad 17. Pada tahun 1644, dia marah karena usaha kaisar untuk mengenakan denda kepadanya dan dihadapan kaisar, dia menikam dan membunuh Salabat Khan, yang telah diminta mengumpulkan denda tersebut. Kami sempat berswafoto dengan latar belakang patung gagah Amar Singh Rathore yang sedang naik kuda, terpasang di persimpangan jalan besar menuju gerbang tersebut. Oleh karena militer India (Brigade Parasut) masih menggunakan bagian utara Benteng Agra, maka Gerbang Delhi tidak dapat digunakan masuk oleh masyarakat umum. Wisatawan, termasuk kami berdua, hanya dapat masuk melalui Gerbang Amar Singh.
.
Setelah puas menikmati kedua bangunan sangat bersejarah tersebut, kami segera menikmati makan siang. Menu salad seharga Rs 80, chicken tikka Rs 295, mixed salad Rs 185, rice Rs 180, dan tax Rs 80, kami santap di Only restaurant yang beralamat di 45/1 Taj Road, Agra 282001 UR India. Selanjutnya kami menyeberangi Sungai Yamuna yang suci. Sungai Yamuna berasal dari Gletser Yamunotri di Pegunungan Himalaya dan mengalir membentang sepanjang 1.376 kilometer dari India Utara, melewati negara bagian Uttarakhand, Haryana, Himachal Pradesh, Delhi dan Uttar Pradesh sebelum menyatu dengan Sungai Gangga di Allahabad. Sungai Yamuna dan Sungai Gangga, dipercaya oleh umat Hindu sebagai sungai suci terkait mitos ceritera dalam dunia pewayangan, yaitu Dinasti Raja Santanu. Pada suatu ketika Prabu Santanu mendengar kabar bahwa di sekitar Sungai Yamuna tersebar bau yang sangat harum semerbak, yang berasal dari seorang gadis desa yang sangat elok parasnya dan harum tubuhnya, bernama Gandhawati (lebih dikenal sebagai Satyawati atau Durgandini). Ayah gadis tersebut bernama Dasabala yang mengajukan syarat bahwa jika Gandhawati (Satyawati) menjadi permaisuri Prabu Santanu, keturunan Gandhawati-lah yang harus menjadi penerus tahta. Dewabrata, putera pertama Prabu Santanu mewakili ayahnya untuk melamar Gandhawati dan menuruti segala persyaratan yang diajukan Dasabala. Ia juga bersumpah tidak akan menikah seumur hidup dan tidak akan meneruskan tahta keturunan Raja Kuru, agar kelak tidak terjadi perebutan kekuasan antara keturunannya dengan keturunan Gandhawati, dan semenjak saat itu namanya berubah menjadi Bisma. Akhirnya Prabu Santanu dan Dewi Gandhawati menikah lalu memiliki dua orang putra bernama Citrangada dan Wicitrawirya. Setelah Prabu Santanu wafat, Bisma menunjuk Citrānggada sebagai penerus tahta kerajaan dan akan menurunkan keluarga besar Korawa dan Pandawa, di seberang Sungai Yamuna yang sore itu kami kunjungi.
.
Di seberang Sungai Yamuna, kami mengunjungi Makam I’timād-ud-Daulah atau Baby Taj, yang merupakan mausoleum Mughal yang sering dianggap sebagai draft atau awal rancangan dari Tāj Mahal. Strukturnya terdiri dari banyak bangunan luar dan kebun, dibangun antara tahun 1622 dan 1628 merupakan transisi antara fase pertama arsitektur Mughal yang monumental, ke fase kedua. Pada fase pertama menggunakan bahan batu pasir merah dengan dekorasi marmer, seperti di Makam Humayun di Delhi dan makam Akbar di Sikandra. Sedangkan fase kedua menggunakan marmer putih seperti di Tāj Mahal. Makam tersebut dibangun oleh Nūr Jahān, istri Jahangir, untuk ayahnya Mirzā Ghiyās Beg, yang pada awalnya merupakan seorang Amir Persia di pengasingan dan kakek Mumtāz Mahāl, istri kaisar Shāh Jahān. Setelah puas mengagumi keindahan dan keunikan arsitektural fase awal Mughal di I’timād-ud-Daulah, kami segera berlanjut. Dengan diselingi berfoto dekat truk dan bis India yang sedang parkir di pinggir jalan, karena bentuknya yang khas kotak tegas, kami segera melanjutkan perjalanan ke Mehtab Bagh.
.
Mehtab Bagh (Moonlight Garden) adalah kompleks taman yang terletak di utara kompleks Taj Mahal dan Benteng Agra di seberang Sungai Yamuna. Kompleks taman, berbentuk persegi, berukuran sekitar 300 sampai 300 meter (980 kaki x 980 kaki) dan sangat sesuai dengan Taj Mahal di tepi seberang Sungai Yamuna. Taman Mehtab Bagh adalah taman keesebelas Mughal yang dibangun di sepanjang tepi sungai Yamuna di seberang Taj Mahal dan Benteng Agra, yang dibangun oleh Kaisar Babur (wafat 1530). Kaisar Shah Jahan telah memastikan sebuah areal dataran berbentuk bulan sabit di seberang Sungai Yamuna sebagai lokasi yang ideal untuk melihat Taj Mahal. Oleh sebab itu, di situlah dibangun taman kesenangan yang diterangi bulan, yang disebut ‘Mehtab Bagh’. Jalan setapak berplester putih, kolam renang dan air mancur juga dibangun, dengan dilengkapi pohon buah-buahan dan disebut Mughal Riverfront Garden of Agra. Setelah puas berfoto di situ dengan latar belakang Taj Mahal di seberang Sungai Yamuna yang aliran airnya semakin kecil, kami jadi tergetar kawatir seturut prediksi penyair terkenal India, Rabindranath Tagore, yang melukiskan Taj Mahal sebagai “setetes air mata pada muka sangkala”. Namun, Taj kini menghadapi ancaman paling berbahaya yaitu degradasi lingkungan. Taj Mahal berdiri di pinggir sungai Yamuna yang perlahan mengering. Menyusutnya permukaan air dari Sungai Yamuna mempercepat laju pembusukan kayu yang menyangga strukturnya, sehingga dikhawatirkan sewaktu-waktu dapat ambruk.

.
Segera kami berniat bersujud berdoa di hari Minggu, 29 Oktober 2017 yang disucikan itu. Kami segera meluncur ke Gereja St. Maria Agra, yang gedung megahnya diberkati pada 5 April 1923 oleh Uskup Agra, Mgr. Raphael Bernacchioni, OC dengan Uskup Bombay, Mgr. Goodier, SJ. Setelah khusuk berdoa dan memohon penyelenggaraan Ilahi di gereja yang telah sepi umat pada sore hari itu, kami segera berjalan keliling kompleks, termasuk ke Seminari Santo Laurensius. Salah satu lulusan terbaiknya adalah Mgr. Raphy Manjaly, uskup Katolik Roma di Allahabad, India. Dia bergabung dengan St. Lawrence Minor Seminary, Agra, pada tahun 1973 dan menyelesaikannya pada tahun 1975. Bergabung dengan Seminari Tinggi St. Joseph, Allahabad dan menyelesaikan pendidikan Filsafat dan Teologinya pada tahun 1983 di Universitas Agra Selanjutnya menyelesaikan Doktor dalam bidang Spiritualitas dari Universitas Angelicum, Roma, Italia.
.
Setelah puas berdoa, kami segera kembali ke stasiun Agra (Agra Cantt Railway Station). Di ruang tunggu setasiun, fasulitas free wi-fi dan sambungan internet sangat kuat, tetapi PIN sambungan hanya akan diberikan melalui sms kepada nomer telephon India (+9). Untunglah kami berhasil dibantu oleh seorang saudara jauh yang tinggal di Chennai, sehingga PIN dapat kami peroleh. Persyaratan nomer telephon India (+9), ternyata berlaku juga untuk pembelian e-ticket kereta api, registrasi seminar dan e-visa India, yang telah kami lakukan sejak di Yogyakarta. Untunglah masalah e-ticket dan e-visa dapat diselesaikan oleh rekanan biro perjalanan dan registrasi seminar kami lakukan dengan mengutip nomer telephon panitia penyelenggara. Ini adalah sebuah kebijakan politik digital protektif yang layak ditiru.
.
Tepat sesuai jadwal, pk. 17.45, kami menaiki Gatimaan Express di paltform 6, yaitu kereta api berkecepatan tinggi pertama di India, yang melayani rute antara Delhi dan Agra pulang pergi. Dengan kecepatan maksimum 160 km / jam (99 mph), maka saat ini Gatimaan Express merupakan kereta tercepat di India. Kereta api ini memakan waktu 100 menit untuk menempuh jarak 188 km (117 mil) dari Hazrat Nizamuddin di New Delhi ke stasiun kereta Agra Cantonment yang memberikan kecepatan rata-rata 113 km / jam (70 mph). Biaya tiket kelas eksekutif ₹ 1,505 (US $ 23). Kereta tersebut memiliki dua gerbong ekskutif atau Executive AC Chair Car dan delapan gerbong biasa atau AC Chair Car. Kereta ini dilengkapi dengan toilet bio, alarm kebakaran, sistem informasi penumpang berbasis GPS dan pintu geser otomatis. Kereta api memiliki hostes kereta untuk layanan, mirip dengan maskapai penerbangan dan penumpang mendapatkan akses ke Wi-Fi dan konten multimedia gratis. Makanan vegetarian dan non-vegetarian tersedia dalam variasi India Utara dan India Selatan.
Di dalam kereta api yang bersih tersebut, kami sempat membaca promosi melalui majalah kereta api untuk para penumpang, tentang rencana pemerintah India di bidang kesehatan. India memulai sebuah target ambisius untuk mencapai Cakupan Kesehatan Semesta atau Universal Health Coverage (UHC) untuk semua warganya selama periode Rencana Strategis ke-12. Semua warga India berhak mendapatkan layanan kesehatan yang komprehensif di negara ini. Merupakan kewajiban Negara Bagian untuk menyediakan makanan yang memadai, perawatan medis yang tepat, air minum yang aman, sanitasi yang layak, informasi mengenai pendidikan dan kesehatan untuk mencapai derajad kesehatan yang baik. Negara akan bertanggung jawab atau menjamin terciptanya UHC untuk warganya. Kelompok Ahli Tingkat Tinggi UHC dibentuk oleh Komisi Perencanaan India pada bulan Oktober 2010, dengan mandat untuk mengembangkan kerangka kerja untuk menyediakan perawatan kesehatan yang mudah diakses dan terjangkau untuk semua warga India. Sementara perlindungan finansial warga miskin merupakan tujuan utama inisiatif ini, tetapi *pembentukan UHC juga memerlukan ketersediaan infrastruktur kesehatan, tenaga kesehatan terampil yang memadai, dan akses terhadap obat dan teknologi yang terjangkau, untuk memastikan tingkat kualitas layanan kesehatan yang diberikan kepada setiap warganegara. Selanjutnya, perancangan dan penyampaian program dan layanan kesehatan memerlukan sistem manajemen yang efisien serta keterlibatan aktif masyarakat yang diberdayakan, seperti dijelaskan lebih lanjut pada National Health Portal (www.nhp.gov.in).
.
Setelah menikmati hidangan menu vegetarian di kereta api, kami tidak menuju ke Stasiun Kereta Api New Delhi (The New Delhi Railway Station atau NDLS), tetapi kami berdua turun di stasiun Hazrat Nizamuddin (kode stasiun NZM) New Delhi, yang merupakan satu dari lima stasiun kereta api utama di Delhi. Stasiun kereta api Hazrat Nizamuddin dikelola oleh Northern Railway zone of Indian Railways. Stasiun ini bersebelahan dengan dua arteri penting Delhi, Ring Road dan Mathura Road, dan menyatu dengan Terminal Bus Antar Negara (ISBT) Sarai Kale Khan. Stasiun kereta api Hazrat Nizamuddin menghubungkan semua kota besar dan dikembangkan untuk mengurangi kemacetan di stasiun kereta api New Delhi yang terletak sekitar 7 kilometer ke Utara. Stasiun ini tempat asal dan akhir keberangkatan berbagai kereta api Rajdhani Expresses, yang menuju kota-kota India seperti Bengaluru, Chennai, Madgaon, Mumbai, Secunderabad dan Thiruvananthapuram.

Setelah bernegosiasi dengan sopir taksi sampai sepakat di harga Rs 300, akhirnya kami kembali ke kamar hotel untuk beristirahat. Malam itu kami merasakan kepuasan mendalam, lengkap dan tuntas, dengan berbagai pengalaman yang inspiratif bagi layanan kesehatan remaja, dunia pariwisata, dan keindahan arkeologi di Indonesia, tentunya tidak hanya dari the 11th World Congress on Adolescent Health di New Delhi, India.
(bersambung)
*) pelancong dari Jawa berdana cekak, ditulis dan dibagikan dari kamar 209 hotel bloomrooms di 8591Arakashan Road, New Delhi, India
Minggu malam, 29 Oktober 2017,
sebelum kembali ke tanah air Indonesia
INDIA HARI KELIMA
fx. wikan indrarto*)
Pagi buta itu Senin, 30 Oktober 2017 kami terbangun lebih awal di kamar 209 hotel bloomrooms di 8591 Arakashan Road, New Delhi, India dengan bugar. Pagi itu kami sudah menyelesaiakan semua sesi pada the 11thWorld Congress on Adolescent Health, di Hotel Pullman Aerocity, New Delhi. Tanpa sarapan karena resto belum buka, kami naik tuktuk atau Bajaj untuk mencapai Delhi Aero CityAirport Line Station di New Delhi Platform 2. Lalu lintas pagi buta itu belum terlalu semrawut, bunyi klakson dan umpatan para pengemudi, juga laju kencang dan melawan arus, adalah pemandangan khas India seperti yang kami saksikan di youtube, belum nyata karena masih pagi buta. Dengan tiket seharga Rs 60 dan 3 kali perhentian, yaitu di Shivaji Stadium, Dhuala Kuan, dan Delhi Aerocity Station, kemudian kami turun di Delhi International Airport Terminal 3 New Delhi India. Segera kami memasuki area keberangkatan penumerbangan domidtik, karena kami akan menuju Chennai di negara bagian Tamil Nadi, India bagian selatan. Apa yang menarik tentang Chennai?
.
Sambil menunggu di gate 49, karena pesawat Boeing 737 versi 400 Jet Airways tujuan Chennai dengan kode penerbangan 9W0759 belum datang, kami mencoba merangkum Kebijakan Perlindungan Anak atau ‘The Child Protection Policy’. Kebijakan tersebut berdasarkan kesimpulan the 11th World Congress on Adolescent Health, yang diselenggarakan oleh the International Association for Adolescent Health (IAAH), sebuah organisasi dengan ketua Dr. David Ross(World Health Organization, Geneva, Switzerland) dan wakil ketua Prof. Pierre-André Michaud (University of Lausanne, Switzerland). Tujuan perumusan Kebijakan Perlindungan Anak atau ‘Child Protection Policy’ (CPP) yang dirumuskan pada Kongres Dunia IAAH 2017 adalah untuk memastikan bahwa semua individu yang berusia di bawah 18 tahun, memiliki lingkungan yang aman dan terlindungi, bebas dari stigma & diskriminasi dan segala jenis pelecehan dan atau kekerasan.
.
Ruang Lingkup Kebijakan Perlindungan Anak yang diberikan ini berlaku dan wajib didukung oleh semua peserta Kongres Dunia IAAH 2017, terlepas dari sifat partisipasi mereka. Segala bentuk penganiayaan, kekerasan, perlakuan atau tindakan penyalahgunaan berikut dianggap sebagai pelanggaran terhadap Kebijakan Perlindungan Anak. Kegagalan untuk bertindak atau melaporkan setiap kejadian penganiayaan atau kekerasan, termasuk baru tahap kecurigaan, juga dipandang sebagai pelanggaran terhadap CPP. Bentuk yang wajib diaporkan meliputi kekerasan fisik, cedera atau pelecehan, termasuk intimidasi. juga hukuman koppora atau corporal punishment, abai atau lalai (neglect or negligent treatment), perlakuan buruk, penganiayaan dan atau eksploitasi. selain itu, juga pelecehan seksual dan pelanggaran privasi dan kerahasiaan Komite Pemuda Dunia (Youth Committee) pada IAAH 2017 sangat percaya dan berkomitmen untuk memenuhi dan menjunjung partisipasi anak. Anak dan remaja harus menjadi peserta aktif dalam mengambil keputusan mengenai kehidupan dan diri mereka sendiri. Dalam hal ini berbentuk penghormatan martabat, juga kebebasan setiap anak dan remaja (respect, dignity, freedom of each child and adolescent). Selain itu, juga kepentingan terbaik anak atau remaja adalah hal yang utama (foremost). Menjamin agar semua anak atau remaja cacat fisik (physically disabled) harus menikmati kehidupan yang penuh dan layak, dalam kondisi yang menjamin martabat, mempromosikan kemandirian dan memfasilitasi partisipasi aktif mereka di dalam kehidupan bermasyarakat.
.
Juga tidak akan ada toleransi (zero tolerance) terhadap setiap pelanggaran terhadap Kebijakan Perlindungan Anak ini. Haruslah terdapat jaminan bahwa tidak ada anak atau remaja yang mengalami kesewenangan atau pengaruh tanpa hukum (shall be subjected to arbitrary or unlawful interference) terhadap kerahasiaan diri, keluarga, atau alamatnya, juga tidak boleh ada serangan melawan hukum atas kehormatan dan reputasinya. Selain itu, remaja haruslah dijamin terhadap akses informasi yang tidak bias dan tepat, termasuk keyakinan bahwa Perlindungan Anak adalah tanggung jawab semua orang.
.
Ada beberapa nilai dan prinsip kunci dalam Kode etik yang bersifat wajib dan melekat pada fasilitator, yaitu staf, relawan, dan profesional kesehatan, termasuk dokter, untuk anak dan remaja di sekitarnya. Misalnya memberikan anak dan remaja akses informasi untuk mendukung mereka, agar memiliki pengetahuan dan keterampilan, serta mengembangkan sikap dan aspirasi yang sehat. Semua anak dan remaja memiliki hak yang sama terhadap perlindungan dari eksploitasi dan perlakuan sewenang-wenang, penyediaan lingkungan fisik, mental dan emosional yang aman dan tidak menghakimi untuk semua anak.
.
Selain itu, fasilitator harus aktif terlibat, sensitif dan penuh perhatian. Tidak ada fasilitator yang diizinkan mengkonsumsi alkohol, obat-obatan atau tembakau di hadapan anak dan remaja. Fasilitator harus menjaga dan menghormati kerahasiaan informasi yang telah mereka bagi bersama anak atau remaja. Jarak fisik yang aman dan tepat dari anak harus dijaga. Tidak ada fasilitator yang diizinkan membawa anak ke tempat tertutup, terpencil dan atau pribadi. Semua interaksi dengan anak dan remaja harus berada di tempat umum, dan di bawah pengawasan penyelenggara yang ditunjuk.
.
Sementara anak dan remaja berada di bawah pengawasan atau tanggung jawab fasilitator, tidak ada orang dewasa yang tidak berhubungan dengan organisasi, diperbolehkan memasuki tempat atau untuk terlibat dengan anak atau remaja. Gambar yang diambil tidak dapat digunakan untuk tampilan publik atau publisitas, tanpa persetujuan anak dan dari pengurus yang ditunjuk. Fotografer yang ditunjuk hanya akan memotret setelah menerima persetujuan tertulis dari pengasuh yang ditunjuk. Bahasa yang tidak tepat, menyinggung atau kasar benar-benar dibatasi untuk anak dan remaja, juga dilarang untuk setiap perilaku fisik yang provokatif secara seksual atau tidak pantas.
.
Kegiatan yang tidak aman atau ilegal oleh anak dan remaja tidak boleh diikuti. Juga setiap orang yang mengetahui adanya kekerasan seksual, pelecehan seksual atau pelanggaran lainnya terhadap hak anak atau remaja, mereka harus melaporkan hal ini kepada ‘Youth Engagement Committee IAAH’, yang juga akan melaporkan hal ini ke polisi setempat. Ini adalah persyaratan wajib dari Bagian 19 tentang Pencegahan Anak dari Undang-Undang Pelanggaran Seksual, 2012 (POCSO Act).
.
Setelah terbang sekitar 2 jam 37 menit, akhirnya kami mendarat di Chennai International Airport, di negara Bagian Tamil Nadu, India selatan. Segera kami mengurus bagasi dan mendatangi petugas di konter Jet Airways, untuk membuat jadwal kepulangan yang baru, agar kami dapat segera dapat kembali ke Yogyakarta. Untung tak dapat diraih dan malang tak dapat ditolak, petugas awak darat Jet Airways yang berwajah legam seperti orang Sri Lanka, bukan putih seperti orang India utara, menjelaskan bahwa semua penerbangan sudah penuh sesak terpesan habis. Dengan demikian kami harus menghabiskan waktu 3 (tiga) malam di Chennai, sebalum dapat terbang kembali melalui Singapura.
.
Segera kami mencari konter informasi turis manca negara, dengan meminta berbagai brosur, peta dan tawaran rute jalan-jalan. Selanjutnya kami mencari lagi informasi harga tiket metro, untuk kami bandingkan dengan bis kota, pre-paid taxi, dan yang terakhir adalah Uber. Taksi berbasis on lina di Chennai memiliki konter, sehingga calon penumpang yang belum mengunduh aplikasi di HP, akan dibantu mencarikan mobil yang sesuai. Fasulitas free wifie dan sambungan internet di dalam kompkes bandara sangat kuat, untung saja PIN sambungan juga akan diberikan melalui sms kepada nomer telephon non India. Namun demikian, persyaratan wajib memiliki nomer telephon India (+9), ternyata berlaku juga untuk pemesanan taksi Uber, sama seperti pembelian e-ticket kereta api, registrasi seminar dan e-visa India, yang telah kami lakukan sejak di Yogyakarta. Untunglah masalah tiket Uber juga dapat diselesaikan, karena kami telah membeli paket data nomer lokal saat hari pertama di New Delhi. Ini rasanya juga sebuah kebijakan politik digital protektif yang layak ditiru. Selain itu, petugas konter Uber juga memberikan alternatif mobil yang digunakan, yang besar dan bermisin diatas 1800 silinder memiliki harga 70% lebih tinggi dibandingkan mobil kecil di bawah 1300 silinder.
.
Setelah bernegosiasi dengan petugas konter Uber, akhirnya kami dapat diantar ke Ibis Hotel Sipcot Chennai, India selatan, dalam guyuran hujan sangat lebat di awal musim penghujan. Malam itu kami merasakan kepuasan mendalam, lengkap dan tuntas, dengan berbagai pengalaman yang inspiratif bagi layanan kesehatan remaja, dari the 11th World Congress on Adolescent Health di New Delhi, India.
(bersambung, bila masih berminat menerima dan membacanya)
*) pelancong dari Jawa berdana cekak, ditulis dan dibagikan dari kamar 502 Ibis Hotel Sipcot di Plot No 34, Old Mahabalipuram Road, Egattur, 603103 Chennai, India
Senin malam, 30 Oktober 2017, sebelum kembali ke tanah air Indonesia.
INDIA HARI KEENAM (INI CHENNEAI)
fx. wikan indrarto*)
Setelah selesai mengikuti the 11th World Congress on Adolescent Health, di Hotel Pullman Aerocity, New Delhi, pada Rabu, 1 November 2017 kami terkaget saat bangun tidur pagi di kamar 502 Hotel ibis Chennai Sipcot, TN India. Sebuah email masuk yang berisi : Kami baru saja dapat info dimana ada perubahan schedule dari Garuda yang operated by Jet Airways. Penerbangan dari Chenai-Singapore-Jakarta yang seharusnya pk. 02.35 dibatalkan (no operated), saat ini kami sudah meminta responsibility dari pihak Airlines, namun masih belum ada penjelasan dan solusi mengenai pembatalan tersebut. Kami tertahan untuk pulang ke Indonesia dan segera kami putuskan untuk menimati apa yang ada di depan mata, Chennai.
Chennai di negara bagian Tamil Nadu adalah salah satu kota yang paling banyak dikunjungi wisatawan dunia di India. Kota ini berfungsi sebagai pintu gerbang ke bagian selatan India. Chennai adalah kota India yang paling banyak dikunjungi oleh turis asing sejak tahun 2009 dan mengeluarkan jumlah visa pada saat kedatangan (visas on arrival) tertinggi ketiga sejak tahun 2014. Pada tahun 2011, Chennai menduduki peringkat ke-41 dari 100 peringkat teratas dunia, dengan 3.174.500 orang wisatawan asing, meningkat 14 persen dari 2010. Selain itu, sekitar 830.620 wisatawan domestik tiba di Chennai pada Maret 2011. Pada tahun 2015, kota ini menerima 4.243.700 turis asing, menjadikannya sebagai kota yang dikunjungi paling banyak ke 3 di India, setelah Delhi dan Mumbai oleh turis asing.
Segera kami turun ke resto untuk sarapan di lantai dasar, tetapi kami cermati sebuah hal unik, yaitu bahwa ada seperangkat permainan catur dan scrable di lobi dekat resto, yang belum pernah kami lihat di hotel manapun. Ternyata catur, ular tangga, dadu, dan kartu yang merupakan permainan di atas papan, berasal dari India kuno. Permainan catur berasal dari India pada abad ke-7 M dan disebut chaturanga, sementara umur dadu lebih tua lagi, sebab sudah ditemukan pada tahun 3.000 SM. Segera kami teringat akan mantan juara dunia catur GM Viswanathan Anand yang lahir di Chennai India, 11 Desember 1969 dan pada tahun 1988 saat berusia 18 tahun, ia menjadi Grandmaster pertama dari India. Ia adalah satu dari sembilan pemain dalam sejarah yang memiliki FIDE rating lebih dari 2.800. Pada daftar Elo rating FIDE April 2007, Anand menduduki peringkat pertama untuk pertama kalinya. Ia adalah orang keenam yang mencapai peringkat satu sejak daftar ini dimulai pada tahun 1970, kelima orang lainnya adalah Fischer, Karpov, Kasparov, Kramik dan Topalov. Viswanathan Anand menjadi juara dunia catur pada 29 September 2007 setelah memenangi kejuaraan dunia catur pada umur 47 tahun, melawan Vladimir Kramnik di Ciudad de Mexico. Anand mengakhiri turnamen ini dengan angka 9/14, tanpa kalah sekalipun. Pada Kejuaraan Catur Dunia 2013 dia dikalahkan Magnus Carlsen dan dia dikalahkan lagi oleh Carlsen pada Kejuaran Catur Dunia 2014.
Setelah melihat beberapa orang yang bermain catur sebagaimana gaya Viswanathan Anand dan menyantap menu sarapan, segera kami bergegas mempelajari tujuan wisata yang terjangkau. Terdapat 50 tujuan wisata yang ditampilkan pada Tourist Map of Tamil Nadu, dengan hanya 3 tujuan yang berjarak dekat. Dalam hal ini jarak dekat berarti jaraknya kurang dari 100 km dari pusat kota Chennai, yaitu Mamallapuram (57 km), Kanchipuram (71 km) dan Tiruttani (97 km). Tirunavananthapuram yang terjauh berjarak 706 km, sehingga kami memutuskan berangkat ke Mamallapuram yang merupakan salah satu Situs Warisan UNESCO, yaitu kota kuno yang dulu dinamakan Mahabalipuram. Kami berangkat ke situs di pinggir pantai itu dalam guyuran hujan lebat awal musim. Situs ini mengingatkan kami bahwa pelabuhan pertama di dunia ternyata terdapat di Lothal, India dan dibangun sejak 2.400 SM. Pelabuhan ini bukan pelabuhan sembarangan, sebab dari rancangannya terlihat jelas bahwa orang India kuno telah memperhitungkan secara teliti, mengenai gelombang pasang, hidrografi, dan oceanologi. Mamallapuram atau Mahabalipuram adalah sebuah kota di distrik Kancheepuram di negara bagian Tamil Nadu, 58 km selatan kota Chennai. Ini adalah kota bersejarah kuno dan merupakan pelabuhan yang ramai pada masa Periplus (abad ke-1 Masehi) dan Ptolemy (140 M), dari mana pedagang India kuno berlayar ke negara-negara di Asia Tenggara. Pada abad ke-7, kota ini merupakan kota pelabuhan dinasti India Selatan di Pallavas.
Mamallapuram memiliki sekelompok tempat suci yang diukir dari batu karang utuh, bukan disusun, yang dipahat pada abad ke-7 dan ke-8. Juga ada rathas (kuil dalam bentuk kereta), mandapas (cagar gua), relief batu terbuka raksasa seperti ‘Descent of the Gangga’ yang terkenal, dan yang terindah adalah candi di pinggir pantai atau Shore Temple, dengan ribuan patung untuk kemuliaan Dewa Siwa. Kompleks ini memiliki ketinggian rata-rata 12 meter (39 kaki) di atas permukaan air laut dan dipugar oleh Raj Inggris pada tahun 1827. Di kompkeks tersebut temuan arkeologis mendapatkan area penguburan megalitik, prasasti Sangam Perumpāṇāṟṟuppaṭai yang berisi peraturan Raja Thondaiman Ilam Thiraiyar di Kanchipuram, mata uang koin Cina dan koin Romawi saat Kaisar Theodosius I pada abad ke-4 Masehi. Data ini membuktikan bahwa pelabuhan Mahabalipuram sebagai pusat aktif perdagangan global pada periode klasik akhir. Selain itu, dua koin Pallava menggambarkan saat kejayaan Raja Srihari dan Srinidhi dari kerajaan Pallava, yang memerintah Mahabalipuram dari Kanchipuram; ibukota dinasti Pallava dari abad ke-3 sampai abad ke-9 Masehi. Dinasti Pallava menggunakan pelabuhan tersebut untuk meluncurkan misi perdagangan dan diplomatik ke Sri Lanka dan Asia Tenggara.

Prasasti Tamil abad ke-8 yang ditulis oleh Thirumangai Alvar menggambarkan Mahabalipuram sebagai Sea Mountain, di mana kapal-kapal berkuda di jangkar membungkuk sampai terbengkalai karena mereka kaya, gajah berbatang besar dan permata dari sembilan varietas ditumpukan. Selain itu, kami langsung teringat akan Marco Polo (1254-1324) seorang pedagang dan penjelajah Italia yang pernah menyusuri jalan sutera. Ia pergi ke Tiongkok semasa berkuasanya Dinasti Mongol dan dalam catatan perjalanannya yang berjudul ‘Seven Pagodas’, menyinggung Tujuh Pagoda Mahabalipuram. Juga mencatat adanya ‘the Shore Temple’, Kuil Mahabalipuram yang dibangun di pinggir pantai, yang menggambarkan masa pemerintahan Narasimhavarman. Selain itu, juga menunjukkan era Rajasimhavarman tentang perpindahan gaya bangunan dari arsitektur batu ke bangunan struktural. Kota Mahabalipuram sebagian besar dikembangkan oleh raja Pallava Narasimhavarman I pada abad ke 7 Masehi.
Kami menyusuri sepanjang situs Mahabalipuram dalam guyuran hujan yang kadang lebat, angin kencang dan hanya sempat gerimis sebentar, tanpa pernah reda. Nama pertama situs yang diguyur hujan lebat tersebut adalah Kaţalmalai yang berarti ‘tanah antara gunung dan laut’ pada catatan Tamil kuno. Nama kedua adalah Mämalläpuram yang berarti ‘tanah pegulat besar’, karena wilayah ini diperintah oleh Raja Pallavan Narsimhavarman pada abad ke-8, yang terkenal dengan kekuatannya. Nama ketiga adalah Mähäbalipuram yang berarti ‘tanah Mahabali’, cucu dari Raja Prahlada. Kami terpaksa ikut berdesakan dengan banyak turis Eropa dan lokal, saat berteduh masuk ke beberapa gua batu, sebelum melanjutkan petualangan ke Mandapa atau paviliun, ataupun ratha atau tempat suci berbentuk seperti kereta bait suci. Dalam lindungan payung kecil, kami menikmati situs yang dipahat dari permukaan batu granit (the granite rock) sampai ke Kuil Shore yang terkenal, yang didirikan setengah abad kemudian, dibangun dari batu utuh (dressed stone). The Shore Temple mencakup banyak relief, termasuk yang panjangnya 100 kaki dan 45 kaki, diukir dari granit.
.
Sejarawan seni Percy Brown (1872–1955) dari University of Michigan USA menuliskan laporan yang berjudul ‘Indian architecture’, menjelaskan tentang pembangunan oleh Dinasti Pallava Mandapa, berupa Gua Ajanta dan Gua Ellora dari batu utuh. Gua tersebut mengacu pada kemenangan Narasimhavarman pada tahun 642 M atas raja Chalukyan Pulakesin II, karena pematung dan pengrajin dipaksa ke Kanchi dan Mahabalipuram sebagai ‘rampasan perang’. Mereka dipakasa untuk membuat tahap awal arsitektur Dravida, dimana elemen desain Buddhis terlihat jelas, menggantikan Hindu. Patung-patung yang ada adalah contoh seni Pallava yang artistik, khas dan bagus sekali, di sisi tebing batu dekat Teluk Benggala India.

Pada tahun 2004, tsunami Samudra Hindia menyapu bersih pasir pasir yang mengapit struktur termasuk singa granit dan relief gajah. Untunglah beberapa struktur penting luput dari bencana alam tersebut, yaitu Thirukadalmallai, kuil yang didedikasikan untuk Dewa Wisnu. Keluarga Gangga atau Bagiratha’s Penance, yang berupa sebuah relief batu raksasa di alam terbuka, Kuil Gua Varaha, sebuah kuil kecil yang ditutup dari batu sampai abad ke-7. Yang paling eksotis adalah ‘The Shore Temple’, sebuah kuil struktural di sepanjang Teluk Benggala dengan pintu masuk dari sisi barat yaitu dari arah laut. Pancha Rathas, yaitu lima struktur piramida monolitik yang dinamai menurut Pandawa (Arjuna, Bhima, Yudhisttra, Nakula dan Sahadeva) dan Draupadi, yang masing-masing diukir dari satu batu besar yang utuh. Yang tidak sempat kami datangi karena hujan yang semakin lebat adalah Light House, yang dibangun pada tahun 1894.
Segera kami beranjak pulang untuk menikmati makan sore, saat masih didekap dingin hujan lebat di pinggir pantai Teluk Benggala India. Kami mampir di Border Parotta Cafe di Plot no 1A New 53 Mahabalipuram, untuk memesan menu Vanjaran Meen Kozhambu with Idly or Dosa seharga Rs 350 dan chicken biryani seharga Rs 180. Kami jadi teringat sensus penduduk India 2011, dimana warga Mahabalipuram memiliki tingkat melek huruf rata-rata 74%, lebih tinggi dari rata-rata nasional India yang hanya 59,5%. Sebuah ironi sejarah, karena orang India-lah yang pertama kali menemukan tinta pada abad ke-4 SM, yaitu tinta berbahan dasar karbon yang sangat berguna untuk menulis manuskrip kuno. Sambil makan sore itu, ternyata kami masih sering salah paham, sebab orang India selalu menggelengkan kepala, meskipun sebenarnya berarti ‘ya’, bukan menganggukkan kepala seperti kita, untuk mengungkapkan hal yang benar.
Saat hujan mulai berubah gerimis kecil, kami segera bergegas kembali ke hotel untuk beristirahat dan bersiap menunggu email dari biro dengan semboyan ‘Travel Smart. Achieve More’, yang mengatur perjalanan pulang kami ke Indonesia. Malam itu kami merasakan kekaguman akan hebatnya budaya India kuno di situs Mahabalipuram dan lompatan perkembangan Chennai yang modern secara mendalam, tidak hanya karena even the 11th World Congress on Adolescent Health di New Delhi, India.
(bersambung, bila masih ada yang berminat membaca)
*) pelancong dari Jawa,
ditulis dan dibagikan dari kamar kamar 502 Hotel ibis Chennai Sipcot, TN India.
Rabu malam, 1 November 2017, sebelum kembali ke tanah air Indonesia.
INDIA HARI KETUJUH (CHENNAI)
Setelah selesai mengikuti the 11th World Congress on Adolescent Health, di Hotel Pullman Aerocity, New Delhi, sebuah konggres yang terinspirasi oleh Parikesit, yang dinobatkan sebagai raja saat remaja (adolescent) dalam epik Bharatayuda yang asli India, segera muncul inspirasi baru. Kami akan menyusuri jejak epik asli India yang tidak kalah hebat, yaitu Ramayana, dan juga mengucap syukur atas semua rahmat Tuhan yang telah tercurah. Akhirnya kami memutuskan terbang ke Chinnaei di negara bagian Tamil Nadu, India selatan. Mengapa ke Chennai?
.
Ramayana dari Bahasa Sansekerta yang berarti “Perjalanan Rama” adalah sebuah kisah kepahlawanan dari India yang digubah oleh Walmiki, Valmiki atau Balmiki. Wiracarita Ramayana terdiri dari tujuh kitab yang disebut Saptakanda dan kitab ke 5, yaitu Sundarakanda menceritakan kisah bala tentara Kiskindha yang membangun jembatan Situbanda, untuk menghubungkan India dengan Alengka. Kerajaan Alengka atau Lanka adalah nama sebuah kerajaan pada sebuah pulau di selatan India, yang diperintah oleh Raja Rawana pada zaman Ramayana dulu. Sekarang kerajaan tersebut menjadi sebuah negara berdaulat yang dikenal dengan nama Sri Lanka. Selain itu, kehadiran rahmat Tuhan yang sangat melimpah, semakin terasa apabila disyukuri dengan berziarah ke makam salah seorang rasul atau murid Yesus kristus, yaitu Thomas. Untuk merasakan sensasi Sri Lanka di India dan berziarah ke makam Santo Thomas, yang terbaik adalah dengan mengunjungi Chennai.
.
Suku Tamil adalah sebuah kelompok etnis dari Bangsa Dravida, yang dipercaya sebagain ahli sebagai warga Kerajaan Alengka saat Rawana dulu berkuasa. Dengan populasi sekitar 77 juta jiwa yang tersebar di seluruh dunia, suku Tamil adalah salah satu bangsa tanpa negara, yang tertua dan terbesar di dunia modern. Tamil Nadu ialah salah satu negara bagian di selatan India, mayoritas penduduknya adalah suku Tamil, dengan ibu kota di Chennai. Menurut sebuah survei Quality of Living dari Mercer yang dirilis pada awal tahun 2016, Chennai disebut sebagai kota yang paling aman di India, dan Chennai juga dikenal sebagai kota terbesar keempat di India. Tak hanya itu, Chennai yang dulunya dikenal dengan nama Madras, merupakan salah satu kota yang banyak dikunjungi wisatawan luar negeri. Menurut data dari Euromonitor 2016, Chennai berada di posisi 38, untuk kategori kota yang paling banyak dikunjungi wisatawan luar negeri. Chennai juga dikenal sebagai ‘food city’ terbaik kedua dunia versi National Geographic 2015. Menurut majalah Forbes, Chennai adalah salah satu kota dengan pertumbuhan tercepat di dunia (Forbes-Top 10 Fastest Growing Cities in the World) 2015.
Sejarah modern Chennai dimulai dengan kedatangan bangsa Portugis pertama kali pada tahun 1522 dan membangun sebuah pelabuhan bernama São Tomé, karena St. Thomas diyakini telah berkhotbah di daerah tersebut antara tahun 52 dan 70. Pada tahun 1612, bangsa Belanda kemudian mendirikan benteng di dekat Pulicat, sebelah utara Chennai. Pada tanggal 22 Agustus 1639, yang disebut Hari Madras (Madras Day), the English East India Company, yaitu sebuah perusahaan perdagangan Inggris di bawah Francis Day, mendapat lisensi untuk membangun benteng. Raja Damarla Chennappa Nayakudu dari Chandragiri, memberikan izin untuk membangun pabrik dan gudang untuk perusahaan dagang mereka. Wilayah ini kemudian menjadi desa nelayan yang dikenal sebagai Madraspatnam. Setahun kemudian, Inggris membangun Fort St. George, pemukiman Inggris pertama di India, yang menjadi inti kota kolonial Inggris dan asal muasal kota Chennai. Pada tahun 1746, Benteng St. George dan Madras dikalahkan oleh bangsa Prancis di bawah Jenderal La Bourdonnais, Gubernur Mauritius. Inggris kembali menguasai Chennai tahun 1749 melalui Perjanjian Aix-la-Chapelle dan pada abad ke-18, Inggris telah menaklukkan sebagian besar wilayah di sekitar Tamil Nadu dan menetapkan Madras sebagai ibu kota.
.
Setelah India merdeka pada tahun 1947, Chennai menjadi ibukota Negara Bagian Madras, yang dinamai sebagai Tamil Nadu pada tahun 1969. Pertarungan keras tahun 1965 terhadap pengenaan kewajiban bahasa Hindi dan bahasa Inggris di seluruh India, di negara bagian tersebut menandai perubahan besar dalam dinamika politik kota dan akhirnya berdampak besar pada keseluruhan negara. Pada tanggal 17 Juli 1996, kota yang dikenal sebagai Madras secara resmi berganti nama menjadi Chennai, sesuai dengan kecenderungan nasional India bahwa nama yang berbau Inggris (Anglicised names) akan dikurangi.
.
Petualangan kami di Chennai dimulai dari Hotel ibis Chennai Sipcot tempat kami menginap, yang beralamat di Plot no 34, Old Mahabalipuram Road, Egattur, Chennai 603 103, India. Kami awali hari dengan menikmati sarapan menu makanan terkenal di India bahkan dunia yang berasal dari Chennai, yaitu nasi Briyani. Makanan ini seperti namanya, berbahan dasar nasi yang dicampur dengan berbagai rempah-rempah, sayuran serta daging. Hampir mirip dengan nasi goreng di Indonesia, hanya saja rasa dan pengolahannya cukup berbeda. Kami juga sempat menikmati Chapati, yakni sebuah makanan yang terbuat dari tepung gandum dan garam, yang dipanggang dengan sebuah pemanggang yang terbuat dari tanah liat. Dan setelah matang, makanan ini biasanya akan disantap dengan kari daging maupun kari sayuran.

.
Oleh karena aplikasi untuk memesan taksi ‘uber’ dan ‘ola’ kami bermasalah, kami dibantu petugas hotel untuk menyewa sedan Suzuki Meroti Swift warna putih dan siap mengantar kami keliling kota Chennai. Sebagian besar industri otomotif India berada di dalam dan di sekitar kota Chennai, sehingga Chennai mendapat julukan “Detroit of India”, mengacu pada kota Detroit di AS yang menjadi pusat otomotif kebanggan AS. Penghasilan kota Chennai berbasis mobile manufaktur, sekitar 40 persen dari industri otomotif India dan 45 persen industri komponen mobil. Sejumlah besar perusahaan otomotif termasuk Royal Enfield, Hyundai, Renault, Robert Bosch, Nissan Motors, Ashok Leyland, Yamaha Motor, Daimler AG, Caterpillar Inc., Komatsu Limited, Bharat Benz, Ford, BMW dan Mitsubishi, memiliki pabrik manufaktur di Chennai. Bahkan gedung futuristik TATA Consultancy Services (TCS), untuk mendukung pemasaran TATA, sebuah industri mobil terbesar di India, berdiri megah di samping hotel kami.

.
Selanjutnya kami mengunjungi MGR Memorial adalah tugu peringatan yang dibangun di pantai Marina di Chennai, India, untuk mengenang mantan Menteri Utama atau Kepala negara bagian Tamil Nadu, Marudur Gopalan Ramachandran (17 Januari 1917 – 24 Desember 1987), yang lebih dikenal sebagai MGR. Tokoh MGR adalah seorang aktor, pembuat film dan politikus India yang menjabat sebagai Menteri Utama Tamil Nadu selama sepuluh tahun antara 1977 dan 1987. Dibangun di atas tanah seluas 8,25 hektar, tugu peringatan tersebut merupakan makam mantan Kepala Menteri Tamil Nadu dan penerusnya, yaitu MGR J. Jayalalithaa, yang dibangun pada tahun 1988 dan diresmikan oleh Janaki Ramachandran, istri M. G. Ramachandran, pada bulan Mei 1990. Tugu ini dirancang oleh Arsitek Pak K. Ramachandran dengan pintu masuk merupakan simbol dua daun lambang dari partai politik terbesar, yaitu AIADMK (All India Anna Dravida Munnetra Kazhagam). Selain itu, juga ada patung Pegasus, kuda dari mitologi Yunani, rumput Korea, dan tanaman hias eksotis seperti palmyra alpha, kurma, laba-laba lily dan atinium, yang semuanya berpadu sangat eksotik di pinggir Pantai Marina.

Pantai sepanjang 12 kilometer ini dikenal sebagai pantai urban terpanjang kedua di dunia. Di sini pun terdapat berbagai bangunan tua yang didirikan pada saat pendudukan pemerintah kolonial Inggris di India. Jadi tak hanya bisa menyaksikan keindahan pantai, namun juga dibarengi aktivitas berkeliling gedung-gedung tua berarsitektur menarik. Nama Pantai Marina juga digunakan untuk nama pantai yang terletak di Semarang, Lampung, Bantaeng, Batam, Ancol, Anyer, Bontang dan Jepara. Namun demikian, Pantai Marina yang kami kunjungi adalah yang terletak di Chennai, India yang menghadap ke Teluk Benggala. Pada pagi dan siang hari, pantai ini biasa dijadikan sebagai tempat berenang, selancar dan olah raga air ataupun berjemur matahari. Di malam hari, pantai Marina berubah menjadi tanah kering yang dimanfaatkan sebagai tempat hiburan malam dan tempat makan malam sambil menikmati pemandangan pantai. Di sekitar pantai, terdapat pula patung-patung tokoh ternama, seperti Mahatma Gandhi, Kannagi, Thiruvalluvar, Sir Thomas Munro, Kamarajar, Avvaiyar dan Thantai Periyar.

Setelah puas berfoto di MGR Memorial yang artistik pemandangan lansekap Pantai Marina yang penuh pengunjung, kami segera melanjutkan perjalanan ke Fort St. George. Beteng tentara yang masih digunakan sampai sekarang, sehingga kami harus melewati pemeriksaan metal detector oleh penjaganya, dulu merupakan desa nelayan yang dikenal sebagai Madraspatnam dengan bangunan utama berupa Fort St. George. Pemukiman Inggris pertama di India ini merupakan asal muasal kota Chennai, yang kegagahan dinding bentengnya masih utuh perkasa. Pada tahun 1746, Benteng St. George dan Madras pernah dikalahkan oleh bangsa Prancis di bawah Jenderal La Bourdonnais, Gubernur Mauritius, tetapi struktur bangunan beteng tidak rusak sama sekali. Setelah puas menikmati kemegahan benteng dan melihat sisa-sisa kejayaan militer Inggris abad 18, kami segera teringat akan bencana dahsyat yang pernah terjadi di situ. Pada tanggal 26 Desember 2004, sebuah tsunami di Samudera Hindia menyerang pantai Marina di Chennai, menewaskan 206 orang dan mengubah garis pantai secara permanen. Selain itu, juga banjir besar di Chennai 2015 yang merendam bagian utama kota tersebut, telah menewaskan 269 orang dan mengakibatkan kerugian material sebesar ₹ 86,4 miliar (US $ 1 miliar). Dengan diselingi sebentar menundukkan kepala untuk mengenang para korban bencana alam itu, kami segera melanjutkan peziarahan ke Basilica Santo Thomas.

Basilica atau Gereja besar St. Thomas ini dibangun pada abad ke 16 oleh para penjelajah dari Portugis. Pada tahun 1893, bangunan gereja ini mengalami proses pembangunan kembali oleh kolonial Inggris. Dan bangunan itupun hingga sekarang masih berdiri dengan kokoh. Basilica St. Thomas ini merupakan sebuah gereja Katolik Roma dengan desain arsitektur Neo-Ghotic pada abad ke-19. Bangunan awal selesai tahun 1523 dan renovasi menjadi gaya Neo-Gothik seperti bentuk yang sekarang selesai tahun 1890. Panjang 64 m, lebar 122 m, dan lebar bagian tengah gereja 10 m, dan tinggi puncak menara 472 m. Saat ini Uskup Agung Chennai adalah Mgr. George Antonysamy.

Santo Thomas atau Didimus (“orang kembar”) diyakini berlayar ke India pada tahun 52 M untuk mengabarkan Injil kepada orang Yahudi diaspora di Kerala. Ia mendarat di pelabuhan kuno Muziris (punah pada tahun 1341 akibat banjir besar yang mengubah garis pantai) dekat Kodungalloor. Kemudian ia ke Palayoor (sekarang dekat Guruvayoor) dan pada tahun 52 itu pula sampai ke bagian selatan yang sekarang menjadi negara bagian Karela, India. Eusebius dari Kaisarea menyatakan bahwa Thomas adalah rasul bagi orang Parthia, tetapi Thomas lebih dikenal sebagai misionaris ke India berdasarkan catatan Acts of Thomas, yang ditulis sekitar tahun 200.
.
St. Ephraem dari Gereja Ortodoks Suriah menulis dalam bagian ke-42 karyanya “Carmina Nisibina” bahwa sang rasul dibunuh di India (sekitar tahun 72), dan jasadnya kemudian dikuburkan di Edessa, dibawa ke sana oleh seorang saudagar yang tidak disebut namanya. Sebuah kalender gereja Suriah kuno mendukung pernyataan di atas dan menyebutkan nama saudagar itu, dimana ditulis: 3 Juli, St. Thomas ditusuk dengan lembing di India. Badannya ada di Urhai, nama kuno untuk Edessa, setelah dibawa ke sana oleh saudagar Khabin. Paus Benedictus XVI menuliskan bahwa tradisi kuno menyebutkan tentang Thomas yang mula-mula mengabarkan Injil di Suriah dan Persia, kemudian meneruskan ke India barat, dari sana pula ia akhirnya mencapai India selatan (Tamilakam) yang saat ini disebut Tamil Nadu. Penginjilan tersebut bermula dari Yudea, Israel pada tahun 52 Masehi dan Santo Thomas meninggal setelah ditombak saat menjadi penginjil selama 20 tahun, dan dimakamkan di Chennai pada tahun 75.

Menurut tradisi, St. Thomas mati syahid di Gunung Santo Thomas di Chennai dan dimakamkan di dalam Basilika Katedral Santo Thomas. Pada tahun 232 sebagian besar relikui Rasul Tomas diserahkan oleh seorang raja India untuk dibawa ke kota Edessa, Mesopotamia. Berkenaan peristiwa itu disusunlah kitab ‘Acts of Thomas’ dalam bahasa Suriah. Sedikit relikui tetap disimpan dalam gereja di Mylapore, Tamil Nadu, India. Nama raja India itu menurut sumber Suriah adalah “Mazdai”, dalam bahasa Yunani, “Misdeos” dan bahasa Latin “Misdeus”, yang dihubungkan dengan “Bazdeo” pada uang logam Kushan dari raja Vaseduva I, di mana pengalihan huruf “M” dan “B” umum terjadi untuk nama India pada naskah kuno.
.
Pada 1956, Paus Pius XII menaikkan status gereja tersebut dari katedral menjadi Basilika, dan pada 11 Februari 2006, basilika tersebut dideklarasikan menjadi biara nasional India oleh Konferensi Uskup Katolik se India. Basilika tersebut dibangun di atas sebuah makam, yang diyakini banyak ahli sebagai makam St Thomas, seorang rasul atau murid Yesus Kristus, menurut catatan keempat Injil dan Kisah Para Rasul. Letak makam Santo Thomas di lantai dasar di salah satu ruang di belakang gereja, yang dilengkapi dengan kapel untuk berdoa. Di atas makam Santo Thomas terdapat museum yang menggambarkan keberadaan Santo Thomas, menyimpan sejumlah barang peninggalan, dan rekliwi atau benda-benda suci dalam sejarah agama Katolik. Di antaranya tujuh batu dengan motif HIS, yang berarti Yesus. Ada juga lukisan besar yang menggambarkan Santo Thomas tengah berdoa, namun di belakang tubuhnya, tampak seseorang siap menghujamkan tombak.
.
Dalam khusuk berdoa, kami bersujud bersyukur atas semua kebaikan Tuhan yang telah kami terima, dengan mengucapkan kalimat yang diucapkan sendiri oleh Santo Thomas, “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh 20:28). Kalimat tersebut tertulis di gerbang masuk makam Santo Thomas, yang ditujukan kepada Yesus Kritus setelah bangkit dari kematian. Mungkin karena masih banyak dosa yang kami lakukan, maka kami tidak mampu mendengar bisikan halus, serupa dengan apa yang dikatakan Yesus sendiri kepada Santo Thomas, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yoh 20:29). Dalam keheningan yangnyata setelah berdoa, kami bergegas undur diri dari kapel makam Santo Thomas, untuk keluar dan mengambil foto kenangan yang tak mungkin terlupakan.
.
Kami segera bergegas menemui saudara jauh dari Bandung, mbak Sari yang bersuamikan orang Chennai dan tinggal di sebuah apartemen di 1/197, 4th cross street Poombuhar Nagar, 6th street Kolathur, Chennai. Setelah santap malam bersama menu Bandung dan Padang, kami segera bergegas kembali ke hotel untuk beristirahat dan bersiap pulang ke Indonesia. Malam itu kami merasakan kepuasan dan kepasrahan kepada Tuhan secara mendalam, dengan berbagai pengalaman iman yang inspiratif, tentunya tidak hanya dari the 11th World Congress on Adolescent Health di New Delhi, India, tetapi juga kebesaran sejarah Chennai.
(bersambung, bila masih ada yang berminat membaca)
*) pelancong dari Jawa,
ditulis dan dibagikan dari kamar kamar 502 Hotel ibis Chennai Sipcot, TN India
Senin malam, 31 Oktober 2017, sebelum kembali ke tanah air Indonesia.
INDIA HARI KEDELAPAN (CHENNAI LAGI)
fx. wikan indrarto*)
Setelah selesai mengikuti the 11thWorld Congress on Adolescent Health, di Hotel Pullman Aerocity, New Delhi, pada Kamis, 2 November 2017 kami cukup senang saat bangun tidur pagi di kamar 502 Hotel ibis Chennai Sipcot, TN India. Sebuah email masuk yang berisi : kami dapat info ada perubahan schedule dari Garuda yang operated by Jet Airways. Penerbangan dari Chenai-Singapore maju menjadi 02.35 a.m. Mohon info nomor HP penumpang agar dapat kami update ke Airlines. Syukurlah, Tuhan Maha Baik dan akhirnya kami memiliki kepastian terbang, meskipun tetap tertahan sekitar 10 jam untuk pulang ke Indonesia, maka segera kami putuskan untuk menimati apa yang ada di depan mata, Chennai yang tersisa.
.
Kami langsung bergegas untuk menyempatkan diri melakukan petualangan dalam kota Chennai yang sehari sebelumnya terlewat. Sebagai kota dengan mayoritas warganya beragama Hindu, kami segera ingin menyaksikan keindahan Kuil Kapaleeshwarar yang merupakan Candi Siwa yang terletak di Mylapore. Gerbang utama Kuil Kapaleeshwarar telah menjadi ikon Chennai di negara bagian India, Tamil Nadu. Candi ini dibangun sekitar abad ke 7 Masehi dalam arsitektur khas bangsa Dravida. Di situ kami ikut melepas sandal, menitipkannya pada petugas di sisi gerbang, dan masuk ke kuil bersama dengan para umat yang akan menyembah Dewa Siwa, dalam bentuk burung merak atau Mylai (Mayilāi) dalam bahasa Tamil. Siwa dipuja sebagai Kapaleeswarar, yaitu dewa yang memimpin alam semesta dalam karya pujangga Tamil Saiva abad ke-7, Tevaram. Candi ini memiliki banyak tempat suci, dengan struktur Kapaleeswarar dan Karpagambal yang paling menonjol. Kompleks candi menampung banyak ruang, dengan enam kali ritual harian dan empat festival tahunan. Festival Arubathimooval yang dirayakan selama bulan Tamil adalah festival paling menonjol di bait suci itu.

.
Struktur batu Kuil Kapaleeshwarar dibangun selama penguasa Vijayanagar dari Dinasti Tuluva (1491-1570 M). Nama Kuil Kapaleeshwarar ini berasal dari kata ‘kapalam’ (kepala) dan ‘eeshwarar’ alias Dewa Shiva, yang menggambarakan pertemuan Brahma dan Siwa di puncak Gunung Kailash. Oleh karena Brahma tidak menunjukkan rasa hormat kepada Siwa, maka Siwa memetik salah satu kepala Brahma (kapalam). Dalam sebuah tindakan penebusan dosa, Brahma turun ke sebuah tempat di Mylapore dan memasang sebuah Lingam untuk menyenangkan Siwa. Tempat ini kemudian dikenal dengan nama Sukra Puri, Veda Puri, Kailaye Mayilai atau Mayilaye Kayilai, yang berarti tempat ini sama dengan ‘kailash’ atau yang suci. Dewi Karpagambal, seorang bentuk pengasuh Shiva Parvati, karena kutukan menjadi seekor burung merak, yang melakukan penebusan dosa di kuil itu untuk mengembalikan bentuk aslinya. Selain itu, Putra Shiva Murugan menerima tombak Sakthi Vel, untuk menghancurkan iblis dari Parvati, semua kisah tersebut tergambar dalam berbagai patung di candi tersebut. Kami sempat berfoto berulang kali dengan latar belakang Kuil Kapaleeshwarar, bersama beberapa turis Eropa berpasangan, di sela-sela umat Hindu Chennai yang melakukan berbagai ritual.

Selanjutnya kami berjalan keliling, untuk mengagumi arsitektur dan warna-warni patung di candi tersebut, yang dibangun pada abad ke 7 Masehi oleh Raja Pallavas. Prasasti Thirugnanasambandar, Poompavaipathikam dan Arunagirinathar yang diperkirakan dibuat tahun 697 di Thirumylai Thirupugazh, menjelaskan tentang candi Kapaleeswarar tersebut. Candi asli diduga dibangun di pinggir pantai, namun dihancurkan oleh bangsa Portugis untuk didirikan tempat ibadah yang sekarang disebut Gereja St. Thomas, dan candi yang ada saat ini, yang berjarak 1,5 km dari pantai, dibangun oleh raja-raja Vijayanagar pada abad ke-16, dengan menggunakan beberapa sisa-sisa batu dari kuil tua. Terdapat prasasti yang berasal dari abad ke 12 di dalam kuil dan 120buah ‘gopuram’ atau bentuk atap gapura. ‘Gopuram’ Kapaleeswarar ini merupakan menara gerbang yang ikonik, gaya arsitektur khas Dravida, sekitar 40 m, dan dibangun pada tahun 1906.
.
Keinginan selanjutnya adalah berpetualang melihat sistem layanan kesehatan yang ada. Ternyata Chennai memiliki fasilitas layanan medis kelas dunia, yang dilakukan di rumah sakit pemerintah dan swasta. Rumah sakit utama di Chennai adalah RS. Apollo, RSK. Bedah Apollo, SRM Medical College, RS. Chettinad, RS. MIOT, RS. Sri Ramachandra, RS. Fortis Malar, RS. Lifeline, RS. Vasan, RS. Dr Mehta, RS. Global, RS. Sankara Nethralaya, Vijaya Medical & Educational Trust, Rumah Sakit Umum Rajiv Gandhi, RSUP. Kanker Adyar, Sanatorium TB, dan Institut Nasional Siddha. Institut Nasional Siddha adalah satu dari tujuh institusi pendidikan tingkat nasional India, yang mempromosikan keunggulan sistem pengobatan India, yaitu Ayurveda. Chennai menarik sekitar 45 persen turis kesehatan (health tourists) dari luar negeri dan 40 persen dalam negeri, sehingga menempatkan Chennai sebagai ibukota layanan kesehatan di India. Kota ini memiliki lebih dari 12.500 tempat tidur di RS, sehingga memiliki rasio 2,1 tempat tidur per 1.000 penduduk, sudah lebih baik dibandingkan norma Organisasi Kesehatan Dunia, yaitu 3 tempat tidur per 1.000 orang, dan jauh lebih tinggi dari kota lain di India. Kami sempat hadir di Rajiv Gandhi Hospital, yang berdiri megah di depan stasiun kerata api pusat, dengan banyak sekali pasien hilir mudik di selasar dan ruang tunggu RS.
Selanjutnya kami menyeberang jalan yang padat lalu lintas, untuk menyaksikan keindahan arsitektur Stasiun Chennai Central, yang berwarna merah bata dan menjulang tinggi. Chennai menjadi markas besar perusahaan kereta api Southern Indian Railway. Kota ini memiliki empat stasiun kereta api utama, yaitu Chennai Central, Chennai Egmore, Chennai Beach, dan Tambaram. Stasiun Chennai Central yang terbesar menghubungkan ke kota-kota besar di India serta banyak kota kecil lainnya di India. Jaringan kereta api pinggiran kota Chennai, merupakan salah satu yang tertua di India, yang masih berfungsi sampai sekarang dengan melewati stasiun Chennai Central dan Chennai Beach.

Tidak hanya itu, pembangunan angkutan berbasis rel juga digenjot, untuk memecahkan masalah kemacitan lalu lintas. Chennai Metro adalah sistem transportasi cepat yang akan melayani kota ini, yang pembangunannya telah dimulai pada 29 Juni 2015 lalu. Fase I jaringan Metro Chennai terdiri dari 2 jalur (Jalur Biru dan Hijau) yang mencakup panjang 45,1 km, yang terdiri dari 40 stasiun dengan Alandur dan Chennai Central berfungsi sebagai simpang susun, untuk menghindari perlintasan sebidang. Sekitar 55% koridor di Fase-I berada di bawah tanah dan sisanya melayang di atas tanah. Seluruh fase-I dijadwalkan akan beroperasi pada akhir tahun 2018 yang akan datang. Belum selesai tahap I, pada bulan Desember 2016 lalu, telah diumumkan oleh Chennai Metro Rail Limited (CMRL) bahwa Tahap-2 dari Chennai Metro ditetapkan untuk sepanjang 104 km, yang terdiri dari 104 stasiun. Setelah puas berfoto di depan Stasiun Chennai Central yang artistik dan sangat ramai penumpang dengan 11 platform, kami terkagum saat mengamati para penumpang yang berdoa terlebih dahulu di sebuah kuil Hindu di depan stasiun, untuk memohonkan keselamatan perjalanan.
.
Terinspirasi oleh rasa syukur dan permohonan yang khusuk tersebut, segera kami menuju Annai Vailankanni Shrine, yaitu sebuah gereja tempat ibadah, ziarah, evangelisasi dan rekonsiliasi. Gereja tersebut merupakan rumah spiritual utama bagi hampir 1.600 keluarga Katolik, menampung hampir satu juta pengunjung setiap tahunnya, menarik banyak peziarah dan turis dari seluruh penjuru negeri India, bahkan juga dari seluruh dunia. Terdapat tiga kali misa kudus setiap hari, lebih dari lima jam devosi mandiri setiap hari, serta terdapat Toko Buku Katolik. Dengan slogan ‘Nikmati kunjungan Anda dan dengan semangat Bunda Kesehatan yang Baik, semoga Anda Damai dan Baik’, gereja tersebut dipimpin oleh Fr. B.K. Francis Xavier, Imam Rektor dan kepala Paroki.
.

Setiap jam alunan lagu ‘Ave Maria’ di gereja Vailankanni mengingatkan kita pada kehadiran dan bimbingan penuh kasih Bunda Maria. Terletak di pantai Elliot, di pantai berpasir di Teluk Benggala, Gereja Vailankanni ini telah menjadi surga bagi banyak peziarah, seperti yang kami rasakan dan saksikan. Selama bertahun-tahun gereja tersebut telah diyakini berasal dari Ilahi dan merupakan bukti nyata harmoni internasional, multikultural, dan religius. Ribuan peziarah Katolik dan non-Kristen, telah mengunjungi gereja tersebut, sebagai bukti penghormatan, cinta dan harapan dalam Annai (‘Ibu’ dalam bahasa Tamil) yang penuh kasih, karena Ibu dari Kristus adalah Ibu kami juga. Kejadian ini adalah tanda Gereja Annai Vailankanni tersedia untuk satu dan semua orang, terlepas dari kasta, suku ataupun kepercayaannya. Dengan didukung oleh arsitek JPD. Souza, akhirnya gereja berhasil dibangun pada tahun 1971. Pembangunanya menggunakan model Basilika ‘Our Lady of Good Health’ di Nagapattinam, yang juga berada di tepi Teluk Benggala. Gereja ini diberkati pada tanggal 24 Juni 1972 oleh Uskup Agung Madras-Mylapore, Mgr. R. Arulappa di antara dua puluh lima ribu umat yang hadir. Peresmian dilakukan oleh Kepala Menteri saat itu Dr. M. Karunanidhi pada tanggal 27 Agustus 1972. Setelah berdoa Salam Maria berulang kali, juga menirukan umat setempat saat menunduk hormat dan memegang beberapa benda rohani di atas panti imam, kami segera berpindah berdoa syukur di ruang adorasi pribadi.

.
Di sebelah gereja Annai Vailankanni, terdapat harmoni dan inkulturasi lokal, dengan berdirinya Kuil Ashtalakshmi. Candi Hindu yang berusia sekitar 20 tahun ini memiliki arsitektur bergaya modern, artistik, penuh warna, dan nampak banyak berbeda dari sebagian besar Kuil Hindu di India Selatan. The Ashtalakshmi Kovil adalah sebuah candi Hindu yang didedikasikan untuk dewi Lakshmi, dan delapan bentuk utamanya yaitu, keturunan, kesuksesan, kemakmuran, kekayaan, keberanian, keberanian, makanan, dan pengetahuan. Para patung pada kompleks berundak itu dibangun sedemikian rupa, sehingga peziarah dapat mengunjungi semuanya, tanpa harus menginjak salah satu tempat suci. Candi ini dibangun atas permintaan Sri Chandrashekarendra Saraswati. Pengudusan candi berlangsung pada tanggal 5 April 1976 di hadapan guru ke-44 pendeta Ahobila Mutt Vedhantha Dhesika Yatheendhra Mahadhesikan Swami.
.
Candi ini berukuran panjang 65 kaki dan tingginya 45 kaki, yang merupakan struktur serupa dengan Candi Sundhararaja di Uthiramerur. Di Candi Ashtalakshmis, delapan bentuk dewi Lakshmi, hadir dalam empat tingkat di sembilan tempat suci yang terpisah. Tempat suci Lakshmi dan pemukimnya Wisnu berada di tingkat dua. Seseorang mulai beribadah dari sini. Menaiki tangga, jalan menuju ke lantai tiga, yang memiliki tempat suci Santhanalakshmi, Vijayalakshmi, Vidyalakshmi dan Gajalakshmi. Beberapa langkah selanjutnya akan mengarah ke kuil Dhanalakshmi, yang merupakan satu-satunya tempat suci di lantai empat. Keluar dari kuil utama, di tingkat pertama, ada tempat suci untuk Aadilakshmi, Dhaanya lakshmi dan Dharyalakshmi. Candi ini juga memiliki Dashavatara (titisan Wisnu), Guruvayoorappan, Ganesha, Dhanwanthari dan dewa Anjaneyar.
Setelah itu, kami berjalan menyusuri garis pantai Teluk Benggala, untuk menuju pantai Elliot yang terletak di Besant Nagar, Chennai, India. Ini merupakan titik akhir pantai Marina dan dinamai menurut Edward Elliot, mantan hakim kepala dan inspektur polisi Madras. Pada era kolonial Inggris, tempat ini cukup eksklusif untuk orang kulit putih. Sebuah landmark tersusun dari batu putih yang terkenal di pantai Elliot ini adalah Karl Schmidt Memorial. Peringatan tersebut dinamai menurut nama seorang pelaut Belanda yang kehilangan nyawanya, dalam proses menyelamatkan orang lain dari tenggelam. Pantai Elliot adalah salah satu pantai terbersih di kota Chennai, terletak di sebelah selatan Pantai Marina, dan merupakan tempat yang sangat tenang sangat ideal untuk para pejalan kaki, juga pengunjung yang ingin merendam kaki di air laut. Sayang sekali, hujan deras dan hembusan angin kencang segera menyergap kami, yang hampir saja mencapai lantai putih Karl Schmidt Memorial. Dalam lindungan payung kecil yang dipakai berdua, sering terguncang karena arus angin dan guyuran hujan yang sering berubah arah, kami memaksakan mengambil gambar kenangan di situ.
Setelah punggung terasa dingin oleh kuyub air dan hembus angin di awal musim hujan, kami memutuskan kembali memasuki kota Chennai. Kota ini dilayani oleh dua pelabuhan utama, Chennai Port, salah satu pelabuhan buatan manusia yang terbesar di India, dan Ennore Port. Pelabuhan Chennai adalah yang terbesar di Teluk Benggala, dengan tonase kargo tahunan 6.146 crore, dan pusat penampung kontainer terbesar kedua di India, dengan volume tahunan sebesar 15,23 lakh TEUs. Pelabuhan ini menangani pengiriman ekspor mobil, sepeda motor dan kargo industri umum. Port Ennore dengan tonase kargo tahunan sebesar 1,101 crore menangani kargo seperti batubara, bijih dan produk mineral curah dan batu lainnya. Pelabuhan Royapuram digunakan untuk kapal penumpang dan Kattupalli Shipyard di dekat Ennore Port yang diresmikan pada bulan Januari 2013. Kami sempat mengagumi kebesaran Chennai Port, melihat begitu banyak crane yang tinggi menjulang dan peti kemas yang berpindah, dari gerbong kereta atau truk ke gudang ataupun kapal kontaoner. Di seberang Chennai Port masih tegak menjulang, berdiri berjajar berbagai bangunan peninggalan kolonial Inggris, yaitu bekas kantor dan gudang maskapai perdangan The British East Company. Salah satu yang masih ramai dikunjungi adalah Kantor Pos Pusat Chennai, persis di depan pintu keluar Chennai Port. Tidak ada kesempatan bagi kami untuk berfoto dengan latar belakang semua bangunan bersejarah tersebut, karena ramainya lalu lintas di areal awal berdirinya kota Chennai tersebut. Oleh sebab itu, segera kami memutuskan kembali ke hotel untuk bersiap pulang ke Indonesia.
.
Dalam perjalanan pulang ke hotel, kami masih terkagum akan kekuatan ekonomi Chennai, yang berdasarkan Produk Domistik Brutto (PDB) berkisar antara $ 58,6 sampai $ 66 miliar, sehingga mendudukui peringkat keempat paling produktif di India. Chennai memiliki basis industri yang luas di bidang manufaktur, komputer, teknologi, perangkat keras, dan sektor kesehatan. Pada 2012, kota ini merupakan eksportir teknologi informasi terbesar kedua di India. Selain itu, sebagian besar industri otomotif India berada di dalam dan di sekitar kota sehingga menghasilkan julukan “Detroit of India”. Kota ini juga merupakan kantor Madras Stock Exchange, bursa saham keempat India, dan terbesar ketiga di India berdasarkan volume perdagangan, berada di belakang Bombay Stock Exchange dan National Stock Exchange of India.
.
Atas rasa kekaguman tersebut, kami segera meminta berbelok arah untuk menuju ke sebuah bangunan futuristik, tinggi menjulang dan mengkilap keperakan. Ternyata itu adalah kantor Tata Consultancy Services Limited (TCS) di Chinnae. TCS adalah perusahaan jasa tekonologi informasi, konsultasi dan bisnis multinasional India yang berkantor pusat di Mumbai, Maharashtra. Ini adalah anak perusahaan Tata Group dan beroperasi di 46 negara. TCS adalah salah satu perusahaan India terbesar dengan kapitalisasi pasar ($ 80 miliar). TCS sekarang termasuk layanan IT bermerek yang paling berharga di seluruh dunia. TCS sendiri menghasilkan dividen 70% untuk perusahaan induknya, Tata Sons di bawah komandan N. Chandrashekaran. Pada tahun 2015, TCS berada di peringkat 64 Forbes World Most Innovative Companies, menjadikannya sebagai perusahaan jasa IT berperingkat tertinggi di India. Ini adalah penyedia layanan IT terbesar ke-9 di dunia dari segi pendapatan dan pada Desember 2015 menduduki peringkat 10 di daftar Fortune India 500. Setelah mengambil gambar dengan latar belakang bangunan markas TCS di Chennai yang futuritik tersebut, kami segera berniat pulang.
Kami segera bergegas kembali ke hotel untuk bersiap pulang ke Indonesia. Malam itu kami merasakan kepuasan dan kepasrahan kepada Tuhan secara lebih mendalam, dengan berbagai pengalaman iman yang inspiratif, tentunya tidak hanya dari the 11th World Congress on Adolescent Health di New Delhi, India, tetapi juga kebesaran sejarah Chennai dan kesempatan untuk bertualang dalam sisa waktu penundaan penerbangan.
sekian

*) pelancong dari Jawa,
ditulis dan dibagikan dari Ruang Tunggu Penunpang Gate 21 Terminal 3 Changi International Airport Singapore.
Jumat pagi, 3 November 2017 dalam perjalanan kembali ke tanah air Indonesia.
2019 REUNI PROBOLINGGO
REUNI PROBOLINGGO 2019
fx. wikan indrarto*)
Jumat pagi, 23 Agustus 2019, suasana peron Stasiun Lempuyangan Yogyakarta sangat riuh. Stasiun Lempuyangan adalah stasiun kereta api kelas besar tipe B yang terletak pada ketinggian +114 meter, diresmikan pada tanggal 2 Maret 1872 oleh perusahaan kereta api swasta Hindia Belanda, Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), dan direncanakan sebagai titik akhir jalur kereta api rute Semarang–Solo–Yogyakarta. Apa yang menarik?
Pagi itu saya mengantar kaos, tiket KA dan nasi dos sebagai konsumsi untuk 17 orang Forsinowan senior. Saat saya mengangkut perbekalan tersebut, saya jadi ingat bahwa pembangunan stasiun Lempuyangan ini dilatarbelakangi oleh kebijakan pengangkutan gula, dengan menggunakan moda transportasi kereta api, terlebih karena pada dekade 1870-an telah banyak industri gula bermunculan di Yogyakarta, yang kesemuanya dikelola oleh Kolonial Belanda. Nama stasiun ini berasal dari nama kampung yang terletak di selatan stasiun, yakni Kampung Tegal Lempuyangan dan dijadikan sebagai stasiun keberangkatan KA kelas ekonomi dari Yogyakarta, yaitu KA Progo jurusan Jakarta Pasar Senen dan KA Sri Tanjung jurusan Banyuwangi.
Pagi itu saya mengantar perbekalan untuk para Forsinowan penumpang KA Sri Tanjung, yaitu Bapak Fx. Ronny Dwi Agusulistyo (SeV 79, dosen USD), Bapak Thomas Dicky Hastjarjo (SeV 67, guru besar FPsi UGM), Bapak Eduardus Bambang Susetyo (SeV 82), Bapak Robertus Setiawan (SeV 67, dokter hewan Wonosari), Bapak Jacobus Joseph Lelyemin (SeV 82, arsitek) dan isterinya Ny. Servatia Herlina, Bapak C. Agus Haryanto (SeV 76, wiraswastawan), Bapak Frans Bunandi (SeV 68, wiraswastawan), Bapak Leonard M.H. Hutapea (SeV 82, Lurah Bumijo), Bapak Agus Sujono (SeV 67, dosen UNS) dan isterinya Ny. Enny MS, dan Bapak August Tristiyono (SeV 81, pensiunan banker nasional), Bapak FX. Eddy Arinto (SeV 75, dosen UJAY) dan isterinya Marie Ning Murdiyanti (arsitek). Para Forsinowan yang sudah saya belikan tiketnya tetapi batal berangkat adalah Bapak Gunawan Hari Sutopo (SeV 80),Bapak Suyoto HS (SeV 65) dan isteri Ny. Dwi Setyowati Suyoto, Bapak Apriadi Ujiarso (SeV 84) teman seangkatan saya, dan Bapak Bambang Trenggono (SeV 67).

di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta
Para bapak tersebut adalah anggota Forsino (Forum Komunikasi Realino), yaitu asosiasi dari para mantan penghuni Realino. Realino adalah nama asrama untuk mahasiswa Indonesia, yang dikelola oleh para pastor Jesuit. Didirikan pada tahun 1952 di Yogyakarta, asrama mahasiswa akhirnya ditutup pada tahun 1991. Totalnya telah menampung sekitar 1.400 orang dalam waktu 39 tahun keberadaannya dengan slogan “Sapientia et Virtus” (kebijakan dan kebajikan), sehingga tahun masuk setiap warganya ditulis di belakang huruf SeV. Tujuan pendirian asrama adalah untuk mendidik mahasiswa Indonesia pada saat NKRI yang relatif masih muda, untuk hidup dalam lingkungan komunitas Indonesia kecil yang nyata, atau Bangsa Indonesia kecil. Warga asrama terdiri dari mahasiswa dari berbagai latar belakang etnik, agama, dan lintas disiplin, dengan mempraktikkan moto Bangsa Indonesia “Diversity in Unity”.

Para Forsinowan tersebut akan menghadiri reuni akbar Realino di BJBR (Bee Jay Bakau Resort) Probolinggo, Jawa Timur, sedangkan saya akan menyusul naik bis PATAS pada siang hari, setelah isteri saya pulang bekerja. Setelah melepas semua Forsinowan dalam lambaian tangan diiringi suara gesekan roda besi KA Sri Tanjung di atas rel, saya langsung bergegas pulang, untuk bersiap visite pasien di RS Panti Rapih dan mengemas barang. Setelah makan siang, akhirnya kami naik bis Cepat EKA dari Terminal Giwangan Yogyakarta, tepatnya di Jalan Imogiri Timur Km 6, di dekat perbatasan antara Kota Yogyakarta dengan Kabupaten Bantul. Terminal Bis Giwangan merupakan terminal tipe A terbesar di Indonesia yang merupakan tempat singgah bus dari seluruh kota besar di Pulau Sumatra, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Terminal ini diresmikan pada tanggal 10 Oktober 2004, dengan rata-rata jumlah penumpang yang dilayani berkisar 20.000 per hari, sedangkan jumlah bus yang melaluinya, berdatangan maupun bertujuan ke provinsi lain, mencapai 850 buah per hari.

Bis Cepat EKA jurusan Purwokerto Surabaya PP yang kami naiki adalah sebuah bis Hino new RN 285 airsuspension berplat nomer Sidoarjo, yaitu S 7853 US, berangkat pk. 13.10 ke Surabaya pk. bertarif Rp. 105 K/orang. Bis ini sempat masuk Tol Trans Jawa di gerbang Karanganyar dan keluar di gerbang tol Sragen, dengan beristirahat makan malam di RM Duta Ngawi pk. 17.35, dan lewat Kota Madiun yang ramai dan setelah menempuh 325 km, kami mencapai Terminal Purabaya, atau lebih populer dengan nama Terminal Bungurasih di Surabaya pada tengah malam. Terminal Bis Purubaya merupakan terminal bus tersibuk di Indonesia, dengan jumlah penumpang hingga 120.000 per hari, dan merupakan terminal bus terbesar di Asia Tenggara. Terminal ini berada di luar perbatasan Kota Surabaya, tepatnya berada di Desa Bungurasih, Kecamatan Waru, Sidoarjo. Terminal ini melayani rute jarak dekat, menengah, dan jauh AKAP (Antar Kota Antar Provinsi).

Pada saat beristirahat sejenak di Terminal Bis Purubaya pada pergantian hari Jumat ke Sabtu, 23 Agustus 2019, saya jadi teringat akan Peraturan Asrama Realino yang diterbitkan Tahun 1957. Kata-katanya jelas, yaitu MUKADIMAH : Dengan ini kami, penghuni Asrama Mahasiswa Realino yang sedang mempersiapkan diri untuk masyarakat Indonesia dengan tugas tertentu, terutama belajar dan memperkembangkan diri sebaik-baiknya, karena sadar dan insaf akan perlunya dan adanya suatu pegangan dalam kekeluangaan kami, menyatakan mengakui sebagai asas dan dasar Asrama Realino adalah Ketuhanan yang Maha Esa dan Rasa tanggungjawab terhadap kepentingan dan kebaikan sesama teman, di dalam asrama khususnya dan terhadap sesama manusia umumnya.
Detail isi aturan sudah lupa, tetapi saya masih ingat akan hal tidur sesudah makan siang sampai pk. 16. Tidur malam mulal pk. 22 dan sesudah pk. 23 semua lampu harus dipadamkan. Pada pk. 05.30 dan pk. 16 tanda bangun dibunyikan. Kemudian saya juga ingat hal makan pagi pk. 6-7.30, siang pk. 12.30-13.30, dan malam pk. 19.30-20.30. Di sela-sela itu ada kesempatan untuk minum teh pk. 10–11.30 dan pk. 16-17.30. Warga asrama yang terlambat dating di ruang makan karena alasan apapun, wajib menanti gelombang pertama selesai makan. Bila ada mahasiswa yang tidak dapat hadir makan, hendaknya memberitahu terlebih dahulu kepada Pemimpin.
Segera kami melanjutkan perjalanan dari Terminal Bis Purubaya, naik Bis PATAS Surabaya Jember. Pada pagi buta iru, suasana terminal dan bis tetap ramai penumpang. Bis PATAS AKAS RK keluar dari gerbang Terminal Purubaya Surabaya dengan kecepatan sedang, masuk ke Gerbang Tol Sidoarjo, yang merupakan bagian dari Jalan Tol Trans-Jawa. Tol trans-Jawa sepanjang ±1.000 kilometer tersebut termasuk dalam Asian Highway 2 (AH2) atau Jaringan Jalan Asia yang menghubungkan Asia dari Denpasar, Bali, Indonesia hingga Khosravi di Iran. Pada tanggal 20 Desember 2018, Jakarta dan Surabaya resmi tersambung dengan jalan tol ini. Kami memasuki jalan tol di Solo, lanjut menuju Kertosono dan Mojokerto, terus ke utara menuju Surabaya. Dari situ kembali ke arah Gempol, keluar tol menuju Probolinggo.

Di dalam bis yang melaju di atas ruas tol itu, saya kembali teringat akan kehadiran Asrama Realino (1952 – 1991) yang tidak dapat lepas dari pergumulan yang dialami oleh UNGM (Universitas Nasional Gadjah Mada), yang sekarang disebut UGM. Realino dan UGM lahir dalam kancah revolusi kemerdekaan, meski tanpa fasilitas yang memadai, tetap dengan semangat yang menggelora. Ruang kuliah UGM dipinjami oleh Sultan Hamengku Buwono IX, terpencar dari Ngasem dan Pagelaran sampai Jetis. Mahasiswanya pun hanya beberapa ribu, tetapi sudah kewalahan mencari pondokan. Sebenarnya saat itu Yogyakarta sebagai “kota pelajar” belum siap menjadi “kota universitas”.
Dalam situasi sederhana penuh tantangan seperti itulah REALINO lahir. Para pastor memohon kepada ‘Rama Kanjeng’ Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ (Uskup Agung Semarang) agar didirikan asrama untuk mahasiswa Katolik. Pada tahun 1952 Pastor Yoop Beek, SJ ditunjuk menjadi Pator Mahasiswa Yogyakarta, Direktur Kongregasi Maria Mahasiswa dan Moderator PMKRI sambil memulai suatu asrama untuk mahasiswa Katolik. Dengan dibantu oleh bruder Yakobus van Zon, SJ, Pastor Beek mengelola asrama Realino menggunakan separuh gedung di Jl. Code (sekarang disebuta Jl. Amat Jajuli) No. 2 Kotabaru, Yogyakarta yang bagian utaranya digunakan untuk Seminari Tinggi. Di gedung itulah, pada tanggal 3 Juli 1952, ASRAMA MAHASISWA REALINO mulai membuka pintu bagi 34 mahasiswa UNGM sebagai angkatan pertarna.
Sejak tahun 1947 ketika ia bersama Yohanes de Britto, SJ dinyatakan orang kudus dan diberi gelar ‘Santo’, umat Katolik pada tanggal 3 Juli itu rnemperingati Bernardinus Realino, SJ (1530-1616). Ia seorang Italia, yang semula menjadi seorang sarjana hukum cerdas dengan sukses meniti karirnya. Pada umur 34 tahun, selaku pejabat dan pemerintah kota Ferrara, ia sudah dinilai begitu ‘bijaksana’ hingga diutus mewakili kotanya dalam perundingan dengan kota Napoli. Disana Ia bertemu dengan Ignatius dari Loyola Spanyol, yang mengajaknya menjalani latihan rohani. Realino menemukan arah “kebijakannya’: ia masuk Ordo Serikat Jesus, menjadi imam, rektor, pelayan umat yang tak kenal lelah
Pada tahun 1956 “ASRAMA REALINO UNTUK MAHASISWA U.N.G.M.” pindah ke bangunan baru di Jl. Gejayan, Mrican, Sleman DIY dan melandaskan peraturannya pada (1) Ketuhanan Yang Maha Esa dan (II) Rasa Tanggung Jawab, seperti penuh semangat suci dirumuskan dalam MUKADIMAH (lihat hal. 11). Dengan demikian REALINO menjunjung tinggi PANCASILA sebagai ‘asas tunggal’ jauh sebelum diundangkan oleh Pemerintah Indonesia. ‘Kerukunan umat beragama’ pun dihayati benar, misalnya dalan ibadah puasa Ramadhan dinjamin bahwa para warga yang melaksanakannya dapat (bangun dan) ‘sahur’ dan ‘buka puasa’ pada waktunya.
Di kompleks Jl. Gejayan itu para warga asrama menempati dua unit, masing-masing disebut Villa Utara dan Villa Selatan dengan 20 kamar berukuran 4 x 4 m, untuk 3 orang mahasiswa yang berbeda agama, suku dan fakultasnya. Sebuah pelaksanaan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Sistim ‘pengurus’ dan ‘ketua kamar’, dengan 3 orang warga setiap kamar disebut anak buah (warga baru masuk), kakak buah (pertengahan) dan bapak buah (paling senior), sehingga memungkinkan latihan kepemimpinan dan mengesankan adanya ‘demokrasi’. Asrama REALINO pada tahun 1962 mulai mempunyai kelompok koor atau paduan suara, bahkan juga suatu group orkes.
REALINO lahir dan bertumbuh dalam masa ‘Orde Lama’, dipacu oleh retorik Bung Karno yang menuntut kita berpikir ‘progresif revolusioner’. Mungkin gagasan Pater Beek sebenarnya juga sedikit terlalu maju dan berani. Konsepnya tentang ‘Kerasulan Intelektual’ melalui asrama yang serba terbuka dan penuh dialog. Usaha itu dilanjutkan oleh pemimpin ke-5, Pastor Johan Casutt, SJ (1967-1971) yang memberi impuls baru melalui proyek kerjasama REALINO-UGM, yakni pembuatan saluran air minum di lereng Gunung Merapi. Proyek ini memberi inspirasi terbentuknya LSM “Dian Desa”, dan juga mempengaruhi pelaksanaan program KKN di semua perguruan tinggi. Prestasi ini sesuai dengan tujuan Realino semula didirikan, yakni menunjang, menggenapi dan ‘menggarami’ dunia perguruan tinggi di Yogyakarta dan sekitarnya.
Sejak tahun 1971 itu asrama Realino tidak terbatas untuk mahasiswa UGM saja, tetapi juga terbuka untuk IKIP Negeri Karangmalang yang sekarang disebut UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) Selain itu, IKIP (sekarang Universitas) Sanata Dharma mulai 1974, UAJY (Universitas Atma Jaya Yogyakarta) sejak tahun 1976, UPN (Universitas Pembangunan Nasional) Veteran mulai tahun 1980, dan ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta mulai tahun 1988, mahasiswanya dapat mmenjadi warga Asrama Realino.
Asrama Realino tetap terjaga perannya sebagai lembaga pendidikan, yang melatih para penghuni untuk hidup tertib dan bertanggungjawab, yaitu melalui aneka kegiatan wajib seperti RDC (Realino Discussion Club), fungsi ‘bapak buah’ dan khususnya interaksi antara suku, agama dan disiplin ilmu dan kampus PT yang berbeda-beda. Semuanya diatur untuk usaha menggembleng para warga menjadi calon pemimpin yang “berpengetahuan luas, berpendidikan tinggi, bertanggungjawab, dan berguna bagi masyarakat”.
Setelah bergulat dengan semua pergolakan, tantangan dan dinamika dalam aspek pendidikan, kehidupan, dan kepemimpinan mahasiswa DIY, pada hari Sabtu, 30 Juni 1991, ASRAMA MAHASISWA REALINO secara resmi ditutup. Pada malam itu, dibacakan puisi perpisahan : “ada malam rembulan di balik awan, ada realino membara dalam kenangan yang penuh harapan’. Karya pembinaan generasi muda yang selama 39 tahun telah berdampak sebagus itu, digagas tidak boleh pupus dengan begitu saja, tetapi harus mengalami peningkatan sebagai bagian integral dan proyek pelayanan akademik lebih menyeluruh, sehingga diteruskan oleh karya baru yang secara resmi dinamakan LEMBAGA STUDI REALINO, di bawah koordinasi USD Yogyakarta.
Namun demikian, para mantan warega Asrama Mahasiswa Realino tetapi bertumbuh dalam kesatuan baru yang disebut Forsino (Forum Komunikasi Realino), yang dalam usianya yang semakin senja, tetapi ingin memberikan sumbangsih bagi negeri. Misi Forsino adalah menggali dan mensosialisasikan nilai-nilai Sapientia et Virtus (kebijakan dan kebajikan), mempersiapkan generasi muda sebagai calon pemimpin bangsa, mewujudkan kepedulian kepada mereka yang kurang beruntung, dan mempererat kebersamaan sesama alumni. Salah satu kegiatannya adalah reuni setiap 2 tahun dan pada tahun 2019 ini akan diselenggarakan di Probolinggo, Jawa Timur.
Malam itu kami masih tetap terjaga di atas roda bis PATAS Suarabaya Jember, saat mengingat terpilihnya kembali Jokowi menjadi presiden periode 2019-2024, karena memberikan kepastian berlanjutnya program pembangunan infrastruktur yang mengkoneksikan jalur-jalur perekonomian, termasuk Probolinggo. Pembangunan infrastruktur jalan adalah salah satu ikhtiar pencapaian tujuan pembangunan nasional untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Pada tataran teknis, tujuan pembangunan masih meneruskan nomenklatur Millenium Development Goals (MDGs) dengan menerapkan konsep Sustainable Development Goals (SDGs). Pada hari Sabtu, 24 Agustus 2109 menjelang pk. 1 dini hari, bis kami meluncur keluar dari pintu tol Probolinggo Barat.
Kota Probolinggo terletak sekitar 100 km sebelah tenggara Surabaya, ibukota Jawa Timur, yang kami tempuh tidak sampai 1 jam. Probo dalam bahasa Sanskerta berarti sinar, sedang Lingga berarti tanda, dalam hal ini adalah tanda perdamaian. Pada zaman Pemerintahan Prabu Radjasanagara (Sri Nata Hayam Wuruk) raja Majapahit yang ke IV (1350-1389), Probolinggo dikenal dengan nama “Banger”, nama sungai yang mengalir di tengah daerah Banger ini. Pada saat Bre Wirabumi (Minakjinggo), Raja Blambangan berkuasa, Banger yang merupakan perbatasan antara Majapahit dan Blambangan, dikuasai pula oleh Bre Wirabumi. Bahkan Banger menjadi kancah perang saudara antara Bre Wirabumi (Blambangan) dengan Prabu Wikramawardhana (Majapahit) yang dikenal dengan “Perang Paregreg”.
Pada tahun 1746 VOC Belanda mengengkat Kyai Djojolelono sebagai Bupati Pertama di Banger, dengan gelar Tumenggung. Pada tahun 1770 nama Banger oleh Tumenggung Djojonegoro (Kanjeng Djimat) diubah menjadi “Probolinggo”. Kota Probolinggo merupakan daerah transit yang menghubungkan kota-kota di sebelah timur, yaitu Banyuwangi, Jember, Bondowoso, Situbondo, Lumajang, dengan kota-kota di sebelah barat, yaitu Pasuruan, Malang, dan Surabaya. Setelah berkoordinasi dengan para panitia dan senior di WAG Forsino, kami segera turun di terminal bis Probolinggo, berjalan kaki keluar ke pinggir jalan, serta menunggu di sebuah gerai Indomaret yang masih padat pengunjung pada dini hari itu.

Taman Nasional Bromo, Tengger dan Semeru Jawa Timur
Segera kami bergabung dalam sebuah bis Pariwisata, bersama sekitar 60 orang warga Forsino yang masih terkantuk dan kedinginan, untuk menuju ke area pendakian Gunung Bromo. Nama Gunung Bromo berasal dari bahasa Sanskerta: Brahma, yaitu salah seorang Dewa Utama dalam agama Hindu, atau dalam bahasa Tengger dieja “Brama”, adalah sebuah gunung berapi aktif di Jawa Timur. Gunung ini memiliki ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut dan berada dalam empat wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Malang. Gunung Bromo terkenal sebagai objek wisata utama di Jawa Timur dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

dengan panorama Gunung Bromo, Batok dan Semeru.
Sebagai sebuah objek wisata, Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.

Saat flashmob peserta Reuni Forsino Nusantara
Setelah kami mencapai areal parker di samping Polsek Sukapura di lereng Gunung Bromo, segera kami dibagi ke dalam 18 buah Jeep 4×4 Toyota Land Cruiser Hard Top ataupun Daihatsu TAFT, menuju ke lokasi berikutnya. Malam itu hamper sekitar 1250 buah Jeep dan 261 sepeda motor secara bersama-sama mendaki punggung gunung. Kami turun dari Jeep Daihatsu TAFT di spot Dingklik, lanjut naik ojek motor dengan 2 orang penumpang sekligus, mendaki ke pos Penanjakan 1. Kemacetan lalu lintas karena padatnya pengunjung, membuat kami berdebar dalam jalan zigzag yang mendaki, oleh pengojek lokal warga Tengger, yang dapat kami kenali dari logatnya bicara, kain sarung yang dikenakan di wajah, bukan di pantat dan pipinya yang kemerahan karena hemokonsentrasi adaptif.
Setelah melawan hembusan angin dingin pada suhu 3 derajad, juga mengambil foto panoramik Gunung Bromo, Batok dan Semeru yang ikonik, kami bergegas turun gunung. Perjalanan kami menuju area pasir berbisik, sebuah dataran luas dengan pasir vulkanik yang terhampar sangat luas, sangat menantang adrenalin bagi pengemudi dan penumpang. Kami segera berkumpul untuk melakukan flashmob yang direkam dari semua sisi, termasuk menggunakan drone, untuk menunjukkan kekompakkan Keluarga Besar Forsino Nusantara. Kami segera menuju Bukit Teletubbies di samping Kawah Bromo, untuk melakukan sesi dokumentasi dengan Gunung Batok yang ikonik dan Jeep yang berjajar, sebagai bagian dari panorama wajib. Selanjutnya kami segera kembali ke bis di dekat Polsek Sukapura, untuk menuju areal reuni di dalam Kota Probolinggo.

Reuni Realino 2019 yang sudah dibuka saat kami sedang memulai perjalanan dari Yogyakarta, diselenggrakan di Bee Jay Bakau Resort (BJBR), di Kabupaten Probolinggo Jawa Timur. Berawal dari kawasan bakau yang dipenuhi oleh sampah dengan bau yang menyengat, kini kawasan ini telah disulap menjadi kawasan ekowisata yang sangat indah. BJBR atau Mangrove BeeJay Bakau Resort yang merupakan sebuah wisata hutan bakau, dengan luas 5 hektar dan terletak di pesisir pantai Probolinggo, di dekat Pelabuhan Mayangan. BeeJay Bakau Resort ini tidak hanya menawarkan eksotisnya hutan bakau.

Setelah berkumpul dalam kemeriahan, kami segera santap pertengahan pagi dan siang (breanch) pada hari Sabtu, 24 Agustus 2019. Santap breanch itu kami selengi dengan sesi foto bersama, karena Prof. DR. Mardiasmo, Akt, SeV 79 yang saat ini menjabat Wakil Menteri Keuangan RI, telah hadir di BJBR, yang juga memiliki Mejangan Bakau Beach. Atau zona pantai pasir buatan seluas 8.000 m2 yang dilengkapi dengan berbagai wahana bagi wisatawan. Wahana Bee Jay Bakau Resort diantaranya Flying fox, Water boom, Water Splash, Futsal Pantai dan voli pantai. Juga ada fasilitas lain seperti Fantasy Land, The Caterpillar, Gedung Serba Guna, Rest-O-Tent Resto, Kafe Tenda, Kedai Digital BJ Mart, dan Mushola. Sedangkan untuk ekowisatanya ada Study Lingkungan, Outbond Pantai, Ekowisata Bakau, Ladang Bunga Matahari dan banyak lagi yang lainya. Wisatawan juga dapat menyusuri Lorong Seribu Payung dan Jalur Bersepeda.

Menuju kamar di bungalouw Griya Hinggil 2 kamar atas
Setelah selesai santap breanch, kami memasuki sesi bebas yang kami gunakan untuk menikmati fasilitas yang ikonik BJBR, yaitu patung kuda raksasa yang terbuat dari bagian luar kayu kelapa. Patung kuda itu dinamai Kuda Cipta Wilaha yang terinspirasi dari mitologi Yunani. Wisatawan juga dapat berfoto dari atas patung kuda ini dengan naik melewati tangga di sisi belakang. BeeJay Bakau Resort masih memiliki spot foto instagramable seperti Spot Gembok Cinta, Piramida BJBR dari kumpulan botol bekas dengan kolam yang berisi ikan hiu hidup. Selanjutnya kami masuk bungalouw di Griya Hinggil 2 kamar atas, untuk mandi dan beristirahat.

Tanpa mereka, acara tidak akan berhasil baik
Setelah puas beristirahat dan mandi sore, segera kami kembali ke area reuni di dalam resto, yang harus kami tempuh dengan berjalan kaki menyusuri jalanan dari kayu kelapa di atas air laut. Dalam hembusan angina laut di sela-sela pohon bakau, kami harus menempuh hamper 100 m dari bungalow ke resto, untuk makan siang dan mengobrol dengan para peserta reuni Realino. Dari sekitar 102 orang peserta, sebagian besar sempat menikmati spot foto di hutan bakau yang juga bagus, karena merupakan jalur pejalan kaki dari papan kayu, yang melewati kawasan hutan bakau.

Tepat pk. 16 dimulai acara RDC (Realino Discussion Club) yang dipimpin oleh mas Budiman Tanurejo (SeV 83), wakil pemimpin umum KKG (Kelompok Kompas Gramedia Group) dan host acara Satu Meja di Kompas TV. RDC menampilkan topik Medis oleh Dr. Iwan Kristian, SpBD dari FK UNAIR Siurabaya (SeV 82) dan topik Kebijakan oleh Prof. Mardiasmo. Acara yang santai tetapi berbobot tersebut, diakhiri untuk istirahat sore dan sholat mahrib. Setelah acara makan malam, acara reuni dilanjutkan dengan sesi kesenian, karaoke, polonice, joget poco-poco dan diakhiri dengan pemilihan pengurus Forsino periode selanjutnya. Mas Yohanes Turyanro SeV86 terpiliha menjadi Ketua Pengurus dan akan menyelenggarakan reuni selanjutnya di tahun 2021 di Yogyakarta.

Malam itu kami segera menikmati jalan-jalan dalam hembusan hawa di lokasi resort yang sangat nyaman. Lebih indah lagi pada malam hari, karena pengunjung akan serasa berjalan di atas lampu laser. Juga ada Globe BJBR yang tidak kalah indah dibandingkan Singapura, karena air dingin murni yang mengalir dan dapat digunakan untuk terapi kesehatan. Spot foto kekinian lainnya ada Ikon I Love BJBR, Lampion Karakter, Lukisan 3D dan Foto Booth. Bee Jay Bakau Resort juga menyediakan wahana Becak Wisata dan Perahu Catamaran. Dengan wahana ini wisatawan dapat puas menikmati keindahan area hutan bakau di BJBR.

Pada malam hari yang bermandikan cahaya lampu dan berangin kuat

sebelum berangkat misa kudus hari Minggu pagi
Minggu pagi, 25 Agustus 2019, kami segera bangun dalam bugar untuk menikmati matahari terbit di ufuk laut, dengan Patung Kuda Cipta Wilaha sebagai latar depan. Segera kami naik bis Pariwisata, yang mengalami banyak kendala aur, karena adanya sesi car free day, untuk mencapai Gereja Katolik Maria Bunda Karmel. Diselingi berjalan kaki sambal berlari karena bis tidak dapat mencapai areal gereja dalam car free day zone, kami memasuki gerbang gereja yang digunakan sejak dan 24 Februari 1944 dan beralamat di Jl. Suroyo No. 5, Probolinggo, Jawa Timur.

Meskipun sedikit terlambat mengikuti misa kudus hari Minggu dan dalam keringat yang tertahan karena AC yang telah terpasang, kami tetap mampu menikmati Gereja Maria Bunda Karmel yang mempunyai konsep filosofis agak berbeda dengan gereja katolik yang lain, tetapi tetap berpedoman pada liturgi gereja katolik sesuai dengan konsili Vatikan II. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan ‘metaphore intangible’, baik dalam bentuk bangunan ataupun seragam liturgy para petugas yang lebih formal, yaitu jas dan rompi.

di depan gerbang gereja Maria Bunda Karmel Probolinggo,
Setelah misa kudus yang dipimpin oleh Romo Toto Hartaja, SJ (SeV 74), kami sempatkan berfoto bersama dengan Pastor Paroki Maria Bunda Karmel Probolinggo, Romo Hugo Sudiyanto, OCarm, di depan gerbang gereja. Kami segera bergegas kembali ke BJBR, untuk menikmati sarapan menu khusus, yaitu ikan baronang hitam dalam olahan tangan dingin Bang Benjamin Mangitung (SeV 76), owner BJBR yang penuh semangat dan baik hati.

Di KA Ekonomi Sri Tanjung yang meninggalkan Probolinggo.
Selanjutnya kami diantar ke Stasiun Probolinggo, bersama ke 14 orang peserta dari Yogyakarta, untuk naik KA Ekonomi Sri Tanjung dari Banyuwangi, pulang kembali ke Stasiun Lempuyangan Yogyakarta, melalui Stasiun Gubeng, Surabaya dan akan tiba di tujuan hari Minggu, 25 Agustus 2019, pk. 19.30

Terimakasih atas semua kebersamaan, dukungan dan koordinasi semua pihak, sehingga acara Reuni Realino 2019 dan petualangan ke Probolinggo, Jawa Timur, dapat kami ikuti. Sampai jumpa dalam petualangan dan reuni selanjutnya.
Ditulis di kursi 22D Gerbong D KA Ekonomi Sri Tanjung, yang melaju di atas rel meninggalkan Stasiun Probolinggo Jawa Timur.
Salam kompak SeV
-wikan
2019 Dokter Proklamasi

DOKTER PROKLAMASI
fx. wikan indrarto*)
Moewardi adalah seorang dokter yang turut memberikan sambutan setelah Soewirjo, wakil wali kota Jakarta saat itu, pada momentum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Dr. Moewardi membacakan sebuah teks, yang kini kita kenal dengan nama ‘Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945’, sebelum Bung Karno, Sang Proklamator membacakan naskah Proklamasi. Apa yang sebaiknya kita sadari?
.

.
Dr. Moewardi lahir di Pati, Jawa Tengah di tahun 1907 dan lulusan School Tot Opleiding Voor Indische Artsen (STOVIA), cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta. Dia kemudian melanjutkan pendidikannya dengan mengambil semacam spesialisasi di sekolah Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT). Selain menjadi dokter, Moewardi juga aktif berorganisasi pada Barisan Pelopor, bahkan pernah menjadi Pemimpin Umum Pandu Kebangsaan (Kepanduan Bangsa Indonesia), cikal bakal PRAMUKA yang berperan dalam pendidikan karakter pemuda. Barisan Pelopor bertugas untuk mengamankan para pemimpin perjuangan, seperti Soekarno dan Hatta. Muwardi diserahi tugas untuk memimpin Barisan Pelopor di daerah Jakarta. Markas Barisan Pelopor Jakarta adalah rumah milik pribadi Moewardi di jalan Cik Di Tiro No 7 Jakarta. Di rumah berkamar 11 buah tersebut, setiap hari rapat digelar untuk mempersiapkan strategi bagi kemerdekaan Indonesia. Di situ selalu hadir Chaerul Saleh, Sudiro, Suwiryo, Suharto dan Moewardi. Sering kali Moewardi menjual beberapa barang miliknya dan membeli makanan untuk para pemuda itu.
.
Dalam peristiwa mengamankan Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok, Muwardi mendapat tugas untuk membangunkan Bung Karno. Pada tanggal 16 Agustus 1945 dia memerintahkan Barisan Pelopor untuk menjaga Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Monas), yang rencananya akan digunakan sebagai tempat pembacaan teks proklamasi. Pada 17 Agustus 1945 di rumah kediaman Bung Karno di Jl. Pegangsaan Timur 56 Jakarta ramai dikunjungi orang, Moewardi menjamin keadaan aman. Waktu sudah mendekati pukul 10, tetapi Bung Hatta belum juga datang. Moewardi yang tidak sabar mendesak Bung Karno agar segera mengumumkan Proklamasi sendirian saja, tanpa menunggu kedatangan Bung Hatta, dengan alasan karena Bung Hatta sudah menandatangani teks Proklamasi. Moewardi melakukan itu karena khawatir kalau Proklamasi belum dibacakan sudah diserbu tentara Jepang, tentu akhirnya Proklamasi gagal. Tetapi memang Bung Hatta adalah seorang yang selalu memegang teguh janji, sebelum pukul 10 dia sudah tiba. Setelah masuk dalam kamar Bung Karno, tidak lama kemudian mereka berdua keluar rumah menuju halaman depan di mana sudah tersedia mikrofon, tiang bendera dan para hadirin yang akan menjadi saksi pembacaan Proklamasi tepat pada pukul 10.
.
baca juga : 2020 Dokter Merdeka
Sesudah 18 Agustus 1945 Barisan Pelopor ditugaskan untuk menjaga rumah proklamator Presiden dan Wakil Presiden (Soekarno-Hatta). Saat Bung Karno menjadi Presiden dan hendak menyusun Kabinet, Moewardi mendapat tawaran langsung dari Bung Karno untuk menjabat sebagai Menteri Pertahanan, namun dia menolak karena hendak meneruskan kariernya sebagai dokter. Waktu itu Pemerintah Republik Indonesia telah siap-siap hendak hijrah ke Yogyakarta mengingat kota Jakarta yang menjadi tidak aman. Oleh karena itu, kepada Moewardi dianjurkan supaya kedudukan BPRI dipindahkan dari Jakarta. Setelah Pemerintah RI hijrah ke Yogyakarta tanggal 4 Januari 1946, pengurus BPRI mengadakan perundingan untuk memindahkan markasnya ke Solo. BPRI pada bulan Desember 1945 mengadakan konggres di Gedung Habiproyo, Singosaren (sekarang Matahari Singosaren), Solo, Jawa Tengah. Dalam konggres 15-16 Desember 1945 itu diputuskan untuk mengganti nama dari BPRI menjadi Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI). BBRI bermarkas di Solo dengan Dr. Moewardi sebagai Pemimpin Umum.
.

Dr. Moewardi tetap menjalankan tugasnya sebagai dokter, sekaligus tetap aktif di berbagai organisasi kenegaraan. Saat Sekolah Tinggi Kedokteran kelanjutan dari STOVIA di Jakarta dipindah ke Solo, pada 4 Maret 1946 Dr. Moewardi berperan dalam pendirian Sekolah Tinggi Kedokteran di RS Jebres (sekarang RSUP Dr. Moewardi) Solo untuk bagian klinis, dan pada 5 Maret 1946 di RS Tegalyoso (sekarang RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro) di Klaten untuk bagian pre-klinis. Selanjutnya pada 1 November 1949, Dr. Moewardi tidak lagi dapat berperan dalam pemindahan perguruan tinggi kedokteran RI ke Yogyakarta, yang kemudian pada 19 Desember 1949 menjadi bagian dari Universitas Negeri Gadjah Mada, sekarang UGM.
.
Sejak pertengahan tahun 1946, di Solo mulai tampak partai dan badan perjuangan yang menjurus ke paham Sosialis Kiri dan Komunis. Polarisasi partai-partai dan golongan itu terlihat pada peritiwa perebutan kedudukan Residen Solo. Indikasi Solo dalam keadaan gawat adalah peristiwa diculiknya Perdana Menteri Syahrir tanggal 27 Juni 1946, dan berlanjut dengan kudeta militer yang dilakukan oleh Jenderal Mayor Soedarsono tanggal 3 Juli 1946, beruntunglah kudeta tersebut dapat digagalkan.
.
Untuk mengatasi keadaan yang rawan di Solo sekitar pertengahan tahun 1946 dan untuk menghadapi pemberontakan PKI, Dr. Moewardi mendirikan Gerakan Rakyat Revolusioner. Pada peristiwa Madiun Jawa Timur, 11 September 1948 salah satu tokoh yang dikabarkan hilang dan diduga dibunuh oleh pemberontak PKI adalah Gubernur Jawa Timur, Soeryo. Pada tanggal 13 September 1948 di Solo PKI juga melakukan serangkaian penculikan dan pembunuhan. Dr. Moewardi turut menjadi korban kebiadaban PKI tersebut, dia diculik dibunuh dan jenazahnya tidak ditemukan sampai sekarang, pada saat akan pergi menjalankan praktik sebagai dokter di RS Jebres.
Dr. Moewardi diberi gelar sebagai pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 4 Agustus 1964, sesuai Kepres No 190 Tahun 1964. Kiprah Dr. Moewardi dalam momentum proklamasi dan awal kemerdekaan dahulu, seharusnya menjadi inspirasi bagi para dokter Indonesia di jaman sekarang. Hendaklah para dokter tidak sekedar menjalankan praktek medis, tetapi juga terlibat dalam pendidikan dokter ataupun pembinaan karakter remaja, demi keamanan dan kemajuan negara.
Dirgahayu negeriku, jayalah dokter Indonesia.
Sekian
Yogyakarta, 14 Agustus 2019

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com
2019 Obat dan Alat Diagnostik Baru

OBAT DAN ALAT DIAGNOSTIK BARU
fx. wikan indrarto*)
Daftar Obat dan Alat Diagnostik Penting (Essential Medicines List and List of Essential Diagnostics) yang diterbitkan WHO pada hari Selasa, 9 Juli 2019 adalah panduan inti untuk semua negara dalam memprioritaskan produk kesehatan yang harus tersedia secara luas dan terjangkau, dalam seluruh sistem kesehatan. Hal ini untuk mengatasi tantangan bidang kesehatan, memprioritaskan terapi yang lebih efektif, dan meningkatkan akses layanan yang terjangkau. Apa yang menarik?
.
.
Ketika banyak negara bergerak menuju cakupan kesehatan semesta atau ‘Universal Health Couverage’ (UHC) dan berbagai obat menjadi lebih tersedia, akan sangat penting untuk juga memiliki alat diagnostik yang akurat, agar dapat memastikan perawatan yang lebih tepat. Lebih dari 150 negara menggunakan Daftar Obat Esensial WHO untuk memeputuskan tentang obat yang harus disediakan dengan nilai terbaik (the best value for money), berdasarkan bukti yang ada dan dampaknya terhadap derajad kesehatan. Kedua daftar fokus pada kanker dan tantangan kesehatan global lainnya, dengan penekanan pada solusi yang efektif, prioritas cerdas, dan akses optimal untuk pasien. Dimasukkannya dalam daftar beberapa obat kanker terbaru dan tercanggih ini, adalah dukungan kuat bahwa setiap orang berhak mendapatkan akses kepada obat yang mampu menyelamatkan jiwa, bukan hanya dengan pertimbangan finansial saja..
baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/01/09/2019-biaya-uhc/
.
Daftar Obat Esensial yang diperbarui menambahkan 28 obat untuk pasien dewasa dan 23 untuk pasien anak dan menentukan penggunaan baru untuk 26 obat yang sudah terdaftar, menjadikan totalnya menjadi 460 obat yang dianggap penting, untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat yang utama. Meskipun angka ini mungkin tampak besar, tetapi itu hanya sebagian kecil dari jumlah obat yang tersedia di pasaran. Dengan memfokuskan pilihan obat, sebenarnya kita semua menekankan manfaat untuk pasien dan pengeluaran yang bijaksana, dengan tujuan membantu negara memprioritaskan dan mencapai UHC.
.
baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/06/30/2019-capaian-uhc/
.
Ke-12 obat yang ditambahkan untuk terapi 5 jenis kanker dianggap sebagai yang terbaik, dalam hal kemampuannya memperpanjang kelangsungan hidup pasien, yaitu obat untuk kanker kulit melanoma, paru-paru, prostat, multiple myeloma dan leukemia. Terdapat 2 jenis obat imunoterapi (nivolumab dan pembrolizumab) yang telah memberikan tingkat kelangsungan hidup hingga 50%, untuk kanker kulit melanoma stadium lanjut, kanker yang sampai saat ini tidak dapat disembuhkan.
.
baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/09/13/2018-tahap-menuju-uhc/
.
Komite Obat Esensial WHO telah memperkuat saran tentang penggunaan antibiotik dengan memperbarui kategori waspada, yaitu antibiotik yang boleh digunakan pada infeksi paling umum dan serius, guna mencapai hasil pengobatan yang lebih baik, dan mengurangi risiko terjadinya resistensi antimikroba. Komite merekomendasikan agar tiga antibiotik baru untuk pengobatan infeksi multi-obat, ditambahkan dalam daftar ini.
.
Obat pengencer darah atau antikoagulan oral baru, telah dimasukkan dalam daftar untuk mencegah stroke sebagai alternatif obat warfarin, juga untuk pengobatan fibrilasi atrium jantung dan pengobatan trombosis vena dalam. Penambahan ini terutama menguntungkan bagi negara berpenghasilan rendah, karena tidak seperti warfarin, obat tersebut tidak memerlukan pemantauan rutin. Obat carbetocin yang stabil terhadap panas dapat digunakan untuk pencegahan perdarahan pada ibu setelah melahirkan atau postpartum. Obat baru ini memiliki efek yang mirip dengan oksitosin, yang merupakan terapi standar saat ini, tetapi memberikan keuntungan bagi negara tropis, karena tidak memerlukan sistem pendinginan dalam penyimpanannya.
.
Tidak semua usulan diterima dan masuk dalam daftar. Misalnya, obat untuk multiple sclerosis yang diajukan untuk dimasukkan, ternyata tidak diterima. Penyebabnya karena beberapa pilihan terapi yang telah digunakan di banyak negara, justru tidak dimasukkan dalam usulan pengajuan. Komite juga tidak merekomendasikan usulan methylphenidate, obat untuk anak dengan gangguan konsentrasi atau ‘Attention Deficit Hyperactivity Disorder’ (ADHD), karena komite menemukan ketidakpastian dalam perkiraan manfaat obat.
.
baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/02/23/2019-mencegah-kanker-serviks/
.
Daftar Parasat Diagnostik Esensial pertama yang diterbitkan pada tahun 2018, berkonsentrasi pada sejumlah penyakit infeksi prioritas, yaitu HIV, malaria, tuberkulosis, dan hepatitis. Daftar tahun 2019 ini telah diperluas untuk mencakup lebih banyak penyakit tidak menular, termasuk kanker. Mengingat betapa pentingnya penegakan diagnosis kanker dini, yaitu sekitar 70% kematian akibat kanker terjadi karena pasien terlambat didiagnosis, maka WHO menambahkan 12 alat pemeriksaan ke Daftar Alat Diagnostik Baru tahun 2019 ini, untuk mendeteksi tumor padat seperti kanker usus atau kolorektal, hati, leher rahim atau serviks, prostat, payudara, serta kanker non padat termasuk leukemia dan limfoma.
.
baca juga :https://dokterwikan.wordpress.com/2019/07/05/2019-regulasi-obat/
.
Parasat Diagnostik baru untuk penyakit menular, berfokus pada penyakit menular yang lazim di negara berpenghasilan rendah dan menengah seperti kolera, dan penyakit yang terabaikan seperti leishmaniasis, schistosomiasis, demam berdarah dengue, dan zika. Selain itu, juga alat diagnostik untuk influenza, khusus bagi masyarakat di mana tidak ada laboratorium klinik yang tersedia. Daftar alat diagnostik ini juga diperluas untuk mencakup pemeriksaan umum tambahan, seperti kadar zat besi (untuk anemia), kerusakan tiroid dan sel sabit, yaitu bentuk anemia yang diturunkan secara luas yang ada saat ini, khususnya di Afrika Sub-Sahara. Selain itu, juga pemeriksaan untuk skrining donor darah, agar layanan transfusi darah lebih aman.
.
baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/06/07/2019-hoaks-medis/
.
Dengan hanya menggunakan obat dalam Daftar Obat dan Alat Diagnostik Penting 2019 tersebut, sebenarnya kita semua telah memperioritaskan pada aspek manfaat bagi pasien dan pengeluaran anggaran yang bijaksana, untuk mencapai UHC. Di Indonesdia, UHC dicapai melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Apakah kita sudah bijak?
Sekian

Yogyakarta, 16 Juli 2019
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, dan Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161