Categories
anak antibiotika dokter Healthy Life Jalan-jalan UHC

2012 Melayang ke Jepang

MELAYANG ke JEPANG

fx. wikan indrarto dan b. sari prasetyati*)

Pada Rabu, 14 November 2012, kami berdua memulai petualangan di Jepang. Dari Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, Jakarta, kami naik pesawat milik maskapai All Nippon Airways (ANA) ‘a Star Alliance Member’, yaitu Boeing 767 ‘Dreamliner’ versi 300 dengan kode pesawat NH 0938. Kami harus menempuh jarak  5.844 km, dengan ketinggian 16 kaki, dan kecepatan 961 km/jam. Pesawat tercanggih keluaran Boeing tersebut meninggalkan Jakarta pk. 21.20 dan kami mendarat dalam dekapan udara dingin Bandara International Narita Tokyo, yaitu 50 C pada pk. 6.35 waktu setempat, waktu di Jepang setara WIT, hari Kamis, 15 November 2012. Lama penerbangan sekitar 7 jam, sangat melelahkan.

Di Bandara International Narita, sekitar 66 km di timur kota Metropolitan Tokyo, kami membeli kartu Suica (‘pre-paid card’) dengan harga minimal Y (yen) 1.500 untuk keperluan transaksi apapun. Diselingi kebingungan akan membeli kartu Posmo (‘pre-paid card’ juga) yang lebih mudah kami ingat namanya sejak dari Indonesia, tetapi ternyata fasilitasnya belum seluas Suica. Akhirnya kami dibantu seorang petugas layanan pelanggan yang baik hati, mendampingi pembelian card, dan bahkan mencarikan jadwal lanjutan kereta dari Narita, menuju lokasi acara.

JR Sobu Line di stasiun bandara International Narita menuju Tokyo

Suasana gerbong KA bandara yang bersih & rapi

Pada tahun 1872, jalan kereta api yang pertama di Jepang dibangun antara Yokohama dengan Shinagawa dan Shimbashi di Tokyo. Jaringan transportasi kereta api di Jepang, merupakan jaringan terpadat, tersibuk dan terrumit di dunia. Selain kereta peluru Shinkansen yang dapat melaju sampai kecepatan 356 km/jam, juga ada monorail yang melayang dan subway (underground) yang melaju di terowongan bawah tanah. Yang melaju di rel biasa (railways) addalah kereta api yang dioperasikan Japan Railway (JR) dan sempat kami lihat paling tidak ada 16 line (jalur), misalnya Tokaido, Sobu, Yakasuka, Shonan Sinjuku, Keihontohoku, Negishi, Yokohama, Nanbu, Tokyu Toyoko, Minatomirai, Keihin Kyoku, Metro Asakusa, Yamanote, Chuo, Keiyo, dan Keisei.  Berdasarkan laju kereta dan stasiun yang disinggahi, jaringan kereta JR terbagi menjadi ‘local,express, limited express, rapid, commuter express, and limited express. Para calon penumpang haruslah juga memperhatikan jenis kereta, agar dapat sampai ke tempat tujuan tanpa kesulitan.

Pertama-tama kami dianjurkan menambah deposit dalam card, karena perjalanan kami ke Yokohama total perlu tiket seharga Y 1850. Setelah itu kami diantar untuk mencari kereta JR Sobu Line pada track 1 yang berangkat pk. 08.37 menuju Chiba. Kami melewati Stasiun Terminal 2 Bandara Narita, Stasiun Kota Narita, Shisui, Sakura, Monoi, Yatsukaido, Tsuga, dan Higashi-Chiba. Kami sempat salah turun dan binung sejenak, karena seharusnya turun di Chiba, bukan Higashi-Chiba. Akhirnya kami naik kereta berikutnya dan sampai di Chiba, sebuah ‘interchange station kecil’, pada track 9 pk. 9.24, untuk ganti kereta JR Yokosuka Line pada track 8 pk. 9.55, menuju stasiun Shinagawa. Kami melewati stasiun Inage, Tsudanuma, Funabashi, Ichikawa, Shin Koiwa, Kinshicho, Bakurocho, Shin-Nihombashi, Tokyo, dan Shimbashi.

Di Stasiun Shinagawa yang merupakan ‘interchange station’ cukup besar yang cukup padat manusia, kami berganti kereta ke JR Keihin-Tohoku Line menuju stasiun Tsurumi di track 4. Kami melewati stasiun Oimachi, Omori, Kamata, dan Kawasaki. Perjalanan kami percepat karena keterbatasan waktu, sehingga kami tidak berani naik bis, tetapi kami lanjutkan dengan naik taxi dari East Exit Tsurumi Station, berupa Toyota Comfort dengan sopir seorang pensiunan bertarif Y 1.600. Kami harus bertanya terlebih dahulu kepada polisi lalu lintas dan memintanya menuliskan dalam ejaan Kanji, alamat lokasi pertemuan yang dituju, karena sopir taxi di Jepang pada umumnya tidak mampu berbahasa Inggris dan membaca huruf Latin.

Kami merupakan 1 dari 97 peserta yang mengikuti ‘Patients and Medicine Forum: exploring solutions for personalized medicine’ di Koryuto-hall Omics Science Center (OSC), RIKEN Yokohama Institute, 1-7-22 Suehiro-cho, Tsurumi-ku, Yokohama City, Jepang. Kami terlambat hadir untuk mengikuti kuliah Direktur Pusat Penyakit Respirologi Universitas Kota Yokohama Prof. Takeshi Kaneko, MD, PhD dengan judul ‘How Personalized Medicine Has Proceeded’, tetapi sempat mengikuti paparan Prof. Anders Rane, MD PhD dari Karolinska Institute Swedia, dengan judul ‘Genetic in dose tailoring and diagnostics-two examples’. Diselingi makan siang bertarif Y 500 yang kami bayar dengan Suica card, kemudian pada sesi poster dibahas 3 penelitian. Penelitian Herbers, et al., tentang deteksi mutasi gen menggunakan ECHO (Exciton-Controlloed Hybridization Oligonucleotide), Camou, et al., tentang teknik pemeriksaan gula darah yang ‘non invasive and continous’, dan penelitian kami sendiri tentang dukungan sosial dokter untuk orangtua anak asma.

Di gerbang RIKEN Yokohama Science Center

Poster hasil penelitian

Kuliah siang oleh Michiaki Kubo MD PhD, direktur Center fot Genomic Medicine (CGM) Riken dengan judul ‘Genetic research toward personalized medicine’ dan Vincent Fusaro MD PhD, peneliti senior Laboratory for Personalized Medicine (LPM), Universitas Harvard, AS dengan judul ‘A system approach to designing pharmaco-genomic clinical trials’. Diteruskan pembahasan 3 poster penelitian. Penelitian Chena, et al., tentang biaya pertanggungan asuransi untuk SLE di Taiwan, Takahashi, et al., tentang desain molekuler dan strategi interaksi obat pada tumor otak ganas, dan Nakao, et al., tentang polimorfisme genetik dan dampak klinis melalui sintesa protein ABCG2 dalam retikulum endoplasma. Kami tidak dapat mengikuti kuliah terakhir hari pertama oleh Matthias Machacek MD PhD, Kepala Devisi Teknik Kesehatan Novartis AG di Swiss, tentang ‘Medical device for the measurement of visual function of patients with age-related macular degeneration’, karena kami harus segera ‘check in’ di hotel. Barang bawaan kami dari Indonesia, semua masih kami bawa ke ruang kuliah, karena belum sempat mampir ke hotel. Selesai acara kami dipesankan taxi oleh petugas Satpam dan menuliskan alamat hotelnya dalam huruf Kanji Jepang. Kami naik taxi Nissan Cedric Custom yang bersih dan lapang, dengan sopir seorang ibu setengah baya. Kami menginap di Hotel Central Plaza, Tsurumicho 4-5-13, Yokohama, 230-0051, bertarif Y8500 dengan 2 tempat tidur.

Setelah mengikuti kuliah di hari kedua oleh Edith Scallmeiner PhD dari Roche Diagnostics, Swiss tentang ‘Collaborative business models for Personalized Medicine’ dan Mime Egami, PhD tentang ‘Cell Sheet Engineering for Patients & Medical Innovation’, kami melanjutkan dengan jalan-jalan. Kami terpaksa tidak mengikuti sesi poster, berbagai usul dalam ‘white board’, dan diskusi kelompok, apalagi social event dan penutupan acara oleh Mr Yoshihide Hayashizaki, Direktur OSC, sebagai tuan rumah.

Dari Tsurumi Station kami menuju ke Yokohama Station, sebuah stasiun kota besar yang sangat padat penumpang.  Kami berganti kereta dan meneruskan ke Sakuragicho Station. Perjalanan menyusuri kota tua Yokohama kami lanjutkan dengan berjalan kaki, melalui trotoar yang lebar, halus dan rapi, dalam dekapan suhu dingin 60C, meski sinar matahari terang menyilaukan mata, tetapi tidak mampu mengusir dinginnya udara.

Gerbang Yokohama City University

Santai berdua di antara kesibukan penumpangg di Stasiun KA bawah tanah di Yokohama

Yokohama adalah ibu kota Prefektur Kanagawa, Jepang. Kota ini terletak di wilayah Kanto, Pulau Honshu. Yokohama dihuni 3,6 juta penduduk dan merupakan kota terbesar nomor dua di Jepang setelah Tokyo. Luasnya 437,38 km². Populasi (data 1 Februari 2007) 3.606.902 jiwa. Kota ini merupakan kota pelabuhan yang berkembang pesat setelah Jepang membuka diri dari politik isolasi di akhir abad ke-19. Pelabuhan Yokohama merupakan pelabuhan utama di Jepang, bersama-sama dengan pelabuhan lain di kota Kobe, Osaka, Nagoya, Hakata, Tokyo and Chiba.

Di awal abad ke-20, pelabuhan Yokohama berubah menjadi pelabuhan industri bersamaan dengan pengembangan Kawasan Industri Keihin. Pelabuhan Yokohama berubah sebagai pintu masuk impor besi baja, mesin-mesin, dan minyak bumi. Pada 1 September 1923, sebagian kota Yokohama hancur akibat Gempa bumi besar Kanto dan penduduk yang tewas berjumlah 23 ribu orang. Di zaman sekarang, Pelabuhan Yokohama berfungsi sebagai pelabuhan kontainer dan salah satu dari berbagai pelabuhan di Jepang yang melayani arus ekspor impor.

Yokohama terletak di bagian sebelah barat Teluk Tokyo. Letaknya hanya 30 km dari Tokyo dan dihubungkan dengan berbagai jalur kereta api, jalan-jalan bebas hambatan, dan jalan raya yang melewati kota Kawasaki. Yokohama tidak hanya kaya dengan sejarah masa lalu, tapi juga siap menghadapi abad 21. Untuk menghadapi tantangan di masa depan dalam pengembangan Yokohama sebagai kota bisnis, dibangun proyek Minato Mirai 21 (MM21), sebagai kota baru di sepanjang area pelabuhan. MM21 akan menjadi kota informasi, sejalan dengan aktifnya arus budaya informasi dan perkembangan ekonomi. Kota ini berusaha menjadi pusat dari perusahaan-perusahaan besar, serta pusat riset dan teknologi.

Perjalanan sekitar 7,2 km dengan jalan kaki, dimulai dari Moving Walkway ke Landmark Tower Minotamirai 21 dan Kanagawa Prefectural Museum of Cultural History. Tower setinggi 296 m tersebut menjadi simbol Yokohama yang dilengkapi ruang pandang (observatory) di lantai 69. Kami hanya melihat dari kejauhan Yokohama Cosmoworld, yang dilengkapi roda putar terbesar di dunia, yaitu berdiameter 112,5 m dan dapat dinaiki 480 penumpang dewasa, dengan roller coaster dan seluncuran air. Kemudian NYK Maritime Museum, menyeberang Bankokubashi Bridge tempat favorit untuk mengambil foto lansekap Yokohama. Lanjut ke Yokohama Red Brick Warehouse (Aka-Renga Soko) yang merupakan 2 buah gedung bangunan pergudangan jaman Meiji dan Taisho yang berdinding bata merah. Saat ini gedung pertama digunakan untuk ruang konser musik, pameran dan kuliah umum, sedangkan gedung kedua digunakan untuk bar, restoran dan toko oleh 50 penyewa. Di sampingnya ada Zou-no-hana Park, tempat yang cocok untuk duduk bersantai, luas dan indah untuk berfoto dengan kapal pesiar yang bersandar di dermaga.

Landmark Tower MM21 dan Cosmoworld Yokohama dengan roda putar sangat besar

Kanagawa Prefectural Museum of Cultural History

Wilayah yang sekarang menjadi kota Yokohama mulai berkembang sejak abad ke-13 di zaman Keshogunan Kamakura. Di sepanjang aliran Sungai Tsurumi dan Sungai Kashio merupakan daerah pertanian, dan daerah pantai Teluk Tokyo berkembang sebagai desa nelayan. Di abad ke-17, sewaktu Keshogunan Edo menjadikan Edo sebagai ibu kota Jepang, Yokohama menjadi kota transit di jalur Tokaidō. Pada waktu itu terdapat rumah-rumah penginapan di tempat perhentian yang disebut Kanagawa-juku, Hodogaya-juku, dan Totsuka-juku. Tempat perhentian yang paling ramai adalah Kanagawa-juku karena dekat dengan Pelabuhan Kanagawa, yang sibuk dengan lalu lintas kapal dan barang di Teluk Edo.

Nama “Yokohama” sebagai sebuah kota, berasal dari nama desa nelayan bernama desa Yokohama (Yokohama-mura) yang terletak di Distrik Kuraki, Provinsi Musashi. Hingga di akhir zaman Edo, desa Yokohama adalah desa kecil di atas sebuah delta sungai yang penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan. Kedatangan Komodor Matthew Perry di Jepang mengubah nasib desa kecil Yokohama. Komodor Matthew Perry tiba di selatan Yokohama bersama armada kapal perang Amerika Serikat dan meminta Jepang membuka beberapa pelabuhan untuk perdagangan. Pada tahun 1854, Komodor Matthew Perry menggunakan Persetujuan Kanagawa untuk memaksa Jepang membuka pelabuhan di Shimoda dan Hakodate kepada Amerika Serikat dan mengakhiri kebijakan tertutup Jepang yang telah berlangsung 200 tahun. Selanjutnya berdasarkan Treaty of Amity and Commerce pada tahun 1858, Pelabuhan Yokohama dibuka untuk kapal-kapal AS.

NYK Maritime Museum

Yokohama Red Brick Warehouse (Aka-Renga Soko)

Pada mulanya, kota perhentian Kanagawa-juku (sekarang disebut Kanagawa-ku) ingin dijadikan salah satu pelabuhan untuk kapal asing, namun letak Kanagawa-juku dianggap pemerintah terlalu dekat dengan jalur utama Tōkaidō yang strategis. Sebagai gantinya, berbagai fasilitas pelabuhan dibangun di desa Yokohama yang waktu itu masih berupa desa nelayan yang sepi. Pada 1 Juli 1859, Pelabuhan Yokohama diresmikan sebagai pelabuhan yang terbuka bagi perdagangan dengan negara Barat.

Selanjutnya kami menyaksikan Yokohama Costums (Tower of Queen), Kanagawa Prefectural Goverment (Tower of King) dan Port Opening Memorial Hall (Tower of Jack), ketiga bangunan tinggi tersebut saling berdekatan, diberi nama yang unik dan merupakan arsitekktur abad 16 yang masih digunakan sampai sekarang. Setelah melewati Bank of Japan, kami memasuki Yokohama Park, sebuah taman kota yang rindang dan dilengkapi dengan Yokohama Baseball Stadium, yang merupakan markas Yokohama Baystars, sebuah klub profesional American Football yang cukup terkenal. Di sampingnya ada Genbuman Gate yang kami masuki untuk mulai belanja cinderamata ke China Square di tengah China Town. Setelah ditutup makan siang ‘sepiring berdua’ nasi goreng udang seharga Y 1350 di sebuah rumah makan Cina, kami melanjutkan perjalanan kaki menyeberang di bawah Metropolitan Expressway, terus melompati jembatan Nishinohashi, sampai ke gerbang Motomachi, sebauh kompleks belanja elite bercitarasa barat, untuk para ekspatriat sejak jaman dahulu.

Zou-no-hana Park dengan kapal pesiaryang sedang bersandar

Yokohama Costums (Tower of Queen)

Pelabuhan Yokohama langsung menjadi basis perdagangan luar negeri di Jepang. Surat kabar berbahasa Inggris pertama di Jepang, Japan Herald terbit pertama kali pada tahun 1861. Pusat pembangkit tenaga listrik berbahan bakar batu bara dibangun pertama kali di Yokohama oleh saudagar Inggris bernama Samuel Cocking pada tahun 1887. Pembangkit tenaga listrik ini mulanya dibangun untuk memenuhi keperluan sendiri, tapi nantinya berkembang sebagai perusahaan listrik kota Yokohama. Yokohama sebagai sebuah kota didirikan secara resmi pada 1 April 1889. Sesudah penghapusan lokasi permukiman orang asing pada tahun 1899, Yokohama berkembang sebagai kota internasional pertama di Jepang. Kawasan yang ditinggali orang asing meluas dari kawasan Kannai hingga ke Yamate, dan kawasan Pecinan Yokohama. Pelabuhan ini sekaligus merupakan pintu masuk bagi pengaruh kebudayaan Barat di Jepang, termasuk surat kabar harian (1870) dan lampu penerangan jalan berbahan bakar gas (1872).

Kami menyusuri terowongan di bawah sebuah bukit sejauh 1,2 km, yang disebut bukit Yamate. Di ujung terowongan kami mendaki bukit untuk masuk ke Yamate Park dan Museum of Tennis. Yamete Park adalah taman bergaya Eropa pertama yang dibangun di Jepang oleh para pemukim barat saat Meiji 3 tahun 1870. Museum of Tennis merupakan bangunan untuk memperingati 120 tahun permainan tenis lapangan di Jepang. Permainan tenis lapangan pertama di Jepang dilakukan saat Meiji 9 tahun 1876. Setelah melihat kayu dan bambu kuno sebagai bahan raket tenis kuno, kami melanjutkan perjalanan ke sebuah gereja Katolik, untuk berdoa dan mengucap syukur.

Port Opening Memorial Hall (Tower of Jack) berwarna merah

Terowongan ke Yamate Park dan Museum of Tennis di Yokohama.

Santo Fransiscus Xaverius, seorang pastor ordo Serikat Jesus dari Spanyol, adalah misionaris Katolik pertama yang datang ke Jepang pada tahun 1549 dan meninggal di sana tahun 1579, setelah membatis 130.000 orang Jepang menjadi Katolik. Pada periode 1553-1620 telah dibaptis sebanyak 80 daimyo (setingkat bupati), bahkan Oda Nobunsa adalah Shogun (penguasa militer) pertama yang menjadi Katolik. Pada tahun 1587 Toyotomi Hideyoshi adalah Shogun yang melarang penyebaran agama Katolik dan mengusir semua misionaris Eropa, sampai saat Tokugawa menjadi Shogun yang mengijinkan kembali misionaris Perancis. Para pastor dari ordo MEP (Paris Foreign Mission Sociaety) pada tahun 1862 membangun gereja Katolik pertama di Jepang setelah masa isolasi, di Bayamashita-cho, yang sekarang digunakan sebagai Marine Yokohama Tower. Pada tahun 1906 gereja direlokasi ke daerah perbukitan dan dibangun dalam gaya arsitektur Gothick. Pada tahun 1923 gereja tersebut hancur karena gempa bumi Kanto yang sangat hebat, menewaskan 23.000 penduduk, dan pada 23 November 1923 dipugar total menjadi sangat indah, berdasarkan pemikiran arsitek Czech ternama Mr Jan Jaset Svager, sebagaimana dapat dinikmati sampai sekarang. Di samping gereja terdapat patung Bunda Maria yang dikirim dari Perancis pada awal Juli 1933. Gereja Katedral Hati Kudus tersebut, dikenal sebagai Gereja Katolik Yamate.

Dari gereja kami turun ke Motomachi lagi dan membeli beberapa kertas Jepang. Setelah itu, kami naik bis 101 ke stasiun Sakuragicho. Bis Hino mesin belakang yang suspensinya empuk, kami naiki dengan mesin pemindai Suica card tegak di dekat sopir, yang bekerja mandiri dengan mikrofon kecil di depan mulut yang terkoneksi bluetooth ke HP di pinggang. Bis bertransmisi manual tersebut, dapat dimiringkan ke kiri, saat penumpang naik ataupun turun, dilengkapi penghangat ruangan untuk melawan dingin udara luar, dan selalu dimatikan mesinnya saat lampu merah menyala. Kami turun di dekat west exit stasiun Sakuragicho dan setelah menambah deposit Suica card sebanyak Y 1000 di mesin tiket elektrik, kami meneruskan perjalanan pulang dengan JR Keihin-Touhoku Line menuju Tsurumi Station.

Gereja Katedral Hati Kudus Yokohama, dikenal sebagai Gereja Katolik Yamate.

Patung Bunda Maria dari Perancis pada awal Juli 1933 di Gereja Katedral Hati Kudus Yokohama

Malam ini kami tertidur dengan kelelahan, kedinginan dan kekenyangan. Kelalahan karena menempuh rute Yokohama Sightseeing  sejauh 9,2 km dengan berjalan kaki tanpa keringat setetespun. Kedinginan karena suhu udara berkisar 3-90C dan kekenyangan karena makan mie instan aseli Jepang bercampur irisan berbagai sayuran, ditambah paha ayam goreng, pisang dan jeruk di toko dekat hotel yang kami beli seharga Y515. Yang sangat berkesan juga adalah kebersihan kota juga public area yang sangat luar biasa, tempat sampah dengan pemisahan sampah basah, kering dan plastik yang sangat rapi dan tertutup dengan mudah ditemukan.

Semua itu tentu didukung dengan kesadaran akan kebersihan dan kerapian dari seganap warga kotanya.

Setelah acara ‘Patients and Medicine Forum: exploring solutions for personalized medicine’ yang diadakan di Koryuto-hall Omics Science Center (OSC), RIKEN Yokohama Institute, 1-7-22 Suehiro-cho, Tsurumi-ku, Yokohama City, Jepang ditutup Jumat, 16 November 2012, kami memiliki 1 hari penuh untuk berlibur di Yokohama dan Tokyo. Perjalanan liburan ini kami mulai dari Stasiun Tsurumi ‘west entrance’ dan kami menggunakan JR Keihin Tohoku Line ke stasiun Higashi-Kanagawa, yang merupakan ‘local train’ dengan pita warna biru Ben Hur sebagai penanda gerbongnya. Sayang sekali, kami salah masuk kereta yang menuju ke arah Stasiun Omiya, kebalikan dengan tujuan kami ke arah Stasiun Ofuna, yang salah terbaca karena tulisan dan bunyinya sangat mirip. Kami turun di Stasiun Omori dan harus pindah ke kerata yang berlawanan arah, melewati Stasiun Kamata, Kawasaki, Tsurumi, Shin-Koyasi dan turun di Higashi-Kanagawa, untuk berganti ke JR Yokohama Line.

Kami naik JR Yokohama Line warna hijau muda sebagai penanda gerbong, menuju ke stasiun Hachioji melewati Oguchi, Kikuna sampai di Shin Yokohama. Kereta ini memiliki rangkaian gerbong yang sepertinya paling tua dibandingkan JR Line lainnya, serupa dengan KRL Jakarta-Bogor hibah dari JR. Gerbongnya tidak dilengkapi monitor informasi stasiun pemberhentian, hanya memiliki fasilitas pemberitahuan lisan dalam Bahasa Jepang, tanpa terjemahan dalam Bahasa Inggris, seperti gerbong JR Line lainnya yang telah biasa kami gunakan sebelumnya. Kami keluar di ‘north exit’ Stasiun Yokohama Baru atau Shin Yokohama yang megah, artistik dan modern. Selanjutnya kami menyusuri Rengadori Street, Stadium dori, dan Hamatori-bashi Bridge sejauh 870 m, untuk menuju ke Nissan Stadium. Stadion sepakbola ini adalah yang terbesar di Jepang dan dapat menampung 70.000 orang penonton. Babak final antara kesebelasan Brasil melawan Perancis dalam World Cup (Piala Dunia Sepak Bola FIFA) tahun 2002 dimainkan di stadion tersebut.

Nissan Stadium di Yokohama yang besar dan gagah

Bunga kuning Nissan Stadium di Yokohama bertulisakan World Cup 2002

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan dari Stasiun Shin Yokohama dengan JR Yokohama Line track 5 ke Stasiun Ofuna, untuk turun di Stasiun Higashi Kanagawa, dan berganti dengan JR Negishi Line untuk menuju ke Stasiun Yokohama. Di stasiun yang padat penumpang tersebut, kami berganti lagi dengan JR Keihin-Tohoku Line yang menuju ke Stasiun Omiya, melewati stasiun Higashi Kanagawa, Shin Koyasu, Tsurumi, Kawasaki, Kamata, Omori, Oimachi, Shinagwa, Tamachi, Hammamatsucho, Shimbashi, Yurakucho, kemudian kami turun di stasiun Tokyo.

Tokyo secara harafiah berarti “ibu kota timur” dalam bahasa Jepang, arti yang berlawanan dengan ibu kota lama di barat, Kyoto, yang dinamakan “saikyo”, berarti “ibu kota barat” untuk jangka waktu yang pendek pada abad ke-19. Hingga tahun 1870-an, Tokyo bernama “Edo”. Ketika pusat kekaisaran berpindah dari Kyoto ke Edo, namanya pun diganti. Tokyo  sekarang adalah ibu kota Jepang sekaligus daerah terpadat di Jepang, serta daerah metropolitan terbesar di dunia berdasarkan jumlah penduduknya. Sekitar 12 juta orang tinggal di kota Tokyo, dan ratusan ribu lainnya berpulang pergi setiap hari dari daerah sekitarnya, untuk bekerja dan berbisnis di Tokyo. Tokyo adalah pusat politik, ekonomi, budaya dan akademis di Jepang serta tempat tinggal kaisar Jepang dan pusat pemerintahan negara, dan sekaligus merupakan pusat bisnis dan finansial utama untuk seluruh Asia Timur.

Tokyo mempunyai jauh lebih sedikit gedung pencakar langit dibandingkan dengan kota lain yang seukurannya, karena peraturan konstruksi untuk menghadapi bencana gempa bumi yang cukup sering terjadi. Bangunan di Tokyo kebanyakan terdiri dari apartemen tingkat rendah (6 hingga 10 lantai) dan rumah keluarga yang sempit. Tokyo juga merupakan lokasi sistem transportasi massal paling kompleks di dunia, dan terkenal akan jam-jam sibuknya yang padat.

Di stasiun besar Kota Megapolitan Tokyo tersebut, kami menyaksikan lebih banyak lagi para penumpang dibandingkan di stasiun manapun, yang hari sebelumnya kami lihat. Para penumpang berpakaian rapi, lengkap, dan membawa payung yang sebagian besar terbuat dari bahan plastik transparan, karena hanya untuk melindungi diri terhadap air hujan, bukan panas sinar matahari. Semuanya bergegas, diam, dan tidak ada yang gemuk (obesitas) karena aktif bergerak. Pada Oktober 2007, diperkirakan 12,79 juta orang tinggal di Tokyo, dengan 8,653 juta hidup dalam 23 distrik Tokyo. Saat siang hari, jumlah penduduk bertambah hampir 2,5 juta karena karyawan dan siswa pergi pulang dari wilayah pinggiran. Menurut data tahun 2005, bangsa-bangsa asing yang paling banyak ditemui di Tokyo adalah orang Cina (123.661), Korea Selatan (106.697), Korea Utara (62.000), Filipina (31.077), Amerika Serikat (18.848), Inggris (7.696), Brasil (5.300), dan Perancis (3.000).

Kami mencari kantor Touris Information Center, meminta ‘city map’ berwarna, dan brosur wisata, kemudian ke ‘Foreign Exchange Counter’ untuk membeli Yen lagi, karena keterbatasan Yen yang kami bawa di Indonesia. Semua prosesnya mudah, karena informasinya lengkap, mudah terbaca dan gampang dijangkau. Tokyo yang modern, sebenarnya berasal dari sebuah desa perikanan kecil yang bernama Edo. Pada tahun 1457, Ota Dōkan membangun Istana Edo dan pada tahun 1590, Tokugawa Ieyasu berbasis di Edo, dan setelah menjadi shogun (panglima militer) pada tahun 1603, kota ini menjadi pusat administrasi tentaranya untuk seluruh negara. Pada zaman Edo, Edo menjadi salah satu kota terbesar di dunia dengan jumlah penduduk mencapai sejuta orang menjelang abad ke-18. Edo menjadi ibukota de facto di Jepang meskipun pada saat itu kaisar tinggal di Kyoto, ibu kota kerajaan. Setelah sekitar 263 tahun, pemerintah shogun digulingkan di bawah bendera pemulihan pemerintahan kaisar. Pada tahun 1869, ketika Kaisar Meiji pindah ke Edo pada usia 17 tahun, Tokyo sudah menjadi pusat politik dan kebudayaan negara, kemudian dijadikan ibu kota kerajaan secara de facto oleh istana sementara bekas Istana Edo menjadi Istana Kerajaan. 

Kaminarimon Gate Tokyo, terletak di sebelah luar kompleks Sensoji Temple

Hozomon Gate Tokyo, terletak di sebelah dalam kompleks Sensoji Temple

Sayangnya, Tokyo mengalami dua bencana hebat pada abad ke-20, tetapi untungnya kota ini dapat pulih dari keduanya. Salah satunya adalah gempa bumi Kantō pada tahun 1923 yang menyebabkan 140.000 penduduk tewas atau hilang, dan yang kedua adalah Perang Dunia II, ketika Tokyo dibom bertubi-tubi pada tahun 1944 dan 1945, menyebabkan 75.000 hingga 200.000 orang tewas dan separuh kota hancur. Setelah perang, Tokyo dibangun kembali, dan berkilauan di mata dunia ketika Olimpiade Musim Panas tahun 1964 diadakan di kota ini. Pada dekade 1970-an terjadi pembangunan banyak gedung pencakar langit seperti Sunshine 60, konstruksi bandara baru yang kontroversial di Narita (yang agak jauh dari perbatasan kota) pada tahun 1978, dan peningkatan jumlah penduduk hingga sekitar 11 juta (dalam lingkungan wilayah metropolitan).

Dari Stasiun kota Tokyo inilah kami merencanakan melihat area Asakusa dan Aidaba yang terjangkau dalam wisata nekat selama sekitar 6 jam. Pertama-tama kami menggunakan JR Yamanote Line menuju Stasiun Ueno, melewati Stasiun Kanda, Akihabara, dan Okachimachi, turun di Ueno. Kemudian kami berganti dengan subway (kereta api bawah tanah) yang dioperasikan oleh Tokyo Metro dan berlambang huruf M melingkar berwarna biru. Kami naik Ginza Line yang berlambang lingkaran oranye, mungkin  karena berjalan melewati terowongan yang bulat. Kami melewati stasiun Inaricho, Tawamarichi dan turun di stasiun Asakusa. Setelah turun, kami masuk ke areal Nakamise Shopping Street, yaitu areal pedagang cinderamata khas Jepang. Pasar tumpah tersebut dimulai dari gerbang luar warna merah bata kuil Asakusa Jinja yang disebut Kaminarimon (Gerbang Dewa Petir), memanjang sejauh 250 m sampai gerbang dalam kuil yang disebut Hozomon. Kios yang ada berjumlah 90 buah, yang menjual berbagai cinderamata khas Jepang sejak jaman Edo.

Sensoji Tempel Tokyo penuh bau dupa, suasana magis dan peziarah yang berdoa

Hozomon Gate Tokyo, dengan lantern atau lampion merah menyala

Sayang sekali, hujan lebat mengguyur areal yang padat turis tersebut dan membuat udara semakin dingin. Kami isi dengan makan siang menu lokal yang kami tidak tahu namanya. Kami pesan dengan menunjuk fotonya di daftar menu. Setelah badan kenyang, rasanya hangat dan hujan mulai reda, kami sempatkan masuk ke Sensoji Tempel, semacam kuil Buddha, yang terletak di depan Kuil Asakusajinja. Sensoji dibangun tahun 628 dan memberikan gambaran budaya Jepang tempo dulu, suasana nostalgia dan kemegahan masa lalu. Ketenaran Sensoji Tempel ini menarik minat sekitar 30 juta peziarah dari Jepang dan luar negeri, untuk datang ke sana setiap tahun. Banyak peristiwa musiman yang diadakan di sini, misalnya Ichi Hozuki (Pameran Lantern semacam lampion di Cina) dan Hago-ita Ichi (Fair Battledore). Lampion besar tergantung di gerbang Kaminarimon diakui secara internasional sebagai simbol dari Kuil Sensoji. Bau dupa sangat menyengat, disertai ucapan doa para peziarah, berbaur dengan kilatan blitz para pelancong dan kucuran air hujan yang kembali turun. Untung kami sempat mengambil foto Sensoji Temple dan Hozomon Gate, juga membeli berbagai cinderamata, termasuk yang kami cari-cari, bendera nasional Jepang untuk dipasang di meja praktek.

Dari gerbang Kaminarimon, kami sempatkan mengambil foto Asahi Breweries dan Tokyo Skytree, sebelum hujan lebat kembali turun. Kedua area yang sangat modern ini begitu kontras dengan area Asakusa yang tradisional. Oleh karena keduanya menyatu padu, tentu menjadi sebuah perimbangan budaya masa lalu dan mendatang, yang rasanya hanya ada di Jepang. Asahi Breweries adalah lambang sebuah gedung berbagai restoran terkenal yang berbentuk gelas bir dan wortel emas yang tergeletak di atapnya.

Tokyo Skytree yang menjulang tinggi dan nampak dari kejauhan

Asahi Breweries Tokyo sebuah gedung berbentuk gelas bir dan wortel emas di atapnya.

Tokyo Skytree adalah simbol baru kota Tokyo, sejak 22 Mei 2012 yang lalu, kabarnya telah dikunjungi 1,6 juta orang pengunjung pada minggu pertama setelah pembukaannya. Menara ini juga merupakan bangunan tertinggi di dunia kedua, setelah Burj Khalifa di Dubai, dan berhasil melampaui menara tertinggi di dunia sebelumnya, yaitu Canton Tower. Walaupun fungsi utama dari menara ini adalah menyiarkan sinyal televisi dan radio, Menara Skytree merupakan salah satu objek wisata paling banyak dikunjungi di Tokyo, yang dikenal sebagai ‘Musashi’, sebuah nama masa lalu yang begitu tenar di seantero negeri. Menara yang dirancang memiliki tinggi 634 m (6=mu, 3=sa dan 4=shi) dan tercatat dalam Guiness World Record sebagai menara tertinggi di dunia. Tokyo Skytree memiliki bentuk seperti tripod pada bagian bawah, sementara setelah ketinggian 350 meter bentuknya menjadi silinder. Pada Tokyo Skytree Tembo Deck dalam ketinggian 350 m, terdapat berbagai restoran, cafe, dan ruang pandang pertama. Sedangkan pada Tembo Galleria dalam ketinggian 450, merupakan ruang pandang kedua untuk para pengunjung ke seluruh wilayah Tokyo. Lantai 45 dan 44 pada menara tersebut terbuat dari kaca tembus pandang dan disebut skywalk area, sehingga semua pengunjung dapat melihat lansekap kota Tokyo, terutama distrik Kanto, bahkan puncak Gunung Fuji yang legendaris.

Setelah tidak mungkin melakukan hal lain lagi karena hujan lebat turun dan angin dingin sekitar 110C kembali bertiup, kami putuskan untuk pulang dengan Metro Tokyo Ginza Line ke Stasiun Shibuya, melewati Stasiun Tawaramachi, Inaricho, Ueno, Okachimachi, Shoehirocho, Kanda, Shin-Nihombashi, Mithsukoshima, Nihombashi, Kyobashi, Ginza-itchome, Ginza dan turun di Shimbashi. Kami berganti Shinkotsu Yurikamome Line yang berupa ‘monorel’ berlambang burung terbang warna putih di langit biru. Monorail berbeda dengan JR Line bukan sekedar relnya yang melayang di atas jalan setinggi bangunan 3 lantai, tetapi juga karena stasiunnya dilengkapi pintu kaca, dan adanya petugas pengawas berseragam oranye, di semua konter pintu elektrik setiap stasiun. Perjalanan kereta yang melayang memang sangat indah, karena melalui daerah perairan Teluk Tokyo.  Kami mencari yang menuju Toyosu, melewati stasiun Shiodome, Takeshiba, Hinode dan Shibaura-foto, terus menyeberangi Jembatan Pelangi, mampir di Stasiun Odaiba-Kaihoinkoen dan akhirnya turun di Stasiun Odaiba, dekat mal besar Odaiba Aqua City dengan biaya Y320/orang.

Rainbow Bridge Tokyo yang melengkung menghubungkan kawasan Odaiba dengan Shibaura sepanjang 918 m.

Miss Liberty Tokyo seperti yang tegak berdiri di New York USA

Patung Miss Liberty asli di New York USA yang kami kunjungi tahun 2018

Jaringan kereta bawah tanah dan komuter Tokyo, telah menjadi salah satu yang tersibuk di dunia, karena semakin banyak orang yang pindah ke wilayah Tokyo. Proyek reklamasi tanah di Tokyo juga berlanjut selama berabad-abad lamanya, terutama di wilayah Odaiba yang dijadikan daerah belanja dan hiburan utama. Oidaba itulah tujuan petualangan kami yang berikutnya. Kami menyeberangi jembatan tinggi, artistik dan fenomenal yang dinamakan Rainbow Bridge (pelangi). Jembatan tersebut menghubungkan Odaiba dengan Shibaura sepanjang 918 m. Pengunjung dapat menyeberang menggunakan berbagai cara, baik dengan sepeda, mobil, monorail, bahkan dapat pula hanya dengan berjalan kaki. Semuanya diakomodasikan dalam berbagai jalan, yang menyusuri jembatan tersebut secara rapi.

Selain itu juga ada patung Miss Liberty seperti yang tegak berdiri di New York dan kantor pusat Fuji TV. Kantor tersebut memiliki ruang pandang berbentuk bola dunia yang seolah menempel di atap dan dinding terluar. Patung Miss Liberty warna hijau tua tersebut, membelakangi Jembatan Pelangi, dan memegang buku bertuliskan Yuliet IV 1776-Juillet XVI 1786. Sayang sekali, hujan lebat, angin kencang dan udara dingin menyergap kami. Kami dan pengunjung lain harus menunggu dengan sabar, agar saat hujan mereda dapat mengambil foto panoramik keduanya secara leluasa. Kami putuskan segera pulang, setelah beberapa jepretan foto diakhiri hujan berulang dan mendung sangat tebal.

Sesampai di Stasiun Shimbashi, 2 buah kartu Suica, kami tambah deposit dengan Y2000, unt persiapan transportasi ke bandara Narita saat akan pulang besok pagi. Di mesin penambah deposit, satu kartu kami terdeteksi belum dipotong untuk tiket monorail, sehingga harus di-declair di konter petugas, dan membayarnya secara tunai. Setelah itu, kartu Suica kami baru dapat diaktifkan ulang untuk transaksi penambahan deposit. Sebuah pemindai digital yang sangat teliti. Luar biasa.

Dari Stasiun Shimbashi, kami berganti dengan JR Keihin-Tohoku Line yang rasanya merupakan rangkaian gerbong yang paling baru, modern dan lengkap, dibandingkan gerbong JR Line lainnya. Pada track 3 kami menunggu kereta yang menuju ke Stasiun Ofuna, untuk turun di Stasiun Tsurumi, stasiun yang paling dekat dengan hotel. Kami melewati Stasiun Hamamatsucho, Tamachi, Shinagawa, Oimachi, Omori, Kamata dan Kawasaki. Perjalanan dari stasiun Tsurumi ke hotel harus kami tempuh dengan berlari kecil, untuk menghindar hujan rintik dan tiupan angin musim dingin. Setelah sampai di hotel, kami mencoba melakukan check-in online dengan mengunjungi www.ana.co.jp/click. Perjalanan pulang dengan pesawat milik maskapai All Nippon Airways (ANA) ‘a Star Alliance Member’, yaitu Boeing 767 ‘Dreamliner’ versi 300 dengan kode pesawat NH 0937, telah kami daftarkan dan mendapatkan boarding pass yang kami print di kasir hotel tadi sore. Tertulis kursi kami no 37F dan 37G, tetapi boarding gatenya belum tercantum. Kedua kursi itu adalah kursi berdekatan yang masih tersisa, sebab hampir semua kursi telah dikode untuk penumpang lain, meskipun keberangkatan kami masih 15 jam kemudian. Ini juga hal yang luar biasa.

Kantor pusat Fuji TV Tokyo dengan ruang pandang berbentuk bola dunia

Trotoar di Tokyo yang bersih, rindang dan telah membuat kedua kaki pegal

Saat ini kami berdua mengalami loyo dari Tokyo, karena semua kaki terasa pegal, kepala berat dan badan meriang. Semuanya karena kelelahan yang sangat, kedinginan yang mencekam dan jalan kaki yang cukup jauh. Meskipun demikian, kepuasan tiada tara telah terjadi, atas semua petualangan, pengetahuan dan pengalaman baru di Yokohama dan Tokyo, yang akan kami bawa mimpi malam ini, sebelum besok pagi buta pulang ke Indonesia. Kami telah mencoba berjalan kaki, naik taxi, kereta lokal JR Line, subway, monorail dan bahkan bis kota, sementara besok akan naik skyliner, sebuah kereta layang cepat, dari Stasiun Nippori ke Bandara Internasional Narita.

Setelah sarapan seadanya di kamar 709 Central Plaza Hotel Yokohama, karena breakfast belum disediakan, kami check out dari hotel pada hari Minggu, 18 November 2012 pk. 5.35. Dalam dekapan angin pagi buta sekitar 6 derajad C, kami berjalan bergegas ke Stasiun Tsurumi, untuk naik JR Keihin-Tohoku Line menuju Omiya, karena berencana turun di stasiun Nippori (6 stasiun lagi di timur Tokyo), untuk berganti Skytrain ke Bandara International Narita. Bandara di dekat kota Narita tersebut terletak sekitar 66 km sebeluh timur Tokyo. Kami melewati stasiun Kawasaki, Kamata, Omori, Oimachi Shinagawa, Tamachi, Hamamatsucho, dan Yurakucho. Saat menjelang stasiun Tokyo, kami berhitung cepat bahwa harga tiket Skytrain dari Nippori ternyata terlalu mahal, yaitu Y2900, sehingga kami putuskan naik Rapid Service JR Line yang bertarif Y1280 dari Tokyo.

Kami putuskan turun di Tokyo dan keluar di Marunouchi North Exit, untuk mengambil foto gerbang stasiun Tokyo yang dibangun pada tahun 1914, dan arsitekturnya mengambil inspirasi dari Stasiun Amsterdam Central. Gerbang megah berwarna merah bata tersebut tetap dipertahankan bentuk dan fungsinya sampai sekarang, meskipun di dalamnya sudah berubah menjadi interchange station tersibuk di dunia, karena memadukan sekitar 12 rute kereta. Gerbang merah tersebut bahkan terawat sangat baik, dan menjadikannya lansekap kota Tokyo sejati, karena memiliki kombinasi sangat bagus dengan bangunan hotel dan perkantoran yang ultra modern, di sekitarnya. Kami sempatkan mengambil foto lansekap stasiun Tokyo dalam tiupan udara dingin dan pencahayaan matahari pagi yang belum terlalu cerah.

Tiang penanda Stasiun Tokyo dalam aksara Latin dan Kanji

Gerbang Stasiun Tokyo merah bata berdiri sejak tahun 1914 

Gerbang stasiun Tokyo yang dibangun pada tahun 1914, dan arsitekturnya mengambil inspirasi dari Stasiun Amsterdam Central di Belanda yang kami kunjungi tahun 2007.

Penampilan sebagian besar penumpang di Jepang saat musim dingin seperti ini, tetaplah rapi. Yang pria dewasa banyak yang berjas, gelap kemeja cerah, berdasi motif cerah dan ditutupi jas panjang sampai lutut yang sewarna. Yang perempuan juga berjaket tebal sementara yang muda mudi jauh lebih modis lagi. Sebagian besar menggunakan gadget keluaran terbaru, yang selalu dipegang, diaktifkan untuk game atau koneksi internet yang lain, dan juga sebagai pemutar musik dengan earphone dan headset yang sewarna. Sangat jarang ada orang yang berbicara, baik dengan teman seperjalanan, apalagi dengan sambungan handphone. Meskipun suasana stasiun dan gerbong padat penumpang, dengan demikian tetapi relatif senyap, karena perilaku tersebut.

Dengan menggunakan Rapid Service JR Sobu Line ke Bandara Narita, kami perlu 90 menit atau 30 menit lebih lambat dibanding kereta ekspress ataupun skytrain. Rapid Service itu dilengkapi dengan 15 gerbong berpita warna kombinasi biru tua dan muda, melaju di jalur underground track 3, dan berangkat dari Tokyo pada pk. 7.08. Kami melewati stasiun Shin-Nihombashi, Bakurocho, dan keluar di permukaan tanah menjelang Kinshicho. Setelah itu kami melewati stasiun Komeido, Shinkoiwa, dan berhenti cukup lama di stasiun Ichikawa. Kemudian melewati stasiun Funabashi, Tsudanuma, Inage, Chiba, Tsuga, Yatsukaido, Monoi, dan berhenti lagi cukup lama di stasiun Sakura. Kemudian berjalan lagi melewati stasiun Shisui, Narita, Terminal 2 Bandara dan kami turun di Terminal 1 Bandara. Oleh karena Rapid Service, maka kereta tidak berhenti di beberapa stasiun kecil, meskipun didahului oleh 2 buah rangkain kereta Narita Express yang bentuknya gagah, berwibawa dan elit, bertarif Y2800.

Becak di Tokyo yang belum sempat kami coba

Kampanye Kota Tokyo untuk menjadi tuan rumah Olimpiade 202

Setelah turun dari gerbong kereta yang segera dibersihkan karena itu stasiun tujuan terakhir, kami menuju ke South Wing di lantai 4, naik 6 lantai menggunakan eskalator berulang. Pergantian antar eskalator cukup rumit, sehingga kami harus selalu memperhatikan rambu petunjuk arah. Sesampai di lobbi yang luas di Sout Wing, benderang cahaya matahari, dan penuh dengan penumpang, kami mencari konter ANA (All Nippon Airways) yang lengang, karena hampir semua penumpangnya telah melakukan check-in on line. Dengan sistem tersebut, semua penumpang sudah mendapat bahkan boleh mencetak (print) sendiri kartu naik pesawat (boarding pass). Kami masih harus mencetak boarding pass di mesin anjungan check in, karena tidak mampu mencetak saat di hotel. Dengan sistem check in seperti ini, penumpang tanpa bagasi dapat dilayani sampai pada 75 menit sebelum pesawat bersiap terbang (boarding), sementara sistem yang lain adalah 2 jam untuk penerbangan internasional.

Setelah melalui proses security check dan imigrasi yang teliti, cepat dan ramah, kami sampai di ruang tunggu gate 37 untuk masuk ke perut pesawat (boarding), tepat 3 menit sebelum proses boarding, yaitu pk. 9.45 Sebuah pengaturan waktu yang nekat, penghitungan yang tepat, dan hasil akhir yang menegangkan. Kalau kami mengurus terlebih dahulu pengembalian uang sisa (re-fund) Suica card, yang masih bernilai sekitar Y750 (Y1=Rp 152.000) setiap kartu di anjungan mesin di pintu keluar JR Line, mungkin kami akan ketinggalan pesawat. Pastilah hal yang demikian akan menjadi sebuah kenangan sangat pahit, memalukan dan membingungkan.

Pesawat yang kami naiki adalah jenis Boeing 767-300 berkode NH 937, berkapasitas 270 penumpang, merupakan salah satu pesawat milik maskapai ANA yang tahun ini genap berumur 72 tahun. Puncak acara ditandai dengan pembukaan rute baru dari Tokyo ke New York, Delhi dan Yangon. Selain itu, juga penerbangan pertama menggunakan pesawat ‘the state of the art’ Boeing 787 ke Seattle, Beijing dan San Jose. ANA terbang perdana pada 13 Desember 1940 dari Heneda ke Iwakuni. Heneda sekarang menjadi bandara domestik di Tokyo, sedangkan Iwakuni sekarang menjadi US Marine Corp Air Station of Iwakumi, yang juga dikenal sebagai Kintaikyo (Kintai Bridge) Airport.

Jarak perjalanan kami pulang dari Jepang ke Jakarta adalah 5.865 km dari Tokyo, dengan waktu tempuh 6 jam 53, sehingga perkiraan waktu sampai di Jakarta pk. 18.27. Ketinggian jelajah pesawat adalah 9.144 m di atas permukaan laut, dengan kecepatan 896 km/jam di udara, atau setara 711 km/jam di darat.

Petualangan panjang nan melelahkan yang relatif hemat ini, menghabiskan bekal setara 3 kali UMR di sekitar rumah. Disampaikan banyak terima kasih, kepada siapapun yang telah mendukung terselenggaranya acara ini, juga kepada semua pihak yang telah memberikan apresiasi atas laporannya. Sampai bertemu di dalam laporan petualangan berikutnya.

Sekian

Minggu, 18 November 2012

ditulis sambil duduk di kursi 37F, Boeing 767-300, ANA, NH 937

di atas Laut Cina Selatan sekitar 1.242 km dari Tokyo

*) penjelajah dari Jawa bermodal nekat

Categories
dokter Healthy Life Jalan-jalan UHC vaksinasi

2012 Pertama ke Filipina

PERTAMA KE FILIPINA

fx. wikan indrarto*)

Perjalanan prtama kali kami berdua ke Filipina, diawali dengan menggunakan pesawat Airbus A320-200 milik maskapai penerbangan Philippine Airlines, pada Senin pagi buta 9 Januari 2012. Kami bertolak dari Jakarta pada pk. 00.45 sampai di Ninoy Aquino International Airport (NAIA) Manila pk. 05.05 waktu setempat (setara dengan WITA). Kami kebetulan bersamaan dengan Prof. Dr. Mohammad Juffrie, PhD, SpA(K), guru besar FK UGM yang akan menjadi moderator salah satu sesi dalam 13th ASCODD (Asian Conference on Diarrheal Disease and Nutrition), yang akan diadakan di Tagaytay City, sekitar 60 km dari Manila. Kami bertiga memutuskan untuk menyewa Mitsubishi Adventure (di Indonesia disebut Mitsubishi Kuda), yang kuponnya seharga PP (Philippine Peso) 1.500 (sekitar Rp. 300 ribu) kami beli di konter taksi bandara. Taksimeter bercat kuning menyala yang umumnya merupakan Toyota Vios yang berargometer, tidak melayani penumpang tujuan luar kota Metropolitan Manila.

Untuk ke Tagaytay City perlu 1 jam 15 menit berkendara dari Manila melalui Luzon expressway sektor selatan (keluar di Santa Rosa) dan Santa Rosa-Tagaytay Road akan langsung ke Tagaytay City. Sepanjang perjalanan yang menggunakan sisi kanan jalan, kebalikan dengan di Indonesia, kami melalui jalan tol (expressway), dan melihat mobil-mobil buatan Jepang sebagaimana yang beredar di Indonesia, hanya berbeda nama. Izusu Panther disebut Crosswind, versi Hi-grade dinamakan Hi-lander. Toyota Krista disebut Revo VX2000, Mitsubishi Grandis ditulis Chariot, sedangkan Innova, Avanza, City, CRV dan lainnya menggunakan istilah serupa. Mobil yang khas di Filipina adalah jeepney, angkutan warga biasa yang berasal dari modifikasi jeep tentara AS saat Perang Dunia II, tetapi sekarang sudah bermesin diesel produksi Izusu. Kami diturunkan di lobi Taal Vista Hotel setelah 1 jam lebih sedikit menempuh perjalanan yang nyaman, di jalan yang bagus, sebagian besar beton cor bukan aspal, meski mendaki dan berliku. Jalannya lebar yang merupakan jalan negara (highway), jarang sekali sepeda motor dan kepadatan jalannya cenderung lengang, karena penduduknya sedikit. Lalu lintas di Filipina jauh lebih tertib dibanding di Indonesia. Para pengemudinya tidak ngebut, jarang membunyikan klakson, tabu menyerobot jalan dan hampir semua berpacu dalam kecepatan menengah.

1 Tricycle

Tricycle di View Lake Restourant di Tagaytay City

2 Sarapn babi utuh

Promosi babi panggang utuh di View Lake Restourant, Tagaytay

Tagaytay adalah kota di pinggir Danau Taal, yang ditengahnya terdapat Gunung Berapi Taal yang memiliki kaldera. Tagaytay adalah salah satu tujuan wisata populer di Filipina, terutama bagi mereka yang berada di Pulau Luzon. Kota kecil ini berada di dataran tinggi dengan suhu udara relatif lebih sejuk daripada daerah lain di pulau tersebut. Selain itu, di Tagaytay ada Gunung Taal, gunung api terkecil di dunia yang berada di tengah-tengah Danau Taal. Sementara itu di tengah-tengah Gunung Taal ada sebuah kaldera atau kawah yang berbentuk seperti danau. Kawah tersebut seluas kira-kira 2 kilometer persegi. Di tengah kawah ada sebuah pulau yang diberi nama Vulcan Point. Vulcan Point disebut sebagai pulau terbesar di dunia yang berada di dalam sebuah danau yang berada dalam pulau yang ada dalam danau di sebuah pulau. Cukup membingungkan bukan? Lebih jelasnya, Vulcan Point adalah sebuah pulau yang berada di Danau Kawah atau Kaldera, di Pulau Taal yang berada di Danau Taal, di Pulau Luzon.

Tagaytay adalah kota yang terletak di provinsi Cavite, Filipina, dengan populasi sebesar 61.623 jiwa Pada tahun 2007. Tagaytay City terletak di atas Tagatay Ridge pada 640 m (2.100 kaki) di atas permukaan laut, adalah titik tertinggi di Propinsi Cavite. Pegunungan ini memberikan pemandangan spektakuler dari Danau Taal dan Gunung Taal di Batangas. Pandangan ini mendukung pariwisata Tagaytay yang merupakan  industri utama. Pada tahun 1920, Jenderal Emilio Aguinaldo, yang kelak akan menjadi presiden pertama Republik Filipina, menyerahkan tanah pribadinya untuk digunakan sebagai sarana pemerintahan, termasuk hotel, di Provinsi Cavite. Legenda Tagaytay menyebutkan bahwa kata-kata ‘taga, itay’ adalah teriakan seorang anak yang menyeru-nyeru kepada bapaknya, karena dia ketakutan saat melihat kehadiran tentara. Pada awal 1935 Presiden Manuel L. Quezon menentukan Tagaytay sebagai daerah wisata dengan dibangunnya lapangan golf pertama di Filipina. Pada tahun 1937 Zamoras Manila Hotel mulai membangun Taal Vista Hotel dalam bentuknya yang sekarang. Kami memasuki gerbang hotel yang megah dalam arsitektur rumah tradisional Filipina yang bentuknya menyerupai hidung. Meskpun merupakan bangunan tua dan warnanya sudah kusam, tetapi wibawanya masih berdenyut.

3 Danau dan Gunung Taal

Danau Taal dan Gunung Taal di Batangas terlihat dari View Lake Restourant

4 Tanya pak Polisi

Malu bertanya, sesat di jalan. Bertanya di kantor polisi setempat.

Oleh karena hari masih terlalu pagi dan check in kamar hotel belum dapat dilakukan, maka kami berdua memutuskan makan pagi di View Lake Restourant dengan naik tricycle. Tricyle adalah sepeda motor non bebek yang di sebelahnya ditempeli ruang kabin untuk 2 orang penumpang berdesakan. Kami pilih menu nasi pulen, daging sapi potong-potong kecil dibakar dan telur mata sapi setengah matang seharga PP 110. Sayang sekali, pemandangan ke arah Gunung Berapi Taal di tengah Danau Taal kurang bagus untuk difoto, karena tertutup mendung tebal. Selanjutnya kami berjalan kaki ke pasar dekat restoran tersebut, untuk membeli menu tradisional seperti gula kacang besar, ikan danau kering dan konektor charger HP dan notebook, sebab lobang colokan listrik di Filipina adalah pipih, bukan bulat. Kami lanjutkan naik jeepney, dengan asal naik karena sekedar mau mencoba dan tidak tahu arah. Penumpang berjejal, musik rock berdentum, asap knalpot menghitam, dan sopir tanpa asisten. Meskipun demikian, sopir tetap santai menerima pembayaran, memberikan uang kembalian, sabar menunggu penumpang duduk baru melaju dan tidak berebut penumpang. Tarifnya sekitar PP 12 (sekitar Rp. 3 ribu) tergantung jauhnya jarak yang ditempuh.

Sore harinya, kami bermaksud melakukan registrasi peserta ke panitia konggres, tetapi belum dapat dilayani karena kesibukan acara pra-konggres, maka kami putuskan melancong ke Pink Sister menggunakan tricylce dari depan gerbang hotel. Pink Sister adalah biara para suster konggregasi SSpS, yang berseragam jubah warna pink. Di sana ada kapel adorasi ekaristi yang megah di tengah taman yang indah. Kami berdoa sejenak, bersama para peziarah lokal yang umumnya datang berkelompok, di kursi deretan belakang kapel yang dipisahkan dengan pagar besi bercat hijau tua, dengan kursi deretan depan khusus untuk para suster.

5 Danau dan Gunung Taal

 Danau Taal dan Gunung Taal pada sore hari, terlihat dari View Lake Taal Vista Hotel

7 Kapel Pink Sister

Kapel Adorasi di Pink Sister yang megah milik konggregasi suster-suster SSpS

Selanjutnya kami menuju Lourdes Church yang merupakan gereja Katolik terbesar di Tagaytay, dengan mampir sebentar untuk belanja buah di sentra pertanian dan menikmati keramaian kota di sore hari. Setelah berdoa sejenak di dalam gedung gereja yang modern, besar, bersih berwarna dominan cokelat, kami melihat-lihat patung jenazah Yesus yang terbaring damai diselimuti kain hitam, dalam kotak kaca di bagian kanan umat. Setelah puas, kami keluar gedung utama gereja dan masuk ke kapel lilin (Candle Chapel) yang terletak di sisi kiri gedung gereja. Di situ terdapat patung Padre Pio Capuchin, St. Anthony of Padua, Our Lady of Lourdes, St. Joseph, St. Francis of Assisi, dan St. Clara of Assisi. Umat yang berdoa sambil berdiri, bukan berlutut atau duduk seperti yang sering dilakukan di Indonesia, juga menyalakan lilin di depan setiap patung. Ada 5 macam lilin, yang dipilih untuk membantu keheningan doa sesuai dengan ujub doa atau keinginan pribadi. Lilin dengan panduan warna Red (untuk hari-hari penting seperti ulang tahun), Pink (kesehatan), Green (harapan, termasuk keberhasilan studi), Blue (keharmonisan keluarga), Yellow (keselamatan dalam perjalanan), Lavander (ketentraman), dan White (ujub umum). Setiap lilin kecil tersebut seharga PP 5. Setelah puas khusuk berdoa, melihat keindahan dan berfoto gaya, kami melanjutkan keliling kota dengan menggunakan lagi tricycle.

12 Gereja Lourdes

Lourdes Church, gereja Katolik terbesar di Tagaytay

14 Ninoy Circle Monument

Ninoy Aquino Circle Monument, di persimpangan Tagaytay Ridge Landing

Selanjutnya kami turun di monumen Tagaytay Ridge Landing yang megah dalam taman melingkar di tengah pertigaan jalan besar. Taman indah tersebut dilengkapi dengan patung Senator Benigno ‘Ninoy’ S. Aquino Sr. (pahlawan rakyat Filipina) yang berdiri simpatik. Taman tersebut dirancang sejak tahun 1987 dan disebut Ninoy Aquino Circle Monument, yang diresmikan oleh Hon. Abraham ‘Bambol’ Tolentino, Walikota Tagatay pada awal September 2000. Taman tersebut adalah tempat pendaratan pertama pasukan infantri dan terjun payung dalam pembebasan Filipina dari penjajahan Jepang, oleh Resimen ke 11 Devisi 8 tentara AS, yang dipimpin oleh Letjen Robert Eighelberger dan Mayor M. Swing pada 8 Februari 1945. Setelah puas keliling kompleks dan menjadi sangat lapar, kami makan malam di warung Mang Inasal dengan menu Boneless Bangut seharga PP 99, Bangus Sisik PP 99, Kangkong PP 25, dan es teh yang rasanya mantap PP 25. Menu tersebut adalah ikan air tawar dari Danau Taal. Bangus sisik adalah potongan ikan dalam hotplate yang membara, tetapi nasi pulennya ditempatkan di sampingnya di dalam hotplate juga, sehingga tetap panas dan akan mengeras kalau proses makan terlalu lamban.

Malam ini adalah hari pertama kami di Taal Vista Hotel kamar 423, Tagaytay City, sekitar 60 km dari ibukota Filipina, Manila, dalam dekapan dingin udara Tagatay. Dalam kenyang dan kantuk, kami laporkan perjalanan ini kepada para pihak yang berkepentingan, dan juga bersiap untuk mengikuti konggres besok pagi, sambil menyiapkan rute perjalanan berikutnya.

Setelah sarapan di hotel dan registrasi konggres pada hari berikutnya, kami naik jeepney ke Tagatay Rotonda. Hal ini disebabkan karena Opening Ceremony oleh Hon. Abraham Tolentino, walikota Tagaytay, dan Prof. Manuel Agulto, rektor University of Philippine Manila, baru dijadwalkan setelah makan siang. Jeepney sangat unik, baik body luar yang dilapisi baja putih mengkilap, kap mesin dan wajah depan yang penuh asesoris, bodi jeep yang panjang tetapi rendah, juga sopir yang bekerja tanpa asisten. Selain menjalankan jeepney dengan kecepatan menengah, dia juga menawarkan rutenya, menerima uang bayaran, memberikan uang kembalian, memisahkan uang coin dalam tempat khusus di dashboard dan memegangnya dalam lipatan jari tangan kiri, hampir semua uang kertas yang diterimanya. Para penumpang duduk berhadap-hadapan di kedua sisi jeepney yang bersasis panjang, sehingga setiap sisi dapat diduduki oleh 8 orang dewasa, tetapi dengan sedikit menunduk, sebab atapnya cukup rendah. Penumpang yang membayar sering dibantu penumpang lain dalam pembayaran ataupun penerimaan uang kembalian, karena saking jauhnya posisinya dari sopir.

Dari sekitar 60 ribu orang penduduk kota Tagaytay, yang pada akhir pekan meningkat sampai 3 kali lipat oleh para pelancong, jarang sekali yang terlihat melintas jalan yang lebar dan bagus. Kami turun di pertigaan Tagaytay Rotondo yang dilengkapi dengan Ninoy Aquino Circle Monument. Kami berganti naik tricycle, sebuah sepeda motor Kawasaki 150 cc yang dilengkapi dengankabin untuk 2 penumpang di sisi kanannya, menuju ke Picnic Groove dan People Park in the Sky. Picnic Grove adalah tempat wisata favorit yang dilengkapi dermaga untuk menyeberang ke Danau Taal dan melihat Gunung Taal di tengahnya, yang merupakan gunung berapi terkecil di dunia. Kami tidak merencanakan penyeberangan tersebut karena keterbatasan waktu, dan langsung meneruskan perjalanan mendaki, menikung dan menyusur punggung gunung ke People Park. Sayang sekali kabut tebal langsung menyergap, sehingga pandangan kami sangat terbatas, mengalami kedinginan dan hanya dapat beraktivitas di halaman parkir taman rekreasi tersebut, untuk membeli berbagai souvenir khas Tagatay yang terjajar rapi dan teratur.

20 Gerbang Hotel

Start of Adventure from Taal Vista Hotel

22 Dari People Park

Taal Lake and volcano from People Park

Setelah mengambil foto sekedarnya, kami segera menuju kapel Pink Sister dan Rumah Retret dan Pusat Pelayanan Konggregasi Roh Kudus. Di kapel itu, kami kembali berdoa adorasi di depan tubuh Yesus yang telah kami kunjungi hari sebelumnya. Selain itu, kami menyempatkan bertemu dan berkenalan dengan Sr. Maria Caridad, SSpS, yang menghabiskan hari tuanya di rumah retret di samping kapel. Beliau adalah suster yang senior berwajah damai, jernih, dan pernah menjabat wakil jenderal konggregasi suster SSpS Internasional, bahkan pernah mengunjungi Sr. Dr. Conchita Cruz, SSpS, seorang suster dan dokter Filipina, ke RS Elisabeth Lela di Flores, NTT. Di RS itulah kami pernah membantu tugas Sr. Conchita selama 3,5 tahun sejak tahun 1992. Setelah bercengkeram sebentar dan berfoto, kami selanjutnya menuju Plaza Olivares, sebuah sentra masyarakat di tengah kepadatan kota Tagaytay. Plaza Olivares memiliki food court, pedagang pakaian kaki lima yang bersih dan teratur, sampai restourant waralaba internasional bahkan terminal bis antarkota, termasuk yang menuju Manila. Setelah makan siang nasi putih hangat yang lunak, disertai sayuran kacang panjang dicampur labu, pare, potongan daging ayam dan ikan Danau Taal di sebuah kedai makan di pinggiran plaza tersebut, kami pulang ke hotel, untuk mengikuti opening ceremony.

23 Sr. Maria Caridad

Bersama Sr. Maria Caridad, SSpS

24 Rumah Retret

Head Office of Holy Spirit Mission

Acara opening ceremony kemudian dilanjutkan dengan keynote speech oleh Dr. Enrique Ona, Menteri Kesehatan Filipini, dengan judul Towards Health and Wealth in a Changing World. Acara dilanjutkan dengan plenary session dan symposium dengan tema Advances in Diarrheal Management. Filipina terbukti paling maju dibandingkan semua negara Asia Tenggara, bahkan juga sebagian besar negara di Asia, karena sudah menerapkan imunisasi melawan Rotavirus untuk semua balita, bahkan memasukkannya dalam program imunisasi nasional. Prof. Roy dari Bangladesh menyinggung tema Evolution of Zinc in the Treatment of Diarrheal Disease. Prof. Miguel O’Ryan dari Chile menyampaikan Rotavirus Vaccination Implementation in Latin America: What Asia Can Learn? Dr. Aziz dari Bangladesh mengajukan Improvements in ORS: Where ara we now? Cairan rumah tangga berbasis beras, seperti air tajin, mungkin saja lebih baik dibandingkan terapi cairan lainnya. Dr. Juliet Aguilar dari Filipina membandingkan Single vs Multiple Micronutrient Supplementation, Dr Rubhana Raqib dari Bangladesh menyampaikan Immunological Advance in Diarrheal Disease dan yang terakhir Dr. Germana Gregorio menunjukkan Evidence on the Use of Anti-Diarrheal Agents.

Topik-topik yang dibahas pada hari ke2 dalam 13th ASCODD (Asian Conference on Diarrheal Disease and Nutrition) di Taal Visata Hotel Tagaytay City, antara lain adalah ‘Barriers and Chalanges in Putting Rotavirus Vaccine in the National Immunization Program’, ‘Dietary Interventions to Improve Nutritional Status’, ‘Diarrheal Pathogens: Then and Now’, dan ‘Food Safety and Food-borne Diseases’. Para pembicaranya berasal dari Chile, Mexico, India, Hong Kong, Thailand, Bangladesh, Indonesia, China dan Amerika Serikat. Setelah agak lelah mengikuti beberapa materi tersebut, kami memutuskan untuk melancong lagi, pada hari ketiga kami di Filipina.

Sepanjang masa 265 tahun, Filipina merupakan koloni Kerajaan Spenyaol (1565-1821) dan selama 77 tahun berikutnya diangkat menjadi provinsi Spanyol (1821-1898). Negara ini mendapat nama Filipina setelah diperintah oleh penguasa Spanyol, Raja Felipe II. Setelah Perang Spanyol-Amerika pada tahun 1898, Filipina diperintah Amerika Serikat. Ia kemudian menjadi sebuah persemakmuran di bawah Amerika Serikat sejak tahun 1935. Periode Persemakmuran dipotong Perang Dunia II saat Filipina berada di bawah pendudukan Jepang. Filipina akhirnya memperoleh kemerdekaannya (de facto) pada 4 Juli 1946. Masa-masa penjajahan asing ini sangat memengaruhi kebudayaan dan masyarakat Filipina. Negara ini dikenal mempunyai Gereja Katolik Roma yang kuat dan merupakan salah satu dari dua negara yang didominasi umat Katolik di Asia selain Timor Leste.

Perjalanan kami mulai dari hotel dengan jeepney ke Olivarez Terminal di sekitar Tagaytay Rotonda. Setelah menunggu beberapa saat, kami putuskan naik bis bumel non AC, full video dengan TV 14 inchi, kaca jendela yang dapat dibuka ke arah atas, dan mesin Daewoo diesel terletak di bagian belakang bis. Penumpangnya sangat beragam, sampai penuh, tetapi warga Filipina tidak ada yang merokok atau makan dan minum di bis, juga tidak ada yang gemuk (obesitas) dan tidak ada juga yang hobi bermain jari di HP, sangat berbeda dengan masyarakat kita. Kami melewati kota Silang Cavite dan Dasmarinas yang cukup besar dan sibuk. Kami membayar harga tiket P 120 (sekitar Rp. 25 ribu), saat bis milik Celyrosa Express Bus menepi dan kami turun di Pasay City, pinggiran selatan Manila. Dalam kesibukan kota metropolitan Manila, kami berganti jeepney yang menuju ke Libertad dengan tarif P8.

38 Rizal Day

Bendera dan Poster Rizal Day di Central Station Manila

LRT

LRT (Light Rail Transit) line 1 Manila

Di perempatan Libertad pinggir jalan besar Sen. Gilbert J. Puyat Ave. yang ramai, kami berjalan sedikit untuk naik tangga ke stasiun Gil Puyat di lantai 3. Kami naik kereta api layang 4 gerbong ber-AC yang disebut LRT (Light Rail Transit) line 1. Setelah melewati stasiun Vito Cruz, Quirino, Pedro Gil, dan UN Ave, kami turun di Central Station dengan tiket elektrik seharga P 12,5 atau sekitar Rp. 3.000. Di Manila Metropolitan Administration terdapat 3 jalur (line) LRT, yaitu line 1 dari Stasiun Baclaran (selatan) ke Monumento (utara), line 2 dari Stasiun Doroteo Jose (barat) ke Santolan (timur), dan line 3 dari Stasiun Taft (selatan) memutar ke North Ave (utara), yang dirancang akan bertemu dengan line 1 di Stasiun Monumento dalam 1 tahun ke depan. Dari Central Station kami berganti naik pedicub dengan penggerak sepeda yang dikayuh, atau tricycle dengan sepeda motor seharga P 100, kami menyebarang ujung jalan Roxas Boulevard yang sangat lebar dan padat kendaraan. Kami memasuki areal Intramuros yang legendaris untuk menuju Katedral Manila Gereja Bunda Maria Tak Bernoda, yang didirikan pada tahun 1561. Di katedral yang diberi nama oleh Paus Gregorius XV pada abad 17, kami tertegun akan arsitekturnya, terdiam akan keanggunannya dan berdoa mengucap syukur atas semua keindahan yang terjadi. Di taman depan katedral terdapat patung Raja Spanyol Carlos IV yang berwibawa dan gedung perkantoran mentereng yang dinamakan Palacio Del Gobernador.

25 Katedral Manila

Katedral Manila, Gereja Bunda Maria Tak Bernoda

26 Gereja St. Agustinus

Gereja St. Augustinianus (1571), gereja pertama di seluruh Filipina

Penjajahan dan pemukiman Spanyol dimulai dengan kedatangan ekspedisi Miguel López de Legazpi pada tahun 1565, yang mendirikan pemukiman San Miguel di pulau Cebu, dan lebih banyak lagi pemukiman ke utara, mencapai teluk Manila di pulau Luzon pada tahun 1571. Di Manila, mereka mendirikan kota baru dan dengan demikian memulai era penjajahan imperium Spanyol, yang berlangsung lebih dari tiga abad. Pemerintahan Spanyol berusaha mencapai penyatuan politik seluruh kepulauan, yang sebelumnya terdiri atas berbagai kerajaan dan komunitas merdeka, namun tidak berhasil. Penyatuan Filipina baru berhasil pada abad ke-20. Spanyol memperkenalkan percetakan versi Eropa Barat, dan kalender Gregorian, dan juga cacar, penyakit kelamin, lepra, perang dengan senjata api. Hindia Timur Spanyol diperintah dan diadministrasi sebagai bagian Kerajamudaan Spanyol Baru dari Meksiko pada tahun 1565 sampai 1821, dan diadministrasi langsung dari Madrid pada tahun 1821 sampai akhir Perang Spanyol-Amerika di tahun 1898, kecuali pada selang singkat pendudukan Inggris di Filipina (1762-1764). Orang-orang Cina, Inggris, Portugis, Belanda, Jepang dan pedagang pribumi mengeluh bahwa Spanyol menekan perdagangan dengan pemberlakuan monopoli Spanyol. Misionaris Spanyol mencoba mengkristenkan penduduk dan umumnya sukses di dataran rendah utara dan tengah. Mereka mendirikan sekolah, universitas, dan rumah sakit, terutama di Manila dan pemukiman benteng-benteng Spanyol yang kemudian disebut Intramuros (kota di dalam benteng) yang baru saja kami kunjungi.

Perjalanan kami lanjutkan dengan naik pedicub ke Fort Santiago, Postigo del Palacio, Puerta de Santa Lucia, EJC Building, Baluartillo de San Jose, Reducto de San Pedro, Baluarte de San Diego, Puerta Real, Revellin de Bagumbayan dan Gereja St. Augustinianus. Semua bangunan kuno tersebut masih tegak, megah dan terawat di dalam kompleks Intramuros, seperti di dalam sebuah keraton (njeron beteng). Gereja St. Augustinianus yang didirikan tahun 1571, bahkan merupakan gereja Katolik pertama di seluruh Filipina. Fort Santiago adalah sebuah benteng pertahanan militer yang didirikan oleh Gubernur Gomez Perez Dasmarinas dalam periode tahun 1590-1593, di bekas Istana Kayu Raja Matanda. Raja tersebut adalah penguasa lokal Manila pada saat itu.

Setelah itu kami menuju kampus LPU (Lyceum of the Philippines University) dekat dinding Jepang, karena dibangun tentara Jepang saat Perang Dunia II, dalam perluasan dan perbaikan benteng Intramuros yang aseli. Bangunan kampus LPU tersebut pada awalnya adalah Hospital de San Juan Dios, yang sebelumnya disebut Hospitalito de Santa Ana, yang didirikan pada tahun 1578 oleh Juan Clemente, seorang pastor dari Ordo Fransiscan. Kami nikmati menu makan siang, yang kami makan dalam kantin kampus yang penuh mahasiswa, tetapi tetap bersih dan terawat.

27 Fort Santiago

Fort Santiago di Manila didirikan oleh Gubernur Gomez Perez Dasmarinas 1590-1593

29 Meriam di Intramuros

Masih lengkap 7 buah meriam yang menghadap ke arah Teluk Manila di dalam Intramuros

Selanjutnya kami berjalan keliling dinding benteng Intramuros, yang masih tegak nan gagah, relatif utuh dan menyerupai Tembok Besar di Cina. Di situ kami sempat tertegun dalam areal penangkis serangan musuh, berupa pelataran seluas lapangan sepak bola, yang dilengkapi menara pengawas dengan 7 buah meriam yang saat itu menghadap ke arah Teluk Manila. Semua meriamnya masih berada di tempat, meski sudah berkarat dan keropos. Setelah puas membayangkan hebatnya pertempuran saat itu di sekitar benteng Intramuros, kami melanjutkan perjalanan ke Rizal Park dengan pedicub bertarif PP 100 (sekitar Rp. 25 ribu). Perjalanan itu keluar kompleks benteng Intramuros, lewat Jalan Roxas Boulevard yang lebar dan padat kendaraan besar, melewati National Museum yang bercat coklat muda dan gagah.

Rizal Park, diambil dari nama Jose Rizal, pahlawan besar Filipina, adalah taman terbuka yang luasnya sekitar 5 kali lapangan sepak bola. Kami memasuki kompleks dari pintu belakang, melewati beberapa patung setengah badan ukuran sebenarnya, bebarapa pahlawan nasional Filipina. Mereka adalah Rajah Sulayman yang meninggal tahun 1571, Apolinario de la Cruz (1869), Sultan Dipatuan Kudarat (1663), Aman Dangat (1791), Juan Sumuroy (1649), Datu Amai Pakpak (1895), Marcelo Del Pilar (1896), Gregorio Aglipay (1940), Vicente Alvarez (1910), dan Pantaleon Villegas (1989). Patung pahlawan yang lain tidak sempat kami amati. Selain itu, juga ada Chineese Garden, Open Air Auditorium dan Japanese Garden yang menambah kenyamanan siapapun yang datang.

José Protasio Rizal Mercado Alonso Realonda (lahir di Calamba, Laguna, Filipina, 19 Juni 1861 – meninggal di Dapitan, provinsi Zamboanga (Mindanao), Filipina, 30 Desember 1896 pada umur 35 tahun) adalah tokoh bangsa Filipina. Hari peringatan kematian José Rizal adalah 30 Desember dan merupakan hari libur di Filipina yang disebut hari Rizal. José Rizal adalah seorang yang berbakat. Selain seorang dokter, ia juga seorang arsitek, seniman, pendidik, ekonom. etnolog, ahli pertanian, sejarahwan, jurnalis, pemusik, mitologiwan, internasionalis, naturalis, dokter mata, sosiolog, pematung, penyair. penulis drama, dan novelis. Ia menguasai 22 bahasa, di antaranya: Tagalog, Cebuano, Melayu, Tionghoa, Arab, Ibrani, Inggris, Jepang, Spanyol, Catalan, Italia, Portugis, Latin, Perancis, Jerman, Yunani, Rusia, Sansekerta dan dialek-dialek Filipina yang lain. Saat hukuman matinya semakin mendekat, Rizal menulis puisinya yang terakhir, yang, meskipun tidak berjudul, akhirnya dikenal sebagai “Mi Último Adiós” (Selamat Tinggalku yang Terakhir). Puisi ini lebih tepat diberi judul, “Adios, Patria Adorada” (harafiah: “Selamat Tinggal, Tanah Air Tercinta”), dari logika dan tradisi sastranya: kata-kata yang muncul pada baris pertama puisi itu sendiri.

28 Gerbang IntramurosA

Gerbang Intramuros yang hitam legam, sisa kejayaan Spanyol

Dalam suratnya yang terakhir, dari rangkaian surat-menyurat yang sangat tebal dan tidak ada tandingannya dalam tradisi Asia, kepada Profesor Fernando Blumentritt dari Sudeten, Jerman – Saudaraku tercinta, saat engkau menerima surat ini, aku sudah tiada. Esok pada pk. 7, aku akan ditembak; namun aku tidak bersalah atas tuduhan melakukan pemberontakan… Ia harus meyakinkan sahabatnya bahwa ia tidak pernah berubah menjadi seorang revolusioner, seperti yang pernah dipertimbangkannya, bahwa cita-cita yang diperjuangkan oleh keduanya tetap dipegangnya hingga akhir. Iapun menyerahkan sebuah buku yang secara pribadi dijilidnya di Dapitan untuk ‘sahabat terbaik dan tercintanya’. Ketika orang Austria itu menerimanya, ia menangis dan meratap. Rizal Park dijaga 24 jam sehari, 7 hari seminggu oleh sebuah group tentara dalam upacara militer, dikenal sebagai Kabalyeros de Rizal. Puisinya, “Mi Ultimo Adios” (“Perpisahan terakhir saya”) ditulis pada papan peringatan. Monumen Rizal yang terbuat dari perunggu dan granit telah dianggap sebagai patung landmark paling terkenal di negeri ini. Tidak hanya patung pahlawan nasional, tetapi juga makam yang terletak di dekat tempat di mana Rizal dieksekusi.

Kami kembali ke Central Station untuk naik kereta layang LRT line 1, menuju ke Stasiun Baclaran dan turun di Stasiun Gil Puyat dengan tiket elektrik seharga P15. Rute ini persis kebalikan dengan rute kami saat berangkat. Dari stasiun tersebut, kami menuju Metro Market-Market di areal bisnis Makati, dengan jeepney modern yang ber-AC, TV, video dan tempat duduk menghadap ke depan, berisi 23 tempat duduk dan bertarif P 18. Namun, ternyata kami harus berganti dengan jeepney biasa di sebuah perempatan besar, untuk menuju ke Metro Market-Market dengan tarif P 8. Bangunan modern nan megah itu adalah pusat perbelanjaan 5 lantai, playground, dan foodcourt yang dilengkapi dengan terminal taxi, jeepney dan angkutan kota lainnya. Pengunjungnya sangat padat, tertib antri, disiplin tidak merokok dan menjaga kebersihan.

30 Pedicab Manila

Pedicub yang mengantar kami dari Intramuros ke Rizal Park

32 Market-Market di Makati

Metro Market-Market di areal bisnis Makati, Manila

Setelah puas membeli oleh-oleh makanan kering dan souvenir khas Manila di Market-Market, kami naik angkutan umum milik UV Express Service berupa Toyota Kijang produksi tahun 90, bercat putih. Dengan 11 penumpang dalam angkutan kota tersebut dan tiket seharga P 20, kami diturunkan di Ayala Center. Setelah itu, kami berjalan kaki melewati dan mampir sejenak di Balikbayan Handicrafts yang terkenal di Manila, sampai terminal gabungan bis dan MRT di EDSA. Selain LRT yang melewati rel melayang di udara, di Metro Manila juga ada MRT yang melewati rel bawah tanah. Kami naik bis kota AC ke terminal Cybers di Pasay City dengan tarif P12, untuk berganti bis antar kota. Dari depan Empire Center di Pasay City, kami pulang menuju Tagaytay dengan bis AC San Agustin bercat putih dan kuning, bertarif P 65, dan melalui kota Imus, yang akan kami kunjungi hari berikutnya. Sayang sekali bis sangat penuh penumpang, sehingga kami harus berdiri untuk beberapa saat pada awal perjalanan pulang tersebut. Malam itu kami tertidur kelelahan di kamar hotel.

Acara konggres hari berikutnya sangat padat. Topik ‘Meet the experts’ adalah ‘Antibiotics and Anti-Diarrheals’ oleh Dr. Salvacion Gatchalian dari Filipina dan Dr. Nur Alam dari Bangladesh. Pada ‘Plenary Session’ dan ‘Symposium’ antara lain membahas tentang ‘Rotavirus: Its Impact on Various Childhood Illnesses’, ‘The Global Impact of Rotavirus Vaccines’ dan ‘Vaccine Advocacy: Accessibility, Affordability and Accountability’. Para pembicara pada hari terakhir 13th ASCODD (Asian Conference on Diarrheal Disease and Nutrition) di Taal Vista Hotel, Tagaytay City, Philippines, berasal dari Indonesia, AS, Bangladesh, Thailand dan China.

Setelah penutupan acara konggres, kami melanjutkan petualangan hari keempat kami di Filipina menuju ke kota Imus. Posisinya hampir di pertengahan jalan dari Tagaytay ke Manila dan kami harus membayar tarif P 54 saat turun dari Erjohn & Almark Transit Corp, sebuah bis ekskutif Hino AC mesin diesel di belakang, yang full TV/video. Di Filipina, Bahasa Inggris cukup luas digunakan, termasuk untuk informasi umum yang sering sekali kami temukan di dalam perjalanan, misalnya ‘always use pedestrian line’, ‘Slow down, school zone’, ‘drop zone’, ‘clean air for the next generation’, ‘stright ahead’, ‘no vendor allowed’, ‘badge is not allowed’, ‘how’s my driving? call or text: …’, dan ‘traffict officer’. Data menunjukkan bahwa 95,9% penduduk Filipina bisa membaca, bahkan salah satu yang tertinggi di Asia, dan setara untuk pria maupun wanita. Kami melewati kota Silang dan Dasmarinas, dengan jalan antar kota yang lebar, halus, jarang sekali sepeda motor terlihat dan lalu lintas didominasi kendaraan angkutan umum yang bersih, tertib dan teratur.

33 Del Pilar Academy

Del Pilar Academy di Imus, Cavite

34 Katedral Imus

Gereja ‘Our Lady of the Pillar Parish’, Katedral di Imus, Cavite

Penduduk Filipina mayoritas (80%) beragama Katolik, hal ini disebabkan Filipina merupakan bekas jajahan Spanyol yang memiliki tradisi Katolik yang sangat kuat, dilanjutkan dengan Protestan 10%, hal ini karena Filipina selanjutnya dijajah Amerika Serikat, kemudian Islam 5% yang mayoritas berada di Pulau Mindanao, lalu Buddha 2,5% yang merupakan penduduk pendatang dari Korea Selatan, Republik Rakyat China, Malaysia, Singapura, Jepang, India, dan Vietnam. Sebanyak 0,4% warga Filipina jujur menyatakan dirinya Atheis, dan 2,1% beragama lain.

Kami turun di ‘crossing highway’ atau perempatan jalan antar kota, di pinggiran kota Imus. Kami menggunakan tricycle untuk mampir di Del Pilar Academy dan mencari Mrs. Tessie Cruz, seorang ipar Sr. Dr. Conchita Cruz, SSpS, yang bekerja di bagian administrasi sekolah tersebut. Sr. Dr. Conchita Cruz, SSpS adalah kolega dan senior kami di RS St. Elisabeth Lela, Flores, NTT pada tahun 1991-1994. Sayang sekali, beliau tidak ada di tempat dan kami hanya dapat menitipkan salam hangat dari Sr. Conchita dan salam kenal dari kami, sebelum berfoto sejenak di situ. Kami melanjutkan perjalanan ke Gereja Katedral Imus yang didirikan pada tahun 1861 dan dinamakan ‘Our Lady of the Pillar Parish’ di Jl. Jenderal Castaneda no 2711, Imus Cavite. Katedral yang dinding luarnya sudah nampak pudar tertelan umur itu, warna dominannya cokelat. Pilar yang besar di dalamnya tersusun dari bata merah yang tidak diplester, sehingga nampak perpaduan merah dan coklat yang tersusun rapi. Di belakang altar tampak salib besar dengan patung Yesus tidak dalam posisi disalib, tetapi justru dalam posisi terangkat ke sorga. Di seberang katedral terdapat Municipal Government of Imus Cavite yang berarsitektur abad ke 17, tetapi tetap masih digunakan sebagai kantor dengan 4 buah tiang besar dan bendera nasional Filipina yang berkibar. Di depannya juga terdapat taman terbuka seluas lapangan sepak bola dengan patung Mayor Licerio Topacio yang gagah dan 2 buah meriam penangkis serangan udara peninggalan Perang Dunia II. Setelah berfoto dan istirahat sejenak di tepi taman dalam keteduhan bayangan pohon besar, kami pulang ke Tagaytay dengan bis Lorna Express cat putih kuning, yang berupa KIA Diesel mesin di belakang, bis AC ekonomi dengan tarif P 58 (sekitar Rp. 12.000). Setelah turun di Olivarez Plaza dengan selamat, kami coba makan palabok, salah satu menu khas Tagaytay di Jollibee Restourant di Tagaytay Jucntion. Palabok terbuat dari bihun, udang, telor, ayam krispi, bumbu dan saus yang empuk, lezat dan memikat seharga P 124. Filipina sebenarnya paling terkenal dengan kehebatan pertanian padi di bukit, yang diperkenalkan kira-kira 2.000 tahun lalu oleh suku Batad. Padi-padi yang ditanam di bukit tersebut terletak di lereng-lereng Gunung Ifugao dan berada di ketinggian 5.000 kaki dpl. Luasnya mencakup 4.000 mil² serta diusahakan secara tradisional tanpa penggunaan pupuk. Hal ini telah dinyatakan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO (Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan) pada tahun 1995. Dengan demikian, wajar sekali rasanya kami sangat bersemangat untuk mencoba menu khusus, yaitu palabok dengan bahan tepung beras dari bukit di lereng Gunung Ifugao.

Imus

Municipal Government of Imus Cavite yang berarsitektur abad ke 17

Imus 1

Jeepney di Katedral Imus, yang gaya dan mengkilap

Kemudian kami mengunjungi ‘IKA 41 Dibisyon Hukbong Katihan Ng Pilipinas’ atau disebut ’41st Devision USAFFE Marker’. Monumen pertempuran tersebut menggambarkan kekalahan tentara AS yang berlangsung pada 1 September sampai 25 Desember 1941. Saat itu mereka dipukul mundur tentara Jepang pada awal Perang Dunia II. Monumen tersebut berupa prasasti berbahasa Tagalog, ruang diaroma pertempuran dan patung seorang tentara AS bercelana pendek dalam seragam tempur saat itu. Seperti diketahui bersama, setelah kekalahan yang memalukan itu, segera terbentuk area Pasifik Barat Daya merupakan salah satu arena Perang Dunia II di kawasan Pasifik, antara tahun 19421945. Area Pasifik Barat Daya termasuk Filipina, Hindia-Belanda (tak termasuk Sumatera), Borneo, Australia, Wilayah Guinea Baru (termasuk Kepulauan Bismarck), bagian barat Kepulauan Solomon, dan beberapa wilayah di sekitarnya. Dalam wilayah tersebut, tentara Kekaisaran Jepang berperang melawan tentara AS dan Australia. Sebagian besar tentara Jepang merupakan bagian dari Kelompok Pasukan Ekspedisi Selatan, yang dibentuk pada tanggal 6 November 1941, di bawah Jenderal Hisaichi Terauchi (juga dikenal sebagai Graf Terauchi), yang diperintahkan untuk menyerang dan menduduki wilayah Sekutu di Asia Tenggara dan Pasifik Selatan. Pada tanggal 30 Maret 1942, komando Wilayah Pasifik Barat Daya Sekutu (SWPA) dibentuk dan Jenderal Douglas MacArthur diangkat sebagai Komandan Tinggi Sekutu untuk Wilayah Pasifik Barat Daya. Pertempuran Laut Filipina adalah pertempuran laut penting dalam Perang Dunia II antara AL AS dan Jepang. Pertempuran ini berlangsunga antara tanggal 1920 Juni 1944 dekat Kepulauan Mariana, dan melibatkan 2 AL yang besar dan banyak pesawat Jepang dari markas di daratan. Pertempuran ini adalah kekalahan besar AL Jepang, yang kehilangan 3 kapal induk dan sekitar 600 pesawat selama 2 hari itu. Hal ini terjadi karena pesawat Kekaisaran Jepang sudah tua dan kurang terlatih, dibandingkan dengan angkatan AS yang lebih modern dan baik. Setelah pertempuran ini, AL Jepang hampir hancur sepenuhnya. Kemenangan Sekutu ini membuka pintu untuk serangan legendaris ke Iwo Jima, yang kemudian akan mengakhiri Perang Dunia II.

35 Monumen USAFFE

’41st Devision USAFFE Marker’, dengan patung tentara AS saat Perang Dunia II

36 Monumen the Praying Hand

The Praying Hands (Gateway to the City of Character), lambang kota Tagaytay

Sayang sekali, monumen ’41st Devision USAFFE Marker’ itu tidak lagi dikenal oleh sebagian besar warga Tagaytay yang sangat menyulitkan kami saat bertanya mencarinya. Selain itu, tampak sudah kurang terawat, meski terletak di pinggir jalan utama Aguinaldo Highway, bahkan di samping kantor PLDT (Philippine Long Distance Telephone) yang cukup ramai pengunjung dan monumen The Praying Hands (Gateway to the City of Character) yang menjulang. Selanjutnya kami melihat monumen baru di sebelahnya, yaitu The Praying Hands, yang lebih megah, menggambarkan 2 buah tangan yang sedang berdoa, dan didominasi warna cokelat. Monumen yang menjabarkan ayat Perjanjian Lama (Heb 4,16) tersebut diresmikan pada tanggal 4 November 2002. Saat itu bertepatan dengan ‘the year of our Lord’ oleh Hon. Francis N Tolentino, walikota Tagaytay.

Selanjutnya kami menikmati kembali, perjalanan pulang ke hotel menggunakan jeepney. Kendaraan pengangkut penumpang yang merupakan ciri khas dan kebanggaan warga Filipina itu, merupakan modifikasi jeep tentara AS saat Perang Dunia II. Jeepney sekarang tinggal jiwanya yang jeep, lainnya sudah berubah total. Bodinya dari baja putih mengkilat atau seng yang redup, lambang depan sudah bintang tiga arah dalam lingkaran seperti Mercedez-Benz, chasis sudah diperpanjang seperti limousine, mesin sudah diesel, pemutar musik sudah digital dan ban sudah dalam velg standar mobil caravan. Di jeepney terkandung kebanggaan produksi otomotif nasional Filipina, prioritas politik pemerintah untuk meningkatkan kendaraan umum yang nyaman, bukan mobil pribadi yang membuat jalanan macet, kejujuran penumpang untuk membayar, bantuan atau kerja sama dengan penumpang lain untuk beranting menyerahkan pembayaran maupun uang kembalian karena panjangnya kabin penumpang, dan juga ketertiban jadwalnya, sehingga warga Filipina cenderung lebih nyaman menggunakan angkutan umum, dibandingkan menjalankan motor atau mobil pribadinya. Orang-orang Filipina dikenal dengan nama Filipino yang berasal dari orang asli Taiwan dan bercampur dengan orang-orang Tiongkok Selatan, Polinesia, dan Spanyol atau Amerika. Orang Filipina terbagi dalam 12 kelompok etnolingustik dengan yang terbesar adalah Tagalog, Cebuano, dan Ilocano. Penduduk asli Filipina ialah suku Aeta namun sudah terpinggirkan dan populasinya tinggal 30 ribu jiwa.

37 Jeepney

Jeepney di sebuah pom bensin di Tagaytay Rotonda

Jeep

Jeep rendah & motor besar di Giligan Restaurant dalam The Summit Ridge

Kami segera pulang ke hotel, untuk berkemas-kemas dan menyiapkan perbekalan perjalanan pulang ke Indonesia. Kami membeli Kare-kare beef, yang juga menu khas Filipina, di Giligan Restaurant dalam kompleks The Summit Ridge seharga P 225 porsi untuk 2 orang. Kare-kare beef yang dibungkus itu mengandung kacang panjang, sawi, terong, daun selada, daging sapi dan bumbu kacang untuk kuah yang gurih, yang akan kami makan dengan sambal terasi untuk makan malam di kamar hotel, sebelum kami check out.

Perjalanan pulang ke Jakarta direncanakan akan transit sebentar di Bandara Changi Singapura, dengan menggunakan maskapai Philippine Airlines, yaitu sebuah pesawat berbadan lebar Airbus A320-200 dengan kode PE 503, yang berangkat dari terminal II NAIA (Ninoy Aquino Internaitonal Airport) di Manila. Philippine Airlines ternyata merupakan maskapai penerbangan pertama di Asia. Penerbangan tersebut terjadi pada 15 Maret 1941 dengan sebuah pesawat bermesin ganda Beech Model 18, yang terbang sejauh 212 km dari Manila ke Baguio Ciyu, dengan mengangkut 5 orang penumpang. Selama terjadi Perang Dunia II pada Desember 1941, maskapai ini dikuasi militer dan banyak pesawatnya yang tertembak jatuh. Pada periode setelah perang, maskapai ini beroperasi lagi, yaitu sejak 14 Februari 1946, dengan 5 buah pesawat bekas militer Douglash DC3s. Mulai bulan Juli 1946, maskapai ini menyewa DC4s untuk mengakut tentara AS ke Oakland di California, dan peristiwa ini merupakan penerbangan maskapai Asia pertama menyeberangi Samudera Pasific. Pada 12 Mei 1947, maskapai ini juga merupakan maskapai Asia pertama yang menerbangkan penumpang ke Eropa, yaitu penerbangan terjadwal ke Madrid, Spanyol. Pada dekade 1970-an maskapai ini telah menjangkau 2/3 belahan dunia. Saat ini Philippine Airlines memiliki 36 pesawat, termasuk 5 buah pesawat super jumbo B747-400 yang berkapasitas 383 penumpang dan pesawat terbaru adalah 2 buah B777-300ER, yang dimiliki sejak November 2009.

Seluruh penjelajahan di Filipina ini dapat terwujud karena persiapan yang cukup, bantuan yang layak dan restu yang banyak dari berbagai pihak, dengan menghabiskan 4 hari 5 malam dan dana 1,5 kali lipat gaji resmi selama sebulan. Demikian laporan perjalanan ini, semoga bermanfaat bagi banyak orang. Terima kasih.

sekian

ditulis di pinggir kolam renang Taal Visa Hotel di Tagaytay City, Filipina

12 Januari 2012

*) pelancong Jawa berdana cekak.

Categories
anak antibiotika dokter Healthy Life Jalan-jalan

2010 Taiwan Tenan

TAIWAN TENAN

fx. wikan indrarto*)

Rabu, 22 Sep 2010, dengan pesawat Garuda GA-205 sebuah Boeing 737-200, pk. 09.15, kami meninggalkan Yogyakarta menuju Jakarta. Perjalanan dilanjutkan dengan pesawat China Airlines CI-762 sebuah Airbus A330-300 dari Jakarta ke Taipei yang berangkat pk. 14.15. Perjalanan dari bandara CGK (Cengkareng Jakarta) perlu waktu 5 jam sampai di bandara TPE (Toyuan International Airport Taipei, Taiwan). Kami mencari bagasi di bandara TPE sekitar pk. 22 waktu setempat (sesuai dengan WITA) dan dilanjutkan dengan perjalanan darat menggunakan taxi Honda New Accord setir kiri matic, melalui jalan tol bandara, dengan tarif NT$ 1.200 (setara Rp. 350.000) selama 35 menit untuk sekitar 40 km, menuju Hotel First yang berbintang 3. Petualangan di Taiwan segera dimulai.

Peta

Pulau Taiwan dari atas satelit. Taipei terletak di ujung utara pulau tersebut

100_4217

Tiba di stasiun MRT kota Taipei (Taipei Main Station) yang bersih dan modern

Taipei adalah pusat kegiatan politik, ekonomi dan budaya Taiwan. Letaknya di sisi utara Pulau Taiwan, yaitu di tepi sungai Danshui dan dikelilingi banyak gunung. Luas Taipei 272 km2, dihuni 2,6 juta orang warga dan berkepadatan penduduk 9.5888,5 orang/km2, sehingga merupakan salah satu kota terpadat penduduknya di dunia. Saat ini Taipei melanjutkan dominasinya di bidang perdagangan, keuangan, media dan pusat komunikasi dunia, bahkan pemerintah kota Taipei sedang menerapkan rencana ‘Cyber City’ dengan sistem teknologi informasi yang terpadu. Selain itu, pembangunan gedung-gedung pencakar langit ‘The Taipei World Trade Center’, ‘The Nanking Economic and Trade Park’ dan yang paling spektakuler adalah Taipei 101, merupakan bukti keunggulan arsitektur dan teknologi Taiwan yang canggih dan modern. Namun demikian, pusat-pusat budaya seperti Chiang Kai-shek Memorial, National Palace Museum dan Sun Yat-sen Memorial, tetap lestari dan menunjukkan kemegahan gaya kuno dan Cina klasik yang berdampingan secara wajar dan serasi dengan kemajuan teknologi. Malam itu kami tertidur dengan bayangan keindahan yang telah kami baca sebelumnya, akan kami lihat sendiri keesokan harinya.

Kamis 23 Sep 2010, dari Hotel First di Nanjing East Road, kami berjalan kaki sekitar 800 m ke Zhongshan MRT Station, yaitu stasiun kereta api dalam kota yang terdekat, dan langsung membeli Easy Card, sebuah kartu pembayaran elektronik. Kami naik MRT Danshui Line ke Taipei Main Station. Di ‘interchange station’ yang sangat ramai tersebut, kami berganti MRT Bannan Line ke Sun Yat-sen Memorial Hall Station. Meskipun di stasiun besar kota Taipei tersebut sangat ramai manusia, tidak satupun yang berbicara, semua berjalan cepat dalam keteraturan, baik di lorong, di eskalator, maupun di tangga. Siapa yang merasa lebih lambat berjalan atau berdiam di eskalator yang melaju, selalu berada di sisi kanan, sehingga orang lain yang lebih tergesa akan mendahuluinya melalui sisi kiri dan semua merasa nyaman. Dari stasiun MRT kami jalan kaki lagi hampir 500 m ke Sun Yat-sen Memorial Hall, sebuah bangunan besar untuk mengenang jasa Dr. Sun Yat-sen yang artistik, besar dan damai. Kami sempatkan berfoto di depan patung besar Dr. Sun Yat-sen yang merupakan tokoh utama terbentuknya Republik China saat awal abad 20. Setelah itu, kami melihat benda-benda bersejarah peninggalan Dr. Sun Yat-sen yang masih tersisa, sebab sebagian besar hancur atau tertinggal di Cina daratan setelah kaum nasionalis dikalahkan kaum komunis dalam Perang Saudara 4 tahun di pertangahan abad 20 lalu. Setelah berfoto dan merasakan sensasi kewibawaan Dr. Sun Yat-sen di lapangan utama yang luas, kami lanjutkan dengan berjalan kaki lagi melewati Grand Hyatt Taipei Hotel menuju ke gedung Taipei 101, sebuah monumen teknologi konstruksi yang luar biasa dan pernah merupakan gedung tertinggi di dunia dengan total ketinggian bangunan 449 m, meskipun sekarang telah dikalahkan oleh Burj Dubai.

100_4258

Bergaya di gerbang arena konggres ACPID di TICC (Taipei International Convention Center)

100_4224

Patung besar Dr. Sun Yat-sen yang berwibawa di Sun Yat-sen Memorial Hall

Sepanjang perjalanan kami amati banyak sekali mobil buatan Jepang seperti di Indonesia, bahkan Toyota Kijang kapsul di Taiwan dinamakan Surf, yang cukup banyak berseliweran. Juga taxi merupakan mobil buatan Jepang, persis seperti yang digunakan para orang mapan di Indonesia yang baru dan mahal, seperti Camry, Accord, Civic, Lancer, Wish, Altis dan Vios. Kami mencari loket untuk ‘entrance observatory Taipei 101’ yang berada di lantai 5 gedung tersebut yang buka pada pk. 11-22. Setelah membeli tiket masuk seharga NT$ 400/orang, kami bergabung dalam antrian pengunjung yang panjang dan teratur untuk masuk lift. Sebelum masuk terdapat ‘snapshot service’, yaitu layanan foto digital sistem ‘croping’ (paduan gambar) dengan latar belakang gedung Taipei 101, yang hasilnya bisa dipilih pengunjung, suasana malam atau siang hari. Kami menggunakan lift tercepat di dunia, yaitu saat naik berkecepatan 1.010 m/menit dan saat turun berkecepatan 600 m/menit. Lift buatan Toshiba Jepang itu masuk Guinness World Record, sehingga kami sampai ke lantai 89 hanya perlu waktu 39 detik. ‘Basement’ di gedung itu terdapat 5 lantai, ‘sky lobby’ di lantai 35, 36, 59 dan 60, sedangkan ‘observatory lobby’ yang kami tuju berada di lantai 89.

Warga Taiwan merasakan hampir 200 kali gempa bumi dalam setahun, atau hampir paling sering di dunia. Meskipun demikian, mereka ‘menantang’ maut dengan membangun gedung tertinggi di dunia, yaitu gedung Taipei 101 yang dibangun di jantung kota Taipei setinggi 508 m setelah ditambah tinggi antena komunikasi di atapnya, dan telah menjadi pusat bisnis, teknologi dan perbelanjaan sejak tahun 2003. Di gedung Teipei 101 yang merupakan ‘Landmark in Taipei’, terdapat ‘Super Big Wind Damper’ yang disebut ‘Damper Baby’s’, yaitu sebuah bola baja bercat kuning dengan diameter 5,5 m, berat 660 metric ton. Saking tingginya gedung, terasa sekali sensasi terayun-ayun di atap gedung. Namun demikian, kehadiran bola itu mampu menopang gedung, sehingga tetap kokoh berdiri. Bola ini tersusun dari 41 lapis baja setebal masing-masing 12,5 cm plat baja, digantungkan pada 42 meter tali baja dengan diameter 9 cm sebanyak 16 buah, sehingga dapat mengurangi gerakan bagian puncak gedung sampai 40%, apabila terjadi gempa bumi atau tiupan topan. Inilah puncak teknologi konstruksi para insinyur Taiwan dan Jepang untuk menantang alam, sebab gempa bumi dan topan adalah kejadian alam tersering di Taiwan. Gedung ini dialiri listrik dari 2 buah sumber listrik mandiri berkekuatan 22,8 KV.

100_4250

‘Super Big Wind Damper’di lantai 88 gedung Taipei 101

100_4226

Gedung Taipei 101 dilihat dari halaman depan Sun Yat-sen Memorial Hall

Setelah puas melihat pemandangan alam kota Taiwan di balik kaca dari ‘indoor observatory’ di lantai 89, kami naik tangga ke lantai 91 yang merupakan ‘outdoor observatory’ dalam ketinggian 386 m. Kami juga melihat pemandangan kota Taiwan secara langsung, sehingga juga dapat merasakan sensasi hembusan angin. Wuih, luar biasa kuatnya terpaan angin di ketinggian tersebut. Akhirnya kami turun tangga ke lantai 88 untuk melihat bola ajaib, ‘Damper baby’s’ itu dari dekat, sebab bola tersebut menempati 2 lantai, yaitu dari dasar lantai 88 sampai pertengahan lantai 89. Setelah berfoto dan menikmati ‘coral art’ atau cinderamata dari kerang dan batu hias dasar laut lainnya di lantai 88 sisi luar, lalu kami turun dengan lift tercepat di dunia, yang dalam waktu 45 detik sudah tiba kembali di lantai 5, yaitu ‘entrance observatory Taipei 101’ untuk mengambil tas bekal yang harus dititipkan di loket. Setelah kami puas menikmati ‘lobby entrance’ yang artistik, futuristik dan ramai pengunjung tersebut, kami lanjutkan dengan berjalan kaki di sekitar gedung. Di tepi jalan ada persewaan sepeda seharga NT$ 1.999 yang dapat dibayar secara digital dengan Easy Card. Sepeda yang kami pilih berjajar rapi di jalur sepeda dan terkunci otomatis pada tiang kunci yang berbentuk seperti ‘hidrant’ pemadam kebakaran. Kami mencobanya berulang, dengan mengikuti petunjuk yang ada, tetapi tetap tidak berhasil, yang ternyata karena ‘safe deposit’ di Easy Card kami tidak mencukupi. Wajar saja, karena kami hanya membeli nominal terkecil, yaitu NT$ 500 dan sudah terpakai naik MRT berulang kali.

Camry

Taxi Toyota All New Camry yang mewah, luas, dan terjangkau

100_4305

Gerbang lokasi konggres ACPID di TICC (Taipei International Convention Center)

Setelah makan siang di warung kaki lima ber-AC di pinggir jalan Guangfu Road dengan menu utama mie Cina, kami menuju TICC (Taipei International Convention Center) dengan berjalan kaki, untuk mengikuti ACPID (The 5th Asian Conggress of Pediatric Infectious Diseases). Kami sempat naik taksi karena sudah kelelahan, tetapi sopir taxi yang jujur mempersilakan kami jalan kaki, karena gedungnya tidak jauh. Hampir semua sopir taxi di Taipei sudah manula, sehingga harus menggunakan kacamata baca atau kaca pembesar untuk membaca tulisan tujuan kami dalam huruf latin ataupun kanji. Taiwan memberdayakan para manula untuk tugas-tugas non fisik di banyak sektor, misalnya sopir taxi, penerima tamu ruang makan hotel, pembersih mesin karcis digital di stasiun MRT dan lain-lain. Setelah melakukan registrasi dan bertemu beberapa peserta dari Indonesia, kami mengikuti sesi khusus bertema ‘Important Infectious Diseases in Taiwan and Japan’. Selanjutnya, kami ikuti ‘Keynote Lecture’ dengan tema ‘Hepatitis B Virus Infection, Host and Virus Interaction’ oleh Prof Mei-Hwei Chang dari Taiwan. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Chiang Kai-sek Memorial Hall. Dari TICC kami menggunakan taksi Toyota Wish bertarif NT$ 90 ke stasiun MRT di Sun Yat-sen Memorial Hall. Kami naik MRT Banqiao Line melewati stasiun Zhongxiao Fuxing, Xinsheng, Shandao Temple dan berganti MRT Xindian Line di Taipei Main Station.

Setelah MRT Xindian Line melewati NTU (National Taiwan University) Hospital Station, kami turun di Chiang Kai-shek Memorial Hall Station. Kami memasuki kompleks Chiang Kai-shek Memorial Hall atau juga dinamakan ‘National Taiwan Democracy Memorial Hall’, dimana terdapat gedung konser (‘National Concert Hall’ beratap model Xie Shan) dan teater (‘National Theater’ beratap model Wu Dian) yang merupakan gedung kembar di dekat gerbang masuk yang disebut ‘Da Zhong Zhi Zheng’ atau ‘Great Golden Mean and Extreme Righteousness’, dilengkapi lapangan ‘Liberty Square’ seluas 3.000 m2, bergaya arsitektur China saat keemasan Dinasti Ming, yang beratap oktagonal warna biru langit setinggi 30m dan dipadu dengan pilar-pilar berwarna putih. Memorial Hall tersebut berarsitektur China klasik beratap biru, berdiri megah dalam areal seluas 25 ha, berlantai 5 dan di puncak gedung terdapat patung besar Presiden Chiang Kai-shek yang sedang duduk dalam ketinggian 70 m, yang dicapai dengan 89 anak tangga dan melambangkan usianya saat meninggal. Patung dan tersenyum ramah melihat keramaian aktivitas kota Taipei, di antara 2 buah bendera Taiwan yang melambangkan ‘freedom, equality and philanthropy’. Kami berfoto-foto dan melihat koleksi pribadi sang presiden di lantai 2 & 3, berupa 6 buah ruang pamer yang menampilkan pakaian, topi, medali, dokumen, foto, patung Presiden seukuran asli yang sedang duduk di ruang kerjanya karya Lin Jian-cheng, dan termasuk mobil kepresidenan. Salah satunya adalah mobil Presiden Chiang Kai-shek yang digunakan antara tahun 1972-75, sedan Cadilac hitam buatan tahun 1972, berisi 7 tempat duduk, seberat 2 ton, berukuran 632x208x150 cm.

100_4265

Chiang Kai-shek Memorial Hall yang ramai dikunjungi wisatawan

Cadilac

Cadilac hitam buatan tahun 1972, mobil Presiden Chiang Kai-shek.

Seperti kita ketahui bersama, Jenderal Chiang Kai-sek melanjutkan semangat Dr. Sun Yat-sen untuk berperang melawan Partai Komunis Cina di bagian timur dan utara Cina daratan, yang akhirnya tersingkir kalah dan menyeberang ke pulau Taiwan. Pada 5 April 1975 jenderal besar tersebut meninggal dan generasi penerusnya di seluruh dunia berniat membangun sebuah kenangan dengan arsitek utama Mr. Yang Zhao-cheng. Pembangunan konstruksi awal dimulai pada 31 Oktober 1976, tepat pada peringatan HUT Presiden Chiang Kai-shek, dan gedung tersebut diresmikan pada 5 April 1980. Gedung yang arsitekturnya berkonsep semangat budaya Cina dipadu dengan teknologi modern, sehingga menghasilkan ruang utama yang membuat pengunjung merasa ‘solemnity, familiarity and tranquality’. Gedung ini memiliki 3 gerbang, yaitu gerbang utama, ‘Great Loyalty Gate’ yang menghadap sisi utara ke Xinyi Road, ‘Great Piety Gate’ yang menghadap sisi selatan ke Aiguo East Road, semuanya dihubungkan dengan tembok pagar sepanjang 1.200 m, dengan jendela bergaya Cina setiap 4,5 m, sehingga total ada 26 buah jendela.

100_4266

Patung besar Presiden Chiang Kai-shek

100_4262

Gerbang utama ‘Da Zhong Zhi Zheng’ arsitektur China saat keemasan Dinasti Ming

Setelah puas, kami menyusuri jalan Xinyi, melewati Ketagelan Boulevard untuk menuju Presidential Building. Istana Presiden yang berwarna merah bata tersebut tidak sebesar bayangan kami, bahkan lalu lintas dapat sangat dekat dengan kompleks istana yang seolah tidak terjaga. Istana presiden yang ramah, sebab tidak terkesan jauh dengan rakyatnya yang boleh berlalu lintas sampai sebegitu dekatnya. Setelah berfoto sebentar, kami lanjutkan perjalanan dengan taxi Toyota Corrola All New Altis bertarif NT$ 75 ke Ximen Station, untuk naik MRT Banqiao Line menuju Zhongiao Fuxing Station, lalu ganti MRT Neihu Line yang menuju Nanjing East Road Station. MRT yang terakhir ini tidak melaju di bawah tanah, tetapi justru di atas tanah. Dari Nanjing East Road Station, kami menuju Liaoning Street Night Market dengan berjalan kaki menyusuri pertokoan dan kadang berteduh karena hujan turun cukup deras. Pasar malam tersebut khusus menjajakan aneka makanan khas Taiwan, yang dijajakan dalam tenda semi permanen. Kami mencoba menu nasi putih, udang rebus, telor ikan dan irisan daun kubis yang semuanya dingin & tawar tanpa rasa. Setelah kami campur dengan berbagai bumbu yang ada di meja, kami santap dengan sumpit logam dan sendok kecil yang cembung. Makanan bertarif NT$ 280 itu habis dalam sekejap karena kelaparan hebat. Kami lanjutkan naik taxi Honda New Civic bertarif NT$ 85 sampai ke Fisrt Hotel, tempat kami menginap.

Setelah mengikuti acara ‘Meet the Expert’ di hari kedua konggres dengan tema ‘Update of Management on Acute Otitis Media’ oleh Prof. Cheng-Hsun Chiu dari Taiwan dan Prof. David Greenberg dari Israel, kami melanjutkan perjalanan ke Taroko National Park di Kabupaten Hualien. Perjalanan kami mulai dari Taipei Main Station di konter HSR (High Speed Railway atau kereta api super cepat) untuk Eastern Line dengan membeli tiket di mesin layar sentuh. Rute Western Line ke berbagai kota di Taiwan sudah tersambung semua dengan HSR, yang bahkan mampu menempuh batas kecepatan 350 km/jam, merupakan salah satu kereta api tercepat di dunia. Rute kami Easter Line tidak dilayani HSR tersebut, tetapi Express Railway (kereta api cepat) karena medan jalannya yang sulit, bergunung-gunung, melewati banyak terowongan dan sangat berbahaya untuk kecepatan tinggi. Mesin pembelian tiket otomatis sangat canggih dan cukup membingungkan, untunglah kami dibantu oleh petugas yang ramah, sebab tulisan di layar dengan huruf kanji besar, tetapi huruf latin sangat kecil. Kami membeli tiket menuju kota Hualien seharga NT$ 400/orang. Setelah itu, perjalanan ke lobi stasiun harus bertanya beberapa kali, karena petunjuk dalam huruf latin hanya tertulis kecil-kecil. Perjalanan dengan kereta api terasa sangat nyaman, sebab dari gerbong yang bersih dan kedap itu, kami menyaksikan kemacetan lalu lintas di berbagai jalan raya, terkait hujan lebat dan banyaknya kendaraan.

Express Railway 1061 di stasiun Hualien100_4276

Express Railway 1061 di stasiun Hualien

100_4292

Taroko Monumental Archway, gerbang di dekat terowongan bukit

Kami melewati Xincheng (Taroko) dan turun di stasiun kota Hualien. Kereta api kami nomor tujuan akhirnya stasiun Hualien dan akan kembali ke Taipei. Setelah makan siang di stasiun kami membeli tiket bus seharga NT$ 86/orang untuk menuju Taroko National Park. Petugas loket adalah gadis berwajah Cina yang sigap melayani pembeli tiket. Stasiun Hualien terpadu dengan terminal bis dan taxi yang rapi dan bersih, banyak ‘guide’ lokal dan sopir taxi yang menawarkan jasa mengantar wisatawan menelusuri taman nasional tersebut. Di sana juga tersedia bus wisata terjadwal yang gratis dan akan menyusuri Hualien Traveler Center di dalam kompleks stasiun Hualien, Hualien Airport, stasiun Xincheng, Taroko Monumental Archway, Taroko National Park Traveler Center, Sha Ka Dang Pathway, Bu Luo Wan Rest Area, Yan Zi Kou, Jiu Qu Dong, Heliu, Lusui, Tianxiang. Karena waktu yang tidak tepat, kami terpaksa naik bus umum tadi dan turun di Taroko National Park Traveler Center.

Di seluruh Kabupaten Hualien (Hualien County) di bagian timur Taiwan, terlihat deretan bukit kapur atau karst yang mengerucut dan sambung menyambung. Di tengahnya terdapat Taman Nasional Ngarai Taroko atau Taroko Gorge National Park, goa-goa kapur dengan bebatuan marmernya menyeruak ke atas. Pemerintah Taiwan melarang keras aktivitas penambangan di bukit Taroko, sehingga tidak hanya menjadi aset wisata menarik, tetapi Taroko Gorge sekaligus berperan sebagai perisai penahan angin topan dari Samudera Pasifik, yang hampir setiap tahun menerjang. Batuan marmer berkilau keperakan, akan terlihat saat tertimpa sinar matahari di atas aliran Sungai Liwu, sungai utama di taman nasional itu. Taman seluas 92.000 ha dapat dilalui kendaraan umum melalui jalan raya sepanjang 78 km yang dibangun pada tahun 1956-1960. Melintasi jalan yang dinamakan Central-Cross Island Highway, kita semua akan dibuat kagum ketika menembus bukit-bukit kapur melalui 38 terowongan. Terowongan terpanjang disebut Terowongan Sembilan Tikungan (Tunnel of Nine Turns) sepanjang 1.200 m.

100_4282

Bis kami di Central-Cross Island Highway dekat Taroko National Park Traveler Center.

100_4277

Pintu masuk ke Taroko Gorge National Park

Kami tidak sempat berjalan terlalu jauh, sebab hujan & kabut tebal sudah mulai turun, sehingga ‘Shimen Mountain’, ‘Tunnel of Nine Turns’ (Jiuqudong), ‘Buluowan Meander Core Park’, ‘Eternal Spring Shrine’ (Changeehun), ‘Lushui’, dan ‘Baiyang’ yang telah kami baca di internet sebelumnya, tidak sempat kami kunjungi. Kami hanya berkeliling di sekitar ‘Central Goss Island Highway East Entrance Gate’ dekat Sungi Liwu yang lebar dengan ‘Taroko Bridge’, sebuah jembatan artistik yang tiangnya melengkung-lengkung indah berwarna putih cerah. Setelah puas berfoto di ‘scenic area’, kami melanjutkan perjalanan pulang. Bus umum dan taxi sangat sulit kami peroleh, yang banyak sekali lewat hanya bus pariwisata dan mobil carteran. Setelah sekian lama menunggu di halte bus, untung saja ada seorang ibu yang baik hati, memberi tumpangan dengan sedan Ford Laser merah tua yang tidak bersedia dibayar, meskipun kami diantar sampai ke halaman parkir stasiun Xincheng atau Sincheng (Taroko). ‘Xie xie’ atau ‘terima kasih’, hanya itu yang bisa kami ucapkan untuk ibu yang baik hati itu. Kami tepat waktu karena hanya menunggu 2 menit untuk pulang dengan Kereta Api CK Express yang berangkat dari Stasiun Hualien dan kami naik dari stasiun ke 2, yaitu stasiun Sincheng menuju ke Taipei yang bertarif NT$ 312/orang. Kami menyusuri jalan kereta yang sama dengan yang kami lalui sewaktu berangkat, yaitu stasiun Heping, Nan-ao, Dong-ao, Su’aoxin, Dongshan, Luodong, Yilan, Jiaoxi, Dingpu, Toucheng, Fulong, Qidu, Xishi, Rueifang, Songshan dan Taipei dalam waktu 3,5 jam.

Dari Taipei Main Station kami berganti dari KA Express di atas tanah ke MRT di bawah tanah untuk menuju ke stasiun Sun Yat-sen Memorial Hall, mengambil foto gedung Taipei 101 yang gemerlap di waktu malam. Cahaya lampu berpendar, dalam berbagai warna meriah yang diselimuti sedikit kabut, terutama pada 1/3 bagian atas gedung tinggi yang artistik itu. Setelah itu, kami berjalan kaki melanjutkan acara makan malam di warung makan yang hampir tutup di pinggir Gungfu Road yang lebar. Perjalanan kami lanjutkan dengan naik taxi Toyota All New Camry bertarif NT$ 80 ke ‘Tonghua and Linjiang Street Night Market’, yaitu salah satu dari 9 pasar malam di Taipei untuk membeli cinderamata, oleh-oleh khas Taiwan. Sayang sekali, meskipun pasar malam tersebut sangat ramai dan buka sampai dini hari, tetapi tidak menjual benda-benda yang kami cari. Akhirnya kami putuskan pulang ke hotel dengan naik taxi Nissan Sentra bertarif NT$ 80 ke Da-an MRT Station untuk menuju Nanjing East Road Station, dimana MRT pada jalur tersebut melaju di jalan layang menyusuri pertokoan, bukan di bawah tanah yang gelap dan dilanjutkan dengan naik taxi All New Camry bertarif NT$ 80 sampai ke Hotel First tempat kami menginap.

100_4273

Makan malam di pasar malam ‘Tonghua and Linjiang Street Night Market’

100_4257

Pada acara ‘Meet the Expert 3’, tetapi bukan sebagai expert

Hari Sabtu, 25 September 2010, setelah mengikuti acara ‘Meet the Expert 3’ yang bertema ‘Continuous Challenge of Antimicrobial Resistance in Gram-negatives’ oleh Prof. Davis P. Nicolau (USA) dan Prof. Po-Ren Hsueh (Taiwan) kami melanjutkan perjalanan ke Maokong Gondola. Dari Nanjing East Road Station, kami naik MRT di jalan layang, bukan bawah tanah (subway), melewati stasiun Zhongxiao Fuxing, Daan, Technology Building, Liuzhangli, Linguang, Xinhai, Wanfang, Muzha, dan yang terakhir Taipe Zoo untuk lanjut ke Maokong Gondola. Meskipun di jalan layang, kami tetap harus masuk ke terowongan, sebab antara stasiun Linguang dan Xianhai di sisi timur luar kota Taipei ada gunung yang harus ditembus, luar biasa. Kami hanya berdua saat naik gondola atau kereta gantung yang maksimal berkapasitas 8 orang ini, dimana jalur Maokong Gondola ini merupakan jalur kereta kabel (cable car system) terpanjang di dunia, yaitu sampai 4 km, melalui Kebun Binatang Taipei, Zhinan Temple dan Maokong. Pemandangan di bawahnya sangat indah, meliputi banyak apartemen di perbukitan, bahkan gedung Taipei 101 di pusat kota, kebun teh yang luas, hutan hijau dengan banyak jalur pendakian, dan suasana kebun binatang, yang diselingi suara burung berkicau dan angin yang mencicit karena bertiup kencang melalui celah-celah jendela gondola.

100_4301

Kereta gantung yang kami naiki di Maokong Gondola Station

100_4299

Gedung Taipei 101 di waktu malam yang bermandikan cahaya

Setelah puas naik gondola, kami lanjutkan dengan belanja cindera mata serba MRT di Metro Gondola Shop, yaitu mug dan tas bergambar simbol, rute dan gambar MRT Taipei. MRT (Mass Rapid Transport) atau kereta api dalam kota di Taipei memiliki 5 jalur, yaitu Brown atau Neihu Line, Red atau Tamshui Line, Orange atau Zhonge Line, Green atau Xindian Line, dan Blue atau Nangang Line. Kami kembali ke tempat konggres dengan MRT Nangang Line berangkat dari Taipei Zoo Station menuju Liuzhangli Station untuk berganti taxi Mitsubishi Lancer dengan tarif NT$ 80 ke TICC. Kami ikuti acara ‘Simultaneous Symposium’ oleh Prof. Ian M. Gould dari Inggris dengan tema ‘New Antibiotics for Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA)’ dan ‘Plenary Lecture’ oleh Prof. Gregor Reid dari Kanada dengan tema ‘The Role of Probiotics in Infectious Diseases’. Setelah acara makan siang, kami ikut ‘Hospital Tour’ ke NTU (National Taiwan University Children Hospital) menggunakan bus wisata yang disewakan panitia. Dr. Frank Lu, direktur RS tersebut, menyambut kami semua dengan sangat ramah, menjelaskan latar belakang, sejarah dan pengembangan RS tersebut. RS yang mulai berkarya tahun 2008 tersebut memiliki 450 tempat tidur, memiliki semua dokter ahli anak sub spesialis, dalam kerja sama dengan dokter ahli bedah, anestesi, radiologi, psikiatri, THT, gigi, dan urologi yang dikhususkan untuk pasien anak rujukan nasional dengan sakit berat dan rumit. Arsitektur gedung RS milik pemerintah dengan donasi 6 yayasan sosial dan 8 industri besar tersebut berfokus pada ‘Children Healing Environment Design’. Dengan demikian, eksterior gedung, dan terutama interior gedung bernuansa cerah dan mengikuti hukum alam, bahwa anak perlu bermain (‘Play is a very important activity in children’s daily life’). Anak dan orangtuanya akan didukung sepenuhnya untuk merasa nyaman, kerasan dan cepat sembuh.

100_4322

Gerbang National Taiwan University Children Hospital

100_4311

Ruang tunggu klinik anak yang bernuansa cerah, untuk anak-anak

Setelah keliling kompleks RS, kami memisahkan diri dengan rombongan dan naik taxi Nissan Sentra ke Chiang Kai-shek Memorial Hall, untuk membeli cinderamata di lantai 1 gedung megah yang pernah kami kunjungi 2 hari sebelumnya. Dari situ kami lanjutkan perjalanan pulang dengan MRT ke Zhongsan Station, dan diselingi penukaran uang kembali (refund) kartu bayar digital Easy Card, karena kami sudah akan pulang ke Indonesia, juga makan bakso racikan sendiri di swalayan 7-Eleven, kami lanjutkan perjalanan dengan taxi Toyota All Nem Camry bertarif NT$ 80 pulang ke Hotel First untuk beristirahat sore. Hari itu aktivitas kami terakhir adalah berbelanja oleh-oleh makanan kecil khas Taiwan, di sebuah supermarket dekat hotel kami, yaitu 13 item makanan kering dengan total harga NT$ 680. Malam itu kami tidur nyanyak setelah semua barang kami kemasi dan bersiap bangun pagi untuk mengejar pesawat China Airlines pk. 08.45 ke Jakarta. Kami bayangkan akan merasakan canggihnya ‘self check-in zone’ di Touyuan International Airport Taiwan, yang katanya telah membuat calon penumpang tidak perlu antri panjang saat pelaporan diri (check in), bahkan memungkinkan calon penumpang untuk berganti tempat duduk (nomor seat), dengan melihat skema pengaturan ‘seat’ di pesawat, yang tampil nyata di layar komputer sentuh. China Airlines yang operasional sejak 1959, merupakan maskapai penerbangan pelopor dalam memberikan nomor tempat duduk sejak awal, yaitu sewaktu calon penumpang membeli tiket, bukan setelah ‘check in’ di bandara. Saat kami ‘check in’ itu, acara ‘Meet the Expert 5’ dengan tema ‘Management of Community-acquired Pneumonia’ oleh Prof. Ron Dagan dari Israel dan Prof. Tzou-Yien Lin dari Taiwan pada hari terakhir konggres, yang sangat mungkin hanya diikuti oleh jauh lebih sedikit peserta, dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Total perjalanan 5 hari ini menghabiskan anggaran setara dengan 1 kali gaji, di luar biaya transportasi pesawat dan penginapan. Disampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak, dengan peran masing-masing dalam mendukung terselenggaranya perjalanan ini, dari awal perencanaan, pelaksanaan, bahkan sampai pada penyusunan dan penyebarluasan laporannya. Betul-betul kami telah melawat di Taiwan atau Taiwan Tenan.

Sekian

Sabtu, 25 September 2010, pk. 20.15

ditulis di kamar 104 First Hotel, 63 Nanking East Road, Sec. 2,

Taipei, Taiwan.

*) pelancong Jawa berdana cekak

Categories
anak dokter Healthy Life Jalan-jalan sejarah

2018 TIMUR AMERIKA di New York

NEW  YORK  HARI  PERTAMA

fx. wikan indrarto*)

Setelah petualangan 1×24 jam di Pantai Barat Amerika Serikat, tepatnya di San Fransisco pada hari Minggu, 21 Agustus 2016, sepulang dari mengikuti acara ‘the 28 the International Congress of Pediatrics 2016 di ‘West Building Vancouver Convention Centre’, Kanada, kami melakukan petualangan yang kedua kalinya ke daratan yang sama. Kami akan bertualang di Pantai Timur Amerika Serikat, saat mengikuti event  ‘the 16 th Annual World Congress on Pediatrics’. Acara ini diselenggarakan di Hilton New York JFK Airport Hotel, 135th Avenue, Jamaica, New York 11436 USA. Apakah lebih seru?

Canada

Peserta dari Indonesia pada ‘the International Congress of Pediatrics 2016 di Vancouver Kanada

20160821_130442

Golden Gate di Teluk San Fransisco pada hari Minggu, 21 Agustus  2016 sepulang dari Kanada

Dengan pesawat Cathay Pacific Airways Airbus A359 CX 798, kami meninggalkan  Jakarta pada Senin, 19 Maret 2018 dini hari, pk. 00.10 untuk menuju ke Hong Kong. Jarak  yang kami tempuh adalah 223,95 km (139,16 mil) dalam waktu 4 jam 45 menit. Airbus A350 XWB (eXtra Wide Body) adalah keluarga pesawat jet berbadan lebar yang  dikembangkan olehprodusen pesawat Eropa, Airbus. A350 menjadi pesawat Airbus pertama dengan struktur kedua sayap pesawat dibuat dari polimer yang diperkuat dengan serat karbon. Pesawat ini mampu membawa 270-350 penumpang di tempat duduk kelas tiga. Rancangan A350 pertama kali diumumkan pada tahun 2004, untuk menyaingi Boeing 787, dengan menawarkan sebuah upgrade dari A330 dengan mesin baru dan perbaikan aerodynamis untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar. Terbang perdana pada 14 Juni 2013 dan diperkenalkan untuk umum pada 2014. Pesawat dengan tipe A350-900 berharga US$277.7 million atau €215 million, pada pemesanan tahun 2012.

Hong Kong

Hong Kong International Airport, sangat besar, sibuk, sejuk dan modern. Bandara tersebut terletak di Pulau Lantau, di sebalah barat Pulau Hong Kong.
Bandara ini mulai dibuka pada bulan Juli tahun 1998,
proses pembangunannya menghabiskan anggaran HK$ 155 milyar,
termasuk jembatan gantung penghubungnya yang elok (Tsing Ma Bridge).

Hong Kong adalah daerah istimewa di Cina (Special Administrative Region of China) sejak 1 Juli 1997, yang merupakan kota kosmopolitan dengan sekitar 7 juta penduduk. Wilayahnya meliputi daratan seluas 1.100 km2 yang tersebar pada pulau Hong Kong, Semenanjung Kowloon yang dipisahkan oleh Victoria Harbour dan daerah baru sebelah utara Kowloon sampai ke perbatasan Cina daratan yang disebut New Territories dan 260 pulau lainnya. Hong Kong adalah tempat yang mempertemukan tradisi Cina kuno dengan kebudayaan ultramodern.

Hong Kong pada awalnya hanyalah gugusan pulau batu karang dengan beberapa kampung nelayan yang diklaim Inggris pada tahun 1842, setelah pada Perang Candu Pertama (First Opium War) berhasil mengalahkan Cina, melalui perjanjian di kota Nanking (Treaty of Nanking). Semenanjung Kowloon dan pulau-pulau di sekitarnya (Stonecutters Island) kemudian diambil Inggris juga sejak tahun 1860. Perjanjian sewa dari Cina oleh Inggris selama 99 tahun, meliputi juga daerah New Territories, yaitu wilayah sebelah utara Kowloon sampai ke Sungai Shenzen dan 235 pulau kecil yang berserak, berlaku sejak tahun 1898. Maka sejak 1 Juli 1997 gubernur kolonial terakhir, Mr. Chris Patten, secara resmi menyerahkan kembali Hong Kong kepada penguasa Beijing, Cina dan sejak itu dikenal sebagai Special Administrative Region (SAR) of China dengan prinsip pengelolaan ‘1 negara, 2 sistem’. Saat ini Gubernur Hong Kong adalah Mrs. Carrie Lam, yang menjabat sejak hari Sabtu, 1 Juli 2017.

Transit

Saat transit di Hong Kong International Airport

Dalam Pesawat

Di dalam pesawat BOEING 777-300ER JET CX 830 menuju New York

Setelah beristirahat sekitar 4 jam, Pada Senin, 19 Maret 2018 pagi, pk. 9.35 kami meninggalkan Hong Kong menuju New York, menggunakan pesawat BOEING 777-300ER JET CX 830. Jarak yang akan kami tempuh adalah 12.964,67 km (8.055,87 mil) dalam waktu 15 jam 45 menit. Boeing 777 adalah sebuah pesawat penumpang sipil berbadan lebar, bermesin  ganda untuk penerbangan berjarak jauh, dibuat oleh Boeing Commercial Airplanes.  Dapat mengangkut antara 314 – 451 penumpang dan memiliki jangkauan dari 5.235 sampai 9.380 mil nautikal (9.695 sampai 17.372 km). Penerbangan pertama Boeing 777 pada tahun 1994. Ciri unik dari 777 termasuk enam roda pendaratan per set di setiap roda pendaratan utama, fuselage yang bundar sempurna, dan “tailcone” belakang yang menyerupai mata pisau. Pada 2005 harga satuannya sekitar US$213 juta, dan Boeing 777 dibuat untuk menjadi pengganti Boeing 747, namun lebih efisien. Oleh karena itu, Boeing 777 menjadi pesawat twinjet (mesin ganda) terbesar di dunia. Edisi 777 yang terbesar adalah 777-300 dan dengan jarak terjauh adalah 777-200LR. Emirates, maskapai nasional UEA adalah operator terbesar pesawat Boeing 777.

Bandara Internasional John F. Kennedy sering disebut JFK, adalah bandara internasional utama yang melayani Kota New York, dan merupakan gerbang penumpang udara internasional tersibuk di Amerika Utara, bandara tersibuk ke 16 di dunia, bandara tersibuk ke 5 di Amerika Serikat, yang menangani lebih dari 59 juta penumpang pada tahun 2017. Lebih dari sembilan puluh maskapai dalam penerbangan non-stop atau langsung, ke destinasi di enam benua yang berpenghuni. JFK terletak di sekitar Jamaika di wilayah Queens, New York, sekitar 16 mil (30 km) tenggara pusat kota atau Midtown Manhattan. Bandara ini memiliki enam terminal penumpang dan empat landasan pacu. Pada awalnya dibuka sebagai Bandara Internasional New York pada tahun 1948 yang dikenal sebagai Bandar Udara Idlewild, sebelum diganti namanya pada tahun 1963 untuk mengenang John F. Kennedy, Presiden ke 35 Amerika Serikat, setelah pembunuhannya.

Terminal 1

Terminal 1 Bandara Internasional John F. Kennedy di New York

Terminal 8

Terminal 8 yang megah, gagah dan artistik di Bandara Internasional
John F. Kennedy di New York

Pesawat kami mendarat di Terminal 8 Bandara Internasional John F. Kennedy di New York,  pada Selasa, 19 Maret 2018. Terminal 8 ini dibuka secara bertahap sejak tahun 2005 dan pembukaan “resminya” pada bulan Agustus 2007. Terminal 8 ini adalah hub bagi Oneworld dan American Airlines yang merupakan pembawa dan pengelola terminal terbesar dan merupakan operator terbesar ketiga di JFK. Cathay Pacific  pindah ke Terminal 8 dari Terminal 7 pada tanggal 15 Januari 2017. Terminal 8 ini dua kali ukuran Madison Square Garden. Perusahaan ini menawarkan puluhan gerai ritel dan makanan, 84 loket tiket, 44 kios swalayan, 10 jalur pemeriksaan keamanan dan fasilitas Customs and Border Protection yang dapat memproses lebih dari 1.600 orang per jam. Terminal 8 memiliki kapasitas penumpang 12,8 juta tahunan dengan 29 gerbang

Kaki terasa gemetar saat menginjakkan kaki di daratan Amerika Serikat, karena teringat akan Kristoforus Kolumbus (nama asli dalam bahasa Italia adalah Christoffa Corombo), yang lahir 30 Oktober 1451 dan dianggap sebagai penemu Benua Amerika. Kolumbus adalah seorang penjelajah dan pedagang asal Genoa, Italia, yang menyeberangi Samudra Atlantik dan sampai ke benua Amerika pada tanggal 12 Oktober 1492. Perjalanan tersebut didanai oleh Ratu Isabella dari Kerajaan Spanyol. Kolumbus sebenarnya bukanlah orang pertama yang tiba di daratan Amerika, dan ia juga bukan orang Eropa pertama yang sampai ke benua itu, karena orang-orang Viking dari Eropa Utara telah berkunjung ke Amerika Utara pada abad ke 11 dan mendirikan koloni L’Anse aux Meadows untuk jangka waktu singkat. Namun demikian, nama besar Kolumbus tetaplah dalam ingatan, saat tanggal 11 Oktober 1492, rombongan Kolumbus dengan tiga kapal, yaitu Nina (dikapteni oleh Vicente Pinzon Yanes), Pinta (dimiliki dan kapten oleh Martin Alonzo Pinzon) serta Santa Maria (dikapteni oleh Kolumbus), mendarat di sebuah pulau di Karibia yang mereka sebut Guanahani, tetapi Kolumbus kemudian menamainya San Salvador.

Columbus

Kolumbus mendarat di sebuah pulau di Karibia yang mereka sebut Guanahani, tetapi Kolumbus kemudian menamainya San Salvador pada 11 Oktober 1492.

Pos

New York adalah pos dagang komersial Belanda pada tahun 1624 dan dinamai ‘Amsterdam Baru’ hingga 1664, ketika koloni ini dimiliki Inggris.

New York City (NYC) memang jauh dari San Salvador di Karibia yang berjarak total 2.913 km, tetapi sensasi Kolumbus tetap terpatri di hati. NYC yang kami kunjungi memiliki lima wilayah utama atau Borough. Kelima wilayah tersebut adalah Manhattan, The Bronx, Brooklyn, Queens, dan Staten Island. Saat inui New York adalah kota terpadat di Amerika Serikat, dan pusat wilayah metropolitan New York yang merupakan salah satu wilayah metropolitan terpadat di dunia. Dengan luas 789 km² dan pada tahun 2016, memiliki penduduk sebanyak 8,538 juta (2016). Selain itu, New York adalah sebuah kota global terdepan, memberi pengaruh besar terhadap perdagangan, keuangan, media, budaya, seni, mode, riset, penelitian dan hiburan tingkat dunia. Sebagai tempat markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), kota ini juga merupakan pusat hubungan internasional yang penting. Kota ini sering disebut New York City (NYC) atau City of New York untuk membedakannya dari negara bagian New York, tempat kota ini berada.

Peta 1

Peta New York yang langsung dipelajari

Peta 2

Jalur subway di New York yang informatif, jelas dan mudah dipelajari

New York pada mulanya didirikan sebagai sebuah pos dagang komersial oleh Belanda pada tahun 1624. Permukiman ini dinamai ‘Amsterdam Baru’ hingga 1664, ketika koloni ini berada di bawah kekuasaan Inggris. New York berperan sebagai ibukota Amerika Serikat pada tahun 1785 hingga 1790. New York telah menjadi kota terbesar di AS sejak 1790. Sebanyak 800 bahasa dipertuturkan di New York City, sehingga menjadikannya kota dengan bahasa paling beragam di dunia.

Wilayah ini sebelumnya dihuni oleh penduduk asli Amerika Lenape, ketika ditemukan bangsa Eropa tahun 1524 oleh Giovanni da Verrazzano, seorang penjelajah Italia yang bekerja untuk kerajaan Perancis, dan menamainya “Nouvelle Angoulême”. Permukiman Eropa dimulai dengan pendirian permukiman perdagangan bulu domba oleh orang Belanda yang kemudian dinamai “Nieuw Amsterdam” (Amsterdam Baru), di ujung selatan Manhattan pada tahun 1614. Direktur Jenderal kolonial Belanda Peter Minuit membeli pulau Manhattan dari suku Lenape tahun 1626, senilai 60 guilden atau sekitar $1.000 pada 2006. Namun demikian, sebuah legenda yang diragukan mengatakan, Manhattan dibeli senilai $24 dalam bentuk manik-manik kaca.

Perang

Pada akhir Perang Inggris dan Belanda Kedua, Belanda memperoleh kekuasaan atas Run di Indonesia, yang merupakan aset yang lebih berharga sebagai ganti terhadap kekuasaan Inggris di New Amsterdam (New York) di Amerika Utara.

Poster

See More, BeMore adalah Poster ‘This Is New York City’, menyambut kami di Terminal 8 Bandara Internasional John F. Kennedy di New York

Tahun 1664, kota ini menyerah kepada Inggris dan berganti nama menjadi “New York”. Pada akhir Perang Inggris dan Belanda Kedua, Belanda memperoleh kekuasaan atas Run di Indonesia, yang merupakan aset yang lebih berharga sebagai ganti terhadap kekuasaan Inggris di New Amsterdam (New York) di Amerika Utara. Pada waktu itu Pulau Run, sebuah pulau kecil di Kepulauan Banda, Maluku, Indonesia, bernilai lebih tinggi daripada kota New York di Pulau Manhattan yang kala itu dinamakan Nieuw Amsterdam. Itulah ironi sejarah, pada paruh terakhir abad ke-17, bangsa Inggris dan Belanda berulang kali terlibat perebutan daerah penghasil rempah. Semasa itu, sekantong rempah bernilai lebih mahal dari sekantong emas dengan bobot yang sama. Serikat Dagang Hindia Timur Belanda (VOC) dan Serikat Dagang Hindia Timur Inggris (EIC) bersaing ketat dan sering terlibat konflik terbuka. Bahkan, terjadi pembantaian warga Inggris di benteng Belanda di Ambon, Maluku yang dikenal sebagai Amboyna Massacre yang memicu kemarahan Inggris.

Subway 1

Di dalam Subway Line J dari Sutphin Blvd tujuan Broad Station, bertarif $2,75 (difoto sambil KA berjalan).

Siap jalan

Siap jalan2 sore, setelah istirahat sejenak, untuk menembus suhu luar ruang 5 derejad Celcius

Dari Terminal 8 Bandara Internasional John F. Kennedy di New York kami berjalan kaki sekitar 3 menit menuju JFK Terminal 8 Air Train Station. Kemudian kami naik Air Train JFK Red Jamaica Airport selama 9 menit dengan 2 perhentian, yaitu Federal Circle Station dan turun di Jamaica Station. Dari situ kami ganti naik Subway Line J tujuan Broad Station. Kami melewati beberapa stasiun, yaitu Sutphin Blvd, 121 St, 104 St, Woodhaven Blvd, 85 St Forest, 75 St Elderts, Cypress Hill, sampai Marcy Av yang semuanya berada di Brooklyn. Selanjutnya subway Line J menyeberangi East River melalui Williamburg Bridge, salah satu dari 3 jembatan yang menghubungkan Brooklyn dengan Manhattan. Setelah sampai di Manhattan, kami melewati stasiun Delancay St Essex, dan kemudian turun di Bowery. Dari Stasiun Bowery itu kami berjalan kaki sekitar 2 menit dan sampai di New World Hotel, 101 Bowery #2, New York, NY 10002, Amerika Serikat. Kemudian kami segera mandi dan beristirahat sejanak, karena sudah hampir 2×24 jam kiami tidak berbaring dan ganti pakaian.

Salju

Menemukan sisa saju di pingir jalan yang belum mencair. Pemandangan pertama dalam pengalaman hidup

Hotel

Mendarat dengan  selamat di New World Hotel, 101 Bowery # 2, New York, NY 10002, USA. Di Chinatown Manhattan New York, yang bersuhu luar ruang 6 derajad celcius.

Pada Selasa, 19 Maret 2018 sore hari yang dingin dan setelah cukup beristirahat sejenak, kami segera memulai petualangan pertama di New York, yaitu menuju The Church of St. Andrew is a Roman Catholic. Gereja katolik paling dekat dengan hotel kami menginap tersebut, beralamat di  20 Cardinal Hayes Pl, New York, NY 10007, sehingga kami cukup berjalan kaki selama 4 menit, untuk rencana berdoa dan mengucap syukur atas semua anugerah Tuhan Yang Maha Baik. Sayang sekali, gereja dengan arsitektur khas Georgian oleh arsitek Robert J. Reiley dari Maginnis and Walsh tersebut sudah terkunci rapat.

Dinner

Makan malam menu Malaysia di Chinatown Manhattan, ditraktir Ibu Elsye

Gereja 1

Gerejea Katolik Bunda Para Malaikat atau Our Lady of Angels Churchdi di 7320 4th Ave, Brooklyn, NY 11209

Syukur sekali kami bertemu dengan Ibu Elsye, seorang Palembang, Sumatera selatan yang sudah menjadi warga New York selama 20 tahun dan baik hati. Ibu Elsye mengajak kami makan malam menu Malaysia di Chinatown, kemudian mengajak kami jalan2 ke rumahnya yang asri di lower Brooklyn. Kami berjalan ke stasiun subway di Canal Street, untuk naik subway Line N yang menyeberangi East River melalui Manhhattan Bridge di malam hari. Pemandangan panorama Manhattan yang gemerlap dengan pencakar langit yang berlampu warna-warni, sangat indah kami saksikan dari dalam kereta saay melintasi Manhattan Bridge malam itu.

Rumah dalam

Di rumah bu Elsye di 546 73rd Street. Brooklyn NY, yang hangat, damai dan tenang

Rumah luar

Dengan jaket musim dingin pinjaman Ibu Elsye, siap berpetualang menghadapi perkiraan badai salju hari berikutnya.

Kereta kami melewati DeKalb Av, sebagai stasiun pertama di pulau Brooklyn, kemudian Atlantic Av, Union St, 4 Av9St, Prospect Av, 25 St, 36 St, 45 St 53 St dan turun di 59 St. Dari situ kami berganti subway Line R menuju Bay Ridge Av. Dari situ kami berjalan kaki menuju Gerejea Katolik Bunda Para Malaikat atau Our Lady of Angels Church di 7320 4th Ave, Brooklyn, NY 11209. Kami segere bersujud, bersyukur dan berdoa, mengucapkan terimakasih atas semua anugerah Tuhan Yang Maha Besar, sehingga kami dapat memiliki pengalaman yang luar biasa indah. Kami berdoa di dalam gereja yang indah, yang mana gereja pertama Our Lady of Angels didirikan di sudut Fourth Avenue dan 74th Street dan diresmikan pada tanggal 17 September 1893. Gereja yang baru dan sekarang yang jauh lebih megah diresmikan pada tanggal 23 Juni 1929.

Di gereja itulah Ibu Elsye menjadi prodiakon yang juga mengirimkomuni suci bagi para umat yang sakit dan tidak dapat berangkat ke gereja. Setelah puas berdoa, kami segera berjalan lagi menuju rumah bu Elsye di 546 73rd Street. Brooklyn NY. Di dalam rumah 2 lantai dalam areal perumahan tersebut, kami berjumpa dengan Andrew, putera tunggalnya dan kakak bu Elsye yang juga sudah menjadi warga AS. Kami diberinya berbagai hadiah menarik, Metrocard untuk kami yang dapat di-top up di mesin atau petugas subway, dipinjami jaket musim dingin, terkait perkiraan cuaca akan adanya badai sajlju di New York, dan dijelaskan tentang berbagai rute perjalanan yang harus kami tempuh. Setelah puas bercengkerama, kemudian kami diantar pulang ke stasiun subway di Bay Ridge, untuk memudian melanjutkan perjalanan pulang ke hotel menggunakan subway Line R dan berganti N, persis seperti berangkatnya, untuk turun di Canal Street Station.

Malam itu kami tidur pulas, setelah merasakan berbagai aktivitas baru yang sangat menyenangkan, dan menemui berbagai kebaikan hati Tuhan Yang Maha Besar melalui banyak orang yang baik hati.

Ditulis dan disebarkan dari kamar 211 New World Hotel, 101 Bowery #2, New York, NY 10002, Amerika Serikat.

*) penikmat jalan2 murah

NYC Selasa pagi, 20 Maret 2018 pk. 7.17 atau sewaktu dengan WIB Selasa sore, 20 Maret 2018 pk. 18.17

2018 NEW  YORK  HARI  KEDUA

wikan indrarto*)

Selasa, 20 Maret 2018 kami terbangun dari mimpi indah di kamar 211 New World Hotel, 101 Bowery #2, New York, NY 10002, Amerika Serikat. Selanjutnya kami menuju arena konggres, yaitu ‘The 16th Annual World Congress on Pediatrics’, dengan tema : Connecting Global leaders in Pediatrics and Health Care. Konggres dokter spesialis anak sedunia tersebut diselenggarakan di Hilton New York JFK Airport Hotel, 5144-02 135th Avenue, Jamaica, New York 11436 USA.

Perjalanan dari hotel ke venue atau tempat acara sangatlah jauh dan memerlukan waktu 1 jam 45 menit. Kami berangkat dari New World Hotel di 101 Bowery #2, New York, berjalan kaki sekitar 3 mnt , 0,1 mi ke utara di Bowery menuju ke Grand St, belok kanan ke Grand St dan belok kiri ke Chrystie St, Tujuan ada di sebelah kiri, yaitu masuk di Chrystie St & Grand St at NW corner. Dari Grand St naik subway Norwood – 205 St, selama 11 mnt dengan 6 perhentian. Yaitu Broadway-Lafayette St, West 4 St-Washington Sq Sta, 34 Street-Herald Sq Station, 42 St – Bryant Pk dan 47-50 Streets – Rockefeller Center Station, untuk turun di 7 Av.

Dari situ ganti naik subway Jamaica Center – Parsons/Archer selama  41 mnt melalui 21 perhentian. Yaitu 5 Av/53 St, Lexington Av/53 St, Court Square-23 St Station, Queens Plaza Subway Station, 36th Street Station, Steinway St, 46 St, Northern Blvd, 65 St, Roosevelt Av – Jackson Heights Subway Station, Elmhurst Av, Grand Av – Newtown, Woodhaven Blvd, 63 Drive – Rego Park Subway Station, 67 Av, Forest Hills – 71 Av, 75 Av, Union Turnpike – Kew Gardens Sta, Briarwood – Van Wyck Blvd, Jamaica – Van Wyck, dan turun di Sutphin Blvd – Archer Av – JFK Station.

Dari situ berjalan kaki sekitar 2 mnt Keluar di Sutphin Blvd & Archer Ave at NW corner untuk pergi ke utara di Sutphin Blvd menuju ke 91st Ave, tujuan ada di sebelah kiri, yaitu Sutphin Bl/Jamaica Av. Dari situ naik bis Q40 SOUTH JAMAICA 135 AV via 142 ST selama 15 mnt melalui 19 perhentian. Yaitu Sutphin Bl /97 Av, Sutphin Bl/Liberty Av, Sutphin Bl/South Rd, Lakewood Av/Sutphin Bl, Lakewood Av/Liverpool St, Lakewood Av/Princeton St, Lakewood Av/Remington St, 142 St/Glassboro Av, 142 St/111 Av, 142 St/Linden Bl, 142 St/115 Av, 142 St/116 Av, 142 St/Foch Bl, 142 St/120 Av, 142 St/Rockaway Bl, 143 St/Rockaway Bl, 143 St/Sutter Av, 143 St/130 Av dan turun di 143 St/133 Av.

Dari situ berjalan kakai sekitar 2 mnt , 0,1 mi ke selatan di 143rd St menuju ke 135th Ave, berbelok kiri ke 135th Ave dan tujuan ada di sebelah kanan, yaitu Hilton New York JFK Airport, 144-02 135th Ave #02, South Ozone Park, NY 11436, Amerika Serikat. Seteleh menjalani proses regsitrasi seperti pada umumnya, kami berkesempatan mengikuti sesi pendahuluan, sebelum puncak acara konggres dibuka dengan gala dinner pada malam harinya.

Kami mengikuti presentasi Dr. Alia Chauhan dari Southside Hospital, NY USA dengan tema besar Hiperlipidemia pada Anak. Dr. Alia meninjau pedoman The National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI) tentang skrining dan manajemen Hyperlipedema pada anak, dan mendiskusikan kritik dan kekhawatiran mengenai skrining universal. Hal ini karena di antara orang dewasa muda, usia 12 hingga 19 tahun, 20,3 persen memiliki lipid abnormal; anak laki-laki lebih mungkin daripada anak perempuan untuk memiliki setidaknya 1 kelainan lipid (24,3% dibandingkan 15,9%, masing-masing). Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa aterosklerosis dimulai pada masa anak dan dapat menyebabkan penyakit jantung koroner pada orang dewasa. Selain itu, juga terbukti adanya korelasi kuat antara hiperlipidemia anak, penebalan intimal karotis, dan kejadian penyakit kardiovaskular pada orang dewasa.

Selanjutnya kami memperhatikan presentasi Professor Gábor Veres MD, PhD, Dsc, Med dari Semmelweis University, Hungaria yang berjudul: Kepatuhan pada kriteria porto dalam prosedur diagnostik dalam lapar berdasarkan data dari the Hungarian Paediatric IBD Registry (HUPIR). Sampai saat ini etiologi penyakit radang usus kronis atau inflammatory bowel diseases (IBD) masih belum diketahui. Insiden IBD onset anak terus berkembang di Hungaria. Perlu dicatat bahwa evaluasi yang diperlukan dari kasus-kasus berdasarkan kriteria Porto tidak selalu dilakukan sepenuhnya (untuk melakukan endoskopi bagian atas, masuk ke terminal ileum, dan evaluasi keterlibatan usus kecil dengan teknik pencitraan, sebaiknya dengan MRI). Berdasarkan evaluasi data HUPIR, kepatuhan diagnostik untuk kriteria Porto tumbuh sekitar dua kali lipat dalam delapan tahun terakhir, tetapi HUPIR harus memiliki peran yang signifikan dalam prosesnya. Pengalaman positif di Hungaria dapat menjadi contoh bagi negara-negara di mana registrasi nasional untuk IBD belum terbentuk.

konggres

‘The 16th Annual World Congress on Pediatrics’, di Hilton New York JFK Airport Hotel, 5144-02 135th Avenue, Jamaica, New York 11436 USA

Setelah lelah mengikuti sesi pendahuluan konggres, segera kami berpetualang ke Patung Liberty. Dari Hilton New York JFK Airport di 144-02 135th Ave #02, South Ozone Park, NY 11436, kami Berjalan kaki sekitar 2 mnt , 482 kaki ke barat laut di 135th Ave menuju ke 143rd St. Dari 135 Av/142 St kami naik bis Q40 JAMAICA HILLSIDE AV via SUTPHIN BL selama 14 mnt, melalui 19 perhentian. Yaitu  · 143 St/130 Av, 143 St/Sutter Av, Rockaway Bl/143 St, 142 St/Rockaway Bl, 142 St/120 Av, 142 St/Foch Bl, 142 St/116 Av, 142 St/115 Av, Linden Bl/ 142 St, 142 St/111 Av, 142 St/Glassboro Av, 142 St/Lakewood Av, Lakewood Av/Pinegrove St, Lakewood Av/Princeton St, Lakewood Av/Liverpool St, Lakewood Av/Sutphin Bl, Sutphin Bl/South Rd, Sutphin Bl/Liberty Av,dan turun di Sutphin Bl /95 Av.

Dari situ bererjalan kaki sekitar 3 mnt ke barat laut di Sutphin Blvd menuju ke 95th Ave, untk berganti naik subway di Jamaica. Kami naik subway Port Jefferson 7613 Penn Station selama 9 mnt secara langsung, untuk turun di Woodside. Dari situ kami berjalan kaki sekitar 1 mnt menuju 61 St-Woodside Station. Dari situ kami berganti naik bus W 42 St/7 Av jalur M42 ke St Pier Crosstown selama 11 mnt melewati 5 perhentian. Yaitu W 42 St/8 Av, W 42 St/9 Av, W 42 St/10 Av, dan W 42 St/11 Av, untuk turun di 12 Av/w 42 St. Dari situ berjalan kaki sekitar 1 mnt , 223 kaki ke timur laut, kemudian berbelok kiri dan tujuan ada di sebelah kanan, yaitu New York Water Taxi Pier 83, yaitu di 12th Ave & W 42nd St, New York, NY 10036, Amerika Serikat

Liberty

Patung Liberty adalah salah satu landmark New York yang sangat populer di dunia

Lady Liberti

Patung Liberty yang kami nikmati dalam Liberty Cruises di sungai Hudson

Patung Liberty adalah salah satu landmark New York yang sangat populer di dunia, yang terletak di Pulau Liberty, di Muara Sungai Hudson, New York Harbor. Ada beberapa cara menikmati patung lambang kebebasan ini. Jika mau gratisan maka bisa ke Staten Island dan naik ke kapal ferry yang melewati Patung Liberty. Kapal fery ini beroperasi selama 24 jam, namun keterbatasan dari ferry ini adalah kapal tidak berhenti di Pulau Liberty, sehingga pengunjung tidak dapat melihat dari dekat patung terkenal tersebut, tetapi hanya dapat melihat dari agak kejauhan di atas kapal.

Cara lain menikmati Patung Liberty adalah dengan berlayar menggunakan cruise. Liberty Cruises adalah operator kapal yang melayani dan membawa pengunjung ke Pulau Liberty. Tiket dibandrol di harga $30 per orang. Tiket ini sering kali habis, oleh karena itu kami mengikuti saran dengan membelinya secara daring. Kapal berangkat dari dua dermaga yaitu dari Battery di Lower Manhattan dan Liberty State Park di New Jersey. Waktu itu saya berangkat dari Pier 83 di 12th Ave & W 42nd St, Battery, salah satu dermaga yang cukup ramai dan diminati wisatawan.

Pier 83

Peir 83 Water Taxi yang ramai pelancong

Panorama NYC

Panorama lansekap New York dari atas kapal Liberty Cruises

Perjalanan dari dermaga menuju ke Pulau Liberty hanya memakan waktu 15 menit saja. Kami segera duduk di sisi bagian kanan kapal karena sisi itulah yang nantinya berada paling dekat dengan Patung Liberty. Sisi tersebut memudahkan kita jika ingin berfoto dengan latar belakang Patung Liberty dari kejauhan.

Patung Liberty yang dipahat oleh Frederic Auguste Bartholdi dan Gustave Effiel ini, diberikan Perancis untuk Amerika Serikat sebagai hadiah peringatan kemerdekaan pada tahun 1886. Perancis pernah terlibat perang 100 tahun melawan Inggris di jaman Kaisar Napoleon Bonaparte dan Laksamana Nelson, sehingga sangat dekat dengan AS. Patung Liberty ini merupakan simbol selamat datang untuk pengunjung, imigran dan orang Amerika yang datang kembali serta lambang kemerdekaan dan kebebasan dari tekanan. Patung Liberty adalah patung perempuan yang membawa obor dan tablet. Obor merupakan lambang dari penerang jalan agar bebas dari kegelapan, masyarakat menafsirkannya sebagai harapan akan masa depan yang cerah. Sementara tablet merupakan lambang keadilan karena ditafsirkan berisi pasal-pasal hukum yang adil bagi siapa saja. Mengelilingi Pulau Liberty ini bisa dilakukan dalam 60 menit namun saya menghabiskan waktu hampir 2 jam di sini karena menghayati sejarah yang tersimpan bersama patung ini.

Patung Liberty yang dalam Bahasa Ingris disebut Liberty Enlightening the World dan Bahasa Perancis La Liberté éclairant le monde. Patung perunggu ini diresmikan pada tanggal 28 Oktober 1886 dan pada tahun 1984, Patung Liberty yang tinggi dan besar ini masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO. Dari dasar patung hingga puncak patung Liberty setinggi 46 meters dan dari tanah hingga puncak 93 meter. Kami jadi mengingat Frédéric-Auguste Bartholdi pemahat Patung Liberty yang dilahirkan pada tanggal 2 Agustus 1834 di Colmar, Perancis selatan. Dana pembangunan Patung Liberty ini sangatlah besar. Di Amerika pengumpulan dana berjalan sangat lambat. Hal ini memicu hati Joseph Pulitzer orang kaya Amerika Serikat yang pemilik surat kabar The World. Pulitzer menulis kritikan kepada orang kaya, karena enggan menyumbang. Tulisan itu membuahkan hasil dan dana terkumpul cepat dari orang-orang kaya yang tergerak untuk menyumbang. Biaya sumbangan yang diharapkan mencapai $100.000 dapat terkumpul sampai $120.000. Strategi Pulitzer adalah dengan mencantumkan setiap nama yang menyumbang ke dalam korannya dan metode pengumpulan dana ini dilakukan sampai sekarang.

Dalam membangun Patung Liberty, Bartholdi tidak sendiri. Untuk menyusung rangka dan tulang penyusun patungnya, Bartholdi meminta bantuan arsitek baja terkenal Alexandre Gustave Eiffel, yang merupakan perancang dan pembangun menara ikonik Perancis, Menara Eiffel. Pada tahun 1876, lengan patung Liberty yang berukuran 9,1 meter dibawa ke Philadelphia. Lengan inilah yang akan dijadikan ruangan dan Bartholdi berharap inilah satu-satunya patung yang bisa dimasuki manusia. Jendral Charles. P Stone, komandan Angkatan Darat AS dipanggil sebagai pembuat pondasi berdirinya Patung Liberty. Arsitek pembuat pondasi adalah seorang desainer terkenal New York, Richard Moris Hunt dan Bartholdi sendiri yang memilih lokasi berdirinya Patung Liberty.

Pada tanggal 15 Juni 1885, potongan Patung Liberty yang terdiri dari 214 kotak kayu tiba di Pulau Bedloe. Namun Patung Liberty baru didirikan pada bulan Mei 1886 dan pendiriannya memakan waktu sekitar enam bulan. Pada tanggal 28 Oktober 1886, Patung Liberty di buka untuk umum. Parade bendera dan pita tiga warna dilaksanakan sepanjang kota New York. Tiga warna itu adalah merah, putih, biru. Warna yang melambangkan bendera Perancis. Pejabat kedua negara hadir, termasuk Presiden Amerika saat itu Grover Cleveland serta kabinetnya dan gubernur New York beserta stafnya. Pada saat itu Patung Liberty menjadi patung tertinggi dunia, sampai pada tahun 1899 dikalahkan oleh patung Yesus Penebus (‘Christ the Redeemer’) di puncak gunung Corcovado, di Rio de Janeiro Brasil, yang telah kami kunjungi pada Rabu, 19 November 2015.

Pada Selasa, 20 Maret 2018 sore hari yang sangat dingin dengan suhu sekitar 3 derajad Celcius dan setelah melihat Patung Liberty dari kapal dan tidak turun ke pulau Liberty karena cuaca sangat dingin, kami segera melanjutkan petualangan di New York, yaitu menuju St. Patrick’s Cathedral untuk bersujud, berdoa dan mengucap syukur atas semua anugerah yang Tuhan telah berikan. Katedral St. Patrick adalah gereja Katedral Katolik Roma yang merupakan pusat Keuskupan Agung,  bergaya Neo-Gothic, dan sebuah landmark terkenal di kota New York, yang terletak di sisi timur Fifth Avenue antara jalan 50 dan 51 di Midtown Manhattan, tepat di seberang Rockefeller Center dan  menghadap patung Atlas. Keuskupan New York  bermula pada tahun 1808, dijadikan sebuah keuskupan agung oleh Paus Pius IX pada tanggal 19 Juli 1850. Pada tahun 1853, Uskup Agung John Joseph Hughes mengumumkan niatnya untuk mendirikan sebuah katedral baru untuk menggantikan Katedral Old Saint Patrick di Lower Manhattan. Katedral baru ini dirancang oleh James Renwick Jr dalam gaya Gothic Revival. Pada tanggal 15 Agustus 1858, mulai peletakan batu pertama dan dihentikan selama Perang Sipil untuk dilanjutkan kembali pada tahun 1865. Katedral tersebut selesai dibangun pada tahun 1878 dan diresmikan pada tanggal 25 Mei 1879,Katedral dan bangunan terkait dinyatakan sebagai tempat bersejarah pada tahun 1976.

Restorasi katedral yang ekstensif dimulai pada tahun 2012 dan berlangsung selama 3 tahun dengan biaya $ 177 juta. Restorasi selesai pada 17 September 2015, sebelum Paus Franciscus mengunjungi katedral pada tanggal 24 dan 25 September 2015. Restorasi membersihkan marmer eksterior, memperbaiki jendela kaca patri, dan melukis langit-langit, memperbaiki lantai dan langkah-langkah, di antara banyak restorasi. Katedral tersebut dapat menampung 3.000 orang, dibangun dari batu bata yang dilapisi marmer, digali di Massachusetts dan New York. Blok utama katedral terbuat dari marmer Tuckahoe  sepanjang 174 kaki (53,0 meter) dan panjang 332 kaki (101,2 meter). Menara gereja setinggi  330 kaki (100,6 meter) dari permukaan jalan. Jendela dibuat oleh seniman di Boston, Massachusetts, dan seniman Eropa. Seniman Romawi Paolo Medici merancang altar Saint Elizabeth. Altar Saint Jean-Baptiste de la Salle yang merupakan salah satu dari beberapa altar asli altar kapel, dipahat oleh Dominic Borgia.

Pada akhir 1930an dan awal 1940an, terjadi renovasi area altar utama katedral di bawah bimbingan Uskup Agung Francis Spellman. Patung Pieta yang dipahat oleh William Ordway Partridge, tiga kali lebih besar dari pada patung Pieta karya Michelangelo di Vatican. Memperingati kunjungannya ke kota New York pada tahun 1979, patung Paus Yohanes Paulus II  terletak di bagian belakang katedral.

Katedral 1930

St. Patrick’s Cathedral, bergaya Neo-Gothic, pada tahun 1930

Katedral 3

St. Patrick’s Cathedral, tetap gagah bergaya Neo-Gothic, pada tahun 2018

Interior Katedral

Interior St. Patrick’s Cathedral di New York pada tahun 2007 yang lalu

Katedral 1

Interior St. Patrick’s Cathedral di New York pada tahun 2018 sekarang ini

Dari katedral St, Patrick’s, kami melanjutkan peziarahan batin untuk mengunjungi jasad Bunda St. Frances Xavier Cabrini, yang terletak di utara Manhattan, di dalam sebuah kapel atau gereja kecil yang menghadap ke tepi Sungai Hudson dan negara tetangga New Jersey. Dari katedral St. Patrick, kami naik subway Line d di 47-50 Stasion di Rockefeller Center, untuk melewati 7 Ave dan turun di stasiun Columbus Circle. Dari situ kami berganti subway Line A menuju Inwood, dengan melewati 12 stasiun untuk turun di 190 St Station. Kapel St. Frances Xavier Cabrini Shrine beralamat di 701 Fort Washington Ave New York, di dekat 190 St Station yang bangunannya sudah sangat tua.

Cabrini1

Kapel St. Frances Xavier Cabrini Shrine beralamat di 701 Fort Washington Ave.

Sr Cabrini

Gambar damai dan lembut wajah St. Frances Xavier Cabrini

Di dalam kapel tersebut tersimpan sisa-sisa paling berharga dari orang suci St. Fransisco Xavier Cabrini, termasuk jasadny di bawah altar. Setelah kematiannya pada tahun 1917, Suster Cabrini dimakamkan di West Park, New York. Pada tahun 1933, jasadnya dipindahkan ke dalam kapel di Sekolah Menengah Suster Cabrini. Setelah kanonisasi Suster Cabrini pada tahun 1946, ada begitu banyak peziarah yang datang untuk berdoa sehingga, sebuah kapel baru dibangun pada tahun 1957. Sampai hari ini, kapel tersebut berperan besar sebagai pusat penyambutan bagi para imigran baru dan peziarah dari banyak negara yang datang untuk berdoa dan berefleksi.

Altar

Altar di kapel yang tenang, damai dan nyaman

Cabrini2

Jenazah Sr. Cabrini di bawah altar kapel, tempat para peziarah berdoa

Suster Cabrini lahir sekitar tahun 1880, sebagai anak bungsu dari tiga belas anak, dari bapak Frances Cabrini di sebuah desa kecil bernama S’ant Angelo Lodigiano dekat kota Milan, Italia. Dia memutuskan untuk bergabung dengan konggregasi para suster. Oleh karena kesehatannya yang lemah, dia tidak diizinkan untuk bergabung dengan Suster Putri Hati Kudus. Namun, pada tahun 1880, dengan tujuh wanita muda, Frances mendirikan Institut Suster-suster Misionaris Hati Kudus Yesus, yang ingin menjadi misionaris di Tiongkok. Untuk itu Suster Cabrini mengunjungi Roma untuk mendapatkan audiensi dengan Paus Leo XIII. Paus memberi tahu Frances untuk pergi “tidak ke Timur, tetapi ke Barat” ke New York daripada ke China seperti yang diharapkannya. Dia membantu ribuan imigran Italia yang sudah ada di Amerika Serikat.

Pada tahun 1889, New York dipenuhi dengan kekacauan dan kemiskinan. Cabrini kemudian mengorganisasikan pelajaran katekismus dan pendidikan bagi para imigran Italia dan menyediakan kebutuhan harian banyak anak yatim piatu. Dia mendirikan sekolah dan panti asuhan dan  melakukan perjalanan ke Eropa, Amerika Tengah dan Selatan dan di seluruh Amerika Serikat. Dia membuat 23 penyeberangan trans-Atlantik dan mendirikan 67 lembaga: sekolah, rumah sakit dan panti asuhan. Aktivitasnya tanpa henti sampai kematiannya pada 22 Desember 1917, di Chicago. Pada tahun 1946, ia dikanonisasi sebagai seorang santa atau orang suci oleh Paus Pius XII, sebagai santa pertama dari Amerika Serikat. Selain itu, gelar santa juga sebagai pengakuan atas kekudusan dan pelayanannya kepada umat manusia dari manapun berasal, dan diberi nama ‘Patroness of Immigrant’s atau Pelindung Para Imigran pada tahun 1950.

Pada hari kedua di New York Selasa, 20 Maret 2018 itu, sorenya kami berpetualang lebih jauh dengan melihat Jembatan Brooklyn, yang merupakan  salah satu jembatan suspensi  tertua di Amerika Serikat, dibangun sejak 3 Januari 1870 sampai tahun 1883, jembatan ini menghubungkan Manhattan dan Brooklyn di New York City, melintasi Sungai East. Jembatan dengan arsitek John. A. Roebling ini memiliki rentang utama sepanjang 486.3 m, dan panjang total 1.825 m, jembatan ini adalah jembatan suspensi terpanjang di dunia sejak pembukaannya hingga 1903, serta jembatan suspensi kabel baja pertama. Apa yang menarik?

WTC

World Trade Center di Manhattan New York, terlihat dari seberang East River

Brooklyn4

World Trade Center di Manhattan New York, terlihat dari atas jembatan Brooklyn yang menyeberangi East River

Dari 190 St, kami kembali naik subway Line A menjalani perjalanan sangat jauh, yaitu melewati 24 stasiun. Kami memasuki terowongan di bawah East River, menyeberang dari Stasiun Fulton di Manhattan menuju Stasiun High St di Brooklyn. Dari Stasiun High St, kami mengikuti para pelancong untuk berjalan kaki menyeberangi jembatan Brooklyn, kembali menuju Manhattan dalam guyuran rintik hujan salju (snowing) yang belum pernah kami alami seumur hidup.

Awalnya diberi nama Jembatan New York dan Brooklyn, jembatan ini diberi sebutan Jembatan Brooklyn oleh koran setempat Brooklyn Daily Eagle pada tanggal 25 Januari 1867, dan dinamai begitu oleh pemerintah kota pada 1915. Sejak pembukaannya, jembatan ini telah menjadi bagian utama dari cakrawala kota New York. Jembatan Brooklyn ditetapkan sebagai National Historic Landmark pada tahun 1964 dan National Historic Civil Engineering Landmark  pada tahun 1972.

Brooklyn1

Tiang Jembatan Brooklyn yang dilihat dari atas jembatan saat menyeberangi East River

Jembatan

Jembatan Brooklyn yang dilihat dari bawah di dermaga East River

Setelah selesai menyebrangi East River melalui Jembatan Brooklyn dalam guyuran rintik hujan salju, kami bergaya di depan New York City Hall di tepi sungai. Setelah itu kami langsung masuk ke dalam tanah di stasiun subway, karena hujan salju semakin lebat. New York City Hall adalah pusat pemerintahan New York City, terletak di City Hall Park di area Civic Center di Lower Manhattan, antara Broadway, Park Row, dan Chambers Street. Bangunan ini adalah balai kota tertua di Amerika Serikat yang masih menyimpan fungsi pemerintahan aslinya sampai sekarang. Saat ini digunakan untuk kantor Walikota New York City dan Dewan Kota New York. Kantor Walikota ada di dalam gedung, staf dari tiga belas agen kota di bawah pengawasan walikota terletak di Manhattan Municipal Building, yang merupakan salah satu gedung pemerintahan terbesar di dunia. Gedung ini dibangun dari 1803 hingga 1812, New York City Hall adalah National Historic Landmark dan terdaftar di Daftar Tempat Bersejarah Nasional. Baik eksteriornya (1966) dan interior (1976) ditetapkan sebagai landmark Kota New York.

Kami menyeberang ke Chamber St untuk naik subway Line J yang meninggalkan Broad St, untuk turun di Bowery St. Dari situ, kami mampir membli pisang untuk makan malam dan kembali ke hotel.

City Hall

New York City Hall yang artistik dan gagah saat diguyur rintik hujan salju

Subway

Subway Line J yang melaju kencang, meski sudah terbilang kereta lama.

Malam itu kami tidur nyenyak di kamar 211 New World Hotel, 101 Bowery #2, New York dan bersiap-siap untuk hari berikutnya, mengikuti konggres hari kedua, yaitu ‘The 16th Annual World Congress on Pediatrics’, di Hilton New York JFK Airport Hotel, 5144-02 135th Avenue, Jamaica, New York 11436 USA.

Ditulis dan disebarkan dari New York Selasa, 20 Maret 2018 pk. 23.28 sewaktu dengan WIB  Rabu, 21 Maret 2018 pk. 10.28

*) penikmat jalan2 murah

NEW  YORK  HARI  KETIGA

wikan indrarto*)

Rabu, 21 Maret 2018 kami terbangun dari mimpi indah di kamar 211 New World Hotel, 101 Bowery #2, New York, NY 10002, Amerika Serikat. Selanjutnya kami menuju arena konggres, yaitu ‘The 16th Annual World Congress on Pediatrics’, dengan tema : Connecting Global leaders in Pediatrics and Health Care. Konggres dokter spesialis anak sedunia tersebut diselenggarakan di Hilton New York JFK Airport Hotel, 5144-02 135th Avenue, Jamaica, New York 11436 USA. Apa yang menarik?

Kami berusaha untuk tidak tersesat saat masuk ke subway, seperti 3 kali terjadi pada hari sebelumnya. Maklum, beberapa tempat tujuan di peta subway ditulis secara singkat, masih sulit membedakan arah uptown dan downtown, juga karena saking banyaknya penumpang yang lalu lalang di sekitar yang mengganggu konsentrasi kami. Untunglah, kami menerima email dari panitia konggres, bahwa peserta (delegates) dianggap tamu di venue atau tempat acara, yaitu di Hotel Hilton, sehingga disediakan free shuttle atau jemputan gratis. Perjalanan dari hotel ke venue yang memang sangatlah jauh dan memerlukan waktu 1 jam 45 menit, pagi itu terasa ringan. Kami berangkat dari New World Hotel di 101 Bowery #2, New York, berjalan kaki sekitar 3 mnt , 0,1 mi ke utara di Bowery menuju Bowery Subway Station, untuk naik kereta Line J melalui 21 perhentian, dan turun di Sutphin Blvd – Archer Av – JFK Station.

3 Air Train 1

Di Sutphin Blvd Station menuju ke Air Train  JFK Station untuk naik kereta bandara JFK

3 Shuttle Free

Akhirnya kami menemukan free shuttle dari Hilton Hotel di Federal Circle

Dari situ kami berjalan kaki sekitar 2 menit keluar di Sutphin Blvd Station menuju Air Train  JFK Station untuk naik kereta bandara JFK yang bertarif $5 atau hampir 2 kali lipat tarif subway, turun di pemberhentian pertama, yaitu di Federal Circle Station. Kami keluar di lobi lantai dasar dan langsung disambut hujan salju pada akhir musim dingin (snowing at the end of winter), yang awalnya rintik untuk menjadi semakin lebat. Sungguh, sebuah pengalaman pertama bagi manusia tropis yang sangat menakjubkan tentang salju. Luar biasa indah. Kami mencari beberapa shuttle yang parkir di area khusus transportasi penjemputan tamu hotel, sampai akhirnya menemukan shuttle dari Hilton Hotel. Setiap 30 menit shuttle tersebut datang untuk akomodasi tamu. Dengan demikian, pagi itu kami menjadi peserta pertama yang datang di venue, bahkan panitia penyelenggarapun belum ada yang hadir.

3 Peserta 6

Peserta pertama yang hadir pada sesi penelitian sel dan steam cell di ‘The 16th Annual World Congress on Pediatrics’

3 Peserta 4

Bergaya di mimbar sebelum ‘The 16th Annual World Congress on Pediatrics’ resmi dibuka.

Pada hari pertama (Day 1 : March 21, 2018) ‘The 16th Annual World Congress on Pediatrics’, setelah proses registrasi peserta yang lancar, kami mengikuti Keynote Forum. Pembicara pertama adalah Prof. James Oleske (Rutgers New Jersey Medical School, USA), dengan tema Keynote: ‘Combining Touch with Technique: Fusing Technology with the Art of Medicine.’ Padaintinya adalah para dokter dapat memberikan perawatan welas asih (compassionate care) hanya bila ada empati, yang diperkuat dengan kontak langsung dengan pasien. Teknologi harus digunakan untuk melengkapi, bukan mengganti, hubungan dokter-pasien. Tantangan besar dalam kedokteran bukanlah untuk mempelajari keterampilan profesional kita, melainkan dalam kompetensi dan administrasi yang penuh kasih (competent and compassionate administration). Dalam mengatasi beban penyakit dan komplikasinya, peran utama kami sebagai dokter adalah memadukan teknologi untuk mendiagnosis dan mengobati dengan belas kasih dan keharusan untuk meringankan penderitaan (relieve suffering) dan menambah kegembiraan hidup (adding to the joy of life) pasien.

Sesi kedua Keynote Forum diisi oleh Prof. Dr Raphael David (New York University School of Medicine, USA), dengan tema Keynote: ‘Congenital Adrenal Hyperplasia An Update.’. Pada intinya adalah tentang kemajuan terbaru dalam mutasi genetik, untuk manajemen Congenital Adrenal Hyperplasia (CAH) yang efektif perlu dibahas. Terapi adjunctive yang sesuai seperti Gonadotropin Hormone Agonists and Growth Hormone untuk perawatan yang efektif. Sesi ketiga Keynote Forum dengan tema Keynote: ‘The Pathogenesis of Microchepaly,’ disampaikan oleh Prof. Lawrence D. Frenkel, MD  dari University of Illinois College of Medicine, USA. Pada prinsipnya dijelaskan bahwa patogen utama infeksi kongenital virus Zika, yang sering terwujud dengan microcephaly, terkait dengan neuropatogenesis. Hipotesis yang mungkin menjelaskan mengapa: beberapa bayi tidak terinfeksi dengan adanya infeksi ibu primer, sementara yang lain mendapatkan infeksi subklinis, namun yang lainnya menderita penyakit parah, dipengaruhi oleh perbedaan strain patogen, perkembangan jaringan janin (tropism to developing fetal tissues), peran berbagai subset kekebalan ibu, dan aspek respon imun janin.

Selanjutnya kami mengikuti Keynote Forum sesi keempat, yang menampilkan Dr. James B. McCarthy, dari Pace University, USA. Tema Keynote : ‘Pediatric Psychotic Disorders and the Role of Psychotherapy.’ Pada prinsipnya dikemukakan bahwa pada anak dan remaja dengan fitur psikotik yang terkait dengan gangguan mood, memiliki defisit kognitif yang lebih besar daripada mereka yang memiliki gangguan mood tanpa fitur psikotik. Selain itu, juga terjadi penurunan fungsi kognitif dan sosial pada anak dan remaja dengan skizofrenia. Oleh karena itu, peran psikoterapi, layanan pendukung dan intervensi kognitif sangat diperlukan, untuk membantu memperbaiki fungsi anak dengan risiko tinggi gangguan psikotik. Pendekatan psikoterapi individu pada anak psikotik dan intervensi psikoterapi berbasis keluarga, secara konsisten mendukung pengembalian fungsi sesuai usia psikotik anak.

Sesi konggres yang melelahkan mulai terjadi saat Keynote Forum kelima, dengan pembicara Dr. Usha Kini (Oxford Centre for Genomic Medicine in Oxford, UK), dengan tema Keynote: ‘Pathway defects on neurodevelopmental morbidity.’ Intinya adalah bahwa mutasi resesif akan menghasilkan penundaan perkembangan global, kecacatan intelektual, kejang, microcephaly, dismorphism wajah dan brachytelephalangy. Hal ini sering disertai dengan peningkatan kadar alkali fosfatase serum dan disebut ‘Hyperphosphatasia Mental Retardation Syndrome (HPMRS)’ atau sindrom Mabry. Beberapa gen dalam jalur ini adalah PIGV, PIGO. PGAP2, PGAP3 dan PIGY telah terbukti menyebabkan fenotipe ini. Mutasi PIGNAL secara paralel telah terbukti menyebabkan sindrom Fryns, sebuah sindrom anomali kongenital multipel.

Kami sudah kurang konsentrasi saat mengikuti Session Introduction oleh Dr. Gerald Katzman dari Wayne State University School of Medicine, USA dengan tema ‘The Bioetics and Neuropsychology’. Kalau tidak salah tangkap pesan, isinya adalah tentang kebencian yang dipelajari di masa anak, berpotensi akan menyebabkan kekerasan dan tindak kekerasan berikutnya. Prosesnya sering dimulai dengan pola asuh otoriter. Rasa takut dan kemarahan yang ditimbulkan oleh perlakuan semacam itu diproyeksikan ke target berikutnya. Tindakan kekerasan yang dihasilkan selanjutnya difasilitasi oleh penyekat empati emosional. Untuk itu, berbagi cerita moral dan mengajarkan pelajaran yang menggabungkan kebajikan dan penghindaran kejahatan, akan menghasilkan empati emosional yang dihasilkan adalah katalis untuk tindakan belas kasih. Dengan memaparkan anak pada atmosfir tersebut, resolusi konflik tanpa kekerasan adalah hasil yang dapat dicapai.

3 WTC

Bergaya di gerbang stasiun subway World Trade Center Manhattan, New York

3-wall-street.jpeg

Bergaya di salah satu gedung di Wall Street Manhattan, New York

Selanjutnya kami kembali ke Sutphin Blvd – Archer Av – JFK Station, untuk naik subway Line E akan melihat World Trade Center di pusat kota Manhattan New York, yang secara informal disebut WTC atau Menara Kembar. Kami turun di stasiun terakhir subway Line E, yaitu di WTC. Dalam iringan banyak sekali penumpang, ternyata kami terbawa arus masuk ke sebuah bangunan megah yang disebut Oculus. Dirancang oleh arsitek Santiago Calatrava, “Oculus” adalah penghubung dari stasiun kereta api bawah tanah, alun-alun, pusat perbelanjaan WTC, dan museum situs peringatan atas serangan teror 11 September 2001. Bagian luar Oculus serupa burung merpati dengan sayap yang terpotong, sedangkan bagian dalam digunakan sebagai atrium seperti rongga perut burung yang sangat indah untuk bersantai.

3-oculus3.jpg

Oculus seperti burung yang dirancang oleh arsitek Santiago Calatrava di WTC Manhattan NYC

3 Oculus 2

Di atrium dalam perut burung Oculus yang ramai pengunjung di WTC Manhattan NYC.

Setelah puas memandangi keindahan Oculus dan berfoto dari berbagai sudut, selanjutnya kami memberanikan diri keluar ruangan merasakan hujan salju di akhir musing dingin. Kami melihat WTC baru, yang sebelumnya adalah suatu kompleks yang terdiri dari tujuh bangunan, sebagian besar didesain oleh arsitek keturunan Jepang-Amerika, Minuro Yamasaki. Pembangunannya dirintis oleh ‘Lower Manhattan Association’ yang didirikan dan diketuai oleh Mr. David Rockefeller, dengan dukungan kuat dari saudaranya, Mr. Nelson Rockefeller, yang kelak menjadi gubernur New York. Kompleks yang berlokasi di jantung pusat distrik finansial New York City ini memiliki 1.24 juta m² ruang perkantoran, hampir empat persen dari keseluruhan luas ruang perkantoran yang tersedia di Manhattan. World Trade Center yang dikenal dengan Menara Kembar dengan jumlah lantai mencapai 110 ini pernah mengalami kebakaran pada 13 Februari 1975 dan serangan bom pada 26 Februari 1993.

Kami tertegun saat mengenang bahwa ketujuh bangunan yang asli dalam satu kompleks hancur lebur pada Serangan Teroris 11 September 2001. Kehancurannya meliputi WTC 1, WTC 2 (Menara Utara dan Selatan), dan WTC 7 runtuh; WTC 3 (Hotel Marriott) hancur karena runtuhnya WTC 1 dan WTC 2; sedangkan WTC 4, WTC 5, dan WTC 6 mengalami kerusakan yang tak dapat diperbaiki hingga akhirnya terpaksa dihancurkan. Sejenak kami menundukkan kepala untuk mendoakan para korban serangan teroris tersebut.

3 Teroris 1

Serangan Teroris 11 September 2001 yang menghancurkan gedung WTC di Manhattan New York.

3 Teroris 2

Serangan Teroris 11 September 2001 yang terlihat dari East River dekat patung Lady Liberty New York

Selanjutnya kami bergegas dalam guyuran hujan salju untuk menuju Wall Street (Jalan Wall), yang sebenarnya adalah  sebuah nama jalan di pinggiran Manhattan di tengah kota New York, yang membujur mulai dari timur yaitu dari Broadway menuruni lembah ke arah South Street di East River, melewati pusat historis dari distrik keuangan Amerika yaitu Manhattan. Wall Street adalah gedung permanen pertama dari New York Stock Exchange, sehingga Wall Street adalah juga merupakan suatu istilah yang digunakan bagi “kekuatan finansial yang berpengaruh” di Amerika.

3 Wall Street 1

Wall Street yang merupakan gedung permanen pertama yang dimiliki oleh  New York Stock Exchange

3-wall-street-2-jpeg.jpg

New York Stock Exchange sebagai pasar modal utama di dunia

Kami terkagum dengan keindahan arsitektural tempo dulu dan teringat bahwa nama jalan tersebut, berasal dari sejarah pada abad ke-17. Pada saat itu digunakan sebagai perbatasan wilayah utara dari kesepakatan New Amsterdam. Pada tahun 1640an didirikan tiang pancang dan papan untuk menandai wilayah perbatasan dan pemukiman. Mr. Peter Stuyvesant yang mewakili West India Company memimpin tim dari Belanda untuk melakukan pembangunan konstruksi tembok pertahanan yang kokoh. Pada masa perang Belanda dengan Inggris maka dibangunlah tembok pertahanan setinggi 12 kaki pada tahun 1663 yang dilindungi oleh pagar di sekelilingnya. Dinding pertahanan tersebut terus diperkuat dari masa kemasa, sebagai suatu benteng perlindungan terhadap serangan suku Indian dan pasukan Inggris. Pada tahun 1685 dirancanglah Wall Street, yaitu jalanan di sisi tembok di sepanjang benteng pertahanan. Namun demikian, dinding pertahanan tersebut dibongkar oleh Inggris pada tahun 1699.

Arsitektur Wall Street berasal dari zaman Gilded Age, yaitu masa sebelum Perang Dunia I, walaupun terdapat juga pengaruh art deco pada wilayah yang berdampingan. Bangunan yang menjadi landmark di Wall Street adalah bangunan-bangunan gedung yaitu Federal Hall, 14 Wall Street Bankers trust Company Building, 40 Wall Street The Trump Building, dan New York Stock Exchange (NYSE) pada sudut Broadway. Wall Street yang merupakan tujuan utama dari para komuter telah memiliki infrastruktur transportasi yang amat maju. Saat ini, kereta api bawah tanah New York memiliki 3 stasiun di Wall Street yaitu Wall Street (IRT Broadway-Seventh Avenue Line di Wall & William Street, Wall Street (IRT Lexington Avenue Line) di Wall & Broadway (Manhattan) dan Broad Street (BMT Nassau Street Line) di Wall & Broad Street (Manhattan). Kami menjadi lebih mengerti, mengapa kekuatan lobi dan finansial di Wall Street mampu sangat berpengaruh bagi pembangunan di seluruh dunia.

Selanjutnya kami menikmati keagungan distrik keuangan New York serta gaya bisnis dan keanggunan Donald Trump, yang sekarang menjadi presiden AS ke 44, saat bersatu untuk menciptakan landmark properti yang sangat mengesankan di Wall Street no 40. Gedung pencakar langit yang memiliki 1,3 juta kaki persegi ruang kantor yang tersebar di 72 lantai, yang pada saat dibangun tahun 1930 adalah gedung tertinggi di dunia. Awalnya bernama Manhattan Company Building, dan dirancang oleh arsitek H. Craig Severance dan Yasuo Matsui, menara itu menjulang di atas kota sebagai pengingat impor global New York. Setelah bertahun-tahun kosong, Donald J. Trump membeli properti itu, menginvestasikan lebih dari $ 200 juta untuk restorasi, dan membawanya ke puncak kemegahan aslinya. Penyewa profil tinggi yang menempati gedung Trump (Trump Building) tersebut adalah para pemuncak Kota New York dalam prestise dan kekuatan internasional mereka. Sayang sekali hujan salju membuat kami harus tergesa memandang keindahnnya.

3-trump-building-1.jpg

The Trump Building yang sebelumnya disebut Manhattan Company Building dirancang oleh arsitek Craig Severance dan Yasuo Matsui

3 Trump Building

The Trump Building pada tahun 1930 adalah gedung tertinggi di dunia, yang waktu itu disebut Manhattan Company Building

Di seberang Trump Building juga berdiri gagah Federal Hall, yang dibangun pada tahun 1700 sebagai Balai Kota New York. Kemudian berubah fungsi sebagai gedung DPR pertama Amerika Serikat di bawah Konstitusi, serta lokasi pelantikan George Washington sebagai Presiden pertama Amerika Serikat di bawah Konstitusi. Itu juga di mana Bill of Rights Amerika Serikat diperkenalkan di Kongres Pertama. Bangunan aslinya dihancurkan pada tahun 1812. Federal Hall National Memorial dibangun kembali pada tahun 1842 sebagai Kantor Perpajakan Nasional (Custom House) Amerika Serikat, dan kemudian berfungsi sebagai gedung perbendaharaan negara atau sub-treasury. Sekarang dioperasikan oleh National Park Service sebagai situs peringatan nasional untuk memperingati peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di sana.

3 Federal Hall 1

Federal Hall sebagai tempat pelantikan George Washington sebagai Presiden pertama Amerika Serikat

3 Federal Hall

Patung gagah George Washington sebagai Presiden pertama Amerika Serikat, berdiri di depan Federal Hall

Sayang sekali, hujan salju justru semakin lebat, angin dingin bertiup sangat kencang, payung kami menjadi rusak, sepatu menjadi basah, jalan menjadi licin dan pipi menjadi tebal membeku. Akhirnya kami memutuskan masuk kembali ke bawah tanah untuk berlindung, sekaligus masuk ke stasiun subway, untuk pulang kembali ke hotel. Kami masuk ke stasiun subway Fulton Street, naik Line J dari stasiun Broad Street dan turun di Bowery. Saat kami kembali muncul ke atas tanah, guyuran hujan salju semakin banyak dan menjadikan pengalaman pertama akan salju semakin indah, dengan membersihkan salju menggunakan serok palstik di depan hotal.

3 Museum 911

National September 11 Memorial Museum yang tutup, karena dihembus angin dingin dan diliputi salju

3 Kerja bakti 1

Kerja bakti membersihkan salju yang berserakan dan terus saja turun

Malam itu kami benar-benar menikmati New York, yang merupakan kota terpadat di Amerika Serikat. Manhattan adalah pusat wilayah metropolitan New York yang merupakan salah satu wilayah metropolitan terpadat di dunia. Dengan luas 789 km² dan pada tahun 2016, memiliki penduduk sebanyak 8,538 juta (2016). Kita semua tahu, bahwa wilayah ini sebelumnya dihuni oleh penduduk asli Amerika Lenape, ketika ditemukan bangsa Eropa tahun 1524 oleh Giovanni da Verrazzano, seorang penjelajah Italia yang bekerja untuk kerajaan Perancis, dan menamainya “Nouvelle Angoulême”.

‘New York Stock Exchange’ sebagai pasar modal utama di dunia dan ‘The Trump Building’ saat tahun 1930 adalah gedung tertinggi di dunia, yang waktu itu disebut ‘Manhattan Company Building’, mengingatkan kita semua akan sejarah kekuatan ekonomi yang berasal dari New York. Permukiman Eropa di New York dimulai dengan pendirian permukiman perdagangan bulu oleh para pedagang Belanda yang kemudian dinamai “Nieuw Amsterdam” (Amsterdam Baru), di ujung selatan Manhattan pada tahun 1614. Direktur Jenderal kolonial Belanda Peter Minuit membeli pulau Manhattan dari suku Lenape tahun 1626, senilai 60 guilden atau sekitar $1.000 pada 2006. Namun demikian, sebuah legenda yang diragukan mengatakan, Manhattan dibeli senilai $24 dalam bentuk manik-manik kaca.

Kita juga diingatkan bahwa pada tahun 1664, kota ini menyerah kepada Inggris dan berganti nama menjadi “New York”. Pada akhir Perang Inggris dan Belanda Kedua, Belanda memperoleh kekuasaan atas Pulau Run di Indonesia, yang merupakan aset yang lebih berharga sebagai ganti terhadap kekuasaan Inggris di New Amsterdam (New York) di Amerika Utara. Pada waktu itu Pulau Run, sebuah pulau kecil di Kepulauan Banda, Maluku, Indonesia, bernilai lebih tinggi daripada kota New York di Pulau Manhattan. Itulah ironi sejarah, pada paruh terakhir abad ke-17, Inggris dan Belanda berulang kali terlibat perebutan daerah penghasil rempah. Semasa itu, sekantong rempah bernilai lebih mahal dari sekantong emas dengan bobot yang sama. Serikat Dagang Hindia Timur Belanda (VOC) dan Serikat Dagang Hindia Timur Inggris (EIC) bersaing ketat dan sering terlibat konflik terbuka. Bahkan, terjadi pembantaian warga Inggris di benteng Belanda di Ambon, Maluku yang dikenal sebagai ‘Amboyna Massacre’ yang memicu kemarahan Inggris.

Malam itu kami tidak apat tidur nyenyak di kamar 2011 New World Hotel, 101 Bowery #2, New York, saat membayangkan kaitan New York di AS dengan Maluku di Indoneisa pada akhir abad 17. Pada hal, kami harus bersiap-siap untuk hari berikutnya, mengikuti konggres hari kedua, yaitu ‘The 16th Annual World Congress on Pediatrics’, di Hilton New York JFK Airport Hotel, 5144-02 135th Avenue, Jamaica, New York 11436 USA.

Ditulis dan disebarkan dari New York Rabu, 21 Maret 2018 pk. 19.45, sewaktu dengan WIB Kamis, 22 Maret 2018, pk. 7.45.

*) penikmat jalan2 murah

NEW YORK  HARI  KEEMPAT

(WASHINGTON  DC)

fx. wikan indrarto*)

Pada Kamis, 22 Maret 2018, saat kami akan berangkat mengikuti ‘The 16th Annual World Congress on Pediatrics’, yang diselenggarakan di Hilton New York JFK Airport Hotel, 135th Avenue, Jamaica, New York 11436 USA, ada email masuk. Kami dikagetkan oleh email masuk tentang ‘Important Amtrak Alert’ yang isinya ‘schedule to Washington DC has been cancelled, due to a schedule change’, terkait serangan badai salju hari sebelumnya. Untunglah teman baik kami, Christine N. Tedjopranoto yang asli Purwokerto Jawa Tengah dan tinggal di kota Charlotte, North Carolina USA, segera tampil membantu kami. Apa yang menarik?

Pada Day 2 Congress : March 22, 2018, kami sempatkan mengikuti Keynote Forum dengan tema Keynote : ‘Pediatric Cochlear Implantation’ yang dibawakan oleh Prof. Susan B. Waltzman, PhD yang merupakan Professor of Otolaryngology and Co-Director of the NYU Cochlear Implant Center, New York University School of Medicine, USA. Pada intinya oleh karena pemeriksaan skrining pendengaran pada bayi baru lahir dan alat evaluasi yang digunakan lebih baik, sekarang lebih banyak anak dengan gangguan pendengaran parah sudah mampu didiagnosis saat bayi. Hal ini akan memberikan kesempatan untuk akses anak ke implantasi koklea. Para dokter perlu mempertimbangkan semua aspek implantasi koklea pada bayi, termasuk aspek keamanan dan khasiat pada bayi yang sangat muda. Risiko anestesi, volume darah, ukuran, ketebalan, dan pertumbuhan tengkorak, serta posisi alat yang digunakan.

di

‘The 16th Annual World Congress on Pediatrics’

4. Konggres

Sebelum sesi Keynote Forum dimulai

Pembicara Keynote Forum selanjutnya adalah Professor Elisabeth Utens dari Erasmus University Medical Centre, Rotterdam and University of Amsterdam, Nedherland. Dengan tema Keynote tentang Eye Movement in children, menjelaskan bahwa sekitar 3 dari setiap 10 anak dan remaja yang dirawat di rumah sakit atau menjalani operasi invasif dan atau menyakitkan, akan berkembang menjadi Post Traumatic Stress Syndrome (PTSS), meskipun subklinis. Selain itu, sekitar 1 dari 10 anak bahkan mengalami PTSS penuh yang dapat berdampak serius pada kualitas hidup, fungsi psikososial dan dapat mengakibatkan keluhan psikiatri jangka panjang. Sebagian besar anak yang menjalani rawat inap atau operasi tidak diskrining untuk keluhan PTSS dan tidak menerima bantuan psikolog. EMDR terbukti efektif dan diterapkan secara struktural di Erasmus MC Sophia. EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing) merupakan metode psychoterapi yang lebih efektif dalam mengatasi PTSD (Post Traumatic Stress Disorder). Di Indonesia telah resmi di buka pada tahun 2008. Metode ini di temukan oleh Francine Shapiro pada tahun 1987. Kerjasama yang baik antara dokter spesialis medis dan psikoterapis perilaku kognitif diperlukan untuk perawatan psikososial yang optimal.

Pembicara yang cukup kontroversial dan mendapat apresiasi peserta adalah saat Keynote Forum ketiga, dengan tema Keynote : ‘Grounds and first results of the new doctrine of acute pneumonia’.  Professor Dr. Igor Klepikov PhD dari Dana Children’s Hospital Sourasky Medical Center Tel Aviv Sourasky Medical Center and Russian State Institute for Post-graduate Medical Studies Novokuznetsk, Russia. Intinya bahwa pengobatan pneumonia akut saat ini hanya berfokus pada terapi antibiotik dan mengulangi prinsip pengobatan penyakit peradangan lainnya. Dampaknya adalah mengurangi efektivitas obat antimikroba, kemunculan dan peningkatan jumlah patogen resisten antibiotik dan peningkatan frekuensi komplikasi purulen. Dasar doktrin pendekatan yang baru didasarkan pada aksioma ilmiah berikut : Pertama, respon tubuh terhadap stimulus apapun, termasuk peradangan, sangat individual dan unik. Kedua, transformasi inflamasi jaringan tubuh adalah reaksi vaskular dengan urutan tahap tertentu. Ketiga, sirkulasi darah kecil dan sistemik tidak hanya memiliki hubungan langsung, tetapi juga hubungan terbalik. Keempat, di antara bentuk peradangan nonspesifik pneumonia akut adalah satu-satunya proses yang terjadi dalam sistem sirkulasi darah kecil. Dan kelima, adalah prosedur medis yang sama dapat memiliki efek yang berbeda terhadap peradangan pada sirkulasi darah kecil atau besar. Untuk itu, kemungkinan pencegahan komplikasi supuratif dan destruktif dari penyakit pneumonia akut ini haruslah dicermati.

Kami masih sempatkan mengikuti Keynote Forum keempat, dengan tema Keynote: ‘Education Opportunities in Children with Mental Health Disorders.’ oleh Dr. Petrovic-Dovat is a Director of the Child and Adolescent Anxiety Disorder Program at the Penn State Hershey College of medicine, Pennsylvania State University, USA. Pada dasarnya disebutkan bahwa hanya sekitar 25% anak dengan penyakit jiwa yang ditangani oleh psikiater anak. Dokter spesialis anak sering menjadi dokter pertama bagi sebagian besar anak dengan masalah kesehatan mental dan perilaku. Namun kemampuan mereka untuk berhasil mengelola penyakit jiwa belum pernah diteliti. Dukungan pendidikan tambahan diperlukan, untuk dokter spesialis anak pada layanan  primer dalam merawat anak dengan masalah kesehatan mental.

Setelah sesi Keynote Forum keempat selesai, segera kami kembali melanjutkan petualangan cepat ke jantung kekuatan finansial New York, yaitu downtown Manhattan. Kami langsung naik subway Line J dari Jamaica ke Broad Street (downtown) untuk menuju ke sebuah patung yang disebut ‘Charging Bull’ atau arti harafiahnya Banteng Pengisian, yang kadang disebut sebagai Wall Street Bull atau Bowling Green Bull, karena patung perunggu tersebut berdiri di Bowling Green di Financial District di Manhattan, New York City. Rancangan awalnya adalah seni liar (originally guerrilla art), yang dipasang secara tidak resmi oleh Arturo Di Modica. Namun demikian, oleh karena popularitasnya membuatnya menjadi fitur patung yang permanen. Kegagahan banteng tersebur seolah menunjukkan keperkasaan Wall Street sebagai kekuatan finansial global.

4 Bu Elsye

Kami mampir di Kantor Ibu Elsye yang berlokasi di Broad Street no 90 downtown Manhattan NYC

4 Buffalo

‘Charging Bull’ lambang keperkasaan Wall Street sebagai kekuatan dan keperkasaan finansial global

Setelah itu, kami mampir di Kantor Ibu Elsye yang berlokasi di Broad Street no 90, Manhattan, untuk mengembalikan jaket musim dingin yang kami pinjam dan telah melindungi kami dari dekapan duingin salju. Selanjutnya kami menikmati Indian Museum atau The National Museum of the American Indian, yang gagah menjulang tidak jauh dari kantor Ibu Elsye yang baik hati, di samping American Film Academy dan patung perunggu yang disebut ‘Charging Bull’. Pada museum warga asli Amerika atau Infinity of Nations, menampilkan lebih dari 700 benda di dalam gedung megah yang sebelumnya merupakan rumah Alexander Hamilton. Bangunan ini dirancang oleh Cass Gilbert, yang juga mendesain Woolworth Building di utara Broadway, dalam gaya Beaux Arts. Di luar gedung ada 12 patung termasuk Christopher Columbus, yang diakui sebagai penemu Amerika, yang dirancang oleh Daniel Chester French. Dibangun antara tahun 1900 dan 1907, gedung ini menghadap Bowling Green, ruang publik pertama di New York City.

3 WTC

Turun di WTC dari subway Line Jtujuan Jamaica ke Broad Street

4 Museum Indian

Patung Christopher Columbus di gerbang The National Museum of the American Indian

Oleh karena terjadi perubahan jadwal keberangkatan kereta api Amtrak ke Washington, DC, maka kami masih ada sisa waktu untuk kami gunakan menikmati Times Square. Dari Bowling Green kami naik subway uptown Line R untuk turun di Times Square. Tempat ini tidak jauh dari Penn Station, untuk keberangkatan KA Amtrak ke Washington, DC, sehingga kami pilih sebagai tempat untuk menunggu. Times Square adalah persimpangan jalan, wahana komersial utama, tujuan wisata, pusat hiburan dan sebuah arena di bagian Midtown Manhattan di New York City, tepatnya di persimpangan Broadway dan Seventh Avenue. Areal ini terang dihiasi dengan papan iklan yang menyala penuh warna, gambar gerak ataupun video iklan, meskiun pada siang hari yang cerah sekalipun. Times Square kadang-kadang disebut sebagai “The Crossroads of the World”, “The Centre of the Universe”, “The Great White Way”, dan “hati dunia”. Times Square merupakan salah satu kawasan pejalan kaki tersibuk di dunia, juga merupakan pusat Distrik Teater Broadway dan pusat utama industri hiburan dunia. Times Square adalah salah satu tempat wisata yang paling banyak dikunjungi di dunia, yang menarik sekitar 50 juta pelancong setiap tahunnya. Sekitar 330.000 orang melewati Times Square setiap hari, banyak dari mereka adalah wisatawan, sementara lebih dari 460.000 pejalan kaki telah berjalan melalui Times Square pada puncak hari tersibuk.

4 Times 1

Papan iklan di Times Square yang disebut “The Crossroads of the World”

4 Times 4

Makan-makan sambil melihat banyak sekali orang lalu lalang di Times Square

Sebelumnya dikenal sebagai Longacre Square, Times Square diganti namanya pada tahun 1904 setelah The New York Times memindahkan kantor pusatnya ke Gedung Times yang baru saja didirikan, yang sekarang disebut One Times Square. Di tempat tersebutlah berlokasi atraksi kembang api dan bola Malam Tahun Baru tahunan yang dimulai pada 31 Desember 1907, dan berlanjut sampai hari ini, yang mampu menarik lebih dari satu juta pengunjung ke Times Square setiap tahun.

Setelah puas berfoto, makan-makan sambil melihat banyak sekali orang lalu lalang, selanjutnya kami naik subway downtown Line 1 untuk turun di ke Penn (Pennsylvania) Station, sebuah stasiun interkoneksi yang sagat besar dan ramai penumpang, untuk ganti kereta api menuju ke Wasington, DC, ibukota AS. Kami naik kerata api cepat antar kota, yang dioperasionalkan oleh Amtrak. Amtrak adalah nama layanan dari National Railroad Passenger Corporation (Perusahaan Kereta Api Penumpang Nasional), sebuah perusahaan semi-pemerintah yang dibentuk 1 Mei 1971, untuk memberikan layanan kereta api penumpang antarkota di daratan Amerika Serikat. Nama “Amtrak” berasal dari gabungan kata “American” dan “track”.

4 Amtrak 1

Eksterior gerbong Amtrak di Penn (Pennsylvania) Station New York, milenial yang nampak kokoh dan garang

4 Amtrak 2

Interior ala pesawat di gerbong Amtrak kelas ekonomi, kursi terlalu besar untuk kami karena ukuran American standard

Amtrak memiliki hampir 19.000 pegawai. Rute kereta api penumpang yang dioperasikan mencakup 500 kota tujuan di 46 negara bagian, dengan total jarak sejumlah 33.800 km di atas rel kereta api, yang sebagian besar justru dimiliki oleh perusahaan kereta api lain, termasuk beberapa kota di Kanada. Pada tahun fiskal 2006, Amtrak mengangkut sejumlah 24,3 juta penumpang, dan sekaligus menjadi rekor jumlah penumpang terbanyak yang pernah diangkut Amtrak. Sejarah Amtrak bermula dari layanan kereta api penumpang swasta di Amerika Serikat yang terus mengalami kemunduran, sejak sekitar tahun 1920 hingga tahun 1970. Sebagai tindak lanjut, Amtrak dibentuk oleh Konggres dan Presiden AS pada tahun 1971. Sepanjang sejarahnya, perusahaan ini telah mengalami pasang surut akibat permainan politik, kekurangan modal, dan gangguan teknis pada jalur kereta api. Belakangan ini keadaan perusahaan semakin sehat, dan pada tahun 2000-an telah menyelesaikan proyek rel kereta api di daerah timur laut Amerika Serikat, sementara pesaing utama Amtrak, terutama perusahaan penerbangan menghadapi masalah kepailitan dan kenaikan harga bahan bakar.

4 Salju

Badai salju sudah hampir selesai, sebuah pengalaman unik

4 Washington

Tiba di Union Station Washington DC, setelah usai badai salju

Kami naik Train 93 meninggalkan Penn Station di central Manhattan New York pk. 2.02 PM untuk menuju ke Union Station di Washington, DC, menempuh jarak total 476,14 km. Kami sempat berhenti di stasiun Newark di New Jersey, Metropark, Princeton, Trenton, Philadelphia, Wilmington, Baltimore, BWI Marshall Airport, New Carollton dan turun di Union Station Washington DC, yang merupakan salah satu stasiun tertua sekaligus markas Amtrak. Meski tidak muda lagi, stasiun ini tetap terawat dan masih memancarkan pesona keindahan arsitektur klasik. Selain megah, stasiun yang dibangun pada awal abad ke-10 itu juga memiliki beragam tempat nongkrong sehingga banyak orang yang betah menghabiskan waktu di sana Data ‘Federal Railroad Administration Office of Safety Analysis’ menyebutkan jumlah kecelakaan Amtrak menurun sejak 2010. Pada 2015 terjadi 40 kecelakaan, turun satu angka dari tahun sebelumnya. Rasanya tidak heran jika Amtrak selalu dibanjiri penumpang. Setalah menemuh perjalanan seekiatr 3,5 jam, kami sampai di  Union Station di pusat kota Washington, DC

4 Union 4

Arsitektur Union Station di pusat kota Washington, DC beraura mewah dan bergaya klasik yang sudah beroperasi sejak tahun 1907.

Bangunan dengan arsitektur beraura mewah dan bergaya klasik ini sudah beroperasi sejak tahun 1907. Pengunjung pun dapat menikmati ruang tunggu utama di stasiun tua ini yang dibangun dengan ketinggian 29 meter. Saat menjejakkan kaki ke dalam stasiun, kami langsung merasakan atmosfer berbeda, sebab memang seperti tengah berdiri di sebuah istana transportasi darat. Setelah keluar dari pintu gerbang sekitar pk. 5.30 sore, kami segera mengabadikan sisi luar bangunan Union Station yang artistik, dalam foto dari berbagai sudut, di pusat kota Washington, DC.

4 Union

Sisi dalam bangunan Union Station yang artistik di pusat kota Washington, DC

4 Amtrak

Lokomotif Amtrak yang membawa kami ke Washington, DC

Washington, DC (singkatan dari District of Columbia) didirikan tahun 1790. Kota di pinggir Sungai Potomac ini didesain arsitek Perancis, Pierre Charles L’Enfant, sebagai ibu kota negara. Rancangannya bergaya Eropa abad pertengahan. Hingga kini, gedung-gedung lama peninggalan masa itu masih terjaga. Bangunan itu rata-rata bergaya neoklasik, georgian, atau gotik dengan tiang-tiang besar dan beberapa ornamen. Namun, bangunan baru cenderung bergaya modern, bebas, meski tetap berangkat dari kebutuhan fungsi. Semua gedung di kota itu tak boleh lebih tinggi dari United States Capitol dan Washington Monument.

Selanjutnya kami berjalan kaki melawan desiran angin sangat dingin, dari Union Station menuju bangunan megah yang disebut ‘The United States Capitol’. Kami segera memasuki area National Mall, yang relatif masih cukup terang pada sore menjelang malam itu dan tujuan pertama kami adalah kantor Kongres Amerika Serikat, yakni U.S. Capitol dengan pemandangan yang luar biasa elok, selain interior rapi dan cantik pada gedung yang beralamat di East Capitol St NE & First St SE, Washington, DC 20004. Gedung yang didirikan tahun 1800-an dengan arsitek William Thornton itu memiliki kubah besar bergaris di bagian tengah.

4 Union 5

United States Capitol  Building di siang hari yang cerah

4 Capitol

United States Capitol Buildingdi sore  hari yang redup dan dingin

White HouseWashington Monument, dan United States Capitol berdiri pada titik segitiga di jantung kota Washington, DC. Pada jarak lurus antara Washington Monument dan United States Capitol, terdapat jalur besar yang biasa disebut National Mall. Dari jalur terbuka inilah, para wisatawan leluasa mengamati kota. Tiga bangunan itu merefleksikan semangat kebangsaan modern AS. White House mewakili kekuasaan eksekutif. United States Capitol mencerminkan ruang kebebasan dari para wakil rakyat. Washington Monument tanda kenangan sejarah bangsa modern yang merdeka tahun 1776 itu.

Selanjutnya kami naik Metrobus Line 32 bertarif $ 2, yang harus kami bayar tunai karena Metrocard Washington dan New York belum terkoneksi, untuk mengunjungi The White House atau Gedung Putih, dengan berjejal di antara ratusan turis lain, sebelum hari gelap. Rumah tempat tinggal resmi presiden Amerika Serikat (AS) itu termasuk Barack Obama, yang menjadi Presiden Ke-44 AS dan pernah mengunjungi Yogyakarta, memang punya daya tarik tersendiri. Gedung Putih memang tidak terlalu besar, apalagi jika dibandingkan arsitektur kontemporer yang besar-besar. Namun, bangunan hasil rancangan arsitek James Hoban dan dibangun tahun 1792 itu adalah ikon kota, bahkan ikon AS. Brosur resmi terbitan The White House Visitor Center mencatat, gedung itu merupakan bangunan publik tertua di kota Washington, DC.

Rumah bergaya georgian yang saat kami datang sudah diselimuti gelap awal malam, menjadi tempat tinggal resmi para presiden AS sejak Presiden Kedua AS Johan Adams, tahun 1800. Jadi, selama 200-an tahun lebih, orang-orang nomor satu di negeri itu tinggal di sana, termasuk Barack Obama dan Donald Trump. Gedung Putih berdiri di sudut tak jauh dari kawasan terbuka di tengah kota yang biasa disebut National Mall.

4 White

Gedung Putih di Washington, DC, tempat tinggal resmi presiden AS

4 WhiteHouse 1

Gedung Putih (White House) di malam yang dingin dan tidak boleh lagi didekati

Gedung Putih yang terletak di 1600 Pennsylvania Avenue di Washington, DC,  merupakan tempat tinggal resmi presiden dan keluarganya selama masa jabatannya sebagai presiden. Saat seorang presiden baru terpilih, presiden yang lama segera pindah. Gedung Putih (White House) juga menjadi kantor, di mana presiden menjalankan pemerintahan. Sangat disesalkan bahwa, kami tidak mampu mendekat Gedung Putih, selain karena gelap malam sudah menutupinya, desiran angin dingin sudah membekukan badan dan masa kunjungan wisatawan sudah habis malam itu.

Dari lapangan terbuka di depan Gedung Putih itu, kami melihat The Washington Monument, sebuah tugu (obelisk) peringatan untuk mengenang pemimpin Tentara Kontinental yang sudah membuat Amerika Serikat merdeka dari jajahan Inggris dan sekaligus juga Presiden Amerika Serikat pertama, George Washington. Bangunan ini didesain arsitek Robert Mills dan diresikan pada tahun 1848. Bentuknya sederhana, mirip tonggak lurus lancip setinggi 555 kaki lebih atau sekitar 169.294 meter. Berbahan batu marmer, granit, dan batu pasir putih, tugu itu tampak menonjol. Dari seberang Sungai Potomac, monumen itu seperti tonggak putih yang angkuh.

Lurus di depan The Washington Monument, terdapat taman peringatan Lincoln Memorial dan Vietnam Veterans Memorial. Di samping kanan tugu, ada dua taman peringatan lain, yaitu Franklin Delano Roosevelt Memorial dan Thomas Jefferson Memorial. Ketiganya presiden AS yang dikenang dengan berbagai jasa. Di tengah pertigaan jalan, banyak dibuat taman melingkar. Di situ, berdiri patung-patung para jenderal dari masa-masa peperangan. Beberapa di antara mereka naik kuda dengan gagahnya, yang tidak dapat lagi kami ambil fotonya karena gelap malam sudah menutupinya.

4 Panorama

Panorama The Washington Monument, Lincoln dan Vietnam Veterans Memorial

4 White House

White House di malam yang dingin dan tidak boleh lagi didekati

Rasanya kami belum lengkap melihat, saat berkunjung ke Washington DC, karena hari sudah gelap, angin bertiup semakin dingin dan badan sudah lelah, pada hal kami belum mengunjungi Lincoln Memorial, untuk memperingati jasa Abraham Lincoln, Presiden Amerika Serikat ke-16. Lincoln Memorial ini adalah bangunan megah nan klasik, yang merupakan salah satu obyek wisata yang menarik karena saat memasuki kawasan ini, maka mata kita akan dimanjakan dengan arsitektur yang sarat gaya kuil Yunani.

Sayang sekali, kami tidak sempat berfoto di dekat patung Abraham Lincoln dengan ukuran yang cukup besar. Patung yang menghiasi bangunan ini memiliki ketinggian 5,8 meter dengan bobot total 159 ton. Lincoln dinilai sebagai presiden AS yang paling hebat sepanjang sejarah Amerika, yang ditembak di teater Ford, Washington DC pada 14 April 1865 dan meninggal keesokan harinya pada usia 56 tahun. Pembunuhnya, John Wilkes Booth adalah pemain sandiwara yang memiliki gangguan jiwa, ia juga salah seorang pendukung Konfederasi yang menentang diserahkannya tentara Konfederasi kepada pemerintah, setelah berakhirnya perang saudara. Presiden Lincoln dimakamkan di Springfield, AS dan dikenang Amerika dan dunia sebagai pejuang demokrasi karena jasa-jasanya.

4 Lincoln

Lincoln Memorial, untuk memperingati jasa Abraham Lincoln, Presiden AS ke-16

4 Capitol 1

Gedung Mahkamah Agung  (Supreme Court) AS yang megahdi depan United States Capitol

Dalam survei pemeringkatan Presiden AS sejak tahun 1940-an, Lincoln secara konsisten di peringkat tiga besar, sering nomer 1. Sebuah studi 2004 menemukan bahwa para sarjana di bidang sejarah dan politik peringkat Lincoln nomor satu, sementara sarjana hukum menempatkannya kedua setelah Washington dari semua polling peringkat presiden yang dilakukan sejak tahun 1948, Lincoln telah dinilai di bagian paling atas di sebagian besar jajak pendapat. Umumnya, tiga presiden yang dinilai sebagai no 1 Abraham Lincoln, no 2 George Washington, dan no 3 Franklin D. Roosevelt. Potret Lincoln muncul di dua denominasi mata uang Amerika Serikat, penny dan kertas $ 5.

4 Was

The Washington Monument didesain arsitek Robert Mills dan diresmikan pada tahun 1848, tonggak lurus lancip setinggi 555 kaki

4 Washington Monumen

The Washington Monument untuk mengenang pemimpin Tentara Kontinental dan sekaligus juga Presiden AS pertama, George Washington

Setelah kelelahan karena berhari-hari berjalan kaki jauh, juga kelaparan karena hembusan angin dingin paska badai salju, kami segera memutuskan kembali masuk ke Union Station. Malam itu kami menghabiskan waktu di ruang tunggu stasiun yang hangat dan tersedia wifi gratis, sampai tiba saat kami harus kembali naik Amtrak untuk menuju Penn Station di central Manhattan New York. Kami naik Train 151 meninggalkan Union Station di Washington, DC, yang kembali menempuh jarak total 476,14 km.

sekian

Ditulis dari Terminal 1 Hong Kong International Airport, saat transit 4 jam sekembalinya dari New York dan disebarkan dari ruang tunggu F4 Bandara Soekarno Hatta Tangerang, Banten, sebelum terbang ke Denpasar Bali.

Minggu, 25 Maret 2018.

*) penikmat jalan2 murah

NEW  YORK HARI  KELIMA (terakhir)

fx. wikan indrarto*)

Jumat, 23 Maret 2018 kami telah selesai mengikuti konggres, yaitu ‘The 16th Annual World Congress on Pediatrics’ di Hilton New York JFK Airport Hotel dan jalan-jalan ke Washington, DC dengan KA Amtrak. Pagi itu kami bersiap-siap untuk kembali ke tanah air tercinta, Indonesia, dalam rentang jarak 16.198 km. Apa yang harus dikenang?

Kami telah menikmati secara cepat, New York yang merupakan kota terpadat di Amerika Serikat, bahkan pusat wilayah metropolitan New York merupakan salah satu wilayah metropolitan terpadat di dunia. Dengan luas 789 km² dan pada tahun 2016, memiliki penduduk sebanyak 8,538 juta (2016). Tidak heran bahwa New York adalah sebuah kota global terdepan, yang memberi pengaruh besar terhadap perdagangan, keuangan, media, budaya, seni, mode, riset, penelitian dan hiburan tingkat dunia.

Siap jalan

Kenangan saat siap jalan2 menembus dingin sore hari di New York

3 Peserta 6

Kenangan sebagai peserta ‘The 16th Annual World Congress on Pediatrics’.

Kami juga telah menjelajahi secara cepat, kota yang terletak di pelabuhan alami yang besar di pantai Atlantik Amerika Serikat timur laut, kota ini terdiri dari lima ‘borouhg’ atau semacam distrik, yaitu The Bronx, Brooklyn, Manhattan, Queens, dan Staten Island. Kami telah mampu mengingat bahwa New York pada awalnya dihuni oleh penduduk asli Amerika Lenape, ketika ditemukan bangsa Eropa tahun 1524 oleh Giovanni da Verrazzano, seorang penjelajah Italia yang bekerja untuk kerajaan Perancis, dan menamainya “Nouvelle Angoulême”. Permukiman Eropa dimulai dengan pendirian permukiman perdagangan bulu oleh orang Belanda yang kemudian dinamai “Nieuw Amsterdam” (Amsterdam Baru), di ujung selatan Manhattan pada tahun 1614. Direktur Jenderal kolonial Belanda Peter Minuit membeli pulau Manhattan dari suku Lenape tahun 1626, senilai 60 guilden atau sekitar $1.000 pada 2006. New York berperan sebagai ibukota Amerika Serikat pada tahun 1785 hingga 1790 dan New York telah menjadi kota terbesar di AS sejak 1790. Sebanyak 800 bahasa dipertuturkan di New York City, termasuk Bahasa Indonesia, sehingga menjadikannya kota dengan bahasa paling beragam di dunia.

Yang paling kami ingat adalah Patung Liberty, yang gagah menyambut jutaan imigran, ketika mereka datang ke Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Times Square yang dijuluki sebagai “The Crossroads of the World” (Perlintasan Dunia), adalah hub distrik teater Broadway penuh cahaya, salah satu perlintasan pejalan kaki tersibuk di dunia, dan sebuah pusat industri hiburan besar dunia. Kami telah merasakan sensasi pencahayaannya, meski di siang bolong dn hanya sekejap. Dilengkapi Wall Street di Lower Manhattan, New York City bersaing dengan London sebagai ibu kota keuangan dunia, dan merupakan rumah bagi Bursa Saham New York, bursa saham terbesar di dunia, menurut kapitalisasi pasar perusahaan yang terdaftar di sana. Kami juga telah merasakan denyut keperkasaan kekuatan finansial New York, meski hanya sebentar dan saat terjadi badai salju di akhir musim dingin (snowing at the end of winter).

Panorama NYC

Panorama downtown Manhattandi New York dengan gedung yang tinggi

Lady Liberti

Patung Lady Liberty menyambut imigran, Lambang kebebasan dan kemandirian

Dalam sejarah finansialnya, kami juga mempu mengingat bahwa pada tahun 1664, kota ini menyerah kepada Inggris dan berganti nama menjadi “New York”. Pada akhir Perang Inggris dan Belanda Kedua, Belanda memperoleh kekuasaan atas Pulau Run di Maluku, Indonesia, yang merupakan aset yang lebih berharga sebagai ganti terhadap kekuasaan Inggris di New Amsterdam (New York) di Amerika Utara. Pada waktu itu Pulau Run, sebuah pulau kecil di Kepulauan Banda, Maluku, Indonesia, bernilai lebih tinggi daripada kota New York di Pulau Manhattan yang kala itu dinamakan Nieuw Amsterdam. Itulah ironi sejarah, pada paruh terakhir abad ke-17, bangsa Inggris dan Belanda berulang kali terlibat perebutan daerah penghasil rempah. Semasa itu, sekantong rempah bernilai lebih mahal dari sekantong emas dengan bobot yang sama. Serikat Dagang Hindia Timur Belanda (VOC) dan Serikat Dagang Hindia Timur Inggris (EIC) bersaing ketat dan sering terlibat konflik terbuka. Bahkan, terjadi pembantaian warga Inggris di benteng Belanda di Ambon, Maluku yang dikenal sebagai Amboyna Massacre yang memicu kemarahan Inggris.

Columbus

Penemuan benua Amerika oleh Columbus tanggal 11 Oktober 1492.

burung.jpg

Panorama mata burung New York City pada tahun 1873

Tahun 1898, City of New York modern dibentuk dengan konsolidasi Brooklyn (hingga saat itu menjadi kota terpisah), County of New York (yang kemudian mencakup sebagian Bronx), County of Richmond, dan bagian barat County of Queens. Pembukaan jalur New York City Subway tahun 1904 membantu mempersatukan kota baru ini. Melalui pertengahan pertama abad ke-20, kota ini menjadi pusat dunia untuk industri, perdagangan, dan komunikasi. Kami telah menikmati keefektifan subway tertua di dunia, dengan sebuah kartu Metrocard untuk semua jalur yang ada. Tarif seragam $ 2,75 tanpa memandang jarak tempuh, juga interkoneksi antar Line Subway di New York, sangat mengasyikkan.

Angkutan umum di New York sebagian besar beroperasi 24 jam sehari, merupakan sistem paling rumit dan ekstensif di Amerika Utara. Sekitar satu dari tiga pengguna angkutan umum di Amerika Serikat dan dua per tiga penumpang kereta di negara ini menetap di New York dan kota pinggirannya. Sistem New York City Subway merupakan yang tersibuk di belahan bumi barat, sementara Grand Central Terminal yang juga dikenal dengan sebutan “Grand Central Station”, adalah stasiun kereta terbesar di dunia menurut jumlah platformnya. Tingkat penggunaan angkutan umum yang tinggi di New York City, 120.000 pesepeda harian dan jumlah pejalan kaki  yang banyak, menjadikan New York City sebagai kota besar paling hemat energi di Amerika Serikat. Mode perjalanan jalan kaki dan sepeda mencakup 21% dari seluruh mode perjalanan di kota ini, secara nasional persentase untuk wilayah metro adalah sekitar 8%.

Subway

New York City Subway adalah sistem angkutan massal terbesar di dunia menurut jumlah stasiunnya

DeKalb

Stasiun DeKalb yang bersih dalam rangkaian New York City Subway

Angkutan umum adalah mode angkutan paling populer di New York City. 54,6% penduduk New York pergi ulang alik menggunakan angkutan umum menuju tempat kerjanya pada tahun 2005. Ini berbeda jauh dengan perilaku penduduk di kota lainnya di seluruh Amerika Serikat, yaitu sekitar 90% komuter menggunakan kendaraan pribadi menuju tempat kerjanya. Menurut Biro Sensus AS, penduduk New York City menghabiskan rata-rata 38,4 menit setiap harinya untuk pergi bekerja, waktu tempuh terlama di negara ini di antara kota-kota besar AS.

New York City Subway merupakan sistem angkutan cepat terbesar di dunia menurut jumlah stasiun yang beroperasi, yaitu 468 stasiun. Sistem ini merupakan yang terbesar ketiga menurut perjalanan penumpang tahunan (1,5 miliar penumpang pada tahun 2006). Kereta bawah tanah New York juga terkenal karena hampir seluruh sistem buka 24 jam sehari, berbeda dari penutupan tengah malam pada sistem di banyak kota besar dunia, termasuk London. Paris, Montreal, Washington, Madrid dan Tokyo. Sistem transportasi di New York City sangat luas dan rumit. Sistem ini juga meliputi jembatan suspensi terpanjang di Amerika Utara, terowongan kendaraan berventilasi mekanis pertama di dunia, lebih dari 12.000 taksi kuning, kereta gantung yang mengangkut komuter antara Roosevelt Island dan Manhattan, dan sebuah sistem feri yang menghubungkan Manhattan dengan berbagai permukiman di dalam dan luar kota.

Brooklyn6

Kaki langit Manhattan NYC dengan banyak pencakar langitnya dari Brooklyn Bridge

Rockefeller

Gaya Art Deco Chrysler Building (1930) di Manhattan, New York yang artistik

Kaki langit Manhattan dengan banyak pencakar langitnya mudah dikenali di seluruh dunia, dan kota ini menjadi tempat bagi beberapa bangunan tertinggi di dunia. Pada Agustus 2008, New York City memiliki 5.538 bangunan tinggi, dengan 50 pencakar langit lebih tinggi dari 656 kaki (200 m). Jumlah ini lebih banyak dibanding kota manapun di Amerika Serikat, dan kedua di dunia setelah Hong Kong, yang akan kami singgahi saat transti kembali ke tanah air.

Secara arsitektural, New York memiliki bangunan terkenal dalam berbagai bentuk. Di antaranya ialah Wollworth Building (1913), sebuah pencakar langit bergaya kebangkitan gothik awal yang dibangun dengan detail gothik berukuran besar. Gaya Art Deco Chrysler Building (1930), dengan puncak baja meruncing, merefleksikan kebutuhan pembagian wilayah kota. Bangunan ini memiliki ornamen unik seperti replika di sudut tingkat ke-61 berupa ornamen elang Chrysler tahun 1928. Contoh gaya internasional yang sangat berpengaruh di Amerika serikat adalah Seagram Building (1957), berbeda karena muka bangunannya menggunakan I-beam berwarna perunggu untuk menonjolkan struktur bangunan. Conde Nast Building (2000) adalah contoh penting desain hijau pada pencakar langit Amerika Serikat.

Port Authority Bus Terminal adalah terminal bus antar kota utama di kota ini, melayani 7.000 bus dan 200.000 komuter tiap hari dan menjadikannya stasiun bus tersibuk di dunia. Armada bus umum dan jaringan kereta komuter New York City adalah yang terbesar di Amerika Utara. Kami hanya sempat menggunakan bis kota, saat akan menuju Pier 83, untuk naik Liberty Cruise di tepi dermaga east River.

4 Amtrak 1

Gerbong KA Amtrak yang bergaya milenual, kotak, angkuh dan kokoh

Terminal 8

TWA Flight Center Building di JFK International Airport New York

Amtrak adalah nama layanan dari National Railroad Passenger Corporation (Perusahaan Kereta Api Penumpang Nasional), sebuah perusahaan semi-pemerintah yang dibentuk 1 Mei 1971 untuk memberikan layanan kereta api penumpang antarkota di daratan Amerika Serikat. Nama “Amtrak” berasal dari gabungan kata “American” dan “track”. Amtrak menyediakan transportasi menuju Boston, Philadelphia, dan Washington DC di sepanjang Northeast Corridor dan layanan kereta api jarak jauh ke kota-kota seperti Chicago, New Orleans, Miami, Toronto dan Montreal. Kami telah menikmati layanan Amtrak saat melakukan perjalanan pergi pulang dari Penn Station di New York ke Union Station di Washington DC.

Pada Selasa, 20 Maret 2018 sore hari yang sangat dingin dengan suhu sekitar 3 derajad Celcius dan setelah cukup mengikuti sesi awal konggres, kami segera melanjutkan petualangan di New York, yaitu menuju St. Patrick’s Cathedral untuk bersujud, berdoa dan mengucap syukur atas semua anugerah yang Tuhan telah berikan. Katedral St. Patrick adalah gereja Katedral Katolik Roma yang merupakan pusat Keuskupan Agung,  bergaya Neo-Gothic, dan sebuah landmark terkenal di kota New York, yang terletak di sisi timur Fifth Avenue antara jalan 50 dan 51 di Midtown Manhattan, tepat di seberang Rockefeller Center dan  menghadap patung Atlas.

Selain itu, kami juga melakukan peziarahan ke dalam kapel orang suci St. Fransisco Xavier Cabrini, dimana jasadnya dibaringkan di bawah altar. Setelah kematiannya pada tahun 1917, Suster Cabrini dimakamkan di West Park, New York. Pada tahun 1933, jasadnya dipindahkan ke dalam kapel di Sekolah Menengah Suster Cabrini. Pada tahun 1946, ia dikanonisasi seorang santa atau orang suci oleh Paus Pius XII sebagai pengakuan atas kekudusan dan pelayanannya kepada umat manusia dan diberi nama Patroness of Immigrants atau Pelindung Para Imigran pada tahun 1950.

Katedral 3

St. Patrick’s Cathedral, gereja Katolik yang besar bergaya Neo-Gothic, di New York

Cabrini1

Kapel St. Frances Xavier Cabrini Shrine di 701 Fort Washington Ave, New York

New York City merupakan pintu masuk penumpang udara internasional teratas di Amerika Serikat. Wilayah ini dilayani oleh tiga bandara besar, Bandar Udara Internasional John F. Kennedy, Liberty Newark dan La Guardia. Sekitar 100 juta pelancong menggunakan tiga bandara ini pada tahun 2005 dan wilayah udara New York merupakan yang tersibuk di Amerika Serikat. Perjalanan internasional dari JFK dan Newark mencakup hampir seperempat dari seluruh pelancong AS yang pergi ke luar negeri pada tahun 2004. Kami telah merasakan denyut nadi pergerakan penumpang, seperti yang dialami Kevin McCalli (diperankan sangat bagus oleh Macaulay Culcin) dalam serial film Home Alone, Lost in New York tahun 1990 yang terkenal. Film yang disutradarai Chris Columbus dan naskah aslinya ditulis oleh John Hughes telah memiliki sequel sampai 5 dengan setting di Bandar Udara Internasional John F. Kennedy New York.

Tahun 2008, New York City mencetak rekor jumlah wisatawan, lebih dari 47 juta orang secara keseluruhan dan pengeluaran mereka menyumbang US$32,1 miliar langsung kepada ekonomi kota yang juga merupakan rekor. Sejak ekonomi Amerika Serikat pulih, Wali kota Michael Bloomberg mampu memecahkan rekor kembali pada tahun 2012 dengan menarik lebih dari 50 juta wisatawan. Kami telah ikut berperan sebagai wisatawan periode singkat di New York, dengan mengunjungi beberapa tempat penting.

3 Trump Building

Trump Building di Wall Street no 40 New York dengan 72 lantai, pada tahun 1930 adalah gedung tertinggi di dunia.

Empire

Empire State Building sebuah bangunan perkantoran sangat tinggi sekali, rancangan arsitek Shreve, Lamb and Harmon.

Gedung pencakar langit di Wall Street no 40 yang memiliki 1,3 juta kaki persegi ruang kantor yang tersebar di 72 lantai, yang pada saat dibangun tahun 1930 adalah gedung tertinggi di dunia. Awalnya bernama Manhattan Company Building, dan dirancang oleh arsitek H. Craig Severance dan Yasuo Matsui, menara itu menjulang di atas kota sebagai pengingat impor global New York. Setelah bertahun-tahun kosong, Donald J. Trump membeli properti itu, menginvestasikan lebih dari $ 200 juta untuk restorasi, dan membawanya ke puncak kemegahan aslinya. Penyewa profil tinggi yang menempati gedung Trump (Trump Building) tersebut adalah para pemuncak Kota New York dalam prestise dan kekuatan internasional mereka.

Arsitek oleh Shreve, Lamb and Harmon, Pengembang oleh John J. Raskob, Teknisi struktur oleh Homer Gage Balcom, dan kontraktor utama  oleh Starrett Brothers and Eken, namanya diambil dari julukan New York, yaitu Empire State. Empire State Building sempat menjadi bangunan tertinggi di dunia selama 40 tahun, sejak selesai dibangun tahun 1931 sampai rampungnya Menara Utara World Trade Center pada tahun 1972. Empire State Building saat ini merupakan pencakar langit tertinggi ketiga di AS, setelah Menara Willis dan Trump International Hotel and Tower di Chicago, dan tertinggi ke 22 di dunia. Gedung ini juga merupakan struktur berdiri bebas tertinggi ke 4 di AS.

Times

Times Square atau “The Crossroads of the World” (Perlintasan Dunia), adalah hub distrik teater Broadway penuh cahaya iklan

4 Times 1

Bergaya di Times Square atau “The Crossroads of the World” (Perlintasan Dunia) penuh cahaya iklan

Times Square adalah tempat yang banyak sekali dikunjungi oleh banyak masyarakat di sana maupun orang yang berkunjung, apalagi ketika tanggal 31 Desember yang dimana tempat ini selalu dijadikan tempat di malam tahun baru detik-detik pergantian tahun dari tahun berikutnya. Acara Ball Drop juga yang menjadi salah satu penyebab banyaknya orang yang berkunjung kesana.

Brooklyn1

Pemandangan dari atas Brooklyn Bridge yang artistik di atas East River

Jembatan

Brooklyn Bridge menghubungkan Manhattan dan Brooklyn di New York

Brooklyn Bridge adalah jembatan tua yang dikagumi oleh banyak orang dan menjadi salah satu dari tujuh keajaiban di dunia konstruksi. Jembatan ini dibuka pada tahun 1883 dan sudah menjadi prestasi terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.

One WTC

One World Trade Center, tinggi menjulang di Manhattan, New York

Brooklyn5

One World Trade Center terlihat di kejauahan dari Brooklyn Bridge, yang dijaga NYPD

Hotel

Saat sampai di depan New World Hotel, 101 Bowery, Chinatown, New York 10002

Chinatown

Chinatown, Manhattan, New York sebuah areal pecinan yang luas

One World Trade Center (1 World Trade Center), lebih dikenal sebagai 1 WTC dan dulunya bernama Freedom Tower, adalah bangunan utama di komplek World Trade Center di Lower Manhattan, New York City. Menara ini akan dibangun di sudut barat laut situs World Trade Center dan akan menempati lokasi bekas 6 World Trade Center. Sisi utara menara membentang di antara persimpangan Vesey dan West Street di barat laut dan persimpangan Vesey dan Washington Street di timur laut. Lahan asli North Tower/1 WTC berada di selatan gedung ini. Pembangunan relokasi sarana bawah tanah, dasar bangunan, serta pondasinya dimulai pada 27 April 2006. Pada tanggal 30 Maret 2009, Port Authority membenarkan bahwa bangunan ini akan diberi nama One World Trade Center, bukan nama julukannya, yaitu Freedom Tower.

Chinatown, Manhattan adalah sebuah enklave etnis Cina yang terletak di borough Manhattan di New York City. Pecinan Manhattan merupakan salah satu komunitas etnis Cina terbesar dan tertua di luar Asia.

Wallstreet

Wall Street dari Broadway menuruni lembah ke arah South Street di East River

3 Wall Street 1

New York Stock Exchange di Wall Street yang diguyur salju

Wall Street (Jalan Wall) adalah sebuah nama jalan di pinggiran kota Manhattan di New York yang membujur mulai dari timur yaitu dari Broadway menuruni lembah ke arah South Street di East River, melewati pusat historis dari distrik keuangan Amerika yaitu Manhattan. Wall Street adalah gedung permanen pertama dari New York Stock Exchange, dan sepanjang waktu Wall Street menjadi nama dari gegografi sekitarnya.

Wall Street adalah juga merupakan suatu istilah yang digunakan bagi ” kepentingan finansial yang berpengaruh” di Amerika Serikat.

Banyak sekali bursa perdagangan saham dan bursa perdagangan lainnya berkantor pusat di Wall Street dan di Distrik Keuangan (Financial District) termasuk NYSE, NASDAQ, AMEX, NYMEX, dan NYBOT. Banyak pula perusahaan keuangan New York yang kini sudah tidak berkantor di Wall Street lagi melainkan berkantor di pusat kota Manhattan, di wilayah pinggiran kota, Long Island, Westchester County, Fairfield County, Connecticut, atau di New Jersey.

Selanjutnya kami berpetualang juga ke Washington, DC untuk melihat

4 Union 5

United States Capitol di siang yang cerah di Washington, DC

4 Capitol

United States Capitol mencerminkan ruang kebebasan para wakil rakyat AS

White HouseWashington Monument, dan United States Capitol berdiri pada titik segitiga di jantung kota Washington, DC. Pada jarak lurus antara Washington Monument dan United States Capitol, terdapat jalur besar yang biasa disebut National Mall. Dari jalur terbuka inilah, para wisatawan leluasa mengamati kota. Tiga bangunan itu merefleksikan semangat kebangsaan modern AS. White House mewakili kekuasaan eksekutif. United States Capitol mencerminkan ruang kebebasan para wakil rakyat. Washington Monument tanda kenangan sejarah bangsa modern yang merdeka tahun 1776 itu.

3 Kerja bakti 1

Kerja bakti membersihkan salju di pinggir Bowery Street, Manhattan New York

Salju

Pohon gundul diselimuti salju di areal pemukiman pinggiran New York

Jumat, 23 Maret 2018 dini hari kami sampai di Penn Station New York naik train 66 pk. 1.50. Untunglah layanan subway di New York tetap operasional 24 jam, sehingga kami lanjut Line 1 up town ke Times square, kemudian ganti Line N down town ke 34 Street dan dari situ ganti lagi Line D down town untuk turun di Grand Street. Dengan berjalan kaki dalam dingin suhu sekitar 4 derajad Celcius, kami kembali ke hotel. Pagi dini hari itu kami tidak mampu tidur nyenyak di kamar 211 New World Hotel, 101 Bowery #2, New York. Pada pagi buta sekitar pk. 3 kami baru kembali dari Washington, DC, pada hal pk. 6 harus segera berangkat dan bersiap-siap untuk kembali ke Indonesia.

Selanjutnya kami menempuh 1,5 kali lipat dari rentang jarak 16.198 km, karena pesawat kami Boeing 777-300ER milik Cathay Pacific Airways CX 841, harus menyusuri jalur udara di atas Toronto, menyeberangi Kanada menuju Anchourage, di Alasaka, USA pada ujung utara belahan bumi. Selanjutnya menyeberang zona waktu internasional untuk masuk ke semenanjung Kamchatka, Siberia timur milik Rusia, menyusuri pantai selatan kepulauan Jepang dan baru menyeberang ke Hong Kong. Rasanya jalur penerbangan utama memang harus di sekitar daratan, bukan lurus yang lebih dekat di atas Samudra Pasific yang sangat luas, teduh dan berbahaya.

Terimakasih atas bantuan semua pihak, sehingga petualangan ke New York ini dapat berjalan dengan lancar. Tidak hanya oleh kerabat di tanah air, tetapi juga oleh para diaspora Indonesia di New York yang baik hati. Ibu Elsye Kurniawan yang meminjami kami mantol baju hangat untuk melawan hembusan badai salju di akhir musim dingin, juga teman kami Christine N. Tedjopranoto yang asli Purwokerto Jawa Tengah dan tinggal di kota Charlotte, North Carolina USA, segera tampil membantu kami dalam masalah perubahan tiket Amtrak ke Wasington, DC terkait badai salju. Juga dab Herry Purnomo teman di SMA Kolese de Britto yang tinggal di Seatlle, Romo Hendra Asmara, SJ yang sedang belajar teologi di New York dan memberikan petunjuk virtual berkala, tentang siasat menghadapi berbagai tantangan di New York. Yang terakhir adalah mbak Ririn, tetangga di Sosrowijayan Yogyakarta yang telah 20 tahun tinggal di seputaran Jamaica, Queen, NYC yang menghantar kami sampai di gerbang pemeriksaan imigrasi secara digital di JFK International Airport, New York.

4 Bu Elsye

Mampir di Kantor Ibu Elsye Kurniawan yang berlokasi di Broad Street no 90 downtown Manhattan NYC

Ririn

Mbak Ririn yang baik hati menemani sampai di depan konter imigrasi JFK International Airport New York

Sekali lagi, disampaikan banyak terimakasih atas bantuan, perhatian, doa dan restu dari semua pihak, sehingga petualangan singkat ke New York (NYC) dan Wasington DC (WDC) ini telah berjalan dengan baik.

(sekian)

Ditulis di Hotel Transit Airy Eco Bandara Soekarno Hatta, Jl. Suryadarma 56 Tangerang, saat menginap semalam sebelum lanjut ke Denpasar untuk acara Retret Keluarga Besar FK UKDW Yogyakarta.

Tangerang Sabtu, 24 Maret 2018

Categories
dokter Healthy Life Jalan-jalan

2009 JELAJAH SHANGHAI dan BEIJING

JELAJAH SHANGHAI dan BEIJING

fx. wikan indrarto*)

Arti kata ‘shang’ adalah atas dan ‘hai’ adalah laut, jadi Shanghai adalah kota di daratan China yang tampak tergeletak di atas permukaan laut. Kota di tepi delta Changjiang ini, sebenarnya bukan terletak di tepi Laut Cina Selatan yang luas. Shanghai dibelah oleh sungai Huangpu, yang tidak sekedar memikat karena atraktif dengan sejarahnya yang panjang, tetapi juga karena peran dominan di bidang ekonomi dan sosial bagi bangsanya. Shanghai tetap berada di bawah administrasi pemerintah pusat, menjadi pusat perdagangan dan ekonomi terbesar yang menyatu dengan industri dan menjadi pelabuhan terbesar di seluruh China. Selain sebagai kota bersejarah dengan budaya yang berusia ribuan tahun, saat ini juga menjadi kota metropolitan di pantai timur daratan China yang terbuka bagi siapapun di seluruh dunia. Pada tahun 2004, Shanghai telah mampu menjadi tuan rumah lomba balap mobil paling bergengsi di dunia (Chinese Grand Prix F1) dan sejak itu majalah ternama di dunia ‘TIME’ menyebutnya sebagai kota apapun (the world’s most happening city). Pada Oktober 2007 Shanghai menjadi tuan rumah pertama olimpiade khusus (Paralympic or Special Olympic Games) di Asia dan pada tahun 2010 kelak akan menjadi tuan rumah pameran akbar dunia (World Expo 2010). Itulah daya tarik Shanghai yang mendorong kami memutuskannya untuk ke sana.

100_3675

Persiapan ShangHai World Expo 2010

Peta

Peta Shanghai China

Kami berkesempatan mengunjungi kota ini dalam rangka the 13th Asian Pacific Conggress of Pediatric, 14-18 Oktober 2009 di SICC (Shanghai International Convention Center), yang megah di sebelah timur menara televisi Pearl Oriental Tower dan gedung pencakar langit tertinggi (Shanghai World Financial Center), dimana keduanya menjadi simbol kota.

Kami menggunakan pesawat Singapore Airlines SQ 957, sebuah Boeing 777-300 modern, dari Jakarta untuk transit sekitar 3 jam di Singapura sejauh 550 mil dalam waktu 1 jam 35 menit, dan dilanjutkan ke Shanghai dengan pesawat sejenis sejauh 2.364 mil dalam waktu 5 jam 15 menit. Kami mendarat di Shanghai Pudong International Airport (PVG) yang berlokasi pada 30 km (19 mil) tenggara kota Shanghai, perlu sekitar 45 menit perjalanan mobil dari pusat kota, dan dibuka sejak 1 Oktober 1999. Terminal 2 & 3 di bandara ini dibuka pada awal 2008 yang dihubungkan dengan bis gratis setiap 15 menit antara pk. 6-21. Terminal 4 & 5 baru direncanakan, untuk memudahkan akomodasi bagi para penumpang yang semakin banyak. Kereta ini direncanakan dapat menghubungkan Pudong ke Hangzhou melalui Shanghai South Railway Station dan Hongqiau International Airport yang akan digunakan pada Shanghai World Expo 2010. Selain kereta api Maglev, juga ada Shanghai Airport Bus Co dan Shanghai Dazhong Bus Corporation yang berangkat setiap 13-21 menit antara pk. 7-23 dan perjalanan ke kota memakan waktu sampai 60-90 menit dengan 8 jalur bis, dimana jalur 5 saja yang melalui Pudong. Jalur bis yang lain akan menuju banyak tempat, termasuk People’s Square, Hongkou dan Hongqiau Airport. Kalau menggunakan taxi meter dari terminal 1 atau 2 menuju Puxi atau Pudong di pusat kota, menghabiskan tarif RMB 150-170 dalam waktu 45-60 menit. Operator taxi meter adalah Qiangsheng, Dazhong, Jinjiang dan Bashi dengan tarif RMB 11 untuk 3 km pertama dan RMB 2,1 untuk setiap km berikutnya. Kami sampai di Shanghai menjelang tengah malam pk. 23.15, sehingga hanya tersedia taxi meter sebuah sedan VW Santana 3000 setir kiri, yang berjalan di sisi kanan, menuju Holiday Inn Shanghai Pudong di Dong Fang Road 869. Hampir semua taxi meter di kota Shanghai adalah VW Santana buatan Jerman, dan hanya sedikit sekali mobil buatan Jepang. Pagi berikutnya kami menuju tempat konggres (the 13th Asian Pacific Conggress of Pediatric), di SICC (Shanghai International Convention Centre), dekat menara TV Oriental Pearl Tower yang artistik di sekitar Lujiazui.

100_3577

Di SICC (Shanghai International Convention Centre), saat pembukaan konggres

Shanghai Jade Buddha Temple dengan patung Buddha sedang berbaring

Selesai acara konggres hari pertama, kami melanjutkan jalan-jalan ke Jing’an Temple, sebuah candi Buddha untuk para peziarah dari luar kota yang memohon sebuah keinginan kuat kepada Sang Buddha, dengan naik kereta bawah tanah Shanghai Metro atau MRT (subway) line 2 dari stasiun Lujiazui lewat stasiun East dan West Nanjing Road dan stasiun People’s Square. Subway di Shanghai ada 9 line yang rutenya dapat dilihat pada www.shfamousteacher.com.

Kami melanjutkan perjalanan ke Shanghai Jade Buddha Temple, sebuah tempat ziarah agama Buddha yang eksotik dan penuh dengan batu mulia aneka warna (jade). Setelah puas keliling kompleks suci dengan banyak biksu dan peziarah yang khusuk berdoa dan pelancong yang tercengang, kami kembali dengan MRT line 2 untuk turun di stasiun East Nanjing, lalu makan siang bersama bu Esther Nova Gunawan, ibu dari Yang Zi Yi pasien anak di RS Bethesda Yogyakarta dan sekarang menetap di Shanghai. Kami menuju Yuxin Sichuan Dish Restaurant di China Merchants Plaza di samping Jing Tai Mansion, yaitu di Jiang Gua Men Wai Street dan makan siang menu Shanghai, yaitu daging bebek Peking, sop ikan, mie, brokoli dan bakpau bentuk kembang. Setelah kekenyangan, kami lanjutkan perjalanan dengan membeli oleh-oleh cindera mata kaos dan tas di Nan Zheng Building, di Nanjing West Road yang terkenal murah meriah. Kami jalan lagi dengan MRT line 2 dari stasiun Nanjing West ke stasiun Shanghai Science & Technology Museum, untuk menuju ke Xin Yang Fashion and Gift Market, untuk mencari cindera mata yang lain. Setiap selesai transaksi di semua tempat di Shanghai, pembeli orang asing yang tidak paham bahasa dan huruf lokal, akan diberi kartu nama yang berisi keterangan dalam bahasa Mandarin dan huruf kanji, serta di bagian bawah akan tertulis juga dalam bahasa Inggris dan huruf latin ‘Taxi, take me to …. (alamatnya)’, agar pembawa kartu itu kembali lagi ke situ tanpa kesulitan, sebab hampir semua sopir taxi di China hanya paham bahasa Mandarin dan huruf kanji. Malamnya kami naik taxi dari hotel menuju Century Avenue Station untuk naik MRT line 2 ke People’s Square Station dan ganti (di sebuah inter change station ke) line 1 ke Shanghai Railway Station untuk naik kereta apai malam ke Beijing. Kereta api di sana tidak diberi nama tertentu seperti di Jawa, tetapi kode. Kami menggunakan kereta api D308 yang dioperasikan China Railway Express & Co dalam kerja sama dengan Shanghai Railway Administration, berangkat pk. 21.30 pada jalur (lounge) 3.

100_3601

Kereta Cepat dari Shanghai ke Beijing

100_3602

Stasiun Kereta Api di kota Beijing yang besar

Stasiun kereta api kota Shanghai sangat besar, dengan tempat umum yang sangat luas untuk ukuran Indonesia, bahkan ruang tunggu penumpangnya sebesar lapangan sepakbola. Kereta D308 terdiri dari 15 gerbong, setiap gerbong yang dicat putih bersih sangat informatif karena tanda angka menggunakan lampu yang menyala, bukan tulisan yang sulit dibaca, apalagi kalau malam hari. Dalam gerbong berisi 10 kamar, setiap kamar berisi 2 tempat tidur tingkat (soft berth car), dasar tempat tidur atas setinggi 1,1 m dan atap kamar setinggi 1,75 m, sehingga setiap gerbong memuat 40 penumpang.

100_3596

tempat tidur dalam kamar penumpang KA ke Beijing

Dalam kamar dilengkapi dengan 4 TV layar datar di dinding kamar untuk setiap penumpang sambil berbaring, head set khusus untuk pendengar berbaring, lampu baca, colokan listrik 220V berkekuatan 200 W untuk HP atau laptop, meja lipat untuk meletakkan makanan/minuman, gantungan jas, sandal, selimut tebal dan 2 buah bantal. Tempat duduk hanya tersedia di gerbong restoran dan di depan setiap kamar ada sebuah tempat duduk lipat. Di bagian belakang setiap gerbong ada 2 toilet bertekanan udara seperti di pesawat terbang, wastafel dan ruang pengganti popok bayi. Sambungan antar gerbong dalam keadaan tertutup rapi, sehingga kedap suara dan dingin full AC tidak bocor keluar. Kereta yang interiornya bernuansa silver, berangkat tepat waktu dengan kecepatan rata-rata 211 km/jam, sehingga Shanghai-Beijing dapat ditempuh dalam 9 jam dengan tiket seharga Y 735 per orang. Informasi stasiun terdekat sangat jelas di layar TV dan banner berjalan di lorong setiap gerbong dalam Mandarin & Inggris, misalnya ‘We will soon arrive at South Beijing station, the present temperature out side the car is 10,2 degrees C’.

BEIJING

Beijing adalah ibukota Republik Rakyat Cina (RRC), negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, hampir 1,2 milyar jiwa. Beijing juga sebuah kota bersejarah dan budaya (historic and culturally) yang sangat terkenal di seluruh dunia. Kota itu menyimpan peninggalan budaya dan kesenian China yang melahirkan kekayaan budaya bangsa China kuno, tetapi saat ini dipadukan dan dibangun bersebelahan dengan berbagai fasilitas bisnis, industri dan olah raga modern. Bangunan baru berdiri gagah di samping tempat yang bersejarah dan berdampingan dengan situs budaya yang sangat artistik dan menarik, yang merupakan peninggalan setiap dinasti yang pernah menguasai daratan China.

Rute

Rute perjalanan kami

Gerbang

Di gerbang Mutinyahu Great Wall

Sudah hampir 5.000 tahun masyarakat China kuno berdiam dan berkembang di kota ini, dimulai dengan Manusia Peking (‘Peking Man’ dalam istilah arkeologi) dari saat masih berbudaya ganas (barbarian age), sampai periode awal bermasyarakat (era of civilization) yang masih dapat dilihat di Zhuan-nian, sekitar 48 km sebelah barat laut Beijing, sehingga kota ini layak disebut ibukota kebudayaan Timur (cultural capital in the East). Fosil ‘Manusia Peking’ ditemukan pada tahun 1929 dalam ekspedisi arkeologis di Bukit Longgu (Tulang Naga), dalam sebuah gua berukuran 140×2,5×42 m dan yang diperkirakan hidup di situ 500.000 tahun lalu. Zhoukoudian tercatat dalam daftar Warisan Budaya Dunia menurut UNESCO sejak tahun 1987 dan merupakan situs terlengkap peninggalan manusia purba yang berdiri tegak (erect man), meskipun selama Perang Dunia II banyak fosil dan artefak yang hancur dan hilang. Kami tidak berkesempatan melihatnya secara langsung.

Temple

Temple of Heaven di Beijing

100_3635

Prasasti Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO

Fakta menunjukkan bahwa hanya Beijing yang berubah sangat cepat dibandingkan kota lain di manapun. Ibukota People’s Republic of China (PRC) ini selalu bertambah hotel, mall, bangunan komersial, plaza, stadion dan fasilitas latihan apapun, sehingga menjadi tuan rumah Olympic Games 2008 yang sangat bergengsi. Selain itu, juga membuktikan China sebagai superpower baru, dengan adanya banyak bangunan baru dan modern, yang dipadu dengan bangunan bersejarah (grandiose socialist municipal buildings). Beijing sudah menjadi ibukota China sejak kekaisaran pertama pada tahun 1421, sampai runtuhnya periode kekaisaran pada tahun 1911. Pada periode tahun 1911-1949, Beijing kacau balau karena diperebutkan oleh banyak kelompok masyarakat. Pada tahun 1931 Jepang mendudukinya sampai akhir Perang Dunia II yang dilanjutkan dengan meletusnya perang sipil sampai Mao Zedong bersama dengan kelompok komunis menguasainya. Mao sebagai bapak bangsa memproklamasikan People’s Republic of China sebagai sebuah negara di the Gate of Heavenly Peace (Gerbang Perdamaian Abadi) pada pintu masuk Forbidden City (kompleks Kota terlarang) di Lapangan Tian’anmen dan menyatakan Bejing sebagai ibukota negara. Tiananmen Square, dimana Mao Zedong memproklamasikan kemerdekaan RRC dan tempat terjadinya pembunuhan mahasiswa pro-demokrasi pada saat demonstrasi besar-besaran pada tahun 1989, adalah lapangan untuk umum yang terbesar di seluruh dunia dan menjadi daya tarik wisatawan dari manapun. Lapangan yang besar ini mencakup Gedung Balai Agung Rakyat (Great Hall of the People), Gedung DPR (China’s parliament), Makam Mao Zedong (the Mao Zedong Memorial Hall), dimana tubuh Mao terbaring dalam peti kaca tembus pandang, Tugu Pahlawan (the Monument to the People’s Heroes). Gedung pemantau bintang lama (Old Observatory) yang didirikan oleh Kublai Khan, sekarang dijadikan museum yang menyimpan berbagai barang dari masa Dinasti Ming dan Qing, termasuk alat-alat perunggu pemantauan bintang (bronze astronomical instruments).

Penduduk kota Beijing mencapai 15.244.000 jiwa (megapolitian area) dengan suhu udara berkisar dari -3 derajad C di bulan Januari sampai 26 derajad C di bulan Juli. Beijing terpengaruh oleh berbagai dinamika manusia, termasuk perang, revolusi, industrialisasi dan demonstrasi yang silih berganti. Kami tidak masuk melalui Beijing Capital International Airport (PEK) yang terletak 28 km timur laut pusat kota Beijing dan sangat megah yang dibangun tahun 1999, tetapi melalui stasiun kereta api kota (Beijing Railway Station) hari Kamis pagi, 15 Oktober 2008, pk. 07.15, tepat waktu sesuai jadwal yang tertulis pada tiket dari Shanghai. Udara dingin langsung menyengat, begitu kami keluar gerbong yang memasang pemanas ruangan, jadi kami langsung makan mie instan rasa lokal di warung tenda di pelataran stasiun yang seluas 3 kali lapangan sepak bola. Di China semua tempat umum sangat luas sekali, sehingga mampu digunakan oleh banyak sekali orang, sebab warga kotanya terbanyak dibandingkan kota manapun di dunia.

100_3593

Bis listrik (bom-bom bus) dan taxi meter

100_3640

Bis listrik (bom-bom bus) gandeng

Kami melanjutkan perjalanan dengan naik kereta bawah tanah (subway) yang dioperasikan Beijing Subway Corp. Jalur utama dari timur ke barat adalah dari stasiun Pingguoyuan ke Sihui Dong, sedangkan jalur lain berjalan memutarinya (circular route). Pada tahun 2020 ditargetkan Beijing akan memiliki sistem kereta bawah tanah yang terpanjang di seluruh dunia, yaitu mencapai 561 km dalam 19 lines (jalur). Kami harus antri panjang yang teratur sebanyak 2x, yaitu saat kami membeli tiket seharga Y 2 perorang untuk semua tujuan (jauh dekat, termasuk ganti jalur kereta dan berbeda dengan di Shanghai) yang dilayani secara manual dalam 2 loket, karena di situ tidak ada mesin penjual tiket digital, dan saat kami masuk pemeriksaan ‘scaning’ barang bawaan penumpang dengan alat deteksi logam. Kami melewati stasiun Jianguomen, Chaoyangmen, Dongsi Shitiao, lalu Dongzhimen untuk mencapai tujuan petualangan pertama. Setiap hampir mendekati stasiun, selalu ada peringatan lisan rekaman suara seorang wanita dalam 2 bahasa, Mandarin dan Inggris, agar bersiap-siap (‘Please get ready for your arrival’) dan lampu di papan penunjuk yang menyala kelap-kelip. Kami turun di stasiun Dongzhimen, lalu keluar menuju ke Outer Street, untuk mencapai ruang kepindahan penumpang ke bis (‘bus transit hall’) unt mencari bis no 936. Kami menuliskan angka 936 dalam kertas kecil, dan menunjukkan kepada siapapun yang kami tanyai, sebab tidak ada bahasa yang memudahkan komunikasi kami dengan siapapun di situ, kecuali bahasa tulisan berupa angka. Sayang sekali, bis rute tersebut cukup jarang, sehingga kami takut kehabisan waktu dan memutuskan naik Honda New Jezz keluaran terbaru yang kami sewa seharga Y 350 menuju Mutianyu, selama 1,5 jam melewati jalan tol dan jalan alternatif dengan kecepatan tinggi dan gaya nyetir ugal-ugalan.

100_3639

Peta Great Wall Tourist Zone di Mutianyu

Peta Great Wall Tourist Zone di Mutianyu

Mutianyu terletak di Kabupaten Huairou, dibangun pada saat Northern Qi diperintah oleh Kolonel Xu Da yang kemudian berpangkat jendral di bawah Kaisar Zhu Yuanzhang pada awal Dinasti Ming berkuasa. Daerah Wisata Tembok Besar (Great Wall Tourist Zone) di Mutianyu meliputi perkampungan warga asli (Mutianyu Village), Yishonglou Restaurant, miniatur kota Meng Shi, tempat parkir 3 areal, jalan mendaki ke Tembok Besar (Passage Leading up the Great Wall), jalur menurun dari puncak (the Proper Terrace of the Pass), menara pengawas (Big Corner Tower) dan stasiun naik turun penumpang kereta gantung.

100_3631

Tembok Besar Cina, benar-benar tembok dari batu dan sangat besar

Tembok Besar di Mutianyu dikelilingi daerah luas yang terdiri dari gunung-gunung dengan pemandangan sangat indah sesuai dengan musimnya. Pada musim panas diwarnai bunga gorgeus dengan dominasi putih dan tengah merah, pada musim semi hutan-hutan menghijau menutupi seluruh areal gunung, pada musim gugur banyak buah dan daun berwarna cokalat dan kuning berserakan dan pada musim dingin tertutup salju dengan warna putih yang mewarnai seluruh daerah utara. Kami naik kereta gantung yang dioperasikan Beijing Tourism Group Co., Ltd yang dibangun pada tahun 1986, sepanjang 732 m, setinggi 640 m, kecepatan kereta 3,5 m/detik dengan total jumlah kereta 58 buah, masing-masing dapat menampung 6 penumpang. Harga tiket masuk ke Tembok Besar (Great Wall) Y 50 dan naik kereta gantung (cable car) Y 40 per orang. Sopir kami yang membelikan semuanya dan mengatakan kami wisatawan domistik, karena wajah ‘Mongoloid’ kami mirip mereka, sehingga diberi harga tersebut.

100_3633

Tembok Besar Cina yang memanjang

100_3617

Salah satu sudut Great Wall

Tembok Besar adalah benteng pertahanan militer yang terbesar di seluruh dunia dan masuk dalam ‘7 keajaiban arsitektur dunia’ karena pengerjaannya yang rumit (arduous work), sejarahnya yang panjang dan nyaris tidak masuk akal (imposing manner), dan tidak ada bandingnya di seluruh dunia. Tembok Besar sudah tercatat sebagai ‘Warisan Budaya Dunia’ oleh UNESCO sejak tahun 1987. Tembok Besar ini dibangun memanjang sejauh 629 km, berbentuk setengah lingkaran, mengikuti kontur tanah dan megah berdiri di puncak gunung. Di sekitar Beijing terdapat beberapa bagian yang terkenal, yaitu Badaling, Puncak Juyong, Simatai dan Mutianyi. Kami hanya mengunjungi Mutianyu, meskipun Simatai dianggap sebagai yang paling angker, berbahaya dan menarik (‘thrill, danger and oddity’) karena menara pengintai, strukturnya yang khusus dan bentuknya yang berbeda. Kami mendaki dan berfoto-foto di Tembok Besar, belanja cindera mata dan segera pulang ke Beijing. Kami makan siang di warung pinggir jalan dekat terminal bis Dongzhimen, yang semua daftar menu dan petugasnya hanya ada dalam Mandarin dan kanji. Akhirnya kami putuskan untuk menunjuk menu yang dimakan pengunjung di meja sebelah dan botol air mineral kosong, sebagai menu yang kami pilih dengan bahasa Tarzan. Dengan keheranan penuh, karena pesanan kami terlalu sederhana dan sedikit, mereka tetap melayani dengan diiringi tawa cekikikan petugasnya. Kami makan nasi 1 porsi dengan irisan daging babi dan sayuran hijau seharga Y12 untuk berdua. Ciri khas orang China yang kami amati ada 3 hal yang mengherankan, yaitu menguap di manapun dengan mulut terbuka tanpa ditutup telapak tangan, meludah di sembarang tempat, pesan makanan di restoran tanpa minuman karena menunya hampir semua berkuah, dan kalau makan perlu lauk beragam dengan porsi besar, yang dimakan agak lama karena diiringi ngobrol terus menerus.

100_3654

Mao Zedong sang pemimpin Cina

Saat ini di Beijing ada 13 line subway (jalur kereta api bawah tanah). Kami menggunakan line 2 dari stasiun Dongzhimen ke Jianguomen, kemudian ganti line 1 ke Tian’anmen Timur, untuk mengunjungi Gerbang Menara Tian’anmen (Gate-tower) yang sangat terkenal dan dibangun pada tahun 1417. Tian’anmen berarti ‘Gerbang Perdamaian Abadi’ (Gate of Heavenly Peace) dibangun dalam tahun ke 15 pemerintahan Kaisar Yongle dengan nama awal Gerbang Penerimaan Kekuasaan Abadi (‘Gate of Accepting Heavenly Mandate’). Pada tahun 1651 saat tahun ke 8 kekuasaan Kaisar Shunzhi, lapangan itu diubah namanya menjadi Tian’anmen. Gerbang menara di depan dalam gaya Buddha, yaitu atap ganda berbentuk lengkung dengan tinggi 33,7 m dan panjang 9 bays dan lebar 5 bays. Di atas gerbang utama terpampang gambar Mao Zedong yang terkenal. Di depannya ada Qianmen yang merupakan gerbang kota pada saat Dinasti Ming dan Qing berkuasa. Lapangan Tian’anmen yang berada di pusat kota, membuat sudut kota Beijing simetris dalam longitudinal maupun latitudinal, yang menempatkannya sebagai tumpuan. Lapangan ini direnovasi besar-besaran pada tahun 1999 sebagai peringatan 50 tahun kemerdekaan negara RRC, dan merupakan lapangan umum (public square) terbesar di dunia dengan luas 440.000 m persegi, dapat menampung 1 juta orang dalam sebuah kegiatan, dan merupakan daya tarik luar biasa bagi para wisatawan (an impressive tourism centrepiece). Kami berdua berdiri diantara puluhan ribu manusia, sebuah pengalaman tak terlupakan (nggegirisi) karena dikepung para pengunjung, baik yang berjalan-jalan, berdiri keheranan, maupun yang antri akan melihat jasad pemimpin Mao Zedong yang terlihat membelitnya antrian manusia untuk masuk ke dalam makam (mausoleum) Ketua Mao (Chairman Mao). Kami berdua berdiri dan kesulitan berfoto di antara padatnya pengunjung di atas jembatan sungai Emas yang dikeramatkan (Golden River) di tepi Jalan Chang’an (Avenue) yang sangat lebar, di depan gerbang yang ada foto raksasa Mao Zedong, untuk masuk ke Duanmen.

100_3641

Stasiun subway di Tian’anmen

100_3645

Foto raksasa Mao Zedong di Tian’anmen

Chang’an Avenue merupakan sumbu dari arah timur ke barat kota Beijing, dimulai dari Tongzhou di timur sampai Shijingshan di barat dan merupakan jalan penting (the first street in China). The Forbidden City (Kota Terlarang atau Museum Istana) dibangun pada saat Dinasti Ming berkuasa (1368-1644), yaitu mulai tahun 1406 dalam waktu 14 tahun dan menjadi istana bagi pusat kekuasaan Dinasti Ming dan Qing, atau sebanyak 24 kaisar. Kompleks ini merupakan istana yang paling luas di dunia dan pada tahun 1987 UNESCO mencatatnya dalam ‘Daftar Warisan Budaya Dunia’ atau ‘World Heritage List’. Di dalamnya terdapat gedung-gedung istana, lapangan luas, dekorasi artistik, bonsai, taman yang indah dengan relief budaya. Secara arsitektural yang menonjol adalah Pura Perdamaian (Temple of Heaven) di bagian selatan Lapangan Tian’anmen, merupakan kompleks candi terbesar di Daratan China yang dibangun pada abad 15, digunakan untuk berdoa oleh para kaisar yang berkuasa dan memohon petunjuk untuk kebijaksanaan (good harvests). Selain itu, ada Lama Temple yang dibangun pada abad 17 di sebelah utara kota, yang digunakan untuk berdoa aliran Topi Kuning dari propinsi Tibet (Tibetan Lamaism). Kami tidak mampu mengelilingi kompleks yang sangat luas itu, baik karena takut kehabisan waktu, maupun cidera lecet kaki karena sudah dan akan berdiri dan berjalan kaki sangat jauh. Akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan ke Stadion Negara (National Stadium) dengan subway line 1 ke stasiun Guomao untuk ganti line 10, lalu ke stasiun Bagou ganti line 8 di stasiun Beitucheng, dan turun di National Stadium. Stadion ini adalah stadion utama untuk acara seremonial pembukaan dan penutupan Olimpiade Beijing 2008, berbagai lomba atletik dan final cabang sepakbola. Bentuk arsitekturalnya yang sangat khas, yaitu seperti sarang burung, maka disebut Bird-nest Stadium. Di sampingnya ada National Aquatic Center yang juga disebut ‘Water Cube’, merupakan arena pertandingan cabang renang pada Olimpiade 2008 dan salah satu simbol bangunan khas di Beijing, karena bentuknya yang kubus dan dinding luarnya nampak seperti air dalam kantong-kantong plastik berwarna biru.

100_3659

Di dalam subway line 8 yang modern

100_3664

Stadion Sarang Burung (Bird-nest Stadium)

Pulang dari Stadion Olympic Green line 8 kami melanjutkan ke stasiun Beitucheng, ganti line 10 ke stasiun Huixinxijie Nankou untuk ganti line 5 ke stasiun Yonghegong dan ganti lagi ke line 2 menuju stasiun kota (Beijing Railway Station) untuk pulang ke Shanghai dengan KA malam express, sejenis dengan yang kami gunakan untuk pergi. Sungguh sangat besar sekali kota Beijing, sehingga pemahaman tentang tata letak tempat tujuan (sesuai peta) harus dipahami benar, agar kita tidak lenyap di tengah-tengah arus deras banyak manusia yang menyemut, tetapi tidak mudah mencari orang yang dapat ditanya dengan Inggris dan latin, selain Mandarin dan kanji. Malam itu kami terbaring nyenyak dalam kelelahan yang digoyang laju kereta D307 menuju Shanghai.

SHANGHAI  LAGI

Sesampai di Shanghai lagi dengan kereta yang sama, Jum’at pagi 16 Oktober 2009, pk. 7.15 kami langsung mengikuti seminar dan sorenya melanjutkan ke Nanjing Road dengan taxi meter melalui terowongan panjang di bawah sungai Huangpu. Sungai Huangpu yang lebar memisahkan daerah barat (Puxi) dengan timur (Pudong) kota Shanghai. Di sisi barat berdiri gedung-gedung menawan yang dibangun dalam rentang waktu abad 15-19 dan di sisi timur tegak ratusan gedung-gedung pencakar langit, bahkan sampai 50-100 lantai. Shanghai World Financial Centre sebagai gedung tertinggi di dunia diresmikan pada Agustus 2008. Bangunan 101 lantai setinggi 474 m (1.555 kaki), dengan 3 lantai (lantai 94, 97 dan 100) dindingnya adalah kaca transparan, sehingga pengunjung dapat melihat seluruh panorama kota dari ketinggian (cityscape). Gedung ini sama tinggi dengan Burj Dubai di Uni Emirat Arab dan Taipei 101 di Taiwan, sehingga dinamakan ‘sister of Shanghai skyscrapers’. Di dekatnya megah berdiri stasiun televisi (The Broadcasting & Television Tower of Oriental Pearl), yang merupakan menara tetrtinggi ke 3 di dunia setelah CN Tower di Toronto, Canada dan Moscow TV Tower di Rusia. Kota ini terletak pada garis 31,14 LU dan 121,29 BT, pernah menjadi pusat kota Cina bagian timur dan merupakan gerbang ke lembah sungai Yangtze. Kota ini berpenduduk 17 juta jiwa, dimana 10 juta jiwa tinggal di pusat kota dengan luas 6.340,5 km persegi dan 2.643 km persegi merupakan pusat kota (downtown). Rata-rata suhu tahunan adalah 18 derajad C dan curah hujan 1.240 mm. Musim panas terjadi pada Juli dan Agustus, dengan suhu sampai 30 derajad C dan paling dingin di Januari dengan suhu 3 derajad C, dan cuaca paling baik untuk wisatawan adalah bulan September dan Oktober. Para pengamat memandang hal ini sebagai simbol kedigdayaan China pada abad yang lampau, hari ini dan masa depan. Kalau kita berdiri di dekat sungai Huangpu, kita dapat melihat kota yang memiliki 2 masa berbeda dengan pesonanya sendiri-sendiri.

100_3690

Shanghai World Financial Centre & Tower of Oriental Pearl

100_3682

Sisi barat the Bund dengan bangunan Eropa abad 19

Di Shanghai ada Nanking Lu, kawasan belanja elite dunia. The Bund, yang termashur dengan perpaduan gaya bangunan barat dan timur. Pudong, di sebelah timur kota, dimana tegak gedung-gedung baru dan menara Shanghai yang seolah menyebarkan kabar, bahwa Shanghai layak sebagai kota terbaik di dunia. Trotoar yang mengitari kota, pada umumnya lebar. Ada yang 5 meter, tetapi banyak yang sampai 20 meter, atau bahkan 90 meter. Sejumlah jalan di sini memang mirip lapangan sepak bola. Taman-taman tersebar di mana-mana, lengkap dengan patung, air mancur, restoran dan tempat untuk rileks. Nanjing Road yang kami datangi terletak di Puxi, daerah kota lama Shanghai di seberang sungai, dan kami merencanakan jalan-jalan di the Bund, sebuah arena jalan kaki (pedestrian) sepanjang 1,6 km, terluas dan terkenal yang menyusur sungai Huangpu. Sayang sekali, the Bund baru direnovasi untuk menyambut World Expo 2010, sehingga kami hanya mengambil foto-foto panorama gedung pencakar langit kota Shanghai di Pudong yang khas dan fenomenal, yaitu ke arah seberang sungai. Kami melanjutkan perjalanan dengan taxi ke Yu Garden dan belanja di Fuyou Street Merchandise Mart, tepatnya di sisi belakang Yu Garden.

Yu Gardens and Bazaar dibangun pada tahun 1559 oleh keluarga kerajaan. Meskipun dihancurkan oleh kolonialisme pada abad 19, masih terlihat terowongan, gua, dinding batu pembatas, kolam renang, gedung pentas opera dan markas sebuah komunitas (the Small Swords Society) yang digunakan sejak tahun 1853. Ada lagi rumah di tengah kolam untuk minum teh (Mid-lake Pavilion Teahouse) dengan sebuah jembatan 9 kelokan (Nine Twists Bridge) untuk menuju rumah itu, dan masih banyak bangunan bersejarah seperti Former French Concession Lined, Ruijin Guests House, Morris Estate, boutiques yang terkenal Taikang Lu, Fuxing Xi Lu, dan Sinan Lu. Di sebelahnya berdiri megah Museum Shanghai tempat diselenggarakannya Konggres Pertama Partai Komunis China (CCP) pada 23 Juli 1921 oleh Li Hanjun dan Mao Zedong, yang dikemudian hari menjadi presiden RRC pada 1949. Sayang sekali, kami tidak mampu mengabadikan keindahan semuanya, karena begitu banyaknya pengunjung yang berjejal dan menutup ruang gerak dan sudut untuk pengambilan gambar secara ideal.

Yu Garden

Yu Garden yang padet pengunjung

Paper cutting

Paper cutting berbentuk wajah tamu

Setelah puas belanja pernik-pernik, kami mencoba menyeberang sungai Hungpao menggunakan kapal penyeberangan tradisional di dermaga Dongmen Road yang dikelola Shanghai Public Transportation Car dengan harga tiket Y 0,5 untuk menyeberang selama 8 menit ke Pudong. Situasi di dalam kapal sangat ramai dengan orang-orang Shanghai awam, masyarakat kebanyakan atau rakyat biasa, sepeda, dan sepeda motor yang semuanya menjadi satu. Kami mencoba menyeberang kembali ke daerah Puxi dengan kapal sejenis, memotong arus deras sungai Huangpu ke dermaga yang sama. Sesampai di daratan Puxi kami berjalan menyusur the Bund yang sedang direnovasi untuk melihat Astor House Hotel yang monumental. Perlu diketahui, bahwa aliran listrik pertama di seluruh daratan China dibangun di Richard Hotel pada tanggal 26 Juli 1882, yang sekarang berganti nama menjadi Astor House Hotel di Huangpu Road. Kami melihat monumen dan kenangan tentang aliran listrik itu di situ lalu berlanjut ke stasiun di Poeple’s Square untuk naik subway menuju ke stasiun Longyang Road dengan line 2, karena ingin mencoba naik Maglev (kereta api tercepat di dunia) yang bertarif Y50 selama 8 menit ke stasiun di Shanghai International Airport. Pada awal 2004 mulai dibangun proyek infratsruktur angkutan nasional yang prestisius, yaitu kereta super cepat (Magnetic Levitation Shuttle train atau ‘Maglev’) dengan kecepatan 431 km/jam. Kereta ini menghubungkan Pudong dengan stasiun pusat kota Longyang Road dalam waktu hanya 8 menit. Kereta ini terjadwal setiap 15-30 menit pada pk. 7-21.30. Setelah mencoba Maglev itu, kami menuju ke rumah keluarga bu Nova Gunawan di Xiang Mei Garden Apartmen di kamar nomor 1601. Dilanjutkan jamuan makan malam keluarga di sebuah restoran bergaya semi minimalis China modern dalam Huishang Building lantai 3 di Min Sheng Road 3F, no 1286. Setelah makan malam itu, kami kembali ke hotel untuk berkemas-kemas.

100_3693

Petunjuk ke stasiun di Poeple’s Square

100_3694

Stasiun Maglev di Longyang Road

Pagi harinya kami pulang ke Yogyakarta dengan pesawat Singapore Airlines SQ 986 yang diselingi berurusan dengan petugas airport di ruang pemeriksaan bagasi (Baggage Check Room), karena cindera mata patung dari plastik terlihat sebagai bahan berbahaya dalam mesin ‘scaner’ bagasi penumpang. Kami sampai dengan selamat di Yogyakarta pada Sabtu malam, 17 Oktober 2009, setelah 4 hari bertualang di luar paket wisata agar lebih ngirit, menjelajah secara mandiri 2 kota terbesar di RRC atau Negeri Tirai Bambu yang memiliki penduduk terbanyak di seluruh dunia.

sekian

Yogyakarta, 19 Oktober 2009

*) penjelajah negeri orang berdana cekak

Categories
antibiotika dokter Healthy Life Jalan-jalan

2008 SEKEJAP DI THAILAND

SEKEJAP DI THAILAND

fx. wikan indrarto dan b. sari prasetyati*)

Dalam rangka mengikuti ’10th Asian Congress of Pediatric Nephrology (ACPN) 2008′ dengan tema ‘Innovation in Prevention and Therapeutic Strategies’, yang berlangsung pada 28-30 Agustus 2008, kami mengunjungi Thailand. Acara tersebut diadakan di Bangkok Convention Centre at Central World 23rd floor, di Bangkok ibu kota Thailand. Kami menggunakan Garuda Indonesia GA 866, sebuah pesawat Boeing 737 versi 400 yang berangkat pk. 22 dari Jakarta dan sampai di Bangkok pk. 02 dini hari, hari berikutnya. Kami mendarat di Suvarnabhumi International Airport Bangkok yang baru, modern, artistik, dan gagah yang terdiri dari 6 lantai, di tengahnya ada Novotel Transit Hotel dan kantor AOT (official airport) yang tidak kalah artistik. Semua penumpang yang turun dari pesawat dilayani di lantai 2.

Saat mendarat Suvarnabhumi International Airport Bangkok, di tengah malam yang dingin (kiri). Bergaya dalam pakaian tradisional Siam dan salam persahabatan mereka (kanan)

Masih dalam perdebatan sampai sekarang, namun banyak ahli meyakini bangsa Thai berasal dari bagian barat laut propinsi Szechuan di daratan Cina, yang bermigrasi sekitar 4.500 tahun yang lalu, dan kemudian mendiami wilayah Thailand sekarang. Dugaan lain berkembang pesat setelah ditemukannya artefak di desa Ban Chiang, kabupaten Nong Han, Propinsi Udon Thani, sebelah timur laut Thailand. Hal ini meliputi bukti matalurgi, arkeologi dan sosiologi yang menunjukkan adanya budaya dan kehidupan sempurna sebagai sebuah awal suatu masyarakat bangsa. Di situlah bangsa Thai diduga berasal, yang kemudian justru bermigrasi pada 3.500 tahun yang lalu ke banyak bagian Asia, termasuk Cina. Masih diperlukan penelitian ilmiah lainnya, untuk membuktikan mana yang sesungguhnya benar, dan hal tersebut tidak dibahas dalam konggres yang kami ikuti.

.

Kata ‘Siam’ adalah sebutan bangsa Thai yang digunakan sejak jaman dahulu sampai pada tahun 1939, dan digunakan lagi antara 1945 sampai 1949. Sejak tanggal 11 Mei 1949 pada saat proklamasi kemerdekaan, namanya diubah menjadi ‘Prathet Thai’ atau ‘Thailand’, sebuah nama yang digunakan sampai sekarang. Kata ‘Thai’ berarti ‘bebas’, sehingga secara harafiah berarti ‘Tanah Kebebasan’. Thailand terletak di jantung Asia Tenggara dengan luas wilayah 513.115 km2 yang terbentang 1.620 km dari utara ke selatan dan 775 km dari timur ke barat. Thailand berbatasan dengan Laos dan sedikit Myanmar di utara, Kamboja di timur, Myanmar di barat dan Malaysia di selatan. Thailand dibagi ke dalam 76 propinsi, dengan kota-kota utamanya adalah Bangkok, Chiangmai, Songkla, Ayutthaya, Chonburi, Nakhon Ratchasima dan Khon Kaen. Bendera Thalaind secara seremonial dikibarkan setiap pagi hari, baik di kota-kota maupun di desa-desa, terdiri dari 5 buah pita mendatar, yaitu merah, putih dan biru. Hal ini melambangkan keharmonisan 3 pilar negara, yang dinamakan ‘trirong’. Hal tersebut diperkenalkan oleh Raja Rama VI (Vajiravudh) pada tahun 1917, yang awalnya disertai gambar gajah putih, sebagai lambang kerajaan. Bangsa Thai sangat menghormati Raja, Ratu dan anggota keluarga kerajaan, serta bendera nasionalnya yang banyak sekali berkibar di seantero negeri, setiap saat, bukan hanya pada bulan tertentu saja. Dengan alasan itu jugalah, kami bertekad mengkoleksi bendera Thailand, mencarinya di setiap toko cindera mata, dan ikut juga ‘mengenangnya’.

Gambar Raja Bhumibol Adulyadid banyak ditemukan di seluruh negeri, Raja yang sangat dihormati rakyatnya

Dermaga ‘River City’ di ujung Jl. Charoen Krung, tempat kami memulai wisata sungai Chao Phraya

Hari pertama setelah sarapan kami menuju ‘River City’ di ujung Jl. Charoen Krung, untuk mencoba naik kapal wisata menjelajah Sungai Chao Phraya. Kami berdua berangkat bersama dengan dr. Pungki dan suami dari Yogya, juga dr. Heru, dr. Mega dan kakaknya dari Semarang. Sebelumnya kami diajak melawan arus dan menyusur sungai Chao Phraya yang lebar sekali, masuk ke anak sungai Klong Kai, melihat pasar terapung, rumah asli masyarakat Thai jaman dahulu, yaitu rumah panggung di tepi sungai, beserta aktivitas harian mereka. Pasar terapung atau dinamakan ‘Damnoen Saduak’, dapat sampai berupa ratusan kapal kayu yang memuat buah, sayur, cindera mata ataupun barang harian lainnya yang lalu lalang di banyak anak sungai dan kanal di sekitar sungai Chao Phraya. Kami juga diajak melihat ikan patin yang disucikan, sehingga dilarang untuk ditangkap dan dimakan oleh masyarakat Thai yang beragama Buddha. Ikan-ikan tersebut berenang-renang disekitar vihara Kanyalanamit yang besar dan diberi makan roti oleh banyak warga dan wisatawan yang berperahu di situ, juga oleh para biksu di wihara tersebut. Oleh karenanya, populasinya sangat banyak dan berukuran besar, bahkan sampai sebesar lengan orang dewasa. Untung ikan itu tidak hanyut sampai di Indonesia, sebab hampir pasti akan ‘musnah’ menjadi ikan bakar yang lezat.

Suasana kapal wisata sungai yang melawan arus deras Sungai Chao Phraya

Transaksi di pasar terapung atau ‘Damnoen Saduak’, kami membeli rambutan

Kami selanjutnya mengunjungi Wat Arunratchamararam (Tample of the Dawn), yaitu sebuah candi milik kerajaan yang dibangun pada saat Dinasti Chakkri berkuasa di ibu kota lama, yaitu Ayutthaya. Pada awalnya dinamakan Wat Makok (the Olive Temple) dan diubah oleh Raja Thaksin menjadi Wat Chaeng saat ibukota berpindah ke Thonburi. Oleh Raja Rama II dikembangkan lebih luas dan disebut Wat Arunratchatharam. Raja Rama IV meneruskan pembangunannya dan menyebut dengan namanya yang sekarang, terdiri dari pagoda (prang) yang indah, berukuran tinggi 66,8 m, lebar 236 m2, dikelilingi oleh pagoda sekitar (satelit), semuanya ditempeli ribuan mosaik porselin yang memantulkan bermacam warna cahaya, bergaya dekorasi Cina dan merupakan ‘landmark’ Thailand. Wat Arun terletak di tepi barat sungai Chao Phraya yang terkenal, terdiri dari 13 bagian, yaitu ruang utama (Borth-Noi), balkon sekitar (Phra Viharn Kot), kapel (Phra Viharn), 4 buah pagoda satelit (chedi), pagoda utama (principal prang), paviliun dekat sungai (Sahassateja Tasakantha) dan gerbang utama. Setelah berfoto-foto dan mengagumi keindahannya, kami mampir ke sisi barat kompleks, yaitu toko souvenir, seperti kaos, gantungan kunci, hiasan dinding dan lain-lain. Yang mengherankan kami, semuanya dalam suasana Indonesia, baik pembelinya, penjualnya, bahkan musiknya dengan lagu-lagu dari Ebiet G. Ade, semuanya berbahasa Indonesia. Sangat banyak wisatawan asal Indonesia dan mereka dikenal sangat royal membelanjakan uangnya di situ. Kami berdua, tidak sama persis dengan mereka.

Wat Arunratchamararam (Tample of the Dawn) yang merupakan landmark Thailand, sangat indah di waktu siang, maupun malam

Wat Pho di Jl. Chetuphon dengan patung Buddha raksasa berlapis emas dalam posisi tiduran sepanjang 46 meter dan berat 5 ton.

Setelah puas, kami menyeberangi sungai Chao Phraya dengan taxi air, semacam feri penyeberangan sungai, yang bersih, rapi dan terjadwal. Kami mengunjungi Wat Pho di Jl. Chetuphon, sebuah wihara besar yang di dalamnya terdapat patung Buddha raksasa berlapis emas dalam posisi tiduran sepanjang 46 meter dan berat 5 ton. Setiap pengunjung harus melepaskan alas kakinya dan dipersilakan masuk secara bergiliran, teratur dan kidhmat. Kami diijinkan mengambil foto sepuasnya, baik wajah, tangan maupun sekujur tubuh patung yang berlapis emas kekuningan. Setelah berfoto seperlunya, kami berjalan-jalan sepanjang kompleks untuk mengamati keindahan arsitekturnya, juga bangunan indah penyimpan abu jenazah setelah dikremasi. Masyarakat Buddha memiliki tradisi dengan melakukan kremasi (membakar) dan menyimpan abu jenazah keluarganya di kompleks wihara. Selain itu, setiap hari mereka bersembahayang dan membakar sesaji, menaruh bunga putih dan kuning di tempat pemujaan, dan menghaturkan sembah dengan kedua tangan di dada, saat melewati tempat tersebut. Tradisi ini mengingatkan gaya serupa masyarakat Hindu di Bali.

.

Perjalanan kami lanjutkan kembali ke Central World, tempat konggres untuk mengurus proses registrasi kami semua. Central World terletak di dekat Siam Paragon, sebuah supermal terbesar di seluruh ASEAN. Di lantai dasarnya ada Siam Ocean World, yaitu ‘the world class aquarium’. Di situ ada paket menyelam dengan hiu, yang disebut raja lautan (‘king of the ocean’ atau ‘ragged-tooth sahrks’), ada kegiatan jalan-jalan di dasar laut, pertunjukan memberi makan pinguin dan menonton petualangan dasar lautan dalam bentuk hi-fi 4D.

.

Setelah selesai mengurus registrasi konggres, kami berpisah dengan rombongan, sebab mereka akan kembali ke hotel untuk makan siang. Kami memutuskan untuk kembali naik BTS (kereta layang bergerbong 3) dari Siam Center Station ke Silom Station, lalu berganti BTS yang menuju Hua Lamphong Station. Proses membeli tiket BTS yang bersifat elektrik dan full-computerized, sejatinya telah menjadi sebuah tantangan teknologi bagi kami berdua yang udik dan gaptek (gagap teknologi). Dari situlah kami menjelajah kota tua Bangkok di pinggir sungai Chao Phraya, yang lebar, berair coklat, kadang berombak, penuh enceng gondok yang hanyut untuk keseimbangan ekosistem sungai, tetapi yang sangat membanggakan, sebab tidak ada sampah sama sekali. Berhubung istana raja atau the Royal Grand Palace yang akan kami tuju tutup pada pk. 15, maka kami mengunjungi tempat lain, yaitu banyak vihara atau wat. Pertama adalah Wat Ratchanadda (Loha Prasat), kemudian Wat Benchamabothit (Marble Tample) dan Wat Saket (Golden Mount).

BTS (kereta layang bergerbong 3) yang tepat waktu, canggih dan berkarcis elektrik

Tuk-tuk beroda 3 yang open-air dan lincah menembus kemacetan kota Bangkok

Kami naik tuk-tuk dengan tarif paket 40 Bath ke semua tujuan dan mampir di suatu toko perhiasan batu mulia. Setiap sopir tuk-tuk yang mengantar tamu ke tempat tersebut, akan mendapatkan kupon BBM gratis seharga 20 Bath dari pemilik toko. Sebuah kerja sama antar unsur yang sangat baik dan saling menguntungkan, sehingga sektor pariwisata Thailand telah berhasil menjadi sumber pendapatan negara yang utama. Kami diantar pulang sampai ke stasiun BTS di Rajchathewi, untuk kemudian naik BTS ke Phayathai, yaitu stasiun terdekat dengan hotel kami, Hotel Florida. Hotel kami terletak di Jl. Phaya Thai no 43, Ratchathewi, Bangkok.

.

Pagi berikutnya, setelah acara pembukaan oleh Prof. Dusit Lumlertgul (Thailand) dan sesi ilmiah pertama oleh Prof. David Harris (Australia), kami mengunjungi The Royal Grand Palace. Perjalanan dimulai dengan naik BTS dari stasiun Phayathai menuju Siam, sebuah stasiun BTS penghubung (BTS interchange station). Kemudian berganti BTS menuju Silom. Stasiun Silom merupakan stasiun penghubung dengan subway (MRT interchange station) dengan subway (kereta bawah tanah). Kami berganti naik subway untuk menuju ke stasiun Hua Lumphong. Di stasiun kereta api utama tersebut, kami mencari informasi tentang jadwal kereta ke Ayutthaya dan kota-kota lain yang akan kami kunjungi hari berikutnya. Jadwal kereta terpampang sangat informatif dalam dua huruf, Thai dan latin. Kami lanjutkan perjalanan ke Wat Phra Kaeo (the Royal Grand Palace) di Jl. Maharat dengan taxi-meter, sebuah sedan Corrolla Altis yang warna-warni, bertarif 65 Bath. Untunglah kami naik taxi, sehingga dapat turun persis di depan gerbang pengunjung istana. Wisatawan lain yang berombongan dengan minibus ataupun naik bus pariwisata, diharuskan turun di tempat parkir khusus yang terletak cukup jauh untuk berjalan kaki. Istana ini menyimpan berbagai koleksi bangunan paviliun, candi (chedis) dan stupa emas (golden spires) yang menjadi sebuah masterpiece tersendiri. Dengan tiket masuk 300 Bath, kita dapat melihat keindahan di dalamnya, yaitu tempat doa kerajaan (the Royal Chapel) yang menyimpan patung Permata Buddha (the Emerald Buddha) yang dibuat dari batu mulia. Pulang dari the Royal Grand Palace kami menggunakan taxi-meter pada jalur yang sama, sebab kalau naik tuk-tuk, meskipun lebih murah dengan tarif hanya 40 Bath, kami harus mampir ke toko souvenir untuk mengambil kupon BBM bagi sopirnya. Kami S4 (sungguh sangat sungkan sekali) dengan para penjaga toko, sebab kami pasti tidak akan membeli apapun di situ, maklum kami berdana cekak.

Wat Phra Kaeo (the Royal Grand Palace) di Jl. Maharat yang berstupa emas, sangat indah sekali

Taman Thanon Rama IV yang luas, indah dan dilengkapi dengan patung Raja Mongkutklao yang berdiri gagah

Setelah mencapai Stasiun Silom, kami keluar dari jalur subway (di bawah tanah) untuk menuju Taman Thanon Rama IV yang luas, indah dan dilengkapi dengan patung Raja Mongkutklao yang berdiri gagah dan berfoto sejenak di situ. Kami menyeberang jalan Ratchadamri untuk menuju Central World dengan taxi-meter, sebuah sedan Corrola Altis. Setelah agak tersesat di dalam gedung yang sangat luas, megah, modern, artistik, dan digunakan sebagai supermal Isetan, akhirnya kami menemukan tempat konggresnya, yaitu di lantai 23 gedung paling belakang, terutama atas bimbingan dr. Heru via sms.

.

Selesai mengikuti sesi konggres pagi, yang berjudul ‘Renal Bone Disease’ dan ‘Restoration in Chronic Kidney Disease’, kami berjalan kaki menuju stasiun Chitlom untuk mencapai stasiun Victoria Monument dengan menggunakan BTS bertarif 40 Baht. Kesan umum tentang fasilitas umum di Bangkok adalah bersih, jarang sekali ada anak, kaum wanita lebih banyak, cantik-cantik, dan hampir tidak ada orang yang gemuk, kemungkinan karena semua orang dituntut untuk berjalan kaki ke sana ke mari. Telephone umum coin masih banyak dan berfungsi baik, setiap orang membawa HP (handphone), meskipun jarang-jarang digunakan untuk bicara, apalagi untuk sms, hampir tidak ada yang melakukannya. Kalau seseorang harus berbicara dengan HP di tempat umum, bicaranya sopan, lembut dan sangat pelan agar tidak mengganggu orang lain di sekitarnya, dan dengan diiringi ekspresi wajah yang nyata, sesuai dengan konteks pembicaraan. Sistem dalam telepon seluler di Thailand menggunakan gelombang NMT 900 Mhz, bukan CDMA dan standar GSM internasional. Papan reklame sangat banyak, baik di dalam maupun di luar gedung, tetapi tidak ada satupun iklan rokok, kartu seluler dan pesawat HP, sangat berbeda dengan di tanah air. Toilet umum bersih dan teratur, untuk di luar gedung bertarif 3 Bath. Kendaraan yang melaju di jalanan hampir semuanya mobil ‘made in Japan’ seperti di tanah air, bedanya hanya bentuknya sebagian besar sedan dan ‘double cabin’. Mobil keluarga (MPV) hampir tidak ada, kecuali Toyota Commuter dan Hi-Ace yang digunakan sebagai mobil angkutan penumpang ataupun wisatawan. Beberapa model sedan yang persis dengan mobil di tanah air adalah City, Corolla, Civic, Accord, Lancer, Vios, dan Camry. Ada juga Innova, Fortuner, Avanza, APV, Jazz, yang pada umumnya semua bersih, terawat dan full variasi.

Corolla Altis yang menjadi taxi-meter di Bangkok dan sekitarnya

Toyota Innova yang menjadi taxi-meter di Pattaya dan sekitarnya

Sebagai gambaran tentang angkutan umum di kota Bangkok, di sana beredar taxi-meter, tuk-tuks, bis kota, minibus, BTS dan subway. Sepeda motor sangat jarang, baik di kota besar, maupun di desa-desa, jauh lebih sedikit dibandingkan mobil. Taksi dengan argometer pada umumnya berupa sedan Toyota Corolla Altis atau All New Corolla, bertuliskan taxi-meter, beroperasi 24 jam penuh, dengan tarif duduk 35 Baht dalam 2 km pertama, serta 2 Baht per km lanjutannya. Tuk-tuks atau sejenis bajaj di Jakarta yang full variasi, colorfull, roda 3, open-air, dapat menembus kemacetan jalan raya, dan sangat disarankan untuk digunakan para wisatawan, dalam menjelajah kota secara murah. Bis kota ada yang ber-AC dan ada yang tanpa AC (ekonomi), tarifnya mulai dari 10 Baht tergantung jarak, berwarna biru, oranye, putih, dan hijau sesuai dengan jalurnya. Bis kota yang tanpa AC adalah bis tua yang sebagian disediakan gratis untuk seluruh penumpang, berhenti hanya pada halte khusus, dengan jendela yang selalu terbuka, namun pintu tertutup rapat secara elektrik dan berawak 1 orang, yaitu sopir saja. Minibus yang berwarna pinkish-violet, ber-AC, dan tarifnya sedikit lebih mahal, 10-25 Baht per orang tergantung jarak, pada umumnya berupa Toyota Commuter, berkapasitas 11 penumpang, sangat mudah dijumpai di saentero negeri, tetapi mobil serupa hanya sangat sedikit yang beredar di Indonesia. Semua penumpang duduk, tidak boleh ada yang berdiri. BTS Skytrain atau kereta api yang berjalan di atas jalan layang, memiliki 3 gerbong, berjarak 5 menit setiap kereta, berhenti di setiap stasiun di area yang ramai (major commercial areas). Ada 2 jalur, yaitu dari utara ke selatan, yaitu dari Mo Chit ke On Nut (disebut Sukhumvit Line) dan dari barat ke timur, yaitu dari National Stadium ke Taksin Bridge (disebut Silom Line). Mulai beroperasi pukul 6 pagi sampai tengah malam, bertarif mulai 10-40 Baht, tergantung jarak dengan karcis elektronik yang dapat mencegah manipulasi ataupun korupsi. MRT Bangkok Subway atau kereta bawah tanah yang merupakan moda transportasi paling baru, dimulai dari Hua Lamphong, stasiun utama Bangkok, melalui Jalan Rama IV dan Ratchadaphisek, serta melalui Queen Sirikit National Convention Centre. Kami telah mencoba semuanya dengan sangat antusias dan berkesan sangat dalam.

 
Bis
 
Hi Ace

Bis antar kota di Thailand, tinggi dan gagah.

Semua full-AC dan reclyning seat

Toyota Commuter, berkapasitas 11 penumpang, sangat mudah dijumpai di saentero negeri

Setelah sesi ilmiah siang, yaitu ‘Peritoneal Dialysis’ dan ‘Role of Biomarkers in Renal Failure’, kami pergi dengan BTS ke stasiun Victoria Monument dan kami mencari pangkalan mini bus yang menuju kota Ayutthaya. Setelah bertanya hampir 10 kali dengan bahasa Tarzan, Inggris dan Tuhan, kami berhasil menemukan minibus ke Ayutthaya di sisi timur monumen tersebut, yaitu sebuah Toyota Commuter 2,4 lt bensin, ber-AC, bertarif 165 Bath per orang, kapasitas 11 orang. Kami segera meluncur ke Ayutthaya di jalan yang sekelas jalan tol, meskipun itu sebenarnya jalan biasa. Bagus, halus, lebar, dan terencana. Foto Raja, Ratu dan bendera nasional banyak terpasang di segenap penjuru kota dalam berbagai ekspresi. Hal itu menunjukkan betapa besar cinta rakyat yang mayoritas beragama Buddha, terhadap beliau berdua dan juga kebanggaan rakyat terhadap bendera nasional Thailand. Bahkan, stiker bertuliskan ‘Live Long the King’ banyak tertempel di kaca mobil.

.

Perlu diingatkan bahwa istana kerajaan yang lama terletak di Ayutthaya, yaitu di sebelah hulu Sungai Chao Phraya, yang sekaligus sebagai ibukota kerajaan kuno (Ancient Capital of Siam). Saat ini, Ayuttaya sudah berkembang menjadi salah satu kota besar di Thailand, tetapi tetap menyimpan bukti-bukti kebudayaan lama dalam lebih dari 400 buah bentuk sisa-sisa istana, wihara, makam keluarga kerajaan dan masih banyak bangunan cagar budaya lainnya yang tetap terjaga keberadaannya. Istana Bang Pa-in adalah istana yang memiliki arsitektur paling unik, sebab merupakan gabungan dari tradisi asli Thai, unsur Cina dan Gothic dari Portugis. Kami hanya sempat mengunjungi 3 kompleks yang terkenal, terindah dan terjangkau saja, yaitu Wat Mahathat, Wat Lokayasutharam dan Wat Chaiwatanaram.

 
Buddha
 
Kepala Buddha

Bersemedi di sisi patung Buddha di Wat Mahathat yang merupakan makam kerajaan di Ayutthaya

Patung kepala Buddha (Lord Buddha’s Head) yang dibuat dengan akar pohon beringin di Wat Mahathat

Wat Mahathat adalah makam kerajaan di Ayutthaya yang dibangun oleh Raja Borommarachathirat I di tahun 1374, dan disempurnakan oleh Raja Ramesuan (1388-1395). Saat Raja Songtham (1610-1628) dihancurkan bangsa Khmer. Restorasi dikerjakan oleh Raja Prasatthong (1630-1655). Ditambahkan oleh Raja Borommakot (1732-1758) dan terbakar pada 1767 dengan seluruh kota Ayutthaya. Wat Mahathat merupakan makam Buddha aliran Kamavasi sejak Mahathera Thammakanlayan, yang dibangun oleh Raja Borommarachathirat I. Oleh Raja Rama VI pada masa Rattanakosin 1911 hancur. Pada 1956 diperbaiki oleh Departemen Kebudayaan direstorasi dan barang yang penting saat ini telah disimpan di Chao Sam Phraya National Museum di Bangkok. Makam ini terdiri dari main prang, main vihara, ubosatha (ordination Hall), prang, vihara (hall of worship) and chedi. Di dalamnya terdapat patung kepala Buddha (Lord Buddha’s Head) yang sangat terkenal, sebab dibuat dengan akar pohon beringin. Asal sejarahnya belum jelas, namun diduga dibuat saat Ayutthaya diserang oleh tentara Birma pada tahun 1230, dikalahkan, dihancurkan dan dibangun kembali dengan banyak tanaman baru di dalamnya. Legenda yang beredar dan banyak diyakini mengisahkan adanya pencuri arca yang tidak berhasil, karena terlalu berat, membawa arca curiannya melewati beteng dan ditinggal di bawah pohon, sampai lama kelamaan akar pohon beringin itu menyelimutinya.

.

Kami mengelilingi kota lama Ayutthaya dengan bemo tua, bukan tuk-tuk seperti di Bangkok, yang tetap terawat, bersih dan masih mampu dipacu cepat, dengan tarif resmi 200 Baht/jam/bemo, bukan per penumpang. Kami mengunjungi Wat Lokayasutharam patung Budha berbaring, yang terletak di desa Pratoochai. Patung seperti itu disebut Phra Bhuddhasaiyart, dengan wajah yang tersenyum damai menghadap ke arah timur. Bahannya adalah batu bata dengan semen kuno, panjang 37 m dan tinggi 8 m yang diselimuti kain kuning, kedua lengan saling menindih dan kedua kaki sejajar untuk menggambarkan keharmonisan. Setelah berfoto beberapa kali, kami melanjutkan ke Wat Chaiwatthanaram, sebuah sekolah (monasteries) para biksu Buddha yang dibangun oleh Raja Prasatthong di tahun 1630. Pangeran Damrong Rachanuphap adalah arsitek yang merancangnya persis sama dengan Angkor Wat, sebagai lambang kejayaan raja yang berhasil mengalahkan Kamboja. Candi ini merupakan ‘landmark’ kota Ayutthaya dan memiliki pagoda utama (prang) bergaya Khmer dengan 4 buah pagoda pendamping. Setelah puas berkeliling kota Ayutthaya, kami pulang ke Bangkok dengan menggunakan bis besar, yaitu sebuah Mercedez-Bens OF bermesin belakang, dengan tiket seharga 56 Bath, full AC, dimana sopir dan kondekturnya berseragam rapi seperti pilot pesawat terbang, tetapi kemeja putihnya lengan panjang. Hampir semua bis bercat warna-warni sangat meriah. Pemandangan sepanjang jalan pulang menampakkan kemajuan dan modernisasi Thailand. Jalan yang halus dan lebar, lalu lintas yang teratur, bangunan yang serba besar, dengan tempat parkir yang juga luas, masyarakat yang berbudaya antri, tidak makan dan merokok sembarangan, sehingga lingkungan jadi bersih dan nyaman. Penjual makanan di pinggir jalan sebagian besar menjajakan buah segar keunggulan agrowisata Thailand, sate babi dan sapi, kue tradisional, cumi dan udang berbumbu Thai, dan sari buah yang segar. Tidak ada satupun yang menjual rokok, pulsa ataupun kartu perdana seluler. Tidak ada rumah model rumah keluarga dengan halaman yang luas, berpagar dan asri. Yang nampak hanya apartemen sebagai tempat tinggal di perkotaan dan rumah tanpa pagar di pinggiran kota. Di bawah jalan layang tidak digunakan untuk rumah liar dan di pinggiran kota, dekat terminal bis, terlihat banyak garasi perusahaan bis, bahkan ada yang terletak di bawah jembatan layang, tetapi tidak dipagar, sehingga kelihatan semuanya.

 
Buddha Berbaring
 
Wat Chaiwatanaram

Patung Buddha raksasa berbaring (Phra Bhuddhasaiyart) diselimuti kain kuning di Wat Lokayasutharam, Ayutthaya

Wat Chaiwatthanaram yang dibangun oleh Raja Prasatthong di tahun 1630. yang dirancang persis sama dengan Angkor Wat, di Kamboja

Pada hari terakhir konggres, setelah sesi ilmiah pagi yang berjudul ‘Idiopathic Childhood Nephrosis’ dan ‘Spectrum of Acute Kidney Injury’, kami memutuskan untuk mengunjungi Angkor Wat di Kamboja. Kami harus pergi ke perbatasan Thailand – Kamboja, yaitu kota Aranyaprathet. Dari Mo Chit Bus Station yang besar, kami menggunakan bis HINO RK mesin belakang, ber-AC, dan tiket seharga 470 Baht, melewati Don Mueang International Airport persis di sisi timur jalan yang kami lalui, yang merupakan sebuah bandara sangat bersejarah bagi Garuda Indonesia, karena sebuah pesawatnya pernah dibajak di situ sekitar tahun 1982. Kami melewati kota Sa Kaeo yang cukup besar di jantung negeri Thailand, dan selanjutnya kami menuju ke arah timur, yaitu ke Aranyaprathet, kota perbatasan. Kami sempat beristirahat di sebuah SPBU besar yang dilengkapi toilet, kantin dan minimarket, sehingga kami sempat jalan-jalan di sekitar situ dan mengamati harga BBM di Thailand, yaitu antara 32,4 – 36,4 Bath/liter. Penyelenggara SPBU tidak dimonopoli BUMN Thailand, tetapi bermacam-macam, ada DAN, Shell, Caltex, Petronas, Esso dan ada 2 lainnya yang menggunakan huruf Thai. Kami membeli buah-buahan yang luar biasa mengundang selera, yaitu jambu Bangkok dan semangka segar. Agrowisata di Thailand sangat maju, sebab didukung penuh oleh Raja dan segenap birokrat pemerintahan, sebagaimana terlihat dari banyaknya poster di pinggir jalan yang menggambarkan peran Raja dengan para petani saat panen tiba, meskipun sebenarnya kontur tanahnya berawa-rawa, kering dan kesannya tidak subur. Di banyak tempat tersedia aneka buah kualitas ekspor seperti yang ada di tanah air, dari jambu, nangka, mangga, kelapa, durian, rambutan dan melon. Semuanya dalam ukuran yang besar, dagingnya tebal, rasanya manis, tidak mengenal musim dan dijual juga secara eceran dalam plastik praktis dalam bentuk potongan sekali telan, yang dilengkapi tusukan dari bambu yang kuat, tajam dan bersifat pabrikan.

.

Kami berhasil sampai ke terminal bis di dalam kota Aranyaprathet dalam sekitar 5 jam perjalanan, lalu ganti naik tuk-tuk ke perbatasan Kamboja yang bertarif 65 Bath per orang. Kami naik tuk-tuk bertiga, dengan seorang turis ‘backpacker’ dari Irlandia Utara yang kami kenal di dalam bis. Kami tidak jadi menyeberang, sebab harus mengurus visa di tempat seharga 1.000 Baht per orang. Kami tidak mengira perlunya visa, sebab toh masih sama-sama negara ASEAN. Persediaan Baht kami tidak cukup, mereka tidak mau menerima USD dan ‘money changer’ di sekitar perbatasan tutup karena hari Sabtu, sehingga kami membatalkan niat untuk menyeberang. Sayang sekali, sangat disayangkan bahwa petualangan ke Angkor Wat, sebuah keajaiban dunia abad ke 9 di jantung Kerajaan Kamboja, batal dimulai. Kami hanya ikut tuk-tuk yang mengantar teman kami dari Irlandia itu sampai ke ujung daerah perbatasan dan melihat-lihat situasinya. Kami memutuskan untuk kembali ke Bangkok dan naik bis dari terminal Aranyaprathet yang berangkat sore hari dengan tarif 235 Baht.

 
Bis Laos
 
Kamboja

Bis kami dari Bangkok ke Aranyaprathet, perbatasan Kambija, ngebut dan tetap nyaman.

Di ujung perjalanan, kantor konsulat Kamboja di Aranyaprathet yang tak tertembus visa

Kami sampai Bangkok sudah mulai malam dan turun di terminal bis Mo Chit, melanjutkan petualangan belanja dengan taxi-meter ke Jatucchak atau Chatuchak Weekend Market, sebuah pasar cindera mata dan barang seni yang hanya buka pada akhir minggu. Kami harus menunjukkan tulisan di peta kepada sopir taxi-meter yang tidak dapat berbahasa Inggris sedikitpun, agar paham tujuan kami. Setelah berbelanja barang-barang seni, kami lanjut dengan bis kota ekonomi non AC bertarif 7 Baht untuk menuju stasiun BTS Mo Chit. Di sekitar stasiun, sepanjang jalan dijual beraneka barang kelas pasar kaget, disusun rapi dan dijual oleh orang-orang muda yang energik, sopan dan rapi. Semua penjualnya adalah para wirausahawan muda yang gigih dan layak dicontoh. Kami berlanjut ke Victoria Monument yang sangat ramai karena malam Minggu. Semua yang berjalan-jalan, berjualan, makan maupun bergaya adalah kaum muda yang riang, antusias dan menyenangkan. Tidak nampak kelompok anak atau orang tua dalam kesemrawutan kegiatan tersebut, baik di stasiun, jalan penghubung, maupun Victory Point, tempat janjian dan nongkrong. Kami menikmati menu makan malam mie-sea food goreng dan teh hitam khas Thailand. Sangat lezat, bumbunya nyata, tersaji cepat, dan es batunya tercetak dari pabrik, bukan dipukuli dan terpecah seperti di tanah air, sangat mengenyangkan dan bertarif 98 Baht untuk berdua.

 
Victoria
 
Makan

Victoria Monument yang menjulang ditimpa cahaya lampu, sangat ramai di malam Minggu dan merupakan landmark Bangkok sisi utara

Menu makan malam mie-sea food goreng dan teh hitam khas Thailand, lezat, bumbunya nyata, tersaji cepat, dan es batunya tercetak dari pabrik

Pada hari terakhir, kami mengurus ‘check out’ dari hotel dengan sedikit masalah, berhubung transfer uang dari Jakarta ternyata belum masuk ke rekening hotel, meskipun sudah 3 minggu sebelumnya hal tersebut dilakukan dan kami telah menyerahkan copy transfernya. Dengan wajah memelas di ‘front desk’, bersuara lemah seolah kelaparan saat telephone dengan petugas akuntansi hotel di rumahnya yang sedang libur karena hari Minggu, dan juga mengaku kehabisan bekal, kami diijinkan ‘check out’ dengan hanya meninggalkan alamat dan nomor telephon di tanah air, agar pengurusan ulang transfer dana akomodasi dapat dilakukan. Dengan penuh syukur karena tidak jadi dipaksa badan (disandera), kami naik BTS ke stasiun Ekkamai bertarif 35 Baht. Di sisi tenggara Bangkok kami turun, dilanjutkan dengan naik taxi-meter yang sopirnya tidak bisa berbahasa Inggris sedikitpun, bahkan tidak bisa membaca peta dengan tulisan huruf latin dan simbol terminal bis. Kami kehilangan 100 Baht karena kesialan itu dan diturunkan di sebuah halte bis. Untung ada orang baik yang dapat menjadi penerjemah bagi kami, sehingga sopir taxi-meter yang berikut menjadi paham. Pinggiran timur kota Bangkok yang kami lihat, tetap bersih, teratur dan disiplin. Semua pejalan kaki pasti naik jembatan penyeberangan, tidak ada yang menyeberang sembarangan, meskipun sebenarnya antar jalan tidak dipagar sebagaimana halnya di tanah air.

.

Kami akhirnya menemukan Eastern Bus Terminal di distrik Sukhumvit dengan taxi-meter kedua, bertarif 41 Baht, berfoto sejenak di depan gerbangnya, menitipkan tas bekal (kopor) pakaian dan membeli tiket bis ke Pattaya yang diatur dengan sistem komputer, seharga 128 Baht/orang. Semua bis besar, tinggi, bersih, berpintu resmi hanya sebuah, yaitu di kiri depan saja, untuk masuk keluar penumpang, kondektur, maupun sopir, hampir semua penumpang adalah wisatawan, bis Volvo itu bermesin di belakang, berAC dan berbagasi sangat lapang di bawah ‘cabin’, berkursi 45 buah, full reclyning dengan sandaran kaki dan tempat gelas minum yang praktis, juga dilengkapi pintu darurat di sisi kanan tengah dan dapat dilihat pada www.pattayabus.com. Kami melewati jalan tol layang yang lebar, 3 ruas di setiap sisinya, hampir selama 2 jam dengan kecepatan 80 km/jam, sebuah jalan layang yang sangat panjang sekali. Tahap kedua dilanjutkan dengan sekitar setengah jam perjalanan di jalan biasa, bukan jalan layang, tetapi juga tetap lebar, halus dan teratur sekali.

 
Pattaya
 
Pantai Pattaya

Di gerbang terminal bis Pattaya, saat kami turun dari Bangkok

Pantai Pattaya yang putih, bersih dan nyaman untuk para wisatawan

Pattaya adalah kita wisata, denyutnya sangat terasa, serupa dengan Kuta di Bali sebelum dibom dahulu. Jalan dalam kotanya sangat lebar, paling tidak ada 2 jalur di setiap sisinya, sangat berbeda dengan jalan di Kuta yang sempit, semrawut dan padat. Kami naik tuk-tuk Pattaya, menjelajah kota sebentar, kemudian turun di depan Mike Shopping Mall di bibir pantai berpasir putih dan sangat ramai. Belum banyak taxi-meter di Pattaya, hanya ada tuk-tuk yang berupa mobil ‘double cabin’, umumnya adalah Izusu DMax yang diberi atap, dengan tarif 20 Baht/orang setiap kali turun, sebab untuk saat ini tuk-tuk berjalan tanpa jalur resmi, terserah penumpang mau pergi ke mana. Ternyata di situ juga sudah ada beberapa Toyota Innova yang digunakan sebagai taxi-meter. Kami berjalan-jalan sepanjang pesisir pantai yang berpasir putih dan berombak sangat tenang, melihat para turis berjemur matahari, dipijat punggungnya, pulang menyelam (diving) atau berperahu wisata ke pulau karang di tengah teluk. Kami sempat juga melihat-lihat tempat ‘Regent Marina’ dengan ‘Tiffany’s Show’ dan ‘Alcazar’, melihat gaya PSK yang menjajakan diri secara sangat vulgar, 24 jam penuh. Semua pertunjukan bernuansa sex dan menjadi ciri khas wisata Pattaya.

 
Izusu
 
Pattaya Gerbang

Mobil ‘double cabin’, Izusu DMax yang diberi atap, merupakan tuk-tuk di Pattaya

Gerbang Pattaya di bibir pantai yang ramai oleh wisatawan dari berbagai belahan dunia

Setelah puas makan buah, minum teh hitam Thailand dan berbelanja patung kecil Sang Buddha, kami mengunjungi wihara dengan patung Buddha keemasan yang besar dan di sebelahnya ada klentheng dengan patung Dewi Kwan Im di puncak Bukit Pattaya atau Buddha Hill. Dari situ, kami dapat memandang kedua sisi pantai, dimana Pantai Pattaya terletak di sebelah utara bukit dan Pantai Jomtien terlihat di sebelah selatan bukit. Di sebelah barat terlihat Teluk Siam dan di sebelah timur nampak Pattaya Kart, sirkuit balap yang hingar bingar di sebelah Underwater World. Di samping patung tersebut (Big Buddha Image), tersedia gardu pandang (vontage point) yang dapat digunakan untuk melihat keindahan panoramik seluruh penjuru Pattaya, yaitu di tengah Taman Kerajaan Raja Rama IX (King Rama IX Royal Park).

 
Big Buddha
 
Dewi Kwan Im

Patung Buddha (Big Buddha Image), di gardu pandang (vontage point) Bukit Pattaya

Dewi Kwan Im di Taman Kerajaan Raja Rama IX (King Rama IX Royal Park), dekat gardu pandang

Kami kembali ke terminal bis Pattaya dan membeli tiket pulang. Ternyata ada 3 jalur ke Bangkok, yaitu menuju terminal Mukdahan di barat, Southern di selatan, Morchit di utara dan Eastern di timur kota Bangkok. Kami memilih yang ke Eastern dan tepat 2 jam kami sampai di tujuan. Perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan kaki menyeberang jalan menuju Wat That Thong, dekat Ekkamai. Candi itu sangat ramai dengan para pelayat yang berpakaian serba hitam, sebab saat itu sedang ada semuah prosesi kematian. Setelah berfoto sebentar dekat gambar Ratu Sirikit, kami menuju ke bandara dengan menggunakan taxi-meter, bertarif 200Bath. Kami berfoto sebentar di beberapa lokasi, yang menggambarkan kemegahan arsitektur bandara Suvarnabhumi, yang didominasi oleh tiang baja yang melengkung, menyilang dan mendatar, warna silver millenium nan kokoh, beroperasi 24 jam penuh, dan masih sangat ramai di pagi buta sekalipun. Kami segera beristirahat di kursi ruang tunggu ‘check in’, sebab kami 3 jam lebih awal datang, dibanding petugas darat maskapai Garuda Indonesia.

 
Ratu
 
Bandara lagi

Gambar Ratu Sirikit di gerbang Wat That Thong, dekat Ekkamai yang sedang ramai oleh para pelayat dan pejalan kaki.

Arsitektur bandara Suvarnabhumi, yang didominasi oleh tiang baja yang melengkung, menyilang dan mendatar, warna silver millenium nan kokoh,

Kedisiplinan, kerja keras, toleran dan santun, telah mengantar Thailand menjadi salah satu negara yang berkembang cukup pesat, pantas dikunjungi dan tentu saja, layak dicontoh. Dengan bepergian secara mandiri, kami dapat berpetualang, nikmat meski juga berdebar, tetapi berhemat cukup banyak, sebab kami hanya menghabiskan seperempat dari biaya paket wisata yang ditawarkan. Sampai ketemu dalam petualangan selanjutnya.

sekian

di Ruang Tunggu sektor G Suvarnabhumi International Airport,

menjelang tengah malam, Minggu, 31 Agustus 2008

*) pelancong Jawa dengan dana terbatas

Categories
antibiotika dokter Healthy Life Jalan-jalan politik

2008 MEDAN & TOBA

MEDAN & TOBA

fx. wikan indrarto*)

Pada hari Minggu siang yang cerah, 12 Januari 2008, kami berdua menggunakan Kijang Innova BK 2375 KF melaju dari Medan yang ramai ke Prapat di tepi Danau Toba. Kami menyusuri jalan trans Sumatera yang lebar melewati kota Tanjung Marowa, Kabupaten Deli Serdang dengan ibu kota Pakam, Serdang Dalui, Tebing Tinggi, dan Kabupaten Simalungun dengan ibu kota Pematang Siantar. Di Tebing Tinggi kami berbelok ke kanan, berpisah dengan jalur trans Sumatera, masuk ke areal perkebunan kelapa sawit dan karet yang luas sepanjang mata memandang. Kami perlu waktu hampir 4 jam untuk sampai Prapat, yaitu sekitar pk. 18.30, dan menginap di Hotel Prapat Inn persis di tepi Danau Toba, sebuah danau terbesar di seluruh dunia.

100_2471

Bergaya di depan gerbang makam Tomok di Pulau Samosir

Pada Senin pagi yang cerah, 13 Januari 2008 kami menyeberang ke Pulau Samosir, naik kapal umum di dermaga pasar tua Prapat. Penyeberangan dapat menggunakan 3 pilihan, yaitu dengan kapal umum dari pasar tua bertarif Rp. 15.000/orang, speedboat dari dermaga taman kota bertarif Rp. 300.000/kapal, dan feri yang dapat memuat mobil. Kapal umum yang kami pilih itu memuat para padagang dengan barang dagangannya, pegawai dan sedikit pelancong. Di dalam kapal itu juga ada sepeda motor, barang dagangan pasar, sayuran, bahkan pupuk urea, semua menjadi satu. Kami naik kapal dengan jadwal perjalanan pk.08.30 menuju Tomok di jantung Pulau Samosir. Kami menyewa motor ojek untuk berboncengan seharga Rp. 30 ribu, untuk menyusuri jalan beraspal tipis dengan rute mengelilingi 1/4 pulau. Pulau Samosir berbentuk seperti ikan, berasal dari gunung berapi purba dan merupakan asal usul orang Batak. Peradaban dimulai di Tomok sekitar 600 tahun yang lalu, dan meninggalkan maskot patung berbentuk seperti cecak dan payudara, yang berarti orang Batak akan dapat hidup di mana saja dan sesama anak suku tidak boleh menikah. Bendera dan corak warna kain atau cat selalu dengan warna merah, putih dan hitam, yang merupakan warna khas.

100_2472

Bergaya dengan ulos di depan makam Raja Sidabutar di Tomok, jantung Pulau Samosir

100_2475

 Bergaya dengan pakaian adat Batak Toba, di depan Museum Tomok, dengan senjata betulan

Anak suku tertua orang Batak adalah Sidabutar, yang waktu itu dikenal masih belum beragama (animisme), masih hidup secara vegetarian, makan sayuran mentah, dan rambutnya panjang, baik pria maupun wanita dewasa. Situs arkeologis yang masih dapat dilihat adalah makam dengan nisan batu yang besar untuk para raja, sedangkan nisan yang kecil untuk para serdadu yang gagah berani dan gugur di medan perang. Raja Sidabutar III baru beragama Kristen, setelah seorang pendeta Jerman, yaitu Tuan Nomensen datang pada tahun 1825. Kami sempat memasuki situs makam Raja Sidabutar, melihat rumah adat Batak, tarian Sigale-gale dan mencicipi menu khas makanan tradisional tanah Samosir. Setelah puas, kami kembali menyeberang danau menuju Perapat dan melanjutkan perjalanan pulang ke Medan.

100_2469

Naik motor sewaan keliling Pulau Samosir yang berpanorma indah.

Perjalanan pulang ke Medan kami tempuh melewati rute yang berbeda dengan saat datang, yaitu menyusur danau sisi timur, melihat banyak penjual sayur dan buah yang menjajakan dagangan di tepi jalan, terus melaju sampai ke Kabupaten Tanah Karo dengan ibukota Kabanjahe dan Kabupaten Mandailing dengan ibukota Beras Tagi. Di Beras Tagi yang dingin mencekam karena berada di punggung gunung, kami beristirahat dan mencicipi jus markabe, terdiri dari markisa dan terong belanda, yang merupakan buah khas daerah tersebut. Kami memasuki Medan saat matahari hampir tenggelam dan menginap di Hotel Danau Toba.

Patung pose gagah Raja Sisingamangaraja XII di depan makamnya

Tarian Sigale-gale, boneka yang dapat menari di depan rumah adat batak Toba

Hari berikutnya kami mengunjungi Istana Maimoon yang berdiri sejak tahun 1612, di pusat pemerintahan Kasultanan Deli abad pertangahan. Saat ini istana tersebut hanyalah tempat rekreasi, sebab sultan dan keluarganya sudah tidak tinggal di situ. Tuanku Sultan Mahmud Arya Lamanciji Perkasa Alam (Sultan Deli XIV) adalah sultan sekarang yang lahir pada 30 Agustus 1998 dan diangkat 22 Juli 2005. Kami dapat melihat tahta sultan, pakaian kebesaran, benda-benda milik sultan dan foto para sultan, termasuk sultan terakhir yang masih remaja. Setelah berfoto bersama, kami mengunjungi Makam Raja Sisingamangaraja XII, pahlawan nasional yang melawan penjajah Belanda, yang dibangun di pinggiran kota Medan. Di depannya berdiri gagah patungnya yang sedang naik kuda berwarna putih bersih dan dengan gagah memimpin pertempuran. Sayang sekali, monumen tersebut tidak terawat baik dan dikotori oleh para pedagang kaki lima di sekitarnya.

Mencoba naik betor (becak motor) di sekitar Masjid Besar Medan

Istana Maimon di Medan Peninggalan Sultan Deli yang tidak ditempati lagi

Perjalanan kami lanjutkan dengan melihat Kantor Gubernur Sumatera Utara, Kantor Walikota Medan, dan Merdeka Walk, sebuah area olah raga, rekreasi dan kuliner untuk umum, yang ramai dikunjungi masyarakat dan terletak di depan kantor Balai Kota lama, Gedung Bank Indonesia Cabang Medan dan Kantor Pos Besar. Merdeka Walk sebaiknya menjadi panutan bagi kota lain untuk membangun fasilitas umum yang dilengkapi dengan fasilitas olah raga, ‘jogging tract’ dan bahkan alat-alat fitness yang terbuat dari besi antara lain : ‘double multi height leg-stretching’, ‘double stretcing wheel station’, ‘shoulder dynamic station’, ‘back extention station’, ‘double circumvolving station’, ‘elliptical work station’, ‘space walker station’, ‘double torso swing station’ yang dikelola oleh Dinas Pertamanan Kota Medan, terawat baik dan boleh digunakan oleh siapapun secara cuma-cuma. Kami mencoba menaiki betor (becak bermotor), sebuah alat transportasi khas kota Medan yang banyak digunakan oleh penumpang masyarakat kebanyakan di sekitar Masjid Besar Medan.

100_2494

Bergaya di depan Kantor Gubernur Sumatera Utara di pusat kota Medan.

100_2496

Bergaya di depan Kantor Walikota Medan yang modern di pusat kota Medan.

100_2486

 

Masjid Raya Medan yang berkubah hitam seperti di Aceh.

Perjalanan keliling kota kami akhiri dengan mengikuti Pelatihan Vaksinasi Dasar untuk Dokter Spesialis Anak di Hotel Tiara. Kami pulang ke Jakarta dengan menuju Bandara Polonia yang masih terhitung di tengah kota, sehingga akan dipindahkah ke Tanjung Morowa, untuk mengurangi dampak buruk bandara bagi masyarakat kota yang semakin padat.

sekian

Yogyakarta, 17 Januari 2008

*) pelancong Jawa berdana cekak

Categories
dokter Healthy Life Jalan-jalan

2007 JELAJAH MURAH DI HONG KONG

JELAJAH MURAH DI HONG KONG

fx. wikan indrarto dan b. sari prasetyati *)

Hong Kong adalah daerah istimewa di Cina (Special Administrative Region of China) sejak 1 Juli 1997. Hong Kong adalah kota kosmopolitan dengan sekitar 7 juta penduduk, meliputi daratan seluas 1.100 km2 yang tersebar pada pulau Hong Kong, Semenanjung Kowloon yang dipisahkan oleh Victoria Harbour dan daerah baru sebelah utara Kowloon sampai ke perbatasan Cina daratan yang disebut New Territories dan 260 pulau lainnya. Secara mudah dapat dibayangkan dengan melihat skema geografis di gerbang kedatangan Hong Kong International Airport yang terlihat di bawah ini. Hong Kong adalah tempat yang mempertemukan tradisi Cina kuno dengan kebudayaan ultramodern, dari pasar tradisional di pinggiran jalan yang sibuk, bersih dan teratur, juga deretan toko di setiap rumah pinggir jalan (maka disebut kota toko, sebab semuanya untuk toko dan tidak ada kegunaan lain untuk semua bangunan di pinggir jalan), sampai gedung pencakar langit yang amat sangat tinggi, berderet rapi dan bercahaya gemerlap di malam hari.

Peta Hong Kong

Skema kasar gugusan pulau-pulau di Hong Kong, dapat dilihat di gerbang kedatangan penumpang di Hong Kong International Airport.

Hong Kong pada awalnya hanyalah gugusan pulau batu karang dengan beberapa kampung nelayan yang diklaim Inggris pada tahun 1842, setelah pada Perang Candu Pertama (First Opium War) berhasil mengalahkan Cina, melalui perjanjian di kota Nanking (Treaty of Nanking). Semenanjung Kowloon dan pulau-pulau di sekitarnya (Stonecutters Island) kemudian diambil Inggris juga sejak tahun 1860. Perjanjian sewa dari Cina oleh Inggris selama 99 tahun, meliputi juga daerah New Territories, yaitu wilayah sebelah utara Kowloon sampai ke Sungai Shenzen dan 235 pulau kecil yang berserak, berlaku sejak tahun 1898. Maka sejak 1 Juli 1997 Hong Kong dikembalikan ke Cina dan dikenal sebagai Special Administrative Region (SAR) of China dengan prinsip pengelolaan ‘1 negara, 2 sistem’.

Dengan pesawat Airbus A330-300 Garuda GA 860, yang dipenuhi oleh banyak orang Indonesia yang hampir semuanya TKW dan hanya ada sedikit wisatawan dalam kelompok, kami mendarat di Hong Kong International Airport, pk. 15.30 (waktu setempat sesuai dengan WITA). Bandaranya sangat besar, sibuk, sejuk dan modern. Bandara tersebut terletak di Pulau Lantau, di sebalah barat Pulau Hong Kong. Bandara ini mulai dibuka pada bulan Juli tahun 1998, proses pembangunannya menghabiskan anggaran HK$ 155 milyar, termasuk jembatan gantung penghubungnya yang elok (Tsing Ma Bridge), luas terminal penumpangnya 550.000 m2 dan panjang landas pacunya 1.300 m, merupakan bandara berkapasitas kargo terbesar di dunia dengan 2,1 juta ton kargo per tahun. Hong Kong International Airport termasuk dalam daftar Guinness Book of World Records sebagai bandara dengan terminal terbesar di dunia dan bandara terbaik di seluruh dunia selama 5 tahun berturut-turut. Kami kesulitan mencari bagasi, sebab ada 10 eskalator koper yang beroperasi secara bersamaan. Sebenarnya ada pengumuman di layar televisi datar yang sangat besar, tetapi kami tidak melihatnya, maklum tidak ada model pengumuman yang dibacakan, semua harus dibaca sendiri. Setelah itu, kami mencari tiket Airport Express Train, kereta api super cepat yang lewat setiap 12 menit. Dengan tiket seharga HK$ 160 untuk berdua, kami menikmati perjalanan dengan kereta api yang bersih, senyap, dingin dan sangat cepat.

100_1729

Saat sampai di stasiun Central Hong Kong, tulisan Hong Kong abjad Latin dan Kanji

HCEC

Survei tempat konggres, Hong Kong Covention & Exibition Center

Rute kereta tersebut adalah dari Asia World Expo di ujung barat Pulau Lantau, terminal Airport, Pulau Tsing Yi, Kowloon di semenanjung dan terakhir ke Central Station di ujung barat pulau Hong Kong. Jadwal kereta sangat ketat, setiap 12 menit sekali kereta akan lewat terminal airport dan memerlukan 24 menit untuk sampai Hong Kong Station di Central District. Rute perjalanan kereta ini melewati jembatan penghubung Tsing Ma Bridge. Jembatan ini juga masuk dalam daftar Guinness Book of Records sebagai jembatan gantung yang berisi jalan dan rel kereta api terpanjang di seluruh dunia. Panjang bentangan di atas airnya mencapai 1.377 m dan total panjangnya mencapai 2,2 km. Jembatan ini merupakan jalur utama yang menghubungkan Hong Kong International Airport dengan Pulau Hong Kong itu sendiri. Sesampai di stasiun Central Hong Kong, diselingi foto berdua di dekat tulisan Hong Kong dalam abjad Latin dan Kanji, kami teruskan perjalanan dengan taxi. Di Hong Kong semua taxi adalah sedan Toyota Crown COMFORT berbahan bakar gas, sedan besar besar berwarna merah, bertarif argo dan bersopir Cina kekar, maklum tugasnya berat, termasuk mengangkat kopor besar para penumpangnya. Sopir taxi agak kesulitan mencari hotel kami, Harbour View International House, sebab letaknya nylempit. Untunglah segera ketemu setelah bertanya 2 kali. Harbour View International House beralamat di 4 Harbour Road, Wanchai, Hong Kong.

100_1767

Saat pembukaan konggres, berfoto sebelum mulai

Kowloon

Istirahat pertama di hari kedua konggres, jalan-jalan ke Kowloon

Hari berikutnya kami jalan-jalan di dalam kota. Pertama mencari Octopus Card, sebuah kartu elektronik yang dapat digunakan untuk berbagai transaksi, dengan menempelkannya di Octopus Card Reader dalam waktu 0,3 detik, terutama pembayaran alat transportasi, misalnya bis kota, taxi, trem (tram maupun the peak tram) dan juga kereta api, baik KCR (Kowloon Canton Railway), AEL (Airport Express Line) atau MRT (Mass Transit Railway). Kami membelinya di stasiun MRT yang terdekat dengan hotel kami, yaitu di stasiun Wan Cai seharga HK$ 150 per kartu. Pertama kali kartu tersebut kami gunakan untuk perjalanan ke North Point Market di ujung timur Pulau Hong Kong dengan menggunakan trem listrik. Trem ini merupakan alat transportasi tertua di seluruh Pulau Hong Kong, dibangun pada tahun 1904 dengan 3 jalur utama, yaitu antara Kennedy Town ke Happy Valley atau Shau Kei Wan, dan dari Western Market ke North Poin dengan tarif HK$ 2. Rute trem sejak awal adalah jalan-jalan di pusat keramaian bisnis di sepanjang pantai utara Pulau Hong Kong. Dari jendela di lantai atas trem tersebut, kami melihat keramaian di kiri dan kanan jalan yang sangat luar biasa. Semua bangunan di pinggir jalan utama digunakan sebagai toko, atau tempat usaha, baik barang maupun jasa. Hal ini memperkuat citra Hong Kong sebagai kota toko. Setelah belanja jam, souvenir khas dan buah-buahan segar di North Poin Market, kami meneruskan ke Tin Hau Tample yang dibangun tahun 1868, dipersembahkan kepada dewa laut, dibangun di atas bukit batu granit yang menghadap ke laut.

Trem

Trem alat transportasi tertua di seluruh Pulau Hong Kong, dibangun pada tahun 1904

Tin Hau Temple

Tin Hau Tample yang dibangun tahun 1868, dipersembahkan kepada dewa laut

Selanjutnya kami mengunjungi The Legislative Council Building, sebuah bangunan yang dibuat sejak tahun 1899 diresmikan oleh Sir Frederick Lugard, Gubernur Hong Kong pada 15 Januari 1912. Lanjut ke Western Market dan makan siang di Harmony Restaurant dengan menu Ham omelette, Sliced Beef Noodle dan Bread W/Butter. Setelah itu kami mencoba naik MRT Island Line dari stasiun Sheung Wan dan turun di stasiun Central. Di situ kami melewati interchange untuk berganti MRT Tung Chung Line menuju Lantau Island. Kami harus melewati stasiun Kowloon, Olympic, Nam Cheong, Lai King, Tsing Yi, Sunny Bay yang terdapat interchange menuju Disneyland Resort. Kowloon, Olympic, Nam Cheong dan Lai King berada di semenanjung Kowloon dan New Territories di Cina daratan, Tsing Yi berada di Pulau Tsing Yi yang memiliki interchange dengan Airport Express Line.

Legislative Council

The Legislative Council Building, diresmikan oleh Sir Frederick Lugard, Gubernur Hong Kong pada 15 Januari 1912

MRT Disneyland

MRT khusus ke Disneyland, dengan ciri Mickye Tikus sebagai maskot untuk lobang jendela dan pagangan penumpang

Kami turun di Sunny Bay dan berlanjut menggunakan Disneyland Resort Line, sebuah MRT khusus ke Disneyland. Sayang sekali, sesampainya di gerbang Disneyland hujan turun deras sekali, sehingga kami hanya di stasiun saja, tanpa keluar kompleks. Kami kembali ke stasiun Sunny Bay untuk mencari bis menuju patung Buddha (Tian Tan Buddha Statue) yang dilengkapi dengan rumah makan vegetarian di bawah patung (Hong Kong Po Lin Monastery) seharga HK$ 30. Sayang sekali, kami sudah terlalu sore sampai di sana, sekitar pk 16.00 waktu setempat, sehingga kabut tebal sudah menyelimuti seluruh alam, bahkan jarak pandang hanya sekitar 10 m. Rugi sekali, sebab patung raksasa Sang Buddha jadi tidak terlihat dengan jelas. Kami memaksakan diri berfoto sebentar, lalu mencari cindera mata khas Buddha. Patung berbahan baku tembaga ini seberat 250 ton dan menjulang setinggi 34 m dan dikenal dengan Buddhist Kingdom in the South atau Sakyamuni Buddha. Kami pulang menyusuri jalur yang sama, menggunakan bis no 23 yang menghubungkan Tung Chung dengan tarif HK$ 30 pulang pergi. Di interchange Tung Chung kami beralih ke MRT dari bis tersebut. Kami tidak jadi menikmati Ngong Ping Skyrail atau cable car, sebab sudah terlalu sore. Skytrail ini memanjang pada jalur 5,7 km dengan jumlah 112 kabin, menghubungkan Ngong Ping di puncak gunung dengan Tung Chung di dekat pantai dan memungkinkan penumpang untuk melihat pemandangan panoramik 360 derajad ke seluruh Pulau Lantau, termasuk Tian Tan Big Buddha, flora dan fauna di North Lantau Country Park, teluk Tung Cung, Hong Kong International Airport dan ke arah Laut Cina Selatan termasuk atraksi ikan lumba-lumba (Indo Pacific Humpback Dolphin) dengan warna pink yang khas, sewaktu turun ke Tung Chung.

100_1758

Tian Tan Buddha Statue yang sangat besar dengan menu vegetarian di Po Lin Monastery yang tertutup kabut tebal

Bis Kota

Bis kota di Hong Kong, meski besar dan tingkat namun tetap ngebut, lha wong aman di jalurnya masing-masing

Dari Tung Cung, kami kembali ke pulau Hong Kong, lalu naik trem ke arah North Point untuk makan di Rumah Makan SEDAP GURIH, sebuah restoran Indoneisa di sekitar Jardine’s Bazaar, dekat dengan Victoria Park, tempat favorit orang Indonesia, terutama sesama TKW dengan berbagai gaya, berkumpul. Di lapangan tersebut, terdapat 3 lapangan futsal dengan pencahayaan yang terang, juga tempat orang duduk-duduk yang dilengkapi spanduk bertuliskan bahasa Mandarin, Inggris dan juga Indonesia tentang larangan membuang sampah sembarangan dengan dendanya yang besar.

Paginya kami belanja ke Stenly Market yang masuk wilayah Southern, di ujung selatan pulau Hong Kong, melewati Repulse Bay yang pantainya berpasir putih, tempat para wisatawan menikmati rekreasi bahari. Stenley Market adalah pasar khusus wisatawan, dari seluruh dunia. Hampir tidak ada pembelinya yang warga lokal, meskipun banyak penduduk tinggal di apartemen baru di sekitar situ. Pulangnya kami naik bis kota lagi, turun di Causeway Bay, untuk makan menu Indonesia lagi di Jardine’s Bazaar, dekat dengan jembatan penyebarangan yang berbentuk bunga teratai, seperti Jembatan Semanggi yang khas di Jakarta. Menu Indonesia menjadi pilihan kami, sebab dengan harga yang sama (sekitar HK$ 40), kami tidak bingung memilih dan dapat kenyang, sangat berbeda dengan menu lokal yang aneh dan tidak langsung dapat diterima sang perut. Setelah kenyang kami menikmati perjalanan dengan trem bertarif HK$ 2 sampai ke Kennedy Town di ujung barat pulau Hong Kong, dengan banyak apartemen tempat tinggal awal para penduduk Hong Kong yang masih memilihara tradisi Cina kuno, termasuk toko-toko penjual rempah-rempah untuk obat Cina. Semua tempat di sepanjang jalan, merupakan tempat berjualan, baik barang maupun jasa. Kehidupan yang bertumpu pada bisnis atau perdagangan, merupakan ciri khas masyarakat Hong Kong, termasuk jalan utama Des Voeux Road West, jalan yang sangat padat.

Apartemen lama

Apartemen penduduk Hong Kong tipe lama, dengan kekumuhannya di Kenendy Town

Apartemen Baru

Apartemen penduduk tipe baru, dengan nilai artistik tinggi, bersih dan mentereng

Sorenya kami mencoba naik feri The Star Ferry & Co dari pelabuhan Wan Chai Pear menuju pelabuhan Hung Hom di semenanjung Kowloon seharga HK$ 2,2 menyebrangi arus deras Victoria Harbour, selama 8 menit. Sesampai di seberang, masuk lagi ke mal di Star House dan Harbour City. Mal ini persis di tepi pantai dan menyatu dengan pelabuhan feri dan terminal bis kota, tempat orang dapat bersantai melihat panorama Hong Kong di seberang laut, yang sangat indah, terutama saat malam dan bermandikan cahaya lampu.

100_1747

Suasana keramaian yang teratur di Hong Kong, akan ke Huang Gang Border, perbatasan Cina daratan.

Hong Kong malam

Hong Kong bermandi cahaya lampu, terlihat dari pelataran Star House di Kowloon saat hari mulai malam

Paginya kami naik bis ke Huang Gang Border, dekat Shen zhen, sebuah kota di daratan Cina yang paling selatan, bertarif HK$ 45, yang berangkat tepat waktu, setiap 30 menit. Kami melewati terowongan bawah laut (Cheung Tsing Tunel) untuk masuk wilayah Kowloon, pelabuhan petikemas raksasa di kiri jalan, apartemen menjulang di kanan jalan tol yang rapi. Setelah melalui pemeriksaan petugas imigrasi Hong Kong di perbatasan, perjalanan dilanjutkan dengan ganti bis dari perusahaan yang sama, menuju kantor imigrasi Cina di Huang Gang dalam waktu 3 menit perjalanan. Para pendatang diharuskan memiliki visa, namun dapat juga mengurus visa di tempat kedatangan (visa on arrival) di Huang Gang, tetapi kantor imigrasi baru buka jam 9 pagi, sehingga kami terpaksa menunggu hampir 1 jam. Biaya mengurus visa tinggal selama 5 hari di Cina adalah HK$ 150 per orang. Sejak sampai di Huang Gang ini, kamera foto tidak boleh difungsikan, sehingga dokumentasi kami bukan data gambar, namun hanya narasi saja.

Perjalanan kami teruskan dengan taxi sebuah sedan VW Santana dari gerbang imigrasi Huang Gang untuk masuk kota Shen zen. Sopir taxi tidak dapat berbahasa Inggris, meskipun hanya sepotong, juga tidak dapat membaca huruf latin, meskipun hanya sehuruf. Untunglah masih cukup cerdas, buktinya kami diajak masuk sebuah hotel dan ketika petugas hotel menghampiri kami, dialah yang menjadi penerjemah bahasa dan aksara. Kami turun di Lu Wo shopping mall yang menyediakan berbagai barang murah bertarif Yuan, mata uang lokal RRC. Suasananya mirip di Indonesia dan sangat berbeda dengan Hong Kong, yaitu panas, kotor, semrawut dan banyak pengemis. Barangkali, itu adalah salah satu alasan mengapa penduduk Hong Kong yang lebih modern, menolak reunifikasi (penyatuan) mereka dengan Cina daratan.

Gedung Gada

Gedung berarsitektur gada, kecil di bawah, membesar di atas. Bercita rasa tinggi.

Victoria Harbour

Hong Kong dari Victoria Harbour saat mendung tebal

Dari Lo Wu shopping mall, kami tinggal menyeberang untuk masuk ke kantor imigrasi dan keluar dari wilayah Cina daratan. Di seberang mall sudah wilayah Hong Kong dan kami segera naik KCR East Rail bertarif HK$33 ke East Tsim Sha Tsui, melewati Kowloon Tong, langsung masuk ke areal interchange dengan MTR Tseun Wan Line untuk menyeberang Victoria Harbour ke Hong Kong Island. Dari East Tsim Sha Tsui dengan MRT Tseun Wan Line lanjut ke Admiralty Station, stasiun kereta terdekat di wilayah Pulau Hong Kong, diteruskan dengan tram listrik bertarif HK$2 menuju Western Market untuk makan di Solo Indonesian Restaurant di 1/F San Toi Bldg, 139 Connaught Road, Central, HK. Meskipun semuanya menu Indonesia, tetapi hampir semua pembelinya adalah orang Hong Kong. Kami pulang ke hotel dengan trem dari Western Market di dekat restoran tersebut menuju stasiun Wan Chai dan turun di dekat Chinese Methodist Church. Setelah mandi dan check out hotel, kami menggunakan taxi bertarif HK$ 30 untuk menuju Central Station dan melakukan city check in penerbangan di situ. Dengan demikian kami naik Airport Express bertarif HK$ 80 per orang dengan santai, sebab kopor-kopor besar kami sudah diurus maskapai. Sesampai di bandara, kami urus pengembalian (refund) Octopus card di petugas, untunglah kami masih punya sisa HK$ 130 dari 2 kartu. Perjalanan Dari Hong Kong kembali ke Indonesia sungguh sangat menyenangkan, meski tidak cukup menarik untuk dituliskan. Total perjalanan ini relatif murah, sebab meskipun menghabiskan dana sekitar 1 bulan gaji bersih pegawai negeri di Indonesia dengan 15 tahun masa kerja, namun hanya setara dengan 50% gaji TKW Indonesia di Hong Kong, sebagai pembantu rumah tangga selama 4 tahun.

sekian

*) pelancong dari tanah Jawa yang hampir tersesat di Hong Kong

Categories
dokter Healthy Life Istanbul Jalan-jalan sejarah ziarah

2007 PETUALANGAN DI SPANYOL

PETUALANGAN DI SPANYOL

fx. wikan indrarto dan b. sari prasetyati*)

Perjalanan peziarahan ke Fatima, Portugal utara, pada 10 Oktober 2007 pagi kami teruskan dengan petualangan memasuki negeri Spanyol dengan bis pariwisata melalui jalan bebas hambatan dari Coimbra, kota besar di Portugal utara ke arah Salamanca, kota di Spanyol barat laut. Meskipun di jalan tol, ada aturan bahwa kecepatan bis maksimal 100 km/jam, pengemudi dibatasi jam kerja maksimal 12 jam sehari, bekerja sendiri tidak menggunakan asisten, untuk memudahkan mencari lokasi menggunakan fasilitas alat GPS (Global Posisioning System) tanpa pulsa, yang saat itu GPS belum lumrah di Indonesia. Untuk bis buatan sebelum tahun 2006 ada pencatatannya dengan disc, dan bis buatan setelah tahun 2006 menggunakan chip komputer, untuk memantau aktivitasnya maksimal 12 jam sehari boleh jalan, dan mesin akan mati sendiri apabila melampaui batas waktu. Kami menikmati perjalanan dengan bis pariwisata seperti itu.

baca : https://dokterwikan.com/2018/03/05/2007-mengenang-bunda-maria-di-fatima/

Tujuan petualangan kami adalah Madrid, ibukota Kerajaan Spanyol. Asal nama kota Madrid adalah Majerit yang dalam bahasa Arab berarti tempat yang banyak airnya. Madrid adalah kota di dataran tinggi yang berlimpah persediaan airnya. Sejak tahun 1139 oleh Raja Alfonso I dijadikan ibukota Spanyol, setelah membebaskannya dari bangsa Moor yang muslim dan berpenduduk 450 ribu jiwa. Perbatasan negara antara Portugal dan Spanyol saat ini hanya berupa papan nama kecil dan bekas pintu gerbang tol untuk pemeriksaan imigrasi yang sudah tidak digunakan lagi, terletak di sekitar kota Salamanca. Espanya (E) atau Spanyol, aslinya Espania sebutan yang diberikan oleh bangsa Romawi yang menguasai mereka pada abad ke 3. Spanyol adalah negara ke 3 terbesar di Uni Eropa, setelah Perancis dan Jerman.

Bis pariwisata Spanyol, menjemput kami di Portugal melalui jalan tol internasional

Istirahat sejenak setelah melewati perbatasan Spanyol dengan Portugal

Spanyol menjadi penghubung antara benua Afrika dan Eropa, sehingga menjadi daerah penting dan menjadi jembatan perdagangan sejak jaman dahulu. Penduduknya 41 juta jiwa, tetapi jumlah turisnya dapat mencapai 50 juta jiwa, atau melebihi jumlah penduduknya. Mereka pada umumnya mengunjungi kota Madrid, Barcelona dan Valencia. Selain kota atau tempat wisata, juga ada tempat ziarah agama Katolik seperti Loyola dan Avila. Spanyol, dan juga Portugal tetangganya, terletak di Peninsula (semenanjung) Iberia, pada daratan Eropa yang menjulur mengarah ke benua Afrika. Jenderal Fanco pada tahun 1975 bertindak sebagai diktator militer terakhir di Spanyol. Setelah Jenderal Franco mundur, Spanyol kemudian menjadi kerajaan dengan rajanya Juan Carlos I. Yang terkenal dari Spanyol adalah Real Madrid, sebuah klub sepakbola profesional yang terkaya di seluruh dunia, tarian flamengo dan atraksi matador melawan banteng. Banteng yang digunakan minimal berumur 4 tahun, jantan, sehat dan dikembangkan di peternakan, bukan banteng liar. Atraksi menarik ini hanya berlangsung pada bulan Maret sampai Oktober setiap tahunnya. Sayang, pada saat ini kami tidak ada jadwal menikmati kedua hal yang terakhir itu.

Bis wisata tingkat yang tanpa atap, fasilitas city tour di Madrid yang digemari para wisatawan

Poster Rafael Nadal yang sangat besar, petenis top asal Spanyol juara ATP Master

Kami memasuki kota pertama di dekat perbatasan, yaitu Salamanca, pada tengah hari. Salamanca dibaca sebagai Salamangka, adalah kota budaya sejak abad 12, berpenduduk sekitar 160.000 jiwa. Don Quijote, yang dibaca sebagai Don Kiote, adalah tokoh pahlawan Spanyol yang terkenal yang berasal dari kota yang dibelah sungai Tormes. Orang Eropa selatan, seperti Spanyol dan Portugal tidak terlalu tinggi, bila dibandingkan orang Eropa barat, tetapi berkulit putih bersih. Ada istilah ‘siesta’, kebiasaan tidur siang pada jam 2-5 siang, sehingga semua aktivitas dihentikan sementara, bahkan banyak toko-toko tutup. Kami makan siang sebelum siesta di Restaurante El Bardo Salamanca. Ada istilah dalam Bahasa Spanyol yang selalu kami ingat untuk toilet yang disebut aseos, yaitu caballeros untuk laki-laki dan senoras untuk wanita. Perjalanan dilanjutkan sampai Madrid dan kami mencapainya pada sore hari untuk menginap di Foxa 32 C/ Agustin de Foxa, 32, 28036, Madrid

Tanda lalu lintas yang penuh warna, dalam bahasa setempat yang informatif

Monumen Don Quijote, pahlawan legendaris negeri Spanyol di taman kota Madrid

Pagi berikutnya 11 Oktober 2007, kami mengunjungi Toledo, sebuah kota kuno nan artistik, 100 km selatan Madrid. Di Toledo kita dipuaskan dengan hasil karya pelukis besar Spanyol abad 18, El Greco. Bangsa Romawi yang menguasai Toledo dipaksa keluar pada tahun 213 karena ditaklukkan bangsa Moor yang muslim. Yang luar biasa sejak saat itu adalah munculnya kebersamaan dan toleransi yang tinggi antara umat muslim, kristen dan Yahudi, sehingga ada masjid, gereja dan sinagoga yang besar, megah dan saling berdekatan secara damai. Kota ini dibangun di alam perbukitan secara bertahap dari bagian bawah sampai atas. Puncaknya adalah El Alcazar atau Alkazhar yang dibangun pada masa Raja Carlos V yang adalah benteng besar di atas bukit, dan sekarang menjadi kawasan kota tua Toledo yang mempesona. Masyarakat kebanyakan yang asli Toledo adalah pande besi, ahli pembuat senjata dari logam seperti pedang, tombak, perisai sampai baju besi perlengkapan perang Ksatria Templar yang saat ini miniaturnya menjadi cinderamata khas Toledo. Kota ini dibelah oleh Sungai Tajo atau Tego, yang merupakan sungai terpanjang di Eropa karena mencapai lebih dari 1.000 km sampai ke Lisabon dan masuk ke Samudera Atlantik. Bangsa Moor atau Arab secara efektif menguasai kota ini mulai pada abad 8 selama 3 abad.

Tembok kota tua Toledo dibangun pada abad 16 di sisi utara, sedangkan di selatan dilindungi oleh aliran deras sungai Tego, sehingga membuat Toledo menjadi sebuah kota yang sangat strategis dan aman. Ada lapangan besar di tengah kota yang pada awalnya dahulu digunakan untuk tempat ekskusi para tahanan, sementara sekarang menjadi areal pedestrial yang padat wisatawan. Selain beteng Alkhazar, di kompleks kota tua Toledo juga ada sebuah katedral (gereja besar) yang megah dan terbesar kedua di seluruh daratan Spanyol setelah katedral Sevilla, berarsitektur murni Gothik yang menjulang, dibangun mulai tahun 1226 dan baru lengkap setelah 500 tahun kemudian. Yang khas adalah gambaran pengaruh setiap era pemerintahan dapat dilihat pada semua ornamen katedral. Sebagai contoh adalah Ruang Paduan suara yang bergaya barok dengan kombinasi gaya neo gothik, dibuat dari batu alabaster sesuai dengan gambaran Bait Allah pada Perjanjian Lama. Selain itu, juga bangku kayu untuk umat yang dibuat pada abad 15 dan gambar peperangan antara umat muslim dan kristen dalam Perang Salib, terutama peperangan untuk merebut kota terakhir di daratan Spanyol dari kaum muslim yaitu Granada. Ada patung Bunda Maria yang tersenyum buatan abad 13 dari bahan marmer putih, merupakan patung Bunda Maria menggendong bayi Yesus satu-satunya di dunia, dengan ekspresi tersenyum. Selain itu, ada altar dengan hiasan terbaik di seluruh daratan Spanyol yang terbuat dari kayu dan dilapis atau dilumuri emas. Setiap gambar pada dinding dan atap katedral menceritakan kehidupan Yesus dalam berbagai adegan, seperti sebuah rangkaian film, dengan ukuran gambar dan patung yang semakin ke atas dibuat semakin besar, sehingga nampak jelas meski dilihat dari tempat duduk umat. Pengaruh yang sangat kuat adalah gaya Barok dari abad 15, baik pada patung maupun relief marmer putih asli dari Italia. Ruang besar yang sangat menarik adalah ruang pamer, sebab di situ ada lukisan El Greco, pelukis terkenal Spanyol, Rafael dari Italia, sampai lukisan indah di atap yang dibuat pelukis cepat Luka Yordano dari Italia, yang melukis semua atap hanya selama 1 tahun saja, sebab dia melukis dengan ke 2 buah tangannya secara simultan. Lukisan terdindah dan satu-satunya di dunia adalah ke12 lukisan foto wajah para murid (Rasul) Yesus yang dilukis El Greco. Lukisan yang paling baik dan merupakan masterpiece adalah lukisan tentara Romawi yang melucuti pakaian Yesus saat akan disalibkan. Sayang sekali, semua keindahan tersebut tidak boleh difoto, untuk menghindari plagiatisme lukisan.

Panoramik kota tua Toledo, Spanyol dengan katedral dan benteng Alkazar di kejauhan

Ksatria Templar, pasukan Perang Salib dengan senjata dan baju baja dari Toledo

Ruang selanjutnya yang kami kunjungi adalah Ruang Harta Karun, yang dibangun persis di bawah menara lonceng katedral. Dinamakan demikian sebab di dalam ruangan tersebut ada tersimpan benda-benda dengan nilai finansial sangat tinggi yang dipersembahkan oleh orang-orang kaya, sebagai donasi. Selain itu juga tersimpan salib dan cincin milik kardinal atau paus, juga duplikat kitab suci dalam bentuk dan ukuran yang sama persis, sebab yang asli sudah berumur 700 tahun dan berasal dari Perancis. Harta yang paling mahal yang tersimpan di situ adalah menara persembahan yang terbuat dari emas dan perak buatan abad 15 dan 16, seberat 200 kg. Menara persembahan tersebut disebut juga ‘corpus christi’, sebab di bagian tengahnya ada mangkok kaca yang sering diisi oleh hosti suci, lambang tubuh Yesus. Menara tersebut masih selalu digunakan pada parade perarakan tubuh Kristus pada minggu I setiap bulan Juni. Selain itu masih ada juga mahkota ratu atau permaisuri buatan abad 15 dan 16 dengan bahan perak, emas dan mutiara, yang pada awal pembuatannya dirancang untuk ratu yang berpola terbuka, tetapi pada akhirnya rancangan tersebut diteruskan untuk Bunda Maria yang yang berpola tertutup. Kami juga tidak dijinkan untuk mengambil foto semua benda tersebut. Perjalanan kami lanjutkan ke Gereja Santo Tomas, sebab di dalamnya berada gambar yang jadi masterpiece pelukis hebat El Greco di atas kanvas besar dengan cat minyak dan lukisan tersebut tidak pernah berpindah tempat sejak semula. Gambar tersebut melukiskan tentang kejadian yang terjadi pada tahun 1323.

Terlihat adanya utusan dari sorga, yaitu Santo Stefanus yang di sebelah kiri dan Santo Agustinus yang memakai topi, keduanya sedang menguburkan sesosok jenazah. Itu adalah jenazah Walikota Orga Don Gonzalo Ruiz De Toledo yang dicintai rakyatnya dan dikatakan selalu berbuat baik. Di bagian atas digambarkan situasi surga, yaitu Yesus dengan baju putih, Bunda Maria, Santo Petrus dan Santo Yohanes Pembaptis. Sekali lagi sayang sekali, semua keindahan tersebut tidak boleh difoto, untuk menghindari plagiatisme lukisan.

Setelah itu, perjalanan kami lanjutkan dengan menyusuri lorong sempit untuk mencapai sebuah sinagoga. Di dalam kota tua Toledo terdapat bekas sinagoga (tempat beribadat umat) Yahudi yang sekarang digunakan untuk museum dan tidak lagi dipakai sebagai tempat ibadah. Banyak orang akan mengira bangunan tersebut adalah masjid, sebab bentuknya sangat mirip. Gereja, sinagoga dan masjid yang ada di Toledo semua dibangun oleh tenaga kasar orang-orang Arab, sehingga bentuknya sangat mirip. Orang Islam, Kristen dan Yahudi di sana sangat toleran dalam keseharian selama lebih dari 3 abad. Pada abad 15 ada 10 sinagoga, sekarang hanya tinggal 2 buah yang dapat dikunjungi wisatawan. Gereja Santa Maria Lablanca (yang berarti putih) digunakan sebagai nama pada sinagoga mayor (terbesar di seluruh Eropa) ini. Gedung ini sangat unik, sebab namanya Kristen, bangunannya berarsitektur Islam (Arab), tetapi digunakan untuk umat Yahudi, sehingga merupakan simbol toleransi. Di situ dapat dilihat tiang-tiangnya yang berbentuk 8 sisi gaya muslim (oktagonal), bukan 6 sisi gaya Yahudi (Bintang Daud).

Katedral besar di Toledo yang indah, hanya boleh difoto bagian luarnya saja

Jembatan di atas sungai Tejo, dibuat abad 14 untuk jalan keluar dari kota Toledo

Kota Madrid berada 660 m di atas laut dan merupakan ibukota negara Eropa yang tertinggi di atas permukaan laut. Madrid dari bahasa Arab ‘Majerid’ yang berarti tempat yang banyak air, sebab sekitar 40% daerahnya merupakan penghasil air. Selain itu, Madrid juga dikenal sebagai kota ke 2 yang merupakan ibukota negara Eropa yang memiliki berbagai jenis pohon atau tumbuhan paling banyak. Warga kota utama Madrid sebanyak 3 jutaan,sedangkan sebanyak 5 jutaan warga yang lain mendiami kompleks di pinggiran kota utama. Real Madrid adalah sebuah klub sepak bola profesional yang didirikan pada tahun 1914, memiliki sebuah stadion sangat megah di tengah kota, dapat menampung sampai 90 ribu orang penonton sekaligus, dibuat dari bahan semen semua, dilengkapi dengan sistem pemanasan di bawah lapangan, agar rumputnya tetap hidup baik di sepanjang musim dingin.

Selain itu kami juga melihat sebuah gedung bertingkat 48 dengan dinding bertuliskan banyak angka-angka tahun penting, dibuat dengan arsitektur dan material khusus, oleh karena dibangun tepat di atas dan berdekatan dengan stasiun kereta bawah tanah (subway) yang memiliki goncangan sangat besar secara terus menerus. Selanjutnya kami melihat Columbus Stadium, bangunan ini digunakan untuk menghormati peristiwa penemuan benua Amerika oleh Christopher Columbus pada tanggal 12 Oktober 1492. Sejak itu selalu dilakukan berbagai carnaval dengan tujuan Taman Penemuan (Discovery Resort) pada setiap tanggal 12 Oktober, juga sekaligus untuk menghormati Bunda Maria.

Suporter Jawa di Santiago Barneube, milik klub sepak bola Real Madrid yang megah

Istana Raja Spanyol di pusat kota Madrid dengan 2800 buah kamar

Kami juga mengunjungi Royal Palace atau Istana Raja di tengah kota Madrid, yang pada awalnya berupa benteng pasukan bangsa Moor pada tahun 711. Setelah dikuasasi oleh Raja Philip V, dibantu Sabatini, arsitek Italia, yang membangun selama rentang 26 tahun dan mencapai 2.800 kamar. Sejak tahun 1764 sampai 1971 selalu digunakan untuk tempat tinggal raja dan keluarganya dari Dynasti Bourbon, yang memerintah Kerajaan Spanyol. Keindahan istana tersebut, juga kekayaan artistik ataupun finansialnya sama sekali tidak dapat kami ambil fotonya. Penjagaan sangat ketat dan para wisatawan dilarang keras mengambil foto. Setiap kamar dalam istana yang indah itu, dipenuhi oleh benda-benda seni, baik patung, lukis, tata ruang maupun seni pencahayaan yang sangat indah sekali, tidak terlukiskan dengan kata-kata.

Espana a Calvo Sotelo patung batu di antara 2 gedung miring dekat Chamartin, Madrid

Gran Via dekat Plaza Mayor, di Madrid Spanyol, tempat belanja yang sangat luas dan penuh gaya.

Kami melanjutkan perjalanan dalam kota Madrid, Spanyol dengan melihat Gran Via, Catedral de la Almudena, Plaza de Cibeles, Plaza Mayor, Estacion de Atocha, Estadio Santiago Bernabeu, Fuente de Cibeles, Iglesia Catedral de Las FAS (Fuerzas Armadas de Espana), patung Espana a Calvo Sotelo, patung di antara gedung miring Realia di dekat terminal Chamartin. Bangunan antik di Gran Via dan gedung miring Realia dapat kami foto untuk kenangan, meskipun agak kesulitan proses pengambilannya. Maklum, kedua daerah tersebut sangat padat wisatawan yang sering kali juga berfoto bersama di lokasi tersebut. Istilah dalam Bahasa Spanyol yang sampai sekarang kami ingat terus misalnya Prohibido Fumar (dilarang merokok) dan Gracias por su visita (terima kasih atas kunjungan anda). Setelah berkemas, kami pulang dengan pesawat KLM ke Jakarta melalui Amsterdam dan Kuala Lumpur seperti saat kami berangkat tempo hari. Perjalanan pulang sangat terasa membosankan, sebab petualangan kami rasanya belum cukup. Demikianlah ziarah yang dilengkapi dengan petualangan di tahun ini, telah diselesaikan dengan baik. Disampaikan banyak terima kasih, kepada para eyang yang telah menjaga anak-anak selama kami pergi. Juga para pembaca sekalian yang kami harapkan akan tergugah semangatnya untuk melakukan perjalanan dan mencatatnya secara detail, serta menuliskan ceritanya seperti kami, agar kita saling melengkapi informasi. Amin.

sekian

*) peziarah sekaligus pelancong dari tanah Jawa

perjalanan ke Portugal dan Spanyol ini berlangsung pada 8 sampai 12 Oktober 2007

Disusun di Yogyakarta, setelah kembali ke rumah

Categories
anak dokter Healthy Life sekolah UHC

STIGMA SOSIAL OBESITAS

fx. wikan indrarto*)

Obesitas telah mencapai proporsi epidemik secara global, bahkan setidaknya 2,8 juta orang meninggal setiap tahun, terkait kelebihan berat badan atau obesitas. Di Eropa diperkirakan 23% wanita dan 20% pria mengalami obesitas. Kegemukan dan obesitas merupakan faktor risiko utama untuk sejumlah penyakit kronis, termasuk diabetes, penyakit kardiovaskular dan kanker. Namun demikian, Hari Obesitas Sedunia (World Obesity Day) 11 Oktober 2016 lalu tidak hanya menyoroti aspek medis, tetapi justru  dampak sosial obesitas. Apa yang harus disadari?

Dampak sosial obesitas dari sebuah negara di Eropa barat menunjukkan bahwa 18,7% orang dengan obesitas mengalami stigma. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), stigma adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. Bagi anakg dengan obesitas berat, persentase stigmanya jauh lebih tinggi, yaitu mencapai 38%. Seorang dengan obesitas mengalami stigma dari guru, pengusaha mainan anak, petugas profesional kesehatan, media bahkan dari teman sekelas dan keluarga.

Hasil gambar untuk obesitas pada anak

Stigma adalah penyebab dasar terjadinya ketidaksetaraan layanan kesehatan, dan stigma obesitas dikaitkan dengan konsekuensi fisiologis dan psikologis yang signifikan, termasuk meningkatnya depresi, kecemasan, dan penurunan harga diri. Stigma ini justru juga dapat menyebabkan pola makan yang lebih teratur, menghindari aktivitas fisik yang dianjurkan, dan menyulitkan mendapatkan layanan medis. Efek dari stigma atas obesitas dapat sangat parah pada anak. Studi menunjukkan bahwa anak usia sekolah dengan obesitas mengalami kemungkinan 63% lebih tinggi untuk diintimidasi atau di-bully. Ketika anak dan remaja diintimidasi atau menjadi korban karena obesitas mereka oleh teman sebaya, keluarga dan teman, hal itu dapat memicu perasaan malu. Selain itu, juga dapat menyebabkan depresi, harga diri rendah, citra tubuh yang buruk, dan bahkan usaha percobaan bunuh diri.

Hasil gambar untuk obesitas pada anak

Tingkat obesitas anak dan remaja meningkat sepuluh kali lipat dalam empat dekade terakhir. Artinya, 124 juta anak laki-laki dan perempuan di seluruh dunia terlalu gemuk. Di Inggris, satu dari setiap 10 anak muda berusia lima sampai 19 tahun, mengalami obesitas. Selama 4 dekade terakhir, di seluruh Indonesia prevalensi kelebihan BB untuk anak laki-laki 33 kali dan untuk anak perempuan 18 kali lipat lebih banyak. Sebelum tahun 2006, anak gemuk didominasi perempuan, tetapi setelah itu kondisinya berbalik. Riset Kesehatan Dasar 2013 mencatat 18,8% anak umur 5-12 tahun mengalami kelebihan BB. Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia 2016, persentase balita gemuk usia 0-59 bulan menurut indeks BB/TB adalah 4,3 %, terbanyak terdapat di DKI Jakarta, yaitu mencapai 8,1 % balita adalah gemuk.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bias adalah menyimpang dari yang sebenarnya (tentang nilai, ukuran). Bias pada anak gemuk (weight bias) oleh guru, yaitu penilaian guru yang tidak tepat, dapat menyebabkan harapan siswa yang lebih rendah, yang dapat terlihat pada rendahnya hasil pendidikan atau nilai ujian sekolah pada anak dan remaja dengan obesitas. Hal ini selanjutnya dapat mempengaruhi kesempatan dan peluang anak untuk melanjutan jenjang sekolah, dan akhirnya menyebabkan ketidakadilan sosial, dan bahkan penurunan derajad kesehatan. Kebijakan diperlukan untuk mencegah terjadinya korban pada anak dengan obesitas di sekolah, agar orang tua dapat mengadvokasi anak mereka. Bersama dengan guru dan kepala sekolah sebaknya dilakukan program pendampingan anak, untuk meningkatkan kewaspadaan akan bias pada anak gemuk di sekolah.

Hasil gambar untuk obesitas pada anak

Terlalu menyederhanakan penyebab obesitas dan anggapan bahwa solusi yang mudah akan memberikan hasil yang cepat dan berkelanjutan, tidaklah bijak. Misalnya solusi anjuran untuk ‘kurangi makan dan lebih aktif bergerak’, telah terbukti berkontribusi menyebabkan bias pada anak gemuk. Solusi tersebut justru dapat menyebabkan harapan yang tidak realistis, bahkan mengaburkan tantangan dalam mengubah perilaku, yang dapat dialami anak dengan obesitas. Selain itu, solusi yang akan dirumuskan sebaiknya tidak hanya dengan lebih sering berfokus pada diskusi seputar perilaku ataupun kegagalan yang dirasakan anak gemuk, tetapi hendaknya juga mempertimbangkan faktor sosial dan lingkungan yang berpengaruh.

Penting sekali untuk memahami penyebab obesitas pada anak secara individual. Bagi pemerintah, pemahaman tersebut diperlukan untuk menyusun program investasi dan pencegahan personal. Selain itu, juga untuk tindakan intervensi dini guna menghentikan kenaikan berat badan yang mengkhawatirkan. Pada saat yang sama, sangat penting untuk menyadari bahwa pemerintah dan masyarakat memiliki kewajiban etis untuk bertindak atas nama anak, dalam mengurangi dampak buruk, tidak hanya dalam aspek kesehatan, tetapi juga konsekuensi sosial dari obesitas. Kegagalan untuk melakukannya akan berdampak pada modal sosial dan kesehatan generasi mendatang, bahkan akan mampu meningkatkan ketidakadilan.

WHO akan bekerja sama dengan berbagai negara, untuk menghasilkan kebijakan nasional yang tidak hanya mampu mencegah terjadinya obesitas, tetapi juga  mengkoreksi bias gemuk dan stigma sosial obesitas pada anak. Kebijakan tersebut harus dituangkan dalam program kegiatan kesehatan masyarakat secara nasional dalam kebijakan publik, terutama terkait pendidikan dan layanan kesehatan. Selain itu, juga program penelitian ilmiah kedokteran dan sosial lebih lanjut, bahkan pertukaran pengetahuan di tingkat lokal, nasional, dan internasional antar negara. Bersediakah kita terlibat?

Sekian

Yogyakarta, 10 Januari 2018

*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak, lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?