Categories
dokter Jalan-jalan

2024 Jelajah Katedral se Jawa

JELAJAH  KATEDRAL  SE  JAWA

Perjalanan darat (overland) untuk jelajah 7 buah Gereja Katedral se Jawa 23-27 Oktober 2024

fx. wikan indrarto & b. sari prasetyati

Katedral (bahasa Latin: cathedra yang berarti tempat duduk) adalah gedung gereja yang di dalamnya terdapat tempat duduk khusus yang disebut Katedra, yakni sebuah takhta bagi uskup. Katedral adalah bangunan untuk keperluan peribadatan, khususnya bagi denominasi yang memiliki hierarki episkopal, seperti Gereja Katolik, Gereja Anglikan, Gereja Ortodoks, beberapa Gereja Lutheran, dan beberapa Gereja Metodis, yang berfungsi sebagai tahta uskup, dan oleh karena itu juga berfungsi sebagai gereja pusat dari sebuah diosesan atau keuskupan. 

Kursi yang dimaksud ditempatkan secara khusus dalam gedung Gereja utama keuskupan dan dikhususkan bagi kepala keuskupan tersebut, dan oleh karena itu menjadi simbol utama dari otoritas. Pada masa lampau, kursi merupakan lambang guru, dengan demikian kursi uskup melambangkan peran uskup sebagai guru. Kursi juga lambang kepemimpinan resmi, dan oleh karena itu kursi uskup melambangkan peran uskup dalam kepemimpinan sebuah keuskupan.

Kami berniat sungguh untuk mengunjungi semua Gereja Katedral (bahasa Latin : ecclesia cathedralis) se Jawa, sekaligus mengucap syukur atas semua rahmat Tuhan yang telah turun tiada henti untuk kami.

Perjalanan darat (overland) untuk jelajah 7 buah Gereja Katedral se Jawa kami lakukan pada Rabu malam, 23 sampai Minggu malam, 27 Oktober 2024. Langkah pertama adalah naik bis PO Rosalia Indah dari Jogja menuju Gereja Katedral Santo Perawan Maria Dari Gunung Karmel di Malang sejauh 394 km dalam 7 jam. PT Rosalia Indah Transport (Rosalia Indah atau juga dikenal dengan akronim Rosin) adalah sebuah perusahaan bus yang berbasis di Palur, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Perusahaan ini merupakan bagian dari Rosalia Indah Group.

Nama “Rosalia” berasal dari nama anak sang pendiri, yaitu pasangan suami-istri Yustinus Soeroso dan Yustina Rahyuni Soeroso pada tahun 1983. Pada awalnya, mereka mengoperasikan dan mengelola sendiri layanan travel dengan armada berupa Mitsubishi Colt “Bibit Kawit” yang melayani trayek Surakarta (Solo)–Blitar, kemudian melakukan pengembangan trayek berupa Yogyakarta–Surabaya, dan Yogyakarta–Blitar/Malang. Pada tahun 1991, Rosalia Indah mulai mengubah orientasi layanan bus yang pada awalnya AKDP menjadi AKAP atau angkutan antarkota antar provinsi, dengan pengembangan trayek dari Blitar, Solo hingga Jakarta. Pada saat itu pula, Rosalia Indah juga melakukan penambahan armada berupa bus bermesin Hino sebanyak lima buah, yang tidak dilengkapi penyejuk udara (AC). Pada 10 April 2015, status Rosalia Indah berubah menjadi perusahaan Perseroan Terbatas berbadan hukum dengan nama PT Rosalia Indah Transport.

Kabin bis Rosalia Indah seri 3006 bermesin Mercedes-benz OH 1626 berbodi Jetbus 3+ buatan Adiputro

Istirahat makan di RM Bebek Taliroso Mejayan, Caruban dalam perjalanan ke Malang

Kamis, 24 Oktober 2024 : Jawa Timur

Kamis, 24 Oktober 2024, pk. 4 dini hari kami dijemput oleh  dr. H. Setyo Sugiharto, SH, MH, SpB-SubspBD(K), PhD dari Asean University Internasional (teman seperjuangan saat menjalankan tugas sebagai dokter spesialis di RSUD Dr. Soemarmo Sosroatmodjo, Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah tahun 2000) di pool bis Rosalia Indah di  Jl. Hamid Rusdi No. 15 Malang. Setelah beristirahat sejenak di rumahnya jl. Diponegoro 7 Malang yang megah, besar dan dilengkapi dengan 25 kamar kos untuk residen FK UB, kami diantar ke Gereja Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel Katedral Malang di Jl. Buring No. 60, Malang, untuk mengikuti misa kudus harian pagi pk. 6-6.40.

Gereja Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel Katedral Malang di Jl. Buring No. 60, Malang,

Kami dijemput dr. Setyo dengan Hyundai Creta putih

di rumah dr. Setyo Jl. Diponegoro 7 Malang yang megah dan besar

Katedral tersebut dibangun setelah peletakan batu pertama 11 Februari 1934. Tidak seperti kebanyakan gereja katolik yang bergaya arsitektur Gothic atau Klasik, katedral ini dibangun dengan gaya Art Deco. Rancangan bangunan dibuat oleh arsitek L. Estourgie, konstruksi oleh NV Bouwundig Bureau Sitzen en Louzada. Pelaksanaan pembangunan berlangsung 8 bulan dan diselesaikan pada 28 Oktober 1934.

Bangunan katedral ini merupakan sebuah contoh dari warisan arsitektural kolonial Belanda di kota Malang. Gereja pertama di Kota Malang pada tahun 1905, adalah Gereja Hati Kudus Yesus di Kayutangan, yang juga sempat kami lihat dari dalam mobil. Mgr. Clemens van der Pas adalah pencetus ide membangun Gereja Katedral di dekat Jalan Ijen di area yang dahulu dikenal dengan Buring Plein (Taman Buring). Sejak tahun 1961 sesuai dengan Konstitusi Apostolik XXIII, tentang Hirarki Gereja Katolik Indonesia, maka nama Gereja Katedral Malang yang semula adalah Gereja Katedral Santa Theresia, diganti dengan nama resmi yang baru, yaitu Gereja Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel. Mgr. Prof. Dr. Henricus Pidyarto Gunawan, O.Carm., (lahir 13 Juli 1955) adalah teolog Kitab Suci dan merupakan Uskup Gereja Katolik Roma untuk Keuskupan Malang saat ini.

Setelah misa kudus selesai, kami dijemput oleh dr. Setyo Sugiharto, SH, MH, SpB-SubspBD(K), PhD untuk menuju rumah dr. Iwan Donosepoetro, SpB (FK UB 82) yang juga pernah bersama-sama bertugas di RSUD Dr. Soemarmo Sosroatmodjo, Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah tahun 2000. Setelah melepas rindu dengan mengobrol penuh canda dalam dialek Malang, kami segera diajak dr. Iwan memakai Honda Jazz abu3 keliling Kota Malang dengan gaya nyopirnya yang khas, nyendal2 dengan sering lepas kemudi.

Rumah dr. Iwan di Jl. Pandan 7 Malang buatan tahun 1933 yang masih lestari

Gereja Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel Malang setelah ikut misa kudus harian pagi.

Sayang sekali kami tidak dpat bertemu istri dr. Iwan, yaitu Dr. dr. Susanthy Djajalaksana, SpP(K) di rumahnya yang kuno di Jl. Pandan 7 dekat SMP Katolik Santa Maria 2 Jl. Panderman Malang. Sebagai Kepala Program Studi Respirologi FK UB, dr. Santhy sedang mengikuti acara ilmiah di Bali dan sedang resah karena Kolegium Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi tidak termasuk kolegium yang disahkan Kemenkes RI. Pada hal, bulan depan harus menyelenggarkan ujian nasional untuk para residen pulmonolgi yang dipusatkan di Malang. Sejak tahan 2018 sudah ada peningkatan kwantitas dan kualitas dosen Respirologi FK UB dengan 4 guru besar, 5 lektor kepala, 2 lektor, dan 4 asisten ahli. Ada 16 dosen di prodi bergelar konsultan yang sudah dilengkap maping jenjang karier dosen.

Tujuan pertama adalah mengunjungi Dr. PC Widyo Karsono, SpB-KL di rumahnya yang asri di Jl. Terusan Mendut no 11 Malang. Beliau adalah dokter bedah senior ternama, yang masuk SMA Kolese de Britto (JB) Yogyakarta saat saya lahir, yaitu tahun 1966. Sebagai senior di WAG JB medis dan guru para dokter spesialis bedah di Malang, sowan kami dan obrolan yang terjadi sangat mengasikkan.

Sowan senior SMP dan SMA, yaitu dr. PC Widyo Karsono, SpB-KL. Beliau masuk SMA Kolese de Britto Yogyakarta saat saya lahir di tahun yang sama, yaitu 1966

Rumah dr. Widyo di Jl. Terusan Mendut no 11 Malang

Selanjutnya kami mengunjungi Hotel Tugu Malang, sebuah hotel bintang lima di Jl. Tugu No. 3, jantung kota lama Malang. Tepat di depannya terdapat Tugu perjuangan kemerdekaan Indonesia yang indah beserta kolam taman lotus. Setelah puas berfoto dengan semua keunikan hotel ini, yaitu koleksi barang antik yang tak ternilai harganya, kami segera terbayang tentang kekayaan pemiliknya. Semua barang antik di hotel tersebut merupakan barang-barang budaya ratusan tahun dari masyarakat Jawa babah Peranakan (campuran antara pendatang Cina di Jawa dan pribumi).

Salah satu sudut Hotel Tugu Malang, sebuah hotel bintang lima di Jl. Tugu No. 3, jantung kota lama Malang.

Air mancur dan tugu di lapangan JP. Coen (Alun-alun Bunder) Malang

Sebelum tahun 1914 Malang masih merupakan daerah bagian dari Karesidenan Pasuruan dan kekuasaan tertinggi di Malang adalah Assisten Residen dan kantornya berada di selatan Alun-alun (sekarang kantor Perbendaharaan dan Kas Negara). Setelah Kota Malang dinaikkan statusnya menjadi Gemeente (pemerintah kota) tanggal 1 April 1914, Kota Malang berhak memerintah daerah sendiri dengan dipimpin oleh seorang Burgemeester (Walikota). Semula jabatan walikota itu dirangkap oleh Asisten Residen sampai tahun 1918. Baru tahun 1919 Malang mempunyai walikota pertama HI Bussemaker, yang menduduki jabatannya sampai 1929 dan menetukan Balaikota Malang di bangun di selatan lapangan JP. Coen. Bangunan balaikota terdiri dari dua lantai. Orientasi bangunannya menghadap utara-selatan. Karena letak dan bentuk utama lokasinya, maka balaikota tersebut seolah-olah ingin menguasai lapangan JP. Coen (Alun-alun Bunder) dengan indahnya.

Bangunan Balaikota Malang terdiri dari dua lantai, menghadap utara-selatan, dan seolah-olah ingin menguasai lapangan JP. Coen (Alun-alun Bunder) dengan indahnya. 

Kantor Rektorat Universitas Brawijaya Malang terlihat di kejauhan tinggi menjulang

Perjalanan kami ke Malang kami laksanakan pada Oktober, karena bulan ini dipenuhi dengan gemerisik dedaunan, pesona ladang labu, dan kenyamanan cuaca yang sejuk di daratan Eropa. Namun bagi umat Katolik di seluruh dunia, Oktober memiliki makna yang jauh melampaui keindahan musim gugur, karena bulan Oktober ini didedikasikan untuk berdoa Rosario Mahakudus, salah satu devosi dalam tradisi Katolik yang paling terkenal. Bulan Mei dan Oktober adalah bulan khusus pada kalender liturgi Gereja Katolik, yang didedikasikan untuk penghormatan kepada Perawan Maria, ibu Yesus Kristus.

Bunda Maria dianggap istimewa oleh umat Katolik karena ia adalah teladan manusia yang berserah pada kehendak Allah dan ia memiliki relasi yang erat dengan Yesus Kristus sejak dalam kandungan hingga wafat-Nya. Selian itu, umat Katolik meyakini bahwa Bunda Maria adalah ibu rohani yang penuh belas kasihan dan perantara yang kuat antara mereka dan Yesus Kristus.

Selain berdevosi kepada Bunda Maria, saat itu kami juga mengingat adanya kisah penyerangan pasukan Kesultanan Mataram Islam di Surakarta ke Malang pada 1614, yang dipimpin oleh Tumenggung Alap-Alap. Para pembantu Tumenggung Alap-Alap menyebut warga dan prajurit dari daerah tersebut sebagai penduduk yang “menghalang-halangi” (malang dalam Bahasa Jawa) kedatangan pasukan Mataram. Setelah penaklukan tersebut, pihak Mataram menamakan daerah itu Malang. Kota Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah Surabaya dan kota terbesar ke-12 di Indonesia.

Kunjungan singkat ke pabrik Adiputro Wirasejati (Adiputro), karoseri pembuat bodi bus yang hebat di Malang

Perjalanan kami selanjutnya sebagai penggemar bis adalah mengunjungi pabrik Adiputro Wirasejati (atau dikenal dengan nama merek dagang sebagai Adiputro), yaitu sebuah perusahaan karoseri bus (Coachbuilder) asal Malang. Badan (bodi) bus buatan karoseri Adiputro banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan bus ternama di Indonesia (terutama di Pulau Jawa) seperti Agra Mas, ALS, Budiman, Haryanto, Juragan 99, Lorena Group, NPM, Pahala Kencana, Pandawa 87, Rosalia Indah, Sinar Jaya dan lainnya.

Adi Putro didirikan oleh tiga Jethrokusumo bersaudara yang pada awalnya ketiganya bekerja pada sebuah dealer mobil. Ketiga bersaudara itu adalah Andreas Jethrokusumo, Jesse Jethrokusumo dan David Jethrokusumo. Ketika melihat peluang permintaan pasar otomotif terhadap mobil penumpang yang besar, ketiga bersaudara ini memutuskan untuk keluar dari pekerjaanya dan memulai membuka usaha karoseri kecil-kecilan pada tahun 1973 dengan pekerjaan pertamanya adalah memodifikasi dua Mobil pikap Mitsubishi Colt T120 menjadi mobil penumpang.

Setelah usaha karoseri ini berkembang pesat, ketiga bersaudara itu secara resmi mendirikan perusahaan karoseri dengan nama Adi Putro pada tahun 1975 di Malang. Royal Coach adalah nama model bodi bus pertama buatan Adiputro sejak tahun 1990an. Saat ini yang terkenal adalah versi Jetbus, merupakan penerus model bodi bus Royal Coach. Nama Jetbus adalah singkatan dari “Jethrokusumo Bus”. Dream Coach adalah model bus tidur (Sleeper bus) yang juga merupakan varian baru dari Jetbus buatan Adiputro yang dirilis pada bulan Desember 2020. Jetbus 5 produk terbaru dan kebanggaan karoseri Adiputro pertama kali ditampilkan dan diperkenalkan kepada khalayak pada GIIAS 2023 di gedung ICE, BSD City.

Kami menikmati cwie mie di Warung Cwie Mie Isor Uwit, yang sudah berdiri sejak tahun 1980 di Jl. Guntur 21 Malang.

Siap naik bis ke Surabaya di Terminal Arjosari Malang

Setelah makan siang menu kuliner lokal Malang, yaitu cwie mie dengan konsep sedikit berbeda dengan menu mie ayam khas Solo atau Wonogiri-an yang menyajikan mie dengan siraman ayam berbumbu. Sementara cwie mie Malang biasanya disajikan kering dengan taburan ayam rebus di atas mie-nya. Kami menikmati cwie mie di Warung Cwie Mie Isor Uwit, yang sudah berdiri sejak tahun 1980 di Jl. Guntur 21 Malang.

Suasana kabin bis Tentrem, sebuah bis AC tarif biasa kelas ekonomi menuju terminal Bungurasih Surabaya.

Mas Ig. Wahyu Soemarto dan Ibu Laurentia Handoko menjemput kami di Terminal Bungurasih Surabaya

Setelah kenyang makan menu uenak tersebut, kami segera diantar ke Terminal Arjosari Malang, untuk naik bis Tentrem. Sebuah bis AC tarif biasa kelas ekonomi menuju terminal Bungurasih Surabaya. Di terminal tersebut kami dijemput oleh mas Ig. Wahyu Soemarto, kakak kelas 2 tahun di SMA Kolese de Britto dan Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta. Bahkan istrinya, Ibu Laurentia Handoko, membawakan menu kuliner Surabaya yang enak dan mengantar kami ke Katedral Surabaya pada siang yang terik oleh sengat matahari.

Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya berada di Jl. Polisi Istimewa 15 Surabaya. Gereja ini diresmikan pada 21 Juli 1921. Saat ini, Keuskupan Surabaya dipimpin oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Surabaya, Romo Eko Budi Susilo, sebagai administrator diosesan. Romo Eko ditunjuk setelah Uskup Surabaya sebelumnya, Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, meninggal dunia pada 10 Agustus 2023, sehingga saat kami datang terjadi Takhta Lowong (Sede Vacante). Uskup Surabaya yang baru, diumumkan setelah kami pulang ke rumah adalah Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo. Uskup Didik, sapaannya, lahir di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, 12 April 1968.

Perancangan desain gereja dilakukan oleh Ed Cypress Bureau, di mana rangka denah memiliki bentuk persegi panjang. Sementara itu, konstruksi gereja dilakukan oleh sebuah biro arsitek, yakni Huswit-Fermont. Pembangunan gereja mengeluarkan biaya 216.000 Gulden Belanda. Upacara peletakan batu pertama gereja dilaksanakan pada tanggal 11 Agustus 1920 oleh Romo Fleerakkers, SJ. Peresmian dan pemberkatan gereja dilaksanakan pada tanggal 21 Juli 1921 oleh Mgr. Edmundus Luypen, SJ, Vikaris Apostolik Batavia dan gereja ini diberi nama Gereja Hati Kudus Yesus Surabaya.

Setelah puas berdoa dan berfoto di Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya, kami segera melanjutkan petualangan. Dalam panas terik Oktober di Surabaya sore itu, kami mengingat bahwa bulan Oktober memang cukup istimewa bagi umat Katolik sedunia, termasuk kami, untuk mendaraskan doa rosario. Penentuan bulan Oktober sebagai bulan Rosario, berkaitan dengan pertempuran di Lepanto, yaitu sebuah pertempuran laut yang berlangsung saat Perang Salib pada tanggal 7 Oktober 1571. Pada waktu itu armada laut Liga Suci, koalisi negara-negara Katolik bentukan Paus Pius V, bertemu dengan  armada Kekaisaran Usmani Turki di perairan Teluk Patras. Don Juan de Austria, adik tiri Raja Spanyol Felipe II, yang diangkat oleh Paus Pius V menjadi panglima segenap armada Liga Suci. 

pertempuran di Lepanto, yaitu sebuah pertempuran laut yang berlangsung saat Perang Salib pada tanggal 7 Oktober 1571.

Don Juan (John) de Austria, diangkat oleh Paus Pius V menjadi panglima segenap armada Liga Suci.

Angkatan perang Usmani saat itu sedang menuju ke barat dari pangkalan lautnya di Lepanto (nama yang diberikan orang Venesia untuk kota Nafpaktos, orang Turki menamakannya İnebahtı) berpapasan dengan armada Liga Suci yang sedang menuju ke timur dari Messina, Sisilia di Italia. Menghadapi ancaman ini, Don Juan (John) de Austria, komandan armada Katolik, memimpin doa rosario memohon pertolongan Bunda Maria. Demikian juga, umat Katolik di seluruh Eropa berdoa rosario untuk memohon bantuan Bunda Maria di dalam keadaan yang mendesak ini.

Pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama-sama dengan banyak umat beriman berdoa rosario di basilika Santa Maria Maggiore Roma, Italia. Sejak subuh sampai petang, doa rosario tidak berhenti didaraskan di Roma untuk mendoakan pertempuran di Lepanto. Walaupun nampaknya mustahil, namun pada akhirnya pasukan Katolik menang. Kemudian, Paus Pius V menetapkan peringatan Rosario dalam Misa di Vatikan setiap tanggal 7 Oktober dan penerusnya, Paus Gregorius XIII, menetapkan tanggal 7 Oktober itu sebagai Hari Raya Rosario Suci.

Kemenangan Liga Suci di Lepanto menjegal langkah ekspansi Kesultanan Utsmaniyah Turki ke sisi Eropa dari Mediterania.

Paus Gregorius XIII, menetapkan tanggal 7 Oktober itu sebagai Hari Raya Rosario Suci, terkait kemenangan di Lepanto tahun 1571

Di dalam sejarah perang laut, Pertempuran Lepanto merupakan laga besar terakhir di Eropa yang mempertarungkan kapal-kapal dayung. Pada hakikatnya pertempuran ini adalah “laga infanteri di atas panggung terapung”. Keterlibatan lebih dari 450 kapal perang menjadikannya pertempuran laut terbesar dalam sejarah Eropa sejak Abad Klasik. Kemenangan Liga Suci ini menjegal langkah ekspansi Kesultanan Utsmaniyah Turki ke sisi Eropa dari Mediterania.

Dengan inspirasi tersebut, kami juga mendasarkan doa rosario untuk memenangkan perang besar melawan dosa, kemalasan, dan tinggi hati. Apalagi kata Surabaya sering diartikan secara filosofis sebagai lambang perjuangan antara darat dan air, seperti mitos pertempuran antara ikan sura (ikan hiu) dan baya (buaya), yang menimbulkan dugaan bahwa terbentuknya nama “Surabaya” muncul setelah terjadinya pertempuran tersebut. Kata Surabaya juga diyakini sebagai perpaduan dua nama tokoh besar pada masa lampau yaitu Suropati dan Purbaya.

Perkelaian Suropati dan Purbaya dalam legenda asal muasal kota Surabaya

Pertempuran antara ikan hiu dan buaya, sebagai lambang kota Surabaya

Pada era Paska Kemerdekaan Indonesia, tanggal 10 November 1945, pasukan Inggris mulai membom Surabaya dan perang sengit berlangsung terus menerus selama 10 hari. Pada 20 November 1945 Inggris akhirnya berhasil menguasai Surabaya dengan korban ribuan orang prajurit tewas. Lebih dari 20.000 tentara Indonesia, milisi dan penduduk Surabaya juga tewas. Seluruh kota Surabaya hancur lebur. Pertempuran ini merupakan salah satu pertempuran paling berdarah yang dialami pasukan Inggris pada dekade 1940-an. Pertempuran ini menunjukkan kesungguhan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dan mengusir penjajah.

Karena sengitnya pertempuran dan besarnya korban jiwa, setelah pertempuran ini, jumlah pasukan Inggris di Indonesia mulai dikurangi secara bertahap dan digantikan oleh pasukan Belanda. Pertempuran di Surabaya pada tanggal 10 November 1945 tersebut hingga saat ini dikenang dan diperingati sebagai Hari Pahlawan. Oleh karena itu, kami ingin mengambil inspirasi semangat juang para pahlawan dengan segera menuju Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria (KELSAPA) yang merupakan gereja tua di kota Surabaya dan turut menjadi saksi kehancuran kota Surabaya, saat perang revolusi Indonesia.

Setelah minum es buah segar di depan gereja, juga menu kuliner khas Surabaya lontong balap dan tahu campur yang dibawakan mas Wahyu dan bu Laurentia, kami segera menikmati keindahan Gereja Kelsapa di Kepanjen dengan dindingnya yang khas karena terbuat dari bata merah tanpa plester. Gereja ini sempat direnovasi pada tahun 1951 oleh Mgr. Verhoeks, CM. Gereja Kelsapa kembali direnovasi setelah pelemparan granat oleh salah seorang anggota Partai Komunis Indonesia pada tanggal 15 Oktober 1967. Gereja Kelsapa ini ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Pemerintah Kota Surabaya pada tahun 2013.

Gereja Kelasapa ini mulai dibangun pada tahun 1899 dengan bantuan arsitek W. Westmaas dari Semarang, dan diresmikan pada 5 Agustus 1900. Pada zaman perang kemerdekaan RI tahun 1945 bangunan gereja hancur terbakar saat perang revolusi di daerah Jembatan Merah (yang menewaskan Brigadir Jendral Mallaby dari Inggris). Pada tahun 1996 Gereja Kepanjen direnovasi lagi. Kedua menara yang terdapat di samping kanan dan kiri pintu masuk utama gereja, kembali dipasang. Ketinggian masing-masing menara adalah 15 meter, dengan tinggi salib 3,75 meter dan ayam jago 3,50 meter. Keduanya dari bahan stainless steel.

Sesama manuk JB (alumni SMA Kolese de Britto Yogyakarta) angkatan 82 (mas Wahyu), 83 (mas Alex) dan 84 (saya) di Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria (Kelsapa) Surabaya

Gedung Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria (Kelsapa) Kepanjen telah mendapatkan penghargaan dari komunitas Pelestarian Arsitektur Surabaya

Dari segi arsitektur, Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria ini telah mendapatkan penghargaan dari komunitas Pelestarian Arsitektur Surabaya pada tahun 1996, dan pada tahun 1998 ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Di gereja tersebut kami bertemu dengan dr. Alexander Surya Agung, Sp.B, FINACS, FICS, FAACT, kakak kelas setahun di SMA Kolese de Britto (JB) Yogyakarta. Setelah bercengkerama sesama manuk JB dengan mas Wahyu dan Dr. Alex, akhirnya kami diantar Dr. Alex menikmati suasana indah di malam hari kota tua Surabaya. Setelah dibelikan menu kuliner lokal nasi cumi hitam yang dibungkus, kami diantar tergesa ke Stasiun Pasar Turi, takut ketinggalan KA Pandalungan.

Kenangan sehabis mendoakan kita semua, di Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria (Kelsapa) Kepanjen Surabaya, dengan patung Tuhan Yesus Kristus satu-satunya di dunia maya, yang menengok ke kiri, bukan ke kanan.

KA Pandalungan adalah layanan kereta api penumpang kelas eksekutif yang dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) untuk melayani relasi Gambir–Jember di lintas utara Jawa (via Semarang Tawang–Surabaya Pasarturi).

Dibelikan nasi bungkus isi cumi hitam di Pasar Atom Surabaya oleh dr. Alex sebelum diantar ke Stasiun Pasar Turi

Blangkon tertinggal di kabin KA Pandalungan saat kami turun di Stasiun Semarang Tawang Bank Jateng

Dengan jarak tempuh 919 km melalui jalur utara Jawa dan waktu tempuh rata-rata 14 jam 15 menit, KA ini sempat menjadi kereta api antarkota dengan jarak tempuh terpanjang di Indonesia, setelah KA Gajayana (jarak tempuh terjauh di jalur tengah Pulau Jawa), dan KA Ranggajati (jarak tempuh terjauh di jalur selatan Pulau Jawa). Nama Pandalungan berasal dari sub-suku Madura yang mendiami wilayah di Tapal Kuda Jawa Timur (tepatnya di Jember di mana stasiun awal keberangkatan berada) dan disebut sebagai suku utama Madura. 

Kami turun di Stasiun Semarang Tawang Bank Jateng menjelang pk. 23 dengan musibah kecil, yaitu blangkon (tutup kepala tradisional Jawa) tertinggal di kursi. Segere kami mengubungi CS PT KAI melalui DM Instagram KAI121. Sepanjang jalan melewati keindahan malam suasana kota lama Semarang yang gemerlap, kami menuju rumah sepupu, yaitu mbak Katini di Jl. Tarupolo no 15, RT 6/RW 10, Gisik Drono, Semarang Barat. Kami juga teringat akan Pelabuhan Simongan sebagai tempat armada Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok bersandar pada tahun 1435 M. Di tempat pendaratannya, Laksamana Cheng Ho mendirikan kelenteng dan masjid yang sampai sekarang masih dikunjungi dan disebut Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu) Semarang, tidak jauh dari rumah mbak Katini.

Pada akhir abad ke-15 M utusan Kerajaan Demak yang dikenal sebagai Pangeran Made Pandan (Sunan Pandanaran I), mulai menyebarkan agama Islam dari perbukitan Bergota. Dari waktu ke waktu daerah itu semakin subur dan tumbuhlah pohon asam yang berjarak satu sama lain (jarang-jarang) (bahasa Jawa: asem arang), sehingga nama daerah itu kemudian menjadi Semarang, yang terbwa dalam mimpi kami malam itu.

Jumat, 25 Oktober 2024 : Jawa Tengah

Hanya tertidur sekitar 5 jam di rumah mbak Katini Jl. Tarupolo no 15, RT 6/RW 10, Gisik Drono, Semarang Barat, kami segara menuju Gereja Katedral Semarang, nama resminya Katedral Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci Randusari berada di Jl. Pandanaran No. 9, Semarang, Jawa Tengah. Katedral ini terletak di dekat Tugu Muda di kelurahan Randusari, Semarang.

Mgr. Dr. Robertus Rubiyatmoko (lahir 10 Oktober 1963) adalah Uskup Agung di Keuskupan Agung Semarang. Ia ditahbiskan menjadi Imam pada tanggal 12 Agustus 1992 dengan penahbis Mgr. Julius Darmaatmadja, SJ dan dipilih oleh Paus Fransiskus menjadi Uskup Agung di Keuskupan Agung Semarang pada tanggal 18 Maret 2017.

Kami menginap di rumah mbak Katini Jl. Tarupolo no 15, RT 6/RW 10, Gisik Drono, Semarang Barat.

Katedral Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci Randusari berada di Jl. Pandanaran No. 9, Semarang

Katedral ini dibangun di atas fondasi batu, dengan ruang besar bebas kolom  dalam. Atap dan lengkungan memiliki parapets, dan pintu pada bangunan wajah persegi panjang utara, barat, dan selatan; bagian depan gereja terletak di sebelah barat. Gereja Katedral Semarang memiliki sejarah panjang yang tak terlepas dari Kota Semarang. Gereja ini merupakan bagian dari tahta suci Vicaris Apostolic yang dipimpin oleh Mgr. J. Groff, seorang misionaris Suriname yang tinggal di Batavia. Saat itu Vicaris Apostolic memiliki tiga Paroki besar, yakni Batavia, Semarang, dan Surabaya. Sementara itu, Paroki Semarang memiliki tiga stasi, yakni Stasi Candi (1925), Stasi Bangkong (1932), dan Stasi Randusari (1927).

Bersama mas Awe dan mbak Ratri (teman SMP Bruderan Purworejo, tinggal di Jatingaleh) dan mas Darmadi (teman Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta, tinggal di Karang Panas) di Gereja Katedral Semarang

Pada tahun 1927, dibangunlah sebuah gereja yang sebelumnya merupakan kantor Dinas Kesehatan Belanda bernama Dienst voor Volkgezondheid. Gereja ini dirancang oleh J Th Van Oyen bekerja sama dengan konstruktor Kleiverde. Di tahun itu juga, Mgr Antonius van Velsen SJ Vicaris Apostolic Batavia memberkati gereja yang berlokasi di wilayah Randusari menjadi Stasi Randusari. Renovasi dilakukan pada tahun 1935 dan selesai sekitar tahun 1937, dan diberkati oleh Mgr Pieter Jan Willekens, SJ.

Di katedral Semarang kami berjumpa dalam kehangatan suasana dengan mas Awe dan mbak Ratri, teman kami di SMP Bruderan Purworejo yang tinggal di Jatingaleh. Juga mas Darmadi Tjandrajaya, kakak kelas 2 tahun di Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta, yang tinggal di Karang Panas. Setelah mengikuti misa kudus harian di Gereja St. Perawan Maria Ratu Rosario Suci (Katedral) Randusari, Semarang harian pk. 5.30 kami segera diantar berboncengan 2 sepeda motor menuju Stasiun Poncol Semarang, untuk mengejar KA Kamandaka.

Dalam perjalanan tanpa mengenakan helm diboncengkan mas Darmadi, kami jadi teringat tentang pernah adanya Perang Salib yang pertama kali dicetuskan oleh Paus Urbanus II pada tahun 1095, dalam sidang Konsili Clermont di Perancis. Ia mengimbau peserta konsili untuk angkat senjata membantu Kaisar Romawi Timur melawan orang Turki Seljuk, dan untuk melakukan ziarah bersenjata ke Tanah Suci. Imbauannya ditanggapi dengan penuh semangat oleh seluruh lapisan masyarakat Eropa Barat. Para sukarelawan dikukuhkan menjadi anggota Laskar Salib atau Liga Suci melalui pengikraran kaul di muka umum. Orang mengajukan diri lantaran didorong oleh niat yang berbeda-beda. Ada yang sekadar ingin pergi ke Yerusalem agar ikut terangkat beramai-ramai ke surga, ada yang melakukannya demi bakti kepada majikan, ada yang hendak mencari ketenaran dan nama baik, dan ada pula yang bernafsu meraup keuntungan ekonomi maupun politik melalui keikutsertaannya.

Laskar Salib mampu menguasai dan membentuk 4 negara baru, yang lazim disebut Outremer (Tanah Sabrang), yakni Edessa, Antiokhia, Yerusalem, dan Tripoli. Laskar Salib pada akhirnya terdesak mundur dalam Perang Salib yang berlangsung pada 1095 – 1291, sesudah hampir dua abad bercokol di Tanah Suci. Akko, kota terakhir Laskar Salib di Tanah Suci, direbut kaum Muslim pada tahun 1291. Perang Salib yang berlangsung hampir 2 abad di masa lalu, tepatnya  1095–1291, mengajarkan tentang pentingnya toleransi antar umat beragama di masa kini, termasuk dalam wilayah yang kami lalui selama ziarah katedral ini.

Kami segera melanjutkan perjalanan dari Semarang menggunakan KA Kamandaka, yang merupakan layanan kereta api penumpang kelas eksekutif dan ekonomi milik PT KAI (Kereta Api Indonesia) dengan melayani relasi Cilacap–Purwokerto–Semarang Tawang melalui lintas tengah Pulau Jawa.

Nama “Kamandaka” diambil dari salah satu tokoh legenda asal Banyumas, Raden Kamandaka. Dalam cerita ketoprak di Jawa Tengah selatan, dia dikenal sebagai Lutung Kasarung. Cerita rakyat ini berbeda dengan legenda Tanah Pasundan, yaitu kisah para menak Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda, tentang perjalanan Sanghyang Guruminda dari Kahyangan, yang diturunkan ke Buana Panca Tengah (Bumi) dalam wujud seekor lutung (sejenis monyet). KA Kamandaka diresmikan oleh Wakil Menteri Perhubungan, Bambang Susantono, dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, pada 17 Febuari 2014.

Oleh karena blangkon saya tertinggal di KA Pandalungan, sehingga untuk foto selanjutnya mama yang akan memakai topi, sejak naik KA Kamandaka menuju Purwokerto 

Di stasiun Purwokerto kami dijemut oleh Mas Bambang dan mbak Wiwik, teman kami yang tinggal di Purwokerto. Juga orang tua An. Loisa dan An. Lio, yang pernah menjadi pasien kami di RS Panti Rapih Yogyakarta.

Kami berdua berpencar mobil, karena ada 2 mobil yang menjemput kami di Stasiun Purwokerto dan akhirnya bertemu di Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto berlokasi di Jl. Gereja No. 3, Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Gereja Katedral Purwokerto didedikasikan untuk gelar Yesus, yaitu Kristus Raja. Katedral ini menjadi pusat kedudukan dan takhta bagi Uskup Purwokerto, saat ini Mgr. Dr. Christophorus Tri Harsono (lahir 18 Januari 1966) sejak terpilih pada 14 Juli 2018 menggantikan Mgr. Julianus Kema Sunarka, SJ.

Bangunan Katedral Kristus Raja Purwokerto saat ini merupakan bangunan baru, yang menggantikan bangunan katedral lama, yang didirikan pada tahun 1930. Seiring perkembangan umat, Katedral lama dirasa terlalu kecil dan kurang mewakili wajah Katedral sebagai gereja induk di Keuskupan. Kemudian tercetuslah ide untuk membangun sebuah Katedral baru pada masa penggembalaan Mgr. W. Schoemaker, MSC, namun pelaksanaannya selalu tertunda. Wacana ini terus berkembang pada masa penggembalaan Mgr. Paschalis Hardjasoemarta, MSC.

Langkah serius diambil pada bulan Mei 1982 saat perayaan setengah abad berdirinya Keuskupan Purwokerto (dihitung dari pendirian Perfektur Apostolik Purwokerto). Mgr. Paschalis Hardjasoemarta, MSC mengajak umat membangun Katedral baru, sebagai bentuk syukur atas penyertaan Allah sepanjang perjalanan Keuskupan Purwokerto, sekaligus menjadi monumen kesatuan umat yang menampilkan wajah budaya setempat. Sebagai bentuk kontinuitas perjalanan Gereja, gedung Katedral baru dibangun di tempat Katedral lama.

Bersama mbak Wiwik dan mas Bambang yang telah menjemput kami di Stasiun Purwokerto

Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto

Bulan April 1985 katedral lama mulai dibongkar dan pada 26 Mei 1985 dilaksanakan upacara peletakan batu pertama untuk gedung Katedral baru. Selama masa pembangunan ini, misa harian dilaksanakan di kapel susteran dan bruderan, sementara Misa Mingguan dirayakan di aula sekolah susteran (Juli 1985 – Februari 1988).

Bangunan Katedral baru diresmikan oleh Soepardjo Rustam yang waktu itu menjabat sebagai Menkokesra RI pada 30 Mei 1988 dan dikonsekrasi sebagai Katedral oleh Mgr. Paschalis Hardjasoemarta, MSC pada 31 Mei 1988. Katedral Kristus Raja Purwokerto ini menjadi Katedral pertama di Jawa yang dibangun pasca kemerdekaan RI. Corak arsitektur joglo menggambarkan Gereja yang hidup di tengah budaya bangsa. Katedral baru ini bisa menampung sekitar 600-700 umat.

An. Lousa kelas 4 SD yang pernah menjadi pasien di RS Panti Rapih Yogyakarta tidak ikut menjemput dan hanya An. Lio (adiknya) yang ikut menemani kami di Katedral Purwokerto

Bersama RD Martinus Ngarlan (Pastor Kepala Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto)

Setelah berdoa dan berfoto dalam kemegahan Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto, selanjutnya mbak Wiwik (Herwijati Anita Miranda Prajitno adalah Analis Kebijakan Ahli Madya Kementerian Sosial RI) dan mas Bambang segera bergegas pulang, karena ada acara lain dan kami diajak keliling kota Purwokerto bersama An. Lio (5 tahun). Purwokerto adalah ibu kota Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Julukan kota di jalur tengah Jawa Tengah ini adalah kota wisata, kota keripik, kota transit, kota pendidikan, sampai kota pensiunan. Di kota ini pula terdapat Museum Bank Rakyat Indonesia, yang dahulu berdiri di Purwokerto dan didirikan oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja, putra daerah Purwokerto. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Purwokerto adalah bahasa Jawa dialek Banyumasan. Wikipedia juga turut melestarikan bahasa banyumasan ini dengan menerbitkan Wikipedia bahasa Banyumasan.

Bersama An. Lio di dalam Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto

Makan siang di RM Raja Soto Lama H. Suradi Jl. Mayjen Sutoyo Purwokerto menu soto Sokaraja dan mendoan.

Kami segera diajak makan siang di RM Raja Soto Lama H. Suradi Jl. Mayjen Sutoyo Purwokerto. Makanan khas Purwokerto adalah soto Sokaraja dan mendoan, makanan yang terbuat dari tempe yang tipis, kemudian dibalur tepung bumbu dan digoreng setengah matang, yang kami santap dengan penuh semangat siang itu. Tahu brontak, makanan yang terbuat dari tahu yang ditepungi, dibumbui, dan digoreng. Istilah “brontak” berasal dari sayuran yang keluar dari tahu ketika digoreng dan Keripik tempe, Kota Keripik merupakan salah satu julukan dari kota Purwokerto.

Selanjutnya kami diantar ke pol travel Aragon di Jl. Mayjend Sutoyo No. 20, Sawangan, Purwokerto Barat. Tingginya kebutuhan masyarakat Indonesia untuk moda layanan transportasi darat yang efisien tetapi nyaman dan aman, menjadi inspirasi untuk Aragontrans hadir dengan fasilitas-fasilitas yang memenuhi kebutuhan tersebut. Pertengahan tahun 2019 menjadi penanda awal eksistensi Aragontrans di mata publik dunia transportasi darat Indonesia.

Duduk manis di captain seat Travel  Toyota HiAce Aragon dari Purwokerto menuju ke Bandung. 

Travel Toyota Hi Ace Commuter, menuju ke Bandung saat berstirahat sekali di RM Sukamanah di Jl. Raya Sindangkasih, Ciamis aat menuju ke Bandung

Namanya terinspirasi dari Aragon adalah satu dari tujuh belas wilayah otonom di Spanyol. Ibu kotanya adalah Zaragoza. Layanan Aragontrans terbagi atas layanan shuttle, travel, charter, courier & cargo. Saat ini didukung dengan 30 unit Toyota Hi Ace Commuter, 5 outlet di lokasi strategis, rute terjadwal serta pelayanan terbaik, diyakini dapat menjadi salah satu jasa layanan transportasi profesional dan terpercaya. Kami menikmati perjalanan darat di captain seat Travel Toyota Hi Ace Commute, menuju ke Bandung. Dengan berstirahat sekali di RM Sukamanah di Jl. Raya Sindangkasih, Ciamis pk. 16.30, akhirnya kami sempat ikut keliling dalam kota Bandung mengantar penumpang lain, karena layanan travel Aragon ke Jawa bersifat door to door, bukan pool to pool. Kami ikut menikmati Jalan Braga dan sekitranya dengan suasana hiruk pikuk pengunjung dan akhirnya masuk rumah kami di Sarijadi menjelang pk. 21. Kami bertemu dengan Dik Larasati, anak bungsu kami yang sedang banyak tugas saat koass di RS Sartika Asih Bandung dengan pembimbing yang sangat rajin Dr. Ahmad Seno Kamil, SpPD.

Dini hari itu dik Larasati sudah bangun dan harus melakukan pra visite di RS Sartika Asih Bandung dengan pembimbing yang sangat rajin Dr. Ahmad Seno Kamil, SpPD.

Sabtu, 26 Oktober 2024 : Jawa Barat

Gereja Santo Petrus Katedral Bandung terletak di Jalan Merdeka, Babakanciamis, Bandung, Jawa Barat. Bangunan ini dirancang oleh Charles Prosper Wolff Schoemaker dan bergaya arsitektur neo-Gothic akhir. Dilihat dari atas, bentuknya menyerupai salib yang simetris. Katedral Santo Petrus mempunyai luas tanah sebesar 2.385 m² dan luas bangunan sebesar 785 m². Pembangunan gereja ini dilaksanakan sepanjang tahun 1921 dan diberkati pada 19 Februari 1922 oleh Mgr. Edmundus Luypen, S.J.

Katedral Santo Petrus Bandung ini dirancang oleh Charles Prosper Wolff Schoemaker dan bergaya arsitektur neo-Gothic akhir.

Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C. (lahir 14 Februari 1968) adalah Uskup Keuskupan Bandung, melanjutkan kepemimpinan Mgr. Johannes Pujasumarta yang ditunjuk sebagai Uskup Agung Semarang dan kekosongan tahta diisi oleh Administrator Apostolik Mgr. Ignatius Suharyo. Ia terpilih menjadi Uskup Bandung pada 3 Juni 2014, dan ditahbiskan menjadi Uskup pada 25 Agustus 2014.

Di Katedral Santo Petrus Bandung ini kami mengalami perjumpaan yang membahagiakan antara kawulo alit dengan perwira tinggi TNI, teman seangkatan di SMA Kolese de Britto (JB) Yogyakarta 1984. Beliau adalah Mantan Kadispsiad Brigjen TNI (Purn) Drs. R Tagar Pujasambada, M.Psi., Psikolog,

Di Katedral Santo Petrus Bandung ini kami mengalami perjumpaan yang membahagiakan antara kawulo alit dengan perwira tinggi TNI, teman seangkatan di SMA Kolese de Britto (JB) Yogyakarta 1984. Beliau adalah Mantan Kadispsiad Brigjen TNI (Purn) Drs. R Tagar Pujasambada, M.Psi., Psikolog, setelah mengikuti misa kudus harian pagi di Gereja Katedral Santo Petrus Bandung. Selain itu, kami juga berjumpa dengan adik kandung kami yang lama tidak bertemu, Yosephine Wara Pradnastuti yang siap mengantar kami ke pool Aragon Travel di Pasteur Bandung untuk menuju ke Katedral Bogor.

Berjumpa dengan adik kandung kami yang lama tidak bertemu, Yosephine Wara Pradnastuti di Gereja Santo Petrus Katedral Bandung.

Kota Bandung berasal dari kata bendung atau bendungan karena terbendungnya sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkuban Parahu yang membentuk telaga. Legenda lain mengatakan bahwa nama Bandung diambil dari dua perahu yang diikat berdampingan yang disebut perahu bandung, yang digunakan oleh Bupati RA Wiranatakusumah II, untuk menyusuri sungai Citarum dalam mencari lokasi kabupaten yang baru,  untuk menggantikan ibu kota yang lama di Dayeuhkolot.

Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru tahun 1955 mengatakan bahwa Bandung adalah ibu kotanya Asia-Afrika. Pada tahun 1990, Kota Bandung terpilih sebagai salah satu kota paling aman di dunia berdasarkan survei majalah Time. Kota Bandung dijuluki sebagai kota kembang, karena sangat cantik dengan banyaknya pohon dan bunga-bunga yang tumbuh di sana. Selain itu, Kota Bandung disebut juga dengan Paris van Java karena keindahannya yang mirip seperti Kota Paris di Prancis. Pada tahun 2007 Kota Bandung menjadi pilot project kota terkreatif se-Asia Timur. Saat ini Kota Bandung merupakan salah satu kota tujuan utama pariwisata dan pendidikan, maka wajar saja kami sangat terkagum dengan keindahan Bandung.

Dalam perjalanan naik Travel Aragon dari Bandung, kami kembali mengingat bahwa bulan Oktober sebagai bulan Rosario sebagai warisan spiritual Paus Leo XIII (1878-1903). Deklarasi bulan Oktober sebagai bulan Rosario sejarahnya bermula dari keputusan Paus Pius V menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai pesta Santa Maria Ratu Rosario. Sepanjang jalan coba kami terus daraskan doa rosario, termasuk saat kami melibas Jalan Tol Jagorawi (Jakarta–Bogor–Ciawi), yang merupakan jalan tol pertama di Indonesia. Jalan tol yang mulai dibangun pada 1 Oktober 1971, dengan biaya Rp. 350 juta per kilometer pada kurs rupiah saat itu, sepanjang kurang lebih 50 KM, dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 7 Maret 1977. Pada tahun 2022 Jalan Tol Terbaik I Kategori Jalan Tol Panjang lebih dari 50 kilometer adalah Jalan Tol Jagorawi yang kami nikmati sebelum mencapai Bogor.

Akhirnya kami dapat mencapai Gereja Katedral Santa Perawan Maria (Beatae Mariae Virginis), di Jalan Kapten Muslihat Nomor 22 Bogor, Jawa Barat. Mgr Paskalis Bruno Syukur, O.F.M. (lahir 17 Mei 1962) adalah Uskup Keuskupan Bogor dan merupakan imam Fransiskan. Mgr. Paskalis Bruno Syukur telah menolak menjadi kardinal di antara 21 kardinal baru yang diumumkan oleh Bapa Suci Paus Fransiskus pada Doa Angelus Hari Minggu, 6 Oktober 2024. Mgr. Paskalis Bruno Syukur saat ini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) sekaligus Uskup Bogor.

Awal sejarah berdirinya Gereja Katedral Bogor berkaitan dengan peranan tokoh perintis umat kota Bogor, yaitu Mgr. Adam Carel Claessens. Pada tahun 1881, Mgr. Claessens membeli sebuah rumah dengan pekarangan yang cukup luas (sekarang meliputi kompleks Gereja, Pastoran, seminari, sekolah, dan Bruderan Budi Mulia). Pada tahun 1889 Pemerintah Hindia Belanda secara resmi mengakui dan menyatakan bahwa Bogor menjadi Stasi misi tetap Batavia. Tahun 1896 (setahun setelah Mgr. AC. Claessen meninggal), MYD. Claessens mulai membangun sebuah gedung Gereja yang megah di atas tanah yang didiaminya. Gereja itu yang hingga sekarang kita kenal dengan Gereja Katedral.

Gereja Katedral Santa Perawan Maria (Beatae Mariae Virginis), di Jalan Kapten Muslihat Nomor 22 Bogor

Di Katedral Bogor kami bertemua dengan Mas Eko Lintang dan mas Felix Rahno Armunanto (teman seangkat di Asrama Mahasiswa Realino) dan Bapak Wahyu Fernandez, ayah An. Baga dan An. Dakhsa adalah pasien kami di RS Panti Rapih Yogyakarta yang semuanya tinggal di Bogor. Kota Bogor dikenal dengan julukan Kota Hujan, karena memiliki curah hujan yang lumayan sangat tinggi. Pada awal abad ke-5 Masehi, Kota Bogor merupakan pusat Kerajaan Tarumanagara dengan raja yang bernama Purnawarman. Pada prasasti Batutulis menceritakan kekuasaan Prabu Surawisesa dari Kerajaan Sunda dengan ibukota di Pajajaran, yang diyakini terletak di Kota Bogor, dan bahkan menjadi pusat pemerintahan Prabu Siliwangi yang dinobatkan pada 3 Juni 1482.

Dengan sesama warga Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta angkatan 1984 (mas Rahno dan mas Eko Lintang) di Gereja Katedral Santa Perawan Maria Bogor. 

Bersama Bapak Wahyu Fernandez, ayah An. Baga dan An. Dakhsa adalah pasien kami di RS Panti Rapih Yogyakarta di Gereja Katedral Santa Perawan Maria Bogor.

Hari penobatannya ini diresmikan sebagai Hari Jadi Kota Bogor. Kota Bogor berada di daerah pegunungan yang secara alamiah membuat lokasi ini mudah untuk bertahan terhadap ancaman serangan, dan di saat yang sama adalah daerah yang subur serta memiliki akses yang mudah pada sentra-sentra perdagangan saat itu. Pada tahun 1745, Gubernur Jenderal VOC Gustaaf Willem Baron van Imhoff membangun Istana Bogor seiring dengan pembangunan Jalan Raya Daendels yang menghubungkan Jakarta dengan Bogor.

Bersama Bapak Wahyu Fernandez dan teman2 Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta di Gereja Katedral Santa Perawan Maria Bogor.

Dengan sesama warga Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta di Gereja Kristen Indonesia Bogor, dekat warung tenda milik mas Eko Lintang

Setelah berfoto bersama, kami segera diantar mas Felix Rahno dengan mobilnya yang gagah, Toyota Foruner hitam legam, mengikuti sepeda mas Eko Lintang yang memiliki 35 buah sepeda, mengitari pusat kota Bogor. Pada masa pendudukan Inggris, Gubernur Jendral Thomas Stamford Raffles mengembangkan Kota Bogor, yaitu Istana Bogor direnovasi dan sebagian tanahnya dijadikan Kebun Raya (Botanical Garden), dibantu seorang arsitek Carsens yang menata Bogor sebagai tempat peristirahatan yang dikenal dengan Buitenzorg. Kami segera lahap menikmati menu makan siang di warung tenda milik mas Eko Lintang, di depan Gereja Kristen Indonesia Jl. Pengadilan Bogor, terus diantar mas Felix mencapai Stasiun Bogor.

Kami sangat menyesal karena tidak mampu bertemu dengan mas Anto Tjitro, teman sekalas di SMP Bruderan Purworejo, Jawa Tengah, yang menunggu kami di pintu masuk timur Stasiun Bogor atau taman topi, sementara kami masuk melalui pintu barat. Sangat disayangkan, perjumpaan tersebut gagal terwujud. Kami segera menaiki KRL  Commuter Line Bogor. Jalur ini dibuka tahun 1930, dengan panjang lintas Jakarta Kota – Bogor 54,8 km. Kecepatan operasi 90 km/h

Commuter Line Bogor (atau disebut juga Lin Bogor, sebelumnya bernama Lin Sentral) menyusuri rute KRL Lintas Bogor dengan kode warna Merah. Kami berangkat dari Bogor, melewati Cilebut, Bojong Gede, Citayam, Depok, Depok Baru, Pondok Cina, Universitas Indonesia, Universitas Pancasila, Lenteng Agung, Tanjung Barat, Pasar Minggu, Pasar Minggu Baru, Duren Kalibata, Cawang, Tebet dan turun Manggarai. Line Bogor melanjutkan perjalanan ke Cikini, Gondangdia, Juanda, Sawah Besar, Mangga Besar, Jayakarta dan berakhir di Jakarta Kota

Berdesakan dengan sesama penumpang di Commuter Line Bogor dari Bogor melaju ke Jakarta

Transit di Stasin Manggarai Jakarta untuk ganti Line Cikampek menuju Bekasi Timur

Selanjutnya kami berganti Line Biru dari Manggarai melewati Matraman, Jatinegara, Klender, Buaran, Klender Baru, Cakung, Kranji, Bekasi dan turun di Bekasi Timur. Line Biru melanjutkan perjalanan ke Tambun, Cibitung, Metland Telaga Murni, dan berakhir di Cikarang.

Bekasi menjadi kota penyangga dengan jumlah penduduk terbanyak se-Indonesia, menjadi tempat tinggal kaum urban dan sentra industri. Nama Bekasi berasal dari kata Bagasasi yang artinya sama dengan Candrabaga yang tertulis di dalam Prasasti Tugu era Kerajaan Tarumanegara, yaitu nama sungai yang melewati kota ini. Kami menuju rumah besan, yaitu Bapak Suharyadi dan Ibu Endang di Jl.Garuda Raya Blok  G no 399 Pondok Timur Indah, Jatimulya, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.

Setelah bertemua Joviel, cucu hebat yang sedang berlibur di situ, anak sulung kami mas Yudhi dan mbak Mega, kami bercengkerama tidak lama, dan memohon maaf atas banyak sekali kekurangan kami selama ini sebagai orangtua, dan kami segera melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.

Adik sepupu kami, yaitu dik Daniel Prastowo sekeluarga (bersama istrinya yang baik hati dik Ernest Prita dan 2 anaknya yang gagah Marvel dan Rafael), telah menjemput kami dari rumahnya di Taman Galaxi Indah Bekasi. Adik sepupu kami yang hebat ini adalah alumni Universitas Pelita Harapan (Doctor of Law – JD International Business, Trade, and Tax Law). Sebelumnya memegang 2 gelar S2, yaitu Master of Laws – LLM Business Law dari UPH dan Master Business and Managerial Economics dari Universitas Trisaksi. Perjuangan Pendidikan dimulai dari 2 gelar diploma, yaitu Accounting Academy LPI dan Bachelor Finance, dari Universitas Indonesia dan GT Industry Polytechnic (Poltek Gadjah Tunggal). Adik sepupu kami tersebut setelah berprofesi sebagai Business Strategic Associate, Cyber Security & Cyber Law Analyst di Putera Sampoerna Foundation Jakarta, lanjut menjadi Finance Director at Rajawali Foundation Jakarta. Ada berbagai program kerja yayasan Rajawali dalam koordinasi oleh Rajawali Global Education (RGE) yang didirikan pada tahun 2019, sebagai wahana melaksanakan program pendidikan dan pembelajaran, untuk memperluas akses ke peluang pendidikan daring berkualitas tinggi di Indonesia.

Pengetahuan dan keterampilan adalah kunci keberhasilan ekonomi, baik bagi individu maupun bagi negara secara keseluruhan. Dengan pesatnya perubahan teknologi, sangat mungkin seluruh kategori pekerjaan akan hilang, sebaliknya permintaan akan keterampilan teknis justru meningkat tajam. Beberapa jenis keterampilan teknis ini sangat baru, sehingga banyak universitas tidak siap untuk mengajarkannya. Hebat dan mengagumkan sekali adik sepupu kami ini.

Kami diantar keluarga dik Daniel Prastowo sampai di Gereja Katedral Santa Maria Diangkat ke Surga Jl. Katedral No. 7B, Jakarta. Gedung gereja ini diresmikan pada 1901 dan dibangun dengan arsitektur neo-gotik dari Eropa, yakni arsitektur yang sangat lazim digunakan untuk membangun gedung gereja beberapa abad yang lalu.

Bersama mas Bambang Kris, dr Thomas Aliandoe dan mbak Leony Avellince di Gereja Katedral Santa Maria Diangkat ke Surga Jakarta.

Gereja yang sekarang ini dirancang dan dimulai oleh Pastor Antonius Dijkmans dan peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Pro-vikaris, Carolus Wenneker. Pekerjaan ini kemudian dilanjutkan oleh Cuypers-Hulswit ketika Dijkmans tidak bisa melanjutkannya, dan kemudian diresmikan dan diberkati pada 21 April 1901 oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, SJ, Vikaris Apostolik Jakarta.

Bersama keluarga Dik Daniel Prastowo, kami juga berjumpa dengan mas Bambang Kristanto (kakak kelas 1 tahun di Asrama Mahasisaw realino Yogyakarta, yang sekarang menjabat sekeretaris Yayasan Tarakanita Jakarta), Dr. Thomas Aliandoe (teman seperjuangan melayani pasien di RS Lela Muamere, Flores tahun 1993), dan mbak Leony Avellince (sarjana ilmu politik tentang kepemiluan, anak bungsu mas Wahyu Soemarto di Surabaya)

Pada malam Natal, 24 Desember 2000, gereja ini menjadi salah satu lokasi yang terkena serangan ledakan bom oleh kelompok ekstremis Islam, Jamaah Islamiyah. Serangan terosis tersebut mengingatkan kita bahwa pada 1807–1826 terjadi perubahan politik di Belanda khususnya sejak kenaikan tahta Raja Louis Napoleon, seorang Katolik, membawa pengaruh yang cukup positif. Kebebasan umat beragama mulai diakui oleh pemerintah. Pada tanggal 8 Mei 1807 pimpinan gereja Katolik di Roma mendapat persetujuan Raja Louis Napoleon untuk mendirikan Prefektur Apostolik Hindia Belanda.

Setelah sekitar dua abad perayaan ekaristi dilarang di Hindia Belanda, pada tanggal 10 April 1808, untuk pertama kalinya diselenggarakan misa kudus pertama kali secara terbuka di Batavia di rumah Dokter F.C.H Assmuss, kepala Dinas Kesehatan waktu itu. Dokter Assmuss bersama dengan beberapa kawan berhasil mengumpulkan sejumlah orang dan sebagian besar adalah tentara. Upacara Misa berlangsung sederhana dengan tempat yang kurang memadahi. Kedua Pastor tersebut untuk sementara tinggal di rumah Dokter Assmuss.

Menara Benteng Daud, Menara Gading dan Menara Angelus Dei di Gereja Katedral Bunda Maria diangkat ke Surga Jakarta

Arsitektur gereja dibuat dengan gaya neo-gotik. Denah dengan bangunan berbentuk salib dengan panjang 60 meter dan lebar 20 meter. Pada kedua belah terdapat balkon selebar 5 meter dengan ketinggian 7 meter. Konstruksi bangunan ini dikerjakan oleh seorang tukang batu dari Kwongfu, Tiongkok. konstruksi bangunan ini terdiri dari batu bata tebal yang diberi plester dan berpola seperti susunan batu alam. Dinding batu bata ini menunjang kuda-kuda kayu jati yang terbentang selebar bangunan. Ada 3 menara di Gereja Katedral, yaitu: Menara Benteng Daud, Menara Gading dan Menara Angelus Dei. Menara ini dibuat dari besi. Bagian bawah didatangkan dari Nederland dan bagian atas dibuat di bengkel Willhelmina, Batavia.

Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo (lahir 9 Juli 1950) adalah Uskup Agung Jakarta sejak 29 Juni 2010, menggantikan Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ. Sebelum menduduki jabatan ini, Mgr. Suharyo adalah Uskup Agung Koajutor Jakarta. Saat ini, ia juga menjadi Uskup Ordinariat Militer Indonesia. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Uskup Agung Semarang.

Selain dengan keluarga Dik Daniel Prastowo, kami juga berjumpa dengan mas Bambang Kristanto (kakak kelas 1 tahun di Asrama Mahasisaw realino Yogyakarta, yang sekarang menjabat sekeretaris Yayasan Tarakanita Jakarta), Dr. Thomas Aliandoe (teman seperjuangan melayani pasien di RS Lela Muamere, Flores tahun 1993), dan mbak Leony Avellince (sarjana ilmu politik tentang kepemiluan, anak bungsu mas Wahyu Soemarto di Surabaya). Yang tidak kalah seru adalah perjumpaan kami dengan anak kedua, Karol Bimoseno Kridolaksono Indrarto yang akan berulang tahun ke 24 dan pacarnya Nyra Malika.

Kenangan ulang tahun dik Bimoseno (anak kami kedua) dengan Dik Pritta di Stasiun Gambir, Jakarta

Bimoseno lahir tanggal 28 Oktober 2000 selalu mengingatkan kita tentang Hari Sumpah Pemuda. Para pemuda dari beraneka latar belakang suku, agama, dan golongan mengikrarkan Sumpah Pemuda untuk mencintai persatuan Indonesia. Namun demikian, sehari sebelum tercetusnya ikrar Sumpah Pemuda, ternyata Kongres Pemuda II digelar di Gedung Katholieke Social Bond (KSB, Perhimpunan Sosial Katolik) pada Sabtu, 27 Oktober 1928. Gedung tersebut terletak di area Gereja Katedral, Jakarta.

Di gedung tersebut, anggota KSB dan Katholieke Jongenlingen Bond (Perhimpunan Pemuda Katolik) berkumpul dan beraktivitas. Ide diadakannya Kongres Pemuda II di area Gereja Katedral muncul dari aktivis Jong Ambon, Johannes Leimena. Saat itu, Leimena mengusulkan kepada para aktivis lain untuk menggunakan aula Gedung Katholieke Social Bond. Di gedung tersebut Mohammad Yamin berpidato tentang pemuda bagi ”Persatoean dan kebangsaan Indonesia” dengan lima faktor penting, yaitu sejarah, bahasa, hukum/adat, pendidikan, dan kehendak bersatu.

Dalam kongres yang dihadiri oleh 750 orang itu terlibat utusan dari pelbagai organisasi pemuda di Tanah Air. Mereka berbeda-beda suku, agama, juga golongan. Ada perwakilan dari Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), Pemuda Indonesia, Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Islamieten Bond, Pemuda Kaum Betawi, Sekar Rukun, dan sebagainya. Di antara mereka ada nama Sugondo Djojopuspito, RM Joko Marsaid, Amir Sjarifudin, Johan Mohammad Cai, R Katjasoengkana, Johannes Leimena, RCL Sendoek, Arnold Monotutu, Agustine Magdalena Waworuntu, dan Mohammad Rochjani Su’ud.

Berkonsultasi dengan Bapa Paus Fransiscus di Gedung Katholieke Social Bond yang dahulu digunakan menjelang acara Sumpah Pemuda 1928, sekarang disebut Graha Pemuda di Komplkes Katedral Jakarta

Mendengar cerita Marvel tentang musik, anak sulung dik Daniel Prastowo, sebelum mendampingi mengurus pengambilan blangkon (topi adat Jawa) yang tertinggal di KA Pandaluangan dan telah disimpan di pos keamanan Strasiun Gambir Jakarta.



Oleh karena gedung utama Katedral Jakarta sudah dipenuhi umat yang hadir, sementara kami asyik berfoto berulang, akhirnya kami masuk ke Graha Pemuda yang sangat historis dalam Sumpah Pemuda 1928, untuk mengikuti misa kudus Sabtu malam, 26 Oktober 2024.

Setelah selesai mengikuti misa kudus, kami segera bergegas ke Stasiun Gambir. Kami nikmati sajian Mie Gadjah Mada bersama keluarga dik Daniel Prastowo, kami merayan ulangtahun Bimoseno, anak kedua kami. Juga dengan Marvel, anak sulung dik Daniel Prastowo kami mengurus pengambilan blangkon (topi adat Jawa) yang tertinggal di KA Pandaluangan dan telah disimpan di pos keamanan Strasiun Gambir. Kami apresiasi kinerja seluruh staf PT KAI yang telah menyelamatkan barang penumpang yang tertinggal di gerbong KA. Kami segera menikmati perjalanan malam menggunakan KA Argo Bromo Amnggrek menuju ke Semarang dalam waktu 4 jam.

Minggu, 27 Oktober 2024 : Jawa Tengah lagi

Setelah bertemu dengan anak bungsu kami, dik Agatha Larasati Pangarsaningutami Indrarto yang datang dari Bandung di Stasiun Semarang Tawang Bank Jateng, kami segera naik mobil Innova menuju Mlonggo, Jepara. Tujuan kami ke Jepara adalah mendampingi William, pacar dik Laras, yang akan menerima sakramen baptis.

Jepara dekat lereng Gunung Muria di Jawa Tengah, menurut C. Lekkerkerker berasal dari kata Ujungpara, karena saat ada utusan dari Kerajaan Majapahit melihat di ujung Pulau Jawa ada nelayan yang sedang membagi-bagi ikan hasil tangkapannya, “membagi” dalam bahasa Jawa adalah “Para”. Kemudian berubah menjadi Ujung Mara, Jumpara, Japara dan pada tahun 1950an diubah menjadi Jepara.

Pada umumnya penduduk Jepara merupakan suku Jawa, dan beberapa suku lain dari Indonesia. Berdasarkan agama yang dianut yakni Islam 97,03%, kemudian Kekristenan 2,93% dimana Protestan 2,41% dan Katolik 0,51%. Selebihnya buddha sebanyak 0,02% dan Hindu 0,02%.

By. Fidelio Petra Adiartha (7 bulan) keponakan William akan ikut ke Gereja Stella Marris Jepara

Gereja Stella Marris Jepara sebelum misa kudus sakramen permandian untuk William

Diberikan lilin yang menyala, agar apinya menyemangati William menjadi lebih dewasa secara iman Katolik

Bersama Rm. Andre, MSF keluarga besar William, dan bapak ibu ketua lingkungan di Gereja Stella Maris Jepara

Kami akan menemani pacar dik Laras, untuk dipermandikan menjadi Yoseph William Febuana di Gereja Katolik Stella Maris Jepara. Stella Maris adalah gelar kuno bagi Santa Perawan Maria, ibu Yesus Kristus, dalam bahasa Latin yang bermakna Bintang Samudra. Gelar ini pertama-tama digunakan pada abad ke-9 untuk merujuk Sang Perawan Maria. Bagian dari Maria ini, sebagai seseorang yang bertindak sebagai pembimbing dan pelindung mereka yang bekerja atau berlayar di laut, membuatnya menerima julukan Ratu Kami Sang Bintang Samudra, diangkat sebagai pelindung misi-misi Katolik bagi para pelaut, kerasulan di laut, dan membuat banyak gereja-gereja di tepi/dekat pantai yang diberi nama Stella Maris atau Maria Sang Bintang Samudra.

Perjumpaan yang berselang 42 tahun dengan mas Eddy Kristianto, sejak selesai belajar bersama di SMP Bruderan Purworejo tahun 1981, di Gereja Stella Maris Jepara. Luar biasa pangling dan tidak menyangka.

Setelah dipermandikan oleh RP. Andrianus Sulistyono, MSF (Rm. Andre) Pastor Paroki Stella Maris Jepara, maka kita semua sangat berharap agar William semakain dewasa dalam iman katolik, bertekun dalam doa kepada Bunda Maria Bintang Samudera, dan menjadi tukang kayu yang setia, tangguh dan maju, dalam bisnis mebelairnya.

“Anda dan saya dipanggil untuk berani keluar dari diri sendiri, dari cinta diri menjadi cinta sosial, cinta keluarga, dan cinta kepada banyak orang, sebagai ungkapan cinta kepada Tuhan,” tambahnya. Itulah salah satu ciri khas kata-kata yang selalu diulang selama misa kudus oleh Romo Andre, yaitu ‘Anda dan saya’.

Sebuah insiden pada hari Rabu, 7 September 2016 tidak mengenakkan terjadi di wilayah Paroki St. Petrus Purwosari, Surakarta (Solo), Jawa Tengah. Romo Andrianus “Andre” Sulistiyono MSF yang memimpin perayaan ekaristi untuk memule (mendoakan arwah) Peringatan 1.000 hari meninggalnya salah satu umat,  harus dievakuasi lewat jendela ke salah satu ruangan di pendopo Kelurahan Penumping di Kodya Surakarta. Pada hal pendopo tersebut berlokasi persis di belakang Loji Gandrung, rumah dinas Walikota Solo FX “Rudy” Hadi Rudyatmo.

 

Rm. Andrianus Sulistyono, MSF lahir di Salatiga, 3 April 1975, merupakan putra bungsu dari 5 bersaudara alm. Bapak Ignatius Soelardjo & almarhumah ibu Maria Margaretha Koesmartati. Ditahbiskan bersama 8 temannya di Gereja Atmodirono Semarang, 16 Juli 2002. Romo Andre seperti biasanya pagi itu memberikan kotbah lucu (full humor) serta pesan moral kepada para penerima sakramen permandian (baptis), wali dan keluarga. Misa kudus penerimaan sakramen permandian pagi itu berlangsung hampir selama 2 jam yang tidak terasa membosankan, karena suasana cair yang diciptakan Romo Andre dan udara sejuk dalam gereja berAC, bahkan diakhiri dengan foto bersama yang penuh canda, gaya dan tawa.

Sore harinya kami diantar William ke Semarang, untuk ganti Travel City Trans menuju Yogyakarta dan sampai kembali di rumah kami Minggu, 27 Oktober 2024 pk. 21.30

JELAJAH KATEDRAL SE JAWA

Perjalanan darat (overland) untuk jelajah 7 buah Gereja Katedral se Jawa 23-27 Oktober 2024 :

1. Naik Bis Rosalia Indah dari Jogja menuju Gereja Katedral Santo Perawan Maria Dari Gunung Karmel di Malang sejauh 394 km dalam 7 jam

2. Naik bis Tentrem AC tarif biasa ke Katedral Hati Kudus Yesus di Surabaya sejauh 95 km selama 1 jam.

3. Naik KA Pandalungan ke Katedral Santa Maria Ratu Rosario Suci di Semarang sejauh 353 km dalam 4 jam

4. Naik KA Kamandaka ke Katedral Kristus Raja Purwokerto sejauh 207 km selama 5 jam

5. Naik Travel Aragon Toyota Hi-Ace ke Katdreal Santo Petrus di Bandung sejauh 276 km selama 8 jam.

6. Naik travel Aragon Toyota Hi Ace ke Katedral Bunda Perawan Maria di Bogor sejauh 173 km selama 4 jam

7. Naik KRL ke Katedral Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga di Jakarta sejauh 61 km selama 2 jam.

8. Naik KA Argo Bromo dan lanjut mobil ke Gereja Stella Maris Jepara sejauh 516 km selama 8 jam

9. Naik mobil dan lanjut Travel City Trans ke Jogja : 211 km

Total perjalanan di atas roda : 2.286 km. Disampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kelancaran ziarah katedral se Jawa kali ini dan sampai jumpa pada petualangan selanjutnya

Berkah Dalem

Yogyakarta Selasa, 29 Oktober 2024

Categories
dokter Jalan-jalan Malaria tuberkulosis

2018 Selamat Jalan Suster Dokter

Selamat jalan Suster Dokter

fx. wikan indrarto*)

Berita bahwa Sr. Dr Conchita Cruz, SpSS (83 tahun) meninggal dunia pada hari Kamis, 22 Maret 2018, pukul 16.10 di RSUP Sanglah Denpasar, Bali tersiar sangat cepat ke segenap pihak. Sosok yang sering kita sapa dengan sebutan Suster Dokter, karena sebagai seorang biarawati dalam konggregasi suster Abdi Roh Kudus (SpSS), juga seorang dokter medis tamatan Universitas Santo Thomas Manila, karena beliau sebelumnya adalah warga negara Filipina. Beliau adalah pribadi yang luar biasa dan panutan bagi kita semua, rasanya telah beristirahat dengan kekal bersama Bapa Yang Maha Baik di surga.

Pertemuan kami pertama kali dengan Suster Dokter terjadi pada hari Rabu, 24 Februari 1992 di sebuah siang yang terik. Kami diantar oleh Om Petu (maaf, saya lupa nama lengkapnya), seorang pegawai di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, NTT yang menemani kami, sebagai seorang dokter baru CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) di lingkungan Departemen Kesehatan RI. Sesuai keputusan Dr. Lada (Kepala Kantor Wilayah Departemen Kesehatan NTT), kami ditempatkan sebagai dokter pemerintah yang diperbantukan di RS St. Elisabeth Lela, sekitar 24 km di selatan Maumere, ibukota Kabuaten Sikka, di Pulau Flores.

Sambutan yang meriah dengan kedua tangan terbuka, senyum lebar dan teriakan kegembiraan, menyambut kami dan memanggil kami sebagai dokter Fransiscus. Maklum saja, semua orang di Flores dengan nama permandian Katolik Santo Fransiscus Xaverius seperti kami, ataupun Santo Fransiscus yang lain, pasti akan disapa dengan panggilan Fransiscus, Frans, atau Franky. Beliau mengungkapkan kegembiraannya, karena direksi RS memohon bantuan tenaga dokter keada pemerintah sudah sejak lama, tetapi belum dapat dikabulkan, dengan alasan tenaga dokter pemerintah masih diperlukan di fasilitas kesehatan milik pemerintah.

Sejak siang itu, kami digembleng sebagai dokter klinisi di RS, sebuah profesi yang kami ragukan sendiri akan berhasil, terkait kompetensi diri yang sangat terbatas. Kami mendapatkan bimbingan langsung oleh Suster Dokter, baik dalam tatalaksana penyakit non bedah, tindakan operatif, maupun pengaturan jadwal jaga dokter, karena di RS tersebut juga sudah ada Dr. Kartono. Dalam ketiga bidang tersebut kami memiliki pengalaman sangat mengesankan tentang pribadi Suster Dokter.

Pada tatalaksana penyakit pasien yang bersifat non bedah, Suster Dokter membimbing kami dalam mengenali pasien TBC aktif, kusta, malaria, diare akut dan resusitasi bayi baru lahir. Semuanya memiliki karakter penyakit yang khusus, sehingga saat pasien masih berdiri di depan pintu ruang praktek saja, Suster Dokter sudah dapat menyusun diagnosis kerja yang sangat jarang meleset, dibandingkan dengan diagnosis akhirnya. Tidak hanya terkait diagnosis penyakit itu saja, tetapi juga menyangkut harapan kesembuhan (prognosis) dan kemungkinan kekambuhan (relaps), yang juga relatif tepat.

Pada bidang tindakan operatif, kami dilibatkan, dimbimbing dan akhirnya dilepaskan untuk melakukan berbagai jenis operasi, dari yang bersifat ringan, menengah dan besar. Operasi ringan pertama adalah pengambilan kuku (nail extraction) sampai benjolan lemak (lipoma exicion) di wajah. Operasi sedang pertama adalah pengambilan usus buntu sederhana (simple appendintomy) sampai koreksi ketedun pada pasien lansia (hernioraphy). Operasi besar pertama adalah sesar terencana (elective caesar) sampai pembukaan perut dan penyambungan usus (laparotomy with end to end anastomosis).

Operasi yang paling mengesankan adalah penyambungan tulang paha (ORIF Femur), sesar darurat (emergency caesar), pengambilan kelenjar gondok dengan anastesi lokal (strumectomy), pengambilan kelenjar prostat (open prostatektomy), pengambilan batu ureter lewat perut (peritoneal uretherotomy), dan pembukaan anus bayi (correction of atresia ani lower side). Semua tindakan operasi tersebut dilakukan oleh Suster Dokter dengan sangat terampil, baik sebagai dokter umum yang setiap 8 bulan mengikuti kursus di Jerman dan Belgia, maupun sebagai mentor bagi kami. Tentu saja, mengajarkan teknis operasi kepada seorang dokter umum yunior seperti kami, pasti memerlukan ketrampilan, semangat dan kesabaran ekstra besar, yang ternyata dimiliki oleh Suster Dokter dengan hampir sempurna. Bukti keberhasilan proses mentoring untuk kami, adalah saat kami sendiri mampu mandiri untuk melakukan hampir semua teknik oparasi yang diajarkan, selain strumectomy dengan anestesi lokal.

Pada aspek manajemen RS, termasuk pengaturan jadwal jaga dokter, Suster Dokter mengajari kami secara bertahap. Aspek pengaturan asuransi pasien, pengelolaan perbekalan obat dan alkes, juga kaderisasi tenaga perawat terampil sesuai unit kerja, semuanya diajarkan dan didiskusikan bersama. Suster Dokter selalu mengijinkan kami untuk pesiar, sebuah istilah untuk menggambarkan aktivitas jalan-jalan pergi ke kota, pada setiap hari libur dan tanggal merah, meskipun kami terjadwal dinas jaga, asalkan Suster Dokter tidak ada tugas keluar RS. Bahkan Suster Dokter cukup sering memintakan ijin bagi kami untuk meminjam mobil dinas RS sebagai sarana jalan-jalan, setelah kami memiliki satu anak.

Yudhistira Yasanusaraharja Indrarto, anak sulung kami yang lahir pada hari Kamis, 22 Januari 1993 di RS St Elisabeth Lela, Maumere dan kami tolong sendiri, diberikan nama permandian Erwin, oleh Suster Dokter. Beliau menyatakan sangat menyesal, karena waktu kelahiran anak kami tiba, beliau sedang bertugas sebagai pejabat biara di Seminari Hokeng, Flores Timur. Rasa sayangnya kepada Yudhi, panggilan anak sulung kami, ditunjukkan dengan banyak hal, termasuk kehendaknya agar Yudhi memanggilnya dengan sebutan Nenek Suster. Kedekatan Yudhi dengan Nenek Suster terakhir terlihat, saat kami sekeluarga bernostalgia ke Flores yang cantik dan menginap di Biara Suster SpSS Ende pada hari Sabtu, 26 Juni 2010. Keduanya terlibat teriakan hebat pada dini hari, saat menonton bersama (nobar) siaran langsung di TV, putaran kedua Final Sepak Bola FIFA Piala Dunia 2010.

Kontak kami terakhir adalah melalui email dengan Suster Dokter, setelah kami bertemu dan berkenalan dengan Sr. Maria Caridad, SSpS, di kapel Pink Sister dan Rumah Retret dan Pusat Pelayanan Konggregasi Roh Kudus (SpSS) di Tagaytay City, sekitar 60 km dari ibukota Filipina, Manila, pada Rabu sore 11 Januari 2012. Selain itu, juga saat kami mampir di Del Pilar Academy di Kota Imus, tidak jauh dari Tagatay City dan mencari Mrs. Tessie Cruz, seorang ipar Sr. Dr. Conchita Cruz, SpSS, yang bekerja di bagian administrasi sekolah tersebut.

Pada saat Suster Dokter menghadap Sang Pencipta, Yudhi sedang menjalankan tugas sebagai dokter baru dalam Program Internship Dokter Indonesia (PIDI) di RS Bhayangkara Polda NTT di Kupang. Selain itu, kami juga sedang mengikuti ‘The 16th Annual World Congress on Pediatrics’, sebuah konggres dokter spesialis anak sedunia di Hilton New York JFK Airport Hotel, 5144-02 135th Avenue, Jamaica, New York 11436 USA. Namun demikian, kami sekeluarga dan kita semua tetap merasa sangat berduka cita secara mendalam, atas kepulangan yang abadi Suster Dokter. Tentu saja, kami sangat menyesal tidak dapat ikut melayat dan menghantarkannya pada pemberhentian terakhir di Biara Suster SpSS di Kewapante, sedikit di luar kota Maumere, Flores NTT.

Marilah kita kenangkan, semua jasa baik Suster Dokter bagi kami pribadi, sekeluarga, maupun kita semua, dengan permohonan agar arwahnya dapat beristirahat dengan tenang, damai, dan kekal di rumah Bapa Sang Pencipta. Selamat jalan Sr. Dr Conchita Cruz, SpSS. Terimakasih atas semua jasa baik Suster Dokter yang telah kami rasakan dan mohon maaf atas kesalahan yang telah kami lakukan waktu itu.

Sekian

Ditulis dalam laju Train 93 milik Amtrax dari Pennsylvania Station di New York, menuju Union Station di Washington, DC di USA pada hari Kamis, 22 Maret 2018 pk. 14.10

*) dokter umum di RS St. Elisabeth Lela, Maumere, Flores, NTT 1992-1995.

Categories
Healthy Life Jalan-jalan

2024 Antara Lembang dan Bandung

ANTARA  LEMBANG  DAN BANDUNG, ADA GOTRAH MANGUNDIHARJO,

fx. wikan indrarto

Keluarga besar (gotrah) Simbah Mangundiharjo secara rutin mengadakan pertemuan setiap tahun, yaitu pada hari ke 4 Lebaran Idul Fitri. Sejak selesai pandemi COVID-19, pertemuan diubah tidak lagi pada saat liburan Lebaran, karena sering membuat banyak peserta terlambat datang atau kelelahan yang sangat, terkait terjebak dalam padatnya arus lalu lintas. Pada 2024 ini, pertemuan Gotrah Mangundiharjo diselenggaraan di antara Lembang dan Bandung, pada liburan ‘long weekend’ Hari Maulud Nabi Muhammad SAW. Apa yang menarik?

Bis milik SMK Muhamadiyah Prambanan Sleman buatan Karoseri Piala Mas dari Singosari Malang, yang selintas serupa dengan body Jetbus 2+ Adi Putro yang juga dari Malang, bernomor polisi AB 7392 UA dengan dapur pacu Isuzu ELF NQR 71B, siap berangkat.

Simbah Kakung (kakek) Mangundiharjo berprofesi sebagai pembuat blangkon (tutup kepala tradisional pria Jawa) gaya Ngayogyokarto dan berasal dari Kotagede, Yogyakarta, sedangkan Simbah Putri (nenek) berprofesi sebagai penjual kain jarit dan slendang (busana tradisional wanita Jawa) di beberapa pasar, yang berasal dari Salaman, sebuah kecamatan di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Simbah Mangundiharjo memiliki 14 anak dan tinggal di Salaman yang terletak sekitar 17 km di sebelah baratdaya Kota Magelang atau 50 km dari Yogyakarta. Kami adalah anak kedua dari almarhum Bapak Heribertus Sukiman Tondodarsono, anak ke 9 Simbah Mangundiharjo, yang sewaktu kecil tinggal di rumah peninggalan Simbah Mangundiharjo di Salaman. Kebesaran Salaman adalah sebagai bekas ibu kota Eks Kawedanan Salaman, yang meliputi Kecamatan Salaman, Kecamatan Borobudur, Kecamatan Tempuran dan Kecamatan Kajoran, di Kabupaten Magelang.

Pada Sabtu siang, 14 September 2024 rombongan keluarga Simbah Mangundiharjo berangkat ke Bandung menggunakan bis, yang bermula dari penumpang pertama Mas Suyanto dan istrinya mbak Dewi, anak ketiga dari almarhum Budhe Mulyodiharjo, anak ke 5 Simbah Mangundiharjo. Setelah rombongan kami (mbak Sally, dik Laksita, mas Mahendra dan mas Iwan) naik bis di depan Kantor Pajak Pratama Sleman, seberang Perumahan Cassa Grande di ring road utara Yogyakarta, bis segara menjemput dik Hersanti dan dik Ugah sekeluarga, anak kedua dan ketiga almarhum Bulik Daliyah, anak ke 11 Simbah Mangundiharjo, yang naik dari Jalan Kaliurang. Lanjut kami menemui dik Tavip Sukarno, anak sulung almarhum Bulik Sutiyah, anak ke 10 Simbah Mangundiharjo. Dik Tavip yang sedang dalam pemulihan gangguan ginjal, saraf dan tekanan darah, nampak bahagia sekali saat kami hampiri, meski hanya mampu duduk di kursi Honda City hitam yang terparkir di SPBU Mendut, sebelum kami mencapai Candi Borobudur. Setelah saling menguatkan dan berfoto bersama, kami segera melanjutkan perjalanan.

Dik Tavip Sukarno yang sedang dalam masa pemulihan dari sakit, kami temui di SPBU Mendut, Borobudur, sebalum kami berangkat ke Bandung

Rombongan bis segara meluncur ke pusat pemerintahan Kecamatan Salaman yang berada di Desa Salaman. Saat ini Kecamatan Salaman sudah terhitung sebagai sentra bibit buah hortikultura, terutama rambutan dan mangga, yang menjangkau lingkup regional dan nasional. Kami melewati Desa Menoreh yang merupakan sentral grubi Magelang, sebuah menu lokal dari ketela, dilumuri gula Jawa yang manis dan renyah. Akhirnya kami menjangkau Tugu Bunderan Salaman, sebuah persimpangan jalan yang menghubungkan wilayah Kota Magelang, Purworejo dan Borobudur.  

Saat memasuki teritorial Salaman, kami membayangkan berbagai tempat menarik, misalnya Masjid Langgar Agung yang pernah digunakan oleh Pangeran Diponegoro di Desa Menoreh, Cagar Budaya Plengkung Pitu di Desa Menoreh, Makam Kyai Nur Muhammad di Desa Ngadirejo, Lapangan Tembak Latihan Taruna Militer AKMIL di Desa Ngadirejo, sisa kemegahan Pabrik Tepung Tapioka di Desa Ngadirejo, Gunung Kukusan di Desa Ngargoretno, Wisata Alam Marmer di Desa Ngargoretno dan Gunung Banyak Angkrem di Desa Kalirejo. Juga makanan khas Salaman, berupa Wajik Week, makanan dari beras ketan yang terkenal sejak tahun 1939.

Akhirnya kami sampai di rumah peninggalan Simbah Mangundiharjo di Salaman, yang saat ini ditempati oleh Bulik Sunariyah (81 tahun) sendirian, anak bungsu (ke 14) Simbah Mangundiharjo. Kami segera bergegas menuju ke Sapuran, di Kabupaten Wonosobo, melewati pertigaan Maron di Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, dengan didahului memberikan peneguhan agar Pak Sapto sopir utama bis, berani melalui medan terjal berliku, yang sebelumnya menolak.

Kecamatan Sapuran berjarak 18 km dari pusat Kabupaten Wonosobo dan 122 km dari pusat Provinsi Jawa Tengah, berada pada ketinggian berkisar 641 m sampai 1.443 m di atas permukaan laut (mdpl). Pada masa perang Diponegoro (1825-1830), prajurit Wonosobo merupakan salah satu barisan pertahanan pasukan pendukung Pangeran Diponegoro, terutama yang berasal pada sepanjang jalan dari Purworejo, Kepil dan Sapuran sampai kota Wonosobo. Tokoh penting yang mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro adalah Imam Misbach, yang kemudian dikenal dengan nama Tumenggung Kerto Sinuwun, Mas Lurah atau Tumenggung Mangkunegoro, Gajah Pemerintah dan Kyai Muhammad Ngarpah.

Seiring dengan berjalannya perjuangan Pangeran Diponegoro di sepanjang jalan antara Purworejo-Wonosobo, para pasukan mendirikan atau membuat pemukiman penduduk di tengah hutan, yang dijadikan pusat pemerintahan wilayah Wonosobo bagian timur. Hingga akhirnya wilayah tersebut menjadi Kecamatan Sapuran, yang kami tempuh dengan bis kami yang menyusuri jalan berliku, naik turun, menembus hutan dan memiliki kenangan bersejarah tersebut, dengan penuh antusias sambil membayangkan perjuangan Pangeran Diponegoro.

Setelah melalui rute yang sama dengan saat kami kelas 4 SD dahulu, yaitu saat kami melewati jalan berliku tersebut waktu itu masih banyak monyet yang menyeberang jalan, kami mencapai Pasar Sapuran. Rencana untuk bertemu dengan keluarga mas Badi dan beberapa saudara kami keturunan Budhe Harjodiwirjo, anak ke 3 Simbah Mangundiharjo di depan Pasar Sapuran, ternyata tidak terwujud karena kesibukannya. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Wonosobo yang berdasarkan cerita rakyat, pada awal abad ke-17 dilewati 3 orang pengelana, yaitu Kiai Kolodete, Kiai Karim dan Kiai Walik, yang mulai merintis sebuah permukiman yang saat ini bernama Wonosobo. Selanjutnya, Kiai Kolodete bermukim di Dataran Tinggi Dieng, Kiai Karim bermukim di daerah Kalibeber dan Kiai Walik bermukim di sekitar Kota Wonosobo sekarang.

Kabupaten Wonosobo berdiri pada 24 Juli 1825 sebagai kabupaten di bawah Kesultanan Yogyakarta, seusai pertempuran dalam Perang Diponegoro. Kata Wonosobo berasal dari Bahasa Jawa: Wanasaba, yang secara harfiah berarti “tempat berkumpul di hutan”. Bahasa Jawa sendiri mengambilnya dari Bahasa Sanskerta: vanasabhā yang artinya kurang lebih sama. Kedua kata ini juga dikenal sebagai dua kata pada buku Mahabharata, yaitu “Sabhaparwa” dan “Wanaparwa”.

Dalam pertempuran melawan VOC Belanda, Kiai Muhamad Ngarpah berhasil memperoleh kemenangan yang pertama. Atas keberhasilan itu, Pangeran Diponegoro memberikan nama baru Kiai Muhamad Ngarpah menjadi Tumenggung Setjonegoro dan diangkat sebagai penguasa Ledok Wonosobo, teritorial peninggalan Kiai Walik. Setjonegoro adalah bupati yang memindahkan pusat kekuasaan dari Selomerto ke daerah Kota Wonosobo saat ini.

Setelah Om Fx Sukirlan (87 tahun) anak ke 13 Simbah Mangundiharjo, Mbak Fatimah menantu Budhe Mulyodiharjo anak ke 5 Simbah Mangundiharjo dan beberapa keluarga keturunan Budhe Surtinah, anak ke 8 Simbah Mangundiharjo naik bis dari kota Wonosobo, kami segera meluncur ke Bandung. Perjalanan malam itu kami isi dengan ngobrol, ngemil dan ‘ngenyek’ (saling ejek antar saudara saking akrabnya) saat melewati kota Banjarnegara, Purwokerto, Ajibarang dan Bumiayu, sampai akhirnya kami terlelap. Saking nyenyaknya tidur, kami sampai kaget saat tahu bis tersesat masuk ke areal persawahan dengan jalan kecil penuh cabang di Kabupaten Brebes, seturut nasehat googlemaps. Tidak jelas apakah ada salah input data, tetapi nasehat mbak Google membuat kami kehabisan waktu di jalan, apalagi Pak Sapto, sang sopir utama hanya mempu menjalankan bis dengan kecepatan rata-rata 40 km per jam, dengan alasan yang tidak terlihat dalam diskripsi ulasan di media sosialnya.

Perjalanan malam itu kami isi dengan ngobrol, ngemil dan ‘ngenyek’ dalam bis menuju Bandung

Bis kami milik SMK Muhamadiyah Prambanan Sleman DIY buatan Karoseri Piala Mas dari Singosari Malang yang selintas serupa dengan body Jetbus 2+ Adi Putro yang juga dari Malang, bernomor polisi AB 7392 UA dengan dapur pacu Isuzu ELF NQR 71B, dilengkapi sistem injeksi bahan bakar SOHC, Direct Injection 4 Cylinders dengan isi silinder 4,570 (cc). Bis ini sebenarnya memiliki tenaga maksimum 125 / 2,900 (PS/rpm) dan torsi maksimum 35 / 1,200 – 2,200 (Kgm/rpm). Entah bagaimana, kecepatan yang dikeluarkan saat pak Sapto menjelang mengantuk hanya 40 km/jam. Bis medium yang kami naiki memiliki panjang keseluruhan 7.445 mm, Lebar 2.100 mm, dan  Tinggi 1.630 mm. Akhirnya kami masuk Tol Trans Jawa melalui Gerbang Tol Pejagan di Kabupaten Cirebon. Setelah pindah tol dan masuk Tol Cisumdawu (Ciulengsi, Sumedang dan Dawuan) yang menanjak sangat panjang, kami masuk ke terowongan kembar yang menjadi ciri khas tol ini. Tak banyak yang tahu, Twin Tunnel di tol Cisumdawu ini merupakan terowongan pertama yang berada di badan jalan tol dan merupakan yang terpanjang di Indonesia dengan panjang 472 meter.

Dalam pembangunannya, Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga melalui Balai Geoteknik Terowongan dan Struktur (BGTS), mampu menyelesaikan pembangunan Twin Tunnel ini di tol sepanjang 61, 6 Kilometer. Pembangunan terowongan kembar dengan konsep yang unik seperti ini, tak lepas dari karakteristik topografi daerah tol yang memiliki pegunungan dan bukit.

Terowongan kembar di tol Cisumdawu yang kami masuki, sangat ikonik

Akhirnya kami berhasil memasuki Kota Bandung dengan keterlambatan 3 jam dari estimasi, yang disusun oleh mas Mahendra. Generasi ke 3 ini adalah salah satu cicit Simbah Mangundiharjo dari keturuanan Bude Surtinah, yang penuh semangat menjadi ‘tour leader’ kami, untuk mendapatkan sebuah portofolio pribadi. Mas Mahendra sedang menempuh studi pariwisata program sarjana terapan, di sekolah vokasi UGM Yogyakarta.

Minggu pagi, 15 September 2024, kami langsung menikmati suguhan pertama acara Gotrah Mangundiharjo, yaitu wisata edukasi. Kami menuju ke Edutainment Dirgantara Indonesia atau Museum Dirgantara Bandung, yaitu lokasi wisata edukasi yang berada di Bandara Internasional Husein Sastranegara, Bandung dan dikelola oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Edutainment Dirgantara Indonesia atau Museum Dirgantara Bandung, yaitu lokasi wisata edukasi yang berada di Bandara Internasional Husein Sastranegara, Bandung

PTDI di Bandung yang kami kunjungi saat ini menjadi satu-satunya industri pesawat terbang di Asia Tenggara.

Pesawat N250-100 kebanggaan PT Dirgantara Indonesia di Bandung.

Kami yang masih terkagum dan tidak dapat beranjak dari landasan, malah jadi jongkok semua, karena pesawat N250-100 yang menjadi kebanggaan PT Dirgantara Indonesia di Bandung, memang luar biasa.

Areal wisata ini memfasilitasi masyarakat maupun pelajar, termasuk keluarga besar Simbah Mangundiharjo, untuk memahami tentang industri pesawat terbang. Adapun beberapa daya tarik Museum Dirgantara Bandung yang kami kagumi adalah  Mock Up Pesawat, karena kami dapat berfoto sekaligus melihat-lihat berbagai mock up atau bentuk yang sesungguhnya, mulai dari pesawat, roket, rudal, hingga produk-produk dirgantara karya anak perusahaan PTDI. Selain itu, kami juga menikmati koleksi pesawat Buatan Anak Bangsa di hanggar milik PTDI produksi Indonesia. Kami menikmati kegagahan pesawat jenis N250 Gatotkaca, NC212i, CN235, N219 Nurtanio, KFIF sebuah pesawat tempur kerjabareng dengan Korea Selatan, UAV MALE yang merupakan drone militer, dan berbagai varian helikopter, yang bersejarah dan menggambaran kehebatan putera bangsa Indonesia dalam bidang kedirgantaraan.

Mock Up (bentuk asli) Pesawat CN235 pesawat Buatan Anak Bangsa di hanggar milik PTDI Bandung, asli produksi Indonesia.

Perjalanan wisata edukasi berupa ‘Factory Tour’, kami mulai dari Pos 1 PTDI dekat DI Runway 29 Café, ruang terbuka hijau di area dekat landas pacu Bandara Husein Sastranegara. Selanjutnya kami diajak berkeliling area eduwisata, yang biasanya menggunakan Bis Bandros milik Pemkot Bandung, Bis BARATA milik Pemkab Bandung Barat, atau Bis Si Jalak Harupat, milik Dishub Jawa Barat, tetapi karena saat itu sedang digunakan untuk karnaval HUT ke 214 Kota Bandung, maka kami menggunakan bis Sakoci (Saba Kota Cimahi) selama sekitar 45 menit.

Mock Up (bentuk asli) ekor Pesawat CN235

Dalam Factory Tour, para pengunjung didampingi seorang pemandu dari PTDI yang menjelaskan seluk beluk industri penerbangan Indonesia. Bis Sakoci (Saba Kota Cimahi) memiliki desain khusus seperti angkutan wisata dengan jendela dan bagian belakang terbuka lebar yang memaksimalkan pandangan selama perjalanan. Bis Sakoci memiliki bangku untuk 24 penumpang, basisnya Hino Dutro 130 HD Diesel berkapasitas 4009 cc dengan transmisi manual, memiliki panjang 747 cm, tinggi 315 cm, dan lebar 210 cm.

Setelah selesai Factory Tour, kami langsung sarapan nasi dos yang terlambat kami santap, karena kami justru baru sampai di lokasi Factory Tour, sudah mepet sekali dengan jadwal keberangkatan yang telah dipesan yaitu pk. 08.30. Segera kami sarapan cepat, meski tanpa sendok yang kelupaan disertakan dalam dos, kami segera bergegas menuju acara kedua, yaitu wisata kuliner di Warung Sayur Lodeh Lembang, yang menempati bangunan restoran yang sederhana dengan area tempat duduk yang begitu luas. Restoran ini didesain dengan sangat khas seperti bangunan joglo tradisional Yogyakarta. Areanya didominasi dengan sentuhan kayu klasik, ditambah pilar-pilar bangunan yang dibalut dengan batik Indonesia yang ciamik.

Benar-benar terasa tradisionalnya. Apalagi restoran ini mengusung konsep prasmanan, sehingga dapat mengambil menu lauk-pauk dan sayur sesuai keinginan dan selera masing-masing. Seperti namanya, menu andalan di sini ada sayur lodeh dengan tiga kreasi, yakni sayur lodeh tempe, tahu, dan terong. Sayur lodeh ini identik dengan menu rumahan sebagian besar keluarga Indonesia. Hidangan sehat berbahan dasar aneka sayuran ini, dapat dikreasikan dengan bahan utama dan pelengkap. Akibat slogannya “19.000 makan sepuasnya”, Warung Lodeh Lembang ini menjadi hits dan viral. Tentu saja selain mengenyangkan, makan dengan aneka sayur yang disediakan juga menyehatkan tubuh kami. Tidak hanya bebas refill menu sayur lodeh, kami juga mendapatkan gratis ambil sendiri kerupuk dan teh sebagai minumannya.

Akibat slogannya “19.000 makan sepuasnya”, Warung Lodeh di Lembang ini menjadi hits dan viral.

Setelah kenyang dan hampir mengantuk karena sayur lodeh yang lezat, kami berpisah dengan rombongan. Kami bertiga dengan dik Larasati (anak bungsu) yang sedang menjalani rotasi klinik Bagian Penyakit Dalam di FK UKM RS Emmanuel Bandung, segera turun sedangkan bis dan rombongan lainnya bergegas naik. Mereka naik ke Floating Market di Jl. Grand Hotel No. 33 E, Lembang yang sejak dibuka pada 2012 silam, langsung mencuri perhatian masyarakat, terutama para wisatawan yang sedang berlibur di Bandung, dan selalu dipadati pengunjung. Daya tarik utama dari Floating Market Lembang adalah terdapat pasar apung yang menjual berbagai jenis makanan, jajanan lokal, hingga souvenir. Uniknya, para pedagang menjajakan dagangan mereka dari atas kapal kecil yang telah disediakan pengelola.

Para joagoan Mangundiharjo di Gerbang Floating Market di Jl. Grand Hotel No. 33 E, Lembang yang dibuka pada 2012 silam.

Kami justru berniat turun menempuh jalan berliku yang menurun tajam antara Lembang dan Bandung. Sayang sekali, transportasi on line sangat sulit kami dapatkan, baik karena jaringan internet yang kurang kuat, arus lalu lintas yang sangat padat, ataupun para driver online yang gamang mengambil penumpang di areal Lembang. Akhirnya kami memutuskan untuk naik angkot jurusan Lembang ke Stasiun Hall Bandung. Untunglah jalanan yang turun sepi kendaraan, sehingga angkot kami, sebuah Mitsubishi L300 buatan tahun 2009 yang bodinya sudah banyak berkarat, tetap membuat kami sempat terlelap, sebelum kami turun di per3an Gegerkalong.

Menikmati angkot jurusan Lembang ke Stasiun Hall, sebuah Mitsubishi L300 buatan tahun 2009, karena transportasi on line sedang banyak kendala terkait lonjakan pemesan.

Minggu sore, 15 September 2024, kami melanjutkan kegiatan bertiga dengan wisata religi di gereja Katolik Paroki Santo Laurentius Jl. Gegerkalong, Sukasari, Bandung. Pada 1 Maret 1987 dilaksanakan pemberkatan atas gedung gereja ini oleh Uskup Bandung Mgr. Alexander Djajasiswaja. Gereja ini berkapasitas ±500 umat, berbentuk setengah tumpeng, dilengkapi Gua Maria dan kolumbarium, untuk menyimpan abu jenazah umat. Bentuk kolumbariumnya adalah kotak-kotak besi yang ditempelkan di tembok sisi luar gereja, di belakang altar. Gereja ini dipimpin oleh para pastor dari ordo OSC (Ordo Salib Suci).

Hari itu kebetulan sekali tepat dirayakan sebagai Pesta Wajib Santa Helena dari Salib Suci. Santa Helena adalah ibu kandung Kaisar Konstantinus Agung. Helena pada awalnya hanyalah anak dari seorang penjaga penginapan. Ketika masih muda, ia bertemu dengan seorang jenderal Romawi dan mereka menikah. Anak dari perkawinan mereka bernama Konstantinus. Beberapa tahun kemudian, jenderal Romawi tersebut ditunjuk sebagai kaisar sehingga menceraikan Helena dengan alasan politis, yakni supaya bisa mengawini puteri kaisar terdahulu. Helena menjadi orang biasa lagi. Tiga belas tahun kemudian, Konstantinus, anak Helena, menjadi kaisar menggantikan ayahnya. Ia mengharuskan setiap orang Romawi menghormati Helena, sehingga wajah Helena dicetak pada mata uang koin Romawi.

Sebelum mengikuti misa kudus hari Minggu sore di gereja Katolik Paroki Santo Laurentius Bandung, yang diresmikan oleh Uskup Bandung Mgr. Alexander Djajasiswaja 1 Maret 1987.

Ketika Konstantinus mengakui agama katholik di seluruh kekaisaran Romawi, Helena mulai mempelajari ajaran agama katholik dan memutuskan untuk memeluk agamanya. Setelah itu, ia bekerja demi gereja dan menjelajahi kawasan Palestina untuk membangun banyak gereja. Ia terkenal karena keramahannya kepada para tawanan, tentara, dan kaum miskin. Ia wafat pada tahun 330 dalam usia sekitar 80 tahun. Dalam tradisi Gereja Katholik perdana, St. Helena sering digambarkan memeluk sebuah salib, oleh sebab Helena merupakan orang yang menemukan relikui Salib Sejati (yang dianggap sebagai bagian dari salib Yesus Kristus yang asli) di Yerusalem.

Setelah selesai mengikuti misa kudus di gereja St. Laurensius Gegerkalong Bandung, kami bertiga segera berpencar memesan trasportasi online berupa motor, bukan mobil karena sering di-cancel terkait kemacetan lalu lintas, untuk bergabung dengan rombongan. Pada Minggu malam 15 September 2024, kami memasuki Private Family Villa, yang terletak di dekat Rumah Sosis di Jl. Setiabudi 384 Bandung, sekitar 8 km dari pusat kota Bandung. Setelah makan malam bersama, acara Gotrah Mangundijarjo atau pertemuan segenap anak, cucu dan cicit Simbah Mangundiharjo diselenggarakan oleh tuan rumah, keluarga Pakde Evaristus Willis Legiono, anak ke 4 Simbah Mangundiharjo.

Keluarga besar almarhum Budhe Surtinah, anak ke 8 Simbah Mangundiharjo yang kompak berkemeja putih dan hitam, dengan generasi pertama Gotrah Mangundiharjo yang masih dapat hadir.

Setelah sesi perkenalan anggota baru dan foto bersama segenap peserta, segera kami larut dalam nostalgia Mangundiharjo. Om Fx Sukirlan, Budhe Evaristus Wilis Legiono, Bulik Nariyah (semuanya generasi pertama) dan mbak Fatimah Subagyo (generasi kedua yang paling senior) duduk di kursi untuk berbagi kenangan, sedangkan kami semua duduk lesehan di depannya. Dengan 13 anak dalam periode revolusi kemerdekaan Indonesia, kedua Simbah Mangundiharjo bekerja keras menghidupi semua anaknya, sampai semuanya berhasil baik menjadi manusia yang membanggakan keluarga.

Suasana pertemuan Gotrah Mangundiharjo 2024

Di situlah prakarsa bapak kami, Heri Sukiman (anak ke 9 Mangundiharjo) dan pakde EW Legiono (anak ke 5 Mangundiharjo) dalam mempertahankan tali ikatan keluarga besar, dalam bentuk pertemuan Gotrah Mangundiharjo setiap tahun, perlu diteruskan. Juga semangat, kerja keras, dan dedikasi tanpa henti orangtua demi kesuksesan anak cucunya layak diapresiasi. ‘Kamulyaning anak soko rekasaning wong tuwo. Kamulyaning wong tuwo, soko nyawang anakke’ atau ‘kesuksesan anak buah dari keprihatinan dan kerja keras orangtua. Kebahagiaan orangtua sekedar melihat keberhasilan anak’. Semboyan tersebut terus kami pertahankan dalam keluarga besar Simbah Mangundiharjo. Malam itu kami terlelap dalam kebahagiaan keluarga besar Simbah Mangundiharjo, di semua kamar pada ke 2 lantai Private Family Villa di Jl. Setiabudi 384 Bandung.

Om Fx Sukirlan, Budhe Evaristus Wilis Legiono, Bulik Nariyah (semuanya generasi pertama) dan mbak Fatimah Subagyo (generasi kedua yang paling senior) duduk di kursi untuk berbagi kenangan, sedangkan kami semua duduk lesehan di depannya.

‘Kamulyaning anak soko rekasaning wong tuwo. Kamulyaning wong tuwo, soko nyawang anakke’ atau ‘kesuksesan anak buah dari keprihatinan dan kerja keras orangtua. Kebahagiaan orangtua sekedar melihat keberhasilan anak’. Semboyan tersebut yang dijelaskan oleh Om Fx Sukirlan terus kami pertahankan dalam keluarga besar Simbah Mangundiharjo.

Generasi pertama Gotrah Mangundiharjo yang kita hormati bersama

Peserta lengkap pada malam hari pertemuan Gotrah Mangundiharjo 2024 di Bandung

Beda-beda gaya, gaya-gaya semua peserta lengkap pada malam hari pertemuan Gotrah Mangundiharjo 2024 di Bandung

Keluarga almarhumah Budhe Dalinah Mulyodiharjo, anak ke 4 Simbah Mangundiharjo

Keluarga almarhumah Pakde Wagiyo Kebumen, anak ke 5 Simbah Mangundiharjo

Keluarga besar almarhumah pakde Evaristus Wilis Legiono, anak ke 6 Simbah Mangundiharjo, sebagai tuan rumah yang hebat untuk acara Gotrah Mangundiharjo 2024 yang sukses luar biasa.

Keluarga almarhumah Budhe Surtinah, anak ke 7 Simbah Mangundiharjo

Keluarga almarhumah Bulik Sutiyah, anak ke 10 Simbah Mangundiharjo

Keluarga Om Fx. Sukirlan, anak ke 11 Simbah Mangundiharjo

Keluarga almrahumah Bulik Daliyah, anak ke 12 Simbah Mangundiharjo

Keluarga Dadiet Sukarno, calon tuan rumah Gotrah mangundiharjo periode selanjutnya, menerima amanah dari Pakde Suyanto, ketua kelas kita bersama

Senin pagi, 17 September 2024 masih ada adik kami (Bulik Nana) dan suaminya (Om Greg) bungsu keluarga Bapak Sukiman, anak ke 9 Simbah Mangundiharjo yang datang bergabung, tentu menambah sukacita dan kegembiraan semua peserta acara gotrah. Meskipun ada beberapa yang sudah pulang duluan, tetapi sarapan dan foto bersama sebelum pamit pulang lebih mengesankan dengan kehadiran William Febuana (pacar dik Larasati, anak bungsu kami), yang datang langsung dari Jepara Jawa Tengah, bermobil sendrian selama 8 jam perjalanan melibas tol Trans Jawa.

Bulik Wara Pradnastuti sebagai dirigen paduan foto bersama peserta Gotrah Mangundiharjo 2024.

Peserta Gotrah Mangundiharjo 2024 di antara Lembang dan Bandung, sebelum pulang ke rumah masing-masing Private Family Villa, yang terletak di dekat Rumah Sosis di Jl. Setiabudi 384 Bandung,

Setelah itu kami berpisah lagi. Rombongan bis mengikuti wisata belanja ke Pasar Baru Bandung. Pasar Baru Bandung yang kini disebut dengan Pasar Baru Trade Center merupakan pasar tertua yang ada di Bandung. Lokasinya terletak di Jalan Otto Iskandardinata No. 152, Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Andir, Kota Bandung. Pasar ini telah berdiri pada tahun 1906. Tentu saja pasar ini telah menopang sebagian besar ekonomi masyarakat selama lebih dari 1 abad.

Kami bertiga diantar William Febuana melanjutkan wisata religi dengan mengunjungi Gereja Katedral Bandung, atau Katedral Santo Petrus. Dalam perjalanan ke geraja pagi itu, kami jadi ingat bahwa pada tahun 1806 Raja Louis Napoleon (pangeran Prancis yang menguasai dan menjadi Raja Belanda) mengumumkan undang-undang kebebasan beragama di Negeri Belanda dan jajahannya di seluruh dunia. Gereja Katolik di Nusantara pun dapat berkembang lagi, setelah sebelumnya sempat tertekan hebat oleh dominasi Gereja Protestan yang dianut mayoritas para pimpinan dan warga Belanda. Pada tahun 1807 dibentuklah Prefektur Apostolik Batavia yang meliputi seluruh wilayah Hindia Belanda.

Awal pengembangan misi dari Batavia ke Cirebon dan Priangan dimulai segera setelah imam-imam Jesuit pertama tiba di Batavia. Tidak terlalu lama sesudah  dibangun jalur kereta api Batavia-Bandung pada tahun 1884, dibangunlah Gereja St. Franciscus Regis di Bandung yang diberkati pada tahun 1895, gereja ini kemudian beralih fungsi menjadi gedung pertemuan sosial, sesudah dibangun Gereja St. Petrus. Gereja pertama di kota Bandung ini sekarang sudah tidak ada lagi, karena sudah menjadi bagian dari gedung Bank Indonesia.

Wisata religi di Katedral Santo Petrus Jalan Merdeka, Bandung

Katedral Santo Petrus terletak di Jalan Merdeka, Babakanciamis, Sumurbandung, Bandung. Bangunan ini dirancang oleh Charles Prosper Wolff Schoemaker dan bergaya arsitektur neo-Gothic akhir. Dilihat dari atas, bentuknya menyerupai salib yang simetris. Katedral Santo Petrus mempunyai luas tanah sebesar 2.385 m² dan luas bangunan sebesar 785 m².

Gereja perdana di Bandung adalah Gereja St. Franciscus Regis yang mulai digunakan pada tanggal 16 Juni 1895. Setelah Bandung memperoleh status gemeente (setingkat kotamadya) pada 1906, diputuskan untuk membangun bangunan gereja baru. Pembangunan gereja yang baru dilaksanakan sepanjang tahun 1921, yaitu katedral yang kami kunjungi pagi itu. Katedral Santo Petrus ini lalu diberkati pada 19 Februari 1922 oleh Mgr. Edmundus Luypen, S.J.

Selanjutnya kami menikmati wisata sejarah dengan mengunjungi Gedung Sate, yang merupakan gedung kantor Gubernur Jawa Barat. Gedung ini memiliki ciri khas berupa ornamen tusuk sate pada menara sentralnya, yang telah lama menjadi penanda Kota Bandung yang ikonik, sehingga tidak saja dikenal masyarakat di Jawa Barat, tetapi juga seluruh Indonesia. Lebih lanjut, model bangunan itu dijadikan pertanda bagi beberapa bangunan dan tanda khusus berbagai kota di Jawa Barat, misalnya bentuk gedung bagian depan Stasiun Kereta Api Tasikmalaya.

Bergaya di depan Gedung Sate yang berwarna putih ini hasil karya Arsitektur Ir. J. Gerber dan Dr. Hendrik Petrus Berlage yang mulai dibangun pada tahun 1920

Gedung Sate yang berwarna putih ini mulai dibangun pada tahun 1920 dan masih berdiri kokoh hingga saat ini. Arsitektur Gedung Sate adalah Ir. J. Gerber yang mengadopsi berbagai masukan dari maestro arsitek Belanda Dr. Hendrik Petrus Berlage, sehingga bernuansakan wajah arsitektur tradisional Nusantara. Banyak kalangan arsitek dan ahli bangunan menyatakan Gedung Sate adalah bangunan monumental yang anggun mempesona dengan gaya arsitektur unik mengarah kepada bentuk gaya arsitektur Indo-Eropa (Indo Europeeschen architectuur stijl), sehingga tidak mustahil bila keanggunan Candi Borobudur ikut mewarnai Gedung Sate. Beberapa pendapat tentang megahnya Gedung Sate di antaranya Cor Pashier dan Jan Wittenberg dua arsitek Belanda, yang mengatakan “langgam arsitektur Gedung Sate adalah gaya hasil eksperimen sang arsitek yang mengarah pada bentuk gaya arsitektur Indo-Eropa”.

Setelah selesai berfoto diantara banyak para pelancong dengan maksud serupa, kami segera menyebrang jalan untuk menikmati suasana lapangan Gasibu yang sarat dengan perjalanan sejarah Kota Bandung. Lapangan Gasibu yang sudah ada sejak zaman Hindia Belanda , semula bernama Wilhelmina Plein atau lapangan Wilhelmina yang diambil dari nama Ratu Belanda. Sekitar tahun 1950-an, nama lapangan ini berganti menjadi Lapangan Diponegoro. Dulunya lapangan ini sering digunakan perkumpulan sepak bola Bandung Utara, sehingga masyarakat akhirnya mengenal lapangan ini sebagai Gasibu (Gabungan Sepak Bola Indonesia Bandung Utara).

Bergaya di gerbang Lapangan Gasibu Bandung, yang semula bernama Wilhelmina Plein atau lapangan Wilhelmina, dengan tulisan Tepasna Jawa Barat (teras Jawa Barat).

Setelah itu, kami segera beranjak untuk melanjutkan wisata religi, bergabung dengan rombongan bis setelah selesai wisata belanja dari Pasar Baru, untuk mengunjungi Masjid Raya Al-Jabbar atau yang lebih dikenal dengan Masjid Terapung Gedebage, Bandung. Pembangunan masjid ini sebesar kurang lebih Rp. 1 triliun dari dana APBD, masjid ini mulai dibangun pada tahun 2017 di atas danau buatan dan baru selesai pada tahun 2020.

Masjid Raya Al Jabbar mulai didesain tahun 2015 oleh Ridwan Kamil sebagai Masjid Raya tingkat Pemerintah Daerah Provinsi. Bangunan utama dirancang dengan luas lantai 99 x 99 m2 sesuai angka Asmaul Husna. Arsitektur Masjid Raya Al Jabbar dirancang dari perpaduan arsitektur modern kontemporer dengan aksentuasi masjid Turki, yang dihiasi seni dekoratif khas Jawa Barat. Bangunan utama masjid tidak memisahkan dinding, atap, dan kubah, melainkan hasil peleburan ketiganya menjadi satu bentuk setengah bola raksasa.

Masjid Raya Al Jabbar di Bandung dirancang dari perpaduan arsitektur modern kontemporer dengan aksentuasi masjid Turki, yang dihiasi seni dekoratif khas Jawa Barat.

Ketiga sisi bangunan masjid dikelilingi sebuah danau besar yang, ibarat cermin, merefleksikan masjid menjadi berbentuk bulat utuh. Pada malam sampai dini hari, kerlip tata cahaya menambah keindahan masjid, yang kami nikmati dan dokumentasikan, sambil berusaha terbangun dari tidur nyenyak di dalam kabin bis. Selain keindahan, danau memiliki fungsi penting lain, yaitu sebagai retensi banjir sekaligus penyimpan air. Semua hal tersebut memang direncanakan dengan sangat seksama. Masjid ini diprakarsai pembangunannya oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Peletakan batu pertama masjid ini dilakukan pada tanggal 29 Desember 2017 oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat saat itu, Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar.

Di masa lalu, kawasan Gedebage merupakan sebuah rawa-rawa bekas peninggalan Danau Bandung Purba. Lalu akhir abad ke-19, rawa-rawa ini mulai mengering dan dijadikan area persawahan. Kemudian perusahaan kereta api negara, Staatsspoorwegen membangun jalur kereta api yang menghubungkan Gedebage dan Cicalengka di tengah rawa-rawa ini. Di areal tersebutlah masjid megah yang kami kunjungi pagi itu, dibangun.

Kita juga dapat mengerti bahwa akibat biayanya yang mencapai triliunan, dan sudah terdapatnya sekitar hampir 50.000 masjid di Jawa Barat, kritikan pun ramai datang dari masyarakat yang menganggap dana tersebut akan jauh lebih baik bila dialokasikan untuk pendidikan, menanggulangi kemiskinan, memperbaiki infrastruktur dan gedung-gedung sekolah yang masih banyak yang rusak di provinsi tersebut.

Setelah beristirahat sejenak, tidak sempat ikut sholat dzuhur karena kehabisan waktu perjalanan dari Pasar Baru, rombongan kami segera beranjak pulang ke Jawa Tengah. Setelah sedikit kesulitan mencari Gerbang Tol Ciulenyi dari areal parkir Masjid Al Jabbar Bandung, kami segera makan menu nasi dos yang tetap tanpa sendok lagi, di dalam bis yang melaju kencang memasuki Tol Cisumdawu. Pemandangan terowongan kembar (Twin Tunnel) yang yang merupakan ciri khas tol Cileunyi – Sumedang – Dawuan (Cisumdawu), mampu menarik perhatian kami dan para pengendara yang melintas karena keunikannya.

Sesi foto di rest area 203 tol Cisumdawu, saat kami pulang dari Bandung menuju Weleri.

Keluar dari tol Cisumdawu, kami memutuskan melibas tol Palikanci, dan lanjut ke gerbang tol Weleri Kendal, bukan keluar di Gerbang Tol Pejagan Cirebpn seperti saat kami berangkat. Tujuannya adalah kami akan menikmati dataran tinggi Temanggung, di Kabupaten Temanggung sisi utara terutama Kecamatan Candiroto, yang sangat inspiratif. Bis kami harus berjalan pelan dan penuh kucuran asap hitam knalpotnya, karena jalanan menanjak, menikung dan menanjak lagi, sejak dari Weleri menuju Sukorejo. Kami lanjut menyeberang ke teritorial Kabupaten Temanggung, untuk mengingat bahwa di areal tersebut pada masa pemerintahan Kerajaan Mataram Hindu, kekuasaannya telah melebar sampai di perbatasan Kabupaten Kendal, salah satu di antaranya adalah desa Candiroto. Menurut cerita rakyat lokal pada zaman itu ada seorang yang tidak diketahui asalnya dan mereka membuat sebuah candi di malam hari, kemudian Candi itu diketahui salah satu warga yang sedang menumbuk padi di lesung, sebuah kayu gelondongan yang bercelah. Sebelum sholat subuh warga tersebut mengintai untuk melihat cara membuat Candi, tetapi orang yang membuat Candi tersebut langsung pergi dan kepergian tersebut tidak ada yang tahu sama sekali.

Oleh karena Candi yang dibuat itu belum jadi, maka segenap warga sepakat agar Candi tersebut diratakan saja, dan memberi nama desa tersebut Candirata (yang berasal dari kata Candi yang diratakan). Saat ini Kecamatan Candiroto adalah penghasil kopi terbesar di Temanggung. Di kecamatan ini terletak pula Umbul Jumprit, mata air yang disucikan yang airnya diambil untuk upacara keagamaan umat Buddhisme dan Hindu, termasuk untuk acara Hari Raya Waisak di Candi Borobudur

Perjalanan kami di areal dataran tinggi wilayah Kabupaten Temanggung bagian utara tersebut, malam itu penuh kecemasan, karena cadangan solar di tangki bis semakin menipis. Ada 7 SPBU yang kami masuki, tetapi tidak tersedia bio solar untuk bis kami. Pada hal kami masih harus menaklukkan areal ketinggian di sekitar Situs Candi Liyangan, Purbosari, di Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Dalam situs Liyangan terdapat bukti pemukiman dan peradaban manusia kuno nenek moyang manusia Jawa, dimana ditemukan sebuah punden berundak, talut, latar, kayu, area pertanian, tempat peribadatan, dan sisa bekas pembakaran. Situs Candi Liyangan di dekat jalanan menanjak yang kami lalui malam itu, diperkirakan merupakan pemukiman Hindu sebelum abad ke-10 Masehi.

Untunglah kami mampu menaklukan medan terjal dan penuh sejarah tersebut, untuk mencapai Parakan. Kami lanjut ke Wonosobo menurunkan para penumpang dalam dekapan dingin malam menjelang pergantian hari menjadi Selasa, 17 September 2024. Beruntunglah akhirnya bis kami mendapatkan tambahan bio solar di SPBU ke 10 yang kami masuki, dan semua penumpang dapat diturunkan di dekat rumah masing-masing. Akhirnya kami mampu mendarat di rumah Timoho Yogyakarta pada pk. 4 dini hari.

Terimakasih banyak disampaikan kepada segenap pihak, terutama keluarga budhe E. Wilis Legiono sebagai tuan rumah Gotrah Mangundijarjo 2024. Antara Lembang dan Bandung, telah terrangkum persaudaran, kebahagiaan, dan semangat kehidupan bersama segenap keturunan Simbah Mangundiharjo. Sampai ketemu lagi dalam acara serupa tahun berikutnya.

Selasa malam, 17 September 2024

Salam pengalana

-wikan

DAFTAR  ANGGOTA  GOTRAH  MANGUNDIHARJO

  1. Salimah (almarhum) dan Muchdiyat (almarhum)
    2. Rajiman (almarhum)
    3. Walijah (almarhum) dan Harjo Widarso (almarhum)
    3.1. Murtinah (Almarhum)
    3.1.1. Tri
    3.1.2. Dwi
    3.2. Pardilah (Almarhum)
    3.2.1. Eko Prayitno (Almarhum)
    3.2.1.1. Zamzani Prayoga
    3.2.2. Dwi Iriyanto & Puji Astuti
    3.2.2.1. Dimas Megariyanto
    3.2.2.2. Rizky Megariyanti
    3.3. S. Umi (Saumi) (Almarhum) & Muhammad Salim (almarhum)
    3.3.1. Tutik Aminarti & Dwi Haryanto
    3.3.1.1. Andhi Septian Ardiansyah & Zahrotul Lailatis Sa’adah
    3.3.1.1.1. Harjoena Sakhane Boemi
    3.3.2. Budi Supriyatno (Almarhum)
    3.4. Muhimatun (Almarhum) & Darminto (Almarhum)
    3.4.1. Sugi Mintono (Almarhum) & Karomah
    3.4.1.1. Tiara Auliya Mufidah & Arief Hidayat.
    3.4.1.2. Aditya Bima Pradana
    3.4.1.3. Wildan Hafids Kurnia Mintono
    3.4.1.4. Aditya Noval Mintono
    3.4.2. Puji Amanto (Almarhum) & Novi
    3.4.2.1. Dinda Ayu Aprilia Amanto
    3.5. Siti Anisa (Almarhum)
    3.6. Sujarwati (Almarhum)
    3.6.1. Anna Hidayah (Almarhum)
    3.6.2. Riska Ristyadi & Kustianingsih
    3.6.2.1. Zhafira Dewi Aditya
    3.6.2.2. Ahsan Mahendra Aditya
    3.6.3. Silvia Kristanti & Muhlin Musolin
    3.6.3.1. Sabiq Atqia
    3.6.3.2. Siraj Ali Muttaqin
    3.6.3.3. Saiq Atqa Muhammad
    3.7. Subadi-Sumarlin (Almarhum)
    3.7.1. Krisna Murti
    3.7.1.1. Adnan Maulana Ramdhani
    3.7.1.2. Fauzan Adhima & Meydea Pragivtasari
    3.8. Sri Sumartini & Slamet
    3.8.1. Muh. Anjas
    3.9. Sugeng Riyadi & Suratmi
    3.9.1. Rifa Eka Indarti
    3.9.2. Zulfikar Dwi Azizi (Almarhum)
  1. Dalinah Mulyodiharjo (almarhum) dan Suhodo Mulyodiharjo (almarhum).
    4.1. Subagyo (almarhum) dan Siti Fatimah
    4.1.1. Eka Novianto Nugroho & dr. Widiyati Nurhazanah, SpOG
    4.1.1.1. dr. Lysandra Olivia Prasanti Putri
    4.1.2. Iwan Oktavian Wijonarko & Ayu Astra Barleani (Lea)
    4.1.2.1. Ayu Pradnya Paramesti (Anya)
    4.1.2.2. Bagus Arya Paramadarma (Arya)
    4.1.3. Sally Rachmawati & Sastrahadidjaja Soenardi
    4.1.3.1. Laksita Kirana Candraditya Anindyanari
    4.2. Suyono (almarhum)
    4.3. Suyanto & Dewi Ami M
    4.3.1. Husna Kusumawati N & Rahmat Tri Hidayat.
    4.3.1.1. Anindya Sofia H (Nindy)
    4.3.1.2. Raisa Anindita A (Ica)
    4.3.2. Yusuf Utomo P & Istiqomah Wahyu AS
    4.3.2.1. Arfan Abiyasa Putra (Arfan)

5. Wagiyo Harto Suwignyo & Sumarwiyah
5.1. Yumirati Kartina (Yayuk) & Sadali (almarhum)
5.1.1.Dina Milasari & Agus Darmawan
5.1.1.1.Fathimah
5.1.1.2.Ishaq
5.1.1.3.Utsman
5.1.1.4. Halimah
5.1.1.5. Salimah
5.1.1.6. Khalid Abdurrahman.
5.1.2. Devi Indah Aprilia & Iswandi
5.1.2.1. Bayu Jannatun Na’iem
5.1.2.2. Hasan Muhajid
5.1.2.3. Nayla Aulia Rahma
5.1.2.4. Husein Fadhillah
5.1.2.5. Nahla Alesha.
5.1.2.3. Drajat Setyadi Purnama & Siti Mawar Dani
5.1.2.3.1. Zainab.
5.1.2.4. Yuda Pranata Pamungkas & Uswatun Hasanah
5.1.2.4.1. Raihanah Al Adiibah
5.1.2.4.2. Rummanah An Nafisah.
5.2. Pambudi Widodo (Wiwid) & Hastuti Werdiningsih
5.2.1. Shintarini Budiasih & Joko Budi Santoso
5.2.1.1. Yurim Alfarizqia Haflani.
5.2.2. Rindang Mekarsasi
5.3. Hastuti Martiwi (Tuti)
5.4. Sugeng Supoyo (almarhum) & Kunairoh
5.4.1. Tito Septianto
5.4.1.1. Lilo
5.4.1.2. Ima Kurniasih.
5.4.1.3. Riyan Hidayat.
5.5. Budi Haryono & Nanik Mulyani
5.5.1. Angga Afriadi & Nurlailli Mubarokah
5.5.1.1. Alkha (Muhamad Alkhalivi)
5.5.1.2. Jean (Jeans Indira)
5.5.2. Bagas Budi Satria

  1. Evaristus Wilis Legiono (Almarhum) dan Mien Karmini
    6.1. Sarwadi Budi Pramudianto dan Suminah
    6.1.1. Denys Prayoga Novridiazmanto
    6.1.2. Diska Aprian Dwitama
    6.2. Djatiwi Susi Andrini dan Deni Koesriadi
    6.3. Sandi Herimono Prabowo dan Rida Nurwaridah
    6.3.1. Risya Khairunnisa Prabowo
    6.4. Devi Rahardiono dan Santi Susanti
    6.4.1. Alfiana Nafisa Rahardiono
    6.4.2. Nararya Zaidan Rahardiono
    6.4.1. Adhyasta Prawira Rahardiono
    6.5. Desi Sugiarini dan Ajat Sudrajat
    6.5.1. Putri Maharani
    6.5.2. Muhammad Putra Ramadhan
    6.6. Dita Meihasrini dan Cahyadi Erwin Purnama
    6.6.1. Darryl Surya Adriansyah
  2. (Almarhum) Surtinah & Sugiyono (almarhum).
    7.1. Sugiyarto (alm) dan Dede.
    7.1.1. Ruli
    7.1.2. Yeri.
    7.1.3. Tyus
    7.1.4. Rubi.
    7.2. Sugiyarno dan Ratna
    7.2.1. Dewi & Ronald
    Cucu : 5
    7.3. Hartini
    7.4. Toto dan Roiyah
    7.4.1. Alsa R
    7.5. Agung Nugroho dan Siti  M (almarhumah).
    7.5.1. Septiawan BEN.
    7.5.1.1. cucu
    7.5.2. Mahendra Dwi
    7.5.3. Maulana Sarriaji.
    7.6. Endi Sapto P
    7.7. Widi Santoso

8.(almarhum) Sukilah

9.(Almarhum) Heribertus Sukiman & Yustina Nanik Karsini :
9.1.Ig. Toto Ismintarto & Hastari Soekardi.
9.1.1.Paramesti Widyantari.
9.1.2.Prabandana Raditya.
9.2.Fx. Wikan Indrarto & B Sari Prasetyati.
9.2.1.Erwin Yudhistira Yasanusaraharja Indrarto & Yulia Megasari.
9.2.1.1.Joviel Elazar Indrarto.
9.2.2. Karol Bimoseno Kridolaksono Indrarto (& Nyra Malika)
9.2.3. Agatha Larasati Pangarsaningutami Indrarto (& William Febuana)
9.3. Yosephine Wara Pradnastuti & Greg Sengiman.
9.3.1. Kevin Giovani.
9.3.2. Nicholas Valerian.

10.(almarhum) Sutiyah dan (almarhum) Sukarno
10.1.Tavip Sukarno dan Retno siapa
10.1.1.Aditia
10.2.Dadit & siapa
10.3.Dedi & siapa
10.4.Susanto Prabowo & siapa

11.Fx. Sukirlan & Lucia Darwiyati (almarhum)
11.1.Agustinus Purwaka & B Novita K.
11.1.1.Stk. Wiyar Galih O.
11.1.2.Maria Sekar Gayuh O.
11.2. Gregorius Aditomo & C Mukti P.
11.3. Bernardus Tri Santoso & Winda
11.3.1. Fiorenza (Fio) Alethea Alexandreina
11.3.2. Falenxia (Falen) Adrienna Alexandrea

12.(almarhum) Daliyah & (almarhum) Sungkowo Sunyoto
12.1.Bowo
12.2.Hersanti
12.2.1.Kembar 1
12.2.2.Kembar 1
12.3.Nugraheni & Surono
12.3.1.Vito
12.3.2.Siapa
13.Sunariyah & Isaac Huwae
13.1 Antonius Jati priyambodo

Categories
Healthy Life Jalan-jalan

2024 From Russia with Love

MERAIH (BERUANG)  MERAH

fx. wikan indrarto

Setelah dari Doha, Qatar, petualangan kami selanjutnya adalah mengikuti International Conference on Pediatric Allergy and Immunology (ICPAI), Moskow, Rusia untuk meraih (beruang) merah. Apa yang menarik?

.

Eksistensi beruang di Rusia telah ada sejak zaman kuno. Pada abad pertengahan, orang Slavia memakai beruang jinak dan berkeliling ke seluruh daratan Rusia. Binatang yang mempunyai badan tinggi besar ini dianggap masyarakat Rusia sebagai hewan pintar layaknya anjing. Mereka yakin beruang bukan hewan yang berbahaya apabila mendapatkan didikan yang baik, bahkan beruang mampu menari, melakukan sulap, juga meminta-minta. Akhirnya, mulai tahun 1526 kisah beruang Rusia yang unik tersebut menyebar ke penjuru dunia. Sebutan ‘Beruang Merah’ sebagai representasi ‘Red Army’ dari tentara Rusia. Warna merah di lambang ‘Red Army’ mempunyai arti perjuangan pekerja dalam merenggut kembali setiap keadilan. Petualangan ke Rusia kami lakukan dengan gigih meniru perjuangan Beruang Merah yang tanpa kenal lelah.

Di konter Aeroflot, maskapai penerbangan nasional Rusia, di Bandara Moscow

Kami terbang dari Doha, Qatar selama 5 jam 20 menit ke Moscow dalam perut pesawat Qatar Airways QR 337 sebuah Boeing 787-8 (Dreamliner), yaitu pesawat penumpang sipil berbadan lebar ukuran sedang yang diproduksi oleh Boeing Commercial Airplanes dan memulai pelayanan pada 2011. B787 membawa antara 242 – 335 penumpang tergantung konfigurasi tempat duduk, dan lebih efisien bahan bakar. Seri 787 juga menjadi pesawat penumpang pertama yang menggunakan material komposit di kebanyakan konstruksinya. Boeing 787-8 adalah model dasar dari keluarga 787, dengan panjang 57 meter dan lebar sayap 60 meter dan memiliki jarak tempuh 14.200 hingga 15.200 kilometer. Seri 787-8 memiliki 210 kursi penumpang dalam konfigurasi tiga kelas. Maskapai penerbangan asal Jepang, ANA (All Nippon Airways) menjadi maskapai pemakai pertama.

.

Dari Doha, Qatar kami terbang sejauh 3.621 km dengan kecepatan 913 km/jam dan ketinggian 11.582 m untuk mendarat di Sheremetyevo International Airport Terminal C Moscow, yang merupakan bandara tersibuk di Rusia, melayani sekitar 50 juta penumpang pada 2019, dan menduduki peringkat sebagai bandara tersibuk kedelapan di Eropa. Ada 5 bandara internasional dan komersial utama di Moscow, yaitu Sheremetyevo (SVO), Domodedovo (DME), Vnukovo (VKO), Zhukovsky (ZIA), dan Ostafyevo (OSF). Bandar Udara Internasional Sheremetyevo adalah pintu masuk utama untuk turis asing, mendatangkan 60% dari seluruh jumlah penerbangan internasional.

Kami mendarat di Terminal C Bandara Internasional Sheremetyevo (SVO) Moscow, Russia dalam dekapan dingin malam 4 derajat C

Bandara ini juga menjadi rumah bagi semua anggota SkyTeam, dan penghubung utama bagi Aeroflot. Domodedovo adalah bandara dengan jumlah penumpang terbesar di Rusia dan pintu masuk utama untuk penerbangan domestik jarak jauh dan destinasi kawasan CIS (The Commonwealth of Independent States). CIS beranggotakan semua negara bekas Uni Soviet, yaitu Armenia, Azerbaijan, Belarus, Kazakhstan, Kirgizstan, Moldova, Rusia, Tajikistan, dan Uzbekistan. Sebagian besar anggota Star Alliance menggunakan Domodedovo sebagai penghubung internasional utama.

.

Sedangkan Bandara Vnukovo digunakan oleh maskapai Turkish Airlines, Lufthansa, Transaero dan beberapa maskapai lain. Bandara Ostafyevo digunakan untuk bisnis penerbangan. Bandar udara di Moskwa jaraknya bervariasi dari pusat kota: Domodedovo paling jauh, berjarak 22 km; Vnukovo berjarak 11 km; Sheremetyevo berjarak 10 km; dan Ostafievo berjarak 8 km dari MKAD. Ada juga bandara lain yang lebih kecil dekat dengan Moskwa seperti Bandar Udara Myachkovo, digunakan untuk pesawat pribadi, helikopter, dan penerbangan charter.

.

Kami mendarat menjelang tengah malam dan segera menuju ke Mini-hotel Nikitskaya yang berlokasi di Bolshaya Nikitskaya ulitsa, d. 22/2, Moscow, Russia, untuk segera terlelap. Sebelum terlelap, kami membayangkan bahwa dengan wilayah seluas 17.125.191 km², maka Rusia adalah negara terluas di dunia. Wilayahnya mencakup seperdelapan luas daratan bumi, penduduknya menduduki peringkat kesembilan terbanyak di dunia dengan jumlah sekitar 147.190.001 jiwa (2021). Wilayahnya membentang sepanjang Asia Utara dan sebagian Eropa timur, Rusia memiliki 11 zona waktu dan wilayahnya terdiri dari berbagai tipe lingkungan dan tanah.

.

Sejarah Rusia diawali dengan perpindahan bangsa-bangsa Skandinavia yang dikenal sebagai bangsa Varangia yang dipimpin oleh tokoh semilegendaris Rurik yang menyeberangi Laut Baltik serta pada tahun 862 M memasuki Kota Novgorod dan memerintah di sana. Sejak itu, cikal bakal Rusia dimulai dari Dinasti Rurik pada tahun 862, Rus’ Kiev (882) dengan masa keemasan pemerintahan jaman Vladimir Agung (980–1015) dan putranya Yaroslav the Wise (1019–1054). Selanjutnya Keharyapatihan Moskow (Grand Duchy of Moscow) (1283) dengan masa keemasan saat dipimpin oleh Ivan III (Agung Seluruh Rusia), Ketsaran Rusia mulai 16 Januari 1547 dengan masa kejayaan pada saat dimpin oleh Tsar Ivan IV (Mengerikan atau Ivan the Terrible), Kekaisaran Rusia mulai 22 Oktober 1721 jaya saat dipimpin oleh Kaisar Yekaterina II (Kaisar Agung) memerintah 1762–1796 dan Kaisar Rusia terakhir Nikolai II (1894–1917) yang tidak dapat mencegah Revolusi 1905 untuk melahirkan Republik Rusia mulai 14 September 1917.

.

Revolusi Oktober 1905 yang dipimpin oleh pemimpin Bolshevik, Vladimir Lenin mendepak Pemerintah Provisional Kaisar Nikolai II dan mendirikan negara sosialis pertama di dunia. Kemudian menjadi Uni Soviet mulai 30 Desember 1922 dengan pimpinan utama Joseph Stalin, Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet yang mampu menyingkirkan lawan politik terberat, yaitu Leon Trotsky.

.

Pemimpin terakhir Uni Soviet adalah Mikhail Gorbachev, yang berusaha untuk memberlakukan reformasi liberal dalam sistem Soviet, memperkenalkan kebijakan glasnost (keterbukaan) dan perestroika (restrukturisasi) untuk mencoba mengakhiri periode stagnasi ekonomi dan mendemokratisasi pemerintah. Dampaknya justru pada 25 Desember 1991, Uni Soviet bubar menjadi 15 negara yang terpisah dengan terbentuknya CIS (The Commonwealth of Independent States). CIS beranggotakan semua negara bekas Uni Soviet, yaitu Armenia, Azerbaijan, Belarus, Kazakhstan, Kirgizstan, Moldova, Federasi Rusia, Tajikistan, dan Uzbekistan. Boris Yeltsin terpilih sebagai presiden pertama ketika menjadi Federasi Rusia bulan Desember 1991 setelah bubarnya Uni Soviet.

Membuat laporan menjelang tidur lelap di dapur penginapan kami di Moscow, kecil tetapi penuh perlengkapan rumah tangga.

.

Malam itu kami terlelap dalam mimpi tentang Negeri Beruang Merah Rusia di kamar Mini-hotel Nikitskaya yang berlokasi di Bolshaya Nikitskaya ulitsa, d. 22/2, Moscow, Russia.

(bersambung)

Selasa tengah malam, 7 Mei 2024

Salam pengelana

-wikan dan sari

KONGKOW  DI  MOSCOW HARI PERTAMA

fx. wikan indrarto

(sambungan)

Kongkow berasal dari Bahasa Tionghoa yang berarti kumpul-kumpul atau biasa disebut oleh anak remaja era sekarang sebagai nongkrong atau nongki. Di sela-sela acara International Conference on Pediatric Allergy and Immunology (ICPAI), kami sempat kongkow di Moscow, Rusia pada Rabu, 8 Mei 2024. Apa yang mengesankan?

.

Berkat kebaikan hati kakak kelas kami di SMP Bruderan Purworejo, Jawa Tengah, yang menjadi Tenaga Ahli Profesional Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Taprof Lemhannas RI), yaitu mas Putut Prabantoro, SH, kami dihubungkan dengan Wakil Duta Besar RI di Moscow. Mantan Direktur Pengkajian Ideologi dan Politik Lemhannas RI Drs. Berlian Helmy, M.Ec. yang saat ini menjadi wakil Duta Besar Drs. Jose Antonio Morato Tavares, MA yang dilantik oleh Presiden Joko Widodo pada 25 Februari 2016. Diutuslah Pak Besyen, sopir Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dengan sedan Mercedez Benz tipe terbaru untuk menjemput kami di penginapan, agar datang ke KBRI di Moskow, yang resmi dibuka setelah Duta Besar Indonesia pertama untuk Uni Soviet, Soebandrio, menyerahkan surat kepercayaan kepada Ketua Presidium Tertinggi Uni Soviet, Kliment Yefremovich Voroshilov, pada tanggal 13 April 1954.

Mr. Besyen, sopir Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dengan sedan Mercedez Benz tipe terbaru ditugaskan untuk menjemput kami di penginapan.

Sejak tahun 1954, KBRI Moskow telah pindah dua kali. Pertama dari lokasi awal di Hotel Metropole ke Sadovo-Somatechnaya 14. Kemudian ke lokasi saat ini di Novokuznetskaya Ulitsa 12–14. Gedung nomor 12 adalah kantor KBRI, sedangkan gedung nomor 14 adalah Wisma Duta, kediaman resmi duta besar. Bangunan yang pertama adalah bekas kediaman Bangsawan Rusia Protopopov-Tatischev yang dibangun pada tahun 1900-an dan didesain oleh Vladimir Sherwood. Antara tahun 1911–1913, bangunan ini diperluas oleh Gustav Helrich. Bangunan yang kedua adalah kediaman pangeran-pangeran Ouroussoff yang dibangun pada tahun 1912 dan didesain oleh Ivan Rerberg.

Kami diterima oleh YM Bapak Drs. Berlian Helmy, M.Ec Wakil Duta Besar Indonesia di Moskow di ruang tamunya yang indah

Kami mendapatkan penjelasan lisan dari Bapak Drs. Berlian Helmy, M.Ec tentang sejarah, budaya, pendidikan, sastra, politik dan diplomasi warga Rusia. Di ruang kerja pribadinya yang artistik dan indah, kami dijelaskan juga bahwa akan ada banyak senyawa yang tersembunyi di balik kebesaran yang agung Rusia sebagai sebuah bangsa, bukan sebagai sebuah negara. Selanjutnya Bapak Theo Sunarjaya (sekretaris, asli Malang Jawa Timur yang beristri Ny Tatiana asli Rusia) dan Mr. Besyen (sopir, asli Tajikiztan) diutus untuk menemani kami keliling Moskow dengan sedan elite Mercedez Benz S 580 4 MATIC lainnya.

Bapak Drs. Berlian Helmy, M.Ec Wakil Duta Besar RI di Moskow melepas kami di gerbang KBRI Moscow

Tertulis nama Drs. Djauhari Oratmangun, MSi (senior kami di Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta) sebagai duta besar pada 2012-2016, di samping kami saat bersama Bapak Drs. Berlian Helmy, M.Ec Wakil Duta Besar RI di Moskow

Segera kami bergegas menjelajah kota Moskwa atau Moskow, pada akhir musim semi yang masih minyisakan hujan. Moskwa adalah ibu kota Rusia sekaligus pusat politik, ekonomi, budaya, dan sains utama di negara tersebut. Moskwa adalah kota berpenduduk terbanyak di Rusia dan Eropa serta menjadi kawasan urban terbesar ke-6 di dunia. Berdasarkan sensus tahun 2021, Moskwa memiliki penduduk sebesar 13 juta jiwa. Menurut Forbes di tahun 2011, Moskwa merupakan kota yang paling banyak dihuni oleh orang terkaya di dunia.

Kota ini pertama kali disebut keberadaannya pada tahun 1147. Sebelumnya, Moskwa juga pernah menjadi ibu kota Ketsaran Rusia hingga dipindahkan oleh Pyotr yang Agung pada masa Kekaisaran Rusia ke Sankt-Peterburg, sebuah kota baru yang dibangun di pesisir Laut Baltik yang direbut dari Swedia, setelah kalah perang melawan Rusia. Pasca Revolusi Oktober atas prakarsa Vladimir Lenin, Moskwa kembali menjadi ibu kota RSFS Rusia sekaligus Uni Soviet di tahun 1922–1991. Dan pasca runtuhnya Uni Soviet, Moskwa menjadi ibu kota Federasi Rusia hingga sekarang.

Tujuan pertama kami adalah Gereja Katedral Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda di Moskow, Rusia

Tujuan pertama kami adalah Katedral Moskow atau yang bernama lengkap Gereja Katedral Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda adalah sebuah gereja katedral Katolik berarsitektur Neogotik. Katedral ini berfungsi sebagai pusat kedudukan dan takhta bagi Keuskupan Agung Moskow. Gedung yang terletak di kawasan Okrug Administratif Pusat ini adalah salah satu dari tiga gereja Katolik di kota Moskow, dan merupakan gereja Katolik terbesar di Rusia.

Rencana pembangunannya disetujui Menteri Dalam Negeri Kekaisaran Rusia pada tahun 1894. Upacara peletakan batu pertama terselenggara pada tahun 1899, dan pembangunannya dilaksanakan mulai tahun 1901 sampai rampung sepuluh tahun kemudian. Gereja katedral berselasar tiga ini dibangun menggunakan bata merah dengan mengacu kepada gambar rancangan karya arsitek Tomasz Bohdanowicz-Dworzecki. Corak bangunannya dipengaruhi bentuk gereja Biara Westminster di Inggris  dan gereja Katedral Milan di Italia.

Selesai berdoa dan mengucap syukur atas semua kebaikan hati Tuhan Yang Maha Baik di Gereja Katedral Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda di Moskow, Rusia

Seusai Revolusi Rusia tahun 1917, kaum Bosyewik menggulingkan Kaisar Nikolas II dan Rusia akhirnya menjadi bagian dari Uni Soviet pada tahun 1922. Karena propaganda ateisme oleh negara adalah salah satu unsur ideologi Marxisme–Leninisme, banyak gereja yang disegel pemerintah Uni Soviet. Gereja ini disegel pada tahun 1938. Bangunan ini sempat hendak dirubuhkan ketika Perang Dunia II sedang berkecamuk, tetapi akhirnya digunakan untuk kepentingan sipil seusai perang, mula-mula sebagai gudang, kemudian sebagai asrama. Sesudah Komunisme tumbang pada tahun 1991, bangunan ini kembali difungsikan sebagai rumah ibadat umat Katolik pada tahun 1996. Pada tahun 2002, statusnya dinaikkan menjadi katedral. Sesudah menjalani rekonstruksi dan renovasi besar-besaran, gereja ini akhirnya diberkati ulang pada tahun 2005.

.

Pada abad ke-21, sesudah 58 tahun lamanya digunakan untuk berbagai keperluan di luar agama, gereja katedral ini kembali menjadi tempat penyelenggaraan ibadat dalam berbagai bahasa (Rusia, Polandia, Korea, Inggris, Prancis, Spanyol, Armenia, dan Latin). Orgel yang ada sekarang di gereja tersebut adalah orgel ketiga semenjak gereja ini pertama kali berdiri, dan merupakan hibah dari gereja Basler Münster di Jerman. Di Gereja Katedral Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda Moskow yang kini terdaftar sebagai salah satu bangunan warisan sejarah dan monumen yang dilindungi negara Federasi Rusia, kami berdoa dan mengucap syukur atas semua kebaikan hati Tuhan Yang Maha Besar.

.

Selanjutnya kami mengikuti sejenak International Conference on Pediatric Allergy and Immunology (ICPAI), yang berbeda dengan konggres ilmiah yang biasanya kami ikuti di sebuah hotel atau gedung pertemuan, tetapi kali ini diselenggarakan di Sechenov University Congress Center, tepatnya di 8 Trubetskaya str., bldg. 2 Moscow. Sebagai tuan rumah (hosts of congress) adalah Moscow State Budgetary Healthcare Institution, Sechenov University, dan Ministry of Health of the Russian Federation.

.

Sambutan pembukaan acara oleh Rudolf Valenta (Professor for Allergology at the Medical University of Vienna, vice-president of the European Academy for Allergy and Clinical Immunology). Sesi pertama yang kami ikuti adalah presentasi Laura Vidivocy (United Kingdom) yang berjudul : 5-year patient-reported outcomes after oral immunotherapy using heat-modified peanuts: results from the BOPI (Boiled Peanut Oral Immunotherapy) study. Sebenarnya kurang menarik, tetapi kami melanjutkan sesi berikutnya oleh Margarita Areina (Portugal) dengan tema Immunotherapy with Vespa velutina nigrithorax venom: safety of ultra-rush protocol and preliminary clinical results, yang ternyata justru lebih tidak menarik hati. Sesi selanjutnya oleh Jose Alexandro Huertis Guzman (Spain) berjudul : Safety of a cluster strategy, effectiveness and immunological changes in allergic children sensitized to house dust mites with native and modified subcutaneous immunotherapy treatment.

Makan siang menu khas Rusia di Restoran Zaryadye, pinggiran Lapangan Merah Moskow

Setelah sesi istirahat pertama, kami segera pamit undur diri dari pertemuan dan melanjutkan petualangan kami di Moscow Red Square atau Lapangan Merah. Kami menikmati makan siang menu khas Rusia di Restoran Zaryadye, berupa borsh (sup buah bit), lagman (sup dengan mie), salad cesar, pancake dengan irisan salmon asin dan apokat hijau, iga bakar, teh dengan raspberries dan borsh smetana (cream), di pinggiran Lapangan Merah, kami segera kongkow sejenak di taman yang indah, sebelum melanjutkan perjalanan ke Saint Basil Cathedral yang menjadi ikon kota Moskow.

Kongkow di Moskow sejenak di taman yang indah setelah makan siang, sebelum melanjutkan perjalanan ke Saint Basil Cathedral, Moskow

Merupakan gereja yang memiliki banyak kubah dengan bentuk seperti bawang dengan warna yang beraneka ragam dan menarik. Bangunan yang didirikan tahun 1555-1561 ini tidak terlalu besar, dan terdiri dari sembilan kapel yang dibangun dengan pondasi tunggal, menjadi mirip istana dengan atap berbentuk bawang berwarna-warni, sebagai simbol posisi unik Rusia di antara Eropa dan Asia, yang pembangunannya selesai pada tahun 1560. Nama resminya adalah Katedral Vasily yang Diberkati, Katedral Syafaat Theotokos Mahakudus di Parit, atau Katedral Pokrovsky atau lebih dikenal sebagai Katedral Santo Basilius.

Setelah kongkow di Moskow, segara kami berjalan menyusuri taman menuju Saint Basil Cathedral

Pembangunan katedral ini diprakarsai oleh Tsar Ivan IV Vasilyevich dan dibangun antara 1555 dan 1561 untuk memperingati direbutnya Kekhanan Kazan. Pada 1588 Tsar Fedor Ivanovich menambahkan sebuah kapel di sisi timur di atas kuburan Basil yang Diberkati (yurodivy Vassily Blazhenny), seorang santo Ortodoks Rusia yang dijadikan sebagai nama katedral ini. Sebagai bagian dari program ateisme negara, gereja ini disita dari komunitas Ortodoks Rusia dalam kampanye anti-agama di Uni Soviet, dan diubah menjadi Museum Sejarah Negara sejak 1928. Meskipun negara menjadi benar-benar sekuler pada tahun 1929, tetapi gereja ini tetap menjadi milik pemerintah Federasi Rusia dan dengan pembubaran Uni Soviet pada tahun 1991, layanan ibadah mingguan agama Kristen Ortodoks dengan doa-doa ke Santo Basil telah dipulihkan sejak 1997.

Dalam guyuran hujan salju di depan Saint Basil Cathedral Moskow, Rusia

Sayang sekali, saat kami datang segera turun hujan salju dan suhu mengigit sampai minus 1 derajat C. Untunglah kami dipinjami baju hangat Bapak Theo dan kami hanya dapat berfoto dari kejauhan dengan latar belakang Katedral Santo Basil dalam guyuran hujan salju. Keindahkan katedral yang mengikuti banyak gereja beratap kerucut pada masa yang sama, khususnya Gereja Kenaikan di Kolomenskoye (1530) dan Gereja Pemenggalan Kepala Santo Yohanes Pembaptis di Dyakovo (1547), jadi tidak nampak nyata. Konsep awal katedral ini adalah sebuah kumpulan kapel, masing-masing dipersembahkan kepada setiap santo yang hari pestanya jatuh pada saat Tsar menang dalam suatu pertempuran. Menurut legenda, Tsar Ivan memerintahkan agar sang arsitek, Postnik Yakovlev, dijadikan buta agar ia tidak membangun bangunan yang lebih indah untuk orang lain.

Dalam dingin mencekam karena guyuran hujan salju di GUM dekat Saint Basil Cathedral Moskow, Rusia

Oleh karena hujan salju tidak semakin reda dan kami menjadi kedinginan, maka oleh Bapak Theo diajak turun masuk ke dalam Stasiun Metro Moskow, untuk menghangatkan badan. Kota Moscow ini dilayani oleh jaringan transportasi yang tersebar di seluruh penjuru kota, termasuk di dalamnya empat bandar udara internasional, sembilan stasiun kereta api, dan sistem kereta api bawah tanah (Metro Moskow) yang jumlah penumpangnya hanya kalah dari Tokyo dan Seoul. Sistem kereta api bawah tanahnya ini juga merupakan salah satu penanda kota ini, selain Kremlin dan Katedral Santo Basil, karena arsitektur di 194 stasiunnya yang beragam.

Bergaya di Stasiun Metro Ploshchad Revolyutsii di bawah tanah, yang memiliki koleksi 76 patung perunggu, di dinding lorongnya

Dibangun sejak tahun 1930-an, stasiun kereta bawah tanah Moscow (Metro Underground) boleh dikatakan salah satu tempat tercantik di dunia. Tiap stasiun punya kisah masing-masing seperti buku cerita. Seluruhnya dihias karya seniman terbaik era Uni Soviet plus lampu-lampu kristal dengan logam gemerlap. Pintu kereta hanya terbuka 3 menit, sehingga para penumpang harus dapat bergerak cepat. Kami turun ke Stasiun Metro Ploshchad Revolyutsii yang memiliki koleksi 76 patung perunggu, termasuk patung seorang pejuang bersama anjing. Mitos mengatakan bila kita  membelai moncong anjingnya, maka akan kembali lagi ke Rusia. Bagian moncong anjing dan bagian lain di patung yang lain menjadi jauh lebih mengkilap dibandingkan bagian lain, karena seringnya dibelai oleh para penumpang.

Kepadatan penumpang di Metro Moskow yang jumlah penumpangnya hanya kalah dari Metro Tokyo dan Seoul

Hingga tahun 2023, Metro Moskow (tidak termasuk Jalur Lingkar Moskow, Jalur Tengah Moskwa, dan Monorel Moskwa) telah memiliki 294 stasiun dan panjang rute 514,5 km, tidak termasuk monorel kereta ringan, menjadikannya metro terpanjang ke-8 di dunia dan terpanjang di luar Tiongkok. Metro Moskow adalah jaringan metro ke-3 di dunia (setelah Madrid dan Beijing), yang memiliki dua jalur lingkar. Jaringan ini sebagian besar berada di bawah tanah, dengan bagian terdalam 84 meter di bawah tanah di stasiun Park Pobedy, salah satu stasiun bawah tanah terdalam di dunia. Metro Moskow adalah sistem metro tersibuk di Eropa, tersibuk di dunia di luar Asia, dan dianggap sebagai daya tarik wisata tersendiri. Metro Moskow adalah pemimpin dunia dalam hal frekuensi lalu lintas kereta api (interval selama jam sibuk tidak melebihi 90 detik). Pada bulan Februari 2023, Moskow menjadi kota pertama di dunia yang mengurangi interval kereta metro menjadi 80 detik. Dari 241 stasiun metro, 88 berada jauh di bawah tanah, 123 di bawah tanah, 12 di permukaan, dan 5 layang.

Salah satu dari lima kubah Gereja St. Clement Ortodoks di Moskow

Atas kebaikan hati Bapak Theo yang menyediakan uang tunai Rubel yang harus diambilnya dari mesin ATM, kami kongkow di Moskow lagi sambil menunggu prosesnya di dekat Gereja St. Clement, yang merupakan salah satu dari dua gereja Ortodoks di Moskow yang didedikasikan kepada Paus Katolik Roma, St. Clement I. Gereja besar berlantai lima dengan lima kubah dulunya mendominasi cakrawala Zamoskvorechye ini dibangun antara tahun 1762 dan 1769. Gereja ini dianggap sebagai contoh utama gaya Elizabethan Baroque, tetapi arsiteknya tidak diketahui secara pasti, meski sering dikaitkan dengan Pietro Antonio Trezzini, arsitek Katedral St Sampson di kota St. Petersburg. Menara tempat lonceng bergantung dan ruang makan dirancang oleh Dmitry Ukhtomsky dan dibangun pada tahun 1756—1758.

Interior gaya Barok dan ikonostasisnya yang berkilauan, serta serangkaian pagar berlapis emas buatan abad ke-18 .di Gereja St. Clement Ortodoks di Moskow

Gereja ini terkenal dengan interior gaya Barok dan ikonostasisnya yang berkilauan, serta serangkaian pagar berlapis emas buatan abad ke-18. Paroki itu dibubarkan pada tahun 1934 dan gerbang asli yang berdiri sendiri dibongkar. Perpustakaan Negara Lenin menyimpan buku-bukunya di gedung tersebut selama periode Soviet. Baru pada tahun 2008 bangunan tersebut dikembalikan ke Gereja Ortodoks Rusia .

Selanjutnya kami pulang sendiri naik Metro Moskow dengan tiket yang kami beli di mesin anjungan menuju Stasiun Metro Ploshchad Revolyutsii. Setelah kami bertanya ke lebih dari 4 orang di jalan, karena kami tidak memiliki sambungan internet, tentu tidak mampu membuka googlemaps, dan menempuh 1,4 km selama 9 menit, akhirnya kami berhasil kembali ke penginapan. Malam itu kami terlelap kelelahan setelah kongkow di Moskow.

(bersambung)

Dilaporkan dan disebarkan dari Mini-hotel Nikitskaya yang berlokasi di Bolshaya Nikitskaya ulitsa, d. 22/2, Moscow, Russia.

Rabu malam, 8 Mei 2024

Salam pengelana

-wikan dan sari

KONGKOW  HARI  KEDUA DI  MOSCOW

fx. wikan indrarto

Kumpul-kumpul, nongkrong, nongki, atau kongkow di Moscow kami lakukan lagi di sela-sela acara International Conference on Pediatric Allergy and Immunology (ICPAI) pada Kamis, 9 Mei 2024. Apa yang menarik?

Lambang bintang dan medali kemenangan Rusia  dengan tulian MAR (huruf R terbalik dibaca Mei) ditempel di banyak tempat. Setiap tanggal 9 Mei dinyatakan sebagai “Hari Kemenangan” Uni Soviet. Pemimpin Soviet Josef Stalin menetapkan sebagai hari libur nasional, dan mengadakan parade kemenangan pertama di Lapangan Merah, yang menampilkan lambang Jerman yang direbut pada 1945.

Setiap tanggal 9 Mei di Rusia dinyatakan sebai hari libur nasional, yaitu sebagai Hari Kemenangan. Pada hari tersebut Rusia menggelar parade militer, konser meriah, dan pawai kendaraan militer atau alat tempur lainnya, untuk memperingati kemenangan dalam Perang Patriotik Hebat.  Peringatan atas kemenangan Uni Soviet dari Nazi Jerman, dalam Perang Patriotik Hebat terjadi pada 1941-1945 dengan menguasai kota Berlin. Pada perayaan tersebut dibuka dengan parade seremonial di Lapangan Merah, Moscow. Kantor berita resmi Rusia TASS, melaporkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin memeriksa parade tersebut sebagai panglima tentara Rusia tertinggi untuk ke-21 kalinya. Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu mengatakan lebih dari 9.000 orang, 26 pesawat dan 75 unit peralatan militer ambil bagian dalam parade di Lapangan Merah.  Secara keseluruhan, parade militer juga berlangsung di 28 Kota di seluruh Rusia dan melibatkan lebih dari 50.000 tentara dan sekitar 1.000 item persenjataan, serta perangkat keras militer.

Mendekati seorang serdadu Rusia bersenjata yang menjaga tank dan kendaraan tempur lainnya untuk persiapan parade kemenangan Rusia di Moscow

Turut menyaksikan parade tadi pagi adalah Presiden Belarus Alexander Lukashenko, Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev, dan Presiden Tajikistan Emomali Rahmon. Selain itu, juga Presiden Turkmenistan Serdar Berdimuhamedow, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel, Presiden Laos Thongloun Sisoulith, dan Presiden Guinea-Bissau Umaro Sissoco Embalo.

Bersama para penonton lainnya, kami tertahan di Jalan Gazetnyy Pereulok, sekitar 150 m dari batas steril Lapangan Merah Moscow

Sayang sekali, kemegahan parade tersebut tidak dapat kami lihat sendiri secara langsung, karena kami tertahan di Jalan Gazetnyy Pereulok, sekitar 150 m dari batas steril Lapangan Merah yang dijaga banyak personil militer Rusia. Semua penonton tetap kidmat antri untuk melihat parade kemenangan tersebut, meski suhu udara luar mengigit mencapai minus 2 derajat dan setelah kongkow di pusat Moscow sebentar, kami putuskan untuk mundur balik badan meninggalkan arena tersebut.

Menggigil kedinginan dalam minus 2 derajat dengan salju yang menyelumuti sebuah patung dan dedaunan, di pinggir Jalan Bol’shaya Nikitskaya Ulitsa, dekat Lapangan Merah Moscow

Selanjutnya kami mengikuti International Conference on Pediatric Allergy and Immunology (ICPAI) di Sechenov University Congress Center, tepatnya di 8 Trubetskaya str., bldg. 2 Moscow, Russia. Sesi hari kedua atau hari terakhir dimulai presentasi Selena Janković (Serbia) dengan tema Effect of allergen specific immunotherapy on PFS symptoms. Yang menurut kami lebih menarik adalah ‘tips and trick’ Julius Lemanske, Jr. (USA) berjudul : Back to School with Allergies and Asthma. Hal ini karena hri pertama sekolah merupakan saat yang menyenangkan bagi anak dan orang tua. Namun demikian, ini juga mungkin menjadi saat kecemasan jika anak menderita asma atau alergi. Untuk itu, dianjurkan agar orangtua menyiapkan segalanya ‘Sebelum Bel Pertama Berbunyi’, dengan melakukan persiapan sebelum tahun ajaran baru dimulai, agar orangtua dapat merasa percaya diri mengantar anak ke kelas.

.

Pastikan anak meminum obat asma atau alergi sesuai resep. Pertahankan rutinitas ini selama hari sekolah, agar dosisnya tidak terlewatkan. Melewatkan pengobatan dapat menyebabkan peningkatan gejala, yang seringkali berarti lebih sedikit waktu untuk belajar. Tergantung pada derajat alergi anak, orangtua mungkin baik untuk melakukan hal berikut, yaitu kelilingi sekolah untuk mengidentifikasi potensi pemicu asma atau alergi, berbicara dengan guru, termasuk pelatih olahraga, tentang kondisi anak dan rencana perawatannya. Di dalam ruang kelas anak, sangat mungkin ada banyak potensi pemicu alergi dan asma. Sangat penting bahwa alergi anak didiagnosis secara akurat untuk menentukan alergen apa yang harus dihindari. Jika anak belum menjalani tes, buatlah janji dengan dokter ahli alergi/imunologi. Pemicu asma dan alergi yang umum di dalam kelas meliputi tungau debu, limbah cetakan, debu kapur dan bulu binatang. Sesi istirahat di sekolah, baik pertama ataupun kedua, sangat mungkin merupakan waktu paling favorit bagi banyak anak. Namun bagi anak yang memiliki alergi atau asma, waktu istirahat dapat menjadi ladang ranjau yang berpotensi menjadi pemicunya.

.

Presentasi Sophie Karra (France) berjudul Adult outcomes of childhood wheezing phenotypes are associated with early life factors, sangat inspiratif. Selanjutnya Francesco Foppiano Florez Estrada (Germany) menjelaskan tentang Differential gene expression analysis in ten year old asthmatic children from the PASTURE cohort dan Hui-Ju Tsai (Taiwan) menerangkan tentang Comparative Risk of Neuropsychiatric Adverse Events Associated With Leukotriene-Receptor Antagonists Versus Inhaled Corticosteroids Among Asthma Patients.

.

Sesi terakhir adalah Helena Martin-Gonzalez (Spain) : Epigenome-wide association study of asthma exacerbations in European populations dan Sophie Carra (France) lagi denganjudul berbeda, yaitu Natural history of methacholine bronchial hyperresponsiveness across the life-course and its associated risk factors. Kami mengikuti sambutan penutup acara oleh Victor Fomin (Chief external specialist at Moscow Healthcare Department, First Moscow State Medical University).

Gapura kemenangan “Triumphal Arch of Moscow” yang hanya selama bulan Mei ini dilengkapi dengan tulisan Moskow Kota Kemenangan di Victory Square Jalan Kutuzovsky Prospekt, bercerita tentang keberhasilan Rusia mengalahkan Perancis.

Selanjutnya kami turut bergembira dalam kemenangan Rusia, bukan hanya saat mengalahkan Nazi Jerman pada Perang Dunia II yang dirayakan di Lapangan Merah, tetapi juga kemenangan atas laskar Perancis, dengan menikmati kemegahan Lapangan Kemenangan atau Victory Square. Kita perlu mengingat bahwa Moscow memiliki bangunan gapura yang serupa dengan Arc de Triomphe yang ada di Paris bernama “Triumphal Arch of Moscow.” Monumen gapura ini menjadi salah satu destinasi wajib karena keunikan kisahnya. Jika yang di Paris bercerita tentang Napoleon menang dalam pertempuran Austerlitz, maka yang di Moscow bercerita tentang keberhasilan Rusia mengalahkan Napoleon. Pertempuran Austerlitz atau yang dikenal dengan nama Pertempuran Tiga Kaisar, adalah salah satu dari sekian kemenangan besar yang diraih oleh Napoleon. Pada tanggal 2 Desember 1805, pasukan Prancis yang dipimpin oleh Napoleon secara meyakinkan mengalahkan tentara gabungan Rusia-Austria yang dikomandani oleh Tsar Alexander I setelah mereka bertempur sengit selama 9 jam di berbagai sektor. Pertempuran ini terjadi di daerah Austerlitz sekitar 20 kilometer timur kota Brno di Moravia Republik Ceko. Pertempuran ini sering disebut sebagai perang strategi yang cemerlang.

.

Awalnya, monumen tersebut didirikan tahun 1814 dari kayu oleh veteran perang Napoleon. Lalu dibuat kembali dari marmer di tahun 1827 oleh desainer Joseph Bove. Tahun 1936 gapura ini diruntuhkan karena rekonstruksi kota Moscow oleh Joseph Stalin. Di tahun 1960an gapura ini kembali dibangun dan ditempatkan di Kutuzovsky Avenue yang kini dikenal sebagai Victory Square. Jalan Kutuzovsky Prospekt adalah sebuah jalan radial utama yang sangat lebar, lurus dan ramai di Moskwa, Rusia, dinamai menurut nama Mikhail Illarionovich Kutuzov, pemimpin pasukan lapangan Rusia selama invasi Prancis ke Rusia tahun 1812.

Patriotisme pasukan Rusia dahulu dan sekaranng yang mengagumkan

Invasi Prancis ke Rusia juga dikenal sebagai Perang Patriotik 1812, dimulai 24 Juni 1812 ketika pasukan Prancis yang dipimpin Napoleon Bonaparte menyeberangi sungai Neman di Eropa Timur, dengan tujuan untuk mengalahkan pasukan Rusia. Nama Neman, Nemunas, Nyoman, Niemen atau Memel adalah sungai besar di Eropa Timur yang mengalir dari wilayah Belarus, melalui Lituania hingga akhirnya bermuara di Laguna Curonia. Sungai ini bermula di pertemuan dua sungai kecil sekitar 15 km di sebelah barat daya kota Uzda dan sekitar 55 km di sebelah barat daya kota Minsk, Ibu Kota Belarusia. Napoleon mendesak Tsar Alexander supaya menghentikan perdagangan antara Rusia dengan Inggris, dengan tujuan memaksa Inggris berdamai dengan Prancis. Napoleon menamakan perang tersebut Perang Polandia Kedua, untuk menarik simpati dan dukungan dari rakyat Polandia, juga sebagai pembenaran politik atas perang tersebut.

.

Kita perlu mengenal nama Borodino, sebuah desa di Distrik Mozhaysky di Oblast Moskow, Rusia, yang terletak 13 kilometer sebelah barat Mozhaysk. Desa ini terkenal sebagai lokasi Pertempuran Borodino yang terjadi pada 7 September 1812, sebagai pertempuran paling berdarah selama satu hari sepanjang sejarah dalam perang Napoleon, dengan korban 72.000 jiwa dan berakhir dengan kemenangan Prancis, meski sangat sulit untuk dicapai. Pasukan Rusia kemudian mundur keesokan harinya, dengan meninggalkan pasukan Prancis tanpa kemenangan dahsyat yang Napoleon harapkan. Seminggu kemudian, Napoleon dan pasukannya tiba di Moskow, yang telah dibakar dan ditinggalkan oleh penghuninya.

.

Jatuhnya Moskow tidak mampu mendesak Tsar Alexander untuk bernegosiasi dengan Napoleon, dan bersama pasukannya selama sebulan lamanya, Napoleon menunggu tawaran untuk berdamai yang tak kunjung datang. Pada 19 Oktober 1812 Napoleon dan pasukannya meninggalkan Moskow dan menuju arah barat daya ke Kaluga, dan dihadang oleh panglima tertinggi pasukan Rusia, Mikhail Kutuzov. Berminggu-minggu lamanya pasukan Prancis menderita gara-gara musim dingin Rusia yang menyengat. Kurangnya makanan untuk pasukan infantri dan rumput untuk kuda pasukan kavaleri, hipotermia yang diakibatkan suhu dingin yang ekstrim, dengan kombinasi serangan gerilya yang dilakukan terus menerus oleh rakyat Rusia dan pasukan Kazaki, mengakibatkan korban jiwa yang semakin banyak, dan runtuhnya kedisiplinan pasukan Prancis. Pertempuran selanjutnya di Vyazma dan Krasnoi menghasilkan kekalahan yang lebih banyak lagi bagi Prancis.

Kongkow di Moskow lagi, kali ini di bawah gapura kemenangan “Triumphal Arch of Moscow” di Victory Square Moskow, yang melambangkan tentang keberhasilan Mikhail Illarionovich Kutuzov, jenderal Rusia saat mengalahkan Napoleon, Kaisar Perancis pada 14 Desember 1812

Ketika sisa-sisa pasukan utama Prancis yang dipimpin Napoleon Bonaparte menyeberangi sungai Berezina di Belarus dan merupakan anak sungai dari Sungai Dnieper pada akhir November 1812, hanya tersisa 27.000 prajurit, karena 380.000 tentara Prancis tewas dan 100.000 tertangkap selama perang di Rusia. Setelah menyebrangi Berezina, Napoleon meninggalkan pasukannya, kembali ke Paris untuk melindungi posisinya sebagai kaisar Prancis, dan merekrut lebih banyak pasukan cadangan, untuk menghadapi pasukan Rusia yang mulai menuju ke arah Prancis. Perang ini berakhir setelah 6 bulan pada tanggal 14 Desember 1812, tanggal dimana pasukan Prancis akhirnya meninggalkan Rusia.

.

Perang ini menjadi titik balik bagi karier militer Napoleon Bonaparte. Perang ini adalah perang terbesar dan paling berdarah pada jamannya, melibatkan lebih dari 1,5 juta pasukan, dengan lebih dari 500.000 korban jiwa di pihak Prancis dan 400.000 korban jiwa di pihak Rusia. Reputasi Napoleon hancur seketika, dan hegemoni Prancis di Eropa melemah secara drastis. Itulah mengapa Moscow membuat bangunan gapura yang serupa dengan Arc de Triomphe yang ada di Paris, yang disebut “Triumphal Arch of Moscow” untuk mengenang keberhasilan Mikhail Illarionovich Kutuzov, jenderal Rusia saat mengalahkan Napoleon Bonaparte, Kaisar Perancis.

Beruntung kami dapat mencapai Jalan Tveskaya yang lebar, sepi dan steril dari kendaraan maupun pejalan kaki, karena merupakan ring 1 parade kemenangan Rusia di Lapangan Merah.

Menjelang sore kami mencoba kembali mendekati Lapangan Merah. Bersyukur kami dapat melewati penjagaan serdadu Rusia yang baik hati dan membukakan pagar pembatas di Jalan Nikitskiy Pereulok. Meski masih digigit suhu 0 derajat, kami terus berjalan kaki sampai pada pertemuan Jalan Tveskaya dengan Jalan Mokhovaya. Di situlah kami tertahan lagi oleh batas steril yang dijaga serdadu Rusia. Beruntunglah kami dapat kongkow di Moskow sebentar dan melihat di kejauhan, sebuah bangunan indah yang digunakan sebagai Museum Sejarah Negara (State Historical Museum).

Pada pertemuan Jalan Tveskaya dengan Jalan Mokhovaya nampak di kejauhan adalah Museum Sejarah Negara (State Historical Museum), yang berwarna merah tua dan gaya Neo-Rusia dari tahun 1881, dengan banyak umbul-umbul tanda perayaan Hari Kemenangan.

Museum yang berlokasi di Red Square Street 1 ini didirikan tahun 1.872, memiliki lebih dari satu juta artefak, dan menjadi salah satu sarana untuk mempromosikan sejarah dan warisan Rusia. Bangunan ini sangat khas dengan warna merahnya, bergaya Neo-Rusia dari tahun 1881 yang memajang peninggalan prasejarah sampai karya seni dinasti Romanov. Di belakang gedung Museum Sejarah tersebut, Lapangan Merah berada dan parade kemenangan Rusia berlangsung. Di depan museum tersebut ada patung prajurit berkuda yang didirikan sejak 1995, untuk menggambarkan pemimpin militer Uni Soviet yang berperan penting bagi kemenangan atas Jerman pada PD II.

Usaha kami terakhir untuk melihat parade kemenangan Rusia tertahan pada persimpangan Jalan Bol’shaya Nikitskaya Ulitsa dengan Jalan Mokhovaya, yang sudah tinggal 7 menit berjalan kaki ke arah Kremlin dan Lapangan Merah, akhirnya kami menyerah dan kembali ke penginapan.

Malam itu kami mengikuti Perayaan Ekaristi Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus dari Gereja Kristus Raja Baciro Yogyakarta, melalui channel https://www.youtube.com/crembomedia/live. Selanjutnya kami kembali terlelap kelelahan setelah kongkow di Moskow hari kedua.

(bersambung)

Dilaporkan dan disebarkan dari Mini-hotel Nikitskaya yang berlokasi di Bolshaya Nikitskaya ulitsa, d. 22/2, Moscow, Russia.

Kamis malam, 9 Mei 2024

Salam pengelana

-wikan dan sari

FROM  RUSSIA  WITH  LOVE

(penutup)

fx. wikan indrarto

Selesai mengikuti International Conference on Pediatric Allergy and Immunology (ICPAI) di Moscow, Rusia kami segera menikmati hari terakhir sebelum pulang dengan kasih (From Russia with Love) pada Jumat, 10 Mei 2024. Apa yang menarik?

From Russia with Love adalah film James Bond tahun 1963 dan peran kedua Sean Connery sebagai agen MI6 007 James Bond. Film ini berdasarkan novel dengan judul sama karya Ian Fleming tahun 1957. Dalam film tersebut, Bond dikirim untuk membantu pembelotan Tatiana. Daniela Bianchi berperan sebagai Tatiana Romanova, pegawai Konsulat Soviet di Turki.

Tidak sempat pamit pulang kepada Bapak Drs. Berlian Helmy, M.Ec Wakil Duta Besar atau DCM (Deputy Head of Mission) Indonesia di Moskow, karena hari itu adalah hari libur nasional Rusia.

Atas kebaikan hati Bapak Drs. Berlian Helmy, M.Ec Wakil Duta Besar atau DCM (Deputy Head of Mission) Indonesia di Moskow, Bapak Theo Sunarjaya (sekretaris, asli Malang Jawa Timur yang beristri Ny Tatiana asli Rusia) dan Bapak German Anusopati (staf lokal bidang transportasi yang menjadi sopir, pernah kuliah di Odessa Ukraina) diutus untuk menemani kami keliling Moskow dengan sedan elite Mercedez Benz E200 4 MATIC. Kami segera menikmati tujuan utama kami yang belum berhasil kami jangkau, karena hujan salju kemarin dulu dan sterilisasi lokasi terkait parade militer kemarin, yaitu Lapangan Merah. Lapangan yang telah menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1990, dahulu digunakan untuk acara penobatan Raja dan Tsar Rusia, tetapi  sekarang merupakan pusat kegiatan masyarakat seperti upacara, pidato kenegaraan, pelantikan presiden, perayaan hari besar nasional, konser musik, dan parade militer negara.

St. Basil Cathedral yang kubahnya warnawarni dan Kremlin istana Presiden Rusia yang temboknya merah dan dijaga ketat tentara.

Di sekitar lapangan Red Square yang menjadi ikon kota Moscow ini terdapat St. Basil Cathedral, GUM Department Store, State Historical Museum, Lenin Mausoleum dan juga Kremlin. Kami segera memasuki area yang sangat luas dan hampir selalu ramai pengunjung dan turis. Di area Red Square banyak personil militer berseragam camouflage biru putih dan bertopi ushanka khas Rusia. Dua parade militer Rusia paling terkenal telah diselenggarakan di Lapangan Merah ini. Pertama adalah Parade Revolusi Oktober 1941, ketika kota itu dikepung oleh tentara Jerman dan kedua adalah Parade Kemenangan pada tahun 1945, ketika spanduk tentara Nazi Jerman yang telah kalah dikibarkan, lalu dijatuhkan ke depan Mausoleum Lenin. Pada tanggal 9 Mei 2010, untuk memperingati 65 tahun penyerahan Jerman pada tahun 1945, angkatan bersenjata Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat ikut berbaris dalam parade Hari Kemenangan untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Katedral Santo Basil di Lapangan Merah Moscow yang menjadi ikon kota

Segera kami berpose wajib, yaitu foto berdua dengan latar belakang Katedral Santo Basil yang cerah, karena sebelumnya kami berfoto dalam hujan salju dan hanya sendirian. Kami tidak dapat melanjutnya petualangan kami untuk mengunjungi Mausoleum Lenin, karena arena tersebut masih ditutup untuk umum, terkait parade militer kemarin. Bangunan megah yang hanya dapat kami lihat tidak dapat kami kunjungi tersebut merupakan tempat jenazah Vladimir Lenin disimpan. Tubuhnya dipindahkan ke mausoleum ini tak lama setelah meninggal tahun 1924 dan telah diawetkan agar dapat dilihat oleh publik.

Bertopi ploretar era Lenin di Rusia dengan bendera lambang palu arit sesuai dengan teori ekonomi Marxisme–Leninisme.

Vladimir Ilyich Ulyanov (22 April 1870 – 21 Januari 1924), lebih dikenal sebagai Vladimir Lenin, adalah seorang tokoh revolusioner komunis, politikus, dan teoretikus politik berkebangsaan Rusia. Nama Lenin sebenarnya adalah nama samaran yang diambil dari nama Sungai Lena di Siberia. Ia menjabat sebagai kepala pemerintahan Republik Sosialis Federasi Soviet Rusia (RSFS Rusia) dari tahun 1917 hingga kematiannya dan juga sebagai kepala pemerintahan Uni Soviet dari tahun 1922 hingga akhir hayatnya di tahun 1924. Lenin berhaluan politik Marxis dan telah ikut menyumbangkan gagasan politiknya dalam pemikiran Marxis yang disebut sebagai Leninisme. Gagasannya itu bila digabung dengan teori ekonomi Marx dikenal dengan sebutan Marxisme–Leninisme. Majalah Time mengangkat Lenin menjadi salah satu dari 100 tokoh paling berpengaruh pada abad ke-20 dan juga sebagai salah satu dari 25 ikon politik terbesar sepanjang masa. Pada bulan Oktober 1923 Lenin berkunjung ke Moskow dan Kremlin untuk yang terakhir kalinya dan pulang ke dacha Gorki dan meninggal dunia pada tanggal 21 Januari 1924. Penyebab kematian resminya adalah penyakit pembuluh darah yang tak dapat disembuhkan. Jenazahnya lalu diangkut dengan menggunakan kereta api menuju Moskow dan dibawa ke Gedung Serikat Buruh. Selama tiga hari berikutnya, sekitar satu juta pelayat datang untuk melihat jasadnya, dan banyak yang mengantre selama berjam-jam di tengah cuaca yang sangat dingin. Upacara pemakaman Lenin diadakan pada hari berikutnya: jenazahnya dibawa ke Lapangan Merah, diiringi oleh musik, dan kerumunan mendengarkan sejumlah pidato sebelum jenazahnya dimasukkan ke dalam sebuah mausoleum yang dibangun khusus untuknya.

Panorama 360° Lapangan Merah Moskow. Dari kiri ke kanan: Katedral Santo Basil, Kremlin, Mausoleum Lenin, Museum Sejarah Negara, mall GUM

Diantar Pak German dan Pak Theo dengan sedan Mercedes E 400 untuk tamu KBRI menjelajah Moskow

Selanjutnya kami dalam laju sedan Mercedes E 400 menjelajah Moskow yang memiliki 63 stadion olahraga, di mana Stadion Luzhniki adalah stadion terbesar di Rusia dan terbesar ke-4 di Eropa, menjadi tuan rumah Piala UEFA 1998–99, final Liga Champions UEFA 2007–08, Olimpiade Musim Panas 1980, dan Piala Dunia FIFA 2018. Prancis menjuarai Piala Dunia 2018 di Rusia setelah pada babak final di Stadion Luzhniki Moskow, Minggu, 15 Juli 2018 malam menundukkan Kroasia 4-2. Bagi Prancis ini adalah gelar juara yang kedua di ajang turnamen akbar Piala Dunia. Mereka pertama kali merebut gelar ini pada 1998 di kandang sendiri.

Stadion Luzhniki adalah stadion olahraga terbesar di Rusia berkapasitas 84.745 kursi, dibangun pada tahun 1955 yang kembar dengan Gelora Bung Karno di Jakarta. Di stadion tersebut Prancis menjuarai Piala Dunia 2018 setelah pada babak final Minggu, 15 Juli 2018 malam menundukkan Kroasia 4-2

Stadion Luzhniki adalah stadion olahraga terbesar di Rusia berkapasitas 84.745 kursi, dibangun pada tahun 1955 dan selesai hanya dalam 90 hari, oleh arsitek Alexander Vlasov, Igor Rozhin, Nikolai Ullas, Alexander Khryakov dan insinyur Vsevolod Nasonov, Nikolai Reznikov, Vasily Polikarpov. Bahan bangunan berasal dari Leningrad dan Armenia, balok listrik dan kayu ek untuk bangku penonton dari Ukraina, furnitur dari Riga dan Kaunas, kaca didatangkan dari Minsk, peralatan listrik dari Podolsk di Oblast Moskow, dan kayu larch dari Irkutsk di Siberia. Karena tanahnya tergenang air, hampir seluruh area pondasi kompleks harus ditinggikan setengah meter, 10.000 tiang pancang ditancapkan ke dalam tanah dan kapal keruk mereklamasi sekitar 3 juta meter kubik tanah.

.

Selain untuk olahraga, stadion ini juga digunakan untuk aktifitas politik. Pada 18 Maret 2022, Presiden Rusia Vladimir Putin mengadakan rapat umum di stadion tersebut untuk memperingati ulang tahun kedelapan aneksasi Krimea oleh Federasi Rusia dan untuk menarik dukungan bagi invasi Rusia ke Ukraina. Aksi tersebut dihadiri oleh sekitar 200.000 orang pendukung. Selain teringat akan perang Ukrania Rusia yang diinisasi di stadiun itu, wajar saja kalau kita juga jadi ingat dengan stadion kembarannya, yaitu Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) di Senayan, Jakarta.

.

Tiba di depan Stadion Luzhniki, Moskow, kami jadi langsung teringat dengan satu stadion kebanggaan Indonesia, Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), yaitu atap bundar yang saling terhubung. Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, memang terinspirasi oleh stadion Luzhniki dalam membangun SUGBK. Waktu itu, Indonesia memang memiliki hubungan erat dengan Uni Soviet. Soekarno-lah yang meminta secara langsung bantuan dana kepada Uni Soviet dalam pidatonya di acara peletakan batu pertama pada 1956. Kala itu, Uni Soviet langsung memberikan bantuan dana 12,5 juta dolar AS untuk membangun kompleks Gelora Bung Karno (GBK). Tujuannya untuk mendukung Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 1962. Selain bantuan dana, arsitek dan insinyur Uni Soviet pun dikerahkan untuk membantu pembangunan GBK mulai 8 Februari 1960 dan selesai 21 Juli 1962. Pembangunan kompleks GBK memang tak sekadar untuk menyambut Asian Games, tapi juga dianggap sebagai alat politik bagi Soekarno untuk menunjukkan kekuatannya sebagai pemimpin Indonesia pertama.

GBK Jakarta dibuat mirip dengan Stadion Luzhniki Moskow. Di kejauhan nampak panorama kota baru yang indah di sekitarnya (New Moscow City).

GBK pun dibuat mirip dengan Luzhniki yakni memiliki trek lari dan berkapasitas lebih dari 100 ribu penonton. Luzhiniki pada awal dibuka mampu menampung penonton sebanyak itu dengan rekor yakni 102.538 orang saat Uni Soviet menghadapi Italia tahun 1963. Setelah jatuhnya Uni Soviet, Luzhniki pun menjadi tempat konser artis papan atas seperti Michael Jackson, Madonna, Metallica, dan Red Hot Chili Peppers. Pada tanggal 20 Oktober 1982, bencana terjadi saat pertandingan Piala UEFA antara FC Spartak Moscow Rusia dan HFC Haarlem Belanda. Saat itu ada 66 orang penonton tewas dalam kerumunan massa, yang menjadikannya bencana olahraga terburuk di Rusia dan upaya menutup-nutupi paling terkenal pada saat itu.

Setelah puas berfoto dan menikmati kemegahan Stadion Luzhniki di Moskow, kami segera melanjutkan penjelajahan ke Universitas Negeri Moskow atau MV Lomonosov Moscow State University (MSU) yang memiliki 15 lembaga penelitian, 43 fakultas, lebih dari 300 departemen, dan enam cabang (termasuk lima cabang asing di negara-negara pecahan Uni Soviet. Dalam pemeringkatan dunia, MSU menduduki peringkat 101–150 menurut Academic Ranking of World Universities 2022, 75 oleh QS World University Rankings 2023, dan 355 oleh US News & World Report 2023.

Alumni universitas ini mencakup para pemimpin masa lalu Uni Soviet dan pemerintahan lain. Sampai tahun 2019 terdapat 13 pemenang hadiah Nobel, 6 pemenang Fields Medal, dan 1 pemenang Turing Award adalah dosen di universitas. Sejarah mencatat bahwa Ivan Shuvalov dan Mikhail Lomonosov adalah penggagas universitas ini dan Permaisuri Rusia Elizabeth mendekritkan pendiriannya pada tanggal 23 Januari 1755.

MV Lomonosov Moscow State University (MSU) adalah salah satu dari Seven Sisters (‘Stalin’s high-rises’), yaitu 7 buah gedung pencakar langit kembar di Moskow yang dirancang dengan gaya Stalinis, yang dibangun dari tahun 1947 hingga 1953.

Pada era pasca Perang Dunia II, Joseph Stalin memerintahkan pembangunan tujuh menara neoklasik berjenjang di sekitar kota. Dibangun dengan menggunakan tenaga kerja Gulag, Gedung utama MSU merupakan gedung tertinggi di Eropa hingga tahun 1990. Menara pusatnya setinggi 240 m, setinggi 36 lantai. Seven Sisters (‘Stalin’s high-rises’) adalah 7 buah gedung pencakar langit kembar di Moskow yang dirancang dengan gaya Stalinis, yang dibangun dari tahun 1947 hingga 1953. Ketujuhnya adalah: Hotel Ukraina, Apartemen Kotelnicheskaya, Kudrinskaya Square, Hotel Hilton Moscow, gedung Kementerian Luar Negeri, Universitas Negeri Moskow, dan Gedung Administrasi Gerbang Merah. Ada dua gedung pencakar langit lagi dengan gaya yang sama yang direncanakan namun tidak pernah dibangun: Gedung Administrasi Zaryadye dan Istana Soviet.

Jalan-jalan di Arbatskaya Street, pusat kesenian jalanan, kuliner dan souvenir di tengah kota Moskow

Selanjutnya kami mengunjungi Arbatskaya Street, yaitu nama jalan terkenal di Moskow dengan banyak restoran, kafe, klub malam hingga penjual suvenir dan seniman. Kami sempat melihat patung dan rumah Alexander Sergeyevich Pushkin (6 Juni 1799 – 10 Februari 1837) yaitu seorang penyair, penulis drama, dan novelis Rusia pada era Romantis. Ia dianggap oleh banyak orang sebagai penyair Rusia terhebat, serta pelopor sastra Rusia.

Bepose meniru seniman besar Rusia Alexander Pushkin dan istrinya Natalya Pushkina di seberang rumahnya di Arbatskaya Street, Moskow.

Kurang lengkap ke Moskow tanpa menyusuri jalan ini dengan jalan kaki saat siang maupun malam hari. Relatif aman bagi turis, dan jalanannya pun cukup lebar untuk dilalui wisatawan. Tapi nggak ada salahnya selalu waspada di mana pun. Kami makan siang dengan minum teh hijau dengan rempah khas Uzbekistan, menu makanan berupa plov = nasi biryani sapi khas Uzbekistan, sup bubur kacang lentil merah, khaacapuri (pizza full keju khas Georgia), lipyohka (roti bulat khas Uzbekistan), iga kambing bakar, salad kacang merah, salad terong bakar, paprika bakar, dan timun.

Makan siang menu Uzbekistan di sebuah rumah makan bergaya Turki di Arbatskaya Street, Moskow

Sebelum ke bandara, kami mampir ke Crocus City Hall yang memilukan. Pada tanggal 22 Maret 2024, sekitar pukul 20  terjadi penembakan massal dan beberapa ledakan granat di ruang teater Crocus City Hall di Krasnogorsk, Oblast, di tepi barat Moskwa. Lima pria bersenjata bertopeng melepaskan tembakan ke arah orang-orang yang berkumpul di tempat tersebut. Penyelidik mengatakan serangan itu telah menewaskan 144 orang, dan lebih dari 360 penonton konser terluka akibat luka tembak dan “keracunan” akibat kebakaran. Pada tanggal 28 Maret 2024, pihak berwenang Rusia juga mengklaim bahwa 95 orang lainnya hilang.

Tragedi Crocus City Hall yang memilukan karena menelan korban 144 orang meninggal, lebih dari 360 orang terluka dan 95 orang lainnya hilang. Kerusakan gedung belum juga diperbaiki.

Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut serangan itu sebagai “aksi teroris biadab” dan mengatakan bahwa orang-orang bersenjata telah ditangkap. Ia juga mendeklarasikan 24 Maret 2024 sebagai hari berkabung nasional, dan menghubungkan para penyerang dengan Ukraina.  Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut insiden tersebut sebagai serangan teroris. Itu adalah serangan teroris paling mematikan di tanah Rusia sejak pengepungan sekolah Beslan pada tahun 2004. Negara Islam Irak dan Syam Khorasan yang berbasis di Asia Tengah, telah mengaku bertanggung jawab. Penyidik menahan 11 orang terkait penyerangan tersebut, termasuk empat tersangka, yang didakwa melakukan terorisme.

Pamit pulang dengan membawa kasih (From Russia with Love by James Bond) kepada ‘Mr. Vladimir Putin, Presiden Rusia’ di Arbatskaya Street, Moskow

Selanjutnya kami kembali ke Yogyakarta melalui Sheremetyevo International Airport Terminal C Moscow, yang merupakan bandara tersibuk di Rusia, melayani sekitar 50 juta penumpang pada 2019, dan menduduki peringkat sebagai bandara tersibuk kedelapan di Eropa. Pemeriksaan penumpang secara ketat yang berbeda dengan di bandara lain adalah sepatu dilepas, sehingga para penumpang cekeran tanpa alas kaki saat masuk ‘metal detector’ dan laptop wajib  dihidupkan di hadapan petugas.

Disampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memungkian terjadinya petualangan singkat di Doha, Qatar dan lanjut ke Moskow, Rusia ini dapat terlaksana dengan baik. Selain inspirasi dari International Conference on Pediatric Allergy and Immunology (ICPAI), dari Rusia kami bawa pulang kasih (From Russia with Love by James Bond) untuk kami bagikan kepada siapapun yang kami temui.

Sampai bertemu kembali dalam petualangan lain yang tidak kalah serunya.

Salam pengelana

wikan & sari

Jumat, 10 Mei 2024, pk. 23.45

Ditulis dan disebarkan di ruang tunggu C34 Hamad International Airport (HIA) Doha, Qatar, sambil menunggu penerbangan selanjutnya ke Jakarta

Categories
dokter Healthy Life Jalan-jalan

2024 Kongkow di Moscow hari kedua

KONGKOW  HARI  KEDUA DI  MOSCOW

fx. wikan indrarto

Kumpul-kumpul, nongkrong, nongki, atau kongkow di Moscow kami lakukan lagi di sela-sela acara International Conference on Pediatric Allergy and Immunology (ICPAI) pada Kamis, 9 Mei 2024. Apa yang menarik?

Lambang bintang dan medali kemenangan Rusia  dengan tulian MAR (huruf R terbalik dibaca Mei) ditempel di banyak tempat. Setiap tanggal 9 Mei dinyatakan sebagai “Hari Kemenangan” Uni Soviet. Pemimpin Soviet Josef Stalin menetapkan sebagai hari libur nasional, dan mengadakan parade kemenangan pertama di Lapangan Merah, yang menampilkan lambang Jerman yang direbut pada 1945.

Setiap tanggal 9 Mei di Rusia dinyatakan sebai hari libur nasional, yaitu sebagai Hari Kemenangan. Pada hari tersebut Rusia menggelar parade militer, konser meriah, dan pawai kendaraan militer atau alat tempur lainnya, untuk memperingati kemenangan dalam Perang Patriotik Hebat.  Peringatan atas kemenangan Uni Soviet dari Nazi Jerman, dalam Perang Patriotik Hebat terjadi pada 1941-1945 dengan menguasai kota Berlin. Pada perayaan tersebut dibuka dengan parade seremonial di Lapangan Merah, Moscow. Kantor berita resmi Rusia TASS, melaporkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin memeriksa parade tersebut sebagai panglima tentara Rusia tertinggi untuk ke-21 kalinya. Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu mengatakan lebih dari 9.000 orang, 26 pesawat dan 75 unit peralatan militer ambil bagian dalam parade di Lapangan Merah.  Secara keseluruhan, parade militer juga berlangsung di 28 Kota di seluruh Rusia dan melibatkan lebih dari 50.000 tentara dan sekitar 1.000 item persenjataan, serta perangkat keras militer.

Mendekati seorang serdadu Rusia bersenjata yang menjaga tank dan kendaraan tempur lainnya untuk persiapan parade kemenangan Rusia di Moscow

Turut menyaksikan parade tadi pagi adalah Presiden Belarus Alexander Lukashenko, Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev, dan Presiden Tajikistan Emomali Rahmon. Selain itu, juga Presiden Turkmenistan Serdar Berdimuhamedow, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel, Presiden Laos Thongloun Sisoulith, dan Presiden Guinea-Bissau Umaro Sissoco Embalo.

Bersama para penonton lainnya, kami tertahan di Jalan Gazetnyy Pereulok, sekitar 150 m dari batas steril Lapangan Merah Moscow

Sayang sekali, kemegahan parade tersebut tidak dapat kami lihat sendiri secara langsung, karena kami tertahan di Jalan Gazetnyy Pereulok, sekitar 150 m dari batas steril Lapangan Merah yang dijaga banyak personil militer Rusia. Semua penonton tetap kidmat antri untuk melihat parade kemenangan tersebut, meski suhu udara luar mengigit mencapai minus 2 derajat dan setelah kongkow di pusat Moscow sebentar, kami putuskan untuk mundur balik badan meninggalkan arena tersebut.

Menggigil kedinginan dalam minus 2 derajat dengan salju yang menyelumuti sebuah patung dan dedaunan, di pinggir Jalan Bol’shaya Nikitskaya Ulitsa, dekat Lapangan Merah Moscow

Selanjutnya kami mengikuti International Conference on Pediatric Allergy and Immunology (ICPAI) di Sechenov University Congress Center, tepatnya di 8 Trubetskaya str., bldg. 2 Moscow, Russia. Sesi hari kedua atau hari terakhir dimulai presentasi Selena Janković (Serbia) dengan tema Effect of allergen specific immunotherapy on PFS symptoms. Yang menurut kami lebih menarik adalah ‘tips and trick’ Julius Lemanske, Jr. (USA) berjudul : Back to School with Allergies and Asthma. Hal ini karena hri pertama sekolah merupakan saat yang menyenangkan bagi anak dan orang tua. Namun demikian, ini juga mungkin menjadi saat kecemasan jika anak menderita asma atau alergi. Untuk itu, dianjurkan agar orangtua menyiapkan segalanya ‘Sebelum Bel Pertama Berbunyi’, dengan melakukan persiapan sebelum tahun ajaran baru dimulai, agar orangtua dapat merasa percaya diri mengantar anak ke kelas.

.

Pastikan anak meminum obat asma atau alergi sesuai resep. Pertahankan rutinitas ini selama hari sekolah, agar dosisnya tidak terlewatkan. Melewatkan pengobatan dapat menyebabkan peningkatan gejala, yang seringkali berarti lebih sedikit waktu untuk belajar. Tergantung pada derajat alergi anak, orangtua mungkin baik untuk melakukan hal berikut, yaitu kelilingi sekolah untuk mengidentifikasi potensi pemicu asma atau alergi, berbicara dengan guru, termasuk pelatih olahraga, tentang kondisi anak dan rencana perawatannya. Di dalam ruang kelas anak, sangat mungkin ada banyak potensi pemicu alergi dan asma. Sangat penting bahwa alergi anak didiagnosis secara akurat untuk menentukan alergen apa yang harus dihindari. Jika anak belum menjalani tes, buatlah janji dengan dokter ahli alergi/imunologi. Pemicu asma dan alergi yang umum di dalam kelas meliputi tungau debu, limbah cetakan, debu kapur dan bulu binatang. Sesi istirahat di sekolah, baik pertama ataupun kedua, sangat mungkin merupakan waktu paling favorit bagi banyak anak. Namun bagi anak yang memiliki alergi atau asma, waktu istirahat dapat menjadi ladang ranjau yang berpotensi menjadi pemicunya.

.

Presentasi Sophie Karra (France) berjudul Adult outcomes of childhood wheezing phenotypes are associated with early life factors, sangat inspiratif. Selanjutnya Francesco Foppiano Florez Estrada (Germany) menjelaskan tentang Differential gene expression analysis in ten year old asthmatic children from the PASTURE cohort dan Hui-Ju Tsai (Taiwan) menerangkan tentang Comparative Risk of Neuropsychiatric Adverse Events Associated With Leukotriene-Receptor Antagonists Versus Inhaled Corticosteroids Among Asthma Patients.

.

Sesi terakhir adalah Helena Martin-Gonzalez (Spain) : Epigenome-wide association study of asthma exacerbations in European populations dan Sophie Carra (France) lagi denganjudul berbeda, yaitu Natural history of methacholine bronchial hyperresponsiveness across the life-course and its associated risk factors. Kami mengikuti sambutan penutup acara oleh Victor Fomin (Chief external specialist at Moscow Healthcare Department, First Moscow State Medical University).

Gapura kemenangan “Triumphal Arch of Moscow” yang hanya selama bulan Mei ini dilengkapi dengan tulisan Moskow Kota Kemenangan di Victory Square Jalan Kutuzovsky Prospekt, bercerita tentang keberhasilan Rusia mengalahkan Perancis.

Selanjutnya kami turut bergembira dalam kemenangan Rusia, bukan hanya saat mengalahkan Nazi Jerman pada Perang Dunia II yang dirayakan di Lapangan Merah, tetapi juga kemenangan atas laskar Perancis, dengan menikmati kemegahan Lapangan Kemenangan atau Victory Square. Kita perlu mengingat bahwa Moscow memiliki bangunan gapura yang serupa dengan Arc de Triomphe yang ada di Paris bernama “Triumphal Arch of Moscow.” Monumen gapura ini menjadi salah satu destinasi wajib karena keunikan kisahnya. Jika yang di Paris bercerita tentang Napoleon menang dalam pertempuran Austerlitz, maka yang di Moscow bercerita tentang keberhasilan Rusia mengalahkan Napoleon. Pertempuran Austerlitz atau yang dikenal dengan nama Pertempuran Tiga Kaisar, adalah salah satu dari sekian kemenangan besar yang diraih oleh Napoleon. Pada tanggal 2 Desember 1805, pasukan Prancis yang dipimpin oleh Napoleon secara meyakinkan mengalahkan tentara gabungan Rusia-Austria yang dikomandani oleh Tsar Alexander I setelah mereka bertempur sengit selama 9 jam di berbagai sektor. Pertempuran ini terjadi di daerah Austerlitz sekitar 20 kilometer timur kota Brno di Moravia Republik Ceko. Pertempuran ini sering disebut sebagai perang strategi yang cemerlang.

.

Awalnya, monumen tersebut didirikan tahun 1814 dari kayu oleh veteran perang Napoleon. Lalu dibuat kembali dari marmer di tahun 1827 oleh desainer Joseph Bove. Tahun 1936 gapura ini diruntuhkan karena rekonstruksi kota Moscow oleh Joseph Stalin. Di tahun 1960an gapura ini kembali dibangun dan ditempatkan di Kutuzovsky Avenue yang kini dikenal sebagai Victory Square. Jalan Kutuzovsky Prospekt adalah sebuah jalan radial utama yang sangat lebar, lurus dan ramai di Moskwa, Rusia, dinamai menurut nama Mikhail Illarionovich Kutuzov, pemimpin pasukan lapangan Rusia selama invasi Prancis ke Rusia tahun 1812.

Patriotisme pasukan Rusia dahulu dan sekaranng yang mengagumkan

Invasi Prancis ke Rusia juga dikenal sebagai Perang Patriotik 1812, dimulai 24 Juni 1812 ketika pasukan Prancis yang dipimpin Napoleon Bonaparte menyeberangi sungai Neman di Eropa Timur, dengan tujuan untuk mengalahkan pasukan Rusia. Nama Neman, Nemunas, Nyoman, Niemen atau Memel adalah sungai besar di Eropa Timur yang mengalir dari wilayah Belarus, melalui Lituania hingga akhirnya bermuara di Laguna Curonia. Sungai ini bermula di pertemuan dua sungai kecil sekitar 15 km di sebelah barat daya kota Uzda dan sekitar 55 km di sebelah barat daya kota Minsk, Ibu Kota Belarusia. Napoleon mendesak Tsar Alexander supaya menghentikan perdagangan antara Rusia dengan Inggris, dengan tujuan memaksa Inggris berdamai dengan Prancis. Napoleon menamakan perang tersebut Perang Polandia Kedua, untuk menarik simpati dan dukungan dari rakyat Polandia, juga sebagai pembenaran politik atas perang tersebut.

.

Kita perlu mengenal nama Borodino, sebuah desa di Distrik Mozhaysky di Oblast Moskow, Rusia, yang terletak 13 kilometer sebelah barat Mozhaysk. Desa ini terkenal sebagai lokasi Pertempuran Borodino yang terjadi pada 7 September 1812, sebagai pertempuran paling berdarah selama satu hari sepanjang sejarah dalam perang Napoleon, dengan korban 72.000 jiwa dan berakhir dengan kemenangan Prancis, meski sangat sulit untuk dicapai. Pasukan Rusia kemudian mundur keesokan harinya, dengan meninggalkan pasukan Prancis tanpa kemenangan dahsyat yang Napoleon harapkan. Seminggu kemudian, Napoleon dan pasukannya tiba di Moskow, yang telah dibakar dan ditinggalkan oleh penghuninya.

.

Jatuhnya Moskow tidak mampu mendesak Tsar Alexander untuk bernegosiasi dengan Napoleon, dan bersama pasukannya selama sebulan lamanya, Napoleon menunggu tawaran untuk berdamai yang tak kunjung datang. Pada 19 Oktober 1812 Napoleon dan pasukannya meninggalkan Moskow dan menuju arah barat daya ke Kaluga, dan dihadang oleh panglima tertinggi pasukan Rusia, Mikhail Kutuzov. Berminggu-minggu lamanya pasukan Prancis menderita gara-gara musim dingin Rusia yang menyengat. Kurangnya makanan untuk pasukan infantri dan rumput untuk kuda pasukan kavaleri, hipotermia yang diakibatkan suhu dingin yang ekstrim, dengan kombinasi serangan gerilya yang dilakukan terus menerus oleh rakyat Rusia dan pasukan Kazaki, mengakibatkan korban jiwa yang semakin banyak, dan runtuhnya kedisiplinan pasukan Prancis. Pertempuran selanjutnya di Vyazma dan Krasnoi menghasilkan kekalahan yang lebih banyak lagi bagi Prancis.

Kongkow di Moskow lagi, kali ini di bawah gapura kemenangan “Triumphal Arch of Moscow” di Victory Square Moskow, yang melambangkan tentang keberhasilan Mikhail Illarionovich Kutuzov, jenderal Rusia saat mengalahkan Napoleon, Kaisar Perancis pada 14 Desember 1812

Ketika sisa-sisa pasukan utama Prancis yang dipimpin Napoleon Bonaparte menyeberangi sungai Berezina di Belarus dan merupakan anak sungai dari Sungai Dnieper pada akhir November 1812, hanya tersisa 27.000 prajurit, karena 380.000 tentara Prancis tewas dan 100.000 tertangkap selama perang di Rusia. Setelah menyebrangi Berezina, Napoleon meninggalkan pasukannya, kembali ke Paris untuk melindungi posisinya sebagai kaisar Prancis, dan merekrut lebih banyak pasukan cadangan, untuk menghadapi pasukan Rusia yang mulai menuju ke arah Prancis. Perang ini berakhir setelah 6 bulan pada tanggal 14 Desember 1812, tanggal dimana pasukan Prancis akhirnya meninggalkan Rusia.

.

Perang ini menjadi titik balik bagi karier militer Napoleon Bonaparte. Perang ini adalah perang terbesar dan paling berdarah pada jamannya, melibatkan lebih dari 1,5 juta pasukan, dengan lebih dari 500.000 korban jiwa di pihak Prancis dan 400.000 korban jiwa di pihak Rusia. Reputasi Napoleon hancur seketika, dan hegemoni Prancis di Eropa melemah secara drastis. Itulah mengapa Moscow membuat bangunan gapura yang serupa dengan Arc de Triomphe yang ada di Paris, yang disebut “Triumphal Arch of Moscow” untuk mengenang keberhasilan Mikhail Illarionovich Kutuzov, jenderal Rusia saat mengalahkan Napoleon Bonaparte, Kaisar Perancis.

Beruntung kami dapat mencapai Jalan Tveskaya yang lebar, sepi dan steril dari kendaraan maupun pejalan kaki, karena merupakan ring 1 parade kemenangan Rusia di Lapangan Merah.

Menjelang sore kami mencoba kembali mendekati Lapangan Merah. Bersyukur kami dapat melewati penjagaan serdadu Rusia yang baik hati dan membukakan pagar pembatas di Jalan Nikitskiy Pereulok. Meski masih digigit suhu 0 derajat, kami terus berjalan kaki sampai pada pertemuan Jalan Tveskaya dengan Jalan Mokhovaya. Di situlah kami tertahan lagi oleh batas steril yang dijaga serdadu Rusia. Beruntunglah kami dapat kongkow di Moskow sebentar dan melihat di kejauhan, sebuah bangunan indah yang digunakan sebagai Museum Sejarah Negara (State Historical Museum).

Pada pertemuan Jalan Tveskaya dengan Jalan Mokhovaya nampak di kejauhan adalah Museum Sejarah Negara (State Historical Museum), yang berwarna merah tua dan gaya Neo-Rusia dari tahun 1881, dengan banyak umbul-umbul tanda perayaan Hari Kemenangan.

Museum yang berlokasi di Red Square Street 1 ini didirikan tahun 1.872, memiliki lebih dari satu juta artefak, dan menjadi salah satu sarana untuk mempromosikan sejarah dan warisan Rusia. Bangunan ini sangat khas dengan warna merahnya, bergaya Neo-Rusia dari tahun 1881 yang memajang peninggalan prasejarah sampai karya seni dinasti Romanov. Di belakang gedung Museum Sejarah tersebut, Lapangan Merah berada dan parade kemenangan Rusia berlangsung. Di depan museum tersebut ada patung prajurit berkuda yang didirikan sejak 1995, untuk menggambarkan pemimpin militer Uni Soviet yang berperan penting bagi kemenangan atas Jerman pada PD II.

Usaha kami terakhir untuk melihat parade kemenangan Rusia tertahan pada persimpangan Jalan Bol’shaya Nikitskaya Ulitsa dengan Jalan Mokhovaya, yang sudah tinggal 7 menit berjalan kaki ke arah Kremlin dan Lapangan Merah, akhirnya kami menyerah dan kembali ke penginapan.

Malam itu kami mengikuti Perayaan Ekaristi Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus dari Gereja Kristus Raja Baciro Yogyakarta, melalui channel https://www.youtube.com/crembomedia/live. Selanjutnya kami kembali terlelap kelelahan setelah kongkow di Moskow hari kedua.

(bersambung)

Dilaporkan dan disebarkan dari Mini-hotel Nikitskaya yang berlokasi di Bolshaya Nikitskaya ulitsa, d. 22/2, Moscow, Russia.

Kamis malam, 9 Mei 2024

Salam pengelana

-wikan dan sari

Categories
Jalan-jalan

2024 Kongkow di Moskow

KONGKOW  DI  MOSCOW HARI PERTAMA

fx. wikan indrarto

(sambungan)

Kongkow berasal dari Bahasa Tionghoa yang berarti kumpul-kumpul atau biasa disebut oleh anak remaja era sekarang sebagai nongkrong atau nongki. Di sela-sela acara International Conference on Pediatric Allergy and Immunology (ICPAI), kami sempat kongkow di Moscow, Rusia pada Rabu, 8 Mei 2024. Apa yang mengesankan?

.

Berkat kebaikan hati kakak kelas kami di SMP Bruderan Purworejo, Jawa Tengah, yang menjadi Tenaga Ahli Profesional Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Taprof Lemhannas RI), yaitu mas Putut Prabantoro, SH, kami dihubungkan dengan Wakil Duta Besar RI di Moscow. Mantan Direktur Pengkajian Ideologi dan Politik Lemhannas RI Drs. Berlian Helmy, M.Ec. yang saat ini menjadi wakil Duta Besar Drs. Jose Antonio Morato Tavares, MA yang dilantik oleh Presiden Joko Widodo pada 25 Februari 2016. Diutuslah Pak Besyen, sopir Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dengan sedan Mercedez Benz tipe terbaru untuk menjemput kami di penginapan, agar datang ke KBRI di Moskow, yang resmi dibuka setelah Duta Besar Indonesia pertama untuk Uni Soviet, Soebandrio, menyerahkan surat kepercayaan kepada Ketua Presidium Tertinggi Uni Soviet, Kliment Yefremovich Voroshilov, pada tanggal 13 April 1954.

Mr. Besyen, sopir Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dengan sedan Mercedez Benz tipe terbaru ditugaskan untuk menjemput kami di penginapan.

Sejak tahun 1954, KBRI Moskow telah pindah dua kali. Pertama dari lokasi awal di Hotel Metropole ke Sadovo-Somatechnaya 14. Kemudian ke lokasi saat ini di Novokuznetskaya Ulitsa 12–14. Gedung nomor 12 adalah kantor KBRI, sedangkan gedung nomor 14 adalah Wisma Duta, kediaman resmi duta besar. Bangunan yang pertama adalah bekas kediaman Bangsawan Rusia Protopopov-Tatischev yang dibangun pada tahun 1900-an dan didesain oleh Vladimir Sherwood. Antara tahun 1911–1913, bangunan ini diperluas oleh Gustav Helrich. Bangunan yang kedua adalah kediaman pangeran-pangeran Ouroussoff yang dibangun pada tahun 1912 dan didesain oleh Ivan Rerberg.

Kami diterima oleh YM Bapak Drs. Berlian Helmy, M.Ec Wakil Duta Besar Indonesia di Moskow di ruang tamunya yang indah

Kami mendapatkan penjelasan lisan dari Bapak Drs. Berlian Helmy, M.Ec tentang sejarah, budaya, pendidikan, sastra, politik dan diplomasi warga Rusia. Di ruang kerja pribadinya yang artistik dan indah, kami dijelaskan juga bahwa akan ada banyak senyawa yang tersembunyi di balik kebesaran yang agung Rusia sebagai sebuah bangsa, bukan sebagai sebuah negara. Selanjutnya Bapak Theo Sunarjaya (sekretaris, asli Malang Jawa Timur yang beristri Ny Tatiana asli Rusia) dan Mr. Besyen (sopir, asli Tajikiztan) diutus untuk menemani kami keliling Moskow dengan sedan elite Mercedez Benz S 580 4 MATIC lainnya.

Bapak Drs. Berlian Helmy, M.Ec Wakil Duta Besar RI di Moskow melepas kami di gerbang KBRI Moscow

Tertulis nama Drs. Djauhari Oratmangun, MSi (senior kami di Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta) sebagai duta besar pada 2012-2016, di samping kami saat bersama Bapak Drs. Berlian Helmy, M.Ec Wakil Duta Besar RI di Moskow

Segera kami bergegas menjelajah kota Moskwa atau Moskow, pada akhir musim semi yang masih minyisakan hujan. Moskwa adalah ibu kota Rusia sekaligus pusat politik, ekonomi, budaya, dan sains utama di negara tersebut. Moskwa adalah kota berpenduduk terbanyak di Rusia dan Eropa serta menjadi kawasan urban terbesar ke-6 di dunia. Berdasarkan sensus tahun 2021, Moskwa memiliki penduduk sebesar 13 juta jiwa. Menurut Forbes di tahun 2011, Moskwa merupakan kota yang paling banyak dihuni oleh orang terkaya di dunia.

Kota ini pertama kali disebut keberadaannya pada tahun 1147. Sebelumnya, Moskwa juga pernah menjadi ibu kota Ketsaran Rusia hingga dipindahkan oleh Pyotr yang Agung pada masa Kekaisaran Rusia ke Sankt-Peterburg, sebuah kota baru yang dibangun di pesisir Laut Baltik yang direbut dari Swedia, setelah kalah perang melawan Rusia. Pasca Revolusi Oktober atas prakarsa Vladimir Lenin, Moskwa kembali menjadi ibu kota RSFS Rusia sekaligus Uni Soviet di tahun 1922–1991. Dan pasca runtuhnya Uni Soviet, Moskwa menjadi ibu kota Federasi Rusia hingga sekarang.

Tujuan pertama kami adalah Gereja Katedral Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda di Moskow, Rusia

Tujuan pertama kami adalah Katedral Moskow atau yang bernama lengkap Gereja Katedral Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda adalah sebuah gereja katedral Katolik berarsitektur Neogotik. Katedral ini berfungsi sebagai pusat kedudukan dan takhta bagi Keuskupan Agung Moskow. Gedung yang terletak di kawasan Okrug Administratif Pusat ini adalah salah satu dari tiga gereja Katolik di kota Moskow, dan merupakan gereja Katolik terbesar di Rusia.

Rencana pembangunannya disetujui Menteri Dalam Negeri Kekaisaran Rusia pada tahun 1894. Upacara peletakan batu pertama terselenggara pada tahun 1899, dan pembangunannya dilaksanakan mulai tahun 1901 sampai rampung sepuluh tahun kemudian. Gereja katedral berselasar tiga ini dibangun menggunakan bata merah dengan mengacu kepada gambar rancangan karya arsitek Tomasz Bohdanowicz-Dworzecki. Corak bangunannya dipengaruhi bentuk gereja Biara Westminster di Inggris  dan gereja Katedral Milan di Italia.

Selesai berdoa dan mengucap syukur atas semua kebaikan hati Tuhan Yang Maha Baik di Gereja Katedral Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda di Moskow, Rusia

Seusai Revolusi Rusia tahun 1917, kaum Bosyewik menggulingkan Kaisar Nikolas II dan Rusia akhirnya menjadi bagian dari Uni Soviet pada tahun 1922. Karena propaganda ateisme oleh negara adalah salah satu unsur ideologi Marxisme–Leninisme, banyak gereja yang disegel pemerintah Uni Soviet. Gereja ini disegel pada tahun 1938. Bangunan ini sempat hendak dirubuhkan ketika Perang Dunia II sedang berkecamuk, tetapi akhirnya digunakan untuk kepentingan sipil seusai perang, mula-mula sebagai gudang, kemudian sebagai asrama. Sesudah Komunisme tumbang pada tahun 1991, bangunan ini kembali difungsikan sebagai rumah ibadat umat Katolik pada tahun 1996. Pada tahun 2002, statusnya dinaikkan menjadi katedral. Sesudah menjalani rekonstruksi dan renovasi besar-besaran, gereja ini akhirnya diberkati ulang pada tahun 2005.

.

Pada abad ke-21, sesudah 58 tahun lamanya digunakan untuk berbagai keperluan di luar agama, gereja katedral ini kembali menjadi tempat penyelenggaraan ibadat dalam berbagai bahasa (Rusia, Polandia, Korea, Inggris, Prancis, Spanyol, Armenia, dan Latin). Orgel yang ada sekarang di gereja tersebut adalah orgel ketiga semenjak gereja ini pertama kali berdiri, dan merupakan hibah dari gereja Basler Münster di Jerman. Di Gereja Katedral Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda Moskow yang kini terdaftar sebagai salah satu bangunan warisan sejarah dan monumen yang dilindungi negara Federasi Rusia, kami berdoa dan mengucap syukur atas semua kebaikan hati Tuhan Yang Maha Besar.

.

Selanjutnya kami mengikuti sejenak International Conference on Pediatric Allergy and Immunology (ICPAI), yang berbeda dengan konggres ilmiah yang biasanya kami ikuti di sebuah hotel atau gedung pertemuan, tetapi kali ini diselenggarakan di Sechenov University Congress Center, tepatnya di 8 Trubetskaya str., bldg. 2 Moscow. Sebagai tuan rumah (hosts of congress) adalah Moscow State Budgetary Healthcare Institution, Sechenov University, dan Ministry of Health of the Russian Federation.

.

Sambutan pembukaan acara oleh Rudolf Valenta (Professor for Allergology at the Medical University of Vienna, vice-president of the European Academy for Allergy and Clinical Immunology). Sesi pertama yang kami ikuti adalah presentasi Laura Vidivocy (United Kingdom) yang berjudul : 5-year patient-reported outcomes after oral immunotherapy using heat-modified peanuts: results from the BOPI (Boiled Peanut Oral Immunotherapy) study. Sebenarnya kurang menarik, tetapi kami melanjutkan sesi berikutnya oleh Margarita Areina (Portugal) dengan tema Immunotherapy with Vespa velutina nigrithorax venom: safety of ultra-rush protocol and preliminary clinical results, yang ternyata justru lebih tidak menarik hati. Sesi selanjutnya oleh Jose Alexandro Huertis Guzman (Spain) berjudul : Safety of a cluster strategy, effectiveness and immunological changes in allergic children sensitized to house dust mites with native and modified subcutaneous immunotherapy treatment.

Makan siang menu khas Rusia di Restoran Zaryadye, pinggiran Lapangan Merah Moskow

Setelah sesi istirahat pertama, kami segera pamit undur diri dari pertemuan dan melanjutkan petualangan kami di Moscow Red Square atau Lapangan Merah. Kami menikmati makan siang menu khas Rusia di Restoran Zaryadye, berupa borsh (sup buah bit), lagman (sup dengan mie), salad cesar, pancake dengan irisan salmon asin dan apokat hijau, iga bakar, teh dengan raspberries dan borsh smetana (cream), di pinggiran Lapangan Merah, kami segera kongkow sejenak di taman yang indah, sebelum melanjutkan perjalanan ke Saint Basil Cathedral yang menjadi ikon kota Moskow.

Kongkow di Moskow sejenak di taman yang indah setelah makan siang, sebelum melanjutkan perjalanan ke Saint Basil Cathedral, Moskow

Merupakan gereja yang memiliki banyak kubah dengan bentuk seperti bawang dengan warna yang beraneka ragam dan menarik. Bangunan yang didirikan tahun 1555-1561 ini tidak terlalu besar, dan terdiri dari sembilan kapel yang dibangun dengan pondasi tunggal, menjadi mirip istana dengan atap berbentuk bawang berwarna-warni, sebagai simbol posisi unik Rusia di antara Eropa dan Asia, yang pembangunannya selesai pada tahun 1560. Nama resminya adalah Katedral Vasily yang Diberkati, Katedral Syafaat Theotokos Mahakudus di Parit, atau Katedral Pokrovsky atau lebih dikenal sebagai Katedral Santo Basilius.

Setelah kongkow di Moskow, segara kami berjalan menyusuri taman menuju Saint Basil Cathedral

Pembangunan katedral ini diprakarsai oleh Tsar Ivan IV Vasilyevich dan dibangun antara 1555 dan 1561 untuk memperingati direbutnya Kekhanan Kazan. Pada 1588 Tsar Fedor Ivanovich menambahkan sebuah kapel di sisi timur di atas kuburan Basil yang Diberkati (yurodivy Vassily Blazhenny), seorang santo Ortodoks Rusia yang dijadikan sebagai nama katedral ini. Sebagai bagian dari program ateisme negara, gereja ini disita dari komunitas Ortodoks Rusia dalam kampanye anti-agama di Uni Soviet, dan diubah menjadi Museum Sejarah Negara sejak 1928. Meskipun negara menjadi benar-benar sekuler pada tahun 1929, tetapi gereja ini tetap menjadi milik pemerintah Federasi Rusia dan dengan pembubaran Uni Soviet pada tahun 1991, layanan ibadah mingguan agama Kristen Ortodoks dengan doa-doa ke Santo Basil telah dipulihkan sejak 1997.

Dalam guyuran hujan salju di depan Saint Basil Cathedral Moskow, Rusia

Sayang sekali, saat kami datang segera turun hujan salju dan suhu mengigit sampai minus 1 derajat C. Untunglah kami dipinjami baju hangat Bapak Theo dan kami hanya dapat berfoto dari kejauhan dengan latar belakang Katedral Santo Basil dalam guyuran hujan salju. Keindahkan katedral yang mengikuti banyak gereja beratap kerucut pada masa yang sama, khususnya Gereja Kenaikan di Kolomenskoye (1530) dan Gereja Pemenggalan Kepala Santo Yohanes Pembaptis di Dyakovo (1547), jadi tidak nampak nyata. Konsep awal katedral ini adalah sebuah kumpulan kapel, masing-masing dipersembahkan kepada setiap santo yang hari pestanya jatuh pada saat Tsar menang dalam suatu pertempuran. Menurut legenda, Tsar Ivan memerintahkan agar sang arsitek, Postnik Yakovlev, dijadikan buta agar ia tidak membangun bangunan yang lebih indah untuk orang lain.

Dalam dingin mencekam karena guyuran hujan salju di GUM dekat Saint Basil Cathedral Moskow, Rusia

Oleh karena hujan salju tidak semakin reda dan kami menjadi kedinginan, maka oleh Bapak Theo diajak turun masuk ke dalam Stasiun Metro Moskow, untuk menghangatkan badan. Kota Moscow ini dilayani oleh jaringan transportasi yang tersebar di seluruh penjuru kota, termasuk di dalamnya empat bandar udara internasional, sembilan stasiun kereta api, dan sistem kereta api bawah tanah (Metro Moskow) yang jumlah penumpangnya hanya kalah dari Tokyo dan Seoul. Sistem kereta api bawah tanahnya ini juga merupakan salah satu penanda kota ini, selain Kremlin dan Katedral Santo Basil, karena arsitektur di 194 stasiunnya yang beragam.

Bergaya di Stasiun Metro Ploshchad Revolyutsii di bawah tanah, yang memiliki koleksi 76 patung perunggu, di dinding lorongnya

Dibangun sejak tahun 1930-an, stasiun kereta bawah tanah Moscow (Metro Underground) boleh dikatakan salah satu tempat tercantik di dunia. Tiap stasiun punya kisah masing-masing seperti buku cerita. Seluruhnya dihias karya seniman terbaik era Uni Soviet plus lampu-lampu kristal dengan logam gemerlap. Pintu kereta hanya terbuka 3 menit, sehingga para penumpang harus dapat bergerak cepat. Kami turun ke Stasiun Metro Ploshchad Revolyutsii yang memiliki koleksi 76 patung perunggu, termasuk patung seorang pejuang bersama anjing. Mitos mengatakan bila kita  membelai moncong anjingnya, maka akan kembali lagi ke Rusia. Bagian moncong anjing dan bagian lain di patung yang lain menjadi jauh lebih mengkilap dibandingkan bagian lain, karena seringnya dibelai oleh para penumpang.

Kepadatan penumpang di Metro Moskow yang jumlah penumpangnya hanya kalah dari Metro Tokyo dan Seoul

Hingga tahun 2023, Metro Moskow (tidak termasuk Jalur Lingkar Moskow, Jalur Tengah Moskwa, dan Monorel Moskwa) telah memiliki 294 stasiun dan panjang rute 514,5 km, tidak termasuk monorel kereta ringan, menjadikannya metro terpanjang ke-8 di dunia dan terpanjang di luar Tiongkok. Metro Moskow adalah jaringan metro ke-3 di dunia (setelah Madrid dan Beijing), yang memiliki dua jalur lingkar. Jaringan ini sebagian besar berada di bawah tanah, dengan bagian terdalam 84 meter di bawah tanah di stasiun Park Pobedy, salah satu stasiun bawah tanah terdalam di dunia. Metro Moskow adalah sistem metro tersibuk di Eropa, tersibuk di dunia di luar Asia, dan dianggap sebagai daya tarik wisata tersendiri. Metro Moskow adalah pemimpin dunia dalam hal frekuensi lalu lintas kereta api (interval selama jam sibuk tidak melebihi 90 detik). Pada bulan Februari 2023, Moskow menjadi kota pertama di dunia yang mengurangi interval kereta metro menjadi 80 detik. Dari 241 stasiun metro, 88 berada jauh di bawah tanah, 123 di bawah tanah, 12 di permukaan, dan 5 layang.

Salah satu dari lima kubah Gereja St. Clement Ortodoks di Moskow

Atas kebaikan hati Bapak Theo yang menyediakan uang tunai Rubel yang harus diambilnya dari mesin ATM, kami kongkow di Moskow lagi sambil menunggu prosesnya di dekat Gereja St. Clement, yang merupakan salah satu dari dua gereja Ortodoks di Moskow yang didedikasikan kepada Paus Katolik Roma, St. Clement I. Gereja besar berlantai lima dengan lima kubah dulunya mendominasi cakrawala Zamoskvorechye ini dibangun antara tahun 1762 dan 1769. Gereja ini dianggap sebagai contoh utama gaya Elizabethan Baroque, tetapi arsiteknya tidak diketahui secara pasti, meski sering dikaitkan dengan Pietro Antonio Trezzini, arsitek Katedral St Sampson di kota St. Petersburg. Menara tempat lonceng bergantung dan ruang makan dirancang oleh Dmitry Ukhtomsky dan dibangun pada tahun 1756—1758.

Interior gaya Barok dan ikonostasisnya yang berkilauan, serta serangkaian pagar berlapis emas buatan abad ke-18 .di Gereja St. Clement Ortodoks di Moskow

Gereja ini terkenal dengan interior gaya Barok dan ikonostasisnya yang berkilauan, serta serangkaian pagar berlapis emas buatan abad ke-18. Paroki itu dibubarkan pada tahun 1934 dan gerbang asli yang berdiri sendiri dibongkar. Perpustakaan Negara Lenin menyimpan buku-bukunya di gedung tersebut selama periode Soviet. Baru pada tahun 2008 bangunan tersebut dikembalikan ke Gereja Ortodoks Rusia .

Selanjutnya kami pulang sendiri naik Metro Moskow dengan tiket yang kami beli di mesin anjungan menuju Stasiun Metro Ploshchad Revolyutsii. Setelah kami bertanya ke lebih dari 4 orang di jalan, karena kami tidak memiliki sambungan internet, tentu tidak mampu membuka googlemaps, dan menempuh 1,4 km selama 9 menit, akhirnya kami berhasil kembali ke penginapan. Malam itu kami terlelap kelelahan setelah kongkow di Moskow.

(bersambung)

Dilaporkan dan disebarkan dari Mini-hotel Nikitskaya yang berlokasi di Bolshaya Nikitskaya ulitsa, d. 22/2, Moscow, Russia.

Rabu malam, 8 Mei 2024

Salam pengelana

-wikan dan sari

Categories
anak dokter Jalan-jalan

2024 Meraih (Beruang) Merah

MERAIH (BERUANG)  MERAH

fx. wikan indrarto

Setelah dari Doha, Qatar, petualangan kami selanjutnya adalah mengikuti International Conference on Pediatric Allergy and Immunology (ICPAI), Moskow, Rusia untuk meraih (beruang) merah. Apa yang menarik?

.

Eksistensi beruang di Rusia telah ada sejak zaman kuno. Pada abad pertengahan, orang Slavia memakai beruang jinak dan berkeliling ke seluruh daratan Rusia. Binatang yang mempunyai badan tinggi besar ini dianggap masyarakat Rusia sebagai hewan pintar layaknya anjing. Mereka yakin beruang bukan hewan yang berbahaya apabila mendapatkan didikan yang baik, bahkan beruang mampu menari, melakukan sulap, juga meminta-minta. Akhirnya, mulai tahun 1526 kisah beruang Rusia yang unik tersebut menyebar ke penjuru dunia. Sebutan ‘Beruang Merah’ sebagai representasi ‘Red Army’ dari tentara Rusia. Warna merah di lambang ‘Red Army’ mempunyai arti perjuangan pekerja dalam merenggut kembali setiap keadilan. Petualangan ke Rusia kami lakukan dengan gigih meniru perjuangan Beruang Merah yang tanpa kenal lelah.

Di konter Aeroflot, maskapai penerbangan nasional Rusia, di Bandara Moscow

Kami terbang dari Doha, Qatar selama 5 jam 20 menit ke Moscow dalam perut pesawat Qatar Airways QR 337 sebuah Boeing 787-8 (Dreamliner), yaitu pesawat penumpang sipil berbadan lebar ukuran sedang yang diproduksi oleh Boeing Commercial Airplanes dan memulai pelayanan pada 2011. B787 membawa antara 242 – 335 penumpang tergantung konfigurasi tempat duduk, dan lebih efisien bahan bakar. Seri 787 juga menjadi pesawat penumpang pertama yang menggunakan material komposit di kebanyakan konstruksinya. Boeing 787-8 adalah model dasar dari keluarga 787, dengan panjang 57 meter dan lebar sayap 60 meter dan memiliki jarak tempuh 14.200 hingga 15.200 kilometer. Seri 787-8 memiliki 210 kursi penumpang dalam konfigurasi tiga kelas. Maskapai penerbangan asal Jepang, ANA (All Nippon Airways) menjadi maskapai pemakai pertama.

.

Dari Doha, Qatar kami terbang sejauh 3.621 km dengan kecepatan 913 km/jam dan ketinggian 11.582 m untuk mendarat di Sheremetyevo International Airport Terminal C Moscow, yang merupakan bandara tersibuk di Rusia, melayani sekitar 50 juta penumpang pada 2019, dan menduduki peringkat sebagai bandara tersibuk kedelapan di Eropa. Ada 5 bandara internasional dan komersial utama di Moscow, yaitu Sheremetyevo (SVO), Domodedovo (DME), Vnukovo (VKO), Zhukovsky (ZIA), dan Ostafyevo (OSF). Bandar Udara Internasional Sheremetyevo adalah pintu masuk utama untuk turis asing, mendatangkan 60% dari seluruh jumlah penerbangan internasional.

Kami mendarat di Terminal C Bandara Internasional Sheremetyevo (SVO) Moscow, Russia dalam dekapan dingin malam 4 derajat C

Bandara ini juga menjadi rumah bagi semua anggota SkyTeam, dan penghubung utama bagi Aeroflot. Domodedovo adalah bandara dengan jumlah penumpang terbesar di Rusia dan pintu masuk utama untuk penerbangan domestik jarak jauh dan destinasi kawasan CIS (The Commonwealth of Independent States). CIS beranggotakan semua negara bekas Uni Soviet, yaitu Armenia, Azerbaijan, Belarus, Kazakhstan, Kirgizstan, Moldova, Rusia, Tajikistan, dan Uzbekistan. Sebagian besar anggota Star Alliance menggunakan Domodedovo sebagai penghubung internasional utama.

.

Sedangkan Bandara Vnukovo digunakan oleh maskapai Turkish Airlines, Lufthansa, Transaero dan beberapa maskapai lain. Bandara Ostafyevo digunakan untuk bisnis penerbangan. Bandar udara di Moskwa jaraknya bervariasi dari pusat kota: Domodedovo paling jauh, berjarak 22 km; Vnukovo berjarak 11 km; Sheremetyevo berjarak 10 km; dan Ostafievo berjarak 8 km dari MKAD. Ada juga bandara lain yang lebih kecil dekat dengan Moskwa seperti Bandar Udara Myachkovo, digunakan untuk pesawat pribadi, helikopter, dan penerbangan charter.

.

Kami mendarat menjelang tengah malam dan segera menuju ke Mini-hotel Nikitskaya yang berlokasi di Bolshaya Nikitskaya ulitsa, d. 22/2, Moscow, Russia, untuk segera terlelap. Sebelum terlelap, kami membayangkan bahwa dengan wilayah seluas 17.125.191 km², maka Rusia adalah negara terluas di dunia. Wilayahnya mencakup seperdelapan luas daratan bumi, penduduknya menduduki peringkat kesembilan terbanyak di dunia dengan jumlah sekitar 147.190.001 jiwa (2021). Wilayahnya membentang sepanjang Asia Utara dan sebagian Eropa timur, Rusia memiliki 11 zona waktu dan wilayahnya terdiri dari berbagai tipe lingkungan dan tanah.

.

Sejarah Rusia diawali dengan perpindahan bangsa-bangsa Skandinavia yang dikenal sebagai bangsa Varangia yang dipimpin oleh tokoh semilegendaris Rurik yang menyeberangi Laut Baltik serta pada tahun 862 M memasuki Kota Novgorod dan memerintah di sana. Sejak itu, cikal bakal Rusia dimulai dari Dinasti Rurik pada tahun 862, Rus’ Kiev (882) dengan masa keemasan pemerintahan jaman Vladimir Agung (980–1015) dan putranya Yaroslav the Wise (1019–1054). Selanjutnya Keharyapatihan Moskow (Grand Duchy of Moscow) (1283) dengan masa keemasan saat dipimpin oleh Ivan III (Agung Seluruh Rusia), Ketsaran Rusia mulai 16 Januari 1547 dengan masa kejayaan pada saat dimpin oleh Tsar Ivan IV (Mengerikan atau Ivan the Terrible), Kekaisaran Rusia mulai 22 Oktober 1721 jaya saat dipimpin oleh Kaisar Yekaterina II (Kaisar Agung) memerintah 1762–1796 dan Kaisar Rusia terakhir Nikolai II (1894–1917) yang tidak dapat mencegah Revolusi 1905 untuk melahirkan Republik Rusia mulai 14 September 1917.

.

Revolusi Oktober 1905 yang dipimpin oleh pemimpin Bolshevik, Vladimir Lenin mendepak Pemerintah Provisional Kaisar Nikolai II dan mendirikan negara sosialis pertama di dunia. Kemudian menjadi Uni Soviet mulai 30 Desember 1922 dengan pimpinan utama Joseph Stalin, Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet yang mampu menyingkirkan lawan politik terberat, yaitu Leon Trotsky.

.

Pemimpin terakhir Uni Soviet adalah Mikhail Gorbachev, yang berusaha untuk memberlakukan reformasi liberal dalam sistem Soviet, memperkenalkan kebijakan glasnost (keterbukaan) dan perestroika (restrukturisasi) untuk mencoba mengakhiri periode stagnasi ekonomi dan mendemokratisasi pemerintah. Dampaknya justru pada 25 Desember 1991, Uni Soviet bubar menjadi 15 negara yang terpisah dengan terbentuknya CIS (The Commonwealth of Independent States). CIS beranggotakan semua negara bekas Uni Soviet, yaitu Armenia, Azerbaijan, Belarus, Kazakhstan, Kirgizstan, Moldova, Federasi Rusia, Tajikistan, dan Uzbekistan. Boris Yeltsin terpilih sebagai presiden pertama ketika menjadi Federasi Rusia bulan Desember 1991 setelah bubarnya Uni Soviet.

Membuat laporan menjelang tidur lelap di dapur penginapan kami di Moscow, kecil tetapi penuh perlengkapan rumah tangga.

.

Malam itu kami terlelap dalam mimpi tentang Negeri Beruang Merah Rusia di kamar Mini-hotel Nikitskaya yang berlokasi di Bolshaya Nikitskaya ulitsa, d. 22/2, Moscow, Russia.

(bersambung)

Selasa tengah malam, 7 Mei 2024

Salam pengelana

-wikan dan sari

Categories
anak dokter Healthy Life Jalan-jalan sekolah

2024 Qatar yang Kekar

QATAR  YANG  KEKAR

fx. wikan indrarto

(sambungan)

Setelah bugar dari terkapar, kami segera bersiap untuk menikmati Qatar yang kekar pada Selasa, 7 Mei 2024, sebelum melanjutkan perjalanan ke Moskow, Rusia untuk mengikuti International Conference on Pediatric Allergy and Immunology (ICPAI). Apa yang menarik?

Qatar adalah negara yang kekar secara ekonomi dengan pendapatan tinggi, ditopang oleh cadangan gas alam dan minyak yang terbesar ketiga sedunia. Negara ini masuk dalam daftar negara berpendapatan per kapita tinggi, dengan PDB per kapita Qatar menempati posisi nomor 4 tertinggi di dunia, menurut Dana Moneter Internasional (IMF). Qatar digolongkan sebagai negara yang memiliki indeks pembangunan manusia sangat tinggi dan paling baik di antara negara Arab lainnya. Qatar memiliki pengaruh cukup kuat di Jazirah Arab, mendukung beberapa kelompok pemberontak selama Musim Semi Arab, baik secara finansial maupun melalui media global Al Jazeera, bahkan Qatar memegang pengaruh yang cukup penting pada politik internasional.

Patung Oryx yang kekar menyambut penumpang di Bandara Internasional Hamad, di Doha Qatar

Qatar yang kekar dan kuat terinspirasi dari kijang oryx Arab, yang mudah dikenali dari bulunya yang putih cerah, meski sebenarnya bulunya jarang, yang memantulkan sinar matahari, kukunya yang lebar, memungkinkannya berjalan dengan relatif mudah di pasir, dan dengan tanduknya yang panjang dengan sedikit melengkung. Kijang oryx dikenal sebagai hewan dengan stamina luar biasa, yang mampu menempuh jarak jauh dengan berjalan kaki di gurun, dan terkadang mampu menempuh jarak lebih dari 70 km pada malam hari. Saat ini disebut hewan nasional Qatar, bahkan Oryx muncul pada lambang Qatar Airways, yang mendorongnya semakin kuat dan kekar dalam persaingan bisnis penerbangan.

.

Setelah dominasi Inggris dan Kesultanan Utsmaniyah di Qatar, akhirnya Qatar menjadi negara yang merdeka pada 3 September 1971. Dahulu, Inggris menguasai Qatar sebagai tempat transit kapal dagang sebelum menuju India. Qatar kemudian memperoleh status sebagai dependen dari Inggris, kemudian status protektorat Inggris yang dihentikan pada tahun 1916. Setelah Perang Dunia Kedua, Qatar berusaha memperoleh kemerdekaannya, terutama setelah India mencapai kemerdekaannya pada tahun 1950-an. Qatar semakin gencar menuntut setelah Inggris memberikan kemerdekaan kepada Kuwait pada tahun 1961.

Dataran Qatar yang gersang, datar dan berpasir, dengan rumah warga yang kotak berwarna coklat krem, merupakan pemandangan yang umum terlihat di Qatar, seperti nampak dari atas atap rumah Antonius ‘Tony’ Ferenius Mansanulu.

Dataran Qatar hanya seluas 160 km2, terdiri dari gurun pasir datar dan tempat tertinggi di Qatar adalah di Jabal Dukhan. Area ini mengandung jumlah gas alam yang sangat besar. Qatar adalah negara monarki konstitusional maupun monarki absolut yang dipimpin oleh keluarga Al Thani. Dinasti Al Thani telah memimpin Qatar sejak 1825. Emir kedelapan Qatar adalah Tamim bin Hamad Al Thani, ayahnya adalah Hamad bin Khalifa Al Thani yang menyerahkan kekuasaan padanya 25 Juni 2013.

Catatan demografi pertama Qatar dilakukan tahun 1892 dengan total populasi tahun 1892 adalah 9.830. Saat ini jumlah penduduk di Qatar berfluktuasi tergantung musim, karena negara ini sangat bergantung dari migran asing. Pada tahun 2017, total populasi Qatar mencapai 2,6 juta, di mana warga negara Qatar hanya 313.000 orang (12%) dan 2,3 juta lainnya adalah ekspatriat. Warga asing non-Arab menyumbang mayoritas populasi Qatar; Orang India merupakan yang terbesar, mencapai 650.000 orang (2017), diikuti 350.000 orang Nepal, 280.000 orang Bangladesh, 260.000 orang Filipina, 200.000 orang Mesir, 145.000 orang Sri Lanka dan 125.000 orang Pakistan.

Gerardo Mayella ’Gera’ Manesanulu yang berambut gonderong duduk kelas 9, berangkat ke sekolah bersama ayahnya dari rumanya di Zone 75, Street 891, Building 18, Villa number 5 Al Thakira sekitar 10 km dari Al Khore, Qatar kami lepas dengan mbak Christina ’Titin’ Triatmaniati, yang hari itu libur.

Pagi itu kami berdua pesiar sendirian, setelah mas Tonny sudah berangkat masuk kerja, dilepas mbak Titin. Dengan naik taksi Toyota Fortuner 2022 setir kiri, kami meninggalkan rumah mas Tony di Zone 75, Street 891, Building 18, Villa number 5 Al Thakira Al Khore, untuk memulai jalan-jalan. Tujuan pertama kami adalah Stadion Al Bayt yaitu stadion sepakbola yang digunakan untuk Piala Dunia FIFA 2022 di Al Khor, Qatar.

Al Bayt Stadium yang mengambil insiprasi dari tenda tradisional bangsa Qatar yang masih nomaden, yang digunakan untuk menggelar laga pembuka Piala Dunia 2022 antara Qatar vs Ekuador.

Kontrak konstruksi stadion diberikan kepada Salini dan Cimolai pada 2015. Bentuk stadion ini mengambil insiprasi dari tenda tradisional bangsa Qatar yang masih nomaden, menyediakan tempat duduk tertutup untuk semua penonton. Selain itu, juga terhubung dengan sejumlah sistem transportasi, yang terdiri dari 150 bus/angkutan umum (Pulang/Pergi) dan 1.000 taksi dengan tempat parkir yang mampu menampung 6.000 mobil dan 350 bis. Stadion ini mampu menampung sekitar 60.000 penggemar Piala Dunia, termasuk 1.000 kursi untuk pers. Juga ada  suite hotel mewah dan kamar-kamar dengan pemandangan balkon dari lapangan sepak bola. Proses pengerjaaan Al Bayt Stadium memakan waktu kurang lebih lima tahun, mulai akhir 2015 dan baru dibuka secara resmi pada awal tahun 2020. Pembukaannya bertepatan dengan Hari Olahraga Nasional yang diperingati di Qatar. Meski begitu, stadion ini baru menggelar pertandingan resmi pertamanya di bulan November pada ajang Arab Cup 2021. Al Bayt Stadium kala itu menjadi tempat berlangsungnya laga pembuka antara Qatar vs Bahrain dan partai puncak antara Tunisia vs Aljazair. Stadion ini digunakan untuk menggelar laga pembuka Piala Dunia 2022 antara Qatar vs Ekuador.

.

Selanjutnya kami mengunjungi Katara Cultural Village, yang lokasinya di antara Westbay dan The Pearl. Katara adalah sebutan bagi negara Qatar di abad ke 18, yang digunakan lagi untuk menjunjung tinggi nilai warisan para leluhur dan untuk menghormati posisi terhormat Qatar sejak awal sejarah negara ini berdiri. Karena Katara dibangun sebagai pusat kebudayaan yang multidimensi, tempat ini dijadikan pusat dimana pengunjung dapat merasakan berbagai kebudayaan dunia. Di Katara tersebut terdapat beberapa kantor komunitas Qatari antara lain: Qatar Fine Art Society, Visual Art Centre, Qatar Photographic Society, Childhood Cultural Centre, Qatari Society for Engineers, Theatre Society, Brooq Magazine, Doha Film Institute dan Qatar Music Academy.

Pigeon Tower berbentuk silinder sebagai ikon Qatar, yang dibangun dari batu bata, lumpur dan plester perpaduan dari kapur dan gypsum.

Bentuk bangunan di dalam area Katara semuanya tidak biasa, bentuknya berbeda satu dengan yang lain. Kawasan ini mempertemukan semua bentuk kesenian baik dari seni pertunjukan, literatur, seni visual, musik sampai berbagai konvensi seni. Hampir setiap hari disajikan berbagai pertunjukan kesenian di sini. Tapi yang paling meriah tentunya menjelang akhir tahun dimana bertepatan dengan Hari Nasional Qatar dan libur sekolah pada musim dingin. Di dalam kawasan ini terdapat 2 masjid, yaitu Masjid Besar untuk sholat Jumat dan Masjid Emas, untuk sholat 5 waktu. Di sebelah masjid terdapat Pigeon Tower. Bangunan yang berbentuk silinder ini menjadi ikon ciri khas Qatar, berukuran diameter 10-22 meter dengan tinggi 18 meter atau bahkan lebih. Dibangun dari batu bata, lumpur dan plester perpaduan dari kapur dan gipsum. Benteng silinder ini menjadi tempat berkumpulnya burung merpati yang banyak sekali ditemui di Qatar. Lubang-lubang sengaja dibuat sesuai ukuran tubuh merpati, sehingga burung besar yang menjadi predatornya seperti burung elang, gagak dan burung hantu tidak akan dapat masuk ke dalam.

Gedung berbentuk kado yang disebut Children’s Mall di Katara Cultural Village yang disambungkan ke Katara Plaza, Doha Qatar

Selanjutnya kami menuju ke gedung berbentuk kado yang disebut Children’s Mall, salah satu projek yang terbaru dalam tahap pembangunan di Katara Cultural Village. Children’s Mall ini disambungkan ke gedung yang ada di belakangnya, yaitu Katara Plaza, pusat perbelanjaan di dalam kompek Katara. Children’s Mall ini ditujukan untuk memenuhi semua kebutuhan anak-anak dari mulai pakaian, mainan, peralatan sekolah, cemilan anak, salon anak, parfum khusus anak, kerajinan tangan, aksesoris anak, aneka hiburan sampai pendidikan.

Bergaya seolah berbelanja di Souq Waqif, yaitu pasar tradisionil di Pusat Kota Doha, Qatar yang menjual pakaian tradisional, rempah-rempah, kerajinan tangan, dan suvenir.

Selanjutnya kami menikmati Souq Waqif, Doha. Ini adalah pasar besar di Kota Doha dengan para penjual pakaian tradisional, rempah-rempah, kerajinan tangan, dan suvenir. Di sini juga ada restoran dan lounge shisha. Souq Waqif berlokasi tepat di pusat kota Doha dan yang menarik dari lokasi ini adalah terdapat banyak pilihan barang dengan harga yang cukup terjangkau. Ini adalah tempat yang cocok untuk membeli oleh-oleh dengan harga ekonomis. Di kanan kirinya di kelilingi dengan beragam gedung bertingkat, perkantoran, apartemen dan hotel mewah. Pusat perbelanjaan tradisional ini memberikan profit yang cukup bagi pemerintah Qatar sehingga tidak heran jika di tengah modernitas bangunan di kanan dan kirinya, pasar ini tetap dipertahankan oleh pemerintah setempat.

Museum Nasional di Doha, Qatar yang bentuknya terinspirasi mawar gurun, dan sebelumnya merupakan istana Syeikh Abdullah Al-Thani.

Selanjutnya kami menikmati Museum Nasional Qatar, Doha, yang menyimpan artefak dan patung, serta semacam tenda yang dikreasikan seperti yang pernah digunakan orang-orang nomaden di Qatar. Rancangan Museum Nasional Qatar terinspirasi mawar gurun, sebuah formasi mineral yang ditemukan di negara Timur Tengah itu. Museum ini adalah istana Syeikh Abdullah Al-Thani yang hadir dengan desain arsitektur yang luar biasa indah. Sekilas dari bangunannya memang tidak tampak seperti museum pada umumnya. Di museum ini, diadakan beberapa kali pameran setiap tahunnya. Sejak mulai memasuki kawasan museum, pengunjung telah dibuat terpana dengan bentuk gedung yang tak biasa. Bangunan itu didesain oleh arsitek pemenang Penghargaan Pritzker, Jean Nouvel. Museum Nasional Qatar pun menjadi salah satu bangunan ikonik di ibu kota Doha. Menurut situs resminya, bangunan Museum Nasional Qatar mengambil inspirasi dari mawar gurun, sebuah formasi kristal alami yang bisa ditemukan di wilayah gurun pasir Qatar. Dari kejauhan, bangunan museum tampak seperti  cakram atau kelopak yang bertumpuk. Seluruh area museum memiliki luas 147.425 meter persegi. Di tengah museum adalah istana Sheikh Abdullah bin Jassim Al-Thani yang menjadi pusat pemerintahan di Qatar selama 25 tahun. Istana itu dipugar dengan hati-hati untuk tetap menampilkan keasliannya.

.

Beberapa destinasi yang kami rencanakan, tetapi tidak tercapai karena keterbatasan waktu adalah Stadion Jassim Bin Hamad yang pada Piala Asia U-23 2024 di situ kesebelasan nasional Indonesia kalah dari Qatar 2-0, pada pertandingan yang dipimpin oleh Nasrullo Kabirovwasit dari Tajikistan yang mengganjar Ivar Jenner dan Ramadan Sananta dengan kartu merah di, Doha, Senin, 15 April 2024. Kami juga tidak sempat menikmati Khor Al Adaid di Al Khor. Pantai di bagian tenggara Qatar ini terkenal karena keunikannya karena berbatasan langsung dengan gurun pasir. Saat pagi, air laut mengalir ke gurun dan menciptakan kubangan besar, sedangkan pada malam hari air laut kembali surut. Selain itu juga kami tidak sempat mencicipi sensasi Desert Safari, yaitu tour untuk merasakan dan melihat gurun pasir yang menakjubkan. Aktivitas Desert Safari biasanya dilakukan pada pagi hari saat matahari menjelang terbit atau tengah malam. Selain dengan mobil, kita sebenarnya dapat juga menjelajahi gurun dengan menunggangi unta. Tujuan yang tidak tercapai terakhir adalah Benteng Al Zubara. Ini situs bersejarah yang bernilai tinggi bagi rakyat Qatar dan telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO. Banyak artefak dan peninggalan sejarah yang bisa dipelajari wisatawan di benteng ini. Dahulu, benteng ini menjadi basis militer yang merupakan bangunan penting bagi penduduk asli Qatar. Berdiri sejak tahun 1938 silam dan hingga kini tetap menarik karena menyimpan nilai arkeologi dan juga nilai arsitektur yang tinggi. Di sekitar kawasan benteng, terdapat pusat perbelanjaan yang cocok untuk membeli oleh-oleh khas Qatar.

Boneka beruang kuning raksasa yang dibuat oleh seniman Swiss Urs Fischer di Bandara Hamad Doha, Qatar dan mencerminkan Qatar yang kekar.

Kami segera menuju ke Bandara Internasional Doha Qatar, yang disebut Hamad International Airport (HIA) yang dinobatkan sebagai salah satu bandara terbaik  menurut SkyTrax. HIA dinobatkan sebagai salah satu bandara terbaik yang melayani antara 30-40 juta penumpang per tahun, juga sebagai bandara terbaik dan staf bandara terbaik di Timur Tengah. Bandaranya bersih, rapi, dan mewah. Salah satu icon di HIA ini adalah adanya boneka beruang kuning raksasa yang terletak di tengah bandara dan sangat menonjol. Boneka beruang kuning raksasa ini dibuat oleh seniman Swiss yaitu Urs Fischer, berdiri setinggi 23 kaki di tengah foyer besar yang mengarah ke aula bandara. Boneka beruang kuning raksasa ini terbuat dari perunggu cor dan  memiliki berat antara 18 dan 20 ton

Suasana di dalam skytrain yang melaju dari sektor selatan ke utara Bandara Internasinal Hamad di Doha, Qatar.

Setelah selesai urusan imigrasi di Bandara Internasional Doha Qatar, kami segera menuju ke pintu gerbang C19 untuk melanjutkan perjalanan menggunakan Qatar Airways QR 337 sebuah Boeing 787-8 (Dreamliner), untuk mengikuti International Conference on Pediatric Allergy and Immunology (ICPAI), dengan terbang tinggi menuju Sheremetyevo International Airport Terminal C Moscow, Russia. Kami sempat menikmati skytrain dari sektor selatan ke utara Bandara Internasinal Hamad di Doha, Qatar.

.

(bersambung dengan petualangan di Moscow)

Selasa, 7 Mei 2024, pk. 17.38 waktu Timur Tengah

.

Ditulis dan disebarkan di dekat Gate C19 Bandara Internasional Hamad, yang struktur atapnya nampak kekar di Doha, Qatar

Salam pengelana
-wikan dan Sari

Categories
Healthy Life Jalan-jalan sekolah

2024 TERKAPAR DI QATAR

TERKAPAR  DI  QATAR

fx. wikan indrarto

Dalam perjalanan ke Moskow, Rusia untuk mengikuti International Conference on Pediatric Allergy and Immunology (ICPAI), kami transit sehari, jalan-jalan ke sana ke mari, dan sampai terkapar di Qatar pada Senin, 6 Mei 2024. Apa yang menarik?

Kasus pembelian pesawat bekas Mirage 2000-5 buatan Perancis oleh Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, negosiasi alot yang menghasilkan gencatan senjata di Gaza antara Hamas dan Israel, hajatan sepak bola FIFA berupa Piala Dunia 2022, Piala Asia 2023 dan Piala Asia U23 2024, media internasional Al Jazeera dan SIM Card Ooredoo di HP teman kita, semuanya terkait dengan Qatar.

Pesawat Qatar Airways sedang disiapkan di apron Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta Jakarta

Kami terbang dari Jakarta  selama 7 jam 33 menit sejauh 6.640 km dalam perut pesawat Qatar Airways, maskapai penerbangan nasional Qatar, yang memiliki basis utama di Bandar Udara Internasional Hamad. Saat ini, Qatar Airways melayani 150 tujuan internasional dan merupakan salah satu dari 5 maskapai pererbangan yang mendapatkan status 5-star airlines dari Skytrax dan berhasil memperoleh penghargaan World’s Best Airlines pada tahun 2011 dan 2012. Pada tahun 2013 Qatar airlways menempati posisi kedua sebagai “World’s Best Airline” dan mendapatkan penghargaan sebagai maskapai penerbangan kelas bisnis terbaik di dunia versi Skytrax.

Qatar Airways didirikan pada tanggal 22 November 1993 dan memulai operasinya pada tanggal 20 Januari 1994. Pada awalnya maskapai ini dimiliki oleh anggota keluarga kerajaan Qatar. Pada bulan April 1997, sebuah manajemen baru dibawah pimpinan Akbar Al Baker menjalankan maskapai ini. Saat ini komposisi kepemilikan Qatar Airways adalah 50% oleh pemerintah Qatar dan sisanya investor swasta. Mulai 5 Februari 2017, maskapai ini memiliki penerbangan terjadwal reguler paling lama dari seluruh maskapai komersial, antara Doha dan Auckland.

Konter Souvenir Qatar Airways di Bandara Hamad Doha, Qatar

Kami sempat terlelap dalam dingin kabin Qatar Airways QR 959 sebuah Airbus A350 XWB (eXtra Wide Body), yang merupakan keluarga pesawat jet berbadan lebar buatan produsen pesawat Eropa Airbus. A350 menjadi pesawat Airbus pertama dengan struktur kedua sayap pesawat dibuat dari polimer yang diperkuat serat karbon. Dalam penerbangan ke Doha, kami juga menikmati sajian Al Jazeera, sebuah stasiun televisi internasional yang sedang naik daun, berbahasa Arab dan Inggris, dan berbasis di Doha, Qatar. Stasiun TV ini menjadi populer saat serangan mematikan 11 September 2001 di gedung kembar WTC New York USA, ketika stasiun ini menyiarkan rekaman pernyataan Osama bin Laden dan pimpinan al-Qaeda lainnya. Selain itu, juga gencar tampil di layar penumpang pesawat kami, promosi Ooredoo milik Qatar Telecom (Qtel) yang membantuk PT. Indosat Ooredoo, dan telah berhasil menjadi bisnis telekomunikasi seluler terbesar kedua di Indonesia, dengan merk Matrix, Mentari, 3 dan IM3.

Sebelum terlelap untuk yang pertama kali dalam perut pesawat, sempat terbayang letak Qatar, sebuah negara keemiran Timur Tengah yang terletak di sebuah semenanjung kecil di Jazirah Arab di Asia Barat. Satu-satunya batas daratnya adalah Arab Saudi di selatan dan sisanya berbatasan dengan Teluk Persia. Teluk ini juga yang memisahkan Qatar dari negara pulau Bahrain.

Selamat datang di Doha, Qatar

Dari sejarah dapat diketahui bahwa setelah berada di bawah kekuasaan Utsmaniyah, Qatar menjadi protektorat Inggris pada awal abad ke-20 hingga merdeka pada tahun 1971. Qatar dipimpin oleh Keluarga Thani sejak awal abad ke-19. Syekh Jassim bin Mohammed Al Thani adalah pendiri Qatar. Qatar merupakan negara monarki dan kepala negaranya saat ini adalah Emir Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani. Sejak tahun 2004, Qatar dibagi menjadi 7 munisipalitas (baladiyah), yaitu Madinat ash Shamal, Al Khor, Umm Salal, Al Daayen, Al Rayyan, Doha, dan Al Wakrah.

Kami disambut hangat oleh teman sekamar di Asrama Mahasiswa Realino di Jl. Gejayan Yogyakarta, yaitu Antonius ‘Tony’ Ferenius Mansanulu, asli Malaka NTT. Tony adalah Realino SeV angkatan 1985 yang menyelesaikan pendidikan di Program Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta dengan skripsi berjudul : Teaching conditional sentences through games to the SMA students, dan saat ini menjadi guru Bahasa Indonesia di Al Khor International School (AKIS). Pada tahun 2010 Tony Mansanulu saat menjadi guru British International School Jakarta (sekarang British School Jakarta) ditawari untuk menjadi guru Bahasa Indonesia di AKIS Qatar, karena persyaratannya adalah memiliki kemampuan Bahasa Inggris aktif, untuk berkomunikasi dengan orang tua murid yang orang asing dan teman guru lain.

Kebanyakan penduduk Qatar beragama Islam aliran Islam Sunni, sedangkan Muslim yang mengikuti Syiah sekitar 20%. Penduduk Qatar 67.7% Muslim, 13.8% Kristen, 13.8% Hindu, 3.1% Buddha dan kepercayaan lainnya 1.6%. Sedangkan penganut Kristen kebanyakan berasal dari ekspatriat asal Eropa yang bekerja di Qatar. Sejak tahun 2008, penganut Kristen diperbolehkan untuk membangun gereja yang didanai pemerintah, meski kegiatan misionaris asing tidak diperbolehkan. Terdapat 3 buah gereja yang pembangunannya diinisiasi oleh Pemerintah Qatar adalah Gereja Katolik Our Lady of Rosary, Gereja Ortodoks Suriah Malankara Mar Thoma, dan Gereja Anglikan Epiphany.

Dengan mas Tonny dan Nissan X Terra di depan Gereja Katolik Our Lady of Rosary yang puncak gentingnya bulat, di sampingnya adalah Gereja Ortodoks Suriah Malankara Mar Thoma, dan Gereja Anglikan Epiphany, di Doha, Qatar

Dari Bandara Doha kami diajak mas Tony untuk segera menuju Gereja Katolik Bunda Rosario (Our Lady of Rosary). Gereja Katolik Bunda Rosario ini dibangun bersama dengan gereja-gereja dari denominasi Kristen lainnya, di Kompleks Keagamaan di Abu Hamour. Gereja ini adalah gereja pertama yang dibangun di Qatar sejak Penaklukan Muslim pada abad ke-7. Gereja ini dibangun dengan biaya sekitar $20 juta di atas tanah yang disumbangkan oleh Emir Qatar, Hamad bin Khalifa Al Thani. Sesuai hukum Islam di Qatar, maka gereja ini tidak menampilkan simbol Kristen seperti salib, lonceng, atau menara di bagian luarnya. Gereja ini diresmikan pada 14 Maret 2008, oleh Kardinal Ivan Dias, prefek Kongregasi Evangelisasi, dalam upacara yang dihadiri Wakil Perdana Menteri Qatar Abdullah Bin Hamad Al-Attiyah; Uskup Agung Mounged Al Hachem, duta Takhta Suci untuk Teluk; Uskup Paul Hinder, Vikariat Apostolik Arab; Uskup Agung Giuseppe Andrea, mantan nunsius Takhta Suci untuk wilayah tersebut; dan beberapa pejabat Qatar. Gereja ini menjadi bagian dari Vikariat Apostolik Arab Utara dan melayani sekitar 200.000 umat Katolik di Qatar, kebanyakan dari mereka pekerja migran dari Filipina, India, Amerika Selatan, Afrika, Lebanon, dan Eropa.

Monumen Piala Dunia 2022 di Qatar, dibangun di dekat Teluk Doha yang selalu banyak pengunjung

Kemajuan Qatar sungguh mengagumkan, bahkan mampu menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA 2022, menjadi negara Arab pertama yang mendapatkannya. Qatar menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022,  Piala Asia 2023 dan Piala Asia U23 2024. Di Piala Dunia 2022, Qatar babak belur. Di Grup A, Qatar dibungkam Ekuador 0-2, takluk dari Senegal 1-3, dan dikalahkan Belanda 0-2. Sisa kemegahannya kami nikmati pada monumen Jam Hitung Mundur Piala Dunia 2022 di Doha Corniche, Doha.

Monumen Jam Hitung Mundur Piala Dunia Qatar 2022

Jam di pinggiran pantai Teluk Doha di jalan raya utama Corniche Street itu menghitung mundur malam, hingga dimulainya perhelatan akbar Piala Dunia 2022 Qatar. Jam Hitung Mundur Piala Dunia 2022 diluncurkan pada malam tanggal 21 November 2021. Dalam acara peluncuran tersebut, Presiden FIFA Gianni Infantino menegaskan arti penting Piala Dunia 2022 Qatar. Sejak diluncurkan, countdown clock di Doha Corniche telah menjadi salah satu spot Piala Dunia 2022 yang paling banyak diburu. Lokasinya di Doha Corniche, pun sudah sangat ikonik dan indah, karena merupakan kawasan taman di pinggir pantai Teluk Doha dengan jalan setapak berbentuk bulan sabit. Taman dengan rerumputan hijau ini terletak persis menghadap ke hamparan laut. Sementara, di seberang jalan taman Doha Corniche, gedung-gedung megah di pusat ibukota berdiri tegak menjulang tinggi.

Dengan mas Tonny berlatar belakang Istana Emir Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani Raja Qatar yang indah, besar dan artistik, di seberang Jam Hitung Mundur Piala Dunia 2022, menghadap Teluk Doha yang berpanorama indah.

Dari Monumen Jam Hitung Mundur Piala Dunia 2022, kami segera menuju ke Menara Katara, di Lusail, Doha. Menara Katara menawarkan pemandangan indah Teluk Arab yang tiada duanya. Tinggi menara ini mencapai 211 meter atau sekitar 692 kaki, menjadikannya salah satu bangunan tertinggi di kawasan tersebut. Apalagi memiliki desain khas, yaitu dua menara yang melengkung, terinspirasi dari lencana berbentuk dua buah pedang tradisional Qatar, sehingga menciptakan kesan kemewahan yang berkelas. Menara ini memiliki fasilitas lengkap, yaitu tidak hanya dilengkapi 800 kamar hotel, tetapi juga apartemen mewah, ruang perkantoran modern, fasilitas rekreasi bertaraf internasional, serta restoran dengan sajian kuliner terbaik.

Menara Katara setinggi 211 meter dengan desain khas, yaitu dua menara yang melengkung, terinspirasi dari lencana berbentuk dua buah pedang tradisional Qatar.

Desain katara tower adalah harmoni antara tradisi qatar dan modernitas global, bukanlah sekedar hasil dari pemikiran semata-mata modern, tetapi juga merupakan representasi dari identitas dan warisan budaya Qatar. Segel nasional yang menggambarkan pedang tradisional scimitar dengan elegan diadopsi ke dalam desain menara modern, menciptakan sinergi antara tradisi dan inovasi. Dengan demikian, Katara Towers mampu menetapkan standar baru dalam dunia arsitektur dan perhotelan, yang mencerminkan visi Qatar untuk masa depan.

Selanjutnya kami diantar mas Tony dengan mobilnya Nissan X-Terra untuk menikmati monumen Stadion Lusail atau Stadion Lusail Iconic, adalah sebuah stadion yang terletak di Lusail, Qatar. Dimiliki oleh Asosiasi Sepak Bola Qatar, stadion ini merupakan stadion terbesar di Qatar dan salah satu dari delapan stadion yang dibangun untuk penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2022, sekaligus menjadi tempat pertandingan final Piala Dunia FIFA.

Stadion Lusail Iconic, di Doha, Qatar merupakan stadion terbesar di Qatar menjadi tempat pertandingan final Piala Dunia FIFA tahun 2022 antara Argentina melawan Prancis, berbentuk seperti kapal tradisional nelayan lokal.

Stadion ini terletak sekitar 20 kilometer (12 mi) di sebelah utara Doha. Stadion Lusail diresmikan pada 9 September 2022. Pertandingan final ini diselenggarakan di Stadion Lusail pada 18 Desember 2022 yang bertepatan pada hari nasional Qatar, antara Argentina melawan Prancis. Sebelum pertandingan final dimulai, penyanyi Argentina Lali Espósito menyanyikan Lagu Kebangsaan Argentina dan penyanyi Mesir Farrah Eldibany menyanyikan “La Marseillaise,” lagu kebangsaan Prancis. Pemain Terbaik pada pertandingan final tersebut adalah Lionel Messi (Argentina), dengan Wasit Szymon Marciniak (Polandia) dan jumlah penonton 88.966 orang. Argentina memenangkan pertandingan melalui adu penalti dengan skor 4–2 setelah hasil imbang 3–3 hingga perpanjangan waktu berakhir dan meraih gelar juara Piala Dunia FIFA yang ketiga. Trofi Piala Dunia dibawa ke lapangan pertandingan oleh mantan kapten tim nasional Spanyol Iker Casillas bersama aktris India Deepika Padukone. 

Mengenang rivalitas Lionel Messi (Argentina) dan Kylian Mbappe (Perancis) saat final Piala Dunia 2022 di Stadion Lusail, Qatar dengan sinergitas sesama alumni Realino Yogyakarta

Bukan Messi dan Mbappe saat final Piala Dinia 2022 di Qatar, hanya teman sesama alumni Realino di tempat yang sama lokasinya, yaitu Stadion Lusail

Dari Stadion Lusail yang ikonik, kami segera bergegas pulang ke rumah mas Tony di Zone 75, Street 891, Building 18, Villa number 5 Al Thakira sekitar 10 km dari Al Khore, Qatar dan beristirahat sore sejenak. Selanjutnya kami segera menikmati malam di Al Khor dengan sang isteri (mbak Christina ’Titin’ Triatmaniati, sesama staf di AKIS) yang menemani kami jalan2 malam itu, tetapi kedua anaknya tidak (Bernardino Realino ’Reno’ Manesanulu si sulung sedang kuliah di Departemen Teknik Mesin ITB Bandung dan si bungsu Gerardo Mayella ’Gera’ Manesanulu kelas 9 sedang menyiapkan ujian semester). Malam itu kami ber4 menikmati Bhukori rice full BBQ chicken dan lambs chops di Ottoman palace restaurant Al Khor sampai kekenyangen.

Al Khor International School (AKIS) Qatar di mana mas Tony dan mbak Titin mengajar

Selanjutnya kami menuju sekolah AKIS, tempat mas Tony dan mbak Titin mengajar, yang dimiliki oleh Qatargas Operating Company Ltd. (Qatargas), salah satu perusahaan penghasil gas alam terbesar di dunia. AKIS didirikan terutama untuk melayani anak-anak karyawan Qatargas. Sekolah ini terletak di Komunitas Al Khor, sekitar 40 km di utara Doha. Sebagai institusi sekolah untuk pendidikan bersama dan non-selektif, AKIS terdiri dari tahap dasar hingga Pasca 16, untuk anak usia 4-18 tahun. Kurikulum yang digunakan adalah dari Inggris (British Curriculum atau BC), India (Central Board of Secondary Education  atau CBSE), dan Qatar (Kurikulum Kementerian Pendidikan Dasar dan Pendidikan Tinggi, Bahasa Arab, Sejarah dan Studi Islam). Lebih dari 4.000 siswa, termasuk sekitar 700 siswa orang Indonesia, yang belajar di 4 buah gedung AKIS, dibimbing oleh tim yang berdedikasi dan terampil, yang terdiri dari sekitar 500 orang staf akademik dan 50 orang staf administrasi.

Makan malam menu Turki di Ottoman Palace Restourant Al Khor, Qatar

Setelah puas menikmati lingkungan sekolah AKIS yang luas, kami segera pulang. Malam itu kami benar2 terkapar di Qatar, di kamar Reno yang kosong karena ditinggal kuliah di Bandung.

(bersambung dengan petualangan selanjutnya ke Moskow, Russia)

Ditulis dan disebarluaskan dari rumah mas Tony di Zone 75, Street 891, Building 18, Villa number 5 Al Thakira sekitar 10 km dari Al Khore, Qatar


Salam pengelana
wikan & sari

QATAR  YANG  KEKAR

fx. wikan indrarto

(sambungan)

Setelah bugar dari terkapar, kami segera bersiap untuk menikmati Qatar yang kekar pada Selasa, 7 Mei 2024, sebelum melanjutkan perjalanan ke Moskow, Rusia untuk mengikuti International Conference on Pediatric Allergy and Immunology (ICPAI). Apa yang menarik?

Qatar adalah negara yang kekar secara ekonomi dengan pendapatan tinggi, ditopang oleh cadangan gas alam dan minyak yang terbesar ketiga sedunia. Negara ini masuk dalam daftar negara berpendapatan per kapita tinggi, dengan PDB per kapita Qatar menempati posisi nomor 4 tertinggi di dunia, menurut Dana Moneter Internasional (IMF). Qatar digolongkan sebagai negara yang memiliki indeks pembangunan manusia sangat tinggi dan paling baik di antara negara Arab lainnya. Qatar memiliki pengaruh cukup kuat di Jazirah Arab, mendukung beberapa kelompok pemberontak selama Musim Semi Arab, baik secara finansial maupun melalui media global Al Jazeera, bahkan Qatar memegang pengaruh yang cukup penting pada politik internasional.

Patung Oryx yang kekar menyambut penumpang di Bandara Internasional Hamad, di Doha Qatar

Qatar yang kekar dan kuat terinspirasi dari kijang oryx Arab, yang mudah dikenali dari bulunya yang putih cerah, meski sebenarnya bulunya jarang, yang memantulkan sinar matahari, kukunya yang lebar, memungkinkannya berjalan dengan relatif mudah di pasir, dan dengan tanduknya yang panjang dengan sedikit melengkung. Kijang oryx dikenal sebagai hewan dengan stamina luar biasa, yang mampu menempuh jarak jauh dengan berjalan kaki di gurun, dan terkadang mampu menempuh jarak lebih dari 70 km pada malam hari. Saat ini disebut hewan nasional Qatar, bahkan Oryx muncul pada lambang Qatar Airways, yang mendorongnya semakin kuat dan kekar dalam persaingan bisnis penerbangan.

.

Setelah dominasi Inggris dan Kesultanan Utsmaniyah di Qatar, akhirnya Qatar menjadi negara yang merdeka pada 3 September 1971. Dahulu, Inggris menguasai Qatar sebagai tempat transit kapal dagang sebelum menuju India. Qatar kemudian memperoleh status sebagai dependen dari Inggris, kemudian status protektorat Inggris yang dihentikan pada tahun 1916. Setelah Perang Dunia Kedua, Qatar berusaha memperoleh kemerdekaannya, terutama setelah India mencapai kemerdekaannya pada tahun 1950-an. Qatar semakin gencar menuntut setelah Inggris memberikan kemerdekaan kepada Kuwait pada tahun 1961.

Dataran Qatar yang gersang, datar dan berpasir, dengan rumah warga yang kotak berwarna coklat krem, merupakan pemandangan yang umum terlihat di Qatar, seperti nampak dari atas atap rumah Antonius ‘Tony’ Ferenius Mansanulu.

Dataran Qatar hanya seluas 160 km2, terdiri dari gurun pasir datar dan tempat tertinggi di Qatar adalah di Jabal Dukhan. Area ini mengandung jumlah gas alam yang sangat besar. Qatar adalah negara monarki konstitusional maupun monarki absolut yang dipimpin oleh keluarga Al Thani. Dinasti Al Thani telah memimpin Qatar sejak 1825. Emir kedelapan Qatar adalah Tamim bin Hamad Al Thani, ayahnya adalah Hamad bin Khalifa Al Thani yang menyerahkan kekuasaan padanya 25 Juni 2013.

Catatan demografi pertama Qatar dilakukan tahun 1892 dengan total populasi tahun 1892 adalah 9.830. Saat ini jumlah penduduk di Qatar berfluktuasi tergantung musim, karena negara ini sangat bergantung dari migran asing. Pada tahun 2017, total populasi Qatar mencapai 2,6 juta, di mana warga negara Qatar hanya 313.000 orang (12%) dan 2,3 juta lainnya adalah ekspatriat. Warga asing non-Arab menyumbang mayoritas populasi Qatar; Orang India merupakan yang terbesar, mencapai 650.000 orang (2017), diikuti 350.000 orang Nepal, 280.000 orang Bangladesh, 260.000 orang Filipina, 200.000 orang Mesir, 145.000 orang Sri Lanka dan 125.000 orang Pakistan.

Gerardo Mayella ’Gera’ Manesanulu yang berambut gonderong duduk kelas 9, berangkat ke sekolah bersama ayahnya dari rumanya di Zone 75, Street 891, Building 18, Villa number 5 Al Thakira sekitar 10 km dari Al Khore, Qatar kami lepas dengan mbak Christina ’Titin’ Triatmaniati, yang hari itu libur.

Pagi itu kami berdua pesiar sendirian, setelah mas Tonny sudah berangkat masuk kerja, dilepas mbak Titin. Dengan naik taksi Toyota Fortuner 2022 setir kiri, kami meninggalkan rumah mas Tony di Zone 75, Street 891, Building 18, Villa number 5 Al Thakira Al Khore, untuk memulai jalan-jalan. Tujuan pertama kami adalah Stadion Al Bayt yaitu stadion sepakbola yang digunakan untuk Piala Dunia FIFA 2022 di Al Khor, Qatar.

Al Bayt Stadium yang mengambil insiprasi dari tenda tradisional bangsa Qatar yang masih nomaden, yang digunakan untuk menggelar laga pembuka Piala Dunia 2022 antara Qatar vs Ekuador.

Kontrak konstruksi stadion diberikan kepada Salini dan Cimolai pada 2015. Bentuk stadion ini mengambil insiprasi dari tenda tradisional bangsa Qatar yang masih nomaden, menyediakan tempat duduk tertutup untuk semua penonton. Selain itu, juga terhubung dengan sejumlah sistem transportasi, yang terdiri dari 150 bus/angkutan umum (Pulang/Pergi) dan 1.000 taksi dengan tempat parkir yang mampu menampung 6.000 mobil dan 350 bis. Stadion ini mampu menampung sekitar 60.000 penggemar Piala Dunia, termasuk 1.000 kursi untuk pers. Juga ada  suite hotel mewah dan kamar-kamar dengan pemandangan balkon dari lapangan sepak bola. Proses pengerjaaan Al Bayt Stadium memakan waktu kurang lebih lima tahun, mulai akhir 2015 dan baru dibuka secara resmi pada awal tahun 2020. Pembukaannya bertepatan dengan Hari Olahraga Nasional yang diperingati di Qatar. Meski begitu, stadion ini baru menggelar pertandingan resmi pertamanya di bulan November pada ajang Arab Cup 2021. Al Bayt Stadium kala itu menjadi tempat berlangsungnya laga pembuka antara Qatar vs Bahrain dan partai puncak antara Tunisia vs Aljazair. Stadion ini digunakan untuk menggelar laga pembuka Piala Dunia 2022 antara Qatar vs Ekuador.

.

Selanjutnya kami mengunjungi Katara Cultural Village, yang lokasinya di antara Westbay dan The Pearl. Katara adalah sebutan bagi negara Qatar di abad ke 18, yang digunakan lagi untuk menjunjung tinggi nilai warisan para leluhur dan untuk menghormati posisi terhormat Qatar sejak awal sejarah negara ini berdiri. Karena Katara dibangun sebagai pusat kebudayaan yang multidimensi, tempat ini dijadikan pusat dimana pengunjung dapat merasakan berbagai kebudayaan dunia. Di Katara tersebut terdapat beberapa kantor komunitas Qatari antara lain: Qatar Fine Art Society, Visual Art Centre, Qatar Photographic Society, Childhood Cultural Centre, Qatari Society for Engineers, Theatre Society, Brooq Magazine, Doha Film Institute dan Qatar Music Academy.

Pigeon Tower berbentuk silinder sebagai ikon Qatar, yang dibangun dari batu bata, lumpur dan plester perpaduan dari kapur dan gypsum.

Bentuk bangunan di dalam area Katara semuanya tidak biasa, bentuknya berbeda satu dengan yang lain. Kawasan ini mempertemukan semua bentuk kesenian baik dari seni pertunjukan, literatur, seni visual, musik sampai berbagai konvensi seni. Hampir setiap hari disajikan berbagai pertunjukan kesenian di sini. Tapi yang paling meriah tentunya menjelang akhir tahun dimana bertepatan dengan Hari Nasional Qatar dan libur sekolah pada musim dingin. Di dalam kawasan ini terdapat 2 masjid, yaitu Masjid Besar untuk sholat Jumat dan Masjid Emas, untuk sholat 5 waktu. Di sebelah masjid terdapat Pigeon Tower. Bangunan yang berbentuk silinder ini menjadi ikon ciri khas Qatar, berukuran diameter 10-22 meter dengan tinggi 18 meter atau bahkan lebih. Dibangun dari batu bata, lumpur dan plester perpaduan dari kapur dan gipsum. Benteng silinder ini menjadi tempat berkumpulnya burung merpati yang banyak sekali ditemui di Qatar. Lubang-lubang sengaja dibuat sesuai ukuran tubuh merpati, sehingga burung besar yang menjadi predatornya seperti burung elang, gagak dan burung hantu tidak akan dapat masuk ke dalam.

Gedung berbentuk kado yang disebut Children’s Mall di Katara Cultural Village yang disambungkan ke Katara Plaza, Doha Qatar

Selanjutnya kami menuju ke gedung berbentuk kado yang disebut Children’s Mall, salah satu projek yang terbaru dalam tahap pembangunan di Katara Cultural Village. Children’s Mall ini disambungkan ke gedung yang ada di belakangnya, yaitu Katara Plaza, pusat perbelanjaan di dalam kompek Katara. Children’s Mall ini ditujukan untuk memenuhi semua kebutuhan anak-anak dari mulai pakaian, mainan, peralatan sekolah, cemilan anak, salon anak, parfum khusus anak, kerajinan tangan, aksesoris anak, aneka hiburan sampai pendidikan.

Bergaya seolah berbelanja di Souq Waqif, yaitu pasar tradisionil di Pusat Kota Doha, Qatar yang menjual pakaian tradisional, rempah-rempah, kerajinan tangan, dan suvenir.

Selanjutnya kami menikmati Souq Waqif, Doha. Ini adalah pasar besar di Kota Doha dengan para penjual pakaian tradisional, rempah-rempah, kerajinan tangan, dan suvenir. Di sini juga ada restoran dan lounge shisha. Souq Waqif berlokasi tepat di pusat kota Doha dan yang menarik dari lokasi ini adalah terdapat banyak pilihan barang dengan harga yang cukup terjangkau. Ini adalah tempat yang cocok untuk membeli oleh-oleh dengan harga ekonomis. Di kanan kirinya di kelilingi dengan beragam gedung bertingkat, perkantoran, apartemen dan hotel mewah. Pusat perbelanjaan tradisional ini memberikan profit yang cukup bagi pemerintah Qatar sehingga tidak heran jika di tengah modernitas bangunan di kanan dan kirinya, pasar ini tetap dipertahankan oleh pemerintah setempat.

Museum Nasional di Doha, Qatar yang bentuknya terinspirasi mawar gurun, dan sebelumnya merupakan istana Syeikh Abdullah Al-Thani.

Selanjutnya kami menikmati Museum Nasional Qatar, Doha, yang menyimpan artefak dan patung, serta semacam tenda yang dikreasikan seperti yang pernah digunakan orang-orang nomaden di Qatar. Rancangan Museum Nasional Qatar terinspirasi mawar gurun, sebuah formasi mineral yang ditemukan di negara Timur Tengah itu. Museum ini adalah istana Syeikh Abdullah Al-Thani yang hadir dengan desain arsitektur yang luar biasa indah. Sekilas dari bangunannya memang tidak tampak seperti museum pada umumnya. Di museum ini, diadakan beberapa kali pameran setiap tahunnya. Sejak mulai memasuki kawasan museum, pengunjung telah dibuat terpana dengan bentuk gedung yang tak biasa. Bangunan itu didesain oleh arsitek pemenang Penghargaan Pritzker, Jean Nouvel. Museum Nasional Qatar pun menjadi salah satu bangunan ikonik di ibu kota Doha. Menurut situs resminya, bangunan Museum Nasional Qatar mengambil inspirasi dari mawar gurun, sebuah formasi kristal alami yang bisa ditemukan di wilayah gurun pasir Qatar. Dari kejauhan, bangunan museum tampak seperti  cakram atau kelopak yang bertumpuk. Seluruh area museum memiliki luas 147.425 meter persegi. Di tengah museum adalah istana Sheikh Abdullah bin Jassim Al-Thani yang menjadi pusat pemerintahan di Qatar selama 25 tahun. Istana itu dipugar dengan hati-hati untuk tetap menampilkan keasliannya.

.

Beberapa destinasi yang kami rencanakan, tetapi tidak tercapai karena keterbatasan waktu adalah Stadion Jassim Bin Hamad yang pada Piala Asia U-23 2024 di situ kesebelasan nasional Indonesia kalah dari Qatar 2-0, pada pertandingan yang dipimpin oleh Nasrullo Kabirovwasit dari Tajikistan yang mengganjar Ivar Jenner dan Ramadan Sananta dengan kartu merah di, Doha, Senin, 15 April 2024. Kami juga tidak sempat menikmati Khor Al Adaid di Al Khor. Pantai di bagian tenggara Qatar ini terkenal karena keunikannya karena berbatasan langsung dengan gurun pasir. Saat pagi, air laut mengalir ke gurun dan menciptakan kubangan besar, sedangkan pada malam hari air laut kembali surut. Selain itu juga kami tidak sempat mencicipi sensasi Desert Safari, yaitu tour untuk merasakan dan melihat gurun pasir yang menakjubkan. Aktivitas Desert Safari biasanya dilakukan pada pagi hari saat matahari menjelang terbit atau tengah malam. Selain dengan mobil, kita sebenarnya dapat juga menjelajahi gurun dengan menunggangi unta. Tujuan yang tidak tercapai terakhir adalah Benteng Al Zubara. Ini situs bersejarah yang bernilai tinggi bagi rakyat Qatar dan telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO. Banyak artefak dan peninggalan sejarah yang bisa dipelajari wisatawan di benteng ini. Dahulu, benteng ini menjadi basis militer yang merupakan bangunan penting bagi penduduk asli Qatar. Berdiri sejak tahun 1938 silam dan hingga kini tetap menarik karena menyimpan nilai arkeologi dan juga nilai arsitektur yang tinggi. Di sekitar kawasan benteng, terdapat pusat perbelanjaan yang cocok untuk membeli oleh-oleh khas Qatar.

Boneka beruang kuning raksasa yang dibuat oleh seniman Swiss Urs Fischer di Bandara Hamad Doha, Qatar dan mencerminkan Qatar yang kekar.

Kami segera menuju ke Bandara Internasional Doha Qatar, yang disebut Hamad International Airport (HIA) yang dinobatkan sebagai salah satu bandara terbaik  menurut SkyTrax. HIA dinobatkan sebagai salah satu bandara terbaik yang melayani antara 30-40 juta penumpang per tahun, juga sebagai bandara terbaik dan staf bandara terbaik di Timur Tengah. Bandaranya bersih, rapi, dan mewah. Salah satu icon di HIA ini adalah adanya boneka beruang kuning raksasa yang terletak di tengah bandara dan sangat menonjol. Boneka beruang kuning raksasa ini dibuat oleh seniman Swiss yaitu Urs Fischer, berdiri setinggi 23 kaki di tengah foyer besar yang mengarah ke aula bandara. Boneka beruang kuning raksasa ini terbuat dari perunggu cor dan  memiliki berat antara 18 dan 20 ton

Suasana di dalam skytrain yang melaju dari sektor selatan ke utara Bandara Internasinal Hamad di Doha, Qatar.

Setelah selesai urusan imigrasi di Bandara Internasional Doha Qatar, kami segera menuju ke pintu gerbang C19 untuk melanjutkan perjalanan menggunakan Qatar Airways QR 337 sebuah Boeing 787-8 (Dreamliner), untuk mengikuti International Conference on Pediatric Allergy and Immunology (ICPAI), dengan terbang tinggi menuju Sheremetyevo International Airport Terminal C Moscow, Russia. Kami sempat menikmati skytrain dari sektor selatan ke utara Bandara Internasinal Hamad di Doha, Qatar.

.

(bersambung dengan petualangan di Moscow)

Selasa, 7 Mei 2024, pk. 17.38 waktu Timur Tengah

.

Ditulis dan disebarkan di dekat Gate C19 Bandara Internasional Hamad, yang struktur atapnya nampak kekar di Doha, Qatar

Salam pengelana
-wikan dan Sari

Categories
Healthy Life Jalan-jalan

2024 JELAJAH JEPARA LAGI

2024 JELAJAH  JEPARA  LAGI

Setelah menjelajahi Jepara pada pergantian tahun 2024 yang lalu, kembali kami melakukan perjalanan serupa yang lebih singkat.

baca juga : 2023-2024 JELAJAH JEPARA

Perteuan Gotrah Djojosasmitan di kediaman mbak Anik Surono di Perumahan Safira Waru Blok I No.8, Waru, Baki, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Petualangan ke Jepara yang kedua, kami ber4 (dengan dik Bimoseno dan dik Larasati) dimulai dari Manahan, Surakarta, setelah menghadiri acara Gotrah Djojosasmitan di Waru, Baki, Sukoharjo, Jawa Tengah. Kami menempuh jarak 182 km dari pool Travel Rimba Raya di Manahan Surakarta, untuk menuju Jepara pada Lebaran hari kedua Kamis, 11 April 2024, pk. 13.30. Tujuan kami adalah mengantar dik Laras kembali menemui keluarga William Febuana di Mlonggo, Jepara.

Dengan mas Joni Krisdiman yang menjadi tuan rumah Gotrah Djojosasmitan 2024

Ide awal pendirian bisnis travel Rimba Raya ini berdasarkan pengalaman pribadi owner yakni, M. Rizky Alamsyah, saat  tahun 2014 hingga 2019 menjalani masa kuliah di luar kota dan menjadi pengguna jasa travel. Pada saat itu jasa travel tidak dapat melakukan penjemputan dan pengantaran hingga tujuan akhir penumpang, tetapi hanya penghantaran sampai di pool dalam kota saja. Selain itu, juga jasa travel hanya menyediakan fasilitas apa adanya,  jumlah seat yang banyak, sehingga membuat penumpang merasa tidak nyaman untuk sekedar istirahat selama di perjalanan. Karena itu Travel Rimba Raya saat ini selalu menggunakan kursi penumpang yang besar, agar lebih nyaman dan tidak merasakan pegal-pegal. Kami menikmati fasilitas armada berupa Toyota Hiace premio yang elit. Dilengkapi 8 captain seat, arm rest, legrest, USB port dan air mineral.

Travel Rimba Raya sudah siap di pool Manahan Surakarta untuk menuju ke Jepara, dengan dik Laras yang sedang kurang sehat

Kami diantar oleh dik Bayu Krisnadi dengan Innova D2,5 warna abu-abu menuju pool Travel Rimba Raya diperbatasan Kerten dan Manahan, beberapa saat sebelum acara Gotrah Djojosasmitan ditutup. Segera kami menikmati fasilitas armada dengan jumlah 8 seat yang langsung diguyur hujan, membuat jarak duduk antar penumpang sangat longgar. Fasilitas captain seat dengan arm rest & leg rest yang membuat penumpang dapat duduk dan beristirahat dengan nyaman selama perjalanan. Fasilitas USB port yang dapat menunjang kebutuhan penumpang yang tidak lepas dari mobilephone, sehingga penumpang tidak perlu cemas kehabisan baterai selama perjalanan. Juga Fasilitas air mineral, sehingga penumpang tidak akan dehidrasi selama perjalanan, meski kami ber4 lebih sering tertidur pulas sepanjang perjalanan.

.

Kami turun di perempatan Mlonggo, sekitar 13 km setelah Jepara, untuk dijemput William Febuana  (dulu teman sekelas dik Bimo dan sekarang pacar dik Laras) dengan Honda CRV K 1465 FC tipe kura-kura 2,4 tahun 2011. Julukan kura-kura ini juga pas untuk menggambarkan ketangguhannya melintasi beberapa generasi, karena masih tetap eksis sampai saat ini sudah beredar CR-V Gen6. Honda CR-V Gen 3 ini diproduksi antara 2007 sampai 2012,  berwujud SUV urban yang lebih kalem dan bergaya elegan dan mewah. Setelah mandi sore dan badan bugar, kami segera diajak keluarga William (Bapak Mulyono dan Ibu Harlina) makan malam di Yam Yam Restoran di Jl. Dr. Sutomo, Kauman, Jepara. Ini adalah salah satu tempat makan di Jepara yang sangat nyaman sekali. Di Yam Yam Resto, kita tidak hanya makan bersama keluarga dan relasi, namun juga dapat sekaligus menikmati sensasi lidah. Adapun untuk menu makanan yang disediakan sangatlah beragam, mulai dari menu ala Thailand, pizza, dan banyak lagi ala western, seafood yang enak.

Menikmati sensasi lidah saat makan malam Yam Yam Restoran di Jl. Dr. Sutomo, Kauman, Jepara

Setelah kenyang makan di Yam Yam Restoran Jepara, kami segera menuju ke Kura-Kura Ocean Park, sebuah wahana wisata keluarga yang terletak di Pantai Kartini, Jepara. Wahana ini diresmikan pada 22 Februari 2011 oleh Bupati Jepara. Bangunan ini terdiri dari 2 lantai, dengan lantai satu sebagai taman laut dengan akuarium yang berisi berbagai spesies ikan dan penyu. Sementara itu, lantai 2 sebagai wahana pendukung dari Kura-kura Ocean Park terdiri dari Spa Fish, Aquarium, Mini Theater dan Lounge, serta Kolam Sentuh. Malam itu Kura-Kura Ocean Park dipadati banyak pengunjung yang menikmati pemandangan malam taman laut, dengan desain penyu sebagai bangunan utamanya. Kura-Kura Ocean Park terletak di dalam kawasan Pantai Kartini yang kami tempuh selama 20 menit perjalanan darat dari pusat Kota Jepara. Bentuk kura-kura memang sengaja dipilih untuk menegaskan Jepara sebagai tempat pembudidayaan penyu sisik.

Kura-Kura Ocean Park yang besar menjulang di dalam kawasan Pantai Kartini Jepara pada malam hari yang ramai pengunjung

Taman laut yang terdiri dari dua lantai ini sangat unik. Di dalam beberapa akuarium yang ada di tempat ini, tersimpan kekayaan fauna Indonesia. Tidak hanya fauna yang hidup di air asin, taman wisata ini juga memiliki koleksi fauna yang hidup di air tawar. Di tempat tersebut sebenarnya ada bagian yang dinamakan terowongan misteri bawah laut. Oleh karena malam itu sudah tutup, kami tidak mampu berjalan di terowongan ini untuk menyaksikan aneka biota laut yang ada di sisi kiri dan kanan terowongan. Kami juga tidak mampu naik ke lantai 2 untuk  melihat pemandangan akuarium dari atas. Pada hal Kura-Kura Ocean Park ternyata juga memiliki kolam khusus bagi para pengunjung yang ingin menyentuh langsung ikan dan kura-kura tawar yang jinak. Sayang sekali, malam itu kami tidak dapat memberi makan ikan-ikan tawar. Pada hal, melihat ikan-ikan yang bergerombol memperebutkan makanan menjadi pemandangan yang menarik

Patung Kura-Kura Ocean Park yang gagah menjulang di dalam kawasan Pantai Kartini Jepara, bila dilihat dari atas

Jumat, 12 April 2024 pagi  setelah sarapan, kami mulai menjelajah sisi barat laut teritorial Kabupaten Jepara. Dari Desa Karangbendo, Kecamatan Mlonggo kediaman Bapak Mulyono dan Ibu Harlina kami menyusuri jalan raya kabupaten yang bagus melewati Desa Bondo, Kecamatan Bangsri untuk menuju PLTU Tanjung Jati Jepara. Desa Bondo mengingatkan kita akan awal mula penyebaran agama Kristen di sekitar Gunung Muria, sampai berdirinya Gereja Injil di Tanah Jawa (GITJ). Gereja Injili di Tanah Jawa (disingkat GITJ) adalah kelompok gereja Kristen Protestan beraliran menonit di Indonesia yang berpusat di Pati, Jawa Tengah. Wilayah pelayanannya cukup luas yakni meliputi sebagian Jawa Tengah dan beberapa daerah transmigran di Sumatra.

GITJ Kedungpenjalin Jepara

GITJ berdiri pada tanggal 30 Mei 1940 dari hasil penginjilan yang dilakukan oleh Pieter Janz dari Doopsgezinde Zendings-Vereniging (DZV) Belanda, yang dibantu oleh seorang penginjil pribumi bernama Kiai Ibrahim Tunggul Wulung. Semula GITJ hanya berada di sekitar wilayah Gunung Muria, tetapi kemudian berkembang ke Semarang, Salatiga, Yogyakarta, dan Sumatra. Jumlah GITJ saat ini mencapai  120 gereja (data pada 2022) dengan 68.205 jiwa. Jumlah Pendeta: 91 orang; Pendeta Emiritus: 24 orang; Pembantu Pendeta: 17 orang. Jumlah pelayan lainnya: 2.307 orang (Guru Injil, Penatua, Diaken, Guru Sekolah Minggu). Selain itu, kepersonaliaan saat ini adalah Ketua Umum: Pdt. Ch. Teguh Sayoga, S.Th., M.A., M.Pd.K. Sekretaris Umum: Pdt. Edi Cahyono, S.Th., M.A.C.E. Bendahara Umum: Iskandar M.Z., S.E.

Banyak sekali bangunan GITJ yang kami lihat dalam perjalanan yang diantar William Febuana dengan CR-V Kura-kura tersebut, bahkan mungkin setiap RW punya gereja sendiri. Saking banyaknya gereja membuat kami ingat tentang sejarah GITJ di wilayah Jepara dan sekitarnya tidak dapat dilepaskan dari karya Kiai Ibrahim Tunggul Wulung (1800-1885) dan para pengikutnya yang membentuk komunitas Kristen Jawa Merdeka di daerah Bondo, Banyutowo, Dukuhseti dan Tegalombo sejak tahun 1850-an. Dalam pelayanannya sekitar 30 tahun, Tunggul Wulung memiliki pengikut kurang lebih sekitar 1.000 orang, jauh lebih besar dibandingkan dengan pelayanan misi Pieter Anthoni Janzs dari badan misi DZV (Doopgesinde Zendings Vereeniging) yang mulai bekerja di Jepara dan sekitarnya tahun 1852.

Bupati Jepara Dian Kristiandi hadir pada peresmian makam Tunggul Wulung, di desa Bondo, Bangsri, Jepara, Selasa (29/03/2022)

Setelah Tunggul Wulung wafat pada tahun 1885, komunitas Kristen Jawa yang didirikannya lambat laun menggabungkan diri dengan jemaat DZV. Selanjutnya misi di daerah Jepara dan sekitarnya banyak dilaksanakan oleh Pieter Janzs dari DZV dan beberapa tokoh lokal, seperti Pasrah Karso dan Pasrah Noeriman. Dengan ijin dari Pemerintah Hindia Belanda, Jansz membuka desa-desa baru, di antaranya: Kedung penjalin, Margoredjo, Bumi Hardjo, dan Pakis Swawal. Karena pengaruh kebijakan politik Etis yang diterapkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada awal tahun 1900-an, maka kegiatan misi juga diarahkan ke dalam bentuk layanan pendidikan dan kesehatan. Dengan demikian banyak tenaga pengajar dan medis yang dihasilkan dari desa-desa Kristen, sampai terbentuknya RS Kristen Tayu di Kabupaten Pati yang legendaris. Dalam perkembangan selanjutnya, tenaga-tenaga pengajar dan medis ini banyak yang tersebar ke kota di mana kekristenan belum berkembang di sana. Selain itu karena banyak pemuda-pemuda Kristen dari desa yang belajar ke kota, sehingga kekristenan mulai mengalir ke perkotaan. Dari sinilah sebenarnya awal dari terbentuknya GITJ Jepara.

Saat berada di Desa Bondo, Tunggul Wulung ditemui oleh Radin Abas, seorang santri yang tengah keluar berkelana mencari ilmu dan jati diri. Belakangan Radin Abas masuk Kristen dengan nama Kiai Sadrach, yang kelak diingat sebagai figur intelektual Kristen Jawa dengan latar belakang pengetahuan agama dan kebudayaan Jawa. Seiring usianya yang kian senja, sejak 1875 Ibrahim Tunggul Wulung tinggal di sekitar Gunung Muria sampai tutup usia pada 1885. Ketika ia mati, jumlah pengikut Kristen di desa tersebut mencapai 1.058 orang. Pasca kematiannya, tak semua jemaat mengikuti warisan pemikiran Ibrahim Tunggul Wulun. Dari Desa Bondo yang bersejarah tersebut, kami segera menyusuri jalan pedesaan menuju ke PLTU Tanjung Jati B.

.

Terletak di ujung paling utara pulau Jawa tepatnya di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, berdiri PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) Tanjung Jati B yang merupakan salah satu pembangkit PLN untuk memenuhi kebutuhan listrik sistem interkoneksi Jawa-Bali, bahkan memegang peran sentral dalam sistem interkoneksi tersebut. Hingga triwulan III 2019, PLTU berkapasitas 4 x 710 MW (kapasitas terpasang) dengan daya mampu 4×660 MW ini memiliki kesiapan produksi listrik atau Equivalent Availability Factor (EAF) hingga 93,6% selama setahun, naik dari tahun lalu sebesar 89,8%.

PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) Tanjung Jati B dengan latar depan sawah subur di Jepara

Pembangkit ini paling produktif se-Indonesia, kemampuan produksi PLTU Tanjung Jati B diatas rata-rata kemampuan (pembangkit) lainnya, dengan kapasitas 10% kebutuhan listrik Jawa-Bali, sehingga mampu berkontribusi pada penjualan sebesar 12% kebutuhan listrik Jawa-Bali. PLTU Tanjung Jati B menjadi tulang punggung kelistrikan Jawa-Bali sejak pertama kali beroperasi pada tahun 2006. Adapun besaran 12% adalah setara dengan kebutuhan listrik sekitar 5 juta pelanggan rumah tangga.

PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) Tanjung Jati B di tepi pantai dengan banyak kapal tongkang pembawa material batubara di sekitarnya

.

Kami sangat kagum dengan megahnya PLTU tersebut yang kami ambil gambarnya dari sisi depan dengan sawah yang menghijau dan sisi belakang dengan laut yang membiru. Indah sekali. Saat ini sedang dibangun 2 (dua) pembangkit baru yaitu unit 5 dan 6, masing-masing berkapasitas 1000MW, sehingga membuat PLTU Tanjung Jati dapat menjadi yang terbesar se Asia Tenggara. Tahun 2015, PLTU Tanjung Jati B kembali memenangkan Asean Energy Awards dalam kategori pengelolaan batubara. Di sisi pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, PLTU Tanjung Jati B juga telah mendapatkan pengakuan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berupa Proper Hijau enam kali berturut-turut sejak tahun 2013.

Setelah puas dan bangga melihat kemegahan PLTU Tanjung Jati B, segera kami kembali pulang ke rumah keluarag William Febuana, sambil mampir beli buah pisang segar di pasar Bendo. Makan siang kami di rumah diselingi guyonan segar, sambil menghabiskan menu sea food yang pedas dan lezat. Setelah beristirahat sejenak, kami segre amenjelajah Pantai Pailus, sekitar 2 km dari rumah.

Eyang Kakung Sutarni, ayah kandung Ibu Harlina, usia 88 tahun yang tinggal di bibir Pantai Pailus, Mlonggo Jepara.

Kami sowan Eyang Kakung Sutarni, ayah kandung Ibu Harlina, usia 88 tahun yang tinggal di bibir pantai. Pantai Pailus adalah garis pantai yang landai di Desa Karanggondang, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara yang menjadi salah satu tempat wisata baru yang layak dikunjungi wisatawan. Pantainya yang masih perawan dan relatif masih bersih serta alami. Pantai Pailus dikelola warga setempat, sehingga warung, penyewaan ban dalam, dan perahu wisata dikelola oleh warga desa sendiri, sehingga pengunjung serasa berada di pantai pribadi. Pantai yang seperti inilah yang sangat dicari oleh wisatawan terutama wisatawan. Karena wisatawan lebih suka wisata pantai perawan, sehingga warga Desa Karanggondang membuat peraturan yang isinya melarang siapapun yang membuat bangunan di Kawasan Pantai Pailus, dan pelanggaran didenda dengan jumlah sesuai ukuran bangunan tersebut. Hal ini dilakukan supaya para wisatawan yang sangat mendambakan wisata pantai yang sunyi bersih alami dan perawan bisa berdatangan ke Pantai Pailus. Secara tidak langsung para wisatawan tersebut masuk kampung-kampung untuk membeli makan minum maupun menginap di Desa Karanggondang, sehingga meningkatkan ekonomi warga Desa Karanggondang.

Setelah puas minum air kelapa muda dan makan gorengan hangat, baik pisang, tempe maupun bakwan, kami segera pamit pulang. Jumat, 12 April 2024 pk. 17.15 kami kembali menikmati kenyamaman Travel Rimba Raya yang elit, dari pertigaan Mlonggo, Jepara untuk pulang ke Yogyakarta. Hanya kami bertiga, karena dik Laras akan diantar William Febuana kembali ke Bandung malam itu, untuk melanjutkan rotasi klinik (ko0ass) di Bagian Mata di RS Emanual Bandung.

Bergaya di sebelah rumah Eyang Kakung Sutarni, ayah kandung Ibu Harlina, usia 88 tahun yang tinggal di bibir pantai Pailus, Mlonggo, Jepara.

Pamit pulang di halaman rumah kepada Bapak Mulyono dan Ibu Harlina di Mlonggo, Jepara, untuk kembali ke Timoho Yogyakarta

Travel Rimba Raya yang kami naiki berupa minivans terbaru dari Toyota, Hiace Premio berkapasitas 12-penumpang dibekali juga dengan transmisi 6-Speed Manual. Sistem keamanannya dibekali Power Door Locks. Hiace Premio memakai mesin serupa dengan Fortuner, yaitu turbo diesel berkode 1GD-FTV 4-silinder VNT Intercooler dengan kapasitas 2.800 cc. Mesin ini menghasilkan tenaga 177 ps pada 3.400 rpm dan torsi maksimum 420 Nm pada 1.400 hingga 2.600 rpm. Laju Travel Rimba Raya membelah kemacetan arus Lebaran 2024 membawa kami 5 jam perjalanan yang nyaman, meski diguyur hujan lebat. Kami mendarat di rumah Timoho menjelang pk. 23, yang tersu dilanjutnya memanjatkan puji syukur atas semua petualangan yang kami lalui.

Viva Rainha De Jepara pada jendela Travel Rimba Raya yang menggambarkan kejayaan dan keberanian Ratu Kalinyamat, pahlawan wanita dari Jepara

Sampai bertemu dalam petulangan selanjutnya

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?