Categories
Istanbul

2019 Pekan Imunisasi Sedunia

Hasil gambar untuk world immunization week 2019 theme

PEKAN  IMUNISASI  SEDUNIA  2019

fx. wikan indrarto*)

Dirayakan setiap minggu terakhir bulan April, Pekan Imunisasi Dunia (World Immunization Week) 2019 kali ini, bertujuan untuk mempromosikan penggunaan vaksin dalam imunisasi, guna melindungi semua orang pada segala usia, terhadap ancaman penyakit infeksi. Imunisasi telah menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahun, dan secara luas diakui sebagai salah satu intervensi kesehatan paling sukses dan hemat biaya di dunia. Namun demikian, masih ada hampir 20 juta anak yang tidak dan kurang lengkap divaksinasi di dunia saat ini. Apa yang harus dilakukan?

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/07/24/2018-senjang-imunisasi/

Tema kampanye tahun 2019 ini adalah ‘Perlindungan Bersama, oleh kerja Vaksin’ (Protected Together: Vaccines Work!) dan kampanye tahun 2019 ini juga akan merayakan Pahlawan Vaksin (Vaccine Heroes) dari seluruh dunia. Para pahlawan vaksin terdiri dari orang tua, anggota masyarakat, petugas kesehatan, dan para peneliti sebagai inovator, yang membantu memastikan kita semua pada segala usia, akan dilindungi melalui kekuatan vaksin (#VaccinesWork).

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2017/07/03/etika-imunisasi/

Pada sepanjang tahun 2017, jumlah anak secara global yang diimunisasi mencapai 116,2 juta atau yang tertinggi yang pernah dilaporkan. Selain itu, sejak tahun 2010 terdapat 113 negara yang telah memperkenalkan vaksin baru, sehingga terdapat tambahan lebih dari 20 juta anak yang telah divaksinasi. Namun demikian, meskipun ada banyak manfaat vaksin, semua target untuk menghilangkan penyakit menular, yaitu campak, rubella, dan tetanus pada ibu dan bayi, masih berada di luar jangkauan. Bahkan selama dua tahun terakhir ini, dunia telah mengalami banyak wabah campak, difteri dan berbagai penyakit infeksi lain, yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin. Sebagian besar anak yang tidak diimunisasi adalah mereka yang tinggal di komunitas termiskin, terpinggirkan, dan terkena dampak konflik bersenjata.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/02/27/2019-vaksin-dengue/

Agar setiap orang, di mana saja mereka tinggal, mampu bertahan hidup dan berkembang dengan baik, maka setiap negara harus mengintensifkan upaya untuk memastikan, bahwa semua warganya menerima manfaat vaksin yang mampu menyelamatkan nyawa. Selain itu, setiap negara yang telah mencapai atau membuat kemajuan ke arah tujuan imunisasi, yaitu eliminasi suatu penyakit menular, harus tetap bekerja keras untuk mempertahankan kemajuan yang telah dibuat.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/02/23/2019-mencegah-kanker-serviks/

Tujuan utama dari kampanye Pekan Imunisasi Dunia tahun 2019 ini, adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya imunisasi secara penuh, sepanjang hidup manusia. Tujuan khususnya adalah untuk, pertama menunjukkan bukti manfaat vaksin untuk kesehatan anak, masyarakat dan dunia. Kedua, menyoroti kebutuhan untuk meningkatkan cakupan imunisasi sambil mengatasi kesenjangan yang masih ada, termasuk melalui peningkatan investasi. Ketiga, menunjukkan bagaimana imunisasi rutin merupakan dasar untuk terbentuknya sistem kesehatan yang kuat dan tangguh, serta tercapainya cakupan kesehatan semesta atau Universal Health Couverage (UHC). Memperluas akses ke imunisasi sangat penting untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, pengurangan kemiskinan, dan pencapaian UHC. Imunisasi dasar rutin merupakan titik kontak dengan sistem layanan kesehatan pada awal kehidupan dan menawarkan kepada setiap bayi, kesempatan untuk memperoleh kehidupan yang lebih sehat, dari awal hingga usia tua.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/12/27/2018-vaksin-bukan-mitos/

Pesan kunci pada Pekan Imunisasi Dunia 2019 yang istimewa ini adalah kita membutuhkan bantuan pahlawan imunisasi di manapun berada, untuk menjangkau 1 dari 10 anak, yang sampai sekarang masih tidak memiliki akses ke layanan vaksin.  Pada semua usia, vaksin mampu menyelamatkan nyawa, bahkan vaksin melindungi anak kita dan vaksin juga melindungi kita semua sebagai orang dewasa, dari ancaman penyakit menular. Vaksin mampu memberikan tambahan makna dalam kehidupan, yaitu masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak kita.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/03/20/2019-lawan-influenza/

Kita semua wajib memastikan bahwa vaksin telah menjangkau semua orang yang paling membutuhkannya. Bahkan kita semua diundang untuk dapat menjadi Pahlawan Vaksin (Vaccine Heroes). Caranya adalah dengan memastikan kita dan keluarga kita telah divaksinasi tepat waktu dan setiap saat diperbaharui. Selain itu, sebelum melakukan perjalanan ke suatu daerah endemis penyakit menular, kita diharapkan memastikan pemberian vaksin untuk melindungi terhadap penyakit infeksi di tempat tujuan. Menjadi juara vaksin (be a vaccine champion) juga perlu dilakukan, yaitu dengan cara menjelaskan kepada setiap orang di sekitar kita tentang manfaat vaksin. Dalam hal ini perlu penekanan bahwa vaksin mampu menyelamatkan hidup, membantu anak agar dapat belajar dan bertumbuh, karena kemampuan vaksin mencegah penyakit infeksi serius, menghindari cacat dan kematian.

Momentum Pekan Imunisasi Dunia (World Immunization Week) 24-30 April 2019, juga mengingatkan para petugas kesehatan di manapun. Hendaknya pada setiap tindakan pemeriksaan atas pasien, dijadikan kesempatan untuk melakukan edukasi dan pencatatan (check-in) tentang vaksinasi. Hal ini dilakukan tidak hanya untuk pasien anak, tetapi juga untuk para pasien remaja, dewasa, dan lansia.

Apakah kita sudah bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 11 April 2019

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Istanbul

2019 Gangguan Mental dalam Perjalanan

Hasil gambar untuk gangguan mental di jalan

GANGGUAN MENTAL DALAM PERJALANAN

fx. wikan indrarto*)

Guideline Development Group (GDG) mengusulkan untuk revisi ‘International Travel Health’ terbitan WHO, termasuk pengelolaan gangguan mental. Panduan kesehatan perjalanan terbaru berbasis bukti, diterbitkan untuk para profesional medis, pelancong internasional dan negara anggota WHO. Apa yang perlu diketahui?

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/04/05/2019-perjalanan-sehat/

Perjalanan wisata, apalagi berskala internasional, seringkali merupakan pengalaman yang menegangkan. Pelancong mengalami pemisahan dari keluarga besar dan sistem dukungan sosial yang sudah dikenal akrab, dan harus berurusan dengan budaya dan bahasa asing. Selain itu, juga mengalami tantangan dan ancaman yang kadang membingungkan, dalam aspek kesehatan, kenyamanan, dan keselamatan. Dalam upaya mengatasi tingkat stres yang tinggi, dapat saja memicu masalah fisik, sosial, dan psikologis pada pelancong. Mereka yang menghadapi rentang faktor stres yang lebih besar, mungkin berisiko lebih besar juga untuk memiliki masalah psikologis. Di bawah tekanan perjalanan, gangguan mental yang sudah ada sebelumnya, dapat juga menjadi diperburuk. Lebih jauh lagi, bagi orang dengan kecenderungan memiliki gangguan mental, gangguan semacam itu mungkin muncul untuk pertama kalinya selama perjalanan, termasuk pada anak dan remaja.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/11/24/2018-kematian-di-jalan-raya/

Dokter yang merawat pelancong di negara asal mereka atau di luar negeri harus menyadari adanya perbedaan, baik di dalam maupun antar negara, dalam ketersediaan sumber daya kesehatan mental. Dalam hal ini mencakup fasilitas kesehatan darurat, petugas kesehatan profesional, tempat tidur dan fasilitas pemeriksaan penunjang medis, dan bahkan obat. Dokter spesialis yang kompeten dan staf pendukung mungkin jarang atau tidak ada di darah wisata, dan mereka mungkin tidak mengerti bahasa asli pelancong, sehingga penerjemah yang fasih mungkin diperlukan. Selain itu, aspek hukum praktik dokter juga perlu dicermati, karena dapat sangat berbeda. Undang-undang di suatu negara yang mengatur penggunaan obat dan zat terlarang sangat bervariasi dan hukuman bagi pengedar dan pengguna, di beberapa negara mungkin cukup lemah. Sebagai akibat dari perbedaan dalam infrastruktur kesehatan dan sistem hukum untuk perawatan kesehatan mental ini, keputusan klinis pertama yang mungkin harus diambil oleh dokter pemeriksa adalah, apakah perawatan mental pelancong dapat dikelola di tujuan perjalanan wisata, memerlukan rujukan ke kota yang lebih besar, atau repatriasi ke negara asalnya.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/03/13/2019-kepemimpinan-sehat-oleh-perempuan/

Gangguan mental tidak jarang terjadi pada pelancong, termasuk pada anak dan remaja. Secara keseluruhan, masalah kesehatan mental merupakan salah satu penyebab utama derajad kesehatan yang buruk di antara para pelancong, dan “kondisi darurat psikiatrik” adalah salah satu alasan medis paling umum untuk dilakukannya evakuasi udara, setara dengan alasan cedera dan penyakit kardiovaskular.

.

Meskipun beberapa peristiwa yang menyebabkan stres psikososial tidak dapat diprediksi, namun beberapa tindakan pencegahan dapat mengurangi terjadinya stres, terkait perjalanan. Oleh sebab itu, pelancong harus mengumpulkan informasi yang tepat sebelum bepergian, misalnya tentang perjalanan yang akan ditempuh, moda transportasi, lama perjalanan, karakteristik tujuan, dan kesulitan yang mungkin ditemukan. Hal ini akan memungkinkan para pelancong untuk mempertahankan kepercayaan diri dan untuk mengatasi banyak hal yang asing. Cara ini juga memungkinkan mereka untuk mengembangkan strategi dalam meminimalkan risiko. Mengumpulkan banyak informasi sebelum bepergian, terbukti membantu mengurangi risiko pelancong menderita gangguan psikologis atau memperparah gangguan mental yang sudah ada sebelumnya.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/10/06/2018-hari-kesehatan-mental-sedunia/

Gangguan neuropsikiatri, misalnya kejang, psikosis dan ensefalopati, terjadi pada sekitar 1 dari 10.000 pelancong yang menerima obat profilaksis mefloquine untuk mencegah malaria. Pasien dengan riwayat gangguan neuropsikiatri, termasuk depresi, gangguan kecemasan umum, atau gangguan psikotik atau kejang, harus diresepkan rejimen obat lain, sebagai alternatif pencegahan malaria. Pelancong yang mengalami stres dan kegelisahan, terutama yang berkaitan dengan perjalanan udara, harus dibantu untuk mengembangkan mekanisme koping. Pelancong yang takut terbang, dapat juga dirujuk ke kursus khusus yang disediakan oleh maskapai penerbangan.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/01/18/2019-remaja-sehat/

Mengingat konsekuensi potensial dari keadaan darurat psikiatris yang timbul saat bepergian ke luar negeri, pendataan tentang riwayat atau perawatan psikiatris yang pernah dialami, harus menjadi bagian standar dari setiap konsultasi sebelum berangkat melancong (pra-perjalanan). Pelancong dengan riwayat gangguan mental yang signifikan, harus menerima saran dalam aspek medis dan psikologis secara khusus. Selain itu, pelancong yang menggunakan obat psikotropika harus melanjutkan pengobatan tersebut saat bepergian. Di beberapa negara tertentu membawa obat psikotropika, misalnya benzodiazepin, tanpa bukti resep dokter, akan dianggap merupakan pelanggaran pidana. Oleh karena itu, sangat disarankan agar pelancong membawa surat keterangan dokter, yang menyatakan perlunya obat atau alat medis lainnya, atau keduanya.

.

Selain itu, juga dokumen tentang kondisi klinis dan rincian tentang perawatan, seperti salinan resep obat. Semua dokumen ini harus disusun rapi dalam bahasa yang dipahami petugas di negara tujuan perjalanan. Pelancong yang akan berada di luar negeri untuk waktu yang relatif lama, misalnya ekspatriat atau pelancong bisnis, dapat diajari teknik pemantauan mandiri dan strategi pengurangan stres, sebelum keberangkatan atau selama mereka tinggal di sana. Jika pelancong diduga terlibat dalam penyalahgunaan narkoba, terdapat variasi besar dalam status hukum penyalahgunaan narkoba di berbagai negara.

.

Jika tindakan pencegahan yang tepat diambil, kebanyakan orang yang terkena gangguan mental dengan kondisi stabil dan berada di bawah pengawasan seorang dokter spesialis kesehatan jiwa atau psikiater, oleh ‘International Travel Health’ terbitan WHO direkomendasikan untuk dapat melakukan perjalanan wisata, bahkan sampai ke luar negeri (are able to travel abroad).

Apakah kita sudah bijak?

Sekian

Yogyakarta, 5 April 2019

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Istanbul

2019 Perjalanan Sehat

Hasil gambar untuk perjalanan yang sehat

PERJALANAN SEHAT

fx. wikan indrarto*)

Guideline Development Group (GDG) mengusulkan untuk revisi ‘International Travel Health’ terbitan WHO. Panduan kesehatan perjalanan terbaru berbasis bukti, diterbitkan untuk para profesional medis, pelancong internasional dan negara anggota WHO. Apa yang perlu diketahui?

baca juga :https://dokterwikan.wordpress.com/2018/06/09/2018-tradisi-mudik/

Revisi ditujukan pada tujuh bidang prioritas yang tidak dicakup oleh program lain, sesuai dengan prosedur pengembangan pedoman WHO. Pertama tentang diare, khususnya penggunaan obat antibiotik dan anti-diare. Kedua terkait penggunaan obat aspirin rumatan untuk mencegah terjadinya trombosis vena dalam, ketiga tentang penggunaan obat tidur dalam penerbangan jarak jauh dan panjang, keempat terkait obat melatonin untuk mengatasi kondisi jet lag, kelima tentang fobia terbang dan pencegahannya, keenam tentang pencegahan dan pengobatan penyakit terkait ketinggian (altitude sickness) dan ketujuh, terkait hipotermia atau kedinginan.

.

baca juga :https://dokterwikan.wordpress.com/2018/03/20/475/

Pelancong disarankan untuk menjalani pemeriksaan kesehatan saat kembali dari perjalanan wisata, jika mengalami demam dari negara atau wilayah endemis malaria, menderita penyakit kronis, seperti penyakit kardiovaskular, diabetes mellitus, atau penyakit pernapasan kronis atau telah mengonsumsi obat antikoagulan, dan mengeluh diare, muntah, penyakit kuning, gangguan kemih, penyakit kulit atau infeksi genital. Selain itu, juga kemungkinan terpapar penyakit menular yang serius saat bepergian, dan telah menghabiskan waktu lebih dari 3 bulan di negara berkembang atau wilayah tertinggal. Pelancong harus memberikan kepada dokter, informasi medis tentang perjalanan, termasuk tujuan dan lamanya kunjungan. Wisatawan sebaiknya juga memberikan rincian semua perjalanan yang telah terjadi pada minggu dan bulan sebelumnya, termasuk vaksinasi dan kemoprofilaksis, yang diterima sebelum perjalanan.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/11/24/2018-kematian-di-jalan-raya/

Jet lag adalah istilah yang digunakan untuk gejala klinis yang disebabkan oleh gangguan pada “jam internal” tubuh dan perkiraan ritme 24-jam (sirkadian) yang mampu dikontrolnya. Gangguan ini terjadi ketika pelancong melintasi beberapa zona waktu, yaitu ketika terbang dari timur ke barat atau barat ke timur. Jet lag dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan gangguan fungsi usus, kelemahan umum atau malaise , rasa kantuk di siang hari, kesulitan tidur di malam hari, dan penurunan kinerja fisik ataupun mental. Efeknya sering dikombinasikan dengan kelelahan nyata yang disebabkan oleh perjalanan itu sendiri. Gejala jet lag berangsur-angsur hilang saat tubuh beradaptasi dengan zona waktu yang baru.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/07/04/2018-pesiar-di-kupang-ntt/

Jet lag tidak dapat dicegah tetapi ada cara untuk mengurangi efeknya. Langkah-langkah umum untuk mengurangi efek jet lag, misalnya sedapat mungkin beristirahat sebelum keberangkatan, dan gunakan setiap kesempatan untuk beristirahat selama penerbangan jarak menengah dan panjang. Bahkan tidur singkat, misalnya kurang dari 40 menit, dapat membantu. Makan makanan ringan dan batasi konsumsi alkohol. Alkohol meningkatkan keluaran urin, sehingga tidur mungkin terganggu oleh kebutuhan untuk buang air kecil. Meskipun dapat mempercepat timbulnya tidur, alkohol merusak kualitas tidur, membuatnya kurang tenang. Efek samping dari konsumsi alkohol yang berlebihan, yaitu mabuk dapat memperburuk efek jet lag dan kelelahan perjalanan. Alkohol karenanya harus dibatasi atau dikonsumsi hanya dalam jumlah sedang, sebelum dan selama penerbangan. Kafein harus dibatasi pada jumlah normal dan dihindari dalam 4-6 jam dari periode tidur yang diharapkan. Jika kopi diminum pada siang hari, minum dalam jumlah kecil setiap 2 jam, lebih dianjurkan daripada langsung dalam satu cangkir besar.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/06/21/2016-mengkover-vancouver/

Setelah sampai di tempat tujuan, cobalah untuk menciptakan kondisi yang tepat ketika mempersiapkan diri untuk tidur. Selain itu, tidur diusahakan sebanyak biasanya, dalam 24 jam setelah kedatangan. Paksakan untuk tidur selama paling tidak 4 jam , pada malam hari waktu setempat, yang dikenal sebagai “jangkar tidur” yang dianggap perlu untuk memungkinkan jam internal tubuh, beradaptasi dengan zona waktu yang baru. Jika memungkinkan, ganti waktu tidur total dengan tidur pada siang hari waktu setempat, sebagai respons terhadap perasaan mengantuk. Saat tidur siang, pelindung mata dan penyumbat telinga dapat digunakan untuk membantu mencapai tidur pulas. Berolahraga ringan di siang hari, dapat membantu meningkatkan tidur malam yang nyenyak, tetapi hindari olahraga berat dalam waktu 2 jam sebelum tidur.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/03/31/2012-melayang-ke-jepang/

Siklus terang dan gelap adalah salah satu faktor terpenting dalam mengatur jam internal tubuh. Paparan sinar matahari yang tepat waktu, terutama sinar matahari yang cerah, di tempat tujuan biasanya akan membantu adaptasi. Saat terbang ke barat, paparan sinar matahari di malam hari dan penghindaran di pagi hari, misalnya dengan menggunakan pelindung mata atau kacamata gelap, mungkin sangat membantu. Sebaliknya saat terbang ke arah timur, direkomendasikan untuk mengalami paparan cahaya di pagi hari dan penghindaran di malam hari.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/05/28/2015-london/

Obat tidur kerja singkat (short-acting) dapat juga membantu, harus digunakan hanya sesuai dengan saran dokter dan seharusnya tidak digunakan selama dalam penerbangan, karena dapat meningkatkan imobilitas dan risiko terjadinya trombosis vena dalam. Melatonin adalah hormon neurotropik dengan gugus antioksidan indolamina, yang disintesis oleh kelenjar pineal yang terletak di dalam otak dari senyawa asam amino triptofan. Melatonin berperan dalam berbagai proses fisiologis tubuh seperti ritme biologis, regulasi tekanan darah, onkogenesis, retina, reproduksi, ovarium, sistem kekebalan dan diferensiasi osteoblas. Melatonin tersedia di beberapa negara dan biasanya dijual sebagai suplemen makanan dan karenanya tidak tunduk pada kontrol ketat seperti obat. Waktu dan dosis efektif melatonin belum sepenuhnya dievaluasi dan efek sampingnya, terutama dalam penggunaan jangka panjang, tidak diketahui. Selain itu, metode pembuatannya tidak terstandarisasi, dosis per tablet dapat sangat bervariasi, dan beberapa senyawa berbahaya mungkin saja ada. Karena alasan tersebut, saat ini obat melatonin tidak dapat direkomendasikan secara umum. Fungsi melatonin itu sendiri adalah sebagai hormon pemicu mengantuk dan menjaga agar tetap terlelap sepanjang malam. Pada orang-orang usia lanjut, khususnya, produksi melatonin berkurang secara alami sebagai efek penuaan. Beberapa efek samping yang umum dan mungkin bersifat sementara dari suplemen melatonin, yaitu sakit kepala, depresi jangka pendek, mengantuk dan lemas di siang hari, pusing, kram perut, dan perubahan perasaan (mood swing).

‘International Travel Health’ terbitan WHO perlu dicermati, agar perjalanan para pelancong menjadi lebih sehat dan menyenangkan.

Bagaimana sikap kita?

Sekian

Yogyakarta, 4 April 2019

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Istanbul

2019 Hari Kesehatan Dunia

Hasil gambar untuk world health day

HARI KESEHATAN DUNIA

fx. wikan indrarto*)

Minggu, 7 April 2019 adalah hari lahir WHO dan diperingati sebagai Hari Kesehatan Dunia (World Health Day), yang mengangkat tema cakupan kesehatan semesta atau ‘Universal Health Couevrage’ (UHC), yang merupakan tujuan nomor satu WHO. Kunci untuk mencapainya adalah memastikan bahwa setiap orang dapat memperoleh layanan kesehatan yang mereka butuhkan, pada saat yang tepat, di dekat komunitasnya (in the heart of the community). Apa yang harus dipahami?

.

Meskipun kemajuan sedang terjadi di berbagai negara di semua wilayah di dunia, tetapi jutaan orang masih tidak memiliki akses sama sekali kepada layanan kesehatan. Jutaan orang masih terpaksa memilih antara mendapatkan perawatan kesehatan atau pengeluaran sehari-hari lainnya seperti makanan, pakaian, dan bahkan rumah.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/01/09/2019-biaya-uhc/

.

Kampanye Hari Kesehatan Dunia Minggu, 7 April 2019 ini bertujuan untuk membantu orang lebih memahami apa arti UHC, bentuk layanan dan dukungan apa yang harus tersedia dan di mana disediakan. Petugas kesehatan akan memiliki peran penting dalam kampanye, membantu pengambil keputusan bidang kesehatan untuk mengenali apa yang dibutuhkan orang dalam hal perawatan, khususnya di tingkat perawatan primer. Kampanye ini juga menghadirkan kesempatan bagi para pengambil kebijakan di pemerintahan untuk berkomitmen mengambil tindakan, dalam mengatasi kesenjangan UHC di setiap negara, serta untuk menyoroti kemajuan yang telah dibuat.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/08/30/2018-menuju-uhc-2/

.

Laporan Statistik Kesehatan Dunia (the World Health Statistics Report) 2019 memberikan informasi tentang tren kesehatan bayi baru lahir dan anak, penyakit tidak menular, kesehatan mental dan risiko lingkungan, dan juga data tentang UHC dan sistem kesehatan. Setidaknya setengah dari populasi dunia masih belum mampu memenuhi kebutuhan akan layanan kesehatan esensial. Sekitar 100 juta orang masih jatuh ke dalam “kemiskinan ekstrim,” yaitu hidup dengan hanya 1,90 USD atau kurang sehari, karena mereka harus membayar sendiri, biaya layanan dan perawatan kesehatan. Lebih dari 800 juta orang, atau hampir 12% dari populasi dunia, masih menghabiskan setidaknya 10% dari anggaran rumah tangga mereka, untuk membayar biaya perawatan kesehatan.

.

https://dokterwikan.wordpress.com/2018/07/04/2018-menuju-uhc/

Untunglah semua Negara Anggota PBB, termasuk Indonesia, telah sepakat untuk mencapai UHC pada tahun 2030, sebagai bagian dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. UHC berarti bahwa semua warga masyarakat dapat menerima layanan kesehatan yang mereka butuhkan, tanpa mengalami kesulitan keuangan. Ini mencakup spektrum penuh dari layanan kesehatan yang esensial dan berkualitas, dari promosi kesehatan hingga pencegahan, pengobatan, rehabilitasi, dan terapi paliatif.

.

UHC memungkinkan setiap orang untuk mengakses layanan yang mengatasi penyebab penyakit dan kematian yang paling signifikan, dan memastikan bahwa kualitas layanan tersebut cukup baik, untuk meningkatkan derajad kesehatan orang yang menerimanya. Melindungi orang dari konsekuensi keuangan dengan membayar layanan kesehatan dari kantong mereka sendiri, akan mengurangi risiko orang akan jatuh ke dalam kemiskinan, karena beban penyakit yang tak terduga, yang mengharuskan mereka untuk menggunakan tabungan hidup mereka, menjual aset, atau berhutang, sehingga menghancurkan masa depan mereka dan seringkali juga anak-anak mereka.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/06/13/2018-uhc-di-indonesia/

Mencapai UHC adalah salah satu target yang ditetapkan oleh semua bangsa di dunia, ketika mengadopsi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan pada tahun 2015. Negara-negara yang mengalami kemajuan menuju UHC, akan membuat kemajuan menuju target terkait kesehatan lainnya, dan menuju tujuan lainnya. Kesehatan yang baik memungkinkan anak untuk belajar dan orang dewasa untuk bekerja yang menghasilkan, membantu orang keluar dari kemiskinan, dan memberikan dasar bagi perkembangan ekonomi jangka panjang.

.

Ada banyak hal yang tidak termasuk dalam ruang lingkup UHC, karena UHC tidak berarti cakupan gratis untuk semua intervensi kesehatan yang mungkin, terlepas dari biayanya, karena tidak ada negara yang dapat menyediakan semua layanan gratis secara berkelanjutan. UHC bukan hanya tentang pembiayaan kesehatan. Ini mencakup semua komponen sistem kesehatan: sistem pemberian layanan kesehatan, tenaga kesehatan, fasilitas kesehatan dan jaringan komunikasi, teknologi kesehatan, sistem informasi, mekanisme jaminan kualitas, dan tata kelola bahkan perundang-undangan.

.

UHC tidak hanya tentang memastikan paket minimum layanan kesehatan, tetapi juga tentang memastikan perluasan cakupan layanan kesehatan dan perlindungan keuangan secara progresif, karena semakin banyak sumber daya yang tersedia. UHC tidak hanya tentang layanan perawatan individu, tetapi juga mencakup layanan berbasis populasi seperti kampanye kesehatan masyarakat, menambahkan fluoride ke dalam air minum, mengendalikan tempat pengembangbiakan nyamuk pembawa penyakit, dan lain sebagainya.

.

UHC sebenarnya lebih dari sekadar bidang kesehatan, karena terwujudnya UHC berarti terjadinya langkah menuju kesetaraan, prioritas pembangunan, inklusi sosial dan kohesi. Banyak negara sudah membuat kemajuan menuju UHC. Semua negara dapat mengambil tindakan untuk bergerak lebih cepat mewujudkannya, atau untuk mempertahankan keuntungan yang telah terjadi. Di banyak negara terjadi kondisi yang dirasakan semakin sulit, untuk memenuhi kebutuhan kesehatan populasi yang terus bertambah dan meningkatnya biaya layanan kesehatan.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/08/16/2018-fhc-menuju-uhc/

Mewujudkan UHC membutuhkan penguatan sistem kesehatan di semua negara, dengan struktur pembiayaan yang kuat adalah kunci utama. Ketika orang harus membayar sebagian besar biaya layanan kesehatan dari kantong mereka sendiri, orang miskin seringkali tidak dapat memperoleh banyak layanan yang mereka butuhkan, dan bahkan orang kaya dapat jatuh miskin jika terjadi masalah yang parah atau lama. ‘Pooling fund’ dari sumber pendanaan wajib (seperti kontribusi asuransi wajib), dapat memperkecil dan menyebarkan risiko keuangan atas penyakit kepada seluruh populasi.

.

Meningkatkan cakupan layanan kesehatan dan luaran pengelolaan tergantung kepada ketersediaan, aksesibilitas, dan kapasitas petugas kesehatan, untuk memberikan perawatan terpadu yang berpusat pada pasien. Investasi dalam penyediaan layanan kesehatan primer yang berkualitas, akan menjadi landasan untuk mencapai UHC di seluruh dunia. Berinvestasi dalam penciptaan petugas kesehatan profesional pada layanan primer, adalah cara yang paling hemat biaya untuk memastikan akses ke perawatan kesehatan esensial yang akan meningkat. Tata pemerintahan yang baik, sistem pengadaan dan pasokan obat dan teknologi kesehatan yang baik, dan sistem informasi kesehatan yang berfungsi dengan baik, adalah elemen penting lainnya.

.

Layanan kesehatan primer yang komprehensif berdasarkan pada tiga komponen. Pertama, memastikan bahwa masalah kesehatan masyarakat ditangani melalui layanan protektif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan paliatif yang komprehensif, selama masa hidup warga masyarakat, memprioritaskan secara strategis fungsi sistem utama yang ditujukan pada individu, keluarga, dan populasi, sebagai elemen utama dari penyampaian layanan terpadu di semua tingkatan perawatan. Kedua, secara sistematis menangani faktor risiko gangguan kesehatan yang lebih luas, termasuk dalam bidang sosial, ekonomi, lingkungan, dan perilaku masyarakat, melalui kebijakan publik dan tindakan di semua sektor. Ketiga, memberdayakan individu, keluarga, dan masyarakat untuk mengoptimalkan kesehatan mereka, sebagai pendukung kebijakan yang mempromosikan dan melindungi kesehatan dan kesejahteraan oleh petugas layanan kesehatan dan sosial melalui partisipasi mereka, dan sebagai pengasuh mandiri dan pemberi perawatan kepada orang lain.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/02/26/2019-iur-biaya/

.

Momentum Hari Kesehatan Dunia (World Health Day) yang mengangkat tema ‘Universal Health Couevrage’ (UHC), menekankan bahwa layanan kesehatan primer adalah cara yang paling efisien dan hemat biaya untuk mencapai UHC di seluruh dunia. Di Indonesia, UHC akan dicapai melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).


Sudahkah kita bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 21 Februari 2019

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Istanbul

2019 Lawan Tuberkulosis

Hasil gambar untuk tuberkulosis

LAWAN  TUBERKULOSIS

fx. wikan indrarto*)

Rekomendasi WHO terbaru diterbitkan pada hari Rabu, 20 Maret 2019,  untuk mempercepat kemajuan mengatasi tuberkulosis (TB). Rekomendasi tersebut adalah bagian dari paket tindakan intervensi medis yang lebih besar, yang dirancang untuk membantu semua negara dalam meningkatkan kemajuan layanan, untuk mengakhiri TB (end TB), dalam menyambut Hari TB Sedunia 2019. Tema Hari TB Sedunia 2019 adalah: Sudah waktunya untuk mengakhiri TB (It’s time to end TB). Apa yang perlu dicermati?

.

TB adalah penyakit menular penyebab kematian tertinggi di dunia, yang menimbulkan sekitar 4.500 kematian setiap hari. Beban terberat dipikul oleh masyarakat yang menghadapi tantangan sosial-ekonomi, yaitu mereka yang bekerja dan tinggal di lingkungan berisiko tinggi, yang termiskin dan terpinggirkan. Strain bakteri tuberkulosis (TB) dengan kebal atau resistensi terhadap obat lebih sulit diatasi, daripada yang peka terhadap obat, dan mengancam kemajuan global menuju target yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam ‘the End TB Strategy’. Oleh karena itu ada kebutuhan mendesak untuk pengobatan dan perawatan pasien TB kebal obat. Sejak tahun 2000, sekitar 54 juta jiwa telah dapat diselamatkan, dan kematian TB telah turun sepertiga. Namun demikian, sekitar 10 juta orang masih jatuh sakit TB setiap tahun, sehingga terlalu banyak kehilangan  waktu produktif untuk perawatan TB, terlebih untuk jenis TB yang sudah kebal obat (MDR-TB).

.

Panduan terbaru ini difokuskan untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan TB yang sudah kebal terhadap berbagai obat atau Multi Drug Resistant TB (MDR-TB). WHO merekomendasikan untuk beralih ke paket pengobatan telan atau rejimen oral secara penuh, dalam mengobati MDR-TB. Paket perawatan baru ini lebih efektif dan kecil kemungkinannya menimbulkan efek samping yang merugikan. Selain itu, rekomendasi lainnya adalah pemantauan secara aktif tentang aspek keamanan obat dan memberikan dukungan konseling, untuk membantu pasien agar dapat menyelesaikan paket pengobatannya.

.

Rekomendasi baru tersebut juga dirancang untuk membantu semua negara menutup kesenjangan, juga memastikan tidak ada seorangpun yang tertinggal dalam program mengakhiri TB. Elemen-elemen kunci rekomendasi terbaru tersebut meliputi, pertama kerangka kerja dengan akuntabilitas baik, untuk mengoordinasikan tindakan lintas sektor dalam memantau kemajuan program pengobatan TB. Kedua, kolaborasi berbagai pihak dalam mengetahui data epidemi TB, melalui perubahan teknis pemantauan manual menjadi sistem pengawasan TB digital atau ‘electronic TB surveillance systems’. Ketiga, panduan untuk penentuan prioritas yang efektif, dalam intervensi TB yang lebih bermakna, berdasarkan analisis jalur pasien saat mengakses perawatan. Keempat, pedoman baru tentang pengendalian infeksi dan pengobatan profilaksis atau pencegahan, untuk infeksi TB laten. Kelima, pembentukan satuan tugas untuk memastikan keterlibatan masyarakat sipil yang efektif dan bermakna.

.

Antara tahun 2011 dan 2018, WHO telah mengeluarkan rekomendasi kebijakan berbasis bukti tentang pengobatan dan perawatan pasien dengan MDR-TB. Rekomendasi ini termasuk pedoman pengobatan untuk tuberkulosis yang resisten terhadap berbagai obat, yang merupakan edisi terbaru diterbitkan pada bulan Desember 2018. Rekomendasi kebijakan ini telah dikembangkan. menggunakan pendekatan GRADE (Grading of Recommendations, Assessment, Development and Evaluation) untuk merangkum bukti, dan merumuskan rekomendasi kebijakan.

.

Pedoman mencakup rekomendasi kebijakan tentang rejimen pengobatan untuk TB yang kebal atau resisten terhadap isoniazid, termasuk pemantauan kultur bakteri pasien yang sedang dalam pengobatan, kombinasi terapi dengan obat antiretroviral (ART) yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), penggunaan tindakan pembedahan, juga model dukungan dan perawatan pasien yang optimal.

.

Resistensi terhadap obat TB adalah hambatan besar untuk perawatan dan pencegahan TB yang efektif secara global. TB yang resisten terhadap beberapa obat (MDR-TB) disebabkan oleh multifaktorial dan dipicu karena pengobatan yang tidak tepat, manajemen pasokan dan kualitas obat yang buruk, dan penularan bakteri melalui udara di tempat umum. Manajemen kasus menjadi sulit dan tantangannya lebih parah, karena biaya ekonomi dan sosial yang lebih besar, yang harus ditanggung pasien.

.

Penambahan dua obat TB baru, yaitu bedaquiline dan delamanid, untuk pengobatan TB yang resisten terhadap obat, telah menjanjikan karena selama ini tingkat keberhasilan pengobatan seringkali konsisten tetap rendah. Setelah proses persetujuan yang dipercepat di Amerika Serikat oleh ‘Food and Drug Administration’ (FDA) pada Desember 2012 untuk bedaquiline dan persetujuan bersyarat di Eropa oleh ‘European Medicine Agency’ (EMA) pada Desember 2013 untuk delamanid, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan rekomendasi bersyarat untuk penggunaan obat tersebut dalam dua dokumen pedoman kebijakan sementara, yang diterbitkan masing-masing pada tahun 2013 dan 2014. Meskipun data uji coba fase III belum tersedia, tetapi data tambahan tentang keamanan dan efektivitas bedaquiline sudah ada. Demikian pula, dua penelitian tentang farmakokinetik, keamanan, dan tolerabilitas delamanid pada pasien anak dengan MDR-TB, juga telah tersedia.

.

Momentum Hari TB Sedunia 2019 dengan tema : Sudah waktunya untuk mengakhiri TB (It’s time to end TB), mengingatkan kita untuk menggunakan bedaquiline dan delamanid, untuk pengobatan TB yang telah resisten terhadap obat.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 22 Maret 2019

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
Istanbul

2019 Menumpas Hepatitis

Hasil gambar untuk hepatitis b

MENUMPAS HEPATITIS

fx. wikan indrarto*)

Pada hari Jumat, 1 Maret 2019 diterbitkan laporan bahwa imunisasi hepatitis B telah mengurangi infeksi menjadi kurang dari 1% anak di Wilayah Pasifik Barat. Namun demikian, untuk menumpas atau menghilangkan penularan infeksi hepatitis B dari ibu-ke-anak pada tahun 2030, diperlukan intervensi tambahan. Apa yang penting?

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/07/09/2018-hari-hepatitis-sedunia/

Hepatitis B adalah infeksi virus yang menyerang hati dan menyebabkan hampir 900.000 kematian di seluruh dunia setiap tahun, sebagian besar akibat sirosis hati, kanker hati dan komplikasi lainnya. Vaksinasi memberikan perlindungan seumur hidup terhadap hepatitis B dan risiko penyakit yang terkait. Semua bayi baru lahir seharusnya menerima dosis pertama vaksin hepatitis B dalam waktu 24 jam setelah kelahiran, diikuti oleh setidaknya dua dosis lagi dalam tahun pertama kehidupan.

.

Sebuah artikel berjudul “Progress toward Hepatitis B Control and Elimination of Mother-to-Child Transmission of Hepatitis B Virus ─ Western Pacific Region, 2005–2017” diterbitkan pada Jumat, 1 Maret 2019. Artikel itu melaporkan bahwa antara 2005 dan 2017, cakupan dosis pertama vaksin hepatitis B setelah bayi lahir, meningkat dari 63% menjadi 85% bayi baru lahir. Tingkat pemberian dosis ketiga vaksin hepatitis B, meningkat dari 76% menjadi 93% selama periode yang sama. Cakupan global untuk vaksin hepatitis B dosis pertama dan ketiga pada 2017 masing-masing adalah 43% dan 84%.

.

Laporan kemajuan yang mengesankan dalam menjangkau anak selama jangka waktu tersebut, termasuk pencegahan 7 juta kematian melalui vaksinasi hepatitis B, adalah dorongan untuk menghilangkan penularan hepatitis B di wilayah tersebut pada tahun 2030. Hal ini karena sebagian besar infeksi hepatitis B ditularkan dari ibu ke bayi selama kelahiran. Semua wanita hamil harus diperiksa uji saring hepatitis B dan jika positif, pada bayi yang terpapar virus selama kelahiran segera diberikan imunoglobulin hepatitis B untuk mencegah infeksi.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/04/28/2018-kendalikan-hepatitis/

Tindakan untuk mengurangi penularan virus hepatitis B dari ibu-ke-bayi adalah bagian dari inisiatif yang lebih luas, yang mencakup penghapusan penularan HIV dan sifilis ke bayi baru lahir. Semua negara di Wilayah Pasifik Barat telah menyetujui rencana untuk menghilangkan penularan dari ibu ke anak dari ketiga penyakit pada tahun 2030.

.

Prevalensi hepatitis B tertinggi di Wilayah Pasifik Barat dan Afrika, di mana masing-masing 6,2% dan 6,1% dari populasi orang dewasa. Keduanya jauh lebih tinggi dibandingkan Timur Tengah (3,3%), Asia Tenggara, termasuk Indonesia (2,0%), Eropa (1,6 %), dan Amerika (0,7%). Di daerah yang sangat endemis, virus hepatitis B paling umum menyebar dari ibu ke anak saat lahir (penularan perinatal), atau melalui penularan horizontal (paparan darah yang terinfeksi), terutama dari anak yang terinfeksi ke anak yang tidak terinfeksi, selama 5 tahun pertama kehidupan. Perkembangan infeksi kronis sangat umum terjadi pada bayi yang terinfeksi dari ibunya atau sebelum usia 5 tahun.

.

Diagnosis laboratorium infeksi hepatitis B berfokus pada pendeteksian antigen permukaan hepatitis B (HbsAg). Infeksi HBV akut pada pemeriksaan laboratorium klinik ditandai oleh adanya antibodi HBsAg dan imunoglobulin M (IgM) terhadap antigen inti (HbcAg). Selama fase awal infeksi, pasien juga seropositif untuk antigen hepatitis B e (HBeAg). HBeAg biasanya merupakan penanda replikasi virus pada tingkat tinggi. Adanya HBeAg yang positif menunjukkan bahwa darah dan cairan tubuh orang yang terinfeksi tersebut, pada kondisi sangat menular. Infeksi kronis ditandai oleh menetapnya HBsAg selama setidaknya 6 bulan (dengan atau tanpa HBeAg). Persistensi HBsAg adalah penanda utama risiko untuk berkembangnya penyakit hati kronis dan kanker hati (karsinoma hepatoseluler) di kemudian hari.

.

Tidak ada pengobatan khusus untuk hepatitis B akut. Oleh karena itu, perawatan ditujukan untuk menjaga kenyamanan pasien dan keseimbangan gizi, termasuk penggantian cairan yang hilang akibat muntah dan diare. Infeksi hepatitis B kronis dapat diobati dengan obat antivirus oral atau obat yang ditelan. Pengobatan tersebut dapat memperlambat perkembangan menjadi sirosis, mengurangi kejadian kanker hati, dan meningkatkan kelangsungan hidup jangka panjang.

.

WHO merekomendasikan obat tenofovir atau entecavir oral, karena ini adalah obat yang paling manjur untuk menekan virus hepatitis B. Kedua obat jarang menyebabkan resistensi dibandingkan dengan obat lain, mudah dikonsumsi karena hanya 1 kali sehari, dan memiliki sedikit efek samping, sehingga hanya memerlukan pemantauan terbatas. Entecavir tidak dipatenkan, tetapi ketersediaan dan biaya sangat bervariasi. Tenofovir hanya dilindungi oleh hak paten sampai tahun 2018 di sebagian besar negara berpendapatan menengah dan tinggi, sehingga sebelum tahun 2018 biayanya berkisar antara US $ 400 hingga US $ 1.500 untuk satu tahun. Sementara beberapa negara berpenghasilan menengah (seperti China dan Rusia) masih menghadapi hambatan regulasi hak paten dalam mengakses tenofovir, pada hal harga tenofovir generik sebenarnya cukup terjangkau. Mekanisme Pelaporan Harga obat dunia atau ’Global Price Reporting Mechanism’ (GPRM) menunjukkan bahwa biaya untuk satu tahun perawatan berkisar antara US $ 48 hingga US $ 50 pada Februari 2017.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/07/24/2018-senjang-imunisasi/

Pada bulan Maret 2015, WHO meluncurkan “Pedoman untuk pencegahan, perawatan dan pengobatan pertama orang yang hidup dengan infeksi hepatitis B kronis”. Terdapat 3 rekomendasi, yaitu pertama, mempromosikan penggunaan tes diagnostik sederhana dan non-invasif untuk menilai tahap penyakit hati dan kelayakan untuk perawatan, kedua memprioritaskan pengobatan untuk mereka yang memiliki penyakit hati paling lanjut dan risiko kematian terbesar, dan ketiga, merekomendasikan penggunaan obat dalam kelompok nucleos(t)ide analogues, untuk pasien yang resistensi obat (tenofovir dan entecavir, dan entecavir pada anak yang berusia antara 2–11 tahun) untuk pengobatan lini pertama dan kedua hepatitis B.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/04/20/2018-pekan-imunisasi-sedunia/

Vaksin hepatitis B adalah intervensi medis andalan dalam pencegahan hepatitis B. WHO merekomendasikan bahwa semua bayi menerima vaksin hepatitis B sesegera mungkin setelah lahir, dianjurkan dalam waktu 24 jam pertama kehidupan. Rendahnya insiden infeksi HBV kronis pada anak balita saat ini, berhubungan dengan semakin meluasnya penggunaan vaksin hepatitis B. Pada 2015, cakupan global dosis pertama segera setelah kelahiran bayi untuk vaksin hepatitis B adalah 84% dan dosis ketiga baru mencapai 39%. Wilayah Amerika dan Wilayah Pasifik Barat adalah wilayah yang memiliki cakupan vaksinasi paling luas.

.

Imunisasi hepatitis B telah terbukti mampu mengurangi infeksi pada kurang dari 1% anak di Wilayah Pasifik Barat. Kini saatnya kita bertindak untuk menumpas penularan infeksi hepatitis B dari ibu-ke-anak dengan intervensi tambahan, yaitu peningkatan cakupan imunisasi hepatitis B dosis ketiga global dan penggunaan obat tenofovir atau entecavir oral, dengan target akan tercapai pada tahun 2030.

Apakah kita sudah terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 13 Maret 2019

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
Istanbul

2019 Lawan Influenza

Hasil gambar untuk influenza

LAWAN  INFLUENZA

fx. wikan indrarto*)

Senin, 11 Maret 2019 telah diterbitkan panduan melawan influenza (Global Influenza Strategy) untuk periode tahun 2019-2030, yang bertujuan melindungi warga dunia dari ancaman influenza. Tujuan dari strategi ini adalah untuk mencegah influenza, mengendalikan penyebaran influenza dari hewan ke manusia, dan mempersiapkan diri menghadapi pandemi influenza berikutnya. Apa yang perlu dicermati?

.

Dipersilakan juga membuka link berikut ini :

https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/311184/9789241515320-eng.pdf

.

Influenza tetap menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar di dunia. Setiap tahun di seluruh dunia, diperkirakan ada 1 miliar kasus, dimana 3 hingga 5 juta adalah kasus parah, yang mengakibatkan sekitar 650.000 kematian karena gagal pernafasan terkait influenza.  Ancaman pandemi influenza selalu ada, karena setiap saat berlangsung penularan virus influenza baru dari hewan ke manusia, dan berpotensi menyebabkan pandemi. Dengan demikian, kita harus waspada dan bersiap diri, termasuk karena alasan biaya untuk mengatasi wabah influenza adalah besar, dan akan jauh lebih besar daripada biaya pencegahan.

.

Strategi yang baru ini adalah yang paling komprehensif dan berjangkauan luas, yang pernah diterbitkan WHO untuk melawan influenza. Strategi ini menguraikan tindakan untuk melindungi populasi setiap tahun dan membantu mempersiapkan pandemi melalui penguatan program kesehatan rutin, yang memiliki dua tujuan utama.

,

Pertama, membangun kapasitas negara yang lebih kuat untuk pengawasan dan respons atas penyakit, pencegahan, pengendalian, dan kesiapsiagaan melawan influenza. Untuk mencapai hal ini, setiap negara seharusnya memiliki program melawan influenza secara khusus. Kedua, mengembangkan alat yang lebih baik untuk mencegah, mendeteksi, mengendalikan, dan mengobati influenza, seperti vaksin yang lebih efektif, obat antivirus, dan asuhan keperawatan, dengan tujuan menjadikannya dapat diakses oleh semua negara.

.

Strategi ini bertujuan untuk membawa kita mempersiapkan sistem kesehatan untuk mengelola guncangan (manage shocks), karena pandemi influenza, dan ini hanya aman terjadi ketika sistem kesehatan nasional kuat. Strategi melawan influenza yang baru ini, disusun berdasarkan data selama lebih dari 65 tahun, oleh ‘Global Influenza Surveillance and Response System’ (GISRS), yang memantau tren musiman dan kemungkinan pandemi influenza. Dengan demikian setiap negara akan dapat mengidentifikasi secara lebih baik, tidak hanya influenza, tetapi juga berbagai penyakit menular lainnya, seperti Ebola atau Middle East respiratory syndrome karena infeksi coronavirus di wilayah Timur Tengah (MERS-CoV). Melalui implementasi strategi influenza global yang baru, dunia akan lebih mampu untuk mengurangi dampak influenza setiap tahun dan lebih siap menghadapi pandemi influenza, karena ancaman pandemi influenza selalu ada.

.

Pandemi dapat muncul ketika virus influenza jenis yang baru menyerang manusia, menyebar dan menyebabkan penyakit pada manusia. Pandemi influenza tidak dapat diprediksi kapan atau dari mana akan muncul. Namun demikian, yang jelas bahwa pandemi influenza jenis lain tidak dapat dihindari. Pada tahun 1918 terjadi peristiwa wabah penyakit menular yang paling menghancurkan dalam sejarah, yaitu pandemi influenza 1918. Sejak 1918 tiga pandemi influenza telah terjadi, yaitu pada tahun 1957, 1968 dan 2009 (H1N1). Risiko penularan virus influenza baru dari hewan ke manusia, akan berpotensi menyebabkan pandemi adalah hal yang nyata. Influenza merupakan beban penyakit global sepanjang tahun, sehingga strategi ini berfungsi sebagai peringatan bahwa kita harus terus mempersiapkan diri untuk melawan pandemi influenaza berikutnya.

.

Saat ini dunia sudah lebih siap daripada sebelumnya, tetapi masih belum cukup siap untuk melawan pandemi influenza, karena masih ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Sangat penting bahwa semua sistem kesehatan nasional di seluruh dunia, menjadi siap untuk mencegah dan mengendalikan influenza. Warga dunia saat ini sudah saling terhubung, sehingga kolaborasi adalah kunci untuk memastikan kesiapan dunia dalam melawan pandemi influenza. Dunia membutuhkan alat yang lebih baik untuk memerangi influenza. Melalui strategi yang baru ini, pengembangan terus menerus dilakukan, untuk terbentuknya alat global yang lebih baik dalam mencegah, mendeteksi, mengendalikan dan mengobati influenza. Alat-alat ini termasuk vaksin, obat antivirus dan asuhan keperawatan yang lebih efektif, yang dapat diakses untuk semua negara.

.

Biaya yang diperlukan dalam proses persiapan lebih sedikit daripada untuk menanggapi pandemi influenza. Pandemi yang parah dapat mengakibatkan jutaan kematian secara global, dengan dampak sosial dan ekonomi yang meluas. Biaya kesiapsiagaan dan pencegahan pandemi diperkirakan kurang dari US $ 1 per orang per tahun, yaitu kurang dari 1% dari perkiraan biaya untuk mengatasi pandemi influenza. Dengan berinvestasi dalam upaya pencegahan, pengendalian, dan kesiapsiagaan influenza, semua negara akan melihat manfaat lain di luar pandemi influenza, melalui penguatan keseluruhan sistem perawatan kesehatan nasional.

.

Panduan melawan influenza (Global Influenza Strategy) yang diterbitkan hari Senin, 11 Maret 2019 dapat membantu semua negara, mengintegrasikan program nasional melawan influenza dengan upaya lainnya. Integrasi ini juga untuk mencapai cakupan kesehatan semesta atau Universal Health Couverage (UHC).

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 13 Maret 2019

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
Istanbul

2019 Hari TB Sedunia

Hasil gambar untuk hari tb sedunia 2019

HARI TB DUNIA 2019

fx. wikan indrarto*)

Setiap tanggal 24 Maret didedikasikan sebagai Hari Tuberkulosis (TB) Dunia (World TB Day) pada untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dampak TB yang menghancurkan pada bidang kesehatan, sosial dan ekonomi. Dr. Robert Koch mengumumkan penemuan bakteri penyebab TB, pada 24 Maret 1882 yang membuka jalan menuju diagnosa dan penyembuhan penyakit ini. Pada saat Dr. Koch mengumumkan penemuannya di Berlin, Jerman waktu itu TB mewabah di seluruh Eropa dan Amerika, bahkan menyebabkan kematian 1 dari setiap 7 orang penderitanya. Apa yang terjadi?

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/01/22/2019-akhiri-tb/

Sampai sekarang TB tetap menjadi penyakit infeksi yang paling mematikan di dunia. Setiap hari, hampir 4.500 orang meninggal karena TB dan hampir 30.000 orang jatuh sakit TB, yang sebenarnya merupakan penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan. Namun demikian, upaya global untuk memerangi TB sebenarnya telah menyelamatkan sekitar 54 juta jiwa sejak tahun 2000 dan mengurangi angka kematian TB sebesar 42%.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/01/18/2019-tantangan-tb/

Tema Hari TB Sedunia 2019 : ‘Saatnya’ (It’s time), yang menunjukkan komitmen global untuk 5 hal penting. Pertama, meningkatkan akses kepada pencegahan dan perawatan, kedua membangun akuntabilitas, ketiga memastikan pembiayaan yang memadai dan berkelanjutan termasuk untuk penelitian, keempat mempromosikan diakhirinya stigma dan diskriminasi, dan kelima mempromosikan tanggapan TB yang adil, berbasis hak dan berpusat pada orang.

.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah meluncurkan inisiatif bersama ‘Temukan TB dan obati semua sampai tuntas’ (Find. Treat. All. #EndTB), dengan pendanaan dari Global Fund dan Stop TB Partnership. Gerakan ini bertujuan untuk mempercepat penghapusan TB dan memastikan akses ke perawatan, sejalan dengan dorongan WHO secara keseluruhan menuju Universal Health Coverage (UHC). Saatnya untuk bertindak! Sudah waktunya untuk Mengakhiri TB.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/08/20/2018-delamanid-untuk-mdr-tb/

TB adalah salah satu dari 10 penyebab kematian terbesar di dunia dan juga di Indonesia pada tahun 2017. Penyakit ini juga pembunuh utama orang dengan HIV dan penyebab utama kematian pasien terkait dengan resistensi obat antimikroba. Pada 2017, diperkirakan ada 10 juta penderita baru (insiden) TB di seluruh dunia, di mana 5,8 juta adalah laki-laki, 3,2 juta adalah perempuan dan 1 juta adalah anak-anak. Orang yang hidup dengan HIV menyumbang 9% dari total penderita TB. Delapan negara menyumbang 66% dari kasus baru, yaitu India, Cina, Indonesia, Filipina, Pakistan, Nigeria, Bangladesh, dan Afrika Selatan.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/08/09/2018-mdr-tb-2/

Pada 2017, 1,6 juta orang meninggal karena TB, termasuk 0,3 juta di antara orang dengan HIV. Namun demikian, secara global angka kematian TB turun 42% antara tahun 2000 dan 2017. Tingkat keparahan epidemi nasional sangat bervariasi antar negara, ada yang kurang dari 10 kasus baru per 100.000 penduduk di sebagian besar negara berpenghasilan tinggi, tetapi ada 150‒400 di sebagian besar dari 30 negara dengan beban TB yang tinggi, dan di atas 500 di beberapa negara termasuk Mozambik, Filipina, dan Afrika Selatan.

.

Pada tahun yang sama, terjadi 6,4 juta kasus TB baru dengan 3,6 juta kesenjangan antara insiden dan kasus yang dilaporkan, yang berarti lebih dari separo kasus TB tidak terdata. Sepuluh negara menyumbang 80% dari kesenjangan ini, dengan tiga teratas di antaranya adalah India, Indonesia, dan Nigeria, terhitung hampir setengah (46%). Pengobatan TB menyelamatkan 54 juta jiwa di seluruh dunia pada rentang tahun 2000 dan 2017. Secara global, tingkat keberhasilan pengobatan bagi pasien yang baru didiagnosis TB adalah 82% pada tahun 2016.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/04/09/2018-layanan-tbc/

Tantangan yang ada pada tahun 2017, terdapat 558.000 orang menderita TB resisten atau kebal terhadap rifampisin (RR-TB), yaitu obat lini pertama untuk mengatasi TB yang paling efektif, dan dari jumlah ini, 82% akhirnya menjadi TB kebal beberapa obat atau multi-resistan (MDR-TB). Sekitar 160.000 kasus MDR / RR-TB terdeteksi dan dilaporkan pada tahun 2017. Dari jumlah tersebut, total 140.000 orang tersebut kemudian mendapatkan pengobatan dengan rejimen lini kedua. Tingkat keberhasilan pengobatan dengan obat lini kedua hanya 55% dan tetap rendah secara global. Bahkan di antara kasus TB-MDR pada tahun 2017, sekitar 8,5% adalah TB yang resisten terhadap obat secara luas (TB-XDR).

.

WHO merekomendasikan perawatan pencegahan TB untuk orang yang hidup dengan HIV dan semua kontak yang tinggal di rumah tangga dengan penderita TB. Sebanyak 960.000 orang yang baru menjalani perawatan HIV, disertai dengan pengobatan pencegahan TB di Indonesia pada tahun 2017 atau 36% dari orang dalam perawatan HIV. Selain itu, jumlah anak balita yang mendapatkan terapi pencegahan TB mencapai 280.000 anak pada 2017, atau mengalami peningkatan tiga kali lipat dari tahun 2015, tetapi masih hanya sekitar satu dari lima anak saja, dari 1,3 juta anak yang diperkirakan memenuhi syarat untuk mendapatkannya.

.

Tes diagnostik cepat untuk deteksi resistensi TB dan rifampisin saat ini telah tersedia, yaitu pemeriksaan Xpert MTB / RIF®. Dari 48 negara dengan beban TB tinggi, 32 telah menggunakan algoritma nasional yang menerapkan Xpert MTB / RIF® sebagai tes diagnostik awal untuk semua orang yang diduga menderita TB paru. Pada akhir 2017, 68 negara melaporkan telah mulai menggunakan bedaquiline, dan 42 negara telah menggunakan delamanid, keduanya adalah obat untuk mengatasi MDR-TB .

.

Sejumlah kecil teknologi muncul pada 2017-2018 dan beberapa belum menunjukkan kinerja yang memadai dalam penelitian awal. Tes diagnostik TB cepat, akurat dan kuat yang tunggal, ternyata masih belum cocok untuk digunakan secara global. Selain itu, dua belas kandidat vaksin anti TB sedang dalam uji klinis, empat buah di Fase I, enam buah di Fase II dan dua buah di Fase III. Semuanya termasuk kandidat vaksin untuk mencegah perkembangan infeksi dan penyakit TB, dan kandidat untuk membantu meningkatkan hasil pengobatan untuk penyakit TB. Selain itu, ada 20 obat, beberapa rejimen pengobatan, dan 12 kandidat vaksin dalam uji klinis. Pendanaan untuk penelitian dan pengembangan TB telah meningkat dan mencapai puncaknya US $ 724 juta pada tahun 2008 sampai 2016. Namun demikian, dana ini hanya 36% dari perkiraan keperluan dana yang mencapai US $ 2 miliar per tahun.

.

Momentum Hari TB Sedunia 24 Maret 2019 mengingatkan agar kita berada di jalur yang benar, untuk mencapai target TB global dalam SDG 2016-2030. Kini ‘Saatnya’ (It’s time) dengan cara ‘Bersatu membasmi TB’ (Unite to End TB).

Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 14 Maret 2019

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
Istanbul

2019 Kepemimpinan Sehat oleh Perempuan

Hasil gambar untuk dokter wanita pertama indonesia

KEPEMIMPINAN SEHAT OLEH PEREMPUAN

fx. wikan indrarto*)

Pada Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day) Jumat lalu, 8 Maret 2019 terungkap banyaknya perempuan yang telah memiliki peran dalam memajukan layanan kesehatan. Apa yang membanggakan?

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/08/20/2018-hari-kemanusiaan-sedunia/

Salah satu perempuan yang paling terkenal adalah Florence Nightingale (1820-1910), ahli statistik abad ke-19 dan pelopor keperawatan modern, yang memahami manfaat kebersihan dan sanitasi dalam mencegah penyakit. Fe del Mundo (1911–2011), seorang dokter anak dari Filipina, adalah dokter perempuan pertama di Harvard Medical School, USA. Anandi Gopal Joshi (1865-1887) adalah salah satu dokter perempuan India pertama, yang ditunjuk sebagai dokter yang bertugas di sebuah rumah sakit di India tengah, sebelum dia meninggal karena tuberkulosis pada usia 22 tahun. Elizabeth Garrett Anderson (1836-1917), lahir tak lama setelah Florence Nightingale, belajar sendiri bahasa Prancis sehingga ia bisa memperoleh gelar medis di Universitas Sorbonne di Paris. Dia menjadi dokter wanita pertama di Inggris.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/11/07/2018-dokter-pahlawan/

Pada abad ke-20, Anne Szarewski (1959-2013) dokter perempuan yang menemukan penyebab kanker leher rahim dan Françoise Barré-Sinoussi yang lahir 1947, menemukan HIV sebagai penyebab AIDS. Selain itu, Marie Thomas (1896-1966) adalah dokter perempuan pertama yang pada tahun 1922 lulus dari Studiefonds voor Opleiding van Vrouwelijke Inlandsche Artsen (SOVIA) di Batavia. Sedangkan Dr. dr. Siti Fadilah Supari, SpJP(K) adalah menteri kesehatan perempuan pertama di Indonesia pada periode 2004-2009, yang merupakan menteri kesehatan ke 17 sejak Indonesia merdeka. Selanjutnya, menteri kesehatan dijabat oleh para dokter perempuan seperti Dr.PH dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH (2009-2012), dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH ( 2012-2014) dan Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek SpM(K) (sejak 2014 sampai sekarang).

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/05/17/2018-peran-lengkap-dokter/

Namun demikian, pada tahun 2019 ini jumlah perempuan masih hanya sepertiga dari peneliti bidang kesehatan di seluruh dunia. Beberapa daerah seperti Asia Tengah serta Amerika Latin dan Karibia memiliki keseimbangan gender yang hampir sama, tetapi di Eropa dan Amerika Utara, proporsi perempuan tetap sekitar 30-35%. Perempuan juga memiliki kendala dalam berjuang untuk naik pangkat di bidang layanan kesehatan dan ilmu pengetahuan. Anggota perempuan hanya 12% dari total anggota akademi sains nasional di seluruh dunia. Tenaga kesehatan perempuan memang mencapai 70% dari total tenaga kesehatan di seluruh dunia, namun perempuan hanya menempati 25% posisi kepemimpinan dalam bidang layanan kesehatan.

.

Diskriminasi jender, bias, pelecehan seksual, dan ketidakadilan telah dipastikan sebagai hambatan sistemik bagi kemajuan perempuan, dalam karirnya pada bidang layanan kesehatan global. Namun demikian, sudah banyak tanda positif bahwa perubahan untuk perempuan telah terjadi. Di WHO misalnya, perempuan memegang 60% posisi kepemimpinan senior. WHO juga memiliki pusat kesetaraan gender aktif untuk memastikan bahwa pertimbangan gender diterapkan pada kebijakan untuk tenaga kesehatan di seluruh dunia. Selain itu, segalanya juga berubah di dunia akademis, dimana tahun 2018 lalu, hampir 40% anggota baru di ‘National Academy of Medicine’ adalah perempuan.

.

Tantangan bagi sesama perempuan masih tetap nyata, yaitu sekitar 303.000 perempuan meninggal karena sebab yang dapat dicegah, terkait dengan kehamilan dan persalinan, pada tahun 2015. Di seluruh dunia, satu dari lima perempuan masih tidak memiliki akses selama persalinan ke tenaga kesehatan yang terampil, yang dapat mencegah atau menangani sebagian besar komplikasi kehamilan. Lebih dari 10% perempuan di dunia, dan sekitar 20% perempuan di negara berkembang, mengalami depresi sekitar persalinan. Hal ini sangat mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan perempuan dan perkembangan awal anak-anak mereka. Diperkirakan 2,6 juta kematian bayi terjadi secara global pada tahun 2015, 98% dari kematian tersebut terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Prematuritas, komplikasi selama persalinan dan kelahiran, dan infeksi seperti sepsis, pneumonia, tetanus, dan diare adalah penyebab utama kematian bayi, yang semuanya sebenarnya dapat dicegah.

.

Sekitar 5,4 juta anak balita global meninggal pada 2017. Anak balita di Afrika sub-Sahara 14 kali lebih mungkin meninggal daripada anak di negara berpenghasilan tinggi. Penyebab utama kematian anak perempuan dan laki-laki termasuk komplikasi kelahiran prematur, radang paru-paru, asfiksia saat lahir, kelainan bawaan, diare dan malaria, dengan tingkat kematian sama pada anak perempuan dan laki-laki. Pada hal sebagian besar kondisi ini dapat dicegah atau diobati dengan intervensi sederhana dan terjangkau. Diskriminasi gender juga terjadi pada anak perempuan, karena lebih kecil kemungkinannya untuk mendapatkan vaksinasi, layanan kesehatan, dan nutrisi yang baik daripada anak laki-laki sebayanya.

.

Oleh sebab itu, perlu dilakukan pendidikan khusus untuk anak perempuan dan perempuan dewasa, guna meningkatkan derajad kesehatan. Meskipun ada kemajuan yang dicapai selama 20 tahun terakhir, anak perempuan masih lebih kecil kemungkinannya untuk bersekolah daripada anak laki-laki. Anak perempuan berusia 5-9 memiliki risiko kematian yang relatif lebih tinggi karena adanya penyakit menular yang dapat dicegah, misalnya infeksi saluran pernapasan bawah, penyakit diare, atau malaria. Infeksi saluran pernafasan yang lebih rendah juga merupakan penyebab utama kematian pada remaja perempuan berusia 10-14 tahun.

.

Selama masa pubertas, secara global sekitar 18% anak perempuan, dibandingkan dengan 8% anak laki-laki, mengalami pelecehan seksual. Diperkirakan 120 juta gadis remaja telah mengalami hubungan seksual paksa atau tindakan seksual paksa lainnya. Masalah gizi adalah masalah utama, dengan kegemukan dan obesitas dapat menyebabkan kematian dini dan kecacatan di kemudian hari pada anak laki-laki, sementara anak perempuan justru mengalami anoreksia nervosa dan gangguan makan lainnya. Selain itu, anemia defisiensi besi mempengaruhi sejumlah besar gadis remaja.

.

Penyebab utama kematian wanita berusia 15-24 tahun adalah bunuh diri, kecelakaan lalu lintas di jalan, HIV / AIDS, diare dan TBC. Gangguan depresi, terkait dengan melukai diri sendiri dan bunuh diri, adalah penyebab utama kesehatan yang buruk. Afrika Sub-Sahara adalah wilayah yang memiliki beban HIV tertinggi di antara remaja perempuan dan perempuan muda. Perempuan muda dan anak perempuan tunduk pada serangkaian praktik berbahaya dan kekerasan, termasuk pernikahan dini. Setiap tahun, 12 juta anak perempuan menikah sebelum usia 18 tahun. Selain itu, sekitar 12,8 juta kelahiran terjadi di antara remaja perempuan berusia 15-19 tahun, dan 3,9 juta aborsi tidak aman terjadi di kalangan perempuan berusia 15-19 tahun setiap tahun, berkontribusi pada kematian ibu dan masalah kesehatan yang berkelanjutan.

.

HIV / AIDS tetap menjadi penyebab utama kematian di kalangan perempuan dalam kelompok usia dewasa awal (25–49 tahun) secara global. Penyakit tidak menular, khususnya penyakit jantung adalah penyebab utama kedua. TBC adalah ancaman besar lainnya. Sekitar 214 juta wanita usia reproduksi di negara berkembang yang ingin menghindari kehamilan, tidak menggunakan metode kontrasepsi modern, sehingga terjadi 44% kehamilan yang tidak dikehendaki dan sekitar 56 juta aborsi setiap tahun, setengahnya tidak aman.

.

Momentum Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day) Jumat lalu, 8 Maret 2019, adalah saat untuk mengingat kembali bahwa perempuan di seluruh dunia, memainkan peran kepemimpinan yang sama pentingnya dalam layanan kesehatan, seperti halnya laki-laki, terutama untuk sesama perempuan.

.

Sudahkah itu juga terjadi di sini?

Sekian

Yogyakarta, 11 Maret 2019

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161,

Categories
Istanbul

2019 Kelainan Bawaan

Hasil gambar untuk kelainan bawaan

KELAINAN BAWAAN

fx. wikan indrarto*)

Pada tahun 2001, March of Dimes meluncurkan serangkaian pertemuan dua tahunan yang disebut Konferensi Internasional tentang Kelainan Bawaan dan Disabilitas atau ‘International Conference on Birth Defects and Disabilities’ (ICBD). ICBD terakhir pada 2017 diselenggarakan di Bogotá, Kolombia. ICBD tahun 2019 akan diselenggarakan di Cinnamon Grand Colombo Hotel, di 77 Galle Rd, Colombo Sri Lanka. Apa yang harus disadari?

.

Konsensus ICBD mencantumkan tindakan utama untuk memaksimalkan pengawasan kelainan bawaan, pencegahan, dan perawatan. Pada dasarnya adalah program untuk meningkatkan pengawasan, mengurangi risiko terjadinya kelainan bawaan, dan mencegah serta mengobati infeksi yang terkait dengan kelainan bawaan. Selain itu, juga menerapkan skrining bayi baru lahir, menyediakan perawatan dan layanan untuk anak dengan kelainan bawaan dan disabilitas, melibatkan pemerintah, masyarakat sipil, dan lembaga internasional.

.

Implementasi dan peningkatan intervensi berbasis bukti menggunakan pendekatan kolaboratif multisektoral dan multidisiplin telah disetujui peserta konggres. Semua negara dapat memanfaatkan teknologi dan media sosial untuk mengadvokasi pernyataan konsensus tersebut. Pernyataan konsensus dapat digunakan sebagai panduan oleh pemerintah dan lembaga nonpemerintah untuk mengambil langkah segera untuk meningkatkan kualitas hidup mereka yang hidup dengan kelainan bawaan dan disabilitas.

.

Kelainan bawaan atau cacat lahir berkontribusi hingga 21% dari kematian anak balita di Amerika Latin dan Karibia, dan beban itu diperparah oleh epidemi virus Zika. Virus Zika (ZIKV) yang telah membuat heboh dunia kesehatan internasional pertama kali ditemukan pada tahun 1947 di hutan Zika, Uganda. Pada tahun 2007, virus ini pernah menyebabkan wabah penyakit di daerah Lautan Pasifik. Bahkan pada tahun 2015, ZIKV dilaporkan menyebar hingga ke wilayah Brazil dan Panama. Kemampuan ZIKV untuk menyebar secara luas antar-negara bahkan antar-benua menimbulkan kekhawatiran bahwa virus tersebut dapat mencapai Indonesia. Virus Zika dibawa oleh nyamuk yang juga membawa virus demam berdarah, yaitu Aedes aegypty. Selain itu, gejala yang ditimbulkan oleh demam Zika pun mirip dengan gejala demam berdarah. Virus Zika tidak menyebabkan kematian. Namun, ZIKV dapat meningkatkan risiko mikrosefali pada bayi (ukuran kepala lebih kecil dari normal) dan kelainan bawaan lain, apabila menginfeksi ibu hamil pada trimester pertama.

.

Dampak kelainan bawaan pada anak bergantung oleh pandangan anak terhadap organ tubuhnya, penyakitnya, pengobatan yang diterimanya, dan pandangan terhadap kematian. Dampak pada anak tercermin pada perkembangan psikososialnya, keterlibatannya dengan teman sebaya serta prestasi di sekolah. Sedangkan dampak terhadap keluarganya, antara lain terhadap status psikososial orang tua, aktifitas dan status ekonomi keluarga serta peran keluarga di masyarakat.

.

Pada tahun 2016 Badan Pusat Statistik (BPS) menerbitkan survei ketenagakerjaan nasional (sakernas) dengan estimasi jumlah tenaga kerja penyandang kelainan bawaan dan disabilitas di Indonesia sebesar 12,15 persen. Yang masuk kategori sedang sebanyak 10,29 persen dan kategori berat sebanyak 1,87 persen. Sementara untuk prevalensi disabilitas provinsi di Indonesia antara 6,41 persen sampai 18,75 persen. Tiga provinsi dengan tingkat prevalensi tertinggi adalah Sumatra Barat, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan. Dari angka 12,15 persen penyandang disabilitas, 45,74 persen tingkat pendidikan tidak pernah atau tidak lulus SD, jauh dibandingkan pekerja non-penyandang disabilitas, yaitu sebanyak 87,31 persen berpendidikan SD ke atas.

.

Kondisi kelainan bawaan dan disabilitas sangat mungkin menyebabkan anak sangat bergantung kepada orangtua dan keluarganya. Waktu dan biaya yang dibutuhkan untuk merawat remaja dengan penyakit kronis lebih banyak sehingga seringkali menimbulkan masalah ekonomi. Orangtua menjadi merasa bersalah, frustasi, cemas dan depresi terhadap penyakit yang diderita anaknya. Bagi anak atau anggota keluarga yang lain, waktu kebersamaan dengan orangtua akan berkurang.

.

Penatalaksanaan yang optimal pada remaja dengan kelainan bawaan dan disabilitas adalah sangat penting. Dalam hal ini harus melibatkan pengelolaan kesehatan mental, memantau perkembangan anak, dan melibatkan keluarga, karena pengobatan sederhana saja sering kali tidak cukup. Anak atau remaja dengan kelainan bawaan atau disabilitas harus bekerja sama dengan tim kesehatan, percaya terhadap tatalaksana pengobatan yang diberikan, dan mempunyai keluarga yang mendukung dan membantu dalam rencana pengobatan. Beberapa prinsip penatalaksanaan adalah sebagai berikut pertama pendidikan kesehatan, dengan menjelaskan tentang perjalanan penyakitnya dan keterbatasan pengobatan. Pendidikan kesehatan harus langsung pada penderita dan keluarganya dan harus menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. Kedua, merespons terhadap emosi yang berubah, termasuk mendengarkan baik-baik, berikan waktu yang cukup bagi remaja dan keluarganya untuk mengemukakan perasaannya, kekhawatirannya, dan harapannya. Ketiga, melibatkan keluarga. Dukungan pada keluarga dan petunjuk penatalaksanaan sangat penting. Keluarga harus dibantu agar tidak melakukan sikap yang berlebihan terhadap anak, seperti terlalu melindungi, terlalu khawatir dan memberikan perhatian yang berlebihan. Keempat, melibatkan pasien, karena saat anak atau remaja dilibatkan dalam penatalaksaan penyakitnya, maka mereka akan lebih patuh dan bertanggungjawab.

.

Kelima, melibatkan tim multidisiplin. Beberapa ahli diperlukan dalam menatalaksana anak dan remaja dengan kelainan bawaan dan disabilitas, seperti dokter, psikolog, pekerja sosial, okupasi-terapis, fisioterapis, ahli gizi, dan ahli lain yang terkait. Keenam, menyediakan perawatan yang berkelanjutan. Anak atau remaja dengan kelainan bawaan dan disabilitas membutuhkan seseorang yang dapat dipercaya. Paling sedikit salah satu dari anggota tim, lebih baik dokter dari fasilitas kesehatan primer (FKTP), yang membina hubungan jangka panjang dengan penderita dan keluarganya. Peran dokter disini adalah mengkoordinasi perawatan berbagai spesialis (multidisiplin), memantau tumbuh kembangnya, memberikan petunjuk yang mungkin diperlukan, dan lain sebagainya. Ketujuh, menyediakan pelayanan rawat jalan yang komprehensif. Dalam hal ini diperlukan pelayanan psikologikal, pendampingan belajar bersosialisasi, dan pendidikan luar biasa. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa remaja yang mendapatkan pelayanan yang komprehensif, dapat menurunkan frekuensi rawat inap, lama dirawat inap, biaya di rumah sakit, dan menurunkan kemungkinan dirawat inap kembali.

.

Anak dan remaja dengan kelainan bawaan dan disabilitas perlu mendapat perhatian khusus, oleh karena kondisinya berbeda dengan anak normal. Anak ini dapat mengalami gangguan pada setiap sektor tumbuh kembangnya, sehingga diperlukan kerjasama dari petugas professional multidisiplin dalam mengatasi hal ini.

Apakah kita sudah bijak?

Sekian

Yogyakarta, 11 Maret 2019

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161.

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?