Categories
Healthy Life Jalan-jalan sekolah

2024 TERKAPAR DI QATAR

TERKAPAR  DI  QATAR

fx. wikan indrarto

Dalam perjalanan ke Moskow, Rusia untuk mengikuti International Conference on Pediatric Allergy and Immunology (ICPAI), kami transit sehari, jalan-jalan ke sana ke mari, dan sampai terkapar di Qatar pada Senin, 6 Mei 2024. Apa yang menarik?

Kasus pembelian pesawat bekas Mirage 2000-5 buatan Perancis oleh Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, negosiasi alot yang menghasilkan gencatan senjata di Gaza antara Hamas dan Israel, hajatan sepak bola FIFA berupa Piala Dunia 2022, Piala Asia 2023 dan Piala Asia U23 2024, media internasional Al Jazeera dan SIM Card Ooredoo di HP teman kita, semuanya terkait dengan Qatar.

Pesawat Qatar Airways sedang disiapkan di apron Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta Jakarta

Kami terbang dari Jakarta  selama 7 jam 33 menit sejauh 6.640 km dalam perut pesawat Qatar Airways, maskapai penerbangan nasional Qatar, yang memiliki basis utama di Bandar Udara Internasional Hamad. Saat ini, Qatar Airways melayani 150 tujuan internasional dan merupakan salah satu dari 5 maskapai pererbangan yang mendapatkan status 5-star airlines dari Skytrax dan berhasil memperoleh penghargaan World’s Best Airlines pada tahun 2011 dan 2012. Pada tahun 2013 Qatar airlways menempati posisi kedua sebagai “World’s Best Airline” dan mendapatkan penghargaan sebagai maskapai penerbangan kelas bisnis terbaik di dunia versi Skytrax.

Qatar Airways didirikan pada tanggal 22 November 1993 dan memulai operasinya pada tanggal 20 Januari 1994. Pada awalnya maskapai ini dimiliki oleh anggota keluarga kerajaan Qatar. Pada bulan April 1997, sebuah manajemen baru dibawah pimpinan Akbar Al Baker menjalankan maskapai ini. Saat ini komposisi kepemilikan Qatar Airways adalah 50% oleh pemerintah Qatar dan sisanya investor swasta. Mulai 5 Februari 2017, maskapai ini memiliki penerbangan terjadwal reguler paling lama dari seluruh maskapai komersial, antara Doha dan Auckland.

Konter Souvenir Qatar Airways di Bandara Hamad Doha, Qatar

Kami sempat terlelap dalam dingin kabin Qatar Airways QR 959 sebuah Airbus A350 XWB (eXtra Wide Body), yang merupakan keluarga pesawat jet berbadan lebar buatan produsen pesawat Eropa Airbus. A350 menjadi pesawat Airbus pertama dengan struktur kedua sayap pesawat dibuat dari polimer yang diperkuat serat karbon. Dalam penerbangan ke Doha, kami juga menikmati sajian Al Jazeera, sebuah stasiun televisi internasional yang sedang naik daun, berbahasa Arab dan Inggris, dan berbasis di Doha, Qatar. Stasiun TV ini menjadi populer saat serangan mematikan 11 September 2001 di gedung kembar WTC New York USA, ketika stasiun ini menyiarkan rekaman pernyataan Osama bin Laden dan pimpinan al-Qaeda lainnya. Selain itu, juga gencar tampil di layar penumpang pesawat kami, promosi Ooredoo milik Qatar Telecom (Qtel) yang membantuk PT. Indosat Ooredoo, dan telah berhasil menjadi bisnis telekomunikasi seluler terbesar kedua di Indonesia, dengan merk Matrix, Mentari, 3 dan IM3.

Sebelum terlelap untuk yang pertama kali dalam perut pesawat, sempat terbayang letak Qatar, sebuah negara keemiran Timur Tengah yang terletak di sebuah semenanjung kecil di Jazirah Arab di Asia Barat. Satu-satunya batas daratnya adalah Arab Saudi di selatan dan sisanya berbatasan dengan Teluk Persia. Teluk ini juga yang memisahkan Qatar dari negara pulau Bahrain.

Selamat datang di Doha, Qatar

Dari sejarah dapat diketahui bahwa setelah berada di bawah kekuasaan Utsmaniyah, Qatar menjadi protektorat Inggris pada awal abad ke-20 hingga merdeka pada tahun 1971. Qatar dipimpin oleh Keluarga Thani sejak awal abad ke-19. Syekh Jassim bin Mohammed Al Thani adalah pendiri Qatar. Qatar merupakan negara monarki dan kepala negaranya saat ini adalah Emir Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani. Sejak tahun 2004, Qatar dibagi menjadi 7 munisipalitas (baladiyah), yaitu Madinat ash Shamal, Al Khor, Umm Salal, Al Daayen, Al Rayyan, Doha, dan Al Wakrah.

Kami disambut hangat oleh teman sekamar di Asrama Mahasiswa Realino di Jl. Gejayan Yogyakarta, yaitu Antonius ‘Tony’ Ferenius Mansanulu, asli Malaka NTT. Tony adalah Realino SeV angkatan 1985 yang menyelesaikan pendidikan di Program Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta dengan skripsi berjudul : Teaching conditional sentences through games to the SMA students, dan saat ini menjadi guru Bahasa Indonesia di Al Khor International School (AKIS). Pada tahun 2010 Tony Mansanulu saat menjadi guru British International School Jakarta (sekarang British School Jakarta) ditawari untuk menjadi guru Bahasa Indonesia di AKIS Qatar, karena persyaratannya adalah memiliki kemampuan Bahasa Inggris aktif, untuk berkomunikasi dengan orang tua murid yang orang asing dan teman guru lain.

Kebanyakan penduduk Qatar beragama Islam aliran Islam Sunni, sedangkan Muslim yang mengikuti Syiah sekitar 20%. Penduduk Qatar 67.7% Muslim, 13.8% Kristen, 13.8% Hindu, 3.1% Buddha dan kepercayaan lainnya 1.6%. Sedangkan penganut Kristen kebanyakan berasal dari ekspatriat asal Eropa yang bekerja di Qatar. Sejak tahun 2008, penganut Kristen diperbolehkan untuk membangun gereja yang didanai pemerintah, meski kegiatan misionaris asing tidak diperbolehkan. Terdapat 3 buah gereja yang pembangunannya diinisiasi oleh Pemerintah Qatar adalah Gereja Katolik Our Lady of Rosary, Gereja Ortodoks Suriah Malankara Mar Thoma, dan Gereja Anglikan Epiphany.

Dengan mas Tonny dan Nissan X Terra di depan Gereja Katolik Our Lady of Rosary yang puncak gentingnya bulat, di sampingnya adalah Gereja Ortodoks Suriah Malankara Mar Thoma, dan Gereja Anglikan Epiphany, di Doha, Qatar

Dari Bandara Doha kami diajak mas Tony untuk segera menuju Gereja Katolik Bunda Rosario (Our Lady of Rosary). Gereja Katolik Bunda Rosario ini dibangun bersama dengan gereja-gereja dari denominasi Kristen lainnya, di Kompleks Keagamaan di Abu Hamour. Gereja ini adalah gereja pertama yang dibangun di Qatar sejak Penaklukan Muslim pada abad ke-7. Gereja ini dibangun dengan biaya sekitar $20 juta di atas tanah yang disumbangkan oleh Emir Qatar, Hamad bin Khalifa Al Thani. Sesuai hukum Islam di Qatar, maka gereja ini tidak menampilkan simbol Kristen seperti salib, lonceng, atau menara di bagian luarnya. Gereja ini diresmikan pada 14 Maret 2008, oleh Kardinal Ivan Dias, prefek Kongregasi Evangelisasi, dalam upacara yang dihadiri Wakil Perdana Menteri Qatar Abdullah Bin Hamad Al-Attiyah; Uskup Agung Mounged Al Hachem, duta Takhta Suci untuk Teluk; Uskup Paul Hinder, Vikariat Apostolik Arab; Uskup Agung Giuseppe Andrea, mantan nunsius Takhta Suci untuk wilayah tersebut; dan beberapa pejabat Qatar. Gereja ini menjadi bagian dari Vikariat Apostolik Arab Utara dan melayani sekitar 200.000 umat Katolik di Qatar, kebanyakan dari mereka pekerja migran dari Filipina, India, Amerika Selatan, Afrika, Lebanon, dan Eropa.

Monumen Piala Dunia 2022 di Qatar, dibangun di dekat Teluk Doha yang selalu banyak pengunjung

Kemajuan Qatar sungguh mengagumkan, bahkan mampu menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA 2022, menjadi negara Arab pertama yang mendapatkannya. Qatar menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022,  Piala Asia 2023 dan Piala Asia U23 2024. Di Piala Dunia 2022, Qatar babak belur. Di Grup A, Qatar dibungkam Ekuador 0-2, takluk dari Senegal 1-3, dan dikalahkan Belanda 0-2. Sisa kemegahannya kami nikmati pada monumen Jam Hitung Mundur Piala Dunia 2022 di Doha Corniche, Doha.

Monumen Jam Hitung Mundur Piala Dunia Qatar 2022

Jam di pinggiran pantai Teluk Doha di jalan raya utama Corniche Street itu menghitung mundur malam, hingga dimulainya perhelatan akbar Piala Dunia 2022 Qatar. Jam Hitung Mundur Piala Dunia 2022 diluncurkan pada malam tanggal 21 November 2021. Dalam acara peluncuran tersebut, Presiden FIFA Gianni Infantino menegaskan arti penting Piala Dunia 2022 Qatar. Sejak diluncurkan, countdown clock di Doha Corniche telah menjadi salah satu spot Piala Dunia 2022 yang paling banyak diburu. Lokasinya di Doha Corniche, pun sudah sangat ikonik dan indah, karena merupakan kawasan taman di pinggir pantai Teluk Doha dengan jalan setapak berbentuk bulan sabit. Taman dengan rerumputan hijau ini terletak persis menghadap ke hamparan laut. Sementara, di seberang jalan taman Doha Corniche, gedung-gedung megah di pusat ibukota berdiri tegak menjulang tinggi.

Dengan mas Tonny berlatar belakang Istana Emir Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani Raja Qatar yang indah, besar dan artistik, di seberang Jam Hitung Mundur Piala Dunia 2022, menghadap Teluk Doha yang berpanorama indah.

Dari Monumen Jam Hitung Mundur Piala Dunia 2022, kami segera menuju ke Menara Katara, di Lusail, Doha. Menara Katara menawarkan pemandangan indah Teluk Arab yang tiada duanya. Tinggi menara ini mencapai 211 meter atau sekitar 692 kaki, menjadikannya salah satu bangunan tertinggi di kawasan tersebut. Apalagi memiliki desain khas, yaitu dua menara yang melengkung, terinspirasi dari lencana berbentuk dua buah pedang tradisional Qatar, sehingga menciptakan kesan kemewahan yang berkelas. Menara ini memiliki fasilitas lengkap, yaitu tidak hanya dilengkapi 800 kamar hotel, tetapi juga apartemen mewah, ruang perkantoran modern, fasilitas rekreasi bertaraf internasional, serta restoran dengan sajian kuliner terbaik.

Menara Katara setinggi 211 meter dengan desain khas, yaitu dua menara yang melengkung, terinspirasi dari lencana berbentuk dua buah pedang tradisional Qatar.

Desain katara tower adalah harmoni antara tradisi qatar dan modernitas global, bukanlah sekedar hasil dari pemikiran semata-mata modern, tetapi juga merupakan representasi dari identitas dan warisan budaya Qatar. Segel nasional yang menggambarkan pedang tradisional scimitar dengan elegan diadopsi ke dalam desain menara modern, menciptakan sinergi antara tradisi dan inovasi. Dengan demikian, Katara Towers mampu menetapkan standar baru dalam dunia arsitektur dan perhotelan, yang mencerminkan visi Qatar untuk masa depan.

Selanjutnya kami diantar mas Tony dengan mobilnya Nissan X-Terra untuk menikmati monumen Stadion Lusail atau Stadion Lusail Iconic, adalah sebuah stadion yang terletak di Lusail, Qatar. Dimiliki oleh Asosiasi Sepak Bola Qatar, stadion ini merupakan stadion terbesar di Qatar dan salah satu dari delapan stadion yang dibangun untuk penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2022, sekaligus menjadi tempat pertandingan final Piala Dunia FIFA.

Stadion Lusail Iconic, di Doha, Qatar merupakan stadion terbesar di Qatar menjadi tempat pertandingan final Piala Dunia FIFA tahun 2022 antara Argentina melawan Prancis, berbentuk seperti kapal tradisional nelayan lokal.

Stadion ini terletak sekitar 20 kilometer (12 mi) di sebelah utara Doha. Stadion Lusail diresmikan pada 9 September 2022. Pertandingan final ini diselenggarakan di Stadion Lusail pada 18 Desember 2022 yang bertepatan pada hari nasional Qatar, antara Argentina melawan Prancis. Sebelum pertandingan final dimulai, penyanyi Argentina Lali Espósito menyanyikan Lagu Kebangsaan Argentina dan penyanyi Mesir Farrah Eldibany menyanyikan “La Marseillaise,” lagu kebangsaan Prancis. Pemain Terbaik pada pertandingan final tersebut adalah Lionel Messi (Argentina), dengan Wasit Szymon Marciniak (Polandia) dan jumlah penonton 88.966 orang. Argentina memenangkan pertandingan melalui adu penalti dengan skor 4–2 setelah hasil imbang 3–3 hingga perpanjangan waktu berakhir dan meraih gelar juara Piala Dunia FIFA yang ketiga. Trofi Piala Dunia dibawa ke lapangan pertandingan oleh mantan kapten tim nasional Spanyol Iker Casillas bersama aktris India Deepika Padukone. 

Mengenang rivalitas Lionel Messi (Argentina) dan Kylian Mbappe (Perancis) saat final Piala Dunia 2022 di Stadion Lusail, Qatar dengan sinergitas sesama alumni Realino Yogyakarta

Bukan Messi dan Mbappe saat final Piala Dinia 2022 di Qatar, hanya teman sesama alumni Realino di tempat yang sama lokasinya, yaitu Stadion Lusail

Dari Stadion Lusail yang ikonik, kami segera bergegas pulang ke rumah mas Tony di Zone 75, Street 891, Building 18, Villa number 5 Al Thakira sekitar 10 km dari Al Khore, Qatar dan beristirahat sore sejenak. Selanjutnya kami segera menikmati malam di Al Khor dengan sang isteri (mbak Christina ’Titin’ Triatmaniati, sesama staf di AKIS) yang menemani kami jalan2 malam itu, tetapi kedua anaknya tidak (Bernardino Realino ’Reno’ Manesanulu si sulung sedang kuliah di Departemen Teknik Mesin ITB Bandung dan si bungsu Gerardo Mayella ’Gera’ Manesanulu kelas 9 sedang menyiapkan ujian semester). Malam itu kami ber4 menikmati Bhukori rice full BBQ chicken dan lambs chops di Ottoman palace restaurant Al Khor sampai kekenyangen.

Al Khor International School (AKIS) Qatar di mana mas Tony dan mbak Titin mengajar

Selanjutnya kami menuju sekolah AKIS, tempat mas Tony dan mbak Titin mengajar, yang dimiliki oleh Qatargas Operating Company Ltd. (Qatargas), salah satu perusahaan penghasil gas alam terbesar di dunia. AKIS didirikan terutama untuk melayani anak-anak karyawan Qatargas. Sekolah ini terletak di Komunitas Al Khor, sekitar 40 km di utara Doha. Sebagai institusi sekolah untuk pendidikan bersama dan non-selektif, AKIS terdiri dari tahap dasar hingga Pasca 16, untuk anak usia 4-18 tahun. Kurikulum yang digunakan adalah dari Inggris (British Curriculum atau BC), India (Central Board of Secondary Education  atau CBSE), dan Qatar (Kurikulum Kementerian Pendidikan Dasar dan Pendidikan Tinggi, Bahasa Arab, Sejarah dan Studi Islam). Lebih dari 4.000 siswa, termasuk sekitar 700 siswa orang Indonesia, yang belajar di 4 buah gedung AKIS, dibimbing oleh tim yang berdedikasi dan terampil, yang terdiri dari sekitar 500 orang staf akademik dan 50 orang staf administrasi.

Makan malam menu Turki di Ottoman Palace Restourant Al Khor, Qatar

Setelah puas menikmati lingkungan sekolah AKIS yang luas, kami segera pulang. Malam itu kami benar2 terkapar di Qatar, di kamar Reno yang kosong karena ditinggal kuliah di Bandung.

(bersambung dengan petualangan selanjutnya ke Moskow, Russia)

Ditulis dan disebarluaskan dari rumah mas Tony di Zone 75, Street 891, Building 18, Villa number 5 Al Thakira sekitar 10 km dari Al Khore, Qatar


Salam pengelana
wikan & sari

QATAR  YANG  KEKAR

fx. wikan indrarto

(sambungan)

Setelah bugar dari terkapar, kami segera bersiap untuk menikmati Qatar yang kekar pada Selasa, 7 Mei 2024, sebelum melanjutkan perjalanan ke Moskow, Rusia untuk mengikuti International Conference on Pediatric Allergy and Immunology (ICPAI). Apa yang menarik?

Qatar adalah negara yang kekar secara ekonomi dengan pendapatan tinggi, ditopang oleh cadangan gas alam dan minyak yang terbesar ketiga sedunia. Negara ini masuk dalam daftar negara berpendapatan per kapita tinggi, dengan PDB per kapita Qatar menempati posisi nomor 4 tertinggi di dunia, menurut Dana Moneter Internasional (IMF). Qatar digolongkan sebagai negara yang memiliki indeks pembangunan manusia sangat tinggi dan paling baik di antara negara Arab lainnya. Qatar memiliki pengaruh cukup kuat di Jazirah Arab, mendukung beberapa kelompok pemberontak selama Musim Semi Arab, baik secara finansial maupun melalui media global Al Jazeera, bahkan Qatar memegang pengaruh yang cukup penting pada politik internasional.

Patung Oryx yang kekar menyambut penumpang di Bandara Internasional Hamad, di Doha Qatar

Qatar yang kekar dan kuat terinspirasi dari kijang oryx Arab, yang mudah dikenali dari bulunya yang putih cerah, meski sebenarnya bulunya jarang, yang memantulkan sinar matahari, kukunya yang lebar, memungkinkannya berjalan dengan relatif mudah di pasir, dan dengan tanduknya yang panjang dengan sedikit melengkung. Kijang oryx dikenal sebagai hewan dengan stamina luar biasa, yang mampu menempuh jarak jauh dengan berjalan kaki di gurun, dan terkadang mampu menempuh jarak lebih dari 70 km pada malam hari. Saat ini disebut hewan nasional Qatar, bahkan Oryx muncul pada lambang Qatar Airways, yang mendorongnya semakin kuat dan kekar dalam persaingan bisnis penerbangan.

.

Setelah dominasi Inggris dan Kesultanan Utsmaniyah di Qatar, akhirnya Qatar menjadi negara yang merdeka pada 3 September 1971. Dahulu, Inggris menguasai Qatar sebagai tempat transit kapal dagang sebelum menuju India. Qatar kemudian memperoleh status sebagai dependen dari Inggris, kemudian status protektorat Inggris yang dihentikan pada tahun 1916. Setelah Perang Dunia Kedua, Qatar berusaha memperoleh kemerdekaannya, terutama setelah India mencapai kemerdekaannya pada tahun 1950-an. Qatar semakin gencar menuntut setelah Inggris memberikan kemerdekaan kepada Kuwait pada tahun 1961.

Dataran Qatar yang gersang, datar dan berpasir, dengan rumah warga yang kotak berwarna coklat krem, merupakan pemandangan yang umum terlihat di Qatar, seperti nampak dari atas atap rumah Antonius ‘Tony’ Ferenius Mansanulu.

Dataran Qatar hanya seluas 160 km2, terdiri dari gurun pasir datar dan tempat tertinggi di Qatar adalah di Jabal Dukhan. Area ini mengandung jumlah gas alam yang sangat besar. Qatar adalah negara monarki konstitusional maupun monarki absolut yang dipimpin oleh keluarga Al Thani. Dinasti Al Thani telah memimpin Qatar sejak 1825. Emir kedelapan Qatar adalah Tamim bin Hamad Al Thani, ayahnya adalah Hamad bin Khalifa Al Thani yang menyerahkan kekuasaan padanya 25 Juni 2013.

Catatan demografi pertama Qatar dilakukan tahun 1892 dengan total populasi tahun 1892 adalah 9.830. Saat ini jumlah penduduk di Qatar berfluktuasi tergantung musim, karena negara ini sangat bergantung dari migran asing. Pada tahun 2017, total populasi Qatar mencapai 2,6 juta, di mana warga negara Qatar hanya 313.000 orang (12%) dan 2,3 juta lainnya adalah ekspatriat. Warga asing non-Arab menyumbang mayoritas populasi Qatar; Orang India merupakan yang terbesar, mencapai 650.000 orang (2017), diikuti 350.000 orang Nepal, 280.000 orang Bangladesh, 260.000 orang Filipina, 200.000 orang Mesir, 145.000 orang Sri Lanka dan 125.000 orang Pakistan.

Gerardo Mayella ’Gera’ Manesanulu yang berambut gonderong duduk kelas 9, berangkat ke sekolah bersama ayahnya dari rumanya di Zone 75, Street 891, Building 18, Villa number 5 Al Thakira sekitar 10 km dari Al Khore, Qatar kami lepas dengan mbak Christina ’Titin’ Triatmaniati, yang hari itu libur.

Pagi itu kami berdua pesiar sendirian, setelah mas Tonny sudah berangkat masuk kerja, dilepas mbak Titin. Dengan naik taksi Toyota Fortuner 2022 setir kiri, kami meninggalkan rumah mas Tony di Zone 75, Street 891, Building 18, Villa number 5 Al Thakira Al Khore, untuk memulai jalan-jalan. Tujuan pertama kami adalah Stadion Al Bayt yaitu stadion sepakbola yang digunakan untuk Piala Dunia FIFA 2022 di Al Khor, Qatar.

Al Bayt Stadium yang mengambil insiprasi dari tenda tradisional bangsa Qatar yang masih nomaden, yang digunakan untuk menggelar laga pembuka Piala Dunia 2022 antara Qatar vs Ekuador.

Kontrak konstruksi stadion diberikan kepada Salini dan Cimolai pada 2015. Bentuk stadion ini mengambil insiprasi dari tenda tradisional bangsa Qatar yang masih nomaden, menyediakan tempat duduk tertutup untuk semua penonton. Selain itu, juga terhubung dengan sejumlah sistem transportasi, yang terdiri dari 150 bus/angkutan umum (Pulang/Pergi) dan 1.000 taksi dengan tempat parkir yang mampu menampung 6.000 mobil dan 350 bis. Stadion ini mampu menampung sekitar 60.000 penggemar Piala Dunia, termasuk 1.000 kursi untuk pers. Juga ada  suite hotel mewah dan kamar-kamar dengan pemandangan balkon dari lapangan sepak bola. Proses pengerjaaan Al Bayt Stadium memakan waktu kurang lebih lima tahun, mulai akhir 2015 dan baru dibuka secara resmi pada awal tahun 2020. Pembukaannya bertepatan dengan Hari Olahraga Nasional yang diperingati di Qatar. Meski begitu, stadion ini baru menggelar pertandingan resmi pertamanya di bulan November pada ajang Arab Cup 2021. Al Bayt Stadium kala itu menjadi tempat berlangsungnya laga pembuka antara Qatar vs Bahrain dan partai puncak antara Tunisia vs Aljazair. Stadion ini digunakan untuk menggelar laga pembuka Piala Dunia 2022 antara Qatar vs Ekuador.

.

Selanjutnya kami mengunjungi Katara Cultural Village, yang lokasinya di antara Westbay dan The Pearl. Katara adalah sebutan bagi negara Qatar di abad ke 18, yang digunakan lagi untuk menjunjung tinggi nilai warisan para leluhur dan untuk menghormati posisi terhormat Qatar sejak awal sejarah negara ini berdiri. Karena Katara dibangun sebagai pusat kebudayaan yang multidimensi, tempat ini dijadikan pusat dimana pengunjung dapat merasakan berbagai kebudayaan dunia. Di Katara tersebut terdapat beberapa kantor komunitas Qatari antara lain: Qatar Fine Art Society, Visual Art Centre, Qatar Photographic Society, Childhood Cultural Centre, Qatari Society for Engineers, Theatre Society, Brooq Magazine, Doha Film Institute dan Qatar Music Academy.

Pigeon Tower berbentuk silinder sebagai ikon Qatar, yang dibangun dari batu bata, lumpur dan plester perpaduan dari kapur dan gypsum.

Bentuk bangunan di dalam area Katara semuanya tidak biasa, bentuknya berbeda satu dengan yang lain. Kawasan ini mempertemukan semua bentuk kesenian baik dari seni pertunjukan, literatur, seni visual, musik sampai berbagai konvensi seni. Hampir setiap hari disajikan berbagai pertunjukan kesenian di sini. Tapi yang paling meriah tentunya menjelang akhir tahun dimana bertepatan dengan Hari Nasional Qatar dan libur sekolah pada musim dingin. Di dalam kawasan ini terdapat 2 masjid, yaitu Masjid Besar untuk sholat Jumat dan Masjid Emas, untuk sholat 5 waktu. Di sebelah masjid terdapat Pigeon Tower. Bangunan yang berbentuk silinder ini menjadi ikon ciri khas Qatar, berukuran diameter 10-22 meter dengan tinggi 18 meter atau bahkan lebih. Dibangun dari batu bata, lumpur dan plester perpaduan dari kapur dan gipsum. Benteng silinder ini menjadi tempat berkumpulnya burung merpati yang banyak sekali ditemui di Qatar. Lubang-lubang sengaja dibuat sesuai ukuran tubuh merpati, sehingga burung besar yang menjadi predatornya seperti burung elang, gagak dan burung hantu tidak akan dapat masuk ke dalam.

Gedung berbentuk kado yang disebut Children’s Mall di Katara Cultural Village yang disambungkan ke Katara Plaza, Doha Qatar

Selanjutnya kami menuju ke gedung berbentuk kado yang disebut Children’s Mall, salah satu projek yang terbaru dalam tahap pembangunan di Katara Cultural Village. Children’s Mall ini disambungkan ke gedung yang ada di belakangnya, yaitu Katara Plaza, pusat perbelanjaan di dalam kompek Katara. Children’s Mall ini ditujukan untuk memenuhi semua kebutuhan anak-anak dari mulai pakaian, mainan, peralatan sekolah, cemilan anak, salon anak, parfum khusus anak, kerajinan tangan, aksesoris anak, aneka hiburan sampai pendidikan.

Bergaya seolah berbelanja di Souq Waqif, yaitu pasar tradisionil di Pusat Kota Doha, Qatar yang menjual pakaian tradisional, rempah-rempah, kerajinan tangan, dan suvenir.

Selanjutnya kami menikmati Souq Waqif, Doha. Ini adalah pasar besar di Kota Doha dengan para penjual pakaian tradisional, rempah-rempah, kerajinan tangan, dan suvenir. Di sini juga ada restoran dan lounge shisha. Souq Waqif berlokasi tepat di pusat kota Doha dan yang menarik dari lokasi ini adalah terdapat banyak pilihan barang dengan harga yang cukup terjangkau. Ini adalah tempat yang cocok untuk membeli oleh-oleh dengan harga ekonomis. Di kanan kirinya di kelilingi dengan beragam gedung bertingkat, perkantoran, apartemen dan hotel mewah. Pusat perbelanjaan tradisional ini memberikan profit yang cukup bagi pemerintah Qatar sehingga tidak heran jika di tengah modernitas bangunan di kanan dan kirinya, pasar ini tetap dipertahankan oleh pemerintah setempat.

Museum Nasional di Doha, Qatar yang bentuknya terinspirasi mawar gurun, dan sebelumnya merupakan istana Syeikh Abdullah Al-Thani.

Selanjutnya kami menikmati Museum Nasional Qatar, Doha, yang menyimpan artefak dan patung, serta semacam tenda yang dikreasikan seperti yang pernah digunakan orang-orang nomaden di Qatar. Rancangan Museum Nasional Qatar terinspirasi mawar gurun, sebuah formasi mineral yang ditemukan di negara Timur Tengah itu. Museum ini adalah istana Syeikh Abdullah Al-Thani yang hadir dengan desain arsitektur yang luar biasa indah. Sekilas dari bangunannya memang tidak tampak seperti museum pada umumnya. Di museum ini, diadakan beberapa kali pameran setiap tahunnya. Sejak mulai memasuki kawasan museum, pengunjung telah dibuat terpana dengan bentuk gedung yang tak biasa. Bangunan itu didesain oleh arsitek pemenang Penghargaan Pritzker, Jean Nouvel. Museum Nasional Qatar pun menjadi salah satu bangunan ikonik di ibu kota Doha. Menurut situs resminya, bangunan Museum Nasional Qatar mengambil inspirasi dari mawar gurun, sebuah formasi kristal alami yang bisa ditemukan di wilayah gurun pasir Qatar. Dari kejauhan, bangunan museum tampak seperti  cakram atau kelopak yang bertumpuk. Seluruh area museum memiliki luas 147.425 meter persegi. Di tengah museum adalah istana Sheikh Abdullah bin Jassim Al-Thani yang menjadi pusat pemerintahan di Qatar selama 25 tahun. Istana itu dipugar dengan hati-hati untuk tetap menampilkan keasliannya.

.

Beberapa destinasi yang kami rencanakan, tetapi tidak tercapai karena keterbatasan waktu adalah Stadion Jassim Bin Hamad yang pada Piala Asia U-23 2024 di situ kesebelasan nasional Indonesia kalah dari Qatar 2-0, pada pertandingan yang dipimpin oleh Nasrullo Kabirovwasit dari Tajikistan yang mengganjar Ivar Jenner dan Ramadan Sananta dengan kartu merah di, Doha, Senin, 15 April 2024. Kami juga tidak sempat menikmati Khor Al Adaid di Al Khor. Pantai di bagian tenggara Qatar ini terkenal karena keunikannya karena berbatasan langsung dengan gurun pasir. Saat pagi, air laut mengalir ke gurun dan menciptakan kubangan besar, sedangkan pada malam hari air laut kembali surut. Selain itu juga kami tidak sempat mencicipi sensasi Desert Safari, yaitu tour untuk merasakan dan melihat gurun pasir yang menakjubkan. Aktivitas Desert Safari biasanya dilakukan pada pagi hari saat matahari menjelang terbit atau tengah malam. Selain dengan mobil, kita sebenarnya dapat juga menjelajahi gurun dengan menunggangi unta. Tujuan yang tidak tercapai terakhir adalah Benteng Al Zubara. Ini situs bersejarah yang bernilai tinggi bagi rakyat Qatar dan telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO. Banyak artefak dan peninggalan sejarah yang bisa dipelajari wisatawan di benteng ini. Dahulu, benteng ini menjadi basis militer yang merupakan bangunan penting bagi penduduk asli Qatar. Berdiri sejak tahun 1938 silam dan hingga kini tetap menarik karena menyimpan nilai arkeologi dan juga nilai arsitektur yang tinggi. Di sekitar kawasan benteng, terdapat pusat perbelanjaan yang cocok untuk membeli oleh-oleh khas Qatar.

Boneka beruang kuning raksasa yang dibuat oleh seniman Swiss Urs Fischer di Bandara Hamad Doha, Qatar dan mencerminkan Qatar yang kekar.

Kami segera menuju ke Bandara Internasional Doha Qatar, yang disebut Hamad International Airport (HIA) yang dinobatkan sebagai salah satu bandara terbaik  menurut SkyTrax. HIA dinobatkan sebagai salah satu bandara terbaik yang melayani antara 30-40 juta penumpang per tahun, juga sebagai bandara terbaik dan staf bandara terbaik di Timur Tengah. Bandaranya bersih, rapi, dan mewah. Salah satu icon di HIA ini adalah adanya boneka beruang kuning raksasa yang terletak di tengah bandara dan sangat menonjol. Boneka beruang kuning raksasa ini dibuat oleh seniman Swiss yaitu Urs Fischer, berdiri setinggi 23 kaki di tengah foyer besar yang mengarah ke aula bandara. Boneka beruang kuning raksasa ini terbuat dari perunggu cor dan  memiliki berat antara 18 dan 20 ton

Suasana di dalam skytrain yang melaju dari sektor selatan ke utara Bandara Internasinal Hamad di Doha, Qatar.

Setelah selesai urusan imigrasi di Bandara Internasional Doha Qatar, kami segera menuju ke pintu gerbang C19 untuk melanjutkan perjalanan menggunakan Qatar Airways QR 337 sebuah Boeing 787-8 (Dreamliner), untuk mengikuti International Conference on Pediatric Allergy and Immunology (ICPAI), dengan terbang tinggi menuju Sheremetyevo International Airport Terminal C Moscow, Russia. Kami sempat menikmati skytrain dari sektor selatan ke utara Bandara Internasinal Hamad di Doha, Qatar.

.

(bersambung dengan petualangan di Moscow)

Selasa, 7 Mei 2024, pk. 17.38 waktu Timur Tengah

.

Ditulis dan disebarkan di dekat Gate C19 Bandara Internasional Hamad, yang struktur atapnya nampak kekar di Doha, Qatar

Salam pengelana
-wikan dan Sari

Categories
Healthy Life Jalan-jalan

2024 JELAJAH JEPARA LAGI

2024 JELAJAH  JEPARA  LAGI

Setelah menjelajahi Jepara pada pergantian tahun 2024 yang lalu, kembali kami melakukan perjalanan serupa yang lebih singkat.

baca juga : 2023-2024 JELAJAH JEPARA

Perteuan Gotrah Djojosasmitan di kediaman mbak Anik Surono di Perumahan Safira Waru Blok I No.8, Waru, Baki, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Petualangan ke Jepara yang kedua, kami ber4 (dengan dik Bimoseno dan dik Larasati) dimulai dari Manahan, Surakarta, setelah menghadiri acara Gotrah Djojosasmitan di Waru, Baki, Sukoharjo, Jawa Tengah. Kami menempuh jarak 182 km dari pool Travel Rimba Raya di Manahan Surakarta, untuk menuju Jepara pada Lebaran hari kedua Kamis, 11 April 2024, pk. 13.30. Tujuan kami adalah mengantar dik Laras kembali menemui keluarga William Febuana di Mlonggo, Jepara.

Dengan mas Joni Krisdiman yang menjadi tuan rumah Gotrah Djojosasmitan 2024

Ide awal pendirian bisnis travel Rimba Raya ini berdasarkan pengalaman pribadi owner yakni, M. Rizky Alamsyah, saat  tahun 2014 hingga 2019 menjalani masa kuliah di luar kota dan menjadi pengguna jasa travel. Pada saat itu jasa travel tidak dapat melakukan penjemputan dan pengantaran hingga tujuan akhir penumpang, tetapi hanya penghantaran sampai di pool dalam kota saja. Selain itu, juga jasa travel hanya menyediakan fasilitas apa adanya,  jumlah seat yang banyak, sehingga membuat penumpang merasa tidak nyaman untuk sekedar istirahat selama di perjalanan. Karena itu Travel Rimba Raya saat ini selalu menggunakan kursi penumpang yang besar, agar lebih nyaman dan tidak merasakan pegal-pegal. Kami menikmati fasilitas armada berupa Toyota Hiace premio yang elit. Dilengkapi 8 captain seat, arm rest, legrest, USB port dan air mineral.

Travel Rimba Raya sudah siap di pool Manahan Surakarta untuk menuju ke Jepara, dengan dik Laras yang sedang kurang sehat

Kami diantar oleh dik Bayu Krisnadi dengan Innova D2,5 warna abu-abu menuju pool Travel Rimba Raya diperbatasan Kerten dan Manahan, beberapa saat sebelum acara Gotrah Djojosasmitan ditutup. Segera kami menikmati fasilitas armada dengan jumlah 8 seat yang langsung diguyur hujan, membuat jarak duduk antar penumpang sangat longgar. Fasilitas captain seat dengan arm rest & leg rest yang membuat penumpang dapat duduk dan beristirahat dengan nyaman selama perjalanan. Fasilitas USB port yang dapat menunjang kebutuhan penumpang yang tidak lepas dari mobilephone, sehingga penumpang tidak perlu cemas kehabisan baterai selama perjalanan. Juga Fasilitas air mineral, sehingga penumpang tidak akan dehidrasi selama perjalanan, meski kami ber4 lebih sering tertidur pulas sepanjang perjalanan.

.

Kami turun di perempatan Mlonggo, sekitar 13 km setelah Jepara, untuk dijemput William Febuana  (dulu teman sekelas dik Bimo dan sekarang pacar dik Laras) dengan Honda CRV K 1465 FC tipe kura-kura 2,4 tahun 2011. Julukan kura-kura ini juga pas untuk menggambarkan ketangguhannya melintasi beberapa generasi, karena masih tetap eksis sampai saat ini sudah beredar CR-V Gen6. Honda CR-V Gen 3 ini diproduksi antara 2007 sampai 2012,  berwujud SUV urban yang lebih kalem dan bergaya elegan dan mewah. Setelah mandi sore dan badan bugar, kami segera diajak keluarga William (Bapak Mulyono dan Ibu Harlina) makan malam di Yam Yam Restoran di Jl. Dr. Sutomo, Kauman, Jepara. Ini adalah salah satu tempat makan di Jepara yang sangat nyaman sekali. Di Yam Yam Resto, kita tidak hanya makan bersama keluarga dan relasi, namun juga dapat sekaligus menikmati sensasi lidah. Adapun untuk menu makanan yang disediakan sangatlah beragam, mulai dari menu ala Thailand, pizza, dan banyak lagi ala western, seafood yang enak.

Menikmati sensasi lidah saat makan malam Yam Yam Restoran di Jl. Dr. Sutomo, Kauman, Jepara

Setelah kenyang makan di Yam Yam Restoran Jepara, kami segera menuju ke Kura-Kura Ocean Park, sebuah wahana wisata keluarga yang terletak di Pantai Kartini, Jepara. Wahana ini diresmikan pada 22 Februari 2011 oleh Bupati Jepara. Bangunan ini terdiri dari 2 lantai, dengan lantai satu sebagai taman laut dengan akuarium yang berisi berbagai spesies ikan dan penyu. Sementara itu, lantai 2 sebagai wahana pendukung dari Kura-kura Ocean Park terdiri dari Spa Fish, Aquarium, Mini Theater dan Lounge, serta Kolam Sentuh. Malam itu Kura-Kura Ocean Park dipadati banyak pengunjung yang menikmati pemandangan malam taman laut, dengan desain penyu sebagai bangunan utamanya. Kura-Kura Ocean Park terletak di dalam kawasan Pantai Kartini yang kami tempuh selama 20 menit perjalanan darat dari pusat Kota Jepara. Bentuk kura-kura memang sengaja dipilih untuk menegaskan Jepara sebagai tempat pembudidayaan penyu sisik.

Kura-Kura Ocean Park yang besar menjulang di dalam kawasan Pantai Kartini Jepara pada malam hari yang ramai pengunjung

Taman laut yang terdiri dari dua lantai ini sangat unik. Di dalam beberapa akuarium yang ada di tempat ini, tersimpan kekayaan fauna Indonesia. Tidak hanya fauna yang hidup di air asin, taman wisata ini juga memiliki koleksi fauna yang hidup di air tawar. Di tempat tersebut sebenarnya ada bagian yang dinamakan terowongan misteri bawah laut. Oleh karena malam itu sudah tutup, kami tidak mampu berjalan di terowongan ini untuk menyaksikan aneka biota laut yang ada di sisi kiri dan kanan terowongan. Kami juga tidak mampu naik ke lantai 2 untuk  melihat pemandangan akuarium dari atas. Pada hal Kura-Kura Ocean Park ternyata juga memiliki kolam khusus bagi para pengunjung yang ingin menyentuh langsung ikan dan kura-kura tawar yang jinak. Sayang sekali, malam itu kami tidak dapat memberi makan ikan-ikan tawar. Pada hal, melihat ikan-ikan yang bergerombol memperebutkan makanan menjadi pemandangan yang menarik

Patung Kura-Kura Ocean Park yang gagah menjulang di dalam kawasan Pantai Kartini Jepara, bila dilihat dari atas

Jumat, 12 April 2024 pagi  setelah sarapan, kami mulai menjelajah sisi barat laut teritorial Kabupaten Jepara. Dari Desa Karangbendo, Kecamatan Mlonggo kediaman Bapak Mulyono dan Ibu Harlina kami menyusuri jalan raya kabupaten yang bagus melewati Desa Bondo, Kecamatan Bangsri untuk menuju PLTU Tanjung Jati Jepara. Desa Bondo mengingatkan kita akan awal mula penyebaran agama Kristen di sekitar Gunung Muria, sampai berdirinya Gereja Injil di Tanah Jawa (GITJ). Gereja Injili di Tanah Jawa (disingkat GITJ) adalah kelompok gereja Kristen Protestan beraliran menonit di Indonesia yang berpusat di Pati, Jawa Tengah. Wilayah pelayanannya cukup luas yakni meliputi sebagian Jawa Tengah dan beberapa daerah transmigran di Sumatra.

GITJ Kedungpenjalin Jepara

GITJ berdiri pada tanggal 30 Mei 1940 dari hasil penginjilan yang dilakukan oleh Pieter Janz dari Doopsgezinde Zendings-Vereniging (DZV) Belanda, yang dibantu oleh seorang penginjil pribumi bernama Kiai Ibrahim Tunggul Wulung. Semula GITJ hanya berada di sekitar wilayah Gunung Muria, tetapi kemudian berkembang ke Semarang, Salatiga, Yogyakarta, dan Sumatra. Jumlah GITJ saat ini mencapai  120 gereja (data pada 2022) dengan 68.205 jiwa. Jumlah Pendeta: 91 orang; Pendeta Emiritus: 24 orang; Pembantu Pendeta: 17 orang. Jumlah pelayan lainnya: 2.307 orang (Guru Injil, Penatua, Diaken, Guru Sekolah Minggu). Selain itu, kepersonaliaan saat ini adalah Ketua Umum: Pdt. Ch. Teguh Sayoga, S.Th., M.A., M.Pd.K. Sekretaris Umum: Pdt. Edi Cahyono, S.Th., M.A.C.E. Bendahara Umum: Iskandar M.Z., S.E.

Banyak sekali bangunan GITJ yang kami lihat dalam perjalanan yang diantar William Febuana dengan CR-V Kura-kura tersebut, bahkan mungkin setiap RW punya gereja sendiri. Saking banyaknya gereja membuat kami ingat tentang sejarah GITJ di wilayah Jepara dan sekitarnya tidak dapat dilepaskan dari karya Kiai Ibrahim Tunggul Wulung (1800-1885) dan para pengikutnya yang membentuk komunitas Kristen Jawa Merdeka di daerah Bondo, Banyutowo, Dukuhseti dan Tegalombo sejak tahun 1850-an. Dalam pelayanannya sekitar 30 tahun, Tunggul Wulung memiliki pengikut kurang lebih sekitar 1.000 orang, jauh lebih besar dibandingkan dengan pelayanan misi Pieter Anthoni Janzs dari badan misi DZV (Doopgesinde Zendings Vereeniging) yang mulai bekerja di Jepara dan sekitarnya tahun 1852.

Bupati Jepara Dian Kristiandi hadir pada peresmian makam Tunggul Wulung, di desa Bondo, Bangsri, Jepara, Selasa (29/03/2022)

Setelah Tunggul Wulung wafat pada tahun 1885, komunitas Kristen Jawa yang didirikannya lambat laun menggabungkan diri dengan jemaat DZV. Selanjutnya misi di daerah Jepara dan sekitarnya banyak dilaksanakan oleh Pieter Janzs dari DZV dan beberapa tokoh lokal, seperti Pasrah Karso dan Pasrah Noeriman. Dengan ijin dari Pemerintah Hindia Belanda, Jansz membuka desa-desa baru, di antaranya: Kedung penjalin, Margoredjo, Bumi Hardjo, dan Pakis Swawal. Karena pengaruh kebijakan politik Etis yang diterapkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada awal tahun 1900-an, maka kegiatan misi juga diarahkan ke dalam bentuk layanan pendidikan dan kesehatan. Dengan demikian banyak tenaga pengajar dan medis yang dihasilkan dari desa-desa Kristen, sampai terbentuknya RS Kristen Tayu di Kabupaten Pati yang legendaris. Dalam perkembangan selanjutnya, tenaga-tenaga pengajar dan medis ini banyak yang tersebar ke kota di mana kekristenan belum berkembang di sana. Selain itu karena banyak pemuda-pemuda Kristen dari desa yang belajar ke kota, sehingga kekristenan mulai mengalir ke perkotaan. Dari sinilah sebenarnya awal dari terbentuknya GITJ Jepara.

Saat berada di Desa Bondo, Tunggul Wulung ditemui oleh Radin Abas, seorang santri yang tengah keluar berkelana mencari ilmu dan jati diri. Belakangan Radin Abas masuk Kristen dengan nama Kiai Sadrach, yang kelak diingat sebagai figur intelektual Kristen Jawa dengan latar belakang pengetahuan agama dan kebudayaan Jawa. Seiring usianya yang kian senja, sejak 1875 Ibrahim Tunggul Wulung tinggal di sekitar Gunung Muria sampai tutup usia pada 1885. Ketika ia mati, jumlah pengikut Kristen di desa tersebut mencapai 1.058 orang. Pasca kematiannya, tak semua jemaat mengikuti warisan pemikiran Ibrahim Tunggul Wulun. Dari Desa Bondo yang bersejarah tersebut, kami segera menyusuri jalan pedesaan menuju ke PLTU Tanjung Jati B.

.

Terletak di ujung paling utara pulau Jawa tepatnya di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, berdiri PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) Tanjung Jati B yang merupakan salah satu pembangkit PLN untuk memenuhi kebutuhan listrik sistem interkoneksi Jawa-Bali, bahkan memegang peran sentral dalam sistem interkoneksi tersebut. Hingga triwulan III 2019, PLTU berkapasitas 4 x 710 MW (kapasitas terpasang) dengan daya mampu 4×660 MW ini memiliki kesiapan produksi listrik atau Equivalent Availability Factor (EAF) hingga 93,6% selama setahun, naik dari tahun lalu sebesar 89,8%.

PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) Tanjung Jati B dengan latar depan sawah subur di Jepara

Pembangkit ini paling produktif se-Indonesia, kemampuan produksi PLTU Tanjung Jati B diatas rata-rata kemampuan (pembangkit) lainnya, dengan kapasitas 10% kebutuhan listrik Jawa-Bali, sehingga mampu berkontribusi pada penjualan sebesar 12% kebutuhan listrik Jawa-Bali. PLTU Tanjung Jati B menjadi tulang punggung kelistrikan Jawa-Bali sejak pertama kali beroperasi pada tahun 2006. Adapun besaran 12% adalah setara dengan kebutuhan listrik sekitar 5 juta pelanggan rumah tangga.

PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) Tanjung Jati B di tepi pantai dengan banyak kapal tongkang pembawa material batubara di sekitarnya

.

Kami sangat kagum dengan megahnya PLTU tersebut yang kami ambil gambarnya dari sisi depan dengan sawah yang menghijau dan sisi belakang dengan laut yang membiru. Indah sekali. Saat ini sedang dibangun 2 (dua) pembangkit baru yaitu unit 5 dan 6, masing-masing berkapasitas 1000MW, sehingga membuat PLTU Tanjung Jati dapat menjadi yang terbesar se Asia Tenggara. Tahun 2015, PLTU Tanjung Jati B kembali memenangkan Asean Energy Awards dalam kategori pengelolaan batubara. Di sisi pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, PLTU Tanjung Jati B juga telah mendapatkan pengakuan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berupa Proper Hijau enam kali berturut-turut sejak tahun 2013.

Setelah puas dan bangga melihat kemegahan PLTU Tanjung Jati B, segera kami kembali pulang ke rumah keluarag William Febuana, sambil mampir beli buah pisang segar di pasar Bendo. Makan siang kami di rumah diselingi guyonan segar, sambil menghabiskan menu sea food yang pedas dan lezat. Setelah beristirahat sejenak, kami segre amenjelajah Pantai Pailus, sekitar 2 km dari rumah.

Eyang Kakung Sutarni, ayah kandung Ibu Harlina, usia 88 tahun yang tinggal di bibir Pantai Pailus, Mlonggo Jepara.

Kami sowan Eyang Kakung Sutarni, ayah kandung Ibu Harlina, usia 88 tahun yang tinggal di bibir pantai. Pantai Pailus adalah garis pantai yang landai di Desa Karanggondang, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara yang menjadi salah satu tempat wisata baru yang layak dikunjungi wisatawan. Pantainya yang masih perawan dan relatif masih bersih serta alami. Pantai Pailus dikelola warga setempat, sehingga warung, penyewaan ban dalam, dan perahu wisata dikelola oleh warga desa sendiri, sehingga pengunjung serasa berada di pantai pribadi. Pantai yang seperti inilah yang sangat dicari oleh wisatawan terutama wisatawan. Karena wisatawan lebih suka wisata pantai perawan, sehingga warga Desa Karanggondang membuat peraturan yang isinya melarang siapapun yang membuat bangunan di Kawasan Pantai Pailus, dan pelanggaran didenda dengan jumlah sesuai ukuran bangunan tersebut. Hal ini dilakukan supaya para wisatawan yang sangat mendambakan wisata pantai yang sunyi bersih alami dan perawan bisa berdatangan ke Pantai Pailus. Secara tidak langsung para wisatawan tersebut masuk kampung-kampung untuk membeli makan minum maupun menginap di Desa Karanggondang, sehingga meningkatkan ekonomi warga Desa Karanggondang.

Setelah puas minum air kelapa muda dan makan gorengan hangat, baik pisang, tempe maupun bakwan, kami segera pamit pulang. Jumat, 12 April 2024 pk. 17.15 kami kembali menikmati kenyamaman Travel Rimba Raya yang elit, dari pertigaan Mlonggo, Jepara untuk pulang ke Yogyakarta. Hanya kami bertiga, karena dik Laras akan diantar William Febuana kembali ke Bandung malam itu, untuk melanjutkan rotasi klinik (ko0ass) di Bagian Mata di RS Emanual Bandung.

Bergaya di sebelah rumah Eyang Kakung Sutarni, ayah kandung Ibu Harlina, usia 88 tahun yang tinggal di bibir pantai Pailus, Mlonggo, Jepara.

Pamit pulang di halaman rumah kepada Bapak Mulyono dan Ibu Harlina di Mlonggo, Jepara, untuk kembali ke Timoho Yogyakarta

Travel Rimba Raya yang kami naiki berupa minivans terbaru dari Toyota, Hiace Premio berkapasitas 12-penumpang dibekali juga dengan transmisi 6-Speed Manual. Sistem keamanannya dibekali Power Door Locks. Hiace Premio memakai mesin serupa dengan Fortuner, yaitu turbo diesel berkode 1GD-FTV 4-silinder VNT Intercooler dengan kapasitas 2.800 cc. Mesin ini menghasilkan tenaga 177 ps pada 3.400 rpm dan torsi maksimum 420 Nm pada 1.400 hingga 2.600 rpm. Laju Travel Rimba Raya membelah kemacetan arus Lebaran 2024 membawa kami 5 jam perjalanan yang nyaman, meski diguyur hujan lebat. Kami mendarat di rumah Timoho menjelang pk. 23, yang tersu dilanjutnya memanjatkan puji syukur atas semua petualangan yang kami lalui.

Viva Rainha De Jepara pada jendela Travel Rimba Raya yang menggambarkan kejayaan dan keberanian Ratu Kalinyamat, pahlawan wanita dari Jepara

Sampai bertemu dalam petulangan selanjutnya

Categories
dokter Jalan-jalan medicolegal

2023-2024 JELAJAH JEPARA

Di depan gerbang FORT JAPARA XVI peninggalan gerbang kota yang dibangun VOC Belanda tahun 1613 di Jepara (d/h Japara)

JELAJAH  JEPARA

fx. wikan indrarto

Penjelajahan ke Jepara dan perjalanan darat (overland) ke sekitar Gunung Muria yang tenang, menjulang dan sakral di ujung utara Pulau Jawa, kami awali Sabtu pagi, 30 Desember 2023, sebelum pergantian tahun.

Setelah menabur bunga dan berdoa sejenak di makan bapak (Eyang Kakung Heribertus Sukiman Tondo Darsono) di makam Kerkof Mendut, dekat Candi Borobudur, Magelang yang suci, kami memulai petualangan menuju Gunung Muria. Dik Larasati (anak bungsu kami) mengendalikan laju Honda Mobilio AB 1412 GH dengan tenang, di tengah kepadatan arus liburan Nataru 2023 yang cukup hingar, merayap dan teratur.

Dik Larasati (anak bungsu kami) mengendalikan laju Honda Mobilio AB 1412 GH dengan tenang, di tengah kepadatan arus liburan Nataru 2023

Membelikan oleh-oleh untuk si ganteng Joviel (cucu tersayang), berupa truk kayu di Payaman, Magelang, persis seperti yang dahulu dibelikan oleh Eyang Kakung Heribertus Sukiman Tondo Darsono untuk ayah Joviel.

Setelah menikmati sepenggal tol trans Jawa dari GT Bawen, kami keluar di GT Ungaran. Perhentian pertama kami adalah menemui Drg. Ana Retno Lumbini di Puskesmas Ungaran Kabupaten Semarang, untuk menyampaikan duka cita mendalam karena suaminya telah berpulang dan kami tidak sempat ikut melayat. Setelah selesai melayani pasiennya, kami diterima di Klinik Gigi Puskesmas Ungaran, yang hadir sebagai bagian dari usaha peningkatan derajat kesehatan masyarakat wilayah kecamatan Ungaran Barat dan sekitarnya. Bersama dengan Drg. Fx. Titik Purwaningsih yang diantar suaminya, Dr. Isdianto, MHum yang datang dari Demak, kami bercengkerama cukup lama di Puskesmas Ungaran. Dengan istri, ketiganya adalah alumnus FKG UGM Yogyakarta seangkatan tahun 1985.

Menemui Drg. Ana Retno Lumbini di Puskesmas Ungaran Kabupaten Semarang, untuk berbela rasa sepeninggalan suaminya

Jamuan makan siang di Super Penyet Banyumanik Semarang, oleh Drg. Fx. Titik Purwaningsih dan suaminya, Dr. Isdianto, MHum

Selanjutnya kami makan siang bersama di Banyumanik Semarang dan melanjutkan perjalanan ke Jepara. Kembali kami menjajal kenyamanan tol Trans Jawa dari GT Banyumanik dan keluar di GT Kaligawe di pesisir pantai Tanjung Emas Semarang utara. Kami menyusuri Jalur Pantura meninggalkan Semarang, untuk memasuki GT Sayung dan menempuh 16 km untuk keluar di GT Demak. Dengan menyusuri Jalur Pantura ke arah timur, kami mencapai pertigaan Trengguli dan berbelok arah ke kiri, keluar dari Jalur Pantura yang mulus, lebar dan padat kendaraan. Dari Trengguli, kami melewati Mijen dan Welahan untuk mencapai Kalinyamatan, yaitu kecamatan pertama di wilayah terotorial Kabupaten Jepara.

e-Poster peresmian PPTQ dan MTs Al-Wustho Kalinyamatan dengan teman seangkatan Brigjen. Pol (Purn) dr. H. Musyafak sebagai pendiri

Pemberhentian kedua adalah kami mengunjungi Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an dan MTs Al-Wustho Kalinyamatan, Kabupaten Jepara yang baru diresmikan pada Rabu, 22 November 2023. PPTQ dan MTs Al-Wustho Kalinyamatan yang sepi karena para santri sudah libur setelah menerima raport semester ganjil, berada dibawah naungan Yayasan Haji Ahmad Sholeh. Sedangkan kepengurusan yayasan terdiri dari para pendirinya, meliputi Brigjen. Pol (Purn) dr. H. Musyafak, Suudi Hartono dan Betty Erny Ayu. Jenderal Polisi Dr. Musyafak adalah teman seangkatan kami di FK UGM Yogyakarta 1984.

Mengunjungi PPTQ dan MTs Al-Wustho Kalinyamatan yang sepi karena para santri sudah libur setelah menerima raport semester ganjil

Kami jadi teringat bahwa Pemerintah Indonesia baru saja menyematkan gelar pahlawan nasional kepada Ratu Kalinyamat pada peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2023. Banner dan baliho ucapan selamat masih banyak terpampang di sepanjang jalan yang kami lalaui menuju Jepara. Nama asli Ratu Kalinyamat adalah Retna Kencana, puteri Sultan Trenggono, raja Demak (1521-1546). Pada usia remaja ia dinikahkan dengan Pangeran Kalinyamat.

Pangeran Kalinyamat berasal dari Tiongkok daratan bernama Win-tang, seorang saudagar Tiongkok yang mengalami kecelakaan di laut. Ia terdampar di pantai Jepara, dan kemudian berguru kepada Sunan Kudus. Win-tang kemudian mendirikan desa Kalinyamat yang saat ini berada di wilayah Kecamatan Kalinyamatan, sehingga ia pun dikenal dengan nama Pangeran Kalinyamat dan menikahi Retna Kencana putri Sultan Demak, sehingga istrinya itu kemudian dijuluki Ratu Kalinyamat.  Pangeran Kalinyamat menjadi anggota keluarga Kerajaan Demak dan memperoleh gelar Pangeran Hadiri. Pangeran dan Ratu Kalinyamat memerintah bersama di Jepara. Ayah angkatnya, yaitu Tjie Hwio Gwan, dijadikan patih bergelar Sungging Badar Duwung, yang juga mengajarkan seni ukir pada penduduk Jepara. Inilah asal usul ketrampilan mengukir kayu jati yang dimiliki para warga Jepara sampai sekarang dan tidak tertandingi.

e-poster gelar pahlawan nasional kepada Ratu Kalinyamat pada peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2023.

Pada tahun 1549 Sunan Prawata, raja keempat Demak mati dibunuh utusan Arya Penangsang, sepupunya yang menjadi adipati Jipang, mungkin saat ini berada di sekitar Grobogan. Ratu Kalinyamat menemukan keris Kyai Betok milik Sunan Kudus menancap pada mayat kakaknya itu. Maka, Pangeran dan Ratu Kalinyamat pun berangkat ke Kudus minta penjelasan. Sunan Kudus adalah pendukung Arya Penangsang dalam konflik perebutan takhta sepeninggal raja Trenggana (1546). Sunan Kudus menjelaskan semasa muda Sunan Prawata pernah membunuh Pangeran Surowiyoto alias Sekar Seda Lepen ayah Arya Penangsang, jadi wajar kalau ia sekarang mendapat balasan setimpal.

Ratu Kalinyamat kecewa atas sikap Sunan Kudus. Ia dan suaminya memilih pulang ke Jepara. Di tengah jalan, mereka dikeroyok anak buah Arya Penangsang. Pangeran Kalinyamat tewas. Menurut legenda, lahirlah nama tempat Prambatan (karena Pangeran Kalinyamat sampai harus merambat sebelum tewas), Kaliwungu (karena sungai di situ tercampur darah Pangeran Kalinyamat dan berubah warna menjadi ungu), Mayong (berjalan sempoyongan) dan Purwogondo (karena mulai keluar bau jenazah). Ketiga tempat tersebut kami lewati dalam petualangan kami ke seputaran Gunung Muria kali ini.

Ratu Kalinyamat diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia karena jasa dan perjuangannya. Pada tahun 1573 Ratu Kalinyamat mengirimkan 300 kapal berisi 15.000 prajurit Jepara untuk menyerang Portugus di Malaka, Malaysia. Serangan pertama di tahun 1550 berakhir gagal. Serangan kedua dipimpin oleh Ki Demang Laksamana yang langsung menembaki Malaka dari Selat Malaka. Esoknya, mereka mendarat dan membangun pertahanan. Tapi akhirnya, pertahanan itu dapat ditembus pihak Portugis. Sebanyak 30 buah kapal Jepara terbakar. Pihak Jepara mulai terdesak, semakin lemah, dan memutuskan pulang. Dari jumlah awal yang dikirim Ratu Kalinyamat, hanya sekitar sepertiga saja yang tiba di Jawa. Meskipun dua kali mengalami kekalahan, tetapi Ratu Kalinyamat telah menunjukkan bahwa dirinya seorang wanita yang gagah berani. Bahkan Portugis mencatatnya sebagai ‘rainha de Japara, senhora poderosa e rica, de kranige Dame’, yang berarti Ratu Jepara seorang wanita yang kaya dan berkuasa, seorang perempuan pemberani.

Saat Pangeran Arya Jepara, anak angkat Ratu Kalinyamat, pulang dari perang melawan Banten, Keraton Kalinyamat mendapat serangan oleh Panembahan Senopati dari Mataram Kotagede, Yogyakarta. Pasukan Panembahan Senopati datang menyerbu wilayah Jepara hingga kota ini berhasil diduduki serta keraton Kalinyamat ikut dihancurkan tahun 1593. Saat ini kita tidak lagi dapat melihat sisa kejayaan Kalinyamat.

Kami segera melanjutkan perjalanan memasuki Kota Jepara yang disebut juga Bumi Kartini.  Tujuan kami adalah melintasi kota Jepara untuk menuju Mlonggo, sebuah kecamatan sekitar 12 km sebelah utara Jepara. Kami mengantar dik Larasati, anak bungsu kami yang semester ini akan menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Kedokteran Universitas kristen Maranatha (FK UKM) Bandung, untuk melakukan kunjungan balasan kepada keluarga William Febuana. Keluarga William, yaitu Bapak Mulyono dengan Ibu Harlina mengunjungi rumah kami di Timoho Yogyakarta dan telah melakukan proses tingjing atau prosesi pertama dalam lamaran menurut adat Tionghoa. Proses Tingjing atau kalungan dilakukan dengan cara memberikan kalung dari pihak calon pengantin pria kepada calon pengantin wanita sebagai tanda pengikat, saat keluarga calon mempelai pria datang ke rumah calon mempelai wanita, yang hanya dihadiri oleh keluarga dan kerabat dekat dari calon mempelai, pada Selasa, 26 Desember 2023. Larasati dan William sudah menjalin persahabatan sejak mereka menjadi sesama pelajar di asrama SMP Marganingsih di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah.

Proses Tingjing atau kalungan untuk dik Larasati oleh Keluarga William, yaitu Bapak Mulyono, Ibu Harlina, Cicik Tia yang sedang hamil dan mas Dito suaminya, saat mengunjungi rumah kami di Timoho Yogyakarta dan mas Bimoseno (anak kedua kami) liburan di rumah. Mas Yudhistira (anak sulung kami) sekeluarga sedang mengungjungi mertua di Bekasi.

Bersyukur sekali kami telah mampu mencapai Jepara dalam kunjungan balasan ini. Menurut C. Lekkerkerker, nama Jepara berasal dari kata Ujungpara. Disebut ujungpara karena legenda ada utusan Kerajaan Majapahit yang sedang berjalan melewati daerah yang sekarang disebut Jepara, melihat nelayan yang sedang membagi-bagi ikan hasil tangkapannya “membagi” dalam bahasa Jawa adalah “para” (dibaca: Poro), maka utusan tersebut menceritakan bahwa dia melewati Ujung Para, karena dia melewati ujung pulau Jawa saat  ada nelayan yang membagi ikan. Kemudian berubah menjadi Ujung Mara, dan Jumpara, yang akhirnya berubah menjadi Japara. Pada tahun 1950an diubah menjadi Jepara. Meskipun Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi, umumnya sebagian besar masyarakat Jepara menggunakan Bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari dengan dialek Jeporonan. Agak perlu waktu bagi kami, untuk memahami pembicaraan dalam dialek tersebut.

Ikan kakap lodi bintang merah dan lodi kuning yang ditangkap oleh nelayan Mlonggo, Jepara dan difoto dik Larasati. Nelayan sekarang juga sering terlihat yang sedang membagi-bagi ikan hasil tangkapannya “membagi” dalam Bahasa Jawa adalah “para” (dibaca: Poro), menjadi asal kata Jepara.

Dijamu makan malam menu Thailand di YamYam Resto Jl. Dr. Sutomo 13 Jepara

Kami memasuki rumah keluarga Bapak Mulyono, menjelang senja pada Sabtu, 30 Desember 2023. Rumah mungil nan bersih ini berada di dalam areal pabrik furniture Mahkota Mulyo Mandiri, seluas hampir 2 ha dengan sekitar 65 karyawan dan pengiriman export sekitar 2 kontainer 40 feet per bulan. Saat kami bertiga mendarat, kami disambut hangat di depan gerbang rumahnya. Setelah beristirahat sore sejenak, kami segera kembali ke kota Jepara untuk dijamu makan malam menu Thailand di YamYam Resto Jl. Dr. Sutomo 13 Jepara. Di restauran yamyam ini menu favoritnya adalah tom yam seafood yang rasanya lebih nendhang dan luar biasa.

Pada Minggu pagi, 31 Desember 2023 ikut misa kudus di Gereja Katolik Stella Maris, yang merupakan gereja pertama di Jepara

Setelah beristirahat semalam, pada Minggu pagi, 31 Desember 2023 kami menuju Gereja Katolik Stella Maris, yang merupakan gereja pertama di Jepara dan berdiri tahun 60an dengan pastor dari ordo MSF. Pada awalnya Jepara merupakan wilayah kerja paroki Kudus sampai akhirnya Jepara menjadi paroki sendiri. Dengan jumlah umat 1000an tersebar dari Keling sampai Mayong, gereja Katolik Jepara mengadakan Ekaristi harian pk. 6 pagi dan dua kali setiap Minggu pk. 7 pagi dan pk. 17 sore. Di belakang gedung gereja terdapat aktifitas pendidikan PAUD dan TK Kanisius yg menjadikan setiap paginya gereja selalu ramai. Di seberangnya ada SD Kanisius Jepara, yang merupakan salah satu sekolah swasta favorit di Jepara. Selanjutnya kami menikmati sarapan di RM H Isnan ke 6 menu sop campur khas Jepara, dan kami melanjutkan petualangan ke Kudus. Disopiri William dan dipinjami Toyota Fortuner 2017 VRZ hitam K 1396 FL, kami ber 4 menuju Kudus, sejauh 41 km dari Jepara.

Kami melewati Mayong, Prambatan, Kaliwungu, dan Purwogondo, sesuai daerah yang dahulu dilalui Pangeran Kalinyamat yang terluka parah dalam perjalanan dari Kudus ke Jepara, sebelum akhirnya meninggal karena serangan Arya Penangsang. Kudus saat ini lebih terkenal disebut Kota Kretek. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kretek atau keretek merupakan rokok yang tembakaunya dicampur serbuk cacahan cengkih. Sejarah kretek bermula di Kudus berkat Haji Djamhari, yang menemukan kretek ketika berusaha mengatasi sesak napasnya dengan minyak cengkih. Ia kemudian bereksperimen dengan mencampur bubuk cengkih dan tembakau, melintingkannya dengan “klobot” atau kulit kulit jagung. Lintingan tersebut dibakarnya sehingga menghasilkan bunyi khas “kretek.. kretek.. kretek…”. Inilah asal-usul nama kretek.

Namun demikian, kretek baru dikembangkan oleh Bapak Kretek Indonesia dari Kudus, yaitu Bapak Nitisemito, yang merintis kesuksesannya dari kegagalan di berbagai bidang. Lahir pada 1863, dimulai sebagai kusir dokar dan penjual tembakau. Setelah menikahi Nasilah, pembuat rokok kretek, pasangan ini mengembangkan usaha tersebut menjadi industri besar dengan merek Bal Tiga di Kudus. Meski buta huruf, Nitisemito terbukti jenius dalam bisnis kretek. Ia berhasil menerapkan manajemen modern dan pemasaran yang inovatif. Kesuksesannya membuatnya dikenal sebagai pengusaha pribumi sukses, bahkan Presiden Soekarno sering berkonsultasi dengannya pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Museum Kretek di Kudus saat ini sedang menjadi perbincangan netizen, karena menjadi lokasi syuting film serial Gadis Kretek. Pada tahun 1986, Museum Kretek diresmikan di atas lahan seluas 2,5 hektare, berkat inisiatif dari Soepardjo Rustam, Gubernur Jawa Tengah.

Berhenti di RS Ibu dan Anak (RSIA) Miriam di Jl. A. Yani 58 Kudus untuk menyapa Sr. Widianingsih, OP

Kami memasuki kota Kudus yang rindang langsung menuju Cynthia Cake and Tart Jl. Pemuda 90 Sleko Kudus. Di toko roti legendaris yang mempertahankan nuansa tradisional dengan banyak pembeli ini, kami belanja beberapa kue khas Kudus. Kami lanjut ke RS Ibu dan Anak (RSIA) Miriam di Jl. A. Yani 58 Kudus yang didirikan pada tahun 1977. Kami hendak menemui sahabat dari Klaten, yaitu Sr. Widianingsih, OP biarawati yang bekerja sebagai bidan di RSIA Miriam tersebut, yang mendapat bantuan dari Djarum Foundation dan telah berkembang menjadi salah satu rumah sakit terbaik di Kudus.

Selajutnya kami berpetualang ke Pati yang berjarak 24 km. Kota Pati didirikan saat Kerajaan Hindu Pajajaran di Jawa Barat mulai meredup dan pusat kekuasaan pindah ke Majapahit, di Trowulan, Jawa Timur. Pada saat Raja Majapahit adalah Brawijaya II, diutuslah Jaka Pekik dan putranya Jaka Suruh untuk menemui Kyai Ageng Pati, yang bernama Tambranegara agar menghadap ke ibukota Kerajaan Majapahit, yang tercatat pada tanggal 13 Desember 1323. Dengan data itu, diperkirakan bahwa pindahnya ibukota Kadipaten Pesantenan dari Desa Kemiri ke Desa Kaborongan dan kelak akan menjadi Kabupaten Pati itu terjadi pada 7 Agustus 1323, sehingga sekarang dinyatakan sebagai Hari Jadi Pati

Reuni dengan Dr. Eddy Mulyono, SpPD, teman seangkatan saat kuliah di FK UGM Yogyakarta tahun 1984 di istananya yang megah di Jl. Diponegoro 119A Pati.

Kami mengunjungi Dr. Eddy Mulyono, SpPD, teman seangkatan saat kuliah di FK UGM Yogyakarta tahun 1984. Kami disambut meriah di istananya yang megah di Jl. Diponegoro 119A Pati. Rumah bergaya Art deco dengan pilar2 yang besar, bulat, dan menjulang tinggi, membuat rumah 2 lantai tersebut nampak gagah, megah, dan berwibawa. Istrinya, Drg. Diah Handayani yang merupakan Ketua PDGI Cabang Pati dengan 65 dokter gigi anggota, memasakkan menu spesial lontong opor bagi kami yang datang berkunjung dan tidak pernah bertemu sejak lulus jadi dokter tahun 1991 dulu, sekitar 24 tahun kami berdua tidak pernah bertemu.

Reuni dengan Dr. Eddy Mulyono, SpPD, teman seangkatan saat kuliah di FK UGM Yogyakarta tahun 1984 di istananya yang megah di Jl. Diponegoro 119A Pati.

Setelah puas makan kenyang dan foto bersama, kami segera melanjutkan petualangan menjelajahi Pati dalam Lintasan Zaman. Setelah pamor pelabuhan Jepara menurun setelah VOC memindahkan markas kongsi dagangnya ke Semarang pada akhir abad 16, maka Pati mengambil perannya sebagai daerah transit perdagangan dengan mengembangkan Pelabuhan Juwana dan memanfaatkan posisi strategis pengiriman logistik melalui jalur darat dari Semarang ke timur menuju Surabaya. Setelah Gubernur Jenderal Daendels membangun jalan raya pos pada tahun 1808, posisi Pati menjadi daerah yang lebih strategis dibandingkan Jepara, dengan potensi ekonomi yang semakin tinggi, karena perdagangan rempah dan gula yang menjadi primadona komoditas ekspor Hindia Belanda. Terlebih lagi setelah ditemukannya sumber minyak di daerah Cepu, maka Pati dijadikan sebagai ibukota karesidenan yang membawahi Kudus, Jepara, Pati, Rembang dan Blora.

Sisa kejayaan ini masih dapat dinikmati sepanjang Jalan Panglima Sudirman yang membelah Kota Pati, dari barat sampai ke Alun Alun Pati dan ke timur terus ke arah Juwana, salah satu pelabuhan penting yang menopang laju ekonomi pada masa kolonial. Pati sejak jaman kolonial nampaknya sudah dirancang sebagai kota dengan orientasi sebagai pusat kegiatan politik dan  pendidikan. Hal ini tampak dari bangunan sekolah dan pemerintahan yang sudah ada sejak abad ke 19, lebih banyak dibandingkan dengan bangunan sebagai pusat perdagangan atau pertokoan. Hampir semua bangunan heritage bergaya art deco, terpusat di Jl. Jenderal Sudirman, dari barat dimulai dengan Gedung eks Karesidenan Pati yang berumur hampir 200 tahun, sisa kemegahan masih nampak nyata dapat kami nikmati. Ke arah timur dijumpai stasiun kereta api yang dulu digunakan pada rute Semarang ke Juwana, yang diresmikan pada 1884, tetapi saat ini hanya terlihat atapnya saja, karena berubah fungsi menjadi cafe. Masih ke arah timur terlihat gedung kantor pos dan telegrap sebagai tujuan utama dibangunnya Jalan Raya Pos Daendels. Bagian depan gedung yang masih terlihat lestari yaitu jendela dan pintu ukuran besar dan tinggi, yang pada jaman Belanda dulu merupakan Gedung sekolah Europeesche Lagere School (ELS).

Gedung Juang juga mewarnai deretan bangunan heritage sepanjang jalan Daendels, dulunya adalah bangunan kantin untuk para serdadu Belanda yang menikmati santap siang dan istirahatnya. Rute selanjutnya ke arah timur terdapat kompleks  militer, markas CPM, Polwil Pati, kejaksaan, rumah sakit tentara dan Kodim Pati yang menaungi batalion di Karesiden Pati. Bangunan ini dahulu digunakan sebagai Markas Batalion “K” dari Inggris, yang akhirnya sampai saat ini digunakan sebagai kode plat nomor kendaraan di wilayah Eks karesidenan Pati. Bangunan tersebut masih gagah dan terawat cukup detail lekuk bangunannya.

Kami kembali ke jalan Panglima Sudirman Pati untuk menikmati nuansa kolonial yang masih terlihat ke arah alun alun, sekolah, gedung biara Alverna, dan Rumah Sakit Bersalin Panti Rukmi, yang menunjukkan fungsi religi dan kemanusiaan sejak jaman itu. RSB Panti Rukmi saat ini tidak berfungsi lagi dan telah diubah menjadi rumah lansia. Panti lansia ini berada di bawah kendali Yayasan Suster Fransiskus Dina yang berkarya dibidang sosial kemasyarakatan dan pendidikan. Segera kami bergegas masuk ke Wisma Lansia Panti Rukmi, Pati untuk menemui Sr. Maria, SFD, seorang biarawati dan perawat teman seperjuangan dalam layanan kesehatan di Klinik Panti Usada Baciro Yogyakarta tahun 2014 dan pernah juga kami kunjungi dalam layanan selanjutnya di pedalaman Kalimantan Selatan, jauh dari Banjarbaru tahun 2017.

Di Wisma Lansia Panti Rukmi, Pati kami menemui Sr. Maria, SFD, seorang biarawati dan perawat teman seperjuangan dalam layanan kesehatan di Klinik Panti Usada Baciro Yogyakarta tahun 2014

Dari Rumah Lansia Panti Rukmi Pati, kami segera menuju Gua Maria Immaculata dan Bumi Persami Subasio Sani, Jl. Raya Tlogowungu, Pati. Selain mengucap syukur atas semua anugerah yang telah kami terima, kami juga memohon doa dan pendampingan dari Bunda Maria Ibu Yesus, agar mampu melanjutkan pelayanan bagi sesama. Kami juga mampir di rumah kusta di seberang Gua Maria Immaculata, untuk memberikan sedikit bingkisan bagi penderita penyakit kusta atau lepra yang dirawat di situ. Juga menunjukkan kepada dik Larasati yang sebentar lagi akan memasuki program profesi pendidikan dokter, agar melihat dengan mata kepala sendiri, kerusakan kulit, jari kaki, jari tangan dan hidung penderita kusta, yang selama ini hanya dilihatnya di e-book. Kusta atau lepra memang penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Lepra dan telah disebutkan dalam Alkitab.

Kerusakan jari tangan penderita kusta atau lepra yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium Lepra telah didokumentasikan oleh dik Larasati, tentu menambah pemahamannya sebagai calon dokter

Selanjutnya kami menempuh jalan pulang dari Pati ke Jepara, melalui jalur lain, tidak sama dengan saat kami berangkat. Kami lanjut pulang ke Jepara mengitari Gunung Muria yang menjulang di sebelah kiri jalan, memasuki Kecamatan Widarijaksa, Pati. Kami langsung berdiskusi hangat dengan dik Larasati, karena di situlah Dr. Setyaningrum yang melayani pasiennya dituntut, diadili, dan sempat divonis bersalah untuk dipenjara, karena pasien tersebut meninggal dunia saat mengalami syok anafilaksis pada tahun 1979. Berkat kegigihannya dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk para pengurus IDI, akhirnya pada 27 Juni 1984 dinyakan tidak bersalah, pada jenjang pengadilan tertinggi di Mahkamah Agung RI. Dengan kejadian di Wedarijaksa, Pati itulah mengapa setiap tanggal 27 Juni ditetapkan sebagai Hari Kesadaran Hukum Kedokter Indonesia, agar para dokter menyadari tentang konsekuensi legal atas semua layanan kedokteran yang dilakukannya. Juga profesinya selalu bersinggungan dengan hukum sehingga para dokter harus taat etika serta perundang-undangan yang ada. Para dokter wajib belajar dan mengambil manfaat dari pengalaman masa lalu atau kasus-kasus hukum kedokteran yang terjadi, serta tetap menjunjung tinggi etika profesi, sumpah profesi, kebutuhan, serta keselamatan pasien. Selain itu, juga menjaga spirit kesejawatan dalam dinamika masyarakat Indonesia yang heterogen dan turut serta dalam mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, serta sejahtera sesuai cita-cita bangsa. Juga para penegak hukum dan masyarakat diharapkan dapat lebih memahami bahwa masalah hukum kedokteran yang merupakan persinggungan antara disiplin hukum dan disiplin kedokteran, mempunyai dimensi yang sangat komplek.

e-poster Hari Kesadaran Hukum Kedokteran oleh PB IDI 2019, terinspirasi oleh kasus mediko-legal di Wedarijaksa, Pati

Selanjutnya kami memutari Gunung Muria untuk menuju Kecamatan Mlonggo dengan melewati Tayu, Kluwak, Kelet, Batealit, Tahunan, Kembang, dan Bangsri. Penjelajahan ini melwatai jalur yang mendaki, turunan tajam dan belok berulang dan aspal jalan yang tidak terlalu bagus, bahkan cenderung jelek. Rasanya karena Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Jepara tidak membangun terlebih dahulu selokan drainasi di kedua sisi jalan raya dengan banyak inlet di sepajang jalan kabupaten, sehingga air hujan menggerus berulang aspal jalan. Namun demikian pesona Kelet telah membuyarkan usulan tersebut, karena nama Kelet sangat legendaris.

bus Kencana double dekcer bermesin Scania K410iB nampak gagah di pinggir jalan Kelet, Jepara sebelum berangkat melaju ke Jakarta

Sebagai penggila bis (bus mania), petualangan melewati Kelet sangat mengasyikkan, karena banyak bis baru, besar dan bagus jurusan Jakarta, Surabaya, ataupun Denpasar ke Jepara hampir semuanya berakhir di Kelet. Bis terbaru adalah bus Kencana double dekcer bermesin Scania K410iB yang dijual oleh United Tractors, dibekali mesin 13.000 cc, 6-Silinder Segaris, Turbocharger, dan Intercooler. Bodi gagah garapan perusahaan karoseri Tentrem, Malang berseri Avante D2 yang diberi nama Kezia. Bus double decker Kezia itu melengkapi dua bus double decker PO Kencana yang juga memiliki nama unik dari anak-anak Toni (pemilik bis) lainnya yakni Valentino dan Emiliano. PO Kencana banyak dikenal karena fasilitasnya yang tak main-main. Mewah, mungkin adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikannya. Dengan dominasi warna pink di badan luar bus, menjadikannya mudah dikenali. Selain itu, kami juga melihat bis gagah lainnya dari PO Sahalaah, Shantika, Haryanto, Bejeu, Muji Jaya, Mension, Gunung Harta, dan Jaya Utama Indo.

Didampingi Ibu Harlina melihat area produksi furniture tahap ketiga

Setelah sampai dengan selamat menjelang sore di Mlonggo, kami segera disuguhi menu soto Betawi yang lezat dan lanjut beristirahat sore. Pada malam pergantian tahun, kami menikmati menu bebaqaran ayam, udang, ikan kakap merah dan kembang api. Pada Senin pagi, 1 Januari 2024 kami diajak keliling areal pabrik furniture Mahkota Mulyo Mandiri, seluas hampir 2 ha.

Bapak Mulyono dan Ibu Harlina mengantar kami mengelilingi kopleks pabrik furniture

Bergaya memotong kayu dengan gergaji mesin di Mahkota Mulyo Furniture, Mlonggo, Jepara

Silakan mengunjungi :

https://www.mahkotamulyo.com/

Sebuah usaha keluarga yang luar biasa berkembang pesat dengan buyer furniture dari Spanyol, Belanda, USA dan Yunani. Selanjutnya kami mengunjungi Pantai Pailus Mlonggo, untuk melihat bekas usaha tambak udang keluarga Mulyono dan berwisata di pasir putih pantai, sambil menikmati lobster rebus yang gurih. Setelah makan siang, kami berdua segera pamit pulang ke Yogyakarta, dengan dik Larasati masih akan menginap semalam di situ, sebelum lanjut kembali ke Bandung untuk ujian blok terakhir di FK UKM Bandung, akan naik bis Nusantara SE.

Dik Larasati keliling kompleks produksi furniture dengan Moci, sebelum kembali ke Bandung

Fort Japara (XVI) atau Loji Gunung yang merupakan sebuah benteng peninggalan VOC Belanda di Jepara tahun 1613.

Senin, 1 Januari 2023 siang kami berdua dalam Honda Mobilio AB 1412 GH memulai perjalanan pulang dari Jepara ke Yogyakarta. Kami mampir, melihat, dan mengagumi Benteng VOC Japara, juga dikenal sebagai Fort Japara (XVI) atau Loji Gunung, yang merupakan sebuah benteng peninggalan VOC Belanda di Jepara, Jawa Tengah. Gerbang benteng ini merupakan bagian dari kawasan yang terdiri dari benteng, kompleks permakaman (yang diantaranya adalah Taman Makam Pahlawan Giri Dharma), dan sebuah hutan tanaman buah yag dikelola PT. Rimba Raya. Benteng dan kantor dagang VOC ini didirikan di Jepara pada 1613, karena kantornya yang ada di Gresik, Jawa Timur selalu mendapat gangguan dari para pedagang Islam madura dan Jawa Timur yang menentang sistem monopoli VOC.

Pada 1615, Sultan Agung dari Mataram memberikan izin kepada VOC untuk mendirikan loji sebagai kantor pewakilan dagang di Jepara. Loji itu selesai dibangun pada tahun 1618. Ketika Pemberontakan Trunajaya meletus, Letnan VOC Martinus van Ingen membuat peta daerah Jepara dan merencanakan penempatan 100 infanteri di Benteng VOC Jepara. Pemimpin Jepara saat itu, Ngabehi Wangsadipa, memberi VOC berupa lima pucuk meriam yang salah satunya dipasang di benteng itu. Pasukan Trunajaya berkali-kali menyerang benteng Jepara, tetapi selalu berakhir gagal. Benteng Jepara tetap digunakan oleh VOC Belanda sebagai konsesi dalam bentuk sewa yang diberikan Amangkurat II kepada VOC, atas usahanya dalam menumpas Pemberontakan Trunajaya.

Benteng ini menjadi pusat perdagangannya VOC di pantai utara Jawa, tetapi kemudian ditinggalkan perlahan pada 1697, ketika Semarang mulai menggantikan fungsi Jepara sebagai pusat perdangangan. Alasannya adalah karena pelabuhan Jepara mengalami pendangkalan yang disebabkan oleh sedimentasi lumpur yang dibawa oleh arus sungai dan binatang-binatang karang yang semakin berkembang. VOC juga mempertimbangkan keunggulan pelabuhan Semarang yang memiliki akses ke pedalaman Mataram di Surakarta. Pada 1707, VOC secara resmi memindahkan pusat kekuasaannya dari Jepara ke Semarang. Hal itu didasarkan pada perjanjian tanggal 31 Oktober 1707 antara VOC dengan Pakubuwana I selaku raja Kesultanan Mataram di Surakarta.

Alun-alun di pusat kota Demak

Selanjutnya kami menyusuri jalan Jepara Kudus yang padat kendaraan dan sampai di Kalinyamatan kami berbelok ke kanan menuju Welahan, untuk mencapai pusat kota Demak. Setelah berfoto sejenak di alun-alun Kota Demak sebagai Kota Wali, kami bergegas masuk ke komplkes Masjid Agung Demak yang diyakini dibangun tahun 1479 oleh Wali Sanga, penyebar agama Islam di Pulau Jawa, dengan sosok yang paling menonjol adalah Sunan Kalijaga, pada masa penguasa Kesultanan Demak pertama, Raden Patah pada abad ke-15. Di dalam lokasi kompleks masjid ini, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak termasuk di antaranya adalah Raden Patah yang merupakan raja pertama Kesultanan Demak dan para abdinya.

Gaya arsitektur Masjid Agung Demak adalah Jawa Kuno, yaitu perpaduan antara bentuk Joglo dan Limasan serta sedikit polesan arsitektur Persia pada keramik.

Dinding masjidnya tersusun dengan keramik dari Vietnam dan penggunaan keramik yang lebih dominan daripada batu, dianggap meniru masjid-masjid di Persia. Sunan Kalijaga membuat usulan untuk membuat tata kota berupa masjid, alun-alun, dan Keraton. Usulan itu disetujui oleh penguasa Kerajaan Demak, Raden Patah. Gaya arsitektur masjid adalah Jawa Kuno, yaitu perpaduan antara bentuk Joglo dan Limasan serta sedikit polesan arsitektur Persia pada keramik. Bentuk arsitekturalnya yang khas adalah atap tumpang, yaitu bentuk atap bertingkat 2, 3, atau 4 yang makin ke atas makin mengecil dan diakhiri dengan kemuncak. Salah satu dari 4 buah tiang utama masjid tersebut berasal dari serpihan-serpihan kayu, sehingga dinamai saka tatal. Atap masjid berbentuk limas bersusun tiga jadi gambaran akidah Islam yakni Iman, Islam, dan Ihsan.

Kelenteng Hok Tek Bio atau Vihara Budhi Luhur, di dekat Alun-alun Demak, Jawa Tengah

Selanjutnya kami menyeberangi jalan dan menuju ke Jl. Siwalan nomer 3 Demak, untuk melihat Kelenteng Hok Tek Bio atau disebut juga Vihara Budhi Luhur, yang menjadi tempat ibadah umat Konghucu, sekaligus objek wisata karena memiliki altar cantik, beserta ukiran kayu warna-warni. Bangunan kelenteng ini menghadap ke arah barat, arah yang paling dekat ke pinggir laut, yaitu sekitar 15 km ke arah Bonang, area yang di jaman dahulu pernah menjadi salah satu pelabuhan milik Kesultanan Demak Bintoro. Pelabuhan Demak satunya lagi, yang merupakan pelabuhan bagi berlabuhnya kapal-kapal militer, berada di sekitar Teluk Wetan, Jepara.

Dari Demak kami segera melanjutkan penjelajahan untun mencapai Jatingaleh, Kota Semarang. Kami menemui mbak Ratri dan mas Arief AW di rumahnya, karena keduanya teman sekelas di SMP Bruderan Purworejo, Kedu, Jawa Tengah, yang sudah 38 tahun tidak pernah bertemu lagi, semenjak lulus SMP. Perjumpaan yang sangat membahagiakan dan mengagetkan, karena postur fisik mas Arief yang sudah sangat berbeda jauh dan membuat kami tidak mampu lagi mengenalinya. Beruntunglah mbak Ratri yang tinggi menjulang masih tidak banyak berubah, sehingga sebutan genter (galah dari bambu untuk memetik buah di pohon yang tinggi) yang disandangnya sejak SMP, masih dapat kami kenali. Dalam perbincangan yang hangat, berbagi kabar antar kami, dan reuni tipis yang membahagikan, kenangan atmosfer Purworejo terasa nyata. Selanjutnya kami pamit untuk pulang ke Yogyakarta dan akan mampir sejenak ke Tuntang, untuk berdevosi kepada Bunda Maria sesuai masukan mas Arief AW.

Reuni dengan mbak Ratri dan mas Arief AW, teman semasa belajar di SMP Bruderan Purworejo di rumahnya Jatingaleh, Semarang

Rosa Mystica (atau Mawar Mistik) adalah gelar puitis untuk Bunda Maria, Ibu Yesus Kristus. Salah satu bentuk devosi Maria adalah memanjatkan doa Perawan Maria dengan memanggilnya menggunakan litani dengan berbagai judul, dan judul ‘Mawar Mistik’ terdapat dalam Litani Loreto. Ini juga merupakan gelar Katolik Bunda Maria berdasarkan penampakan Maria yang terjadi antara tahun 1947 dan 1966 oleh Pierina Gilli di Montichiari dan Fontanelle, di Italia. Sejarah Rosa Mystica dimulai pada tahun 1531, saat Bunda Allah menampakkan diri kepada Juan Diego di Bukit Tepeyac di Meksiko dan melakukan “keajaiban mawar” sebagai bukti kehadirannya kepada Uskup Zumarraga. Mawar tidak pernah tumbuh di daerah berbatu itu. Terlebih lagi, ketika dalam keterkejutan mereka, para pelayan uskup mencoba memetik dan mengambil beberapa di antara bunga-bunga itu dari tilmanya, mereka tidak dapat melakukannya karena bunga-bunga itu bukanlah bunga mawar yang mereka sentuh, tetapi seolah-olah bunga-bunga itu adalah mawar yang dicat atau disulam, sehingga disebut “mawar mistik”.

Gua Maria Rosa Mystica di Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang.

Gua Maria Rosa Mystica memberikan keheningan untuk berdoa, berdevosi dan berucap syukur sembari menenangkan diri, berlokasi di Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. Oleh karena berlokasi cukup jauh dari keramaian, Gua Maria Rosa Mystica memberi kedamaian tersendiri saat berdoa. Setelah puas berdoa dan berucap syukur atas semua rahmat yang kami terima sepanjang tahun 2023, kami memohon pendampingan untuk semua layanan yang harus kami lakukan sepanjang tahun 2024.

Kemudian kami segera bergegas pulang, sebelum hujan lebat mengguyur jalanan untuk mencapai rumah kami di Timoho Yogyakarta menjelang pk. 21. Terimakasih kami haturkan kepada segenap sponsor pendungkung kegiatan, sehingga penjelajahan ke Jepara dan sekitar Gunung Muria telah dapat kami jalani. Sampai ketemu lagi dalam petualangan selanjutnya.

Terimakasih dan Berkah Dalem

Senin, 2 Januari 2024

Categories
dokter Jalan-jalan medicolegal

2023 LAMONGAN IDI REBORN

IDI REBORN DI LAMONGAN
fx. wikan indrarto

IDI Reborn adalah visi organisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk menuju organisasi profesi dokter yang mandiri, modern, dan akuntable untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Juga membawa semangat perubahan dan pembaharuan yang dilandasi kekuatan, kecerdasan gagasan dan implementasi yang sangat kokoh, serta terwujud pada kinerja organisasi yang saling sinergis, kolaboratif, dan selalu konsisten dalam bingkai kolegialitas sebagai ikatan spiritual tertinggi bagi IDI, sebagaimana disampaikan oleh Dr. dr. Moh Adib Khumaidi, SpOT, sebagai Ketua Umum PB IDI.

Penegasan tersebut juga dilakukan di Lamongan, Jawa Timur saat peringatan HUT ke -73 sekaligus Hari Dokter Nasional. Untuk itulah petualangan ke Lamongan kami jalani. Oleh karena para pengurus IDI se DIY sudah berangkat ke Lamongan terlebih dahulu dan kami masih harus masuk kerja, maka petualangan dimulai dengan naik bis CEPAT EKA, meninggalkan terminal Bis Giwangan Yogyakarta menuju terminal bis Bungurasih Surabaya, sejauh 263 km pada Sabtu siang, 21 Oktober 2023, selepas kerja.

Bus EKA tentu sudah tak asing lagi bagi para maniak bus, sebagai bus patas AC legendaris yang semula bernama PO. Flores. Bus EKA menggunakan tipe chassis Hino New RN 285 yang dilengkapi shock breaker air suspension, berbalut body jenis Jetbus 3+ buatan Adi Putro Malang, sehingga nampak gagah. Bis EKA berplat nomer S 7852 US dengan chassis Hino RN285 ini adalah sasis paling banyak digunakan dibandingkan sasis bus merek lain, karena faktor harga yang terjangkau, mampu diandalkan, dan mudah perawatannya.

Kami menyusul teman2 pengurus IDI se DIY yang telah berangkat lebih awal ke Lamongan dengan 2 buah Toyota Hi-Ace Premio, untuk memeriahkan HUT IDI ke 73, yang dipusatkan di Alun-alun Lamongan, Jawa Timur.

masjid agung di seberang alun-alun Lamongan

Lamongan adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang terletak 49 km barat Kota Surabaya. Kabupaten Lamongan dilintasi Jalan Nasional Jakarta-Surabaya, merupakan salah satu wilayah yang masuk dalam kawasan metropolitan Surabaya, yaitu Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Kertosono, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan). Kabupaten Lamongan memiliki garis pantai sepanjang 47 km, termasuk Pantai Tanjung Kodok yang menawan, dan daratan dibelah oleh Sungai Bengawan Solo.

sebagian pengurus IDI se DIY bergaya di depan panggung acara, mengenang pendudukan Lamongan pada era awal kemerdekaan RI

Setelah Indonesia Merdeka pada 17 Agustus 1945, daerah Lamongan menjadi garis depan pertahanan melawan tentara kependudukan Belanda atau NICA. Pada tanggal 20 Desember 1948 pk. 15 terjadi serbuan atas kota Babat oleh Pasukan Marbrig (Mariniers Brigade atau Koninklijk Nederlandse Marine Korps) yang datang dari Tuban. Kecamatan Babat termasuk jembatan Cincim akhirnya jatuh ke tangan Belanda tanpa ada perlawanan sama sekali. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan “dosa komandan Batalyon Halik”. Brigade Marinir Belanda ternyata tidak langsung menyerang kota Lamongan dari arah Babat, melainkan bergerak ke arah selatan dengan tujuan utama kota Kertosono. Baru pada tanggal 18 Januari 1949 pk. 13 Kota Lamongan berhasil diduduki dan dikuasai oleh Belanda, dengan kerugian yang besar. Selama enam bulan pertempuran perebutan Lamongan, korban dari pihak tentara Belanda relatif lebih besar dibandingkan dengan korban di pihak pasukan Lamongan. Tercatat pihak Belanda mengalami korban tewas 139 pasukan, luka-luka 29 orang dan tertawan 11 orang. Korban dari pihak RI tercatat sebanyak 40 tentara gugur, 11 tertawan dan 12 orang terluka. Adapun korban dari warga sipil 335 orang tewas dan 93 mengalami luka-luka.

menu gulai kambing dan teh panas kental di RM Duta Ngawi bagi para penumpang bis cepat EKA

Perjalanan bis cepat EKA dari Yogyakarta melewati 2 penggal Tol Trans Jawa yang legendaris. Pertama dari Gerbang Tol (GT) Ngemplak Solo ke GT Sragen Timur. Setelah melibas Banaran, batas 2 propinsi Jateng dan Jatim, kami beristirahat sejenak di RM Duta Ngawi dengan menu makan gulai kambing hangat dan teh kental, manis, juga hangat. Lanjut masuk GT Madiun dan melibas tol panjang, iklan yang disuarakan crew bis untuk menggaet penumpang, dan keluar di GT Waru Gunung Surabaya dengan harga tiket bis Rp. 175 ribu termasuk makan.

Kami memasuki areal terminal bis Bungurasih Surabaya, terminal bis terbesar di Jawa Timur menjelang pk. 22. Selanjutnya kami ganti bis Patas Jaya Utama Indo L 7574 UV jurusan Surabaya ke Semarang, akan turun di Lamongan dengan tarif Rp. 50 ribu. Jaya Utama Indo merupakan salah satu PO bus pelopor rute Surabaya-Semarang. Pada awal tahun 1990-an, PO ini hanya memiliki lima armada dengan nama PO Jaya Utama. Persaingan ketat membuatnya mengalami pasang surut. Perusahaan otobus ini pernah mengakuisisi beberapa PO seperti PO Trigaya Putra dan PO Tjipto. Pada tahun 2000, perusahaan ini mengakuisisi PO Indonesia sehingga berubah nama menjadi PO Jaya Utama Indo hingga sekarang dengan armada yang telah mencapai ratusan unit. Kini armada yang dimiliki Jaya Utama Indo sudah banyak diperbarui dan mengakomodasi teknologi terkini. Unit bus kebanyakan menggunakan body buatan karoseri Tentrem Malang dan Laksana Ungaran dengan model Discovery dan Legacy SR2 HD Prime. Ada pula dari karoseri Gunung Mas berbodi Zeppelin G3 serta karoseri Trisakti berbodi Ultima 2. Dapur pacu atau mesin yang dipakai hanya dari Hino Jepang dan Mercedes Benz Jerman. Kami naik bis Jaya Utama Indo berbody Avante H9 buatan Karoseri Tentrem Malang dengan mesin Mercedes-Benz tipe 1836 0500 susoensi udara dan masuk GT Tandes Barat dan keluar di GT Kebomas Gresik.

kabin bis Jaya Utama Indo dari Surabaya ke Lamongan, dengan seat buatan Rimba Raya

Selanjutnya kami menempuh jalan nasional non tol menuju Lamongan dan turun di depan Lamongan Plaza Mall. Kami segera pesan Grab Bike menuju Hotel Mahkota, sebuah hotel melati plus yang letaknya strategis, berada di pusat kota Lamongan yang hanya perlu waktu 45 menit perjalanan dari pusat bisnis Kota Surabaya. Segera kami terlelap di kamar 216 Hotel Mahkota 1 berlokasi di Jl. Sunan Drajad 6-8, Lamongan dalam kepenatan badan karena perjalanan panjang, tetapi masih sempat membayangkan perang kemerdekaan yang berkecamuk di Lamongan.

hotel Mahkota di dekat alun-alun Lamongan

Heroisme warga Lamongan saat melawan pendudukan Belanda tersebut menjiwai seluruh rangkaian kegiatan HUT IDI ke 73 pada Sabtu – Selasa, 21 sampai 24 Oktober 2023 di Lamongan, Jawa Timur.

Heroisme pelari Dr. Joko Murdiyanto dan Dr. Agus Wiyono saat mencapai garis finish pada Charity Run For Stunting di Lamongan

Agenda utama kegiatan yang kami ikuti setelah sarapan di Hotel Mahkota Minggu pagi, 22 Oktober 2023 adalah ‘charity for stunting’. Stunting saat ini masih menjadi masalah gizi utama bagi bayi dan anak di bawah usia 2 tahun di Indonesia. Hal ini menjadi tantangan tersendiri saat Indonesia tengah mempersiapkan generasi emas pada 2045 mendatang.

bersama teman2 pengurus IDI se DIY di panggung Charity Run for Stunting

Oleh karena itu semua pihak seharusnya bersama-sama mengatasi dan menurunkan angka kejadian stunting, termasuk para dokter anggota IDI. Sesuai dengan harapan Presiden Jokowi pada tahun 2024 target stunting harus dibawah 14%. Sedangkan merujuk hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSG) 2022, angka stunting nasional masih tinggi, di atas 21,6%.

siap mengikuti apel siaga dokter Indonesia di Lamongan
Apel Siaga Dokter Indonesia melawan stunting

Selain penggalangan dana untuk mengatasi stunting, juga dilakukan pengobatan gratis oleh dokter spesialis dengan beragam disiplin ilmu atau spesialisasi, di 32 puskesmas di seluruh Kabupaten Lamongan. Target pasien setiap puskesmas diperkirakan dapat dilayani 150-200 orang pasien dan IDI menyiapkan 179 dokter spesialis untuk kegiatan ini.

Festival Olahraga di alun-alun kota Lamongan

Juga ada festival olahraga dan seni dengan 3 cabang olahraga yang akan dipertandingkan, yakni badminton, tenis meja, dan futsal, yang diikuti oleh seluruh dokter se-Indonesia. Sebanyak 200 orang dokter telah mendaftarkan diri. Festival ini bertujuan untuk memotivasi gaya hidup sehat dengan beraktivitas fisik, berolahraga dan bergerak secara teratur, termasuk para balita stunting.

wajah gelap tertutup bayangan balon,

Pada kesempatan tersebut kami sempat bertemu langsung dan berfoto dengan Dr. dr. Moh. Adib Khumoidi, SpOT Ketua Umum PB IDI dan Dr. dr. Sutrisno, SpOG(K) Ketua IDI Wilayah Jawa Timur.

bersama Dr. Agus Wiyono, Dr. Adib Khomaidi dan Dr. Joko Murdiyanto di lokasi acara HUT IDI ke 73 di Lamongan

Juga ada bazar atau pesta rakyat yang menghadirkan berbagai kebutuhan pokok bagi rakyat sekitar, bekerjasama dengan dinas terkait di Pemkab Lamongan. Bahkan dilengkapi dengan pemberian sembako, khususnya beras murah di alun-alun Lamongan sebagai bentuk simpati IDI atas naiknya harga beras dalam beberapa bulan terakhir. Telah disediakan beras 5 ton dalam kegiatan ini. Selain itu juga akan ada stan UMKM dan kuliner dari masyarakat setempat, donor darah, serta ada komunitas musik untuk hiburan. Ada juga charity run, lari untuk umum sepanjang 7,3 km, gerakan orangtua asuh dokter untuk balita stunting hingga pemecahan Rekor MURI.

rombongan pengurus IDI se DIY di Lamongan

Pendidikan agama Islam sangat maju di seluruh Lamongan. Bahkan terdapat banyak pondok pesantren terkenal seperti Ponpes Tarbiyatut Tholabah di Kranji Paciran, Ponpes Sunan Drajat di Drajat Paciran, Ponpes Thoriqul Ulum Lamongan, Ponpes Manarul Qur’an di Paciran, Ponpes Bustanul Hikmah di Dumpiagung dan di Kembangbahu. Pagi itu kami sempatkan mengikuti peryaan ekaristi atau misa kudus di Gereja Katolik St. Fransiskus Xaverius Lamongan yang memiliki ciri khas bangunan sederhana yang sejuk, dengan sejarah gereja katolik di Kabupaten Lamongan yang kuat, sehingga menjadi tempat ibadah yang nyaman bagi ummat katolik Kabupaten Lamongan sejak tahun 1968.

berdoa sejenak di dalam gedung gereja Katolik Lamongan

Misa kudus dilayani oleh para imam atau pastor dari Paroki Santa Perawan Maria Gresik, yang dirintis sejak sekitar tahun 1932. Saat itu beberapa umat Katolik di Gresik sering merayakan ekaristi di gedung pengadilan negeri Jln. Basuki Rachmat sekarang, bersama Pastor Massen, CM dan diresmikan sebagai paroki pada tanggal 22 Desember 1996. Pada tahun 2018, berdasar SK Keuskupan Surabaya no. 95/G.113/II/2018 tentang Pembagian Wilayah di Keuskupan Surabaya, maka Paroki Gresik yang selama ini tergabung dalam Vikep Surabaya Barat menjadi Kevikepan Mojokerto bersama Paroki Mojokerto, Tuban dan Bojonegoro, serta melayani wilayah Lamongan.

Gereja Katolik Fransiskus Xaverius Lamongan

Setelah pengurus IDI wilayah DIY diberikan amanah untuk menyelenggarakan puncak acara Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI) pada Mei 2024, kami terus berpamitan dengan para pengurus PB IDI, IDI wilayah Jatim dan IDI Cabang Lamongan, kami segera berpisah rombongan. Para dokter pengurus IDI se DIY yang muda melanjutkan perjalanan wisata dan yang setengah baya segera kembali ke Yogyakarta. Kami mengikuti Dr. Joko Murdiyanto, SpAn, MKes, Fisqua (Ketua), Dr. Rina Nuryati, MPH (sekretaris) dan Dr. Agus Wiyono, MKes (BHP2A) IDI wilayah DIY, segera duduk manis di Toyota Hi-Ace Premio keluaran 2022 hitam, mengkilat dan bertenaga, segera mengambil jalan nasional kembali ke arah Gresik, untuk masuk tol.

Kabupaten Lamongan dilintasi jalur utama pantura yang menghubungkan Jakarta-Surabaya, yakni yang kami lalui sepanjang pesisir utara Jawa. Kami tidak menggunakan Kereta Api yang melintas di jalur sangat padat Surabaya, Cepu, ke Semarang, dimana Babat merupakan persimpangan antara jalur KA Surabaya-Semarang dengan jalur KA Jombang-Tuban.

Teman-teman pengurus IDI wilayah DIY yang lain memanjakan diri menikmati sebagain Wisata Alam di Kabupaten Lamongan. Kalau waktunya cukup, sebenarnya dapat menikmati Waduk Gondang, Akar Langit Trinil Brondong, Wisata Edukasi Gondang Outbond (WEGO), Istana Gunung Mas, Waduk Prijetan, atau tempat menginap malam sebelumnya di Wisata Bahari Lamongan (WBL), Gua Maharani, atau Pantai Joko Mursodo. Tempat Wisata Sejarah di Kabupaten Lamongan juga tidak kalah menarik, yaitu Museum Sunan Drajat, Monumen Van der Wijck, Prasasti Wide dan Sedayu Lawas. Sedangkan tempat wisata religi Islam di Kabupaten Lamongan, meliputi Makam Sunan Drajat, Makam Sunan Sendang Duwur, Makam Syekh Maulana Ishaq (Ayah Sunan Giri), Makam Sunan Lamongan atau Syekh Hisyamudin (Putra Sunan Ampel). Yang tidak kalah menarik adalah kuliner khas Lamongan diantaranya Soto Lamongan, Sego Boranan, Lodeh Kuthuk, Tahu Thek, Walang Goreng, Wingko Babat, dan Pecel Lele. Patut disayangkan, wisata sejarah, religi dan kuliner khas Lamongan hanya dapat kami bayangkan saat melaju di Tol menuju Yogyakarta

Petualangan diakhiri dengan meninggalkan km nol Lamongan.

Semoga saja semangat IDI reborn akan semakin mendewasakan organisasi para dokter seluruh Indonesia dan penyelenggaraan acara selanjutnya di Yogyakarta tahun 2024 dapat berjalan lancar. Terima kasih kepada semua pihak atas dukungannya, sehingga petualangan ke Lamongan telah berlangsung sukses.

Salam pengelana
-wikan

Catatan : ditulis dan disebarkan dalam goyangan laju kencang Toyota Hi-Ace Premio 2023 AB 7904 WD melibas tol Trans Jawa menuju Yogyakarta

Categories
dokter Healthy Life Jalan-jalan

2023 PALANGKA RAYA

PALANGKARAYA
fx. wikan indrarto

Kesempatan mengunjungi ulang Palangkaraya, Kota Cantik ibukota Kalimantan Tengah, datang dengan penuh semangat. Pertama kali kami datang menginjakkan kaki di Palangkaraya pada hari Selasa, 5 Januari 2000 sebelum menjalani penempatan sebagai dokter spesialis anak di RSUD Dr. Soemarno Sosroatmojo Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah. Kali kedua berangkat Minggu siang, 15 Oktober 2023 kami menggunakan pesawat Boeing 737NG Batik Air dari New Yogyakarta Airport, disambung Airbus A320 Batik Air dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Tjilik Riwut. Kami mendarat menjelang malam hari, dengan penerbangan terakhir yang dilayani di bandara tersebut.

Dengan pak Ja’far asli Labuanbajo Flores dari Mitra Konsultan, menunggu terbang di New Yogyakarta Airport.
Mendarat di Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya

Kami dijemput oleh Dr. Anto Fernando Abel, Kepala Seksi Pelayanan Medis RSUD dr Doris Sylvanus di Bandara Tjilik Riwut, sebagai penumpang terakhir yang keluar dari area kedatangan. Kami langsung diajak menuju ke Le SARAI resto, sebuah rumah makan legendaris untuk para pejabat negara, yang berlokasi di Jl. MH. Thamrin No D/7 Menteng, Pahandut, Palangka Raya, untuk makan malam menu lokal yang khas banget, yaitu ikan patin bakar.

Dengan Dr. Anto Fernando Abel menunggu menu ikan patin bakar di Le SARAI resto Palangkaraya

Ikan patin yang lezat memiliki berbagai bagian tubuh dengan pesona rasa masing-masing. Pertama yakni bagian kepalanya yang unik karena kepala berukuran lebih kecil dibandingkan bagian tubuh utamanya, yang justru lebih besar. Kepala ikan ini sangat enak saat diolah dalam sop khusus yang mampu melegakan tenggorokan.

Kedua yakni bagian tubuh, yang juga unik pada ikan patin ini yakni memiliki ukuran badan yang cukup besar, daging lezat dan banyak lemak, tetapi sangat mudah dipisahkan saat disantap. Terakhir yakni sirip yang pada ikan patin ini memiliki banyak sirip yang sama, yakni berjumlah enam buah.

Ikan patin yang disinyalir berasal dari sungai Mahakam Kalimantan Timur dan sungai Musi Sumatera Selatan ini, dikenal luas masyarakat karena dibudidayakan dalam keramba di sungai Kahayan yang memutari Kota Palangkaraya. Ikan yang memiliki rasa daging lezat dan gurih ini, memiliki nilai jual yang sangat tinggi dan menjadi ladang usaha yang menggiurkan, apalagi membudayakannya pun sangat mudah dan tidak memerlukan perlakuan khusus. Setelah kenyang dan puas merasakan gurihnya daging ikan patin, kami segera menuju dan menginap di Hotel Amaris Palangkaraya.

Senin, 16 Oktober 2023 kami bangun pagi untuk mengikuti perayaan ekaristi harian di Katedral Santa Maria pada pk. 5.15. Kami berjalan kaki sejauh 650 m dari Hotel Amaris, menuju gereja megah di Jl. Tjilik Riwut Palangkaraya. Gereja Katedral Paroki Santa Maria Palangka Raya adalah Gereja Katolik Roma yang menjadi pusat Keuskupan Palangka Raya. Di dalam katedral ini terdapat tahta uskup Keuskupan Palangka Raya dan di jalan kompleks samping katedral terdapat makam Mgr. Johanes Aloysius Husin, MSF, uskup pertama. Katedral ini bersebelahan dengan Masjid Baitus Syuja sebagai bukti toleransi antar umat beragama di Palangkaraya.

Akan mengikuti perayaan ekaristi harian pagi di Katedral Santa Maria Palangkaraya
makam Mgr. JA. Hussin, MSF uskup Palangka Raya pertama di samping Katedral Santa Maria

Gedung gereja pertama diresmikan pada 3 Maret 1963 dengan imam yang bertugas pertama kali di situ adalah R.D. Patris Alu Tampu. Sedangkan paroki Katedral Palangka Raya merupakan hasil pemekaran dari Paroki Santo Matius, Kuala Kapuas pada 3 Maret 1963 di mana saat itu masih termasuk dalam wilayah Keuskupan Banjarmasin. Salah satu pendorong terjadinya pemekaran adalah permintaan dari Gubernur Tjilik Riwut agar ada seorang pastor (yaitu Pastor Karl Klein M.S.F., pastor paroki pertama) yang menetap untuk membantu membangun Palangka Raya sebagai ibu kota provinsi.

Gedung gereja Katedral Santa Maria lama yang sudah dialih fungsikan menjadi gedung serbaguna dan menjadi cagar budaya di Palangkaraya

Bangunan gereja katedral dibangun bersebelahan dengan gereja lama yang saat ini digunakan sebagai Gedung Serbaguna Tjilik Riwut, yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya. Katedral ini diresmikan pada 21 Maret 1999 oleh Administrator Apostolik Keuskupan Palangka Raya Mgr. Florentius Sidot O.F.M.Cap.

Setelah sarapan di Hotel Amaris, selanjutnya kami mengisi pelatihan internal OPPE (On going Profesional Practice Evaluation) atau penilaian profesional berkelanjutan bagi para dokter di RSUD dr. Doris Sylvanus Palangkaraya. Pelatihan selama 2 hari tersebut diikuti oleh 35 orang dokter dan 25 orang tenaga kesehatan lain, di Aula 2 lantai 2 RSUD Dr. Doris Sylvanus Palangkaraya, yang dibuka resmi oleh PLT Direktur Bp. Ady Fatria, SKep Ners, dan dikoordinasikan oleh Dr. Anto Fernando Abel, sebagai Kasi Yanmed. Pada kesempatan itulah kami sempat bernostalgia dengan Dr. Yudi Ambeng, SpU Ketua Komite Medik dan dr. Nuch Sabunga, Sp. THT-KL, yang keduanya pernah bersama-sama kami saat bertugas di Kuala Kapuas pada tahun 2000.

Bersama PLT Direktur RSUD dr Doris Sylvanus Palangkaraya, Bapak Ady Fatria, SKep, Ners

Sejarah RSUD dr Doris Sylvanus dimulai pada tahun 1959 dengan adanya kegiatan klinik di rumah bapak Abdul Gapar Aden, Jl Suta Negara No 447 yang dikelolanya sendiri dibantu oleh isterinya , ibu Lamus Lamon. Nama dr. Doris Sylvanus diambil dari nama seorang dokter pertama asli Kalimantan Tengah. RSUD dr. Doris Sylvanus di Jalan Tambun Bungai, Pahandut, Palangkaraya, merupakan rumah sakit umum milik pemerintah daerah tipe B, yang saat ini sudah menjadi rumah sakit pendidikan, setelah Universitas Palangkaraya (UPR) membuka Fakultas Kedokteran (FK). RSUD Dr. Doris Sylvanus saat ini mampu memberikan pelayanan medis oleh dokter umum, spesialis, dan sub spesialis, serta ditunjang dengan fasilitas medis yang memadai, bahkan diproyeksikan menjadi rumah sakit rujukan untuk Kalimantan Tengah. Pelatihan internal OPPE ini diselenggarakan dalam koordinasi oleh Mitra Konsultan Yogyakarta di RS ini, dalam rangka menyiapkan diri menghadapi proses akreditasi RS pada bulan Desember 2023.

para dokter peserta pelatihan OPPE bersama PLT Direktur RSUD dr Doris Sylvanus Palangkaraya
bersama PLT Direktur RSUD dr Doris Sylvanus Palangkaraya dan para perawat peserta pelatihan OPPE

Setelah pelatihan OPPE hari pertama untuk segenap dokter dan tenaga kesehatan lainnya di RSUD dr Doris Sylvanus Palangkaraya selesai, kami punya waktu agak longgar. Selanjutnya kami menikmati cantiknya kota Palangka Raya, sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah. Kota ini memiliki luas wilayah 2.853,12 km² dan jumlah penduduk pada pertengahan tahun 2023 sebanyak 302.310 jiwa, dengan kepadatan penduduk rata-rata 110 jiwa/km². Secara administratif, Kota Palangka Raya terdiri atas 5 kecamatan, yakni: Pahandut, Jekan Raya, Bukit Batu, Sabangau, dan Rakumpit. Komposisi penduduk berdasarkan agama meliputi Islam adalah mayoritas 70,66%, Kristen 27,95%, terdiri dari protestan 25,96% dan katolik 1,99%. Ada juga Hindu Kaharingan 1,21% sebagai agama asli penduduk setempat dan Buddha 0,17%. Bahasa yang digunakan masyarakat adalah Indonesia, Dayak, dan Banjar dengan plat nomer kendaraan adalah KH

Kota ini dibangun pada tahun 1957 (UU Darurat No. 10/1957 tentang Pembentukan Daerah Swatantra Tingkat I Kalimantan Tengah) dari hutan belantara yang dibuka melalui Desa Pahandut di tepi Sungai Kahayan. Sebagian wilayahnya masih berupa hutan, termasuk hutan lindung, konservasi alam serta Hutan Lindung Tangkiling. Pada saat kota ini mulai dibangun, Presiden Soekarno merencanakan Palangkaraya sebagai ibu kota negara di masa depan, menggantikan Jakarta.

Menurut Staatsblad van Nederlandisch Indië tahun 1849, wilayah Dayak Besar termasuk daerah ini bagian dari dalam zuid-ooster-afdeeling berdasarkan Bêsluit van den Minister van Staat, Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie, pada 27 Agustus 1849, No. 8. Terbentuknya Provinsi Kalimantan Tengah melalui proses yang cukup panjang sehingga mencapai puncaknya pada tanggal 23 Mei 1957 dan dikuatkan dengan Undang-undang Darurat Nomor 10 tahun 1957, yaitu tentang Pembentukan Daerah Swatantra Tingkat I Kalimantan Tengah.

Pemasangan tiang pertama pembangunan Kota Palangka Raya dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia pada saat itu, Soekarno pada tanggal 17 Juli 1957 dengan ditandai peresmian Monumen atau Tugu Ibu Kota Provinsi Kalimantan Tengah di Pahandut. Monumen indah ini mempunyai beberapa makna. Pertama, angka 17 melambangkan hikmah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Kedua, tugu api berarti api yang tak kunjung padam, menggambarkan semangat kemerdekaan dan membangun secara terus menerus. Ketiga, pilar yang berjumlah 17 berarti banyak senjata untuk berperang. Keempat, segi Lima Bentuk Tugu melambangkan Pancasila mengandung makna Ketuhanan Yang Maha Esa.

Tugu Ibukota Propinsi Kalteng berjumlah 17 tiang di titik nol Palangkaraya, dengan Patung Soekarno di kejauhan

Bapak Tjilik Riwut sebagai Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah yang pertama, dilantik pada tanggal 23 Desember 1959 oleh Menteri Dalam Negeri.

Wacana pemindahan ibu kota atau pusat pemerintahan berkembang berulanga pada setiap masa pemerintahan. Dalam buku berjudul ‘Soekarno & Desain Rencana Ibu Kota RI di Palangkaraya’ karya Wijanarka disebutkan, dua kali Bung Karno mengunjungi Palangka Raya, Kalimantan Tengah — untuk melihat langsung potensi kota itu menjadi pusat pemerintahan. Wacana pemindahan ibu kota Indonesia ke Kota Palangka Raya juga pernah diungkapkan Presiden pertama RI Soekarno. Saat meresmikan Palangka Raya sebagai ibu kota Provinsi Kalteng pada 1957, Soekarno ingin merancang menjadi ibu kota negara.

Jembatan Kahayan yang bercahaya warna merah bersama sesama alumni SMA Kolese de Britto Yogyakarta (Alumni JB) chapter Kalteng di Palangkaraya


Setelah menikmati keindahaan kota, kami segera kembali ke hotel. Senin malam, 16 Oktober 2023 setelah selesai memberikan pelatihan OPPE hari pertama untuk para dokter di RSUD dr Doris Sylvanus, kami segera disambut teman-teman alumni SMA Kolese de Britto Yogyakarta (JB). Ada mas Hariatmoko JB 95, mas Fajar JB 99, mas Pasu JB 97 dan mas Eri JB 11 teman sekelas mas Yudhi, anak sulung kami. Kami semua langsung menuju Taman Pasuk Kameloh yang merupakan taman kota Palangka Raya yang letaknya di tepi Sungai Kahayan. Taman ini menjadi salah satu taman favorit bagi warga Palangka Raya untuk bersantai, meski ramai ketika menjelang sore hari.

Bergaya di titik nol Kota Palangkaraya bersama teman2 Alumni JB chapter Kalteng

Daya tarik taman ini adalah patung burung enggang yang menjadi ciri khas tersendiri dari taman ini. Burung Enggang merupakan salah satu hewan yang ikonik bagi kehidupan Suku Dayak. Burung ini memiliki makna sebagai satu tanda kedekatan masyarakat Dayak dengan alam sekitarnya. Taman ini merupakan spot foto menarik, karena posisi taman yang berada di bawah lengkungan panjang Jembatan Kahayan menuju Gunung Mas, sehingga akan memberikan keindahan lansekap tersendiri. Apalagi arsitektur taman dan bangunan didesain apik untuk menarik pengunjung.

jembatan Kahayan terlihat tinggi melengkung dari dalam Taman Pasuk Kameloh, Palangkaraya

Jembatan Kahayan yang berada persis di atas Taman Pasuk Kameloh membuat taman terlihat lebih indah, apalagi ada permainan lampu warna warni pada malam hari sepanjang lengkung baja jembatan tersebut.

Setelah puas berfoto bersama, malam itu kami segera menuju Bundaran Burung yang berlokasi di Jl. RTA Milono kilometer 5 Palangkaraya sangat terkenang, karena kami bertiga (anak kami yang sudah lahir baru si sulung, mas Yudhi) sempat foto di situ, sebelum berangkat penempatan di RSUD Kuala Kapuas tahun 2000.

Bundaran Burung Palangkaraya bersama mas Yudhistira (anak sulung) pada Kamis, 5 Januari 2000 sebelum berangkat ke Kuala Kapuas.

Tugu di bunderan ini menampilkan patung burung enggang atau bahasa lokal disebut burung tingang, sebagai ikon Kota Palangkaraya. Bundaran burung berada di persimpangan jalan arah ke Jl. Adonis Samad dan Jl. Soekarno, juga jalan menuju arah Kelurahan Kereng Bengkirai. Bundaran burung tampak menarik dan indah, karena di sekitarnya dibangun taman. Bahkan di dekat Bundaran Burung juga dibangun sebuah Masjid Besar yang diberinama Masjid Kubah Kecubung, dengan kubah berwarna ungu seperti bunga kecubung.

Bundaran Burung Palangkaraya dengan Masjid Kecubung dengan sesama Alumni JB chapter Kalteng

Setelah puas berfoto sesama manuk JB dan burung enggang, kami segera menuju ke markas Alumni JB chapter Kalteng, yaitu Bakmi Jogja dab Anjar di Bukit Tunggal, Jekan Raya, Palangka Raya. Mas Anjar JB 93 membuka usaha Bakmi Jawa di halaman rumahnya, yang menjadi titik kumpul alumni JB, termasuk saat menyiapkan baksos bertepatan dengan lustrum ke 15 SMA JB pada 23 Agustus 2023. Acara meriah tersebut dihadiri oleh Presiden Alumni JB, mas Alex Arab JB93.

tahta apostolik di dalam Katedral Santa Maria Palangkaraya
Penutupan pelatihan OPPE ditandai pemberian penghargaan dari PLT Direktur RSUD dr Doris Sylvanus Palangkaraya

Selasa, 17 Oktober 2023 adalah hari kedua (terakhir) pelatihan OPPE bagi para dokter di RSUD dr Doris Sylvanus Palangkaraya. Pelatihan ditutup secara resmi oleh PLT Direktur RSUD, dan dilanjutkan dengan foto dan makan siang bersama. Menu favorit siang itu adalah ikan patin dan sayur batang pohon kelapa sawit. Selanjutnya kami menikmati lagi suasana kota dengan mencicipi es durian, ketan hitam dan alpukat beraroma khas Kabupaten Katingan yang sangat menyolok indera dan mengundang selera. Dr. Theodorus Atmadja, MM, dokter senior dan mantan Wadir Pendidikan RSUD dr Doris Sylvanus Palangkaraya yang menjadi fasilitator kami menikmati durian yang luar biasa lezat, sebelum kami beristirahat siang di hotel.

Bersama segenap dokter peserta pelatihan OPPE di RSUD dr Doris Sylvanus Palangkaraya
Bersama Dr. Theodorus Atmadja dan Dr. Anto Fernando Abel menikmati es durian khas Katingan, dicampur ketan hitam dan alpukat yang menggugah selera, di RM Kampung Baru Palangkaraya

Selasa sore, 17 Oktober 2023 setelah bangun tidur siang, kami diajak minum teh sore oleh teman kuliah di FK UGM Yogyakarta, yaitu Dr. Sigit Riyarto, MKes. Kami berdua mengobrol di Night Waltz Coffee di Jl. RTA Milono, Menteng, Jekan Raya, Palangka Raya, menu cappuccino dan teh tarik, dilengkapi kentang goreng dan tahu genjrot. Saat ini beliau menjabat sebagai Direktur RS Siloam Palangka Raya (SHPR), yaitu RS yang didukung dengan alat medis yang lengkap, dokter yang handal dan professional di bidangnya, dengan tujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan dengan kualitas International, serta mengurangi angka rujukan pasien ke daerah lain. RS ini beralamat di jl. RTA. Milono KM. 4 No. 425, Langkai, Pahandut, Kota Palangka Raya. Setelah itu kami mengikuti acara makan malam penutupan acara pelatihan, didampingi Dr. Anto Fernando Abel di Chinese Restaurant Hotel M Bahalap di Jl. RTA Milono dan lanjut tidur nyenyak.

Ngeteh dan ngopi di Night Waltz Coffee di Jl. RTA Milono, Menteng, Jekan Raya, Palangka Raya bersama Dr. Sigit Riyarto, MKes, teman kuliah di FK UGM yang menjadi Direktur RS Siloam Palangkaraya
menikmati menu bebek peking bersama Dr. Anto Fernando Abel dan pak Ja’far di Chinese Restaurant Hotel M Bahalap di Jl. RTA Milono Palangkaraya

Rabu pagi, 18 Oktober 2023 setelah selesai mengikuti perayaan ekaristi di Katedral Santa Maria, kami berjalan kaki menikmati kegagahan patung Tjilik Riwut di Bunderan Besar Palangkaraya. Marsekal Pertama TNI-AU dari satuan elite Korps Pasukan Khas (Paskhas) Tjilik Riwut dengan bangga selalu menyatakan diri sebagai “orang hutan” karena lahir dan dibesarkan di belantara Kalimantan. Ketika masih belia, ia tiga kali mengelilingi pulau Kalimantan hanya dengan berjalan kaki serta menaiki perahu dan rakit. Setelah menamatkan pendidikan dasarnya di kota kelahirannya, selanjutnya melanjutkan pendidikannya di Sekolah Perawat di Purwakarta dan Bandung.

Monumen Tjilik Riwut di Bundaran Besar Palangkaraya

Tjilik Riwut adalah salah satu putra Dayak dari Suku Dayak Ngaju yang menjadi anggota KNIP. Perjalanan dan perjuangannya kemudian melampaui batas-batas kesukuan untuk menjadi salah satu pejuang bangsa. Penetapannya sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 108/TK/Tahun 1998 pada tanggal 6 November 1998 merupakan wujud penghargaan atas perjuangannya pada masa kemerdekaan dan pengabdiannya dalam membangun Kalimantan Tengah.

Mengenang rumah Tjilik Riwut di Palangkaraya yang telah menjadi cagar budaya

Setelah selesai menuntut ilmu di Pulau Jawa, Tjilik Riwut diterjunkan ke Kalimantan oleh Pangeran Muhammad Noor, Gubernur Borneo saat itu sebagai pelaksana misi Pemerintah Republik Indonesia yang baru saja terbentuk. Dengan menghubungi berbagai suku Dayak di berbagai pelosok Kalimantan untuk menyatukan kehendak suku Dayak, sekitar 185.000 rakyat yang terdiri dari 142 sub suku Dayak, 145 kepala kampung, 12 kepala adat, 3 panglima, 10 patih, dan 2 tumenggung dari pedalaman Kalimantan, yang bersumpah setia kepada pemerintah RI secara adat di hadapan Presiden Sukarno di Gedung Agung Yogyakarta pada 17 Desember 1946.

mampir rumah pribadi Pahlawan Nasional Tjilik Riwut di Palangkaraya

Selain itu, Tjilik Riwut telah berjasa memimpin pasukan MN 1001 yang berhasil melaksanakan operasi penerjunan pasukan payung pertama dalam sejarah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, pada tanggal 17 Oktober 1947. Tanggal ini seterusnya ditetapkan sebagai Hari Pasukan Khas TNI-AU. Waktu itu, pemerintah RI masih berada di Yogyakarta dan pangkat Tjilik Riwut adalah Mayor TNI.

Setelah perang usai, Tjilik Riwut aktif di pemerintahan dan menjadi Gubernur Kalimantan Tengah. Sebelumnya menjadi Wedana Sampit serta Bupati Kotawaringin, menjadi koordinator masyarakat suku-suku terasing untuk seluruh pedalaman Kalimantan, dan terakhir sebagai anggota DPR RI.

Tjilik Riwut juga seorang jurnalis yang mengasah keterampilan menulisnya semasa dia bergabung dengan Sanusi Pane di Harian Pembangunan. Tjilik Riwut telah menulis sejumlah buku mengenai Kalimantan yaitu: Makanan Dayak (1948), Sejarah Kalimantan (1952), Maneser Panatau Tatu Hiang (1965, stensilan, dalam bahasa Dayak Ngaju), dan Kalimantan Membangun (1979).

Pada hari Senin tanggal 17 Agustus 1987, yang bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI, Tjilik Riwut meninggal di usia 69 tahun setelah dirawat di Rumah Sakit Suaka Insan Banjarmasin, karena menderita penyakit liver atau hepatitis. Ia dikebumikan di Makam Pahlawan Sanaman Lampang, Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Namanya kini diabadikan untuk bandar udara yaitu Bandar Udara Tjilik Riwut dan jalan utama di Palangka Raya.

Setelah berswafoto dengan latar belakang patung Tjilik Riwut yang terlihat lebih pendek dan lebih gemuk dibandingkan fotonya, kami segera berjalan kaki menuju Tugu Soekarno. Monumen Tugu Soekarno merupakan salah satu tempat wisata bersejarah yang diresmikan oleh presiden RI pertama, Soekarno pada tanggal 17 Juli 1957. Tugu ini untuk menandai dimulainya pembangunan kota Palangka Raya.

Tugu Soekarno yang sedang direnovasi. Tetap nampak berwibawa dalam memberikan perintah.

Tugu Sukarno dibangun berbentuk tugu segi lima yang mengandung makna Ketuhanan yang Maha Esa, 17 pilar yang melambangkan hikmah proklamasi kemerdekaan RI dan senjata untuk berperang, sedangkan Tugu Api melambangkan api semangat yang tak kunjung padam, serta semangat kemerdekaan dan membangun.

Pada tahun 2020 yang lalu, Tugu Soekarno yang merupakan titik nol kota sudah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota Palangka Raya. Tugu Soekarno ini terletak di tepi sungai Kahayan, atau sungai Batang Biaju Besar, atau sungai Dayak Besar, atau Groote Daijak-rivier, atau Great Dajak, atau Great Dyacs. Sungai ini membelah kota Palangka Raya dan melintas di 3 kabupate kota, yaitu Kabupaten Gunung Mas, Kota Palangka Raya, dan Kabupaten Pulang Pisau. Sungai ini memiliki panjang lebih dari 600 km, merupakan salah satu sungai utama di Kalimantan Tengah berhulu di Pegunungan Muller, tepatnya di desa Tumbang Mahuroi, Kecamatan Damang Batu, Kabupaten Gunung Mas. Sungai ini bermuara ke Laut Jawa dan hilirnya berada di desa Sei Barunai dan Kiapak, Kecamatan Kahayan Kuala, Kabupaten Pulang Pisau.

di dermaga Rembang Palangkaraya, saat akan naik perahu speedboat menuju Kuala Kapuas Kamis, 5 Januari 2000. Saat ini angkutan penumpang melalui air menyusur Sungai Kahayan sudah tidak ada lagi.

Selanjutnya kami menikmati keindahkan Bundaran Besar berada tepat di jantung Kota Cantik Palangkaraya, tepatnya di depan Rumah Jabatan Gubernur Kalteng, samping Gedung DPRD yang kini berubah fungsi menjadi Gedung KONI, persis di hadapan Gedung Batang Garing Bussines Center dan Palangka Mall.

Rumah Jabatan Gubernur Kalimantan Tengah merupakan simbolisasi Pemerintahan, Gedung DPRD sebagai simbolisasi Suara Rakyat, Gedung Batang Garing Bussines Center adalah Simbolisasi Roda Ekonomi dan Palangka Mall wujud simbolisasi Hiburan Rakyat.

titik nol Palangkaraya menuju ke berbagai arah kota di Kalteng, dengan lengkungan Jembatan Kahayan

Bundaran Besar yang dibangun pada tahun 1957-1959 memiliki desain unik dan kaya makna. Presiden Sukarno sendiri yang membuat Desain Rencana Ibu Kota RI di Palangkaraya, dengan delapan jalan menyilang menuju monumen Bundaran Besar, dengan jari-jari Bundaran berukuran 2 X 45 Meter. Sedangkan jari-jari lingkar monumen berukuran 17 Meter.

Konsep tersebut merupakan simbolisasi Tanggal, Bulan dan Tahun kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Delapan jalan silang tersebut juga memiliki dua makna yaitu menyimbolkan posisi Kota Palangkaraya pada persimpangan delapan rumpun kepulauan yakni Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, Nusa Tenggara dan Irian Jaya, dan juga simbolisasi delapan sungai besar di Kalimantan Tengah yaitu Barito, Kapuas, Katingan, Mentaya, Seruyan, Kahayan, Arut dan Lamandau.

Rumah Adat Dayak yang gagah dan tinggi menjulang

Rabu siang, 18 Oktober 2023 adalah pencapaian kepuasan memori pribadi tentang Palangkaraya kota yang cantik. Terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu atas semua perannya dalam petualangan kali ini. Segera kami bergegas untuk kembali pulang ke Yogyakarta.

mampir pamit secara virrual kepada Dr. Sigit Riyarto, MKes Direktur RS Siloam Palangkaraya, yang sedang divisitasi oleh inspektorat Head Office, sebelum kembali ke Yogyakarta
siap meninggalkan Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya untuk kembali ke Yogyakarta

Sekian laporan petualangan ke Palangkaraya ini disusun, agar dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

Ditulis dan dikenang di kamar 319 Hotel Amaris Palangkaraya

Disebarkan dari depan gate 6 Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya, sambil menunggu pesawat Citilink menuju Jakarta

Rabu, 18 Oktober 2023

Categories
anak dokter Healthy Life Jalan-jalan UHC

2023 Menu Sehat Saat Menonton Pertandingan

Presiden Jokowi Tonton Langsung Pertandingan Indonesia Vs Argentina

MENU  SEHAT  SAAT  MENONTON  PERTANDINGAN

fx. wikan indrarto*)

Rangkuman tulisan ini telah dimuat di Harian Kedaulatan rakyat Yogyakarta pada hari Minggu, 8 Oktober 2023, di kolom Husada

.

Piala Dunia U-17 yang merupakan turnamen akbar level junior akan diikuti 24 negara pada 10 November-2 Desember 2023, di 4 stadion besar di Indonesia. Belajar dari Piala Dunia 2022 Qatar, perlu diciptakan menu dan lingkungan makanan yang lebih sehat di dalam dan sekitar stadion sepak bola. Apa yang perlu dicermati?

.

Pola makan yang sehat, aman, dan berkelanjutan penting bagi kesehatan, sehingga acara olahraga harus menjadi tempat yang ideal untuk memberi contoh dan mempromosikan pola makan sehat sebagai bagian dari gaya hidup sehat, juga bagi penonton anak. Tingginya visibilitas even besar sepakbola dan olahraga lainnya, merupakan peluang dan memiliki dampak yang lebih besar untuk menjangkau miliaran penggemar di seluruh dunia, sehingga perlu dimanfaatkan untuk menciptakan persepsi positif terhadap makanan dan minuman yang lebih sehat.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2023/01/07/2023-sepak-bola-dan-flu/

.

WHO telah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Masyarakat Qatar dan Fédération Internationale de Football Association (FIFA), untuk mendorong makanan yang lebih sehat di stadion selama Piala Dunia FIFA Qatar 2022. Kolaborasi ini memastikan bahwa lebih dari 30% menu yang disajikan pada acara penting waktu ini memiliki profil nutrisi sehat. Menu tersebut berguna untuk memerangi kelebihan berat badan atau obesitas, serta penyakit tidak menular terkait pola makan, dan untuk mendefinisikan kembali peran acara olahraga dalam upaya ini.

.

Perlu beberapa langkah untuk menciptakan lingkungan makanan yang lebih sehat pada konter penjualan di dalam dan sekitar stadion olahraga. Pertama, meningkatkan penawaran pangan sehat. Kedua, menetapkan harga sewa konter dengan memberi insentif pada pilihan makanan yang lebih sehat. Ketiga, mendorong mempromosikan pilihan makanan yang lebih sehat. Keempat, mengkomunikasikan dan mempromosikan makanan sehat dan pola makan sehat. Dan kelima, membatasi pemasaran makanan dan minuman tinggi lemak, gula atau garam.

.

Langkah tersebut dapat digunakan oleh pemerintah pusat, otoritas lokal, dan pengelola stadion olahraga untuk membuat kebijakan pengadaan dan layanan pangan publik yang sehat, di areal pertandingan olahraga. Langkah tersebut telah diterapkan selama Piala Dunia FIFA Qatar 2022. Waktu itu panitia penyelenggara menetapkan dan melaksanakan target penawaran makanan 30% lebih sehat sepanjang penyelanggaraan Piala Dunia 2022, karena makanan sehat adalah bagian penting dari pengalaman penonton yang dapat dilanjutkan dalam kesehariannya di rumah.

.

Menonton Indonesia vs Argentina Sambil Makan Es Krim Gratis

Mungkin tidak mudah untuk menerapkan kelima tindakan di atas secara cepat atau bersamaan. Panitia penyelenggara pertandingan olahraga memiliki peluang besar untuk menjadi penggerak terbentuknya makanan sehat pada acara olahraga. Melakukan langkah tersebut menjadi ‘win-win solution’ dengan menyediakan lebih banyak pilihan menu, meningkatkan kepuasan penonton, dan memenuhi tanggung jawab sosial untuk mempromosikan gaya hidup sehat. Kriteria makanan sehat pada saat pertandingan olahraga berperan dalam 3 hal. Pertama, mendorong asupan energi yang seimbang untuk mencegah kelebihan berat badan atau obesitas. Kedua, mendorong peningkatan konsumsi makanan sehat, seperti buah, sayur, bijian utuh, kacang, polongan, dan air putih untuk minum. Dan ketiga, membatasi asupan lemak, gula dan garam melalui profil nutrisi yang lebih sehat.

.

Asupan energi seimbang dan ambang batas maksimal telah ditetapkan, untuk mencegah asupan energi yang berlebihan. Tidak ada panduan WHO mengenai kandungan energi per makanan, namun WHO menyarankan untuk membatasi porsi dan kemasan ukuran, untuk mengurangi asupan energi, dan dengan demikian menekan risiko menjadi kelebihan berat badan atau obesitas. Meskipun kebutuhan energi harian bergantung pada faktor individu seperti usia dan tingkat aktivitas, namun demikian acuan asupan energi harian untuk masyarakat umum biasanya ditetapkan sebesar 2.000 kkal, yang mencakup semua makanan dan camilan. Oleh sebab itu, kandungan energi maksimum ditetapkan sebesar 700 kkal untuk makan dan 200 kkal untuk camilan.

.

WHO merekomendasikan konsumsi buah, sayur, bijian, kacang dan polongan, serta air untuk minum. Untuk buah dan sayur dianjurkan asupan harian minimal 400 g (yaitu lima porsi). WHO juga merekomendasikan penggunaan garam beryodium, dengan membatasi asupan lemak tidak sehat, gula dan garam.

.

Ambang batas profil gizi adalah kandungan energi ≤225 kkal/100 g, lemak total ≤8 g/100 g, lemak jenuh ≤3,5 g/100 g, lemak trans ≤1 g/100 g, lemak total dan ≤0,5 g per porsi, gula total ≤9 g/100 g dan garam ≤350 mg/100 g. Menu yang direkomendasikan meliputi makanan panas misalnya pizza, burger, shawarma, jollof, fatayer. Makanan dingin : salad segar, tabbouleh, sandwich, wraps, roti gulung, simit, ciabatta, burrito, dan gulungan sushi. Makanan ringan misalnya lumpia, stik sayur dengan saus. Makanan penutup misalnya buah dan yogurt, serta makanan ringan kemasan misalnya popcorn rendah garam, dan kacang tanpa garam. Sedangkan minuman yang dianjurkan adalah air minum gratis, air dengan rasa tanpa pemanis, susu skim atau susu rendah lemak.

.

Untuk mempromosikan pilihan menu, para penjaja makanan di stadion perlu meningkatkan proporsi buah dan sayur, atau kacang dan polong dalam makanan, yang bertujuan untuk mengurangi porsi atau kandungan lemak tidak sehat, gula dan garam. Misalnya, mengganti lauk kentang goreng dengan pilihan menu lain berbahan dasar sayuran, disertai mengurangi tambahan garam dan gula dalam bumbu. Perlu juga mewaspadai garam tersembunyi dalam soda kue, dan gula bebas yang tersembunyi dalam buah campur dan jus. Untuk meningkatan rasa dan aroma makanan dapat diperoleh dari tumbuhan dan rempah, jus lemon dan sumber alami lainnya, misalnya jamur. Selain itu, juga perlu mengurangi jumlah bumbu berlemak, saus manis atau asin yang ditambahkan atau disediakan sebagai menu pilihan, tetapi justru meningkatkan camilan panggang yang lebih sehat.

Juga minimalkan penggunaan bahan makanan tinggi lemak tidak sehat, gula atau garam, dengan menggunakan minyak sawit sebagai pengganti mentega atau margarin keras. Juga menggunakan tepung gandum sebagai pengganti tepung putih untuk roti dan makanan yang dipanggang, menggunakan produk susu rendah lemak dan sedikit pemanis dalam makanan penutup, dan mengunakan daging tanpa lemak, ikan, dan unggas sebagai pengganti produk daging olahan atau potongan daging berlemak.

.

Selain itu, juga menghindari proses menggoreng, misalnya mengganti hot dog, kentang goreng, dan menu serupa dengan pilihan yang mencakup sayuran, kacang atau bijian. Gantikan makanan penutup yang manis atau berlemak dengan buah segar atau pilihan sehat yang rendah gula dan lemak. Juga mengganti camilan asin dengan sayur stik atau kacang tanpa garam.

.

Berikut adalah beberapa contoh camilan sehat untuk disantap sambil menonton pertandingan sepakbola, juga untuk anak. Misalnya chicken strips tanpa tulang, salad buah, salad sayur, kacang kulit garing, kripik singkong, pisang sea atau rebus, lumpia, bakwan, perkedel kentang, tahu, cokelat, pizza mie pedas, popcorn rasa pedas, atau salmon mentai.

Marilah kita menyiapkan diri menonton Piala Dunia U-17 dengan menu makan dan minum yang sehat di stadion dan sekitarnya. Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 13 September 2023

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM.

Categories
dokter Healthy Life Jalan-jalan medicolegal

2023 Komitmen Satu IDI

Beda Perkumpulan Dokter Seluruh Indonesia (PDSI) Vs Ikatan Dokter Indonesia  (IDI)

KOMITMEN SATU  IDI

fx. wikan indrarto*)

Para dokter pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan utusan IDI Cabang se DIY, diundang untuk hadir dalam sebuah pertemuan khusus, yang diberangkatkan sesuai dengan kelompok umur dalam 2 buah bis ukuran medium, selain beberapa mobil pribadi. Kami pribadi masuk kelompok 1 yang disebut senior untuk segera naik bis. Bis kami adalah sebuah Mercedes Benz OF 917 yang unik karena menggunakan mesin 4D34 series buatan Mitsubishi, karena saham Mitsubishi Truck and Bus sebagian besar dimiliki oleh Daimler yang juga pemilik Mercedes-Benz. Bis ini menggunakan mesin diesel turbo intercooler yang mampu mengeluarkan tenaga maksimal 170 ps dan torsi maksimal 520 nm, yang disalurkan via transmisi manual 6 percepatan, sehingga kami santai saja saat bis menanjak menuju Ngablak, Kabupaten Magelang yang terletak di dataran tinggi dengan ketinggian rata-rata 1.370 mdpl dan dikeliling Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo dan Gunung Andong. Bis dengan mesin depan buatan tahun 2019 AB 7304 BK milik PO. Gege Transport, berbalut body Jetbus MD3+ buatan karoseri Adi Putro Malang, tampil gagah dengan kabin wangi, dingin dan senyap, melaju dengan diantar oleh Seven Six Tour.

Kedua bis medium Mercedes-Benz yang gagah telah parkir di Omah Kembang, Ngablak, Magelang yang berundak terasering dan mempesona
Sunset di Omah Kembang , Ngablak, Magelang dengan Gunung Andong di kejauhan

Pertemuan khusus tersebut adalah Penggalangan Komitmen  IDI Wilayah DIY dengan tema : bersama untuk maju dan menjadi lebih baik, diselenggarakan di Omah Kembang, Ngablak, Magelang Jawa Tengah pada Sabtu, 19 Agustus 2023. Setelah menjalani perjalanan mengasyikkan dengan alunan suara karaoke yang merdu penuh cengkok dari dr. Dewi Irawati, MKes dan dr. Wisni Anggrieni, M. Biomed (AAM), termasuk lagu hit ‘Nemen’ dan ‘Rungkad’ di tengah kepadatan arus lalu lintas, kami segera mendarat di lokasi dan mengambil posisi untuk membuat foto indah berlatar matahari yang akan tidur dalam sunset, dibuai panorama alam indah yang dikelilingi oleh Gunung Telomoyo di kanan dan Gunung Andong di kiri. Setelah beristirahat sejenak di kamar, menikmati wellcome drink jahe hangat, dan sholat magrib, kami segera berkumpul di aula yang atapnya tinggi menjulang, disangga pilar besar serupa Pathenon dalam mitologi Yunani, yang bercat putih dan nampak berwibawa.

Setelah sesi makan malam bersama, acara resmi dimulai dengan berdoa bersama menurut agama masing-masing peserta, menyanyikan langsung lagu Indonesia Raya yang menggetarkan jiwa, Hymne IDI yang anggun dan Mars IDI yang penuh semangat, meski perangkat audio ngadat. Pengantar acara dan pemaparan hasil survei tentang harapan para dokter di DIY terhadap pengurus IDI, disampaikan oleh Dr. Joko Murdiyanto, SpAn, MKes, FISQua, sebagai Ketua Umum IDI Wilayah DIY. Meskipun mayoritas jawaban survei adalah kepercayaan yang baik, dukungan positif dan harapan yang terjaga akan IDI, tetapi analisis lebih lanjut tentang persebaran karakteristik dokter pengisi survei perlu dilakukan, karena suara para dokter yang tidak aktif dalam orgaisasi IDI tentu lebih berbunyi.

Acara resmi dilanjutkan sambutan oleh Dr. dr. M. Adib Khomaidi, SpOT Ketua Umum PB IDI di Jakarta melalui aplikasi Zoom, yang menjelaskan tentang visi IDI Reborn. Menyusul disetujuinya UU Kesehatan Omnibuslaw, maka segenap pengurus dan anggota IDI diharapkan mawas diri dan memperbaiki kekurangan yang masih ada, agar marwah organisasi profesi dokter tetap dapat dijaga baik dan bermanfaat bagi sesama.

Segenap peserta acara dengan Dr. Agung Kristianto alumnus FK UGM 95, jongkok paling kiri, sebagai motivator yang seorang dokter

Malam semakin dingin menggigit tulang, karena angin gunung berhembus menurunkan suhu sampai 16 derajat, saat kami masuk sesi utama penggalangan komitmen. Didampingi Dr. Agung Kristianto alumnus FK UGM 95 yang menjadi motivator handal dalam merumuskan langkah konkrit yang terjangkau, untuk mewujudkan visi IDI Reborn di tingkat Wilayah DIY. Dengan dibagi menjadi 5 kelompok dengan sebutan paru, tangan, mata, usus, dan otak yang masing-masing kelompok memiliki yel-yel, ketua suku, juru bicara dan juru foto dokumentasi sendiri-sendiri, para peserta wajib menjawab 4 buah pertanyaan refleksi tentang IDI, terkait terbitnya UU Kesehatan Omnibuslaw. Yaitu apa yang sekarang dirasakan, posisi IDI yang sedang dialami dalam roda kehidupan, harapan ke depan yang visioner, dan rencana aksi nyata yang terdekat, terjangkau dan terukur. Model pembagian kelompok, jawaban setiap peserta yang wajib ditulis dan ditempelkan di kertas kerja kelompok, adalah metode sangat cepat, tepat dan ideal, karena mampu melibatkan setiap peserta, tanpa kecuali. Sasaran kerja pengurus IDI Wilayah DIY adalah para dokter anggota berdasarkan kelompok umur menjadi calon anggota, pra mapan, mapan dan paska mapan. Sebuah pembagian kelompok sasaran program kerja yang bersifat baru, genuine, deduktif, dan rasanya selama ini belum pernah dilakukan.

Kelompok ‘tangan’ yang berdiskusi cepat, lugas, dan terus terang, saat menjawab pertanyaan refleksi oleh motivator handal, Dr. Agung Kristianto

Dengan diselingi sesi ‘games’ pemecah kebekuan yang penuh sanksi bagi peserta yang kurang berkonsentrasi, juga foto segenap peserta dalam berbagai gaya, maka rangkuman hasil refleksi berkelompok segenap peserta tanpa kecuali, telah dirumuskan dan diserahkan kepada pengurus IDI Wilayah DIY. Sebagai penutup acara, Dr. dr. HM Sagiran, MKes, SpB-KL merumuskan rangkuman sebagai simpul pertemuan malam itu, yang dapat dibawa pulang oleh peserta. Semua hal yang dilakukan oleh para pengurus IDI, baik saat bekerja dengan tekun maupun bermain dengan riang, seharusnya menjadi ibadah kepada Tuhan kita Yang Maha Besar.

Dr. dr. HM Sagiran, MKes, SpB-KL merumuskan rangkuman yang ‘mbundeli’.

Setelah acara resmi ditutup menjelang tengah malam yang dingin menyayat, segera dilanjutkan acara pribadi sampai larut malam. Di kamar masing-masing ada peserta yang langsung dapat tertidur pulas, masih mengobrol serius, atau bahkan ada yang kurang nyenyak tidur, sebagai dampak suara dengkuran peserta lain yang saling bersautan mencapai 85 dB, bahkan ada juga senior yang mengalami ‘sleep apneu’ saat tidur terlentang. Terdapat 3 pasangan peserta yang hadir dari total 76 dokter pserta, yaitu yang paling senior adalah Prof. dr. Abdul Salam Sofro, MSc, PhD, yang tengah adalah Dr. dr. HM Sagiran, MKes, SpB-KL, yang memainkan peran kunci acara ini Dr. dr. M. Rosadi Seswandhana, Sp.B, Sp. BP-RE(K), ketiganya terlelap di kamar bentuk villa, dan yang paling berbahagia mengalahkan semua yang hadir karena tingginya semangat, tentu saja pasangan hebat dr. Agung Widianto, SpB-KBD yang akhirnya terkapar di kamar bentuk glamping.

Minggu, 20 Agustus 2023 dini hari suhu lingkungan mencapai titik terendah, yaitu 14 derajat. Segera aktivitas pagi dimulai, baik dengan jogging ataupun jalan kaki menyusuri alam sambil belanja sayuran segar dari petani setempat. Yang paling heboh adalah selfi dengan suasana kemerdekanaan RI dengan banyaknya umbul-umbul dan bendera Merah Putih di sepanjang jalan. Dalam sesi obrolan menjelang sarapan, muncul beberapa poin penting yang dapat dikerjakan pengurus IDI dalam waktu dekat, yaitu sistem mentoring, iuran bukan tunggal, ketrampilan mendengarkan dan mengedukasi, kemudahan bagi dokter diaspora, pengurangan porsi ranah pendidikan dalam P2KB, serta aturan turunan untuk SIP Dokter yang perlu diperjuangkan.

.

Sistem mentoring sebaiknya diperkenalkan untuk menularkan ketrampilan dari dokter mapan atau senior kepada dokter pra mapan atau yunior, seharusnya tidak sekedar dalam aspek mutu, etika, ilmiah dan iptekdok yang selama ini sudah berjalan dan tidak perlu ditingkatkan, tetapi juga dalam aspek seluk beluk kehidupan dokter yang lebih luas, termasuk karier, pendidikan lanjutan dan minat. Seirama dengan hal itu, perlu juga diberlakukan regulasi baru iuran anggota IDI, yang sebaiknya tidak memiliki besaran nominal tunggal, karena sering kali memberatkan bagi para dokter pra mapan atau pemula.

.

Belajar dari tingginya penyebab kurang memadainya komuniasi dokter, sebagai faktor penting terjadinya keluhan pasien, sengketa dokter dan pasien, bahkan tuduhan malpraktek medis, maka ketrampilan mendengarkan keluhan pasien dan mengedukasi pasien, terutama pada saat pasien diharapkan akan menyetujui tindakan medis penting dalam bentuk ‘informed consent’, dipandang sangat perlu dilatihkan oleh para dokter senior. Terkait dengan sulitnya dokter WNI tamatan FK luar negeri untuk berkarier di Indonesia, karena proses adaptasi yang rumit, berbelit dan sulit, ada baiknya dicetuskan program internship dokter diaspora, sebagai pengganti adaptasi. Program ini tentu jauh lebih terjangkau, semakin singkat, tambah pasti dan menyenangkan.

.

Poin penting lainnya adalah pengurangan bobot ranah pendidikan dalam P2KB yang saat ini setara dengan ranah professional, tentu banyak ditunggu oleh para dokter yang selama ini suaranya terkunci. Juga peran pengurus IDI dalam mengawal terbitnya aturan turunan dari UU Kesehatan Omnibuslaw, khususnya dalam regulasi penerbitan SIP (Surat Ijin Praktek) Dokter oleh dinas kesehatan tingkat 2 di manapun. Persyaratan rekomendasi IDI untuk terbitnya SIP yang sudah dianulir, sebaiknya diperjuangkan untuk diganti menjadi persyaratan rekredensialing dokter, oleh dinas kesehatan yang wajib melibatkan IDI.

.

Setelah sarapan pagi yang mengenyangkan, sebagain kecil para peserta pamit mundur melanjutkan agenda mingguannya pribadi. Sebagain besar peserta, baik dalam 2 buah bis medium dan 8 buah mobil pribadi, melanjutkan petualangan ke Gunung Telomoyo yang terletak di perbatasan wilayah Kabupaten Semarang dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Gunung ini memiliki ketinggian 1.894 mdpl dan merupakan gunung api yang berbentuk strato (kerucut), tetapi belum pernah tercatat meletus dalam koleksi data geologis Pemerintah Hindia Belanda. Gunung Telomoyo diapit oleh Gunung Merbabu, Gunung Andong, Gunung Sumbing, dan Gunung Ungaran, yang secara alamiah terbentuk dari sisi selatan Gunung Soropati, yang telah tererosi dan runtuh sejak masa Pleistosen. Akibat runtuhan ini, terbentuk cekungan berbentuk U yang membuka ke arah tenggara. Gunung Telomoyo muncul di sebelah selatan depresi ini, setinggi 600 m dari dasar cekungan, yang membuatnya enak dipandang dari kejauhan.

.

Terdapat 2 jalur untuk mendaki di Gunung Telomoyo, pertama lewat Pos Dalangan Desa Pandean, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, dan kedua lewat Sepakung, Banyubiru, Kabupaten Semarang. Kami segera bergegas menuju terminal akhir kendaraan pribadi, di desa Pandean yang tertata rapi, asri dan bersih. Setelah diambil gambar dan video peserta dalam arahan ‘guide Seven Six Tour’, kami segera berpencar naik ke atas jeep masing-masing, untuk memulai pendakian. Kalau wisata di Gunung Bromo menggunakan Jeep Toyota Land Cruiser Hard Top, di Gunung Merapi menggunakan Jeep Willys peninggalan Perang Dunia II dan di areal Candi Borobudur menggunakan semi jeep VW Safari, maka di Telomoyo menggunakan jeep keluaran pabrikan Daihatsu, baik Feroza, Rocky, Hi-Line, maupuan Taft. Kami berkesempatan naik jeep Daihatsu keluaran tahun 1988 atau generasi ketiga dari Taft yang diberi kode F75. Mobil itu kemudian lebih populer dengan sebutan jeep Taft Rocky generasi pertama, sebuah SUV boxy dengan atap removable terbuat dari resin dan menggunakan mesin diesel DL42, memiliki kubikasi 2.765 cc dengan transmisi empat percepatan. Mesin Taft Rocky tersebut sudah menggunakan timing belt sebagai penggerak katup dan injeksi rotari. Dr. Kuncoro dari Cabang Gunung Kidul dan Dr. Surya Pidada dari BHP2A adalah teman seperjalanan yang asyik menikmati petualangan ini.

Kami bertiga (dengan Dr. Kuncoro dan Dr. Surya Pidada) siap ikut Jeep Anventure Daihatsu Rocky 1987 dalam pendakian Telomoyo Explore

Berbeda dengan kebanyakan gunung dimana kita harus bersusah-susah mendaki untuk dapat sampai di puncaknya, di Gunung Telomoyo kita tidak perlu menguras tenaga dengan berjalan kaki, karena sudah terdapat jalan beraspal dari bawah hingga puncak. Walaupun jalannya sudah berupa aspal, tetapi ada beberapa bagian jalan di wilayah Kabupaten Magelang yang sedikit rusak, namun inilah tantangan yang membuat pendakian kami naik jeep semakin seru. Jalan aspal menuju puncak Gunung Telomoyo cukup menanjak dengan jalur yang sempit, berliku, tikungan dan tanjakan tajam dengan banyak sekali pesepeda motor yang berwisata, sehingga perjalanan cukup sering berhenti untuk berbagi jalan. Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan alam kawasan Kota Salatiga, Kabupaten Magelang dan Semarang yang terlihat mengagumkan, di sela-sela awan yang terkoyak.

.

Perjalanan ke puncak Gunung Telomoyo membutuhkan waktu sekitar 30 menit sampai ke stasiun Telkom, melewati landasan paralayang yang menjadi spot foto paling populer dan favorit di jalur pendakian Gunung Telomoyo, yang setiap hari libur sangat padat pengunjung. Setelah puas berfoto dan direkam video di puncak Gunung Telomoyo yang dilengkapi dengan penyalaan suar beraneka warna, termasuk warna coklat dan biru yang melumuri segenap wajah ganteng Dr. Desi Arijadi yang justru semakin merata saat dibasuh dengan air mineral,  kami segera turun. Setelah makan siang menu ikan nila goreng, tempe garit, tahu bacem, sayur asem, jahe panas dan pisang tandan segar di Griya Dahar Sere Wangi Pandean, Ngablak, Kabupaten Magelang, kami segera berpisah arah. Rombongan peserta generasi milenial melanjutkan perjalanan wisata ke Kopeng, sedangkan kami dari generasi lansia segera kembali ke Yogyakarta.

Taman Langit pada puncak Gunung Telomoyo dengan ketinggian 1.370 mdpl yang menuh menara telekomunikasi tinggi menjulang
Menu makan siang dengan pisang tandan segar di Griya Dahar Sere Wangi Pandean, Ngablak, Kabupaten Magelang,

Penggalangan komitmen segenap pengurus IDI Wilayah DIY dengan tema : bersama untuk maju dan menjadi lebih baik, merupakan reposisi setelah mawas diri atas sikap IDI yang pernah terlanjur ‘kemajon’. Pada acara tersebut telah menyatukan tekat dalam aksi nyata dalam waktu dekat, dengan lebih peka, tidak pecah, dan tetap hanya ada 1 organisasi profesi dokter Indonesia, yaitu IDI. Semoga berhasil dengan baik.

Sekian dan terimakasih

*) anggota MKEK IDI Wilayah DIY, NPA IDI : 1401.32378, dan penggemar bis.

Categories
Healthy Life Istanbul Jalan-jalan

2023 Terkabul ke Istanbul (terakhir)

TERKABUL  KE  ISTANBUL (hari terakhir)

fx. wikan indrarto & b. sari prasetyati

Setelah menembus Efesus, kami segera mengikuti International Conference on Medical & Health Science 2023, untuk Selasa dan Rabu, 6 dan 7 Juni 2023 di Uranus Istanbul Topkapi, Zeytinburnu, Turkey, sebelum mengakhiri petualangan di Istanbul yang menawan.

Pembicara konferensi yang cukup menarik untuk diingat antara lain adalah Dr. Jewel Ahmed Chowdhury (CEO at Bangladesh Medical Science Dhaka, Bangladesh) yang mengupas neuroscience untuk masyarakat dari negara terbelakang, Prof. Adelinda Araújo Candeias (School of Health and Human Development at Universidade de Évora Évora, Portugal) yang mengapas pentingnya pendekatan layanan ibu hamil untuk meningkatkan kualitas hidup bayi prematur di kawasan miskin perkotaan. Juga Dr. Nasir Mustafa (Assistant Professor Pathology Anatomy at Istanbul Gelisim University, Istanbul, Turkey) yang menjelaskan peran pemeriksaan patologi anatomi dalam memperbaiki luaran kemoterapi pasien anak dengan kanker solid dan Prof. Mohamed M Maie (CEO at Malaq Maye Ltd Mogadishu, Somalia) yang menguraikan peran jaminan kesehatan sosial di fasilitas kesehatan non pemerintah di negara berkembang.

Setelah sesi istirahat seminar, kami segera bergegas melanjutkan petualangan menikmati selat Bosporus yang memisahkan Turki bagian Eropa dan bagian Asia, menghubungkan Laut Marmara dengan Laut Hitam. Selat ini memiliki panjang 30 km, dengan lebar maksimum 3.700 meter pada bagian utara, dan minimum 750 meter antara Anadoluhisarı dan Rumelihisarı. Kedalamannya bervariasi antara 36 sampai 124 meter.

Jembatan Bosporus yang memiliki panjang 1.074 meter dan diselesaikan pada 1973 dan disebut juga sebagai Jembatan Martir 15 Juli.
Kapal pesiar untuk wisata penyebarangan yang bersandar di tepi selat Bosporus

Saat ini terdapat 3 buah jembatan utama yang menyebrangi Selat Bosporus, yang pertama adalah Jembatan Bosporus yang memiliki panjang 1.074 meter dan diselesaikan pada 1973 dan disebut juga sebagai Jembatan Martir 15 Juli. Yang kedua, Jembatan Fatih Sultan Mehmet dengan panjang 1.090 meter dan diselesaikan pada 1988 sekitar 5 km sebelah utara jembatan pertama. Sejak bulan April 2007, sistem pencahayaan LED yang sepenuhnya terkomputerisasi dengan warna dan pola yang berubah, dikembangkan oleh Philips, menerangi jembatan ini pada malam hari. Jembatan Yavuz Sultan Selim, juga disebut Jembatan Bosporus Ketiga adalah sebuah proyek untuk membangun sebuah jembatan untuk kendaraan bermotor dan kereta di sepanjang Bosporus, di sebelah utara dua jembatan yang telah ada. Jembatan tersebut berada di antara Garipçe di Sarıyer di sisi Eropa dan Poyrazköy di Beykoz di sisi Asia yang mulai dibangun pada 29 Mei 2013. Kami melihat ketiga jembatan tersebut secara bergantian, dengan menggunakan taksi kuning dan diselingi berjalan kaki menyusuri selat Bosphorus, melihat banyak kapal bersandar, warga yang berolahraga lari, bersepda atau berjalan kaki, juga memancing di dekat jembatan pertama.

Sepanjang sisi selat Bosporus dilengkapi beteng pertahanan yang tinggi megah dan aman dari serangan musuh
Pemandangan lansekap Istanbul terdiri dari kubah masjid, selat Bosphorus yang banyak kapal yang lalu lalang dan burung camar

Setelah puas menikmati ciri khas Istanbul, yaitu pemandangan lansekap kubah banyak masjid, selat Bosphorus yang tenang dengan banyak kapal yang lalu lalang dan burung camar yang selalu terbang rendah, kami segera menikmati kemegahan Istana Topkapı yang merupakan kediaman resmi Sultan Utsmaniyah selama lebih dari 600 tahun (1465-1856). Pembangunan istana ini dimulai pada tahun 1459 atas perintah Sultan Mehmed II atau Sultan Mehmed Sang Penakluk. Kompleks istana terdiri dari empat lapangan utama dan banyak bangunan-bangunan kecil. Pada puncaknya, istana ini dihuni oleh 4.000 orang. Selain sebagai tempat tinggal kerajaan, istana digunakan untuk acara-acara kenegaraan dan hiburan kerajaan. Sekarang menjadi daya tarik wisata dan berisi peninggalan suci penting dari dunia Muslim, termasuk pedang dan jubah Nabi Muhammad.

Papan nama di gerbang depan Hagia Sophia sebagai Masjid Agung Istanbul
Sisi belakang Hagia Sophia yang berhadapan dengan Istana Topkapi di Istanbul

Istana yang terletak di atas lahan seluas kurang lebih 700.000 m² pada tahun-tahun pendiriannya, sekarang tinggal menjadi seluas 80.000 m². Kemegahan Istana Topkapi memudar pada akhir abad ke-17 karena pada tahun 1856, Sultan Abd-ul-Mejid I memindahkan kediamannya ke Istana Dolmabahçe. Setelah jatuhnya Utsmaniyah pada tahun 1921, Istana ini dijadikan museum berdasarkan dekret pemerintah tanggal 3 April 1924. Istana ini merupakan bagian dari “Wilayah Bersejarah Istanbul”, yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO. Selain itu, Istanbul juga dikenal dengan julukan Kota Segala Kota, karena di masa lampau, Istanbul telah menorehkan sejarah sebagai kota, sekaligus pusat peradaban dunia.

Gerbang utama Istana Topkapı yang dijaga Tentara Nasional Turki bersennjata laras panjang, dahulu istana ini merupakan kediaman resmi Sultan Utsmaniyah selama lebih dari 600 tahun (1465-1856).
Ruang pejaga di halaman depan Istana Topkapi yang dibangun pada tahun 1459 atas perintah Sultan Mehmed II atau Sultan Mehmed Sang Penakluk Konstantinopel

Selanjutnya dengan berjalan kaki menyeberang jalur tram T1, kami mengunjungi Basilica Cistern (Yerebatan Sarnıcı) atau “Istana Bawah Tanah”) yang terbesar dari beberapa ratus waduk atau tangki air kuno yang terletak di bawah kota Istanbul, Turki. Tangki air ini terletak 150 meter barat daya Hagia Sophia di semenanjung bersejarah Sarayburnu, dibangun pada abad ke-6 pada masa pemerintahan Kaisar Bizantium Justinian I. Pada hari ini hanya disimpan dengan sedikit air, untuk akses publik di dalam ruang.

Tangki bawah tanah ini disebut Basilika, seperti sebutan untuk sebuah gereja yang sangat besar, karena terletak di bawah alun-alun umum yang besar, Basilika Stoa, di Bukit Pertama Konstantinopel. Basilika itu dibangun selama Zaman Romawi Awal antara abad ke-3 dan ke-4 sebagai pusat komersial, hukum dan seni. Basilika dibangun kembali oleh Kaisar Illus setelah kebakaran pada tahun 476. Basilika juga berisi taman yang dikelilingi barisan tiang yang menghadap ke Hagia Sophia. Kaisar Konstantinus mulai membangunnya yang kemudian diperbesar oleh Kaisar Justinianus setelah kerusuhan Nika tahun 532, dengan 7.000 budak terlibat dalam pembangunan waduk. Waduk yang diperbesar menyediakan sistem penyaringan air untuk kebutuhan Istana Agung Konstantinopel sampai kepada keluarga Sultan di Istana Topkapi setelah penaklukan Utsmaniyah pada tahun 1453 hingga zaman modern.

Basilica Cistern (Yerebatan Sarnıcı) atau “Istana Bawah Tanah”) yang terbesar dari beberapa ratus waduk atau tangki air kuno yang terletak di bawah kota Istanbul.
Belanja pisang segar di pasar dekat hotel, sebelum pulang ke Indonesia

Keberadaan waduk tersebut akhirnya dilupakan oleh banyak orang kecuali penduduk setempat yang masih menimba air hingga, pada tahun 1565, musafir Prancis Petrus Gyllius meninggalkan catatan perjalanan sedang mendayung di antara tiang-tiang dan melihat ikan berenang di air di bawah perahu. Renovasi telah dilakukan pada waduk bawah tanah megah yang berasal dari abad ke-6 ini, yang juga disebut Istana Sunken, berupa waduk terbesar dari era Bizantium Istanbul yang ada sampai saat ini. Lokasi ini menjadi lebih dikenali berkat penggemar James Bond pada film, ‘From Russia with Love’ yang mengambil gambar di situ. Ruang bawah tanah memiliki lebih dari 330 kolom marmer dan granit, yang paling terkenal adalah dua kepala Medusa. Ini merupakan situs yang wajib dikunjungi karena pemandangan yang ikonik seperti Hagia Sophia dan Istana Topkapi dalam tur Istanbul.

Setelah belanja pisang di pasar dekat hotel, makan siang dan check out Sultanahmet Inn Hotel, Kucukayasofya mahallesi, Akburcak sokak, no 23, Istanbul, Turkey, kami segera menuju Bandara Istanbul yang terletak di distrik Arnavutköy di sisi Eropa kota, sebagai pengganti dari Bandara Atatürk mulai 6 April 2019. Bandara ini melayani lebih dari 64 juta penumpang pertahun dan menjadikannya bandara tersibuk di Eropa dan bandara tersibuk ke-7 di dunia dalam hal total lalu lintas penumpang. Selain itu, dengan melayani lebih dari 48 juta penumpang internasional, bandara ini menjadi yang tersibuk ke-5 di dunia dalam hal lalu lintas penumpang internasional menurut nilai lalu lintas ACI World.

Pintu masuk penumpang Bandara Istanbul yang melayani lebih dari 64 juta penumpang pertahun, baik domestik maupun internasional 
Bandara Istanbul, Turki sebagai peraih Readers’ Choice Awards mengambil mahkota posisi pertama dari Bandara Changi Singapura tahun 2022.

Karena Bandara Atatürk dikepung oleh kota di tiga sisi dan laut Marmara di sisi lain, bandara tersebut tidak dapat berkembang untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat. Diputuskan untuk membangun bandara baru yang jauh dari pusat kota Istanbul. Bandara ini memiliki kapasitas untuk melayani 200 juta penumpang per tahun dan menjadikannya bandara terbesar di dunia. Biaya proyek diperkirakan €7 miliar, tanpa memperhitungkan biaya pembiayaan. Perusahaan Arsitek Grimshaw yang berbasis di London memimpin tim desain, yang sebagian besar terdiri dari arsitek Inggris. Dibantu Arsitek Haptic yang berbasis di Norwegia dan arsitek Turki Fonksiyon dan TAM/Kiklop. Peresmian bandara berlangsung pada 29 Oktober 2018 dengan menara pengawas berbentuk bunga nasional Turki, tulip.

Bandara Istanbul Turki ini dipilih sebagai bandara terbaik sedunia tahun 2022 oleh pembaca Conde Nast Traveler, sebuah majalah perjalanan dan gaya hidup mewah yang berbasis di New York dan London. Dalam survei tahunan Readers’ Choice Awards dari majalah tersebut, Bandara Istanbul mengambil mahkota posisi pertama dari Bandara Changi Singapura, yang menempati posisi kedua. Kami merasakan keramahan petugas bandara, kenyamanan berjalan kaki dan mengisi waktu saat menunggu esawat dan transit, dalam suasana yang akrab karena saling berdekatan.

Kami segera mencari Pintu A2 untuk boarding pk. 19 menggunakan EK 122 Boeing 777 ER Emirates yang akan membawa kami meninggalkan Istanbul, Turki kembali ke Indonesia tercinta. Disampaikan banyak terimakasih kepada segenap pihak, yang tidak dapat kami sebutkan satu demi satu, karena telah mendukung sepenuhnya dan membaca selengkapnya petualangan ‘Terkabul ke Istanbul’ ini.

Sekian, terimakasih dan sampai bertemu kembali dalam petuangan selanjutnya. Berkah Dalem.

Ditulis di ruang tunggu A2 Bandara Istanbul, Turki sambil leyeh-leyeh kelelahan dan disebarkan dari Terminal 3 Bandara Dubai, UEA.

Categories
Healthy Life Istanbul Jalan-jalan

2023 Menembus Efesus

TERKABUL  KE  ISTANBUL (2)

MENEMBUS  EFESUS
fx. wikan indrarto & b. sari prasetyati

Setelah melakukan registrasi peserta di International Conference on Medical & Health Science 2023, untuk Selasa dan Rabu, 6 dan 7 Juni 2023 di Uranus Istanbul Topkapi, Zeytinburnu, Turkey, kami segera melanjutkan petualangan ke Efesus, sehari sebelum acara.

Senin malam, 5 Juni 2023 kami segera bergegas menuju ke Terminal Bus Esenler (Esenler Otogarı), yang merupakan terminal bus sentral dan terbesar untuk layanan bus antarkota di Istanbul, Turki. Terminal bertingkat ini menampung rata-rata sekitar 15.000 bus, 600.000 penumpang per hari, dengan sekitar 5.000 orang pegawai terminal. Terminal ini terletak di sisi Eropa İstanbul, seluas 242.000 m2 yang menjadikannya terminal bus terbesar di Eropa tenggara dan di Turki, bahkan terbesar ketiga di dunia. Kami naik bis Kamil Koç yang tiketnya sudah kami pesan sejak di Yogyakarta, memiliki karyawan 8.000 orang dan didirikan sejak 1926, dilengkapi armada bis muda yang terdiri dari 1.100 bis, memberikan layanan yang nyaman, aman, higienis, dan lengkap kepada penumpangnya. Armada bis Kamil Koç terdiri dari merek Mercedes-Benz, Temsa buatan Mitsubishi, Setra buatan Daimler AG Jerman, dan MAN juga buatan Jerman. Ada sistem ventilasi canggih, sehingga suhu dan kelembapan ideal dapat disesuaikan sepanjang perjalanan, memastikan distribusi panas yang homogen, dan udara di dalam kendaraan selalu berkualitas tinggi, di semua armada Kamil Koç.

Perjalanan malam ke Efesus kami tempuh dalam kabin bis Kamil Koç merk MAN bersasis NL 202 F (898/A29) buatan Munich, Jerman. MAN handal dalam mesin, termasuk sistem pendingin, knalpot, dan sistem suplai bahan bakar, poros roda depan, termasuk suspensi dan sistem kemudinya. Bis kami adalah MAN TGS Gen 2 40.440 6×6 XL Cab berbahan bakar gas alam, menempuh perjalan ke Izmir sejauh 475 km, selama 7 jam sebagian besar melewati jalan tol yang bagus, rata dan datar. Sepanjang jalan kami diberikan minum pepsi, biscuit dan istirahat 2 kali saat melewati pinggiran kota Yalova, Bursa, Balikesir, Akhisar, Manisa dan akhirnya turun di terminal bis Izmir pada pagi hari.

Perjalanan malam ke Efesus kami tempuh dalam kabin bis Kamil Koç merk MAN bersasis NL 202 F (898/A29) bus berlantai rendah, buatan Munich, Jerman
Rest area di pinggir jalan tol yang kami kunjungi saat bis istirahat di sekitar kota Balikesir, setelah kota Bursa, menuju ke Izmir

Selanjutnya kami meninggalkan Izmir untuk menuju ke terminal bis Selçuk sejauh 81 km, naik mini bus menggunakan Mercedes-Benz Sprinter Transfer Minibus, berkapasitas 14 penumpang, bermesin empat silinder turbo-diesel 2.1 liter, transmisi otomatis tujuh kecepatan yang menggerakkan roda belakang selama hampir 2 jam. Dengan tarif 78 lira dari terminal bis Izmir, kami selingi dengan menjadi pemimpin sidang seminar hasil (semhas) penelitian Mbak Ermita Larosa, NIM : 41190389, mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana (FK UKDW) Yogyakarta dengan judul : Faktor Risiko Diare Pada Balita, bersama pembimbing ke 2 dr. MMA Dewi Lestari, M.Biomed dan penguji dr. Yiska Martelina, M.Sc, Sp.A, menggunakan aplikasi google meet.

Mercedes-Benz Sprinter Transfer Minibus, berkapasitas 14 penumpang, dari Izmir menuju Selçuk
Menjadi pemimpin sidang seminar hasil penelitian Mbak Ermita Larosa, FK UKDW Yogyakarta menggunakan aplikasi google meet, di dalam kabin minu bus meninggalkan izmir

Kami turun di terminal bis Selçuk dan berganti lagi dengan mini bus buatan Peogeot Perancis yang lebih kecil berkapasitas 10 penumpang, untuk turun di Efesus. Dari semua reruntuhan arkeologi di Turki, Efesus adalah yang paling terkenal. Turis dari seluruh dunia datang ke sini untuk menyusuri jalan-jalan Romawi yang terpelihara dengan baik, menatap monumen-monumen besar, dan menyerap inspirasi kuno kota yang kini telah hancur. Pada Injil Perjanjian Baru tertulis pada Kisah Para Rasul Kis. 19:1-8 : ‘Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajah daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid’. Kepada para murid tersebut Paulus membuat Surat Efesus yang dimuat di dalam Kitab Perjanjian Baru, yang ditulis oleh Paulus ketika dia sedang berada dalam penjara. Paulus menuliskan surat kepada jemaat Efesus, karena kondisi masyarakat Efesus pada saat itu yang masih melakukan penyembahan terhadap para Dewa Yunani, terutama yang disebut Dewi Artemis sebagai dewa kesuburan. Selain itu juga mereka melakukan penyembahan dan tunduk kepada Kaisar Romawi. Melihat keadaan ini tergeraklah hati Paulus untuk mengirimkan suratnya kepada jemaat di Efesus.

Surat ini berisikan nasihat, perintah, dan himbauan untuk hidup dalam Kristus. Dalam surat ini Paulus menekankan Rencana Tuhan agar “Seluruh alam, baik yang di surga maupun yang di bumi, menjadi satu dengan Kristus sebagai kepala” (1:10). Surat ini merupakan seruan kepada umat Tuhan supaya mereka menghayati makna rencana agung dari Tuhan Yang Maha Besar untuk mempersatukan seluruh umat manusia melalui Yesus Kristus. Surat ini diyakini ditulis di akhir musim panas (sekitar Agustus-September) tahun 58 M. Kedatangan Paulus yang pertama dan cukup tergesa-gesa dalam periode 3 bulan ke Efesus dicatat pada Kisah Para Rasul 18:19–21. Karya mewartakan kabar baik yang dimulainya kemudian diteruskan oleh Apolos bersama Akwila dan Priskila. Pada kunjungan kedua di awal tahun berikutnya, Paulus tinggal di Efesus selama “tiga tahun”, karena ia melihat “di sini banyak kesempatan bagiku untuk mengerjakan pekerjaan yang besar dan penting, sekalipun ada banyak penentang.” Dari Efesus, kabar baik Injil menyebar ke luar daerah hampir di seluruh Asia Kecil.

Rencana ekskavasi situs arkeologi Efesus yang sangat luas, berupa bukit-bukit batu
Menuju ke rumah Bunda Perawan Maria, tidak jauh dari Efesus

Sesampainya di Efesus, nuansanya sangat berbeda, kita seperti terbayang kembali ke masa kejayaan Romawi atau Yunani kuno. Reruntuhan gedung-gedung dengan pilar yang tinggi khas Romawi dan Yunani kuno banyak kita lihat di kawasan Efesus ini. Bahkan jalanannya pun masih dirangkai dari bebatuan marmer putih dengan ukuran yang sangat besar. Tiket masuk Efesus cukup mahal bagi kami berdua dan cukup wajar untuk situs yang menjadi UNESCO World Heritage Site. Kami tidak sempat masuk ke situs arkeologis Efesus yang bertarif masuk 200 lira di setiap pos, ditempuh dalam lebih dari 2 jam jalan kaki, dan dalam sengatan matahari yang terik, karena kedua kaki kami sudah kelelahan berjalan kaki di seputaran Istanbul.

Kami memutuskan untuk segera mengunjungi rumah Bunda Perawan Maria, sekitar 7 km dari situs arkeologi Efesus, menggunakan taksi kuning. Kita perlu mengingat tulisan Injil Yohanes,19:25-34: ‘Ketika Yesus tergantung di kayu salib, melihat IbuNya dan para murid yang dikasihi; berkatalah Yesus “Ibu inilah anakMu” dan kepada para murid “Inilah IbuMu”. Kemudian, sejak saat itu para murid menerima Ibu Yesus ke dalam rumah mereka’. Tidak ada catatan resmi tentang rumah Bunda Maria, selain cerita tentang sebuah biara Katolik dan Muslim yang terletak di Gunung Koressos di wilayah Efesus, Selçuk, Turki.

UNESCO World Heritage untuk rumah Bunda Perawan Maria, di Efesus
Tertib antrian sebelum masuk rumah Bunda Perawan Maria

Pada tahun 1821 Suster Anne Catherine Emmerich, seorang biarawati Katolik dari Jerman mengalami fenomena stigmata, yaitu suatu tanda kesakitan fisik yang diyakini berasal dari Tuhan. Dalam sakitnya, Tuhan menyampaikan letak rumah Bunda Maria yaitu di Efesus. Penglihatan ini kemudian disarikan dalam buku yang ditulis oleh Clemens Bentano. Baru pada 1881, seorang pastur Katolik dari Perancis, Abbe Julien Gouyet menemukan sebuah gedung kecil di perbukitan menghadap Laut Aegea di antara reruntuhan Kota Efesus. Berdasarkan buku yang ditulis oleh Bentano, Abbe Julien Gouyet menyimpulkan bahwa gedung kecil tersebut adalah Rumah Bunda Maria.

Gereja Katolik secara resmi tidak pernah menyatakan persetujuan atau penentangan terhadap keotentikan rumah tersebut. Sr. Anne Catherine Emmerich dibeatifikasikan atau dinyatakan sebagai orang suci oleh Paus Yohanes Paulus II pada 3 Oktober 2004. Para peziarah Katolik mengunjungi rumah tersebut berdasarkan kepercayaan bahwa Maria, tinggal di rumah batu tersebut bersama Yohanes dan tinggal disana pasca penyaliban Yesus untuk menyelamatkan diri dari Tentara Romawi, sampai usia 64 tahun saat Bunda Maria diangkat ke sorga (menurut doktrin atau dogma Katolik) atau Dormisi (menurut kepercayaan Ortodoks). Doktrin ini ditetapkan sebagai dogmatis dan tidak dapat berunsur kesalahan oleh Paus Pius XII pada tanggal 1 November 1950 melalui Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus. Konsep Maria diangkat ke surga juga diajarkan oleh Gereja Ortodoks Timur dan gereja-gereja Oriental dan Ortodoks Koptik, di mana hal ini dikenal dengan nama Tidurnya Sang Theotokos.

Pada abad ke-4, telah didirikan bangunan tambahan berupa gereja, untuk melengkapi rumah dan makam yang sudah ada terlebih dulu. Aslinya, rumah terdiri dari 2 lantai, digunakan sebagai tempat menyimpan lilin, tempat tidur dan ruang berdoa. Hanya bagian utama dan kamar dekat altar yang diijinkan ditengok oleh pengunjung. Tampilannya lebih mirip gereja ketimbang rumah, karena memang rumah Bunda Perawan Maria sudah difungsikan sebagai kapel. Biara tersebut telah diberi beberapa Pemberkatan Apostolik kepausan dan kunjungan dari beberapa Paus, peziarahan terawal dilakukan oleh Paus Leo XIII pada 1896, dan yang paling terkini pada 2006 oleh Paus Benediktus XVI.

Tampilannya lebih mirip gereja ketimbang rumah, karena memang rumah Bunda Perawan Maria sudah difungsikan sebagai kapel.
Begitu banyak wisatawan dari berbagai belahan penjuru dunia mengunjungi ataupun berziarah ke Rumah Bunda Perawan Maria.

Kami segera hanyut dalam antrian panjang para peziarah dari seluruh dunia yang hadir menggunakan banyak bis pariwisata, mobil carteran atau taxi ke dalam rumah tersebut. Begitu banyak peziarah dan  wisatawan dari berbagai belahan penjuru dunia mengunjungi ataupun berziarah ke Rumah Bunda Perawan Maria,, bukan hanya yang beragama Kristen atau Katolik, tetapi juga ada wisatawan Muslim. Sebagian pengunjung yang beragama Kristen Ortodoks berdoa di kapel yang berada di dalam bangunan. Sementara pengunjung lain, menuliskan doa-doanya dalam secarik kertas dan menggantungnya di tembok di halaman Rumah Bunda Maria (The Wishing Wall). Wishing Wall yang berlokasi di Meryem Ana atau House of Virgin Mary, Selçuk, Turki, penuh dengan ikatan kertas yang berisi kalimat harapan.

Menuliskan doa-doanya dalam secarik kertas dan menggantungnya di tembok di halaman Rumah Bunda Maria (The Wishing Wall).
Air suci dari Rumah Bunda Perawan Maria di Efesus

Segera kami turun pulang meninggalkan Rumah Bunda Perawan Maria, menyusuri bukit yang indah, jalanan yang padat bis pariwisata dan membayangkan kemegahan kota Efesus yang segera kami tinggalkan. Suku Carians dan Lydia adalah penghuni pertama di wilayah ini dan membangun permukiman yang terbuka langsung ke arah Laut Aegea. Dari abad ke 11 SM dan seterusnya, pemukiman ini dikembangkan oleh kedatangan orang Yunani Ionia, bahkan Efesus berkembang menjadi kota komersial yang hidup. Di bawah Kekaisaran Romawi (abad 1 dan 2 M), kota ini melanjutkan kemakmurannya sebagai ibu kota provinsi Romawi di Asia dan menjadi kota terbesar di Timur setelah Alexandria di Mesir, dengan populasi lebih dari 200.000 jiwa.

Bunda Perawan Maria memberkati segnap pengunjung rumah sucinya
Bukit di belakang kami adalah situs arkeologis Efesus

Terbayang dalam benak kami bahwa St. Paulus berkhotbah di bukit dekat jalan yang kami lalui saat kembali ke Selçuk, dalam perjalanan misinya yang kedua, dan kemudian menghabiskan tiga tahun tinggal di Efesus. St. Paulus juga berkotbah di sebuah tempat suci yang kemudian dibangun gereja utama kota ini, yang selanjutnya didedikasikan untuk St. Yohanes Rasul, bahkan selama Era Byzantine menjadi salah satu pusat ziarah besar di Asia Kecil. Segera kami mampir berkunjung ke situ, sebelum pulang ke Istanbul.

Basilika St. Yohanes  adalah sebuah basilika atau gereja sangat besar di Efesus yang dibangun oleh Kaisar Justinian I pada abad ke-6. Kompleks itu berdiri di atas situs yang diyakini tempat pemakaman Rasul Yohanes. Kompleks basilika berada di lereng Bukit Ayasuluk, tepat di sebelah Masjid İsa Bey, di pusat kota Selçuk, dan sekitar 3,5 km dari Efesus. Saat kami datang ke situ, reruntuhan Basilika St. Yohanes sedang dipugar, dengan panduan adalah satu-satunya sumber yang berasal dari deskripsi oleh Procopius. Di situs itu penduduk asli telah mendirikan sebuah bangunan gereja untuk Rasul Yohanes, yang dinamai “Sang Teolog,” karena sifat Tuhan dijelaskan olehnya dengan cara yang melampaui kekuatan manusia tanpa bantuan. Gereja tersebut dibangunan kembali pada tahun 548 dan selesai pada tahun 565, yang dipimpin oleh uskup Hypatius dari Efesus.

Basilika di atas makam Santo Yohanes Rasul yang sedang direnovasi di lereng Bukit Ayasuluk, Selçuk
Minibus buatan Peogeot Perancis yang membawa kami dari Selçuk ke Efesus

Pada tahun 263 M orang-orang Goth menghancurkan kota Efesus, menyebabkan awal kemunduran yang lambat, sehingga ukuran teritorial kota Efesus secara bertahap berkurang, apalagi terjadi pendangkalan (reklamasi) pelabuhannya, bahkan sekarang bibir pantai Laut Aegea terletak hampir 9 km dari pusat Efesus. Namun, pada abad ke-5, kota ini masih cukup penting untuk menjadi tempat diadakannya Konsili Ekumenis Ketiga (431 M). Penangkapan dan penjarahan Ephesus oleh Bangsa Mongol Tamarlane terbukti menjadi titik akhir kota Efesus. Bahkan setelah itu, sisa-sisa terakhir yang tersisa dari kota Efesus itu menjadi reruntuhan selama konflik sengit antara Seljuk dan Ottoman.

Petualangan kami akhiri dengan kembali naik Mercedes-Benz Sprinter Transfer Minibus menyusuri jalan meninggalkan Efesus menuju Selçuk, dan langsung lanjut ke Izmir dengan penuh kelelahan yang membahagiakan. Dengan berkunjung ke Efesus di daerah Selçuk, Turki, kami seakan dibawa ke masa kejayaan Romawi dan Yunani kuno, karena Efesus adalah kota terbesar ketiga di dunia pada awal tahun masehi selain Roma di Italia dan Athena di Yunani. Saat ini Efesus adalah sisa kota kuno yang sekarang masih terawat dan menjadi salah satu museum outdoor terbesar di dunia. Kenangan tersebut kami bawa dalam lelap tidur di dalam kabin bis Kamil Loc, menempuh perjalanan sejauh  475 km, selama 7 jam pulang menuju ke Istanbul, untuk mengikuti kegiatan ilmiah medis di hari berikutnya.

Bersambung

Rabu pagi, 7 Juni 2023

Ditulis dan disebarkan di Sultanahmet Inn Hotel, Kucukayasofya mahallesi, Akburcak sokak, no 23, Istanbul, Turkey

Categories
Healthy Life Istanbul Jalan-jalan

2023 Terkabul ke Istanbul (1)

TERKABUL KE ISTANBUL

fx. wikan indrarto & b. sari prasetyati

Pada Minggu, 4 Juni 2023 kami mengudara bersama Fly Emirates dari transit setengah hari di Dubai UEA ke Istanbul, Turki menggunakan pesawat berbadan lebar Boeing 777-300ER EK 121, yang kami tempuh pada pk. 14.20-17.55. Kami berangkat untuk mengikuti International Conference on Medical & Health Science 2023, pada Selasa dan Rabu, 6 dan 7 Juni 2023 di Uranus Istanbul Topkapi, Zeytinburnu, Turkey, kami mengunjungi Istanbul.

Bandara Internasional Istanbul Atatürk (IST) terletak sekitar 24 km di sebelah barat pusat kota. Ini adalah bandara tersibuk keempat di Eropa dengan tiga landasan pacu serta dua terminal penumpang. Bandara Istanbul Turki ini dipilih sebagai bandara terbaik sedunia tahun 2022 oleh pembaca Conde Nast Traveler, sebuah majalah perjalanan dan gaya hidup mewah yang berbasis di New York dan London. Dalam survei tahunan Readers’ Choice Awards dari majalah tersebut, Bandara Istanbul mengambil mahkota posisi pertama dari Bandara Changi Singapura, yang menempati posisi kedua.

Sejak akhir 2021, Turki telah memberlakukan bebas visa bagi wisatawan Indonesia, sehingga kami dapat langsung mengurus bagasi dan mencari taksi bandara dengan cepat. Istanbul layak menjadi gerbang Benua Eropa, karena Turki merupakan 1 negara di 2 benua. Sebagian besar wilayah Turki masuk ke daratan Benua Asia, dan hanya 2 kota saja yang masuk ke dalam wilayah Benua Eropa, salah-satunya Istanbul. Segera terasa nuansa, aroma dan gaya Eropa di Istanbul sejak dari bandara. Tersedia taksi badara Fiat Egea, Fiat Fiorino, Volkswagen Jetta, Toyota Corolla, Renault Megane atau Dacia. Sangat sedikit mobil Jepang dan Korea, tidak seperti yang kami temui di Dubai. Kami berkesempatan menjajal taksi bandara Fiat Egea menuju Sultanahmet Inn Hotel, Kucukayasofya mahallesi, Akburcak sokak, no 23, Istanbul, Turkey dan langsung tertidur pulas di kamar 205.

Kami menginap di Sultanahmet Inn Hotel, Kucukayasofya mahallesi, Akburcak sokak, no 23, Istanbul, Turkey
Suasana sekitar hotel kami penuh dengan rumah makan

Senin, 5 Juni 2023 kami terjaga di pagi buta yang dingin bersuhu 19 derajad untuk bergegas memulai petualangan kami. Dengan berjalan kaki sedikit mendaki, melewati jalanan yang tersusun dari batu sanggat rapi, mengingatkan kami akan kota abadi Roma, ibukota Italia yang jalanan kotanya kami susuri pada Rabu, 9 September 2014 yang lalu, disusun dari batu, bukan aspal. Dari hotel kami berjalan kaki sejauh 400 m menuju Sultanahmet Camii atau Masjid Sultan Ahmed atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Biru. Ini adalah sebuah masjid bersejarah peninggalan Kesultanan Utsmaniyah yang berada di distrik Fatih, Istanbul, Turki. Masjid yang menarik banyak pengunjung wisata ini, dibangun pada tahun 1609 dan selesai pada tahun 1616 atau pada masa pemerintahan Sultan Ahmed I. Masjid ini dilapisi oleh ubin berwarna biru yang dilukis menggunakan tangan dan pada malam hari masjid ini memancarkan warna biru saat lampu yang membingkai lima kubah utama masjid, enam minaret, dan delapan kubah pendukung dinyalakan. Masjid ini terletak di seberang Masjid Hagia Sophia dan keduanya masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1985 dengan nama “Area Bersejarah Istanbul”.

Masjid Sultan Ahmed atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Biru.
Hagia Sophia yang memiliki arsitektur luar biasa khas Byzantium, dipisahkan taman dengan air mancur indah dengan Masjid Sultan Ahmed

Selanjutnya kami meninggalkan Masjid Sultan Ahmed dan menyeberang melewati taman dengan air mancur indah menuju ke Hagia Sophia yang memiliki arsitektur luar biasa khas Byzantium, serta memiliki perjalanan sejarah yang panjang dari tahun 537 M, yang memiliki lebar 73 m, panjang 82 m, dan tinggi 55 m. Hagia Sophia pada awalnya adalah sebuah bangunan gereja pada abad ke-6 (532–537) yang dibangun oleh Kaisar Bizantium Yustinianus Agung. Awalnya merupakan katedral terbesar yang pernah dibangun di dunia selama hampir seribu tahun, hingga terselesaikannya pembangunan Katedral Sevilla (1507) di Spanyol.

Gereja pertama yang dibangun pada tanah tersebut dikenal sebagai “Gereja Agung” atau dalam bahasa Latin “Magna Ecclesia” dikarenakan ukurannya yang sangat besar, bila dibandingkan dengan gereja pada saat itu di kota Konstantinopel. Gereja ini diresmikan pada 15 Februari 360 pada masa pemerintahan Kaisar Konstantinus II oleh Uskup Arian, Eudoxius dari Antiokia, didirikan di sebelah istana kekaisaran dan gereja ini berperan sebagai gereja utama dari Kekaisaran Romawi Timur. Sebelum menjadi Masjid Hagia Sophia yang sekarang ini, bangunan indah tersebut pernah berfungsi sebagai :

a) Katedral Ortodoks Yunani, tahun 537 M.

b) Katedral Katolik Roma, tahun 1204 – 1261.

c) Masjid pada masa Kesultanan Utsmani, tahun 1453-1931.

d) Museum di masa Presiden Mustafa Kemal Ataturk, tahun 1931.

e) Masjid, tahun 2020.

Pada tahun 2007, politikus Yunani, Chris Spirou mencanangkan gerakan internasional untuk memperjuangkan Hagia Sophia atau sekarang disebut Aya Sofya kembali menjadi Gereja Ortodoks Yunani. Di sisi lain, beberapa seruan dari beberapa pejabat tinggi, khususnya Wakil Perdana Menteri Turki, Bülent Arınç, menuntut Aya Sofya untuk digunakan kembali sebagai masjid pada November 2013. Akhirnya pada tanggal 10 Juli 2020, Pengadilan Tinggi Turki membatalkan keputusan 1943 yang mengubah status Aya Sofia menjadi museum. Seiring dengan keputusan tersebut, pada tanggal yang sama Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan mengeluarkan dekrit yang berisi “Hagia Sophia kembali ke fungsinya semula sebagai tempat ibadah umat Islam. Ibadah pertama dilakukan mulai 24 Juli 2023. Meskipun telah beralih-fungsi sebagai masjid, Aya Sofia tetap terbuka untuk umum yang ingin berkunjung.

Beli simit, menu lokal untuk sarapan pagi di halaman Hagia Sophia
Tram jalur T 1 di Istanbul yang modern dan akan kami coba naiki

Terdapat menu kuliner Turki yang menantang rasa, yaitu Manti, Dondurma, Baklava, Kumpir, Simit, Kofte, Menemen, dan Kebab. Kami segera membeli simit, sebuah roti bakar berlapis coklat di halaman Hagia Sophia untuk sarapan dan lanjut naik tram jalur T1. Kami naik dari halte Sultanahmet, lanjut ke Gulhane, Sirkeci, Eminonu dan turun di Karakoy untuk menikmati Galata Tower atau Menara Galata (Galata Kulesi dalam Bahasa Turki). Ini adalah sebuah menara batu abad pertengahan yang terletak dibagian utara Tanduk Emas. Menara Galata yang dibangun tahun 1717 pada saat Dinasti Ottoman ini juga merupakan salah satu landmark kota Istanbul yang paling mencolok, karena tingginya kerucut silinder tertutup yang mendominasi langit dan panorama kota Istanbul Lama. Tinggi menara ini adalah 66 meter dengan diameter 16 meter yang didirikan sebagai menara pengawas pertahanan kota. Pada tahun 1794 masa pemerintahan Sultan Selim III, atap menara yang terbuat dari timah dan kayu, juga tangga rusak parah akibat kebakaran. Bertahun-tahun kemudian, pada 1965-1967, pada periode Republik Turki, bentuk atap asli dikembalikan dan interior kayu menara digantikan oleh struktur beton.

Selanjutnya kami kembali naik trem jalur T1 menuju halte Tophkane, Findikli dan turun di akhir tujuan, yaitu Kabatas. Tujuan kami adalah Istana Dolmabahçe yang megah berdidi di pinggiran pantai Bosphorus, berfungsi sebagai pusat administrasi utama Kekaisaran Ottoman dari tahun 1856 hingga 1887 dan dari tahun 1909 hingga 1922, dengan Istana Yıldız digunakan sementara, saat renovasi.

Tram T1 melintas di dekat Hagia Sophia yang ikonik
Selat Bosphorus yang memisahkan benua Asia dan Eropa dihubungkan oleh Jembatan Galata

Pembangunan Istana Dolmabahçe diperintahkan oleh Sultan Ottoman ke-31, yaitu Abdülmecid I, dan dibangun antara tahun 1843 dan 1856. Sebelumnya, Sultan dan keluarganya tinggal di Istana Topkapi, tetapi karena Topkapi dirasa kurang dalam hal gaya kontemporer, kemewahan, dan kenyamanan dibandingkan dengan istana raja-raja Eropa, maka Sultan Abdülmecid memutuskan untuk membangun sebuah istana modern baru, di dekat lokasi bekas Istana Beşiktaş Sahil yang dihancurkan. Biaya konstruksi sebesar lima juta lira atau 35 ton emas, setara dengan $1,62 miliar pada Februari 2019. Jumlah ini sekitar seperempat dari pendapatan pajak tahunan, bahkan menjadi beban besar pada keuangan negara dan berkontribusi terhadap memburuknya situasi keuangan Kekaisaran Ottoman, yang akhirnya gagal bayar pada Oktober 1875. Sejak itu, Turki disebut “pesakitan Eropa” (Sick man of Europe) karena keuangannya dikontrol ketat oleh kekuatan Eropa. “Pesakitan Eropa” adalah cap yang diberikan kepada negara Eropa yang sedang mengalami kemunduran atau kesulitan ekonomi. Istilah ini pertama kali digunakan pada pertengahan abad ke-19 untuk mendeskripsikan Kesultanan Utsmaniyah di Turki yang sangat tertinggal, bila dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya pada masa itu.

Masjid dan Istana Dolmabahçe di kejauhan itu berdiri megah di tepi selat Bosphorus yang indah
Banyak kapal melintas di selat Bosphorus yang memisahkan benua Asia dan Eropa

Istana Dolmabahçe ini adalah rumah bagi enam Sultan sejak 1856, ketika pertama kali dihuni, sampai penghapusan kekhalifahan pada tahun 1924 dan sultan terakhir yang tinggal di sini adalah Khalifah Abdülmecid Efendi. Undang-undang yang mulai berlaku pada 3 Maret 1924 mengalihkan kepemilikan istana kepada Republik Turki yang baru. Mustafa Kemal Atatürk, pendiri dan Presiden pertama Republik Turki, menggunakan istana sebagai tempat tinggal presiden selama musim panas dan menghabiskan hari-hari terakhir perawatan medisnya di istana ini, di mana ia meninggal pada 10 November 1938.

Gerbang Istana Dolmabahçe Istanbul yang indah, mahal dan membuat bangkrut Ottoman Turki
Stadion Besiktas JK atau Vodafone Park yang dirancang oleh Bünyamin Derman dari arsitek DB Turki

Kami segera menyeberang jalan besar dari Istana Dolmabahçe untuk menikmati stadion Besiktas. Tim sepak bola klub ini adalah salah satu tim terbesar di Turki yang profesional dan didirikan pada tahun 1903, bahkan merupakan klub olahraga pertama di Turki. Klub ini terakhir kali memenangkan Liga Super Turki pada musim 2008-2009, juga mencatatkan raihan gelar ganda setelah memenangi Piala Turki. Selain itu, Besiktas JK adalah tim Turki paling sukses di ajang UEFA dan memiliki rivalitas tradisional dengan Fenerbahce dan Galatasaray dalam derby Istanbul yang sarat emosi, apalagi kalau dimainkan di stadion Besiktas JK atau Vodafone Park yang memiliki kapasitas sekitar 41.188 penonton sepak bola. Pada 14 Agustus 2019, stadion ini menjadi tuan rumah Piala Super UEFA 2019 dan diikuti oleh juara bertahan dari dua kompetisi utama antarklub Eropa, yakni Liga Champions UEFA dan Liga Eropa UEFA. Pertandingan ini mempertemukan dua perwakilan dari Inggris, yakni Liverpool sebagai juara Liga Champions UEFA 2018–2019 dan Chelsea sebagai juara Liga Eropa UEFA 2018–2019. Pertandingan yang diadakan di Vodafone Park Istanbul, Turki, pada 14 Agustus 2019 dimenangkan oleh Liverpool. Pembangunan Stadion Besiktas JK atau Vodafone Park dimulai pada 2 Juni 2013, menghabiskan biaya sekitar $ 80 juta, dirancang oleh Bünyamin Derman dari arsitek DB. Stadion baru ini dirancang agar “selaras dengan pemandangan alam dan bersejarah Selat Bosphorus, jika dilihat dari laut.

Selanjutnya kami naik taksi menuju ke Lapangan Taksim atau Taksim Meydanı, yang terletak di Istanbul sisi Eropa, adalah tempat wisata dan distrik yang terkenal akan restoran, toko, dan hotelnya. Taksim dianggap sebagai jantung Istanbul modern, dan merupakan stasiun utama jaringan Istanbul Metro. Lapangan Taksim juga merupakan tempat berdirinya Monumen Republik (Cumhuriyet Anıtı) yang dibuat oleh Pietro Canonica dan diresmikan pada tahun 1928. Monumen ini mengenang lima tahun perayaan pendirian Republik Turki pada tahun 1923 setelah Perang Kemerdekaan Turki.

Suasana Lapangan Taksim dengan Tram tradisonal dan bersejarah bagi Istanbul
Pusat perbelanjaan Istiklal Caddesi di Old Istanbul yang indah dan khas Eropa tempo dulu

Setelah mengagumi kemegahan Lapangan Taksim dan heroisme pahlawan Turki pada Monumen Republik, kami segera menyusuri pusat perbelanjaan sepanjang jalan utama yang disebut Istiklal Caddesi. Hanya dengan berjalan kaki menyusuri jalanan tersebut, mata kita akan dimanjakan oleh view arsitektur bangunan klasik, tinggi menjulang, terawat baik, bersejarah, serta sangat beragam. Kemegahan Istiklal Caddesi mengingatkan kita akan sejarah penaklukan kota Konstantinopel, yang digagas oleh Mehmed II untuk mulai merevitalisasi kota tersebut, yang sejak saat itu juga disebut sebagai Istanbul. Ia mendorong kembalinya mereka yang telah melarikan diri dari kota selama pengepungan, memukimkan kembali kaum Muslim, Yahudi, dan Kristen dari bagian lain Anatolia. Sang sultan mengundang orang dari seluruh Eropa ke ibukotanya, membentuk suatu masyarakat kosmopolitan yang bertahan hingga sebagian besar periode Utsmaniyah. Mehmed II memperbaiki infrastruktur kota yang rusak, mulai membangun Grand Bazaar dan Istana Topkapı yang menjadi kediaman resmi sang sultan.

Dinasti Utsmaniyah dengan cepat mentransformasi kota tersebut dari sebuah kubu pertahanan Kristen menjadi suatu simbol budaya Islam. Dinasti Utsmaniyah mendirikan kekhalifahan pada tahun 1517 dan Istanbul menjadi ibukota kekhalifahan selama empat abad berikutnya. Masa pemerintahan Suleiman yang Luar Biasa (Suleiman the Magnificent) dari tahun 1520 sampai 1566 merupakan suatu periode yang secara khusus memiliki prestasi arsitektural dan seni yang sangat besar. Mimar Sinan sebagai kepala arsitek merancang beberapa bangunan ikonik di kota tersebut seiring dengan perkembangan seni miniatur, kaligrafi, kaca patri, dan keramik Utsmaniyah, yang semuanya dapat dinikmati di Istiklal Caddesi.

Gereja Santo Antonius dari Padua, yang merupakan sebuah basilika dan gereja terbesar dari Gereja Katolik Roma di Istanbul, Turki.
Kubah menjulang tinggi di Gereja Santo Antonius dari Padua gereja terbesar dari Gereja Katolik Roma di Istanbul, Turki.

Kami terus saja berjalan kaki menyusuri Istiklal Caddesi sampai di Gereja Santo Antonius dari Padua, yang merupakan sebuah basilika dan gereja terbesar dari Gereja Katolik Roma di Istanbul, Turki. Terletak di İstiklal Avenue No. 171 di distrik Beyoğlu. Dibandingkan dengan Katedral Roh Kudus (1846) di distrik Harbiye, St. Louis dari Prancis (1581) dan Santa Maria Draperis di Beyoğlu, Sts. Peter dan Paul (1841) di Galata, Gereja Asumsi di Kadıköy, Santo Stefanus di Yeşilköy dan Gereja Bakırköy di Bakırköy, maka Gereja Santo Antonius dari Padua adalah salah satu gereja Katolik paling penting di Istanbul.

Gereja St Antonius pertama dibangun tahun 1725 untuk melayani komunitas Italia yang tinggal di Istanbul. Awal abad ke-20, bangunan dihancurkan karena pembangunan jalur tram di sepanjang Istiklal Caddesi.  Renovasi dirancang oleh arsitek Giulio Mongeri Edoardo de Nani ini prosesi peletakan batu pertama dilakukan 1906 dan selesai dibangun tahun 1912. Gereja St Antonius berdiri di antara masjid, sinagog dan katedral Ortodoks. Gereja Katolik Roma terbesar di Istanbul ini terletak di area turistik Taksim di Istiklal Caddesi.

perjamuan di Emaus dan pembaptisan Tuhan, menghias interior Gereja Santo Antonius dari Padua, di Istanbul, Turki.
Gereja St Antonius Padua Istanbul bergaya neo-Gothic dan Tuscan-Lombard Italia, yang dipenuhi karya seni

Gereja St Antonius menjadi contoh arsitektur gaya neo-Gothic dan Tuscan-Lombard Italia, yang dipenuhi karya seni. Di halaman depan berdiri patung kayu berlapis emas St. Antonius, karya Luigi Bresciani. Sementara dua mozaik yang menggambarkan perjamuan di Emaus dan pembaptisan Tuhan, menghias interior gereja. Gereja St Antonius melayani misa kudus dalam empat bahasa di hari berbeda, yaitu Bahasa Inggris, Turki, Italia dan Polandia. Pelayanan ini untuk memfasilitasi komunitas penganut Katolik Roma dari berbagai bangsa yang bermukim di Istanbul.

Selanjutnya kami naik taksi Fiat Egea menyeberang selat Bhosporus untuk menuju ke Gereja Katedral Santo Georgius (bahasa Turki: Aya Yorgi Kilisesi) adalah gedung katedral utama Gereja Ortodoks Yunani yang masih digunakan di Istanbul, kota terbesar di Turki yang dulunya bernama Konstantinopel, ibu kota Kekaisaran Bizantin sampai dengan tahun 1453. Sejak sekitar tahun 1600, gereja ini menjadi takhta Kebatrikan Oikumene Konstantinopel, kebatrikan senior Gereja Ortodoks Yunani yang dihormati sebagai pemimpin spiritual umat Kristen Ortodoks Timur sedunia. Gereja yang dibaktikan kepada Santo Georgius ini merupakan tempat penyelenggaraan sejumlah ibadat penting dan tempat Batrik Oikumene memberkati minyak suci (miron) pada hari Kamis yang suci dan agung, bilamana diperlukan. Karena itulah gereja ini juga disebut “Gereja Kebatrikan Mur Agung”. Dahulu kala, Batrik Oikumene memberkati seluruh minyak suci yang akan digunakan Gereja-Gereja Ortodoks di seluruh dunia. Kini pemberkatan minyak suci dilakukan oleh masing-masing kepala Gereja otokefalos.

Renovasi interior dalam Gereja St Antonius Padua di Istanbul yang dirancang oleh arsitek Giulio Mongeri Edoardo de Nani
Gereja Katedral Santo Georgius adalah gedung katedral utama Gereja Ortodoks Yunani berkubah biru di ketinggian bukit Istanbul, menghadap ke Selat Bosphorus

Selanjutnya kami naik taksi lagi menuju ke Hotel Uranus Topkapi, Merkezefendi, Mevlana Cd. No: 112/1, 34015 Zeytinburnu İstanbul, tempat acara seminar diadakan. Kami melakukan registrasi ulang di lokasi acara. Selanjutnya kami beristirahat di lobi hotel untuk memimpin seminar proposal (simpro) penelitian mbak Elsa Febriana Boko Putri, NIM : 41190411, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana (FK UKDW) Yogyakarta dengan judul  : “Hubungan Paritas Ibu Terhadap Berat Badan Lahir Bayi”, bersama pembimbing 2 dr. Christiane Marlene Sooai, M. Biomed dan dr. Eduardus Raditya Kusuma Putra, SpOG sebagai dosen penguji, melalui aplikasi googlemeet.

Hotel Uranus Topkapi, İstanbul lokasi acara seminar yang akan kami ikuti
Seminar proposal penelitian menggunakan aplikasi googlemeet untuk mbak Elsa Febriana Boko Putri, FK UKDW Yogaykarta

Setelah selesai memimpin simpro, kami segera melanjutkan menikmati keindahan Istanbul yang sebelumnya dikenal sebagai Konstantinopel, yang merupakan sebuah kota terbesar di Turki, berfungsi sebagai pusat ekonomi, budaya, dan sejarah negara. Kota ini dikelilingi oleh selat Bosporus, batas antara benua Eropa dan Asia, dan merupakan salah satu kota di Eropa yang terpadat, sekaligus menjadi kota terbesar ke-15 di dunia.

Kota ini awalnya didirikan sebagai pusat ibu kota Bizantium pada abad ke-7 oleh pemukim Yunani dari Megara. Lalu pada tahun 330, kaisar Bizantium–Konstantinus Agung–menjadikan kota ini sebagai ibu kota kekaisarannya, awalnya kota ini dinamai sebagai Roma Baru (Nova Roma) dan kemudian diganti menjadi Konstantinopel untuk mengenang pendiri Bizantium. Kota ini lalu berkembang menjadi tempat keberadaan mercusuar di Jalur Sutra, sekaligus sebagai salah satu kota terpenting dalam sejarah.

Kota ini berfungsi sebagai ibu kota kekaisaran selama hampir 1600 tahun, yaitu selama periode Bizantium awal (330–1204), Latin (1204–1261), Bizantium akhir (1261–1453), dan Kekaisaran Ottoman (1453–1922). Kota ini memainkan peran kunci dalam kemajuan agama Kristen selama zaman Bizantium, sebelum berpindah tangan ke Islam setelah Penaklukan Konstantinopel pada tahun 1453 oleh Mehmed Sang Penakluk (Mehmed the Conqueror, the Father of Conquest atau Fâtih Sultan Mehmed), terutama setelah menjadi pusat Kesultanan Utsmaniyah pada tahun 1517. Pada tahun 1923, setelah Perang Kemerdekaan Turki, Ankara menggantikan kota ini sebagai ibu kota Republik Turki yang baru dibentuk. Kemudian pada tahun 1930, nama kota ini secara resmi diubah menjadi Istanbul, dari yang sebelumnya bernama Konstantinopel. Istanbul telah dinobatkan sebagai Ibu kota Kebudayaan Eropa, menjadikannya kota kedelapan yang paling banyak dikunjungi di dunia. Istanbul adalah rumah bagi beberapa Situs Warisan Dunia UNESCO, dan menjadi tuan rumah bagi kantor pusat banyak perusahaan Turki, menyumbang lebih dari tiga puluh persen perekonomian negara, termasuk saat Recep Tayyip Erdoğan menjadi wali kota Istanbul dari tahun 1994 hingga 1998. Setelah menjabat sebagai Perdana Menteri Turki dari tahun 2003 hingga 2014, selanjutnya menjabat sebagai Presiden Turki ke-12 sejak 2014 sampai 2028 kelak.

Sultan Mehmedin Ruyasi dari Ottoman Turki bergelar Mehmed sang Penakluk Kota Konstantinopel tahun 1453
Recep Tayyip Erdoğan yang memenangi Pilpres Turki sampai 3 kali

Kami segera berjalan kaki sejauh 850 m dari Uranus Hotel menuju The Panorama 1453 Historical Museum (Museum Sejarah Panorama 1453), di Merkez Efendi Mahallesi, Topkapı Kültür Park İçi Yolu, 34015 Zeytinburnu İstanbul, yaitu museum sejarah di Istanbul yang dibuka pada 31 Januari 2009. Di dalam museum ditampilkan penaklukan kota Konstantinopel, ibu kota Kekaisaran Bizantium, oleh pasukan Sultan Ottoman Mehmed sang Penakluk (Mehmed the Conqueror), pada tanggal 29 Mei 1453. Museum ini terletak dekat dengan titik di mana Ottoman menerobos tembok kota. Pameran utamanya adalah lukisan “panorama” 360°, (juga dikenal sebagai Cyclorama) dari medan perang pada saat tembok dibobol, memberikan kesan kepada pengunjung bahwa mereka sedang berdiri di tengah pertempuran. Lukisan itu dibuat dan disajikan sedemikian rupa sehingga pengunjung seolah-olah berada di tengah-tengah ruang yang sangat besar, bukan sebuah lingkaran yang hanya berdiameter 38m. Efek suara menambah ilusi, ada suara tembakan senjata, teriakan tentara dan band militer yang bermain untuk mendesak pasukan musuh. Museum ini dirancang atas ide Hashim Citizen, dibuka pada tanggal 31 Januari 2009, dan menghabiskan biaya $5 juta.

Cyclorama dirancang atas ide Hashim Citizen di The Panorama 1453 Historical Museum Istanbul
Sisa tembok kota Konstantinopel yang tebal dan kuat seperti dilukiskan oleh Steven Runciman pada: A History of the Crusades

Konstantinopel ditaklukkan oleh Sultan Ottoman Mehmed sang Penakluk (Mehmed the Conqueror) Utsmani pada 29 Mei 1453. Banyak catatan yang merekam kejadian itu, walaupun beberapa ditulis sekian lama setelah peristiwa tersebut terjadi dan masing-masing menyatakan sebagai catatan yang mendekati aslinya. Baik Yunani, Italia, Slavia, Turki, dan Rusia, semuanya memiliki versi mereka masing-masing yang mungkin sulit untuk disatukan. Salah satu versi cerita tersebut adalah yang ditulis sejarawan kontemporer Inggris bernama Steven Runciman yang dikenal karena bukunya yang berjudul A History of the Crusades.

Kami segera membayangkan kehebatan pertempuran itu dengan menyaksikan bekas tembok kota yang dirusak, sebelum masuk ke stasiun Topkapi di jalur Trem T1 untuk kembali ke hotel. Kami melewati halte Pazartekke, Capa Sehremini, Findikzade, Haseki, Yusufpasa, Aksaray, Laleli, Bayazit, Cemberlitas dan turun di Sultanahmet. Selanjutnya kami kembali ke kamar hotel untuk bersitirahat.

Bersambung

Senin malam, 6 Juni 2023

Ditulis dan disebarkan di Sultanahmet Inn Hotel, Kucukayasofya mahallesi, Akburcak sokak, no 23, Istanbul, Turkey

MENEMBUS  EFESUS
fx. wikan indrarto & b. sari prasetyati

Setelah melakukan registrasi peserta di International Conference on Medical & Health Science 2023, untuk Selasa dan Rabu, 6 dan 7 Juni 2023 di Uranus Istanbul Topkapi, Zeytinburnu, Turkey, kami segera melanjutkan petualangan ke Efesus, sehari sebelum acara.

Senin malam, 5 Juni 2023 kami segera bergegas menuju ke Terminal Bus Esenler (Esenler Otogarı), yang merupakan terminal bus sentral dan terbesar untuk layanan bus antarkota di Istanbul, Turki. Terminal bertingkat ini menampung rata-rata sekitar 15.000 bus, 600.000 penumpang per hari, dengan sekitar 5.000 orang pegawai terminal. Terminal ini terletak di sisi Eropa İstanbul, seluas 242.000 m2 yang menjadikannya terminal bus terbesar di Eropa tenggara dan di Turki, bahkan terbesar ketiga di dunia. Kami naik bis Kamil Koç yang tiketnya sudah kami pesan sejak di Yogyakarta, memiliki karyawan 8.000 orang dan didirikan sejak 1926, dilengkapi armada bis muda yang terdiri dari 1.100 bis, memberikan layanan yang nyaman, aman, higienis, dan lengkap kepada penumpangnya. Armada bis Kamil Koç terdiri dari merek Mercedes-Benz, Temsa buatan Mitsubishi, Setra buatan Daimler AG Jerman, dan MAN juga buatan Jerman. Ada sistem ventilasi canggih, sehingga suhu dan kelembapan ideal dapat disesuaikan sepanjang perjalanan, memastikan distribusi panas yang homogen, dan udara di dalam kendaraan selalu berkualitas tinggi, di semua armada Kamil Koç.

Perjalanan malam ke Efesus kami tempuh dalam kabin bis Kamil Koç merk MAN bersasis NL 202 F (898/A29) buatan Munich, Jerman. MAN handal dalam mesin, termasuk sistem pendingin, knalpot, dan sistem suplai bahan bakar, poros roda depan, termasuk suspensi dan sistem kemudinya. Bis kami adalah MAN TGS Gen 2 40.440 6×6 XL Cab berbahan bakar gas alam, menempuh perjalan ke Izmir sejauh 475 km, selama 7 jam sebagian besar melewati jalan tol yang bagus, rata dan datar. Sepanjang jalan kami diberikan minum pepsi, biscuit dan istirahat 2 kali saat melewati pinggiran kota Yalova, Bursa, Balikesir, Akhisar, Manisa dan akhirnya turun di terminal bis Izmir pada pagi hari.

Perjalanan malam ke Efesus kami tempuh dalam kabin bis Kamil Koç merk MAN bersasis NL 202 F (898/A29) bus berlantai rendah, buatan Munich, Jerman
Rest area di pinggir jalan tol yang kami kunjungi saat bis istirahat di sekitar kota Balikesir, setelah kota Bursa, menuju ke Izmir

Selanjutnya kami meninggalkan Izmir untuk menuju ke terminal bis Selçuk sejauh 81 km, naik mini bus menggunakan Mercedes-Benz Sprinter Transfer Minibus, berkapasitas 14 penumpang, bermesin empat silinder turbo-diesel 2.1 liter, transmisi otomatis tujuh kecepatan yang menggerakkan roda belakang selama hampir 2 jam. Dengan tarif 78 lira dari terminal bis Izmir, kami selingi dengan menjadi pemimpin sidang seminar hasil (semhas) penelitian Mbak Ermita Larosa, NIM : 41190389, mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana (FK UKDW) Yogyakarta dengan judul : Faktor Risiko Diare Pada Balita, bersama pembimbing ke 2 dr. MMA Dewi Lestari, M.Biomed dan penguji dr. Yiska Martelina, M.Sc, Sp.A, menggunakan aplikasi google meet.

Mercedes-Benz Sprinter Transfer Minibus, berkapasitas 14 penumpang, dari Izmir menuju Selçuk
Menjadi pemimpin sidang seminar hasil penelitian Mbak Ermita Larosa, FK UKDW Yogyakarta menggunakan aplikasi google meet, di dalam kabin minu bus meninggalkan izmir

Kami turun di terminal bis Selçuk dan berganti lagi dengan mini bus buatan Peogeot Perancis yang lebih kecil berkapasitas 10 penumpang, untuk turun di Efesus. Dari semua reruntuhan arkeologi di Turki, Efesus adalah yang paling terkenal. Turis dari seluruh dunia datang ke sini untuk menyusuri jalan-jalan Romawi yang terpelihara dengan baik, menatap monumen-monumen besar, dan menyerap inspirasi kuno kota yang kini telah hancur. Pada Injil Perjanjian Baru tertulis pada Kisah Para Rasul Kis. 19:1-8 : ‘Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajah daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid’. Kepada para murid tersebut Paulus membuat Surat Efesus yang dimuat di dalam Kitab Perjanjian Baru, yang ditulis oleh Paulus ketika dia sedang berada dalam penjara. Paulus menuliskan surat kepada jemaat Efesus, karena kondisi masyarakat Efesus pada saat itu yang masih melakukan penyembahan terhadap para Dewa Yunani, terutama yang disebut Dewi Artemis sebagai dewa kesuburan. Selain itu juga mereka melakukan penyembahan dan tunduk kepada Kaisar Romawi. Melihat keadaan ini tergeraklah hati Paulus untuk mengirimkan suratnya kepada jemaat di Efesus.

Surat ini berisikan nasihat, perintah, dan himbauan untuk hidup dalam Kristus. Dalam surat ini Paulus menekankan Rencana Tuhan agar “Seluruh alam, baik yang di surga maupun yang di bumi, menjadi satu dengan Kristus sebagai kepala” (1:10). Surat ini merupakan seruan kepada umat Tuhan supaya mereka menghayati makna rencana agung dari Tuhan Yang Maha Besar untuk mempersatukan seluruh umat manusia melalui Yesus Kristus. Surat ini diyakini ditulis di akhir musim panas (sekitar Agustus-September) tahun 58 M. Kedatangan Paulus yang pertama dan cukup tergesa-gesa dalam periode 3 bulan ke Efesus dicatat pada Kisah Para Rasul 18:19–21. Karya mewartakan kabar baik yang dimulainya kemudian diteruskan oleh Apolos bersama Akwila dan Priskila. Pada kunjungan kedua di awal tahun berikutnya, Paulus tinggal di Efesus selama “tiga tahun”, karena ia melihat “di sini banyak kesempatan bagiku untuk mengerjakan pekerjaan yang besar dan penting, sekalipun ada banyak penentang.” Dari Efesus, kabar baik Injil menyebar ke luar daerah hampir di seluruh Asia Kecil.

Rencana ekskavasi situs arkeologi Efesus yang sangat luas, berupa bukit-bukit batu
Menuju ke rumah Bunda Perawan Maria, tidak jauh dari Efesus

Sesampainya di Efesus, nuansanya sangat berbeda, kita seperti terbayang kembali ke masa kejayaan Romawi atau Yunani kuno. Reruntuhan gedung-gedung dengan pilar yang tinggi khas Romawi dan Yunani kuno banyak kita lihat di kawasan Efesus ini. Bahkan jalanannya pun masih dirangkai dari bebatuan marmer putih dengan ukuran yang sangat besar. Tiket masuk Efesus cukup mahal bagi kami berdua dan cukup wajar untuk situs yang menjadi UNESCO World Heritage Site. Kami tidak sempat masuk ke situs arkeologis Efesus yang bertarif masuk 200 lira di setiap pos, ditempuh dalam lebih dari 2 jam jalan kaki, dan dalam sengatan matahari yang terik, karena kedua kaki kami sudah kelelahan berjalan kaki di seputaran Istanbul.

Kami memutuskan untuk segera mengunjungi rumah Bunda Perawan Maria, sekitar 7 km dari situs arkeologi Efesus, menggunakan taksi kuning. Kita perlu mengingat tulisan Injil Yohanes,19:25-34: ‘Ketika Yesus tergantung di kayu salib, melihat IbuNya dan para murid yang dikasihi; berkatalah Yesus “Ibu inilah anakMu” dan kepada para murid “Inilah IbuMu”. Kemudian, sejak saat itu para murid menerima Ibu Yesus ke dalam rumah mereka’. Tidak ada catatan resmi tentang rumah Bunda Maria, selain cerita tentang sebuah biara Katolik dan Muslim yang terletak di Gunung Koressos di wilayah Efesus, Selçuk, Turki.

UNESCO World Heritage untuk rumah Bunda Perawan Maria, di Efesus
Tertib antrian sebelum masuk rumah Bunda Perawan Maria

Pada tahun 1821 Suster Anne Catherine Emmerich, seorang biarawati Katolik dari Jerman mengalami fenomena stigmata, yaitu suatu tanda kesakitan fisik yang diyakini berasal dari Tuhan. Dalam sakitnya, Tuhan menyampaikan letak rumah Bunda Maria yaitu di Efesus. Penglihatan ini kemudian disarikan dalam buku yang ditulis oleh Clemens Bentano. Baru pada 1881, seorang pastur Katolik dari Perancis, Abbe Julien Gouyet menemukan sebuah gedung kecil di perbukitan menghadap Laut Aegea di antara reruntuhan Kota Efesus. Berdasarkan buku yang ditulis oleh Bentano, Abbe Julien Gouyet menyimpulkan bahwa gedung kecil tersebut adalah Rumah Bunda Maria.

Gereja Katolik secara resmi tidak pernah menyatakan persetujuan atau penentangan terhadap keotentikan rumah tersebut. Sr. Anne Catherine Emmerich dibeatifikasikan atau dinyatakan sebagai orang suci oleh Paus Yohanes Paulus II pada 3 Oktober 2004. Para peziarah Katolik mengunjungi rumah tersebut berdasarkan kepercayaan bahwa Maria, tinggal di rumah batu tersebut bersama Yohanes dan tinggal disana pasca penyaliban Yesus untuk menyelamatkan diri dari Tentara Romawi, sampai usia 64 tahun saat Bunda Maria diangkat ke sorga (menurut doktrin atau dogma Katolik) atau Dormisi (menurut kepercayaan Ortodoks). Doktrin ini ditetapkan sebagai dogmatis dan tidak dapat berunsur kesalahan oleh Paus Pius XII pada tanggal 1 November 1950 melalui Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus. Konsep Maria diangkat ke surga juga diajarkan oleh Gereja Ortodoks Timur dan gereja-gereja Oriental dan Ortodoks Koptik, di mana hal ini dikenal dengan nama Tidurnya Sang Theotokos.

Pada abad ke-4, telah didirikan bangunan tambahan berupa gereja, untuk melengkapi rumah dan makam yang sudah ada terlebih dulu. Aslinya, rumah terdiri dari 2 lantai, digunakan sebagai tempat menyimpan lilin, tempat tidur dan ruang berdoa. Hanya bagian utama dan kamar dekat altar yang diijinkan ditengok oleh pengunjung. Tampilannya lebih mirip gereja ketimbang rumah, karena memang rumah Bunda Perawan Maria sudah difungsikan sebagai kapel. Biara tersebut telah diberi beberapa Pemberkatan Apostolik kepausan dan kunjungan dari beberapa Paus, peziarahan terawal dilakukan oleh Paus Leo XIII pada 1896, dan yang paling terkini pada 2006 oleh Paus Benediktus XVI.

Tampilannya lebih mirip gereja ketimbang rumah, karena memang rumah Bunda Perawan Maria sudah difungsikan sebagai kapel.
Begitu banyak wisatawan dari berbagai belahan penjuru dunia mengunjungi ataupun berziarah ke Rumah Bunda Perawan Maria.

Kami segera hanyut dalam antrian panjang para peziarah dari seluruh dunia yang hadir menggunakan banyak bis pariwisata, mobil carteran atau taxi ke dalam rumah tersebut. Begitu banyak peziarah dan  wisatawan dari berbagai belahan penjuru dunia mengunjungi ataupun berziarah ke Rumah Bunda Perawan Maria,, bukan hanya yang beragama Kristen atau Katolik, tetapi juga ada wisatawan Muslim. Sebagian pengunjung yang beragama Kristen Ortodoks berdoa di kapel yang berada di dalam bangunan. Sementara pengunjung lain, menuliskan doa-doanya dalam secarik kertas dan menggantungnya di tembok di halaman Rumah Bunda Maria (The Wishing Wall). Wishing Wall yang berlokasi di Meryem Ana atau House of Virgin Mary, Selçuk, Turki, penuh dengan ikatan kertas yang berisi kalimat harapan.

Menuliskan doa-doanya dalam secarik kertas dan menggantungnya di tembok di halaman Rumah Bunda Maria (The Wishing Wall).
Air suci dari Rumah Bunda Perawan Maria di Efesus

Segera kami turun pulang meninggalkan Rumah Bunda Perawan Maria, menyusuri bukit yang indah, jalanan yang padat bis pariwisata dan membayangkan kemegahan kota Efesus yang segera kami tinggalkan. Suku Carians dan Lydia adalah penghuni pertama di wilayah ini dan membangun permukiman yang terbuka langsung ke arah Laut Aegea. Dari abad ke 11 SM dan seterusnya, pemukiman ini dikembangkan oleh kedatangan orang Yunani Ionia, bahkan Efesus berkembang menjadi kota komersial yang hidup. Di bawah Kekaisaran Romawi (abad 1 dan 2 M), kota ini melanjutkan kemakmurannya sebagai ibu kota provinsi Romawi di Asia dan menjadi kota terbesar di Timur setelah Alexandria di Mesir, dengan populasi lebih dari 200.000 jiwa.

Bunda Perawan Maria memberkati segnap pengunjung rumah sucinya
Bukit di belakang kami adalah situs arkeologis Efesus

Terbayang dalam benak kami bahwa St. Paulus berkhotbah di bukit dekat jalan yang kami lalui saat kembali ke Selçuk, dalam perjalanan misinya yang kedua, dan kemudian menghabiskan tiga tahun tinggal di Efesus. St. Paulus juga berkotbah di sebuah tempat suci yang kemudian dibangun gereja utama kota ini, yang selanjutnya didedikasikan untuk St. Yohanes Rasul, bahkan selama Era Byzantine menjadi salah satu pusat ziarah besar di Asia Kecil. Segera kami mampir berkunjung ke situ, sebelum pulang ke Istanbul.

Basilika St. Yohanes  adalah sebuah basilika atau gereja sangat besar di Efesus yang dibangun oleh Kaisar Justinian I pada abad ke-6. Kompleks itu berdiri di atas situs yang diyakini tempat pemakaman Rasul Yohanes. Kompleks basilika berada di lereng Bukit Ayasuluk, tepat di sebelah Masjid İsa Bey, di pusat kota Selçuk, dan sekitar 3,5 km dari Efesus. Saat kami datang ke situ, reruntuhan Basilika St. Yohanes sedang dipugar, dengan panduan adalah satu-satunya sumber yang berasal dari deskripsi oleh Procopius. Di situs itu penduduk asli telah mendirikan sebuah bangunan gereja untuk Rasul Yohanes, yang dinamai “Sang Teolog,” karena sifat Tuhan dijelaskan olehnya dengan cara yang melampaui kekuatan manusia tanpa bantuan. Gereja tersebut dibangunan kembali pada tahun 548 dan selesai pada tahun 565, yang dipimpin oleh uskup Hypatius dari Efesus.

Basilika di atas makam Santo Yohanes Rasul yang sedang direnovasi di lereng Bukit Ayasuluk, Selçuk
Minibus buatan Peogeot Perancis yang membawa kami dari Selçuk ke Efesus

Pada tahun 263 M orang-orang Goth menghancurkan kota Efesus, menyebabkan awal kemunduran yang lambat, sehingga ukuran teritorial kota Efesus secara bertahap berkurang, apalagi terjadi pendangkalan (reklamasi) pelabuhannya, bahkan sekarang bibir pantai Laut Aegea terletak hampir 9 km dari pusat Efesus. Namun, pada abad ke-5, kota ini masih cukup penting untuk menjadi tempat diadakannya Konsili Ekumenis Ketiga (431 M). Penangkapan dan penjarahan Ephesus oleh Bangsa Mongol Tamarlane terbukti menjadi titik akhir kota Efesus. Bahkan setelah itu, sisa-sisa terakhir yang tersisa dari kota Efesus itu menjadi reruntuhan selama konflik sengit antara Seljuk dan Ottoman.

Petualangan kami akhiri dengan kembali naik Mercedes-Benz Sprinter Transfer Minibus menyusuri jalan meninggalkan Efesus menuju Selçuk, dan langsung lanjut ke Izmir dengan penuh kelelahan yang membahagiakan. Dengan berkunjung ke Efesus di daerah Selçuk, Turki, kami seakan dibawa ke masa kejayaan Romawi dan Yunani kuno, karena Efesus adalah kota terbesar ketiga di dunia pada awal tahun masehi selain Roma di Italia dan Athena di Yunani. Saat ini Efesus adalah sisa kota kuno yang sekarang masih terawat dan menjadi salah satu museum outdoor terbesar di dunia. Kenangan tersebut kami bawa dalam lelap tidur di dalam kabin bis Kamil Loc, menempuh perjalanan sejauh  475 km, selama 7 jam pulang menuju ke Istanbul, untuk mengikuti kegiatan ilmiah medis di hari berikutnya.

Bersambung

Rabu pagi, 7 Juni 2023

Ditulis dan disebarkan di Sultanahmet Inn Hotel, Kucukayasofya mahallesi, Akburcak sokak, no 23, Istanbul, Turkey

TERKABUL  KE  ISTANBUL (hari terakhir)

fx. wikan indrarto & b. sari prasetyati

Setelah menembus Efesus, kami segera mengikuti International Conference on Medical & Health Science 2023, untuk Selasa dan Rabu, 6 dan 7 Juni 2023 di Uranus Istanbul Topkapi, Zeytinburnu, Turkey, sebelum mengakhiri petualangan di Istanbul yang menawan.

Pembicara konferensi yang cukup menarik untuk diingat antara lain adalah Dr. Jewel Ahmed Chowdhury (CEO at Bangladesh Medical Science Dhaka, Bangladesh) yang mengupas neuroscience untuk masyarakat dari negara terbelakang, Prof. Adelinda Araújo Candeias (School of Health and Human Development at Universidade de Évora Évora, Portugal) yang mengapas pentingnya pendekatan layanan ibu hamil untuk meningkatkan kualitas hidup bayi prematur di kawasan miskin perkotaan. Juga Dr. Nasir Mustafa (Assistant Professor Pathology Anatomy at Istanbul Gelisim University, Istanbul, Turkey) yang menjelaskan peran pemeriksaan patologi anatomi dalam memperbaiki luaran kemoterapi pasien anak dengan kanker solid dan Prof. Mohamed M Maie (CEO at Malaq Maye Ltd Mogadishu, Somalia) yang menguraikan peran jaminan kesehatan sosial di fasilitas kesehatan non pemerintah di negara berkembang.

Setelah sesi istirahat seminar, kami segera bergegas melanjutkan petualangan menikmati selat Bosporus yang memisahkan Turki bagian Eropa dan bagian Asia, menghubungkan Laut Marmara dengan Laut Hitam. Selat ini memiliki panjang 30 km, dengan lebar maksimum 3.700 meter pada bagian utara, dan minimum 750 meter antara Anadoluhisarı dan Rumelihisarı. Kedalamannya bervariasi antara 36 sampai 124 meter.

Jembatan Bosporus yang memiliki panjang 1.074 meter dan diselesaikan pada 1973 dan disebut juga sebagai Jembatan Martir 15 Juli.
Kapal pesiar untuk wisata penyebarangan yang bersandar di tepi selat Bosporus

Saat ini terdapat 3 buah jembatan utama yang menyebrangi Selat Bosporus, yang pertama adalah Jembatan Bosporus yang memiliki panjang 1.074 meter dan diselesaikan pada 1973 dan disebut juga sebagai Jembatan Martir 15 Juli. Yang kedua, Jembatan Fatih Sultan Mehmet dengan panjang 1.090 meter dan diselesaikan pada 1988 sekitar 5 km sebelah utara jembatan pertama. Sejak bulan April 2007, sistem pencahayaan LED yang sepenuhnya terkomputerisasi dengan warna dan pola yang berubah, dikembangkan oleh Philips, menerangi jembatan ini pada malam hari. Jembatan Yavuz Sultan Selim, juga disebut Jembatan Bosporus Ketiga adalah sebuah proyek untuk membangun sebuah jembatan untuk kendaraan bermotor dan kereta di sepanjang Bosporus, di sebelah utara dua jembatan yang telah ada. Jembatan tersebut berada di antara Garipçe di Sarıyer di sisi Eropa dan Poyrazköy di Beykoz di sisi Asia yang mulai dibangun pada 29 Mei 2013. Kami melihat ketiga jembatan tersebut secara bergantian, dengan menggunakan taksi kuning dan diselingi berjalan kaki menyusuri selat Bosphorus, melihat banyak kapal bersandar, warga yang berolahraga lari, bersepda atau berjalan kaki, juga memancing di dekat jembatan pertama.

Sepanjang sisi selat Bosporus dilengkapi beteng pertahanan yang tinggi megah dan aman dari serangan musuh
Pemandangan lansekap Istanbul terdiri dari kubah masjid, selat Bosphorus yang banyak kapal yang lalu lalang dan burung camar

Setelah puas menikmati ciri khas Istanbul, yaitu pemandangan lansekap kubah banyak masjid, selat Bosphorus yang tenang dengan banyak kapal yang lalu lalang dan burung camar yang selalu terbang rendah, kami segera menikmati kemegahan Istana Topkapı yang merupakan kediaman resmi Sultan Utsmaniyah selama lebih dari 600 tahun (1465-1856). Pembangunan istana ini dimulai pada tahun 1459 atas perintah Sultan Mehmed II atau Sultan Mehmed Sang Penakluk. Kompleks istana terdiri dari empat lapangan utama dan banyak bangunan-bangunan kecil. Pada puncaknya, istana ini dihuni oleh 4.000 orang. Selain sebagai tempat tinggal kerajaan, istana digunakan untuk acara-acara kenegaraan dan hiburan kerajaan. Sekarang menjadi daya tarik wisata dan berisi peninggalan suci penting dari dunia Muslim, termasuk pedang dan jubah Nabi Muhammad.

Papan nama di gerbang depan Hagia Sophia sebagai Masjid Agung Istanbul
Sisi belakang Hagia Sophia yang berhadapan dengan Istana Topkapi di Istanbul

Istana yang terletak di atas lahan seluas kurang lebih 700.000 m² pada tahun-tahun pendiriannya, sekarang tinggal menjadi seluas 80.000 m². Kemegahan Istana Topkapi memudar pada akhir abad ke-17 karena pada tahun 1856, Sultan Abd-ul-Mejid I memindahkan kediamannya ke Istana Dolmabahçe. Setelah jatuhnya Utsmaniyah pada tahun 1921, Istana ini dijadikan museum berdasarkan dekret pemerintah tanggal 3 April 1924. Istana ini merupakan bagian dari “Wilayah Bersejarah Istanbul”, yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO. Selain itu, Istanbul juga dikenal dengan julukan Kota Segala Kota, karena di masa lampau, Istanbul telah menorehkan sejarah sebagai kota, sekaligus pusat peradaban dunia.

Gerbang utama Istana Topkapı yang dijaga Tentara Nasional Turki bersennjata laras panjang, dahulu istana ini merupakan kediaman resmi Sultan Utsmaniyah selama lebih dari 600 tahun (1465-1856).
Ruang pejaga di halaman depan Istana Topkapi yang dibangun pada tahun 1459 atas perintah Sultan Mehmed II atau Sultan Mehmed Sang Penakluk Konstantinopel

Selanjutnya dengan berjalan kaki menyeberang jalur tram T1, kami mengunjungi Basilica Cistern (Yerebatan Sarnıcı) atau “Istana Bawah Tanah”) yang terbesar dari beberapa ratus waduk atau tangki air kuno yang terletak di bawah kota Istanbul, Turki. Tangki air ini terletak 150 meter barat daya Hagia Sophia di semenanjung bersejarah Sarayburnu, dibangun pada abad ke-6 pada masa pemerintahan Kaisar Bizantium Justinian I. Pada hari ini hanya disimpan dengan sedikit air, untuk akses publik di dalam ruang.

Tangki bawah tanah ini disebut Basilika, seperti sebutan untuk sebuah gereja yang sangat besar, karena terletak di bawah alun-alun umum yang besar, Basilika Stoa, di Bukit Pertama Konstantinopel. Basilika itu dibangun selama Zaman Romawi Awal antara abad ke-3 dan ke-4 sebagai pusat komersial, hukum dan seni. Basilika dibangun kembali oleh Kaisar Illus setelah kebakaran pada tahun 476. Basilika juga berisi taman yang dikelilingi barisan tiang yang menghadap ke Hagia Sophia. Kaisar Konstantinus mulai membangunnya yang kemudian diperbesar oleh Kaisar Justinianus setelah kerusuhan Nika tahun 532, dengan 7.000 budak terlibat dalam pembangunan waduk. Waduk yang diperbesar menyediakan sistem penyaringan air untuk kebutuhan Istana Agung Konstantinopel sampai kepada keluarga Sultan di Istana Topkapi setelah penaklukan Utsmaniyah pada tahun 1453 hingga zaman modern.

Basilica Cistern (Yerebatan Sarnıcı) atau “Istana Bawah Tanah”) yang terbesar dari beberapa ratus waduk atau tangki air kuno yang terletak di bawah kota Istanbul.
Belanja pisang segar di pasar dekat hotel, sebelum pulang ke Indonesia

Keberadaan waduk tersebut akhirnya dilupakan oleh banyak orang kecuali penduduk setempat yang masih menimba air hingga, pada tahun 1565, musafir Prancis Petrus Gyllius meninggalkan catatan perjalanan sedang mendayung di antara tiang-tiang dan melihat ikan berenang di air di bawah perahu. Renovasi telah dilakukan pada waduk bawah tanah megah yang berasal dari abad ke-6 ini, yang juga disebut Istana Sunken, berupa waduk terbesar dari era Bizantium Istanbul yang ada sampai saat ini. Lokasi ini menjadi lebih dikenali berkat penggemar James Bond pada film, ‘From Russia with Love’ yang mengambil gambar di situ. Ruang bawah tanah memiliki lebih dari 330 kolom marmer dan granit, yang paling terkenal adalah dua kepala Medusa. Ini merupakan situs yang wajib dikunjungi karena pemandangan yang ikonik seperti Hagia Sophia dan Istana Topkapi dalam tur Istanbul.

Setelah belanja pisang di pasar dekat hotel, makan siang dan check out Sultanahmet Inn Hotel, Kucukayasofya mahallesi, Akburcak sokak, no 23, Istanbul, Turkey, kami segera menuju Bandara Istanbul yang terletak di distrik Arnavutköy di sisi Eropa kota, sebagai pengganti dari Bandara Atatürk mulai 6 April 2019. Bandara ini melayani lebih dari 64 juta penumpang pertahun dan menjadikannya bandara tersibuk di Eropa dan bandara tersibuk ke-7 di dunia dalam hal total lalu lintas penumpang. Selain itu, dengan melayani lebih dari 48 juta penumpang internasional, bandara ini menjadi yang tersibuk ke-5 di dunia dalam hal lalu lintas penumpang internasional menurut nilai lalu lintas ACI World.

Pintu masuk penumpang Bandara Istanbul yang melayani lebih dari 64 juta penumpang pertahun, baik domestik maupun internasional 
Bandara Istanbul, Turki sebagai peraih Readers’ Choice Awards mengambil mahkota posisi pertama dari Bandara Changi Singapura tahun 2022.

Karena Bandara Atatürk dikepung oleh kota di tiga sisi dan laut Marmara di sisi lain, bandara tersebut tidak dapat berkembang untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat. Diputuskan untuk membangun bandara baru yang jauh dari pusat kota Istanbul. Bandara ini memiliki kapasitas untuk melayani 200 juta penumpang per tahun dan menjadikannya bandara terbesar di dunia. Biaya proyek diperkirakan €7 miliar, tanpa memperhitungkan biaya pembiayaan. Perusahaan Arsitek Grimshaw yang berbasis di London memimpin tim desain, yang sebagian besar terdiri dari arsitek Inggris. Dibantu Arsitek Haptic yang berbasis di Norwegia dan arsitek Turki Fonksiyon dan TAM/Kiklop. Peresmian bandara berlangsung pada 29 Oktober 2018 dengan menara pengawas berbentuk bunga nasional Turki, tulip.

Bandara Istanbul Turki ini dipilih sebagai bandara terbaik sedunia tahun 2022 oleh pembaca Conde Nast Traveler, sebuah majalah perjalanan dan gaya hidup mewah yang berbasis di New York dan London. Dalam survei tahunan Readers’ Choice Awards dari majalah tersebut, Bandara Istanbul mengambil mahkota posisi pertama dari Bandara Changi Singapura, yang menempati posisi kedua. Kami merasakan keramahan petugas bandara, kenyamanan berjalan kaki dan mengisi waktu saat menunggu esawat dan transit, dalam suasana yang akrab karena saling berdekatan.

Kami segera mencari Pintu A2 untuk boarding pk. 19 menggunakan EK 122 Boeing 777 ER Emirates yang akan membawa kami meninggalkan Istanbul, Turki kembali ke Indonesia tercinta. Disampaikan banyak terimakasih kepada segenap pihak, yang tidak dapat kami sebutkan satu demi satu, karena telah mendukung sepenuhnya dan membaca selengkapnya petualangan ‘Terkabul ke Istanbul’ ini.

Sekian, terimakasih dan sampai bertemu kembali dalam petuangan selanjutnya. Berkah Dalem.

Ditulis di ruang tunggu A2 Bandara Istanbul, Turki sambil leyeh-leyeh kelelahan dan disebarkan dari Terminal 3 Bandara Dubai, UEA.

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?