Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life resisten obat sekolah vaksinasi

2022 Gagal Ginjal Akut pada Anak

GAGAL GINJAL AKUT PADA ANAK ORANG TUA JANGAN PANIK TAPI TETAP WASPADA  [Selasa Sehat] | Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat

GAGAL  GINJAL  AKUT  PADA  ANAK

fx. wikan indrarto*)

Kasus Gagal Ginjal Akut (GGA) banyak menyerang anak, terutama dalam kurun waktu 2 bulan terakhir ini. Rabu, 26 Oktober 2022 kasus GGA misterius pada anak telah mencapai 269 kasus, 73 anak masih menjalani perawatan di RS, 157 anak meninggal dunia, dan 39 anak telah sembuh. Apa yang perlu diketahui?

.

Saat ini orang tua diharapkan tetap waspada dan tidak panik, terutama ketika anak mengalami gejala yang mengarah pada GGA. Gejala klinis tahap awal yang umum adalah diare, muntah, demam akut selama 3 – 5 hari, batuk dan pilek. Selanjutnya gejala klinis tahap menengah yang berlangsung dua hingga enam hari, akan nampak lebih khas yaitu penurunan jumlah air seni yang semakin sedikit (oliguria). Ketika anak mulai mengalami gejala khas ini, anak sudah perlu diperiksakan ke dokter dengan tetap memastikan cairan tubuh anak terpenuhi. Pada tahap selanjutnya adalah gejala klinis menengah hingga berat dan lebih khas, yaitu perubahan warna air kemih anak yang menjadi kecoklatan atau pekat. Jika kondisi ini terjadi, atau bahkan anak tidak buang air kecil selama 6-8 jam di siang hari, segeralah membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat. Pada fase lanjut gejala  berat ini, anak sudah sangat membutuhkan perawatan medis sedini mungkin.

.

Penyebab utama kasus GGA pada anak sampai sekarang masih terus diteliti, dengan dugaan sementara adalah efek samping obat sirop yang diminum anak. Namun demikian, sejumlah pasien di Yogyakarta mengaku tak mengonsumsi obat yang telah dilarang beredar oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), yaitu yang memiliki kandungan zat kimia berbahaya Etilen Glikol (EG), Dietilen Glikol (DEG) dan Etilen Glikol Butil Eter (EGBE). Terdapat lima pasien yang memiliki riwayat mengonsumsi obat sirup, tetapi tidak masuk dalam daftar yang diumumkan BPOM. Delapan anak lainnya, bahkan mengonsumsi obat batuk pilek berbentuk tablet, bukan sirup.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/03/09/2020-hari-ginjal-sedunia/

BPOM sebelumnya telah merilis lima merek obat sirop dari tiga produsen berbeda yang memiliki kandungan bahan berbahaya EG, DEG, dan EGBE di atas ambang batas aman. Lima merek itu yakni Termorex Sirup pada batch yang awal diteliti dengan produk pada batch lainnya aman dari PT. Konimex, Florin DMP Sirup dari PT. Yarindo Farmatama, Unibebi Cough Syrup, Unibebi Demam Drop, dan Unibebi Demam Syrup dari Universal Pharmaceutical Industries. Menurut penelusuran BPOM, produsen obat melakukan perubahan komposisi dan penyuplai bahan baku obat. Selain perubahan tersebut tanpa izin, juga penyuplai bahan baku obat diganti pemasok bahan kimia yang bukan berstandar sertifikasi farmasi, bahkan mungkin terjadi sejak awal pandemi Covid-19. Soal dugaan adanya tindak pidana dalam kasus GGA ini, BPOM menyerahkannya kepada aparat kepolisian yang akan dinaikkan status kasus dari penyelidikan ke penyidikan, jika ditemukan barang bukti yang cukup.

.

Dugaan kuat GGA disebabkan oleh obat sirup semakin kuat, karena sejak obat sirup yang mengandung cemaran ditarik, jumlah kasus GGA yang masuk RS menurun lebih dari 95 persen. Pemerintah juga telah mendapatkan obat penawar bahan berbahaya penyebab GGA, yakni Fomepizol dari berbagai negara, yakni 30 obat dari Singapura, 16 obat dari Australia, dan 200 obat dari Jepang.

Beberapa langkah berikut perlu dilakukan orangtua untuk menjaga fungsi ginjal anak agar tetap sehat. Pertama adalah ajak anak rutin beraktivitas fisik secara teratur, karena dapat meningkatkan sirkulasi sel imunitas atau kekebalan. Tidak perlu berolahraga berat, cukup mengajak anak untuk bersepeda bersama, berenang atau sekedar bermain petak umpet di luar rumah, dan aktivitas fisik lain yang anak sukai, sehingga suasanya semakin menyenangkan. Kedua, memenuhi kebutuhan cairan tubuh anak, karena air sangat penting untuk mempertahankan fungsi ginjal. Cairan tubuh yang beredar lancar akan membantu membuang sisa metabolisme di dalam tubuh anak melalui air kemih. Pastikan anak terpenuhi kebutuhan cairannya, dengan minum berulang atau makanan berkuah seperti kaldu daging, sebagai cairan tambahan yang padat nutrisi.

.

Kasus Gagal Ginjal Akut Misterius pada Anak Meningkat, Kemenkes Imbau Orang  Tua Agar Waspada | Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat

Ketiga, batasi asupan gula, karena konsumsi gula berlebihan dapat meningkatkan risiko mengalami diabetes dan membebani fungsi ginjal anak. Oleh sebab itu, batasi anak mengkonsumsi minuman manis, seperti soda dan minuman kemasan, camilan manis, dan saus yang cenderung manis. Sebagai alternatif, dapat diberikan buah yang mengandung gula alami dan kaya nutrisi. Keempat, batasi asupan garam, karena kandungan garam tinggi dapat membuat tubuh anak menahan lebih banyak air, meningkatkan tekanan darah dan membebani ginjal. Cukup tambahkan sedikit garam pada masakan rumah dan hindari makanan atau camilan yang tinggi garam untuk anak. Kelima, pertahankan berat badan anak tetap ideal dengan mencegah penumpukan lemak, karena masukan kalori berlebih. Obesitas dan kelebihan berat badan anak akan meningkatkan risiko penyakit tidak menular yang mematikan, seperti penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal.

.

Terakhir atau keenam, periksakan anak secara rutin ke dokter lengganan, terlebih jika anak sedang mengeluhkan gejala klinis di atas. Dokter tentu saja akan  memeriksa kondisi anak secara keseluruhan. Harap segera menemui dokter jika anak mengalami gejala klinis yang tidak biasa, seperti merasa lelah, sulit tidur, sulit berkonsentrasi, nafsu makan buruk, kesulitan buang air kecil dan pembengkakan kaki.

.

Sebagai upaya pencegahan GGA pada anak karena dampak buruk obat, orang tua seharusnya lebih cermat dalam memberikan obat pada anak, dengan membaca aturan penggunaan obat yang tertera pada label atau sesuai petunjuk dan anjuran dokter. Selain itu, penggunaan obat sirup harus sesuai rekomendasi dokter, terkait masih adanya pembatasan edar obat sirop yang sedang diteliti oleh BPOM.

.

Sekian

Yogyakarta, 30 Oktober 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak COVID-19 dokter sekolah UHC vaksinasi

2022 VAKSINASI COVID-19 UNTUK ANAK

Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi - Tinjau Vaksinasi  Anak Usia 6-11 Tahun, Presiden Harap Anak Terlindungi COVID-19

VAKSINASI  COVID-19  PADA  ANAK

fx. wikan indrarto*)

Pada Kamis, 11 Agustus 2022 WHO memberikan bukti baru tentang vaksinasi COVID-19 pada anak dan remaja, dengan vaksin yang tersedia saat ini dan telah masuk dalam Daftar Penggunaan Darurat (Emergency Use Listing atau EUL). Apa yang menarik?

.

Kemajuan signifikan telah terjadi dengan hampir setiap negara telah menerapkan vaksinasi COVID-19 dan lebih dari 12 miliar dosis telah diberikan secara global, sehingga cakupan setiap negara rata-rata mencapai 60% dari populasi. Penyebaran vaksin COVID-19 yang besar dan belum pernah terjadi sebelumnya ini, telah menyebabkan pengurangan besar dalam penyakit parah, rawat inap dan kematian, bahkan memungkinkan masyarakat untuk beraktivitas kembali dan mencegah sekitar 19,8 juta kematian pada tahun 2021.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2022/01/22/2022-vaksinasi-booster-covid-19/

.

Namun, kesenjangan global dalam vaksinasi terus berlanjut. Masih banyak negara belum mencapai cakupan vaksin yang tinggi dari populasi yang paling berisiko. Secara khusus, hanya 25% dari populasi orang dewasa yang telah menerima vaksin COVID-19 dosis primer secara lengkap di negara berpenghasilan rendah, karena akses layanan kesehatan juga lebih terbatas. Pada hal, vaksinasi global menargetkan cakupan 100% untuk semua lansia dan tenaga kesehatan. Lebih jauh lagi, setiap negara harus berjuang menuju kekebalan kelompok yang lebih luas, minimal 70% dari total populasi nasional.

.

Beberapa negara telah memberikan otorisasi penggunaan darurat untuk vaksin mRNA (Pfizer-BioNTech BNT162b2 dan Moderna mRNA-1273) untuk digunakan pada kelompok usia 6 bulan ke atas. Uji klinis pada anak usia 3 tahun sedang memasuki tahap akhir untuk dua vaksin dari virus yang tidak aktif (Sinovac-CoronaVac dan BBIBP-CorV) dan produk ini disetujui oleh otoritas China untuk anak usia 3-17 tahun. Meskipun vaksin COVID-19 seperti CoronaVac, Novavax dan BBIBP-CorV telah menerima EUL untuk orang dewasa, tetapi belum direkomendasikan WHO untuk diggunakan pada anak. Covaxin, vaksin inaktif adjuvant yang dikembangkan oleh Bharat, telah disetujui di India untuk anak usia 12-17 tahun, tetapi belum mendapatkan persetujuan WHO untuk digunakan pada anak usia tersebut, di luar India.

.

SARS-CoV-2 biasanya menyebabkan derajad penyakit yang kurang parah dan lebih sedikit kematian pada anak dan remaja, dibandingkan dengan orang dewasa. Selama fase pandemi COVID-19 awal, yaitu periode 30 Desember 2019 hingga 25 Oktober 2021, anak di bawah usia lima tahun hanya 2% (1.890.756 anak) dari kasus global dan kematian hanya 0,1% (1.797 kasus) dari kematian global. Anak dan remaja usia 5 hingga 14 tahun menyumbang 7% (7.058 748) dari kasus global dan 0,1% (1 328) dari kematian global. Sementara remaja dan dewasa muda (15 hingga 24 tahun) mencapai 15% (14.819.320) dari kasus global dan 0,4% (7.023) dari kematian global. Dengan demikian angka kematian untuk usia di bawah 25 tahun hanya kurang dari 0,5% dari kematian global.

.

Kasus COVID-19 pada anak melonjak secara dramatis pada tahun 2022 selama lonjakan varian Omicron, yaitu pada saat sebagian besar negara melonggarkan pembatasan sosial. Misalnya, di Amerika Serikat pada Juli 2022, terdapat 14.003.497 kasus COVID-19 pada anak dan mencapai 18,6% dari semua kasus yang dilaporkan. Secara global, pada 24 Juli 2022, anak di bawah usia 5 tahun dan remaja berusia 5-14 tahun mencapai masing-masing 2,47% dan 10,44%. Bahkan remaja dan dewasa muda berusia 15 sampai 24 tahun mencapai 13,91% dari semua kasus. Secara global anak berusia 5 tahun ke bawah menyumbang 0,11% dari semua kematian global, sementara anak berusia 5 hingga 14 tahun menyumbang 0,089%, dan remaja dan dewasa muda 0,37%.

IDI belum pastikan vaksin Sinovac aman untuk anak-anak - ANTARA News

Anak dengan gejala klinis yang lebih ringan dan bahkan tanpa gejala, sangat mungkin disebabkan karena lebih jarang anak diperiksa dokter, sehingga anak dan remaja cenderung lebih jarang dites dan kasus COVID-19 mungkin tidak dilaporkan. Anak dan remaja dapat mengalami gejala klinis yang berkepanjangan (long COVID-19), yaitu gangguan medis pasca COVID-19 atau gejala sisa akut dari infeksi SARS-CoV-2, namun, frekuensi dan karakteristik kondisi ini masih dalam penelitian luas dan sampai saat ini tampaknya lebih jarang terjadi pada anak, dibandingkan dengan orang dewasa. Selain itu, sindrom hiperinflamasi meskipun jarang, telah dilaporkan terjadi di seluruh dunia dan mempersulit pemulihan anak dari COVID-19. Ini disebut sebagai ‘Paediatric Inflammatory Multisystem Syndrome Temporally associated with SARS-CoV-2’ (PIMS-TS) di Eropa dan ‘Multisystem Inflammatory Syndrome in children’ (MIS-C) di Amerika Utara.

.

Beberapa faktor risiko COVID-19 parah pada anak telah dilaporkan, termasuk usia yang lebih tua, obesitas, dan penyakit kronis yang sudah ada sebelumnya. Penyakit yang sudah ada sebelumnya pada anak yang terkait dengan risiko COVID-19 parah yang lebih tinggi meliputi diabetes tipe 2, asma berat, penyakit bawaan pada jantung dan paru-paru, kejang demam, gangguan neurologis dan penyakit neuromuskular lainnya, Down Syndrome, dan gangguan kekebalan sedang hingga berat.

.

Dalam uji klinis fase 2 untuk kedua vaksin mRNA, kemanjuran dan imunogenisitas pada anak serupa atau lebih tinggi dibandingkan dengan orang dewasa. Profil keamanan dan reaktogenisitas pada remaja serupa dengan dewasa muda. Selama uji klinis fase 3 pada anak kecil berusia 6 bulan hingga 5 tahun tidak ada tanda gangguan keamanan yang teridentifikasi, tetapi ukuran sampel terlalu kecil untuk mengidentifikasi kejadian langka.

.

Efek samping serius vaksinasi COVID-19 yang sangat jarang dilaporkan adalah miokarditis atau perikarditis pada jantung. Kasus miokarditis dan perikarditis lebih sering terjadi pada remaja laki-laki yang lebih muda (16-24 tahun) dan setelah dosis kedua vaksin, dibandingkan dengan orang dewasa dan anak. Kasus miokarditis dan perikarditis ini biasanya terjadi dalam beberapa hari setelah vaksinasi, umumnya ringan, merespons baik dengan pengobatan konservatif, dan tidak terlalu parah dengan hasil yang lebih baik daripada miokarditis klasik atau miokarditis terkait COVID-19.

.

Risiko Trombosis dengan Sindrom Trombositopenia (TTS) setelah vaksin, meskipun secara keseluruhan rendah, lebih tinggi pada orang dewasa yang lebih muda dibandingkan dengan orang dewasa yang lebih tua, tetapi tidak ada data yang tersedia tentang risiko tersebut pada anak di bawah usia 18 tahun.

Efektivitas 2 dosis vaksin BNT162b2 yang diterima berselang >28 hari sebelum masuk rumah sakit dalam mencegah MIS-C, juga telah diteliti menggunakan desain kasus-kontrol uji-negatif di antara pasien rawat inap berusia 12-18 tahun selama dominasi varian Delta. Di antara 102 pasien kasus MIS-C dan 181 kontrol yang dirawat di rumah sakit, perkiraan efektivitas 2 dosis vaksin BNT162b2 terhadap MIS-C adalah 91%. Semua pasien MIS-C 38 anak yang membutuhkan ventilator elektrik atau dukungan alat bantu napas untuk bertahan hidup tidak divaksinasi. Penerimaan 2 dosis vaksin BNT162b2 dikaitkan dengan tingkat perlindungan yang tinggi terhadap MIS-C pada remaja berusia 12-18 tahun.

Vaksinasi Jadi Harapan Lindungi Anak Usia 6-11 Tahun dari Covid-19 -  Kompas.id

Meskipun penilaian manfaat-risiko (benefit-risk assessments) jelas mendukung manfaat vaksinasi pada semua kelompok umur, termasuk anak dan remaja untuk mengurangi jumlah infeksi, rawat inap, kematian, dan COVID-19 jangka panjang, manfaat kesehatan langsung dari memvaksinasi anak dan remaja yang sehat, lebih rendah dibandingkan dengan memvaksinasi orang dewasa, karena insiden COVID-19 parah  dan kematian yang lebih rendah pada orang yang lebih muda. Oleh karena anak dan remaja cenderung memiliki penyakit yang lebih ringan dibandingkan orang dewasa, kecuali jika mereka berada dalam kelompok yang berisiko lebih tinggi terkena COVID-19 parah, maka vaksinasi untuk anak dan remaja tidak terlalu mendesak, dibandingkan orang yang lebih tua, mereka yang memiliki gangguan kesehatan kronis, dan tenaga kesehatan.

.

Vaksin COVID-19 yang telah menjalani uji klinis pada anak dan remaja aman dan efektif dalam mencegah penyakit COVID-19 pada anak dan remaja. Anak dengan komorbiditas dan kondisi immunocompromis yang parah harus ditawarkan vaksinasi. Meminimalkan gangguan terhadap proses pendidikan anak di sekolah dan pemeliharaan kesejahteraan, kesehatan, dan keselamatan anak secara keseluruhan, merupakan pertimbangan penting. Vaksinasi yang mengurangi penularan SARS-CoV-2 pada semua kelompok juga dapat mengurangi penularan dari anak dan remaja, ke orang dewasa di sekitarnya, dan dapat membantu mengurangi kebutuhan akan langkah mitigasi di sekolah. Namun demikian, selama periode dominanasi varian Omicron yang lalu, dampak vaksin terhadap penularan hanya sedikit dan berlangsung sebentar.

.

Strategi setiap negara dalam pengendalian COVID-19 seharusnya mendukung proses pendidikan anak di sekolah, aspek kehidupan sosial lainnya, dan meminimalkan penutupan sekolah, bahkan bila Negara tersebut menerapkan kebijakan tanpa memvaksinasi anak dan remaja sekalipun. UNICEF dan WHO telah mengembangkan panduan tentang cara meminimalkan penularan di sekolah dan menjaga sekolah tetap buka, tidak tergantung dari status vaksinasi anak usia sekolah. Guru, anggota keluarga, dan semua orang dewasa lainnya di sekitar anak dan remaja, idealnya harus divaksinasi untuk perlindungan langsung terhadap anak.

.

Pada Sabtu, 13 Agustus 2022 cakupan vaksinasi dosis 2 COVID-19 di Indonesia telah mencapai 170.486.755 dosis atau 72,65%. Cakupan ini meliputi vaksinasi lansia telah diberikan sebanyak 14.785.607 dosis atau mencapai 68,60%. Sedangkan cakupan vaksinasi tenaga kesehatan sebanyak 1.984.613 dosis atau mencapai 135,12%. Sebaliknya, upaya percepatan imunisasi penting mengingat ada lebih dari 1,7 juta anak di Indonesia belum mendapat imunisasi dasar lengkap pada 2019-2021. Imunisasi dasar lengkap mesti diberikan pada bayi berusia 0-11 bulan. Imunisasi itu mencakup, antara lain, DPT-HB-Hib, polio tetes, polio suntik, dan campak rubela. Setelahnya, anak usia 18-24 bulan diberi imunisasi DPT-HB-Hib dan campak rubela. Imunisasi masih perlu dilanjutkan saat anak menginjak usia SD. Anak kelas 1 SD diberi imunisasi campak rubela dan DT sementara anak kelas 2 dan 5 SD menerima imunisasi Td. Cakupan imunisasi Indonesia pada 2021 adalah yang terendah. Hanya enam provinsi yang berhasil mencapai target vaksinasi sebesar 93,6 persen, yaitu Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, DI Yogyakarta, Banten, dan Bengkulu.

.

Keputusan untuk memvaksinasi COVID-19 untuk remaja dan anak harus memperhitungkan prioritas untuk sepenuhnya melindungi kelompok risiko tertinggi dengan vaksinasi primer, dan karena efektivitas vaksin menurun seiring waktu sejak vaksinasi, maka perlu juga memberikan dosis booster. Oleh karena itu, sebelum sebuah negara mempertimbangkan untuk menerapkan vaksinasi COVID-19 dosis primer pada remaja dan anak, mencapai cakupan primer dan booster yang tinggi pada kelompok prioritas, seperti orang dewasa dan tenaga kesehatan, harus dikejar terlebih dahulu. Selain itu, sangat penting bagi anak untuk terus diberikan imunisasi dasar untuk penyakit menular lainnya, yang justru lebih direkomendasikan.

Apakah kita sudah bertindak?

Sekian

Yogyakarta, 22 Agustus 2022

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih dan Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life Jalan-jalan sekolah UHC

2022 Bersepeda Dalam Kota

BERSEPEDA  DI  DALAM  KOTA

fx. wikan indrarto*)

Warga kota banyak yang menyatakan minat untuk bersepeda, tetapi khawatir tentang keselamatan di jalan. Meskipun sudah ada kemajuan pesat, namun kematian karena kecelakaan lalu lintas di jalan raya terus saja meningkat, dengan kematian tahunan global mencapai 1,35 juta kasus. Apa yang sebaiknya dilakukan?

.

Cedera lalu lintas di jalan raya kini menjadi pembunuh utama bagi anak dan remaja yang berusia 5-29 tahun. Secara global, dari semua kematian karena kecelakaan lalu lintas, pejalan kaki dan pengendara sepeda merupakan 26% korban. Sedangkan pengendara sepeda motor dan penumpang kendaraan merupakan 28% korban. Risiko kematian karena kecelakaan lalu lintas di jalan, sampai sekarang tetap mencapai tiga kali lebih tinggi di negara berpenghasilan rendah daripada di negara berpenghasilan tinggi, dengan tingkat tertinggi di Afrika (26,6 per 100.000 penduduk) dan terendah di Eropa (9,3 per 100.000 penduduk).

.

Pada tahun 2013 Pemerintah Kota Bangalore India mulai meluncurkan inisiatif Hari Bersepda (Cycle Day). Lalu lintas jalan diblokir pada satu hari Minggu  per bulan selama setengah hari di seluruh kota, menciptakan ruang yang aman untuk berjalan kaki dan bersepeda. Kampanye komunikasi melalui media sosial dan organisasi lokal mendorong orang untuk menggunakan semua ruas jalan untuk bersepeda dan berjalan kaki ke berbagai tujuan dalam kota. Tujuannya adalah untuk mendorong warga menggunakan transportasi aktif, tetapi juga diharapkan penutupan jalan terhadap kendaraan bermotor (car free day) akan mengurangi polusi  udara di daerah terdekat. Popularitas acara ini tumbuh dalam hal frekuensi dan kegiatan, dan acara menjadi rutin mingguan dan diadakan di beberapa lokasi. Sepeda gratis disediakan, acara bersepeda jarak pendek (3–5 km) diselenggarakan dan acara lainnya dapat diadakan di sepanjang ruas jalan seperti olahraga, berkesnian, dan permainan untuk anak. 

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2022/05/26/2022-mudik-aman/

.

Lebih dari setengah populasi dunia sekarang tinggal di kota, menggerakkan lebih dari 60% aktivitas ekonomi dan emisi gas rumah kaca. Karena kota memiliki kepadatan penduduk yang relatif tinggi dan padat lalu lintas, sebenarnya banyak perjalanan dapat dilakukan dengan lebih efisien menggunakan transportasi umum, berjalan kaki, dan bersepeda, dibandingkan dengan mobil pribadi. Ini juga membawa manfaat kesehatan utama melalui pengurangan polusi udara, cedera lalu lintas di jalan raya, dan lebih dari tiga juta kematian tahunan akibat tidak aktif secara fisik. Beberapa kota terbesar dan paling dinamis di dunia, seperti Milan, Paris, dan London, telah menanggapi pandemi COVID-19 dengan membuat jalan bagi pejalan kaki, dan memperluas jalur sepeda secara besar-besaran. Hal ini memungkinkan terjadinya transportasi yang jauh dengan beraktivitas fisik selama pandemi, meningkatkan kegiatan ekonomi, dan kualitas hidup warganya.

.

Saat ini lebih dari setengah populasi dunia sudah tinggal di kota, baik besar maupun kecil. Pada tahun 2050, proporsi itu diperkirakan akan meningkat menjadi hampir 70%. Pertumbuhan kota yang pesat ini menghadirkan tantangan dan peluang, juga terkait krisis perubahan iklim dan pandemi COVID-19, yang telah memperburuk ketidakadilan dan kerentanan sosial dan sistem kesehatan. Saat ini, lebih dari tujuh juta orang per tahun meninggal karena paparan polusi udara di kota, sekitar 1 dari 8 dari semua kematian. Lebih dari 90% orang menghirup udara luar ruangan dengan tingkat polusi yang melebihi nilai aman kualitas udara. Dua pertiga dari paparan polusi luar ruangan ini dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil, yang juga yang mendorong perubahan iklim. Beberapa negara yang paling awal dan paling parah terkena COVID-19, seperti Italia dan Spanyol, dan negara yang paling berhasil mengendalikan penyakit ini, seperti Korea Selatan dan Selandia Baru, telah menempatkan pembangunan hijau di samping kesehatan sebagai jantung atas strategi pemulihan paska COVID-19.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/11/20/2021-kota-sehat-paska-covid-19/

.

Kemitraan untuk Kota Sehat (The Partnership for Healthy Cities) adalah jaringan global bergengsi dari 70 kota di dunia yang berkomitmen untuk menyelamatkan nyawa warganya dengan mencegah penyakit tidak menular (PTM) dan cedera di jalan raya. Saat ini hanya kota Bandung dan Jakarta dari Indonesia yang masuk dalam jaringan kemitraan tersebut. Michael R. Bloomberg sebagai inisiator utama ‘The Partnership for Healthy Cities’ telah menegaskan bahwa para pemimpin lokal, yaitu kepala pemerintah kota di seluruh dunia perlu memberlakukan kebijakan kota yang mampu meningkatkan derajat kesehatan dan menyelamatkan nyawa warganya.

Untuk Para Pesepeda, Ketahui Tiga Aturan Yang Akan di Buat Ini - JD News

Dengan mayoritas populasi dunia sekarang tinggal di daerah perkotaan, setiap pemerintah kota perlu untuk mengubah strategi perang melawan PTM dan cedera di jalan raya, dengan memfasilitasi segenap warga kota untuk berjalan kaki dan bersepeda secara aman dan menyenangkan.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 12 Juli 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, pengguna sepeda di dalam kota.

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life Jalan-jalan sekolah

2022 Anak Autis

Anak Laki-Laki Lebih Rentan Autisme, Ini Alasannya | Republika Online

ANAK  AUTIS

fx. wikan indrarto*)

WHO merilis versi online program pelatihan untuk para pengasuh anak dengan keterlambatan perkembangan, termasuk autisme. Program yang telah diujicobakan dalam format tatap muka di lebih dari 30 negara, seperti Brasil, India, Italia, dan Kenya, mengajarkan keterampilan sehari-hari kepada orang tua dan pengasuh, agar dapat membantu meningkatkan kesejahteraan dan perkembangan anak autis dan gangguan perkembangan lainnya. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://openwho.org/courses/caregiver-skills-training

.

Di banyak bagian dunia, khususnya di wilayah berpenghasilan rendah, orang yang merawat anak autis sering kekurangan akses ke informasi dan layanan yang mereka butuhkan. Peluncuran modul pelatihan versi elektronik berarti bahwa ribuan keluarga sekarang akan dapat memperoleh manfaat darinya. Pelatihan online mencakup sesi informasi yang direkam sebelumnya, tentang topik umum untuk menggunakan kegiatan rutin sehari-hari sebagai kesempatan bagi anak untuk belajar, terlibat aktif dengan teman melalui permainan, dan pemecahan masalah. Program ini telah dikembangkan dengan kolaborasi bersama organisasi ‘Autism Speaks’, yang secara khusus dirancang untuk membantu komunitas dengan sumber daya rendah.

.

Gangguan Spektrum Autisme (ASD) adalah kelompok kondisi mental yang beragam, yang dicirikan dengan beberapa tingkat kesulitan interaksi sosial dan komunikasi. Karakteristik lainnya adalah pola aktivitas dan perilaku yang tidak biasa, seperti kesulitan transisi dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya, fokus pada detail, dan reaksi yang tidak biasa terhadap sensasi. Karakteristik autisme dapat dideteksi pada anak usia dini, tetapi autisme sering tidak terdiagnosis sampai jauh di kemudian hari. Anak dengan autisme sering memiliki penyakit saraf pusat lainnya yang terjadi bersamaan, seperti epilepsi, depresi, kecemasan, hiperaktif, gangguan pemusatan perhatian dan perilaku yang berbahaya seperti kesulitan tidur dan keinginan melukai diri sendiri. Derajat intelektual anak autis sangat bervariasi, mulai dari gangguan berat hingga tingkat yang lebih tinggi.

.

Diperkirakan di seluruh dunia sekitar satu dari 100 anak menderita autisme. Prevalensi autisme di banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah tidak diketahui. Bukti ilmiah yang tersedia menunjukkan bahwa mungkin ada banyak faktor yang membuat anak lebih mungkin menderita autisme, termasuk faktor lingkungan dan genetik. Data epidemiologi yang tersedia menyimpulkan bahwa tidak ada bukti hubungan sebab akibat antara vaksin campak, gondok dan rubella (MMR) dengan autisme. Penelitian sebelumnya diklaim menunjukkan hubungan sebab akibat, ternyata penelitian tersebut ditemukan penuh dengan kelemahan metodologis. Juga tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa vaksin masa balita lainnya dapat meningkatkan risiko terjadinya autisme. Tinjauan bukti tentang hubungan potensial antara pengawet thiomersal dan ajuvan aluminium yang terkandung dalam vaksin yang tidak aktif dan risiko autisme, telah disimpulkan bahwa dengan sangat meyakinkan bahwa vaksin tidak meningkatkan risiko autisme.

.

Berbagai intervensi medis dan psikologis pada anak usia dini dan sepanjang rentang kehidupan, dapat mengoptimalkan perkembangan, kesehatan, kesejahteraan, dan kualitas hidup anak autis. Akses tepat waktu ke intervensi psikososial, memiliki bukti awal dapat meningkatkan kemampuan anak autis untuk berkomunikasi secara efektif dan berinteraksi secara sosial. Pemantauan perkembangan anak sebagai bagian dari perawatan kesehatan ibu dan anak secara rutin, sangatlah direkomendasikan.

.

Kenali Tanda Awal Autisme pada Balita | Semen Padang Hospital

Semua anak, termasuk penyandang autisme, berhak untuk menikmati standar kesehatan fisik dan mental tertinggi yang dapat dicapai. Namun, anak autis sering mengalami stigma dan diskriminasi, termasuk perampasan perawatan kesehatan yang tidak adil, pendidikan dan kesempatan untuk terlibat dan berpartisipasi dalam komunitas mereka. Anak dengan autisme memiliki masalah kesehatan yang sama dengan populasi umum. Namun demikian, anak autis memiliki kebutuhan perawatan kesehatan khusus yang berkaitan dengan autisme atau penyakit lain yang terjadi bersamaan. Anak autis mungkin lebih rentan untuk mengalami penyakit kronis tidak menular, karena faktor risiko gangguan perilaku seperti aktivitas fisik yang aneh dan pilihan diet yang buruk, dan mengalami risiko yang lebih besar mengalami kekerasan, cedera dan pelecehan.

.

Anak dengan autisme memerlukan layanan kesehatan untuk kebutuhan perawatan kesehatan umum, termasuk layanan promotif dan preventif serta pengobatan penyakit akut dan kronis. Namun demikian, anak autis memiliki tingkat kebutuhan perawatan kesehatan yang tidak terpenuhi, justru lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum. Program pelatihan versi online bagi pengasuh anak autis yang dikembangkan ‘Autism Speaks’ pada komunitas dengan sumber daya rendah, akan membantu anak autis mendapatkan haknya dalam layanan kesehatan, kesejahteraan dan juga pendidikan.

.

Apakah kita sudah terlibat berperan?

Sekian

Yogyakarta, 26 Mei 2022

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW.

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life Jalan-jalan Pendukung ASI resisten obat sekolah UHC

2022 Hari Makanan Sehat Dunia

Top] 25 World Food Safety Day 2022: Quotes, Slogans, Images, Pictures,  Photo, Poster, Wallpaper

Tulisan ini juga dimuat di link :

https://news.detik.com/kolom/d-6114206/beban-penyakit-bawaan-makanan

HARI  MAKANAN  SEHAT  SEDUNIA  2022

fx. wikan indrarto*)

Hari Keamanan Pangan Sedunia (World Food Safety Day) pada Selasa, 7 Juni 2022 adalah gerakan memobilisasi tindakan untuk mencegah, mendeteksi dan mengelola risiko penyakit yang ditularkan melalui makanan dan meningkatkan derajat kesehatan manusia. Tema peringatan adalah makanan yang lebih aman, kesehatan yang lebih baik (safer food, better health). Apa yang harus dilakukan?

.

Makanan yang aman adalah salah satu penjamin paling penting untuk kesehatan yang baik. Makanan yang tidak aman adalah penyebab banyak penyakit (foodborne illnesses), gangguan pertumbuhan dan perkembangan, defisiensi mikronutrien, penyakit tidak menular atau menular dan penyakit mental. Secara global, satu dari sepuluh orang terkena penyakit bawaan makanan setiap tahunnya. Diperkirakan 600 juta (hampir 1 dari 10 orang di dunia) jatuh sakit setelah makan makanan yang terkontaminasi dan 420.000 meninggal setiap tahun, mengakibatkan hilangnya 33 juta tahun hidup sehat (DALYs). Bahkan dana sebesar US$ 110 miliar hilang setiap tahun dalam produktivitas dan biaya pengobatan akibat makanan yang tidak aman, di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Pada anak balita menyebabkan 40% dari beban penyakit bawaan makanan, dengan 125.000 kematian setiap tahun.

.

Penyakit bawaan makanan biasanya bersifat menular atau beracun dan disebabkan oleh bakteri, virus, parasit atau zat kimia yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan yang terkontaminasi. Bakteri Salmonella, Campylobacter dan enterohaemorrhagic Escherichia coli adalah beberapa patogen bawaan makanan yang paling umum yang mempengaruhi jutaan orang setiap tahun, kadang-kadang dengan derajat klinis yang parah dan fatal. Gejala klinisnya dapat berupa demam, sakit kepala, mual, muntah, sakit perut dan diare. Bakteri tersebut sering berada pada telur, daging unggas dan produk lain yang berasal dari hewan, susu mentah, daging unggas mentah atau setengah matang, dan air minum, susu yang tidak dipasteurisasi, daging yang kurang matang, serta buah dan sayuran segar yang terkontaminasi.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/10/13/2020-makanan-sehat-saat-covid-19/

Infeksi bakteri Listeria dapat menyebabkan keguguran pada ibu hamil atau kematian bayi baru lahir. Listeria ditemukan dalam produk susu yang tidak dipasteurisasi dan berbagai makanan siap saji dan dapat tumbuh pada suhu dingin. Bakteri Vibrio cholerae dapat menginfeksi orang melalui air atau makanan yang terkontaminasi. Gejala klinisnya adalah sakit perut, muntah dan diare berair yang banyak, yang dengan cepat menyebabkan dehidrasi parah dan bahkan kematian. Beras, sayuran, bubur millet dan berbagai jenis makanan laut telah terkait dengan wabah kolera.

.

Beberapa virus dapat ditularkan melalui konsumsi makanan. Norovirus dan Virus Hepatitis A dapat ditularkan melalui makanan dan dapat menyebabkan penyakit hati dan menyebar biasanya melalui makanan laut mentah atau setengah matang, atau produk mentah yang terkontaminasi. Beberapa parasit, seperti trematoda, cacing pita seperti Echinococcus spp, atau Taenia spp, Ascaris, Cryptosporidium, Entamoeba histolytica atau Giardia, memasuki tubuh melalui makanan atau kontak langsung dengan hewan air atau tanah dan produk tanaman segar.

.

World Food Safety Day 2022 | CareOurEarth

Beban penyakit bawaan makanan (foodborne illnesses) terhadap kesehatan masyarakat dan ekonomi sering kali diremehkan karena pelaporan yang kurang. Selain itu, juga adanya kesulitan untuk membuktikan hubungan sebab akibat antara kontaminasi makanan dan penyakit atau kematian yang diakibatkannya. Laporan WHO tahun 2015 tentang perkiraan beban global penyakit bawaan makanan menyajikan perkiraan pertama beban penyakit yang disebabkan oleh 31 agen bawaan makanan (bakteri, virus, parasit, racun, dan bahan kimia) di tingkat global. Ternyata lebih dari 600 juta kasus penyakit bawaan makanan dan 420.000 kematian dapat terjadi dalam setahun. Beban penyakit bawaan makanan menimpa secara tidak proporsional pada kelompok dalam situasi rentan dan terutama pada anak balita, dengan beban tertinggi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

.

Laporan Bank Dunia 2019 tentang beban ekonomi penyakit bawaan makanan menunjukkan bahwa, total kerugian produktivitas yang terkait dengan penyakit bawaan makanan di negara berpenghasilan rendah dan menengah, diperkirakan mencapai US$ 95,2 miliar per tahun. Selain itu, biaya tahunan untuk mengobati penyakit bawaan makanan diperkirakan mencapai US$ 15 miliar.

.

Pasokan makanan yang aman mendukung kesehatan ekonomi nasional, berkontribusi pada ketahanan pangan dan gizi, dan mendukung pembangunan berkelanjutan. Pada hal, urbanisasi dan perubahan kebiasaan konsumen telah meningkatkan jumlah orang yang membeli dan makan makanan yang disiapkan di tempat umum. Selain itu, globalisasi telah memicu meningkatnya permintaan konsumen akan variasi makanan yang lebih luas, mengakibatkan rantai makanan global yang semakin kompleks dan panjang. Perubahan iklim juga diprediksi berdampak pada keamanan pangan.

.

Setiap pemerintah harus menjadikan keamanan pangan sebagai prioritas kesehatan masyarakat, dengan menyusun kebijakan dan menerapkan sistem keamanan pangan yang efektif. Momentum Hari Keamanan Pangan Sedunia (World Food Safety Day) pada Selasa, 7 Juni 2022 mengingatkan kita akan peran penting negara dalam menjamin ketersediaan makanan yang aman dan sehat.

Sekian

Yogyakarta, 6 Juni 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life sekolah UHC vaksinasi

2022 Cacar Monyet

Waspada, Berikut Gejala Awal Cacar Monyet yang Kerap Diabaikan oleh Banyak  Orang

CACAR  MONYET

fx. wikan indrarto*)

Monkeypox (cacar monyet) disebabkan oleh virus monkeypox, anggota genus Orthopoxvirus dalam famili Poxviridae adalah penyakit zoonosis virus yang terjadi terutama di daerah hutan hujan tropis Afrika Tengah dan Barat. Cacar monyet biasanya memiliki gejala klinis demam, ruam kulit, pembengkakan kelenjar getah bening, dan dapat menyebabkan berbagai komplikasi medis. Cacar monyet biasanya merupakan penyakit yang sembuh sendiri dengan gejala yang berlangsung dari 2 hingga 4 minggu. Kasus yang parah dapat terjadi dengan rasio kasus kematian meningkat sekitar 3-6%. Apa yang mencemaskan?

.

Manifestasi klinis cacar monyet mirip dengan cacar, infeksi orthopoxvirus  yang telah dinyatakan dapat diberantas di seluruh dunia pada tahun 1980. Cacar monyet kurang menular daripada cacar dan menyebabkan penyakit yang kurang parah. Berbagai spesies hewan telah diidentifikasi rentan terhadap virus cacar monyet, yaitu tupai tali, tupai pohon, tikus, dormice, primata non-manusia dan spesies lainnya. Cacar monyet pertama kali diidentifikasi pada manusia pada tahun 1970 di Republik Demokratik Kongo pada seorang anak laki-laki berusia 9 tahun di wilayah di mana cacar telah dieliminasi pada tahun 1968. Sejak itu, kasus cacar monyet telah dilaporkan pada manusia di 11 negara Afrika, yaitu Benin, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo, Gabon, Pantai Gading, Liberia, Nigeria, Republik Kongo, Sierra Leone , dan Sudan Selatan.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/08/04/2020-bebas-cacar-dan-covid-19/

.

Pada tahun 2003, wabah cacar monyet pertama di luar Afrika terjadi di Amerika Serikat dan dikaitkan dengan kontak dengan anjing padang rumput peliharaan yang terinfeksi. Hewan peliharaan ini telah ditempatkan dengan tikus berkantung Gambia dan dormice yang telah diimpor ke negara itu dari Ghana. Wabah ini menyebabkan lebih dari 70 kasus cacar monyet di AS. Cacar monyet juga telah dilaporkan pada pelancong dari Nigeria ke Israel pada September 2018, ke Inggris pada September 2018, Desember 2019, Mei 2021 dan Mei 2022, ke Singapura pada Mei 2019, dan ke Amerika Serikat pada bulan Juli dan November 2021. Pada Mei 2022, beberapa kasus cacar monyet diidentifikasi di beberapa negara non-endemik.

.

Penularan dari hewan ke manusia (zoonotik) dapat terjadi dari kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau lesi kulit atau mukosa dari hewan yang terinfeksi. Makan daging yang tidak dimasak dengan baik dan produk hewani lainnya dari hewan yang terinfeksi merupakan faktor risiko yang mungkin. Penularan dari manusia ke manusia dapat terjadi akibat kontak dekat dengan sekret pernapasan, lesi kulit orang yang terinfeksi, atau benda yang baru saja terkontaminasi. Penularan melalui partikel pernapasan biasanya memerlukan kontak tatap muka yang berkepanjangan, yang menempatkan petugas kesehatan, anggota rumah tangga dan kontak dekat lainnya dari kasus aktif pada risiko yang lebih besar. Penularan juga dapat terjadi melalui plasenta dari ibu ke janin (yang dapat menyebabkan cacar monyet bawaan) atau selama kontak dekat selama dan setelah kelahiran.

.

Penyebab Cacar Monyet yang Perlu Diwaspadai, Ini Gejala dan Cara  Mencegahnya | merdeka.com

Masa inkubasi cacar monyet biasanya dari 6 hingga 13 hari, tetapi dapat berkisar dari 5 hingga 21 hari. Infeksi dapat dibagi menjadi dua periode, yaitu periode pertama disebut periode invasi berlangsung antara 0-5 hari yang ditandai dengan demam, sakit kepala hebat, limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening), nyeri punggung, mialgia (nyeri otot) dan asthenia yang hebat (kekurangan energi). Limfadenopati adalah ciri khas cacar monyet dibandingkan dengan penyakit lain yang awalnya mungkin tampak serupa (cacar air, campak, cacar). Periode kedua disebut periode erupsi kulit biasanya dimulai dalam 1-3 hari setelah munculnya demam. Ruam cenderung lebih terkonsentrasi di wajah dan ekstremitas daripada di badan. Ini mempengaruhi wajah (dalam 95% kasus), dan telapak tangan dan telapak kaki (dalam 75% kasus). Juga terkena adalah selaput lendir mulut (dalam 70% kasus), alat kelamin (30%), dan konjungtiva (20%), serta kornea. Ruam berkembang secara berurutan dari makula (lesi dengan dasar rata) menjadi papula (lesi keras yang sedikit terangkat), vesikel (lesi berisi cairan bening), pustula (lesi berisi cairan kekuningan), dan krusta yang mengering dan rontok. Jumlah lesi bervariasi dari beberapa hingga beberapa ribu. Dalam kasus yang parah, lesi dapat menyatu sampai sebagian besar kulit terkelupas.

.

Pengelolaan medis untuk monkeypox harus dioptimalkan sepenuhnya untuk meringankan gejala, mengelola komplikasi, dan mencegah gejala sisa jangka panjang. Diperlukan pemberian cairan dan makanan bergizi untuk mempertahankan status gizi yang memadai. Infeksi bakteri sekunder harus diobati sesuai indikasi. Obat antivirus yang dikenal sebagai tecovirimat yang dikembangkan untuk cacar atau smallpox, dilisensikan oleh European Medical Association (EMA) untuk cacar monyet pada tahun 2022, tetapi sampai sekarang obat ini belum tersedia secara luas. Pada Juli tahun 2018, Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat telah memberikan persetujuan kepada SIGA Technology untuk TPOXX (Tecovirimat), obat anti cacar pertama yang disetujui FDA. TPOXX (Tecovirimat) adalah obat penghambat protein pembungkus amplop ortopoxvirus VP37 dengan memblok interaksinya dengan seluler Rab9 GTPase dan TIP47, sehingga mencegah pembentukan bentuk ortopoxvirus kompoten yang diperlukan dalam penyebaran virus di dalam tubuh.

.

Pengobatan Tecovirimat diindikasikan pada orang dewasa dan pasien anak-anak dengan berat setidaknya 13 kg. Obat ini poten, spesifik, aman, mudah dibuat, stabil, tersedia secara oral, memiliki rejimen dosis langsung yang tidak memerlukan pengawasan medis dan tidak mengganggu vaksin. Sediaan dibuat oral dalam kapsul gelatin padat yang berisi zat aktif kristal tecovirimat monohidrat dan bahan tambahan lainnya.

.

Vaksinasi cacar dalam beberapa penelitian observasional sekitar 85% efektif dalam mencegah cacar monyet dan dapat menyebabkan penyakit yang lebih ringan. Bukti vaksinasi sebelumnya terhadap cacar biasanya dapat ditemukan sebagai bekas luka di lengan atas. Saat ini, vaksin cacar (generasi pertama) yang asli tidak lagi tersedia untuk masyarakat umum. Vaksin yang masih lebih baru berdasarkan virus vaccinia yang dilemahkan dan dimodifikasi (strain Ankara) telah disetujui untuk pencegahan monkeypox pada tahun 2019. Ini adalah vaksin dua dosis yang ketersediaannya masih terbatas. Meningkatkan kesadaran akan faktor risiko dan mendidik masyarakat tentang langkah-langkah yang dapat mereka ambil untuk mengurangi paparan virus adalah strategi pencegahan utama cacar monyet.

Jumat, 20 Mei 2022 terjadi wabah cacar monyet yang dilaporkan di 11 negara yang tidak biasa, karena terjadi di negara-negara non-endemik di Eropa, Amerika dan Australia. Ada sekitar 80 kasus yang dikonfirmasi dan 50 kasus sedang dalam penyelidikan. Lebih banyak kasus kemungkinan akan dilaporkan saat pengawasan meluas.

Apakah kita sudah bertindak bijak?

Yogyakarta, 23 Mei 2022

*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM. WA :  081227280161

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life Jalan-jalan sekolah

2022 MUDIK AMAN

Tips Mudik Aman 2022 dengan Mobil Pribadi, Tenang Saat Perjalanan - Suara  Merdeka

MUDIK  AMAN

fx. wikan indrarto*)

Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Inspektur Jenderal Firman Shantyabudi mengatakan, angka kecelakaan selama mudik Lebaran 2022 menurun 31% dibandingkan pada 2019. Pada hal jumlah kendaraan yang melintas mencapai 170.078 unit, naik 1,2% dibandingkan 166.444 unit pada tahun 2019. Cidera lalu lintas sudah dapat ditekan. Apa lagi yang harus ditingkatkan?

.

Sekitar 1,3 juta orang meninggal setiap tahun secara global akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Lebih dari setengah dari semua kematian tersebut menimpa pejalan kaki, pengendara sepeda, dan pengendara sepeda motor. Sekitar 93% kematian dunia di jalan terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, meskipun di negara ini memiliki sekitar 60% kendaraan dunia. Cedera lalu lintas jalan adalah penyebab utama kematian anak, remaja dan dewasa muda yang berusia 5-29 tahun.

.

Faktor risiko kecelakaan lalu lintas adalah usia, jenis kelamin, kecepatan, penggunaan zat adiktif dan alat keselamatan, fasilitas keamanan kendaraan, perawatan medis paska kecelakaan, dan penegakan hukum yang kurang tegas. Cedera lalu lintas jalan adalah penyebab utama kematian anak, remaja, dan dewasa muda berusia 5-29 tahun, karena mobilitas mereka lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya. Berdasarkan jenis kelamin, anak dan remaja laki-laki lebih mungkin terlibat dalam kecelakaan lalu lintas daripada perempuan. Sekitar tiga perempat (73%) dari semua kematian lalu lintas di jalan terjadi pada laki-laki muda di bawah usia 25 tahun, yang hampir 3 kali lipat lebih mungkin meninggal dalam kecelakaan lalu lintas dibandingkan perempuan muda.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/06/09/2018-tradisi-mudik/

Peningkatan kecepatan kendaraan secara langsung berhubungan dengan kemungkinan terjadinya kecelakaan dan tingkat keparahan akibat dari kecelakaan tersebut. Misalnya, setiap 1% peningkatan kecepatan rata-rata menghasilkan 4% peningkatan risiko kecelakaan fatal dan 3% peningkatan risiko kecelakaan serius. Risiko kematian pejalan kaki yang tertabrak bagian depan mobil meningkat pesat (4,5 kali pada peningkatan kecepatan dari 50 km/jam menjadi 65 km/jam). Pada benturan samping mobil ke mobil, risiko kematian bagi penumpang mobil adalah 85% pada kecepatan 65 km/jam.

.

Penggunaan helm yang benar oleh pengendara sepeda motor dapat mengurangi risiko cedera fatal sebesar 42% dan pengurangan risiko cedera kepala sebesar 69%. Mengenakan sabuk pengaman mengurangi risiko kematian di antara pengemudi dan penumpang kursi depan mobil  sebesar 45 – 50%, dan risiko kematian dan cedera serius di antara penumpang kursi belakang mobil sebesar 25%. Penggunaan kursi pengaman anak dapat menurunkan 60% kematian.

.

Pengemudi yang menggunakan ponsel kira-kira 4 kali lebih mungkin terlibat dalam kecelakaan. Menggunakan telepon cerdas saat mengemudi memperlambat waktu reaksi, terutama waktu reaksi pengereman, tetapi juga reaksi terhadap sinyal lalu lintas, dan menyulitkan untuk tetap berada di jalur yang benar, dan menjaga jarak kendaraan yang aman. Telepon hands-free tidak jauh lebih aman daripada perangkat telepon genggam.

Terpaksa Harus Mudik, Ini Tips Mudik Aman saat Wabah Corona Covid-19

Desain jalan dapat memiliki dampak yang cukup besar pada keselamatan penggunanya. Idealnya ada fasilitas yang memadai untuk pejalan kaki, pengendara sepeda, dan pengendara sepeda motor. Pembangunan jalan setapak, jalur bersepeda, titik persimpangan yang aman, dan tindakan pengaturan lalu lintas lainnya seperti ‘one way’, ‘contra flow’ dan ganjil genap sangat penting untuk mengurangi risiko cedera.

.

Kendaraan yang aman memainkan peran penting dalam mencegah kecelakaan dan mengurangi kemungkinan cedera serius. Ini termasuk mengharuskan produsen kendaraan untuk memenuhi peraturan benturan depan dan samping, untuk memasukkan kontrol stabilitas elektronik untuk mencegah kemudi yang liar (over-steering) dan untuk memastikan ‘airbag’ dan sabuk pengaman dipasang di semua jenis kendaraan.

.

Keterlambatan dalam mendeteksi dan memberikan perawatan medis bagi korban kecelakaan lalu lintas jalan meningkatkan keparahan cedera. Perawatan medis untuk cedera setelah kecelakaan terjadi, adalah sangat sensitif terhadap waktu, karena penundaan beberapa menit dapat membuat perbedaan hasil klinis antara hidup dan mati. Meningkatkan perawatan medis pasca kecelakaan memerlukan jaminan akses ke rumah sakit tepat waktu, dan kualitas perawatan medis yang bermutu, seperti melalui program pelatihan oleh dokter spesialis.

.

Jika undang-undang lalu lintas tentang mengemudi dalam keadaan mabuk, penggunaan sabuk pengaman, batas kecepatan, helm, dan pengaman anak tidak ditegakkan, peraturan tersebut tidak dapat mengurangi kematian dan cedera lalu lintas yang terkait dengan perilaku tertentu. Namun demikian, adanya tilang elektronik (e-tilang) atau electronic traffic law enforcement (ETLE) di sejumlah ruas jalan tol di Pulau Jawa yang mulai berlaku sejak 1 April 2022, diprediksi akan  mempengaruhi perilaku pengemudi.

.

Kecelakaan lalu lintas jalan dapat dicegah dengan keterlibatan dari berbagai sektor seperti transportasi, polisi, kesehatan, pendidikan, dan hukum, untuk menciptakan jalan raya yang aman bagi semua penggunanya, tidak hanya saat mudik Lebaran saja.

Apakah kita sudah terlibat berperan?

Sekian

Yogyakarta, 10 Mei 2022

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, pengguna sepeda dan pemudik jarak dekat, WA: 081227280161,

Categories
anak Healthy Life Jalan-jalan Pendukung ASI sekolah

2022 Cegah kegemukan

Cara Mencegah Obesitas pada Anak, Bagaimana Caranya?

CEGAH KEGEMUKAN

fx. wikan indrarto*)

Mempercepat tindakan untuk menghentikan obesitas


Lebih dari 1 miliar orang di seluruh dunia mengalami obesitas. Jumlah ini masih terus bertambah, bahkan WHO memperkirakan pada tahun 2025, sekitar 167 juta orang, baik dewasa dan anak, akan jadi sakit karena kelebihan berat badan atau obesitas. Apa yang mencemaskan?

.

Obesitas adalah penyakit yang mempengaruhi sebagian besar sistem dan organ tubuh, dari jantung, hati, ginjal, sendi, sampai sistem reproduksi. Dampaknya berupa penyakit tidak menular (PTM), seperti diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, hipertensi dan stroke, kanker, serta masalah kesehatan mental. Orang dengan obesitas juga tiga kali lebih mungkin dirawat di rumah sakit karena COVID-19. Kunci untuk mencegah obesitas adalah bertindak sejak dini, idealnya bahkan sebelum bayi lahir. Nutrisi yang baik selama kehamilan, diikuti dengan pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan dan terus menyusui sampai usia 2 tahun, adalah langkah yang terbaik untuk semua bayi dan anak.

.

Kegemukan dan obesitas didefinisikan sebagai akumulasi lemak abnormal atau berlebihan yang dapat mengganggu kesehatan. Indeks massa tubuh (BMI) adalah indeks sederhana dari berat badan-untuk-tinggi yang umum digunakan untuk mengklasifikasikan kelebihan berat badan dan obesitas. Untuk anak balita kelebihan berat badan adalah berat badan untuk tinggi badan lebih besar dari 2 standar deviasi di atas median Standar Pertumbuhan Anak WHO, dan obesitas lebih besar dari 3. Pada anak dan remaja berusia antara 5-19 tahun kelebihan berat badan adalah BMI lebih besar dari 1 standar deviasi di atas median Pertumbuhan WHO dan obesitas lebih besar dari 2.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/03/03/2021-tumpas-obesitas/

.

Penyebab mendasar dari obesitas dan kelebihan berat badan adalah ketidakseimbangan energi antara kalori yang dikonsumsi dan kalori yang dikeluarkan. Secara global, hal tersebut telah terjadi karena pertama, adanya peningkatan asupan makanan padat energi yang tinggi lemak dan gula. Kedua, penurunan aktivitas fisik karena semakin banyak bentuk pekerjaan yang menetap, perubahan moda transportasi, dan peningkatan urbanisasi. Keduanya, yaitu perubahan pola makan dan aktivitas fisik seringkali merupakan hasil dari perubahan lingkungan dan sosial yang terkait dengan pembangunan dan kurangnya kebijakan yang mendukung pada sektor kesehatan, pertanian, transportasi, perencanaan kota, lingkungan, pengolahan makanan, distribusi, pemasaran, dan pendidikan.

.

Obesitas pada anak dikaitkan dengan kemungkinan obesitas, kematian dini, dan kecacatan yang lebih tinggi di masa dewasa. Namun selain peningkatan risiko di masa depan, anak obesitas mengalami kesulitan bernapas, peningkatan risiko patah tulang, hipertensi, penanda awal penyakit kardiovaskular, resistensi insulin dan efek psikologis. Kegemukan dan obesitas, serta penyakit tidak menular yang terkait, sebagian besar dapat dicegah. Lingkungan dan masyarakat yang mendukung sangat penting dalam membentuk pilihan masyarakat, dengan menjadikan pilihan makanan yang lebih sehat dan aktivitas fisik yang teratur sebagai pilihan yang paling mudah diakses, tersedia dan terjangkau.

Cara Mengatasi dan Mencegah Obesitas pada Anak - Rumah Sakit Karanggede  Sismamedika

Pada tingkat keluarga, orang tua dapat dapat melakukan pembatasan asupan energi dari total lemak dan gula pada anak. Juga meningkatkan konsumsi buah dan sayuran, serta kacang-kacangan, biji-bijian. Dan jangan lupa untuk mendorong anak melakukan aktivitas fisik secara teratur (60 menit sehari untuk anak-anak dan 150 menit dalam seminggu untuk remaja dan orang dewasa).

.

Di tingkat masyarakat, penting untuk mendukung individu dalam mengikuti rekomendasi di atas, melalui implementasi berkelanjutan dari kebijakan berbasis bukti dan berbasis populasi yang membuat aktivitas fisik teratur dan pilihan makanan yang lebih sehat tersedia, terjangkau dan mudah diakses oleh semua orang, terutama bagi yang termiskin. individu. Contoh dari kebijakan tersebut adalah pajak atas minuman manis dengan gula.

.

Industri makanan dapat memainkan peran penting dalam mempromosikan diet sehat dengan mengurangi kandungan lemak, gula, dan garam makanan olahan. Juga memastikan bahwa pilihan yang sehat dan bergizi tersedia dan terjangkau bagi semua konsumen. Regulasi negara harus mencakup pembatasan pemasaran makanan tinggi gula, garam dan lemak, terutama makanan yang ditujukan untuk anak dan remaja. Selain itu, juga memastikan ketersediaan pilihan makanan sehat dan mendukung praktik aktivitas fisik secara teratur di tempat kerja.

Pada kesempatan Hari Obesitas Sedunia 4 Maret 2022, semua negara harus berbuat lebih banyak untuk membalikkan krisis kesehatan yang dapat diprediksi dan dicegah ini. Langkah efektif harus segera diambil, termasuk membatasi pemasaran makanan dan minuman tinggi lemak, gula dan garam kepada anak, mengenakan pajak pada minuman manis, dan menyediakan akses yang lebih baik ke makanan sehat yang terjangkau. Setiap kota perlu menyediakan ruang bagi semua warganya, termasuk anak untuk berjalan kaki ke sekolah, bersepeda, dan rekreasi yang aman, dan guru di sekolah perlu mengajarkan kebiasaan sehat kepada anak sejak dini.

.

Sudahkah kita bijak mensikapi bahaya obesitas ?

Sekian

Yogyakarta, 4 Maret 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
antibiotika COVID-19 dokter Healthy Life Jalan-jalan Pendukung ASI sekolah UHC

2022 Hari Kesehatan Dunia

Hari Kesehatan Sedunia 2022: Sejarah dan Tema Peringatan

Tulisan ini juga dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 17 April 2022, halaman 8

HARI  KESEHATAN  SEDUNIA  2022

fx. wikan indrarto*)

Setiap tanggal 7 April, dirayakan sebagai Hari Kesehatan Sedunia (World Health Day). Pada tahun 2022 ini kita diajak menciptakan dunia dengan udara yang bersih, air dan makanan tersedia untuk semua. Juga kebijakan ekonomi difokuskan pada aspek kesehatan dan kesejahteraan warga. Selain itu, setiap kota dapat ditinggali dengan nyaman, karena warganya memiliki kendali atas kesehatan diri dan kesehatan bumi ini.

.

Tema peringatan tahun 2022 : planet kita adalah kesehatan kita (our planet, our health). Di tengah pandemi COVID-19, planet kita yang tercemar akan meningkatkan penyakit seperti kanker, asma, dan gangguan jantung. WHO memperkirakan bahwa lebih dari 13 juta kematian di seluruh dunia setiap tahun, disebabkan oleh penyebab atau faktor lingkungan hidup yang sebenarnya dapat dihindari. Ini termasuk krisis iklim yang merupakan satu-satunya ancaman kesehatan terbesar yang dihadapi umat manusia, bahkan krisis perubahan iklim juga merupakan krisis kesehatan.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2022/01/09/2021-momentum-kesehatan/

.

Keputusan politik, sosial, dan komersial yang tidak bijaksana akan mendorong krisis iklim dan kesehatan. Lebih dari 90% orang menghirup udara tidak sehat akibat pembakaran bahan bakar fosil, terutama untuk kendaraan bermotor. Dunia yang memanas akan memungkinkan nyamuk terbang untuk menyebarkan penyakit Dengue lebih jauh dan lebih cepat daripada sebelumnya. Gangguan cuaca ekstrem, degradasi lahan dan kelangkaan air menggusur orang dan menurunkan derajad kesehatan mereka. Plastik ditemukan di dasar lautan terdalam dan gunung tertinggi, bahkan telah memasuki rantai makanan kita. Sistem yang menghasilkan makanan dan minuman yang diproses dengan cepat saji dan tidak sehat mendorong gelombang obesitas, meningkatkan kanker dan penyakit jantung. Bahkan juga menghasilkan sepertiga dari emisi gas rumah kaca global.

.

Sementara pandemi COVID-19 menunjukkan kepada kita kekuatan teknologi kedokteran dalam meredamnya, tetapi sekaligus juga menyoroti ketidaksetaraan pemberian layanan medis di hampir seluruh dunia. Pandemi COVID-19 telah mengungkapkan kelemahan di semua bidang masyarakat dan menggarisbawahi urgensi menciptakan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan dan adil. Desain ekonomi saat ini mengarah pada distribusi pendapatan, kekayaan, dan kekuasaan yang tidak merata, sehingga masih terlalu banyak orang yang hidup dalam kemiskinan. Pembanganunan ekonomi ke depan sebaiknya memiliki tujuan kesejahteraan manusia, kesetaraan dan keberlanjutan ekologis. Tujuan ini diterjemahkan ke dalam investasi jangka panjang, anggaran kesejahteraan, perlindungan sosial, strategi hukum dan fiskal.

.

Selamat Hari Kesehatan Sedunia 2022 - Yayasan Gastroenterologi Indonesia

Sembilan dari sepuluh orang menghirup udara yang tercemar. Polusi udara telah membunuh 13 orang setiap menitnya karena kanker paru-paru, penyakit jantung dan stroke. Sebaiknya segera berhenti membakar bahan bakar fosil seperti minyak, batu bara, dan gas alam, karena menyebabkan polusi udara. Polusi nitrogen dioksida dapat memperburuk penyakit pernapasan, terutama asma. Sistem transportasi umum yang terencana dengan baik, termasuk jalan kaki dan bersepeda yang aman, dapat meningkatkan kualitas udara, mengurangi perubahan iklim, dan memberikan manfaat kesehatan tambahan.

.

Perubahan iklim merupakan ancaman bagi kesehatan manusia karena meningkatnya suhu bumi dan terjadi banjir, bahkan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk seperti Dengue, menyebar lebih luas dan menempatkan 2 miliar orang tambahan pada risiko infeksi dengue. Sekitar 3,6 miliar orang kekurangan toilet yang aman secara global. Kotoran manusia yang tidak diolah merusak ekosistem dan kesehatan manusia. Bahkan 2 miliar orang kekurangan air minum yang aman secara global dan 829.000 orang meninggal karena penyakit diare setiap tahun yang disebabkan oleh air yang tercemar dan sanitasi yang buruk. Diperlukan perlindungan terhadap sumber air baku dengan mencegah masuknya limbah dan bahan kimia ke danau, sungai, atau air tanah kita.  Selain itu, juga perlu  mengelola limbah medis dengan aman, karena luka tertusuk jarum suntik yang dibuang dapat menyebabkan Hepatitis B, C dan penyakit menular lainnya.

.

Tembakau membunuh lebih dari 8 juta orang setiap tahun dan sangat adiktif. Ini adalah faktor risiko utama untuk kanker, gangguan jantung, dan penyakit paru-paru. Sekitar 600 juta pohon ditebang untuk menghasilkan 6 triliun batang rokok setiap tahun, juga mengurangi udara bersih yang kita hirup. Selain tembakau dapat menyebabkan kematian, menanam tembakau juga membahayakan planet ini, sehingga kita perlu menjaga tubuh dan lingkungan bebas dari tembakau.

.

Momentum Hari Kesehatan Sedunia (World Health Day) pada Kamis, 7 April 2022 dan pandemi COVID-19 mengingatkan kita akan pentingnya  berinvestasi dalam bidang kesehatan sebagai motor pembangunan. Negara tidak perlu memilih prioritas untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan keadilan sosial di satu sisi. Atau di sisi lainnya meliputi pembangunan masyarakat yang berkelanjutan, ketahanan pangan dan nutrisi yang memadai, mengatasi perubahan iklim, atau menggenjot roda ekonomi. Semua hasil penting ini ternyata berjalan seiring, tidak terpisahkan, dan saling terkait (hand in hand), dalam menciptakan planet kita yang lebih sehat dan semakin adil (our planet, our health).

 Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 4 April 2022

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
COVID-19 dokter Healthy Life sekolah

2022 VAKSINASI BOOSTER COVID-19

BKAD - UNTUK TINGKATKAN IMUN PEGAWAI BKAD IKUTI PROGRAM VAKSIN COVID-19  BOOSTER

BOOSTER  VAKSINASI  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Tulisan ini sudah dimuat di kompas digital :

https://www.kompas.id/baca/bebas-akses/2022/01/17/booster-vaksin-covid-19

Rabu, 12 Januari 2022 rencana akan dilakukan booster vaksinasi COVID-19 di Indonesia. Pada hal, dalam beberapa pekan terakhir varian Omicron SARS-CoV2 telah muncul. Data yang ada saat ini tidak cukup untuk menilai dampak kekhawatiran varian baru ini terkait efektivitas vaksin, khususnya terhadap terjadinya penyakit derajat parah. Apa yang menarik?

.

Dosis booster diberikan kepada seseorang yang telah mendapatkan vaksinasi COVID-19 primer, pada suatu saat ketika seiring waktu, kekebalan dan perlindungan klinis telah turun di bawah tingkat yang dianggap cukup. Tujuan dari dosis booster adalah untuk mengembalikan efektivitas vaksin, dari yang dianggap tidak cukup lagi. Sebaliknya, dosis tambahan vaksin diberikan sebagai bagian dari seri primer yang diperluas, untuk populasi target di mana tingkat respons imun yang mengikuti seri primer standar dianggap tidak mencukupi. Tujuan dari dosis tambahan dalam seri primer adalah untuk meningkatkan respon imun pada tingkat efektivitas yang cukup. Secara khusus, individu dengan gangguan kekebalan dan juga lansia sering gagal untuk meningkatkan respon imun protektif setelah seri primer standar, sehingga diperlukan dosis vaksin tambahan yang bukan disebut booster.

.

Direktur Jenderal WHO telah menyerukan moratorium vaksinasi booster untuk orang dewasa yang sehat, guna mengatasi ketidakadilan yang berkelanjutan dan mendalam dalam akses vaksin global. Sementara banyak negara masih jauh dari mencapai target cakupan 40% pada akhir tahun 2021, beberapa negara lainnya telah memvaksinasi jauh melampaui ambang batas ini, telah menjangkau kelompok anak, dan bahkan menerapkan program vaksinasi booster yang ekstensif. Pada saat ini secara global sekitar 20% dosis vaksin COVID-19, setiap hari digunakan untuk vaksinasi booster atau dosis tambahan.

.

Data menunjukkan penurunan efektivitas vaksin terhadap infeksi SARS-CoV2 dan meningkatnya risiko infeksi COVID-19 seiring waktu sejak vaksinasi, dan penurunan yang lebih signifikan terjadi pada kelompok usia lansia. Bukti ini sebagian besar didasarkan pada penelitian observasional yang mungkin dipengaruhi oleh faktor perancu (confounding factors). Tingkat penurunan kekebalan berbeda berdasarkan jenis vaksin dan populasi target. Virus yang beredar, khususnya varian yang menjadi perhatian seperti delta dan omicron, tingkat infeksi sebelumnya dalam suatu komunitas pada saat vaksinasi primer; jadwal vaksinasi utama yang digunakan (yaitu interval dosis) dan intensitas paparan, semuanya mungkin memainkan peran dalam temuan tentang berkurangnya perlindungan, tetapi tidak dapat dinilai secara sistematis dari data yang tersedia saat ini.

.

Bertambah Dua, Ini Daftar Terbaru Kombinasi Vaksin Booster Covid-19 -  Nasional Katadata.co.id

Tinjauan sistematis dan analisis meta-regresi, khususnya pada empat vaksin dengan data terbanyak (yaitu vaksin BNT162b2, mRNA 1273, Ad26.COV2.S dan ChAdOx1-S), efektivitas vaksin terhadap COVID-19 parah menurun sekitar 8% selama periode 6 bulan di semua kelompok umur. Pada orang dewasa di atas 50 tahun, efektivitas vaksin terhadap penyakit parah menurun sekitar 10% selama periode yang sama. Efektivitas vaksin terhadap penyakit simtomatik menurun sebesar 32%  untuk mereka yang berusia di atas 50 tahun. Untuk beberapa vaksin yang tidak aktif (Vaksin CoronaVac dan vaksin COVID-19 BIBP), WHO telah mengeluarkan rekomendasi pemberian dosis tambahan kepada mereka yang berusia 60 tahun atau lebih, sebagai bagian dari seri primer untuk membuat kekebalan awal lebih kuat.

.

Setidaknya 126 negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia, telah mengeluarkan rekomendasi tentang vaksinasi booster dan 120 telah memulai implementasi program ini. Mayoritas negara-negara ini diklasifikasikan sebagai berpenghasilan tinggi, atau berpenghasilan menengah ke atas. Belum ada negara berpenghasilan rendah yang memperkenalkan program vaksinasi booster. Populasi target yang paling sering diprioritaskan untuk dosis booster adalah para lansia, petugas kesehatan dan individu dengan gangguan kekebalan. Pada individu dengan gangguan kekebalan, dosis booster dianggap sebagai dosis vaksinasi seri primer tambahan oleh WHO. 

.

Pada hal di beberapa negara yang memberikan dosis booster, tingkat cakupan untuk vaksinasi primer lengkap ada yang masih di bawah 30%. Mengingat ketidakpastian pasokan yang berkelanjutan dalam akses dan kesetaraan vaksin global, keputusan kebijakan dosis booster vaksin masing-masing negara perlu menyeimbangkan manfaat kesehatan masyarakat bagi populasi mereka, dengan dukungan kesetaraan global dalam akses vaksin yang diperlukan, untuk mengatasi evolusi virus dan dampak pandemi secara global.

.

Penggunaan vaksin booster secara pemodelan matematika, sesuai dengan  optimalisasi dampak kesehatan masyarakat terkait pasokan vaksin yang terbatas. Pemodelan ini menunjukkan bahwa pengurangan kematian yang lebih besar dapat dicapai dengan memberikan dosis booster pada populasi berisiko tinggi, daripada menggunakan dosis yang sama untuk imunisasi primer pada populasi berisiko rendah. Pada saat pasokan meningkat dan vaksinasi diperluas ke kelompok usia dengan prioritas lebih rendah, pertukaran mungkin perlu dipertimbangkan untuk memprioritaskan vaksinasi booster untuk populasi berisiko tinggi, daripada memperluas cakupan imunisasi primer ke populasi yang lebih muda. WHO saat ini tidak merekomendasikan vaksinasi umum pada anak dan remaja, karena beban penyakit parah pada kelompok usia ini rendah, dan cakupan yang tinggi belum tercapai pada lansia di semua negara, yang merupakan kelompok yang berisiko tinggi terkena penyakit parah.

.

Keputusan untuk merekomendasikan dan menerapkan dosis booster adalah kompleks dan membutuhkan, di luar data klinis dan epidemiologis, pertimbangan prioritas strategis dan program nasional. Namun demikian, yang terpenting adalah penilaian terhadap prioritas pasokan vaksin yang masih terbatas. Dalam konteks ini, prioritas harus diberikan pada pencegahan penyakit yang parah, dengan mempertahankan layanan dan sistem kesehatan agar tetap dapat berfungsi baik, tanpa kewalahan lagi.

.

Menerapkan dosis booster harus benar-benar didorong oleh bukti dan ditargetkan untuk kelompok populasi dengan risiko tertinggi penyakit serius. Sampai saat ini, bukti menunjukkan pengurangan minimal hingga sedang dari perlindungan vaksin terhadap penyakit parah selama 6 bulan setelah vaksinasi seri primer. Berkurangnya efektivitas vaksin dan durasi perlindungan terhadap varian Omicron, sedang dalam penelitian. Bukti tentang berkurangnya efektivitas vaksin, khususnya penurunan perlindungan terhadap penyakit parah pada populasi berisiko tinggi, memerlukan lebih banyak data. Selain itu, juga data dampak potensial dari vaksinasi booster pada durasi perlindungan, tidak hanya terhadap penyakit parah, tetapi juga terhadap penyakit ringan, infeksi ulang, dan kecepatan penularan.

.

Bersama dengan menerapkan protokol kesehatan ketat, mendapatkan vaksinasi COVID-19, baik seri pertama ataupun booster, akan membuat semua orang aman dari risiko penularan COVID-19.

Sudahkah kita bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 4 Januari 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?