Categories
anak COVID-19 Healthy Life sekolah

2021 Cidera dan Kekerasan

Waspada! 5 Jenis Cedera karena Olahraga dan Cara Mengatasinya | Popmama.com

CEDERA  DAN  KEKERASAN

fx. wikan indrarto*)

Laporan UNICEF pada Jumat, 19 Maret 2021 menyebutkan bahwa cidera merenggut nyawa 4,4 juta remaja di seluruh dunia setiap tahun dan merupakan hampir 8% dari semua kematian remaja. Kira-kira 1 dari 3 kematian remaja ini diakibatkan oleh kecelakaan lalu lintas di jalan raya, 1 dari 6 akibat bunuh diri, 1 dari 10 akibat pembunuhan, dan 1 dari 61 akibat perang dan konflik bersenjata. Apa yang mencemaskan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/08/14/2020-hari-remaja-internasional/

.

Selain kematian dan cedera, paparan terhadap segala bentuk kekerasan, terutama di masa anak, dapat meningkatkan risiko gangguan mental dan keinginan untuk bunuh diri, menjadi perokok, pengguna alkohol dan penyalahgunaan zat terlarang, mengalami penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes dan kanker, serta masalah sosial seperti kemiskinan, kejahatan dan kekerasan. Karena alasan ini, mencegah cedera dan kekerasan, termasuk dengan memutus siklus kekerasan antargenerasi, sebenarnya lebih dari sekadar menghindari cedera fisik, tetapi juga berkontribusi pada manfaat kesehatan, sosial dan ekonomi yang substansial.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/10/2020-kesehatan-seksual-remaja/

.

Cedera dan kekerasan merupakan penyebab utama kematian dan beban penyakit di semua negara, tetapi tidak tersebar merata di seluruh wilayah sebuah negara. Bahkan beberapa remaja lebih rentan daripada yang lain tergantung pada kondisi di mana mereka dilahirkan, tumbuh, sekolah, hidup, dan usia. Usia lebih muda, laki-laki dan status sosial ekonomi rendah semuanya meningkatkan risiko cedera dan menjadi korban atau pelaku kekerasan fisik yang berat. Risiko cedera akibat jatuh meningkat seiring bertambahnya usia.

.

Remaja laki-laki dua kali lebih banyak daripada perempuan yang meninggal setiap tahun akibat cedera dan kekerasan. Di seluruh dunia, sekitar tiga perempat kematian akibat kecelakaan lalu lintas di jalan raya, empat perlima kematian akibat pembunuhan, dan dua pertiga kematian akibat perang dan konflik bersenjata, mengenai remaja laki-laki. Akan tetapi di banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah, wanita dan remaja perempuan lebih mungkin untuk mengalami luka bakar dibandingkan pria dan remaja laki-laki.

.

Kemiskinan juga meningkatkan risiko terjadinya cidera dan kekerasan. Sekitar 90% kematian terkait cidera terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Di seluruh dunia, angka kematian akibat cedera lebih tinggi di negara berpenghasilan rendah dibandingkan di negara berpenghasilan tinggi. Bahkan di dalam negara, anak dan remaja dari latar belakang ekonomi yang lebih miskin memiliki tingkat kecelakaan fatal dan non-fatal yang lebih tinggi, daripada sebayanya dari latar belakang ekonomi yang lebih kaya.

Video Perkelahian Siswi SMP Viral di Klungkung, TKP Tak Jauh dari Rumah  Jabatan Bupati & Wabup - Tribun Bali

Faktor risiko dan determinan yang umum untuk semua jenis cedera, meliputi pengaruh alkohol atau penggunaan obat terlarang, pengawasan orang tua yang tidak memadai, dan faktor prediktor kesehatan lainnya. Hal ini mencakup kemiskinan, ketidaksetaraan ekonomi dan gender, pengangguran, kurangnya keamanan di lingkungan perumahan, sekolah, dan jalan. Pada saat layanan RS untuk kondisi trauma dan darurat medis adalah lemah atau karena akses yang tidak adil ke layanan kesehatan, tentu saja dampak dari cedera dan kekerasan dapat memburuk.

.

Cedera dan kekerasan dapat diprediksi dan dicegah. Analisis biaya dan manfaat tindakan pencegahan cedera dan kekerasan, menawarkan efisiensi finansial yang signifikan dan memberikan manfaat yang besar. Ssetiap US $ 1 yang diinvestasikan untuk detektor asap menghemat US $ 65 perawatan luka bakar, penggunaan sabuk pengaman dan helm sepeda motor menghemat US $ 29 biaya layanan medis, dan kunjungan ke rumah oleh petugas kesehatan menghemat US $ 6 untuk biaya medis dan kehilangan produktivitas. Di Bangladesh, mengajarkan anak usia sekolah keterampilan berenang dapat menghemat US $ 3.000 per kematian remaja yang dapat dicegah. Di Eropa dan Amerika Utara, pengurangan 10% dalam pengalaman masa kanak yang merugikan dapat disamakan dengan tabungan tahunan sebesar 3 juta Tahun Hidup dengan Kendala (Disability Adjusted Life Years) atau setara US $ 105 miliar.

.

Layanan medis darurat yang berkualitas bagi para korban cidera dapat mencegah kematian remaja, mengurangi jumlah kecacatan, serta mengatasi dampak fisik, emosional, finansial dan hukum atas cidera atau kekerasan tersebut. Dengan demikian, membentuk sistem organisasi, perencanaan dan akses ke layanan trauma dan kedaruratan, termasuk telekomunikasi dan transportasi ke rumah sakit, perawatan pra-rumah sakit dan di rumah sakit, merupakan strategi penting untuk meminimalkan kematian dan kecacatan remaja, akibat cedera dan kekerasan. Menyediakan rehabilitasi bagi penyandang disabilitas, memastikan mereka memiliki akses ke alat bantu seperti kursi roda, dan menghilangkan hambatan partisipasi sosial dan ekonomi adalah strategi utama untuk memastikan bahwa remaja yang mengalami disabilitas akibat cedera atau kekerasan, dapat terus melanjutan kehidupan dengan penuh semangat dan menyenangkan.

.

Laporan UNICEF pada Jumat, 19 Maret 2021 mengingatkan kita semua, bahwa cidera, kekerasan, dan kematian pada remaja dapat dicegah, dengan memastikan tidak ada seorangpun remaja yang tertinggal (to ensure no one is left behind).

 Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 22 Maret 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
COVID-19 Healthy Life sekolah vaksinasi

2020 Sekolah saat pandemi COVID-19

Ini Syarat Sekolah Boleh Dibuka Lagi di Masa Pandemi | Indonesia.go.id

SEKOLAH  SAAT  PANDEMI  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Banyak negara di seluruh dunia mengambil tindakan pembatasan sosial berskala luas, termasuk penutupan sekolah, untuk mencegah penyebaran virus SARS-CoV-2, yang menyebabkan COVID-19. Bagaimana sebaiknya?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/10/19/2020-covid-19-dan-anak/

.

Beberapa hal dijadikan pertimbangan untuk memulai kegiatan sekolah, termasuk pembukaan, penutupan sementara dan pembukaan kembali serta langkah-langkah yang diperlukan untuk meminimalkan risiko terinfeksi COVID-19, terutama pada anak di bawah usia 18 tahun. Panduan WHO, UNICEF, dan UNESCO telah disusun dengan mempertimbangkan keadilan, implikasi sumber daya, dan kelayakan, demi kesinambungan pendidikan, kesejahteraan, kesehatan, dan keselamatan untuk anak, orang tua atau pengasuh, guru dan staf lain dan lebih luas lagi, komunitas dan masyarakat sekitar.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/10/06/2020-ancaman-covid-19/

.

Keputusan tentang penutupan penuh atau sebagian, juga pembukaan kembali sekolah harus diambil di tingkat pemerintah daerah, berdasarkan tingkat lokal penularan SARS-CoV-2 dan penilaian risiko lokal, serta seberapa besar pembukaan kembali sekolah dapat meningkatkan penularan di komunitas. Penutupan sekolah hanya perlu dipertimbangkan jika tidak ada alternatif lain. COVID-19 menyebabkan beban langsung yang sebenarnya cukup terbatas pada kesehatan anak, hanya sekitar 8,5% dari kasus yang dilaporkan secara global, dan sangat sedikit kematian terkait COVID-19 pada anak. Sebaliknya, penutupan sekolah memiliki dampak negatif yang jelas terhadap kesehatan anak, pendidikan dan perkembangan, pendapatan keluarga dan perekonomian secara keseluruhan. Pemerintah pusat dan daerah harus mempertimbangkan untuk memprioritaskan kesinambungan pendidikan, sementara juga membatasi penularan di masyarakat yang lebih luas.

.

Siswa di China Pakai Topi Social Distancing Saat Kembali Sekolah Usai  Lockdown Akibat Covid-19 - Tribunnews.com Mobile

.

Pihak berwenang dapat mempertimbangkan untuk menutup sekolah sebagai bagian dari PSBB, di wilayah yang mengalami peningkatan jumlah kasus dan cluster yang mencakup sekolah. Tergantung tren dan intensitas  penularan, otoritas lokal dapat mempertimbangkan pendekatan berbasis risiko untuk penutupan sekolah, terutama di daerah dengan tren peningkatan, rawat inap, dan kematian terkait COVID-19. Selain itu, sekolah harus benar-benar mematuhi protokol kesehatan untuk COVID-19.

.

Ketentuan tentang jaga jarak fisik di sekolah dapat diterapkan untuk siswa  di luar ruang kelas setidaknya 1 meter untuk siswa (semua kelompok umur) dan staf sekolah. Di dalam ruang kelas, tindakan sesuai usia berikut dapat dipertimbangkan berdasarkan intensitas penularan SARS-COV-2 setempat.

.

Untuk wilayah dengan transmisi komunitas, tetap pertahankan jarak setidaknya 1 meter antara semua orang. Untuk wilayah dengan transmisi cluster, pendekatan berbasis risiko harus diterapkan untuk menjaga jarak setidaknya 1 meter antar siswa.  Untuk wilayah dengan tidak ada kasus penularan, anak di bawah usia 12 tahun tidak harus selalu menjaga jarak secara fisik. Sebaliknya, anak berusia 12 tahun ke atas harus menjaga jarak setidaknya 1 meter satu sama lain. Saat jaga jarak minimal 1 meter, maka siswa, guru dan staf pendukung sekolah tetap harus memakai masker.

.

Batasi pencampuran kelas dan kelompok usia, untuk semua kegiatan, termasuk program ekstra atau setelah sekolah. Sekolah dengan ruang atau sumber daya terbatas dapat mempertimbangkan pengaturan kelas alternatif, untuk membatasi kontak antar siswa yang berbeda kelas. Misalnya, pengaturan jadwal mulai dan berakhirnya pelajaran pada waktu yang berbeda. Sekolah juga dapat meminimalkan waktu istirahat bersama dengan bergantian kapan dan di mana siswa boleh makan. Selain itu, pertimbangkan untuk menambah jumlah guru atau meminta bantuan tenaga guru sukarela, untuk memungkinkan lebih sedikit siswa per ruang kelas.

.

Hindarkan adanya kerumunan selama waktu sekolah atau penitipan anak, dengan pengaturan jalur masuk dan keluar areal yang jelas, dan pertimbangkan pembatasan untuk orang tua atau pengasuh yang memasuki areal sekolah. Ciptakan kesadaran pada siswa, agar tidak berkumpul dalam kelompok besar atau berdekatan saat dalam antrean, saat meninggalkan sekolah dan di waktu istirahat.

.

Hari Pertama Masuk Sekolah, Mayoritas Belajar Jarak Jauh
.

Anak berusia 5 tahun ke bawah tidak diharuskan memakai masker. Untuk anak antara 6 dan 11 tahun, pendekatan berbasis risiko harus diterapkan pada keputusan untuk menggunakan masker. Pertama, intensitas penularan di daerah tempat anak itu berada dan data terkini tentang risiko infeksi dan penularan pada kelompok usia ini. Kedua, lingkungan sosial dan budaya seperti kepercayaan, adat istiadat, perilaku atau norma sosial yang mempengaruhi masyarakat dan interaksi sosial populasi. Ketiga, kapasitas anak untuk mematuhi aturan penggunaan masker dan ketersediaan pengawasan orang dewasa. Keempat, dampak potensial pemakaian masker pada pembelajaran dan perkembangan psikososial. Kelima, pertimbangkan untuk pengaturan khusus seperti kegiatan olahraga atau untuk anak berkebutuhan khusus atau penyakit yang mendasari.

.

Anak tidak boleh ditolak aksesnya ke pendidikan karena alasan aturan pemakaian masker atau kurangnya ketersediaan masker, terkait sumber daya yang rendah atau tidak tersedia. Penggunaan masker oleh anak dan remaja di sekolah, sebaiknya hanya dianggap sebagai salah satu bagian dari strategi komprehensif untuk membatasi penyebaran COVID-19. Sekolah harus membuat sistem pengelolaan limbah, termasuk pembuangan masker bekas untuk mengurangi risiko penularan melalui masker yang terkontaminasi, yang dibuang di areal sekolah.

.

Pastikan penggunaan ventilasi alami, yaitu membuka jendela ruang kelas untuk meningkatkan pengenceran (dilution) udara dalam ruangan. Jika menggunakan pendingin udara ruangan, sistem tersebut harus diperiksa, dipelihara, dan secara teratur dibersihkan. Untuk penggunaan sistem mekanis pengaturan kelembaban udara, aturlah dengan meningkatkan total suplai aliran udara luar, seperti dengan menggunakan ‘economizer mode’ yang berpotensi setinggi 100%. Pastikan sistem aliran udara luar maksimum selama 2 jam sebelum dan sesudah waktu pembelajaran di kelas.

.

Panduan WHO, UNICEF, dan UNESCO berjudul ‘Considerations for school-related public health measures in the context of COVID-19’, telah diterbitkan pada 14 September 2020. Panduan tersebut disusun dengan mempertimbangkan aspek keadilan, penularan COVID-19, implikasi dan sumber daya, untuk menciptakan dunia yang lebih sehat, lebih aman, lebih adil, dan lebih berkelanjutan bagi pendidikan anak dan generasi mendatang, termasuk di Indonesia.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 7 November 2020

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life Jalan-jalan sekolah

2019 Bebas Asma saat Lebaran

6 Hal yang Perlu Diperhatikan Orang Tua Ketika Anaknya Punya Asma | Kabar  Tangsel

BEBAS ASMA SAAT LEBARAN
fx. wikan indrarto*)

Hari Raya Idul Fitri atau lebih sering disebut Lebaran, saat ini tidak sekedar hari besar agama saja, tetapi sudah menjadi hari besar segenap ‘keluarga besar’. Pada setiap Lebaran, banyak anggota keluarga akan mudik (pulang kampung) dan berkumpul untuk tidak hanya berdoa bersama, tetapi juga halal bilhalal, kunjung mengunjungi, reuni, rekreasi dan silaturahmi. Selain terjadi pertemuan dengan banyak orang dan perpindahan banyak tempat, pastilah juga terjadi perkenalan dengan banyak menu makanan. Semuanya merupakan hal yang lumrah ada pada saat Lebaran, ditunggu-tunggu dan menggembirakan bagi banyak orang. Apakah hal baik tersebut juga terjadi pada anak asma? Belum tentu.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/03/08/steroid-pada-serangan-asma/

.

Serangan asma pada anak dapat berupa keluhan klinis batuk hebat, muntah dan sakit perut, nafas bunyi sampai sesak nafas. Serangan tersebut sangat mudah terjadi karena rangsangan alergen (pencetus alergi), aktivitas fisik dan infeksi virus. Alergen dapat berupa inhalan (yang dihirup seperti debu, serbuk atau bau-bauan di sepanjang perjalanan mudik), ingestan (yang ditelan seperti susu, es krim, coklat atau zat pewarna makanan pada hidangan Lebaran) ataupun kontaktan (yang disentuh seperti boneka mainan, kasur kapuk, tumpukan pakaian kotor atau karpet di kamar penginapan). Aktivitas fisik anak yang berlebihan pada saat libur Lebaran, seperti bermain tanpa kenal lelah, tertawa terbahak-bahak, ‘kekeceh’ bermain air di kamar mandi ataupun ‘ciblon’ di kolam renang. Infeksi virus yang menyerang saluran nafas atas seperti pilek atau flu, sangat banyak dialami oleh anggota keluarga dan mudah sekali menular ke anak.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/10/19/2018-batuk-pada-anak-dalam-era-jkn-2/

.

Semua faktor risiko tersebut sangat mungkin ada pada anak asma saat Lebaran nanti, sehingga orang tua harus melakukan tindakan pencegahannya. Pencegahan terbaik adalah penghindaran faktor risiko tersebut, baik alergen inhalan dan ingestan maupun aktivitas fisik yang berlebihan, sebisa mungkin. Anak harus dijauhkan dari menu makanan, minuman, cemilan ataupun jajanan Lebaran yang dapat mencetuskan serangan asma. Aktivitas fisik yang menggembirakan anak karena kebersamaan dengan saudaranya, sebaiknya dialihkan ke aktivitas ketrampilan otot kecil, bukan kekuatan otot besar. Bermainlah bersama dengan mewarnai atau menggambar, permainan ular tangga, halma, scrable, kartu atau game digital, serta menghindari petak umpet, sepak bola dan lompat tali. Untuk mencegah terjadinya penularan pilek atau flu, anak dianjurkan mendapat imunisasi influenza sebelum berangkat mudik Lebaran. Periksalah ke dokter yang selama ini merawat anak asma dan sampaikan informasi tentang rencana mudik Lebaran keluarga. Dengan demikian, dokter akan merencanakan banyak hal, termasuk edukasi, komunikasi (hot line), imunisasi ataupun farmasi (resep obat asma).

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/02/14/2019-scientific-expert-summit/

.

Bagaimana kalau serangan asma awal terlanjur terjadi saat libur Lebaran? Yang utama adalah pengenalan bentuk serangan asma awal pada anak. Orang tua yang teliti atau anak yang agak besar, biasanya akan mudah mengenali batuk khas yang merupakan tanda awal serangan asma. Pencegahan agar serangan asma awal tidak berlanjut adalah dengan meneruskan obat pengendali asma yang selama ini digunakan, dan menambahkan obat pereda serangan asma secara dini. Pengobatan yang paling dianjurkan adalah menggunakan obat hirupan (nebulaiser atau inhaler dengan spacer), baik obat yang sudah biasa digunakan sendiri, ataupun obat yang baru pertama kali diberikan oleh dokter di rumah sakit terdekat saat liburan. Kalau sudah memiliki obat sendiri, bawalah obat tersebut ke manapun anak pergi dan informasikan semuanya kepada dokter setempat, pada saat memeriksakan anak. Sampaikan tentang riwayat perjalanan klinis asma anak dan pola pengobatan yang selama ini dijalani, agar dokter dapat memilihkan pola pengobatan lanjutan yang sesuai.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/05/09/2018-simposium-ppok/

.

Selain menambahkan obat perada serangan, orang tua diharapkan juga dapat mengenali pencetus munculnya serangan asma. Pastikan pencetusnya dengan mengingat apa saja yang mungkin, baik alergen inhalan ataupun ingestan, juga aktivitas fisik anak. Penambahan obat dan koreksi segera pencetus asma tersebut, maka serangan asma akan mereda. Serangan yang ringan akan hilang dalam beberapa menit, tetapi serangan yang sedang atau berat sangat mungkin akan mengganggu sebagian atau seluruh rencana liburan lebaran keluarga. Serangan berat jauh lebih baik dirawat di rumah sakit terdekat untuk pemantauan 1-2 hari, selain untuk pengelolaan lengkap (oksigenasi, nutrisi cairan, farmasi dan fisioterapi) juga untuk memutus kontak sama sekali dengan faktor pencetus serangan, meskipun kadangkala orang tua belum tahu apa pencetusnya. Libur lebaran di rumah sakit, akan terasa mengganggu dan membosankan, baik bagi orang tua, keluarga maupun anaknya. Namun demikian, pengalaman ‘buruk’ tersebut dapat digunakan sebagai momentum bersama untuk edukasi mendalam, khususnya bagi anak, agar mengenali dan kemudian menghindari faktor pencetus serangan asmanya. Pengalaman yang memberikan kesan emosional sangat dalam, pada umumnya akan mengendap (retensi) dalam memori anak dalam waktu yang cukup lama, sehingga sangat bermanfaat bagi pengelolaan lengkap asmanya secara jangka panjang.

.

Dengan melakukan semua kegiatan tersebut, maka anak akan bebas serangan asma dan dapat menjalani Lebaran dengan penuh suka cita.

Apakah kita sudah bijak?

Yogyakarta, 2 Juni 2019
*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Letkro FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
anak Healthy Life Jalan-jalan politik sekolah

2018 Pesiar di Kupang, NTT

PESIAR   KELUARGA  DI  KUPANG,  NTT

fx. wikan indrarto*)

Kami sekeluarga (dengan Eyang Putri, Dik Bimo dan Dik Laras) melakukan petualangan (pesiar) ke Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mengunjungi anak sulung kami (mas Yudhi) yang sedang menjalankan tugas PIDI (Program Internship Dokter Indonesia), di RS Bhayangkara Polda NTT di Kupang. Keluarga Dr. Silas dari Wonosari, Gunung Kidul juga berangkat bersama kami dengan maksud yang sama.

Perjalanan diawali dari Yogyakarta dengan menggunakan penerbangan Lion Air JT 560 pada Kamis, 28 Juni 2018. Setelah terbang sekitar 1 jam 15 menit, kami mendarat di Denpasar, Bali. Pada transit sekitar 2 jam tersebut, kami sempat bertemu dengan adik sepupu Wahyu Prasetyaningtyas (Aning), owner dan CEO Lentera Hati International School, di Jl. Taman Maruna no 14, Jimbaran, Kuta Selatan, Badung, Bali di ruang tunggu kedatangan penumpang untuk makan menu spesial, yaitu sate penyu sate yang dibuat dari daging penyu. Sate ini terutama banyak disajikan dan dijajakan hanya di Bali. Meskipun sangat enak, tetapi daging penyu sebenarnya berkolestrol tinggi dan penyu juga merupakan hewan terlindung secara hukum.

 Berangkat dari Jogja  Transit di Bali
Terbang dari Yogyakarta dengan pesawat Lion Air JT 560 pada Kamis, 28 Juni 2018.
Saat transit di Denpasar bertemu adik sepupu (Wahyu Prasetyaningtyas) untuk makan sate penyu 

Lion Air adalah sebuah maskapai penerbangan bertarif rendah dan merupakan maskapai swasta terbesar di Indonesia. Lion Air mengalami penambahan armada secara signifikan sejak tahun 2000 dengan kontrak pengadaan pesawat baru, dengan total keseluruhan sebesar US$ 46.4 Milliar untuk armada 234 unit Airbus A320 dan 203 Pesawat Boeing 737 MAX. Lion Air mengoperasikan lebih dari 100 buah pesawat Boeing 737-800/900ER seperti yang kami tumpangi selanjutnya, yaitu Lion Air JT 924 selama 1 jam 45 menit untuk mendarat di Kupang. Kota Kupang adalah sebuah kotamadya dan sekaligus ibu kota provinsi NTT. Kotamadya ini adalah kota yang terbesar di Pulau Timor yang terletak di pesisir Teluk Kupang, bagian barat laut pulau Timor.

 RUMAH "WAKIL GUBERNUR^ RESIDENSI TIMOR JADI TEMPAT SIMPAN GEROBAK I,  Catatan Matheos Victor Messakh | MediatorKupang

Pantai Pasir Panjang (Kupang, Indonesia) - Review - Tripadvisor

Kediaman residen di Kupang di jaman Kolonial Belanda (1870-1910)
Pemandangan senja di pantai Pasir Panjang, Kupang yang menarik mata

Nama Kupang sebenarnya berasal dari nama seorang raja, yaitu Nai Kopan atau Lai Kopan, yang memerintah Kota Kupang sebelum bangsa Portugis datang ke NTT. Pada tanggal 29 Desember 1645, seorang padri Portugis yang bernama Antonio de Sao Jacinto tiba di Kupang. Dia mendapat tawaran tinggal menetap dari Raja Helong. Pada tahun 1653, VOC mendarat di Kupang dan berhasil merebut bekas benteng Portugis Fort Concordia, yang terletak di muara sebuah sungai ke Teluk Kupang di bawah pimpinan Kapten Johan Burger. Kedudukan VOC di Kupang langsung dipimpin oleh Openhofd J. van Der Heiden. Nama Lai Kopan kemudian disebut oleh Belanda sebagai Koepan dan dalam bahasa sehari-hari menjadi Kupang. Untuk meningkatkan pengamanan kota, maka pada tahun 23 April 1886, Residen Creeve menetapkan batas-batas kota yang diterbitkan pada Staatblad Nomor 171 tahun 1886. Oleh karena itu, tanggal 23 April 1886 ditetapkan sebagai tanggal lahir Kota Kupang.

Setelah Indonesia merdeka, melalui Surat Keputusan Gubernemen tanggal 6 Februari 1946, Kota Kupang diserahkan kepada Swapraja Kupang, yang kemudian dialihkan lagi statusnya pada tanggal 21 Oktober 1946 dengan bentuk Timor Elland Federatie atau Dewan Raja-Raja Timor dengan ketua H. A. A. Koroh, yang juga adalah Raja Amarasi. Luas wilayah 180,27 Km2, suhu rata-rata di Kota Kupang berkisar antara 23,8°C sampai dengan 31,6°C. Kelembaban udara rata-rata berkisar antara 73 persen sampai dengan 99 persen. Curah hujan selama tahun 2010 tercatat 1.720,4 mm dan hari hujan sebanyak 152 hari. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari, yaitu tercatat 598,3 mm, sedangkan hari hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember dengan 28 hari hujan.


Dengan demikian Kota Kupang sama seperti NTT lainnya, nampak sekali kesan kering, berbatu karang, dan tanaman sulit tumbuh. Total penduduk Kupang adalah
390,877 jiwa dengan kepadatan sekitar 2.496/km2. Mayoritas penduduknya beragama Kristen Protestan (71.32%), kemudian disusul oleh Katolik (17.05%), Islam (10.09%), Hindu (1.53%) dan Buddha (0.01%). Luas wilayah Kota Kupang adalah 180,27 km² dengan jumlah penduduk sekitar 450.360 jiwa (2014). Daerah ini terbagi menjadi 6 kecamatan dan 51 kelurahan.

Bocah 5 Tahun ini Jadi Pembaca Peta Buta Termuda MURI   | tempo.co

 Mendarat di El Tari
Peta Kota Kupang di ujung barat Pulau Timor bagian Barat
Kami mendarat di Bandar Udara Internasional El Tari, Kamis, 28 Juni 2018

Kota Kupang dipimpin oleh seorang Wali kota, yaitu Drs. Mesakh Amalo, Letkol Inf. Semuel Kristian Lerik (1986-2007), Drs. Daniel Adoe (2007-2012), Jonas Salean, SH., MSi. (2012-2017), dan Walikota Kupang sekarang adalah Dr. Jefirstson R. Riwu Kore, MM, MH (2017-2022). Saat ini Kota Kupang dibagi menjadi 6 wilayah kecamatan, yaitu Alak (11 kelurahan), Kelapa Lima (7 kelurahan), Kota Raja (6 kelurahan), Kota Lama (10 kelurahan), Maulafa (9 kelurahan) dan Oebobo (7 kelurahan).

Kami mendarat di Bandar Udara Internasional El Tari, yang dahulu bernama pelabuhan udara Penfui pada Kamis, 28 Juni 2018, pk. 14.30. Bandara ini pada mulanya adalah bekas peninggalan zaman penjajahan Belanda, yang hanya berupa sebuah ‘airstrip’. Untuk pertama kali bandar udara ini didarati oleh pesawat udara pada tahun 1928 oleh penerbang Amerika Serikat Lamij Johnson. Selanjutnya dikembangkan oleh Australia pada tahun 1944-1945 dan diberi nama Lapangan Terbang Penfui, yang dalam bahasa Timor berarti Hutan Jagung (Pena=jagung dan Fui=hutan). Sejak tanggal 20 Desember 1988, Pelabuhan Udara Penfui diubah dan ditetapkan menjadi Pelabuhan Udara El Tari Kupang untuk mengenang jasa (almarhum) mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur, El Tari. Dulu, bandara ini pernah melayani penerbangan langsung dari dan ke luar negeri, yaitu ke Australia dan Timor Leste, tetapi karena insiden 1998 maka penerbangan luar negri dari bandara ini diberhentikan. Namun berjalannya waktu, bandara inipun akan kembali menjadi bandar udara internasional yang melayani penerbangan menuju Dili dan Darwin.

 Dr. Priyander  Pesiar Kupang
berjumpa di Bandara El Tari dengan Dr. Priyander Funay, SpPD-KHOM, teman lama kami di FK UGM 84
Pesiar keluarga kami di Kupang dalam kendali dan pengaturan oleh mas Yudhi

Sekejap kami berjumpa di ruang tunggu Bandara El Tari Kupang dengan Dr. Priyander Funay, SpPD, teman lama kami di FK UGM 84, yang akan segera kembali ke Jakarta, untuk mempelajari Hemato-Onkologi Medik. Kami dijemput oleh mas Yudhi, dengan mas Daniel, mbak Stefi dan mbak Devita (semuanya adalah para dokter PIDI di RS yang sama). Selanjutnya kami diajak makan siang di RM Bambu Kuning, untuk merasakan sensasi menu terkenal di Kupang, yaitu daging sei.

Sei adalah makanan khas suku Timor, berupa daging yang disayat kecil-kecil memanjang dan diolah dengan cara diasapi pada bara api. Bahan baku sei dapat berupa daging babi atau sapi, namun biasanya masyarakat setempat lebih banyak mengkonsumsi sei babi. Sei mulai tenar di kalangan masyarakat Kota Kupang sejak tahun 1986. Kata Se’i berasal dari bahasa Rote, yaitu daging yang diiris tipis memanjang. Tidak sama seperti daging babi Jasio, Siobak atau ‘smoked beef’, Ham ataupun babi Guling dari Bali, walaupun sama-sama dibakar, tetapi daging Se’i mempunyai ciri khas yang tersendiri, karena daging diolah secara tradisional dengan dipotong memanjang dengan 2-3 cm lebarnya, lalu diolah dengan pemberian garam dan sedikit rempah rempah sesuai dengan ciri khas penjualnya, dan dilanjutkan dengan pengasapan menggunakan kayu Kosambi. Beberapa Rumah Makan untuk makanan khas Kupang daging Se’i yang terkenal yaitu “Bambu Kuning”, “Petra”, “Aroma” dan “Pondok Sawah,” tetapi di desa “Baun” kurang lebih 40 km atau 45 menit dari kota Kupang, di sanalah original daging Se’i babi yang pertama. Daging Se’i harus dimakan dalam keadaan panas, karena kalau sudah dingin, maka dagingnya akan sedikit alot. Selain itu, saat panas itu kita bisa mencium bau aroma daging asap dengan rempah rempahnya. Selanjutnya kami mampir sebentar di rumah kost mas Yudhi dan teman2 dokter PIDI di dekat RS Bhayangkara, dan selanjutnya diantar ke Hotel Greenia di Jl. Hati Mulia V, (Belakang Kantor PU Prov. NTT), Oebobo, Kupang, untuk beristirahat.

 Kost mas Yudhi  Sei Babi
Mampir sebentar di rumah kost mas Yudhi dan teman2 dokter PIDI di dekat RS Bhayangkara Kupang
Makanan khas Kupang daging Se’i yang terkenal, kami santap di RM “Bambu Kuning”

Setelah beristirahat sore, kami melanjutkan petualangan pada Kamis, 28 Juni 2018 sore ke Taman Nostalgia (Tamnos) untuk bertemu Drs. Alfred Funay, MKes. Taman Nostalgia berlokasi di Kelurahan Fatululi, Kecamatan Oebobo, Kupang, yang dirancang sebagai taman kota. Dengan fasilitas ‘jogging track’, arena olahraga dan wisata kuliner. Di Taman Nostalgia terdapat Gong Perdamaian Nusantara (GPN), yang merupakan sarana persaudaraan dan pemersatu bangsa. Berasal dari Desa Pakis Aji, Kecamatan Plajan, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah, gong yang berusia 450 tahun itu milik Ibu Musrini, yang adalah ahli waris generasi ketujuh dari pencetus gong. GPN terbuat dari bahan campuran kuningan (bronze) dan perunggu, berdiameter 2 meter dengan berat ± 100 kg. GPN bermakna keseimbangan kehidupan dan memberi nilai lebih, kebanggaan, citra baik dan sumber pendapatan sepanjang masa bagi daerah yang menerimanya. Di Taman Nostalgia tersebut kami mencoba menu salome, semacam bakso bakar, bernostalgia dengan Drs. Alfred Funay, MKes, widyaiswara Bapelkes Kupang, yang pada tahun 1992 sebagai pegawai Bagain Umum Kanwil Kesehatan menyambut kami, para dokter baru yang akan ditugaskan di seluruh NTT. Nostalgia selanjutnya kami isi dengan makan malam di Kampung Solor, dengan mencoba aroma menu ikan kakap putih yang berdaging sangat kenyal.

 Tamnos  Kampung Solor
Taman Nostalgia (Tamnos) berlokasi di  Fatululi, Kecamatan Oebobo, Kupang, sebagai taman kota pada senja hari
Makan malam di Kampung Solor yang dipenuhi para pedagang makanan laut (seafood) yang ditangkap dari Laut Oeba.

NTT kaya dengan hasil laut, sehingga berbagai ikan laut kaya protein siap menyambut para wisatawan yang berkunjung ke kota Kupang ini, terutama di Kampung Solor, Kupang. Kampung Solor adalah wilayah pesisir dengan profesi penduduknya sebagain besar sebagai nelayan dan pedagang. Wilayah tersebut di zamaan Belanda adalah kota lama asal usul Kupang sebagai pusat perdagangan. Kampung Solor menjadi rujukan atau rekomendasi paling utama saat wisatawan singgah di Kupang. Mirip seperti Muara Angke atau kawasan Cilincing di Ancol, Jakarta, kampung ini merupakan kampung pesisir yang dipenuhi para pedagang makanan laut (seafood). Berbagai jenis ikan laut, cumi, udang, dan makanan laut lainnya yang ditangkap dari Laut Oeba, dibanderol dengan harga standar, puluhan ribu rupiah. Sambil merasakan hembusan angin pantai, makan di Kampung Solor bisa membuat siapa saja lahap. Para pedagang membuka lapaknya hingga tengah malam.

 Gua Fatima  Taman Doa
Taman Doa Lourdes Kupang yang dibangun di sebuah lahan berkontur menurun di kelurahan Oebobo, Kupang.
Gerbang Taman Doa Lourdes Kupang pada malam hari yang gelap

Setelah itu, kami melanjutkan peziarahan ke Goa Maria dan Taman Doa Lourdes Kupang, yang dibangun di sebuah lahan berkontur menurun di kelurahan Oebobo, Kupang. Nama jalan di sekitar lokasi akhirnya menjadi Jalan Lourdes, yang selanjutnya nama Lourdes berubah menjadi Lordez. Nama kampung yang dilalui jalan ini disingkat LDZ oleh kaum mudanya. Pintu masuknya cuma satu, dari arah depan menghadap jalan Cak Doko, sedangkan pintu sampingnya sudah tertutup tembok gedung lain. Di dalam komplkes taman doa ada sebuah patung yang diresmikan pada 11 Oktober 1996 oleh Uskup Agung Kupang waktu itu, Mgr. Gregorius Monteiro, SVD. Dalam prasasti marmernya disebutkan kata ARMIDA sebagai ‘head’-nya. Setelah selesai berdoa mengucap syukur melalui perantaraan Bunda Maria, malam itu kami tertidur nyenyak di Hotel Greenia, karena pengalaman iman dan kuliner yang membahagiakan.

Jumat, 29 Juni 2018 pagi, kami terjaga dari mimpi indah untuk segera bangun dan akan mengikuti misa kudus harian pagi. Kami segera menggunakan aplikasi ‘grab’, karena  aplikasi go-car dan minibus angkutan kota yang biasa disebut bemo, pagi itu belum beroperasional. Bemo di Kupang memiliki ciri khas tersendiri, yaitu rute setiap bemo ditandai oleh warna dan angka yang terdapat pada kaca depan bagian atas bemo. Selain itu, aksesoris bemo yang sangat banyak ditambah dengan dentuman musik yang sangat keras, adalah ciri lain bemo Kupang.

Tampilan Angkot (Bemo) Kupang Keren & Penuh Gaya #ntt #kupang #angkot  #angkotntt - YouTube

 Gereja St Yoseph
Bemo di Kupang yang khas dengan banyak asesoris dan full musik yang berdentum keras
Gereja Katolik St Yoseph Naikoten, yang merupakan gereja terbesar ketiga di kota Kupang, setelah Gereja Maria Assumpta dan Gereja Katedral.

Pagi itu pk. 6.30 kami mengikuti misa kudus harian di Gereja Katolik St Yoseph Naikoten, yang merupakan gereja terbesar ketiga di kota Kupang, setelah Gereja Maria Assumpta dan Gereja Katedral. Gereja ini berada di daerah Oebobo, tepatnya di Jl. Herewila No 27 Naikoten, Oebobo Kupang. Gereja ini terlihat megah dengan tiga buah menara yang sangat tinggi, di bagian depan gereja. Ketiga menara tersebut dihiasi dengan kaca-kaca dan ornamen kristiani yang sangat indah. Gereja ini bersebelahan dengan Sekolah Katolik (SD dan SMP Santo Yoseph) yang terkenal di Kupang, yang berada di wilayah Naikoten, Oebobo.

Jumat, 29 Juni 2018 setelah sarapan menu lokal di Hotel Greenia, Kupang, kami melanjutkan petualangan ke Pantai Lasiana, yang mulai dibuka untuk umum sekitar tahun 1970-an. Sejak Dinas Pariwisata NTT memoles dengan membangun berbagai fasilitas pada tahun 1986, Pantai Lasiana ramai dikunjungi turis asing. Sesuai rencana pengembangan Pemkot Kupang, Pantai Lasiana akan dijadikan Taman Budaya Flobamora, yakni sebutan yang mengacu pada keseluruhan suku bangsa di dekat Pantai Lasiana antara lain, Flores, Sumba, Timor dan Alor. Di pantai Lasiana ini terdapat sebuah Cafe, dan banyak didapati Lopo-lopo dan tempat makanan ringan seperti pisang bakar dan jagung bakar yang berderet. Lopo-lopo adalah sebutan lokal untuk pondok yang dibangun menyerupai payung dengan tiang dari batang pohon kelapa atau kayu dan beratapkan ijuk, pelepah kelapa atau lontar, alang-alang, dan yang berbahan semen. Kupang, adalah nama yang dipahat di atas batu karang. Nama yang kenyal dengan kegersangan, terik matahari yang membakar, ilalang kecoklatan, rumah reyot, pepohonan lontar dan kepulan asap yang membubung tinggi. Secuil keindahan seolah hanya ada pada bentangan bibir pantai Lasiana nan kusam. Pantai renta tempat seantero warga biasa melepas kepenatan hidup. Di Pantai Lasiana tersebut, kami dijemput Dr. Maria Surina, teman lama kami saat bertugas di Pulau Flores tahun 1992-1994.

 Pantai Lasiana  Taman Ziarah 3
Pantai Lasiana  merupakan Taman Budaya Flobamora, (Flores, Sumba, Timor dan Alor).
Diantar Dr. Maria Surina ke Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo sekitar 10 km dari bibir Pantai Lasiana. 

Selanjutnya kami diantar ke sebuah Taman Terindah, Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo sekitar 10 km dari bibir Pantai Lasiana, yang berada pada suatu titik ketinggian yang istimewa. Siapapun yang berada di titik ketinggian ini akan menikmati suatu panorama alam yang menakjubkan. Karenanya, keberadaan Kapela John Paul II di puncak titik ketinggian tersebut, seolah mempertegas betapa Tuhan telah menciptakan alam raya ini dengan keindahan tak terkira.

Berdiri diatas balkon lantai tiga bangunan Kapela John Paul II kita seolah berada dekat dengan langit, tempat Tuhan bersemayam. Awan berarak di atas kepala, burung-burung terbang melintas, angin menampar lembut dan Patung Yesus berjubah putih berselempang merah di atas bubungan atap dengan tangan terentang ke atas, membuat hati bergetar, nurani terbuka, sungguh suatu keindahan tak terbantah. Dengan melihat ke sekeliling, pepohonan lontar berderet di seantero pebukitan seperti tentara sorga berbaju zirah melingkari, mengepung, dan menjaga takhta Tuhan. Dan di kejauhan panoramanya bagai lukisan kanvas. Tuhan mengarsir panorama alam di depan Kapela John Paul II begitu sempurna, yaitu petakan sawah dan ladang yang didominasi warna kekuningan. Di sana ada ruas jalan aspal yang membelah di tengah-tengah. Di sebelahnya laut biru membujur diantara dua sayap pulau Timor yang merentang bagai bukit barisan. Semuanya akan terlihat dari puncak Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo yang dibangun oleh Yang Mulia Uskup Agung Kupang Mgr. Petrus Turang. Ketika diresmikan pada hari Senin, 25 November 2013 oleh Kardinal Stanislaw Rylco dari Tahkta Suci Roma, sekitar 30.000-an umat Katolik datang memadati seluruh area taman.

Taman Doa dan Ziarah Bunda Maria Kupang Potensi Wisata Religi yang Minim  Fasilitas Umum - TribunNews.com

 El Tari Kupang
Umat berbondong-bodong datang berdoa di Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo
Tim penjemput keluarga pakde Totok di Bandara El Tari, Kupang

Di taman ini peziarah dari seluruh penjuru angin menanam Doa Rosario. Ruas jalan permenungan untuk meniti Empat Peristiwa dalam Doa Rosario yaitu peritiwa Gembira, Mulia, Sedih dan Terang ada di sini, lengkap dengan stasi perhentiannya. Semua peristiwa ini mengantar peziarah menuju Yesus Kristus Sang Juru Selamat, melalui Bunda Maria. Langkah kaki menuju empat peristiwa dalam doa rosario dimulai dari Aula Terbuka yang berada di kaki bukit. Di aula ini seluruh peziarah diberi kesempatan untuk sejenak menenangkan diri, menyiapkan hati, pikiran dan fisik, sebelum menapaki bukit terindah ini. Peziarah akan menanjaki ruas jalan dengan kemiringan sekitar 45 derajat.

Setelah puas berdoa, kami segera turun gunung untuk mencoba menu jagung bose. Menu ini adalah bubur jagung dengan campuran santan yang diolah dari buah kelapa yang diparut secara manual, tidak menggunakan mesin. Untuk membuat jagung bose, waktu yang diperlukan tidak sebentar. Namun demikian, proses pembuatannya sangat sederhana. Bahannya pun sangat mudah didapat di pasar tradisional seputar Kota Kupang. Awalnya, jagung yang masih utuh dilulur atau direndam dalam air selama kurang lebih 15 menit. Setelah itu, jagung ditumbuk lalu dicampur air dan ditapis untuk memisahkan kulit ari dari pecahan biji jagung. Pecahan jagung siap dimasak di atas tungku dengan nyala api sedang. Jagung direbus sampai setengah matang. Kemudian, dimasukkan tambahan kacang hijau dan selama kurang lebih dua jam, maka akan terbentuk kaldu yang mengental.

 Jagung Bose  Aroma Sei 1
Jagung bose yang manis ini tersedia dalam dua pilihan, yakni putih atau kuning, hanya akan ditemukan di NTT.
Dijamu makan siang menu se'i babi oleh Dr. Maria Surina di RM Aroma yang padat pengunjung, di pusat kota Kupang

Setelah jagung matang dan terasa kental, masukkan garam secukupnya dan sedikit bumbu tambahan, seperti santan atau bumbu-bumbu lain. Dalam penyajiannya, jagung bose kerap ditambahkan dengan potongan iga sapi. Pada proses akhir perebusan setelah terbentuk kaldu yang mengental, masukkan potongan iga sapi tersebut. Tambahkan sedikit air lagi, lalu rebus kembali hingga daging matang. Jagung bose pun siap disajikan. Jagung bose dapat pula disajikan panas-panas bersama lauk daging seì (daging asap) yang telah masak. Selain daging seì sebagai lauk pendamping, lawar ikan sardine pun bisa menjadi pasangan khas jagung bose. Jenis jagung bose yang manis ini tersedia dalam dua pilihan, yakni putih atau kuning. Dengan rasanya yang khas, jagung bose benar-benar hanya akan ditemukan di Nusa Tenggara Timur.

Selesai makan siang itu, kami segera menjemput keluarga pakde Totok (budhe Tari, mas Danang dan mbak Esthi) yang akan mendarat di Bandara El Tari, Kupang dan siap bergabung berpetualang dengan kami. Keluarga pakde Totok yang datang dari Pamulang, Tangerang nampak kelelahan, karena tertundanya penerbangan mereka, yang disebabkan aktivitas Gunung Agung di Karangasem, Bali. Segera kami mengingat berbagai bentuk layanan kesehatan di kota Kupang antara lain Rumah Sakit Pemerintah seperti : RSUD WZ. Johannes Kupang, RS Bhayangkara Kupang, RS Korem 161 Wira Sakti Kupang, Rumkital Kupang dan RSUD SK Lerik Kupang. Sedangkan Rumah Sakit dan Klinik Swasta antara lain adalah RSU Mamami, RSIA Dedari, RS Kartini, RS Leona, Siloam Hospital Kupang dan RS Katolik Carolus Boromeus.

Setelah melihat sekejap RSUD WZ. Johannes yang pernah kami kunjungi tahun 1993, kami melanjutkan petualangan ke RS Bhayangkara Kupang, dimana mas Yudhi belajar sebagai dokter internship pada PIDI. RS Bhayangkara Kupang berdiri tanggal 3 Juli tahun 1967 di atas tanah seluas 5.865 m² yang berlokasi di Jl. Nangka No 84 Kupang NTT, adalah warisan dari gedung Komplek Komdak XVII Nusra yang direnovasi menjadi sebuah rumah sakit. Rumah Sakit milik POLDA NTT di Kupang ini sebagai salah satu rumah sakit dengan lingkungan terbaik, juga menyediakan prasarana antara lain ambulance yang siap mengantarkan pasien yang akan dirujuk, menjemput pasien di rumah, dan menjemput pasien yang kecelakaan di jalan. Parkiran yang luas yang membuat pengunjung dapat nyaman saat bertamu ke kerabat atau keluarga yang sedang dirawat inap. Kami sempatkan berfoto bersama mas Yudhi di areal sebelah IGD, sebagai salah satu pintu masuk ke RS Bhayangkara, yang terletak di bagian depan dari rumah sakit, agar setiap tindakan yang membutuhkan penanganan secara cepat, dapat dilaksanakan. RS ini memiliki motto: senyummu adalah kepuasanku. Di RS itulah mas Yudhi dan teman-temannya belajar secara intensif sebagai dokter internship Indonesia. Setelah itu, kami segera menuju ke RS Siloam Kupang.

 RS Bhayangkara  Siloam Kupang
Sisi depan RS Bhayangkara Kupang di Jl. Nangka No 84 Kupang NTT,
Bergaya di samping ambulance Siloam Hospitals Group, di Fatululi, Kupang, NTT.

RSU Siloam yang merupakan anak usaha PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), Siloam Hospitals Group, berlokasi di daerah Fatululi, Kupang NTT. Biaya yang dibutuhkan untuk membangun RS ini senilai US$ 40 juta (Rp 360 miliar), termasuk peralatan medis terkini seperti MRI, Cathlab dan CT Scan, sesuai dengan standar internasional yang diterapkan di seluruh unit Siloam Hospitals. Rumah Sakit Umum Siloam Hospital (RSUSH) Kupang adalah rumah sakit ke-19 yang telah dibangun Lippo Group. Berbeda dengan RS Siloam lainnya, RS Siloam Kupang lebih fokus melayani pasien peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Sebagian besar atau sekitar 70 persen fasilitas layanannya diperuntukkan bagi pasien peserta JKN, seperti disampaikan saat Grand Opening Siloam Hospital Kupang, oleh Gubernur NTT dan disaksikan Presiden Joko Widodo, Sabtu 20 Desember 2016. Siloam Hospital Kupang memiliki kapasitas 600 tempat tidur, namun untuk tahap awal mulai dioperasionalkan 100 dan termasuk yang terbaik dari Silaom Hospital yang sudah dibangun. Siloam Kupang memiliki gedung besar dan kenyamanan dengan teknologi kesehatan canggih. Ke depan akan dikembangkan duplikat dari Siloam Hospital Kupang di berapa kota di NTT, seperti di Maumere, Waingapu, dan Rote.

Kota Kupang menyimpan begitu banyak potensi wisata yang wajib untuk dikunjungi, salah satunya adalah Pantai Oesapa. Pantai ini terletak di Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang. Pantai Oesapa memang sangat eksotis, letaknya pun sekitar 10 kilometer dari jantung kota Kupang. Pantai Oesapa mungkin saat ini menjadi satu-satunya ruang terbuka di pesisir pantai Kota Kupang, sehingga setiap hari terutama menjelang sore, akan ramai dikunjungi ratusan orang. Ramainya pantai ini dikarenakan langit sore berubah menjadi warna merah keemasan, ketika matahari mulai kembali ke peraduannya. Keindahan Pantai Oesapa menjadi daya tarik sendiri karena latar belakang ribuan pohon lontar yang berdiri kokoh di sepanjang pantai.

 Pantai Oesapa 1 Pekan Suci, Gereja St. Maria Assumpta Kupang Batasi Jumlah Umat, Hanya 50  Persen - Victory News
Keindahan Pantai Oesapa dengan ribuan pohon lontar yang berdiri kokoh di sepanjang pantai.
Gereja Santa Maria Assumpta di Jl. Perintis Kemerdekaan No. 9, Kupang. 

Setelah mengantarkan keluarga Pakde Totok untuk beristirahat sejenak di kamar sebelah kami di Hotel Greenia, kami semua segera menikmati senja di Pantai Oesapa. Setelah menikmati pisang goreng, jagung bakar, teh dan kopi di pinggir Pantai Oesapa, segera kami melanjutkan pesiar ke Gereja Santa Maria Assumpta di Jl. Perintis Kemerdekaan No. 9, Kupang. Kompleks Paroki termasuk gedung Gereja, Pendopo Pastoran, kantor Sekretariat Paroki dan Sebuah Aula Serba guna, berlokasi dalam sebuah komplkes yang sama. Gereja ini dibangun di atas pondasi batu, dengan ruang jemaat yang besar dan bebas kolom, serta dilengkapi pendingin udara (AC). Atap dan lengkungan yang memiliki parapets, merupakan ciri khas gereja ini dan bagian depan gereja terletak di sebelah barat.

Pada bulan Desember 1979 oleh Pastor Herman Y. Kaiser SVD yang mejabat Pastor Paroki St Yoseph Naikoten Kupang, berdasarkan hasil kunjungan pastoral ditemukan kesulitan umat untuk hadir ke Gereja, karena transportasi yang kurang mendukung. Bapak uskup mengijinkan agar umat yang berdomisi di wilayah ini dapat melaksanakan misa hari minggu di istana keuskupan saja. Namun demikian, Rumah Bapak Uskup dalam beberapa waktu ternyata tidak dapat menampung umat lagi untuk misa hari minggu. Pada saat itu dibangun pula seminari Santu Rafael Oepoi. Persiapan paroki yang diperjuangkan umat selama 8 tahun, yaitu 1979-1988, akhirnya berhasil dan peletakan batu pertama dimulai pada tanggal 12 Agustus 1988, sekaligus perayaan ulang tahun paroki untuk pertama kalinya. Pastor Paroki Pertama P. Julis Bere SVD dan Pastor kapelan Pastor Ebed, Pr., dengan nama paroki selengkapnya menjadi Paroki Santa Maria Assumpta Kota Baru Kupang, yang terus dipakai hingga saat ini. Selain ruang adorasi tubuh Kristus yang buka 24 jam untuk berdevosi, kami juga menyaksikan Aula Serba Guna Paroki Santa Maria Assumpta yang megah, dengan daya tampung seribu orang. Selain itu, kami juga sempatkan berdoa di Gua Maria yang strategis berada di areal depan kompleks, sehingga memudahkan umat untuk berdoa dengan khusuk. Gua Maria terbuka 24 jam bagi umat yang hendak memanjatkan doa-doanya. Setelah puas berdoa kepada Bunda Maria, segera kami melanjutkan perjalanan ke ikon baru kota Kupang, yaitu Kantor Gubernur NTT.

 Sasando Gubernur

Ke Kupang Belum Lengkap Bila Tidak Berpose di Depan Gedung Unik Kantor  Gubernur NTT Berbentuk Sasando - Sila News

Malam hari di Kantor Gubernur NTT di Jalan El Tari Kupang, yang telah menjadi ikon baru Nusa Tenggara Timur.
Berfoto pada siang hari di Kantor Gubernur NTT yang telah menjadi ikon baru Nusa Tenggara Timur.

Kantor Gubernur NTT, Kupang Indonesia. Merupakan salah satu project yang  menggunakan atap shingle bitumen IKO. 📷 : @about.indonesia.id @druld  @indrasunbanu #kantor #gubernur #ntt #kupang #nusatenggaratimur #atap #iko  #ataprumah #atapjawabarat ...

Maket Gedung Kantor Gubernur NTT karya arsitek muda NTT, Luiz Wilson
yang menyerupai alat musik Sasando.

Kantor Gubernur NTT yang terletak di Jalan El Tari Kupang, telah menjadi ikon baru Nusa Tenggara Timur. Bentuknya yang unik yaitu menyerupai alat musik tradisional NTT Sasando, menjadikan lokasi ini selalu ramai dikunjungi warga Kota Kupang, maupun mereka yang baru pertama menginjakkan kaki di Kota Kupang. Gedung yang berada di Jalan El Tari ini merupakan tempat berkantor Gubenur dan Wakil Gubernur NTT, dan tempat ini juga menjadi pusat pemerintahan NTT. Gedung megah ini sebenarnya dibangun untuk menggantikan gedung lama yang terbakar pada tanggal 9 Agustus 2013, yaitu lantai 2 dan 3 hangus terbakar. Pada tahun 2014, Pemprop menggelar sayembara bentuk kantor gubernur. Pemenang sayembara adalah seorang arsitek muda NTT, Luiz Wilson. Ia memilih bentuk gedung menyerupai alat musik Sasando. Dan kini bagian depan gedung ini memang menyerupai alat musik Sasando, sementara bagian depan sisi kiri dan kanan menyerupai lipatan daun lontar. Gedung yang dibangun sejak Januari 2016 oleh kontraktor PT Waskita Karya (persero) Tbk, selesai dikerjakan pada pada Desember 2016, dan mulai digunakan pada tahun 2017. Anggaran untuk membangun gedung ini sekitar Rp 178 miliar dan sekarang menjadi lokasi rekreasi warga. Dengan berpose di depan kantor gubernur NTT, yang indah untuk foti selfie, menjadi arena nongkrong anak muda Kota Kupang setiap sore, bahkan hingga tengah malam, terbuka untuk umum dalam bercengkrama dan bersantai di kawasan itu. Selain itu, bagian depan Kantor Gubernur juga sering dijadikan panggung pertunjukan, dengan latar belakang bagian depan gedung yang berbentuk sasando. Setelah puas berfoto di depan Kantor Gubernur NTT, malam itu kami semua tertidur nyenyak dalam kepuasan dan kelelahan yang berpadu.

Sabtu pagi, 29 Juni 2018 kembali kami mengikuti misa kudus harian di Gereja Katolik St Yoseph Naikoten. Setelah sarapan di Hotel Greenia dan mas Yudhi berangkat kerja di Puskesmas Oesapa, kami melanjutkan petualangan ke Goa Kristal. Ketika mendengar kata ‘kristal’ mungkin kita akan beranggapan di dalam gua tersebut bergelimang batu perhiasan. Namun, itu hanyalah kiasan saja yang menggambarkan akan adanya air jernih dan batu di dalamnya yang membentuk seperti kolam renang.

Gua Kristal yang terletak di Desa Bolok, Kecamatan Kupang Barat. Gua Kristal yang mempunyai luas kurang lebih 30 meter persegi dengan airnya yang begitu jernih, sehingga membuat terlihat begitu sangat jelas dasar kolamnya. Air yang di dalam gua tersebut memiliki rasa payau dan sangat menyegarkan tubuh. Goa Kristal ini sangat dekat dengan Kota Kupang, hanya memerlukan waktu tempuh 30 menit atau berjarak 20 km, lokasinya sangat berdekatan dengan Pos Polisi Air Pelabuhan Bolok. Sesampainya di sana pengunjung dapat memarkir kendaraannya di dekat Pos Polisi Air Bolok, kemudian berjalan kaki kira-kira 500 meter untuk sampai ke bibir gua.

 Gua Kristal 1  Gua Kristal 2
Ditemani Moses, bocah pemandu lokal, menuju Gua Kristal di Kupang Barat
Berenang bersama melihat keindahan di dalam perut Gua Kristal, Kupang Barat

Kami datang sesuai anjuran untuk berkunjung pada siang hari atau pukul 11, karena sinar matahari yang menerobos celah-celah gua, akan membuat pemandangan yang jarang terlihat, seolah seperti batu kristal. Kami juga mengikuti saran untuk membawa senter, karena tidak banyak cahaya mampu masuk ke dalam goa dan jalan masuk cukup terjal menurun dan licin. Setelah puas berenang di dasar goa, berbasah air payau, dan menikmati keindahan kristal karena cahaya matahari yang menyelinap ke dalam goa, kami segera melanjutkan petualangan (pesiar) dengan menikmati menu kuliner lokal lainnya, di warung artis kuah asam Tenau yang berada di Jl. M Praja, Kelurahan Alak, Kecamatan Alak, Kota Kupang. Di warung tersebut kami bertemu mas Yudhi, setelah selesai bertugas di puskesmas.

Warung yang terletak tidak jauh dari Pelabuhan Tenau Kupang itu, menjadi salah satu ikon masakan kuah asam ikan paling fenomenal di ibu kota NTT. Betapa tidak. Selama enam hari seminggu, dari Senin hingga Sabtu, warung yang menyajikan masakan kuah asam, ikan asap, gule sapi dan sambal goreng itu, tidak pernah sepi dari pengunjung. Warung kuah asam Tenau sudah menjadi idola banyak pejabat pemerintah hingga masyarakat biasa, penyuka makan ikan. Selain ikan ‘fresh’ yang diolah, racikan khusus bumbu si pemilik warung menjadikan pecinta kuliner tidak akan merasakan bau amis, usai menyantap habis satu porsi kuah asam ikan.

RRI.co.id - Warung Kuah Asam Ikan Tenau Tempat Makan Populer

Ken Patar | Pelabuhan #Tenau - Kupang, NTT. 2022 Diantara kapal - kapal  besar yang bersandar di pelabuhan Tenau, ada beberapa kapal kecil yang... |  Instagram

Menu spesial di Warung ikan kuah asam Tenau, dekat Pelabuhan Kupang
Pelabuhan Tenau Kupang pada senja hari, dekat Warung ikan kuah asam Tenau

Setelah kenyang makan siang menu ikan, kami melanjutkan petualangan ke rumah kenalan lama di Wates, Kulon Progo, DIY. Cik Hong dan Koh Cung, sepasang suami isteri yang kedua anaknya telah menjadi dokter di Medan dan Jakarta, kami temui dalam keharuan di rumahnya Salon Lince di Jl. Sumba no 10 Oeba, Kupang. Kami segera larut dalam suasana reuni dan nostalgia dengan saling mendoakan dan meneguhkan, untuk selanjutnya meneruskan petualangan ke Oesao, di Kabupaten Kupang. Melalui jalan raya yang padat kendaraan, kami menyatu dengan para pengguna jalan yang seenaknya sendiri, tidak mau peduli, melaju di sisi tengah jalan, dan tidak segera menepi saat diklakson. Selain itu, juga ada antrian bus antar kota dalam provinsi, dengan tujuan ke SoE, Kefa dan Atambua, serta antar negara, yakni ke Dili, Timor Leste. Bus ini disediakan oleh berbagai penyedia layanan termasuk DAMRI. Kalau kita mengikuti lajunya, pasti akan sampai di Layanan imigrasi Indonesia-Timor Leste yang dilaksanakan di Tasifeto Timur-Batugade, yang sangat megah dan membanggakan.

 Cik Hong  Cik Hong 1
Keluarga Cik Hong tinggal di Salon Lince, nama yang digunakan sejak di Wates DIY, di Jl. Sumba no 10 Oeba, Kupang
Cik Hong dan Koh Cung, sepasang suami isteri yang kedua anaknya telah menjadi dokter di Medan dan Jakarta,

Kami harus keluar dari Kotamadya untuk masuk ke dalam territorial Kabupaten Kupang, guna menikmati kue cucur, yang merupakan ciri khas makanan lokal kesukaan masyarakat di desa Oesao, Kabupaten Kupang. Kue ini terbuat dari bahan beras yang diolah menjadi tepung. Para petualang yang mengadakan perjalanan melalui atau ke Kabupaten Kupang, menuju ke SoE, Kefa dan Atambua, biasanya singgah di tempat ini, karena kue cucur rasanya enak untuk dinikmati. Selain kue cucur, kami juga menikmati ulang jagung bose sampai kenyang.

Siang itu, kami mengantar keluarga pakde Totok naik ke Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo, yang telah kami kunjungi hari sebelumnya. Di aula kami tertahan, karena hanya sebuah mobil yang diijinkan naik ke puncak taman, sehingga hanya keluarga pakde Totok yang naik dan berhenti tepat di depan Patung Bunda Maria yang tengah menggendong kanak-kanak Yesus. Patung setinggi manusia itu berada pada kaki bukit kedua dengan sudut kemiringan sekitar 40 derajat. Bunda Maria dan Yesus seolah tengah bercakap-cakap. Tentu, Bunda Tak Bernoda ini tengah menyampaikan seluruh isi hati kita, keluh kesah kita, mimpi-mimpi kita, juga gumpalan kekecewaan kita yang mengkristal, bahkan membatu.

 Taman Ziarah
Keluarga pakde Totok di Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo, Kupang

Bagi peziarah beragama katolik yang hendak berdoa, inilah Taman Doa Rosario terlengkap yang menggelar kisah kehadiran Tuhan Yesus Kristus, dalam perjalananNya menyelamatkan umat manusia dari belenggu dosa. Bila peziarah menapaki ruas jalan menanjak dari ‘paving block’ di sebelah kiri posisi berdiri Patung Bunda Maria, maka wajib mendaraskan lima Peritiwa Gembira dan lima Peristiwa Mulia. Sedangkan peziarah yang melangkah ke sebelah kanan, wajib mendaraskan lima Peristiwa Sedih dan lima Peristiwa Terang.

 Taman Ziarah 6
Kapel S. Paul John II di sore hari, di Taman Ziarah Yesus Maria di puncak Bukit Oebelo 

Turun dari taman terindah, kami langsung menikmati sasando, yaitu sebuah alat musik dawai yang dimainkan dengan cara dipetik. Instumen musik ini berasal dari pulau Rote, NTT. Secara harfiah nama Sasando menurut asal katanya dalam bahasa Rote, sasandu, yang artinya alat yang bergetar atau berbunyi. Suara sasando mirip dengan alat musik dawai lainnya seperti gitar, biola, kecapi, dan harpa. Bagian utama sasando berbentuk tabung panjang yang biasa terbuat dari bambu. Lalu pada bagian tengah, melingkar dari atas ke bawah diberi ganjalan-ganjalan, di mana senar-senar (dawai-dawai) yang direntangkan di tabung, dari atas ke bawah, akan bertumpu. Ganjalan-ganjalan ini memberikan nada yang berbeda-beda kepada setiap petikan senar. Lalu tabung sasando ini ditaruh dalam sebuah wadah, yang terbuat dari semacam anyaman daun lontar, yang dibuat seperti kipas. Wadah ini merupakan tempat resonansi sasando.

 Sasando  Sasando 1
Alat musik sasando, topi Ti’i Langga dan kain tenun Rote yang melambangkan kepemimpinan, wibawa dan percaya diri. 
Menikmati alunan musik pemain sasando elektrik di Sanggar Sasando Oebelo Puluti, Kabupaten Kupang Tengah.

Kami mampir di sebuah rumah sederhana yang dikenal sebagai tempat perajin sasando, berada di Oebelo Puluti, Kabupaten Kupang Tengah, sekitar 20 km dari Kota Kupang. Masyarakat Oebelo kebanyakan adalah petani garam. Hal tersebut bisa dilihat kala melintasi sepanjang jalan besarnya. Tepi jalan dihiasi dengan garam yang dipasarkan dalam bentuk sokal (sejenis tabung panjang yang bahannya terbuat dari daun lontar). Daun lontar memang menjadi komoditas yang banyak digunakan di Kupang. Selain bisa dirubah menjadi berbagai macam tempat penyimpanan, di sini anyaman daun lontar juga biasa digunakan sebagai atap rumah, karpet, bahan rumah gubuk juga kerajinan, seperti yang biasa dipakai oleh Jeremias Pah, seorang perajin dari Bengkel Perajin Sasando. Sasando dimainkan untuk beberapa keperluan seperti menghibur kerabat atau orang yang berduka cita, sebagai pengiring tarian dan upacara adat, menyambut tamu penting, atau sekadar alat musik penghibur. Bahkan kini, telah dikembangkan sasando elektrik, bukan akustik lagi, dan terdapat beberapa jenis sasando, mulai dari 10 senar hingga 56 senar yang dibuatnya selama 5 hingga 15 hari.

Bagi orang Rote, selain alat musik sasando, juga ada topi Ti’i Langga yang melambangkan jiwa kepemimpinan, kewibawaan dan percaya diri. Pada awalnya topi Ti’i Langga hanya digunakan oleh para petinggi adat yang bermukim di Pulau Rote, tetapi sekarang topi Ti’i Langga sudah menjadi pelengkap untuk pakaian tradisonal laki-laki di Rote dan juga sering dipakai untuk acara-acara adat. Bahan utama yang digunakan untuk membuat topi Ti’i Langga yaitu daun lontar, dimana pohon lontar memang banyak ditemui di wilayah NTT. Setelah puas mendengarkan alunan sasando elektrik, berfoto dengan topi Ti’i Langga dan kain tenun khas Rote, sore itu kami kembali ke Kota Kupang.

 Puskesmas Oesapa 2  Puskesmas Oesapa 1
Gedung megah Puskesmas Oesapa berlantai 2 sore itu masih ramai dengan berbagai aktivitas pegawai.
Prasasti peresmian di dinding Gedung Puskesmas Oesapa, Kupang yang digunakan mas Yudhi untuk belajar

Di seluruh teritorial Kota Kupang, terdapat Puskesmas Alak, Puskesmas Naioni, Puskesmas Bakunase, Puskesmas Pasir Panjang, Puskesmas Kupang Kota, Puskesmas Oebobo, Puskesmas Oesapa, Puskesmas Oepoi, Puskesmas Sikumana, Puskesmas Penfui dan Puskesmas Manutapen. Sore itu kami mampir ke Puskesmas Oesapa, yang digunakan sebagai wahana internship mas Yudhi dan teman2 dokter lainnya, selain puskesmas pembantu (pustu) di Kelapa Lima, Oesapa Barat, dan Lasiana. Gedung Puskesmas Oesapa berlantai 2 sore itu masih ramai dengan berbagai aktivitas pegawai, tertata rapi dan bersih, tidak kalah dan sangat mirip dengan banyak puskesmas yang modern di Pulau Jawa. Setelah puas mengamatinya, kami segera melanjutkan petualangan ke air terjun Oenesu, yang menjadi oase dari panas teriknya kota Kupang, yang berada di Desa Oenesu, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang ini berjarak sekitar 20 kilometer dari Kota Kupang. Air terjun Oenesu menjadi salah satu tempat favorit wisatawan, lantaran pesona air terjun yang dikelilingi rerimbunan berbagai jenis pohon itu, menjadi pilihan cocok menghalau rasa gerah, terkait panasnya cuaca Kota Kupang pada musim kemarau. Tak hanya itu, rindangnya pepohonan yang beragam jenisnya membuat susana hati setiap pengunjung yang melihatnya, merasa tenang dan sejuk. Uniknya, Air Terjun Oenesu memiliki air terjun yang bertingkat-tingkat hingga mencapai empat lapisan.

 Oenesu 3  Oenesu 6
Air Terjun Oenesu yang bertingkat-tingkat hingga mencapai empat lapisan
Bersemedi di sebuah tingkatan pada aliran Air Terjun Oenesu Kupang

Masing-masing tingkatan, di sela-selanya terdapat kolam-kolam yang terbentuk secara alamiah sehingga banyak dimanfaatkan pengunjung untuk berenang maupun berendam. Air yang mengalir ini banyak mengandung kapur. Saat musim hujan, curuhan dan volume air Oenesu begitu melimpah. Kendati begitu airnya tetap jernih. Sementara ketika musim panas, airnya tak pernah kering, meski tak sebanyak saat musim hujan, namun airnya terlihat lebih jernih. Lokasi wisata air terjun yang memiliki luas areal sekitar 1,5 hektar sudah dilengkapi berbagai fasilitas, seperti bangunan peneduh berupa sembilan lopo, dan tangga menurun ke lokasi air terjun. Setelah kami puas mandi, berenang dan berfoto pada setiap tingkatan air terjun Oenesu, kami segera berganti baju kering untuk bergegas menikmati sore di sebuah pantai.

 Tabl  Tablalong
Senja di Pantai Tablolong yang diapit oleh Pulau Rote dan Timor
Perpaduan hamparan pasir putih dan birunya langit menambah keelokan Pantai Tablolong.

Dibalik kesan panas dan keringnya Kota Kupang, berada tak jauh dari pusat kota, terdapat beberapa primadona pantai, dengan hamparan pasir putihnya yang menjadi daya tarik bagi para pengunjungnya, salah satunya adalah pantai Tablolong. Nama Tablolong diambil dari nama salah satu perkampungan nelayan kecil yang berada di ujung timur. Pantai yang memiliki hamparan pasir putih ini, diapit oleh Pulau Rote dan Timor. Pantai ini sering dijadikan arena olahraga memancing skala lokal, nasional hingga internasional setiap tahunnya. Perairan sejauh 10 mil dari garis Pantai Tablolong itu merupakan jalur migrasi ikan yang cukup ramai, dari perairan Laut Timor menuju Laut Sawu. Selain itu, Tablolong juga sebagai penghasil rumput laut terbesar di NTT.

Perpaduan hamparan pasir putih dan birunya langit menambah keelokan Pantai Tablolong. Selain berenang ataupun bermain air, pengunjung dapat bersantai ria di lopo (sejenis bale-bale/ gazebo) sambil menikmati hembusan angin pantai. Tablolong juga dihiasi oleh adanya Pohon Centigi (Pempis Acidula) yang tumbuh liar di sekitaran bebatuan karang, dan merupakan sebuah tanaman golongan perdu yang banyak diburu orang karena keunikannya.

Pantai yang berjarak sekitar 30 km dari pusat Kota Kupang ke arah Tenau, waktu tempuh menuju lokasi dapat mencapai 1-1.5 jam. Sore itu kami menikmati pemandangan matahari tenggelam yang sangat sensasional, selanjutnya kami menikmati makan malam nasi bungkus dan air kelapa muda yang segar, sampai malam gelap menghimpit kami. Kami segera menuju ke Hotel Greenia dalam kepuasan yang penuh. Setelah mandi sore, hanya kami berdua dan pakde Totok serta budhe Tari yang masih mampu menikmati malam hari, dengan diantar oleh mas Yudhi. Malam itu, kami dijamu oleh Dr. Maria Surina dan Om Fendi suaminya, menikmati jagung bakar dan pisang bumbu kacang di kios nomer 10, pusat kuliner malam hari di sepanjang Jl. El Tari Kupang depan Gedung Sasando, Kantor Gubernur NTT yang legendaris. Setelah kekenyangan dan mulai mengantuk, kami lantas berpisah, mengantar pakde Totok dan budhe Tari kembali ke Hotel Greenia, dan kami melanjutkan petualangan ke Rumah Sakit St. Carolus Borromeus (RSCB) di Jl. H.R. Koroh KM 8 Kupang – NTT. RS yang didirikan oleh Kongregasi Suster-Suster Cinta Kasih Carolus Borromeus, seperti halnya RS Panti Rapih di Yogyakarta, dikelola oleh Yayasan Elisabeth Gruyters Kupang.

 RSCB Kupang  RS Bhayangkara 1
Ambulance di UGD Rumah Sakit St. Carolus Borromeus, Kupang
 Bersama mas Yudhi yang belajar sebagai dokter di RS Bhayangkara Kupang

Rumah Sakit St. Carolus Borromeus ini merupakan rumah sakit tipe C yang telah lulus akreditasi tingkat perdana, menerima pasien BPJS maupun asuransi swasta lainnya yang telah bekerja sama. Motto RS St. Carolus Borromeus adalah “Kasih yang Menyembuhkan.” RSCB ini melayani semua penderita dengan cinta kasih dalam kepemimpinan oleh Direktur Dr. Herli Soedarmadji. SDM terdiri dari 10 orang dokter umum, 16 orang perawat, dokter spesialis yang tetap baru dokter penyakit dalam, yaitu dokter Stefani, memiliki 27 tempat tidur, yang sedang dikembangkan menjadi 50. Malam sudah terlalu larut, sehingga kami tidak mampu menemui Sr. Natalia, CB, seorang apoteker dari RS Panti Rapih Yogyakarta yang pindah di situ, dan langsung kembali terlelap di kamar Hotel Greenia.

Minggu, 1 Juli 2018 pagi hari, kami terjaga agak siang karena kelelahan yang penat. Pagi itu, kami akan mengikuti misa kudus di Gereja Katedral Kupang. Katedral ini adalah pusat dari Keuskupan Agung Kupang (KAP) yang didirikan pada 13 April 1967, hasil pemekaran dari Keuskupan Atambua. Kemudian pada 23 Oktober 1989 ditingkatkan menjadi Keuskupan Agung Kupang, dalam kesatuan satu provinsi gerejani dengan dua keuskupan sufragan, Atambua dan Weetebula. Mencakup 130.000 umat yang berada di Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Pulau Alor dan Pulau Pantar. Pertambahan umat di Keuskupan Kupang yang cukup besar terjadi setelah tahun 1965, ketika banyak penduduk yang menganut agama asli kesukuan, meminta diterima menjadi anggota Gereja. Perkembangan itu menyebabkan pemisahan dari Keuskupan Atambua. Statistik tahun 2004 menunjukkan jumlah umat sebanyak 125.000 tersebar di 22 paroki. Uskup Kupang pertama adalah Mgr Gregorius Manteiro SVD (13 April 1967—23 Oktober 1989), selanjutnya Uskup Agung Kupang adalah Mgr Gregorius Manteiro SVD (23 Oktober 1989—10 Oktober 1997, wafat) dan Mgr Petrus Turang (10 Oktober 1997—sekarang).

 Katerdral  Katerdral 1
Gereja Katolik Katedral Kristus Raja Kupang ini berdiri pada tanggal 15 Agustus 1967
Sekretariat Gereja Katedral Kristus Raja di Jl. Soekarno nomor 1 Bonipoi, Kupang.

Gereja Katedral Kristus Raja Kupang ini berdiri pada tanggal 15 Agustus 1967, terletak di Jl. Soekarno nomor 1 Bonipoi, Kupang. Katedral berasal dari kata latin “cathedra” yang artinya kursi. Di luar gedung geraja terdapat makam Uskup Agung pertama Keuskupan Agung Kupang, Mgr. Gregorius Monteiro. Tanggal 14 Oktober 1999, makam ini diberkati oleh Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang. Ciri khas katedral ini adalah kaca patri di sepanjang dinding yang menyatu menjadi galeri ‘stained glass’. Gambarnya terdiri dari ‘Lamb of God’, ‘St. Mary and globe’, ‘Christ the King’, ‘The Ressurection of Christ’, dan ‘The Infant Jesus of Prague’. Setelah misa kudus selesai dan kami puas menikmati keindahan gedung gereja, kami segera kembali ke Hotel Greenia untuk berkemas pulang.

Setelah kenyang makan siang bersama di rumah pasangan ideal suami isteri Dr. Vama (konsultan UNICEF Regio  Indonesia Tengah) dan Dr. Frans Taolin, SpA (Ketua IDAI Cabang NTT), kami segera terbang kembali ke Jogja menggunakan pesawat Boeing 737-900 ER, yang merupakan pesawat penumpang sipil (airliner) komersial untuk penerbangan jarak dekat dan jauh. Pertama kali dibuat pada tahun 2006, dan resmi mengudara pada 2007, Boeing 737-900 ER ‘Extended Range’ dioperasikan pertama kali oleh maskapai penerbangan asal Indonesia yaitu Lion Air. Boeing membuat 737-900 yang mampu terbang lebih jauh dan menampung penumpang lebih banyak daripada vesi sebelumnya. Pada varian ini, yaitu Boeing 737-900 ER (Extended Range), cockpitnya telah dilengkapi dengan HUD (Head Up Display). Di Indonesia, Boeing 737 merupakan “standar” armada bagi berbagai maskapai di Indonesia, baik varian “original” (seri -200), varian “Classic” (seri -300, -400, dan -500), maupun “Next Generation” (seri -800 dan -900ER).

 Dr. Vama  Terbang Boeng
Setelah makan siang bersama di rumah Dr. Vama dan Dr. Frans Taolin, SpA, 
Di dalam pesawat Sriwijaya Air SJ 255 Boeing 737-900 ER dari Kupang

Keluarga pakde Totok melanjutkan pesiar ke Maumere dan Kelimutu di Pulau Flores, sedangkan kami terbang pulang ke Yogyakarta dengan menumpang pesawat Sriwijaya Air SJ 255 Boeing 737-900 ER dari Kupang Minggu, 1 Juli 2018, pk. 14.30 selama 1 jam 50 menit. Dilanjutkan dengan pesawat Sriwijaya Air SJ 235 Boeing 737-900 ER dari Surabya selama 55 menit, untuk mendarat di Yogyakarta Minggu, 1 Juli 2018, pk. 17.45. Sriwijaya Air adalah sebuah maskapai penerbangan di Indonesia yang didirikan oleh keluarga Lie (Hendry Lie dan Chandra Lie) dengan Johannes Bundjamin dan Andy Halim. Saat ini Sriwijaya Air adalah Maskapai Penerbangan terbesar ketiga di Indonesia, dan sejak tahun 2007 hingga saat ini tercatat sebagai salah satu Maskapai Penerbangan Nasional yang memiliki standar keamanan kategori 1 di Indonesia.

Terimakasih kepada segenap pihak, yang telah mendukung pesiar kami di Kupang dan proses pendidikan internship mas Yudhi dan teman2 dokter muda lainnya. Sampai bertemu dalam petualangan selanjutnya.

 Ikut pak Jokowi

Sekian
Yogyakarta, 3 Juli 2018
*) petualang, pesepeda, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Healthy Life Jalan-jalan sekolah

2018 NEW YORK HARI KEEMPAT (Washington, DC)

 

NEW YORK  HARI  KEEMPAT

(WASHINGTON  DC)

fx. wikan indrarto*)

 

Pada Kamis, 22 Maret 2018, saat kami akan berangkat mengikuti ‘The 16th Annual World Congress on Pediatrics’, yang diselenggarakan di Hilton New York JFK Airport Hotel, 135th Avenue, Jamaica, New York 11436 USA, ada email masuk. Kami dikagetkan oleh email masuk tentang ‘Important Amtrak Alert’ yang isinya ‘schedule to Washington DC has been cancelled, due to a schedule change’, terkait serangan badai salju hari sebelumnya. Untunglah teman baik kami, Christine N. Tedjopranoto yang asli Purwokerto Jawa Tengah dan tinggal di kota Charlotte, North Carolina USA, segera tampil membantu kami. Apa yang menarik?

 

Pada Day 2 Congress : March 22, 2018, kami sempatkan mengikuti Keynote Forum dengan tema Keynote : ‘Pediatric Cochlear Implantation’ yang dibawakan oleh Prof. Susan B. Waltzman, PhD yang merupakan Professor of Otolaryngology and Co-Director of the NYU Cochlear Implant Center, New York University School of Medicine, USA. Pada intinya oleh karena pemeriksaan skrining pendengaran pada bayi baru lahir dan alat evaluasi yang digunakan lebih baik, sekarang lebih banyak anak dengan gangguan pendengaran parah sudah mampu didiagnosis saat bayi. Hal ini akan memberikan kesempatan untuk akses anak ke implantasi koklea. Para dokter perlu mempertimbangkan semua aspek implantasi koklea pada bayi, termasuk aspek keamanan dan khasiat pada bayi yang sangat muda. Risiko anestesi, volume darah, ukuran, ketebalan, dan pertumbuhan tengkorak, serta posisi alat yang digunakan.

 

 di 4. Konggres
‘The 16th Annual World Congress on Pediatrics’ Sebelum sesi Keynote Forum dimulai

 

 

Pembicara Keynote Forum selanjutnya adalah Professor Elisabeth Utens dari Erasmus University Medical Centre, Rotterdam and University of Amsterdam, Nedherland. Dengan tema Keynote tentang Eye Movement in children, menjelaskan bahwa sekitar 3 dari setiap 10 anak dan remaja yang dirawat di rumah sakit atau menjalani operasi invasif dan atau menyakitkan, akan berkembang menjadi Post Traumatic Stress Syndrome (PTSS), meskipun subklinis. Selain itu, sekitar 1 dari 10 anak bahkan mengalami PTSS penuh yang dapat berdampak serius pada kualitas hidup, fungsi psikososial dan dapat mengakibatkan keluhan psikiatri jangka panjang. Sebagian besar anak yang menjalani rawat inap atau operasi tidak diskrining untuk keluhan PTSS dan tidak menerima bantuan psikolog. EMDR terbukti efektif dan diterapkan secara struktural di Erasmus MC Sophia. EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing) merupakan metode psychoterapi yang lebih efektif dalam mengatasi PTSD (Post Traumatic Stress Disorder). Di Indonesia telah resmi di buka pada tahun 2008. Metode ini di temukan oleh Francine Shapiro pada tahun 1987. Kerjasama yang baik antara dokter spesialis medis dan psikoterapis perilaku kognitif diperlukan untuk perawatan psikososial yang optimal.

Pembicara yang cukup kontroversial dan mendapat apresiasi peserta adalah saat Keynote Forum ketiga, dengan tema Keynote : ‘Grounds and first results of the new doctrine of acute pneumonia’.  Professor Dr. Igor Klepikov PhD dari Dana Children’s Hospital Sourasky Medical Center Tel Aviv Sourasky Medical Center and Russian State Institute for Post-graduate Medical Studies Novokuznetsk, Russia. Intinya bahwa pengobatan pneumonia akut saat ini hanya berfokus pada terapi antibiotik dan mengulangi prinsip pengobatan penyakit peradangan lainnya. Dampaknya adalah mengurangi efektivitas obat antimikroba, kemunculan dan peningkatan jumlah patogen resisten antibiotik dan peningkatan frekuensi komplikasi purulen. Dasar doktrin pendekatan yang baru didasarkan pada aksioma ilmiah berikut : Pertama, respon tubuh terhadap stimulus apapun, termasuk peradangan, sangat individual dan unik. Kedua, transformasi inflamasi jaringan tubuh adalah reaksi vaskular dengan urutan tahap tertentu. Ketiga, sirkulasi darah kecil dan sistemik tidak hanya memiliki hubungan langsung, tetapi juga hubungan terbalik. Keempat, di antara bentuk peradangan nonspesifik pneumonia akut adalah satu-satunya proses yang terjadi dalam sistem sirkulasi darah kecil. Dan kelima, adalah prosedur medis yang sama dapat memiliki efek yang berbeda terhadap peradangan pada sirkulasi darah kecil atau besar. Untuk itu, kemungkinan pencegahan komplikasi supuratif dan destruktif dari penyakit pneumonia akut ini haruslah dicermati.

Kami masih sempatkan mengikuti Keynote Forum keempat, dengan tema Keynote: ‘Education Opportunities in Children with Mental Health Disorders.’ oleh Dr. Petrovic-Dovat is a Director of the Child and Adolescent Anxiety Disorder Program at the Penn State Hershey College of medicine, Pennsylvania State University, USA. Pada dasarnya disebutkan bahwa hanya sekitar 25% anak dengan penyakit jiwa yang ditangani oleh psikiater anak. Dokter spesialis anak sering menjadi dokter pertama bagi sebagian besar anak dengan masalah kesehatan mental dan perilaku. Namun kemampuan mereka untuk berhasil mengelola penyakit jiwa belum pernah diteliti. Dukungan pendidikan tambahan diperlukan, untuk dokter spesialis anak pada layanan  primer dalam merawat anak dengan masalah kesehatan mental.

 

Setelah sesi Keynote Forum keempat selesai, segera kami kembali melanjutkan petualangan cepat ke jantung kekuatan finansial New York, yaitu downtown Manhattan. Kami langsung naik subway Line J dari Jamaica ke Broad Street (downtown) untuk menuju ke sebuah patung yang disebut ‘Charging Bull’ atau arti harafiahnya Banteng Pengisian, yang kadang disebut sebagai Wall Street Bull atau Bowling Green Bull, karena patung perunggu tersebut berdiri di Bowling Green di Financial District di Manhattan, New York City. Rancangan awalnya adalah seni liar (originally guerrilla art), yang dipasang secara tidak resmi oleh Arturo Di Modica. Namun demikian, oleh karena popularitasnya membuatnya menjadi fitur patung yang permanen. Kegagahan banteng tersebur seolah menunjukkan keperkasaan Wall Street sebagai kekuatan finansial global.

 4 Bu Elsye  4 Buffalo

Kami mampir di Kantor Ibu Elsye yang berlokasi di Broad Street no 90 downtown Manhattan NYC

‘Charging Bull’ lambang keperkasaan Wall Street sebagai kekuatan dan keperkasaan finansial global

 

Setelah itu, kami mampir di Kantor Ibu Elsye yang berlokasi di Broad Street no 90, Manhattan, untuk mengembalikan jaket musim dingin yang kami pinjam dan telah melindungi kami dari dekapan duingin salju. Selanjutnya kami menikmati Indian Museum atau The National Museum of the American Indian, yang gagah menjulang tidak jauh dari kantor Ibu Elsye yang baik hati, di samping American Film Academy dan patung perunggu yang disebut ‘Charging Bull’. Pada museum warga asli Amerika atau Infinity of Nations, menampilkan lebih dari 700 benda di dalam gedung megah yang sebelumnya merupakan rumah Alexander Hamilton. Bangunan ini dirancang oleh Cass Gilbert, yang juga mendesain Woolworth Building di utara Broadway, dalam gaya Beaux Arts. Di luar gedung ada 12 patung termasuk Christopher Columbus, yang diakui sebagai penemu Amerika, yang dirancang oleh Daniel Chester French. Dibangun antara tahun 1900 dan 1907, gedung ini menghadap Bowling Green, ruang publik pertama di New York City.

 

 3 WTC  4 Museum Indian
Turun di WTC dari subway Line Jtujuan Jamaica ke Broad Street

Patung Christopher Columbus di gerbang The National Museum of the American Indian

 

Oleh karena terjadi perubahan jadwal keberangkatan kereta api Amtrak ke Washington, DC, maka kami masih ada sisa waktu untuk kami gunakan menikmati Times Square. Dari Bowling Green kami naik subway uptown Line R untuk turun di Times Square. Tempat ini tidak jauh dari Penn Station, untuk keberangkatan KA Amtrak ke Washington, DC, sehingga kami pilih sebagai tempat untuk menunggu. Times Square adalah persimpangan jalan, wahana komersial utama, tujuan wisata, pusat hiburan dan sebuah arena di bagian Midtown Manhattan di New York City, tepatnya di persimpangan Broadway dan Seventh Avenue. Areal ini terang dihiasi dengan papan iklan yang menyala penuh warna, gambar gerak ataupun video iklan, meskiun pada siang hari yang cerah sekalipun. Times Square kadang-kadang disebut sebagai “The Crossroads of the World”, “The Centre of the Universe”, “The Great White Way”, dan “hati dunia”. Times Square merupakan salah satu kawasan pejalan kaki tersibuk di dunia, juga merupakan pusat Distrik Teater Broadway dan pusat utama industri hiburan dunia. Times Square adalah salah satu tempat wisata yang paling banyak dikunjungi di dunia, yang menarik sekitar 50 juta pelancong setiap tahunnya. Sekitar 330.000 orang melewati Times Square setiap hari, banyak dari mereka adalah wisatawan, sementara lebih dari 460.000 pejalan kaki telah berjalan melalui Times Square pada puncak hari tersibuk.

 

 4 Times 1  4 Times 4

Papan iklan di Times Square yang disebut “The Crossroads of the World”

Makan-makan sambil melihat banyak sekali orang lalu lalang di Times Square

 

Sebelumnya dikenal sebagai Longacre Square, Times Square diganti namanya pada tahun 1904 setelah The New York Times memindahkan kantor pusatnya ke Gedung Times yang baru saja didirikan, yang sekarang disebut One Times Square. Di tempat tersebutlah berlokasi atraksi kembang api dan bola Malam Tahun Baru tahunan yang dimulai pada 31 Desember 1907, dan berlanjut sampai hari ini, yang mampu menarik lebih dari satu juta pengunjung ke Times Square setiap tahun.

 

Setelah puas berfoto, makan-makan sambil melihat banyak sekali orang lalu lalang, selanjutnya kami naik subway downtown Line 1 untuk turun di ke Penn (Pennsylvania) Station, sebuah stasiun interkoneksi yang sagat besar dan ramai penumpang, untuk ganti kereta api menuju ke Wasington, DC, ibukota AS. Kami naik kerata api cepat antar kota, yang dioperasionalkan oleh Amtrak. Amtrak adalah nama layanan dari National Railroad Passenger Corporation (Perusahaan Kereta Api Penumpang Nasional), sebuah perusahaan semi-pemerintah yang dibentuk 1 Mei 1971, untuk memberikan layanan kereta api penumpang antarkota di daratan Amerika Serikat. Nama “Amtrak” berasal dari gabungan kata “American” dan “track”.

 

 4 Amtrak 1  4 Amtrak 2

Eksterior gerbong Amtrak di Penn (Pennsylvania) Station New York, milenial yang nampak kokoh dan garang

Interior ala pesawat di gerbong Amtrak kelas ekonomi, kursi terlalu besar untuk kami karena ukuran American standard

 

Amtrak memiliki hampir 19.000 pegawai. Rute kereta api penumpang yang dioperasikan mencakup 500 kota tujuan di 46 negara bagian, dengan total jarak sejumlah 33.800 km di atas rel kereta api, yang sebagian besar justru dimiliki oleh perusahaan kereta api lain, termasuk beberapa kota di Kanada. Pada tahun fiskal 2006, Amtrak mengangkut sejumlah 24,3 juta penumpang, dan sekaligus menjadi rekor jumlah penumpang terbanyak yang pernah diangkut Amtrak. Sejarah Amtrak bermula dari layanan kereta api penumpang swasta di Amerika Serikat yang terus mengalami kemunduran, sejak sekitar tahun 1920 hingga tahun 1970. Sebagai tindak lanjut, Amtrak dibentuk oleh Konggres dan Presiden AS pada tahun 1971. Sepanjang sejarahnya, perusahaan ini telah mengalami pasang surut akibat permainan politik, kekurangan modal, dan gangguan teknis pada jalur kereta api. Belakangan ini keadaan perusahaan semakin sehat, dan pada tahun 2000-an telah menyelesaikan proyek rel kereta api di daerah timur laut Amerika Serikat, sementara pesaing utama Amtrak, terutama perusahaan penerbangan menghadapi masalah kepailitan dan kenaikan harga bahan bakar.

 

 4 Salju  4 Washington

Badai salju sudah hampir selesai, sebuah pengalaman unik

Tiba di Union Station Washington DC, setelah usai badai salju

 

Kami naik Train 93 meninggalkan Penn Station di central Manhattan New York pk. 2.02 PM untuk menuju ke Union Station di Washington, DC, menempuh jarak total 476,14 km. Kami sempat berhenti di stasiun Newark di New Jersey, Metropark, Princeton, Trenton, Philadelphia, Wilmington, Baltimore, BWI Marshall Airport, New Carollton dan turun di Union Station Washington DC, yang merupakan salah satu stasiun tertua sekaligus markas Amtrak. Meski tidak muda lagi, stasiun ini tetap terawat dan masih memancarkan pesona keindahan arsitektur klasik. Selain megah, stasiun yang dibangun pada awal abad ke-10 itu juga memiliki beragam tempat nongkrong sehingga banyak orang yang betah menghabiskan waktu di sana Data ‘Federal Railroad Administration Office of Safety Analysis’ menyebutkan jumlah kecelakaan Amtrak menurun sejak 2010. Pada 2015 terjadi 40 kecelakaan, turun satu angka dari tahun sebelumnya. Rasanya tidak heran jika Amtrak selalu dibanjiri penumpang. Setalah menemuh perjalanan seekiatr 3,5 jam, kami sampai di  Union Station di pusat kota Washington, DC

 

 4 Union 4

Arsitektur Union Station di pusat kota Washington, DC beraura mewah dan bergaya klasik yang sudah beroperasi sejak tahun 1907.

 

 

Bangunan dengan arsitektur beraura mewah dan bergaya klasik ini sudah beroperasi sejak tahun 1907. Pengunjung pun dapat menikmati ruang tunggu utama di stasiun tua ini yang dibangun dengan ketinggian 29 meter. Saat menjejakkan kaki ke dalam stasiun, kami langsung merasakan atmosfer berbeda, sebab memang seperti tengah berdiri di sebuah istana transportasi darat. Setelah keluar dari pintu gerbang sekitar pk. 5.30 sore, kami segera mengabadikan sisi luar bangunan Union Station yang artistik, dalam foto dari berbagai sudut, di pusat kota Washington, DC.

 

 4 Amtrak  4 Union

Lokomotif Amtrak yang membawa kami ke Washington, DC

Sisi dalam bangunan Union Station yang artistik di pusat kota Washington, DC

 

Washington, DC (singkatan dari District of Columbia) didirikan tahun 1790. Kota di pinggir Sungai Potomac ini didesain arsitek Perancis, Pierre Charles L’Enfant, sebagai ibu kota negara. Rancangannya bergaya Eropa abad pertengahan. Hingga kini, gedung-gedung lama peninggalan masa itu masih terjaga. Bangunan itu rata-rata bergaya neoklasik, georgian, atau gotik dengan tiang-tiang besar dan beberapa ornamen. Namun, bangunan baru cenderung bergaya modern, bebas, meski tetap berangkat dari kebutuhan fungsi. Semua gedung di kota itu tak boleh lebih tinggi dari United States Capitol dan Washington Monument.

 

Selanjutnya kami berjalan kaki melawan desiran angin sangat dingin, dari Union Station menuju bangunan megah yang disebut ‘The United States Capitol’. Kami segera memasuki area National Mall, yang relatif masih cukup terang pada sore menjelang malam itu dan tujuan pertama kami adalah kantor Kongres Amerika Serikat, yakni U.S. Capitol dengan pemandangan yang luar biasa elok, selain interior rapi dan cantik pada gedung yang beralamat di East Capitol St NE & First St SE, Washington, DC 20004. Gedung yang didirikan tahun 1800-an dengan arsitek William Thornton itu memiliki kubah besar bergaris di bagian tengah.

 

 

 4 Union 5  4 Capitol
United States Capitol  Building di siang hari yang cerah United States Capitol Buildingdi sore  hari yang redup dan dingin

 

White House, Washington Monument, dan United States Capitol berdiri pada titik segitiga di jantung kota Washington, DC. Pada jarak lurus antara Washington Monument dan United States Capitol, terdapat jalur besar yang biasa disebut National Mall. Dari jalur terbuka inilah, para wisatawan leluasa mengamati kota. Tiga bangunan itu merefleksikan semangat kebangsaan modern AS. White House mewakili kekuasaan eksekutif. United States Capitol mencerminkan ruang kebebasan dari para wakil rakyat. Washington Monument tanda kenangan sejarah bangsa modern yang merdeka tahun 1776 itu.

 

Selanjutnya kami naik Metrobus Line 32 bertarif $ 2, yang harus kami bayar tunai karena Metrocard Washington dan New York belum terkoneksi, untuk mengunjungi The White House atau Gedung Putih, dengan berjejal di antara ratusan turis lain, sebelum hari gelap. Rumah tempat tinggal resmi presiden Amerika Serikat (AS) itu termasuk Barack Obama, yang menjadi Presiden Ke-44 AS dan pernah mengunjungi Yogyakarta, memang punya daya tarik tersendiri. Gedung Putih memang tidak terlalu besar, apalagi jika dibandingkan arsitektur kontemporer yang besar-besar. Namun, bangunan hasil rancangan arsitek James Hoban dan dibangun tahun 1792 itu adalah ikon kota, bahkan ikon AS. Brosur resmi terbitan The White House Visitor Center mencatat, gedung itu merupakan bangunan publik tertua di kota Washington, DC.

 

Rumah bergaya georgian yang saat kami datang sudah diselimuti gelap awal malam, menjadi tempat tinggal resmi para presiden AS sejak Presiden Kedua AS Johan Adams, tahun 1800. Jadi, selama 200-an tahun lebih, orang-orang nomor satu di negeri itu tinggal di sana, termasuk Barack Obama dan Donald Trump. Gedung Putih berdiri di sudut tak jauh dari kawasan terbuka di tengah kota yang biasa disebut National Mall.

 

 4 White  4 WhiteHouse 1
Gedung Putih di Washington, DC,tempat tinggal resmi presiden AS

Gedung Putih (White House) di malam yang dingin dan tidak boleh lagi didekati

Gedung Putih yang terletak di 1600 Pennsylvania Avenue di Washington, DC,  merupakan tempat tinggal resmi presiden dan keluarganya selama masa jabatannya sebagai presiden. Saat seorang presiden baru terpilih, presiden yang lama segera pindah. Gedung Putih (White House) juga menjadi kantor, di mana presiden menjalankan pemerintahan. Sangat disesalkan bahwa, kami tidak mampu mendekat Gedung Putih, selain karena gelap malam sudah menutupinya, desiran angin dingin sudah membekukan badan dan masa kunjungan wisatawan sudah habis malam itu.

 

Dari lapangan terbuka di depan Gedung Putih itu, kami melihat The Washington Monument, sebuah tugu (obelisk) peringatan untuk mengenang pemimpin Tentara Kontinental yang sudah membuat Amerika Serikat merdeka dari jajahan Inggris dan sekaligus juga Presiden Amerika Serikat pertama, George Washington. Bangunan ini didesain arsitek Robert Mills dan diresikan pada tahun 1848. Bentuknya sederhana, mirip tonggak lurus lancip setinggi 555 kaki lebih atau sekitar 169.294 meter. Berbahan batu marmer, granit, dan batu pasir putih, tugu itu tampak menonjol. Dari seberang Sungai Potomac, monumen itu seperti tonggak putih yang angkuh.

 

Lurus di depan The Washington Monument, terdapat taman peringatan Lincoln Memorial dan Vietnam Veterans Memorial. Di samping kanan tugu, ada dua taman peringatan lain, yaitu Franklin Delano Roosevelt Memorial dan Thomas Jefferson Memorial. Ketiganya presiden AS yang dikenang dengan berbagai jasa. Di tengah pertigaan jalan, banyak dibuat taman melingkar. Di situ, berdiri patung-patung para jenderal dari masa-masa peperangan. Beberapa di antara mereka naik kuda dengan gagahnya, yang tidak dapat lagi kami ambil fotonya karena gelap malam sudah menutupinya.

 

 

 4 Panorama  4 White House

Panorama The Washington Monument, Lincoln dan Vietnam Veterans Memorial

White House di malam yang dingin dan tidak boleh lagi didekati

 

 

 

Rasanya kami belum lengkap melihat, saat berkunjung ke Washington DC, karena hari sudah gelap, angin bertiup semakin dingin dan badan sudah lelah, pada hal kami belum mengunjungi Lincoln Memorial, untuk memperingati jasa Abraham Lincoln, Presiden Amerika Serikat ke-16. Lincoln Memorial ini adalah bangunan megah nan klasik, yang merupakan salah satu obyek wisata yang menarik karena saat memasuki kawasan ini, maka mata kita akan dimanjakan dengan arsitektur yang sarat gaya kuil Yunani.

 

Sayang sekali, kami tidak sempat berfoto di dekat patung Abraham Lincoln dengan ukuran yang cukup besar. Patung yang menghiasi bangunan ini memiliki ketinggian 5,8 meter dengan bobot total 159 ton. Lincoln dinilai sebagai presiden AS yang paling hebat sepanjang sejarah Amerika, yang ditembak di teater Ford, Washington DC pada 14 April 1865 dan meninggal keesokan harinya pada usia 56 tahun. Pembunuhnya, John Wilkes Booth adalah pemain sandiwara yang memiliki gangguan jiwa, ia juga salah seorang pendukung Konfederasi yang menentang diserahkannya tentara Konfederasi kepada pemerintah, setelah berakhirnya perang saudara. Presiden Lincoln dimakamkan di Springfield, AS dan dikenang Amerika dan dunia sebagai pejuang demokrasi karena jasa-jasanya.

 

 4 Lincoln  4 Capitol 1
Lincoln Memorial, untuk memperingati jasa Abraham Lincoln, Presiden AS ke-16 Gedung Mahkamah Agung  (Supreme Court) AS yang megahdi depan United States Capitol

 

Dalam survei pemeringkatan Presiden AS sejak tahun 1940-an, Lincoln secara konsisten di peringkat tiga besar, sering nomer 1. Sebuah studi 2004 menemukan bahwa para sarjana di bidang sejarah dan politik peringkat Lincoln nomor satu, sementara sarjana hukum menempatkannya kedua setelah Washington dari semua polling peringkat presiden yang dilakukan sejak tahun 1948, Lincoln telah dinilai di bagian paling atas di sebagian besar jajak pendapat. Umumnya, tiga presiden yang dinilai sebagai no 1 Abraham Lincoln, no 2 George Washington, dan no 3 Franklin D. Roosevelt. Potret Lincoln muncul di dua denominasi mata uang Amerika Serikat, penny dan kertas $ 5.

 

 

 

 4 Was  4 Washington Monumen
The Washington Monument didesain arsitek Robert Mills dan diresmikan pada tahun 1848, tonggak lurus lancip setinggi 555 kaki The Washington Monument untuk mengenang pemimpin Tentara Kontinental dan sekaligus juga Presiden AS pertama, George Washington

 

 

Setelah kelelahan karena berhari-hari berjalan kaki jauh, juga kelaparan karena hembusan angin dingin paska badai salju, kami segera memutuskan kembali masuk ke Union Station. Malam itu kami menghabiskan waktu di ruang tunggu stasiun yang hangat dan tersedia wifi gratis, sampai tiba saat kami harus kembali naik Amtrak untuk menuju Penn Station di central Manhattan New York. Kami naik Train 151 meninggalkan Union Station di Washington, DC, yang kembali menempuh jarak total 476,14 km.

 

sekian

 

Ditulis dari Terminal 1 Hong Kong International Airport, saat transit 4 jam sekembalinya dari New York dan disebarkan dari ruang tunggu F4 Bandara Soekarno Hatta Tangerang, Banten, sebelum terbang ke Denpasar Bali.

 

Minggu, 25 Maret 2018.

 

*) penikmat jalan2 murah

Categories
anak Healthy Life Jalan-jalan Malaria sekolah

2010 NOSTALGIA DI FLORES

NOSTALGIA  DI  FLORES

fx. wikan indrarto*)

Untuk merayakan rahmat Tuhan bagi keberhasilan sekolah anak-anak, kami merencanakan jalan-jalan (pesiar) untuk bernostalgia ke Pulau Flores. Di sanalah kami pernah bertugas dan mas Yudhi, anak kami yang sulung, dilahirkan. Kami berangkat dari Yogyakarta hari Rabu, 23 Juni 2010 pk. 16.05 wib dengan KA Ekskutif Sancaka dari Stasiun Tugu, Yogyakarta ke Surabaya. Sekitar pk. 21.15 wib di Stasiun Gubeng dekat Kali Mas di pusat kota Surabaya kami dijemput Dr. Daniel Ponco, SpB, dokter bedah di RS RKZ St. Vincent A. Paulo dan teman lama semasa SMA, lalu menginap di rumahnya. Rumah artistik 2 lantai di Palm Spring Regency C/99 Jambangan, Surabaya selatan, merupakan persinggahan pertama kami.

Saat kami tiba di Bandara Wai Oti Maumere

Dijamu makan siang di Maumere oleh Dr. Kristin

Kamis, 24 Juni 2010 pk. 09.15 kami melanjutkan perjalanan dengan pesawat Boeing 737 versi 200 Batavia Air ke Maumere, melalui Bandara Internasional Juanda yang baru dan megah. Setelah lelah dalam antrian panjang karena petugas ‘check in’ hanya seorang, kami harus singgah sebentar (transit) di Bandara Internasional Ngurah Rai di Denpasar dan Bandara El Tari di Kupang. Pada pk. 13.15 WITA kami mendarat dalam hawa panas musim kemarau di Bandara Wai Oti, sekitar 5 km sebelah timur pusat kota Maumare, di Flores bagian tengah agak ke timur. Kami dijemput Dr. Kristin, teman lama semasa kami tugas di Flores, dengan mobil Panther Touring hitam EB 1792 DA, diajak keliling kota. Kami mengingat-ingat kembali tempat yang dulu kami akrabi dan makan ikan bakar di RM Jakarta di dalam kompleks pelabuhan Maumere, yang meski padat oleh kapal, namun airnya jernih dengan banyak ikan dan kepiting di kaki dermaga. Saat lama menunggu masakan matang, kami jalan-jalan sepanjang dermaga, melihat banyak kapal berbagai ukuran yang ditambatkan, kesibukan bongkar muat peti kemas dan anak-anak yang terjun berenang ke air laut yang hampir tidak berombak sama sekali. Akhirnya kami mampir sebentar ke bekas RSU Dr. TC Hillers yang telah dialih fungsikan menjadi Puskesmas Berru dan Unipa (Universitas Nusa Nipa), rumah Bapak Sabinus Nabu dan isterinya, Bu Linda. Bapak Sabinus dahulu adalah Camat Lela dan ibu Linda dahulu adalah bidan Puskesmas Nanga. Dengan diantar Nong, sopir Puskesmas Beru, kami mampir ke rumah pasangan Lado dan Lies di Nita, dimana keduanya dahulu adalah karyawan Puskesmas Nanga. Setelah itu, kami numpang lewat melihat Puskesmas Nita, yang sekarang terdiri dari 2 kompleks terpisah, yaitu rawat jalan di tempat yang lama dan rawat inap yang merupakan gedung baru. Kami lanjut ke Lela, menyusuri jalan-jalan berliku yang tidak sulit untuk membangkitkan kenangan kami akan rute berliku itu, yang dahulu sering kami susuri.

Mama Sari mengenangnya karena dahulu merangkap tugas sebagai dokter gigi di Puskesmas Nanga dan Nita, di 2 kecamatan yang berbeda dan berjarak hampir 15 km. Kami semua membayangkan dengan haru, mama Sari yang duduk di bawah pohon beringin dekat pertigaan Nita, untuk menunggu angkutan umum dari Maumere. Hal itu dilakukannya 3 kali seminggu, sepulang kerja dari Puskesmas Nita, bahkan sampai saat hamil Yudhi sekalipun. Cukup sering angkutan yang lewat sudah penuh sesak dengan penumpang, bahkan bergelantungan di pintu, tangga dan atap, sehingga mama Sari kadang terpaksa menunggu lewatnya angkutan yang berikut. Hari menjelang gelap saat kami memasuki pelataran Puskesmas Nanga, berfoto dan bertemu dengan mama Burga dan mama Donce. Mama Burga adalah kader kesehatan, yang bahkan tetap ingat nama-nama kami. Kami dipeluknya satu persatu, bahkan Yudhi yang sudah jauh lebih tinggi dari badannya yang makin renta, dipandanginya tanpa berkedip dan berkomentar, ‘Yudhi su besar!’ Komentar seperti itu selalu diucapkan banyak orang yang dahulu mengenal Yudhi saat bayi, diucapkan dengan logat Maumere yang khas, sedikit keras dan meninggi pada akhir kalimat. ‘Sudah’ hanya diucapkan ‘su’, sehingga terasa aneh dan membuat dik Bimo dan dik Laras mengulanginya tanpa henti, bahkan dengan maksud menjahili, menggoda dan mengolok kakaknya. Malam itu kami menginap di Ruang Theresia Kamar 1, kamar pasien yang setelah gempa bumi hebat Desember 1992, kami tempati. Di seberang kamar tersebut, yaitu Ruang Theresia Kamar 2 di RS St. Elisabeth Lela adalah kamar pasien yang dahulu digunakan sebagai ruang bersalin darurat pasca gempa bumi dan di kamar itu pulalah Yudhi dilahirkan, pada hari Sabtu, 22 Januari 1993. Kami semua larut dalam kegembiraan tanpa kata, keharuan tanpa terucap dan kebahagiaan tanpa henti. Setelah beristirahat sejenak, kami lanjutkan makan malam bersama para suster di biara RS dan bertemu juga dengan Dr. J. Aliandoe, SpB dan ibu. Dokter spesialis bedah asli Flores, yang setelah pensiun dari RS Atma Jaya Jakarta itu, mengabdikan diri sepenuhnya untuk karya sosial di RS St. Elisabeth Lela, sebuah teladan hidup sejati. Kami juga mengunjungi kakak Yanti, pengasuh Yudhi saat bayi dulu, yang tinggal di dekat kompleks RS dan masih menyimpan foto-foto Yudhi.

Papan Puskesmas Nanga di Lela pada senja hari

Mampir di rumah kakak Yanti, pengasuh bayi Yudhi, yang tinggal di dekat RS Lela

Pagi harinya, Jum’at 26 Juni 2010, dengan mobil sewaan Avanza silver L 1511 PG yang dikemudikan Yulius Lado, dahulu sopir Puskesmas Nanga, kami meninggalkan RS Lela ke arah barat untuk menuju Danau Kelimutu, yaitu danau 3 warna yang terletak di pusat kawasan Kelimutu National Park. Danau pertama dinamakan Tiwu Ata Polo, seluas 4 ha, berkedalaman air sampai 64 m, diklasifikasikan sebagai kawah aktif, dan airnya berwarna hijau. Danau kedua dinamakan Tiwu Nuamuri Koofai, seluas 5,5 ha, berkedalaman air 127 m, klasifikasi sangat aktif, dan airnya berwarna hijau muda kekuningan. Danau ketiga dinamakan Tiwu Ata mbupu, atau oma (yang berarti nenek), seluas 4,5 ha, berkedalaman air 67 m, diklasifikasikan kurang aktif dan berwarna hitam. Ketiga danau tersebut terletak di puncak Gunung Kelimutu dengan ketinggian 1640 m di atas permukaan laut, yang harus kami tempuh dalam waktu 3,5 jam dengan diselingi sarapan di RM Bethania, milik suster FMM di Wolowaru.

Armada Toyota Avanza siap untuk menjelajah daratan Flores

Rumah adat Lio di dekat Kelimutu

Masyarakat setempat percaya bahwa arwah warga yang telah meninggal akan datang ke Gunung Kelimutu, jiwa atau maE meninggalkan telah kampung halamannya dan menetap di kawah Kelimutu untuk selamanya. Sebelum masuk ke dalam salah satu danau atau kawah, para arwah tersebut terlebih dahulu menghadap Konde Ratu selaku penjaga pintu masuk di Perekonde. Arwah tersebut masuk ke salah satu danau yang ada tergantung dari usia saat meninggal dan perbuatannya. Ke tiga danau terlihat seolah-olah bagaikan dicat berwarna dan warna airnya berubah-ubah tanpa ada tanda alami sebelumnya. Mineral yang terlarut di dalam air danau menyebabkan warna air akan berubah-ubah yang tidak dapat diduga sebelumnya. Susana danau Kelimutu bervariasi, tidak hanya terjadi perbedaan dan perubahan warna setiap danau, akan tetapi juga perubahan cuaca yang tidak terduga. Tidaklah aneh jika tempat yg keramat itu menjadi legenda yang sejak lama berlangsung turun-temurun. Masyarakat setempat percaya bahwa tempat tersebut adalah sakral.

Danau 1 dan 2 dengan beda warna di puncak Kelimutu

Danau warna ke 3 di puncak Kelimutu saat mama menerima call dari budhe Tari

Gunung Kelimutu tumbuh di dalam kaldera Sokoria atau Mutubasa bersama dengan Gunung Kelido (1641 m) dan Gunung Kelibara (1630 m), ketiganya membangun kompleks yang berkesinambungan, kecuali Gunung Kelibara yang terpisah oleh lembah dari Kaldera Sokoria. Letak puncak gunung berapi tersebut terjadi karena perpindahan titik erupsi melalui sebuah celah yang menjurus  dari utara ke selatan. Dari ketiga buah gunung tersebut, puncak Gunung Kelimutu merupakan kerucut tertua dan masih memperlihatkan aktivitasnya sampai sekarang, yang merupakan kelanjutan gunung api tua Sokoria. Tubuh puncak Gunung Kelimutu dibangun oleh batuan piroklastika, yang terdiri dari bom, lapili, skoria, pasir, abu, awan panas, lahar serta lelehan lava pijar. Permukaan lerengnya berkembang ke arah timur, tenggara dan barat daya, dengan topografi kasar sampai sedang. Bentuk tersebut dibangun oleh aktivitas Gunung Kelimutu muda, tetapi terhalang oleh Gunung Kelibara, sedangkan lereng barat dan utara memperlihatkan morfologi berelief kasar. Pada puncak Gunung Kelimutu terdapat 3 sisa kawah yang mencerminkan perpindahan puncak erupsi. Ketiga sisa kawah tersebut kini berupa danau dengan warna air berlainan dan mempunyai ukuran diameter yang bervariasi. Warna air danau biasanya khas, sehingga diberi nama sesuai dengan warnanya, yaitu polo (merah), fai (hijau) dan mbupu (biru). Pada saat kami datang, warna yang terlihat adalah hijau, hijau kekuningan dan hitam. Gunung Kelimutu yang kami kunjungi itu, pernah meletus dasyat pada tahun 1830 dengan mengeluarkan lava hitam (watukali), kemudian meletus kembali sepanjang tahun 1869 sampai tahun 1870. Letusan hebat itu disertai aliran lahar dan semburan debu, sehingga membuat susana gelap gulita di sekitarnya, bahkan hujan abu dan lontaran batu mencapai desa Pemo yang tercatat dalam arsip Direktorat Vulkanologi Dirjen Geologi & Sumberdaya Mineral di Kementrian Energi tahun 1990. Di Kelimutu National Park tersebut, kami sempat menyaksikan 2 dari 13 macam burung dan 4 dari 17 macam tanaman yang tercatat hampir punah, sehingga dilindungi secara ketat.

Dik Bimo berpakaian adat Lio (Moat Kecil)

Di gerbang Kelimutu National Park

Perjalanan kami lanjutkan ke Ende di Flores bagian tengah, melalui jalan berliku khas dataran tinggi di seantero Pulau Flores, yaitu jalan berliku, mendaki dan menurun, dengan tebing curam di satu sisi dan jurang dalam di sisi lainnya. Kami memasuki kota Ende menjelang sore dan langsung melakukan penjelajahan dalam kota. Pertama kami mengunjungi Jl. Perwira untuk melihat Rumah Pembuangan Bung Karno. Di situ kami berteduh di bawah situs pohon sukun, tempat dimana Bung Karno mendapatkan inspirasi lahirnya Pancasila, saat dibuang Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1934 sampai 1938. Pohon sukun tersebut sekarang bercabang 5, yang dianggap melambangkan sila-sila dalam Pancasila. Kami lanjutkan dengan mengunjungi Museum Adat dan Museum Bahari yang keduanya berdampingan dan terletak di Taman Kota Ende. Di Museum Bahari kami melihat simpanan benda-benda laut yang sejak tahun 1982 dikumpulkan sedikit demi sedikit. Museum Bahari ini diresmikan oleh Pater Gabriel Goran, SVD pada tanggal 14 Agustus 1996, berlokasi di Jl. Moh Hatta Ende, saat ini memiliki koleksi 1000 spesies kerang laut, 300 spesies ikan dengan total koleksi sekitar 22.000 jenis biota laut. Kami juga mengunjungi Taman Rendo dan Monumen sebagai bukti sejarah kota Ende yang pernah menjadi ibukota daerah Flores tempoe doeloe. Terakhir kami mengunjungi Pasar Mbongawani yang merupakan pasar rakyat, menjual segala kebutuhan masyarakat, termasuk buah lokal yang terkenal pisang beranga, jeruk, alpokat dan nanas.

Museum Adat yang menyimpan berbagai artefak budaya di Ende

Museum Bahari yang menyimpan peralatan kelauatan di Ende

Malam itu kami menginap di biara suster SSpS di Jl. Masjid no 11. Bertemu Sr. dr. Conchita Cruz, SSpS dan Sr. Ekarista, SSpS yang pernah kami kenal selama di Lela dahulu. Sr. Conchita adalah dokter yang berkarya di RS Lela, telah menjadi ‘ikon’ RS selama bertahun-tahun, guru bagi ketrampilan teknik bedah hampir semua jenis operasi bagi dokter umum, dan nenek suster bagi Yudhi yang saat bayinya dahulu telah digendong, sampai dengan diompoli berkali-kali. Malam itu Yudhi dan Bimo ikut serta para suster di biara melihat Brazil melawan Portugal di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, sementara kami yang lain tertidur lelap.

Sabtu pagi, 26 Juni 2010 kami mengunjungi nDona, kediaman Uskup Agung Ende, Mgr Vincensius Sensi Potokota, Pr. Kami terkagum-kagum dengan keindahan bangunan kediaman uskup dan pemandangan alam yang tampak dari ruang tamu itu. Mgr Sensi sempat bersama kami di Lela sewaktu masih sebagai romo pembimbing frater. Setelah mencium cincin uskup, bercengkerama, didoakan, dan bahkan kemudian diberkati dengan berkat uskup, kami pamit untuk melanjutkan perjalanan ke barat. Dari Ende sampai Nangaroro di perbatasan Kabupaten Nagakeo, kami menyusuri bibir pantai selatan di sisi kiri jalan dan hampir bersentuhan dengan tebing batu yang tajam di sisi kanan jalan. Suara deru ombak yang kadang sangat keras, seringkali mengalahkan suara klakson mobil yang harus dibunyikan menjelang tikungan tajam. Kami mencatat nama-nama Nangaroro dan Nangapanda di pantai selatan, kemudian mulai mendaki bukit menuju ke utara melalui Aegela, Mataloko dan Boawae sebelum kami memasuki Bajawa di puncak dataran tinggi yang sangat dingin, ibukota Kabupaten Ngada. Setelah dik Laras mabuk darat 2 kali dan dik Bimo 1 kali, kami makan siang menjelang sore di rumah makan dekat gereja, Stadion Lebijaga, dan SMAN I Bajawa. Kami sempatkan foto bersama di depan gerbang RSU Bejawa, yang mungkin sekali akan kami kunjungi lagi kelak, dalam sebuah tugas resmi.

Bersama komunitas suster ordo SSpS di Ende

Bersama Mgr. Vincensius Sensi Potokota, Pr uskup Agung Ende yang pernah pada periode yang sama dengan kami bertugas di Lela, Maumere

Kami putuskan untuk segera melanjutkan perjalanan melalui Ai Mere di pantai selatan, kemudian mendaki bukit lagi menuju ke utara melalui Borong, sekitar 157 km dari Ende. Setelah beristirahat sejenak, kami terus ke Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai yang sama dinginnya dengan Bajawa. Kami sudah menempuh jalan amat sangat berliku dan naik turun sejauh 317 km dari pusat kota Ende. Setelah makan malam di RM Padang dekat BRI Cabang Ruteng, kami lanjutkan perjalanan sejauh 72 km lagi, untuk masuk kota Labuanbajo di ujung Flores paling barat, ibukota Kabupaten Manggarai Barat. Kami menginap di Hotel Wisata, Jl. Soekarno no 39, dan masuk hotel sekitar pk. 1 dini hari. Kami langsung terlelap dalam kelelahan hebat, meskipun sebenarnya kami bertemu dengan para staf hotel yang tidak ramah dan kamarnya yang tidak cukup bersih bersih dibanding harganya.

Setelah sarapan menu nasi kuning khas Jawa, kami dipandu menuju dermaga oleh mas Fandi Ilham, SH seorang jaksa muda di Kantor Kejaksaan Negeri Manggarai Barat, dan tetangga kami di Yogya yang agak terlupa, untunglah sempat kami ingat kembali sebelum kami tiba. Setelah foto bersama di gerbang dermaga dan melihat-lihat kesibukan dan pemandangan aktivitas dermaga, kami menuju ke Pulau Rinca, yang berarti buaya, dan merupakan pulau terdekat dari Pulau Flores yang termasuk di dalam kawasan Komodo National Park. Kami menggunakan kapal Bacukiki dan berangkat pk. 08.15. Perjalanan laut memerlukan waktu sekitar 2 jam, dan kami berlabuh di Loh Buaya, sebuah dermaga di sebuah teluk sisi timur Pulau Rinca. Kami langsung disambut pemandangan mengerikan, seekor komodo sedang berjemur di dekat pintu gerbang. Meskipun komodo tersebut hanya berbaring, toh kengerian tetap muncul dan bulu kuduk tetap berdiri. Salah seorang awak kapal mendampingi kami masuk gerbang menuju kantor penjaga yang biasa disebut ‘ranger’, dengan tongkat kayu sepanjang 3 m bercabang 2, dan selalu waspada berjaga-jaga. Tongkat kayu tersebut, dibawa ke manapun seorang ranger berjalan memimpin rombongan tamu, berfungsi untuk menahan leher komodo yang datang mendekat.

Bersama mas Fandi Ilham tetangga kami di Yogyakarta yang bertugas di Kejaksaan Negeri setempat di Gerbang Pelabuhan Labuan Bajo

Disambut komodo tidur seolah batang pohon tergeletak di tanah di Pulau Rinca

Sesampai di kantor penjaga Komodo National Park, kami bertemu dengan banyak turis asing maupun domistik. Harga tiket masuk Rp. 75.000 per orang untuk turis domistik non Flores, Rp. 10.000 untuk turis lokal dan US $15 untuk turis asing. Setelah membayar tiket, kami didampingi ranger, seorang pria paroh baya yang terkesan berani, mulai berjalan menyusuri rute terdekat. Tersedia 3 paket rute jelajah alam, yaitu paket ‘basic’ yang hanya di sekitar kantor, ‘short’ yang perlu waktu sekitar 1 jam, ‘medium’ dan ‘complete’ yang lebih jauh dan lama. Pada rute basic itu saja, kami sempat melihat hampir 10 ekor komodo berbagai ukuran, 3 ekor kera dan 2 ekor kerbau liar yang sewaktu-waktu dapat dimakan komodo. Komodo yang kami lihat sebagian besar hanya berbaring dalam keteduhan bayang-bayang pohon atau rumah panggung para penjaga, terutama dekat dapur yang mengeluarkan bau amis ikan atau daging untuk lauk mereka. Komodo berpenciuman sangat tajam, dapat memakan rusa, kambing atau kerbau dan mampu tidak makan selama 4 bulan berturut-turut setelah kenyang.

Komodo, atau yang selengkapnya disebut biawak komodo (Varanus komodoensis), adalah spesies kadal terbesar di dunia yang hidup di Pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara. Biawak ini oleh penduduk asli pulau Komodo juga disebut dengan nama setempat ora. Di alam bebas, komodo dewasa biasanya memiliki massa sekitar 70 kg, namun komodo yang dipelihara di penangkaran atau kebun binatang sering memiliki bobot tubuh yang lebih besar. Komodo liar terbesar yang pernah ada memiliki panjang 3.13 m dan berat sekitar 166 kg, termasuk berat makanan yang belum dicerna di dalam perutnya. Komodo memiliki ekor yang sama panjang dengan tubuhnya, dan sekitar 60 buah gigi yang bergerigi tajam sepanjang sekitar 2,5 cm, yang kerap diganti. Air liur komodo sering kali bercampur sedikit darah karena giginya hampir seluruhnya dilapisi jaringan gusi dan jaringan ini tercabik selama makan. Kondisi ini menciptakan lingkungan pertumbuhan yang ideal untuk bakteri mematikan yang hidup di mulut mereka. Komodo adalah hewan karnivora dan kanibal. Walaupun mereka kebanyakan makan daging bangkai,  penelitian menunjukkan bahwa mereka juga berburu mangsa hidup dengan cara mengendap-endap diikuti dengan serangan tiba-tiba terhadap korbannya. Ketika mangsa itu tiba di dekat tempat sembunyi komodo, hewan ini segera menyerangnya pada sisi bawah tubuh atau tenggorokan. Komodo dapat menemukan mangsanya dengan menggunakan penciumannya yang tajam, yang dapat menemukan binatang mati atau sekarat pada jarak hingga 9,5 kilometer. Dengan informasi seperti itu yang telah kami ketahui sebelumnya, maka wajar saja kalau bulu kuduk kami berdiri dan ketakutan yang muncul sangat hebat.

Komodo liar berkeliaran bebas di bawah rumah panggung

Di gerbang Komodo National Pak yang ikonik

Setelah puas berfoto bersama komodo tidur dalam lindungan ranger, kami melanjutkan perjalanan sampai ke liang komodo, yang banyak dibuat komodo betina sepanjang bulan Mei sampai Agustus, bertepatan dengan musim kawin. Setelah puas menjelajah pulau dan kekawatiran akan keganasan komodo mereda, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Bidadari, yang terletak di mulut pelabuhan Labuan Bajo. Di pulau itu kami ‘snorkeling’, berenang terapung untuk melihat keindahan taman laut, berjemur dan bermain pasir putih yang lembut, mencari kerang, bahkan melihat bule berjemur. Dik Bimo dan dik Laras sampai mengalami luka robek telapak kaki, sebab sering salah injak batu karang yang indah, tetapi runcing dan tajam. Sore itu kami memaksakan diri langsung pulang ke Maumere, dari Labuan Bajo sekitar pk. 16 dengan suasana hati yang lega dan puas, meski badan sudah kelelahan.

Di atas kapal dari Labuan Bajo ke Pulau Rinca

Medan penjelajahan dengan jalan kaki rute ‘basic’ di Pulau Rinca

Perjalanan darat pulang ke Maumere yang melelahkan, bahkan sudah menimbulkan trauma psikologis bagi anak-anak karena pengalaman buruk mabuk perjalanan, tetap harus kami jalani. Kami harus kembali ke Maumere, sebab tiket pesawat pulang yang kami beli di Yogyakarta, hanya dapat yang berangkat dari Maumere. Tiket pesawat dari Labuan Bajo ke Denpasar yang merupakan penerbangan perintis, sangat sulit diperoleh dengan sistem on line, meskipun tiket on site kadang mudah didapat, tetapi hanya untuk beberapa kursi. Rute pulang yang berliku, mendaki dan menurun, melalui bibir jurang dalam atau pantai, harus kami lahap dalam kelelahan, sehingga kami harus bergantian menjadi sopir. Akhirnya kami harus menyerah dan terdampar di sebuah kamar di Villa Silverin, di Watujaji, 7 km dari Bajawa, Kabupaten Ngada. Kami masuk kamar dengan tarif Rp. 300 rb menjelang pk.1 dini hari, dan langsung tertidur di kamar yang bagus sekali dengan udara sangat dingin.

Di Museum Bung Karno, rumah tinggal saat pembuangan era kolonialisme Belanda di Ende

Patung Kristus Raja tinggi menjulang di Gereja Katolik Katedral Ende

Setelah sarapan nasi goreng dan telor dadar, hari Senin pagi kami melanjutkan kepulangan kami dan berangkat pada pk. 7.15, saat udara luar masih sangat dingin menembus tulang. Kami lalui Mataloko dan Nangaroro, lalu Nangapanda yang sudah masuk wilayah Kabupaten Ende. Mulai dari situ, mas Yudhi bertugas menjadi sopir pengganti, sebab jalan terus ke Ende menyusur bibir pantai selatan, relatif ringan untuk ditaklukkan seorang sopir pemula. Kami masuk kota Ende sesaat sebelum tengah hari, kembali ke biara SSpS di Jl. Masjid untuk pamitan dengan Sr. Dr. Conchita Cruz, SSpS yang sangat kami hormati, juga untuk Yudhi numpang mandi, sebab mandi pagi di Bejawa yang sangat dingin, tidak berani dia lakukan. Kami berlanjut mengunjungi Gereja Katedral Christo Regi Ende. Kami terkagum-kagum atas keindahan arsitektur katedral tua, khusuk berdoa dan memohon ampun karena kami tidak sempat ikut misa hari Minggu. Setelah itu kami berfoto di depan patung ‘Christus Rex Mundi’ atau Kristus Raja Semesta Alam,  yang diresmikan oleh Mgr. Abdon Longinus Da Cunha, Pr pada tanggal 24 November 2002. Setelah diselingi makan siang di RM Kelimutu di Moni, dekat gerbang Kelimutu National Park yang sudah kami kunjungi 4 hari sebelumnya, kami mampu mencapai desa Sikka menjelang senja. Di Sikka kami masih mampu melihat gereja tertua di seluruh daratan Pulau Flores dan rumah adat di bekas istana raja Sikka. Selanjutnya kami mengunjungi Wisung Fatima di Lela, sebuah tempat ibadah di lereng bukit terjal yang sudah dibangun baik, untuk berdoa kepada Bunda Maria, sayang sekali saat itu hari sudah gelap dan listrik padam.

Bis kayu, angkutan darat khas Flores terbuat dari truk bak kayu dengan atap dan potongan kayu untuk duduk penumpang

Gereja Katolik Sikka merupakan gereja yang tertua di Flores

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan menempuh jarak Ende-Maumere 145 km. Perjalanan ini merupakan inti nostalgia kami ke sebuah rumah di dalam kompleks RS St. Elisabeth Lela, sebuah RS yang sudah 80 tahun melayani kesehatan masyarakat sekitar. Rumah yang kami tuju berada di samping kebun sayur, dekat kandang ayam dan di sayap atas kompleks RS itu, merupakan rumah yang kami tinggali selama hampir 3 tahun. Di rumah itulah kami mendapat banyak berkah, sejak kami datang April 1991 sampai saat kami pulang ke Jawa Oktober 1994. Saat kami datang mendekat, hati terkesiap, sanubari terharu dan jantung berdebar, mendapati suasana mistis masa lalu yang seakan datang ulang. Hanya tempat tidur besar tempat kami berbaring dan menidurkan bayi Yudhi yang diganti, perabotan lain masih tetap yang sama, terawat  dan terjaga baik. Luar biasa. Kami kenang ulang berbagai peristiwa yang pernah terjadi di setiap sudut rumah itu, baik yang menyenangkan, maupun yang sangat menyedihkan di halaman depan, tempat Yudhi terjerembab dalam ‘baby walker’ yang digunakannya. Dia lepas dari pengawasan kami yang terlarut dalam makan siang, dan meluncur turun melewati teras rumah, bahkan masuk ke kebun depan rumah, yang membuatnya luka di dahi dengan perdarahan dan memar. Malam itu kami mandi, makan dan tidur di tempat dimana hal yang sama pernah kami lakukan dengan cara serupa, di tempat yang sama dan dalam suasana yang tidak jauh berbeda. Hanya kami berdua yang begitu, sedangkan anak-anak, termasuk Yudhi, sangat mungkin hal tersebut hanya merupakan sebuah program pengisi libur sekolah. Tuhan sendiri yang mengatur ini semua.

Anak2 kami di depan gereja tua di Sikka, tidak jauh dari Lela

Rumah adat bekas istana raja Sikka

Pagi harinya, kami mengikuti Misa Kudus harian di kapel RS. Meski liturginya serupa, tetapi lagunya berbeda. ‘Qui bene cantat, bis orat’ atau ‘dia yang bernyanyi baik, berdoa dua kali’. Misa harian itu berlangsung 2 kali lebih lama dibanding misa serupa yang sudah kami akrabi di Yogya, sebab lagu-lagunya banyak dan lengkap, sesuai dengan teks dalam buku ‘Syukur Kepada Bapa’, cetakan XI, tahun 1981, oleh Penerbit Nusa Indah, percetakan Arnoldus, Ende. Setelah sarapan pagi, kami mengikuti Sr. Sofina, SSpS yang biasa dipanggil Sr. Nenek karena usianya, masuk ke kebun sayur, kandang ayam dan kandang babi. Penelusuran itu juga mengenang saat kami melakukan hal yang serupa 18 tahun sebelumnya, berjumpa dengan beberapa karyawan kebun yang masih saling ingat dengan kami. Setelah itu, kami keliling ke beberapa ruangan di dalam RS, bertemu dengan beberapa pegawai RS yang masih kami ingat dan sekaligus berpamitan, karena kami harus segera pulang. Kami kenang Sr. Helena Maria, SSpS, mama Detti Henriques, mama Ete Mertis, Br. Alex, mama Dete, mama Mia dan Erna Woga. Pegawai RS yang lain adalah generasi baru yang belum sempat kami kenal. Kami beradu kangen dengan mama Beth, wanita tua berpakaian adat Sikka yang tinggal di depan RS, bahkan memberikan salam khusus dengan cara menampar pipi kami keras-keras.

Sekeluarga di teras rumah dinas dokter dengan nostalgia di dalam kompleks RS Lela

Yudhi di kamar mandi kenangan, dahulu saat berdiri hanya setinggi keran air di tembok itu

Perjalanan pulang kami awali dengan mampir ke rumah mama Sedis dan Om Paul, pasangan pensiunan SPK Lela dan Puskesmas Nanga, Kemudian mampir di Puskesmas Nanga yang sedang ramai dikunjungi banyak pasien. Kami puaskan rindu kami bersama mama Gonda petugas gizi, Om Kornelius perawat senior dan kepala puskesmas dengan mama Lince, isterinya yang asisten apoteker, juga Om Kons yang sempat mampir, mama Burga kader posyandu yang aktif, mama Rin Palang Keda perawat pindahan dari SPK Lela, Om Lengo petugas KB, bidan Nona Ana dan Dr. Dwi.

Komunitas suster ordo SSpS di biara RS Lela

Pamitan pulang dengan sebagian pagawai Puskesmas Nanga di Lela

Kami melanjutkan perjalanan ziarah dan wisata rohani, dengan mengunjungi Patung Maria Bunda Segala Bangsa di Nilo, dekat Seminari Tinggi terbesar di dunia, yaitu STFK Ledalero. Patung Bunda Maria yang berwarna putih mengkilap dan terbesar di Indonesia tersebut, diresmikan pada tanggal 31 Mei 2005. Pernah runtuh karena angin puyuh, dibangun dan diresmikan kembali pada tanggal 1 Oktober 2007 oleh Mgr. Vincensius Sensi Potokota, Pr, yang waktu itu sebagai Uskup Agung Ende dan sekaligus administrator apostolik Keuskupan Maumere. Prasasti di pusat Spiritualitas Pasionis dan tempat ziarah Maria Bunda Segala Bangsa di Nilo ditandatangani oleh wakil donatur Ibu Megawati Soekarnoputri dan Vice Provincial CP waktu itu, Pastor Sabinus Lohin, CP. Di bawah patung besar tersebut, terpahat kata-kata bijak ‘Per Mariam Ad Jesum’, yang berarti ‘melalui Maria menuju Yesus’. Juga ‘Ina ata puku nulu’, yang berarti bunda yang tersayang, ‘ama ata gawi wa’a’, yang berarti menuju bapa dengan berjalan duluan di depan, ‘gea dena beta nain’, yang berarti dengan memberi makan anak cucu, dan ‘minu dena heron naran’ yang berarti minum agar tidak haus. Tinggi patung Bunda Maria yang berdiri di atas bola dunia itu 12 m. Patung itu diletakkan di atas rangka beton, sehingga total tinggi patung mencapai 28 m. Patung itu berada di sebuah puncak bukit di Nilo dan menghadap ke utara, seolah memberkati dan melindungi kota Maumere yang terhampar di bawahnya. Setelah berdoa secara khusus, kami lanjutkan foto bersama dalam hembusan semilir angin puncak bukit dan sengat matahari musim panas, bahkan sampai saat kami jalan turun menuju Maumere. Kami sempatkan mampir membeli cinderamata khas Sikka di sebuah kios depan Gelora Samador, menemui Drg. Toni Asaleo, teman lama kami yang sudah alih profesi menjadi pebisnis ritail atau barang eceran segala rupa, di kompleks pertokoan Maumere.

Patung Bunda Maria yang tinggi menjulang, Bunda Segala Bangsa di Nilo dekat Maumere

Awal perjalanan pulang siap terbang dengan Batavia Air dari Maumere

Kepulangan kami diawali dengan menumpang pesawat Batavia Air Y6-758 Boeing 737 seri 300, transit 20 menit di Kupang, dan akhirnya menuju Denpasar dalam waktu 1 jam 20 menit. Kami menginap semalam di rumah adik sepupu, Bulik Aning, Pak Nyoman dan anak-anaknya yang mandiri, mbak Diyah dan mas Toya, di kawasan Jimbaran, sehingga sempat jalan-jalan ke pantai Jimbaran, GWK (Garuda Wisnu Kencana) Park, Nusa Dua, Kuta dan mengunjungi rumah Bulik Sudilah, saudara sepupu Eyang Kakung Salaman dan terakhir bergaya di depan Patung Satria Gatotkaca, yang diresmikan pada tanggal 30 Oktober 1993 oleh Prof. IB Oka, Gubernur Bali saat itu. Patung putih Gatotkaca yang terbang sambil menghancurkan kereta perang musuh, meski dalam bidikan panah amat sakit Nanggala oleh Adipati Karna, gagah berdiri di gerbang Bandara Internasional Ngurah Rai, Denpasar. Kami sampai dengan selamat di Yogyakarta pada hari Kamis, 30 Juni 2010 pk. 19.25.

Sebelum kembali ke Yogyakarta kami mampir di gerbang Pecatu Jimbaran, Bali

Patung Kereta Perang Adipati Karno melawan Gatotkaca di gerbang Bandara Ngurah Rai, Bali

Perjalanan darat yang kami tempuh adalah hampir 2/3 bagian Pulau Flores, sejauh 925 km dalam medan jalan yang amat sangat berliku dan merupakan ciri khas medan daratan Pulau Flores, menghabiskan bensin 5 kali isi penuh tangki mobil (full tank), dan 4 hari cuti tahunan. Perjalanan itu ditambah 5 jam di atas kereta api, 5 jam 20 menit di atas pesawat dan 4 jam 20 menit di atas kapal. Kami telah menginjak tanah di 3 propinsi dalam 5 pulau, dan menyusuri 5 kabupaten di daratan Pulau Flores. Terima kasih kami sampaikan kepada siapapun yang telah membantu, mendoakan dan mengiringi perjalanan kami sekeluarga.

sekian

Yogyakarta, 1 Juli 2010

*) pelancong rutin setiap tahun

Posisi Komodo National Park di timur Pulau Jawa

Peta Pulau Rinca di sebalah barat Pulau Flores

Categories
anak dokter Healthy Life sekolah UHC

STIGMA SOSIAL OBESITAS

fx. wikan indrarto*)

Obesitas telah mencapai proporsi epidemik secara global, bahkan setidaknya 2,8 juta orang meninggal setiap tahun, terkait kelebihan berat badan atau obesitas. Di Eropa diperkirakan 23% wanita dan 20% pria mengalami obesitas. Kegemukan dan obesitas merupakan faktor risiko utama untuk sejumlah penyakit kronis, termasuk diabetes, penyakit kardiovaskular dan kanker. Namun demikian, Hari Obesitas Sedunia (World Obesity Day) 11 Oktober 2016 lalu tidak hanya menyoroti aspek medis, tetapi justru  dampak sosial obesitas. Apa yang harus disadari?

Dampak sosial obesitas dari sebuah negara di Eropa barat menunjukkan bahwa 18,7% orang dengan obesitas mengalami stigma. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), stigma adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. Bagi anakg dengan obesitas berat, persentase stigmanya jauh lebih tinggi, yaitu mencapai 38%. Seorang dengan obesitas mengalami stigma dari guru, pengusaha mainan anak, petugas profesional kesehatan, media bahkan dari teman sekelas dan keluarga.

Hasil gambar untuk obesitas pada anak

Stigma adalah penyebab dasar terjadinya ketidaksetaraan layanan kesehatan, dan stigma obesitas dikaitkan dengan konsekuensi fisiologis dan psikologis yang signifikan, termasuk meningkatnya depresi, kecemasan, dan penurunan harga diri. Stigma ini justru juga dapat menyebabkan pola makan yang lebih teratur, menghindari aktivitas fisik yang dianjurkan, dan menyulitkan mendapatkan layanan medis. Efek dari stigma atas obesitas dapat sangat parah pada anak. Studi menunjukkan bahwa anak usia sekolah dengan obesitas mengalami kemungkinan 63% lebih tinggi untuk diintimidasi atau di-bully. Ketika anak dan remaja diintimidasi atau menjadi korban karena obesitas mereka oleh teman sebaya, keluarga dan teman, hal itu dapat memicu perasaan malu. Selain itu, juga dapat menyebabkan depresi, harga diri rendah, citra tubuh yang buruk, dan bahkan usaha percobaan bunuh diri.

Hasil gambar untuk obesitas pada anak

Tingkat obesitas anak dan remaja meningkat sepuluh kali lipat dalam empat dekade terakhir. Artinya, 124 juta anak laki-laki dan perempuan di seluruh dunia terlalu gemuk. Di Inggris, satu dari setiap 10 anak muda berusia lima sampai 19 tahun, mengalami obesitas. Selama 4 dekade terakhir, di seluruh Indonesia prevalensi kelebihan BB untuk anak laki-laki 33 kali dan untuk anak perempuan 18 kali lipat lebih banyak. Sebelum tahun 2006, anak gemuk didominasi perempuan, tetapi setelah itu kondisinya berbalik. Riset Kesehatan Dasar 2013 mencatat 18,8% anak umur 5-12 tahun mengalami kelebihan BB. Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia 2016, persentase balita gemuk usia 0-59 bulan menurut indeks BB/TB adalah 4,3 %, terbanyak terdapat di DKI Jakarta, yaitu mencapai 8,1 % balita adalah gemuk.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bias adalah menyimpang dari yang sebenarnya (tentang nilai, ukuran). Bias pada anak gemuk (weight bias) oleh guru, yaitu penilaian guru yang tidak tepat, dapat menyebabkan harapan siswa yang lebih rendah, yang dapat terlihat pada rendahnya hasil pendidikan atau nilai ujian sekolah pada anak dan remaja dengan obesitas. Hal ini selanjutnya dapat mempengaruhi kesempatan dan peluang anak untuk melanjutan jenjang sekolah, dan akhirnya menyebabkan ketidakadilan sosial, dan bahkan penurunan derajad kesehatan. Kebijakan diperlukan untuk mencegah terjadinya korban pada anak dengan obesitas di sekolah, agar orang tua dapat mengadvokasi anak mereka. Bersama dengan guru dan kepala sekolah sebaknya dilakukan program pendampingan anak, untuk meningkatkan kewaspadaan akan bias pada anak gemuk di sekolah.

Hasil gambar untuk obesitas pada anak

Terlalu menyederhanakan penyebab obesitas dan anggapan bahwa solusi yang mudah akan memberikan hasil yang cepat dan berkelanjutan, tidaklah bijak. Misalnya solusi anjuran untuk ‘kurangi makan dan lebih aktif bergerak’, telah terbukti berkontribusi menyebabkan bias pada anak gemuk. Solusi tersebut justru dapat menyebabkan harapan yang tidak realistis, bahkan mengaburkan tantangan dalam mengubah perilaku, yang dapat dialami anak dengan obesitas. Selain itu, solusi yang akan dirumuskan sebaiknya tidak hanya dengan lebih sering berfokus pada diskusi seputar perilaku ataupun kegagalan yang dirasakan anak gemuk, tetapi hendaknya juga mempertimbangkan faktor sosial dan lingkungan yang berpengaruh.

Penting sekali untuk memahami penyebab obesitas pada anak secara individual. Bagi pemerintah, pemahaman tersebut diperlukan untuk menyusun program investasi dan pencegahan personal. Selain itu, juga untuk tindakan intervensi dini guna menghentikan kenaikan berat badan yang mengkhawatirkan. Pada saat yang sama, sangat penting untuk menyadari bahwa pemerintah dan masyarakat memiliki kewajiban etis untuk bertindak atas nama anak, dalam mengurangi dampak buruk, tidak hanya dalam aspek kesehatan, tetapi juga konsekuensi sosial dari obesitas. Kegagalan untuk melakukannya akan berdampak pada modal sosial dan kesehatan generasi mendatang, bahkan akan mampu meningkatkan ketidakadilan.

WHO akan bekerja sama dengan berbagai negara, untuk menghasilkan kebijakan nasional yang tidak hanya mampu mencegah terjadinya obesitas, tetapi juga  mengkoreksi bias gemuk dan stigma sosial obesitas pada anak. Kebijakan tersebut harus dituangkan dalam program kegiatan kesehatan masyarakat secara nasional dalam kebijakan publik, terutama terkait pendidikan dan layanan kesehatan. Selain itu, juga program penelitian ilmiah kedokteran dan sosial lebih lanjut, bahkan pertukaran pengetahuan di tingkat lokal, nasional, dan internasional antar negara. Bersediakah kita terlibat?

Sekian

Yogyakarta, 10 Januari 2018

*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak, lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
anak antibiotika Healthy Life resisten obat sekolah

HAPUS TIFUS

Hasil gambar untuk imunisasi anak

HAPUS TIFUS

fx. wikan indrarto*)

Pada akhir Desember 2017, WHO melakukan prakualifikasi vaksin konjugasi pertama untuk tifus, Typbar-TCV® buatan Bharat Biotech. Vaksin konjugasi tifus (TCVs) dibandingkan vaksin yang lebih dulu tersedia, adalah produk inovatif yang memiliki kekebalan lebih tahan lama, memerlukan lebih sedikit dosis, dan dapat diberikan kepada anak melalui program imunisasi rutin anak. Apa yang harus dilakukan?

Prakualifikasi adalah proses penilaian kompetensi dan kemampuan usaha serta pemenuhan persyaratan tertentu lainnya dari penyedia barang atau jasa sebelum memasukkan penawaran. Fakta bahwa vaksin tersebut telah didahulukan oleh WHO berarti telah memenuhi standar kualitas, keamanan dan kemanjuran yang dapat diterima. Hal ini membuat vaksin tersebut layak untuk dibeli dalam proses pengadaan oleh badan-badan PBB, seperti UNICEF, dan Gavi, the Vaccine Alliance.

Hasil gambar untuk tifus pada anak
Tifus, yang juga dikenal sebagai demam tifoid, adalah penyakit multisistemik yang berpotensi fatal, yang terutama disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica, subspesies enterica serovarian typhi. Perkiraan global tentang beban tifus berkisar antara 11 dan 20 juta kasus. Selain itu, juga dapat menyebabkan sekitar 128.000 – 161.000 kasus kematian tifus setiap tahunnya, terutama pada anak. Masyarakat miskin dan kelompok rentan, seperti anak dengan gizi kurang, seringkali yang paling rentan.

Hasil gambar untuk tifus pada anak
Manifestasi tifus sangat luas, sehingga menjadikan penyakit ini memiliki tantangan diagnostik sejati (a true diagnostic challenge). Kriteria standar untuk diagnosis tifus sejak lama adalah isolasi bakteri dengan pemeriksaan biakan atau kultur, yang secara luas dianggap 100% spesifik. Kultur aspirasi sumsum tulang adalah 90% sensitif sampai setidaknya 5 hari setelah dimulainya antibiotik. Namun demikian, teknik pemeriksaan ini sangat menyakitkan bagi pasien, sehingga mungkin lebih besar kerugian daripada manfaatnya. Kultur dengan bahan darah, sekresi usus (muntahan atau aspirasi duodenum), dan tinja akan positif untuk bakteri S typhi pada sekitar 85% pasien tifus pada minggu pertama demam dan akan menurun sampai 20% dalam perjalanan demam selanjutnya.

Hasil gambar untuk tifus pada anak

Pedoman terbaru untuk pengobatan tifus di Asia Selatan diterbitkan oleh ‘Indian Association of Pediatrics’ (IAP) pada bulan Oktober 2016. Untuk pengobatan empiris tifus yang tidak berat, IAP merekomendasikan sefiksim dan, sebagai obat lini kedua adalah azitromisin. Untuk tifus yang berat, direkomendasikan ceftriaxone. Aztreonam dan imipenem adalah obat lini kedua untuk kasus yang berat. Rekomendasi IAP berlaku untuk pengobatan empiris tifus pada pasien dewasa dan anak. Oleh karena itu, untuk strain yang berasal dari luar Asia Selatan dan Asia Tenggara, rekomendasi WHO mungkin masih berlaku, bahwa tifus yang tidak berat harus diobat secara empiris dengan ciprofloxacin oral dan tifus yang berat harus diberikan ciprofloxacin intravena.

Hasil gambar untuk tifus pada anak
Pada bulan Oktober 2017, Strategic Advisory Group of Experts (SAGE) tentang imunisasi, merekomendasikan TCV untuk penggunaan rutin pada anak di atas usia 6 bulan di negara-negara endemik tifoid atau tifus, seperti Indonesia. SAGE juga meminta pengenalan TCV untuk diprioritaskan pada negara-negara dengan tingkat penyakit tifus tertinggi atau telah terjadi resistensi antibiotik terhadap Salmonella Typhi, bakteri yang menyebabkan penyakit tifus. Penggunaan vaksin juga harus membantu mengurangi penggunaan antibiotik untuk pengobatan yang diduga tifus atau demam tifoid, dan dengan demikian membantu memperlambat peningkatan resistensi antibiotik atas Salmonella Typhi yang mengkhawatirkan.


Tak lama setelah rekomendasi SAGE, Gavi Board menyetujui pendanaan US $ 85 juta untuk pembelian TCV mulai tahun 2019, melengkapi vaksin Typhim Vi® buatan Sanofi Pasteur dan Typherix® buatan GSK, yang telah ada sebelumnya. Proses prakualifikasi oleh karena itu merupakan langkah penting yang perlu dilakukan agar TCV tersedia bagi negara berpenghasilan rendah, di tempat yang paling mereka butuhkan. Dan bahkan di negara-negara yang tidak didukung Gavi, prakualifikasi dapat membantu memperlancar perizinan.

Hasil gambar untuk imunisasi anak
Prakualifikasi WHO membantu memastikan bahwa vaksin yang digunakan dalam program imunisasi adalah aman, efektif, dan tepat untuk kebutuhan negara. Prosedur prakualifikasi WHO terdiri dari penilaian yang transparan dan masuk akal secara ilmiah yang mencakup peninjauan kembali atas bukti (reviewing the evidence), menguji konsistensi setiap lot pada produksi vaksin, dan mengunjungi lokasi pabrik pembuatannya.

Bagi jutaan orang yang tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah, tifus adalah penyakit yang selalu ada dan mengancam. Urbanisasi dan perubahan iklim berpotensi meningkatkan beban global tifus. Selain itu, meningkatnya resistensi terhadap pengobatan antibiotik membuat lebih mudah tifus menyebar melalui populasi yang padat di perkotaan, apalagi dengan sistem air dan sanitasi yang tidak memadai.

Hasil gambar untuk imunisasi anak

Oleh sebab itu, imunisasi menggunakan Typbar-TCV® buatan Bharat Biotech sangat diandalkan untuk menghapus beban global tifus. Apakah anak kita sudah menerimanya?

Hasil gambar untuk dr wikan indrarto

Sekian

Yogyakarta, 6 Januari 2018

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com.

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?