Categories
Healthy Life Jalan-jalan sekolah ziarah

2007 MENGENANG BUNDA MARIA DI FATIMA

MENGENANG BUNDA MARIA DI FATIMA

fx. wikan indrarto dan b. sari prasetyati*)

Penampakan Bunda Maria telah terjadi di banyak tempat di seluruh dunia, meskipun ada juga yang belum diakui kebenarannya oleh otoritas tertinggi Gereja Katolik di Vatikan. Misalnya yang dilihat Juan Diego, seorang petani Indian Aztec di Guadalupe, Meksiko (1531), Santa Katarina Laboure di Paris (1830), 3 anak di La Salette, Perancis (1846), Santa Bernadette Soubirous di Lourdes, Perancis (1858) dan Lucia, Francesco serta Jacinta di Fatima, Propinsi Leiria Portugal (1917). Terakhir yang diakui Vatikan adalah penampakan yang dilihat oleh Nyonya Maria Beirne di Knock, Irlandia (1879). Pada tahun 2007 ini, kami berbulat tekat mengunjungi Fatima, di Portugal utara, untuk mengenang penampakan Bunda Maria pada ketiga anak suci, yaitu Lucia, Francisco dan Jacinta. Kami berangkat dari Jakarta dengan pesawat KLM Boeing 747-400 superjumbo, transit sebentar di Kuala Lumpur dan Amsterdam. Perjalanan kami dilanjutkan dengan KLM Boeing 737-300 menuju Lisabon yang perlu 3 jam perjalanan. Kami menginap di Radisson SAS Hotel yang beralamat di Av. Marechal Craveiro Lopes, 390, 1749-009 Lisboa, Portugal, tepatnya di seberang stadion sepak bola milik klub Sporting Lisabon.

Nampang sebentar di depan stadion sepak bola milik klub Sporting Lisabon yang gagah

Patung Raja Alfonso Henriques (1110-1183) di taman kota Lisabon yang nyaman

Penduduk kota Lisabon, ibukota Portugal berjumlah sekitar 3 juta jiwa, sedangkan total penduduk Portugal ada sekitar 11 juta jiwa lebih. Portugal saat ini dapat dikatakan sebagai negara yang termiskin di Eropa barat. Masa kejayaan bangsa Portugis yang pertama terjadi pada abad 15, saat banyak tokohnya berlayar mencari dunia baru di Afrika, Asia, Amerika bahkan Australia dengan tokohnya yang termashur Magelhens dan Vasco da Gama. Masa kejayaan ke 2 terjadi pada abad 18 saat mereka berhasil menambang emas dalam jumlah besar dari seluruh daratan Brasil. Jalur perdagangan di Eropa selatan pada jaman dahulu dimulai dari Lisabon, terutama berkembang sejak jaman penjajahan Romawi. Bangsa Moor yang beragama Islam (muslim) dapat menjajah lebih dari separo wilayah Portugal sekarang pada abad 12 dan menjadikan Lisabon sebagai ibukota sejak saat itu. Pada perkembangannya, Portugal bergabung masuk ke dalam UE (Uni Eropa) pada tahun 1982 bersamaan dengan tetangganya, Spanyol. Produk utama Portugal adalah kayu cork, yang biasa dibuat untuk tutup botol anggur dan pohonnya ditanam dalam waktu 9 tahun. Produksinya secara nasional mencapai 99 juta tutup botol anggur per hari untuk keperluan diekspor ke seluruh daratan Eropa. Produk pertambangan meliputi tembaga (kedua terbesar di seluruh Eropa), besi dan marmer. Produk unggulan lainnya adalah minyak zaitun dan anggur. Pendapatan atau gaji rata-rata penduduk Portugal tahun ini adalah 650€/bulan, yang merupakan gaji kedua terkecil dibandingkan gaji penduduk di seluruh daratan Eropa. Negara yang paling tinggi gaji penduduknya, yaitu mencapai 3.200€/bln adalah Luxemburg, sedangkan yang paling rendah adalah Rumania dengan 150€/bln. Komposisi agama penduduknya yang mayoritas adalah Katolik 65%, Protestan 30%, sedangkan 5% adalah lain-lain. Lisabon, ibukota Portugal dibangun di sepanjang aliran Sungai Tejo. Sungai Tejo atau Tajo, yang panjangnya 1.200 km mulai dari Spanyol tengah, membelah kota tua Lisabon. Pada tahun 1515 dibangun sebuah beteng pertahanan di tepi sungai tersebut dan sampai sekarang masih nampak utuh bagian depannya untuk dikunjungi para wisatawan. Di sebelahnya ada monumen pesawat terbang mini bermesin tunggal yang telah berhasil menempuh 8.088 km dari Lisabon ke Rio de Janeiro, di Brasil. Pesawat yang disebut ‘Santa Cruz’ tersebut melintasi samudera Atlantik pada bulan November 1991. Monumen Penemuan (Discovery Monument), lambang penemuan dunia baru oleh para pelaut Portugis yang gagah berani, didirikan di tepi sungai Tajo untuk mengenang jasa, semangat dan keberanian para pelaut Portugis.

Pesawat ‘Santa Cruz’ di samping beteng tua, tepi Sungai Tejo yang membelah kota Lisabon

Monumen Penemuan, berbentuk kapal berisi para tokoh penemu dunia baru asal Portugis

Merekalah yang berhasil menemukan jalur pelayaran ke seluruh dunia pada tahun 1448, terutama Vasco da Gama, setelah mereka berhasil menemukan teknologi pembuatan layar menjadi berbentuk kotak, sehingga laju kapal dapat lebih dikendalikan. ‘Discovery Monument’ ini merupakan hadiah dari Pemerintah Afrika Selatan, sebab Vasco da Gamalah yang mendarat di Cape Town, ujung selatan Afrika Selatan pada tahun 1488, sebelum melanjutkan pelayaran sampai di Natal 1492. Kolonisasi Portugis dimulai sejak mereka berhasil mencapai India dan menguasai hampir seluruh dunia, sehingga bahkan akhirnya ditandatanganilah perjanjian dengan Spanyol, untuk membagi 2 wilayah jajahan di seluruh dunia.

Tokoh penting di balik keberhasilan penjelajahan samudera bangsa Portugis adalah Pangeran Henry. Pangeran ini sering disebut ‘Henry the navigator’, adalah pelaut ulung dan merupakan donatur utama untuk proses penjelajahan atau ‘discovery’. Pangeran ini adalah anak Raja Jose III dan panglima perang salib yang gagah berani. Patung Pangeran Henry berdiri gagah paling depan di ‘Discovery Monument’ yang berbentuk seperti geladak sebuah kapal, diikuti di belakangnya oleh Raja Alfons V, raja yang paling ambisius, lalu Vasco da Gama diurutan ketiga sebagai komandan petualangan, Bartholomeus Diaz, sebagai pencatat seluruh kegiatan petualangan dan lain-lain. Fransciscus Xaverius, meskipun sebenarnya seorang Spanyol, beridiri di urutan terakhir sebagai misionaris ordo Jesuit yang mengikuti petualangan sampai ke Jepang. Melintasi sungai Tajo ada jembatan seperti ‘Golden Gate’ (jembatan gantung terpanjang di San Fransisco) yang awalnya di tahun 1966 disebut ‘suspension bridge’, lalu diganti menjadi ‘Salasar Bridge’, untuk menghormati presiden diktator militer Jenderal Salasar. Setelah kediktatorannya tumbang, diubah namanya menjadi ‘jembatan 25 April’, untuk mengenang tanggal dimulainya revolusi Portugal menentang rezim Salasar. Jembatan ini memiliki panjang 3,2 km dengan 2 tingkatan (level), untuk mobil 4 jalur di atas dan untuk kereta api 2 jalur di bawah. Perahu dan kapal besar, termasuk kapal pesiar mewah dapat lewat di bawahnya. Ada patung ‘Yesus Memberkati’ di samping jembatan seperti petung serupa di Brazil yang dibuat tahun 1951, tetapi ukurannya lebih kecil. Selain itu, ada jembatan lain sepanjang 17 km di sebelah hulunya yang diberi nama jembatan Vasco Da Gama dan merupakan jembatan terpanjang ke 2 di dunia.

Di seberang sungai Tajo terdapat biara St. Heronimus, namanya dikenang untuk tokoh yang bekerja keras dengan dibantu Santa Paulina dalam menerjemahkan Alkitab dari Bahasa Ibrani ke dalam Bahasa Latin. Arsitektur biara tersebut gabungan gaya antara Gothik dan Mikhelen yang dibangun dalam rentang waktu 1 abad lamanya. Pendanaan pembangunannya dengan cara pajak paksa 5% atas semua kapal yang berlayar di sungai Tajo lewat depan biara tersebut. Biara tersebut pernah rusak karena gempa bumi hebat dan kebakaran, tetapi sekarang sudah diperbaiki dan digunakan juga untuk makam para raja beserta keluarganya. Setelah dijadikan museum dibagi menjadi museum angkatan laut yang sedikit tertutup dan museum arkeologi yang sangat terbuka untuk wisatawan. Lokasi biara tersebut dalam Bahasa Portugis disebut ‘Belem’ atau dalam Bahasa Indonesia ‘Bethlehem’. Perjalanan kami lanjutkan mengunjungi Plaza de Comercio, yaitu lapangan luas bekas alun-alun istana raja dengan patung marmer hijau Raja Jose I yang gagah. Kami sempat berfoto sejenak di situ, sedangkan di sebelahnya ada patung marmer putih Raja Joao I, ayah Pangeran Henry atau lebih dikenal sebagai ‘Henry the navigator’.

Biara Santo Hironemus yang megah, artistik dan gagah di tepi sungai Tajo, Lisabon

Patung Raja Jose I dari marmer hijau di Plaza de Comercio tengah kota Lisabon

Plaza de Comercio terletak dekat ‘Rose House’ dan gedung opera besar yang anggun. Jalanan di sekitar situ sangat lebar, ada banyak bis pariwisata, trem dan jalur pedestrian (pejalan kaki) yang lebar dan teduh, karena banyak pohon yang rindang dan besar atas rancangan Markis de Bomba, arsitek besar Portugis abad pertengahan.

Perlu diketahui bahwa terdapat 21 buah propinsi di seluruh wilayah Portugal. Perjalanan kami lanjutkan ke Lieria, sebuah propinsi di bagian utara Portugal, dimana Fatima terletak. Tempat tersebut adalah tujuan utama peziarahan kami. Fatima sebenarnya adalah nama salah seorang anak perempuan Nabi Muhammad SAW, sebab nama tersebut diberikan saat bangsa Moor, yang beragama Islam (muslim), menjajah daerah tersebut. Fatima adalah kota kecil yang menjadi salah satu pusat peziarahan umat Katolik dunia, sebab ada Lucia de Santos atau Lucia de Jesus dan sepupunya, yaitu Francesco Marto dan adiknya Yasinta Marto, yang mendapat penampakan Bunda Maria. Sejarah singkat ketiga anak suci tersebut adalah LUCIA DE JESUS yang lahir pada tanggal 22 Maret 1907 di Aljustrel, Fatima. Pada 17 Juni 1921 dia masuk di sekolah Vilar di Porto, kemudian menjadi suster dalam konggregasi Santa Dorothea. Kemudian beliau pergi ke Tuy dan disebut Maria Lucia dari Dolours, menerima kaul pertama pada tanggal 3 Oktober 1928 dan kaul kekal pada tanggal 3 Oktober 1934. Pada tanggal 25 Maret 1948 dipindahkan ke Coimbra untuk bergabung dengan Karmel Bunda Theresa dan berganti nama menjadi Suster Maria Lucia dari Hati Kudus. Suster Lucia meninggal dunia pada tahun 2005 yang lalu. FRANCISCO MARTO yang lahir pada tanggal 11 Juni 1908 di Aljustrel. Dia meninggal dengan tenang pada tanggal 4 April 1919 di rumahnya. Jenazahnya dipindahkan ke Basilica pada 13 Maret 1952. Yang terakhir adalah JACINTA MARTO yang lahir di Aljustrel pada tanggal 11 Maret 1910 dan meninggal pada tanggal 20 Februari 1920 di Rumah Sakit Estefania di Lisabon setelah mengalami sakit dan nyeri hebat yang lama. Jenazahnya dipindahkan dari makam keluarga ke makam Fatima pada tanggal 12 September 1935 dan terakhir dipindahkan ke Basilica pada tanggal 1 Mei 1951. Francisco dan Jacinta telah dinobatkan sebagai orang suci yang terberkati pada tanggal 13 Mei 2000 oleh Paus Yohanes Paulus II di Fatima.

Loca do Anjo di dekat Poco Do Arneiro tempat Gabriel menyapa ke3 anak yang mengabarkan kedatangan Bunda Maria

Rumah Lucia yang tetap dalam bentuknya semula, sekarang menjadi museum

PENAMPAKAN BUNDA MARIA

Pada tanggal 13 Mei 1917 ada 3 orang anak kecil yang menggembalakan ternak kambingnya di Cova da Iria, Fatima dekat Vila Nova de Ourem, saat ini masuk wilayah propinsi Leiria, Portugal utara. Mereka adalah Lucia de Jesus, 10 tahun, dan sepupunya Francisco dan Jacinta Marto, 9 dan 7 tahun. Pada tengah hari, setelah berdoa rosario, seperti kebiasaannya, mereka mendirikan sebuah sebuah mainan berbentuk rumah kecil dari batu, yang sekarang di atasnya sudah dibangun sebuah Basilica (gereja besar). Tiba-tiba mereka melihat langit yang cerah dan mereka sangat ketakutan, sehingga lari pulang. Pada saat mereka lari pulang, berkelebatlah cahaya yang menyinari tempat itu dan mereka melihat pada puncak pohon holmoak, pohon yang biasa tumbuh di Portugal dan Spanyol yang biasanya digunakan untuk menyimpan anggur, nampak Bunda Maria yang mereka sebut sebagai ‘seorang wanita yang lebih cerah dibandingkan matahari’ dengan rosario putih pada lengannya. Wanita tersebut mengatakan kepada ketiganya, bahwa mereka harus berdoa lebih banyak dan mengundang mereka untuk datang ke Cova da Iria selama 5 bulan berturut-turut, setiap tanggal 13 pada jam yang hampir sama. Mereka bertiga melaksanakannya dan pada tanggal 13 bulan Juni, Juli, September dan Oktober 1917, Bunda Maria atau wanita tersebut menampakkan diri dan berbicara kepada mereka di Cova da Iria. Ketiga anak itu dipesan untuk terus berdoa Rosario agar terjadi perdamaian dunia, karena saat itu sedang terjadi Perang Dunia I. Pada tanggal 19 Agustus 1917, penampakan terjadi di Valinhos, 500 m dari Aljustrel, sebab pada tanggal 13 Agustus ketiga anak tersebut disekap oleh kepala desa Vila Nova de Ourem.

Gerbang rumah Lucia dalam berbagai bahasa, rumah itu sekarang menjadi museum

Patung Yesus dari kayu gelondongan, di halaman Basilica Fatima, Portugal

Pada penampakan terakhir, yaitu 13 Oktober 1917, yang disaksikan secara langsung oleh sekitar 17.000 orang, Bunda Maria meminta di tempat tersebut didirikan sebuah kapel (gereja kecil) untuk berdoa kepadanya. Pada penampakan tersebut Bunda Maria juga mengungkapkan dirinya, sebagai Yang dikandung Tanpa Dosa (Immaculate Heart of Mary) dan Ibu Rosario (Lady of Rosary). Setelah penampakan terakhir semua yang hadir menyaksikan mukjijat yang dijanjikan kepada ketiga anak tersebut pada bulan Juli dan September 1918, yaitu matahari nampak seperti kepingan perak roda api dan terlihat jatuh ke bumi. Setelah sekian lama, saat Lucia de Jesus sudah menjadi seorang suster dalam konggregasi Santa Dorothea, sang Bunda Maria menampakkan diri lagi di Spanyol (tanggal 10 Desember 1925 dan 15 Februari 1926 di Convent of Pontevedra dan pada malam tanggal 13 Juni 1929 di Convent of Tuy), memenuhi permintaan pada devosi 5 Sabtu pertama (untuk berdoa Rosario, merenungkan misteri rosario, mengikuti dan menerima hosti suci) dan konsekrasi untuk menghormati Hati yang Kudus. Permintaan ini disampaikan pada penampakan tanggal 13 Juli 1917 dan disebut ‘Rahasia Fatima’. Beberapa tahun kemudian Sr. Lucia mengatakan bahwa antara bulan April dan Oktober 1916 malaikat Tuhan menampakkan diri pada ketiga anak pada 3 kesempatan, yaitu 2 kali di Cabeco dan sekali di sumur dalam kebun di belakang rumah Lucia, yang memintanya untuk berdoa. Francisco meninggal pada tahun 1919 dan Yasinta meninggal tahun 1920, keduanya meninggal pada umur 11 tahun karena TBC dan pneumonia. Saksi hidup terakhir penampakan Bunda Maria adalah Sr. Lucia yang baru meninggal tahun 2005 dan menjadi suster pada biara Carmel of Theresia di Coimbra, sebuah kota besar di Portugal timur laut. Paus Yohanes Paulus II yang sangat dekat secara pribadi dengan Sr. Lucia, pada tanggal 13 Mei 1981 ditembak oleh Mehmed Ali Agca, seorang muslim dari Turki, di Vatikan. Secara aneh pelurunya ada di mahkota patung Bunda Maria di Fatima. Pesan Bunda Maria lewat Sr. Lucia adalah untuk selalu juga mendoakan orang-orang yang lemah, setelah doa rosario harian. Sejak tahun 1917 para peziarah dari berbagai belahan dunia tidak pernah berhenti mengunjungi Cova da Iria, terutama pada tanggal 13 setiap bulan.

Basilica Fatima Portugal yang besar, gagah dan luas dibangun pada tahun 1928

Kapel yang dibangun di tempat pohon oak menjadi tempat penampakan Bunda Maria

Perlu waktu hampir 1,5 jam perjalanan saat kami melalui jalan tol dari Lisabon ke Fatima. Pertama kami mengunjungi Poco Do Arneiro, tempat penampakan malaikat Gabriel, di belakang rumah Francisco. Di situ dibangun taman dengan patung malaikat dan ketiga anak. Kemudian kami mengunjungi rumah Lucia dan rumah Francisco, yang keduanya tetap utuh, tidak diubah bentuknya dan saat ini digunakan sebagai museum. Setelah itu kami mengunjungi sanctuary atau gereja besar (basilika) Fatima. Basilica tersebut dibangun pada tahun 1928, persis di tempat dimana ketiga anak tersebut dahulu melihat penampakan Bunda Maria secara langsung. Di dalam basilika terdapat makam ke 3 anak tersebut, juga ada kapel penampakan dengan patung Bunda Maria, persis dimana dahulu pohon halmoak tumbuh. Banyak peziarah yang melakukan ritual jalan dengan berlutut, sepanjang lapangan basilica sampai kapel penampakan, yang dipercaya untuk menebus semua dosanya. Di Cova da Iria, dimana terdapat basilica besar tersebut, dilengkapi dengan 4 patung orang kudus asal Portugal yang ada di pintu gerbang, yaitu St. Yohanes Tuhan, St. Yohanes de Britto, St. Antonius dan St. Nuna Maria. Selain itu, masih banyak patung yang lain di dalamnya, seperti St. Theresia dari Avila dan St. Ignasius dari Loyola. Pada Kapel Penampakan yang dibangun tepat dimana Bunda Maria menampakkan diri, terdapat patung Bunda Maria yang dikunjungi sekitar 4 juta peziarah setiap tahun. Basilica yang mulai dibangun tahun 1928 baru selesai tuntas pada tanggal 7 Oktober 1953. Gambaran di atas altar menceritakan penampakan dan pemberian pesan Bunda Maria kepada ketiga anak yang dilukis oleh seniman besar, Angel of Portugal. Paus yang sudah pernah melakukan kunjungan ke sana adalah Paus Pius XII, Johanes XXIII, Paulus VI dan Yohanes Paulus II. Masih ada tersisa sebuah pohon holmoak besar yang pada jaman dahulu digunakan oleh ketiga anak menunggu penampakan Bunda Maria sambil berdoa Rosario dan sampai sekarang selalu digunakan oleh para peziarah untuk berdoa rosario juga. Di tengah halaman yang sangat luas terdapat patung Hati Kudus Yesus yang didirikan pada tahun 1932. Pecahan Tembok Berlin (lambang perpecahan Jerman yang berdiri tegak dari tanggal 13 Agustus 1961 sampai 9 November 1989) diletakkan pada pintu sanctuary atau basilika atas ide Virgilio Casimiro Ferreira, seorang emigran Portugis di Jerman. Hal tersebut melambangkan campur tangan Tuhan pada tumbangnya komunisme. Pecahan tembok tersebut berberat 2.600 kg, panjang 3,6 m dan tinggi 1,2 mt dan dirancang oleh arsitek J. Carlos Loureiro pada tanggal 13 Agustus 1994. Selain itu, masih ada salib suci, monumen Paus Paulus VI, Pius XII dan monumen D. Jose Alves Correia da Silva, uskup pertama yang melakukan restorasi Leiria (1920-1957).

Gerbang bandara Lisabon, saat datang pertama kali di Portugal

Gerbang Fatima, saat pertama kali sampai di kompleks Fatima Portugal

Setelah berdoa rosario, bermeditasi dan berfoto bersama segenap anggota rombongan, kami kemudian menginap di Hotel Tryp Coimbra, Av. Amando Gonsalves 20 Ap. 2056-3000-059 Coimbra, Portugal. Hal yang menarik dan sangat bagus adalah lampu lorong hotel, yang hanya akan menyala secara otomatis kalau pintu kamar atau lift dibuka dan akan ada orang lewat, sehingga tidak menyala sepanjang malam dan terjadi pemborosan energi sia-sia. Malam itu kami beristirahat dengan nyenyak untuk melanjutkan perjalanan, menyeberang ke daratan negeri Spanyol esok harinya.

bersambung dengan petualangan di negeri Spanyol

baca : https://dokterwikan.com/2018/03/07/2007-petualangan-di-spanyol/

sekian

*) peziarah sekaligus pelancong dari tanah Jawa

Categories
Istanbul

2006 KOREA YANG TEREKAM NYATA

 

KOREA YANG TEREKAM NYATA

fx. wikan indrarto & b. sari prasetyati *)

Kami mendarat dengan selamat dari Jakarta dengan pesawat Korean Air Airbus A330-300 di Incheon International Airport, jauh di sebelah barat Seoul, pada pagi yang cerah Sabtu, 7 Oktober 2006 pk. 06.50 waktu setempat yang sama dengan WIT (Waktu Indonesia Timur). Bandara ini sungguh suatu bandara yang modern, tertata, rapi, bersih dan didominasi warna biru laut yang membuat ayem. Proses imigrasinya luar biasa banget, teliti, waspada penuh dan sedikit mencekam, maklum dalam situasi darurat militer. Setelah proses pembagian tempat duduk di bis, akhirnya kami harus menuju tempat parkir penjemput yang cukup jauh, melalui lorong bandara yang tertata, menyala dan dipenuhi space iklan dalam bahasa dan huruf Korea yang sama sekali tidak kami mengerti. Sayang sekali, penjelasan guide kami dari Jakarta maupun local guide yang bisa berbahasa Indonesia, tidak cukup kami dengar jelas, sehingga banyak masalah penting lewat begitu saja. Yang utama menurut kami adalah masalah sinyal HP. Di Korea hanya dikenal sistem CDMA, bukan GSM, dan tidak ada kartu chip, voucher isi ulang ataupun kartu perdana. Jadi, dianjurkan menggunakan kartu telephone untuk telephon international ke Indonesia, menggunakan telephone umum dengan kode international, dalam instruksi berhuruf Korea dan bertarif Rp. 7.000/menit. Kalau tidak mau repot, dapat juga menyewa HP di airport, deposit untuk pesawat HPnya dan pulsanya dibebankan pada kartu kredit. Hal ini juga tidak kami lakukan, sebab terasa ruwet dan di luar kemampuan harian kami.

 Bis  100_1387

Bis pariwisata kami, menjelajah
daratan Korea, buatan KIA Motors

Gerbang tol berbentuk
rumah adat Korea yang megah

Dari bandara Incheon, kami menggunakan sebuah bis wisata besar berisi 50 seat dan sebuah van sejenis KIA PREGIO (di Korea dinamakan KIA  BANGOO 3). Kami ditempatkan di van, beserta dokter dari Bandung, Jakarta dan Medan. Kami langsung menuju ke Gwangju, di sisi selatan semenanjung Korea. Perjalanan itu kami lakukan melalui jalan tol yang bagus, tertata dan teratur. Setelah makan pagi dengan menu Korea di pinggiran pantai barat semenanjung, kami melanjutkan perjalanan sejauh 580 km yang akan kami tempuh dalam waktu 6 jam atau lebih, selalu melalui jalan tol. Di sepanjang jalan tol, semua mobil adalah buatan Korea, dari segala ukuran, jenis, model, kemewahan dan merk seperti KIA, Hyundai, Ssyangyong dan Daewoo. Hanya ada 1 Honda CRV, sedikit sekali BMW, Audi dan Mercedez. Memang hampir tidak ada sama sekali barang impor di Korea, semua dihasilkan oleh pabrik di dalam negeri. Kami beristirahat di rest area pinggiran tol 2 kali, sekaligus makan siang. Semua rest area sangat penuh sesak, sebab hari itu bertepatan dengan liburan panjang Hari Tjung Chu (hari ke 15 bulan ke 8 setelah Imlek), seperti arus mudik lebaran di Indonesia. Makan siang menu Korea, dengan rasa hampir hambar untuk lidah kami, menu rata-rata berharga W5.000 (setara dengan Rp. 50.000). Meski sangat padat, tetapi antrian makan sangat teratur, semua pembeli lapor ke kasir, menunjuk gambar menu pada neon box di dinding (sama sekali tidak bicara, lha wong mereka hanya bisa berbahasa Korea), membayar dan menerima struknya, mengambil sendiri pesanan makannya di konter koki dengan menukar struk pembayaran, membawa ke meja, memakan sampai habis dan mengantar kembali perlengkapan makan yang kotor ke konter pencuci piring. Hanya gelas untuk minum yang harus dimasukkan sendiri ke mesin pencuci di sisi yang lain. Tidak ada pelayanan rumah makan untuk aktifitas sepadat itu, sungguh efektif SDM dan hal ini menjamin tempat makan seperti itu selalu bersih, meskipun padat pengunjung.

Perjalanan kami lanjutkan kembali melalui jalan tol yang simpang siur, teratur, saling jerat dan menakjubkan. Saking banyaknya jalan tol, susunannya sudah seperti jaringan elektronik atau saraf manusia yang ruwet. Di Korea pengemudi menggunakan sisi kanan jalan, dan di lajur paling cepat di sisi kiri jalan hanya digunakan untuk bis atau van dengan penumpang 9 orang atau lebih, mirip aturan three in one di Jakarta. Jadi, kami semua sangat lancar di jalan, meskipun arus mudik di sana sangat padat sekali, sebab kami menggunakan sebuah bis dan sebuah van dengan penumpang banyak, sementara hampir semua mobil berbentuk sedan, jeep atau MPV kecil. Hampir semua penumpang tertidur lelap, sebab selain jalan tolnya relatif datar, meski harus melalui jurang dan gunung berhutan lebat dengan adanya terowongan dan jembatan, juga karena fisik kami yang kelelahan dan belum mandi semua dalam 24 jam terakhir. Setelah kami mencapai Gwangju, salah satu dari 5 kota besar di Korea, perjalanan kami teruskan ke Naju, sebuah kota kecil 45 menit dari Gwangju.

 Jalan Salib  100_1378

Pemberhentian terakhir, jalan salib di Bukit Terberkati dan Mata Air Suci (Blessed Mother’s Mountain dan Miraculous Spring) di Naju

Kapel Keajaiban Ekaristi (Eucharistic Miracle Caple), patung kecil Bunda Maria yang menangis darah dan perubahan hosti terjadi di sini, Naju, dekat Gwangju, Korea

Naju adalah kota tujuan ziarah kami. Tahun ini genap 20 tahun terjadinya mukjijat pertama di situ, meskipun sampai saat ini hal tersebut belum secara resmi diakui oleh Tahta Suci Vatikan.  Kami mengunjungi Gunung yang Terberkati (Blessed Mother’s Mountain) yang merupakan Bukit Doa dan Jalan Salib. Sore itu kami mengikuti ritual jalan salib bersama dengan rombongan peziarah dengan menggunakan Bahasa Korea. Di sepanjang rute jalan salib itulah Ibu Julia Kim yang terberkati sering berdoa, ditemani Yesus dan Maria, mendapatkan tetesan darah Yesus, rambut coklat Yesus dan cambukan, pukulan ataupun tendangan kaki serdadu Romawi yang dulu dirasakan sendiri oleh Yesus. Mukjijat terakhir terjadi pada Hari Jumat Agung, 14 April 2006 yang lalu. Untuk lebih jelasnya, silakan mengunjungi www.najumary.or.kr versi Bahasa Indonesia. Menjelang malam, kami mengunjungi Kapel Keajaiban Ekaristi (Eucharistic Miracle Caple), dimana patung kecil Bunda Maria memberikan pesan-pesan damainya kepada Ibu Julia Kim, juga mengeluarkan air mata, air mata darah, maupun wewangian untuk jenazah Yesus. Patung tersebut hanya seukuran bayi baru lahir, tetapi sejak tahun 1985 tidak henti-hentinya menjadi jembatan rohani antara Ibu Julia Kim dengan Bunda Maria (Shrine for Criying Virgin). Setelah berdoa secara khusus, juga menyampaikan doa-doa titipan para teman dan kerabat di Indonesia, perjalanan kami lanjutkan dengan makan malam menu Korea dan menginap di Hotel Prado, pusat kota Backwoon-Dong, Nam-Gu, di Gwangju, Korea sisi selatan. Di seluruh Korea, teknologi sudah sangat lumrah dalam keseharian mereka, termasuk internet 24 jam gratis di banyak tempat, juga di kamar setiap hotel, meskipun di layar monitor komputer maupun keyboard terpampang huruf Korea, sehingga kami sedikit pusing karenanya, meski pada akhirnya tetap pulas tidur di kamar hotel itu.

Pada hari selanjutnya, setelah makan pagi di Hotel Prado Gwangju, kami ber-6 kembali melanjutkan perjalanan dengan van KIA Bangoo3 mengikuti rombongan yang menggunakan bis pariwisata besar menuju Seoul. Jadwal perjalanan dirancang  ulang oleh local guide kami, sebab hari Minggu, 8 Oktober lalu merupakan hari terakhir libur panjang di Korea. Kami mengikuti arus mudik para penduduk kota metropolitan Seoul, sehingga acara berdoa kembali di Bukit Terberkati dan Mata Air Suci (Blessed Mother’s Mountain dan Miraculous Spring) di Naju terpaksa dibatalkan. Pagi itu kami kembali menyusuri jalan tol yang ruwet, bertingkat dan terstruktur rapi dengan under pass (jalan nunduk) maupun fly over (jalan layang) yang bersusun bahkan sampai 4 tingkat. Pengemudi kami terpaksa mencari jalur alternatif menuju Seoul, sebab arus mudik sangat padat. Meskipun jalur alternatif, tetapi semuanya tetap merupakan jalan tol, bebas hambatan dan bebas berhenti sembarangan. Kami sempat berhenti di jalur darurat tol, sebab ada beberapa peserta yang tidak tahan lagi menahan kencing. Begitu kedua mobil kami berhenti di pinggiran tol, banyak teman-teman kami yang lari berhamburan mendaki bukit untuk kencing, termasuk beberapa teman wanita, maklum rest area hanya ada setiap 45 menit perjalanan. Peristiwa serupa, ternyata tidak hanya kami alami, sebab di beberapa tempat kemudian ada juga beberapa mobil yang parkir darurat untuk buang hajat.

 Rest Area  100_1401

Rest area pinggiran tol, yang padat pemudik saat liburan panjang

Papan penunjuk arah yang berhuruf Korea

Kami berhenti untuk makan siang di rest area kecil di tengah hutan. Local guide kami meminta maaf, sebab di rest area tersebut kami harus makan siang seadanya. Informasi dari GPRS (alat monitor di dashboard setiap mobil di Korea) menunjukkan bahwa rest area berikut yang lebih besar sudah sangat padat pemudik. Kami makan siang menu Korea, yaitu nasi pulen semangkok kecil, sayur sawi awetan yang pedas, ikan bakar 2 potong, dan beberapa jenis makanan yang tidak dikenal di rumah dan terasa hambar. Rerata menu Korea paket di rest area seharga W5.000. Sama seperti di rest area hari sebelumnya, kami mengambil menu di konter koki dalam nampan, mengambil air putih dari mesin minum di pojok ruang, membawa ke meja, memakan habis, meski terasa hambar. Setelah itu kami harus mengembalikan kembali gelas minum ke mesin minum yang mencuci secara otomatis di pojok ruang, mengantar nampan makanan ke konter cuci piring dan mengembalikan kursi secara rapi. Kerapian, kebersihan dan keteraturan di tempat makan umum yang luas menjadi sangat terjaga, meskipun tidak ada pelayanan. Luar biasa. 

Setelah cukup kenyang, kami berbelanja di areal parkir kendaraan. Rest area itu cukup kecil, meskipun demikian tempat parkirnya hampir 2 kali lipat lapangan sepak bola. Dapat dibayangkan luasnya tempat parkir di rest area ataupun tempat-tempat umum lainnya di Korea, sangaaat luas. Lapangan parkir yang luas tersebut tetap bersih, rapi dan semua kendaraan parkir di tempat yang telah disediakan menurut ukuran besar kecilnya kendaraan, meskipun sama sekali tanpa petugas parkir. Banyak pedagang kaki lima yang menjajakan barang dagangannya menggunakan mobil van bertenda. Barang yang dijual sangat beragam, dari perlengkapan rumah, kendaraan, radio, onderdil sampai pakaian. Kami kembali memasuki jalan tol yang semakin siang justru semakin padat. 

Menjelang sore, masih dalam keadaan mengantuk, kami memasuki kota metropolitan Seoul. Kota ini berpenduduk 13 juta orang dari sekitar 40 juta penduduk Korea. Hampir semua penduduk tinggal di apartemen dan memiliki rata-rata 2 mobil setiap keluarga. Kendaraan yang ada hampir semua buatan Korea berbentuk sedan. Sepeda motor sangat jarang, dan apabila ada hanya digunakan untuk mengantar barang. Sama seperti kota metropolitan di negara maju, Seoul merupakan kota bersih, teratur, dan ramai. Kota ini dibelah oleh Sungai Han yang lebar dan dilalui oleh 14 jembatan untuk kendaraan dan 3 jembatan untuk kereta api.  Angkutan penumpang terbanyak berupa bis kota yang melalui 2 jalur busway di setiap jalan besar, taxi, kerata api dan 8 jalur subway (kereta bawah tanah) dengan 4 tingkatkan lorong. Yang mengagumkan, semua moda angkutan adalah buatan dalam negeri, dengan KIA, Hyundai dan Daewoo yang merupakan mayoritasnya. 

Sore itu hampir menjelang pukul 5 kami masuk pusat kota. Kami diturunkan di kawasan Dong Daemon, sebuah sentra bisnis yang baru saja berkembang di bekas arena olah raga. Memang masih ada Stadion Dong Daemon yang megah dan kuno, tetapi sekarang hanya dipakai untuk tempat parkir kendaraan, sebab di Seoul sudah dibangun World Cup Stadium yang megah sebagai gantinya, dan sudah digunakan untuk sebagian pertandingan kejuaraan Piala Dunia FIFA 2002 yang lalu. Setelah membeli beberapa buah cindera mata, kami lanjutkan dengan makan malam dan bersistirahat di M Hotel (memang namanya hanya huruf M) di kawasan Youido-Dong, Yeoungdeungpo-Gu, pinggiran sungai Han, Seoul. Malam itu kami beristirahat dengan pulas.

Pada hari ketiga di Korea, Senin 9 Oktober 2006, setelah makan pagi di Cafe MU, Hotel M lantai 2 di tengah kota metropolitan Seoul, kami berangkat menuju Everland.

 100_1412  100_1428

Suasana kampung Belanda dengan kincir angin di Everland Yongin Theme Park

The National Folk Museum of Korea (Museum Nasional Rakyat Korea)

Dengan 2 kendaraan yang kami gunakan hari sebelumnya, kami menuju Everland Yongin Theme Park. Everland merupakan salah satu dari 7 taman rekreasi besar yang merupakan tujuan wisata utama di seluruh dunia. Bahkan pada tahun 1996, Everland memecahkan rekor dunia, sebab dikunjungi oleh 9 juta pengunjung, mengalahkan Disneyland Tokyo. Banyak permainan yang sangat menantang tersedia di sana. Kami masing-masing disediakan jatah 5 tiket permainan yang berharga W45.000 per orang per permainan. Sebenarnya arena bermain ini lebih cocok untuk anak-anak usia SD dan SMP, seperti kebanyakan tamu yang datang bersamaan dengan kami. Walaupun demikian, kami tetap menjalaninya sebagai sebuah sekedar pengalaman, tanpa penjiwaan berarti, karena kami jadi teringat akan semua anak yang terpaksa dititipkan karena keberangkatan kami. Perjalanan, permainan, makan siang dan kepulangan kami kembali ke kota metropolitan Seoul menghabiskan waktu tiga perempat hari, melewati jalan tol yang menembus hutan lebat, terowongan panjang, melintasi jembatan di atas jurang dalam atau jalan yang lain, dan masuk areal underpass atau fly over yang simpang siur. 

Sore harinya kami mengunjungi The National Folk Museum of Korea dan Gyeongbokgung Palace, dilanjutkan ke Myeong-dong Cathedral, makan malam dan belanja di areal bisnis Myeong-dong. The National Folk Museum of Korea (Museum Nasional Rakyat Korea) dibangun pada tahun 1972 dan setelah dipugar secara megah berwujud modern sejak 17 Februari 1993. Di halaman depan (outdoor exibition) museum terdapat batu dan kayu berukir peninggalan bangsa Korea kuno sampai yang terbaru peninggalan abad 19, termasuk kereta listrik (trem) pertama) dan pompa air kuno. Di dalam museum ini terdapat koleksi benda bersejarah yang menggambarkan sejarah kuno bangsa Korea dari dinasti ke dinasti, siklus kehidupan bangsa Korea sejak lahir sampai meninggal dan dilengkapi beberapa fasilitas untuk seminar, pentas, eksposisi dan pertunjukan kebudayaan bangsa Korea. Gedung utama berbentuk pagoda Beopjusa dengan arsitektur serupa dengan Geunjeongjeon (gedung pusat pemerintahan Korea kuno) dinasti Joseon (1392-1910). Gambaran kehidupan bangsa Korea pertama adalah kerajaan Goguryeo (37 SM sampai 668 M), bersamaan dengan kerajaan Baekje (18 SM sampai 660 M) sampai yang paling besar adalah kerajaan Silla (57 SM sampai 935 M), diteruskan dengan kerajaan Balhae (698 sampai 927 M) dan dinasti Goryeo (918 sampai 1392 M).

Setelah mengambil gambar seperlunya, perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan kaki saja menuju Gyeongbokgung Palace (istana raja) yang terletak dalam 1 kompleks besar. Pada awal abad ke 20 bangsa Korea dijajah oleh bangsa Jepang. Hampir semua sisa-sisa kebesaran bangsa Korea dihancurkan oleh tentara Jepang, sampai-sampai tidak satupun yang tersisa utuh. Istana Gyeongbokgung pada awalnya didirikan oleh dinasti Joseon pada tahun 1394 dan dipugar kembali dalam bentuk aslinya pada tahun 1972, yang dapat kita nikmati sekarang ini. Paling tidak terdapat 11 gedung yang tertata rapi, berarsitektur serupa, berupa rumah panggung dengan atap segitiga melengkung ke atas pada ujungnya dan yang terbesar dilengkapi dengan tahta raja. Pada halaman depan gedung terbesar, biasa diselenggarakan tarian tradisional Korea yang ditonton dan digemari semua pengunjung.

 Museum  istana Raja

Museum Nasional Rakyat Korea berbentuk pagoda Beopjusa dengan arsitektur serupa dengan Geunjeongjeon (gedung pusat pemerintahan Korea kuno)

Gyeongbokgung Palace (istana raja) replika istana termegah dari dinasti Joseon yang berkuasa pada tahun 1394

Setelah mengamil beberapa gambar, kami melanjutkan perjalanan dengan kendaraan ke Myeong-dong Cathedral. Katedral (gereje katolik terbesar) ini dibangun pada tahun 1784 oleh sekelompok bangsa Korea yang pertama kali memeluk agama Katholik, pada awalnya dinamakan gereja Myeong-Nae-Bang. Bentuk yang sekarang digagas oleh Pastor Coste dari Perancis dan diberkati pada 29 Mei 1898 dengan sebutan Bunda Maria Tak Bernoda (Our Lady of the Immaculate Conception). Pada tahun 1900 dilakukan pemakaman ulang para martir Korea yang dibunuh sejak tahun 1839 sampai 1866 di gereja ini. Pastor Korea asli yang pertama (Pastor Rhee Ki-jun) dan Uskup Korea asli yang pertama (Mgr. Rho Ki-Nam) ditahbiskan di gereja ini pula. Sejak tahun 1945 saat bangsa Korea merdeka dari penjajahan Jepang, nama gereja diubah dari Chong-Hyen menjadi katedral Myeong-Dong. Katedral yang terletak di pusat kota metropolitan Seoul ini berarsitektur murni Gothic, memiliki lantai berbentuk salib dengan 16 buah tiang penyangga berjajar rapi ke depan, atapnya setinggi 23 meter dan lonceng gereja setinggi 45 meter. Kaca patri berhias pada setaip jendela yang aslinya dirancang oleh Benedictine Monasteris dari Perancis, pada tahun 1982 dipugar oleh perancang Korea, Lee Nam-gyu, menjadi bentuk yang sekarang ini, yaitu menggambaran cerita Injil dan doa Rosario. Patung Bunda Maria yang Terberkati (Blessed Mother) yang dipersembahkan oleh Mgr. Rho Ki-Nam pada 27 Agustus 1960 untuk perdamaian abadi di Semenanjung Korea, diletakkan di tepi tempat parkir di depan gereja. Kami melakukan doa pribadi bersama-sama dengan para pekerja yang pulang kantor, di depan patung Bunda Maria yang Terberkati. Meskipun di pinggiran tempat parkir mobil di area bisnis yang padat, ruwet dan berdenyut 24 jam, tempat tersebut sangat damai, tenang, dan cocok sekali bagi siapa saja yang lewat untuk berhenti sejenak dan berdoa. Sehabis berdoa rosario, kami mengikuti misa kudus harian yang dimulai setiap pk. 6 sore dalam Bahasa Korea. Lagu, doa, bacaan Injil, homili dan semua liturginya disampaikan dalam Bahasa Korea yang sama sekali tidak kami mengerti. Walaupun demikian, kami percaya Gusti mboten sare (Tuhan tidak tidur) dan mendengar doa kami semua, meskipun dalam bahasa kami masing-masing, untuk seluruh ujub dan permohonan kami, termasuk perdamaian abadi di Semenanjung Korea dan doa-doa titipan para teman maupun kerabat di tanah air. Malamnya kami tidur sangat pulas di kamar hotel M.

 Katedral  100_1446

Myeong-dong Cathedral. Katedral (gereje katolik terbesar) ini dibangun pada tahun 1784 dan sementara dipugar

Patung Andrew Kim Tae-Gon (1822 – 1846), salah satu Martir Korea yang paling lembut hati di dekat Katedral Myeong-dong

Pada hari ke lima di Korea, setelah sarapan pagi sekedarnya di Cafe MU, Hotel M lantai 2, di pusat kota metropolitan Seoul, kami melanjutkan perjalanan yang sangat ditunggu-tunggu dan menegangkan, yaitu ke DMZ (De-Militerized Zone) atau Daerah Bebas Militer. Sebagaimana kita ketahui bersama, sejarah Perang Dingin masih menyisakan peninggalan memilukan, satu-satunya yang tersisa di dunia yaitu konfrontasi di semenanjung Korea yang memisahkan Korea Utara (komunis, didukung oleh China dan Rusia) dan Korea Selatan (liberalis, didukung oleh Amerika Serikat, Eropa dan Jepang). Untuk memahami sepenuh hati perasaan bangsa Korea, semua pengunjung harus membayangkan betapa kejamnya perang yang meninggalkan pilu dan luka mendalam bagi para korbannya. Sampai saat ini, Korea adalah satu-satunya negara di dunia yang dipisahkan dan dilukai oleh hal itu. DMZ, daerah bebas militer dan konflik, adalah simbol pemersatu bangsa Korea, meskipun pada kenyataannya merupakan pemisah yang disusun dan dipelihara sampai saat ini. Sejak Perang Korea yang mencabik-cabik banyak anak manusia berakhir pada tahun 1953 dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai, DMZ angkuh berdiri dan memisahkan 2 negara di semenanjung Korea. Garis batas 33 LU memisahkan kedua negara, dan 2 km ke kedua arah berlawanan dari garis imajiner tersebut adalah areal DMZ.

 100_1460  100_1454

Puncak gunung Dora, ruang pengintaian ke Korea Utara di DMZ

Monumen program penyatuan Korea di pelataran parkir DMZ

Kami menyiapkan diri masing-masing dengan paspor di tangan, berpakaian rapi, tidak diperkenankan menggunakan kaos tanpa kerah, jean, celana pendek, sandal dan kostum mirip tentara sesuai aturan yang dibuat oleh pihak militer. Kami menggunakan 2 kendaraan kami dan berangkat menuju kota Paju. Paju yang berjarak 52 km dari pusat kota metropolitan Seoul merupakan kota besar paling utara dari Korea (Selatan). Di kota tersebut kami harus melaporkan diri, berganti bis, sebab kendaraan pribadi seperti van kami dilarang masuk areal DMZ, dan bergabung dengan semua teman-teman di dalam bis kami. Setelah mendapatkan surat jalan, bis kami harus melalui jembatan besar yang dipenuhi pemisah jalan dari besi dan kawat berduri, sehingga semua kendaraan harus berjalan satu persatu secara zig-zag, dipantau dengan teropong militer dan dicegat di ujung jembatan oleh militer. Salah satu tentara kemudian masuk ke dalam bis kami, mengecek secara acak paspor kami, mencocokkan dengan surat jalan dan akhirnya mengijinkan kami masuk. Di areal tersebut dilarang mengambil foto ataupun video, sebab daerah tersebut adalah daerah militer. Kami mengunjungi terowongan ke 3. Seperti kita ketahui bersama, setelah Perang Korea berakhir pada tahun 1953, tentara Korea Utara yang komunis masih tetap bernafsu untuk menghancurkan Seoul. Mereka membuat 4 buah terowongan bawah tanah sebagai bagian dari siasat infiltrasi ke selatan, meskipun rencana rahasia tersebut akhirnya diketahui dan gagal total. Terowongan ke 3 dideteksi pada 17 Oktober 1978 dan berlokasi sekitar 52 km dari Seoul. Terowongan ini adalah yang paling besar, dengan sekitar 10.000 tentara dapat melewatinya dalam 1 jam. Pada saat terowongan ini diketahui, pihak Korea Utara justru menyalahkan pihak Korea Selatan yang melakukannya untuk menyerang utara, meskipun pada akhirnya mereka mengakuinya, setelah teknologi dapat memecahkan misteri jahat ini. Kami menggunakan kereta tambang bawah tanah yang dimodifikasi, berpenumpang 45 orang, menggunakan helm pekerja tambang dan sabuk pengaman di kursi kereta dengan 3 orang penumpang setiap kursinya. Kereta membawa kami ke lorong sepanjang 300 m ke bawah tanah yang cukup terang, dingin dan bersih. Sesampainya di dasar terowongan, kami harus berjalan kaki secara mendatar menyusur terowongan ke arah utara sepanjang 250 meter. Pada ujungnya kami harus berhenti pada pintu besi yang dikuatkan dengan pagar kawat berduri dan kabel bertegangan listrik. Setelah pintu besi tersebut, daerah di sebelah utaranya adalah wilayah DMZ yang tidak boleh dikunjungi oleh wisatawan.

Setelah merasa merinding dan ngeri membayangkan apa yang dahulu terjadi, yaitu korban yang meninggal saat pembuatan terowongan tersebut, dan membayangkan korban yang akan meninggal seandainya infiltrasi tersebut berhasil, kami kembali ke atas. Setelah wisata bawah tanah, kami mesuk ke ruangan teater dan melihat film dokumenter selama 8 menit tentang kejamnya Perang Korea, DMZ, kesedihan karena pemisahan, perundingan perdamaian yang telah dilaksanakan dan harapan generasi muda Korea akan hari esok yang cerah dan damai. Terowongan ke 3 ini terletak di bawah Gunung Dora yang gersang. Perjalanan kemudian kami teruskan menuju puncak Gunung Dora yang terdapat sebuah gedung pengamatan ke utara untuk wisatawan. Kami menggunakan teropong dengan sewa W500 untuk melihat kota Gaeseong, kota Gaesung dan Gunung Geumgangsan di wilayah Korea Utara, serta aktifitas tentara mereka. Sangat mengerikan sekali apabila perang terbuka terjadi kembali, apalagi pihak utara sampai saat ini masih terus bersikap provokatif. Semoga saja perdamaian akan segera terwujud di sini. Kami tidak mengunjungi desa Panmunjeon (desa perdamaian atau The Joint Security Area) yang terkenal itu karena alasan keamanan. Meskipun desa tersebut hanya seluas 800 m2, tetapi desa tersebut merupakan simbol kerja sama antara Korea Utara dan PBB, dan ditetapkan sebagai daerah di luar kekuasaan Korea Utara maupun Korea (Selatan). Pihak PBB dan Korea Utara masing-masing memiliki 6 pos pengamatan bersama dan 35 pos keamanan sendiri di desa tersebut. Sejak terjadinya pembunuhan tentara PBB termasuk Kapten Auther G. Bonifas oleh tentara Korea Utara pada 18 Agustus 1976, sampai sekarang tentara PBB tidak dapat lagi melewati garis batas yang ditentukan. Setelah mengunjungi DMZ, kami melanjutkan perjalanan ke Stasiun Dorasan. Ini adalah stasiun kereta api Korea (Selatan) yang paling utara dan dirancang untuk dapat menyatu dengan jaringan kereta api di wilayah utara. Meskipun sampai saat ini jalur kereta api tersebut baru hanya digunakan untuk jalur bantuan logistik, tetapi pihak selatan sudah menyiapkan seluruh infrastrukturnya. Apabila perdamaian kelak betul dapat terlaksana, maka jalur kereta api, jalan raya, sambungan telephone, air, listrik dan segalanya dapat langsung conect, sebab saat ini pembangunan sangat gencar di selatan. Setelah makan siang di sekitar kota Paju, kami kembali ke Seoul.

Menjelang sore kami mengunjungi Jeoldusan Martyrs’ Museum, di Hapchong-dong, Mapo-gu, pinggiran Sungai Han di Seoul. Untuk lebih jelasnya dapat diakses pada www.jeoldusan.or.kr. Museum ini dibangun pada Maret 1966, bertepatan dengan 100 tahun (Kalender Cina) pembantaian Pyong-in (sebenarnya terjadi pada tahun 1866). Gedung ini dirancang oleh arsitek Lee Hee-Tae yang memadukan tradisi, keindahan dan inkulturasi bangsa Korea, sampai memenangkan medali perak untuk kejuaraan arsitektur internasional. Di dalamnya tersimpan koleksi perjalanan batin bangsa Korea kuno yang beragama Katolik, pengembangan awal, penindasan, penyiksaan sampai pembunuhan oleh para penguasa jaman itu. Sampai saat ini telah diakui oleh Takhta Suci di Vatikan akan adanya 103 orang martir Korea, termasuk Andrew Kim Tae-Gon (1822 – 1846), Thomas Choi Yang-up (1821 – 1861) Charles Hyun Seok-mun (1799 – 1846) dan Paul Jeong Hsang (1795 -1839), serta 10 orang misionaris Perancis yang tergabung dalam ‘Paris Foreign Missionary Society’. Pengakuan tersebut dilakukan oleh Sri Paus Yohanes Paulus II pada 6 Mei 1984 di Yeouido Plaza, pinggiran kota Seoul, saat berkunjung dan memperingati 200 tahun berdirinya gereja Katolik di Korea.

 100_1462  100_1469

Patung Andrew Kim Tae-Gon (1822 – 1846), salah satu martir Korea di pelataran Jeoldusan Martyrs’ Museum

Bangsawan Korea, berwajah Jawa, alias blasteran

Setelah berdoa sebentar di kapel museum yang asri, berfoto seperlunya dengan patung Andrew Kim Tae-Gon yang berwajah tulus, kami melanjutkan perjalanan ke Ginseng Outlet Centre, melihat museum ginseng, mencicipi segala jenis makanan yang mengandung ginseng (berisi zat aktif saponin) dan membeli beberapa produknya langsung di tempat. Setelah itu kami masuk ke dalam studio fashion show untuk menyewa pakaian adat Korea dan berfoto dengan latar belakang gambar tradisi mereka. Foto kami dalam busana bangsawan Korea kuno terasa kurang berwibawa, maklum kami berdua tersenyum simpul malu-malu, dimana hal tersebut bukanlah sifat bangsawan Korea kuno. Sayang sekali, foto ulang dengan ekspresi tegas tidak dapat dilakukan lagi, lha wong nyewa kostumnya mahal banget je. Akhirnya kami memutuskan bergabung kembali dengan rombongan menuju Blue House (Gedung Biru), yang merupakan istana kepresidenan Korea saat ini, seperti Istana Negara di Jakarta. Sayang sekali, kami terlalu sore sampai di kompleks yang dijaga intel secara sangat ketat, sehingga pengambilan gambar sungguh tidak memuaskan. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke area bisnis Itae-Won yang padat, murah, meriah dan penuh orang bule. Setalah makan malam di sekitar situ, kami kembali beristirahat di hotel untuk persiapan kepulangan kami esok hari.

Setelah sarapan pagi di Café MU, Hotel M, mengemasi barang-barang kami, menyelesaikan proses keluar (check out) hotel dan rapat darurat tentang tips untuk local guide, kami berkemas untuk memulai perjalanan hari terakhir di Korea. Hari Rabu, 11 Oktober 2006 pagi itu, kami mengunjungi Yoido Full Gospel Church di pinggiran Sungai Han yang bersih dan lebar. Gereja ini adalah sebuah gereja Kristen yang terbesar di seluruh daratan Korea, bahkan di seluruh dunia. Bentuk gedung utamanya mirip stadion olah raga ruang tertutup (indoor sport hall), bulat mentereng dan susunan kursinya melingkar dengan terap-terap menurun ke arah mimbar. Dominasi warna cokelat di sisi luar, dilengkapi salib Yesus yang besar dan penuh lampu benderang. Kami sempat melihatnya gemerlap di malam hari, pada saat kami akan kembali ke hotel, sebab gereja tersebut tidak jauh dari hotel M, tempat kami menginap. Setelah mengambil gambar seperlunya, kami memisahkan diri dari rombongan, sebab kami memiliki acara pribadi yang berbeda dengan mereka. Kami harus mengunjungi Seoul National University Children Hospital.

 100_1475  100_1488

Yoido Full Gospel Church. Gereja Kristen terbesar di Korea, bahkan di seluruh dunia yang berbentuk stadion olah raga ruang tertutup (indoor sport hall)

Seoul National University Children Hospital. Prof Il Soo Ha yang kami temui di kompleks rumah sakit yang megah ini.

Dengan pengaturan yang nyaris sempurna oleh local guide kami, kami dicegatkan taksi di dekat gereja tersebut. Dia menjelaskan kepada sopir taksi rencana kami, menyarankan untuk mengantar ke tujuan kami, menghubungi Prof. Il Soo Ha, direktur RS tersebut, yang akan kami temui menggunakan HP-nya yang dipinjamkan ke kami, dan menurunkan kami di tempat terdekat dengan kantor Prof. Ha, di dalam kompleks rumah sakit tersebut yang sangat luas. Malang benar nasib kami, sebab nomor HP Prof. Ha yang disalin local guide kami di HP-nya ternyata keliru, sehingga kami harus menggunakan bahasa tubuh (bahasa Jawa, Indonesia dan Inggris sekaligus dengan gerakan badan mirip Tarzan), untuk berkomunikasi selanjutnya, baik dengan sopir taksi tersebut, mapun petugas satpam rumah sakit. Untunglah dengan kebaikan mereka semua yang sama sekali tidak dapat berbahasa Inggris, kami dipertemukan dengan Prof. Ha di lorong lantai 2 rumah sakit tersebut. Setelah berdiskusi dengan sekitar 6 orang dokter anak di bawah koordinasi Prof. Ha, kami diajak keliling ke Ruang Perawatan Intensif Bayi (Neonates Intencive Care Unit) yang megah, bersih, canggih dan berteknologi maju, juga ke bangsal perawatan anak dan klinik rawat jalan untuk pasien anak. Setelah puas jalan-jalan, kami berpamitan dengan Prof. Ha yang ramah dan penuh perhatian, kemudian diantar oleh petugas administrasi yang dapat berbahasa Inggris menuju halte bus kota ke bandara. Kami harus melewati lorong-lorong perumahan warga untuk meninggalkan kompleks rumah sakit menuju jalan besar di sebelah kiri kompleks. Semua bis kota melewati jalur khusus bis (bus way) yang bercat merah hati, berada pada jalur cepat paling luar, seperti bus way di Jakarta. Di halte bis sudah terpampang petunjuk lengkap tentang rute setiap nomor bis, tetapi semuanya menggunakan huruf Korea yang sama sekali tidak kami pahami. Kami harus mencari informasi pada papan yang berlambang pesawat, yang berarti bis kota yang khusus melayani rute ke Incheon International Airport. Setiap bis kota akan berhenti pada halte bis yang sudah ditentukan, sesuai dengan aturan yang ketat. Kami menunggu cukup lama dan sempat memperhatikan bis kota dengan tujuan lain, cara pembayaran tiket bis oleh setiap penumpang, juga cara berganti bis di halte penghubung (interconection shelter bus). Setiap penumpang bis disarankan memiliki kartu penumpang khusus, seukuran kartu ATM, yang harus ditempelkan di sebuah alat pemindai elektronik di kedua pintu masuk bis, baik pintu depan maupun belakang. Setiap pemindaian yang berhasil akan ditunjukkan dengan bunyi klik dan uang yang tersimpan dalam kartu tersebut akan terpotong (terdebet) secara otomatis. Kartu yang dapat juga digunakan untuk membayar tiket kereta bawah tanah (subway) tersebut harus selalu dicek saldonya dan kalu perlu diisi ulang menggunakan sistem transfer antar rekening melalui ATM di bank. Untuk penumpang yang tidak memiliki kartu tersebut, seperti halnya kami, penumpang harus masuk melalui hanya pintu depan, memasukkan uang ke kotak terkunci dekat sopir, melaporkan tujuan perjalanan, sopir akan memencet tombol angka sesuai tarif tiket di sebuah alat dekat gagang setir, dan akan keluar print-out harga tiket serta uang kembalian (bila ada) di mesin mirip ATM di sisi pintu masuk, dan akhirnya penumpang boleh masuk dan duduk di bis. Sangat sistematis, efisien dan bebas korupsi di belantara jalan raya yang biasanya rawan penyelewengan uang perusahaan bis. Melihat kami sangat tercengang dengan teknologi tersebut, wajar saja apabila Prof. Ha telah memerintahkan staf yang mengantar kami untuk pengurusan pembayaran tiket bis tersebut. Akhirnya kami bisa duduk tenang, dipantau oleh local guide kami yang masih tetap mengkawatirkan kondisi kami, yaitu secara serial menghubungi menggunakan HP yang kami pinjam dan tinggal pencet tombol terima. Kami menikmati perjalanan di sebuah bis besar bertulisan airport limousine menuju Incheoin International Airport, jauh di luar kota Seoul yang gempita. Bis kami hanya berhenti di halte bis khusus yang bertanda gambar pesawat, di sepanjang rute dalam kota Seoul. Setelah masuk jalan tol luar kota, kami butuh 45 menit waktu untuk menyusuri jalan tol yang ruwet, bertingkat, rapi dan megah sampai ke bandara. Secara kebetulan, kami tiba di bandara berbarengan dengan rombongan kami yang telah selesai mengunjungi beberapa tempat lain yang katanya tidak terlalu menarik. Setelah pengurusan bagasi, check-in rombongan dan proses imigrasi yang sederhana, termasuk pemantauan ketat setiap penumpang yang masuk terminal keberangkatan, kami pulang kembali ke Jakarta dengan pesawat Airbus A330-300 Korean Air KE627 melalui pintu (gate) 24 Incheoin International Airport, pada hari Kamis, 12 Oktober 2006

Demikianlah cerita perjalanan kami ke Korea, semoga bermanfaat bagi kita semua.

sekian

*) peziarah dan pelancong dengan dana terbatas, tinggal di Yogyakarta

Categories
Istanbul

PERAWAT DAN BIDAN

Hasil gambar untuk perawat dan bidan
PERAWAT DAN BIDAN

fx. wikan indrarto*)

Dewan Perawat Internasional (International Council of Nurses) pada Selasa, 27 Februari 2018 mengkamanyekan ‘Keperawatan Kini’ (Nursing Now), yang bertujuan untuk memberdayakan perawat, dalam membantu mencapai cakupan kesehatan semesta atau Universal Health Couverage (UHC). Apa yang sebaiknya dilakukan?

Hasil gambar untuk perawat dan bidan

Perawat dan bidan menyumbang hampir 50% tenaga kesehatan global, tetapi tetap saja terjadi kekurangan tenaga kesehatan global, khususnya perawat dan bidan. Kekurangan tenaga perawat dan bidan berbasis kebutuhan, terbesar ada di Asia Tenggara dan Afrika. Agar semua negara dapat mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) no 3 tentang kesehatan dan kesejahteraan (health and well-being), WHO memperkirakan bahwa dunia memerlukan 9 juta perawat dan bidan tambahan pada tahun 2030.

Hasil gambar untuk perawat dan bidan

Profil Kesehatan Indonesia 2016 menunjukkan bahwa pada tahun 2016, proporsi terbanyak dari 219.654 orang tenaga kesehatan yang memiliki STR, yaitu perawat sebanyak 41,8% dan bidan sebanyak 35,9%. Secara nasional, rasio perawat adalah 114,75 per 100.000 penduduk. Hal ini masih jauh dari target tahun 2019 yaitu 180. Namun demikian, ada delapan provinsi dengan rasio perawat yang sudah memenuhi target yaitu DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Bangka Belitung, Aceh, Maluku, Sulawesi Utara, Bengkulu, dan Jambi. Provinsi dengan rasio perawat terendah yaitu Lampung sebesar 49,44. Selain itu, rasio bidan di Indonesia baru sebesar 63,22 per 100.000 penduduk, juga masih jauh dari target 2019 yaitu 120. Ada empat provinsi yang telah memenuhi target yaitu Aceh, Bengkulu, Maluku Utara, dan Jambi. Provinsi dengan rasio terendah yaitu Jawa Barat sebesar 37,21.

Hasil gambar untuk perawat dan bidan

Berinvestasi untuk terciptanya perawat dan bidan adalah tindakan dengan nilai terbaik. Laporan Komisi Tinggi (the UN High Level Commission on Health Employment and Economic Growth) menyimpulkan bahwa, investasi dalam bidang pendidikan dan penciptaan lapangan kerja di sektor kesehatan dan sosial, menghasilkan pengembalian tiga kali lipat, berupa derajad kesehatan individu, kesehatan masyarakat, dan pertumbuhan ekonomi inklusif yang lebih baik. Secara global, 70% tenaga kesehatan dan sosial adalah perempuan, dibandingkan dengan hanya 41% di semua sektor pekerjaan. Pekerjaan perawat dan bidan mewakili sebagian besar angkatan kerja perempuan.

Perawat dan bidan memiliki banyak peran, misalnya mengelola layanan kesehatan individu pasien, bekerja sama dengan keluarga pasien dan masyarakat sekitar, sehingga mereka dapat berperan penting dalam kesehatan masyarakat dan pengendalian penyakit maupun infeksi. Dibandingkan dokter, mereka juga lebih menyatu dan merupakan bagian dari komunitas masyarakat lokal, sehingga dapat memberikan intervensi kesehatan yang kadang lebih efektif, untuk memenuhi kebutuhan pasien, keluarga, dan masyarakat.

Hasil gambar untuk perawat dan bidan

Layanan perawat dan bidan sesuai dengan resolusi Majelis Kesehatan Dunia WHA 64.7 (2011) yang meminta semua negara untuk melibatkan keahlian perawat dan bidan, ke dalam pengembangan sumber daya manusia dan kebijakan kesehatan. Hal ini sesuai dengan arah strategis global (The Global strategic directions for strengthening nursing and midwifery 2016–2020), yang memberikan kerangka kerja untuk mengembangkan, menerapkan dan mengevaluasi layanan perawat dan bidan yang dapat diterima, berkualitas, dan aman.

Terdapat empat tema untuk melibatkan perawat dan bidan dalam memperbaiki derajad kesehatan global. Pertama, memastikan perawat dan bidan yang terdidik, kompeten dan termotivasi dalam sistem kesehatan yang efektif dan responsif di semua tingkat. Kedua, mengoptimalkan pengembangan kebijakan, kepemimpinan, manajemen dan tata kelola yang efektif. Ketiga, memaksimalkan kapasitas dan potensi perawat dan bidan melalui kemitraan kolaboratif profesional dan pendidikan berkelanjutan; serta keempat, pengembangan tenaga perawat dan bidan berbasis bukti yang efektif.

Dengan ini diperlukan kegiatan kolaboratif antara dokter dengan perawat dan bidan. Selain itu, juga bertujuan untuk memastikan tersedianya tenaga perawat dan bidan yang berkualitas, hemat biaya dan berdasarkan kebutuhan populasi. Juga mendukung dan memastikan bahwa perawat dan bidan termotivasi secara memadai, dan diberdayakan untuk melaksanakan tugas mereka, dengan efektivitas dan kepuasan yang lebih baik.

Hasil gambar untuk perawat dan bidan

Program perluasan layanan perawat dan bidan dipercepat kepada individu dan masyarakat di banyak negara, dengan tujuan untuk mencapai UHC dan SDGs. Penerapan pendekatan ini dimulai pada tahun 1970an secara multilateral, sehingga sejak itu terjadi perubahan yang nyata pada organisasi dan institusi kesehatan. Perawat dan bidan semakin lebih besar perannya untuk memberikan layanan kesehatan primer untuk mencapai UHC, termasuk di Indonesia.

Hasil gambar untuk perawat dan bidan

Momentum kampanye Keperawatan Sekarang (the Nursing Now campaign), yang diluncurkan pada awal tahun 2018 dan akan berlangsung selama 3 tahun, mengingatkan arti penting kolaborasi. Dokter, perawat dan bidan, wajib bekerjasama untuk mencapai UHC. Sudahkah kita bijak?

Hasil gambar untuk dr wikan indrarto

Sekian

Yogyakarta, 1 Maret 2018

*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak, Lektor di FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161,

Categories
Istanbul

PANDEMI INFLUENZA

Hasil gambar untuk pandemik adalah

PANDEMI INFLUENZA

fx. wikan indrarto*)

Peringatan dari ‘the US Centers for Disease Control and Prevention’ (CDC) tentang pandemi influenza terbaru, penting untuk dicermati. Pandemi dari Bahasa Yunani ‘pan’ yaitu semua dan ‘demos’ yaitu orang, adalah penyakit yang menyebar di wilayah yang luas, benua atau bahkan di seluruh dunia. Menurut WHO, pandemik terjadi jika telah memenuhi tiga kondisi, yaitu munculnya penyakit baru pada manusia, menginfeksi dan menyebabkan penyakit berbahaya, serta penyakitnya dapat menyebar dengan mudah di antara manusia. Apa yang harus diketahui?

Hasil gambar untuk pandemik adalah

Pada peringatan seratus tahun ‘Great Influenza’ tahun 1918, perlu evaluasi tentang apa yang telah berubah sejak saat itu dan bagaimana mencegah agar tidak terjadi lagi. Pada akhir periode Perang Dunia I, ‘Great Influenza’ adalah pandemi influenza paling mematikan dalam sejarah di seluruh dunia, yang diyakini telah membunuh sekitar 50 juta orang. Influenza telah membunuh lebih banyak orang dalam satu tahun, dibandingkan kematian saat terjadi wabah dalam satu abad selama Abad Pertengahan. Asal geografis pandemi influenza 1918-1919 tetap tidak jelas, meski sampai sekarang dikenal sebagai “flu Spanyol,” tetapi kasus pertama mungkin terjadi di daratan Amerika Serikat.

Hasil gambar untuk pandemik adalah

Seratus tahun kemudian, tahun 2018 ini terjadi satu musim influenza paling parah sejak pandemi influenza A (H1/N1) tahun 2009, dengan tingginya kasus pasien rawat inap karena influenza. Meskipun banyak kemajuan dalam memahami, mencegah, dan mengobati influenza telah terjadi selama abad yang lalu, tetapi sangat mungkin dunia tetap terus berada dalam ancaman atas penyakit yang berpotensi mematikan ini.

Pada awal Februari 2018, CDC menunjukkan bahwa influenza terus menyebar di Amerika Serikat. Subtipe virus influenza yang dominan adalah influenza A H3N2. Musim ini telah terjadi peningkatan tajam kunjungan pasien rawat jalan untuk penyakit mirip influenza atau ‘Influenza-Like Illness’ (ILI) dan proporsi ILI mendekati 7,7%. Angka ini sudah mendekati tingkat pandemi flu babi H1N1 tahun 2009.

Hasil gambar untuk pandemi influenza

Angka kematian anak terkait flu telah meningkatkan pada tahun ini, lebih tinggi dari musim sebelumnya. Jumlah kunjungan pasien ILI telah melejit di UGD dan klinik rawat jalan, tetapi kebanyakan anak dengan influenza memiliki penyakit yang relatif ringan, yang dapat dikelola di rumah. Oleh sebab itu, jangan sampai setiap pasien perlu dirujuk ke UGD atau klinik RS terdekat.

Hasil gambar untuk pandemik adalah

Tingkat rawat inap juga meningkat pada musim ini, hampir sama dengan tahun 2014-2015. Pasien yang berusia 65 tahun ke atas selalu paling terpengaruh dalam hal tingkat rawat inap, tetapi anak berusia 0-4 tahun yang biasanya merupakan kelompok dengan tingkat rawat inap tertinggi kedua, ternyata sekarang tidak. Tingkat rawat inap pada anak sama atau lebih rendah dari pada musim sebelumnya.

Pada awal Februari 2018, CDC melaporkan bahwa telah terjadi 63 kematian anak, lebih tinggi dibandingkan musim sebelumnya. Pada hal, kematian terkait influenza pada anak sangat menakutkan, baik bagi dokter maupun orang tua dan keluarga. Untuk itu, orang tua dan keluarga haruslah diberdayakan dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda penyakit parah dan indikator untuk membawa anak ke UGD secepatnya. Gangguan pernapasan, kelesuan, atau tanda dehidrasi merupakan alasan utama bagi orang tua, untuk membawa anak mereka segera ke UGD RS terdekat.

Hasil gambar untuk pandemi influenza

Dokter sebaiknya mengetahui kapan harus menggunakan obat anti flu terbaik, yaitu oseltamivir (Tamiflu®) atau penghambat neuraminidase lainnya. CDC saat ini merekomendasikan penggunaan Tamiflu® secara dini, untuk kelompok berisiko tinggi akan terkena penyakit berat dan anak. Tamiflu® harus diberikan dalam waktu 48 jam setelah muncul gejala klinis. Namun demikian, kebanyakan orang dengan influenza akan memiliki penyakit yang relatif ringan, dan penggunaan Tamiflu® secara rutin tidak disarankan, untuk orang dalam kelompok di luar indikasi yang berisiko tinggi tersebut.

Ternyata lebih dari 80% anak yang meninggal terkait flu terbukti tidak divaksinasi. Hal ini penting diketahui bahwa vaksin influenza tetap merupakan sarana terbaik untuk pencegahan, dan masih belum terlambat untuk mendapatkan vaksin influenza. Komposisi vaksin influenza yang direkomendasikan untuk digunakan pada musim influenza tahun 2018-2019 adalah vaksin quadrivalent. Vaksin ini dapat memberikan kekebalan atas 4 jenis virus influenza, yaitu virus Michigan / 45/2015 (H1N1), virus Singapura / INFIMH-16-0019 / 2016 (H3N2), virus Colorado / 06/2017 (Victoria / 2/87); dan virus Phuket / 3073/2013 (Yamagata /16/88).

Hasil gambar untuk pandemi influenza

Strategi pencegahan tambahan adalah meningkatkan kebersihan tangan. Dokter harus memiliki akses yang tepat untuk membersihkan tangan, jaringan, dan sarung tangan, sehingga saat memberikan layanan medis kepada pasien, dokter tidak berkontribusi terhadap penyebaran penyakit di klinik atau RS kepada pasien lainnya. Selain itu, CDC merekomendasikan agar anak dengan influenza tetap tinggal di rumah sampai bebas demam, yaitu tanpa menggunakan obat penurun demam, selama 24 jam.

Hasil gambar untuk pandemik adalah

Momentum seratus tahun ‘Great Influenza’ tahun 1918, mengingatkan kita akan hebatnya mutasi virus influenza, sehingga selalu, berubah, ada dan mengancam kita. Pemberian obat oseltamivir (Tamiflu®) dan imunisasi influenza, tetap terbukti bermanfaat. Sudahkah kita bertindak bijak?

Hasil gambar untuk dr wikan indrarto

Sekian

Yogyakarta, 23 Februari 2018

*) dokter spesialis anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Lektor di FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA 081227280161

Categories
Istanbul

DOKTER CP

Hasil gambar untuk clinical pathway

DOKTER CP

fx. wikan indrarto*)

Sistem pembiayaan kesehatan dalam era JKN (Jaminan Kesehatan Nasional), disebut ‘case-mix’ untuk layanan dokter spesialis di RS (Rumah Sakit). Sistem tersebut mengubah secara hampir total mekanisme pembiayaan pasien, sehingga menuntut adanya perubahan pola kerja dan penggunaan sebuah panduan baru bagi dokter. Apa yang harus dicermati?

Hasil gambar untuk clinical pathway

Casemix adalah pengelompokan diagnosis penyakit pasien terkait biaya perawatan dalam grup yang memiliki gejala klinis dan pemakaian sumber daya yang sama. Casemix menggunakan dasar Indonesia Case Based Groups (INA-CBG’s) yang mempunyai 1.077 kelompok tarif terdiri dari 789 kode grup rawat inap dan 288 kode rawat jalan sesuai International Classification of Diseases (ICD) 10 untuk diagnosis, serta ICD 9 untuk tindakan medis.

Kunci keberhasilan layanan dokter di RS adalah ‘adaptability’ terhadap aturan yang baru, dengan perubahan paradigma pola pikir dokter spesialis dari ‘pasien saya’ menjadi ‘pasien kita’, dan menggunakan sebuah panduan terintegrasi. ‘Clinical Pathway’ (CP) adalah panduan rencana layanan terpadu yang merangkum setiap langkah yang akan diberikan kepada pasien, dengan hasil yang terukur dan dalam jangka waktu tertentu selama dirawat inap di RS. Penentuan jenis pemeriksaan penunjang medis, tidak boleh lagi ditentukan sepihak, tetapi harus atas kesepakatan antara dokter klinisi dan dokter spesialis patologi atau radiologi. Dengan menggunakan CP, akan terjadi pengendalian pemeriksaan penunjang medik dan penggunaan obat secara rasional, sehingga kendali mutu dan kendali biaya juga dapat tercapai, sehingga selisih bayar negatif dapat ditekan. Hal ini disebabkan karena obat dan alat kesehatan termasuk dalam pengeluaran atau ‘cost’, bukan lagi menjadi pendapatan atau ‘revenue’ RS.

Hasil gambar untuk clinical pathway

Dokter juga harus jeli, cerdas dan tegas dalam menentukan CP sesuai diagnosis kerja dan melakukan layanan sesuai CP setiap hari. Selain itu, juga merumuskan luaran klinis yang akan dicapai, bagaimana mencapainya dan kapan akan tercapai, dengan mengabaikan kompleksitas masalah medis pasien. Dengan demikian pasien dapat dicegah menjalani tindakan medis yang berlebihan, membuat pengobatan menjadi lebih efektif, dan pasien tidak perlu terlalu lama menjalani perawatan inap di RS. Dokter sebaiknya juga harus memahami tentang istilah ringan, sedang dan berat dalam kode INA-CBGs, yang bukan menggambarkan kondisi klinis pasien, namun menggambarkan tingkat keparahan (severity level) yang dipengaruhi oleh diagnosis sekunder. Selain itu, dokter juga harus mengetahui adanya pembayaran tambahan (Top Up) untuk kasus tertentu yang masuk dalam special Casemix Main Group (CMG), meliputi tindakan, obat, dan pemeriksaan khusus, juga alat bantu atau pengganti (protesa).

Hasil gambar untuk clinical pathway

Peran dokter pada hari terakhir perawatan pasien adalah menentukan diagnosis utama sesuai ‘WHO Morbidity Reference Group’, yaitu kondisi yang relevan bagi perawatan pasien yang telah terjadi, paling banyak menggunakan sumber daya atau hari rawatan paling lama, dan penyesuaian jenis spesialisasi dokter. Selain itu, juga merumuskan diagnosis sekunder yang merupakan komorbiditas ataupun komplikasi. Komorbiditas adalah penyakit yang menyertai diagnosis utama saat masuk RS dan membutuhkan layanan khusus setelah masuk dan selama rawat. Komplikasi adalah penyakit yang timbul dan memerlukan layanan tambahan sewaktu episode layanan, baik yang disebabkan oleh kondisi yang ada atau muncul akibat dari layanan yang diberikan kepada pasien. Sesuai Permenkes Nomor 27 Tahun 2014 Tentang Petunjuk Teknis Sistem INA-CBGs, diagnosis utama dan sekunder harus dirumuskan dan dituliskan secara lengkap oleh dokter, untuk mempermudah proses koding. Koding adalah proses pemberian kode diagnosis utama, diagnosis sekunder, dan prosedur tindakan medis.

Hasil gambar untuk clinical pathway

Pada akhir perawatan pasien, dokter sebaiknya juga terlibat membantu dalam proses koding, karena koding sangat menentukan besarnya biaya yang akan dibayarkan BPJS Kesehatan kepada RS. Pada tahap selanjutnya, Tim Casemix RS juga harus bekerja keras, solid dan tangguh dalam proses klaim kepada BPJS Kesehatan. Tugas tim adalah mengubah kertas berkas klaim menjadi uang, yang harus dilakukan secara harian dan tidak boleh ditunda. Personil Tim Casemix RS seharusnya ‘full time’ dan jumlah tenaga dalam tim ditingkatkan, sesuai dengan peningkatan jumlah pasien. Adanya masalah atau sengketa klaim harus cepat diselesaikan, kalau perlu dengan melibatkan dokter dengan ketentuan bahwa ‘cash is king’, meskipun tidak semua kasus sengketa klaim harus dimenangkan oleh RS.

Hasil gambar untuk clinical pathway

Dokter yang masih berparadigma ‘pasien saya’ cenderung akan menolak menggunakan ‘Clinical Pathway’ (CP) sebagai panduan layanan, yang berpotensi melakukan tindakan medis berlebihan dan memperlama perawatan pasien di RS. Selain itu, layanan dokter tersebut akan menimbulkan potensi ‘under coding’, hilangnya ‘top up’, dan menimbulkan selisih bayar negatif yang merugikan RS. Sudahkah para dokter peduli dan mematuhi panduan CP?

Hasil gambar untuk dr wikan indrarto

Sekian

Yogyakarta, 13 September 2017

*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak di RS Siloam @ LippoPlaza dan RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
Istanbul

Reimbursement JKN

Hasil gambar untuk reimbursement

PENGGANTIAN BIAYA LAYANAN KESEHATAN

fx. wikan indrarto*)

Reimbursement atau penggantian biaya, biasanya berarti menerima uang dalam pembayaran untuk uang yang telah dikeluarkan sebelumnya. Ini adalah istilah yang umum digunakan, namun memiliki arti yang sedikit berbeda dalam biaya layanan kesehatan. Apa yang harus disadari?

Hasil gambar untuk reimbursement

Reimbursement berasal dari bahasa Latin yaitu re (kembali) in (ke) bursa (dompet), sehingga arti harafiahnya adalah memasukkan uang kita kembali ke dompet. Banyak orang yang sudah terbiasa menerima penggantian biaya (reimbursed for expenses) oleh instansi tempatnya bekerja. Namun demikian, penggantian biaya layanan kesehatan untuk dokter dan rumah sakit adalah berbeda. Penyedia layanan kesehatan dibayar oleh perusahaan asuransi atau pemerintah, melalui sistem penggantian (reimbursement). Dokter dan petugas RS yang memberikan layanan medis kepada pasien, kemudian akan mengajukan penggantian biaya untuk layanan tersebut, kepada perusahaan asuransi atau pemerintah.

Hasil gambar untuk reimbursement

Sejak diberlakukannya program JKN (jaminan Kesehatan Nasional) pada 1 Januari 2014 di Indonesia, klaim biaya layanan kesehatan atas pasien peserta JKN harus diajukan secara kolektif oleh RS kepada BPJS Kesehatan maksimal tanggal 10 bulan berikutnya. Tagihan klaim ini baru disebut menjadi sah, setelah mendapat persetujuan Petugas Verifikator BPJS Kesehatan dan klaim tersebut diajukan kepada Kantor Cabang BPJS Kesehatan setempat. BPJS Kesehatan wajib membayar klaim RS paling lambat 15 (lima belas) hari kerja.

Hasil gambar untuk reimbursement

Terdapat beberapa istilah perlu dipahami, agar tidak rancu. Misalnya ‘outstanding claim’, yaitu berkas klaim yang sudah diajukan RS, sudah diverifikasi, dan tinggal menunggu pencairan dananya saja. ‘Dispute claim’, yaitu berkas klaim yang sudah diajukan RS dan sudah ada proses umpan balik dari verivikator, tetapi tidak dicapai kesepakatan, sehingga terjadi penolakan klaim atau gagal klaim. Klaim tunda atau ‘pending claim’ adalah berkas klaim yang pada tanggal 10 bulan berikutnya belum dilakukan verifikasi oleh petugas BPJS Kesehatan. Selain itu, ada juga klaim yang belum diajukan oleh RS, karena beban kerja pemberkasan yang semakin berat. Penyebab lainnya adalah tuntutan efisiensi kinerja RS terkait pemberkasan, termasuk untuk klaim luar paket seperti obat kemoterapi, obat kronis atau Program Rujuk Balik (PRB), dan sejenisnya.

Hasil gambar untuk reimbursement

Semakin besarnya klaim tunda dan gagal, secara langsung akan menjadi masalah bagi arus keuangan RS. Bahkan di sebuah RS swasta total klaim yang belum dicairkan oleh BPJS Kesehatan pernah mencapai Rp. 96.521.465.700, sebuah nominal yang sangat besar dan nyaris menembus batas psikologis Rp. 100 M. Tanpa perubahan aturan atau kebijakan tentang proses klaim, maka tentu akan semakin berisiko terhadap keberlangsungan operasional RS, menurunkan kenyamanan bekerja petugas kesehatan, dan bahkan pada profesionalitas para dokter.

Hasil gambar untuk reimbursement

Dokter dan RS tentu mengharapkan kelancaran pencairan klaim yang disebut ‘balance billing.’ Dengan demikian, berlarutnya pencairan klaim adalah tidak adil, ‘unbalance’, dan ilegal. Pengaturan penggantian biaya pada layanan kesehatan atau ‘Health Reimbursement Arrangements’ (HRA) oleh PBB (http://www.un.org/insurance/), hanya mengatur dana premi peserta yang tidak digunakan untuk biaya layanan kesehatan, agar dapat digunakan pada tahun berikutnya, tanpa dikenai pajak. Namun demikian, ‘Health Reimbursement Arrangements’ (HRA) di Indonesia, khususnya di RS swasta layak diterjemahkan secara lebih luas, termasuk sebagai aturan uang penjaminan, terutama pada pasien peserta JKN yang naik kelas perawatan di RS.

Klaim tunda tidak sepenuhnya merupakan kesalahan pihak dokter dan RS, maka pasien peserta JKN harus diberdayakan, dicerdaskan, dan dilibatkan dalam mengatasi masalah ini. Sebaiknya setelah selesai mendapatkan layanan di RS, pasien wajib membayar kepada RS total biaya layanan kesehatan. Penggantian biaya (reimbursement) kepada pasien akan dilakukan oleh RS, setelah klaim RS kepada BPJS Kesehatan telah cair. Perbedaan besaran nominal uang penjaminan dari pasien dan pembayaran oleh BPJS Kesehatan menjadi tanggung jawab RS.

Hasil gambar untuk reimbursement

Dengan kewajiban uang jaminan dari pasien peserta JKN ini, tentu akan berpengaruh baik kepada semua pihak. Uang jaminan ini bukan pembayaran selisih biaya atau tambahan biaya, sebagaimana diatur dalam Permenkes 4 Tahun 2017 maupun 52 Tahun 2016 Tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan Dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan. Pasien akan menjadi lebih bertanggungjawab atas derajad kesehatannya sendiri, RS mendapatkan dana segar untuk antisipasi terjadinya klaim tunda, dan perbaikan suasana kerja di RS, karena dokter dan karyawan menjadi lebih nyaman. Selain itu, verifikasi oleh petugas BPJS Kesehatan tentu akan menjadi lebih cepat, karena dorongan percepatan proses  verifikasi dan pencairan klaim akan juga dilakukan oleh pasien yang menghendaki proses penggantian biaya (reimbursement), tidak hanya oleh RS saja seperti selama ini terjadi.

Kendala pencairan klaim RS menyadarkan kita semua bahwa program JKN perlu dikritisi. Semua RS harus saling berkoordinasi untuk memperjuangkan perbaikan dan menerjemahkan ulang ‘Health Reimbursement Arrangements’ (HRA) pada era JKN, agar RS tidak mengalami defisit finansial. Apakah kita sudah terlibat membantu?

Hasil gambar untuk dr wikan indrarto

Sekian

Yogyakarta, 22 Februari 2018

*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

 

Categories
Istanbul

CAMPAK DI EROPA

Hasil gambar untuk campak

CAMPAK DI EROPA

fx. wikan indrarto*)

Di Kopenhagen Denmark pada Senin, 19 Februari 2018 dilaporkan bahwa di Eropa telah terjadi peningkatan kasus campak 400% di tahun 2017 dibandingkan tahun sebelumnya. Pada hal, wilayah Eropa hampir saja dinyatakan sebagai daerah bebas campak. Apa yang harus dicermati?

Hasil gambar untuk campak

Campak telah muncul kembali di Eropa, menyerang 21.315 orang dan menyebabkan 35 kematian pada tahun 2017. Data ini lebih tinggi dibandingkan rekor terendah, yaitu 5.273 kasus pada tahun 2016. Data ini disampakan pada pertemuan menteri kesehatan mengenai imunisasi di Podgorica, ibukota Montenegro, di Eropa selatan yang dimulai Selasa, 20 Februari 2018 untuk mewujudkan ‘the European Vaccine Action Plan’ (EVAP) by 2020.

Hasil gambar untuk eropa

Campak (rubeola, morbili, measles atau ‘gabagen’) adalah suatu penyakit infeksi virus yang sangat menular. Penyakit ini disebabkan karena infeksi virus campak dalam golongan paramixovirus. Penularan infeksi terjadi karena menghirup percikan ludah penderita campak. Campak menular sejak awal masa sakit sampai 4 hari sejak munculnya ruam kulit. Gejala klinis berupa demam, nyeri tenggorokan, pilek, batuk, nyeri otot, dan mata merah. Pada 2-4 hari kemudian muncul bintik putih kecil di mulut bagian dalam (bintik Koplik). Ruam (kemerahan di kulit) muncul 3-5 hari setelah timbulnya gejala di atas. 

Pada puncak penyakit, penderita merasa sangat sakit, ruamnya meluas serta suhu tubuhnya mencapai 40° Celsius dan 3-5 hari kemudian suhu tubuhnya turun, penderita mulai merasa baik dan ruam yang tersisa segera menghilang. Komplikasi campak adalah infeksi bakteri pada paru-paru (pneumonia), telinga tengah (otitis), otak (ensefalitis) dan kematian. Pada anak yang sehat dan gizi cukup, campak jarang berakibat serius. Orang yang rentan terhadap campak adalah balita, anak yang tidak mendapatkan imunisasi, dan mengalami gizi buruk.

Hasil gambar untuk campak

Setiap orang, baik anak maupun orang dewasa yang tidak divaksinasi, terlepas dari di mana mereka tinggal, tetap berisiko terkena penyakit campak dan menyebarkannya ke orang lain yang mungkin juga tidak mendapat divaksinasi. “Lebih dari 20.000 kasus campak, dan 35 orang meninggal pada tahun 2017 saja, merupakan tragedi di Eropa yang tidak dapat kami terima, “kata Dr Zsuzsanna Jakab, Direktur Regional WHO untuk Eropa.

Kemunduran jangka pendek ini tidak boleh menghalangi kita semua akan komitmen kita untuk menjadi generasi yang membebaskan sebanyak mungkin anak dari penyakit campak untuk selamanya. Wabah campak terjadi pada 1 dari 4 negara di Eropa. Lonjakan kasus campak pada tahun 2017 termasuk wabah besar (100 kasus atau lebih) di 15 dari 53 negara di Eropa.

Jumlah tertinggi orang yang terkena dampak campak dilaporkan di Rumania (5.562), Italia (5.006) dan Ukraina (4.767). Negara-negara ini telah mengalami berbagai tantangan dalam beberapa tahun terakhir, seperti penurunan cakupan imunisasi rutin secara keseluruhan, cakupan yang rendah secara konsisten di antara beberapa kelompok terpinggirkan, gangguan pasokan vaksin atau sistem surveilans penyakit yang berkinerja buruk. Tantangan tersebut sangat mirip dengan situasi di Indonesia.

Hasil gambar untuk eropa

Negara Eropa lain yang terjangkit campak adalah Yunani (967), Jerman (927), Serbia (702), Tajikistan (649), Prancis (520), Federasi Rusia (408), Belgia (369), Inggris (282), Bulgaria (167), Spanyol (152), Czechia (146) dan Swiss (105). Semua negara tersebut juga mengalami wabah besar, meskipun banyak di antaranya mengalami penurunan pada akhir tahun 2017.

Di Indonesia campak dinyatakan sebagai wabah atau KLB (kejadian Luar Biasa) apabila terdapat 5 atau lebih kasus klinis dalam waktu 4 minggu berturut-turut, yang terjadi secara mengelompok, dan dibuktikan adanya hubungan epidemiologis. Pada tahun 2016, jumlah KLB campak yang terjadi sebanyak 129 KLB dengan jumlah kasus sebanyak 1.511 kasus. Angka tersebut lebih tinggi bila dibandingkan dengan tahun 2015 dengan 68 KLB dan jumlah kasus sebanyak 831 kasus.

Hasil gambar untuk campak

Tindakan untuk menghentikan wabah campak di Eropa saat ini sudah dilakukan dan untuk mencegah kejadian campak baru, dengan melibatkan berbagai bidang. Intervensi ini termasuk meningkatkan kesadaran masyarakat, memberikan imunisasi kepada petugas profesional kesehatan dan orang dewasa dengan risiko tertentu, mengatasi tantangan dalam akses, dan memperbaiki perencanaan dan logistik pasokan vaksin campak.

Hasil gambar untuk campak

Sampai akhir 2016, menurut Regional Verification Commission (RVC) sebenarnya 42 dari 53 negara Eropa telah mampu menghentikan transmisi campak endemik. Namun demikian, wabah campak akan terus terjadi sampai setiap anak dan orang dewasa yang rentan di Eropa, telah terlindungi dengan imunisasi. Pelajaran yang sangat inspiratif tentang bahaya campak dari Eropa ini, mengingatkan kita akan pentingnya imunisasi. Apakah kita sudah diimunisasi campak?

RS Siloam Yogyakarta 1

Sekian

Yogyakarta, 20 Februari 2018

*) dokter spesialis anak dan Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Istanbul

MELAHIRKAN YANG MEMBAHAGIAKAN

Hasil gambar untuk melahirkan secara normal

MELAHIRKAN YANG MEMBAHAGIAKAN

fx. wikan indrarto*)

Pada Kamis, 15 Februari 2018 lalu, WHO mengeluarkan rekomendasi baru untuk layanan medis global bagi ibu hamil yang sehat, dengan mengurangi intervensi medis yang tidak perlu. Apa yang baru?

Di seluruh dunia, diperkirakan 140 juta kelahiran terjadi setiap tahun. Sebagian besar terjadi tanpa komplikasi pada ibu dan bayinya. Namun demikian, selama 20 tahun terakhir para dokter telah meningkatkan penggunaan intervensi medis, yang sebelumnya hanya digunakan untuk menghindari risiko atau mengatasi komplikasi, seperti infus oksitosin untuk mempercepat persalinan atau tindakan operasi caesar. Meningkatnya proses bantuan medis untuk persalinan normal, adalah meremehkan kemampuan ibu untuk melahirkan, dan berdampak negatif pada pengalaman melahirkannya.

Hasil gambar untuk melahirkan secara normal

Sekitar 830 ibu meninggal karena komplikasi kehamilan atau persalinan di seluruh dunia setiap hari, meskipun sebenarnya sebagian besar dapat dicegah dengan intervensi medis selama kehamilan dan saat persalinan. Menurut Profil Kesehatan Indonesia 2016, terdapat 4.121.117 ibu atau 80,61% yang menjalani persalinan dengan ditolong oleh tenaga kesehatan dan dilakukan difasilitas kesehatan di Indonesia. Sedangkan Provinsi Maluku Utara memiliki capaian terendah hanya sebesar 17,79%, diikuti oleh Maluku sebesar 25,71%, dan Papua sebesar 39,18%. Namun demikian, tindakan operasi pembedahan caesar di seluruh RS telah dilakukan pada 480.622 ibu, jauh lebih banyak dibandingkan persalinan normal per vaginal, yang hanya terjadi pada 309.223 ibu.

Hasil gambar untuk melahirkan secara normal

Pada persalinan yang berjalan normal, dengan ibu dan janin dalam kondisi baik, mereka sebenarnya tidak perlu menerima intervensi medis tambahan, untuk mempercepat persalinan. Melahirkan adalah proses fisiologis normal yang dapat dilakukan, tanpa komplikasi bagi mayoritas ibu dan bayi. Namun demikian, penelitian menunjukkan, bahwa sebagian besar ibu hamil sehat menjalani setidaknya satu intervensi klinis selama persalinan dan kelahiran. Mereka juga sering mengalami intervensi rutin yang tidak perlu dan justru berpotensi membahayakan.

Pedoman WHO yang baru mencakup 56 rekomendasi berbasis bukti, mengenai layanan medis yang dibutuhkan selama persalinan, dan segera setelahnya, pada ibu dan bayinya. Rekomendasi ini termasuk pendamping selama proses persalinan yang dipilih ibu sendiri, memastikan layanan medis dan komunikasi yang baik antara ibu dan petugas kesehatan, menjaga privasi dan kerahasiaan, serta mendukung ibu membuat keputusan tentang manajemen rasa sakit, posisi persalinan dan kelahiran mereka, dan bahkan dorongan alami untuk mengejan.

Hasil gambar untuk melahirkan secara normal

Untuk mengurangi intervensi medis yang tidak perlu, pedoman WHO menyatakan bahwa tolok ukur tingkat pembukaan serviks 1 cm per jam selama kala I fase aktif, yang diketahui dengan partograf atau bagan catatan jalannya persalinan normal, sebaiknya tidak lagi dilakukan. Hal ini karena tidak realistis bagi beberapa ibu dan tidak akurat dalam mengidentifikasi ibu yang berisiko mengalami kelahiran yang sulit (may be unrealistic for some women and is inaccurate in identifying women at risk of adverse birth outcomes). Pedoman tersebut menekankan bahwa tingkat pembukaan atau dilatasi serviks yang lebih lambat saja, seharusnya tidak boleh menjadi indikasi rutin untuk dilakukannya intervensi medis, termasuk operase pembedahan caesar guna mempercepat persalinan.

Hasil gambar untuk melahirkan secara normal

Banyak ibu yang menginginkan kelahiran alami dan lebih suka mengandalkan tubuh mereka untuk melahirkan bayi mereka, tanpa bantuan intervensi medis. Namun demikian, apabila ibu memerlukan intervensi medis yang dibutuhkan, seharusnya ibu dilibatkan dalam membuat keputusan, tentang tindakan yang akan mereka terima. Hal ini ternyata penting untuk memastikan bahwa ibu mampu memenuhi tujuan mereka, untuk melahirkan yang membahagiakan secara positif.

Dokter dan bidan harus memberi tahu ibu hamil yang sehat, bahwa durasi persalinan bervariasi antar ibu. Meskipun kebanyakan ibu menginginkan persalinan dan kelahiran alami, mereka juga menyadari bahwa kelahiran dapat menjadi peristiwa yang tidak dapat diprediksi dan berisiko, sehingga diperlukan pemantauan yang ketat dan kadang bahkan diperlukan intervensi medis. Namun demikian, ketika intervensi medis dibutuhkan atau diinginkan, ibu biasanya ingin mempertahankan rasa pencapaian dan kontrol pribadi dengan terlibat dalam pengambilan keputusan, termasuk dengan memberi ASI eksklusif untuk bayi mereka setelah melahirkan. Hal ini karena metode pertolongan persalinan yang dilakukan dengan tindakan medis, memiliki resiko lebih besar untuk ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada bayinya.

Hasil gambar untuk menyusui

Dr. Princess Nothemba Simelela, WHO Assistant Director-General for Family, Women, Children and Adolescents menekankan bahwa setiap persalinan adalah unik (childbirth is unique) dan persalinan yang alami akan melahirkan bayi yang sehat (a good birth goes beyond having a healthy baby). Pedoman baru ini merupakan langkah untuk mengurangi tingkat intervensi medis yang tidak perlu atau tidak efektif, agar ibu dapat melahirkan secara membahagiakan. Sudahkah kita bertindak bijak?

 

Hasil gambar untuk dr wikan indrarto

 

Sekian

Yogyakarta, 19 Februari 2018

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
Istanbul

DEPRESI PADA ANAK

Hasil gambar untuk depresi pada anak

DEPRESI PADA ANAK

fx. wikan indrarto*)

Gangguan depresi berat dialami oleh sekitar 3% anak usia sekolah dan 6% remaja, sehingga terjadi peningkatan penggunaan obat antidepresan oleh anak dan remaja dalam beberapa dekade terakhir. Meta analisis penelitian terbaru tentang obat antidepresan pilihan untuk anak, dapat dibaca dalam Newsmedscape 12 Januari 2017 (lihat http://www.medscape.com/viewarticle). Apa yang sebaiknya kita cermati?

Hasil gambar untuk depresi pada anak

Semua jenis gangguan mental pada remaja berhubungan dengan bunuh diri, termasuk gangguan bipolar afektif, episode depresi, gangguan depresi berulang dan gangguan suasana hati persisten, misalnya cyclothymia dan dysthymia. Oleh karena depresi adalah faktor risiko yang signifikan pada bunuh diri, maka depresi wajib diketahui dan dikelola dengan tepat. Diperkirakan bahwa 30% dari pasien remaja pada praktek dokter umum juga menderita depresi, dan sekitar 60% pasien depresi yang mencari pengobatan, pada awalnya datang di praktek dokter umum.

Hasil gambar untuk depresi pada anak

Ini merupakan tantangan khusus bagi dokter umum untuk bekerja dengan baik, mengenali adanya penyakit fisik dan gangguan mental pada remaja yang terjadi secara bersamaan. Gejala klinis umum depresi adalah kelelahan, kesedihan, kurangnya konsentrasi, gelisah, lekas marah, gangguan tidur, dan sakit di bagian tubuh yang berpindah-pindah. Gejala tersebut harus diwaspadai dokter dan gambaran klinis spesifik yang terkait dengan peningkatan risiko bunuh diri pada pasien depresi adalah sulit tidur yang lama atau ‘persistent insomnia’, mengabaikan diri atau ‘self-neglect’, penyakit berat terutama depresi psikotik, berkayal atau ‘aired memory’, mengamuk atau ‘agitation’, dan serangan cemas atau ‘panic attacks’.

Tulisan berjudul ‘Most Antidepressants Ineffective for Kids With Depression’, pada Newsmedscape 9 Juni 2016, menjelaskan bahwa sebagian besar obat antidepresan tidak efektif, dan beberapa bahkan mungkin tidak aman, untuk anak dan remaja dengan gangguan depresi berat. Tulisan lain yang berjudul ‘Is This Really the Best Drug to Treat Depression in Children?’ pada Perspectivesmedscape 14 Desember 2016, berisi laporan sebuah penelitian meta-analisis dari uji klinis obat depresi, ternyata yang memiliki hasil yang jelas hanyalah fluoxetine. Tulisan berjudul ‘No New Antidepressants in Sight Despite Growing Need, Experts Warn’ dalam Newsmedscape 12 Januari 2017, menegaskan mungkin perlu waktu setidaknya 10 tahun lagi sampai generasi baru obat antidepresan tersedia di pasar, meskipun ada bukti bahwa kasus depresi dan cemas meningkat di seluruh dunia.

Hasil gambar untuk depresi pada anak

Uji klinis yang dianalisis adalah penelitian yang menggunakan obat antidepresan amitriptyline, citalopram, clomipramine, desipramine, duloxetine, escitalopram, fluoxetine, imipramine, mirtazapine, nefazodone, nortriptyline, paroxetine, sertraline, dan venlafaxine. Keluaran klinis yang dilakukan dalam metaanalisis adalah perubahan keseluruhan dalam gejala depresi, serta frekuensi penghentian terapi karena efek samping obat. Selain itu, juga munculnya ide bunuh diri atau perilaku menyimpang sebagai efek samping obat. Lebih dari 5.700 hasil penelitian telah diidentifikasi dan 34 uji klinis acak terkontrol yang memenuhi kriteria, dipilih untuk analisis. Jumlah total subyek penelitian adalah 5.200, dengan rata-rata 159 setiap penelitian. Usia rata-rata anak adalah 13,6 tahun dan 53% adalah anak perempuan.

Hasil gambar untuk dr wikan indrarto

Hanya terbukti ada tiga jenis obat antidepresi yang menunjukkan keberhasilan yang lebih besar dibandingkan plasebo, yaitu fluoxetine, escitalopram, dan sertraline. Sebaliknya, tolerabilitas obat antidepresi pada anak duloxetine, imipramine, sertraline, dan venlafaxine lebih rendah dibandingkan plasebo. Namun demikiaan, pada saat dilakukan analisis gabungan efikasi dan tolerabilitas, hanya fluoxetine yang secara konsisten lebih baik dibandingkan dengan plasebo. Venlafaxine adalah satu-satunya obat antidepresi yang dikaitkan dengan risiko signifikan lebih besar untuk perilaku bunuh diri atau ‘ideation’ dibandingkan dengan plasebo, serta dibandingkan dengan lima obat yang lain. Dalam analisis gabungan pada fluoxetine, 76,6% anak dengan depresi mengalami respon positif dan disimpulkan bahwa hanya fluoxetine yang secara signifikan lebih efektif daripada plasebo, dan ukuran efek ini dianggap berada di kisaran menengah.

Hasil gambar untuk depresi pada anak

Sampai saat ini fluoxetine adalah obat dengan data yang paling lengkap pada anak dan satu-satunya obat antidepresi yang secara konsisten menunjukkan efikasi dan tolerabilitas, sehingga menjadi obat anti depresi pilihan utama. Namun demikian, belum dapat disimpulkan bahwa obat lain tidak efektif. Hal ini disebabkan karena tidak sebanding dengan fluoxetine yang telah digunakan dalam 10 uji klinis, sedangkan obat lain yang mungkin juga efektif, tetapi dengan hanya dua atau tiga uji klinis yang melibatkan subyek rata-rata 159 anak, sehingga tidak tersedia cukup data.

Hasil gambar untuk depresi pada anak

Momentum ‘World Suicide Prevention Day’ setiap tanggal 10 September dan tulisan di Newsmedscape 12 Januari 2017 lalu, mengingatkan usaha kita bersama dalam mencegah bunuh diri pada remaja. Depresi dan gangguan mental merupakan faktor risiko utama untuk bunuh diri. Pengenalan dan pengelolaan depresi dengan obat antidepresi utama pada remaja dan dewasa muda, merupakan bagian penting dalam strategi pencegahan bunuh diri. Sudahkah kita peduli?

Hasil gambar untuk dr wikan indrarto

Sekian

Yogyakarta, 15 Februari 2018

*) dokter spesialis anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA 081227280161

Categories
Istanbul

HARI GINJAL SEDUNIA

HARI GINJAL  SEDUNIA  2018

fx. wikan indrarto*)

Hari Ginjal Sedunia (World Kidney Day) yang dirayakan setiap tanggal 8 Maret, bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya ginjal kita, terhadap keseluruhan kesehatan kita, dan untuk mengurangi frekuensi dan dampak penyakit ginjal dan masalah kesehatan yang terkait di seluruh dunia. Apa yang perlu diketahui?

Tema tahun 2017 adalah Penyakit ginjal dan obesitas, sedangkan tema tahun 2018 adalah Ginjal dan Kesehatan Wanita: Libatkan, Bernilai, dan Berdayakan. Penyakit ginjal kronis atau Chronic Kidney Disease (CKD) adalah masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia dengan hasil akhir yang buruk, yaitu gagal ginjal dan kematian dini. CKD mengenai sekitar 195 juta wanita di seluruh dunia, dan saat ini merupakan penyebab utama kematian ke-8 pada wanita, hampir mendekati 600.000 kematian setiap tahun.

CKD lebih cenderung terjadi pada wanita, dengan prevalensi rata-rata 14% pada wanita dan 12% pada pria. Namun, jumlah wanita yang menjalani cuci darah atau dialisis lebih rendah dari pria. Setidaknya ada tiga alasan utama, yaitu perkembangan CKD lebih lambat pada wanita dibandingkan pria, hambatan psiko-sosial ekonomi seperti kesadaran penyakit yang lebih rendah menyebabkan keterlambatan dialisis pada wanita, dan akses perawatan yang tidak merata.

Beberapa penyakit ginjal, seperti nefropati lupus atau infeksi ginjal (pielonefritis akut atau kronis) biasanya mengenai wanita. Nefritis lupus adalah penyakit ginjal yang disebabkan oleh penyakit autoimun, yang merupakan gangguan sistem kekebalan tubuh yang menyerang sel dan organ sendiri. Pyelonephritis adalah infeksi yang berpotensi parah yang melibatkan satu atau kedua ginjal. Infeksi ginjal, seperti kebanyakan infeksi saluran kemih, lebih sering terjadi pada wanita dan risikonya meningkat pada saat kehamilan. Untuk memastikan hasil klinis yang baik, kebanyakan penyakit ginjal memerlukan diagnosis dan pengobatan yang tepat waktu.

Hasil gambar untuk gagal ginjal

CKD juga dianggap sebagai faktor risiko untuk hasil kehamilan yang merugikan dan mengurangi kesuburan. Wanita yang memiliki CKD berisiko tinggi mengalami hasil buruk bagi ibu dan bayi. Kehamilan pada wanita dengan CKD stadium lanjut paling sulit diatasi, dengan tingginya kejadian hipertensi dan kelahiran bayi prematur. CKD mungkin telah mengurangi kesuburan namun konsepsi mungkin saja dapat terjadi, bahkan meskipun jarang. Dengan dialisis, hasil kehamilan mungkin dapat membaik dengan perawatan cuci darah atau dialisis intensif, yaitu hampir setiap hari, sehingga memerlukan program dialisis khusus untuk wanita usia subur dan hamil.

Hasil gambar untuk gagal ginjal

pasien dalam layanan cuci carah atau dialisis.

Komplikasi terkait kehamilan terbukti meningkatkan risiko penyakit ginjal. Misalnya pre-eklampsia, yaitu sindrom di mana terjadi cacat implantasi plasenta, akan mempengaruhi ginjal normal yang memicu terjadinya hipertensi dan proteinuria. Pre-eklamsia ini merupakan salah satu dari 3 penyebab utama kematian maternal. Preeklamsia, aborsi septik (infeksi plasenta) dan perdarahan post partum (perdarahan utama setelah melahirkan) adalah penyebab utama terjadinya cedera ginjal akut atau acute kidney injury (AKI) pada wanita muda, dan mungkin akan berlanjut menjadi CKD pada ibu yang selamat.

Hasil gambar untuk gagal ginjal

Beban komplikasi penyakit ginjal sangat tinggi pada ibu di negara berkembang, karena akses yang tidak mencukupi untuk mendapatkan perawatan pranatal yang universal dan tepat waktu. Selain itu, juga penanganan medis yang tidak tepat pada ibu hamil dengan preeklampsia, dan kurangnya ketersediaan fasilitas dialisis untuk AKI berat. Untuk itu, diperlukan kesadaran yang lebih tinggi, diagnosis yang tepat waktu, dan penanganan CKD yang bermutu pada kehamilan. Pada gilirannya, kehamilan mungkin juga merupakan kesempatan yang berharga untuk diagnosis dini CKD, yang memungkinkan perencanaan intervensi terapeutik.

Katastropik (‘catastropic’) berarti bencana atau malapetaka, karena pengelolaan penyakit tersebut berbiaya tinggi dan secara medis dapat terjadi komplikasi yang membahayakan jiwa pasien. Terdapat 8 (delapan) penyakit katastropik pada era JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) antara lain jantung, gagal ginjal, kanker organ, stroke, sirosis hepatis, thalasemia, kanker darah atau leukemia, dan hemofilia. Jumlah biaya layanan kesehatan penyakit katastropik di Indonesia dari total biaya pada tahun 2016 mencapai 24,81%. Berdasarkan data klaim JKN sampai dengan bulan bayar Januari 2017, penyakit jantung paling banyak membutuhkan biaya pengobatan, yaitu Rp. 6,9 T dan sangat membebani anggaran JKN. Kemudian disusul penyakit kanker Rp. 1,8 T, stroke Rp. 1,5 T, ginjal Rp. 1,5 T, dan diabetes Rp. 1,2 T. Namun demikian, tidak tersedia data apakah pembiayaan sebesar itu telah memberikan luaran medis yang sepadan.

Hasil gambar untuk bpjs

Momentum Hari Ginjal Sedunia (World Kidney Day) dan Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day) Kamis, 8 Maret 2018 yang diperingati pada hari yang sama, mengingatkan kita akan pentingnya kesehatan perempuan dan khususnya kesehatan ginjal mereka. Selain itu, Hari Ginjal Sedunia ke 13 tahun 2018 ini, menganjurkan akses yang terjangkau dan merata kepada edukasi atau pendidikan kesehatan, layanan kesehatan, dan pencegahan penyakit ginjal, khususnya bagi semua wanita dan anak perempuan di seluruh dunia. Sudahkah kita bertindak?

sekian

Yogyakarta, 8 Februari 2018

Hasil gambar untuk wikan indrarto

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak, Lektor di FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA 081227280161

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?