Categories
anak antibiotika COVID-19 dokter Healthy Life UHC vaksinasi

2025 ISPA HMPV

ISPA HMPV

fx. wikan indrarto*)

Sebagian tulisan ini telah dimuat di Harian Nasional Media Indonesia Rabu, 15 Januari 2025

https://mediaindonesia.com/opini/734459/ispa-hmpv-human-meta-pneumo-virus

Sejak awal Januari 2025 sedang terjadi peningkatan kejadian ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), termasuk yang disebabkan oleh HMPV (Human Meta Pneumo Virus), dari Cina yang menyebar sampai ke Indonesia. Apa yang perlu diwaspadai?

Peningkatan ini biasanya disebabkan oleh epidemi musiman patogen pernapasan seperti influenza musiman, respiratory syncytial virus (RSV), dan virus pernapasan umum lainnya, termasuk HMPV serta mycoplasma pneumoniae. HMPV adalah virus pernapasan umum yang ditemukan beredar di banyak negara pada musim dingin hingga musim semi, meskipun tidak semua negara secara rutin menguji dan menerbitkan data tentang tren HMPV. Virus ini memiliki karakteristik mirip dengan flu biasa, dengan gejala seperti batuk kering atau berdahak, pilek atau hidung tersumbat, demam ringan hingga tinggi, sakit tenggorokan, sesak napas, mudah lelah, dan kehilangan nafsu makan.

Sebagian besar orang yang terinfeksi akan pulih dengan sendirinya tanpa memerlukan perawatan khusus. Hanya beberapa kasus memerlukan dirawat inap di rumah sakit karena bronkiolitis, bronkitis atau pneumonia, sedangkan kebanyakan orang yang terinfeksi HMPV akan pulih setelah beberapa hari. Penularan virus HMPV serupa dengan virus flu lainnya, yaitu melalui percikan air liur atau droplet dari individu yang terinfeksi. Meskipun umumnya tidak berbahaya, kelompok rentan seperti anak, orang lanjut usia, dan individu dengan kondisi kesehatan tertentu tetap perlu waspada.

Diagnosis ISPA HMPV dilakukan melalui pemeriksaan medis, terutama jika gejala parah atau tidak membaik setelah beberapa hari. Dokter dapat merekomendasikan 3 jenis pemeriksaan penunjang medis, bila diperlukan. Pertama adalah tes swab nasofaring (usap tenggorok) untuk mendeteksi RNA virus melalui teknik reverse-transcription polymerase chain reaction (RT-PCR). Kedua, pemeriksaan darah untuk mengukur kadar antibodi atau tanda infeksi lainnya. Dan ketiga, rontgen dada jika dicurigai pneumonia.

Berdasarkan data yang diterbitkan oleh Tiongkok, yang mencakup periode hingga 29 Desember 2024, ISPA telah meningkat selama beberapa minggu terakhir dengan kuman penyebab virus influenza musiman, rhinovirus, HMPV, dan mycoplasma pneumoniae khususnya di provinsi bagian utara Tiongkok. Sepertinya hanya Tiongkok yang telah memiliki sistem pengawasan sentinel yang mapan untuk ISPA, termasuk hMPV, dan melakukan pengawasan virologi rutin untuk patogen pernapasan umum dengan laporan terperinci yang diterbitkan setiap minggu di situs web Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok (CDC). Data pengawasan dan laboratorium untuk HMPV tidak tersedia secara rutin dari semua negara, termasuk di Indonesia.

Virus Influenza saat ini merupakan penyebab penyakit pernapasan yang paling banyak dilaporkan, dengan tingkat positif tertinggi di antara semua patogen yang dipantau untuk semua kelompok umur, kecuali anak berusia 5-14 tahun yang memiliki tingkat positif tertinggi untuk mycoplasma pneumoniae. Tingkat ISPA yang dilaporkan di Tiongkok, termasuk HMPV, berada dalam kisaran yang telah diprediksi untuk musim dingin, tanpa pola wabah yang tidak biasa yang dilaporkan. Pihak berwenang Tiongkok mengonfirmasi bahwa sistem perawatan kesehatan tidak kewalahan, pemanfaatan rumah sakit saat ini lebih rendah daripada waktu yang sama tahun lalu, dan tidak ada deklarasi darurat kesehatan. Berdasarkan penilaian risiko saat ini, WHO menyarankan agar semua negara tidak melakukan pembatasan perjalanan atau perdagangan apapun yang terkait dengan tren ISPA terkini.

Meskipun HMPV dilaporkan telah menyebar dan ditemukan di Indonesia pada Senin, 6 Januari 2025 dengan semua kasus adalah anak, tetapi masyarakat diharapkan untuk tidak panik. Virus HMPV berbeda dengan virus COVID-19 yang merupakan virus baru, karena HMPV adalah virus lama yang sifatnya mirip dengan flu, sudah ada dan telah beredar ke seluruh dunia sejak 2001. Sistem imunitas manusia sudah mengenal virus ini sejak lama dan mampu meresponsnya dengan baik, bahkan selama ini juga tidak terjadi hal buruk.

Hingga saat ini, belum tersedia dan juga berlum diperlukan obat antivirus atau vaksin spesifik untuk HMPV. Namun, gejala  HMPV dapat dikelola dengan beberapa langkah berikut. Menggunakan pelembab udara (humidifier) untuk membantu kelegaan pernapasan, minum air putih atau teh hangat untuk mengurangi iritasi tenggorokan, istirahat yang cukup untuk memulihkan daya tahan tubuh. Juga minum obat pereda nyeri seperti acetaminophen atau ibuprofen untuk membantu meredakan demam dan nyeri, menggunakan pengobatan simptomatik untuk mengurangi keluhan yang dialami, seperti obat untuk meredakan hidung tersumbat atau batuk. Selanjutnya perlu memantau gejala yang dialami secara intensif dan segera berkonsultasi dengan dokter jika gejala memburuk.

Karena itu, sekali lagi masyarakat dihimbau untuk menjaga pola hidup sehat, seperti cukup istirahat, mencuci tangan secara rutin, memakai masker saat merasa tidak enak badan, dan segera berkonsultasi dengan dokter jika muncul gejala yang mencurigakan. Juga wajib bersikap tetap tenang dan waspada. Dengan mengikuti protokol kesehatan 3M, menjaga jarak, mencuci tangan dan memakai masker, sama seperti saat pandemi COVID-19, kita dapat mengatasi HMPV ini dengan baik.

Yogyakarta, 8 Januari 2025

*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Alumnus S3 UGM, WA :  081227280161

Categories
anak COVID-19 dukacita

2025 Melepas Yangti Nanik

MELEPAS  YANGTI  NANIK

fx. wikan indrarto*)

Eyang Puteri Yustina Nanik Karsini (ibu saya dan selanjutnya disebut Yangti Nanik) sempat bertirahbaring di rumah mas Ig. Toto Ismintarto (kakak saya) di Villa Pamulang, Tangerang Selatan, Banten selama lebih dari 4 tahun, sejak sebelum pandemi COVID-19.

Perayaan Natal terakhir bersama dengan Yangti, yaitu Natal 2024

Yangti menderita penyakit Parkinson dan stroke ringan sejak awal Januari 2020 tepat sebelum pandemi COVID-19. Penyakit Parkinson yang dialami Yangti bertambah terus ‘stage Hoehn and Yahr’. Kita diingatkan bahwa Skala Hoehn dan Yahr yang diterbitkan pada tahun 1967 digunakan untuk membedakan lima tahap penyakit Parkinson, dari gangguan satu sisi tubuh atau unilateral (Tahap 1) hingga gangguan dua sisi tubuh atau bilateral, tanpa kesulitan kontrol postural (Tahap 2), ketidakstabilan berdiri atau postural (Tahap 3), hingga hilangnya kemandirian fisik (Tahap 4), dan akhirnya mencapai stadium akhir yang harus berbaring di tempat tidur (Tahap 5). Kondiasi ini menyebabkan Yangti harus terbaring di tempat tidur (bedridden), 2x masuk RSUP Fatmawati Jakarta, dan 3x mengalami luka tekan di bagian tubuh yang terkena kasur (decubitus). Bahkan luka dekubitus yang terakhir masih menganga lebar, 3x mendapat suntikan antibiotik di rumah, infus NaCl 3%, kadang ditambah terapi hirupan atau nebulizer, dan makan menu cair yang masuk lewat pipa lambung (NGT).

dokumentasi : https://drive.google.com/drive/folders/1BuXg1-Orjtl0usKSyUoz-wQpHnxRngrm

Berkat bantuan beberapa pihak yang baik hati, Yangti didampingi kakak berdua (mas Toto dan mbak Tari, seorang dokter spesialis saraf di RSUP Fatmawati Jakarta) dan pramurukti (mbak Amy Amanah), dihantar pulang ke rumah Kauman 348 Salaman, Magelang menggunakan Ambulance pada hari Minggu, 1 Desember 2024. Sejak itu, sangat banyak tetangga, kenalan, saudara dan murid Yangti yang datang berkunjung memberikan peneguhan. Bersyukur sekali Yangti seringkali merespon, baik dengan gerakan tangannya yang lemah, air mata yang menetes, buka mata yang sekejap atau engahan suara tanpa arti.

Yangti terbaring lemah di dalam ambulance transport yang dilengkapi peralatan medis, didampingi mas Toto dan mbak Tari, menuju rumah kebanggannya di Kauman, Salaman, Magelang, Jawa Tengah

Malam pertama Yangti berbaring di rumah Kauman, Salaman Magelang, Jawa Tengah sesuai permintaan yang di-‘ucapkannya’ pada hari Minggu, 1 Desember 2024, setelah lebih dari 4 tahun di rumah Mas Toto di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten

Mbak Esthi (cucu Yangti) berpamitan kepada Yangti, karena liburan Natalnya sudah habis dan harus kembali bekerja di Bali

Tepat sebulan setelah Yangti berbaring di kamar yang dirancang Eyang Kakung Heribertus Sukiman Tondodarsono (selanjutnya disebut Yangkung yang telah  meninggal pada tahun 2009), pada hari Rabu, 1 Januari 2025 siang yang merupakan hari libur, kami berdua melaju dari rumah Timoho Yogyakarta menuju Salaman, Magelang Jawa Tengah. Ini adalah sebuah kunjungan tidak terencana, karena biasanya kami sowan Yangti pada hari Minggu pagi. Oleh sebab itu, siang yang mendung kami membeli bunga tabur di dekat Tugu Yogyakarta dan meluncur melalui jalan alternatif menghindari keramaian lalu lintas. Kami menyusuri teritorial Kapanewon Mlati dan Sayegan di Kabupaten Sleman, menyeberang Sungai Progo di Jembatan Ancol untuk masuk ke Kapanewon Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo lanjut menyusuri Sungai Progo yang berarus deras untuk masuk ke Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Perjalanan kami melalui jalur alternatif sungguh menyingkat waktu, dibandingkan melalui jalan nasional melewati Muntilan, yang padat sangat merayap oleh kendaraan pelancong pada pergantian tahun. Bunga yang kami beli untuk ditaburkan di makam Yangkung di Mendut terpaksa kami tetap simpan di mobil, entah mengapa kami memutuskan untuk langsung ke rumah Salaman, tidak mampir makam terlebih dahulu seperti kebiasaan sebelumnya.

Keluarga Bulik Partinah datang dari Bekasi Jawa Barat dan Melbourne Australia mengunjungi Yangti

Sampai di rumah Salaman kami segera bergegas menurunkan beberapa barang yang kami beli di Yogyakarta untuk kebutuhan Yangti, dan segera menghampiri Yangti yang nampak semakin lemah, lunglai dan letih dengan napas yang berbunyi karena banyak dahak tertahan di jalan napasnya. Mama Sari segera mengajak mbak Amy keluar ke Pasar Salaman untuk membeli keperluan Yangti lainnya dan lanjut RM Sumber Rejeki di pinggir jalan besar menuju Magelang, untuk makan siang menu kegemaran mbak Amy menjelang sore.

Tidak lama kemudian kedua sahabat kami, yaitu mas Isdiyanto (dokter purna karya dari RSUD Sunan Kalijaga Demak, Jawa Tengah) dan mbak Titik Purwaningsih (dokter gigi kepala Puskesmas Gajah di Demak, Jawa Tengah) sampai di rumah Salaman, untuk mengunjungi Yangti. Setelah disuguhi minuman teh manis hangat oleh Bulik Sunariyah (82 tahun, adik bungsu Yangkung), kami bertiga langsung terlibat dalam cerita yang mengasyikkan, di kamar tamu yang berbatasan dengan sebuah tembok penuh ditempeli banyak foto kenangan dalam pigura, dengan kamar Yangti. Belum kelar kami berbagi cerita, tetiba ada seorang bapak memanggil mbak Amy di depan pintu samping barat rumah Yangti. Saya segera menemuinya dan menerima sebuah bungkusan plastik yang ternyata diminta membayar kiriman yang datang atau COD. Untuk menghindari penipuan saya menelphon mama Sari untuk menanyakan kepada mbak Amy, apakah benar memesan sebuah barang yang harus saya bayar secara COD. Saat itu juga Bulik Sunariyah datang menghampiri kami dan setelah mendapat konfirmasi dari mbak Amy, segera transaksi non tunai kami lakukan di depan pintu barat rumah Yangti.

Proses yang sedikit menelan waktu itu, diselengi suara Yangti yang terdengar akan mengeluarkan dahak lewat mulutnya dan membuat mbak Titik mendekat untuk membersihkan mulut Yangti. Segera saya taruh bingkisan COD pesanan mbak Amy di sebuah meja kecil, untuk bergegas menggantikan posisi mbak Titik di sebelah kanan badan Yangti yang tergolek miring ke kanan. Begitu banyak dahak yang telah keluar dari jalan napas dan tertahan di mulut Yangti. Segera saya kenakan sarung tangan dan membersihkannya dengan kertas tissue, karena tidak ada alat suction elektrik penyedot lendir di kamar besar itu. Sambil saya bersihkan lendir, dahak dan liur Yangti, saya saksikan wajah Yangti semakin pucat, bahkan napasnya semakin pelan, berat dan tersendat. Juga teraba kulit lehernya demam cukup tinggi.

Spontan saya teringat tarikan napas terakhir Yangkung di kamar sebelah di rumah yang sama, pada Jumat malam, 20 Februari 2009. Vibesnya serupa (vibes adalah kata gaul yang digunakan untuk menggambarkan suasana, perasaan, atau energi yang dirasakan dalam suatu momen. Kata ini berasal dari bahasa Inggris “vibe” yang artinya atmosfer). Saya ingat pasti dalam sekejap, yakin tanpa salah, ini sangat serupa dengan kondisi Yangkung sebelum meninggal.

Segera saya berpura menanyakan kepada Yangti apakah akan segera berpulang. Tanpa menunggu jawaban, saya segera menyampaikan bahwa kalau Yangti hendak segera berpulang, menghadap Tuhan Maha Besar dan menyatu dengan Yangkung, kami semua, yaitu anak, menantu, cucu dan cicit sudah iklas dan siap. Saya mohonkan Yangti berpulang dalam kondisi bersih, dengan saya terus mengeringkan lendir di mulutnya dengan kertas tissue berulang-ulang. Didampingi mbak Titik di sebelah kiri badan Yangti yang semakin pucat, saya terus mengulangi kata-kata peneguhan agar Yangti dapat lancar, mantab dan tanpa ragu menghadap Sang Perncipta. Bersyukurlah mas Isdiyanto dari kamar tamu segera bergabung dengan kami berdua, mendampingi napas terakhir Yangti yang dihembuskan dengan sangat pelan, tertahan dan berat. Setelah mulut Yangti bersih dan tidak ada lagi usaha napas yang muncul, saya segera memimpin doa spontan kepasarahan kepada Sang Khalik.

Sempat saya terhenti sangat terharu dan meneteskan air mata, sehingga alunan doa kepasarahan menjadi tersendat. Saat itu juga mama Sari dan mbak Amy pulang dari belanja dan ikut mendampingi Yangti berpulang dengan lengkingan haru, mengapa Yangti berangkat menghadap Tuhan dengan tidak berkenan menunggu sampai meraka pulang dan justru mencuri waktu (malah nglimpeke). Setelah selesai berdoa, saya lepas sarung tangan dan hendak mulai menyebarkan kabar Yangti berpulang dengan chat WA ke segala penjuru arah angin. Mas Isdiyanto dan mbak Titik melanjutnya tindakan merawat jasad Yangti yang masih hangat dengan melepas NGT, sebuah pipa plastik yang setia menghantarkan menu ke lambung Yangti, mengatupkan dagu, dan mengikatnya dengan verban agar mulut Yangti tidak lagi menganga.

Kami, mbak Anna, mas Gunawan dan Mas Isdiyanto (kemeja batik) berdoa bersama sesaat setelah Yangti berpulang

Kembali saya tatap, sangat dekat, dan lebih lekat lagi wajah Yangti yang sudah pucat, pasi, dan pasti tanpa nadi. Saya teteskan ulang air mata haru, baru dan sendu mengingat bimbingannya membesarkan saya, sampai saya mampu mewujudkan angan Yangti dan Yangkung, bahwa ‘kamulyaning anak, soko rekasaning wong tuwo, kamulyaning wong tuwo, soko nyawang anake’. Terima kasih atas semua yang Yangti telah lakukan bagi saya, dan mofon maaf atas semua kilaf, salah dan keliru yang saya telah perbuat. Yangti yang saya kagumi, selamat beristirahat dalam udara dingin menjelang sore, di rumahmu saat hujan tetiba lebat mengguyur bumi.

Para tetangga dekat sebagai pelayat awal, turut melihat jasad Yangti di dalam peti. Sangat meneguhkan hati.

Kiriman bunga papan ucapan dukacita atas meninggalnya Yangti yang pertama kali datang, dari Umat Lingungan FX2 Villa Pamulang, Paroki Santo Barnabas Pamulang, Keuskupan Agung Jakarta.

Pada Rabu hari pertama tahun 2025, kepulangan Yangti rasanya adalah kematian yang sungguh indah, membebaskan Yangti dari penderitaan, sungguh bagus dalam tahapan saat saya sudah berdiri di samping Yangti, sungguh tepat dalam waktu, dan sungguh mudah pada prosesnya. Yangti pamit dalam damai, seolah berucap ‘Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.’ (2 Timotius 4:7) Syukurlah keberangkatan itu saya tunggu, saksikan dan hantarkan langsung, bukan pada saat saya pergi, lengah atau terlelap. Kepergian itu telah memisahkan kami semua yang masih hidup dengan Yangti, dalam jarak yang abstrak, beda yang sumir, dan rentang yang absurd.

Sembahyangan sore setelah jasad Yangti berada dalam peti jenazah oleh beberapa umat Stasi Santo Paulus Salaman

Para tetangga segera datang mendampingi, menguatkan dan membantu kami merawat jasad Yangti yang sudah mulai dingin, mengecil, dan penuh luka dekubitus yang dalam. Proses memandikan jasad Yangti berjalan lancar berkat bantuan para ibu dari Gereja Kristen Jawa (GKJ) Salaman yang sigap, cekatan dan ramah. Berkat bantuan, kerja keras, dan koordinasi oleh dik Totok Wilarso, peti jenazah sudah segara siap di ruang tengah, sebelum adzan Mahrib berkumandang dari Masjid Besar Kauman Salaman di seberang rumah. Setelah cukup rapi, dengan hujan yang masih turun cukup deras malam itu kami segera mengadakan sembahyangan pertama, yang dipimpin oleh mbak Tuti (MGE Triyati Yuliastuti) sebagai prodiakon pengganti, bersama beberapa umat Stasi Santo Paulus, Paroki Santo Mikael Panca Arga Magelang.

Malam itu saya menemani jasad Yangti yang telah terbujur, dingin dan kaku, di dalam peti jenazah yang diletakkan di depan altar dalam ruang tengah rumah depan. Rumah peninggalan Yangkung ini memang telah digunakan sebagai kapel Stasi Santo Paulus, ruang doa, ruang pertemuan umat dan kegiatan kemasyarakatan lainnya. Saya terus mendaraskan doa untuk Yangti di samping kanan peti jenazah, ditemani para tetangga yang setia, semangat dan solider, duduk sambil ngobrol di bawah tratag yang masih basah di halaman samping rumah. Kantuk, lelah dan gundah yang telah menyatu, tetaplah tidak mampu mengusir saya dari kursi merah di samping peti mati Yangti. Saya tetap duduk, terjaga dan berdoa agar rangkaian kepulangan Yangti tidak ada yang terlupa.

Kamis, 2 Januari 2025 menjelang pk. 2 dini hari, keluarga Bulik Nana (Yosephine Wara Pradnastuti, adik bungsu saya) telah datang. Om Greg (suaminya), dik Kevin dan dik Niko (kedua anaknya) yang menyertai Bulik Nana, segera saya peluk dan syukuri atas kedatangannya. Meski baru sehari sampai di rumahnya di Cimahi Jawa Barat dari libur Natal di Salaman, langsung harus kembali ke Salaman lagi.

Rombongan berikutnya adalah kedatangan anak bungsu yang cantik (Larasati). Perjuangan pulang mengantar Yangti dimulai dengan langsung pamit kepada dokter perseptor karena sedang menjalani rotasi klinik (koass) bagian bedah di RS Emanuel Bandung, dengan diantar William (pacar Laras, yang sedang pada periode ritual apel) dari Bandung naik Travel CT Trans ke Semarang. Menjelang ganti hari Rabu ke Kamis mereka berdua bergabung dengan Bapak Mulyo dan Ibu Harlina (orangtua William) yang datang langsung dari Jepara, untuk lanjut ke Salaman Magelang. Setelah saya rangkul hangat, Laras lalu mengajak William dan orangtuanya berdoa di samping jasad Yangti, sebelum akhirnya mereka bertiga beristirahat di sebuah hotel di dekat Candi Borobudur. Laras lanjut saya dekap lama untuk menemani saya menjaga jasad Yangti yang telah terbaring di peti.

Selanjutnya hadir menyatu pada dini hari yang masih dingin, saat Pakde Totok (Ignasius Toto Ismintarto, kakak saya) dan budhe Tari (Hastari Soekardi, kakak ipar saya yang selama ini menangani penyakit Yangti dengan cermat) datang tidak lama kemudian, yang hanya sehari di rumahnya di Pamulang Tangerang Selatan, Banten. Keduanya jadi tidak begitu bugar, malah sedikit demam dan batuk karena kelelahan yang sangat. Apalagi ditambah kesedihan yang peling mendalam, karena pakde Totok sangat dekat, lekat dan terikat dengan Yangti yang sempat tinggal hampir 5 tahun berturut-turut di salah satu kamar depan di rumah Pamulang.

Matahari segera bersinar cerah di hari Kamis, 2 Januari 2025 saat cucu Yangti lainnya (mbak Esthi dan mas Danang dari Pamulang, mas Yudhi yang menggendong Joviel, 2 tahun, cicit Yangti, seorang anak yang menggemaskan dari Yogyakarta dan dik Bimo dari Jakarta) datang lengkap. Para tamu lain segera datang, susul menyusul, silih berganti dengan wajah bersahabat, ucapan turut berduka dan pelukan peneguhan. Mereka datang dari 8 penjuru angin, bergerak dari rumahnya yang dekat, kantornya yang menengah, ataupun tempatnya yang berjarak. Mereka layaknya aliran sungai Elo yang tidak pernah berhenti mengalir untuk bergabung dengan sungai Progo, sangat deras meski meliuk-liuk, sampai di dekat sebuah makam, di daratan yang diapit Candi Borobudur yang gagah dan Candi Mendut yang suci. Makam Krekoff Mendut namanya, makam yang telah dipilih oleh Yangkung, sebagai tempatnya bersebelahan dengan Yangti yang terakhir, terlama dan terindah dalam iringan debur suara arus air sungai, yang tidak akan pernah diam.

Mas Moko (Ketua RT, teman sekolah mas Totok saat SD) dan ibu yang sangat banyak membantu kami, saat melayat Yangti

Misa pemberkatan jenazah (requiem) hari Kamis, 2 Januari 2025 dipimpin langsung oleh Romo Petrus Sajiana, Pr (Pastor Kepala Parki Santo Mikael Panca Arga Magelang), dimulai pk. 9 pagi, dihadiri oleh umat stasi Salaman dan sanak saudara yang membuat persediaan tambahan kursi semakin terasa kurang. Dalam homilinya, Romo Saji menekankan nasehat Santo Paulus kepada Timotius, tentang kematian orang beriman. ‘Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.’ (2 Timotius 4:7). Menurut Romo Saji, Yangti telah mati dalam iman yang teguh, telah menyelesaikan tugas kemanusiaan dan telah mengakhiri pertandingan kehidupan. Tentulah Yangti juga telah terbebas dari semua penderitaan, terlepas dari segala kepedihan raga dan masuk dalam kesatuan dengan Allah Bapa.

Setelah selesai acara liturgi, para pelayat dipersilakan memberikan penghormatan terakhir bagi Yangti, sebelum peti jenazah ditutup dan disekrop. Dik Wowok, dik Totok, dik Nunung, dik Jati, Yudhi dan William ikut menyekrop, meski dengan obeng yang harus bergantian. Jenazah Yangti dilepas pergi menjelang pk. 11 setelah Bapak Antok, Kepala Dusun Kauman, menyampaikan pidato pelepasan di tengah-tengah banyak para pelayat yang terpaksa harus berdiri, karena tidak kebagian kursi. Setelah acara ‘tlusupan’ (berjalan berurutan di bawah peti jenazah yang diangkat 8 orang petugas dari Yayasan Dharma Magelang, memutarinya sebanyak 3 kali), peti jenazah Yangti dimasukkan ke dalam mobil jenazah. Ada 2 mobil jenazah dan 7 mobil lain dalam iring-iringan menuju makam Mendut, berjalan perlahan dalam cuaca agak mendung sepanjang jalan, sejauh sekitar 9 km.

Ibadat pemakaman Yangti pada tengah siang yang agak terik itu dipimpin oleh mbak Tuti prodiakon

Makam Yangti sudah disiapkan sejak pagi itu oleh petugas makam Krekoff Mendut. Makam yang sepi itu telah diramakain oleh banyak handai taulan yang melayat tidak ke rumah duka Salaman, tetapi langsung menunggu di makam tersebut. Setelah acara pemberkatan liang kubur oleh mbak Tuti (MGE Triyati Yuliastuti) sebagai prodiakon pengganti, bersama beberapa umat Stasi Santo Paulus, Paroki Santo Mikael Panca Arga Magelang, secara perlahan peti jenazah yang mendekap jasad Yangti yang telah kaku dan beku, diturunkan ke pangkuan ibu pertiwi. Penutupan ‘gladak’ beton, tanah yang basah, bunga tabur yang wangi semerbak, dan salib penanda makam Yangti, dilakukan dalam cuaca yang cukup terik dengan angin sepoi yang kadang datang. Bahkan Joviel (cucu pertama saya berusia 2 tahun) dalam gendongan saya sampai kehausan dan berteriak meminta minum. Setelah lobang kubur tertutup oleh tanah dengan rapi, kami segera mengadakan tabur bunga dengan segenap pelayat yang hadir, termasuk Joviel yang penuh semangat.

Peti jenazah Yangti siap dimasukkan ke liang lahat, persis di samping nisan makam Yangkung

Turut serta memasukkan tanah ke liang lahat Yangti

Setelah selesai semua rangkaian acara, para pengantar jenazah bergegas berlalu, suara tapak alas kakinya perlahan menjauh, dan deru mobil-mobilnya beringsut kabur, tinggallah kami sekeluarga dicekam sunyi, terpaku ragu dan kehabisan air mata. Segeralah kami berjajar bersujud berdoa, menunjukkan kepasrahan yang dalam dan kegembiraan iman yang berpadu satu saat melepas Yangti menghadap Sang Pencipta, ‘Selamat Jalan Yangti Yustina Nanik Karsini, berpulanglah dengan damai dan berbahagialah di rumah Tuhan. ‘Berbahagialah orang-orang mati, yang mati dalam Tuhan’ (Wahyu 14,13).

Terimakasih dan Berkah Dalem

sekian

*) anak Yangti yang tengah

disusun dalam penat, lelah dan sunyi di hari pertama masuk kerja

Sabtu, 4 Januari 2025.

Categories
dokter Healthy Life medicolegal

2024 Sisa Peran IDI

SISA  PERAN  IDI

fx. wikan indrarto

Dunia kesehatan di Indonesia berubah sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Setelah diterapkannya UU 17/2023 Omnibus Law tentang Kesehatan, maka ada 11 UU yang dicabut dan dinyatakan tidak berlaku, termasuk UU No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Bagaimana dampak regulasi ini bagi pada para dokter?

Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 29 Desember 2024, kolom Husada, halaman 8 dengan judul : IDI diharapkan dapat menjaga etika medis.

Pada UU tentang Praktek Kedokteran tersebut, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai organisasi profesi medis tunggal memiliki peran dalam aspek etika, mutu dan legal, untuk semua dokter di seluruh Indonesia. Dalam aspek legal, penerbitan SIP (Surat Ijin Praktek) dokter oleh dinas kesehatan setempat tidak lagi melibatkan IDI, karena persyaratan penerbitan SIP tidak lagi memerlukan rekomendasi IDI. Permohonan penerbitan SIP dokter hanya melampirkan STR (Surat Tanda Registrasi) dokter, surat keterangan tempat praktik, dan bukti pemenuhan kompetensi medis. Bukti pemenuhan kompetensi medis dapat diperoleh dokter, setelah mengikuti pemenuhan kompetensi yang diselenggarakan oleh sebuah kementerian, yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan berkoordinasi dengan Kolegium atau penyelenggara pendidikan, bukan lagi dengan IDI.

Peran IDI dalam aspek mutu layanan dokter juga sudah tidak ada sama sekali, karena peran tersebut diambil alih oleh Kemenkes RI. Penentuan pencapaian pemenuhan kompetensi medis dalam bentuk SKP (Satuan Kredit Profesi) untuk para dokter, murni ditentukan oleh Kemenkes RI. Pemenuhan kompetensi medis baik dalam ranah profesionalisme, pendidikan berkelanjutan, pengabdian masyarakat, publikasi penelitian dan pendidikan formal tambahan, semuanya sudah tidak lagi dikelola oleh IDI.

Rasanya peran IDI tinggal dalam aspek etika medis, salah satunya sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan. PP tersebut memberikan definisi kecurangan (fraud) dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yaitu tindakan yang dilakukan dengan sengaja, untuk mendapatkan keuntungan finansial dari program Jaminan Kesehatan dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), melalui perbuatan curang yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Untuk meningkatkan upaya pencegahan dan penanganan kecurangan telah dibuat pedoman dan tim yang dapat menilai sampai mengenakan sanksi administrasi terhadap kecurangan dalam pelaksanaan program JKN. Pada pasal 3 ayat 2 PP tersebut dijelaskan bahwa tim pencegahan kecurangan pada dinas kesehatan tingkat kabupaten atau kota terdiri atas unsur dinas kesehatan setempat, BPJS Kesehatan cabang, asosiasi fasilitas kesehatan, organisasi profesi dalam hal ini IDI, dan unsur lain yang terkait.

Dengan regulasi ini peran IDI rasanya ‘tinggal tersisa’ dalam menjaga aspek etika medis, agar para dokter di seluruh Indonesia dapat menjalankan profesinya secara mulia dan menghindari tindak kecurangan. Jenis kecurangan yang mungkin dilakukan oleh fasilitas kesehatan atau dokter anggota IDI pemberi pelayanan kesehatan, sangat perlu dicermati. Kecurangan di FKTP dapat berupa tindakan penyalahgunaan dana kapitasi dan/atau nonkapitasi FKTP milik Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, oleh dokter yang menjadi pimpinan FKTP. Selain itu juga dapat berupa tindakan menarik biaya tambahan dari Peserta atau memanipulasi klaim nonkapitasi. Dalam hal ini meliputi klaim palsu atau klaim fiktif, yaitu klaim atas layanan yang tidak pernah diberikan,  memperpanjang lama perawatan di FKTP rawat inap, penjiplakan klaim dari pasien lain, dan tagihan atau klaim berulang pada kasus yang sudah ditagihkan sebelumnya. Dapat juga melakukan rujukan pasien yang tidak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, memberi dan/atau menerima suap dan/atau imbalan terkait dengan program Jaminan Kesehatan; dan memalsukan Surat Izin Praktek (SIP) Dokter.

Jenis kecurangan oleh dokter anggota IDI pemberi pelayanan kesehatan di FKRTL atau RS dapat berupa memanipulasi diagnosis dan/atau tindakan medis, untuk meningkatkan besaran klaim. Beberapa cara misalnya seorang pasien seharusnya cuckup didiagnosis sebagai apendicitis akut setelah operasi tanpa penyulit, tetapi pada resume rekam medis ditulis apendicitis akut dengan perforasi usus. Mungkin juga seorang pasien lain dengan pterigium pada mata grade I, tetapi dalam resume rekam medis ditulis kanker, yaitu squaomous cell carsinoma conjungtiva dan dilakukan tindakan biopsi eksisi pada mata, tetapi tanpa bukti dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk kanker yaitu patologi anatomi.

Kecurangan oleh dokter dapat juga berupa penjiplakan klaim dari pasien lain, yang dibuat dengan cara menyalin dari klaim pasien lain yang sudah ada, seperti: menyalin seluruh atau sebagian rekam medis dan/atau data pasien lain. Juga klaim palsu, yaitu klaim atas layanan yang tidak pernah dilakukan kepada pasien, seperti penagihan tindakan medik operatif yang tidak pernah dilakukan, dan penagihan obat/alat kesehatan di luar paket INA-CBG yang tidak diberikan kepada pasien.

Dapat juga berupa tindakan penggelembungan tagihan obat dan alat kesehatan yang lebih besar dari biaya yang sebenarnya, seperti seorang pasien patah tulang dilakukan operasi ortopedi dengan menggunakan plate and screw 4 (empat) buah, namun ditagihkan lebih dari 4 (empat) buah. Dapat juga berupa obat pasien penyakit kronis pada rawat jalan yang seharusnya mendapat obat 1 (satu) bulan, tetapi obat yang diberikan untuk 2 minggu, namun ditagihkan biayanya selama 1 (satu) bulan.

Dapat juga berupa pemecahan episode pelayanan sesuai dengan indikasi medis, tetapi tidak sesuai dengan ketentuan. Ini merupakan klaim atas dua atau lebih diagnosis dan atau prosedur yang seharusnya menjadi satu paket pelayanan dalam episode yang sama, seperti dokter mengirimkan tagihan terpisah dari diagnosis yang sama, dengan hasil pemeriksaan penunjang atau laboratorium yang sebenarnya dapat digabungkan, menjadi terpisah menjadi 3 atau 4 pengajuan dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan lebih.

Tindakan menagihkan beberapa prosedur secara terpisah yang seharusnya dapat ditagihkan bersama dalam bentuk paket pelayanan, untuk mendapatkan nilai klaim lebih besar pada satu episode perawatan pasien dan tindakan operasi lebih dari satu diagnosa penyakit yang dapat dilaksanakan dalam satu tindakan namun dilakukan tindakan lebih dari satu dan diklaim terpisah dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan.

Ada juga rujukan semu merupakan klaim atas biaya pelayanan akibat rujukan ke dokter yang sama di Fasilitas Kesehatan lain kecuali dengan alasan keterbatasan fasilitas, karena jasa operasi yang didapatkan sedikit sehingga pasien. Dapat juga melakukan rujukan tanpa persetujuan pasien atau keluarga pasien ke rumah sakit dimana dokter itu berdinas. Dapat juga berupa tagihan atau klaim berulang pada kasus yang sama, seperti tagihan yang sudah pernah ditagihkan dan dibayarkan tetapi ditagihkan ulang. Yang lebih halus adalah memperpanjang lama perawatan untuk mendapatkan klaim atas biaya pelayanan kesehatan yang lebih besar bukan karena indikasi medis, seperti penggunaan ventilator yang diperpanjang waktunya.

Selain dalam tim pencegahan dan penindakan kecurangan, peran IDI sebenarnya lebih pada mengadvokasi secara etika medis agara para dokter anggotanya menjalankan implementasi pencegahan kecurangan di FKRTL atau RS, yang dilakukan dengan prinsip Good Clinical Governance, antara lain penetapan kewenangan dan uraian tugas dokter secara rinci, Standard Operational Procedure (SOP) layanan klinis yang mengacu kepada Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) dan atau pedoman lain yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. Juga peningkatan kemampuan dokter yang berkaitan dengan Klaim, berupa pemahaman dan penggunaan sistem koding yang berlaku, meningkatkan ketaatan terhadap SOP, dan Dokter Penanggung Jawab Pelayanan Pasien (DPJP) wajib mengisi resume medis secara jelas, lengkap dan tepat waktu.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai organisasi profesi dokter yang tunggal, seharusnya mampu berperan menjaga etika medis para dokter dalam memberikan layanan kepada pasiennya.

Yogyakarta, 2 November  2024

*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Alumnus S3 UGM, Pengurus MKEK IDI Wilayah DIY. WA :  081227280161

Categories
anak bayi prematur dokter Healthy Life sekolah

2024 Diabetes pada Anak

PENCEGAHAN  DIABETES  PADA ANAK

fx. wikan indrarto

Tulisan ini telah dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta pada Rabu, 27 November 2024.

baca : https://www.krjogja.com/opini/1245361913/diabetes-pada-anak

Diabetes adalah penyakit metabolik yang menyebabkan kadar gula darah menjadi tinggi. Penyakit ini sering dialami oleh orang dewasa, tetapi pencegahan harus dimulai pada usia anak. Menurut Federasi Diabetes Internasional (IDF), diperkirakan 1,1 juta anak dan remaja (di bawah usia 20) saat ini hidup dengan diabetes tipe 1 di seluruh dunia. Selain itu, lebih dari 132.000 anak dan remaja didiagnosis dengan diabetes tipe 1 setiap tahun, termasuk di Indonesia.

Ada banyak faktor yang dapat meningkatkan risiko anak mengalami diabetes tipe 1, mulai dari genetik atau keturunan karena gen seperti HLA-DR3 atau HLA-DR4, kerusakan organ pankreas tanpa penyebab yang jelas, atau mengalami infeksi virus dengan sistem kekebalan tubuh yang berfungsi secara keliru, yaitu justru menghancurkan sel penghasil insulin (islet) di pankreas. Diabetes tipe 1 merupakan tipe diabetes yang paling sering dialami oleh bayi, balita, dan anak usia awal SD. Hampir semua penyebab diabetes tipe 1 pada anak tidak dapat dicegah. 

Sedangkan diabetes tipe 2 biasanya rentan terjadi pada anak yang berusia di atas 10 tahun atau di awal masa pubertas. Penyebab diabetes tipe 2 pada anak meliputi lahir prematur atau berat badan rendah, pola makan yang kurang sehat, kurang aktif berolahraga, dan berat badan berlebih atau obesitas. Berbeda dengan diabetes tipe 1, hampir semua penyebab diabetes tipe 2 dapat dicegah.

Pencegahan agar bayi tidak lahir secara prematur atau BB lahir rendah adalah kontrol rutin ibu hamil (Ante Natal care atau ANC) minimal 4 kali selama kehamilan, mengelola stres ibu saat hamil, ibu mengonsumsi makanan sehat untuk mencukupi kebutuhan nutrisi selama hamil, dan menjaga kebersihan organ intim ibu selama hamil. Juga menghindari konsumsi minuman beralkohol, merokok, hingga menggunakan narkoba.

Tindakan pencegahan pada anak usia SD sampai SMP atau awal pubertas agar tidak mengalami BB berlebih atau obesitas, adalah dengan gaya hidup sehat, aktif berolah raga, hindari kebiasaan duduk lama, menghindari menu yang manis, gurih dan asin secara berulang. Peran orangtua sangat penting sebagai panutan dalam tindakan ini, apalagi kalau orangtua juga mengalami kondisi BB berlebih serupa.

Orangtua diharapkan memberi contoh untuk bangun lebih pagi, makan teratur dalam porsi yang wajar, makan menu rumahan atau masakan keluarga secara rutin, menu olahan atau pabrikan dan menu cepat saji hanya dikonsumsi sesekali saja, makan bersama segenap anggota keluarga sebagai acara yang menyenangkan, paling tidak dilakukan sekali sehari, juga tidur malam tidak terlalu larut.

Orangtua yang mengantar jemput anak ke sekolah, tempat les atau acara rutin anak lainnya, sebaiknya tidak diturunkan persis di gerbang. Sebaiknya diturun naikan sedikit agak jauh dan mintalah anak untuk berjalan kaki bersama teman-temannya. Kalau cukup memungkinkan untuk naik sepeda, berikan kepercayaan anak agar menaiki sepedanya ke tempat acara, merawat sepedanya agar tetap awet dan melatih kemandirian sejak dini.

Mari kita memberi contoh dan mengajak anak untuk rutin menerapkan perilaku hidup sehat dengan menjaga pola makan, memenuhi kebutuhan tidur dan mengajak mereka untuk melakukan aktivitas fisik atau olahraga. Tujuannya adalah untuk mencegah diabetes tipe 2, yang merupakan salah satu masalah kesehatan utama pada anak usia SD sampai SMP.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 19 November 2024

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak dokter Healthy Life medicolegal politik sekolah

2024 Perlindungan Guru dan Dokter

PERLINDUNGAN  GURU  DAN  DOKTER

fx. wikan indrarto*)

Guru honorer Supriyani di Konawe Selatan Sulawei Tenggara didakwa melakukan penganiyaan terhadap muridnya. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menyebut terdapat perlindungan yang timpang antara murid dan guru. Profesi dokter juga sering menghadapi sengketa hukum. Ada berbagai penyebab, tetapi salah satu yang utama adalah karena perlindungan hukum atas profesi guru dan dokter tidaklah rinci. Apa yang sebaiknya dilakukan?

baca juga : https://www.suaramerdeka.com/opini/0413998699/perlindungan-guru-dan-dokter

UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada Pasal 41 menyebutkan bahwa Guru berhak mendapatkan perlindungan hukum dari tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi, atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain. Perlindungan terhadap guru ini diatur dalam Pasal 39 UU Guru dan Dosen tersebut. Pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, organisasi profesi, dan/atau satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan terhadap guru dalam pelaksanaan tugas.

Perlindungan terhadap guru ini juga didukung oleh yurisprudensi Mahkamah Agung (MA) yang dapat ditemukan dalam Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia, Putusan No. 1554 K/PID/2013, yang menyebutkan bahwa guru tidak dapat dipidana saat menjalankan profesinya dan melakukan tindakan pendisiplinan terhadap siswa. Namun demikian, kekerasan fisik yang dilakukan guru terhadap peserta didiknya termasuk dalam tindak pidana, sehingga dapat dikenakan sanksi pidana sebagaimana diatur di dalam Pasal 80 jo Pasal 76 UU No.35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Sebaliknya terkait profesi dokter, putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 119/Puu-Xx/2022 Perihal Pengujian Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran Terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah dibacakan pada 31 Januari 2023. Mahkamah Konstitusi (MK) telah memberikan ketetapan hukum tentang prosedur hukum yang khusus, dalam menilai dan menentukan benar salahnya seorang dokter dalam menjalankan profesinya. MK memberlakukan proses pemeriksaan yang berjenjang, dimulai dari proses pemeriksaan etik di Majelis Kehoratan Etik Kedokteran (MKEK) dan disiplin di Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI), sebagai proses pemeriksaan tingkat pertama. Selain itu, juga sekaligus berfungsi sebagai penilai apakah ada pelanggaran hukum atau tidak.  Apabila dari hasil pemeriksaan di MKEK dan MKDKI ditemukan indikasi pelanggaran hukum, maka kasusnya akan diteruskan atau diserahkan kepada kepolisian atau pengadilan.

Michel Daniel Mangkey dalam ejournal Unsrat Vol. II/No. 8/Sep-Nov/2014, menjelaskan tentang ‘Lex et Societatis’. Dokter yang telah melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional, berhak mendapatkan perlindungan hukum. Terdapat beberapa hal yang menjadi alasan peniadaan hukuman terhadap dokter, yaitu : resiko pengobatan, kecelakaan medik, tanpa unsur kelalaian, aturan minor yang dapat diabaikan, kesalahan dalam penilaian (error of (in) judgment), Volenti non fit iniura atau asumsi atas risiko, dan Res Ipsa Loquitur. Namun demikian, pada praktiknya sebagian hal tersebut sangat sulit, rumit, dan menyita waktu, tenaga dan konsentrasi dokter dalam perumusannya.

Sebaliknya, perlindungan hukum untuk profesi notaris, jauh lebih jelas, nyata, dan rinci, sebagaimana dituliskan oleh Mariyantini pada ejournal Undip vol 4, no 1 tahun 2013. Perlindungan hukum terhadap notaris ketika terjadi sengketa di pengadilan, telah diatur pada Pasal 66 Undang-undang No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. Dalam hal memberikan kesaksian, seorang notaris tidak dapat mengungkapkan akta yang dibuatnya, baik sebagian maupun keseluruhannya, untuk merahasiakan semua hal yang diberitahukan kepadanya, karena akta yang dibuat oleh atau di hadapan notaris, merupakan suatu alat bukti yang mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna. Notaris hanya merumuskan keterangan dan pernyataan yang diperolehnya dari para penghadap. Notaris tidak hanya berhak untuk bicara, tetapi mempunyai kewajiban untuk tidak bicara. Kewajiban tersebut mengesampingkan kewajiban umum yang tercantum dalam Pasal 1909 ayat (1) KUHPerdata, karena adanya hak ingkar dari profesi notaris, sebagai konsekuensi dari adanya kewajiban merahasiakan sesuatu yang diketahuinya.

Yurisprudensi Mahkamah Agung (MA) melalui Putusan MA No 702K/Sip/1973, menyatakan bahwa notaris fungsinya hanya mencatatkan atau menuliskan, apa yang dikehendaki dan dikemukakan oleh para pihak yang menghadap notaris tersebut. Tidak ada kewajiban bagi notaris untuk menyelidiki secara materil, terkait apa yang dikemukakan oleh penghadap di hadapan notaris tersebut. Berdasarkan Putusan MA tersebut, jika akta yang dibuat oleh notaris dipermasalahkan oleh para pihak, maka hal tersebut menjadi urusan para pihak sendiri, notaris tidak perlu dilibatkan, dan notaris bukan pihak dalam akta. 

Perlindungan hukum yang juga lebih baik, adalah terhadap profesi advokat atau pengacara. Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan permohonan perkara 26/PUU-XI/2013,  yaitu pengujian Pasal 16 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, yang terkenal sebagai hak imunitas advokat. Putusan tersebut dinyatakan MK dalam sidang pengucapan putusan yang dipimpin Ketua MK Hamdan Zoelva, Rabu 14 Mei 2015. MK menegaskan bahwa ketentuan Pasal 16 UU Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat  harus dimaknai sebagai, advokat tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya, dengan iktikad baik untuk kepentingan pembelaan klien, di dalam maupun di luar sidang pengadilan.

Dengan demikian hak imunitas profesi guru, dosen, dan dokter dalam aspek perlindungan hukum, layak disusun serinci dengan profesi advokat dan notaris. Sudahkah para guru dan dokter bertindak?

Sekian

Yogyakarta, 5 November 2024

*) dokter spesialis anak dan dosen FK, pernah menjadi Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA 081227280161.

Categories
anak antibiotika COVID-19 dokter Healthy Life UHC

2024 Antibiotika Berlebihan

ANTIBIOTIKA  BERLEBIHAN

fx. wikan indrarto

Penggunaan antibiotik terdata berlebihan pada pasien yang dirawatinap di rumah sakit karena COVID-19. Pada 26 April 2024 terdapat bukti lengkap dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menunjukkan penggunaan antibiotik yang berlebihan selama pandemi COVID-19 di seluruh dunia, yang mungkin telah memperburuk penyebaran resistensi antimikroba (AMR) secara diam-diam. Apa yang mencemaskan?

Meskipun hanya 8% pasien COVID-19 yang dirawatinap di rumah sakit memiliki koinfeksi bakteri dan sebenarnya memerlukan antibiotik, ternyata tiga dari empat atau sekitar 75% pasien telah diobati dengan antibiotik, dengan pertimbangan ‘untuk berjaga-jaga’ karena antibiotik tersebut mungkin membantu (just in case they help). Penggunaan antibiotik berkisar dari 33% untuk pasien di Wilayah Pasifik Barat, hingga 83% di Wilayah Mediterania Timur dan Afrika. Antara tahun 2020 dan 2022, jumlah resep antibiotik menurun seiring waktu di Eropa dan Amerika, sementara jumlah resep obat serupa masih meningkat di Afrika.

Tingkat penggunaan antibiotik tertinggi terjadi pada pasien COVID-19 yang parah atau kritis, dengan rata-rata global sebesar 81%. Dalam kasus ringan atau sedang, terdapat variasi yang cukup besar antar wilayah, dengan penggunaan tertinggi di Wilayah Afrika (79%).

WHO mengklasifikasikan antibiotik berdasarkan klasifikasi AWaRe (Access, Watch, Reserve), berdasarkan risiko AMR. Yang mengkhawatirkan, laporan tersebut menemukan bahwa antibiotik ‘Watch’ dengan potensi resistensi lebih tinggi, justru telah paling sering diresepkan secara global, dibandingkan antibiotika ‘Access’ yang sebenarnya lebih aman.

Ketika seorang pasien membutuhkan antibiotik, manfaatnya sering kali lebih besar daripada risiko yang terkait dengan efek samping atau resistensi antibiotik. Namun, jika tidak diperlukan, obat tersebut tidak memberikan manfaat, tetapi justru menimbulkan risiko, dan penggunaannya berkontribusi terhadap muncul dan penyebaran resistensi antimikroba. Meskipun demikian, data pada laporan tersebut memerlukan perbaikan dalam penggunaan antibiotik yang rasional, untuk meminimalkan konsekuensi negatif yang tidak perlu bagi pasien dan masyarakat.

Secara keseluruhan sebenarnya penggunaan obat antibiotik terbukti tidak memperbaiki hasil klinis pasien COVID-19. Namun, penggunaan antibiotik ini justru dapat membahayakan orang yang tidak mengalami infeksi bakteri, dibandingkan dengan mereka yang tidak menerima antibiotik. Laporan ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan penggunaan antibiotik secara rasional, guna meminimalkan konsekuensi negatif yang tidak perlu bagi pasien dan masyarakat.

Telah diterbitkan rekomendasi WHO mengenai penggunaan antibiotik pada pasien dengan COVID-19, sebagai bagian dari pedoman pengelolaan klinis COVID-19. Pedoman ini didasarkan pada data dari Platform Klinis Global WHO untuk COVID-19, yang merupakan kumpulan data klinis anonim dan terstandarisasi pada tingkat individu, dari pasien yang dirawat di rumah sakit karena COVID-19. Data dikumpulkan dari sekitar 450.000 pasien yang dirawat di rumah sakit karena COVID-19, di 65 negara selama periode 3 tahun antara Januari 2020 hingga Maret 2023.

Temuan ini menggarisbawahi risiko meningkatkan peresepan antibiotik secara global, dan sangat serius dibahas pada Pertemuan Tingkat Tinggi Majelis Umum PBB mengenai AMR yang diadakan pada bulan September 2024. Pertemuan Tingkat Tinggi PBB mengenai AMR telah mempertemukan para pemimpin global untuk berkomitmen melakukan mitigasi AMR di bidang kesehatan manusia, kesehatan hewan, sektor pertanian pangan dan lingkungan hidup, serta untuk mendorong kepemimpinan politik, pendanaan dan tindakan untuk memperlambat kemunculan dan penyebaran AMR.

Penggunaan antimikroba yang bertanggung jawab dan bijaksana perlu ditingkatkan di semua sektor baik pada manusia, hewan, tanaman, dan lingkungan hidup, untuk menjaga manfaat antibiotika bagi kesehatan masyarakat. Secara khusus, antimikroba yang secara medis penting bagi pengobatan manusia perlu dilestarikan dengan mengurangi penggunaannya di sektor non-manusia. Daftar MIA WHO (Medically Important Antimicrobials) tentang antimikroba yang penting secara medis untuk pengobatan manusia merupakan alat manajemen risiko yang dapat digunakan dalam mendukung pengambilan keputusan, guna meminimalkan dampak penggunaan antimikroba di sektor non-manusia, terhadap resistensi antimikroba (AMR) pada manusia. Daftar MIA WHO dibuat untuk memandu upaya pengelolaan antimikroba internasional, nasional, dan subnasional (lokal, negara bagian, provinsi). Panduan ini melengkapi kerangka kerja WHO AWaRe (Access, Watch, Reserve) yang telah diterbitkan sebelumnya dan panduan penggunaan antibiotik esensial yang tepat, dalam sektor kesehatan manusia.

Daftar MIA WHO tersebut mengkategorikan kelas antimikroba berdasarkan pentingnya bagi pengobatan manusia dan menurut risiko AMR, serta potensi implikasi kesehatan manusia dari penggunaannya di sektor non-manusia. Daftar MIA WHO dikembangkan melalui kerja sama erat dengan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) dan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) sebagai upaya bersama untuk menyelaraskan pedoman dan daftar terkait yang dikembangkan oleh keempat organisasi tersebut.

Pasien memiliki hak untuk mengingatkan para dokter, tentang perlu tidaknya peresepan obat antibiotika saat periksa. Sudahkah kita bertindak bijak dalam penggunaan obat antibiotika paska pandemi COVID-19?

Sekian

Yogyakarta, 30 November 2024

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak dokter Healthy Life Jalan-jalan vaksinasi

2024 MPOX PADA ANAK

MPOX PADA ANAK

fx. wikan indrarto

Mpox (dulu disebut cacar monyet) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus Monkeypox (MPXV). Pada tanggal 14 Agustus 2024 WHO menyatakan bahwa wabah mpox di Afrika merupakan  darurat kesehatan masyarakat yang mengkhawatirkan dunia. Apa risikonya?

baca juga : https://www.suaramerdeka.com/opini/0413496670/menekan-risiko-cacar-monyet-apakah-kita-sudah-bertindak-bijak

Mpox adalah penyakit langka yang menyebabkan ruam kulut dan gejala mirip flu, terutama pada orang dewasa. Anak dapat tertular mpox jika mereka melakukan kontak dekat dengan seseorang yang memiliki gejala. Anak dapat terpapar virus di rumah dari saudara kandung, orang tua, pengasuh, atau anggota keluarga lainnya melalui kontak dekat. Di beberapa wilayah di pedalaman Afrika, anak dan remaja dapat terpapar melalui kegiatan berburu atau menjebak binatang liar, atau juga mengkonsumsi daging hewan yang tidak dimasak dengan benar. Remaja yang telah melakukan aktivitas seksual dengan seseorang yang menderita mpox juga dapat terpapar. Ruam mpox pada awalnya dapat menyerupai penyakit anak umum lainnya, seperti cacar air dan infeksi virus lainnya.

Anak mungkin berisiko lebih besar terkena mpox parah daripada orang dewasa. Mereka harus dipantau secara ketat hingga pulih, untuk diwaspadai jika mereka membutuhkan perawatan tambahan. Dokter dan tenaga kesehatan yang bertanggung jawab atas anak tersebut, mungkin menyarankan agar mereka dirawat inap di RS, sesuai derajat gejala klinis. Dalam situasi ini, orang tua atau pengasuh yang sehat dan berisiko rendah terkena mpox, tentu akan diizinkan untuk tinggal bersama mereka.

Jika seorang ibu menyusui telah dikonfirmasi atau diduga terinfeksi mpox, bicarakan dengan dokter dan tenaga kesehatan terdekat untuk meminta saran. Mereka akan menilai risiko penularan mpox serta risiko buruk jika tidak melanjutkan memberikan ASI kepada bayi. Jika ibu dapat terus menyusui dan melakukan kontak dekat, mereka akan mengajarkan kepada ibu tentang cara mengurangi risiko dengan mengambil tindakan lain, termasuk menutupi lesi kulit. Risiko infeksi perlu diimbangi secara hati-hati dengan potensi buruk yang disebabkan oleh penghentian pemberian ASI, dan kontak dekat antara ibu dan bayi. Belum diketahui apakah virus cacar monyet dapat menyebar dari ibu ke bayi melalui ASI, dan saat ini masih merupakan area yang perlu diteliti lebih lanjut.

Penelitian bertahun-tahun tentang terapi cacar yang telah dapat dibasmi di seluruh dunia, telah menghasilkan pengembangan produk farmasi yang juga dapat bermanfaat untuk mengobati mpox. Misalnya, obat antivirus yang dikembangkan untuk mengobati cacar (tecovirimat) telah disetujui pada Januari 2022 oleh Badan Obat-obatan Eropa untuk pengobatan mpox dalam keadaan luar biasa. Pengalaman dengan terapi ini dalam konteks wabah mpox terus berkembang tetapi masih terbatas. Karena alasan ini, penggunaannya biasanya disertai dengan kewajiban untuk masuk dalam uji klinis atau protokol akses yang diperluas, disertai dengan pengumpulan data yang akan meningkatkan pengetahuan tentang cara terbaik untuk menggunakannya, di masa mendatang.

Ada vaksin yang direkomendasikan oleh WHO untuk digunakan melawan mpox. Penelitian selama bertahun-tahun telah menghasilkan pengembangan vaksin yang lebih baru dan lebih aman, yang berasal dari vaksin untuk penyakit yang telah diberantas secara global, yaitu cacar. Beberapa vaksin tersebut telah disetujui di berbagai negara untuk digunakan melawan mpox. Saat ini, WHO merekomendasikan penggunaan vaksin MVA-BN atau LC16, atau vaksin ACAM2000 jika vaksin lainnya tidak tersedia.

Hanya orang yang berisiko (misalnya, seseorang yang pernah menjadi kontak dekat dengan seseorang yang menderita mpox, atau seseorang yang termasuk dalam kelompok berisiko tinggi terpapar mpox) yang harus dipertimbangkan untuk divaksinasi. Vaksinasi massal, termasuk untuk anak, saat ini tidak direkomendasikan. Pelancong yang akan memasuki daerah endemis mpox dan mungkin berisiko berdasarkan penilaian risiko individu oleh dokter, mungkin perlu dipertimbangkan mendapatkan vaksinasi.

WHO saat ini merekomendasikan vaksin bagi orang-orang yang pernah melakukan kontak dekat dengan seseorang yang menderita mpox, atau orang-orang yang termasuk dalam kelompok berisiko tinggi terpapar mpox. Vaksin mpox memberikan tingkat perlindungan terhadap infeksi dan penyakit parah. Hasil penelitian efektivitas vaksin menunjukkan bahwa tingkat perlindungan yang baik diberikan terhadap mpox setelah vaksinasi.

Anak dengan imunosupresi berisiko lebih tinggi terkena mpox parah atau meninggal. Mpox yang parah dapat mencakup lesi yang lebih besar dan lebih luas (terutama di mulut, mata, dan alat kelamin), kondisi seperti peradangan pada jantung, otak, atau organ lainnya, atau infeksi bakteri sekunder pada kulit atau darah, dan infeksi paru-paru.

Anak dengan penyakit HIV stadium lanjut (jumlah CD4 rendah, dan viral load HIV tinggi) memiliki risiko kematian yang lebih tinggi jika mereka mengalami mpox parah. Hal ini lebih umum terjadi pada orang dengan status HIV yang tidak diketahui sebelum diagnosis mpox.

Anak yang hidup dengan HIV yang tidak lagi mengalami supresi virus melalui pengobatan antiretroviral (ARV), tampaknya tidak memiliki risiko lebih tinggi mengalami mpox parah, daripada populasi umum. Penggunaan setiap hari antiretroviral (ARV) mengurangi risiko timbulnya gejala mpox parah pada anak dengan HIV, jika terjadi infeksi. Anak dengan HIV yang tidak diobati dan penyakit HIV stadium lanjut, sangat mungkin mengalami gangguan kekebalan tubuh, dan karenanya berisiko lebih besar mengalami mpox parah. WHO menyarankan agar setiap negara mengintegrasikan pengujian, pencegahan, dan perawatan HIV dan mpox.

Kasus mpox parah yang terlihat di beberapa negara di Afrika menyoroti kebutuhan mendesak untuk meningkatkan akses yang adil terhadap tes diagnostik, vaksin, dan terapi mpox, serta pencegahan, pengujian, dan pengobatan HIV. Jika anak hidup dengan HIV, teruslah minum obat HIV sesuai petunjuk. Pada tahun 2023, terdapat 9 juta orang, termasuk anak, di seluruh dunia yang hidup dengan HIV, tetapi tidak menjalani pengobatan HIV, berisiko terkena penyakit HIV stadium lanjut dan mpox yang mengancam jiwa, apalagi kalau tidak mendapatkan vaksinasi.

Saat ini, vaksin Mpox yang digunakan di Indonesia adalah jenis Modified Vaccinia Ankara-Bavarian Nordic (MVA-BN), yaitu vaksin turunan cacar (smallpox) generasi ketiga yang bersifat non-replicating. Pelaksanaan vaksinasi Mpox dengan MVA-BN telah dilakukan sejak 2023, setelah ditemukan kasus konfirmasi Mpox di Indonesia.

Apakah kita sudah bertindak bijak melindungi anak dari mpox?

Yogyakarta, 25 September 2024

*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM. WA :  081227280161

Categories
dokter Jalan-jalan

2024 Jelajah Katedral se Jawa

JELAJAH  KATEDRAL  SE  JAWA

Perjalanan darat (overland) untuk jelajah 7 buah Gereja Katedral se Jawa 23-27 Oktober 2024

fx. wikan indrarto & b. sari prasetyati

Katedral (bahasa Latin: cathedra yang berarti tempat duduk) adalah gedung gereja yang di dalamnya terdapat tempat duduk khusus yang disebut Katedra, yakni sebuah takhta bagi uskup. Katedral adalah bangunan untuk keperluan peribadatan, khususnya bagi denominasi yang memiliki hierarki episkopal, seperti Gereja Katolik, Gereja Anglikan, Gereja Ortodoks, beberapa Gereja Lutheran, dan beberapa Gereja Metodis, yang berfungsi sebagai tahta uskup, dan oleh karena itu juga berfungsi sebagai gereja pusat dari sebuah diosesan atau keuskupan. 

Kursi yang dimaksud ditempatkan secara khusus dalam gedung Gereja utama keuskupan dan dikhususkan bagi kepala keuskupan tersebut, dan oleh karena itu menjadi simbol utama dari otoritas. Pada masa lampau, kursi merupakan lambang guru, dengan demikian kursi uskup melambangkan peran uskup sebagai guru. Kursi juga lambang kepemimpinan resmi, dan oleh karena itu kursi uskup melambangkan peran uskup dalam kepemimpinan sebuah keuskupan.

Kami berniat sungguh untuk mengunjungi semua Gereja Katedral (bahasa Latin : ecclesia cathedralis) se Jawa, sekaligus mengucap syukur atas semua rahmat Tuhan yang telah turun tiada henti untuk kami.

Perjalanan darat (overland) untuk jelajah 7 buah Gereja Katedral se Jawa kami lakukan pada Rabu malam, 23 sampai Minggu malam, 27 Oktober 2024. Langkah pertama adalah naik bis PO Rosalia Indah dari Jogja menuju Gereja Katedral Santo Perawan Maria Dari Gunung Karmel di Malang sejauh 394 km dalam 7 jam. PT Rosalia Indah Transport (Rosalia Indah atau juga dikenal dengan akronim Rosin) adalah sebuah perusahaan bus yang berbasis di Palur, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Perusahaan ini merupakan bagian dari Rosalia Indah Group.

Nama “Rosalia” berasal dari nama anak sang pendiri, yaitu pasangan suami-istri Yustinus Soeroso dan Yustina Rahyuni Soeroso pada tahun 1983. Pada awalnya, mereka mengoperasikan dan mengelola sendiri layanan travel dengan armada berupa Mitsubishi Colt “Bibit Kawit” yang melayani trayek Surakarta (Solo)–Blitar, kemudian melakukan pengembangan trayek berupa Yogyakarta–Surabaya, dan Yogyakarta–Blitar/Malang. Pada tahun 1991, Rosalia Indah mulai mengubah orientasi layanan bus yang pada awalnya AKDP menjadi AKAP atau angkutan antarkota antar provinsi, dengan pengembangan trayek dari Blitar, Solo hingga Jakarta. Pada saat itu pula, Rosalia Indah juga melakukan penambahan armada berupa bus bermesin Hino sebanyak lima buah, yang tidak dilengkapi penyejuk udara (AC). Pada 10 April 2015, status Rosalia Indah berubah menjadi perusahaan Perseroan Terbatas berbadan hukum dengan nama PT Rosalia Indah Transport.

Kabin bis Rosalia Indah seri 3006 bermesin Mercedes-benz OH 1626 berbodi Jetbus 3+ buatan Adiputro

Istirahat makan di RM Bebek Taliroso Mejayan, Caruban dalam perjalanan ke Malang

Kamis, 24 Oktober 2024 : Jawa Timur

Kamis, 24 Oktober 2024, pk. 4 dini hari kami dijemput oleh  dr. H. Setyo Sugiharto, SH, MH, SpB-SubspBD(K), PhD dari Asean University Internasional (teman seperjuangan saat menjalankan tugas sebagai dokter spesialis di RSUD Dr. Soemarmo Sosroatmodjo, Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah tahun 2000) di pool bis Rosalia Indah di  Jl. Hamid Rusdi No. 15 Malang. Setelah beristirahat sejenak di rumahnya jl. Diponegoro 7 Malang yang megah, besar dan dilengkapi dengan 25 kamar kos untuk residen FK UB, kami diantar ke Gereja Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel Katedral Malang di Jl. Buring No. 60, Malang, untuk mengikuti misa kudus harian pagi pk. 6-6.40.

Gereja Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel Katedral Malang di Jl. Buring No. 60, Malang,

Kami dijemput dr. Setyo dengan Hyundai Creta putih

di rumah dr. Setyo Jl. Diponegoro 7 Malang yang megah dan besar

Katedral tersebut dibangun setelah peletakan batu pertama 11 Februari 1934. Tidak seperti kebanyakan gereja katolik yang bergaya arsitektur Gothic atau Klasik, katedral ini dibangun dengan gaya Art Deco. Rancangan bangunan dibuat oleh arsitek L. Estourgie, konstruksi oleh NV Bouwundig Bureau Sitzen en Louzada. Pelaksanaan pembangunan berlangsung 8 bulan dan diselesaikan pada 28 Oktober 1934.

Bangunan katedral ini merupakan sebuah contoh dari warisan arsitektural kolonial Belanda di kota Malang. Gereja pertama di Kota Malang pada tahun 1905, adalah Gereja Hati Kudus Yesus di Kayutangan, yang juga sempat kami lihat dari dalam mobil. Mgr. Clemens van der Pas adalah pencetus ide membangun Gereja Katedral di dekat Jalan Ijen di area yang dahulu dikenal dengan Buring Plein (Taman Buring). Sejak tahun 1961 sesuai dengan Konstitusi Apostolik XXIII, tentang Hirarki Gereja Katolik Indonesia, maka nama Gereja Katedral Malang yang semula adalah Gereja Katedral Santa Theresia, diganti dengan nama resmi yang baru, yaitu Gereja Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel. Mgr. Prof. Dr. Henricus Pidyarto Gunawan, O.Carm., (lahir 13 Juli 1955) adalah teolog Kitab Suci dan merupakan Uskup Gereja Katolik Roma untuk Keuskupan Malang saat ini.

Setelah misa kudus selesai, kami dijemput oleh dr. Setyo Sugiharto, SH, MH, SpB-SubspBD(K), PhD untuk menuju rumah dr. Iwan Donosepoetro, SpB (FK UB 82) yang juga pernah bersama-sama bertugas di RSUD Dr. Soemarmo Sosroatmodjo, Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah tahun 2000. Setelah melepas rindu dengan mengobrol penuh canda dalam dialek Malang, kami segera diajak dr. Iwan memakai Honda Jazz abu3 keliling Kota Malang dengan gaya nyopirnya yang khas, nyendal2 dengan sering lepas kemudi.

Rumah dr. Iwan di Jl. Pandan 7 Malang buatan tahun 1933 yang masih lestari

Gereja Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel Malang setelah ikut misa kudus harian pagi.

Sayang sekali kami tidak dpat bertemu istri dr. Iwan, yaitu Dr. dr. Susanthy Djajalaksana, SpP(K) di rumahnya yang kuno di Jl. Pandan 7 dekat SMP Katolik Santa Maria 2 Jl. Panderman Malang. Sebagai Kepala Program Studi Respirologi FK UB, dr. Santhy sedang mengikuti acara ilmiah di Bali dan sedang resah karena Kolegium Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi tidak termasuk kolegium yang disahkan Kemenkes RI. Pada hal, bulan depan harus menyelenggarkan ujian nasional untuk para residen pulmonolgi yang dipusatkan di Malang. Sejak tahan 2018 sudah ada peningkatan kwantitas dan kualitas dosen Respirologi FK UB dengan 4 guru besar, 5 lektor kepala, 2 lektor, dan 4 asisten ahli. Ada 16 dosen di prodi bergelar konsultan yang sudah dilengkap maping jenjang karier dosen.

Tujuan pertama adalah mengunjungi Dr. PC Widyo Karsono, SpB-KL di rumahnya yang asri di Jl. Terusan Mendut no 11 Malang. Beliau adalah dokter bedah senior ternama, yang masuk SMA Kolese de Britto (JB) Yogyakarta saat saya lahir, yaitu tahun 1966. Sebagai senior di WAG JB medis dan guru para dokter spesialis bedah di Malang, sowan kami dan obrolan yang terjadi sangat mengasikkan.

Sowan senior SMP dan SMA, yaitu dr. PC Widyo Karsono, SpB-KL. Beliau masuk SMA Kolese de Britto Yogyakarta saat saya lahir di tahun yang sama, yaitu 1966

Rumah dr. Widyo di Jl. Terusan Mendut no 11 Malang

Selanjutnya kami mengunjungi Hotel Tugu Malang, sebuah hotel bintang lima di Jl. Tugu No. 3, jantung kota lama Malang. Tepat di depannya terdapat Tugu perjuangan kemerdekaan Indonesia yang indah beserta kolam taman lotus. Setelah puas berfoto dengan semua keunikan hotel ini, yaitu koleksi barang antik yang tak ternilai harganya, kami segera terbayang tentang kekayaan pemiliknya. Semua barang antik di hotel tersebut merupakan barang-barang budaya ratusan tahun dari masyarakat Jawa babah Peranakan (campuran antara pendatang Cina di Jawa dan pribumi).

Salah satu sudut Hotel Tugu Malang, sebuah hotel bintang lima di Jl. Tugu No. 3, jantung kota lama Malang.

Air mancur dan tugu di lapangan JP. Coen (Alun-alun Bunder) Malang

Sebelum tahun 1914 Malang masih merupakan daerah bagian dari Karesidenan Pasuruan dan kekuasaan tertinggi di Malang adalah Assisten Residen dan kantornya berada di selatan Alun-alun (sekarang kantor Perbendaharaan dan Kas Negara). Setelah Kota Malang dinaikkan statusnya menjadi Gemeente (pemerintah kota) tanggal 1 April 1914, Kota Malang berhak memerintah daerah sendiri dengan dipimpin oleh seorang Burgemeester (Walikota). Semula jabatan walikota itu dirangkap oleh Asisten Residen sampai tahun 1918. Baru tahun 1919 Malang mempunyai walikota pertama HI Bussemaker, yang menduduki jabatannya sampai 1929 dan menetukan Balaikota Malang di bangun di selatan lapangan JP. Coen. Bangunan balaikota terdiri dari dua lantai. Orientasi bangunannya menghadap utara-selatan. Karena letak dan bentuk utama lokasinya, maka balaikota tersebut seolah-olah ingin menguasai lapangan JP. Coen (Alun-alun Bunder) dengan indahnya.

Bangunan Balaikota Malang terdiri dari dua lantai, menghadap utara-selatan, dan seolah-olah ingin menguasai lapangan JP. Coen (Alun-alun Bunder) dengan indahnya. 

Kantor Rektorat Universitas Brawijaya Malang terlihat di kejauhan tinggi menjulang

Perjalanan kami ke Malang kami laksanakan pada Oktober, karena bulan ini dipenuhi dengan gemerisik dedaunan, pesona ladang labu, dan kenyamanan cuaca yang sejuk di daratan Eropa. Namun bagi umat Katolik di seluruh dunia, Oktober memiliki makna yang jauh melampaui keindahan musim gugur, karena bulan Oktober ini didedikasikan untuk berdoa Rosario Mahakudus, salah satu devosi dalam tradisi Katolik yang paling terkenal. Bulan Mei dan Oktober adalah bulan khusus pada kalender liturgi Gereja Katolik, yang didedikasikan untuk penghormatan kepada Perawan Maria, ibu Yesus Kristus.

Bunda Maria dianggap istimewa oleh umat Katolik karena ia adalah teladan manusia yang berserah pada kehendak Allah dan ia memiliki relasi yang erat dengan Yesus Kristus sejak dalam kandungan hingga wafat-Nya. Selian itu, umat Katolik meyakini bahwa Bunda Maria adalah ibu rohani yang penuh belas kasihan dan perantara yang kuat antara mereka dan Yesus Kristus.

Selain berdevosi kepada Bunda Maria, saat itu kami juga mengingat adanya kisah penyerangan pasukan Kesultanan Mataram Islam di Surakarta ke Malang pada 1614, yang dipimpin oleh Tumenggung Alap-Alap. Para pembantu Tumenggung Alap-Alap menyebut warga dan prajurit dari daerah tersebut sebagai penduduk yang “menghalang-halangi” (malang dalam Bahasa Jawa) kedatangan pasukan Mataram. Setelah penaklukan tersebut, pihak Mataram menamakan daerah itu Malang. Kota Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah Surabaya dan kota terbesar ke-12 di Indonesia.

Kunjungan singkat ke pabrik Adiputro Wirasejati (Adiputro), karoseri pembuat bodi bus yang hebat di Malang

Perjalanan kami selanjutnya sebagai penggemar bis adalah mengunjungi pabrik Adiputro Wirasejati (atau dikenal dengan nama merek dagang sebagai Adiputro), yaitu sebuah perusahaan karoseri bus (Coachbuilder) asal Malang. Badan (bodi) bus buatan karoseri Adiputro banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan bus ternama di Indonesia (terutama di Pulau Jawa) seperti Agra Mas, ALS, Budiman, Haryanto, Juragan 99, Lorena Group, NPM, Pahala Kencana, Pandawa 87, Rosalia Indah, Sinar Jaya dan lainnya.

Adi Putro didirikan oleh tiga Jethrokusumo bersaudara yang pada awalnya ketiganya bekerja pada sebuah dealer mobil. Ketiga bersaudara itu adalah Andreas Jethrokusumo, Jesse Jethrokusumo dan David Jethrokusumo. Ketika melihat peluang permintaan pasar otomotif terhadap mobil penumpang yang besar, ketiga bersaudara ini memutuskan untuk keluar dari pekerjaanya dan memulai membuka usaha karoseri kecil-kecilan pada tahun 1973 dengan pekerjaan pertamanya adalah memodifikasi dua Mobil pikap Mitsubishi Colt T120 menjadi mobil penumpang.

Setelah usaha karoseri ini berkembang pesat, ketiga bersaudara itu secara resmi mendirikan perusahaan karoseri dengan nama Adi Putro pada tahun 1975 di Malang. Royal Coach adalah nama model bodi bus pertama buatan Adiputro sejak tahun 1990an. Saat ini yang terkenal adalah versi Jetbus, merupakan penerus model bodi bus Royal Coach. Nama Jetbus adalah singkatan dari “Jethrokusumo Bus”. Dream Coach adalah model bus tidur (Sleeper bus) yang juga merupakan varian baru dari Jetbus buatan Adiputro yang dirilis pada bulan Desember 2020. Jetbus 5 produk terbaru dan kebanggaan karoseri Adiputro pertama kali ditampilkan dan diperkenalkan kepada khalayak pada GIIAS 2023 di gedung ICE, BSD City.

Kami menikmati cwie mie di Warung Cwie Mie Isor Uwit, yang sudah berdiri sejak tahun 1980 di Jl. Guntur 21 Malang.

Siap naik bis ke Surabaya di Terminal Arjosari Malang

Setelah makan siang menu kuliner lokal Malang, yaitu cwie mie dengan konsep sedikit berbeda dengan menu mie ayam khas Solo atau Wonogiri-an yang menyajikan mie dengan siraman ayam berbumbu. Sementara cwie mie Malang biasanya disajikan kering dengan taburan ayam rebus di atas mie-nya. Kami menikmati cwie mie di Warung Cwie Mie Isor Uwit, yang sudah berdiri sejak tahun 1980 di Jl. Guntur 21 Malang.

Suasana kabin bis Tentrem, sebuah bis AC tarif biasa kelas ekonomi menuju terminal Bungurasih Surabaya.

Mas Ig. Wahyu Soemarto dan Ibu Laurentia Handoko menjemput kami di Terminal Bungurasih Surabaya

Setelah kenyang makan menu uenak tersebut, kami segera diantar ke Terminal Arjosari Malang, untuk naik bis Tentrem. Sebuah bis AC tarif biasa kelas ekonomi menuju terminal Bungurasih Surabaya. Di terminal tersebut kami dijemput oleh mas Ig. Wahyu Soemarto, kakak kelas 2 tahun di SMA Kolese de Britto dan Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta. Bahkan istrinya, Ibu Laurentia Handoko, membawakan menu kuliner Surabaya yang enak dan mengantar kami ke Katedral Surabaya pada siang yang terik oleh sengat matahari.

Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya berada di Jl. Polisi Istimewa 15 Surabaya. Gereja ini diresmikan pada 21 Juli 1921. Saat ini, Keuskupan Surabaya dipimpin oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Surabaya, Romo Eko Budi Susilo, sebagai administrator diosesan. Romo Eko ditunjuk setelah Uskup Surabaya sebelumnya, Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, meninggal dunia pada 10 Agustus 2023, sehingga saat kami datang terjadi Takhta Lowong (Sede Vacante). Uskup Surabaya yang baru, diumumkan setelah kami pulang ke rumah adalah Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo. Uskup Didik, sapaannya, lahir di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, 12 April 1968.

Perancangan desain gereja dilakukan oleh Ed Cypress Bureau, di mana rangka denah memiliki bentuk persegi panjang. Sementara itu, konstruksi gereja dilakukan oleh sebuah biro arsitek, yakni Huswit-Fermont. Pembangunan gereja mengeluarkan biaya 216.000 Gulden Belanda. Upacara peletakan batu pertama gereja dilaksanakan pada tanggal 11 Agustus 1920 oleh Romo Fleerakkers, SJ. Peresmian dan pemberkatan gereja dilaksanakan pada tanggal 21 Juli 1921 oleh Mgr. Edmundus Luypen, SJ, Vikaris Apostolik Batavia dan gereja ini diberi nama Gereja Hati Kudus Yesus Surabaya.

Setelah puas berdoa dan berfoto di Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya, kami segera melanjutkan petualangan. Dalam panas terik Oktober di Surabaya sore itu, kami mengingat bahwa bulan Oktober memang cukup istimewa bagi umat Katolik sedunia, termasuk kami, untuk mendaraskan doa rosario. Penentuan bulan Oktober sebagai bulan Rosario, berkaitan dengan pertempuran di Lepanto, yaitu sebuah pertempuran laut yang berlangsung saat Perang Salib pada tanggal 7 Oktober 1571. Pada waktu itu armada laut Liga Suci, koalisi negara-negara Katolik bentukan Paus Pius V, bertemu dengan  armada Kekaisaran Usmani Turki di perairan Teluk Patras. Don Juan de Austria, adik tiri Raja Spanyol Felipe II, yang diangkat oleh Paus Pius V menjadi panglima segenap armada Liga Suci. 

pertempuran di Lepanto, yaitu sebuah pertempuran laut yang berlangsung saat Perang Salib pada tanggal 7 Oktober 1571.

Don Juan (John) de Austria, diangkat oleh Paus Pius V menjadi panglima segenap armada Liga Suci.

Angkatan perang Usmani saat itu sedang menuju ke barat dari pangkalan lautnya di Lepanto (nama yang diberikan orang Venesia untuk kota Nafpaktos, orang Turki menamakannya İnebahtı) berpapasan dengan armada Liga Suci yang sedang menuju ke timur dari Messina, Sisilia di Italia. Menghadapi ancaman ini, Don Juan (John) de Austria, komandan armada Katolik, memimpin doa rosario memohon pertolongan Bunda Maria. Demikian juga, umat Katolik di seluruh Eropa berdoa rosario untuk memohon bantuan Bunda Maria di dalam keadaan yang mendesak ini.

Pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama-sama dengan banyak umat beriman berdoa rosario di basilika Santa Maria Maggiore Roma, Italia. Sejak subuh sampai petang, doa rosario tidak berhenti didaraskan di Roma untuk mendoakan pertempuran di Lepanto. Walaupun nampaknya mustahil, namun pada akhirnya pasukan Katolik menang. Kemudian, Paus Pius V menetapkan peringatan Rosario dalam Misa di Vatikan setiap tanggal 7 Oktober dan penerusnya, Paus Gregorius XIII, menetapkan tanggal 7 Oktober itu sebagai Hari Raya Rosario Suci.

Kemenangan Liga Suci di Lepanto menjegal langkah ekspansi Kesultanan Utsmaniyah Turki ke sisi Eropa dari Mediterania.

Paus Gregorius XIII, menetapkan tanggal 7 Oktober itu sebagai Hari Raya Rosario Suci, terkait kemenangan di Lepanto tahun 1571

Di dalam sejarah perang laut, Pertempuran Lepanto merupakan laga besar terakhir di Eropa yang mempertarungkan kapal-kapal dayung. Pada hakikatnya pertempuran ini adalah “laga infanteri di atas panggung terapung”. Keterlibatan lebih dari 450 kapal perang menjadikannya pertempuran laut terbesar dalam sejarah Eropa sejak Abad Klasik. Kemenangan Liga Suci ini menjegal langkah ekspansi Kesultanan Utsmaniyah Turki ke sisi Eropa dari Mediterania.

Dengan inspirasi tersebut, kami juga mendasarkan doa rosario untuk memenangkan perang besar melawan dosa, kemalasan, dan tinggi hati. Apalagi kata Surabaya sering diartikan secara filosofis sebagai lambang perjuangan antara darat dan air, seperti mitos pertempuran antara ikan sura (ikan hiu) dan baya (buaya), yang menimbulkan dugaan bahwa terbentuknya nama “Surabaya” muncul setelah terjadinya pertempuran tersebut. Kata Surabaya juga diyakini sebagai perpaduan dua nama tokoh besar pada masa lampau yaitu Suropati dan Purbaya.

Perkelaian Suropati dan Purbaya dalam legenda asal muasal kota Surabaya

Pertempuran antara ikan hiu dan buaya, sebagai lambang kota Surabaya

Pada era Paska Kemerdekaan Indonesia, tanggal 10 November 1945, pasukan Inggris mulai membom Surabaya dan perang sengit berlangsung terus menerus selama 10 hari. Pada 20 November 1945 Inggris akhirnya berhasil menguasai Surabaya dengan korban ribuan orang prajurit tewas. Lebih dari 20.000 tentara Indonesia, milisi dan penduduk Surabaya juga tewas. Seluruh kota Surabaya hancur lebur. Pertempuran ini merupakan salah satu pertempuran paling berdarah yang dialami pasukan Inggris pada dekade 1940-an. Pertempuran ini menunjukkan kesungguhan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dan mengusir penjajah.

Karena sengitnya pertempuran dan besarnya korban jiwa, setelah pertempuran ini, jumlah pasukan Inggris di Indonesia mulai dikurangi secara bertahap dan digantikan oleh pasukan Belanda. Pertempuran di Surabaya pada tanggal 10 November 1945 tersebut hingga saat ini dikenang dan diperingati sebagai Hari Pahlawan. Oleh karena itu, kami ingin mengambil inspirasi semangat juang para pahlawan dengan segera menuju Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria (KELSAPA) yang merupakan gereja tua di kota Surabaya dan turut menjadi saksi kehancuran kota Surabaya, saat perang revolusi Indonesia.

Setelah minum es buah segar di depan gereja, juga menu kuliner khas Surabaya lontong balap dan tahu campur yang dibawakan mas Wahyu dan bu Laurentia, kami segera menikmati keindahan Gereja Kelsapa di Kepanjen dengan dindingnya yang khas karena terbuat dari bata merah tanpa plester. Gereja ini sempat direnovasi pada tahun 1951 oleh Mgr. Verhoeks, CM. Gereja Kelsapa kembali direnovasi setelah pelemparan granat oleh salah seorang anggota Partai Komunis Indonesia pada tanggal 15 Oktober 1967. Gereja Kelsapa ini ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Pemerintah Kota Surabaya pada tahun 2013.

Gereja Kelasapa ini mulai dibangun pada tahun 1899 dengan bantuan arsitek W. Westmaas dari Semarang, dan diresmikan pada 5 Agustus 1900. Pada zaman perang kemerdekaan RI tahun 1945 bangunan gereja hancur terbakar saat perang revolusi di daerah Jembatan Merah (yang menewaskan Brigadir Jendral Mallaby dari Inggris). Pada tahun 1996 Gereja Kepanjen direnovasi lagi. Kedua menara yang terdapat di samping kanan dan kiri pintu masuk utama gereja, kembali dipasang. Ketinggian masing-masing menara adalah 15 meter, dengan tinggi salib 3,75 meter dan ayam jago 3,50 meter. Keduanya dari bahan stainless steel.

Sesama manuk JB (alumni SMA Kolese de Britto Yogyakarta) angkatan 82 (mas Wahyu), 83 (mas Alex) dan 84 (saya) di Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria (Kelsapa) Surabaya

Gedung Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria (Kelsapa) Kepanjen telah mendapatkan penghargaan dari komunitas Pelestarian Arsitektur Surabaya

Dari segi arsitektur, Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria ini telah mendapatkan penghargaan dari komunitas Pelestarian Arsitektur Surabaya pada tahun 1996, dan pada tahun 1998 ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Di gereja tersebut kami bertemu dengan dr. Alexander Surya Agung, Sp.B, FINACS, FICS, FAACT, kakak kelas setahun di SMA Kolese de Britto (JB) Yogyakarta. Setelah bercengkerama sesama manuk JB dengan mas Wahyu dan Dr. Alex, akhirnya kami diantar Dr. Alex menikmati suasana indah di malam hari kota tua Surabaya. Setelah dibelikan menu kuliner lokal nasi cumi hitam yang dibungkus, kami diantar tergesa ke Stasiun Pasar Turi, takut ketinggalan KA Pandalungan.

Kenangan sehabis mendoakan kita semua, di Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria (Kelsapa) Kepanjen Surabaya, dengan patung Tuhan Yesus Kristus satu-satunya di dunia maya, yang menengok ke kiri, bukan ke kanan.

KA Pandalungan adalah layanan kereta api penumpang kelas eksekutif yang dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) untuk melayani relasi Gambir–Jember di lintas utara Jawa (via Semarang Tawang–Surabaya Pasarturi).

Dibelikan nasi bungkus isi cumi hitam di Pasar Atom Surabaya oleh dr. Alex sebelum diantar ke Stasiun Pasar Turi

Blangkon tertinggal di kabin KA Pandalungan saat kami turun di Stasiun Semarang Tawang Bank Jateng

Dengan jarak tempuh 919 km melalui jalur utara Jawa dan waktu tempuh rata-rata 14 jam 15 menit, KA ini sempat menjadi kereta api antarkota dengan jarak tempuh terpanjang di Indonesia, setelah KA Gajayana (jarak tempuh terjauh di jalur tengah Pulau Jawa), dan KA Ranggajati (jarak tempuh terjauh di jalur selatan Pulau Jawa). Nama Pandalungan berasal dari sub-suku Madura yang mendiami wilayah di Tapal Kuda Jawa Timur (tepatnya di Jember di mana stasiun awal keberangkatan berada) dan disebut sebagai suku utama Madura. 

Kami turun di Stasiun Semarang Tawang Bank Jateng menjelang pk. 23 dengan musibah kecil, yaitu blangkon (tutup kepala tradisional Jawa) tertinggal di kursi. Segere kami mengubungi CS PT KAI melalui DM Instagram KAI121. Sepanjang jalan melewati keindahan malam suasana kota lama Semarang yang gemerlap, kami menuju rumah sepupu, yaitu mbak Katini di Jl. Tarupolo no 15, RT 6/RW 10, Gisik Drono, Semarang Barat. Kami juga teringat akan Pelabuhan Simongan sebagai tempat armada Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok bersandar pada tahun 1435 M. Di tempat pendaratannya, Laksamana Cheng Ho mendirikan kelenteng dan masjid yang sampai sekarang masih dikunjungi dan disebut Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu) Semarang, tidak jauh dari rumah mbak Katini.

Pada akhir abad ke-15 M utusan Kerajaan Demak yang dikenal sebagai Pangeran Made Pandan (Sunan Pandanaran I), mulai menyebarkan agama Islam dari perbukitan Bergota. Dari waktu ke waktu daerah itu semakin subur dan tumbuhlah pohon asam yang berjarak satu sama lain (jarang-jarang) (bahasa Jawa: asem arang), sehingga nama daerah itu kemudian menjadi Semarang, yang terbwa dalam mimpi kami malam itu.

Jumat, 25 Oktober 2024 : Jawa Tengah

Hanya tertidur sekitar 5 jam di rumah mbak Katini Jl. Tarupolo no 15, RT 6/RW 10, Gisik Drono, Semarang Barat, kami segara menuju Gereja Katedral Semarang, nama resminya Katedral Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci Randusari berada di Jl. Pandanaran No. 9, Semarang, Jawa Tengah. Katedral ini terletak di dekat Tugu Muda di kelurahan Randusari, Semarang.

Mgr. Dr. Robertus Rubiyatmoko (lahir 10 Oktober 1963) adalah Uskup Agung di Keuskupan Agung Semarang. Ia ditahbiskan menjadi Imam pada tanggal 12 Agustus 1992 dengan penahbis Mgr. Julius Darmaatmadja, SJ dan dipilih oleh Paus Fransiskus menjadi Uskup Agung di Keuskupan Agung Semarang pada tanggal 18 Maret 2017.

Kami menginap di rumah mbak Katini Jl. Tarupolo no 15, RT 6/RW 10, Gisik Drono, Semarang Barat.

Katedral Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci Randusari berada di Jl. Pandanaran No. 9, Semarang

Katedral ini dibangun di atas fondasi batu, dengan ruang besar bebas kolom  dalam. Atap dan lengkungan memiliki parapets, dan pintu pada bangunan wajah persegi panjang utara, barat, dan selatan; bagian depan gereja terletak di sebelah barat. Gereja Katedral Semarang memiliki sejarah panjang yang tak terlepas dari Kota Semarang. Gereja ini merupakan bagian dari tahta suci Vicaris Apostolic yang dipimpin oleh Mgr. J. Groff, seorang misionaris Suriname yang tinggal di Batavia. Saat itu Vicaris Apostolic memiliki tiga Paroki besar, yakni Batavia, Semarang, dan Surabaya. Sementara itu, Paroki Semarang memiliki tiga stasi, yakni Stasi Candi (1925), Stasi Bangkong (1932), dan Stasi Randusari (1927).

Bersama mas Awe dan mbak Ratri (teman SMP Bruderan Purworejo, tinggal di Jatingaleh) dan mas Darmadi (teman Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta, tinggal di Karang Panas) di Gereja Katedral Semarang

Pada tahun 1927, dibangunlah sebuah gereja yang sebelumnya merupakan kantor Dinas Kesehatan Belanda bernama Dienst voor Volkgezondheid. Gereja ini dirancang oleh J Th Van Oyen bekerja sama dengan konstruktor Kleiverde. Di tahun itu juga, Mgr Antonius van Velsen SJ Vicaris Apostolic Batavia memberkati gereja yang berlokasi di wilayah Randusari menjadi Stasi Randusari. Renovasi dilakukan pada tahun 1935 dan selesai sekitar tahun 1937, dan diberkati oleh Mgr Pieter Jan Willekens, SJ.

Di katedral Semarang kami berjumpa dalam kehangatan suasana dengan mas Awe dan mbak Ratri, teman kami di SMP Bruderan Purworejo yang tinggal di Jatingaleh. Juga mas Darmadi Tjandrajaya, kakak kelas 2 tahun di Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta, yang tinggal di Karang Panas. Setelah mengikuti misa kudus harian di Gereja St. Perawan Maria Ratu Rosario Suci (Katedral) Randusari, Semarang harian pk. 5.30 kami segera diantar berboncengan 2 sepeda motor menuju Stasiun Poncol Semarang, untuk mengejar KA Kamandaka.

Dalam perjalanan tanpa mengenakan helm diboncengkan mas Darmadi, kami jadi teringat tentang pernah adanya Perang Salib yang pertama kali dicetuskan oleh Paus Urbanus II pada tahun 1095, dalam sidang Konsili Clermont di Perancis. Ia mengimbau peserta konsili untuk angkat senjata membantu Kaisar Romawi Timur melawan orang Turki Seljuk, dan untuk melakukan ziarah bersenjata ke Tanah Suci. Imbauannya ditanggapi dengan penuh semangat oleh seluruh lapisan masyarakat Eropa Barat. Para sukarelawan dikukuhkan menjadi anggota Laskar Salib atau Liga Suci melalui pengikraran kaul di muka umum. Orang mengajukan diri lantaran didorong oleh niat yang berbeda-beda. Ada yang sekadar ingin pergi ke Yerusalem agar ikut terangkat beramai-ramai ke surga, ada yang melakukannya demi bakti kepada majikan, ada yang hendak mencari ketenaran dan nama baik, dan ada pula yang bernafsu meraup keuntungan ekonomi maupun politik melalui keikutsertaannya.

Laskar Salib mampu menguasai dan membentuk 4 negara baru, yang lazim disebut Outremer (Tanah Sabrang), yakni Edessa, Antiokhia, Yerusalem, dan Tripoli. Laskar Salib pada akhirnya terdesak mundur dalam Perang Salib yang berlangsung pada 1095 – 1291, sesudah hampir dua abad bercokol di Tanah Suci. Akko, kota terakhir Laskar Salib di Tanah Suci, direbut kaum Muslim pada tahun 1291. Perang Salib yang berlangsung hampir 2 abad di masa lalu, tepatnya  1095–1291, mengajarkan tentang pentingnya toleransi antar umat beragama di masa kini, termasuk dalam wilayah yang kami lalui selama ziarah katedral ini.

Kami segera melanjutkan perjalanan dari Semarang menggunakan KA Kamandaka, yang merupakan layanan kereta api penumpang kelas eksekutif dan ekonomi milik PT KAI (Kereta Api Indonesia) dengan melayani relasi Cilacap–Purwokerto–Semarang Tawang melalui lintas tengah Pulau Jawa.

Nama “Kamandaka” diambil dari salah satu tokoh legenda asal Banyumas, Raden Kamandaka. Dalam cerita ketoprak di Jawa Tengah selatan, dia dikenal sebagai Lutung Kasarung. Cerita rakyat ini berbeda dengan legenda Tanah Pasundan, yaitu kisah para menak Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda, tentang perjalanan Sanghyang Guruminda dari Kahyangan, yang diturunkan ke Buana Panca Tengah (Bumi) dalam wujud seekor lutung (sejenis monyet). KA Kamandaka diresmikan oleh Wakil Menteri Perhubungan, Bambang Susantono, dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, pada 17 Febuari 2014.

Oleh karena blangkon saya tertinggal di KA Pandalungan, sehingga untuk foto selanjutnya mama yang akan memakai topi, sejak naik KA Kamandaka menuju Purwokerto 

Di stasiun Purwokerto kami dijemut oleh Mas Bambang dan mbak Wiwik, teman kami yang tinggal di Purwokerto. Juga orang tua An. Loisa dan An. Lio, yang pernah menjadi pasien kami di RS Panti Rapih Yogyakarta.

Kami berdua berpencar mobil, karena ada 2 mobil yang menjemput kami di Stasiun Purwokerto dan akhirnya bertemu di Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto berlokasi di Jl. Gereja No. 3, Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Gereja Katedral Purwokerto didedikasikan untuk gelar Yesus, yaitu Kristus Raja. Katedral ini menjadi pusat kedudukan dan takhta bagi Uskup Purwokerto, saat ini Mgr. Dr. Christophorus Tri Harsono (lahir 18 Januari 1966) sejak terpilih pada 14 Juli 2018 menggantikan Mgr. Julianus Kema Sunarka, SJ.

Bangunan Katedral Kristus Raja Purwokerto saat ini merupakan bangunan baru, yang menggantikan bangunan katedral lama, yang didirikan pada tahun 1930. Seiring perkembangan umat, Katedral lama dirasa terlalu kecil dan kurang mewakili wajah Katedral sebagai gereja induk di Keuskupan. Kemudian tercetuslah ide untuk membangun sebuah Katedral baru pada masa penggembalaan Mgr. W. Schoemaker, MSC, namun pelaksanaannya selalu tertunda. Wacana ini terus berkembang pada masa penggembalaan Mgr. Paschalis Hardjasoemarta, MSC.

Langkah serius diambil pada bulan Mei 1982 saat perayaan setengah abad berdirinya Keuskupan Purwokerto (dihitung dari pendirian Perfektur Apostolik Purwokerto). Mgr. Paschalis Hardjasoemarta, MSC mengajak umat membangun Katedral baru, sebagai bentuk syukur atas penyertaan Allah sepanjang perjalanan Keuskupan Purwokerto, sekaligus menjadi monumen kesatuan umat yang menampilkan wajah budaya setempat. Sebagai bentuk kontinuitas perjalanan Gereja, gedung Katedral baru dibangun di tempat Katedral lama.

Bersama mbak Wiwik dan mas Bambang yang telah menjemput kami di Stasiun Purwokerto

Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto

Bulan April 1985 katedral lama mulai dibongkar dan pada 26 Mei 1985 dilaksanakan upacara peletakan batu pertama untuk gedung Katedral baru. Selama masa pembangunan ini, misa harian dilaksanakan di kapel susteran dan bruderan, sementara Misa Mingguan dirayakan di aula sekolah susteran (Juli 1985 – Februari 1988).

Bangunan Katedral baru diresmikan oleh Soepardjo Rustam yang waktu itu menjabat sebagai Menkokesra RI pada 30 Mei 1988 dan dikonsekrasi sebagai Katedral oleh Mgr. Paschalis Hardjasoemarta, MSC pada 31 Mei 1988. Katedral Kristus Raja Purwokerto ini menjadi Katedral pertama di Jawa yang dibangun pasca kemerdekaan RI. Corak arsitektur joglo menggambarkan Gereja yang hidup di tengah budaya bangsa. Katedral baru ini bisa menampung sekitar 600-700 umat.

An. Lousa kelas 4 SD yang pernah menjadi pasien di RS Panti Rapih Yogyakarta tidak ikut menjemput dan hanya An. Lio (adiknya) yang ikut menemani kami di Katedral Purwokerto

Bersama RD Martinus Ngarlan (Pastor Kepala Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto)

Setelah berdoa dan berfoto dalam kemegahan Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto, selanjutnya mbak Wiwik (Herwijati Anita Miranda Prajitno adalah Analis Kebijakan Ahli Madya Kementerian Sosial RI) dan mas Bambang segera bergegas pulang, karena ada acara lain dan kami diajak keliling kota Purwokerto bersama An. Lio (5 tahun). Purwokerto adalah ibu kota Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Julukan kota di jalur tengah Jawa Tengah ini adalah kota wisata, kota keripik, kota transit, kota pendidikan, sampai kota pensiunan. Di kota ini pula terdapat Museum Bank Rakyat Indonesia, yang dahulu berdiri di Purwokerto dan didirikan oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja, putra daerah Purwokerto. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Purwokerto adalah bahasa Jawa dialek Banyumasan. Wikipedia juga turut melestarikan bahasa banyumasan ini dengan menerbitkan Wikipedia bahasa Banyumasan.

Bersama An. Lio di dalam Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto

Makan siang di RM Raja Soto Lama H. Suradi Jl. Mayjen Sutoyo Purwokerto menu soto Sokaraja dan mendoan.

Kami segera diajak makan siang di RM Raja Soto Lama H. Suradi Jl. Mayjen Sutoyo Purwokerto. Makanan khas Purwokerto adalah soto Sokaraja dan mendoan, makanan yang terbuat dari tempe yang tipis, kemudian dibalur tepung bumbu dan digoreng setengah matang, yang kami santap dengan penuh semangat siang itu. Tahu brontak, makanan yang terbuat dari tahu yang ditepungi, dibumbui, dan digoreng. Istilah “brontak” berasal dari sayuran yang keluar dari tahu ketika digoreng dan Keripik tempe, Kota Keripik merupakan salah satu julukan dari kota Purwokerto.

Selanjutnya kami diantar ke pol travel Aragon di Jl. Mayjend Sutoyo No. 20, Sawangan, Purwokerto Barat. Tingginya kebutuhan masyarakat Indonesia untuk moda layanan transportasi darat yang efisien tetapi nyaman dan aman, menjadi inspirasi untuk Aragontrans hadir dengan fasilitas-fasilitas yang memenuhi kebutuhan tersebut. Pertengahan tahun 2019 menjadi penanda awal eksistensi Aragontrans di mata publik dunia transportasi darat Indonesia.

Duduk manis di captain seat Travel  Toyota HiAce Aragon dari Purwokerto menuju ke Bandung. 

Travel Toyota Hi Ace Commuter, menuju ke Bandung saat berstirahat sekali di RM Sukamanah di Jl. Raya Sindangkasih, Ciamis aat menuju ke Bandung

Namanya terinspirasi dari Aragon adalah satu dari tujuh belas wilayah otonom di Spanyol. Ibu kotanya adalah Zaragoza. Layanan Aragontrans terbagi atas layanan shuttle, travel, charter, courier & cargo. Saat ini didukung dengan 30 unit Toyota Hi Ace Commuter, 5 outlet di lokasi strategis, rute terjadwal serta pelayanan terbaik, diyakini dapat menjadi salah satu jasa layanan transportasi profesional dan terpercaya. Kami menikmati perjalanan darat di captain seat Travel Toyota Hi Ace Commute, menuju ke Bandung. Dengan berstirahat sekali di RM Sukamanah di Jl. Raya Sindangkasih, Ciamis pk. 16.30, akhirnya kami sempat ikut keliling dalam kota Bandung mengantar penumpang lain, karena layanan travel Aragon ke Jawa bersifat door to door, bukan pool to pool. Kami ikut menikmati Jalan Braga dan sekitranya dengan suasana hiruk pikuk pengunjung dan akhirnya masuk rumah kami di Sarijadi menjelang pk. 21. Kami bertemu dengan Dik Larasati, anak bungsu kami yang sedang banyak tugas saat koass di RS Sartika Asih Bandung dengan pembimbing yang sangat rajin Dr. Ahmad Seno Kamil, SpPD.

Dini hari itu dik Larasati sudah bangun dan harus melakukan pra visite di RS Sartika Asih Bandung dengan pembimbing yang sangat rajin Dr. Ahmad Seno Kamil, SpPD.

Sabtu, 26 Oktober 2024 : Jawa Barat

Gereja Santo Petrus Katedral Bandung terletak di Jalan Merdeka, Babakanciamis, Bandung, Jawa Barat. Bangunan ini dirancang oleh Charles Prosper Wolff Schoemaker dan bergaya arsitektur neo-Gothic akhir. Dilihat dari atas, bentuknya menyerupai salib yang simetris. Katedral Santo Petrus mempunyai luas tanah sebesar 2.385 m² dan luas bangunan sebesar 785 m². Pembangunan gereja ini dilaksanakan sepanjang tahun 1921 dan diberkati pada 19 Februari 1922 oleh Mgr. Edmundus Luypen, S.J.

Katedral Santo Petrus Bandung ini dirancang oleh Charles Prosper Wolff Schoemaker dan bergaya arsitektur neo-Gothic akhir.

Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C. (lahir 14 Februari 1968) adalah Uskup Keuskupan Bandung, melanjutkan kepemimpinan Mgr. Johannes Pujasumarta yang ditunjuk sebagai Uskup Agung Semarang dan kekosongan tahta diisi oleh Administrator Apostolik Mgr. Ignatius Suharyo. Ia terpilih menjadi Uskup Bandung pada 3 Juni 2014, dan ditahbiskan menjadi Uskup pada 25 Agustus 2014.

Di Katedral Santo Petrus Bandung ini kami mengalami perjumpaan yang membahagiakan antara kawulo alit dengan perwira tinggi TNI, teman seangkatan di SMA Kolese de Britto (JB) Yogyakarta 1984. Beliau adalah Mantan Kadispsiad Brigjen TNI (Purn) Drs. R Tagar Pujasambada, M.Psi., Psikolog,

Di Katedral Santo Petrus Bandung ini kami mengalami perjumpaan yang membahagiakan antara kawulo alit dengan perwira tinggi TNI, teman seangkatan di SMA Kolese de Britto (JB) Yogyakarta 1984. Beliau adalah Mantan Kadispsiad Brigjen TNI (Purn) Drs. R Tagar Pujasambada, M.Psi., Psikolog, setelah mengikuti misa kudus harian pagi di Gereja Katedral Santo Petrus Bandung. Selain itu, kami juga berjumpa dengan adik kandung kami yang lama tidak bertemu, Yosephine Wara Pradnastuti yang siap mengantar kami ke pool Aragon Travel di Pasteur Bandung untuk menuju ke Katedral Bogor.

Berjumpa dengan adik kandung kami yang lama tidak bertemu, Yosephine Wara Pradnastuti di Gereja Santo Petrus Katedral Bandung.

Kota Bandung berasal dari kata bendung atau bendungan karena terbendungnya sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkuban Parahu yang membentuk telaga. Legenda lain mengatakan bahwa nama Bandung diambil dari dua perahu yang diikat berdampingan yang disebut perahu bandung, yang digunakan oleh Bupati RA Wiranatakusumah II, untuk menyusuri sungai Citarum dalam mencari lokasi kabupaten yang baru,  untuk menggantikan ibu kota yang lama di Dayeuhkolot.

Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru tahun 1955 mengatakan bahwa Bandung adalah ibu kotanya Asia-Afrika. Pada tahun 1990, Kota Bandung terpilih sebagai salah satu kota paling aman di dunia berdasarkan survei majalah Time. Kota Bandung dijuluki sebagai kota kembang, karena sangat cantik dengan banyaknya pohon dan bunga-bunga yang tumbuh di sana. Selain itu, Kota Bandung disebut juga dengan Paris van Java karena keindahannya yang mirip seperti Kota Paris di Prancis. Pada tahun 2007 Kota Bandung menjadi pilot project kota terkreatif se-Asia Timur. Saat ini Kota Bandung merupakan salah satu kota tujuan utama pariwisata dan pendidikan, maka wajar saja kami sangat terkagum dengan keindahan Bandung.

Dalam perjalanan naik Travel Aragon dari Bandung, kami kembali mengingat bahwa bulan Oktober sebagai bulan Rosario sebagai warisan spiritual Paus Leo XIII (1878-1903). Deklarasi bulan Oktober sebagai bulan Rosario sejarahnya bermula dari keputusan Paus Pius V menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai pesta Santa Maria Ratu Rosario. Sepanjang jalan coba kami terus daraskan doa rosario, termasuk saat kami melibas Jalan Tol Jagorawi (Jakarta–Bogor–Ciawi), yang merupakan jalan tol pertama di Indonesia. Jalan tol yang mulai dibangun pada 1 Oktober 1971, dengan biaya Rp. 350 juta per kilometer pada kurs rupiah saat itu, sepanjang kurang lebih 50 KM, dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 7 Maret 1977. Pada tahun 2022 Jalan Tol Terbaik I Kategori Jalan Tol Panjang lebih dari 50 kilometer adalah Jalan Tol Jagorawi yang kami nikmati sebelum mencapai Bogor.

Akhirnya kami dapat mencapai Gereja Katedral Santa Perawan Maria (Beatae Mariae Virginis), di Jalan Kapten Muslihat Nomor 22 Bogor, Jawa Barat. Mgr Paskalis Bruno Syukur, O.F.M. (lahir 17 Mei 1962) adalah Uskup Keuskupan Bogor dan merupakan imam Fransiskan. Mgr. Paskalis Bruno Syukur telah menolak menjadi kardinal di antara 21 kardinal baru yang diumumkan oleh Bapa Suci Paus Fransiskus pada Doa Angelus Hari Minggu, 6 Oktober 2024. Mgr. Paskalis Bruno Syukur saat ini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) sekaligus Uskup Bogor.

Awal sejarah berdirinya Gereja Katedral Bogor berkaitan dengan peranan tokoh perintis umat kota Bogor, yaitu Mgr. Adam Carel Claessens. Pada tahun 1881, Mgr. Claessens membeli sebuah rumah dengan pekarangan yang cukup luas (sekarang meliputi kompleks Gereja, Pastoran, seminari, sekolah, dan Bruderan Budi Mulia). Pada tahun 1889 Pemerintah Hindia Belanda secara resmi mengakui dan menyatakan bahwa Bogor menjadi Stasi misi tetap Batavia. Tahun 1896 (setahun setelah Mgr. AC. Claessen meninggal), MYD. Claessens mulai membangun sebuah gedung Gereja yang megah di atas tanah yang didiaminya. Gereja itu yang hingga sekarang kita kenal dengan Gereja Katedral.

Gereja Katedral Santa Perawan Maria (Beatae Mariae Virginis), di Jalan Kapten Muslihat Nomor 22 Bogor

Di Katedral Bogor kami bertemua dengan Mas Eko Lintang dan mas Felix Rahno Armunanto (teman seangkat di Asrama Mahasiswa Realino) dan Bapak Wahyu Fernandez, ayah An. Baga dan An. Dakhsa adalah pasien kami di RS Panti Rapih Yogyakarta yang semuanya tinggal di Bogor. Kota Bogor dikenal dengan julukan Kota Hujan, karena memiliki curah hujan yang lumayan sangat tinggi. Pada awal abad ke-5 Masehi, Kota Bogor merupakan pusat Kerajaan Tarumanagara dengan raja yang bernama Purnawarman. Pada prasasti Batutulis menceritakan kekuasaan Prabu Surawisesa dari Kerajaan Sunda dengan ibukota di Pajajaran, yang diyakini terletak di Kota Bogor, dan bahkan menjadi pusat pemerintahan Prabu Siliwangi yang dinobatkan pada 3 Juni 1482.

Dengan sesama warga Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta angkatan 1984 (mas Rahno dan mas Eko Lintang) di Gereja Katedral Santa Perawan Maria Bogor. 

Bersama Bapak Wahyu Fernandez, ayah An. Baga dan An. Dakhsa adalah pasien kami di RS Panti Rapih Yogyakarta di Gereja Katedral Santa Perawan Maria Bogor.

Hari penobatannya ini diresmikan sebagai Hari Jadi Kota Bogor. Kota Bogor berada di daerah pegunungan yang secara alamiah membuat lokasi ini mudah untuk bertahan terhadap ancaman serangan, dan di saat yang sama adalah daerah yang subur serta memiliki akses yang mudah pada sentra-sentra perdagangan saat itu. Pada tahun 1745, Gubernur Jenderal VOC Gustaaf Willem Baron van Imhoff membangun Istana Bogor seiring dengan pembangunan Jalan Raya Daendels yang menghubungkan Jakarta dengan Bogor.

Bersama Bapak Wahyu Fernandez dan teman2 Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta di Gereja Katedral Santa Perawan Maria Bogor.

Dengan sesama warga Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta di Gereja Kristen Indonesia Bogor, dekat warung tenda milik mas Eko Lintang

Setelah berfoto bersama, kami segera diantar mas Felix Rahno dengan mobilnya yang gagah, Toyota Foruner hitam legam, mengikuti sepeda mas Eko Lintang yang memiliki 35 buah sepeda, mengitari pusat kota Bogor. Pada masa pendudukan Inggris, Gubernur Jendral Thomas Stamford Raffles mengembangkan Kota Bogor, yaitu Istana Bogor direnovasi dan sebagian tanahnya dijadikan Kebun Raya (Botanical Garden), dibantu seorang arsitek Carsens yang menata Bogor sebagai tempat peristirahatan yang dikenal dengan Buitenzorg. Kami segera lahap menikmati menu makan siang di warung tenda milik mas Eko Lintang, di depan Gereja Kristen Indonesia Jl. Pengadilan Bogor, terus diantar mas Felix mencapai Stasiun Bogor.

Kami sangat menyesal karena tidak mampu bertemu dengan mas Anto Tjitro, teman sekalas di SMP Bruderan Purworejo, Jawa Tengah, yang menunggu kami di pintu masuk timur Stasiun Bogor atau taman topi, sementara kami masuk melalui pintu barat. Sangat disayangkan, perjumpaan tersebut gagal terwujud. Kami segera menaiki KRL  Commuter Line Bogor. Jalur ini dibuka tahun 1930, dengan panjang lintas Jakarta Kota – Bogor 54,8 km. Kecepatan operasi 90 km/h

Commuter Line Bogor (atau disebut juga Lin Bogor, sebelumnya bernama Lin Sentral) menyusuri rute KRL Lintas Bogor dengan kode warna Merah. Kami berangkat dari Bogor, melewati Cilebut, Bojong Gede, Citayam, Depok, Depok Baru, Pondok Cina, Universitas Indonesia, Universitas Pancasila, Lenteng Agung, Tanjung Barat, Pasar Minggu, Pasar Minggu Baru, Duren Kalibata, Cawang, Tebet dan turun Manggarai. Line Bogor melanjutkan perjalanan ke Cikini, Gondangdia, Juanda, Sawah Besar, Mangga Besar, Jayakarta dan berakhir di Jakarta Kota

Berdesakan dengan sesama penumpang di Commuter Line Bogor dari Bogor melaju ke Jakarta

Transit di Stasin Manggarai Jakarta untuk ganti Line Cikampek menuju Bekasi Timur

Selanjutnya kami berganti Line Biru dari Manggarai melewati Matraman, Jatinegara, Klender, Buaran, Klender Baru, Cakung, Kranji, Bekasi dan turun di Bekasi Timur. Line Biru melanjutkan perjalanan ke Tambun, Cibitung, Metland Telaga Murni, dan berakhir di Cikarang.

Bekasi menjadi kota penyangga dengan jumlah penduduk terbanyak se-Indonesia, menjadi tempat tinggal kaum urban dan sentra industri. Nama Bekasi berasal dari kata Bagasasi yang artinya sama dengan Candrabaga yang tertulis di dalam Prasasti Tugu era Kerajaan Tarumanegara, yaitu nama sungai yang melewati kota ini. Kami menuju rumah besan, yaitu Bapak Suharyadi dan Ibu Endang di Jl.Garuda Raya Blok  G no 399 Pondok Timur Indah, Jatimulya, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.

Setelah bertemua Joviel, cucu hebat yang sedang berlibur di situ, anak sulung kami mas Yudhi dan mbak Mega, kami bercengkerama tidak lama, dan memohon maaf atas banyak sekali kekurangan kami selama ini sebagai orangtua, dan kami segera melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.

Adik sepupu kami, yaitu dik Daniel Prastowo sekeluarga (bersama istrinya yang baik hati dik Ernest Prita dan 2 anaknya yang gagah Marvel dan Rafael), telah menjemput kami dari rumahnya di Taman Galaxi Indah Bekasi. Adik sepupu kami yang hebat ini adalah alumni Universitas Pelita Harapan (Doctor of Law – JD International Business, Trade, and Tax Law). Sebelumnya memegang 2 gelar S2, yaitu Master of Laws – LLM Business Law dari UPH dan Master Business and Managerial Economics dari Universitas Trisaksi. Perjuangan Pendidikan dimulai dari 2 gelar diploma, yaitu Accounting Academy LPI dan Bachelor Finance, dari Universitas Indonesia dan GT Industry Polytechnic (Poltek Gadjah Tunggal). Adik sepupu kami tersebut setelah berprofesi sebagai Business Strategic Associate, Cyber Security & Cyber Law Analyst di Putera Sampoerna Foundation Jakarta, lanjut menjadi Finance Director at Rajawali Foundation Jakarta. Ada berbagai program kerja yayasan Rajawali dalam koordinasi oleh Rajawali Global Education (RGE) yang didirikan pada tahun 2019, sebagai wahana melaksanakan program pendidikan dan pembelajaran, untuk memperluas akses ke peluang pendidikan daring berkualitas tinggi di Indonesia.

Pengetahuan dan keterampilan adalah kunci keberhasilan ekonomi, baik bagi individu maupun bagi negara secara keseluruhan. Dengan pesatnya perubahan teknologi, sangat mungkin seluruh kategori pekerjaan akan hilang, sebaliknya permintaan akan keterampilan teknis justru meningkat tajam. Beberapa jenis keterampilan teknis ini sangat baru, sehingga banyak universitas tidak siap untuk mengajarkannya. Hebat dan mengagumkan sekali adik sepupu kami ini.

Kami diantar keluarga dik Daniel Prastowo sampai di Gereja Katedral Santa Maria Diangkat ke Surga Jl. Katedral No. 7B, Jakarta. Gedung gereja ini diresmikan pada 1901 dan dibangun dengan arsitektur neo-gotik dari Eropa, yakni arsitektur yang sangat lazim digunakan untuk membangun gedung gereja beberapa abad yang lalu.

Bersama mas Bambang Kris, dr Thomas Aliandoe dan mbak Leony Avellince di Gereja Katedral Santa Maria Diangkat ke Surga Jakarta.

Gereja yang sekarang ini dirancang dan dimulai oleh Pastor Antonius Dijkmans dan peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Pro-vikaris, Carolus Wenneker. Pekerjaan ini kemudian dilanjutkan oleh Cuypers-Hulswit ketika Dijkmans tidak bisa melanjutkannya, dan kemudian diresmikan dan diberkati pada 21 April 1901 oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, SJ, Vikaris Apostolik Jakarta.

Bersama keluarga Dik Daniel Prastowo, kami juga berjumpa dengan mas Bambang Kristanto (kakak kelas 1 tahun di Asrama Mahasisaw realino Yogyakarta, yang sekarang menjabat sekeretaris Yayasan Tarakanita Jakarta), Dr. Thomas Aliandoe (teman seperjuangan melayani pasien di RS Lela Muamere, Flores tahun 1993), dan mbak Leony Avellince (sarjana ilmu politik tentang kepemiluan, anak bungsu mas Wahyu Soemarto di Surabaya)

Pada malam Natal, 24 Desember 2000, gereja ini menjadi salah satu lokasi yang terkena serangan ledakan bom oleh kelompok ekstremis Islam, Jamaah Islamiyah. Serangan terosis tersebut mengingatkan kita bahwa pada 1807–1826 terjadi perubahan politik di Belanda khususnya sejak kenaikan tahta Raja Louis Napoleon, seorang Katolik, membawa pengaruh yang cukup positif. Kebebasan umat beragama mulai diakui oleh pemerintah. Pada tanggal 8 Mei 1807 pimpinan gereja Katolik di Roma mendapat persetujuan Raja Louis Napoleon untuk mendirikan Prefektur Apostolik Hindia Belanda.

Setelah sekitar dua abad perayaan ekaristi dilarang di Hindia Belanda, pada tanggal 10 April 1808, untuk pertama kalinya diselenggarakan misa kudus pertama kali secara terbuka di Batavia di rumah Dokter F.C.H Assmuss, kepala Dinas Kesehatan waktu itu. Dokter Assmuss bersama dengan beberapa kawan berhasil mengumpulkan sejumlah orang dan sebagian besar adalah tentara. Upacara Misa berlangsung sederhana dengan tempat yang kurang memadahi. Kedua Pastor tersebut untuk sementara tinggal di rumah Dokter Assmuss.

Menara Benteng Daud, Menara Gading dan Menara Angelus Dei di Gereja Katedral Bunda Maria diangkat ke Surga Jakarta

Arsitektur gereja dibuat dengan gaya neo-gotik. Denah dengan bangunan berbentuk salib dengan panjang 60 meter dan lebar 20 meter. Pada kedua belah terdapat balkon selebar 5 meter dengan ketinggian 7 meter. Konstruksi bangunan ini dikerjakan oleh seorang tukang batu dari Kwongfu, Tiongkok. konstruksi bangunan ini terdiri dari batu bata tebal yang diberi plester dan berpola seperti susunan batu alam. Dinding batu bata ini menunjang kuda-kuda kayu jati yang terbentang selebar bangunan. Ada 3 menara di Gereja Katedral, yaitu: Menara Benteng Daud, Menara Gading dan Menara Angelus Dei. Menara ini dibuat dari besi. Bagian bawah didatangkan dari Nederland dan bagian atas dibuat di bengkel Willhelmina, Batavia.

Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo (lahir 9 Juli 1950) adalah Uskup Agung Jakarta sejak 29 Juni 2010, menggantikan Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ. Sebelum menduduki jabatan ini, Mgr. Suharyo adalah Uskup Agung Koajutor Jakarta. Saat ini, ia juga menjadi Uskup Ordinariat Militer Indonesia. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Uskup Agung Semarang.

Selain dengan keluarga Dik Daniel Prastowo, kami juga berjumpa dengan mas Bambang Kristanto (kakak kelas 1 tahun di Asrama Mahasisaw realino Yogyakarta, yang sekarang menjabat sekeretaris Yayasan Tarakanita Jakarta), Dr. Thomas Aliandoe (teman seperjuangan melayani pasien di RS Lela Muamere, Flores tahun 1993), dan mbak Leony Avellince (sarjana ilmu politik tentang kepemiluan, anak bungsu mas Wahyu Soemarto di Surabaya). Yang tidak kalah seru adalah perjumpaan kami dengan anak kedua, Karol Bimoseno Kridolaksono Indrarto yang akan berulang tahun ke 24 dan pacarnya Nyra Malika.

Kenangan ulang tahun dik Bimoseno (anak kami kedua) dengan Dik Pritta di Stasiun Gambir, Jakarta

Bimoseno lahir tanggal 28 Oktober 2000 selalu mengingatkan kita tentang Hari Sumpah Pemuda. Para pemuda dari beraneka latar belakang suku, agama, dan golongan mengikrarkan Sumpah Pemuda untuk mencintai persatuan Indonesia. Namun demikian, sehari sebelum tercetusnya ikrar Sumpah Pemuda, ternyata Kongres Pemuda II digelar di Gedung Katholieke Social Bond (KSB, Perhimpunan Sosial Katolik) pada Sabtu, 27 Oktober 1928. Gedung tersebut terletak di area Gereja Katedral, Jakarta.

Di gedung tersebut, anggota KSB dan Katholieke Jongenlingen Bond (Perhimpunan Pemuda Katolik) berkumpul dan beraktivitas. Ide diadakannya Kongres Pemuda II di area Gereja Katedral muncul dari aktivis Jong Ambon, Johannes Leimena. Saat itu, Leimena mengusulkan kepada para aktivis lain untuk menggunakan aula Gedung Katholieke Social Bond. Di gedung tersebut Mohammad Yamin berpidato tentang pemuda bagi ”Persatoean dan kebangsaan Indonesia” dengan lima faktor penting, yaitu sejarah, bahasa, hukum/adat, pendidikan, dan kehendak bersatu.

Dalam kongres yang dihadiri oleh 750 orang itu terlibat utusan dari pelbagai organisasi pemuda di Tanah Air. Mereka berbeda-beda suku, agama, juga golongan. Ada perwakilan dari Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), Pemuda Indonesia, Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Islamieten Bond, Pemuda Kaum Betawi, Sekar Rukun, dan sebagainya. Di antara mereka ada nama Sugondo Djojopuspito, RM Joko Marsaid, Amir Sjarifudin, Johan Mohammad Cai, R Katjasoengkana, Johannes Leimena, RCL Sendoek, Arnold Monotutu, Agustine Magdalena Waworuntu, dan Mohammad Rochjani Su’ud.

Berkonsultasi dengan Bapa Paus Fransiscus di Gedung Katholieke Social Bond yang dahulu digunakan menjelang acara Sumpah Pemuda 1928, sekarang disebut Graha Pemuda di Komplkes Katedral Jakarta

Mendengar cerita Marvel tentang musik, anak sulung dik Daniel Prastowo, sebelum mendampingi mengurus pengambilan blangkon (topi adat Jawa) yang tertinggal di KA Pandaluangan dan telah disimpan di pos keamanan Strasiun Gambir Jakarta.



Oleh karena gedung utama Katedral Jakarta sudah dipenuhi umat yang hadir, sementara kami asyik berfoto berulang, akhirnya kami masuk ke Graha Pemuda yang sangat historis dalam Sumpah Pemuda 1928, untuk mengikuti misa kudus Sabtu malam, 26 Oktober 2024.

Setelah selesai mengikuti misa kudus, kami segera bergegas ke Stasiun Gambir. Kami nikmati sajian Mie Gadjah Mada bersama keluarga dik Daniel Prastowo, kami merayan ulangtahun Bimoseno, anak kedua kami. Juga dengan Marvel, anak sulung dik Daniel Prastowo kami mengurus pengambilan blangkon (topi adat Jawa) yang tertinggal di KA Pandaluangan dan telah disimpan di pos keamanan Strasiun Gambir. Kami apresiasi kinerja seluruh staf PT KAI yang telah menyelamatkan barang penumpang yang tertinggal di gerbong KA. Kami segera menikmati perjalanan malam menggunakan KA Argo Bromo Amnggrek menuju ke Semarang dalam waktu 4 jam.

Minggu, 27 Oktober 2024 : Jawa Tengah lagi

Setelah bertemu dengan anak bungsu kami, dik Agatha Larasati Pangarsaningutami Indrarto yang datang dari Bandung di Stasiun Semarang Tawang Bank Jateng, kami segera naik mobil Innova menuju Mlonggo, Jepara. Tujuan kami ke Jepara adalah mendampingi William, pacar dik Laras, yang akan menerima sakramen baptis.

Jepara dekat lereng Gunung Muria di Jawa Tengah, menurut C. Lekkerkerker berasal dari kata Ujungpara, karena saat ada utusan dari Kerajaan Majapahit melihat di ujung Pulau Jawa ada nelayan yang sedang membagi-bagi ikan hasil tangkapannya, “membagi” dalam bahasa Jawa adalah “Para”. Kemudian berubah menjadi Ujung Mara, Jumpara, Japara dan pada tahun 1950an diubah menjadi Jepara.

Pada umumnya penduduk Jepara merupakan suku Jawa, dan beberapa suku lain dari Indonesia. Berdasarkan agama yang dianut yakni Islam 97,03%, kemudian Kekristenan 2,93% dimana Protestan 2,41% dan Katolik 0,51%. Selebihnya buddha sebanyak 0,02% dan Hindu 0,02%.

By. Fidelio Petra Adiartha (7 bulan) keponakan William akan ikut ke Gereja Stella Marris Jepara

Gereja Stella Marris Jepara sebelum misa kudus sakramen permandian untuk William

Diberikan lilin yang menyala, agar apinya menyemangati William menjadi lebih dewasa secara iman Katolik

Bersama Rm. Andre, MSF keluarga besar William, dan bapak ibu ketua lingkungan di Gereja Stella Maris Jepara

Kami akan menemani pacar dik Laras, untuk dipermandikan menjadi Yoseph William Febuana di Gereja Katolik Stella Maris Jepara. Stella Maris adalah gelar kuno bagi Santa Perawan Maria, ibu Yesus Kristus, dalam bahasa Latin yang bermakna Bintang Samudra. Gelar ini pertama-tama digunakan pada abad ke-9 untuk merujuk Sang Perawan Maria. Bagian dari Maria ini, sebagai seseorang yang bertindak sebagai pembimbing dan pelindung mereka yang bekerja atau berlayar di laut, membuatnya menerima julukan Ratu Kami Sang Bintang Samudra, diangkat sebagai pelindung misi-misi Katolik bagi para pelaut, kerasulan di laut, dan membuat banyak gereja-gereja di tepi/dekat pantai yang diberi nama Stella Maris atau Maria Sang Bintang Samudra.

Perjumpaan yang berselang 42 tahun dengan mas Eddy Kristianto, sejak selesai belajar bersama di SMP Bruderan Purworejo tahun 1981, di Gereja Stella Maris Jepara. Luar biasa pangling dan tidak menyangka.

Setelah dipermandikan oleh RP. Andrianus Sulistyono, MSF (Rm. Andre) Pastor Paroki Stella Maris Jepara, maka kita semua sangat berharap agar William semakain dewasa dalam iman katolik, bertekun dalam doa kepada Bunda Maria Bintang Samudera, dan menjadi tukang kayu yang setia, tangguh dan maju, dalam bisnis mebelairnya.

“Anda dan saya dipanggil untuk berani keluar dari diri sendiri, dari cinta diri menjadi cinta sosial, cinta keluarga, dan cinta kepada banyak orang, sebagai ungkapan cinta kepada Tuhan,” tambahnya. Itulah salah satu ciri khas kata-kata yang selalu diulang selama misa kudus oleh Romo Andre, yaitu ‘Anda dan saya’.

Sebuah insiden pada hari Rabu, 7 September 2016 tidak mengenakkan terjadi di wilayah Paroki St. Petrus Purwosari, Surakarta (Solo), Jawa Tengah. Romo Andrianus “Andre” Sulistiyono MSF yang memimpin perayaan ekaristi untuk memule (mendoakan arwah) Peringatan 1.000 hari meninggalnya salah satu umat,  harus dievakuasi lewat jendela ke salah satu ruangan di pendopo Kelurahan Penumping di Kodya Surakarta. Pada hal pendopo tersebut berlokasi persis di belakang Loji Gandrung, rumah dinas Walikota Solo FX “Rudy” Hadi Rudyatmo.

 

Rm. Andrianus Sulistyono, MSF lahir di Salatiga, 3 April 1975, merupakan putra bungsu dari 5 bersaudara alm. Bapak Ignatius Soelardjo & almarhumah ibu Maria Margaretha Koesmartati. Ditahbiskan bersama 8 temannya di Gereja Atmodirono Semarang, 16 Juli 2002. Romo Andre seperti biasanya pagi itu memberikan kotbah lucu (full humor) serta pesan moral kepada para penerima sakramen permandian (baptis), wali dan keluarga. Misa kudus penerimaan sakramen permandian pagi itu berlangsung hampir selama 2 jam yang tidak terasa membosankan, karena suasana cair yang diciptakan Romo Andre dan udara sejuk dalam gereja berAC, bahkan diakhiri dengan foto bersama yang penuh canda, gaya dan tawa.

Sore harinya kami diantar William ke Semarang, untuk ganti Travel City Trans menuju Yogyakarta dan sampai kembali di rumah kami Minggu, 27 Oktober 2024 pk. 21.30

JELAJAH KATEDRAL SE JAWA

Perjalanan darat (overland) untuk jelajah 7 buah Gereja Katedral se Jawa 23-27 Oktober 2024 :

1. Naik Bis Rosalia Indah dari Jogja menuju Gereja Katedral Santo Perawan Maria Dari Gunung Karmel di Malang sejauh 394 km dalam 7 jam

2. Naik bis Tentrem AC tarif biasa ke Katedral Hati Kudus Yesus di Surabaya sejauh 95 km selama 1 jam.

3. Naik KA Pandalungan ke Katedral Santa Maria Ratu Rosario Suci di Semarang sejauh 353 km dalam 4 jam

4. Naik KA Kamandaka ke Katedral Kristus Raja Purwokerto sejauh 207 km selama 5 jam

5. Naik Travel Aragon Toyota Hi-Ace ke Katdreal Santo Petrus di Bandung sejauh 276 km selama 8 jam.

6. Naik travel Aragon Toyota Hi Ace ke Katedral Bunda Perawan Maria di Bogor sejauh 173 km selama 4 jam

7. Naik KRL ke Katedral Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga di Jakarta sejauh 61 km selama 2 jam.

8. Naik KA Argo Bromo dan lanjut mobil ke Gereja Stella Maris Jepara sejauh 516 km selama 8 jam

9. Naik mobil dan lanjut Travel City Trans ke Jogja : 211 km

Total perjalanan di atas roda : 2.286 km. Disampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kelancaran ziarah katedral se Jawa kali ini dan sampai jumpa pada petualangan selanjutnya

Berkah Dalem

Yogyakarta Selasa, 29 Oktober 2024

Categories
dokter Jalan-jalan Malaria tuberkulosis

2018 Selamat Jalan Suster Dokter

Selamat jalan Suster Dokter

fx. wikan indrarto*)

Berita bahwa Sr. Dr Conchita Cruz, SpSS (83 tahun) meninggal dunia pada hari Kamis, 22 Maret 2018, pukul 16.10 di RSUP Sanglah Denpasar, Bali tersiar sangat cepat ke segenap pihak. Sosok yang sering kita sapa dengan sebutan Suster Dokter, karena sebagai seorang biarawati dalam konggregasi suster Abdi Roh Kudus (SpSS), juga seorang dokter medis tamatan Universitas Santo Thomas Manila, karena beliau sebelumnya adalah warga negara Filipina. Beliau adalah pribadi yang luar biasa dan panutan bagi kita semua, rasanya telah beristirahat dengan kekal bersama Bapa Yang Maha Baik di surga.

Pertemuan kami pertama kali dengan Suster Dokter terjadi pada hari Rabu, 24 Februari 1992 di sebuah siang yang terik. Kami diantar oleh Om Petu (maaf, saya lupa nama lengkapnya), seorang pegawai di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, NTT yang menemani kami, sebagai seorang dokter baru CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) di lingkungan Departemen Kesehatan RI. Sesuai keputusan Dr. Lada (Kepala Kantor Wilayah Departemen Kesehatan NTT), kami ditempatkan sebagai dokter pemerintah yang diperbantukan di RS St. Elisabeth Lela, sekitar 24 km di selatan Maumere, ibukota Kabuaten Sikka, di Pulau Flores.

Sambutan yang meriah dengan kedua tangan terbuka, senyum lebar dan teriakan kegembiraan, menyambut kami dan memanggil kami sebagai dokter Fransiscus. Maklum saja, semua orang di Flores dengan nama permandian Katolik Santo Fransiscus Xaverius seperti kami, ataupun Santo Fransiscus yang lain, pasti akan disapa dengan panggilan Fransiscus, Frans, atau Franky. Beliau mengungkapkan kegembiraannya, karena direksi RS memohon bantuan tenaga dokter keada pemerintah sudah sejak lama, tetapi belum dapat dikabulkan, dengan alasan tenaga dokter pemerintah masih diperlukan di fasilitas kesehatan milik pemerintah.

Sejak siang itu, kami digembleng sebagai dokter klinisi di RS, sebuah profesi yang kami ragukan sendiri akan berhasil, terkait kompetensi diri yang sangat terbatas. Kami mendapatkan bimbingan langsung oleh Suster Dokter, baik dalam tatalaksana penyakit non bedah, tindakan operatif, maupun pengaturan jadwal jaga dokter, karena di RS tersebut juga sudah ada Dr. Kartono. Dalam ketiga bidang tersebut kami memiliki pengalaman sangat mengesankan tentang pribadi Suster Dokter.

Pada tatalaksana penyakit pasien yang bersifat non bedah, Suster Dokter membimbing kami dalam mengenali pasien TBC aktif, kusta, malaria, diare akut dan resusitasi bayi baru lahir. Semuanya memiliki karakter penyakit yang khusus, sehingga saat pasien masih berdiri di depan pintu ruang praktek saja, Suster Dokter sudah dapat menyusun diagnosis kerja yang sangat jarang meleset, dibandingkan dengan diagnosis akhirnya. Tidak hanya terkait diagnosis penyakit itu saja, tetapi juga menyangkut harapan kesembuhan (prognosis) dan kemungkinan kekambuhan (relaps), yang juga relatif tepat.

Pada bidang tindakan operatif, kami dilibatkan, dimbimbing dan akhirnya dilepaskan untuk melakukan berbagai jenis operasi, dari yang bersifat ringan, menengah dan besar. Operasi ringan pertama adalah pengambilan kuku (nail extraction) sampai benjolan lemak (lipoma exicion) di wajah. Operasi sedang pertama adalah pengambilan usus buntu sederhana (simple appendintomy) sampai koreksi ketedun pada pasien lansia (hernioraphy). Operasi besar pertama adalah sesar terencana (elective caesar) sampai pembukaan perut dan penyambungan usus (laparotomy with end to end anastomosis).

Operasi yang paling mengesankan adalah penyambungan tulang paha (ORIF Femur), sesar darurat (emergency caesar), pengambilan kelenjar gondok dengan anastesi lokal (strumectomy), pengambilan kelenjar prostat (open prostatektomy), pengambilan batu ureter lewat perut (peritoneal uretherotomy), dan pembukaan anus bayi (correction of atresia ani lower side). Semua tindakan operasi tersebut dilakukan oleh Suster Dokter dengan sangat terampil, baik sebagai dokter umum yang setiap 8 bulan mengikuti kursus di Jerman dan Belgia, maupun sebagai mentor bagi kami. Tentu saja, mengajarkan teknis operasi kepada seorang dokter umum yunior seperti kami, pasti memerlukan ketrampilan, semangat dan kesabaran ekstra besar, yang ternyata dimiliki oleh Suster Dokter dengan hampir sempurna. Bukti keberhasilan proses mentoring untuk kami, adalah saat kami sendiri mampu mandiri untuk melakukan hampir semua teknik oparasi yang diajarkan, selain strumectomy dengan anestesi lokal.

Pada aspek manajemen RS, termasuk pengaturan jadwal jaga dokter, Suster Dokter mengajari kami secara bertahap. Aspek pengaturan asuransi pasien, pengelolaan perbekalan obat dan alkes, juga kaderisasi tenaga perawat terampil sesuai unit kerja, semuanya diajarkan dan didiskusikan bersama. Suster Dokter selalu mengijinkan kami untuk pesiar, sebuah istilah untuk menggambarkan aktivitas jalan-jalan pergi ke kota, pada setiap hari libur dan tanggal merah, meskipun kami terjadwal dinas jaga, asalkan Suster Dokter tidak ada tugas keluar RS. Bahkan Suster Dokter cukup sering memintakan ijin bagi kami untuk meminjam mobil dinas RS sebagai sarana jalan-jalan, setelah kami memiliki satu anak.

Yudhistira Yasanusaraharja Indrarto, anak sulung kami yang lahir pada hari Kamis, 22 Januari 1993 di RS St Elisabeth Lela, Maumere dan kami tolong sendiri, diberikan nama permandian Erwin, oleh Suster Dokter. Beliau menyatakan sangat menyesal, karena waktu kelahiran anak kami tiba, beliau sedang bertugas sebagai pejabat biara di Seminari Hokeng, Flores Timur. Rasa sayangnya kepada Yudhi, panggilan anak sulung kami, ditunjukkan dengan banyak hal, termasuk kehendaknya agar Yudhi memanggilnya dengan sebutan Nenek Suster. Kedekatan Yudhi dengan Nenek Suster terakhir terlihat, saat kami sekeluarga bernostalgia ke Flores yang cantik dan menginap di Biara Suster SpSS Ende pada hari Sabtu, 26 Juni 2010. Keduanya terlibat teriakan hebat pada dini hari, saat menonton bersama (nobar) siaran langsung di TV, putaran kedua Final Sepak Bola FIFA Piala Dunia 2010.

Kontak kami terakhir adalah melalui email dengan Suster Dokter, setelah kami bertemu dan berkenalan dengan Sr. Maria Caridad, SSpS, di kapel Pink Sister dan Rumah Retret dan Pusat Pelayanan Konggregasi Roh Kudus (SpSS) di Tagaytay City, sekitar 60 km dari ibukota Filipina, Manila, pada Rabu sore 11 Januari 2012. Selain itu, juga saat kami mampir di Del Pilar Academy di Kota Imus, tidak jauh dari Tagatay City dan mencari Mrs. Tessie Cruz, seorang ipar Sr. Dr. Conchita Cruz, SpSS, yang bekerja di bagian administrasi sekolah tersebut.

Pada saat Suster Dokter menghadap Sang Pencipta, Yudhi sedang menjalankan tugas sebagai dokter baru dalam Program Internship Dokter Indonesia (PIDI) di RS Bhayangkara Polda NTT di Kupang. Selain itu, kami juga sedang mengikuti ‘The 16th Annual World Congress on Pediatrics’, sebuah konggres dokter spesialis anak sedunia di Hilton New York JFK Airport Hotel, 5144-02 135th Avenue, Jamaica, New York 11436 USA. Namun demikian, kami sekeluarga dan kita semua tetap merasa sangat berduka cita secara mendalam, atas kepulangan yang abadi Suster Dokter. Tentu saja, kami sangat menyesal tidak dapat ikut melayat dan menghantarkannya pada pemberhentian terakhir di Biara Suster SpSS di Kewapante, sedikit di luar kota Maumere, Flores NTT.

Marilah kita kenangkan, semua jasa baik Suster Dokter bagi kami pribadi, sekeluarga, maupun kita semua, dengan permohonan agar arwahnya dapat beristirahat dengan tenang, damai, dan kekal di rumah Bapa Sang Pencipta. Selamat jalan Sr. Dr Conchita Cruz, SpSS. Terimakasih atas semua jasa baik Suster Dokter yang telah kami rasakan dan mohon maaf atas kesalahan yang telah kami lakukan waktu itu.

Sekian

Ditulis dalam laju Train 93 milik Amtrax dari Pennsylvania Station di New York, menuju Union Station di Washington, DC di USA pada hari Kamis, 22 Maret 2018 pk. 14.10

*) dokter umum di RS St. Elisabeth Lela, Maumere, Flores, NTT 1992-1995.

Categories
antibiotika dokter Healthy Life medicolegal UHC vaksinasi

2024 Hari Keselamatan Pasien

Sebagian tulisan ini telah diterbitkan di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 29 September 2024 dengan judul : Pentingnya diagnosis benar dan tepat waktu, pada kolom Husada, halaman 5.

HARI   KESELAMATAN   PASIEN   DUNIA

fx. wikan indrarto

Hari Keselamatan Pasien Dunia (World Patient Safety Day) pada 17 September 2024 merupakan kesempatan untuk meningkatkan kesadaran publik dan mendorong kolaborasi antara pasien, dokter, tenaga kesehatan, pembuat kebijakan, dan pemimpin fasilitas perawatan kesehatan untuk meningkatkan keselamatan pasien. Apa yang menarik?

Tahun ini temanya adalah “Meningkatkan diagnosis demi keselamatan pasien” dengan slogan “Lakukan dengan benar, buat aman!”, yang menyoroti pentingnya diagnosis yang benar dan tepat waktu dalam memastikan keselamatan pasien dan meningkatkan luaran atau hasil medis.

Diagnosis yang ditegakkan oleh dokter dan tenaga kesehatan merupakan identifikasi masalah kesehatan yang dialami pasien. Diagnosis ini merupakan kunci utama untuk mengakses perawatan dan pengobatan yang dibutuhkan pasien. Kesalahan diagnosis adalah kegagalan pasien untuk mendapatkan luaran klinis yang baik, karena tidak diteruskan dengan tatalaksana medis yang benar dan tepat waktu tentang masalah kesehatan pasien. Kesalahan diagnosis ini dapat mencakup diagnosis yang tertunda, tidak benar, atau terlewat, atau dapat juga merupakan kegagalan untuk mengomunikasikan penjelasan kondisi medis kepada pasien.

Kesalahan diagnostik terjadi pada 5–20% hasil pemeriksaan dokter terhadap pasiennya. Kesalahan diagnostik yang berbahaya ditemukan pada minimal 0,7% pasien dewasa yang dirawat inap di RS. Keselamatan pasien dalam aspek diagnostik dapat ditingkatkan secara signifikan dengan mengatasi masalah klinis berbasis sistem dan faktor kognitif dokter, yang dapat menyebabkan kesalahan diagnostik. Faktor sistemik adalah kerentanan organisasi yang menjadi predisposisi terjadinya kesalahan diagnostik, termasuk kegagalan komunikasi antara dokter dengan petugas kesehatan atau dokter dan petugas kesehatan dengan pasien, beban kerja yang berat, dan kerja tim yang tidak efektif. Faktor kognitif melibatkan pelatihan dan pengalaman dokter serta predisposisi terhadap bias, kelelahan, dan stres.

Prioritas keselamatan diagnostik perlu mengadopsi pendekatan multifase dalam memperkuat sistem, merancang jalur diagnostik yang aman, mendukung dokter dan tenaga kesehatan lainnya dalam menegakkan diagnosis, membuat keputusan yang tepat, dan melibatkan pasien di seluruh proses diagnostik.

Setiap titik dalam proses pemberian pelayanan medis dan keperawatan mengandung tingkat ketidakamanan tertentu untuk pasien, yang selalu melekat. Sekitar 1 dari 10 pasien mengalami cedera dan lebih dari 3 juta kematian terjadi setiap tahun, akibat perawatan yang tidak aman di fasilitas pelayanan kesehatan. Kejadian buruk umum yang dapat mengakibatkan cedera pasien yang dapat dihindari adalah kesalahan pengobatan, prosedur pembedahan yang tidak aman, infeksi terkait perawatan kesehatan, kesalahan diagnosis, pasien jatuh, luka dekubitus, kesalahan identifikasi pasien, transfusi darah yang tidak aman, dan tromboemboli vena.

“Pertama, jangan merugikan” (First, do no harm) adalah prinsip paling mendasar dari setiap layanan kesehatan bagi pasien. Tidak seorang pasienpun boleh dirugikan dalam layanan kesehatan. Keselamatan pasien didefinisikan sebagai tidak adanya bahaya yang dapat dicegah bagi pasien dan pengurangan risiko bahaya yang tidak perlu, terkait dengan perawatan kesehatan ke tingkat minimum yang dapat diterima. Dalam konteks sistem kesehatan yang lebih luas, keselamatan pasien adalah kerangka kegiatan terorganisasi yang menciptakan budaya, proses, prosedur, perilaku, teknologi, dan lingkungan dalam perawatan kesehatan yang secara konsisten dan berkelanjutan menurunkan risiko, mengurangi terjadinya bahaya yang dapat dihindari, mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan, dan mengurangi dampak bahaya saat terjadi pada pasien.

Sumber umum bahaya untuk pasien saat menerima layanan kesehatan adalah dalam bentuk kesalahan diagnosis, pengobatan, tindakan bedah dan terjadinya infeksi ikutan. Dalam lingkup kesalahan pengobatan, bahaya terkait pengobatan memengaruhi 1 dari setiap 30 pasien dalam perawatan kesehatan, dengan lebih dari seperempat dari bahaya ini dianggap parah atau mengancam jiwa. Setengah dari bahaya atas pasien yang dapat dihindari dalam layanan kesehatan terkait dengan pengobatan.

Dalam lingkup kesalahan bedah, berasal dari sekitar 300 juta prosedur bedah yang dilakukan setiap tahun di seluruh dunia. Meskipun adanya efek samping sudah disadari sepenuhnya dan dilakukan tindakan antisipasi, namun demikian kesalahan bedah terus terjadi pada tingkat yang cukup tinggi. Bahkan 10% dari bahaya pasien yang dapat dicegah dalam perawatan kesehatan dilaporkan dalam lingkup kesalahan bedah, dengan sebagian besar kejadian buruk pada pasien yang diakibatkannya terjadi sebelum dan sesudah operasi dilakukan.

Dengan tingkat global sebesar 0,14% (meningkat sebesar 0,06% setiap tahun), infeksi terkait perawatan kesehatan mengakibatkan durasi rawat inap yang lebih lama, kecacatan jangka panjang, peningkatan resistensi antimikroba, beban keuangan tambahan pada pasien, keluarga dan sistem kesehatan, serta kematian yang dapat dihindari.

Ada banyak faktor yang saling terkait yang dapat menyebabkan cedera pada pasien, dan lebih dari satu faktor biasanya terlibat dalam setiap insiden keselamatan pasien, termasuk dalam proses penegakan diagnosis. Pertama faktor sistem dan organisasi, yaitu kompleksitas intervensi medis, proses dan prosedur yang tidak memadai, gangguan dalam alur kerja dan koordinasi layanan, keterbatasan sumber daya, staf yang tidak memadai dan pengembangan kompetensi yang kurang. Kedua faktor teknologi medis, yaitu masalah yang terkait dengan sistem informasi kesehatan, seperti masalah dengan catatan kesehatan elektronik atau sistem pemberian obat, dan penyalahgunaan teknologi. Ketiga faktor perilaku manusia, dapat beruapa gangguan komunikasi di antara petugas layanan kesehatan, dalam tim perawatan kesehatan, dan dengan pasien dan keluarga mereka, kerja tim yang tidak efektif, kelelahan, kejenuhan, dan mungkin juga bias kognitif.

Selanjutnya, kesalahan diagnosis juga dipengaruhi oleh faktor yang terkait dengan pasien, meliputi keterbatasan pasien dalam literasi kesehatan, kurangnya keterlibatan pasien dalam proses dan ketidakpatuhan pasien terhadap pengobatan. Dan terakhir faktor eksternal, yaitu tidak adanya kebijakan, regulasi yang tidak konsisten, tekanan ekonomi dan keuangan, dan tantangan yang terkait dengan lingkungan alam, semuanya dapat berkontribusi pada kesalahan diagnosis dan keselamatan pasien.

Bukti menunjukkan bahwa ketika pasien diperlakukan sebagai mitra dalam layanan kesehatan, keuntungan signifikan akan diperoleh dalam hal keselamatan, kepuasan, ketepatan diagnosis, dan luaran klinis dari tindakan medis. Apakah kita sudah bijak?

Sekian

Yogyakarta, 7 September 2024

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta,  Alumnus S3 UGM, surveiyor akreditasi Kemenkes RI untuk pelayanan di RS. WA: 081227280161

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?