Categories
Istanbul

2019 Remaja Sehat

Hasil gambar untuk remaja sehat

REMAJA SEHAT

fx wikan indrarto*)

Lebih dari 1,1 juta remaja berusia 10-19 tahun meninggal pada tahun 2016, atau sekitar lebih dari 3.000 orang setiap hari, sebagian besar dikarenakan oleh penyebab yang dapat dicegah atau diobati. Kecelakaan dan cidera karena kecelakaan lalu lintas adalah penyebab utama kematian di kalangan remaja global pada tahun 2016. Bagaimana sebaiknya?

Hasil gambar untuk remaja sehat

Selain data kematian tersebut, setengah dari semua gangguan kesehatan mental pada usia dewasa dimulai saat remaja usia 14 tahun, tetapi kebanyakan kasus tidak terdeteksi dan tidak diobati. Sekitar 1,2 miliar orang atau 1 dari 6 populasi dunia, adalah remaja berusia 10 hingga 19 tahun. Sebagian besar sehat, tetapi masih ada banyak kematian dini, penyakit, dan cedera di kalangan remaja. Penyakit dapat menghambat kemampuan mereka untuk tumbuh dan berkembang, hingga tidak mencapai potensi penuh mereka. Penggunaan alkohol atau tembakau, kurangnya aktivitas fisik, hubungan seks tanpa pengaman dan atau paparan kekerasan, dapat membahayakan tidak hanya kesehatan mereka saat ini, tetapi juga kesehatan mereka sebagai seorang dewasa kelak, dan bahkan kesehatan anak-anak mereka di masa depan.

Hasil gambar untuk remaja sehat

Cidera yang tidak disengaja adalah penyebab utama kematian dan kecacatan global di kalangan remaja. Pada tahun 2016, lebih dari 135.000 remaja meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Banyak dari mereka yang meninggal adalah pengguna jalan yang rentan, termasuk pejalan kaki, pengendara sepeda atau pengguna kendaraan bermotor roda dua . Di banyak negara, undang-undang keselamatan jalan perlu dibuat lebih komprehensif, dan penegakan hukum semacam itu perlu diperkuat. Selain itu, pengemudi muda membutuhkan nasihat tentang cara mengemudi dengan aman, sementara undang-undang yang melarang mengemudi di bawah pengaruh alkohol dan obat perlu diberlakukan secara ketat, di antara semua kelompok umur. Kadar alkohol dalam darah harus ditetapkan lebih rendah untuk pengemudi muda, daripada untuk orang dewasa. Direkomendasikan lisensi lulus untuk pengemudi pemula dengan toleransi nol untuk pemabuk.

Hasil gambar untuk remaja sehat

Tenggelam juga masuk dalam 10 penyebab utama kematian remaja global, yaitu hampir 50.000 remaja yang lebih dari dua pertiga dari mereka adalah laki-laki, diperkirakan tenggelam pada tahun 2016. Mengajari anak dan remaja untuk terampil berenang adalah intervensi penting untuk mencegah kematian ini.

Hasil gambar untuk remaja sehat

Depresi adalah salah satu penyebab utama penyakit dan kecacatan di kalangan remaja, dan bunuh diri adalah penyebab utama kedua kematian pada remaja secara global. Kekerasan, kemiskinan, penghinaan dan perasaan tidak dihargai dapat meningkatkan risiko berkembangnya masalah kesehatan mental. Membentuk keterampilan hidup pada anak dan remaja dan memberi mereka dukungan psikososial di sekolah dan lingkungan masyarakat lainnya, dapat membantu mempromosikan kesehatan mental yang baik. Program untuk membantu memperkuat ikatan antara remaja dan keluarga mereka, ternyata juga penting. Jika awal masalah mental muncul, mereka harus dideteksi dan dikelola oleh petugas kesehatan yang kompeten dan peduli.

Hasil gambar untuk remaja sehat

Kekerasan antarpribadi atau kelompok adalah penyebab utama kematian ketiga pada remaja secara global. Ini menyebabkan hampir sepertiga dari semua kematian remaja pria di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Secara global, hampir satu dari tiga gadis remaja berusia 15-19 tahun (84 juta) telah menjadi korban kekerasan emosional, fisik dan atau seksual yang dilakukan oleh suami atau pasangannya.

Hasil gambar untuk remaja sehat

Mempromosikan hubungan pengasuhan antara orang tua dan anak pada awal kehidupan, memberikan pelatihan keterampilan hidup, dan mengurangi akses ke alkohol dan senjata api, dapat membantu mencegah cedera dan kematian akibat kekerasan. Perawatan yang efektif dan empatik untuk remaja yang selamat dari kekerasan, termasuk dukungan yang berkelanjutan, dapat membantu mengatasi komplikasi fisik dan psikologis, akibat kekerasan tersebut.

Hasil gambar untuk remaja sehat

Diperkirakan 2,1 juta remaja hidup dengan HIV pada tahun 2016. Meskipun jumlah keseluruhan kematian terkait HIV telah menurun sejak puncaknya pada tahun 2006, perkiraan menunjukkan bahwa penurunan ini belum terjadi di kalangan remaja. Ini mencerminkan fakta bahwa sebagian besar remaja saat ini, dilahirkan sebelum adanya program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak, yang menggunakan terapi antiretroviral secara luas. Namun demikian, sebagian besar remaja HIV-positif tidak mengetahui status mereka. Sebaliknya, banyak remaja yang menyadari status HIV-positif mereka, justru tidak menerima pengobatan antiretroviral jangka panjang yang efektif.

Hasil gambar untuk remaja sehat

Salah satu target khusus Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG 3) adalah bahwa pada tahun 2030 harus ada penghentian (should be an end) epidemi AIDS, tuberkulosis, malaria dan penyakit tropis terabaikan, hepatitis, penyakit yang ditularkan melalui air dan penyakit menular lainnya. Mengingat tingginya prevalensi HIV di banyak negara, untuk mencapai target ini remaja perlu menjadi pusat pengendaliannya. Remaja perlu tahu cara melindungi diri dari infeksi HIV dan harus memiliki sarana untuk melakukannya. Akses yang lebih baik untuk tes dan konseling HIV, dan hubungan selanjutnya yang lebih kuat dengan layanan pengobatan HIV bagi mereka yang HIV positif, tentu saja juga diperlukan.

Hasil gambar untuk remaja sehat

Mempromosikan perilaku sehat pada remaja dan mengambil langkah untuk melindungi remaja dari risiko kesehatan, sangat penting untuk mengurangi angka kematian remaja dan pencegahan masalah kesehatan pada masa dewasa.

Sudahkah kita bertindak?

Sekian

Yogyakarta, 17 Januari 2019

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Istanbul

2019 Kematian Anak

Hasil gambar untuk kematian anak

KEMATIAN ANAK

fx. wikan indrarto*)

Diperkirakan 6,3 juta anak di bawah usia 15 tahun meninggal pada tahun 2017 yang lalu di seluruh dunia. Sekitar 5,4 juta di antaranya adalah balita dan 2,5 juta neonatal atau meninggal dalam bulan pertama kehidupan. Ini berarti 15.000 kematian balita setiap hari. Apa yang seharusnya kita lakukan?

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/11/24/2018-kematian-di-jalan-raya/

Gambar terkait

Lebih dari setengah kematian dini anak  disebabkan oleh kondisi yang dapat dicegah atau diobati, dengan sarana yang sederhana dan terjangkau. Penyebab utama kematian pada anak balita adalah komplikasi kelahiran prematur, radang paru-paru, asfiksia lahir, diare dan malaria. Hampir setengah dari kematian balita ini terjadi pada bayi baru lahir, sebuah angka yang akan naik secara relatif, karena tingkat kematian anak yang lebih besar telah terus menurun. Anak di Afrika lebih dari 15 kali lebih mungkin meninggal sebelum usia 5 tahun daripada anak di negara berpenghasilan tinggi. Kemajuan global substansial telah dibuat dalam mengurangi kematian anak sejak 1990. Jumlah kematian balita di seluruh dunia telah menurun dari 12,6 juta pada 1990 menjadi 5,4 juta pada 2017, atau sekitar 15.000 kematian balita setiap hari, dibandingkan dengan 34.000 pada 1990. Sejak 1990, tingkat kematian global balita telah turun 58%, dari 93 kematian per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 1990 menjadi 39 pada tahun 2017.

Hasil gambar untuk kematian anak

Lebih dari setengah kematian balita disebabkan oleh penyakit yang dapat dicegah dan diobati melalui intervensi sederhana dan terjangkau. Memperkuat sistem kesehatan untuk memberikan intervensi seperti itu kepada semua anak akan menyelamatkan banyak nyawa anak. Anak yang kekurangan gizi, terutama mereka yang kekurangan gizi akut, memiliki risiko kematian yang lebih tinggi akibat diare, pneumonia, dan malaria. Faktor-faktor yang berhubungan dengan gizi berkontribusi pada sekitar 45% kematian pada anak balita.

Hasil gambar untuk kematian anak

Pneumonia, atau infeksi pernapasan akut lainnya lebih sering terjadi pada anak dengan faktor risiko berikut. Selain Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), juga Malnutrisi, tidak mendapat ASI eksklusif, dan kondisi rumah tinggal yang penuh sesak. Oleh sebab itu, tindakan pencegahannya meliputi vaksinasi lengkap, nutrisi yang cukup, menyusui secara eksklusif dan pengurangan polusi udara rumah tangga. Tindakan perawatan yang sesuai oleh petugas medis dan kesehatan terlatih meliputi antibiotik dan bantuan oksigen untuk penyakit yang parah.

Diare pada anak lebih sering terjadi pada anak dengan faktor risiko berikut. Selain anak yang tidak disusui secara eksklusif, juga pada anak dengan air minum dan makanan yang tidak aman, serta praktik kebersihan yang buruk dan malnutrisi. Oleh sebab itu, tindakan pencegahan meliputi  Menyusui  secara Eksklusif, penggunaan air dan makanan yang aman, sanitasi dan kebersihan yang memadai, serta nutrisi yang cukup dan vaksinasi. Tindakan perawatan yang sesuai oleh petugas medis dan kesehatan terlatih meliputi pemberian larutan garam rehidrasi oral rendah osmolaritas (ORS) dan suplemen seng. Vaksin tersedia untuk beberapa penyakit infeksi pada anak yang paling mematikan, seperti campak, polio, difteri, tetanus, dan pertusis, pneumonia akibat Haemophilius influenzae tipe B dan Streptococcus pneumonia dan diare karena rotavirus. Vaksin dapat melindungi anak balita dari penyakit dan kematian.

Hasil gambar untuk kematian anak

Kemungkinan kematian pada anak yang lebih besar, yaitu rentang usia 5 hingga 14 tahun adalah 7,2 kematian per 1.000 anak pada tahun 2017, atau sekitar 18% dari angka kematian balita di tahun 2017. Sekitar 2.500 anak dalam kelompok usia ini meninggal setiap hari dan kematian anak berusia 5-9 tahun menyumbang 61% dari semua kematian anak berusia 5 hingga 14 tahun. Cedera (termasuk kecelakaan lalu lintas, tenggelam, terbakar, dan jatuh) menempati urutan teratas penyebab kematian dan kecacatan seumur hidup, pada anak yang berusia 5-14 tahun. Pola kematian pada anak yang lebih besar dan remaja, mengalami pergeseran dari penyakit menular menuju pada kecelakaan atau cedera.

Kelainan bawaan atau kongenital, cedera, dan penyakit tidak menular, dalam hal ini mencakup penyakit pernapasan kronis, penyakit jantung didapat, kanker, diabetes, dan obesitas, adalah prioritas yang muncul dalam agenda kesehatan anak global. Kelainankongenital mempengaruhi sekitar 1 dari 33 bayi, yaitu 3,2 juta bayi mengalami cacat saat lahir setiap tahun. Beban penyakit global akibat penyakit tidak menular yang mempengaruhi pada masa anak dan terus menerus di kemudian hari, semakin meningkat dengan cepat, meskipun banyak faktor risiko yang sudah dapat dicegah. Demikian pula, jumlah anak yang kelebihan berat badan di seluruh dunia meningkat dari yang diperkirakan 31 juta pada tahun 2000 menjadi 42 juta pada tahun 2015, termasuk di negara-negara dengan prevalensi rendah gizi buruk pada masa kanak-kanak.

Hasil gambar untuk kematian anak

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau The Sustainable Development Goals (SDGs) telah diadopsi oleh PBB pada tahun 2015, untuk mempromosikan kehidupan yang sehat dan kesejahteraan bagi semua anak. Sasaran 3 SDG adalah untuk mengakhiri kematian yang dapat dicegah pada bayi baru lahir dan balita di tahun 2030. Terdapat dua target, yaitu pertama mengurangi kematian bayi baru lahir hingga setidaknya 12 per 1.000 kelahiran hidup (SDG 3.1); dan kedua mengurangi angka kematian balita hingga setidaknya 25 per 1.000 kelahiran hidup (SDG 3.2).

Hasil gambar untuk kematian anak

Kemajuan diperlukan di lebih dari seperempat dari semua negara di dunia, untuk mencapai target SDG 3.1, pada penurunan kematian balita tahun 2030. Upaya terfokus masih diperlukan di Sub-Sahara Afrika dan Asia Tenggara, termasuk di Indonesia, untuk mencegah 80 persen dari kematian ini.

Apakah kita sudah terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 16 Januari 2019

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Istanbul

2019 Akhiri Polio

Hasil gambar untuk poliomielitis adalah

AKHIRI POLIO

fx. wikan indrarto*)

Pada 30 tahun yang lalu, virus polio liar melumpuhkan lebih dari 350.000 anak di lebih dari 125 negara setiap tahun. Pada tahun 2018, tinggal ada kurang dari 30 kasus yang dilaporkan, bahkan hanya terjadi di dua negara, yaitu Afghanistan dan Pakistan. Apa yang menarik?

Gambar terkait

Sejarah penyakit polio dimulai dari tahun 1580 SM, menurut relief di piramid Mesir kuno. Pada awal abad ke-20, polio adalah salah satu penyakit infeksi yang paling ditakuti di berbagai negara industri, karena mampu melumpuhkan ratusan ribu anak setiap tahun. Segera setelah pengenalan vaksin yang efektif pada 1950-an, polio dapat dikendalikan dan praktis dihilangkan sebagai masalah kesehatan masyarakat di negara tersebut. Perlu waktu agak lama sampai polio diakui sebagai masalah utama di negara berkembang. Akibatnya, baru setelah tahun 1970-an, vaksinasi polio rutin diperkenalkan di seluruh dunia sebagai bagian dari program vaksinasi nasional di banyak negara berkembang. Pada tahun 1988, ketika program ‘the Global Polio Eradication Initiative’ dimulai, polio telah melumpuhkan lebih dari 1.000 anak di seluruh dunia setiap hari. Sejak itu, lebih dari 2,5 miliar anak telah divaksinasi terhadap polio, berkat kerja sama lebih dari 200 negara dan 20 juta sukarelawan, yang didukung oleh pendanaan internasional lebih dari US $ 11 miliar.

Hasil gambar untuk poliomielitis adalah

Pemberantasan polio memerlukan cakupan vaksinasi yang tinggi di seluruh dunia, untuk memblokir penularan virus yang sangat menular ini. Namun demikian, banyak anak masih kehilangan kesempatan mendapatkan vaksinasi karena berbagai alasan termasuk kurangnya infrastruktur, lokasi terpencil, perpindahan penduduk, konflik bersenjata, gangguan keamanan, dan paham penolakan terhadap vaksinasi. Strategi pemberantasan polio adalah memastikan cakupan vaksinasi tinggi, yaitu lebih dari 80% bayi pada tahun pertama kehidupan, dengan setidaknya tiga dosis vaksin polio tetes (OPV).

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/01/10/2019-polio-terakhir/

Vaksinasi rutin saja tidak dapat memberantas penyakit ini, tetapi cakupan vaksinasi polio yang tinggi akan meningkatkan kekebalan populasi, mengurangi insiden polio, dan membuat pemberantasan penyakit akan terjadi. Sebaliknya, jika cakupan vaksinasi yang tinggi tidak dipertahankan, maka akan terbentuk kelompok anak yang tidak divaksinasi dan menumpuk, sehingga memungkinkan penyebaran virus polio yang berkelanjutan, bahkan mungkin terjadi wabah. Menurut perkiraan WHO / UNICEF cakupan vaksinasi mencapai 86% bayi yang menerima tiga dosis OPV pada tahun 2010, dibandingkan dengan 75% pada 1990.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/07/24/2018-senjang-imunisasi/

Saat ini semakin banyak negara industri dan wilayah bebas polio menggunakan vaksin polio tidak aktif atau suntik (IPV) dalam jadwal vaksinasi rutin. IPV tidak direkomendasikan untuk penggunaan rutin di negara endemik polio atau di negara berkembang, yang masih berisiko terhadap impor virus polio. Hal ini disebabkan karena IPV tidak mampu menghentikan penularan virus, pengelolaannya lebih kompleks, dan lebih mahal daripada OPV.

Pengembangan vaksin yang efektif untuk mencegah polio adalah salah satu terobosan medis utama abad ke-20. Inisiatif Pemberantasan Polio Global menggunakan dua jenis vaksin untuk menghentikan penularan polio, yaitu IPV dan OPV, dengan OPV sebagai vaksin terbanyak yang digunakan dalam perjuangan untuk memberantas polio. Virus polio yang dilemahkan yang terkandung dalam OPV mampu mereplikasi secara efektif di usus, tetapi sekitar 10.000 kali lebih sedikit yang dapat memasuki sistem saraf pusat dibandingkan virus polio liar. Ini memungkinkan individu untuk membentuk respons kekebalan terhadap virus. Hampir semua negara yang telah memberantas polio, menggunakan OPV untuk menghentikan penularan.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/12/27/2018-vaksin-bukan-mitos/

Keuntungan OPV adalah harganya murah, yaitu $ 0,18 untuk semua negara yang pengadaannya melalui UNICEF sejak tahun 2016. OPV aman dan efektif, yang mampu menstimulasi imunitas mukosa pada usus, oleh karena itu sangat efektif untuk menghentikan transmisi virus. OPV diberikan secara tetes mulut dan tidak memerlukan petugas profesional kesehatan atau jarum suntik steril. Namun demikian, selama beberapa minggu setelah vaksinasi, virus vaksin dapat bereplikasi di usus, dikeluarkan saat BAB dan dapat disebarkan ke orang lain dalam kontak dekat. Ini berarti bahwa di daerah-daerah dengan kebersihan dan sanitasi yang buruk, vaksinasi dengan OPV dapat menyebabkan kelumpuhan, dalam kasus yang sangat jarang, sekitar 2 hingga 4 kejadian per 1 juta dosis, yang disebut kelumpuhan dari vaksinasi atau vaccine-associated paralytic polio (VAPP).

Hasil gambar untuk poliomyelitis

Vaksin polio tidak aktif suntikan (IPV) dikembangkan pada tahun 1955 oleh Dr. Jonas Salk, terdiri dari jenis virus polio yang tidak aktif (virus mati) dari ketiga jenis virus polio. IPV diberikan dengan injeksi intramuskular atau intradermal dan perlu diberikan oleh petugas kesehatan terlatih. IPV bukan vaksin ‘virus hidup’, maka tidak ada risiko ikutan setelah vaksinasi dan IPV memicu respons imun protektif yang sangat baik pada kebanyakan orang. Namun demikian, kekurangan IPV adalah menginduksi tingkat imunitas yang sangat rendah di kelenjar getah bening usus. Akibatnya, ketika seseorang divaksinasi dengan IPV terinfeksi virus polio liar, virus itu masih dapat berkembang biak di dalam usus dan dikeluarkan di dalam tinja, sehingga berisiko melanjutkan sirkulasi virus. Selain itu, harga IPV sekitar lima kali lebih mahal daripada harga OPV, pemberian vaksinnya membutuhkan tenaga kesehatan terlatih, serta peralatan dan prosedur injeksi yang steril. Namun demikian, IPV adalah salah satu vaksin teraman yang digunakan dan tidak ada reaksi merugikan sistemik yang serius setelah vaksinasi.

Hasil gambar untuk poliomyelitis

Cakupan vaksinasi polio yang telah tinggi, harus terus dipertahankan. Selain itu, virus polio liar yang tinggal tersisa di benteng pertahanannya yang terakhir, yaitu di pedalaman Afganistan dan Pakistan, haruslah kita akhiri, agar dunia yang kita tinggali menjadi bebas polio.

Sekian

Yogyakarta, 14 Januari 2019

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Istanbul

2019 Polio Terakhir

Hasil gambar untuk poliomielitis adalah

POLIO TERAKHIR

fx. wikan indrarto*)

Pada 30 tahun yang lalu, virus polio liar melumpuhkan lebih dari 350.000 anak di lebih dari 125 negara setiap tahun. Pada Jumat, 4 Januari 2019, virus polio telah dipukul mundur hingga kurang dari 30 kasus yang dilaporkan pada tahun 2018 di hanya dua Negara, yaitu Afghanistan dan Pakistan. Dengan demikian dunia kita telah berdiri di puncak kesuksesan bidang kesehatan masyarakat yang pernah terjadi sebelumnya, yaitu pemberantasan global penyakit infeksi kedua pada manusia dalam sejarah.

Gambar terkait

Polio adalah penyakit yang sangat menular yang disebabkan oleh virus. Ini menyerang sistem saraf, dan dapat menyebabkan kelumpuhan total dalam hitungan jam. Virus ini ditularkan oleh orang-ke-orang yang menyebar terutama melalui rute faecal-oral atau, lebih jarang, oleh jalur umum misalnya, air atau makanan yang terkontaminasi, dan berkembang biak di usus. Gejala awal adalah demam, kelelahan, sakit kepala, muntah, kekakuan pada leher dan nyeri pada tungkai. Tidak ada obat untuk penyakit polio, tetapi hanya dapat dicegah. Vaksin polio yang diberikan berulang kali, dapat melindungi anak seumur hidup.

Gambar terkait

Polio (poliomielitis) terutama menyerang anak balita, bahkan hampir 1 dari 200 infeksi polio akan menyebabkan kelumpuhan otot yang menetap atau ireversibel. Di antara mereka yang lumpuh, 5% hingga 10% mati ketika otot-otot pernapasan mereka menjadi tidak mampu bergerak. Infeksi virus polio liar telah menurun lebih dari 99% sejak tahun 1988, dari sekitar 350.000 kasus, menjadi 29 kasus yang dilaporkan pada tahun 2018. Kalau Pakistan dan Afghanistan mampu mencapai kondisi bebas polio berarti dunia yang kita tinggali juga bebas polio.

Hasil gambar untuk poliomielitis adalah

Kasus virus polio liar telah menurun lebih dari 99% sejak tahun 1988, dari sekitar 350.000 kasus di lebih dari 125 negara endemik, menjadi 29 kasus yang dilaporkan pada tahun 2018. Dari 3 jenis virus polio liar (tipe 1, tipe 2, dan tipe 3), virus polio liar tipe 2 diberantas pada tahun 1999 dan tidak ditemukan kasus virus polio liar tipe 3 sejak kasus terakhir yang dilaporkan di Nigeria pada bulan November 2012.

Afghanistan dan Pakistan merupakan benteng terakhirnya virus polio dan harus dikalahkan untuk menyingkirkan penyakit yang melumpuhkan ini untuk selama-lamanya. Pemberantasan polio memerlukan cakupan imunisasi yang tinggi di seluruh dunia, untuk memblokir penularan virus yang sangat menular ini. Sayangnya, banyak anak masih kehilangan kesempatan mendapatkan vaksinasi karena berbagai alas an, termasuk kurangnya infrastruktur, lokasi terpencil, perpindahan penduduk, konflik bersenjata, gangguan keamanan dan penolakan terhadap vaksinasi. Tim vaksinasi di Afghanistan dan Pakistan sudah bergerak dengan cepat, untuk menemukan dan langsung memberikan vaksinasi pada setiap anak, sebelum virus menginfeksi.

Hasil gambar untuk poliomielitis adalah

Mereka telah membuat kemajuan luar biasa. Dua puluh tahun yang lalu, virus polio melumpuhkan lebih dari 30.000 anak di seluruh Pakistan. Pada tahun 2018, hanya 8 kasus yang dilaporkan dari beberapa distrik, terutama yang terpencil di sekitar hulu Sungai Indus. Namun demikian, pemberantasan polio adalah perang total dan dapat diibaratkan sebagai upaya ‘semuanya atau tidak sama sekali’. Oleh karena virus ini sangat menular, kegagalan untuk memberantas virus polio liar di bentengnya yang tersisa ini, dapat saja mengakibatkan kebangkitan penyakit polio. Bahkan kalkulasi dapat saja mencapai sebanyak 200.000 kasus baru di seluruh dunia setiap tahun, dalam 10 tahun.

Gambar terkait

Pemerintah Pakistan dan Afghanistan telah memobilisasi setiap sektor publik dan masyarakat sipil, setiap komunitas dan pemimpin agama, setiap ibu dan ayah, bahkan juga setiap petugas pemberi vaksin, untuk memberantas penyakit polio ini untuk selama-lamanya. Tidak ada alasan mengapa kita tidak bisa menyelesaikan pekerjaan pemberantasan polio ini, bahkan kita hampir sampai kepada tujuan, sebagaimana dijelaskan oleh Profesor Helen Rees, Ketua Komite Darurat untuk Pemberantasan Polio. Dunia telah mencapai kondisi serupa ini sebelumnya dengan cacar (smallpox). Dunia kita telah terbukti sebagai tempat yang jauh lebih baik tanpa cacar, apalagi kalau juga tanpa polio.

Gambar terkait

Namun demikian, selama masih ada satu anak yang terinfeksi, maka semua anak di negara tersebut tetap berisiko tertular polio. Kegagalan untuk memberantas polio dari tempat persembunyian virus atau benteng terakhir yang tersisa ini, dapat menghasilkan sebanyak 200.000 kasus baru setiap tahun, dalam waktu 10 tahun, yang menyebar ke seluruh dunia.

Hasil gambar untuk poliomielitis adalah

Pada tahun 1994, Amerika disertifikasi bebas polio, diikuti oleh Pasifik Barat pada tahun 2000 dan Eropa pada Juni 2002. Pada 27 Maret 2014, Asia Tenggara, termasuk Indonesia, disertifikasi bebas polio. Bebas polio berarti bahwa penularan virus polio liar telah terputus di wilayah yang membentang dari Indonesia ke India. Prestasi ini menandai lompatan ke depan yang signifikan dalam pemberantasan global, dengan 80% populasi dunia sekarang tinggal di daerah bebas polio.

Gambar terkait

Lebih dari 16 juta orang anak tetap dapat berjalan hari ini, yang terancam akan lumpuh karena infeksi virus polio. Selain itu, diperkirakan 1,5 juta kematian anak juga telah dapat dicegah, melalui pemberian vitamin A dosis tinggi yang bersamaan dengan imunisasi polio. Pemodelan ekonomi telah menemukan bahwa pemberantasan dengan imunisasi polio untuk melawan virus polio terakhir, akan menghemat setidaknya US $ 50 miliar, sebagian besar di negara berpenghasilan rendah.


Cakupan imunisasi polio yang telah tinggi, harus terus dipertahankan. Selain itu, virus polio liar yang tinggal tersisa di benteng pertahanannya yang terakhir, yaitu di pedalaman Afganistan dan Pakistan, haruslah kita kalahkan, agar dunia yang kita tinggali menjadi bebas polio.

Hasil gambar untuk poliomielitis adalah

Sekian

Yogyakarta, 9 Januari 2019

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Istanbul

2019 Biaya UHC

Hasil gambar untuk biaya uhc

BIAYA  UHC

fx. wikan indrarto*)

UHC (Universal Health Coverage) adalah sebuah kondisi di mana setiap orang dapat menerima layanan kesehatan yang mereka butuhkan, tanpa mengalami kesulitan dalam bidang keuangan. Tahun 2019 ditargetkan UHC akan terwujud di Indonesia. Apa yang harus dilakukan?

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/06/13/2018-uhc-di-indonesia/

Gambar terkait

Asuransi kesehatan sukarela atau ‘Voluntary Health Insurance’ (VHI) dapat didefinisikan sebagai pengaturan pengumpulan dana sukarela prabayar, untuk pembiayaan layanan kesehatan. VHI dalam sistem kesehatan dapat menjadi peluang ataupun risiko, dalam menuju UHC.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/09/13/2018-tahap-menuju-uhc/

Gambar terkait

Seharusnya asuransi seperti ini tidak diabaikan, tetapi juga jangan dipromosikan secara membabi buta, dan sebaiknya dikelola dengan bijak. Negara wajib melakukan kalkulasi dalam peran pendanaan publik seperti bantuan untuk PBI (Penerima Bantuan Iur) di Indonesia dan pendanaan pelengkap, termasuk VHI, dalam sistem pembiayaan kesehatan. Potensi dan batasan VHI perlu dicermati, untuk kemajuan menuju UHC.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/08/16/2018-fhc-menuju-uhc/

Gambar terkait

Skema asuransi kesehatan sukarela (VHI) ada di banyak negara. Di negara berpenghasilan tinggi, VHI cenderung menyediakan perlindungan untuk layanan kesehatan dan pembiayaan yang tidak termasuk atau sepenuhnya dimasukkan, dalam manfaat yang didanai publik. Di negara berpenghasilan rendah di mana sistem kesehatan yang didanai publik cenderung lebih lemah, VHI juga ditemukan dalam bentuk asuransi kesehatan berbasis masyarakat.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/11/14/2018-tarif-tunggal-jkn/

Pengeluaran VHI memainkan peran kecil di sebagian besar sistem kesehatan di berbagai negara, yaitu menyumbang kurang dari 5% dari total pengeluaran kesehatan di tiga perempat dari semua negara di dunia. Data VHI di Indonesia masih belum dilaporkan. Selain itu, tidak ada negara yang telah mencapai kemajuan menuju UHC, hanya dengan mengandalkan VHI.

Hasil gambar untuk biaya uhc

Pembiayaan berbasis kinerja atau Performance Based Financing (PBF) yang juga sering disebut pay-for-performance (P4P), adalah bentuk insentif di mana penyedia layanan kesehatan, didanai atas dasar kinerja mereka dalam memenuhi target atau melakukan tindakan tertentu. Ini didefinisikan sebagai jasa untuk layanan yang tergantung dari kualitas atau ‘fee for service conditional on quality’. Di banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah, program P4P dilaksanakan dengan dukungan mitra pembangunan dan disebut sebagai Pendanaan sesuai Hasil atau Results-Based Financing (RBF). RBF adalah istilah umum untuk instrumen yang menghubungkan imbalan jasa dengan hasil kinerja. P4P, PBF, dan RBF harus dipandang sebagai langkah maju dalam proses dan sistem yang bergerak ke arah pembiayaan yang lebih strategis. Di Indonesia, Kapitasi Berbasis Kompetensi untuk pembayaran kepada Faskes Primer sudah diterapkan, tetapi belum dilakukan pada Faskes Rujukan atau RS.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/07/24/2018-beda-langkah-jkn/

Hasil gambar untuk biaya uhc

Untuk membuat kemajuan menuju UHC, Kementerian Kesehatan harus memastikan bahwa sumber pembiayaan kesehatan dan ketergantungan utama pada pendanaan publik, bukan pada VHI, sebagai prasyarat untuk kemajuan menuju UHC. Namun demikian, pengeluaran yang efisien juga penting. Oleh sebab itu, memastikan aliran dana yang stabil dan transparan untuk pembelian alat kesehatan dan jasa bagi penyedia layanan, juga merupakan bagian penting. Untuk tujuan tersebut, di seluruh Indonesia saat ini sedang dilakukan audit finansial oleh Tim audit BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) terhadap beberapa RS menggunakan teknik sampling acak. Audit meliputi data mutasi klaim, saldo klaim, biaya pelayanan yang diklaim dan dibayarkan, klaim tidak layak, klaim pending dan dispute, biaya pelayanan yang belum diklaim, data pinjaman bank oleh RS, klaim dengan biaya tertinggi, klaim atas prosedur medis terbanyak dan klaim atas jenis kunjungan terbanyak. Hasil audit akan mengetahui efisiensi pengeluaran, aliran dana yang stabil dan transparan dalam tahun 2018 yang lalu.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/08/13/2018-audit-medis-jkn/

Hasil gambar untuk biaya uhc

Analisis pembiayaan kesehatan dipengaruhi oleh sistem pembiayaan kesehatan di suatu negara. Panduan untuk melakukan analisis pembiayaan tersebut mempertimbangkan sejumlah faktor termasuk kondisi terkini (the current of level), sumber pendanaan, dan pengaturan kelembagaan untuk pembiayaan kesehatan. Ini juga menilai kinerja sistem terhadap tujuan dan sasaran UHC. Analisis situasi tersebut bersifat komprehensif, sehingga membantu negara mengidentifikasi masalah prioritas untuk reformasi pembiayaan kesehatan di masa depan. Analisis ditentukan oleh Kementerian Kesehatan, dengan melibatkan berbagai pihak lain yang bertanggung jawab untuk mengembangkan dan mengimplementasikan kebijakan pembiayaan kesehatan.

Hasil gambar untuk biaya uhc

Analisis disusun dengan mempertimbangkan 2 faktor utama. Pertama adalah faktor kunci yang mempengaruhi kebijakan pembiayaan kesehatan dan pencapaian tujuan kebijakan. Kedua adalah aspek penting dari konteks fiskal, termasuk pengeluaran pemerintah terhadap rasio Produk Domestik Bruto (PDB), rasio pajak terhadap PDB, defisit anggaran pemerintah, dan utang pemerintah. Besaran belanja oleh pemerintah dalam pengeluaran umum untuk kesehatan atau General Government Expenditure On Health (GGHE), dikalkulasi sebagai persentase dari PDB. Selain itu, juga menganalisis sasaran UHC dan sasaran antara meliputi perlindungan keuangan dan ekuitas dalam keuangan, kesetaraan dalam penggunaan layanan dan distribusi sumber daya. Demikian juga kualitas pelayanan kesehatan, efisiensi sistem kesehatan, dan juga transparansi dan akuntabilitas data keuangan.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/02/22/reimbursement-jkn/

Hasil gambar untuk biaya uhc

Masih banyak hal yang harus dilakukan, agar UHC di Indonesia dapat diwujudkan melalui program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional), dengan biaya yang terjangkau.

Apakah kita telah ikut mewujudkan?

Sekian

Yogyakarta, 7 Januari 2019

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

 

Categories
Istanbul

2018 Rokok Polos

Hasil gambar untuk rokok polos adalah

ROKOK  POLOS

fx. wikan indrarto*)

Thailand menjadi negara pertama di Asia yang memperkenalkan kemasan rokok polos pada Senin, 17 Desember 2018. Langkah pengendalian tembakau yang lebih kuat, telah diadopsi oleh Thailand sebagai negara berpenghasilan rendah dan menengah pertama, yang mengadopsi kemasan rokok polos (plain packaging). Apa yang perlu dicermati?

baca juga :

https://dokterwikan.wordpress.com/2018/09/24/1819/

Gambar terkait

Langkah berani Thailand melawan rokok, yang diketahui sebagai penyebab paling penting dari kematian yang dapat dicegah di seluruh dunia, patut dihargai dan mencerminkan upaya serius negara dalam mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan rakyat. Dr. Poonam Khetrapal Singh, Direktur WHO Regional Asia Tenggara mengucapkan selamat kepada Thailand atas undang-undang kemasan rokok polos yang telah disahkan. UU kemasan rokok polos adalah upaya terbaru pemerintah Thailand, setelah UU Pengendalian Tembakau tahun 2017 yang memberlakukan batasan 20 tahun, sebagai usia minimum untuk membeli rokok, larangan penjualan rokok eceran, larangan iklan, promosi dan sponsor oleh industri rokok.

baca juga :

https://dokterwikan.wordpress.com/2018/05/28/2018-dampak-tembakau/
Hasil gambar untuk rokok polos adalah

Aturan kemasan rokok polos melarang penggunaan logo, warna, gambar merek atau informasi promosi pada kemasan, selain nama merek dan nama produk yang ditampilkan dalam warna dan huruf atau gaya font standar. Kemasan polos adalah kebijakan berbasis bukti yang diadvokasi oleh Konvensi Kerangka WHO tentang Pengendalian Tembakau (FCTC), sebuah perjanjian hukum yang bertujuan untuk melindungi generasi sekarang dan masa depan, terhadap dampak kesehatan dan sosial ekonomi yang merusak, dari penggunaan tembakau.

baca juga :

https://dokterwikan.wordpress.com/2018/07/12/2018-rokok-gelap/
Hasil gambar untuk rokok polos adalah

Sesuai undang-undang baru Thailand, pada September 2019 kelak semua rokok akan memiliki kemasan polos. Thailand juga sudah memiliki peringatan kesehatan bergambar atau grafis, yang meliputi 85% area kemasan rokok. Aturan kemasan polos tersebut adalah bagian dari program pengendalian rokok dengan target perokok saat ini dan calon perokok baru. Prevalensi penggunaan tembakau cukup tinggi di Thailand dengan 11 juta perokok, yaitu diperkirakan satu dari setiap lima orang dewasa Thailand adalah perokok atau hampir 50% pria dalam kelompok usia 35-54 tahun. Sebaliknya, hal yang menjadi perhatian negara adalah penggunaan rokok yang terus menerus tinggi di kalangan pemuda, yaitu satu dari setiap enam pemuda Thailand dalam kelompok usia 13-17 tahun adalah perokok.

baca juga :

https://dokterwikan.wordpress.com/2018/05/24/2018-hari-tanpa-tembakau-sedunia/
Hasil gambar untuk rokok polos adalah

Secara global, rokok berhubungan dengan kematian lebih dari tujuh juta orang setiap tahun, yaitu hingga separoh dari penggunanya. Penggunaan tembakau merupakan faktor risiko utama untuk penyakit tidak menular utama, seperti serangan jantung, stroke, kanker, penyakit pernapasan kronis dan diabetes. Penyakit tidak menular mencakup lebih dari 70% dari semua kematian di Thailand. Menekan jumlah perokok penting untuk membalikkan epidemi penyakit tak menular yang sedang berkembang, dan menjadi program prioritas utama otoritas kesehatan di berbagai negara. Negara seharusnya berada di garis terdepan dalam perang melawan rokok.

Gambar terkait

Namun demikian, ternyata tembakau bukan hanya menjadi penyebab masalah kesehatan tetapi juga masalah sosio-ekonomi. Perokok yang meninggal muda secara prematur menghentikan pendapatan keluarga, meningkatkan biaya perawatan kesehatan, dan menghambat perkembangan ekonomi. Penyakit akibat merokok memaksa sistem kesehatan menguras anggaran pemerintah untuk perawatan kesehatan nasional, yang mungkin saja justru lebih besar dibandingkan keuntungan yang diperoleh dari cukai atau pajak rokok. Di Thailand, kerugian ekonomi dari tembakau pada tahun 2009 diperkirakan 75 miliar Baht Thailand atau 0,78% dari PDB.

baca juga

https://dokterwikan.wordpress.com/2018/03/14/aturan-tembakau/
Hasil gambar untuk rokok polos adalah

Selain Thailand, sebenarnya Saudi Arabia juga telah melakukan langkah terobosan untuk pengendalian tembakau pada Senin, 17 Desember 2018. Otoritas Makanan dan Obat Saudi (The Saudi Food and Drug Authority) telah menerapkan kemasan polos pada semua bentuk produk rokok. Paket kebijakan rokok polos adalah salah satu kebijakan yang menampilkan nama, merek, dan produk dalam warna dan jenis huruf atau font standar, tanpa menggunakan logo, warna, gambar merek atau informasi promosi, baik di dalam dan atau di luar kemasan.

Hasil gambar untuk rokok polos adalah

Hal ini adalah langkah inovatif untuk pengendalian rokok karena kemasan polos adalah salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif untuk mengurangi permintaan rokok. Selain itu, kebijakan tersebut juga berdampak positif pada perokok untuk berhenti merokok, mengurangi daya tarik rokok, membatasi penggunaan kemasan rokok sebagai bentuk iklan dan promosi. Selain itu, juga membatasi kemasan dan pelabelan yang menyesatkan dan meningkatkan efektivitas peringatan bahaya kesehatan.

Hasil gambar untuk rokok polos adalah

Thailand dan Arab Saudi termasuk beberapa negara pertama di seluruh dunia yang menerapkan aturan rokok polos. Otoritas Obat dan Makanan Saudi telah mengingatkan produsen dan pengimpor rokok dengan masa tenggang sampai 1 Mei 2019. Kegagalan untuk mematuhi aturan pada tanggal tersebut akan diambil tindakan hukum. Dalam persiapan untuk ini, Otoritas Obat dan Makanan Saudi telah mengeluarkan rokok polos sebagai model awal untuk contoh kemasan polos untuk produk rokok dan sisha, serta semua produk tembakau lainnya, baik yang menimbulkan asap maupun yang tanpa asap. Diharapkan bahwa langkah revolusioner ini akan berkontribusi pada agenda pengendalian tembakau Arab Saudi, yang selaras dengan visii 2030 untuk mempromosikan kesehatan masyarakat.

baca juga :

https://dokterwikan.wordpress.com/2018/10/30/2018-polusi-terhadap-anak/
Hasil gambar untuk rokok polos adalah

Aturan rokok polos di Thailand dan Saudi Arabia yang merupakan langkah terobosan untuk pengendalian rokok, sangat inspiratif. Program kemasan rokok polos tersebut memiliki target para perokok dan calon perokok baru.

Bagaimana kita harus bertindak di Indonesia?

Sekian

Yogyakarta, 20 Desember 2018

*) dokter spesialis anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA=081227280161

Categories
Istanbul

2018 Hadapi Tsunami

Hasil gambar untuk cara menghadapi tsunami

HADAPI  TSUNAMI

fx. wikan indrarto*)

Tsunami Selat Sunda yang tidak didahului gempa bumi, menerjang sejumlah kawasan di pesisir pantai Banten dan Lampung pada hari Sabtu malam, 22 Desember 2018. Apa yang dapat kita lakukan?

Hasil gambar untuk cara menghadapi tsunami

Tsunami adalah gelombang laut raksasa yang mungkin dihasilkan oleh gempa bawah laut atau longsor ke dasar laut. Tsunami dapat menempuh jarak ribuan mil dengan kecepatan 300-600 mph dengan sedikit energi. Gelombang tersebut mencapai pantai dengan dampak yang buruk pada komunitas di garis pantai. Puncak-puncak tsunami yang berurutan dapat tiba dengan interval setiap 10 hingga 45 menit, dan mendatangkan kehancuran selama beberapa jam.

Gambar terkait

Dampak tsunami pada bidang kesehatan masyarakat segera setelah proses penyelamatan korban adalah ketersediaan air minum, makanan, tempat tinggal dan perawatan medis untuk korban cedera. Luapan air laut dapat menimbulkan risiko kesehatan, seperti air yang terkontaminasi dan persediaan makanan yang menipis. Kondisi cuaca musim dingin dengan salju atau hujan, di samping kurangnya tempat berlindung dan pasokan listrik yang terbatas, menempatkan para korban pada peningkatan risiko penyakit menular.

Gambar terkait

Cedera menjadi perhatian utama para petugas kesehatan. Luka, patah tulang dan cedera kepala yang disebabkan oleh dampak fisik tersapu gelombang air, hantaman puing rumah, dan batang pohon adalah umum. Risiko wabah penyakit menular juga muncul, pada masyarakat yang terlantar akibat bencana tsunami. Kerumunan orang, ketersediaan air, dan sanitasi yang tidak memadai, akses yang buruk ke layanan kesehatan, dan perpindahan penduduk yang tiba-tiba, semuanya meningkatkan risiko penularan penyakit infeksi. Tingkat cakupan imunisasi yang sangat tinggi di wilayah bencana, dapat mengurangi risiko penyakit menular yang umum seperti campak, difteri, pertusis, tetanus, dan polio.

baca juga :

https://dokterwikan.wordpress.com/2018/08/29/2018-donasi-gempa-lombok/
Hasil gambar untuk cara menghadapi tsunami

Hepatitis A dan yang E ditularkan melalui rute mulut atau ‘faecal-oral’, terkait dengan kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi. Leptospirosis dapat menyebar melalui paparan kulit dan selaput lendir yang luka, kepada air atau lumpur yang terkontaminasi dengan air kemih tikus yang terinfeksi. Kudis adalah penyakit menular pada kulit, dan parasit ini biasanya ditularkan melalui kontak kulit ke kulit. Semua penyakit infeksi tersebut menyebar lebih mudah dalam kondisi yang ramai dan tidak sehat, misalnya di tenda pengungsian.

Hasil gambar untuk leptospirosis

Infeksi saluran pernapasan akut termasuk pneumonia adalah penyebab utama penyakit dan kematian di antara para pengungsi. Kurangnya akses ke layanan medis dan obat antibiotik, dapat lebih meningkatkan risiko kematian akibat pneumonia.

baca juga :

https://dokterwikan.wordpress.com/2018/04/11/2017-leptospirosis-paska-banjir/
Hasil gambar untuk pneumonia aspirasi anak pdf

Pneumonia aspirasi merupakan infeksi paru yang terjadi akibat masuknya zat atau benda asing seperti air, pasir, lumpur, dan sebagainya ke dalam paru-paru para korban bencana tsunami. Pneumonia aspirasi itu menyerang saat korban diterjang ombak tinggi atau tenggelam dalam waktu lama dan menelan beragam material yang ada. Penderita pneumonia aspirasi paru mesti mendapatkan pertolongan segera melalui metode ‘cuci paru’ atau dikenal dengan istilah bronkoskopi. 

Gambar terkait

Tsunami di Selat Sunda 2018 pada hari ketiga penanganan, mencatat 429 orang meninggal dunia,  128 orang hilang, 1.485 luka-luka, dan 5.665 orang mengungsi. Selain itu, ada 882 rumah rusak, 73 penginapan rusak dan 60 warung rusak, serta puluhan kendaraan rusak. Setelah tsunami, tumpukan puing bangunan berpotensi menyebabkan luka tusuk. Spora tetanus dapat masuk ke tubuh melalui luka yang terkontaminasi dengan tanah, debu atau kotoran hewan. Spora tetanus dapat masuk ke dalam tubuh melalui tusukan kecil atau sekedar goresan, tetapi biasanya masuk melalui luka yang dalam, akibat tertusuk paku, benda runcing lainnya, atau pisau.

Hasil gambar untuk cara menghadapi tsunami

Vaksinasi adalah satu-satunya cara untuk melindungi terhadap tetanus. Di Jepang, booster imunisasi terhadap tetanus direkomendasikan setiap 10 tahun. Menurut data dari WHO dan UNICEF tahun 2010 , Jepang memiliki cakupan imunisasi tetanus yang sangat tinggi pada anak-anak (98% pada 2009), sangat mengurangi risiko tetanus pasca-tsunami. Namun, orang yang lebih tua yang mungkin melewatkan imunisasi tetanus dan mereka yang tidak mengikuti dosis penguat (booster), tentu saja dapat berisiko.

baca juga :

https://dokterwikan.wordpress.com/2018/12/20/2018-ancaman-campak/

Hasil gambar untuk imunisasi

Kematian korban bencana tsunami biasanya disebabkan oleh trauma tumpul, cedera berat, atau tenggelam. Namun demikian, pemandangan dan bau sejumlah besar jenazah yang membusuk sangat mengganggu dan dapat menghasilkan dampak negatif tambahan pada kesehatan mental para korban tsunami. Jenazah korban tsunami dan mayat binatang, sebenarnya tidak dapat menularkan penyakit karena bakteri, virus, dan parasit mati bersama inang atau tubuh. Manajemen jenazah secara massal sering kali didasarkan pada kepercayaan yang salah, bahwa jenazah memiliki bahaya epidemi, jika tidak segera dikuburkan atau dikremasi.

Hasil gambar untuk tsunami

Pemakaman massal sering lebih disukai, daripada proses kremasi dalam situasi korban massal. Relawan kesehatan yang menangani jenazah harus melindungi diri dari darah dan cairan tubuh lainnya, dengan menggunakan pelindung diri dan kantong mayat. Bagian bawah kuburan massal harus setidaknya 1,5 meter di atas permukaan air dengan zona tak jenuh 0,7 meter, yaitu bagian bumi antara tanah dan permukaan. Ketika mengelola sejumlah besar jenazah, perhatian harus diberikan pada fakta bahwa mengelola jenazah dengan benar, cepat, dan dengan penuh hormat, dapat mengurangi kecemasan pada keluarga dan korban yang selamat.

Hasil gambar untuk tsunami

Makanan dan air di daerah bencana tsunami menjadi tidak aman dikonsumsi, karena sangat mungkin terkontaminasi sistem pembuangan limbah, atau kebocoran dari pabrik atau kawasan industri yang rusak. Petugas penolong dan relawan darurat, bersama dengan pihak berwenang setempat dapat memberikan saran tentang kondisi makanan dan air setempat, agar aman dikonsumsi. Demikian juga dapat merekomendasikan bagaimana air di daerah tersebut dapat dibuat lebih aman.

baca juga :

https://dokterwikan.wordpress.com/2018/09/21/2018-kematian-anak/

Gambar terkait

Biasanya ikan atau makanan laut lainnya dari daerah yang terkena tsunami aman dikonsumsi, selama tidak ada kontaminasi oleh kotoran, bahan kimia atau polutan lainnya. Otoritas setempat akan memberikan saran terbaik, termasuk ketentuan bahwa ikan harus dimasak secara menyeluruh sebelum dimakan. Namun demikian, banyak korban tsunami yang selamat, mungkin enggan makan ikan karena alasan bahwa tubuh orang yang mereka cintai, telah tersapu ke laut.

Para petugas kesehatan dan relawan kemanusiaan yang datang, diharapkan memahami kondisi secara akurat. Selain itu, juga dapat membantu dan meringankan beban para korban bencana tsunami, baik dalam aspek medis, sosial, dan mental.

baca juga :

https://dokterwikan.wordpress.com/2018/08/15/2018-relawan-saat-bencana/

Sudahkah kita bijak menghadapi tsunami?

Sekian

Yogyakarta, 27 Desember 2018

*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak RS Panti Rapih, lektor FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
Istanbul

2018 Bayi Sakit

Hasil gambar untuk bayi sakit

BAYI SAKIT

fx. wikan indrarto*)

Hampir 30 juta bayi baru lahir yang sakit dan prematur di seluruh dunia, sangat membutuhkan perawatan setiap tahun. Kamis, 13 Desember 2018 UNICEF dan WHO, menyerukan perlakukan yang lebih baik dan legislasi yang lebih kuat untuk menyelamatkan bayi baru lahir yang berada di ambang kematian. Apa yang sebaiknya dilakukan?

Baca juga :

https://dokterwikan.wordpress.com/2018/08/08/2018-nutrisi-bayi-pengungsi/

Hasil gambar untuk bayi sakit

“Untuk bayi dan ibu mereka, perawatan yang tepat, pada waktu yang tepat, dan di tempat yang tepat, dapat membuat semua berbeda,” kata Mr. Omar Abdi, Wakil Direktur Eksekutif UNICEF. Namun demikian, jutaan bayi yang kecil dan sakit meninggal setiap tahun, karena mereka tidak menerima perawatan berkualitas yang merupakan hak mereka dan merupakan tanggung jawab kita bersama. Di antara bayi baru lahir yang paling berisiko mengalami kematian dan cacat, adalah bayi dengan komplikasi persalinan dan prematuritas. Dalam hal ini misalnya karena cedera otak saat lahir, infeksi bakteri parah atau sepsis, bayi kuning, dan bayi dengan kelainan bawaan. Selain itu, kesulitann keuangan dan psikologis pada keluarga mereka, dapat memiliki efek yang merugikan pada perkembangan bayi selanjutnya, dalam aspek kognitif, linguistik dan emosional.

Baca juga :

https://dokterwikan.wordpress.com/2018/09/21/2018-kematian-anak/

Hasil gambar untuk bayi sakit

Dr. Soumya Swaminathan, Deputi Direktur Jenderal WHO menjelaskan bahwa cakupan kesehatan semesta atau ‘Universal Health Couverage’ (UHC) dapat memastikan bahwa setiap orang, termasuk bayi baru lahir, memiliki akses ke layanan kesehatan yang mereka butuhkan, tanpa menghadapi kesulitan keuangan. Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Indonesia yang berlaku sejak 1 Januari 2014, ditujukan untuk mencapai cakupan kesehatan semesta atau ‘Universal Health Couverage’ (UHC). Program JKN mengubah drastis pola pembiayaan layanan kesehatan, termasuk untuk kasus neonatal. Angka Kematian Bayi (AKB) 32 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2013 sebelum era JKN, menurun menjadi 28 pada tahun 2017 setelah era JKN. Angka Kematian Ibu (AKI) 359 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2013, menurun menjadi 296 pada tahun 2017. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan mencapai 90,88 persen dan Kunjungan Neonatal Lengkap mencapai 87,23 % tidak mengalami penurunan.

Baca juga :

https://dokterwikan.wordpress.com/2018/06/13/2018-uhc-di-indonesia/

Hasil gambar untuk bayi sakit

Kemajuan dalam perawatan kesehatan bayi baru lahir seharusnya mampu menyelamatkan kehidupan dan sangat penting untuk perkembangan anak sejak awal kehidupan, sehingga berdampak pada keluarga, masyarakat, dan generasi mendatang. Tanpa perawatan khusus bayi, banyak bayi baru lahir yang berisiko tidak akan bertahan hidup selama bulan pertama kehidupan mereka. Pada tahun 2017, sekitar 2,5 juta bayi baru lahir meninggal, sebagian besar karena penyebab yang dapat dicegah, yaitu hampir dua pertiganya adalah bayi prematur. Namun demikian, jika bayi tersebut bertahan hidup, akan mengalami penyakit kronis atau keterlambatan perkembangan. Selain itu, diperkirakan 1 juta bayi baru lahir yang sakit dan bertahan hidup, akan memiliki kecacatan jangka panjang.

Hasil gambar untuk bayi sakit

Dengan perawatan yang benar, banyak bayi dapat hidup tanpa komplikasi besar. Pada tahun 2030, di 81 negara akan ada 2,9 juta bayi baru lahir yang dapat diselamatkan dengan strategi yang lebih cerdas. Hampir 68 persen kematian bayi baru lahir dapat dihindari pada tahun 2030, dengan perbaikan sederhana seperti pemberian ASI eksklusif. Selain itu, kontak kulit-ke-kulit antara ibu atau ayah dan bayi; obat-obatan dan peralatan penting; dan akses ke fasilitas kesehatan yang bersih dan dilengkapi dengan baik yang dikelola oleh pekerja kesehatan yang terampil. Tindakan lain seperti membantu bayi yang tidak bisa bernafas dengan benar atau resusitasi neonatus, memberi suntikan pada ibu untuk mencegah pendarahan, atau menunda pemotongan tali pusat, juga dapat menyelamatkan jutaan orang ibu dan bayi.

Hasil gambar untuk bayi sakit

Sebenarnya dunia tidak akan mencapai target global untuk mencapai kesehatan untuk semua (health for all), kecuali mengubah pola perawatan untuk setiap bayi baru lahir. Tanpa kemajuan yang cepat, beberapa negara tidak akan memenuhi target ini, bahkan selama 11 dekade terakhir. Untuk menyelamatkan bayi baru lahir, berikut ini adalah rekomendasi penting.

Hasil gambar untuk bayi sakit

Pertama, menyediakan perawatan rawat inap sepanjang waktu untuk bayi baru lahir tujuh hari seminggu tanpa henti, kedua adalah pelatihan perawat dan bidan untuk memberikan perawatan bayi secara langsung, yang bekerja dalam kemitraan dengan keluarga. Ketiga adalah meningkatkan peran keluarga terdekat, dengan cara mengajari mereka untuk menjadi pengasuh yang ahli dalam merawat bayi. Semua intervensi tersebut dapat mengurangi stress psikososial, meningkatkan berat badan bayi, dan memungkinkan otak bayi berkembang dengan baik.

Hasil gambar untuk bayi sakit

Keempat, memberikan perawatan yang berkualitas harus menjadi bagian dari kebijakan negara, dan investasi seumur hidup bagi bayi baru lahir yang kecil atau sakit. Kelima, melacak setiap bayi baru lahir yang kecil dan sakit, sehingga memungkinkan untuk memantau kemajuan dan meningkatkan hasil klinis. Keenam, mengalokasikan sumber daya yang diperlukan, sebagai investasi tambahan sebesar US $ 0,20 sen per orang yang dapat menyelamatkan 2 dari setiap 3 bayi baru lahir, di negara berpenghasilan rendah dan menengah pada tahun 2030.

Hasil gambar untuk bayi sakit

Hampir tiga dekade lalu, Konvensi Hak Anak telah diberlakukan secara global, yang menjamin setiap bayi baru lahir berhak atas standar perawatan kesehatan tertinggi. Saat ini, setiap negara di seluruh dunia wajib memastikan bahwa sumber daya medis, manusia, dan keuangan tersedia untuk menciptakan hak itu menjadi kenyataan bagi setiap bayi baru lahir yang sakit.

Bagaimana sikap kita?

Sekian

Yogyakarta, 12 Oktober 2018

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Istanbul

2018 Vaksin bukan Mitos

Hasil gambar untuk vaksin bukan mitos

VAKSIN  BUKAN  MITOS

fx. wikan indrarto*)

Hans Rosling pada 25 Januari 2018 bertanya kepada hadirin di Forum Ekonomi Dunia, “Berapa persentase anak-anak saat ini yang divaksinasi terhadap campak: 30%, 50% atau 85%?” Beberapa orang paling pintar dan berpengaruh di dunia kebanyakan salah, dengan hanya satu dari lima yang benar mengatakan 85%. Apa maknanya?

Hasil gambar untuk vaksin bukan mitos

Forum Eknomi Dunia atau World Economic Forum (WEF) adalah pertemuan tahunan di Davos, Swiss yang dihadiri para pebisnis dunia, pemimpin politik, cendekiawan dan wartawan terpilih dari seluruh dunia, untuk mendiskusikan masalah penting yang dihadapi dunia, termasuk kesehatan dan lingkungan. Hans Rosling adalah seorang ahli statistik, dokter dan praktisi komunikasi menceritakan kisah ini, untuk menjelaskan bahwa hanya sebagian kecil dari para ahli kita yang memahami tentang dampak positif imunisasi. Persentase jawaban benar yang rendah semacam itu, adalah bukti yang jelas dari gagasan yang terbentuk sebelumnya. Para ahli di Davos tidak mengenali imunisasi sebagai intervensi medis berdampak sangat tinggi, apalagi masyarakat kebanyakan.

baca juga = https://dokterwikan.wordpress.com/2018/04/20/2018-pekan-imunisasi-sedunia/

Hasil gambar untuk vaksin bukan mitos

Imunisasi sebenarnya adalah salah satu inovasi ilmiah medis yang paling luar biasa, dan telah berkontribusi besar untuk mencegah kematian, kebanyakan pada anak balita dan peningkatan secara dramatis dalam angka harapan hidup dan pertumbuhan ekonomi. Setiap $US 1 yang diinvestasikan dalam imunisasi mengembalikan sekitar $US 16 dalam bentuk penghematan biaya perawatan kesehatan dan peningkatan produktivitas ekonomi, di negara berpenghasilan rendah dan menengah, pada periode 2011-2020.

Gambar terkait

Cakupan imunisasi campak di seluruh dunia telah stagnan pada kisaran 85%, tetapi masih jauh di bawah 95% yang diperlukan untuk memastikan perlindungan untuk seluruh populasi. Menteri Kesehatan Rumania pada 26 April 2017 melaporkan bahwa 17 anak meninggal dalam wabah campak yang telah menjangkiti ribuan orang di Rumania, yang sebagian besar tinggal di daerah di mana cakupan imunisasi rendah. Sejak itu wabah campak menyebar ke seluruh Eropa, karena ada  banyak anak tidak menerima vaksin campak yang mampu menyelamatkan jiwa, dan mengancam kemajuan Eropa menuju eliminasi campak. Untuk itulah kita semua perlu mendorong lebih keras untuk meningkatkan cakupan imunisasi, apalagi peningkatan cakupan imunisasi ternyata stagnan, hanya 1% secara global sejak tahun 2010, untuk semua penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, bukan hanya campak.

Hasil gambar untuk vaksin bukan mitos

Terlepas dari semua kemajuan fantastis dalam imunisasi selama beberapa dekade terakhir, 1,5 juta anak di seluruh dunia masih meninggal setiap tahun, karena penyakit infeksi yang dapat dicegah oleh vaksin.  Tahun 2017 yang lalu terdapat 25 negara yang melaporkan terjadinya penurunan cakupan imunisasi sejak 2010. Ada sejumlah alasan untuk ini. Di beberapa negara, pasokan dan rantai penyimpanan dingin (cold storage) yang konsisten masih merupakan tantangan yang bertahan lama. Dalam kasus lain, vaksin tersedia tetapi mitos di sekitar mereka membuat orang tua enggan membawa anak mereka untuk mendapatkan imunisasi. Oleh sebab itu, kita semua perlu menghancurkan mitos dan mempromosikan manfaat imunisasi secara lebih luas, dalam sebuah kampanye bertagar #VaccinesWork.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/12/20/2018-ancaman-campak/

Hasil gambar untuk vaksin bukan mitos

Dr. Flavia Bustreo, Asisten Direktur Jenderal WHO menjelaskan tentang  lima fakta kunci tentang imunisasi. Fakta 1: Imunisasi adalah cara teraman untuk melindungi terhadap penyakit menular. Vaksin yang diberikan dalam program imunisasi akan menghasilkan kekebalan yang serupa, dengan yang dihasilkan oleh proses infeksi alami, tetapi tanpa risiko kematian atau kecacatan yang serius, yang terkait dengan kejadian infeksi alami. Fakta 2: Mendapatkan vaksinasi terbaru adalah selalu lebih baik, termasuk untuk anak di wilayah dengan risiko penyakit infeksi rendah. Penyakit infeksi yang mematikan tampaknya telah hampir dapat diberantas. Namun demikian ternyata semuanya memiliki kecenderungann untuk mewabah kembali, ketika cakupan imunisasi menurun, misalnya wabah campak di seluruh Eropa tahun 2018. Hanya dengan memastikan semua orang mendapat imunisasi lengkap, maka secara permanen penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin dapat diberantas atau disebut sebagai eliminasi.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/02/20/campak-di-eropa/

Hasil gambar untuk vaksin bukan mitos

Fakta 3: vaksin kombinasi adalah aman dan bermanfaat. Pemberian beberapa jenis vaksin pada saat yang bersamaan, tidak memiliki efek negatif pada sistem kekebalan tubuh anak. Metode ini mengurangi ketidaknyamanan, menghemat waktu dan uang. Fakta 4: Tidak ada hubungan antara vaksin dan autisme. Tidak ada bukti ilmiah untuk menghubungkan pemberian vaksin MMR dengan terjadinya autisme. Rumor menyesatkan ini dimulai dengan satu penelitian di Inggris tahun 1998, yang kemudian ditemukan kesalahan metodelogi penelitian yang serius, dan akhirnya ditarik kembali oleh jurnal ilmiah Lancet yang menerbitkannya. Fakta 5: Penghentian vaksinasi akan menyebabkan penyakit mematikan akan kembali. Bahkan dengan tingkat kebersihan lingkungan yang lebih baik, sanitasi dan akses ke air bersih yang aman, penyakit infeksi masih mungkin menyebar. Itulah mengapa, ketika banyak orang tidak divaksinasi, penyakit menular yang selama ini telah jarang dan menjadi tidak biasa terjadi, dapat dengan cepat kembali mengancam. Misalnya campak.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/08/09/2018-fobia-rubella/

Hasil gambar untuk vaksin bukan mitos

Vaccine Safety Net adalah situs web jaringan global tentang keamanan vaksin yang telah disertifikasi oleh WHO, menyediakan akses informasi yang akurat dan dapat dipercaya mengenai vaksin. Jaringan ini memiliki 47 situs web anggota dalam 12 bahasa, dengan semboyan ‘Embrace the facts about vaccines, not the myths’ (ingatlah fakta vaksin, lupakan mitosnya). Situs ini menjangkau lebih dari 173 juta orang setiap bulan, dengan informasi kredibel tentang keamanan vaksin, membantu untuk melawan mitos dan informasi yang salah dan berbahaya, tentang vaksin.

Apakah kita sudah cerdas dan anti mitos vaksin?

Sekian

Yogyakarta, 27 Desember 2018

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Istanbul

2018 Diet Sehat

Hasil gambar untuk diet sehat alami

DIET SEHAT

fx. wikan indrarto*)

Diet yang sehat dan seimbang akan memberikan banyak manfaat. Jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi dapat mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan penyakit infeksi. Selain itu, juga terkait dengan risiko mengalami masalah kesehatan di kemudian hari, misalnya obesitas, penyakit jantung, diabetes dan berbagai jenis kanker. Apa yang harus dicermati?

baca juga :

https://dokterwikan.wordpress.com/2018/10/15/2018-hari-pangan-sedunia/
Hasil gambar untuk diet sehat alami

Unsur yang tepat dari diet yang sehat, sebenarnya juga tergantung pada beberapa faktor lain seperti aktivitas fisik dan ketersediaan jenis makanan. Namun demikian, ada beberapa panduan diet yang umum, untuk hidup lebih sehat dan lebih panjang. Paling tidak ada 5 kiat, yaitu pertama makanlah lebih banyak jenis makanan, kedua kurangi garam, ketiga kurangi penggunaan lemak dan minyak tertentu, keempat batasi gula, dan kelima hindari penggunaan alkohol.

Hasil gambar untuk diet sehat alami

Makanlah lebih banyak jenis makanan dengan aturan diet seimbang. Tubuh manusia sangat kompleks, sehingga tidak ada satupun makanan yang mengandung semua nutrisi yang dibutuhkan untuk beraktivitas, kecuali ASI untuk bayi. Oleh karena itu makanan harian harus mengandung berbagai macam makanan segar dan bergizi, untuk membuat tubuh tetap kuat. Selain itu, untuk memastikan diet seimbang, makanan harus terdiri dari makanan pokok seperti gandum, jagung, beras dan kentang, yang ditambah dengan kacang-kacangan, buah dan sayuran segar, dan lauk dari sumber hewani, misalnya daging, ikan, telur dan susu.

Gambar terkait

Pilih makanan utama seperti jagung yang belum diproses, millet, gandum, dan beras merah, karena jenis tersebut kaya serat yang penting dan dapat menyebabkan rasa kenyang yang lebih lama. Pilihlah daging tanpa lemak atau singkirkan lemak pada sayatan daging yang terlihat. Hendaklah mengukus atau merebus, bukan menggoreng bahan makanan saat memasak. Untuk camilan, pilihlah sayuran mentah, kacang tawar atau buah segar, daripada makanan yang tinggi gula, lemak, atau garam.

Gambar terkait

Terlalu banyak mengkonsumsi garam dapat meningkatkan tekanan darah, yang merupakan faktor risiko utama untuk penyakit jantung dan stroke. Kebanyakan orang di seluruh dunia makan terlalu banyak garam, karena rata-rata mengonsumsi dua kali lipat batas yang disarankan WHO, yaitu hanya sebesar 5 gram sehari, yaitu setara dengan satu sendok teh. Meksipun tidak memiliki kebiasaan menambahkan garam ekstra dalam makanan, harus disadari bahwa garam biasanya dicampurkan ke dalam makanan atau minuman olahan, dan seringkali dalam jumlah yang tinggi.

baca juga :

https://dokterwikan.wordpress.com/2018/01/10/stigma-sosial-obesitas/
Hasil gambar untuk diet sehat alami

Saat memasak dan menyiapkan makanan, gunakan garam secukupnya dan kurangi penggunaan saus asin dan bumbu tambahan seperti kecap, kaldu atau saus ikan. Hindari juga camilan yang tinggi garam, dan cobalah pilih camilan segar dibandingkan makanan olahan. Saat menggunakan menu kalengan atau kering, misalnya berisi sayuran, kacang atau buah, pilih jenis kemasan yang tanpa garam dan gula tambahan. Selain itu, singkirkan garam dan bumbu asin di atas meja makan dan hindari menambahkannya hanya karena faktor kebiasaan saja. Sebaliknya, siapkanlah selada untuk menikmati makanan dengan lebih sedikit garam, tetapi lebih banyak rasa. Periksa label pada produk makanan olahan dan pilih produk dengan kandungan natrium yang lebih rendah.

baca juga :

https://dokterwikan.wordpress.com/2018/06/18/2018-sepak-bola-sehat/

Hasil gambar untuk diet sehat alami

Kurangi penggunaan lemak dan minyak tertentu. Manusia membutuhkan lemak dalam makanannya, tetapi makan terlalu banyak lemak, terutama jenis yang salah, justru akan meningkatkan risiko obesitas, penyakit jantung, dan stroke. Lemak trans pada minyak goreng yang diproduksi secara industri sebenarnya adalah yang paling berbahaya bagi kesehatan. Pola makan tinggi lemak semacam ini telah terbukti meningkatkan risiko penyakit jantung hingga hampir 30%.

Hasil gambar untuk diet sehat alami

Beberapa cara untuk mengurangi konsumsi lemak misalnya ganti mentega, lemak babi, dan ghee dengan minyak sehat seperti kedelai, canola, jagung, safflower dan bunga matahari. Pilih daging putih seperti unggas dan ikan yang umumnya lebih rendah lemak daripada daging merah, seperti sapi dan kambing, juga batasi konsumsi daging olahan. Periksa label dan selalu hindari semua makanan yang diproses dan digoreng, yang mengandung lemak trans yang diproduksi secara industri. Hal ini sering ditemukan dalam margarin dan ghee, serta camilan, makanan cepat saji, makanan yang dipanggang dan digoreng.

Hasil gambar untuk diet sehat alami

Terlalu banyak gula tidak hanya buruk untuk gigi, tetapi juga meningkatkan risiko kenaikan berat badan dan obesitas yang tidak sehat, yang dapat menyebabkan masalah kesehatan kronis dan serius. Seperti halnya garam, penting juga untuk memperhatikan jumlah gula “yang tersembunyi,” yang dapat diperoleh dari pengolahan makanan dan minuman. Misalnya, sekaleng soda bisa mengandung gula hingga 10 sendok teh.

Hasil gambar untuk diet sehat alami

Beberapa tips untuk mengurangi asupan gula, yaitu pertama batasi asupan manisan dan minuman manis seperti minuman bersoda, jus buah, konsentrat cair dan bubuk, air beraroma, minuman berenergi untuk olahraga, teh dan kopi siap minum, serta minuman susu beraroma. Kedua, pilih camilan segar yang sehat daripada makanan olahan yang sering ditambahi gula. Ketiga, hindari memberi makanan manis kepada anak. Bahkan, garam dan gula tidak boleh ditambahkan ke makanan pendamping ASI (MP ASI), yang akan diberikan kepada anak di bawah usia 2 tahun, dan harus dibatasi di atas usia tersebut.

baca juga :

https://dokterwikan.wordpress.com/2018/04/20/2018-promosi-asi/
Hasil gambar untuk diet sehat alami

Hindari penggunaan alkohol karena alkohol bukan bagian dari diet yang sehat, tetapi di banyak belahan bumi, perayaan Tahun Baru dikaitkan dengan konsumsi alkohol dan menu tidak sehat lainnya, secara berlebihan. Minum alkohol terlalu banyak atau terlalu sering, meningkatkan risiko langsung untuk cedera, serta menyebabkan efek jangka panjang seperti kerusakan hati, kanker, penyakit jantung dan penyakit mental.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 22 Desember 2018

*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak, lektor FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?