Categories
Istanbul

2018 Rontgen pada Anak

Hasil gambar untuk bahaya rontgen untuk anak

RONTGEN  PADA  ANAK

fx. wikan indrarto*)

Tanggal 8 November diperingati sebagai Hari Radiologi Internasional atau IDoR (International Day of Radiology). Pemeriksaan ‘imaging’ atau pencitraan medis adalah salah satu disiplin ilmu kedokteran yang paling menarik dan progresif secara teknologi dan biologi. Tanggal 8 November, hari ketika Wilhelm Conrad Röntgen menemukan sinar-x pada tahun 1895, dipilih sebagai Hari Radiologi Internasional. Apa yang perlu dicermati?

Hasil gambar untuk bahaya rontgen untuk anak

Pasien anak yang sudah agak besar dan orang tuanya, wajib mengetahui manfaat dan risiko tentang intervensi kesehatan yang akan dilakukan. Dialog pasien anak dan orang tua dengan dokter sangat penting pada bidang pencitraan atau lebih khusus penggunaan sinar Rontgen pada anak. Anak sangat rentan terhadap efek radiasi dari Rontgen, karena jaringan mereka yang sedang tumbuh dan umur mereka yang masih akan berlangsung lebih lama. Komunikasi risiko radiasi yang akurat dan efektif juga diperlukan, antara dokter yang meminta dengan dokter yang melakukan prosedur medis radiologi pada anak. Dengan demikian, memungkinkan pengambilan keputusan berdasarkan informasi dan komunikasi risiko radiasi yang efektif, yang berkontribusi untuk memastikan manfaat yang sebesar mungkin, dengan risiko yang serendah mungkin.

Hasil gambar untuk bahaya rontgen untuk anak

Radiasi adalah energi yang bergerak dalam bentuk gelombang atau partikel, yang sebenarnya merupakan bagian dari lingkungan sehari-hari. Oleh sebab itu, sebenarnya setiap orang pasti terpapar dengan radiasi kosmis dari luar angkasa, serta bahan radioaktif alami yang ditemukan di tanah, air, makanan, udara, dan juga di dalam tubuh manusia. Penggunaan Rontgen dalam bidang kedokteran adalah sumber paparan radiasi buatan manusia yang terbesar dibandingkan apapun. Ada dua jenis radiasi, yaitu radiasi pengion dan non-pengion. Radiasi pengion dapat menghilangkan elektron dari atom (terionisasi). Radiografi konvensional medis dan gigi yang menggunakan sinar Rontgen adalah pemeriksaan penunjang medik atau pencitraan yang menggunakan radiasi pengion.

Hasil gambar untuk bahaya rontgen untuk anak

Radiografi konvensional adalah penggunaan sinar X untuk memvisualisasikan organ dan struktur internal tubuh. Selain itu, teknologi digital Computed Tomography (CT) scan, fluoroskopi seperti video yang menggunakan sinar x untuk menunjukkan gerakan organ dalam tubuh secara real-time, dan memungkinkan melakukan prosedur medis menggunakan perangkat kecil (misalnya kateter, jarum, balon), juga menggunakan radiasi pengion.  Sebaliknya, radiasi non-pengion dapat membuat atom bergetar, tetapi tidak memiliki cukup energi untuk menghilangkan elektron. Ultrasonografi (USG) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) adalah pemeriksaan yang menggunakan radiasi non-pengion.

Hasil gambar untuk bahaya rontgen untuk anak

Pemeriksaan radiologi adalah bagian penting dari perawatan kesehatan anak, bahkan dapat juga menyelamatkan nyawa anak, karena beberapa intervensi dengan panduan sinar Rontgen, dapat menggantikan tindakan operasi yang lebih invasif. Oleh sebab itu, manfaat dari pemeriksaan sinar X harus dipastikan lebih besar daripada risiko radiasi. Meskipun demikian, tidak ada jaminan bahwa tanpa ada risiko pada dosis radiasi yang sangat rendah sekalipun. Namun demikian, perlindungan radiasi pada pemeriksaan pencitraan pada anak tetap dilakukan secara serius, dengan menggunakan jumlah radiasi terkecil yang diperlukan.

Gambar terkait

CT scan adalah pemeriksaan yang menggunakan sinar X untuk membuat gambar tubuh pasien yang lebih detail. CT menyediakan gambar cross-sectional 2 dimensi (2D) dan 3D yang menunjukkan organ tubuh dan detail internal, yang mungkin tidak terlihat pada pemeriksaan Rontgen standar, dengan dosis radiasi CT biasanya lebih tinggi. Ketika penggunaannya tepat dan dosis radiasi “seukuran anak”, manfaat dari CT scan jauh lebih besar daripada potensi bahayanya. Ada banyak cara untuk menurunkan dosis radiasi dan risiko pemeriksaan CT Scan tanpa menurunkan nilai hasil gambar atau kualitas diagnostiknya dan memberikan dukungan diagnosis yang lebih cepat dan akurat, misalnya area perdarahan besar di dalam tengkorak yang mengancam jiwa di sekitar otak (hematoma epidural), yang dapat diangkat dengan segera melalui operasi medis. Pemeriksaan ini dapat membantu dokter untuk membuat keputusan yang cepat, tentang perlunya tindakan pembedahan, dan dalam banyak kasus mungkin menyelamatkan hidup pasien.

Gambar terkait

Perlindungan terhadap bahaya radiasi dapat dilakukan dengan cara pemilihan faktor paparan dan pengaturan lapangan penyinaran. Selain itu, juga penggunaan alat pelindung buah pelir atau dada, serta alat immobilisasi pasien. Juga menggunakan posisi dari belakang (PA) dibanding dari depan (AP), pada pemeriksaan foto Rontgen dada atau kepala, agar mengurangi jumlah radiasi yang mencapai jaringan payudara atau mata anak.

Hasil gambar untuk bahaya rontgen untuk anak

Momentum Hari Radiologi Internasional Kamis, 8 November 2018 yang lalu membuktikan kepada dunia akan manfaat sinar Rontgen dalam bidang medis, ilmiah dan bahkan artistik yang menakjubkan. Selain itu, juga peran penting radiologi sebagai bagian dari tim layanan kesehatan yang aman bagi semua pasien, termasuk anak.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 18 Desember 2018

*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak, lektor FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
Istanbul

2018 Ancaman Campak

Hasil gambar untuk campak global

ANCAMAN CAMPAK

fx. wikan indrarto*)

Pada hari Kamis, 9 November 2018 di New York kasus campak dilaporkan melonjak sepanjang tahun 2017, karena beberapa negara mengalami wabah penyakit yang parah dan berkepanjangan. Laporan tersebut menjelaskan bahwa oleh karena terjadi kesenjangan dalam cakupan vaksinasi, wabah campak terjadi di semua wilayah global, dengan diperkirakan ada 110.000 kematian anak karena campak. Apa yang harus kita lakukan?

Hasil gambar untuk campak global

Campak adalah penyakit yang serius, berat, dan sangat menular. Campak dapat menyebabkan komplikasi hebat termasuk ensefalitis (peradangan otak), diare berat dan dehidrasi, pneumonia (peradangan paru-paru), infeksi telinga dan kehilangan penglihatan permanen. Bayi dan anak kecil dengan kekurangan gizi dan sistem kekebalan yang lemah, sangat rentan terhadap komplikasi dan kematian. Penyakit ini dapat dicegah melalui dua dosis vaksin yang aman dan efektif, yaitu usia 9 dan 15 bulan.

Gambar terkait

Dengan menggunakan data pemodelan penyakit campak selama 17 tahun terakhir, terlihat bahwa sejak tahun 2000, lebih dari 21 juta jiwa telah diselamatkan melalui imunisasi campak. Namun demikian, kasus campak yang dilaporkan meningkat lebih dari 30 persen di seluruh dunia dari 2016 sampai awal 2018. Amerika Utara, Timur Tengah, dan Eropa mengalami kenaikan terbesar dalam kasus campak di tahun 2017, dengan hanya Pasifik Barat merupakan satu-satunya wilayah di mana insiden campak turun jauh.

Hasil gambar untuk campak global

Kebangkitan campak adalah ancaman serius, apalagi wabah atau KLB (Kejadian Luar Biasa) telah terjadi di seluruh daerah, dan khususnya di negara yang telah mencapai atau hampir mencapai status eliminasi campak. Tanpa upaya cepat meningkatkan cakupan imunisasi dan mengidentifikasi populasi yang tidak diimunisasi, kita berisiko kehilangan dekade kemajuan dalam melindungi anak dan masyarakat sekitar terhadap penyakit campak yang mematikan, pada hal sepenuhnya dapat dicegah.

Hasil gambar untuk campak global

“Peningkatan kasus campak sangat memprihatinkan, tetapi tidak mengejutkan,” kata Dr. Seth Berkley, CEO Gavi (the Vaccine Alliance). Pengabaian penyakit dan penyebaran vaksin palsu di Eropa, sistem kesehatan yang kolaps di Venezuela, dan cakupan imunisasi rendah di Afrika, adalah gabungan faktor yang menyebabkan kebangkitan global campak, setelah bertahun-tahun terjadi kemajuan mendekati eliminasi. Penghapusan atau eliminasi campak didefinisikan sebagai tidak adanya transmisi virus campak endemik di suatu wilayah geografis tertentu, selama lebih dari 12 bulan, dengan adanya sistem pengawasan (surveillance system) yang baik.

Hasil gambar untuk campak global

Oleh sebab itu, strategi yang ada perlu diubah, yaitu menjadi lebih banyak upaya untuk meningkatkan cakupan imunisasi rutin dan memperkuat sistem kesehatan. Kalau tidak, kita akan terus diancam satu demi satu KLB (one outbreak after another) campak. Otoritas kesehatan di seluruh dunia menyerukan investasi berkelanjutan dalam sistem imunisasi, di samping upaya untuk memperkuat layanan imunisasi rutin. Upaya ini harus fokus terutama pada masyarakat miskin dan paling terpinggirkan, termasuk korban konflik bersenjata dan para pengungsi. Selain itu, juga perlu membangun dukungan publik berbasis luas untuk program imunisasi, sambil mengatasi hoax dan kesalahan informasi, serta keraguan seputar keaslian vaksin.

Gambar terkait

Pada tahun 2016, diperkirakan 90.000 orang meninggal akibat campak, turun 84% dari lebih dari 550.000 kematian pada tahun 2000. Ini menandai pertama kalinya kematian campak global turun di bawah 100.000 per tahun. Dengan mampu menyelamatkan rata-rata 1,3 juta jiwa per tahun, vaksinasi campak adalah pencapaian luar biasa dan membuat dunia bebas campak tampak mungkin, bahkan mungkin terjadi sebentar lagi. Sejak tahun 2000, diperkirakan 5,5 miliar dosis vaksin campak telah diberikan untuk bayi dan anak melalui layanan imunisasi rutin dan kampanye imunisasi massal, sehingga mampu menghemat sekitar 20,4 juta jiwa.

Hasil gambar untuk campak global

Penurunan kematian campak dalam jumlah yang besar selama lebih dari dua dekade telah terjadi, tetapi sekarang kita harus berjuang untuk mencapai target nol kasus campak. Penghapusan campak hanya akan tercapai jika vaksinasi campak mampu menjangkau setiap anak, di manapun berada. Namun demikian, dunia masih jauh dari tujuan eliminasi campak regional. Cakupan vaksinasi campak pertama dari dua dosis yang diperlukan telah berhenti di sekitar 85% sejak tahun 2009, jauh lebih pendek dari cakupan 95% yang diperlukan untuk menghentikan infeksi campak, dan cakupan dengan dosis kedua, meskipun peningkatan baru-baru ini, hanya 64% pada tahun 2016 .

Hasil gambar untuk campak global

Terlalu banyak anak, sekitar 20,8 juta, yang masih kehilangan dosis vaksin campak pertama mereka. Lebih dari separuh anak yang tidak divaksin ini tinggal di enam negara, yaitu Nigeria (3,3 juta), India (2,9 juta), Pakistan (2,0 juta), Indonesia (1,2 juta), Ethiopia (0,9 juta), dan Republik Demokratik Kongo (0,7 juta). Karena campak adalah penyakit virus yang sangat menular, wabah besar terus terjadi di negara-negara tersebut, bahkan juga menyebar ke Eropa dan Amerika Utara, sehingga menempatkan banyak anak pada risiko komplikasi kesehatan yang parah seperti pneumonia, diare, ensefalitis, kebutaan, dan kematian.

Hasil gambar untuk campak global

Indonesia diperkirakan mengalami kerugian ekonomi akibat penyakit campak mencapai Rp. 5,7 triliun. Kerugian itu dinilai tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan untuk kampanye dan imunisasi MR, yaitu hanya lebih kurang Rp. 29 ribu per dosis. Kemenkes mencatat jumlah kasus suspek campak dari tahun 2014 sampai dengan Juli 2018 mencapai 57.056 kasus (8.964 positif campak). Pada 2016, angkanya sedikit menurun dengan hanya tercatat 12.730 kasus suspek campak dengan 2.949 positif campak. Namun di tahun 2017, kasus suspek campak ini tercatat kembali naik menjadi 15.104 kasus, dengan 383 kasus positif campak. Setiap tahun, rata-rata 2.700-2.800 anak Indonesia terjangkit campak. Dampak dari penyakit campak secara ekonomi sangat besar. Tanpa komplikasi saja, penderita menghabiskan Rp. 2,7 juta per kasus. Jika terkena komplikasi, maka pengobatan yang diperlukan sebesar Rp. 13 juta per kasus di luar biaya hidup saat perawatan.

Hasil gambar untuk campak global

Imunisasi campak massal dan rutin yang berkesinambungan, diharapkan dapat mengatasi ancaman campak yang mematikan, untuk menuju eliminasi campak di seluruh dunia.

Sudahkah kita peduli ?

Sekian

Yogyakarta, 14 Desember 2018

*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
Istanbul

2018 Rumah Sehat

Hasil gambar untuk rumah sehat

RUMAH   SEHAT

fx. wikan indrarto*)

Pedoman rumah sehat (housing and health guidelines) diterbitkan di Jenewa, Swiss, Selasa, 27 November 2018. Kualitas lingkungan perumahan terbukti memiliki implikasi besar bagi kesehatan manusia. Pengaruh kondisi perumahan menjadi semakin penting bagi kesehatan masyarakat, karena faktor demografi dan perubahan iklim. Apa yang perlu diketahui?

Hasil gambar untuk rumah sehat

Perbaikan kondisi perumahan dapat menyelamatkan nyawa, mengurangi penyakit, meningkatkan kualitas hidup, menekan kemiskinan, membantu mengurangi perubahan iklim, dan berkontribusi pada pencapaian sejumlah TujuanPembangunan Berkelanjutan, khususnya bidang Kesehatan (SDG 3) dan Kota (SDG 11). Perumahan menjadi semakin penting untuk kesehatan mengingat pertumbuhan perkotaan, populasi yang meningkat dan perubahan iklim. Oleh karena itu, perbaikan perumahan merupakan pintu masuk utama untuk program kesehatan masyarakat lintas sektoral dan pencegahan primer untuk beberapa penyakit. Rumah yang tidak sehat berhubungan dengan asma, penyakit jantung, cedera, kesehatan mental, dan penyakit menular termasuk tuberkulosis, influenza dan diare.

Hasil gambar untuk rumah sehat

Rekomendasi tersebut bertujuan untuk mempromosikan perumahan yang sehat, masa depan yang berkelanjutan, dan adil (healthy housing for a sustainable and equitable future). Pedoman ini merupakan rekomendasi baru (newe vidence-based recommendations), tentang cara mengurangi risiko kesehatan utama yang terkait dengan kondisi perumahan yang buruk. Terdapat 4 bidang penting, yaitu pertama ruang tinggal yang padat penghuni (crowding), kedua suhu dalam ruangan rendah atau terlalu dingin dan tinggi atau terlalu panas. Ketiga bahaya cidera di rumah dan keempat rumah ramah bagi orang dengan gangguan fungsional.

Selain itu, pedoman ini mengidentifikasi dan meringkas pedoman dan rekomendasi WHO terkait dengan perumahan yang sudah ada sebelumnya, sehubungan dengan kualitas air, kualitas udara, kebisingan lingkungan, pembatasan material asbes, penghindaran timbal, asap tembakau, dan radon. Panduan ini memiliki perspektif intersektoral yang komprehensif tentang masalah perumahan dan kesehatan. Selain itu, juga menyoroti manfaat intervensi yang menangani beberapa faktor risiko dalam rumah, pada saat yang bersamaan. Pedoman ini bertujuan untuk menginformasikan kebijakan dan peraturan perumahan di tingkat nasional, regional dan lokal.

Hasil gambar untuk rumah sehat

Pedoman ini dapat digunakan dalam kegiatan sehari-hari bagi pelaku pelaksana yang terlibat langsung dalam konstruksi, pemeliharaan dan bahkan penghancuran perumahan lama, dengan cara yang aman untuk manusia, kesehatan dan keselamatan. Karena itu, pedoman ini menekankan pentingnya kolaborasi antara sektor kesehatan dengan sektor lain, dan upaya bersama di semua tingkat pemerintah untuk mempromosikan perumahan yang sehat. WHO akan mendukung negara anggota dalam mengadaptasi pedoman untuk konteks nasional, dan prioritas untuk memastikan perumahan yang aman dan sehat untuk semua.

Saat ini masih ada ketidaksetaraan sosio-demografis yang signifikan, baik pada paparan dan derajad kesehatan, terkait kondisi lingkungan yang merugikan. Ketidaksetaraan dan ketidak adilan tersebut dapat dihindari, dengan membuat kebijakan dan intervensi yang relevan dalam mengatasi mitigasi dan pengurangan paparan risiko, khususnya pada penduduk yang paling terkena dampak. Kita semua perlu melakukan upaya yang kuat untuk menyelaraskan secara strategis pada penentu sosial dan lingkungan kesehatan. Selain itu, juga untuk mengidentifikasi area lingkungan, kebijakan dan intervensi yang memiliki manfaat tambahan tertinggi, bagi kesetaraan kesehatan.

Gambar terkait

Kondisi perumahan adalah salah satu ketimpangan sosial dan lingkungan yang berdampak dalam ketidaksetaraan kesehatan. Pedoman rumah sehat WHO juga bertujuan untuk membentuk lingkungan perumahan yang sehat, masa depan yang berkelanjutan, dan adil, sesuai dengan permintaan dari sejumlah negara anggota. Selain itu, juga karena mengakui pentingnya peningkatan kondisi perumahan untuk kesehatan, karena adanya perubahan demografi dan iklim.

“Kualitas perumahan memiliki implikasi besar bagi kesehatan manusia. Perumahan di kota-kota menjadi perhatian khusus, dengan populasi urban dunia diperkirakan meningkat dua kali lipat pada tahun 2050 dan, dengan itu permintaan akan perumahan juga meningkat tajam. Dengan demikian, peningkatan standar perumahan merupakan jalur utama untuk menyediakan kondisi perumahan yang baik dan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan bagi semua orang ”, kata Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal, Organisasi Kesehatan Dunia.

Hasil gambar untuk rumah sehat

Banyak bukti ilmiah tentang hubungan antara perumahan dan kesehatan. Membangun rumah sehat adalah tindakan pencegahan primer berbagai penyakit, yang dapat meningkatkan derajad kesehatan keluarga secara lebih baik.


Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 5 Desember 2018

*) dokter spesialis anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA=081227280161

Categories
Istanbul

2018 Bisnis Medis Dokter

Hasil gambar untuk bisnis medis dokter

BISNIS MEDIS DOKTER

fx. wikan indrarto

Ikatan Dokter Ahli Bedah Umum Indonesia (IKABI) Cabang Riau, menyatakan penundaan pelayanan medis mulai Senin, 26 November 2018 sampai batas yang tidak ditentukan. Hal ini terkait dengan ditahannya 3 dokter spesialis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Ahmad Pekanbaru, Riau, yang sedang menghadapi proses hukum, yakni dr. Kuswan A. Pamungkas, SpBP-RE, dr. Weli Zulfikar, SpB(K)KL, dan Dr. drg. Masrial, SpBM. Apa yang perlu dicermati?

Hasil gambar untuk bisnis medis dokter

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Riau, dr. Zul Asdi, SpB sangat menyayangkan penahanan tersebut, karena harusnya 3 dokter tersebut diberikan penghargaan terkait telah menyediakan alat kesehatan untuk pasien, bukan malah kemudian digugat. Mereka sudah bersedia meminjamkan alat, kemudian tidak dibayar, tambah pula digugat, harusnya mereka diberikan penghargaan. Ketiga dokter tersebut merasa dizalimi dalam menghadapi sengketa hukum dengan manajemen RSUD beserta perangkat pengadaan barang habis pakai dan alat kesehatan. Ketiganya juga merasa tidak mampu menghadapi kasusnya secara hukum, sehingga menulis surat permohonan perlindungan kepada Pengurus IDI, yang ditembuskan kepada Bapak Presiden Joko Widodo.

Gambar terkait

Secara pragmatis haruslah diakui bahwa kondisi riil saat ini dokter harus berorientasi bisnis dan medis secara seimbang. Pada saat memberikan layanan medis kepada pasien, wajar saja kalau dokter juga mengembangkan ketrampilannya berbisnis. Pada layanan dokter dalam proses preventif (pencegahan), promotif (penyehatan) dan rehabilitatif (pemulihan) terselip begitu banyak transaksi yang dapat dibisniskan oleh dokter. Apalagi dalam proses kuratif (pengobatan), termasuk tindakan operasi medis, terdapat jauh lebih banyak komponen yang beromset lebih besar, eksklusif, dan sangat dekat dengan keseharian profesi dokter.

Hasil gambar untuk bisnis medis dokter

Imhotep dari Mesir, Hippocrates dari Yunani, dan Galenus dari Roma, sebagai peletak dasar moralitas dan tradisi luhur kedokteran, menginsipirasi model keteladanan dokter sebagai tokoh profesional. Selain itu, suara batin atau nurani dokter sebagai manusia bio-psiko-sosio-kultural-spiritual, tentu saja akan membuat dokter memiliki kebaikan sosial, budaya, dan agama. Untuk itu, dibentuklah norma etika praktik kedokteran yang dibakukan dalamKODEKI (Kode Etik Kedokteran Indonesia) tahun 2012, yang berfungsi sebagai pedoman dokter dalam bersikap, bertindak dan berperilaku profesional, termasuk berbisnis medis. Selain itu, juga dijadikan tolok ukur tanggung jawab pelayanan profesi.

Gambar terkait

Para dokter di Indonesia seharusnya mempertimbangkan kaidah moral ataupun prinsip dasar bioetika, antara lain berbuat baik (benecence), tidak merugikan (non malecence), menghargai otonomi pasien (autonomy), dan berlaku adil (justice). Dengan demikian, dokter seyogyanya memiliki keseluruhan kualitas dasariah manusia baik dan bijaksana, yaitu sifat ketuhanan, kemurnian niat, keluhuran budi, kerendahan hati, kesungguhan dan ketuntasan kerja, integritas ilmiah dan sosial, serta kesejawatan dan cinta Indonesia.

Hasil gambar untuk bisnis medis dokter

Proses hukum yang sedang berjalan di Riau, diawali dari kecurigaan penggelembungan (mark up) dan penggelapan dana sewa alat kesehatan dan barang habis pakai milik para dokter oleh RS, yang diduga merugikan keuangan negara dan pasien. Saat ini, ketiga dokter tersebut masih berada dalam tahanan kejaksaan dan persidangan akan dimulai minggu depan. Kasus hukum 3 orang dokter di RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru Riau mengingatkan kita, akan terjadinya kasus serupa di banyak RS di seluruh Indonesia, dalam hal ini adalah RS tidak dapat menyediakan alat kesehatan, khususnya untuk tindakan operasi medis oleh dokter. Lebih parah lagi, alat kesehatan tersebut sering kali tidak dianggarkan, dengan alasan yang kontroversial. Pada hal, banyak pasien yang wajib ditolong dan cukup sering dokter diminta tetap melakukan layanan operasi medis menggunakan alat pribadi dokter terlebih dulu, dengan perintah lisan atau tidak resmi, oleh manajemen RS. Dalam kasus di Riau ini, manajemen RS dan jajarannya pada awal kejadian tahun 2012-2013, tidak dijadikan tersangka oleh para penegak hukum.

Hasil gambar untuk bisnis medis dokter

Penggunaan alat kesehatan milik pribadi dokter yang disewakan di RS, mudah sekali menjebak menjadi pelanggaran Pasal 3 KODEKI. Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi, misalnya pertimbangan keuntungan finansial, karena pengguna alat kesehatan dan investornya adalah dokter yang sama. Dalam kasus seperti di Riau, para dokter lain dan pengurus IDI setempat juga dapat berpotensi melanggar Pasal 9 KODEKI. Seorang dokter wajib bersikap jujur dan berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang melakukan penipuan atau penggelapan.

Hasil gambar untuk bisnis medis dokter

Para dokter dalam jajaran direksi RS juga dapat berpotensi melanggar Pasal 13 KODEKI. Setiap dokter dalam bekerjasama wajib saling menghormati. Pelaporan kepada pihak berwajib, apalagi dalam kasus pidana dan sengketa klaim keuangan menunjukkan adanya saling mencurigai dan tidak bekerjasama secara baik. Dengan demikian juga tidak sesuai dengan Pasal 18 KODEKI, yang berbunyi setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan. Direksi RS seharusnya menyusun anggaran pembelian alat kesehatan, tentunya agar secara bertahap tidak lagi menggunakan alat pribadi dokter, untuk layanan medis di RS yang bersifat rutin. Kejadian yang berlangsung terus sejak tahun 2012 sampai sekarang, tentu disebabkan karena tidak ada evaluasi dan koreksi dari kedua belah pihak.

Hasil gambar untuk bisnis medis dokter

Kasus hukum dokter di RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru Riau, mengingatkan kita bahwa ketrampilan bisnis medis dokter sebenarnya juga perlu dikembangkan, tetapi seharusnya tidak melanggar norma etika kedokteran dan hukum Indonesia.


Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 5 Desember 2018

*) dokter spesialis anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA=081227280161

Categories
Istanbul

2018 Akhiri TB

Hasil gambar untuk end tb strategy 2018

AKHIRI  TUBERKULOSIS
fx. wikan indrarto*)

Tuberkulosis (TB) adalah salah satu dari 10 penyebab kematian di seluruh dunia. Pada tahun 2017 terdapat 10 juta orang jatuh sakit TB dan sekitar 1,6 juta meninggal,  termasuk 0,3 juta pada orang dengan infeksi TB dan HIV. Selain itu, sekitar 1 juta anak sakit TB tertular dari orang dewasa di sekitarnya dan 230.000 anak meninggal, termasuk anak dengan infeksi HIV dan TB. Apa yang harus kita lakukan?

Hasil gambar untuk end tb strategy 2018

TB terjadi di setiap bagian di belahan dunia. Pada tahun 2017, jumlah terbesar kasus TB baru terjadi di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Barat, dengan 62% kasus baru, diikuti oleh wilayah Afrika, dengan 25% kasus baru. Pada 2017, 87% kasus TB baru terjadi di 30 negara dengan beban TB yang tinggi dan delapan negara menyumbang dua pertiga dari kasus TB baru, yaitu India, Cina, Indonesia, Filipina, Pakistan, Nigeria, Bangladesh, dan Afrika Selatan.

Image result for end tb by 2025

Secara global, kejadian TB menurun hanya sekitar 2% per tahun dan sebenarnya penurunannya perlu dipercepat hingga 4-5% untuk mencapai sasaran tahun 2030, sesuai Strategi Mengakiri TB (End TB Strategy). Diperkirakan 54 juta jiwa telah berhasil diselamatkan melalui proses diagnosis dan pengobatan TB yang tepat antara tahun 2000 dan 2017. Mengakhiri epidemi TB pada tahun 2030 adalah salah satu target kesehatan pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Image result for end tb by 2025

WHO telah melangkah lebih jauh dan menetapkan target 2035 pengurangan 95% kematian dan penurunan 90% kejadian TB, dibandingkan dengan tingkat saat ini dan sama dengan di negara yang memiliki insiden TB rendah saat ini. Strategi ini menggunakan tiga pilar strategis untuk mengakhiri epidemi secara efektif. Pilar 1 adalah perawatan dan pencegahan yang terpusat pada pasien. Pilar 2 adalah kebijakan yang berani dan sistem yang mendukung dan Pilar 3 adalah penelitian intensif dan inovasi.

Image result for end tb by 2025

Dr. Lucica Ditiu, Direktur Eksekutif STOP TB Partnership mengenalkan strategi baru yang disebut ‘Zero TB Cities’ yang merupakan bagian dari ‘Zero TB Initiative’. Gagasan ini adalah perubahan paradigma, dengan tujuan setiap orang sakit TB di sebuah kota akan memiliki akses ke layanan dengan standar setinggi yang telah tersedia dalam dekade ini, di Eropa dan Amerika Utara. Inisiatif Nol TB (Zero TB) memiliki tiga cara, yaitu pertama mendukung koalisi antara pemerintah daerah, pebisnis, dan masyarakat sipil. Kedua, menggunakan pendekatan Search-Treat-Prevent (Pencarian – Pengobatan – Pencegahan) yang komprehensif. Ketiga, berfokus pada pencegahan menggunakan obat INH (isoniasid) dan perawatan TB di rumah, fasilitas kesehatan dan tempat bekerja.

Image result for zero tb cities initiative

Inisiatif Zero TB bertujuan untuk mengatasi epidemi TB global ke fase eliminasi, dengan berfokus pada partisipasi pemerintah daerah untuk mendorong dan mempertahankan keberhasilan melawan penyakit TB. 

The Zero TB Cities project (Proyek Kota Nol TB) berkomitmen untuk memanfaatkan kerangka kerja komprehensif berbasis bukti, untuk secara signifikan meningkatkan deteksi kasus, mengurangi penyakit, dan angka kematianTB. Program ‘Zero TB Cities’ telah dilaksanakan di Odessa (Ukraina), Dhakka (Bangladesh),  Ho Chi Minh City, Hai Phong, dan Hoi An (Viet Nam), Chennai (India), Karachi (Pakistan), serta  Carabayllo dan Lima (Peru).

Image result for vaccination for tb

Namun demikian, sebaiknya kita mengingat bahwa GARC (the Global Alliance for Rabies Control) juga memiliki target eliminasi rabies pada tahun 2030. Caranya adalah dengan mengunakan dua jenis vaksin rabies, yaitu Profilaksis Pra-Pajanan (PrPP), yaitu vaksinasi pencegahan sebelum paparan virus rabies, dan Profilaksis Pasca Pajanan (PEP), yaitu vaksinasi untuk menghentikan timbulnya rabies setelah terpapar virus. UNICEF, WHO dan Gavi (the Vaccine Alliance) pada 17 Desember 2017 telah melakukan prakualifikasi vaksin konjugasi pertama untuk tifus, Bharat Biotech’s Typbar-TCV®, yaitu vaksin konjugasi tifus (TCVs) untuk menghapus tifus. WHO sudah mengenyahkan penyakit polio dari seluruh dunia pada tahun 2018 (WHO Year 2018 Polio End Game), dengan beralih dari pemakaian vaksin polio oral (OPV) ke vaksin polio suntikan atau IPV (Inactivated Polio Vaccine), dengan cakupan di atas 95%. Bahkan eliminasi campak dan rubella (congential rubella syndrome), juga  dilakukan lewat imunisasi massal dan pendekatan case based measles surveillance (CBMS). 

Image result for vaccination for tb

Pekan Imunisasi Dunia yang diselenggarakan pada Minggu terakhir bulan April setiap tahun, mengingatkan kita akan pentingnya imunisasi. Tema tahun 2017 lalu adalah : #VaccinesWork, untuk mengingatkan tentang kekuatan kerja vaksin yang masih belum dimanfaatkan sepenuhnya (the power of vaccines still not fully utilized), pada hal vaksin mampu mencegah banyak kematian. Rencana global atau ‘The Global Vaccine Action Plan’ yang ambisius, adalah menjangkau semua orang dengan vaksin pada tahun 2020. Semua pemimpin dalam bidang kesehatan, ditantang untuk mewujudkan imunisasi sebagai salah satu kisah sukses terbesar dalam bidang kedokteran modern. Tidak ada intervensi dalam bidang kesehatan dalam aspek preventif tunggal yang lebih hemat biaya, dibandingkan imunisasi. Mengenyahkan penyakit menular hanya dapat dilakukan dengan mengoptimalkan imunisasi, bukan sekedar memperbaiki terapi, yang terbukti boros biaya dan belum menunjukkan hasil setimpal.

Image result for vaksin bcg

Bacille Calmette-Guérin (BCG) adalah vaksin untuk mencegah TB yang dibuat dari baksil tuberkulosis (Mycobacterium bovis) yang dilemahkan. Vaksin BCG 80% efektif dapat mencegah TB selama 15 tahun, tetapi efeknya bervariasi tergantung kepada kondisi geografis. Dokter Albert Calmette dan seorang peneliti bernama Camille Guerin yang menemukan vaksin sehingga dinamakan vaksin Bacillus Calmette Guerin (BCG). Penelitian mereka untuk menemukan vaksin ini telah dimulai sejak tahun 1906 dan pada tahun 1921 tercipta vaksin BCG. Penelitian tentang vaksin BCG sejak ditemukan, sangat mungkin paling jarang dibandingkan vaksin lainnya.

Image result for vaccination for tb

Di Indonesia, program ‘Zero TB Cities’ ini akan dilaksanakan di Kotamadya Yogyakarta dan Kabupaten Kulon Progo, keduanya di DIY. Peresmiannya akan dilakukan pada Hari TB Sedunia pada Minggu, 24 Maret 2019. Proyek ambisius sebagai bagian dari inisiatif ‘Zero TB’ dengan pendekatan ‘Search-Treat-Prevent’ tanpa pengembangan imunisasi BCG yang terbukti belum cukup efektif, tentu menjadi dilematis dan perlu dikritisi.

Sudahkah kita cerdas?

Sekian

Yogyakarta, 4 Desember 2018

*) dokter spesialis anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA=081227280161

Categories
Istanbul

AKHIRI EPIDEMI HIV

Hasil gambar untuk epidemi hiv aids

AKHIRI  EPIDEMI  HIV-AIDS

fx. wikan indrarto*)

Ketakutan, stigma dan penolakan (fear, stigma and ignorance) adalah reaksi dunia saat terjadi epidemi HIV yang mengamuk di seluruh dunia pada awal 1980-an. Saat itu AIDS menewaskan ribuan orang yang hanya memiliki beberapa minggu atau bulan sejak didiagnosis sampai kematian datang, bahkan banyak juga yang tidak berhasil didiagnosis sampai mereka meninggal. Apa yang perlu dicermati?

Hasil gambar untuk epidemi hiv aids

Sabtu, 1 Desember 2018 adalah peringatan 30 tahun Hari AIDS Sedunia, hari yang diciptakan untuk meningkatkan kesadaran tentang HIV dan epidemi AIDS. Sejak awal epidemi, lebih dari 70 juta orang telah terinfeksi, dan sekitar 35 juta orang telah meninggal. Pada hari ini, masih ada sekitar 37 juta orang di seluruh dunia hidup dengan HIV, di antaranya 22 juta orang lainnya sedang menjalani pengobatan anti retrovriral (ARV).

Hasil gambar untuk epidemi hiv aids

Pada tahun 1988, dua petugas komunikasi WHO, Thomas Netter dan James Bunn, mengajukan gagasan mengadakan Hari AIDS Sedunia secara tahunan, dengan tujuan meningkatkan kesadaran akan bahaya HIV, memobilisasi masyarakat dan mengadvokasi aksi di seluruh dunia. Pada tahun 1991 gerakan global HIV ditandai dengan pita merah yang ikonik, yang dirancang oleh para seniman dari Caucus Artis Visual AIDS di New York, memilih warna yang mencerminkan “hubungan antara darah dan gagasan yang bergelora, bukan hanya kemarahan, tetapi cinta” Ini adalah pita lambang kesadaran akan sebuah penyakit yang pertama, sebuah konsep yang selanjutnya diadopsi oleh banyak penyakit lainnya.

Hasil gambar untuk epidemi hiv aids

Pada 2015, WHO merekomendasikan penggunaan ARV untuk mencegah penularan HIV, yaitu profilaksis pra-pajanan(PrPP), untuk orang yang tidak terinfeksi HIV, tetapi berisiko besar. PrPP telah berkontribusi untuk mengurangi tingkat infeksi HIV baru di antara laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, di beberapa tempat di negara-negara berpenghasilan tinggi. Namun, PrPP baru mulai tersedia di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, di mana program dimulai untuk pria yang berhubungan seks dengan pria, transgender, pekerja seks, gadis remaja dan wanita muda di seluruh Afrika.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/11/26/2018-hari-aids-sedunia/

Hasil gambar untuk epidemi hiv aids

HIV bukanlah virus yang mudah untuk dikalahkan. Hampir satu juta orang masih meninggal setiap tahun secara global, karena mereka tidak tahu bahwa mereka terinfeksi HIV, sehingga tidak diobati, atau mereka terlambat memulai pengobatan. Pada hal, pedoman WHO (2015) merekomendasikan bahwa semua orang yang hidup dengan HIV, harus menerima pengobatan ART, terlepas dari status kekebalan dan tahap infeksi mereka, dan sesegera mungkin diberikan ART setelah diagnosis tegak.

Hasil gambar untuk epidemi hiv aids

Pada 2017 masih terdapat 1,8 juta orang  terinfeksi HIV sebagai kasus baru. Kita semua di dunia ini telah berkomitmen untuk mengakhiri AIDS pada tahun 2030, pada hal tingkat infeksi dan kematian baru tidak turun cukup cepat untuk memenuhi target itu. Salah satu tantangan terbesar mengapa beban HIV tetap tidak berubah selama 30 tahun ini, adalah karena HIV secara tidak proporsional menyerang hanya orang dalam populasi rentan yang sering sangat terpinggirkan dan distigmatisasi. Dengan demikian, sebagian besar infeksi dan kematian karena HIV hanya terjadi pada kelompok berisiko tinggi, tetapi mereka tetap tidak sadar, kurang terlayani, atau terabaikan. Sekitar 75% infeksi HIV baru terjadi pada pria yang berhubungan seks dengan pria, pengguna narkoba suntik, tahanan di penjara, pekerja seks komersial, orang transgender, atau pasangan seksual dari orang-orang tersebut. Mereka adalah kelompok yang sering didiskriminasi dan dikecualikan dari sistem layanan kesehatan di banyak tempat.

Gambar terkait

Tema Hari AIDS Sedunia, Ketahui Status Anda (Know Your Status), adalah penting. Satu dari empat orang dengan HIV tidak tahu bahwa mereka terinfeksi HIV. Untuk menjembatani kesenjangan ketersediaan sarana pengujian atau tes laboratorium untuk HIV, WHO merekomendasikan penggunaan tes mandiri (self-tests for HIV). WHO pertama kali merekomendasikan tes HIV pada tahun 2016, dan sekarang lebih dari 50 negara telah mengembangkan kebijakan tentang tes mandiri ini.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/11/26/2018-hari-aids-sedunia/

Hasil gambar untuk epidemi hiv aids

WHO bekerja sama dengan organisasi internasional seperti Unitaid, mendukung program uji mandiri HIV terbesar di enam negara di Afrika. Program ini menjangkau orang-orang yang belum pernah menguji diri mereka sebelumnya, dan menghubungkan mereka dengan layanan perawatan atau pencegahan. WHO, dan ILO (International Labour Organization) atau Organisasi Perburuhan Internasional juga merekomendasikan panduan baru untuk mendukung semua perusahaan dan organisasi, untuk menawarkan tes mandiri HIV di tempat kerja.

Orang dengan HIV sering memiliki infeksi lain, yang dikenal sebagai co-morbiditas, seperti TB (tuberkulosis) atau hepatitis. Satu dari tiga kematian pada orang dengan HIV adalah karena TB, sekitar 5 juta orang yang hidup dengan HIV juga terinfeksi hepatitis virus, dan satu dari tiga orang dengan HIV memiliki penyakit jantung. Data ini berarti bahwa perawatan HIVsebenarnya juga membutuhkan perawatan gabungan, meskipun hal ini tidak selalu terjadi dalam praktik klinik. Untuk itu, WHO sekarang mempromosikan layanan kesehatan ‘berpusat pada orang’ (person-centred) kepada semua orang yang hidup dengan HIV, yaitu untuk memenuhi kebutuhan kesehatan holistik mereka, bukan hanya masalah infeksi HIV, tetapi juga  layanan untuk TB, kesehatan seksual dan reproduksi, penyakit tidak menular dan bahkan juga kesehatan mental.

baca juga :  https://dokterwikan.wordpress.com/2018/11/26/bayi-bebas-hiv-dari-ibu/

Hasil gambar untuk epidemi hiv aids

Mengakhiri epidemi AIDS tidak mungkin terjadi tanpa sistem kesehatan terpadu yang berbasis manusia (person-centred), yang menyediakan sarana pencegahan, diagnosis, dan pengobatan HIV, serta dukungan untuk komorbiditas seperti TB dan hepatitis.

Sudahkah kita bertindak?

Sekian

Yogyakarta, 29 November 2018

*) dokter spesialis anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA=081227280161

Categories
Istanbul

2018 AIDS

Hasil gambar untuk hari aids sedunia 2018

HARI   AIDS   SEDUNIA  2018

fx. wikan indrarto*)

Hari AIDS Sedunia (World AIDS Day) diadakan pada hari Sabtu, 1 Desember 2018. Ini adalah kesempatan bagi semua orang di seluruh dunia untuk bersatu dalam perang melawan HIV, untuk menunjukkan dukungan bagi orang yang hidup dengan HIV, dan untuk mengenang mereka yang telah meninggal karena penyakit AIDS. Saat bersatu dalam perang melawan HIV, tentu perlu keseragaman langkah. Apa yang baru?

Hasil gambar untuk hari aids sedunia 2018

Sejak tahun 2016, WHO telah merekomendasikan penggunaan obat tenofovir disoproxil fumarate (TDF) dikombinasi dengan lamivudine (3TC) atau emtricitabine (FTC) dan efavirenz (EFV) 600 mg, sebagai pilihan utama terapi antiretroviral (ART) lini pertama. Namun demikian, pada April 2018 terdapat pembaruan pada rejimen antiretroviral untuk mengobati dan mencegah infeksi HIV. WHO merekomendasikan dolutegravir (DTG) sebagai pilihan alternatif pengganti EFV untuk ART lini pertama, karena ketidakpastian mengenai keamanan dan kemanjuran EFV, pada orang yang hidup dengan HIV selama kehamilan dan selama menerima pengobatan tuberkulosis (TB) berbasis rifampisin. Pedoman WHO yang baru berisi rekomendasi mengenai rejimen lini pertama ART, termasuk DTG dan raltegravir (RAL).

Hasil gambar untuk hari aids sedunia 2018

Terapi antiretroviral (ART) terdiri dari kombinasi obat antiretroviral (ARV) untuk menekan secara maksimum replikasi virus HIV dan menghentikan perkembangan alamiah penyakit infeksi HIV. ART juga mencegah penularan HIV selanjutnya. Pengurangan besar telah terlihat pada tingkat kematian dan infeksi ketika penggunaan rejimen ARV yang kuat, terutama pada tahap awal penyakit. Selain itu, WHO juga merekomendasikan ART untuk semua orang dengan HIV sesegera mungkin setelah diagnosis, tanpa pembatasan jumlah CD4. Pemeriksaan jumlah CD4, yang juga disebut T-limfosit, T-sel, atau sel T-helper, digunakan untuk menentukan seberapa baik sistem kekebalan tubuh pada orang yang terinfeksi HIV. CD4 adalah jenis sel darah putih yang berperan penting dalam memerangi infeksi.

Gambar terkait

Juga perlu disampaikan tawaran terapi profilaksis pra-pajanan, kepada orang yang berisiko besar terinfeksi HIV, sebagai pilihan pencegahan tambahan dan bagian dari pencegahan komprehensif. Pada April 2018 WHO juga merekomendasikan bahwa paket skrining, profilaksis, inisiasi ART yang cepat dan intervensi kepatuhan pengobatan secara intensif, sebaiknya ditawarkan kepada semua orang yang hidup dengan HIV dan penyakit lebih lanjut. Rekomendasi juga menentukan seberapa cepat ART harus dimulai dalam konteks kebijakan untuk semua (treat all policy), terutama ketika ada ko-infeksi.

Hasil gambar untuk hari aids sedunia 2018

WHO sangat merekomendasikan bahwa inisiasi ART yang cepat harus ditawarkan kepada orang yang hidup dengan HIV, setelah diagnosis dan penilaian klinis terkonfirmasi. Inisiasi ART yang cepat didefinisikan sebagai dalam 7 (tujuh) hari setelah diagnosis HIV tegak. Rekomendasi inisiasi ART adalah pada hari yang sama dengan tegaknya diagnosis HIV, berdasarkan keinginan dan kesiapan pasien untuk segera memulai ART, kecuali ada alasan klinis untuk menunda pengobatan. Rekomendasi ini berlaku untuk semua populasi dan kelompok usia. Orang dengan penyakit HIV lanjut harus diberi prioritas untuk penilaian klinis dan inisiasi pengobatan.

Hasil gambar untuk hari aids sedunia 2018

Jumlah sel CD4 dapat membantu menentukan apakah infeksi lain (infeksi oportunistik) dapat terjadi. Meningitis kriptokokus atau radang selaput otak yang disebabkan oleh jamur kriptokokus dari debu atau uap kotoran burung yang sudah kering, adalah infeksi oportunistik serius, yang merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada orang dengan HIV dan penyakit lanjut, yang diperkirakan 15% dari semua kematian terkait AIDS secara global. Diperkirakan 223.100 kasus meningitis kriptokokus mengakibatkan 181.000 kematian global setiap tahun, pada orang yang hidup dengan HIV. Namun demikian, penyakit kriptokokus jarang terjadi pada anak dengan HIV, bahkan di daerah dengan beban penyakit yang tinggi di kalangan orang dewasa.

Berikut ini rekomendasi baru dan merupakan bagian dari panduan praktik klinik yang baik, yaitu pertama, pendekatan optimal untuk mendiagnosis meningitis kriptokokal, kedua strategi untuk mencegah penyakit kriptokokus invasif melalui skrining antigen kriptokokus dan terapi flukonazol pre-emptive, dan ketiga mengobati meningitis kriptokokal dengan kombinasi rejimen terapi anti jamur. Keempat, mencegah, memantau, dan mengelola toksisitas obat amfoterisin B, kelima, rekomendasi terhadap terapi tambahan dengan kortikosteroid sistemik; dan keenam, rekomendasi tentang waktu inisiasi terapi antiretroviral.

Tema Hari AIDS Sedunia 2018 adalah “kenali statusmu” (know your status) yang bertujuan untuk mencapai 2 hal berikut. Pertama, mendorong semua orang untuk mengetahui status infeksi HIV mereka melalui pemeriksaan di laboratorium klinik, sehingga dapat langsung mengakses layanan pencegahan, pengobatan dan perawatan HIV. Kedua, mendesak pembuat kebijakan kesehatan untuk membentuk agenda “sehat untuk semua” (healthfor all) tentang HIV, tuberkulosis (TB), hepatitis dan penyakit tidak menular yang terkait.

Hasil gambar untuk hari aids sedunia 2018

Penerapan rekomendasi WHO baru tersebut menunjang tujuan kedua peringatan Hari AIDS Sedunia 2018. Selain itu, memotivasi sebanyak mungkin orang untuk mengetahui status infeksi HIV mereka (know your status), perlu mendapat dukungan penuh.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 26 November 2018

*) dokter spesialis anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA=081227280161

Categories
Istanbul

2018 Hari AIDS Sedunia

Hari AIDS Sedunia 2018

fx. wikan indrarto*)

Hasil gambar untuk hari aids sedunia 2018

Hari AIDS Sedunia (World AIDS Day) diadakan pada hari Sabtu, 1 Desember 2018. Ini adalah kesempatan bagi semua orang di seluruh dunia untuk bersatu dalam perang melawan HIV, untuk menunjukkan dukungan bagi orang yang hidup dengan HIV, dan untuk mengenang mereka yang telah meninggal karena penyakit AIDS. Dicanangkan pada tahun 1988, Hari AIDS Sedunia adalah hari kesehatan global yang pertama. Apa maknanya?

Gambar terkait

Hal yang baru terkait HIV AIDS adalah temuan uji klinis NAMSAL (New Antiretroviral and Monitoring Strategies in HIV-infected in Low-income countries), yang menggunakan obat baru dolutegravir, dan dilaporkan pada Rabu, 14 November 2018. Penelitian terkait strategi dan pemantauan dengan obat antiretroviral baru untuk infeksi HIV di negara-negara berpenghasilan rendah ini, dilakukan di Kamerun oleh Badan Prancis ANRS (Agency for Research on AIDS and Viral Hepatitis). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas dua model perawatan medis lini pertama untuk infeksi HIV pada lebih dari 600 orang peserta.

Hasil gambar untuk hari aids sedunia 2018

Hasil uji klinis menunjukkan bahwa pengobatan berbasis dolutegravir tidak kalah baik dibandingkan dengan efavirenz. Dalam konteks pengobatan khusus untuk orang yang hidup dengan HIV di negara berkembang, para peneliti percaya bahwa pengobatan lini pertama dengan dolutegravir adalah alternatif yang baik untuk pengganti efavirenz. Penelitian ANRS NAMSAL mendukung upaya bersama yang dibuat oleh WHO dan Unitaid, untuk mengoptimalkan pengobatan HIV dan untuk merumuskan perawatan yang lebih baik dan lebih aman untuk orang yang hidup dengan HIV dalam berbagai keterbatasan.

Hasil gambar untuk hari aids sedunia 2018

Dua tahun setelah peluncurannya, uji klinis NAMSAL dari ANRS Prancis yang melakukan penelitian tentang AIDS dan Hepatitis virus, menghasilkan kesimpulan pertama. Dilakukan di Yaoundé (Kamerun), penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kemanjuran dua model perawatan lini pertama untuk infeksi HIV pada lebih dari 600 pasien. Hasil penelitian disampaikan oleh Dr. Charles Kouanfack (Rumah Sakit Pusat Yaoundé, Fakultas Kedokteran dan Farmasi dari Universitas Dschang, Kamerun) dan Dr. Éric Delaporte (Universitas Montpellier dan Institut Kesehatan Nasional Prancis), yang menunjukkan bahwa terapi berbasis obat dolutegravir tidak kalah dibandingkan dengan pengobatan baku yang menggunakan efavirenz (400 mg). Dalam konteks pengobatan khusus untuk orang yang hidup dengan HIV di negara Selatan, para peneliti percaya bahwa pengobatan lini pertama dengan dolutegravir adalah alternatif yang baik untuk pengganti efavirenz. Temuan penelitian yang didanai bersama oleh Unitaid dan ANRS, sudah dipresentasikan pada HIV Drug Therapy Conference di Glasgow, Skotlandia pada Rabu, 31 Oktober 2018.

Hasil gambar untuk hari aids sedunia 2018

Rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terbaru yang diterbitkan pada Juli 2018, menganjurkan pengobatan lini pertama infeksi HIV menggunakan dolutegravir (DTG), sebagai alternatif pengobatan dengan efavirenz400 mg (EFV400). Namun demikian, hingga saat ini tidak ada data uji klinis lain, untuk membandingkan langsung keefektifan kedua obat tersebut, dalam konteks spesifik negara-negara berpenghasilan rendah. DTG dianggap sebagai pilihan pengobatan yang valid, sebagai obat lini pertama untuk orang dengan HIV di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Penelitian ANRS NAMSAL telah membandingkan efek dari kedua obat, yaitu DTG dan EFV, pada 613 peserta yang hidup dengan HIV, yang sebelumnya tidak menerima pengobatan ARV. Menurut Wakil Direktur Eksekutif Unitaid, Dr. Philippe Duneton, penelitian uji klinis ini adalah yang pertama yang memiliki data komparatif tentang penggunaan dolutegravir pada orang yang hidup dengan HIV, di negara berpenghasilan rendah seperti Kamerun. Unitaid akan bermitra dengan ANRS dan WHO, untuk mempercepat akses ke pengobatan HIV yang terjangkau secara lebih baik.

Uji klinis ini diluncurkan pada Juli 2016 dan dilakukan di Kamerun, tepatnya di tiga rumah sakit di Yaoundé, ibukota Kamerun, yaitu di Rumah Sakit Pusat, Rumah Sakit Militer dan rumah sakit distrik CitéVerte. Uji klinik ini akan berlanjut hingga tahun 2021. Penelitian uji klinik ini melibatkan lebih dari 600 pasien yang terinfeksi HIV, yang belum pernah menggunakan ART sama sekali. Tujuannya adalah untuk membandingkan efikasi, toleransi, dan biaya dari dua jenis rejimen perawatan antiretroviral lini pertama, efavirenz 400 mg, dan dolutegravir.

Hasil gambar untuk hari aids sedunia 2018

Tema Hari AIDS Sedunia 2018 adalah “kenali statusmu” (know your status) yang bertujuan untuk mencapai 2 hal berikut. Pertama, mendorong semua orang untuk mengetahui status infeksi HIV mereka melalui pemeriksaan di laboratorium klinik, sehingga dapat langsung mengakses layanan pencegahan, pengobatan dan perawatan HIV. Kedua, mendesak pembuat kebijakan kesehatan untuk membentuk agenda “sehat untuk semua” (healthfor all) tentang HIV, tuberkulosis (TB), hepatitis dan penyakit tidak menular yang terkait.

Hasil uji klinis terkait pengobatan berbasis dolutegravir yang tidak kalah baik dibandingkan dengan efavirenz, menunjang tujuan kedua peringatan Hari AIDS Sedunia 2018, khususnya di negera berkembang. Selain itu, memotivasi sebanyak mungkin orang untuk mengetahui status infeksi HIV mereka (know your status), perlu mendapat dukungan penuh.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 24 November 2018

*) dokter spesialis anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA=081227280161

Categories
Istanbul

Bayi Bebas HIV dari Ibu

Hasil gambar untuk hiv pada bayi

BAYI  BEBAS   HIV   DARI    IBU

fx. wikan indrarto*)

Tema Hari AIDS Sedunia Sabtu, 1 Desember 2018 adalah “kenali statusmu” (know your status) yang bertujuan untuk mencapai 2 hal berikut. Pertama, mendorong semua orang untuk mengetahui status infeksi HIV mereka melalui pemeriksaan di laboratorium klinik, sehingga dapat langsung mengakses layanan pencegahan, pengobatan dan perawatan HIV. Kedua, mendesak pembuat kebijakan kesehatan untuk membentuk agenda “sehat untuk semua”(health for all) tentang HIV, tuberkulosis (TB), hepatitis dan penyakit tidak menular yang terkait.  Apa yang harus dilakukan?

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/11/30/akhiri-epidemi-hiv/

Hasil gambar untuk hiv pada bayi

Hari AIDS Sedunia (World AIDS Day) ini mengingatkan kita bahwa pada Rabu, 8 Juni 2016 yang lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa Thailand, Belarus, Armenia, dan Republik Moldova telah mengikuti Kuba, berhasil menghilangkan proses penularan HIV dari ibu ke bayi. Ini adalah sinyal yang jelas bahwa dunia sudah dalam perjalanan menuju generasi bebas AIDS. Menghilangkan penularan HIV dari ibu ke bayi adalah kunci untuk upaya global, dalam mengakhiri AIDS pada tahun 2030.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/11/26/2018-hari-aids-sedunia/

Gambar terkait

Setiap tahun, secara global diperkirakan terdapat 1,4 juta ibu hamil yang hidup dengan HIV. Dengan pengobatan yang tepat, 15-45% dari mereka masih memiliki kemungkinan menularkan virus kepada bayi mereka selama kehamilan, persalinan, dan atau menyusui. Bahkan risiko dapat diturunkan sampai kurang dari 1%, jika obat antiretroviral (ARV) diberikan kepada ibu dan bayi pada seluruh tahap kehidupan, ketika penularan infeksi HIV dapat terjadi. Program tersebut dinamakan pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak (PMTCT atau ‘Preventionof Mother-To-Child HIV Transmission’). Jumlah bayi yang lahir dengan HIV setiap tahun, telah turun hampir setengahnya sejak tahun 2009, yaitu turun dari 400.000 di 2009 menjadi tinggal 240.000 pada tahun 2013. Upaya intensif tetap dibutuhkan untuk mencapai target global, yaitu kurang dari 40.000 infeksi baru pada bayi per tahun pada tahun 2016.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/11/30/akhiri-epidemi-hiv/

Hasil gambar untuk hiv pada bayi

Para petugas kesehatan di Thailand telah menjalankan serangkaian langkah PMTCT secara paripurna. Setelah melakukan pemeriksaan dan konfirmasi virus pada ibu hamil, ibu diberikan obat ARV secara teratur dan dengan persetujuan ibu, menjadwalkan operasi bedah caesar pada minggu ke-38 kehamilan. Setelah persalinan, bayi baru lahir juga diberi obat ARV dan kemudian dipantau dengan pemeriksaan berkala sampai anak berusia 18 bulan. Ibu juga mengikuti rekomendasi dokter untuk tidak menyusui bayi, karena ASI dapat menularkan HIV kepada bayi, sehingga digunakan susu formula. Di Thailand 98% ibu hamil yang hidup dengan HIV telah memiliki akses terhadap terapi ARV, sehingga tingkat penularan HIV dari ibu ke bayi telah berkurang menjadi kurang dari 2%. Pada tahun 2000, diperkirakan 1.000 bayi telah terinfeksi dengan HIV, sedangkan pada tahun 2015, penularan ibu ke bayi berkurang menjadi tinggal 85 bayi. Ini adalah penurunan lebih dari 90% dan merupakan prestasi yang signifikan di sebuah negara dengan perkiraan terdapat 450.000 orang yang hidup dengan HIV. Semua wanita hamil di Thailand wajib menjalani setidaknya 10 kali pemeriksaan kehamilan (Ante Natal Care atau ANC).

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/11/26/2018-aids/

Hasil gambar untuk hiv pada bayi

Bandingkan dengan di Indonesia yang hanya 4 kali ANC selama kehamilan, yaitu 1 kali pada trimester pertama, 1 kali pada trimester kedua dan 2 kali pada trimester ketiga. Menurut LAKIP (Laporan Akuntabilitas Kinerja) Direktorat Kesehatan Keluarga Kemenkes TA 2017, Ibu Hamil yang Mendapat Pelayanan Antenatal (K4) minimal 4 kali, menjalani test laboratorium klinik sederhana (Golongan Darah, Hb, Glukoprotein Urin) dan atau berdasarkan indikasi (HBsAg, Sifilis, HIV, Malaria, TBC). Cakupan K4 tahun 2017 adalah sebesar 86,4%, yaitu sebanyak 4.596.717 orang ibu hamil telah mendapatkan kunjungan antenatal sebanyak 4 kali.

Hasil gambar untuk hiv pada bayi

Di Thailand, terdapat 99,2% ibu hamil dengan HIV positif dan 100% bayi yang dilahirkan, telah menerima pengobatan sejak September 2014. Obat ARV diberikan secara gratis setiap bulan, ibu atau anggota keluarga datang untuk mengambil obat dengan kartu yang tidak mencantumkan nama pasien, untuk menjaga rahasia kedokteran atas diagnosis. Kartu ini juga merupakan cara untuk memantau kepatuhan pengobatan. Thailand telah melakukan PMTCT paripurna dengan menjamin akses awal untuk perawatan prenatal, pengujian HIV untuk ibu hamil dan pasangannya, pengobatan untuk ibu yang positif HIV dan bayi mereka, persalinan secara bedah caesar, dan substitusi menyusui dengan susu formula. Layanan ini disediakan negara dalam sistem kesehatan nasional yang adil, dapat diakses di seluruh pelosok Thailand, dan PMTCT terintegrasi dengan program kesehatan ibu dan anak. Sebaliknya di Indonesia, menurut Profil Kesehatan Indonesia yang diterbitkan Kemenkes, pada tahun 2017 jumlah kasus baru HIV adalah 33.660 orang, ditemukan dari 4.295 fasilitas kesehatan yang mampu memberikan layanan ARV dan PMTCT, atau 2,05 % dari semua klien yang datang.

Hasil gambar untuk hiv pada bayi

Thailand telah menerima validasi dari WHO atas keberhasilannya menghapus penularan HIV dari ibu ke bayi, menjadi negara pertama di Asia dan Pasifik. Selain itu, Thailand juga negara yang pertama dengan epidemi HIV besar, yang mampu memastikan generasi penerusnya bebas AIDS. Menteri Kesehatan Thailand hadir menerima sertifikat validasi dalam upacara megah yang berlangsung di New York, pada malam Pertemuan Tingkat Tinggi Majelis Umum PBB. Hal ini merupakan prestasi yang luar biasa untuk sebuah negara, di mana ribuan orang warganya hidup dengan HIV.

Hasil gambar untuk hiv pada bayi

Keberhasilan Thailand menunjukkan bagaimana negara dapat membuat perubahan, dengan kebijakan yang baik dan diikuti dengan komitmen yang tinggi. Penghapusan penularan HIV dari ibu ke anak, telah menjadi sebuah kenyataan dan Thailand telah menunjukkan kepada dunia, bahwa HIV dapat dikalahkan. Selain itu, memotivasi sebanyak mungkin orang, terutama ibu hamil untuk mengetahui status infeksi HIV mereka (know your status), perlu mendapat dukungan penuh.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 26 November 2018

*) dokter spesialis anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA=081227280161

Categories
Istanbul

2018 Kematian di Jalan Raya

Image result for world day of remembrance for road traffic victims 2018 theme

KEMATIAN  DI  JALAN  RAYA

fx. wikan indrarto*)

Hari Peringatan Dunia untuk Korban Kecelakaan Lalu Lintas di Jalan Raya atau‘World Day of Remembrance for Road Traffic Victims’ (WDoR), diadakan pada hari Minggu ketiga bulan November setiap tahun. Tema untuk WDoR pada tahun 2018 adalah “jalan raya memiliki cerita”, menyoroti bahwa jalan raya lebih dari sekadar koneksi fisik dari titik A ke titik B, tetapi jalan raya ternyata juga tempat peristirahatan terakhir untuk begitu banyak kehidupan yang terputus. Apa yang harus disadari ?

Laporan “Global status report on road safety2015” menyebutkan bahwa sekitar 1,25 juta orang secara global meninggal setiap tahun, akibat kecelakaan lalu lintas, terutama pada remaja yang berusia 15-29 tahun. Sekitar 90% kematian di jalan raya tersebut terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah, meskipun negara tersebut sebenarnya hanya memiliki sekitar setengah dari total kendaraan di seluruh dunia. Tanpa tindakan yang berarti, kecelakaan lalu lintas diperkirakan akan meningkat menjadi penyebab utama atas 7 kematian global pada tahun 2030. ‘Agenda for Sustainable Development’s’ 2030 yang baru diadopsi, telah menetapkan target ambisius, yaitu mengurangi setengah jumlah kematian global dan cedera karena kecelakaan lalulintas pada tahun 2020.

Image result for global status report on road safety 2017


Kecelakaan lalu lintas sangat disesalkan, karena telah diabaikan dari agenda kesehatan global selama bertahun-tahun, meskipun sebenarnya dapat diprediksi dan dicegah. Bukti dari berbagai negara menunjukkan bahwa keberhasilan dramatis dalam mencegah kecelakaan lalu lintas, dapat dicapai melalui upaya bersama yang melibatkan sektor kesehatan. Pemerintah perlu mengambil tindakan untuk meningkatkan keselamatan pengguna jalan secara holistik, yang memerlukan keterlibatan dari berbagai sektor seperti perhubungan, kepolisian, kesehatan, dan pendidikan.

Image result for global status report on road safety 2017

Faktor risiko utama kecelakaan lalu lintas adalah kecepatan. Peningkatan kecepatan laju kendaraan di atas rata-rata, secara langsung berkaitan, baik dengan kemungkinan terjadinya kecelakaan, maupun dengan tingkat keparahan korban  kecelakaan itu. Risiko seorang dewasa pejalan kaki akan meninggal hanya kurang dari 20% jika tertabrak mobil dengan kecepatan 50 km/jam, tetapi akan meningkat menjadi hampir 60% jika mobil melaju dalam kecepatan 80 km/jam. Pemberlakuan zona kecepatan 30 km/jam terbukti dapat mengurangi risiko kecelakaan dan direkomendasikan berlaku kawasan dengan banyak pejalan kaki, misalnya di daerah pemukiman dan sekolah.

Image result for world day of remembrance for road traffic victims 2018 theme

Mengenakan helm secara benar oleh pengendara sepeda motor dapat mengurangi risiko kematian hampir 40% dan risiko cedera parah lebih dari 70%. Ketika aturan wajib helm sepeda motor ditegakkan secara efektif, tingkat penggunaan helm dapat meningkat menjadi lebih dari 90%. Mengenakan sabuk pengaman di dalam mobil, terbukti dapat mengurangi risiko kematian penumpang di kursi depan sampai 50% dan penumpang di kursi belakang sampai 75%. Jika dipasang dan digunakan secara benar, kursi dan sabuk pengaman khusus anak dapat mengurangi kematian bayi sekitar 70% dan kematian anak 80%.

Image result for global status report on road safety 2017

Selain itu, penggunaan telephon genggam atau HP dapat mengganggu penampilan atau performance pengemudi, yaitu waktu reaksi lebih lambat, terutama saat pengereman atau reaksi terhadap sinyal lalu lintas, gangguan kemampuan untuk selalu berada di jalur yang benar, dan menjaga jarak antar kendaraan yang layak. Penggunaan fitur pada HP berupa pesan teks seperti sms atau WA, menyebabkan kinerja pengemudi juga berkurang. Pengemudi yang menggunakan HP sekitar 4 kali lebih mungkin terlibat dalam kecelakaan, dibandingkan pengemudi yang tidak menggunakannnya, dan penggunaan fasilitas ‘hands-free HP’ tidak terbukti jauh lebih aman.

Bloomberg Initiative Global Road Safety (BIGRS)2015-2019 berusaha untuk mengurangi korban jiwa dan luka karena kecelakaan lalulintas, khususnya di negara berpenghasilan rendah dan menengah, yaitu di China, Filipina, Thailand dan Tanzania, dengan menyediakan dukungan teknis di bidang legislasi dan media pelatihan. Selain itu, juga mendukung keselamatan di jalan dengan cara meningkatkan keamanan di sekitar sekolah di Malawi dan Mozambik, dan dalam membantu meningkatkan layanan darurat di Kenya dan India, juga peningkatan penggunaan helm pada pengemudi sepeda motor dan mengurangi kadar alkohol saat mengemudi di sejumlah negara ASEAN.

Dalam tiga tahun terakhir, 17 negara telah menetapkan hukum terbaik tentang sabuk pengaman, mengemudi dalam pengaruh alkohol, kecepatan maksimal, helm sepeda motor atau perlindungan anak. Michael R. Bloomberg, pendiri Bloomberg Philanthropies melaporkan bahwa secara global terdapat 105 negara memiliki aturan tentang sabuk pengaman yang berlaku untuk semua penumpang, 47 negara memiliki undang-undang yang menentukan batas kecepatan nasional perkotaan maksimum 50 Km/jam dan menghimbau pemerintah daerah untuk mengurangi batas kecepatan di daerahnya masing-masing, 44 negara memiliki ketentuan tentang helm yang berlaku untuk semua pengendara dan penumpang sepeda motor, dan 53 negara memiliki aturan berdasarkan usia, tinggi atau berat badan, dan menerapkan pembatasan usia anak, sebagai penumpang mobil yang duduk di kursi depan. Laporan ini juga menemukan bahwa 80% kendaraan yang dijual di seluruh dunia, tidak memenuhi standar keselamatan dasar, khususnya di negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk hampir 50% dari 67 juta mobil penumpang baru yang diproduksi pada tahun 2014.

Momentum ‘World Day of Remembrance for Road Traffic Victims’ 2018, menampilkan cerita trauma, rasa sakit, dan harapan untuk masa depan yang hilang. Semuanya ini adalah panggilan untuk bertindak bersama, agar jalan raya menjadi lebih aman, sehingga risiko kecelakaan lalu lintas dan kematian dapat dikurangi. Sudahkah kita bertindak?

Sekian Yogyakarta, 23 November 2018 *) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161.
wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?