Hari Kanker Anak Internasional pada Jumat, 15 Februari 2019, ditujukan untuk menyoroti tindakan global terpadu dalam mengatasi tantangan kanker pada anak. Secara global, kanker anak dan remaja berpotensi untuk melebihi penyakit menular, sebagai salah satu penyebab kematian akibat penyakit yang tertinggi pada anak. Apa yang terjadi?
Tema 2019 adalah “Advance Cures and Transform Care”. Pesan ini menyoroti ketidaksetaraan mencolok atas akses terhadap terapi di banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah, di mana 80% anak dengan kanker hidup. Anak dan remaja di Afrika, Asia dan Amerika Latin dan di beberapa bagian Eropa Timur dan Selatan, belum memiliki akses terhadap pengobatan yang tepat, termasuk obat esensial dan perawatan khusus. Saat ini, di mana seorang anak hidup dan tinggal, cukup sering menentukan kemampuannya untuk bertahan hidup dari kanker anak. Hari ini adalah hari ketika kita berkumpul untuk menjadikan anak sebagai prioritas kesehatan nasional dan global.
Terkait kanker pada anak, saat ini masih terlalu sering kita mendengar kata “tetapi”, misalnya “tetapi” tidak cukup banyak anak yang dapat diobati, “tetapi” pengobatannya terlalu mahal, “tetapi” tidak ada cukup dokter ahli, dan banyak “tetapi” yang lain lagi. Pesan Utama adalah Sekarang waktunya. Tidak ada lagi “tetapi” (The time is now. There can be no more “but”). Sekarang kita harus bekerjasama untuk menyembuhkan, mengubah layanan dan menanamkan harapan pada anak, karena semua anak dengan kanker berhak mendapatkan akses terhadap obat esensial dan perawatan berkualitas.
Menurut The International Agency for Research on Cancer 2015, kejadian kanker anak di seluruh dunia meningkat, dari 165.000 kasus baru setiap tahun menjadi 215.000 kasus untuk anak sampai usia 14 tahun, dan 85.000 kasus baru untuk remaja usia 15-19 tahun. Program pengedalian penyakit kanker di Indonesia dilakukan untuk semua jenis kanker, tetapi saat ini masih diprioritaskan pada dua kanker terbanyak, yaitu kanker leher rahim dan kanker payudara, bukan pada anak. Meskipun jumlah anak dengan kanker jauh lebih sedikit dibandingkan dengan dewasa, tetapi jumlah kehidupan yang disimpan secara signifikan sebenarnya lebih tinggi. Bahkan tingkat kelangsungan hidup di negara berpenghasilan tinggi mencapai rata-rata 84% dan terus meningkat, juga di daerah dengan sumber daya yang kurang mendapat bantuan lokal dan internasional sekalipun.
Sebanyak 188 organisasi anggota Childhood Cancer International (CCI) di 96 negara dan 1.000 profesional layanan kesehatan dari 110 negara yang merupakan anggota International Society of Pediatric Oncology (SIOP), meminta setiap orang untuk ‘bersatu dalam solidaritas’ dan memastikan semua anak dan remaja di manapun, agar memiliki kesempatan untuk bertahan hidup dari kanker. Selain itu, juga agar dapat menjalani kehidupan yang panjang, produktif dan bermakna. Tidak ada yang lebih menakutkan daripada menyadari bahwa anak kita menderita kanker. Namun demikian, tidak ada yang lebih tragis daripada saat mengetahui bahwa pengobatan memang ada dan hasilnya sangat baik, tetapi itu tidak tersedia untuk anak kita. Mengapa? Hanya karena anak kita kebetulan tinggal di belahan dunia yang salah.
Ternyata lebih dari 300.000 anak setiap tahun didiagnosis menderita kanker. Juga bahwa banyak jenis kanker pada anak dapat disembuhkan, jika anak diberikan 4 hak azasi, yaitu hak untuk diagnosis dini secara tepat, mengakses obat penting, mendapatkan layanan medis yang tepat dan berkualitas, serta menindaklanjuti layanan medis berkelanjutan bagi anak yang selamat. Hal ini mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa tujuan ke 3.4, yaitu untuk mengurangi angka kematian dini sampai sepertiganya pada tahun 2030.
Disparitas besar terjadi pada tingkat kelangsungan hidup anak dengan kanker secara global. Di negara berpenghasilan rendah sampai menengah, di mana akses terhadap perawatan seringkali terbatas dan sangat menantang, tingkat kelangsungan hidup hanya 10%. Dari 10 anak yang didiagnosa menderita kanker, hanya 1 yang bertahan. Sebaliknya, di negara berpenghasilan tinggi dan maju, tingkat kelangsungan hidup bisa setinggi 90%, hanya 1 anak yang akan mati.
Perkembangan obat kanker anak juga sangat tertinggal. Sebagai contoh, pengobatan untuk leukemia limfoblastik akut risiko standar, yang merupakan jenis kanker anak yang paling umum, yaitu terdiri dari 11 obat. Pada hal, lima di antaranya ditemukan pada 1960-an, lima lainnya, pada 1970-an dan satu di tahun 80-an. Tidak ada lagi obat baru untuk anak dengan kanker darah atau leukemia.
Momentum Hari Kanker Anak Internasional pada Jumat, 15 Februari 2019, adalah ajakan berulang untuk meningkatkan kepedulian kita semua akan kanker pada anak.
Apakah kita sudah bertindak?
Sekian
Yogyakarta, 9 Februari 2019
*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161
Untuk merayakan kehidupan Dr. Quesada di San Jose, ibukota Kosta Rika, Karibia melakukannya dengan membantu sesama manusia yang telah hampir meninggal. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk membuat waktu yang mereka miliki di dunia ini, meskipun tinggal sebentar, tetapi harus nyaman, tanpa rasa sakit, riang dan lembut. Apa yang menarik?
Kisah inspiratif tersebut disampaikan kepada para delegasi dari Negara-negara Anggota WHO, dalam pidatonya saat menerima penghargaan Sasakawa (The Sasakawa Health Prize). Pemberian penghargaan ini dimulai pada tahun 1984 atas inisiatif dan dengan dana yang disediakan oleh Ryoichi Sasakawa, Ketua Yayasan Industri Pembuatan Kapal Jepang dan President of the Sasakawa Memorial Health Foundation. Penghargaan Sasakawa terdiri dari patung dan dana sebesar US $ 100.000, untuk karya inovatif yang luar biasa dalam pengembangan layanan kesehatan, untuk mendorong pengembangan lebih lanjut dari layanan tersebut.
Setelah pendidikannya di AS, ia kembali ke negaranya sebagai dokter muda dan mendedikasikan karirnya untuk perawatan paliatif anak, untuk membantu orang yang sekarat, sehingga mereka diperlakukan dengan hormat, profesionalis dan cinta. Pada tanggal 1 Oktober 1990, Dr. Lisbeth Quesada Tristan membangun Unit Perawatan Paliatif Anak (Fundación Pro Unidad de Cuidado Paliativo) di Rumah Sakit Anak Nasional (Hospital Nacional de Niños) di San Jose, Kosta Rika. Layanan seperti ini adalah yang pertama kali ada di Kosta Rika dan bahkan seluruh Amerika Latin, yang menyediakan perawatan paliatif untuk pasien di rumah dan rumah sakit.
Perawatan paliatif adalah layanan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien, baik dewasa maupun anak, dan keluarga mereka, karena pasien menderita penyakit yang mengancam jiwa. Layanan ini akan mencegah dan mengurangi penderitaan melalui identifikasi kondisi medis awal, penilaian derajad penyakit secara lengkap dan pengelolaan rasa sakit atau nyeri. Selain itu, juga untuk masalah lain, baik fisik, psikososial atau spiritual. Masalah medis sebagai penyebabnya meliputi penyakit kanker, kegagalan fungsi organ penting, tuberkulosis yang resistan terhadap obat, penyakit kronis tahap akhir, kelahiran prematuritas atau kelemahan umum, karena usia lanjut yang ekstrem.
Perawatan paliatif mencakup layanan perawatan di rumah pasien, yang dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga mereka. Di samping itu, juga dapat menghemat uang untuk mengurangi biaya masuk rumah sakit yang tidak perlu. Kualitas hidup pasien dan keluarga mereka, dalam menghadapi masalah yang berhubungan dengan penyakit yang mengancam jiwa, baik fisik, psikososial atau spiritual, terbukti sangat meningkat dengan perawatan paliatif ini.
Resolusi Majelis Kesehatan Dunia 67,19 tentang penguatan perawatan paliatif, yang diadopsi pada tahun 2014, menekankan perlunya membuat kebijakan perawatan paliatif secara nasional, khususnya untuk memastikan akses yang aman ke obat opioid untuk menghilangkan rasa sakit atau nyeri yang hebat. Selain itu, juga dilakukannya pelatihan berkesinambungan untuk semua petugas kesehatan dalam perawatan paliatif, dan integrasi perawatan paliatif ke dalam sistem layanan kesehatan yang ada.
Morfin tablet kerja cepat (oral immediate-release morphine) adalah obat yang penting dalam terapi paliatif. Undang-undang tentang opioid dan peraturan peresepan di semua negara, seharusnya menyeimbangkan aspek pencegahan dan penggunaan opioid ilegal, dengan memastikan aksesibilitas pasien ke obat morfin, untuk mengurangi rasa sakit atau nyeri tingkat sedang dan berat.
Pasien anak memiliki lebih sedikit akses ke perawatan paliatif. Pada hal, pasien anak berada pada risiko yang lebih tinggi daripada orang dewasa, untuk mengalami kesulitan mendapatkan obat penghilang rasa sakit yang memadai. Sekitar 98% pasien anak yang membutuhkan perawatan paliatif tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah, dengan hampir setengah dari mereka tinggal di Afrika.
Perawatan paliatif masih menunjukkan perbedaan mencolok secara global. Kurangnya akses ke perawatan paliatif dan obat penghilang nyeri adalah salah satu ketidaksetaraan terbesar dalam kesehatan global. Sebagian besar pasien di negara berpenghasilan tinggi memiliki akses, tetapi hanya sebagian kecil pasien di negara berpenghasilan rendah dan menengah yang memiliki akses serupa. Setiap tahun diperkirakan 40 juta orang membutuhkan perawatan paliatif, dengan 78% di antaranya tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Kebutuhan akan perawatan paliatif tidak pernah surut. Justru hal ini akan terus tumbuh dengan meningkatnya penyakit kronis dan bertambahnya orang yang dapat hidup hingga usia yang lebih lanjut. Di seluruh dunia, hanya sekitar 14% orang yang membutuhkan perawatan paliatif, yang dapat menerimanya. Penghargaan Sasakawa pada 25 Mei 2018 untuk perawatan paliatif bagi pasien anak oleh Dr. Lisbeth Quesada Tristan di Kosta Rica, telah membuat hidup anak sakit berat menjadi lebih hidup lagi.
Sudahkah kita tergerak membantu?
Yogyakarta, 7 Februari 2019
*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161
Saat ini terjadi peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Saat Mrs. Melinda Gates, filantropis atau dermawan dari USA mengunjungi Yogyakarta pada Jumat, 24 Maret 2017, mengingatkan kita semua akan mimpi besar untuk membasmi atau mengeliminasi Dengue. Apa yang perlu dicermati?
Tim Eliminate Dengue Project (EDP) Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta mengadakan penelitian WMP (World Mosquito Program) tentang DBD, yang memasuki tahap akhir pada tahun 2019 ini. Penelitian ini sangat kental dengan nuansa keterlibatan masyarakat, yaitu memanfaatkan nyamuk Aedes Aegypti, penyebar virus Dengue, yang mengandung bakteri Wolbachia. Nyamuk yang sudah dikembangbiakkan di insektarium kemudian dilepaskan di habitat alaminya, dengan persetujuan masyarakat setempat. Caranya adalah kesediaan menjadi orang tua asuh nyamuk, dengan mengijinkan dititipi ember di halaman rumah mereka.
Penyebaran nyamuk Aedes aegypti yang mengandung bakteri Wolbachia, telah dimulai di Dusun Jomblangan, Banguntapan, Bantul DIY Senin, 8 Desember 2014. Kunjungan Mrs. Melinda Gates ke kantor EDP Yogyakarta, menunjukkan dukungan penuhnya akan proyek besar terkait persaingan alami antara bakteri Walbochia dan virus Dengue, di dalam tubuh nyamuk. ‘Eliminate Dengue Indonesia’ adalah program penelitian di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan didanai oleh Yayasan Tahija (Tahija Foundation) dan Bill & Melinda Foundation.
Wolbachia adalah salah satu bakteri yang hidup sebagai parasit pada hewan artropoda seperti nyamuk. Infeksi bakteri Wolbachia pada hewan akan menyebabkan proses patogenesis atau terjadinya sel telur yang tidak dapat dibuahi, kematian pada hewan jantan, dan feminisasi atau perubahan nyamuk jantan menjadi betina. Bakteri Wolbachia ini merupakan bakteri alami yang biasa terdapat di dalam tubuh nyamuk lokal dan telah terbukti mampu menghambat pertumbuhan virus Dengue, di dalam tubuh nyamuk.
Eliminasi sebuah penyakit menular, seperti DBD, sebenarnya paling baik dilakukan dengan vaksinasi massal. Vaksin Dengue sudah diteliti sejak tahun 1940 oleh Sabin dan Schlesinger, untuk menemukan bentuk virus yang sudah dilemahkan sebagai bahan dasar vaksin (live attenuated vaccine). Vaksin dengue pertama, Dengvaxia® (CYD-TDV) yang diproduksi oleh industri farmasi Sanofi Pasteur, pertama kali terdaftar di Meksiko pada bulan Desember 2015. CYD-TDV adalah vaksin rekombinan tetravalen dari virus dengue hidup, yang telah diteliti dengan pemberian 3 dosis pada jadwal 0, 6, dan 12 bulan, dalam uji klinis Tahap III. CYD-TDV ini telah terdaftar untuk digunakan pada kelompok usia 9-45 tahun yang tinggal di daerah endemik Dengue. Indonesia telah menjadi salah satu negara yang berpartisipasi dalam uji klinis vaksin Dengue dan Dengvaxia® sudah mendapatkan izin edar dari Badan POM pada tahun 2016 lalu. Harga yang masih relatif mahal dan tidak terbukti efektif pada anak balita, kelompok usia yang paling rentan menderita DBD, sehingga vaksin ini belum dapat diberikan secara massal.
Pengendalian vektor nyamuk telah menjadi strategi kunci untuk mengendalikan atau mencegah penularan virus dengue. Strategi yang dikenal dengan 3M ini meliputi mencegah nyamuk bertelur di habitatnya dengan manajemen dan modifikasi lingkungan. Caranya dengan membuang sampah dengan benar dan menghapus habitat nyamuk buatan manusia, yang meliputi mengosongkan dan membersihkan wadah penyimpanan air rumah tangga setiap minggu, penggunaan insektisida yang tepat pada wadah penyimpanan air di luar ruangan, menggunakan perlindungan rumah tangga seperti jendela bertirai, pakaian lengan panjang, dan insektisida. Selain itu, juga meningkatkan partisipasi dan mobilisasi warga masyarakat untuk pengendalian vektor berkelanjutan, penyemprotan insektisida selama terjadi wabah sebagai salah satu langkah kontrol vektor darurat, dan pengawasan aktif terhadap vektor nyamuk.
Tindakan lain untuk eliminasi Dengue telah dicoba oleh Kementrian Kesehatan Brazil, seperti laporan kantor berita AFP Januri 2014, dengan mengembang biakkan sejumlah besar nyamuk Aedes agypti hasil rekayasa genetik, untuk membantu menghentikan penyebaran DBD. Proyek ini mengalihkan fokus eliminasi, bukan dengan vaksinasi, tetapi kepada program untuk mengendalikan pertumbuhan nyamuk. Nyamuk jantan yang dimodifikasi secara genetik dalam jumlah besar, telah dilepaskan ke alam bebas untuk kawin dengan nyamuk betina. Keturunan mereka, diprediksi tidak akan berkembang hingga dewasa, sehingga akan mengurangi populasi nyamuk sebesar 90% dalam 6 bulan. Hal ini berdasarkan penelitian di bagian timur negara bagian Bahia, Brazil.
Dr. Maithripala Sirisena, Menteri Kesehatan Sri Lanka seperti dikutip kantor berita Antara Maret 2015, melibatkan 10.000 orang tentara nasional untuk tergabung dalam sebuah operasi pembersihan genangan air. Dalam kampanye nasional 3M di Sri Lanka ini, tentara wajib membantu masyarakat secara rutin, untuk menemukan dan membersihkan tempat yang dapat menimbulkan genangan air. Selain itu, semua sekolah secara serentak juga diwajibkan untuk menggunakan waktu selama 1 jam pada hari Jumat, untuk membersihkan areal sekolah mereka. Genangan air dan jentik nyamuk Aedes agypti, harus dilenyapkan.
Eliminasi terbaik untuk penyakit infeksi seperti DBD, sebenarnya adalah vaksinasi massal, bukan modifikasi vektor yang menyebarkan penyakit, yaitu nyamuk Aedes agypti. Oleh karena vaksinasi Dengue belum juga terbukti cukup berhasil, maka banyak cara lain yang cukup layak untuk ditempuh. Bakteri Walbochia yang dikembangkan EDP dan FK UGM Yogyakarta, diharapkan menjadi salah satu cara mewujudkan mimpi besar dalam proses panjang eliminasi Dengue.
Kita semua, meskipun tidak harus menjadi seorang filantropis sekaliber seperti Mrs. Melinda Gates atau Bapak Tahija, memegang peran penting dalam mengatasi kesulitan eliminasi Dengue, yang masih saja terjadi.
Sudahkah Anda terlibat membantu?
Sekian
Yogyakarta, 31 Januari 2019
*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com
Bulan Februari dan Maret 2019 ini seluruh wilayah DKI Jakarta masuk dalam kategori waspada Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue ( DBD). Sepanjang tahun 2018 tercatat ada 2.947 kasus DBD di DKI Jakarta dengan 2 kematian (case fatality rate/CFR 0,07 persen). Pada era JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) ini, penjaminan biaya pasien dilakukan oleh BPJS Kesehatan.
Bagaimana pembiayaan pasien dengue dalam era JKN?
Pada era JKN dengan pembiayaan sistem kapitasi di FKTP (Fasilitas Kesehatan Tingkat Primer) pada dokter keluarga, klinik pratama atau puskesmas, peran preventif dan promotif wajib ditingkatkan, agar jumlah kasus dapat ditekan. Dengue merupakan kasus yang harus dilayani secara tuntas di layanan primer dan tidak boleh dirujuk ke FKTL (Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut) menurut Konsil Kedokteran Indonesia, 2014. Menurut Peraturan Presiden nomor 12 tahun 2013, Permenkes Nomor 71 tahun 2013 dan Surat Edaran Nomor HK/MENKES/31/I/2014, disebutkan bahwa cakupan pelayanan rujukan segera ke UGD RS yang dapat dijamin, adalah sesuai dengan kriteria gawat darurat hanyalah shock berat (profound), yaitu nadi pasien tidak teraba dan tekanan darah tidak terukur, termasuk Dengue berat atau DSS.
Apabila pasien dengue sudah dirujuk ke poliklinik, bukan UGD RS, harus sesuai dengan PMK 64 tahun 2016 tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan Dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan, yang berisi tarif INA-CBG 2016. Sebagai contoh Rumah Sakit Pemerintah Kelas C Regional 1 untuk kasus Dengue rawat jalan dengan diksripsi INA CBGs infeksi akut dan kode Q5350, memiliki plafon biaya Rp. 433,200 per minggu. Pada hal, biaya riil pemeriksaan laboratorium untuk kasus curiga Dengue biasanya meliputi darah rutin Rp. 73.500, NS1Ag antigen Rp. 247.000, ADV Rp. 247.000, Trombosit Rp. 32.000, Hematokrit Rp. 25.500 dan golongan darah 25.000.
Untuk kasus Dengue yang memerlukan rawat inap non emergency di bangsal kelas III RS Pemerintah kelas C Regional 1, sesuai PMK 64 TAHUN 2016 kasus dengue dengan kodeA-4-12-I untuk DEMAM RINGAN memiliki plafon biaya Rp. 2.509.600 sampai kode A-4-12-III untuk DEMAM BERAT memiliki plafon biaya Rp. 3.335.500.
Dengan adanya kendali biaya tersebut, juga untuk mencegah selisih biaya negatif di RS atas klaim kepada BPJS Kesehatan, diperlukan sebuah kriteria baru yaitu faktor prediktor Dengue, yang dapat digunakan untuk menduga (memprediksi) terjadinya perburukan gejala klinis dengue pada hari kritis. Beberapa tanda klinis sederhana yang dapat digunakan sebagai faktor prediktor adalah : muntah, demam tinggi, nyeri perut hebat, gemuk dan riwayat kontak dengan penderita Dengue berat. Anak yang mengalami muntah, bahkan muntah berulang pada hari-hari awal sakit, sangat mungkin berkembang menjadi Dengue dengan derajad berat. Semakin hebat dan berulang muntahnya, semakin berat derajad Denguenya. Meskipun banyak penyakit lain juga memberikan gejala klinis muntah, namun muntah pada penderita Dengue berat biasanya lebih hebat, terjadi bukan pada saat anak batuk dan berlangsung dalam 2 hari pertama sakit.
Demam tinggi, terutama demam yang sampai > 390 Celcius, berlangsung hampir 2×24 jam pertama, yang turun sangat sedikit atau bahkan tidak turun sama sekali dengan obat turun demam, juga merupakan faktor prediktor beratnya Dengue. Apalagi bila diikuti penurunan demam yang drastis pada hari ke 4 sakit, bahkan bisa mencapai suhu 360C. Penurunan suhu tubuh ini bahkan merupakan tanda bahaya, sebab itu merupakan tanda awal syok, sebuah keadaan gawat dadurat medik dan sangat sering menyebabkan kematian pada penderita Dengue.
Nyeri perut di sebelah kanan atas, yang disebabkan pembesaran hati (hepatomegali) karena terjadinya peradangan sel-sel hati dengan adanya infiltrasi dan replikasi virus dengue, sangat berkorelasi dengan beratnya derajad sakit. Nyeri perut ini biasanya terjadi pada periode awal, semakin berat pada periode pertengahan dan dapat juga digunakan sebagai indikator penyembuhan pada periode akhir sakit, yaitu pada saat keluhan tersebut hilang.
Gemuk atau obesitas merupakan faktor prediktor yang mudah digunakan. Semakin gemuk seorang anak, terlebih bila gemuknya disebabkan konsumsi susu yang berlebihan (> 200 cc sehari), semakin berat derajad Dengue nya, secara teknis semakin sulit dikenali atau didiagnosis dan semakin sulit diatasi atau diterapi. Beratnya derajad Dengue pada anak dengan kegemukan, berkorelasi lurus dengan hebatnya reaksi antigen virus dengan antibodi di dalam tubuhnya. Kesulitan teknis tersebut di atas disebabkan karena faktor teknis pencapaian pembuluh darah yang jauh lebih sulit dilakukan pada anak gemuk. Dampak langsungnya adalah diagnosis dan terapi sangat mengalami kesulitan, disebabkan karena sulitnya mengambil sampel darah untuk tahap diagnosis dengan pemeriksaan serial di laboratorium dan sulitnya memasang jalur infus atau transfusi darah, terlebih apabila sudah terjadi syok dan disertai penurunan kesadaran anak.
Pada penderita Dengue berat (dengan patokan terjadinya syok, perawatan di ICU bukan di bangsal biasa, atau bahkan sampai meninggal), mengindikasikan bahwa pada penderita tersebut virusnya berasal dari strain yang ganas. Adanya riwayat kontak dengan penderita tersebut, misalnya teman sekelas di sekolah, les dan TPA, tetangga yang rumahnya dekat atau bahkan keluarga serumah, menggambarkan adanya potensi perburukan klinis, serupa dengan penderita sebelumnya.
Dengan berpegang pada faktor prediktor buruk tersebut, maka hampir sebagian besar penderita Dengue sebenarnya dapat menjalani penanganan rawat jalan di FKTP dengan kontrol terjadwal, bukan dirujuk ke poliklinik RS. Hanya penderita Dengue dengan satu atau lebih faktor prediktor tersebut yang memerlukan rujukan dan rawat inap di RS, dengan penjaminan biaya oleh BPJS Kesehatan, tanpa menimbulkan selisih bayar negatif bagi RS.
Sudahkah kita bertindak bijak?
Sekian
Yogyakarta, 23 Januari 2019
*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,
Pada tahun 2030, kita akan mengucapkan selamat tinggal rumah sakit (goodbye hospital, hello home-spital), karena konsep tersebut sudah usang. Hampir 20 tahun terakhir, dunia layanan kesehatan didominasi oleh terobosan di bidang biologi. Namun demikian, saat ini biologi sedang dimakan oleh robotika dalam era jaringan. Apa arti pergeseran ini bagi dokter, pasien, dan bahkan RS?
Dr. Donna Marbury di Columbus, Ohio USA akhir tahun 2018 menulis tentang Strategi Bisnis dan Teknologi dalam laman managedhealthcareexecutive, tentang lima teknologi layanan kesehatan yang paling menjanjikan, yang akan membuat RS perlu berisap untuk menghadapi masa depan. Pertama adalah ‘blockchain’, yang membuat sistem rekam medik tersambung dengan banyak RS lain dalam basis data tunggal, termasuk data klinis dan keuangan, secara independen dan transparan. Kedua adalah kecerdasan buatan atau ‘Artificial Intelligence’ (AI), khususnya metode dalam bidang onkologi, terutama untuk pasien kanker stadium 4 yang telah kehabisan pilihan jenis perawatan lainnya.
Ketiga adalah pusat komando di rumah sakit seperti di NASA, pusat aeronotika USA. Pusat komando digital yang komprehensif dan interaktif, memungkinkan dokter dapat memperoleh data dari semua pasien di RS, untuk mengambil tindakan medis dengan cepat. RS dapat menggunakan perangkat GE Healthcare, mirip dengan pusat kontrol lalu lintas udara di bandara. Keempat adalah pemeriksaan penunjang medis untuk meningkatkan keterlibatan dan kepuasan pasien, misalnya dalam menentukan tekanan atau kompresi dan pemosisian, selama pemeriksaan pemindaian payudara atau mamografi yang saat ini cukup menyakitkan. Alat baru ini diciptakan GE Healthcare yang disebut Senographe Pristina, perangkat mamografi 3D. Kelima adalah mesin pencocokan identitas pasien, yang secara cerdas menyaring puluhan juta data pasien dengan tepat dalam waktu milidetik menggunakan MPI Big Data 4medica, yang disebut interoperabilitas.
Dr. Melanie Walker, Profesor Neurologi di University of Washington dan Johns Hopkins School of Medicine, USA dalam paparannya di ‘the World Economic Forum’ Davos 2019 di Swiss, sungguh berbeda dengan Dr. Donna Marbury, dalam memprediksi teknologi layanan kesehatan di RS. Harus diakui bahwa inovasi biologi telah menciptakan prestasi dokter dalam layanan pasien. Misalnya penemuan protease inhibitor, sebuah obat antivirus yang mengubah hasil klinis pasien HIV-positif dan Viagra, obat yang kurang dikenal untuk mengobati hipertensi arteri paru, ternyata mampu mengubah prospek pasien disfungsi ereksi. Namun demikian, teknologi komunikasi dan informasi yang merupakan cabang ilmu baru, ternyata memiliki dampak besar pada cara dokter berpikir, tentang layanan pasien dan fungsi RS.
Pada tahun 2030, epidemi penyakit akan semakin terganggu (disrupted) oleh teknologi, sehingga RS mungkin memiliki jenis penyakit yang jauh lebih sedikit untuk dikelola. Revolusi industri 4.0 akan memungkinkan manusia untuk hidup lebih lama, lebih produktif, dan lebih sehat, sehingga RS masa depan akan menjadi sekedar sebuah tempat pemberhentian perjalanan alamiah manusia, daripada lubang hitam tempat kematian yang tak terhindarkan. Pasien akan pergi atau mampir di RS seperti mobil untuk ditambal bannya dan dikembalikan ke jalur semula. Beberapa praktik layanan RS bahkan mungkin hilang sepenuhnya, dan kebutuhan pasien untuk rawat inap pada akhirnya akan hampir hilang.
Bangsal perawatan RS yang saat ini dipenuhi pasien dengan gangguan satu atau lebih sistem organ, kelak justru hanya akan digunakan untuk proses diagnosis dan perawatan sementara saja. Sebuah perangkat pemindaian digital tunggal akan mampu memberikan gambaran detail aspek metabolik, fungsional, dan struktural pasien, karena mampu menggabungkan fisika spektroskopi, resonansi magnetik, dan radiasi. Dengan alat ini berarti dokter hanya perlu satu tindakan pemindaian, dan tidak memerlukan sebuah tindakan invasif yang menyakitkan pasien, seperti operasi biopsi jaringan.
Selain itu, hari-hari pasien kesakitan dan penuh penderitaan saat mereka menunggu donor organ akan segera berakhir juga. Organ, jaringan, dan struktur pendukung seperti tulang atau ligamen, akan dicetak menggunakan printer 3D secara biologis, sesuai permintaan dokter. Kelainan atau patologi jaringan yang akut dan serius, misalnya adanya gumpalan darah atau tumor, juga akan diatasi dari dalam tubuh pasien, bukan dari luar melalui irisan kulit. Tidak perlu lagi dokter spesialis yang memegang pisau bedah di tangan, karena dalam beberapa menit, kateter endovaskular dan robot kecil akan menyebar ke organ yang dituju.
Dokter juga tidak perlu lagi mempertimbangkan obat apa yang harus diresepkan untuk pasien dan kemudian apoteker yang memberikannya. Perangkat seluler dokter akan menerima informasi yang diperlukan untuk meramu obat, probiotik dan diet khusus, dari ruang penyimpanan data pasien. Selanjutnya, akan tersedia obat spesifik pasien tersebut sesuai permintaan dokter, yang akan berlangsung bahkan dalam beberapa menit saja.
Sekarang RS dan dokter wajib memberikan layanan kepada pasien dengan memberikan informasi diagnostik yang paling akurat, intervensi yang paling tidak invasif, dan terapi teraman yang tersedia. Ke depan, pasien secara mandiri akan memiliki informasi serupa, sehingga cukup melakukan diskusi singkat dengan dokter secara sepadan. Para dokter dan RS harus mampu melihat prediksi layanan pasien yang sangat berbeda, yaitu saat semakin sedikit orang yang masih membutuhkan keberadaan RS, karena setiap orang kelak akan dapat mencegah atau mengobati sendiri di rumah, sehingga periode itu disebut era paska RS.
Saat ini beban global penyakit sebagian besar dalam aspek pembuluh darah atau vaskular, dengan serangan jantung dan stroke menjadi penyebab kematian terbesar di dunia. Pada hal, keduanya sebentar lagi dapat dicegah dengan pemahaman pasien yang lebih baik, dengan melakukan koreksi atas faktor risiko, sesuai petunjuk dokter dalam format teknologi informasi digital. Kejadian cidera traumatis juga turun dan akan terus menurun, saat tersedianya mobil digital tanpa pengemudi dan pekerja robot dengan remote control telah diciptakan untuk menggantikan tugas manusia yang berisiko.
Apakah para dokter dan RS sudah siap berubah?
Yogyakarta, 29 Januari 2019
*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161
Paling tidak terdapat 10 masalah kesehatan utama pada 2019. Pertama, polusi udara dan perubahan iklim, kedua, meningkatnya penyakit tidak menular, terutama kegemukan atau obesitas, ketiga, ancaman pandemi influenza global, keempat, system layanan kesehatan yang masih rapuh, dan kelima, resistensi obat antimikroba. Selanjutnya, keenam adalah virus Ebola dan patogen ganas lainnya, ketujuh, lemahnya layanan kesehatan primer, kedelapan, keraguan akan vaksin, kesembilan, Demam Berdarah Dengue (DBD), dan kesepuluh HIV. Apa yang harus dilakukan?
Tantangan pertama sampai keempat sudah dibahas sebelumnya. Tantangan ke 5 adalah resistensi obat antimikroba. Pengembangan obat antibiotik, antivirus dan antimalaria adalah beberapa keberhasilan terbesar dunia kedokteran modern. Namun demikian, sekarang masa keemasan obat-obatan ini sudah hampir habis. Resistensi antimikroba, yaitu kemampuan bakteri, parasit, virus dan jamur untuk berkelit dan melawan aksi obat tersebut, telah mengancam kita semua kembali ke masa lalu, yaitu masa ketika kita mengalami kesulitan besar dalam mengobati penyakit infeksi umum seperti radang paru (pneumonia), tuberkulosis (TB), gonore, dan tifus (salmonellosis). Selain itu, ketidakmampuan kita untuk mencegah infeksi serius dapat membahayakan operasi medis dan prosedur lain seperti kemoterapi.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan telah membuat pedoman umum penggunaan antibiotik. Pedoman ini dituangkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2406/MENKES/PER/XII/2011.Pedoman tersebut dibuat untuk memberikan acuan bagi tenaga kesehatan dalam menggunakan antibiotik pada pelayanan kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, serta penentuan arah kebijakan pemerintah sehingga nantinya optimalisasi penggunaan antibiotik secara bijak dapat tercapai.
Resistensi terhadap obat anti TB adalah hambatan besar untuk melawan penyakit yang menyebabkan sekitar 10 juta orang sakit TB dan 1,6 juta orang meninggal setiap tahun. Pada tahun 2017, sekitar 600.000 kasus TB resisten terhadap rifampisin, obat anti TB lini pertama yang paling efektif, dan 82% kasus juga resistan terhadap beberapa obat anti TB lainnya. Resistensi obat disebabkan oleh penggunaan antimikroba yang berlebihan pada manusia dan hewan, terutama yang digunakan untuk tujuan peningkatan produksi makanan serta perbaikan lingkungan. Kita semua wajib mengimplementasikan rencana aksi global untuk mengatasi resistensi antimikroba, caranya dengan meningkatkan kesadaran dan pengetahuan, mengurangi infeksi, dan mendorong penggunaan antimikroba secara bijaksana.
Tantangan ke 6 adalah virus Ebola dan patogen ganas lainnya. Meskipun wabah Ebola tidak pernah dilaporkan menyebar sampai ke Indonesia, tetapi Litbang WHO 2018 telah mengidentifikasi penyakit yang berpotensi menyebabkan keadaan darurat kesehatan masyarakat, tetapi saat ini tidak ada obat dan vaksin yang efektif. Penyakit yang berpotensi wabah meliputi Ebola, beberapa demam berdarah lainnya, Zika, Nipah, MERS-CoV, SARS, dan penyakit X (belum diketahui penyebabnya). Semua patogen tersebut dapat menyebabkan epidemi serius.
Tantangan ke 7 adalah masih lemahnya layanan kesehatan primer. Layanan kesehatan primer merupakan titik kontak pertama pasien dengan sistem kesehatan. Idealnya harus menyediakan perawatan yang komprehensif, terjangkau, dan berbasis masyarakat, karena dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan kesehatan seseorang selama hidupnya. Sistem kesehatan dengan layanan kesehatan primer yang kuat, diperlukan untuk mencapai cakupan kesehatan universal. Namun demikian, banyak negara yang tidak memiliki fasilitas perawatan kesehatan primer secara memadai. Kondisi ini mungkin karena kurangnya sumber daya di negara berpenghasilan rendah atau menengah. Dalam konferensi global besar di Astana, Kazakhstan pada Oktober 2018, semua negara berkomitmen untuk memperbaiki layanan kesehatan primer, sesuai deklarasi Alma-Ata pada tahun 1978.
Tantangan ke 8 adalah keraguan akan vaksin, termasuk keengganan atau penolakan untuk melakukan vaksinasi, meskipun ketersediaan vaksin terpenuhi. Paham ini akan mengancam prestasi kita dan dapat membalikkan kemajuan yang telah dibuat, dalam menanggulangi penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan vaksin. Vaksinasi adalah salah satu cara paling efektif untuk menghindari penyakit infeksi tersebut, bahkan saat ini telah terbukti mampu mencegah 2-3 juta kematian balita per tahun. Selain itu, tambahan pencegahan kematian 1,5 juta anak balita dapat terjadi, jika cakupan vaksinasi global mampu ditingkatkan.
Misalnya penyakit campak yang mematikan telah mengalami peningkatan 30% kasus secara global. Alasan kenaikan ini sangat kompleks, dan tidak semua kasus ini disebabkan oleh keragu-raguan vaksin. Namun, beberapa negara yang telah hampir mampu mengeliminasi penyakit ini, justru telah mengalami kebangkitan.
Alasan mengapa orang memilih untuk tidak divaksinasi adalahsesuatu yang rumit. Diduga adanya rasa puas diri, ketidaknyamanan dalam mengakses vaksin, dan kurangnya kepercayaan diri adalah alasan utama yang mendasari keraguan terhadap vaksin. Petugas kesehatan, terutama yang ada di masyarakat, tetap menjadi penasihat dan pemberi pengaruh yang paling dipercaya dalam keputusan untuk mendapatkan vaksinasi, dan mereka harus didukung untuk memberikan informasi tepercaya dan kredibel tentang vaksin.
Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Dr. Jane Soepardi, menjelaskan perpanjangan program imunisasi MR dilakukan karena masih ada sejumlah daerah yang cakupan imunisasinya di bawah 95% sampai 30 September 2017 lalu, yaitu Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta. Jane menjelaskan ada sejumlah penyebab cakupan imunisasi rendah di beberapa daerah yaitu adanya penolakan dari orangtua dengan berbagai alasan; antara lain meragukan kualitas vaksin yang digunakan dalam program imunisasi massal MR dan juga terpengaruh berita bohong atau hoaks di media sosial. Orangtua yang ‘educated’ tahu anaknya butuh vaksin, tapi sudah membeli vaksin MMR yang lebih mahal dibandingkan vaksin program, jadi merasa tak perlu lagi imunisasi MR. Penyebaran berita bohong di media sosial juga mempengaruhi sejumlah orangtua. Ada juga kelompok orangtua yang terpapar hoaks di media social, seperti kabar ada yang habis disuntik lumpuh dan mati. Padahal setelah diselidiki kasus itu karena ada penyebab lain, ada penyakit lain dan tak ada hubungan dengan vaksin.
Pada 2019, WHO akan meningkatkan upaya untuk menghilangkan kanker serviks di seluruh dunia dengan meningkatkan cakupan vaksin HPV, di antara intervensi lainnya. Tahun 2019 mungkin juga merupakan tahun ketika penularan virus polio liar akan dapat dihentikan di Afghanistan dan Pakistan, karena tahun 2018 yang lalu, hanya kurang dari 30 kasus yang dilaporkan di kedua negara terkahir yang masih terdampak virus polio ini.
Tantangan ke 9 adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyakit yang ditularkan oleh nyamuk yang menyebabkan gejala seperti flu dan bisa mematikan dan membunuh hingga 20% dari mereka yang menderita demam berdarah parah, telah menjadi ancaman yang berkembang selama beberapa dekade. Banyaknya kasus terjadi pada musim hujan di banyak negara seperti Bangladesh dan India. Pada tahun 2018 di Bangladesh terjadi tingkat kematian yang tertinggi dalam hampir dua dekade. Selain itu, penyakit ini menyebar ke negara tetangga seperti Nepal, yang secara tradisional belum banyak melaporkan penyakit ini.
Diperkirakan 40% populasi dunia berisiko terkena demam berdarah Dengue, dan ada sekitar 390 juta kejadian infeksi per tahun. Strategi pengendalian Dengue bertujuan untuk mengurangi tingkat kematian hingga 50% pada tahun 2020. Pada tahun 2016, sebanyak 15,2 juta kasus DBD tercatat di Asia Pasifik. Dari jumlah tersebut, sebanyak 202.314 kasus, termasuk 1.593 kematian dilaporkan terjadi di Indonesia. Namun demikian, Dr. Suwito Kepala Subdit Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, selama tiga tahun terakhir, ‘incident rate’ atau tingkat kasus kejadian demam berdarah di Indonesia sendiri cenderung menurun.
Tantangan ke 10 adalah HIV. Kemajuan yang dibuat terhadap infeksi HIV sangat besar dalam hal pemeriksaan laboratorium klinik, penyediaan obat Anti Retro Viral (ARV), yaitu pada 22 juta orang yang sedang dalam pengobatan, dan menyediakan akses ke langkah-langkah pencegahan seperti profilaksis pra pajanan (PrEP), yang diberikan kepada orang yang berisiko mengalami infesi HIV, dengan menggunakan obat ARV untuk mencegah infeksi HIV. Namun demikian, epidemi HIV terus mengamuk dengan hampir satu juta orang setiap tahun meninggal karena HIV / AIDS. Sejak awal epidemi, lebih dari 70 juta orang telah terinfeksi, dan sekitar 35 juta orang telah meninggal. Saat ini, sekitar 37 juta di seluruh dunia hidup dengan HIV, terutama pada pekerja seks, orang di penjara, pria yang berhubungan seks dengan pria, atau orang transgender. Pada hal, seringkali orang tersebut adalah kelompok yang tidak terdaftar dalam sistem layanan kesehatan. Kelompok yang semakin mudah terinfeksi HIV adalah wanita muda (berusia 15-24), sehingga sangat berisiko tinggi bahkan merupakan 1 dari 4 orang yang terinfeksi HIV di Afrika sub-Sahara, walaupun hanya 10% dari populasi.
Banyak negara akan memberlakukan pemeriksaan mandiri (self-testing), sehingga lebih banyak orang yang hidup dengan HIV mengetahui status infeksi mereka dan dapat menerima pengobatan atau tindakan pencegahan, jika ada hasil tes negatif. Pada bulan Desember 2018, oleh WHO dan ILO (Organisasi Perburuhan Internasional) mendorong banyak industri atau perusahaan untuk menawarkan pemeriksaan mandiri HIV, di tempat karyawan bekerja.
Rencana untuk mengatasi 10 masalah kesehatan global
tersebut, telah disusun dan berfokus pada target 3 miliar populasi global.
Pertama, memastikan 1 miliar orang mendapat manfaat dari cakupan kesehatan semesta
atau Universal Health
Coverage (UHC). Kedua, menjamin 1 miliar orang terlindungi dari keadaan darurat
kesehatan, dan ketiga menjangkau 1 miliar orang agar dapat menikmati kesehatan
dan kesejahteraan yang lebih baik.
Apakah kita sudah berperan serta?
Yogyakarta, 28 Januari 2019
*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161
Dunia kesehatan menghadapi banyak tantangan pada tahun 2019. Untuk mengatasi tantangan ini, telah disusun rencana strategis 5 tahun ke depan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Rencana ini berfokus pada target 3 miliar populasi global, yaitu memastikan 1 miliar orang mendapat manfaat dari cakupan kesehatan semesta atau Universal Health Coverage (UHC), 1 miliar orang terlindungi dari keadaan darurat kesehatan, dan 1 miliar orang menikmati kesehatan dan kesejahteraan yang lebih baik.
Berikut adalah ini 10 masalah kesehatan utama pada 2019. Pertama, polusi udara dan perubahan iklim, kedua, meningkatnya penyakit tidak menular, terutama kegemukan atau obesitas, ketiga, ancaman pandemi influenza global, keempat, system layanan kesehatan yang masih rapuh, dan kelima, resistensi obat antimikroba. Selanjutnya, keenam adalah virus Ebola dan patogen ganas lainnya, ketujuh, lemahnya layanan kesehatan primer, kedelapan, keraguan akan vaksin, kesembilan, Demam Berdarah Dengue (DBD), dan kesepuluh HIV.
Masalah pertama adalah polusi udara dan perubahan iklim, sebab sekitar sembilan dari sepuluh orang menghirup udara yang tercemar setiap hari. Polutan mikroskopis di udara dapat menembus sistem pernafasan dan peredaran darah, merusak paru-paru, jantung, dan otak, menyebabkan kematian dini 7 juta orang setiap tahun dari penyakit seperti kanker, stroke, jantung, dan penyakit paru-paru. Sekitar 90% dari kematian ini terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah, dengan volume emisi yang tinggi dari industri, transportasi, pertanian, serta kompor dan bahan bakar kotor di rumah.
Penyebab utama pencemaran udara adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti minyak bumi (BBM), juga merupakan kontributor utama perubahan iklim, yang berdampak pada kesehatan manusia dengan berbagai cara. Antara tahun 2030 dan 2050, perubahan iklim diperkirakan akan menyebabkan 250.000 kematian tambahan per tahun, melalui jalur kekurangan gizi, malaria, diare, dan stres akibat panas. Indonesia saat ini dalam kondisi darurat energi karena terus menurunnya produksi minyak mentah dan terus naiknya kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) masyarakat. Akibatnya kebutuhan impor BBM terus meningkat. Besarnya devisa untuk impor BBM terus bertambah sejalan dengan jatuhnya nilai rupiah. Presiden Joko Widodo mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 66 Tahun 2018 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (BBN) Jenis Biodiesel dalam Kerangka Pembiayaan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Penggunaan B20 atau ‘biofuel’ untuk bahan bakar mesin diesel kendaraan besar dan kapal laut di Indonesia, diharapkan dapat mengurangi dampak pencemaran udara dan perubahan iklim.
Pada Oktober
2018, WHO mengadakan ‘Global
Conference on Air Pollution and Health’ yang
pertama di Jenewa. Negara anggota dan organisasi membuat lebih dari
70 komitmen untuk meningkatkan kualitas udara. Tahun ini, KTT Iklim
PBB pada bulan September 2019 akan merumuskan aksi perbaikan iklim di
seluruh dunia. Bahkan jika semua komitmen yang dibuat oleh semua
negara dalam Perjanjian Paris tercapai, dunia masih berada pada jalur
untuk pemanasan global lebih dari 3 °C pada abad ini.
Tantangan ke 2 adalah semakin banyaknya penyakit tidak menular, terutama kegemukan atau obesitas. Penyakit tidak menular lainnya, seperti diabetes, kanker dan penyakit jantung, secara kolektif bertanggung jawab atas lebih dari 70% atas semua kematian di seluruh dunia, atau mengenai sekitar 41 juta orang setahun. Ini termasuk 15 juta orang yang meninggal dini, yaitu saat usia antara 30 sampai 69 tahun.
Lebih dari 85% kematian dini ini terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Munculnya penyakit tidak menular ini didorong oleh lima faktor risiko utama, yaitu merokok, aktivitas fisik rendah, pengguna alkohol, diet yang tidak sehat, dan polusi udara. Faktor risiko tersebut juga memperburuk masalah kesehatan mental pada usia dini, karena setengah dari semua penyakit mental dimulai pada remaja usia 14. Namun demikian, sebagian besar kasus tidak terdeteksi dan tidak diobati, sehingga bunuh diri terkait penyakit mental, bahkan menjadi penyebab kematian nomor dua pada remaja usia 15-19 tahun.
Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2018, tingkat obesitas pada orang dewasa di Indonesia meningkat menjadi 21,8 persen. Prevalensi ini meningkat dari hasil Riskesdas 2013 yang menyebut bahwa angka obesitas di Indonesia hanya mencapai 14,8 persen. Obesitas sendiri mengacu pada kondisi di mana Indeks Massa Tubuh diatas 27. Begitu juga dengan prevalensi berat badan berlebih dengan Indeks Massa Tubuh antara 25 hingga 27, juga meningkat dari 11,5 persen di 2013 ke 13,6 persen di 2018. Angka obesitas pada dewasa diatas 18 tahun menurut hasil Riskesdas 2018 paling tinggi di Sulawesi Utara, yakni sebanyak 30,2 persen. Di posisi tertinggi selanjutnya berada di DKI Jakarta, Kalimantan Timur, dan Papua Barat.
Kita semua harus mendukung pemerintah dalam memenuhi target global mengurangi kurangnya aktivitas fisik sebesar 15% pada tahun 2030. Salah satu caranya adalah melalui tindakan seperti menerapkan kebijakan AKTIF, untuk membuat lebih banyak orang menjadi bergerak aktif, paling tidak berjalan kakai, setiap hari.
Tantangan ke 3 adalah pandemi influenza global. Satu-satunya hal yang tidak kita ketahui adalah kapan pandemi tersebut akan terjadi dan seberapa parah. Pertahanan global ternyata hanya seefektif tautan terlemah dalam sistem kesiapsiagaan darurat kesehatan di negara mana pun. Oleh sebab itu, kita harus terus-menerus memantau peredaran virus influenza untuk mendeteksi potensi pandemi, yang didukung oleh 153 institusi dari 114 negara, yang telah terlibat dalam pengawasan dan respons global. Direkomendasikan untuk vaksinasi flu dalam melindungi setiap orang dari serangan flu musiman. Untuk menghadang strain virus flu baru yang berpotensi pandemi, telah dibentuk kemitraan unik dalam memastikan akses yang efektif dan adil untuk diagnostik, vaksin, dan antivirus (perawatan), terutama di negara berkembang.
Tantangan ke 4 adalah pengaturan layanan kesehatan yang rapuh dan rentan, khususnya dalam keadaan darurat. Lebih dari 1,6 miliar orang, yaitu sekitar 22% dari populasi global, tinggal di wilayah yang mengalami krisis kesehatan berlarut-larut. Hal tersebut disebabkan oleh kekeringan, kelaparan, konflik bersenjata, dan perpindahan penduduk, yang disertai sistem kesehatan yang lemah akan membuat mereka tidak memiliki akses ke layanan kesehatan yang dasar sekalipun.
Pengaturan layanan kesehatan yang rapuh terjadi di hampir semua wilayah di dunia dan di wilayah tersebut, setengah dari target utama dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, terutama pada layanan kesehatan ibu dan anak, tetap tidak terpenuhi. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Indonesia 2015-2019 telah ditetapkan 4 target utama kesehatan yang harus dicapai pada 2019. Keempat target tersebut, yakni meningkatkan status kesehatan dan gizi masyarakat, meningkatkan pengendalian penyakit menular dan tidak menular, meningkatkan pemerataan dan mutu pelayanan kesehatan, dan meningkatkan perlindungan finansial, ketersediaan, penyebaran, mutu obat serta sumber daya kesehatan. Sistem kesehatan nasional Indonesia sucah cukup siap dalam mendeteksi dan menanggapi wabah penyakit, serta mampu memberikan layanan kesehatan yang berkualitas, termasuk layanan imunisasi untuk bayi dan anak.
Hari Orang Sakit Sedunia (World Day of the Sick) ditetapkan oleh Sri Paus Yohanes Paulus II dan mulai dirayakan pada 11 Februari 1993. Tema Hari Orang Sakit Sedunia tahun 2019 adalah ‘Kamu menerima dengan cuma-cuma, berikan dengan cuma-cuma.’ (Matius 10:8).
Apa yang harus dilakukan?
Merefleksikan tema peringatan yang diambil dari Injil St. Matius tersebut, Paus Fransiskus mengatakan melayani orang sakit memerlukan profesionalisme yang diberikan secara cuma-cuma, seperti belaian yang membuat orang sakit merasa dicintai. Selain itu, ketiga subtema yang terus-menerus didengungkan pada Hari Orang Sakit Sedunia adalah pertama, mengingatkan semua orang beriman, untuk berdoa secara khusuk bagi mereka yang sedang sakit. Kedua, mengundang semua orang beriman untuk merefleksikan sakit dan penderitaan manusia, dan ketiga, penghargaan bagi semua petugas kesehatan.
Melayani saudara kita yang sedang sakit, seharusnya diawali dengan kemurnian hati sampai kita mampu bersikap seperti Ayub “Saya mata untuk orang buta, dan kaki bagi orang lumpuh” (Ayub 29:15), kepada sesama yang sakit. Pelayanan kita tidaklah harus dilakukan dengan menjadi petugas kesehatan bagi para pasien. Sebenarnya kita dapat sekedar dekat dengan orang sakit, terutama yang membutuhkan perawatan lama, membantu dalam memandikan, berpakaian, mencucikan dan menyuapkan makanan. Layanan sederhana seperti ini, terutama bila dilakukan berkepanjangan, pastilah dapat menjadi sangat melelahkan dan memberatkan.
Meskipun tidak ada yang menginginkannya, namun setiap manusia akan mungkin mengalami sakit, penderitaan dan bahkan dapat berlanjut dengan kematian. Sakit yang ringan sekalipun, sebaiknya digunakan sebagai sebuah momentum penting untuk mensyukuri sehat. Kita diingatkan untuk bersandar pada Tuhan, menyadari pentingnya iman bagi mereka yang sakit dan berbeban berat, untuk datang pada Tuhan. Dalam pertemuannya dengan Tuhan melalui caranya masing-masing, mereka yang sakit akan menyadari bahwa dirinya tidak sendirian.
Bagi kita semua yang sehat, memberikan pendampingan, penghiburan dan perhatian untuk mereka yang sakit, sangatlah berarti. Selain itu, kita disadarkan akan pergerakan roda kehidupan. Pada saat sehat, kita seharusnya meluangkan waktu, tenaga, pikiran dan dana untuk membantu mereka yang sakit. Pada saat yang lain, sangat mungkin kita sendiri justru menjadi orang yang sakit dan memerlukan hal yang sama dari semua orang di sekitar kita, sebagaimana pergerakan dan putaran roda kehidupan.
Pada era JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) yang sekarang berlaku di Indonesia, kendali mutu dan kendali biaya untuk pasien yang sakit akan terus diwujudkan. Hal ini karena kebebasan profesi dokter semakin direduksi, kompleksitas masalah medis pasien semakin diabaikan, dan mutu layanan medik yang dilakukan semakin disetarakan. Untuk itu, terhadap pasien dengan sakit berat dan berbiaya mahal, para dokter pasti akan sampai pada sebuah titik terjadinya dilema medis. Pada titik itulah diperlukan perubahan dari pengobatan menjadi perawatan (Advance Cures and Transform Care).
Para dokter wajib membedakan sifat tindakan medis yang akan diambilnya, menjadi ‘Ordinary’ atau ‘Extraordinary’. Disebut ordinary kalau memenuhi 6 syarat, yaitu 3 aspek medis dan 3 aspek moral. Syarat aspek medis adalah teruji secara imiah, terbukti berhasil secara statistik, dan tersedia secara rasional. Sedangkan aspek moral adalah menguntungkan, bermanfaat, dan tidak menjadi beban finansial bagi pasien, keluarga maupun RS.
Penilaian sifat tindakan medis tersebut adalah ‘hic et nunc’, yaitu sekarang dan di RS ini. Apabila salah satu saja dari 6 syarat tersebut tidak tepenuhi, maka tindakan medis tersebut termasuk ‘Extraordinary’, sehingga secara etika tidak wajib dilakukan oleh dokter. Ketentuan etika tersebut diperlukan untuk menghindari 3 hal, yaitu ‘agresive medicine’ (tindakan berlebihan), ‘futile medicine’ (intervensi sia-sia), dan rasa bersalah yang tidak perlu, baik bagi dokter, para petugas RS lainnya, pasien maupun keluarganya. Selain itu, perburukan kondisi medis, bahkan kematian pasien tidak boleh dianggap sebagai kegagalan dokter, asalkan kewajiban dokter sudah dilaksanakan.
Momentum Hari Orang Sakit Sedunia (World Day of the Sick) Senin, 11 Februari 2019, mengingatkan kita agar memiliki kebijaksanaan hati bagi para orang sakit dan memberikannya dengan cuma-cuma (Matius 10:8), terutama saat terjadi perubahan layanan dari pengobatan (cure) menjadi perawatan (care). Selain itu, saat kita menderita sakit juga tidak perlu putus asa, karena adanya limpahan kemuliaan dan kasih Tuhan, sampai pada akhir kehidupan kita.
Sudahkah kita menemani orang sakit di sekitar kita?
Sekian
Yogyakarta, 23 Januari 2019
*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161,
Laporan tuberkulosis (TB) global telah diterbitkan setiap tahun sejak 1997. Edisi 2018 berisi laporan komprehensif dan terkini tentang epidemi TB, kemajuan dalam pencegahan, diagnosis dan pengobatan penyakit TB, untuk mengakhiri TB. Apa yang harus dilakukan?
Pada 26 September 2018, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengadakan pertemuan tingkat tinggi pertama tentang TB, di markas besarnya di New York, USA dengan tema : Bersatu untuk Mengakhiri TB: Respons Global yang Mendesak terhadap Epidemi Global. Pertemuan tersebut bertujuan menyoroti perlunya tindakan segera untuk mempercepat kemajuan, guna mengakhiri epidemi TB pada tahun 2030.
TB adalah salah satu dari 10 penyebab utama kematian dan penyebab utama dari satu agen infeksius. Pada tahun 2017, TB menyebabkan sekitar 1,3 juta kematian pada orang HIV-negatif dan 300.000 kematian pada orang HIV-positif. Secara global, diperkiraan 10 juta orang sakit TB pada tahun 2017, terdiri dari 5,8 juta pria, 3,2 juta wanita dan 1 juta anak. Secara keseluruhan 90% adalah orang dewasa (berusia ≥15 tahun), 9% adalah orang dewasa yang hidup dengan HIV (72% di Afrika), dan 1 % anak. Selain itu, dua pertiga berada di delapan negara, yaitu India (27%), Cina (9%), Indonesia (8%), Filipina (6%), Pakistan (5%), Nigeria (4%), Bangladesh (4%) dan Afrika Selatan (3%).
Layanan pencegahan TB dilakukan untuk mencegah infeksi baru oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan perkembangannya menjadi penyakit TB. Layanan ini dilakukan dengan intervensi perawatan kesehatan dalam 2 bentuk utama, yaitu pengobatan infeksi TB laten atau inaktif dan vaksinasi bayi dengan vaksin bacille Calmette-Guérin (BCG). Pengobatan profilaksis atau pencegahan TB untuk infeksi TB laten sudah meluas, tetapi sebagian besar dari mereka yang sangat dianjurkan sebenarnya belum mampu mengakses pengobatan ini, sedangkan cakupan vaksinasi BCG sudah stabil tinggi. WHO merekomendasikan pengobatan untuk infeksi TB laten pada dua kelompok prioritas, yaitu semua orang yang hidup dengan HIV, dan anak balita yang merupakan kontak rumah tangga dari seseorang, yang secara bakteriologis terkonfirmasi TB paru.
Jumlah orang yang hidup dengan HIV dan telah memulai pengobatan profilaksis atau pencegahan TB mencapai 958.559 pada tahun 2017. Dari 15 negara dengan beban TB / HIV tinggi yang melaporkan data, cakupannya berkisar dari 1% di Eswatini hingga 53% di Afrika Selatan. Kerajaan Swaziland atau Kerajaan Eswatini adalah sebuah negara kecil di bagian selatan benua Afrika yang terletak di antara Afrika Selatan dan Mozambik. Jumlah anak balita yang telah menerima pengobatan profilaksis atau pencegahan TB mencapai 292.182 pada 2017. Meskipun jumlah tersebut tiga kali lipat dari tahun 2015, tetapi masih hanya sekitar 23% dari 1,3 juta anak balita global yang diperkirakan memerlukannya.
Di negara dengan insiden TB yang tinggi, pedoman WHO tahun 2018 mencakup rekomendasi baru agar mempertimbangkan pemeriksaan dan pengobatan profilaksis untuk anak yang berusia 5 tahun atau lebih, yang memiliki kontak di rumah tangga dengan orang dewasa TB paru, yang telah dikonfirmasi secara bakteriologis. Rekomendasi ini akan meningkatkan potensi jumlah orang yang memenuhi syarat untuk mendapatkan pengobatan pencegahan. Selain itu, vaksinasi BCG harus diberikan sebagai bagian dari program imunisasi anak nasional sesuai dengan epidemiologi TB suatu negara. Pada 2017, terdapat 158 negara telah melaporkan memberikan vaksinasi BCG, 120 negara diantaranya melaporkan cakupan tinggi, setidaknya 90%.
Pendanaan untuk penyediaan layanan pencegahan, diagnostik dan pengobatan TB meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2006, tetapi masih terus gagal memenuhi apa yang dibutuhkan. Di 119 negara berpenghasilan rendah dan menengah yang menyumbang 97% dari kasus TB global, dana mencapai US $ 6,9 miliar pada tahun 2018. Jumlah yang tersedia setiap tahun berada di kisaran US $ 6-7 miliar sejak 2014, setelah meningkat dari US $ 3,3 miliar pada tahun 2006. Rencana Global Stop TB Partnership untuk Mengakhiri TB 2016–2020, memperkirakan bahwa US $ 10,4 miliar diperlukan di negara-negara tersebut pada tahun 2018, menyebabkan defisit US $ 3,5 miliar. Laporan tahunan oleh ‘Treatment Action Group’ yang diterbitkan sejak 2006 menunjukkan bahwa pendanaan untuk penelitian dan pengembangan TB telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, memuncak pada US $ 724 juta pada 2016. Namun, jumlah ini hanya 36% dari perkiraan kebutuhan US $ 2 miliar per tahun.
Tonggak Sejarah Strategi Akhiri TB untuk tahun 2020 dan 2025 hanya dapat dicapai jika layanan diagnosis, pengobatan dan pencegahan TB, disediakan dalam konteks kemajuan menuju cakupan kesehatan universal (UHC), dan jika ada tindakan multisektoral untuk mengatasi faktor sosial dan ekonomi, yang berpengaruh pada epidemi TB. Kejadian TB harus turun 10% per tahun sampai pada tahun 2025, dan proporsi orang dengan TB yang meninggal karena penyakit perlu turun menjadi 6,5% pada tahun 2025. Tingkat tersebut hanya dapat tercapai melalui UHC, dikombinasikan dengan koreksi faktor sosial dan ekonomi yang mengurangi faktor risiko penyakit TB. UHC berarti bahwa setiap orang dapat menerima layanan kesehatan yang mereka butuhkan, termasuk dalam pengobatan TB, tanpa menyebabkan kesulitan keuangan. Target SDG 3.8 adalah mencapai UHC pada tahun 2030.
Target SDG dan Target Strategi Akhiri TB yang ditetapkan untuk tahun 2030 tidak dapat dipenuhi, tanpa adanya penelitian dan pengembangan yang intensif. Terobosan teknologi diperlukan pada tahun 2025, sehingga penurunan tahunan tingkat kejadian TB global dapat dipercepat hingga rata-rata 17% per tahun. Prioritas penelitian termasuk vaksin untuk menurunkan risiko infeksi, obat TB baru untuk mengurangi risiko penyakit TB pada 1,7 miliar orang yang sudah terinfeksi secara laten, diagnosa cepat untuk memulai pengibatan TB, dan rejimen obat yang lebih pendek dan lebih sederhana, untuk mengobati penyakit TB. Penelitian sudah mengalami kemajuan, tetapi terlalu lambat. Beberapa teknologi diagnostik baru telah muncul pada 2017, termasuk 20 kandidat obat TB, beberapa rejimen pengobatan, dan 12 kandidat vaksin dalam uji klinis.
Strategi Akhiri TB tahun 2030 memiliki target pengurangan 90% kematian TB dan pengurangan 80% insiden TB (kasus baru per 100.000 penduduk per tahun), dibandingkan dengan tingkat pada tahun 2015. Strategi pencegahan saat ini dilakukan dengan pengobatan profilaksis untuk infeksi TB laten dan vaksinasi BCG. Namun demikian, keduanya sudah dilakukan dan belum menunjukkan hasil memuaskan, sehingga tentu saja memerlukan strategi berbeda yang cerdas.
Apakah kita sudah melakukannya?
Sekian
Yogyakarta, 21 Januari 2019
*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161
Laporan tuberkulosis TB global edisi 2018 telah dirilis. Laporan TB global telah diterbitkan setiap tahun sejak 1997. Tujuan utama dari laporan ini adalah untuk memberikan penilaian komprehensif dan terkini tentang epidemi TB, dan tentang kemajuan dalam pencegahan, diagnosis dan pengobatan penyakit TB. Apa yang perlu dicermati?
TB adalah salah satu dari 10 penyebab utama kematian dan penyebab utama dari satu agen infeksius, melebihi HIV / AIDS. Jutaan orang terus jatuh sakit TB setiap tahun. Pada tahun 2017, TB menyebabkan sekitar 1,3 juta kematian pada orang HIV-negatif dan ada tambahan 300.000 kematian akibat TB pada orang HIV-positif. Secara global, perkiraan terbaik adalah bahwa 10 juta orang sakit TB pada tahun 2017, terdiri dari 5,8 juta pria, 3,2 juta wanita dan 1 juta anak-anak. Ada kasus di semua negara dan kelompok umur, tetapi secara keseluruhan 90% adalah orang dewasa (berusia ≥15 tahun), 9% adalah orang dewasa yang hidup dengan HIV (72% di Afrika). Selain itu, dua pertiga berada di delapan negara, yaitu India (27%), Cina (9%), Indonesia (8%), Filipina (6%), Pakistan (5%), Nigeria (4%), Bangladesh (4%) dan Afrika Selatan (3%). Ditambah 22 negara lain memiliki beban TB tinggi, yaitu menyumbang 87% dari kasus TB di dunia. Hanya 6% dari kasus TB global terjadi di Eropa (3%) dan di Amerika (3%). Pada 2017, ada kurang dari 10 kasus baru per 100.000 penduduk di sebagian besar negara berpenghasilan tinggi, 150-400 di sebagian besar dari 30 negara dengan beban TB tinggi, dan di atas 500 di beberapa negara termasuk Mozambik, Filipina, dan Afrika Selatan.
TB yang resistan terhadap obat (TB MDR) terus menjadi krisis kesehatan masyarakat. Diperkirakan di seluruh dunia pada tahun 2017, terdapat 558.000 orang yang menderita TB yang telah resistan terhadap rifampisin (RR-TB), obat lini pertama yang paling efektif, dan dari jumlah tersebut, 82% berkembang menjadi MDR-TB. Tiga negara menyumbang hampir setengah dari kasus MDR / RR-TB dunia: India (24%), Cina (13%) dan Rusia (10%). Secara global, 3,5% dari kasus TB baru dan 18% dari kasus yang diobati sebelumnya memiliki MDR / RR-TB. Proporsi tertinggi (> 50% dalam kasus yang ditangani sebelumnya) ada di negara-negara bekas Uni Soviet. Di antara kasus TB-MDR pada tahun 2017, 8,5% diperkirakan memiliki TB yang resistan terhadap obat secara luas (XDR-TB).
Sekitar 1,7 miliar orang, 23% dari populasi dunia, diperkirakan memiliki infeksi TB laten, dan karenanya berisiko terkena penyakit TB aktif selama masa hidup mereka. Kemajuan dalam mengurangi kasus dan kematian TB, termasuk Beban penyakit yang disebabkan oleh TB memang telah turun secara global dan di sebagian besar negara, tetapi tidak cukup cepat untuk mencapai tonggak pertama (2020) dari Strategi Akhiri TB. Pada tahun 2020, tingkat kejadian TB (kasus baru per 100.000 penduduk per tahun) perlu turun pada 4-5% per tahun, dan proporsi orang dengan TB yang meninggal akibat penyakit ini rasio fatalitas kasus atau case fatality ratio (CFR) perlu turun ke 10%.
Pada tahun 2017, proporsi orang dengan TB yang meninggal karena penyakit ini adalah 16%, turun dari 23% pada tahun 2000. Di seluruh dunia, tingkat kejadian TB turun sekitar 2% per tahun. Penurunan regional tercepat dari 2013 hingga 2017 terjadi di Eropa (5% per tahun) dan Afrika (4% per tahun). Dalam 5 tahun yang sama, pengurangan sangat mengesankan (4-8% per tahun) terjadi di Afrika bagian selatan, yaitu Eswatini, Lesotho, Namibia, Afrika Selatan, Zambia, dan Zimbabwe), setelah terjadi puncak epidemi HIV dengan perluasan pencegahan dan pengobatan kombinasi TB dan HIV. Demikian juga di Rusia turun 5% per tahun, mengikuti upaya intensif untuk mengurangi beban TB dan pengawasan kemajuan dari tingkat politik tertinggi.
Diagnosis yang tepat dan pengobatan telah mencegah jutaan kematian setiap tahun. Diperkirakan 54 juta kematian setiap tahun selama periode tahun 2000-2017, tetapi masih ada kesenjangan yang besar dan menetap dalam deteksi dan pengobatan TB. Di seluruh dunia pada tahun 2017 terlaporkan sekitar 6,4 juta kasus TB baru, terutama karena meningkatnya pelaporan kasus yang terdeteksi oleh sektor swasta di India dan Indonesia. Sekitar 6,4 juta kasus yang dilaporkan mewakili 64% dari perkiraan 10 juta kasus baru yang terjadi pada 2017. Sepuluh negara menyumbang 80% dari 3,6 juta kesenjangan global, tiga teratas adalah India (26%), Indonesia (11%) dan Nigeria (9%).
Di Indonesia pada 2017 sebuah survei nasional menemukan bahwa, walaupun sekitar 80% kasus baru terdeteksi, 41% dari kasus ini tidak dilaporkan. Tindakan untuk memperbaiki laporan yang kurang sedang dilakukan. Ada 464.663 kasus TB yang dilaporkan di antara orang yang hidup dengan HIV pada tahun 2017, di antaranya 84% memakai terapi antiretroviral. Sebagian besar kesenjangan dalam deteksi dan pengobatan terjadi di Afrika, di mana beban TB terkait HIV adalah yang tertinggi.
Untuk mendukung semua negara menutup celah dalam deteksi dan pengobatan TB, pada 2018 WHO, bekerja sama dengan Stop TB Partnership dan Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria, meluncurkan sebuah inisiatif. Inisiatif ini mencakup target untuk mendeteksi dan mengobati 40 juta orang dengan TB pada periode 2018-2022. Data hasil pengobatan terbaru untuk kasus baru menunjukkan tingkat keberhasilan pengobatan global 82% pada 2016. Ini adalah sebuah penurunan dari 86% pada 2013 dan 83% pada 2015. Cina dan India sendiri menyumbang 40% dari kesenjangan global dan delapan negara lain menyumbang 75%. Keberhasilan pengobatan tetap rendah, yaitu 55% secara global. Contoh negara-negara dengan beban tinggi di mana tingkat keberhasilan pengobatan yang lebih baik telah dicapai oleh Bangladesh, Ethiopia, Kazakhstan, Myanmar dan Vietnam, yang semuanya memiliki tingkat di atas 70%.
Tantangan
dalam menutup kesenjangan dalam deteksi dan pengobatan TB memerlukan
parasat diagnostik baru. Selain itu, juga mengurangi ‘underdiagnosis’
TB, layanan terapi yang lebih mudah, cakupan pemeriksaan sensitivitas
obat yang meningkat, obat baru dan rejimen pengobatan dengan
kemanjuran yang lebih tinggi, dan keamanan yang lebih baik.
Sudahkah
kita mampu?
Sekian
Yogyakarta, 16 Januari 2019
*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161