Moewardi adalah seorang dokter yang turut memberikan sambutan setelah Soewirjo, wakil wali kota Jakarta saat itu, pada momentum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Dr. Moewardi membacakan sebuah teks, yang kini kita kenal dengan nama ‘Undang-Undang Dasar 1945’, sebelum Bung Karno, Sang Proklamator membacakan naskah Proklamasi. Apa yang sebaiknya dilakukan oleh dokter dalam mengisi kemerdekaan? .
Dr. Moewardi lahir di Pati, Jawa Tengah di tahun 1907 dan lulusan School Tot Opleiding Voor Indische Artsen (STOVIA), cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta. Dia kemudian melanjutkan pendidikannya dengan mengambil semacam spesialisasi di sekolah Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT). Selain menjadi dokter, Moewardi juga aktif berorganisasi pada Barisan Pelopor, bahkan pernah menjadi Pemimpin Umum Pandu Kebangsaan (Kepanduan Bangsa Indonesia), cikal bakal PRAMUKA yang berperan dalam pendidikan karakter pemuda.
Saat Bung Karno menjadi Presiden dan hendak menyusun Kabinet, Moewardi mendapat tawaran langsung dari Bung Karno untuk menjabat sebagai Menteri Pertahanan, namun dia menolak karena hendak meneruskan kariernya sebagai dokter. Dr. Moewardi tetap menjalankan tugasnya sebagai dokter, walaupun tetap aktif di berbagai organisasi kenegaraan. Saat Sekolah Tinggi Kedokteran kelanjutan dari STOVIA di Jakarta dipindah Solo, Jawa Tengah pada 4 Maret 1946 Dr. Moewardi berperan dalam pendirian Sekolah Tinggi Kedokteran di RS Jebres (sekarang RSUP Dr. Moewardi) Solo untuk bagian klinis, dan pada 5 Maret 1946 di RS Tegalyoso (sekarang RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro) di Klaten untuk bagian pre-klinis.
.
Dokter Indonesia dalam mengisi kemerdekaan saat pandemi COVID-19 sekarang ini, seharusnya tidak hanya melakukan pengobatan (agent of treatment), tetapi juga menjadi agen perubahan (agent of change) dan agen pembangunan (agent of development). Profesi dokter jaman sekarang sangat dipengaruhi oleh program besar JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) yang diterapkan mulai 1 Januari 2014, termasuk dalam pengelolaan pasien COVID-19. Perubahan drastis dalam sistem pembiayaan pasien pada era JKN ini, diduga telah menyebabkan perubahan besar pada alur pikir dan tindakan medik oleh dokter. Selain itu, pembatasan kebebasan profesi dokter sebagai ‘agent of treatment’ dalam pengambilan keputusan medik pada pelayanan pasien, sering kali menimbulkan penolakan dalam diam bagi banyak dokter, atas sistem JKN yang dirasakan belum adil. Para dokter seharusnya mengisi kemerdekaan dan mewujudkan baktinya untuk negeri, dengan menyumbangkan pemikiran, niat baik dan kompetensinya, demi terwujudnya sistem JKN di Indonesia yang lebih baik, adil, dan manusiawi.
Sepanjang tahun 2019 yang lewat, sebagain besar dokter di Indonesia telah menghabiskan energinya untuk berbagai hal yang terkait kedokteran, tetapi bukan hal yang utama. Permasalahan dalam program JKN dan DLP (Dokter Layanan Primer), semuanya berdimensi sosial, politik, hukum, keuangan, dan bahkan kebijakan. Selain bukan ‘patognomonik’ atau khas profesi dokter, topik tersebut hanya menyebabkan terjadinya perbantahan antar dokter. Para dokter Indonesia rasanya akan menjadi lengah, kurang siap dan tergagap saat menghadapi tantangan nyata di bidangnya sendiri, yang selama ini kurang mendapat perhatian sepadan. Salah satu yang harus segera diperbaiki adalah merdeka dalam kebersamaan mengembangkan iptekdok (ilmu pengetahuan kedokteran) terkini, termasuk dalam penanganan medis dan pencegahan dengan vaksinasi untuk COVID-19. Penelitian, uji klinis dan penulisan di jurnal ilmiah internasional oleh para dokter tentang COVID-19, rasanya belum dilakukan secara optimal. Apalagi kebersamaan dalam rekayasa penciptaan vaksin COVID-19, bukan sekedar uji klinis fase ke 3 calon vaksin inactivated SARS-CoV-2 yang dikembangkan Sinovac Biotech Ltd. Beijing, China.
Dalam Bahasa Latin ‘Duco, Ducere, Duxi, Ductus’ yang merupakan asal kata dokter, berarti memimpin atau mempertimbangkan, maka wajar saja kalau dokter memiliki kewajiban memimpin warga bangsa. Selain itu, dokter juga wajib mengajak mempertimbangkan hal yang terbaik tentang keberagaman, kemajemukan dan kebhinekaan kita. Tentunya demi terwujudnya Indonesia sebagai rumah bersama segenap anak bangsa, seperti yang dirumuskan oleh segenap pendiri bangsa. Hal ini dapat dimulai oleh dokter secara merdeka, berupa ikut serta secara aktif meredam perpecahan paham dan munculnya pendapat yang sangat keras di sekitar kehidupan para dokter, baik di lingkup keluarga maupun komunitas pekerjaan. Para dokter dapat juga memanfaatkan luasnya pergaulan, mahirnya iptek dan besarnya pengaruh atau kewibawaan profesi. Selain itu, juga menggalang kebersamaan dengan segenap pihak yang memiliki keprihatinan serupa, agar potensi perpecahan dan intoleransi dapat diredam.
.
Kiprah Dr. Moewardi dalam momentum proklamasi kemerdekaan 1945 memberikan inspirasi kepada para dokter Indonesia di jaman sekarang. Hendaklah para dokter tidak sekedar menjalankan praktek medis, tetapi juga merdeka untuk terlibat dalam kehidupan berbangsa, demi keamanan dan kemajuan negara. Dirgahayu negeriku, jayalah dokter Indonesia.
.
Sekian
Yogyakarta, 11 Agustus 2020
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com
Tema Pekan Menyusui Sededunia (World Breastfeeding Week) 1 sampai 7 Agustus 2020 adalah “Mendukung menyusui untuk bumi yang lebih sehat”. Sejalan dengan tema ini Direktur Eksekutif UNICEF Henrietta H. Fore dan Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyerukan kepada semua pemerintah untuk melindungi dan mempromosikan akses ibu ke layanan konseling menyusui oleh konselor yang terampil. Apa yang penting?
Menyusui secara eksklusif memberikan awal terbaik bagi setiap bayi dalam kehidupannya. Ini memberikan manfaat dalam aspek kesehatan, nutrisi dan emosional untuk bayi dan ibu. Selain itu, menyusui juga merupakan bagian dari sistem pangan berkelanjutan. Namun demikian, meskipun menyusui adalah proses alami, ternyata hal itu tidak selalu mudah. Ibu menyusui membutuhkan dukungan dari banyak pihak, untuk memulai dan mempertahankan menyusui secara eksklusif.
Layanan konseling oleh petugas konselor yang terampil dapat memberikan dukungan menyusui, informasi, saran, dan jaminan yang ibu butuhkan, dalam memberi makan bayi secara optimal. Konseling menyusui dapat membantu ibu membangun kepercayaan diri, dengan tetap menghormati keadaan dan pilihan masing-masing ibu. Konseling dapat memberdayakan ibu dalam mengatasi tantangan dalam menyusui secara eksklusif. Selain itu, juga dapat mencegah praktik pemberian makan dan perawatan bayi yang kurang tepat, sehingga dapat mengganggu pemberian ASI eksklusif, seperti air gula, madu, makanan, dan pengganti ASI yang sebenarnya tidak perlu untuk bayi.
.
Meningkatkan akses ke layanan konseling menyusui oleh petugas konselor yang terampil untuk mendukung menyusui, terbukti dapat memperpanjang durasi menyusui secara eksklusif. Hal ini sangat manfaat untuk kesehatan bayi, pemulihan ibu, dan ekonomi keluarga. Data menunjukkan bahwa peningkatan cakupan pemberian ASI eksklusif dapat menyelamatkan nyawa 820.000 bayi setiap tahun, menghasilkan pendapatan tambahan US $ 302 miliar secara global.
.
Konselor menyusui yang terampil dapat disediakan oleh berbagai failitas persalinan dan kesehatan. Bahkan dapat juga melalui kunjungan rumah (homecare) atau program komunitas, baik secara langsung atau jarak jauh. Selama pandemi COVID-19, perlu digunakan solusi inovatif untuk memastikan bahwa akses ke layanan penting ini tidak terganggu dan bahwa keluarga terus menerima konseling menyusui yang mereka butuhkan. Inilah sebabnya mengapa UNICEF dan WHO menyerukan kepada semua pemerintah untuk:
.
Pertama, berinvestasi dalam menyediakan layanan konseling menyusui oleh konselor yang terampil. Memastikan ketersediaan layanan konseling menyusui yang terampil untuk setiap ibu, memang akan membutuhkan peningkatan pembiayaan, baik untuk program menyusui dan peningkatan pemantauan, maupun implementasi kebijakan, program, dan layanannya.
.
Kedua, melatih petugas kesehatan, yaitu dokter, bidan dan perawat, untuk memberikan konseling menyusui yang terampil kepada ibu dan keluarga. Pastikan bahwa konseling tersedia sebagai bagian dari layanan kesehatan dan konsultasi gizi secara rutin yang mudah diakses oleh ibu.
.
Ketiga, berkolaborasi dengan masyarakat sipil dan organisasi petugas profesional kesehatan, dalam membangun sistem kolaboratif yang kuat untuk penyediaan layanan konseling yang tepat. Dan keempat, melindungi para petugas kesehatan dari pengaruh promosi industri makanan bayi.
.
Melalui komitmen, aksi bersama dan kolaborasi, kita semua wajib memastikan bahwa setiap ibu memiliki akses ke layanan konseling menyusui, yang akan memberdayakannya untuk memberikan ASI sebagai awal terbaik dalam hidup bayi. Beberapa faktor pendukung keberhasilan menyusui secara eksklusif adalah dukungan tenaga kesehatan, termasuk konselor menyusui, keluarga, atasan di tempat ibu bekerja, dan teman kerja. Selain itu, juga pengetahuan ibu yang baik tentang ASI, motivasi diri sendiri untuk bersikap positif dan riwayat keberhasilan memberikan ASI eksklusif pada anak sebelumnya.
.
Sebaliknya, beberapa faktor penghambat keberhasilan menyusui secara eksklusif antara lain promosi susu formula dan ibu khawatir ASI tidak cukup. Peran konselor menyusui sangat besar, untuk juga menghilangkan faktor penghambat keberhasilan menyusui lainnya, seperti melihat iklan susu formula yang intens, persepsi bahwa susu formula setara dengan ASI bahkan lebih baik dari ASI, kegagalan ibu memberikan ASI eksklusif pada anak sebelumnya maupun ibu baru atau bayi sulung.
.
Momentum Pekan Menyusui Dunia (World Breastfeeding Week) tanggal 1 hingga 7 Agustus 2020, juga mengingatkan kita akan pentingnya layanan konseling menyusui, sesuai rekomendasi UNICEF dan WHO. Layanan ini akan memberikan dukungan bagi semua ibu untuk menyusui secara eksklusif, agar bumi kita lebih sehat (support breastfeeding for a healthier planet).
.
Sudahkah kita siap?
Sekian
Yogyakarta, 28 Juli 2020
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com
Ringkasan tulisan ini telah dimuat di Harian Kompas Selasa, 4 Agustus 2020, halaman 7, kolom opini
Pada hari Selasa, 8 Mei 1980, Majelis Kesehatan Dunia ke-33 secara resmi menyatakan: “Dunia dan semua rakyatnya telah bebas dari penyakit cacar (freedom from smallpox). Deklarasi tersebut menandai berakhirnya suatu penyakit infeksi yang telah merongrong manusia selama setidaknya 3.000 tahun, menewaskan 300 juta orang hanya di abad ke-20 saja. Apa yang harus dilakukan untuk membebaskan dunia dari COVID-19?
Bebas cacar terjadi berkat upaya global selama 10 tahun, yang dipelopori oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang melibatkan ribuan petugas kesehatan di seluruh dunia saat memberikan setengah miliar dosis vaksin untuk membasmi cacar. Dengan anggaran sebesar US $ 300 juta, berhasil memberantas penyakit cacar dan menyelamatkan dunia seharga lebih dari US $ 1 miliar setiap tahun sejak 1980.
Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, “Ketika dunia menghadapi pandemi COVID-19, kemenangan umat manusia atas cacar adalah pengingat akan apa yang mungkin dilakukan ketika semua negara bersatu untuk melawan ancaman masalah kesehatan bersama.” Dunia berhasil menyingkirkan cacar berkat adanya solidaritas global yang luar biasa, dan karena adanya vaksin yang aman dan efektif.
Pemberantasan cacar juga menawarkan harapan untuk menghilangkan penyakit menular lainnya, termasuk polio, yang sekarang masih menjadi endemik hanya di dua negara saja. Hingga saat ini, 187 negara telah disertifikasi bebas dari penyakit cacing Guinea dengan tujuh penyakit lainnya. Dan perjuangan melawan malaria sejauh ini menghasilkan 38 negara telah disertifikasi bebas malaria. Dalam kasus Tuberkulosis (TB), 57 negara dengan insiden TB yang rendah berada di jalur untuk mencapai sertifikasi penghapusan TB.
.
Pelajaran dari keberhasilan bebas cacar telah digunakan hari ini untuk menanggapi wabah penyakit COVID-19 yang mematikan. Misalnya, penemuan kasus aktif dari rumah ke rumah terbukti menjadi strategi yang mendukung program pemberantasan polio, dan memvaksinasi kontak akan membantu memerangi penyebaran penyakit virus Ebola. Demikian pula, pengawasan, penemuan kasus, pemeriksaan, pelacakan kontak, karantina, dan kampanye komunikasi untuk menghilangkan informasi yang salah adalah penting untuk mengendalikan COVID-19.
.
Tahap pertama yang penting adalah menciptakan dan menjamin ketersedian vaksin COVID-19 yang cukup dan menjangkau banyak orang di tempat yang sulit sebagai prioritas tinggi. Mengatasi keragu-raguan atas kehandalan vaksin, juga merupakan tantangan besar dalam menghentikan penyebaran COVID-19. Untuk itu, adanya akses ke informasi dan pendidikan kesehatan masyarakat yang akurat sangatlah penting, untuk memastikan bahwa warga masyarakat memiliki pengetahuan, bukan termakan berita bohong, dalam menjaga diri mereka sendiri dan orang lain di sekitarnya secara aman.
.
Setelah pemberantasan cacar, WHO dan UNICEF meluncurkan program imunisasi (The Expanded Programme on Immunization), sampai 85% anak di seluruh dunia telah divaksinasi dan dilindungi dari penyakit menular yang mematikan. Pada hari Senin, 29 Juni 2020 WHO menentukan kandidat vaksin COVID-19 yang dikembangkan oleh sejumlah negara. Terdapat 17 calon vaksin COVID-19 potensial yang telah memasuki uji klinis dan 132 kandidat vaksin lainnya dalam evaluasi praklinis. Kandidat vaksin COVID-19 yang sudah memasuki uji klinis misalnya ChAdOx1-S yang dikembangkan Universitas Oxford dan Astra Zeneda, Ad5-nCoV yang dikembangkan CanSino Biological Inc dan Beijing Institute of Biotechnology, LNP-encapsulated mRNA yang dikembangkan Moderna dan NIAID, inactivated SARS-CoV-2 yang dikembangkan Wuhan Institute of Biological Products, inactivated SARS-CoV-2 yang dikembangkan Beijing Institute of Biological Products, inactivated SARS-CoV-2 yang dikembangkan Sinovac Biotech Ltd. dan sudah sampai di Bandung untuk uji klinis tahap tiga setelah Prof. DR. Dr. Kusnandi Rusmil, Sp.A(K)., MM selaku Ketua Komite Etik Penelitian Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung, memberikan persetujuan pada Senin, 27 Juli 2020. Markas besar Sinovac Biotech Ltd. berlokasi di No. 39 Shangdi Xi Road, Haidian District, Beijing, China.
.
Juga rekombinan SARS-COV-2 dan partikel nano yang dikembangkan Novavax, 3 LNP-mRNAs yang dikembangkan BioNTech, Fosun Pharm dan Pfizer, inactivated SARS-CoV-2 yang dikembangkan Institut Biologi Medis, Akademi China, DNA SARS-CoV-2 yang dikembangkan Inovio Pharmaceuticals, DNA GX-19 yang dikembangkan Genexine Consortium, Adeno-based yang dikembangkan Gamaleya Research Institute, Protein Subunit yang dikembangkan oleh Clover Biopharmaceuticals Inc., Glaxosmithkline dan Dynavax. Ada lagi RBD-Dimer yang dikembangkan Anhui Zhifei Longcom Biopharmaceutical, dan Insititut Mikrobiologi China, LNP-nCoVsaRNA yang dikembangkan Imperial College London, mRNA yang dikembangkan Curevac, dan terakhir mRNA yang dikembangkan Akademi Militer Ilmu Pengetahuan China dan Walvax Biotech.
.
Momentum sertifikasi bebas cacar (freedom from smallpox) dalam sidang Majelis Kesehatan Dunia ke-33 pada tahun 1980, mengingatkan kita akan relevansinya untuk mengatasi pandemi COVID-19, yaitu adanya solidaritas semua lintas sektor secara global plus ilmu pengetahuan dalam wujud vaksin, yang akan menghasilkan solusi.
Sudahkah kita siap?
Kenangan dalam lansekap National Stadium, yaitu stadion utama untuk acara seremonial pembukaan dan penutupan Olimpiade Beijing 2008, di China. Bentuk arsitekturalnya yang sangat khas, yaitu seperti sarang burung, maka disebut Bird-nest Stadium, kami kunjungi pada hari Kamis sore, 15 Oktober 2009.
Markas besar Sinovac Biotech Ltd. berlokasi di No. 39 Shangdi Xi Road, Haidian District, Beijing, China, yang memproduksi inactivated SARS-CoV-2, sebagai kandidat vaksin COVID-19, terletak sekitar 17 km dari National Stadium tersebut.
Sekian
Yogyakarta, 28 Juli 2020
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com
Laporan WHO, UNICEF, dan Jaringan Makanan Bayi atau the International Baby Food Action Network (IBFAN) pada Rabu, 27 Mei 2020 mengungkapkan bahwa banyak negara masih gagal melindungi orang tua dari informasi yang menyesatkan, tentang susu formula sebagai pengganti ASI. Selain itu, juga rekomendasi dalam mendorong semua ibu untuk terus menyusui selama pandemi COVID-19. Apa yang perlu dicermati?
Dari 194 negara yang dianalisis dalam laporan tersebut, 136 negara memiliki beberapa bentuk tindakan hukum terkait dengan Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI (International Code of Marketing of Breast-milk Substitutes) dan resolusi selanjutnya yang diadopsi oleh Majelis Kesehatan Dunia. Saat ini terdapat 44 negara yang telah memperkuat legislasi internal tentang pemasaran susu formula selama dua tahun terakhir.
Namun demikian, pembatasan hukum di sebagian besar negara tidak sepenuhnya mencakup pemasaran yang terjadi di fasilitas kesehatan. Hanya 79 negara yang melarang promosi pengganti ASI di fasilitas kesehatan, dan hanya 51 negara yang memiliki ketentuan yang melarang distribusi pasokan gratis atau berbiaya rendah dalam sistem perawatan kesehatan. Hanya 19 negara yang melarang sponsor pertemuan asosiasi profesi ilmiah dan kesehatan oleh produsen pengganti ASI, yang meliputi susu formula bayi, susu formula lanjutan, dan susu tumbuh dewasa, yang dipasarkan untuk digunakan oleh bayi dan anak hingga usia 36 bulan.
.
WHO dan UNICEF merekomendasikan agar bayi diberikan ASI secara eksklusif dan tidak diberi makan apa pun kecuali ASI selama 6 bulan pertama, setelah itu terus disusui dengan makan makanan yang bergizi dan aman, hingga usia 2 tahun atau lebih. Bayi yang diberi ASI eksklusif 14 kali lebih kecil kemungkinannya meninggal dunia sebelum usianya yang pertama, daripada bayi yang tidak disusui. Namun demikian, pada awal 2020 hanya 41% bayi berusia 0–6 bulan yang disusui secara eksklusif. Pada hal, tingkat yang telah ditetapkan oleh WHO setidaknya 50% pada tahun 2025. Pemasaran yang tidak tepat, berlebihan dan berualng-ulang dari industri susu formula sebagai pengganti ASI, terbukti terus melemahkan upaya untuk meningkatkan tingkat menyusui secara global. Apalagi adanya krisis COVID-19 yang juga berperan dalam meningkatkan ancaman dan penghambat pemberian ASI eksklusif.
.
Sebaliknya, layanan perawatan kesehatan untuk mendukung ibu menyusui secara eksklusif, termasuk konseling dan dukungan laktasi menjadi terganggu akibat pandemi COVID-19. Langkah pencegahan infeksi COVID-19, seperti harus berjarak fisik membuat konseling di komunitas dan layanan dukungan ibu menyusui menjadi hilang, sehingga merupakan celah yang dimanfaatkan oleh industri susu formula sebagai pengganti ASI yang memanfaatkan kondisi pandemi COVID-19, dan mengurangi kepercayaan ibu dalam keberhasilan menyusui.
.
Secara tegas Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI sudah melarang semua bentuk promosi susu formula sebagai pengganti ASI, termasuk iklan, hadiah kepada petugas kesehatan dan distribusi sampel gratis. Label pembungkus juga tidak boleh mencantumkan klaim kehebatan dan menyertakan gambar yang mengidealkan susu formula bayi. Sebaliknya, label harus mencantumkan pesan tentang kelebihan ASI eksklusif dan risiko tidak menyusui (superiority of breastfeeding over formula and the risks of not breastfeeding).
.
Ketakutan penularan COVID-19 menutupi pentingnya menyusui, bahkan banyak regulasi negara yang mengatur ibu terkonfirmasi COVID-19 dan bayinya dipisahkan sejak saat lahir, sehingga membuat proses menyusui dan kontak kulit ke kulit menjadi sulit, bahkan tidak mungkin. Semua regulasi tersebut sebenarnya atas dasar yang tidak ada buktinya.
.
Virus COVID-19 aktif, sampai saat ini belum terdeteksi berada di ASI ibu dengan COVID-19 yang dikonfirmasi ataupun baru dicurigai. Karena itu, tampaknya tidak mungkin bahwa COVID-19 akan ditularkan melalui menyusui atau dengan memberikan ASI. Oleh karena itu ibu dengan COVID-19 yang dikonfirmasi atau sementara dicurigai, tetap dapat menyusui bayinya. Saat ibu akan menyusui, maka ibu mencuci tangan sesering mungkin dengan sabun dan air atau gunakan antiseptik berbasis alkohol dan terutama sebelum menyentuh bayi. Ibu mengenakan masker medis selama kontak dengan bayi, termasuk saat menyusui. Saat bersin atau batuk ditampung ke dalam tisu. Kemudian segera buang dan cuci tangan lagi. Membersihkan permukaan benda dan disinfektan secara rutin setelah menyentuhnya.
.
Laporan WHO, UNICEF, dan IBFAN pada Rabu, 27 Mei 2020 mengingatkan kita semua, agar segera mengkoreksi promosi susu formula sebagai pengganti ASI dan ketakutan akan adanya penularan COVID-19 melalui ASI, oleh karena keduanya merupakan penghambat keberhasilan pemberian ASI eksklusif, yang telah terbukti sangat bermanfaat bagi bayi.
Sudahkah kita bertindak bijak?
Katedral St. Patrick adalah gereja Katedral Katolik Roma yang merupakan pusat Keuskupan Agung, bergaya Neo-Gothic, dan sebuah landmark terkenal di kota New York, USA. Kami mengunjungi Katedral St. Patrick yang terletak di sisi timur Fifth Avenue antara jalan 50 dan 51 di Midtown Manhattan, tepat di seberang Rockefeller Center dan menghadap patung Atlas, pada hari Selasa, 20 Maret 2018 sore hari yang sangat dingin dengan suhu 3 derajad Celcius.
Katedral St. Patrick tersebut hanya berjarak 0,8 mil dan dapat kami tempuh dengan berjalan kaki selama 17 menit ke kantor pusat UNICEF, di 3 United Nations Plaza, New York, NY 10017, United States. Di situlah rekomendasi UNICEF dikeluarkan, untuk segera mengkoreksi promosi susu formula sebagai pengganti ASI, karena dapat menghambat pemberian ASI secara eksklusif.,
Sekian
Yogyakarta, 24 Juli 2020
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161
Ketika satu penyakit yang mematikan menyebar ke seluruh dunia dan menjadi pandemi seperti COVID-19, upaya vaksinasi bagi bayi dan anak harus terus dilakukan, untuk mencegah berjangkitnya penyakit lain. Apa yang perlu didukung?
Pada saat pandemi COVID-19 terus menyebar di seluruh dunia, warga didorong untuk tinggal di rumah dan menjaga jarak secara fisik. Banyak layanan masyarakat, termasuk beberapa jenis layanan kesehatan, justru ditiadakan, sehingga risiko wabah penyakit menular akan semakin bertambah. Wabah sebelumnya telah menunjukkan bukti bahwa ketika sistem kesehatan kewalahan, mortalitas akibat penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin dan penyakit lainnya, dapat juga meningkat secara dramatis. Selama wabah Ebola (EVD) tahun 2014-2015 di Afrika Barat, peningkatan jumlah kematian yang disebabkan oleh campak, malaria, HIV AIDS, dan TBC yang disebabkan oleh kegagalan sistem kesehatan negara terdampak, justru melebihi kematian karena Ebola.
Pada pertengahan tahun 2020, program vaksinasi pada sekitar 80 juta anak balita secara global telah tertunda, yang sebagian besar disebabkan oleh terbatasnya akses ke layanan kesehatan, rendahnya ketersediaan APD untuk petugas kesehatan, dan ketakutan tertular COVID-19. Namun demikian, semua negara wajib menyeimbangkan ancaman COVID-19 dengan ancaman wabah penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, dan kematian yang dapat terjadi. Berikut adalah beberapa contoh bagaimana negara bekerja untuk mencapai atau mempertahankan cakupan vaksinasi yang tinggi, di tengah-tengah pandemi COVID-19 global.
Italia, salah satu negara yang paling terpukul oleh COVID-19 dipaksa untuk mempekerjakan kembali banyak tenaga kesehatannya yang sudah pensiun, ketika kasus COVID-19 menyerang mulai akhir Februari 2020. Selain itu, Italia mempertahankan vaksinasi untuk anak sebagai bagian layanan kesehatan esensial yang tetap harus diselenggarakan, memprioritaskan vaksin dosis pertama, sambil memastikan pencegahan infeksi COVID-19 dengan protokol kesehatan yang ketat, seperti penyediaan waktu dan jarak fisik yang aman di ruang tunggu. Pihak berwenang juga mendata semua anak yang telah kehilangan dosis vaksinasi rutin dan memprioritaskan merek,a segera setelah layanan tersedia lagi.
.
Di Suriah diselenggarakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) pada bulan Juni 2020, untuk menutup kesenjangan vaksinasi pada anak. Selama kampanye PIN, petugas kesehatan memvaksinasi lebih dari 210.100 anak dan mendata status vaksinasi sekitar 900.000 anak, untuk menentukan vaksin selanjutnya yang masih mereka butuhkan. Burkina Faso juga melakukan vaksinasi massal pada bulan Juli 2020, dengan kampanye vaksinasi polio selama 4 hari. Di dua kabupaten di wilayah Centre-East, 174.304 divaksinasi melawan polio dan mempertahankan langkah pengendalian COVID-19.
.
Di 39 negara Amerika Latin dengan pembatasan sosial yang sudah mulai berkurang, layanan vaksinasi yang sempat ditangguhkan di beberapa negara, segera dilanjutkan. Layanan vaksinasi meningkat dari 57% saat puncak pandemi COVID-19 menjadi 79% pada awal Juli 2020. Kemajuan ini difasilitasi dengan menggunakan berbagai pendekatan inovatif, seperti pusat layanan vaksinasi yang bergerak, kampanye gencar vaksinasi, dan vaksinasi di sekolah yang tidak menerapkan pembelajaran jarak jauh, dan bahkan juga langsung di rumah anak (home care).
.
Pada pertengahan Januari 2020, ketika Kamboja mengkonfirmasi kasus COVID-19 pertamanya, juga mengkonfirmasi 84 kasus campak, yang sebenarya sudah jarang terjadi. Bahkan total terdapat 341 kasus campak di seluruh Kerajaan Kamboja, dalam empat bulan pertama tahun 2020. Di komunitas yang berisiko tinggi, petugas kesehatan datang dari pintu ke pintu, bahkan dari perahu ke kapal di sungai Mekong dan berbagai perairan lainnya, untuk memberikan vaksin yang menyelamatkan jiwa bagi anak yang paling rentan.
.
Maladewa dan Sri Lanka telah diverifikasi mampu menghilangkan rubella, penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, pada awal Juli 2020. Maladewa dan Sri Lanka adalah dua negara pertama di kawasan Asia Selatan dan Tenggara, yang menghilangkan rubella dan campak sebelum target tahun 2023. Di Sri Lanka, klinik kesehatan telah memperpanjang waktu layanan, mengatur jarak fisik yang aman dan membatasi jumlah anak yang dilayani per jam. Petugas kesehatan telah disarankan untuk memvaksinasi semua anak dalam keluarga yang membutuhkan vaksin dan untuk memberikan beberapa vaksinasi kombinasi untuk setiap anak.
.
Di Indonesia layanan vaksinasi harus tetap diupayakan berjalan sesuai jadwal. Pemberian vaksinasi mengikuti prinsip PPI dan menjaga jarak aman 1–2 meter, diupayakan dengan membuat janji temu dan mengatur waktu kunjungan secara bergiliran, agar tidak terjadi penumpukan di ruang tunggu. Apabila vaksinasi anak harus ditunda, maka anak harus didata menggunakan metode pelacakan (defaulter tracking) serta memastikan untuk segera memberikan vaksinasi pada kesempatan layanan selanjutnya, agar tidak ada anak yang tidak terlindungi. Selanjutnya dilakukan perencanaan kegiatan ‘catch up’ vaksinasi untuk anak yang ‘left-out’ ataupun ‘drop-out,’ yang harus dimulai sedini mungkin dengan melakukan ‘sweeping’ dan ‘Drop-Out Follow Up’ (DOFU).
.
Dengan tetap memeberikan vaksinasi rutin, kita akan mampu menekan angka kematian langsung terkait pandemi COVID-19, bahkan juga akan berhasil mengurangi peningkatan angka kematian secara tidak langsung, karena penyakit tidak menular lainnya.
.
Sudahkah kita siap?
Salah satu simbol dari kejayaan masa lalu kota Roma di Italia adalah Colosseum (70-80 AD), amphitheatre terbesar di jaman Kekaisaran Romawi . Bangunan tersebut mampu menampung 60.000 penonton, yang kami kunjungi pada hari Kamis pagi yang gerimis, 11 September 2014.
Italia adalah salah satu negara yang paling terpukul oleh pandemi COVID-19 dan memaksa untuk mempekerjakan kembali banyak tenaga kesehatannya yang sudah pensiun, ketika kasus COVID-19 menyerang mulai akhir Februari 2020, termasuk untuk memberikan vaksinasi.
Sekian
Yogyakarta, 23 Juli 2020
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com
Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden No. 24 Tahun 2016 telah menetapkan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila. Presiden ingin agar seluruh masyarakat Indonesia mengetahui asal-usul Pancasila yang menjadi ideologi dan dasar negara Indonesia, untuk kehidupan kita saat ini, maupun era normal baru paska pandemi COVID-19. Apa yang harus disadari?
.
Prof. Dr. dr. Sutaryo, SpA(K), seorang dokter spesialis anak dan guru besar UGM Yogyakarta yang biasa disapa Prof. Taryo menegasakan, bahwa Pancasila merupakan salah satu warisan dari para pendiri bangsa. Terdapat tiga hal yang digariskan dalam warisan Pancasila yang disebut sebagai Trisakti Pancasila. Tiga hal tersebut adalah berdaulat di bidang politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian di bidang budaya. Melalui Trisakti bangsa Indonesia mampu untuk hidup damai dan sejahtera.
.
Prof. Taryo adalah dokter yang menjadi motor penyelenggaraan Kongres Pancasila I di UGM Yogyakarta Tahun 2009. Dengan melakukan kajian secara ilmiah di PTN ternama, Trisakti Pancasila tentu saja akan terus semakin teranalisis, terwujud dan tidak ketinggalan jaman. Kongres Pancasila II diadakan di Universitas Udayana, Denpasar Tahun 2010, III di Universitas Airlangga Surabaya Tahun 2011, dan IV kembali di UGM, Yogyakarta. Berikutnya, Kongres Pancasila V Tahun 2013 dan VI di Universitas Pattimura, Ambon Tahun 2014, VII, VIII dan IX di UGM Yogyakarta. Bahkan Presiden Joko Widodo tampil langsung saat menjadi pembicara kunci Kongres Pancasila IX, di halaman Balairung UGM Yogyakarta yang legendaris, pada hari Sabtu, 9 Mei 2018.
.
Kita diingatkan bahwa lima butir Pancasila lahir dalam pemikiran Soekarno di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, ketika diasingkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Pada 14 Januari 1934, Bung Karno bersama sang istri, Inggit Garnasih serta ibu mertua, Ibu Amsi dan anak angkatnya, Ratna Djuami, tiba di rumah tahanan yang terletak di Kampung Ambugaga, Ende. Di Ende Soekarno jadi lebih banyak berpikir daripada sebelumnya, termasuk mempelajari lebih jauh soal agama Islam, hingga belajar soal pluralisme dengan bergaul bersama pastor-pastor Katolik di Ende. Dengan berkirim surat berulang dengan tokoh Islam di Bandung, yaitu Ahmad Hassan dan berdiskusi cukup sering dengan pastor Gerardus Huijtink, SVD, maka Pancasila yang dirumuskannya merupakan gagasan brilian untuk semua umat beriman di Indonesia.
.
Gagasan Bung Karno yang disampaikan pada Pidato 30 September 1960 di forum Sidang Umum PBB di New York USA : ‘To Build The World A New’, dimaknakan sebagai membangun dunia kembali, yaitu membangun fitrah manusia di dunia. Sebelumnya juga sudah ditegaskan dalam gagasan perjuangan kebebasan, yaitu ‘Let a New Asia and Africa be Born’dalam Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung, 18 April 1955. Keduanya menegaskan bahwa cita-cita Pancasila sebagai Dasar Negara tidak semata untuk Indonesia, melainkan untuk peradaban dunia.
.
Dalam situasi saat ini, dimana pergolakan ideologi menjadi sangat luas dan beragam, Pancasila tetaplah harus menjadi pemersatu bangsa. Sebagai contoh beragamnya banyak agama di Indonesia yang terkadang menjadi alasan pemicu konflik horizontal antar umat beragama, ekonomi yang mulai berpindah dari sistem kekeluargaan menjadi sistem kapitalisme dimana keuntungan merupakan tujuan utama, fenomena ‘proxy war’, masifnya terorisme dan radikalisme, dan masih banyak lagi masalah lain. Dalam perspektif ideologi, berbagai masalah tersebut, perlu dicari solusi pemecahannya secara mendasar, salah satunya dengan meletakkan kembali Pancasila sebagai bagian dari pembelajaran geopolitik dan geostrategi.
Untuk itu, Pancasila sebagai dasar dan ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia harus diketahui asal usulnya, dijaga kelestarian dan kelanggengan, serta senantiasa diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Setiap warga negara Indonesia, seharusnya tidak lagi mempersoalkan keberadaan kebutuhan dasar, agar sebagai bangsa kita dapat maju mengejar ketertinggalan kita dari bangsa lain yang telah berlari kencang. Dengan demikian, mempermasalahkan hal dasar justru akan menyebabkan kita hanya saling bersitegang, bertikai, dan berjalan di tempat. Oleh sebab itu, kita semua layak tampil membela dengan mengamalkan Pancasila dan sebagai dokter, kita dapat meneladan kiprah Prof. Taryo.
.
Dari pengalaman Prof. Taryo menangani pasien anak dengan Demam Berdarah Dengue (DBD), muncul ide melakukan pemeriksaan limfosit warna biru dan mengantarkannya meraih gelar doktor tahun 1991 di UGM, dengan disertasi berjudul : Limfosit Plasma Biru (Arti Diagnostik dan Sifat Imunologik pada Infeksi Dengue). Selain itu, Prof. Taryo juga merumuskan tata cara pengelolaan DBD yang sederhana, yakni dengan monitor DBD gaya Yogyakarta. Intinya adalah kombinasi pemeriksaan jasmani setiap enam jam plus laboratorium sederhana, yang ’murah tur slamet, tak perlu ICU (Intensive Care Unit).’ Karena jiwa sosialnya tinggi, Prof. Taryo sering menggratiskan biaya bagi pasien. ”Yang penting mereka sembuh lahir-batin,” sebagaimana ditulis oleh Djoko Poernomo di Harian Kompas, 27 Januari 2006.
.
Pada masa pandemi COVID-19, sesuai jiwa Pancasila untuk persatuan Indonesia dan kemanusiaan yang adil dan beradab, Prof. Taryo langsung menulis Buku Praktis Penyakit Virus Corona 19 (COVID-19), yang merupakan buku elektronik unduhan tanpa biaya atau e-Book open access, yang dapat diunduh pada link https://digitalpress.ugm.ac.id/book/255.
Dasar penulisannya adalah bahwa COVID-19 telah ditetapkan oleh WHO sebagai kejadian pandemik. Sangat diperlukan penjelasan tentang COVID-19 yang mudah diterima oleh pasien, keluarga, dan masyarakat berdasarkan kepustakaan ilmiah yang ada, untuk mengurangi kepanikan dan memberi pengetahuan cara mencegah penyakit ini. Buku buah karya Prof. Taryo ini merupakan rangkuman referensi yang tersedia hingga Sabtu, 28 Maret 2020. Penjelasan dalam buku ini diupayakan sesederhana mungkin, untuk menghindari istilah medis yang sukar dipahami oleh masyarakat, sehinga memudahkannya untuk menyongsong era normal baru paska COVID-19.
.
Dilahirkan di Desa Harjobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman, Yogyakarta, Sutaryo kecil memperoleh didikan ayah (Sastrodibroto, pegawai sosial di kantor desa) dan ibunya (dipanggil Simbok) dalam suasana keprihatinan. ”Simbok saya itu buta huruf, lho. Tetapi, mata batinnya sejuk dan pandangannya jauh ke depan.” Seluruh anak keluarga Sastrodibroto (11 orang, Sutaryo nomor tujuh) adalah lulusan UGM. ”Ayah memberi olah batin yang kuat. Simbok memberi semangat ketekunan.” Itulah modal moral Prof. Taryo dalam penyelenggaraan berbagai Kongres untuk mewujudkan Trisakti Pancasila.
.
Momentum Hari Lahir Pancasila pada hari Senin, 1 Juni 2020 dan semangat Prof. Dr. dr. Sutaryo, SpA(K), mengingatkan kita semua, termasuk para dokter, akan peran Pancasila yang mempersatukan segenap komponen bangsa Indonesia, untuk hidup saling membantu, damai dan sejahtera sampai pada era normal baru paska COVID-19.
Sudahkah Pancasila menjadi dasar aktivitas kita pada era pandemi COVID-19 ini?
Kami sekeluarga mengunjungi Bekas Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende, Flores NTT pada hari Sabtu yang cerah, 28 Juni 2010. Di samping rumah itulah ide untuk lahirnya Pancasila terbentuk dalam pemikiran Bung Karno.
Sekian
Yogyakarta, 28 Mei 2020
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161
Patung Naga di tengah kota Singkawang, Kalimantan Barat
TERAWANG SINGKAWANG
fx. wikan indrarto
Perjalanan menerawang dan membayangkan nama legendaris kota Singkawang di Kalimantan Barat, dimulai dengan penerbangan dalam perut pesawat Xpressair Boeing 737-300 XN830, pada hari Sabtu, 11 Februari 2017. Pesawat terbang tinggi dari Jogjakarta pk. 11.30 dan mendarat di Bandara Internasional Supadio di Pontianak pk. 12.50.
Mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Supadio di Pontianak
.
Kombes Pol. dr. Sugeng Krismawanto, SpOT, yang bertugas di RS Bayangkara Polda Kalbar, Pontianak menjemput kami dan menjadi tuan rumah yang luar biasa baik
Perjalanan darat dari Pontianak ke Singkawang sejauh 152 km selama sekitar 3,5 jam, dilakukan dengan mobil perkasa kabin ganda Ford Ranger 4×4 D2 atas kebaikan hati sejawat Kombes dr. Sugeng Krismawanto, SpOT, yang bertugas di RS Bayangkara Polda Kalbar, Pontianak. Selepas bandara, kami mampir sebentar di Tugu Katulistiwa atau Equator Monument yang berada di Jl. Khatulistiwa, Pontianak Utara, Kalimantan Barat. Lokasinya berada sekitar 3 km dari pusat Kota Pontianak, ke arah kota Mempawah.
.
Tugu katulistiwa pertama di Pontianak dibangun tahun 1928 berbentuk tonggak dengan anak panah.
Tugu yang menjadi salah satu ikon wisata Kota Pontianak ini, berawal pada tahun 1941 saat ditemukan laporan Bijdragen tot de geographie dari Chef Van den topographischen dienst in Nederlandsch- Indië : Den 31 sten Maart 1928. Pada awalnya tugu pertama dibangun tahun 1928 berbentuk tonggak dengan anak panah. Pada tahun 1930 disempurnakan, berbentuk tonggak dengan lingkarang dan anak panah, serta tahun 1938 dibangun kembali dengan penyempurnaan oleh opzicter / architech Ir. Silaban. Tugu asli tersebut dapat dilihat pada bagian dalam monumen sekarang. Pada tahun 1990, kembali Tugu Khatulistiwa tersebut direnovasi dengan pembuatan kubah besar untuk melindungi tugu asli, serta pembuatan duplikat tugu dengan ukuran lima kali lebih besar dari tugu yang asli. Peresmiannya dilakukan pada tanggal 21 September 1991.
.
Tugu Katulistiwa di Pontianak pada tahun 1938 dibangun kembali dengan penyempurnaan oleh opzicter / architech Ir. Silaban.
Setelah puas menikmati kegagahan Tugu Khatulistiwa dan membayangkan indahnya belahan bumi bulat karena garis imajiner tersebut, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Singkawang. Kami mampir minum teh Prenjak yang bercitarasa khas, lokal dan harum di rest area Sei Pinyuh, kemudian menyusuri jalur jalan cabang trans Kalimantan melewati Kota Mempawah, ibukota Kabupaten Mempawah. Selajutnya cabang jalan trans Kalimantan yang bagus tersebut, menyusuri garis pantai menuju ke Kota Singkawang. Kota yang juga disebut San Keuw Jong ini dikelilingi oleh pegunungan Pasi, Poteng, dan Sakok. Nama Singkawang berasal dari bahasa Hakka, San khew jong yang mengacu pada sebuah kota di bukit dekat laut.
.
Gerbang Kota Singkawang Kalimantan Barat, Bumi Bertuah Gayung Bersambut
Awalnya Singkawang merupakan sebuah desa, bagian dari wilayah kesultanan Sambas. Desa Singkawang digunakan sebagai tempat singgah para pedagang dan penambang emas dari Monterado, di tengah hutan lebat Borneo. Awal kedatangan dan alasan mengapa etnis Tionghoa bermigrasi dari daratan Tiongkok ke Kalimantan Barat dapat ditelusuri di Monterado, sebuah desa kecil di Kabupaten Bengkayang. Inilah sebuah kawasan yang pada tahun 1776 sudah sangat termasyhur dengan kekuatan kongsi pertambangan emasnya milik orang-orang Tionghoa. Sayangnya, jejak peradaban tambang kuno itu kini sudah hancur karena terus-menerus digempur pertambangan emas tradisional.
.
Para penambang dan pedagang yang kebanyakan berasal dari negeri China, sebelum mereka menuju Monterado terlebih dahulu beristirahat di Singkawang, sedangkan para penambang emas di Monterado yang sudah lama di tengah hutan, sering beristirahat di Singkawang untuk melepas kepenatannya. Kemudian Singkawang berkembang sebagai tempat transit pengangkutan hasil tambang emas (serbuk emas). Waktu itu, mereka (orang Tionghoa) menyebut Singkawang dengan kata San Keuw Jong (Bahasa Hakka), mereka berasumsi dari sisi geografis, bahwa Singkawang yang berbatasan langsung dengan laut Natuna serta terdapat pengunungan dan sungai, dimana airnya mengalir dari pegunungan melalui sungai sampai ke muara laut. Kota Singkawang merupakan salah satu pecinan (Chinatown) di Indonesia, karena mayoritas penduduknya adalah orang Hakka (dengan persentase sekitar 42%) dan selebihnya adalah orang Melayu, Dayak, Tio Ciu, Jawa dan pendatang lainnya. Kota Singkawang memiliki wilayah datar dan sebagian besar merupakan dataran rendah antara 50 meter s/d 100 meter di atas permukaan laut.
.
Klenteng Tri Dharma Bumi Raya di Singkawang, Kalimantan Barat
Obsesi perjalanan kami sebenarnya adalah keinginan besar untuk menyaksikan kegiatan Cap Go Meh yang paling terkenal se Indonesia, pada 15 hari setelah Tahun Baru Imlek. Seperti halnya bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia lainnya, perayaan Imlek untuk menyambut tahun baru China merupakan tradisi termegah yang selalu dirayakan seluruh lapisan masyarakat Singkawang setiap tahun. Bagi mereka, perayaan Imlek tidak ada bedanya dengan masyarakat Indonesia lainnya ketika merayakan Idul Fitri atau Natal.
.
Puncak acara Imlek atau Cap Go Meh ini dimaksud untuk menangkal gangguan atau kesialan pada masa mendatang. Pengusiran roh-roh jahat dan peniadaan kesialan dalam Cap Go Meh disimbolkan dalam pertunjukan Tatung di Singkawang, yang tidak ada di daerah lain. Tatung adalah media utama Cap Go Meh. Atraksi Tatung dipenuhi dengan mistik dan menegangkan, karena banyak orang kesurupan dan orang-orang inilah yang disebut Tatung. Upacara pemanggilan tatung dipimpin oleh pendeta yang sengaja mendatangkan roh orang yang sudah meninggal untuk merasuki Tatung. Roh-roh yang dipanggil diyakini sebagai roh-roh baik yang mampu menangkal roh jahat yang hendak mengganggu keharmonisan hidup masyarakat. Roh-roh yang dipanggil untuk dirasukkan ke dalam Tatung diyakini merupakan para tokoh pahlawan dalam legenda Tiongkok, seperti panglima perang, hakim, sastrawan, pangeran, pelacur yang sudah bertobat dan orang suci lainnya. Roh-roh yang dipanggil dapat merasuki siapa saja, tergantung apakah para pemeran Tatung memenuhi syarat dalam tahapan yang ditentukan pendeta. Para Tatung diwajibkan berpuasa selama tiga hari sebelum hari perayaan yang maksudnya agar mereka berada dalam keadaan suci sebelum perayaan.
.
Vihara Tri Dharma Bumi Raya di Pusat Kota Singkawang, Kalimantan Barat
Dalam atraksi Tatung yang sudah dirasuki roh orang meninggal bertingkah aneh, ada yang menginjak-injak sebilah mata pedang atau pisau, ada pula yang menancapkan kawat-kawat baja runcing ke pipi kanan hingga menembus pipi kiri. Anehnya para Tatung itu sedikit pun tidak tergores atau terluka. Beberapa Tatung yang lain dengan lahapnya memakan hewan atau ayam hidup-hidup lalu meminum darahnya yang masih segar dan mentah. Di Singkawang banyak orang Dayak yang juga turut serta menjadi Tatung, mereka terdorong berpartisipasi karena ritual Tatung mirip upacara adat Dayak.
Setelah puas menikmati semua atraksi, kami segera berswafoto di gerbang Vihara Tridharma Bumi Raya, pusat aktivitas Cap Go Meh 2017 di Singkawang, Kalbar, yang sangat banyak pengunjung. Selanjutnya kami menuju ke sebuah per4an jalan di tengah kota Singkawang, yang dilengkapi dengan icon patung naga emas yang melilit tugu di tengah jalan. Disertai banyak pengunjung lainnya, kami berswafoto di tengah kepadatan arus lalu lintas. Kunjungan kuliner Sintawang yang utama adalah Bakso Sapi Bakmi Ayam 68, yang terkenal sejak 1977 di pusat kota Singkawang, Kalbar. Luar biasa enak, meski saat makan harus berhimpitan dengan para pelahap lainnya, termasuk warga Malaysia, terkait sempitnya ruangan.
Bis Eva, bis antar negara dari Malaysia, tujuan Kuching – Pontianak PP, saat bis diparkir di rest area Sei Pinyuh,
Setelah itu, kami kembali ke kota Pontianak menyusuri cabang jalur jalan trans Kalimantan yang sebelumnya kami lewati. Saat kami kembali minum kopi kental, kami sempat berswafoto dengan bis Eva, bis antar negara dari Malaysia, tujuan Kuching – Pontianak PP, saat bis diparkir di rest area Sei Pinyuh, dekat Mempawah ibukota Kabupaten Kubu Raya, Kalbar. Sabtu, 11 Februari 2017 malam itu kami tidur nyenyak setelah obsesi menerawang Singkawang terwujud. Kamu terkapar dalam dingin malam di pusat kota Pontianak, sebelum mengikuti Simposium Nasional Ikatan Dokter Anak Indonesia (SINAS IDAI) Kalbar 2017.
Mie Bakso Khas Singkawang yang legendaris
MENYIBAK PONTIANAK
fx. wikan indrarto
Minggu, 12 Februari 2017 kami dibangunkan oleh sinar matahari pagi di kota Pontianak, ibukota provinsi Kalimantan Barat. Kota ini dikenal sebagai Kota Khatulistiwa karena dilalui garis khatulistiwa. Selain itu, Kota Pontianak dilalui oleh Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Kedua sungai itu diabadaikan dalam lambang Kota Pontianak.
Nama Pontianak yang berasal dari bahasa Melayu yang dipercaya ada kaitannya dengan kisah Sultan Syarif Abdurrahman yang sering diganggu oleh hantu Kuntilanak ketika dia menyusuri Sungai Kapuas. Menurut ceritanya, Sultan Syarif Abdurrahman terpaksa melepaskan tembakan meriam untuk mengusir hantu itu sekaligus menandakan di mana meriam itu jatuh, maka di sanalah wilayah kesultanannya didirikan. Peluru meriam itu jatuh di dekat persimpang Sungai Kapuas dan Sungai Landak, yang kini dikenal dengan nama Kampung Beting.
.
Kota Pontianak didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie pada hari Rabu, 23 Oktober 1771 (14 Rajab 1185 H) yang ditandai dengan membuka hutan di persimpangan Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas Besar untuk mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal. Pada tahun 1778 (1192 H), Syarif Abdurrahman dikukuhkan menjadi Sultan Pontianak. Letak pusat pemerintahan ditandai dengan berdirinya Masjid Jami’ (kini bernama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman) dan Istana Kadariah yang sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur. Pada tahun 1778, kolonialis Belanda dari Batavia memasuki Pontianak dengan dipimpin oleh Willem Ardinpola. Belanda saat itu menempati daerah di seberang istana kesultanan yang kini dikenal dengan daerah Tanah Seribu atau Verkendepaal.
Setelah kemerdekaan Indonesia, walikota pertama yang ditetapkan oleh Pemerintah Kerajaan Pontianak adalah Ibu Rohana Muthalib. Ia adalah seorang wanita pertama yang menjadi walikota Pontianak. Penduduk kota Pontianak didominasi etnis Melayu dan Tionghoa. Selain itu terdapat pula etnis Jawa, Madura, Bugis, Dayak, Arab, Sunda, Banjar, Batak, Minangkabau dan lain-lain.
.
Yang menarik perhatian kami, adalah layanan angkutan darat ke luar kota dan luar negeri, yang dilayani di Terminal Batulayang, yaitu bus penumpang antar negara tujuan ke Kuching, Malaysia dan ke Brunei. Bus ini disediakan oleh berbagai penyedia layanan, termasuk DAMRI. Transportasi darat ke Malaysia menjadi mungkin melalui Jalan Lintas Kalimantan. Layanan imigrasi Indonesia-Malaysia dilaksanakan di Entikong, Kabupaten Sanggau.
Taman Digulis di pusat kota Pontianak, Kalimantan Barat
Begitu pagi itu kami siap, lansung jalan ke Monumen Digulis yang diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Barat H. Soedjiman pada 10 November 1987. Pada awalnya berbentuk sebelas tonggak menyerupai bambu runcing yang berwarna kuning polos. Pada tahun 1995, monumen ini dicat ulang dengan warna merah-putih. Monumen ini didirikan sebagai peringatan atas perjuangan 11 (sebelas) tokoh Sarekat Islam di Kalimantan Barat, yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Barat karena khawatir pergerakan mereka akan memicu pemberontakan terhadap pemerintah Hindia Belanda di Kalimantan. Tiga dari sebelas tokoh tersebut meninggal pada saat pembuangan di Boven Digoel dan lima di antaranya wafat dalam Peristiwa Mandor. Nama-nama kesebelas tokoh tersebut kini diabadikan juga sebagai nama jalan di Kota Pontianak. Kesebelas pejuang itu antara lain: Achmad Marzuki, asal Pontianak, meninggal karena sakit dan dimakamkan di makam keluarga, Achmad Su’ud bin Bilal Achmad, asal Ngabang, wafat dalam Peristiwa Mandor, dan Gusti Djohan Idrus, asal Ngabang, wafat dalam pembuangan di Boven Digoel. Selain itu, juga Gusti Hamzah, asal Ketapang, wafat dalam Peristiwa Mandor, Gusti Moehammad Situt Machmud, asal gabang, wafat dalam Peristiwa Mandor, Gusti Soeloeng Lelanang, asal Ngabang, wafat dalam Peristiwa Mandor, Jeranding Sari Sawang Amasundin alias Jeranding Abdurrahman, asal Melapi, Kapuas Hulu, meninggal karena sakit di Putussibau, Haji Rais bin H. Abdurahman, asal Ngabang, wafat dalam Peristiwa Mandor, dan Moehammad Hambal alias Bung Tambal, asal Ngabang, wafat dalam pembuangan di Boven Digoel. Juga Moehammad Sohor, asal Ngabang, wafat dalam pembuangan di Boven Digoel, dan Ya’ Moehammad Sabran, asal Ngabang, meninggal karena sakit.
Setelah puas berswafoto dan menikmati Monumen Digulis yang dilengkapi Taman Terbuka Hijua Digulis, persis di depan gerbang masuk Universitas Tanjung Pura (Untan), kami melanjutkan menyibak Pontianak.
Tujuan kami berikutnya adalah mengikuti misa kudus hari Minggi di Gereja Katedral St. Yusuf Pontianak. Sejarah gereja Katolik pertama sebagai pusat paroki di Pontianak, dimulai pada tahun 1908 oleh Prefek Apostolik Dutch Borneo Mgr. Pacificus Bos, OFMCap, dengan pembelian tanah untuk membangun gereja, pastoran, rumah yatim-piatu, sekolah, pemakaman, dan susteran. Kemudian gereja tersebut diberkati pada 9 Desember 1909, sekaligus berdirinya paroki secara resmi. Menjadi gereja katedral sejak 17 November 1918 seiring dengan ditahbiskannya Mgr. Jan Pacificus Bos, OFMCap menjadi Uskup Tituler Capitolias, merangkap Vikaris Apostolik Dutch Borneo, dan paroki berubah menjadi Paroki Katedral Pontianak.
Katedral Pontianak yang tinggi, megah, menjulang dan artistik
Bangunan gereja tersebut dirubuhkan pada tahun 2011 untuk dibangun gereja baru yang berkapasitas 3.000 orang. Gereja St. Yoseph yang baru, dibangun dengan perpaduan arsitektur Romawi dan Timur Tengah. Ornamen bernuansa Dayak mendominasi eksterior bangunan, dan interiornya didominasi nuansa khas Tionghoa berpadu dengan gaya klasik Eropa. Aarsitek yang merancang eksterior gereja baru, Ir. Ricky, adalah juga arsitek Masjid Raya Singkawang, yang semakin memperkuat kesan Kalbar yang multi etnis, tempat umat berbagai agama hidup berdampingan. Gubernur Kalbar Drs. Cornelis MH meresmikan Gereja Katedral St. Yoseph yang baru pada 19 Desember 2014, walaupun pembangunan belum terselesaikan sepenuhnya, khususnya bagian eksterior dan halaman, agar dapat digunakan untuk Misa Natal 2014.
Gubernur Kalbar Drs. Cornelis MH meresmikan Gereja Katedral St. Yoseph yang penuh ornamen indah pada 19 Desember 2014
Minggu, 12 Februari 2017 kami mengikuti misa kudus konselebrasi oleh 5 orang pastor dan dipimpin oleh Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus. Kami berdoa sangat khusuk di gereja yang oleh Gubernur Cornelis diklaim bahwa Gereja Katedral Pontianak yang sekarang, adalah bangunan gereja Katolik terbesar di Asia Tenggara.
Gereja Katedral Pontianak Kalimantan Barat sekarang merupakan bangunan gereja Katolik terbesar di Asia Tenggara.
Selanjutnya kami menyibak Pontianak dengan perjalanan ke replika Rumah Betang, rumah panjang adat Dayak yang berada di Jalan Jendral Sutoyo, Pontianak, tepat di sebelah Perpustakaan Daerah dan Kantor Polresta. Letaknya juga tidak jauh dari pusat kota dan hanya berjarak 100 meter dari rumah dinas Gubernur Kalimantan Barat. Rumah Betang sebenarnya merupakan pusat kegiatan dan masyarakat suku Dayak di pedalaman Kalimantan. Rumah ini terbuat dari kayu ulin baik lantai, atap maupun dindingnya. Struktur rumah ini memiliki kayu penyangga di bagian bawah rumah dengan ukuran yang sangat besar, hampir sepelukan lengan orang dewasa. Rumah ini didesign memanjang maka tak jarang banyak yang menyebutnya rumah panjang.
.
Bergaya di tangga replika rumah betang, karena rumah adat yang besar sesungguhnya berada di hulu sungai Kapuas.
Tiang penyangga yang ada di bawah rumah memiliki tinggi sekitar 2 meter, sehingga bisa dilewati tanpa harus menunduk di bawahnya. Bentuk panggung dari rumah ini diadaptasi dari letak rumah betang sesungguhnya yang berada di hulu sungai. Sehingga untuk mengantisipasi keadaan jika air pasang dan menyebabkan banjir. Tak seperti rumah kebanyakkan yang tiap satu rumah diisi satu keluarga, rumah betang ini, jika pada rumah aslinya menjadi rumah tinggal untuk lebih dari satu kepala keluarga, bahkan pada jaman dulu ditempati oleh 60 kepala keluarga. Pembagian tempat tiap keluarga, dibedakan berdasarkan sekat-sekat yang menyerupai kamar di dalam rumah betang ini. Kamar yang dibatasi oleh sekat untuk replika rumah betang ini berjumlah delapan buah kamar.
Selanjutnya kami menyibak Pontianak dengan inti kegiatan, yaitu mengikuti Simposium Nasional Ikatan Dokter Indonesia (Sinas IDAI) di Hotel Golden Tulip Pontianak, Kalbar dengan tema ‘Integrated Management of Sick Children’. Acara seremonial yang dibuka dengan sambutan Gubernur Kalbar ini, menghadirkan para guru besar sebagai pembicara, termasuk Prof. Tina Tan, Prof. Sri Rejeki Syaraswati dan Prof. Hardiono Pusponegoro.
.
Pada sesi dengan topik ‘The Experience in Preventing and Controlling Antibiotic Resistance’, Prof. Tina Tan dari American Academy of Pediatrics (AAP) menjelaskan bahwa meskipun multifaktorial, tetapi penggunaan antibiotik yang tidak tepat pada manusia dan hewan, adalah faktor penyebab tinggal yang terbanyak (single greatest driving factor). Pengembangan strategi yang terbaik untuk mengatasinya meliputi vaksinasi. Selanjutnya pada topik ‘General Principles of Prudent Use of Antibiotics’, Prof. Sri Rezeki Hadinegoro dari Jakarta menekankan bahwa RS wajib menyediakan panduan penggunaan antibiotik untuk terapi empiris. Dokter wajib melakukan penilaian keberhasilan secara klinis dan laboratoris, dilanjutkan dengan ‘streamlining’ atau ‘de-escalation therapy’. Hal ini untuk mengurangi paparan antibiotik spektrum luas.
Selanjutnya pada topik ‘When Antiviral Drug Needs To Be Given’, dr. DEAH Hapsari, SpA (K) dari Semarang membahas tentang dampak obat antiviral yang juga dapat merusak sel hospes, dimana virus tsb berada. Oleh sebab itu, obat antivirus tidak direkomendasikan pada ‘self limiting disease’ dan penyakit virus tidak berat. Obat antivirus hanya direkomendasikan pada HIV/AIDS, neonatal herpes simpleks, CMV dengan kelainan SSP dan infeksi mononukleosis saja. Pada topik ‘Autisme, ADHD atau keduanya terjadi bersamaan’, Prof. Hardiono Pusponegoro dari Jakarta menekankan bahwa untuk membedakannya, dapat menggunakan AMSE (Autism Mental Status Exam) pada anak ADHD, dengan nilai lebih dari 5 juga mengalami ASD (Autism Spectrum Disorder). AMSE meliputi observasi kontak mata, minat terhadap orang lain, kemampuan menunjuk, bahasa, pragmatik bahasa, perilaku repetitif, preokupasi dan sensitivitas yang tidak wajar.
.
Pada topik ‘Deteksi Dini Gangguan Perkembangan Motorik pada Anak’, Dr. dr. Setyo Handryastuti, SpA (K) dari Jakarta menjelaskan perlunya pemeriksaan lebih cermat pada bayi dengan riwayat prematuritas, asfiksia berat, dan paska infeksi SSP. Pada topik ‘Skor PELOD 2 Sebagai Penanda Disfungsi Organ pada Anak dengan Sepsis’, Dr. dr. Rismala Dewi, SpA (K) dari Jakarta mengingatkan tentang perlunya sistem skoring untuk luaran klinis sepsis, yaitu Pediatric Logostic Organ Dysfunction Score (PELOD). Hal ini karena sistem Surviving Sepsis Campaign (SSC) terlalu sensitif (96,9%), kurang spesifik (58,3%), dan mengakibatkan tingginya resistensi antibiotik. Sebaliknya, PELOD lebih sederhana, mudah dan dapat dilakukan berdasarkan data pemeriksaan pasien pada saat masuk RS saja.
Topik selanjutnya adalah ‘Tata Laksana Cairan dan Elektrolit pada Anak dengan Sakit Kritis’ oleh Dr. Rismala Dewi dari Jakarta menekankan bahwa tata laksana tersebut mempunyai dampak yang cukup besar terhadap lama, berat dan luaran klinis anak sakit kritis. Status cairan seperti hipovolemia dan dehidrasi, serta gangguan kadar glukosa dan elektrolit merupakan tantangan bagi dokter, dalam pengelolaan pasien anak sakit kritis. Pada topik ‘Pemeriksaan Diagnostik dan Tatalaksana Terkini untuk Demam Tifoid’, oleh dr. Mulya Rahma Karyanti, SpA (K) dari Jakarta mengingatkan pentingnya Rapid Diagnostik Test (RDT), sebagai pemeriksaan penunjang medis yang tepat dan hasilnya cepat, pada kecurigaan demam tyfoid. Pemeriksaan tersebut harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan biakan empedu sebagai baju emas demam tifoid. Pemeriksaan Widal satu kali tidak direkomendasikan. Antibiotik kloramfenikol merupakan lini pertama dan seftriakson lini kedua untuk Demam Tifoid.
.
Sinas IDAI Kalbar 2017 hari I ditutup dengan acara ‘wellcome dinner’ di Kartika Hotel & Restaurant, yang berlokasi persis di depan Kantor Walikota Pontianak, di tepi Sungai Kapuas yang lebar, dalam dan berarus tenang. Setelah presentasi oleh Dr. dr. Rini Sekartini, SpA (K) dengan topik ‘Factors Affecting Early Childhood Growth and Development’, tarian kolabirasi etnis China, Dayak dan Melayu, kami menikmati makan malam bersama, di atas kapal dalam ‘Kapuas River Cruise’. Kapal melaju melawan arus sungai sampai melewati Jembatan Kapuas yang gagah menjulang, kemudian berbalik arah sampai Pelabuhan Pelindo dan kembali ke dermaga Kartika. Malam itu kami tidur nyenyak di kamar 301 Hotel Borneo di Jl. Merdeka 428 Pontianak, Kalbar, agar hari berikutnya masih tetap bugar untuk mengikuti Simposium Nasional Ikatan Dokter Anak Indonesia (Sinas IDAI) 2017 hari kedua.
.
MENYIBAK PONTIANAK (lanjutan)
fx. wikan indrarto
Senin, 13 Februari 2017 pagi yang cerah, sebelum kami mengikuti Simposium Nasional Ikatan Dokter Anak Indonesia (Sinas IDAI), kami sempatkan untuk mengunjungi Istana Kadriah, yang merupakan awal mula sejarah Pontianak. Istana Kadriah Pontianak dibangun pada tahun 1771, bersamaan dengan pembangunan Masjid Abdurrahman. Pendirian istana ini dilakukan setelah selesainya pembukaan daerah baru, yang dinamai Pontianak. Jika dirunut dari awal, kisahnya bermula ketika seorang penyebar agama Islam dari Jawa keturunan Arab, al-Habib Husein meninggalkan kediamannya di Semarang pada tahun 1733, menuju Kerajaan Matan, Kalimantan Barat.
Dalam perkembangannya, kemudian terjadi perselisihan antara Sultan dengan al-Habib Husein. Akhirnya, al-Habib memutuskan untuk meninggalkan Kerajaan Matan, pindah dan bermukim di Kerajaan Mempawah hingga ia meninggal dunia. Setelah al-Habib Husein meninggal dunia, posisinya digantikan oleh anaknya, Syarif Abdurrahman. Akan tetapi, Syarif Abdurrahman kemudian memutuskan pindah dari Mempawah pada tahun 1771, dengan maksud untuk menyebarkan agama Islam. Bersama rombongan yang berjumlah 14 buah perahu, Abdurrahman menyusuri Sungai Kapuas ke arah hulu. Pada 23 Oktober 1771 M, rombongan Abdurrahman sampai di muara persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Di daerah yang berbentuk tanjung ini, mereka naik ke darat, menebas hutan belantara untuk dijadikan daerah pemukiman baru yang kemudian dinamakan Pontianak. Di daerah baru tersebut, segera berdiri sebuah kerajaan baru Kerajaan Pontianak. Kemudian dibangun sebuah masjid dan istana untuk sultan. Masjid tersebut adalah Masjid Abdurrahman, dan istananya adalah Istana Kadriah.
Masjid Abdurrahman dan Istana Kadriah dari jaman Kesultanan Pontianak, Kalimantan Barat.
Pada tahun 1952 Kesultanan Pontianak bergabung dengan NKRI dan keberadaan Istana Kadriah tak lebih dari simbol yang tidak memiliki peran apa-apa. Lokasi istana berdekatan dengan Masjid Abdurrahman, hanya beberapa puluh meter. Lokasi yang berdekatan ini menunjukkan bahwa, istana dan masjid merupakan satu kesatuan utuh dalam sistem pemerintahan di Kesultanan Pontianak. Lokasi istana ini berada di Kelurahan Dalam Bugis, Pontianak, di tepi 2 arus sungai besar. Konstruksi Istana Kadriah hampir semuanya dari kayu besi atau kayu ulin, sehingga bisa bertahan lama. Bangunan istana memiliki kolong yang agak tinggi. Konstruksi ini merupakan bagian dari tradisi lokal Kalimantan. Istana ini terdiri dari empat lantai dengan anjungan yang berorientasi ke sungai. Bagian lantai utama berdenah segi empat, dikelilingi oleh serambi. Keberadaan serambi yang mengelilingi ruang lantai utama ini merupakan bagian dari ciri khas bangunan tropis. Serambi tersebut berfungsi sebagai ruang peralihan dari bagian luar ke dalam, dan juga untuk mencegah cahaya matahari ataupun hujan masuk secara langsung ke dalam ruangan. Setelah puas berswafoto di tempat yang sangay bersejar tersebut, selanjutnya kami meneruskan menyibak Pontianak.
Tujauan kami selanjutnya adalah Aloe Vera Center atau Pusat Pengembangan Lidah Buaya. Tanaman lidah buaya tak hanya bermanfaat untuk perawatan dan kesuburan rambut anda. Lidah buaya ternyata juga nikmat disantap sebagai minuman segar yang berkhasiat bagi kesehatan. Tanaman ini relatif mudah ditemui di Pontianak, Kalimantan Barat. Biasanya para petani menjual pelepah lidah buaya dengan harga seribu rupiah perkilogram.
Tidak hanya itu, seorang tabib atau dokter dari zaman Yunani kuno yang bernama Dioscordes, menyebutkan jika salah satu manfaat lidah buaya yakni memiliki khasiat untuk mengobati berbagai macam jenis penyakit. Misalnya radang tenggorokan, bisul, rambut rontok, wasir, dan kulit memar, pecah-pecah serta lecet. Lidah buaya ternyata dapat dijadikan minuman yang sangat nikmat. Caranya relatif mudah. Daun lidah buaya dibelah dan diambil dagingnya kemudian dipotong-potong menjadi kecil-kecil. Untuk menghilangkan lendirnya, lidah buaya dicuci lalu direbus hingga matang agar rasa getirnya hilang. Setelah itu potongan lidah buaya dicampur air gula atau sirup atau es batu. Maka jadilah minuman segar lidah buaya. Setelah melepas dahaga dengan segelas es lidah buaya, kami segera kembali ke arena Sinas IDAI 2017.
Di Hotel Golden Tulip Pontianak, tema simposium adalah ‘Integrated Management of Duck Children’. Pada topik ‘Konsep Baru Sepsis pada Anak’ oleh dr. Antonius Pudjiadi, SpA (K) dari Jakarta menjelaskan bahwa sepsis saat ini masih dianggap sebagai reaksi inflamasi sistemik yang disebabkan oleh infeksi, sejak tahun 1991 (Surviving Sepsis Campaign). Oleh karena pemikiran ini terlalu sensitif dan kurang spesifik, sehingga mengakibatkan penggunaan antibiotik berlebihan. Dengan demikian, seharusnya saat ini diperlukan tambahan bukti disfungai organ tubuh berdasarkan berbagai pemeriksaan klinis. Pada topik ‘Ensefalitis pada Anak’, dr. Iskandar Syarif, SpA (K) dari Padang menjelaskan tentang inflamasi jaringan otak karena infeksi, paska infeksi ataupun autoimun yang cukup sulit didiagnosis. Pemeriksaan PCR cairan otak adalah diagnosis emas untuk ensefalitis. Penggunaan obat imunomodulator sedang diteliti potensiny a, karena terapi baku belum memberikan luaran yang optimal.
Selanjutnya kami mendengarkan presentasi dengan topik ‘Pendekatan Diagnosis dan Tata laksana Kejang Neonatus’ oleh Dr. dr. Setyo Handryastuti, SpA (K), yang menjelaskan bahwa kejang merupakan kedaruratan medis paling sering pada neonatus. Oleh karena gambaran klinisnya samar dan berbeda dengan anak, maka wajib dipastikan tentang adanya kejang tersebut. Etiologinya didasarkan pada riwayat kehamilan dan persalinan. Obat anti kejang yang efektif diberikan secepatnya, pada kejang dengan lebih 3 kali dalam 1 jam atau berlangsung lebih dari 3 menit dan dihentikan setelah kejang terkontrol secara klinis. Setelah itu adalah presentasi denhan topik ‘Antibiotic Use in Children With Febrile Neutropenia’ oleh dr. DEAH Hapsari, SpA (K) yang menjelaskan bahwa kasus demam netropeni sering terjadi pada anak dengan keganasan hematologi yang mendapat kemoterapi. Antibitok harus digunakan setepat mungkin untuk mencegah timbulnya resistensi kuman, karena sebagian besar kejadian demam netropeni, tidak disebabkan oleh infeksi. Kami tidak lagi mengikuti berbagai presentasi berikutnya, karena kami akan melanjutkan menyibak Pontianak.
Tujuan kami selanjutnya adalah Museum Negeri Provinsi Kalimantan Barat di Jl. Jenderal A. Yani, Pontianak, yang dirintis sejak tahun 1974 oleh Kantor Wilayah Depdikbud Provinsi Kalimantan Barat, melalui Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Permuseuman Kalimantan Barat. Fungsionalisasinya diresmikan pada tanggal 4 Oktober 1983 oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Depdikbud, dan sejak itu Museum Provinsi Kalimantan Barat dibuka untuk umum.
Museum ini menyimpan di antaranya koleksi Geografi dan Geologika berupa peta dan jenis batu-batuan; koleksi biologika, arkeologika, historika, numismatika, dan keramologika berupa tempayan, piring, mangkuk, sendok, dll. yang berasal dari China, Vietnam, Jepang, Eropa, dan keramik lokal Singkawang. Selain menampilkan koleksi yang ada di Ruangan Pameran Tetap I, Museum Provinsi Kalimantan Barat juga menampilkan koleksi replika dan miniatur yang berada di plaza Jangkar kapal dagang asing. Setelah terkagum membayangkan kehebatan bahari nenek moyang, kami melanjutkan proses menyibak Pontianak dengan menyeberangi Sungai Kapuas, sungai terpanjang di seluruh Indonesia dan membelah kota Pontianak.
Rumah makan di pinggir Sungai Kapuas di Pontianak, Kalimantan Barat
Kami menyeberangi Jembatan Kapuas I yang terletak di pusat Kota Pontianak dengan panjang 420 meter dan lebar 6 meter. Jembatan Kapuas I yang melengkung gagah seperti busur panah ini, merupakan penghubung pusat Kota Pontianak dengan beberapa kabupaten lainnya di Kalbar. Jembatan ini dibangun pada tahun 1980 dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tahun 1982. Jembatan yang dibangun dengan dana Rp 6,06 miliar ini pada awalnya difungsikan sebagai jalan tol yang berarti setiap pengguna jembatan ini dipungut tarif tol. Namun karena jembatan ini dianggap sudah menjadi jalur utama dan tidak ada jalur alternatifnya, pungutan tarif tol dihapus pada pertengahan 1990-an dan jembatan ini bebas dilalui pengendara. Akibat terus meningkatnya volume kendaraan yang melintasi jembatan Kapuas I, maka pemerintah mewujudkan pembangunan jembatan Kapuas II yang berada di Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Sempat terjadi peristiwa yang menggemparkan warga Kota Pontianak pada tanggal 30 Agustus 2013, yakni fender tiang utama jembatan Kapuas I ditabrak tongkang pengangkut bauksit, sehingga mengakibatkan bergesarnya sambungan jembatan di bagian tengah sekitar 10 cm. Akibat kejadian itu arus kendaraan terpaksa diblokir dan dialihkan ke jembatan Kapuas II di Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya guna menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan hingga proses pemeriksaan dan perbaikan jembatan selesai.
Menemui dr. Titik Nurwahyuni, SpS, MMR yang pernah menjabat sebagai Direktur RS St. Antonius di Pontianak dan kakak kelas yang baik saat kuliah di FK UGM bersama Kombes Pol. dr. Sugeng Krismawanto, SpOT,
Setelah merasakan sensasi penyeberangan Sungai Kapuas yang membanggakan, kami segera menemui dr. Titik Nurwahyuni, SpS, MMR yang pernah menjabat sebagai Direktur RS St. Antonius di Pontianak dan kakak kelas yang baik saat kuliah di FK UGM. Setelah bernostalgia sebentar, kami segera menumpang Jeep 4×4 Cherokee 4.0 l yang garang menghentak aspal, menuju Bandara Internasional Supadio Pontianak, untuk kembali ke Yogyakarta. Penerbangan dalam perut pesawat Boeing 737-300 xpressair XN 833 yang terbang setinggi 33.000 kaki dari Pontianak, mengantar kami kembali ke Yogyakarta.
RSU Santo Antonius Pontianak Kalimantan Barat yang megah menjulang
Terimakasih kepada handai topan dan semua pihak, terlebih kepada Kombes dr. Sugeng Krismawanto, SpOT yang bertugas di RS Bhayangkara Polda Kalbar, atas semua dukungan, bantuan dan dukungannya. Sampai bertemu dalam petualangan berikutnya.
Sekian
Yogyakarta, 14 Februari 2017
Salam hangat.
Fx. Wikan Indrarto
*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta dan alumnus S3 UGM, no WA 081227280161.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan badan pengatur sepak bola dunia (FIFA), pada hari Jumat, 4 Oktober 2019 menyepakati kolaborasi empat tahun untuk mempromosikan gaya hidup sehat melalui sepakbola secara global. Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus dan Presiden FIFA Gianni Infantino menandatangani nota kesepahaman di kantor pusat WHO di Jenewa, Swiss. Apa yang perlu disadari?
Separuh populasi dunia menyaksikan Piala Dunia FIFA 2018 di Russia. Hal ini berarti ada potensi besar untuk menjangkau miliaran orang di seluruh dunia, dengan informasi untuk membantu mereka menjalani hidup yang lebih sehat. Sepak bola adalah bahasa universal yang unik yang dapat digunakan untuk mendukung inisiatif kesehatan dan mempromosikan gaya hidup sehat di seluruh dunia.
Perjanjian WHO dan FIFA tersebut mencakup 4 bidang kolaborasi utama. Pertama, advokasi untuk mempromosikan gaya hidup sehat melalui sepakbola. WHO dan FIFA akan berkolaborasi untuk mengirimkan pesan kesehatan kepada semua orang di seluruh dunia, melalui berbagai acara FIFA. Hal ini termasuk menerapkan kampanye pendidikan kesehatan yang berkaitan dengan sepak bola, promosi aktivitas fisik, pengurangan perilaku banyak duduk (sedentary behaviour), dan edukasi publik tentang risiko dan bahaya merokok dan perokok pasif.
.
Bentuk kegiatan lainnya adalah penyelarasan kebijakan umum untuk memastikan adanya lingkungan bebas rokok, di semua acara sepak bola yang diselenggarakan FIFA. Juga untuk mendorong federasi sepak bola nasional di manapun, untuk mengadopsi kebijakan bebas rokok, termasuk di dalam stadion sepak bola. Selain itu, juga untuk memungkinkan WHO hak untuk memberikan saran teknis kepada FIFA, tentang masalah kesehatan olah raga.
.
Melakukan kampanye pendidikan publik tentang kesadaran bagaimana sepakbola dapat meningkatkan derajad kesehatan, dengan mengirimkan pesan kesehatan pada acara seremonial dan melalui media massa atau media sosial. Juga mengembangkan dan memberikan produk komunikasi yang mempromosikan kesehatan melalui sepakbola dalam turnamen FIFA, termasuk sepak bola pria, wanita, dan pemuda.
.
Kedua, penyelarasan kebijakan lingkungan yang bebas rokok. Dalam hal ini termasuk di dalam stadion sepak bola pada acara FIFA, sesuai ketentuan Kebijakan Bebas Tembakau (The Tobacco Free Policy for FIFA Events). Mendorong federasi sepak bola nasional untuk mengadopsi kebijakan bebas tembakau, termasuk dengan menghormati hak para penonton di dalam stadion. WHO dan FIFA telah bekerja sama untuk melarang peran serta industri rokok pada semua turnamen sepak bola, termasuk Piala Dunia FIFA 2018 yang diselenggarakan di Rusia pada 14 Juni hingga 15 Juli 2018.
.
Selain itu, WHO juga diberikan hak untuk memberi saran teknis kepada FIFA, meskipun tidak mengikat, mengenai risiko dan implementasi kebijakan kesehatan. Dalam hal ini kebijakan yang berkaitan dengan tembakau, alkohol, promosi aktivitas fisik, diet sehat, keamanan makanan, dan pertemuan massal. Selain itu, juga keamanan aspek kesehatan terkait risiko, bahaya, dan darurat kesehatan masyarakat, karena perjalanan dan perdagangan internasional, dan kemunculan kembali ancaman penyakit internasional, sesuai dengan ‘the International Health Regulations’ (2005).
.
Ketiga, memperkuat warisan kesehatan (the health legacy) pada semua acara FIFA. Hal ini meliputi mengembangkan dan mengarusutamakan perencanaan, implementasi dan evaluasi warisan kesehatan ke dalam turnamen FIFA, berkolaborasi dengan negara tuan rumah acara. Juga mengembangkan alat untuk mengevaluasi, bagaimana turnamen FIFA mampu mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan, bagi semua penonton dan penyelenggaraan turnamen sepak bola. Selain itu, juga mendorong pembangunan kapasitas nasional bidang kesehatan di negara tuan rumah penyelenggara acara FIFA, berupa pelatihan kesehatan karena adanya pertemuan penonton massal internasional, misalnya wabah penyakit, keamanan makanan dan minuman, termasuk di dalam stadion sepakbola.
.
Keempat, kolaborasi pada program promosi pendidikan kesehatan, mempromosikan aktivitas fisik, dan mengurangi ketidaksetaraan peluang. Dalam hal ini mendukung implementasi rekomendasi dari Rencana Aksi Global WHO untuk Aktivitas Fisik (GAPPA), termasuk meningkatkan peluang sehat dengan asosiasi pemain dan pelatih sepak bola, untuk meningkatkan partisipasi dalam aktivitas fisik melalui sepak bola. Selain itu, juga mendukung pemain sepak bola profesional dalam mempromosikan pesan kesehatan, termasuk melalui media sosial.
.
Momentum kerjasama WHO dan FIFA 2019 mengingatkan kita semua untuk tidak sekedar menggemari sepak bola, tetapi juga untuk menciptakan kehidupan yang lebih sehat dan aktif.
Sudahkah Anda terlibat membantu?
Sekian
Yogyakarta, 5 Oktober 2019
*) penggemar tim sepakbola Brasil, dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161