Categories
anak antibiotika COVID-19 dokter Healthy Life kanker resisten obat vaksinasi

2022 Kanker pada Anak

Mengenal Gejala Dini Penyakit Kanker Pada Anak

KENALI  KANKER  PADA  ANAK

fx. wikan indrarto*)

Setiap tanggal 15 Februari dirayakan Hari Kanker Anak Internasional atau International Childhood Cancer Day (ICCD), sebuah kampanye kolaboratif global untuk meningkatkan kesadaran tentang kanker pada anak. Selain itu, juga untuk menggalang dukungan bagi para penyintas dan keluarga mereka. Tema tahun 2022 adalah ‘Kelangsungan Hidup Lebih Baik dengan dukungan Anda (Better Survival’ is achievable #throughyourhands). Apa yang menarik?

.

Setiap tahun, diperkirakan 400.000 anak dan remaja berusia 0-19 tahun mengidap kanker. Jenis kanker anak yang paling umum adalah kanker darah atau leukemia, kanker otak, kelenjar getah bening atau limfoma, dan tumor padat, seperti saraf atau neuroblastoma dan ginjal atau tumor Wilms. Di negara berpenghasilan tinggi, di mana layanan komprehensif umumnya dapat diakses, lebih dari 80% anak penderita kanker sembuh. Di negara berpenghasilan rendah dan menengah, hanya kurang dari 30% yang sembuh. Kanker anak umumnya tidak dapat dicegah dan dikenali melalui proses skrining. 

.

Kematian yang dapat dihindari akibat kanker pada anak di negara berkembang diakibatkan oleh kurang, salah atau terlambat didiagnosis. Juga adanya hambatan untuk mengakses pengobatan standar, selain kematian akibat toksisitas obat dan kekambuhan kanker. Hanya 29% negara berpenghasilan rendah melaporkan bahwa obat kanker umumnya tersedia untuk populasi anak di negara tersebut, dibandingkan dengan 96% negara berpenghasilan tinggi. Sistem register atau data kanker anak nasional diperlukan untuk mendorong perbaikan berkelanjutan dalam kualitas perawatan, dan untuk menginformasikan keputusan kebijakan.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/02/05/2020-melawan-kanker/

.

Kanker terjadi pada segala usia dan setiap bagian dari tubuh manusia. Proses ini dimulai dengan perubahan genetik dalam sel tunggal, yang kemudian tumbuh menjadi benjolan atau massa (disebut tumor), yang mendesak bagian lain dari tubuh, sehingga akan menyebabkan kerusakan dan kematian, jika tidak ditangani. Tidak seperti kanker pada orang dewasa, sebagian besar kanker pada anak tidak diketahui penyebabnya. Banyak penelitian telah berusaha untuk mengidentifikasi penyebab kanker pada anak, tetapi sangat sedikit kanker pada anak yang disebabkan oleh faktor lingkungan atau gaya hidup. Upaya pencegahan kanker pada anak harus difokuskan pada perbaikan perilaku, yang akan mencegah anak mengalami kanker yang dapat dicegah, saat mereka menjadi dewasa.

.

Beberapa penyakit infeksi, seperti HIV, virus Epstein-Barr dan malaria, merupakan faktor risiko kanker pada anak, di berbagai negara berkembang. Sebaliknya, beberapa infeksi lain pada anak dapat meningkatkan risiko anak tersebut akan terkena kanker saat dewasa. Untuk pencegahan kanker ini, penting sekali anak untuk divaksinasi, misalnya imunisasi hepatitis B untuk membantu mencegah kanker hati dan imunisasi HPV atau Human Papilloma Virus untuk mencegah kanker serviks.

.

Sekitar 10% dari semua anak dengan kanker memiliki kecenderungan terkait faktor genetik. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi faktor lain yang mempengaruhi perkembangan kanker pada anak. Karena umumnya tidak mungkin untuk mencegah kanker pada anak, strategi paling efektif untuk mengurangi beban kanker pada anak dan meningkatkan hasil luaran klinis adalah berfokus pada diagnosis yang tepat dan cepat, diikuti dengan terapi berbasis bukti yang efektif dengan perawatan suportif yang disesuaikan.

.

Data Anak Penderita Kanker di Indonesia dan Kondisi Mental Mereka

Ketika didiagnosis lebih awal, kanker lebih mungkin untuk merespon pengobatan yang efektif dan menghasilkan kemungkinan yang lebih besar untuk bertahan hidup, lebih sedikit penderitaan, dan seringkali lebih murah, dibandingkan pengobatan tahap lanjut. Perbaikan signifikan dapat dilakukan dalam kehidupan anak penderita kanker, dengan mendeteksi kanker sejak dini dan menghindari keterlambatan pengobatan. Diagnosis yang benar sangat penting untuk mengobati kanker pada anak, karena setiap kanker memerlukan rejimen tatalaksana khusus, termasuk pembedahan, radioterapi, dan kemoterapi.

.

Diagnosis dini kanker pada anak terdiri dari 3 komponen utama. Pertama, kesadaran akan gejala oleh keluarga dan tenaga kesehatan. Kedua, evaluasi, diagnosis, dan penentuan stadium klinis yang akurat dan tepat waktu (menentukan sejauh mana kanker telah menyebar). Ketiga, akses ke pengobatan segera. Program diagnosis dini kanker pada anak telah berhasil diterapkan di berbagai negara dari semua tingkat pendapatan, seringkali melalui upaya kolaboratif pemerintah, masyarakat sipil dan organisasi non-pemerintah. Kanker anak dapat dikenali dengan berbagai gejala klinis sebagai peringatan awal, seperti demam berulang, sakit kepala parah dan persisten, nyeri tulang atau penurunan berat badan, yang dapat dikenali oleh keluarga dan tenaga kesehatan yang terlatih.

.

Paparan Radiasi Ponsel Dapat Meningkatkan Risiko Kanker Pada Anak - Semua  Halaman - Grid Health
.

Program skrining umumnya tidak membantu untuk deteksi kanker anak, tetapi dalam beberapa kasus tertentu, hal ini dapat dipertimbangkan pada populasi berisiko tinggi. Misalnya, beberapa kanker mata pada anak dapat disebabkan oleh mutasi yang diturunkan. Jika mutasi terjadi dalam keluarga anak dengan retinoblastoma, konseling genetik dapat ditawarkan dan saudara kandung dipantau dengan pemeriksaan mata secara teratur sejak dini. Tidak ada bukti berkualitas tinggi untuk mendukung program skrining berbasis populasi pada anak-anak.

.

Diagnosis yang benar sangat penting untuk memberikan terapi yang tepat untuk jenis dan luasnya penyakit kanker pada anak. Terapi standar kanker pada anak meliputi kemoterapi, pembedahan dan atau radioterapi. Namun demikian, anak juga membutuhkan perhatian khusus dalam proses pertumbuhan fisik dan kognitif mereka yang berkelanjutan. Selain itu, mempertahankan status gizi agar tetap baik, membutuhkan tim multi-disiplin yang berdedikasi. Akses ke diagnosis yang efektif, obat kanker esensial, pemeriksaan patologi, produk darah, terapi radiasi, teknologi baru, perawatan psikososial dan suportif sangat bervariasi, tetapi tidak merata tersedia di seluruh dunia.

.

Penyembuhan dapat mencapai lebih dari 80% anak dengan kanker, ketika layanan kanker anak dapat diakses dengan tepat. Terapi farmakologis, termasuk obat generik murah yang masuk dalam Daftar Obat Esensial WHO untuk Anak, sangat besar perannya. Anak yang mampu menyelesaikan paket pengobatan kanker, tetap memerlukan perawatan berkelanjutan, untuk memantau kekambuhan kanker dan untuk mengelola kemungkinan dampak buruk pengobatan jangka panjang.

.

Perawatan paliatif bertujuan untuk mengurangi gejala nyeri yang disebabkan oleh kanker dan meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarganya. Tidak semua anak penderita kanker dapat disembuhkan, tetapi meringankan penderitaan dari keluhan nyeri hebat adalah keharusan kita bagi semua anak. Perawatan paliatif anak dianggap sebagai komponen inti dari perawatan komprehensif, dimulai ketika penyakit didiagnosis dan berlanjut selama perawatan dan pengobatan, terlepas dari tujuan kuratif atau tidak. Perawatan paliatif dapat diberikan di rumah pasien, memberikan pereda nyeri dan dukungan psikososial kepada pasien dan keluarga mereka. Akses yang memadai ke morfin oral dan obat nyeri lainnya harus disediakan untuk pengobatan nyeri kanker derajat sedang hingga berat, yang mempengaruhi lebih dari 80% pasien kanker anak pada fase terminal.

Momentum Hari Kanker Anak Internasional atau International Childhood Cancer Day (ICCD) Selasa, 15 Februari 2022 mengingatkan kita untuk memberikan perhatian dan lebih peduli pada anak dengan kanker.

Sudahkah kita bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 10 Januari 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak dokter Healthy Life medicolegal UHC

2022 Hari Orang Sakit Sedunia

Paus Fransiskus: Setiap Orang Kristen Wajib Merawat Orang Sakit dan Lemah -  Katolikku

HARI  ORANG SAKIT  SEDUNIA   2022

fx. wikan indrarto*)

Hari Orang Sakit Sedunia (World Day of the Sick) ditetapkan oleh Sri Paus Yohanes Paulus II dan mulai dirayakan pada 11 Februari 1993. Tema peringatan tahun 2022 : Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati (Luk. 6:36). Apa yang sebaiknya dilakukan?

.

Ketiga subtema yang terus-menerus didengungkan pada setiap Hari Orang Sakit Sedunia adalah pertama, mengingatkan semua orang beriman, untuk berdoa secara khusuk bagi mereka yang sedang sakit. Kedua, mengundang semua orang beriman untuk merefleksikan sakit dan penderitaan manusia, dan ketiga, penghargaan bagi semua petugas kesehatan.

.

Melayani saudara kita yang sedang sakit, seharusnya diawali dengan kemurnian hati sampai kita mampu bersikap seperti Ayub “Saya mata untuk orang buta, dan kaki bagi orang lumpuh” (Ayub 29:15), kepada sesama yang sakit. Kita semua diajak untuk mampu menjadi “mata untuk orang buta” dan “kaki bagi orang lumpuh”. Pelayanan kita tidaklah harus dilakukan dengan menjadi petugas kesehatan bagi para pasien. Sebenarnya kita dapat sekedar dekat dengan orang sakit, terutama yang membutuhkan perawatan lama, membantu dalam memandikan, berpakaian, mencucikan dan menyuapkan makanan. Layanan sederhana seperti ini, terutama bila dilakukan berkepanjangan, pastilah dapat menjadi sangat melelahkan dan memberatkan.

.

Meskipun tidak ada yang menginginkannya, namun setiap manusia akan mungkin mengalami sakit, penderitaan dan bahkan dapat berlanjut dengan kematian. Sakit yang ringan sekalipun, sebaiknya digunakan sebagai sebuah momentum penting untuk mensyukuri sehat. Kita diingatkan untuk bersandar pada Tuhan, menyadari pentingnya iman bagi mereka yang sakit dan berbeban berat, untuk datang pada Tuhan. Dalam pertemuannya dengan Tuhan melalui caranya masing-masing, mereka yang sakit akan menyadari bahwa dirinya tidak sendirian. Banyak sekali orang sakit atau lansia yang tinggal sendirian di rumah  menunggu kunjungan kita. Pelayanan kunjungan dan penghiburan adalah tugas bagi setiap orang yang dibaptis : “ketika Aku sakit, kamu melawat Aku” (Mat 25:36).

.

Ekaristi Hari Orang Sakit Sedunia ke-27 - Gembala Yang Baik Limpung

Bagi kita semua yang sehat, memberikan pendampingan, penghiburan dan perhatian untuk mereka yang sakit, sangatlah berarti. Selain itu, kita disadarkan akan pergerakan roda kehidupan. Pada saat sehat, kita seharusnya meluangkan waktu, tenaga, pikiran dan dana untuk membantu mereka yang sakit. Pada saat yang lain, sangat mungkin kita sendiri justru menjadi orang yang sakit dan memerlukan hal yang sama dari semua orang di sekitar kita, sebagaimana pergerakan dan putaran roda kehidupan. 

.

Dampak ekonomi dan sosial pandemi COVID-19 sebenarnya jauh lebih menghancurkan, melemahkan dan memberatkan bagi masyarakat luas, tidak hanya dampak sakit oleh para penyintas saja. Namun demikian, kita semua yang terdampak secara ekonomi dan sosial tetap diingatkan untuk tetap membantu semua saudara kita, yang terdampak pandemi COVID-19 secara medis dan menjadi pasien, dengan terapi yang lengkap. Jika terapi ingin efektif, Paus Fransiscus berpesan agar terapi harus mempunyai aspek relasional, karena aspek ini memampukan pendekatan holistik kepada pasien.

.

Aspek relasional dapat membantu dokter, perawat, tenaga profesional dan relawan untuk merasa bertanggung jawab mendampingi pasien, di jalan penyembuhan yang didasarkan pada hubungan antarpribadi yang saling percaya. Aspek relasional ini menciptakan perjanjian antara mereka yang membutuhkan layanan medis dan mereka yang menyediakan layanan itu, dalam sebuah perjanjian yang didasarkan pada rasa saling percaya, hormat, keterbukaan dan kesiapsediaan diri. Hal ini akan membantu mengatasi sikap defensif, menghormati martabat orang sakit, menjaga profesionalisme dokter dan petugas kesehatan lainnya, bahkan mampu berperan dalam membina hubungan yang baik dengan keluarga pasien.

.

Dalam menangani orang sakit, dokter dan petugas kesehatan profesional lain hendaknya memprioritaskan kata benda ‘orang’, dibandingkan kata sifat ‘sakit’. Oleh sebab itu, para petugas kesehatan profesional haruslah bermurah hati, karena Allah “kaya akan belas kasih” (Ef. 2:4). Dia selalu menjaga anak-anak-Nya dengan kasih seorang Bapa, bahkan ketika mereka berpaling dari-Nya. Allah memelihara kita dengan kekuatan seorang ayah dan kelembutan seorang ibu.

.

Hari Orang Sakit Sedunia Archives • BMV Katedral Bogor

Puncak acara Hari Orang Sakit Sedunia ke-30 akan diselenggarakan pada Pesta Santa Perawan Maria, karena pandemi COVID-19, tidak jadi diselenggarakan di Arequipa, Peru seperti yang direncanakan, namun dipindahkan di Basilika Santo Petrus di Vatikan, pada hari Jumat, 11 Februari 2022. Momentum Hari Orang Sakit Sedunia (World Day of the Sick) 2022, mengingatkan kita agar mendampingi meraka yang menderita sakit dengan murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati (Luk. 6:36). Selain itu, saat kita sakit juga tidak perlu putus asa, karena adanya kemuliaan dan kasih Tuhan sampai pada akhir kehidupan.

.

Sudahkah kita menemani orang sakit di sekitar kita?

Sekian

Yogyakarta, 25 Januari 2022

*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161,

Categories
anak COVID-19 dokter resisten obat vaksinasi

2022 OBAT BARU UNTUK COVID-19

Ilmuwan India Teliti Obat Baru Covid-19, kombinasi Umifenovir dan  Molnupiravir

OBAT  BARU  UNTUK  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Jumat, 14 Januari 2022 WHO merekomendasikan dua obat baru, sehingga saat ini terdapat lebih banyak pilihan pengobatan COVID-19. Sejauh mana obat baru ini akan menyelamatkan nyawa pasien, tergantung pada seberapa banyak tersedia dan terjangkau. Apa yang menarik?

.

Obat pertama adalah baricitinib, sangat direkomendasikan untuk pasien COVID-19 derajat parah atau kritis. Obat dalam kelas inhibitor Janus Kinase (JAK) ini mampu menekan stimulasi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh. WHO merekomendasikan agar diberikan dengan kortikosteroid. Baricitinib adalah obat oral atau ditelan, yang selama ini telah digunakan untuk pengobatan radang sendi atau rheumatoid arthritis. Baricitinib ini mirip dengan obat radang sendi lain dalam kelas penghambat reseptor Interleukin-6, yang sebelumnya telah direkomendasikan oleh WHO pada Juli 2021.

.

WHO juga secara kondisional merekomendasikan penggunaan obat antibodi monoklonal, yaitu sotrovimab, untuk mengobati COVID-19 ringan atau sedang pada pasien yang berisiko tinggi dirawat di rumah sakit. Ini termasuk pasien lansia, immunocompromised, memiliki komorbid seperti diabetes, hipertensi, dan obesitas, dan mereka yang tidak divaksinasi COVID-19. Sotrovimab adalah alternatif untuk casirivimab-imdevimab, sebuah antibodi monoklonal yang sebelumnya telah direkomendasikan oleh WHO pada September 2021. Penelitian sedang berlangsung tentang efektivitas antibodi monoklonal terhadap varian Omicron.

.

WHO sedang bernegosiasi dengan produsen untuk mengamankan kapasitas pasokan global dan akses yang adil dan berkelanjutan ke obat baru yang direkomendasikan ini. Pilar Access to COVID-19 Tools Accelerator (ACT-A) Therapeutics telah bernegosiasi dengan perusahaan farmasi untuk mencari rencana akses yang komprehensif untuk negara berpenghasilan rendah dan menengah, sehingga pengobatan ini dapat diterapkan dengan cepat, tidak hanya di negara kaya. ACT-A juga ingin memperluas cakupan lisensi untuk membuat produk lebih terjangkau. Dua obat baru yang direkomendasikan, yaitu baricitinib dan sotrovimab, telah diundang untuk masuk pada proses Prakualifikasi WHO, yang menilai kualitas, kemanjuran dan keamanan produk kesehatan prioritas, untuk meningkatkan akses bagi negara berpenghasilan rendah.

.

Pilihan pengobatan lain yang sedang dipelajari untuk COVID-19 derajat parah dan kritis, yaitu ruxolitinib dan tofacitinib. Mengingat efeknya yang tidak pasti, sampai saat ini WHO memberikan rekomendasi bersyarat terhadap penggunaannya. Sedangkan Uji Klinis Solidaritas PLUS WHO saat ini sedang mengevaluasi 3 jenis obat lainnya, yaitu artesunat, infliximab dan imatinib. Obat-obatan ini dipilih, karena potensinya untuk mengurangi angka kematian.

.

Ketiga obat tersebut disumbangkan oleh produsen masing-masing untuk uji klinis, melalui Surat Perjanjian antara WHO dan produsen obat. Perusahaan farmasi Ipca, Johnson dan Johnson dan Novartis, telah setuju untuk mendukung akses ke obat tersebut dengan harga yang wajar jika terbukti efektif.

.

Obat Artesunat diproduksi oleh Ipca, digunakan untuk mengobati malaria. Obat ini akan diberikan secara intravena selama 7 hari, menggunakan dosis standar yang direkomendasikan untuk pengobatan malaria berat. Artesunat adalah turunan dari artemisinin, obat antimalaria yang diekstrak dari ramuan Artemisia annua. Artemisinin dan turunannya telah digunakan secara luas dalam pengobatan malaria dan penyakit parasit lainnya selama lebih dari 30 tahun, dan dianggap sangat aman. Kelompok Penasihat Terapi COVID-19 WHO merekomendasikan untuk mengevaluasi sifat anti-inflamasi artesunat.

.

Obat imatinib diproduksi oleh Novartis, digunakan untuk mengobati beberapa jenis kanker tertentu. Obat ini akan diberikan secara oral, sekali sehari, selama 14 hari. Dosis yang digunakan adalah dosis pemeliharaan standar, yaitu dosis terendah yang diberikan pada pasien dengan keganasan hematologi dalam jangka waktu yang lama. Imatinib adalah inhibitor tirosin kinase molekul kecil, diformulasikan sebagai obat kemoterapi oral yang digunakan untuk mengobati jenis kanker tertentu. Data klinis eksperimental dan awal menunjukkan bahwa imatinib membalikkan kebocoran kapiler paru. Sebuah uji klinis acak yang dilakukan di Belanda melaporkan bahwa imatinib dapat memberikan manfaat klinis pada pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit, tanpa adanya masalah keamanan.

.

Obat infliximab diproduksi oleh Johnson dan Johnson, digunakan untuk mengobati penyakit pada sistem kekebalan tubuh. Obat ini akan diberikan secara intravena sebagai dosis tunggal. Dosis yang digunakan adalah dosis standar yang diberikan pada pasien dengan Penyakit Crohn dalam waktu yang lama. Infliximab adalah penghambat alfa TNF, antibodi monoklonal chimeric yang mengenali alfa TNF manusia. Biologi anti-TNF telah disetujui untuk pengobatan kondisi peradangan autoimun tertentu selama lebih dari 20 tahun, menunjukkan kemanjuran dan keamanan yang menguntungkan dalam membatasi peradangan spektrum luas, termasuk pada populasi lanjut usia yang paling rentan secara klinis terhadap COVID-19.

.

WHO Setujui Dua Obat Baru Covid-19

Obat baricitinib dan sotrovimab dalam rekomendasi kali ini, yang merupakan pembaruan kedelapan pedoman WHO tentang terapi COVID-19, didasarkan pada bukti dari tujuh uji klinis yang melibatkan lebih dari 4.000 pasien dengan COVID-19 derajat yang tidak parah, parah, dan kritis.

Sudahkah kita bertindak bijak dalam pengobatan COVID-19?

Sekian

Yogyakarta, 17 Januari 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
COVID-19 dokter Healthy Life sekolah

2022 VAKSINASI BOOSTER COVID-19

BKAD - UNTUK TINGKATKAN IMUN PEGAWAI BKAD IKUTI PROGRAM VAKSIN COVID-19  BOOSTER

BOOSTER  VAKSINASI  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Tulisan ini sudah dimuat di kompas digital :

https://www.kompas.id/baca/bebas-akses/2022/01/17/booster-vaksin-covid-19

Rabu, 12 Januari 2022 rencana akan dilakukan booster vaksinasi COVID-19 di Indonesia. Pada hal, dalam beberapa pekan terakhir varian Omicron SARS-CoV2 telah muncul. Data yang ada saat ini tidak cukup untuk menilai dampak kekhawatiran varian baru ini terkait efektivitas vaksin, khususnya terhadap terjadinya penyakit derajat parah. Apa yang menarik?

.

Dosis booster diberikan kepada seseorang yang telah mendapatkan vaksinasi COVID-19 primer, pada suatu saat ketika seiring waktu, kekebalan dan perlindungan klinis telah turun di bawah tingkat yang dianggap cukup. Tujuan dari dosis booster adalah untuk mengembalikan efektivitas vaksin, dari yang dianggap tidak cukup lagi. Sebaliknya, dosis tambahan vaksin diberikan sebagai bagian dari seri primer yang diperluas, untuk populasi target di mana tingkat respons imun yang mengikuti seri primer standar dianggap tidak mencukupi. Tujuan dari dosis tambahan dalam seri primer adalah untuk meningkatkan respon imun pada tingkat efektivitas yang cukup. Secara khusus, individu dengan gangguan kekebalan dan juga lansia sering gagal untuk meningkatkan respon imun protektif setelah seri primer standar, sehingga diperlukan dosis vaksin tambahan yang bukan disebut booster.

.

Direktur Jenderal WHO telah menyerukan moratorium vaksinasi booster untuk orang dewasa yang sehat, guna mengatasi ketidakadilan yang berkelanjutan dan mendalam dalam akses vaksin global. Sementara banyak negara masih jauh dari mencapai target cakupan 40% pada akhir tahun 2021, beberapa negara lainnya telah memvaksinasi jauh melampaui ambang batas ini, telah menjangkau kelompok anak, dan bahkan menerapkan program vaksinasi booster yang ekstensif. Pada saat ini secara global sekitar 20% dosis vaksin COVID-19, setiap hari digunakan untuk vaksinasi booster atau dosis tambahan.

.

Data menunjukkan penurunan efektivitas vaksin terhadap infeksi SARS-CoV2 dan meningkatnya risiko infeksi COVID-19 seiring waktu sejak vaksinasi, dan penurunan yang lebih signifikan terjadi pada kelompok usia lansia. Bukti ini sebagian besar didasarkan pada penelitian observasional yang mungkin dipengaruhi oleh faktor perancu (confounding factors). Tingkat penurunan kekebalan berbeda berdasarkan jenis vaksin dan populasi target. Virus yang beredar, khususnya varian yang menjadi perhatian seperti delta dan omicron, tingkat infeksi sebelumnya dalam suatu komunitas pada saat vaksinasi primer; jadwal vaksinasi utama yang digunakan (yaitu interval dosis) dan intensitas paparan, semuanya mungkin memainkan peran dalam temuan tentang berkurangnya perlindungan, tetapi tidak dapat dinilai secara sistematis dari data yang tersedia saat ini.

.

Bertambah Dua, Ini Daftar Terbaru Kombinasi Vaksin Booster Covid-19 -  Nasional Katadata.co.id

Tinjauan sistematis dan analisis meta-regresi, khususnya pada empat vaksin dengan data terbanyak (yaitu vaksin BNT162b2, mRNA 1273, Ad26.COV2.S dan ChAdOx1-S), efektivitas vaksin terhadap COVID-19 parah menurun sekitar 8% selama periode 6 bulan di semua kelompok umur. Pada orang dewasa di atas 50 tahun, efektivitas vaksin terhadap penyakit parah menurun sekitar 10% selama periode yang sama. Efektivitas vaksin terhadap penyakit simtomatik menurun sebesar 32%  untuk mereka yang berusia di atas 50 tahun. Untuk beberapa vaksin yang tidak aktif (Vaksin CoronaVac dan vaksin COVID-19 BIBP), WHO telah mengeluarkan rekomendasi pemberian dosis tambahan kepada mereka yang berusia 60 tahun atau lebih, sebagai bagian dari seri primer untuk membuat kekebalan awal lebih kuat.

.

Setidaknya 126 negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia, telah mengeluarkan rekomendasi tentang vaksinasi booster dan 120 telah memulai implementasi program ini. Mayoritas negara-negara ini diklasifikasikan sebagai berpenghasilan tinggi, atau berpenghasilan menengah ke atas. Belum ada negara berpenghasilan rendah yang memperkenalkan program vaksinasi booster. Populasi target yang paling sering diprioritaskan untuk dosis booster adalah para lansia, petugas kesehatan dan individu dengan gangguan kekebalan. Pada individu dengan gangguan kekebalan, dosis booster dianggap sebagai dosis vaksinasi seri primer tambahan oleh WHO. 

.

Pada hal di beberapa negara yang memberikan dosis booster, tingkat cakupan untuk vaksinasi primer lengkap ada yang masih di bawah 30%. Mengingat ketidakpastian pasokan yang berkelanjutan dalam akses dan kesetaraan vaksin global, keputusan kebijakan dosis booster vaksin masing-masing negara perlu menyeimbangkan manfaat kesehatan masyarakat bagi populasi mereka, dengan dukungan kesetaraan global dalam akses vaksin yang diperlukan, untuk mengatasi evolusi virus dan dampak pandemi secara global.

.

Penggunaan vaksin booster secara pemodelan matematika, sesuai dengan  optimalisasi dampak kesehatan masyarakat terkait pasokan vaksin yang terbatas. Pemodelan ini menunjukkan bahwa pengurangan kematian yang lebih besar dapat dicapai dengan memberikan dosis booster pada populasi berisiko tinggi, daripada menggunakan dosis yang sama untuk imunisasi primer pada populasi berisiko rendah. Pada saat pasokan meningkat dan vaksinasi diperluas ke kelompok usia dengan prioritas lebih rendah, pertukaran mungkin perlu dipertimbangkan untuk memprioritaskan vaksinasi booster untuk populasi berisiko tinggi, daripada memperluas cakupan imunisasi primer ke populasi yang lebih muda. WHO saat ini tidak merekomendasikan vaksinasi umum pada anak dan remaja, karena beban penyakit parah pada kelompok usia ini rendah, dan cakupan yang tinggi belum tercapai pada lansia di semua negara, yang merupakan kelompok yang berisiko tinggi terkena penyakit parah.

.

Keputusan untuk merekomendasikan dan menerapkan dosis booster adalah kompleks dan membutuhkan, di luar data klinis dan epidemiologis, pertimbangan prioritas strategis dan program nasional. Namun demikian, yang terpenting adalah penilaian terhadap prioritas pasokan vaksin yang masih terbatas. Dalam konteks ini, prioritas harus diberikan pada pencegahan penyakit yang parah, dengan mempertahankan layanan dan sistem kesehatan agar tetap dapat berfungsi baik, tanpa kewalahan lagi.

.

Menerapkan dosis booster harus benar-benar didorong oleh bukti dan ditargetkan untuk kelompok populasi dengan risiko tertinggi penyakit serius. Sampai saat ini, bukti menunjukkan pengurangan minimal hingga sedang dari perlindungan vaksin terhadap penyakit parah selama 6 bulan setelah vaksinasi seri primer. Berkurangnya efektivitas vaksin dan durasi perlindungan terhadap varian Omicron, sedang dalam penelitian. Bukti tentang berkurangnya efektivitas vaksin, khususnya penurunan perlindungan terhadap penyakit parah pada populasi berisiko tinggi, memerlukan lebih banyak data. Selain itu, juga data dampak potensial dari vaksinasi booster pada durasi perlindungan, tidak hanya terhadap penyakit parah, tetapi juga terhadap penyakit ringan, infeksi ulang, dan kecepatan penularan.

.

Bersama dengan menerapkan protokol kesehatan ketat, mendapatkan vaksinasi COVID-19, baik seri pertama ataupun booster, akan membuat semua orang aman dari risiko penularan COVID-19.

Sudahkah kita bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 4 Januari 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life sekolah UHC vaksinasi

2021 Vaksinasi COVID-19 untuk Anak

Vaksinasi Covid-19 Anak 6-11 Tahun di Kota Tangerang Dimulai Besok 14  Desember 2021 - News Liputan6.com

VAKSINASI  COVID-19  UNTUK  ANAK

fx. wikan indrarto*)

Meskipun kasus COVID-19 positif pada anak usia 6-17 tahun hanya 10-13% dari total populasi, tetapi vaksinasi COVID-19 untuk anak tetaplah perlu untuk diberikan. Apa yang harus disiapkan?

.

Kasus COVID-19 positif terbanyak di Indonesia ada pada kelompok usia dewasa muda usia 18-30 tahun sebanyak 21%, dan dewasa usia 31-45 tahun sebanyak 25%. Setelah kelompok sasaran yang lebih prioritas tersebut telah mendapatkan vasinasi COVID-19, maka anak usia 6-11 tahun telah menjadi kelompok sasaran berikutnya.

.

Tujuan vaksinasi anak usia 6-11 tahun adalah pertama, mencegah sakit berat dan kematian pada anak yang terinfeksi COVID-19. Kedua, mencegah penularan pada anggota keluarga dan saudara dekatnya yang belum dapat divaksinasi atau yang mempunyai risiko terinfeksi. Ketiga, mendukung pelaksanaan pembelajaran tatap muka di sekolah, dan meminimalisasi penularan COVID-19 di sekolah. Keempat, mempercepat tercapainya kekebalan kelompok (herd immunity).

.

Jumlah sasaran program vaksinasi anak usia 6-11 tahun di Indonesia adalah 26,5 juta anak, berdasarkan data Sensus Penduduk 2020, yang akan diberikan secara bertahap. Vaksin yang digunakan adalah Sinovac (Coronavac atau COVID-19 Biofarma), sedangkan vaksin merek lain masih menunggu ijin penggunaan darurat (EUA) dari BPOM RI dan Rekomendasi ITAGI. Tempat pelaksanaan vaksinasi adalah di puskesmas, rumah sakit, atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, termasuk pos pelayanan vaksinasi di sekolah, satuan pendidikan lain, atau Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA).

.

Vaksinasi Covid-19 Anak Usia 6-11 Tahun Dimulai Besok

Vaksinasi anak dimulai secara bertahap di kabupaten atau kota, dengan syarat khusus, dan sudah dimulai di Jakarta Selasa, 14 Desember 2021 lalu. Kabupaten atau kota yang mulai dapat memberikan vaksinasi COVID-19 untuk anak, adalah yang cakupan vaksinasi COVID-19 dosis 1 sudah >70% dan cakupan vaksinasi pada lansia telah >60%. Jumlah sasaran anak usia 6-11 tahun secara nasional pada tahap pertama sebesar ± 8,8 juta anak. Ketersediaan vaksin untuk sasaran ini sudah terjamin memadai, sehingga tidak perlu dikawatirkan.

.

Pemberian vaksin COVID-19 Sinovac adalah dengan cara suntikan ke dalam otot atau intramuskular di bagian lengan atas, dengan dosis 0,5 mL. Sangat dianjurkan anak didampingi oleh orang tua atau wali. Vaksinasi ini diberikan sebanyak dua kali dengan interval minimal 28 hari, sedangkan jarak pemberian dengan vaksin lain pada program imunisasi rutin atau tambahan adalah 4 minggu.

.

Sebelum pelaksanaan vaksinasi COVID-19, anak harus dilakukan skrining dengan menggunakan format standar. Pertama adalah suhu tubuh, kalau suhu > 37,5 0C, maka vaksinasi ditunda sampai demam sembuh dan suhu stabil baik. Kedua adalah tekanan darah yang diukur menggunakan manset khusus anak. Jika tekanan darah >140/90 mmHg pengukuran tekanan darah diulang 5 (lima) sampai 10 (sepuluh) menit kemudian. Jika masih tinggi maka vaksinasi ditunda dan dirujuk ke dokter spesialis anak.

.

Ketiga adalah riwayat anak mendapat vaksin lain dalam program imunisasi rutin atau tambahan. Bila mendapatkan dalam rentang waktu kurang dari 2 minggu sebelumnya, maka vaksinasi COVID-19 ditunda sampai berjarak 4 minggu. Keempat, tentang riwayat sakit COVID-19 pada anak, untuk derajat ringan dan sedang vaksinasi ditunda 1 bulan setelah sembuh, sedangkan untuk derajat berat vaksinasi ditunda 3 bulan setelah sembuh. Kelima, apakah dalam keluarga terdapat kontak erat dengan pasien COVID-19, dan jika ada kontak, vaksinasi sebaiknya ditunda 2 minggu.

.

Keenam, apakah saat itu anak menderita demam atau batuk pilek atau nyeri menelan atau muntah atau diare. Jika ya, vaksinasi ditunda, dan anak dianjurkan untuk berobat. Ketuju, apakah dalam 7 hari terakhir anak pernah mendapat perawatan inap di RS atau menderita kedaruratan medis seperti sesak napas, kejang, tidak sadar, berdebar-debar, mengalami perdarahan, hipertensi, atau bergetar (tremor) hebat. Jika Ya, vaksinasi ditunda sampai dinyatakan sembuh oleh dokter yang menanganinya.

.

Kedelapan, apakah anak sedang menderita gangguan imunitas, seperti hiperimun, auto imun, alergi berat dan defisiensi imun: gizi buruk, HIV berat, dan penyakit keganasan. Jika Ya, vaksinasi ditunda, sampai diizinkan oleh dokter yang merawat. Kesembilan, apakah anak sedang menjalani pengobatan dengan obat imunosupresan jangka panjang, misalnya steroid lebih dari 2 minggu atau sitostatika, dan jika Ya, vaksinasi ditunda, sampai diizinkan oleh dokter yang merawat.

.

Kesepuluh, apakah anak mempunyai riwayat alergi berat seperti sesak napas, bengkak, urtikaria di seluruh tubuh atau gejala syok anafilaksis (tidak sadar) setelah vaksinasi apapun sebelumnya, dan jika Ya, maka pemberian vaksinasi disarankan dilakukan di rumah sakit. Kesebelas, apakah anak laki-laki penyandang penyakit hemofilia atau kelainan pembekuan darah, dan jika Ya, maka proses pemberian vaksinasi disarankan dilakukan juga di rumah sakit, dengan persiapan AHF (Anti Hemofilia Factors) yang memadai.

.

Langkah paling efektif yang dapat dilakukan untuk mengurangi penyebaran virus COVID-19, adalah dengan menerapkan protokol kesehatan ketat. Paling tidak berupa menjaga jarak fisik minimal 1 meter dari orang lain, memakai masker yang pas, membuka jendela untuk meningkatkan ventilasi, dan menghindari ruang yang berventilasi buruk atau ramai. Selain itu, juga menjaga tangan tetap bersih, etika batuk atau bersin secara benar, yaitu ke siku yang tertekuk atau menggunakan tisu sekali pakai, dan anak usia 6-11 tahun juga divaksinasi COVID-19, saat tiba gilirannya.

Sudahkah kita melakukannya?

Sekian

Yogyakarta, 15 Desember 2021

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
anak antibiotika COVID-19 dokter Healthy Life Malaria resisten obat tuberkulosis vaksinasi

2021 Waspada Resistensi Antimikroba

Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) – HISFARSI DIY

WASPADA   RESISTENSI  ANTIMIKROBA

fx. wikan indrarto*)

Ringkasan tulisan tersebut di atas dimuat di Kompas Digital Jumat, 26 November 2021 :

https://www.kompas.id/baca/opini/2021/11/26/waspada-resistensi-antimikroba

Pekan Kesadaran Antimikroba Sedunia diadakan pada 18-24 November setiap tahun. Tema 2021 adalah ‘Spread Awareness, Stop Resistance’ (Sebarkan Kewaspadaan, Hentikan Resistensi) untuk menyerukan kepada pemangku kepentingan, pembuat kebijakan, penyedia layanan kesehatan, dan masyarakat umum, untuk terlibat dalam kewaspadaan tentang Resistensi Antimikroba (AMR). Apa yang menarik?

.

Resistensi antimikroba (AMR) adalah ancaman kesehatan dan pembangunan global. Hal ini membutuhkan tindakan multisektoral yang mendesak untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), karena AMR adalah salah satu dari 10 besar ancaman kesehatan masyarakat global yang dihadapi umat manusia. Antimikroba meliputi antibiotik, antivirus, antijamur, dan antiparasit, yaitu obat yang digunakan untuk mencegah dan mengobati infeksi pada manusia, hewan, dan tumbuhan.

.

Pada tahun 2019, indikator AMR baru dimasukkan dalam kerangka pemantauan SDG. Indikator ini memantau frekuensi infeksi darah atau sepsis, yang disebabkan karena dua patogen yang telah resistan terhadap obat tertentu, yaitu Staphylococcus aureus (MRSA) yang resistan terhadap methicillin dan E. coli resisten terhadap sefalosporin generasi ketiga (3GC). Pada tahun 2019, terdapat 25 negara memberikan data tentang infeksi aliran darah atau sepsis akibat MRSA dan 49 negara memberikan data tentang E. coli. Dengan demikian tingkat rata-rata MRSA adalah 12,11% dan 3GC adalah 36,0%.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/09/25/2021-libas-tifus/

.

Strain Mycobacterium tuberculosis penyebab TBC yang resisten terhadap antibiotik mengancam kemajuan dalam mengatasi epidemi tuberkulosis global. Pada tahun 2018, ada sekitar setengah juta kasus baru TB yang resistan terhadap rifampisin (RR-TB), obat TB paling poten saat ini dan sebagian besar menjadi TB yang resistan terhadap berbagai obat (MDR-TB), suatu bentuk tuberkulosis yang resisten terhadap dua obat anti-TB yang paling kuat. Pada hal, hanya sepertiga dari sekitar setengah juta orang MDR/RR-TB pada tahun 2018 yang terdeteksi dan dilaporkan. MDR-TB memerlukan paket pengobatan yang lebih lama, kurang efektif dan jauh lebih mahal dibandingkan dengan TB yang tidak resistan. Selain itu, hanya kurang dari 60% MDR/RR-TB yang berhasil disembuhkan. Pada tahun 2018, diperkirakan 3,4% kasus TB baru dan 18% dari kasus yang sebelumnya diobati berubah menjadi TB-MDR/RR-TB dan munculnya resistensi terhadap obat TB ‘pilihan terakhir’ baru benar-benar merupakan ancaman besar.

.

Hati-hati! Sebelum Terapi Antibiotik, Pahami Dulu Tentang Resistensi  Antibiotik

Resistensi obat antivirus semakin mencemaskan, karena telah terjadi pada sebagian besar antivirus, termasuk obat antiretroviral (ARV) untuk HIV. Semua ARV, termasuk kelas yang lebih baru, berisiko menjadi sebagian atau seluruhnya tidak aktif karena munculnya HIV yang resistan terhadap obat (HIVDR). Pedoman ARV WHO terbaru sekarang merekomendasikan obat baru, dolutegravir, sebagai pengobatan lini pertama untuk orang dewasa dan anak. Munculnya jenis parasit yang resistan terhadap obat merupakan salah satu ancaman terbesar terhadap pengendalian malaria dan mengakibatkan peningkatan morbiditas dan mortalitas malaria. Terapi kombinasi berbasis artemisinin (ACT) adalah pengobatan lini pertama yang direkomendasikan untuk malaria P. falciparum tanpa komplikasi, dan digunakan oleh sebagian besar negara endemik malaria. Prevalensi infeksi jamur yang resistan terhadap obat meningkat dan memperburuk situasi pengobatan yang sudah sulit. Banyak infeksi jamur memiliki masalah saat diobati seperti toksisitas, terutama untuk pasien dengan infeksi lain yang mendasarinya (misalnya HIV). Candida auris yang resistan terhadap obat, salah satu infeksi jamur invasif yang paling umum, sudah tersebar luas dengan meningkatnya resistensi yang dilaporkan terhadap flukonazol, amfoterisin B dan vorikonazol serta resistensi caspofungin yang muncul. Hal ini menyebabkan lebih sulit untuk mengobati infeksi jamur, kegagalan pengobatan, tinggal di rumah sakit lebih lama dan pilihan pengobatan yang jauh lebih mahal.

.

AMR merupakan masalah kompleks yang membutuhkan pendekatan multisektoral yang terpadu. Pendekatan ‘One Health’ menyatukan berbagai sektor dan pemangku kepentingan yang terlibat dalam kesehatan hewan, tumbuhan, dan manusia, baik yang hidup di darat dan air, juga produksi makanan, pakan hewan dan lingkungan. Diharapkan setiap negara akan mengembangkan rencana aksi nasional mereka sendiri, untuk mengatasi resistensi antibiotik sejalan dengan rencana global. Untuk mencapai tujuan ini, rencana aksi global menetapkan lima tujuan strategis: (1) meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang resistensi antibiotik; (2) memperkuat pengetahuan melalui surveilans dan penelitian; (3) mengurangi kejadian infeksi; (4) mengoptimalkan penggunaan obat antibiotik; dan (5) memastikan investasi berkelanjutan dalam melawan resistensi antibiotik.

.

Para dokter, apoteker dan petugas kesehatan lainnya dapat berperan dengan mencegah infeksi dengan memastikan tangan, instrumen medis dan lingkungan RS bersih, memberikan vaksinasi terbaru kepada pasien (up to date), ketika terjadi dugaan infeksi bakteri, melakukan kultur bakteri dan pemeriksaan penunjang medik lainnya untuk konfirmasi, hanya meresepkan dan mengeluarkan antibiotika ketika benar-benar dibutuhkan, pada dosis dan durasi pengobatan yang tepat. Para pejabat dan pembuat kebijakan kesehatan dapat bertindak dengan menyusun rencana aksi regional atau nasional yang kuat untuk mengatasi resistensi antibiotika, meningkatkan pengawasan infeksi bakteri yang telah resisten terhadap antibiotika, memperkuat langkah-langkah pencegahan dan pengendalian infeksi, juga mengatur dan mempromosikan penggunaan  obat antibiotika yang tepat dan berkualitas. Selain itu, juga membuat informasi tentang dampak resistensi antibiotika dan memberikan apresiasi atas pengembangan obat, vaksin serta alat diagnostik yang baru.

Resistensi Antibiotik, Kelak Infeksi Bakteri Pun Bisa Jadi Penyebab  Kematian Halaman 1 - Kompasiana.com
.

Para petugas sektor pertanian dapat bertindak dengan memberikan antibiotika pada hewan, hanya saat digunakan untuk mengobati penyakit menular dan di bawah pengawasan seorang dokter hewan, vaksinasi hewan untuk mengurangi kebutuhan antibiotika dan mengembangkan alternatif tindakan, selain penggunaan antibiotika pada tanaman yang terinfeksi. Selain itu, mempromosikan dan menerapkan praktek yang baik di semua tahap produksi ataupun pengolahan makanan dari sumber hewan dan tumbuhan, mengadopsi sistem yang berkelanjutan dengan meningkatkan kebersihan, biosecurity dan penanganan hewan bebas infeksi, melaksanakan standar internasional untuk penggunaan antibiotika yang bertanggung jawab, yang ditetapkan oleh OIE, FAO dan WHO. Para pelaku industri bidang kesehatan dapat membantu dengan berinvestasi untuk pengembangan antibiotika, vaksin, dan alat diagnostik baru.

.

Momentum Pekan Kewaspadaan Antibiotik Sedunia (World Antibiotic Awareness Week) pada 18–24 November 2021, mengingatkan kita semua bahwa ‘Spread Awareness, Stop Resistance’ (sebarkan Kewaspadaan, Hentikan Resistensi) tergantung pada niat dan usaha kita bersama.

Sudahkah kita menyadari?

Sekian

Yogyakarta, 16 November 2021

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life sekolah UHC

2021 Kota Sehat paska COVID-19

Menuju Kota Sehat, Kota yang Ekonominya Maju - Semua Halaman - Intisari

KOTA  SEHAT  PASKA  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Pandemi COVID-19 memberikan pembelajaran yang sangat penting, untuk membangun kota kita yang lebih tangguh dan sehat. Apa yang menarik?

.

Saat ini lebih dari setengah populasi dunia sudah tinggal di kota, baik besar maupun kecil. Pada tahun 2050, proporsi itu diperkirakan akan meningkat menjadi hampir 70%. Pertumbuhan kota yang pesat ini menghadirkan tantangan dan peluang, juga terkait krisis perubahan iklim dan pandemi COVID-19 yang telah memperburuk ketidakadilan dan kerentanan sosial dan sistem kesehatan.

.

Belajar dari pandemi COVID-19 setiap kota hendaknya fokus pada pembangunan transportasi umum, akses ke ruang hijau dan biru, dan tempat yang mudah bagi orang untuk berjalan kaki, memberikan akses yang lebih setara terhadap barang dan jasa, dan menyediakan lingkungan hidup yang lebih sehat. Pemerintah kota harus mengintegrasikan pertimbangan kesehatan, kesiapsiagaan darurat, dan kesetaraan alam ke dalam kebijakan dan intervensi perencanaan kota dan wilayah, termasuk dalam penilaian dampak ekonomi, biaya, dan manfaat. 

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/06/07/2021-pelan-di-jalan/

.

Inspirasi dari pandemi COVID-19 adalah masyarakat perlu melindungi diri mereka sendiri, dan memulihkan diri secepat mungkin. Negara ataupun kota yang mencoba menghemat anggaran dengan mengabaikan perlindungan lingkungan, kesiapsiagaan darurat, sistem kesehatan, dan jaring pengaman sosial, telah terbukti justru rugi berkali-kali lipat. Banyak pemerintah dan dewan kota sekarang berkomitmen memberikan anggaran besar untuk mempertahankan dan akhirnya menghidupkan kembali kegiatan ekonomi. Investasi ini penting untuk melindungi mata pencaharian masyarakat, dan karena itu juga meningkatkan derajad kesehatan mereka.

.

Ada 6 langkah utama untuk pemulihan kota paska pandemi COVID-19, menjadi kota yang sehat dan hijau. Pertama, melindungi dan melestarikan sumber kesehatan manusia, yaitu alam sekitar, yang merupakan sumber udara bersih, air, dan makanan. Tekanan manusia, mulai dari penggundulan hutan, praktik pertanian yang intensif dan menimbulkan polusi, hingga pengelolaan dan konsumsi satwa liar yang tidak aman, merusak keseimbangan ini. Hal itu juga meningkatkan risiko munculnya penyakit menular pada manusia,  karena lebih dari 60% di antaranya berasal dari hewan, terutama dari satwa liar.  

.

Kedua, berinvestasi dalam ketersediaan air bersih, sanitasi, sampai alat kesehatan. Di seluruh dunia, miliaran orang tidak memiliki akses ke layanan paling dasar yang diperlukan untuk melindungi kesehatan mereka, baik dari COVID-19, atau risiko lainnya. Fasilitas cuci tangan sangat penting untuk pencegahan penularan penyakit menular, tetapi sekitar 40% rumah tangga tidak memilikinya. Kuman resisten antimikroba tersebar luas di air dan udara, sehingga pengelolaan yang baik diperlukan untuk mencegah penyebaran kembali ke manusia. Secara khusus, fasilitas  kesehatan harus dilengkapi dengan layanan air dan sanitasi, termasuk sabun dan air yang merupakan intervensi paling dasar untuk memutus penularan SARS-CoV-2 dan infeksi lainnya. Selain itu, juga akses ke alat kesehatan yang andal yang diperlukan untuk keselamatan melaksanakan sebagian besar prosedur medis, dan perlindungan kerja bagi tenaga kesehatan.

.

Kota Sehat untuk Masyarakat Cerdas - Tribun-medan.com

Ketiga, memastikan transisi energi yang sehat dan cepat. Saat ini, lebih dari tujuh juta orang per tahun meninggal karena paparan polusi udara di kota, sekitar 1 dari 8 dari semua kematian. Lebih dari 90% orang menghirup udara luar ruangan dengan tingkat polusi yang melebihi nilai aman kualitas udara. Dua pertiga dari paparan polusi luar ruangan ini dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil, yang juga yang mendorong perubahan iklim. Beberapa negara yang paling awal dan paling parah terkena COVID-19, seperti Italia dan Spanyol, dan negara yang paling berhasil mengendalikan penyakit ini, seperti Korea Selatan dan Selandia Baru, telah menempatkan pembangunan hijau di samping kesehatan sebagai jantung atas strategi pemulihan paska COVID-19.

.

Keempat, mempromosikan sistem pangan yang sehat dan berkelanjutan. Penyakit yang disebabkan oleh kurangnya akses ke makanan atau konsumsi makanan berkalori tinggi yang tidak sehat oleh sebagian besar warga kota, sekarang menjadi penyebab tunggal terbesar dari gangguan kesehatan global. Hal tersebut juga meningkatkan kerentanan terhadap risiko lain, misalnya obesitas dan diabetes, yang juga merupakan komorbid dan salah satu faktor risiko terbesar terjadinya kematian, saat terkena COVID-19.

.

Kelima, membangun kota yang sehat dan layak huni. Lebih dari setengah populasi dunia sekarang tinggal di kota, menggerakkan lebih dari 60% aktivitas ekonomi dan emisi gas rumah kaca. Karena kota memiliki kepadatan penduduk yang relatif tinggi dan padat lalu lintas, banyak perjalanan dapat dilakukan dengan lebih efisien dengan transportasi umum, berjalan kaki, dan bersepeda, dibandingkan dengan mobil pribadi. Ini juga membawa manfaat kesehatan utama melalui pengurangan polusi udara, cedera lalu lintas di jalan raya, dan lebih dari tiga juta kematian tahunan akibat tidak aktif secara fisik. Beberapa kota terbesar dan paling dinamis di dunia, seperti Milan, Paris, dan London, telah menanggapi krisis COVID-19 dengan membuat jalan bagi pejalan kaki dan memperluas jalur sepeda secara besar-besaran. Hal ini memungkinkan terjadinya transportasi yang jauh dengan beraktivitas fisik selama krisis,  meningkatkan kegiatan ekonomi, dan kualitas hidup warganya.

.

Keenam, berhenti menggunakan pajak untuk mendanai polusi. Kerusakan ekonomi akibat COVID-19 dan langkah-langkah pengendalian yang diperlukan, menghabiskan keuangan negara. Reformasi keuangan harus dilakukan dan sektor terbaik adalah dengan memangkas subsidi bahan bakar fosil. Secara global selama dekade terakhir, sekitar US$ 400 miliar pajak dihabiskan setiap tahun secara langsung, untuk mensubsidi bahan bakar fosil, yang mendorong perubahan iklim dan menyebabkan polusi udara. Pada hal biaya pribadi dan sosial yang ditimbulkan oleh gangguan kesehatan dan dampak lain dari polusi tersebut, umumnya tidak dimasukkan ke dalam komponen harga bahan bakar dan energi. Kalau dihitung rinci gangguan kesehatan dan kerusakan lingkungan, maka nilai sebenarnya subsidi bahan bakar menjadi lebih dari US$ 5 triliun per tahun. Angka ini lebih besar dari yang dikeluarkan oleh semua pemerintah di dunia untuk sektor kesehatan, bahkan sekitar 2.000 kali anggaran WHO.

.

Pandemi COVID-19 telah menunjukkan, bahwa warga masyarakat akan mendukung kebijakan pembangunan kota sehat yang sulit sekalipun, jika pengambilan keputusan dilakukan secara transparan, berbasis bukti, dan inklusif, serta memiliki tujuan yang jelas untuk melindungi kesehatan, keluarga, dan mata pencaharian masyarakat. 

Apakah kita sudah bijak?

Sekian

Yogyakarta, 5 November 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak antibiotika COVID-19 dokter Healthy Life vaksinasi

2021 Hari Pneumonia Sedunia

Berita pneumonia Terkini dan Terbaru Hari Ini - SINDOnews

HARI  PNEUMONIA  SEDUNIA  2021

fx. wikan indrarto*)

Pneumonia atau radang paru-paru adalah satu-satunya penyebab kematian oleh penyakit infeksi terbesar pada pasien dewasa dan anak, apalagi saat pandemi COVID-19. Tidak ada infeksi lain yang menyebabkan beban kematian setinggi ini. Apa yang harus dilakukan?

.

Hari Pneumonia Sedunia diperingati pada Jumat, 12 November 2021 dengan tema : Pneumonia (Pembunuh Terlupakan) Lawan dengan STOP Pneumonia, dan diadakan selama COP 26, Konferensi Perubahan Iklim PBB yang sempat dihadiri oleh Presiden Joko Widodo di Glasgow, Skotlandia. Ini adalah momen penting untuk menyatukan komunitas kesehatan, memperbaiki kualitas udara dan iklim untuk mengatasi pembunuh menular terbesar di planet ini.

.

baca juga :https://dokterwikan.com/2020/12/08/2020-kematian-anak-karena-covid-19/

.

Polusi udara adalah faktor risiko utama kematian akibat pneumonia di semua kelompok umur. Hampir sepertiga dari semua kematian akibat pneumonia disebabkan oleh udara yang tercemar, menewaskan sekitar 749.200 pada tahun 2019. Polusi udara rumah tangga berkontribusi pada 423.000 kematian ini, sementara polusi udara luar ruangan berkontribusi pada 326.000 kematian lainnya.

.

Bayi atau yang paling muda dan lansia atau yang sangat tua adalah kelompok usia yang paling berisiko. Bayi dan anak lebih rentan terhadap polusi udara rumah tangga, terutama yang tinggal di rumah yang secara teratur menggunakan bahan bakar dan teknologi yang berpolusi, untuk memasak, memanaskan dan penerangan. Sementara polusi udara luar ruangan, terutama dari polutan yang dikeluarkan oleh industri dan asap knalpot mobil, secara tidak proporsional mempengaruhi kesehatan organ pernapasan di antara orang dewasa yang lebih tua.

.

Pneumonia, Kenali Bahayanya bagi Anak-anak Halaman all - Kompas.com

Sembilan puluh persen kematian terkait polusi udara terkonsentrasi di 40 negara berpenghasilan rendah dan menengah. Di banyak negara Afrika, polusi udara menyumbang lebih dari 50 persen dari semua kematian akibat pneumonia. Dan sementara kematian pneumonia akibat polusi udara dalam rumah tangga menurun di Afrika, pada saatyang bersamaan secara tragis justru meningkat sebagai akibat dari polusi udara luar ruangan. Hal serupa ini juga berlaku untuk Asia, termasuk Indonesia.

.

Pneumonia tidak hanya berdampak pada individu anak, tetapi juga saudara kandung yang mungkin tidak lagi dapat bersekolah, karena orang tua mereka merawat anak yang sakit, atau sumber keuangan yang sudah semakin langka, harus dialihkan dari biaya sekolah menjadi untuk membayar biaya pengobatan. Itulah mengapa sangat penting untuk mempromosikan serangkaian praktik kesehatan untuk menghindari pneumonia sejak awal kehidupan anak, yaitu dengan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan, nutrisi yang cukup, dan suplementasi vitamin A.

.

Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan merupakan komponen kunci untuk memperkuat sistem kekebalan bayi. Bayi yang disusui secara eksklusif memiliki risiko infeksi dan penyakit parah, termasuk pnemonia, yang lebih rendah daripada mereka yang kekurangan sumber antibodi penting ini dari ibu. ASI eksklusif dapat menyebabkan penurunan 23% kejadian pneumonia. Bayi antara usia 0-5 bulan yang tidak disusui sama sekali menghadapi risiko kematian akibat pneumonia yang sangat besar, bahkan mencapai 15 kali lebih mungkin meninggal, karena pneumonia daripada bayi yang disusui secara eksklusif.

.

Nutrisi yang cukup membantu memastikan sistem kekebalan berfungsi dengan baik untuk melindungi anak dari pneumonia, serta penyakit lainnya. Anak yang kekurangan gizi menghadapi risiko penyakit yang lebih tinggi, durasi penyakit yang lebih lama, dan kemungkinan kematian akibat penyakit yang lebih besar. Tanpa akses ke makronutrien yang cukup seperti protein, lemak, dan karbohidrat, dan mikronutrien seperti seng dan vitamin A, anak lebih rentan terhadap pneumonia, dan anak yang bergizi baik memiliki risiko lebih rendah untuk meninggal karena pneumonia.

.

Vaksin adalah tindakan pencegahan pneumonia penting bagi anak, agar juga membantu keluarga terhindar dari biaya pengobatan dan beban keuangan lainnya akibat sakit. Pneumonia memiliki banyak patogen penyebab, tetapi sebagian besar yang paling mematikan sudah dapat dicegah dengan vaksin terhadap patogen ganas Streptococcus pneumoniae (pneumokokus), Haemophilus influenzae tipe b (Hib), pertusis (batuk rejan), dan campak. Semua vasin tersebut sudah tersedia di Indonesia, dan direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), meskipun vaksin pneumokokus belum masuk dalam program imunisasi dasar nasional.

Ketahui Obat Pneumonia Sesuai Penyebabnya - Alodokter

Obat antibiotik amoksisilin saat ini merupakan satu-satunya pengobatan lini pertama yang direkomendasikan untuk pneumonia. Obat ini dapat menyelamatkan nyawa dalam kasus infeksi yang disebabkan oleh bakteri, dan dapat mencegah sebagian besar kematian akibat pneumonia, dengan biaya hanya sekitar USD $ 0,21-0,42 per paket pengobatan. Tablet dispersi amoksisilin adalah terjangkau dan sesuai untuk digunakan pada anak kecil. Namun waktu adalah esensi, karena pengobatan yang tertunda mungkin tidak memadai untuk mencegah dampak yang menghancurkan dari pneumonia, yaitu kematian anak. Perang melawan pneumonia harus dipertimbangkan juga untuk memerangi resistensi antimikroba. Pemberian antibiotik secara tepat untuk mengobati infeksi bakteri yang didiagnosis dengan benar, dapat membantu mengatasi pneumonia yang menjadi masalah global ini. Faktanya adalah lebih banyak anak meninggal karena kurangnya akses ke antibiotik, daripada karena resistensi antibiotik.

.

Momentum Hari Pneumonia Sedunia 2021 tidak hanya mengingatkan kita akan pentingnya memperbaiki kualitas udara dan iklim sesaui COP 26 Glasgow, tetapi juga meningkatkan cakupan imunisasi pneumokokus, Hib, DPT, dan campak damlam melawan Pneumonia (Pembunuh Terlupakan).

Sudahkah kita melakukannya pada bayi di sekitar kita?

Sekian

Yogyakarta, 6 November 2021

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life sekolah vaksinasi

2021 Berdampingan dengan COVID-19

Disiplin Prokes Kunci Hidup Berdampingan dengan Covid-19 | merdeka.com

BERDAMPINGAN  DENGAN  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Tidak lama lagi COVID-19 akan berubah dari “pandemi” menjadi “endemi”. Momentum ini sebenarnya lebih subyektif daripada obyektif. Mengapa demikian?

.

Tidaklah realistis untuk berharap bahwa dunia akan benar-benar mampu membasmi virus COVID-19, tetapi cukup keluar dari fase pandemi dan masuk ke fase endemi. Pada kondisi endemi, virus akan terus ada di beberapa wilayah secara global selama bertahun-tahun, tetapi prevalensi dan dampaknya akan turun ke tingkat yang relatif dapat dikendalikan. Pada saat itu COVID-19 menjadi lebih mirip seperti influenza, daripada penyakit ganas yang sempat menghentikan semua aktivitas manusia di dunia. Ketika telah mencapai titik endemi itu, kita akan hidup jauh lebih mudah dan nyaman.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/10/29/2021-covid-19-di-sekolah/

.

Penyakit menular dapat disebut endemi apabila tingkat infeksi atau jumlah reproduksi stabil pada angka satu, yang berarti satu orang yang terinfeksi, rata-rata menginfeksi hanya satu orang lainnya. Selain itu, juga ‘fatality rate’ kurang lebih 2 persen, kasus aktif kurang lebih 100 ribu, serta ‘positivity rate’ kurang dari 5 persen. Syarat WHO sebuah wilayah mendapat status endemis dan dapat hidup berdampingan dengan COVID-19, sebenarnya tidaklah hanya laju penularan yang dapat dikendalikan ke tingkat kasus sporadis saja. Ada syarat lainnya termasuk sistem dan kapasitas layanan kesehatan memadai dan tersedia, juga mencakup deteksi kasus, tes, isolasi, dan karantina. Selain itu, risiko terjadinya wabah telah diminimalkan, tindakan pencegahan tersedia, risiko kasus impor dari wilayah dan luar negara dapat dikelola baik. Juga partisipasi masyarakat terwujud secara sadar dalam menerapkan protokol kesehatan.

.

Tingkat infeksi dipengaruhi oleh ketersediaan dan pemberian vaksin COVID-19 yang luas, untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity) yaitu, ketika cukup banyak populasi telah memperoleh kekebalan untuk memberikan perlindungan kepada semua orang di sekitarnya. Namun demikian, harapan itu telah pupus di beberapa wilayah dan negara, karena kegagalan untuk memvaksinasi cukup banyak orang dan juga karena terjadinya varian COVID-19 lain yang lebih menular, telah beredar luas.

.

Menurunkan jumlah reproduksi virus COVID-19 menjadi hanya satu, sebenarnya hanyalah syarat “minimal” untuk menjadi endemik. Ada faktor lain yang ikut berperan, tetapi faktor tersebut lebih rumit, karena lebih subjektif.

.

COVID-19 menjadi endemik ketika pakar kesehatan, pemerintah, dan masyarakat secara bersama-sama, memutuskan untuk setuju dengan tingkat dampak buruk yang ditimbulkan virus. Jelas saja itu hal yang rumit, karena subyektivitasnya tinggi, terkait sangat mungkin orang akan berbeda pendapat tentang tingkat yang dapat diterima.

.

Indonesia, Sudah Siap Hidup Berdampingan dengan Covid-19?

Dampak terburuk infeksi COVID-19 jelas kematian. Banyak orang akan bersilang pendapat tentang tingkat kematian yang “dapat diterima”. Pada hal kematian bukan satu-satunya dampak COVID-19 yang perlu dianggap serius. COVID-19 dapat juga menyebabkan gejala jangka panjang pada sebagian kecil kasus, sekitar 10 persen pada orang yang tidak divaksinasi dan sejumlah kecil orang yang telah divaksinasi. Gejalanya meliputi penurunan fungsi otak, kehilangan ingatan, dan kelelahan, bahkan disabilitas yang disebut “Long COVID-19”.

.

Selain subyektivitas tingkat kematian dan ‘long COVID-19’ yang dapat diterima, juga tingkat ketersediaan obat anti COVID-19. Ada yang mensyaratkan ketersediaan obat produksi infustri farmasi Merck, yaitu molnupiravir, yang diklaim mampu memangkas setengah kejadian rawat inap di rumah sakit karena COVID-19 untuk orang yang berisiko, kemudahan persyaratan perjalanan dan aktivitas masyarakat. Selain itu, juga tingkat ketersediaan ICU, IGD dan tempat tidur rumah sakit, juga rantai pasokan obat dan alat kesehatan, yang tidak sepenuhnya obyektif.

.

Faktor utama penentu berakhirnya pandemi adalah saat kita tidak khawatir lagi, terhadap gangguan kesehatan karena COVID-19. Pandemi berakhir ketika krisis berhenti, tidak hanya ketika mencapai penurunan laju penularan atau tingkat kematian saja, tetapi juga faktor lain yang sedikit subjektif.

.

Temuan kasus COVID-19 pertama di Indonesia disampaikan langsung oleh Presiden Joko Widodo hari Senin, 2 Maret 2020 di Jakarta. Pada saat itu virus SARS COV-2 penyebab COVID-19 telah menyebar hingga ke lebih dari 60 negara, dengan jumlah kasus COVID-19 mencapai angka 88.382 kasus, terutama di Cina (79.826 kasus), Korea Selatan (3.736 kasus), Italia (1.694 kasus) dan Iran (978 kasus). Selanjutnya pada Senin, 11 Maret 2020 WHO menyatakan COVID-19 sebagai pandemi. Segera setelah itu, banyak pemerintah di seluruh dunia satu per satu mengumumkan keadaan darurat nasional. Sebaliknya, pernyataan resmi yang mengatakan keadaan darurat, krisis, dan pandemi telah berakhir tentu tidak mudah terjadi, karena saat penentuan endemik proses tersebut terjadi secara terbalik arah.

.

Proses pertama, masing-masing negara akan mendeklarasikan berakhirnya keadaan darurat yang didasarkan pada kriteria obyektif reproduksi COVID-19 dan beberapa kriteria subjektif di atas. Beberapa negara dengan tingkat vaksinasi yang tinggi, akan mencapai kondisi endemi lebih cepat daripada yang lain. Setelah banyak negara menjadi endemi, maka WHO pada akhirnya akan mengumumkan berakhirnya pandemi global COVID-19.

.

Saat sekelompok masyarakat sudah tidak lagi kawatir akan laju penularan dan dampak buruknya, maka kehidupan baru berdampingan dengan COVID-19 dapat dilakukan dengan penerapan protokol kesehatan di 6 aktivitas utama masyarakat. Pertama, aktivitas di tempat perdagangan, mencakup pasar toko modern, maupun tradisional. Kedua, aktivitas perjalanan menggunakan transportasi publik di darat, laut, maupun udara. Ketiga, aktivitas wisata di destinasi pariwisata, hotel, restoran, dan ruang pertunjukan seni. Keempat, aktivitas produktif di kantor atau pabrik, baik pemerintah, swasta, bank, pabrik besar, maupun UKM/IRT. Kelima, aktivitas keagamaan di lokasi ibadah dan kegiatan keagamaan, serta keenam, aktivitas pendidikan utama di sekolah seperti PAUD, SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi, maupun pendidikan tambahan.

7 Alasan Singapura Berani Hidup Bersama Covid-19, Tidak Semua Negara Bisa  Tiru Halaman all - Kompas.com
.

Penerapan protokol kesehatan, terutama menggunakan masker di tempat umum adalah sangat bermanfaat karena berbagai alasan. Pertama, tingkat infeksi dan kematian lebih rendah. Penelitian yang membandingkan tingkat kematian di negara di mana orang diharuskan memakai masker dengan negara di mana masker adalah pilihan, terlihat perbedaan yang sangat mencolok. Tingkat kematian meningkat rata-rata 43 persen setiap minggu di negara di mana orang tidak diharuskan memakai masker, dibandingkan hanya 2,8 persen di negara yang mewajibkan masker.

.

Kedua, mencegah penularan dari Orang Tanpa Gejala (OTG), karena dibutuhkan rata-rata lima hari bagi orang yang terinfeksi COVID-19 untuk menunjukkan gejala. Bahkan 18 persen kasus COVID-19 tidak pernah mengalami gejala sama sekali, tetapi dapat menularkannya kepada orang lain. Selain itu, hampir setengah kasus COVID-19 terinfeksi dari orang yang tidak menunjukkan gejala apapun. Ketiga, melindungi orang dengan komorbid agar tidak terinfeksi, karena mereka paling berrisiko mengalami komplikasi yang sangat parah, saat terinfeksi virus corona. Keempat, menggunakan masker adalah pencegahan tertular yang paling mudah bagi orang yang belum divaksin COVID-19.

.

Bersama dengan mencuci tangan dan menjaga jarak fisik, marilah kita menggunakan masker dan mendapatkan vaksinasi COVID-19 dosis lengkap, sehingga akan membuat semua orang dapat kembali melakukan 6 aktivitas utama, dengan nyaman, senang dan aman dari risiko penularan COVID-19, sebelum resmi dinyatakan sebagai endemi.

Sudahkah kita bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 28 Oktober 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life sekolah vaksinasi

2021 COVID-19 di Sekolah

Sekolah Diminta Bentuk Satgas Covid-19 Awasi Prokes Saat Pembelajaran Tatap  Muka : Okezone Nasional

COVID-19  DI  SEKOLAH

fx. wikan indrarto*)

Setelah laju penularan COVID-19 melandai dan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas di sekolah telah diselenggarakan, masih juga ada kekawatiran terjadinya klaster sekolah yang menakutkan, bagi sebagian orangtua. Apa yang sebaiknya dicermati?

.

Ringkasan tulisan ini telah dimuat di media online.

https://news.detik.com/kolom/d-5791356/tak-perlu-cemas-kluster-covid-di-sekolah

Gejala klinis COVID-19 pada anak yang perlu diwaspadai oleh orangtua sebenarnya cukup khas. Misalnya demam atau meriang, batuk, hidung tersumbat atau pilek, dan kehilangan indra penciuman. Juga sakit tenggorokan, sesak atau kesulitan bernapas, sakit perut hingga diare, ada juga mual dan muntah. Selain itu, kelelahan, sakit kepala, nyeri otot atau tubuh dan kehilangan selera makan. Jika muncul keluhan tersebut, sebaiknya anak tidak diijinkan mengikuti PTM terlebih dahulu.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/02/06/2021-covid-19-pada-anak/

.

Jika anak pada akhirnya terkonfirmasi positif COVID-19, orangtua wajib memberikan pengobatan atau perawatan yang tepat. Orang tua atau pengasuh harus mendampingi anak selama proses penyembuhan. Yang utama adalah anak menjalani isolasi mandiri di rumah, bukan dirawat inap di RS. Selain itu, orang tua harus ikut menamani anak selama isolasi, tidak meninggalkan anak sendirian di rumah, dan memastikan anak merasa aman dan nyaman. Juga jaminan pemberian nutrisi yang cukup selama perawatan, termasuk ASI sesuai usia anak, karena anak sedang dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Orangtua juga wajib tetap memberikan stimulasi pada anak dengan berbagai kegiatan dan permainan yang menyenangkan, memicu aktivitasi otak, dan tumbuh kembang anak. Yang terakhir adalah pengobatan dan pemberian vitamin sesuai derajad klinis penyakit, oleh dokter yang menangani. Setelah dokter menyatakan anak telah pulih, anak dapat segera diantar untuk mengikuti PTM di sekolah kembali.

.

Anak yang dirawat oleh dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) periode Maret-Desember 2020, terdapat 37.707 anak terinfeksi COVID-19 dan 522 kematian. Data yang diterbitkan dalam jurnal ‘Frontiers in Pediatrics’ pada 23 September 2021 lalu ini juga menyajikan komorbid dan gagal napas sebagai penyebab utama  (54,5%) kematian anak akibat COVID-19, diikuti dengan sepsis atau syok septik (23,7%). Sebagian besar anak yang meninggal dengan COVID-19 memiliki komorbid gizi buruk (18,0%), diikuti oleh penyakit kanker (17,3%) dan penyakit jantung bawaan (9,0%). Ada 62 (11,8%) anak terkonfirmasi COVID-19 yang meninggal tanpa komorbid atau penyakit penyerta.

.

Muncul Kasus Covid-19 di Sekolah, Bamsoet Minta Evaluasi Menyeluruh PTM  Terbatas

Sementara komorbid terbanyak pada anak yang meninggal terkait COVID-19 adalah malnutrisi dan kanker, disusul penyakit jantung bawaan, kelainan genetik, tuberkulosis (TBC), penyakit ginjal kronik, cerebral palsy, dan penyakit autoimun. Orangtua yang memiliki anak tanpa mengalami salah satu komorbid tersebut, tentu saja tidak boleh ragu untuk mengijinkan anak ikut PTM di sekolah.

.

Terdapat 10 propinsi di Indonesia dengan kasus anak terkonfirmasi COVID-19 terbanyak yaitu Jawa Barat, Riau, Jawa Tengah, Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Bali, Sumatera Utara, DIY, dan Papua. Sedangkan 7 (tujuh) propinsi dengan kasus kematian anak terkonfirmasi COVID-19 terbanyak, yaitu Jawa Tengah, DKI Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Jawa Timur, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Orangtua yang tinggal di 10 propinsi tersebut wajib lebih waspada, apabila memiliki anak dengan komorbid, sebelum mengijinkan anak mengikuti PTM terbatas di sekolah.

.

Pada Jumat, 22 Oktober 2021 tidak hanya Indonesia, tetapi terdapat 225 negara di dunia yang melaporkan adanya COVID-19 dengan total kasus terkonfirmasi 242.348.657 orang dan meninggal 4.927.723 orang. Pada saat yang sama di Indonesia kasus terkonfirmasi positif COVID-19 sebanyak 4.238.594 orang (hanya 1,7% dari kasus global), sembuh 4.080.351 orang dan meninggal 143.153 orang (hanya 0,29% dari kematian global). Dengan demikian, kita semua yang tinggal di wilayah Indonesia sebaiknya tidak perlu takut lagi akan keganasan COVID-19, yang telah dapat diatasi dengan baik.

.

Hari Pertama Masuk Sekolah, Mayoritas Belajar Jarak Jauh

Direktur eksekutif Program Darurat Kesehatan WHO, Dr. Mike Ryan mengingatkan bahwa virus COVID-19 akan menetap, karena terus bermutasi di seluruh dunia. Selain itu, WHO juga menjelaskan bahwa vaksin tidak menjamin pembasmian COVID-19 seperti virus lainnya. Bahkan kepala penasihat medis Gedung Putih AS Dr. Anthony Fauci dan Stephane Bancel, CEO pembuat vaksin Moderna, telah memperingatkan bahwa dunia harus hidup dengan COVID-19 selamanya, seperti halnya influenza. Oleh sebab itu, proses PTM terbatas di sekolah seharusnya memang tidak perlu ditunda lagi, termasuk di seluruh wilayah Indonesia, karena ‘telah’ terjadi perubahan COVID-19 dari pandemi menjadi endemi.

.

Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI terkait klaster PTM terbatas terbanyak terjadi di Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Timur. Pada 23 September 2021 terdapat 1.302 klaster sekolah. Klaster terbanyak di Sekolah Dasar dengan 583 klaster, PAUD 251 klaster, SMP 244 klaster, SMA 109 klaster, SMK 70 klaster, dan SLB 13 klaster. Meski klaster sekolah merebak, tetapi Mendikbudristek RI Nadiem Makarim menegaskan PTM di sekolah tidak akan dihentikan, bahkan terus dilanjutkan.

.

Untuk sekolah yang telah menjalankan PTM, keamanan PTM terbatas harusnya terus ditingkatkan melalui optimalisasi fasilitas sekolah dan perbaikan protokol kesehatan. Selain itu, perlu mempertimbangkan kapasitas kelas, memperbaiki sirkulasi udara, misalnya membentuk ruang kelas terbuka atau jendela kelas agar selalu dibuka, karena hal ini akan memperkecil risiko penularan COVID-19. Saat belajar di rumah yang sudah berlangsung selama pandemi COVID-19, banyak anak terbukti mampu belajar dan mengerjakan tugas sekolah. Oleh sebab itu frekuensi dan durasi PTM di sekolah sebaiknya tetap dibatasi, dan dilanjutkan atau dilengkapi dengan pembelajaran di rumah.

.

Untuk meningkatkan perlindungan anak, penting sekali bahwa setiap orang di sekitarnya, termasuk pengasuh, guru dan pegawai non akademik di sekolah, divaksinasi COVID-19 bila memenuhi syarat. Tentunya supaya vaksinasi pada orang tersebut tidak hanya melindungi diri mereka sendiri, tetapi juga melindungi orang lain yang tidak atau belum memungkinkan untuk divaksin, contohnya anak di bawah usia 12 tahun.

.

Data klaster sekolah sebaiknya jangan lagi mencemaskan orangtua, karena data itu merupakan kompilasi sejak Juli 2020, bukan berdasarkan laporan sejak PTM terbatas dilakukan dalam satu bulan terakhir. Dengan demikian penyebutan istilah ‘klaster’ sebenarnya juga berlebihan dan kurang tepat, karena angka 2,8 persen sekolah dari 46.500 sekolah yang melaporkan itu bukanlah data klaster, tetapi data sekolah yang melaporkan adanya warga sekolah yang pernah tertular COVID-19, meskipun penularannya belum tentu terjadi di sekolah. Berarti masih ada lebih dari 97 persen sekolah memiliki warga yang tidak pernah tertular COVID-19. Juga terkait isu yang beredar mengenai 15.000 siswa dan 7.000 guru positif COVID-19 akibat pelaksanaan PTM Terbatas, sebenarnya data tersebut belum diverifikasi, sehingga masih mungkin ditemukan kesalahan.

Sudahkah kita bijak dan tidak takut mengijinkan anak mengikuti PTM di sekolah, karena aman dari bahaya COVID-19?

Sekian

Yogyakarta, 25 Oktober 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?