Pneumonia atau radang paru-paru adalah satu-satunya penyebab kematian oleh penyakit infeksi terbesar pada pasien dewasa dan anak, apalagi saat pandemi COVID-19. Tidak ada infeksi lain yang menyebabkan beban kematian setinggi ini. Apa yang harus dilakukan?
.
Hari Pneumonia Sedunia diperingati pada Jumat, 12 November 2021 dengan tema : Pneumonia (Pembunuh Terlupakan) Lawan dengan STOP Pneumonia, dan diadakan selama COP 26, Konferensi Perubahan Iklim PBB yang sempat dihadiri oleh Presiden Joko Widodo di Glasgow, Skotlandia. Ini adalah momen penting untuk menyatukan komunitas kesehatan, memperbaiki kualitas udara dan iklim untuk mengatasi pembunuh menular terbesar di planet ini.
Polusi udara adalah faktor risiko utama kematian akibat pneumonia di semua kelompok umur. Hampir sepertiga dari semua kematian akibat pneumonia disebabkan oleh udara yang tercemar, menewaskan sekitar 749.200 pada tahun 2019. Polusi udara rumah tangga berkontribusi pada 423.000 kematian ini, sementara polusi udara luar ruangan berkontribusi pada 326.000 kematian lainnya.
.
Bayi atau yang paling muda dan lansia atau yang sangat tua adalah kelompok usia yang paling berisiko. Bayi dan anak lebih rentan terhadap polusi udara rumah tangga, terutama yang tinggal di rumah yang secara teratur menggunakan bahan bakar dan teknologi yang berpolusi, untuk memasak, memanaskan dan penerangan. Sementara polusi udara luar ruangan, terutama dari polutan yang dikeluarkan oleh industri dan asap knalpot mobil, secara tidak proporsional mempengaruhi kesehatan organ pernapasan di antara orang dewasa yang lebih tua.
.
Sembilan puluh persen kematian terkait polusi udara terkonsentrasi di 40 negara berpenghasilan rendah dan menengah. Di banyak negara Afrika, polusi udara menyumbang lebih dari 50 persen dari semua kematian akibat pneumonia. Dan sementara kematian pneumonia akibat polusi udara dalam rumah tangga menurun di Afrika, pada saatyang bersamaan secara tragis justru meningkat sebagai akibat dari polusi udara luar ruangan. Hal serupa ini juga berlaku untuk Asia, termasuk Indonesia.
.
Pneumonia tidak hanya berdampak pada individu anak, tetapi juga saudara kandung yang mungkin tidak lagi dapat bersekolah, karena orang tua mereka merawat anak yang sakit, atau sumber keuangan yang sudah semakin langka, harus dialihkan dari biaya sekolah menjadi untuk membayar biaya pengobatan. Itulah mengapa sangat penting untuk mempromosikan serangkaian praktik kesehatan untuk menghindari pneumonia sejak awal kehidupan anak, yaitu dengan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan, nutrisi yang cukup, dan suplementasi vitamin A.
.
Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan merupakan komponen kunci untuk memperkuat sistem kekebalan bayi. Bayi yang disusui secara eksklusif memiliki risiko infeksi dan penyakit parah, termasuk pnemonia, yang lebih rendah daripada mereka yang kekurangan sumber antibodi penting ini dari ibu. ASI eksklusif dapat menyebabkan penurunan 23% kejadian pneumonia. Bayi antara usia 0-5 bulan yang tidak disusui sama sekali menghadapi risiko kematian akibat pneumonia yang sangat besar, bahkan mencapai 15 kali lebih mungkin meninggal, karena pneumonia daripada bayi yang disusui secara eksklusif.
.
Nutrisi yang cukup membantu memastikan sistem kekebalan berfungsi dengan baik untuk melindungi anak dari pneumonia, serta penyakit lainnya. Anak yang kekurangan gizi menghadapi risiko penyakit yang lebih tinggi, durasi penyakit yang lebih lama, dan kemungkinan kematian akibat penyakit yang lebih besar. Tanpa akses ke makronutrien yang cukup seperti protein, lemak, dan karbohidrat, dan mikronutrien seperti seng dan vitamin A, anak lebih rentan terhadap pneumonia, dan anak yang bergizi baik memiliki risiko lebih rendah untuk meninggal karena pneumonia.
.
Vaksin adalah tindakan pencegahan pneumonia penting bagi anak, agar juga membantu keluarga terhindar dari biaya pengobatan dan beban keuangan lainnya akibat sakit. Pneumonia memiliki banyak patogen penyebab, tetapi sebagian besar yang paling mematikan sudah dapat dicegah dengan vaksin terhadap patogen ganas Streptococcus pneumoniae (pneumokokus), Haemophilus influenzae tipe b (Hib), pertusis (batuk rejan), dan campak. Semua vasin tersebut sudah tersedia di Indonesia, dan direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), meskipun vaksin pneumokokus belum masuk dalam program imunisasi dasar nasional.
Obat antibiotik amoksisilin saat ini merupakan satu-satunya pengobatan lini pertama yang direkomendasikan untuk pneumonia. Obat ini dapat menyelamatkan nyawa dalam kasus infeksi yang disebabkan oleh bakteri, dan dapat mencegah sebagian besar kematian akibat pneumonia, dengan biaya hanya sekitar USD $ 0,21-0,42 per paket pengobatan. Tablet dispersi amoksisilin adalah terjangkau dan sesuai untuk digunakan pada anak kecil. Namun waktu adalah esensi, karena pengobatan yang tertunda mungkin tidak memadai untuk mencegah dampak yang menghancurkan dari pneumonia, yaitu kematian anak. Perang melawan pneumonia harus dipertimbangkan juga untuk memerangi resistensi antimikroba. Pemberian antibiotik secara tepat untuk mengobati infeksi bakteri yang didiagnosis dengan benar, dapat membantu mengatasi pneumonia yang menjadi masalah global ini. Faktanya adalah lebih banyak anak meninggal karena kurangnya akses ke antibiotik, daripada karena resistensi antibiotik.
.
Momentum Hari Pneumonia Sedunia 2021 tidak hanya mengingatkan kita akan pentingnya memperbaiki kualitas udara dan iklim sesaui COP 26 Glasgow, tetapi juga meningkatkan cakupan imunisasi pneumokokus, Hib, DPT, dan campak damlam melawan Pneumonia (Pembunuh Terlupakan).
Sudahkah kita melakukannya pada bayi di sekitar kita?
Sekian
Yogyakarta, 6 November 2021
*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161
Tidak lama lagi COVID-19 akan berubah dari “pandemi” menjadi “endemi”. Momentum ini sebenarnya lebih subyektif daripada obyektif. Mengapa demikian?
.
Tidaklah realistis untuk berharap bahwa dunia akan benar-benar mampu membasmi virus COVID-19, tetapi cukup keluar dari fase pandemi dan masuk ke fase endemi. Pada kondisi endemi, virus akan terus ada di beberapa wilayah secara global selama bertahun-tahun, tetapi prevalensi dan dampaknya akan turun ke tingkat yang relatif dapat dikendalikan. Pada saat itu COVID-19 menjadi lebih mirip seperti influenza, daripada penyakit ganas yang sempat menghentikan semua aktivitas manusia di dunia. Ketika telah mencapai titik endemi itu, kita akan hidup jauh lebih mudah dan nyaman.
Penyakit menular dapat disebut endemi apabila tingkat infeksi atau jumlah reproduksi stabil pada angka satu, yang berarti satu orang yang terinfeksi, rata-rata menginfeksi hanya satu orang lainnya. Selain itu, juga ‘fatality rate’ kurang lebih 2 persen, kasus aktif kurang lebih 100 ribu, serta ‘positivity rate’ kurang dari 5 persen. Syarat WHO sebuah wilayah mendapat status endemis dan dapat hidup berdampingan dengan COVID-19, sebenarnya tidaklah hanya laju penularan yang dapat dikendalikan ke tingkat kasus sporadis saja. Ada syarat lainnya termasuk sistem dan kapasitas layanan kesehatan memadai dan tersedia, juga mencakup deteksi kasus, tes, isolasi, dan karantina. Selain itu, risiko terjadinya wabah telah diminimalkan, tindakan pencegahan tersedia, risiko kasus impor dari wilayah dan luar negara dapat dikelola baik. Juga partisipasi masyarakat terwujud secara sadar dalam menerapkan protokol kesehatan.
.
Tingkat infeksi dipengaruhi oleh ketersediaan dan pemberian vaksin COVID-19 yang luas, untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity) yaitu, ketika cukup banyak populasi telah memperoleh kekebalan untuk memberikan perlindungan kepada semua orang di sekitarnya. Namun demikian, harapan itu telah pupus di beberapa wilayah dan negara, karena kegagalan untuk memvaksinasi cukup banyak orang dan juga karena terjadinya varian COVID-19 lain yang lebih menular, telah beredar luas.
.
Menurunkan jumlah reproduksi virus COVID-19 menjadi hanya satu, sebenarnya hanyalah syarat “minimal” untuk menjadi endemik. Ada faktor lain yang ikut berperan, tetapi faktor tersebut lebih rumit, karena lebih subjektif.
.
COVID-19 menjadi endemik ketika pakar kesehatan, pemerintah, dan masyarakat secara bersama-sama, memutuskan untuk setuju dengan tingkat dampak buruk yang ditimbulkan virus. Jelas saja itu hal yang rumit, karena subyektivitasnya tinggi, terkait sangat mungkin orang akan berbeda pendapat tentang tingkat yang dapat diterima.
.
Dampak terburuk infeksi COVID-19 jelas kematian. Banyak orang akan bersilang pendapat tentang tingkat kematian yang “dapat diterima”. Pada hal kematian bukan satu-satunya dampak COVID-19 yang perlu dianggap serius. COVID-19 dapat juga menyebabkan gejala jangka panjang pada sebagian kecil kasus, sekitar 10 persen pada orang yang tidak divaksinasi dan sejumlah kecil orang yang telah divaksinasi. Gejalanya meliputi penurunan fungsi otak, kehilangan ingatan, dan kelelahan, bahkan disabilitas yang disebut “Long COVID-19”.
.
Selain subyektivitas tingkat kematian dan ‘long COVID-19’ yang dapat diterima, juga tingkat ketersediaan obat anti COVID-19. Ada yang mensyaratkan ketersediaan obat produksi infustri farmasi Merck, yaitu molnupiravir, yang diklaim mampu memangkas setengah kejadian rawat inap di rumah sakit karena COVID-19 untuk orang yang berisiko, kemudahan persyaratan perjalanan dan aktivitas masyarakat. Selain itu, juga tingkat ketersediaan ICU, IGD dan tempat tidur rumah sakit, juga rantai pasokan obat dan alat kesehatan, yang tidak sepenuhnya obyektif.
.
Faktor utama penentu berakhirnya pandemi adalah saat kita tidak khawatir lagi, terhadap gangguan kesehatan karena COVID-19. Pandemi berakhir ketika krisis berhenti, tidak hanya ketika mencapai penurunan laju penularan atau tingkat kematian saja, tetapi juga faktor lain yang sedikit subjektif.
.
Temuan kasus COVID-19 pertama di Indonesia disampaikan langsung oleh Presiden Joko Widodo hari Senin, 2 Maret 2020 di Jakarta. Pada saat itu virus SARS COV-2 penyebab COVID-19 telah menyebar hingga ke lebih dari 60 negara, dengan jumlah kasus COVID-19 mencapai angka 88.382 kasus, terutama di Cina (79.826 kasus), Korea Selatan (3.736 kasus), Italia (1.694 kasus) dan Iran (978 kasus). Selanjutnya pada Senin, 11 Maret 2020 WHO menyatakan COVID-19 sebagai pandemi. Segera setelah itu, banyak pemerintah di seluruh dunia satu per satu mengumumkan keadaan darurat nasional. Sebaliknya, pernyataan resmi yang mengatakan keadaan darurat, krisis, dan pandemi telah berakhir tentu tidak mudah terjadi, karena saat penentuan endemik proses tersebut terjadi secara terbalik arah.
.
Proses pertama, masing-masing negara akan mendeklarasikan berakhirnya keadaan darurat yang didasarkan pada kriteria obyektif reproduksi COVID-19 dan beberapa kriteria subjektif di atas. Beberapa negara dengan tingkat vaksinasi yang tinggi, akan mencapai kondisi endemi lebih cepat daripada yang lain. Setelah banyak negara menjadi endemi, maka WHO pada akhirnya akan mengumumkan berakhirnya pandemi global COVID-19.
.
Saat sekelompok masyarakat sudah tidak lagi kawatir akan laju penularan dan dampak buruknya, maka kehidupan baru berdampingan dengan COVID-19 dapat dilakukan dengan penerapan protokol kesehatan di 6 aktivitas utama masyarakat. Pertama, aktivitas di tempat perdagangan, mencakup pasar toko modern, maupun tradisional. Kedua, aktivitas perjalanan menggunakan transportasi publik di darat, laut, maupun udara. Ketiga, aktivitas wisata di destinasi pariwisata, hotel, restoran, dan ruang pertunjukan seni. Keempat, aktivitas produktif di kantor atau pabrik, baik pemerintah, swasta, bank, pabrik besar, maupun UKM/IRT. Kelima, aktivitas keagamaan di lokasi ibadah dan kegiatan keagamaan, serta keenam, aktivitas pendidikan utama di sekolah seperti PAUD, SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi, maupun pendidikan tambahan.
.
Penerapan protokol kesehatan, terutama menggunakan masker di tempat umum adalah sangat bermanfaat karena berbagai alasan. Pertama, tingkat infeksi dan kematian lebih rendah. Penelitian yang membandingkan tingkat kematian di negara di mana orang diharuskan memakai masker dengan negara di mana masker adalah pilihan, terlihat perbedaan yang sangat mencolok. Tingkat kematian meningkat rata-rata 43 persen setiap minggu di negara di mana orang tidak diharuskan memakai masker, dibandingkan hanya 2,8 persen di negara yang mewajibkan masker.
.
Kedua, mencegah penularan dari Orang Tanpa Gejala (OTG), karena dibutuhkan rata-rata lima hari bagi orang yang terinfeksi COVID-19 untuk menunjukkan gejala. Bahkan 18 persen kasus COVID-19 tidak pernah mengalami gejala sama sekali, tetapi dapat menularkannya kepada orang lain. Selain itu, hampir setengah kasus COVID-19 terinfeksi dari orang yang tidak menunjukkan gejala apapun. Ketiga, melindungi orang dengan komorbid agar tidak terinfeksi, karena mereka paling berrisiko mengalami komplikasi yang sangat parah, saat terinfeksi virus corona. Keempat, menggunakan masker adalah pencegahan tertular yang paling mudah bagi orang yang belum divaksin COVID-19.
.
Bersama dengan mencuci tangan dan menjaga jarak fisik, marilah kita menggunakan masker dan mendapatkan vaksinasi COVID-19 dosis lengkap, sehingga akan membuat semua orang dapat kembali melakukan 6 aktivitas utama, dengan nyaman, senang dan aman dari risiko penularan COVID-19, sebelum resmi dinyatakan sebagai endemi.
Sudahkah kita bertindak bijak?
Sekian
Yogyakarta, 28 Oktober 2021
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161
Setelah laju penularan COVID-19 melandai dan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas di sekolah telah diselenggarakan, masih juga ada kekawatiran terjadinya klaster sekolah yang menakutkan, bagi sebagian orangtua. Apa yang sebaiknya dicermati?
.
Ringkasan tulisan ini telah dimuat di media online.
Gejala klinis COVID-19 pada anak yang perlu diwaspadai oleh orangtua sebenarnya cukup khas. Misalnya demam atau meriang, batuk, hidung tersumbat atau pilek, dan kehilangan indra penciuman. Juga sakit tenggorokan, sesak atau kesulitan bernapas, sakit perut hingga diare, ada juga mual dan muntah. Selain itu, kelelahan, sakit kepala, nyeri otot atau tubuh dan kehilangan selera makan. Jika muncul keluhan tersebut, sebaiknya anak tidak diijinkan mengikuti PTM terlebih dahulu.
Jika anak pada akhirnya terkonfirmasi positif COVID-19, orangtua wajib memberikan pengobatan atau perawatan yang tepat. Orang tua atau pengasuh harus mendampingi anak selama proses penyembuhan. Yang utama adalah anak menjalani isolasi mandiri di rumah, bukan dirawat inap di RS. Selain itu, orang tua harus ikut menamani anak selama isolasi, tidak meninggalkan anak sendirian di rumah, dan memastikan anak merasa aman dan nyaman. Juga jaminan pemberian nutrisi yang cukup selama perawatan, termasuk ASI sesuai usia anak, karena anak sedang dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Orangtua juga wajib tetap memberikan stimulasi pada anak dengan berbagai kegiatan dan permainan yang menyenangkan, memicu aktivitasi otak, dan tumbuh kembang anak. Yang terakhir adalah pengobatan dan pemberian vitamin sesuai derajad klinis penyakit, oleh dokter yang menangani. Setelah dokter menyatakan anak telah pulih, anak dapat segera diantar untuk mengikuti PTM di sekolah kembali.
.
Anak yang dirawat oleh dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) periode Maret-Desember 2020, terdapat 37.707 anak terinfeksi COVID-19 dan 522 kematian. Data yang diterbitkan dalam jurnal ‘Frontiers in Pediatrics’ pada 23 September 2021 lalu ini juga menyajikan komorbid dan gagal napas sebagai penyebab utama (54,5%) kematian anak akibat COVID-19, diikuti dengan sepsis atau syok septik (23,7%). Sebagian besar anak yang meninggal dengan COVID-19 memiliki komorbid gizi buruk (18,0%), diikuti oleh penyakit kanker (17,3%) dan penyakit jantung bawaan (9,0%). Ada 62 (11,8%) anak terkonfirmasi COVID-19 yang meninggal tanpa komorbid atau penyakit penyerta.
.
Sementara komorbid terbanyak pada anak yang meninggal terkait COVID-19 adalah malnutrisi dan kanker, disusul penyakit jantung bawaan, kelainan genetik, tuberkulosis (TBC), penyakit ginjal kronik, cerebral palsy, dan penyakit autoimun. Orangtua yang memiliki anak tanpa mengalami salah satu komorbid tersebut, tentu saja tidak boleh ragu untuk mengijinkan anak ikut PTM di sekolah.
.
Terdapat 10 propinsi di Indonesia dengan kasus anak terkonfirmasi COVID-19 terbanyak yaitu Jawa Barat, Riau, Jawa Tengah, Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Bali, Sumatera Utara, DIY, dan Papua. Sedangkan 7 (tujuh) propinsi dengan kasus kematian anak terkonfirmasi COVID-19 terbanyak, yaitu Jawa Tengah, DKI Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Jawa Timur, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Orangtua yang tinggal di 10 propinsi tersebut wajib lebih waspada, apabila memiliki anak dengan komorbid, sebelum mengijinkan anak mengikuti PTM terbatas di sekolah.
.
Pada Jumat, 22 Oktober 2021 tidak hanya Indonesia, tetapi terdapat 225 negara di dunia yang melaporkan adanya COVID-19 dengan total kasus terkonfirmasi 242.348.657 orang dan meninggal 4.927.723 orang. Pada saat yang sama di Indonesia kasus terkonfirmasi positif COVID-19 sebanyak 4.238.594 orang (hanya 1,7% dari kasus global), sembuh 4.080.351 orang dan meninggal 143.153 orang (hanya 0,29% dari kematian global). Dengan demikian, kita semua yang tinggal di wilayah Indonesia sebaiknya tidak perlu takut lagi akan keganasan COVID-19, yang telah dapat diatasi dengan baik.
.
Direktur eksekutif Program Darurat Kesehatan WHO, Dr. Mike Ryan mengingatkan bahwa virus COVID-19 akan menetap, karena terus bermutasi di seluruh dunia. Selain itu, WHO juga menjelaskan bahwa vaksin tidak menjamin pembasmian COVID-19 seperti virus lainnya. Bahkan kepala penasihat medis Gedung Putih AS Dr. Anthony Fauci dan Stephane Bancel, CEO pembuat vaksin Moderna, telah memperingatkan bahwa dunia harus hidup dengan COVID-19 selamanya, seperti halnya influenza. Oleh sebab itu, proses PTM terbatas di sekolah seharusnya memang tidak perlu ditunda lagi, termasuk di seluruh wilayah Indonesia, karena ‘telah’ terjadi perubahan COVID-19 dari pandemi menjadi endemi.
.
Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI terkait klaster PTM terbatas terbanyak terjadi di Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Timur. Pada 23 September 2021 terdapat 1.302 klaster sekolah. Klaster terbanyak di Sekolah Dasar dengan 583 klaster, PAUD 251 klaster, SMP 244 klaster, SMA 109 klaster, SMK 70 klaster, dan SLB 13 klaster. Meski klaster sekolah merebak, tetapi Mendikbudristek RI Nadiem Makarim menegaskan PTM di sekolah tidak akan dihentikan, bahkan terus dilanjutkan.
.
Untuk sekolah yang telah menjalankan PTM, keamanan PTM terbatas harusnya terus ditingkatkan melalui optimalisasi fasilitas sekolah dan perbaikan protokol kesehatan. Selain itu, perlu mempertimbangkan kapasitas kelas, memperbaiki sirkulasi udara, misalnya membentuk ruang kelas terbuka atau jendela kelas agar selalu dibuka, karena hal ini akan memperkecil risiko penularan COVID-19. Saat belajar di rumah yang sudah berlangsung selama pandemi COVID-19, banyak anak terbukti mampu belajar dan mengerjakan tugas sekolah. Oleh sebab itu frekuensi dan durasi PTM di sekolah sebaiknya tetap dibatasi, dan dilanjutkan atau dilengkapi dengan pembelajaran di rumah.
.
Untuk meningkatkan perlindungan anak, penting sekali bahwa setiap orang di sekitarnya, termasuk pengasuh, guru dan pegawai non akademik di sekolah, divaksinasi COVID-19 bila memenuhi syarat. Tentunya supaya vaksinasi pada orang tersebut tidak hanya melindungi diri mereka sendiri, tetapi juga melindungi orang lain yang tidak atau belum memungkinkan untuk divaksin, contohnya anak di bawah usia 12 tahun.
.
Data klaster sekolah sebaiknya jangan lagi mencemaskan orangtua, karena data itu merupakan kompilasi sejak Juli 2020, bukan berdasarkan laporan sejak PTM terbatas dilakukan dalam satu bulan terakhir. Dengan demikian penyebutan istilah ‘klaster’ sebenarnya juga berlebihan dan kurang tepat, karena angka 2,8 persen sekolah dari 46.500 sekolah yang melaporkan itu bukanlah data klaster, tetapi data sekolah yang melaporkan adanya warga sekolah yang pernah tertular COVID-19, meskipun penularannya belum tentu terjadi di sekolah. Berarti masih ada lebih dari 97 persen sekolah memiliki warga yang tidak pernah tertular COVID-19. Juga terkait isu yang beredar mengenai 15.000 siswa dan 7.000 guru positif COVID-19 akibat pelaksanaan PTM Terbatas, sebenarnya data tersebut belum diverifikasi, sehingga masih mungkin ditemukan kesalahan.
Sudahkah kita bijak dan tidak takut mengijinkan anak mengikuti PTM di sekolah, karena aman dari bahaya COVID-19?
Sekian
Yogyakarta, 25 Oktober 2021
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161
Telah diterbitkan dongeng untuk membantu anak tetap berpengharapan selama pandemi COVID-19. Dongeng ini dapat digunakan oleh orang tua, guru, dan tenaga kesehatan dalam mendampingi anak. Apa yang menarik?
.
Dongeng ini merupakan sekuel dari buku berjudul ‘My Hero is You: how kids can fight COVID-19!’, yang diterbitkan pada April 2020. Buku mengacu pada kenyataan sehari-hari jutaan anak sejak awal pandemi COVID-19. Bagi banyak anak, pandemi COVID-19 terus mengganggu proses pendidikan, bermain, dan waktu mereka bersama teman, keluarga, dan guru. Dongen menarik ini dapat diperoleh dari link berikut ini :
Dongeng ini ditujukan terutama untuk anak berusia 6-11 tahun, isinya menceritakan kembalinya Ario, makhluk fantasi yang berkeliling dunia membantu anak menemukan harapan di masa depan dan kegembiraan dalam kesenangan sederhana. Bersama dengan teman lama dan baru, Ario mengatasi ketakutan, frustrasi, dan kekhawatiran yang dihadapi anak dalam fase pandemi COVID-19 saat ini, dan mengeksplorasi berbagai mekanisme koping yang dapat mereka gunakan ketika menghadapi emosi yang sulit seperti ketakutan, kesedihan, kemarahan, dan keputusasaan.
Dongeng terbaru ini diambil dari tanggapan terhadap survei terhadap lebih dari 5.000 anak, orang tua, pengasuh, dan guru dari seluruh dunia yang menggambarkan tantangan yang terus mereka hadapi di tahun kedua pandemi.
.
Menjangkau anak di mana-mana, terbit dalam bahasa Arab, Bengali, Cina, Inggris, Perancis, Portugis, Rusia, Spanyol, dan Swahili. Dongeng sebelumnya sekarang sudah tersedia dalam lebih dari 140 bahasa, termasuk bahasa isyarat dan Braille, dan dalam lebih dari 50 adaptasi, dalam format video animasi, teater, buku aktivitas, dan audio. Contohnya termasuk adaptasi untuk penduduk asli Amerika, buku mewarnai untuk anak-anak di Suriah, dan animasi yang dikembangkan oleh tim yang dipimpin oleh Stanford Medicine di AS.
Sejak April 2020, pemerintah, universitas, organisasi non-pemerintah, outlet media, dan selebritas telah bergabung dengan PBB untuk memfasilitasi distribusi buku pertama seri ini secara global. Inisiatif termasuk peluncuran versi audio dan lokakarya yang berkaitan dengan buku di antara para pengungsi di Cox’s Bazar, Bangladesh; penyiaran versi animasi di televisi nasional Mongolia; dan dimasukkannya buku tersebut sebagai suplemen gratis dengan surat kabar nasional di Yunani.
Buku cerita baru dapat digunakan oleh orang tua dan guru bersama dengan panduan berjudul ‘My Hero is You’, yang dirilis oleh kelompok yang sama pada Februari 2021. Sudah tersedia dalam lebih dari selusin bahasa, panduan ini menyarankan orang tua, pengasuh, dan guru tentang cara untuk menciptakan kondisi yang tepat bagi anak-anak untuk secara terbuka berbagi perasaan dan kekhawatiran mereka terkait dengan pandemi dan termasuk kegiatan berdasarkan buku dalam seri.
Dongeng ini tentang Ario sebagai makhluk ajaib yang datang dari hati anak-anak, dia selalu mendengar anak-anak ketika mereka sedang bermimpi, bermain, dan bahkan ketika mereka tidak memikirkan orang lain sama sekali.
Satu tahun telah berlalu sejak Ario dan teman-temannya telah berkeliling dunia, memberi tahu anak-anak cara melindungi diri dari ganasnya pandemi COVID-19. Mereka telah belajar banyak dan menemukan cara baru untuk bermain dan tetap berkomunikasi dengan teman dan keluarga. Namun demikian, beberapa bentuk kekhawatiran anak-anak lebih nyata, dan beberapa anak mengalami ketakutan yang lebih hebat.
Anak-anak sering lupa bahwa Ario tetap berada di dalam hati anak, Ario tetap di langit pengharapan mereka, dan menunggu seorang anak untuk memanggilnya ke bumi. Ario merindukan teman-temannya Sara, Sasha, Salem, Leila dan Kim, yang akan selalu menjadi pahlawan bagi anak-anak.
Pada dongeng kali ini, diceritakan Ario bertemu harimau, pohon, gunung, dan salju, sehingga berbagai ungkapan penuh makna dalam kehidupan anak layak disampaikan dengan penegasan. Misalnya saat Ario menekankan ajakan mari kita menjadi teman baru, terlebih saat teman merasa malu, tertekan atau sedih, maka kita tawarkan tentang apa yang dibutuhkan. Ternyata anak-anak butuh harapan. Ario menekankan bahwa anak-anak dapat memegangnya, agar tumbuh dan tumbuh terus semakin berkembang, karena harapan sebenarnya ada di sekitar kita.
Misalnya saat harus tinggal di rumah karena aturan pembatasan aktivitas warga, semua anggota keluarga memiliki lebih banyak waktu untuk memasak bersama, berkebun dan membersihkan rumah, bahkan ayah bunda mampu membacakan dongeng di malam hari, jauh lebih banyak dari periode sebelumnya. Ayah bunda bahkan dapat mengajari berbagai pelajaran untuk anak-anaknya di rumah, ketika anak tidak dapat pergi ke sekolah. Sangat menyenangkan ketika mereka semua saling berdekatan di rumah. Bahkan tanaman dan benda-benda di rumah semua sangat bahagia, karena sebelum pandemi COVID-19, tidak ada siapa-siapa memperhatikannya. Perubahan terkadang dapat menakutkan, tapi juga dapat membawa manfaat bagi apapaun di sekitar kita.
Anak-anak sebaiknya secepatnya kembali pergi belajar ke sekolah, karena hal itu adalah harapan untuk masa depannya yang gemilang. Pelukan hangat ayah bunda kepada anak saat mengantarnya ke sekolah akan mengingatkan anak untuk berani, apalagi setelah cukup lama beraktivitas di dalam rumah saja, sejak awal pandemi tahun lalu. Kegelapan membuat anak sering merasa sedih, seperti ketika kakek atau anggota keluarga ada yang sakit, terpapar COVID-19 dan kemudian anak merasa kehilangan. Pengalaman buruk itu seperti saat lampu padam dan menciptakan kegelapan, anak sangat berharap hal tersebut jangan pernah terjadi lagi.
Sejak pandemi COVID-19 anak-anak sering mengalami kekhawatiran yang semakin menjadi. Ario menginspirasi orangtua sebaiknya mencoba untuk mendengarkan, karena terkadang ketika anak-anak menangis atau mengeluh untuk melepaskan kekhawatiran mereka, mereka mulai merasa lebih baik. Kalau di wilayah tertentu laju penularan COVID-19 sudah melandai, anak-anak sudah boleh diajak keluar rumah agar kembali tertawa bahagia, dengan sobat karibnya. Karena momentum itu mungkin pertama kalinya setelah sekian lama, maka para sahabat itu berpelukan lama. Keduanya mungkin punya lebih banyak waktu bermain di sekitar rumah sekarang, karena pembelajaran di sekolah belum tentu langsung akan segera dimulai. Itulah saat yang tepat untuk melatih anak melakukan protokol kesehatan secara ketat. Mencuci tangan, menjaga jarak setidaknya satu meter, dan mengenakan masker, adalah ketrampilan yang harus terus diajarkan agar menjadi kebiasaan. Selain itu, juga memastikan bahwa tidak ada seorang anakpun yang merasa sendirian.
Kita harus melakukan semua yang kita mampu untuk menjaga anak tetap aman selama pandemi COVID-19 saat ini. Dongeng untuk anak terbitan WHO berjudul ‘My Hero is You: how kids can fight COVID-19!’, dapat dibacakan dan diceritakan kepada semua anak di sekitar kita, agar anak tetap berpengharapan, berimajinasi dan berkreasi sebaik mungkin, meski masih dalam banyak keterbatasan karena pandemi COVID-19.
Apakah kita sudah bertindak?
Sekian
Yogyakarta, 7 Oktober 2021
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161
Hari Keselamatan Pasien Sedunia (World Patient Safety Day) diperingati setiap tahun dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran dan keterlibatan publik, juga untuk mempromosikan keselamatan pasien di fasilitas kesehatan. Tema Hari Keselamatan Pasien Sedunia 2021–2022 adalah membuat perawatan ibu dan bayi baru lahir lebih aman. Apa yang perlu dilakukan untuk bayi?
Hari Keselamatan Pasien Bayi Baru Lahir memiliki 5 tujuan. Pertama, mengurangi praktik medis yang tidak perlu dan berbahaya, bagi bayi baru lahir. Kedua, memperkuat kapasitas dan dukungan petugas kesehatan untuk perawatan bayi baru lahir yang aman. Ketiga, mempromosikan persalinan yang aman dan penuh hormat. Keempat, meningkatkan penggunaan obat dan transfusi darah yang aman.
.
Tujuan pertama, yaitu mengurangi praktik yang tidak perlu dan berbahaya bagi bayi baru lahir, didasari data bahwa lebih dari tiga perempat kematian ibu, lebih dari 40% kelahiran mati, dan seperempat kematian neonatus disebabkan oleh komplikasi selama persalinan dan nifas. Di beberapa fasilitas kesehatan justru terlalu sedikit intervensi medis atau terlambat diberikan, kepada ibu bersalin dan bayi baru lahir, sedangkan di tempat lain justru ibu dan bayi baru lahir menerima terlalu banyak intervensi, bahkan juga terlalu cepat. Sebagian besar bayi baru lahir mungkin mengalami penjepitan tali pusat dini, penghisapan ciaran di mulut dan hidung secara rutin atau berlebihan, dan pemisahan dari ibu segera setelah lahir tanpa alasan medis kuat.
.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menerbitkan serangkaian rekomendasi tentang perawatan intrapartum untuk terbentuknya pengalaman ibu melahirkan yang positif, agar merawat bayinya dengan penuh kegembiraan. Juga mengharuskan setiap fasilitas kesehatan sepenuhnya mematuhi Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI. Untuk keselamatan bayi baru lahir, tidak dianjurkan menjepit tali pusat lebih awal (sebelum satu menit setelah lahir), tidak boleh melakukan penyedotan cairan di mulut dan hidung pada neonatus, yang lahir dari ibu dengan cairan ketuban bening, dan mampu mulai bernapas sendiri setelah lahir. Selain itu, juga larangan agar tidak secara rutin memisahkan ibu dan bayi setelah lahir.
.
Alasan tujuan kedua, yaitu memperkuat kapasitas dan dukungan bagi petugas kesehatan untuk perawatan ibu dan bayi baru lahir yang aman, adalah bahwa semua tenaga kesehatan, termasuk dokter, bidan dan perawat, memiliki peran penting dalam memberikan perawatan yang aman dan terhormat untuk mencegah kematian ibu dan bayi baru lahir, bahkan juga kelahiran mati. Namun demikian, saat ini sistem kesehatan di seluruh dunia menghadapi kekurangan tenaga kesehatan, terutama perawat dan bidan. Selain itu, distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata antar dan di dalam negara, menambah kesenjangan untuk mencapai target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG).
.
Sedangkan tujuan ketiga, yaitu mempromosikan perawatan penuh hormat untuk persalinan yang aman, dapat dilakukan dengan menetapkan mekanisme identifikasi bayi baru lahir di tempat bersalin, pencatatan sipil, dan akte kelahiran sebagai identitas hukum untuk semua bayi sejak lahir. Selain itu, perlu ditetapkan mekanisme untuk proses ganti rugi pada kasus bayi baru lahir yang mengalami penganiayaan, pelanggaran privasi, kerahasiaan, tindakan medis tanpa persetujuan, dan perawatan yang tidak adil. Juga jaminan agar pasangan ibu-bayi tetap bersama dalam sebuah ruangan atau rawat gabung, agar mampu meningkatkan kesempatan untuk menyusui dan kontak kulit-ke-kulit antara ibu dan bayi setiap saat, terlebih dalam satu jam pertama setelah kelahiran.
.
Perlu juga dipastikan bahwa semua bayi lahir mati dan bayi baru lahir yang meninggal, ditangani dengan penuh hormat. Juga orang tua serta keluarga diperbolehkan untuk mengungkapkan duka cita, dengan cara yang sesuai dengan budaya dan agama masing-masing.
.
Sedangkan tujuan keempat, yaitu meningkatkan penggunaan obat dan transfusi darah yang aman, disebabkan karena akses keduanya adalah kunci untuk pencegahan dan pengelolaan komplikasi berat, seperti sepsis neonatal. Kesalahan pengobatan pada neonatus, di mana dosis obat harus dihitung berdasarkan berat badan atau usia, merupakan sumber kesalahan utama ketidakamanan. Untuk itu, biasakanlah menggunakan huruf kapital dan jelas dalam mengurangi kesalahan saat memesan dan meresepkan obat. Juga menerapkan langkah untuk mengurangi kesalahan, karena nama dan kemasan obat yang mirip atau terdengar mirip, dan mengurangi kemungkinan kesalahan selama penyimpanan maupun pemberian obat. Jika tersedia, gunakan rekam medis elektronik, sistem peresepan elektronik, dan barcode (kode batang) untuk menyederhanakan pertukaran informasi dan meningkatkan keterbacaan resep dokter.
.
Pastikan ketersediaan obat antidotum seperti nalokson, untuk mengatasi depresi pernapasan bayi baru lahir atau asfiksia neonatus. Menerapkan kebijakan dan protokol rinci, yang menguraikan penggunaan antibiotik yang benar sebagai bagian dari program pengelolaan antibiotik secara rasional. Juga memastikan praktik injeksi yang aman dan penggunaan teknik aseptik saat memberikan obat secara suntikan atau parenteral, dan transfusi darah pada bayi baru lahir.
.
Tujuan kelima adalah melaporkan dan menganalisis insiden keselamatan dalam persalinan, didasari oleh data bahwa di seluruh dunia, ibu dan bayi baru lahir dapat terpapar bahaya yang dapat dihindari, selama proses persalinan di fasilitas kesehatan, dan beberapa kasus menjadi meninggal atau menderita morbiditas parah yang tidak perlu. Sebagian besar kerugian ini dapat dicegah dengan perawatan berkualitas tinggi, intervensi berbasis bukti yang diberikan selama kehamilan, persalinan dan melahirkan. Sistem pelaporan insiden keselamatan pasien dapat memberikan pembelajaran tentang penyebab bahaya dan tindakan perbaikan, untuk mencegahnya di masa depan. Audit Kematian Maternal dan Perinatal adalah intervensi penting untuk mengurangi kematian bayi baru lahir yang dapat dihindari.
.
Pandemi COVID-19 telah memicu krisis kesehatan lanjutan yang berdampak buruk pada ibu dan bayi baru lahir, karena terganggunya layanan kesehatan rutin. Momentum Hari Keselamatan Pasien Bayi Baru Lahir menunjukkan betapa pentingnya memperkuat layanan kesehatan dan kebidanan secara rutin, seperti sebelum pandemi COVID-19, demi keselamatan pasien bayi baru lahir di sekitar kita.
Sudahkah kita bijak?
Sekian
Yogyakarta, 2 Oktober 2021
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161
Setelah pandemi COVID-19 usai, para dokter akan lebih fokus pada layanan kesehatan digital atau telemedicine. Para dokter akan berusaha untuk membuat layanan inovasi untuk pencegahan, diagnosis dan pengobatan penyakit secara digital, yang mulai saat ini dianggap lebih aspiratif dan futuristik. Apa yang menarik?
.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kesehatan digital, atau penggunaan teknologi digital untuk kesehatan, sebagai bidang praktik dokter yang lebih banyak menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, secara rutin dan inovatif untuk memenuhi kebutuhan kesehatan. Kesehatan digital atau eHealth adalah bidang yang baru muncul, penggabungan ilmu kedokteran dengan ilmu komputasi tingkat lanjut dalam data, genomik, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence).
.
Banyak dokter, termasuk dokter berbagai spesialis telah memanfaatkan keunggulan layanan kesehatan digital selama pandemi COVID-19 dan krisis kesehatan ini, bahkan lebih sering tidak seperti sebelumnya. Bentuknya berupa konsultasi video, telemonitoring, dan penggunaan kecerdasan buatan, karena kunjungan pasien ke rumah sakit dan klinik praktek dokter telah dibatasi di seluruh dunia. Teknologi ini sangat membantu dalam memberikan layanan kesehatan penting bagi para pasien. Namun demikian, ternyata ada banyak masalah baru, misalnya kesehatan digital dan virtual mungkin dapat memperparah ketidaksetaraan kesehatan (health inequalities), dan tidak semua orang di dunia memiliki ponsel cerdas atau sambungan internet secara memadai.
Kesehatan digital berpotensi membantu mengatasi masalah teknis layanan dokter, seperti jarak yang jauh dan akses yang sulit, tetapi tetap saja masih memiliki berbagai tantangan mendasar. Contoh kendala yang dihadapi dalam sistem kesehatan secara umum, misalnya tata kelola medis yang menurun, pelatihan dokter yang tidak memadai, dan keterbatasan infrastruktur teknologi informasi, misalnya akses internet yang buruk atau peralatan digital versi terdahulu yang masih digunakan.
Kendala tersebut perlu dipertimbangan dan diperhatikan, selain karena persyaratan spesifik yang dibutuhkan untuk layanan kesehatan digital lebih rumit, juga seharusnya berada dalam sistem kesehatan yang lebih luas dan lingkungan pendukung yang memadai. Untuk itu beberapa rekomendasi perlu dicermati, misalnya untuk para manajer sistem kesehatan, perlu rutin mengecek notifikasi digital yang bertujuan untuk mendorong ketersediaan di berbagai titik layanan. Dari perspektif pasien, layanan ini akan membantu untuk mengakses informasi dan layanan kesehatan dengan lebih cepat ke penyedia telemedicine. Begitu pula kebutuhan dan kompetensi tenaga dokter agar dapat terus ditingkatkan untuk memenuhi praktik yang berkualitas tinggi, melalui intervensi seperti pelatihan atau mLearning.
.
Implementasi kesehatan digital bergantung pada sejumlah faktor, dan keberhasilannya sering kali dipengaruhi oleh faktor intrinsik berupa desain program digital, serta faktor eksternal yaitu pendukung teknologi informasi. Keberhasilan implementasi intervensi kesehatan digital secara luas didasarkan pada komponen penting berikut. Perama, konten dan informasi kesehatan yang baik, menarik, dan akurat, misalnya pedoman layanan kesehatan atau praktik dokter berbasis bukti. Kedua, intervensi kesehatan digital sesuai kebutuhan pasien. Ketiga, aplikasi digital lengkap yang memfasilitasi penyampaian intervensi medis secara digital. Dapat juga dikombinasikan dengan konten edukasi bidang kesehatan, misalnya pesan teks, atau aplikasi telepon pintar. Keempat, teknologi informasi dan lingkungan pendukung, misalnya tata kelola, infrastruktur, undang-undang dan kebijakan, tenaga kerja yang ahli, interoperabilitas dan arsitektur digital.
.
Layanan digital oleh dokter akan membuat bangsal perawatan pasien di RS yang saat ini dipenuhi pasien dengan gangguan satu atau lebih sistem organ, kelak diprediksi justru hanya akan digunakan untuk proses diagnosis dan perawatan sementara saja. Sebuah perangkat pemindaian digital tunggal hasil dari kecerdasan buatan (artificial intelligence), kelak tentu akan mampu memberikan gambaran detail aspek metabolik, fungsional, dan struktural organ pasien, karena mampu menggabungkan fisika spektroskopi, resonansi magnetik, dan radiasi. Dengan demikian, kelak dokter hanya perlu satu tindakan pemindaian digital, dan tidak memerlukan sebuah tindakan invasif yang menyakitkan pasien, seperti operasi biopsi jaringan.
.
Kelak dokter juga tidak perlu lagi mempertimbangkan obat apa yang harus diresepkan untuk pasien dan kemudian apoteker yang memberikannya. Perangkat seluler dokter akan menerima informasi yang diperlukan untuk meramu obat, probiotik dan diet khusus, dari ruang penyimpanan data pasien. Selanjutnya, akan tersedia obat sesuai permintaan dokter, yang akan berlangsung bahkan dalam beberapa menit saja.
Sekarang RS dan dokter wajib memberikan layanan kepada pasien dengan memberikan informasi diagnostik yang paling akurat, intervensi yang paling tidak invasif, dan terapi teraman yang tersedia. Ke depan, pasien secara mandiri akan memiliki informasi yang serupa, sehingga cukup melakukan diskusi singkat dengan dokter secara sepadan.
.
Saat ini beban global penyakit sebagian besar dalam aspek pembuluh darah atau vaskular, dengan serangan jantung dan stroke menjadi penyebab kematian pasien yang terbesar di dunia. Pada hal, keduanya sebentar lagi dapat dicegah dengan pemahaman pasien yang lebih baik, dengan melakukan koreksi atas faktor risiko dalam bimbingan dokter secara digital. Kejadian cidera traumatis juga turun dan akan terus menurun, saat tersedianya mobil tanpa pengemudi dan pekerja robot telah diciptakan untuk menggantikan tugas manusia yang berisiko.
.
Teknologi kedokteran digital telah tersedia, sehingga sekarang diperlukan definisi ulang (reshape) hubungan dokter dengan pasien secara digital. Oleh sebab itu, sebaiknya para dokter melatih diri agar profesional secara digital, juga mengadvokasi organisasi profesi, pemerintah, penjamin biaya pasien seperti asuransi atau BPJS Kesehatan, dan kelompok lain untuk memulai penggunaan teknologi digital ini. Tetunya agar lebih banyak pasien tetap dapat tinggal di rumah, dalam program jaga jarak atau ‘social distancing’, meskipun pemberantasan pandemi COVID-19 sudah akan terlewati.
Sudahkah kita siap menjadi dokter digital sesudah pandemi COVID-19?
Sekian
Yogyakarta, 14 September 2021
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161
Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 12 September 2021, halaman 5.
Inovasi digital untuk layanan kesehatan dan pencegahan penyakit telah berkembang pesat selama dekade terakhir, di hampir semua negara. Namun demikian, penggunaan teknologi digital dan perannya dalam penghematan pembiayaan kesehatan, dan implikasinya terhadap transformasi sistem kesehatan, kurang banyak diketahui. Apa yang menarik?
Teknologi digital meliputi aplikasi telepon seluler, platform web interaksi 2 arah, blockchain, analitik data besar, dan kecerdasan buatan termasuk mesin robotik. Idealnya teknologi digital untuk pembiayaan kesehatan harus berkontribusi pada terjadinya penjaminan layanan kesehatan semesta atau ‘Universal Heath Couverage’ (UHC). Untuk mencapai kemajuan menuju UHC, teknologi digital harus mendukung pencapaian prinsip pembiayaan kesehatan dan tujuan yang diinginkan, yaitu sebagian besar biaya layanan kesehatan berasal dari sumber keuangan negara atau publik, sehingga dapat mengurangi pengeluaran pribadi warga negara. Selain itu, juga memperluas pendanaan prabayar seperti polis asuransi dan membuat anggaran pembelian obat dan alat kesehatan menjadi lebih strategis. Namun demikian, teknologi digital dapat menimbulkan risiko pemborosan bagi pembiayaan kesehatan dan bahkan penerapan teknologi digital menghadapi berbagai tantangan, yang dapat merugikan dalam penyerapan pembiayaan kesehatan.
.
Aplikasi pada telepon seluler idealnya dapat digunakan untuk pembayaran premi asuransi kesehatan, sebagai bagian dari ‘mobile wallet services’ (mobile money). Mekanisme ini secara substansial mengurangi biaya administrasi oleh individu dan instansi, seperti yang telah dilakukan di Rwanda, Afrika. Contoh lainnya adalah di Kenya berupa ‘Mpesa programme’ atau ‘M-Tiba’s partnership’ dengan Dana Asuransi Kesehatan Nasional yang melibatkan beberapa ratus ribu anggota, saat membayar premi asuransi kesehatan mereka.
.
Ada juga aplikasi telepon seluler untuk memungut pajak, termasuk komponen pajak untuk layanan kesehatan, sehingga berkontribusi pada pembayaran pajak yang tepat waktu dan pengurangan biaya operasional staf pajak dan warga seperti di Rwanda. Proyek percontohan untuk pemungutan pajak melalui SMS sedang berlangsung di Zambia. Selain itu, aplikasi telepon seluler digunakan untuk pengingat pendaftaran ulang saat akan periksa di RS seperti di Ghana.
.
Apalagi saat teknologi digital dengan melibatkan berbagai kementerian atau sektor yang berbeda, tentu semakin dapat meningkatkan manfaat dalam program jaminan kesehatan. Salah satu titik masuknya adalah data catatan sipil digital, seperti yang awalnya hanya ada di India dengan ‘open source system’ yang diimplementasikan bertahap secara meluas, ke sejumlah negara lainnya. Sistem informasi manajemen keuangan terintegrasi dapat membantu meningkatkan kualitas dan kesesuaian data, bahkan dapat juga dalam bentuk visualisasi penggunaan dana melalui aplikasi. Dengan demikian, tentu dapat berkontribusi pada perbaikan manajemen keuangan masyarakat, bahkan peningkatan transparansi, dan akuntabilitas dana.
.
Berbagai macam aplikasi teknologi digital tampaknya berpotensi bermanfaat bagi pembiayaan kesehatan, berkontribusi untuk mencapai tujuan UHC, dan terutama meningkatkan akses ke layanan kesehatan. Seharusnya teknologi digital tidak hanya mampu meningkatkan akses informasi untuk warga negara dan pasien, tetapi juga dapat membantu penyedia, pembeli, dan pembuat kebijakan kesehatan, dalam aspek transparansi, akuntabilitas dan kepercayaan. Hal itu juga dapat membantu mengurangi biaya administrasi, sehingga berkontribusi pada efisiensi.
.
Pemerintah, khususnya kementerian kesehatan, dapat mengambil berbagai tindakan untuk mendapatkan manfaat dan meminimalkan risiko. Sebagai langkah pertama, sebelum penerapan pembiayaan kesehatan dan penggunaan teknologi digital, perlu melihat pengalaman di negara lain. Strategi ini untuk melihat tentang teknis teknologi digital dalam mendukung pembiayaan kesehatan, terkait manfaat dan kendala yang telah dapat diatasi. Juga peran dan tanggung jawab berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam perancangan dan implementasi teknologi digital untuk, pembiayaan kesehatan.
.
Kedua, mencermati peluang, mengantisipasi risiko, dan mengatasi tantangan terkait kapasitas dan keterampilan di bidang teknologi digital untuk pembiayaan kesehatan. Selain itu, juga regulasi untuk menangani masalah dalam aspek hukum dan etis, termasuk keamanan data dan perlindungan data privasi seseorang. Ketiga, komunitas global mendukung investasi dalam tata kelola dan penguatan kapasitas pemerintah, dalam memanfaatkan keunggulan teknologi digital untuk pembiayaan kesehatan. Dengan melibatkan semua pemangku kepentingan dan dialog terbuka agar perbedaan pendapat dapat diatasi, sebagai sebuah proses pembelajaran bersama, tentang teknologi digital yang mendukung pembiayaan kesehatan untuk mencapai UHC.
.
Aplikasi pedulilindungi dan p-care yang merupakan teknologi digital bidang kesehatan kini telah diterapkan di Indonesia, khususnya dalam layanan vaksinasi dan pemeriksaan laboratorium untuk COVID-19, layak dievaluasi berulang dan disempurnakan secara periodik. Meskipun keduanya mungkin belum terintegrasi dengan sistem pembiayaan layanan kesehatan di Indonesia, tetapi dapat terus dikembangkan dalam mendukung inovasi layanan kesehatan, pencegahan penyakit, dan pencapaian UHC di tanah air.
Sudahkah kita bertindak digital?
Sekian
Yogyakarta, 24 Agustus 2021
*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161
Sertifikat vaksinasi COVID-19 adalah hal baru, sebagai dokumen kesehatan yang mencatat pemberian vaksinasi COVID-19. Sebelum ini catatan vaksinasi berbentuk kartu kertas, yang berisi rincian data penting termasuk tanggal, produk, dan nomor batch vaksin yang diberikan. Apa yang menarik?
Dokumentasi Digital Sertifikat COVID-19 dirancang sebagai mekanisme, di mana data kesehatan seseorang terkait COVID-19, dapat didokumentasikan secara digital melalui sertifikat elektronik. Sertifikat tersebut dapat digunakan sebagai catatan atau pengganti kartu vaksinasi berbasis kertas. Data ini akan mempu memberikan informasi kepada penyedia layanan kesehatan tentang status vaksinasi individu, memberikan dasar bagi petugas kesehatan untuk menawarkan dosis berikutnya dan atau bentuk layanan kesehatan yang sesuai, sebagaimana mestinya. Dalam beberapa kasus, kartu vaksinasi juga digunakan untuk memfasilitasi perjalanan internasional, seperti selama ini sudah berlaku dalam kasus demam kuning, di mana sertifikat vaksinasi mungkin diperlukan oleh beberapa negara sebagai syarat masuk.
.
Secara historis, catatan vaksinasi berbasis kertas telah menimbulkan banyak persoalan dan tantangan. Misalnya kemungkinan kehilangan atau kerusakan kartu, atau bahkan kemungkinan penipuan. Solusi digital yang diusulkan dirancang untuk mengatasi tantangan ini, meskipun kebocoran data digital tetap masih mengancam, bahkan sudah terbukti terjadi di Indonesia.
.
Jagat maya minggu terakhir Agustus 2021 heboh, mengenai sertifikat vaksin COVID-19 kedua milik Presiden RI Joko Widodo yang beredar di twitter. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai keamanan data yang tersimpan di aplikasi PeduliLindungi. Informasi yang beredar di twitter tersebut menunjukkan Jokowi telah menerima vaksin COVID-19 dosis kedua pada 27 Januari 2021, menggunakan vaksin Sinovac.
Terkait hal tersebut, Kementerian Kesehatan, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI memberikan tanggapannya pada Sabtu, 4 September 2021. Pertama, akses terhadap sertifikat vaksinasi COVID-19 tersebut dilakukan menggunakan fitur pemeriksaan sertifikat nasional pada aplikasi PeduliLindungi. Kedua, regulasi sebelumnya mensyaratkan pengguna aplikasi PeduliLindungi menyertakan nomor handphone. Namun demikian, selanjutnya ada perubahan dengan hanya menggunakan 5 parameter yaitu nama, NIK, tanggal lahir, tanggal vaksin dan jenis vaksin. Keputusan penyederhanaan ini dilakukan untuk memudahkan masyarakat mengakses sertifikat vaksin COVID-19, setelah menimbang banyak masukan dari masyarakat, meskipun ternyata terbukti rawan terjadi pencurian data. Ketiga, data NIK dan tanggal vaksinasi milik Presiden Jokowi yang digunakan, bukan berasal dari aplikasi PeduliLindungi. Informasi NIK milik Presiden Jokowi telah tersedia pada situs Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk keperluan Pilpres 2019 lalu. Sementara informasi tanggal vaksin dapat ditemukan dalam pemberitaan di hampir semua media massa.
.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh informasi yang tidak terkait dengan aplikasi PeduliLindungi. Diimbau juga agar masyarakat dapat mengunduh dan tetap memanfaatkan aplikasi PeduliLindungi, yang saat ini fiturnya terus dikembangkan untuk mendukung aktivitas masyarakat dalam masa adaptasi pengendalian pandemi COVID-19, termasuk aspek keamanan data sertifikat vaksinasi.
Sertifikat vaksinasi COVID-19 dapat murni digital, misalnya disimpan dalam aplikasi smartphone atau di server berbasis ‘cloud’. Selain menggantikan kebutuhan akan kartu kertas, sistem ini dapat juga berupa representasi digital dari catatan berbasis kertas tradisional. Hubungan antara catatan kertas dan catatan digital dapat dibuat dengan menggunakan pemindai khusus atau ‘barcode’ yang dicetak atau ditempelkan pada kartu vaksinasi yang berupa kertas. Namun demikian, regulasi sertifikat digital tidak boleh mengharuskan setiap individu untuk memiliki smartphone atau komputer.
.
WHO sebenarnya tidak mendukung persyaratan bukti vaksinasi COVID-19 untuk bepergian menggunakan transportasi umum. Namun demikian, dalam beberapa situasi, tergantung pada penilaian risiko negara yang bersangkutan, data tentang vaksinasi COVID-19 dapat digunakan untuk persyaratan karantina atau testing pada saat kedatangan di suatu negera. Kondisi tersebut bukan tujuan utama dari langkah menuju dokumentasi digital status COVID-19.
.
Pada 27 Agustus 2021, WHO menerbitkan dokumen panduan untuk semua negara tentang persyaratan teknis penerbitan sertifikat digital, untuk data vaksinasi COVID-19. Panduan tersebut merupakan bagian dari rangkaian rencana pendokumenan dan digitalisasi sertifikat ataupun hasil pemeriksaan COVID-19. Pedoman tersebut antara lain menyatakan setiap negara anggota mendapatkan dukungan penuh, dalam mengadopsi alat digital untuk mendokumentasikan secara aman, status vaksinasi COVID-19. Digitalisasi yang aman ini bertujuan untuk perawatan kesehatan yang lebih efektif, berkesinambungan, dan dapat menjadi bukti vaksinasi COVID-19, jika diperlukan untuk tujuan lain.
Apakah kita sudah siap digital?
Sekian
Yogyakarta, 7 September 2021
*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,
Proklamasi kemerdekaan Indonesia mengingatkan kita, akan peran negara dalam menciptakan lingkungan bagi anak untuk merdeka dari penjajahan, penyakit, dan eksploitasi, apalagi di masa pandemi COVID-19. Apa yang harus dilakukan?
Setengah dari semua anak di dunia, setiap tahun mengalami kekerasan fisik, seksual atau psikologis, menderita luka-luka, cacat dan kematian, karena banyak negara tidak mengikuti strategi yang telah ditetapkan untuk melindungi anak. Hal itu termuat pada ‘Global Status Report on Preventing Violence Against Children’. Angka yang mengejutkan itu bahkan meningkat lebih tinggi selama pandemi COVID-19. Hal ini karena layanan pencegahan dan penanggulangan kekerasan pada anak telah terganggu, terutama pada 1,8 miliar anak yang tinggal di lebih dari 100 negara, termasuk di Indonesia. Begitu juga 1,5 miliar anak yang terkena dampak penutupan sekolah, menjadi kehilangan perlindungan dan dukungan yang sering diberikan oleh institusi sekolah.
.
Semua langkah untuk menahan penyebaran virus COVID-19, bersama dengan kesulitan ekonomi dan stres keluarga, secara bersama menciptakan kondisi ‘badai hebat’ (perfect storm). Mirip dengan ‘badai sitokin’ yang mematikan bagi para pasien COVID-19, ‘badai hebat’ melumat semua anak, terutama anak yang rentan untuk mengalami pelecehan fisik, emosional dan seksual. Terlepas dari adanya manfaat konektivitas digital, ternyata kehidupan yang lebih online untuk belajar, bersosialisasi, dan bermain ‘game’, justru telah secara signifikan meningkatkan keterpaparan anak terhadap kekerasan digital.
.
Hari ini kita berdiri di persimpangan jalan yang kritis bagi anak. Kalau kita tidak bertindak sekarang dan dengan segera, maka kita berisiko kehilangan satu generasi anak akibat dampak penjajahan, kekerasan dan pelecehan jangka panjang yang akan merusak keselamatan, kesehatan, pembelajaran, dan perkembangan anak. Dampak ini dapat berlangsung lebih lama, bahkan mungkin sampai setelah pandemi COVID-19 mereda. Kita tidak boleh membiarkan hal itu terjadi.
.
Saat kita mulai bangkit dari pandemi COVID-19, kita memiliki kesempatan untuk membayangkan kembali dan menciptakan masyarakat yang lebih damai, adil, dan inklusif. Sekarang adalah waktunya untuk melipat gandakan upaya kolektif kita, dan mempercepat aksi untuk tujuan bersama, yaitu membentuk lingkungan baru di mana setiap anak mengalami kemerdekaan.
.
Kita harus menciptakan dunia anak yang merdeka dengan ciri berikut. Pertama, setiap anak dapat tumbuh dan berkembang dengan bermartabat. Kedua, kekerasan dan pelecehan terhadap anak dilarang secara hukum dan tidak dapat diterima secara sosial. Ketiga, hubungan baik antara orang tua dan anak, untuk mencegah kekerasan antargenerasi. Keempat, anak dapat dengan aman memanfaatkan dunia digital untuk belajar, bermain, dan bersosialisasi. Kelima, anak perempuan dan laki-laki setara dalam memperolah kesempatan pendidikan di sekolah dan lingkungan belajar yang aman, peka gender, inklusif dan mendukung. Keenam, aktivitas fisik dan olahraga aman untuk anak. Ketujuh, setiap upaya diprioritaskan untuk melindungi anak yang paling rentan dari segala bentuk kekerasan, eksploitasi dan pelecehan, termasuk mereka yang hidup dalam situasi konflik kemanusiaan dan kesulitan (fragility) lainnya. Dan kedelapan, semua anak dapat mengakses bantuan yang aman dan ramah anak, ketika mereka membutuhkannya.
Kita semua seharusnya berkomitmen untuk memerdekakan dan mengakhiri kekerasan terhadap anak, dengan mendesak para pemimpin di pemerintahan, sektor swasta, komunitas agama, masyarakat sipil, dan badan olahraga untuk memanfaatkan momentum kemerdekaan ini. Para pemimpin seharusnya memprioritaskan memerdekakan anak dalam kebijakan, perencanaan, anggaran, dan bekerja sama untuk memberikan paling tidak enam tindakan yang mengubah penjajahan menjadi kemerdekaan dan mengakhiri kekerasan terhadap anak.
Pertama, melarang segala bentuk kekerasan terhadap anak. Kedua, melengkapi petunjuk teknis bagi orang tua dan pengasuh untuk menjaga anak agar tetap aman. Ketiga, menjadikan konten internet aman untuk anak. Keempat, menjadikan sekolah aman, tanpa kekerasan, dan terbuka atau inklusif. Kelima, melindungi anak dari kekerasan dalam situasi tanggap darurat kemanusiaan dan pandemi COVID-19. Keenam, mengalokasikan lebih banyak investasi atau anggaran yang juga lebih banyak diserap dalam kegiatan. Selain itu, juga mengkoorinasikan peran para tenaga profesional dalam bidang kesehatan, pendidikan, perlindungan anak, dan kemanusiaan, dalam kerja bersama dengan para pemimpin agama, sukarelawan masyarakat, orang tua, dan kaum muda untuk menjaga anak tetap aman.
.
Sasaran 16.2 SDGs, yaitu menghentikan penyalahgunaan, eksploitasi, perdagangan, dan segala bentuk kekerasan dan penyiksaan terhadap anak, harus kita wujudkan. Kita harus melakukan semua yang kita mampu untuk menjaga anak tetap aman selama pandemi COVID-19 saat ini, dan bekerja sama untuk membangun kehidupan normal baru paska pandemi, untuk anak yang merdeka, dan bebas dari segala bentuk kekerasan, pelecehan dan eksploitasi anak.
Apakah kita sudah bertindak?
Sekian
Yogyakarta, 4 Agustus 2021
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161
Saat kami mendarat Bandar Udara Internasional Noi Bai (HAN) di Hanoi, ibu kota dari Vietnam
Petualangan ke Indochina hari pertama.
Kami awali petualangan dengan Grab Car pada hari Sabtu pagi, 25 Mei 2019 ke Bandara Adisucipto Yogyakarta. Kami terbang menggunakan pesawat Garuda GA 203 menuju Jakarta dan berganti pesawat Vietnam Airlines VN 630 jenis Airbus A 321, menuju Terminal 1 Ho Chi Minh City, Vietnam. Pesawat Airbus 321 adalah pesawat penumpang komersial jarak dekat sampai menengah yang diproduksi oleh Airbus. A321 merupakan pesawat penumpang pertama dengan sebuah sistem kendali ‘fly-by-wire digital’, di mana pilot mengendalikan penerbangan melalui penggunaan sinyal elektronik dan bukan secara mekanik dengan hendel dan sistem hidraulik. Kelompok pesawat A320 (yang termasuk A318, A319, A320, dan A321, serta pesawat jet bisnis ACJ) adalah satu-satunya kelompok pesawat berbadan sempit (narrow-body) yang diproduksi Airbus.
Awal petulangan kami dimulai dari Terminal3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten
Penerbangan dari Terminal 3 Ultimate yang luas, mentereng, dan modern di Bandara Soekarno Hatta Cengkareng, Jakarta, Indonesia (CGK) menuju ke terminal 2 Tan Son Nhat International Airport Ho Chi Min City (SGN), Vietnam yang berjarak 3.945,6 km, memakan waktu sekitar 3 jam 10 menit (tanpa transit). Oleh karena penerbangan kami menuju ke arah utara dan berada pada wilayah atau zona waktu yang sama, otomatis tidak ada selisih atau perbedaan waktu antara kedua kota ini.
Siap2 boarding di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten
Setelah transit sekitar 2 jam, selanjutnya dari Terminal 1 domistik kami terbang ke Hanoi yang berjarak 1.727 km, menggunakan pesawat Vietnam Airlines VN 272 Airbus 350 dan mendarat di Terminal 1 Noi Bai International Airport, Hanoi, ibukota Vietnam. Penerbangan domistik ini menggunakan pesawat Vietnam Airlines yang lebih besar, lebih baru dan lebih nyaman, dibandingkan pesawat dari Jakarta. Pesawat Airbus A350 XWB (eXtra Wide Body) adalah keluarga pesawat jet berbadan lebar yang sedang dikembangkan oleh produsen pesawat Eropa, yaitu Airbus. A350 akan menjadi pesawat Airbus pertama dengan struktur kedua sayap pesawat dibuat dari polimer yang diperkuat serat karbon. Pesawat ini dapat membawa 270-350 penumpang di tempat duduk kelas tiga, tergantung pada varian.
Pesawat A350 pertama kali diumumkan pada tahun 2004 untuk menyaingi pesawat Boeing 787. Airbus awalnya merespon efisiensi yang dicanangkan Boeing, dengan menawarkan sebuah upgrade A330 dengan penggunaan mesin baru dan perbaikan aerodynamis, untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar. Hasil pertama A350 tampak hampir sama dengan A330 secara eksternal tetapi pada dasarnya pesawat ini adalah sebuah desain baru dan hanya memiliki 10% commonality (kesamaan suku cadang) dengan Airbus sebelumnya.
Setelah terbang pada ketinggian 11.888 m, berkecepatan 908 km/jam, kami mendarat pk. 21.44. Bandara Noi Bai International Airport, Hanoi, dibuka pada Agustus 2006 ini berjarak 28 mil (45 km) dari pusat kota. Segera kami mengingat sejarah Vietnam yang dimulai sejak abad 11 SM yang sampai abad 10 Masehi, mayoritas berada di bawah kekuasaan kekaisaran Tiongkok. Tahun 939 M, Vietnam merdeka secara politis, dan mulai menggunakan Champa sebagai nama negara. Masa setelah ini dianggap sebagai masa pembangunan identitas kebangsaan Vietnam.
Ibukota Vietnam adalah Hanoi (dahulu berfungsi sebagai ibukota Vietnam Utara), sedangkan kota terbesar dan terpadat adalah Kota Ho Chi Minh (dahulu dikenal sebagai Saigon). Kemiskinan, berdasarkan jumlah penduduk yang hidup dengan pendapatan di bawah $1 per hari, telah menurun secara drastis dan sekarang lebih sedikit daripada di Tiongkok, India dan Filipina. Sebagai hasil dari langkah reformasi tanah (land reform), Vietnam sekarang adalah produsen kacang cashew terbesar dengan pangsa 1/3 dari kebutuhan dunia, dan eksportir beras kedua terbesar di dunia setelah Thailand. Vietnam memiliki persentasi tertinggi atas penggunaan lahan untuk kepentingan cocok tanam permanen, 6,93%, daripada negara-negara lain di Sub-wilayah Mekong Raya (Greater Mekong Subregion). Selain beras, kunci ekspor adalah kopi, teh, karet dan produk-produk perikanan.
Mampir sebentar di konter Vietnam Airlines di Ho Chi Min, Vietnam
Hanoi memiliki perkiraan populasi 3.500.800 jiwa (1997), adalah ibukota Vietnam dan dulunya ibu kota Vietnam Utara dari 1954 hingga 1976. Kota ini terletak di tepi kanan Sungai Merah. Hanoi menjadi ibukota Vietnam pada abad ke-7. Namanya yang berasal dari bahasa Mandarin, Đông Kinh, menjadi Tonkin dan dipakai bangsa Eropa ke seluruh wilayah Vietnam. Hanoi dijajah Prancis tahun 1873 dan diserahkan kepadanya sepuluh tahun kemudian. Ia menjadi ibukota Indochina Prancis setelah 1887.
Hanoi dijajah Jepang pada 1940, dan dibebaskan tahun 1945, ketika ia menjadi pusat pemerintahan Vietnam. Dari 1946 hingga 1954, Hanoi menjadi lokasi perlawanan sengit antara Prancis dan tentara Vietnam. Sejak itu, Hanoi menjadi ibukota Vietnam Utara. Selama Perang Vietnam sarana transportasi Hanoi terganggu oleh pengeboman jembatan dan rel kereta api, namun dengan cepat dapat diperbaiki. Setelah perang berakhir, Hanoi menjadi ibukota seluruh wilayah Vietnam ketika Vietnam bagian Utara dan Selatan bersatu pada 2 Juli 1976.
Bandar Udara Internasional Noi Bai (HAN) di Hanoi, ibu kota dari Vietnam, adalah bandara terbesar di bagian utara negara tersebut. Bandara ini berjarak 28 mil (45 km) dari pusat kota. Waktu perjalana dari pusat kota adalah sekitar 30-45 menit. Bandara yang dibuka pada Agustus 2006 ini memiliki landasan pacu baru sepanjang 3,800 meter dari beton dan landasan yang lebih tua sepanjang 3,200 meter. Jarak antara kedua landasan pacu hanya 250 meter, sehingga bandara ini hanya memiliki kapasitas maksimum sebanyak 10 juta penumpang per tahun, sesuai dengan peraturan keamanan dari International Civil Aviation Organisation safety regulations.
Kami memerlukan waktu tempuh perjalanan ke ‘Hanoi Old Quarter’ di pusat kota menggunakan taksi berargometer, sekitar 1,5 jam dengan tariff 357 dong. Malam ini kami menginap di The Pearl Hotel Hanoi, Vietnam, yang beralamat di 6 Bao Khanh lane, Hang Trong ward, Hoan Kiem distr, Hanoi City, Vietnam. Hotel ini berjarak 27,6 km dari Noi Bai International Airport Hanoi.
Sabtu tengah malam, 25 Mei 2019
Kamar 307 The Pearl Hotel Hanoi, Vietnam.
(bersambung secepatnya)
2019 Hari Kedua di Indochina
Minggu, 26 Mei 2019 kami awali dengan ikut Misa Kudus Minggu pagi di Gereja Katedral Santo Yosep Hanoi, yang hanya 5 menit berjalan kaki dari hotel kami. Gereja Katedral Santo Joseph yang terletak di Jl. Nha Chung no 40, Hanoi, adalah bangunan katedral Katolik Roma dengan gaya neo-gothic, yang dibangun pada era kolonial Perancis. Pada tahun 1882, setelah tentara Perancis menaklukkan Hanoi, katedral mulai dibangun oleh para misionaris asal Spanyol yang telah menyebarkan agama Katholik di Vietnam sejak 1679, dan selesai pada tahun 1886. Katedral dan area Nha Chung dibangun di atas tanah yang sebelumnya milik pagoda Bao Thien, yang dibangun di bawah dinasti Ly.
Interior Katedral Santo Yosep Hanoi, Vietnam
Arsitektur dengan kubah katedral mengikuti gaya dan desain Gothic Katedral Paris. Panjangnya 64,5m, lebar 20,5m dengan dua menara lonceng setinggi 31,5m. Meskipun penampilan katedral, dari pintu, kaca jendela berwarna-warni, hingga lukisan religius untuk dekorasi mengikuti gaya Barat, bagian interior utama didekorasi dengan cara Vietnam dengan dua warna khas kuning dan merah. Sebaliknya, dinding depan sama sekali tidak pernah dicat, sampai sekarang. Di bagian luar, di depan katedral ada patung Bunda Maria.
Dinding depan Katedral Santo Yoseph Hanoi Vietnam sama sekali tidak pernah dicat, sampai sekarang.
Katedral Santo Yoseph adalah salah satu bangunan yang paling megah di Hanoi, yang berada di dekat Danau Hoan Kim dan Pagoda Ngoc Son. Interior gereja dilengkapi dengan meubel dan ornamen kuno, hingga menjadikan Katedral ini layaknya sebuah museum. Misa Kudus Natal pertama diselenggarakan di katedral pada tahun 1887. Sejak itu, katedral selalu penuh sesak dengan ratusan orang termasuk orang Kristen dan non-Kristen pada akhir pekan atau selama liburan keagamaan seperti Natal.
‘The 422nd International Conference on Medical & Health Science’ (ICMHS) 2019.
Setelah sarapan, kami menghadiri ‘The 422nd International Conference on Medical & Health Science’ (ICMHS) 2019. Konferensi ini dibuka pada hari Minggu pagi, 26 Mei 2019 dan diselenggarakan di lantai 10 The Pearl Hotel Hanoi, Vietnam, yang beralamat di 6 Bao Khanh lane, Hang Trong ward, Hoan Kiem distr, Hanoi City, Vietnam.
Keynote speech diberikan oleh Prof. Louann Bierlam Palmir, dari School of Medicine, Western Michigan University, United States of America. Pemaparan selanjutnya tentang perbaikan kawasan untuk menekan penularan Malaria oleh Dr. Harpuniat Singh, Senior Assistant Professor, Guru Nanak Dev Engineering College, Ludhiana, Punjab, India. Materi paling rumit adalah kolaborasi insinyur dan dokter, dalam menciptakan alat ‘incubator transport’ untuk bayi baru lahir yang kecil dan premature, oleh Dr. Hainam El Sayed El Sharnaby, dari Higher Institute for Engineering and Technology in Beheria, Mesir. Pengalaman menarik dipaparkan oleh Dr. Idoko Ari Syaddaq, dari Department of Biochemistry, Federal University Dutsinma, Katsina state, Nigeria, terkait alat sederhana untuk pemantauan hipoglikemi dan hiperbilirubinemi, pada bayi baru lahir dengan asfiksia neonatal.
Diskusi tidak kalah seru dipandu oleh Prof. Prayuth Chusirin dari Faculty of Education, KhonKaen University, KhonKaen, Thailand, untuk pendampingan belajar di rumah, pada anak balita dengan riwayat sakit berulang sejak bayi baru lahir. Materi yang membuat kami pusing adalah paparan Prof. Araza Idrus, dari Department of Pediatric, National Defence University of Malaysia, Malaysia, terkait kecenderungan autism pada anak dari keluarga pedesaan.
Setelah lelah mengikuti jalannya diskusi, kami dan siapapun yang datang ke Hanoi, segera ingat akan tokoh hebat Ho Chi Minh dan Vo Nguyen Giap. Tokoh terakhir lahir 25 Agustus 1911 dan meninggal 4 Oktober 2013, pada umur 102 tahun adalah seorang jenderal dan wakil perdana menteri Vietnam. Jenderal besar ini berhasil gemilang dalam pertempuran hebat di Dien Bien Phu dan perang Vietnam.
Pagoda tempat sebagian besar rakyat Vietnam berdoa
Sebaliknya, gerilyawan Viet Minh di bawah Jenderal Vo Nguyen Giap, sanggup mengitari dan mengepung pasukan Prancis sampai pecah pertarungan sengit di darat. Viet Minh menduduki daerah perbukitan di sekitar Dien Bien Phu, dan mampu menembak ke bawah secara akurat ke posisi-posisi pasukan Prancis. Pada akhirnya Viet Minh berhasil merebut basis pertahanan Prancis dan memaksa Prancis menyerah.
Kecerdikan strategi Jenderal besar Vo Nguyen Giap, yang waktu bertempur bersama anak buahnya hanya mengenakan sandal jepit dari ban bekas, menginspirasi kekuatan, keuletan, dan ketangguhan bangsa Vietnam. Hal itu juga Nampak dalam penyelenggaraan ‘The 422nd International Conference on Medical & Health Science’ (ICMHS) 2019.
Gerbang Museum Ho Chi Minh di Hanoi, Vietnam, yang megah menjulang
Sore itu kami segera ganti kostum, untuk mengenang Ho Chi Minh dan Vo Nguyen Giap. Hồ Chí Minh (19 Mei 1890 – 2 September 1969 pada umur 79 tahun) adalah seorang tokoh revolusi dan negarawan Vietnam, yang kemudian menjadi Perdana Menteri (1954) dan Presiden Vietnam Utara (1954–1969). Selain itu, Ho Chi Minh merupakan salah satu politisi yang paling berpengaruh pada abad-20, akrab dipanggil Bác Hồ (paman Hồ). Untuk pertama kalinya setelah 30 tahun meninggalkan Vietnam, Ho Chi Minh kembali ke negaranya pada tahun 1941 dan mendirikan Liga untuk Kemerdekaan Vietnam (Viet Nam Doc Lap Dong Minh atau Viet Minh). Liga tersebut terdiri dari para nasionalis Vietnam dan kelompok komunis yang mendukung kemerdekaan Vietnam. Ketika itu, Viet Minh berjuang melawan kolonial Prancis dan Jepang yang saat itu sedang menduduki Vietnam. Pada akhir Perang Dunia II, Ho memimpin Viet Minh untuk secara bergerilya menguasai kota-kota besar di Vietnam. Pada 2 September 1945, bertempat di Lapangan Ba Dinh Hanoi, Ho Chi Minh mendeklarasikan kemerdekaan Republik Demokrasi Vietnam dan dia menjabat sebagai presiden pertama.
Patung seukuran asli tokoh besar Ho Chi Minh, di museumnya di Hanoi, Viet Nam
Kami segera memesan Grab Car bertarif 30 Dong menuju Museum Ho Chi Minh yang dibangun pada 1990-an, itu didedikasikan untuk almarhum pemimpin Vietnam Ho Chi Minh dan perjuangan revolusioner Vietnam melawan kekuatan asing. Museum Ho Chi Minh mendokumentasikan kehidupan Ho Chi Minh, dengan 8 topik kronologis. Yang pertama, dari tahun 1890 hingga 1910 mencontoh asuhannya, kota kelahirannya dan masa mudanya. Topik kedua menyangkut sepuluh tahun ke depan di mana Ho Chi Minh berkeliling dunia untuk menemukan cara untuk menyelamatkan negara dari kolonialisme. Tiga topik berikutnya, mencakup 1920-1945, menggambarkan bagaimana Ho Chi Minh telah menerjemahkan pengaruh idealisme Marxisme dan Leninisme ke dalam pendirian partai Komunis Vietnam dan berjuang untuk kemerdekaan nasional. Dari 1945 hingga 1969, yang merupakan kerangka waktu yang digambarkan dalam topik 6 dan 7, pahlawan nasional terutama dibahas dalam kehidupan politiknya sampai ia meninggal. Museum ini adalah koleksi artefak, miniatur dan berbagai hadiah yang dikumpulkan secara nasional dan internasional. Ada juga deskripsi yang ditulis dalam bahasa Inggris dan Prancis, serta tur berpemandu berdasarkan permintaan.
Jasad tokoh besar Ho Chi Minh bersitirahat di Mausoleumnya di Hanoi, Vietnam
Selanjutnya kami mengunjungi Mausoleum Ho Chi Minh. Mausoleum atau makam besar ini ternyata tutup sebelum tengah hari, sehingga kami hanya dapat mengambil gambarnya di luar. Di peristirahatan sang pahlawan itulah sisa-sisa dari jasad Ho chi Minh disemayamkan.
menikmati senja dengan makan mie berkuah hangat di tepi Danau Hoan Kiem, Hanoi, Viet Nam.
Selanjutnya kami kembali ke hotel untuk berganti kostum olah raga dan menikmati senja di tepi Danau Hoan Kiem. Danau ini merupakan tempat yang asyik untuk bersantai dan berkeliling menikmati pemandangan alam kota yang alami dan indah. Banyak masyarakat Hanoi yang sedang piknik, bersantai, bermain dan bercengkrama dengan keluarga dan sahabat. Hoan Kiem sendiri memiliki arti pedang yang dikembalikan. Konon katanya, ada kura-kura sakti yang menghuni danau tersebut dan memberikan sebuah pedang Thuan Thien, kepada kaisar sebagai senjata untuk melawa penjajahan China dan mengusirnya dari Vietnam. Setelah terbebas dari China, kaisar mengembalikan pedang tersebut kepada kura-kura sakti di danau tersebut.
Jalan2 sore di sekitar Danau Hoan Kiem, di pusat kota Hanoi, Viet Nam
Jembatan Huc dari kayu yang bercat merah tampak indah dengan hiasan lampu pada malam hari. Setelah membayar tiket 30.000 dong, kami menyusuri jembatan Huc menuju ke Pagoda Tran Quoc, di tengah Danua Hoan Kiem. Pagoda Tran Quoc (Chua Tran Quoc) merupakan kuil Budha tertua di Hanoi. Pertama kalinya dibangun pada masa kekuasaan Kaisar Ly Nam Dee, antara tahun 544 hingga 548. Pada saat itu, pagoda ini bernama Khai Quoc dan masih terletak di tepi Sungai Merah (Red River). Pada tahun 1615, pagoda ini kemudian dipindahkan ke sebuah pulau kecil yang bernama Kim Ngu yang berarti “golden fish”. Dengan daratan utama Hanoi, pulau ini dan Pagoda Tran Quoc dihubungkan oleh sebuah jalan kecil. Selain sebagai tempat ibadah, pagoda ini juga merupakan objek wisata favorit banyak wisatawan.
Jembatan Huc dari kayu yang bercat merah menuju ke Pagoda Tran Quoc, di tengah Danua Hoan Kiem, hanois, Viet Nam.
Setelah memasuki gelap malam yang diselingi hujan, kami melanjutkan perjalanan di kota tua Hanoi (Hanoi’s Old Quarter). Area ini merupakan sebuah kawasan dengan 36 ruas jalan. Di area sini kita semua dapat berjalan-jalan memandangi indahnya kota Hanoi, sambil berbelanja barang unik atau oleh-oleh khas Vietnam. Yang unik dari tempat ini adalah setiap jalan ‘Hanoi Old Quarter’ ini, diberi nama sesuai dengan nama toko di ujung jalan tersebut. Saking banyaknya ruas jalan, kita bisa seharian berbelanja. Semakin malam, pemandangan ‘Hanoi’s Old Quarter’ semakin cantik dengan lampu-lampu yang kerlap kerlip. Di area itu juga merupakan tempat berkumpul yang populer, bagi banyak anak muda bergaya pop di Hanoi, rumah bagi toko-toko suvenir yang menarik, dan restoran bergaya Barat. Setelah membeli makan malam berupa Banh Bao Dimsum yang dibungkus daun pisang, oleh-oleh kopi dan bendera Vietnam, kami segera kembali ke kamar hotel, yang tidak jauh dari tepi Danau Hoan Kiem
Minum kopi Viet Nam di ‘Hanoi’s Old Quarter’, pusat kota Hanoi
Minggu malam, 26 Mei 2019
Di kamar 317 The Pearl Hotel Hanoi, Vietnam.
(bersambung)
2019 Hari Ketiga di Indochina
Pendaratan dari Hanoi, Viet Nam pada menjelang gelap di Seam Reap, Kerajaan Kamboja
Pada hari ketiga itu kami menghadiri ‘The 422nd International Conference on Medical & Health Science’ (ICMHS) 2019. Konferensi ini ditutup pada hari Senin sore, 27 Mei 2019 dan diselenggarakan di Lantai 10 The Pearl Hotel Hanoi, Vietnam, yang beralamat di 6 Bao Khanh lane, Hang Trong ward, Hoan Kiem distr, Hanoi City, Vietnam.
Materi pertama hari kedua konferensi disampaikan oleh Dr. Ntwampe I. 0lpa dari School of Medicine, North-West University, South Africa, terkait pengendalian TB (tuberculosis) di areal padat penduduk di kota besar. Selanjutnya Dr. Emil Suklar, Pediatric Department, Faculty of Medicine, Anadolu University, Turkey, membahas pengendalian obesitas pada remaja. Topik menarik disampaikan oleh Dr. Shagenori Togashu dari HITACHI Ltd., Research & Development Group, Japan, tentang kerjasama industri dan rumah sakit, dalam menjawab tantangan fasilitas medis terbatas di negara berkembang. Topik sulit disampaikan oleh Prof. Volken Cacek, Faculty of Medicine, Zirve University, Turkey, tentang peran dokter dalam era revolusi industry 4.0 di negara berkembang. Disusul oleh Dr. Shahad Bashir, Ph.D. Marketing graduate from University of Wales, UK, tentang peran tenaga pemasaran untuk pengembangan layanan di RS.
Kami tidak sempat mengikuti diskusi menarik lain yang dipimpin oleh Prof., Dr. Eriki Ananda kumar dan Prof. Mohammed Hussein Bataineh, dari Department of Communication, Faculty of Medicine Yarmouk University Irbid, Jordan. Juga Prof Caesar Joseph Olbromski, The Alexander S. Onassis Public Benefit Foundation Fellow (Athens, Greece), Dr. Hossam Korany Ahmed, SVS College of Medicine, Arasampalayam, Coimbatore, Tamilnadu, India, karena kami harus segera check out hotel, melanjutkan penerbangan ke Kamboja.
Pesawat Vietnam Airlines, VN 837 Airbus A 321 yang menerbangkan kami keluar dari Hanoi, Vietnam
Sebelum acara seremonial penutupan, kami segera menuju Terminal 2 Noi Bai International Airport, Hanoi, Vietnam, dengan melewati jembatan di atas Sungai Merah yang terbaru, yaitu Jembatan Nht Tân di Hanoi, Vietnam. Philips Lighting (Euronext Amsterdam ticker: LIGHT), pemimpin global di bidang pencahayaan, merampungkan ikon pencahayaan jembatan tersebut pada 19 Juli 2017, yang menyinari jembatan dengan spektrum cahaya warna-warni, yang mengubah tampilan struktur jembatan menjadi karya seni yang senantiasa berganti. Semua orang yang melewati Sungai Merah di kota Hanoi akan menemukan lima warna yang terbentang di jembatan pada malam hari, yang merupakan simbol lima gerbang kuno menuju ibu kota ini. Dibangun pada tahun 2015, jembatan ini merupakan jembatan cable-stayed (jembatan yang ditopang oleh kabel) terpanjang di Vietnam, sebuah teknologi yang lebih canggih dari teknologi suspension bridge (jembatan gantung).
Cabin Pesawat Vietnam Airlines, VN 837 Airbus A 321 yang nyaman dan senyap
Kami diantar Grab Car KIA Picanto bertarif 385 Dong dan bersiap terbang ke Bandar Udara Internasional Angkor, di Siem Reap, bagian barat Kamboja. Penerbangan menggunakan pesawat Vietnam Airlines, memakan waktu 1 jam 40 menit. Siem Reap merupakan ibu kota Provinsi Siem Reap di Kamboja. Kota ini terletak di bagian barat laut negara dan merupakan pusat wisata dan budaya penting di Kamboja, karena menjadi gerbang masuk menuju kawasan purbakala kota Angkor yang terkenal.
Naik tuktuk, kereta yang ditarik sepeda motor, mengelilingi Seam Reap, Kamboja
Kata Siem Reap berarti ‘Kekalahan Siam’ — kini Thailand— dan merujuk pada permusuhan dan pertumpahan darah selama berabad-abad, peristiwa tersebut diperingati dalam ukiran relief dan monumen di Candi Angkor. Nama ini juga dapat diterjemahkan sebagai ‘Kegemilangan Siam’, karena, selama 500 tahun sebelum peperangan, kota ini menjadi perlintasan dari Kamboja kuno menuju Siam.
Gerbang depan Candi Angkor (Angkor Wat) yang sudah hampir gelap ditelan malam
Pada 1901 École Française d’Extrême Orient (EFEO) memulai ekskavasi Angkor dengan mendanai ekspedisi memasuki Siam dan Bayon. Pada 1907 Angkor, yang telah direbut dari Siam dengan paksa, dikembalikan kepada Kamboja. EFEO bertanggung jawab membersihkan situs purbakala ini dari cengkeraman hutan, dan pada tahun yang sama wisatawan pertama tiba di Angkor, sejumlah 200 orang wisatawan yang tinggal di Angkor selama tiga bulan. Angkor kembali diselamatkan dari hutan dan mendapat perhatian dunia.
Patung singa dan ular cobra di Candi Angkor bagian depan, dalam senja hampir gelap
Pada saat ditemukan oleh penjelajah Prancis pada abad ke-19, Siem Reap hanyalah berupa desa sederhana. Dengan dikuasainya Angkor oleh Prancis pada 1907, Siem Reap mulai berkembang dan menerima gelombang wisatawan pertamanya. Grand Hotel d’Angkor dibuka tahun 1929 dan candi-candi di Angkor menjadi salah satu daya tarik pariwisata Asia utama hingga akhir 1960-an. Tokoh pesohor seperti Charlie Chaplin dan Jackie Kennedy, adalah mereka yang pernah mengunjungi Angkor. Pada 1975, sebagian besar penduduk kota Siem Reap, bersama seluruh penduduk kota lainnya di Kamboja, terbantai oleh komunis Khmer Merah, sisanya menyelamatkan diri dan mengungsi ke pedesaan.
Kampanye stop malaria resisten obat, di areal Greater Mekong, yang mencakup Seam Ream, Kerajaan Kamboja.
Siem Reap memiliki bangunan tua kolonial dan arsitektur China di sekitar lingkungan bekas kolonial Prancis dan di sekitar Pasar Lama. Di kota ini terdapat Candi Angkor yang besar, gedung pertunjukan yang menggelar pagelaran tari tradisional Apsara, pusat cindera mata, pengrajin kain sutra, sawah pedesaan, desa nelayan, dan suaka burung di dekat danau Tonle Sap. Itulah yang menarik kami untuk datang melihat.
Angkor Wat yang sedang direnovasi, menjelang gelap ditelan malam di Siem Reap, Kamboja
Kami mendarat di Angkor Internaitonal Airport Siem Reap sudah menjelang gelap. Aplikasi Grab versi Vietnam mengalami kendala saat kami ubah ke versi Kamboja. Juga aplikasi PassApp Taxi milik Kamboja, sore itu terkendala proses downloadnya. Oleh sebab itu kami segera menyewa tuktuk, sebuah sepeda motor yang menarik seperti kereta bagi penumpang, yang merupakan kendaraan penumpang khas Kamboja. Mata uang USD digunakan dalam transaksi di seluruh Kerajaan Kamboja, sehingga kami tidak perlu menukarkan uang lokal.
Makan malam menu lokal Kamboja di The Red Angkor Restourant, Seam Reap.
Beruntung, siluet sore Candi Angkor yang megah masih dapat tertangkap kamera kami. Meskipun sedang dlakukan pemugaran besar-besaran, kami masih sempat mengambil gambar Candi Angkor atau sering disebut Angkor Wat, dari berbagai sisi. Sebelum gelap benar, kami segera bergegas masuk kota Seam Reap, untuk mencapai hotel kami.
Kami menginap di kamar 504 Cheathata Angkor Hotel, Siem Reap, Kamboja, sebuah daerah wisata dengan banyak sekali wisatawan, sebagai mana Kuta dan Legian di Bali, Indonesia.
Senin malam, 27 Mei 2019.
-wikan
(bersambung)
2019 Hari keempat di Indochina
Gerbang Angkor Wat Temple di Siem Riep, Kerajaan Kamboja
Setelah menghadiri ‘The 422nd International Conference on Medical & Health Science’ (ICMHS) 2019 yang diselenggarakan di The Pearl Hotel Hanoi, Vietnam, kami melanjutkan terbang ke Siem Reap, Kamboja, untuk menikmati keindahan dan kemegahan Candi Angkor Wat. Pada tahun 1907 Angkor direbut dari Siam (sekarang Thailand) secara paksa oleh kolonial Perancis dan dikembalikan kepada Kamboja. Lembaga ilmiah di Perancis, yaitu École Française d’Extrême Orient (EFEO) membersihkan Candi Angkor yang merupakan situs purbakala dari cengkeraman hutan dan akhirnya mendapat perhatian dunia.
Antrian pertama pembelian tiket masuk areal Candi Angkor Wat yang buka pk. 5 dini hari
Selasa pagi buta, 28 Mei 2019 kami terbangun di kamar 504 Cheathata Angkor Hotel, Siem Reap, Kamboja, untuk bergabung bersama banyak sekali turis dari berbagai negara, untuk menikmati matahari terbit di seputaran Angkor Wat. Kami naik tuktuk yang malam sebelumnya mengantar kami ke hotel. Kami segera berdiri paling depan, di loket pembelian tiket masuk areal Angkor Wat, yang buka pk. 5. Dengan membayar $37 untuk setiap orang dalam paket wisata 1 hari, kami mendapat tiket yang disertai foto wajah masing-masing pengunjung.
Wajah kami terlihat di dalam tiket masuk areal Angkor Wat, untuk pemeriksaan keamanan
Angkor Wat adalah sebuah gugus bangunan candi di Kamboja yang merupakan salah satu monumen keagamaan terbesar di dunia. Candi yang berdiri di atas areal seluas 1.626.000 m2 ini mula-mula dibangun sebagai candi agama Hindu Kerajaan Khmer, yang dibaktikan untuk dewa Wisnu, namun lambat laun berubah menjadi candi agama Buddha menjelang akhir abad ke-12. Angkor Wat dibangun oleh Raja Khmer Suryawarman II pada permulaan abad ke-12 di Yaśodharapura, ibu kota Kemaharajaan Khmer, sebagai candi negara sekaligus tempat persemayaman abu jenazahnya. Berbeda dari raja-raja pendahulunya yang berbakti kepada dewa Siwa, Raja Suryawarman II justru membangun Angkor Wat untuk dibaktikan kepada dewa Wisnu. Sebagai candi yang paling terawat di kawasan percandian Angkor, Angkor Wat merupakan satu-satunya candi yang masih menjadi pusat keagamaan penting semenjak didirikan. Mahakarya langgam klasik arsitektur Khmer ini telah menjadi salah satu lambang negara Kamboja, ditampilkan pada bendera negara Kamboja, dan menjadi daya tarik wisata utama negara itu.
Siluet Candi Angkor Wat di Siem Reap, Kamboja sebelum matahari terbit
Pintu masuk samping timur, menuju areal tengah Candi Angkor Wat di Siem Reap, Kerajaan Kamboja
Angkor Wat (bahasa Khmer: “candi kota”) adalah sebuah gugus bangunan candi di negara Kamboja yang merupakan salah satu monumen keagamaan terbesar di dunia. Candi yang berdiri di atas situs seluas 1.626.000 m2, Angkor Wat memadukan dua rancangan pokok arsitektur candi Khmer, yakni rancangan candi gunungan dan rancangan candi berserambi. Angkor Wat dirancang sebagai lambang Gunung Meru (kahyangan dewa-dewi Hindu) yang dikelilingi tiga undak bangunan serambi persegi panjang, dan masih dipagari lagi dengan tembok luar sepanjang 3,6 km (2,2 mil) berikut sebuah parit sepanjang lebih dari 5 km (3 mil). Di tengah-tengah gugus bangunan candi ini, menjulang menara-menara yang membentuk tatanan quinquncia (tatanan lima objek yang membentuk lambang tapak dara, salah satunya terletak pada titik persilangan). Berbeda dari kebanyakan candi yang bertebaran di kawasan percandian Angkor, candi ini dibangun menghadap ke arah barat; para peneliti berbeda pendapat sehubungan dengan makna dari perbedaan ini. Angkor Wat dikagumi karena kemegahan dan keselarasan arsitekturnya, luasnya bidang yang dihiasi relief dangkal, dan sekian banyak sosok dewata yang terukir pada tembok-temboknya.
Berbagi lokasi dengan pengunjung lainnya, mengambil gambar siluet Candi Angkor Wat yang megah
Para pengunjung Candi Angkor Wat berjajar di tepi kolam, untuk mengambil gambar bayangan siluet candi dalam air kolam
Seperti sebuah kolam renang raksasa di dalam Candi Angkor Wat Siem Reap, Kamboja
Perjumpaan yang meneguhkan dengan seorang biksu muda Khmer yang optimistik dan berwajah teduh di areal Candi Angkor Wat, Siem Reap, Kamboja
Angkor Wat terletak 5,5 km di sebelah utara kota modern Siem Reap. Candi ini juga berada tidak jauh di sebelah selatan dan agak ke timur dari bekas ibu kota Khmer yang berpusat di candi Baphuon. Angkor Wat sendiri berlokasi di kawasan percandian Angkor, dan juga merupakan candi paling selatan dari antara candi-candi lainnya di kawasan tersebut.
Puncak kedua stupa suci Candi Angkor Wat, Kamboja yang tinggi menjulang, sangat indah dipandang
Gerbang belakang yang megah saat akan keluar areal situs Candi Angkor Wat, untuk menuju situs Candi Bayon, di Siem Reap, Kamboja
Selanjutnya kami mengunjungi Bayon yang merupakan candi agung Kerajaan Khmer di dalam kawasan Angkor. Dibangun pada akhir abad ke-12 hingga awal abad ke-13, candi yang kaya ukiran ini adalah candi agung resmi kerajaan yang bersifat Buddha Mahayana, yang dibangun atas prakarsa Raja Jayawarman VII. Candi Bayon berdiri menjulang tepat di pusat ibu kota milik Jayawarman VII Angkor Thom. Setelah Jayawarman wafat, candi ini kerap diubah fungsinya menjadi candi Hindu dan Buddha Theravada sesuai keinginan raja berikutnya.
Wajah berukuran raksasa dengan ekspresi yang tenang, teduh, dan anggun, terukir pada menara candi Bayon
Wajah para raja berukuran raksasa terukir pada menara-menara candi Bayon, dekat Angkor Wat
Candi Bayon, di belakang Candi Angkor Wat dengan stupa yang khas, yaitu sangat tinggi menjulang
Ciri utama candi Bayon adalah terdapat banyak wajah berukuran raksasa dengan ekspresi yang tenang, teduh, dan anggun, terukir pada menara-menara candi yang mengelilingi puncak utama. Candi ini juga terkenal dengan dua set bas relief yang menampilkan kombinasi antara mitologi, sejarah, serta adegan sehari-hari pada masa Kerajaan Angkor, yang menggambarkan candi ini sebagai “sebuah perwujudan paling mengagumkan dari gaya barok” dalam Arsitektur Khmer, apabila dibandingkan dengan gaya klasik Angkor Wat.
Kampanye basmi malaria yang telah resisten obat anti malaria standar, di Greater Mekong, termasuk di Siem Reap
Tokoh pesohor seperti Charlie Chaplin dan Jackie Kennedy, adalah mereka yang pernah mengunjungi Angkor Wat dan kami tidak mau kalah. Setelah puas menikmati kemegahannya, selanjutnya kami mengenang Dr. Beat Richner (13 Maret 1947 – 9 September 2018) adalah seorang dokter spesialis anak dari Swiss, pemain cello dan pendiri rumah sakit anak di Kamboja. Dia menciptakan Yayasan Kantha Bopha di Zurich pada tahun 1992 dan menjadi kepalanya. Saat bekerja untuk Palang Merah Swiss, ia dikirim ke Kamboja di mana ia bekerja di Rumah Sakit Anak Kantha Bopha di Phnom Penh pada tahun 1974 dan 1975. Rumah sakit ini dinamai untuk mengenang HRH Samdach Preah Ang Mechas Norodom Kantha Bopha (1948– 1952), yang merupakan putri Raja Norodom Sihanouk dan meninggal pada usia yang sangat muda.
.
Siamray dengan tuktuk pribadinya, setia mengantar kami keliling areal arkeologi Candi Angkor Wat
Ketika Khmer Merah menyerbu Kamboja, Richner terpaksa kembali ke Swiss di mana ia melanjutkan pekerjaannya di Rumah Sakit Anak Zurich. Pada Desember 1991, Richner kembali ke Kamboja dan menyaksikan kehancuran yang terjadi setelah konflik antara Khmer Merah dan Vietnam. Dia diminta untuk membuka kembali dan membangun kembali Kantha Bopha oleh pemerintah Kamboja. Menciptakan Yayasan Kantha Bopha pada Maret 1992, Richner secara resmi kembali ke Kamboja untuk memulai rekonstruksi dan Kantha Bopha dibuka kembali pada November 1992. Sejak itu, yayasan telah mendanai perluasan Rumah Sakit Anak Kantha Bopha untuk berkembang menja lima rumah sakit, termasuk di Siem Reap.
Mengagumi dedikasi Dr. Beat Richner yang mendirikan RS Anak Kantha Bopha III Siem Reap, Kamboja
Sebanyak 5 buah Rumah sakit Kantha Bopha merawat sekitar setengah juta anak per tahun tanpa biaya, termasuk untuk sekitar 100.000 anak yang sakit parah dan harus dirawat inap. Ensefalitis Jepang, malaria, demam berdarah dengue, dan tipus sering terjadi, yang bahkan sering diperburuk oleh adanya infeksi tuberkulosis (TB) sebelumnya. TB adalah pembunuh nomor satu bagi anak di Kamboja dan lebih dari 80% dari semua perawatan anak di Kamboja, dilayani oleh jaringan rumah sakit Kantha Bopha. Operasional rumah sakit terutama didanai oleh sumbangan individu filantropis di Swiss. Biaya operasional pada tahun 2006, saat terjadi lonjakan kasus malaria, mencapai US $ 17 juta. Sejak Yayasan dimulai pada tahun 1991, dilaporkan telah mengumpulkan US $ 370 juta. Selain perawatan medis, rumah sakit juga menyediakan Pendidikan Vokasi Pascasarjana Internasional, yaitu Akademi Pediatri Kantha Bopha yang dimulai pada tahun 2009. Program ini mencakup kuliah dan kursus tentang pediatri umum, infektologi, imunologi dan pencitraan diagnostik. Program kursus juga mencakup pengenalan ke dalam organisasi dan manajemen rumah sakit anak dan fasilitas bersalin di negara tropis yang miskin.
.
Bersiap naik bis Giant Ibis yang eksklusif buatan Hyundai meninggalkan Siem Reap menuju Phnom Penh, Kamboja
Setelah puas menikmati kemegahannya, selanjutnya kami naik bis Giant Ibis, menuju Phnom Pehn, ibukota Kerajaan Kamboja. Menempuh perjalanan 323 km, kami perlu waktu 6 jam dalam bis ekskutif buatan Hyundai, Korea. Sepanjang perjalanan kami melewati jalan raya yang mulus, tertata dan datar. Rasanya tidak ada jalan mendaki dan menurun di darata Komboja. Kendaraan yang lewat pada umumnya berukuran besar, tidak ada yang berminat dengan kendaraan kecil. Camry, Prius, Fortuner, Pajero, Highlander, Land Cruiser, Navara, Alphard, Hi Lux dan H1, adalah kendaraan besar yang lalu lalang di sepanjang jalan di Kamboja.
Menikmati pemandangan kawasan Kamboja yang luas, dari dalam cabin bis Giant Ibis ke Phnom Penh
Sepanjang mata memandang, masih banyak areal tanah kosong, rumah dibangun dengan halaman yang luas, dan jalan yang lebar dengan warna tanah kemerahan. Panoramanya mirip dengan wilayah Kalimantan Tengah, yang masih jarang penduduk. Meskipun medannya tidak berat karena hanya datar, tetapi warga Kamboja lebih senang menggunakan mobil dengan kapasitas mesin yang besar, yang biasanya diiperuntukkan bagi medan berat.
Museum Genosida Tuol Sleng pada malam hari untuk mengenang kekejaman Khmer Merah di Phnom Pehn, Kamboja
Kami turun di garasi bis Giant Ibis, di pinggiran kota Phnom Penh, dilanjutkan naik tuktuk keliling kota dalam sore hari menjelang malam yang sedikit gerimis. Dengan cepat kami mengunjungi Museum Genosida Tuol Sleng, Monumen Kemerdekaan, Patung Raja Norodom Sihanouk, dan Istana Kerajaan Kamboja, karena hari keburu malam dan hujan semakin lebat. Selanjutnya kami check in di hotel dan berniat mengulangi lagi kunjungan ke tempat tersebut pagi hari, sebelum melanjutkan perjalanan ke Vietnam.
.
Monumen Kemerdekaan Kamboja di waktu malam, di tengah simpang jalan yang ramai di Phnom Phen
Ditulis di dalam kamar 304 King Grand Boutique Hotel, 18 Street 258, Phnom Penh, Cambodia, The Kingdom of Wisdom
Selasa malam, 28 Mei 2019.
-wikan
(bersambung)
2019 Hari kelima di Indochina
Setelah selesai menghadiri ‘The 422nd International Conference on Medical & Health Science’ (ICMHS) 2019 yang diselenggarakan di The Pearl Hotel Hanoi, Vietnam, kami melanjutkan terbang ke Siem Reap, Kamboja, untuk menikmati keindahan Candi Angkor Wat. Dengan menggunakan bis antar kota berkapasitas 41 tempat duduk ‘Giant Ibis3’, kami meninggalkan Siem Reap, untuk menuju Phnom Penh, ibukota dan kota terbesar di Kamboja. Kota ini memiliki penduduk sekitar 1 juta jiwa, sementara seluruh penduduk Kamboja adalah 11,4 juta jiwa.
Phnom Penh terletak di tepi Sungai Mekong, yang merupakan sungai utama di daratan Asia dengan panjang 4.200 km yang berasal dari dataran tinggi Tibet Cina. Sungai ini melintasi Kamboja dari Utara ke Selatan dengan panjang total 486 km dan melewati Phnom Penh, sebagai persimpangan sungai untuk sumber air minum dan ekosistem kota.
Didirikan pada tahun 1434, kota ini terkenal karena arsitektur yang indah, sejarah dan atraksi kebudayaannya. Phnom Penh pernah dikenal sebagai “Mutiara Asia”, dan dianggap sebagai salah satu kota peninggalan kolonial Prancis yang terindah, yang pernah dibangun sebagai kota di seluruh Indocina pada tahun 1920. Saat ini masih ada sejumlah bangunan kolonial Prancis yang tersebar di sepanjang jalan-jalan utama, mekipun Phnom Penh telah berkembang menjadi pusat negara, pusat industri, perekonomian, keamanan, dan politik Kamboja. Phnom Penh, bersama dengan Siem Reap dan Sihanoukville adalah tujuan wisata domestik dan global yang signifikan untuk Kamboja.
Mengunjungi Universitas Ilmu Kesehatan di Phnom Pehn, Kerajaan Kamboja di waktu malam
Malam itu kami menginap di kamar 304 King Grand Boutique Hotel, Phnom Penh, Kamboja, dan terbayang kesedihan mendalam tentang para korban yang diabadikan di Museum Genosida Tuol Sleng, yang baru saja kami kunjungi. Museum di pusat kota Phnom Penh tersebut merupakan bekas sebuah Kamp Konsentrasi pada masa rezim Komunis Khmer Merah berkuasa di Kamboja, pada tahun 1975-1979. Kamp Konsentrasi ini dibangun oleh Pol Pot, pemimpin Khmer Merah, untuk menyingkirkan orang-orang yang tidak sepaham dengannya. Pol Pot berusaha kembali ke perekonomian agraris dan karena itu menewaskan banyak orang yang dianggap sebagai musuh, “malas”, atau secara politik terdidik. Banyak penduduk, termasuk mereka yang kaya dan berpendidikan, dievakuasi dari kota dan dipaksa untuk melakukan kerja paksa di bidang pertanian di pedesaan sebagai ”manusia baru“.
Gerbang depan Museum Genosida Tuol Sleng di Phnom Pehn, salah satu tempat yang mengerikan di Kamboja
Bangunan sekolah ‘Tuol Svay Prey High School’ diambil alih oleh pasukan Pol Pot dan diubah menjadi 21S- kamp penjara, di mana para musuh politik Pol Pot ditahan dan disiksa. Nama Tuol Sleng merupakan Bahasa Khmer yang berarti “Bukit Pohon Beracun”. Bekas sekolah tinggi yang sekarang menjadi Museum Genosida Tuol Sleng, merupakan tempat penyiksaan oleh pasukan Khmer Merah yang menyimpan alat, perangkat dan foto para korban. Perkiraan jumlah kematian akibat kebijakan Khmer Merah, termasuk penyakit dan kelaparan, berkisar 1,7-2,5 juta dari penduduk Kamboja sekitar 8 juta. Pada tahun 1979, pasukan komunis Vietnam menyerbu Republik Demokratik Kampuchea dan menggulingkan rezim Khmer Merah.
Gerbang belakang Museum Genosida Tuol Sleng di Phnom Pehn yang gelap, mencekam, dan mengerikan
Perang Kamboja-Vietnam adalah konflik yang terjadi antara Republik Sosialis Vietnam dan Kamboja. Perang ini dimulai dengan invasi dan pendudukan Vietnam terhadap Kamboja dan penurunan Khmer Merah dari kekuasaan. Konflik ini juga mengemukakan bagaimana perpecahan Tiongkok-Soviet telah merusak pergerakan komunis. Partai Komunis Vietnam memihak kepada Uni Soviet, sementara Partai Komunis Kamboja tetap setia dengan Republik Rakyat Tiongkok.
.
Monumen lambang kejayaan bangsa Khmer di pusat kota Phnom Pehn, Kamboja
Perang ini dimulai dengan kekhawatiran Republik Demokratik Kampuchea yang pada saat itu di bawah pimpinan Pol Pot, akan meluasnya pengaruh Vietnam setelah kemenangan Vietnam pada Perang Vietnam. Kekhawatiran ini didasarkan atas keinginan Vietnam untuk menyatukan kawasan Indochina dalam suatu negara di bawah kekuasaan Vietnam. Dibawah kekhawatiran tersebut, pasukan Republik Demokratik Kampuchea melancarkan aksi untuk menetralisir tentara Vietnam di sekitar perbatasan Vietnam-Kamboja. Atas aksinya, Vietnam membalas dengan melancarkan invasi melawan Republik Demokratik Kampuchea yang menyebabkan keruntuhannya, yang kemudian diganti oleh negara boneka Vietnam, Republik Rakyat Kamboja. Pendudukan Vietnam berakhir setelah tekanan internasional serta reformasi politik Vietnam. Tentara Vietnam terakhir keluar Kamboja pada tahun 1992.
Kami juga jadi ingat tentang seorang wartawan Kamboja Dith Pran, yang menciptakan istilah “ladang pembantaian” (The Killing Fields) setelah melarikan diri dari rezim Khmer Merah. Sebuah film yang dirilis tahun 1984 berjudul sama, yaitu ‘The Killing Fields’, menceritakan kisah Dith Pran, dimainkan oleh seorang survivor Kamboja Haing S. Ngor, dan perjalanannya untuk melarikan diri dari kematian di kamp.
Monumen Kemerdekaan Kamboja di tengah kota Phnom Penh saat malam hari.
Malam sebelum ke hotel, kami juga sempat mengunjungi Monumen Kemerdekaan di Phnom Penh, yang dibangun pada tahun 1958 untuk memperingati kemerdekaan Kamboja dari Prancis pada 1953. Monumen tersebut berdiri di persimpangan Norodom Boulevard dan Sihanouk Boulevard. Monumen tersebut membentuk stupa berbentuk teratai, yang gayanya tampak pada candi Khmer besar di Angkor Wat dan situs sejarah Khmer lainnya. Monumen Kemerdekaan dirancang oleh arsitek modern Kamboja yang sangat berpengaruh, yaitu Vann Molyvann.
Patung perunggu Raja Norodom Sihanouk, di pusat kota Phnom Pehn yang malam dan hujan
Selain itu, kami juga sempat berfoto dalam hujan, untuk melihat patung Raja Norodom Sihanouk, yang diciptakan sebagai peringatan 1 tahun meninggalnya sang raja. Peresmian patung perunggu raja Sihanouk tersebut dilangsungkan pada hari Jumat, 11 September 2013. Patung setinggi 100 kaki seharga sekitar 1,2 juta dollar AS, menggambarkan Raja Norodom Sihanouk sebagai sosok yang melekat di hati rakyatnya. Paling tidak hal itu terlihat dari tetap membanjirnya warga yang menjenguk perabuan jenazahnya di Istana Kerajaan. Saat peresmian patung itu, Perdana Menteri Hun Sen dan raja Kamboja saat ini, Norodom Sihamoni hadir. Norodom Sihanouk wafat pada 15 Oktober 2012 karena serangan jantung di Beijing, China. Sihanouk berjasa membuat Kamboja tetap dalam keadaan damai sejak merdeka dari Perancis pada 1953.
Peta jalan program pemberantasan malaria di Kamboja pada 1953.
Kami jadi teringat bahwa Professor Nicholas White dari Oxford University di Inggris menerbitkan surat terbuka di jurnal kesehatan ‘The Lancet Infectious Diseases.’ Surat yang terbit pada hari Rabu, 25 September 2017 berisi tentang sebuah varian malaria baru, yang telah menyebar di wilayah barat Kamboja. Parasit malaria mutan terbaru itu kebal terhadap segala macam obat berbasis artemisin, obat utama melawan malaria yang dipakai oleh dokter di seluruh dunia. Malaria baru tersebut bahkan sudah menyebar dari kawasan barat Kamboja, menuju daerah timur laut Thailand, selatan Laos, hingga Selatan Vietnam (Greater Mekong).
Kami jadi teringat bahwa Professor Nicholas White dari Oxford University di Inggris menerbitkan surat terbuka di jurnal kesehatan ‘The Lancet Infectious Diseases.’ Surat yang terbit pada hari Rabu, 25 September 2017 berisi tentang sebuah varian malaria baru, yang telah menyebar di wilayah barat Kamboja. Parasit malaria mutan terbaru itu kebal terhadap segala macam obat berbasis artemisin, obat utama melawan malaria yang dipakai oleh dokter di seluruh dunia. Malaria baru tersebut bahkan sudah menyebar dari kawasan barat Kamboja, menuju daerah timur laut Thailand, selatan Laos, hingga Selatan Vietnam (Greater Mekong).
Pemeriksaan parasitologi malaria di Kamboja
Di beberapa wilayah Kamboja, tingkat resistensi pasien mencapai 60 persen dan sepertiga penangangan malaria di sana dinyatakan gagal. Walau mengkhawatirkan, varian malaria terbaru ini masih jauh dari Benua Afrika. Malaria baru ini akan mematikan, jika sampai menyeberang Samudra Hindia, karena setiap tahun 90 persen dari 212 juta kasus malaria seluruh dunia, terjadi di Benua Hitam Afrika. Ironisnya, kasus malaria yang disebarkan oleh nyamuk, sebetulnya mengalami penurunan beberapa tahun terakhir. Desember 2015, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan sejak tahun 2000 terdapat penuruan kasus malaria minimal 70 persen di lebih dari setengah negera yang terjangkit penyakit berbahaya ini. Secara keseluruhan, jumlah kasus malaria menurun sampai 40 persen sementara tingkat kematian turun 66 persen di benua Afrika dalam kurun waktu yang sama.
Mari kita bantu program stop malaria di Kamboja
Di Kamboja terjadi 45.991 kasus malaria pada 2017, di mana angka tersebut meningkat 95 persen dari 23.627 kasus pada tahun sebelumnya, seperti yang dijelaskan oleh Huy Rekol, direktur Pusat Nasional untuk Parasitologi, Entomologi dan Pengendalian Malaria Kamboja. Peningkatan kasus malaria tahun 2017 yang luar biasa, mungkin berhubungan dengan perubahan iklim dan jatuhnya tanggal kadaluarsa kelambu berinsektisida. Tahun 2016 cuaca telah berubah dengan musim hujan yang berkepanjangan, yang kondusif bagi pembiakan nyamuk. Faktor lainnya adalah kelambu berinsektisida, yang telah didistribusikan ke orang-orang yang tinggal di daerah rawan malaria, telah kehilangan efisiensinya setelah digunakan selama tiga tahun. Kami menjadi agak sulit tidur membayangkan semua hal yang terjadi tersebut malam itu ada di sekitar kami.
Gerbang depan Istana Kerajaan Kamboja atau National Royal Palace, yang sedang direnovasi di pusat kota Phnom Pehn.
Rabu pagi, 29 Mei 2019 untunglah kami dapat bangun pagi untuk berjalan kaki sekitar 5 menit dari hotel, guna melihat Istana Kerajaan Kamboja atau National Royal Palace. Istana megah dan besar ini berfungsi sebagai kediaman resmi Raja Kamboja dan keluarga kerajaan. Nama lengkap dalam bahasa Khmer adalah Preah Barum Reachea Veang Chaktomuk Serei Mongkol. Para raja Kamboja telah menghuni istana ini sejak dibangun pada tahun 1860-an, dengan pengecualian istana sempat kosong karena keluarga kerajaan pergi mengungsi, mengasingkan diri ke Perancis dan China, ketika negara jatuh dalam kekacauan, akibat berkuasanya rezim Khmer Merah.
.
Panorama pertemuan Sungai Tonle Sap dan Sungai Mekong yang disebut Chaktomuk di pagi hari, di tegah kota Phnom Penh, Kamboja
Istana ini dibangun setelah Raja Norodom memindahkan ibukota kerajaan dari Oudong ke Phnom Penh pada pertengahan abad ke-19. Istana ini dibangun secara bertahap di atas benteng kuno yang disebut Banteay Kev. Istana ini menghadap ke arah Timur dan terletak di tepi barat dari cabang pertemuan Sungai Tonle Sap dan Sungai Mekong yang disebut Chaktomuk (Sansekerta:catur mukkha yang berarti empat muka), sebuah kiasan untuk dewa Brahma yang memiliki empat muka menghadap empat penjuru.
Gerbang King Grand Boutique Hotel, Phnom Penh, Kamboja, yang artistik
Rabu siang, 29 Mei 2019 kami meninggalkan King Grand Boutique Hotel, Phnom Penh, Kamboja, untuk naik bis lagi menuju Ho Chi Min City Vietnam. Pemeriksaan imigrasi dilakukan oleh Otoritas Imigrasi Kamboja di Kota Bavet dan bis berhenti di gedung tempat pos pemeriksaan paspor Kamboja berada. Setelah dipindai sidik jari dan stempel tanggal keluar wilayah Kamboja, para penumpang naik bis lagi menuju pos pemeriksaan pintu masuk perbatasan Vietnam di Kota Moc Bai. Paspor semua penumpang dikumpulkan oleh awak bis dan kita menunggu di areal pertokoan duty free untuk makan siang. Selesai makan, para penumpang diantar k epos pemeriksaan dan harus turun dari bus dengan membawa semua tas perbekalan, untuk dipindai dalam mesin x-ray dan pemeriksaan paspor oleh petugas imigrasi Vietnam.
Bis yang mengantar kami meninggalkan Phnom Pehn, Kamboja dan memasuki Ho Chi Min, Vietnam
Memasuki territorial Vietnam, jalan dan pemandangan alam sekitarnya sangat berbda, karena lebih padat penduduk, maju dan modern. Setelah total 6 jam menempuh jarak 230,4 km melewati jalan nasional AH1/NR1, selanjutnya kami menginap di Ho Chi Min City.
Ditulis di Kamar 602 Anpha Boutique Hotel, Ho Chi Minch City Vietnam
Rabu malam, 29 Mei 2019.
-wikan
(bersambung)
2019 Hari Keenam di Indochina
Setelah selesai menghadiri ‘The 422nd International Conference on Medical & Health Science’ (ICMHS) 2019 yang diselenggarakan di Hanoi, Vietnam, kami melanjutkan terbang ke Siem Reap, Kamboja. Setelah menempuh jalur darat dari Siem Reap menuju Phnom Penh, ibukota Kamboja, kami berlanjut menuju ke kota Ho Chi Minh di Vietnam.
Kota Ho Chi Minh adalah kota terbesar di Vietnam dan terletak dekat delta Sungai Mekong. Dahulu namanya Prey Nokor dalam bahasa Khmer dan saat itu, kota ini merupakan pelabuhan utama Kamboja, yang kemudian ditaklukkan oleh bangsa Vietnam pada abad ke-16. Namanya kemudian berubah menjadi Saigon, hingga berakhirnya perang Vietnam, dan dijadikan ibu kota koloni Prancis yang disebut Cochinchina, dan pernah menjadi ibu kota Vietnam Selatan dari tahun 1954 hingga 1975, saat berkecamuknya Perang Vietnam.
Sejarah Kota Ho Chi Minh dimulai sebagai sebuah desa nelayan kecil dengan nama Prey Nokor. Pada 1623, Raja Chey Chettha II dari Kamboja (1618-1628) mengizinkan pengungsi-pengungsi Vietnam melarikan diri dari perang saudara Trinh-Nguyen di Vietnam untuk menetap di wilayah Prey Nokor, dan membangun sebuah rumah adat di Prey Nokor dan akhirnya dikenal sebagai Saigon. Setelah ditaklukkan pasukan colonial Perancis pada 1859, kota ini dipengaruhi oleh Prancis selama pendudukan mereka atas Vietnam, dan sejumlah bangunan bergaya klasik kota ini mencerminkan pengaruh tersebut. Akibatnya Saigon sempat dijuluki sebagai “Mutiara dari Timur Jauh” (Hòn ngọc Viễn Đông) atau “Paris di Timur” (Paris Phương Đông).
Kamis dini hari, 30 Mei 2019 kami berjalan kaki dari hotel menuju Gereja Katederal Notre Dame of Saigon, untuk mengikuti misa harian pagi di Basilika Notre-Dame Saigon, yang secara resmi bernama Basilika Bunda Konsepsi Imakulata, yang terletak di pusat kota Ho Chi Minh City, Vietnam. Dibangun dengan arsitek Jules Bourard oleh kolonialis Perancis antara tahun 1863 dan 1880, gereja bergaya Gotic Romanesque murni tersebut memiliki dua menara lonceng dengan tinggi 58 meter, dan dibuka untuk umum pada 11 April 1880.
Sebelum misa kudus harian dimulai di Basilica Notre Dame of Saigon di Ho Chi Min City, Vietnam
Gereja Katolik Roma tersebut dibangun untuk pelayanan keagamaan bagi para serdadu kolonialis Prancis. Gereja pertamanya dibangun di Jalan Ngo Duc Ke, yang merupakan sebuah pagoda Vietnam pada masa perang. Uskup Lefevre memutuskan untuk membuat pagoda tersebut menjadi sebuah gereja. Pada tahun 1960, Paus Yohanes XXIII meresmikan keuskupan Katolik Roma di Vietnam dan melantik uskup agung untuk Hanoi, Huế dan Saigon, yang sejak itu katedral tersebut diberi nama Katedral Pemimpin Saigon. Pada 1962, Paus Yohanes XXIII memberikannya status basilika dan disebut Basilika Katedral Notre-Dame Saigon, yang saat ini membawahi 203 paroki. Luar biasa banyak.
Kantor Pos Pusat Saigon (sekarang Ho Chi Mon City) yang dirancang setengah tenggelam dan setengah timbul
Setelah puas berdoa dan berfoto di situ, kami segera menyeberang jalan ke sebelah kiri geraja, yang terdapat Kantor Pos Sentral Saigon, yaitu kantor pos terbesar di Vientam. Gedung ini memiliki arsitektur Eropa Barat yang berkombinasi dengan arsitektur Timur dan dibangun dari tahun 1886 sampai 1891. Perancangan gedung kantor Pos ini dibuat oleh arsitek Perancis, Gustave Eiffel, yang terkenal dengan perancangan menara Eiffel di Paris Perancisdan Patung Liberty di New York AS, yang keduanya telah kami kunjungi sebelumnya. Setelah 23 tahun digunakan, arsitek Villedieu dan Foulhoux merancang pengembangan bangunan yang baru. Ciri khas dan yang luar biasa indahnya dari gedung tiga lantai ini, dirancang setengah tenggelam dan setengah timbul. Kalau dilihat dari luar terlihat jendela berbentuk lengkung, jam besar di atas pintu utama dan bendera merah berbintang kuning Vietnam yang berkibar-kibar di tengah-tengah angin. Pagi itu kantor pos belum buka, sehingga kami hanya dapat berfoto di luarnya saja.
.
Jendela berbentuk lengkung, jam besar di atas pintu utama dan bendera merah berbintang kuning Vietnam di Kantor Pos Pusat Saigon, Ho Chi Min City
Kalau seandainya kami dapat masuk gedung itu, tentu saja kami akan dapat mengagumi lukisan peta Vietnam Selatan dan Kamboja dengan judul ‘Lignes telegraphiques du Sud Vietnam et Cambodge’ (Telegraphic lines of Southern Vietnam and Cambodia) dan lukisan peta kota Saigon dengan judul ‘Saigon et ses environs’ (Sai Gon and its environment), kedua lukisan tersebut menggambarkan kondisi tahun 1892. Selain itu, juga lukisan wajah tokoh besar Ho Chi Minh, yang terpampang di tengah dinding bagian dalam bangunan. Selanjutnya kami berjalan kaki sejauh 300 m menuju Balai Kota (City Hall), sebuah bangunan indah yang awalnya adalah Hotel de Ville Saigon. City Hall ini dibangun pada tahun 1902 hingga 1908, pada masa penjajahan Perancis. Yang menarik di Balai Kota ini ialah lampu-lampu di bagian luar gedung, yang dinyalakan pada malam hari, karena memberikan iluminasi cahaya sangat unik. Selain itu, kami juga menikmati bagian taman dan patung ‘Uncle Ho’ yang berdiri gagah di seberang bangunan utama.
Patung ‘Uncle Ho’ yang berdiri gagah di seberang bangunan utama Balai Kota Saigon yang artistik
Oleh karena impor sepeda motor murah, maka jumlah sepeda motor telah meningkat hingga sekitar 3 juta. Ditambah lebih dari 400.000 mobil yang memadati jalan-jalan arteri kota ini, membuat jalanan macet dan udara terpolusi. Bila Beijing dikenal sebagai “Kota Sepeda”, maka Kota Ho Chi Minh dapat disebut “Kota Sepeda Motor.” Setelah kami mengunjungi Balai Kota Vietnam dan kemudian sarapan di hotel, kami menyewa sepeda motor paket sehari seharga $10. Sejak itu, kami melakukan uji adrenalin dan bergabung dengan para pengendara sepeda motor yang merajai semua jalan di sepanjang kota Ho Chi Min, termasuk para pengendara ojek aplikasi Grab yang berseragam hijau dan Goviet yang berseragam merah. Goviet adalah anak usaha Go Jek yang asli Indonesia. Lalu lintas di Ho Chi Min sangat menantang, sebab sangat teratur dalam ketidakteraturan. Selain laju kendaraan berada di lajur kanan jalan yang sering kali kami lupa setelah berbelok, juga setiap lampu hijau menyala, jangan berharap hanya kita yang melaju, sebab banyak pengendara motor dan mobil dari arah lain, termasuk yang melawan arus, pada saat yang sama juga ikut melaju.
Balai Kota Ho Chi Min, Viet Nam semula adalah Hotel de Ville Saigon yang dibangun pada tahun 1908.
Tujuan kami yang pertama adalah Istana Reunifikasi yang megah dan bersejarah. Istana Merdeka atau Istana Reunifikasi (Dinh Thống Nhất) dibangun di situs bekas Istana Raja Norodom yang merupakan ‘landmark’ kota Saigon, Vietnam. Istana ini dirancang oleh arsitek Ngô Viết Thụ, dengan gaya arsitektur yang memadukan gaya modern dan tradisional Vietnam, serta merupakan rumah dinas dan tempat kerja Presiden Vietnam Selatan, selama Perang Vietnam. Di istana itulah Presiden Vietnam Selatan Nguyen Van Thieu mundur dan menyerahkan kekuasaan ke tangan Wapres Tran Van Huong, sebelum kabur pada 25 April 1975. Pada dini hari 30 April 1975, tentara Vietnam Utara menyerang dan hanya mendapati perlawanan ringan dari lawan. Kemudian sejumlah tank AD Vietnam Utara menabrak pintu gerbang Istana Presiden dan sekaligus mengakhiri perang Vietnam, karena akhirnya Vietnam Selatan menyerah.
Gerbang Istana Reunifikasi (Dinh Thống Nhất) yang terbuka di Saigon, dahulu ditabrak tank Tentara Vietnam Utara
Jenderal Duong Van Minh mengaku kalah dan menyerah kepada Koloner Bui Tin dari AD Vietnam Utara. Sebelumnya Duong Van Minh mengambil alih kekuasaan dari Presiden Tran Van Huong yang baru berkuasa selama satu hari. “Anda tak perlu khawatir. Di antara bangsa Vietnam tidak ada yang menang atau kalah. Hanya bangsa Amerika yang kalah,” kata Kolonel Bui Tin kepada Jenderal Dong Van Minh. “Jika Anda seorang patriot, anggap saat ini sebagai saat bahagia. Perang di negara kita sudah berakhir,” tambah Bui Tin (29 Desember 1927 – 11 Agustus 2018). Di istana itulah tempat berakhirnya perang berdarah yang panjang, menewaskan setidaknya tiga juta orang Vietnam, dan kami sempatkan berfoto di depan gerbang yang dulu ditabrak tank AD Vietnam Utara, yang masih utuh sampai sekarang.
Cuplikan doa persatuan bangsa Vietnam di dinding Basilica Notre Dame of Saigon di pusat kota Ho Chi Min City
Selanjutnya kami mengunjungi Sr. Astrid, CB biarawati Konggregasi Carolus Borromeus dari Manado, Indonesia yang sejak sebulan ditugaskan di tanah misi Vietnam. Bantuan aplikasi Google maps, sangat membantu kami menemukan rumah biara Sr. Astrid, CB di Distrik 7, meskipun pada kondisi padat rumah tinggal agak kurang presisi. Sustser yang bergelar megister pendidikan dini tersebut, ditugaskan untuk membuka TK, yang sangat sulit birokrasi dalam sistem pemerintahan komunis. Penyelenggaraan pendidikan dasar, menengah dan tinggi di seluruh daratan Vietnam hanya boleh dilakukan oleh pemerintah, sedangkan pihak swasta termasuk gereja, hanya diijinkan mengoperasionalkan TK. Dalam bidang kesehatan, layanan RS dan klinik rawat inap juga hanya boleh dilakukan oleh pemerintah. Pihak swasta dan gereja yang sempat mengoperasionalkan klinik rawat jalan, juga diincar untuk ditutup. Biaya layanan pendidikan dan kesehatan mendapatkan subsidi besar, sehingga warga hanya membayar sangat murah untuk kedua layanan negara tersebut.
Sowan Sr. Astrid, CB misionaris asal Manado, Sulawesi Utara di tanah misi Vietnam
Selanjutnya kami segera memacu sepeda motor ke Cu Chi Tunnels yang merupakan tempat wisata terowongan tentara di Vietnam, yang terletak di luar Kota Saigon. Cu Chi Tunnels ini dibuat pada masa perang antara Vietnam dan Amerika Serikat. Terowongan ini sengaja dibuat sempit supaya hanya orang Vietnam yang kecil-kecil saja yang dapat masuk. Cu Chi Tunnels merupakan tempat pertahanan gerilyawan Vietnam pada waktu itu, tetapi sekarang ini Cu Chi Tunnels menjadi tempat wisata yang terkenal di Vietnam. Kami mengambil jalan yang berbeda saat pulang dari Cu Chi, agar dapat merasakan lebih banyak sensasi berkendara di Vietnam. Saat hujan sangat lebat turun, kami beruntung sudah sempat masuk Big C, sebuah hypermarket di pinggiran kota Ho Chi Min, agar terhindar dari hujan dan dapat membeli oleh-oleh khas Vietnam. Selanjutnya kami masuk gerai KFC, untuk mengisi batere HP secara gratis, karena penggunaan aplikasi Google maps ternyata menghabiskan energi HP dengan cepat, pada hal kami tidak punya power bank.
Gerbang Cu Chi Tunnels tempat wisata terowongan tentara di Vietnam, yang terletak di luar Kota Saigon
Tantangan kedua adalah saat ban sepeda motor belakang kempes, di keramaian jalanan yang ganas di Distrik 4 kota Ho Chi Min, saat hujan sudah reda dan bertepatan dengan jam pulang kantor. Untung saja tambal ban tubeless tidak jauh dari kami, sehingga laju motor dapat segera dilakukan lagi.
Tambal ban tubeless di Distrik 3 pusat kota Ho Chi Min, Viet Nam
Kami segera menuju ‘War Remnant Museum War’ atau Museum Sisa Perang yang menyimpan berbagai macam koleksi peninggalan Perang Indo-China I melawan Perancis dan Perang Vietnam melawan AS. Adapun barang-barang yang dipamerkan di museum ini, antara lain perlengkapan perang Amerika Serikat, yaitu helikopter UH-1, tank M-48 Patton, berbagai jenis bom dan rudal, dokumentasi kekejaman dan penyiksaan yang terjadi selama perang, serta beberapa karya seni (artwork) yang menyerukan anti peperangan. Meskipun tampak mengerikan dan seram, namun hal tersebut tetap merupakan sebuah bukti nyata peninggalan perang, yang memiliki nilai sejarah tinggi, dan menjadi sebuah pelajaran, agar perang serupa tidak boleh terulang kembali. Perang Vietnam terlukis sadis dalam film ‘The Deer Hunter’ karya Michaal Cimino (1978) dan ‘Apocalypse Now’ karya Francis Ford Coppola (1979). Selain itu, film-film karya Oliver Stone, di antaranya berjudul ‘Platoon’, ‘Born on the fourth of July’, serta ‘Heaven and Earth’, juga menggambarkan perang besar itu.
.
Gerbang ‘War Remnant Museum War’ atau Museum Sisa Perang yang mengingatkan tentang perdamaian di pinggiran kota Ho Chi Min, Viet Nam
Malam itu kami segera mandi dan melanjutkan memicu adrenalin dalam ganasnya lalu lintas jalan menuju Distrik 7, untuk menghadiri undangan pertemuan warga Indonesia yang beragama Katolik di kota Ho Chi Min. Kami tidak kesulitan menemukan Apartemen Riverside yang mewah di dekat Sungai Mekong, tempat acara berlangsung, dalam waktu tempuh 30 menit. Setelah Misa Kudus Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga, segera kami bergabung dalam makan malam bersama, menu campuran Indonesia dan Vietnam, sehingga kami dapat kembali menyantap makanan kegemaran, yaitu kerupuk.
Kegembiraan warga Indonesia di Apartemen Riverside di dekat Sungai Mekong di Ho Chi Minch City Vietnam
Malam itu kami segera berkemas di Kamar 602 Anpha Boutique Hotel, Ho Chi Minch City Vietnam, karena pagi berikutnya harus kembali ke Indonesia.
Ditulis di kursi 30C dalam kabin pesawat Airbus A 321 Vietnam Air, yang terbang dalam ketinggian jelajah 10.668 m dalam kecepatan 864 km/jam, menuju Jakarta.
Jumat siang, 31 Mei 2019
-wikan
(Bersambung)
2019 Hari Ketujuh di Indochina
(terakhir).
Kedatangan kami di Bandar Udara Internasional Noi Bai (HAN) di Hanoi, ibu kota dari Vietnam
Setelah selesai menghadiri ‘The 422nd International Conference on Medical & Health Science’ (ICMHS) 2019 yang diselenggarakan di The Pearl Hotel Hanoi, Vietnam, kami melanjutkan terbang ke Siem Reap. Selanjutnya naik bis ke Phnom Penh, di Kamboja, serta kembali memasuki teritorial Vietnam, untuk menjelajah kota Ho Chi Minh.
Keynote speech diberikan oleh Prof. Louann Bierlam Palmir, dari School of Medicine, Western Michigan University, United States of America. Pemaparan selanjutnya tentang perbaikan kawasan untuk menekan penularan Malaria, kolaborasi insinyur dan dokter, dalam menciptakan alat ‘incubator transport’ untuk bayi baru lahir yang kecil dan premature, dan alat sederhana untuk pemantauan hipoglikemi dan hiperbilirubinemi, pada bayi baru lahir dengan asfiksia neonatal.
Diskusi tidak kalah seru dipandu oleh Prof. Prayuth Chusirin dari Faculty of Education, KhonKaen University, KhonKaen, Thailand, untuk pendampingan belajar di rumah, pada anak balita dengan riwayat sakit berulang sejak bayi baru lahir, kecenderungan autism pada anak dari keluarga pedesaan, pengendalian TB (tuberculosis) di areal padat penduduk di kota besar, membahas pengendalian obesitas pada remaja, kerjasama industri dan rumah sakit, dalam menjawab tantangan fasilitas medis terbatas di negara berkembang. Topik sulit disampaikan oleh Prof. Volken Cacek, Faculty of Medicine, peran dokter dalam era revolusi industri 4.0 di negara berkembang, dan peran tenaga pemasaran untuk pengembangan layanan di RS.
Denyut yang kami rasakan adalah nadi Republik Sosialis Vietnam dengan ibukota Hanoi dan kota terbesarnya Hồ Chí Minh Citu, yang saat ini dipimpin oleh Sekjen Partai Komunis dan sekligus Presiden Vietnam, yaitu Nguyễn Phú Trọng. Vietnam merdeka dari Perancis pada 2 September 1945, mencapai kesepakatan Jenewa yang membagi menjadi Utara dan Selatan pada 21 Juli 1954, Jatuhnya Saigon (ibukota Vietnam Selatan) pada 30 April 1975, dan terjadi reunifikasi kedua Vietnam pada 2 Juli 1976. Area total Vietnam sekarang seluas 331,212 km2 dengan jumlah penduduk pada tahun 2016 diperkirakan sebanyak 94,569,072 jiwa, dan menjadi negara terpadat nomor 13 di dunia. Vietnam termasuk di dalam grup ekonomi “Next Eleven”, GDP Vietnam tumbuh sebesar 8.17% pada tahun 2016, negara dengan pertumbuhan tercepat kedua di Asia Timur dan pertama di Asia Tenggara. Pada akhir tahun 2017, mencapai rekor tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir sebesar 8.44%.
Foto both di lokasi ‘The 422nd International Conference on Medical & Health Science’ (ICMHS) 2019 yang diselenggarakan di The Pearl Hotel Hanoi, Vietnam
Sayang sekali, kami tidak sempat mengikuti diskusi menarik lain yang dipimpin oleh Prof., Dr. Eriki Ananda kumar dan Prof. Mohammed Hussein Bataineh, dari Department of Communication, Faculty of Medicine Yarmouk University Irbid, Jordan. Juga Prof Caesar Joseph Olbromski, The Alexander S. Onassis Public Benefit Foundation Fellow (Athens, Greece), Dr. Hossam Korany Ahmed, SVS College of Medicine, Arasampalayam, Coimbatore, Tamilnadu, India, karena kami harus segera check out hotel, melanjutkan penerbangan ke Kamboja. Sedangkan ketokohan yang kami jumpai dan menginspirasi kami adalah peran Ho Cho Min, Jendral Vo Nguyen Giap, Kolonel Bui Tin, dan Dr. Beat Richner.
Gerbang Museum Ho Chi Minh di Hanoi, Viet Nam
Hồ Chí Minh (19 Mei 1890 – 2 September 1969 pada umur 79 tahun) adalah seorang tokoh revolusi dan negarawan Vietnam, yang kemudian menjadi Perdana Menteri (1954) dan Presiden Vietnam Utara (1954–1969). Selain itu, Ho Chi Minh merupakan salah satu politisi yang paling berpengaruh pada abad-20, akrab dipanggil Bác Hồ (paman Hồ) di Vietnam. Untuk pertama kalinya setelah 30 tahun meninggalkan Vietnam, Ho Chi Minh kembali ke negaranya pada tahun 1941 dan mendirikan Liga untuk Kemerdekaan Vietnam (Viet Nam Doc Lap Dong Minh atau Viet Minh). Liga tersebut terdiri dari para nasionalis Vietnam dan kelompok komunis yang mendukung kemerdekaan Vietnam. Ketika itu, Viet Minh berjuang melawan kolonial Prancis dan Jepang yang saat itu sedang menduduki Vietnam. Pada akhir Perang Dunia II, Ho memimpin Viet Minh untuk secara bergerilya menguasai kota-kota besar di Vietnam.
Pada 2 September 1945, bertempat di Lapangan Ba Dinh, Ho Chi Minh mendeklarasikan kemerdekaan Republik Demokrasi Vietnam dan dia menjabat sebagai presiden pertama. Ho Chi Minh dikenal sebagai pribadi yang rendah hati, hemat, berpakaian santai, berbicara dengan tenang, jarang kehilangan kesabaran, dan sering berbicara dengan penduduk, terutama anak-anak. Sebelum meninggal, Ho berpesan agar tubuhnya dikremasi dan abunya disebarkan tanpa publikasi. Namun, ketika Ho meninggal pada 2 September 1969 pukul 9.47 pagi, di usia 79 tahun, jasad Ho diawetkan dan diletakkan dalam mausoleum Ho Chi Minh, di Lapangan Ba Dhin, Hanoi dan terbuka untuk publik. Para pihak yang bertikai di seluruh Vietnam sepakat untuk mengadakan gencatan senjata selama 72 jam untuk mengenang Ho yang meninggal akibat serangan jantung. Ho meninggal tepat 25 tahun setelah dia mendeklarasikan kemerdekaan Vietnam dari Prancis dan hampir enam tahun sebelum pasukannya berhasil menyatukan Vietnam Utara dan Selatan di bawah paham komunis. Ho Chi Minh merupakan pahlawan terbesar bagi bangsa Vietnam karena jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan dan penyatuan Vietnam.
Gerbang Pagoda di Hanoi untuk mengenang jasa besar Jendral Vo Nguyen Giap
Tokoh berikutnya adalah Vo Nguyen Giap (lahir 25 Agustus 1911 – meninggal 4 Oktober 2013 pada umur 102 tahun) yang merupakan seorang Jenderal dan wakil perdana menteri Vietnam. Arsitek kemenangan Vietnam terhadap pasukan colonial Perancis adalah Jenderal Vo Nguyen Giap, yang memimpin tentara gerilya memakai sandal jepit dari ban bekas, menyeret artileri di wilayah pegunungan, mengepung dan menghancurkan pasukan Perancis di Dien Bien Phu pada 1954. Kemenangan itu tak hanya membuat Vietnam merdeka, tapi juga menghapus kolonialisme di seluruh Indochina.
Jenderal yang dijuluki Napeleon Merah itu memimpin pertempuran panjang satu dekade, yaitu Perang Vietnam, yang menelan korban 58 ribu tentara Amerika Serikat dan sekitar 3 juta penduduk sipil dan militer Vietnam. Hasil akhir peperangan ini sekali lagi menunjukkan ketabahan dan keuletan rakyat Vietnam. Hanya di Vietnam-lah Amerika sebagai negara super power pernah kalah dengan telak dan lari kocar kacir meninggalkan medan perang. Jasa Vo nguyen Giap lain yang akan dikenang dunia adalah keberhasilannya menduduki Kamboja untuk menghentikan pembantaian masal yang dilakukan Khemer Merah di bawah kepemimpinan Pol Pot, yang telah mengeksekusi 3 juta dari penduduk kamboja yang wakktu itu berjumlah 7 juta jiwa. Giap meninggal dengan tenang di Hanoi tanggal 4 Oktober 2013 dalam usia 102 tahun.
Tokoh berikutnya adalah Kolonerl Bui Tin. Pada dini hari 30 April 1975, tentara Vietnam Utara menyerang dan hanya mendapati perlawanan ringan dari lawan. Kemudian sejumlah tank AD Vietnam Utara menabrak pintu gerbang Istana Presiden di Saigon dan sekaligus mengakhiri perang Vietnam, karena akhirnya Vietnam Selatan menyerah. Jenderal Duong Van Minh Panglima Tertinggi Tentara Vietnam Selatan mengaku kalah dan menyerah kepada Koloner Bui Tin dari AD Vietnam Utara. Sebelumnya Duong Van Minh mengambil alih kekuasaan dari Presiden Tran Van Huong, yang baru berkuasa selama satu hari.
Kenangan saat tank AD Vietnam Utara menabrak pintu gerbang Istana Presiden di Saigon dan sekaligus mengakhiri perang Vietnam
“Anda tak perlu khawatir. Di antara bangsa Vietnam tidak ada yang menang atau kalah. Hanya bangsa Amerika yang kalah,” kata Kolonel Bui Tin kepada Jenderal Dong Van Minh. “Jika Anda seorang patriot, anggap saat ini sebagai saat bahagia. Perang di negara kita sudah berakhir,” tambah Bui Tin (29 Desember 1927 – 11 Agustus 2018). Di istana itulah tempat berakhirnya perang berdarah yang panjang, menewaskan setidaknya tiga juta orang Vietnam, dan kami sempatkan berfoto di depan gerbang yang dulu ditabrak tank AD Vietnam Utara, yang masih utuh sampai sekarang. Kolonel Bui Tin menginspirasi kita semua bahwa dengan terjadinya persatuan bangsa Vietnam, menjadikannya sadar bahwa musuh bersama mereka adalah pihak luar.
Tokoh terakhir yang meginspirasi adalah Dr. Beat Richner (13 Maret 1947 – 9 September 2018), yang merupakan seorang dokter spesialis anak dari Swiss, yang mendirikan beberapa Rumah Sakit Anak Kantha Bopha di Kamboja. Rumah sakit ini dinamai untuk mengenang HRH Samdach Preah Ang Mechas Norodom Kantha Bopha (1948– 1952), yang merupakan putri Raja Norodom Sihanouk dan meninggal pada usia yang sangat muda. Sebanyak 5 buah Rumah sakit Kantha Bopha merawat sekitar setengah juta anak per tahun tanpa biaya, termasuk untuk sekitar 100.000 anak yang sakit parah dan harus dirawat inap. Ensefalitis Jepang, malaria, demam berdarah dan tipus sering terjadi, yang bahkan sering diperburuk oleh adanya tuberkulosis (TB). TB adalah pembunuh nomor satu bagi anak di Kamboja dan lebih dari 80% dari semua perawatan anak di Kamboja, dilayani di oleh jaringan rumah sakit Kantha Bopha. Operasional rumah sakit terutama didanai oleh sumbangan individu filantropis di Swiss. Biaya operasional pada tahun 2006, saat terjadi lonjakan kasus malaria, mencapai US $ 17 juta. Sejak Yayasan dimulai pada tahun 1991, dilaporkan telah mengumpulkan US $ 370 juta.
Rumah Sakit Anak Kantha Bopha di Siem Riep, Kamboja berdiri atas jasa Dr. Beat Richner dari Swiss
Sensasi liburan arkeologis yang baru saja kami nikmati, adalah Candi Angkor Wat di Siem Reap, Kamboja dan Basilica Notre Dame of Saigon di Ho Chi Min. Angkor Wat adalah sebuah gugus bangunan candi di Kamboja yang merupakan salah satu monumen keagamaan terbesar di dunia. Candi yang berdiri di atas areal seluas 1.626.000 m2 ini mula-mula dibangun sebagai candi agama Hindu Kerajaan Khmer, yang dibaktikan untuk dewa Wisnu, namun lambat laun berubah menjadi candi agama Buddha menjelang akhir abad ke-12. Angkor Wat dibangun oleh Raja Khmer Suryawarman II pada permulaan abad ke-12 di Yaśodharapura, ibu kota Kemaharajaan Khmer, sebagai candi negara sekaligus tempat persemayaman abu jenazahnya. Berbeda dari raja-raja pendahulunya yang berbakti kepada dewa Siwa, Raja Suryawarman II justru membangun Angkor Wat untuk dibaktikan kepada dewa Wisnu. Sebagai candi yang paling terawat di kawasan percandian Angkor, Angkor Wat merupakan satu-satunya candi yang masih menjadi pusat keagamaan penting semenjak didirikan.
Prasasti Candi Angkor Wat yang megah menjulang di Siem Reap, Kamboja
Angkor Wat (bahasa Khmer: “candi kota”) adalah sebuah gugus bangunan candi di negara Kamboja yang merupakan salah satu monumen keagamaan terbesar di dunia. Candi yang berdiri di atas situs seluas 1.626.000 m2, Angkor Wat memadukan dua rancangan pokok arsitektur candi Khmer, yakni rancangan candi gunungan dan rancangan candi berserambi. Angkor Wat dirancang sebagai lambang Gunung Meru (kahyangan dewa-dewi Hindu) yang dikelilingi tiga undak bangunan serambi persegi panjang, dan masih dipagari lagi dengan tembok luar sepanjang 3,6 km (2,2 mil) berikut sebuah parit sepanjang lebih dari 5 km (3 mil). Angkor Wat terletak 5,5 km di sebelah utara kota modern Siem Reap. Candi ini juga berada tidak jauh di sebelah selatan dan agak ke timur dari bekas ibu kota Khmer yang berpusat di candi Baphuon.
Saigon Notre-Dame Basilica di Hochi Min City, Vietnam
Bangunan bersejarah yang sangat menarik bagi kami adalah Saigon Notre-Dame Basilica yang merupakan sebuah Cathedral atau gereja besar yang ada di Ho Chi Minh City, Vietnam. Gereja ini dibangun pada tahun 1863 hingga 1880 pada masa Kolonial Perancis. Bangunan ini memiliki dua buah tower dengan tinggi 58 meter, di mana hamper semua materialnya termasuk material gereja sendiri didatangkan dari Perancis. Meskipun juga digunakan beberapa material lokal untuk melakukan renovasi gereja akibat peperangan. Status Basilica sendiri dianugerahkan oleh Pope John XXIII pada tahun 1962, di mana sebelum itu geraja tersebut bernama Saigon Notre-Dame.
Menjelang misa kudus di Basilika Bunda Konsepsi Imakulata, Ho Chi Min City yang dibangun oleh kolonialis Perancis di Viet Nam
Bangunan gereja ini memiliki gaya arsitektur Romanesque, peletakan batu pertama dilakukan pada tahun 1863 dan pebangunannya selesai tahun 1880, dengan tinggi 60 m, dan dibuka untuk umum pada 11 April 1880. Arsitek Jules Bourard membuatnya sangat menarik, sehingga seringkali digunakan para wisatawan asing sebagai tempat untuk berfoto atau mengambil gambar. Basilika Notre-Dame Saigon yang secara resmi bernama Basilika Bunda Konsepsi Imakulata. Dibangun oleh kolonialis Prancis, katedral tersebut memiliki dua menara lonceng, yang memiliki tinggi 58 meter. Setelah penaklukan Prancis atas Cochinchina dan Saigon, Gereja Katolik Roma mendirikan sebuah komunitas dan pelayanan keagamaan untuk para kolonialis Prancis. Gereja pertamanya dibangun di Jalan Ngo Duc Ke pada masa sekarang. Gereja tersebut merupakan sebuah pagoda Vietnam yang diubah pada masa perang. Uskup Lefevre yang memutuskan untuk membuat pagoda tersebut menjadi sebuah gereja. Pada 1960, Paus Yohanes XXIII menadirikan keuskupan Katolik Roma di Vietnam dan melantik uskup agung untuk Hanoi, Huế dan Saigon. Katedral tersebut diberi nama Katedral Pemimpin Saigon. Pada 1962, Paus Yohanes XXIII memberikannya status basilika. Pada masa tersebut, katedral ini disebut Basilika Katedral Notre-Dame Saigon.
Mendarat di Bandara Soekarno Hatta Jakarta, sepulang dari Vietnam, bersama Romo Ido, SVD
Disampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak, yang telah memberikan dukungan dalam bentuk apapun, sehingga petualangan ke daratan Indochina 2019 ini telah berjalan dengan baik. Sampai bertemu di dalam petualangan selanjutnya yang tidak kalah serunya.