Categories
COVID-19 dokter Healthy Life UHC

2021 BIAYA KESEHATAN DIGITAL

INTI dan AdMedika Kembangkan Layanan Kesehatan Digital - Regional  Liputan6.com

BIAYA  KESEHATAN  DIGITAL

fx. wikan indrarto*)


Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 12 September 2021, halaman 5.

Inovasi digital untuk layanan kesehatan dan pencegahan penyakit  telah berkembang pesat selama dekade terakhir, di hampir semua negara. Namun demikian, penggunaan teknologi digital dan perannya dalam penghematan pembiayaan kesehatan, dan implikasinya terhadap transformasi sistem kesehatan, kurang banyak diketahui. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/11/12/2019-sehat-era-digital/

.

Teknologi digital meliputi aplikasi telepon seluler, platform web interaksi 2 arah, blockchain, analitik data besar, dan kecerdasan buatan termasuk mesin robotik. Idealnya teknologi digital untuk pembiayaan kesehatan harus berkontribusi pada terjadinya penjaminan layanan kesehatan semesta atau ‘Universal Heath Couverage’ (UHC). Untuk mencapai kemajuan menuju UHC, teknologi digital harus mendukung pencapaian prinsip pembiayaan kesehatan dan tujuan yang diinginkan, yaitu sebagian besar biaya layanan kesehatan berasal dari sumber keuangan negara atau publik, sehingga dapat mengurangi pengeluaran pribadi warga negara. Selain itu, juga memperluas pendanaan prabayar seperti polis asuransi dan membuat anggaran pembelian obat dan alat kesehatan menjadi lebih strategis. Namun demikian, teknologi digital dapat menimbulkan risiko pemborosan bagi pembiayaan kesehatan dan bahkan penerapan teknologi digital menghadapi berbagai tantangan, yang dapat merugikan dalam penyerapan pembiayaan kesehatan.

.

Aplikasi pada telepon seluler idealnya dapat digunakan untuk pembayaran premi asuransi kesehatan, sebagai bagian dari ‘mobile wallet services’ (mobile money). Mekanisme ini secara substansial mengurangi biaya administrasi oleh individu dan instansi, seperti yang telah dilakukan di Rwanda, Afrika. Contoh lainnya adalah di Kenya berupa ‘Mpesa programme’ atau ‘M-Tiba’s partnership’ dengan Dana Asuransi Kesehatan Nasional yang melibatkan beberapa ratus ribu anggota, saat membayar premi asuransi kesehatan mereka.

.

Ada juga aplikasi telepon seluler untuk memungut pajak, termasuk komponen pajak untuk layanan kesehatan, sehingga berkontribusi pada pembayaran pajak yang tepat waktu dan pengurangan biaya operasional staf pajak dan warga seperti di Rwanda. Proyek percontohan untuk pemungutan pajak melalui SMS sedang berlangsung di Zambia. Selain itu, aplikasi telepon seluler digunakan untuk pengingat pendaftaran ulang saat akan periksa di RS seperti di Ghana.

.

Ikon Teknologi Layanan Kesehatan Digital Ilustrasi Stok - Unduh Gambar  Sekarang - iStock

Apalagi saat teknologi digital dengan melibatkan berbagai kementerian atau sektor yang berbeda, tentu semakin dapat meningkatkan manfaat dalam program jaminan kesehatan. Salah satu titik masuknya adalah data catatan sipil digital, seperti yang awalnya hanya ada di India dengan ‘open source system’ yang diimplementasikan bertahap secara meluas, ke sejumlah negara lainnya. Sistem informasi manajemen keuangan terintegrasi dapat membantu meningkatkan kualitas dan kesesuaian data, bahkan dapat juga dalam bentuk visualisasi penggunaan dana melalui aplikasi. Dengan demikian, tentu dapat berkontribusi pada perbaikan manajemen keuangan masyarakat, bahkan peningkatan transparansi, dan akuntabilitas dana.

.

Berbagai macam aplikasi teknologi digital tampaknya berpotensi bermanfaat bagi pembiayaan kesehatan, berkontribusi untuk mencapai tujuan UHC, dan terutama meningkatkan akses ke layanan kesehatan. Seharusnya teknologi digital tidak hanya mampu meningkatkan akses informasi untuk warga negara dan pasien, tetapi juga dapat membantu penyedia, pembeli, dan pembuat kebijakan kesehatan, dalam aspek transparansi, akuntabilitas dan kepercayaan. Hal itu juga dapat membantu mengurangi biaya administrasi, sehingga berkontribusi pada efisiensi.

.

Pemerintah, khususnya kementerian  kesehatan, dapat mengambil berbagai tindakan untuk mendapatkan manfaat dan meminimalkan risiko. Sebagai langkah pertama, sebelum penerapan pembiayaan kesehatan dan penggunaan teknologi digital, perlu melihat pengalaman di negara lain. Strategi ini untuk melihat tentang teknis teknologi digital dalam mendukung pembiayaan kesehatan, terkait manfaat dan kendala yang telah dapat diatasi. Juga peran dan tanggung jawab berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam perancangan dan implementasi teknologi digital untuk, pembiayaan kesehatan.

.

Kedua, mencermati peluang, mengantisipasi risiko, dan mengatasi tantangan terkait kapasitas dan keterampilan di bidang teknologi digital untuk pembiayaan kesehatan. Selain itu, juga regulasi untuk menangani masalah dalam aspek hukum dan etis, termasuk keamanan data dan perlindungan data privasi seseorang. Ketiga, komunitas global  mendukung investasi dalam tata kelola dan penguatan kapasitas pemerintah, dalam memanfaatkan keunggulan teknologi digital untuk pembiayaan kesehatan. Dengan melibatkan semua pemangku kepentingan dan dialog terbuka agar perbedaan pendapat dapat diatasi, sebagai sebuah proses pembelajaran bersama, tentang teknologi digital yang mendukung pembiayaan kesehatan untuk mencapai UHC.

.

Paradoks Aplikasi Kesehatan Digital: Bertumbuh dengan Nyaman, Apakah Data  Kesehatan Sudah Tentu Aman? Halaman 1 - Kompasiana.com

Aplikasi pedulilindungi dan p-care yang merupakan teknologi digital bidang kesehatan kini telah diterapkan di Indonesia, khususnya dalam layanan vaksinasi dan pemeriksaan laboratorium untuk COVID-19, layak dievaluasi berulang dan disempurnakan secara periodik. Meskipun keduanya mungkin belum terintegrasi dengan sistem pembiayaan layanan kesehatan di Indonesia, tetapi dapat terus dikembangkan dalam mendukung inovasi layanan kesehatan, pencegahan penyakit, dan pencapaian UHC di tanah air.

Sudahkah kita bertindak digital?

Sekian

Yogyakarta, 24 Agustus 2021

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

https://cdn.who.int/media/docs/default-source/health-financing/digital-technologies-for-health-financing.pdf?sfvrsn=a233a8a8_22

Categories
COVID-19 dokter Healthy Life UHC vaksinasi

2021 Digitalisasi COVID-19

AP II Lakukan Uji Coba Digitalisasi Dokumen Kesehatan di 17 Bandara Kelolaan

DIGITALISASI  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Sertifikat vaksinasi COVID-19 adalah hal baru, sebagai dokumen kesehatan yang mencatat pemberian vaksinasi COVID-19. Sebelum ini catatan vaksinasi berbentuk kartu kertas, yang berisi rincian data penting termasuk tanggal, produk, dan nomor batch vaksin yang diberikan. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/10/03/2020-infodemik-covid-19/

.

Dokumentasi Digital Sertifikat COVID-19 dirancang sebagai mekanisme, di mana data kesehatan seseorang terkait COVID-19, dapat didokumentasikan secara digital melalui sertifikat elektronik. Sertifikat tersebut dapat digunakan sebagai catatan atau pengganti kartu vaksinasi berbasis kertas. Data ini akan mempu memberikan informasi kepada penyedia layanan kesehatan tentang status vaksinasi individu, memberikan dasar bagi petugas kesehatan untuk menawarkan dosis berikutnya dan atau bentuk layanan kesehatan yang sesuai, sebagaimana mestinya. Dalam beberapa kasus, kartu vaksinasi juga digunakan untuk memfasilitasi perjalanan internasional, seperti selama ini sudah berlaku dalam kasus demam kuning, di mana sertifikat vaksinasi mungkin diperlukan oleh beberapa negara sebagai syarat masuk.

.

Secara historis, catatan vaksinasi berbasis kertas telah menimbulkan banyak persoalan dan tantangan. Misalnya kemungkinan kehilangan atau kerusakan kartu, atau bahkan kemungkinan penipuan. Solusi digital yang diusulkan dirancang untuk mengatasi tantangan ini, meskipun kebocoran data digital tetap masih mengancam, bahkan sudah terbukti terjadi di Indonesia.

.

Jagat maya minggu terakhir Agustus 2021 heboh, mengenai sertifikat vaksin COVID-19 kedua milik Presiden RI Joko Widodo yang beredar di twitter. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai keamanan data yang tersimpan di aplikasi PeduliLindungi. Informasi yang beredar di twitter tersebut menunjukkan Jokowi telah menerima vaksin COVID-19 dosis kedua pada 27 Januari 2021, menggunakan vaksin Sinovac.

Digitalisasi Surat Tes Covid-19 - PORTONEWS

Terkait hal tersebut, Kementerian Kesehatan, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI memberikan tanggapannya pada Sabtu, 4 September 2021. Pertama, akses terhadap sertifikat vaksinasi COVID-19 tersebut dilakukan menggunakan fitur pemeriksaan sertifikat nasional pada aplikasi PeduliLindungi. Kedua, regulasi sebelumnya mensyaratkan pengguna aplikasi PeduliLindungi menyertakan nomor handphone. Namun demikian, selanjutnya ada perubahan dengan hanya menggunakan 5 parameter yaitu nama, NIK, tanggal lahir, tanggal vaksin dan jenis vaksin. Keputusan penyederhanaan ini dilakukan untuk memudahkan masyarakat mengakses sertifikat vaksin COVID-19, setelah menimbang banyak masukan dari masyarakat, meskipun ternyata terbukti rawan terjadi pencurian data. Ketiga, data NIK dan tanggal vaksinasi milik Presiden Jokowi yang digunakan, bukan berasal dari aplikasi PeduliLindungi. Informasi NIK milik Presiden Jokowi telah tersedia pada situs Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk keperluan Pilpres 2019 lalu. Sementara informasi tanggal vaksin dapat ditemukan dalam pemberitaan di hampir semua media massa.

.

Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh informasi yang tidak terkait dengan aplikasi PeduliLindungi. Diimbau juga agar masyarakat dapat mengunduh dan tetap memanfaatkan aplikasi PeduliLindungi, yang saat ini fiturnya terus dikembangkan untuk mendukung aktivitas masyarakat dalam masa adaptasi pengendalian pandemi COVID-19, termasuk aspek keamanan data sertifikat vaksinasi.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/12/27/2018-vaksin-bukan-mitos/

.

Sertifikat vaksinasi COVID-19 dapat murni digital, misalnya disimpan dalam aplikasi smartphone atau di server berbasis ‘cloud’. Selain menggantikan kebutuhan akan kartu kertas, sistem ini dapat juga berupa representasi digital dari catatan berbasis kertas tradisional. Hubungan antara catatan kertas dan catatan digital dapat dibuat dengan menggunakan pemindai khusus atau ‘barcode’ yang dicetak atau ditempelkan pada kartu vaksinasi yang berupa kertas. Namun demikian, regulasi sertifikat digital tidak boleh mengharuskan setiap individu untuk memiliki smartphone atau komputer.

.

WHO sebenarnya tidak mendukung persyaratan bukti vaksinasi COVID-19 untuk bepergian menggunakan transportasi umum. Namun demikian, dalam beberapa situasi, tergantung pada penilaian risiko negara yang bersangkutan, data tentang vaksinasi COVID-19 dapat digunakan untuk  persyaratan karantina atau testing pada saat kedatangan di suatu negera. Kondisi tersebut bukan tujuan utama dari langkah menuju dokumentasi digital status COVID-19.

.

Pada 27 Agustus 2021, WHO menerbitkan dokumen panduan untuk semua negara tentang persyaratan teknis penerbitan sertifikat digital, untuk data vaksinasi COVID-19. Panduan tersebut merupakan bagian dari rangkaian rencana pendokumenan dan digitalisasi sertifikat ataupun hasil pemeriksaan COVID-19. Pedoman tersebut antara lain menyatakan setiap negara anggota mendapatkan dukungan penuh, dalam mengadopsi alat digital untuk mendokumentasikan secara aman, status vaksinasi COVID-19. Digitalisasi yang aman ini bertujuan untuk perawatan kesehatan yang lebih efektif, berkesinambungan, dan dapat menjadi bukti vaksinasi COVID-19, jika diperlukan untuk tujuan lain.

Apakah kita sudah siap digital?

Sekian

Yogyakarta, 7 September 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
COVID-19 dokter Healthy Life sekolah UHC

2021 Anak Merdeka

Anak-Anak yang Merdeka - Mata Madura

ANAK  MERDEKA

fx. wikan indrarto*)

Proklamasi kemerdekaan Indonesia mengingatkan kita, akan peran negara dalam menciptakan lingkungan bagi anak untuk merdeka dari penjajahan, penyakit, dan eksploitasi, apalagi di masa pandemi COVID-19. Apa yang harus dilakukan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/04/18/2021-kesehatan-anak-paska-pandemi-covid-19/

.

Setengah dari semua anak di dunia, setiap tahun mengalami kekerasan fisik, seksual atau psikologis, menderita luka-luka, cacat dan kematian, karena banyak negara tidak mengikuti strategi yang telah ditetapkan untuk melindungi anak. Hal itu termuat pada ‘Global Status Report on Preventing Violence Against Children’. Angka yang mengejutkan itu bahkan meningkat lebih tinggi selama pandemi COVID-19. Hal ini karena layanan pencegahan dan penanggulangan kekerasan pada anak telah terganggu, terutama pada 1,8 miliar anak yang tinggal di lebih dari 100 negara, termasuk di Indonesia. Begitu juga 1,5 miliar anak yang terkena dampak penutupan sekolah, menjadi kehilangan perlindungan dan dukungan yang sering diberikan oleh institusi sekolah.

.

Semua langkah untuk menahan penyebaran virus COVID-19, bersama dengan kesulitan ekonomi dan stres keluarga, secara bersama menciptakan kondisi ‘badai hebat’ (perfect storm). Mirip dengan ‘badai sitokin’ yang mematikan bagi para pasien COVID-19, ‘badai hebat’ melumat semua anak, terutama anak yang rentan untuk mengalami pelecehan fisik, emosional dan seksual. Terlepas dari adanya manfaat konektivitas digital, ternyata kehidupan yang lebih online untuk belajar, bersosialisasi, dan bermain ‘game’, justru telah secara signifikan meningkatkan keterpaparan anak terhadap kekerasan digital.

.

Hari ini kita berdiri di persimpangan jalan yang kritis bagi anak. Kalau kita tidak bertindak sekarang dan dengan segera, maka kita berisiko kehilangan satu generasi anak akibat dampak penjajahan, kekerasan dan pelecehan jangka panjang yang akan merusak keselamatan, kesehatan, pembelajaran, dan perkembangan anak. Dampak ini dapat berlangsung lebih lama, bahkan mungkin sampai setelah pandemi COVID-19 mereda. Kita tidak boleh membiarkan hal itu terjadi.

.

Saat kita mulai bangkit dari pandemi COVID-19, kita memiliki kesempatan untuk membayangkan kembali dan menciptakan masyarakat yang lebih damai, adil, dan inklusif. Sekarang adalah waktunya untuk melipat gandakan upaya kolektif kita, dan mempercepat aksi untuk tujuan bersama, yaitu membentuk lingkungan baru di mana setiap anak mengalami kemerdekaan.

.

Kita harus menciptakan dunia anak yang merdeka dengan ciri berikut. Pertama, setiap anak dapat tumbuh dan berkembang dengan bermartabat. Kedua, kekerasan dan pelecehan terhadap anak dilarang secara hukum dan tidak dapat diterima secara sosial. Ketiga, hubungan baik antara orang tua dan anak, untuk mencegah kekerasan antargenerasi. Keempat, anak dapat dengan aman memanfaatkan dunia digital untuk belajar, bermain, dan bersosialisasi. Kelima, anak perempuan dan laki-laki setara dalam memperolah kesempatan pendidikan di sekolah dan lingkungan belajar yang aman, peka gender, inklusif dan mendukung. Keenam, aktivitas fisik dan olahraga aman untuk anak. Ketujuh, setiap upaya diprioritaskan untuk melindungi anak yang paling rentan dari segala bentuk kekerasan, eksploitasi dan pelecehan, termasuk mereka yang hidup dalam situasi konflik kemanusiaan dan kesulitan (fragility) lainnya. Dan kedelapan, semua anak dapat mengakses bantuan yang aman dan ramah anak, ketika mereka membutuhkannya.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/03/21/2021-imunitas-anak/

.

Kita semua seharusnya berkomitmen untuk memerdekakan dan mengakhiri kekerasan terhadap anak, dengan mendesak para pemimpin di pemerintahan, sektor swasta, komunitas agama, masyarakat sipil, dan badan olahraga untuk memanfaatkan momentum kemerdekaan ini. Para pemimpin seharusnya memprioritaskan memerdekakan anak dalam kebijakan, perencanaan, anggaran, dan bekerja sama untuk memberikan paling tidak enam tindakan yang mengubah penjajahan menjadi kemerdekaan dan mengakhiri kekerasan terhadap anak.

Yang kurang dari kebijakan 'Merdeka Belajar' Menteri Nadiem: perlunya  libatkan keluarga dan pemerintah daerah

Pertama, melarang segala bentuk kekerasan terhadap anak. Kedua, melengkapi petunjuk teknis bagi orang tua dan pengasuh untuk menjaga anak agar tetap aman. Ketiga, menjadikan konten internet aman untuk anak. Keempat, menjadikan sekolah aman, tanpa kekerasan, dan terbuka atau inklusif. Kelima, melindungi anak dari kekerasan dalam situasi tanggap darurat kemanusiaan dan pandemi COVID-19. Keenam, mengalokasikan lebih banyak investasi atau anggaran yang juga lebih banyak diserap dalam kegiatan. Selain itu, juga mengkoorinasikan peran para tenaga profesional dalam bidang kesehatan, pendidikan, perlindungan anak, dan kemanusiaan, dalam kerja bersama dengan para pemimpin agama, sukarelawan masyarakat, orang tua, dan kaum muda untuk menjaga anak tetap aman.

.

Sasaran 16.2 SDGs, yaitu menghentikan penyalahgunaan, eksploitasi, perdagangan, dan segala bentuk kekerasan dan penyiksaan terhadap anak, harus kita wujudkan. Kita harus melakukan semua yang kita mampu untuk menjaga anak tetap aman selama pandemi COVID-19 saat ini, dan bekerja sama untuk membangun kehidupan normal baru paska pandemi, untuk anak yang merdeka, dan bebas dari segala bentuk kekerasan, pelecehan dan eksploitasi anak.

 Apakah kita sudah bertindak?

Sekian

Yogyakarta, 4 Agustus 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
COVID-19 dokter Healthy Life sekolah

2021 Jangan Tenggelam

Pertolongan Pertama Orang Tenggelam: Penanganan dan Pencegahan

JANGAN  TENGGELAM

fx. wikan indrarto*)

Hari Pencegahan Tenggelam Sedunia (World Drowning Prevention Day) pada Minggu, 25 Juli 2021 merupakan  kesempatan untuk menyoroti dampak tragis dan mendalam, atas kejadian tenggelam pada keluarga dan masyarakat, serta menawarkan solusi penyelamatan nyawa untuk mencegahnya. Apa yang harus dilakukan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/02/24/2020-tenggelam-saat-susur-sungai/

.

Kematian saat tenggelam disebabkan oleh sesak napas ketika air memenuhi paru-paru. Pada anak, tenggelam dapat terjadi dalam waktu kurang dari satu menit dan saat berjuang untuk bernapas, biasanya tidak dapat berteriak meminta tolong. Oleh sebab itu, semua pemangku kepentingan diundang untuk melakukan tindakan mendesak, terkoordinasi dan multi-sektoral pada berbagai langkah pencegahan tenggelam yang telah terbukti efektif. Pertama, memasang penghalang akses yang memadai menuju ke genangan air. Kedua, menyediakan tempat yang aman dan jauh dari air untuk anak pra-sekolah dengan pengasuh anak yang mampu mengawasi. Ketiga, mengajarkan keterampilan berenang, keselamatan di air, dan penyelamatan korban tenggelam. Keempat, melatih para relawan (bystanders) dalam teknis penyelamatan dan resusitasi jantung paru atau kardio-pulmonari (CPR) yang benar. Kelima, penegakan peraturan baju pelampung saat berperahu, pelayaran dan penyeberangan sungai atau danau. Dan keenam, meningkatkan manajemen risiko banjir.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/10/11/2017-india-yang-nyata/

.

Resolusi Majelis Umum PBB memutuskan agar WHO mengkoordinasikan tindakan pencegahan tenggelam secara global, memproduksi materi advokasi terkait pencegahan tenggelam, dan mendukung kegiatan nasional dan lokal di seluruh dunia. Untuk media sosial WHO merekomendasikan agar menggunakan tagar #Pencegahan Tenggelam atau #DrowningPrevention Day.

.

WHO menegaskan bahwa tenggelam dapat dicegah dan intervensi yang terukur dan berbiaya rendah sudah ada tersedia. Selain itu, menekankan pengembangan metode lain yang efektif dan terkoordinasi dalam tanggapan di antara pemangku kepentingan terkait, dalam hal pencegahan tenggelam ini, yaitu mendorong semua negara  atas dasar sukarela untuk mengambil tindakan berikut, sesuai dengan keadaan nasional.

Tenggelam Saat Mancing, Pelajar di Mojokerto Ditemukan Tak Bernyawa

Pertama, menunjuk titik fokus nasional untuk pencegahan tenggelam. Kedua, mengembangkan rencana pencegahan tenggelam nasional, yang berisi serangkaian: sasaran yang terukur sesuai dengan kebutuhan dan prioritasnya, termasuk sebagai bagian dari rencana, kebijakan dan program kesehatan nasional. Ketiga, mengembangkan program pencegahan tenggelam sesuai dengan ‘World Health Intervensi’ yang direkomendasikan organisasi, yaitu, hambatan, pengawasan, keterampilan berenang, pelatihan penyelamatan dan resusitasi, peraturan berperahu dan mengelola risiko banjir dan ketangguhan.

.

Keempat, memastikan pemberlakuan dan penegakan hukum keamanan air yang efektif, di semua sektor terkait, khususnya di bidang kesehatan, pendidikan, transportasi dan kebencanaan. Juga menetapkan peraturan baru yang proporsional dengan cepat. Kelima, mencantumkan tenggelam dalam pencatatan sipil dan menggabungkan semua data kematian akibat tenggelam ke dalam data nasional. Keenam, mempromosikan pencegahan tenggelam pada kesadaran publik agar tercipta perubahan perilaku masyarakat. Keenam, mendorong integrasi pencegahan tenggelam dalam risiko bencana, terutama pada masyarakat yang berisiko mengalami banjir, termasuk melalui kerjasama internasional, regional dan bilateral.

.

Ketujuh, mendukung kerjasama internasional dengan berbagi pelajaran, pengalaman dan praktik terbaik, di dalam dan antar wilayah negara. Kedelapan, mempromosikan penelitian dan pengembangan pencegahan tenggelam yang inovatif, mencakup alat dan teknologi baru, dan untuk mempromosikan pembangunan kapasitas, khususnya untuk negara berkembang. Kedelapan, mengajarkan keselamatan di air, berenang dan pelajaran pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) sebagai bagian dari kurikulum sekolah.

Selain itu, juga mengundang semua negara, organisasi di bawah PBB yang relevan, sistem dan organisasi global, regional dan subregional lainnya, serta pemangku kepentingan terkait, termasuk masyarakat sipil, sektor swasta, akademisi dan individu, untuk memperingati Hari Pencegahan Tenggelam Sedunia setiap tahun. Dilakukan dengan cara yang tepat dan sesuai dengan prioritas nasional, melalui pendidikan, pengetahuan, dan kegiatan lainnya, dalam rangka meningkatkan kesadaran akan pentingnya pencegahan tenggelam dan meningkatkan kualitas keselamatan di air, dengan tujuan mengurangi kematian yang dapat dicegah.

.

Diperkirakan 236.000 orang tenggelam setiap tahun, dan tenggelam adalah salah satu dari sepuluh penyebab utama kematian anak dan remaja usia 1-24 tahun. Lebih dari 90% kematian akibat tenggelam terjadi di sungai, danau, sumur dan tandon penyimpanan air di rumah, di negara berpenghasilan rendah dan menengah, dengan anak dan remaja di daerah pedesaan terkena dampak secara tidak proporsional.

.

Momentum Hari Pencegahan Tenggelam Sedunia (World Drowning Prevention Day) mengingatkan kita semua agar melakukan berbagai tindakan terukur, agar anak dan remaja di sekitar kita jangan sampai tenggelam.

Sudahah kita betindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 18 Juli 2021

*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih dan Lektor FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
COVID-19 dokter Healthy Life UHC vaksinasi

2021 Hari Hepatitis Sedunia

HARI  HEPATITIS  SEDUNIA  2021

fx. wikan indrarto*)

Hari Hepatitis Sedunia (World Hepatitis Day) diperingati setiap tahun pada tanggal 28 Juli untuk meningkatkan kesadaran akan virus hepatitis, peradangan hati yang menyebabkan penyakit hati parah dan kanker hepatoseluler. Tanggal 28 Juli dipilih untuk menghormati ulang tahun pemenang hadiah Nobel bidang kedokteran, Profesor Baruch Samuel Blumberg, penemu virus hepatitis B (HBV) dan vaksin hepatitis B pertama. Tema tahun 2021 ini adalah “Hepatitis tidak dapat menunggu” (Hepatitis can’t wait), yang menekankan urgensi upaya yang diperlukan untuk menghilangkan hepatitis sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada tahun 2030. Apa yang harus dilakukan sekarang?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/02/12/2021-tangani-hepatitis-c/

.

Hepatitis A adalah penyakit hati karena infeksi virus Hepatitis A (VHA) yang dapat menyebabkan penyakit ringan hingga berat. HAV ditularkan melalui konsumsi makanan dan air yang terkontaminasi atau melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi. Hampir semua orang pulih dan sehat kembali sepenuhnya dari hepatitis A dengan memiliki kekebalan seumur hidup. Namun, sebagian kecil orang yang terinfeksi hepatitis A dapat meninggal karena hepatitis fulminan. WHO memperkirakan bahwa hepatitis A menyebabkan sekitar 7.134 kematian pada tahun 2016, atau 0,5% dari kematian akibat virus hepatitis. Risiko infeksi hepatitis A dikaitkan dengan kurangnya air bersih, dan sanitasi dan kebersihan yang buruk, seperti tangan kotor. Pasokan air yang aman, keamanan pangan, sanitasi yang lebih baik, cuci tangan dan vaksin hepatitis A adalah cara paling efektif untuk memerangi penyakit ini.

.

Hepatitis B adalah infeksi virus hepatitis B (VHB) yang menyerang hati dan dapat menyebabkan penyakit baik, akut maupun kronis. Virus ini paling sering ditularkan dari ibu ke anak selama kelahiran dan persalinan, serta melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh lainnya, termasuk hubungan seks dengan pasangan yang terinfeksi, penggunaan narkoba suntikan atau paparan instrumen tajam. WHO memperkirakan bahwa pada tahun 2015, terdapat 257 juta orang hidup dengan infeksi hepatitis B kronis, yang didefinisikan sebagai antigen permukaan hepatitis B (HBsAg) positif.

.

Pada tahun 2015, hepatitis B menyebabkan sekitar 887.000 kematian, sebagian besar karena sirosis dan karsinoma hepatoseluler, yaitu kanker hati primer. Pada 2016, sekitar 27 juta orang (10,5% dari semua orang yang diperkirakan hidup dengan hepatitis B) menyadari status infeksi mereka, sementara 4,5 juta (16,7%) orang yang telah didiagnosis sedang dalam pengobatan. Menurut perkiraan WHO terbaru, proporsi anak di bawah lima tahun yang terinfeksi VHB secara kronis turun menjadi hanya di bawah 1% pada 2019, dari sekitar 5% di era pra-vaksin mulai dari 1980-an hingga awal 2000-an. Hepatitis B dapat dicegah dengan vaksin yang aman, tersedia luas dan efektif.

.

Hepatitis C adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus hepatitis C (VHC), dapat menyebabkan hepatitis akut dan kronis, dengan tingkat keparahan mulai dari penyakit ringan yang berlangsung beberapa minggu hingga penyakit serius seumur hidup. Hepatitis C adalah penyebab utama kanker hati. VHC adalah virus yang ditularkan melalui darah, penggunaan narkoba suntikan, praktik injeksi yang tidak aman, perawatan kesehatan yang tidak aman, transfusi darah dan produk darah yang tidak disaring, dan praktik seksual yang tidak sehat. Secara global, diperkirakan 71 juta orang memiliki infeksi virus hepatitis C kronis dan sebagian besar akan berlanjut menjadi sirosis atau kanker hati. WHO memperkirakan pada tahun 2016, sekitar 399.000 orang meninggal karena hepatitis C yang menyebabkan sirosis dan karsinoma hepatoseluler (kanker hati primer). Obat antivirus dapat menyembuhkan lebih dari 95% orang dengan infeksi hepatitis C, sehingga mengurangi risiko kematian akibat sirosis dan kanker hati, tetapi akses ke diagnosis dan pengobatan di banyak tempat masih rendah. Saat ini tidak ada vaksin yang efektif melawan hepatitis C, namun penelitian di bidang ini sedang berlangsung.

.

Obat entecavir untuk hepatisis B kronis tidak lagi memiliki hak paten, sehingga sejak 2017 semua negara berpenghasilan rendah dan menengah telah dapat secara legal mendapatkan entecavir generik. Demikian juga obat tenofovir tidak lagi dilindungi oleh hak paten di mana pun di dunia. Harga rata-rata tenofovir generik yang dipra-kualifikasi WHO di pasar internasional turun dari US $ 208 per tahun menjadi US $ 32 per tahun pada 2016. Hepatitis C dapat disembuhkan dengan pengobatan sederhana selama 2-3 bulan, dengan obat antivirus langsung atau ‘Direct Acting Antiviral’ (DAA). Ada tiga jenis obat DAA yang beredar di Indonesia, yaitu sofosbuvir, simeprevir, dan daclatasvir, sehingga sekarang bukan lagi menggunakan obat kombinasi pegylated interferon dan ribavirin.

.

Pesan peringatan untuk masyarakat global, bahwa orang yang hidup dengan hepatitis sudah tidak sabar lagi menunggu mendapatkan perawatan medis yang menyelamatkan jiwa. Tes dan pengobatan hepatitis B untuk wanita hamil tidak boleh ditunda lagi, untuk mencegah penularan dari ibu ke bayinya. Bayi baru lahir tidak dapat menunggu untuk segera diberikan vaksinasi hepatitis B setelah lahir. Orang dengan hepatitis juga tidak sabar menuntut untuk dilindungi dari stigma dan diskriminasi. Organisasi komunitas penderita hepatitis tidak sabar menunggu adanya investasi yang lebih besar. Pengambil keputusan birokrasi pemerintah tidak boleh menunggu dan harus bertindak sekarang, untuk membuat eliminasi hepatitis menjadi kenyataan melalui kemauan politik dan pendanaan.

Pesan peringatan ‘Hepatitis can’t wait’ untuk pembuat kebijakan dalam pemerintahan adalah agar segera melakukan integrasi eliminasi virus hepatitis dengan layanan kesehatan lainnya, yang harus segera diwujudkan. Mendanai perawatan medis hepatitis juga tidak dapat menunggu dan harus dilakukan sekarang. Selain itu, juga penghapusan tiga jenis penularan infeksi, yaitu HIV, hepatitis B dan sifilis dari ibu ke anak. Memvalidasi upaya eliminasi hepatitis dan cakupan kesehatan semesta atau Universal Health Couverage (UHC) untuk semua orang dengan hepatitis, tidak boleh lagi menunggu dan harus dimulai sekarang untuk menyelamatkan nyawa.

.

Pesan peringatan ‘Hepatitis can’t wait’ untuk para pemimpin negara, yaitu untuk segera menetapkan target eliminasi hepatitis nasional untuk mencapai dunia tanpa virus hepatitis pada tahun 2030. Selain itu, peningkatan layanan hepatitis esensial, yang melibatkan komunitas dalam layanan hepatitis harus bertindak sekarang, untuk membuat eliminasi hepatitis menjadi kenyataan, melalui kemauan politik dan pendanaan.

Dengan satu orang meninggal setiap 30 detik karena penyakit hepatitis saat pandemi COVID-19, kita semua seharusnya tidak sabar lagi untuk bertindak mengalahkan virus hepatitis, bukan hanya virus SARS-CoV2 penyebab COVID-19. Sudahkah kita bertindak cepat?

Sekian

Yogyakarta, 26 Juli 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Alumnus S3 UGM, pengajar di FK UKDW Yogyakarta, WA: 081227280161

Categories
COVID-19 dokter medicolegal Pendukung ASI

2021 Ketika Caesar Meningkat

Kapan Ibu Harus Melahirkan dengan Operasi Sesar? | Republika Online

KETIKA  CAESAR  MENINGKAT

fx. wikan indrarto*)

Tingkat operasi atau bedah caesar terus meningkat, di tengah masih tingginya ketidaksetaraan dalam akses. Selain itu, kenaikan biaya operasi caesar menunjukkan peningkatan jumlah prosedur medis yang tidak perlu dan berpotensi berbahaya, baik bagi ibu maupun bayinya. Apa yang mencemaskan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/10/2020-kesehatan-seksual-remaja/

.

Rabu, 16 Juni 2021 WHO memberikan catatan bahwa operasi caesar terus meningkat secara global, sekarang terhitung lebih dari 1 dari 5 (21%) dari semua persalinan. Jumlah ini akan terus meningkat selama dekade mendatang, dengan hampir sepertiga (29%) dari semua kelahiran kemungkinan akan terjadi melalui operasi caesar pada tahun 2030. Meskipun operasi caesar dapat menjadi operasi yang penting dan menyelamatkan nyawa, operasi ini dapat menempatkan ibu dan bayi pada risiko masalah kesehatan jangka pendek dan jangka panjang yang tidak perlu, jika dilakukan ketika tidak ada indikasi medis.

.

Operasi caesar dapat menjadi penting dan harus dilakukan dalam kondisi medis seperti persalinan lama atau terhambat, gawat janin, atau karena janin berada dalam posisi abnormal. Namun demikian seperti semua operasi, bedah caesar dapat memiliki risiko, termasuk potensi perdarahan berat atau infeksi, waktu pemulihan yang lebih lambat setelah melahirkan, keterlambatan dalam mulai menyusui dan kontak kulit-ke-kulit ibu dengan bayi, dan peningkatan kemungkinan komplikasi pada kehamilan berikutnya.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/10/21/2019-kekerasan-pada-kelahiran-bayi/

.

Kerugian yang akan dialami bayi yang lahir melalui bedah caesar dengan alasan non medis, cenderung akan mengalami masalah jangka panjang. Dampak buruk akan terjadi bukan sekitar saat kelahiran, tetapi justru pada saat bayi berumur 6 bulan sampai saat telah menjadi anak berusia 8 tahun. Kerugian yang paling sering dilaporkan adalah terjadinya diare, asma dan kegemukan atau obesitas. Ketiganya diduga terjadi karena gagalnya pemberian ASI Ekslusif dan perubahan imunologis dalam sistem kekebalan tubuh, yang sedikit banyak dipengaruhi oleh cara persalinan saat bayi, yaitu persalinan secara bedah caesar.

.

Ada perbedaan yang signifikan dalam akses ibu ke operasi caesar, tergantung di belahan dunia mana dia tinggal. Di negara kurang berkembang, sekitar 8% wanita melahirkan melalui operasi caesar dengan hanya 5% di sub-Sahara Afrika, menunjukkan kurangnya akses ke operasi penyelamatan ini. Sebaliknya, di Amerika Latin dan Karibia, angkanya mencapai 4 dari 10 (43%) dari semua kelahiran. Di lima negara (Republik Dominika, Brasil, Siprus, Mesir dan Turki), operasi caesar sekarang melebihi jumlah persalinan pervaginam.

Kiat S, PDP Korona yang Berhasil Melahirkan Lewat Operasi Caesar

Tingkat operasi caesar di seluruh dunia telah meningkat dari sekitar 7% pada tahun 1990 menjadi 21% hari ini, dan diproyeksikan akan terus meningkat selama dekade ini. Jika tren ini berlanjut, pada tahun 2030 tingkat tertinggi kemungkinan berada di Asia Timur (63%), Amerika Latin dan Karibia (54%), Asia Barat (50%), Afrika Utara (48%) Eropa Selatan (47% ) dan Australia dan Selandia Baru (45%). Perawatan berkualitas dan berpusat pada ibu hamil diperlukan untuk mengatasi tingginya kejadian operasi caesar. Penyebab tingginya operasi caesar sangat bervariasi antar dan di dalam negara. Penyebabnya multifaktorial, termasuk kebijakan dan pembiayaan sektor kesehatan, norma budaya, persepsi dan praktik klinik, tingkat kelahiran prematur, dan kualitas layanan kesehatan.

.

Daripada merekomendasikan menurunkan tingkat target spesifik, lebih penting kita berfokus pada kebutuhan unik setiap ibu, dalam proses kehamilan dan persalinannya. Penting bagi semua ibu untuk dapat berbicara dengan tenaga kesehatan dan menjadi bagian dari pengambilan keputusan tentang proses melahirkan yang akan mereka jalani, menerima informasi medis yang memadai, termasuk risiko dan manfaatnya. Dukungan emosional adalah aspek penting dari perawatan berkualitas selama kehamilan dan persalinan. Berikut rekomendasi beberapa tindakan non-klinis yang dapat mengurangi kejadian operasi caesar yang tidak perlu secara medis.

.

Pertama, pemberian informasi dan edukasi yang melibatkan ibu secara aktif dalam merencanakan kelahiran mereka, seperti kelas persiapan persalinan, program relaksasi dan dukungan psikososial jika diinginkan, bagi mereka yang takut akan rasa sakit atau kecemasan. Kedua, penggunaan Panduan Praktek Klinis (PPK) berbasis bukti, melakukan audit medis rutin operasi caesar di RS, dan memberikan umpan balik yang tepat waktu kepada dokter yang melakukannya, tentang temuan audit. Ketiga, persyaratan adanya pendapat medis kedua (second opinion) dari dokter lain untuk keputusan operasi caesar, dalam kondisi di mana hal ini memungkinkan.

Ketiga, untuk tujuan utama mengurangi kejadian operasi caesar, beberapa alternatif intervensi medis lainnya telah diteliti di beberapa negara, tetapi masih memerlukan penelitian yang lebih ketat. Keempat, menciptakan model perawatan kolaboratif antara bidan dan dokter, yang diberikan terutama oleh bidan, dengan dukungan 24 jam dari dokter spesialis kebidanan. Terakhir kelima, strategi tegas dalam aspek keuangan, dengan menyamakan biaya atau tarif yang dikenakan untuk persalinan pervaginam maupun operasi caesar.

.

Data tingkat bedah caesar yang terus meningkat pada survei oleh UNDP, UNFPA, UNICEF, WHO, dan Bank Dunia pada 154 negara, yang mewakili 94,5% kelahiran hidup dunia pada tahun 2018 di atas, sangat mencemaskan. Rekomendasi WHO tentang tindakan non-klinis yang dapat mengurangi kejadian operasi caesar layak dilakukan. 

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 18 Juni 2021

*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih dan Lektor FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
COVID-19 dokter Healthy Life

2021 CERDAS DAN SEHAT

Ingin Tahu Akurasi GeNose? Lakukan Tes PCR 2 Hari Setelahnya - Kabar24  Bisnis.com

CERDAS  DAN  SEHAT

fx. wikan indrarto*)

GeNose  (Gadjah Mada Electronic Nose) C-19 adalah inovasi alat kesehatan terbaru yang dikembangkan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada September 2020. Alat ini mampu mendeteksi secara cepat COVID-19 yang dilakukan hanya dengan embusan nafas, karena menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Apa yang perlu diwaspadai?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/05/03/2021-hp-dan-asma/

.

 Meningkatnya penggunaan AI untuk kesehatan menghadirkan peluang dan tantangan bagi pemerintah, penyedia layanan, dan masyarakat. Senin, 28 Juni 2021 WHO mengeluarkan laporan global pertama tentang AI di bidang kesehatan dan enam prinsip panduan untuk desain dan penggunaannya. Laporan yang berjudul : Etika dan tata kelola kecerdasan buatan untuk kesehatan (Ethics and governance of artificial intelligence for health), merupakan hasil kerja selama 2 tahun yang diadakan oleh panel pakar internasional yang ditunjuk oleh WHO.

.

Seperti semua teknologi baru, AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesehatan jutaan orang di seluruh dunia, tetapi seperti semua teknologi, AI juga dapat disalahgunakan dan menyebabkan kerugian. Tugas kita semua adalah memaksimalkan manfaat AI, sambil meminimalkan risiko dan menghindari jebakannya. WHO memperingatkan agar tidak melebih-lebihkan manfaat AI untuk kesehatan, terutama ketika hal ini terjadi dengan mengorbankan investasi inti dan strategi yang diperlukan untuk mencapai cakupan kesehatan semesta atau ‘Universal Health Couverage’ (UHC). 

.

Selain itu, juga adanya risiko penggunaan AI, termasuk pengumpulan dan penggunaan data kesehatan yang tidak etis; bias yang dikodekan dalam algoritme, dan risiko AI terhadap keselamatan pasien, keamanan data (cybersecurity), dan lingkungan. Data yang dikumpulkan dari individu di negara berpenghasilan tinggi dalam proses pembentukan AI, mungkin saja tidak bekerja dengan baik saat AI digunakan untuk individu di lingkungan yang berbeda. Oleh karena itu, sistem AI harus dirancang dengan hati-hati untuk mencerminkan keragaman karakteristik sosial-ekonomi dan parameter kesehatan lainnya. Para pengguna harus dibekali pelatihan keterampilan digital, terutama bagi jutaan petugas kesehatan dengan literasi digital atau pelatihan berulang, jika peran dan fungsi mereka harus bersaing dengan mesin digital.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/23/2020-dokter-dan-rs-era-normal-baru/

.

Enam prinsip etika berikut sebaiknya dipatuhi, dalam memastikan AI bekerja untuk kepentingan publik sebagai dasar untuk regulasi dan tata kelola AI. Pertama, otonomi manusia. Dalam konteks layanan kesehatan, etika ini berarti bahwa manusialah yang harus mengendalikan sistem dan alat kesehatan, sedangkan keputusan medis, privasi dan kerahasiaan pasien juga harus dilindungi. Selain itu, pasien harus memberikan persetujuan yang sah secara hukum untuk perlindungan data.

Lebih Akurat Mana Antara Swab PCR, Antigen, dan GeNose? - Gen...

Kedua, kesejahteraan, keselamatan manusia dan kepentingan umum. Perancang teknologi AI harus memenuhi persyaratan keselamatan, akurasi, dan kemanjuran yang disertai oleh indikasi penggunaan yang terdefinisi dengan baik. Jaminan pengendalian kualitas dalam praktik dan peningkatan kualitas dalam penggunaan AI juga harus tersedia. Ketiga, memastikan transparansi. Transparansi mengharuskan informasi yang memadai dipublikasikan atau didokumentasikan sebelum desain atau penerapan teknologi AI. Informasi tersebut harus mudah diakses dengan memfasilitasi konsultasi dan debat publik bila diperlukan, tentang bagaimana teknologi dirancang dan bagaimana seharusnya atau tidak seharusnya digunakan.

.

Keempat, tanggung jawab dan akuntabilitas. Meskipun teknologi AI melakukan atau menggantikan suatu tugas tertentu, merupakan tanggung jawab pemangku kepentingan untuk memastikan bahwa AI digunakan dalam kondisi yang sesuai dan oleh orang yang terlatih. Mekanisme yang efektif harus tersedia untuk keluhan pelanggan dan untuk ganti rugi bagi individu dan kelompok, apabila terpengaruh oleh keputusan penggunaan AI tersebut. Kelima, inklusivitas dan kesetaraan. Inklusivitas mengharuskan AI untuk kesehatan dirancang untuk mendorong penggunaan dan akses yang adil seluas mungkin, tanpa memandang usia, jenis kelamin, pendapatan, ras, etnis, orientasi seksual, kemampuan atau karakteristik lain sesaui hak asasi manusia.

.

Keenam, responsif dan berkelanjutan. Desainer, pengembang, dan pengguna harus secara terus-menerus dan transparan, menilai AI selama penggunaannya untuk menentukan apakah AI merespons secara memadai dan tepat terhadap harapan dan persyaratan. Sistem AI juga harus dirancang untuk meminimalkan konsekuensi lingkungan dan meningkatkan efisiensi energi. Pemerintah dan perusahaan pembuat AI harus mengatasi masalah yang dapat diantisipasi, termasuk pelatihan bagi petugas kesehatan untuk beradaptasi dengan penggunaan AI, dan potensi kehilangan pekerjaan karena penggunaan AI yang otomatis.

GeNose C19 dari UGM saat ini tengah menjalani proses validasi eksternal oleh UI, Unair dan Unand dengan 2 RS besar, yang merupakan bagian dari post-marketing analysis, karena GeNose C19 sudah digunakan oleh masyarakat umum. Keenam prinsip etika tersebut akan memastikan bahwa potensi penuh AI pada GeNose C19 akan bermanfaat bagi kesehatan semua orang. Selain itu, uji validitas eksternal merupakan bagian dari pengembangan keberlanjutan serta kepatuhan terhadap regulasi, setelah suatu alat kesehatan mendapat izin edar penggunaan.

.

Sudahkah kita bijak menggunakan AI untuk kesehatan?

Sekian

Yogyakarta, 2 Juli 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
COVID-19 dokter Healthy Life sekolah vaksinasi

2021 SEKOLAH SEHAT

SEKOLAH SEHAT | SPNF SKB GROBOGAN

SEKOLAH  SEHAT

fx. wikan indrarto*)

Penutupan banyak sekolah di seluruh dunia selama pandemi COVID-19 telah menyebabkan gangguan parah pada  proses pendidikan anak. Sebelum pandemi COVID-19 diperkirakan 365 juta anak berangkat ke sekolah tanpa sarapan dan secara signifikan berhubungan dengan masalah kesehatan. Apa yang mencemaskan?

Tulisan ini dimuat di Harian Nasional Kompas Rabu, 7 Juli 2021, kolom opini : https://www.kompas.id/baca/opini/2021/07/07/sekolah-sehat/?utm_source=kompasid&utm_medium=whatsapp_shared&utm_content=sosmed&utm_campaign=sharinglink

Selasa, 22 Juni 2021 UNESCO dan WHO mendesak semua negara untuk menjadikan setiap sekolah pada saat pembelajaran tatap muka kelak, sebagai sekolah yang mempromosikan kesehatan. Sekolah memainkan peran penting dalam kesejahteraan 1,9 miliar anak usia sekolah, keluarga dan komunitas mereka. Hubungan antara pendidikan dan kesehatan tidak pernah lebih nyata sebelum pandemi COVID-19 ini, sehingga mulai sekarang wajib menciptakan sekolah yang berorientasi pendidikan dan kesehatan. Sekolah perlu membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan, untuk mencapai derajad kesehatan, kesejahteraan, kehidupan, dan prospek kerja di kemudian hari.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/11/12/2020-sekolah-saat-pandemi-covid-19/

.

Terdapat paket sumber daya yang bertujuan untuk memastikan semua sekolah, mampu mempromosikan keterampilan kognitif, sosio emosional dan gaya hidup sehat untuk semua pelajar. Paket global baru ini akan diujicobakan di Botswana, Mesir, Ethiopia, Kenya, dan Paraguay. Namun demikian, Indonesia dapat belajar dari situ. Inisiatif ini berkontribusi pada target Program Kerja Umum WHO ke-13 yaitu ‘1 miliar kehidupan menjadi lebih sehat’ pada tahun 2023 dan Agenda Pendidikan 2030 global yang dikoordinasikan oleh UNESCO.

.

Pendidikan dan kesehatan adalah hak asasi manusia yang saling penting untuk semua anak, inti dari setiap hak asasi manusia, dan berperan penting untuk pembangunan sosial dan ekonomi. Sekolah yang tidak mempromosikan kesehatan tidak lagi dapat dibenarkan dan diterima. Standar global mewajibkan ketersediaan sumber daya bagi sekolah untuk menciptakan kesehatan dan kesejahteraan, melalui tata kelola yang lebih baik. Salah satunya adalah program kesehatan dan gizi yang komprehensif di sekolah yang berdampak signifikan pada anak usia sekolah.

.

Selain itu, program intervensi pencegahan malaria terbukti dapat menghasilkan pengurangan 62% ketidakhadiran atau absensi anak di sekolah. Makanan tambahan di sekolah yang bergizi akan meningkatkan angka pendaftaran rata-rata (enrolment rates) sebesar 9%, dan kehadiran atau presensi sebesar 8%. Selain itu, program tersebut juga dapat mengurangi anemia pada remaja putri hingga 20%. Promosi kebiasaan cuci tangan dapat mengurangi absensi sekolah karena penyakit diare dan pernapasan sebesar 21-61%. Skrining penglihatan dan kacamata gratis telah menyebabkan 5% lebih tinggi kemungkinan siswa lulus tes standar dalam membaca dan matematika.

Profil SMA Kolese de Britto & Rincian Biayanya Lengkap

Pendidikan seksualitas di sekolah jenjang menengah yang komprehensif mendorong penerapan perilaku yang lebih sehat, mempromosikan kesehatan, hak seksual dan reproduksi. Selain itu, juga meningkatkan derajat kesehatan seksual dan reproduksi remaja, seperti pengurangan kejadian infeksi HIV dan tingkat kehamilan remaja. Juga peningkatan ketersediaan air dan perbaikan sanitasi di sekolah, serta pengetahuan tentang kebersihan diri saat menstruasi, membekali remaja perempuan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh mereka dengan bermartabat, dan dapat membatasi jumlah hari sekolah yang terlewat selama masa menstruasi.

.

Pendekatan Sekolah Sehat pertama kali dicetuskan oleh WHO, UNESCO dan UNICEF pada tahun 1995 dan diadopsi di lebih dari 90 negara, termasuk Indonesia. Namun, hanya sedikit negara yang menerapkannya dalam skala besar, dan bahkan lebih sedikit lagi yang secara efektif menyesuaikan sistem pendidikan mereka untuk memasukkan promosi kesehatan. Standar global yang baru akan membantu setiap negara untuk mengintegrasikan promosi kesehatan ke semua sekolah dan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan bagi semua siswanya.

.

Tantangan yang masih ada adalah terkait literasi. Literasi kesehatan menggambarkan pencapaian tingkat pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri untuk mengambil tindakan, dalam upaya meningkatkan kesehatan pribadi dan masyarakat, dengan mengubah gaya hidup dan kondisi kehidupan pribadi. Literasi kesehatan berarti lebih dari sekadar kemampuan membaca pamflet dan iklan layanan masyarakat dalam bidang kesehatan saja. Dengan meningkatkan akses anak sekolah terhadap informasi kesehatan, dan kapasitas mereka untuk menggunakannya secara efektif, literasi kesehatan sangat penting untuk pemberdayaan anak dan berperan mempercepat kemajuan dalam mengurangi ketidaksetaraan dalam derajad kesehatan.

.

Panduan WHO, UNICEF, dan UNESCO berjudul ‘Considerations for school-related public health measures in the context of COVID-19’ dapat digunakan untuk menjadikan setiap sekolah pada saat pembelajaran tatap muka kelak, menjadi sekolah sehat. Panduan tersebut disusun dengan mempertimbangkan aspek keadilan, penularan COVID-19, implikasi dan sumber daya, untuk menciptakan dunia yang lebih sehat, lebih aman, lebih adil, dan lebih berkelanjutan melalaui sekolah sehat, bagi pendidikan anak dan generasi mendatang secara global, termasuk di Indonesia.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 26 Juni 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
dokter Healthy Life vaksinasi

2021 VAKSIN RABIES TELAN

Kasus Rabies Kembali Meluas, Segera Vaksin Anjing!

VAKSIN  RABIES  TELAN

fx. wikan indrarto*)

Senin, 3 Mei 2021 mulai digunakan vaksin rabies oral (ORV) atau telan, sebagai sebuah strategi baru dalam memerangi kematian akibat penyakit rabies atau anjing gila. Secara global terjadi hampir 59.000 kematian akibat rabies pada manusia setiap tahun di seluruh dunia. Apa yang baru?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/09/27/2018-hari-rabies-sedunia/

.

Rabies adalah penyakit virus yang dapat dicegah dengan vaksin dan pada Kamis, 21 April 2020 dilaporkan terjadi di lebih dari 150 negara di dunia. Anjing adalah sumber utama kematian akibat rabies pada manusia, berkontribusi hingga 99% dari semua penularan virus rabies ke manusia. Pemutusan penularan penyakit dapat dilakukan melalui vaksinasi anjing dan pencegahan gigitan anjing. Infeksi rabies menyebabkan puluhan ribu kematian setiap tahun, terutama di Asia, termasuk Indonesia, dan Afrika.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/09/10/2019-informasi-vaksinasi/

.

Perawatan rabies secara global menelan biaya US $ 8,6 miliar per tahun dengan 40% orang yang digigit hewan tersangka rabies adalah anak di bawah usia 15 tahun. Begitu gejala klinis muncul, infeksi rabies hampir 100% fatal dan sekitar 99% kasus, anjing peliharaan bertanggung jawab atas penularan virus rabies ke manusia. Namun demikian, virus rabies dapat juga menyerang hewan liar yang menyebar ke manusia melalui gigitan atau cakaran, biasanya melalui air liur.

.

Sekitar 80% kasus rabies pada manusia terjadi di daerah pedesaan. Meskipun vaksin rabies untuk manusia dan imunoglobulin yang efektif tersedia, namun vaksin tersebut tidak tersedia atau tidak dapat diakses oleh sebagian besar mereka yang membutuhkan. Vaksinasi pada anjing adalah strategi yang paling hemat biaya untuk mencegah rabies pada manusia. Selama ini vaksinasi dilakukan dengan penyuntikan pada anjing, dengan prediksi untuk memberantas rabies di masyarakat, perlu memvaksinasi 7 dari setiap 10 anjing.

.

Protokol Profilaksis Rabies - Alomedika
.

Anjing liar memainkan peran utama dalam menyebarkan rabies pada hewan dan manusia selama beberapa dekade. Memvaksinasi anjing dengan cara suntikan membutuhkan usaha yang luar biasa. Metode vaksinasi anjing di banyak negara berpenghasilan rendah ini bisa jadi rumit, karena banyak anjing belum pernah ke dokter hewan dan mungkin tidak terbiasa dekat dengan manusia. Untuk itu, metode yang lebih baru dengan memberikan ORV pada anjing, mendapatkan daya tarik sebagai alternatif yang aman dan efektif.

.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) mendukung penggunaan ORV yang efektif dan aman untuk anjing. Membuat anjing ‘makan’ umpan ORV jauh lebih cepat, lebih mudah dan lebih praktis daripada menangkap mereka di jaring dan memberi mereka suntikan vaksin rabies. Ini juga menghemat uang karena lebih banyak anjing dapat divaksinasi setiap hari.

.

Selama ini dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk melatih tim yang terdiri dari petugas yang bugar secara fisik, untuk menangkap anjing yang sulit dijangkau menggunakan jaring untuk menyuntikkan vaksink rabies. Pada hal, anjing yang sama dapat divaksinasi menggunakan vaksin oral oleh petugas yang hanya perlu beberapa jam pelatihan tentang cara menyebarkan umpan.

.

Thailand telah menerapkan program vaksinasi rabies oral pada populasi anjing yang berkeliaran bebas. Uji coba awal dilakukan di 5 kota besar di Thailand untuk meluncurkan vaksinasi rabies oral di wilayah mereka pada tahun 2020, memvaksinasi hampir 2.000 anjing yang berkeliaran bebas. Telah tercapai 65% dari cakupan vaksinasi pada populasi anjing liar di area ini. Selain itu, tidak ada wabah rabies yang dilaporkan pada anjing yang berkeliaran bebas di salah satu dari lima kota ini sejak vaksinasi oral dilakukan. Selanjutnya vaksinasi rabies oral akan ditingkatkan pada anjing yang berkeliaran bebas pada tahun 2021.

.

Evaluasi Keamanan ORV harus dijamin, karena ORV mengandung virus rabies hidup yang dilemahkan, yang diberikan oleh manusia untuk dimakan anjing liar. Tidak setiap negara memiliki proses lisensi vaksin hewan, sehingga untuk mendapatkan lisensi di sebuah negara, tentu saja dapat secara signifikan menunda pemberantasan rabies.

.

Anjing liar terbukti lebih menyukai rasa umpan yang berbeda berdasarkan pada apa yang biasanya mereka makan, yang dapat bervariasi menurut habitatnya. Penggunaan ORV pada anjing perlu terus mengamati jenis umpan yang paling disukai anjing untuk dimakan, dan memastikan bahwa rasa ini dapat diproduksi secara massal.

.

Oleh karena ORV adalah produk baru untuk anjing, diperlukan edukasi untuk membantu pemberi vaksin dan pemilik anjing, memahami manfaat dari vaksin baru ini. Selain itu, juga tambahan penjaminan bahwa ORV dapat digunakan untuk menghilangkan kasus rabies yang terkait dengan anjing. ORV dapat memainkan peran penting dalam perang melawan rabies dan merupakan metode baru untuk mencapai tujuan menghilangkan kematian akibat rabies pada manusia, yang disebabkan oleh anjing pada tahun 2030. 

.

Sudahkah Anda siap membantu?

SekianYogyakarta, 10 Mei 2021*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
COVID-19 dokter Healthy Life vaksinasi

2021 Sel Denritik dan COVID-19

Pasar Vaksin Kanker Sel Dendritik Global Memperkirakan dan Memperkirakan  Pendapatan Pasar secara global | tahu lebih banyak – Koalisi Untuk  Indonesia Sehat

VAKSINASI   COVID-19  BERBASIS   SEL   DENDRITIK

fx. wikan indrarto*)

Vaksinasi berbasis sel denritik (DC) merupakan vaksinasi yang menjanjikan dalam imunoterapi untuk kanker dan penyakit menular, karena sel denritik memainkan peran penting dalam memulai respons imun seluler. Hal tersebut dirinci pada ‘Dendritic Cell-Based Immunotherapy’ tulisan Berger dan Schultz dari Universität Erlangen Germany, yang diterbitkan oleh Springer-Verlag Berlin Heidelberg 2003. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/02/06/2021-covid-19-pada-anak/

.

Sel dendritik adalah salah satu sel yang berperan dalam fungsi sistem imunitas tubuh, yang berperan sebagai sel yang memunculkan partikel musuh atau Antigen Presenting Cell (APC). Dalam terapi kanker, sel dendrit dimanfaatkan untuk memicu respons imun terhadap sel kanker. Sel tersebut dinamai ‘Dendritic Cells’ (DC) karena bentuknya seperti pohon bercabang banyak. Sel dendritik merupakan leukosit yang berasal dari sumsum tulang dan jenis sel pembawa antigen (APC) yang paling kuat. Karena permukaannya yang luas, DC dapat berkontak dengan banyak sel, seperti sel T, natural killer cells, neutrofil, sel epitel, sel tumor, dan lain sebagainya.

.

Sel tumor dapat dikenali oleh sistem kekebalan tubuh. Melanoma sebuah kanker kulit adalah salah satu model tumor dengan pemahaman terbaik. Respon imun antitumor spontan telah terlihat pada pasien melanoma, termasuk regresi tumor primer. Di sisi lain, rekurensi tumor lokal dan penyebaran sistemik sel melanoma terlihat pada banyak pasien, bahkan bertahun-tahun setelah pengambilan atau eksisi tumor primer. Oleh karena itu, muncul spekulasi tentang adanya pertempuran terus menerus antara sistem kekebalan tubuh dan sel tumor melanoma yang telah menghilang (occult tumor cells). Dalam kasus melanoma ini, perkembangan sel tumor diduga merupakan konsekuensi dari sistem kekebalan tubuh yang terganggu atau memang ada mekanisme keluarnya tumor dari tempat persembunyiannya. Sel tumor dapat bersembunyi atau benar-benar kehilangan kemampuan untuk dikenali sebagai antigen tumor, sehingga menghindari pengenalan sel tumor oleh sel T spesifik. Selanjutnya sel T menjadi tidak berfungsi sebagai akibat dari perubahan sinyal reseptor sel T atau pengaruh sitokin di sekitar tumor, yang menyebabkan fungsi sel penyaji antigen terhambat.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/01/02/2020-spekulan-covid-19/

.

Untuk mengatasi banyaknya mekanisme pertahanan yang dikembangkan oleh tumor, terapi imun kanker harus diarahkan pada induksi respon imun anti tumor yang kuat dan luas, dengan menggabungkan sistem kekebalan bawaan dan adaptif. Sejumlah uji klinis pada pasien kanker yang menggunakan DC secara ex vivo telah dilakukan dan sejauh ini hanya toksisitas kecil yang pernah dilaporkan. Baik produksi sel T spesifik antigen maupun perbaikan respon klinis telah terjadi pada pasien kanker yang divaksinasi.

.

Disuntik Sel Dendritik Sendiri, Mantan Menkes Siti Fadilah Jadi Relawan  Vaksin Imunoterapi – IndependensI

Pencegahan penyakit menular melalui vaksinasi merupakan salah satu keberhasilan terbesar di dunia kedokteran. Namun demikian, semakin banyak patogen infeksius seperti HIV, virus Dengue, Mycobacterium tuberculosis, plasmodium Malaria, dan banyak patogen lainnya lolos dari sistem kekebalan, sehingga pendekatan vaksinasi standar terancam gagal. Mekanisme penghindaran imun yang mendasari dapat dikaitkan dengan interferensi mikroba patogen dengan sel dendritik dan fungsinya, termasuk dalam menghadapi COVID-19.

.

Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah sindrom pernafasan akut yang baru muncul pada akhir tahun 2019, telah menginfeksi jutaan orang dan menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang luar biasa di seluruh dunia. Pengobatan yang efektif untuk COVID-19 karena infeksi SARS-CoV-2 masih kurang, dan strategi terapeutik yang berbeda sedang dalam tahap uji klinis. Kekebalan humoral dan seluler seseorang terhadap infeksi SARS-CoV-2 adalah penentu penting untuk luaran klinis pasien. Infeksi SARS-CoV-2 terbukti menyebabkan serokonversi dan produksi antibodi anti-SARS-CoV-2. Antibodi dapat menekan replikasi virus melalui proses netralisasi, tetapi juga dapat memperburuk kondisi klinis dalam patogenesis COVID-19 melalui proses yang disebut peningkatan ketergantungan antibodi (antibody-dependent enhancement).

.

Kemajuan pesat telah dibuat dalam penelitian respon antibodi dan terapi pada pasien COVID-19, termasuk gambaran klinis atas respon antibodi pada  berbagai populasi berbeda yang terinfeksi SARS-CoV-2. Penelitian tentang pengobatan pasien COVID-19 meliputi pemberian donor plasma kovalesense, infus  imunoglobin, perawatan isolasi, pemberian antibodi penetralisir monoklonal (monoclonal neutralizing antibodies). Ligong Lu pada Epub 2020 Dec 1 mengajak semua ilmuwan untuk mempelajari respon antibodi dan terapi pada pasien COVID-19 untuk pengembangan vaksin.

.

Hipotesis yang paling menarik diajukan oleh Saadeldin (2020) adalah imunoterapi vaksin sel dendritik adalah awal dari perang besar mengakhiri kanker dan COVID-19. Imunoterapi juga menawarkan strategi pengobatan potensial untuk COVID-19, pandemi terburuk yang dihadapi generasi ini, sebuah penyakit dengan efek merusak pada sistem kesehatan dan ekonomi di seluruh dunia. Hipotesis utama adalah terapi vaksin DC dapat menjadi strategi pengobatan potensial untuk membantu memerangi COVID-19, dengan harapan menjadi sebuah pilihan pengobatan yang lebih disesuaikan untuk pasien COVID-19, dengan beberapa penyakit penyerta atau komorbid.

.

Peningkatan respons imun oleh DC yang dihasilkan ex vivo merupakan pertimbangan yang menarik. Meskipun uji klinis vaksinasi DC yang berhasil sejauh ini belum dilaporkan, namun kelayakan pendekatan terapi ini didukung oleh penelitian in vitro dengan sel manusia serta model in vivo pada tikus. Induksi antibodi antiparasit telah dibuktikan secara in vitro dengan DC protein cacing, dan kekebalan protektif terhadap beberapa jenis bakteri telah dicapai dengan vaksinasi DC pada tikus. Perlindungan terhadap infeksi paru oleh bakteri Pseudomonas aeruginosa setelah imunisasi dengan sel dendritik P. aeruginosa juga telah berhasil dibuktikan.

Penelitian sel dendritik untuk menimbulkan imunitas melawan COVID-19 di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta yang sedang berlangsung, bukanlah kelanjutan dari tahap uji klinis vaksin Nusantara. Langkah penting ini perlu didukung penuh, untuk memenuhi rasa keadilan bagi pasien COVID-19 yang tak dapat disuntik dengan vaksin lainnya yang bersifat massal. Sudahkah kita bijak ?

.

Sekian

Yogyakarta, 30 April 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?