Categories
anak antibiotika COVID-19 dokter Healthy Life Malaria resisten obat UHC vaksinasi

2022 Pencegahan Malaria

Kemenkes Imbau Waspadai Malaria di Tengah Pandemi Covid-19 -

PENCEGAHAN  MALARIA  TERBARU

fx. wikan indrarto*)

Jumat, 3 Juni 2022 diterbitkan rekomendasi WHO yang telah diperbarui untuk pencegahan atau kemoprevensi malaria pada anak dan ibu hamil. Terdapat 3 rekomendasi pencegahan (kemoprevensi) malaria utama, yaitu musiman, perenial pada bayi dan intermiten pada kehamilan. Apa yang baru?

.

Kemoterapi preventif adalah penggunaan obat, baik tunggal atau dalam kombinasi, untuk mencegah infeksi malaria dan komplikasinya. Pemberian obat antimalaria ditujukan untuk populasi yang rentan, yaitu bayi, anak balita dan ibu hamil, pada periode waktu dengan risiko terinfeksi malaria terbesar, terlepas dari status infeksinya. Kemoterapi preventif termasuk pengobatan pencegahan intermiten pada bayi, anak sekolah dan wanita hamil, kemoprevensi malaria musiman, kemoprevensi malaria pasca pulang dari daerah endemis dan pemberian obat massal.

.

Di beberapa daerah, malaria sangat musiman, dengan sebagian besar kasus terjadi dalam waktu singkat selama musim hujan. Kemoprevensi malaria musiman dirancang untuk melindungi anak dari infeksi yang ada dan mencegah infeksi malaria selama musim tersebut. Hal ini dicapai melalui pemberian obat antimalaria setiap bulan, biasanya kombinasi sulfadoksin pirimetamin plus amodiakuin (SP+AQ), selama musim hujan berlangsung.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/05/03/2019-vaksin-malaria/

.

Rekomendasi WHO yang diperbarui tentang kemoprevensi malaria musiman berbeda dari rekomendasi awal 2012 setidaknya dalam 2 hal yang signifikan, yaitu batas geografis dan dosis. Tidak ada lagi batasan geografis penggunaan hanya di subkawasan Sahel di Afrika. Sebelumnya tidak direkomendasikan kemoprevensi malaria musiman di luar Sahel, meski dengan penularan malaria musiman yang tinggi, seperti di Afrika bagian selatan, karena tingkat resistensi yang tinggi terhadap obat-obatan (SP dan AQ) di daerah tersebut. Rekomendasi yang diperbarui menyebutkan bahwa di bagian lain Afrika dengan variasi musiman yang tinggi dalam beban malaria, juga dapat memperoleh manfaat kemoprevensi malaria musiman, dan bahwa ketersediaan obat baru dapat menjadikannya intervensi yang layak.

.

Kemenkes Ingatkan Waspada Malaria di Tengah Pandemi Covid-19

Rekomendasi awal menyatakan bahwa maksimal 4 dosis obat kemoprevensi malaria musiman harus diberikan selama musim hujan dalam penularan malaria yang tinggi. Panduan yang diperbarui menyatakan bahwa kemoprevensi malaria musiman harus diberikan selama musim puncak penularan malaria, tanpa menentukan jumlah siklus bulanan yang spesifik. Sementara rekomendasi lama membatasi penggunaan untuk anak balita, rekomendasi baru merekomendasikan intervensi ini untuk semua anak dengan risiko tinggi malaria berat, yang dapat meluas ke anak yang lebih tua di beberapa lokasi.

.

Di beberapa negara lainnya, malaria adalah penyakit sepanjang tahun, dan penularannya stabil tinggi. WHO telah merekomendasikan penggunaan pengobatan pencegahan intermiten pada bayi, sekarang disebut kemoprevensi malaria perenial di beberapa negara ini sejak 2010. Rekomendasi yang diperbarui berbeda dari rekomendasi 2010 setidaknya dalam 2 hal penting, yaitu dosis sesuai usia dan interval pemberian. Rekomendasi awal menyatakan bahwa tiga dosis obat SP harus diberikan hanya pada bayi usia 2, 3 dan 9 bulan melalui program imunisasi rutin, bersamaan dengan dosis ke-2 dan ke-3 vaksin DPT/Penta dan campak. Rekomendasi baru menghapus spesifikasi ketat ini untuk jumlah dosis, serta usia di mana mereka harus diberikan. Ini juga memperluas kelompok usia target untuk memasukkan anak berusia lebih dari 1 tahun di tempat di mana beban penyakit parah tinggi.

.

Rekomendasi terbaru adalah pengobatan pencegahan malaria intermiten selama kehamilan. Infeksi malaria selama kehamilan menimbulkan risiko besar tidak hanya untuk ibu, tetapi juga untuk janin dan bayi yang baru lahir. Bukti yang tersedia terus menunjukkan bahwa pengobatan pencegahan intermiten selama kehamilan dengan SP adalah strategi yang aman dan sangat hemat biaya untuk mengurangi beban penyakit pada kehamilan, serta hasil kehamilan dan kelahiran yang merugikan.

.

Rekomendasi terbaru tentang kemoprevensi malaria selama kehamilan berbeda dari rekomendasi awal 2012 setidaknya dalam 2 hal penting, yaitu prosedur pemberian dan usia kehamilan. Rekomendasi yang diperbarui tidak membatasi prosedur pemberian SP pada ibu hamil hanya pada saat kontrol heamilan (ANC) saja, oleh karena ada ketidakadilan dalam akses ke layanan ANC, sehingga metode pemberian lainnya, seperti melalui kader kesehatan di masyarakat, dapat diijinkan. Di daerah endemis malaria, kemoprevensi malaria selama kehamilan sekarang direkomendasikan untuk semua wanita hamil, berapapun jumlah paritas atau kehamilannya. Sebelumnya, direkomendasikan hanya pada ibu dengan kehamilan pertama dan kedua saja.

.

Jumlah kasus malaria di Indonesia pada tahun 2021 sebesar 304.607 kasus, jumlah ini menurun jika dibandingkan jumlah kasus pada tahun 2009, yaitu sebesar 418.439. Angka kasus kesakitan malaria, yang dinyatakan dengan indikator Annual Paracite Incidence (API) sebesar 1,1 kasus per 1000 penduduk. Sampai dengan tahun 2021, sebanyak 347 dari 514 kabupaten/kota atau 68% sudah dinyatakan mencapai eliminasi.

.

Penggunaan panduan terbaru kemoprevensi malaria musiman, perenial pada bayi dan intermiten selama kehamilan menggunakan obat kombinasi sulfadoksin pirimetamin plus amodiakuin (SP+AQ) untuk pencegahan malaria seharusnya dilakukan tanpa kendor, termasuk di Indonesia.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 18 Juni 2022

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life Jalan-jalan Pendukung ASI resisten obat sekolah UHC

2022 Hari Makanan Sehat Dunia

Top] 25 World Food Safety Day 2022: Quotes, Slogans, Images, Pictures,  Photo, Poster, Wallpaper

Tulisan ini juga dimuat di link :

https://news.detik.com/kolom/d-6114206/beban-penyakit-bawaan-makanan

HARI  MAKANAN  SEHAT  SEDUNIA  2022

fx. wikan indrarto*)

Hari Keamanan Pangan Sedunia (World Food Safety Day) pada Selasa, 7 Juni 2022 adalah gerakan memobilisasi tindakan untuk mencegah, mendeteksi dan mengelola risiko penyakit yang ditularkan melalui makanan dan meningkatkan derajat kesehatan manusia. Tema peringatan adalah makanan yang lebih aman, kesehatan yang lebih baik (safer food, better health). Apa yang harus dilakukan?

.

Makanan yang aman adalah salah satu penjamin paling penting untuk kesehatan yang baik. Makanan yang tidak aman adalah penyebab banyak penyakit (foodborne illnesses), gangguan pertumbuhan dan perkembangan, defisiensi mikronutrien, penyakit tidak menular atau menular dan penyakit mental. Secara global, satu dari sepuluh orang terkena penyakit bawaan makanan setiap tahunnya. Diperkirakan 600 juta (hampir 1 dari 10 orang di dunia) jatuh sakit setelah makan makanan yang terkontaminasi dan 420.000 meninggal setiap tahun, mengakibatkan hilangnya 33 juta tahun hidup sehat (DALYs). Bahkan dana sebesar US$ 110 miliar hilang setiap tahun dalam produktivitas dan biaya pengobatan akibat makanan yang tidak aman, di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Pada anak balita menyebabkan 40% dari beban penyakit bawaan makanan, dengan 125.000 kematian setiap tahun.

.

Penyakit bawaan makanan biasanya bersifat menular atau beracun dan disebabkan oleh bakteri, virus, parasit atau zat kimia yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan yang terkontaminasi. Bakteri Salmonella, Campylobacter dan enterohaemorrhagic Escherichia coli adalah beberapa patogen bawaan makanan yang paling umum yang mempengaruhi jutaan orang setiap tahun, kadang-kadang dengan derajat klinis yang parah dan fatal. Gejala klinisnya dapat berupa demam, sakit kepala, mual, muntah, sakit perut dan diare. Bakteri tersebut sering berada pada telur, daging unggas dan produk lain yang berasal dari hewan, susu mentah, daging unggas mentah atau setengah matang, dan air minum, susu yang tidak dipasteurisasi, daging yang kurang matang, serta buah dan sayuran segar yang terkontaminasi.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/10/13/2020-makanan-sehat-saat-covid-19/

Infeksi bakteri Listeria dapat menyebabkan keguguran pada ibu hamil atau kematian bayi baru lahir. Listeria ditemukan dalam produk susu yang tidak dipasteurisasi dan berbagai makanan siap saji dan dapat tumbuh pada suhu dingin. Bakteri Vibrio cholerae dapat menginfeksi orang melalui air atau makanan yang terkontaminasi. Gejala klinisnya adalah sakit perut, muntah dan diare berair yang banyak, yang dengan cepat menyebabkan dehidrasi parah dan bahkan kematian. Beras, sayuran, bubur millet dan berbagai jenis makanan laut telah terkait dengan wabah kolera.

.

Beberapa virus dapat ditularkan melalui konsumsi makanan. Norovirus dan Virus Hepatitis A dapat ditularkan melalui makanan dan dapat menyebabkan penyakit hati dan menyebar biasanya melalui makanan laut mentah atau setengah matang, atau produk mentah yang terkontaminasi. Beberapa parasit, seperti trematoda, cacing pita seperti Echinococcus spp, atau Taenia spp, Ascaris, Cryptosporidium, Entamoeba histolytica atau Giardia, memasuki tubuh melalui makanan atau kontak langsung dengan hewan air atau tanah dan produk tanaman segar.

.

World Food Safety Day 2022 | CareOurEarth

Beban penyakit bawaan makanan (foodborne illnesses) terhadap kesehatan masyarakat dan ekonomi sering kali diremehkan karena pelaporan yang kurang. Selain itu, juga adanya kesulitan untuk membuktikan hubungan sebab akibat antara kontaminasi makanan dan penyakit atau kematian yang diakibatkannya. Laporan WHO tahun 2015 tentang perkiraan beban global penyakit bawaan makanan menyajikan perkiraan pertama beban penyakit yang disebabkan oleh 31 agen bawaan makanan (bakteri, virus, parasit, racun, dan bahan kimia) di tingkat global. Ternyata lebih dari 600 juta kasus penyakit bawaan makanan dan 420.000 kematian dapat terjadi dalam setahun. Beban penyakit bawaan makanan menimpa secara tidak proporsional pada kelompok dalam situasi rentan dan terutama pada anak balita, dengan beban tertinggi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

.

Laporan Bank Dunia 2019 tentang beban ekonomi penyakit bawaan makanan menunjukkan bahwa, total kerugian produktivitas yang terkait dengan penyakit bawaan makanan di negara berpenghasilan rendah dan menengah, diperkirakan mencapai US$ 95,2 miliar per tahun. Selain itu, biaya tahunan untuk mengobati penyakit bawaan makanan diperkirakan mencapai US$ 15 miliar.

.

Pasokan makanan yang aman mendukung kesehatan ekonomi nasional, berkontribusi pada ketahanan pangan dan gizi, dan mendukung pembangunan berkelanjutan. Pada hal, urbanisasi dan perubahan kebiasaan konsumen telah meningkatkan jumlah orang yang membeli dan makan makanan yang disiapkan di tempat umum. Selain itu, globalisasi telah memicu meningkatnya permintaan konsumen akan variasi makanan yang lebih luas, mengakibatkan rantai makanan global yang semakin kompleks dan panjang. Perubahan iklim juga diprediksi berdampak pada keamanan pangan.

.

Setiap pemerintah harus menjadikan keamanan pangan sebagai prioritas kesehatan masyarakat, dengan menyusun kebijakan dan menerapkan sistem keamanan pangan yang efektif. Momentum Hari Keamanan Pangan Sedunia (World Food Safety Day) pada Selasa, 7 Juni 2022 mengingatkan kita akan peran penting negara dalam menjamin ketersediaan makanan yang aman dan sehat.

Sekian

Yogyakarta, 6 Juni 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak antibiotika COVID-19 dokter Healthy Life kanker resisten obat vaksinasi

2022 Kanker pada Anak

Mengenal Gejala Dini Penyakit Kanker Pada Anak

KENALI  KANKER  PADA  ANAK

fx. wikan indrarto*)

Setiap tanggal 15 Februari dirayakan Hari Kanker Anak Internasional atau International Childhood Cancer Day (ICCD), sebuah kampanye kolaboratif global untuk meningkatkan kesadaran tentang kanker pada anak. Selain itu, juga untuk menggalang dukungan bagi para penyintas dan keluarga mereka. Tema tahun 2022 adalah ‘Kelangsungan Hidup Lebih Baik dengan dukungan Anda (Better Survival’ is achievable #throughyourhands). Apa yang menarik?

.

Setiap tahun, diperkirakan 400.000 anak dan remaja berusia 0-19 tahun mengidap kanker. Jenis kanker anak yang paling umum adalah kanker darah atau leukemia, kanker otak, kelenjar getah bening atau limfoma, dan tumor padat, seperti saraf atau neuroblastoma dan ginjal atau tumor Wilms. Di negara berpenghasilan tinggi, di mana layanan komprehensif umumnya dapat diakses, lebih dari 80% anak penderita kanker sembuh. Di negara berpenghasilan rendah dan menengah, hanya kurang dari 30% yang sembuh. Kanker anak umumnya tidak dapat dicegah dan dikenali melalui proses skrining. 

.

Kematian yang dapat dihindari akibat kanker pada anak di negara berkembang diakibatkan oleh kurang, salah atau terlambat didiagnosis. Juga adanya hambatan untuk mengakses pengobatan standar, selain kematian akibat toksisitas obat dan kekambuhan kanker. Hanya 29% negara berpenghasilan rendah melaporkan bahwa obat kanker umumnya tersedia untuk populasi anak di negara tersebut, dibandingkan dengan 96% negara berpenghasilan tinggi. Sistem register atau data kanker anak nasional diperlukan untuk mendorong perbaikan berkelanjutan dalam kualitas perawatan, dan untuk menginformasikan keputusan kebijakan.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/02/05/2020-melawan-kanker/

.

Kanker terjadi pada segala usia dan setiap bagian dari tubuh manusia. Proses ini dimulai dengan perubahan genetik dalam sel tunggal, yang kemudian tumbuh menjadi benjolan atau massa (disebut tumor), yang mendesak bagian lain dari tubuh, sehingga akan menyebabkan kerusakan dan kematian, jika tidak ditangani. Tidak seperti kanker pada orang dewasa, sebagian besar kanker pada anak tidak diketahui penyebabnya. Banyak penelitian telah berusaha untuk mengidentifikasi penyebab kanker pada anak, tetapi sangat sedikit kanker pada anak yang disebabkan oleh faktor lingkungan atau gaya hidup. Upaya pencegahan kanker pada anak harus difokuskan pada perbaikan perilaku, yang akan mencegah anak mengalami kanker yang dapat dicegah, saat mereka menjadi dewasa.

.

Beberapa penyakit infeksi, seperti HIV, virus Epstein-Barr dan malaria, merupakan faktor risiko kanker pada anak, di berbagai negara berkembang. Sebaliknya, beberapa infeksi lain pada anak dapat meningkatkan risiko anak tersebut akan terkena kanker saat dewasa. Untuk pencegahan kanker ini, penting sekali anak untuk divaksinasi, misalnya imunisasi hepatitis B untuk membantu mencegah kanker hati dan imunisasi HPV atau Human Papilloma Virus untuk mencegah kanker serviks.

.

Sekitar 10% dari semua anak dengan kanker memiliki kecenderungan terkait faktor genetik. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi faktor lain yang mempengaruhi perkembangan kanker pada anak. Karena umumnya tidak mungkin untuk mencegah kanker pada anak, strategi paling efektif untuk mengurangi beban kanker pada anak dan meningkatkan hasil luaran klinis adalah berfokus pada diagnosis yang tepat dan cepat, diikuti dengan terapi berbasis bukti yang efektif dengan perawatan suportif yang disesuaikan.

.

Data Anak Penderita Kanker di Indonesia dan Kondisi Mental Mereka

Ketika didiagnosis lebih awal, kanker lebih mungkin untuk merespon pengobatan yang efektif dan menghasilkan kemungkinan yang lebih besar untuk bertahan hidup, lebih sedikit penderitaan, dan seringkali lebih murah, dibandingkan pengobatan tahap lanjut. Perbaikan signifikan dapat dilakukan dalam kehidupan anak penderita kanker, dengan mendeteksi kanker sejak dini dan menghindari keterlambatan pengobatan. Diagnosis yang benar sangat penting untuk mengobati kanker pada anak, karena setiap kanker memerlukan rejimen tatalaksana khusus, termasuk pembedahan, radioterapi, dan kemoterapi.

.

Diagnosis dini kanker pada anak terdiri dari 3 komponen utama. Pertama, kesadaran akan gejala oleh keluarga dan tenaga kesehatan. Kedua, evaluasi, diagnosis, dan penentuan stadium klinis yang akurat dan tepat waktu (menentukan sejauh mana kanker telah menyebar). Ketiga, akses ke pengobatan segera. Program diagnosis dini kanker pada anak telah berhasil diterapkan di berbagai negara dari semua tingkat pendapatan, seringkali melalui upaya kolaboratif pemerintah, masyarakat sipil dan organisasi non-pemerintah. Kanker anak dapat dikenali dengan berbagai gejala klinis sebagai peringatan awal, seperti demam berulang, sakit kepala parah dan persisten, nyeri tulang atau penurunan berat badan, yang dapat dikenali oleh keluarga dan tenaga kesehatan yang terlatih.

.

Paparan Radiasi Ponsel Dapat Meningkatkan Risiko Kanker Pada Anak - Semua  Halaman - Grid Health
.

Program skrining umumnya tidak membantu untuk deteksi kanker anak, tetapi dalam beberapa kasus tertentu, hal ini dapat dipertimbangkan pada populasi berisiko tinggi. Misalnya, beberapa kanker mata pada anak dapat disebabkan oleh mutasi yang diturunkan. Jika mutasi terjadi dalam keluarga anak dengan retinoblastoma, konseling genetik dapat ditawarkan dan saudara kandung dipantau dengan pemeriksaan mata secara teratur sejak dini. Tidak ada bukti berkualitas tinggi untuk mendukung program skrining berbasis populasi pada anak-anak.

.

Diagnosis yang benar sangat penting untuk memberikan terapi yang tepat untuk jenis dan luasnya penyakit kanker pada anak. Terapi standar kanker pada anak meliputi kemoterapi, pembedahan dan atau radioterapi. Namun demikian, anak juga membutuhkan perhatian khusus dalam proses pertumbuhan fisik dan kognitif mereka yang berkelanjutan. Selain itu, mempertahankan status gizi agar tetap baik, membutuhkan tim multi-disiplin yang berdedikasi. Akses ke diagnosis yang efektif, obat kanker esensial, pemeriksaan patologi, produk darah, terapi radiasi, teknologi baru, perawatan psikososial dan suportif sangat bervariasi, tetapi tidak merata tersedia di seluruh dunia.

.

Penyembuhan dapat mencapai lebih dari 80% anak dengan kanker, ketika layanan kanker anak dapat diakses dengan tepat. Terapi farmakologis, termasuk obat generik murah yang masuk dalam Daftar Obat Esensial WHO untuk Anak, sangat besar perannya. Anak yang mampu menyelesaikan paket pengobatan kanker, tetap memerlukan perawatan berkelanjutan, untuk memantau kekambuhan kanker dan untuk mengelola kemungkinan dampak buruk pengobatan jangka panjang.

.

Perawatan paliatif bertujuan untuk mengurangi gejala nyeri yang disebabkan oleh kanker dan meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarganya. Tidak semua anak penderita kanker dapat disembuhkan, tetapi meringankan penderitaan dari keluhan nyeri hebat adalah keharusan kita bagi semua anak. Perawatan paliatif anak dianggap sebagai komponen inti dari perawatan komprehensif, dimulai ketika penyakit didiagnosis dan berlanjut selama perawatan dan pengobatan, terlepas dari tujuan kuratif atau tidak. Perawatan paliatif dapat diberikan di rumah pasien, memberikan pereda nyeri dan dukungan psikososial kepada pasien dan keluarga mereka. Akses yang memadai ke morfin oral dan obat nyeri lainnya harus disediakan untuk pengobatan nyeri kanker derajat sedang hingga berat, yang mempengaruhi lebih dari 80% pasien kanker anak pada fase terminal.

Momentum Hari Kanker Anak Internasional atau International Childhood Cancer Day (ICCD) Selasa, 15 Februari 2022 mengingatkan kita untuk memberikan perhatian dan lebih peduli pada anak dengan kanker.

Sudahkah kita bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 10 Januari 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak antibiotika COVID-19 resisten obat

2022 Ada kusta di antara kita

Kusta - Gejala, penyebab dan mengobati - Alodokter

2022  ADA  KUSTA  DI  ANTARA  KITA

fx. wikan indrarto*)

Hari Kusta Sedunia (World Leprosy Day) Minggu, 30 Januari 2022 memiliki  tema “United for Dignity” (Bersatu untuk Martabat).  Apa yang harus dilakukan?

.

Masih ada 127.558 kasus kusta baru yang terdeteksi secara global pada tahun 2020 dari 139 negara, termasuk 8.629 anak di bawah 15 tahun. Pada hal kampanye ‘ending transmission among children’ dengan target global yaitu nol infeksi pada anak, paling lambat harus dicapai pada tahun 2020 lalu. Tingkat deteksi kasus baru di antara populasi anak tercatat 4,4 per juta populasi anak. Di antara kasus baru 7.198 kasus baru terdeteksi dengan disabilitas grade2 (G2D) dan tingkat G2D baru tercatat 0,9 per juta penduduk.  

.

Kantong endemisitas kusta masih tetap tinggi di beberapa negara, yaitu Angola, Bangladesh, Brazil, Republik Rakyat Cina, Republik Demokratik Kongo, Ethiopia, India, Indonesia, Madagaskar, Mozambik, Myanmar, Nepal, Nigeria, Filipina, Sudan Selatan, Sri Lanka, Sudan dan Republik Tanzania. Pandemi COVID-19 telah mengganggu pelaksanaan program penurunan penemuan kasus baru sebesar 37% pada tahun 2020 dibandingkan dengan tahun 2019, dan pencapaian target ambisius nol infeksi pada anak tersebut.

.

Tinggal Satu Atap dengan Pasien Kusta Apa yang Harus Dilakukan? – Info  Sehat FKUI

Kusta atau lepra adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Kusta tercatat dalam peradaban kuno di Cina, Mesir dan India pada 600 SM. Bakteri M. leprae sebagai penyebab kusta ditemukan oleh Dr. Gerhard Henrik Armauer Hansen dari Norwegia pada tahun 1873 dan merupakan bakteri pertama yang dikenali sebagai penyebab penyakit infeksi pada manusia. Pada Kitab Imamat (13,3) disebutkan penyakit kusta ditandai bulu putih dan lebih dalam dari kulit. Saat ini seseorang harus dicurigai kusta jika menunjukkan satu dari tanda utama atau kardinal sebagai berikut, (1) lesi kulit berwarna putih atau leukoderma yang disertai dengan kehilangan sensorik atau anestesi yang pasti, dengan atau tanpa penebalan saraf dan (2) pemeriksaan apusan kulit positif bakteri kusta.

.

Terobosan terapi pertama terjadi pada tahun 1940-an dengan pengembangan dapson, obat kusta pertama. Namun durasi pengobatan dengan dapson itu bertahun-tahun dan bahkan seumur hidup, sehingga sulit bagi pasien untuk mematuhinya. Pada awal 1960-an, ditemukan obat kusta lainnya, yaitu rifampisin dan clofazimine. Sejak tahun 1981, WHO merekomendasikan MDT (multidrug therapy) yang terdiri dari 3 obat : dapson, rifampisin dan clofazimine, dan kombinasi obat ini mampu mematikan bakteri patogen dan menyembuhkan pasien.

.

Penggunaan MDT mampu mengurangi beban penyakit kusta secara dramatis, seperti Yesus yang membuat tahir (Luk:5,13). Selama 20 tahun terakhir, lebih dari 14 juta penderita kusta telah sembuh, sekitar 4 juta dari mereka sembuh sejak tahun 2000.  Kusta telah mampu dieliminasi di 119 dari 122 negara di mana penyakit ini dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat pada tahun 1985. Sebanyak 11 provinsi di Indonesia belum eliminasi kusta, yaitu Jawa Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku, Maluku Utara, Papua, serta Papua Barat. Sedangkan 23 provinsi lainnya sudah eliminasi kusta, dengan penambahan terbaru yaitu Aceh dan Kalimantan Utara. Tingginya angka cacat tingkat 2 (G2D) menunjukkan keterlambatan dalam penemuan kasus di lapangan. Indikator lain yang digunakan pada penyakit kusta yaitu proporsi penderita kusta pada anak (0-14 tahun), di antara penderita baru. Provinsi dengan proporsi kusta pada anak tertinggi yaitu Papua Barat (28,73%), Nusa Tenggara Timur (27,96%), dan Maluku Utara (23,27%).

.

Target global untuk 2030 adalah 120 negara tanpa kasus asli baru (new autochthonous cases), pengurangan 70% dalam jumlah tahunan kasus baru yang terdeteksi, 90% pengurangan tingkat per juta populasi kasus baru dengan G2D, dan 90% pengurangan angka per juta anak dari kasus anak baru dengan kusta. Pilar strategis dan komponen utama meliputi pertama, menerapkan peta jalan nol kusta yang terintegrasi dan milik negara di semua negara endemik. Kedua, komitmen politik dengan sumber daya yang memadai untuk kusta dalam konteks terpadu. Ketiga, kemitraan nasional untuk ‘zero leprosy’ dan ‘zero leprosy roadmap’ yang melibatkan semua pemangku kepentingan. Ketiga, peningkatan kapasitas dalam sistem perawatan kesehatan untuk layanan berkualitas. Keempat, pengawasan yang efektif dan sistem manajemen data yang ditingkatkan. Kelima, pemantauan resistensi antimikroba (AMR) dan reaksi obat yang merugikan.

.

Selain itu, beberapa tindakan untuk pencegahan kusta dilakukan bersama dengan deteksi kasus aktif terintegrasi. Pertama, pelacakan kontak untuk semua kasus baru. Kedua, kemoterapi preventif ditingkatkan. Ketiga, penemuan kasus aktif terintegrasi dalam populasi yang ditargetkan. Keempat, pengembangan vaksin baru yang ada dan potensial.

.

Sedangkan untuk menangani penyakit kusta dan komplikasinya serta mencegah kecacatan baru, diperlukan beberapa langkah. Pertama, deteksi kasus dini, diagnosis yang akurat dan pengobatan yang cepat. Kedua, akses ke fasilitas rujukan yang komprehensif dan terorganisir dengan baik. Ketiga, diagnosis dan manajemen reaksi kusta, neuritis dan kecacatan. Keempat, pemantauan, dukungan dan pelatihan dalam perawatan diri. Kelima, kesejahteraan mental melalui pertolongan pertama psikologis dan konseling terapeutik.

Penyakit Kusta dan sejarahnya | Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat

.

Yang terakhir adalah memerangi stigma dan memastikan hak asasi manusia dihormati. Diperlukan persatuan (United for Dignity) dalam menghormati martabat penderita kusta dengan cara berbagi cerita tentang pemberdayaan mereka, mengadvokasi kesejahteraan mental dan mendukung hak untuk hidup bermartabat bebas dari stigma terkait penyakit kusta. Selain itu, kita diingatkan tentang target nol infeksi pada anak yang belum tercapai, karena ternyata masih ada kusta di antara kita.

Sudahkah kita bertindak?

Yogyakarta, 26 Januari 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih dan Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak COVID-19 dokter resisten obat vaksinasi

2022 OBAT BARU UNTUK COVID-19

Ilmuwan India Teliti Obat Baru Covid-19, kombinasi Umifenovir dan  Molnupiravir

OBAT  BARU  UNTUK  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Jumat, 14 Januari 2022 WHO merekomendasikan dua obat baru, sehingga saat ini terdapat lebih banyak pilihan pengobatan COVID-19. Sejauh mana obat baru ini akan menyelamatkan nyawa pasien, tergantung pada seberapa banyak tersedia dan terjangkau. Apa yang menarik?

.

Obat pertama adalah baricitinib, sangat direkomendasikan untuk pasien COVID-19 derajat parah atau kritis. Obat dalam kelas inhibitor Janus Kinase (JAK) ini mampu menekan stimulasi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh. WHO merekomendasikan agar diberikan dengan kortikosteroid. Baricitinib adalah obat oral atau ditelan, yang selama ini telah digunakan untuk pengobatan radang sendi atau rheumatoid arthritis. Baricitinib ini mirip dengan obat radang sendi lain dalam kelas penghambat reseptor Interleukin-6, yang sebelumnya telah direkomendasikan oleh WHO pada Juli 2021.

.

WHO juga secara kondisional merekomendasikan penggunaan obat antibodi monoklonal, yaitu sotrovimab, untuk mengobati COVID-19 ringan atau sedang pada pasien yang berisiko tinggi dirawat di rumah sakit. Ini termasuk pasien lansia, immunocompromised, memiliki komorbid seperti diabetes, hipertensi, dan obesitas, dan mereka yang tidak divaksinasi COVID-19. Sotrovimab adalah alternatif untuk casirivimab-imdevimab, sebuah antibodi monoklonal yang sebelumnya telah direkomendasikan oleh WHO pada September 2021. Penelitian sedang berlangsung tentang efektivitas antibodi monoklonal terhadap varian Omicron.

.

WHO sedang bernegosiasi dengan produsen untuk mengamankan kapasitas pasokan global dan akses yang adil dan berkelanjutan ke obat baru yang direkomendasikan ini. Pilar Access to COVID-19 Tools Accelerator (ACT-A) Therapeutics telah bernegosiasi dengan perusahaan farmasi untuk mencari rencana akses yang komprehensif untuk negara berpenghasilan rendah dan menengah, sehingga pengobatan ini dapat diterapkan dengan cepat, tidak hanya di negara kaya. ACT-A juga ingin memperluas cakupan lisensi untuk membuat produk lebih terjangkau. Dua obat baru yang direkomendasikan, yaitu baricitinib dan sotrovimab, telah diundang untuk masuk pada proses Prakualifikasi WHO, yang menilai kualitas, kemanjuran dan keamanan produk kesehatan prioritas, untuk meningkatkan akses bagi negara berpenghasilan rendah.

.

Pilihan pengobatan lain yang sedang dipelajari untuk COVID-19 derajat parah dan kritis, yaitu ruxolitinib dan tofacitinib. Mengingat efeknya yang tidak pasti, sampai saat ini WHO memberikan rekomendasi bersyarat terhadap penggunaannya. Sedangkan Uji Klinis Solidaritas PLUS WHO saat ini sedang mengevaluasi 3 jenis obat lainnya, yaitu artesunat, infliximab dan imatinib. Obat-obatan ini dipilih, karena potensinya untuk mengurangi angka kematian.

.

Ketiga obat tersebut disumbangkan oleh produsen masing-masing untuk uji klinis, melalui Surat Perjanjian antara WHO dan produsen obat. Perusahaan farmasi Ipca, Johnson dan Johnson dan Novartis, telah setuju untuk mendukung akses ke obat tersebut dengan harga yang wajar jika terbukti efektif.

.

Obat Artesunat diproduksi oleh Ipca, digunakan untuk mengobati malaria. Obat ini akan diberikan secara intravena selama 7 hari, menggunakan dosis standar yang direkomendasikan untuk pengobatan malaria berat. Artesunat adalah turunan dari artemisinin, obat antimalaria yang diekstrak dari ramuan Artemisia annua. Artemisinin dan turunannya telah digunakan secara luas dalam pengobatan malaria dan penyakit parasit lainnya selama lebih dari 30 tahun, dan dianggap sangat aman. Kelompok Penasihat Terapi COVID-19 WHO merekomendasikan untuk mengevaluasi sifat anti-inflamasi artesunat.

.

Obat imatinib diproduksi oleh Novartis, digunakan untuk mengobati beberapa jenis kanker tertentu. Obat ini akan diberikan secara oral, sekali sehari, selama 14 hari. Dosis yang digunakan adalah dosis pemeliharaan standar, yaitu dosis terendah yang diberikan pada pasien dengan keganasan hematologi dalam jangka waktu yang lama. Imatinib adalah inhibitor tirosin kinase molekul kecil, diformulasikan sebagai obat kemoterapi oral yang digunakan untuk mengobati jenis kanker tertentu. Data klinis eksperimental dan awal menunjukkan bahwa imatinib membalikkan kebocoran kapiler paru. Sebuah uji klinis acak yang dilakukan di Belanda melaporkan bahwa imatinib dapat memberikan manfaat klinis pada pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit, tanpa adanya masalah keamanan.

.

Obat infliximab diproduksi oleh Johnson dan Johnson, digunakan untuk mengobati penyakit pada sistem kekebalan tubuh. Obat ini akan diberikan secara intravena sebagai dosis tunggal. Dosis yang digunakan adalah dosis standar yang diberikan pada pasien dengan Penyakit Crohn dalam waktu yang lama. Infliximab adalah penghambat alfa TNF, antibodi monoklonal chimeric yang mengenali alfa TNF manusia. Biologi anti-TNF telah disetujui untuk pengobatan kondisi peradangan autoimun tertentu selama lebih dari 20 tahun, menunjukkan kemanjuran dan keamanan yang menguntungkan dalam membatasi peradangan spektrum luas, termasuk pada populasi lanjut usia yang paling rentan secara klinis terhadap COVID-19.

.

WHO Setujui Dua Obat Baru Covid-19

Obat baricitinib dan sotrovimab dalam rekomendasi kali ini, yang merupakan pembaruan kedelapan pedoman WHO tentang terapi COVID-19, didasarkan pada bukti dari tujuh uji klinis yang melibatkan lebih dari 4.000 pasien dengan COVID-19 derajat yang tidak parah, parah, dan kritis.

Sudahkah kita bertindak bijak dalam pengobatan COVID-19?

Sekian

Yogyakarta, 17 Januari 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak COVID-19 Healthy Life resisten obat UHC vaksinasi

2021 MIS-C pada Anak COVID-19

Kemiripan MIS-C Akibat COVID-19 dengan Penyakit Kawasaki pada Anak -  Alomedika

MIS-C  PADA  ANAK COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Selasa, 23 November 2021 WHO mengeluarkan pedoman terbaru tentang pengobatan anak dengan sindrom inflamasi multisistem atau ‘multisystem inflammatory syndrome’ yang terkait dengan COVID-19 (MIS-C). Apa yang penting?

.

WHO pertama kali menggambarkan kondisi ini pada Mei 2020. MIS-C adalah kondisi langka namun serius di mana anak dengan COVID-19 mengalami peradangan yang mempengaruhi berbagai organ tubuh. Meskipun MIS-C adalah kondisi yang serius, dengan perawatan medis yang tepat, anak dengan kondisi ini akan pulih. Pedoman terbaru WHO merekomendasikan penggunaan kortikosteroid selain perawatan suportif, bukan imunoglobulin (IVIG) plus perawatan suportif, atau perawatan suportif saja, pada anak (usia 0-18 tahun) yang dirawat di rumah sakit dengan MIS-C, selain pengobatan dan perawatan suportif. Rekomendasi bersyarat  dengan kepastian sangat rendah ini muncul setelah tersedianya tiga studi observasional, mengumpulkan data dari total 885 pasien anak.

.

Secara keseluruhan, anak tetap berisiko rendah terkena COVID-19 yang parah atau kritis, tetapi mirip dengan orang dewasa, kondisi mendasar tertentu membuat anak lebih rentan terhadap penyakit parah. Yang paling sering dilaporkan dari kondisi ini adalah obesitas, penyakit paru-paru kronis (termasuk asma), penyakit kardiovaskular dan imunosupresi. Manajemen klinis pasien COVID-19: pedoman hidup, 23 November 2021 oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dapat dilihat pada link berikut :

.

https://app.magicapp.org/#/guideline/j1WBYn/rec/L0z8gb

.

Rekomendasi bersyarat yang kedua adalah pada anak yang dirawat di rumah sakit berusia 0–18 tahun yang memenuhi definisi kasus standar untuk MIS-C dan kriteria diagnostik untuk penyakit Kawasaki, WHO menyarankan penggunaan kortikosteroid selain standar perawatan untuk penyakit Kawasaki. Ini juga rekomendasi bersyarat, kepastian sangat rendah.

.

Rekomendasi bersyarat berarti manfaat lebih besar daripada kerugian bagi sebagian besar orang, tetapi tidak untuk semua orang. Sebagian besar pasien mungkin menginginkan opsi ini. Rekomendasi yang lemah tidak berarti bahwa tidak ada bukti yang cukup untuk mendukung tindakan yang disarankan. Memang, ada dua alasan untuk rekomendasi yang lemah: i) buktinya berkualitas rendah, ATAU ii) ada keseimbangan  antara manfaat dan bahaya dari tindakan. Implikasi dari rekomendasi yang lemah, secara umum dokter harus “berpikir dua kali” dan mempertimbangkan faktor individu pasien ketika akan menerapkan rekomendasi yang lemah. Pengambilan keputusan dokter bersama keluarga pasien diperlukan untuk sebagian besar rekomendasi yang lemah.

.

Waspada, Ini Gejala dan Komplikasi MIS-C COVID pada Anak - Info Sehat  Klikdokter.com

Risiko MIS-C pada bayi baru lahir memang tidak besar. Namun demikian, WHO tetap merekomendasikan bahwa ibu dengan suspek atau terkonfirmasi COVID-19 harus didorong untuk memulai dan melanjutkan menyusui. Ibu harus diberi konseling bahwa manfaat menyusui secara substansial lebih besar daripada potensi risiko penularan.

.

Segera setelah bayi lahir, ibu sebenarnya tidak boleh dipisahkan dari bayinya, kecuali jika ibu terlalu lemah untuk merawat bayinya. Jika ibu tidak mampu merawat bayi, pengasuh keluarga lain yang kompeten harus dilibatkan. Ibu dan bayi harus dimampukan untuk tetap bersama selama tinggal di kamar yang sama (rawat gabung), sepanjang siang dan malam, dan mempraktikkan kontak kulit, baik ibu atau bayi dicurigai atau terkonfirmasi infeksi virus COVID-19 sekalipun.

.

Bayi yang lahir dari ibu diduga atau dikonfirmasi COVID-19 harus disusui dalam waktu 1 jam setelah kelahiran. Ibu harus menerapkan protokol kesehatan yang sesuai, kontak kulit-ke-kulit dini dan tidak terputus, antara ibu dan bayi harus difasilitasi dan didorong sesegera mungkin setelah lahir. Hal ini berlaku juga untuk bayi yang lahir prematur atau berat badan lahir rendah. Jika bayi baru lahir atau bayi sakit dan memerlukan perawatan khusus unit neonatal, termasuk bayi dengan MIS-C, ibu harus dibantu mengakses bayi secara mudah.

Konseling menyusui, dukungan psikososial dasar, dan dukungan pemberian makan praktis, harus diberikan kepada semua wanita hamil dan ibu yang memiliki bayi dan anak kecil, jika ibu, bayi atau anak mereka dicurigai atau dikonfirmasi terinfeksi COVID-19, yang berisiko menjadi MIS-C. Jika ibu terlalu tidak sehat untuk menyusui atau memerah ASI, carilah alternatif terbaik dengan urutan prioritas sebagai berikut.

.

Pertama, ASI donor harus diberikan jika tersedia dari bank ASI. Kedua, jika persediaan terbatas, prioritaskan ASI donor untuk bayi baru lahir prematur dan berat badan lahir rendah. Ketiga, ibu pengganti menyusui dapat menjadi pilihan tergantung pada penerimaan ibu dan keluarga, ketersediaan ibu pengganti. Pilihan ‘wet nursing’ atau disusui oleh ibu lain yang juga sedang menyusui anak atau ibu pengganti, yang sesuai berdasarkan kelayakan, keamanan, keberlanjutan, konteks budaya, penerimaan ibu dan ketersediaan layanan. Tes COVID-19 terhadap seorang wanita yang berpotensi menjadi ibu pengganti tidak diperlukan. Dalam wilayah di mana HIV lazim, calon ibu pengganti harus menjalani konseling HIV dan tes cepat jika tersedia. Jika tidak ada tes, lakukan penilaian risiko HIV. Jika penilaian atau konseling risiko HIV tidak memungkinkan, fasilitasi dan dukung menyusui basah. Terakhir keempat, susu formula sebagai pengganti ASI dapat digunakan sebagai pilihan terakhir.

.

Rekomendasikan penggunaan kortikosteroid dan dukungan pemberian ASI pada anak (usia 0-18 tahun) dengan MIS-C perlu dilakukan, meskipun bersyarat dan dengan kepastian sangat rendah. Sudahkah kita bijak?

.

Sekian

Yogyakarta, 27 November 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
anak antibiotika COVID-19 dokter Healthy Life Malaria resisten obat tuberkulosis vaksinasi

2021 Waspada Resistensi Antimikroba

Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) – HISFARSI DIY

WASPADA   RESISTENSI  ANTIMIKROBA

fx. wikan indrarto*)

Ringkasan tulisan tersebut di atas dimuat di Kompas Digital Jumat, 26 November 2021 :

https://www.kompas.id/baca/opini/2021/11/26/waspada-resistensi-antimikroba

Pekan Kesadaran Antimikroba Sedunia diadakan pada 18-24 November setiap tahun. Tema 2021 adalah ‘Spread Awareness, Stop Resistance’ (Sebarkan Kewaspadaan, Hentikan Resistensi) untuk menyerukan kepada pemangku kepentingan, pembuat kebijakan, penyedia layanan kesehatan, dan masyarakat umum, untuk terlibat dalam kewaspadaan tentang Resistensi Antimikroba (AMR). Apa yang menarik?

.

Resistensi antimikroba (AMR) adalah ancaman kesehatan dan pembangunan global. Hal ini membutuhkan tindakan multisektoral yang mendesak untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), karena AMR adalah salah satu dari 10 besar ancaman kesehatan masyarakat global yang dihadapi umat manusia. Antimikroba meliputi antibiotik, antivirus, antijamur, dan antiparasit, yaitu obat yang digunakan untuk mencegah dan mengobati infeksi pada manusia, hewan, dan tumbuhan.

.

Pada tahun 2019, indikator AMR baru dimasukkan dalam kerangka pemantauan SDG. Indikator ini memantau frekuensi infeksi darah atau sepsis, yang disebabkan karena dua patogen yang telah resistan terhadap obat tertentu, yaitu Staphylococcus aureus (MRSA) yang resistan terhadap methicillin dan E. coli resisten terhadap sefalosporin generasi ketiga (3GC). Pada tahun 2019, terdapat 25 negara memberikan data tentang infeksi aliran darah atau sepsis akibat MRSA dan 49 negara memberikan data tentang E. coli. Dengan demikian tingkat rata-rata MRSA adalah 12,11% dan 3GC adalah 36,0%.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/09/25/2021-libas-tifus/

.

Strain Mycobacterium tuberculosis penyebab TBC yang resisten terhadap antibiotik mengancam kemajuan dalam mengatasi epidemi tuberkulosis global. Pada tahun 2018, ada sekitar setengah juta kasus baru TB yang resistan terhadap rifampisin (RR-TB), obat TB paling poten saat ini dan sebagian besar menjadi TB yang resistan terhadap berbagai obat (MDR-TB), suatu bentuk tuberkulosis yang resisten terhadap dua obat anti-TB yang paling kuat. Pada hal, hanya sepertiga dari sekitar setengah juta orang MDR/RR-TB pada tahun 2018 yang terdeteksi dan dilaporkan. MDR-TB memerlukan paket pengobatan yang lebih lama, kurang efektif dan jauh lebih mahal dibandingkan dengan TB yang tidak resistan. Selain itu, hanya kurang dari 60% MDR/RR-TB yang berhasil disembuhkan. Pada tahun 2018, diperkirakan 3,4% kasus TB baru dan 18% dari kasus yang sebelumnya diobati berubah menjadi TB-MDR/RR-TB dan munculnya resistensi terhadap obat TB ‘pilihan terakhir’ baru benar-benar merupakan ancaman besar.

.

Hati-hati! Sebelum Terapi Antibiotik, Pahami Dulu Tentang Resistensi  Antibiotik

Resistensi obat antivirus semakin mencemaskan, karena telah terjadi pada sebagian besar antivirus, termasuk obat antiretroviral (ARV) untuk HIV. Semua ARV, termasuk kelas yang lebih baru, berisiko menjadi sebagian atau seluruhnya tidak aktif karena munculnya HIV yang resistan terhadap obat (HIVDR). Pedoman ARV WHO terbaru sekarang merekomendasikan obat baru, dolutegravir, sebagai pengobatan lini pertama untuk orang dewasa dan anak. Munculnya jenis parasit yang resistan terhadap obat merupakan salah satu ancaman terbesar terhadap pengendalian malaria dan mengakibatkan peningkatan morbiditas dan mortalitas malaria. Terapi kombinasi berbasis artemisinin (ACT) adalah pengobatan lini pertama yang direkomendasikan untuk malaria P. falciparum tanpa komplikasi, dan digunakan oleh sebagian besar negara endemik malaria. Prevalensi infeksi jamur yang resistan terhadap obat meningkat dan memperburuk situasi pengobatan yang sudah sulit. Banyak infeksi jamur memiliki masalah saat diobati seperti toksisitas, terutama untuk pasien dengan infeksi lain yang mendasarinya (misalnya HIV). Candida auris yang resistan terhadap obat, salah satu infeksi jamur invasif yang paling umum, sudah tersebar luas dengan meningkatnya resistensi yang dilaporkan terhadap flukonazol, amfoterisin B dan vorikonazol serta resistensi caspofungin yang muncul. Hal ini menyebabkan lebih sulit untuk mengobati infeksi jamur, kegagalan pengobatan, tinggal di rumah sakit lebih lama dan pilihan pengobatan yang jauh lebih mahal.

.

AMR merupakan masalah kompleks yang membutuhkan pendekatan multisektoral yang terpadu. Pendekatan ‘One Health’ menyatukan berbagai sektor dan pemangku kepentingan yang terlibat dalam kesehatan hewan, tumbuhan, dan manusia, baik yang hidup di darat dan air, juga produksi makanan, pakan hewan dan lingkungan. Diharapkan setiap negara akan mengembangkan rencana aksi nasional mereka sendiri, untuk mengatasi resistensi antibiotik sejalan dengan rencana global. Untuk mencapai tujuan ini, rencana aksi global menetapkan lima tujuan strategis: (1) meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang resistensi antibiotik; (2) memperkuat pengetahuan melalui surveilans dan penelitian; (3) mengurangi kejadian infeksi; (4) mengoptimalkan penggunaan obat antibiotik; dan (5) memastikan investasi berkelanjutan dalam melawan resistensi antibiotik.

.

Para dokter, apoteker dan petugas kesehatan lainnya dapat berperan dengan mencegah infeksi dengan memastikan tangan, instrumen medis dan lingkungan RS bersih, memberikan vaksinasi terbaru kepada pasien (up to date), ketika terjadi dugaan infeksi bakteri, melakukan kultur bakteri dan pemeriksaan penunjang medik lainnya untuk konfirmasi, hanya meresepkan dan mengeluarkan antibiotika ketika benar-benar dibutuhkan, pada dosis dan durasi pengobatan yang tepat. Para pejabat dan pembuat kebijakan kesehatan dapat bertindak dengan menyusun rencana aksi regional atau nasional yang kuat untuk mengatasi resistensi antibiotika, meningkatkan pengawasan infeksi bakteri yang telah resisten terhadap antibiotika, memperkuat langkah-langkah pencegahan dan pengendalian infeksi, juga mengatur dan mempromosikan penggunaan  obat antibiotika yang tepat dan berkualitas. Selain itu, juga membuat informasi tentang dampak resistensi antibiotika dan memberikan apresiasi atas pengembangan obat, vaksin serta alat diagnostik yang baru.

Resistensi Antibiotik, Kelak Infeksi Bakteri Pun Bisa Jadi Penyebab  Kematian Halaman 1 - Kompasiana.com
.

Para petugas sektor pertanian dapat bertindak dengan memberikan antibiotika pada hewan, hanya saat digunakan untuk mengobati penyakit menular dan di bawah pengawasan seorang dokter hewan, vaksinasi hewan untuk mengurangi kebutuhan antibiotika dan mengembangkan alternatif tindakan, selain penggunaan antibiotika pada tanaman yang terinfeksi. Selain itu, mempromosikan dan menerapkan praktek yang baik di semua tahap produksi ataupun pengolahan makanan dari sumber hewan dan tumbuhan, mengadopsi sistem yang berkelanjutan dengan meningkatkan kebersihan, biosecurity dan penanganan hewan bebas infeksi, melaksanakan standar internasional untuk penggunaan antibiotika yang bertanggung jawab, yang ditetapkan oleh OIE, FAO dan WHO. Para pelaku industri bidang kesehatan dapat membantu dengan berinvestasi untuk pengembangan antibiotika, vaksin, dan alat diagnostik baru.

.

Momentum Pekan Kewaspadaan Antibiotik Sedunia (World Antibiotic Awareness Week) pada 18–24 November 2021, mengingatkan kita semua bahwa ‘Spread Awareness, Stop Resistance’ (sebarkan Kewaspadaan, Hentikan Resistensi) tergantung pada niat dan usaha kita bersama.

Sudahkah kita menyadari?

Sekian

Yogyakarta, 16 November 2021

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life Pendukung ASI resisten obat

2021 Keselamatan Pasien Bayi

Krisis Listrik, Nyawa 200 Bayi di Rumah Sakit di Gaza Terancam - Dunia  Tempo.co

KESELAMATAN  PASIEN  BAYI

fx. wikan indrarto*)

Hari Keselamatan Pasien Sedunia (World Patient Safety Day) diperingati setiap tahun dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran dan keterlibatan publik, juga untuk mempromosikan keselamatan pasien di fasilitas kesehatan. Tema Hari Keselamatan Pasien Sedunia 2021–2022 adalah membuat perawatan ibu dan bayi baru lahir lebih aman. Apa yang perlu dilakukan untuk bayi?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/03/2020-asi-untuk-bayi-covid-19/

Hari Keselamatan Pasien Bayi Baru Lahir memiliki 5 tujuan. Pertama, mengurangi praktik medis yang tidak perlu dan berbahaya, bagi bayi baru lahir. Kedua, memperkuat kapasitas dan dukungan petugas kesehatan untuk perawatan bayi baru lahir yang aman. Ketiga, mempromosikan persalinan yang aman dan penuh hormat. Keempat, meningkatkan penggunaan obat dan transfusi darah yang aman.

.

Tujuan pertama, yaitu mengurangi praktik yang tidak perlu dan berbahaya bagi bayi baru lahir, didasari data bahwa lebih dari tiga perempat kematian ibu, lebih dari 40% kelahiran mati, dan seperempat kematian neonatus disebabkan oleh komplikasi selama persalinan dan nifas. Di beberapa fasilitas kesehatan justru terlalu sedikit intervensi medis atau terlambat diberikan, kepada ibu bersalin dan bayi baru lahir, sedangkan di tempat lain justru ibu dan bayi baru lahir menerima terlalu banyak intervensi, bahkan juga terlalu cepat. Sebagian besar bayi baru lahir mungkin mengalami penjepitan tali pusat dini, penghisapan ciaran di mulut dan hidung secara rutin atau berlebihan, dan pemisahan dari ibu segera setelah lahir tanpa alasan medis kuat.

.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menerbitkan serangkaian rekomendasi tentang perawatan intrapartum untuk terbentuknya pengalaman ibu melahirkan yang positif, agar merawat bayinya dengan penuh kegembiraan. Juga mengharuskan setiap fasilitas kesehatan sepenuhnya mematuhi Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI. Untuk keselamatan bayi baru lahir, tidak dianjurkan menjepit tali pusat lebih awal (sebelum satu menit setelah lahir), tidak boleh melakukan penyedotan cairan di mulut dan hidung pada neonatus, yang lahir dari ibu dengan cairan ketuban bening, dan mampu mulai bernapas sendiri setelah lahir. Selain itu, juga larangan agar tidak secara rutin memisahkan ibu dan bayi setelah lahir.

.

Bayi 50 Hari di Cirebon Sembuh dari Covid-19 | Republika Online

Alasan tujuan kedua, yaitu memperkuat kapasitas dan dukungan bagi petugas kesehatan untuk perawatan ibu dan bayi baru lahir yang aman, adalah bahwa semua tenaga kesehatan, termasuk dokter, bidan dan perawat, memiliki peran penting dalam memberikan perawatan yang aman dan terhormat untuk mencegah kematian ibu dan bayi baru lahir, bahkan juga kelahiran mati. Namun demikian, saat ini sistem kesehatan di seluruh dunia menghadapi kekurangan tenaga kesehatan, terutama perawat dan bidan. Selain itu, distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata antar dan di dalam negara, menambah kesenjangan untuk mencapai target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG).

.

Sedangkan tujuan ketiga, yaitu mempromosikan perawatan penuh hormat untuk persalinan yang aman, dapat dilakukan dengan menetapkan mekanisme identifikasi bayi baru lahir di tempat bersalin, pencatatan sipil, dan akte kelahiran sebagai identitas hukum untuk semua bayi sejak lahir. Selain itu, perlu ditetapkan mekanisme untuk proses ganti rugi pada kasus bayi baru lahir yang mengalami penganiayaan, pelanggaran privasi, kerahasiaan, tindakan medis tanpa persetujuan, dan perawatan yang tidak adil. Juga jaminan agar pasangan ibu-bayi tetap bersama dalam sebuah ruangan atau rawat gabung, agar mampu meningkatkan kesempatan untuk menyusui dan kontak kulit-ke-kulit antara ibu dan bayi setiap saat, terlebih dalam satu jam pertama setelah kelahiran.

.

Perlu juga dipastikan bahwa semua bayi lahir mati dan bayi baru lahir yang meninggal, ditangani dengan penuh hormat. Juga orang tua serta keluarga diperbolehkan untuk mengungkapkan duka cita, dengan cara yang sesuai dengan budaya dan agama masing-masing.

.

Sedangkan tujuan keempat, yaitu meningkatkan penggunaan obat  dan transfusi darah yang aman, disebabkan karena akses keduanya adalah kunci untuk pencegahan dan pengelolaan komplikasi berat, seperti sepsis neonatal. Kesalahan pengobatan pada neonatus, di mana dosis obat harus dihitung berdasarkan berat badan atau usia, merupakan sumber kesalahan utama ketidakamanan. Untuk itu, biasakanlah menggunakan huruf kapital dan jelas dalam mengurangi kesalahan saat memesan dan meresepkan obat. Juga menerapkan langkah untuk mengurangi kesalahan, karena nama dan kemasan obat yang mirip atau terdengar mirip, dan mengurangi kemungkinan kesalahan selama penyimpanan maupun pemberian obat. Jika tersedia, gunakan rekam medis elektronik, sistem peresepan elektronik, dan barcode (kode batang) untuk menyederhanakan pertukaran informasi dan meningkatkan keterbacaan resep dokter.

.

Pastikan ketersediaan obat antidotum seperti nalokson, untuk mengatasi depresi pernapasan bayi baru lahir atau asfiksia neonatus. Menerapkan kebijakan dan protokol rinci, yang menguraikan penggunaan antibiotik yang benar sebagai bagian dari program pengelolaan antibiotik secara rasional. Juga memastikan praktik injeksi yang aman dan penggunaan teknik aseptik saat memberikan obat secara suntikan atau parenteral, dan transfusi darah pada bayi baru lahir.

.

Tujuan kelima adalah melaporkan dan menganalisis insiden keselamatan dalam persalinan, didasari oleh data bahwa di seluruh dunia, ibu dan bayi baru lahir dapat terpapar bahaya yang dapat dihindari, selama proses persalinan di fasilitas kesehatan, dan beberapa kasus menjadi meninggal atau menderita morbiditas parah yang tidak perlu. Sebagian besar kerugian ini dapat dicegah dengan perawatan berkualitas tinggi, intervensi berbasis bukti yang diberikan selama kehamilan, persalinan dan melahirkan. Sistem pelaporan insiden keselamatan pasien dapat memberikan pembelajaran tentang penyebab bahaya dan tindakan perbaikan, untuk mencegahnya di masa depan. Audit Kematian Maternal dan Perinatal  adalah intervensi penting untuk mengurangi kematian bayi baru lahir yang dapat dihindari.

.

Pandemi COVID-19 telah memicu krisis kesehatan lanjutan yang berdampak buruk pada ibu dan bayi baru lahir, karena terganggunya layanan kesehatan rutin. Momentum Hari Keselamatan Pasien Bayi Baru Lahir menunjukkan betapa pentingnya memperkuat layanan kesehatan dan kebidanan secara rutin, seperti sebelum pandemi COVID-19, demi keselamatan pasien bayi baru lahir di sekitar kita.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 2 Oktober 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
anak antibiotika COVID-19 Healthy Life resisten obat vaksinasi

2021 LIBAS TIFUS

Kenali 6 Gejala Tifus Pada Anak dan Cegah Penyebarannya! - Ibupedia

LIBAS  TIFUS

fx. wikan indrarto*)

Kekebalan bakteri atau resistensi antibiotik adalah fenomena alam yang terjadi ketika bakteri mengembangkan kemampuan untuk mengalahkan obat antibiotika. Penyakit infeksi menjadi lebih sulit dan terkadang tidak mungkin lagi untuk diobati, bahkan menyebabkan biaya perawatan kesehatan yang lebih tinggi. Apa masalahnya?
.

Dalam beberapa dekade terakhir Zimbabwe telah mengalami wabah kolera dan tifus. Demam tifoid atau tipus adalah infeksi bakteri yang sangat menular, bila tanpa pengobatan yang cepat, dapat menyebabkan komplikasi serius dan fatal. Wabah tifus besar dengan lebih dari 3.000 kasus terjadi antara Oktober 2017 dan Februari 2018, disebabkan oleh bakteri Salmonella strain yang telah resisten terhadap obat antibiotik (ciprofloxacin). Wabah tifus di Zimbabwe menyerang kota Harare, Bulawayo dan Gweru, karena praktik kebersihan yang buruk secara kronis, di lingkungan dengan kekurangan pasokan air bersih dan fasilitas sanitasi yang terganggu.


.
baca juga : https://dokterwikan.com/2018/05/28/2018-hapus-tifus/

.

Selanjutnya Zimbabwe kemudian mengalami wabah kolera besar antara September 2018 dan Maret 2019. Kolera adalah infeksi bakteri lain yang menyebabkan diare dan dehidrasi berat, yang dapat berkembang menjadi syok dan kejang. Jika tidak segera diobati, kolera berakibat fatal. Wabah ini disebabkan oleh strain Vibrio cholerae yang ditemukan sangat resisten terhadap hampir semua obat antibiotik. Strain wabah memiliki 14 gen resisten antimikroba tambahan pada plasmid bakteri. Hal ini mendorong pemerintah mengumumkan keadaan darurat. Untuk mengendalikan wabah, dilakukan revisi pedoman pelayanan pasien dari obat antimikroba fluoroquinolone yang lebih murah, yaitu ciprofloxacin, menjadi obat makrolida yang lebih mahal yang disebut azitromisin.

.

Kedua wabah ini membuktikan dalam kehidupan nyata atas konsekuensi peningkatan resistensi antimikroba di Zimbabwe. Terlihat adanya peningkatan biaya perawatan kesehatan, kematian dan morbiditas, dan penurunan produktivitas dan kualitas hidup, karena tifus dan kolera. Perbaikan penyediaan air bersih, sanitasi, dan kebersihan lingkungan, yang disertai dengan promosi kesehatan dan penggunaan antimikroba secara rasional, semuanya dilaksanakan sebagai tindakan pengendalian wabah tipus dan kolera. Untuk mengekang dampak buruk dari wabah tifus, Zimbabwe melakukan kampanye vaksinasi vaksin tifoid Vi-conjugate (TCV) massal dari Februari hingga Maret 2019, di sembilan area pinggiran kota Harare yang terkena dampak parah dari wabah tersebut. Kampanye ini menargetkan anak berusia antara 6 bulan dan 15 tahun pada tahun 2018 hingga 2019. Lebih dari 318.000 dosis vaksin telah diberikan. Selama periode yang sama, lebih dari 1,5 juta orang menerima vaksin kolera di 17 area pinggiran kota Harare, untuk mengelola strainbakteri Vibrio cholerae yang sangat resisten.

Penyakit Tipes Berbeda dengan Penyakit Tifus, Ini Penjelasannya

Keberhasilan kampanye vaksinasi darurat sebagai strategi pengendalian wabah berperan penting dalam memasukkan vaksin tifus TCV ke dalam jadwal rutin vaksinasi nasional Zimbabwe. Untuk memberikan lebih banyak bukti ilmiah tentang dampak vaksin pada resistensi antimikroba, Kementerian Kesehatan Zimbabwe akan melakukan studi potong lintang selama 2 tahun, untuk menilai peribahan pola konsumsi antibiotik yang diresepkan untuk kasus tifus sebelum dan setelah memasukkan imunisasi tifus TCV ke dalam program rutin. Selanjutnya akan dilakukan pengurutan genom untuk mendeteksi strain bakteri yang bersirkulasi, sebelum dan sesudah imunisasi massal.

.

Vaksin Konjugat Tifus adalah langkah signifikan untuk mengatasi tingginya tingkat penyakit tipus pada anak di Zimbabwe, dan pemerintah Zimbabwe layak mendapat pujian karena berhasil memasukkannya ke dalam program imunisasi rutinnya. Selain itu, data ini juga menunjukkan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan investasi dalam memperkuat infrastruktur kebersihan lingkungan. Ini akan menjadi solusi yang lebih berkelanjutan untuk mencegah wabah penyakit seperti kolera dan tipus. Data tersebut juga menggambarkan sifat lintas sektor dalam mengatasi resistensi antimikroba, yaitu perlunya memperkuat perbaikan sanitasi lingkungan dan meningkatkan cakupan imunisasi rutin.

.

Vaksin tifus pertama dikembangkan pada tahun 1896 oleh Almroth Edward Wright, Richard Pfeiffer, dan Wilhelm Kolle. Vaksin tifus yang ada di Indonesia ada 2 macam, yaitu vaksin polisakarida Vi capsular yang disuntikkan, misalnya Typhim VI (Sanofi Pasteur) atau Typherix (GSK), dan vaksin oral Ty21a, misalnya Vivotif (PaxVax) yang ditelan.

.

Gejala Tipes, Penyakit Tipes, Pengobatan Sakit Tipes: Ini yang Perlu Kamu  Tahu! - Cermati.com

Di Indonesia hasil penelitian pemberian Vaksin Vi-DT atau vaksin konjugat tifus, seperti yang digunakan di Zimbabwe memberikan harapan baru bagi pencegahan demam tifoid pada anak. Penelitian yang dilakukan FKUI Jakarta pada Oktober 2020 menemukan fakta bahwa, vaksin ini aman dan efektif diberikan bagi anak berusia 6 bulan sampai 2 tahun dan 2-11 tahun. Selain itu, vaksin Vi-DT terbukti dapat meningkatkan titer antibodi 28 hari pasca vaksinasi sebesar 4 kali lipat atau lebih. Hal ini tentu sangat bermanfaat, apalagi mengingat belum ada vaksin tifus berlisensi di Indonesia untuk anak di bawah usia 2 tahun.

.

Untuk melawan resistensi antibiotik, kita harus menggunakan semua hal yang mungkin. Pelajaran dari Zimbabwe menunjukkan bahwa tidak ada peluru ajaib tunggal (single magic bullet), tetapi vaksin adalah salah satu peluru itu. Vaksin adalah alat yang efektif untuk mengurangi jumlah penyakit menular, sehingga secara langsung juga mengurangi kebutuhan penggunaan antibiotik secara luas. Dengan demikian, vaksin juga mampu mencegah munculnya resistensi bakteri terhadap antibiotik, karena perbaikan kesehatan lingkuangan mahal dan dapat memakan waktu puluhan tahun untuk diterapkan, dalam perang besar melibas tifus.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 17 September 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
anak Healthy Life resisten obat tuberkulosis

2021 Obat TB Baru untuk Anak

Waspadai Tuberkulosis pada Anak, Inilah Upaya Pencegahannya!

OBAT TB  BARU  UNTUK  ANAK

fx. wikan indrarto*)

Pada hari Kamis, 26 Agustus 2021 Program Tuberkulosis Global Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan pembaruan penting untuk pedoman pengelolaan tuberkulosis (TB) pada anak dan remaja. Ini termasuk rekomendasi baru tentang pilihan cara diagnostik, rejimen pengobatan, serta algoritme keputusan pengobatan dan model perawatan yang optimal untuk pemberian layanan TB anak dan remaja. Apa yang baru?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/03/30/2020-pencegahan-tbc/

.

Tuberkulosis pada anak dan remaja telah diabaikan selama bertahun-tahun, tercermin dalam kesenjangan besar dalam akses ke layanan pencegahan dan pengobatan TB. Untuk itu pedoman diagnosis, pengobatan, pencegahan dan perawatan untuk anak dan remaja dengan TB telah disusun  berdasarkan bukti ilmiah terbaru.

.

Pembaruan utama termasuk 5 buah rekomendasi. Pertama, pada anak di bawah 10 tahun dengan tanda dan gejala TB paru direkomendasikan untuk penggunaan Xpert MTB/RIF Ultra pada aspirasi lambung atau spesimen tinja sebagai uji diagnostik awal TB. Selain itu, juga dapat digunakan untuk deteksi resistensi bakteri terhadap obat rifampisin. Kedua, pada anak dan remaja di bawah 16 tahun dengan TB tidak parah   yang diduga rentandengan obat (presumed drug-susceptible TB), direkomendasikan untuk menggunakan rejimen pengobatan lebih pendek, yaitu 4 bulan (2HRZ(E)/2HR), dan tidak lagi menggunakan rejimen obat standar selama 6 bulan (2HRZ(E)/4HR).

.

BAGAIMANA DIAGNOSIS TUBERKULOSIS PADA ANAK? - Berita | Kalimantan Barat

Memperpendek pengobatan pada anak dan remaja dengan tuberkulosis tidak berat, sebaiknya dilakukan. Bukti dari uji klinis SHINE (Shorter Treatment for Minimal Tuberculosis in Children) atau Pengobatan Singkat untuk Tuberkulosis Minimal pada Anak, berupa pemendekan pengobatan pada anak dengan TB tidak parah, bergejala, diduga rentan terhadap obat, dan hasil BTA-negatif, telah dilakukan di Uganda, Zambia, Afrika Selatan, dan India. Anak berusia di bawah 16 tahun diacak untuk menjalani pengobatan anti-tuberkulosis lini pertama standar selama 16 versus 24 minggu, menggunakan formulasi kombinasi dosis tetap yang direkomendasikan WHO untuk anak. Hasil efikasi utama penelitian tersebut adalah kematian pada 72 minggu terapi, kegagalan pengobatan, dan putus obat. Sedangkan aspek keamanan obat yang utama adalah efek samping obat. Penelitian mampu membuktikan bahwa rejimen pengobatan jangka pendeka selama 4 bulan tidak lebih buruk dibandingkan rejimen 6 bulan, untuk anak yang diobati untuk TB BTA-negatif yang tidak parah, dan dianggap rentan terhadap obat.

.

Ketiga, untuk anak dengan MDR/RR-TB segala usia direkomendasikan untuk menggunakan obat TB baru yaitu bedaquiline, sebagai bagian dari rejimen obat yang lebih pendek (direkomendasikan secara kondisional oleh WHO pada tahun 2020) atau sebagai bagian dari rejimen pengobatan yang lebih lama. Keempat, rekomendasi untuk menggunakan delamanid sebagai bagian dari rejimen pengobatan yang lebih lama, untuk anak dengan MDR/RR-TB segala usia. Keempat, pada anak dengan MDR/RR-TB segala usia obat bedaquiline dapat digunakan sebagai bagian dari rejimen obat yang lebih pendek (direkomendasikan secara kondisional oleh WHO pada 2020) atau sebagai bagian dari rejimen pengobatan yang lebih lama. Obat delamanid dapat digunakan sebagai bagian dari rejimen pengobatan yang lebih lama.

.

Kelima, pada anak dan remaja dengan meningitis TB yang dikonfirmasi secara mikrobiologis atau didiagnosis secara klinis, dianggap rentan terhadap obat, rejimen intensif 6 bulan yang terdiri dari 6HRZEto (isoniazid, rifampisin, pirazinamid dan ethionamide) dapat digunakan sebagai pilihan alternatif, meskipun WHO sebelumnya merekomendasikan rejimen 12 bulan terdiri dari 2HRZE/10HR. Keenam, dalam wilayah dengan beban TB yang tinggi, layanan terpadu yang terdesentralisasi dan berpusat pada keluarga sebaiknya dilaksanakan untuk meningkatkan deteksi kasus TB dan pemanfaatan pengobatan pencegahan TB.

.

Rekomendasi baru ini disebut komunikasi cepat (rapid communication) bertujuan untuk menginformasikan secara cepat dan luas dari kementerian kesehatan dan penyedia layanan di sektor publik dan swasta, mitra teknis dan pemangku kepentingan lainnya. Tujuannya adalah pertimbangan dan perubahan terkait dengan diagnosis, pengobatan dan perawatan TB untuk anak dan remaja, agar dapat diterapkan dengan perencanaan rinci di tingkat nasional, sebelum rilis pedoman yang diperbarui dan buku pegangan operasional terkait.

Mengenal Tuberkulosis TB Pada Anak, Ciri dan Gejala | Dunia Biza

Rekomendasi yang lebih terperinci akan diterbitkan dalam beberapa bulan mendatang, di samping buku pegangan operasional pelengkap, yang akan berisi panduan implementasi. Rekomendasi di atas didasarkan pada hasil pertemuan kelompok khusus (Guideline Development Group) pada Mei-Juni 2021 dengan topik pengelolaan TB pada anak dan remaja.

.

Rekomendasi diagnosis dan pengobatan TB untuk anak terbaru tersebut, ditujukan untuk mencapai target TB global dalam SDG 2016-2030 dengan semboyan “Find. Treat. All. #EndTB.” Inisiatif ini bertujuan untuk mempercepat pembasmian TB dengan memastikan tidak ada anak yang tertinggal (to ensure no one is left behind).

 Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 3 September 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Rekomendasi WHO tersebut dapat dilihat pada :

https://www.who.int/publications/i/item/9789240033450
wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?