Categories
anak antibiotika COVID-19 dokter Healthy Life UHC

2021 Kesehatan Digital

Informasi Kesehatan Digital Harus Berkredibilitas - Info Sehat  Klikdokter.com

KESEHATAN  DIGITAL

fx. wikan indrarto*)

Catatan : dimuat di Kompas Media

https://www.kompas.id/baca/opini/2021/09/25/menyongsong-era-kesehatan-digital/

Setelah pandemi COVID-19 usai, para dokter akan lebih fokus pada layanan kesehatan digital atau telemedicine. Para dokter akan berusaha untuk membuat layanan inovasi untuk pencegahan, diagnosis dan pengobatan penyakit secara digital, yang mulai saat ini dianggap lebih aspiratif dan futuristik. Apa yang menarik?

.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kesehatan digital, atau penggunaan teknologi digital untuk kesehatan, sebagai bidang praktik dokter yang lebih banyak menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, secara rutin dan inovatif untuk memenuhi kebutuhan kesehatan. Kesehatan digital atau eHealth adalah bidang yang baru muncul, penggabungan ilmu kedokteran dengan ilmu komputasi tingkat lanjut dalam data, genomik, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence).

.

Banyak dokter, termasuk dokter berbagai spesialis telah memanfaatkan keunggulan layanan kesehatan digital selama pandemi COVID-19 dan krisis kesehatan ini, bahkan lebih sering tidak seperti sebelumnya. Bentuknya berupa konsultasi video, telemonitoring, dan penggunaan kecerdasan buatan, karena kunjungan pasien ke rumah sakit dan klinik praktek dokter telah dibatasi di seluruh dunia. Teknologi ini sangat membantu dalam memberikan layanan kesehatan penting bagi para pasien. Namun demikian, ternyata ada banyak masalah baru, misalnya kesehatan digital dan virtual mungkin dapat memperparah ketidaksetaraan kesehatan (health inequalities), dan tidak semua orang di dunia memiliki ponsel cerdas atau sambungan internet secara memadai.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/01/31/2019-paska-rumah-sakit/

.

Kesehatan digital berpotensi membantu mengatasi masalah teknis layanan dokter, seperti jarak yang jauh dan akses yang sulit, tetapi tetap saja masih memiliki berbagai tantangan mendasar. Contoh kendala yang dihadapi dalam sistem kesehatan secara umum, misalnya tata kelola medis yang menurun, pelatihan dokter yang tidak memadai, dan keterbatasan infrastruktur teknologi informasi, misalnya akses internet yang buruk atau peralatan digital versi terdahulu yang masih digunakan.

Kendala tersebut perlu dipertimbangan dan diperhatikan, selain karena persyaratan spesifik yang dibutuhkan untuk layanan kesehatan digital lebih rumit, juga seharusnya berada dalam sistem kesehatan yang lebih luas dan lingkungan pendukung yang memadai. Untuk itu beberapa rekomendasi perlu dicermati, misalnya untuk para manajer sistem kesehatan, perlu rutin mengecek notifikasi digital yang bertujuan untuk mendorong ketersediaan di berbagai titik layanan. Dari perspektif pasien, layanan ini akan membantu untuk mengakses informasi dan layanan kesehatan dengan lebih cepat ke penyedia telemedicine. Begitu pula kebutuhan dan kompetensi tenaga dokter agar dapat terus ditingkatkan untuk memenuhi praktik yang berkualitas tinggi, melalui intervensi seperti pelatihan atau mLearning.

.

Implementasi kesehatan digital bergantung pada sejumlah faktor, dan keberhasilannya sering kali dipengaruhi oleh faktor intrinsik berupa desain program digital, serta faktor eksternal yaitu pendukung teknologi informasi. Keberhasilan implementasi intervensi kesehatan digital secara luas didasarkan pada komponen penting berikut. Perama, konten dan informasi kesehatan yang baik, menarik, dan akurat, misalnya pedoman  layanan kesehatan atau praktik dokter berbasis bukti. Kedua, intervensi kesehatan digital sesuai kebutuhan pasien. Ketiga, aplikasi digital lengkap yang memfasilitasi penyampaian intervensi medis secara digital. Dapat juga dikombinasikan dengan konten edukasi bidang kesehatan, misalnya pesan teks, atau aplikasi telepon pintar. Keempat, teknologi informasi dan lingkungan pendukung, misalnya tata kelola, infrastruktur, undang-undang dan kebijakan, tenaga kerja yang ahli, interoperabilitas dan arsitektur digital.

.

Inilah Manfaat Dari Platform Kesehatan Digital Bagi Keluarga di Aplikasi  SehatQ.com - GrosirBersama.co.id

Layanan digital oleh dokter akan membuat bangsal perawatan pasien di RS yang saat ini dipenuhi pasien dengan gangguan satu atau lebih sistem organ, kelak diprediksi justru hanya akan digunakan untuk proses diagnosis dan perawatan sementara saja. Sebuah perangkat pemindaian digital tunggal hasil dari kecerdasan buatan (artificial intelligence), kelak tentu akan mampu memberikan gambaran detail aspek metabolik, fungsional, dan struktural organ pasien, karena mampu menggabungkan fisika spektroskopi, resonansi magnetik, dan radiasi. Dengan demikian, kelak dokter hanya perlu satu tindakan pemindaian digital, dan tidak memerlukan sebuah tindakan invasif yang menyakitkan pasien, seperti operasi biopsi jaringan.

.

Kelak dokter juga tidak perlu lagi mempertimbangkan obat apa yang harus diresepkan untuk pasien dan kemudian apoteker yang memberikannya. Perangkat seluler dokter akan menerima informasi yang diperlukan untuk meramu obat, probiotik dan diet khusus, dari ruang penyimpanan data pasien. Selanjutnya, akan tersedia obat sesuai permintaan dokter, yang akan berlangsung bahkan dalam beberapa menit saja.

Sekarang RS dan dokter wajib memberikan layanan kepada pasien dengan memberikan informasi diagnostik yang paling akurat, intervensi yang paling tidak invasif, dan terapi teraman yang tersedia. Ke depan, pasien secara mandiri akan memiliki informasi yang serupa, sehingga cukup melakukan diskusi singkat dengan dokter secara sepadan.

Saat ini beban global penyakit sebagian besar dalam aspek pembuluh darah atau vaskular, dengan serangan jantung dan stroke menjadi penyebab kematian pasien yang terbesar di dunia. Pada hal, keduanya sebentar lagi dapat dicegah dengan pemahaman pasien yang lebih baik, dengan melakukan koreksi atas faktor risiko dalam bimbingan dokter secara digital. Kejadian cidera traumatis juga turun dan akan terus menurun, saat tersedianya mobil tanpa pengemudi dan pekerja robot telah diciptakan untuk menggantikan tugas manusia yang berisiko.

.

Teknologi kedokteran digital telah tersedia, sehingga sekarang diperlukan definisi ulang (reshape) hubungan dokter dengan pasien secara digital. Oleh sebab itu, sebaiknya para dokter melatih diri agar profesional secara digital, juga mengadvokasi organisasi profesi, pemerintah, penjamin biaya pasien seperti asuransi atau BPJS Kesehatan, dan kelompok lain untuk memulai penggunaan teknologi digital ini. Tetunya agar lebih banyak pasien tetap dapat tinggal di rumah, dalam program jaga jarak atau ‘social distancing’, meskipun pemberantasan pandemi COVID-19 sudah akan terlewati.

Sudahkah kita siap menjadi dokter digital sesudah pandemi COVID-19?

Sekian

Yogyakarta, 14 September 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
COVID-19 dokter Healthy Life UHC

2021 BIAYA KESEHATAN DIGITAL

INTI dan AdMedika Kembangkan Layanan Kesehatan Digital - Regional  Liputan6.com

BIAYA  KESEHATAN  DIGITAL

fx. wikan indrarto*)


Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 12 September 2021, halaman 5.

Inovasi digital untuk layanan kesehatan dan pencegahan penyakit  telah berkembang pesat selama dekade terakhir, di hampir semua negara. Namun demikian, penggunaan teknologi digital dan perannya dalam penghematan pembiayaan kesehatan, dan implikasinya terhadap transformasi sistem kesehatan, kurang banyak diketahui. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/11/12/2019-sehat-era-digital/

.

Teknologi digital meliputi aplikasi telepon seluler, platform web interaksi 2 arah, blockchain, analitik data besar, dan kecerdasan buatan termasuk mesin robotik. Idealnya teknologi digital untuk pembiayaan kesehatan harus berkontribusi pada terjadinya penjaminan layanan kesehatan semesta atau ‘Universal Heath Couverage’ (UHC). Untuk mencapai kemajuan menuju UHC, teknologi digital harus mendukung pencapaian prinsip pembiayaan kesehatan dan tujuan yang diinginkan, yaitu sebagian besar biaya layanan kesehatan berasal dari sumber keuangan negara atau publik, sehingga dapat mengurangi pengeluaran pribadi warga negara. Selain itu, juga memperluas pendanaan prabayar seperti polis asuransi dan membuat anggaran pembelian obat dan alat kesehatan menjadi lebih strategis. Namun demikian, teknologi digital dapat menimbulkan risiko pemborosan bagi pembiayaan kesehatan dan bahkan penerapan teknologi digital menghadapi berbagai tantangan, yang dapat merugikan dalam penyerapan pembiayaan kesehatan.

.

Aplikasi pada telepon seluler idealnya dapat digunakan untuk pembayaran premi asuransi kesehatan, sebagai bagian dari ‘mobile wallet services’ (mobile money). Mekanisme ini secara substansial mengurangi biaya administrasi oleh individu dan instansi, seperti yang telah dilakukan di Rwanda, Afrika. Contoh lainnya adalah di Kenya berupa ‘Mpesa programme’ atau ‘M-Tiba’s partnership’ dengan Dana Asuransi Kesehatan Nasional yang melibatkan beberapa ratus ribu anggota, saat membayar premi asuransi kesehatan mereka.

.

Ada juga aplikasi telepon seluler untuk memungut pajak, termasuk komponen pajak untuk layanan kesehatan, sehingga berkontribusi pada pembayaran pajak yang tepat waktu dan pengurangan biaya operasional staf pajak dan warga seperti di Rwanda. Proyek percontohan untuk pemungutan pajak melalui SMS sedang berlangsung di Zambia. Selain itu, aplikasi telepon seluler digunakan untuk pengingat pendaftaran ulang saat akan periksa di RS seperti di Ghana.

.

Ikon Teknologi Layanan Kesehatan Digital Ilustrasi Stok - Unduh Gambar  Sekarang - iStock

Apalagi saat teknologi digital dengan melibatkan berbagai kementerian atau sektor yang berbeda, tentu semakin dapat meningkatkan manfaat dalam program jaminan kesehatan. Salah satu titik masuknya adalah data catatan sipil digital, seperti yang awalnya hanya ada di India dengan ‘open source system’ yang diimplementasikan bertahap secara meluas, ke sejumlah negara lainnya. Sistem informasi manajemen keuangan terintegrasi dapat membantu meningkatkan kualitas dan kesesuaian data, bahkan dapat juga dalam bentuk visualisasi penggunaan dana melalui aplikasi. Dengan demikian, tentu dapat berkontribusi pada perbaikan manajemen keuangan masyarakat, bahkan peningkatan transparansi, dan akuntabilitas dana.

.

Berbagai macam aplikasi teknologi digital tampaknya berpotensi bermanfaat bagi pembiayaan kesehatan, berkontribusi untuk mencapai tujuan UHC, dan terutama meningkatkan akses ke layanan kesehatan. Seharusnya teknologi digital tidak hanya mampu meningkatkan akses informasi untuk warga negara dan pasien, tetapi juga dapat membantu penyedia, pembeli, dan pembuat kebijakan kesehatan, dalam aspek transparansi, akuntabilitas dan kepercayaan. Hal itu juga dapat membantu mengurangi biaya administrasi, sehingga berkontribusi pada efisiensi.

.

Pemerintah, khususnya kementerian  kesehatan, dapat mengambil berbagai tindakan untuk mendapatkan manfaat dan meminimalkan risiko. Sebagai langkah pertama, sebelum penerapan pembiayaan kesehatan dan penggunaan teknologi digital, perlu melihat pengalaman di negara lain. Strategi ini untuk melihat tentang teknis teknologi digital dalam mendukung pembiayaan kesehatan, terkait manfaat dan kendala yang telah dapat diatasi. Juga peran dan tanggung jawab berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam perancangan dan implementasi teknologi digital untuk, pembiayaan kesehatan.

.

Kedua, mencermati peluang, mengantisipasi risiko, dan mengatasi tantangan terkait kapasitas dan keterampilan di bidang teknologi digital untuk pembiayaan kesehatan. Selain itu, juga regulasi untuk menangani masalah dalam aspek hukum dan etis, termasuk keamanan data dan perlindungan data privasi seseorang. Ketiga, komunitas global  mendukung investasi dalam tata kelola dan penguatan kapasitas pemerintah, dalam memanfaatkan keunggulan teknologi digital untuk pembiayaan kesehatan. Dengan melibatkan semua pemangku kepentingan dan dialog terbuka agar perbedaan pendapat dapat diatasi, sebagai sebuah proses pembelajaran bersama, tentang teknologi digital yang mendukung pembiayaan kesehatan untuk mencapai UHC.

.

Paradoks Aplikasi Kesehatan Digital: Bertumbuh dengan Nyaman, Apakah Data  Kesehatan Sudah Tentu Aman? Halaman 1 - Kompasiana.com

Aplikasi pedulilindungi dan p-care yang merupakan teknologi digital bidang kesehatan kini telah diterapkan di Indonesia, khususnya dalam layanan vaksinasi dan pemeriksaan laboratorium untuk COVID-19, layak dievaluasi berulang dan disempurnakan secara periodik. Meskipun keduanya mungkin belum terintegrasi dengan sistem pembiayaan layanan kesehatan di Indonesia, tetapi dapat terus dikembangkan dalam mendukung inovasi layanan kesehatan, pencegahan penyakit, dan pencapaian UHC di tanah air.

Sudahkah kita bertindak digital?

Sekian

Yogyakarta, 24 Agustus 2021

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

https://cdn.who.int/media/docs/default-source/health-financing/digital-technologies-for-health-financing.pdf?sfvrsn=a233a8a8_22

Categories
COVID-19 dokter Healthy Life UHC vaksinasi

2021 Digitalisasi COVID-19

AP II Lakukan Uji Coba Digitalisasi Dokumen Kesehatan di 17 Bandara Kelolaan

DIGITALISASI  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Sertifikat vaksinasi COVID-19 adalah hal baru, sebagai dokumen kesehatan yang mencatat pemberian vaksinasi COVID-19. Sebelum ini catatan vaksinasi berbentuk kartu kertas, yang berisi rincian data penting termasuk tanggal, produk, dan nomor batch vaksin yang diberikan. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/10/03/2020-infodemik-covid-19/

.

Dokumentasi Digital Sertifikat COVID-19 dirancang sebagai mekanisme, di mana data kesehatan seseorang terkait COVID-19, dapat didokumentasikan secara digital melalui sertifikat elektronik. Sertifikat tersebut dapat digunakan sebagai catatan atau pengganti kartu vaksinasi berbasis kertas. Data ini akan mempu memberikan informasi kepada penyedia layanan kesehatan tentang status vaksinasi individu, memberikan dasar bagi petugas kesehatan untuk menawarkan dosis berikutnya dan atau bentuk layanan kesehatan yang sesuai, sebagaimana mestinya. Dalam beberapa kasus, kartu vaksinasi juga digunakan untuk memfasilitasi perjalanan internasional, seperti selama ini sudah berlaku dalam kasus demam kuning, di mana sertifikat vaksinasi mungkin diperlukan oleh beberapa negara sebagai syarat masuk.

.

Secara historis, catatan vaksinasi berbasis kertas telah menimbulkan banyak persoalan dan tantangan. Misalnya kemungkinan kehilangan atau kerusakan kartu, atau bahkan kemungkinan penipuan. Solusi digital yang diusulkan dirancang untuk mengatasi tantangan ini, meskipun kebocoran data digital tetap masih mengancam, bahkan sudah terbukti terjadi di Indonesia.

.

Jagat maya minggu terakhir Agustus 2021 heboh, mengenai sertifikat vaksin COVID-19 kedua milik Presiden RI Joko Widodo yang beredar di twitter. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai keamanan data yang tersimpan di aplikasi PeduliLindungi. Informasi yang beredar di twitter tersebut menunjukkan Jokowi telah menerima vaksin COVID-19 dosis kedua pada 27 Januari 2021, menggunakan vaksin Sinovac.

Digitalisasi Surat Tes Covid-19 - PORTONEWS

Terkait hal tersebut, Kementerian Kesehatan, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI memberikan tanggapannya pada Sabtu, 4 September 2021. Pertama, akses terhadap sertifikat vaksinasi COVID-19 tersebut dilakukan menggunakan fitur pemeriksaan sertifikat nasional pada aplikasi PeduliLindungi. Kedua, regulasi sebelumnya mensyaratkan pengguna aplikasi PeduliLindungi menyertakan nomor handphone. Namun demikian, selanjutnya ada perubahan dengan hanya menggunakan 5 parameter yaitu nama, NIK, tanggal lahir, tanggal vaksin dan jenis vaksin. Keputusan penyederhanaan ini dilakukan untuk memudahkan masyarakat mengakses sertifikat vaksin COVID-19, setelah menimbang banyak masukan dari masyarakat, meskipun ternyata terbukti rawan terjadi pencurian data. Ketiga, data NIK dan tanggal vaksinasi milik Presiden Jokowi yang digunakan, bukan berasal dari aplikasi PeduliLindungi. Informasi NIK milik Presiden Jokowi telah tersedia pada situs Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk keperluan Pilpres 2019 lalu. Sementara informasi tanggal vaksin dapat ditemukan dalam pemberitaan di hampir semua media massa.

.

Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh informasi yang tidak terkait dengan aplikasi PeduliLindungi. Diimbau juga agar masyarakat dapat mengunduh dan tetap memanfaatkan aplikasi PeduliLindungi, yang saat ini fiturnya terus dikembangkan untuk mendukung aktivitas masyarakat dalam masa adaptasi pengendalian pandemi COVID-19, termasuk aspek keamanan data sertifikat vaksinasi.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/12/27/2018-vaksin-bukan-mitos/

.

Sertifikat vaksinasi COVID-19 dapat murni digital, misalnya disimpan dalam aplikasi smartphone atau di server berbasis ‘cloud’. Selain menggantikan kebutuhan akan kartu kertas, sistem ini dapat juga berupa representasi digital dari catatan berbasis kertas tradisional. Hubungan antara catatan kertas dan catatan digital dapat dibuat dengan menggunakan pemindai khusus atau ‘barcode’ yang dicetak atau ditempelkan pada kartu vaksinasi yang berupa kertas. Namun demikian, regulasi sertifikat digital tidak boleh mengharuskan setiap individu untuk memiliki smartphone atau komputer.

.

WHO sebenarnya tidak mendukung persyaratan bukti vaksinasi COVID-19 untuk bepergian menggunakan transportasi umum. Namun demikian, dalam beberapa situasi, tergantung pada penilaian risiko negara yang bersangkutan, data tentang vaksinasi COVID-19 dapat digunakan untuk  persyaratan karantina atau testing pada saat kedatangan di suatu negera. Kondisi tersebut bukan tujuan utama dari langkah menuju dokumentasi digital status COVID-19.

.

Pada 27 Agustus 2021, WHO menerbitkan dokumen panduan untuk semua negara tentang persyaratan teknis penerbitan sertifikat digital, untuk data vaksinasi COVID-19. Panduan tersebut merupakan bagian dari rangkaian rencana pendokumenan dan digitalisasi sertifikat ataupun hasil pemeriksaan COVID-19. Pedoman tersebut antara lain menyatakan setiap negara anggota mendapatkan dukungan penuh, dalam mengadopsi alat digital untuk mendokumentasikan secara aman, status vaksinasi COVID-19. Digitalisasi yang aman ini bertujuan untuk perawatan kesehatan yang lebih efektif, berkesinambungan, dan dapat menjadi bukti vaksinasi COVID-19, jika diperlukan untuk tujuan lain.

Apakah kita sudah siap digital?

Sekian

Yogyakarta, 7 September 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
COVID-19 dokter Healthy Life sekolah UHC

2021 Anak Merdeka

Anak-Anak yang Merdeka - Mata Madura

ANAK  MERDEKA

fx. wikan indrarto*)

Proklamasi kemerdekaan Indonesia mengingatkan kita, akan peran negara dalam menciptakan lingkungan bagi anak untuk merdeka dari penjajahan, penyakit, dan eksploitasi, apalagi di masa pandemi COVID-19. Apa yang harus dilakukan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/04/18/2021-kesehatan-anak-paska-pandemi-covid-19/

.

Setengah dari semua anak di dunia, setiap tahun mengalami kekerasan fisik, seksual atau psikologis, menderita luka-luka, cacat dan kematian, karena banyak negara tidak mengikuti strategi yang telah ditetapkan untuk melindungi anak. Hal itu termuat pada ‘Global Status Report on Preventing Violence Against Children’. Angka yang mengejutkan itu bahkan meningkat lebih tinggi selama pandemi COVID-19. Hal ini karena layanan pencegahan dan penanggulangan kekerasan pada anak telah terganggu, terutama pada 1,8 miliar anak yang tinggal di lebih dari 100 negara, termasuk di Indonesia. Begitu juga 1,5 miliar anak yang terkena dampak penutupan sekolah, menjadi kehilangan perlindungan dan dukungan yang sering diberikan oleh institusi sekolah.

.

Semua langkah untuk menahan penyebaran virus COVID-19, bersama dengan kesulitan ekonomi dan stres keluarga, secara bersama menciptakan kondisi ‘badai hebat’ (perfect storm). Mirip dengan ‘badai sitokin’ yang mematikan bagi para pasien COVID-19, ‘badai hebat’ melumat semua anak, terutama anak yang rentan untuk mengalami pelecehan fisik, emosional dan seksual. Terlepas dari adanya manfaat konektivitas digital, ternyata kehidupan yang lebih online untuk belajar, bersosialisasi, dan bermain ‘game’, justru telah secara signifikan meningkatkan keterpaparan anak terhadap kekerasan digital.

.

Hari ini kita berdiri di persimpangan jalan yang kritis bagi anak. Kalau kita tidak bertindak sekarang dan dengan segera, maka kita berisiko kehilangan satu generasi anak akibat dampak penjajahan, kekerasan dan pelecehan jangka panjang yang akan merusak keselamatan, kesehatan, pembelajaran, dan perkembangan anak. Dampak ini dapat berlangsung lebih lama, bahkan mungkin sampai setelah pandemi COVID-19 mereda. Kita tidak boleh membiarkan hal itu terjadi.

.

Saat kita mulai bangkit dari pandemi COVID-19, kita memiliki kesempatan untuk membayangkan kembali dan menciptakan masyarakat yang lebih damai, adil, dan inklusif. Sekarang adalah waktunya untuk melipat gandakan upaya kolektif kita, dan mempercepat aksi untuk tujuan bersama, yaitu membentuk lingkungan baru di mana setiap anak mengalami kemerdekaan.

.

Kita harus menciptakan dunia anak yang merdeka dengan ciri berikut. Pertama, setiap anak dapat tumbuh dan berkembang dengan bermartabat. Kedua, kekerasan dan pelecehan terhadap anak dilarang secara hukum dan tidak dapat diterima secara sosial. Ketiga, hubungan baik antara orang tua dan anak, untuk mencegah kekerasan antargenerasi. Keempat, anak dapat dengan aman memanfaatkan dunia digital untuk belajar, bermain, dan bersosialisasi. Kelima, anak perempuan dan laki-laki setara dalam memperolah kesempatan pendidikan di sekolah dan lingkungan belajar yang aman, peka gender, inklusif dan mendukung. Keenam, aktivitas fisik dan olahraga aman untuk anak. Ketujuh, setiap upaya diprioritaskan untuk melindungi anak yang paling rentan dari segala bentuk kekerasan, eksploitasi dan pelecehan, termasuk mereka yang hidup dalam situasi konflik kemanusiaan dan kesulitan (fragility) lainnya. Dan kedelapan, semua anak dapat mengakses bantuan yang aman dan ramah anak, ketika mereka membutuhkannya.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/03/21/2021-imunitas-anak/

.

Kita semua seharusnya berkomitmen untuk memerdekakan dan mengakhiri kekerasan terhadap anak, dengan mendesak para pemimpin di pemerintahan, sektor swasta, komunitas agama, masyarakat sipil, dan badan olahraga untuk memanfaatkan momentum kemerdekaan ini. Para pemimpin seharusnya memprioritaskan memerdekakan anak dalam kebijakan, perencanaan, anggaran, dan bekerja sama untuk memberikan paling tidak enam tindakan yang mengubah penjajahan menjadi kemerdekaan dan mengakhiri kekerasan terhadap anak.

Yang kurang dari kebijakan 'Merdeka Belajar' Menteri Nadiem: perlunya  libatkan keluarga dan pemerintah daerah

Pertama, melarang segala bentuk kekerasan terhadap anak. Kedua, melengkapi petunjuk teknis bagi orang tua dan pengasuh untuk menjaga anak agar tetap aman. Ketiga, menjadikan konten internet aman untuk anak. Keempat, menjadikan sekolah aman, tanpa kekerasan, dan terbuka atau inklusif. Kelima, melindungi anak dari kekerasan dalam situasi tanggap darurat kemanusiaan dan pandemi COVID-19. Keenam, mengalokasikan lebih banyak investasi atau anggaran yang juga lebih banyak diserap dalam kegiatan. Selain itu, juga mengkoorinasikan peran para tenaga profesional dalam bidang kesehatan, pendidikan, perlindungan anak, dan kemanusiaan, dalam kerja bersama dengan para pemimpin agama, sukarelawan masyarakat, orang tua, dan kaum muda untuk menjaga anak tetap aman.

.

Sasaran 16.2 SDGs, yaitu menghentikan penyalahgunaan, eksploitasi, perdagangan, dan segala bentuk kekerasan dan penyiksaan terhadap anak, harus kita wujudkan. Kita harus melakukan semua yang kita mampu untuk menjaga anak tetap aman selama pandemi COVID-19 saat ini, dan bekerja sama untuk membangun kehidupan normal baru paska pandemi, untuk anak yang merdeka, dan bebas dari segala bentuk kekerasan, pelecehan dan eksploitasi anak.

 Apakah kita sudah bertindak?

Sekian

Yogyakarta, 4 Agustus 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak COVID-19 Healthy Life Pendukung ASI UHC

2021 Pekan Menyusui Sedunia

World Breastfeeding Week (WBW) - World Alliance for Breastfeeding Action

PEKAN  MENYUSUI  SEDUNIA  2021

fx. wikan indrarto*)

Pekan Menyusui Sedunia (The World Breastfeeding Week) 2021 dimulai Minggu, 1 Agustus 2021 dan berakhir pada Sabtu, 7 Agustus 2021. Tema peringatan tahun 2021 adalah Perlindungan Menyusui: Tanggung Jawab Bersama (Protect Breastfeeding: A Shared Responsibility). Perlindungan dan dukungan menyusui individual pada ibu tidaklah cukup, menyusui harus dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat yang membutuhkan investasi di semua tingkatan, mencakup sistem kesehatan, tempat kerja, dan komunitas di semua lapisan masyarakat. Apa yang harus dilakukan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/08/08/2020-konseling-menyusui-eksklusif/

.

Di negara berpenghasilan rendah dan menengah, hanya 37% bayi di bawah usia 6 bulan yang disusui secara eksklusif. Durasi menyusui lebih pendek di negara berpenghasilan tinggi daripada di negara miskin sumber daya. Pada hal meta-analisis menunjukkan menyusui memberikan perlindungan terhadap penyakit infeksi dan maloklusi gigi, mendukung peningkatan kecerdasan, pengurangan kelebihan berat badan dan diabetes pada anak. Selain itu, tidak ditemukan hubungan menyususi dengan alergi seperti asma, dengan tekanan darah tinggi atau peningkatan kadar kolesterol. Bagi ibu menyusui, menyusui memberikan perlindungan terhadap kanker payudara, kanker ovarium dan diabetes mellitus tipe 2, juga meningkatkan jarak kelahiran.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/07/09/2021-ketika-caesar-meningkat/

.

Tingkat menyusui sangat bervariasi, terkait pola hidup sehat yang lebih umum di negara miskin daripada negara kaya. Di negara berpenghasilan rendah, sebagian besar bayi masih disusui pada usia 1 tahun, dibandingkan dengan kurang dari 20% di banyak negara berpenghasilan tinggi dan kurang dari 1% di Inggris. Alasan mengapa wanita menghindari atau berhenti menyusui berkisar dari medis, budaya, dan psikologis, hingga ketidaknyamanan. Hal ini tidak boleh dianggap sepele, karena banyak ibu tanpa dukungan menyusui yang memadai, akan beralih ke susu formula.

.

Dukungan menyusui secara politis dapat berupa ketentuan baru tentang cuti hamil dan menyusui, juga adanya polis asuransi untuk kesulitan menyusui yang diprediksi dapat meningkatkan cakupan menyusui sebesar 25%. Namun demikian, yang lebih penting adalah dukungan komitmen yang tulus dan mendesak dari pemerintah dan otoritas kesehatan di manapun, untuk membangun norma baru di mana setiap ibu dapat menyusui dan mampu menerima setiap dukungan yang dia butuhkan, untuk menyusui bayinya.

.

Peningkatan cakupan pemberian ASI eksklusif global dapat mencegah 823.000 kematian tahunan pada anak balita dan 20.000 kematian wanita tahunan akibat kanker payudara. Selain itu, Lancet pada 30 Januari 2016 juga menyimpulan bahwa menyusui membuat dunia lebih sehat, lebih pintar, dan lebih setara, bahkan terjadi penghematan ekonomi sebesar US$ 300 miliar.  

.

10 reasons why we should celebrate World Breastfeeding Week 2021 Post

Penelitian perilaku ibu menyusui selama masa pandemi COVID-19 di Indonesia oleh tim peneliti ‘Health Collaborative Center’ (HCC) menunjukkan bahwa prevalensi keberhasilan pemberian ASI eksklusif di Indonesia pada tahun 2020 mencapai sebesar 89,4 persen. Dijelaskan oleh Ketua Tim Peneliti, DR. Dr. Ray Wagiu Basrowi bahwa hasil penelitian terbaru ini merupakan suatu keberhasilan yang terjadi di tengah keterbatasan akibat pandemi COVID-19. Pasalnya, pada tahun-tahun sebelum pandemi COVID-19 melanda, Indonesia tergolong negara yang rendah keberhasilan program ASI eksklusif di dunia, dengan prevalensi sekitar 30-50 persen saja secara nasional.

.

Namun demikian, semakin banyak ibu menyusui yang terkonfirmasi COVID-19, dapat menurunkan cakupan pemberian ASI eksklusif, karena kekawatiran ibu untuk menularkan penyakitnya kepada bayi. Dengan slogan ‘Tetap Beri ASI, Anak Terlindungi, Keluarga Sejahtera’, dukungan menyusui saat pandemi COVID-19 diperlukan oleh semua ibu yang positif COVID-19. Ibu perlu diyakinkan bahwa menyusui dan memberikan ASI aman bagi bayi dari risiko penularan COVID-19, asalkan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Ibu harus selalu memakai masker saat menyusui dan merawat bayi, mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang bayi, dan membersihkan dengan cairan disfeksi permukaan dan benda yang sering disentuh ibu dan bayi.

.

Untuk ibu dengan gejala klinis sedang atau berat dan tidak mampu menyusui secara langsung, dapat melakukan pemberian ASI perah (ASIP). Ibu haruslah memastikan kebersihan saat memerah ASI. Gunakan cangkir bermulut lebar untuk memberikan ASIP pada bayi dan gunakan wadah dengan tutup untuk menyimpan ASIP. ASIP dapat disimpan dengan beberapa cara, yaitu di freezer dengan suhu -18 sampai -20 derajat celcius, ASIP dapat bertahan selama 4 bulan. Di lemari pendingin bawah dengan suhu 4 sampai 5 derajat celcius, ASI dapat bertahan 3-4 hari. Di kotak ‘ice pack’ dengan suhu 15 derajat celcius, ASI dapat bertahan selama 24 jam, sedangkan di ruangan dengan suhu kamar, ASI dapat bertahan selama 3-4 jam.

.

Momentum Pekan Menyusui Dunia (World Breastfeeding Week) tanggal 1 hingga 7 Agustus 2021, juga mengingatkan akan pentingnya tanggung jawab kita bersama dalam memberikan Dukungan Menyusui (Protect Breastfeeding) bagi semua ibu, untuk menyusui bayinya secara eksklusif, meskipun ibu terkonfirmasi COVID-19.

Apakah kita sudah bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 28 Juli 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
COVID-19 dokter Healthy Life UHC vaksinasi

2021 Hari Hepatitis Sedunia

HARI  HEPATITIS  SEDUNIA  2021

fx. wikan indrarto*)

Hari Hepatitis Sedunia (World Hepatitis Day) diperingati setiap tahun pada tanggal 28 Juli untuk meningkatkan kesadaran akan virus hepatitis, peradangan hati yang menyebabkan penyakit hati parah dan kanker hepatoseluler. Tanggal 28 Juli dipilih untuk menghormati ulang tahun pemenang hadiah Nobel bidang kedokteran, Profesor Baruch Samuel Blumberg, penemu virus hepatitis B (HBV) dan vaksin hepatitis B pertama. Tema tahun 2021 ini adalah “Hepatitis tidak dapat menunggu” (Hepatitis can’t wait), yang menekankan urgensi upaya yang diperlukan untuk menghilangkan hepatitis sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada tahun 2030. Apa yang harus dilakukan sekarang?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/02/12/2021-tangani-hepatitis-c/

.

Hepatitis A adalah penyakit hati karena infeksi virus Hepatitis A (VHA) yang dapat menyebabkan penyakit ringan hingga berat. HAV ditularkan melalui konsumsi makanan dan air yang terkontaminasi atau melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi. Hampir semua orang pulih dan sehat kembali sepenuhnya dari hepatitis A dengan memiliki kekebalan seumur hidup. Namun, sebagian kecil orang yang terinfeksi hepatitis A dapat meninggal karena hepatitis fulminan. WHO memperkirakan bahwa hepatitis A menyebabkan sekitar 7.134 kematian pada tahun 2016, atau 0,5% dari kematian akibat virus hepatitis. Risiko infeksi hepatitis A dikaitkan dengan kurangnya air bersih, dan sanitasi dan kebersihan yang buruk, seperti tangan kotor. Pasokan air yang aman, keamanan pangan, sanitasi yang lebih baik, cuci tangan dan vaksin hepatitis A adalah cara paling efektif untuk memerangi penyakit ini.

.

Hepatitis B adalah infeksi virus hepatitis B (VHB) yang menyerang hati dan dapat menyebabkan penyakit baik, akut maupun kronis. Virus ini paling sering ditularkan dari ibu ke anak selama kelahiran dan persalinan, serta melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh lainnya, termasuk hubungan seks dengan pasangan yang terinfeksi, penggunaan narkoba suntikan atau paparan instrumen tajam. WHO memperkirakan bahwa pada tahun 2015, terdapat 257 juta orang hidup dengan infeksi hepatitis B kronis, yang didefinisikan sebagai antigen permukaan hepatitis B (HBsAg) positif.

.

Pada tahun 2015, hepatitis B menyebabkan sekitar 887.000 kematian, sebagian besar karena sirosis dan karsinoma hepatoseluler, yaitu kanker hati primer. Pada 2016, sekitar 27 juta orang (10,5% dari semua orang yang diperkirakan hidup dengan hepatitis B) menyadari status infeksi mereka, sementara 4,5 juta (16,7%) orang yang telah didiagnosis sedang dalam pengobatan. Menurut perkiraan WHO terbaru, proporsi anak di bawah lima tahun yang terinfeksi VHB secara kronis turun menjadi hanya di bawah 1% pada 2019, dari sekitar 5% di era pra-vaksin mulai dari 1980-an hingga awal 2000-an. Hepatitis B dapat dicegah dengan vaksin yang aman, tersedia luas dan efektif.

.

Hepatitis C adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus hepatitis C (VHC), dapat menyebabkan hepatitis akut dan kronis, dengan tingkat keparahan mulai dari penyakit ringan yang berlangsung beberapa minggu hingga penyakit serius seumur hidup. Hepatitis C adalah penyebab utama kanker hati. VHC adalah virus yang ditularkan melalui darah, penggunaan narkoba suntikan, praktik injeksi yang tidak aman, perawatan kesehatan yang tidak aman, transfusi darah dan produk darah yang tidak disaring, dan praktik seksual yang tidak sehat. Secara global, diperkirakan 71 juta orang memiliki infeksi virus hepatitis C kronis dan sebagian besar akan berlanjut menjadi sirosis atau kanker hati. WHO memperkirakan pada tahun 2016, sekitar 399.000 orang meninggal karena hepatitis C yang menyebabkan sirosis dan karsinoma hepatoseluler (kanker hati primer). Obat antivirus dapat menyembuhkan lebih dari 95% orang dengan infeksi hepatitis C, sehingga mengurangi risiko kematian akibat sirosis dan kanker hati, tetapi akses ke diagnosis dan pengobatan di banyak tempat masih rendah. Saat ini tidak ada vaksin yang efektif melawan hepatitis C, namun penelitian di bidang ini sedang berlangsung.

.

Obat entecavir untuk hepatisis B kronis tidak lagi memiliki hak paten, sehingga sejak 2017 semua negara berpenghasilan rendah dan menengah telah dapat secara legal mendapatkan entecavir generik. Demikian juga obat tenofovir tidak lagi dilindungi oleh hak paten di mana pun di dunia. Harga rata-rata tenofovir generik yang dipra-kualifikasi WHO di pasar internasional turun dari US $ 208 per tahun menjadi US $ 32 per tahun pada 2016. Hepatitis C dapat disembuhkan dengan pengobatan sederhana selama 2-3 bulan, dengan obat antivirus langsung atau ‘Direct Acting Antiviral’ (DAA). Ada tiga jenis obat DAA yang beredar di Indonesia, yaitu sofosbuvir, simeprevir, dan daclatasvir, sehingga sekarang bukan lagi menggunakan obat kombinasi pegylated interferon dan ribavirin.

.

Pesan peringatan untuk masyarakat global, bahwa orang yang hidup dengan hepatitis sudah tidak sabar lagi menunggu mendapatkan perawatan medis yang menyelamatkan jiwa. Tes dan pengobatan hepatitis B untuk wanita hamil tidak boleh ditunda lagi, untuk mencegah penularan dari ibu ke bayinya. Bayi baru lahir tidak dapat menunggu untuk segera diberikan vaksinasi hepatitis B setelah lahir. Orang dengan hepatitis juga tidak sabar menuntut untuk dilindungi dari stigma dan diskriminasi. Organisasi komunitas penderita hepatitis tidak sabar menunggu adanya investasi yang lebih besar. Pengambil keputusan birokrasi pemerintah tidak boleh menunggu dan harus bertindak sekarang, untuk membuat eliminasi hepatitis menjadi kenyataan melalui kemauan politik dan pendanaan.

Pesan peringatan ‘Hepatitis can’t wait’ untuk pembuat kebijakan dalam pemerintahan adalah agar segera melakukan integrasi eliminasi virus hepatitis dengan layanan kesehatan lainnya, yang harus segera diwujudkan. Mendanai perawatan medis hepatitis juga tidak dapat menunggu dan harus dilakukan sekarang. Selain itu, juga penghapusan tiga jenis penularan infeksi, yaitu HIV, hepatitis B dan sifilis dari ibu ke anak. Memvalidasi upaya eliminasi hepatitis dan cakupan kesehatan semesta atau Universal Health Couverage (UHC) untuk semua orang dengan hepatitis, tidak boleh lagi menunggu dan harus dimulai sekarang untuk menyelamatkan nyawa.

.

Pesan peringatan ‘Hepatitis can’t wait’ untuk para pemimpin negara, yaitu untuk segera menetapkan target eliminasi hepatitis nasional untuk mencapai dunia tanpa virus hepatitis pada tahun 2030. Selain itu, peningkatan layanan hepatitis esensial, yang melibatkan komunitas dalam layanan hepatitis harus bertindak sekarang, untuk membuat eliminasi hepatitis menjadi kenyataan, melalui kemauan politik dan pendanaan.

Dengan satu orang meninggal setiap 30 detik karena penyakit hepatitis saat pandemi COVID-19, kita semua seharusnya tidak sabar lagi untuk bertindak mengalahkan virus hepatitis, bukan hanya virus SARS-CoV2 penyebab COVID-19. Sudahkah kita bertindak cepat?

Sekian

Yogyakarta, 26 Juli 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Alumnus S3 UGM, pengajar di FK UKDW Yogyakarta, WA: 081227280161

Categories
anak dokter Healthy Life HIV-AIDS Pendukung ASI UHC

2021 Metode Kangoro untuk Bayi

Kangaroo Mother Care Technique | Download Scientific Diagram

METODE   KANGURU   UNTUK   BAYI

fx. wikan indrarto*)

Sabtu, 15 Mei 2021 diperingati sebagai Hari Peringatan Kesadaran pada Penerapan Perawatan Metode Kanguru (PMK) untuk Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dan Bayi Prematur. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/11/14/2020-steroid-untuk-bayi-prematur/

.

Perawatan Metode Kanguru (PMK) pertama kali diperkenalkan oleh Ray dan Martinez di Bogota, Kolumbia pada tahun 1979 sebagai cara alternatif perawatan BBLR di tengah tingginya angka BBLR dan terbatasnya fasilitas kesehatan yang ada. Metode ini meniru binatang berkantung kanguru dari Australia, yang bayinya lahir sering prematur, dan setelah lahir disimpan di kantung perut ibunya untuk mencegah kedinginan, sekaligus mendapatkan makanan bergizi berupa air susu induknya.

.

Hakekat PMK adalah kontak kulit-ke-kulit sejak dini, terus menerus dan berkepanjangan antara ibu dan bayi dengan pemberian ASI secara eksklusif, yang telah terbukti menjadi intervensi medis yang efektif dan berbiaya rendah, dalam meningkatkan kelangsungan hidup dan luaran klinis bayi kecil dan sakit. Metode PMK ini telah dibuktikan dapat meningkatkan stabilitas fisiologis, lingkungan yang mendukung secara termal, mengurangi risiko infeksi serius, dan mengurangi kematian bayi prematur, BBLR dan BBLSR (Berat Badan Lahir Sangat Rendah). 

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/09/26/2019-ibu-dan-bayi-lebih-banyak-hidup/

.

Namun demikian, cakupan PMK global di seluruh populasi tetap rendah selama beberapa dekade dan peningkatan skala penerapannya sangat sulit diukur. Hanya sebagian kecil bayi kecil dan sakit yang mendapat manfaat dari PMK, telah menerimanya. Pada 10 Desember 2020 penerapkan PMK dapat meningkat dari mendekati 0% menjadi lebih dari 40% setelah satu tahun pendampingan dari Kementrian Kesehatan setempat, di tiga distrik di India dan 4 wilayah di Ethiopia.

.

Kangaroo care - Wikipedia

Melalui pelatihan tenaga kesehatan, kebijakan yang kondusif dan peningkatan infrastruktur, target global adalah memastikan PMK diberikan kepada setidaknya 80% bayi BBLR di seluruh dunia. Meskipun jumlah kematian bayi baru lahir secara global menurun dari 5 juta pada tahun 1990 menjadi 2,4 juta pada tahun 2019, tetapi banyak bayi masih menghadapi risiko kematian terbesar dalam 28 hari pertama mereka. Pada 2019, sekitar 47% dari semua kematian balita terjadi pada periode baru lahir dengan sekitar sepertiganya meninggal pada hari kelahiran dan hampir tiga perempat meninggal dalam minggu pertama kehidupan. Bayi yang meninggal dalam 28 hari pertama kelahiran, biasanya menderita penyakit yang terkait dengan kurangnya layanan medis berkualitas saat lahir, atau perawatan segera setelah lahir, dan pada hari-hari pertama kehidupan bayi.

.

Pada tahun 2019 terdapat 10 negara teratas dengan jumlah tertinggi (dalam ribuan) kematian bayi baru lahir, yaitu India (522), Nigeria (270), Pakistan (248), Etiopia (99), Kongo (97), Cina (64), Indonesia (60), Bangladesh (56), Afganistan (43), dan Tanzania (43). Perawatan bayi baru lahir yang penting adalah perlindungan dari kedinginan, misalnya dengan PMK untuk terjadinya kontak kulit-ke-kulit antara ibu dan bayi, pemberian ASI dini dan eksklusif, serta perawatan tali pusat dan kulit bayi secara higienis. Selain itu, penilaian masalah kesehatan yang serius atau membutuhkan perawatan tambahan, misalnya bayi BBLR, bayi sakit atau lahir dari ibu yang terinfeksi HIV. Kemudian juga tindakan pencegahan, misalnya imunisasi BCG dan Hepatitis B, injeksi vitamin K dan infeksi mata. Semua intervensi medis tersebut sangat berperan dalam menekan angka kematian bayi.

.

PMK merupakan alternatif pengganti inkubator dalam perawatan BBLR, merupakan cara yang efektif untuk memenuhi kebutuhan bayi yang paling mendasar, yaitu adanya kontak kulit bayi ke kulit ibu, dimana tubuh ibu akan menjadi thermoregulator bagi bayinya, sehingga bayi mendapatkan kehangatan (menghindari bayi dari hipotermia). Selain itu, PMK memudahkan pemberian ASI dini dan eksklusif, perlindungan dari infeksi, stimulasi, keselamatan, dan kasih sayang. PMK dapat meningkatkan hubungan istimewa antara ibu dan bayi, serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi.

.

PMK terdiri dari 4 komponen, yaitu ‘position’, ‘nutrition’, ‘support’ and ‘discharge’. PMK menempatkan bayi pada posisi tegak di dada ibunya, di antara kedua payudara ibu, dan tanpa busana. Bayi dibiarkan telanjang hanya mengenakan popok, kaus kaki dan topi sehingga terjadi kontak kulit bayi dan kulit ibu seluas mungkin. Posisi bayi diamankan dengan kain panjang atau pengikat lainnya. Kepala bayi dipalingkan ke sisi kanan atau kiri, dengan posisi sedikit tengadah (ekstensi). Ujung pengikat tepat berada di bawah kuping bayi. Posisi kepala bayi seperti ini bertujuan untuk menjaga agar saluran napas tetap terbuka, dan memberi peluang agar terjadi kontak mata antara ibu dan bayi.

.

Kanguru nutrisi merupakan salah satu manfaat PMK, yaitu meningkatkan pemberian ASI secara langsung maupun dengan pemberian ASI perah. Bayi dengan PMK selalu berada di dekat payudara ibu, menempel dan terjadi kontak kulit ke kulit, sehingga bayi dapat menyusu setiap kali ia inginkan. Selain itu, ibu dapat dengan mudah merasakan tanda bahwa bayinya mulai lapar, seperti adanya gerakan pada mulut bayi, munculnya hisapan kecil, serta adanya gerakan bayi untuk mencari puting susu ibu. Bila telah terbiasa melakukan PMK, ibu dapat dengan mudah memberikan ASI tanpa harus mengeluarkan bayi dari baju kangurunya.

.

‘Kangaroo support’ merupakan bentuk bantuan secara fisik maupun emosi, baik dari tenaga kesehatan di mana bayi lahir, ibu lain yang telah melakukan PMK maupun keluarga, agar ibu dapat melakukan PMK untuk bayinya. Sedangkan ‘kangaroo discharge’ adalah membiasakan ibu melakukan PMK selama di RS, sehingga pada saat ibu pulang dengan bayi, ibu tetap dapat melakukan PMK bahkan melanjutkannya di rumah. Metode PMK ini merupakan salah satu teknologi tepat guna yang sederhana, murah, dan dapat digunakan apabila fasilitas untuk perawatan BBLR sangat terbatas.

.

Momentum  ‘International Kangaroo Mother Care Awareness Day’ pada Sabtu, 15 Mei 2021 mengingatkan kita untuk mendukung penerapan PMK pada bayi BBLR dan prematur di seluruh dunia. Inisiatif ini bertujuan untuk mempercepat penurunan angka kematian bayi, dengan memastikan tidak ada seorang bayipun yang tertinggal (to ensure no one is left behind), termasuk semua bayi di sekitar kita.

 Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 3 Mei 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
anak COVID-19 Healthy Life UHC

2021 HP DAN ASMA

Kemenkes RI on Twitter: "Hari Asma Sedunia diperingati setiap hari Selasa  di minggu pertama bulan Mei. Peringatan ini sebagai upaya untuk  meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap penyakit Asma. Semoga berkah  kesehatan selalu

ASMA  DALAM  HP

fx. wikan indrarto*)

Hari Asma Sedunia pada Rabu, 5 Mei 2021 diselenggarakan oleh the Global Initiative for Asthma (GINA) sejak tahun 1993, yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran akan penyakit asma di seluruh dunia. Tema Hari Asma Sedunia tahun 2021 ini adalah “Mengungkap Kesalahpahaman Asma” (Uncovering Asthma Misconceptions). Apa yang salah dipahami?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/06/02/2019-bebas-asma-saat-lebaran/

.

Asma adalah masalah utama kesehatan masyarakat karena diperkirakan lebih dari 339 juta orang menderita asma secara global dan terdapat 417.918 kematian akibat asma pada tahun 2016. Meskipun asma tidak dapat disembuhkan, penanganan asma dapat dilakukan untuk mengurangi dan mencegah terjadinya serangan asma.

.

Kita semua diajak untuk bertindak mengatasi mitos dan kesalahpahaman tentang asma, yang justru mencegah penderita asma menikmati manfaat optimal dari kemajuan besar dalam pengelolaan asma. Kesalahpahaman umum seputar asma misalnya anggapan asma adalah penyakit masa anak dan akan membaik seiring bertambahnya usia, asma menular, sebaiknya tidak berolahraga dan hanya dapat dikontrol dengan obat steroid dosis tinggi.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/03/08/steroid-pada-serangan-asma/

.

Pada hal yang benar adalah asma dapat terjadi pada semua usia, baik anak, remaja, dewasa maupun lanjut usia. Selain itu, asma tidak menular meskipun infeksi virus pernapasan, seperti flu dapat menyebabkan serangan asma. Pada anak, asma sering dikaitkan dengan alergi, tetapi asma yang dimulai pada masa dewasa lebih jarang disebabkan karena alergi. Jika asma terkontrol dengan baik, penderita asma dapat berolahraga dan bahkan melakukan olah raga untuk mencapai prestasi terbaik. Yang terakhir, asma paling sering dapat dikendalikan dengan obat steroid hirup dosis rendah, dengan pemantauan derajad asma oleh dokter secara ketat.

.

Gejala Penyerta Batuk pada Anak yang Perlu Diwaspadai

Saat ini sudah ada aplikasi ponsel cerdas yang dapat memprediksi perburukan asma dengan data batuk di malam hari. Batuk di malam hari yang diukur melalui aplikasi ponsel cerdas, dapat menunjukkan bahwa asma semakin parah. Penelitian yang dipresentasikan di kongres internasional (the European Respiratory Society International Congress) tahun 2020 adalah yang pertama kali mengukur batuk pasien selama beberapa malam dan menunjukkan bahwa batuk, adalah tanda derajat asma memburuk.

.

Aplikasi tersebut merupakan cara baru untuk membantu pasien dan dokter  memantau asma dan menyesuaikan pengobatan untuk menjaga gejala asma tetap terkendali. Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Frank Rassouli, dari Cantonal Hospital St. Gallen, Zurich, Swiss, yang dilatarbelakangi bahwa sampai sekarang, belum ada alat yang dapat diandalkan untuk mengukur gejala asma pada seseorang dalam semalam.

.

Penelitian itu melibatkan 94 pasien asma yang sedang dirawat di dua klinik di Swiss: Lung Center, Cantonal Hospital, St Gallen dan MediX Group Practice, Zurich. Setiap pasien diminta mengunjungi klinik asma pada awal dan akhir penelitian, untuk melaporkan perangkat pengendali asma mereka, yaitu data gejala seperti sesak napas dan apakah asma mereka berdampak pada kehidupan mereka sehari-hari.

.

7 Smartphone Flagship Murah Terbaik, HP Performa Ngebut Tanpa Jebol  Kantong! | merdeka.com

Selama 29 hari penelitian, mereka tidur dengan ponsel cerdas di kamar tidur mereka, dengan aplikasi yang diaktifkan untuk mengukur tingkat kebisingan suara batuk di malam hari. Aplikasi tersebut juga memungkinkan bagi pasien untuk melaporkan gejala klinis lain pada malam hari. Para peneliti menemukan bahwa jumlah batuk di malam hari sangat bervariasi dari satu pasien ke pasien lainnya, tetapi ditemukan korelasi yang kuat antara peningkatan batuk di malam hari selama seminggu, dan gejala asma yang semakin memburuk.

.

Batuk di malam hari dapat diukur secara sederhana dengan aplikasi ponsel cerdas dan bahwa peningkatan batuk di malam hari merupakan indikator bahwa asma memburuk. Memantau asma sangat penting karena jika dokter dapat melihat tanda-tanda awal asma memburuk, dokter dapat menyesuaikan pengobatan untuk mencegah serangan asma yang memberat.

.

Meskipun asma tidak dapat disembuhkan, tetapi dengan memastikan bahwa pasien menggunakan panduan tatalaksana mereka seperti yang ditentukan oleh dokter, asma biasanya dapat dikontrol dengan baik. Asma yang tidak terkontrol dapat mengganggu aktivitas sekolah atau pekerjaan dan menyebabkan serangan asma yang serius.

Aplikasi ponsel cerdas ini juga dapat mempermudah pengumpulan banyak data, untuk mempelajari batuk di malam hari pada asma dan penyakit pernapasan lainnya. Perpaduan antara perangkat keras yang mudah dan tersedia seperti telepon pintar, dikombinasikan dengan kecerdasan buatan yang dapat bekerja dengan data kualitas batuk pada malam hari, akan memberikan dokter mata dan telinga tambahan, dalam menilai kondisi klinis pasien mereka di kehidupan nyata, bukan hanya di ruang praktek dokter. Pasien asma tetap harus berkonsultasi dengan dokter jika merasa gejala mereka memburuk dengan cara apapun, bahkan jika aplikasi ponsel cerdas ini tidak menunjukkan peningkatan batuk pada malam hari atau gejala lainnya.

Momentum Hari Asma Sedunia Rabu, 5 Mei 2021 mengingatkan kita bahwa kesalahpahaman tentang asma harus dikoreksi (Uncovering Asthma Misconceptions), terutama untuk mencapai pengendalian asma. Inisiatif ini bertujuan untuk mempercepat pengendalian asma dengan berbagai cara, temasuk aplikasi ponsel cerdas, dengan memastikan tidak ada seorangpun yang tertinggal (to ensure no one is left behind).

 Sudahkah Anda terlibat membantu?

https://www.ersnet.org/the-society/news/smartphone-app-can-predict-asthma-deterioration-by-measuring-night-time-coughing

Sekian

Yogyakarta, 19 April 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
anak COVID-19 Healthy Life Pendukung ASI sekolah UHC

2021 Kesehatan Anak Paska Pandemi COVID-19

Anak Sehat, Indonesia Kuat! | Indonesia Baik

KESEHATAN  ANAK  PASKA  PANDEMI  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Dimuat di Harian Nasional KOMPAS hari Senin, 19 April 2021, halaman 7

Selama dua dekade terakhir, epidemiologi kesehatan anak global telah berubah secara signifikan, termasuk dalam kesejahteraan anak. Ketika semua negara berusaha membangun kembali saat pulih dari ganasnya pandemi COVID-19, diperlukan evolusi substansial dalam berbagai program, untuk memenuhi kebutuhan kesehatan anak yang berubah. Apa yang harus berubah?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/03/21/2021-imunitas-anak/

.

Pola kematian dan penyakit pada masa anak berubah secara dramatis. Tren menunjukkan bahwa kematian yang dapat dicegah sekarang tertinggi pada periode bayi baru lahir. Namun demikian, sebnarnya pneumonia, diare dan malaria yang diperparah oleh malnutrisi, masih juga terus berdampak besar pada anak balita. Ini terutama terjadi di antara populasi yang paling terpinggirkan di wilayah Afrika sub-Sahara, di mana populasi anak justru diperkirakan akan tumbuh dalam beberapa dekade mendatang.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/02/06/2021-covid-19-pada-anak/

.

Di beberapa negara kematian pada remaja (15-19 tahun) justru meningkat karena kecelakaan lalu lintas di jalan raya, kekerasan fisik, dan melukai diri sendiri. Peningkatan jumlah anak dan remaja yang masih bertahan hidup, banyak yang dipengaruhi oleh kejadian cedera, gangguan perkembangan, penyakit tidak menular dan kesehatan mental yang buruk. Kelebihan berat badan dan obesitas di kalangan remaja dengan cepat meningkat, sehingga banyak negara menghadapi beban ganda malnutrisi, baik berupa kekurangan maupun kelebihan gizi.

.

Tantangan ini cenderung diperparah oleh pergeseran demografis. Peningkatan jumlah anak yang tinggal di pusat kota pada tahun-tahun mendatang, membatasi kesempatan untuk mendapatkan udara bersih dan beraktivitas fisik, sehingga menyebabkan tekanan serius pada berbagai fasilitas layanan kesehatan di daerah, apabila tanpa intervensi khusus. Kesehatan dan kesejahteraan anak dan remaja harus menjadi pusat upaya untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) pada tahun 2030. Dunia perlu mengubah orientasi program untuk mencapai SDG (reframing child and adolescent health for the SDG era).

.

Kata Dokter, Begini Ciri-ciri Anak Sehat Secara Fisik dan Mental

Negara hanya dapat berkembang dan makmur jika negara berinvestasi untuk anak dan remaja, dan mengoptimalkan dukungan dalam momen penting pembentukan kesehatan anak di masa depan, dengan menggunakan apa yang disebut pendekatan alur kehidupan (lifecourse approach). Dengan pemikiran ini, meningkatkan kesehatan anak tidak boleh lagi hanya dianggap semata-mata sebagai masalah sektor kesehatan. Kebijakan, layanan, dan edukasi harus ditempatkan sebagai bagian dari solusi oleh pemerintah dan masyarakat, untuk mendorong agenda kesehatan anak dan remaja global, regional dan nasional.

.

Hampir satu tahun setelah COVID-19 dinyatakan sebagai pandemi, peningkatan luar biasa terlihat pada pembalikan risiko kelangsungan hidup anak dan remaja. Kerangka Sasaran Pembangunan Berkelanjutan (SDG) yang diadopsi pada tahun 2015, memang telah mencakup pendekatan holistik untuk meningkatkan kesehatan anak dan remaja, tetap masih relevan setelah pandemi COVID-19 berakhir, tetapi perlu penajaman fokus.

.

Kerangka kerja tersebut dahulu disusun berdasarkan tren tingkat makro, sehingga saat ini membutuhkan perubahan besar dalam paradigma tentang kesehatan anak dan remaja. Hal ini memerlukan peralihan dari fokus (shift in thinking) yang sebelumnya hanya tentang kelangsungan hidup anak di bawah 5 tahun, menjadi keterkaitan kesehatan ibu, bayi baru lahir, anak dan remaja, dengan pemahaman tentang bagaimana alur kehidupan manusia, tidak hanya pada masa dini, tetapi harus berlanjut sepanjang kehidupan anak hingga dewasa.

.

Perubahan demografi dan beban penyakit telah memaksa setiap negara harus memperkuat sistem kesehatannya, agar lebih responsif terhadap perubahan kebutuhan anak dan remaja. WHO dan UNICEF telah memulai upaya untuk mengarahkan kembali strategi kesehatan anak, mengalihkan perhatian ke perspektif alur kehidupan (life course perspective), dan menjauh dari fokus eksklusif sebelumnya, yaitu hanya terkait kelangsungan hidup bayi dan anak di bawah 5 tahun.

.

Prinsip pemrograman ulang (redesign) kesehatan anak, berupa program kesehatan anak dan remaja, serta implementasi kebijakannya yang harus mengikuti pendekatan alur kehidupan (life course perspective), yang didasarkan pada data tentang epidemiologi penyakit terbaru. Pemrograman ulang ini termasuk memastikan layanan kesehatan prakonsepsi yang baik, layanan kesehatan ibu hamil, serta intervensi medis yang berkualitas tinggi untuk anak sampai remaja, yang berusia 0 hingga 19 tahun.

.

Program baru harus berdasarkan hak dan adil (rights based and equitable), sehingga intervensi dan layanan medis penting harus disediakan untuk semua anak, di mana pun mereka tinggal. Selain itu, program harus mencakup layanan terpadu yang berpusat pada keluarga, anak, dan remaja, dalam bentuk mempromosikan kesehatan, pertumbuhan, dan kesejahteraan. Implementasinya meliputi pembentukan ketahanan atau imunitas, mencegah pajanan terhadap penyakit dan komplikasi selanjutnya, dan meminimalkan kerentanan atau faktor risiko sakit, dengan mempertimbangkan kebutuhan personal anak dan remaja.

.

Masyarakat dan keluarga harus diberdayakan untuk berpartisipasi dalam perancangan kebijakan pada anak dan remaja, untuk penyediaan layanan kesehatan yang berkualitas, paska pandemi COVID-19.

Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 22 Maret 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
anak HIV-AIDS resisten obat tuberkulosis UHC

2021 Hari Tuberkulosis Sedunia

Puncak Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia tahun 2021 - YouTube

HARI  TUBERKULOSIS  SEDUNIA  2021

fx. wikan indrarto*)

Setiap tahun diperingati Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia pada tanggal 24 Maret, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penyakit TB yang menghancurkan secara medis, sosial dan ekonomi, dan untuk meningkatkan upaya mengakhiri epidemi TB global. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/03/30/2020-pencegahan-tbc/

.

TB awalnya disebut “phthisis” di era Yunani kuno, “tabes” di jaman Romawi kuno, dan “schachepheth” dalam bahasa Ibrani kuno. Pada tahun 1700-an, TB disebut “wabah putih” (the white plague), karena wajah para pasien yang berubah pucat. Dr. Johann Schonlein menciptakan istilah “tuberkulosis” pada tahun 1834, meskipun diperkirakan bakteri Mycobacterium tuberculosis mungkin sudah ada selama 3 juta tahun sebelumnya. Pada abad 1800-an bahkan setelah Schonlein menamakannya tuberkulosis, TB juga disebut “Kapten Kematian” (Captain of all these men of death).

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/01/18/2019-tantangan-tb/

.

Pada tanggal 24 Maret 1882, Dr. Robert Koch di Berlin, Jerman mengumumkan penemuan Mycobacterium tuberculosis, bakteri penyebab TB. Pada waktu ini, TB membunuh satu dari setiap tujuh orang di Amerika Serikat dan Eropa. Penemuan Dr. Koch adalah langkah terpenting yang diambil untuk mengendalikan dan menghilangkan penyakit mematikan ini, yang awalnya disebut Koch Pulmonum (KP). Seabad kemudian, 24 Maret baru ditetapkan sebagai Hari TB Sedunia, yaitu sebuah hari yang didedikasikan untuk mengingatkan masyarakat tentang dampak TB di seluruh dunia.

.

Sampai saat ini TB tetap menjadi salah satu penyakit menular pembunuh paling mematikan di dunia. Setiap hari hampir 4.000 orang meninggal karena TB dan hampir 28.000 orang jatuh sakit, karena penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dan disembuhkan ini. Sampai tahun lalu, upaya global untuk memerangi TB telah menyelamatkan sekitar 63 juta jiwa sejak tahun 2000.

.

Tema Hari TB Sedunia 2021 adalah : jam terus berdetak (The Clock is Ticking), untuk mengingatkan bahwa dunia hampir kehabisan waktu, karena komitmen memberantas TB yang dibuat oleh para pemimpin global, masih jauh dari terwujud. Hal ini sangat penting karena pandemi COVID-19 telah menempatkan kemajuan pananganan TB selama ini, pada risiko kegagalan. Selain itu, juga untuk memastikan akses yang adil ke layanan pencegahan dan perawatan TB sejalan dengan upaya global untuk mencapai Cakupan Kesehatan Semesta atau ‘Universal Health Coverage’ (UHC).

.

Sejarah Hari Tuberkulosis Sedunia yang Diperingati Setiap 24 Maret |  Limapagi

WHO menetapkan tiga indikator TB beserta targetnya yang harus dicapai oleh semua negara di dunia. Pertama, menurunkan jumlah kematian TB sebanyak 95% pada tahun 2035 dibandingkan kematian pada tahun 2015. Kedua, menurunkan insidens TB sebanyak 90% pada tahun 2035 dibandingkan tahun 2015, dan ketiga, tidak ada keluarga pasien TB yang terbebani pembiayaannya terkait pengobatan TB pada tahun 2035.

.

Target program Penanggulangan TB nasional yaitu eliminasi pada tahun 2035 dan Indonesia Bebas TB Tahun 2050. Eliminasi TB adalah tercapainya jumlah kasus TB 1 per 1.000.000 penduduk. Sementara tahun 2017 jumlah kasus TB saat ini sebesar 254 per 100.000 atau 25,40 per 1 juta penduduk Indonesia. WHO menetapkan standar keberhasilan pengobatan sebesar 85%. Angka keberhasilan di Indonesia pada tahun 2017 sebesar 87,8% (data per 21 Mei 2018). Angka kesembuhan cenderung mempunyai gap dengan angka keberhasilan pengobatan, fenomena menurunnya angka kesembuhan ini mencemaskan dan perlu mendapat perhatian besar karena akan mempengaruhi penularan penyakit TB.

.

Pencegahan dan pengendalian faktor risiko TB dilakukan dengan cara membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat, perilaku etika berbatuk, pemeliharaan dan perbaikan kualitas perumahan dan lingkungannya sesuai dengan standar rumah sehat, dan peningkatan daya tahan tubuh. Selain itu, juga penanganan penyakit penyerta TB dan penerapan pencegahan dan pengendalian infeksi TB.

.

Penanganan COVID-19 saat ini juga dapat diterapkan dalam upaya eliminasi TB. Pelacakan yang agresif untuk menemukan penderita dapat dilakukan untuk mencari penderita TB yang belum terlaporkan. Selain itu, upaya preventif dan promotif untuk mengatasi TB bukan hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan saja, melainkan juga menjadi tanggung jawab bersama berbagai pemangku kepentingan, dengan melibatkan banyak sektor pendukung lainnya secara terpadu. Meski tengah disibukkan dengan penanganan COVID-19, tetapi layanan TB maupun pengobatan terhadap pasien harus tetap berlangsung.

.

Memang ada pengurangan yang signifikan kasus TB baru pada paruh pertama tahun 2020, mungkin karena banyak negara memberlakukan ‘lockdown’ untuk mengekang penyebaran wabah COVID-19. Tiga negara dengan beban tinggi yakni India, Indonesia dan Filipina, melaporkan penurunan antara 25-30% TB selama enam bulan pertama tahun 2020 dibandingkan dengan periode sama tahun 2019 lalu. Ketiga negara tersebut juga termasuk negara dengan angka kasus virus COVID-19 tertinggi di dunia.

.

Momentum Hari TB Sedunia Rabu, 24 Maret 2021 mengingatkan kita bahwa jam terus berdetak (The Clock is Ticking), dan kita hampir kehabisan waktu, untuk mencapai target TB global dalam SDG 2016-2030 dengan semboyan “Find. Treat. All. #EndTB.” Inisiatif ini bertujuan untuk mempercepat pembasmian TB dengan memastikan tidak ada yang tertinggal (to ensure no one is left behind).

 Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 19 Maret 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?