Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life resisten obat UHC vaksinasi

2022 Waspada Dengue

Dengue shock syndrome dialami bayi kami, jangan sepelekan demam"

WASPADA  DENGUE

fx. wikan indrarto*)

Pada masa pandemi COVID-19 ini, sekitar 50 juta infeksi Dengue juga terjadi setiap tahun dan bahwa penyebaran geografis, insiden, dan tingkat keparahan Demam Berdarah Dengue (DBD) terus meningkat di daerah tropis, termasuk Indonesia. Apa yang perlu diwaspadai?

.

Sampai saat ini infeksi Dengue tidak termasuk dalam algoritma Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) yang digunakan luas di seluruh dunia, meskipun merupakan diagnosis banding yang penting untuk kasus demam pada anak, yang datang ke fasilitas kesehatan tingkat pertama di daerah tropis. MTBS adalah strategi petugas di fasilitas kesehatan tingkat pertama di negara berkembang, dalam manajemen lengkap anak balita sakit secara rawat jalan, agar tidak ada hal penting yang terlewat. Pada Pedoman MTBS, ada penilaian awal untuk Tanda Umum Penyakit Berbahaya, yaitu tidak dapat minum atau menyusui, muntah hebat, kejang, lesu atau tidak sadar, agar kondisi darurat medis dapat dikenali dan ditangani segera. Selanjutnya diikuti oleh penilaian, klasifikasi, dan pengobatan awal untuk ISPA, diare, malaria, campak, gangguan telinga, gizi buruk, dan bayi muda yang sakit.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/08/21/2019-dengue-berat/

.

Pada MTBS untuk setiap kondisi medis anak mengikuti skema kode warna, yaitu hijau untuk penyakit ringan, misalnya pilek atau diare tanpa dehidrasi, kuning untuk penyakit sedang, misalnya pneumonia yang membutuhkan obat antibiotik telan atau diare dengan dehidrasi yang memerlukan terapi rehidrasi oral. Selain itu adalah merah untuk penyakit parah yang memerlukan rujukan segera ke rumah sakit, misalnya pneumonia berat atau diare dengan dehidrasi berat.

.

Karena DBD dinyatakan sebagai masalah kesehatan yang signifikan, 13 negara telah memasukkan DBD ke dalam MTBS adaptasi. Ada variasi yang luas dalam adaptasi oleh setiap negara tentang algoritme DBD. Salah satu yang penting adalah daftar tanda bahaya nomer 1 DBD berupa syok, penurunan kesadaran, perdarahan hidung atau mulut dan bintik kemerahan di kulit atau petechiae. Tanda ke 1 ini memiliki sensitivitas 63% dan spesifisitas 92%, dengan nilai prediksi positif 32% dan nilai prediksi negatif 98%. Daftar tanda bahaya nomer 2 berupa ke 4 tanda bahaya 1 ditambah muntah. Untuk mengenali DBD, tanda ke 2 ini memiliki sensitivitas lebih tinggi menjadi 79% dan spesifisitas 64%, dengan nilai prediksi positif 12% dan nilai prediksi negatif 98%.

.

Penelitian di Indonesia dan Filipina menyimpulkan bahwa keuntungan dari daftar tanda bahaya nomer 2 adalah mengandung kurang dari setengah daftar jumlah tanda dan gejala yang selama ini telah digunaan secara luas. Penambahan tanda bahaya lain seperti sakit kepala, sakit perut dan nyeri tekan, demam tinggi selama tiga hari atau lebih, dan tes tourniquet ternyata tidak menambah sensitivitas yang signifikan untuk deteksi DBD. Data penelitian ini tidak termasuk peran tes laboratorium sederhana, yaitu hematokrit dan jumlah trombosit.

Tangani DBD Segera! Jangan Sampai Terkena Dengue Shock Syndrome

Pada anak demam berusia >2 bulan sampai lima tahun, secara khusus harus diwaspadai karena sifat DBD yang progresif. Mungkin saja tanda aman atau warna hijau dapat keliru, terutama selama beberapa hari pertama demam, karena anak mungkin tidak memiliki tanda bahaya apapun, seperti di kotak merah atau kuning, pada hal masih perlu ditindaklanjuti dengan hati-hati. Syok, rewel, penurunan kesadaran dan perdarahan mukosa, dengan atau tanpa penambahan bintik kemerahan pada kulit atau petechiae dan muntah, adalah tanda bahaya DBD yang penting. Sebaliknya, anak tanpa tanda bahaya ini boleh dianggap aman dan diminta kembali kontrol setiap hari. Setiap petugas kesehatan seharusnya juga mengenali banyak tanda syok lainnya, misalnya ekstremitas dingin, nadi radial lemah, atau waktu isi ulang kapiler memanjang.

.

Kelemahan potensial adalah rujukan ke RS yang berlebihan, jika hanya petechiae ringan sudah dianggap sebagai tanda bahaya DBD. Pedoman tentang bagaimana tindak lanjut harus dilakukan, dan apa yang harus merupakan tanda bahaya khusus DBD yang mudah dikenali dan diwaspadai oleh orang tua atau pengasuh anak, masih terus dikembangkan. Penelitian kualitatif juga sedang dilakukan, untuk melengkapi penentuan tanda klinis apakah pada anak yang dapat dikenali oleh orang tua di rumah.

.

Banyak negara ingin memasukkan temuan pemeriksaan fisik anak seperti pembesaran hati atau hepatomegali, bahkan juga hasil tes laboratorium sederhana (hematokrit dan jumlah trombosit) dalam algoritmadi MTBS, tetapi sampai sekarang masih diteliti manfaatnya. Memang layak untuk memeriksa hematokrit bahkan di fasilitas kesehatan primer, baik menggunakan pengambilan darah standar atau mikrokapiler yang mengambil darah dari tusukan jari. Tes ini berbiaya rendah dan membutuhkan peralatan dan keterampilan teknis yang minimal.

.

Penapisan atau uji saring anak balita dengan demam terkait kewaspadaan akan DBD sangat penting dilakukan, termasuk menggunakan MTBS. Selain agar tidak terlewat, tentunya juga agar tidak terjadi peningkatan beban penyakit, dampak sosial dan ekonomi yang tidak perlu, seperti rujukan ke RS yang berlebihan. Meskipun telah terjadi beberapa kemajuan yang dicapai dalam mengurangi tingkat fatalitas kasus DBD dan pengembangan vaksin dengue, tetapi kedua kemajuan ini belum terjadi merata dan tidak tersedia untuk penggunaan luas bagi masyarakat umum.

Apakah kita sudah bijak?

Sekian

Yogyakarta, 1 Juli 2022

*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life Jalan-jalan sekolah

2022 Anak Autis

Anak Laki-Laki Lebih Rentan Autisme, Ini Alasannya | Republika Online

ANAK  AUTIS

fx. wikan indrarto*)

WHO merilis versi online program pelatihan untuk para pengasuh anak dengan keterlambatan perkembangan, termasuk autisme. Program yang telah diujicobakan dalam format tatap muka di lebih dari 30 negara, seperti Brasil, India, Italia, dan Kenya, mengajarkan keterampilan sehari-hari kepada orang tua dan pengasuh, agar dapat membantu meningkatkan kesejahteraan dan perkembangan anak autis dan gangguan perkembangan lainnya. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://openwho.org/courses/caregiver-skills-training

.

Di banyak bagian dunia, khususnya di wilayah berpenghasilan rendah, orang yang merawat anak autis sering kekurangan akses ke informasi dan layanan yang mereka butuhkan. Peluncuran modul pelatihan versi elektronik berarti bahwa ribuan keluarga sekarang akan dapat memperoleh manfaat darinya. Pelatihan online mencakup sesi informasi yang direkam sebelumnya, tentang topik umum untuk menggunakan kegiatan rutin sehari-hari sebagai kesempatan bagi anak untuk belajar, terlibat aktif dengan teman melalui permainan, dan pemecahan masalah. Program ini telah dikembangkan dengan kolaborasi bersama organisasi ‘Autism Speaks’, yang secara khusus dirancang untuk membantu komunitas dengan sumber daya rendah.

.

Gangguan Spektrum Autisme (ASD) adalah kelompok kondisi mental yang beragam, yang dicirikan dengan beberapa tingkat kesulitan interaksi sosial dan komunikasi. Karakteristik lainnya adalah pola aktivitas dan perilaku yang tidak biasa, seperti kesulitan transisi dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya, fokus pada detail, dan reaksi yang tidak biasa terhadap sensasi. Karakteristik autisme dapat dideteksi pada anak usia dini, tetapi autisme sering tidak terdiagnosis sampai jauh di kemudian hari. Anak dengan autisme sering memiliki penyakit saraf pusat lainnya yang terjadi bersamaan, seperti epilepsi, depresi, kecemasan, hiperaktif, gangguan pemusatan perhatian dan perilaku yang berbahaya seperti kesulitan tidur dan keinginan melukai diri sendiri. Derajat intelektual anak autis sangat bervariasi, mulai dari gangguan berat hingga tingkat yang lebih tinggi.

.

Diperkirakan di seluruh dunia sekitar satu dari 100 anak menderita autisme. Prevalensi autisme di banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah tidak diketahui. Bukti ilmiah yang tersedia menunjukkan bahwa mungkin ada banyak faktor yang membuat anak lebih mungkin menderita autisme, termasuk faktor lingkungan dan genetik. Data epidemiologi yang tersedia menyimpulkan bahwa tidak ada bukti hubungan sebab akibat antara vaksin campak, gondok dan rubella (MMR) dengan autisme. Penelitian sebelumnya diklaim menunjukkan hubungan sebab akibat, ternyata penelitian tersebut ditemukan penuh dengan kelemahan metodologis. Juga tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa vaksin masa balita lainnya dapat meningkatkan risiko terjadinya autisme. Tinjauan bukti tentang hubungan potensial antara pengawet thiomersal dan ajuvan aluminium yang terkandung dalam vaksin yang tidak aktif dan risiko autisme, telah disimpulkan bahwa dengan sangat meyakinkan bahwa vaksin tidak meningkatkan risiko autisme.

.

Berbagai intervensi medis dan psikologis pada anak usia dini dan sepanjang rentang kehidupan, dapat mengoptimalkan perkembangan, kesehatan, kesejahteraan, dan kualitas hidup anak autis. Akses tepat waktu ke intervensi psikososial, memiliki bukti awal dapat meningkatkan kemampuan anak autis untuk berkomunikasi secara efektif dan berinteraksi secara sosial. Pemantauan perkembangan anak sebagai bagian dari perawatan kesehatan ibu dan anak secara rutin, sangatlah direkomendasikan.

.

Kenali Tanda Awal Autisme pada Balita | Semen Padang Hospital

Semua anak, termasuk penyandang autisme, berhak untuk menikmati standar kesehatan fisik dan mental tertinggi yang dapat dicapai. Namun, anak autis sering mengalami stigma dan diskriminasi, termasuk perampasan perawatan kesehatan yang tidak adil, pendidikan dan kesempatan untuk terlibat dan berpartisipasi dalam komunitas mereka. Anak dengan autisme memiliki masalah kesehatan yang sama dengan populasi umum. Namun demikian, anak autis memiliki kebutuhan perawatan kesehatan khusus yang berkaitan dengan autisme atau penyakit lain yang terjadi bersamaan. Anak autis mungkin lebih rentan untuk mengalami penyakit kronis tidak menular, karena faktor risiko gangguan perilaku seperti aktivitas fisik yang aneh dan pilihan diet yang buruk, dan mengalami risiko yang lebih besar mengalami kekerasan, cedera dan pelecehan.

.

Anak dengan autisme memerlukan layanan kesehatan untuk kebutuhan perawatan kesehatan umum, termasuk layanan promotif dan preventif serta pengobatan penyakit akut dan kronis. Namun demikian, anak autis memiliki tingkat kebutuhan perawatan kesehatan yang tidak terpenuhi, justru lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum. Program pelatihan versi online bagi pengasuh anak autis yang dikembangkan ‘Autism Speaks’ pada komunitas dengan sumber daya rendah, akan membantu anak autis mendapatkan haknya dalam layanan kesehatan, kesejahteraan dan juga pendidikan.

.

Apakah kita sudah terlibat berperan?

Sekian

Yogyakarta, 26 Mei 2022

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW.

Categories
anak antibiotika COVID-19 dokter Healthy Life Malaria resisten obat UHC vaksinasi

2022 Pencegahan Malaria

Kemenkes Imbau Waspadai Malaria di Tengah Pandemi Covid-19 -

PENCEGAHAN  MALARIA  TERBARU

fx. wikan indrarto*)

Jumat, 3 Juni 2022 diterbitkan rekomendasi WHO yang telah diperbarui untuk pencegahan atau kemoprevensi malaria pada anak dan ibu hamil. Terdapat 3 rekomendasi pencegahan (kemoprevensi) malaria utama, yaitu musiman, perenial pada bayi dan intermiten pada kehamilan. Apa yang baru?

.

Kemoterapi preventif adalah penggunaan obat, baik tunggal atau dalam kombinasi, untuk mencegah infeksi malaria dan komplikasinya. Pemberian obat antimalaria ditujukan untuk populasi yang rentan, yaitu bayi, anak balita dan ibu hamil, pada periode waktu dengan risiko terinfeksi malaria terbesar, terlepas dari status infeksinya. Kemoterapi preventif termasuk pengobatan pencegahan intermiten pada bayi, anak sekolah dan wanita hamil, kemoprevensi malaria musiman, kemoprevensi malaria pasca pulang dari daerah endemis dan pemberian obat massal.

.

Di beberapa daerah, malaria sangat musiman, dengan sebagian besar kasus terjadi dalam waktu singkat selama musim hujan. Kemoprevensi malaria musiman dirancang untuk melindungi anak dari infeksi yang ada dan mencegah infeksi malaria selama musim tersebut. Hal ini dicapai melalui pemberian obat antimalaria setiap bulan, biasanya kombinasi sulfadoksin pirimetamin plus amodiakuin (SP+AQ), selama musim hujan berlangsung.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/05/03/2019-vaksin-malaria/

.

Rekomendasi WHO yang diperbarui tentang kemoprevensi malaria musiman berbeda dari rekomendasi awal 2012 setidaknya dalam 2 hal yang signifikan, yaitu batas geografis dan dosis. Tidak ada lagi batasan geografis penggunaan hanya di subkawasan Sahel di Afrika. Sebelumnya tidak direkomendasikan kemoprevensi malaria musiman di luar Sahel, meski dengan penularan malaria musiman yang tinggi, seperti di Afrika bagian selatan, karena tingkat resistensi yang tinggi terhadap obat-obatan (SP dan AQ) di daerah tersebut. Rekomendasi yang diperbarui menyebutkan bahwa di bagian lain Afrika dengan variasi musiman yang tinggi dalam beban malaria, juga dapat memperoleh manfaat kemoprevensi malaria musiman, dan bahwa ketersediaan obat baru dapat menjadikannya intervensi yang layak.

.

Kemenkes Ingatkan Waspada Malaria di Tengah Pandemi Covid-19

Rekomendasi awal menyatakan bahwa maksimal 4 dosis obat kemoprevensi malaria musiman harus diberikan selama musim hujan dalam penularan malaria yang tinggi. Panduan yang diperbarui menyatakan bahwa kemoprevensi malaria musiman harus diberikan selama musim puncak penularan malaria, tanpa menentukan jumlah siklus bulanan yang spesifik. Sementara rekomendasi lama membatasi penggunaan untuk anak balita, rekomendasi baru merekomendasikan intervensi ini untuk semua anak dengan risiko tinggi malaria berat, yang dapat meluas ke anak yang lebih tua di beberapa lokasi.

.

Di beberapa negara lainnya, malaria adalah penyakit sepanjang tahun, dan penularannya stabil tinggi. WHO telah merekomendasikan penggunaan pengobatan pencegahan intermiten pada bayi, sekarang disebut kemoprevensi malaria perenial di beberapa negara ini sejak 2010. Rekomendasi yang diperbarui berbeda dari rekomendasi 2010 setidaknya dalam 2 hal penting, yaitu dosis sesuai usia dan interval pemberian. Rekomendasi awal menyatakan bahwa tiga dosis obat SP harus diberikan hanya pada bayi usia 2, 3 dan 9 bulan melalui program imunisasi rutin, bersamaan dengan dosis ke-2 dan ke-3 vaksin DPT/Penta dan campak. Rekomendasi baru menghapus spesifikasi ketat ini untuk jumlah dosis, serta usia di mana mereka harus diberikan. Ini juga memperluas kelompok usia target untuk memasukkan anak berusia lebih dari 1 tahun di tempat di mana beban penyakit parah tinggi.

.

Rekomendasi terbaru adalah pengobatan pencegahan malaria intermiten selama kehamilan. Infeksi malaria selama kehamilan menimbulkan risiko besar tidak hanya untuk ibu, tetapi juga untuk janin dan bayi yang baru lahir. Bukti yang tersedia terus menunjukkan bahwa pengobatan pencegahan intermiten selama kehamilan dengan SP adalah strategi yang aman dan sangat hemat biaya untuk mengurangi beban penyakit pada kehamilan, serta hasil kehamilan dan kelahiran yang merugikan.

.

Rekomendasi terbaru tentang kemoprevensi malaria selama kehamilan berbeda dari rekomendasi awal 2012 setidaknya dalam 2 hal penting, yaitu prosedur pemberian dan usia kehamilan. Rekomendasi yang diperbarui tidak membatasi prosedur pemberian SP pada ibu hamil hanya pada saat kontrol heamilan (ANC) saja, oleh karena ada ketidakadilan dalam akses ke layanan ANC, sehingga metode pemberian lainnya, seperti melalui kader kesehatan di masyarakat, dapat diijinkan. Di daerah endemis malaria, kemoprevensi malaria selama kehamilan sekarang direkomendasikan untuk semua wanita hamil, berapapun jumlah paritas atau kehamilannya. Sebelumnya, direkomendasikan hanya pada ibu dengan kehamilan pertama dan kedua saja.

.

Jumlah kasus malaria di Indonesia pada tahun 2021 sebesar 304.607 kasus, jumlah ini menurun jika dibandingkan jumlah kasus pada tahun 2009, yaitu sebesar 418.439. Angka kasus kesakitan malaria, yang dinyatakan dengan indikator Annual Paracite Incidence (API) sebesar 1,1 kasus per 1000 penduduk. Sampai dengan tahun 2021, sebanyak 347 dari 514 kabupaten/kota atau 68% sudah dinyatakan mencapai eliminasi.

.

Penggunaan panduan terbaru kemoprevensi malaria musiman, perenial pada bayi dan intermiten selama kehamilan menggunakan obat kombinasi sulfadoksin pirimetamin plus amodiakuin (SP+AQ) untuk pencegahan malaria seharusnya dilakukan tanpa kendor, termasuk di Indonesia.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 18 Juni 2022

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
anak antibiotika COVID-19 dokter Healthy Life Pendukung ASI UHC

2022 Menekan Angka Kematian Bayi

Dinkes Aceh Jaya | Berita Angka Kematian Bayi (AKB) di Aceh Jaya tahun 2020  menurun dibandingkan tahun 2019

MENEKAN  KEMATIAN  BAYI

fx. wikan indrarto*)

Data kematian anak terbaru mengungkapkan bahwa, kita masih berada di luar jalur untuk memenuhi target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) terkait kesehatan anak. Laporan United Nations Inter-agency Group for Child Mortality Estimation (IGME) Rabu, 22 Desember 2021 mengungkapkan kebutuhan mendesak untuk berinvestasi dalam perbaikan data dan layanan medis untuk menekan kematian bayi baru lahir dan anak. Apa yang harus diperbaiki?

.

Menurut laporan tersebut, lebih dari 50 negara tidak akan memenuhi target kematian balita pada tahun 2030, dan lebih dari 60 negara akan kehilangan target kematian neonatal. Pada sepanjang tahun 2020 terdapat kematian pada lebih dari 5 juta anak sebelum ulang tahun kelima mereka dan 2,2 juta anak dan remaja berusia 5 hingga 24 tahun. Dunia masih kehilangan terlalu banyak nyawa anak karena penyebab yang sebagian besar dapat dicegah, seringkali karena sistem kesehatan yang belum tertata dan kekurangan dana apalagi selama pandemi COVID-19.

.

Laporan IGME PBB juga menekankan bahwa data terbaru dan dapat diandalkan tentang kematian anak dan remaja tetap tidak tersedia untuk sebagian besar negara di dunia, terutama untuk negara berpenghasilan rendah, dengan pandemi COVID-19 telah menimbulkan tantangan tambahan untuk meningkatkan ketersediaan dan kualitas data. Hanya sekitar 60 negara, terutama yang berpenghasilan tinggi, yang memiliki Sistem Pencatatan dan Statistik yang berfungsi dengan baik, yang menghasilkan data kematian berkualitas tinggi yang tepat waktu.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/10/14/2021-keselamatan-pasien-bayi/

.

Peningkatan kematian bayi saat pandemi COVID-19 terjadi di lebih dari 80 negara, setengahnya adalah negara berpenghasilan rendah atau menengah. Diperlukan data yang berkualitas lebih baik, agar pemantauan dapat lebih lengkap tentang faktor apapun yang terkait dengan kematian bayi dan anak. Laporan tersebut memperingatkan bahwa karena data yang tersedia berkategori buruk, karakteristik dasar bayi, anak dan remaja pada tahun 2021 tetap tidak diketahui secara detail dan pasti. Misalnya, hipotesis bahwa pandemi COVID-19 dapat memengaruhi kematian anak secara berbeda menurut kelompok usia dan status sosial ekonomi. Data yang tepat waktu dan akurat serta pemantauan ketat, harus tersedia untuk menjawab hipotesis tersebut dan memahami dampak jangka panjang dari COVID-19 pada bayi, anak dan remaja.

.

Saat pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung, semua anak terus menghadapi krisis yang sama seperti yang mereka alami selama beberapa dekade sebelumnya, yaitu tingkat kematian yang sangat tinggi dan peluang hidup yang buruk, tetapi terjadi sangat tidak adil. Pada tren saat ini, lebih dari 48 juta anak di bawah 5 tahun akan meninggal sebelum tahun 2030, setengah dari mereka adalah bayi baru lahir. Lebih dari setengah dari kematian ini (57%) terjadi di sub-Sahara Afrika (28 juta), dengan 25 persen lainnya terjadi di Asia Selatan (12 juta). Memenuhi target SDG di 54 negara yang keluar jalur akan mencegah 8 juta kematian balita antara tahun 2021 dan 2030 dan mengurangi jumlah tahunan kematian balita menjadi 2,5 juta pada tahun 2030.

Afrika dan Asia Selatan Jadi Penyumbang Angka Kematian Bayi Tertinggi

Secara global, penyebab kematian bayi baru lahir adalah prematuritas, berat lahir rendah, infeksi berat (sepsis), asfiksia (tidak mampu segera bernapas spontan saat lahir), dan trauma kelahiran, yang mencapai hampir 80% kematian bayi. Pada hal, dua pertiga dari kematian bayi tersebut, sebenarnya dapat dicegah. Terdapat 4 buah intervensi medis untuk bayi prematur yang murah, mudah dan sangat efektif, tetapi belum umum digunakan di banyak negara berkembang, yaitu steroid, Kangaroo Mother Care (KMC), antibiotika, dan kunjungan rumah.

.


Suntikan steroid yang diberikan pada ibu dalam persalinan sebelum waktunya (prematur), dapat membantu mempercepat pengembangan paru-paru janin dalam rahim. Dengan biaya hanya US $ 1, dua dosis suntikan steroid dapat menyelamatkan bayi prematur, dari risiko terjadinya gangguan pernapasan beberapa hari setelah mereka lahir. Penyakit membran hyalin, karena ketidakmatangan paru-paru bayi yang dapat dicegah dengan suntikan steroid, adalah penyebab tersering gangguan pernapasan dan kematian pada bayi prematur. Suntikan steroid secara global pada ibu dalam persalinan prematur, diperkirakan dapat mencegah 400.000 kematian bayi prematur setiap tahunnya. Di negara berpenghasilan tinggi, steroid telah digunakan sejak tahun 1990-an dan diperkirakan 95% ibu dalam persalinan prematur telah menerima suntikan steroid. Sebaliknya, di negara berpenghasilan rendah dan menengah, diperkirakan hanya 5% ibu yang telah menerima suntikan steroid ini.

.


KMC adalah sebuah metode yang terinspirasi dari kanguru, binatang asli Australia yang melompat sambil menggendong anaknya di depan perut. Dengan menggunakan teknik ini, bayi prematur yang mungil ditempelkan lekat kulit-ke-kulit di dada ibu, bapak, atau nenek. Hal ini membuat bayi hangat dan terlindungi. Termoregulasi atau menjaga kehangatan sangat penting untuk mencegah tubuh bayi yang mungil, kehilangan panas badan dengan cepat. Hipotermi (penurunan suhu tubuh) tersebut, membuat mereka sangat rentan terhadap penyakit, infeksi, dan kematian. Selain itu, metode ini juga dapat memudahkan memberikan ASI ekslusif dan secara global diprediksi dapat mencegah 450.000 kematian bayi prematur setiap tahun. KMC digagas sebagai solusi karena keterbatasan jumlah inkubator di Kolombia, Amerika Latin sehingga banyak bayi dipaksa untuk berbagi inkubator yang tersedia. Penelitian menunjukkan bahwa tingkat kematian bayi yang mendapatkan KMC sama atau lebih rendah, dibandingkan bayi dalam inkubator. Meskipun KMC sudah dikembangkan sejak tahun 1967, tetapi penyebaran informasinya sangat lambat, meskipun efektivitas, keamanan, dan manfaatnya telah terbukti.

.


Antibiotika dapat menyelamatkan nyawa bayi, misalnya amoksisilin untuk mengobati pneumonia. Pneumonia pada bayi baru lahir, dapat diatasi dengan amoksisilin dosis terbagi dalam 5 hari, dengan biaya juga hanya sekitar US $ 1. Selain itu, antibiotika lainnya yang diberikan sejak dini, dapat digunakan untuk melawan sepsis neonatal atau infeksi bakteri serius. Pneumonia dan sepsis adalah penyebab kematian bayi baru lahir di banyak negara berkembang.

.


Kunjungan rumah oleh petugas kesehatan yang terampil segera setelah lahir, merupakan strategi kesehatan yang dapat meningkatkan tingkat kelangsungan hidup bayi. Kunjungan rumah harus dilakukan pada hari pertama dan ketiga kehidupan bayi baru lahir, dan jika mungkin, kunjungan ketiga harus dilakukan sebelum akhir minggu pertama atau hari ketujuh kehidupan. Selama kunjungan rumah, petugas kesehatan harus mempromosikan ASI eksklusif, membantu menjaga bayi agar tetap hangat dengan kontak kulit-ke-kulit antara ibu dan bayi, melakukan perawatan tali pusar dan kulit, menilai tanda klinis tentang masalah kesehatan bayi yang serius, dan membantu keluarga untuk mencari perawatan medis segera, jika diperlukan.

.

SDGs menyerukan diakhirinya kematian bayi baru lahir yang dapat dicegah, dengan target semua negara memiliki tingkat kematian neonatal 12 atau lebih sedikit per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2030. Semoga kita mampu memberikan steroid, menerapkan Kangaroo Mother Care (KMC), menyuntikkan antibiotika, dan melakukan kunjungan rumah, untuk menekan kematian bayi di sekitar kita, meskipun pandemi COVID-19 belum juga usai.

Sekian

Yogyakarta, 28 Februari 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161,

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life Jalan-jalan Pendukung ASI resisten obat sekolah UHC

2022 Hari Makanan Sehat Dunia

Top] 25 World Food Safety Day 2022: Quotes, Slogans, Images, Pictures,  Photo, Poster, Wallpaper

Tulisan ini juga dimuat di link :

https://news.detik.com/kolom/d-6114206/beban-penyakit-bawaan-makanan

HARI  MAKANAN  SEHAT  SEDUNIA  2022

fx. wikan indrarto*)

Hari Keamanan Pangan Sedunia (World Food Safety Day) pada Selasa, 7 Juni 2022 adalah gerakan memobilisasi tindakan untuk mencegah, mendeteksi dan mengelola risiko penyakit yang ditularkan melalui makanan dan meningkatkan derajat kesehatan manusia. Tema peringatan adalah makanan yang lebih aman, kesehatan yang lebih baik (safer food, better health). Apa yang harus dilakukan?

.

Makanan yang aman adalah salah satu penjamin paling penting untuk kesehatan yang baik. Makanan yang tidak aman adalah penyebab banyak penyakit (foodborne illnesses), gangguan pertumbuhan dan perkembangan, defisiensi mikronutrien, penyakit tidak menular atau menular dan penyakit mental. Secara global, satu dari sepuluh orang terkena penyakit bawaan makanan setiap tahunnya. Diperkirakan 600 juta (hampir 1 dari 10 orang di dunia) jatuh sakit setelah makan makanan yang terkontaminasi dan 420.000 meninggal setiap tahun, mengakibatkan hilangnya 33 juta tahun hidup sehat (DALYs). Bahkan dana sebesar US$ 110 miliar hilang setiap tahun dalam produktivitas dan biaya pengobatan akibat makanan yang tidak aman, di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Pada anak balita menyebabkan 40% dari beban penyakit bawaan makanan, dengan 125.000 kematian setiap tahun.

.

Penyakit bawaan makanan biasanya bersifat menular atau beracun dan disebabkan oleh bakteri, virus, parasit atau zat kimia yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan yang terkontaminasi. Bakteri Salmonella, Campylobacter dan enterohaemorrhagic Escherichia coli adalah beberapa patogen bawaan makanan yang paling umum yang mempengaruhi jutaan orang setiap tahun, kadang-kadang dengan derajat klinis yang parah dan fatal. Gejala klinisnya dapat berupa demam, sakit kepala, mual, muntah, sakit perut dan diare. Bakteri tersebut sering berada pada telur, daging unggas dan produk lain yang berasal dari hewan, susu mentah, daging unggas mentah atau setengah matang, dan air minum, susu yang tidak dipasteurisasi, daging yang kurang matang, serta buah dan sayuran segar yang terkontaminasi.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/10/13/2020-makanan-sehat-saat-covid-19/

Infeksi bakteri Listeria dapat menyebabkan keguguran pada ibu hamil atau kematian bayi baru lahir. Listeria ditemukan dalam produk susu yang tidak dipasteurisasi dan berbagai makanan siap saji dan dapat tumbuh pada suhu dingin. Bakteri Vibrio cholerae dapat menginfeksi orang melalui air atau makanan yang terkontaminasi. Gejala klinisnya adalah sakit perut, muntah dan diare berair yang banyak, yang dengan cepat menyebabkan dehidrasi parah dan bahkan kematian. Beras, sayuran, bubur millet dan berbagai jenis makanan laut telah terkait dengan wabah kolera.

.

Beberapa virus dapat ditularkan melalui konsumsi makanan. Norovirus dan Virus Hepatitis A dapat ditularkan melalui makanan dan dapat menyebabkan penyakit hati dan menyebar biasanya melalui makanan laut mentah atau setengah matang, atau produk mentah yang terkontaminasi. Beberapa parasit, seperti trematoda, cacing pita seperti Echinococcus spp, atau Taenia spp, Ascaris, Cryptosporidium, Entamoeba histolytica atau Giardia, memasuki tubuh melalui makanan atau kontak langsung dengan hewan air atau tanah dan produk tanaman segar.

.

World Food Safety Day 2022 | CareOurEarth

Beban penyakit bawaan makanan (foodborne illnesses) terhadap kesehatan masyarakat dan ekonomi sering kali diremehkan karena pelaporan yang kurang. Selain itu, juga adanya kesulitan untuk membuktikan hubungan sebab akibat antara kontaminasi makanan dan penyakit atau kematian yang diakibatkannya. Laporan WHO tahun 2015 tentang perkiraan beban global penyakit bawaan makanan menyajikan perkiraan pertama beban penyakit yang disebabkan oleh 31 agen bawaan makanan (bakteri, virus, parasit, racun, dan bahan kimia) di tingkat global. Ternyata lebih dari 600 juta kasus penyakit bawaan makanan dan 420.000 kematian dapat terjadi dalam setahun. Beban penyakit bawaan makanan menimpa secara tidak proporsional pada kelompok dalam situasi rentan dan terutama pada anak balita, dengan beban tertinggi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

.

Laporan Bank Dunia 2019 tentang beban ekonomi penyakit bawaan makanan menunjukkan bahwa, total kerugian produktivitas yang terkait dengan penyakit bawaan makanan di negara berpenghasilan rendah dan menengah, diperkirakan mencapai US$ 95,2 miliar per tahun. Selain itu, biaya tahunan untuk mengobati penyakit bawaan makanan diperkirakan mencapai US$ 15 miliar.

.

Pasokan makanan yang aman mendukung kesehatan ekonomi nasional, berkontribusi pada ketahanan pangan dan gizi, dan mendukung pembangunan berkelanjutan. Pada hal, urbanisasi dan perubahan kebiasaan konsumen telah meningkatkan jumlah orang yang membeli dan makan makanan yang disiapkan di tempat umum. Selain itu, globalisasi telah memicu meningkatnya permintaan konsumen akan variasi makanan yang lebih luas, mengakibatkan rantai makanan global yang semakin kompleks dan panjang. Perubahan iklim juga diprediksi berdampak pada keamanan pangan.

.

Setiap pemerintah harus menjadikan keamanan pangan sebagai prioritas kesehatan masyarakat, dengan menyusun kebijakan dan menerapkan sistem keamanan pangan yang efektif. Momentum Hari Keamanan Pangan Sedunia (World Food Safety Day) pada Selasa, 7 Juni 2022 mengingatkan kita akan peran penting negara dalam menjamin ketersediaan makanan yang aman dan sehat.

Sekian

Yogyakarta, 6 Juni 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life kanker vaksinasi

2022 Mencegah Kanker Serviks

Kanker Serviks Penyebab Kematian Nomor 2 Wanita Indonesia, Kenapa? Halaman  all - Kompas.com

MENCEGAH  KANKER  SERVIKS

fx. wikan indrarto*)

Di seluruh Indonesia pada akhir tahun 2021 ditemukan 396.914 kasus baru kanker dengan 234.511 kematian. Kanker tersering pada perempuan adalah kanker payudara (65.858 kasus) dan kanker serviks atau leher rahim (36.633 kasus). Kanker merupakan penyakit katastropik dengan pembiayaan kedua tertinggi setelah penyakit jantung, yaitu menghabiskan dana Rp. 3,5 T setahun. Apa yang seharus dilakukan?

.

Kanker serviks merupakan penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan, selama terdeteksi sejak dini dan ditangani secara efektif. Kanker ini adalah bentuk kanker keempat yang paling umum pada wanita di seluruh dunia, dan kanker paling umum pada wanita yang hidup dengan HIV, yaitu enam kali lebih mungkin mengalami kanker serviks. Kanker serviks juga merupakan penyakit yang mencerminkan ketidakadilan global. Bebannya paling besar di negara berpenghasilan rendah dan menengah, di mana akses ke layanan kesehatan masyarakat terbatas dan skrining serta pengobatan untuk penyakit tersebut belum diterapkan secara luas. Pada 2021, hampir 90% dari semua kematian di seluruh dunia terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Juga proporsi wanita penderita kanker serviks yang meninggal lebih dari 60% terjadi di kelompok negara ini, lebih dari dua kali lipat jumlah penderita di banyak negara berpenghasilan tinggi, yang hanya mencapai 30%.

.

baca juga :https://dokterwikan.com/2020/02/05/2020-melawan-kanker/

.

Human papillomavirus (HPV) adalah infeksi virus sebagai penyebab utama kanker serviks, dan vaksin HPV adalah cara yang aman dan efektif untuk mencegah wanita dari infeksi HPV. Namun demikian, pada tahun 2021 lalu hanya kurang dari seperempat negara berpenghasilan rendah yang telah memasukkan vaksin HPV ke dalam jadwal imunisasi nasional mereka. Pada hal, lebih dari 85% negara berpenghasilan tinggi telah melakukannya. Perbedaan serupa juga terjadi dalam program skrining untuk mengenali stadium dini kanker serviks.

.

Strategi eliminasi kanker serviks bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu pertama pencegahan melalui vaksinasi HPV, kedua skrining atau deteksi dini dan pengobatan lesi prakanker, serta ketiga adalah pengobatan dan perawatan paliatif untuk penyintas kanker serviks invasif. Ketiga pilar tersebut harus dilaksanakan secara kolektif dan dalam skala besar untuk mencapai tujuan eliminasi. Vaksinasi HPV menawarkan perlindungan jangka panjang terhadap kanker serviks. Skrining dan pengobatan lesi prakanker dapat mencegah prakanker berkembang menjadi kanker. Bagi mereka yang diidentifikasi dengan kanker invasif, perawatan dan pengobatan tepat waktu masih mampu menyelamatkan nyawa, sementara perawatan paliatif dapat sangat mengurangi rasa sakit dan penderitaan.

.

Berdasarkan tiga pilar utama dari strategi global, maka WHO merekomendasikan serangkaian target atau tonggak sejarah yang harus dipenuhi oleh setiap negara pada tahun 2030 untuk berada di jalur pemberantasan kanker serviks dalam satu abad. Pertama, 90% remaja perempuan divaksinasi penuh dengan vaksin HPV sebelum usia 15 tahun. Kedua, 70% wanita dilakukan pemeriksaan skrining menggunakan pada usia 35 dan 45 tahun. Dan ketigas, 90% wanita penderita kanker serviks menerima perawatan medis, yaitu 90% wanita dengan pra-kanker serviks dirawat dan 90% wanita dengan kanker invasif dikelola.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/01/02/2020-prakualifikasi-obat-kanker-payudara/

.

Penghapusan kanker serviks juga akan menghasilkan dampak ekonomi dan sosial yang positif. Pada tahun 2030, sekitar 250.000 perempuan akan tetap menjadi pekerja yang produktif, menambah sekitar US $ 28 miliar untuk ekonomi dunia: US $ 700 juta sebagai akibat langsung dari peningkatan partisipasi angkatan kerja dan sekitar US $ 27 miliar sebagai manfaat tidak langsung dari kesehatan yang baik.

.

Tiga vaksin HPV sekarang sudah dipasarkan di banyak negara di seluruh dunia, yaitu vaksin bivalen, quadrivalent, dan nonavalent. Ketiga vaksin ini sangat manjur dalam mencegah infeksi dengan virus tipe 16 dan 18, yang secara bersama-sama bertanggung jawab atas sekitar 70% kasus kanker serviks secara global. Vaksin ini juga sangat manjur dalam mencegah lesi serviks pra-kanker yang disebabkan oleh jenis virus ini. Vaksin kuadrivalen juga sangat manjur dalam mencegah kutil anogenital, penyakit genital umum yang hampir selalu disebabkan oleh infeksi HPV tipe 6 dan 11. Nonavalent memberikan perlindungan tambahan terhadap HPV tipe 31, 33, 45, 52, dan 58. Data dari uji klinis dan pengawasan awal pasca pemasaran yang dilakukan di beberapa benua, menunjukkan bahwa ketiga vaksin aman.

.

Kelompok sasaran utama di sebagian besar negara yang direkomendasikan mendapatkan vaksinasi HPV adalah gadis remaja, berusia 9-14 tahun. Untuk ketiga vaksin, jadwal vaksinasi tergantung pada usia penerima vaksin. Pada anak perempuan sebelum usia 15 tahun direkomendasikan 2 dosis pemberian, yaitu 0 dan 6 bulan. Namun demikian, jika interval antar dosis lebih pendek dari 5 bulan, maka dosis ketiga harus diberikan setidaknya 6 bulan setelah dosis pertama. Untuk wanita berusia 15 tahun atau lebih, direkomendasikan 3 dosis, dengan jadwal pemberian 0, 2, 6 bulan. Pemberian 3 dosis diperlukan bagi wanita yang diketahui memiliki sistem imun yang tertekan dan atau terinfeksi HIV.

2,7 Juta Anak Indonesia Jadi Sasaran Progam Vaksinasi Kanker Serviks

Proyek percontohan vakinasi HPV di Indonesia untuk anak sekolah pada program BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah) pertama kali dilakukan di Jakarta tahun 2016. Kemudian sejak tahun 2018 dilanjutkan dengan menyasar para siswi kelas 5 dan 6 SD di lima daerah, yaitu Yogyakarta, Surabaya, Makassar, dan Manado pada bulan Agustus dan September setiap tahun. Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin memastikan bahwa program vaksinasi kanker serviks akan diberikan secara gratis pada tahun 2022, di seluruh Bali, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Selanjutnya pada 2023 nanti vaksin kanker serviks akan diperkenalkan secara nasional di seluruh provinsi di Indonesia untuk semua anak perempuan kelas 5 dan 6 SD. Namun demikian, jika ada perempuan dewasa yang ingin melakukan vaksin kanker serviks HPV dapat dilakukan secara mandiri alias berbayar dengan harga yang masih relatif tinggi, dari Rp 2,5 sampai Rp 4,1 juta.

.

Strategi untuk mencegah kanker serviks sebagai masalah kesehatan masyarakat, diawali dengan upaya vaksinasi HPV untuk remaja puteri kelas 5 dan 6 SD.

Sudahkah gadis remaja di sekitar kita diimunisasi HPV?

Sekian

Yogyakarta, 1 Juni 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life sekolah UHC vaksinasi

2022 Cacar Monyet

Waspada, Berikut Gejala Awal Cacar Monyet yang Kerap Diabaikan oleh Banyak  Orang

CACAR  MONYET

fx. wikan indrarto*)

Monkeypox (cacar monyet) disebabkan oleh virus monkeypox, anggota genus Orthopoxvirus dalam famili Poxviridae adalah penyakit zoonosis virus yang terjadi terutama di daerah hutan hujan tropis Afrika Tengah dan Barat. Cacar monyet biasanya memiliki gejala klinis demam, ruam kulit, pembengkakan kelenjar getah bening, dan dapat menyebabkan berbagai komplikasi medis. Cacar monyet biasanya merupakan penyakit yang sembuh sendiri dengan gejala yang berlangsung dari 2 hingga 4 minggu. Kasus yang parah dapat terjadi dengan rasio kasus kematian meningkat sekitar 3-6%. Apa yang mencemaskan?

.

Manifestasi klinis cacar monyet mirip dengan cacar, infeksi orthopoxvirus  yang telah dinyatakan dapat diberantas di seluruh dunia pada tahun 1980. Cacar monyet kurang menular daripada cacar dan menyebabkan penyakit yang kurang parah. Berbagai spesies hewan telah diidentifikasi rentan terhadap virus cacar monyet, yaitu tupai tali, tupai pohon, tikus, dormice, primata non-manusia dan spesies lainnya. Cacar monyet pertama kali diidentifikasi pada manusia pada tahun 1970 di Republik Demokratik Kongo pada seorang anak laki-laki berusia 9 tahun di wilayah di mana cacar telah dieliminasi pada tahun 1968. Sejak itu, kasus cacar monyet telah dilaporkan pada manusia di 11 negara Afrika, yaitu Benin, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo, Gabon, Pantai Gading, Liberia, Nigeria, Republik Kongo, Sierra Leone , dan Sudan Selatan.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/08/04/2020-bebas-cacar-dan-covid-19/

.

Pada tahun 2003, wabah cacar monyet pertama di luar Afrika terjadi di Amerika Serikat dan dikaitkan dengan kontak dengan anjing padang rumput peliharaan yang terinfeksi. Hewan peliharaan ini telah ditempatkan dengan tikus berkantung Gambia dan dormice yang telah diimpor ke negara itu dari Ghana. Wabah ini menyebabkan lebih dari 70 kasus cacar monyet di AS. Cacar monyet juga telah dilaporkan pada pelancong dari Nigeria ke Israel pada September 2018, ke Inggris pada September 2018, Desember 2019, Mei 2021 dan Mei 2022, ke Singapura pada Mei 2019, dan ke Amerika Serikat pada bulan Juli dan November 2021. Pada Mei 2022, beberapa kasus cacar monyet diidentifikasi di beberapa negara non-endemik.

.

Penularan dari hewan ke manusia (zoonotik) dapat terjadi dari kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau lesi kulit atau mukosa dari hewan yang terinfeksi. Makan daging yang tidak dimasak dengan baik dan produk hewani lainnya dari hewan yang terinfeksi merupakan faktor risiko yang mungkin. Penularan dari manusia ke manusia dapat terjadi akibat kontak dekat dengan sekret pernapasan, lesi kulit orang yang terinfeksi, atau benda yang baru saja terkontaminasi. Penularan melalui partikel pernapasan biasanya memerlukan kontak tatap muka yang berkepanjangan, yang menempatkan petugas kesehatan, anggota rumah tangga dan kontak dekat lainnya dari kasus aktif pada risiko yang lebih besar. Penularan juga dapat terjadi melalui plasenta dari ibu ke janin (yang dapat menyebabkan cacar monyet bawaan) atau selama kontak dekat selama dan setelah kelahiran.

.

Penyebab Cacar Monyet yang Perlu Diwaspadai, Ini Gejala dan Cara  Mencegahnya | merdeka.com

Masa inkubasi cacar monyet biasanya dari 6 hingga 13 hari, tetapi dapat berkisar dari 5 hingga 21 hari. Infeksi dapat dibagi menjadi dua periode, yaitu periode pertama disebut periode invasi berlangsung antara 0-5 hari yang ditandai dengan demam, sakit kepala hebat, limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening), nyeri punggung, mialgia (nyeri otot) dan asthenia yang hebat (kekurangan energi). Limfadenopati adalah ciri khas cacar monyet dibandingkan dengan penyakit lain yang awalnya mungkin tampak serupa (cacar air, campak, cacar). Periode kedua disebut periode erupsi kulit biasanya dimulai dalam 1-3 hari setelah munculnya demam. Ruam cenderung lebih terkonsentrasi di wajah dan ekstremitas daripada di badan. Ini mempengaruhi wajah (dalam 95% kasus), dan telapak tangan dan telapak kaki (dalam 75% kasus). Juga terkena adalah selaput lendir mulut (dalam 70% kasus), alat kelamin (30%), dan konjungtiva (20%), serta kornea. Ruam berkembang secara berurutan dari makula (lesi dengan dasar rata) menjadi papula (lesi keras yang sedikit terangkat), vesikel (lesi berisi cairan bening), pustula (lesi berisi cairan kekuningan), dan krusta yang mengering dan rontok. Jumlah lesi bervariasi dari beberapa hingga beberapa ribu. Dalam kasus yang parah, lesi dapat menyatu sampai sebagian besar kulit terkelupas.

.

Pengelolaan medis untuk monkeypox harus dioptimalkan sepenuhnya untuk meringankan gejala, mengelola komplikasi, dan mencegah gejala sisa jangka panjang. Diperlukan pemberian cairan dan makanan bergizi untuk mempertahankan status gizi yang memadai. Infeksi bakteri sekunder harus diobati sesuai indikasi. Obat antivirus yang dikenal sebagai tecovirimat yang dikembangkan untuk cacar atau smallpox, dilisensikan oleh European Medical Association (EMA) untuk cacar monyet pada tahun 2022, tetapi sampai sekarang obat ini belum tersedia secara luas. Pada Juli tahun 2018, Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat telah memberikan persetujuan kepada SIGA Technology untuk TPOXX (Tecovirimat), obat anti cacar pertama yang disetujui FDA. TPOXX (Tecovirimat) adalah obat penghambat protein pembungkus amplop ortopoxvirus VP37 dengan memblok interaksinya dengan seluler Rab9 GTPase dan TIP47, sehingga mencegah pembentukan bentuk ortopoxvirus kompoten yang diperlukan dalam penyebaran virus di dalam tubuh.

.

Pengobatan Tecovirimat diindikasikan pada orang dewasa dan pasien anak-anak dengan berat setidaknya 13 kg. Obat ini poten, spesifik, aman, mudah dibuat, stabil, tersedia secara oral, memiliki rejimen dosis langsung yang tidak memerlukan pengawasan medis dan tidak mengganggu vaksin. Sediaan dibuat oral dalam kapsul gelatin padat yang berisi zat aktif kristal tecovirimat monohidrat dan bahan tambahan lainnya.

.

Vaksinasi cacar dalam beberapa penelitian observasional sekitar 85% efektif dalam mencegah cacar monyet dan dapat menyebabkan penyakit yang lebih ringan. Bukti vaksinasi sebelumnya terhadap cacar biasanya dapat ditemukan sebagai bekas luka di lengan atas. Saat ini, vaksin cacar (generasi pertama) yang asli tidak lagi tersedia untuk masyarakat umum. Vaksin yang masih lebih baru berdasarkan virus vaccinia yang dilemahkan dan dimodifikasi (strain Ankara) telah disetujui untuk pencegahan monkeypox pada tahun 2019. Ini adalah vaksin dua dosis yang ketersediaannya masih terbatas. Meningkatkan kesadaran akan faktor risiko dan mendidik masyarakat tentang langkah-langkah yang dapat mereka ambil untuk mengurangi paparan virus adalah strategi pencegahan utama cacar monyet.

Jumat, 20 Mei 2022 terjadi wabah cacar monyet yang dilaporkan di 11 negara yang tidak biasa, karena terjadi di negara-negara non-endemik di Eropa, Amerika dan Australia. Ada sekitar 80 kasus yang dikonfirmasi dan 50 kasus sedang dalam penyelidikan. Lebih banyak kasus kemungkinan akan dilaporkan saat pengawasan meluas.

Apakah kita sudah bertindak bijak?

Yogyakarta, 23 Mei 2022

*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM. WA :  081227280161

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life Jalan-jalan sekolah

2022 MUDIK AMAN

Tips Mudik Aman 2022 dengan Mobil Pribadi, Tenang Saat Perjalanan - Suara  Merdeka

MUDIK  AMAN

fx. wikan indrarto*)

Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Inspektur Jenderal Firman Shantyabudi mengatakan, angka kecelakaan selama mudik Lebaran 2022 menurun 31% dibandingkan pada 2019. Pada hal jumlah kendaraan yang melintas mencapai 170.078 unit, naik 1,2% dibandingkan 166.444 unit pada tahun 2019. Cidera lalu lintas sudah dapat ditekan. Apa lagi yang harus ditingkatkan?

.

Sekitar 1,3 juta orang meninggal setiap tahun secara global akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Lebih dari setengah dari semua kematian tersebut menimpa pejalan kaki, pengendara sepeda, dan pengendara sepeda motor. Sekitar 93% kematian dunia di jalan terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, meskipun di negara ini memiliki sekitar 60% kendaraan dunia. Cedera lalu lintas jalan adalah penyebab utama kematian anak, remaja dan dewasa muda yang berusia 5-29 tahun.

.

Faktor risiko kecelakaan lalu lintas adalah usia, jenis kelamin, kecepatan, penggunaan zat adiktif dan alat keselamatan, fasilitas keamanan kendaraan, perawatan medis paska kecelakaan, dan penegakan hukum yang kurang tegas. Cedera lalu lintas jalan adalah penyebab utama kematian anak, remaja, dan dewasa muda berusia 5-29 tahun, karena mobilitas mereka lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya. Berdasarkan jenis kelamin, anak dan remaja laki-laki lebih mungkin terlibat dalam kecelakaan lalu lintas daripada perempuan. Sekitar tiga perempat (73%) dari semua kematian lalu lintas di jalan terjadi pada laki-laki muda di bawah usia 25 tahun, yang hampir 3 kali lipat lebih mungkin meninggal dalam kecelakaan lalu lintas dibandingkan perempuan muda.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/06/09/2018-tradisi-mudik/

Peningkatan kecepatan kendaraan secara langsung berhubungan dengan kemungkinan terjadinya kecelakaan dan tingkat keparahan akibat dari kecelakaan tersebut. Misalnya, setiap 1% peningkatan kecepatan rata-rata menghasilkan 4% peningkatan risiko kecelakaan fatal dan 3% peningkatan risiko kecelakaan serius. Risiko kematian pejalan kaki yang tertabrak bagian depan mobil meningkat pesat (4,5 kali pada peningkatan kecepatan dari 50 km/jam menjadi 65 km/jam). Pada benturan samping mobil ke mobil, risiko kematian bagi penumpang mobil adalah 85% pada kecepatan 65 km/jam.

.

Penggunaan helm yang benar oleh pengendara sepeda motor dapat mengurangi risiko cedera fatal sebesar 42% dan pengurangan risiko cedera kepala sebesar 69%. Mengenakan sabuk pengaman mengurangi risiko kematian di antara pengemudi dan penumpang kursi depan mobil  sebesar 45 – 50%, dan risiko kematian dan cedera serius di antara penumpang kursi belakang mobil sebesar 25%. Penggunaan kursi pengaman anak dapat menurunkan 60% kematian.

.

Pengemudi yang menggunakan ponsel kira-kira 4 kali lebih mungkin terlibat dalam kecelakaan. Menggunakan telepon cerdas saat mengemudi memperlambat waktu reaksi, terutama waktu reaksi pengereman, tetapi juga reaksi terhadap sinyal lalu lintas, dan menyulitkan untuk tetap berada di jalur yang benar, dan menjaga jarak kendaraan yang aman. Telepon hands-free tidak jauh lebih aman daripada perangkat telepon genggam.

Terpaksa Harus Mudik, Ini Tips Mudik Aman saat Wabah Corona Covid-19

Desain jalan dapat memiliki dampak yang cukup besar pada keselamatan penggunanya. Idealnya ada fasilitas yang memadai untuk pejalan kaki, pengendara sepeda, dan pengendara sepeda motor. Pembangunan jalan setapak, jalur bersepeda, titik persimpangan yang aman, dan tindakan pengaturan lalu lintas lainnya seperti ‘one way’, ‘contra flow’ dan ganjil genap sangat penting untuk mengurangi risiko cedera.

.

Kendaraan yang aman memainkan peran penting dalam mencegah kecelakaan dan mengurangi kemungkinan cedera serius. Ini termasuk mengharuskan produsen kendaraan untuk memenuhi peraturan benturan depan dan samping, untuk memasukkan kontrol stabilitas elektronik untuk mencegah kemudi yang liar (over-steering) dan untuk memastikan ‘airbag’ dan sabuk pengaman dipasang di semua jenis kendaraan.

.

Keterlambatan dalam mendeteksi dan memberikan perawatan medis bagi korban kecelakaan lalu lintas jalan meningkatkan keparahan cedera. Perawatan medis untuk cedera setelah kecelakaan terjadi, adalah sangat sensitif terhadap waktu, karena penundaan beberapa menit dapat membuat perbedaan hasil klinis antara hidup dan mati. Meningkatkan perawatan medis pasca kecelakaan memerlukan jaminan akses ke rumah sakit tepat waktu, dan kualitas perawatan medis yang bermutu, seperti melalui program pelatihan oleh dokter spesialis.

.

Jika undang-undang lalu lintas tentang mengemudi dalam keadaan mabuk, penggunaan sabuk pengaman, batas kecepatan, helm, dan pengaman anak tidak ditegakkan, peraturan tersebut tidak dapat mengurangi kematian dan cedera lalu lintas yang terkait dengan perilaku tertentu. Namun demikian, adanya tilang elektronik (e-tilang) atau electronic traffic law enforcement (ETLE) di sejumlah ruas jalan tol di Pulau Jawa yang mulai berlaku sejak 1 April 2022, diprediksi akan  mempengaruhi perilaku pengemudi.

.

Kecelakaan lalu lintas jalan dapat dicegah dengan keterlibatan dari berbagai sektor seperti transportasi, polisi, kesehatan, pendidikan, dan hukum, untuk menciptakan jalan raya yang aman bagi semua penggunanya, tidak hanya saat mudik Lebaran saja.

Apakah kita sudah terlibat berperan?

Sekian

Yogyakarta, 10 Mei 2022

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, pengguna sepeda dan pemudik jarak dekat, WA: 081227280161,

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life vaksinasi

2022 Hepatitis Misterius

Waspada Hepatitis Misterius yang Picu 3 Anak Indonesia Meninggal Dunia

HEPATITIS   MISTERIUS

fx. wikan indrarto*)

Sabtu, 23 April 2022 telah dilaporkan merebaknya penyakit hepatitis akut dan parah. Penyakit radang hati ini tidak diketahui penyebabnya dan menyerang banyak anak di beberapa negara secara sekaligus. Wabah hepatitis akut misterius ini mulai terjadi di Inggris dan Irlandia Utara pada 15 April 2022. Apa yang mencemaskan?

.

Pada 21 April 2022, setidaknya 169 kasus hepatitis akut misterius ini telah dilaporkan dari 11 negara di Eropa dan 1 negara di Amerika. Kasus telah dilaporkan di Inggris (114), Spanyol (13), Israel (12), Amerika Serikat (9), Denmark (6), Irlandia (< 5), Belanda (4), Italia (4), Norwegia (2), Prancis (2), Rumania (1), dan Belgia (1). Kasus hepatitis ini menyerang anak berusia 1 bulan hingga 16 tahun, 17 anak (sekitar 10%) membutuhkan tindakan transplantasi hati, dan setidaknya satu kematian telah dilaporkan.

Kementerian Kesehatan RI telah meningkatkan kewaspadaan dalam dua pekan terakhir setelah Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) pada kasus Hepatitis Akut yang menyerang anak-anak. Kasus ini terjadi di Eropa, Amerika dan Asia, dan belum diketahui penyebabnya sejak 15 April 2022.

Kewaspadaan tersebut meningkat setelah tiga pasien anak yang dirawat di RSUPN Dr. Ciptomangunkusumo Jakarta dengan dugaan Hepatitis Akut yang belum diketahui penyebabnya meninggal dunia, dalam kurun waktu yang berbeda dengan rentang dua minggu terakhir hingga 30 April 2022.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/07/28/2021-hari-hepatitis-sedunia/

.

Hepatitis akut (peradangan hati) ini ditandai dengan peningkatan kadar enzim hati dalam darah yang nyata. Banyak kasus memiliki gejala sakit perut, diare dan muntah, dan peningkatan kadar enzim hati (aspartate transaminase (AST) atau alanine aminotransaminase (ALT) lebih besar dari 500 IU/L) dan kulit kuning (ikterus). Sebagian besar kasus tidak mengalami demam. Virus umum yang menyebabkan hepatitis virus akut (virus hepatitis A, B, C, D dan E) belum terdeteksi dalam kasus ini. Namun demikian, Adenovirus telah terdeteksi dalam setidaknya 74 kasus, dengan pengujian molekuler, 18 telah diidentifikasi sebagai tipe F 41. SARS-CoV-2 diidentifikasi dalam 20 kasus yang diuji. Selanjutnya, 19 terdeteksi dengan koinfeksi SARS-CoV-2 dan adenovirus.

.

Pemeriksaan dan penelitian lebih lanjut sedang berlangsung di berbagai negara yang telah melaporkan adanya kasus hepatitis tersebut. Data yang dikumpulkan mencakup riwayat klinis dan paparan yang lebih rinci, pemeriksaan toksikologi, yaitu toksisitas lingkungan dan makanan, serta pemeriksaan virologi atau mikrobiologi tambahan.

.

Sementara ini adenovirus merupakan salah satu hipotesis utama sebagai penyebab hepatitis akut, tetapi tidak sepenuhnya mampu menjelaskan tingkat keparahan klinis. Hal ini karena infeksi adenovirus tipe 41 di manapun, sebelumnya tidak pernah menyebabkan keparahan klinis semacam ini. Adenovirus adalah virus umum yang biasanya hanya menyebabkan infeksi ringan yang dapat sembuh sendiri (self-limited). Virus penyebab ini menyebar antar anak dan juga sering menyebabkan gangguan pernapasan, gastroenteritis (radang lambung atau usus), konjungtivitis (mata merah), dan sistitis (infeksi kandung kemih).

.

Faktor peningkatan kerentanan pada anak, terjadi setelah tingkat penularan adenovirus lebih rendah selama pembatasan sosial terkait pandemi COVID-19. Kondisi inilah yang merupakan potensi munculnya adenovirus mutasi baru, serta koinfeksi dengan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19, perlu diselidiki lebih lanjut. Hipotesis yang terkait dengan efek samping dari vaksin COVID-19 saat ini tidak didukung, karena sebagian besar anak yang terkena hepatitis tidak menerima vaksinasi COVID-19.

.

Hepatitis Misterius Tewaskan 3 Anak, Lapor Jika Temukan Gejalanya

Saat ini sedang diakukan pemantauan ketat lebih lanjut untuk mengidentifikasi kasus tambahan, baik di negara yang saat ini terkena dampak maupun di tempat lain. Prioritasnya adalah untuk menentukan penyebab kasus ini, dan untuk lebih menyempurnakan tindakan pengendalian maupun pencegahan. Langkah pencegahan umum untuk adenovirus dan infeksi umum lainnya adalah mencuci tangan secara teratur dan menjaga kebersihan lingkungan bermain anak.

.

WHO merekomendasikan bahwa pemeriksaan darah, urin, tinja, dan sampel pernapasan, serta sampel biopsi hati (bila tersedia) harus dilakukan, untuk menentukan virus penyebab infeksi. Juga penyebab non-infeksi lainnya perlu diselidiki secara menyeluruh. Saat ini WHO tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan dan atau perdagangan dengan Inggris atau negara lain mana pun tempat kasus teridentifikasi, berdasarkan informasi yang tersedia saat ini.

.

Hepatitis misterius ini mengingatkan kita akan pneumonia Wuhan China, yang ternyata penyebabnya adalah coronavirus baru. WHO awalnya menamai 2019 novel coronavirus (2019-nCoV) pada 12 Januari 2020 dan kemudian secara resmi mengubahnya menjadi penyakit coronavirus 2019 (COVID-19) pada 12 Februari 2020. Sejak COVID-19 pertama kali muncul di China pada 1 Desember 2019, dalam 4 bulan virus dengan cepat menyebar ke negara lain di seluruh dunia sebagai ancaman global. Pada 11 Maret 2020, WHO akhirnya membuat penilaian bahwa COVID-19 dapat dikategorikan sebagai pandemi, menyusul flu Spanyol 1918 (H1N1), flu Asia 1957 (H2N2), flu Hong Kong 1968 (H3N2), dan flu Pandemi 2009 (H1N1), yang masing-masing menyebabkan sekitar 50 juta, 1,5 juta, 1 juta, dan 300.000 kematian manusia.

.

Hepatitis misterius di Inggris ini juga mengingatkan kita akan wabah Hepatitis A di Pacitan dan Trenggalek Jawa Timur pada Minggu, 30 Juni 2019 lalu dengan jumlah penderita penyakit kuning itu nyaris menembus angka 1.000 orang. Kita diingatkan agar terus mengikuti perkembangan berita, mencermati penluran, dan melakukan tindakan pencegahan dengan mempromosikan perbaikan sanitasi, keamanan pangan, dan vaksinasi Hepatitis sesuai jadwal, untuk semua anak di sekitar kita.

Apakah kita sudah bertindak?

Yogyakarta, 30 April 2022

*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM. WA :  081227280161

Categories
anak Healthy Life Jalan-jalan Pendukung ASI sekolah

2022 Cegah kegemukan

Cara Mencegah Obesitas pada Anak, Bagaimana Caranya?

CEGAH KEGEMUKAN

fx. wikan indrarto*)

Mempercepat tindakan untuk menghentikan obesitas


Lebih dari 1 miliar orang di seluruh dunia mengalami obesitas. Jumlah ini masih terus bertambah, bahkan WHO memperkirakan pada tahun 2025, sekitar 167 juta orang, baik dewasa dan anak, akan jadi sakit karena kelebihan berat badan atau obesitas. Apa yang mencemaskan?

.

Obesitas adalah penyakit yang mempengaruhi sebagian besar sistem dan organ tubuh, dari jantung, hati, ginjal, sendi, sampai sistem reproduksi. Dampaknya berupa penyakit tidak menular (PTM), seperti diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, hipertensi dan stroke, kanker, serta masalah kesehatan mental. Orang dengan obesitas juga tiga kali lebih mungkin dirawat di rumah sakit karena COVID-19. Kunci untuk mencegah obesitas adalah bertindak sejak dini, idealnya bahkan sebelum bayi lahir. Nutrisi yang baik selama kehamilan, diikuti dengan pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan dan terus menyusui sampai usia 2 tahun, adalah langkah yang terbaik untuk semua bayi dan anak.

.

Kegemukan dan obesitas didefinisikan sebagai akumulasi lemak abnormal atau berlebihan yang dapat mengganggu kesehatan. Indeks massa tubuh (BMI) adalah indeks sederhana dari berat badan-untuk-tinggi yang umum digunakan untuk mengklasifikasikan kelebihan berat badan dan obesitas. Untuk anak balita kelebihan berat badan adalah berat badan untuk tinggi badan lebih besar dari 2 standar deviasi di atas median Standar Pertumbuhan Anak WHO, dan obesitas lebih besar dari 3. Pada anak dan remaja berusia antara 5-19 tahun kelebihan berat badan adalah BMI lebih besar dari 1 standar deviasi di atas median Pertumbuhan WHO dan obesitas lebih besar dari 2.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/03/03/2021-tumpas-obesitas/

.

Penyebab mendasar dari obesitas dan kelebihan berat badan adalah ketidakseimbangan energi antara kalori yang dikonsumsi dan kalori yang dikeluarkan. Secara global, hal tersebut telah terjadi karena pertama, adanya peningkatan asupan makanan padat energi yang tinggi lemak dan gula. Kedua, penurunan aktivitas fisik karena semakin banyak bentuk pekerjaan yang menetap, perubahan moda transportasi, dan peningkatan urbanisasi. Keduanya, yaitu perubahan pola makan dan aktivitas fisik seringkali merupakan hasil dari perubahan lingkungan dan sosial yang terkait dengan pembangunan dan kurangnya kebijakan yang mendukung pada sektor kesehatan, pertanian, transportasi, perencanaan kota, lingkungan, pengolahan makanan, distribusi, pemasaran, dan pendidikan.

.

Obesitas pada anak dikaitkan dengan kemungkinan obesitas, kematian dini, dan kecacatan yang lebih tinggi di masa dewasa. Namun selain peningkatan risiko di masa depan, anak obesitas mengalami kesulitan bernapas, peningkatan risiko patah tulang, hipertensi, penanda awal penyakit kardiovaskular, resistensi insulin dan efek psikologis. Kegemukan dan obesitas, serta penyakit tidak menular yang terkait, sebagian besar dapat dicegah. Lingkungan dan masyarakat yang mendukung sangat penting dalam membentuk pilihan masyarakat, dengan menjadikan pilihan makanan yang lebih sehat dan aktivitas fisik yang teratur sebagai pilihan yang paling mudah diakses, tersedia dan terjangkau.

Cara Mengatasi dan Mencegah Obesitas pada Anak - Rumah Sakit Karanggede  Sismamedika

Pada tingkat keluarga, orang tua dapat dapat melakukan pembatasan asupan energi dari total lemak dan gula pada anak. Juga meningkatkan konsumsi buah dan sayuran, serta kacang-kacangan, biji-bijian. Dan jangan lupa untuk mendorong anak melakukan aktivitas fisik secara teratur (60 menit sehari untuk anak-anak dan 150 menit dalam seminggu untuk remaja dan orang dewasa).

.

Di tingkat masyarakat, penting untuk mendukung individu dalam mengikuti rekomendasi di atas, melalui implementasi berkelanjutan dari kebijakan berbasis bukti dan berbasis populasi yang membuat aktivitas fisik teratur dan pilihan makanan yang lebih sehat tersedia, terjangkau dan mudah diakses oleh semua orang, terutama bagi yang termiskin. individu. Contoh dari kebijakan tersebut adalah pajak atas minuman manis dengan gula.

.

Industri makanan dapat memainkan peran penting dalam mempromosikan diet sehat dengan mengurangi kandungan lemak, gula, dan garam makanan olahan. Juga memastikan bahwa pilihan yang sehat dan bergizi tersedia dan terjangkau bagi semua konsumen. Regulasi negara harus mencakup pembatasan pemasaran makanan tinggi gula, garam dan lemak, terutama makanan yang ditujukan untuk anak dan remaja. Selain itu, juga memastikan ketersediaan pilihan makanan sehat dan mendukung praktik aktivitas fisik secara teratur di tempat kerja.

Pada kesempatan Hari Obesitas Sedunia 4 Maret 2022, semua negara harus berbuat lebih banyak untuk membalikkan krisis kesehatan yang dapat diprediksi dan dicegah ini. Langkah efektif harus segera diambil, termasuk membatasi pemasaran makanan dan minuman tinggi lemak, gula dan garam kepada anak, mengenakan pajak pada minuman manis, dan menyediakan akses yang lebih baik ke makanan sehat yang terjangkau. Setiap kota perlu menyediakan ruang bagi semua warganya, termasuk anak untuk berjalan kaki ke sekolah, bersepeda, dan rekreasi yang aman, dan guru di sekolah perlu mengajarkan kebiasaan sehat kepada anak sejak dini.

.

Sudahkah kita bijak mensikapi bahaya obesitas ?

Sekian

Yogyakarta, 4 Maret 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?