Categories
anak Healthy Life Jalan-jalan Pendukung ASI sekolah

2022 Cegah kegemukan

Cara Mencegah Obesitas pada Anak, Bagaimana Caranya?

CEGAH KEGEMUKAN

fx. wikan indrarto*)

Mempercepat tindakan untuk menghentikan obesitas


Lebih dari 1 miliar orang di seluruh dunia mengalami obesitas. Jumlah ini masih terus bertambah, bahkan WHO memperkirakan pada tahun 2025, sekitar 167 juta orang, baik dewasa dan anak, akan jadi sakit karena kelebihan berat badan atau obesitas. Apa yang mencemaskan?

.

Obesitas adalah penyakit yang mempengaruhi sebagian besar sistem dan organ tubuh, dari jantung, hati, ginjal, sendi, sampai sistem reproduksi. Dampaknya berupa penyakit tidak menular (PTM), seperti diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, hipertensi dan stroke, kanker, serta masalah kesehatan mental. Orang dengan obesitas juga tiga kali lebih mungkin dirawat di rumah sakit karena COVID-19. Kunci untuk mencegah obesitas adalah bertindak sejak dini, idealnya bahkan sebelum bayi lahir. Nutrisi yang baik selama kehamilan, diikuti dengan pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan dan terus menyusui sampai usia 2 tahun, adalah langkah yang terbaik untuk semua bayi dan anak.

.

Kegemukan dan obesitas didefinisikan sebagai akumulasi lemak abnormal atau berlebihan yang dapat mengganggu kesehatan. Indeks massa tubuh (BMI) adalah indeks sederhana dari berat badan-untuk-tinggi yang umum digunakan untuk mengklasifikasikan kelebihan berat badan dan obesitas. Untuk anak balita kelebihan berat badan adalah berat badan untuk tinggi badan lebih besar dari 2 standar deviasi di atas median Standar Pertumbuhan Anak WHO, dan obesitas lebih besar dari 3. Pada anak dan remaja berusia antara 5-19 tahun kelebihan berat badan adalah BMI lebih besar dari 1 standar deviasi di atas median Pertumbuhan WHO dan obesitas lebih besar dari 2.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/03/03/2021-tumpas-obesitas/

.

Penyebab mendasar dari obesitas dan kelebihan berat badan adalah ketidakseimbangan energi antara kalori yang dikonsumsi dan kalori yang dikeluarkan. Secara global, hal tersebut telah terjadi karena pertama, adanya peningkatan asupan makanan padat energi yang tinggi lemak dan gula. Kedua, penurunan aktivitas fisik karena semakin banyak bentuk pekerjaan yang menetap, perubahan moda transportasi, dan peningkatan urbanisasi. Keduanya, yaitu perubahan pola makan dan aktivitas fisik seringkali merupakan hasil dari perubahan lingkungan dan sosial yang terkait dengan pembangunan dan kurangnya kebijakan yang mendukung pada sektor kesehatan, pertanian, transportasi, perencanaan kota, lingkungan, pengolahan makanan, distribusi, pemasaran, dan pendidikan.

.

Obesitas pada anak dikaitkan dengan kemungkinan obesitas, kematian dini, dan kecacatan yang lebih tinggi di masa dewasa. Namun selain peningkatan risiko di masa depan, anak obesitas mengalami kesulitan bernapas, peningkatan risiko patah tulang, hipertensi, penanda awal penyakit kardiovaskular, resistensi insulin dan efek psikologis. Kegemukan dan obesitas, serta penyakit tidak menular yang terkait, sebagian besar dapat dicegah. Lingkungan dan masyarakat yang mendukung sangat penting dalam membentuk pilihan masyarakat, dengan menjadikan pilihan makanan yang lebih sehat dan aktivitas fisik yang teratur sebagai pilihan yang paling mudah diakses, tersedia dan terjangkau.

Cara Mengatasi dan Mencegah Obesitas pada Anak - Rumah Sakit Karanggede  Sismamedika

Pada tingkat keluarga, orang tua dapat dapat melakukan pembatasan asupan energi dari total lemak dan gula pada anak. Juga meningkatkan konsumsi buah dan sayuran, serta kacang-kacangan, biji-bijian. Dan jangan lupa untuk mendorong anak melakukan aktivitas fisik secara teratur (60 menit sehari untuk anak-anak dan 150 menit dalam seminggu untuk remaja dan orang dewasa).

.

Di tingkat masyarakat, penting untuk mendukung individu dalam mengikuti rekomendasi di atas, melalui implementasi berkelanjutan dari kebijakan berbasis bukti dan berbasis populasi yang membuat aktivitas fisik teratur dan pilihan makanan yang lebih sehat tersedia, terjangkau dan mudah diakses oleh semua orang, terutama bagi yang termiskin. individu. Contoh dari kebijakan tersebut adalah pajak atas minuman manis dengan gula.

.

Industri makanan dapat memainkan peran penting dalam mempromosikan diet sehat dengan mengurangi kandungan lemak, gula, dan garam makanan olahan. Juga memastikan bahwa pilihan yang sehat dan bergizi tersedia dan terjangkau bagi semua konsumen. Regulasi negara harus mencakup pembatasan pemasaran makanan tinggi gula, garam dan lemak, terutama makanan yang ditujukan untuk anak dan remaja. Selain itu, juga memastikan ketersediaan pilihan makanan sehat dan mendukung praktik aktivitas fisik secara teratur di tempat kerja.

Pada kesempatan Hari Obesitas Sedunia 4 Maret 2022, semua negara harus berbuat lebih banyak untuk membalikkan krisis kesehatan yang dapat diprediksi dan dicegah ini. Langkah efektif harus segera diambil, termasuk membatasi pemasaran makanan dan minuman tinggi lemak, gula dan garam kepada anak, mengenakan pajak pada minuman manis, dan menyediakan akses yang lebih baik ke makanan sehat yang terjangkau. Setiap kota perlu menyediakan ruang bagi semua warganya, termasuk anak untuk berjalan kaki ke sekolah, bersepeda, dan rekreasi yang aman, dan guru di sekolah perlu mengajarkan kebiasaan sehat kepada anak sejak dini.

.

Sudahkah kita bijak mensikapi bahaya obesitas ?

Sekian

Yogyakarta, 4 Maret 2022

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
antibiotika COVID-19 dokter Healthy Life Jalan-jalan Pendukung ASI sekolah UHC

2022 Hari Kesehatan Dunia

Hari Kesehatan Sedunia 2022: Sejarah dan Tema Peringatan

Tulisan ini juga dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 17 April 2022, halaman 8

HARI  KESEHATAN  SEDUNIA  2022

fx. wikan indrarto*)

Setiap tanggal 7 April, dirayakan sebagai Hari Kesehatan Sedunia (World Health Day). Pada tahun 2022 ini kita diajak menciptakan dunia dengan udara yang bersih, air dan makanan tersedia untuk semua. Juga kebijakan ekonomi difokuskan pada aspek kesehatan dan kesejahteraan warga. Selain itu, setiap kota dapat ditinggali dengan nyaman, karena warganya memiliki kendali atas kesehatan diri dan kesehatan bumi ini.

.

Tema peringatan tahun 2022 : planet kita adalah kesehatan kita (our planet, our health). Di tengah pandemi COVID-19, planet kita yang tercemar akan meningkatkan penyakit seperti kanker, asma, dan gangguan jantung. WHO memperkirakan bahwa lebih dari 13 juta kematian di seluruh dunia setiap tahun, disebabkan oleh penyebab atau faktor lingkungan hidup yang sebenarnya dapat dihindari. Ini termasuk krisis iklim yang merupakan satu-satunya ancaman kesehatan terbesar yang dihadapi umat manusia, bahkan krisis perubahan iklim juga merupakan krisis kesehatan.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2022/01/09/2021-momentum-kesehatan/

.

Keputusan politik, sosial, dan komersial yang tidak bijaksana akan mendorong krisis iklim dan kesehatan. Lebih dari 90% orang menghirup udara tidak sehat akibat pembakaran bahan bakar fosil, terutama untuk kendaraan bermotor. Dunia yang memanas akan memungkinkan nyamuk terbang untuk menyebarkan penyakit Dengue lebih jauh dan lebih cepat daripada sebelumnya. Gangguan cuaca ekstrem, degradasi lahan dan kelangkaan air menggusur orang dan menurunkan derajad kesehatan mereka. Plastik ditemukan di dasar lautan terdalam dan gunung tertinggi, bahkan telah memasuki rantai makanan kita. Sistem yang menghasilkan makanan dan minuman yang diproses dengan cepat saji dan tidak sehat mendorong gelombang obesitas, meningkatkan kanker dan penyakit jantung. Bahkan juga menghasilkan sepertiga dari emisi gas rumah kaca global.

.

Sementara pandemi COVID-19 menunjukkan kepada kita kekuatan teknologi kedokteran dalam meredamnya, tetapi sekaligus juga menyoroti ketidaksetaraan pemberian layanan medis di hampir seluruh dunia. Pandemi COVID-19 telah mengungkapkan kelemahan di semua bidang masyarakat dan menggarisbawahi urgensi menciptakan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan dan adil. Desain ekonomi saat ini mengarah pada distribusi pendapatan, kekayaan, dan kekuasaan yang tidak merata, sehingga masih terlalu banyak orang yang hidup dalam kemiskinan. Pembanganunan ekonomi ke depan sebaiknya memiliki tujuan kesejahteraan manusia, kesetaraan dan keberlanjutan ekologis. Tujuan ini diterjemahkan ke dalam investasi jangka panjang, anggaran kesejahteraan, perlindungan sosial, strategi hukum dan fiskal.

.

Selamat Hari Kesehatan Sedunia 2022 - Yayasan Gastroenterologi Indonesia

Sembilan dari sepuluh orang menghirup udara yang tercemar. Polusi udara telah membunuh 13 orang setiap menitnya karena kanker paru-paru, penyakit jantung dan stroke. Sebaiknya segera berhenti membakar bahan bakar fosil seperti minyak, batu bara, dan gas alam, karena menyebabkan polusi udara. Polusi nitrogen dioksida dapat memperburuk penyakit pernapasan, terutama asma. Sistem transportasi umum yang terencana dengan baik, termasuk jalan kaki dan bersepeda yang aman, dapat meningkatkan kualitas udara, mengurangi perubahan iklim, dan memberikan manfaat kesehatan tambahan.

.

Perubahan iklim merupakan ancaman bagi kesehatan manusia karena meningkatnya suhu bumi dan terjadi banjir, bahkan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk seperti Dengue, menyebar lebih luas dan menempatkan 2 miliar orang tambahan pada risiko infeksi dengue. Sekitar 3,6 miliar orang kekurangan toilet yang aman secara global. Kotoran manusia yang tidak diolah merusak ekosistem dan kesehatan manusia. Bahkan 2 miliar orang kekurangan air minum yang aman secara global dan 829.000 orang meninggal karena penyakit diare setiap tahun yang disebabkan oleh air yang tercemar dan sanitasi yang buruk. Diperlukan perlindungan terhadap sumber air baku dengan mencegah masuknya limbah dan bahan kimia ke danau, sungai, atau air tanah kita.  Selain itu, juga perlu  mengelola limbah medis dengan aman, karena luka tertusuk jarum suntik yang dibuang dapat menyebabkan Hepatitis B, C dan penyakit menular lainnya.

.

Tembakau membunuh lebih dari 8 juta orang setiap tahun dan sangat adiktif. Ini adalah faktor risiko utama untuk kanker, gangguan jantung, dan penyakit paru-paru. Sekitar 600 juta pohon ditebang untuk menghasilkan 6 triliun batang rokok setiap tahun, juga mengurangi udara bersih yang kita hirup. Selain tembakau dapat menyebabkan kematian, menanam tembakau juga membahayakan planet ini, sehingga kita perlu menjaga tubuh dan lingkungan bebas dari tembakau.

.

Momentum Hari Kesehatan Sedunia (World Health Day) pada Kamis, 7 April 2022 dan pandemi COVID-19 mengingatkan kita akan pentingnya  berinvestasi dalam bidang kesehatan sebagai motor pembangunan. Negara tidak perlu memilih prioritas untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan keadilan sosial di satu sisi. Atau di sisi lainnya meliputi pembangunan masyarakat yang berkelanjutan, ketahanan pangan dan nutrisi yang memadai, mengatasi perubahan iklim, atau menggenjot roda ekonomi. Semua hasil penting ini ternyata berjalan seiring, tidak terpisahkan, dan saling terkait (hand in hand), dalam menciptakan planet kita yang lebih sehat dan semakin adil (our planet, our health).

 Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 4 April 2022

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
dokter Healthy Life Istanbul Jalan-jalan

2022 ACEH

Muktamar IDI ke 31 di Banda Aceh Cenvention Hall

ACEH

(hari ke 1)

fx. wikan indrarto

Perjalanan kami ke Aceh pada Selasa, 22 Maret 2022 untuk mengikuti Muktamar IDI (Ikatan Dokter Indonesia) ke 31 di Banda Aceh. Kami naik KA Bandara dari Stasiun Tugu Yogyakarta, menempuh waktu 40 menit, berangkat pk. 5 dan berhenti di Stasiun Wates saja. Kereta api Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) dengan warna interior kabin dominan hijau putih, berpenggerak diesel electric KRDE buatan INKA Madiun, yang mulai beroperasi pada 6 Mei 2019. Kami menikmati pemandangan indah sawah dan kebun di sekitar rel, dalam remang pagi yang perlahan benderang. Sambutan dengan bahasa Indonesia, Inggris dan Jawa keromo hinggil, disampaikan oleh crew yang diselingi suara mesin diesel yang menyelinap, karena kabin kurang kedap, apalagi di gerbong paling depan. Perjalanan melambat sedikit di sekitar Stasiun Kedundang, karena jalur berbelok tajam ke kiri, keluar dari jalur utama sisi selatan Jawa. Jalur baru ini adalah murni layang, di atas sawah subur yang bulir padinya mulai menguning di sekitar Bandara YIA.

Pemberian mandat sebagai Utusan IDI Cabang Kota Yogyakarta
ke Muktamar IDI ke 31 di Banda Aceh
Stasiun KA Bandara yang indah, modern dan nyaman di Lantai 2 Bandara YIA Kulon Progo, DIY

Bergabung dengan rombongan IDI Wilayah DIY & IDI Cabang se DIY
di Bandara YIA Kulon Progo DIY

Kontingen IDI Wilayah DIY ke Muktamar IDI ke 31 Banda Aceh meliputi 23 orang, termasuk perwakilan MKKI, IDI Cabang dan pendamping. Kami terdiri dari dr. Muhammad Rosadi (MKKI), dr. Betty Juliastuti (Sleman), dr. Tri Kusumo Bawono, SE (Kota), dr. Fx. Wikan Indrarto (Kota), dr. Riska Novriana (Kota), dr. Sagiran (Bantul), dr. Tri Ermin Fadlina (Bantul), dr. Dewi Irawaty (DIY), dr. Banu Krisna (KP), dr. Melly (KP), dan dr. Rita Ivana Ariyani (KP). Juga dr. Diah Prasetyorini (GK), dr. Joko Murdiyanto (DIY), dr. Moch. Any Ashari (DIY), drg. Dyah Ekowati Ratnasari (peninjau), dr. Tri Widjaja (DIY), dr. Moch Junaidy (DIY), dr. Hernawan Koco Sungkana (Sleman), dr. Rino Rusdiono (Sleman), dr. Desi Arijadi (Sleman), dr. Abdul Latief (Kota), dr. Nuryasin Kurniawan (DIY), dan dr. Agus Wiyono (KP).

Masih mengantuk di dalam kabin kereta api ke Bandara YIA buatan INKA Madiun, Jawa Timur
Dr. Tri Kusumo Bawono, SE dan Dr. Riska Novriana yang harus kembali ke rumah dulu, karena jas IDI tertinggal, dan kena tilang elektronik, karena melanggar lampu bangjo, demi mengejar kereta api ke Bandara YIA buatan INKA Madiun

Setelah berfoto dengan seragam IDI abu2, jas IDI hijau dan blangkon gaya Sunan Kalijogo yang dilengkapi sulur kain dari mondolan, kami segera naik ke badan pesawat Batik Air dengan nomor penerbangan ID 6371. Penerbangan berangkat dari Yogyakarta International Airport pada pukul 07:10 menuju Padang Minangkabau International Airport, dan kami akan turun di terminal 2 Bandara Soekarno Hatta Tangerang, Banten. Ini adalah penerbangan codeshare dengan Lion Air  JT6371, sebuah pesawat Airbus A320 Neo, yang kini menguasai pangsa pasar 60 persen dibandingkan dengan pesawat sejenis, yaitu keluaran Boeing seri 737 Max. Pesawat Airbus A320 ini unggul karena menggabungkan teknologi sharklets, mesin baru yang hemat bahan bakar, dan inovasi kabin terbaru, dengan penggunaan bahan bakar 20 persen lebih hemat per kursi. Di dalam kabin pesawat yang didatangkan pada Selasa, 6 Februari 2020 itu, kami terbang bersama Bapak Muhajir Effendi Menko Kesra RI dan Bapak Hariyadi Suyuti Walikota Yogyakarta. Sesuai aturan protokol kesehatan di masa pandemi COVID-19, untuk penerbangan kurang dari 2 jam tidak diizinkan membuka masker, sehingga roti dan air mineral Batik Air dibagikan untuk dibawa penumpang turun.

Setelah mendarat di Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno Hatta Tangerang, Banten, kami naik Innova dan Hi Ace, karena shuttle dan kereta bandara belum beroperasi lagi, menuju ke Terminal 3, untuk pindah pesawat dengan menunggu hampir 3 jam. Kami naik pesawat Garuda Indonesia yang saat ini beroperasi hanya dengan 125 pesawat, yang mencakup pesawat sewa dan pesawat milik Garuda Indonesia, termasuk 6 pesawat jenis A330-300 milik sendiri. Kami naik Garuda A330-300 GA 146 dari Jakarta menuju Bandara Sultan Iskandar Muda di Kabupaten Aceh Besar sekitar 24 km dari Banda Aceh. Pesawat Airbus A330 bermesin ganda (twinjet), untuk penerbangan  jarak menengah hingga jauh berkapasitas, besar, berbadan lebar. Pesawat ini dirakit di Toulouse Blagnac, Perancis. Kami sepesawat dengan Prof. dr. Ilham Oetama Marsis, SpOG Ketua purna PB IDI, dr. Daeng M. Faqih, MH Ketua PB IDI sekarang, teman2 dari IDI Wilayah Jawa Barat, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Jambi, Papua dan Jawa Tengah.

Rombongan IDI Wilayah DIY saat tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Aceh Besar, langsung disambut hangat
Pengalungan syal khas Aceh oleh Bapak Ir. Helvizar Ibrahim, MSi, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Aceh untuk Dr. Tri Kusumo Bawono, SE
Laporan penyambutan kontingen IDI Wilayah DIY oleh jajaran Dinas Koperasi dan UMKM Aceh
Ucapan selamat datang dan semangat sukses dari Bapak Ir. Helvizar Ibrahim, MSi, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Aceh

Setelah mendarat, kami mendapat sambutan luar biasa dari LO segenap 38 institusi dinas tingkat Propinsi Aceh, untuk masing-masing IDI Wilayah se Indonesia. Semua dikoordinasikan oleh dr. Taqwaallah, MKes mantan Kepala Dinas Kesehatan yang sekarang menjabat Sekda Aceh. Kontingan IDI Wilayah DIY disambut khusus oleh Dinas Koperasi dan UMKM Aceh, dengan pengalungan syal khas Aceh oleh Bapak Ir. Helvizar Ibrahim, MSi, Kepala Dinas Koperasi Aceh. Sambutan para pegawai dinas tingkat Propinsi Aceh kepada segenap dokter peserta Muktamar IDI adalah hal baru dan sangat inspiratif bagi IDI. Para pejabat dan ASN di Aceh menyambut para dokter sebagai tamu dengan sangat santun, hormat dan penuh dedikasi.

Dari Bandara Iskandar Muda di Kabupaten Aceh Besar, kami diantar oleh 6 mobil (Nissan Terra dan Toyota Innova G) plat merah milik Dinas Koperasi dan UMKM Aceh menuju warung kopi Solong di Jl. T. Iskandar 13 Ulee Kareng, Banda Aceh yang didirikan oleh H. Muhammad Saman, atau lebih dikenal Abu Amad Solong, pada tahun 1974 yang racikan kopinya sudah beliau temukan sejak 1969.

Bergaya sesaat keluar gerbang Bandara Sultan Iskandar Muda Aceh, di depan gedung terminal penumpang yang bergaya kubah masjid
Melihat cara menyaring kopi Di Coffee Solong Jl. T. Iskandar 13 Aceh. Makanya kopinya bersih tanpa ampas dan enak sekali
Menunggu pesanan kopi robusta di Coffee Solong Jl. T. Iskandar 13 Aceh
Kue khas Aceh teman minum kopi di Coffee Solong Jl. T. Iskandar 13 Aceh

Kopi Solong “Jasa Ayah” adalah salah satu kedai yang paling ramai dikunjungi oleh para pecinta kopi baik lokal atau pun turis domestik, bahkan para turis mancanegara. Kopi di kedai ini terkenal karena warnanya yang sangat pekat, rasanya yang nikmat, aromanya yang sangat wangi, dan kopi yang hampir tanpa ampas. Kopi yang disajikan disaring dengan menggunakan saringan khusus berulang kali baru kemudian disajikan ke gelas-gelas. Hal ini lah yang membuat kopi-kopi yang disajikan tersebut hampir tidak memiliki ampas, dan sangat kental.

Kami memesan kopi sanger, singkatan sama-sama ngerasa, kombinasi kopi robusta dengan susu sehingga berwarna coklat muda dengan cita rasa mantab. Kopi robusta ada 7 pilihan, sedangkan kopi arabica ada 14 pilihan rasa. Setelah menikmati kue timpan dan kue jala khas Aceh, kami dikenyangkan juga dengan mie Aceh yang pedas dan penuh rempah. Selanjutnya kami check in di Hotel Arabia kamar 221, Jl. Khairil Anwar 55 Peunayong, Banda Aceh, sekamar dengan dr. Tri Kusumo Bawono, SE. Setelah mandi dan sholat maghrib malam ini kami menghadiri malam keakraban bagi peserta Muktamar IDI ke 31 di Stadion Harapan Bangsa atau Stadion Lhong Raya. Ini adalah sebuah stadion sepak bola di Kota Banda Aceh, yang juga merupakan markas klub sepak bola Persiraja Banda Aceh yang bermain di LIGA 1 Indonesia. Stadion ini dibangun pada tahun 1997 dan mengalami renovasi setelah bencana Gempa bumi Samudra Hindia 2004 dengan dana bantuan bersumber dari FIFA. Stadion Harapan Bangsa memiliki kapasitas 45.000 tempat duduk. 

Sebagian kontingen IDI Wilayah DIY sebelum masuk stadion untuk Muktamar IDI ke 31
Kontingen IDI Wilayah DIY saat Welcome Dinner Muktamar IDI ke 31 
di Stadion Harapan Bangsa Banda Aceh

Malam ini kami menghadiri ‘Welcome Dinner’ atau dalam Bahasa Aceh disebut ‘Pemulia Jamee’, berupa Penyambutan oleh Bapak Ir. H. Nova Iriansyah, M.T, Gubernur Aceh dan penyerahan ‘IDI Award’ yang dilaksanakan di Stadion Harapan Bangsa. Acara meriah ini dikoordinasikan oleh Ketua Panitia, dr. Nasrul Musadir, SpS(K), FINA menerapkan protokol kesehatan ketat dan syariat lokal, sehingga tempat duduk peserta wanita dan pria dipisahkan. Sambil makan malam dengan protokol kesehatan agak longgar, acara dibuka dengan tari saman khas Aceh yang rancak, dinamis dan kompak. Lanjut drama kolasal perjuangan Pahlawan Nasional Cut Nyak Dien melawan kolonial VOC Belanda. Kata wasiatnya terus menggema keras, ‘Aku Cut Nyak Dien perempuan Aceh yang tetap merdeka, tidak tunduk kepada siapapun’.

Acara dilanjutkan sapaan hangat oleh Bapak Sandiaga Uno Menparekraf RI secara zoom, yang ditampilkan dalam layar besar. Beliau menyambut baik dimulainya wisata berbasis MICE (Meetings, Incentives, Conferencing, Exhibitions) oleh IDI di Banda Aceh, yang didorong untuk menjadi tulang punggung pendapatan daerah dari sektor pariwisata. Selain itu, Bapak Menteri juga mengingatkan adanya 1,2 juta wisatawan ‘health tourism’ dari Indonesia pergi ke Malaysia. IDI didorong untuk mengembangkan wisata kesehatan di rumah sendiri, di seluruh tanah air Indonesia. Beliau mengapresiasi IDI yang terus berada di garda terdepan dalam mengatasi pandemi COVID-19 dan diharapkan tetap menjadi panglima dalam momentum kebangkitan ekonomi dan pariwisata kesehatan.

Bersama Bapak R. Iwan Soenaryo Sasmono, ketua komunitas pencinta sepeda onthel Aceh.
Karpet merah menyambut tamu pada Welcome Dinner Muktamar IDI ke 31
di Stadion Harapan Bangsa Aceh Banda Aceh
Sebagian kontingen IDI Wilayah DIY di dalam stadion Harapan Bangsa untuk welcome diner Muktamar IDI ke 31 di Banda Aceh
Utusan IDI Cabang Kota Yogyakarta di dalam stadion Harapan Bangsa untuk welcome diner Muktamar IDI ke 31 di Banda Aceh

Kami sempat menggunakan ‘mobile toilet’ VVIP kepresidenan, yang sangat elite, modern, dan hanya ada 2 buah di seluruh Indonesia, dan di parkir pada areal jogging track Stadion Harapan Bangsa, yang dikelola dalam pimpinan Bapak R. Iwan Soenaryo Sasmono, ketua komunitas pencinta sepeda onthel yang tergabung dalam Gari Awak Awai (GAA) Koetaradja Aceh. Sebelum acara selesai, kami bertiga rombongan IDI Cabang Kota Yogyakarta pamit undur diri, untuk menikmati sebuah tempat guna mengenang peristiwa 26 Desember 2004, sekaligus simbol kebangkitan warga Aceh, yaitu Museum Tsunami. Dibangun pada 2008, museum ini dibuka untuk umum pada 2011, yang merupakan hasil rancangan Bapak Ridwan Kamil, saat ini Gubernur Jawa Barat, yang kala itu masih berprofesi sebagai arsitek, dan memenangkan sayembara tingkat internasional yang diadakan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Nangroe Aceh Darussalam (BRR NAD), bersama Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).

Meski dalam remang malam, kami masih dapat merasakan kesedihan dan kemudian semangat kebangkitan warga Aceh. Selanjutnya kami mengunjungi situs tsunami lainnya, yaitu sebuah kapal di atas rumah di kampung Lampulo, Banda Aceh. Kapal itu menjadi saksi bisu bencana alam gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh dan sekitarnya pada 26 Desember 2004. Kapal dengan panjang 25 meter dan lebar 5,5 meter ini memiliki berat 20 ton itu, terseret arus air laut sekitar 1 km dari tempat semulanya di Sungai Krueng, Aceh, akibat musibah besar itu.


Kapal yang hanyut 1 km dan terdampar, karena bencana alam gempa bumi dan tsunami
di kampung Lampulo, Banda Aceh
Pantai Ulee Lheue sekitar 7 kilometer dari Kota Banda Aceh,
yang merupakan pantai paling eksotis di malam hari.
Masjid Raya Baiturrahman yang merupakan peninggalan Kerajaan Aceh
Berfoto dalam pengaturan cahaya senter HP di Masjid Raya Baiturrahman

Setelah berfoto dalam pengaturan cahaya senter HP yang penuh seni ‘lighting’ di situ, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Ulee Lheue sekitar 7 kilometer dari Kota Banda Aceh, yang merupakan pantai paling eksotis di malam hari. Dengan seni ‘lighting’ dari lampu mobil Toyota Innova G dan senter HP, kembali kami berfoto penuh gaya sampai puas. Selanjutnya kami mengunjungi Masjid Raya Baiturrahman, yang merupakan peninggalan Kerajaan Aceh dan menjadi simbol agama, budaya, dan perjuangan masyarakat Aceh. Masjid besar dan indah ini tidak hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan dan saksi kejayaan Kerajaan Aceh, tetapi juga pernah dijadikan markas pertahanan rakyat terhadap serangan penjajah Belanda. Masjid Raya Baiturrahman dibangun oleh Sultan Iskandar Muda, raja Aceh periode 1607-1636, pada 1612. Malam itu kami akhiri perjalanan keliling lantai suci masjid dengan berfoto lagi, sampai kami menjadi kelaparan. Akhirnya kami makan malam nasi goreng kambing muda khas Aceh di RM Daus Jl. TP Polem 87 Banda Aceh, di areal China Town Aceh dekat sebuah kelenteng. Banyak teman dokter dari IDI Cabang lainnya yang juga sedang makan malam menjelang RM itu tutup.

makan malam nasi goreng kambing muda di RM Daus Jl. TP Polem 87 Banda Aceh

Dalam kekenyangan yang penuh, kami kembali ke Hotel Arabia, melewati Kantor Kodim Iskandar Muda yang gagah dengan sebuah gereja di sampingnya, yang akan kami kunjungi hari selanjutnya.

Selasa malam, 22 Maret 2022. Ditulis di kamar 221 Hotel Arabia, Jl. Khairil Anwar 55 Banda Aceh

ACEH

(hari ke 2)

Rabu, 23 Maret 2022 kami nyaris tidak dapat tidur nyenyak, karena kombinasi, kelelahan, kegembiraan dan peningkatan metabolisme tubuh setelah menelan habis, tetes terakhir kopi sanger di Solong Coffee Jl. T. Iskandar 13 Ulee Kareng Banda Aceh. Dalam semangat pagi yang terkumpul, kami dijemput oleh Bapak Hafiz Adriadi, SE menggunakan mobil Toyota Innova G abu-abu tahun 2016 BL 1053 JP, mobil dinas Kabid PLUT (Pusat Layanan Usaha Terpadu) Dinas Koperasi dan UKMK Propinsi Aceh, untuk mengikuti acara Muktamar IDI (Ikatan Dokter Indonesia) ke 31 yang diselenggarakan di Banda Aceh Convention Hall (BACH) di Jl. T. Panglima Nyak Makam, Kota Baru, Banda Aceh. Acara besar ini mengambil tema : Peran strategis IDI dalam membangun kemandirian dan meningkatkan ketahanan bangsa.

Sepanjang jalan dalam kota Banda Aceh, kita akan melihat hal yang cukup aneh, yaitu tidak ada trotoar buat pejalan kaki di atas gorong pembuangan air hujan. Mungkin karena medan tanahnya yang sangat datar dari ujung ke ujung dan tidak ada pejalan kaki yang melintas sesuai dengan survei, bahwa warga Indonesia adalah yang paling malas berjalan kaki. Para peneliti di Universitas Stanford AS pada Agustus 2018 menggunakan data menit per menit dari 700.000 orang yang menggunakan Argus, sebuah aplikasi pemantau aktivitas pada telepon seluler mereka. Aplikasi Argus memang kurang populer di Indonesia, dibandingkan Strava, Samsung Health, Huawei Health ataupun keluaran Kemenkes RI. Hasilnya, orang di Hong Kong menempati urutan teratas dalam daftar penduduk paling rajin berjalan kaki, sebanyak 6.880 langkah setiap hari. Adapun penduduk paling malas sedunia adalah orang Indonesia yang berada pada posisi terbuncit dengan mencatat 3.513 langkah per hari.

utusan IDI Cabang Kota Yogyakarta bergaya di depan Kantor Gubernur Aceh yang gagah, luas, dan artistik

Kami bertiga (dengan dr. Tri Kusumo Bawono, SE dan dr. Rizka Novriana) adalah utusan IDI Cabang Kota Yogyakarta yang sempat berfoto gaya dengan jaga jarak, di depan gedung megah Kantor Gubernur Aceh. Sejak dari lokasi itu, bendera putih lambang IDI berkibar berulang ditiup angin dan bunga papan besar berderet berdiri gagah, mengucapkan selamat dan sukses atas terselenggaranya acara besar ini, sampai di gedung artistik islami modern, Banda Aceh Convention Hall (BACH) yang kami tuju. Sangat berbeda dengan even nasional para dokter yang dipenuhi mobil rental industri farmasi, BACH justru dipenuhi mobil plat merah dari ASN, TNI dan Polri, sebagai LO segenap IDI Wilayah se Indonesia. Bangunan BACH sempat memprihatinkan secara struktural, arsitektural dan elektrikal, karena kurangnya penggunaan dan perawatan. Oleh karena belum jelas kepemilikannya antara Pemkot Banda Aceh dan Pemprov Aceh, bangunan yang rampung dikerjakan pada tahun 2018 itu sempat lama tidak digunakan. Pada hal pemerintah sudah menghabiskan anggaran sekitar Rp. 70 miliar lebih dari sumber dana otonomi khusus atau otsus. Semua fasilitas penunjang gedung sudah tersedia, seperti AC portable, sound system portable, hingga genset terbaik di seluruh Banda Aceh.

Anggota IDI Cabang Kota Yogyakarta bersiap untuk bergaya di lobi Hotel Arabika, Banda Aceh

Banda Aceh merupakan sebuah kotamadya dan ibukota dari provinsi Aceh, provinsi paling utara di Pulau Sumatera. Sebagai pusat pemerintahan yang mulai 2014 bukan disebut Propinsi Nangroe Aceh Darussalam lagi, tetapi hanya Propinsi Aceh saja, Banda Aceh menjadi pusat kegiatan ekonomi, politik, sosial, dan budaya, bahkan juga kota Islam yang paling tua di Asia Tenggara, karena Banda Aceh merupakan ibu kota dari Kesultanan Aceh Darussalam berdiri pada abad ke-14.  Dari batu nisan Sultan Firman Syah, didapat keterangan bahwa Kesultanan Aceh beribu kota di Kutaraja. Setelah Kerajaan Belanda menyatakan perang terhadap Kesultanan Aceh Darussalam pada 26 Maret 1873, Belanda mengirimkan gelombang pertama agresi militernya terhadap Kesultanan Aceh. Pada 12 April 1873 istana Mahmud Syah di Kotaraja (Banda Aceh) berhasil diduduki Belanda. Meski demikian perlawanan rakyat Aceh bukan berarti berakhir, malah dalam penyerbuan ke Masjid Raya Banda Aceh, Belanda justru bernasib sial. Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Kohler yang mengomandani ekspedisi pasukan KNIL ke Aceh harus meregang nyawa akibat ditembak ‘sniper’ Aceh di halaman masjid. Oleh karena terjadi evakuasi besar-besaran pasukan Aceh keluar dari Banda Aceh, maka kemenangan dirayakan oleh Jenderal Jan Van Swieten dengan memproklamasikan jatuhnya kesultanan Aceh dan mengubah nama Banda Aceh menjadi Kuta Raja. Setelah masuk dalam pangkuan Pemerintah Republik Indonesia, baru sejak 28 Desember 1962 nama kota ini kembali diganti menjadi Banda Aceh.

Kami segera mengikuti rangkaian acara seremonial pembukaan Muktamar, yang diatur oleh EO Satu Langit dari Jakarta dan EO lokal PT AMI Banda Aceh. Ketua Panitia dr. Nasrul Musadir, SpS(K), FINA melaporkan bahwa pada Muktamar IDI ke 31 kali ini, dihadiri oleh dokter utusan  408 dari total 485 IDI Cabang se Indonesia, yaitu 1.723 orang dokter. Para dokter utusan IDI Cabang yang tidak hadir, setelah dikonfirmasi oleh panitia ternyata karena tidak ada dana operasional dan para dokter pengurus IDI Cabang tersebut lebih memilih untuk terus tanpa henti, melanjutkan pengabdiannya sebagai dokter, terutama di lokasi T3 (Tertinggal, Terluar dan Terpencil) Indonesia. Maka dari itu, panitia muktamar berbiaya Rp. 1,4 M ini sangat berharap agar muktamirin bukan berproses untuk mencari pimpinan pengurus IDI yang terkuat, tetapi yang terbesar pengabdiannya untuk bangsa dan negara kita. Selanjutnya dr. Nasrul menceritakan runtutan kegiatan, sejak melaporkan ide keinginan untuk menjadi tuan rumah Muktamar IDI kepada Gubernur Aceh. Waktu itu jawaban Gubernur Aceh adalah tegas, di luar dugaan dan tidak dapat ditawar, bahwa tugas para dokter  Aceh adalah membawa Muktamar IDI ke Banda Acah, karena even itu sangat penting bagi masyarakat Aceh. Katakan apa yang diperlukan, pasti akan didukung penuh oleh Pemprov Aceh, termasuk penggunaan gedung BACH pertama kali untuk acara MICE di masa pandemi COVID-19 dan sekretariat panitia berlokasi di Bapelkes, bahkan diadakan jamuan makan malam oleh setiap kepala dinas.

Selanjutnya para muktamirin IDI Cabang se Indonesia disuguhi video perjuangan berjudul ‘Dokter untuk Bangsa’. Digambarkan perjuangan para dokter Indonesia, sejak dr. Soetomo mendirikan Boedi Oetomo 1908, perjuangan dr. Fuziah dokter puteri Aceh pertama sampai dr. Zaini Abdulah sebagai Gubernur NAD. Kami juga diajak mengenang dr. Farid Husain, SpB seorang dokter yang meninggal dunia karena ganasnya COVID-19, dan seorang tokoh perdamaian di Aceh sebagai salah seorang anggota delegasi pemerintah Indonesia dalam perundingan dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsinki, Finlandia pada tahun 2005. Perundingan yang dimediasi oleh Martti Ahtisaari ini berhasil mewujudkan Kesepakatan Helsinki yang ditandatangani pada 15 Agustus 2005. Dengan kesepakatan ini, Konflik Aceh yang telah berlangsung 30 tahun diakhiri. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia gerakan separatis diselesaikan dengan solusi politik yang komprehensif. Video ditutup dengan penampilan nama 751 orang dokter Indonesia yang gugur dan menjadi pahlawan COVID-19.

Setelah menyaksikan beberapa tarian Aceh, dr. Daeng Muhamad Faqih, MH Ketua Umum PB IDI mengapresiasi Muktamar kali ini sebagai suguhan kearifan lokal, tidak hanya dalam aspek kuliner dan kesenian, tetapi juga semangat, komitmen dan penghormatan terhadap tamu. Dengan tetap menerapkan prokes semaksimal mungkin, diharapkan Muktamar tidak hanya kumpul fisik dan membuat gerakan mewujudkan peran yang lebih, untuk memproduksi ide dan gagasan yang baik bagi bangsa dan negara, dengan menunjung tinggi marwah dan etika dokter. Terlebih gap kompetensi dokter Indonesia dengan LN harus dikurangi, terutama dalam memberikan layanan wisata kesehatan, yang diharapkan dapat dimulai dari Serambi Mekah.

Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Bapak Ir. Nova Iriansyah, MT Gubernur Aceh, di depan Kejati, Pangdam, Kapolda, Rektor Universitas Syahkuala dan Universitas Islam Ar-Raniry, Sekda, Bupati dan Walikota se Aceh. Beliau menyambut para dokter se Indonesia sebagai tamu mulai di Aceh, karena para dokter adalah pahlawan COVID-19 yang membantu masyarakat luas melawan pandemi. Komunitas dokter disanjungnya sebagai pendamping rakyat Aceh, saat mengalami tantangan terbesar gangguan keamanan pembunuhan, gempa bumi hebat, tsunami menghanyutkan dan pandemi COVID-19. Beliau juga menyebut Muktamar IDI sebagai anugerah bagi Aceh, karena ribuan putera puteri terbaik bangsa, yaitu para dokter hadir serentak di tanah Aceh, dan menjadi torehan sejarah. Beliau juga berharap bahwa peran inovatif IDI yang melahirkan produk berkualitas, untuk pengembangan profesi dan etik kedokteran akan dikenang, karena dirumuskan di Aceh.

Sambutan puncak disampaikan oleh Presiden RI Bapak Joko Widodo dari ruang kredensial Istana Merdeka Jakarta melalui video rekaman. Bapak Presiden dengan suaranya yang tegas dan wajahnya yang nampak lelah, memberikan apresiasi untuk dokter Indonesia di manapun bertugas, yang telah membantu masyarakat menghadapi pandemi COVID-19. Itulah mengapa Indonesia mampu masuk menjadi negara yang berhasil mengendalikan pandemi COVID-19, dengan menggencarkan vaksinasi dan menerapkan protokol kesehatan. Presiden berharap dalam Muktamar IDI akan dihasilkan perbaikan sistem kesehatan, mengenali desrupsi yang memengaruhi, dan mewujudkan pelayanan medis yang prima. Selain itu, dalam Muktamar IDI diharapkan terjadi juga transformasi sistem pendidikan kedokteran, yang harus dapat dipercepat untuk menghasilkan dokter Indonesia yang kompeten, patriotik, dan berdedikasi. Kita juga diharapkan mengenang para dokter yang telah meninggal karena COVID-19, agar menjadi motivasi bagi para dokter yang terus mengabdi bagi negeri.

Presiden Jokowi memberikan sambutan pembukaan Muktamar IDI ke 31 Di Banda Aceh

Setelah sambutan Presiden Jokowi,  maka 10 pimpinan daerah dan IDI yang hadir segera naik ke atas panggung untuk membunyikan kendang secara bersama, sebagai simbolis pembukaan Muktamar IDI ke 31 di Banda Aceh. Setelah rangkaian seremonial pembukaan selesai, para peserta melanjutkan makan siang di ruang basement BACH. Selanjutnya kami mengikuti ‘lunch symposium’ bertopik “Co Formulation Insulin’ untuk Diabetis Mellitus (DM) dengan pembicara Dr. dr. Tjokorde Gde Dalem Pemayun, SpPD-KEMD, FINASIM daru FK UNDIP Semarang teman bertugas di RSUD Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah tahun 2000 dan dr. Hindra Zufry, SpPD-KEMD dari Aceh. Sampai sekarang sekitar 70% pasien DM belum terkontrol, dengan kadar HbA1c >7,2 karena terlambat memulai pemberian insulin, yang sudah ditemukan sejak 100 tahun lalu. Untuk mencegah kelainan ketovaskuler pada DM yang belum terkontrol secara lebih awal, maka hiperglikemi pandrial justru harus ditangani lebih cepat, tidak hanya basal. Maka proses inisiasi dan perubahan jenis insulin untuk kontrol glikemik, perlu dipertimbangkan menggunakan ‘co formulation insulin’. Insulin campuran ini terdiri dari aspart 30% yang bekerja cepat dan degludec 70% yang bekerja panjang. Co formulation insulin dapat diberikan 1x saja sehari setelah makan besar, lebih praktis, mudah dan dapat mengatasi hiperglikemia prandial sekaligus basal.

Sebelum memasuki sesi sidang organisasi, selanjutnya kami melakukan ‘city tour’ ke Museum Tsunami yang dibuka untuk umum mulai tahun 2011, buah rancangan Bapak Ridwal Kamil, Gubernur Jawa Barat sekarang, yang waktu itu berprofesi sebagai arsitek. Rancangan Museum Tsunami Aceh ini memenangkan sayembara tingkat internasional yang diselenggarakan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Nangroe Aceh Darussalam. Setelah berfoto secara bergantian dwngan para pengunjung lain, termasuk para dokter peserta Muktamar IDI di gerbang Museum Tsunami, kami segera memasuki lorong tsunami berair turun di kiri kanan dinding, yang mengesankan suara hening untuk pengunjung. Kemudian kami memasuki ruang sumur doa, yang memuat 3.600 nama para korban tsunami, sedalam 30 meter, dab bagian paling atas terdapat lafadz Allah, untuk mengingatkan Allah sebagai sumber dan asal kehidupan. Kemudian kami memasuki lorong kebingungan, dengan mendaki di suatu lorong yang tidak jelas, untuk mengkondisikan para penyintas tsunami yang penuh kebingungan dan kecemasan. Selanjutnya kami menyeberangi jembatan persahabatan, yang memuat ucapan terima kasih dan salam perdamaian, dalam setiap bahasa nasional negara yang memberikan donasi untuk rekonstruksi Aceh. Di dalam bangunan museum yang berbentuk seperti kapal, terdapat prasasti yang bertuliskan daftar 49 palang merah dari seluruh dunia, yang telah memberikan bantuan penyelamatan korban. Pada tanggal 26 Desember 2004, Banda Aceh dilanda gelombang pasang tsunami yang diakibatkan oleh gempa 9,2 Skala Richter di Samudera Hindia. Bencana ini menelan ratusan ribu jiwa penduduk dan menghancurkan lebih dari 60% bangunan kota ini. Selanjutnya kami mengunjungi situs tsunami lainnya, yaitu sebuah kapal di atas rumah di kampung Lampulo, Banda Aceh. Kapal itu menjadi saksi bisu bencana alam gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004. Kapal dengan panjang 25 meter dan lebar 5,5 meter ini memiliki berat 20 ton terseret sekitar  1 km dari tempat semulanya di Sungai Krueng, dekat pantai Ulee Lheue.

Teras Banda Aceh Convention Hall (BACH) tempat acara Muuktamar IDI ke 31
Menikmati keindahan Museum Tsunami Banda Aceh
Santai sejenak di teras Banda Aceh Convention Hall (BACH)
Kontingen IDI Wilayah DIY saat Welcome Dinner Muktamar IDI ke 31 
di Stadion Harapan Bangsa Banda Aceh

Dari situ kami menuju Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh untuk menemani dr. Tri Kusumo Bawono menjalankan sholat. Kami parkir di areal basement, naik ke atas di halaman depan masjid dan mengagumi payung beroenggerak elektrik peneduh umat. Gubernur Aceh Zaini Abdullah menggelar peluncuran payung tersebut di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, pada Senin, 13 Februari 2017 yang menyerupai payung yang dipasang di Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi. Setelah selesai shalat ashar, kami kemudian bergegas ke Gereja Katolik Hati Kudus Jl. Pangeran Diponegoro, Peunayong, Banda Aceh, yang berjarak sekitar 700 m dari Masjid Raya Baiturrahman. Teman dr. Tri Kusumo Bawono, SE dan dr. Rizka Novriana ikut kami ke gereja tersebut dalam hujan yang  tiba-tiba datang. Salah satu potret nyata toleransi kehidupan beragama juga nampak pada bangunan tua Gereja Katolik Hati Kudus yang berdiri kokoh ditengah kota Banda Aceh, di samping Markas Kodam Iskandar Muda dan merupakan salah satu bangunan yang menjadi Ikon kota Banda Aceh. Gereja yang bernaung di bawah Keuskupan Agung Medan ini berdiri pada tahun 1946. Namun demikian, salah satu jejak keberadaan umat Katolik di Aceh adalah catatan tentang dua orang biarawan yang terbunuh pada tahun 1638. Keduanya merupakan biarawan dari Ordo OCD atau Ordo Karmel Tak Berkasut. Kedua biarawan yang terbunuh tersebut adalah Pastor Dionisius A. Nativite, OCD dan Bruder Redemptus A. Kruse, OCD dari Perancis. Keduanya dibunuh pada 27 November 1638 oleh Tentara Aceh saat Kerajaan Aceh dipimpin Sultan Iskandar Tani yang menggantikan Sultan Iskandar Muda. Kedua biarawan ini dibunuh karena tidak mau menyangkal iman mereka sebagai pengikut Kristus. Ia dibeatifikasi oleh Paus Leo XIII pada 1900 dan Gereja Katolik Dunia mengenang kedua biarawan ini sebagai Martir dari Indonesia.

Ikut Dr. Tri Kusuma Bawono, SE yang sedang sholat di Masjis Baiturrahman Aceh
Berdoa sejenak di dalam Gereja Hati Kudus Banda Aceh
Bersama-sama ke Gereja Hati Kudus Jl. Pangeran Diponegoro, Banda Aceh
Ikon Kota Banda Aceh
Peta Aceh terpahat di museum Tsunami
Museum Tsunami rancangan Bapak Ridwan Kamil, sekarang Gubernur Jawa Barat
Kapal itu terseret arus air laut saat tsunami sekitar 1 km dari tempat semulanya di Sungai Krueng

Selanjutnya kami berjalan melewati RSUD dr. Zainoal Abidin Banda Aceh yang merupakan Rumah Sakit Pendidikan Utama Fakultas Kedokteran Universitas Syah Kuala Banda Aceh. Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam, Irwandi Yusuf, Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Dr. Norbert Baas, dan Wakil Senior pertama KfW (Bank Pembangunan Jerman) untuk wilayah Asia dan Eropa, Uwe Ohls, meresmikan renovasi RS Zainoel Abidin Banda Aceh yang rusak terdapat tsunami dan berbiaya Rp. 418,5 M, pada hari Sabtu, 23 Januari 2010. Nama dr. Zainal Abidin digunakan pada RS Aceh karena merupakan nama direktur atau pendiri rumah sakit itu pada tahun 1950.

Sore itu di ruang sidang utama Muktamar IDI ke 31 di BACH Banda Aceh telah memutuskan beberapa hal penting. Misalnya tata tertib muktamar yang cukup alot untuk diputuskan, laporan pertanggungjawaban pengurus lama, dan para calon ketua yang siap dipilih untuk organisasi pelengkap IDI, yaitu MPPK atau Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian (dr. Farhat dan dr. Ika Prasetya Wijaya), MKEK atau Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (dr. Djoko Widyarto, dr. Eka Mulyana, dr. Nasser, dan dr. Pukovisa Prawiroarjo), dan MKKI atau Majelis Kelegium Kedokteran Indonesia (dr. Ferdiansyah dan dr. Setyo Widi Nugroho). Yang lebih seru adalah gerakan senyap promosi dan kampanye para calon Ketua Umum PB IDI yang akan dipilih, yaitu dr. Abraham Andi Padlan Patarai, MKes, dr. Ahmad Fariz Malvia Zamzam Zein, SpPD, MM, dr. Mahesa Paranadipa Maikel, MH, dr. Slamet Budiharto, SH, MHKes, dan dr. Zul Asdi, SpB, MKes.

Malam harinya setelah sholat maghrib, kami diundang makan di Paopia Garden, Cafe and Resto Jl. Prof. Ali Hasyimi Pango Raya Ulee Kareng Banda Aceh. Bapak Ir. Helvizar Ibrahim, MSi, Kepala Dinas KopUKM Propinsi Aceh sebagai LO, mengundang para dokter peserta Muktamar IDI dari IDI Wilayah DIY sebanyak 22 orang dalam acara peumulia jame (makan malam bersama) dengan pejabat eselon 3. Setelah menyampaikan sambutan selamat datang yang disertai penyerahan oleh-oleh bakpia kukus dan batik khas Yogyakarta oleh dr. Joko Murdiyanto, SpAn, MKes sebagai Ketua IDI Wilayah DIY, acara segera dilanjutkan dengan foto dan makan malam bersama. Dalam pembicaraan hangat sembari makan, Bapak Helvizar yang menyambut kami sebagai saudara tua karena Yogyakarta dan Aceh sesama daerah istimewa, beliau menjelaskan peran besar DinkopUKM dalam mendampingi para petani kopi Gayo di Aceh Tengah yang kopinya murni dan bercita rasa mantab, bahkan mampu menembus Starbucks, yang merajai 30 persen pasar kopi dunia. Starbucks Corporation yang berkantor pusat di Seattle, Washington, AS didirikan oleh Jerry Baldwin, Gordon Bowker, dan Zev Seigl yang membuka gerai Starbucks pertama di tahun 1971, di Pike Place Market di Seattle, Amerika Serikat. Awalnya, perusahaan ini hendak diberi nama Pequod yang diambil dari nama kapal pemburu Moby-Dick, tetapi nama ini ditolak oleh sejumlah pendiri pendamping. Perusahaan ini akhirnya diberi nama sesuai nama mualim satu kapal Pequod, Starbuck. Pendampingan DinkopUKM Aceh didukung penuh oleh Menteri Koperasi RI Bapak Teten Masduki yang penggila kopi sungguh, mampu meningkatkan ekonomi petani, menjaga kualitas biji kopi dan mengembangkan kebun kopi Gayo yang merupakan jenis kopi arabika, yang sejak abad 17 sudah terkenal di berbagai belahan dunia. Kopi ini di produksi di daerah Aceh Tengah tepatnya di dataran tinggi Gayo, sebagai pusat perkebunan dan produksi kopi terbaik di dunia. Selain itu, Bapak Helvizar yang bijaksana juga menjelaskan komoditas nilam (Pogostemon Cablin, Benth) yang merupakan salah satu dari sembilan komoditi unggulan Aceh yang telah digadang-gadang untuk menjadi komoditas investasi dan ekspor utama Aceh, sebagai bahan utama parfum di Perancis.  

Makan malam di Paopia Garden Ulee Kareng Banda Aceh dengan Bapak Ir. Helvizar Ibrahim, MSi

Pesan moral yang utama dari Bapak Helvizar malam itu adalah agar dokter di Indonesia tidak kalah dibandingkan dokter di Penang, Malaysia yang telah menangani batu empedu anggota keluarganya. Kesan positif yang perlu ditiru oleh dokter di Indonesia adalah kinerja dokter dan perawat di Penang yang cekatan, responsif, kolaboratif antar dokter spesialis, memberikan kesempatan kepada pasien untuk memperoleh opini kedua dari dokter lain, tarif layanannya yang diketahui secara pasti sebelum tindakan, dan terjangkau. Sungguh pesan moral yang tidak mudah dilaksanakan oleh para dokter Indonesia tercinta.

Rabu malam, 23 Maret 2022, ditulis di kamar 221 Hotel Arabia, Jl Khairil Anwar 55 Banda Aceh

ACEH

(hari ke 3)

Kamis, 24 Maret 2022 kami mengikuti rangkaian acara Muktamar IDI (Ikatan Dokter Indonesia) ke 31 sebagai utusan IDI Cabang Kota Yogyakarta secara penuh, yaitu 4 orang yang terdiri dari dr. Tri Kusumo Bawono, SE, dr. Riska Novriana, dr. Abdul Latief dan saya. Pagi ini kami akan mengikuti kuliah umum dan dilanjutkan menjelajahi wilayah baru.

Provinsi Aceh memiliki 23 kabupaten kota yang terdiri dari 18 kabupaten dan 5 kota, dengan luas wilayah sebesar 57.956,00 km2. Kondisi teritorial Aceh ini berbeda dengan apa yang dilukiskan oleh Karl Friedrich May di tahun 1899 dalam bukunya yang cukup laris ‘Dan Damai Di Bumi!’.  Penulis fiksi Winnetou dan Old Shatterhand berkebangsaan Jerman tersebut antara Maret 1899 dan Juli 1900, berkelana ke negeri-negeri Timur: Mesir, Pakistan, Sri Lanka, Malaya, dan Sumatera, yaitu ke Aceh. Karl May berlayar dengan kapal Coen yang dilukiskannya sebagai besar, indah, berkecepatan tinggi dengan teknologi mutakhir (tenaga uap) pada zamannya. Dari Penang, Karl May berlabuh di bandar Uleelheu di daratan Aceh, dan sebelumnya kapal singgah di Edi (mungkin maksudnya Idi), Lo-semaweh (Lhokseumawe), dan Segli (Sigli), yang waktu itu telah menjadi bandar kosmopolit. Justru sekarang ternyata telah terjadi degradasi bandar-bandar besar tersebut di Aceh.

Di pesisir pantai digambarkan oleh Karla May telah dibangun pos-pos militer Belanda untuk penyerangan ke pedalaman Aceh. Agaknya, kala itu Sultan Aceh sudah menyingkir ke wilayah pedalaman. Bandar Uleelheu jauh lebih ramai, dibandingkan bandar lainnya. Karl May selanjutnya naik trem menuju Kota Raja (sekarang Banda Aceh), dan menginap di Hotel Rosenberg. Untuk melakukan perjalanan di dalam kota tersedia kereta kuda poni, yang berlari kencang dan kuat. Karl May mengatakan betapa orang Melayu sangat sayang dalam merawat kudanya. Keunikan lain adalah trem Aceh merupakan satu-satunya yang berorientasi untuk kepentingan perang. Tidak seperti di Jawa yang pengadaannya diperoleh melalui pembelian, lahan untuk jalur rel trem di Aceh berasal dari bekas teritorial Kesultanan Aceh yang berhasil direbut dan dikuasai pasukan Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL). Sebagai hasil dari aneksasi wilayah, lahan-lahan itu disahkan kepemilikannya menjadi aset langsung Angkatan Darat Tentara Kerajaan Hindia Belanda melalui hukum militer. Tujuan Karl May ke Aceh, sebenarnya untuk membebaskan sahabatnya, sebuah keluarga Amerika, dari penyanderaan oleh orang Melayu di pedalaman Aceh, pegunungan Bukit Barisan yang sangat mungkin Takengon, dengan tebusan sebesar 50.000 gulden. Di antara karya May, Dan Damai di Bumi, berbeda dari buah pena lainnya, yaitu serial Winnetou di daratan Amerika ataupun Kara Ben Namsi di tanah Arab. Novel ini tak lagi bertumpu pada data dan informasi pustaka, melainkan buah perjalanan nyata Karl May ke negeri-negeri Timur.

Pelabuhan Ulee Lheue saat ini yang pernah dikunjungi Friedrich May di tahun 1899
Kabin kelas ekonomi di dalam lambung Kapal Bahari Express meninggalkan Pelabuhan Ulee Lheule, Banda Aceh
KM Cepat Express Bahari 2F menyeberangkan kami ke Pulau We
Tugu Nol KM Indonesia di Kota Sabang yang kami kunjungi
Kabin kelas ekskutif di dalam lambung Kapal Bahari Express meninggalkan Pelabuhan Balohan Sabang untuk kembali ke Pelabuhan Ulee Lheule, Banda Aceh

Pagi itu kami ber 22 orang dokter dari IDI Wilayah DIY dan segenap IDI Cabang se DIY meluncur ke Uleelheu, sebuah pelabuhan penyeberangan yang dikunjungi Karl May, untuk menuju Kota Sabang di Pulau Weh. Sabang adalah salah satu kotamadya di Aceh, yang teritorialnya berupa kepulauan di seberang utara pulau Sumatra, dengan Pulau Weh sebagai pulau terbesar. Kota Sabang merupakan zona ekonomi bebas Indonesia, dan sering disebut sebagai titik paling barat Indonesia, tepatnya di Pulau Rondo. Dengan luas 122,1 km² yang berkontur pegunungan subur, telah dilukiskan pertama kali sekitar tahun 301 Sebelum Masehi, oleh seorang Ahli bumi Yunani, Ptolomacus, yang berlayar ke arah timur dan berlabuh di sebuah pulau tak terkenal di mulut selat Malaka. Kemudian dia menyebut dan memperkenalkan pulau tersebut sebagai Pulau Emas di peta para pelaut.

Di Pelabuhan Uleelheu yang padat penumpang peserta Muktamar IDI ke 31 dari berbagai Wilayah se Indonesia, kami berbaris teratur memasuki lambung Kapal Cepat milik Perusahaan Express Bahari yang rutin melayari rute Pelabuhan Uleelheue Banda Aceh dengan pelabuhan Balohan Sabang. Dalam perjalanan membelah laut lepas tersebut, kami juga mengikuti talkshow virtual dari Banda Aceh Convention Hall (BACH), tempat Muktamar IDI diselenggarakan dan bertema ‘Dokter Indonesia Mandiri & Berdaulat di Negeri Sendiri’. Acara live dan virtual tersebut menampilkan pembicara handal, yaitu Dr. dr. Muhammad Yamin, Sp.JP (K), Sp.PD, FACC, FSCAI, dr. HN. Nazar, Sp.B, FINACS, MH.Kes, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D, AAK, Dr. (H.C.) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla, dan Dr. Sofyan A. Djalil, S.H., M.A., M.ALD.

Kami jadi teringat saat Wakil Presiden Jusuf Kalla membuka Muktamar ke-29 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di Istana Wapres, Jakarta, pada Rabu, 11 November 2015. Waktu itu Kalla pun menyinggung sejumlah masalah dan tantangan yang dihadapi oleh pemerintah dalam memperbaiki sektor kesehatan di Indonesia. Menurut Wapres, beberapa hal yang mempengaruhi sektor kesehatan di Indonesia, antara lain perihal layanan, keuangan, infrastruktur dan politik. Saat bukan lagi sebagai Wapres RI tetapi sebagai Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), pagi itu Jusuf Kalla mengungkapkan bahwa dunia kesehatan dan kedokteran di Indonesia, yang saat ini sudah mengalami banyak perubahan. Pelayanan kesehatan kini bersaing pada kualitas layanan medis termasuk dokter, teknologi, serta hospitality-nya. Jadi persaingannya bukan hanya persaingan kemampuan atau kompetensi dokter saja. Untuk itu penting bagi fasilitas kesehatan untuk mengembangkan jenis layanan medis oleh dokter, secara kreatif, inovatif dan terus menerus.

Dalam menjawab tantangan pemerataan, baik sisi ketersediaan sarana dan prasarana, maupun tenaga dokter, pada kesempatan tersebut pagi tadi, Direktur Utama BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti juga mengatakan pentingnya peningkatan kualitas layanan dokter, yang telah menjadi fokus tantangan dalam penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Saat ini pengelolaan Program JKN-KIS sudah banyak berubah dan semakin baik. Dari sisi layanan, berbagai inovasi berbasis digital terus dikembangkan mulai dari antrean online, pelayanan konsultasi dokter secara online melalui telekonsultasi, monitoring status kesehatan peserta JKN-KIS yang memiliki penyakit kronis. BPJS Kesehatan juga berkomitmen untuk terus memperhatikan cashflow rumah sakit dan kesejahteraan dokter serta tenaga kesehatan. Selain itu, saat ini juga tengah dibahas perubahan tarif layanan kesehatan, baik kapitasi di FKTP maupun tarif di rumah sakit, sambil tetap memperhatikan skenario keberlangsungan program agar tetap terjaga. Pada saat penjelasan virtual Prof. Ali Gufron Mukti tersebut membuat kami lebih optimis mengabdi negeri, tepat kami mampu mendarat dengan selamat di Pelabuhan Balohan Sabang.

Gerbang selamat datang di Kota Sabang, sebelum ke Tugu Nol KM
Rujak aneka buah yang kami santap di seputaran Tugu KM Nol di Kota Sabang

Sabang di pulau Weh adalah pulau paling barat Indonesia yang berjarak sekitar 14 mil atau 50 menit pelayaran Kapal Cepat dari Pelabuhan Uleelheu, Banda Aceh. Pulau itu memiliki sekitar 40 ribu penduduk dan Sabang pernah menjadi kawasan perdagangan bebas, hingga akhirnya ditutup pada 1986. Perjalanan darat di Sabang kami lalui menggunakan mobil Toyota Hi Ace dan Mitsubhisi Colt Diesel untuk menuju Monumen Nol Kilometer Indonesia di ujung utara pulau Weh. Titik kilometer nol ini juga populer dengan sebutan Tugu Kilometer Nol yang terletak di Desa Iboih, Kecamatan Sukakarya, Sabang. Butuh waktu satu jam berkendara dari pusat kota Sabang, dengan disuguhi panorama indah Pulau Weh, yaitu medan jalan terjal naik turun, jalan berkelak-kelok, vegetasi hutan tropis, bentangan pantai, dan pulau-pulau kecil. Kami mencapai Tugu kilometer nol yang berupa bangunan bercat putih dengan tinggi sekitar 43,6 meter di atas permukaan laut. Di puncak tugu ini terdapat patung Garuda yang mencengkeram perisai yang membentuk angka nol. Juga ada rencong yang merupakan senjata khas Aceh, sebagai simbol perjuangan rakyat Aceh dalam memerdekakan Indonesia. Tugu kilometer nol memiliki empat pilar penyangga yang berarti simbol batas-batas negara Indonesia, yakni Sabang sampai Merauke, dan Miangas hingga Rote. Tugu kilometer nol diresmikan pada 9 September 1997 oleh Bapak Try Sutrisno, yang pada saat itu menjabat wakil presiden RI. Tepat dua minggu usai peresmian, Bapak B.J. Habibie yang kala itu menjabat menteri riset dan teknologi menambahkan prasasti yang berisi penjelasan tentang kilometer nol. Yang utama adalah penjelasan  bahwa penetapan posisi geografis kilometer nol telah diuji oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi menggunakan Global Positioning System (GPS). Setelah puas berfoto penuh gaya, baik pribadi maupun kelompok, yang saling bergantian dengan pengunjung lainnya, kami hapus lapar dengan membeli kuliner lokal, yaitu pisang goreng krispi dan rujak aneka buah, termasuk yang diambil seekor monyet liar saat ditinggal foto oleh dr. Betty Juliastuti, SpAn, teman kami utusan IDI Cabang Sleman, DIY.

Tugu kilometer nol yang diresmikan pada 9 September 1997 oleh Bapak Wakil Presiden RI Try Sutrisno
Tugu kilometer nol dengan empat pilar sebagai simbol batas negara Indonesia
Patung Garuda yang mencengkeram perisai berbentuk angka nol

Setelah mampir sebentar di Pantai Teupin Layeu Iboih, Sabang yang merupakan arena snorkling indah, dangkal dan dekat garis pantai, kami segera kembali ke Banda Aceh. Pelayaran menggunakan Kapal Cepat Express Bahari berakhir di pelabuhan penyeberangan Uleelheu dalam cuaca mendung. Kami segera merapat ke Banda Aceh Convention Hall (BACH), untuk berpencar mengikuti Muktamar IDI ke 31. Kami terbagi ke dalam sidang komisi A sampai F, MKEK dan MKKI, dengan tidak ada utusan IDI Wilayah DIY ke sidang MPPK. Setelah mengikuti rangkaian sidang yang humanis, dialogis dan terstruktur lebih rapi dibandingkan Muktamar IDI sebelum-sebelumnya, kami segera menikmati udara sore Banda Aceh yang menantang stamina.

Pantai Teupin Layeu Iboih, Sabang arena snorkling indah dan dangkal
Gerbang dermaga Pantai Teupin Layeu Iboih, Kota Sabang, untuk snorkling yang menantang

Udara sore Banda Aceh seolah menantang pendapat pengamat ekonom Aceh, Dr. Taufik Abdul Rahim, pada Selasa, 22 Maret 2022. Taufik dari Universitas Muhammadiyah Aceh menerangkan alokasi APBA untuk Muktamar IDI, sangat menyayat hati dan miris, karena organisasi profesi yang sarat dengan kelimpahan serta kelebihan dana yang semestinya memberikan sumbangan sebahagian hartanya untuk kehidupan rakyat Aceh yang miskin dan termiskin di Sumatera (15,34%). Selain itu, tantangan lainnya adalah masih banyaknya pengangguran dan bertambahnya pengangguran sebagai dampak selama pandemi Covid-19, bahkan mencapai  sekitar 280 ribu orang, disamping akumulasi pengangguran selama ini ditambah dengan pengangguran usia kerja sekitar 800 ribu lebih. Juga kondisi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Aceh masih sangat jauh dari realitas sejahtera dan makmur yang sesungguhnya. Tantangan tersebut sebaiknya dijawab sesuai seruan Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman, agar menguntungkan bagi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Ribuan dokter dari seluruh Nusantara datang ke Banda Aceh saat Muktamar IDI, pasti akan membuat UMKM laris manis. Di mana aneka ragam jajanan lokal hingga suvenir pasti jadi sasaran. Para dokter peserta pastinya akan menjajaki lokasi-lokasi wisata, menjajal kuliner, dan membawa pulang cenderamata asal negeri Serambi Mekkah. Inilah yang dinamakan dengan multiplier effect, karena dokter yang datang ke Banda Aceh pasti akan menghabiskan uangnya di kota ini. Wali kota pun meminta agar masyarakat menyambut baik, dan memberikan nuansa nyaman dan aman bagi tamu yang hadir di ‘Kota Gemilang’. Buatlah para dokter terkesan, karena telah datang di Ibukota Provinsi Aceh ini, sebagaimana dikenal dengan daerah yang menjunjung tinggi nilai syariat, dan dengan adat ‘pemulia jamee’, atau memuliakan tamu.

Tugu peringatan makam Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler yang ditembak mati di halaman Masjid Raya Baiturrahman

Sore itu saat teman2 sedang menjalani ibadat sholat dan beristirahat sejenak di Hotel Arabia, kami pribadi mengunjungi Kerkhof Peucut, yang merupakan kuburan serdadu Belanda (KNIL), yang tewas pada Perang Aceh dalam rentang tahun 1873 hingga 1904. Dengan diantar Bapak Hafiz Adriadi, SE menggunakan mobil Toyota Innova G abu-abu tahun 2016 BL 1053 JP, mobil dinas Kabid PLUT (Pusat Layanan Usaha Terpadu) Dinas Koperasi dan UKMK Propinsi Aceh, kami bermenung di pemakaman militer Belanda terbesar yang berada di luar teritorial Negeri Belanda dengan luas mencapai 3,5 hektare. Kompleks kuburan militer Belanda semacam ini banyak tersebar di wilayah Indonesia, tetapi di Aceh merupakan komplek kuburan yang paling luas dengan jumlah korban ± 2.200 tentara. Kerkhof Peucut ini terletak di pusat kota Banda Aceh, dan sekarang menjadi objek wisata menarik, khususnya bagi wisatawan mancanegara, terutama wisatawan asal Belanda. Selain tentara Belanda, tentara KNIL dari suku Jawa, Batak, Ambon dan pribumi Aceh juga dimakamkan di Kerkhof Peucut ini, termasuk juga makam putra Sultan Iskandar Muda, Meurah Popok yang tewas dihukum rajam oleh ayahandanya karena dituduh berzina pada tahun 1636. Tokoh militer Belanda yang dimakamkan di Kerkoff Peucut misalnya Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler yang ditembak mati di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Johannes Ludovicius Jakobus Hubertus, dan W.B.J.A. Scheepens.

Kerkoff Peucut yang luas berada di samping Gedung Museum Tsunami Aceh yang berdiri gagah dan artistik
Kerkoff Peucut adalah makam korban perang di Missigit Raija Baiturrahman Aceh, termasuk prajurit KNIL dari Jawa

Korban perang terbanyak terjadi pada pertempuran di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, yang saat itu disebut Missigit Raija pada tahun 1873. Terdapat nama tentara KNIL dari Jawa pada perang tersebut seperti Darman, Djojosasmito, dan Goenasetja. Bahkan di tahun 1879 ada nama Jawa Poijo, Prodjodjojo, Sariman, Singosasmito, Kromowidjojo, Sarijo, Wongsodikromo, dan Ketowirjo. Tentara Jawa yang meninggal tahun 1897 ada Wirodrono, Wongsotaruno, Samadi, Mangoenpawiro, dan Ronodrikromo. Nama-nama khas leluhur dari Jawa tersebut menghentakkan hening, sedih dan tercenung, karena rasanya itu adalah awal mula konflik Jawa melawan Aceh di akhir abad 19. Konflik selanjutnya yang terjadi di Aceh disebabkan oleh beberapa hal yang lebih luas, yaitu perbedaan pendapat tentang hukum Islam, ketidakpuasan atas distribusi sumber daya alam Aceh, dan peningkatan jumlah orang Jawa di Aceh. Dalam konflik tersebut, GAM (Gerakan Aceh Merdeka) melalui tiga tahapan, yaitu tahun 1977, 1989, dan 1998 menyatakan perang. Sebelumnya, pada 4 Desember 1976, pemimpin GAM, Hasan di Tiro bersama beberapa pengikutnya melayangkan perlawanan terhadap pemerintah RI. Perlawanan tersebut mereka lakukan di perbukitan Halimon di kawasan Kabupaten Pidie. Sejak saat itu, konflik antara pemerintah RI dengan GAM terus berlangsung. Bersyukurlah bahwa Tuhan Yang Maha Baik memberkati kita semua karena selanjutnya, tanggal 27 Februari 2005, GAM dan pemerintah RI memulai tahap perundingan di Vantaa, Finlandia. Pada 17 Juli 2005, setelah berunding selama 25 hari, tim perunding Indonesia berhasil mencapai kesepakatan damai dengan GAM di Vantta, Finlandia.

Penandatanganan kesepakatan damai dilangsungkan pada 15 Agustus 2005. Proses perdamaian selanjutnya dipantau oleh tim yang bernama Aceh Monitoring Mission (AMM) yang beranggotakan lima negara ASEAN. Semua senjata GAM yang berjumlah 840 diserahkan kepada AMM pada 19 Desember 2005. Kemudian, pada 27 Desember, GAM melalui juru bicara militernya, Sofyan Dawood, menyatakan bahwa sayap militer Tentara Neugara Aceh (TNA) telah dibubarkan secara formal. Dengan demikian, pertikaian, konflik dan luka lama antara Indonesia, khususnya Jawa dan Aceh, layak sekedar diingat, agar tidak akan pernah terjadi lagi dan justru kerjasama keduanya semakin padu, padan dan lancar jalan, dalam bingkai NKRI harga mati.

Gedung Bank Indonesia Jl Cut Mutia No. 15 Banda Aceh
Jeritan anak yang mendapat vaksinasi campak paska tsunami Aceh

Semangat itulah yang mendorong kami penuh daya dan kekuatan, malam itu kembali masuk venue Banda Aceh Convention Hall (BACH) tempat Muktamar IDI ke 31 diselenggarakan. Malam itu kami mengikuti sidang pleno pembahasan berbagai rekomendasi hasil sidang Komisi A sampai F. Juga keterpilihan dr. Djoko Widyarto dari IDI Wilayah Jawa Tengah, sebagai Ketua Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK). Pemilihan Ketua MKKI (Majelis Kelegium Kedokteran Indonesia) dan MPPK (Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian) yang akan menjadi satu kesatuan dengan Ketua Umum Pengurus Besar (Ketum PB) IDI, sampai saat catatan ini digoreskan masih belum diselenggarakan. Setelah mencicipi nasi goreng kotak khas Aceh dari RM Daus Jl. TP Polem 87 Banda Aceh dan kopi solong di meja panitia, kami melawan lelah dengan melanjutkan ‘city tour’ untuk menikmati kemegahan Gedung Bank Indonesia Aceh. Gedung yang merupakan bangunan berarsitektur kolonial peninggalan pemerintah Hindia Belanda, terletak di Jalan Cut Mutia No. 15, Kota Banda Aceh. Bangunan ini diresmikan pada 2 Desember 1918 dan dulu dikenal sebagai kantor cabang De Javasche Bank sebelum diambil alih oleh BI pada 1 Juli 1953. Gedung ini terletak ditengah kota, tidak jauh dari pusat perekonomian pasar Aceh dan di bagian depan arah timur terdapat sungai Krueng Aceh. Secara fisik, bangunan ini memperlihatkan arsitektur Kolonial yang digabungkan dengan arsitektur bangunan tropis. Bagian atapnya berbentuk kerucut dan limas dengan jendela. Hampir seluruh dinding bangunan ini terdapat ventilasi, baik di lantai dasar maupun di lantai atas. Bangunan ini diapit oleh dua menara, yang menunjukkan arsitektur bangunan pemerintah yang didirikan pada masa Kolonial Belanda. Setelah puas berfoto dengan latar belakang gedung indah tersebut, kami melanjutkan perjalanan ke Monumen Seulawah atau yang disebut juga Monumen Replika Pesawat Seulawah RI 001, yang berbentuk pesawat. Pesawat tersebut merupakan replika dari pesawat pertama milik Indonesia, yang dibeli dengan bantuan dana dari rakyat Aceh secara sukarela. Monumen Seulawah terletak di Lapangan Blang Padang, Kecamatan Baiturrahman, yang hanya terletak 1 km saja dari pusat kota Banda Aceh. Monumen ini didirikan dengan tujuan untuk mengenang perlawanan rakyat Aceh dalam melawan Belanda pada agresi militer tahun 1948. Pesawat berjenis Dakota DC-3 ini memiliki panjang 19,66 meter dan rentang sayap 28,96 meter, yang saat itu mampu terbang hingga kecepatan 346 km/jam. Selain berjasa dalam perjuangan Indonesia meraih kedaulatan, pesawat ini juga merupakan cikal bakal maskapai penerbangan sipil di Indonesia. Pada jaman itu, pesawat RI 001 ini berperan dalam mengangkut senjata, mengantar perjalanan Presiden Soekarno dalam membangkitkan semangat para pemuda, dan membantu menyebarkan berita perjuangan kedaulatan Indonesia ke berbagai daerah hingga ke Markas PBB di New York AS.

Penutup acara kami menjelang tengah malam yang hujan itu, dengan dr. M. Junaidy Heriyanto, SpB FINACS dari IDI Wilayah DIY, diantar menuju RM BARDI di Jl. Residen Danu Broto, Lamlagang, Banda Aceh. Kami mencoba objektif dengan menerima tantangan untuk berani merasakan kelezatan mie goreng balap Aceh, yang tidak terlepas dari bumbu yang diracik dari daun atau biji ganja (canabis). Jenis narkotika yang paling banyak disalahgunakan di dunia adalah ganja. Menurut UNODC, sebanyak 192 juta penduduk dunia menggunakan ganja. Sedangkan berdasarkan hasil survei BNN pada tahun 2019, terdapat 65,5 persen penyalahguna narkotika di Indonesia menggunakan ganja. Sisanya penyalahgunaan narkotika dari jenis methamphetamine (sabu), ekstasi, pil koplo dan obat-obatan dari golongan benzodiazepine. Ganja atau dikenal juga dengan chimeng, berupa tumbuhan berbunga dari famili Cannabaceae yang biasanya tumbuh di daerah pegunungan tropis, dengan ketinggian di atas seribu meter di atas permukaan laut. Daunnya berbentuk menjari dan bunganya kecil-kecil dengan dompolan di ujung ranting. Di Indonesia, ganja banyak tumbuh di daerah pegunungan dalam Propinsi Aceh. Maka dari itu, di Aceh daun dan biji ganja secara umum digunakan oleh penduduk lokal sebagai bahan tambahan dalam kopi atau penyedap masakan. Masakan yang ditambahkan daun ganja dipercaya dapat meningkatkan nafsu makan. Pengunaan ganja untuk bumbu masakan adalah sesuatu yang “umum” untuk dimasukkan ke dalam masakan daging, terutama kare, karena dapat menaikkan rasa gurih. Komposisi utama dari bumbu halus hidangan ini adalah cabai merah, kunyit, jintan, kapulaga, merica dan bawang putih, yang membuat rasa bumbu ini memiliki nuansa berbeda saat di dalam mulut. Apalagi sambil mendengarkan pengalaman baru, seru, dan saru oleh dr. Tri Kusumo Bawono, SE saat melayani para pasien ISK, PSK, gay, HIV dan COVID-19.

Malam ini mulut kami terus berkomat-kamit merasakan sisa-sisa sensasi mie Aceh rasa chimeng (ganja) yang menggoda, sambil berkemas untuk check out hotel, kembali ke Yogyakarta pagi ini

Terimakasih kami haturkan, spesial kepada Bapak Ir. Helvizar Ibrahim, MSiP Kepala Dinas KopUKM Propinsi Aceh dan segenap jajarannya, yang telah memfasilitasi kontingan IDI Wilayah DIY menjelajah sensasi Aceh yang jauh lebih banyak dibandingkan yang dilaporkan ini. Mohon maaf, belum tentu bersambung dengan laporan berikutnya.

Kamis menjelang Jumat dini hari, 24 Maret 2022, ditulis di kamar 221 Hotel Arabia, Jl. Khairil Anwar 55 Banda Aceh

ACEH

(hari ke 4 – terakhir)

Jumat, 25 Maret 2022 merupakan hari ke 4 kami menghadiri Muktamar IDI (Ikatan Dokter Indonesia) ke 31 di Banda Aceh Convention Hall (BACH). Pagi itu kami bergabung dengan rombongan IDI Cabang Bantul DIY dan dijemput oleh Bapak Syukri, driver yang menggunakan mobil dinas Kabid Kelembagaan DinkopUKM Aceh. Kami mengikuti kuliah umum oleh Ketua DPD RI, Bapak AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, yang mengajak Ikatan Dokter Indonesia (IDI) membantu pemerintah menyiapkan dan menata roadmap ketahanan nasional sektor kesehatan. Menurut LaNyalla, upaya tersebut harus dilakukan dengan memperkuat kedaulatan sebagai bangsa terlebih dahulu, sesuai tema kuliah umum : Nasionalisme Dalam Tubuh Dokter Indonesia Sebagai Dasar Ketahanan Nasional. Menurut LaNyalla, sebagai sebuah bangsa, amat penting untuk memperkuat ketahanan di sektor strategis, salah satunya adalah sektor kesehatan, selain sektor pangan, pendidikan dan pertahanan keamanan. Dan untuk memperkuat ketahanan di sektor kesehatan harus dilakukan dengan menelaah persoalan yang ada di hulu, bukan sekedar persoalan yang ada di hilir.

Bergaya sejenak sebelum mulai acara kuliah umum oleh Ketua DPD RI, Bapak AA LaNyalla Mahmud Mattalitti

Setelah itu, kami bergabung dengan dr. Sagiran, dr. Tri Ermin Fadlila, dr. Agus Suyono dan dr. Nuryasin Kurniawan segera bergegas menuju Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) untuk naik pesawat mendahului pulang ke Yogyakarta. Setelah dilanda Tsunami pada 26 Desember 2004, bandara SIM ini telah direnovasi dan memiliki landasan pacu sepanjang 3.000 meter yang mampu menampung pesawat berbadan lebar. Pada 9 Oktober 2011 sebuah Boeing 747-400 berhasil melakukan take off dan landing, yang membuktikan bahwa bandara ini bisa dijadikan tempat transit bagi perusahaan penerbangan internasional.

Sambil mengurus proses check in penumpang, kami memantau perkembangan dinamika Muktamar IDI ke 31, termasuk terpilihnya Dr. dr. Ika Prasetya Wijaya, Sp.PD, KKV sebagai Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian (MPPK), dr. Djoko Widiyarto KS, DHM, MHKes. sebagai Ketua Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK), dan Dr. dr. Setyo Widi Nugroho, SpBS(K), sebagai Ketua Majelis Kelegium Kedokteran Indonesia (MKKI). Selain itu, kami juga mengenang dukungan Ketua MPR RI, Bapak Bambang Soesatyo untuk penyelenggaraan Muktamar IDI ke-31 di Kota Banda Aceh. Dirinya berharap, penyelenggaraan Muktamar IDI dapat membuat organisasi IDI semakin solid, sehingga dapat terus bersinergi dengan pemerintah menuju visi Indonesia Sehat 2045, dengan mewujudkan peningkatan kualitas kesehatan dan gizi masyarakat. Mulai dari peningkatan usia harapan hidup, hingga pengendalian berbagai penyakit menular. Karenanya, berbagai persoalan yang dihadapi oleh para dokter harus dapat diselesaikan sedini mungkin, seperti menyangkut pemerataan distribusi dokter di seluruh Indonesia, meningkatkan kualitas daya saing dokter Indonesia melalui peraturan hukum terkait, hingga meningkatkan kesejahteraan dan keselamatan dokter dan tenaga kesehatan lainnya di seluruh Indonesia.

Ber 4 menjadi utusan IDI Cabang Kota Yogyakarta dalam Muktamar IDI ke 31di Banda Aceh
Dr. Tri Kusumo Bawono, SE mewakli segenap anggota IDI Cabang Kota Yogyakarta memberikan suara pada pemilihan Ketua Umum PB IDI terpilih

Kami akan naik Batik Air ID 6897 pk. 11.30 menuju ke Bandara Soekarno Hatta Tangerang Banten. Kami naik pesawat jenis Boeing 737-800 NG, bagian dari 28 pesawat Batik Air yang terdiri atas Boeing 737-900ER, Boeing 737-800NG dan Airbus A320 CEO. Seluruh pesawat Batik Air memiliki fasilitas hiburan inflight entertainment system berteknologi tinggi melalui sistem aplikasi. Penumpang dapat menikmati hiburan seperi film Hollywood, film lokal, dan musik dalam perjalanan,  menggunakan HP masing2. Boeing 737 Next Generation yang kami naiki adalah pesawat terbang berbadan sempit yang didukung oleh dua mesin jet dan diproduksi oleh Boeing Commercial Airplanes, AS. Diluncurkan pertama kali pada tahun 1993 sebagai turunan generasi ketiga dari Boeing 737 Classic, yaitu seri 300, 400, dan 500.

Sepanjang penerbangan yang diselingi makan siang nasi hangat dan kari ayam, yang kami santap dengan menerapkan protokol kesehatan, jadi teringat tentang Festival Kopi kemarin. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh dalam menyambut rombongan dokter peserta Muktamar IDI menyelenggarakan Festival Kopi Kutaraja 2022 di Taman Budaya Aceh, pada hari Kamis, 24 Maret 2022. Sebagian warga Aceh mempunyai cara unik dalam menyeruput kopi, salah satunya saat menyeruput kopi dengan posisi gelas terbalik atau biasa disebut Kopi Khop, kopi khas dari Meulaboh Aceh Barat. Kopi ini rasanya menjadi incaran utama para dokter yang hadir di Festival Kopi Kutaraja 2022.

Setelah transit sekitar 1 jam, kami melanjutkan penerbangan dari Bandara Soetta Tangerang, Banten menggunakan Batik Air Airbus A320. Pesawat Airbus A320 Neo milik Batik Air memiliki kapasitas penumpang 156 orang dengan konfigurasi 12 penumpang bisnis dan 144 penumpang ekonomi. Pesawat ini memiliki model kursi teranyar dengan jarak lebih longgar hingga 30 inci. Seat Batik Air adalah model terbaru dengan teknologi paling anyar yang kami nikmati sampai mendarat di Bandar Udara Internasional Yogyakarta yang dibangun di Kapanéwon Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bandar udara ini menggantikan Bandar Udara Internasional Adisutjipto yang sudah tidak mampu lagi menampung kapasitas penumpang dan pesawat. Bandar udara ini berdiri di tanah seluas 600 hektar dan diperkirakan menelan biaya Rp. 9 triliun. Bandara ini akan memiliki terminal seluas 210.000 meter persegi dengan kapasitas 20 juta penumpang per tahun. Selain itu, bandar udara tersebut memiliki hanggar seluas 371.125 meter persegi yang direncanakan bakal sanggup menampung hingga sebanyak 28 unit pesawat. Bandara ini juga, bisa menampung pesawat berbadan lebar, seperti B777, B747, A380, untuk penerbangan internasional jarak jauh.

Sambil menunggu proses pengambilan bagasi dari perut pesawat Batik Air Airbus A320, kami mengikuti perkembangan terkini Muktamar IDI ke 31 di Banda Aceh Convention Hall (BACH), terutama beredarnya rekaman video di media sosial, tentang berlakunya sanksi etik medis pemecatan permanen dari anggota IDI kepada Prof. Dr. dr. Terawan Agus Putranto, SpRad-KI, terkait terapi cuci otak atau DSA (Digital Subtraction Angiography). DSA sebenarnya adalah pemeriksaan gambar lumen (permukaan bagian dalam) pembuluh darah, termasuk arteri, vena dan serambi jantung. Gambar ini diperoleh dengan menggunakan mesin Sinar-X bantuan komputer yang rumit. Media kontras khusus atau ‘dye’ (cairan bening dengan kepadatan tinggi) biasanya disuntikkan agar aliran darah ke kaki, jantung, otak, atau organ tubuh lainnya mudah dilihat dan dilakukan tindakan medis lanjutan, bila terdapat sumbatan. Pengenceran sumbatan dalam pembuluh darah otak dengan metode DSA, telah mengawali terbentuknya kontroversi etik medis oleh dr. Terawan. Selain itu, dr. Terawan juga memimpin tim yang mengembangkan vaksin nusantara berbahan dasar sel denritik, untuk melawan ganasnya pandemi COVID-19 secara personal. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebut vaksin Nusantara adalah vaksin terapi yang penggunaannya tidak membutuhkan izin BPOM, karena bukan vaksin yang seperti biasa, tetapi dapat dilakukan sebagai uji klinik berbasis pelayanan, hanya di fasilitas pelayanan. Kasus ini juga tidak kalah dilematis dalam aspek kontroversi etika kedokteran yang sanksinya sudah berketetapan organisasi, bukan sekedar aspek mutu atau Evidence Based Medicine (EBM), yang masih diperdebatkan.

Ketegangan ringan dalam sesi sidang organisasi pada Muktamar IDI ke 31, sehingga tim keamanaan dari Polda Aceh datang untuk mengantisipasi gangguan proses keberlanjutan sidang.

Adegan viral di media sosial lainnya adalah pada sesi sidang pembahasan tata tertib pemilihan Ketua Umum PB IDI, saat ada seorang dokter yang meminta berbicara, tetapi tidak diberi kesempatan lagi oleh pimpinan sidang, karena sudah berulang kali berbicara dan sidang ditutup. Maka adegan naik ke atas panggung Mukatamar IDI yang diikuti oleh dokter yang lain, sehingga petugas keamanan dari Polda Aceh juga ikut naik ke atas panggung meredakan suasana dan mencegah ekskalasi gangguan keberlanjutan sidang. Adegan ini viral di media sosial yang menyebabkan persepsi luas, liar dan lugas. Untunglah kesejawatan antar dokter muktamirin dapat terus dijungjung tinggi, sampai pada tahap pemilihan dan dr. Slamet Budiharto, SH, MH akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum PB IDI terpilih (Presiden Elect) dengan memperoleh 418 suara, untuk mendampingi Ketua Umum PB IDI dr. Moh Adib Khumaidi, Sp.OT, dalam kepengurusan ke depan. Selamat bertugas, demi marwah IDI dan pengabdian kepada negeri yang lebih baik.

Terimakasih

-wikan

IDI Cabang Kota Yogyakarta

Jumat malam, 25 Maret 2022.

Ditulis di rumah Timoho Regency A4 depan kantor walikota Yogyakarta, dalam lelah raga sepulang dari Aceh

Categories
anak antibiotika dokter Healthy Life Jalan-jalan sejarah

2019 Ke Indochina selama 7 hari

INDOCINA

fx. wikan indrarto

2019 Hari pertama di Indochina

Saat kami mendarat Bandar Udara Internasional Noi Bai (HAN)
di Hanoi, ibu kota dari Vietnam

Petualangan ke Indochina hari pertama.

Kami awali petualangan dengan Grab Car pada hari Sabtu pagi, 25 Mei 2019 ke Bandara Adisucipto Yogyakarta. Kami terbang menggunakan pesawat Garuda GA 203 menuju Jakarta dan berganti pesawat Vietnam Airlines VN 630 jenis Airbus A 321, menuju Terminal 1 Ho Chi Minh City, Vietnam. Pesawat Airbus 321 adalah pesawat penumpang komersial jarak dekat sampai menengah yang diproduksi oleh Airbus. A321 merupakan pesawat penumpang pertama dengan sebuah sistem kendali ‘fly-by-wire digital’, di mana pilot mengendalikan penerbangan melalui penggunaan sinyal elektronik dan bukan secara mekanik dengan hendel dan sistem hidraulik. Kelompok pesawat A320 (yang termasuk A318, A319, A320, dan A321, serta pesawat jet bisnis ACJ) adalah satu-satunya kelompok pesawat berbadan sempit (narrow-body) yang diproduksi Airbus.

Awal petulangan kami dimulai
dari Terminal3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten

Penerbangan dari Terminal 3 Ultimate yang luas, mentereng, dan modern di Bandara Soekarno Hatta Cengkareng, Jakarta, Indonesia (CGK) menuju ke terminal 2 Tan Son Nhat International Airport Ho Chi Min City (SGN), Vietnam yang berjarak 3.945,6 km, memakan waktu sekitar 3 jam 10 menit (tanpa transit). Oleh karena penerbangan kami menuju ke arah utara dan berada pada wilayah atau zona waktu yang sama, otomatis tidak ada selisih atau perbedaan waktu antara kedua kota ini.

Siap2 boarding di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten

Setelah transit sekitar 2 jam, selanjutnya dari Terminal 1 domistik kami terbang ke Hanoi yang berjarak 1.727 km, menggunakan pesawat Vietnam Airlines VN 272 Airbus 350 dan mendarat di Terminal 1 Noi Bai International Airport, Hanoi, ibukota Vietnam. Penerbangan domistik ini menggunakan pesawat Vietnam Airlines yang lebih besar, lebih baru dan lebih nyaman, dibandingkan pesawat dari Jakarta. Pesawat Airbus A350 XWB (eXtra Wide Body) adalah keluarga pesawat jet berbadan lebar yang sedang dikembangkan oleh produsen pesawat Eropa, yaitu Airbus. A350 akan menjadi pesawat Airbus pertama dengan struktur kedua sayap pesawat dibuat dari polimer yang diperkuat serat karbon. Pesawat ini dapat membawa 270-350 penumpang di tempat duduk kelas tiga, tergantung pada varian.

Pesawat A350 pertama kali diumumkan pada tahun 2004 untuk menyaingi pesawat Boeing 787. Airbus awalnya merespon efisiensi yang dicanangkan Boeing, dengan menawarkan sebuah upgrade A330 dengan penggunaan mesin baru dan perbaikan aerodynamis, untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar. Hasil pertama A350 tampak hampir sama dengan A330 secara eksternal tetapi pada dasarnya pesawat ini adalah sebuah desain baru dan hanya memiliki 10% commonality (kesamaan suku cadang) dengan Airbus sebelumnya.

Setelah terbang pada ketinggian 11.888 m, berkecepatan 908 km/jam, kami mendarat pk. 21.44. Bandara Noi Bai International Airport, Hanoi, dibuka pada Agustus 2006 ini berjarak 28 mil (45 km) dari pusat kota. Segera kami mengingat sejarah Vietnam yang dimulai sejak abad 11 SM yang sampai abad 10 Masehi, mayoritas berada di bawah kekuasaan kekaisaran Tiongkok. Tahun 939 M, Vietnam merdeka secara politis, dan mulai menggunakan Champa sebagai nama negara. Masa setelah ini dianggap sebagai masa pembangunan identitas kebangsaan Vietnam.

Ibukota Vietnam adalah Hanoi (dahulu berfungsi sebagai ibukota Vietnam Utara), sedangkan kota terbesar dan terpadat adalah Kota Ho Chi Minh (dahulu dikenal sebagai Saigon). Kemiskinan, berdasarkan jumlah penduduk yang hidup dengan pendapatan di bawah $1 per hari, telah menurun secara drastis dan sekarang lebih sedikit daripada di Tiongkok, India dan Filipina. Sebagai hasil dari langkah reformasi tanah (land reform), Vietnam sekarang adalah produsen kacang cashew terbesar dengan pangsa 1/3 dari kebutuhan dunia, dan eksportir beras kedua terbesar di dunia setelah Thailand. Vietnam memiliki persentasi tertinggi atas penggunaan lahan untuk kepentingan cocok tanam permanen, 6,93%, daripada negara-negara lain di Sub-wilayah Mekong Raya (Greater Mekong Subregion). Selain beras, kunci ekspor adalah kopi, teh, karet dan produk-produk perikanan.

Mampir sebentar di konter Vietnam Airlines di Ho Chi Min, Vietnam

Hanoi memiliki perkiraan populasi 3.500.800 jiwa (1997), adalah ibukota Vietnam dan dulunya ibu kota Vietnam Utara dari 1954 hingga 1976. Kota ini terletak di tepi kanan Sungai Merah. Hanoi menjadi ibukota Vietnam pada abad ke-7. Namanya yang berasal dari bahasa Mandarin, Đông Kinh, menjadi Tonkin dan dipakai bangsa Eropa ke seluruh wilayah Vietnam. Hanoi dijajah Prancis tahun 1873 dan diserahkan kepadanya sepuluh tahun kemudian. Ia menjadi ibukota Indochina Prancis setelah 1887.

Hanoi dijajah Jepang pada 1940, dan dibebaskan tahun 1945, ketika ia menjadi pusat pemerintahan Vietnam. Dari 1946 hingga 1954, Hanoi menjadi lokasi perlawanan sengit antara Prancis dan tentara Vietnam. Sejak itu, Hanoi menjadi ibukota Vietnam Utara. Selama Perang Vietnam sarana transportasi Hanoi terganggu oleh pengeboman jembatan dan rel kereta api, namun dengan cepat dapat diperbaiki. Setelah perang berakhir, Hanoi menjadi ibukota seluruh wilayah Vietnam ketika Vietnam bagian Utara dan Selatan bersatu pada 2 Juli 1976.

Bandar Udara Internasional Noi Bai (HAN) di Hanoi, ibu kota dari Vietnam, adalah bandara terbesar di bagian utara negara tersebut. Bandara ini berjarak 28 mil (45 km) dari pusat kota. Waktu perjalana dari pusat kota adalah sekitar 30-45 menit. Bandara yang dibuka pada Agustus 2006 ini memiliki landasan pacu baru sepanjang 3,800 meter dari beton dan landasan yang lebih tua sepanjang 3,200 meter. Jarak antara kedua landasan pacu hanya 250 meter, sehingga bandara ini hanya memiliki kapasitas maksimum sebanyak 10 juta penumpang per tahun, sesuai dengan peraturan keamanan dari International Civil Aviation Organisation safety regulations.

Kami memerlukan waktu tempuh perjalanan ke ‘Hanoi Old Quarter’ di pusat kota menggunakan taksi berargometer, sekitar 1,5 jam dengan tariff 357 dong. Malam ini kami menginap di The Pearl Hotel Hanoi, Vietnam, yang beralamat di 6 Bao Khanh lane, Hang Trong ward, Hoan Kiem distr, Hanoi City, Vietnam. Hotel ini berjarak 27,6 km dari Noi Bai International Airport Hanoi.

Sabtu tengah malam, 25 Mei 2019

Kamar 307 The Pearl Hotel Hanoi, Vietnam.

(bersambung secepatnya)

2019 Hari Kedua di Indochina

Minggu, 26 Mei 2019 kami awali dengan ikut Misa Kudus Minggu pagi di Gereja Katedral Santo Yosep Hanoi, yang hanya 5 menit berjalan kaki dari hotel kami. Gereja Katedral Santo Joseph yang terletak di Jl. Nha Chung no 40, Hanoi, adalah bangunan katedral Katolik Roma dengan gaya neo-gothic, yang dibangun pada era kolonial Perancis. Pada tahun 1882, setelah tentara Perancis menaklukkan Hanoi, katedral mulai dibangun oleh para misionaris asal Spanyol yang telah menyebarkan agama Katholik di Vietnam sejak 1679, dan selesai pada tahun 1886. Katedral dan area Nha Chung dibangun di atas tanah yang sebelumnya milik pagoda Bao Thien, yang dibangun di bawah dinasti Ly.

Interior Katedral Santo Yosep Hanoi, Vietnam

Arsitektur dengan kubah katedral mengikuti gaya dan desain Gothic Katedral Paris. Panjangnya 64,5m, lebar 20,5m dengan dua menara lonceng setinggi 31,5m. Meskipun penampilan katedral, dari pintu, kaca jendela berwarna-warni, hingga lukisan religius untuk dekorasi mengikuti gaya Barat, bagian interior utama didekorasi dengan cara Vietnam dengan dua warna khas kuning dan merah. Sebaliknya, dinding depan sama sekali tidak pernah dicat, sampai sekarang. Di bagian luar, di depan katedral ada patung Bunda Maria.

Dinding depan Katedral Santo Yoseph Hanoi Vietnam sama sekali tidak pernah dicat, sampai sekarang.

Katedral Santo Yoseph adalah salah satu bangunan yang paling megah di Hanoi, yang berada di dekat Danau Hoan Kim dan Pagoda Ngoc Son. Interior gereja dilengkapi dengan meubel dan ornamen kuno, hingga menjadikan Katedral ini layaknya sebuah museum. Misa Kudus Natal pertama diselenggarakan di katedral pada tahun 1887. Sejak itu, katedral selalu penuh sesak dengan ratusan orang termasuk orang Kristen dan non-Kristen pada akhir pekan atau selama liburan keagamaan seperti Natal.

‘The 422nd International Conference on Medical & Health Science’ (ICMHS) 2019.

Setelah sarapan, kami menghadiri ‘The 422nd International Conference on Medical & Health Science’ (ICMHS) 2019. Konferensi ini dibuka pada hari Minggu pagi, 26 Mei 2019 dan diselenggarakan di lantai 10 The Pearl Hotel Hanoi, Vietnam, yang beralamat di 6 Bao Khanh lane, Hang Trong ward, Hoan Kiem distr, Hanoi City, Vietnam.

Keynote speech diberikan oleh Prof. Louann Bierlam Palmir, dari School of Medicine, Western Michigan University, United States of America. Pemaparan selanjutnya tentang perbaikan kawasan untuk menekan penularan Malaria oleh Dr. Harpuniat Singh, Senior Assistant Professor, Guru Nanak Dev Engineering College, Ludhiana, Punjab, India. Materi paling rumit adalah kolaborasi insinyur dan dokter, dalam menciptakan alat ‘incubator transport’ untuk bayi baru lahir yang kecil dan premature, oleh Dr. Hainam El Sayed El Sharnaby, dari Higher Institute for Engineering and Technology in Beheria, Mesir. Pengalaman menarik dipaparkan oleh Dr. Idoko Ari Syaddaq, dari Department of Biochemistry, Federal University Dutsinma, Katsina state, Nigeria, terkait alat sederhana untuk pemantauan hipoglikemi dan hiperbilirubinemi, pada bayi baru lahir dengan asfiksia neonatal.

Diskusi tidak kalah seru dipandu oleh Prof. Prayuth Chusirin dari Faculty of Education, KhonKaen University, KhonKaen, Thailand, untuk pendampingan belajar di rumah, pada anak balita dengan riwayat sakit berulang sejak bayi baru lahir. Materi yang membuat kami pusing adalah paparan Prof. Araza Idrus, dari Department of Pediatric, National Defence University of Malaysia, Malaysia, terkait kecenderungan autism pada anak dari keluarga pedesaan.

Setelah lelah mengikuti jalannya diskusi, kami dan siapapun yang datang ke Hanoi, segera ingat akan tokoh hebat Ho Chi Minh dan Vo Nguyen Giap. Tokoh terakhir lahir 25 Agustus 1911 dan meninggal 4 Oktober 2013, pada umur 102 tahun adalah seorang jenderal dan wakil perdana menteri Vietnam. Jenderal besar ini berhasil gemilang dalam pertempuran hebat di Dien Bien Phu dan perang Vietnam.

Pagoda tempat sebagian besar rakyat Vietnam berdoa

Sebaliknya, gerilyawan Viet Minh di bawah Jenderal Vo Nguyen Giap, sanggup mengitari dan mengepung pasukan Prancis sampai pecah pertarungan sengit di darat. Viet Minh menduduki daerah perbukitan di sekitar Dien Bien Phu, dan mampu menembak ke bawah secara akurat ke posisi-posisi pasukan Prancis. Pada akhirnya Viet Minh berhasil merebut basis pertahanan Prancis dan memaksa Prancis menyerah.

Kecerdikan strategi Jenderal besar Vo Nguyen Giap, yang waktu bertempur bersama anak buahnya hanya mengenakan sandal jepit dari ban bekas, menginspirasi kekuatan, keuletan, dan ketangguhan bangsa Vietnam. Hal itu juga Nampak dalam penyelenggaraan ‘The 422nd International Conference on Medical & Health Science’ (ICMHS) 2019.

Gerbang Museum Ho Chi Minh di Hanoi, Vietnam, yang megah menjulang

Sore itu kami segera ganti kostum, untuk mengenang Ho Chi Minh dan Vo Nguyen Giap. Hồ Chí Minh (19 Mei 1890 – 2 September 1969 pada umur 79 tahun) adalah seorang tokoh revolusi dan negarawan Vietnam, yang kemudian menjadi Perdana Menteri (1954) dan Presiden Vietnam Utara (1954–1969). Selain itu, Ho Chi Minh merupakan salah satu politisi yang paling berpengaruh pada abad-20, akrab dipanggil Bác Hồ (paman Hồ). Untuk pertama kalinya setelah 30 tahun meninggalkan Vietnam, Ho Chi Minh kembali ke negaranya pada tahun 1941 dan mendirikan Liga untuk Kemerdekaan Vietnam (Viet Nam Doc Lap Dong Minh atau Viet Minh). Liga tersebut terdiri dari para nasionalis Vietnam dan kelompok komunis yang mendukung kemerdekaan Vietnam. Ketika itu, Viet Minh berjuang melawan kolonial Prancis dan Jepang yang saat itu sedang menduduki Vietnam. Pada akhir Perang Dunia II, Ho memimpin Viet Minh untuk secara bergerilya menguasai kota-kota besar di Vietnam. Pada 2 September 1945, bertempat di Lapangan Ba Dinh Hanoi, Ho Chi Minh mendeklarasikan kemerdekaan Republik Demokrasi Vietnam dan dia menjabat sebagai presiden pertama.

Patung seukuran asli tokoh besar Ho Chi Minh, di museumnya di Hanoi, Viet Nam

Kami segera memesan Grab Car bertarif 30 Dong menuju Museum Ho Chi Minh yang dibangun pada 1990-an, itu didedikasikan untuk almarhum pemimpin Vietnam Ho Chi Minh dan perjuangan revolusioner Vietnam melawan kekuatan asing. Museum Ho Chi Minh mendokumentasikan kehidupan Ho Chi Minh, dengan 8 topik kronologis. Yang pertama, dari tahun 1890 hingga 1910 mencontoh asuhannya, kota kelahirannya dan masa mudanya. Topik kedua menyangkut sepuluh tahun ke depan di mana Ho Chi Minh berkeliling dunia untuk menemukan cara untuk menyelamatkan negara dari kolonialisme. Tiga topik berikutnya, mencakup 1920-1945, menggambarkan bagaimana Ho Chi Minh telah menerjemahkan pengaruh idealisme Marxisme dan Leninisme ke dalam pendirian partai Komunis Vietnam dan berjuang untuk kemerdekaan nasional. Dari 1945 hingga 1969, yang merupakan kerangka waktu yang digambarkan dalam topik 6 dan 7, pahlawan nasional terutama dibahas dalam kehidupan politiknya sampai ia meninggal. Museum ini adalah koleksi artefak, miniatur dan berbagai hadiah yang dikumpulkan secara nasional dan internasional. Ada juga deskripsi yang ditulis dalam bahasa Inggris dan Prancis, serta tur berpemandu berdasarkan permintaan.

Jasad tokoh besar Ho Chi Minh bersitirahat di Mausoleumnya di Hanoi, Vietnam

Selanjutnya kami mengunjungi Mausoleum Ho Chi Minh. Mausoleum atau makam besar ini ternyata tutup sebelum tengah hari, sehingga kami hanya dapat mengambil gambarnya di luar. Di peristirahatan sang pahlawan itulah sisa-sisa dari jasad Ho chi Minh disemayamkan.

menikmati senja dengan makan mie berkuah hangat
di tepi Danau Hoan Kiem, Hanoi, Viet Nam.

Selanjutnya kami kembali ke hotel untuk berganti kostum olah raga dan menikmati senja di tepi Danau Hoan Kiem. Danau ini merupakan tempat yang asyik untuk bersantai dan berkeliling menikmati pemandangan alam kota yang alami dan indah. Banyak masyarakat Hanoi yang sedang piknik, bersantai, bermain dan bercengkrama dengan keluarga dan sahabat. Hoan Kiem sendiri memiliki arti pedang yang dikembalikan. Konon katanya, ada kura-kura sakti yang menghuni danau tersebut dan memberikan sebuah pedang Thuan Thien, kepada kaisar sebagai senjata untuk melawa penjajahan China dan mengusirnya dari Vietnam. Setelah terbebas dari China, kaisar mengembalikan pedang tersebut kepada kura-kura sakti di danau tersebut.

Jalan2 sore di sekitar Danau Hoan Kiem, di pusat kota Hanoi, Viet Nam

Jembatan Huc dari kayu yang bercat merah tampak indah dengan hiasan lampu pada malam hari. Setelah membayar tiket 30.000 dong, kami menyusuri jembatan Huc menuju ke Pagoda Tran Quoc, di tengah Danua Hoan Kiem. Pagoda Tran Quoc (Chua Tran Quoc) merupakan kuil Budha tertua di Hanoi. Pertama kalinya dibangun pada masa kekuasaan Kaisar Ly Nam Dee, antara tahun 544 hingga 548. Pada saat itu, pagoda ini bernama Khai Quoc dan masih terletak di tepi Sungai Merah (Red River). Pada tahun 1615, pagoda ini kemudian dipindahkan ke sebuah pulau kecil yang bernama Kim Ngu yang berarti “golden fish”. Dengan daratan utama Hanoi, pulau ini dan Pagoda Tran Quoc dihubungkan oleh sebuah jalan kecil. Selain sebagai tempat ibadah, pagoda ini juga merupakan objek wisata favorit banyak wisatawan.

Jembatan Huc dari kayu yang bercat merah menuju ke Pagoda Tran Quoc,
di tengah Danua Hoan Kiem, hanois, Viet Nam.

Setelah memasuki gelap malam yang diselingi hujan, kami melanjutkan perjalanan di kota tua Hanoi (Hanoi’s Old Quarter). Area ini merupakan sebuah kawasan dengan 36 ruas jalan. Di area sini kita semua dapat berjalan-jalan memandangi indahnya kota Hanoi, sambil berbelanja barang unik atau oleh-oleh khas Vietnam. Yang unik dari tempat ini adalah setiap jalan ‘Hanoi Old Quarter’ ini, diberi nama sesuai dengan nama toko di ujung jalan tersebut. Saking banyaknya ruas jalan, kita bisa seharian berbelanja. Semakin malam, pemandangan ‘Hanoi’s Old Quarter’ semakin cantik dengan lampu-lampu yang kerlap kerlip. Di area itu juga merupakan tempat berkumpul yang populer, bagi banyak anak muda bergaya pop di Hanoi, rumah bagi toko-toko suvenir yang menarik, dan restoran bergaya Barat. Setelah membeli makan malam berupa  Banh Bao Dimsum yang dibungkus daun pisang, oleh-oleh kopi dan bendera Vietnam, kami segera kembali ke kamar hotel, yang tidak jauh dari tepi Danau Hoan Kiem

Minum kopi Viet Nam di ‘Hanoi’s Old Quarter’, pusat kota Hanoi

Minggu malam, 26 Mei 2019

Di kamar 317 The Pearl Hotel Hanoi, Vietnam.

(bersambung)

2019 Hari Ketiga di Indochina

Pendaratan dari Hanoi, Viet Nam pada menjelang gelap
di Seam Reap, Kerajaan Kamboja

Pada hari ketiga itu kami menghadiri ‘The 422nd International Conference on Medical & Health Science’ (ICMHS) 2019. Konferensi ini ditutup pada hari Senin sore, 27 Mei 2019 dan diselenggarakan di Lantai 10 The Pearl Hotel Hanoi, Vietnam, yang beralamat di 6 Bao Khanh lane, Hang Trong ward, Hoan Kiem distr, Hanoi City, Vietnam.

Materi pertama hari kedua konferensi disampaikan oleh Dr. Ntwampe I. 0lpa dari School of Medicine, North-West University, South Africa, terkait pengendalian TB (tuberculosis) di areal padat penduduk di kota besar. Selanjutnya Dr. Emil Suklar, Pediatric Department, Faculty of Medicine, Anadolu University, Turkey, membahas pengendalian obesitas pada remaja. Topik menarik disampaikan oleh  Dr. Shagenori Togashu dari HITACHI Ltd., Research & Development Group, Japan, tentang kerjasama industri dan rumah sakit, dalam menjawab tantangan fasilitas medis terbatas di negara berkembang. Topik sulit disampaikan oleh Prof. Volken Cacek, Faculty of Medicine, Zirve University, Turkey, tentang peran dokter dalam era revolusi industry 4.0 di negara berkembang. Disusul oleh Dr. Shahad Bashir, Ph.D. Marketing graduate from University of Wales, UK, tentang peran tenaga pemasaran untuk pengembangan layanan di RS.

Kami tidak sempat mengikuti diskusi menarik lain yang dipimpin oleh Prof., Dr. Eriki Ananda kumar dan Prof. Mohammed Hussein Bataineh, dari Department of Communication, Faculty of Medicine Yarmouk University Irbid, Jordan. Juga Prof Caesar Joseph Olbromski, The Alexander S. Onassis Public Benefit Foundation Fellow (Athens, Greece), Dr. Hossam Korany Ahmed, SVS College of Medicine, Arasampalayam, Coimbatore, Tamilnadu, India, karena kami harus segera check out hotel, melanjutkan penerbangan ke Kamboja.

Pesawat Vietnam Airlines, VN 837 Airbus A 321
yang menerbangkan kami keluar dari Hanoi, Vietnam

Sebelum acara seremonial penutupan, kami segera menuju Terminal 2 Noi Bai International Airport, Hanoi, Vietnam, dengan melewati jembatan di atas Sungai Merah yang terbaru, yaitu Jembatan Nht Tân di Hanoi, Vietnam. Philips Lighting (Euronext Amsterdam ticker: LIGHT), pemimpin global di bidang pencahayaan, merampungkan ikon pencahayaan jembatan tersebut pada 19 Juli 2017, yang  menyinari jembatan dengan spektrum cahaya warna-warni, yang mengubah tampilan struktur jembatan menjadi karya seni yang senantiasa berganti. Semua orang yang melewati Sungai Merah di kota Hanoi akan menemukan lima warna yang terbentang di jembatan pada malam hari, yang merupakan simbol lima gerbang kuno menuju ibu kota ini. Dibangun pada tahun 2015, jembatan ini merupakan jembatan cable-stayed (jembatan yang ditopang oleh kabel) terpanjang di Vietnam, sebuah teknologi yang lebih canggih dari teknologi suspension bridge (jembatan gantung).

Cabin Pesawat Vietnam Airlines, VN 837 Airbus A 321 yang nyaman dan senyap

Kami diantar Grab Car KIA Picanto bertarif 385 Dong dan bersiap terbang ke Bandar Udara Internasional Angkor, di Siem Reap, bagian barat Kamboja. Penerbangan menggunakan pesawat Vietnam Airlines, memakan waktu 1 jam 40 menit. Siem Reap merupakan ibu kota Provinsi Siem Reap di Kamboja. Kota ini terletak di bagian barat laut negara dan merupakan pusat wisata dan budaya penting di Kamboja, karena menjadi gerbang masuk menuju kawasan purbakala kota Angkor yang terkenal.

Naik tuktuk, kereta yang ditarik sepeda motor,
mengelilingi Seam Reap, Kamboja

Kata Siem Reap berarti ‘Kekalahan Siam’ — kini Thailand— dan merujuk pada permusuhan dan pertumpahan darah selama berabad-abad, peristiwa tersebut diperingati dalam ukiran relief dan monumen di Candi Angkor. Nama ini juga dapat diterjemahkan sebagai ‘Kegemilangan Siam’, karena, selama 500 tahun sebelum peperangan, kota ini menjadi perlintasan dari Kamboja kuno menuju Siam.

Gerbang depan Candi Angkor (Angkor Wat)
yang sudah hampir gelap ditelan malam

Pada 1901 École Française d’Extrême Orient (EFEO) memulai ekskavasi Angkor dengan mendanai ekspedisi memasuki Siam dan Bayon. Pada 1907 Angkor, yang telah direbut dari Siam dengan paksa, dikembalikan kepada Kamboja. EFEO bertanggung jawab membersihkan situs purbakala ini dari cengkeraman hutan, dan pada tahun yang sama wisatawan pertama tiba di Angkor, sejumlah 200 orang wisatawan yang tinggal di Angkor selama tiga bulan. Angkor kembali diselamatkan dari hutan dan mendapat perhatian dunia.

Patung singa dan ular cobra di Candi Angkor bagian depan,
dalam senja hampir gelap

Pada saat ditemukan oleh penjelajah Prancis pada abad ke-19, Siem Reap hanyalah berupa desa sederhana. Dengan dikuasainya Angkor oleh Prancis pada 1907, Siem Reap mulai berkembang dan menerima gelombang wisatawan pertamanya. Grand Hotel d’Angkor dibuka tahun 1929 dan candi-candi di Angkor menjadi salah satu daya tarik pariwisata Asia utama hingga akhir 1960-an. Tokoh pesohor seperti Charlie Chaplin dan Jackie Kennedy, adalah mereka yang pernah mengunjungi Angkor. Pada 1975, sebagian besar penduduk kota Siem Reap, bersama seluruh penduduk kota lainnya di Kamboja, terbantai oleh komunis Khmer Merah, sisanya menyelamatkan diri dan mengungsi ke pedesaan.

Kampanye stop malaria resisten obat, di areal Greater Mekong,
yang mencakup Seam Ream, Kerajaan Kamboja.

Siem Reap memiliki bangunan tua kolonial dan arsitektur China di sekitar lingkungan bekas kolonial Prancis dan di sekitar Pasar Lama. Di kota ini terdapat Candi Angkor yang besar, gedung pertunjukan yang menggelar pagelaran tari tradisional Apsara, pusat cindera mata, pengrajin kain sutra, sawah pedesaan, desa nelayan, dan suaka burung di dekat danau Tonle Sap. Itulah yang menarik kami untuk datang melihat.

Angkor Wat yang sedang direnovasi,
menjelang gelap ditelan malam di Siem Reap, Kamboja

Kami mendarat di Angkor Internaitonal Airport Siem Reap sudah menjelang gelap. Aplikasi Grab versi Vietnam mengalami kendala saat kami ubah ke versi Kamboja. Juga aplikasi PassApp Taxi milik Kamboja, sore itu terkendala proses downloadnya. Oleh sebab itu kami segera menyewa tuktuk, sebuah sepeda motor yang menarik seperti kereta bagi penumpang, yang merupakan kendaraan penumpang khas Kamboja. Mata uang USD digunakan dalam transaksi di seluruh Kerajaan Kamboja, sehingga kami tidak perlu menukarkan uang lokal.

Makan malam menu lokal Kamboja di The Red Angkor Restourant, Seam Reap.

Beruntung, siluet sore Candi Angkor yang megah masih dapat tertangkap kamera kami. Meskipun sedang dlakukan pemugaran besar-besaran, kami masih sempat mengambil gambar Candi Angkor atau sering disebut Angkor Wat, dari berbagai sisi. Sebelum gelap benar, kami segera bergegas masuk kota Seam Reap, untuk mencapai hotel kami.

Kami menginap di kamar 504 Cheathata Angkor Hotel, Siem Reap, Kamboja, sebuah daerah wisata dengan banyak sekali wisatawan, sebagai mana Kuta dan Legian di Bali, Indonesia.

Senin malam, 27 Mei 2019.

-wikan

(bersambung)

2019 Hari keempat di Indochina

Gerbang Angkor Wat Temple di Siem Riep, Kerajaan Kamboja

Setelah menghadiri ‘The 422nd International Conference on Medical & Health Science’ (ICMHS) 2019 yang diselenggarakan di The Pearl Hotel Hanoi, Vietnam, kami melanjutkan terbang ke Siem Reap, Kamboja, untuk menikmati keindahan dan kemegahan Candi Angkor Wat. Pada tahun 1907 Angkor direbut dari Siam (sekarang Thailand) secara paksa oleh kolonial Perancis dan dikembalikan kepada Kamboja. Lembaga ilmiah di Perancis, yaitu École Française d’Extrême Orient (EFEO) membersihkan Candi Angkor yang merupakan situs purbakala dari cengkeraman hutan dan akhirnya mendapat perhatian dunia.

Antrian pertama pembelian tiket masuk areal Candi Angkor Wat
yang buka pk. 5 dini hari

Selasa pagi buta, 28 Mei 2019 kami terbangun di kamar 504 Cheathata Angkor Hotel, Siem Reap, Kamboja, untuk bergabung bersama banyak sekali turis dari berbagai negara, untuk menikmati matahari terbit di seputaran Angkor Wat. Kami naik tuktuk yang malam sebelumnya mengantar kami ke hotel. Kami segera berdiri paling depan, di loket pembelian tiket masuk areal Angkor Wat, yang buka pk. 5. Dengan membayar $37 untuk setiap orang dalam paket wisata 1 hari, kami mendapat tiket yang disertai foto wajah masing-masing pengunjung.

Wajah kami terlihat di dalam tiket masuk areal Angkor Wat,
untuk pemeriksaan keamanan

Angkor Wat adalah sebuah gugus bangunan candi di Kamboja yang merupakan salah satu monumen keagamaan terbesar di dunia. Candi yang berdiri di atas areal seluas 1.626.000 m2 ini mula-mula dibangun sebagai candi agama Hindu Kerajaan Khmer, yang dibaktikan untuk dewa Wisnu, namun lambat laun berubah menjadi candi agama Buddha menjelang akhir abad ke-12. Angkor Wat dibangun oleh Raja Khmer Suryawarman II pada permulaan abad ke-12 di Yaśodharapura, ibu kota Kemaharajaan Khmer, sebagai candi negara sekaligus tempat persemayaman abu jenazahnya. Berbeda dari raja-raja pendahulunya yang berbakti kepada dewa Siwa, Raja Suryawarman II justru membangun Angkor Wat untuk dibaktikan kepada dewa Wisnu. Sebagai candi yang paling terawat di kawasan percandian Angkor, Angkor Wat merupakan satu-satunya candi yang masih menjadi pusat keagamaan penting semenjak didirikan. Mahakarya langgam klasik arsitektur Khmer ini telah menjadi salah satu lambang negara Kamboja, ditampilkan pada bendera negara Kamboja, dan menjadi daya tarik wisata utama negara itu.

Siluet Candi Angkor Wat di Siem Reap, Kamboja sebelum matahari terbit

Pintu masuk samping timur, menuju areal tengah Candi Angkor Wat
di Siem Reap, Kerajaan Kamboja

Angkor Wat (bahasa Khmer: “candi kota”) adalah sebuah gugus bangunan candi di negara Kamboja yang merupakan salah satu monumen keagamaan terbesar di dunia. Candi yang berdiri di atas situs seluas 1.626.000 m2, Angkor Wat memadukan dua rancangan pokok arsitektur candi Khmer, yakni rancangan candi gunungan dan rancangan candi berserambi. Angkor Wat dirancang sebagai lambang Gunung Meru (kahyangan dewa-dewi Hindu) yang dikelilingi tiga undak bangunan serambi persegi panjang, dan masih dipagari lagi dengan tembok luar sepanjang 3,6 km (2,2 mil) berikut sebuah parit sepanjang lebih dari 5 km (3 mil). Di tengah-tengah gugus bangunan candi ini, menjulang menara-menara yang membentuk tatanan quinquncia (tatanan lima objek yang membentuk lambang tapak dara, salah satunya terletak pada titik persilangan). Berbeda dari kebanyakan candi yang bertebaran di kawasan percandian Angkor, candi ini dibangun menghadap ke arah barat; para peneliti berbeda pendapat sehubungan dengan makna dari perbedaan ini. Angkor Wat dikagumi karena kemegahan dan keselarasan arsitekturnya, luasnya bidang yang dihiasi relief dangkal, dan sekian banyak sosok dewata yang terukir pada tembok-temboknya.

Berbagi lokasi dengan pengunjung lainnya,
mengambil gambar siluet Candi Angkor Wat yang megah
Para pengunjung Candi Angkor Wat berjajar di tepi kolam,
untuk mengambil gambar bayangan siluet candi dalam air kolam

Seperti sebuah kolam renang raksasa
di dalam Candi Angkor Wat Siem Reap, Kamboja
Perjumpaan yang meneguhkan
dengan seorang biksu muda Khmer yang optimistik dan berwajah teduh
di areal Candi Angkor Wat, Siem Reap, Kamboja

Angkor Wat terletak 5,5 km di sebelah utara kota modern Siem Reap. Candi ini juga berada tidak jauh di sebelah selatan dan agak ke timur dari bekas ibu kota Khmer yang berpusat di candi Baphuon. Angkor Wat sendiri berlokasi di kawasan percandian Angkor, dan juga merupakan candi paling selatan dari antara candi-candi lainnya di kawasan tersebut.

Puncak kedua stupa suci Candi Angkor Wat, Kamboja
yang tinggi menjulang, sangat indah dipandang
Gerbang belakang yang megah saat akan keluar areal situs Candi Angkor Wat,
untuk menuju situs Candi Bayon, di Siem Reap, Kamboja

Selanjutnya kami mengunjungi Bayon yang merupakan candi agung Kerajaan Khmer di dalam kawasan Angkor. Dibangun pada akhir abad ke-12 hingga awal abad ke-13, candi yang kaya ukiran ini adalah candi agung resmi kerajaan yang bersifat Buddha Mahayana, yang dibangun atas prakarsa Raja Jayawarman VII. Candi Bayon berdiri menjulang tepat di pusat ibu kota milik Jayawarman VII Angkor Thom. Setelah Jayawarman wafat, candi ini kerap diubah fungsinya menjadi candi Hindu dan Buddha Theravada sesuai keinginan raja berikutnya.

Wajah berukuran raksasa dengan ekspresi yang tenang, teduh, dan anggun,
terukir pada menara candi Bayon

Wajah para raja berukuran raksasa
terukir pada menara-menara candi Bayon, dekat Angkor Wat
Candi Bayon, di belakang Candi Angkor Wat dengan stupa yang khas,
yaitu sangat tinggi menjulang

Ciri utama candi Bayon adalah terdapat banyak wajah berukuran raksasa dengan ekspresi yang tenang, teduh, dan anggun, terukir pada menara-menara candi yang mengelilingi puncak utama. Candi ini juga terkenal dengan dua set bas relief yang menampilkan kombinasi antara mitologi, sejarah, serta adegan sehari-hari pada masa Kerajaan Angkor, yang menggambarkan candi ini sebagai “sebuah perwujudan paling mengagumkan dari gaya barok” dalam Arsitektur Khmer, apabila dibandingkan dengan gaya klasik Angkor Wat.

Kampanye basmi malaria yang telah resisten obat anti malaria standar,
di Greater Mekong, termasuk di Siem Reap

Tokoh pesohor seperti Charlie Chaplin dan Jackie Kennedy, adalah mereka yang pernah mengunjungi Angkor Wat dan kami tidak mau kalah. Setelah puas menikmati kemegahannya, selanjutnya kami mengenang Dr. Beat Richner (13 Maret 1947 – 9 September 2018) adalah seorang dokter spesialis anak dari Swiss, pemain cello dan pendiri rumah sakit anak di Kamboja. Dia menciptakan Yayasan Kantha Bopha di Zurich pada tahun 1992 dan menjadi kepalanya. Saat bekerja untuk Palang Merah Swiss, ia dikirim ke Kamboja di mana ia bekerja di Rumah Sakit Anak Kantha Bopha di Phnom Penh pada tahun 1974 dan 1975. Rumah sakit ini dinamai untuk mengenang HRH Samdach Preah Ang Mechas Norodom Kantha Bopha (1948– 1952), yang merupakan putri Raja Norodom Sihanouk dan meninggal pada usia yang sangat muda.

.

Siamray dengan tuktuk pribadinya, setia mengantar kami
keliling areal arkeologi Candi Angkor Wat

Ketika Khmer Merah menyerbu Kamboja, Richner terpaksa kembali ke Swiss di mana ia melanjutkan pekerjaannya di Rumah Sakit Anak Zurich. Pada Desember 1991, Richner kembali ke Kamboja dan menyaksikan kehancuran yang terjadi setelah konflik antara Khmer Merah dan Vietnam. Dia diminta untuk membuka kembali dan membangun kembali Kantha Bopha oleh pemerintah Kamboja. Menciptakan Yayasan Kantha Bopha pada Maret 1992, Richner secara resmi kembali ke Kamboja untuk memulai rekonstruksi dan Kantha Bopha dibuka kembali pada November 1992. Sejak itu, yayasan telah mendanai perluasan Rumah Sakit Anak Kantha Bopha untuk berkembang menja lima rumah sakit, termasuk di Siem Reap.

Mengagumi dedikasi Dr. Beat Richner
yang mendirikan RS Anak Kantha Bopha III Siem Reap, Kamboja

Sebanyak 5 buah Rumah sakit Kantha Bopha merawat sekitar setengah juta anak per tahun tanpa biaya, termasuk untuk sekitar 100.000 anak yang sakit parah dan harus dirawat inap. Ensefalitis Jepang, malaria, demam berdarah dengue, dan tipus sering terjadi, yang bahkan sering diperburuk oleh adanya infeksi tuberkulosis (TB) sebelumnya. TB adalah pembunuh nomor satu bagi anak di Kamboja dan lebih dari 80% dari semua perawatan anak di Kamboja, dilayani oleh jaringan rumah sakit Kantha Bopha. Operasional rumah sakit terutama didanai oleh sumbangan individu filantropis di Swiss. Biaya operasional pada tahun 2006, saat terjadi lonjakan kasus malaria, mencapai US $ 17 juta. Sejak Yayasan dimulai pada tahun 1991, dilaporkan telah mengumpulkan US $ 370 juta. Selain perawatan medis, rumah sakit juga menyediakan Pendidikan Vokasi Pascasarjana Internasional, yaitu Akademi Pediatri Kantha Bopha yang dimulai pada tahun 2009. Program ini mencakup kuliah dan kursus tentang pediatri umum, infektologi, imunologi dan pencitraan diagnostik. Program kursus juga mencakup pengenalan ke dalam organisasi dan manajemen rumah sakit anak dan fasilitas bersalin di negara tropis yang miskin.

.

Bersiap naik bis Giant Ibis yang eksklusif buatan Hyundai
meninggalkan Siem Reap menuju Phnom Penh, Kamboja

Setelah puas menikmati kemegahannya, selanjutnya kami naik bis Giant Ibis, menuju Phnom Pehn, ibukota Kerajaan Kamboja. Menempuh perjalanan 323 km, kami perlu waktu 6 jam dalam bis ekskutif buatan Hyundai, Korea. Sepanjang perjalanan kami melewati jalan raya yang mulus, tertata dan datar. Rasanya tidak ada jalan mendaki dan menurun di darata Komboja. Kendaraan yang lewat pada umumnya berukuran besar, tidak ada yang berminat dengan kendaraan kecil. Camry, Prius, Fortuner, Pajero, Highlander, Land Cruiser, Navara, Alphard, Hi Lux dan H1, adalah kendaraan besar yang lalu lalang di sepanjang jalan di Kamboja.

Menikmati pemandangan kawasan Kamboja yang luas,
dari dalam cabin bis Giant Ibis ke Phnom Penh

Sepanjang mata memandang, masih banyak areal tanah kosong, rumah dibangun dengan halaman yang luas, dan jalan yang lebar dengan warna tanah kemerahan. Panoramanya mirip dengan wilayah Kalimantan Tengah, yang masih jarang penduduk. Meskipun medannya tidak berat karena hanya datar, tetapi warga Kamboja lebih senang menggunakan mobil dengan kapasitas mesin yang besar, yang biasanya diiperuntukkan bagi medan berat.

Museum Genosida Tuol Sleng pada malam hari
untuk mengenang kekejaman Khmer Merah di Phnom Pehn, Kamboja

Kami turun di garasi bis Giant Ibis, di pinggiran kota Phnom Penh, dilanjutkan naik tuktuk keliling kota dalam sore hari menjelang malam yang sedikit gerimis. Dengan cepat kami mengunjungi Museum Genosida Tuol Sleng, Monumen Kemerdekaan, Patung Raja Norodom Sihanouk, dan Istana Kerajaan Kamboja, karena hari keburu malam dan hujan semakin lebat. Selanjutnya kami check in di hotel dan berniat mengulangi lagi kunjungan ke tempat tersebut pagi hari, sebelum melanjutkan perjalanan ke Vietnam.

.

Monumen Kemerdekaan Kamboja di waktu malam,
di tengah simpang jalan yang ramai di Phnom Phen

Ditulis di dalam kamar 304 King Grand Boutique Hotel, 18 Street 258, Phnom Penh, Cambodia, The Kingdom of Wisdom

Selasa malam, 28 Mei 2019.

-wikan

(bersambung)

2019 Hari kelima di Indochina

Setelah selesai menghadiri ‘The 422nd International Conference on Medical & Health Science’ (ICMHS) 2019 yang diselenggarakan di The Pearl Hotel Hanoi, Vietnam, kami melanjutkan terbang ke Siem Reap, Kamboja, untuk menikmati keindahan Candi Angkor Wat. Dengan menggunakan bis antar kota berkapasitas 41 tempat duduk ‘Giant Ibis3’, kami meninggalkan Siem Reap, untuk menuju Phnom Penh, ibukota  dan kota terbesar di Kamboja. Kota ini memiliki penduduk sekitar 1 juta jiwa, sementara seluruh penduduk Kamboja adalah 11,4 juta jiwa.

Phnom Penh terletak di tepi Sungai Mekong, yang merupakan sungai utama di daratan Asia dengan panjang 4.200 km yang berasal dari dataran tinggi Tibet Cina. Sungai ini melintasi Kamboja dari Utara ke Selatan dengan panjang total 486 km dan melewati Phnom Penh, sebagai persimpangan sungai untuk sumber air minum dan ekosistem kota.

Didirikan pada tahun 1434, kota ini terkenal karena arsitektur yang indah, sejarah dan atraksi kebudayaannya. Phnom Penh pernah dikenal sebagai “Mutiara Asia”, dan dianggap sebagai salah satu kota peninggalan kolonial Prancis yang terindah, yang pernah dibangun sebagai kota di seluruh Indocina pada tahun 1920. Saat ini masih ada sejumlah bangunan kolonial Prancis yang tersebar di sepanjang jalan-jalan utama, mekipun Phnom Penh telah berkembang menjadi pusat negara, pusat industri, perekonomian, keamanan, dan politik Kamboja. Phnom Penh, bersama dengan Siem Reap dan Sihanoukville adalah tujuan wisata domestik dan global yang signifikan untuk Kamboja.

Mengunjungi Universitas Ilmu Kesehatan di Phnom Pehn,
Kerajaan Kamboja di waktu malam

Malam itu kami menginap di kamar 304 King Grand Boutique Hotel, Phnom Penh, Kamboja, dan terbayang kesedihan mendalam tentang para korban yang diabadikan di Museum Genosida Tuol Sleng, yang baru saja kami kunjungi. Museum di pusat kota Phnom Penh tersebut merupakan bekas sebuah Kamp Konsentrasi pada masa rezim Komunis Khmer Merah berkuasa di Kamboja, pada tahun 1975-1979. Kamp Konsentrasi ini dibangun oleh Pol Pot, pemimpin Khmer Merah, untuk menyingkirkan orang-orang yang tidak sepaham dengannya. Pol Pot berusaha kembali ke perekonomian agraris dan karena itu menewaskan banyak orang yang dianggap sebagai musuh, “malas”, atau secara politik terdidik. Banyak penduduk, termasuk mereka yang kaya dan berpendidikan, dievakuasi dari kota dan dipaksa untuk melakukan kerja paksa di bidang pertanian di pedesaan sebagai ”manusia baru“.

Gerbang depan Museum Genosida Tuol Sleng di Phnom Pehn,
salah satu tempat yang mengerikan di Kamboja

Bangunan sekolah ‘Tuol Svay Prey High School’ diambil alih oleh pasukan Pol Pot dan diubah menjadi 21S- kamp penjara, di mana para musuh politik Pol Pot ditahan dan disiksa. Nama Tuol Sleng merupakan Bahasa Khmer yang berarti “Bukit Pohon Beracun”. Bekas sekolah tinggi yang sekarang menjadi Museum Genosida Tuol Sleng, merupakan tempat penyiksaan oleh pasukan Khmer Merah yang menyimpan alat, perangkat dan foto para korban. Perkiraan jumlah kematian akibat kebijakan Khmer Merah, termasuk penyakit dan kelaparan, berkisar 1,7-2,5 juta dari penduduk Kamboja sekitar 8 juta. Pada tahun 1979, pasukan komunis Vietnam menyerbu Republik Demokratik Kampuchea dan menggulingkan rezim Khmer Merah.

Gerbang belakang Museum Genosida Tuol Sleng di Phnom Pehn
yang gelap, mencekam, dan mengerikan

Perang Kamboja-Vietnam adalah konflik yang terjadi antara Republik Sosialis Vietnam dan Kamboja. Perang ini dimulai dengan invasi dan pendudukan Vietnam terhadap Kamboja dan penurunan Khmer Merah dari kekuasaan. Konflik ini juga mengemukakan bagaimana perpecahan Tiongkok-Soviet telah merusak pergerakan komunis. Partai Komunis Vietnam memihak kepada Uni Soviet, sementara Partai Komunis Kamboja tetap setia dengan Republik Rakyat Tiongkok.

.

Monumen lambang kejayaan bangsa Khmer di pusat kota Phnom Pehn, Kamboja

Perang ini dimulai dengan kekhawatiran Republik Demokratik Kampuchea yang pada saat itu di bawah pimpinan Pol Pot, akan meluasnya pengaruh Vietnam setelah kemenangan Vietnam pada Perang Vietnam. Kekhawatiran ini didasarkan atas keinginan Vietnam untuk menyatukan kawasan Indochina dalam suatu negara di bawah kekuasaan Vietnam. Dibawah kekhawatiran tersebut, pasukan Republik Demokratik Kampuchea melancarkan aksi untuk menetralisir tentara Vietnam di sekitar perbatasan Vietnam-Kamboja. Atas aksinya, Vietnam membalas dengan melancarkan invasi melawan Republik Demokratik Kampuchea yang menyebabkan keruntuhannya, yang kemudian diganti oleh negara boneka Vietnam, Republik Rakyat Kamboja. Pendudukan Vietnam berakhir setelah tekanan internasional serta reformasi politik Vietnam. Tentara Vietnam terakhir keluar Kamboja pada tahun 1992.

Kami juga jadi ingat tentang seorang wartawan Kamboja Dith Pran, yang menciptakan istilah “ladang pembantaian” (The Killing Fields) setelah melarikan diri dari rezim Khmer Merah. Sebuah film yang dirilis tahun 1984 berjudul sama, yaitu ‘The Killing Fields’, menceritakan kisah Dith Pran, dimainkan oleh seorang survivor Kamboja Haing S. Ngor, dan perjalanannya untuk melarikan diri dari kematian di kamp.

Monumen Kemerdekaan Kamboja di tengah kota Phnom Penh saat malam hari.

Malam sebelum ke hotel, kami juga sempat mengunjungi Monumen Kemerdekaan di Phnom Penh, yang dibangun pada tahun 1958 untuk memperingati kemerdekaan Kamboja dari Prancis pada 1953. Monumen tersebut berdiri di persimpangan Norodom Boulevard dan Sihanouk Boulevard. Monumen tersebut membentuk stupa berbentuk teratai, yang gayanya tampak pada candi Khmer besar di Angkor Wat dan situs sejarah Khmer lainnya. Monumen Kemerdekaan dirancang oleh arsitek modern Kamboja yang sangat berpengaruh, yaitu Vann Molyvann.

Patung perunggu Raja Norodom Sihanouk,
di pusat kota Phnom Pehn yang malam dan hujan

Selain itu, kami juga sempat berfoto dalam hujan, untuk melihat patung Raja Norodom Sihanouk, yang diciptakan sebagai peringatan 1 tahun meninggalnya sang raja. Peresmian patung perunggu raja Sihanouk tersebut dilangsungkan pada hari Jumat, 11 September 2013. Patung setinggi 100 kaki seharga sekitar 1,2 juta dollar AS, menggambarkan Raja Norodom Sihanouk sebagai sosok yang melekat di hati rakyatnya. Paling tidak hal itu terlihat dari tetap membanjirnya warga yang menjenguk perabuan jenazahnya di Istana Kerajaan. Saat peresmian patung itu, Perdana Menteri Hun Sen dan raja Kamboja saat ini, Norodom Sihamoni hadir. Norodom Sihanouk wafat pada 15 Oktober 2012 karena serangan jantung di Beijing, China. Sihanouk berjasa membuat Kamboja tetap dalam keadaan damai sejak merdeka dari Perancis pada 1953.

Peta jalan program pemberantasan malaria di Kamboja pada 1953.

Kami jadi teringat bahwa Professor Nicholas White dari Oxford University di Inggris menerbitkan surat terbuka di jurnal kesehatan ‘The Lancet Infectious Diseases.’ Surat yang terbit pada hari Rabu, 25 September 2017 berisi tentang sebuah varian malaria baru, yang telah menyebar di wilayah barat Kamboja. Parasit malaria mutan terbaru itu kebal terhadap segala macam obat berbasis artemisin, obat utama melawan malaria yang dipakai oleh dokter di seluruh dunia. Malaria baru tersebut bahkan sudah menyebar dari kawasan barat Kamboja, menuju daerah timur laut Thailand, selatan Laos, hingga Selatan Vietnam (Greater Mekong).

Kami jadi teringat bahwa Professor Nicholas White dari Oxford University di Inggris menerbitkan surat terbuka di jurnal kesehatan ‘The Lancet Infectious Diseases.’ Surat yang terbit pada hari Rabu, 25 September 2017 berisi tentang sebuah varian malaria baru, yang telah menyebar di wilayah barat Kamboja. Parasit malaria mutan terbaru itu kebal terhadap segala macam obat berbasis artemisin, obat utama melawan malaria yang dipakai oleh dokter di seluruh dunia. Malaria baru tersebut bahkan sudah menyebar dari kawasan barat Kamboja, menuju daerah timur laut Thailand, selatan Laos, hingga Selatan Vietnam (Greater Mekong).

Pemeriksaan parasitologi malaria di Kamboja

Di beberapa wilayah Kamboja, tingkat resistensi pasien mencapai 60 persen dan sepertiga penangangan malaria di sana dinyatakan gagal. Walau mengkhawatirkan, varian malaria terbaru ini masih jauh dari Benua Afrika. Malaria baru ini akan mematikan, jika sampai menyeberang Samudra Hindia, karena setiap tahun 90 persen dari 212 juta kasus malaria seluruh dunia, terjadi di Benua Hitam Afrika. Ironisnya, kasus malaria yang disebarkan oleh nyamuk, sebetulnya mengalami penurunan beberapa tahun terakhir. Desember 2015, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan sejak tahun 2000 terdapat penuruan kasus malaria minimal 70 persen di lebih dari setengah negera yang terjangkit penyakit berbahaya ini. Secara keseluruhan, jumlah kasus malaria menurun sampai 40 persen sementara tingkat kematian turun 66 persen di benua Afrika dalam kurun waktu yang sama.

Mari kita bantu program stop malaria di Kamboja

Di Kamboja terjadi 45.991 kasus malaria pada 2017, di mana angka tersebut meningkat 95 persen dari 23.627 kasus pada tahun sebelumnya, seperti yang dijelaskan oleh Huy Rekol, direktur Pusat Nasional untuk Parasitologi, Entomologi dan Pengendalian Malaria Kamboja. Peningkatan kasus malaria tahun 2017 yang luar biasa, mungkin berhubungan dengan perubahan iklim dan jatuhnya tanggal kadaluarsa kelambu berinsektisida. Tahun 2016 cuaca telah berubah dengan musim hujan yang berkepanjangan, yang kondusif bagi pembiakan nyamuk. Faktor lainnya adalah kelambu berinsektisida, yang telah didistribusikan ke orang-orang yang tinggal di daerah rawan malaria, telah kehilangan efisiensinya setelah digunakan selama tiga tahun. Kami menjadi agak sulit tidur membayangkan semua hal yang terjadi tersebut malam itu ada di sekitar kami.

Gerbang depan Istana Kerajaan Kamboja atau National Royal Palace,
yang sedang direnovasi di pusat kota Phnom Pehn.

Rabu pagi, 29 Mei 2019 untunglah kami dapat bangun pagi untuk berjalan kaki sekitar 5 menit dari hotel, guna melihat Istana Kerajaan Kamboja atau National Royal Palace. Istana megah dan besar ini berfungsi sebagai kediaman resmi Raja Kamboja dan keluarga kerajaan. Nama lengkap dalam bahasa Khmer adalah Preah Barum Reachea Veang Chaktomuk Serei Mongkol. Para raja Kamboja telah menghuni istana ini sejak dibangun pada tahun 1860-an, dengan pengecualian istana sempat kosong karena keluarga kerajaan pergi mengungsi, mengasingkan diri  ke Perancis dan China, ketika negara jatuh dalam kekacauan, akibat berkuasanya rezim Khmer Merah.

.

Panorama pertemuan Sungai Tonle Sap dan Sungai Mekong
yang disebut Chaktomuk di pagi hari, di tegah kota Phnom Penh, Kamboja

Istana ini dibangun setelah Raja Norodom memindahkan ibukota kerajaan dari Oudong ke Phnom Penh pada pertengahan abad ke-19. Istana ini dibangun secara bertahap di atas benteng kuno yang disebut Banteay Kev. Istana ini menghadap ke arah Timur dan terletak di tepi barat dari cabang pertemuan Sungai Tonle Sap dan Sungai Mekong yang disebut Chaktomuk (Sansekerta:catur mukkha yang berarti empat muka), sebuah kiasan untuk dewa Brahma yang memiliki empat muka menghadap empat penjuru.

Gerbang King Grand Boutique Hotel, Phnom Penh, Kamboja, yang artistik

Rabu siang, 29 Mei 2019 kami meninggalkan King Grand Boutique Hotel, Phnom Penh, Kamboja, untuk naik bis lagi menuju Ho Chi Min City Vietnam. Pemeriksaan imigrasi dilakukan oleh Otoritas Imigrasi Kamboja di Kota Bavet dan bis berhenti di gedung tempat pos pemeriksaan paspor Kamboja berada. Setelah dipindai sidik jari dan stempel tanggal keluar wilayah Kamboja, para penumpang naik bis lagi menuju pos pemeriksaan pintu masuk perbatasan Vietnam di Kota Moc Bai. Paspor semua penumpang dikumpulkan oleh awak bis dan kita menunggu di areal pertokoan duty free untuk makan siang. Selesai makan, para penumpang diantar k epos pemeriksaan dan harus turun dari bus dengan membawa semua tas perbekalan, untuk dipindai dalam mesin x-ray dan pemeriksaan paspor oleh petugas imigrasi Vietnam.

Bis yang mengantar kami meninggalkan Phnom Pehn, Kamboja
dan memasuki Ho Chi Min, Vietnam

Memasuki territorial Vietnam, jalan dan pemandangan alam sekitarnya sangat berbda, karena lebih padat penduduk, maju dan modern. Setelah total 6 jam menempuh jarak 230,4 km melewati jalan nasional AH1/NR1, selanjutnya kami menginap di Ho Chi Min City.

Ditulis di Kamar 602 Anpha Boutique Hotel, Ho Chi Minch City Vietnam

Rabu malam, 29 Mei 2019.

-wikan

(bersambung)

2019 Hari Keenam di Indochina

Setelah selesai menghadiri ‘The 422nd International Conference on Medical & Health Science’ (ICMHS) 2019 yang diselenggarakan di Hanoi, Vietnam, kami melanjutkan terbang ke Siem Reap, Kamboja. Setelah menempuh jalur darat dari Siem Reap menuju Phnom Penh, ibukota Kamboja, kami berlanjut menuju ke kota Ho Chi Minh di Vietnam.

Kota Ho Chi Minh adalah kota terbesar di Vietnam dan terletak dekat delta Sungai Mekong. Dahulu namanya Prey Nokor dalam bahasa Khmer dan saat itu, kota ini merupakan pelabuhan utama Kamboja, yang kemudian ditaklukkan oleh bangsa Vietnam pada abad ke-16. Namanya kemudian berubah menjadi Saigon, hingga berakhirnya perang Vietnam, dan dijadikan ibu kota koloni Prancis yang disebut Cochinchina, dan pernah menjadi ibu kota Vietnam Selatan dari tahun 1954 hingga 1975, saat berkecamuknya Perang Vietnam.

Sejarah Kota Ho Chi Minh dimulai sebagai sebuah desa nelayan kecil dengan nama Prey Nokor. Pada 1623, Raja Chey Chettha II dari Kamboja (1618-1628) mengizinkan pengungsi-pengungsi Vietnam melarikan diri dari perang saudara Trinh-Nguyen di Vietnam untuk menetap di wilayah Prey Nokor, dan membangun sebuah rumah adat di Prey Nokor dan akhirnya dikenal sebagai Saigon. Setelah ditaklukkan pasukan colonial Perancis pada 1859, kota ini dipengaruhi oleh Prancis selama pendudukan mereka atas Vietnam, dan sejumlah bangunan bergaya klasik kota ini mencerminkan pengaruh tersebut. Akibatnya Saigon sempat dijuluki sebagai “Mutiara dari Timur Jauh” (Hòn ngọc Viễn Đông) atau “Paris di Timur” (Paris Phương Đông).

Kamis dini hari, 30 Mei 2019 kami berjalan kaki dari hotel menuju Gereja Katederal Notre Dame of Saigon, untuk mengikuti misa harian pagi di Basilika Notre-Dame Saigon, yang secara resmi bernama Basilika Bunda Konsepsi Imakulata, yang terletak di pusat kota Ho Chi Minh City, Vietnam. Dibangun dengan arsitek Jules Bourard oleh kolonialis Perancis antara tahun 1863 dan 1880, gereja bergaya Gotic Romanesque murni tersebut memiliki dua menara lonceng dengan tinggi 58 meter, dan dibuka untuk umum pada 11 April 1880.

Sebelum misa kudus harian dimulai
di Basilica Notre Dame of Saigon di Ho Chi Min City, Vietnam

Gereja Katolik Roma tersebut dibangun untuk pelayanan keagamaan bagi para serdadu kolonialis Prancis. Gereja pertamanya dibangun di Jalan Ngo Duc Ke, yang merupakan sebuah pagoda Vietnam pada masa perang. Uskup Lefevre memutuskan untuk membuat pagoda tersebut menjadi sebuah gereja. Pada tahun 1960, Paus Yohanes XXIII meresmikan keuskupan Katolik Roma di Vietnam dan melantik uskup agung untuk Hanoi, Huế dan Saigon, yang sejak itu katedral tersebut diberi nama Katedral Pemimpin Saigon. Pada 1962, Paus Yohanes XXIII memberikannya status basilika dan disebut Basilika Katedral Notre-Dame Saigon, yang saat ini membawahi 203 paroki. Luar biasa banyak.

Kantor Pos Pusat Saigon (sekarang Ho Chi Mon City)
yang dirancang setengah tenggelam dan setengah  timbul

Setelah puas berdoa dan berfoto di situ, kami segera menyeberang jalan ke sebelah kiri geraja, yang terdapat Kantor Pos Sentral Saigon, yaitu kantor pos terbesar di Vientam. Gedung ini memiliki arsitektur Eropa Barat yang berkombinasi dengan arsitektur Timur dan dibangun dari tahun 1886 sampai 1891. Perancangan gedung kantor Pos ini dibuat oleh arsitek Perancis, Gustave Eiffel, yang terkenal  dengan perancangan menara Eiffel di Paris Perancisdan Patung Liberty di New York AS, yang keduanya telah kami kunjungi sebelumnya. Setelah 23 tahun digunakan, arsitek Villedieu dan Foulhoux merancang pengembangan bangunan yang baru. Ciri khas dan yang luar biasa indahnya dari gedung tiga lantai ini, dirancang setengah tenggelam dan setengah  timbul. Kalau dilihat dari luar terlihat jendela berbentuk lengkung, jam besar di atas pintu utama dan bendera  merah berbintang kuning Vietnam yang berkibar-kibar di tengah-tengah angin. Pagi itu kantor pos belum buka, sehingga kami hanya dapat berfoto di luarnya saja.

.

Jendela berbentuk lengkung, jam besar di atas pintu utama dan bendera  merah berbintang kuning Vietnam di Kantor Pos Pusat Saigon, Ho Chi Min City

Kalau seandainya kami dapat masuk gedung itu, tentu saja kami akan dapat mengagumi lukisan peta Vietnam Selatan dan Kamboja dengan judul ‘Lignes telegraphiques du Sud Vietnam et Cambodge’ (Telegraphic lines of Southern Vietnam and Cambodia) dan lukisan peta kota Saigon dengan judul ‘Saigon et ses environs’ (Sai Gon and its environment), kedua lukisan tersebut menggambarkan kondisi tahun 1892. Selain itu, juga lukisan wajah tokoh besar Ho Chi Minh, yang terpampang di tengah dinding bagian dalam bangunan. Selanjutnya kami berjalan kaki sejauh 300 m menuju Balai Kota (City Hall), sebuah bangunan indah yang awalnya adalah Hotel de Ville Saigon. City Hall ini dibangun pada tahun 1902 hingga 1908, pada masa penjajahan Perancis. Yang menarik di Balai Kota ini ialah lampu-lampu di bagian luar gedung, yang dinyalakan pada malam hari, karena memberikan iluminasi cahaya sangat unik. Selain itu, kami juga menikmati bagian taman dan patung ‘Uncle Ho’ yang berdiri gagah di seberang bangunan utama.

Patung ‘Uncle Ho’ yang berdiri gagah
di seberang bangunan utama Balai Kota Saigon yang artistik

Oleh karena impor sepeda motor murah, maka jumlah sepeda motor telah meningkat hingga sekitar 3 juta. Ditambah lebih dari 400.000 mobil yang memadati jalan-jalan arteri kota ini, membuat jalanan macet dan udara terpolusi. Bila Beijing dikenal sebagai “Kota Sepeda”, maka Kota Ho Chi Minh dapat disebut “Kota Sepeda Motor.” Setelah kami mengunjungi Balai Kota Vietnam dan kemudian sarapan di hotel, kami menyewa sepeda motor paket sehari seharga $10. Sejak itu, kami melakukan uji adrenalin dan bergabung dengan para pengendara sepeda motor yang merajai semua jalan di sepanjang kota Ho Chi Min, termasuk para pengendara ojek aplikasi Grab yang berseragam hijau dan Goviet yang berseragam merah. Goviet adalah anak usaha Go Jek yang asli Indonesia. Lalu lintas di Ho Chi Min sangat menantang, sebab sangat teratur dalam ketidakteraturan. Selain laju kendaraan berada di lajur kanan jalan yang sering kali kami lupa setelah berbelok, juga setiap lampu hijau menyala, jangan berharap hanya kita yang melaju, sebab banyak pengendara motor dan mobil dari arah lain, termasuk yang melawan arus, pada saat yang sama juga ikut melaju.

Balai Kota Ho Chi Min, Viet Nam semula adalah Hotel de Ville Saigon
yang dibangun pada tahun 1908.

Tujuan kami yang pertama adalah Istana Reunifikasi yang megah dan bersejarah. Istana Merdeka atau Istana Reunifikasi (Dinh Thống Nhất) dibangun di situs bekas Istana Raja Norodom yang merupakan ‘landmark’ kota Saigon, Vietnam. Istana ini dirancang oleh arsitek Ngô Viết Thụ, dengan gaya arsitektur yang memadukan gaya modern dan tradisional Vietnam, serta merupakan rumah dinas dan tempat kerja Presiden Vietnam Selatan, selama Perang Vietnam. Di istana itulah Presiden Vietnam Selatan Nguyen Van Thieu mundur dan menyerahkan kekuasaan ke tangan Wapres Tran Van Huong, sebelum kabur pada 25 April 1975. Pada dini hari 30 April 1975, tentara Vietnam Utara menyerang dan hanya mendapati perlawanan ringan dari lawan. Kemudian sejumlah tank AD Vietnam Utara menabrak pintu gerbang Istana Presiden dan sekaligus mengakhiri perang Vietnam, karena akhirnya Vietnam Selatan menyerah.

Gerbang Istana Reunifikasi (Dinh Thống Nhất) yang terbuka di Saigon,
dahulu ditabrak tank Tentara Vietnam Utara

Jenderal Duong Van Minh mengaku kalah dan menyerah kepada Koloner Bui Tin dari AD Vietnam Utara. Sebelumnya Duong Van Minh mengambil alih kekuasaan dari Presiden Tran Van Huong yang baru berkuasa selama satu hari. “Anda tak perlu khawatir. Di antara bangsa Vietnam tidak ada yang menang atau kalah. Hanya bangsa Amerika yang kalah,” kata Kolonel Bui Tin kepada Jenderal Dong Van Minh. “Jika Anda seorang patriot, anggap saat ini sebagai saat bahagia. Perang di negara kita sudah berakhir,” tambah Bui Tin (29 Desember 1927 – 11 Agustus 2018). Di istana itulah tempat berakhirnya perang berdarah yang panjang, menewaskan setidaknya tiga juta orang Vietnam, dan kami sempatkan berfoto di depan gerbang yang dulu ditabrak tank AD Vietnam Utara, yang masih utuh sampai sekarang.

Cuplikan doa persatuan bangsa Vietnam
di dinding Basilica Notre Dame of Saigon di pusat kota Ho Chi Min City

Selanjutnya kami mengunjungi Sr. Astrid, CB biarawati Konggregasi Carolus Borromeus dari Manado, Indonesia yang sejak sebulan ditugaskan di tanah misi Vietnam. Bantuan aplikasi Google maps, sangat membantu kami menemukan rumah biara Sr. Astrid, CB di Distrik 7, meskipun pada kondisi padat rumah tinggal agak kurang presisi. Sustser yang bergelar megister pendidikan dini tersebut, ditugaskan untuk membuka TK, yang sangat sulit birokrasi dalam sistem pemerintahan komunis. Penyelenggaraan pendidikan dasar, menengah dan tinggi di seluruh daratan Vietnam hanya boleh dilakukan oleh pemerintah, sedangkan pihak swasta termasuk gereja, hanya diijinkan mengoperasionalkan TK. Dalam bidang kesehatan, layanan RS dan klinik rawat inap juga hanya boleh dilakukan oleh pemerintah. Pihak swasta dan gereja yang sempat mengoperasionalkan klinik rawat jalan, juga diincar untuk ditutup. Biaya layanan pendidikan dan kesehatan mendapatkan subsidi besar, sehingga warga hanya membayar sangat murah untuk kedua layanan negara tersebut.

Sowan Sr. Astrid, CB
misionaris asal Manado, Sulawesi Utara di tanah misi Vietnam

Selanjutnya kami segera memacu sepeda motor ke Cu Chi Tunnels yang merupakan tempat wisata terowongan tentara di Vietnam, yang terletak di luar Kota Saigon. Cu Chi Tunnels ini dibuat pada masa perang antara Vietnam dan Amerika Serikat. Terowongan ini sengaja dibuat sempit supaya hanya orang Vietnam yang kecil-kecil saja yang dapat masuk. Cu Chi Tunnels merupakan tempat pertahanan gerilyawan Vietnam pada waktu itu, tetapi sekarang ini Cu Chi Tunnels menjadi tempat wisata yang terkenal di Vietnam. Kami mengambil jalan yang berbeda saat pulang dari Cu Chi, agar dapat merasakan lebih banyak sensasi berkendara di Vietnam. Saat hujan sangat lebat turun, kami beruntung sudah sempat masuk Big C, sebuah hypermarket di pinggiran kota Ho Chi Min, agar terhindar dari hujan dan dapat membeli oleh-oleh khas Vietnam. Selanjutnya kami masuk gerai KFC, untuk mengisi batere HP secara gratis, karena penggunaan aplikasi Google maps ternyata menghabiskan energi HP dengan cepat, pada hal kami tidak punya power bank.

Gerbang Cu Chi Tunnels tempat wisata terowongan tentara di Vietnam,
yang terletak di luar Kota Saigon

Tantangan kedua adalah saat ban sepeda motor belakang kempes, di keramaian jalanan yang ganas di Distrik 4 kota Ho Chi Min, saat hujan sudah reda dan bertepatan dengan jam pulang kantor. Untung saja tambal ban tubeless tidak jauh dari kami, sehingga laju motor dapat segera dilakukan lagi.

Tambal ban tubeless di Distrik 3 pusat kota Ho Chi Min, Viet Nam

Kami segera menuju ‘War Remnant Museum War’ atau Museum Sisa Perang yang menyimpan berbagai macam koleksi peninggalan Perang Indo-China I melawan Perancis dan Perang Vietnam melawan AS. Adapun barang-barang yang dipamerkan di museum ini, antara lain perlengkapan perang Amerika Serikat, yaitu helikopter UH-1, tank M-48 Patton, berbagai jenis bom dan rudal, dokumentasi kekejaman dan penyiksaan yang terjadi selama perang, serta beberapa karya seni (artwork) yang menyerukan anti peperangan. Meskipun tampak mengerikan dan seram, namun hal tersebut tetap merupakan sebuah bukti nyata peninggalan perang, yang memiliki nilai sejarah tinggi, dan menjadi sebuah pelajaran, agar perang serupa tidak boleh terulang kembali. Perang Vietnam terlukis sadis dalam film ‘The Deer Hunter’ karya Michaal Cimino (1978) dan ‘Apocalypse Now’ karya Francis Ford Coppola (1979). Selain itu, film-film karya Oliver Stone, di antaranya berjudul ‘Platoon’, ‘Born on the fourth of July’, serta  ‘Heaven and Earth’, juga menggambarkan perang besar itu.

.

Gerbang ‘War Remnant Museum War’ atau Museum Sisa Perang
yang mengingatkan tentang perdamaian di pinggiran kota Ho Chi Min, Viet Nam

Malam itu kami segera mandi dan melanjutkan memicu adrenalin dalam ganasnya lalu lintas jalan menuju Distrik 7, untuk menghadiri undangan pertemuan warga Indonesia yang beragama Katolik di kota Ho Chi Min. Kami tidak kesulitan menemukan Apartemen Riverside yang mewah di dekat Sungai Mekong, tempat acara berlangsung, dalam waktu tempuh 30 menit. Setelah Misa Kudus Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga, segera kami bergabung dalam makan malam bersama, menu campuran Indonesia dan Vietnam, sehingga kami dapat kembali menyantap makanan kegemaran, yaitu kerupuk.

Kegembiraan warga Indonesia di Apartemen Riverside
di dekat Sungai Mekong di Ho Chi Minch City Vietnam

Malam itu kami segera berkemas di Kamar 602 Anpha Boutique Hotel, Ho Chi Minch City Vietnam, karena pagi berikutnya harus kembali ke Indonesia.

Ditulis di kursi 30C dalam kabin pesawat Airbus A 321 Vietnam Air, yang terbang dalam ketinggian jelajah 10.668 m dalam kecepatan 864 km/jam, menuju Jakarta.

Jumat siang, 31 Mei 2019

-wikan

(Bersambung)

2019 Hari Ketujuh di Indochina

(terakhir).

Kedatangan kami di Bandar Udara Internasional Noi Bai (HAN) di Hanoi,
ibu kota dari Vietnam

Setelah selesai menghadiri ‘The 422nd International Conference on Medical & Health Science’ (ICMHS) 2019 yang diselenggarakan di The Pearl Hotel Hanoi, Vietnam, kami melanjutkan terbang ke Siem Reap. Selanjutnya naik bis ke Phnom Penh, di Kamboja, serta kembali memasuki teritorial Vietnam, untuk menjelajah kota Ho Chi Minh.

Keynote speech diberikan oleh Prof. Louann Bierlam Palmir, dari School of Medicine, Western Michigan University, United States of America. Pemaparan selanjutnya tentang perbaikan kawasan untuk menekan penularan Malaria, kolaborasi insinyur dan dokter, dalam menciptakan alat ‘incubator transport’ untuk bayi baru lahir yang kecil dan premature, dan alat sederhana untuk pemantauan hipoglikemi dan hiperbilirubinemi, pada bayi baru lahir dengan asfiksia neonatal.

Diskusi tidak kalah seru dipandu oleh Prof. Prayuth Chusirin dari Faculty of Education, KhonKaen University, KhonKaen, Thailand, untuk pendampingan belajar di rumah, pada anak balita dengan riwayat sakit berulang sejak bayi baru lahir, kecenderungan autism pada anak dari keluarga pedesaan,  pengendalian TB (tuberculosis) di areal padat penduduk di kota besar, membahas pengendalian obesitas pada remaja,  kerjasama industri dan rumah sakit, dalam menjawab tantangan fasilitas medis terbatas di negara berkembang. Topik sulit disampaikan oleh Prof. Volken Cacek, Faculty of Medicine, peran dokter dalam era revolusi industri 4.0 di negara berkembang, dan peran tenaga pemasaran untuk pengembangan layanan di RS.

Denyut yang kami rasakan adalah nadi Republik Sosialis Vietnam dengan ibukota Hanoi dan kota terbesarnya Hồ Chí Minh Citu, yang saat ini dipimpin oleh Sekjen Partai Komunis dan sekligus Presiden Vietnam, yaitu Nguyễn Phú Trọng. Vietnam merdeka dari Perancis pada 2 September 1945, mencapai kesepakatan Jenewa yang membagi menjadi Utara dan Selatan pada 21 Juli 1954, Jatuhnya Saigon (ibukota Vietnam Selatan) pada 30 April 1975, dan terjadi reunifikasi kedua Vietnam pada 2 Juli 1976. Area total Vietnam sekarang seluas 331,212 km2 dengan jumlah penduduk pada tahun 2016 diperkirakan sebanyak 94,569,072 jiwa, dan menjadi negara terpadat nomor 13 di dunia. Vietnam termasuk di dalam grup ekonomi “Next Eleven”, GDP Vietnam tumbuh sebesar 8.17% pada tahun 2016, negara dengan pertumbuhan tercepat kedua di Asia Timur dan pertama di Asia Tenggara. Pada akhir tahun 2017, mencapai rekor tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir sebesar 8.44%.

Foto both di lokasi ‘The 422nd International Conference on Medical & Health Science’ (ICMHS) 2019 yang diselenggarakan di The Pearl Hotel Hanoi, Vietnam

Sayang sekali, kami tidak sempat mengikuti diskusi menarik lain yang dipimpin oleh Prof., Dr. Eriki Ananda kumar dan Prof. Mohammed Hussein Bataineh, dari Department of Communication, Faculty of Medicine Yarmouk University Irbid, Jordan. Juga Prof Caesar Joseph Olbromski, The Alexander S. Onassis Public Benefit Foundation Fellow (Athens, Greece), Dr. Hossam Korany Ahmed, SVS College of Medicine, Arasampalayam, Coimbatore, Tamilnadu, India, karena kami harus segera check out hotel, melanjutkan penerbangan ke Kamboja. Sedangkan ketokohan yang kami jumpai dan menginspirasi kami adalah peran Ho Cho Min, Jendral Vo Nguyen Giap, Kolonel Bui Tin, dan Dr. Beat Richner.

Gerbang Museum Ho Chi Minh di Hanoi, Viet Nam

Hồ Chí Minh (19 Mei 1890 – 2 September 1969 pada umur 79 tahun) adalah seorang tokoh revolusi dan negarawan Vietnam, yang kemudian menjadi Perdana Menteri (1954) dan Presiden Vietnam Utara (1954–1969). Selain itu, Ho Chi Minh merupakan salah satu politisi yang paling berpengaruh pada abad-20, akrab dipanggil Bác Hồ (paman Hồ) di Vietnam. Untuk pertama kalinya setelah 30 tahun meninggalkan Vietnam, Ho Chi Minh kembali ke negaranya pada tahun 1941 dan mendirikan Liga untuk Kemerdekaan Vietnam (Viet Nam Doc Lap Dong Minh atau Viet Minh). Liga tersebut terdiri dari para nasionalis Vietnam dan kelompok komunis yang mendukung kemerdekaan Vietnam. Ketika itu, Viet Minh berjuang melawan kolonial Prancis dan Jepang yang saat itu sedang menduduki Vietnam. Pada akhir Perang Dunia II, Ho memimpin Viet Minh untuk secara bergerilya menguasai kota-kota besar di Vietnam.

Pada 2 September 1945, bertempat di Lapangan Ba Dinh, Ho Chi Minh mendeklarasikan kemerdekaan Republik Demokrasi Vietnam dan dia menjabat sebagai presiden pertama. Ho Chi Minh dikenal sebagai pribadi yang rendah hati, hemat, berpakaian santai, berbicara dengan tenang, jarang kehilangan kesabaran, dan sering berbicara dengan penduduk, terutama anak-anak. Sebelum meninggal, Ho berpesan agar tubuhnya dikremasi dan abunya disebarkan tanpa publikasi. Namun, ketika Ho meninggal pada 2 September 1969 pukul 9.47 pagi, di usia 79 tahun, jasad Ho diawetkan dan diletakkan dalam mausoleum Ho Chi Minh, di Lapangan Ba Dhin, Hanoi dan terbuka untuk publik. Para pihak yang bertikai di seluruh Vietnam sepakat untuk mengadakan gencatan senjata selama 72 jam untuk mengenang Ho yang meninggal akibat serangan jantung. Ho meninggal tepat 25 tahun setelah dia mendeklarasikan kemerdekaan Vietnam dari Prancis dan hampir enam tahun sebelum pasukannya berhasil menyatukan Vietnam Utara dan Selatan di bawah paham komunis. Ho Chi Minh merupakan pahlawan terbesar bagi bangsa Vietnam karena jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan dan penyatuan Vietnam.

Gerbang Pagoda di Hanoi untuk mengenang jasa besar Jendral Vo Nguyen Giap

Tokoh berikutnya adalah Vo Nguyen Giap (lahir 25 Agustus 1911 – meninggal 4 Oktober 2013 pada umur 102 tahun) yang merupakan seorang Jenderal dan wakil perdana menteri Vietnam. Arsitek kemenangan Vietnam terhadap pasukan colonial Perancis adalah Jenderal Vo Nguyen Giap, yang memimpin tentara gerilya memakai sandal jepit dari ban bekas, menyeret artileri di wilayah pegunungan, mengepung dan menghancurkan pasukan Perancis di Dien Bien Phu pada 1954. Kemenangan itu tak hanya membuat Vietnam merdeka, tapi juga menghapus kolonialisme di seluruh Indochina.

Jenderal yang dijuluki Napeleon Merah itu memimpin pertempuran panjang satu dekade, yaitu Perang Vietnam, yang menelan korban  58 ribu tentara Amerika Serikat dan sekitar 3 juta penduduk sipil dan militer Vietnam. Hasil akhir peperangan ini sekali lagi menunjukkan ketabahan dan keuletan rakyat Vietnam. Hanya di Vietnam-lah Amerika sebagai negara super power pernah  kalah dengan telak dan lari kocar kacir meninggalkan medan perang. Jasa Vo nguyen Giap lain yang akan dikenang dunia adalah keberhasilannya menduduki Kamboja untuk menghentikan pembantaian masal yang dilakukan Khemer Merah di bawah kepemimpinan Pol Pot, yang telah mengeksekusi 3 juta dari penduduk kamboja yang wakktu itu berjumlah 7 juta jiwa. Giap meninggal dengan tenang di Hanoi tanggal 4 Oktober 2013 dalam usia 102 tahun.

Tokoh berikutnya adalah Kolonerl Bui Tin. Pada dini hari 30 April 1975, tentara Vietnam Utara menyerang dan hanya mendapati perlawanan ringan dari lawan. Kemudian sejumlah tank AD Vietnam Utara menabrak pintu gerbang Istana Presiden di Saigon dan sekaligus mengakhiri perang Vietnam, karena akhirnya Vietnam Selatan menyerah. Jenderal Duong Van Minh Panglima Tertinggi Tentara Vietnam Selatan mengaku kalah dan menyerah kepada Koloner Bui Tin dari AD Vietnam Utara. Sebelumnya Duong Van Minh mengambil alih kekuasaan dari Presiden Tran Van Huong, yang baru berkuasa selama satu hari.

Kenangan saat tank AD Vietnam Utara menabrak pintu gerbang Istana Presiden di Saigon dan sekaligus mengakhiri perang Vietnam

“Anda tak perlu khawatir. Di antara bangsa Vietnam tidak ada yang menang atau kalah. Hanya bangsa Amerika yang kalah,” kata Kolonel Bui Tin kepada Jenderal Dong Van Minh. “Jika Anda seorang patriot, anggap saat ini sebagai saat bahagia. Perang di negara kita sudah berakhir,” tambah Bui Tin (29 Desember 1927 – 11 Agustus 2018). Di istana itulah tempat berakhirnya perang berdarah yang panjang, menewaskan setidaknya tiga juta orang Vietnam, dan kami sempatkan berfoto di depan gerbang yang dulu ditabrak tank AD Vietnam Utara, yang masih utuh sampai sekarang. Kolonel Bui Tin menginspirasi kita semua bahwa dengan terjadinya persatuan bangsa Vietnam, menjadikannya sadar bahwa musuh bersama mereka adalah pihak luar.

Tokoh terakhir yang meginspirasi adalah Dr. Beat Richner (13 Maret 1947 – 9 September 2018), yang merupakan seorang dokter spesialis anak dari Swiss, yang mendirikan beberapa Rumah Sakit Anak Kantha Bopha di Kamboja. Rumah sakit ini dinamai untuk mengenang HRH Samdach Preah Ang Mechas Norodom Kantha Bopha (1948– 1952), yang merupakan putri Raja Norodom Sihanouk dan meninggal pada usia yang sangat muda. Sebanyak 5 buah Rumah sakit Kantha Bopha merawat sekitar setengah juta anak per tahun tanpa biaya, termasuk untuk sekitar 100.000 anak yang sakit parah dan harus dirawat inap. Ensefalitis Jepang, malaria, demam berdarah dan tipus sering terjadi, yang bahkan sering diperburuk oleh adanya tuberkulosis (TB). TB adalah pembunuh nomor satu bagi anak di Kamboja dan lebih dari 80% dari semua perawatan anak di Kamboja, dilayani di oleh jaringan rumah sakit Kantha Bopha. Operasional rumah sakit terutama didanai oleh sumbangan individu filantropis di Swiss. Biaya operasional pada tahun 2006, saat terjadi lonjakan kasus malaria, mencapai US $ 17 juta. Sejak Yayasan dimulai pada tahun 1991, dilaporkan telah mengumpulkan US $ 370 juta.

Rumah Sakit Anak Kantha Bopha di Siem Riep, Kamboja
berdiri atas jasa Dr. Beat Richner dari Swiss

Sensasi liburan arkeologis yang baru saja kami nikmati, adalah Candi Angkor Wat di Siem Reap, Kamboja dan Basilica Notre Dame of Saigon di Ho Chi Min. Angkor Wat adalah sebuah gugus bangunan candi di Kamboja yang merupakan salah satu monumen keagamaan terbesar di dunia. Candi yang berdiri di atas areal seluas 1.626.000 m2 ini mula-mula dibangun sebagai candi agama Hindu Kerajaan Khmer, yang dibaktikan untuk dewa Wisnu, namun lambat laun berubah menjadi candi agama Buddha menjelang akhir abad ke-12. Angkor Wat dibangun oleh Raja Khmer Suryawarman II pada permulaan abad ke-12 di Yaśodharapura, ibu kota Kemaharajaan Khmer, sebagai candi negara sekaligus tempat persemayaman abu jenazahnya. Berbeda dari raja-raja pendahulunya yang berbakti kepada dewa Siwa, Raja Suryawarman II justru membangun Angkor Wat untuk dibaktikan kepada dewa Wisnu. Sebagai candi yang paling terawat di kawasan percandian Angkor, Angkor Wat merupakan satu-satunya candi yang masih menjadi pusat keagamaan penting semenjak didirikan.

Prasasti Candi Angkor Wat yang megah menjulang di Siem Reap, Kamboja

Angkor Wat (bahasa Khmer: “candi kota”) adalah sebuah gugus bangunan candi di negara Kamboja yang merupakan salah satu monumen keagamaan terbesar di dunia. Candi yang berdiri di atas situs seluas 1.626.000 m2, Angkor Wat memadukan dua rancangan pokok arsitektur candi Khmer, yakni rancangan candi gunungan dan rancangan candi berserambi. Angkor Wat dirancang sebagai lambang Gunung Meru (kahyangan dewa-dewi Hindu) yang dikelilingi tiga undak bangunan serambi persegi panjang, dan masih dipagari lagi dengan tembok luar sepanjang 3,6 km (2,2 mil) berikut sebuah parit sepanjang lebih dari 5 km (3 mil). Angkor Wat terletak 5,5 km di sebelah utara kota modern Siem Reap. Candi ini juga berada tidak jauh di sebelah selatan dan agak ke timur dari bekas ibu kota Khmer yang berpusat di candi Baphuon.

Saigon Notre-Dame Basilica di Hochi Min City, Vietnam

Bangunan bersejarah yang sangat menarik bagi kami adalah Saigon Notre-Dame Basilica yang merupakan sebuah Cathedral atau gereja besar yang ada di Ho Chi Minh City, Vietnam. Gereja ini dibangun pada tahun 1863 hingga 1880 pada masa Kolonial Perancis. Bangunan ini memiliki dua buah tower dengan tinggi 58 meter, di mana hamper semua materialnya termasuk material gereja sendiri didatangkan dari Perancis. Meskipun juga digunakan beberapa material lokal untuk melakukan renovasi gereja akibat peperangan. Status Basilica sendiri dianugerahkan oleh Pope John XXIII pada tahun 1962, di mana sebelum itu geraja tersebut bernama Saigon Notre-Dame.

Menjelang misa kudus di Basilika Bunda Konsepsi Imakulata, Ho Chi Min City
yang dibangun oleh kolonialis Perancis di Viet Nam

Bangunan gereja ini memiliki gaya arsitektur Romanesque, peletakan batu pertama dilakukan pada tahun 1863 dan pebangunannya selesai tahun 1880, dengan tinggi 60 m, dan dibuka untuk umum pada 11 April 1880. Arsitek Jules Bourard membuatnya sangat menarik, sehingga seringkali digunakan para wisatawan asing sebagai tempat untuk berfoto atau mengambil gambar. Basilika Notre-Dame Saigon yang secara resmi bernama Basilika Bunda Konsepsi Imakulata. Dibangun oleh kolonialis Prancis, katedral tersebut memiliki dua menara lonceng, yang memiliki tinggi 58 meter. Setelah penaklukan Prancis atas Cochinchina dan Saigon, Gereja Katolik Roma mendirikan sebuah komunitas dan pelayanan keagamaan untuk para kolonialis Prancis. Gereja pertamanya dibangun di Jalan Ngo Duc Ke pada masa sekarang. Gereja tersebut merupakan sebuah pagoda Vietnam yang diubah pada masa perang. Uskup Lefevre yang memutuskan untuk membuat pagoda tersebut menjadi sebuah gereja. Pada 1960, Paus Yohanes XXIII menadirikan keuskupan Katolik Roma di Vietnam dan melantik uskup agung untuk Hanoi, Huế dan Saigon. Katedral tersebut diberi nama Katedral Pemimpin Saigon. Pada 1962, Paus Yohanes XXIII memberikannya status basilika. Pada masa tersebut, katedral ini disebut Basilika Katedral Notre-Dame Saigon.

Mendarat di Bandara Soekarno Hatta Jakarta, sepulang dari Vietnam,
bersama Romo Ido, SVD

Disampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak, yang telah memberikan dukungan dalam bentuk apapun, sehingga petualangan ke daratan Indochina 2019 ini telah berjalan dengan baik. Sampai bertemu di dalam petualangan selanjutnya yang tidak kalah serunya.

Salam petualangan.

Yogyakarta Jumat malam, 31 Mei 2019

-wikan

(tamat)

Categories
Healthy Life Istanbul

2021 Tangani Hepatitis C

Image result for hepatitis c

TANGANI  HEPATITIS  C

fx. wikan indrarto*)

Pada Rabu, 27 Januari 2021 mulai dikampanyekan akses global ke layanan tes diagnosis dan pengobatan hepatitis C yang lebih terjangkau. Banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah telah mampu menekan jumlah penderita hepatitis C, berkat peningkatan akses ke layanan tes diagnostik dan pengobatan. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/07/27/2020-hari-hepatitis-sedunia/

.


Virus hepatitis B dan C mempengaruhi 325 juta orang di seluruh dunia yang menyebabkan 1,4 juta kematian per tahun, sedangkan sebanyak 2.850.000 orang menjadi terinfeksi baru pada tahun 2017 yang lalu. Hepatitis adalah penyakit menular yang merupakan penyebab kematian atau pembunuh kedua terbesar setelah TBC. Orang yang terinfeksi hepatitis 9 kali lebih banyak daripada HIV, pada hal hepatitis sebenarnya dapat dicegah, diobati, dan bahkan hepatitis C dapat disembuhkan secara tuntas. Namun demikian, ternyata lebih dari 80% penderita hepatitis masih memiliki keterbatasan akses pada layanan pencegahan, pemeriksaan atau tes diagnosis, dan pengobatan.

.

Menurut Jurnalis, Sayoeti, dan Russelly (2014) infeksi virus hepatitis C (HCV) merupakan persoalan yang serius. Penularan infeksi HCV pada anak yang utama adalah melalui transfusi darah atau produk darah yang bertanggung jawab menyebabkan kasus hepatitis C kronis pada anak. Selain itu infeksi HCV pada anak dapat disebabkan oleh transmisi perinatal (vertikal). Infeksi HCV akut dapat berakhir dengan sirosis dan karsinoma hepatoselular setelah dekade ketiga (sekitar 20%), karena progresivitas infeksi HCV lebih lambat dari infeksi hepatitis B virus. Pada umumnya infeksi HCV pada anak bersifat asimptomatik. Karena tidak ada gejala klinis yang jelas pada infeksi HCV, maka diagnosis infeksi HCV pada anak perlu ditegakkan dengan pemeriksaan awal di laboratorium klinis dengan uji serologi, dan bila perlu dilanjutkan dengan uji molekuler pada pasien anak dengan risiko tinggi. 

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/03/21/2019-menumpas-hepatitis/

.

Di antara orang yang hidup dengan hepatitis C, sekitar 19% (13,1 juta) mengetahui status infeksi mereka pada tahun 2017, di mana 15% (2 juta) mendapatkan penyembuhan karena pengobatan yang tuntas pada tahun yang sama. Secara keseluruhan, antara tahun 2014 dan 2017, sekitar 5 juta orang telah mengalami penyembuhan dari hepatitis C di seluruh dunia. Namun demikian, pada tahun 2017 sekitar 1,75 juta orang tidak sembuh dan mengalami infeksi hepatitis C kronis. Secara bersama-sama, hepatitis B dan C merupakan jumlah tertinggi infeksi baru pada penyakit menular utama, dibandingkan infeksi HIV dan TBC.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/01/29/2021-obat-hiv-baru-untuk-anak/

.

Negara berpenghasilan rendah dan menengah sekarang dapat menyediakan obat sofosbuvir generik dan daclatasvir, yaitu obat antivirus langsung atau ‘Direct Acting Antiviral’ (DAA) yang telah memenuhi kualifikasi WHO, dengan harga hanya US $ 60 per pasien untuk pengobatan 12 minggu. Biaya layanan tes diagnostik cepat Hepatitis C dengan prakualifikasi WHO berkisar antara US $ 1 dan US $ 8 per tes. Bahkan beberapa negara mencapai peningkatan 20 kali lipat dalam jumlah orang yang diobati dengan DAA yang aman dan efektif antara 2015 dan 2018, termasuk di Indonesia. Ada tiga jenis obat DAA yang beredar di Indonesia, yaitu sofosbuvir, simeprevir, dan daclatasvir, sehingga bukan lagi menggunakan obat kombinasi pegylated interferon dan ribavirin.

.

Pada tahun 2018, lebih dari 120 negara telah mengadopsi strategi hepatitis virus nasional, meningkat dari hanya 20 negara pada tahun 2012. Hal ini telah dipercepat sejak penerapan Strategi Sektor Kesehatan Global pertama WHO untuk Hepatitis Virus 2016-2021. Banyak negara juga telah membuat kemajuan dalam meningkatkan komitmen pemerintah, menyusun rencana strategis nasional, menyederhanakan pedoman, serta meningkatkan ketersediaan pilihan tes diagnosis dan pengobatan yang lebih murah dan terjamin kualitasnya.

.

Image result for hepatitis c

Terlepas dari tantangan pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung, kemajuan yang dicapai saat ini termasuk mengesankan, namun sebenarnya rapuh karena akses ke layanan tes diagnosis dan pengobatan hepatitis C belum mencapai tingkat cakupan yang memadai, untuk mencapai tujuan global memberantas virus hepatitis sebagai masalah kesehatan masyarakat utama pada tahun 2030. Secara global, pada akhir tahun 2017, hanya 5 juta atau 7% dari 71 juta orang yang terinfeksi HCV secara kumulatif menerima pengobatan dengan DAA.

.

Oleh karena banyak negara masih terus terbebani berbagai penyakit dan gangguan layanan kesehatan yang disebabkan oleh pandemi COVID-19, sangat penting untuk memastikan bahwa momentum bagus dalam mengatasi hepatitis C tidak hilang. Selain itu, upaya global untuk meningkatkan akses layanan hepatitis C harus dipertahankan dan dipercepat dalam dekade mendatang, sebagai bagian dari upaya yang lebih luas menuju cakupan kesehatan semesta atau ‘Universal Heath Couverage’ (UHC).

.

Tes diagnostik dan DAA yang terjamin kualitasnya terus meningkat ketersediaannya dengan harga yang terus menurun sampai batas terjangkau. Namun demikian, masih banyak negara tidak mampu mengakses harga yang sudah serendah ini. Transparansi pasar yang lebih besar, bersama dengan bimbingan dan berbagi pengalaman dari seluruh dunia dalam memberikan contoh praktis bagi negara lain dan komunitas penderita hepatitis C, diperlukan untuk memperluas akses dan mengatasi hambatan yang ada.

.

Meskipun terjadi penurunan harga obat dan layanan, ketersediaan dan keterjangkauan tes diagnosis tetap menjadi penghalang utama, untuk peningkatan skala pengobatan di beberapa negara berpenghasilan rendah dan menengah. Sangat penting untuk memperluas akses ke layanan tes diagnosis in vitro hepatitis C yang sederhana, terjangkau dan terjamin kualitasnya. Jenis pemeriksaan diagnosis yang umumnya diperlukan adalah anti HCV rapid atau stick, anti HCV EIA, HCV RNA kualitatif ataupun kuantitatif. Dengan demikian akan ada lebih banyak negara yang dapat melakukan pemeriksaan skrining atau menyaring lebih banyak orang, mengidentifikasi pasien Hepatitis C yang membutuhkan pengobatan, dan akhirnya memberikan perawatan yang tepat. 

Image result for obat hepatitis c

Program kerja Kementrian Kesehatan RI untuk mewujudkan masa depan Indonesia yang bebas hepatitis adalah mengkampanyekan lingkungan bersih dan sehat, melakukan deteksi dini Hepatitis C pada kelompok berisiko, dan melakukan pengobatan yang tepat pada penderita Hepatitis C dengan DAA, yaitu sofosbuvir dan daclatasvir gratis untuk semua jenis penjaminan biaya pasien, ditambah dengan upaya meningkatkan akses masyarakat pada layanan kesehatan yang terjangkau.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 4 Februari 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
Istanbul

2020 Hari AIDS Sedunia

HARI AIDS SEDUNIA

HARI  AIDS  DUNIA

fx. wikan indrarto*)

Hari AIDS Sedunia (World AIDS Day) dirayakan pada 1 Desember setiap tahun. Ini adalah kesempatan bagi orang-orang di seluruh dunia untuk bersatu dalam memerangi HIV, untuk menunjukkan dukungan bagi orang yang hidup dengan HIV, dan untuk memperingati mereka yang meninggal karena penyakit terkait AIDS. Dirayakan sejak tahun 1988, Hari AIDS Sedunia adalah hari kesehatan global pertama. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/11/26/bayi-bebas-hiv-dari-ibu/

.

Direktur Eksekutif UNAIDS Winnie Byanyima yang juga merangkap sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, menjelaskan bahwa Hari AIDS Sedunia 2020 tidak akan dirayakan seperti biasanya. Pandemi COVID-19 mengancam kemajuan yang telah dicapai dunia dalam bidang kesehatan dan pembangunan selama 20 tahun terakhir, termasuk memperlebar ketidaksetaraan yang sudah ada, yaitu ketidaksetaraan gender, ketimpangan ras, ketimpangan sosial dan ekonomi.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/11/26/2018-aids/

.

Dalam menanggapi pandemi COVID-19, dunia tidak boleh membuat kesalahan yang sama seperti yang dibuat dalam memerangi HIV, ketika jutaan pasien di negara berkembang meninggal karena harus menunggu pengobatan. Bahkan saat ini, lebih dari 12 juta orang masih menunggu untuk mendapatkan pengobatan HIV dan 1,7 juta orang terinfeksi HIV pada 2019 karena tidak dapat mengakses layanan esensial. Masalah global membutuhkan solidaritas global. Hanya solidaritas global dan tanggung jawab bersama yang akan membantu kita mengalahkan virus corona, mengakhiri epidemi AIDS, dan menjamin hak atas kesehatan untuk semua.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/11/29/2019-inovasi-tes-hiv/

.

Tidak ada metode pencegahan tunggal yang dapat menghentikan epidemi HIV. Beberapa intervensi terbukti sangat efektif dalam mengurangi risiko, pencegahan, dan melindungi terhadap infeksi HIV, yaitu penggunaan kondom, obat antiretroviral sebagai profilaksis pra pajanan (PrEP), sunat pria, mengurangi jumlah pasangan seksual, penggunaan jarum suntik bersih, terapi substitusi opiat (misalnya metadon), dan pengobatan dengan obat antiretroviral untuk orang yang hidup dengan HIV.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/11/30/akhiri-epidemi-hiv/

.

Tiga alasan yang saling berhubungan tampaknya mendukung kegagalan untuk mengimplementasikan program pencegahan AIDS yang efektif pada skala besar. Pertama, kurangnya komitmen politik dan akibatnya investasi yang tidak memadai. Kedua, keengganan untuk menangani masalah sensitif terkait kebutuhan, hak seksual dan reproduksi remaja. Dan ketiga, kurangnya implementasi pencegahan sistematis.

.

UNAIDS berupaya membantu semua negara untuk memastikan akses ke kombinasi pilihan intervensi pencegahan, termasuk kondom, PrEP, pengurangan dampak buruk, dan sunat. Target setidaknya 90% orang yang berisiko pada tahun 2020, terutama wanita muda dan anak perempuan di negara dengan prevalensi tinggi dan populasi kunci. Dalam hal ini mencapai 3 juta orang dengan risiko tinggi untuk mendapatkan PrPP, 25 juta pria disunat, dan menyediakan 20 miliar kondom di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

.

Begitu Penting Kampanyekan Hari AIDS Sedunia, 1 Desember | Panrita News

Pada tahun 2019, ada 38,0 juta orang yang hidup dengan HIV, yaitu 36,2 juta orang dewasa dan 1,8 juta anak (0–14 tahun). Sudah sekitar 81% dari semua orang yang hidup dengan HIV mampu mengetahui status HIV mereka dan sekitar 7,1 juta orang tidak tahu bahwa mereka hidup dengan HIV. Pada akhir Juni 2020, 26,0 juta orang mengakses terapi antiretroviral, meningkat dari 6,4 juta pada 2009. Pada 2019, baru sekitar 67% dari semua orang yang hidup dengan HIV mengakses pengobatan, yaitu 68% orang dewasa dan 53% anak usia 0–14 tahun. Sudah 85% ibu hamil yang hidup dengan HIV memiliki akses ke obat antiretroviral untuk mencegah penularan HIV ke bayi pada tahun 2019.

.

Infeksi HIV baru telah berkurang 40% sejak puncaknya pada tahun 1998. Pada tahun 2019, sekitar 1,7 juta orang baru terinfeksi HIV, dibandingkan dengan 2,8 juta orang pada tahun 1998. Sejak 2010, infeksi HIV baru telah menurun 23%, dari 2,1 juta menjadi 1,7 juta pada tahun 2019. Sejak 2010, infeksi HIV baru pada bayi telah menurun sebesar 52%, dari 310.000 pada tahun 2010 tinggal menjadi 150.000 bayi pada tahun 2019. Kematian terkait AIDS telah berkurang 60% sejak puncaknya pada tahun 2004. Pada tahun 2019, sekitar 690.000 orang meninggal karena penyakit terkait AIDS di seluruh dunia, dibandingkan dengan 1,7 juta orang pada tahun 2004 dan 1,1 juta orang pada tahun 2010. Kematian terkait AIDS telah menurun 39% sejak 2010.

.

Mengakhiri epidemi AIDS lebih dari sekadar kewajiban bersejarah, bagi 39 juta orang yang meninggal karena penyakit tersebut. Ini juga merupakan kesempatan penting untuk meletakkan dasar bagi dunia yang lebih sehat, lebih adil, dan setara bagi generasi mendatang. Mengakhiri epidemi AIDS akan menginspirasi upaya kesehatan dan pembangunan global yang lebih luas, menunjukkan apa yang dapat dicapai melalui solidaritas global, tindakan berbasis bukti, dan kemitraan multisektoral. Dengan tagline 90-90-90, yaitu 3 target luar biasa untuk membantu mengakhiri AIDS.

.

Pertama, 90% dari semua orang yang hidup dengan HIV akan mampu mengetahui status HIV-nya. Kedua, 90% dari semua orang dengan infeksi HIV yang didiagnosis akan menerima terapi antiretroviral yang berkelanjutan. Dan ketiga, 90% dari semua orang yang menerima terapi antiretroviral akan mengalami penekanan virus (viral suppression).

.

Pada akhir 2019, dana sebesar US $ 18,6 miliar tersedia untuk penanggulangan AIDS di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, hampir US $ 1,3 miliar lebih sedikit dibandingkan tahun 2017. Sekitar 57% dari total sumber daya untuk penanganan HIV di negara berpenghasilan rendah dan menengah pada tahun 2019 berasal dari sumber domestik. UNAIDS memperkirakan bahwa US $ 26,2 miliar (konstan dolar 2016) akan dibutuhkan untuk penanggulangan AIDS pada 2020.

.

Momentum Hari AIDS Sedunia Selasa, 1 Desember 2020 mengingatkan kita tentang slogan kampanye global ‘Stop AIDS. Keep the Promise’. Slogan yang digunakan sepanjang tahun itu untuk meminta pertanggungjawaban pemerintah atas komitmen terkait HIV dan AIDS di semua negara, termasuk Indonesia.

Bagaimana sikap kita?

Sekian

Yogyakarta, 26 November 2019

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
Istanbul

2020 Campak yang tercampakkan

Waspada Komplikasi yang Terjadi Akibat Campak Jerman

CAMPAK  YANG  TERCAMPAKKAN

fx.wikan indrarto*)

Kematian akibat penyakit campak di seluruh dunia naik 50% dan merenggut lebih dari 207.500 nyawa anak pada sepanjang tahun 2019 lalu. Apa yang sebenarnya terjadi?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/12/05/2019-campak-lagi/

.

Kamis, 12 November 2020 penyakit campak tercatat WHO dan CDC melonjak di seluruh dunia pada tahun 2019 yang lalu, mencapai jumlah kasus tertinggi yang dilaporkan dalam 23 tahun. Kasus campak di seluruh dunia meningkat menjadi 869.770 pada 2019, jumlah tertinggi yang dilaporkan sejak tahun 1996. Kematian akibat campak global juga naik hampir 50 persen sejak 2016.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/05/09/2019-campak-terkini/

.

Setelah kemajuan global yang stabil dari 2010 hingga 2016, jumlah kasus campak yang dilaporkan meningkat secara bertahap hingga 2019. Membandingkan data 2019 dengan rekor terendah dalam kasus campak yang dilaporkan pada 2016, hal ini mencerminkan kegagalan vaksinasi campak tepat waktu dengan dua dosis, sebagai pendorong utama peningkatan kasus dan kematian karena penyakit campak. Hal ini menggambarkan bahwa vaksinasi campak telah tidak diprioritaskan atau sudah dicampakkan.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/04/29/2019-bahaya-campak/

.

Wabah campak terjadi ketika orang yang tidak kebal dari virus, terinfeksi campak dan menyebarkan penyakit tersebut ke populasi yang tidak divaksinasi atau divaksinasi tidak lengkap. Untuk mengendalikan campak dan mencegah wabah dan kematian, diperlukan cakupan vaksinasi campak dengan 2 dosis harus mencapai 95 persen dan dipertahankan di tingkat nasional dan lokal. Cakupan vaksinasi campak atau MR dosis pertama telah stagnan secara global selama lebih dari satu dekade di antara 84 dan 85 persen. Cakupan MMR atau MR dosis kedua terus meningkat, tetapi sekarang tertahan hanya 71 persen. Cakupan vaksinasi campak 2 dosis masih jauh di bawah 95 persen atau lebih, yang dibutuhkan untuk mengendalikan campak, mencegah wabah dan kematian.

.

Serba Serbi Imunisasi Campak: Apa Saja yang Perlu Mam Ketahui? |  theAsianparent Indonesia
.

Meskipun kasus campak yang dilaporkan lebih rendah pada tahun 2020, berbagai upaya untuk mengendalikan pandemi COVID-19 telah mengakibatkan terganggunya vaksinasi untuk mencegah dan meminimalkan wabah campak. Pada November 2020, secara global lebih dari 94 juta anak berisiko kehilangan vaksin karena kampanye imunisasi campak dihentikan di 26 negara, karena pandemi COVID-19. Pada hal, banyak dari negara tersebut sedang mengalami wabah campak. Dari negara-negara dengan rencana kampanye vaksinasi campak 2020 yang ditunda, hanya delapan (Brasil, Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo, Ethiopia, Nepal, Nigeria, Filipina, dan Somalia) yang melanjutkan kampanye setelah sempat terjadi penundaan awal.

.

Sebelum ada pandemi COVID-19, dunia bergulat dengan krisis campak, dan wabah campak itu belum sepenuhnya hilang. Sistem dan layanan kesehatan sedang terganggu oleh pandemi COVID-19 di banyak negara, yang menjadi penyebab kegagalan pengendalian campak dan harus segera ditangani. Para pemimpin, petugas medis, dan tenaga kesehatan masyarakat di semua negara yang terkena dampak dan berisiko, diwajibakan memastikan bahwa vaksin campak tersedia. Dengan demikian dapat diberikan dengan aman, tepat waktu, dan merata, serta orangtua atau pengasuh anak memahami manfaat vaksin campak yang telah terbukti mampu menyelamatkan jiwa. Pada 6 November 2020, WHO dan UNICEF telah mengeluarkan seruan bersama untuk tindakan darurat dalam pencegahan dan penanggulangan wabah campak.

.

Virus campak dengan mudah menginfeksi anak, remaja dan orang dewasa yang tidak kebal, karena sangat menular. Infeksi campak tidak hanya merupakan tanda cakupan vaksinasi campak yang buruk, tetapi juga penanda bahwa layanan kesehatan penting mungkin tidak menjangkau populasi yang paling berisiko. Upaya kolektif segera harus dilakukan untuk menjangkau anak dengan vaksinisasi campak sekarang, tidak perlu menunggu adanya kebijakan pelonggaran pembatasan perjalanan karena pandemi COVID-19 dan peningkatan pergerakan populasi.

.

Fakta bahwa wabah campak terjadi pada tingkat tertinggi yang pernah kita lihat dalam satu generasi sangat mencemaskan, karena sebenarnya telah tersedia vaksin yang aman, hemat biaya, dan terbukti ampuh. Tidak boleh ada anak yang meninggal karena penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, termasuk campak. Pandemi COVID-19 terbukti berkontribusi pada peningkatan jumlah kasus campak dan kematian. Campak tidak mengenal batas, dan sangat penting bagi kita untuk bekerja sama dalam memvaksinasi lebih banyak anak, dan melanjutkan perjuangan melawan penyakit yang dapat dicegah ini.

.

Sementara itu, data program imunisasi nasional menunjukkan penurunan cakupan vaksinasi di Indonesia, seperti vaksin MR yang menurun 13% antara Januari sampai Maret 2020, jika dibandingkan dengan tahun 2019 lalu. Pada hal Presiden RI Joko Widodo menargetkan bahwa pada tahun 2020, Indonesia bebas penyakit campak dan rubella pada acara pencanangan imunisasi Measles Rubella (MR) di MTsN 10 Sleman, DIY Selasa, 1 Agustus 2017. Target Presiden Jokowi tentu sulit terwujud, kalau kita masih mencampakkan vaksinasi campak, karena ada prioritas lainnya.

Sudahkah kita bertindak bijak?

.

Sekian
Yogyakarta, 14 November 2020

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Istanbul

2020 Steroid untuk Bayi Prematur

Gangguan Paru-Paru pada Bayi Prematur | HonestDocs

STEROID  UNTUK  BAYI  PREMATUR

fx. wikan indrarto*)

Kontrol kehamilan yang akurat dan perawatan kebidanan berkualitas, yang dikombinasikan dengan pemberian obat suntikan steroid adalah kunci untuk bayi prematur, agar mampu bertahan hidup. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/09/26/2019-ibu-dan-bayi-lebih-banyak-hidup/

.

Hasil uji klinis berjudul ‘Antenatal Dexamethasone for Early Preterm Birth in Low-Resource Countries’ diterbitkan pada hari Senin, 23 Oktober 2020 di New England Journal of Medicine. Uji klinis menunjukkan bahwa deksametason, sebuah glukokortikoid atau steroid yang digunakan untuk mengobati banyak penyakit berat, termasuk rematik dan COVID-19 yang parah, dapat meningkatkan kelangsungan hidup bayi prematur. Obat tersebut diberikan kepada ibu hamil, yang berisiko melahirkan bayi prematur, terutama di fasilitas kesehatan dengan sumber daya rendah.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/05/09/2019-kematian-bayi/

.

Uji klinis dalam koordinasi ‘The WHO ACTION Trials Collaborators’ menyelesaikan kontroversi yang sedang berlangsung, tentang kemanjuran (efficacy) steroid antenatal, untuk meningkatkan kelangsungan hidup bayi baru lahir prematur di negara berpenghasilan rendah. Deksametason telah lama terbukti efektif dalam menyelamatkan bayi prematur yang tinggal di negara berpenghasilan tinggi, di mana perawatan untuk bayi baru lahir berkualitas tinggi lebih mudah diakses. Ini adalah pertama kalinya uji klinis membuktikan bahwa obat tersebut juga efektif di negara berpenghasilan rendah.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/10/21/2019-kekerasan-pada-kelahiran-bayi/

.

Dampaknya signifikan: untuk setiap 25 wanita hamil yang diobati dengan deksametason, satu nyawa bayi prematur terselamatkan. Ketika diberikan kepada ibu yang berisiko melahirkan prematur, deksametason mampu melewati tali pusat dan plasenta, untuk mempercepat perkembangan paru-paru, sehingga bayi prematur lebih kecil kemungkinannya mengalami masalah pernapasan segera setelah lahir. Deksametason sekarang terbukti sebagai obat untuk menyelamatkan bayi yang lahir terlalu cepat, di negara berpenghasilan rendah. Namun demikian, obat ini hanya efektif bila dokter  dapat membuat keputusan yang tepat waktu dan akurat, yang dilanjutkan dengan paket perawatan berkualitas tinggi untuk ibu hamil dan bayi prematurnya.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/03/22/2019-kehilangan-bayi/

.

Secara global, prematuritas merupakan penyebab utama kematian pada anak balita (di bawah usia 5 tahun). Setiap tahun, diperkirakan 15 juta bayi lahir terlalu dini, dan 1 juta meninggal karena komplikasi akibat kelahiran dini atau prematuritas. Di negara berpenghasilan rendah, setengah dari bayi yang lahir pada atau kurang dari usia 32 minggu kehamilan, akan meninggal karena kurangnya perawatan yang layak, mudah diakses, dan hemat biaya.

.

Fasilitas kesehatan harus memiliki sarana untuk menentukan ibu hamil yang paling mungkin mendapat manfaat dari obat deksametason tersebut, untuk memulai pengobatan dengan benar, dan pada waktu yang tepat – idealnya 48 jam sebelum melahirkan, guna memberikan waktu yang cukup untuk menyelesaikan dosis obat suntikan steroid sampai mencapai efek maksimal. Ibu dengan usia kehamilan 26-34 minggu, kemungkinan besar mendapat manfaat dari steroid. Dengan demikian, fasilitas kesehatan juga harus memiliki perangkat ultrasonografi (USG) untuk menentukan usia kehamilan secara akurat. Selain itu, bayi prematur yang baru lahir harus mendapatkan perawatan dengan kualitas yang cukup baik, saat dan setelah dilahirkan.

.

10 Gangguan Kesehatan Selama Kehamilan Trimester Ketiga | Popmama.com
.

Paket perawatan minimal untuk bayi baru lahir, mencakup pengelolaan infeksi, dukungan nutrisi, perawatan termal dan akses ke alat bantu napas berupa mesin CPAP untuk mendukung pernapasan bayi. Pada paket minimal yang sudah diterapkan di negara berpenghasilan rendah, maka steroid antenatal seperti deksametason dapat membantu menyelamatkan hidup bayi prematur.

.

Penelitian uji klinis yang dipimpin oleh Dr. Olufemi T. Oladapo, MPH, dilakukan dari Desember 2017 – November 2019, secara acak mendata 2.852 ibu dan 3.070 bayi prematur mereka dari 29 rumah sakit rujukan sekunder dan tersier di Bangladesh, India, Kenya, Nigeria, dan Pakistan. Uji klinis tersebut mendapatkan data kematian neonatal terjadi pada 278 dari 1.417 bayi (19,6%) pada kelompok deksametason dan pada 331 dari 1.406 bayi (23,5%) pada kelompok plasebo (RR 0,84; IK 95% 0,72-0,97; P = 0,03). Kelahiran mati atau kematian neonatal terjadi pada 393 dari 1.532 janin dan bayi (25,7%) dan pada 444 dari 1.519 janin dan bayi (29,2%), RR 0,88; 95% CI, 0,78-0,99; P = 0,04); kejadian infeksi bakteri pada ibu masing-masing adalah 4,8% dan 6,3% (RR 0,76; CI 95%, 0,56-1,03).

.

Bagaimana Bayi Bernapas di Dalam Rahim ? | Kafe Kepo |
.

Tidak ada perbedaan antar kelompok yang signifikan, dalam kejadian efek samping obat. Selain menemukan risiko kematian dan kelahiran mati neonatal yang secara signifikan lebih rendah, penelitian uji klinis ini juga menemukan tidak ada peningkatan kemungkinan infeksi bakteri pada ibu, ketika ibu hamil diberikan suntikan deksametason di negara dengan sumber daya rendah.

.

Hampir tiga dekade lalu, Konvensi Hak Anak telah diberlakukan secara global, yang menjamin setiap bayi baru lahir berhak atas standar perawatan kesehatan tertinggi. Setiap negara di seluruh dunia wajib memastikan bahwa sumber daya medis dan keuangan, tersedia untuk menciptakan hak itu menjadi kenyataan, bagi setiap bayi baru lahir. Tambahan pemberian obat suntikan steroid pada ibu hamil adalah langkah kunci untuk bayi prematur, agar tidak mengalami kematian.

Bagaimana sikap kita?

Sekian

Yogyakarta, 3 November 2020

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Istanbul

2020 COVID-19 dan Anak

Manajemen Rumah Sakit PKMK FK UGM » Artikel MRS

COVID-19  DAN  ANAK

fx. wikan indrarto*)

Keberhasilan yang telah terjadi dalam meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak, telah terancam oleh konflik bersenjata, krisis iklim, dan pandemi COVID-19. Kecemasan ini tercantum dalam laporan baru dari ‘Every Woman Every Child’ pada hari Jumat, 25 September 2020. Apa yang mengkawatirkan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/10/06/2020-ancaman-covid-19/

.

Laporan berjudul : ‘Protect the Progress: Rise, Refocus, Recover (2020)’ menyoroti bahwa sejak gerakan ‘Every Woman Every Child’ diluncurkan 10 tahun lalu, yang dipelopori oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, telah terjadi kemajuan luar biasa dalam meningkatkan derajad kesehatan ibu, anak, dan remaja di seluruh dunia. Misalnya, kematian balita sepanjang masa tercatat mencapai terendah pada tahun 2019, dan lebih dari 1 miliar anak telah divaksinasi selama dekade terakhir. Cakupan imunisasi, penolong persalinan terlatih dan akses ke air minum yang aman mencapai lebih dari 80 persen. Kematian ibu menurun hingga 35 persen sejak tahun 2000, dengan penurunan paling signifikan terjadi sejak 2010. Diperkirakan 25 juta pernikahan remaja juga mampu dicegah selama dekade terakhir.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/08/23/2020-resesi-rumah-sakit/

.

Namun demikian, konflik bersenjata, perubahan iklim, dan pandemi COVID-19 terbukti membahayakan derajat kesehatan dan kesejahteraan semua anak dan remaja. Krisis COVID-19 memperburuk ketidaksetaraan yang ada, dengan gangguan yang dilaporkan dalam intervensi kesehatan esensial berdampak secara tidak proporsional pada kelompok yang paling rentan, yaitu wanita dan anak. Pada puncak pembatasan sosial selama pandemi COVID-19, sekolah ditutup di 192 negara, mempengaruhi 1,6 miliar siswa. Kekerasan dalam rumah tangga dan pelecehan terhadap anak dan perempuan, dilaporkan meningkat, selain kemiskinan dan kelaparan yang jga memperparah kondisi.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/26/2020-kematian-anak-terkait-covid-19/

.

“Bahkan sebelum pandemi COVID-19, seorang anak balita meninggal setiap enam detik di suatu tempat di seluruh dunia,” kata Henrietta Fore, Direktur Eksekutif UNICEF. Jutaan anak yang tinggal di zona konflik bersenjata dan lingkungan hidup yang rusak, menghadapi kesulitan yang lebih berat dengan timbulnya pandemi COVID-19. Pada tahun 2019 sekitar 5,2 juta anak balita dan 1 juta remaja secara global meninggal, karena penyebab kematian yang dapat dicegah. Selain itu, setiap 13 detik bayi baru lahir meninggal, setiap jam terdapat 33 ibu tidak selamat saat melahirkan, dan 33.000 gadis dalam sehari dipaksa menikah, biasanya dengan pria yang jauh lebih tua. Pada 2019, sekitar 82 persen kematian balita dan 86 persen kematian ibu terkonsentrasi di wilayah sub-Sahara Afrika dan Asia Selatan. Sembilan dari 10 infeksi HIV pada anak terjadi di wilayah sub-Sahara Afrika. Angka kematian ibu, bayi baru lahir, anak-anak dan remaja jauh lebih tinggi di banyak negara yang secara kronis terkena dampak konflik bersenjata.

.

Menuju Adaptasi Kebiasaan Baru
.

“Sudah terlalu lama, kesehatan dan hak perempuan, anak, dan remaja tidak mendapat perhatian yang memadai dan layanan tidak cukup didukung,” kata mantan Perdana Menteri Selandia Baru dan Ketua Dewan Kemitraan untuk Kesehatan Ibu, Bayi dan Anak, Helen Clark. Komunitas global perlu memerangi pandemi COVID-19, sambil tetap meningkatkan kualitas kehidupan perempuan dan anak, dan tidak memperlebar kesenjangan antara janji dan kenyataan. Pandemi COVID-19 mengancam untuk memutar mundur waktu kemajuan bertahun-tahun dalam kesehatan reproduksi, ibu, anak, dan remaja.  

.

Tanpa upaya intensif untuk memerangi penyebab kematian anak yang dapat dicegah, 48 juta anak balita dapat meninggal antara tahun 2020 dan 2030. Hampir setengah dari kematian tersebut terjadi pada bayi baru lahir.

Gerakan ‘Every Woman Every Child’ menjadi lebih kritis dari sebelumnya, saat kita memasuki Dekade Aksi SDG di tengah krisis kesehatan global terburuk. Momentum gerakan harus terus memperjuangkan multilaterialisme, untuk memobilisasi tindakan di semua sektor untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan setiap wanita, anak dan remaja dimanapun. “Tidak ada keraguan bahwa pandemi COVID-19 telah menghambat upaya global, untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan wanita dan anak,” kata Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.

.

Memahami ekonomi politik penanganan COVID-19 - ALMI
.

Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia sebesar 305 per 100.000 kelahiran hidup (SUPAS, 2015) dan Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 24 per 1.000 kelahiran hidup (SKDI, 2017). Progam percepatan penurunan AKI dan AKB perlu digalakkan dengan target di tahun 2024 AKI tinggal 183 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB menjadi 15 per 1.000 kelahiran hidup. Aksi bersama di bawah gerakan ‘Every Woman Every Child’ terbukti lebih penting dari sebelum pandemi COVID-19, untuk menciptakan dunia yang lebih sehat, lebih aman, lebih adil, dan lebih berkelanjutan bagi wanita, anak, dan generasi mendatang, termasuk di Indonesia.

Sudahkah terlibat?

Sekian

Yogyakarta, 8 Oktober 2020

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
Istanbul

2020 Makanan Sehat Saat COVID-19

Ketahui Prinsip Penyajian Makanan Sehat Untuk Anak Berikut Ini | Enervon

MAKANAN  SEHAT  SAAT  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Saat ini tidak ada bukti bahwa orang dapat tertular COVID-19 dari makanan, termasuk buah dan sayuran segar. Keduanya adalah bagian dari diet sehat dan konsumsinya harus terus didorong. Bagaimana sebaiknya?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/10/06/2020-ancaman-covid-19/

.

Sistem kekebalan tubuh membutuhkan dukungan dari banyak nutrisi. Setiap orang direkomendasikan untuk mengkonsumsi berbagai makanan dalam diet yang sehat dan seimbang, termasuk makanan bijian, polongan, sayuran, buah, kacang dan protein hewani. Tidak ada satu jenis makanan tunggal yang akan mampu mencegah dari tertular COVID-19.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/08/23/2020-resesi-rumah-sakit/

.

Sebelum makan buah dan sayur, wajib cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Kemudian cuci bersih buah dan sayur dengan air bersih, terutama jika akan dimakan mentah (raw food diet). Saat ini tidak ada bukti bahwa orang dapat tertular COVID-19 dari makanan yang dimasak, termasuk produk hewani. Virus yang menyebabkan COVID-19 dapat dimatikan pada suhu panas, mirip dengan virus dan bakteri lain yang ditemukan dalam makanan. Makanan seperti daging, unggas, dan telur harus selalu dimasak sampai suhu paling tidak 70 °C. Sebelum memasak, produk hewani mentah harus ditangani dengan hati-hati, untuk menghindari kontaminasi silang dengan makanan yang dimasak.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/23/2020-dokter-dan-rs-era-normal-baru/

.

COVID-19 membutuhkan hewan hidup atau inang manusia, untuk berkembang biak dan bertahan hidup, serta tidak dapat berkembang biak di permukaan kemasan makanan. Bahan kemasan makanan tidak perlu didisinfeksi, tetapi tangan harus dicuci dengan benar setelah menerima paket makanan dan sebelum makan. Secara umum pergi berbelanja ke toko grosir dan pasar makanan lainnya adalah aman, dengan mengikuti langkah-langkah pencegahan berikut ini. Bersihkan tangan dengan cairan pembersih sebelum memasuki toko. Tutupi mulut saat batuk atau bersin dengan siku atau jaringan yang tertekuk. Pertahankan jarak setidaknya 1 meter dari orang lain. Setelah pulang, cuci tangan dengan bersih di rumah, dan juga diulang setelah menangani dan menyimpan produk makanan yang dibeli. Sampai saat ini tidak ada kasus COVID-19 yang dikonfirmasi, yang ditularkan melalui makanan atau kemasan makanan.

.

Cara Tepat Menyusun Makanan di Tengah Pandemi Covid-19
.

Lakukan desinfeksi di rumah tangga secara teratur, yang akan secara efektif menghilangkan virus dari permukaan barang-barang di rumah. Untuk membersihkan dan mendisinfeksi barang rumah tangga yang dicurigai atau dikonfirmasi COVID-19, disinfektan virucidal permukaan, seperti 0,05% natrium hipoklorit (NaClO) dan produk yang berbahan dasar etanol (setidaknya 70%), harus digunakan.

.

Suplemen mikronutrien (vitamin dan mineral) saja tidak dapat mencegah COVID-19 pada orang sehat, atau menyembuhkannya pada mereka yang menderita penyakit COVID-19. Saat ini tidak ada panduan tentang suplementasi mikronutrien untuk pencegahan COVID-19 pada individu sehat atau untuk pengobatan COVID-19. Mikronutrien sangat penting untuk sistem kekebalan agar berfungsi dengan baik, dan memainkan peran penting dalam meningkatkan derajad kesehatan dan kesejahteraan. Jika memungkinkan, asupan zat gizi mikro atau mikronutrien harus berasal dari makanan yang bergizi seimbang dan beragam, termasuk dari buah, sayuran, dan protein hewani.

.

Vitamin D dapat dibuat di kulit manusia dengan paparan sinar matahari. Selain itu, dapat juga diperoleh melalui makanan dari sumber alami (misalnya ikan berlemak seperti salmon, tuna dan mackerel, minyak hati ikan, hati sapi, keju dan kuning telur), atau dari makanan yang diperkaya atau suplemen yang mengandung vitamin D. Dalam situasi di mana status vitamin D individu sudah marjinal atau di mana makanan kaya vitamin D (termasuk makanan yang diperkaya vitamin D) tidak dikonsumsi, dan paparan sinar matahari terbatas, suplemen vitamin D dalam dosis asupan nutrisi yang direkomendasikan (200-600 IU, tergantung usia), dapat dipertimbangkan.

.

Saat ini tidak ada teh herbal atau suplemen herbal lainnya yang dapat membantu mencegah atau menyembuhkan COVID-19. Tidak ada bukti yang mendukung penggunaan teh herbal atau suplemen herbal untuk mencegah atau menyembuhkan COVID-19. Demikian juga probiotik tidak terbukti mampu membantu mencegah COVID-19. Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang umumnya ditambahkan ke makanan atau digunakan sebagai suplemen makanan, untuk memberikan manfaat kesehatan. Namun demikian, saat ini tidak ada bukti yang mendukung penggunaan probiotik untuk membantu mencegah atau menyembuhkan COVID-19.

.

Demikian juga minuman dan makanan yang mengandung jahe, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa mampu membantu mencegah COVID-19. Namun demikian, jahe adalah makanan yang mungkin memiliki sifat antimikroba dan anti-inflamasi. Tidak ada bukti bahwa makan bawang putih dapat melindungi orang dari COVID-19. Namun demikian, bawang putih adalah makanan yang mungkin memiliki beberapa sifat antimikroba. Selain itu, tidak ada bukti bahwa menambahkan merica (hot peppers) dan cabai (pepper) ke dalam makanan dapat mencegah atau menyembuhkan COVID-19.

.

Pandemi COVID-19 megajarkan kita tentang perlunya dukungan nutrisi lengkap, dalam salah satu langkah pengendalian pandemi COVID-19. 

Apakah kita sudah bijak?

Yogyakarta, 2 Oktober 2020

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?