Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life sekolah vaksinasi

2021 COVID-19 di Sekolah

Sekolah Diminta Bentuk Satgas Covid-19 Awasi Prokes Saat Pembelajaran Tatap  Muka : Okezone Nasional

COVID-19  DI  SEKOLAH

fx. wikan indrarto*)

Setelah laju penularan COVID-19 melandai dan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas di sekolah telah diselenggarakan, masih juga ada kekawatiran terjadinya klaster sekolah yang menakutkan, bagi sebagian orangtua. Apa yang sebaiknya dicermati?

.

Ringkasan tulisan ini telah dimuat di media online.

https://news.detik.com/kolom/d-5791356/tak-perlu-cemas-kluster-covid-di-sekolah

Gejala klinis COVID-19 pada anak yang perlu diwaspadai oleh orangtua sebenarnya cukup khas. Misalnya demam atau meriang, batuk, hidung tersumbat atau pilek, dan kehilangan indra penciuman. Juga sakit tenggorokan, sesak atau kesulitan bernapas, sakit perut hingga diare, ada juga mual dan muntah. Selain itu, kelelahan, sakit kepala, nyeri otot atau tubuh dan kehilangan selera makan. Jika muncul keluhan tersebut, sebaiknya anak tidak diijinkan mengikuti PTM terlebih dahulu.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/02/06/2021-covid-19-pada-anak/

.

Jika anak pada akhirnya terkonfirmasi positif COVID-19, orangtua wajib memberikan pengobatan atau perawatan yang tepat. Orang tua atau pengasuh harus mendampingi anak selama proses penyembuhan. Yang utama adalah anak menjalani isolasi mandiri di rumah, bukan dirawat inap di RS. Selain itu, orang tua harus ikut menamani anak selama isolasi, tidak meninggalkan anak sendirian di rumah, dan memastikan anak merasa aman dan nyaman. Juga jaminan pemberian nutrisi yang cukup selama perawatan, termasuk ASI sesuai usia anak, karena anak sedang dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Orangtua juga wajib tetap memberikan stimulasi pada anak dengan berbagai kegiatan dan permainan yang menyenangkan, memicu aktivitasi otak, dan tumbuh kembang anak. Yang terakhir adalah pengobatan dan pemberian vitamin sesuai derajad klinis penyakit, oleh dokter yang menangani. Setelah dokter menyatakan anak telah pulih, anak dapat segera diantar untuk mengikuti PTM di sekolah kembali.

.

Anak yang dirawat oleh dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) periode Maret-Desember 2020, terdapat 37.707 anak terinfeksi COVID-19 dan 522 kematian. Data yang diterbitkan dalam jurnal ‘Frontiers in Pediatrics’ pada 23 September 2021 lalu ini juga menyajikan komorbid dan gagal napas sebagai penyebab utama  (54,5%) kematian anak akibat COVID-19, diikuti dengan sepsis atau syok septik (23,7%). Sebagian besar anak yang meninggal dengan COVID-19 memiliki komorbid gizi buruk (18,0%), diikuti oleh penyakit kanker (17,3%) dan penyakit jantung bawaan (9,0%). Ada 62 (11,8%) anak terkonfirmasi COVID-19 yang meninggal tanpa komorbid atau penyakit penyerta.

.

Muncul Kasus Covid-19 di Sekolah, Bamsoet Minta Evaluasi Menyeluruh PTM  Terbatas

Sementara komorbid terbanyak pada anak yang meninggal terkait COVID-19 adalah malnutrisi dan kanker, disusul penyakit jantung bawaan, kelainan genetik, tuberkulosis (TBC), penyakit ginjal kronik, cerebral palsy, dan penyakit autoimun. Orangtua yang memiliki anak tanpa mengalami salah satu komorbid tersebut, tentu saja tidak boleh ragu untuk mengijinkan anak ikut PTM di sekolah.

.

Terdapat 10 propinsi di Indonesia dengan kasus anak terkonfirmasi COVID-19 terbanyak yaitu Jawa Barat, Riau, Jawa Tengah, Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Bali, Sumatera Utara, DIY, dan Papua. Sedangkan 7 (tujuh) propinsi dengan kasus kematian anak terkonfirmasi COVID-19 terbanyak, yaitu Jawa Tengah, DKI Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Jawa Timur, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Orangtua yang tinggal di 10 propinsi tersebut wajib lebih waspada, apabila memiliki anak dengan komorbid, sebelum mengijinkan anak mengikuti PTM terbatas di sekolah.

.

Pada Jumat, 22 Oktober 2021 tidak hanya Indonesia, tetapi terdapat 225 negara di dunia yang melaporkan adanya COVID-19 dengan total kasus terkonfirmasi 242.348.657 orang dan meninggal 4.927.723 orang. Pada saat yang sama di Indonesia kasus terkonfirmasi positif COVID-19 sebanyak 4.238.594 orang (hanya 1,7% dari kasus global), sembuh 4.080.351 orang dan meninggal 143.153 orang (hanya 0,29% dari kematian global). Dengan demikian, kita semua yang tinggal di wilayah Indonesia sebaiknya tidak perlu takut lagi akan keganasan COVID-19, yang telah dapat diatasi dengan baik.

.

Hari Pertama Masuk Sekolah, Mayoritas Belajar Jarak Jauh

Direktur eksekutif Program Darurat Kesehatan WHO, Dr. Mike Ryan mengingatkan bahwa virus COVID-19 akan menetap, karena terus bermutasi di seluruh dunia. Selain itu, WHO juga menjelaskan bahwa vaksin tidak menjamin pembasmian COVID-19 seperti virus lainnya. Bahkan kepala penasihat medis Gedung Putih AS Dr. Anthony Fauci dan Stephane Bancel, CEO pembuat vaksin Moderna, telah memperingatkan bahwa dunia harus hidup dengan COVID-19 selamanya, seperti halnya influenza. Oleh sebab itu, proses PTM terbatas di sekolah seharusnya memang tidak perlu ditunda lagi, termasuk di seluruh wilayah Indonesia, karena ‘telah’ terjadi perubahan COVID-19 dari pandemi menjadi endemi.

.

Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI terkait klaster PTM terbatas terbanyak terjadi di Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Timur. Pada 23 September 2021 terdapat 1.302 klaster sekolah. Klaster terbanyak di Sekolah Dasar dengan 583 klaster, PAUD 251 klaster, SMP 244 klaster, SMA 109 klaster, SMK 70 klaster, dan SLB 13 klaster. Meski klaster sekolah merebak, tetapi Mendikbudristek RI Nadiem Makarim menegaskan PTM di sekolah tidak akan dihentikan, bahkan terus dilanjutkan.

.

Untuk sekolah yang telah menjalankan PTM, keamanan PTM terbatas harusnya terus ditingkatkan melalui optimalisasi fasilitas sekolah dan perbaikan protokol kesehatan. Selain itu, perlu mempertimbangkan kapasitas kelas, memperbaiki sirkulasi udara, misalnya membentuk ruang kelas terbuka atau jendela kelas agar selalu dibuka, karena hal ini akan memperkecil risiko penularan COVID-19. Saat belajar di rumah yang sudah berlangsung selama pandemi COVID-19, banyak anak terbukti mampu belajar dan mengerjakan tugas sekolah. Oleh sebab itu frekuensi dan durasi PTM di sekolah sebaiknya tetap dibatasi, dan dilanjutkan atau dilengkapi dengan pembelajaran di rumah.

.

Untuk meningkatkan perlindungan anak, penting sekali bahwa setiap orang di sekitarnya, termasuk pengasuh, guru dan pegawai non akademik di sekolah, divaksinasi COVID-19 bila memenuhi syarat. Tentunya supaya vaksinasi pada orang tersebut tidak hanya melindungi diri mereka sendiri, tetapi juga melindungi orang lain yang tidak atau belum memungkinkan untuk divaksin, contohnya anak di bawah usia 12 tahun.

.

Data klaster sekolah sebaiknya jangan lagi mencemaskan orangtua, karena data itu merupakan kompilasi sejak Juli 2020, bukan berdasarkan laporan sejak PTM terbatas dilakukan dalam satu bulan terakhir. Dengan demikian penyebutan istilah ‘klaster’ sebenarnya juga berlebihan dan kurang tepat, karena angka 2,8 persen sekolah dari 46.500 sekolah yang melaporkan itu bukanlah data klaster, tetapi data sekolah yang melaporkan adanya warga sekolah yang pernah tertular COVID-19, meskipun penularannya belum tentu terjadi di sekolah. Berarti masih ada lebih dari 97 persen sekolah memiliki warga yang tidak pernah tertular COVID-19. Juga terkait isu yang beredar mengenai 15.000 siswa dan 7.000 guru positif COVID-19 akibat pelaksanaan PTM Terbatas, sebenarnya data tersebut belum diverifikasi, sehingga masih mungkin ditemukan kesalahan.

Sudahkah kita bijak dan tidak takut mengijinkan anak mengikuti PTM di sekolah, karena aman dari bahaya COVID-19?

Sekian

Yogyakarta, 25 Oktober 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life vaksinasi

2021 Dongeng COVID-19

Mengajarkan Anak Soal Corona Lewat Dongeng

DONGENG  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Telah diterbitkan dongeng untuk membantu anak tetap berpengharapan selama pandemi COVID-19. Dongeng ini dapat digunakan oleh orang tua, guru, dan tenaga kesehatan dalam mendampingi anak. Apa yang menarik?

.

Dongeng ini merupakan sekuel dari buku berjudul ‘My Hero is You: how kids can fight COVID-19!’, yang diterbitkan pada April 2020. Buku mengacu pada kenyataan sehari-hari jutaan anak sejak awal pandemi COVID-19. Bagi banyak anak, pandemi COVID-19 terus mengganggu proses pendidikan, bermain, dan waktu mereka bersama teman, keluarga, dan guru. Dongen menarik ini dapat diperoleh dari link berikut ini :

https://interagencystandingcommittee.org/system/files/2021-09/My%20Hero%20is%20You%202021%2C%20Storybook%20for%20Children%20on%20COVID-19%20%28English%29_0.pdf

Dongeng ini ditujukan terutama untuk anak berusia 6-11 tahun, isinya menceritakan kembalinya Ario, makhluk fantasi yang berkeliling dunia membantu anak menemukan harapan di masa depan dan kegembiraan dalam kesenangan sederhana. Bersama dengan teman lama dan baru, Ario mengatasi ketakutan, frustrasi, dan kekhawatiran yang dihadapi anak dalam fase pandemi COVID-19 saat ini, dan mengeksplorasi berbagai mekanisme koping yang dapat mereka gunakan ketika menghadapi emosi yang sulit seperti ketakutan, kesedihan, kemarahan, dan keputusasaan.

Dongeng terbaru ini diambil dari tanggapan terhadap survei terhadap lebih dari 5.000 anak, orang tua, pengasuh, dan guru dari seluruh dunia yang menggambarkan tantangan yang terus mereka hadapi di tahun kedua pandemi.

.

Menjangkau anak di mana-mana, terbit dalam bahasa Arab, Bengali, Cina, Inggris, Perancis, Portugis, Rusia, Spanyol, dan Swahili. Dongeng sebelumnya sekarang sudah tersedia dalam lebih dari 140 bahasa, termasuk bahasa isyarat dan Braille, dan dalam lebih dari 50 adaptasi, dalam format video animasi, teater, buku aktivitas, dan audio. Contohnya termasuk adaptasi untuk penduduk asli Amerika, buku mewarnai untuk anak-anak di Suriah, dan animasi yang dikembangkan oleh tim yang dipimpin oleh Stanford Medicine di AS.

Sejak April 2020, pemerintah, universitas, organisasi non-pemerintah, outlet media, dan selebritas telah bergabung dengan PBB untuk memfasilitasi distribusi buku pertama seri ini secara global. Inisiatif termasuk peluncuran versi audio dan lokakarya yang berkaitan dengan buku di antara para pengungsi di Cox’s Bazar, Bangladesh; penyiaran versi animasi di televisi nasional Mongolia; dan dimasukkannya buku tersebut sebagai suplemen gratis dengan surat kabar nasional di Yunani.

Buku cerita baru dapat digunakan oleh orang tua dan guru bersama dengan panduan berjudul ‘My Hero is You’, yang dirilis oleh kelompok yang sama pada Februari 2021. Sudah tersedia dalam lebih dari selusin bahasa, panduan ini menyarankan orang tua, pengasuh, dan guru tentang cara untuk menciptakan kondisi yang tepat bagi anak-anak untuk secara terbuka berbagi perasaan dan kekhawatiran mereka terkait dengan pandemi dan termasuk kegiatan berdasarkan buku dalam seri.

Dongeng ini tentang Ario sebagai makhluk ajaib yang datang dari hati anak-anak, dia selalu mendengar anak-anak ketika mereka sedang bermimpi, bermain, dan bahkan ketika mereka tidak memikirkan orang lain sama sekali.

Satu tahun telah berlalu sejak Ario dan teman-temannya telah berkeliling dunia, memberi tahu anak-anak cara melindungi diri dari ganasnya pandemi COVID-19. Mereka telah belajar banyak dan menemukan cara baru untuk bermain dan tetap berkomunikasi dengan teman dan keluarga. Namun demikian, beberapa bentuk kekhawatiran anak-anak lebih nyata, dan beberapa anak mengalami ketakutan yang lebih hebat.

Anak-anak sering lupa bahwa Ario tetap berada di dalam hati anak, Ario tetap di langit pengharapan mereka, dan menunggu seorang anak untuk memanggilnya ke bumi. Ario merindukan teman-temannya Sara, Sasha, Salem, Leila dan Kim, yang akan selalu menjadi pahlawan bagi anak-anak.

Pada dongeng kali ini, diceritakan Ario bertemu harimau, pohon, gunung, dan salju, sehingga berbagai ungkapan penuh makna dalam kehidupan anak layak disampaikan dengan penegasan. Misalnya saat Ario menekankan ajakan mari kita menjadi teman baru, terlebih saat teman merasa malu, tertekan atau sedih, maka kita tawarkan tentang apa yang dibutuhkan. Ternyata anak-anak butuh harapan. Ario menekankan bahwa anak-anak dapat memegangnya, agar tumbuh dan tumbuh terus semakin berkembang, karena harapan sebenarnya ada di sekitar kita.

Misalnya saat harus tinggal di rumah karena aturan pembatasan aktivitas warga, semua anggota keluarga memiliki lebih banyak waktu untuk memasak bersama, berkebun dan membersihkan rumah, bahkan ayah bunda mampu membacakan dongeng di malam hari, jauh lebih banyak dari periode sebelumnya. Ayah bunda bahkan dapat mengajari berbagai pelajaran untuk anak-anaknya di rumah, ketika anak tidak dapat pergi ke sekolah. Sangat menyenangkan ketika mereka semua saling berdekatan di rumah. Bahkan tanaman dan benda-benda di rumah semua sangat bahagia, karena sebelum pandemi COVID-19, tidak ada siapa-siapa memperhatikannya. Perubahan terkadang dapat menakutkan, tapi juga dapat membawa manfaat bagi apapaun di sekitar kita.

Anak-anak sebaiknya secepatnya kembali pergi belajar ke sekolah, karena hal itu adalah harapan untuk masa depannya yang gemilang. Pelukan hangat ayah bunda kepada anak saat mengantarnya ke sekolah akan mengingatkan anak untuk berani, apalagi setelah cukup lama beraktivitas di dalam rumah saja, sejak awal pandemi tahun lalu. Kegelapan membuat anak sering merasa sedih, seperti ketika kakek atau anggota keluarga ada yang sakit, terpapar COVID-19 dan kemudian anak merasa kehilangan. Pengalaman buruk itu seperti saat lampu padam dan menciptakan kegelapan, anak sangat berharap hal tersebut jangan pernah terjadi lagi.

Sejak pandemi COVID-19 anak-anak sering mengalami kekhawatiran yang semakin menjadi. Ario menginspirasi orangtua sebaiknya mencoba untuk mendengarkan, karena terkadang ketika anak-anak menangis atau mengeluh untuk melepaskan kekhawatiran mereka, mereka mulai merasa lebih baik. Kalau di wilayah tertentu laju penularan COVID-19 sudah melandai, anak-anak sudah boleh diajak keluar rumah agar kembali tertawa bahagia, dengan sobat karibnya. Karena momentum itu mungkin pertama kalinya setelah sekian lama, maka para sahabat itu berpelukan lama. Keduanya mungkin punya lebih banyak waktu bermain di sekitar rumah sekarang, karena pembelajaran di sekolah belum tentu langsung akan segera dimulai. Itulah saat yang tepat untuk melatih anak melakukan protokol kesehatan secara ketat. Mencuci tangan, menjaga jarak setidaknya satu meter, dan mengenakan masker, adalah ketrampilan yang harus terus diajarkan agar menjadi kebiasaan. Selain itu, juga memastikan bahwa tidak ada seorang anakpun yang merasa sendirian.

Kita harus melakukan semua yang kita mampu untuk menjaga anak tetap aman selama pandemi COVID-19 saat ini. Dongeng untuk anak terbitan WHO berjudul ‘My Hero is You: how kids can fight COVID-19!’, dapat dibacakan dan diceritakan kepada semua anak di sekitar kita, agar anak tetap berpengharapan, berimajinasi dan berkreasi sebaik mungkin, meski masih dalam banyak keterbatasan karena pandemi COVID-19.

Apakah kita sudah bertindak?

Sekian

Yogyakarta, 7 Oktober 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life Pendukung ASI resisten obat

2021 Keselamatan Pasien Bayi

Krisis Listrik, Nyawa 200 Bayi di Rumah Sakit di Gaza Terancam - Dunia  Tempo.co

KESELAMATAN  PASIEN  BAYI

fx. wikan indrarto*)

Hari Keselamatan Pasien Sedunia (World Patient Safety Day) diperingati setiap tahun dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran dan keterlibatan publik, juga untuk mempromosikan keselamatan pasien di fasilitas kesehatan. Tema Hari Keselamatan Pasien Sedunia 2021–2022 adalah membuat perawatan ibu dan bayi baru lahir lebih aman. Apa yang perlu dilakukan untuk bayi?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/03/2020-asi-untuk-bayi-covid-19/

Hari Keselamatan Pasien Bayi Baru Lahir memiliki 5 tujuan. Pertama, mengurangi praktik medis yang tidak perlu dan berbahaya, bagi bayi baru lahir. Kedua, memperkuat kapasitas dan dukungan petugas kesehatan untuk perawatan bayi baru lahir yang aman. Ketiga, mempromosikan persalinan yang aman dan penuh hormat. Keempat, meningkatkan penggunaan obat dan transfusi darah yang aman.

.

Tujuan pertama, yaitu mengurangi praktik yang tidak perlu dan berbahaya bagi bayi baru lahir, didasari data bahwa lebih dari tiga perempat kematian ibu, lebih dari 40% kelahiran mati, dan seperempat kematian neonatus disebabkan oleh komplikasi selama persalinan dan nifas. Di beberapa fasilitas kesehatan justru terlalu sedikit intervensi medis atau terlambat diberikan, kepada ibu bersalin dan bayi baru lahir, sedangkan di tempat lain justru ibu dan bayi baru lahir menerima terlalu banyak intervensi, bahkan juga terlalu cepat. Sebagian besar bayi baru lahir mungkin mengalami penjepitan tali pusat dini, penghisapan ciaran di mulut dan hidung secara rutin atau berlebihan, dan pemisahan dari ibu segera setelah lahir tanpa alasan medis kuat.

.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menerbitkan serangkaian rekomendasi tentang perawatan intrapartum untuk terbentuknya pengalaman ibu melahirkan yang positif, agar merawat bayinya dengan penuh kegembiraan. Juga mengharuskan setiap fasilitas kesehatan sepenuhnya mematuhi Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI. Untuk keselamatan bayi baru lahir, tidak dianjurkan menjepit tali pusat lebih awal (sebelum satu menit setelah lahir), tidak boleh melakukan penyedotan cairan di mulut dan hidung pada neonatus, yang lahir dari ibu dengan cairan ketuban bening, dan mampu mulai bernapas sendiri setelah lahir. Selain itu, juga larangan agar tidak secara rutin memisahkan ibu dan bayi setelah lahir.

.

Bayi 50 Hari di Cirebon Sembuh dari Covid-19 | Republika Online

Alasan tujuan kedua, yaitu memperkuat kapasitas dan dukungan bagi petugas kesehatan untuk perawatan ibu dan bayi baru lahir yang aman, adalah bahwa semua tenaga kesehatan, termasuk dokter, bidan dan perawat, memiliki peran penting dalam memberikan perawatan yang aman dan terhormat untuk mencegah kematian ibu dan bayi baru lahir, bahkan juga kelahiran mati. Namun demikian, saat ini sistem kesehatan di seluruh dunia menghadapi kekurangan tenaga kesehatan, terutama perawat dan bidan. Selain itu, distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata antar dan di dalam negara, menambah kesenjangan untuk mencapai target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG).

.

Sedangkan tujuan ketiga, yaitu mempromosikan perawatan penuh hormat untuk persalinan yang aman, dapat dilakukan dengan menetapkan mekanisme identifikasi bayi baru lahir di tempat bersalin, pencatatan sipil, dan akte kelahiran sebagai identitas hukum untuk semua bayi sejak lahir. Selain itu, perlu ditetapkan mekanisme untuk proses ganti rugi pada kasus bayi baru lahir yang mengalami penganiayaan, pelanggaran privasi, kerahasiaan, tindakan medis tanpa persetujuan, dan perawatan yang tidak adil. Juga jaminan agar pasangan ibu-bayi tetap bersama dalam sebuah ruangan atau rawat gabung, agar mampu meningkatkan kesempatan untuk menyusui dan kontak kulit-ke-kulit antara ibu dan bayi setiap saat, terlebih dalam satu jam pertama setelah kelahiran.

.

Perlu juga dipastikan bahwa semua bayi lahir mati dan bayi baru lahir yang meninggal, ditangani dengan penuh hormat. Juga orang tua serta keluarga diperbolehkan untuk mengungkapkan duka cita, dengan cara yang sesuai dengan budaya dan agama masing-masing.

.

Sedangkan tujuan keempat, yaitu meningkatkan penggunaan obat  dan transfusi darah yang aman, disebabkan karena akses keduanya adalah kunci untuk pencegahan dan pengelolaan komplikasi berat, seperti sepsis neonatal. Kesalahan pengobatan pada neonatus, di mana dosis obat harus dihitung berdasarkan berat badan atau usia, merupakan sumber kesalahan utama ketidakamanan. Untuk itu, biasakanlah menggunakan huruf kapital dan jelas dalam mengurangi kesalahan saat memesan dan meresepkan obat. Juga menerapkan langkah untuk mengurangi kesalahan, karena nama dan kemasan obat yang mirip atau terdengar mirip, dan mengurangi kemungkinan kesalahan selama penyimpanan maupun pemberian obat. Jika tersedia, gunakan rekam medis elektronik, sistem peresepan elektronik, dan barcode (kode batang) untuk menyederhanakan pertukaran informasi dan meningkatkan keterbacaan resep dokter.

.

Pastikan ketersediaan obat antidotum seperti nalokson, untuk mengatasi depresi pernapasan bayi baru lahir atau asfiksia neonatus. Menerapkan kebijakan dan protokol rinci, yang menguraikan penggunaan antibiotik yang benar sebagai bagian dari program pengelolaan antibiotik secara rasional. Juga memastikan praktik injeksi yang aman dan penggunaan teknik aseptik saat memberikan obat secara suntikan atau parenteral, dan transfusi darah pada bayi baru lahir.

.

Tujuan kelima adalah melaporkan dan menganalisis insiden keselamatan dalam persalinan, didasari oleh data bahwa di seluruh dunia, ibu dan bayi baru lahir dapat terpapar bahaya yang dapat dihindari, selama proses persalinan di fasilitas kesehatan, dan beberapa kasus menjadi meninggal atau menderita morbiditas parah yang tidak perlu. Sebagian besar kerugian ini dapat dicegah dengan perawatan berkualitas tinggi, intervensi berbasis bukti yang diberikan selama kehamilan, persalinan dan melahirkan. Sistem pelaporan insiden keselamatan pasien dapat memberikan pembelajaran tentang penyebab bahaya dan tindakan perbaikan, untuk mencegahnya di masa depan. Audit Kematian Maternal dan Perinatal  adalah intervensi penting untuk mengurangi kematian bayi baru lahir yang dapat dihindari.

.

Pandemi COVID-19 telah memicu krisis kesehatan lanjutan yang berdampak buruk pada ibu dan bayi baru lahir, karena terganggunya layanan kesehatan rutin. Momentum Hari Keselamatan Pasien Bayi Baru Lahir menunjukkan betapa pentingnya memperkuat layanan kesehatan dan kebidanan secara rutin, seperti sebelum pandemi COVID-19, demi keselamatan pasien bayi baru lahir di sekitar kita.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 2 Oktober 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
anak antibiotika COVID-19 dokter Healthy Life UHC

2021 Kesehatan Digital

Informasi Kesehatan Digital Harus Berkredibilitas - Info Sehat  Klikdokter.com

KESEHATAN  DIGITAL

fx. wikan indrarto*)

Catatan : dimuat di Kompas Media

https://www.kompas.id/baca/opini/2021/09/25/menyongsong-era-kesehatan-digital/

Setelah pandemi COVID-19 usai, para dokter akan lebih fokus pada layanan kesehatan digital atau telemedicine. Para dokter akan berusaha untuk membuat layanan inovasi untuk pencegahan, diagnosis dan pengobatan penyakit secara digital, yang mulai saat ini dianggap lebih aspiratif dan futuristik. Apa yang menarik?

.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kesehatan digital, atau penggunaan teknologi digital untuk kesehatan, sebagai bidang praktik dokter yang lebih banyak menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, secara rutin dan inovatif untuk memenuhi kebutuhan kesehatan. Kesehatan digital atau eHealth adalah bidang yang baru muncul, penggabungan ilmu kedokteran dengan ilmu komputasi tingkat lanjut dalam data, genomik, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence).

.

Banyak dokter, termasuk dokter berbagai spesialis telah memanfaatkan keunggulan layanan kesehatan digital selama pandemi COVID-19 dan krisis kesehatan ini, bahkan lebih sering tidak seperti sebelumnya. Bentuknya berupa konsultasi video, telemonitoring, dan penggunaan kecerdasan buatan, karena kunjungan pasien ke rumah sakit dan klinik praktek dokter telah dibatasi di seluruh dunia. Teknologi ini sangat membantu dalam memberikan layanan kesehatan penting bagi para pasien. Namun demikian, ternyata ada banyak masalah baru, misalnya kesehatan digital dan virtual mungkin dapat memperparah ketidaksetaraan kesehatan (health inequalities), dan tidak semua orang di dunia memiliki ponsel cerdas atau sambungan internet secara memadai.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/01/31/2019-paska-rumah-sakit/

.

Kesehatan digital berpotensi membantu mengatasi masalah teknis layanan dokter, seperti jarak yang jauh dan akses yang sulit, tetapi tetap saja masih memiliki berbagai tantangan mendasar. Contoh kendala yang dihadapi dalam sistem kesehatan secara umum, misalnya tata kelola medis yang menurun, pelatihan dokter yang tidak memadai, dan keterbatasan infrastruktur teknologi informasi, misalnya akses internet yang buruk atau peralatan digital versi terdahulu yang masih digunakan.

Kendala tersebut perlu dipertimbangan dan diperhatikan, selain karena persyaratan spesifik yang dibutuhkan untuk layanan kesehatan digital lebih rumit, juga seharusnya berada dalam sistem kesehatan yang lebih luas dan lingkungan pendukung yang memadai. Untuk itu beberapa rekomendasi perlu dicermati, misalnya untuk para manajer sistem kesehatan, perlu rutin mengecek notifikasi digital yang bertujuan untuk mendorong ketersediaan di berbagai titik layanan. Dari perspektif pasien, layanan ini akan membantu untuk mengakses informasi dan layanan kesehatan dengan lebih cepat ke penyedia telemedicine. Begitu pula kebutuhan dan kompetensi tenaga dokter agar dapat terus ditingkatkan untuk memenuhi praktik yang berkualitas tinggi, melalui intervensi seperti pelatihan atau mLearning.

.

Implementasi kesehatan digital bergantung pada sejumlah faktor, dan keberhasilannya sering kali dipengaruhi oleh faktor intrinsik berupa desain program digital, serta faktor eksternal yaitu pendukung teknologi informasi. Keberhasilan implementasi intervensi kesehatan digital secara luas didasarkan pada komponen penting berikut. Perama, konten dan informasi kesehatan yang baik, menarik, dan akurat, misalnya pedoman  layanan kesehatan atau praktik dokter berbasis bukti. Kedua, intervensi kesehatan digital sesuai kebutuhan pasien. Ketiga, aplikasi digital lengkap yang memfasilitasi penyampaian intervensi medis secara digital. Dapat juga dikombinasikan dengan konten edukasi bidang kesehatan, misalnya pesan teks, atau aplikasi telepon pintar. Keempat, teknologi informasi dan lingkungan pendukung, misalnya tata kelola, infrastruktur, undang-undang dan kebijakan, tenaga kerja yang ahli, interoperabilitas dan arsitektur digital.

.

Inilah Manfaat Dari Platform Kesehatan Digital Bagi Keluarga di Aplikasi  SehatQ.com - GrosirBersama.co.id

Layanan digital oleh dokter akan membuat bangsal perawatan pasien di RS yang saat ini dipenuhi pasien dengan gangguan satu atau lebih sistem organ, kelak diprediksi justru hanya akan digunakan untuk proses diagnosis dan perawatan sementara saja. Sebuah perangkat pemindaian digital tunggal hasil dari kecerdasan buatan (artificial intelligence), kelak tentu akan mampu memberikan gambaran detail aspek metabolik, fungsional, dan struktural organ pasien, karena mampu menggabungkan fisika spektroskopi, resonansi magnetik, dan radiasi. Dengan demikian, kelak dokter hanya perlu satu tindakan pemindaian digital, dan tidak memerlukan sebuah tindakan invasif yang menyakitkan pasien, seperti operasi biopsi jaringan.

.

Kelak dokter juga tidak perlu lagi mempertimbangkan obat apa yang harus diresepkan untuk pasien dan kemudian apoteker yang memberikannya. Perangkat seluler dokter akan menerima informasi yang diperlukan untuk meramu obat, probiotik dan diet khusus, dari ruang penyimpanan data pasien. Selanjutnya, akan tersedia obat sesuai permintaan dokter, yang akan berlangsung bahkan dalam beberapa menit saja.

Sekarang RS dan dokter wajib memberikan layanan kepada pasien dengan memberikan informasi diagnostik yang paling akurat, intervensi yang paling tidak invasif, dan terapi teraman yang tersedia. Ke depan, pasien secara mandiri akan memiliki informasi yang serupa, sehingga cukup melakukan diskusi singkat dengan dokter secara sepadan.

Saat ini beban global penyakit sebagian besar dalam aspek pembuluh darah atau vaskular, dengan serangan jantung dan stroke menjadi penyebab kematian pasien yang terbesar di dunia. Pada hal, keduanya sebentar lagi dapat dicegah dengan pemahaman pasien yang lebih baik, dengan melakukan koreksi atas faktor risiko dalam bimbingan dokter secara digital. Kejadian cidera traumatis juga turun dan akan terus menurun, saat tersedianya mobil tanpa pengemudi dan pekerja robot telah diciptakan untuk menggantikan tugas manusia yang berisiko.

.

Teknologi kedokteran digital telah tersedia, sehingga sekarang diperlukan definisi ulang (reshape) hubungan dokter dengan pasien secara digital. Oleh sebab itu, sebaiknya para dokter melatih diri agar profesional secara digital, juga mengadvokasi organisasi profesi, pemerintah, penjamin biaya pasien seperti asuransi atau BPJS Kesehatan, dan kelompok lain untuk memulai penggunaan teknologi digital ini. Tetunya agar lebih banyak pasien tetap dapat tinggal di rumah, dalam program jaga jarak atau ‘social distancing’, meskipun pemberantasan pandemi COVID-19 sudah akan terlewati.

Sudahkah kita siap menjadi dokter digital sesudah pandemi COVID-19?

Sekian

Yogyakarta, 14 September 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
anak antibiotika COVID-19 Healthy Life resisten obat vaksinasi

2021 LIBAS TIFUS

Kenali 6 Gejala Tifus Pada Anak dan Cegah Penyebarannya! - Ibupedia

LIBAS  TIFUS

fx. wikan indrarto*)

Kekebalan bakteri atau resistensi antibiotik adalah fenomena alam yang terjadi ketika bakteri mengembangkan kemampuan untuk mengalahkan obat antibiotika. Penyakit infeksi menjadi lebih sulit dan terkadang tidak mungkin lagi untuk diobati, bahkan menyebabkan biaya perawatan kesehatan yang lebih tinggi. Apa masalahnya?
.

Dalam beberapa dekade terakhir Zimbabwe telah mengalami wabah kolera dan tifus. Demam tifoid atau tipus adalah infeksi bakteri yang sangat menular, bila tanpa pengobatan yang cepat, dapat menyebabkan komplikasi serius dan fatal. Wabah tifus besar dengan lebih dari 3.000 kasus terjadi antara Oktober 2017 dan Februari 2018, disebabkan oleh bakteri Salmonella strain yang telah resisten terhadap obat antibiotik (ciprofloxacin). Wabah tifus di Zimbabwe menyerang kota Harare, Bulawayo dan Gweru, karena praktik kebersihan yang buruk secara kronis, di lingkungan dengan kekurangan pasokan air bersih dan fasilitas sanitasi yang terganggu.


.
baca juga : https://dokterwikan.com/2018/05/28/2018-hapus-tifus/

.

Selanjutnya Zimbabwe kemudian mengalami wabah kolera besar antara September 2018 dan Maret 2019. Kolera adalah infeksi bakteri lain yang menyebabkan diare dan dehidrasi berat, yang dapat berkembang menjadi syok dan kejang. Jika tidak segera diobati, kolera berakibat fatal. Wabah ini disebabkan oleh strain Vibrio cholerae yang ditemukan sangat resisten terhadap hampir semua obat antibiotik. Strain wabah memiliki 14 gen resisten antimikroba tambahan pada plasmid bakteri. Hal ini mendorong pemerintah mengumumkan keadaan darurat. Untuk mengendalikan wabah, dilakukan revisi pedoman pelayanan pasien dari obat antimikroba fluoroquinolone yang lebih murah, yaitu ciprofloxacin, menjadi obat makrolida yang lebih mahal yang disebut azitromisin.

.

Kedua wabah ini membuktikan dalam kehidupan nyata atas konsekuensi peningkatan resistensi antimikroba di Zimbabwe. Terlihat adanya peningkatan biaya perawatan kesehatan, kematian dan morbiditas, dan penurunan produktivitas dan kualitas hidup, karena tifus dan kolera. Perbaikan penyediaan air bersih, sanitasi, dan kebersihan lingkungan, yang disertai dengan promosi kesehatan dan penggunaan antimikroba secara rasional, semuanya dilaksanakan sebagai tindakan pengendalian wabah tipus dan kolera. Untuk mengekang dampak buruk dari wabah tifus, Zimbabwe melakukan kampanye vaksinasi vaksin tifoid Vi-conjugate (TCV) massal dari Februari hingga Maret 2019, di sembilan area pinggiran kota Harare yang terkena dampak parah dari wabah tersebut. Kampanye ini menargetkan anak berusia antara 6 bulan dan 15 tahun pada tahun 2018 hingga 2019. Lebih dari 318.000 dosis vaksin telah diberikan. Selama periode yang sama, lebih dari 1,5 juta orang menerima vaksin kolera di 17 area pinggiran kota Harare, untuk mengelola strainbakteri Vibrio cholerae yang sangat resisten.

Penyakit Tipes Berbeda dengan Penyakit Tifus, Ini Penjelasannya

Keberhasilan kampanye vaksinasi darurat sebagai strategi pengendalian wabah berperan penting dalam memasukkan vaksin tifus TCV ke dalam jadwal rutin vaksinasi nasional Zimbabwe. Untuk memberikan lebih banyak bukti ilmiah tentang dampak vaksin pada resistensi antimikroba, Kementerian Kesehatan Zimbabwe akan melakukan studi potong lintang selama 2 tahun, untuk menilai peribahan pola konsumsi antibiotik yang diresepkan untuk kasus tifus sebelum dan setelah memasukkan imunisasi tifus TCV ke dalam program rutin. Selanjutnya akan dilakukan pengurutan genom untuk mendeteksi strain bakteri yang bersirkulasi, sebelum dan sesudah imunisasi massal.

.

Vaksin Konjugat Tifus adalah langkah signifikan untuk mengatasi tingginya tingkat penyakit tipus pada anak di Zimbabwe, dan pemerintah Zimbabwe layak mendapat pujian karena berhasil memasukkannya ke dalam program imunisasi rutinnya. Selain itu, data ini juga menunjukkan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan investasi dalam memperkuat infrastruktur kebersihan lingkungan. Ini akan menjadi solusi yang lebih berkelanjutan untuk mencegah wabah penyakit seperti kolera dan tipus. Data tersebut juga menggambarkan sifat lintas sektor dalam mengatasi resistensi antimikroba, yaitu perlunya memperkuat perbaikan sanitasi lingkungan dan meningkatkan cakupan imunisasi rutin.

.

Vaksin tifus pertama dikembangkan pada tahun 1896 oleh Almroth Edward Wright, Richard Pfeiffer, dan Wilhelm Kolle. Vaksin tifus yang ada di Indonesia ada 2 macam, yaitu vaksin polisakarida Vi capsular yang disuntikkan, misalnya Typhim VI (Sanofi Pasteur) atau Typherix (GSK), dan vaksin oral Ty21a, misalnya Vivotif (PaxVax) yang ditelan.

.

Gejala Tipes, Penyakit Tipes, Pengobatan Sakit Tipes: Ini yang Perlu Kamu  Tahu! - Cermati.com

Di Indonesia hasil penelitian pemberian Vaksin Vi-DT atau vaksin konjugat tifus, seperti yang digunakan di Zimbabwe memberikan harapan baru bagi pencegahan demam tifoid pada anak. Penelitian yang dilakukan FKUI Jakarta pada Oktober 2020 menemukan fakta bahwa, vaksin ini aman dan efektif diberikan bagi anak berusia 6 bulan sampai 2 tahun dan 2-11 tahun. Selain itu, vaksin Vi-DT terbukti dapat meningkatkan titer antibodi 28 hari pasca vaksinasi sebesar 4 kali lipat atau lebih. Hal ini tentu sangat bermanfaat, apalagi mengingat belum ada vaksin tifus berlisensi di Indonesia untuk anak di bawah usia 2 tahun.

.

Untuk melawan resistensi antibiotik, kita harus menggunakan semua hal yang mungkin. Pelajaran dari Zimbabwe menunjukkan bahwa tidak ada peluru ajaib tunggal (single magic bullet), tetapi vaksin adalah salah satu peluru itu. Vaksin adalah alat yang efektif untuk mengurangi jumlah penyakit menular, sehingga secara langsung juga mengurangi kebutuhan penggunaan antibiotik secara luas. Dengan demikian, vaksin juga mampu mencegah munculnya resistensi bakteri terhadap antibiotik, karena perbaikan kesehatan lingkuangan mahal dan dapat memakan waktu puluhan tahun untuk diterapkan, dalam perang besar melibas tifus.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 17 September 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
anak Healthy Life resisten obat tuberkulosis

2021 Obat TB Baru untuk Anak

Waspadai Tuberkulosis pada Anak, Inilah Upaya Pencegahannya!

OBAT TB  BARU  UNTUK  ANAK

fx. wikan indrarto*)

Pada hari Kamis, 26 Agustus 2021 Program Tuberkulosis Global Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan pembaruan penting untuk pedoman pengelolaan tuberkulosis (TB) pada anak dan remaja. Ini termasuk rekomendasi baru tentang pilihan cara diagnostik, rejimen pengobatan, serta algoritme keputusan pengobatan dan model perawatan yang optimal untuk pemberian layanan TB anak dan remaja. Apa yang baru?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/03/30/2020-pencegahan-tbc/

.

Tuberkulosis pada anak dan remaja telah diabaikan selama bertahun-tahun, tercermin dalam kesenjangan besar dalam akses ke layanan pencegahan dan pengobatan TB. Untuk itu pedoman diagnosis, pengobatan, pencegahan dan perawatan untuk anak dan remaja dengan TB telah disusun  berdasarkan bukti ilmiah terbaru.

.

Pembaruan utama termasuk 5 buah rekomendasi. Pertama, pada anak di bawah 10 tahun dengan tanda dan gejala TB paru direkomendasikan untuk penggunaan Xpert MTB/RIF Ultra pada aspirasi lambung atau spesimen tinja sebagai uji diagnostik awal TB. Selain itu, juga dapat digunakan untuk deteksi resistensi bakteri terhadap obat rifampisin. Kedua, pada anak dan remaja di bawah 16 tahun dengan TB tidak parah   yang diduga rentandengan obat (presumed drug-susceptible TB), direkomendasikan untuk menggunakan rejimen pengobatan lebih pendek, yaitu 4 bulan (2HRZ(E)/2HR), dan tidak lagi menggunakan rejimen obat standar selama 6 bulan (2HRZ(E)/4HR).

.

BAGAIMANA DIAGNOSIS TUBERKULOSIS PADA ANAK? - Berita | Kalimantan Barat

Memperpendek pengobatan pada anak dan remaja dengan tuberkulosis tidak berat, sebaiknya dilakukan. Bukti dari uji klinis SHINE (Shorter Treatment for Minimal Tuberculosis in Children) atau Pengobatan Singkat untuk Tuberkulosis Minimal pada Anak, berupa pemendekan pengobatan pada anak dengan TB tidak parah, bergejala, diduga rentan terhadap obat, dan hasil BTA-negatif, telah dilakukan di Uganda, Zambia, Afrika Selatan, dan India. Anak berusia di bawah 16 tahun diacak untuk menjalani pengobatan anti-tuberkulosis lini pertama standar selama 16 versus 24 minggu, menggunakan formulasi kombinasi dosis tetap yang direkomendasikan WHO untuk anak. Hasil efikasi utama penelitian tersebut adalah kematian pada 72 minggu terapi, kegagalan pengobatan, dan putus obat. Sedangkan aspek keamanan obat yang utama adalah efek samping obat. Penelitian mampu membuktikan bahwa rejimen pengobatan jangka pendeka selama 4 bulan tidak lebih buruk dibandingkan rejimen 6 bulan, untuk anak yang diobati untuk TB BTA-negatif yang tidak parah, dan dianggap rentan terhadap obat.

.

Ketiga, untuk anak dengan MDR/RR-TB segala usia direkomendasikan untuk menggunakan obat TB baru yaitu bedaquiline, sebagai bagian dari rejimen obat yang lebih pendek (direkomendasikan secara kondisional oleh WHO pada tahun 2020) atau sebagai bagian dari rejimen pengobatan yang lebih lama. Keempat, rekomendasi untuk menggunakan delamanid sebagai bagian dari rejimen pengobatan yang lebih lama, untuk anak dengan MDR/RR-TB segala usia. Keempat, pada anak dengan MDR/RR-TB segala usia obat bedaquiline dapat digunakan sebagai bagian dari rejimen obat yang lebih pendek (direkomendasikan secara kondisional oleh WHO pada 2020) atau sebagai bagian dari rejimen pengobatan yang lebih lama. Obat delamanid dapat digunakan sebagai bagian dari rejimen pengobatan yang lebih lama.

.

Kelima, pada anak dan remaja dengan meningitis TB yang dikonfirmasi secara mikrobiologis atau didiagnosis secara klinis, dianggap rentan terhadap obat, rejimen intensif 6 bulan yang terdiri dari 6HRZEto (isoniazid, rifampisin, pirazinamid dan ethionamide) dapat digunakan sebagai pilihan alternatif, meskipun WHO sebelumnya merekomendasikan rejimen 12 bulan terdiri dari 2HRZE/10HR. Keenam, dalam wilayah dengan beban TB yang tinggi, layanan terpadu yang terdesentralisasi dan berpusat pada keluarga sebaiknya dilaksanakan untuk meningkatkan deteksi kasus TB dan pemanfaatan pengobatan pencegahan TB.

.

Rekomendasi baru ini disebut komunikasi cepat (rapid communication) bertujuan untuk menginformasikan secara cepat dan luas dari kementerian kesehatan dan penyedia layanan di sektor publik dan swasta, mitra teknis dan pemangku kepentingan lainnya. Tujuannya adalah pertimbangan dan perubahan terkait dengan diagnosis, pengobatan dan perawatan TB untuk anak dan remaja, agar dapat diterapkan dengan perencanaan rinci di tingkat nasional, sebelum rilis pedoman yang diperbarui dan buku pegangan operasional terkait.

Mengenal Tuberkulosis TB Pada Anak, Ciri dan Gejala | Dunia Biza

Rekomendasi yang lebih terperinci akan diterbitkan dalam beberapa bulan mendatang, di samping buku pegangan operasional pelengkap, yang akan berisi panduan implementasi. Rekomendasi di atas didasarkan pada hasil pertemuan kelompok khusus (Guideline Development Group) pada Mei-Juni 2021 dengan topik pengelolaan TB pada anak dan remaja.

.

Rekomendasi diagnosis dan pengobatan TB untuk anak terbaru tersebut, ditujukan untuk mencapai target TB global dalam SDG 2016-2030 dengan semboyan “Find. Treat. All. #EndTB.” Inisiatif ini bertujuan untuk mempercepat pembasmian TB dengan memastikan tidak ada anak yang tertinggal (to ensure no one is left behind).

 Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 3 September 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Rekomendasi WHO tersebut dapat dilihat pada :

https://www.who.int/publications/i/item/9789240033450
Categories
anak COVID-19 Healthy Life Pendukung ASI UHC

2021 Pekan Menyusui Sedunia

World Breastfeeding Week (WBW) - World Alliance for Breastfeeding Action

PEKAN  MENYUSUI  SEDUNIA  2021

fx. wikan indrarto*)

Pekan Menyusui Sedunia (The World Breastfeeding Week) 2021 dimulai Minggu, 1 Agustus 2021 dan berakhir pada Sabtu, 7 Agustus 2021. Tema peringatan tahun 2021 adalah Perlindungan Menyusui: Tanggung Jawab Bersama (Protect Breastfeeding: A Shared Responsibility). Perlindungan dan dukungan menyusui individual pada ibu tidaklah cukup, menyusui harus dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat yang membutuhkan investasi di semua tingkatan, mencakup sistem kesehatan, tempat kerja, dan komunitas di semua lapisan masyarakat. Apa yang harus dilakukan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/08/08/2020-konseling-menyusui-eksklusif/

.

Di negara berpenghasilan rendah dan menengah, hanya 37% bayi di bawah usia 6 bulan yang disusui secara eksklusif. Durasi menyusui lebih pendek di negara berpenghasilan tinggi daripada di negara miskin sumber daya. Pada hal meta-analisis menunjukkan menyusui memberikan perlindungan terhadap penyakit infeksi dan maloklusi gigi, mendukung peningkatan kecerdasan, pengurangan kelebihan berat badan dan diabetes pada anak. Selain itu, tidak ditemukan hubungan menyususi dengan alergi seperti asma, dengan tekanan darah tinggi atau peningkatan kadar kolesterol. Bagi ibu menyusui, menyusui memberikan perlindungan terhadap kanker payudara, kanker ovarium dan diabetes mellitus tipe 2, juga meningkatkan jarak kelahiran.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/07/09/2021-ketika-caesar-meningkat/

.

Tingkat menyusui sangat bervariasi, terkait pola hidup sehat yang lebih umum di negara miskin daripada negara kaya. Di negara berpenghasilan rendah, sebagian besar bayi masih disusui pada usia 1 tahun, dibandingkan dengan kurang dari 20% di banyak negara berpenghasilan tinggi dan kurang dari 1% di Inggris. Alasan mengapa wanita menghindari atau berhenti menyusui berkisar dari medis, budaya, dan psikologis, hingga ketidaknyamanan. Hal ini tidak boleh dianggap sepele, karena banyak ibu tanpa dukungan menyusui yang memadai, akan beralih ke susu formula.

.

Dukungan menyusui secara politis dapat berupa ketentuan baru tentang cuti hamil dan menyusui, juga adanya polis asuransi untuk kesulitan menyusui yang diprediksi dapat meningkatkan cakupan menyusui sebesar 25%. Namun demikian, yang lebih penting adalah dukungan komitmen yang tulus dan mendesak dari pemerintah dan otoritas kesehatan di manapun, untuk membangun norma baru di mana setiap ibu dapat menyusui dan mampu menerima setiap dukungan yang dia butuhkan, untuk menyusui bayinya.

.

Peningkatan cakupan pemberian ASI eksklusif global dapat mencegah 823.000 kematian tahunan pada anak balita dan 20.000 kematian wanita tahunan akibat kanker payudara. Selain itu, Lancet pada 30 Januari 2016 juga menyimpulan bahwa menyusui membuat dunia lebih sehat, lebih pintar, dan lebih setara, bahkan terjadi penghematan ekonomi sebesar US$ 300 miliar.  

.

10 reasons why we should celebrate World Breastfeeding Week 2021 Post

Penelitian perilaku ibu menyusui selama masa pandemi COVID-19 di Indonesia oleh tim peneliti ‘Health Collaborative Center’ (HCC) menunjukkan bahwa prevalensi keberhasilan pemberian ASI eksklusif di Indonesia pada tahun 2020 mencapai sebesar 89,4 persen. Dijelaskan oleh Ketua Tim Peneliti, DR. Dr. Ray Wagiu Basrowi bahwa hasil penelitian terbaru ini merupakan suatu keberhasilan yang terjadi di tengah keterbatasan akibat pandemi COVID-19. Pasalnya, pada tahun-tahun sebelum pandemi COVID-19 melanda, Indonesia tergolong negara yang rendah keberhasilan program ASI eksklusif di dunia, dengan prevalensi sekitar 30-50 persen saja secara nasional.

.

Namun demikian, semakin banyak ibu menyusui yang terkonfirmasi COVID-19, dapat menurunkan cakupan pemberian ASI eksklusif, karena kekawatiran ibu untuk menularkan penyakitnya kepada bayi. Dengan slogan ‘Tetap Beri ASI, Anak Terlindungi, Keluarga Sejahtera’, dukungan menyusui saat pandemi COVID-19 diperlukan oleh semua ibu yang positif COVID-19. Ibu perlu diyakinkan bahwa menyusui dan memberikan ASI aman bagi bayi dari risiko penularan COVID-19, asalkan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Ibu harus selalu memakai masker saat menyusui dan merawat bayi, mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang bayi, dan membersihkan dengan cairan disfeksi permukaan dan benda yang sering disentuh ibu dan bayi.

.

Untuk ibu dengan gejala klinis sedang atau berat dan tidak mampu menyusui secara langsung, dapat melakukan pemberian ASI perah (ASIP). Ibu haruslah memastikan kebersihan saat memerah ASI. Gunakan cangkir bermulut lebar untuk memberikan ASIP pada bayi dan gunakan wadah dengan tutup untuk menyimpan ASIP. ASIP dapat disimpan dengan beberapa cara, yaitu di freezer dengan suhu -18 sampai -20 derajat celcius, ASIP dapat bertahan selama 4 bulan. Di lemari pendingin bawah dengan suhu 4 sampai 5 derajat celcius, ASI dapat bertahan 3-4 hari. Di kotak ‘ice pack’ dengan suhu 15 derajat celcius, ASI dapat bertahan selama 24 jam, sedangkan di ruangan dengan suhu kamar, ASI dapat bertahan selama 3-4 jam.

.

Momentum Pekan Menyusui Dunia (World Breastfeeding Week) tanggal 1 hingga 7 Agustus 2021, juga mengingatkan akan pentingnya tanggung jawab kita bersama dalam memberikan Dukungan Menyusui (Protect Breastfeeding) bagi semua ibu, untuk menyusui bayinya secara eksklusif, meskipun ibu terkonfirmasi COVID-19.

Apakah kita sudah bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 28 Juli 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak COVID-19 Healthy Life sekolah

2021 MASKER DAN ANAK

Alasan Anak di Bawah 2 Tahun Tidak Perlu Pakai Masker | kumparan.com

MASKER DAN  ANAK

fx. wikan indrarto*)

WHO telah mengevaluasi bukti tentang penularan COVID-19 pada anak dan terbatasnya bukti yang tersedia tentang manfaat penggunaan masker wajah oleh anak. Namun demikian, WHO terus menyarankan agar orang tua selalu berkonsultasi dan mematuhi otoritas kesehatan setempat, tentang praktik yang direkomendasikan di daerah mereka, untuk anak. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/02/06/2021-covid-19-pada-anak/

.

Berdasarkan pertimbangan kebutuhan psikososial dan tumbuh kembang anak, WHO dan UNICEF menyarankan anak balita (berusia 5 tahun ke bawah) tidak diwajibkan memakai masker. Hal ini didasarkan pada keselamatan, minat, dan kemampuan anak untuk menggunakan masker secara tepat dengan bantuan minimal. Selain itu, WHO dan UNICEF menyarankan bahwa keputusan untuk mewajibkan penggunaan masker untuk anak yang berusia 6-11 tahun, harus didasarkan pada beberapa faktor terkait, misalnya tingginya tingkat penularan COVID-19 yang meluas di daerah tempat tinggal anak. Selain itu, juga kemampuan anak untuk menggunakan masker secara aman dan tepat, akses mendapatkan masker, serta tersedianya fasilitas pencucian dan penggantian masker di tempat-tempat tertentu, seperti sekolah dan layanan penitipan anak.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/04/18/2021-kesehatan-anak-paska-pandemi-covid-19/

.

Secara umum, anak balita tidak diwajibkan memakai masker. Mungkin ada persyaratan lokal untuk anak balita agar memakai masker, atau kebutuhan khusus di beberapa tempat, seperti secara fisik dekat dengan seseorang yang sakit dan terkonfirmasi COVID-19. Dalam keadaan ini, jika anak mengenakan masker, orang tua atau wali harus berada dalam jarak pandang langsung, untuk mengawasi penggunaan masker yang aman bagi anak.

.

Anak Dibawah 2 Tahun Tidak Dianjurkan Pakai Masker, Begini Cara  Melindunginya Saat Keluar Rumah - Tribunnews.com Mobile

WHO dan UNICEF menyarankan bahwa anak yang telah berusia 12 tahun ke atas, harus memakai masker yang sama seperti orang dewasa. Bahkan hal ini menjadi kewajiban, ketika anak tidak dapat menjamin jarak setidaknya 1 meter dari orang lain, dan ada penularan COVID-19 yang meluas di daerah tersebut.

.

Penggunaan masker untuk anak dari segala usia dengan gangguan perkembangan, difabel atau kondisi kesehatan tertentu lainnya, tidak boleh diwajibkan. Namun demikian, sebaiknya dinilai berdasarkan kasus per kasus oleh orang tua, wali, guru dan atau tenaga medis. Bagaimanapun juga, anak dengan gangguan kognitif atau pernapasan yang parah dengan kesulitan menoleransi masker, seharusnya tidak diwajibkan memakai masker.

.

Anak dengan gangguan kesehatan kronis seperti cystic fibrosis, infeksi HIV, atau kanker harus memakai masker medis. Masker medis memberikan perlindungan kepada anak yang memakai masker dan mencegah penularan COVID-19 ke orang lain. Direkomendasikan untuk siapa saja, termasuk anak, yang memiliki kondisi kesehatan mendasar dan menempatkan mereka pada risiko penyakit serius yang lebih besar.

.

Anak yang secara umum sehat dapat memakai masker non-medis atau kain, tidak harus masker medis. Kewajiban ini berarti mencegah virus ditularkan ke orang lain, jika mereka terinfeksi dan tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi. Orang tua harus memastikan masker kain berukuran tepat dan cukup menutupi hidung, mulut, dan dagu anak.

.

Anak harus mengikuti prinsip yang sama seperti orang dewasa untuk memakai masker. Ini termasuk membersihkan tangan setidaknya 20 detik jika menggunakan pembersih tangan berbasis alkohol, atau setidaknya 40 detik jika menggunakan sabun dan air, sebelum memakai masker. Pastikan ukuran masker pas untuk menutupi hidung, mulut, dan dagu. Anak harus diajari cara memakai masker dengan benar, termasuk tidak menyentuh bagian depan masker dan tidak menariknya ke bawah dagu atau ke dalam mulut mereka. Mereka harus menyimpan masker di dalam tas atau wadah, dan tidak berbagi masker dengan orang lain.

.

Setiap anak yang memiliki gejala sugestif COVID-19 harus memakai masker medis, selama mereka dapat mentolerirnya. Anak harus diisolasi, dan nasehat medis harus dicari segera setelah mereka mulai merasa tidak sehat, bahkan jika gejalanya ringan. Anggota keluarga atau pengasuh yang mendekat dalam jarak 1 meter dari anak yang sakit di rumah, juga harus memakai masker. Anggota rumah tangga yang sakit atau dinyatakan positif COVID-19 harus diisolasi dari orang lain semampu mungkin. Jika anak berada dalam jarak 1 meter dari orang sakit di rumah, orang dewasa dan anak harus memakai masker medis selama waktu tersebut.

.

Di daerah di mana ada penularan yang meluas, semua orang dewasa di bawah usia 60 tahun dan yang secara umum sehat harus memakai masker kain, ketika mereka tidak dapat menjamin jarak setidaknya 1 meter dari orang lain. Ini sangat penting bagi orang dewasa yang memiliki kontak dekat dengan anak dan satu sama lain.

.

Anak tidak boleh memakai masker saat berolahraga atau melakukan aktivitas fisik, seperti berlari, melompat, atau bermain di taman bermain, sehingga tidak mengganggu pernapasan mereka. Saat guru mengorganisir kegiatan ini untuk anak, penting untuk mendorong semua protokol kesehatan diterapkan secara ketat, yaitu menjaga jarak setidaknya 1 meter dari orang lain, membatasi jumlah anak yang bermain bersama, menyediakan akses ke fasilitas kebersihan tangan dan mendorong penggunaannya.

.

Dalam konteks COVID-19, beberapa anak mungkin tidak dapat memakai masker karena disabilitas atau situasi tertentu seperti praktek pidato atau baca puisi di sekolah, saat guru perlu melihat mulut mereka. Dalam kasus ini, pelindung wajah (face shields) dapat digunakan sebagai alternatif masker, tetapi tidak memberikan perlindungan yang setara dalam mencegah virus menular ke orang lain. Jika keputusan dibuat untuk menggunakan pelindung wajah (face shields), itu harus menutupi seluruh wajah, menutupi sisi wajah dan meluas ke bawah dagu. Perhatian harus dilakukan saat mengenakannya untuk menghindari cedera yang dapat merusak dan membahayakan mata atau wajah.

.

Selain itu, orang tua wajib berbicara dengan anak sebijak mungkin dalam menjawab pertanyaan mereka. Ada banyak informasi yang membingungkan dan menakutkan, sehingga ciptakan waktu untuk berbicara dan menjawab pertanyaan anak secara benar, tidak hanya tentang masker wajah untuk mengurangi rasa takut anak dan memelihara optimisme.

Sudahkah kita bijak mendampingi anak dari bahaya COVID-19 ?

Sekian

Yogyakarta, 15 Juni 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak Healthy Life sekolah

2021 PELAN DI JALAN

Ini Bahayanya Berkendara Pelan di Lajur Kanan

PELAN   DI   JALAN

fx. wikan indrarto*)

Pekan Keamanan di Jalan Global PBB ke-6 (UN Global Road Safety Week) pada 17-23 Mei 2021, menyoroti manfaat laju kendaraan di perkotaan yang berkecepatan rendah, sebagai jantung setiap komunitas di manapun. Kampanye ini untuk mendorong kebijakan di tingkat nasional dan lokal dalam membatasi kecepatan 30 km/jam di daerah perkotaan, dalam tagar #Love30, guna membangun jalan bagi kehidupan #StreetsforLife. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/02/10/2020-keamanan-di-jalan-raya/

.

Bukti penelitian dari seluruh dunia menunjukkan bahwa laju kendaraan berkecepatan rendah mengurangi risiko cedera serius dan menyelamatkan nyawa, termasuk penelitian terakhir di Tanzania terbukti mengurangi cedera di jalan sebanyak 26%. Di Toronto, Kanada, kecelakaan di jalan raya turun 28% sejak batas kecepatan dikurangi dari 40 menjadi 30 km/jam pada tahun 2015, yang menyebabkan berkurangnya cedera serius dan fatal hingga dua pertiganya. Kolombia di Bogota telah memasukkan zona 30 km/jam dalam paket ‘Speed Management Plan’ yang telah mengurangi kematian lalu lintas sebesar 32%. Penelitian di London menemukan bahwa batas kecepatan yang lebih rendah (dalam hal ini zona 20 mph) dikaitkan dengan pengurangan korban di jalan raya sebesar 42%, sementara di Bristol, penerapan batas kecepatan 20 mph dikaitkan dengan pengurangan 63% dalam cedera fatal. Secara keseluruhan, ada pengurangan korban hingga 6% untuk setiap pengurangan kecepatan 1 mph di jalanan perkotaan dan peningkatan kecepatan rata-rata 1 km/jam menghasilkan risiko kecelakaan 3% lebih tinggi, dengan peningkatan kematian 4 hingga 5%.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/05/10/2019-selamat-di-jalan/

.

Dengan laju kendaraan di atas 30 km/jam, benturan pada pejalan kaki memiliki risiko kematian yang jauh lebih besar. Dalam kecepatan 30 km/jam mobil dapat berhenti segera, sedangkan dalam kecepatan 50 km/jam mobil masih tetap akan melaju, meskipun dilakukan pengereman kuat. Selain itu, kecepatan kendaraan yang lebih tinggi mempersempit penglihatan areal tepi bagi pengendara dan memengaruhi waktu reaksi mereka.

.

Jajak pendapat YouGov global di 11 negara untuk Prakarsa Kesehatan Anak, menemukan bahwa 74% orang mendukung pembatasan kecepatan kendaraan di jalan sekitar sekolah, sehingga memudahkan anak berjalan kaki atau bersepeda ke sekolah dengan lebih aman dan lebih sehat. Dalam survei di Inggris, 70% pengendara setuju bahwa 30 km/jam adalah batas yang tepat untuk laju kendaraan di areal perumahan. Survei di Skotlandia menunjukkan 65% setuju, dan satu dari empat orang berpikir bahwa aturan itu akan membuat mereka lebih cenderung berjalan kaki atau bersepeda, dalam kehidupan sehari-hari mereka.

.

Ada juga manfaat kesehatan yang signifikan dari memperlambat laju lalu lintas, selain mendukung peralihan ke gaya hidup aktif melalui berjalan kaki dan bersepeda. Interaksi sosial yang dilakukan antar orang  di jalan adalah penting untuk membangun komunitas dan kesejahteraan kolektif. Lalu lintas yang lebih lambat juga mengurangi bahaya lain di jalan raya, menekan kebisingan, dan meningkatkan hubungan sosial.

.

Dalam kepadatan lalu lintas di perkotaan, kecepatan tinggi terbukti jarang berdampak pada waktu tempuh perjalanan. Perbedaan waktu tempuh dengan kecepatan maksimum 30 km/jam dengan 50 km/jam di perkotaan adalah minimal. Kemacetan dan waktu yang dihabiskan untuk menunggu di lampu lalu lintas menjadi hijau, seringkali lebih signifikan berpengaruh pada lamanya waktu perjalanan dibandingkan kecepatan kendaraan itu sendiri. Area dengan kendaraan yang bergerak lebih lambat juga berpotensi menghilangkan kebutuhan sinyal lampu lalu lintas, dan menciptakan hubungan yang lebih setara di antara pengguna jalan yang saling mengalah.

.

Sambut New Normal, Dishub Terapkan Protokol Kesehatan di Jalan Raya

Meskipun banyak negara telah mempelopori pendekatan keselamatan jalan raya, tetapi program tersebut lebih efektif diterapkan di negara berpenghasilan tinggi. Pada hal, sebenarnya jalan berkecepatan rendah dapat diterapkan di negara mana pun, terlepas dari tingkat perkembangan atau jumlah kendaraannya. Zona kecepatan maksimal 30 km/jam telah berhasil ditetapkan di lingkungan perkotaan di banyak negara, yang biasanya dimulai di sekitar sekolah, seperti proyek Amend di Tanzania, yang memenangkan hadiah bergengsi ‘Ross Prize for Cities’.

.

Idealnya, jalan raya harus memiliki kekuatan mengatur sendiri (self-enforcing), dirancang sedemikian rupa sehingga memaksa kendaraan untuk melaju dengan kecepatan yang lebih lambat. Ada berbagai cara yang bisa dilakukan, seperti rambu peringatan kecepatan, marka jalan, polisi tidur, pelambat lalu lintas  (traffic calming) lainnya, pepohonan atau taman yang indah di pinggir jalan, dan rute untuk pejalan kaki. Tindakan tersebut dapat berbiaya rendah dan penegakan hukum bagi orang yang tidak patuh adalah masalah sekunder, dan sebaiknya bukan menjadi alasan untuk menetapkan batas kecepatan yang benar.

.

Saat berkecepatan rendah, kendaraan cenderung bergerak lebih lancar, dengan akselerasi yang lebih rendah (yang terkait dengan emisi gas buang pada kendaraan bermesin pembakaran internal) dan hanya sedikit perlambatan (yang dapat menyebabkan keausan ban), yang mengarah ke polusi yang juga lebih rendah. Polisi tidur dapat menyebabkan sedikit peningkatan polusi lokal karena peningkatan akselerasi dan pengereman, tetapi dampaknya rendah.

Sah! Pakai Skuter Listrik di Jalan Raya Denda Rp 250 Ribu

Di Indonesia rata-rata 3 orang meninggal setiap jam akibat kecelakaan di jalan raya. Penyebabnya beberapa hal, yaitu 61% kecelakaan disebabkan oleh faktor manusia yang terkait dengan kemampuan pengemudi, termasuk kecepatan yang tinggi, 9% disebabkan karena faktor kendaraan yang tidak laik jalan, dan 30% disebabkan oleh faktor prasarana dan lingkungan. Program pembatasan kecepatan 30 km/jam di daerah perkotaan, dalam tagar #Love30, guna membangun jalan bagi kehidupan #StreetsforLife, dapat menekan angka kematian karena kecelakaan lalu lintas di jalan raya.  

Selain itu, dengan kecepatan berkendara di jalan yang lebih pelan akan memungkinkan anak dan remaja untuk berjalan kaki atau bersepeda, saat pembelajaran tatap muka di sekolah yang dimulai tahun ini, saat pandemi COVID-19 semakain terkendali.

Apakah kita sudah pelan di jalan?

Sekian

Yogyakarta, 24 Mei 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, pengguna sepeda di jalan raya dalam kota, WA: 081227280161,

Categories
anak dokter Healthy Life HIV-AIDS Pendukung ASI UHC

2021 Metode Kangoro untuk Bayi

Kangaroo Mother Care Technique | Download Scientific Diagram

METODE   KANGURU   UNTUK   BAYI

fx. wikan indrarto*)

Sabtu, 15 Mei 2021 diperingati sebagai Hari Peringatan Kesadaran pada Penerapan Perawatan Metode Kanguru (PMK) untuk Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dan Bayi Prematur. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/11/14/2020-steroid-untuk-bayi-prematur/

.

Perawatan Metode Kanguru (PMK) pertama kali diperkenalkan oleh Ray dan Martinez di Bogota, Kolumbia pada tahun 1979 sebagai cara alternatif perawatan BBLR di tengah tingginya angka BBLR dan terbatasnya fasilitas kesehatan yang ada. Metode ini meniru binatang berkantung kanguru dari Australia, yang bayinya lahir sering prematur, dan setelah lahir disimpan di kantung perut ibunya untuk mencegah kedinginan, sekaligus mendapatkan makanan bergizi berupa air susu induknya.

.

Hakekat PMK adalah kontak kulit-ke-kulit sejak dini, terus menerus dan berkepanjangan antara ibu dan bayi dengan pemberian ASI secara eksklusif, yang telah terbukti menjadi intervensi medis yang efektif dan berbiaya rendah, dalam meningkatkan kelangsungan hidup dan luaran klinis bayi kecil dan sakit. Metode PMK ini telah dibuktikan dapat meningkatkan stabilitas fisiologis, lingkungan yang mendukung secara termal, mengurangi risiko infeksi serius, dan mengurangi kematian bayi prematur, BBLR dan BBLSR (Berat Badan Lahir Sangat Rendah). 

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/09/26/2019-ibu-dan-bayi-lebih-banyak-hidup/

.

Namun demikian, cakupan PMK global di seluruh populasi tetap rendah selama beberapa dekade dan peningkatan skala penerapannya sangat sulit diukur. Hanya sebagian kecil bayi kecil dan sakit yang mendapat manfaat dari PMK, telah menerimanya. Pada 10 Desember 2020 penerapkan PMK dapat meningkat dari mendekati 0% menjadi lebih dari 40% setelah satu tahun pendampingan dari Kementrian Kesehatan setempat, di tiga distrik di India dan 4 wilayah di Ethiopia.

.

Kangaroo care - Wikipedia

Melalui pelatihan tenaga kesehatan, kebijakan yang kondusif dan peningkatan infrastruktur, target global adalah memastikan PMK diberikan kepada setidaknya 80% bayi BBLR di seluruh dunia. Meskipun jumlah kematian bayi baru lahir secara global menurun dari 5 juta pada tahun 1990 menjadi 2,4 juta pada tahun 2019, tetapi banyak bayi masih menghadapi risiko kematian terbesar dalam 28 hari pertama mereka. Pada 2019, sekitar 47% dari semua kematian balita terjadi pada periode baru lahir dengan sekitar sepertiganya meninggal pada hari kelahiran dan hampir tiga perempat meninggal dalam minggu pertama kehidupan. Bayi yang meninggal dalam 28 hari pertama kelahiran, biasanya menderita penyakit yang terkait dengan kurangnya layanan medis berkualitas saat lahir, atau perawatan segera setelah lahir, dan pada hari-hari pertama kehidupan bayi.

.

Pada tahun 2019 terdapat 10 negara teratas dengan jumlah tertinggi (dalam ribuan) kematian bayi baru lahir, yaitu India (522), Nigeria (270), Pakistan (248), Etiopia (99), Kongo (97), Cina (64), Indonesia (60), Bangladesh (56), Afganistan (43), dan Tanzania (43). Perawatan bayi baru lahir yang penting adalah perlindungan dari kedinginan, misalnya dengan PMK untuk terjadinya kontak kulit-ke-kulit antara ibu dan bayi, pemberian ASI dini dan eksklusif, serta perawatan tali pusat dan kulit bayi secara higienis. Selain itu, penilaian masalah kesehatan yang serius atau membutuhkan perawatan tambahan, misalnya bayi BBLR, bayi sakit atau lahir dari ibu yang terinfeksi HIV. Kemudian juga tindakan pencegahan, misalnya imunisasi BCG dan Hepatitis B, injeksi vitamin K dan infeksi mata. Semua intervensi medis tersebut sangat berperan dalam menekan angka kematian bayi.

.

PMK merupakan alternatif pengganti inkubator dalam perawatan BBLR, merupakan cara yang efektif untuk memenuhi kebutuhan bayi yang paling mendasar, yaitu adanya kontak kulit bayi ke kulit ibu, dimana tubuh ibu akan menjadi thermoregulator bagi bayinya, sehingga bayi mendapatkan kehangatan (menghindari bayi dari hipotermia). Selain itu, PMK memudahkan pemberian ASI dini dan eksklusif, perlindungan dari infeksi, stimulasi, keselamatan, dan kasih sayang. PMK dapat meningkatkan hubungan istimewa antara ibu dan bayi, serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi.

.

PMK terdiri dari 4 komponen, yaitu ‘position’, ‘nutrition’, ‘support’ and ‘discharge’. PMK menempatkan bayi pada posisi tegak di dada ibunya, di antara kedua payudara ibu, dan tanpa busana. Bayi dibiarkan telanjang hanya mengenakan popok, kaus kaki dan topi sehingga terjadi kontak kulit bayi dan kulit ibu seluas mungkin. Posisi bayi diamankan dengan kain panjang atau pengikat lainnya. Kepala bayi dipalingkan ke sisi kanan atau kiri, dengan posisi sedikit tengadah (ekstensi). Ujung pengikat tepat berada di bawah kuping bayi. Posisi kepala bayi seperti ini bertujuan untuk menjaga agar saluran napas tetap terbuka, dan memberi peluang agar terjadi kontak mata antara ibu dan bayi.

.

Kanguru nutrisi merupakan salah satu manfaat PMK, yaitu meningkatkan pemberian ASI secara langsung maupun dengan pemberian ASI perah. Bayi dengan PMK selalu berada di dekat payudara ibu, menempel dan terjadi kontak kulit ke kulit, sehingga bayi dapat menyusu setiap kali ia inginkan. Selain itu, ibu dapat dengan mudah merasakan tanda bahwa bayinya mulai lapar, seperti adanya gerakan pada mulut bayi, munculnya hisapan kecil, serta adanya gerakan bayi untuk mencari puting susu ibu. Bila telah terbiasa melakukan PMK, ibu dapat dengan mudah memberikan ASI tanpa harus mengeluarkan bayi dari baju kangurunya.

.

‘Kangaroo support’ merupakan bentuk bantuan secara fisik maupun emosi, baik dari tenaga kesehatan di mana bayi lahir, ibu lain yang telah melakukan PMK maupun keluarga, agar ibu dapat melakukan PMK untuk bayinya. Sedangkan ‘kangaroo discharge’ adalah membiasakan ibu melakukan PMK selama di RS, sehingga pada saat ibu pulang dengan bayi, ibu tetap dapat melakukan PMK bahkan melanjutkannya di rumah. Metode PMK ini merupakan salah satu teknologi tepat guna yang sederhana, murah, dan dapat digunakan apabila fasilitas untuk perawatan BBLR sangat terbatas.

.

Momentum  ‘International Kangaroo Mother Care Awareness Day’ pada Sabtu, 15 Mei 2021 mengingatkan kita untuk mendukung penerapan PMK pada bayi BBLR dan prematur di seluruh dunia. Inisiatif ini bertujuan untuk mempercepat penurunan angka kematian bayi, dengan memastikan tidak ada seorang bayipun yang tertinggal (to ensure no one is left behind), termasuk semua bayi di sekitar kita.

 Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 3 Mei 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?